Hikmah Pedang Hijau (Wu Qing Bi Jian) Jilid 01

Jilid 01

Jalan itu lurus membentang sampai di sini, lalu melingkar. Tempat yang dilingkari itu adalah sebidang hutan yang rada lebat, menyusur ke tengah hutan itulah jalan ini terus menembus ke sana.

Meski sudah dekat senja, namun hawa musim panas bulan enam masih tetap membuat orang kegerahan.

Desir angin sedikitpun tidak terdengar, suasana sunyi senyap. Semula jalanan itu tiada nampak seorangpun, tapi dari kejauhan kini mendadak debu mengepul tinggi, berbondong-bondong beberapa ekor kuda tampak dilarikan kemari setiba di depan hutan, serentak para penunggang kuda itu berhenti.

Baik kelima ekor kudanya maupun para penunggangnya tampak rada aneh, penunggangnya memakai seragam baju sutera hijau muda diberi wiru benang emas. Bagi orang yang cukup makan asam garam, sekali pandang saja akan tahu pakaian sutera mereka itu pasti tidak mungkin terbeli oleh orang biasa.

Yang lebih aneh adalah pedal pelana kelima ekor kuda itupun bercahaya mengkilap keemasan. Di bawah sinar matahari, kelima orang itu dengan kuda tunggangnya menjadi gemerlapan dengan cahaya keemasan yang menyilaukan mata.

Sejenak kelima penunggang kuda itu berhenti di situ, lalu mereka menjalankan kudanya pelahan-lahan ke dalam hutan.

Salah seorang laki-laki yang bergodek mendorong ke belakang ikat kepalanya yang berhias sebutir mutiara, lalu memandang sekelilingnya sambil berpegangan pelana, katanya kemudian kepada teman yang berada di sampingnya:

"Tempat ini terasa sejuk dan tenang, kukira bolehlah kita mengaso saja di sini. Toh sudah pasti sasaran kita itu akan lewat di sini, biarlah kita tunggu saja di sini dari pada capai- capai mencegatnya ke sana. Jika sekali ulur tangan segera kita padamkan 'lenteranya' (maksudnya matanya), nah, baru menyenangkan rasanya"

Lelaki bercambang itu tidak saja tegap dan gagah, suaranya juga lantang, dari logatnya dapat diketahui orang dari kota raja. Anehnya tokoh macam begini mengapa memakai baju demikian? Di balik keanehannya menjadi rada-rada ajaib pula.

Habis berkata, tanpa menunggu tanggapan orang lain, segera ia sisipkan cambuknya pada sisi pelana, cepat ia melompat turun. Dari gerakannya yang gesit dan tangkas itu agaknya kungfunya tidak rendah.

Kawannya, seorang lelaki tinggi kurus, lantas mendengus:

"Hm, coba lihat, jelas selama ini Loji telah menelantarkan kungfunya, baru menempuh perjalanan sedikit saja dia sudah kepayahan, kalau bisa akan terus menjatuhkan diri ke atas kasur. Cara bicaranya juga seenaknya saja seakan-akan beberapa orang itu adalah anak buahnya, cukup sekali menjulur tangan dan segalanya akan beres."

Orang yang disebut "Loji" (orang kedua) itu menyengir, ia tepuk pantat kudanya sehingga binatang tunggangan itu lari ke samping sana. Dengan tertawa lalu ia berkata:

"Toako, bicara terus terang aku memang rada payah Kalau saja tidak mengingat kita telah makan tidur lebih setahun di tempat orang serta mendapat pelayanan yang memuaskan, huh, siapa yang sudi bersusah payah lari ke sini di bawah sinar matahari seterik ini?" Lelaki godek tegap itu menjengek, lalu berkata pula: "Toako, rasanya beberapa potong daging yang akan datang dari kota raja itu belum terpandang di mata diriku si Ji pah- thian ini, sekalipun mereka menonjolkan juga orang dari Yan-keng piaukiok, coba kau pikir, Toako, si tua bangka dari Yang-keng-piaukiok itu mampu memperbantukan tenaga andalan macam apa kepada kawanan cakar alap2 (istilah olok2 terhadap petugas yang sok menindas kaum kecil)."

Orang yang dipanggil sebagai "Toako" yang bertubuh tinggi kurus itu kembali mendengus, tiba2 ia melirik ke sana dan membentak dengan suara tertahan: "Loji, kurangilah ocehanmu!"

Ke empat kawannya serentak memandang ke arah  lirikan si jangkung itu, terlihatlah seorang lelaki  dengan baju yang rombeng dan memegang sejilid buku rongsokan sedang duduk bersandar pohon di tepi jalan sana, matanya tampak terpejam, agaknya sudah tertidur, kedua kakinya yang bersepatu butut diselonjorkan dengan setengah terpentang.

Si godek tadi bergelak tertawa, katanya sambil menuding lelaki rudin itu: "Toako, terlalulah kau, Tampaknya kau menjadi tambah was-was sejak kita terjungkal dahulu itu, masa kaum jembel begini juga kau kuatirkan?"

Si jangkung yang dipanggil sebagai Toako itu tidak menanggapinya, ia melompat turun dari kudanya, lalu mendekati pohon yang agak jauh di sana serta berduduk di situ sambil memejamkan mata untuk mengumpulkan semangat.

Saat itu ada angin meniup, si godek yang mengaku berjuluk "Ji-pah-thian" (gembong kedua) membuka dada bajunya agar bisa mendapat angin, Lalu ia mengusap cambangnya yang berkeringat dengan tangannya yang kasar itu. Gumamnya dengan tertawa: "Wah, alangkah nikmatnya jika dapat minum es limun pada waktu panas begini."

Baru habis berkata, seketika matanya terbelalak, mendadak dilihatnya di samping si jembel yang lagi tidur di bawah pohon itu tertaruh sebuah mangkuk porselen bertutup. Di atas tutup mangkuk tampak mengembun butiran air, agaknya di dalam mangkuk itu benar2 berisi "es limun" seperti apa yang dikatakan si godek tadi.

Mangkuk bertutup itu berwarna biru saphir, halus mengkilap, jelas benda tembikar yang bernilai tinggi. Tapi si godek ini orang kasar, tidak tahu barang baik, yang diincar hanya butiran air di atas tutup mangkuk serta membayangkan isi mangkuknya yang segar itu.

Waktu ia berpaling, dilihatnya ke empat saudaranya sedang tersenyum padanya, Iapun menyengir, lalu mendekati si jembel, ia depak sebelah kaki orang yang selonjor itu.

Keruan orang itu kaget dan terjaga bangun, dengan matanya yang sepat ia pandang orang yang menyepaknya itu, tampaknya dia merasa bingung.

Sekarang si godek yang berjuluk Ji-pah-thian itupun dapat melihat jelas si jembel ini masih sangat muda, wajahnya putih bersih, tergolong cakap, alisnya panjang lentik menarik.

Namun Ji-pah-thian ini memang orang kasar dan juga dogol, suka meremehkan urusan apapun juga. Melihat pemuda jembel itu sudah mendusin, dengan menyeringai ia lantas tuding mangkuk biru itu dan bertanya dengan suara kasar: "He, Siaucu (bocah), apa isi mangkuk itu!" Dengan matanya yang masih ngantuk pemuda jembel itu menjawab:, "Isi mangkuk ini adalah limun peras, sudah semalaman kudinginkan dengan es batu, sampai sekarang belum lagi kuminum."

Si godek bergelak tertawa, tanpa terasa ia menelan air liurnya, katanya pula sambil menuding mangkuk biru itu: "Bagus... bagus sekali! Tuanmu sedang kehausan, lekas berikan es limunmu itu!"

Pemuda jembel itu kucek2 matanya yang masih sepat, tampaknya ia tidak mengerti, dengan tergagap2 ia menjawab: "Tapi. . . . . tapi es limun ini akan ku minum sendiri, tidak tidak boleh kuberikan padamu."

"Apa kau bilang? Berani kau tolak permintaan Toaya!" bentak Ji-pah-thian dengan mata melotot. "Ketahuilah, hari ini hatiku sedang gembira, maka kuminta air es dengan baik. Hmm, kalau tak tahu diri, sekali tendang bisa keluar kuning telurmu "

Belum selesai ia bicara, si jangkung di bawah pohon sana telah menghardik: "Loji, jangan berisik." -- Lalu katanya pula: "Losam, coba dengarkan! Bukankah sasaran kita, telah datang?"

Salah seorang yang kekar pendek segera mendekam dan menempelkan telinganya di permukaan tanah, sesaat kemudian dengan wajah berseri dia menjawab: "Toako, pendengaranmu memang tajam, sasaran kita telah datang! Semuanya ada tiga kereta dan sembilan kuda, jaraknya masih ada satu panahan, mungkin seperminum teh lagi akan tiba di sini."

Orang yang bernama Ji-pah-thian itu tak sempat pikirkan minum es lagi, ia loncat ke luar hutan dan memandang ke depan. Debu tebal menyebar di angkasa, lapat-lapat terdengar suara roda kereta dan derap kuda, walaupun berangasan, gerak tubuh orang ini cukup cekatan, ia menyusup kembali ke hutan, ia halau kawanan kuda yang sedang makan rumput agar berlari menjauh. Lalu ia lolos golok dan berkata: "Hai, kawan baik, kau telah istirahat cukup lama, sekarang kita harus cari rejeki."

Ke empat orang lainpun segera siap siaga, sementara derap kuda dan suara putaran roda kian mendekat, paras merekapun bertambah tegang.

Rupanya kejadian itu mengejutkan pemuda rudin tadi, dengan tangan gemetar keras ia tak tahu apa yang mesti dilakukannya.

Si godek tadi mendengus, ia meloncat ke depan orang dan tempelkan golok di atas kuduknya seraya mengancam: "Anak muda, kalau ingin hidup duduklah di sini dan jangan bergerak, kalau tak tahu diri, hm, bisa kutabas tubuhmu menjadi dua."

Pemuda itu semakin gemetar, begitu takutnya sampai air es dalam mangkuk tercecer. Dengan rasa sayang Ji-pah thian memandang sekejap air es yang berceceran di tanah itu, sementara ke empat orang lainnya telah bersembunyi di belakang pohon. salah satu di antaranya berseru: "Loji, sasaran telah datang cepat sembunyi!"

