Hikmah Pedang Hijau (Wu Qing Bi Jian) Jilid 11

Jilid 11

Dentingan nyaring terjadi secara beruntun, sebagian senjata rahasia itu berhasil dirontokkau oleh angin pukulan dahsyat tersebut, tapi ada pula beberapa batang di antaranya berhasil menembusi angin pukulan jago tua itu dan tetap meluncur cepat dan menyambar tubuh Tian Pek.

"Cringl Cring! Cring!" terdengar dentingan nyaring menggema di udara menyusul terjadinya percikan bunga api.

Rupanya Kim Cay-hong telah bertindak, iapun melepaskan tiga buah Cing­hu-piau untuk melontokkan senjata rahasia Beng Ji-peng.

Meskipun tiga senjata rahasia itu berhasil dipukul jatuh, namun masih ada empat Cung-hupiau lain yang melucur ke depan dengan kecepatan penuh, dua buah mengancam bahu Tian Pek sedangkan dua lagi mengancam kedua kakinya.

Dalam keadaan begini, tak sempat lagi bagi Kim Cay- hong untuk ambil senjata rahasia, dengan cemas ia pandang ke sana dan tak tahu apa yang akan terjadi.

Tapi Tian Pek mengelak kekanan dan mengegos ke kiri, tiga senjata rahasia itu dapat dihindarkan dengan baik tapi akhirnya ada sebuah yang tak terhindar. “Cret!" senjata rahasia itu bersarang pada bahunya, darah segar lantas mancar keluar.

Kejadian itu lambat untuk diceritakan, tapi semuanya berlangsung dalam sekejap, begitu menyaksikan Tian Pek terluka, semua orang melengak, kecuaIi sebagian kecil hampir semua orang merasa tidak puas atas tindakan Beng Ji­peng itu. Sebab tadi kalau Tian Pek bermaksud membunuhnya, maka ujung pedang yang telah menempel pada tenggorokannya cukup didorong sedikit ke depan dan pemuda itu pasti sudah mampus, namun Tian Pek telah menuruti nasihat dan melepaskan lawan. Tapi kesempatan itu malah digunakan Beng Ji peng untuk menyerang Tian Pek secara keji, tindakan semacam ini bagi orang Kangouw boleh dikatakan sangat memalukan.

Tapi Beng Ji peng adalah murid kesayangan Cing-hu-sin, pemilik istana keluarga Kim, kedudukannya hampir sederajat dengan Siang lin Kongcu, tindakannya yang rendah dan memalukan ini sungguh tak terduga oleh siapapun juga.

Tian Pek segera merasakan hawa dingin merasa tulang, segera ia tahu senjata rahasia itu beracun.

Meskipun sakitnya tidak kepalang pemuda itu tidak mengluh, ia mengertak gigi dan mencabut senjata rahasia itu.

Kim Cay-bong menghampiri anak muda itu sambil memberi sebtir obat, katanya dengan pedih: "Tian-siauhiap, lekas bubuhkan obat ini pada lukaniu, kalau tidak. "

Tian Pek berdiri dengan muka menyeringai, matanya melotot penuh kegusaran, darah menetes keluar dari kelopak matanya dan membasahi pipinya, sementara Cing- hu-piau yang berlumuran darah masih targenggam di tangannya, ia tidak menghiraukan perkataan anak dara itu.

Terperanjat Kim Cay hong melihat keadaan Tian Pek. "Tian siauhiap?" katanya dengan gemetar, janganlah beginI, perbuatan Suhengku memang tak benar. Biar engkohku pulang pasti akan kulaporkan kejadian ini kepadanya, akan kuminta kakak memberikan keadilan secara bijaksana." Dengan lembut dan penuh kasih sayang dia menggenggam lengan kiri Tian Pek, setelah merobek pakaian disekitar luka obat penawar tadi dibubuhkan pada lukanya, pelahan ia memijit sekitar luka yang membengkak itu …….

Tian Pek tetap berdiri mernatung, sorot matanya yang penuh kemarahan memandang jauh ke sana, seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat menyedihkan, tapi orang lain tak tahu apa yang sedang dipikirnya?

"Hmmm!" Beng Ji-peng mendengus ketika melihat Kim Cay-hong bersikap begitu mesra terhadap musuhnya, api cemburu kembali membakar hatinya, rasa bencinya terhadap Tian Pek semakin menjadi, pelahan ia merogoh kantong dan siap mengarnbil senjata rahasia lagi. 

Tiat-pi-to-liong menyaksikan perbuatan anak muda itu, dengan gusar ia membentak: "Ji-peng, apa yang hendak kaulakukan? Masa kau tak tahu malu. Apakah perlu aku si bungkuk turut campur persoalan ini ?"

Percakapan orang2 itu dan Kim Cay-hong membubuhi lukanya dengan obat, semua ini se-olah2 tidak diketahui Tian Pek.

Kiranya ia sedang membayangkan kembali kematian ayahnya yang mengenaskan, ia raerasa Cing hu-piau yang berlumuran darah ini persis seperti mata uang tembaga yang ditinggalkan ayahnya itu.

Dalam khayalnya terbayang olehnya ayahnya dikerubut keenam tokoh besar dan ayahnya melakukan perlawanan yang sengit dengan Pedang Hijau, setelah tenaga terkuras habis, lalu Cing-hu-sin Kim Kiu menyergapnya dengan senjata rahasia hingga terluka, mungkin juga keenam orang itu bersama menyerang ayahnya dengan senjata rahasia, setelah ayahnya tak berkutik barulah mereka mencincangnya……

Herannya mereka bertujuh terkenal sebagai saudara angkat dan bersumpah setia, mengapa keenam saudaranya bersekongkol untuk membunuh ayahnya itu sekeji? Inilah teka-teki yang sukar dipecahkan.

"Ai, seandainya ayahnya tidak meninggal dan Kanglam jit tayhiap masih hidup dengan rukun hingga kini, sekalipun aku tak bisa menyamai kedudukan Bu-lim-su kongcu, paling sedIkit hidupku takkan sengsara dan terhina seperti sekarang ini, paling tidak aku bersama orang tuaku dapat hidup bahagia di tempat yang aman sentosa… Akan

tetapi," demikian Tian Pek berpikir lebih jauh, "sekarang terbukti bahwa Cing hu-piau adalah senjata rahasia andalan Kim Kiu, itu berarti pula Kim Kiu adalah salah seorang pembunuh ayahku, mengapa tidak kubunuh pemuda ini lebih dulu? Sekalipun selama ini tak sempat kujumpai Kim Kiu, tapi jika pemuda ini sudah kubunuh, masakah ia takkan tampil? Kesempatan baik ada di depan mata, bila tidak kumanfaatkan sekarang juga, aku akan menunggu sampai kapan lagi?"

Barpikir sampai di sini, anak muda itu segera membontak nyaring: "Hei, berhenti!"

Bentakan ini dilontarkan dalam keadaan gusar dan penuh perasaan dendam, suaranya keras luar biasa ibarat bunyi guntur membelah bumi, semua orang merasa anak telinga jadi sakit dan mendengung.

Sementara itu Beng Ji-peng yang dibentak Tiat-pi to liong sedang memungut pedangnya dan mundur ke belakang, mendengar bentakan tersebut, cepat ia berhenti dan membalik badan. "Berhenti ya berheti, memangnya aku jeri padamu?" jengeknya sambil menatap Tian Pek dengan melotot. "Hm jangan kau kira dengan sedikit ilmu pedang busuk itu lantas bisa menangkan tuanmu? kalau aku tidak salah perhitungan, kau kira bisa memperoleh kemenangan itu? Bangsat cilik, untung Kongsun-Cianpwe mintakan ampun bagimu, hm, kalau tidak, sejak tadi kau sudah mampus tertembus Cing--hu sin-plan tuanmu!"

Tian Pek tidak melayani ejekan musuh, sekali lagi dia melolos pedangnya, lalu berkata: "Apa gunanya mengobrol, kalau belum puas, hayo kita ulangi kembali pertarungan ini, mari kita tentukan siapa yang lebih unggul."

"Hehehe, memangnya aku takut padamu?" teriak Bang Ji-peng sambil lolos pedangnya yang hitam.

Kim Cay hong merasa kuatir, ia tarik lengan kiri Tian Pek dan berseru: "Tian-siauhiap, engkau telah terluka, jangan kau layani orang gila itu. "

Tiat-pi-to-liong pun berusaha melerai: "Sudahlah Siauhiap apa gunanya menuruti emosi dan beradu nyawa, kan di antara kalian tidak ada sakit hati apapun. “

Tian Pek melepaskan pegangan Kim Cay-hong, dia angkat pedangnya dan berseru: "Siapapun tak ada yang bisa mengalangi niatku, hari ini kalau bukan dia yang mampus biarlah aku yang mati!"

Diarn2 semua orang terperanjat dan mengira kedua anak muda itu benar2 telah kalap, mereka tidak tahu dendam Tian Pek dan tidak menyangka cernburu Beng Ji pang yang berkobar.

"Baik!" Beng Ji-peng menyambut tantangan Tian Pek dengan suara lantang, "sebelum salah satu pihak mampus, pertarungan ini takkan berakhir." Di tengah bentakannya yang nyaring, dia loncat ke udara, pedang hitam rnemancarkan sinar tajam langsung menusuk ke muka Tian Pek dengan jurus Jik-khong-koan-jit (bianglala merah menembus sinar sang surya).

Sekarang Tian Pek tahu tenaga dalam sendiri lebih kuat dibandingkan lawan, kalau selama ini Beng Ji peng mampu bertahan pada posisi seimbang, hal ini tak lain karena dia mengandalkan jurus pedangnya yang lebih lincah.

Kuatir kehilangan kesempatan yang menguntungkan, maka begitu melihat Beng Ji-peng menubruk maju, cepat ia pun ikut meloncat ke atas menyongsong ancaman itu dengan keras lawan keras.

Pedang Hijau menciptakan selapis dinding cahaya untuk mengunci serangan lawan dengan jurus Hoan-tiau-lam-hay (pasang naik di laut selatan).

