Hati Budha Tangan Berbisa Jilid 21

 
Jilid 21

Inilah jurus yang menentukan, Ji Bun sendiripun amat tegang.

Telapak tangan pelan-pelan bergerak ke atas, udara serasa membeku dan mencekam perasaan. Terbeliak mata Gui Han-bun dan Siangkoan Hong, babak terakhir dari pertandingan yang jarang terjadi selama seratus tahun terakhir di Bu-lim akan berlangsung. Telapak tangan Ji Bun terangkat tinggi tiba-tiba menggaris tegak dibarengi dengan pekik panjang yang mengerikan.

Inilah Tok-jiu-sam-sek — yaitu Giam-ong-san-khek.

Hun-tiong Siancu melintangkan kedua tangan, masing-masing menggaris setengah lingkaran lalu beradu di depan dada untuk bertahan, hawa seketika seperti teriris oleh pisau tajam sehingga mengeluarkan suara mendesis tajam.

"Huuaaah " di tengah jeritan ngeri, tampak Hun-tiong Siancu

terlempar jatuh.

Siangkoan Hong bersama Gui Han-bun berteriak kaget sambil memburu maju. Dalam sekejap itu Ji Bun sendiri merasa pening kepalanya, matanya berkunang-kunang, hawa dan tenaga murni yang ia kerahkan terlampau besar, mau tidak mau badannya gemetar, saking lelah langkahnya sampai sempoyongan.

Kalau Siangkoan Hong dan Gui Han-bun tidak hiraukan aturan Kang-ouw segala dan turun tangan bersama, Ji Bun sendiri menjadi ragu apakah dia mampu menghadapi kedua lawan ini. Untunglah Siangkoan Hong hanya mendelik dengan pandangan murka luar biasa. Sebaliknya Gui Han-bun juga tampak gemetar dan sempoyongan karena dirangsang emosi.

Disana Hun-tiong Siancu telah meronta bangun, namun baru setengah berdiri, tubuhnya tersungkur lagi. Kalau dia mau menggunakan gerakan tubuhnya yang lihay atau balas menyerang, mungkin keadaan sekarang jauh berbeda. Namun secara mentah- mentah dia terima tiga kali serangan, walaupun kalah, betapapun Ji Bun merasa kagum dan memuji dalam hati. Seorang perempuan namun memiliki jiwa kesatria, siapapun akan tunduk dan merasa simpatik padanya.

Pandangan Ji Bun dari Siangkoan Hong beralih kearah Gui Han- bun dan berhenti.

Gui Han-bun mendongak sambil menghela napas panjang, katanya rawan: "Hwecu, Siancu, biarlah Han-bun membalas budi kalian pada penitisan yang akan datang. Thian memang kurang adil, kenapa setan iblis dibiarkan merasuk jiwa manusia " betapa

besar dendam dan kebencian hatinya, dirundung kepedihan dan kedukaan pula. "Gui Han-bun," seru Ji Bun, "siaplah untuk mempertahankan dirimu, dengan tanganku akan kubunuh kau."

Dengan gemetar Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun mundur setapak, suaranya gemetar "Silakan, aku akan bertahan sekuat tenaga."

Pada saat dulah tiba-tiba sebuah suara lemah berkata; "Tahan, aku toh belum mati!"

Waktu Ji Bun menoleh, tampak Hun-tiong Siancu telah berdiri, wajahnya pucat pasi.

Memang dia tidak mati, namun terluka parah, lalu apakah dapat dianggap mampu terima serangannya atau tidak? Sayang pada permulaan mengikat pertaruhan tiga jurus ini tidak dinyatakan secara tegas. Kalau tidak mati berarti kuat menerima tiga kali serangan, demikian pula sebaliknya, kalau mati berarti kalah.

"Ji Bun,” seru Siangkoan Hong penuh haru, menurut aturan biasanya, ketiga jurus seranganmu terhitung sudah diterima dengan baik."

Ji Bun menggigit bibir, memang omongan ini tidak salah, sebab walau lawan roboh, namun masih kuat berdiri pula meski terluka parah. Tengah ia menimang-nimang, "pluk", tiba-tiba dilihatnya Hun- tiong Siancu tersungkur jatuh pula, mukanya membiru, bibirnya terkancing kencang, lama sekali tak bergerak lagi. Sekilas pandang Ji Bun lantas mengerti jiwa orang tinggal menunggu waktu belaka kalau tidak segera diberi pertolongan, itulah tanda-tanda racun tengah bekerja ditubuh orang.

Tangan beracun Ji Bun kini sudah bisa dilancarkan sesuka hatinya, dalam tiga jurus serangannya tadi iapun gunakan ilmu racun yang hebat. Setelah terluka, keracunan lagi, namun jiwa Hun- tiong Siancu tidak melayang seketika, betapapun hal ini amat mengejutkan sekali.

Naga-naganya Hun-tiong Siancu sudah meyakinkan Hu-sin-sin- cin, semacam ilmu pelindung badan yang kebal dari segala racun, maka serangan jurus pertama dan kedua tidak membikinnya cedera apapun. Namun jurus ketiga dia terluka, pertahanan ilmu kebalnya pun dengan sendirinya menjadi bobol sehingga tak kuasa melindungi badan. Begitu racun menyerang dada, maka terjadilah keadaan yang menyedihkan ini. Sudah tentu Siangkoan Hong maklum akan hal ini.

"Siangkoan Hwecu,” ujar Ji Bun dingin, "apa pula yang ingin kau katakan?"

Siangkoan Hong menggerung murka, serunya: “Ini memang takdir, kaulah yang menang."

"Bagaimana janjimu?" "Tentu akan kulaksanakan."

Ji Bun benar-benar diliputi emosi yang meluap-luap kematian Gui Han-bun sudah terhitung mengakhiri permusuhan kematian orang- orang Jit-sing-po. Dengan membekal batok kepala Siangkoan Hong suami isteri, berarti dirinya dapat barter dengan keselamatan ibu dan Thian-thay-mo-ki, dan tugas selanjutnya adalah mencuci bersih nama baik perguruan, menumpas murid murtad, Ngo-hong Kaucu harus ditundukkan dan dibekuk untuk menerima hukuman sesuai peraturan perguruan. Tersimpul senyum getir pada wajahnya, senyum getir yang mengandung, perasaan lega dari dendam dan penasaran. Betapa susah untuk mencapai hasil ini.

"Omitohud!" sabda Buddha yang merdu nyaring tiba-tiba memecah kesunyian yang mencekam perasaan orang. Tampak seorang Nikoh tua tiba-tiba muncul. Waktu Ji Bun menoleh ke sana, napasnya seketika terasa sesak. Yang muncul bukan lain adik sepupu Pek-ciok Sin-ni, yaitu Toh Ji-lan, yang dulu selalu berada di dalam tandu.

Tempo hari hampir saja jiwa Ji Bun melayang di tangan orang ini, untunglah mendadak Toh Ji-lan melihat tanda pengenal Ji Bun yang terjatuh, setelah tanya jawab berlangsung barulah diketahui bahwa Nikoh tua ini ternyata adalah kekasih Giok-bin-hiap Cu Kong-tan, alias orang tua aneh di dasar jurang yang pernah memberi ajaran Ginkang "angin lesus" serta menyalurkan seluruh Lwekang pada tubuhnya. Kini Toh Ji-lan, si orang dalam tandu bisa muncul di tempat dan waktu ini, sungguh di luar dugaan Ji Bun.

Lekas Siangkoan Hong dan Gui Han-bun memberi hormat kepada Nikoh tua ini. Nikoh tua itu menatap tajam ke muka Ji Bun.

Tersipu-sipu Ji Bun memberi hormat juga, katanya: "Selamat bertemu Locianpwe, baik-baik saja selama berpisah?" Nikoh tua mengiakan sambil angkat sebelah tangan di depan dada.

Ji Bun bertanya pula: "Apakah Cu-cianpwe juga baik-baik?" Kelam wajah si Nikoh tua, katanya sambil memejamkan mata:

"Dia sudah meninggal dunia."

"Apa?" Ji Bun kaget, "Cu-cianpwe sudah meninggal dunia?" "Ya, dia amat berterima kasih akan bantuanmu sehingga

keinginannya tercapai, yaitu memberi kabar kepadaku. Disamping itu beliau juga memperhatikan sepak terjangmu sejak meninggalkan Pek-ciok-hong ”

Sudah tentu Ji Bun maklum apa arti kata-kata ini, katanya sungguh-sungguh: "Sejak mendapat saluran Lwekang dari Cu- cianpwe, selama ini Wanpwe takkan melupakan budi kebaikan ini, sungguh menyesal tiada jalan lain untuk membalas budi ini, namun Wanpwe juga yakin, selama ini tak pernah melukai orang yang tidak berdosa, apalagi salah membunuh orang."

"Bagus sekali, kalau tahu, tentu Cu-Kong-tam akan merasa lega dan tenteram di alam baka."

"Entah ada petunjuk apa pula akan kedatangan Cianpwe ini?'' "Kau tahu betapa perbuatan ayahmu?" "Wanpwe tahu," sahut Ji Bun mengertak gigi.

"Tentunya kau juga maklum betapa mengerikan dan penderitaan Siangkoan Hwecu dan Gui Han-bun karena perbuatan ayahmu?"

Ji Bun mengiakan sambil manggut-manggut.

