Hikmah Pedang Hijau (Wu Qing Bi Jian) Jilid 09

Jilid 09

Tiba2 timbul pikirannya, cepat ia bertanya "Apakah Locianpwe yang menolong diriku?"

"Akupun tidak tahu siapa yang telah menolong kau, tapi memang akulah yang membantu menyadarkan kau. Tian- siauhiap, coba ceritakan kemana saja setelah kita berpisah tempo hari?"

Tian Pek lantas menceritakan semua pengalamannya semenjak berpisah dengan kedua orang itu.

Habis mendengar penuturan itu, manusia aneh tadi menghela napas, ucapnya: "Ai...rupanya takdir menghendaki demikian, aku gagal membunuh diri sehingga sekarang malah bisa menyumbangkan sedikit tenagaku bagi keturunan In-jin!"

Pe|ahan ia bangkit dan mengajak Tian Pek kedepan meja abu Tian In-thian, kata-katanya kemudian: "Tuan penolong kami yang kumaksudkan ialah ayahmu sendiri!"

Memandang meja abu ayahnya, tanpa terasa air mata Tian Pek bercucuran, ia berlutut dan menyembah beberapa kali.

Ketika itulah semua penderitaan lahir batin yang dideritanya selama ini terbayang kembali, tak kuasa lagi anak muda itu menangis tersedu-sedan. Watak Tian Pek memang keras, belasan tahun hidup terluntang-lantung seatangkara, sudah banyak penderitaan dan siksaan yang dialaminya, tapi belum pernah dia meneteskan air mata atau mengerutkan dahi. Tapi sekarang berhadapan dengan meja abu ayahnya, ia tak dapat membendung rasa sedihnya yang selama ini mengganjal dalam hatinya.

Apalagi bila terbayang kegagalannya selama ini untuk mencari tahu musuh besar ayahnya, bukan saja dendam belum dapat dituntut, siapa pembunuhnya pun tak tahu, kesedihan ini membuat ia tak mampu menahan diri lagi dan menangislah dia ter-gerung2.

Tiba2 manusia aneh itupun ikut menangis sambil memukuli dada sendiri, rupanya iapun terbayang pada penderitaan sendiri dan usahanya yang sia2 mencari pembunuh tuan penolongnya.

Setengah barian lamanya kedua orang itu menangis, akhirnya manusia aneh itu menengadah dan bersuit  panjang se-olah2 hendak melimpahkan segenap rasa sedih yang dideritanya selama ini.

Sambil mengusap air mata katanya dengan lantang: "Air mata seorang Enghiong tak akan menetes dengan percuma, Siau-in-kong! Jangan menangis lagi, ada beberapa patah kata hendak kubicarakan denganmu!"

Sesudah menangis, rasa sedih Tian Pek yang bertumpuk selama ini jauh berkurang, mendengar perkataan itu, ia berhenti menangis, ia berbangkit dan berkata: "Locianpwe jangan sungkan2 padaku, bila ingin mengatakan sesuatu, silakan bicara saja."

Hoat-si-jin (orang hidup mati) menghela napas sedih, ucapnya: "Ai, bila dibicarakan sungguh memalukan sekali, terlalu besar budi yang kami peroleh dari In-jin, begitu besar budi kebaikan tersebut sehingga sulit rasanya untuk membalasnya. Sungguh tak tersangka setelah kematian In- kong, bukan saja kami tak dapat balaskan dendamnya, malah siapakah pembunuhnya juga sama sekali tidak tahu, lalu apakah kami punya muka untuk tetap hidup di dunia ini? Waktu itu sebenarnya kami hendak bunuh diri dan menyusul In-kong ke alam baka, tapi kami pikir perlu juga mencari tahu siada pembunuh In-kong serta membalaskan dendamnya, maka kami terima hidup menderita sampai sekarang, kami bersumpah akan merabalaskan dendam kematian In- kong, sebelum berhasil kami takkan berhenti berusaha!"

Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan: "Sejak itu, kami menghapuskan nama kami yang asli dan menggunakan nama Hoat-si-jin serta Si-hoat-jin, sehari dendam In-koog belum terbalas, sehari pula kami tak akan menggunakan nama asli kami. Tapi pembunuh In-kong memang terlampau keji dan licik, gerak-geriknya amat rahasia dan cermat sekali, setelah melakukan penyelidikan yang seksama, akhirnya kami hanya tahu bahwa pembunuh In- kong ada enam orang banyaknya dan keenam orang ini merupakan tokoh kenamaan di dunia persilatan sekarang."

Sampai disini Hoat-si-jin berhenti pula dan mengembus napas panjang.

Tergetar hati Tian Pek mendengar nama musuh yang hampir disebutkan itu. dengan tubuh gemetar dan suara serak ia berseru: "'Lanjutkan ceritamu Locianpwe, lanjutkan

. . . ."

Hoat-si-jin tarik napas panjang dan menggeleng: "Ai, keenam tokoh silat itupun mempunyai nama serta kedudukan yang terhormat di dunia persilatan, bahkan mereka adalah saudara angkat ayahmU, Orang persilatan menyebut mereka sebagai Tionggoan. jit-hiap (tujuh pendekar besar dari daratan Tionggoan) Sungguh tak tersangka lantaran satu partai harta karun yang berada didasar telaga Tong-ting-ouw, mereka lantas berkomplot dan membunuh ayahmu "

"Locianpwe! Lanjutkan ceritamu, siapakah mereka? Siapa nama mereka semua?" seru Tian Pek dengan tak sabar.

"Di antara keenam orang itu, kecuali seorang di antaranya jauh di luar lautan dan tidak diketahui jejaknya, sisanya yang lima orang rata2 adalah tokoh kenamaan di dunia persilatan dewasa ini Oh, Thian! Kenapa orang baik tidak diberkahi, sebaliknya orang jahat malang melintang dengan leluasa."

?"

"Locianpwe, cepat katakan, siapakah mereka? Siapa nama mereka?" desak Tian Pek.

Anak muda ini tak dapat menahan sabar lagi, apalagi setelah dilihatnya Hoat-si-jin hanya berkeluh kesah belaka tanpa menyebutkan nama pembunuh ayahnya.

Akhirnya dengan mata melotot Hoat-si-jin menjawab: "Orang pertama adalah Pah-ong-pian (Cambuk raja ganas) dari kota Tin-kang, Hoan Hui! Sedangkan empat orang lainnya adalah orang tua

Bu-lim su-kongcu (empat kongcu dari dunia persilatan) yang tersohor itu."

"Apa? Bu-lim-su-kongcu!" teriak Tian Pek dengan terbelalak, ia cengkeram lengan Hoat-si-jin kencang2 dengan mata merah membara, sambil melototi manusia aneh itu ia menegas: "Jadi pembunuh ayahku juga termasuk Bu-lim su-kongcu?" Dengan keren Hoat-si-jin mengangguk. "Benar Pembunuh ayahmu adalah ayah Bu-lim-su-kongcu...?"'

"Jadi antara lain adalah ayah Lenghong Kong¬cu. Ti seng-jiu Buyung Ham?" teriak Tian Pek.

Hoat-si-jin mengangguk.

"Dan ayah An-lok Kongcu, Kun-goan-ci (telapak tangan sapu jagat) In Tiong-liong?"

Kembali Hoat si—jin mengangguk tanpa ber suara. "Ayah Toanhong Kongcu, Kun-goan-ci (jarj sakti) Su-

gong Cing dan ayah Siang-ling Kongcu. Cing-tu-sin (malaikat labah2 hijau) Kim Kiu?"

Dengan wajah serius kembali Hoat si-jin mengangguk, setelah Tian Pek selesai berkata dia menambahkan: "Masih ada seorang lagi, dia telah jauh mengasingkan diri keluar lautan, sampai kini jejaknya tak ketahuan, orang itu adalah Gin-san-cu (kipas perak) Liu Ciong bo!"

"Ooo!...." tiba2 Tian Pek berteriak terus roboh tak sadarkan diri.

Cepat Hoat-si-jin menyambar badan si arak muda dan salurkan hawa murninya lewat jalan darah Mia-bun-hiat dipunggungnya, selang sesaat Tian Pek baru sadar kembali dari pingsannya.

Dengan air mata bercucuran dan sedih katanya: "O, Locianpwe, tampaknya sakit hati ayahku sukar untuk dituntut balas, apa yang mesti kulakukan?"

"Ai. . .!" Hoat- si-jin menghela napas panjang, "Siau-in- kong! Jangankan engkau kamipun jadi putus asa dan menyesal setelah mengetahui nama2 pembunuh itu, kami sadar tiada harapan kami untuk balas dendam bagi kematian In-kong, karena putus asa maka kami ambil keputusan untuk bunuh diri dengan menumbukkan kepala pada pohon!"

Sampai disini. Hoat si-jin pandang sekejap anak muda ini, diam2 ia menghela napas, pikirnya: "Persoalan ini jelas sukar diselesaikan karena menyangkut kelima orang tokoh silat yang paling top di dunia persilatan jaman ini, bukan saja kekayaan yang mereka miliki ber-limpah2, merekapun mengumpulkan jago persilatan se-banyak2nya di kolong langit jangankan hendak bermusuhan dengan mereka berlima sekaligus, untuk memusuhi salah satu diantaranya saja sukar, kami berdua yang selamanya tak kenal takut saja mesti berpikir dua kali sebelum bertindak, apalagi Siau-in- kong hanya seorang muda yang sebatang kara, mana kau mampu menandingi kelihayan lima tokoh tersebut? Mana mungkin dendam ayahmu bisa dituntut balas?"

Sekalipun demikian, Hoat si-jin tak tega mengutarakan isi hatinya itu, dia kuatir Tian Pek mengalami pukulan batin yang lebih hebat lagi, terpaksa dia berkata pula: Siau-in- kong, engkau tak usah berputus asa, bukankah pepatah bilang 'di dunia ini tiada soal yang sukar, asalkan kita punya tekad besar'. Maka bila engkau berani berusaha dan siap menhadapi segala aral melintang, pada suatu hari akhirnya sakit hati In-kong pasti berhasil dituntut balas."

