Hikmah Pedang Hijau (Wu Qing Bi Jian) Jilid 15

Jilid 15

Cinta memang memiliki kekuatan gaib yang tak terbatas.

Di tengah keheningan malam itu se-konyong2 terdengar suara orang mendengus di balik semak pohon sana.

Sebenarnya luka Kim Cay-hong tidak terlampau parah, setelah diobati oleh Tian Pek dengan ilmu sakti yang dipelajari dan kitab pusaka Thian-hud-pit-kip, boleh dibilang semua lukanya telah sembuh. Kalau mereka masih berdekapan hanya karena mereka tengah asyik dibuai asmara.

Tentu saja suara tertawa dingin yang sangat tiba2 itu segera menyadarkan kedua muda-mudi itu. Tian Pek yang per-tama2 tersadar dan cepat membangunkan Kim Cay- hong dari pelukannya, kemudian menghardik: "Siapa yang bersembunyi disana?"

Sesosok bayangan hitam berkelebat keluar dan balik pepohonan yang rindang, secepat kilat orang itu tahu2 sudah berdiri sambil bertolak pinggang di undak2an gardu, siapa lagi dia kalau bukan Tian Wan-ji yang lincah. usil dan masih polos itu.

Sama sekali tak menyangka Wan ji akan muncul di sini Tan Pek melenggong. Wan-ji yang cantik itu jelas merasa cemburu. matanya yang jeli mengerling bergantian pada wajah Tian Pek dan Kim Cay-hong, tampaknya ia ingin menyelami rahasia hati kedua orang itu.

Merah wajah Tian Pek berdua karena dipandang setajam itu oleh anak dara yang masih polos dan bersih itu, tanpa terasa mereka menundukkan kepalanya rendah2.

"Hehehe, di bawah bulan purnama memadu cinta, tanpa terasa bulan sudah jauh bergeser, ternyata orang yang memadu cinta belum juga sadar." demikian Wan-ji ber- olok2.

Kikuk Tian Pek mendengar sindiran tersebut, terpaksa ia menjawab: "Wan-ji, untuk apa kau datang ke sini . . ?"

"Untuk apa? Aku datang untuk ber-main2!" sahut Wan-ji dengan cemburu. "Yang jelas aku tidak datang kemari agar dipeluk orang dan dipanggil adik. . ."

Sindiran yang tajam itu menggusarkan Kim Cay-hong, mendadak ia menengadah dan membentak: "Budak liar dari mana? Berani kau cari perkara ke istana Kim sini."

"Hai, kalau bicara hendaklah tahu diri," sahut Wan-ji dengan dahi berkerut. "Kalau kau main kasar, hm, jangan menyesal bila nona hajar adat padamu!"

Sebagai seorang nona yang selalu disanjung puja, sekalipun ayah atau saudaranya sendiripun tidak pernah bicara sekasar itu kepadanya, bisa dibayangkan betapa gusarnya Kim Cay-hong oleh ucapan Wan-ji tadi.

Saking gusarnya sekujur badan jadi gemetar, teriaknya: "Bagus, sebelum kuusir kau malah berlagak di hadapanku Hm, jika kau tidak segera minta maaf, jangan harap bisa tinggalkan istana keluarga Kim dengan hidup." Wan-ji menjengek: "Hehe, kalau ingin bicara besar mesti lihat dulu kekuatan sendiri Hm, hanya sedikit kemampuanmu belum tentu sanggup menahan diriku di sini?"

"Budak liar, tajam amat mulutmu!" bentak Kim Cay- hong dengan kemarahan yang tak terkendalikan lagi. "Sambutlah seranganku ini!"

Dua jari tangan kirinya segera mencolok ke dua mata Wan-ji, ssmentara telapak tangan kanan memotong iga kiri lawan, Jurut serangan yang digunakan adalah Yu-hong-si- sui (kawanan lebah bermain di alas putik bunga) serta Cay- loan-lian-hoa (bunga indah berwarna warni).

Berbicara soal ilmu silat, maka kepandaian yang dimiliki Wan-ji sekarang beberapa kali lipat lebih lihay daripada Kim Cay-hong setelah ia belajar ilmu silat dari Sin-kau (monyet sakti) Tiat Leng, ilmu silat yang dimilikinya saat ini sudah terhitung kelas satu di dunia persilatan.

Meskipun dua jurus serangan yang dilancarkan Kim Cay-hong sangat lihay, tapi dalam pandangan Wan-ji bukanlah ancaman yang serius, sambil tertawa dingin ia mengegos kesamping, berbareng tangan kanannya segera balas mencengkeram persendian pergelangan tangan kanan musuh.

Betapa terperanjat Kim Cay-hong menghadapi ancaman tersebut, mimpipun ia tak menyangka se-orang nona cilik yang masih begitu muda ternyata memiliki jurus serangan yang luar biasa lihaynya, bukan saja dua serangan mautnya berhasil dihindari dengan mudah, malahan tangan kiri sendiri terancam oleh serangan musuh.

Kim Cay-hong jadi terkesiap, apalagi setelah merasakan betapa tajamnya angin serangan lawan pergelangan tangan cepat ditarik ke bawah. Gagal dengan serangan yang pertama, Wan-ji tidak memberi kesempatan bagi musuh untuk menarik napas, tangan kiri mencengkeram ke depan sementara telapak tangan kanan menabas jalan darah Cian-keng-hiat di bahu lawan.

Dengan agak kerepotan Kim Cay-hong menghindarkan diri dari cengkeraman tangan kiri lawan. tapi bacokan telapak tangan kanan tak dapat dihindarkan lagi, untuk menangkis jelas tak sempat, tampaknya bacokan Wan-ji itu segera akan bersarang di tengkuk Kim Cay-hong.

Telapak tangan Wan-ji sepintas lalu kelihatan kecil,  halus dan lemas, tapi dengan tenaga dalam yang kuat, bacokannya tidak kurang tajamnya dari pada bacokan pedang atau golok.

Tian Pek terkejut, cepat ia membentak: "Tahan Wan-ji!"

Tapi Wan-ji anggap tidak mendengar, bacokan telapak tangan diayun lebih cepat lagi ke tengkuk

musuh.

Secepat kilat Tian Pek menerjang maju, tangan kirinya menarik lengan Kim Cay-hong terus diseret mundur, sementara tangan kanan digunakan menangkis serangan Wan-ji.

"Plak!" telapak tangan saling beradu.

Tubuh Wan-ji bergetar, ia terdorong mundur tiga langkah, mukanya pucat karena marah, matanya melototi Tian Pek dengan merah berapi.

Kim Cay-hong terlempar kesamping dan berhasil lolos dari maut, ia berdiri dengan muka pucat seperti kertas, ia merasa malu bercampur gusar. Tian Pek juga merasakan telapak tangannya yang beradu dengan tangan Wan-ji itu terasa panas dan sakit, diam2 ia memuji kehebatan tenaga dalam gadis itu, sekalipun begitu lahirnya dia berlagak tenang, katanya: "Wan-ji, kau sama sekali tiada permusuhan dan dendam apa pun dengan nona Kim, kenapa kau melancarkan serangan mematikan kepadanya ?"

Tentu saja Wan-ji merasa tak senang hati karena pemuda pujaan hatinya telah menyelamatkan jiwa lawan cintanya, lebih2 setelah mendengar ucapan yang jelas membela Kim Cay-hong tersebut, tak tahan lagi ia melelehkan air mata.

Sambil mendepakkan kakinya ke tanah dan menggigit bibirnya untuk menahan isak tangisnya ia berteriak: "'Aku benci kau . . . selama hidup ini aku tak sudi bertemu lagi dengan kau....!" Habis berkata, ia terus putar badan dan berlari pergi.

"Mau lari kemana? Lihat serangan!" mendadak dari balik pohon sana berkumandang suara bentakan menyusul secomot cahaya hijau segera bertaburan menyongsong nona itu.

Untung Ginkang Ni-gong-hoan-ing yang dimiliki Wan-ji telah mencapai puncak kesempurnaan, sekalipun tiba2 menghadapi sergapan senjata rahasia yang dilancarkan dengan cara yang licik dan keji, ia tidak menjadi gugup.

Mendadak ia melejit dan mengapung tinggi ke atas, dengan begitu Am-gi yang bersinar hijau itu segera berdesingan menyambar lewat di bawah kakinya.

Tian Pek merasa ngeri juga menyaksikan kejadian itu hingga berkeringat dingin.

Cinta Wan-ji terhadap Tian Pek boleh dikatakan sudah mencapai tingkatan ter-gila2, tatkala ia saksikan pemuda pujaannya ternyata mengadakan pertemuan gelap dengan gadis lain, kontan saja hawa amarahnya berkobar.

Masih mendingan bila Tian Pek tidak memukul mundur dirinya dihadapan saingan cintanya itu, apalagi pemuda itupun mencela tindakannya, bisa dibayangkan betapa remuk rendam perasaannya.

Dengan menahan rasa sedih segera ia tinggal pergi, siapa tahu ia disergap lagi secara keji dan licik, kemarahannya seketika tertumplek kepada penyergap ini.

Kini rasa cemburu, benci, dendam, gusar dan sedih bercampur aduk dalam hatinya, gadis yang lembut itu jadi garang dan menyeramkan, begitu berada di udara ia terus membentak, dengan cepat luar biasa ia menerkam penyergapnya itu.

Dengan daya terkam ke bawah itu, ia kerahkan segenap tenaganya, kedua telapak tangan menghantam batok kepala lawan.

Rupanya penyergap itu tak menduga Wan-ji akan melambung ke udara untuk menghindari ancaman senjata rahasianya, melihat tubrukan maut yang mengerikan itu buru2 ia cabut pedangnya untuk membela diri ....

Pada saat itulah segenggam senjata rahasia berwarna hijau kembali menyambar datang dari sudut halaman lain, malahan kali ini sambaran Am-gi ini sama sekali tidak menimbulkan suara.