Dalam keadaan begitu, Ji-pah-thian tak sempat mengurusi air es lagi, ia bersembunyi di belakang pohon dan alihkan perhatian ke jalan raya.

Dua ekor kuda mendahului muncul di luar hutan, di atas pelana berduduk seorang pria kurus dan seorang gemuk.

Setiba di dalam hutan, dua orang itu menarik napas panjang belum sempat mengucapkan sesuatu, dari balik pohon bergema bentakan nyaring: "Sahabat, berhenti! Yan- in ngo pah-thian (lima gembong dari Hopak) sudah lama menunggu kedatangan kalian!"

Wajah pria gemuk itu berkerut, sedang air muka si kurus berubah pucat. Sebelum mereka bertindak apa2, kelima orang tadi telah muncul di depan mereka.

Pria gemuk itu terperanjat, hampir saja jatuh dari kudanya, ia pandang sekejap sekitar sana, sedapatnya ia tenangkan hatinya yang tegang.

Si godek melompat maju dan menghardik: "Hei The gendut, hayo serahkan barang kawalanmu, kemudian cawat ekormu dan enyah dari sini, mengingat badanmu yang gemuk, aku Le Bun-pa bersedia mengampuni jiwamu."

Kiranya pria kasar ini adalah seorang bandit yang namanya tersohor di sungai Tiang kang. Ji pah-thian atau gembong kedua dari Yan-in-ngo-pah-thian.

Kelima gembong bandit dari Ho-pak ini tak pernah mendirikan markas atau bersarang, mereka adalah kawanan "Rimba hijau" yang tersohor karena keganasannya, mereka pernah melakukan beberapa kali perampokan besar hingga namanya kian menanjak.

Sementara itu si gemuk she The yang berdandan sederhana itu adalah opas dari utara sungai Kuning yang terkenal sebagai Bang-leng-koan (Pembesar gemuk) The Pek-siu, ia tak pernah menduga kalau Yan-in-ngo-pak-thian berani membegal barang pemerintah yang dikawalnya di siang hari bolong.

Ia menjura dan tertawa, lalu katanya: "Ooh, kukira siapa, tak tahunya adalah Le-tangkeh, ke mana saja selama ini Le-tangkeh, sebetulnya aku ingin menyambangimu, sayang aku tak tahu alamat kalian, tak nyana kita bakal berjumpa di sini."

Ia loncat turun dari kudanya, setelah memberi hormat lalu ia berkata pula: "Le-tangkeh, tentunya kau tak marah bukan? Terimalah hormat kami berdua"

Le Bun-pa menengadah dan ter-bahak2, sikapnya congkak dan sama sekali tak pandang sebelah mata terhadap lawan.

Muka Th Pek-siu berubah pucat kehijauan, jantungnya berdebar keras.

Walaupun barang yang dikawalnya adalah barang2 berharga, tapi pertama lantaran tak ada orang yang menduga di jalan raya antara Ceng-wan dan Ki-lan yang selamanya aman ini bakal terjadi pembegalan, maka orang yang dibawanya tidak banyak. Kedua, belakangan ini tiada orang pandai di kalangan petugas, maka ia sadar tak mungkin pihaknya sanggup menghadapi Yan-in-ngo-pak- thian. Melihat gelagat tidak menguntungkan, dalam hati, dia menggerutu: "Tua bangka dari Yan keng piaukiok itu memang terlalu, masa cuma utus seorang anak muda dungu untuk bantu mengawal barang2 ini Ai, bila barang ini

sampai dibegal, siapa yang akan bertanggung jawab?"

Sementara itu Le Bun-pa telah berhenti tertawa, dengan suara kasar ia membentak lagi: "Hei, The gendut, sudah lama tak bertemu, lagakmu tak berbeda seperti dulu. Hmmm, lebih baik jangan coba main tipu di hadapan Le- toayamu. Kalau tahu diri, cepat angkat tangan dan enyah dari sini, toh barang dalam kereta itu bukan milikmu."

Biasanya kalau bertemu dengan maling kecil atau bajingan cilik, cukup ia melotot maka urusan akan beres. Tapi sekarang bertemu dengan perampok besar, The gemuk ini cuma bisa menyengir saja sambil munduk2. Sebenarnya ia ada hubungan baik dengan Yan-in-ngo- pak-thian, tapi sekarang orang sama sekali tak memberi muka kepadanya, maka meskipun senyum masih menghias wajahnya, namun senyum itu lebih tepat dikatakan sebagai menyengir.

Dengan tajam Le Bun-pa menyapu pandang sekelilingnya, lalu ter-bahak2, ia berpaling kepada si jangkung yang merupakan pemimpinnya, yaitu Toa-pak- thian (gembong pertama) Le Bun-hou, katanya sambil tergelak: "Toako, perkataanku tak keliru bukan? Coba lihat, sekali kucomot barang itu akan terus berpindah tangan . . . .

."

Belum habis bicaranya, tiba2 dari belakang Bang-leng- koan muncul seorang pemuda berwajah tampan, dengan suara nyaring ia membentak: "Bajingan tengik darimana, berani membegal barang kawalan Yan keng piaukiok? Hmm, besar benar nyalimu?""

Le Bun-pa menyurut mundur selangkah, diawasinya pemuda itu dari atas hingga ke bawah dengan sorot mata tajam, kemudian ia menengadah dan ter bahak2 tertawa yang penuh nada ejekan.

Walaupun pemuda itu berwajah tampan, namun pakaiannya amat sederhana dan tindak tanduknya seperti orang desa, sama sekali tidak mirip seorang jago pengawal.

Sebagai gembong bandit terkenal, sudah tentu Le Bun-pa tak pandang sebelah mata terhadap pemuda ingusan seperti itu. Kembali ia ter-bahak2, lalu membentak: "Bocah ingusan, kalau bosan hidup, carilah jalan lain untuk mampus! Ketahuilah, golok pusakaku ini tak pernah kujagal bocah ingusan seperti kau!"

Bang-leng-koan sendiripun mengerutkan dahinya sewaktu melihat kemunculan pemuda itu, dalam hati diam2 ia memaki: "Bocah ingusan, benar2 tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, dengan sedikit ilmu silat seperti itu berani menantang Yan-in-ngopah-thian? Huh, ingin mampus barangkali. Sungguh tak tersangka Yan-keng-piau- kiok yang terkenal bisa mengangkat seorang bocah ingusan sebagai Piausu ( juru kawal ), kalau terjadi peristiwa seperti ini coba bagaimana akibatnya?"

Sembari berpikir, tiba2 ia tertawa dan berkata: "Le- tangkeh, sekarang tentunya kau tahu bukan? Walaupun barang ini milik negara, tapi bukan tanggung jawabku melainkan tanggung jawab perusahaan Yan-keng-piau- kiok, kalau kau tidak percaya, coba periksa sendiri, bukankah pada setiap kereta tertancap panji pengenal Ji- lopiauthau dari perusahaan Yan-keng?"

Dasar manusia licik, setelah tahu gelagat kurang menguntungkan, cepat2 ia alihkan tanggung jawab itu kepada orang lain, sementara matanya mengerling pemuda tampan tadi, dalam hati ia membatin: "Kau sendiri yang cari gara2, akan kulihat bagaimana caramu mengatasi masalah ini!"

Pemuda tampan itu tertawa dingin, sekali tangannya bergerak, tahu2 ia telah menghunus sebatang pedang yang bercahaya hijau tajam.

Air muka Le Bun-pa, The Pek-siu serta keempat Ngo pak-thian yang lain sama berubah hebat, bahkan pemuda rudin yang berada di bawah pohonpun nampak keheranan, siapapun tak menyangka seorang pemuda desa yang kelihatan bodoh itu ternyata memiliki senjata yang tajam dan ampuh, siapapun tahu pedang itu pasti pedang mestika.

Setelah menghunus pedangnya, pemuda itu kelihatan bertambah gagah, dengan mata melotot ia awasi Le Bun-pa tanpa berkedip, kemudian tegurnya: "Saudara, kalau kau hendak membegal barang kawalan kami, silakan bertanya dulu kepada pedangku ini, apakah dia mengizinkan atau tidak!"

Le Bun-hou, si jangkung yang merupakan tertua dari Yan-in-ngo-pak-thian itu maju selangkah ke depan, katanya dengan suara dalam: "Pandangan Jiteku kurang tajam dan tak tahu siapakah sahabat cilik ini, untuk itu terimalah permintaan maafku ini!"

Ia berhenti sebentar, lalu melirik sekejap ke arah The Pek-siu, kemudian berkata pula: "Sahabat cilik, engkau masih muda dan tampan, aku yakin kau berasal dari perguruan ternama, apa gunanya jual nyawa buat kaum cakar alap2, masa kau tidak merasakan bahwa tindakanmu ini sama sekali tak ada harganya?"

Pemuda itu melotot, ia tunggu setelah lawan selesai bicara baru menjawab dengan lantang "Aku Tian Pek, masih muda dan tak berpengalaman, aku tak kenal tata cara seperti itu, yang jelas Ji-lopiautau telah menyerahkan tanggung jawab barang kawalan ini kepadaku, maka aku harus mengantar barang2 ini hingga tiba di tempat tujuan dengan selamat, bila para sababat suka memberi muka kepadaku, harap berilah jalan lewat bagi kami, di kemudian hari aku pasti akan membalas budi kebaikan ini, kalau tidak

. . . . ."

"Kalau tidak bagaimana?" tukas Le Bun pa dengan gusar.

Orang ini berwatak berangasan, walaupun ia tahu bahwa pedang mestika pemuda itu tentu mempunyai asal usul yang besar, tapi sikap lawannya yang jumawa membuat ia kehabisan sabar.

Sambil membentak ia menerjang maju, cahaya golok berkilauan, secepat kilat ia membacok tubuh pemuda yang mengaku bernama Tian Pek. Tian Pek mundur selangkah sambil egoskan bahunya ke samping, berbareng pedang mestikanya diiringi cahaya hijau yang dingin menangkis ke atas.

Walaupun golok Le Bun-pa terbuat dari baja murni, namun ia tak berani adu kekerasan dengan senjata lawan, ujung golok berputar membentuk gerakan setengah lingkaran, dari jurus "membelah gunung Hoa- san" kini berubah menjadi jurus "angin puyuh menderu-deru", golok menabas dari samping.