Semangat Tian Pek bangkit kembali sehabis mendengar perkataan itu, dia berpikir: "Benar juga ucapan Locianpwe ini, kenapa aku mesti patah semangat? Tidak selayaknya seorang laki2 sejati takut menghadapi kesukaran, asal kulatih ilmu silatku dengan tekun hingga kepandaian yang kumiiiki memperoleh kemajuan pesat, masa tidak mampu kubunuh musuh ayah satu persatu? Sekalipun nanti harus berusaha mati2an, tetap harus kulaksanakan juga agar setiap orang persilatan menpetahui ayahku masih mempunyai seorang keturunan seperti diriku ini." Berpikir sampai disini, satu ingatan cepat timbul dalam benak anak muda itu, tiba2 ia berlutut di depan Hoat-si-jin dan berkata dengan serius: "Terima kasih atas nasihat Cianpwe sehingga pikiran Wanpwe yang cupat bisa terbuka kembali, bagaimanapun Locienpwe adalah sahabat karib mendiang ayahku? Terimalah Wanpwe sebagai muridmu, asal Wanpwe berhasil mempelajari ilmu silat yang tinggi, suatu hari aku pasti akan berhasil balaskan dendam ayah . .

. "

Gugup Hoat-si-jin melihat Tian Pek berlutut padanya, karena tak sempat membangunkan anak muda itu, cepat ia sendiripun berlutut, sahutnya: "Siau-in-kong, lekas bangkit berdiri, kalau engkau berbuat demikian, bukankah sama artinya bikin repot aku saja?"

Tian Pek mengira Hoat-si-jin tak mau menerimanya sebagai murid, ia semakin ngotot tak mau bangun, akhirnya manusia aneh itu menarik anak muda itu dan didudukan keatas kursi. lalu ia berkata dengan serius: "Bukannya aku menolak permintaanmu dan tak sudi memberi pelajaran silat kepadamu, tapi kenyataan dibalik persoalan ini sebenarnya terselip alasan lain yang jauh lebih penting, pada hakikatnya ilmu silat yang kumiliki cuma dapat digunakan menghadapi kaum keroco kelas kambing, kalau dibandingkan dengan jago2 lihay, terus terang saja masih bukan tandingannya, karena itulah walaupun kuajarkan seluruh ilmu silat yang kumiliki kepadamu juga percuma, apalagi peraturan persilatan mengenai pengangkatan guru sangat ketat sekali, bila kau angkat aku menjadi guru, maka dikemudian hari sulitlah jika kau ingin belajar silat pada orang lain, bukankah itu berarti akulah vang merusak masa depan Siau-in-kong? Kedua, kami berdua tak lain hanya pelayan Tian-tayhiap, atau tegasnya Siau-in -kong adalah majikan muda kami, masa pelayan bisa menjadi guru sang majikan? Kan lucu . . . "

Tian Pek pikir benar juga perkataan Hoat-si-jin ini, terpaksa ia diam saja. terlihatlah rasa kecewa pada wajah anak muda ini.

Melihat kekecewaan anak muda itu, Hoat-si-jin segera berkata pula: "Kenapa Siau-in-kong mesti putus asa? Bukankah engkau membawa kitab ilmu silat yang jauh  lebih hebat daripada guru kenamaan manapun juga?"

Ucapan tersebut menyadarkan Tian Pek dari lamunannya, ia lantas teringat kepada kitab Thian- hud-pit- kip, cepat ia meraba bajunya, tapi kosong, kitab itu telah hilang, keruan mukanya berubah pucat karena terperanjat.

Pelahan Hoat-si-jin mengeluarkan kitab Thian-hud-pit- kip itu dari sakunya dan bertanya: "Siau-in-kong, darimana kau dapatkan kitab paling aneh dikolong langit ini?"

"O, seorang bernama paman Lui yang menghadiahkannya kepadaku!" sahut Tian Pek dengan lega melihat kitab pusaka itu ternyata tidak hilang.

Sambil bicara, Hoat-si-jin mem-balik2 halaman kitab itu dan melihat isinya, tapi baru satu-dua halaman dilihatnya, cepat ia pejamkan mata sambil mengatur pernapasan,

Sesaat kemudian dia baru buka mata seraya berkata: "O, sungguh lihay! Kitab ini mudah membawa orang kejalan yang sesat. . ..Siau in-kong, engkau mssih muda dan berdarah panas, aku jadi ingin tahu bagaimana caramu mempelajari isi kitab ini."

"Wanpwe merabanya dengan tangan di tempat gelap!" jawab Tian Pek dengan berterus terang. Hoat si-jin tidak percaya, cepat dia pejamkan mata dan coba meraba kitab tersebut dengan tangannya, hanya sebentar saja dia lantas mengetahui duduknya perkara, tanpa terasa napsu ingin memiliki kitab tersebut terlintas pada wajahnya.

Hal ini tak dapat menyalahkan Hoat-si-jin. Maklumlah kitab Soh-kut-siau-bun-thian-hud-pit-kip adalah kitab pusaka yang di-idam2kan setiap umat persilatan di kolong langit ini, sejak dua ratus tahun berselang entah sudah berapa banyak jago yang mati karena berebut kitab tersebut. pengakuan Tian Pek atas rahasia kitab itu tentu saja menimbulkan curiga Hoat si-jin.

Untung Hoat-si-jin bukan seorang yang tamak, ia lebih mengutamakan rasa setia kawan daripada napsu untuk memiliki kitab tersebut bagi kepentingan pribadi, meskipun kitab pusaka itu dipegangnya beberapa saat dengan kencang dan terjadilah pertentangan batin yang hebat, tapi akhirnya budi yang luhur menangkan napsu tamaknya.

Dia menghela napas punjang, ia mengembalikan kitab pusaka itu kepada Tian Pek, pesannya dengan prihatin: "Siau-in-kong, ketahuilah kitab ini adalah kitab pusaka yang diincar oleh setiap umat persilatan di kolong langit ini, jika engkau tidak hati2 menyimpan kitab ini sehingga rahasianya diketabui orang niscaya Celakalah jiwamu, engkau harus ingat, lebih

banyak manusia yang berjiwa tamak dan bermoral rendah daripada orang2 yang berjiwa besar. Karena itu rahasia ini harus kau simpan baik2 jangan sampai kitab pusaka ini mengakibatkan jiwa sendiripun ikut jadi korban!"

Tian Pek bukan orang bodoh, tentu saja dia dapat menyaksikan pula mimik wajah orang yang aneh dan ingin memiliki itu, apalagi setelah mendengar dan melihatnya, diam2 ia berkeringat dingin dan bersyukur.

Hoat-si-jin lantas menyerahkan kembali kitab itu ketangan Tian Pek, setelah hening sebentar kembali ia bertanya: "Macam apakah manusia yang kau sebut paman Lui itu? Sungguh besar jiwanya."

Tian Pek segera menjalaskan air muka serta bentuk tubuh paman Lui.

"O! Rupanya Lui Ceng-wan!" seru Hoat-si-jin dengan cepat setelah mendengar penjelasan tersebut.

"Locianpwe kenal dia?" tanya Tian Pek.

"Tentu saja kenal?" sahut Hoat-si-jin dengan wajah berseri. "Dia adalah sahabat paling karib mendiang ayahmu, seringkali kami ikut beliau melakukan perjalanan di dunia Kangouw"

"Lalu siapakah Locianpwc sendiri?" sela Tian Pek tiba2. "Apakah Wanpwe boleh tahu nama besarmu agar tidak sia2 pertemuan kita ini."

Hoat-si-jin tampak muram, sesaat kemudian baru berkata sambil menghela napas panjang: "Untuk hal ini, maafkanlah Siau-in-kong, aku tak dapat memenuhi permintaanmu sebab kami bersaudara pernah bersumpah sebelum sakit hati In-kong terbalas, maka selamanya kami takkan pakai nama asli lagi, bila perlu boleh panggil kami dengan sebutan Hoat-si-jin dan Si-hoat-jin saja."

Tentu saja Tian Pek tak mau memaksa orang untuk menyebutkan namanya. Sejenak kemudian baru ia tanya pula: "Locianpwe, darimana kalian tahu tentang nama para pembunuh ayahku . . ." Belum habis anak muda itu berkata, Hoat-si-jin lantas memotong: "Tentang ini, engkau boleh tanya saja kepada Sin-lu-tiat-tan (keledai sakti peiuru baja) Tang-locianpwe, Bukan engkau saja, kami berdua pada mulanya juga tidak percaya setelah mendengar kabar itu, tapi akhirnya Tang- locianpwe muncul dan memberi kesaksian. Kemudian, dua hari yang lalu kamipun berhasil menemui Siau-in-kong itu kami temukan Cing-hu-piau, yaitu mata uang tembaga tersebut . . , . "

Ia berhenti sejenak untuk ganti napas lalu melanjutkan: "Engkau tahu apa arti mata uang itu? Itulah senjata rahasia khas milik Cing-hu-sin Kim Kiu. Sejak itulah sekalipun kami tidak percaya terpaksa harus mempercayainya juga, sebab bukti sudah kami lihat sendiri."

"Sin-lu-tiat-tan!" gumam Tian Pek. "Apakah yang dimassudkan Tang-locianpwe itu adalah seorang kakek pedagang kelontong kelilingan yang menuggang keledai?"

"Benar, itulah orangnya!" seru Hoat-si-jin.

Tiba2 ia seperti teringat pada sesuatu yang penting, segera ia berseru pula: "Sin-lu-tiat-tan Tang- locianpwe adalah sesepuh dunia persilatan yang berilmu tinggi, umurnya mungkin sudah melebihi seratus tahun, ilmu silatnya amat tinggi, terutama ketiga biji peluru baja serta ke-64 jurus pukulan Ki-beng-tui-hong-ciang adalah Kungfu yang sukar dicari bandingannya dikolong langit ini, jika Siau in-kong ingin cari guru pandai, kenapa tidak mencari orang tua itu dan belajar silat padanya?"

Tian Pek jadi girang mendengar keterangan tersebut, dengan muka berseri ia bertanya: "Apakah Locianpwe tahu orang tua kosen itu berdiam dimana?"