Bukan saja jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang pertama tadi, bahkan sambaran Am-gi inipun jauh lebih kuat. jelas penyerang kali ini terlebih tangguh daripada yang pertama tadi. Tertampaklah bayangan hijau menyelimuti angkasa, bagaikan gerombolan kunang2 langsung mengurung sekujur badan anak dara itu.

Tian Pek terperanjat, cepat ia berseru: "Wan-ji, awas, dibelakang ada senjata rahasia lagi!"

Rupanya ia menyadari gelagat tidak enak, tampaknya serangan kedua sukar dihindarkan Wan-ji, maka sambil membentak ia terus melompat maju dan melancarkan pukulan dahsyat ke arah senjata rahasia tersebut.

Banyak di antara senjata rahasia itu terpental dan berhamburan ke tanah tersampuk oleh angin pukulan Tian Pek, akan tetapi disebabkan jaraknya agak jauh, angin pukulannya tak berhasil merontokkan seluruh senjata itu.

Tampaklah belasan titik cahaya hijau masih menyambar ke tubuh Wan-ji.

Waktu itu Wan-ji sudah melayang turun ke tanah, diapun tahu ancaman senjata rahasia dari belakang itu. tapi berhubung tenaga pukulannya sudah telanjur dilancarkan dengan sepenuhnya untuk menghantam penyergap pertama yang dibencinya tidaklah mungkin baginya untuk melambung lagi untuk menghindari ancaman kedua ini.

Dalam keadaan begitu cepat ia anjlok ke b¬wah, berbareng pukulannya diperkeras untuk menghantam lawan di bawah.

Meski penyergap pertama tadi sudah melolos pedangnya, tapi melihat hantaman Wan-ji yang dahsyat ini, ia tak berani sambut dengan kekerasan, cepat ia melompat ke samping.

"Blang!" debu pasir beterbangan, pukulan dahsyat itu menimblkan dua liang yang dalam di permukaan tanah, Sungguh luar biasa bahwa seorang nona cilik muda belia memiliki tenaga pukulan sedahsyat ini-

Tapi setelah serangannya mengenai tempat kosong. Wan-ji lantas turun ke bawah, mendadak ia sempoyongan, mukanya pucat, agaknya cukup parah terluka dalam.

Penyergap pertama tadi tertawa ter~bahak2, ia tak punya lengan kiri. dengan pedang ditangan kanan segera ia menusuk ke dada Wan-ji.

Rupanya sewaktu Wan-ji mengapung di udara tadi ia telah dilukai oleh hamburan senjata rahasia yang kedua kalinya, paha dan iga sebelah kiri masing2 termakan oleh senjata rahasia lawan sehingga rasa sakitnya merasuk ke tulang, berdiri saja hampir tak kuat, bagaimana mungkin ia sanggup mengelakkan tusukan pedang yang ganas itu.

Rasa sakit yang tidak kepalang itu membuat pandangan Wan-ji ber-kunang2, ia putus asa, sambil menghela napas ia berpikir: "Ai, tak tersangka akhirnya aku harus tewas di depan kekasih yang telah berubah pikiran. ... Tahu begini, lebih baik mati saja dulu, dengan begitu mungkin masih tertinggai sedikit kenangan manis, tapi kini kini. "

Ia hanya bergumam dan tak mampu menghindari ujung pedang musuh. Yang membuatnya sedih bukan soal mati, tapi kekasih yang mengikat janji dengan gadis lain, buyarlah impiannya dan hancurlah segala harapannya.

"Beng Ki-peng, tahan!" terdengar Tian Pek membentak. "Blang! Blang!" benturan keras segera menggelegar,

tatkala Wan-ji membuka matanya yang kabur, lamat2 dilihatnya pemuda buntung yang hendak menusuknya tadi berdiri mematung dengan muka pucat dan sorot mata yang bengis. Pedangnya sudah terlepas, darah meleleh  keluar dari ujung bibirnya, jelas ia terluka tidak ringan. Wan-ji berpaling lagi ke arah lain, dilihatnya engkoh Tian yang dicintainya tapi juga dibencinya sekarang sedang berdiri kereng di sampingnya.

Rasa sedih yang membuat putus asa Wan-ji tadi tiba2 berubah menjadi kegirangan, ia bergumam lagi: "O, rupanya engkoh Tian yang menyelamatkan jiwaku. Ah, engkoh Tian masih tetap mencintai aku. . .O, betapa bahagianya aku! Engkoh Pek. . .engkoh Pek sayanga, sekalipun aku harus mati sekarang juga, aku rela. . . sebab aku akan mati dengan bahagia. "

Tiba2 rasa sakit yang tak tertahan menyusup ulu hatinya, sekali ini Wan-ji benar2 jatuh tak sadarkan diri ....

Sementara itu, setelah Tian Pek berhasil memukul rontok pedang Beng Ki-peng dan sekalian melukainya, tiba2 dilihatnya pula Wan-ji roboh pingsan, cepat ia melompat maju dan menyambar tubuh si nona yang akan roboh itu.

Melihat keadaan luka Wan-ji, Tian Pek menjadi gusar, teriaknya: "Hm, terhadap seorang gadis tak berdosa kalianpun tega menyerangnya secara rendah dan keji, beginikah tindakan yang biasa dilakukan orang2 istana keluarga Kim? Huh, sungguh memalukan sekali " 

Tiba2 terdengar seseorang tertawa dingin, menyusul sebuah kursi beroda muncul dari balik pohon yang rindang sana, di atas kursi beroda itu berduduklah Cing-hu-sin Kim Kiu yang termashur.

Di belakang Cing-hu-sin Kim-Kiu mengikut belasan orang laki2 berpakaian ringkas dan tujuh anak tanggung berbaju putih yang membawa pedang perak, semuanya melotot ke arah Tian Pek.

Setiba di depan pemuda itu, Cing-hu-sin Kim Kiu lantas berkata dengan tertawa dingin: "Hehe. siapa menang dialah raja, siapa kalah dialah penyamun! Bagi orang persilatan yang penuh dengan pertikaian dan permusuhan, siapa kuat dia menang, siapa lemah dia kalah, kenapa mesti memusingkan pertarungan cara terang2an atau main sergap segala?"

Merah padam wajah Tian Pek demi berhadapan dengan musuh besarnya, dengan melotot dan menggereget ia berteriak: "Bangsat! Tua bangka! Kau manusia munafik, dengan cara licik dan keji kau mencelakai saudara- angkatmu, kemudian merampok harta bendanya dan menggunakan harta yang tak halal itu untuk memelihara begundal2mu guna menunjang perbuatan busukmu. Hm, hari ini kau bertemu dengan Siauya, inilah detik terakhir hidupmu, tamatlah riwayatmu sekarang!"

Pedang Hijau segera dicabut keluar, kemudian dengan menggereget ia menambahkan lagi: "Kim Kiu, serahkan jiwamu!"

Belum pernah Cing-hu-sin Kim Kiu dicaci-maki orang dengan cara yang begitu berani, untuk sesaat tokoh yang berwatak aneh ini jadi tertegun, ia terbelalak lebar dan lama sekali mengamati anak muda itu, sejenak kemudian ia baru berkata; "Menuruti adatku, kau mencaci maki padaku, dosamu harus diganjar dengan kematian. Akan tetapi mengingat usiamu masih muda ternyata mempunyai rasa dendam yang sedemikian mendalam atas diriku, aku menjadi ingin tahu bagaimana duduknya persoalan. Nah, katakanlah. apa alasanmu sehingga rasa bencimu padaku demikian hebatnya?! Padahal sudah puluhan tahun aku tak pernah muncul di dunia persilatan, apalagi setelah kakiku dibikin cacat oleh musuhku hingga lumpuh, watakku memang berubah menjadi pemarah, sekalipun begitu kuyakin belum pernah bermusuhan dengan orang lain, apa- lagi dengan umurmu yang masih muda, masa sejak berada di rahim ibumu kau sudah bermusuhan denganku? Nah. katakanlah sebab2nya, kau datang memusuhi aku atas hasutan orang lain barangkali?"

Tian Pek menengadah dan tertawa latah, sahutnya: "Hahaha, menurut perkataanmu ini, rasanya

Cing-hu-sin sudah jadi orang baik2, sungguh lucu dan menggelikan. Hm, ingin kutanya padamu, apakah kau masih ingat pada Pek-lek-kiam Tian In thian, pemimpin Kanglam-jit-hiap dimasa lalu?"

Bukan saja Cing-hu-sin Kim Kiu terperanjat demi mendengar nama Pek-lek-kiam, bahkan semua orang yang hadir di situ ikut terkesiap.

Lama sekali Kim Kiu melototi Tian Pek tanpa berkedip, setelah itu baru ia berkata: "Aku dengar kau she Tian, apakah kau ini keturunan Tian In- thian?"

"Kau heran dan terkejut?" ejek Tian Pek, "Ha haha, tentunya kau tak menyangka ayahku mempunyai keturunan bukan? Tentunya kau tak menduga ada orang akan membongkar kekejiamnu mencelakai saudara-angkat sendiri? Hahaha, Thian memang maha adil, akhirnya putera Pek-lek-kiam Tian In-thian berhasil menemukan pembunuh ayahnya. Hahaha, Kim Kiu, apa yang hendak kau katakan lagi?"

Berbicara sampai di sini, ia lantas menengadah dan tertawa ter-bahak2 dengan suara yang menggelegar.

Berubah hebat air muka Cing-hu-sin Kim Kiu, sebentar pucat sebentar berubah jadi hijau, entah terkejut entah keder, untuk sesaat ia tak dapat bersuara.

