Hati Budha Tangan Berbisa Jilid 22

 
Jilid 22

"Serahkan jiwamu!" mulut menghardik, gerakan Ji Bun laksana kilat berkelebat, dia membalik menyambut pukulan Ih Ciau yang kedua. "Plak", darah seketika menyembur dari mulut Ih Ciau, sambil menguak kesakitan tubuhnya sempoyongan ke belakang. Untung serangan pedang lain menghentikan serangan kepada Ji Bun lebih lanjut.

Tangan kiri melingkar, tangan kanan menggenjot, Ji Bun menggempur balik semua pedang yang menyerang dirinya dengan angin pukulan yang dahsyat, gesit sekali seperti harimau menerkam mangsanya, tahu-tahu dia melompat ke depan mencengkeram si orang tua berjenggot, Ih Ciau. Ih Ciau mengerahkan sekuat tenaga dan meronta untuk melepaskan diri, ternyata usahanya berhasil, segera ia angkat langkah seribu.

"Berdiri!" bentakan Ji Bun laksana geledek berkumandang di tepi telinga Ih Ciau. Tahu-tahu orangnya sudah menghadang di depannya, seketika pucat pasi muka Ih Ciau, dengan ketakutan dia menyurut mundur.

Sementara itu si pengemis tua beruban telah memberi aba-aba kepada anak murid Kay-pang, serentak mereka angkat senjata menyerbu maju.

Jago-jago pedang seragam hitam yang sejak tadi berbaris di luar garis hanya berjaga dan siaga saja, kini mereka terpaksa angkat senjata membendung serbuan para pengemis yang berontak dan melawan secara mati-matian. Di hadapan Ji Bun mereka seperti telur menumbuk batu, tapi terhadap anak murid Kay-pang mereka laksana harimau kelaparan. Murid Kay-pang yang menyerbu diobrak- abrik hingga kacau-balau. Hanya sekejap kedua pihak bentrok, banyak korban telah berjatuhan di pihak Kay-pang.

Sementara itu hari telah terang tanah, entah sejak kapan oborpun telah padam. Pertempuran besar secara membabi buta berlangsung terus dengan sengit di dalam hutan yang masih diselimuti keremangan kabut pagi. Beberapa jago pedang baju sutera masih mengelilingi ajang pertempuran Ji Bun yang menggasak Ih Ciau itu dan siap terjun membantu pimpinan mereka. Agaknya murid-murid Kay-pang juga tahu betapa kemampuan jago-jago pedang baju sutera ini, maka mereka hanya menggasak jago-jago pedang baju hitam saja. Tiada yang berani mengusik jago- jago pedang baju sutera, oleh karena itu korban yang jatuh di pihak mereka bisa dikurangi.

Mata Ji Bun sudah membara, amarahnya tidak terkendali lagi, ia menggerung seperti singa kelaparan, dia tetap menggunakan Tok- jiu-ji-sek. Ih Ciau diserangnya pontang-panting seperti kucing mempermainkan tikus.

"Huuuaaah!" di tengah teriakan panjang yang ngeri, Ih Ciau terlempar roboh binasa.

"Mundur!" salah seorang dari jago pedang baju sutera memberi aba-aba.

Ji Bun yang sudah telanjur marah, nafsunya sudah terkendali lagi. Hanya sekali putar tubuh, pemuda baju sutera yang memberi aba-aba tadi seketika disapunya roboh binasa, menyusul seorang lagi tubuhnya mencelat dan menyungsang diatas pohon karena pukulan Ji Bun yang dahsyat.

Luluh semangat tempur para Busu baju hitam tanpa diperintah mereka berlomba ngacir menyelamatkan jiwa masing-masing. Tapi murid-murid Kay-pang yang berjumlah lebih banyak telah mengerubut dengan ketat, dalam keadaan satu melawan lima orang atau lebih. Betapapun tinggi kepandaian mereka, akhirnya banyak juga berguguran di antara mereka. Lebih celaka lagi, setiap tangan Ji Bun bergerak tentu jiwa orang menjadi korban. Sekilas Ji Bun menyapu gelanggang. Busu tingkat baju sutera sudah tiada satupun yang ketinggalan hidup. Busu tingkat baju hitam yang masih bertahan mati-matian juga tinggal dua puluhan orang saja. Murid-murid Kay-pang yang berlipat jumlahnya tentu berkelebihan membabat mereka. Cepat dia menjejak kaki meluncur pergi meninggalkan gelanggang, di dalam hutan dia menemukan sebuah sungai kecil. Di sini ia membersihkan noda darah ditubuhnya serta membubuhi obat pada luka-lukanya, sekejappun Ji Bun tidak membuang waktu, bergegas dia berlari kencang menuju ke Siong san.

Kematian Thian-thay-mo-ki betul-betul menimbulkan pukulan yang amat hebat pada lahir batinnya, betapa dendam sakit hati sungguh tak terlampiaskan.

Dalam setengah hari dia sudah menempuh seratus li lebih. Kibaran panji kuning yang bertulisan huruf "arab" dari sebuah warung makan menimbulkan selera makannya, memang perutnya sedang keroncongan. Dia pikir, perut perlu diisi, setelah kenyang baru menempuh perjalanan pula.

Maka dia mampir ke warung makan ini, dipesannya sepiring daging rebus, seekor ayam goreng, dan dua poci arak. Seorang diri dia habiskan masakan dan minuman yang dipesannya. Arak yang masuk perutnya semakin mengobarkan dendam sakit hatinya.

Semula dia ingin sekedar istirahat dulu di warung makan ini, kini dia malah perlu arak lebih banyak. Beberapa poci telah ditenggaknya, pikirannya kini semakin butek, pandangannyapun menjadi kabur. Dengan ketajaman kuku jarinya dia coba menusuk kulit mukanya, terasa dan pati rasa, inilah pertanda taraf yang telah mendekati mabok. Tiba-tiba bayangan Than-thay-mo-ki nan semampai berkelebat di depan matanya. Ingin dia menjerit tangis sepuas- puasnya, dia ingin bunuh seorang untuk melampiaskan rasa penasaran ini, dia ingin melihat darah, darah merah menyolok dari badan para musuhnya.

Tiba-tiba pandangannya yang kabur melihat sesosok bayangan orang, seorang yang berkedok berjubah sutera biru. Dia kira bayangan ini hanya dalam khayal belaka, setelah kucek-kucek mata, bayangan itu tetap tidak lenyap. Arak yang masuk perutnya seketika gemerobyos keluar menjadi keringat dingin, dengan menahan meja dia berjingkrak berdiri, biji matanya melotot, mukanya beringas diliputi nafsu membunuh. Suaranya yang kereng gemetar sepatah demi sepatah tercetus dari mulutnya: "Murid murtad. kalau tidak kuleburkan tubuhmu, aku bersumpah tidak jadi manusia."

Seluruh perhatian tamu-tamu yang lain seketika tertuju kearahnya. Lekas pelayan memburu maju, katanya dengan menyengir kecut: "Tuan tamu, harap bersabar, warung kami kecil

........”

"Minggir!" bentak Ji Bun sambil mendorong. Pelayan itu sempoyongan mundur kepojok sana dan berdiri dengan melongo.

Suara yang telah amat dikenal serta diharapkan siang dan malam, tiba-tiba tercetus dari mulut orang berkedok jubah biru: "Nak, kau kenapa?" Suaranya penuh diliputi rasa sedih dan

kasihan. Bergetar sekujur badan Ji Bun, nafsu membunuh yang sudah menyala seketika padam. Kini hatinya berganti haru penuh emosi. "Yah, kaukah ini?" serunya.

"Nak, masakah diriku tidak kau kenal lagi?" "Betulkah kau ini?"

"Nak, marilah bicara di luar saja."

Semula Ji Bun curiga akan perbuatan Ngo-hong Kaucu yang licik dan licin itu. Kini terbukti orang yang berdiri dihadapannya betul- betul adalah ayahnya, saking haru kaki tangan terasa lunglai tanpa terbendung air mata bercucuran.

Orang berkedok merogoh keluar pecahan uang perak dan ditaruh di meja sebagai pembayaran makan minum Ji Bun. lalu putar badan mendahului keluar.

Seperti di dalam mimpi saja, dengan langkah bergontai Ji Bun ikut keluar.

Konon ayahnya dikurung di markas Ngo-hong-kau, cara bagaimana mendadak dia bisa lolos dan muncul di sini?

Berjalan tidak lama, akhirnya ia memasuki hutan di pinggir jalan. Berhadapan dengan sang ayah yang berulang mengalami petaka ini, rasa curiga dan waspadanya tidak pernah lenyap, pengalaman getir beberapa kali yang telah terjadi menimbulkan syak dalam benaknya. "Yah, bukankah kau terkurung di markas Ngo-hong-kau?" tanyanya kemudian.

"Ya, untung aku berhasil meloloskan diri." "Bagaimana ibu?"

"Nak aku akan berusaha menolongnya."

"Apakah beliau tidak mengalami siksaan dan derita?" "Di sana aku tidak pernah melihatnya."

"Yah, siapakah sebetulnya Ngo-hong Kaucu itu?" "Ini ayah sendiri juga tidak tahu."

"Ayah seharusnya tahu?" "Kenapa aku harus tahu?"

"Darimana dulu ayah mendapat pelajaran ilmu beracun?" "O, soal ini? ..... ayah belajar dari Ngo-hong Kaucu "

Ji Bun semakin heran dan curiga, suaranya gemetar: "Tapi ayah bilang tidak kenal siapa dia?" 21.62. Ibumu .... Tok-keng .... Paderi Siau-lim ....

"Nak, dengarlah penjelasanku. Waktu itu tanpa sengaja aku berjumpa dengan dia. Dia seorang misterius, tak pernah mau memperlihatkan wajah aslinya, demikian juga asal usulnya tetap dirahasiakan sampai sekarang."

"Lalu kenapa dia mengurung kau?"

"Hendak menarik balik ilmu yang ia ajarkan padaku," sembari bicara pelan-pelan tangan orang berkedok menepuk pundak Ji Bun serta menambahkan dengan sedih: "Nak tentunya kau banyak menderita selama ini?"

Sudah tentu bergetar jantung Ji Bun, namun terasa oleh nalurinya bahwa tepukan tangan orang orang tidak bermaksud  jahat, maka timbul rasa penyesalan dalam lubuk hatinya. Entah sudah berapa lamanya, tak pernah dia diraba lagi oleh tangan- tangan ini, sebesar ini tak pernah pula dia memperoleh bujuk dan kata-kata halus yang sedemikian besar perhatiannya. Sejak lama dia mengira selama ini takkan bertemu pula dengan ayah kandung sendiri, sungguh tak nyana secara ajaib hari ini dia berjumpa pula dengan beliau. Rasa duka seketika merangsang hatinya, tak tertahan air mata berlinang-linang. Banyak kata-kata yang ingin dilimpahkan, banyak persoalan yang ingin dia tanyakan. tapi kejadian ini benar- benar di luar dugaan sehingga dia tak tahu dari mana dia harus mulai bicara, entah soal apa pula yang harus dibicarakan.