Pertarungan macam begini sangat jarang terjadi di dunia persilatan, bukan saja para penonton yang berada di sekitar gelanggang, bahkan Tiat pi-to-liong, Kim Cay-hong serta Tiat-ih-hui peng juga sama bersuara kuatir.

Tubrukan kedua anak muda itu dilakukan dengan cepat sekali, belum lenyap suara orang berseru kaget kedua pedang telah saling membentur. Percikan bunga api muncrat ke empat penjuru, dentingan nyaring memekak telinga, kedua orang segera terpisah dan turun kembali ke atas tanah.

Beng Ji-peng merasakan separoh badannya kesemutan dan kaku, telapak tangan terasa sakit, hampir saja pedang hitamnya tak mampu dipegang lagi, ketika mencapai permukaan tanah, ia sempoyongan beberapa langkah dan akhirnya baru dapat berdiri tegak. Sebaliknya Tian Pek tetap tenang se-akan2 tak pernah terjadi sesuatu, begitu mencapai permukaan tanah, ia segera menerjang lagi ke depan.

"Sret! Sret! Sreet!" beruntun dia melancarkan beberapa kali serangan sehingga Beng Ji peng yang sombong itu dibikin kelabakan, bukan saja tak mampu melakukan serangan balasan, untuk mempertahankan diripun repot.

Namun Giok-bin-siau-cing-hu Beng Ji-peng cukup tangkas juga, sekalipun terdesak, dengan kelincahan dan kecepatannya bertahan terus meski dia harus mundur belasan kaki, tapi tidak sampai tertuka.

Karena terdesak, Beng Ji-peng telah mundur hingga dekat pagar kebun bunga, dengan sendirinya para penonton yang berkerumun sama menyingkir.

Mendadak Tian Pek memburu ke depan, dengan jurus Heng-sau-ngo-gak (menyapu rata lima bukit), dia sabat pinggang lawannya.

Beng Ji-peng berkelit, dengan lincah dia menghindar ke belakang pagar kebun.

Serangan Tian Pek itu menggunakan tenaga yang keras, untuk menarik kembali serangannya tak mungkin lagi, kontan sederetan pot bunga yang berada di atas pagar tcrsambar hingga hancur berantakan.

Sementara itu Beng Ji peng sempat berganti napas, segera iapun unjuk gigi. “Sret! Sret! Sreet!" beruntun diapun melancarkan belasan kali serangan, karena jurus serangan juga tidak kurang ganasnya, yang diarah adalah bagian mematikan, maka Tian Pek juga terdesak mundur dengan repot. Tapi sekali mengendur serangan Beng Ji peng, Tian Pek segera balas mendesak lawan, dengan begitu maka pertarungan berlangsung dengan seru,

ke dua pihak secara bergilir mendesak mundur lawannya, dengan begitu posisi kedua orang tetap sama kuat.

Dalam dunia persilatan jarang terjadi pertarungan seperti ini, tentu saja kawanan jago yang berkumpul disekitar gelanggang, termasuk juga kedua "pengawal baja" itu, dibuat tertegun dan melongo, saking terpesonanya sampai mereka lupa untuk melerai .....

Hanya Kim Cay-hong yang paling gelisah dan kuatir, meskipun dia tidak mengharapkan Tian Pek terluka di tangan Beng Ji-peng, tapi iapun tidak berharap Beng Ji-peng dilukai Tian Pek.

Berulang kali in berteriak untuk melerai, namun teriakannya tak pernah digubris, bagaikan harimau terluka keduanya tetap saling menggempur, tak seorangpun yang mau menurut.

Aneh sekali jalannya pertarungan itu, di satu pihak mengandalkan kelincahan dan keampuhan jurus pedangnya, di lain pihak mengandalkan tenaga dalamnya yang kuat serta keganasan jurus pedang yang hebat, dalam waktu singkat seluruh halaman telah diobrak-abrik menjadi tidak keruan, dinding ambrol dan tiang roboh, banyak pot bunga yang hancur, dalam waktu singkat taman itu menjadi porak poranda .....

Ratusan gebrakan sudah lewat, akan tetapi menang- kalah belum lagi bisa ditentukan, banyak orang mulai menghela napas gegetun, semuanya memuji dan menyatakan kagum, mereka anggap pertarungan sengit mi jarang ditemui di dunia persilatan. Banyak pula di antara jago2 itu yang merasa cemas dan kuatir, mereka ingin tahu bagaimana pertarungan itu bisa diakhiri? Dan bagaimann pula akhir dari pertarungan tersebut.

Jangankan jago2 lain, kedua "pengawal baja" istana keluarga Kim itupun dibikin terkesima sehingga untuk sesaat mereka lupa kedudukan dan tugas kewajiban mereka sebagai pengawal istana.

Tiat-pi-to-liong berulang kali berseru: "Bagus!" — Sementara tangannya mengelusi cambangnya sang lebat, sebaliknya Tiat-ih hui pang yang bermuka murung juga gelisah, biji matanya memancarkan sinar tajam dan terbelalak lebar.

Lambat laun, Giok-bin-siau-hing-hu Beng Ji -pen: yang kalah tenaga dalam mulai mandi keringat.

Berbeda dengan Tian Pek, rnakin bertempur ia semakin gagah, sekalipun darah segar mengucur derasnya dari luka di bahu kiri, namun ia tak pernah berhenti menyerang, se olah2 lwekangnya tiada habisnya, malahan makin bertarung makin bertambah kuat.

Lambat laun Beng Ji-peng menjadi gelisah, ia tahu jika pertarungan berlangsung terus dalam ke adaan begini, maka lama2 dia pasti akan kalah, ia menjadi nekat, diam2 ia rnerogoh kantong dan manyiapkan segenggain senjata rahasia Clog hu-kim ci-piau.

Kim Cay-hong sendiri tidak bersuara lagi, mungkin disebabkan Tian Pek sudah di atas angin, dia tahu bila Tian Pek menang, maka pedangnya pasti tidak kenal ampun dan Beng Ji-peng pasti akan dibunuh olehnya.

Sebaliknya iapun melihat wajah Beng Ji-peng yang menyeramkan, iapun tahu kalau Suhengnya berniat jahat, apalagi setelah melihat dia merogoh lagi senjata rahasia Cing-hu-piau, asal senjata rahasia itu disebarkan, maka sekalipun Tian Pek dapat lolos dari kematian, paling tidak pasti juga akan terluka parah.

Padahal ia tidak mengharapkan kematian di antara kedua orang itu, dia ingin urusan diselesaikan secara damai saja, keadaan ini membuatnya gelisah dan panik, pucat wajahnya, ketenangan dan kecerdikannya pada hari biasa kini lenyap, ia menjadi bingung dan kehabisan akal.

Tiba2 ia teringat pada Kim-hu-siang-tiat-wi (sepasang pengawal baja istana Kim), kalau engkohnya tidak ada di rumah, berarti hanya mereka berdua yang sanggup mengatasi pertikaian ini, maka ia lantas berpaling ke arah Tiat-ih-hui­peng yang sedang mengikuti pertarungan sengit itu dengan terkesima.

"Pa-jisiok, cepatlah lerai mereka!" teriaknya. "Kalau pertarungan itu dibiarkan berlangsung terus, lama kelarnaan akan. “

Tapi dilihatnya air muka Tiat-ih hui-peng menunjukkan rasa prihatin, perkataannya sama sekali tak digubris dan tetap mengawasi jalannya pertarungan dengan terbelalak. Teringatlah anak dara ini watak aneh parnan ini bukannya melerai, bisa jadi malah akan me!akukan hal2 yang tak terduga.

Maka ia lantas berseru kepada Tiat-pi-to hong. “Paman Kongsun, cobalah lerai mereka, jangan berlanjut lagi pertarungnn itu"

"Hahaha, nona tak usah kuatir!" jawab Kong-sun Coh sambil bergelak tertawa. "Meski mereka saling gempur dengan serunya, kemenangan belum bisa ditentukan dalam waktu singkat wah celaka!" Kiranya ketika Tiat-pi-to-liong sedang berbicara dengan Kim Cay-bong, mendadak terdengar jeritan ngeri, di mana cahaya pedang berkelehat, berhamburkan darah membasahi permukaan tanah, dengan wajah pucat seperti mayat Beng Ji-peng mundur beberapa Iangkah dengan sempoyongan, lengan kirinya sebatas bahu telah terpapas kutung.

Jerit kaget dan teriakan panik berkumandang dari mulut orang2 istana Kim menyaksikan murid kesayangan majikan mereka terluku parah.

Rupanya tatkala Kim Cay hong sedang mohon bantuan Tiat-pi-to-liong untuk melerai pertarungan itu, saat itu juga Tian Pek melihat Beng Ji-peng meragoh kantong untuk mengambil senjata rahasia Cing-hu-kim-ci-piau, ia rnenjadi gusar, beruntun ia melancarkan beberapa kali serangan berantai, sebagai puncak serangan tersebut dia gunakan jurus Cay-sian-sia-pau (melempar miring benang berwarna), suatu jurus serangan ampuh dari Tui­hong-kiam hoat.

Jurus serangan ini sangat hebat, gerakannya sukar diraba, tampaknya tertuju pada lengan kanan Bang Ji-peng, tapi sewaktu anak muda itu menangkis dengan pedangnya sambil berputar ke kiri, kesempatan yang baik ini digunakan Tian Pek untuk menabas lengan kiri lawan yang siap melepaskan senjata rahasia Cing-hu-piau itu.

Beng Ji peng sama sekali tak menduga akan tabasan itu, dalam keadaan begitu dia tak sempat menghindar, tanpa ampun lagi lengan kirinya kena tertabas kutung sebatas bahu

Senjata rahasia Cing hu-kini-ci-piau yang berada dalam genggam tangan kiri yang kutung itupun berserakan di lantai.

Sesungguhnya hal ini terjadi secara kebetulan, seandainya Kim Cay-hong tidak mangajak bicara Tiat-pi-to- liong, niscaya jago tua itu takkan terpencar perhatiannya dan pasti dapat menyelamatkan Beng Ji-peng.