"Ayah!" tiba2 Kim Cay-hong menubruk kesamping ayahnya dan berseru sambil menangis. "Benarkah apa yang dikatakan Tian-siauhiap? Ayah, kukira kejadian ini pasti suatu kesalah pahaman belaka, pasti ada orang yang  sengaja mengadu domba agar kalian saling bermusuhan, anak percaya ayah adalah orang baik, tak mungkin ayah mencelakai saudara-angkat sendiri . . O, ayah, berilah keterangan se-jelas2nya kepada Tian siauhiap akan kesalah pahaman ini . O, ayah, cepat katakanlah ... "

Memandangi puterinya yang menanggis sedih, air muka Cing-hu-sin Kim Kiu mengalami perubahan beberapa kali, mendadak ia melotot bengis, ia tertawa seram dan berkata: "Hahaha, apa yang diucapkan bocah itu memang benar, akulah yang telah membinasakan Tian In-thian! Cuma apa yang dikatakan bocah itu keliru besar, ayahnya sendiri yang merupakan seorang iblis, dia yang menganiaya dan menindas keenam saudara angkat sendiri, membuat kami jadi selalu menderita, karena tak tahan akhirnya kami memberontak dan bekerja sama untuk membinasakan dia. Hm, dia yang lebih dulu tak berbudi sebagai kakak angkat sehingga kamipun tak setia. Ia mati dalam suatu pertarungan yang adil. aku tak dapat disalahkan atas kematiannya itu!"

Gusar Tian Pek tak terkatakan, dia menggigit bibir dan menahan perasaan yang hendak meledak itu ia menyadari berhasil atau tidak membalas sakit hati ayahnya, semua itu bergantung pada pertempuran malam ini, maka sedapatnya ia menahan gejolak perasaannya agar tidak menggagalkan usahanya.

Sementara itu Kim Cay-hong sedang menjerit sedih: "O. tak mungkin . . tak mungkin terjadi begitu. "

Saking sedih ia terus jatuh pingsang di samping kursi beroda ayahnya.

Kata orang: "Lelaki hidup untuk bekerja, perempuan hidup untuk bercinta". Semenjak kecil Kim Cay-hong telah kehilangan kasih sayang ibunya, dalam pandangan anak dara itu ayahnya adalah malaikat pengasih pujaannya. Dia menghormat serta memuja ayahnya, menganggapnya sebagai simbol kepercayaan dan panji kehormatan.

Dan sekarang terbukti bahwa ayahnya bukanlah orang yang agung bijaksana. bahkan menjadi musuh besar pemuda yang kini telah menguasai seluruh perasaannya, dapat dibayangkan betapa hebat pukulan batin yang dirasakan gadis itu.

Cing-hu-sin Kim Kiu tak malu disebut seorang laki2  yang berhati baja, meskipun tahu puterinya jatuh tak sadarkan diri, namun ia tidak menggubris, bahkan melirikpun tidak, sorot matanya yang bengis tetap tertuju Tian Pek, katanya: "Hehehe, sudah puluhan tahun rahasia ini tersimpan, selama ini tak ada yang tahu Tian-in-thian masih mempunyai seorang anak yang masih hidup di dunia ini. Sekarang, semuanya telah menjadi jelas, bila kau tahu diri dan bisa berpikir, boleh segera berlalu dari sini, tak nanti kuhalangi dirimu, tapi kalau tak tahu diri ya terserahlah!"

Sampai disini, ia tertawa dingin, lalu menambahkan: "Hanya sebelumnya ingin kuperingatkan kepadamu, kalau kau tetap nekat mencari gara2 maka itu berarti kau mencari kematianmu sendiri!"

Tian Pek melotot beringas, teriaknya dengan murka: "Bila dendam kematian ayahku tidak dibalas, apa gunanva aku hidup di dunia ini? Bangsat tua, kalau kau punya keberanian mengakui dosamu, maka bersiaplah menerima kematianmu, hari ini aku Tian Pek akan menggunakan darahmu sebagai sesajen untuk arwah ayahku!"

Habis ucapannya, dia baringkan Wan-ji di atas tanah, ia putar pedang Bu-cing-pek-kiam dan menusuk lawan. Dalam gusarnya serangan pertama Tian Pek ini lantas menggunakan Hong-lui-pat-kiam ajaran Sin- lu-tiat-tan.

Hong-lui-pat-kiam memang ilmu pedang maha lihay, dengan jurus Hong-ceng-lui-beng (angin berembus guntur menggelegar), hawa pedang yang tebal seketika menyelimuti seluruh angkasa, disertai deru angin yang keras, Bu-cing-pek-kiam segera mengancam dada Cing-hu- sin Kim Kiu.

Terkesiap Cing-hu-sin Kim Kiu menghadapi serangan yang mengerikan itu, ia tak menyangka ilmu silat Tian Pek jauh melampaui dugaannya, malahan kelihatan lebih hebat daripada Pek-lek-kiam Tian In-thian dulu.

Cepat Kim Kiu putar kursi berodanya dan menggelinding ke samping.

Dalam keadaan begitu, Cing-hu-sin Kim Kiu hanya memikirkan bagaimana caranya menghindarkan diri dari ancaman musuh, ia lupa puterinya yang pingsan masih bersandar di samping kursiberodanya. Dengan bergeraknya kursi beroda itu, otomatis tubuh Kim Cay-hong roboh ketanah

Tian Pek terlalu napsu ingin balas dendam, serangan yang dilancarkan dengan sendirinya keji tanpa kenal ampun.

Maka tatkala Cing-hu-sin Kim Kiu menggeser kursi dan menghindari tujukan maut, cahaya pedang berkilat langsung menyambar ke depan mengancam tubuh Kim Cay-hong yang pingsan.

Se-keras2 hati Cing-hu-sin Kim Kiu masih sayang juga pada nyawa puterinya, melihat Kim Cay-hong terancam oleh senjata Tian Pek, segera dia berteriak keras: "Jangan melukai puteriku " Rupanya Tian Pek sendiripun menyadari apa yang akan terjadi sekuatnya ia berusaba menarik kembali serangatnya.

Tapi keenam bocah tanggung berbaju putih tadi tidak tinggal diam, demi melihat majikannya terancam bahaya, serentak pedang perak mereka dilolos, mirip selapis dinding perak, berbareng mereka menangkis.

"Tring . . . .! Tring ...!" terdengar dentingan nyaring, enam pedang perak tersampuk oleh pedang Tian Pek, keenam bocah tanggung berbaju putih itu merasakan telapak tangan panas dan sakit, hampir saja pedang perak mereka terlepas dari cekalan.

Tian Pek tidak melanjutkan serangan lagi, dia tarik kembali pedangnya dan melayang mundur ke belakang.

Sebagai seorang pemuda yang jujur dan bijaksana, ia tidak ingin mencelakai orang yang tidak bersalah juga tiada sangkut paut dengan masalah yang dihadapinya, maka dari itu walaupun rasa bencinya pada Cing-hu-sin Kim Kiu sudah merasuk tulang, akan tetapi ia tidak ingin melukai Kim Cay-hong yang tak sadarkan diri serta ke enam anak kecil.

Ia bijaksana dan mulia, tapi orang lain tidaklah sebaik dia, baru saja dia bergerak mundur. se-konyong2 Cing-hu- sin Kim Kiu ayun tangannya, segenggam Cing-hu-piau segera berhamburan pula.

Senjata rahasia Cing-hu-piau adalah senjata andalan Kim Kiu, apalagi setelah kakinya lumpuh akibat salah minum obat, kepandaiannya itu dilatih terlebih hebat dan boleh dibilang sudah tiada bandingannya di kolong langit ini.

Belum lagi Tian Pek berdiri tegak, tahu2 cahaya hijau menyilaukan telah tersebar memenuhi angkasa, sekujur badannya terkurung oleh senjata lawan. Cepat ia putar Pedang Hijau bagai kitiran untuk melindungi semua Hat-to penting di tubuhnya.

"Cling! Cring. . .!" suara gemerincing berkumandang menciptakan serentetan irama yang kacau, semua Cing-hu- piau yang mengancam tiba di sapu bersih oleh pedang Tian Pek.

Namun Kim Kiu benar2 seorang ahli senjata rahasia, selagi Tian Pek sibuk menangkis semua senjata rahasia  yang mengancam tadi, mendadak ia mengeluarkan pula segenggam Cing-hu-piau, satu di antaranya disentil ke atas tanah,

Tian Pek tidak tahu apa maksud lawan, "cring" mendadak senjata rahasia yang disentil kebawah tadi setelah menyentuh tanah terus melejit kembali ke atas, setelah berputar setengah lingkaran terus menyambar ke bawah perut Tian Pek.

Heran Tian Pek, ia pikir kalau satu genggam saja tak mampu meng-apa2kan diriku. masa cuma satu biji mata uang begini bisa berguna?

Belum lenyap pikirannya, tahu2 mata uang tadi sudah mendekati lambungnya, dalam keadaan begitu, cepat dia menangkis dengan pedangnya.

Tring!" terjadi lagi dentingan nyaring, mata uang itu mencelat dan berputar satu lingkaran dan mendadak menyambar kembali ke bagian kaki.

Tian Pek berjingkat kaget, buru2 ia angkat kakinya sambil berputar, walaupun begitu mata uang tadi masih sempat menerobos celananya hingga robek.

Walaupun tidak sampai terluka dan hanya celananya saja yang robek, namun pelajaran ini cukup mengerikan Tian Pek hingga berkeringat dingin. Sebab ia tahu senjata rahasia ini beracun, tempo hari ia sudah merasakan Cing- hu-piau ini ketika bertarung melawan Beng Ki-peng, untung Kim Cay-hong segera memberikan obat penawar kepadanya hingga tidak beralangan. Keadaan se- karang sudah berubah, andaikata kali ini sampai terluka lagi, tak mungkin ia mendapatkan obat penawar pula.

Dalam pada itu Cing-hu-siu Kim Kiu sedang tertawa ter- bahak2, ejeknya: "Itulah permainan yang bernama Cing-hu- pay-siu (kecapung memberi selamat panjang umur) dan kau sudah tak mampu mempertahankan diri, apalagi bila kumainkan Cing-hu-hoan-tong (kecapung memenuhi kolam) yang merupakan serangan mematikan, maka kau pasti akan mati tak tertolong lagi!"

Bicara sampai disitu, jari tangannya kembali menyentil sebatang Cing-hu-piau ke depan.