"Jejak orang tua itu sukar dicari sebab tak menentu tempatnya, namun sering dia mengasingkan diri disekitar duabelas gua bukit karang Yan-cu-ki yang terletak di lepi sungai dipinggir kota Lam-keng, bila Siau-in-kong berhasrat mencari beliau, pergi saja ke situ, kemungkinan besar engkau dapat menemuinya."

Tanpa membuang waktu lagi Tian Pek lantas melompat bangun, ia memberi hormat kepada manusia aneh itu dan ucapnya: "Kalau memang begitu, Wanpwe mohon diri sekarang juga, pertolongan dan budi yang telah Cianpwe berikan padaku tak akan kulupakan untuk selamanya. "

Habis bicara ia terus melayang keluar ruangan itu, hanya sebentar saja tubuhnya sudah berada jauh diluar gedung Si—jin-ki....

"Siau-in-kong . . . . !" teriak Hoat si-jin dari belakang, maksudnya hendak memberitahu bahwa seorang teman gadisnya masih tertinggal disitu, tapi tatkala teringat pada hal2 yang tidak enak. ia tidak jadi berseru lagi.

Sementara itu Tian Pek sudah turun dari bukit itu, perjalanan dilakukan sangat cepat.

Setelah keluar dari pintu Si-jin-ki, anak muda itu tak berpaling lagi, dikaki bukit ia lihat seekor kuda merah bagus dan gagah sedang makan rumput disana, Tian Pek mengira kuda itu milik Hoat-si-jin. Ia lupa orang yang mempunyai tampang aneh itu masakah memiliki kuda tunganggan sebagus itu?

Setelah menentukan arah, berangkatlah Tian Pek menuju ke Lam-keng, ia melakukan perjalanan cepat, kalau lapar ia mengisi perut ala kadarnya, untuk menghemat waktu seringkali hanya memetik buah-buahan yang ada di tepi jalan untuk menangsal perut. kadangkala iapun membidik beberapa ekor burung dan dipanggang, karena itu beberapa hari kemudian ia sudah tiba di kota Lam-keng. Pakaian yang dikenakannya waktu itu masih tetap baju dengan simbol sulaman macan tutul, lambang khas perkampungan Pah-to-san-ceng, hanya saja pakaian tersebut sudah robek dan dekil, ditambah pula mukanya penuh debu, rambutnya kusut dan bau keringat, tapi menyandang pedang pusaka dengan sarung berlapis emas, dandanan semacam ini tentu saja sangat menarik perhatian orang sepanjang jalan.

Tapi ia tak ambil pusing semua itu, perjalanan dilakukan tanpa melirik ke kanan-kiri, hanya ada satu tujuan baginya, yakni cepat tiba di "dua belas gua bukit karang".

Lam-keng atau Nanking adalah sebuah ibu kota kerajaan dijaman dulu, banyak tempat terkenal tersebar di seputar kota ini. Kota ini juga disebut dengan nama Kim-leng.

Diluar pintu barat kota terdapat sebuah telaga Bok-ciu- oh. Di utara kota ada pantai Yan-cu-ki. Sebelah timur kota di kaki bukit Ciong-san ada makam raja dinasti Beng-hau- leng dan telaga Hian-bu-oh. Dalam kota terdapat Pak-kek- kok dan bukit Cing-liang-san, semuanya berpemandangan indah, megah dan mempesona siapa saja yang berkunjung.

Waktu itu tengah musim gugur, namun hawa panas masih menyengat kota Lam-keng yang tersohor sebagai kota terpanas, dalam cuaca begitu banyaklah penduduk kota yang berpariwisata dan cari angin ketepi sungai sebelah utara kota yang dikenal sebagai Yan-cu-ki. 

Yan-cu-ki menjulang tinggi di tepi sungai, batu karang itu bentuknya persis seperti burung walet, megah dan indah dipandang. di dekatnya ada dua belas buah gua karang yang tersebar diseputarnya dan merupakan tempat yang ideal sebagai tempat tetirah untuk menghindari sengatan sinar matahari. Banyak kedai minum, rumah makan tersebar diisekitar "dua belas gua karang" itu, tidak sedikit laki perempuan duduk santai disana sambil mengobrol dan menikmati pemandangan alam yang indah.

Di kala itulah seorang pemuda sedang berjalan menyusur tepi sungai.

Ia mengenakan mantel warna hitam, meski bahannya mahal, namun di sana sini sudah robek, sepatunya penuh debu, tubuhnya basah oleh air keringat, siapapun akan tahu bahwa orang ini baru saja melakukan perjalanan jauh.

Sebilah pedang mestika terpanggul dipunggungnya, pemuda itu berjalan dengan kepala tertunduk. alis terkernyit, rupa-rupanya ada sesuatu yang sedang  dipikirkan olehnya, bukan saja tidak tertarik oleh keindahan alam yang terbentang didepan mata. iapun tak pernah menengok ke arah orang2 yang sedang mengobrol santai disana.

Selagi pemuda itu berjalan dengan kepala tertunduk, tiba2 sebutir batu kecil meluncur datang dan "plok" tepat menghantam belakang kepala anak muda tadi.

Pemuda itu melonjak kaget, cepat ia berpaling, tapi tak diketahui olehnya siapa yang menimbuk kepalanya dengan batu. sebab orang2 yang berada di situ sama tertawa geli memandanginya.

Aneh datangnya batu itu, sekalipun tak sampai melukainya, tapi sakit juga pemuda itu.

Tidak aneh bila orang yang ditimpuk batu dari belakang adalah seorang manusia biasa, tapi anak muda ini berkepadaian tinggi, sekalipun belum mencapai tingkatan yang luar biasa, akan tetapi tenaga dalamnya dan  ketajaman mata serta pendengarannya sudah lain dari pada yang lain, tak mungkin timpukan seorang jago silat biasa mampu melakukannya. Tapi sekarang terbukti ia kena timpuk, tak perlu ditanya lagi sang penimpuk pastilah seorang ahli ilmu senjata rahasia,

Kalau mahir menimpukkan senjata rahasia berarti pula ilmu silat yang dimiliki orang itu pasti jauh lebih lihay lagi, karena itu rasa kaget pemuda itu jauh lebih hebat daripada rasa sakitnya.

Dengan mata jelalatan anak muda itu mengawasi seputarnya, ia lihat orang2 yang disana sedang memandangnya sambil tertawa, namun tak diketahuinya siapakah si pembuat gara2 itu.

Dengan perasaan apa boleh buat pemuda itu meraba kepalanya yang benjut besar, namun tidak sampai keluar darah, sekalipun begitu cukup membuat hatinya mendongkol.

Diluar dugaan, baru saja ia berpaling, "plok!" kembali sebutir batu hinggap telak di kepalanya.

Kali ini tenaga sambitan tersebut jauh lebih keras daripada tadi, pemuda itu sampai meloncat setinggi dua- tiga kaki karena kesakitan, cepat ia berpaling dengan mata melotot gusar, mukanya merah padara karena menahan emosi yang meluap.

Gelak tertawa orang banyak terdengar pula. Tapi sekali ini pemuda itu dapat mengetahui siapa si pembuat gara2 itu.

Ternyata mereka adalah dua orang bocah cilik. seorang anak laki2 dan seorang anak perempuan.

Yang laki2 berusia tujuh-delapan tahunan, sedang yang perempuan berusia enam-tujuh tahunan, wajah mereka tampan dan cantik, baju mereka indah. Kedua anak itu berdiri dibelakang sebuah pot bunga, tangan mereka disembunyikan dibelakang punggung, sedang dalam pot bunga itu tertumpuklah biji batu persis seperti apa yang dipakai untuk menimpuk kepala pemuda tadi, melihat kekonyolan pemuda itu, mata mereka yang kecil terbelalak, bibnnya terkancing rapat, agaknya sedang menahan geli sehingga tidak sampai mengeluarkan suara tertawa.

Tidak jauh dari kedua anak itu terdapat sebuah gardu yang megah, sebuah meja bulat dengan taplak warna putih berada di tengah gardu itu, be-buahan yang segar serta beberapa cangkir minuman segar tersedia di atas meja.

Beberapa orang laki perempuan dengan dandanan yang perlente duduk mengitari meja bulat itu, wajah mereka segar, pelipis menonjol dan mata bersinar tajam, sekilas pandang siapapun akan tahu bahwa mereka pasti memiliki ilmu silat yang tinggi,

Di antara sekian orang2, itu yang paling menyolok adalah pemuda yang duduk di kursi utama, dia berwajah tampan dengan kulit badan yang putih halus, umurnya antara dua puluhan dan memakai baju sutera warna putih, sikapnya gagah, agung dan berwibawa.

Di sisi pemuda itu duduk seorang gadis cantik, usianya masih muda, tapi kelembutan serta keagungannya menunjukkan ia adalah keturunan orang yang berkedudukan tinggi.

Waktu itu sambil tersenyum si gadis lagi memandang sekejap pemuda linglung yang konyol itu, kemudian dengan gusar ia mendekiki kedua anak kecil tadi, agaknya ia hendak menegur kenakalan kedua bocah tersebut.

Betapa gusar dan mendongkolnya pemuda itu setelah kepalanya disambit batu dan ditertawakan orang banyak tapi ingatan lain cepat terlintas dalam benaknya: "Ai, buat apa aku mesti ribut dengan knak keci!?"

Karena itu rasa gusarnya lantas jauh berkurang, ia hanya menegur: "Hei, kawan kecil, jangan kalian sambit orang tanpa alasan, untung akulah yang kau sambit, coba kalau orang yang berangasan, tentu kalian takkan diampuni begitu saja "

Anak laki2 itu mengerling, lalu dengan tersenyum nakal ia balik bertanya: "Wah, kalau begitu engkau bukan orang berangasan kan?"

Anak perempuan yang berada di sisinya tertawa cekikikan, tapi segera ia merasa rikuh untuk tertawa, maka cepat ia berpaling ke arah sungai.

Saat itulah dilihatnya seekor kura2 besar sedang merangkak naik dari tepi sungai, timbul sifat kekanakan yang suka usil, dia lantas menjentikkan sebiji batu dan dengan telak menghnjar kepala kura-kura tadi sehingga badannya terbalik.