Tapi pemuda itupun tidak lemah, gerak-geriknya cukup gesit dan lincah, sebelum serangan Le Bun pa tiba, cepat dia berputar, dengan jurus Hong Kong-tian-ci (Burung Hong pentang sayap) pedangnya menerobos cahaya golok dan mengancam dada lawan.

Cepat Le Bun-pa melompat mundur ke belakang, walau begitu peluh dingin membasahi tubuhnya, sedikit terlambat ia menghindar niscaya pedang lawan bersarang di dadanya.

Menyaksikan jalannya pertarungan itu, Le Bunhou berkerut dahi, ia tahu ilmu pedang yang dimainkan pemuda she Tian hanya ilmu pedang Sam-cay kiam yang sederhana dan umum. namun gerak tubuh lincah dan serangannya mantap.

Tapi setelah nyaris termakan ujung pedang musuh, Le Bun-pa menjadi murka, ia membentak dan kembali menerjang maju, beruntun ia lancarkan dua kali bacokan.

Menang pada jurus pertama, Tian Pek menjadi rada angkuh, matanya melotot dan memandang ujung golok lawan tanpa berkedip, ketika lawan membacok tiba, ia bergeser ke samping dengan mudah serangan itu terhindar lagi. Tidak sampai sepuluh gebrakan, Le Bun pa yang dogol dan bengis itu sudah keteter hingga hampir saja ia tak mampu bertahan.

Melihat pemuda itu berada di atas angin. The Pek-siu jadi gembira, pikirnya: "Wah, tak nyana bocah ingusan ini memiliki ilmu silat yang tangguh kalau aku bisa tarik dia jadi anggota petugas, tentu aku bakal mendapat pembantu yang kuat."

Tapi ketika sorot raatanya terbentur pandang dengan keempat gembong bandit yang lain, rasa gembira tadi seketika tersapu lenyap.

Rupanya Le Bun-hou sedang memberi tanda kepada "Losam", "Losu" dan "Longo" ketika dilihatnya Loji mereka terdesak hebat.

Mereka segera mengeluarkan senjata andalan masing2, dipimpin oleh Le Bun-hou yang bersenjatakan sepasang Poan-koan-pit, mereka menyerbu ke dalam gelenggang sambil membentak: "Saudara2 sekalian, hayo kita bekuk dulu bocah keparat itu!"

Kecuali Poan-koan-pit yang digunakan Le Bun-hou, Losam (orang ketiga) bersenjata tombak Losu bertoya dan Longo (kelima) memakai pedang Song bun-kiam, senjata mereka satu sama lain berbeda.

Sekalipun senjata yang dipakai beraneka ragam, akan tetapi kerja sama mereka berlima cukup rapat, begitu Le Bun-hou membentak, keempat saudaranya lantas putar senjata dan rnengerubut pemuda Tian Pek habis2an.

Tian Pek sendiri diam2 merasa gembira karena hasil jerih payahnya berlatih selama ber tahun2 tanpa bimbingan guru ternyata tidak sia2 dan cukup tangguh, bahkan salah seorang dari Yan-in-ngo-pah thian yang tersohor hampir mampus di ujung pedangnya.

Siapa tahu baru saja timbul rasa senangnya, empat macam senjata segera mengancam dari empat penjuru, keruan ia terkesiap, jantung berdebar keras. Pemuda itu sadar untuk menghadapi salah satu di antara mereka mungkin masih sanggup, tapi bila mereka maju berlima niscaya ia akan mati konyol.

Waktu itu Bang-leng-koan dan temannya go -kau, (monyet kurus), dua opas kurus dan gemuk itu sudah dibikin ketakutan setengah mati, tubuh mereka menggigil dengan peluh dingin membasahi tubuhnya.

Keadaan menjadi gawat, tampaknya pemuda she Tian itu akan binasa di ujung senjata lawan nya ....

Pada saat itulah, tiba2 terdengar gelak tertawa yang nyaring berkumandang di udara.

Lima bersaudara keluarga Le itu terkejut, apalagi setelah mengetahui bahwa gelak tertawa itu berasal dari pemuda jembel yang bersandar di bawab pohon tadi.

Dengan langkah sempoyongan, tangan sebelah membawa mangkuk biru, sedang tangan lain memegang kitab butut, pemuda itu mendekati gelanggang sambil tertawa bila orang tak melihat sendiri, siapapun tak akan menduga gelak tertawa yang nyaring itu berasal dari pemuda jembel ini.

Le Bun- hou adalah seorang jago kawakan yang berpengalaman, alis bekernyit, dalam hati ia berpikir: "Ah, kembali aku salah lihat, tak nyana pemuda jembel itupun seorang jago lihay, nasibku benar2 lagi sial, kenapa aku harus bertemu dengan orang macam begini dalam keadaan demikian?" Tanpa terasa kedua pihak yang sedang bertempur sama berhenti, masing2 mundur ke belakang sambil memandang pemuda jembel itu dengan tercengang.

Pemuda itupun telah berhenti tertawa, matanya menyipit, ia angkat mangkuknya dan menghirup seteguk air es dari celah2 mangkuk.

"He, kenapa berhenti?" serunya kemudian. "Hayolah, lanjutkan pertarungan ini, aku ingin lihat cara bagaimana lima orang lawan seorang? Hihi, kalau kalian berhenti, aku jadi kecewa "

Le Bun-pa menjadi gusar, dengan napas terengah2 dan mata melotot ia membentak: "Manusia rudin, tadi sudah kupesan supaya jangan sembarangan bergerak dari tempatmu, mau apa kau campur urusan ini? Hoo, rupanya kau ingin ditendang hingga keluar kuning telurmu?"

Walaupun sudah kecundang sekali, tapi ia belum kapok, tampaknya ia malahan pentang tangan hendak mencengkeram pemuda jembel itu. Pemuda itu menyipitkan matanya dan tertawa geli, katanya: "Eh, kulihat kau ini kereng dan gagah, tapi kenapa bicaramu tak keruan, seperti anak liar yang tak berpendidikan saja. Mari- mari, lekas meyembah tiga kali padaku, nanti kuberi ajaran nabi kepadamu,' tanggung tingkahmu nanti akan berubah, tak akan liar lagi seperti ini."

Keruan Le Bun-pa naik pitam, tanpa bicara lagi ia menubruk maju, tangannya yang besar seperti kipas terus mencengkeram tengkuk orang.

Dengan ketakutan pemuda jembel itu mundur ke belakang, badannya gemetar dan mukanya pucat, peluh dingin kelihatan membasahi keningnya. Le Bun-hou rnengerut dahi meayaksikan perbuatan adiknya, cepat ia membentak: "Jite, tahan!"

Segera ia hendak mendekati adiknya, siapa tahu tiba2 sinar tajam berkelebat dari samping, ternyata pemuda she Tian itu telah melancarkan suatu tusukan kedepan, ke arah Le Bun-pa..

"Sahabat!" pemuda itu berseru, "kalau pingin bergebrak, silakan berurusan dengan aku, kenapa menyusahkan orang lain yang tak bersalah?"

"Benar, benar, ucapan sahabat memang tepat!" sambung si pemuda jembel tadi sambil menyurut mundur, "kalau ingin pamer kekuatan, carilah orang lain, kenapa cari diriku? Ketahuilah, kalau mangkuk biruku sampai pecah, maka aku akan minta ganti padamu!"

Le Bun-hou berkerut kening pula, ia segera menghardik: "Sahabat she Tian, harap tahan! Jite, kaupun berhenti!"

Dengan cepat ia menghadang di muka Le Bun pa, kemudian ia menjura kepada pemuda jembel tadi, ujarnya: "Meski saudara tak mau perlihatkan aslimu, tapi pandanganku belum lagi rabun, kutahu anda ini pasti seorang tokoh lihay. Ya, perbuatan kami bersaudara mungkin kurang sedap dipandang, soalnya kami mempunyai kesulitan yang tak dapat diucapkan, kuharap anda sudi memberi muka kepada kami, setelah urusan di sini selesai, suatu ketika kami pasti akan berkunjung ke tempat anda untuk menyampaikan rasa terima kasih kami."

Sebagai jago kawakan yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia persilatan ini memang tajam penglihatannya, berulang kali ia menjura dan minta maaf kepada pemuda jembel itu, tujuannya tak lain adalah berharap agar orang itu jangan turut campur dalam urusan ini, agar daging lezat yang sudah ada di depan mulut ini jangan sampai terlepas lagi.

Siapa tahu pemuda itu lantas balas menghormat sambil berkata: "Ah, mana aku berani menerima penghormatanmu ini. Apalagi kau hendak berkunjung ke rumahku, wah, jangan, rumahku terlalu kecil, mungkin tempat untuk berdiri bagimu saja tak muat."

Sambil berkata pemuda itupun mengerutkan dahi, rupanya tiba2 didengarnya kumandang suara derap kuda dari balik hutan sana.

Air maka Le Bun-hou juga berubah hebat, buru2 ia menjura pula kepada pemuda tadi sambil berkata: "Kalau begitu, aku mohon maaf lebih dulu! ' Pokoknya suatu ketika kami pasti akan berkunjung ke rumahmu untuk  menyatakap terima kasih." Kepada rekan2nya ia lantas membentak: "Saudara2 ku, hari sudah sore, hayo, cepat selesaikan tugas kita!"

Senjata Poan-koan-pitnya bergerak, kembali ia terjang pemuda she Tian itu dengan ganas.

Siapa tahu sebelum senjata mengenai sasaran. mendadak pandangannya jadi kabur dan tahu2 pemuda jembel tadi telah mengadang di depannya.

Dalam pada itu derap kaki kuda semakin mendekat, dari luar hutan muncul tiga penunggang kuda.

Paras Yan-in-ngo-pak-thian, Bang leng-koan serta Soh- kau sama2 berubah hebat setelah mengetahui siapa yang datang, Sesaat -kemudian, dengan muka berseri Bang-leng- koan lantas menyongsong kedatangan ketiga orang itu.