Kali ini Tian Pek sudah tahu kelihayannya, ia tak berani menyampuknya dengan pedang lagi, ketika titik cahaya hijau menyambar datang, cepat ia mengegos ke samping.

Siapa sangka, belum sempat ia menghindari ancaman pertama, Cing-hu-sin telah melepaskan senjata rahasianya yang kedua, menyusul ber-turut2 ia lepaskan pula serentetan mata uang yang semuanya ditujukan ke permukaan tanah. Dengan menggunakan daya pantulan itulah senjata rahasia tersebut meloncat ke udara dan menyambar dari arah yang berbeda dan tak terduga untuk menyerang sasarannya.

Seketika Tian Pek kelabakan., ia berkelit ke sana dan menghindar kesini dengan kalang kabut

Diam2 Tian Pek gelisah, ia pikir bila keadaan ini berlangsung terus maka lama kelamaan aku bisa mati kehabisan tenaga andaikan tidak terkena serangan, daripada mati konyol lebih baik kuterjang kesamping bangsat tua itu, sekalipun mati akan kuajak dia gugur bersama ....

Setelah ambil keputusan, dengan cepat dia menghindari sambaran sebuah senjata rahasia itu, kemudian berusaha mendekati lawannya.

Tapi Cing-hu-sin Kim Kiu cukup cerdik, dia dapat menebak maksud anak muda itu, ia tertawa mengejeknya: "Heh, percuma kau cari akal, sedangkan ayahmu saja tak dapat lolos dari tanganku, apalagi anak ingusan macam kau!"

Seraya berkata, segenggam Cing-hu-piau segera ditaburkan pula ke atas tanah.

"Cring! Cring!" cahaya hijau bermuncratan ke empat penjuru dan serentak mengancam Hiat-to penting di badan Tian Pek.

Terkejut Tian Pek, terdengarlah Cing-hu-sin ter tawa ter- bahak2: "Hahaha, inilah Cing-hu-hoan-tong (kecapung memenuhi kolam) untuk mengantar kau  pulang  ke  akhirat. "

Segera Tian Pek merasakan kaki dan lengan sakit pedas, beberapa buah Ciog-hu-piau telah bersarang di tubuhnya.

"Habislah riwayatku. " keluh Tian Pek dalam hati.

Tapi demi teringat pada sakit hati ayahnya yang belum terbalas, ia merasa tak rela untuk mati dengan begitu saja.

Sekuatnya ia tutup Hiat-to penting di seluruh tubuh sehingga racun untuk sementara tak sampai menyerang ke dalam jantung, kemudian ia menarik napas panjang, entah darimana datangnya kekuatan, ternyata ia berhasil melompat ke atas pagar taman yang tingi. "Anak keparat, ingin kabur kemana?!" ejek Cing-hu-sin Kim Kiu sambil tertaWa. "Kau sudah terkena senjata rahasia beracun. tidak sampai tiga jam jiwamu pasti akan melayang!"

Berdiri di atas dinding Tian Pek merasa pandangannya ber-kunang2, hampir saja ia jatuh terjungkal ke bawah, tapi sekuat tenaga ia berdiri tegak di situ, lalu memaki dengan gregetan: "Bangsat tua, hari ini kuampuni jiwa anjingmu, tapi suatu saat Siauya pasti akan datang lagi untuk membuat perhitungan dengan kau. . . ." Habis ini ia terus melompat turun keiuar taman dan lari secepatnya.

"Jangan biarkan anak keparat itu melarikan hari, tangkap dia sampai dapat .... !" teriak Cing-hu-sin Kim Kiu dengan gusar.

Disambung suara bentakan, berpuluh jago istana keluarga Kim segera melakukan pengejaran keluar pekarangan.

Ketika Tian Pek melompat keluar gedung itu ia masih sempat mendengar rintihan Kim Cay-hong; "O, ayah

....ampunilah jiwanya "

Tentu saja Tian Pek tidak membiarkan dirinya tertangkap oleh musuh, setelah mengetahui ada yang mengejar, ia terus kabur ke depan, sekalipun tubuhnya terasa linu, sakit, lemas dan kesemutan, tapi ia bertahan sekuatnya dan berlarian dengan cepat menjauhi tempat itu.

Sementara itu sudah tengah malam, keramaian di kota Lam-keng mencapai puncaknya, acara malam Cap-go-meh yang di-nanti2kan oleh segenap lapisan masyarakat semenjak petang telah dimulai. yaitu acara kembang api udara serta melepaskan lampion. Penduduk ber-jubel2 ingin mengikuti tontonan menarik itu, beraneka warna kembang api memenuhi udara menciptakan bentuk warna-warni yang sangat indah, sementara kembang api bersemarak diangkasa, banyak penduduk yang membawa lampion berhias saling berlarian menuju ke luar kota.

Suasana bertamhah ramai, lautan manusia ber-desak2an memenuhi jalan raya, hal ini memberi kesempatan  baik bagi Tian Pek untuk meloloskan diri dari kejaran jago istana Kim ,

Waktu itu Tian Pek sudah bermandikan darah, racun  keji yang terkandung diujung senjata Cing-hu-piau mulai mengembang dalam tubuhnya, kesadaran dan daya ingatannya mulai kabur, untung saja ia terhimpit diantara orang banyak yang saling berdesakan sehingga tubuhnya tidak sampai roboh.

Begitulah, di tengah berjubelnya orang banyak akhirnya Tian Pek dengan setengah sadar terbawa oleh arus manusia sampai di pintu Cin-hway-bun dan mencapai tepi sungai Cin-hway.

Sambil ber-teriak2, arus manusia itu saling berebut menuju ke sungai dan membuang lampion mereka kedalam air, beraneka warna lampion segera terombang-ambing dibawa arus menuju kehilir, pemandangan tampak indah menawan.

Tian Pek juga terbawa ketepi sungai, ia sudah kehabisan tenaga, tubuhnya lemas sekali, karena tidak terhimpit lagi oleh orang banyak, akhirnya ia roboh terkulai tak sadarkan diri.

Entah berapa lama sudah lewat, Tian Pek merasakan sekujur badannya sakit sekali, cepat ia membuka mata dan memandang sekelilingnya. Ia lihat dirinya berbaring diruangan pendopo sebuah kelenteng bobrok.

Ruangan ini amat besar, atapnya sudah banyak berlubang, bintang tampak bertaburan dilangit yang gelap, jelas masih malam hari.

Kelenteng ini benar2 sudah bobrok, patung di meja pemujaan tampak sudah rusak, sarang labah2 memenuhi langit2 ruangan dan debu bertimbun.

Tapi aneh, tempat Tian Pek berbaring adalah sebuah meja sembahjang yang bersih, malahan alas tidurnya adalah rumput kering yang tebal, sebuah selimut tebal menutupi badannya.

Tapi setelah pikiran Tian Pek jernih kembali, Waktu ia berpaling, apa yang terlihat kemudian hampir saja membuat dia menjerit kaget.

Di bawah cahaya pelita yang remang2 tampak seorang manusia aneh berwajah hijau dan berambut merah dengan memegang belati sedang menusuk tubuhnya.

Betapa terperanjatnya Tian Pek, dia mengira dirinya terjatuh ke tangan iblis. Buru2 saja ia menjerit, mendadak kaki terasa sakit tidak kepalang, tanpa ampun lagi pemuda itu jatuh pingsan pula.

Tatkala ia siuman kembali untuk kedua kalinya, rasa ngeri masih belum lenyap, ia coba menoleh, tapi apa yang dilihatnya membuatnya tercengang lagi.

Suatu pemandangan aneh muncul kembali, manusia aneh bermuka hijau dan berambut merah tadi sudah tak ketahuan kemana perginya, yang duduk di sebelahnya sekarang adalah seorang gadis cantik dan sedang menatapnya dengan pandangan penuh rasa kasih sayang. Hampir saja Tian Pek tidak percaya pada matanya sendiri, ia mengira sedang bermimpi, Ia kucek2 matanya dan memandang pula, dilihatnya sepasang mata yang jeli dan besar masih menatapnya tanpa berkedip.

Tian Pek segera angkat tubuh hendak berduduk, serunya dengan kuatir: "Aku ....aku berada dimana .... ?" — Tapi segera pula tubuhnya terasa sakit tidak kepalang, sebelum kata2 itu berlanjut, ia menjerit dan jatuh telentang.

Gadis cantik itu tertawa manis, ucapnya lembut: "Engkau jangan bergerak dulu, senjata rahasia yang bersarang dibadanmu baru kucabut dan racunnya sudah punah, tapi mulut lukanya belum merapat, asal isristirahat dua hari lagi, tentu kau akan sehat kembali." 

Sudah beberapa gadis cantik yang pernah dilihat Tian Pek, seperti Buyung Hong yang dingin dan anggun, Tian Wan-ji yang polos dan lincah serta Kim Cay-hong yang mendapat julukan Kanglam-te-it-bi-jin.

Akan tetapi gadis yang berada di depannya saat ini bennr2 luar biasa sekali, kecantikannya sedikitpun tidak berada dibawah Kim Cay-hong, kelincahan dan kepolosannya tidak kalah daripada Tian Wan-ji, malahan tampaknya lebih anggun daripada Buyung Hong, wajahnya begitu cerah bagaikan sang surya di musim semi.

Dandanannya juga sederhana, ia tidak berbedak maupun memakai gincu. gerak-geriknya lugu

seperti anak perawan keluarga rakyat kecil, tapi bergaya lembut dan anggunnya puteri keluarga bangsawan. cuma tidak mewah dan tidak angkuh. Tian Pek tertegun termangu seperti orang kehilangan sukma. selang sesaat kemudian ia terus berpaling ke arah lain dan seperti ingin mencari sesuatu.

"Eh, apa yang kau cari?" tiba2 si gadis cantik menegur dengan tertawa manis.

"Tadi aku seperti melihat seorang manusia aneh bermuka hijau dan berambut merah . . ."

Gadis itu tertawa pula. ia ambil sebuah topeng dibelakangnya dan diperlihatkan kepada anak muda itu.