Kalau kura2 terbalik dengan kaki di atas, sekalipun meronta bagimanapun juga sukar untuk bangun lagi.

"Hihi, lihat Koko. aku dapat menyambit kepala kura2 itu dengan tepat!" teriak si anak perempuan sambil berkeplok kegirangan.

"Lan-lan, jangan nakal . . . ." pemuda tampan maupun gadis cantik di dalam gardu tadi segera menghardik.

Belum habis suara bentakan kedua orang itu. tahu2 anak laki2 itupun menimpuk pula kepala kura2 itu dengan gerakan yang sama. Berat dan cepat serangan tersebut, kura2 yang terbalik itu kontan mencelat ke dalam sungai. Sorak-sorai dan gelak tertawa menggema disekitar gardu, semua orang tertawa geli menyaksikan peristiwa yang kocak itu.

"Apanya yang aneh?" seru anak laki2 itu. "Lihatlah, kan aku juga bisa menimpuk kepala kura2 itu dengan jitu!

Kembali gelak tertawa menggema terlebih keras.

Sekalipun perkataan itu diucapkan oleh bocah yang tak tahu urusan, namun perkataan itu seperti mempunyaj arti ganda, ditambah lagi orang2 di sekitar situ sama bergelak tertawa, maka merah padamlah wajah anak muda tadi.

Matanya lantas melotot, segera dia hendak mengumbar rasa marahnya, tapi lantas terpikir buat apa berurusan dengan anak kecil yang tak tahu urusan. Akhirnya ia menghela napas, pikirnya: "Ai, dasar lagi sial! Penderitaan macam apapun sudah kualami, kenapa aku musti ribut dengan bocah cilik ?"

Berpikir begini, dengan kepala tertunduk cepat ia berlalu dari situ.

Belum jauh anak muda itu melangkah pergi tiba2 terdengar seorang mengejek dengan suara yang serak: "He, Lo-ji, tadi kau bilang seorang lelaki sejati lebih baik kehilangan kepala, lebih suka mandi darah daripada hidup dihina. Tapi coba lihat sekarang agaknya di dunia ini lebih banyak kura2 yang suka menyembunyikan kepala dari pada manusia berjiwa besar sudah dihina, kentut saya tidak berani."

Kata2 itu diucapkan dengan suara yang besar seperti suara bandot sehingga semua orang dapat mendengar dengan jelas.

Pemuda itu berada tidak jauh dengan si pembicara, tentu saja semua perkataannya dapat didengar olehnya. Segera ia berpaling, dilihatnya dua orang kakek dan seorang anak kecil duduk mencari angin di bawah pohon di tepi sungai, mereka sedang mengawasi si anak muda dengan sorot mata menghina.

Umur kakek2 itu sudah amat lanjut, tapi wajah mereka sangat istimewa. Yang satu berambut merah dengan kulit badan hitam kasar, hanya pada lekukan antara mata dan hidung saja berkulit agak putih bersih, matanya kecil, bulat dan memancarkan cahaya tajam, punggungnya rada bongkok hingga sepintas pandang seperti kunyuk.

Di depan kakek seperti kunyuk itu berduduk kakek lainnya, meskipun tampangnya tidak menjolok, tapi badannya yang kecil kurus serta topi dan mantel tebal yang dikenakannya cukup mengherankan siapapun yang memandangnya.

Coba pikir, udara waktu itu panas bagaikan dibakar, orang lain berusaha mengenakan pakaian setipis dan seminim mungkin, tapi kakek itu justru mengenakan mantel yang tebal.

Kakek kurus kecil yang memakai mantel tebal itu sedang mengawasi anak muda tadi dengan dahi berkerut, sambil menggerakkan kumisnya yang kecil dari hidungnya yang merah besar, ia menggeleng kepala sambil menyahut ucapan temannya tadi: "Ehm. memang benar perkataanmu!" —

Cara bicaranya dengan lagak seorang guru kampungan.

Gusar dan mendongkol juga pemuda linglung tadi sebelum ia sempat berbuat apa2 tiba2 kakek kurus kecil ini menggapai padanya: "Kemari, coba kemari!"

"Losianieng panggil aku?" tanya pemuda itu pura2 tak mengerti dengan menahan perasaannya. "Huh, dasar bebal," maki si guru kampungan sambil menarik muka. "Kalau bukan dirimu, memangnya aku memanggil anjing?"

Gelak tertawa riuh kembali menggema.

Betapapun sabar si anak muda akhirnya juga tak tahan, dengan gusar ia berseru: "Losiansing. tampaknya engkau seperti orang sekolahan, tapi kenapa engkau bermulut kotor? Kalau tidak mengingat usiamu sudah lanjut, hmm ...

."

Sekalipun tidak jelas apa yang hendak dilakukan, namun dapat pula diketahui dari suara jengekannya.

Tak terduga kakek berambut merah segera bergelak tertawa sesudah mendengar ucapannya itu. dengan suaranya yang serak ia berseru: "Hahaha... Bun-loji, sepanjang hari kau selalu mengoceh isi kitab yang kau baca, tapi sekarang bocah itu mengatakan kau orang sekolahan yang bermulut kotor, hahaha . . ."

Kontan si kakek kurus kecil melotot gusar ia pandang pemuda itu dengan marah, hardiknya: "Kurangajar! Kau benar2 anak yang tak bisa dididik secara baik2, kusuruh kau kemari, kau tak mau, tapi malahan berani mencaci-maki padaku. Hm, benar2 kurangajar!" — Habis berkata segera ia berlagak hendak berdiri.

"Guru, tunggu sebentar!" anak kecil yang berduduk didepan kedua orang kakek itu segera berbangkit. "Biarlah Tecu yang memikul tugas ini, membunuh ayam kenapa mesti pakai golok pejagal kerbau? Untuk memberi pelajaran kepada keparat ini tak perlu engkau repot2 turun tangan sendiri, biar Tecu yang hajar adat padanya."

Dengan pelahan kakek itu mengangguk dan duduk kembali. Sementara itu bocah tadi sudah merosot turun dari kursinya kemudian lompat kedepan pemuda tadi.

Kiranya bocah itu berbadan pendek, cebol, badannya yang istimewa cebolnya itu sewaktu duduk dikursi hampir boleh dibilang kakinya tidak menempel tanah, karena itu untuk turun dari kursinya dia harus melorot lebih dulu ke bawah.

Si cebol ini tingginya tak sampai tiga kaki, tapi kepalanya amat besar melebihi ukuran kepala manusia biasa, pada kepala dan wajahnya yang besar itu terdapat mata dan hidung yang kecil, ingus meleleh dari lubang hidungnya, kakinya amat pendek gemuk, rupanya kotor dan buruk.

Gelak tertawa orang banyak menggeletar pula. mentertawakan bentuk tubuh si cebol yang aneh dan lucu itu.

Tapi si cebol tidak ambil pusing, dengan lagak tuan besar ia menghampiri anak muda itu, setelah berdiri di depannya, ia tuding pemuda itu sambil berseru: "Hei, kunyuk! Berani kau mencaci-maki guruku, sekarang kalau kau mau menyembah padaku, maka tuan kecil akan mintakan ampun bagimu, mungkin tuan besar Suhu mau mengampuni dirimu, tapi kalau tidak, hm, jangankan Suhu akan marah2, bahkan tuan kecil juga tak akan mengampuni dirimu!"

Lagak si cebol itu benar2 amat kocak, ditambah pula sebutan tuan besar dan tuan kecil segala diiringi ingus yang meleleh terus diusap dengan lengan bajunya, maka gelak tertawa geli orang banyak kembali bergemuruh.

Anak muda itu benar2 menjadi gusar, apalagi setelah dilihatnya si cebol yang lebih mirip setan daripada manusia ini mencaci maki padanya, untuk sesaat ia sampai tak mampu ber-kata2 saking mendongkolnya. "Eh, bocah, kenapa kau diam saja? Memangnya ingin digebuk?" teriak si cebol dengan mata melotot.

Pemuda itu hanya tertawa dingin saja, ia tidak bicara juga tidak turun tangan. Sesungguhnya ia tak sudi bertempur melawan si cebol, sebab kalau menangpun tidak ada yang bisa dibanggakan olehnya, malahan mungkin orang lain akau menonton perkelahian mereka ibarat nonton komidi kera di tepi jalan, bukankah pamornya bisa merosot malah?

Lain lagi dengan jalan pikiran si cebol, ketika dilihatnya si anak muda tetap membungkam, dikiranya orang tak pandang sebelah mata padanya, ia menjadi gusar.

Tiba2 ia melompat maju sambil putar tangan kiri hendak mencengkeram dada pemuda itu, lihay sekali cengkeraman si cebol ini, gerakan yang dipakai adalah Toa-kim-na-jiu- hoat yang hebat, bukan saja cepat, gayanya juga aneh dan tidak lebih lemah dari pada jagoan kelas satu.

Betapa terkejut anak muda itu menghadapi serangan lihay itu, dia tak manyangka kalau sicebol yang kocak dan aneh bentuknya itu memiliki ilmu silat yang luar biasa.

Ia tak berani gegabah, melihat ancaman sudah berada didepan mata, cepat ia bergeser, kemudian dia balas mencengkeram pergelangan tangan si cebol dengan jurus Toan-Un-cay-meh (memotong otot memutus nadi), suatu gerakan yang ampuh juga dari ilmu Toa-kim-na-jiu-hoat pula.

"Serangnn bagus!" teriak si cebol dengan suara melengking sambil berputar tangan kanannya menurun ke samping untuk menghindari cengkeraman lawan, menyusul ia lantas mencengkeram pula perut musuh. Berbareng itu tangan kirinya seperti garpu menusuk tenggorokan anak muda itu.

Setelah menyaksikan serangan gencar dan lihay si cebol. pemuda itu tak berani pandang enteng lawannya lagi, kelima jari tangan kanannya balik mengunci pergelangan kiri si cebol yang sedang mengancam tenggorokannya itu dengan gerakan Kim-si-cian-wan (serat emas membelenggu pergelangan) berbareng pula tangan kirinya memotong Keng-liang-hiat pada lengan kanan si cebol.