"Menurut pendapatku, watak dan karaktermu jauh berbeda dengan ayahmu, kau berjiwa luhur dan bijaksana, sudilah kau mendengar sepatah kataku?”

"Mohon diberi pengertian."

”Sudikah kiranya kau membatalkan tuntutan balas dendam ini?" Sejenak Ji Bun berdiam diri, lalu katanya dengan suara berat:

"Locianpwe, dalam keadaan seperti Wanpwe sekarang ini, kukira sulit?"

"Maksudku pertikaian angkatan tua, biarlah diselesaikan sendiri oleh orang tuamu."

"Tapi sebagai seorang putera yang harus berbakti terhadap orang tuanya, meski tahu sesuatu itu tidak pantas kulakukan, terpaksa harus kulakukannya juga!”

"Jadi kau harus memenggal kepala mereka bertiga?"

Ji Bun terkancing mulutnya, hatinya mendidih, resah dan gundah, sakit hati harus dibalas, budi juga harus dibalas. Jika tiada Cu Kong- tam, tiada hari ini bagi dirinya, kalau menuruti nasihat Toh ji-lan membatalkan balas dendam ini, betapapun hatinya takkan tenteram sepanjang masa. Sejenak berpikir, akhirnya ia berkata. "Baiklah, mengingat Cu-cianpwe, Wanpwe berjanji untuk memberi kelonggaran sekali ini."

"Tidakkah mereka yang bermusuhan saja menyelesaikan sendiri urusan ini."

"Maaf, Wanpwe tidak bisa terima usul ini." "Baik, kuturuti kehendakmu."

Tak nyana urusan bisa berakhir demikian, hati Ji Bun menyesal juga marah, namun apa boleh buat, katanya kemudian, “Wanpwe mohon diri!" Tubuhnya sudah berputar pergi, namun tiba-tiba merandek sambil merogoh kantong dan mengeluarkan sebutir pil terus dilemparkan ke arah Nikoh tua, serunya: "Toh-locianpwe, inilah obat penawar untuk menolong Hun-tiong Siancu."

Nikoh tua menerima obat itu, serunya haru: "Pin-ni akan selalu ingat kebaikkanmu ini."

"Tidak perlulah!" ujar Ji Bun, segera ia berlari pergi.

Ji Bun sendiri tidak mengerti kenapa dia berbuat demiklan, jelas musuh terluka parah, kenapa memberi obat untuk menolong jiwanya malah tiada penjelasan lain. Inilah perbuatan seorang kesatria, kelakuan seorang laki-laki sejati, karena dia tak pernah lupa bahwa dirinya adalah pejabat ketua suatu aliran perguruan, sepak terjang dan perbuatan harus selalu menjunjung kebesaran dan kejayaan nama Ban-tok-bun.

Setelah berlari-lari sekian lamanya, entah berapa jauh telah ditempuhnya, gejolak hatinya mulai mereda, kini dia menerawang tindakan selanjutnya.

Ayahnya juga terkurung di Ngo-hong-kau, tidak heran selama ini tidak pernah mengadakan kontak dengan dirinya, pertama kali bertemu dengan ayahnya bilang pihak Wi-to-hwe biang keladi dari pembantaian orang-orang Jit-sing-po, padahal, si Siucay tua alias Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun waktu itu belum masuk jadi anggota Wi-to-hwe, hal ini jelas serba bertentangan satu sama lain, mungkinkah ayahnya waktu itu juga hanya menduga-duga dan menaruh curiga belaka?

Kelicikan dan kemunafikan Ngo-hong Kaucu dirasakan amat sukar dihadapi, tapi toh harus ditumpas dan dibereskan juga oleh tangan sendiri.

Biau-jiu Siansing Ciang Wi-bin ada janji untuk bertemu di kota Cinyang, kini tiba saatnya untuk bertindak menurut langkah-langkah yang direncanakan. Di Cinyang dia bisa berunding sama Ciang Wi- bin, mencari daya untuk menolong ayahnya, disamping memberi penjelasan langsung terhadap Ciang Bing-cu soal perjodohan mereka. Seorang laki-laki harus menepati janji, soal ini harus selekasnya diselesaikan. Mengenai permusuhannya dengan Siangkoan Hong untuk sementara biarlah ditunda dulu. Demikianlah ia lantas menuju ke Cinyang. Hari itu ia tiba di Cinyang, ia tahu pasti ada orang yang diam- diam menguntit dirinya, maka ia tidak perlu buru-buru menuju ke "gedung setan", langsung dia mencari hotel kelas rendah yang letaknya di gang kecil. Setelah makan malam, dia rebahkan diri menghabiskan waktu.

Yang dia kuatirkan bila rahasia Ciang Wi-bin terbongkar dan mengalami petaka di luar dugaan, pihak Ngo-hong-kau jelas tidak akan menyia-nyiakan setiap kesempatan. Kalau tidak, dengan kepandaiannya sekarang hakikatnya tidak perlu merahasiakan gerak- geriknya sendiri.

Kira-kira kentongan kedua, setelah meringkasi seperlunya, segera dia buka jendela dan melompat keluar langsung menuju luar kota.

Setelah yakin tiada orang yang menguntit baru, dia putar balik ke dalam kota, langsung menuju ke gedung setan.

"Gedung setan" yang hening dan seram itu sudah apal baginya. Ji Bun langsung menuju ke pekarangan kecil di mana tempo hari dia pernah bersua dengan Khong-kok-lan So Yan.

Malam pekat, sunyi senyap, tiada sinar lampu, tidak terdengar suara manusia, diam-diam merinding bulu kuduk Ji Bun. Menurut kebiasaan, kedatangan dirinya pasti sudah diketahui oleh penghuni rumah maka dia batuk pelan-pelan. Tapi ditunggu sekian lamanya tiada sesuatu reaksi. Aneh, mungkinkah telah terjadi sesuatu?

"Ssssst!" Ji Bun kaget mendengar suara mendesis ini. Tapi jelas suara ini terdengar dari atas pohon yang rimbun daunnya. Maka dengan dingin dia membentak: "Siapa?" "Sssst! Kau Ji-seheng bukan?"

Mendengar suara anak kecil, Ji Bun lantas mengerti siapa yang bicara, cepat dia menyapa, "Apakah Siau-po?"

"Betul, aku di atas pohon."

Ji Bun melejit ke atas pohon, dilihatnya sesosok bayangan kecil nongkrong dipucuk pohon, dengan enteng badannya berputar terus hinggap tanpa menimbulkan pantulan sedikitpun di dahan pohon sebelahnya.

“Adik Siau-po, apa yang terjadi?" tanya Ji Bun lirih. “Malam ini ada tamu kemari."

"Tamu, siapa?"

"Kawanan kunyuk Ngo-hong-kau." "Darimana kau tahu akan kedatanganku?"

"Ayah yang bilang padaku, katanya malam ini kau pasti kemari, aku disuruh menunggumu di sini. Begitu kau tiba, beliau lantas tahu."

"Kapan ayahmu pulang?" "Kemarin." "Mana beliau?"

"Ada di ruang bawah tanah." "O, adik Siau-po, Tacimu ada?

"Ada, barusan dia tanya tentang kau, boleh kupanggil kau Toako?"

"Sudah tentu boleh."

"Toako, apa benar kau hendak menikah dengan Toaci?"

Ji Bun gelagapan tak bisa menjawab, menghadapi bocah yang jenaka ini, apa yang bisa dia katakan? Agaknya Ciang Wi-bin ayah beranak sudah pernah membicarakan soal dirinya, untung malam amat gelap, sehingga sikapnya yang kikuk tidak dilihat Siau-po.

"Siau-po, bicara dulu urusan yang lebih penting, sejak kapan orang-orang Ngo-hong-kau kemari?"

"Mereka mengejar ayah dan hendak membunuhnya." "Rencana apa yang telah diatur oleh ayahmu?"

"Kata ayah, setelah Toako datang baru akan turun tangan sambil melihat gelagat, lebih baik ka¬lau bisa membekuk pimpinannya untuk mengompes keterangannya." Belum habis mereka bercakap-cakap, sebuah suara lirih lambaian pakaian yang memecah udara terdengar dari arah luar. Lekas Ji Bun mendekap mulut Siau-po sambil memberi tanda supaya Siau-po tidak banyak ulah. Dari suara desiran angin ini, Ji Bun tahu kepandaian pendatang ini amat tinggi.

Dengan cepat dua bayangan orang tanpa mengeluarkan suara telah melayang turun di pekarangan. Mata Ji Bun amat jeli, walau di tempat gelap juga dapat melihat jelas bahwa yang datang ini adalah laki-laki yang berpakaian ketat dari kain sutera. Ini sudah cukup menunjukkan asal usul mereka.

Terdengar salah seorang berkata: "Menurut laporan, ada bayangan orang masuk ke dalam rumah, kenapa tidak kelihatan?"

"Mungkin bersembunyi." "Kapan kita mulai bergerak?"

"Menunggu perintah komandan, mungkin setelah kentongan ketiga."

"Menghadapi seorang maling tua kenapa harus mengerahkan begini banyak jago-jago kosen?"

"Jangan kau pandang rendah Biau-jiu Siansing, sulit dilayani."