Dengan tersenyum ia menjura dalam dan berkata: "Oooh, sudah lama tak berjumpa dengan engkau orang tua, apakah baik2 saja selama ini? Hamba selalu sibuk, maka sampai sekarang belum sempat menyambangi engkau orang tua!"

Ketiga orang yang baru muncul itu adalah tiga kakek2 berjubah ungu, usia mereka di antara lima puluhan, sinar matanya tajam berwibawa.

Dalam pada itu Le Bun-hou juga sudah melewati pemuda rudin dan Tian Pek yang mengadang di depannya terus mendekati ketiga kakek itu serta memberi hormat.

"Angin apakah yang membawa para Locianpwe ke sini?" demikian ia menyapa. "Le Bun-hou menyampaikan hormat kepada Cianpwe bertiga."

Kakek kurus kecil yang berada paling depan hanya mendengus tanpa mengucapkan sepatab kata pun.

Tiba2 ia melayang turun dari kudanya, tanpa memandang sekejappun terhadap Yan-in-ngo-pah-thian serta Ban-leng-koan yang ter-bungkuk2, ia menghampiri pemuda jembel tadi serta memberi hormat.

Tindakan orang tua ini sangat mengejutkan semua orang, siapapun tak menduga Mo-in-sin-jiu (tangan sakti di balik awan) Siang Cong-thian yang tersohor di dunia persilatan karena ilmu meringankan tubuh serta tenaga dalamnya kini ternyata bersikap munduk2 terhadap seorang pemuda jembel.

Sambil tertawa pemuda rudin itu menegakkan badannya, sinar tajam terpancar dari matanya, tampangnva yang rudinpun seketika tersapu lenyap mengikuti perubahan sikapnya itu.

"Siang-loko!" ia berkata sambil tercenyum, "sungguh kebetulan sekali kedatanganmu, baru saja Yan-in-ngo-pah- thian hendak menyembe!ih diriku, wah, kalau kau sedikit terlambat datang, niscaya jiwaku sudah melayang." Mo-in-sin- jiu adalah seorang tokoh yang disegani baik dari kalangan hitam maupun putih,

terutama setelah ia hajar mampus Tiat ki-kim-to (golok emas penunggang kuda) Tay Tang gi, seorang perampok besar di gunung Gan tang-san.

Mendengar perkataan tersebut, dengan sorot mata yang tajam ditatapnya wajah Le Bun-hou dengan penuh kegusaran.

Dipandang seperti itu, Le Bun-hou jadi ketakutan, paras mukanya kembali berubah pucat bagai mayat.

Sementara itu Mo-in-sin-jiu telah menjura pula kepada pemuda rudin itu seraya berkata: "Sungguh tak nyana, karena kedatanganku yang terlambat sehingga Kongcu dihina oleh kawanan keroco ini, biarlah kubekuk mereka semua untuk dijatuhi hukuman yang setimpal!"

Pemuda rudin itu tertawa geli, ia maju ke depan dan berkata: "Siang-heng, aku cuma bergurau, masa kau anggap sungguhan?" - Lalu ia menghampiri Le Bun-hou yang ada di sampingnya, sambil menyodorkan mangkuk biru itu, katanya lagi: "Le-jihiap, bukankah kau minta air es kepadaku? Nah, sekarang minumlah!"

Sejak kemunculan tiga kakek tadi, sikap congkak Le Bun-pa sudah lenyap tak berbekas. ia bertambah kikuk atas sikap pemuda itu, paras muka-nya berubah merah seperti kepiting rebus, untuk sesaat ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Pemuda rudin itu tertawa, ia tepuk bahu Tian Pekyeng masih melotot dengan bukunya yang butut. lalu tegurnya: "Saudara Tian, ilmu pedangmu bagus sekali, aku kagum pada kegagahanmu, jika tidak menolak bagaimana kalau mampir dulu di rumahku setelah urusan selesai? Ketahuilah, meski aku ini miskin, tapi aku gemar sekali mengikat persahabatan dengan siapapun."

Merah jengah wajah Tian Pek, jawabnya: "Kongcu terlalu memuji, atas bantuan Kongcu yang telah menolongku dari maut, Tian Pek tak akan melupakannya untuk selamanya, di kemudian hari aku pasti akan menyambangi Kongcu sekalian menyampaikan rasa terima kasihku."

Pemuda rudin itu mengangguk sambil tertawa. "Bagus, bagus, akan kunantikan kedatanganmu setiap waktu!" ucapnya. Kepada Le Bun-hou iapun berkata: "Le tayhiap, apakah engkau sudi memberi muka kepadaku dan sudilah lepaskan mereka pergi? Jika Le tayhiap cuma membutuhkan sekadar ongkos hidup, seratus atau seribu tahil perak boleh minta kepadaku saja!"

Ucapan itu sangat melegakan hati The Pek-siu, sambil menarik napas panjang ia berpikir: "Sungguh besar mulut pemuda ini, sekali buka suara lantas tawarkan seribu tahil perak, jangan2 dia adalah salah satu diantara keempat pemuka dunia persilatan?"

Waktu itu Le Bun hou sedang menjura dan menyengir, ia menjawab: "Perintah Kongcu tak berani kami lawan, apalagi pemberian dari Kongcu, kami lebih2 tak berani menerimanya, belehkah kami tahu siapa nama Kongcu yang mulia agar hamba dapat memberi pertanggungan- jawab kepada majikan kami."

Semua orang kelihatan kaget, tak menduga kalau lima bersaudara keluarga Le yang lihay ini ternyata masih mempunyai majikan.

Pemuda rudin itu menjawab sambil tersenyum: "O, sungguh tak kusangka, sungguh tak kusangka, rupanya Yan- in-ngo-pah thian yang tersohor juga masih mempunyai majikan." -- Lalu ia tatap Le Bun-hu tanpa berkedip dan melanjutkan: "Apakah saudara Le bersedia untuk memberitahukan kepadaku, siapa gerangan majikan kalian itu? Masa pembegalan yang kalian lakukan sekarang ini atas perintah majikan kalian?"

"Kongcu, buat apa kau urusi manusia seperti itu?" seru Mo in-sin jiu tiba2 sambil menghampiri pemuda itu, "Perintahkan saja kepada pihak Yan keng piaukiok untuk melanjutkan perjalanan! Kalau kau sungkan2 kepada manusia seperti mereka bisa jadi kepala mereka akan makin bertambah besar."

Bagaimanapun juga Le Bun hou adalah seoprang jago kenamaan di dunia persilatan, paras mukanya kontan berubah hijau ke-pucat2an karena olok2 itu, namun ia tak berani mengumbar amarahnya.

Sedapatnya ia tahan perasaannya, katanya kemudian: "Walaupun kami bersaudara tidak lebih cuma Bu-beng-siau- cut (manusia tak punya nama) dalam dunia persilatan, namun majikan kami bukan orang persilatan biasa, setiap insan persilatan kiranya akan memberi muka kepadanya. . .

. . ."

'Omong kosong! Begitu banyak kau omong kosong," bentak Mo-in-sin-jiu dengan mata melotot "Kalau mau, nama majikanmu cepat kaukatakan, kalau tak suka bicara cepat enyah dari sini, beritahu kepadanya bahwa aku orang she Siang telah mencampuri urusan ini, kalau dia tidak terima boleh cari saja padaku."

Air muka Le Bun-hou berubah pucat hijau, tidak kepalang rasa gusarnya, tapi ia tak berani bertindak apapun, sambil tertawa dingin ia lantas berseru: "Loji, Loam, kalau toh Siang-locianpwe sudah berkata begini, mau apa kita tetap di sini? Hayo, berangkat!"

Kemudian ia tambahkan kepada Bang-leng-koan yang masih berdiri di samping sana: "Hehe, orang she The, anggaplah engkau masih untung! Tapi, hehehe, ingin kuberitahu dulu kepadamu, dua buah peti dalam kereta itu tetap menjadi incaran kami, mengenai siapa majikan kami pikirlah sendiri, yang pasti kalau kau masih ingin berkecimpung di Kangouw, cepatlah persembahkan barang itu kepada kami, kalau tidak . . . .hm, akibatnya kautahu sendiri."

Walaupun perkataan itu ditujukan kepada The Pek-siu, hakikatnya sengaja diperdengarkan kepada Mo in-sin-jiu.

Si Tangan Sakti Siang Cong-thian, bukan orang bodoh, ia sudah tiga puluhan tahun berkelana di dunia persilatan, tentu saja apa yang dimaksudkan orang dapat dipahami olehnya segera ia melompat ke depan Le Bun-hou, bentaknya sambil bertolak pinggang: "Keparat, besar amat nyalimu. Kata2 seperti itupun berani kau ucapkan? Hmm," baik, hari ini justeru hendak kutahan kalian di sini, akan kulihat macam apakah tampang majikanmu itu, apakah dia punya tiga kepala dan enam tangan dan dapat berbuat apa padaku orang she Sang ini."

Habis berkata, sekali bergerak dengan tangan saktinya ia cengkeram dada Le Bun-hou.

Cepat Lotoa dari Yan-in-ngo-pah-thian itu berkelit, tangan Siang Coug-thian segera menekan ke bawah, tiba2 tangan kiri mengancam pergelangan lawan.

Buru2 Le Bun-hou mengebaskan tangan kirinya dan melompat mundur, siapa tahu kecepatan gerak orang she Siang ini benar2 luar biasa sekali, belum sempat ia ganti napas, tahu2 Siang Cong-thian telah membentak: "Roboh!" Sambil mendesak maju tangan kirinya menyerang dengan gaya semula, sementara tangan kanan berputar menggaet pergelangan tangan kanan Le Bun-hou terus dibetotnya.

Seketika Le Bun-hou merasakan setengah badannya kaku, ia terbetot maju beberapa langkah, untung kuda2nya cukup kuat sehingga tak sampai roboh mencium tanah.

Betapa lihay ilmu silat Mo-in-sin-jiu terbukti dengan keoknya pemimpin Yan-in-ngo-pah-thian hanya dalam satu gebrakan saja, diam2 semua orang tarik napas dingin.