Sambil berpekik si cebol menghindar kesamping, pertarungan makin lama semakin cepat, semua yang digunakan adalah Kim-na-jiu-hoat yang lihay.

Sekejap kemudian belasan jurus sudah berlangsung.

Perlu diketahui, tempat minum ditepi sungai Yan cu-ki biasanya memang banyak terdapat tokoh persilatan yang berilmu tinggi, semula mereka mengira pertarungan antara pemuda melawan si cebol itu tidak lebih cuma pertarungan kaum gelandangan, maka mereka tidak menaruh perhatian.

Tapi setelah pertarungan berlangsung lebih jauh. semua orang terbelalak matanya, sekarang mereka baru bisa merasakan betapa serunya pertarungan itu.

Sebagian besar tamu yang berkumpul disitu hanya jago silat biasa saja, melihat pertarungan berjalan sangat seru, kebanyakan mereka hanya ingin menonton keramaian belaka. Tapi ada pu]a di antaranya yang berkepandaian tinggi, mereka justeru sangat memperhatikan jurus serangan yang digunakan kedua orang itu.

Di antara sekian banyak orang, kedua kakek aneh serta pemuda pemudi perlente itulah yang paling menaruh perhatian. Siapakah kedua orang kakek itu? Mereka tak lain adalah Kanglam ji-ki (dua manusia aneh dari wilayah Kanglam) yang disegani baik tokoh kalangan putih maupun jago golongan hitam di seputar selatan sungai Tiang-kang.

Kakek berambut merah, berkulit hitam pekat dan bermuka seperti kunyuk itu adalah Lotoa atau tertua Kanglam-ji ki, orang menyebutnya sebagai Jik-hoat Lojin (kakek berambut merah), Siang Ki-ok.

Sedangkan kakek kurus kecil yang berhidung merah dan bermantel tebal itu adalah Loji (kedua) yang bernama Bun Ceng-ki, orang Kangouw menjuluki dia sebagai Kui-kok- im-soh (kakek pertapa dari lembah setan).

Sudah puluhan tahun lamanya mereka tersohor di dunia persilatan, baik Lwekang Gwakang atau-pun Ginkang telah mencapai puncak kesempurnaan yang tiada taranya, cuma tabiat mereka aneh dan jarang bergaul dengan orang lain.

Sepanjang tahun mereka hidup mengasingkan diri di Kui-kok, di mana letak lembah tersebut tak seorangpun yang tahu, sebab tak pernah ada yang berani berkunjung ke sana, orang hanya tahu kira2 lembah tersebut terletak di Gan-tang-san.

Sekalipun jarang muncul di depan umum, tapi setiap kali mereka muncul di dunia persilatan tentu akan digemparkan oleh kejadian2 yang luar biasa.

Si cebol jelek yang sedang bertempur melawan anak muda itu adalah satu2nya murid kesayangan mereka berdua. bocah itu ditemukan mereka di tepi jalan sewaktu masih bayi. Kanglam ji-ki biasanya tak suka bergaul dengan orang lain, entah apa sebabnya timbul pikiran bajik mereka dan memelihara bayi itu sampai dewasa, bahkan ajarkan pula ilmu silat. Lantaran badannya cebol dan bentuknya aneh, karena asal usul bayi itu tak diketahui pula maka mereka memberi nama Sam-cun-teng (palu tiga dim) kepada si cebol ini dan memberi pula julukan Siau-siang-bun (si pembawa celaka) kepadanya.

Jangan mengira Sam-cun-teng berbentuk manusia bukan manusia, seperti setan tapi bukan setan, kenyataan ia telah mendapat ajaran langsung ilmu silat Kanglam-ji-ki, sekalipun belum bisa dikatakan tiada tandingannya di kolong langit ini, tapi paling tidak ia sudah tergolong jago kelas satu di dunia persilatan.

Tapi sekarang anak muda tadi sanggup menandingi Sam- cun-teng dengan seimbang, tentu Kanglam-ji-ki jadi sangat heran.

Mata kedua kakek itu terbelalak lebar, mereka ikuti semua gerakan dan jurus yang dipakai anak muda itu, ketika diiihatnya Kim-na-jiu-hoat yang digunakan ternyata sangat mirip dengan To-liong-cap-pwe-jiu (delapan belas gerakan sakti pembunuh naga) yang diajarkan Kui-kok-in- siu. kepada Sam-cun-teng, mereka tambah tercengang dan melongo.

Adapun pemuda perlente yang duduk dalam gardu di sebelah lain juga bukan orang sembarangan, dia termasuk salah satu di antara Bu-lim-su kongcu yang tersohor, ia bukan lain adalah Siang-lin Kongcu Kim Cay-hoan, Kongcu yang tersohor karena simpatiknya memupuk persahabatan dengan tiap umat persilatan.

Siang-lin Kongcu turun temurun berdiam di kota Lam- keng, dia putera hartawan terkenal, ilmu silatnya tinggi sebab sejak kecil mendapat didikan orang kosen, be-ratus2 jago persilatan yang selalu ngendon dirumahnya dan tidak sedikit jago kelas satu, maka pemuda ini terhitung salah seorang yang paling berpengaruh di Lam-keng ini.

Gadis cantik yang duduk disamping Siang-lin Kongcu adalah adik kandungnya, bernama Kim Cay-hong, karena sekuntum bunga bwe selalu menghiasi sanggulnya dan lagi mukanya cantik jelita bak bidadari, maka orang memberi julukan Bwe-ing-sian (dewi bayangan bunga bwe) kepadanya-

Hari ini udara sangat panas, Siang-lin Kongcu kakak beradik dengan membawa beberapa orang "tukang pukul" berserta dua keponakan mereka yang bernama Beng-beng dan Lan-lan juga pesiar ke pantai Yan-cu-ki ini.

Tak terduga disini mereka berjumpa dengan Kanglam-ji- ki serta si cebol Sam-cun-teng.

Sesungguhnya kemunculan Kanglam ji-ki beserta murid cebolnya ini memang sengaja hendak mencari perkara pada Siang-lin Kongcu.

Kebetulan mereka menemukan Siang-lin Kongcu disini, maka berulang kali kedua mahkluk aneh ini mencemooh, menyindir dan mengejek, tapi setiap kali tidak dilayani oleh Siang-lin Kongcu, ia tak ingin bertengkar dengan orang yang belum diketahui asal-usulnya, bahkan beberapa kali iapun mengalangi tukang pukulnya yang sudah tak tahan dan ingin melabrak kedua kakek itu.

Kanglam-ji-ki sangat jarang keluar dari lembahnya, dengan sendirinya tidak tahu pula pengaruh serta kekuatan Siang-lin Kongcu, kemunculan mereka untuk mencari perkara juga disebabkan hasutan manusia rendah yang ingin mencari keuntungan bagi diri sendiri.

Ketika dilihatnya Siang-lin Kongcu sama sekali tidak menghiraukan olok2 dan ejekan mereka, tentu saja kedua kakek itu menjadi kikuk sendiri, maka untuk beberapa waktu lamanya kedua pihak sama2 tidak bertindak apa2.

Tatkala itulah kebetulan lewat pemuda yang berjalan dengan kepala tertunduk, mungkin karena sedang gundah pikirannya, tanpa sengaja anak muda itu telah menginjak mati seekor jengkerik milik Lan-lan yang terlepas.

"Hei! Awas!.. . . " teriak Lan-lan dengan kuatir, tapi jengkeriknya sudah mati terinjak, maka gadis cilik itu lantas ber-teriak2 pula: "Hei, kau injak mati jengkerikku, hayo ganti!"

Akan tetapi pemuda itu seperti orang linglung dan melanjutkan langkahnya dengan kepala tertunduk.

Meski Lan-lan baru enam-tujuh tahun, tapi dasar ilmu silatnya sudah cukup tangguh. Dengan mendongkol anak perempuan itu lantas pungut sebiji batu dan disentil kebelakang pemuda itu dengan ilmu Tan-ci-gin-wan (sentilan jari peluru perak).

Dalam keadaan pikiran kalut dan berada di tempat yang ramai begitu, tentu saja anak muda itu tak menyangka  kalau dirinya bakal dikerjai orang, dan selentikan Tan-ci- gin-wan Lan-lan sangat jitu, sekalipun tenaganya masih kurang, tapi batu kecil itu tepat mampir di kepalanya.

Tatkala pemuda itu berpaling dengan marah, anak perempuan itu jadi takut dan tak berani ber suara.

Waktu pemuda itu berlalu karena tidak menemukan si penyambit, Lan-lan menjulurkan lidahnya kepada Beng- beng sambil tertawa.

Juluran lidah tersebut diterima Beng-beng sebagai suatu tantangan untuk adu kepandaian, maka anak lelaki inipun mengamhil sebutir batu dan sekali lagi menyambit batok kepala pemuda itu. Kanglam-ji-ki melihat kejadian itu sebagai kesempatan baik untuk mencari gara2, cepat Kui- kok-in-soh Bun Ceng- ki menggapai si pemuda dengan maksud hendak menghasut anak muda itu untuk bikin perhitungan dengan Siang-lin Kongcu.

Bila sampni terjadi pertarungan, maka merekapun akan menggunakan alasan tersebut untuk cari perkara pada Siang-lin Kongcu.

Siapa tahu apa yang diharapkan tidak tercapai, malahan Kanglam-ji-ki bentrok sendiri dengan pemuda tersebut dan terjadi pertarungan Sam-cun-teng dengan pemuda itu.

Kanglam ji-ki baru menyadari kalau mereka telah salah melihat. sebab pemuda tersebut ternyata memiliki ilmu silat yang sangat tinggi.

Kalau Kanglam-ji-ki kaget maka Siang-lin Kongcu kakak beradik jauh lebih terperanjat. Ia pikir bukan saja ada orang berani mencari onar di wilayah kekuatannya, bahkan pemuda itu memiliki ilmu silat yang sangat tinggi dan berita ini sama sekali tak diketahui oleh anak buahnya, belum pernah terjadi peristiwa demikian selama ini.

Tidaklah heran kalau Siang-lin Kongcu kakak beradik maupun semua tukang pukulnya jadi terperanjat dan terbelalak mengikuti pertarungan itu.