Ji Bun sudah tidak sabar lagi, dengan gerakan tangan dia memberi tanda kepada Siau-po supaya tidak bergerak, lalu seringan daun dia melayang turun. Kedua orang itu agaknya berkepandaian tinggi, pendengarannya tajam, luncuran Ji Bun sudah diketahui, serempak mereka putar tubuh seraya bersiaga. Tanpa membuka suara, laksana setan tahu-tahu Ji Bun sudah menubruk tiba sambil menggerakan kedua tangan. "Plak, plok," belum lagi kedua orang itu sempat melihat siapa yang menyerang, kontan badan mereka tersungkur roboh binasa, segera Ji Bun menyeretnya ke sudut tembok sana.

Tiba-tiba dari kamar di depan sana menyala secercah sinar pelita yang kuning redup. Di atas pohon Siau-po segera berseru lirih: "Toako, itulah tanda untuk memancing musuh."

Tergerak pikiran Ji Bun, cepat dia berkelebat masuk ke dalam kamar.

Kira-kira setengah jam kemudian, terdengar suitan panjang melengking dari arah tenggara, disusul sambung menyambung pada setiap sudut rumah bersahutan suitan panjang yang sama. Agaknya gedung setan ini sudah terkepung oleh orang-orang Ngo-hong-kau.

Ji Bun membatin, kejadian sungguh amat kebetulan, jika Biau-jiu Siansing tidak sempat pulang dan dirinya tidak kebetulan tiba disini, rahasia gedung setan ini tentu bakal terbongkar oleh pihak Ngo- hong-kau, betapa akibatnya sungguh sukar dibayangkan.

Dari berbagai sudut rumah dan pekarangan, tampak bayangan orang mulai bergerak, semua perhatian tertuju ke arah sinar pelita di dalam kamar. Empat bayangan orang mendadak menubruk maju ke depan kamar, masing-masing orang bersenjata pedang. Setelah saling memberi tanda serentak menyerbu kedalam kamar. "Waaah, aduh!" jeritan yang mengerikan memecah kesunyian malam, hampir bersamaan bayangan ke empat orang yang menerjang ke kamar tadi, sama terlempar keluar, semuanya rebah tak bergerak.

Agaknya orang-orang Ngo-hong-kau tidak kenal jeri dan kapok, mereka yakin dengan kekuatan yang dikerahkan malam ini dapat mencapai tujuan. Sepuluhan bayangan orang tanpa diperintah berlompatan pula ke arah pekarangan kecil ini, yang terdepan adalah seorang tua baju sutera yang berjenggot uban, tentunya dia inilah yang disebut komandan oleh kedua orang yang pertama datang tadi.

Dengan suara kereng dan berat orang tua berjenggot panjang ini berkata ke arah kamar, “Ciang Wi-bin, keluarlah dan jawab beberapa pertanyaanku."

Tiada reaksi, ditunggu pula sesaat lamanya tetap tiada jawaban, terpaksa laki-laki tua berjenggot mengulap tangan pada orang-orang bertubuh jangkung yang bersenjata pedang di belakangnya: "Terjang ke dalam!"

Kedua ahli pedang serempak menghardik, dengan pedang melintang melindungi badan, sebelah tangan terangkat di atas kepala, secepat anak panah mereka melesat ke dalam kamar.

Tak tersangka, begitu bayangan mereka lenyap, tidak terdengar suara apa-apa lagi. Akhirnya laki-laki tua berjenggot perintahkan enam orang bersenjata pedang memburu masuk pula ke dalam, tapi aneh bin ajaib, seperti batu kecemplung laut, keenam orang inipun lenyap tanpa suara. Keruan orang-orang yang di luar merasa merinding, tapi juga gusar.

Melihat gelagat tidak menguntungkan, dengan suara gemetar si orang tua berjenggot membentak: "Ciang Wi-bin, memangnya kau tidak berani keluar dan suka mengkeret seperti kura-kura?"

Sekarang baru ada jawaban dari dalam kamar: "Tuan siapa, sebutkan dulu namamu?"

"Komandan Busu dari markas pusar Ngo-hong-kau, Ih Ciau." "Apa maksud kalian datang kemari?”

"Atas perintah Kaucu, kami ingin undang saudara ke markas kami."

"Beginikah cara kalian mengundang tamu?" "Lekas saudara keluar saja."

"Kalau aku tidak sudi keluar?"

"Gedung setan akan kami bumi hanguskan hingga rata dengan tanah."

"Kau yakin dapat melakukan? Berapa banyak orang yang kau kerahkan?" "Tidak banyak, hanya seratus Busu saja." "Ah, terlalu sedikit."

"Apa maksudmu?"

"Nafsuku sudah membara untuk membunuh, jiwa seratus orang belum cukup untuk melampias angkara murkaku."

Orang berjenggot terloroh-loroh, katanya: "Ciang Wi-bin, jangan membual, kalau tidak lekas keluar, akan kuperintahkan menyulut api?"

"Orang she lh, kau yakin aku ini Ciang Wi-bin?" "Jangan kau kira bisa mengelabui mata orang dengan

samaranmu, aku yakin tidak akan salah."

"Baiklah, biar kau berkenalan dengan cara permainanku "

ditengah-tengah kumandang kata-katanya, tampak delapan Busu yang tadi menerjang masuk ke kamar beriring berjalan keluar, tapi setiba di pekarangan, satu persatu mereka tersungkur roboh binasa. Keruan kejadian ini cukup menggetar nyali semua orang.

Orang tua berjenggot segera maju memeriksa tiba-tiba dia menjerit kaget: "Racun jahat penghancur jantung."

"lh Ciau" terdengar jengekan dari dalam kamar, "ternyata kau juga kenal racun jahat ini," "Kau siapa kau sebetulnya?"

"Kenapa tidak omong-omong di dalam saja?"

Sejenak orang tua berjenggot melenggong, katanya: "Jangan main teka-teki, aku sudah tidak sabar lagi."

"Memangnya kenapa kalau kau tidak sabar?”

"Kubakar habis seluruh gedung ini. Siap!" segera memberi aba- aba.

Bayangan orang serempak bergerak mundur tiga tombak, tangan setiap orang terangkat tinggi, jari masing-masing menyekal sebuah benda bundar. Begitu si orang tua berjenggot bersuit, dari empat penjuru segera suitan balasan. "Tunjukkan contohnyal"

Seorang Busu segera melemparkan benda bundar ditangannya ke rumpun bunga di depan sana. "Dar!" Semak-semak yang lebat itu segera berkobar terjilat api, seluruh pekarangan menjadi terang benderang.

Ternyata bola hitam itu berisi belerang dan sebangsa obat peledak, begitu meledak api segera menyala, entah berapa bekal bola hitam musuh. Kalau setiap bola dilemparkan, gedung setan pasti akan menjadi lautan api.

"Hebat juga cara kalian!" sebuah bayangan tiba-tiba berkelebat keluar dari dalam kamar. "Te-gak Suseng!” orang-orang yang mengepung itu sama menjerit kaget. Orang tua berjenggot seketika pucat mukanya, sorot matanya memancarkan sinar yang menakutkan, bentaknya beringas: "Kiranya kau!"

"Ih Ciau," ejek Ji Bun dingin, "malam ini harus kutahan di sini.”

Laksana kilat menyambar ia menubruk ke arah si orang tua berjenggot.

Agaknya lh Ciau komandan Busu Ngo-hong-kau ini maklum bahwa dengan kekuatan seluruh anak buahnya terang takkan mampu berhadapan dengan Te-gak Suseng yang terkenal kejam tanpa kenal ampun ini, maka sejak tadi dia sudah bersiaga. Begitu Ji Bun bergerak, sebat sekali iapun melompat ke tempat gelap dan menghilang. Ji Bun menubruk tempat kosong, keruan tidak kepalang penasaran hatinya. Celakalah anak buah Ngo-hong-kau yang lain, ke mana kaki dan tangan Ji Bun bergerak, seperti membabat rumput saja, beberapa jiwa segera melayang seketika.

Di tengah keributan itulah, entah siapa yang melempar bola hitam. "Dar, dar!" jago merah segera menyala dan menjilat pekarangan kecil sebelah kiri sana. Cepat sekali pekarangan kecil serta bangunannya telah menjadi lautan api.

Serasa menguap kepala Ji Bun saking murka, segera ia kembangkan kecepatan gerak tubuhnya, bayangan berkelebat setiap orang yang kesamplok diganyang habis-habisan. Kepandaian para Busu ini jauh lebih rendah dari pada tingkat para duta, jangan kata melawan, melarikan diripun tak sempat lagi, tahu-tahu jiwa sudah melayang di tangan Ji Bun. Di tengah suara gemeretak yang gaduh dari api yang menyala-nyala itu, di sana sini berkumandang pula jerit dan pekik orang-orang yang terenggut nyawanya. Tapi lebih banyak jumlahnya yang sempat melarikan diri.

"Toako," mendengar seruan ini, mata Ji Bun yang sudah membara melihat Siau-po melayang datang ke sampingnya, maka dengan suara gugup dia bertanya: "Siau-po, ayahmu dan lain-lain

........?”

"Beliau tidak kurang sesuatu apa, meski ada kebakaran tiga tahun juga tidak akan menjilat ke tempat sembunyi mereka.

"Tapi kebakaran ini tidak boleh dibiarkan menjalar ke tempat lain, ini di dalam kota."

“Paling pekarangan kecil ini yang terbakar habis, sekelilingnya tempat kosong, di sana terlindung oleh tembok tinggi lagi, cuma bangunan loteng di belakang itu harus dirobohkan walau terpaut satu gang kecil."

"Di mana?"