Sekarang Tian Pek baru tahu, kiranya manusia aneh bermuka hijau dan berambut merah itu tak lain adalah penyamaran gadis ini dengan topengnya.

"O, rupanya nona menggodaku dengan memakai topeng ini!" katanya kemudian, "Ai, kalau begitu, agaknja nona pula yang telah menyelamatkan jiwaku?"

Kembali gadis itu tertawa manis dan mengangguk. "Boleh kutahu siaba nama nona agar budi kebaikan ini

dapat kubalas di kemudian hari!" tanya Tian Pek.

Gadis itu tertawa dan tidak menjawab, dia angkat topeng bermuka hijau dan berambut merah itu sambil menggerakkannya kesana kemari.

Tian Pek melongo bingung, ia tak paham apa maksud gadis itu, maka ditatapnya gadis itu dengan sorot mata penuh tanda tanya.

"Coba tebak siapa namaku?" tanya gadis itu sambil tertawa.

"Ah, rupanya nona suka bergurau, masa nama orang boleh sembarangan dijadikan tebakan?" Gadis itu menatapnya lekat2 penuh arti, katanya kemudian: "Engkau betul2 tak tahu atau cuma pura2 bodoh?"

Tian Pek jadi melengak. sekali lagi dia mengamati wajah orang yang cantik jelita, ia berusaha mengumpulkan semua ingatannya, tapi ia merasa benar2 belum pernah berjumpa dengan nona ini,

Iapun tidak pernah mendengar bahwa di dumni Kangouw ada seorang gadis cantik yang suka mengenakan topeng setan begini. Dengan menyengir akhirnya ia berkata "Aku belum pernah bertemu muka dengan nona, juga belum pernah mendengar. "

"Masa kau belum lagi tahu siapa diriku setelah melihat topeng ini?" sekali lagi gadis itu menegur sambil memperlihatkan topengnya.

Tian Pek tambah bingung, untuk sesaat ia tak mampu menjawab, dalam hati ia berpikir: "Jangan2 gadis ini memang memiliki nama besar di dunia persilatan? Mungkin aku yang picik dan kurang pengalaman, maka tidak tahu siapa dia "

Sementara dia masih termenung, gadis itu tertawa manis, sambil menepuk pemuda itu bagaikan kasih sayang seorang ibu ia berkata: "Kau tak perlu peras otak untuk memikirkan soal itu lagi, akhirnya toh kau akan tahu sendiri, kini lukamu belum sembuh, walaupun senjata rahasia yang bersarang di tubuhmu sudah kucabut keluar dan racun yang mengeram ditubuhmu telah kupunahkan, akan tetapi paling sedikit kau perlu istirahat selama tiga sampai lima hari, perutmu tentu sangat lapar bukan? Tunggulah sebentar disini, akan kucarikan makanan bagimu " Setelah membuang enam kepingan mata uang tembaga hijau di sisi Tian Pek. dia segera berkelebat pergi dengan cepat.

"Cepat amat gerak tubuhnya," diam2 Tian Pek memuji sambil menjulur lidah. Jangankan ia sendiri tak mampu menandingi, sekalipun paman Lui yang lihay Ginkangnya serta Wan-ji yang pernah dipuji Sin-lu-tiat-tan rasanya juga sukar menandingi kehebatan nona itu.

Tanpa terasa pikiran Tian Pek melayang jauh, melihat Ginkangnya yang lihay dapat diduga pula ilmu silatnya pasti sangat tinggi, pasti juga namanya sangat tersohor di dunia persilatan, tapi siapakah dia? Mengapa belum pernah terdengar selama ini?

Akhirnya sorot matanya tertuju pada enam keping mata uang yang ditaruh gadis itu di sampingnya sebelum pergi tadi. Mendingan kalau tak memandang benda itu, darah panas segera bergelora dan matapun merah berapi.

Nyata sedikitpun tak ada bedanya antara ke enam keping mata uang ini dengan mata uang tembaga  yang ditinggalkan mendiang ayahnya, mata uang inilah yang disebut Cing-hu-piau, senjata rahasia andalan Cing-hu-sin Kim Kiu.

"Ayah tewas terkena senjata rahasia beracun ini, untung ada gadis cantik itu yang menolong aku, kalau tidak, mungkin akupun sudah tewas seperti apa yang dialami ayah?"

Makin dipikir pemuda itu merasa semakin sedih, gusar dan dendam, tanpa terasa ia pegang beberapa keping mata uang itu. Cahaya pelita tiba2 berguncang terembus angin, menyusul sigadis yang memakai topeng itu telah muncul kembali di hadapannya.

"Jangan sentuh benda itu!" bentak nona itu cepat. "Mata uang itu mengandung racun yang keji!"

Maka cepat Tian Pek menarik kembali tangannya.

"Tiga hari lamanya racun baru hilang dari sekitar mata uang ini," kata nona itu. "Sekarang baru hari kedua, kalau ingin memegangnya tunggu saja sampai besok "

"Apa? Jadi aku sudah dua hari berada disini?" tanya Tian Pek dengan terkejut.

"Dari malam Cap-go-meh sampai malam Cap-jit tepat sudah dua hari," ucap nona itu sambil tertawa cekikikan. "Sebenarnya akupun terlalu tegang, sekalipun racun mata uang ini lihay sekali, asal tidak masuk darah takkan memberi reaksi apa2, tadi aku kuatir mata uang itu melukai jari tanganmu hingga berdarah, kalau sampai terjadi begitu kan kau sendiri yang susah."

Sambil bicara ia taruh makanan yang dibawanya ke hadapan pemuda itu, kemudian menanggalkan topengnya, lalu berkata lagi: "Nah, makanlah! Sudah dua hari engkau tidak makan apa2, tentu sudah lapar bukan?"

Ketika bungkusan itu dibuka ternyata isinya adalah seekor bebek panggang Lamkeng serta belasan cakwe.

Bebek panggang Lamkeng sangat tersohor, jangankan dimakan, baunya saja sudah cukup membuat orang mengiler, apalagi Tian Pek sudah dua hari tidak makan tidak heran kalau ia mengganyang hidangan yang diberikan itu dengan lahapnya. Saking bernapsunya pemuda itu mengganyang hidangan itu sampai mulutnya jadi penuh dan tak tertelan, dia kelolodan makanan yang menyumbat tenggorokannya tak bisa masuk dan tak bisa keluar, saking paniknya wajahnya menjadi merah padam.

Mimik wajahnya yang lucu itu menggelikan hati si nona ia tertawa ter-pingkal2, perutnya jadi sakit dan air matanya ikut berlinang.

"Hei, tuanku, makanlah pelahan sedikit!" serunya sambil tertawa. "Jangan2 tidak mampus karena senjata rahasia, tapi mati keselak, nah, baru konyol."

Tiba2 kerongkongan Tian Pek berkeruyukan dan matanya mendelik, si nona menjadi kuatir, tapi pemuda itu lantas tarik napas panjang dan berseri.! "Aduh, hampir saja aku mati tercekik . . ."

Melihat kelakuan Tian Pek yang lucu itu, si nona tertawa ter-pingkal2, tanpa terasa ia menjatuhkan diri ke pangkuan anak muda itu.

Tapi mendadak Tian Pek menjerit kesakitan, kiranya si nona lupa pada luka ditubuh anak muda itu, cepat ia berbangkit. Dilihatnya anak muda itu sedang memandangnya dengan muka merah, maka si nona lantas mencubit lagi dan keduanya sama2 tertawa pula cekakak dan cekikik.

Tengah bercanda dengan riang gembiranya, tiba2 di luar kelenteng ada suara keresekan yang lirih, suara yang menyerupai daun jatuh, bila tidak diperhatikan pasti tidak mendengarnya, tapi hal ini tak dapat mengelabui si nona yang lihay itu.

Gelak tertawanya seketika terhenti, ia melompat dan membentak nyaring: "Siapa di sana? Berani mengintip?" Begitu kata2 terakhir terucapkan, tahu2 ia sudah melayang keluar.

Sungguh gesit dan cepat gerak tubuh nona itu, tapi di luar tak tertampak sesosok bayangan manusiapun, suasana tetap hening.

Nona itu percaya penuh pada ketajaman pendengarannya, meski tidak berhasil menemukan jejak musuh, ia percaya bahwa pendengarannya pasti tidak salah.

Ia berdiri dengan bertolak pinggang, ia mendengus, ucapnya: "Hm, tentunya kau tahu siapa yang berdiam di sini, kalau berani mengintip lagi, jangan menyesal nonamu tidak sungkan2 lagi padamu."

Pada waktu bicara sekarang, air mukanya yang cantik telah timbul warna guram, kendati suaranya tidak begitu keras, akan tetapi tersiar sampai belasan li jauhnya.

Apabila betul ada orang yang mengintip, dalam jarak seluas sepuluh li pasti dapat mendengar ucapan si nona yang merdu bagaikan burung berkicau tapi mengandung nada seram dan mengancam itu.

Selesai mengucapkan kata2nya nona itu tidak peduli adakah orang yang bersembunyi di sekitar situ, ia melayang keudara, setelah berputar satu kali, ibarat burung walet kembali ke sarang, dia menerobos jendela dan masuk ke ruang kelenteng tadi.

"Engkau berhasil menemukan sesuatu, nona?" tanya Tian Pek.

Senyum manis menghiasi wajah nona itu, berbeda sekali suaranya kini dengan nada ancamannya yang mengerikan diluar tadi Ia menjawab: "Kemungkinan ada satu-dua ekor tikus kecil yang bernyali besar bersembunyi di atas sana dan mengintip kita bergurau!" Tian Pek tidak berbicara lagi, persoalan itu tak dipikirnya. Untung ia tidak sempat mendengar

ucapan si nona yang seram di luar tadi, kalau tidak niscaya dia takkan bersikap setenang itu.