Tiat ih-hui-peng sendiri meski menyaksikan peristwa itu dengan jelas, akan tepi ia segan untuk mencegah, sebab menurut jalan pikirannya, kalau orang berani bertarung maka dia harus berani puIa menanggung risikonya, jila kalah dan terluka atau mampus, maka itulah konsekwensi yang harus diterimanya sebagai seorang jago silat, salahnya sendiri mengapa tak becus.

Jangankan orang lain, sekalipun orang itu adalah putera kandungnya sendiri juga takkan dihiraukan, sebab ia anggap tidak marem pertandingan yang tidak mencucurkan darah.

Setelah bencana berlangsung, Tiat-pi-to-liong tak dapat berpeluk tangan dengan begitu saja, ia segera membentak dan menerjang masuk ke tengah gelanggang, selagi masih berada di udara sebuah pukulan keras dilancarkan ke arah Tian Pek, sementara tubuhnya melayang ke arah Beng Ji- peng.

Rapanya jago tua ini kuatir Tian Pek melancarkan serangan mematikan yang lebih keji di kala lawannya sudah terluka.

Tiat-pi-to-liang cepat, Tiat-ih-hui peng jauh lebih cepat lagi, sayap bajanya segera terpentang lebar, ibarat seekor hurung ia terbang ke udara, sayap bajanya mengebas ke batok kepala Tian Pek.

Tian Pek tak berani menyambut serangan itu dengan kekerasan, cepat ia melompat jauh ke samping.

"Blang!" suara benturan keras menggelegar di udara, angin pukulan beradu dengan kebasan sayap, debu pasir seketika berhamburan. Tian Pek tak gentar, sambil melintangkan pedang di depan dada ia berkata: "Apakah kedua Ciaupwe juga ingin memberi petunjuk padaku?"

Tiat pi-to-liong tidak menjawab, ia sibuk menutuk Hiat- to di bahu Beng Ji peng untuk menghentikan darah yang mengalir, setelah itu ia memerintahkan dua anak buahnya memayang pergi anak muda itu untuk dibubuhi obat luka.

Tiat ih-hui-peng lantas berkata dengan ketus, "Anak muda, kutungi sendiri sebuah lenganmu agar aku tidak perlu turun tangan!"

Berkerut alit Tian Pek, tapi sebelum ia buka suara, Tiat- pi-to liong telah ter­bahak2, katanya: "Hahaha, Pa loji, biarkan urusan kaum niuda diselesaikan sendiri oleh kaum muda, untuk apa kita ikut campur urusan mereka? Kalau tersiar orang Kangouw mungkin akan menuduh kita menganiaya kaum niuda ...!"

Gook-bin-siau cing-hu Bang Ji-peng telah dipayang dua Iaki2 kekar, sebelum berlalu dari situ in sempat melotot sekeja pada Tian Pek dan mengancam: "Nantikanlah pembalasanku, selama hidup aku Beng Ji-peng takkan melupakan sakit hati buntungnya tangan ini." 

"Setiap saat kunantikan kedatanganmu," jawab Tian Pek.

Dalarn pada itu Tiat-in-hui-peng tampaknya sudah menuruti perkataan Tiat pi-to-liong, dia tidak berbicara lagi.

Hanya Kim Cay hong, mukanya berubah pucat, ia kelabakan sendiri dan tak tahu apa yang mesti dilakukannya.

Akhirnya Tian Pek nenjura kepada Tiat pi to-liong, katanya dengan lantang "Locianpwe, apakah engkau masih ada pesan lain? Kalau tidak ada, maka aku akan mohon diri.” "Engkoh cilik, kenapa ter-buru2?" ujar Tiat pi-to liong, "bagaimana kalau menunggu sampai besok saja? Besok Kongcu pasti pulang, kan !ebih enak berpamitan sendiri dengan Kongcu kami?"

"Maaf, aku masih ada urusan penting yang harus kuselesaikan, tak mungkin aku menunggu lagi," sahut Tian Pek. "Terima kasih atas perhatian Locianpwe, maaf, kumohon diri."

Setelah masukkan pedang ke dalam sarungnya dan memberi hormat, ia puter badan dan bertalu.

“Tian-siauhiap............" Kim Cay hong berseru dengan gelisah.

Namun Tian Pek tidak berpaling lagi, dengan langkah lebar ia berjalan menuju ke luar.

Tiat-pi-to-liong berdiri tertegun mengikuti kepergian Tian Pek yang kian menjauh dan akhirnya lenyap di balik pintu, ia tak bersuara lagi untuk mencegah kepergian orang.

Sekeluarnya dari istana keluarga Kim, Tian Pek tidak mencari penginaparn dia langsung berangkat menuju ke "duabelas gua batu karang" pada malam itu juga.

==mch==

Bulan sabit menghiasi angkasa, air sungai mengalir dengan derasnya, di bawah cahaya rembulan yang redup Yan-cu ki menjulang tinggi di tepi sungai ibarat seekor burung raksasa yang siap terbang ke langit.

Angin meniup sepoi2, suasana hening sepi, kecuali dua- tiga pelita perahu nelayan berkelip jauh di tengah sungai, Tian Pek menengadah dan mengembus napas panjang. Kini ia merasa puas tapi juga tidak puas. merasa gembira juga merasa murung, ia berjalan menyusuri sungai itu dengan perasaan yang bercampur aduk.

la puas karena ilmu silatnya telah mendapat kemajuan yang pesat, malahan sudah mampu mengalahkan Beng Ji- peng, murid tunggal Cing-hu-sin Kim Kiu, musuh besar pembunuh ayah.

Tapi iapun merasa tak puas, merasa kecewa karena kepandaian yang dimiliki kedua "pengawal baja" ternyata amat lihay, ia merasa tak mungkin bisa menandingi mereka dengan Kungfu yang dimilikinya sekarang, apalagi jago yang menjaga istana Kim begitu banyak jumlahnya, tak mungkin dia bisa rnenandingi kekuatan mereka dengan seorang diri, itu berarti tiada harapan baginya untuk membalas sakit hati ayahnya.

Sedangkan perasaan gembira dan murung  sukarlah untuk menerangkan, dia hanya merasa bayangan tubuh Kim Cay-hong yang jelita itu selalu muncul dalam benaknya, iapun sering terbayang kembali kasih mesra Kim Cay-hong selama dua hari dia jatuh sakit, itu mendatangkan rasa manis dan getir, ada yang menggembirakan juga ada yang membikin hatinya menjadi kesal.

Dengan pikiran yang dirundung pelbagai masalah, Tian Pek meianjutkan perjalanan menuju ke jalan pegunungan yang rnenghubungkan pantai dengan "dua belas gua karang", ia tidak ter-buru2 sebab ia sendiripun tak tahu Sin lu­tiat-tan berdiam di mana, dia akan mencari tokoh persilatan Itu secara pelahan.

Sudah tiga buah gua karang yang diperiksa olehnya, tapi kecuali segerombol kelawar yang terbang ketakutan, tiada sesuatu apapun yang terlihat olehnya. Meskipun gua2 karang itu terpencil letaknya, akan tetapi di sana-sini masih terlihat bekas2 kaum pelancong, seringkali di atas dinding gua terbaca olehnya catatan tanggal si pengunjung, ada pula bait2 syair yang sengaja diukir di sana sebagai kenangan, di lantai gua tersisa kulit buah2an yang berserakan, kotor sekali tempatnya.

Diam2 Tian Pek merasa kecewa, sebab ia berpendapat Sin-lo tiat-tan tak mungkin berdiam di tempat kotor yang ramai didatangi kaum pelancong ini, diam2 iapun mulai meragukan keterangan si "orang mati hidup"

Walaupun sangsi, namun dia masih terus melakukan pencarian dengan saksama. Kembali tiga buah gua sudah diperiksa, namun hasilnva tetap tiada sesuatu yang ditemukan.

Makin tinggi ia mendaki bukit karang itu suasana makin hening, baru saja anak muda itu melewati sebuah bukit karang, tiba2 terdengar seorang gadis sedang berseru dengan suara merdu: "Ini tidak masuk hitungan, hayo sekali lagi!"

Lalu seorang kakek dengan suara serak menjawab: "Eeh, anak perempuan, ada2 saja tingkah polahmu, orang tua juga kau permainkan. Tidak aku tidak......... tidak mau lagi!"

Suara serak tua lain segera bergelak tertawa, katanya: "Hahaha, jangan coba2 menolak ya. Hahaha, kalau kau tak mau mengulangi kembali, maka kau harus mengaku kalah!"

"Hm, tidak segampang itu untuk mengalahkan aku!" suara pertama tadi berseru apula: "Jangan kau kira kakiku cacat, lalu mempersulit aku dengan permainan begini!"

Sampai di sini, lapat2 terdengar kibaran kain baju tersampuk angin. Tian Pek merasa tertarik, ia merasa; sudah kenal suara ketiga orang itu, cuma seketika tidak ingat siapa mereka. Ia heran apa yang sedang dilakukan ketiga orang itu di bukit ini pada tengah malarn buta? Permainan apa yang sedang mereka lakukan?

Timbul rasa ingin tahunya, dengan hati2 ia mendekati tempat suara itu, berkat rindangnya pepohonan ia mengintip ke sana.

Di depan sana ada tanah datar yang agak menonjol tinggi dengan sebuah batu raksasa yang rata permukaannya, batu ini tinggi dua-tiga tombak dan lebar hampir sepuluh tombak, di sekeliling tetumbuhan permai, batu raksasa ini mirip sebuah panggung alam.

Di samping batu itu terdapat beberapa batang pohon siong yang sangat besar, di depan pohon siong itu berdirilah seorang nona berbaju putih dan seorang kakek berjenggot putih, di depan mereka ada pula seorang kakek yang aneh, kedua kakinya sebatas, paha ke bawah sudah buntung dan sebagai gantinya dipasang dua potong kayu, waktu itu si kakek buntung lagi berjungkir dengan kaki di atas dan kepala di bawah, dan sedang berloncatan kian-kemari secepat terbang.