"Mari kutunjukkan tempatnya."

Waktu mereka tiba di belakang, api sudah menyala besar, loteng kecil itupun sudah hampir terjilat api. Ji Bun segera memburu maju seraya suruh Siau-po menyingkir. Tangan terayun segera dia menggempur ke arah saka, untung bangunan itu sudah cukup tua. Sekall pukul, seluruh bangunan loteng bergetar. Beruntun Ji Bun memukul tiga kali ketiga tempat, loteng kecil itu segera ambruk dengan mengeluarkan suara gaduh.

Siau-po tenang-tenang saja, segera ia tarik lengan Ji Bun, katanya, "Toako, mari menemui ayahku."

Dengan menyeret Ji Bun, Siau-po berlari-lari kecil berputar kian kemari tujuh delapan kali ke kanan dan ke kiri, akhirnya menyelinap masuk ke tengah-tengah gunung buatan, di sini dia menekan sebuah tombol membuka pintu rahasia terus lari masuk ke lorong gelap  yang menembus ke bawah. Ternyata ruangan di bawah tanah dibangun dengan bentuk lain, pajangan di sini juga serba megah  dan mewah.

Belum jauh mereka melangkah di antara lorong panjang, tampak Ciang Wi-bin menyongsong keluar, Ciang Bing-cu mengikuti di belakangnya. Ciang Wi-bin tetap berdandan seperti hartawan kaya raya yang berjenggot panjang seperti dulu. Setelah tergelak-gelak lalu berkata: "Hiantit, kedatanganmu sudah kuperhitungkan dengan tepat."

"Paman, sayang sekali, Siautit kurang becus, pemimpinnya sempat melarikan diri."

"Peduli amat sama dia."

Ciang Bing-cu tampak sedikit kurus, namun pandangan matanya masih begitu jernih, pipinya bersemu merah kemalu-maluan, sedikit menekuk lutut memberi hormat, dia menyapa: "Selamat bertemu Ji- seheng." Panas muka Ji Bun, lekas dia balas menghormat dan menyapa. "Marilah bicara di dalam," ujar Ciang Wi-bin.

Lorong ini cukup panjang dan lebar, tiga orang bisa jalan berjajar, Ciang Bing-cu mengikuti di belakang, sejenak mereka sudah tiba di sebuah kamar batu yang besar.

Tampak Khong-kok-lan So Yan, si ibu tua tengah duduk di atas sebuah kursi besar berukir yang serba antik. Melihat orang, timbul perasaan aneh dalam benak Ji Bun. Sebagai isteri tua ayahnya, walau sekarang sudah jadi musuh, tata krama tidak boleh diabaikan, segera ia beranjak maju menyapa: "Tay-bo (ibu tua) baik-baik saja

.........?"

Sikap Khong-kok-lan So Yan kaku dingin. "Tempo hari pernah kuperingatkan, panggil aku Cianpwe saja."

20.60. Pemberian Thian-thay-mo-ki "Selamat bertemu So-cianpwe.” "Silakan duduk."

"Terima kasih."

Setelah semua orang mengambil tempat duduk, sesaat suasana menjadi hening, karena adanya hubungan yang janggal antara Ji Bun dengan So Yan, siapapun menjadi kikuk untuk buka suara lebih dulu.

Setelah berdehem akhirnya Ciang Wi-bin membuka suara: "Hiantit, kejadian apa yang kau alami di tengah jalan?"

"Di Sip-san, Siautit bersua dengan Ngo-hong Kaucu, sayang dia sempat melarikan diri, dari mulutnya, Siautit mendapat kabar tentang jejak ayah.”

Berubah rona muka Khong-kok-lan So Yan, tapi diam saja. Ciang Wi-bin mengerut kening, tanyanya: "Di mana ayahmu?" "Bersama ibu mereka ditawan di markas pusat Ngo-hong-kau."

"Ngo-hong Kaucu sendiri yang mengatakan padamu? Apa maksudnya?"

"Sekarang belum diketahui, namun dia mengajukan syarat untuk membebaskan mereka."

"Syarat apa?"

"Dia minta barter dengan batok kepala Siangkoan Hong suami isteri."

"Hm, membunuh dengan pinjam tangan orang lain, muslihat

Ngo-hong Kaucu memang terlalu keji. Lalu rencana apa yang hendak kau lakukan untuk memenuhi syarat ini?" "Kukira sulit dilakukan."

"Ya, aku sudah mengatur rencana, kita harus mencari tahu asal usul Ngo-hong Kaucu, kuyakin tak lama pasti berhasil kuselidiki."

"Gi-heng," tiba-tiba Khong-kok-lan So Yan buka suara, "bahwa Ji Ing-hong masih hidup, tentunya kau tidak merintangi aku menuntut balas padanya bukan?"

Panggilan "Gi-heng" atau kakak angkat baru pertama kali ini Ji Bun mendengarnya. Jelas, secara langsung So Yan tidak akan peduli lagi adanya hubungan lantara Ciang Wi-bin dengan Ji Ing-hong di masa lalu, bagi pendengaran Ji Bun sudah tentu amat menusuk kuping dan serba rikuh lagi.

Ciang Wi-bin melirik ke arah Ji Bun tanpa bersuara. Ji Bun sendiri juga maklum, dalam pembicaraannya waktu pulang dari danau setan tempo hari, Ciang Wi-bin telah menarik kesan buruk terhadap perbuatan jahat ayahnya, malah ada maksud memutuskan hubungan, maka dapatlah dibayangkan kalau kedudukan dirinya sekarang menjadi serba susah.

Mendadak dia teringat kepada Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun yang tidak mati seperti dugaan banyak orang. Jit-sing-po pun telah dihancur leburkan, tapi dendam ibu tua ini agaknya sudah terlalu mendalam. Betapapun So Yan pernah menjadi isteri ayahnya, lalu apa pula yang bakal terjadi bila satu sama lain berhadapan? Maka Ji Bun berkata sambil menatap Ciang Wi-Bin. "Paman, Siautit sudah menemukan biangkeladi yang membantai orang-orang Jit-sing-po."

Tiba-tiba bercahaya biji mata Khong-kok-lan So Yan, rona mukanya terunjuk senang dan kaget.

"Siapa?" Ciang Wi-bin bertanya kaget. Sepatah demi sepatah Ji Bun menerangkan: “Hing-thian-it-kiam Gui Han-Bun."

Kata-kata Ji Bun laksana geledek manyambar kepala, Khong-kok- lan berjingkat berdiri, mata mendelik dan mulut melongo, badannya gemetar seperti orang kedinginan.

Ciang Bing-cu terbeliak kaget mengawasi Ji Bun, lalu memandang So Yan. Ciang Wi-bin juga berdiri. "Siapa katamu?” tanyanya menegas.

"Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun." "Ini ...... ini mana mungkin?"

"Peristiwa itu tak sampai merenggut jiwanya ”

"Jadi jadi dia masih hidup?"

"Ya, dia adalah Siucay tua yang baru-baru ini masuk jadi anggota Wi-to-hwe."

"Ah, sungguh di luar dugaan." "Kau apa yang kau lakukan atas dirinya?" tanya Khong-kok-

lan So Yan dengan tergagap, suaranya tertelan dalam tenggorokan.

"Aku tidak membunuhnya, dia masih hidup, sekarang berada di Wi-to-hwe."

"Dari mana kau tahu dia adalah biangkeladi yang menghancurkan Jit-sing-po?"

"Dia sendiri yang mengaku."

Berkaca-kaca mata Khong-kok-lan So Yan, berita gembira di luar dugaan ini membuat hatinya senang, dan penuh emosi, dengan lunglai dia menjatuhkan diri ke atas kursi, napasnya agak memburu. Setelah sekian lamanya baru tiba-tiba dia berdiri pula, katanya dengan suara gemetar kepada Ciang Wi-bin: "Selama beberapa tahun ini, berkat budi kebaikan Gi-heng sehingga aku hidup tenteram di sini, tak perlu kiranya aku banyak kata dengan ucapan muluk-muluk, bila selama hayat masih dikandung badan, aku tak bisa membalas kebaikan ini, biarlah pada penitisan "

"Gi-moay, buat apa kau bilang begini ”

"Sekarang aku mohon diri "

"Kau hendak ke mana?” "Mencari Gui Han-bun." "Dik, berpikirlah dengan kepala dingin, apakah Siau-po hendak kau tinggalkan?"

Dengan berlinang air mata Khong-kok-lan So Yan berkata: "Po-ji, kelak kita pasti akan berkumpul lagi, sekarang kau sudah besar. Cici dan ayahmu akan menemanimu."

Siau-po menangis tergerung-gerung. Ciang Bing-cu ikut membujuk: "Gi-bo (ibu angkat), apa engkau harus pergi?"

"Bing-cu aku harus menemuinya ”

Ji Bun kebingungan, tidak tahu apa yang harus diiakukan, dalam keadaan demikian dia memang kehabisan akal dan tak dapat ikut bicara.

"Gi-moay," ujar Ciang Wi-bin, "permusuhan lebih mudah di tanam dari pada dilerai, maka kuharap setelah kau berkumpul dengan Han- bun mungkinkah ”

"Gi-heng," tukas Khong-kok-lan So Yan, "kau tahu tak mungkin kubatalkan balas dendam terhadap Ji Ing-hong. Bagaimana nasib kami selanjutnya entahlah Gi-heng, Bing-cu, Siau-po, selamat tinggal!"