Hal ini bukan karena ketajaman pendengaran Tian Pek tidak berfungsi lagi, soalnya ucapan si nona tadi sengaja dipancarkan dengan senacam kepandaian khusus yang disebut Gi-ih-coan-im (menyampaikan suara dengan bahasa semut), ia dapat memancarkan gelombang suara pembicaraannya hingga sejauh sepuluh li lebih, langsung disampaikan ke telinga orang yang dituju, sebaliknya bagi orang yang bukan tujuannya, kendatipun berada beberapa meter didepannya juga takkan mendengar apapun.

Nona cantik itu tidak bilang kepada Tian Pek bahwa dia bicara apa2 kepada orang yang mengintip mereka, maka Tian Pek sendiripun tidak mendengar apa yang diucapkan nona itu ketika berada di luar kelenteng tadi.

Seperti tidak pernah terjadi apapun, kembali nona cantik itu bergurau dengan Tian Pek, kemudian ia menina- bobokan pemuda itu agar tertidur, dia sendiri duduk bersimpuh di depan pembaringan sambil mengatur pernapasan.

Tapi dapatkah Tian Pek tidur? Sebentar2 ia teringat kembali usaha balas dendamnya yang gagal, kemudian teringat akan Wan-ji yang terjatuh di tangan Cing-hu-sin Kim Kiu, lalu terbayang pula kawanan jago persilatan yang terjebak oleh Sek-ki-tay-tin di istana keluarga Kim, entah bagaimana nasib mereka? Setelah itu ia terbayang pada Kim Cay-hong yang cantik, Buyung Hong yang pernah bertelanjang bulat didepannya, mengingat betapa sucinya tubuh telanjang seorang gadis, mengingat pula watak Buyung Hong yang dingin dan angkuh. bila gadis itu tidak mencintai dirinya, mengapa ia menunjukkan badannya yang bugil di depannya?

Sekalipun pada waktu itu dia terpengaruh oleh irama seruling pembetot sukma yang mengacaukan pikiran sehat dan kesadarannya, tapi kalau tubuh telanjang seorang gadis sudah diperlihatkan padanya, kecuali dirinya mengawini gadis itu, kalau tidak hidup si gadis ini berarti sudah tamat.

Teringat akan persoalan ini, diam2 Tian Pek merasa gelisah bercampur kuatir bagi Buyung Hong, ia merasa gadis yang suka murung ini patut dikasihani, gadis itu selalu terkurung didalam rumah, se-akan2 seekor burung yang berada disangkar emas, sama sekali tiada kebebasan.

Namun Tian Pek tak dapat mengawini gadis tersebut, bukannya dia tak mencintai nona itu, sekalipun pemuda yang berhati baja juga akan luluh menghadapi ketulusan hati si nona, apalagi Tian Pek adalah pemuda yang berperasaan dan berbudi.

Akan tetapi, apa mau dikata, Buyung Hong adalah puteri pembunuh ayahnya, ayah gadis itu adalah musuh besar yang akan dibunuhnya, mungkinkah dia mengawini anak gadisnya?

Tiba2 Tian Pek teringat juga pada Hoan Soh-ing, kegagahan serta kecantikannya mendatangkan suatu perasaan lain bagi anak muda ini, meski diwaktu berada dalam gua batu ia telah mengurut jalan darahnya dan menyembuhkan lukanya, walau pun dia menyentuh tubuhnya yang halus, empuk dan menggiurkan itu, namun tiada suatu ingatan jahat yang terlintas dalam benaknya, ia hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat karib . ....

Sayang ayahnya termasuk pula salah seorang musuh besar yang membunuh ayahnya. Ai, hampir semua kekasihnya adalah keturunan musuhnya. Mungkinkah ia ditakdirkan hidup sebatangkara?

Perasaan Tian Pek mengalami pergolakan yang hebat, bagaikan ombak samudera yang bergolak, jangankan tidur, untuk menenangkan pikiran saja susah.

Sering ia membuka mata dan melirik gadis cantik yang telah menyelamatkan jiwanya ini, dia ingin tahu siapakah nona ini dan darimana asal-usulnya,

Dia benar2 cantik molek, Tian Pek tahu dirinya bukan orang yang gila perempuan, apalagi dirinya mengemban tugas membalas dendam, kini dirinya dalam keadaan luntang-lantung tanpa tempat meneduh, dalam keadaan merana ia harus menghadapi godaan cinta Wan-ji. Buyung Hong. Hoan Soh-ing, Kim Cay-hong.... gadis2 itu sama jatuh cinta padanya dan terasa sukar menyelesaikannya, masa sekarung harus bertambah lagi keruwetan baru?

Istimewa sekali gaya nona itu sewaktu mengatur pernapasan, ia tidak duduk bersila, melainkan duduk dengan sebelah kakinya menekuk, kaki yang lain diluruskan kedepan, tangan menopang dagu, bulu mata panjang menaungi matanya yang jeli dengan senyum manis menghiasi bibirnya. Lesung pipinya kelihatan nyata, begitu indah menawan gayanya mirip sebuah lukisan wanita cantik yang sedang tidur.

Dilihatnya kabut putih tipis menguap dari telinga, hidung serta bibirnya, kabut putih itu membumbung ke atas dan menggumpal di atas kepala membentuk tiga kuntum awan yang berbentuk seperti bunga.

Ditinjau dari semua itu, jelas Lwekang si nona sudah mencapai puncak kesempurnaan yang tak terkirakan. Nona itu terlalu cantik, begitu cantik hingga sukar dilukiskan, walaupun tiada pikiran jahat yang melintas dalam benak Tian Pek, namun tanpa terasa iapun memandangnya dengan terbelalak.

Mendadak nona itu membuka matanya dan terseuvum manis, senyuman yang menggiurkan dan mesra. Terguncang hebat perasaan Tian Pek.

Pelahan nona itu meluruskan kedua kakinya, lalu  bangkit dan menghampiri Tian Pek, dengan pelahan dia meraba tubuhnya.

Hangat dan halus belaian tangan si nona. Tian Pek merasa peredaran darahnya bertambah cepat dan makin bergolak, ia hampir tak sanggup mengendalikan perasaan lagi ....

Tiba2 si nona membisikannya: "Agar lukamu cepat sembuh, biarlah kukorbankan sebagian tenaga murniku untuk mengobati kau, sekarang salurkanlah tenagamu untuk mengiringi aliran hawa murniku!"

Tian Pek merasa malu sendiri, mukanya menjadi panas, pikirnya: "Wahai Tian Pek, engkau menganpgap dirimu sebagai seorang laki2 sejati, seharusnya kau tidak boleh sembarangan berpikir. Orang lain bermaksud baik hendak menyembuhkan lukamu tapi kau. "

Berpikir sampai disini, segera ia tarik kembali pikiran busuknya dan membersihkan pikirannya dari segala  maksud jahat, perhatian dipusatkan jadi satu dan hawa murnipun disalurkan menyusuri badan.

Ia merasa si nona mulai meraba tubuhnya, segulung hawa panas segera menyusup dan mengelilingi seluruh badannya. Kedua telapak tangan gadis itu meraba kian kemari tiada hentinya, Tian Pek merasakan badan bertambah nyaman dan segar, begitu nyaman sampai rasa sakit pada lukanya tidak terasa lagi.

Ketika terapi penyembuhan itu mencapai puncaknya, tiba2 gadis itu mengerut dahi dan berhenti meraba, telinganya menangkap sesuatu yang mencurigakan, hawa napsu membunuh seketika menyelimuti seluruh wajahnya.

Selagi Tian Pek heran oleh perubahan air muka si nona, mendadak ia meraih topeng dan dipakainya, sekali melejit ia terus melesat keluar kelenteng itu.

Kecantikan nona itu memang luar biasa, dikala tersenyum bahkan bagaikan bunga yang sedang mekar, tapi bila air mukanya berubah, maka seramnya membikin orang bergidik, terutama tingkah lakunya yang serba misterius, serba rahasia asal-usulnya, mau tak-mau membuat Tian Pek menjadi takut.

Ia coba memeras otak pula untuk menyelami asal-usul gadis itu, ia ingat kembali apakah di dunia persilatan pernah ada tokoh seorang gadis cantik yang bertopeng setan begini?

Jangan2 dia adalah orang yang dikirim musuhnya untuk mencelakainya? Tapi jelas hal ini tak mungkin terjadi, sikapnya sangat baik, malahan dia bersedia mengorbankan hawa murninya untuk mengobati luka yang dideritanya, kalau dia orang yang dikirim musuh, kenapa dia malah bantu menyembuhkan lukanya? ....

Begitulah selagi macam2 pikiran berkecamuk dalam benak Tian Pek, tiba2 terdengar kain baju berkesiur, menyusul sesosok bayangan orang melayang masuk ke dalam ruangan. Tian Pek mengira gadis cantik yang misterius itu telah kembali, semula ia tidak menaruh perhatian, akan tetapi setelah orang itu berada di depannya barulah ia terperanjat.

Ternyata pendatang ini bukan gadis cantik itu, melainkan seorang pemuda pelajar tampan berbaju putih.

Tahun baru adalah musim dingin, meski Tian Pek tidur beralaskan onggokan rumput kering dan berselimut masih juga terasa dingin. tapi pemuda pelajar ini justeru  membawa kipas lempit sehingga kelihatan sangat menyolok dan janggal.

Agak tercengang Tian Pek menyaksikan kehadiran orang yang tak dikenal ini.

Pemuda baju putih itu lantas tertawa dan menyapa: "Anda asyik benar ditemani Hong-gan-mo-li (iblis wanita berwajah cantik), tampaknya kau menjadi lupa daratan."

"Mengapa anda berkata demikian? . . ." seru Tian Pek dengaa bingung.

Pemuda berbaju putih itu mengetuk kipas peraknya di atas telapak tangan kirinya, lalu menjawab: "Perempuan cantik tak lebih cuma tengkorak yang berdaging, kecantikan perempuan juga seperti ulat yang berbisa, sebelum kau sadar dari impian indahmu, mungkin kau sudah akan menjadi setan gentayangan di kelenteng bobrok ini!"

"Apa artinya perkataanmu ini?" sekali lagi Tian Pek bertanya dengan terkejut.