Kayu pengganti kakinya itu berbentuk aneh, bagian atas dekat paha besar dan kasar, bagian ujung lebih kecil, gerak- geriknya aneh dan lucu se-akan2 dia sedang membawakan tarian setan.

Setelah memperoleh kemajuan pesat dalam tenaga dalam, ketajaman mata Tian Pek luar biasa, sekalipun jaraknya cukup jauh, namun ia dapat melihat jelas keadaan di sekitar sana. Ia melihat kakek aneh yang sedang membawakan "tarian setan" itu tak lain adalah kakek buntung yang tiga hari berselang pernah membuat Kanglam-ji-ki lari ter-birit2.

Sedangkan kakek berambut putih itu tak terlihat jelas karena jaraknya terlampau jauh, tapi ia yakin orang itupun pernah dijumpainya, sedangkan anak dara berbaju putih itu ternyata tak-lain-takbukan adalah Tian Wan-ji yang lincah itu.

Waktu Tian Pek terluka di restoran Hin-liong-ciu-lau tempo hari dan ditolong oleh Wan-ji serta dibawa ke rumah Hoat-si-jin dan Si-hoat-jin, anak muda itu sama sekali tak tahu, maka ia heran melihat anak dara itu berada di sini bersama kedua kakek aneh itu.

"Aneh, mengapa dia bisa berada di sini?" demikian pikirnya. "Bukankah dia berada di rumahnya tempo hari?

Mau apa dia berkumpul dengan kedua kakek

aneh di bukit yang sunyi ini? Permainan apa yang sedang mereka lakukan.........

Sementara Tian Pek keheranan, kakek buntung yang sedang menari dengan tangan menggantikan kaki itu sudah meloncat bangun berbareng meraih kedua tongkat penompang tubuhnya, lain dengan, bangga dia berkata. "Coba, hebat bukan? Hahaha jangan kalian mengira aku tak punya kaki, kan sudah kulakukan juga permainan ini?"

Wan-ji menghela napas, katanya: "Ai, kukira Kungfu kalian selisih tidak banyak dan sukar ditentukan, siapa lebih unggul, kurasa lebih baik tak dilanjutkan pertandingan ini !"

"Selisih tidak banyak apa?" teriak kakek rambut putih itu dengan penasaran. "Anak perempuan, bilang saja bahwa Kungfu kami sangat tinggi dan luar biasa. Hehe, bagaimanapun juga, aku harus menentukan siapa yang lebih unggul dengan dia."

"Betul!" sarnbung kakek buntung itu dengan cepat. "Kita sudah bertanding selama tiga hari tiga malain dan tetap belum tahu siapa yang lebih unggul, mungkin sernua Kungfumu sudah kau kuras keluar semua. Huh, apakah mungkin kau memiliki jurus lain lagi yang bisa kau gunakan?"

"Tapi, kalian akan bertanding apa lagi?" seru Wan ji. "Ilmu pukulan, pakai senjata tajam, ilmu senjata rahasia, tenaga dalam, gerakan tubuh maupun kecepatan langkah, sernua telah kalian pertandingkan, kukira kita sudah kehabisan bahan untuk melanjutkan pertandingan ini, lebih baik dianggap seri saja."

"Tidak, tidak bisa," teriak si kakek rambut putih sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. "Hahaha, ini dia, ada persoalan baru lagi, barusan telah kedatangan satu orang dan orang itu bersembunyi di sana sedang rnengintip gerak-gerik kita "

Sebelum kakek itu selesai berkata, kakek buntung lantas tertawa terbahak2: "Hahaha, jangan kau anggap aku tidak tahu apa2, sedari tadi akupun sudah tahu akan kedatangannya. Itu dia, sembunyi di belakang pohon sana?"

Sambil berkata iapun menuding ke tempat sembunyi Tian Pek.

Betapa terperanjatnya anak muda itu demi mendengar perkataan tersebut, ia mengira tempat sembunyinya cukup rahasia, tak tahunya tetap tak dapat mengelabui kedua kakek itu. Dalam keadaan begini tentu saja ia tak dapat berdiam terus di situ, terpaksa Tian Pek berbangkit dan siap unjuk diri.

"Eeh, tunggu sebentar, teriak kakek rambut putih itu mendadak, "kau jangan keluar dulu dari tempat persernbunyianmu. "

Sekali lagi Tian Pek terperanjat, pikirnya: "Aku belum bergerak dan dia lantas dapat menebak isi hatiku, memangnya dia memilki ilmu gaib?"

Selagi dia masih termenung, kakek rambut putih itu telah berkata pula: "Nah, sekarang marilah kita menebak orang ini, siapa yang dapat menebak

dengan jitu, dialah yang menang, siapa yang tak mampu menebak, dia yang tak becus. Nah, setuju?"

Tanpa menanti jawaban, kakek itu melanjutkan pula kata-katanya: "Hayolah, kita menebak berapa usia pendatang ini, laki2 atau perempuan? Kalau kau tak mampu menebaknya, lebih baik jadi kunyuk saja, setuju bukan?"

Kakek cacat kaki itu bergelak tertawa. 'Haha, setan tua penunggang keledai, sekalipun tipu muslihatmu banyak, jangan kauharap akan menipu diriku, kalau pendatang itu orang yang sudah kaukenal, kan aku yang rugi? Memangnya aku dapat kautipu?"

Mula2 Tian Pek agak terkejut sewaktu mendengar disebutnya “si penunggang keledai", dengan cepat iapun paham, bukankah kakek berambut putih ini adalah Sin lu- tiat tan (keledai sakti peluru baja) Tan Jian-li yang sedang dicarinya?

Setelah mengetahui siapa kakek ini, Tian Pek tak dapat menahan emosin)a lagi, iapun tak mau tahu pertaruhan apa yang sedang dilakukan kedua kakek itu, segera ia melayang ke atas panggung batu itu sambil berseru lantang: 'O, Tang- lociaupwe sungguh susah Wanpwe mencari jejakmu ...

Tang Jian-li melengak, dengan ketajaman pendengarannya sebenarnya kakek itu mengetahui ada seorang bersembunyi di belakang pohon, dan langkah kakinya yang mantap ia tahu orang itu pasti masih muda dan jelas seorang laki2, maka diajukannya syarat pertandingan itu dengan maksud akan mengalahkan si kakek cacat.

Siapa tahu pendatang ini benar2 kenal padanya, kejadian ini sama sekali tak terduga olehnya, sebab ia merasa sudah puluhan tahun lamanya mengasingkan diri, sudah jarang ada orang persilatan yang kenal nama aslinya.

Kini Tian Pek menyebut namanya dengan jitu, itu berarti orang yang sudah kenal seperti apa yang tuduhkan si kakek cacat tadi.

Dengan sorot mata yang tajam ia menatap Tian Pek tanpa berkedip, kemudian in bertanya: "Heh anak muda, darimana kautahu aku she Tang?"

Belum lagi Tino Pek menjawab, kakek cacat itu sudah tertawa ter kekeh2 dan berkata: "Hehehe, kau tak perlu main sandiwara lagi, kan sudah kukatakan sedari tadi, kau si setan tua penunggang keledai ini banyak akal muslihatnya, rupanya dugaanku memang tak keliru. Hahaha, kau sengaja menyuruh seorang muda bersembunyi di sana untuk menipu aku. Huh, biarpun anak berusia tiga tahunpun tak bisa kautipu."

Gusar Sin-lu-tiat-tan Tang Jian li mendengar tuduhan itu, dia angkat telapak tangannya dan melayang ke depan sambil melepaskan suatu pukulan teriaknya dengan gusar: "Tua bangka, tak usah cerewet lagi, rasakan pukulanku ini

...... !"

Serangan itu tidak membawa desiran angin, akan tetapi tenaga pukulan yang terpancar ternyata sangat hebat.

"Huh, biarpun seratus kali pukulan juga akan kulayani," jengek si kakek buntung.

Sambil bicara kakek cacat itu terus bergerak, setelah tongkat penompang digantolkan pada sikunya, tangannya berputar, segulung angin pukulan dingin terpancar dari telapak tangannya.

Dua gulung angin pukulan salirg bentur dan menimbulkan suara keras, kedua orang sama tergentak ke atas, dengan cepat mereka terlibat pula dalam serentetan pukulan dahsyat. "Blang! Biang! Blang!" dalarn waktu singkat mereka telah beradu tenaga pukulan beberapa kali.

Suara benturan itu tidak terlalu keras bunyinya, namun memantul cukup jauh dan menimbulkan gema yang bergemuruh.

Diam2 Tian Pek terperanjat, gerak tubuh kedua orang yang sangat cepat dan aneh ini menandakan kepandaian mereka sungguh luar biasa.

Tian Wan-ji terkejut dan gembira melihat kemunculan Tian Pek tadi, tapi ketika dilihatnya anak muda itu tidak menggubrisnya tapi terkesima oleh pertarungan kedua kakek, Nona itu jadi sedih, katanya dengan rawan: "Ai, mereka telah saling hantam dan mungkin sukar diakhiri. Sungguh tak terduga, usia mereka sudah setua itu, akan tetapi emosi mereka masih begitu besar, entah bagaimana akhirnya nanti?"

Tian Pek tetap membungkam, ia sedang terkesima oleh kelincahan serta kegesitan kakek cacat itu, meski kedua kakinya buntung, dan sebagai penggantinya adalah kaki kayu yang besar di atas dan kecil di bawah, akan tetapi semua itu sama sekali tidak mengurangi kegesstannya, kedua telapak tangannya masih terus berputar kian kemari tanpa alangan, tubuhpun bisa mengegos ke kiri kanan atau merendah atau meloncat dengan leluasa, sedikitpun tidak berada di bawah kelihayan Siu-lu-tiat-tan yang bertubuh sempurna.

Diam2 anak muda ini kagum sekali, iapun heran dan bertanya: "Kenapa kedua kakek ini saling bergebrak?"