Habis berkata dia kipatkan tangan Siau-po terus berlari keluar.

Siau-po berjingkrak dan tangisnya gerung-gerung. Bing-cu tersedu sedan. Ciang Wi-bin membanting kaki dan menghela napas panjang sambil berkeluh kesah. Ji Bun membesi muka, mulut terkancing dan mata melotot.

Untuk sesaat lamanya keadaan menjadi sunyi. Tiba-tiba Ciang Wi-bin tarik lengan Siau-po, katanya gelisah: "Kaki tangan Ngo- hong-kau pasti tidak ditarik seluruhnya, hayolah kita antar ibu angkatmu."

Ayah beranak segera berlari keluar, sebelum pergi Ciang Wi-bin menatap Ji Bun penuh arti.

Kini dalam kamar di bawah tanah yang serba mewah ini tinggal Ji Bun dan Ciang Bing-cu berdua. Pandangan Ciang Wi-bin sebelum berlalu tadi merupakan isyarat. Ji Bun maklum apa artinya, apa yang dikatakan mengantar ibu angkat hanya alasan belaka, yang terang tujuannya adalah memberi kesempatan pada dirinya untuk bicara dari hati ke hati dengan Ciang Bing-cu. Seperti diketahui waktu perjalanan pulang dari "danau setan" Ciang Wi-bin pernah berjanji menjodohkan puterinya kepada Ji Bun.

Ji Bun menjadi kebingungan, sesaat lamanya dia sukar membuka mulut. Ciang Bing-cu sendiri agaknya juga tahu akan hal ini, wajahnya tampak malu-malu, kepalanya tertunduk dan kedua tangannya mengucek ujung baju, mulut terkancing tak bicara.

Akhirnya Ji Bun keraskan kepala, katanya: "Adik Cu, kakak ada beberapa patah kata yang muugkin terlalu sembrono untuk kukatakan ” sampai di sini dia berhenti, tak tahu kata-kata apa

pula yang harus diucapkan. Ciang Bing-cu tetap menunduk, katanya dengan malu-malu: "Ada omongan apa silakan kakak katakan saja."

"Betapa besar kasih sayang adik terhadap kakak, selama hidup terukir dalam sanubariku, sayang aku ditakdirkan hidup dalam keluarga yang terlibat dendam kesumat, bagaimana nasibku kelak, sukar diramalkan, oleh karena itu kumohon adik maklum akan keadaanku yang serba sulit ini, janganlah kau sia-siakan masa remajamu sendiri ”

Tiba-tiba Ciang Bing-cu angkat kepalanya, wajahnya diliputi rasa marah dan penasaran, katanya sambil tertawa dingin: "Ji Bun, aku tak pernah bilang harus menikah dengan kau."

Ji Bun tertegun, wajahnya merah dan tak dapat bicara lagi.

Suasana menjadi beku dan serba kikuk. Sambil mengebas lengan baju Ciang Bing-cu berdiri, air mata berlinang, dengan langkah lemas ia beranjak ke arah kamar.

Ingin Ji Bun memanggilnya, tapi gerahamnya terasa kaku, mulut terpentang tapi tenggorokan seperti tersumbat. Dia tahu betapa hancur luluh hati Ciang Bing-cu, malu lagi, akan tetapi Ji Bun tahu dirinya tak kuasa menghindari kenyataan ini, budi dan cinta Thian- thay-mo-ki sedalam lautan, kesetiaannya sekokoh gunung, betapapun dia tidak rela menyia-nyiakan kebaikan orang terhadap jiwa raga sendiri. Sekarang urusan menjadi berkepanjangan, apa boleh buat, akhirnya dia menghela napas panjang. "Hiantit, bagaimana hasil pembicaraan kalian?” tahu-tahu Ciang Wi bin melangkah datang, namun Siau-po tidak ikut masuk, agaknya sengaja disuruh jaga di luar.

Ji Bun tertawa getir, katanya: "Se-moay tidak memaklumi keadaanku."

"Lahirnya dia lemah lembut, yang benar iapun berwatak keras, aku yang jadi ayahnya pun tak kuasa membujuk dia. Tapi urusan masa depan tak boleh dibuat main-main, kuharap Hiantit bisa mempertimbangkan lagi."

Apa boleh buat Ji Bun menjawab sekenanya: "Siautit akan berpikir lagi."

Ciang Bing-cu muncul pula, wajahnya tampak dingin kaku, katanya dengan nada sedih: "Ayah, kenapa kau paksa orang, dia punya kesulitan ”

"Bing-cu," kata Ciang Wi-bin lembut, "jangan kau mengumbar adat ”

"Yah, puterimu bukan perempuan jalang dari kelas buangan, dia suruh Ui-suheng mengembalikan anting-anting, itu sudah jelas mengunjukkan sikapnya "

"Sebagai insan persilatan yang hidup di kalangan Kang-ouw, memangnya setiap orang mungkin saja terlibat dalam urusan yang sukar dimaklumi orang lain." "Anak tidak senang menyinggung persoalan ini lagi."

"Se-moay," kata Ji Bun sambil menyengir, "kakak amat menyesal

......”

"Buat apa menyesal, Se-heng terlalu rendah hati."

Ciang Wi-bin mengulap tangan, katanya tegas: "Baik, sampai di sini saja pembicaraan ini, sudah saatnya perut kita ditangsal."

Dalam keadaan yang serba kikuk ini, sebetulnya Ji Bun ingin mohon diri, namun dia merasa kurang enak, itu akan menandakan sikapnya kurang wajar, berjiwa dan berpikiran sempit. Apalagi hubungan mereka tak mungkin dan tak boleh putus demikian saja. Kalau sekarang dirinya tinggal pergi bila bertemu lagi kelak tentu serba runyam, pula kedua ayah beranak ini begini baik terhadap dirinya, keluhuran budi mereka tak boleh dihapus begini saja.

Maka sambil manggut-manggut ia beranjak keluar meninggalkan kamar besar ini.

Seperti bangunan gedung umumnya, ruang bawah tanah inipun ada pula kamar tidur, kamar makan dan kamar tamu. Semuanya dipajang perabot serba antik dan mewah. Dari sini dapat dinilai betapa besar jerih payah Ciang Wi-bin waktu membangun rumah bawah tanah ini.

Hidangan sudah disiapkan di kamar makan, mereka tangsel perut ala kadarnya, masing-masing jarang bicara, Siau-po pun jarang bicara, hanya Ciang Wi-bin saja yang bercerita panjang lebar tentang kejadian-kejadian di Kang-ouw masa silam, maksudnya hendak menambah gairah makan dan memulihkan hubungan kedua pihak. Ji Bun tak berminat mendengar cerita, otaknya senantiasa berpikir cara bagaimana mencari daya untuk memecahkan persoalan pelik ini?

Sekonyong-konyong sebuah bayangan berkelebat memasuki kamar makan, itulah seorang pemuda berwajah putih cakap berpakaian sutera.

"Ngo-hong-su-cia!" bentak Ji Bun sambil berdiri.

Pemuda baju sutera langsung memberi hormat kepada Ciang Wi- bin, katanya: "Terimalah sembah sujud murid Suhu."

Mendengar suara orang, seketika Ji Bun melengong, yang datang ternyata adalah Sian-thian-khek Ui Bing. Sungguh ia tak habis mengerti, apa sebetulnya tujuan Ui Bing menyaru jadi Ngo-hong-su- cia, guru dan murid ini memang serba misterius, sepak terjang mereka sukar diselami.

Tak lupa Ui Bing menyapa Ciang Bing-cu dan Siau Po, lalu berputar kepada Ji Bun, katanya: “Hiante, bagaimana keadaanmu?"

Ji Bun menjawab, "Tidak apa-apa, silakan duduk Toako, minumlah sambil bercakap-cakap."

"Maaf, aku tidak punya waktu.”

"Bagaimana perkembangannya?" tanya Ciang Wi-bin serius. "Belum ada tanda-tanda terang, cuma ada satu hal cukup mencurigakan. Yaitu cara dia menggunakan tata rias, agaknya satu sumber dengan aliran kita "

"Itu tak perlu dibuat heran, ilmu tata rias dari tiga aliran yang ada di sini satu sama lain hanya sedikit perbedaannya, yang penting adalah membongkar kedok aslinya atau cari tahu asal usulnya."

"Sungguh amat sulit dan serba susah, dia cukup licik dan licin, banyak muslihatnya lagi, dengan kedudukan Duta, Tecu toh sukar sembarangan bergerak di markas pusat mereka."

"Betapapun sukarnya tetap harus kau kerjakan." Ui Bing mengiakan.

"Toako," Ji Bun menyeletuk. "Bagaimana kau bisa menyaru jadi Ngo-hong-su-cia?"

"Kebetulan akhir-akhir ini Ngo hong kau mengadakan pemilihan calon-calon Duta, syarat-syarat yang utama adalah bakat, kedua muda usia, ketiga adalah kepandaian silatnya. Dengan dandananku ini beruntung aku diterima disana."

"O, dari mana dapat dicari pemuda sebanyak itu, mana harus berkepandaian silat lagi." "Asal punya dasar dan bakat, Kaucu sendiri yang mengajarkan ilmu silat, dalam jangka sebulan akan digembleng dengan hasil yang gemilang."

"Sejauh ini Toako masih belum tahu wajah asli Ngo-hong-kaucu?" "Belum, kukira hanya beberapa orang saja yang tahu "

"Kenapa sampai sedemikian misterius?"