Berkata orang berkedok dengan suara lembut: "Nak, kabarnya kepandaianmu sekarang teramat hebat, apakah kau ketiban rejeki?" Ji Bun hanya manggut-manggut. "Bisakah kau jelaskan kepada ayahmu?"

"Yah, dilarang oleh aturan perguruan, maaf anak tidak bisa menjelaskan," bukan kepalang sesal hati Ji Bun. Betapapun dia tak boleh membocorkan rahasia Ban-tok-bun, walau terhadap ayah kandung sendiri, aturan perguruan lebih penting. Demi menghilangkan rasa canggung, cepat dia mengalihkan pembicaraan ke persoalan lain: "Yah, dulu kau bilang yang membantai orang- orang Jit-sing-po kita adalah Siangkoan Hong dan orang-orangnya."

"Memang, kenapa?"

"Anak sudah menyelidiknya." "Siapa pelakunya?"

"Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun."

Orang berkedok menyurut mundur, teriaknya kaget: "Mana mungkin? Dia masih hidup?"

"Dia sendiri yang mengatakan kepadaku!" "Di mana dia sekarang?"

"Di Wi-to-hwe." "Kau tidak membunuhnya?"

"Ada sebab-sebab khusus terpaksa anak melepas dia, kelak pasti akan kuganyang dia "

Selama ini tangan orang berkedok masih berada di atas pundak Ji Bun, katanya setelah menghela napas panjang: "Nak, perbuatan ayah dulu memang terlalu, aku ...... amat menyesal "

Inilah kata-kata yang diharap-harapkan oleh Ji bun, kini mendengar ayahnya mengaku salah dan bertobat, keruan hatinya amat terharu, katanya: "Kejadian sudah berselang, tak perlu dibicarakan lagi."

"Nak, seorang hanya hidup sekali, jangan kau berbuat salah, sekali salah menyesal untuk selama-lamanya."

"Yah, tanggalkan kedokmu, biar aku melihat wajahmu?" "Nak "

Tiba-tiba Ji Bun merasakan Bing-bun-hiat terkena tutukan jari yang amat keras, rasa sakit seketika merangsang badan dan menusuk ulu hati. Belum lagi dia sempat berpikir apa yang terjadi, seketika dia menggerung roboh.

"Huaahaha. " orang berkedok tiba-tiba tertawa, suaranya

bergelombang seperti bunyi kokok-beluk di malam sunyi, seperti serigala melolong kelaparan di malam hening, suaranya menusuk telinga. Sebelum lenyap kesadaran Ji Bun, dada terasa seakan meledak saking gusar dan gemas. Segalanya telah habis, sedikitpun ia tidak pernah menduga kesalahan yang pernah terjadi kini terulang kembali atas dirinya. Hari ini dia betul-betul terjungkal di tangan musuh yang satu ini. Sekuat tenaga dia berontak mempertahankan diri, namun dia tersungkur roboh pula, terasa bumi berputar, kepala pusing tujuh keliling.

Bagaimana mungkin orang bisa menyaru begini mirip ayahnya? Mata Ji Bun beringas, suaranya serak: "Kau ..... kau hina dina

........”

"Nak," ujar orang berkedok ketawa sinis, "jiwamu memang rangkap dua belas, mati dapat hidup kembali, tapi hari ini keajaiban itu takkan terulang lagi ”

"Tutup mulutmu, Ngo-hong Kaucu, kau sendiri akan memperoleh ganjaran setimpal."

"Ganjalan apa? Nak, ha ha ha ha "

Menyesal dan kebencian sekaligus menyiksa batin Ji Bun, kalau ayahnya betul sudah tertawan musuh, mana mungkin bisa melarikan diri dengan mudah? Dan dirinya begini gampang ditipu oleh musuh yang licik dan licin, memang keajaiban takkan terulang kembali. Kali ini dia betul-betul roboh habis-habisan. Segala dendam dan budi akau lenyap ditelan masa dan dibawa ke liang kubur. Satu hal yang membuatnya amat penasaran adalah Ban-tok-bun bakal putus turunan di tangannya dan ilmu beracun bakal menjadi alat terampuh  bagi murid murtad ini untuk merajalela dengan segala kejahatan di Kang-ouw. Para Suco dari beberapa generasi terdahulu akan menyesal di alam baka.

"Anak muda," kata orang berkedok sinis dingin, "sudah kuperintahkan untuk menukar ayah bundamu dengan batok kepala Siangkoan Hong beserta isterinya dan kau sengaja membangkang malah berusaha melawan, terpaksa aku harus bersiasat menamatkan riwayatmu."

Sedapat mungkin Ji Bun pertahankan hawa murni dalam tubuhnya yang sudah mulai buyar, teriaknya beringas: "Semoga para Suco menjatuhkan sumpah dan kutukannya di alam baka, kelak kau akan mendapat ganjaran yang setimpal."

"Suco? Hehehe! Hahaha! Ji Bun, tak nyana bahwa kau telah masuk parguruan Ban-tok-bun, maka kau harus mampus lebih cepat lagi."

"Aaaaah " rasa sakit yang tak kepalang membuat Ji Bun

menjerit sejadi-jadinya, darahnyapun menyembur dari mulutnya, begitu hawa buyar seketika dia jatuh semaput. Betapapun penasaran dan kebencian masih mempertahankan daya hidupnya, dia tidak rela mati begini saja, dengan cepat ia sudah siuman kembali cuma keadaannya lemas lunglai.

Ngo-hong Kaucu terkekeh-kekeh, lalu herkata: "Nak, demi hidupku, maka kau harus mati, ini merupakan hukum alam yang adil, mungkin takdir memang menghendaki nasibmu sejelek ini." Ji Bun mencucurkan air mata berdarah. Untunglah pada detik- detik yang gawat ini, beberapa bayangan orang tiba-tiba muncul bersama, lapat-lapat dia masih mengenali. bayangan yang berlari mendatangi adalah Wi-to-hwecu Siangkoan Hong, Hun-tiong Siancu dan Thong-sian Hwesio, demikian pula orang dalam tandu Toh Ji- lan, masih ada pula yang tak dikenalinya lagi dan akhirnya dia

kehilangan kesadaran.

Entah berapa lama kemudian, pelan-pelan dia siuman kembali, bayangan orang banyak berkelebatan di depan matanya. Lama sekali pandangannya yang semula remang-remang mulai jernih dan terang, dilihatnya orang-orang yaag mengelilingi dirinya ternyata adalah rombongan Siangkoan Hong. Jadi dirinya tertolong oleh musuh? Dengan menggertak gigi ia mendesis dan tanya: "Mana Ngo-hong Kaucu?

"Sayang dia berhasil lolos lagi," ujar Hun-tiong Siancu gegetun.

Ji Bun pejamkan mata memulihkan tenaga dan memusatkan pikiran, dia maklum, kalau dalam tubuhnya tiada darah Thian-thay- mo-ki, setelah Bing-bun-hiat tertutuk, walau jiwa sendiri rangkap dua belas juga sudah lama mati. Untunglah rombongan Siangkoan Hong keburu datang, kalau tidak hari ini pasti jiwanya betul-betul sudah melayang oleh kekejian Ngo-hong Kaucu. Dia coba mengerahkan tenaga dan menyalurkan hawa murni yang telah buyar, syukurlah Lwekangnya masih ada, cuma teramat lemah.

Waktu ia membuka mata pula, dia berkata dengan tertawa getir: "Kenapa kalian menolong aku?" Dingin suara Wi-to-hwecu Siangkoan Hong: "Anggaplah kita menghadapi musuh bersama."

Dengan mengertak gigi Ji Bun gunakan kedua tangannya menahan tanah, pelan-pelan dia meronta bangun.

Setajam pisau pandang kilat Siangkoan Hong menyapu tubuh Ji Bun, katanya: "Ji Bun, aku punya seratus alasan untuk membunuhmu."

"Lalu kenapa kau tidak turun tangan?" jengek Ji Bun. "Memalukan jika kubunuh dalam keadaanmu sekarang, kaum

persilatan akan mencercah perbuatanku dan lagi maukah kau

bekerja sama dengan kami?" "Kerja sama apa?"

"Sementara kesampingkan dulu permusuhan pribadi antara kita, marilah kita bersama melenyapkan bisul dunia persilatan lebih dulu."

"Tidak!"

"Kau tidak mau?"

"Aku akan bertindak sendiri."

Hun-tiong Siancu mendengus, jengeknya: "Ji Bun, mati hidup jiwamu sendiri kau tidak kuasa lagi?" "Kalau kalian mau turun tangan, aku tidak gentar mati," tantang Ji Bun.

"Ji Bun, angkuh dan sombong tak berguna bagimu."

"Aku tidak pernah pikirkan soal guna atau tidak berguna."

"Kau tahu betapa banyak orang yang ingin mencabut nyawamu?" "Cayhe maklum, kebaikan kalian hari ini akan selalu terukir dalam

benakku."

"Pendek kata saja. Kau mau bekerja sama?" "Tak mungkin aku mengubah pendirianku."

"Kalau demikian, lekaslah pergi kau, aku tidak ingin membunuhmu sekarang."

"Terima kasih, selamat bertemu!" dengan langkah gontai Ji Bun melangkah ke dalam hutan. Tujuannya ingin mencari tempat sepi dan tersembunyi untuk berusaha berobat diri. Dalam keadaannya sekarang, kalau kebentur salah seorang jago Ngo-hong-kau, pasti jiwanya bisa celaka. Tapi baru beberapa langkah, tiba-tiba terdengar suara Wi-to-hwecu berkata di belakang: "Tunggu sebentar!”

Ji Bun menoleh, tanyanya: "Hwecu menyesal melepas aku pergi?

Atau ada petunjuk apalagi?" "Racun yang kau gunakan, agaknya mirip dan satu sumber dengan Ngo-liong Kaucu?"

Mencelos hati Ji Bun, tidak boleh mengaku, namun juga sulit menyangkal. Sesaat dia melenggong lalu berkata: "Betapa banyak manusia yang menggunakan racun di dunia ini, satu sama lain memang hampir mirip."

Wi-to-hwecu manggut-manggut, katanya pula dengan suara berat: "Tentunya kau tidak menyangkal kalau Ngo-hong Kaucu merupakan bibit bencana bagi kaum persilatan? Oleh karena itu sebagai ketua Wi-to-hwe aku mengajukan permohonan padamu

......”

"Mengajukan permohonan kepada Cayhe?" Ji Bun melengak. "Ya, kalau Te-gak Suseng hidup demi kesejahteraan umat

persilatan umumnya, kuharap kau menerima permohonanku ini."