"Akupun tidak tahu kenapa mereka saling bargebrak!" jawab Wan-ji sambil menggeleng, "aku datang kemari untuk mencari kau, bukan kau yang kutemukan, tapi merekalah yang kulihat sedang bertarung, katanya mereka telah bertempur selama tigahari tiga malam. Sewaktu aku tiba di sini tadi, katanya baik pukulan bertangan kosong, senjata tajam, tenaga dalam dan semua telah dipertandingkan tapi mereka belum berhasil menentukan siapa yang lebih unggul, maka mereka lantas minta aku sebagai wasit dan mengajukan berbagai acara pertandingan, sudah kugunakan macam2 cara yang sulit, tapi mereka tetap sama tangguhnya, ketika engkau datang tadi, mereka sedang mempertandingkan ilmu langkah Ni-gong-huan-ing (lintas angkasa bayangan semu), sekalipun kakek aneh itu tak punya kaki, tapi ia telah menggantikan kakinya dengan tangan dan tetap tidak kurang gesitnya, maka keadaan pun masih tetap seri!"

Setelah mendengar penuturan tersebut sedikit banyak Tian Pek dapat meraba garis besar kejadian itu, tapi dia tetap tidak tahu sebab apa kedua kakek saling bergebrak.

Tiba2 hatinya tergerak, dia berpaling dan bertanya: "Wan-ji, kau bilang sedang mencari aku? Ada urusun apa kau mencari ku?" Sedih Wan-ji, hampir saja air mata menetes. "Dengan susah payah kutolong dirimu hampir saja nyawaku ikut berkorban, masa kau sama sekali tidak mengetahuinya?" demikian pikir anak dara itu.

Meskipun berpikir demikian, namun perasaan tersebut tidak sampai diutarakannya, ucapnya: "Bukankah kau terluka oleh Hiat-ciang-hwe-liong ketika berada di restoran Hin-liong-cin-Iau? Memangnya siapa yang menyelamatkan jiwaniu?

"O, jadi nona yang telah menyelamatkan jiwaku?" seru Tian Pek. "Kalau begitu tentunya engkau telah bertemu dengan Hoat-si-jin bukan? Tapi aneh, ke mana kau pada waktu itu? Kenapa tidak kulihat dirimu di sana?"

Merah wajah Wan-ji membayangkan peristiwa pahit yang dialaminya itu, hampir saja ia menangis ter-sedu2.

"Eh, sudah selesai belum kalian mengobrol?" tiba2 dr tengah pertarungan seru itu terdengar teriakan "Kalau sudah cakup kongkou hendaknya cepat menyingkir dari sini, awas, aku akan melepaskan serangan yang mematikan!"

"Hehe. besar amat mulutmu!" ejek si kakek cacat sambil tertawa. "Tua bangka penunggang keIedai, Iebih baik kurangi teriakaimu, kalau memang mau kentut hayolah lepaskan kentutmu itu, kalau mau pamer kepandaian cepatlah pamerkan, jangan kuatir, semua permainanmu pasti akan kuterima dengan tangan terbuka!"

“Ciaat! ." tiba2 Sin-lu-tiat-tanberteriak gusar,menyusul segulung angin keras mendampar disertai suara gemuruh yang mernekak telinga.

Karena damparan angin pukulan yang dahsyat itu, baik Tian Pek maupun Wan-ji tak sanggup berdiri tegak lagi, mereka sama2 melompat turun dari panggung batu itu dan meloncat ke atas pohon liong di depan situ Sambil bicara mereka menonton jalannya pertarungan yang semakin seru itu.

Kedua kakek itu mernang sama2 lihaynya, semua jurus serargan maupun gerakan tubuh dilakukan dengan secepat kilat angin pukulan mereka pun sama2 santar dan kuat, meskipun sama2 menggunakan tenaga lunak, akan tetapi kekuatan yang terpancar dari serangan masing2 tetap sangat hebat.

Setelah merapelajari ilmu menurut isi kitab Soh-kut-siau hun pit-kip, ditambah pula urat penting dalam rubuhn)a telah lancar semua, baik pendengaran ataupun penglihatan Tian Pek boleh dibilang sudah mencapai kesempurnaan, sekalipun berada di kegelagran ia sanggup melihat benda dengan cukup jelas. Namun begitu tetap tak dapat dimanfaatkan untuk mengikuti jalannya pertarungan itu, ia merasa kabur gerak tubuh kedua orang tua itu sehingga semua gerak-gerik sukar diikuti.

Kalau Tian Pek saja tak mampu mengikuti pertarungan itu, apalagi Wan-ji?

"Blang! Blang ..!" beberapa kali benturan berkumandang rnemecah kesunyian malam yang mencekam itu, dengan gerakan cepat kedua orang itu saling memisahkan diri.

"Hehehe, setan tua penunggang keledai," teriak kakek cacat itu sambil tertawa, "tadinya kukira pukulan Ki-heng- tui-hong-ciang (pukulan aneh pengajar angin) sangat lihay, hah, tak tahunya hanya begini saja. Hayo kalau punya simpanan lain yang lebih baru dan lebih segar, keluarkan saja semuanya, jadi manusia jangan terlalu pelit."

Sin-lu-tiat-tan sudah tersohor pada puluhan tahun yang lalu, ilmu silatnya sangat tinggi dan sudah mencapai puncaknya, semakin menanjak usianya boleh dibilang makin berkurang ambisinya untuk cari nama, sebab itulah sudah puluhan tahun dia rnengasingkan diri dan sudah dilupakan oleh dunia persilatan.

Sekalipun begitu, kadangkala dia muncul juga di dunia Kangouw dengan menyaru sebagai pedagang kecil atau penjual makanan. Selamanya dia hanya suka mempermainkan orang lain dan belum pernah merasakan dipermainkan orang lain.

Sekarang berjumpa dengan kakek buntung yang tak diketahui namanya ini, sudah tiga-haritiga malam mereka bertempur, akan tetapi menang-kalah belum juga dapat ditentukan. Apalagi kakek buntung ini suka ber olok2 dan mengejek, setelah berlangsung tiga-hari tiga malam, habis juga kesabarannya, mendengar ejekan tadi kontan saja dia rnernbentak murka: "Hei, makhluk tua kau jangan latah, ini, rasakan dulu dua buah peluru bajaku ini!

Sambil berseru tangannya lantas terayun ke depan, sejalur cahaya tajam meluncur ke, depan. Dengan membawa desing angin keras cahaya tersebut langsung mengancam muka kakek cacat itu.

Tapi kakek cacat itu malahan menengadah dan tertawa ter-babak.

"Hahahaha, permainan anak kecil begini juga berani diparnerkan di hadapanku ejeknya. Dengan suatu gerakan seenaknya, kakek itu angkat tongkat kanannya rnenangkis ke atas. "Criing !" denting nyaring terdengar, peluru baja

yang meluncur tiba itu mencelat ke udara.

Sin-lu-tiat-tan membentak gusar, kembali peluru baja kedua menyambar pula ke depan, tapi arah yang dituju sekali ini bukan si kakek cacat melainkan menghantam peluru baja pertaina yang terpental oleh tangkisan tongkat si kakek btintung tadi.

"Tring . !" kcdua peluru baja itu saling membentur di udara, terjadilah percikan bunga api yang membura ke bawah bagai hujan sinar perak disertai suara mendengung, dari kanan-kiri kedua peluru itu mengancam lambung si kakek buntung.

Melengak juga kakek cacat itu oleh kelihayan senjata rahasia yang aneh itu, dengan tertawa berseru: "Haha, permainan tukang jual obat ini belum lagi mampu merepotkan aku!"

Sambil bicara tongkatnya menangkis pula. "Tring, tring..... !" kedua biji peluru itu tahu2 mencelat lagi ke udara.

Tapi kedua biji peluru itu seperti benda hidup saja, setelah berputar satu lingkaran, lalu saling berturnbuk lagi, "tring!" kedua peluru baja itu menyambar pula ke dada kakek aneh itu.

"Haha, setan tua penunggang keledai, tak kusangka permainanmu lumayan juga, hahaha, begini-baru menyegarkan badan!" Sambil berkata si kakek buntung angkat tongkat menangkis pula, dentingan nyaring sekali lagi menggema, kedua biji peluru baja itu terpental ke udara, tapi bagaikan bersayap benda itu segera berputar balik dengan dentingan nyaring dan menyambar pula mengancam jalan darah penting di sekujur badan musuh.

Cara melepaskan senjata rahasia yang aneh oleh kakek perrunggang keledai ini boleh dibilang jarang ada di kolong langit ini, baik Tian Pek maupun Wan-ji mengikuti jalannya pertarungan dari atas dahan pohon dengan mulut melongo dan lupa berbicara lagi. Akan tetapi kakek aneh itu sama sekali tak pandang sebelah mata terhadap ancaman yang tiba, sambil mengoceh terus mengejek lawannya dia mengegos ke sana dan menghindar sini dengan gesitnya, setiap kali tongkat berputar, peluru baja yang mendekat segera mencelat jauh ke udara.

Melihat dua biji peluru baja gagal melukai lawan, Sin-lu- tiat-tan berkata: "Makhluk tua, supaya kau puas bermain dengan peluruku ini kutambah satu biji lagi."

Berbareng dengan ucapan tersebut, peluru ke tiga segera menyambar ke depan.

Peluru ketiga ini bentuknya jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan kedua peluru yang duluan, setelah dilepaskan bukan suara mendengung yang terdengar, tapi suara mendenging seperti suara sempritan, gerak luncurannya juga sangat cepat, malahan jauh lebih cepat daripada kedua peluru yang pertama, terus menyambar ke muka si kakek buntung.

“Eeh jangan tambah lagi, aku bisa kewalahan nanti .....

!" teriak kakek aneh sambil rnenjerit seperti orang kerepotan.

Meskipun di mulut di mulut ber kaok2, tapi tangannya tidak rnengarggur, sebelum peluru sakti itu mengenai badannya, cepat dia putar tongkat untuk menangkis.

Tapi sekali ini dia kecelik, ternyata tangkisan itu mengenai tempat kosong, sebelum ujung tongkat nienyentuh peluru tersebut, secara otomatis senjata itu mengegos ke samping.