Pertarungan itu berlangsung cepat, dalam sekejap saja belasan jurus sudah lewat tanpa terasa.

Jangan mengira si cebol itu berbadan pendek dan berkaki cekak, tapi kalau sudah bergerak lincah dan gesitnya tidak kepalang, baik melejit, melompat, mengegos, semuanya dilakukan dengan cepat. ditambah pula permainan To- liong-cap-pwe-jiu yang tepat dan mantap, setiap serangannya sangat aneh dan lihay serta di luar dugaan. Tapi si anak muda tidak kalah tangkasnya, setiap jurus pukulannya menimbulkan angin pukulan yang men-deru2, jelas Lwekang pemuda itu jauh melebihi si cebol.

Walaupun demikian, bicara soal kelincahan dan kegesitan, dia masih tertinggal jauh, justeru karena adanya selisih inilah maka sekalipun anak muda itu lebih sempurna dalam hal tenaga, toh kedudukan tetap berimbang dan untuk sesaat sukarlah menentukan siapa lebih unggul dan siapa yang asor.

Kembali pertarungan berlangsung amat seru, lama2 pemuda itu ketetar juga oleh aneka macam pukulan si cebol.

Suatu ketika, Sam-cun-teng loncat ke udara dan menyerang dengan jurus In-liong-sam-hian (naga tiga kali muncul dari mega), tangan kiri melancarkun cengkeraman kilat mengancam batok kepala anak muda itu, sementara telapak tangan kanan berputar setengah lingkaran terus menghajar jalan darah Sam-yang-hiat pada dadanya.

Dalam keadaan begini bila pemuda itu menangkis pakai jurus Heng-in-toan-hong (awan melintang memotong puncak), dengan enteng niscaya serangan maut biasa dipatahkan.

Dasar pemuda itu memang belum apal pada permainan ilmu pukulan, ketika menghadapi ancaman tersebut. sekalipun badan sudah menghindar, namun kaki tidak ikut bergeser, maka kendatipun cengkeraman lawan ke arah batok kepalanya dapat dihindarkan ia tak mampu mematahkan pukulan yang diarahkan pada dadanya.

Sam-cun-ceng dijuluki orang sebagai Siau-siang-bun (si pembawa celaka), dari situ bisa diketahui bahwa hatinya memang kejam dan caranya turun tangan ganas. Ia merasa malu setelah bertarung sekian lama belum juga berhasil merobohkan lawan, maka begitu memperoleh kesempatan baik untuk menghajar musuh, dengan cepat tenaga dalamnya dua kali lipat diperhebat, segenap tenaga murni yang ada di dalam tubuh segera dihimpun pada telapak tangan kanannya.

"Kena!"' bentaknya, Hembusan angin pukulan yang keras langsung menghantam dada anak muda itu.

Jika pukulan ini sampai bersarang di dada musuh, andaikan anak muda itu tidak mampus sedikitnya jupa akan terluka parah.

"Haya!" banyak orang menjerit kaget, terutama Kim Cay-hong, si gadis cantik yang berada di sisi Siang-lin Kongcu. sekilas rasa gegetun terlintas pada Wajahnya, ia merasa sayang dan tak tega menyaksikan anak muda itu menemui ajalnya, tapi iapun merasa tidak enak untuk memberikan pertolongan.

Pada saat gawat itulah se-konyong2 anak muda itu membentak: "Haitt! "

"Blang!" terdengar benturan keras.

Tatkala semua orang menyangka serangan itu tak mungkin bisa dihindari anak muda tersebut, ternyata secara cepat dan gesit anak muda itu mampu menarik dadanya sambil melepaskan pula pukulan keras yang tak kalah mantapnya sehingga terjadi adu pukulan.

Si cebol yang kate dan kecil tak mampu menahan benturan keras itu, kontan badannya mencelat ke udara seperti layang2 putus, kemudian melayang ke belakang dan kebetulan meluncur ke tempat dimana Kanglam ji-ki sedang berduduk. Berubah air muka Kanglam-ji-ki menghadapi kejadian itu, Ang-hoat Lojin Siang Ki-ok cepat menyambar tubuh si cebol dan menurunkaunya ke atas kursi.

"Suhu, jangan kuatir! Aku tidak terluka »ama sekali . . . .

" teriak si cebol dengan suara penasaran, cepat ia bangkit dari kursinya dan hendak menerjang maju lagi.

Sam cun-teng memang hebat, bukan saja dia kebal dipukul, bahkan sama sekali tidak menunjukkan tanda terluka atau jeri sesudah dihajar sampai mencelat oleh pemuda itu, orang2 sama heran dan tercengang.

Sebelum si cebol sempat bertindak lagi, Kui-kok-im-soh (kakek pertapa dari lembah setan) telah bangkit berdiri, dengan langkah lebar ia menghampiri anak muda itu.

"Hei, anak murid siapa namamu? Kau murid siapa?" bentaknya dengan bengis.

"Aku Tian Pek, tentang perguruan, maaf, tak dapat kuberitahu!" sahut pemuda itu dengan angkuh-

Kui-kok-in-soh termenung dan berpikir sebentar, tapi ia merasa tak pernah mendengar seorang jago yang bernama Tian Pek, maka sambil menggeleng kepala ia berguraam: "Aneh, sungguh aneh kau tak sanggup menyebut perguruanmu, kenapa Kim-na-jiu-hoat yang kau pakai mirip dengan ilmu cengkeraman yang kuciptakan? Darimana kau curi belajar ilmu kepandaian itu?"

Tian Pek sendiri memang merasa tercengang sewaktu melihat gerak serangan yang digunakan si cebol tadi seperti sudah dikenalnya, cuma saja waktu itu ia tak dapat berpikir banyak.

Sekarang demi mendengar pertanyaan orang barulah dia ingat Kim-na-jiu yang digunakan Sam- cun-teng memang mirip ilmu cengkeraman yang dimainkan oleh Tok kok-hui- mo Li Ki.

Karena pikiran ini, ia mengira si cebol dan si kakek kurus ini pasti berasal dari satu perguruan dengan Tok-kah-hui- mo.

"Losiansiang, engkau kenal dengan seorang yang cacat kaki?" tanyanya kemudian.

Air muka Kui-kok-in-soh seketika berubah hebat, lagaknya yang angkuh seketika berubah menjadi jeri, kikuk dan tidak tenteram, dengan suara rada parau ia berseru: "Jadi. . .jadi kau adalah. . .mu. . .muridnya?"

Sementara itu si kakek rambut merah sudah memburu maju pula ke sisi rekannya, dengan bingung dia pegang bahu Kui-kok-in-soh sambil berbisik: "Jadi anak muda ini adalah ahli warisnya....

Tapi. . .masa. masa dia masih hidup di dunia ini?"

Diam2 Tian Pek merasa heran atas sikap kedua orang tua ini, dia tak habis mengerti kenapa kedua orang tua yang semula tampaknya keren dan garang mendadak berubah menjadi ketakutan dan tegang seperti tikus ketemu kucing, ia pikir mungkin di balik urusan ini tersimpan rahasia lain?

Sudah tentu anak muda ini tak dapat menganggap dirinya sebagai murid si iblis berkaki satu itu, maka dengan tegas ia berseru: "Kalian jangan kuatir, aku tidak nanti mempunyai guru begitu. "

"Dan aku si orang tua juga tak nanti punya murid macam begitu!" sambung seseorang secara mendadak dari kejauhan. Baru dua orang murid yang kuterima selama hidupku dan kedua kakiku sudah harus menjadi korban, kalau kuterima murid lagi. memangnya aku mesti korbankan pula batok kepalaku?" Cepat Tian Pek berpaling ke arah datangnya suara itu, seorang kakek yang tak berkaki sedang berayun datang dari tepi sungai sana, kedua kakinya buntung sebatas paha ke bawah, tapi disambung dengan dua potong kayu untuk menahan anggota badan, lalu memakai dua tongkat penyangga bahu sehingga cara berjalannya bukannya melangkah tapi berayun.

Waktu Tian Pek berpaling lagi ke arah Kanglam-ji-ki, kedua orang tua itu ternyata sudah lenyap eatah ke mana.

Tampaknya begitu melihat kemunculan kakek yang buntung ini, Kanglam-ji-ki lantas ngacir ter-birit2, begitu pula Sam-cun-teng juga ikut kabur.

"Murid murtad, kemana kalian mau lari?" bentak kakek cacat itu dengan gusar. "Sudah tiga-empat puluh tahun kucari kalian, setelah berjumpa hari ini, masa kalian mau kabur lagi?"

Sepasang tongkat penyangga badannya segera ditutulkan ke permukaan tanah, lalu badannya terayun ke depan dan begitu seterusnya.

Meski kedua kakinya buntung, tapi cara jalan berayunnya ternyata secepat terbang, segera ia mengejar ke sana.

Tian Pek berpaling ke arah pergi kakek itu, arah tersebut tak lain adalah jalan gunung yang ber-liku2 menuju Giam- san-cap-ji-tong (dua belas gua bukit karang), ia lihat tiga titik hitam sedang kabur menuju ke tengah hutan lebat di atas bukit sana, tak perlu ditanya lagi ketiga orang itu pasti Kanglam ji-ki serta Sam cun-teng alias si cebol?

Tian Pek ter-mangu2 bingung, sungguh tak terduga di tempat pesiar Yan cu-ki ini akan mengalami kejadian begitu. Lebih dulu terjadi pertarungan melawan Sam-cun-teng tanpa sebab, kemudian menyaksikan Kanglam-ji-ki dan si cebol lari ter-birit2 demi melihat datangnya kakek buntung, semua ini membuatnya bingung.

Setelah termenung sebentar, lalu iapun bergerak menuju dua belas gua bukit karang sana.

Belum jauh Tian Pek berjalan, tiba2 pandangannya kabur, sesosok bayangan mendadak menghadang di depannya,

Si pengadang adalah seorang laki2 kekar berusia tiga- puluhan dan tidak dikenalnya, maka ia jadi melenggong keheranan.

Laki2 itu lantas berkata dengan suara nyaring: "Sahabat. jangan pergi dulu! Kongcu-ya kami ingin bicara denganmu!"

"Maaf saudara, aku tak punya waktu," tolak Tian Pek cepat.