"Itulah perbedaan adanya lurus dan sesat, dari kalangan lurus yang diutamakan adalah keterus terangan dan kejujuran, sedang orang-orang dari aliran sesat, yang diutamakan hanya tujuan. Meski harus menggunakan cara kotor apapun, mereka tetap berani bertindak secara sembunyi serta menggunakan muslihat."

"Bagaimana kalau Siaute memberi sedikit sumber penyelidikan." "Sumber penyendikan apa?"

"Ngo-hong-kaucu adalah orang yang pernah beberapa kali berusaha membunuh Siaute, yaitu Kwe loh-jin yang berhasil merebut Hud-sim."

"Bagus!" teriak Ui Bing.

"Anak muda," Ciang Wi-bin menyambung, "Jangan semberono sehingga menunjukkan belangmu sendiri. Ada urusan apa lagi lekas katakan supaya segera kau dapat pergi" "Hal ini ada hubungannya dengan Hiante," ujar Ui Bing menatap Ji Bun.

"Ada hubungan dengan Siaute?" Ji Bun menegas.

"Ya, coba kau lihat ini," kata Ui Bing sambil mengulurkan sebuah lipatan kertas. Ragu-ragu Ji Bun menerimanya dan dibuka, seketika air mukanya berubah, kedua tangan gemetar, firasat jelek segera menyentuh sanubarinya, kertas itu membungkus beberapa utas potongan rambut. "Toako .... ini apakah ini?"

Dengan suara rawan Ui Bing berkata: "Itulah pemberian Thian- thay-mo-ki untuk Hiante."

Badan Ji Bun limbung, suaranya gemetar: "Pemberiannya? Toako sudah bertemu sama dia? Apakah dia baik-baik?"

Guram sorot mata Ui Bing tiba-tiba, katanya dengan menunduk pilu: "Hiante, dia dia sudah meninggal."

Seperti disamber petir Ji Bun tersentak mundur dan "bluk" jatuh terduduk di atas kursi, mukanya bergetar seram sehingga merubah bentuknya yang cakap, biji matanya melotot sebesar kelereng, mulutnya bergumam serak: "Dia sudah meninggal."

Ciang Bing-cu, Ciang Wi-bin, Siau Po sama pucat dan tegang. Ui Bing melangkah maju, tangannya memegang, pundak Ji Bun, suaranya penuh rasa iba dan simpatik: "Hiante, orang mati tak dapat hidup kembali, kau harus tabah menghadapi kenyataan ini." Mendadak Ji Bun berdiri, dengan kencang dia pegang kedua pundak Ui Bing, bentaknya bengis: "Bagaimana dia bisa mati?”

Karena terlalu emosi, pegangannya begitu kencang, saking kesakitan Ui Bing sampai mengertak gigi dan keringat dingin berketes-ketes.

Dengan meringis Ui Bing menjawab: "Dia bunuh diri." "Bunuh diri? Kenapa?"

“Karena kesuciannya dinodai oleh Ngo-hong Kaucu.”

"Keparat, kubunuh dia!" teriak Ji Bun kalap. Air mata meleleh dari kelopak matanya yang melotot, betapa seram dan mengerikan keadaannya, sungguh siapapun akan merinding dan kasihan pula.

Saking tak tahan karena pergelangan tangan diremas, terpaksa Ui Bing menjerit kesakitan. Baru sekarang Ji Bun sadar, lekas dia lepas pegangannya.

"Hiantit," ujar Ciang Wi-bin, "tenangkan pikiranmu."

Dengan jari-jari gemetar Ji Bun remas bungkusan rambut itu serta mendekapnya di depan dada, air mata darah bercucuran dengan deras. Dalam sekejap ini, hatinya serasa disayat-sayat, sukmanya seperti dibetot secara mentah-mentah dari raganya. Kepedihan dan kesedihan yang luar biasa membuat pikirannya hampa. Cinta bertepuk sebelah tangan, budi belum terbalas, ternyata si dia kini sudah pergi meninggalkan dunia fana ini, mati secara mengenaskan sesudah dikotori tubuhnya, dapatkah dia pergi dengan mata meram?

Kini dia sudah tiada, rambut peninggalan ini merupakan pertanda betapa besar cinta kasihnya yang terbawa ke liang kubur. Tinggal kenangan abadi akan selalu terukir di dalam lubuk hatinya. Hanya satu cita-citanya semasa masih hidup, terangkap jodoh menjadi suami isteri, dan cita-cita inipun tetap terkandung dalam hatinya sampai akhir hayatnya.

Sebetulnya Ji Bun sudah bersumpah untuk tidak lagi mengabaikan cinta murninya, akan tetapi semua ini sudah sirna, hanyut terbawa sang waktu. Dia pergi membawa serta rasa kebencian yang tak terlampiaskan, derita yang tak terperikan dan jiwanya nan luhur, bagai bunga, sehalus sutera dan berakhir begitu saja.

Hawa seperti membeku, tiada buka suara. Lama sekali, dengan kaku baru Ji Bun angkat kepala, suaranya serak, tanyanya pada Ui Bing: "Toako, bagaimana kejadiannya?"

Dengan suara rendah Ui Bing mulai bercerita: "Beberapa hari yang lalu, kebetulan Kaucu sedang keluar, untuk pertama kali aku ditugaskan berjaga di markas dalam. Sengaja aku cekoki para petugas lain sampai mabuk, diam-diam aku menyelundup ke belakang. Kudengar suara isak tangis seorang perempuan, waktu kuintip, ternyata dia ”

“Segera aku memperkenalkan diri, maka dia memotong ujung rambutnya ini dan diberikan padaku dengan berpesan: Sampaikan pesanku kepadanya, hidup ini tak tercapai cita-citaku, biarlah pada penitisan mendatang kami hidup sebagai suami-isteri.

"Apa pula yang dikatakan?"

"Dia minta supaya, kau menjaga diri baik-baik, rambut ini ditinggalkan untuk kenang-kenangan sepanjang masa. Dia bilang, walau mati cintanya tetap takkan berubah, dan cinta itu tetap akan terbawa ke liang kubur, lalu dia putuskan urat nadi sendiri

membunuh diri."

Air mata darah kembali bercucuran, tiba-tiba Ji Bun menggembor kalap: "Kau tidak berusaha mencegah dia bunuh diri?"

“Dia bilang, badan yang kotor ini tidak setimpal untuk menebus kematiannya, bahwa dia bertahan hidup selama ini adalah untuk mencari kesempatan mengirim kabar ini. Dia mengharap kau menuntut balas bagi kematian guru dan murid."

“Maksudku kenapa kau tidak cegah dia bunuh diri?” “Tidak, sempat lagi."

"Kau terlalu mementingkan dirimu sendiri.”

Ui Bing mundur setapak, katanya haru dan dongkol: "Kenapa Hiante bilang begini, apakah aku orang demikian?"

Setelah berkata Ji Bun sadar telah kelepasan omong. Secara tidak langsung kata-katanya merupakan pukulan batin dan penghinaan terhadap Ciang Wi-bin dan puterinya. Namun untuk menarik balik kata-katanya tadi sudah tak keburu lagi. Tapi rasa sesal ini hanya sekejap saja, lain kejap hatinya sudah dirundung kepedihan yang tak terperikan, katanya sesenggukan: "Kau tahu kalau dia bakal menempuh jalan pendek, kenapa bilang tidak sempat?"

"Hiante, apakah aku harus membelah hatiku untuk diperlihatkan kepadamu? Hiante, aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang, aku tidak menyalahkan kau."

“Di mana jenazahnya?" tanya Ji Bun.

"Sudah kukebumikan di hutan belakang markas." “Di mana letak markas Ngo-hong-kau?"

“Kelukan ketiga yang terletak di belakang Siong-san, di sana ada tiga pucuk pohon siong yang berdiri segi tiga, masuk ke dalam kelukan terus menerobos ke dalam gua panjang, di sanalah letaknya."

"Hiantit," kata Ciang Wi-bin kemudian, "hatikupun ikut sedih, tiada yang bisa kukatakan cuma aku harap kau tenang. Thian-thay- mo-ki memang bernasib malang, tapi masih banyak lagi insan persilatan yang bernasib lebih jelek daripada dia. Dan tugasmu sekarang adalah menumpas kelaliman dan kejahatan untuk menolong mereka yang tertindas.”

Dengan kaku Ji Bun manggut-manggut, katanya menatap Ui Bing: "Toako, adakah kabar ayahku?” Ui Bing terbeliak, tanyanya: "Apakah ayahmu juga berada di Ngo- hong-kau?"

"Tidak salah, Ngo-hong Kaucu sendiri yang bilang padaku." "Setelah kembali nanti akan kuselidiki.".

"Sekarang lekas kau pergi," ujar Ciang Wi-bin, "jangan membuat urusan menjadi berantakan.”

Ui Bing mengiakan, dia beri hormat kepada guru, lalu menjabat tangan Ji Bun dengan kencang, katanya: "Hiante, kata-katamu memang betul, seharusnya aku sadar akan kejadian itu, namun aku lalai, hal ini akan menjadikan sesal selama hidupku, tapi kuharapkan Hiante maklum. Aku tidak sengaja berpeluk tangan menyaksikan drama itu berlangsung,"

"Berat kata-kata Toako, Siaute menjadi malu diri." "Sampai bertemu lagi,” Ui Bing terus mengundurkan diri.