Kiranya peluru kecil itu dibikin secara khusus, apabila menjumpai rintangan, maka secara otomatis senjata rahasia itu akan berbelok arah, maka dengan sendirinya tangkisan si kakek aneh itu meleset.

Sementara itu peluru kecil tadi sudah berputar satu lingkaran dan mengancam pula telinga kiri si kakek.

Kakek aneh itu tidak menyangka akan sergapan luar biasa ini, hampir saja ia kena diterjang, untung ilmu  silatnya sudah mencapai puncak

kesempurnaannya, ke mana ia mau bergerak, secara otomatis tenaganya tersalur dengan sendirinya.

Ketika desiran angin tiba2 muncul di tepi telinganya, serentak dia tarik kepalanya ke belakang lalu rnenghindar ke samping, diiringi desingan tajam, peluru itu menyambar lewat.

Baru lolos dari ancaman pertama, kedua peluru yang mencelat ke udara tadi tiba2 menyambar kembali ke bawah.

Dengan cekatan kakek aneh itu putar tongkat untuk menangkis, siapa tahu peluru ketiga yang meleset tadi sudah menikung balik dan menyambar lambungnya, hal ini membuat si kakek rada kelabakan dan ber kaok2.

Ketiga peluru sakti milik Sin-lu-tiat-tan memang tersohor akan kelihayannya, jarang sekali ia menggunakan ketiga pelurunya itu sekaligus, biasanya hanya cukup menggunakan sebiji saja, kawanan jago persilatan baik dari golongan putih maupun dari kalangan hitam pasti akan lari terbirit2.

Bilamana dua biji peluru digunakan jelas terlebih sukar melawan apalagi sekarang tiga biji peluru digunakan sekaligus, ia yakin si kakek buntung pasti tidak mampu, menahannya. Tian Pek serta Wan ji sampai kabur mengikuti jalannya pertarungan itu dari atas dahan, mereka tak mampu mengikuti lagi jalannya pertarungan dengan jelas, hanya terlihat serentetan cahaya perak, ibarat tiga ekor ular lincah berputar dan menyambar tiada hentinya mengitari badan kakek aneh itu, denging nyaring bercampur aduk menciptakan gema suara yang membetot sukma, ditambah pula suara benturan nyaring yang menerbitkan bunga api, membentuk serangkaian pemandangan yang indah dan aneh pula.

Setelah ketiga biji peluru berhasil membuat musuh kalang kabut barulah Sin lu-tiat tan berdiri sambil berpeluk tangan, katanya dengan tertawa: "Bagairnana rasanya peluru saktiku, kawan? Hahaha! Ketiga biji peluruku sekaligus, rasanya tentu lain bukan?"

Si kakek aneh meraung gusar, kedua tongkatnya kencang. terdengar dering nyaring dan letupan bunga api, ketiga peluru itu tertangkis mancelat jauh, tiba2 ia sendiri menjatuhkan diri ke atas tanah,

Ketika ketiga peluru tadi berputar satu lingkaran di udara dan menyambar balik ke sasarannya, jejak si kakek aneh itu sudah lenyap.

Dangan begitu, ketiga peluru itupun kehilangan sasarannya, benda itu hanya berputar terus di udara.

Melenggong juga Sin lu tiat tan menghadapi kejadian yang tak terduga ini, ia angkat tangan dan menarik kembali senjata rahasianya.

Selagi berdiri melongo, tiba2 dari belakang di dengarnya kakek aneh itu mengejek: "Huh, tiga biji pelurumu juga tidak mampu menandingi ilmu Sansin­bu-ing (tubuh berkelebat tanpa bayangan), hehe, apabila aku tidak jaga harga din', sejak tadi kau tentu sudah terluka oleh seranganku dari belakang!"

Sin-lu-tiat-tan menarik muka, mendadak ia putar badan sambil melontarkan pukulan pelahan. Segulung angin pukulan yang lunak terus mendampar ke belakang.

"Hah, Lui-im-hud-ciang!" teriak kakek aneh itu dengan terperanjat Mendadak ia jatuhkan diri ke tanah, dan tahu2 bayangan tubuhnya sudah lenyap pula.

Karena sasaran yang dituju menghilang  mendadak, maka angin pukulan yang dahsyat itu langsung menggulung ke depan dan menumbuk sebatang pohon siong.

"Blang!" suara gemuruh keras memecah kesunyian, pohon siong itu patah menjadi dua dan tumbang.

Pasir debu dan patahan ranting pohon berhamburan, suasana terasa mengerikan.

"Sungguh hebat tenaga pukulan itu!" puji Tian Pek sambil menjulurkan lidah. "Seorang mampu melatih ilmu silatnya hingga tingkat setinggi ini, sungguh sukar untuk dibayangkan."

"Memang ilmu pukulan yang lihay!" sahut Wan Ji mengangguk, "seringkali kulihat jago silat kelas wahid yang berkumpul dirumahku saling beradu tenaga pukulan, tapi belum pernah kulihat seorang yang memiliki tenaga pukulan sedahsyat ini!"

Menyinggung keluarga gadis itu, tanpa terasa Tian Pek teringat kembali akan dendamnya, dia lantas bertanya: “Apakah ayahmu bernama Ta sangjiu Buyung Ham?"

"Engkau kan sudah tahu, kenapa bertanya lagi?" omel Wan-ji sambil mengerling sayu. "Aku cuma heran, kalau Buyung Ham benar ayahmu, mengapa kau tidak she Buyung, tapi she Tian?"

"Eeh, kau benar2 seorang pelupa atau sengaja berlagak bodoh?" kata gadis itu dengan kurang senang. "Kan sejak mula sudah kuterangkan padamu bahwa aku ikut she ibuku!"

"Di dunia ini umumnya anak ikut she ayahnya, jarang yang ikut she ibunya. Atau nona Wan, jangan2 kau bukan ana k kandung Ti-seng-jiu?"

Hebat sekali perubahan air muka Wan-ji katanya dengan gusar: "Kau tidak percaya padaku dan mengira aku berdusta?"

Tian Pek menjadi sedih, pikirnya: "Wan-ji adalah gadis yang masih suci murni dan baik hati, sudah dua kali dia selamatkan jiwaku. Bila suatu hari kucari ayahnya untuk menuntut balas, oh, entah betapa sedih dan bencinya nona ini padaku?"

Jelas Wan-ji jatuh cinta kepada Tian Pek, kaIau tidak tentu dia tak perlu meninggalkan rumah secara diam2 dan menempuh bahaya untuk mencari anak muda itu.

'Tapi apa mau dikata? Wan-ji tak lain adalah putri musuh besarnya, mungkinkah hubungan cinta ini dapat berlangsung dengan lancar dan langgeng?

Melihat Tian Pek termenung dengan alis berkernyit, Wan-ji mengira kata2nya yang kasar tadi telah menyinggung perasaan anak muda itu. Maka ia menjadi tak tega dan cepat berkata pula: "Engkoh Tian, engkau marah kepadaku?"

Tian Pek menggeleng dan tarik napas panjang2. jawabnya: "Aku tidak marah, aku cuma ahh!" Mendadak pemuda itu menjerit kaget dan perhatiannya ke atas pauggung baru, rupanya pertarungan yang berlangsung antara kedua jago tua itu telah mencapai saat yang gawat.

Kaget juga Wan-ji mendengar seruan tersebut, cepat iapun menengok ke sana, dilihatnya kedua kakek itu sedang saling melotot sambil mengitari gelanggang. Gerak-gerik mereka persis dua ekor ayam jago yang siap bertarung.

Pertarungan mereka tidak berlangsung dengan kecepatan tinggi lagi, kedua orang sama bergerak mengitari gelanggang dengan langkah yang sangat lambat, dengan mata melotot tajam saling pandang tanpa berkedip, beberapa lingkaran kemudian baru kedua orang saling hantam satu kali dengan dahsyat.

Sekilas pandang pertarungan mereka memang berlangsung lamban dan Iucu, tapi justeru pertarungan macam inilah yang paling banyak menggunakan tenaga serta banyak menanggung resiko.

Baik Tian Pek maupun Wan-ji, keduanya cukup tahu  apa yang sedang terjadi, mereka tahu resiko pertarungan macam begitu. Bukan saja segenap tenaga dalam yang mereka miliki harus diadu, malahan setiap pukulan pasti pukulan mematikan, siapa meleng dia akan celaka.

Tian Pek menguatirkan keselamatan Sin-lu-tiat-tan, sebab hanya orang tua inilah yang mengetahui tentang kematian ayahnya, hanya dia pula akan menambah ilmu silatnya jadi lebih lihay. Bila Sin-lu-tiat-tan kalah, bukan saja harapannya untuk belajar akan musnah, bahkan siapa pembunuh ayahnya juga takkan diketahuinya, maka ia ikut tegang hingga keringat dingin membasahi tubuhnya.

Ilmu silat kakek aneh itupun sangat lihay, malahan boleh dibilang hampir seimbang dengan Sin-lu-tiat-tan, tapi Tian Pek tak pernah ingin belajar silat padanya, apalagi tingkah laku kakek itu-pun rada kurang beres, gaya ilmu silatnya tidak mirip Kungfu aliran baik bahkan kakek aneh itu pun tidak tahu tentang kematian ayahnya.

Berdasarkan alasan inilah, maka Tian Pek lebih condong untuk menjagoi Sin-lu tiat tan dari pada kakek aneh itu, kendatipun kedua orang kakek itu sama sekali tak ada hubungan apa2 dengan dia.

Wan-ji sendiri sama sekali tidak memperhatikan jalannya pertarungan kedua kakek itu, seluruh pikiran dan perhatiannya hanya tertuju kepada Tian Pek seorang.

Betapa cemasnya gadis itu ketika dilihatnya Tian Pek duduk dengan dahi berkerut, badan menggigil karena tegang dan keringat membasahi sekujur badannya.

"Engko Tian, apa gunanya ikut tegang? Kedua kakek itu sama2 anehnya, siapa menang dan siapa kalah kan tak ada hubungannya dengan kita… "

Tian Pek sama sekali tak meuggubris bisikan lembut si nona, mendadak ia menyingkirkan Wan ji yang bersandar di bahunya itu, kemudian ia melompat turun dari dahan pohon dan melayang ke atas panggung batu.