"Coba Hwecu katakan?"

"Kuminta kau sudi memberitahu cara untuk mencegah keracunan."

Hal ini amat di luar dugaan, bahwa Wi-to-hwecu mengajukan permohonan kepada dirinya, berdiri di atas garis persilatan. Demi jiwa beratus insan persilatan yang tidak berdosa, dia harus menerima permintaan ini, akan tetapi pemohon adalah musuh besarnya. Berkata Wi-to-Hwecu lebih lanjut: "Permohonanku ini kuajukan demi keadilan dan kebaikan insan persilatan umumnya, takkan menyangkut kepentingan pribadi."

Ji Bun berpikir, Ngo-hong Kaucu adalah murid murtad seperguruannya, kalau dia menggunakan racun mencelakai jiwa orang banyak, jelas melanggar aturan dan larangan perguruan. Betapapun dirinya sebagai pejabat Ciangbun pantang berpeluk tangan, oleh karena itu segera ia mengangguk dan berkeputusan, katanya: "Boleh!"

"Syukurlah, terlebih dulu kuucapkan banyak terima kasih." "Tidak perlu. Tapi satu hal harus kutandaskan lebih dulu,

pertikalan pribadi antara kita tetap harus diperhitungkan?"

"Sudah tentu, tadi juga sudah kukatakan, permohonan ini tidak menyangkut kepentingan pribadi."

Ji Bun merogoh obat-obatan pemberian kakek gurunya waktu dia mau turun gunung, ia lemparkan ke arah Siangkoan Hong, katanya: "Sebutir saja masuk mulut, kasiatnya dapat menawarkan seratus macam racun.”

Siangkoan Hong menerimanya, katanya: "Kaum persilatan akan berterima kasih akan kesucian hatimu ini."

Tindakan dan sikap Ji Bun betul-betul membuat semua orang yang hadir ini amat terharu dan berterima kasih. Sekilas Ji Bun menyapu pandang ke arah mereka baru pelan-pelan putar badan, tak keruan perasaannya. Dia pernah menolong jiwa Siangkoan Hong dan puterinya, tapi Siangkoan Hong juga pernah menolong jiwanya. Kelak dalam pertemuan yang akan datang, pihak sana tidak akan memberi keringanan sedikitpun terhadap ayahnya. Sudah tentu sebagai putera yang harus berbakti terhadap orang tua, dirinya tidak boleh berpeluk tangan, permusuhan pribadi kaum persilatan memang luar biasa.

Ia dapat menemukan sebuah lubang dahan pohon besar, segera dia menyelinap masuk. Ia mengerahkan hawa murni dan menjalankan penyembuhan menurut ajaran perguruan. Kalau orang lain setelah Bing-bun-hiat ditutuk tentu sejak lama jiwanya sudah melayang, bahwa Ji Bun mampu bertahan hidup selama ini adalah karena darah yang mengandung "getah naga batu" yang disalurkan oleh Thian-thay-mo-ki. Esoknya, pagi-pagi benar Ji Bun berhasil menyembuhkan diri.

Keluar dari lubang pohon dia menggeliat badan lalu menyapu pandang ke sekelilingnya, tiba-tiba dia menjerit kaget. Tampak lima sosok mayat bergelimpangan tak jauh dari lubang pohon di mana semalam ia bersemadi. Kelima mayat itu berpakaian sutera, dari seragam ini jelas bahwa mereka adalah anggota Ngo-hong-kau setingkat dengan Duta. Bagaimana kelima orang ini bisa mati di sini? Semalam suntuk dirinya sibuk bersemadi menyembuhkan luka-luka dalam sendiri, sedikitpun tidak merasakan adanya kegaduhan di luar. Kalau kelima orang ini mencari jejaknya, itu berarti jiwanya telah lolos dari lubang jarum pula. Lalu siapakah orang yang membantu secara diam-diam? Kepandajan jago seragam sutera ini termasuk kelas wahid dalam kalangan persilatan, tak mungkin dibunuh oleh sembarangan orang, apalagi mereka berlima. Lalu siapakah orang yang telah membunuh mereka? Rombongan Siangkoan Hong?

Mendadak satu di antara kelima mayat tampak bergerak.

Agaknya jiwanya belum melayang. Sekilas Ji Bun terbeliak, cepat dia menubruk maju, begitu jongkok segera ia memeriksa, pemuda yang belum putus napasnya ini. Ternyata keadaannya jauh lebih parah dan mengerikan daripada keempat mayat yang lain. Sebatang pedang menembus punggung ke depan dadanya, tubuhnya penuh luka-luka, sebaliknya empat mayat yang lain utuh tidak sesuatu luka apapun.

Dengan seksama dia memeriksa, kembali ia meloncat kaget, ternyata keempat mayat yang lain ini mati karena keracunan. Sungguh luar biasa, mungkinkah yang menolong dirinya ahli racun? Terbukti bahwa dugaanya semula meleset, karena Siangkoan Hong dan lain-lain tiada yang pandai menggunakan racun. Walau Cui Bu- tok seorang ahli dalam bidang ini, tapi jago racun ini tiada dalam rombongan Siangkoan Hong, dan lagi dia hanya menyembuhkan orang-orang yang keracunan, tak pernah menggunakan racun untuk mencelakai jiwa orang. Lalu siapakah yang melakukan ini? Segera dia memeriksa lagi pemuda yang badannya tertembus pedang serta membalik tubuhnya.

"Haah!" tiba-tiba Ji Bun berteriak kaget, bulu romanya berdiri, napaspun terasa berhenti seketika. Oh Thian, pemuda baju sutera yang tertusuk pedang dadanya ternyata adalah kakak angkatnya, Sian-tian-khek Ui Bing yang ditugaskan oleh gurunya menyelundup ke dalam Ngo-hong-kau itu, luka pedang yang begini parah, jelas jiwanya tak tertolong lagi. Tubuh Ji Bun sampai limbung saking terpukul hatinya, sekian lamanya dia berdiri mematung.

Kaki tangan Ui Bing tampak bergerak-gerak, "Toako, toako," Ji Bun berteriak-teriak dengan pilu. Lekas dia tutuk beberapa Hiat-to ditubuh Ui Bing, lalu dia tekan urat nadinya dan salurkan tenaga ke tubuh orang. Lambat laun wajah Ui Bing yang pucat bersemu merah, napaspun bertambah keras dan mulai teratur. Kalau Ji Bun sedikit lena dan kurang berhati-hati jiwa Ui Bing pasti akan melayang seketika. Dengan bercucuran air mata, dengan sabar dan tekun Ji Bun terus salurkan tenaga murninya. Kira-kira setengah jam kemudian, pelan-pelan Ui Bing membuka mata, sorot matanya kuyu dan redup.

"Toako, Toako, aku Ji Bun, keraskan hatimu!" teriaknya sambil menggoyang pundak orang. Pandangan Ui Bing yang redup akhirnya berhenti di wajah Ji Bun. Lama sekali seolah-olah dia tak mengenali orang di depannya. Kulit mukanya tampak bergerak, sekuatnya dia menggerakkan bibir, mungkin ingin bicara, namun suaranya tidak keluar, sorot matanya menampilkan penderitaan yang luar biasa.

Ji Bun terus salurkan tenaga murninya, dia berharap sedikitnya Ui Bing meninggalkan sesuatu pesan sebelum ajal. Tak lama kemudian, tenggorokan Ui Bing mulai bersuara, namun kata-katanya lemah dan lirih seperti bunyi nyamuk, hampir tidak terdengar apa yang dikatakan. Ibumu .... ibumu " Mendengar ibunya disinggung, mengencang jantung Ji Bun, napaspun menjadi sesak, katanya dengan cemas, "Toako, bagaimana ibuku? Kenapa ibuku?"

Ui Bing tampak meronta, dia sedang berusaha sekuat tenaga, akhirnya beberapa patah kata tercetus pula dari mulutnya: "Tok- keng ....... paderi Siau-lim ”

Hampir melonjak keluar jantung Ji Bun, Tok-keng adalah kitab pusaka perguruannya, kini dirinya mengemban tugas perguruan untuk mencari pusaka ini, maka cepat dia mendesak: "Tok-keng kenapa? Apakah terjatuh ke tangan paderi Siau-lim ”

Tak terduga tiba-tiba kepala Ui Bing lantas doyong ke samping, jiwapun melayang.

Bagai terpeleset dan kejeblos ke jurang es yang dingin, sekujur badan Ji Bun seketika menggigil. Ui Bing telah mangkat, namun meninggalkan teka-teki yang tak terpecahkan.

Dua murid Biau-jiu Siansing Ciang Wi-bin secara beruntun gugur dalam menunaikan tugas, mereka mati demi keselamatan kaum persilatan yang lain.

Entah berselang berapa lamanya barulah Ji Bun menangis gerung-gerung, untuk pertama kali sejak berkelana di dunia persilatan. Dia menangis dengan pilu, sekaligus melampiaskan duka hatinya selama ini, namun tangis ini tidak bisa sekaligus melenyapkan penderitaan batinnya. Belum genap setahun berkenalan dan angkat saudara dengan Ui Bing, namun Ui Bing tak ubahnya seperti saudara sekandung sendiri bagi Ji Bun.

Siapakah pembunuhnya? Kalau pembunuh bertujuan menolong dirinya dan tidak mengetahui asal-usul Ui Bing, maka kematiannya sungguh terlalu penasaran. Itu berarti kematian Ui Bing secara tidak langsung disebabkan dirinya pula. Sudah tentu di samping sedih hatinyapun menyesal pula, derita hatinya bertambah getir.

Apapun yang terjadi, sebab dari semua peristiwa ini adalah akibat kejahatan yang dilakukan Ngo-hong Kaucu. Satu jam Ji Bun berdiri terlongong baru dia menyeka air mata. Di tempat itu juga dia menggali liang lahat mengebumikan jasad Ui Bing dengan jari tangan dia mengukir batu sebagai nisan.

Kuatir jenazah Ui Bing mengalami kerusakan karena diganggu orang, maka Ji Bun juga mengubur keempat mayat yang lain di tempat itu, tapi tidak membuat batu nisan, cukup ditutupi dengan dedaunan serta gundukan tanah tinggi saja. Selesai bekerja dia berlutut dan memberi penghormatan terakhir di depan pusara Ui Bing, lalu dia duduk tenggelam dalam renungan yang mendalam.

"Ibumu ...... Tok-keng .... paderi Siau-lim " Apa maksudnya?

Mungkinkah ibunya telah lolos dari cengkeraman jari-jari iblis serta membawa lari Tok-keng? Lalu apa pula maksudnya "paderi Siau- lim"? Tempat ini jauh dari Siong-san, bukan lingkungan yang dikuasai oleh orang-orang Siau-lim pula, apalagi pihak Siau-lim-pay selamanya tak pernah ikut berkecimpung dalam pertikaian orang- orang persilatan, murid-muridnya amat patuh pada peraturan agama.