Pemuda yang bernama Tian Pek pun diam2 merasa malu sendiri, rasa kecewa dan putus asa terlintas pada wajahnya, semula dia mengira dengan ilmu silatnya sendiri mampu untuk cari nama di dunia persilitan, dendam berdarah sedalam lautan pun akan dapat dibalas. Tapi sekarang tampaknya semua angan2nya akan tersapu lenyap, ia tahu bahwa ilmu silat yang dimilikinya masih selisih jauh kalau dibandingkan dengan orang lain. Ia menghela napas sedih dan tunduk kepala, masa depannya terasa suram.

Tentu saja perasaan setiap orang pada waktu itu berbeda antara yang satu dengan yang lain, terutama sekali keempat bersaudara keluarga Le, air muka mereka berubah jadi merah padam seperti kepiting rebus, mau maju tak berani, mau mundurpun malu, untuk sesaat mereka menjadi tak tahu apa yang harus dilakukan.

Dengan pandangan tajam Siang Cong-thian tatap wajah keempat bersaudara keluarga Le itu, bentaknya: "Kalian enyah semua dari sini, beritahu kepada majikan kalian bahwa Le Bun-hou telah kutangkap, kalau dia punya kepandaian, silakan cari aku orang she Siang, setiap waktu kutunggu kedatangannya!" "Siang-heng, watak berangasanmu sama sekali tak berbeda seperti dulu." ucap pemuda rudin itu dengan tersenyum, "pantas kawanan tikus dunia persilatan sama gentar bila mendengar nama Mo-in-sin-jiu. Tapi, Siang- heng, buat apa sih kau marah2 begitu?"

Ia bangunkan Le Bun-hou, lalu katanya lagi dengan tertawa: "Le-tangkeh, engkau sendiri juga keterlaluan, masa nama majikan sendiripun tak sudi diberitahukan pada orang? Cepatlah katakan, masa akupun tak berharga untuk mengetahui nama majikanmu?"

Setelah dirobohkan hingga terkapar di tanah, pakaian mewah yang dikenakan Le Bun-hou jadi kotor dan penuh debu, mukanya berubah jadi pucat kehijauan, diam2 hatinya sangat gemas.

Sekian lama ia mengertak gigi menahan emosinya, akhirnya dengan gemas is berkata: "Kekalahan yang kuderita ini hanya bisa menyalahkan ilmu silatku sendiri yang tak becus, namun " Ia berpaling ke arah Siang

Cong thian, sambil gigit bibir katanya lebih jauh: "Siang- tayhiap, kalau engkau memang tak puas dengan perkataanku tentang majikan kami, buat apa kau turun tangan terhadap orang tak becus seperti kami ini? Kalau berani, silakan cari majikan kami . . . . . hm, apakah kau merasa majikan kami juga tak berharga untuk kau hajar?'

Siang Cong-tbian naik pitam, matanya melotot, bentaknya lantang: "Bangsat she Le, rupanya kau bosan hidup. . . . . .

Pemuda rudin yang ada di sampingnya segera melerai, katanya sambil tersenyum: "Siang-beng, jangan marah dulu, tenangkan hatimu, mari kita dengarkan lebih jauh apa yang dia katakan, Siaute jadi mulai tertarik pada orang ini, kalau dugaanku tidak keliru, sebeatar lagi tentu ada cerita yang menarik!"

Dalam pada itu dengan mata melotot Le Bun-hou masih menatap Siang Cong-thian tanpa berkedip, ia unjuk empat jari tangannya dan melanjutkan ucapannya dengan ketus: "Majikan kami berdiam di kota Lam-keng, she Kim, dia pula yang perintahkan kami membegal barang tersebut. Siang locianpwe, kukira kau pasti tahu bukan siapakah dia? Hai! Cuma kurasa, dengan kedudukan Siang-locianpwe yang begitu terhormat, tentunya beliau tak kau pandang dengan sebelah mata bukan?"

Mo-in-sin-jiu yang biasanya tinggi hati dan malang melintang tanpa tandingan, tiba2 mengunjuk mimik wajah yang aneh, walaupun ia berusaha untuk menyembunyikan perasaannya, namun getaran batin yang ia terima jelas terlihat.

Air muka Ban leng- koan dan Soh-kau pun ikut berubah hebat, mereka berpandangan sekejap dengan bibir bergerak seperti mau mengucapkan sesSuatu. tapi tak sepatah katapun yang kedengaran.

Tiba2 pernuda rudin tadi menengadah dan terbahak2, suaranya nyaring menggetar sukma, tanpa terasa semua orang alihkan perhatian terhadap pemuda itu.

Le Bun-hou kelihatan tertegun, semula ia menduga semua orang akan kaget, setelah tahu siapa majikannya, bisa jadi barang yang diincar itupun akan diserahkan tanpa banyak cincong, walaupun ia juga menduga pemuda rudin itu pasti punya asal usul yang luar biasa tapi jika dibandingkan majikannya tentu sangat jauh.

Oleh sebab itulah betapa tercengangnya demi mendengar gelak tertawa orang. Sambil ter bahak2 pemuda rudin itu melangkah maju, ia buka tutup mangkuknya yang berwarna biru dan ditunjukkan kepada orang she Le itu.

Le Bun-hou memandang sekejap tutup mangkuk itu, maka terbacalah beberapa huruf yang tertera di tutup porselen itu: "An lok Kongcu paling romantis".

Tulisan itu berwarna merah dengan gaya tulisan yang indah, di bawahnya tertera pula beberapa huruf. "Untuk Ceng-heng, dari Hoan Hui".

Begitu habis membaca tulisan itu, Le Bun-hou merasa matanya jadi ber-kunang2, hampir saja ia jatuh semaput.

Pelahan ia menengadah, dilihatnya pemuda rudin itu sedang memandangnya sambil tersenyum, cepat ia tunduk kepalanya rendah2, sepatu butut yang dikenakan pemuda itu kini terasa jauh lebih berharga daripada semula, siapakah berani bilang sepatu butut An Lok Kongcu sama sekali tak ada harganya?

Le Bun hou yang gagah sekarang dibikin gelagapan, sekarang baru ia sadar bahwa cukongnya belum apa2 kalau dibandingkan dengan pemuda rudin alias An lok Kongcu tersebut.

Sementara An-lok Kongcu sedang ter bahak2, katanya: "Le tongkeh tentunva kau sudah tahu siapakah diriku? Nah, sekarang cepatlah pulang dan beritahu kepada Kim kongcu, katakan bahwa dalam peristiwa ini aku In Ceng telah ikut campur, hahaha . . . . " sesudah berhenti tertawa lalu sambungnya: "Walaupun aku belum pernah berjumpa dengan Siang-lin Kongcu, tapi sudah lama kukagumi namanya, tolong sampaikan salamku untuk Kim-kongcu." Setelah mengetihui siapa lawannya, Le Bun-hou tak berani berlagak lagi, ia mengiakan berulang kali sambil munduk2.

An-lok Kongcu tersenyum, ujarnya: "Setelah urusan diselesaikan, akupun takkan menahan Le-tangkeh lebih jauh, bila ada minat silakan mampir ke rumahku di kota Soh ciu selama beberapa hari, haha .... Nah, saudara Le, kau boleh berangkat sekarang."

Sikap Le Bun-hou sekarang telah berubah 180°, kembali ia munduk2 sambil mengundurkan diri, sejenak kemudian merekapun tiba di tepi hutan. Yan-in-ngo-pah-thian yang gagah dan garang kini harus berlalu dengan muka yang lesu dan lemas. Selama peristiwa itu berlangsung, Tian Pek hanya mengikuti dari samping dengan mata terbelalak, terurama ketika menyaksikan kehebatan An-lok Kongcu, darah, dalam dadanya terasa bergolak, ia merasa malu pada kemampuannya sendiri.

Sambil memandang bayangan Yan-in-ngo-pah-tbian yang mcnjauh, Mo-in-sin-jiu tertawa dingin, ia berkata: "Tingkah laku orang yang bercokol di Lam keng itu kian hari kian bertambab bruntal, In-kongcu .... engkau "

An lok Kongcu In Ceng tertawa, tukasnya' "Siang-losu, pohon besar mendatangkan angin, nama besar mendatangkan iri, Bukan dia saja, namaku yang busuk inipun mungkin juga tersebar di dunia persilatan. Maklumlah, berita yang tersiar di dunia persilatan tak boleh dipercaya seratus persen."

Ia berhenti sebentar, kemudian sambungnya: "Kurasa orang yang bernama Yan-in-ngo-pah-thian tadi mungkin hanya mencatut nama Siang-lin Kongcu untuk bikin keonaran di luaran. Aku sudah sering menemui kejadian seperti ini, Siang-losu, apa kau masih ingat keonaran diterbitkan Lu-loliok tempo hari? Bukankah ia juga mencatut namaku? Kalau bukan Hoan-toaya mengetahui watakku, entah apa yang bakal terjadi?"

Meski Mo-in-sin-jiu masih kelihatan sangsi, mau-tak- mau iapun mengiakan berulang kali.

Tian Pek yang sudah kagum kini semakin tunduk melihat kebesaran jiwa An-lok Kongcu, diam2 ia memuji akan kegagahan pemuda itu.

Sembilan orang petugas yang sejak tadi sembunyi di belakang kereta barang. kini ber gegas2 maju ke depan, sambil memberi hormat mereka memuji tuan penolongnya setinggi langit. "Hamba sekalian betul2 punya mata tapi lamur," kata mereka, "ternyata tak seorangpun yang tahu akan kehadiran engkau orang tua. Ai untung  In-kongcu sudi memberi bantuan sehingga tidak terjadi apa2, untuk bantuan tersebut hamba sekalian mengucapkan terima kasih. Sayang hamba masih ada tugas sehingga tak dapat mampir, lain bari kami tentu akan menyambangi engkau orang tua." — Lalu mereka ber-paling dan mengucapkan pula beberapa patah kata pujian terhadap Siang Cong-thian.

An-lok Kongcu tersenyum, dia ulapkan tangannya sambil berkata: “Kalian tak perlu berterima kasih kepadaku, kebetulan saja aku menjumpai peristiwa ini, apalagi sudah sepantasnya kalau kita saling tolong menolong."