"Engkoh Tian, jangan!" seru Wan-ji dengan kuatir, cepat iapun melompat turun menyusul ke atas.

Kiranya pertarungan waktu itu sudah berhenti, kedua kakek itu tidak mengitari gelanggang lagi melainkan berdiri saling berhadapan dengan telapak tangan saling menenipel, sementara tenaga dalam mereka rnengalir keluar tiada hentinya dari tangan masing2.

Uap mengepul keluar dari atas kepala kcdua orang tua itu, sedangkan kaki mereka sama ambles ke dalam batu karang itu. Melihat gelagatnya, dapat diketahui bahwa pertempuran telah mencapai puncaknya yang paling gawat.

Air muka Sin-lu-tiat-tan tampak prihatin, kuda2nya kuat, rambut sama berdiri seperti duri landak, matanya melotot, sepatunya sudah pecah, kakinya sudah ambles sedalam tiga dim di dalam batu karang, tampaknya ia sudah kepayahan.

Kakek buntung itu lebih aneh lagi, kaki palsunya sudah menancap ke dalam batu separoh bagian, telapak tangannya yang direntangkan sejajar dada tampak gemetar. kabut putih yang mengcpul dari kepalanya juga lebih tebal daripada kabut di kepala Sin lu tiat-tan, dari keadaan itu dapat diketahui bahwa jago tua inipun tidak lebih unggul.

Tian Pek tahu pertarungan adu tenaga adalah pertarungan yang paling berbahaya, apabila salah satu pihak kalah kuat, niscaya isi perutnya akan hancur berantakan terhajar tenaga pukulan lawan dan akhirnya binasa. Sebaliknya jika kekuatan mereka berimbang, maka risikonya kedua pihak akan sama2 terluka atau lebih parah lagi bisa mengakibatkan kedua orang itu gugur bersama.

Dengan gelisah Tian Pek menghampiri kedua orang tua itu. serunya dengan lantang: "Locianpwe berdua, kalau ada perselisihan alangkah baiknya dibicarakan secara baik2, buat apa kalian mesti berkelahi mati2an begini?"

Waktu itu pertempuran sudah berlangsung mencapai puncaknya, mereka tidak menghiraukan ucapan Tian Pek, umpama mendengar juga tak sempat menjawab.

Tian Pek semakin gelisah, dia luntas mendekati mereka, maksudnya mau memisah.

Terperanjat Wan-ji, cepat ia menariknya dan berseru: "Jangan ke situ, engkoh Tian! Pertarungan mereka telah mencapai puncaknya, Lwekang mereka telah tersebar di empat penjuru, jika engkau berani mendekati mereka, engkau sendiri yang akan terluka. "

"Tapi kita tak boleti berpeluk tangan menyaksikan kedua orang kakek itu mati konyol!" sahut Tian Pek sambil melepaskan pegangan Wan-ji dan melangkah maju pula.

Tapi sebelum rnendekat, segera Tian Pek merasa ditahan oleh suatu tenaga yang tidak kelihatan. Untuk melangkah maju lagi sudah tidak mampu, keruan Tian Pek terkejut.

Namun ia masih coba lagi. "Blang!" Tian Pek sendiri tergetar mundur, dada terasa sesak dan telinga mendengung.

"Hebat sekali!" gumamnya sambil menjulur lidah.

Cepat Wan-ji memapah anak muda itu dan bertanya kuatir: "Engkoh Tian, terluka tidak?"

"Ah, tidak apa2......... " sahut pemuda itu sambil menggeleng.

Mendadak terdengar bentakan kedua kakek, seperti ledakan hawa, se­konyong2 angin keras terpancar ke segenap penjuru.

Padahal Tian Pek dan Wan-ji berdiri jauh di tepi panggung, tapi tidak urung mereka terdesak mundur dan akhirnya jatuh ke bawah.

Untungnya mereka berdiri rada jauh, lagi pula tenaga pukulan yang dilancarkan kedua orang tua itu bukan ditujukan ke tubuh mereka, maka kendatipun tergetar jatuh dari panggung batu mereka tidak terluka. Begitu menyentuh tanah, sekali kaki menutul, kembali mereka meloncat ke atas panggung batu.

Tapi setelah tahu keadaan di atas panggung, mereka jadi terkejut. Sin lu-tiat-tan Tan Cian-li dengan wajah pucat seperti mayat duduk di tempat semula, rambut, jenggot dan ujung bibirnya berlepotan darah, mata terpejam rapat, jelas menderita luka dalam yang cukup parah.

Keadaan kakek buntung itupun sama parahnya seperti Sin lu-tiat tan, kaki palsunya serta kedua tongkat penyanggah badannya patah semua, separoh badannya berduduk dengan mata terpejam muka kuning pucat dan ujung bibirnya berkelepotan darah, keadaannya juga cukup parah.

Tian Pek memburu ke depan, menghampiri Sin-lu-tiiat- tao, tanyanya dengan kuatir: "Tang-locianpwe, parahkah Iukamur

Sin lu tiat-tan tetap membungkarn dengan mata terpejam, selang sesaat kemudian dia merogoh sakunya dan mengambil keluar beberapa biji obat, obat itu ditelannya sekaligus.

Kemudian baru ia membuka mata dan mengejek dengan tertawa rawan: "Hei, makhluk tua, engkau masih hidup?"

"Hahaha, jangan kuatir!" sahut kakek aneh itu sambil membuka matanya, "selama kau si penunggang keledai belum mampus, tak nanti aku mampus duluan!" Segera iapun keluarkan sebungkus obat bubuk dan ditelannya.

Menyaksikan ketangguhan lawannya, Tang Cianli menghela napas, ia berkata: "Ai, makhluk tua! Kuakui kau ini lawan tangguh yang belum pernah kujumpai sepanjang hidupku."

"Hahaha, kauanggap aku paling tangguh, aku-pun anggap kau paling lihay, selama hidupku belum pernah ketemu tandingan, tak tersangka pada saat ajalku bisa kutemui orang setangguh kau. meskipun kita tak akan hidup lama lagi, tapi pertarungan ini cukup memuaskan hatiku. Hahaha, orang belajar silat mati karena ilmu silat, itulah namanya cocok, mati pada ternpatnya yang tepat "

"Eeh makhluk tua, sebenarnya siapakah engkau? Mengapa aku merasa asing atas dirimu, aku rnerasa belum pernah menjumpai kau di dunia persilatan? Siapakah namarnu? Dapatkah kau memberitahu agar kematian kita ini tidak sia2."

Kakek aneh itu menengadah dan tertawa terbahak2, tentu saja suaranya kalah nyaring jika dibandingkau sebelum bertempur tadi.

"Hahaha, percuma kau bernama Sin-lu (keledai sakti), masa kau tak pernah mendengar nama Sin kau (monyet sakti)?"

"Ah, jadi kau ini Sin kau Tiat Leng yang sepuluh tahun yang lalu bercokol di Le-kung-san?"

"Tepat, itulah diriku. Meskipun kita belum pernah bertemu, namun nama kita Lam-kau-pak-lu (monyet dari selatan, keledai dari utara) sudah tersohor sejak puluhan tahun berselang, itu berarti nama kita sudah bersahabat sejak lama. Hahaha!"

Tian Pek maupun Wan-jt merasa heran bercampur kaget, mereka tak menyangka kalau kakek aneh itu adalah "monyet sakti" yang sudah tersohor namanya puluhan tahun yang lalu. Sekalipun sudah belasan tahun tak muncul di muka umum, namun kelihayan dan kesaktiannya seringkali dibicarakan orang, tidaklah heran apabila generasi muda masih kenal namanva.

Sementara itu Tang Cian-li telah tertawa pula dengan suara serak, kemudian berkata: "Sejak puluhan tahun berselang aku sudah punya niat menemui diriniu, sayang pada waktu itu terlalu banyak pekerjaan yang harus kuselesatkan sehingga rencana itu terbengkalai, sungguh tak tersangka puluhan tahun kemudian kita masih dapat bertemu. Hahaha, sekarang harapan kita sudah terkabul, matipun merasa puas dan tak rnenyesal." 

"Apanya yang puas?" teriak Sin kau dengan mata melotot, "bisa bertemu dengan kau si keledai ini memang memuaskan, tapi tidak berarti tiada lagi hal lain yang menyesalkan."

Sin-lu Tang Cian-li melanggong, katanya: "Usiaku sudah mendekati seratus tahun, kupercaya umurmu juga hampir satu abad, hidup sampai setua ini bagi kita orang persilatan bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, apa lagi bisa mati di tangan sahabat tua yang sama2 kagum, memangnya kau menyesalkan urusan apalagi?"

Sin-kau menggeleng sedih. "Ai, pikiranku tidak terbuka seperti dirimu, coba bayangkan, kalau kita mampus di sini, bukan saja jenazah kita tak ada yang mengurus, bahkan setelah mati, mayat kita mungkin akan dimakan atau dirusak binatang buas, apakah kematian semacam ini kematian yang aman?"

"Ya, hidupku salama ini hanya cari ketenangan, tidak beristeri tak beranak, juga tak pernah menerima murid, sudah kuputuskan beberapa karat tuIangku ini akan kuberi makan anjing. Akan tetapi kudengar kau si monyet tua ini pernah menerima dua orang murid, memangnya kedua muridmu itu tak dapat membereskan jenazahmu setelah kau mati?"

Air maka Sin-kau tiba2 berubah jadi gemas bercampur benci katanya: "Jangan kau sebut lagi kedua murid durhaka itu, setiap kali teringat mereka, aku jadi benci dan ingin melalap mereka. Hmm, coba lihat ini " Dia menuding kedua kakinya yang buntung, lalu meneruskan : "Lantaran mereka, kakiku terkutung, selama pu!uhan tahun aku takbisa berkelana di dunia Kangouw, inilah hadiah yang diberikan kedua murid murtad itu!"

“Tapi mengapa kedua murid durhaka itu kau lepaskan begitu saja?" kata Sin-lu.