Begitulah pikirannya hanya berputar dalam lingkaran ketiga persoalan ini. Paderi Siau-lim? Tok-keng? Ya, maksudnya tentu Tok- keng terjatuh ke tangan paderi Siau-lim. Sebagai murid tertua Biau- jiu Siansing, sudah tentu kepandaiannya dibidang teramat tinggi, umpama dia berhasil mencuri Tok-keng. Kemudian Tok-keng itu terjatuh pula ke tangan paderi Siau-lim, ini mungkin sekali, mereka berlima mengalami bencana sehingga jiwa melayang, kebetulan paderi lewat, begitu melihat Tok keng, tentu saja mereka lantas mengambilnya.

Kemungkinan pula paderi itu adalah pembunuh kelima orang tujuannya merebut Tok-keng. Beruntung dirinya sembunyi di dalam lubang pohon, malam gelap lagi sehingga jejaknya tidak diketahui orang. Betapapun untuk membongkar rahasia ini harus mulai dari paderi-paderi Siau-lim, betapapun juga Tok-keng pantang jatuh ke tangan orang lain.

Tentang, ibunya yang disinggung Ui Bing, sejauh ini Ji Bun masih belum mampu memecahkan soalnya. Biarlah hal ini ditunda setelah rahasia tentang Tok-keng dibongkar dari mulut paderi Siau-lim, bukan mustahil kunci dari semua perisiwa ini terletak di tangan paderi Siau-lim itu. Namun paderi Siau-lim yang dimaksud hanya seorang atau ada beberapa orang, hal ini sukar diraba.

Menuju ke Siau-lim-si. Dalam hati Ji Bun sudah berkuputusan.

Tujuan perjalanan kali ini sebetulnya menagih utang darah terhadap Ngo-hong-kau, markas Ngo-hong-kau ada di belakang puncak Siong- san, sedang Siau-lim-si berada di depan. Jadi seperjalanan, sekaligus dia bisa menyelesaikan kedua persoalan ini.

Bergegas dia berdiri, di depan pusara Ui Bing ia menggumam: "Toako, tenanglah istirahat aku akan pergi, persoalan akan kuselidiki supaya kau mati dengan tenteram " Tak kuasa Ji Bun

melanjutkan kata-katanya, air mata membuat pandangannya burem, duka cita membuat tenggorokannya tersumbat.

Tak lama kemudian Ji Bun sudah keluar dari hutan dan menempuh perjalanan ke arah timur. Karena kepedihan yang luar biasa dan terangsang oleh pukulan lahir batin ini, Ji Bun sampai lupa tidak merasakan lapar dan dahaga. Sehari semalam dia menempuh perjalanan tanpa istirahat, tidak berani berhenti, dia kuatir dirinya bisa gila dibuatnya.

Hari itu, menjelang magrib, Ji Bun tiba di depan gunung di mana Siau-lim-si berada. Dua paderi setengah baya segera muncul menghadang, seorang merangkap tangan menyapa: "Entah ada keperluan apa Sicu berkunjung ke biara kami?"

"Cayhe minta bertemu dengan Ciangbunjin kalian," jawab Ji Bun dingin.

"Menemui Ciangbunjin? Tolong tanya ada keperluan apa?" "Soal itu kau tidak perlu tahu." Terunjuk rasa kuatir pada roman kedua paderi itu, salah satu paderi itu buka suara pula: “Lalu bagaimana Siauceng harus memberi lapor?"

"Katakan saja, aku Te-gak Suseng mohon bertemu."

21.63. Pertanggungan Jawab Paderi Siau-lim-si

Berubah hebat air muka kedua paderi itu, tanpa berjanji mereka menyurut mundur berbareng sikapnya kelihatan kaget dan jeri.

Duka dan kebencian telah terlebur dalam benak Ji Bun, tapi dia masih ingat dirinya sebagai pejabat Ciangbunjin dari suatu aliran, maka dia perlu menggunakan tata krama, mohon bertemu dengan cara umum, walaupun dalam hati dia tidak sabar lagi. Maka segera dia menambahkan: "Cayhe tidak sabar menunggu terlalu lama."

Kedua paderi tak berani banyak bicara lagi, keduanya putar badan terus berlari ke atas gunung dengan cepat bagai terbang. Ji bun melangkah pelan-pelan menaiki undakan batu yang memanjang ke arah pintu biara besar. Tepat pada saat dia tiba di depan pintu biara, seorang paderi tua kebetulan menyongsong keluar. Melihat paderi tua ini, Ji Bun lantas mengenalnya, yaitu It-sim Taysu ketua Lo-han-tong, waktu Wi-to-hwe berdiri dahulu mereka pernah bertemu sekali. Cepat ia merangkap tangan memberi hormat: "Selamat bertemu Taysu!" Dengan kaget dan sangsi It-sim pandang Ji Bun sebentar, lalu iapun merangkap kedua telapak tangan di depan dada, suaranya berat: "Sicu berkunjung, entah ada petunjuk apa?"

"Untuk memecahkan sebuah persoalan umum, terpaksa mohon bertemu dengan Ciangbun kalian.”

"Persoalan umum? Mari silakan duduk di dalam sambil menikmati secawan air teh," lalu ia menggeser ke samping memberi jalan.

Kembali Ji Bun bersoja, katanya: "Taysu silakan tunjukkan jalan." Lalu dengan langkah tegap sambil menegakkan kepala Ji Bun melangkah ke dalam biara. Mereka langsung menyusuri pendopo Wi- tho-tian, paderi penyambut tamu segera menyambut. Sekilas dia memandang It-sim Taysu, lalu menuding ke kamar kiri sana, katanya: "Silakan Sicu menunggu di kamar tamu."

Otak Ji Bun bekerja, kadatangannya bukan bertamu, maka dengan dingin dia berkata: "Tidak usah, urusan ini amat penting, tak bisa aku tinggal terlalu lama di sini."

It-sim Taysu melangkah setindak, katanya: "Maksud Sicu "

"Sekarang juga Cayhe mohon bertemu dengan Ciangbunjin." "Bolehkah Sicu beritahu dulu persoalannya, kalau dapat

kupertanggung jawabkan, kukira tidak perlu mengganggu ketenangan Ciangbunjin lagi?" "Aku yakin Taysu takkan berani bertanggung jawab dan ambil keputusan."

Berubah rona muka It-sim Taysu, katanya mendesak: "Coba Sicu katakan saja."

"Ada orang pihak kalian telah membunuh serta mencuri pusaka kami."

It-sim Taysu kaget sekali, tanpa terasa dia menyurut dua langkah, serunya gemetar. "Membunuh dan mencuri? Barang apa yang dicuri? Siapa pula yang dibunuh?"

"Yang dicuri adalah Tok-keng jilid pertama, yang dibunuh adalah lima duta Ngo-hong-kau."

"Hah, adakah kejadian ini sicu saksikan sendiri?"

"Boleh dikata demikian, salah seorang korban membeber peristiwa ini sebelum ajal."

"Kenapa sedikitpun aku tidak tahu akan kejadian ini?" "Maka itulah aku ingin bertemu dengan Ciangbunjin."

Sejenak It-sim Taysu menepekur akhirnya dia mengulap tangan kepada paderi penyambut tamu, katanya: "Laporkan kepada Ciangbunjin." Setelah paderi penyambut tamu berlalu, It-sim berkata pula kepada Ji Bun: "Harap tunggu sebentar!" Lekas sekali paderi penyambut tamu sudah berlari keluar pula, serunya: "Lapor susiok, Ciangbunjin sedang menunggu akan kedatangan tamu."

It-sim berdehem sekali lalu berkata: "Silakan Sicu."

Setiba di Tay-hiong-po-tiam (pendopo agung) tampak suasana di sini amat khidmat. Seorang paderi tua yang mengenakan kasa kuning emas tampak duduk dengan angkernya. Di belakangnya berdiri berjajar 12 paderi bertubuh tegap kereng, agaknya para pelindung pribadi Siau-lim Ciangbun.

It-sim memburu maju serta menjura sekali terus mundur ke samping. Ji Bun mendekat serta memberi hormat, serunya: "Ji Bun angkatan muda dari Bu-lim, menyampaikan salam hormat pada Ciangbunjin yang mulia."

Suara Siau-lim Ciangbun nyaring seperti genta bertalu, katanya: "Sicu tak usah banyak adat, silakan terangkan maksud kedatanganmu.”

"Beberapa hari yang lalu, di jalan raya Cu-ping, terjadi perampokan dan pembunuhan. Salah seorang korban yang belum mati menerangkan, bahwa yang melakukan kejahatan adalah murid perguruan kalian, maka sengaja aku kemari mohon penjelasan, harap Ciang-bunjin mengadakan penyelidikan tentang kejadian ini."

Berkerut alis ketua Siau-lim-si itu katanya: "Apakah Sicu itu tidak salah dengar obrolan orang ” "Pasti tidak, "jawab Ji Bun dingin, "Cayhe yakin apa yang dikatakan sang korban seratus persen dapat dipercaya."

"Sebagai Ciangbunjin aku berani mengatakan dengan tegas bahwa murid perguruan kami takkan berani melakukan kejahatan seperti itu."

"Ciangbunjin tidak terlalu yakin terhadap diri sendiri?" "Beberapa hari belakangan ini, tiada murid kami yang keluar

pintu "

"Mungkinkah tiada yang di luar?"

"Sudah tentu ada, yaitu Go-goan Taysu, tertua dari Houhoat Tianglo, mungkinkah dia melakukan kejahatan ini?"

"Sulit dikatakan."

Berubah rona muka Siau-lim Ciangbun, bentaknya keras: "Sicu tidak percaya?"

"Apakah Go-goan Taysu sudah pulang?" tanya Ji Bun. "Baru tadi dia pulang."

"Bolehkah mengundangnya keluar untuk bicara?"

Sedikit angkat sebelah tangan, salah seorang paderi dibelakang Ciangbunjin segera membungkuk badan terus mengundurkan diri. Tak lama kemudian dia kembali bersama seorang paderi tua beralis putih, bertubuh tinggi dan berpundak lebar. Dari kejauhan dia mengawasi Ji Bun, lalu memberi hormat kepada Ciangbunjin, katanya: "Entah ada keperluan apa Ciangbunjin mengundangku kemari?”

Siau-lim Ciangbun mengulangi tuduhan Ji Bun, tampak Go-goan Taysu menyebut Buddha, katanya: "Tecu tidak tahu menahu tentang kejadian ini."