Semenjak dia tahu bahwa musuh besar pembunuh ayah adalah orang tua Bulim-su-kongcu, pandangannya terhadap Kongcu2 itu sudah jauh berubah, ia menjadi benci dan muak.

Maka setelah berhenti sebentar, iapun menambahkan dengan dahi berkerut: "Dan lagi aku pun tidak kenal dengan Kongcu kalian?"

Dia menghindari pengadangan laki2 itu dan melanjutkan perjalanannya.

Agak mendoogkol laki2 itu, dia mendengus dan sekali lagi mengadang di depan Tian Pek.

"Hei. sahabat, kuanjurkan agar menuruti saja perkataanku" ancamnya dengan mata melotot, "Untung Kongcu-ya kami mau mengundang dirimu. padahal biasanya sekalipun kau menyembah sehari semalam belum tentu beliau sudi menemui kau."

Gusar Tian Pek karena jalan perginya berulang kali dihadang, habis kesabarannya, sebelum laki2 itu menyelesaikan ucapannya ia lantas menukas dengan suara keras: "Hehe, sungguh lucu. sekalipun Kongcu-ya kalian adalah raja atau pentolan di tempat ini, kalau aku tidak  mau bertemu, dia mau apa?"

Laki2 itupun naik darah demi mendengar jawaban ketus lawan, apalagi nama sang majikan ikut di-olok2, ia menjadi marah.

"Mau atau tidak mau kau harus menemui beliau!" bentaknya sambil melangkah maju, tangan terjulur hendak mencengkeram dada Tian Pek dengan gerakan Tam-li-gi-cu (mencomot dagu merampas mutiara).

Melihat serangan yang cukup lihay ini. tahulah Tian Pek ilmu silat laki2 itu tidak lemah.

Anak muda itu tidak berkelit dia benar2 gemas maka ketika serangan musuh tiba, cepat tangan kiri menangkis sedangkan telapak tangan kanan menyodok dada lawan dengan gerakan Pok-hou-kim- liong (Membelenggu harimau membekuk naga). ,

Taktik serangan dibalas dengan serangan macam begini jarang di jumpai didunia persilatan, jarang ada orang yang mau melakukan pertarungan dengan keras lawan keras begitu, tentu saja kejadian ini sama sekali di luar dugaan laki2 itu, bahkan Siang-lin Kongcu kakak beradik serta anak buahnya yang lain ikut terkesiap.

Cepat serangan kedua orang itu sebelum Siang-lin Kongcu sempat mencegah pertarungan itu, "blang" pukulan keras telah bersarang teluk di dada laki2 itu, badannya mencelat ke udara dan muntah darah,

"bruk", jatuh terkapar dan tak berkutik lagi, tampaknya lebih banyak mampusnya daripada hidup.

Suasana menjadi gempar dan gaduh, apalagi jatuh korban sampai tewas, banyak orang yang segera tinggalkan tempat ini.

Di tengah kegaduhan dan orang sama lari simpang siur itu tiba2 terdengar bentakan keras, sesosok bayangan melayang ke tengah gelanggang, sebelum kakinya mencapai permukaan tanah serangan dahsyat lantas dilancarkan, ibarat seekor burung rajawali yang mengincar mangsanya, kesepuluh jari tangan yang terpentang terus mencengkeram batok kepala Tian Pek.

Serangan ini sungguh cepat dan dahsyat, biar pun Tian Pek ingin menghindar juga tidak sempat lagi. terpaksa ia angkat kedua tangannya menyambut serangan itu.

"Blang!" kembali terjadi benturan keras, Tian Pek merasa lengannya seperti dihantam oleh palu besar, dada terasa sesak, darah bergolak hebat, matanya ber-kunang2, dengan sempoyongan dia terdorong mundur sejauh lima-enam langkah, akhirnya tak tahan lagi dan itu jatuh terduduk.

Lihay sekali penyerang itu, setelah berhasil merobohkan Tian Pek, dia menukik kebawah dan kembali kedua tangan menghantam pula ke dada Tian Pek sebelum anak muda itu sempat berbangkit.

Betapa kejinya penyerang itu terbukti dari pukulan terakhir yang dilancarkan itu, rupanya dia memang bermaksud membinasakan Tian Pek untuk balas dendam bagi anak buahnya yang mati konyol, maka pukulan ini dilontarkan dengan segenap tenaganya. Tian Pek terperanjat, ingin menghindar juga tidak sempat lagi, dalam keadaan begini dia cuma bisa menanti kematian saja dan tiada jalan lain.

Untung pada detik terakhir tiba2 terdengar suara bentakan: "Pa-heng, tunggu sebentar "

Cepat orang itu menahan pukulannya, maka Tian Pek lantas melompat bangun dan menyingkir kesamping sana. Ia lihat penyerang itu adalah seorang kakek kurus kecil bermuka hitam, pakai baju hitam bercahaya, kedua telapak tangannya tersilang di depan dada, jari kelingking kedua tangannya memakai gelang baja, ujung gelang lainnya terikat pada ujung baju lehernya, dengan sorot mata tajam bagaikan sembilu ia sedang menatap Tian-Pek tanpa berkedip.

Tian Pek tercengang, seingatnya belum pernah dia kenal kakek ini, terutama dandanannya yang sangat aneh ini rasanya juga tak pernah dengar dari cerita orang lain,

Dilihatnya orang yang mencegah serangan si kakek tak lain adalah Siang-lin Kongcu yang agung itu.

Sementara itu Siang-lin Kongcu telah melangkah maju dan berkata kepada si kakek baju hitam: "Saudara Thian- ho, maksudku bukan suruh berkelahi melainkan ingin bersahabat dengan saudara ini."

Lalu dengan tersenyum ia berpaling ke arah Tian Pek dan berkata: "Sungguh hebat Kungfu yang saudara miliki. Aku Kim Cay-hoan, tinggal di Lam-keng, bila tidak keberatan sudilah kirinya saudara tinggal beberapa hari di rumah kami?!"

Belum sempat Tian Pek menjawab, kakek kurus tadi menyela dengan mendongkol: "Kongcu, memangnya anak buah kita akan dibiarkan mati sia2.?" Sambil berkata kedua telapak tangannya direntangkan kesamping lalu dirangkap kembali menjadi satu, sorot mata yang tajam menatap Tian Pek tanpa berkedip rupanya dia sudah bersiap pula untuk menerjang anak muda itu.

Siang-lin Kongcu tersenyum, dia mengadang di depan kakek kurus itu seraya berseru. "Tiada percekcokan yang menggunakan kata manis, tiada pertarungan yang tak diakhiri dengan jatuh korban. Kejadian begini sudah jamak bagi kaum persilatan kita, kalau sudah terjadi begini kenapa kita mesti ribut? Kalau tak mampu melawan dan mengakibatkan kematian diri sendiri, itu tandanya kepandaian sendiri tak becus, masa kita mesti salahkan lawannya?"

Setelah merandek sejenak, lalu dia menambahkan: "Kematian Liang Peng memang kehilangan besar bagi kita, akan kubelikan sebuah peti mati yang paling bagus baginya dan mengadakan upacara besar bagi penguburannya, selain itu akan kuhadiahkan pula sejumlah barang berharga bagi ahli warisnya, semua ini kurasa sudah cukup untuk menunjukkan rasa terima kasihku kepadanya!"

Sampai disini dia lantas berpaling sambil berseru: "Liang Giok, kemarilah!"

Seorang laki2 kekar mengiakan dan muncul dari belakang gardu, air mukanya diliputi kesedihan, setelah melotot sekejap pada Tian Pek dengan penuh rasa benci, dia lantas menjura kepada majikannya.

"Ada petunjuk apa, Kongcu-ya?" dia bertanya.

"Ambil tiga ribu tahil perak pada kasir sebagai biaya penguburan kakakmu ....!" kata Siang-lin Kongcu lebih jauh.

"Terima kasih Kongcu-ya!" Setelah memberi hormat, Liang Giok membawa jenasah kakaknya dan berlalu dari situ, sebelum berangkat sekali lagi dia melototi Tian Pek dengan pandangan penuh dendam.

Timbul rasa menyesal dalam hati Tian Pek setelah terjadinya peristiwa tadi, terutama setelah menyaksikan pancaran sinar mata kebencian yang mencorong dari mata laki2 itu, dia menyesal pukulan yang dilancarkannya itu terlalu keras dan mengakibatkan kematian Liang Peng. Diam2 iapun merasa kagum pada sikap "Kongcu-ya" yang palente itu.

Tiga ribu tahil perak bukan suatu jumlah yang kecil apalagi didengarnya orang mengaku she Kim, dia menduga orang ini pasti Siang-lin Kongcu, sebab orang ini memang tersohor sebagai Kongcu yang simpatik dan berjiwa sosial.

"Huh! Lagaknya saja hebat" pikir Tian Pek "Paling2 hanya mengandalkan beberapa tahil perak untuk membeli simpatik orang agar orang lain rela jual nyawa baginya ... !"

Setelah diberi muka dihadapan orang banyak? kakek kurus tadipun buyarkan himpunan tenaga murninya, rasa marahnya juga reda, kedua tangan pun diturunkan kembali ke bawah.

Kepada Tian Pek dia tetap mendengus seraya berkata: "Hm, untung Kongcu-ya melerai, kalau tidak sejak tadi kau tentu sudah mampus!"

"Ah, belum tentu " jengek Tian Pek.

Rasa gusar yang sudah mereda kembali menyala lagi, kakek kurus itu melotot pula . .

Tapi Siang-lin Kongku cepat menengahi pula sebelum Tian Pek sempat menanggapi, ia menukas sambil tertawa: "Hahaha, betapa besar persoalannya. kalau sudah lewat juga harus dianggap sudah selesai! Saudara, boleh kutahu siapa nama besarmu?"

Tian Pek tidak lantas menjawab, tiba2 terpikir olehnya: "Ayah Siang-lin Kongcu adalah pembunuh ayahku, cepat atau lambat aku bakal membuat perhitungan dengan bapaknya! Baik juga pada kesempatan ini kuperkenalkan namaku didepan umum agar orang persilatan tahu bahwasanya keluarga Tian bukan keluarga kintal dan keluarga Tian masih ada keturunan yang sanggup menuntut balas bagi orang tuanya."