Kiranya pemuda rudin ini tak lain tak bukan adalah salah satu di antara Su-toa-kongcu (empat tuan muda) yang amat kaya raya di wilayah Kang lam. waktu itu dengan sorot mata yang tajam ia sedang mengawasi wajah Tian Pek, lalu katanya dengan tersenyum: "Suadara, ilmu silatmu bagus sekali, semoga di kemudian hari kita bisa sering berkumpul, rumahku berada di luar kota Soh-ciu yang disebut perkampungan In-bong-san-ceng, bila saudara kebetulan lewat di Soh-ciu. jangan lupa untuk mampir beberapa hari di rumahku."

Setelah berhenti sebentar, lalu ia melanjutkan "Oya, setiba kembali nanti, tolong sampaikan salamku kepada Ji- lopiautau."

Tian Pek mengangguk pelahan sambil masukkan  kembali pedangnya ke sarungnya, meskipun belum lama pemuda ini menjadi Piausu. tapi dia adalah keturunan jago silat kenamaan, kebesaran jiwa orang membuatuya rikuh sendiri.

Belum sempat ia mengucapkan sepatah kata, tiba2 terasa bayangan berkelebat, entah bagaimana caranya, tahu2 pedang mestika yang sudah dimasukkkan ke dalam sarungnya itu telah dirampas orang.

Tian Pek terperanjat, walaupun ilmu silatnya tidak tinggi, tapi kepandaian yang dimilikinya sekarang cukup kiranya untuk membela diri, siapa tahu pedang mestika kesayangannya dalam sekejap mata saja dapat dirampas orang. Waktu ia menengadah, ternyata orang yang merampas pedangnya bukan lain adalah seorang kakek kurus kecil yang datang bersama Mo-in-sin-jiu tadi.

Waktu itu si kakek sedang mempermainkan pedangnya dengan santai, se-olah2 pedang tersebut adalah miliknya sendiri.

Tian Pek mengerutkan dahinya rapat2, dengan gusar ia mcnegur: "Sahabat, siapa kau? Apa maksudmu merampas senjataku?"

An-lok Kongcu juga agak tercengang, iapun melangkah maju hendak mcnegur, tapi sebelum bicara, kakek kurus itu telab menyentil pedang hingga mendenging nyaring, dengan serius ia bertanya; 'Sahabat cilik, darimana kau dapatkan pedang ini?"

"Bukan urusanmu!" jawab Tian Pek dengan gusar. Sambil membentak kepalan kiri langsung menonjok dada kakek itu, sedang tangan kanan secepat kilat hendak merampas kembali pedangnya.

Dasar anak muda yang berdarah panas, ia tak peduli apa maksud orang, karena pedangnya dirampas, maka ia menyerang lebih dulu.

Siapa tahu baru saja telapak tangannya ber-gerak, tiba2 pandangannya jadi kabur, kakek kurus itu telah lenyap. Tian Pek terkesiap, ia putar badan sambil ayun tangannya lagi.

Tapi kedua tangannya lantas tak mampu bergerak pula, tahu2 sudah dicengkeram orang hingga tenaganya punah dan tak bisa berkutik.

"Saudara, jangan terburu napsu," ujar seorang sambil tertawa, "ada urusan boleh kita bicarakan secara baik!"

Kiranya orang yang memegang tangannya ada1ah An- lok Kongcu.

Tian Pek tertegun dan menarik kembali tangannya, semula ia mengira nama besar An-lok Kongcu diperoleh berkat bantuan anak buahnya yang kebanyakan orang kosen. Sekarang baru diketahui bahwa dugaannya keliru sama sekali, An-lok Kongcu sendiri betul2 memiliki ilmu silat yang sangat tinggi.

Walaupun tahu kepandaian silatnya masih selisih jauh dibandingkan orang lain, Tian Pek tetap tak tahan rasa gusarnya. "In-kongcu, kau mau apa?" teriaknya "Bila Kongcu menghendaki pedangku, katakan terus terang, pasti akan kuberikan dengan rela, kenapa Kongcu main rampas pakai kekerasan?"

An-lok Kongcu tetap tersenyun, ucapan itu sama sekali tidak menyinggung perasaannya "Saudara, kau salah  paham " katanya sambil menepuk bahu Tian Pek, lalu

ia berpaling dan ujarnya kepada si kakek kurus tadi: "Hoa- losu, janganlah bergurau dengan orang, hayolah kembalikan pedangnya!"

Kemudian ia ter-gelak2 sambil menuding kakek kurus itu, ujarnya lebih jauh: "Saudaraku, kemarilah, kuperkenalkan jago tua ini kepadamu. Dia adalah Tui-hong bu ing (mengejar angin tanpa bayangan) Hoa Ceng-cwan, Hoa-losu si pencuri sakti nomor satu di dunia. Kau jangan kuatir, Hoa-losu takkan merampas pedang orang dengan kekerasan."

Sikap Tui-hong-bu-ing tetap ketus dan dingin, pelahan ia mendekati Tian Pek, tegurnya dengan suara dalam: "Hei, darimana kau dapatkan pedang ini? Siapa namamu? Siapa yang memberi pelajaran ilmu silat padamu?"

Pertanyaan ini diucapkan dengan beruntun, ia sama sekali tak gubris perkataan An-lok Kongcu se-olah2 tak mendengar perkataan pemuda itu, sikap yang aneh ini bukan saja membuat air muka An-lok Kongcu berubah, Mo-in-sin-jiu sendiri-pun mengunjuk rasa marah. 

Air muka Tian Pek berubah jadi pucat, matanya melotot, jawabnya dengan suara lantang: "Hoa locianpwe, aku, aku sudah lama mendengar nama- besarmu, kutahu engkau adalah seorang jago kosen, tapi aku tetap tak mengerti, berdasar apa kau ajukan pertanyaan2mu itu kepadaku?" Tui-hong bu ing tertawa dingin. "Sahabat, kalau kau tidak menjawab pertanyaanku, sekarang juga aku orang she Hoa akan cincang kau hingga ber-keping2!" ancamnya.

Perkataan ini kembali membuat semua orang terperanjat.

An-lok Kongcu juga serba susah, katanya cepat: "Hoa- losu, apa yang kau lakukan ini? Berilah muka kepadaku, kembalikan pedang itu kepadanya!" Setelah berhenti sebentar lalu ia tambahkan: "Kalau tidak, orang tentu akan meogira aku yang me-ngincar pedangnya!"

Tui-hong-bu-ing mundur selangkah ke belakang, air mukanya berubah jadi hijiu membesi, bukan mengembalikan pedang itu, sebaliknya ia malah berkata: “In-kongcu, banyak sekali musuhmu yang men-cari2 aku, dalam keadaan kepepet aku lari kepadamu dan ternyata kau pandang diriku sebagai tamu ter-hormat, untuk kebaikanmu itu selama hidup Hoa Ceng-cwan merasa berterima kasih, setiap ucapan In-kongcu pasti akan kuturut walau aku harus terjun kelautan api atau memanjat ke bukit golok, tapi ..."

Sinar matanym tiba2 beralih ke arah Tian Pek, lalu sambungnya dengan suara dalam: "Tetapi dalam urusan ini aku tak dapat turut perkataanmu, aku harus tanyakan asal- usul pedang ini hingga jelas, aku harus tahu asal-usul pemuda ini, kalau ia tak mau menjawab, sekalipun aku bukan orang yang suka menganiaya kaum muda, terpaksa hari ini aku barus melanggar kebiasanku ini."

Air muka pencuri sakti yang pernah menguras barang berharga tiga belas keluarga kenamaan di ibu kota dalam waktu semalam ini, seketika berubah jadi dingin menyeramkan, selesai bicara ia terus menubruk ke sana, sekali berputar, cahaya pedang berkelebat, "Kraak", sebatang pohon besar telah ditebas kutung menjadi dua bagian. Ketika pohon itu tumbang, pencuri sakti itu kembali melejit ke udara, sebuah pukulan dilepaskan hingga batang pohon ilu mencelat jauh, habis itu baru ia melayang turun ke atas tanah.

Sesudah mendemontrasikan ilmu silatnya yang lihay, Hoa Ceng-cwan berdiri tegak dengan kuda2 yang kuat, teriaknya dengan kereng: "Barang siapa berani mencampuri urusanku, biarpun bapakku sendiri, tetap aku akan beradu jiwa dengan dia!"

An-lok Kongcu terkenal karena kebesaran jiwa-nya, namun menghadapi kejadian ini tak urung paras mukanya berubah hebat. Sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, Mo-in-sin-jiu telah lompat ke depan seraya mendamperat: “Hoa-losu! Apa yang kau lakukan ini? Kau berani bersikap kurang ajar terhadap Kongcu?”

Hoa Ceng-cwan mendengus, ia berpaling dan berkata: “Siang Cong-hian, kita sudah bersahabat selama puluhan tahun, masa kau tidak kenal pada watakku? Coba lihat, pedang apakah ini? Pedang ini milik siapa?”

Karena emosi hingga napasnya kelihatan agak memburu.

Siang Cong-thian melengak, dia awasi pedang mestika itu beberapa kejap, mendadak seperti teringat akan sesuatu air mukanya segera berubah hebat, bibirnya bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu tapi tidak jadi, ia menyurut mundur sementara matanya tetap menatap pedang tersebut tanpa berkedip.

Waktu itu air muka Tian Pek juga berubah pucat hijau, tiba-tiba ia membentak: “Hoa-tayhiap, kutahu engkau adalah jago kenamaan di dunia persilatan, sedang aku tak lebih cuma seorang bocah ingusan, walau begitu aku tetap tak mau bicara, ingin kulihat apa yang akan dilakukan seorang tokoh kenamaan seperti kau ini atas diriku!” Habis bicara berulang-ulang ia mendengus, dada sengaja dibusungkan tinggi-tinggi dan mata melotot bulat.

Sejenak kemudian ia berkata lagi : “Hoa-tayhiap, kuharap pedang itu segera dikembalikan kepadaku, Jika tidak, selama hayat masih dikandung badan, aku tetap akan berusaha merebut kembali pedang itu walau jiwaku harus menjadi taruhan."

"Jadi kau benar2 tak mau bicara?" tanya Hoa Ceng cwan sambil melangkah maju.

“Tidak! Kau mau apa? Kembalikan pedangku!" jawab Tian Pek tegas.