Amarah membakar dada Ji Bun. Omongan Ui Bing tidak akan salah, pula Go-goan Taysu kebetulan baru tadi kembali ke biara. Waktunya tepat satu sama lain, namun mereka mungkir secara tegas. Maka dengan dingin dia berkata: "Lalu bagaimana keputusan Ciangbunjin terhadap peristiwa ini?"

Siau-lim Ciangbun tampak kurang senang oleh pertanyaan ini, katanya: "Lalu bagaimana aku harus bertindak menurut pendapat Sicu?"

"Serahkan dulu Tok-keng."

"Tok-keng? Darimana aku harus menyerahkan?" "Tanyakan kepada Ciangbunjin sendiri."

Betapapun sabar hati Siau-lim Ciangbun akhirnya naik pitam juga, bentaknya kereng: "Agaknya Sicu kemari sengaja hendak mencari gara-gara?" Dengan garang Ji Bun balas melotot, jengeknya: "Memangnya kenapa kalau cari gara-gara."

It-sim Taysu, ketua Lo-han-tong berwatak keras, segera ia membentak gusar: "Apa tujuan Sicu harap terangkan secara blak- blakan saja, jangan menggunakan alasan kosong ”

"Taysu berkata begitu, kau kira aku sengaja cari perkara tanpa sebab?"

"Sicu sendiri yang mengerti."

"Mungkinkah seorang yang sudah dekat ajalnya sengaja memfitnah kalian?”

"Tadi Sicu bilang yang jadi korban adalah jago-jago dari tingkat Duta Ngo-hong-kau."

Beringas muka Ji Bun, katanya: "Taysu tentu dapat membayangkan akibatnya."

Siau-lim Ciangbun mencegah It-sim bergerak, lalu berkata dengan suara kereng penuh wibawa: "Biarlah akan kupanggil semua murid kami untuk berkumpul, akan kuselidiki secara seksama, bagaimana kalau besok kuberikan jawaban?"

"Kalau tiada murid kalian yang pernah keluar, untuk menyelidikinya sekarang juga bisa segera dilakukan, kenapa harus menunggu sampai besok?” Yang kumaksud adalah murid-murid tingkatan tinggi dan lulus ujian, bagi tingkatan yang masih rendah, sudah tentu takkan pernah keluar."

Ji Bun ragu-ragu, tak tahu apa yang harus dia lakukan. Ucapan orang memang beralasan, tapi bukan mustahil dalam waktu sehari semalam ini akan terjadi sesuatu di luar dugaan, betapapun Tok- keng pantang terjatuh ke tangan orang lain, lebih penting lagi menurut pesan Ui Bing, hal ini secara langsung juga menyangkut ibunya.

Pada saat itulah, paderi penyambut tamu tampak berlari datang dengan langkah gopoh. Setelah memberi hormat terus memberi lapor kepada Ciangbunjin: "Ada seorang Sicu yang bergelar Thian- gan-sin-jiu mohon bertemu."

Kaget Ji Bun, bagaimana mungkin Ciang Wi-bin juga meluruk ke Siau-lim-si?

Sejenak Siau-lim Ciangbun ragu-ragu, lalu katanya: "Dia bilang hendak menemui aku? Sudah kau tanya apa keperluannya?"

"Katanya ada urusan penting hendak disampaikan." "Baik sebentar hendak kutemui dia."

Segera Ji Bun bersuara: ''Thian-gan-sin-jiu ini kukenal dengan baik mungkin dia kemari karena persoalan ini pula ” Dengan nanar Siau-lim Ciangbun pandang Ji Bun sekejap, katanya: "Silakan dia masuk!"

Paderi penyambut tamu mengiakan, terus mengundurkan diri, tak lama kemudian dia sudah masuk pula membawa seorang tabib kelilingan, tangan memegang kelincingan, kotak obat dipanggul dipunggungnya, tapi di ketiak kiri mengempit sebuah buntalan panjang besar, dengan langkah bergontai berjalan masuk.

Sekali pandang Ji Bun mengenalinya, memang Thian-gan-sin-jiu salah satu penyamaran Biau-jiu Siansing Ciang Wi-bin. Begitu melihat Ji Bun disitu, Ciang Wi-bin juga bersuara heran tertahan, tanyanya bingung; "Kenapa kaupun disini?"

Sudah tentu Ji Bun tidak suka membongkar samaran orang, dia merangkap tangan memberi hormat, katanya tawar: "Ada keperluan penting disini, selamat bertemu!"

Ciang Wi-bin tidak banyak bicara lagi, dia meletakkan buntalan besar itu lalu memberi hormat kepada Ciangbun: "Yang rendah Thian-gan-sin-jiu, memberi hormat kepada Ciangbunjin."

"Sicu tak usah banyak adat, entah ada petunjuk apa?" tanya ketua Siau-lim-si.

"Ada suatu hal amat penting dan besar pengaruhnya, mohon Ciangbunjin suka memberi penjelasan."

"Silakan Sicu katakan." "Harap Ciangbunjin lihat ini dulu,” lalu dia buka buntalan besar itu.

"Hah!" semua paderi Siau-lim yang hadir sama menjerit kaget. Ternyata dalam buntalan adalah jenazah seorang Hwesio. Berubah hebat wajah Siau-lim Ciangbun, katanya dengan suara haru tertekan: "Sicu, apa maksudnya ini?"

Dingin suara Ciang Wi-bin: "Silakan Ciangbunjin memeriksanya, apakah dia murid kalian?”

Kepala Houhoat Go-goan Taysu segera tampil ke depan, dia memeriksa dengan seksama, lalu katanya dengan suara gemetar: "Lapor Ciangbun, inilah Liau-khong, murid angkatan ketiga-belas."

Siau-lim Ciangbun menyebut nama buddha, sorot matanya berkilat menatap Ciang Wi-bin, katanya kemudian: "Harap Sicu sudi menerangkan."

Sebagai ahli racun sekilas pandang Ji Bun lantas berteriak kaget: "Mati keracunan!"

Semua orang terbeliak kaget. Ciang Wi-bin melirik ke arah Ji Bun, katanya: "Betul, dia mati keracunan.”

Semua paderi Siau-lim yang hadir sama melotot kepada Ciang Wi-bin. Dengan dingin Ciang Wi-bin balas menyapu pandang mereka, lalu berkata kepada Ciangbunjin dengan nada berat: "Kebetulan semalam aku menginap di Ciang-ling-si di luar kota

Hong-seng. Murid kalian ini juga menginap di kuil itu. Tengah malam secara diam-diam dia mencuri lihat sebuah sampul surat rahasia, ini

......”

"Sicu boleh teruskan saja."

"Untuk ini kumohon keterangan lebih dulu dari Ciangbunjin, apakah Clangbunjin menugaskan si korban untuk menyampaikan surat rahasia itu?"

Sepucuk surat coba panggil Kam-si (pengawas biara)

kemari," seru ketua Siau-lim-si.

Seorang Hwesio muda mengiakan terus mengundurkan diri.

Suasana menjadi hening dan tegang. Tak lama kemudian seorang Hwesio bermuka kereng bundar seperti muka harimau datang dengan langkah cepat. "Go-tin, pejabat Kam-si, menghadap Ciangbunjin yang mulia.”

"Ya, apakah kau menugaskan Liau-khong keluar? Coba lihat itu!"

Go-tin berputar dan memandang mayat yang menggeletak di lantai, tak tertahan dia menjerit kaget: "Liau-khong, dia ”

Ciangbunjin menarik muka, katanya kereng: "Go-tin, kau belum memberi penjelasan."

Go-tin putar tubuh seraya meluruskan kedua tangan, katanya: "Dua bulan yang lalu, Tecu memang mengutus Liau-khong pergi ke biara cabang Poh-tian di Hok-kian ” "Apa betul dua bulan yang lalu?" Go-tin mengiakan.

“Tapi Thian-gan-sin-jiu ini bilang semalam Liau-khong mencuri baca surat rahasia di kuil Ceng-ling-si ”

"Lapor Ciangbunjin, kalau dihitung waktunya, memang tepat pulangnya dia menunaikan tugas."

"Tapi surat rahasia bukan berisi surat agama," jengek Ciang Wi- bin.

"Lalu apa isinya?" tanya Siau-lim Ciangbun melengak.

"Sejilid kitab pusaka yang dilumuri racun jahat, justeru dia mati karena mencuri baca kitab pusaka itu."

Cemberut wajah Ciangbun, paderi yang lain sama bersuara kaget. Biji mata Ji Bun juga mendelik menahan perasaan.

Berkata Ciang Wi-bin lebih lanjut: "Oleh karena itu aku yang rendah memberanikan diri datang kemari, harap Ciangbunjin menerangkan asal usul kitah pusaka beracun itu."

Dengan pandangan heran dan curiga Ciangbunjin melirik Go-tin, lalu berkata dengan sungguh-sungguh: “Pit-kip (kitab pusaka) yang berlumur racun? Apa nama Pit-kip itu?" Dari kotak obatnya Ciang Wi-bin mengeluarkan sebuah bungkusan kulit kambing yang tebal, katanya sambil mengangkatnya tinggi di atas kepala: "Tok-keng!"

"Tok-keng?" semua hadirin serempak berpadu suara dengan kaget.

Bergetar badan Ji Bun, tanpa sadar dia berteriak penuh emosi: "Paman, serahkan kitab itu kepadaku."

Ciang Wi-bin menoleh dan menatap Ji Bun penuh keheranan.

Sejenak barulah dia lemparkan buntalan kulit kambing itu ke arah Ji Bun. Begitu menangkapnya Ji Bun lantas membuka buntalan itu dengan tangan gemetar. Buntalan itu berisi sejilid buku tipis yang sudah kuno, di atas sampulnya bertuliskan huruf kuno pula yang berbunyi "TOK-KENG" dan di bagian bawahnya dengan huruf lebih kecil tertulis "Jilid ke-1."

Selamanya belum pernah dia melihat buku pusaka peninggalan cikal-bakal perguruannya ini. Namun dari bentuk dan kertasnya yang sudah menguning jelas buku ini memang milik perguruannya.

Setelah membalik beberapa halaman dan membaca isinya, dia tambah yakin lagi. Cepat dia masukkan kitab itu ke dalam kantong baju.

"Paman," kata Ji Bun kepada Ciang Wi-bin yang tengah mengawasinya dengan melongo, “Karena Tok-keng inilah Siautit meluruk ke Siau-lim-si ini."

"Karena Tok-keng itu? Jadi kau sudah tahu kajadian ini?" "Bukan, tapi ” Tapi apa dia tak kuasa melanjutkan,

kerongkongannya seperti disumbat, tak tertahan air mata bercucuran.

"Apakah sebetulnya yang terjadi?" tanya Ciang Wi-bin.

Sambil menahan tangis dan menekan perasaan duka Ji Bun berkata: "Ui Bing Toako, dia sudah meninggal."