Berpikir sampai di sini, dia lantas menjawab: "Aku bernama Tian Pek! Dan kalau dugaanku tidak keliru, mungkin anda ini Siang-lin Kongcu yang tersohor di kolong langit ini!?"

"Terima kasih atas pujianmu!" kata Siang-lin Kongcu sambil tertawa, tertawa yang agung dan berwibawa. "Siang- lin memang suka punya tamu orang gagah seperti kau, jika Tian-siauhiap tak keberatan sudilah kiranya mampir beberapa hari di rumahku, Siang-lin pasti akan berusaha menjadi tuan rumah yang baik!"

Tian Pek ingin menolak undangan orang, tapi sebelum ia sempat bicara, tiba2 pandangannya terbeliak, tahu2 Kim Cay-hong, adik perempuan Siang-lin Kongcu yang cantik jelita itu telah mendekati kakaknya dan berdiri di belakangnya, sorot matanya yang bening menatap Tian Pek tanpa berkedip. ini membuat jantung anak muda itu berdebar,

Kim Cay-hong memang cantik luar biasa dan sukar dilukiskan dengan kata2, lebih2 perangainya yang halus, sedikitpun tidak ada sikap angkuh atau tinggi hati, membuat setiap orang merasa senang, terpesona dan kagum. Oleh karena kecantikannya yang luar biasa ini, maka dia tersohor sebagai perempuan cantik nomor satu di seluruh wilayah Kanglam.

Tian Pek sendiri adalah pemuda yang sederhana, polos berhati suci bersih dan tidak punya ingatan jahat apapun, sekalipun beberapa hari belakangan ini ia sudah berkenalan dengan beberapa orang gadis jelita, akan tetapi Buyung Hong, Tian Wan-ji serta Hoan Soh~ing tetap tak dapat dibandingkan dengan Kim Cay-hong.

Terkesima juga Tian Pek setelah beradu pandang dengan si nona, jantungnya berdebar keras dan mukanya terasa panas, dalam hati diam2 ia memuji: "Ehm, benar2 gadis yang cantik "

Melihat anak muda itu membungkam, Siang-lin Kongcu mengira Tian Pek telah menerima undangannya, maka dia lantas perintahkan orang2nya untuk siapkan kuda.

"Silakan!" kata Siang lin Kongcu seraya menjura.

Dalam keadaan demikian, tak mungkin bagi Tian Pek untuk menolak, terpaksa dia naik ke atas kuda dan menurut saja ke mana akan dibawa pergi. . . .

Sepanjang jalan Siang-lin Kongcu mendampingi terus di samping Tian Pek, ia bicara ini itu dengan akrabnya. begitu terbuka, jujur dan simpatik sikap pemuda itu hingga Tian Pek merasa kagum pula.

Kim Cay-hong sendiripun meninggalkan tandunya dan ikut menunggang seekor kuda putih di sisi Siang-lin Kongcu. sepanjang jalan ia sering melirik ke arah Tian Pek, sekalipun tak sepatah katapun yang diucapkan. tapi kerlingan matanya membuat Tian Pek hampir2 lupa daratan. "Ai, betapa cakap mereka berdua, entah bagaimana jadinya andaikan pada suatu hari kelak kudatang mencari balas terhadap ayah mereka? Tegakah aku bertindak dan bermusuhan dengan mereka?"

Dengan pikiran yang kusut, Tian Pek tidak memperhatikan jalan yang dilaluinya dan tahu2 sampailah mereka di depan sebuah bangunan yang besar dan megah.

Gedung ini sangat megah arca singa berdiri dengan angkernya di samping pintu gerbang, undak- undakan batu yang terbuat dari marmer menghubungkan pelataran dengan lantai depan gedung itu.

Pada setiap undak-undakan berdirilah dua orang pengawal berpakaian perang lengkap dengan pedang dan tombak terhunus, dari pelataran sampai ke pintu gerbang berjajar penjaga yang berjumlah lima-enam puluh orang banyaknya,

"Sungguh luar biasa!" pikir Tian Pek, "sungguh tak nyana tempat tinggal seorang tokoh persilatan semewah dan semegah ini, rasanya sekalipun istana raja atau pangeran juga cuma begini saja. "

Setibanya di depan gedung itu, semua orang turun dari kuda, Siang-lin Kongcu memang tuan rumah yang ramah dan simpatik, dengan hangat digandengnya tangan Tian Pek dan diajak naik ke undak-undakan batu itu

Di mana pemuda itu berlalu, kawanan pengawal bersenjata tombak di kiri-kanan undak-undakan sama memberi hormat.

Diam2 Tian Pek menyesal, dia berpikir: "Sebutan Siang- lin paling simpatik dalam pergaulan memang bukan nama kosong balaka. ini terkukti dari sikap hangatnya terhadap seorang pemuda gelandangan sepertiku ini, padahal dia sendiri hidup terhormat seperti seorang pangeran . .."

Setelah menaiki undak2an batu. tibalah mereka di depan pintu gerbang, pada sisi kanan pintu tergantung pelbagai pigura besar dengan kata2 pujian, di antaranya yang paling menyolok adalah papan yang tergantung di atas pintu gerbang.

Papan itu dicat merah dengan huruf2 emas besar yang berbunyi: "BU-LIM-TE-IT-KEH" (Keluarga nomor satu di dunia persilatan).

"Huh! Besar amat nada mereka!" demikian pikir Tian Pek.

Sepanjang jalan setelah memasuki gedung tersebut, anak muda itu dibikin kagum oleh keindahan bangunannya, Akhirnya Siang-lin Kongcu membawanya menuju sebuah ruang besar.

Sementara itu suasana telah gelap, lampu telah dipasang dalam ruangan, di bawah cahaya lampu yang terang benderang tampaklah betapa megah dan mewahnya ruangan tersebut.

"Tian-beng, tentunya kau belum bersantap bukan?" tanya Siang-lin Kongcu sambil tertawa. "Siaute sebagai tuan rumah sudah sepantasnya mengundang Tian-heng untuk makan bersama, harap engkau jangan sungkan2!"

Sebelum Tian Pek menjawab, dia lantas perintahkan anak buahnya untuk siapkan perjamuan.

"Koko, kau ini .. . Kim Cay-hong yang sejak tadi membungkam saja tiba2 buka suara, biji matanya yang bening dan indah mengerling sekejap kakaknya, lalu memandang Tian Pek pula. "Coba Koko lihat, kan Teng-siauhiap belum. "

Siang-lin Kongcu bukan orang bodoh. tentu saja ia dapat mengetahui maksud hati adiknya, dia bergelak tertawa, katanva; "Hahaha, kalau adik tidak mengingatkan, hampir saja aku lupa . . . ." —segera dia berpaling dan berseru lantang: "Pelayan. "

Dari belakang pintu angin lantas muncul empat orang dayang cilik berbaju hijau, dengan lemah gemulai mereka menghampiri Siang-lin Kongcu dan memberi hormat.

"Kongcu-ya, ada perintah apa. ?" tanya mereka hampir

berbareng,

"Layani tamu agung untuk mandi dan tukar pakaian!" perintah Siang-lin Kongcu.

Keempat dayang cilik itu mengiakan, mereka terus menghampiri Tian Pek dan berkata: "Tamu agung, silahkan ikut hamba. . . . .!" —Habis berkata mereka lantas menduhului berjalan ke depan.

Tian Pek agak ragu2, tapi setelah melihat badannya yang kotor, diapun tidak sungkan2 lagi, segera ia ikut ke sana.

Setelah melewati beberapa jalan serambi yang indah, akhirnya sampailah mereka di depan sebuah pintu kaca yang amat besar, ketika pintu itu dibuka beradalah mereka di dalam sebuah kamar mandi yang megah, lux kalau menurut istilah kini.

Di tengah ruangan membujur sebuah bak mandi sepanjang dua tombak lebih, air dalam bak itu bening sekali, di tengah bak berdiri sebuah patung kemala putih seorang gadis setengah telanjang, pada bahu patung gadis itu membawa sebuah pancuran yang mirip pot bunga, air yang jernih dan bersih terpancar keluar dari pot tersebut. Begitu berada di dalam ruangan itu tanpa disuruh keempat dayang cilik itu lantas membuka pakaian mereka.

Keruan Tian Pek terperanjat, cepat ia menegor: "Hei, apakah kalian mau ikut mandi?"

Sungguh di luar dugaan Tian Pek, keempat gadis cilik ternyata melepaskan semua pakaian yang dikenakan dihadapan seorang pemuda asing dalam sebuah kamar mandi yang tertutup.

Keempat dara cantik itu tetap tersenyum dan sibuk melepaskan busana mereka, dalam sekejap saja tampaklah tubuh mereka yang putih mulus, dada yang menggiurkan dan pantat yang padat.

Kecuali secarik kain cawat yang masih menutupi bagian tertentu serta kutang yang tipis, keempat dayang itu hampir berada dalam keadaan telanjang bulat.

Tian Pek berdiri terbelalak dan melongo menghadapi pemandangan menggetar sukma ini, sampai setengah harian ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Keempat dayang itu tetap tenang saja seperti tidak terjadi sesuatu yang luar biasa, dengan cekatan mereka lantas siapkan handuk serta alat mandi lainnya.

Tian Pek masih berdiri dengan terkesima, ke empat dayang itu tersenyum melihat anak muda itu hanya diam saja, sinar mata mereka yang genit itu se-akan2 sedang bertanya: "Kalau mau mandi, kenapa tidak membuka pakaian?"

Rasa malu dimiliki oleh setiap orang. apa lagi seorang laki2 muda harus lepas pakaian di depan empat gadis yang masih asing baginya, kecuali orang sinting mungkin tiada orang lain yang berani berbuat demikian. Tian Pek memang pernah merobek pakaian sendiri hingga telanjaag di hadapan seorang gadis, akan tetapi kejadian itu berlangsung karena pengaruh irama suling pembetot sukma Ciang Su-peng, perbuatannya dilakukannya di bawah sadarnya, karenanya peristiwa itu tak bisa dimasukkan dalam hitungan.