"Kecantikan dan perempuan sebetulnya tenyata kosong belaka, lautan kesengsaraan tak bertepi, berpaling adalah daratan. . . ." kata pula pemuda baju putih itu seperti khotbah seorang pendeta. Tian Pek benar2 dibikin bingung oleh perkataan orang. "Apabila anda ingin memberi sesuatu petunjuk, harap bicaralah terus terang mengapa pakai istilah2 yang membingungkan orang . . ."

"Hahaha?" pemuda baju putih itu ter-bahak2. "Benarkah kau tidak kenal perempuan iblis itu? Berani kau bermesraan dengan dia?!"

Tentu saja Tian Pek tidak mengetahui asal usul gadis cantik yang serba misterius itu, tapi bagaimanapun juga orang telah menyelamatkan jiwanya, maka ia tak menaruh prasangka jelek atas nona itu. Kini cara bicara pemuda baju putih ini seperti main teka-teki diam2 ia tidak senang.

"Bila tak ada urusan lain, silakan anda tinggalkan saja tempat ini!" demikian kata Tian Pek. "Maaf, Cayhe sedang sakit dan tiada nafsu untuk berbicara dengan anda."

"Aku hanya bermaksud baik saja padamu, tak tahunya malahan menimbulkan salah paham! Baiklah, kalau kau belum tahu, biarlah kukatakan terus terang padamu, iblis perempuan itu tak lain adalah 'Ang-hun-ko-lau-mo-kui- kiau-wa' (Boneka cantik iblis sakti siluman tengkorak)! Gembong iblis nomor wahid di kolong langit dewasa ini, tahu tidak?"

Tidak kepalang kaget Tian Pek demi mendengar keterangan ini. "Sungguhkah perkataanmu?" ia menegas.

"Buat apa kubohongi kau? Sejak dari 'pulau iblis' di lautan timur sana kukuntit iblis ini, masa keteranganku ini dapat keliru?"

"Ah, tak kusangka dia adalah. . .tak kusangka sungguh

sukar untuk dapat dipercaya "

Perlu diketahui. Ang-hun-ko-lau, Kui-bin-kiau-wa (Tengkorak cantik, boneka bermuka setan) adalah seorang gembong iblis yang namanya sangat termashur di dunia persilatan sejak puluhan tahun yang lalu. wajahnya memang cantik jelita bak bidadari kahyangan, akan tetapi hatinya kejam melebihi ular berbisa, ilmu silatnya sangat tinggi hingga sukar diukur, tabiatnya juga sangat cabul dan dengki, setiap lelaki tampan tentu akan ditawannya untuk dipikat dan dirayu, bila kurang mencocoki seleranya laki2 itu lantas dibunuhnya.

Pantangannya yang terbesar adalah bertemu gadis cantik, perempuan cantik yang ditemuinya pasti dibunuhnya dengan cara keji, bukan saja matanya dicukil dan lidahnya dipotong, wajah mereka yang cantik dirusak hingga tak berwujud manusia lagi, dalam keadaan begitu baru korban ditinggalkan dan membiarkannya sekarat dan akhirnya mati.

Oleh karena kekejamannya, meskipun belum lama ia muncul di dunia Kangouw, namun seluruh dunia sudah digemparkan oleh kecabulan serta kekejamannya, akan tetapi karena ilmu silatnya terlalu tinggi, jarang sekali ada orang yang sanggup menandinginya.

Itulah sebabnya hanya dalam beberapa tahun saja banyak sekali muda mudi yang hancur masa depannya dan tewas secara mengerikan di tangan perempuan berhati iblis ini.

Bukan saja jago muda dari kalangan hitam yang menjadi korban, seringkali jago muda dari golongan putih pun terbunuh. lama2 kejadian ini menimbulkan kegusaran semua pihak, baik jagoan dari golongan putih maupun dari kalangan hitam sama membencinya, akhirnya bergabunglah semua kekuatan dunia persilatan uutuk ber-sama2 menumpas perempuan blis itu, dalam suatu pertarungan yaug sengit di puncak Thay-san, akhirnya iblis itu berhasil melarikan diri dari kepungan. Dalam pertarungan sengit itu banyak juga korban di pihak delapan perguruan besar serta kawanan jago Lok-lim dari tujuh propinsi di selatan dan enam propinsi di utara. Sebab itulah maka akhir2 ini nama Su-tay-kongcu semakin menonjol dan menjagoi Bu-lim tanpa kesukaran.

Sejak itu pula tengkorak cantik gadis bertopeng setan itupun lenyap dari keramaian dunia. Ada orang mengatakan ia tewas akibat luka parah yang dideritanya, ada pula yang mengatakan ia bertapa di "pulau iblis" di lautan timur, tapi bagaimanapun tak seorang yang tahu jelas,

Tahun berganti tahun, kejadian yang menggemparkan itupun sudah dilupakan orang, kalau ada yang mengungkap kembali juga cuma dijadikan kisah menarik belaka di waktu senggang.

Tian Pek pernah mendengar cerita itu dari para Piausu tua di perusahaan pengawalan dulu, tapi mimpipun ia tak menyangka gadis cantik yang telah menyelamatkan jiwanya itu adalah tengkorak cantik gadis bertopeng setan, bisa dibayangkan betapa terkesiapnya.

Cuma saja ada satu hal ia merasa sangsi, gadis yang menyelamatkan jiwanya itu masih amat muda, mungkinkah dia ini gembong iblis yang pernah menggemparkan dunia persilatan pada puluhan tahun yang lalu?

Maka sambil tertawa ia berkata: "Apakah ucapanmu ini dapat membuat aku percaya?"

"Ya, kutahu kau takkan percaya pada perkataanku, tapi kelak bila kau percaya mungkin waktu itu sudah terlambat bagimu," demikian kata pemuda itu.

Mendadak terdengar orang mendengus di belakang. cepat pemuda berbaju putih itu berpaling, entah sedari kapan gadis bertopeng setan itu sudah berdiri di tengah ruangan.

Topeng yang bermuka hijau dan berambut merah serta bertaring menutupi seraut wajah yang cantik jelita, kecuali perawakannya rada pendek dan kecil ia memang persis seperti iblis yang menakutkan.

Untung Tian Pek pernah menyaksikan wajah aslinya, kalau tidak, pasti takkan tersangka bahwa makhluk aneh seperti setan ini sebenarnya adalah penyaruan seorang gadis jelita.

Dengan suara dingin menyeramkan gadis bertopeng setan itu menjengek: "Hm, sudah kuduga pasti kau inilah yang ngacau, Huuh, selicik-liciknya akal busukmu jangan harap bisa membohongi aku, cuma akupun merasa heran, apa sebabnya kau selalu membuntuti kepergianku dan selalu saja mengacau dan mengganggu kegembiraanku. Sebenarnya apa maksudmu?"

Pemuda berbaju putih itu tidak menjawab, mendadak ia melancarkan suatu pukulan dahsyat.

"Blang," gadis bertopeng menangkis pukulan itu, benturan keras mengguncang sekelilingnya, pelita di atas meja ikut tersampuk padam.

Suasana menjadi gelap gulita, pertempuran berlangsung semakin gencar, Tian Pek berbaring dan tak dapat mengikuti jalannya pertarungan itu dengan jelas, tapi ia dapat merasakan betapa ttaam dan hebatnya desingan angin pukulan kedua pihak.

Di tengah kegelapan, mendadak terdengar gadis bertopeng setan itu membentak nyaring: "Kau ingin lari lagi!. " Menyusul angin pukulan semakin men-deru2, tampaknya si gadis bertopeng setan telah mempergencar serangannya.

Tiba2 si pemuda baju putih berseru: "Maaf, aku tak  dapat menemani terlalu lama! Tapi kaupun jangan keburu bangga dulu, bila Hay-gwa-sam-sat (tiga malaikat bengis dari lautan) tiba, saat itulah ajalmu akan tiba."

ata terakhir kedengaran berkumandang dari puluhan kaki jauhnya, jelas pemuda baju putih itu sudah berhasil kabur keluar kelenteng dengan kecepatan luar biasa.

"Hm, sampai ke ujung langitpun akan kubekuk kau!" terdengar suara gadis bertopeng setan menggema dikejauhan.

Diam2 Tian Pek menjulurkan lidah saking kagumnya, sungguh cepat sekali gerak tubuh mereka dan sukar dicari bandingannya.

Suasana dalam kelenteng kembali hening, dengan  pikiran kalut Tian Pek berbaring sendirian disitu, ia merasa sudah banyak pengalaman aneh yang dialaminya selama ini, tapi pertemuannya dengan gadis bertopeng setan serta pemuda berbaju putih inilah terhitung pengalaman yang paling aneh dan membingungkan.

Ia pikir bila gadis bertopeng setan itu benar adalah Tengkorak cantik gadis topeng setan seperti apa yang dikatakan pemuda berbaju putih itu, maka aku harus bersyukur dapat terhindar dari cengkeramannya. Tapi kalau dipikir lagi hal inipun tak mungkin terjadi. Iblis keji itu sudah tersohor sejak puluhan tahun berselang, masa ia masih begitu muda dan kecil? Siapapun tak akan percaya. Juga pemuda berbaju putih yang tak dikenalnya itu mengapa sengaja datang membongkar rahasia gadis itu dengan menempuh bahaya?

adahal setelah kepergok gadis bertopeng segera pula pemuda itu berusaha melarikan diri dan menggunakan nama Hay-gwa-sam-sat untuk me-nakuti si nona, siapa gerangan Hay-gwa-sam-sat yang dimaksudkan itu?

Semakin dipikir Tian Pek semakin bingung, akhirnya dia anggap baik si gadis bertopeng setan maupun pemuda yang berbaju putih, keduanya bukan orang baik2, gerak-gerik mereka mencurigakan, asal-usulnya dirahasiakan, namapun sungkan dikatakan, semuanya serba tidak beres, bila terjatuh didalam cengkeraman mereka, tentu lebih banyak celaka daripada selamatnya.