Seperti digodam Ciang Wi-bin tergentak mundur beberapa tindak, matanya mendelik, teriaknya beringas: "Ui Bing sudah mati?"

"Sudah mati dengan mengenaskan sekali dia tewas dengan

dada ditembus pedang." "Di mana?"

"Di jalan raya Cu-ping Siautit yang menguburnya."

Ciang Wi-bin terguguk-guguk, badannya gemetar saking sedih, tak tertahan air mata berlinang membasahi pipi.

Semua paderi Siau-lim sama berdiri menjublek mengawasi kedua orang yang bertangisan ini, tiada satupun yang buka suara.

"Bagaimana kejadiannya?" tanya Ciang Wi-bin menyeka air mata.

Ji Bun lantas menuturkan kejadiannya. Terpencar sinar buas dan dendam dari mata Ciang Wi-bin, jarang terlihat sikapnya sedemikian garang dan beringas selama Ji Bun kenal calon mertuanya ini. Sebagai seorang maling sakti, biasanya ia bertingkah jenaka dan supel, banyak akal lagi.

Ji Bun menghadapi Siau-lim Ciangbun, katanya: "Sekarang Ciangbunjin bisa memberi penjelasan bukan?"

Siau-lim Ciangbun tersentak, katanya: "Apa yang harus kujelaskan?"

"Dari mana Liau Khong bisa membawa Tok-keng ini?"

"Dia sudah mati karenanya, akan kusuruh menyelidiki hal ini." "Menyelidiki apalagi? Bukti sudah jelas, keempat Sucia dari Ngo-

hong-kau mati karena keracunan, dan seorang lagi adalah saudara angkatku, dia terbunuh dengan badan ditembus pedang. Sebelum ajal dia menerangkan bahwa yang melakukan adalah murid Siau-lim. Liau-khong ini juga mati keracunan, jelas dia tidak mampu melakukan pembunuhan dan merebut Tok-keng itu. Dalam kejadian ini pasti ada latar belakang yang rumit dan semua lika-liku ini, harap Ciangbunjin suka memberi penjelasan." Habis bicara serta merta matanya melirik ke arah tertua Houhoat, Go-goan Hwesio.

Baru pagi ini Go-tin kembali ke biara, kebetulan waktunya tepat dengan kejadian, dinilai tingkat kepandaiannya, dia cukup mampu membunuh Ui Bing.

"Clangbunjin," kata Ciang Wi-bin mengancam, "Ui Bing adalah muridku, dia kuutus menyelundup ke dalam Ngo-hong-kau. Sekarang dia terbunuh dengan penasaran sebelum menunaikan tugasnya. Ini terang merupakan pembunuhan yang direncanakan."

"Pembunuhan yang direncanakan?" "Memangnya bukan?”

Go-tin segera mendamprat: "Sicu jangan kurang ajar."

Saking dukanya, Ciang Wi-bin yang biasanya supel dan penuh akal telah terangsang oleh emosi, cemoohnya dengan gusar: "Kurangajar? Kalau hari ini urusan tidak dibereskar, tempat suci ini akan banjir darah!"

Kata-katanya merubah air muka semua paderi yang hadir, semua melotot gusar, namun karena patuh aturan dan disiplin, tiada yang buka suara atau bertindak.

"Ciangbunjin," Ji Bun menambahkan, "lekaslah kau berkeputusan?”

"Sicu jangan bertingkah, kau kira kami ini kaum kroco?"

"Tidak berani, Cayhe hanya menagih jiwa terhadap orang yang melakukannya."

"Mayat murid kami sudah menggeletak di depan kalian memangnya jiwanya harus melayang percuma?'`

"Cayhe tidak wajib menjawah soal ini." "Bagaimana Sicu hendak menyelesaikan soai ini?"

"Lebih dulu berikan pertanggungan jawab atas perampokan dan pembunuhan ini."

"Sebelum duduk persoalannya jelas, bagaimana aku harus memberi pertanggungan jawab."

"Kalau begitu jangan menyesal kalau Te-gak Suseng bertindak kejam "

"Kau berani bertindak apa?” Houhoat tertua Gi-goan mengejek. "Kubunuh kalian," desis Ji Bun dengan geram.

Semua paderi Siau-lim sama menggerung bersama. Siau-lim Ciangbun menyebut Buddha, katanya: "Sang Buddha bijaksana, sejak biara ini didirikan, belum pernah darah mengalir dalam biara ini.”

"Tapi hari ini akan terjadi banjir darah disini," seram kedengaran ancaman Ji Bun.

It-sim Taysu, ketua Lo-han-tong segera merangkap tangan, katanya: "Harap Ciangbun ambil keputusan."

Tanpa ada angin jubah kuning Siau-lim Ciangbun bergoyang melembung, jelas iapun amat marah. Lo-han-tong wajib melindungi dan menjaga keselamatan seluruh warga biara. Kini ketuanya mohon putusan, itu berarti minta izin untuk tampil ke medan pertempuran, dan akibat dari semua ini tentu mengerikan. Sejak lama Siau-lim-si menutup diri dari percaturan Bu-lim. Namun apapun yang terjadi dan berlangsung di dunia Kang-ouw dapat mereka ketahui dengan baik. Belakangan ini nama Te-gak Suseng sudah menggetarkan Bu- lim, hal inipun mereka ketahui, terutama tangannya yang beracun amat ditakuti. Lalu siapa di antara tokoh-tokoh Siau-lim yang mampu menghadapinya?

Bertaut alis Ciangbunjin, kulit mukanya yang sudah keriput bergetar. Bagaimana dia harus menghadapi situasi yang gawat ini? Suasana tegang diliputi hawa angkara murka.

Ciang Wi-bin terloroh-loroh, serunya: "Hari ini aku tak kuasa membalas sakit hati muridku, kubersumpah takkan turun dari Siau- sit-san ini.” Tiba-tiba dia melompat maju ketengah pelataran.

Semua murid Siau-lim bersiaga, terutama It-sim, Go-goan dan Go-tin, tiga tokoh yang paling tinggi kedudukannya serempak menghadang di depan Ciangbun mereka.

Lekas Ji Bun melompat maju mengadang di depan Ciang Wi-bin, katanya: "Paman, serahkan kepada Siautit untuk membereskannya." Dengan pandangan berkilat dia pandang Siau-lim-sam-ceng, lalu katanya: "Kalau Cayhe turun tangan, pasti ada yang terluka atau mampus, kalian bertiga maju bersama atau siapa maju lebih dulu?"

Tantangan yang takabur ini sungguh menggetar nyali siapapun yang mendengarnya. Memang semua hadirin maklum tiada yang kuat melawan tangan beracun Ji Bun, karena racun tak mungkin dilawan dengan Lwekang sembarangan. Tapi ketua Lo-han-tong melangkah maju setapak, kata-katanya tegas: "Akulah yang akan hadapi tantangan demi kebesaran dan kemurnian Siau-lim-si.”

"Silakan mulai!"

"Kami tuan rumah, Sicu silakan mulai dulu."

“Baik sambut seranganku," kontan Ji Bun menyerang dengan jurus Tok-jiu-it-sek sepenuh kekuatannya.

Taysu mengebas lengan baju, seperti menutup laksana membendung, dia melakukan pertahanan yang kokoh kuat, namun serangan balasannyapun tidak kalah dahsyatnya. Dinilai dari gerakan tipu serangan, permainan kedua pihak sama-sama lihay dan menakjubkan.

"Plok," Tok-jiu-it-sek ternyata berhasil dipunahkan. Dalam menggunakan racun Ji Bun sudah dapat menguasai sesuka hati, jurus pertama ini dia tidak mengerahkan racunnya, seluruhnya menggunakan kekuatan murni yang ampuh. Kalau tidak, begitu tangan bersentuh tangan, jiwa lt-sim Taysu pasti melayang seketika.

Berhasil menahan serangan lawan, maka berkobarlah semangat dan keyakinan It-sim Taysu akan diri sendiri. Dia kira kepandaian Te- gak Suseng juga cuma demikian saja. Sembari membentak segera dia lancarkan salah satu ilmu ampuh dari 72 jenis ilmu silat Siau-lim yang hebat, yaitu Cui-pi-ciang (pukulan penghancur pilar). Pukulan ini mengutamakan kekuatan besar yang luar biasa, siapapun akan melelet lidah melihat dahsyatnya. Namun dia berhadapan dengan Ji Bun, pemuda yang berwatak keras, angkuh dan tinggi hati, kedua tangan bergerak terus menyongsong ke depan. Kali ini dia tetap tidak mengerahkan kekuatan racun, ingin dia mengukur betapa tinggi kepandaian silat ketua Lo-han-tong yang paling diagulkan mempunyai kekuatan luar biasa ini dengan tenaga murni sendiri.

"Duum!" benturan dahsyat menggetar hingga genteng terasa holeng, debu berhamburan, tiga tombak sekitar gelanggang terjangkit angin keras mem¬bumbung ke angkasa. Orang-orang yang berdiri di pinggir gelanggang sama terdorong mundur semua.

Di tengah suara erangan tertahan tampak It-sim Taysu sempoyongan mundur, badannya bergontai hampir roboh. Ji Bun sendiri juga tertolak mundur oleh benturan dahsyat ini, batu marmer di bawah kakinya sampai retak.

Gebrak kedua ini menambah ketegangan semua hadirin. It-sim Taysu adalah ketua Lo-han-tong. Kepandaiannya termasuk kelas tinggi diantara penghuni biara Siau-lim-si, namun dia tidak kuasa melawan gebrak kedua ini. Dari sini dapat dinilai bahwa kemampuan Ji Bun masih lebih unggul, jelas It-sim Taysu sudah asor.

Dengan suara dingin Ji Bun berkata: "Mengingat tempat suci ini, Cayhe tidak bermaksud jahat. Kedua gebrakan ini, Cayhe tidak menggunakan racun. Sekarang terpaksa aku melanggar pantangan, hal ini perlu kuperingatkan lebih dulu." Bicara soal racun, Siau-lim Ciangbun ikut terbeliak dan pucat mukanya.

"Hiantit," seru Ciang Wi-bin murka, "jangan menaruh kasihan, ganyang saja!"

Houhoat tertua Go-goan Taysu menyebut Buddha dengan enteng dia tampil ke muka menggantikan kedudukan It-sim Taysu. wajahnya nan tua putih tampak membesi hijau, suaranya bergetar : "Sicu boleh turun tangan!"

Ji Bun yakin Go-goan Taysu pasti ada sangkut paut dengan Tok- keng dan kematian Ui Bing, maka tekadnya lebih besar lagi untuk membalas sakit hati. Biji matanya tiba-tiba mendelik, serunya sambil angkat kedua tangan: "Go-goan, aku ingin kau mampus dalam satu gebrak."