Sesaat kemudian baru Ciang Bing-cu memecah kesunyian: "Se- heng, begitu besarkah cintamu terhadap Thian-thay-mo-ki?"

Ji Bun meliriknya sekejap, katanya sedih dengan cucuran air mata: "Terlalu banyak yang kuterima dari dia, sebaliknya sedikitpun tak pernah aku membalas kebaikannya."

“Dia sangat cinta kepadamu?” "Tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, cinta yang murni, cinta sejati, dia rela mengorbankan diri sendiri demi cinta. Semula sikapku terlalu menghina kepadanya, belakangan baru kutahu keluhuran budinya, kebesaran jiwanya, tapi ai, semua itu sudah berakhir,

sudah terlambat, dia tidak patut mati dalam usia semuda ini, dia ......

kenapa harus, berbuat senekat itu? Umpama betul dia sudah ternoda oleh durjana itu, sukma dan jiwanya, akan tetap suci dan agung, memangnya aku harus pedulikan semua ini "

"Bisa memperoleh cinta balasanmu, kukira iapun dapat tenteram di alam baka."

"Se-moay, dia tidak tahu, ha. hatiku, aku tidak, pernah

utarakan isi hatiku. Selama ini cintanya hanya bertepuk sebelah tangan, malah pertemuan kami yang terakhir terjadi pertengkaran dan berpisah dengan marah dan penasaran. Siapa tahu ....

perpisahan ini berakhir untuk selamanya ”

Jari-jari Ji Bun meremas rambut kepala sendiri, dia ingin menyiksa badan sendiri untuk mengurangi penderitaan batinnya.

Haru dan kecut perasaan Ciang Bing-cu, bukankah dirinyapun teramat mencintainya?

"Se-moay, kau harus tahu, tanpa dia mungkin aku takkan hidup sampai sekarang.”

"Kenapa?" "Suatu ketika aku dipukul luka parah oleh Ngo-hong Kaucu yang menyamar seperti ayahku. Dengan gunakan darahnya dia telah menolong jiwaku ”

“Darahnya?"

“Ya, dia pernah minum getah naga batu (Ciok-liong-hiat-ciang). Dalam darahnya mengandung obat mujarab yang dapat menunjang nyawanya. Oleh karena itu, beberapa kali aku hidup kembali setelah terpukul mati ”

"Hah!" Ciang Wi-bin dan Ciang Bing-cu menjerit kaget, berbareng, sungguh berita yang belum pernah tersiar di kalangan Kang-ouw. Apakah sebenarnya Ciok-liong-hiat-ciang atau getah naga batu itu, Ciang Wi-bin yang berpengalam luas cukup tahu, maka ia manggut-manggut, katanya dengan nada simpatik: "Hiantit, aku dapat memahami perasaanmu."

Ciang Bing-cu juga terketuk sanubarinya, namun seorang gadis biasanya lebih kenal malu dari pada minta maaf, maka dia diam saja. Namun sikapnya sudah menunjukkan bahwa hatinya menyesal dan ikut berduka.

Setelah membeberkan segala rahasia dan memperoleh pengertian mendalam dari Ciang Wi-bin dan puterinya, lega juga hati Ji Bun. Namun dendam sakit hati ini harus selekasnya dibereskan.

Apalagi ayah bunda masih terbelenggu di tangan musuh, maka dia segera mohon diri.

"Kemana kau hendak perg?" tanya Ciang Wi-bin. “Akan kuluruk ke markas pusat Ngo-hong-kau." “Jangan bertindak sembrono."

"Tapi sedetikpun Siautit tak sabar lagi."

"Betapa banyak jago-jago Ngo-hong-kau, seorang diri Hiantit, menerjang sarang harimau ”

"Siautit dapat berlaku hati-hati"

"Baiklah, aku akan berangkat bersamamu "

"Tidak," Ji Bun menggeleng.

Mendadak bayangan seorang tampak berlari masuk dengan langkah sempoyongan dan "Bluk", jatuh tersungkur di lantai. Darah muncrat kemana-mana. Siau Po menjerit kaget, Ciang Wi-bin ayah beranak dan Ji Bun juga terperanjat serta memburu maju.

Pendatang adalah pemuda berjubah biru, napasnya tampak empas-empis.

"Siapakah dia?" tanya Ji Bun kaget.

Sebat sekali Biau-jiu Siansing, memburu ke samping pemuda baju biru, mulutnya menyahut: “Inilah muridku yang kedua, Si Ke-siu.” Sembari bicara tangannya meraba urat nadi orang serta memeriksa luka-lukanya, teriaknya kaget: "Terluka oleh pedang, keluar darah terlalu banyak, mungkin "

21.61. Mati Bagi Pengikut Ngo-Hong-Kau

Ji Bun ikut berjongkok memeriksa, tubuh orang memang terluka di banyak tempat, darah membasahi seluruh tubuh, kulit badan boleh dikatakan sudah tiada yang utuh lagi, keadaannya amat mengerikan.

Bercucuran air mata Ciang Wi-bin, ia sesenggukan tak mampu bersuara.

Sementara itu Ciang Bing-cu bekerja dengan cekatan, lekas sekali dia sudah membawakan obat dan diberikan kepada ayahnya.

"Celaka," tiba-tiba Ciang Wi-bin berteriak kaget. "Apa yang celaka?” tanya Ji Bun heran.

"Mungkin Ke-siu terluka oleh jago-jago Ngo-hong-kau yang dipasang di sekitar gedung setan ini, dengan luka-luka separah ini, darahnya bertetesan lari kemari mungkin jejaknya akan konangan musuh "

"Biar kukeluar memeriksanya?" kata Ji Bun. "Siau Po, tunjukan jalan bagi Toako, kau sendiri jangan unjukkan diri," Can Wi-bin berpesan.

Siau Po mengiakan, ia menarik tangan Ji Bun terus berlari keluar, yang ditempuh bukan jalan masuk tadi, kiranya ruang di bawah tanah ini masih ada jalan rahasia lain yang tidak sedikit jumlahnya.

Mereka dihadang oleh sebuah dinding, Siau Po entah gunakan benda apa, dia tekan-tekan, tahu-tahu dinding batu setebal dua kaki itu merekah di tengah selebar tiga kaki, segera Ji Bun menyelinap keluar.

"Toako," kata Siau Po berbisik, "aku akan menengok keadaan Si- suheng, sebentar aku menyambut kau di sini."

"Tak usahlah, aku bisa kembali sendiri."

"Toako, ganyang musuh sebanyak mungkin, jangan menaruh kasihan terhadap mereka."

"Jangan kuatir, Te-gak Suseng bukan laki-laki yang berhati lemah."

Setelah menyusuri lorong gelap sepanjang tiga tombak, Ji Bun tiba di deretan hutan bambu warna hijau yang rimbun, pelan-pelan, dia menyingkap dedaunan, tampak hutan bambu ini berada di tengah gunung buatan yang terletak di tengah-tengah empang besar, jaraknya ada empat tombak dari pinggir empang di seberang. Diam-diam Ji Bun menghela napas lega dan kagum, pintu rahasia yang dibangun di tempat tersembunyi seperti ini memang sukar ditemukan orang biasa.

Di seberang empang sana tampak bayangan orang mondar mandir. Dari kejauhan sayup-sayup terdengar suara kentongan empat kali, masih banyak waktu untuk bekerja sebelum terang tanah. Cepat Ji Bun mundur ke dalam hutan terus melompat ke atas gunung buatan. Dari tempat ketinggian ini dia kembangkan ginkang “angin lesus", tubuhnya berputar mumbul melayang dan seringan daun melayang, tanpa mengeluarkan suara dia hinggap di seberang.

Sejenak dia berdiri menerawang sekelilingnya. Didapatinya anak buah Ngo-hong-kau yang di pendam di sekitar gedung setan ini tak terhitung banyaknya. Agaknya tekad musuh teramat besar untuk membekuk dirinya dan Biau-jiu Sansing. Kobaran api di pekarangan kecil sana sudah padam.

"Srek, srek!" dengan sengaja Ji Bun melangkah ke tanah lapang sana dengan menerbitkan suara.

"Siapa itu? Di larang sembarangan bergerak!" agaknya orang menyangka Ji Bun kawannya sendiri.

Tanpa pedulikan seruan orang, Ji Bun malah percepat langkahnya. Segera tiga bayangan orang datang. Tanpa perhatikan bagaimana bentuk rupa dan dandanan ketiga orang ini, kontan Ji Bun sambut mereka dengan pukulan tangan beracun. "Plak, plak, plak!" di tengah nyaringnya tamparan tangannya, ketiga orang sama terjungkal roboh jiwa melayang tanpa sadar apa sebabnya. Kegaduhan di sini mengejutkan orang-orang lain, orang yang terpendam di tempat lain bergegas berlari kemari.

"Siapa?" bentakan kumandang dari berbagai arah. Kembali lima bayangan orang melayang tiba dari tempat gelap. Dengan cara yang sama, begitu musuh melayang datang, kelima orang inipun ditamatkan jiwanya oleh Ji Bun.

"Kejam betul perbuatan saudara!" tiba-tiba sebuah suara membentak.

Sebat sekali Ji Bun membalik badan, tampak seorang pemuda jubah sutera tahu-tahu sudah berdiri tidak jauh di belakangnya, maka dia mengejek dingin: "Ngo-hong-su-cia?"