"Daripada menanggung derita di tangan mereka, lebih baik kucari tempat bersembunyi lain untuk merawat lukaku? Bila luka sudah sembuh, segera kucari jalan untuk membalaskan dendam ayah."

Begitu timbul keinginan kabur, serta merta Tian Pek menggerakkan tangan kakinya dan rasa sakit ternyata sudah hilang ia mengerahkan pula hawa murninya dan terasa bisa terhimpun, betapa girangnya anak muda itu, ia tahu berkat pertolongan si nona bertopeng setan itu ia telah sehat kembali.

Tapi ketika ia bangkit berduduk, seketika ia tertegun bingung. Kiranya ketika tak sadar, ia tak merasa tubuhnya dalam keadaan telanjang bulat. pakaiannya entah sejak kapan sudah dibelejeti.

Dalam kagetnya Tian Pek coba meraba sekujur badannya, kecuali lengan dan kakinya yang dibalut dengan kain, boleh dibilang ia betul2 dalam keadaan telanjang bulat. Kejut Tian Pek sukar dilukiskan, cepat ia meraba disana- sini, akhirnya di tengah kegelapan ia berhasil menemukan bajunya, cuma pakaian itu sudah ter-koyak2 tak keruan.

Sekarang Tian Pek baru mengerti, rupanya untuk membalut dan mencabut keluar senjata rahasia yang bersarang di tubuhnya, gadis bertopeng itu telah merobek bajunya.

Teringat dirinya dibelejeti hingga bugil oleh seorang nona jelita, tanpa terasa muka Tian Pek menjadi merah.

Tapi ada sesuatu yang membuatnya terlebih cemas daripada rasa malunya itu, yakni kitab pusaka Thian-hud- pit-kip yang dipandangnya lebih berharga daripada jiwanya kini ikut lenyap.

Cepat ia meraba tempat lain, Pedang Hijau Bu-ceng-pek- kiam juga lenyap tak berbekas.

aking gusarnya Tian Pek mencaci-maki kalang kabut Setelah mengetabui pedang pusakanya diambil orang, niatnya untuk kabur seketika lenyap, sekarang dia malah ingin menentui gadis bertopeng setan itu untuk menuntut kembali kitab pusaka Thian-hud-pit-kip serta Pedang Hijau.

Pakaiannya sudah jelas tak mungkin bisa dikenakan lagi, dengan hati mendongkol ia merobek kain selimutnya menjadi beberapa potong lalu diikat di tubuh dengan kain bajunya yang robek, meski bentuknya menjadi lucu sekali, tapi paling sedikit bagian vital di tubuh dapat ditutupi dan juga untuk menolak hawa dingin.

Selesai berdandan, dengan langkah cepat dia menyusup keluar, terlihat bulan telah condong ke barat, sinar yang bening menyoroti kelenteng yang bobrok itu menciptakan suatu pemandangan yang suram. ian Pek tak tahu kelenteng ini berada dimana, tapi segera ia menuju ke arah pergi pemuda baju putih serta si gadis bertopeng tadi.

Beberapa li telah ditempuhnya tanpa terasa, namun tiada sesuatu tanda yang dilihatnya, yang melintang di depan mata adalah sebuah suugai yang lebar.

Gemerlapan air sungai dengan suaranya yang men- debur2, tapi tiada bayangan seorangpun yang kelihatan.

Tian Pek mengira dia salah arah, baru saja dia akan putar balik ke tempat semula, dari tepi sungai sebelah kiri sana mendadak terdengar suara langkah orang yang semakin dekat.

Dari suaranya, Tian Pek menduga jumlah pendatang pasti lebih daripada satu dua orang, tergerak pikirannya, cepat ia menyusup ke balik semak2 dan bersembunyi.

Di bawah cahaya rembulan yang terang, dengan jelas anak muda itu dapat menyaksikan munculnya serombongan orang dari balik alang2 di tepi sungai sana.

Panjang juga barisan itu, ada berpuluh orang jumlahnya, semua bertubuh kekar, pada masing2 bahu mereka memanggul sebuah peti yang tampaknya berat sekali.

Setiba di tepi sungai, orang2 itu menurunkan peti dan menyusunnya dengan rapi. Kebetulan Tian Pek bersembunyi dekat dengan tumpukan peti itu, maka semua dapat terlihat dengan jelas.

Mereka terdiri dari laki2 kekar berpakaian ringkas, malahan diantaranya adalah jago pengawal berseragam yang sudah dikenal oleh Tian Pek.

"Ah, bukankah mereka ini jago istana keluarga Kim?" demikian ia membatin. "Kenapa di tengah malam buta begini mereka menggotong peti sebanyak ini ketepi sungai?

Tampaknya juga bukan

pindah rumah, sungguh aneh . . ."

Sementara Tian Pek masih ragu, terdengar seorang pengawal dengan napas ter-engah2 berkata: "Entah apa yang hendak dilakukan majikan kita ini? Tengah malam buta begini kita diperintahkan mengangkut peti2 berat ini ketepi sungai, tampaknya bukan pindah rumah, tapi kenapa barangnya diangkut semua kemari "

"Ssst, Lo-su! Masa kau tidak tahu?" bisik rekannya dengan lirih, "kudengar orang2 yang kemarin dulu terkurung di dalam Sek-ki-tay-tin itu entah sebab apa tahu2 hari ini sudah kabur semua, mungkin majikan kita takut mereka akan datang membalas dendam, maka semua harta- benda diungsikan lebih dahulu, kalau tak kuat menahan serbuan musuh beliau dapat segera mengundurkan diri."

"Ah, masa betul?" seru pengawal pertama tadi dengan kaget.

"Bukankah sering kita dengar, katanya barang siapa terjebak di dalam Sek-ki-tay-tin, maka selamanya tak bisa lolos? Kenapa orang2 itu bisa kabur?"

"Disitulah letak keanehannya, kudengar Sek-ki-tay-tin digerakkan bukan atas perintah majikan kita, melainkan Beng-siauya yang melakukan sendiri, karena peristiwa tersebut majikan jadi marah besar, ia menuduh Beng-siauya telah mengacaukan rencananya, malahan karena peristiwa ini Beng-siauya telah disekap dalam sel."

"Bukankah Beng-siauya selalu menuruti perintah majikan? kenapa kali ini dia melanggar perintah? Apakah dia sudah sinting?" "Memangnya kau anggap dia belum sinting? Kalau dia tak sinting, tak mungkin Kongcu dan Siocia ikut dijebak pula disana."

Pengawal yang bernama Lo-su itu menggeleng kepala berulang kali, katanya pula: "Lantas apa sebabuna dia sampai melakukan perbuatan sinting itu?"

"Kenapa lagi? Tentu saja disebabkan anak keparat she Tian itu. Sebenarnya Beng-siauya dan Siocia dibesarkan bersama dalam satu keluarga, hubungan mereka b*ak sekali, besar hasrat Beng-siauya akan menperisterikan Siocia, malahan majikanpun sudah menyetujui persoalan ini. Apa mau dikata, sejak kedatangan anak keparat she Tian itu mendadak sikap Siocia terhadap Beng-siauya jadi dingin dan tawar, sebaliknya hubungannya dengan orang she Tian itu bertambah mesra, maka Beng-siauya menjadi gusar tidak kepalang, dalam suatu pertarungan sengit lengannya tertabas kutung oleh orang she Tian, tentu saja Beng-siauya tambah dendam dan benci. Dua hari yang lalu Beng-siauya bermaksud membalas dendam, siapa tahu ia malahan kena dipukul dan terluka oleh pemuda Tian, dari sakit hati Siauya menjadi sinting, pada kesempatan pemuda Tian berada dalam ruangan itulah. mendadak ia menggerakkan Sek-ki-tay-tin untuk membunuh saingan cintanya itu "

Walaupun pelahan suara pembicaraan kedua orang itu, tapi berhubung Tian Pek bersembunyi dekat dengan mereka, maka semua pembicaraan tersebut dapat didengar olehnya dengan jelas.

Tiba2 dari tepi pantai di seberang muncul cahaya lampu yang bergoyang kesana kemari, agaknya seorang diseberang sedang memberi tanda kepada orang yang ada di sebelah sini. Seorang laki2 berpakaian ringkas segera bersuit, lalu kepada rekan2nya ia berkata: "Bersiaplah, perahu hampir datang!"

Dua orang pengawal yang sedang bercakap itupun menghentikan pembicaraan mereka. Suara dayung membelah air bergema di tengah kesunyian, bayangan perahu mulai mendekati pantai.

Cepat sekali laju perahu itu, permukaan sungai yang luasnya puluhan tombak itu ternyata ditempuh dalam waktu singkat, menyusul munculnya perahu itu, belasan buah sampan juga bermunculan, rupanya sampan kaum nelayan.

Pada sampan yang paling depan tampak seorang berduduk di atas sebuah kursi beroda, orang itu tak lain adalah Cing-hu-sin Kim Kiu.

Setelah sampan menepi, orang2 yang berada di haluan sampan segera menggunakan gaetan untuk menghentikan perahu, sementara orang di daratan tadi segera menggotong peti2 itu dan diangkut ke atas perahu.

Tersirap darah Tian Pek demi berjumpa dengan Cing-hu- sin Kim Kiu, musuh besar yang membunuh ayahnya, dia tak sanggup mengendalikan emosinya lagi sambil membentak, secepat kilat ia melompat keiuar dari tempat sembunyinya.

"Kim Kiu bangsat tua! Serahkan jiwa anjingmu! "

teriaknya penuh kebencian, suatu pukulan dahsyat segera menabas tubuh kakek yang lumpuh itu.

Kemunculan Tian Pek sangat mendadak, cepat pula serangannya, sebelum kawanan jago yang ada didaratan mengetahui apa yang terjadi, tahu2 Tian Pek sudah menerjang musuh. Mimpipun Cing-hu-sin Kim Kiu tidak menyangka bakal disergap dalam keadaan begitu, dalam gugupnya ia masih sempat menangkis datangnya serangan tersebut.