“Hehehe. baik, hari ini juga kucabut jiwa anjingmu!” teriak jago tua itu sambil menerjang maju. Sret! Sret! Dua kali babatan menyambar ke tubuh Tian Pek, desiran angin tajam menderu-deru, siapa pun tak menduga seorang jago kenamaan Bu-lim ternyata turun tangan keji terhadap seorang pemuda ingusan.

An-lok Kongcu tak tinggal diam, cepat ia maju mengadang, dengan mangkuk birunya dia tangkis serangan orang sambil membentak: “Hoa-losu, kau sungguh-sungguh mau turun tangan?”

Walau pun serangan yang dilancarkan Hoa Ceng-cwan secepat kilat itu sudah setengah jalan, tapi mau tak mau terpaksa ia tahan serangannya, ujung pedang seketika berhenti persis di depan mangkuk biru itu, maju beberapa senti lagi niscaya mangkuk tersebut akan hancur.

An-lok Kongcu tampak berdiri tenang, katanya: "Hoa- losu, kalau engkau benar2 mau turun tangan, sepantasnya katakan dulu alasan2nya!-'

Tangan Hoa Ceng cwan yang memegang pedang kelihatan gemetar, agaknya ia sedang menahan gejolak emosinya, ujung pedang yang gemetar sampai beradu dengan mangkuk biru itu bingga menimbulkan suara dentingan nyaring. namun tangan An-lok Kongcu yang memegang mangkuk itu tetap tak bergerak.

Ketika sorot mata mereka saling bertemu, tanpa terasa Hoa Ceng-cwan menyurut mundur selangkah, bagaimanapun juga ia tak berani bergebrak dengan An-lok Kongcu.

Akhirnya sambil menghela napas dan menggeleng kepala ia berkata: "In-kongcu, mengapa kau campur urusan ini?"

Sementara itu Siang Cong-thian telah memburu maju pula, ia sambut mangkuk biru itu dari tangan An lok Kongcu, kemudian katanya dengan suara berat: "In kongcu, perbuatan Hoa losu mempunyai alasan yang kuat, lebih baik Kongcu jangan ikut campur urusan ini." 

Pelahan An-lok Kongcu turunkan tangannya ia menjadi ragu2, ia tahu sudah lama Siang Cong-thian berkelana di dunia persilatan, pengalaman dan pengetahuannya sangat luas, diapun merupakan seorang jago kosen, kalau tokoh seperti inipun menganjurkan kepadanya agar jangan mencampuri urusan ini, agaknya dibalik peristiwa ini pasti ada hal2 yang luar biasa. Ia pun tahu Hoa Ceng-cwan bukan orang yang suka bertindak secara gegabah, juga tak mungkin ingin membunuh pemuda itu lantaran mengincar pedang mestikanya.

Musuh Hoa Ceng-cwan di dunia persilatan memang banyak, tapi An-lok Kongcu yakin tak nant1 Pencuri Sakti ini mempunyai ikatan dendam atau sakit hati dengan pemuda she Tian ini. Tapi mengapa ia memaksa pemuda itu untuk bicara? Apa sebabnya dan apa alasannya? Makin dipikir An-lok Kongcu jadi semakin bingung, akhirnya ia berdehem dan berkata: "Hoa-losu, kalau kau anggap psrsoalan ini amat penting bagimu, maka aku tak akan ikut campur lagi, tapi " ia berhenti sebentar dan tarik napas panjang2, kemudian melanjutkan: "Menurut pendapatku, lebih baik terangkan persoalan ini secara blak2an, mumpung di sinipun hadir sahabat2 dari luar kalangan kita, sebab kalau tidak, jika berita ini sampai tersiar, bukan saja nama baik Hoa-losu akan tercemar, akupun jadi ikut2an dicemoohkan orang lain, Hoa-losu, harap bicaralah terus terang, kalau kau anggap persolan ini tiada sesuatu yang perlu dirahasiakan maka uraikan saja dengan blak-blakan."

Walaupun dimulut ia berkata begitu, dalam hati ia berpikir: "Hoa-losu ini benar2 aneh sekali, apa sih manfaatnya memaksa orang untuk memberitahukan asal- usul pedangnya dan apa pula gunanya mengetahui nama serta asal usul orang lain? Ah, pasti-ada suatu rahasia dibalik persoalan ini!"

Sementara itu Tian Pek lantas berteriak pula: "Ya, benar, Hoa-tayhiap, berdasar apa kau ajukan pertanyaan itu? Pedang mestika itu milikku. mengapa kau merampasnya dariku? Hayo katakan, apa alasannya kau berbuat demikian?"

Tui-hong-bu-ing Hoa Cing-cwan mendengus dengan pandangan tajam ia menatap pemuda itu dengan tak berkedip, hawa napsu membunuh menyelimuti mukanya yang kurus, tiba2 ia menegur: "Benarkah kau tak tahu maksud pertanyaanku ini? Jadi kau benar2 tak tahu apa alasannya? Sahabat, lebih baik tak usah berlagak pilon dihadapanku, hehehe, kalau kau ingin menipuku, perhitunganmu pasti salah besar!" Tian Pek tertegun, untuk sesaat ia tak tahu apa yang harus dikatakannya.

An-lok Kongcu nenyapu pandang sekejap ke arah pemuda itu, mendadak ia berkata pula: "Hoa-losu, walaupun antara aku dengan pendekar muda ini baru berjumpa untuk pertama kalinya, tapi aku yakin dia bukan sebangsa munusia licik yang suka ber-pura2, lebih baik Hoa-losu terangkan saja apa alasanmu, bila alasan tersebut cukup baik dan jujur, aku percaya pendekar muda ini tak akan membungkam terus!" — Bicara sampai di sini, ia mengerling sekejap ke arah Tian Pek.

Dengan sorot mata penuh rasa terima kasih pemuda she Tian itu balas pandangan orang, sinar matanya yang tajam memancarkan semangat seorang ksatria, hal ini semakin meyakinkan An-lok Kongcu bahwasanya apa yang dilihat memang tidak keliru-

Diam2 ia ambil keputusan bila Hoa Cing-cwan tak mampu mengucapkan alasannya, maka ia lebih baik menyalahi jago tua tersebut daripada membiarkan pemuda itu didesak terus menerus.

Tui-hong-bu-ing Hoa Cing-cwan menghela napas panjang, ujarnya: "Ai, setelah Kongcu berkata begitu, terpaksa aku harus terangkan persoalan ini

sejelasnya, hanya saja.."

Sinar matanya beralih ke wajah Siang Cong-thian katanya pula: "Siang-heng, kurasa kau sudah tahu bukan mengapa aku berbuat demikian? Lebih baik Siang-heng saja yang tuturkan masalah ini. meskipun sahabatku itu sudah lama meninggal, tapi setiap kali teringat masa lampau, hatiku menjadi pedih!" Mendadak matanya terbelalak, dengan emosi ia berseru: "Bila kejadian ini sudah kuterangkan dan ternyata masih ada orang menganggap perbuatanku tak bertanggung- jawab, detik itu juga aku akan gorok leherku dan bunuh diri, tak perlu orang lain turun tangan kepadaku."

Mendengar kata2 tegas demikian, Tian Pek mengerut kening, ia seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi rasanya sukar keluar dari bibirnya.

Siang Cong-thian menghela napas panjang, sambil membelai jenggotnya yang putih, katanya: "Kongcu, pernahkah kau dengar tentang peristiwa besar yang terjadi pada dua-tiga puluhan tahun yang lalu? Peristiwa itu menyangkut nasib seorang pendekar besar yang disegani dan dihormati oleh setiap insan persilatan?"

Ia berhenti sebentar, ketika dilihatnya An-lok Kongcu mulai tertarik oleh penuturannya, segera ia melanjutkao: "Dua-tiga puluh tahun berselang, di dunia persilatan terdapat seorang pendekar besar yang disegani dan dihormati setiap orang, selama hidupnya selalu berbuat jujur dan suka menolong sesamanya, kawan persilatan dari mana pun banyak yang mendapat bantuannya, ratusan tahun belakangan ini dalam dunia persilatan belum pernah terdapat manusia berbudi seperti dia."

"Siang-losu, apakah kau maksudkan Pek lek-kiam si pedang geledek Tian In-thian, Tian-tay-hiap?" tukas An-lok Kongcu.

Ketika mendengar nama tersebut air muka Tian Pek yang pada dasarnya sudah putih kini kian pucat, tiba2 ia putar badan dan kabur keluar hutan. Siapa tahu, baru saja  ia bergerak, mendadak Hoa Cing-cwan membentak keras: "Sahabat, mau lari ke mana? Berhenti kau!" Entah dengan gerakan apa, tahu2 ia sudah melayang jauh ke sana, Tian Pek merasakan pandangannya menjadi kabur dan Hoa Cing-cwan dengan muka beringas telah mengadang di depannya.

Tian Pek terkesiap, ia putar badan dan hendak kabur lagi lewat samping orang. Tapi betapapun cepatnya ia lari, apakah ia mampu menandingi ilmu meringankan tubuh Hoa Cing-cwan yang tersohor? Bayangan orang berkelebat, tahu2 jalannya teradang pula, dengnn tangan kirinya Pencuri Sakti itu terus tutuk jalan darah Ing-coan-hiat di bawah tetek orang sambil membentak: "Anak monyet, mau kabur? Huh, jangan mimpi di siang bolong."

Merasakan desiran tajam mengancam dada, Tian Pek geser kakinya sambil meliuk pinggang, tangan kinnya memotong pergelangan tangan lawan, sementara tubuhnya berputar, gerakan ini dilakukan dengan tak kalah cepatnya.

Walaupun Tian Pek berbakat sangat bagus untuk belajar silat, diapun rajin beilatih secara tekun, tapi sayang tiada mendapatkan bimbingan guru pandai, ilmu silatnya jika dibandingkan oraug lain boleh dibilang masih selisih jauh.

Baru saja serangan tersebut dilancarkao, mendadak sikutnya terasa kaku dan sekujur tubuh tak dapat bergerak lagi, maka sadarlah pemuda itu bahwa jalan darahnya tertutuk. Diam2 ia menghela napas, ia benci pada setiap manusia di dunia ini, mengapa orang memaksa dia untuk mengaku asal-usulnya dikala ia sendiri tak ingin mengungkapnya kembali?