Sin-kau melotot sekejap lawannya, katanya: "Hm, omong lagi? Jika bukan gara2mu yang mengalangi diriku, niscaya kedua murid murtad itu sudah mampus di ujung tongkatku, mana mereka bisa kabur lagi?!"

"Haah, jadi kedua orang yang kau kejar sampai lari ter- birit2 tiga hari yang lalu itu adalah murid2 yang mencelakai darimu?" seru Tang Cian-li dengan terperanjat. "Lalu siapakah si cebol itu? Apakah dia juga muridmu?"

"Dua orang itulah murid murtad yang sedang kucari" sahut Sin-kau dengan sedih "sedangkan si cebol itu adalah ahliwaris mereka berdua. Tentunya sekarang kau maklum bukan, betapa gusarnya hatiku ketika engkau mengalangi niatku membinasakan mereka, jadinya kita berdua yang saling labrak, mungkin waktu itu kau anggap aku ini orang jahat."

Dia menghela napas panjang, lalu menyambung pula: "Waktu itu aku memang terlalu ceroboh, tanpa penjelasan lantas kulabrak kau, kemudian ketika kukenali kau sebagai kesempatan bertanding ini tidak kusia-siakan. Tapi kedua murid durhaka itu lantas kabur, aku jadi gagal membunuh mereka, setelah kuamati mereka pasti akan semakin malang melintang, entah keonaran apalagi yang akan mereka lakukan di masa mendatang?"

Betapa menyesalnya Sin-lu-tiat-tan setelah mendengar penjelasan itu, dia menghela napas dan berkata: "Ai, akupun tak mengira pertolonganku justeru malahan menyelamatkan kedua keparat itu dan kematian, agaknya mau berbuat kebaikan juga perlu berhati2, sekali bertindak gegabah akibatnya jadi salah besar."

Waktu itulah Tian Pek lantas maju ke depan, ia memberi hormat dan berkata: "Lociaupwe berdua telah menderita luka yang cukup parah, kesalah­pahaman sudah jelas, apa gunanya banyak berbicara lagi, lebih baik aturlah pernapasan dan sembuhkan dulu luka kalian,"

"Huh, memangnya kaukira kami berdua tua bangka ini masih dapat hidup?" kata Tang Cian-li dengan mata melotot.

Tian Pek melengak mendengar jawaban tersebut.

Tapi Sin-kau lantas berkata dengan menyengir: "Tampaknya hatitnu tidak jelek, anak muda, tapi tenaga murni kami telah terpakai meleblhi batas, isi perut kami sudah terluka parah dan jiwa kami cuma bisa dipertahankan beberapa hari saja, kalau sekarang tidak ber-cakap2 sepuasnya, memangnya kami mesti menunggu masuk neraka dahulu?"

Kembali Tian Pek melengak, dengan terharu ia berkata. "Apakah luka Locianpwe berdua tak mungkin bisa diobati lagi? Sekalipun aku Tian Pek masih muda dan belum berpengalaman, tapi aku bersedia mencarikan obat buat kalian, bila Locianpwe tahu di mana ada obat mujarab atau tabib sakti, katakanlah kepadaku dan Wanpwe akan segera berangkat untuk mengusahakannya."

"Benar!" sambung Wan-ji dari samping, "di rurnahku banyak terdapat bahan obat2an yang amat mujarab, ada Jinsom seribu tahun, ada Lengci sakti dan ber-macam2 obat lainnya, asal aku pulang ke rumah dan minta kepada ayahku, niscaya obat mujarab bisa kudapatkan, selain itu, To-ki-sin ih (tabib sakti) paman Liang juga bnrada di rumahku. "

"Hai, anak perempuan, siapakah ayahmu?" sela Sin-kau tiba2.

Sebelum Wan-ji menjawab, Tang Cian-li telah menimbrung dari samping: "Siapa lagi kalau bukan Ti-seng- jiu Buyung Ham?"

"Engkau maksudkan Losarn dari Kanglamjit-hiap?" Sin- kau menegas.

"Kalau bukan......... memangnya ada orang lain?" kata Sin-lu.

"O, jadi kau kenal ayahku?" seru Wan ji dengan heran. "Hahaha, ayahmu adalah tokoh silat yang tersohor, salah

seorang  di  antara  empat  keluarga  persilatan  terbesar  di

dunia persilatan dewasa ini, jangankan aku, hampir semua umat persilatan yang sering mengadakan perjalanan pasti kenal namanya." ajar Sin-lu dengan tertawa.

"O, jadi Buyung Ham sudah menjadi salah satu di antara empat keluarga persilatan yang terbesar? Puluhan tahun aku berkecimpung di dunia Kangouw, tak nyana banyak generasi muda telah menjagoi dunia persilatan. Dan siapa pula ketiga keluarga besar yang lain?"

"Hei, monyet tua, pengetahuanmu ternyata sangat dangkal, jaman ini bukan saja generasi muda banyak yang menonjol, malahan putera merekapun terhitung jago silat kenamaan di dunia persilatan. Orang persilatan menyebut mereka sebagai Bu-Iimsu-toa-kongcu, yaitu Ao lok Kongcu, Leng-hong Kongcu, Toan hong Kongcu serta Siang-lin Kongcu. Hahaha, sayang kau si monyet tua sudah hampir pulang ke alam baka hingga tak sempat lagi bertemu dengan jago2 muda itu. "

Monyet Sakti Tint Lang melotot, serunya tak sabar: "He, keledai busuk, jangan omong.tak keruan, bagaimana ceritanya dengan keempat keluarga besar? Belum jelas keterangannya sudah melantur pula kepada empat Kongcu besar. Lekas kau ceritakan sejelasnya agar mampuspun aku bisa tenang di alam baka."

"Dasar picik pengetahuanmu, tanya melulu," sahut Tang Clan li sambii tertawa, "pada hakikatnya ernpat keluarga besar dan empat Kongcu adalah satu cerita yang sama. Leng-hong Kougcu adalah kakak nona yang ada di depanmu ini atau putera Ti-seng-jiu Buyung Ham, An-lok Kongcu adalah putera Kian-kun-ciang In Tiong-liong, Toan-hong Kongcu adalah anak Kun-goan-ci Sugong Cing sedangkan Siang-lin Kongcu adalah anak Cing-hu-sin.........

Kim Kiu......... Mengenai keernpat keluarga besar dunia persilatan, mereka adalah bapaknya keempat Kongcu tadi, selain keempat Kongcu ini masih ada seorang lagi yakni Pak-ong-pian (cam buk raja bengis) Hoan Hui yang bercokol di kota Tin kang, sekalipun kekuatannya tidak sebesar keempat saudara angkatnya, namun dia terhitung juga seorang jago yang berkekuasaan besar. Nah, monyet tua, sekarang tentunya kau tahu dunia persilatan jaman ini milik siapa?"

Sin-kau Tiat Lang manggut2, katanya: "Berbicara soal kelima orang itu, aku jadi teringat pada Kanglam-jit-hiap yang namanya tersohor di masa lalu, bila kelima orang itu telah menjadi jagoam yang berkuasa kenapa tidak kau ungkap juga Pek-lek-kiam (pedang geledek) Tian In-thian yang menjadi pemimpinnya Kanglam-jit-hiap? Masakah Tian In-thian yang hebat malahan kalah dibandingkan saudata2 nya sehingga terpaksa mesti mengasingkan diri?" Mata Tian Pek seketika melotot demi mendengar kedua orang itu menyinggung ayahnya, perubahan air mukanya sukar menutupi guncangan perasaannya.

Dengan penuh arti Tang Ciang-li melirik sekejap ke arah pemuda itu, kemudian menjawab: "Dan In thian sudah tewas dikerubut oleh berpuluh tokoh persilatan…”

Sampai di sini Tian Pek tak tahan lagi, dengan air mata bercucuran ia menubruk kedepan Sinlu-tiat-tan, sambil menangis ia memohon: "Locianpwe, sudilah kiranya engkau memberitahukan nama pembunuh ayahku, agar Wan pwe dapat membalaskan dendam kematian ayahku

........... “

Seketika Sin-kau melotot dan berteriak: "Jadi Tian In- thian benar telah mati?"

"Masa kubohongi kau? Bukankah sekarang ada keturunan Tian In-thian yang bisa menjadi saksi," kata Sin- lu.

Dengan sorot mata murka, Sin-kau melototi Tian Pek sambil angkat telapak tangan kanannya, tapi ketika ia menghimpun tenaga dalamnya, ternyata kekuatan yang dimilikinya telah buyar, ketika itu baru teringat dirinya terluka parah. Tanpa terasa ia menghela napas, dia turunkan kembali telapak tangannya dengan lemas, lalu katanya: "Ah, tak kusangka Tian In-thian sudah mati, itu berarti persoalannya denganku tak dapat diperhitungkan lagi ”

Tian Pek tidak memperhatikan perubahan sikap Sin kau itu, dia tetap berlutut di hadapan Tang Cian-li dan memohon agar diberitahu mama pembunuh ayahnya

........... Baru sekarang Wan-ji tahu bahwa Tian Pek adalah keturunan Pek lek-kiam Tian Ih-thian, ia terkejut dan bergirang.

Ia terkejut karena engkoh Thian yang rudin dan telantar ini adalah keturunan dari seorang pendekar besar.

Iapun bergirang karena ayahnya dan ayah Tian Pek sama2 anggota Kanglam jit-hiap, itu berarti ada hubungan kekeluargaan yang erat antara mereka.

Sebab itulah cepat dihiburnya pemuda itu dengan kata2 manis dan berusaha membangunkannya.

Sin-lu-tiat-tan melengak ketika melihat sikap benci Sin- kau, cepat ia bangunkan Tian Pek. lalu ia berkata kapada Sin-kau: 'Eh. monyet tua, kau pernah bersengketa dengan Tian In-thian?"

Bagaimana akhir daripada kedua kakek sakti yang sudah sarna2 payah itu ?

Siapakah sebenarnya Sin-kau Tiat Leng, si Monyet Sakti yang buntung ini dan apa hubungannya dengan misteri kematian ayah Tian Pek ?