Wajah Go-goan berubah menjadi kelam, kedua biji matanya melotot besar, jubah yang dipakainya tiba-tiba melembung dan bergoyang-goyang tanpa tertiup angin. Kiranya dia kerahkan seluruh kekuatan Lwekangnya. Semua hadirin menjadi tegang, jantung berdebur dengan kencang.

Pucat dan kaku wajah Siau-lim Ciangbun, sorot matanya menampilkan perasaan hatinya.

Disaat ketegangan semakin memuncak, tiba-tiba berkumandang suara bentakan gema dari dalam pendopo agung: "Su-co-hud datang." Seketika seluruh hadirin Siau-lim-si sama menegak sambil merangkap kedua tangan di depan dada. Wajah semua orang menampilkan rasa girang, kaget serta prihatin dan khidmat, di tengah iringan suara mantra, beramai-ramai paderi yang berdiri di pelataran sama mundur dan berbaris di pinggir menjadi dua barisan. Go-goan Taysu yang sudah tampil di tengah gelanggangpun ikut ke dalam barisan.

"Tang! Tang!" gema genta bertalu-talu, suasana tegang yang diliputi hawa angkara murka tadi seketika lenyap seperti terusir oieh kekuatan gema genta itu.

22.64. Hampir ... Mengotori Kuil Suci

Tanpa terasa Ji Bun juga menyurut mundur ke samping Ciang Wi- bin, matanya melirik penuh tanda tanya.

Tampak seorang paderi tua bertubuh kurus kering dan beralis putih, wajahnya bersih dan agung. Kedua matanya terpejam, duduk bersimpuh di atas kasur bundar yang dipikul oleh empat Hwesio bertubuh tinggi besar. Pelan-pelan mereka muncul dari dalam pendopo sana. Seluruh paderi sama bersabda serta membungkuk hormat menyambut kedatangannya.

Kasur bundar itu diturunkan di depan undakan, dengan laku hormat, keempat Hwesio pemikulnya lantas mundur dan berdiri berjajar di belakang. Dengan perasaan kebat-kebit Siau-lim Ciangbun maju memberi hormat: "Tecu tidak becus, sampai mengejutkan Suco yang mulia." Paderi tua beralis putih berbadan kurus sedikit angkat tangan, namun tetap tidak bersuara. Suasana kembali menjadi hening, suara gentapun telah berhenti.

"Tak nyana bangkotan tua ini masih hidup," demikian gumam Ciang Wi-bin, "pantas pihak Ngo-hong-kau tidak berani mengusik Siau-lim-si.”

Menegas alis Ji Bun, tanyanya: "Bagaimana penyelesaiannya?"

Ciang Wi-bin menepekur sebentar, katanya: "Terserah bagaimana keinginan mereka, yang terang peristiwa ini harus segera dibereskan."

Maka berkatalah paderi tua beralis putih tadi, suaranya tidak keras, namun setiap patah katanya tajam berisi, anak telinga peka tergetar: "Paderi tua Hoan-ceng, sudah tiga puluh tahun tidak pernah ikut campur urusan duniawi, tak terduga hari ini terseret juga ke dalam pertikaian Bu-lim. Tempat suci dan bersih ini pantang dikotori, apakah kedua Sicu tidak keterlaluan?"

Baru saja Ciang Wi-bin hendak buka mulut, Ji Bun sudah mendahului menjawab: "Apakah Lo-siansu sudah tahu sebab musabab dari pertikaian ini?”

“Ya, aku sudah tahu."

"Mohon tanya bagaimana Lo-siansu hendak menyelesaikan soal ini?" "Apa yang terjadi harus diselidiki, Sicu berdua harap mundur dulu, tunggulah jawaban kami."

"Wanpwe berharap sekarang juga hal ini dibicarakan."

"Tidak mungkin, paling tidak harus makan waktu beberapa hari." "Wanpwe tidak bisa terima."

"Lalu apa yang Siau-sicu ingin lakukan?"

"Sebelum urusan ini beres, Wanpwe tidak akan pergi dari Siau- lim-si."

Kedua mata paderi tua yang terpejam mendadak terpentang, dua jalur sorot mata yang berkilau laksana kilat menatap muka Ji Bun.

Jantung Ji Bun seperti terpukul, serta merta kakinya menyurut mundur setindak. Dari pancaran sinar mata paderi tua ini Ji Bun dapat mengukur betapa tinggi taraf kepandaian silat dan Lwekang paderi tua ini. Suasana kembali tenggelam dalam keadaan tegang dan mencekam.

Tiba-tiba paderi tua beralis putih itu memejamkan mata dan bergumam: "Sang Buddha maha bijaksana, tiga puluh tahun Tecu bersemadi menghadap tembok, namun tetap mempunyai pikiran kusut dan terbuai oleh perasaan keduniawian "

Mendadak Siau-lim Ciangbun berlutut dan menyembah, serunya: "Dosa Tecu beramai memang terlalu besar." Sudah tentu murid-murid Siau-lim yang lain mengikuti perbuatan Ciangbunjin, mereka ikut berlutut dan menyembah berulang-ulang, suasana yang semula tegang berubah menjadi khidmat.

"Paman," kata Ji Bun memandang Ciang Wi-bin, "bagaimana baiknya?"

Pikiran Ciang Wi-bin sudah tenang kembali, katanya: "Marilah kita selesaikan dulu urusan besar lain yang lebih penting."

"Urusan besar?'' Ji Bun menegas. "Baiklah."

Dengan suara berat Ciang Wi-bin berkata kepada paderi tua alis putih: "Siansu adalah paderi agung, terpaksa melanggar pantangan demi menjernihkan suasana, biarlah Wanpwe berdua mundur secara teratur. Tapi demi keselamatan umat persilatan umumnya, harap dalam jangka lima hari dapat memberi jawaban pasti kepada kami, sekarang Wanpwe berdua sementara mohon diri."

Setelah memberi hormat, dia tarik Ji Bun terus lari keluar. Paderi- paderi sama bersabda Buddha dan memanjatkan mantra.

Setiba di bawah gunung, segera Ji Bun bertanya: "Paman, siapakah paderi alis putih itu?"

"Dia Suheng Ciangbunjin dari generasi yang dahulu, usianya sudah lebih seabad, gelarannya Bu-siang. Enam puluh tahun yang lalu dia termasuk tokoh nomor satu dari Siau-lim-pay, tabiatnya amat aneh, kejahatan dipandangnya sebagai musuh utama. Setiap insan persilatan sama kagum dan menaruh hormat kepada beliau, maka dia pernah dianugerahi gelar Sin-ceng (paderi sakti)."

"Urusan besar apa yang paman maksudkan?" tanya Ji Bun kemudian.

"Ya, karena urusan inilah sengaja kususul kemari, Bing-cu juga ikut kemari."

"O, lalu di mana dia "

"Menunggu di bawah gunung. Menurut aturan Siau-lim, kaum wanita dilarang masuk biara."

"Apa yang dimaksud paman dengan urusan besar?"

"Wi-to-hwe mengerahkan seluruh kekuatannya menyerbu Ngo- hong-kau "

Bergetar jantung Ji Bun, teriaknya: "Kapan?"

"Peristiwa yang menyangkut Tok-keng ini kupergoki secara kebetulan, maka sengaja kuputar balik kemari, mengingat Tok-keng ada bubungan erat dengan ayahmu, kemungkinan juga menyangkut pihak Ngo-hong-kau, maka di tengah jalan kudengar kabar bahwa pagi hari ini orang-orang Wi-to-hwe akan memasuki pegunungan belakang Siong-san ”

"Jadi sekarang mungkin kedua pihak sudah mulai bentrok?" "Mungkin, urusan menyangkut petaka kaum persilatan, akupun termasuk orang yang tertimpa musibah ini, maka aku ingin mengorbankan sedikit tenaga demi persoalan ini. Tak tersangka ......

ai, Ui Bing sudah mendahului mengalami bencana."

Sampai di sini tak tertahan air matanya bercucuran, dari sini dapatlah kita bayangkan betapa erat hubungan antara guru dan murid ini.

Sebaliknya darah bergolak di rongga dada Ji Bun, hatinya gelisah, Ngo-hong Kaucu adalah murid murtad perguruannya. Betapapun dia tidak boleh berpeluk tangan membiarkan pihak Wi-to-hwe mendahului dirinya memberantas pengkhianat itu walau pihak mana yang bakal unggul sukar diramalkan. Namun ayah bundanya masih disekap di tangan orang-orang Ngo-hong-kau, apalagi Siangkoan Hong dan orang-orang Wi-to-hwe yang lain bermusuhan dengan ayahnya. Kalau Wi-to-hwe berhasil, maka dapatlah dibayangkan bagaimana nasib ayahnya nanti. Umpama sekarang dirinya menyusul kesana juga pasti sudah terlambat. Karena itulah hatinya semakin gundah, ingin rasanya bisa terbang ke sana secepat mungkin.

"Hiantit," tiba-tiba Ciang Wi-bin menghentikan langkah, "mungkin kita yang salah."

"Salah, apanya yang salah?"

"Kau bilang bahwa sebelum ajal Ui Bing sempat mengucap beberapa patah kata yang terputus-putus bukan? Semula kuanjurkan Ui Bing berusaha menyelundup ke Ngo-hong-kau dengan tiga  tujuan. Pertama, menyelidiki asal-usul Ngo-hong Kaucu serta riwayat hidupnya, kedua berusaha mencuri Hud-sim dan ketiga mendarma baktikan keluhuran jiwa kita demi kesejahteraan insan persilatan umumnya. Oleh karena itu ada satu kemungkinan, yaitu waktu Ui Bing berusaha mencuri Hud-sim dan tidak berhasil, sebaliknya Tok- keng berhasil dia ambil. Keempat Duta itu terang mengudak Ui Bing dan memperebutkan Tok-keng itu sehingga mereka mati keracunan. Secara kebetulan pula peristiwa ini kepergok oleh murid Siau-lim sehingga timbul ketamakan mereka untuk merebutnya pula "

"Lalu bagaimana dengan kematian Ui-toako?”

"Kini sudah kuduga, bahwa dia mati oleh salah seorang dari Duta-duta itu, karena hanya mereka yang bersenjata pedang.

Setahuku pihak Siau-lim-pay tiada murid yang pernah menggunakan pedang sebagai senjata dan itu berarti waktu paderi Siau-lim berebut Tok-keng, Ui Bing sendiri sudah terluka parah namun belum putus napasnya."

Ji Bun manggut-manggut, katanya: "Analisa paman memang masuk akal."

"Tapi masih ada kemungkinan lain.” "Kemungkinan apa?”

"Ui Bing tahu bahwa jiwanya tak tahan hidup lebih lama lagi, maka dia serahkan dan titipkan Tok-keng itu kepada paderi Siau-lim. Sayang paderi Siau-lim itu juga telah meninggal." "Ya, ini juga mungkin, tapi kenapa Ui-toako menyinggung soal ibuku lebih dulu."