Setelah mentutuk jalan darah di sikut Tian Pek, tangan Hoa Cing-cwan terus rnencrobos ke bawah ketiaknya, dengan bentakan keras, dia lempar tubuh pemuda itu ke arah Siang Cong-thian. Mo-in-sin-jiu sambut datangnya tubuh dengan kedua tangannya, begitu enteng ia sambut tubuh orang seakan- akan menerima benda yang enteng sekali, lalu ia melemparkan tubuh pemuda itu ke tanah.

Hoa Cing-cwan sendiri sementara itu sudah melayang kembali ke tempat semula, ditatapnya sekejap An lok Kongcu dengan dingin, sedang mulutuya tetap membungkam.

An lok Kongcu berkerut kening, ia merasa bingung atas kejadian itu, apa yang terjadi ini sama sekali di luar dugaannya, maka ia hanya melenggong belaka.

Ia tak mengira si anak muda itu akan kabur ter-birit2 demi mendengar nama Pek-lek-kiam, ia tak tahu apa sebabnya, pikirnya di dalam hati: "Mungkinkah pemuda yang masih muda belia ini mempunyai hubungan yang erat dengan kematian Pek-lek-kiam Tian-tayhiap pada dua-tiga puluh tahun yang lalu itu?"

Ketika ia pandang pedang mestika yang masih herada di genggaman Hoa Cing cwan, tiba2 terpikir pula olehnya: "Ah, jangan2 pedang mestiku ini adalah 'Pek-hiat-kiam' milik Tian-tayhiap dahulu? '

Dalsm pada itu Tui-hong-bu-ing Hoa Cing-cwan sedang berkata dengan dingin: "In kongcu, kukira sekarang engkaupun tahu sebabnya kupaksa dia mengakui asal usul pedang ini? Dengan pedang hijau ini entah sudah berapa banyak perbuatan mulia yang telah dilakukan Tian-tayhiap? Tapi rupanya Thian kurang adil. Ia membiarkan Tian- tayhiap binasa dalam keadaan yang serba misterius, siapapun tak tahu sebab2 kematiannya, In-kongcu "

Suaranya lambat laun berubah keras dan nyaring, sambungnya pula: "Maafkanlah kalau kataku agak kasar, engkau masih muda dan tak sempat menyaksikan kematan Tian-tayhiap yang mengerikan di danau Tong-ting-ouw, tapi aku telah menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Sudah terlalu banyak budi kebaikan yang kuterima dari Tian-tayhiap, akan tetapi sewaktu kulihat mayat Tian- tayhiap yang menggeletak di tepi Tong-ting-ouw dalam keadaan mengenaskan itu, aku .... aku ternyata tak tahu siapakah pembunuhnya!"

Ia menghela napas sedih, sekuat tenaga ia ber-usaha menekan pergolakan perasaannya, sesaat kemudian ia berkata kembali "Dua puluh tahun setelah kejadian aku selalu berusaha mencari dan menyelidiki siapakah pembunuh Tian-tayhiap, tapi semua usahaku ternyata gagal total, aku tetap tak berhasil mengetahui siapakah pembunuh sadis itu-Tapi sekarang, rupanya Thian melindungi aku, akhirnya aku berhasil menemukan titik terang dalam peristiwa ini."

An-lok Kongcu yang mengikuti penuturan tersebut dengan seksama, pelahan tundukkan kepala sambil menghela napas sedih, baru sekarang ia paham duduk perkara yang sebenarnya.

Hoa Cing cwan yang kurus kecil itu menghela napas panjang, ia menengadah sejenak, lalu berkata lagi dengan sedih: "In kongcu, apakah kau dapat membayangkan bagaimana perasaanku tatkala ku-ketahui bahwa pedang yang digunakan pemuda ini bukan lain adalah pedang milik Tian-tayhiap almarhum? In-kongcu, apabila aku gagal untuk mengetahui asal-mula pedang ini dan siapakah yang memperolehnya untuk pertama kali, bagaimanakah pertanggungan-jawabku terhadap tuan penolongku di alam baka? Terhitung seorang manusiakah bila kubiarkan dendam kesumat Tian-tayhiap ini tenggelam begitu saja?"

An lok Kongcu jadi bungkam, ia tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan tersebut. Berapi-api sinar mata Hoa Cing cwan, tiba2 ia berjongkok dan tepuk bahu Tian Pek hingga tutukannya tadi bebas, setelah itu sambil menempelkan ujung pedang di tenggorokan pemuda itu ia menghardik: "Sahabat, semua pembicaraanku tentu dapat kau ikuti dengan jelas bukan? Kutahu engkau masih muda dan tak mungkin tersangkut dalam pembunuhan berdarah atas diri Tian-tayhiap, aku hanya ingin tahu darimana kau peroleh pedang ini? Kuharap kau menjawab semua pertanyaanku dengan sejujurnya kalau berani bohong. Hmm!"

Sedikit menggetar, ujung pedang menggores lewat tiga senti di depan tenggorokan pemuda itu, lalu sambungnya:' "Akan kugorok lehermu sehingga darahmu bercucuran di ujung pedang ini!"

An-lok Kongcu menghela napas, ia lihat anak muda itu tetap bungkam dengan sinar mata berkilat, sedikitpun tidak unjuk rasa takut atau ngeri, diam2 ia memuji: "Bagaimanapun juga pemuda ini tak malu disebut sebagai seorang lelaki sejati!"

Pada saat itulah tiba2 pemuda itu bergesar ke belakang dan bangkit berdiri.

"Kau cari mampus?" bentak Hoa Cing-cwan dengan gusar, cahaya pedang hijau segera berkelebat.

Tapi pemuda Tian Pek tidak melakukan gerakan apa2, sebaliknya ia terus berlutut dan menyembah tiga kali terhadap kakek Hoa dengan sikap yang sangat menghormat.

An-lok Kongcu menghela napas panjang, diam2 ia menggeleng kepala dan berlalu dari situ.

Senyura sinis tersungging pula di ujung bibir Mo-in-sin- jiu Siang Cong-thian, andaikata pemuda itu tetap berkeras kepala sampai akhir, kemungkinan besar mereka akan memberikan bantuannya, tapi tindakan pemuda itu sekarang sungguh tindakan yang pengecut dan memalukan, tak heran kalau sikap kedua orang itu seketika berubah jadi sinis, bahkan memandang hina pemuda itu.

Tui-hong-bu-ing Hoa Cing-cwan sendiripun tertegun, ia tarik kembali pedangnya.

Perlahan pemuda itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kantongan kecil, dari dalam kantongan ini dikeluarkannya sebuah bungkusan kecil yang terbuat dari kain sutera karena sudah terlalu lama, warna kain tersebut sudah luntur dan lusuh sekali. Dengai sikap yang serius dan hati2 ia angsurkan bungkusan kain sutera itu kehadapan Hoa Cing-cwan, sedang mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

An-lok Kongcu telah berada di luar hutra, ia sedang berpaling sambil berseru. "Siang- losu mari kita pcrgi,. "

Belum habis ia berkata, tiba2 dilihatnya Hoa Cing-cwan sedang menjura kepada pemuda Tian Pek dengan sikap yang kikuk dan sama sekali berbeda daripada sikapnya tadi, sinar matanya penuh pancaran rasa kaget dan heran, ia sambut kantong kain sutra itu dengan tangan yang gemetar.

Tian Pek tampak agak tertegun, tapi segera ia berkata dengan hormat: "Locianpwe, bagaimana kalau kau kembalikan pedang itu kepadaku?"

Sementara itu An-lok Kongcu telah membatalkan niatnya untuk pergi, dengan sorot mata heran2 kaget ia mengawasi kedua orang itu. demikian pula dengan Siang Cong thian, ia pandang rekannya dengan keheranan.

Mengejar angin tanpa bayangan alias si Maling Sakti Hoa Cing-cwan sedang memegang bungkusan kain tadi dsngan ter-mangu2, lama sekali tak berbicara, akhirnya orang tua itu menghela napas panjang, secepat kilat ujung pedang hijau berputar dan diarahkan ke tenggorokan sendiri, cahaya hijau berkelebat, darah segarpun muncrat.

Tanpa bicara apapun tokoh kosen yang amat disegani dalam dunia persilatan itu telah membunuh diri dan mati dalam keadaan mengenaskan, tangannya yang kurus itu masih menggenggam kain sutera itu, pedang mestika yang berwarna hijau bening tergeletak di atas dadanya, menyinari raut wajahnya yang mengerikan.

Peristiwa ini berlangsung dengan cepat dan sama sekali di luar dugaan, seketika semua orang termangu mangu, siapapun tak menduga Hoa Cing-cwan bisa bunuh diri, sebab bukan saja ia tak mengucapkan sesuatu sebelum perbuatan nekat itu, bahkan tanda2 ke situpun tak ada.

Mo in-sin-jiu adalah seorang jagoan yang ber-hati dingin, tak urung paras mukanya berubah juga menyaksikan kejadian teisebut, segera ia angkat jenazah rekannya, dilihatnya bekas luka di atas tenggorokan kakek itu sangat dalam, kepalanya terkulai, kulit nukanya berkerut seperti menahan rasa sakit yang luar biasa, mimik wajah itu entah disebabkan penderitaan sebelum ajal ataukah karena pergolakan emosi.

Angin dingin berhembus membuat badan Siang Cong- thian bergidik, ia berpaling, dilihatnya Tian Pek sedang berdiri kesima dengan muka pucat hijau, saking kagetnya pemuda itu sampai tak mampu berkata2.

Persahabatan Siang Cong-thian dengan Hoa Cing-cwan telah berlangsung puluhan tahun lamanya, memandangi jenasah rekannya yang berada dalam pangkuannya pelbagai kejadian terbayang dalam benaknya, ia tahu betapa watak Hoa Cing-cwan, kekerasan hati serta keteguhan iman mereka tak jauh berbeda, tak mungkin kawannya ini bunuh diri lantaran sesuatu pukulan batin.

Tapi apa sebabnya ia bunuh diri setelah melihat kantong kain sutera vang sudah lusuh tadi? Ia baringkan kembali mayat Hoa Cing-cwan, di-pentangnya tangan yang menggeggam kain sutera yang telah merenggut nyawa seorang tokoh dunia persilatan itu, kain itu diambilnya dan diperiksa dengan seksama.