"Mungkin dia sudah bertemu dengan ibumu, dia ingin memberi kabar tentang ibumu, namun tenaga sudah habis. Pada hal dia tahu soal Tok-keng juga tidak boleh terbengkalai, maka sekuatnya dia hanya sempat mengatakan tiga patah kata yang terputus-putus itu."

Ji Bun menepekur sebentar, katanya kemudian: "Bila bisa bertemu dengan ibu, soal ini tentu bisa terjawab seluruhnya."

Pandangannya tertuju ke depan nan jauh sana, katanya menambahkan: "Paman tahu jalan pendek yang langsung menuju ke belakang gunung?"

"Ada, tapi jalanan dari sini lebih berbahaya, bukan lebih dekat, kau akan memakan waktu lebih lama malah.”

"Jalan sukar dan berbahaya tidak jadi soal bagiku, biarlah Siautit berangkat lebih dulu, silakan paman menjemput adik Bing-cu."

"Baiklah, kau boleh berangkat lebih dulu. O, hai, tunggu sebentar

....."

"Paman ada pesan apa?"

"Dulu pernah kau melihat Tok-keng itu?" "Belum, tapi ilmu beracun yang tertera di dalam buku cocok dengan apa yang pernah kupelajari waktu kecil, tadi sempat kubaca beberapa halaman."

"Aku masih menaruh curiga akan satu hal." "Hal apa?"

"Ayahmu pasti ada sangkut pautnya dengan Ngo-hong Kaucu."

"Kuduga demikian juga, syukurlah tak lama lagi hal ini dapat dibuktikan."

"Baiklah, lekas kau berangkat, aku segera menyusul bersama Bing-cu."

Ji Bun mengiakan, dengan cepat ia meluncur turun ke bawah gunung. Seluruh kekuatan dikerahkan untuk mengembangkan ilmu ringankan tubuh, setiap detik amat berharga, apalagi untuk mengejar waktu yang telah ketinggalan. Tapi betapapun cepatnya dia "tancap gas" toh kekuatan manusia ada batasnya. Dalam perjalanan melalui gunung gemunung yang berbahaya ini, sedikitnya Ji Bun harus menempuh tujuh delapan puluh li jauhnya, bahwa dia menempuhnya dalam waktu dua jam sudah terhitung luar biasa.

Tengah dia ayun langkah dengan cepat, tiba-tiba dilihatnya bayangan seorang yang sempoyongan mendatangi dari depan. Serta merta Ji Bun mengerem langkahnya. Tampak yang mendatang adalah seorang paderi, keadaannya serba runyam dan mengenaskan, timbul sesuatu pikirannya, teriaknya: “Berdiri!" Paderi itu berusaha menghentikan langkah sambil menengok ke arah Ji Bun, mendadak "bluk", tubuhnya tersungkur jatuh, buih meleleh dari mulutnya, napasnya menggeros seperti sapi hendak disembelih. Agaknya dia kehabisan tenaga karena baru lari sekuatnya. Ji Bun pikir, dirinya tiada waktu mencampuri urusan tetek bengek lagi, maka dia melencing ke depan pula.

Tiba-tiba beberapa bayangan orang tampak berlari-lari ke arahnya. Paderi Siau-lim itu meronta bangun sambil menoleh ke belakang, tapi baru lari beberapa langkah sudah jatuh tersungkur pula.

Mau tidak mau kejadian ini menarik perhatian Ji Bun, segera ia hentikan larinya. Bayangan orang banyak sudah meluncur dekat, kiranya empat orang laki-laki seragam hitam ketat, satu di antaranya terdengar berteriak: "Di mana kepala gundul itu?"

Empat orang seragam hitam sama berhenti, semuanya melotot gusar, satu di antaranya menghardik bengis: "Anak muda, kau ingin mampus?"

Sementara seorang temannya menubruk ke arah Paderi yang kehabisan tenaga itu.

Tanpa menoleh tiba-tiba badan Ji Bun berkelebat, tahu-tahu bayangannya sudah berada di tempat semula seakan-akan tidak pernah bergerak sedikitpun. Tapi laki-laki yang menubruk ke arah paderi Siau-lim itu menjerit ngeri terus roboh binasa, keruan tiga temannya berjingkat kaget. "Sebutkan siapa kalian?" bentak Ji Bun.

Gemetar suara orang seragam hitam: "Peronda gunung dari Ngo- hong-kau ”

Belum habis dia bicara Ji Bun sudah turun tangan, cukup dia mengulap tangan, ketiga orang seragam hitam segera menungging roboh binasa. Sampai jiwa melayang mereka tidak tahu cara bagaimana nyawa mereka ditamatkan.

Ji Bun melangkah balik mendekati Paderi Siau-lim, tanyanya: "Kau murid Siau-lim?"

"Ya," sahut paderi itu mengangguk. "Sicu, kau, apakah kau .......

Te-gak Suseng?"

Ji Bun melenggong, tanyanya: "Betul, kenapa?"

Hwesio itu bergegas berdiri dengan sempoyongan, serunya penuh haru: "Omitohud! Sang Buddha maha bijaksana. Siau-ceng memang sedang mencari Sicu."

"Apa?" teriak Ji Bun kaget, "mencari Cayhe "

"Siau-ceng bergelar Liau-ing, sungguh kebetulan pertemuan ini." "Untuk apa kau mencari Cayhe?" “Beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja, di jalan raya Cui-ping kupergoki sebuah pembunuhan tragis, lima jago baju sutera dari Ngo-hong-kau saling baku hantam sendiri. Satu di antaranya meski terluka parah masih belum ajal. Kebetulan melihat Siau-ceng lewat, maka dia titip sesuatu barang untuk diserahkan kepada Sicu "

Berubah air muka Ji Bun, tanyanya gemetar: "Dan selanjutnya?" Dengan was-was Liau-ing mengawasi Ji Bun sejenak, katanya:

"Karena ada keperluan lain Siau-ceng menyerahkan barang itu

kepada Sute Liau-Khong untuk dibawa pulang dulu ke Siau-lim-si

...."

"Hah," Ji Bun menyurut mundur tiga langkah, air mukanya pucat.

Sikapnya yang luar biasa ini membikin Liau-ing kaget dan curiga, kata-katanya terhenti.

Salah paham ini sungguh sangat mengerikan. Kalau Bu-siang Siansu tidak muncul, mungkin darah sudah banjir di kuil suci yang diagungkan insan persilatan itu, dan kenyataan ternyata tepat seperti dugaan Ciang Wi-bin. Sungguh beruntung sekali tidak sampai terjadi petaka yang tidak inginkan ini. Maka dengan haru dia bertanya: "Pesan apa pula yang diberikan?"

"Tiada, dia hanya bilang barang itu harus berusaha diserahkan pada Te-gak Suseng, dan lagi kami dilarang menyentuh barang yang ada di dalam buntalan itu, karena berlumuran racun jahat, habis berkata dia terus "

"Dari mana Taysu tahu kalau aku ini Te-gak Suseng?" "Gelaran tangan beracun Sicu menggoncangkan dunia persilatan.

Siapa yang tidak tahu akan namamu?"

Sesal tak kepalang hati Ji Bun, katanya: "Mohon Taysu lekas kembali ke Siau-lim dan laporkan kepada Ciangbunjin akan permintaan maaf sebesar-besarnya dari wanpwe. Perjanjian lima hari dibatalkan saja, kelak Cayhe pasti datang untuk minta maaf dan terima hukuman."

Liau-ing kebingungan, katanya: "Siau-ceng tidak tahu, apa maksud Sicu?"

Tak sempat memberi penjelasan, sekenanya Ji Bun berkata: "Setiba di Siau-lim-si, Taysu akan tahu duduk perkaranya, maaf aku tidak dapat menunda waktu, selamat bertemu?"

Habis memberi hormat, bergegas dia lari pergi bagai terbang. Setengah jam kemudian Ji Bun sudah tiba di belakang gunung

Siong-san. Sesuai petunjuk Ui Bing tempo hari dia langsung memburu ke markas Ngo-hong-kau yang letaknya tersembunyi di dalam lembah.

Begitu memasuki lembah, dilihatnya mayat bergelimpangan di sana-sini. Ini menandakan bahwa Wi-to-hwe sudah menyerbu datang. Keruan hatinya semakin gugup. Semakin dekat mayat-mayat yang menggeletak semakin banyak, dari seragam pakaian mereka jelas tampak yang menjadi kurban kebanyakan anggota Ngo-hong- kau. Lekas sekali Ji Bun sudah berada di jalan yang memasuki perut gunung. Tiba-tiba bayangan beberapa orang menubruk keluar menghadang, yang terdepan adalah seorang laki-laki setengah baya berpakaian biru, dia ternyata Wi-to-hwe Congkoan Ko Ling-jin adanya. Bahwa Ko Ling-jin memimpin anak buahnya berjaga di sini itu menandakan bahwa serbuan pihak Wi-to-hwe berhasil dengan gemilang.

Langsung Ji Bun menyapa dengan dingin: "Ko-congkoan, selamat bertemu!"

Ko Ling-jin merangkap kedua tangan, katanya tertawa lebar: "Kebetulan Siau-hiap telah datang, silakan masuk!”

Habis berkata dia lantas menyingkir kesamping.

Tanpa banyak pikir Ji Bun segera menerjang ke dalam lorong panjang yang guram cahayanya. Sepanjang lorong mayat bertumpuk semakin banyak, bau darah semakin keras. Agaknya cukup banyak pengorbanan pihak Wi-to-hwe untuk menjebol pertahanan lorong ini.

Setelah melewati lorong panjang yang guram ini, tiba-tiba pandangan mata menjadi terang. Kini Ji Bun tiba di dalam lembah. Suara gaduh dari pertempuran orang banyak gegap gempita.

Selepas mata Ji Bun memandang, lembah yang berbentuk aneh dari ciptaan alam ini dikelilingi dinding gunung yang tinggi sehingga bentuknya mirip sebuah perigi. Di bagian dalam sana bangunan rumah berlapis-lapis dan bertingkat membelakangi dinding gunung. Bayangan orang bergerak-gerak di berbagai tempat, teriakan dan gempuran senjata bersahutan dimana-mana, sinar senjata berkilauan berkelebatan sehingga suasana dalam lembah menjadi kacau balau.
Ada kabar sedih nih gan, situs ini dinyatakan spam oleh pihak facebook :(:(. Admin mau minta tolong kepada para pembaca yang budiman untuk mengisi form di Link ini : Facebook Debugger dan menulis bahwa situs ini bukan spam. Semoga kebaikan dari pembaca dibalas berlipat ganda oleh Tuhan yang maha kuasa😇. Selaku Admin ~ Iccang🙏