Mungkin baru sekarang pemuda ini dapat mengenali Ji Bun, seketika ia berteriak kaget dan seru:

"Te-gak Suseng!"

"Betul, inilah aku!" dingin dan mengancam suara Ji Bun.

Tanpa menunggu Ji Bun habis bicara, tiba-tiba pemuda baju sutera itu putar badan terus meluncur ke tempat gelap. Agaknya dia tahu diri, tak berani bentrok secara langsung dengan Ji Bun. Tapi Ji Bun sudah kadung benci terhadap musuh, mana dia mau tinggal diam. Sebat sekali badannya berkelebat, tahu-tahu dia berkisar dari arah samping, begitu cepat laksana gerakan setan, baru lima tombak Ngo-hong-su-cia itu bergerak. Ji Bun sudah menghadang di depannya. "Kau mau lari?” Ji Bun mendesis geram. Tok-jiu-it-sek segera dilancarkan, baru saja Ngo-hong-su-cia sempat melolos pedang, mulutnya menguak, tubuhpun roboh binasa.

Suara suitan bersahutan dari sana sini. Ji Bun bergerak cepat menubruk ke arah suara suitan itu, tetap musuh di ganyangnya habis-habisan, jerit dan pekik seram menyayat hati memecah kesunyian malam. "Gedung setan” ini memang terkenal angker dan seram, kini betul-betul menjadi gedung setan sungguhan.

Kira-kira satu jam kemudian, suasana kembali hening, mayat- mayat malang melintang di mana-mana yang ketinggalan hidup sudah tentu sejak tadi ngacir. Berapa jumlah anak buah Ngo-hong- kau yang gugur, agaknya pihak mereka sendiri juga tidak tahu.

Kembali Ji Bun mengadakan pemeriksaan satu lingkaran, baru kembali ke hutan bambu di tengah empang dan masuk ke ruang bawah tanah, ternyata Ciang Wi-bin sudah menunggu kedatangannya.

"Paman, bagaimana muridmu itu ?”

"Luka dalamnya sangat parah, jiwanya tak tertolong lagi." Dia pulang dalam situasi seburuk ini ”

"Ya, dia pulang karena ada urusan penting." "Urusan penting apa?" "Seratusan murid Kay-pang ditahan orang-orang Ngo-hong-kau di dalam hutan sepuluh li di luar kota, sebelum fajar menyingsing mereka akan dibantai bersama ”

"Kenapa orang-orang Kay-pang sampai tersangkut urusan dengan pihak Ngo-hong-kau?"

"Ngo-hong-kau menuntut Kay-pang agar menyerahkan seorang pengemis bermata satu "

"O," Ji Bun teringat akan penyamaran Ui Bing sebagai pengemis mata satu tempo hari. Tak nyana samarannya itu malah mendatangkan petaka bagi pihak Kay-pang.

"Urusan ini menyangkut Ui Bing ”

"Siautit tahu. Biar Siautit pergi membereskan persoalan ini." "Ya, terpaksa kau harus membantu ”

"Kenapa paman omong demikian, inilah kesempatan baik untuk mengikis kekuatan Ngo-hong-kau, waktu amat mendesak, sekarang juga Siautit mohon diri."

"Selesai urusanmu Hiantit harus kembali untuk berunding lebih lanjut “

Belum habis Ciang Wi-bin bicara, bayangan Ji Bun sudah tidak kelihatan. Dia maklum soal apa yang hendak dirundingkan dengan dirinya. Sejak mendengar kabar kematian Thian-thay-mo-ki, duka cita membangkitkan amarah dan dendam Ji Bun semakin memuncak, sedetikpun tak tahan lagi.

Cap-li-lim terletak di luar kota Cinyang, kegelapan masih menyelimuti alam semesta. Di dalam hutan gelap gulita, jari sendiripun tak terlihat, namun di luar hutan tampak bayangan orang mondar mandir.

Tiba-tiba dalam hutan menyala empat batang obor besar, di bawah pantulan sinar obor ini, kelihatan seratusan pengemis dangan pakaian compang camping sama berduduk di dalam hutan. Ada tua muda, tinggi besar kurus gemuk, semuanya mendelik gusar, tapi tiada yang buka suara. Di empat penjuru berdiri puluhan Busu berpakaian ketat, setiap lima seragam hitam berdiri pula seorang berpakaian sutera hijau. Suasana hening dan tegang mencekam perasaan setiap orang.

Dari desa yang jauh letaknya di sebelah utara sana, sayup-sayup terdengar suara kokok ayam. Seorang tua berjenggot putih kelihatan muncul, matanya menyapu pandang ke arah para pengemis, suaranya dingin tajam: "Waktu yang ditentukan akan tiba, kalau

Kay-pang tetap tidak menyerahkan orang yang kami tuntut, kalian harus siap menjadi korban."

Seorang pengemis tua ubanan dari deretan paling depan segera berdiri, teriaknya dengan beringas: "Ngo-hong-kau merajalela berbuat kejahatan di Bu-lim, kaum persilatan yang tidak berdosa di bunuh secara kejam, hukum alam pasti akan mengganjar kalian

.......” "Tutup mulutmu!" bentak si orang tua jenggot putih, "Nyo- huthocu, sekarang bukan saatnya kau memberi khotbah di sini. Begitu terang tanah, batas waktu yang kami tentukan sudah habis, awas jiwa kalian."

"Hm, kalau markas pusat kalian tidak lekas menyerahkan pengemis mata satu yang kami tuntut, kami masih mampu mengumpulkan seratus jiwa yang kedua dan ketiga dan seterusnya sampai pihak kalian menyerahkan orangnya, betapapun banyak anggota Kay-pang, akhirnya tentu habis juga terbunuh."

"Hakikatnya tiada orang yang kalian tuntut di dalam Kay-pang kami."

"Omong kosong belaka," jengek si orang tua.

Fajar telah menyingsing, sinar obor menjadi guram. Seorang Busu berbaju sutera segera berteriak lantang: "Lapor komandan. Batas waktu telah tiba!"

"Siap!" laki-laki tua berjenggot putih segera berteriak. "Sreng," serentak semua Busu Ngo-hong-kau melolos senjata

masing-masing.

Seratus orang Kay-pang juga serempak berdiri, sebentar saja suasana agak ribut, namun lekas sekali tenang kembali, walau semua orang sama mendelik gusar. namun sebelum pimpinan mereka memberi perintah, tiada seorangpun yang berarti bertindak. Ini menandakan anggota Kay-pang sangat berdisiplin, sekaligus memperlihatkan keluarbiasaan murid-murid Kay-pang yang patuh kepada pimpinannya.

Dalam saat-saat tegang dan hening itulah, sekonyong-konyong sebuah suara berkumandang dari tempat gelap di belakang gerombolan pohon sana: "Ih Ciau, kau ingin mampus dengan cara apa?"

Ternyata orang tua berjenggot ini adalah Busu dari markas pusat Ngo-hong-kau yang ditugaskan menyerbu gedung setan, yaitu Ih Ciau adanya.

Berubah air muka si orang tua alias Ih Ciau, bentaknya marah: "Sahabat dari mana, silakan keluar!"

Semua busu yang telah menyoreng pedang sama kaget dan berubah pula air mukanya, tanpa berjanji semua orang memandang kearah datangnya suara.

Orang-orang Kay-pang juga kaget dan melongo, menurut dugaan mereka, tempat di mana mereka ditawan ini cukup dirahasiakan sehingga pimpinan pusat Kay-pang pun tidak tahu letaknya. Di samping itu tiada jago sekosen ini di dalam Kay-pang, apalagi datang seorang diri untuk menolong mereka yang sekian banyak ini.

Bayangan seorang laksana setan melayang muncul dari balik pohon, ternyata seorang pemuda pelajar berjubah hijau dan berwajah tampan. Enam jago pedang segera menubruk maju menghadang. Tapi sekali pemuda pelajar itu ayunkan tangannya hanya sekejap saja keempat jago pedang itu menjerit ngeri terjungkal mampus. Dua yang masih hidup melompat mundur dengan ketakutan.

"Te-gak Suseng," Ih Ciau menghardik dengan murka. Suaranya terdengar agak gentar pula, suara ini mendatangkan bayangan kabut gelap bagi orang-orang Ngo-hong-kau. Sebaliknya merupakan pancaran sinar harapan bagi murid-murid Kay-pang yang berada di ambang kematian. Tanpa diperintah orang-orang Ngo-hong-kau segera mundur berkumpul sambil siaga.

Ji Bun mendekati Ih Ciau, katanya: "Semalam kau berhasil lolos, beberapa jam kau bertambah hidup, sekarang habislah riwayatmu."

"Anak keparat, jangan takabur, siapa yang akan mampus, belum tentu?" teriak Ih Ciau murka. Kedua tangan segera bergerak dengan gempuran sekuat tenaga. Sebagai komandan busu dari markas pusat, tentu kepandaian Ih Ciau bukan olah-olah lihaynya. Apalagi menghadapi mati dan hidup, mau tidak mau dia harus kerahkan setaker kekuatannya, maka dapat dibayangkan betapa dahsyat serangan kedua tangannya ini.

Tidak berkelit juga tidak menghindar? Ji Bun malah menyongsong pukulan lawan dèngan gerakan maju pula. "Plak" ditengah benturan keras, tampak kedua orang terpental mundur setapak. Pada saat Ji Bun terpental mundur itulah puluhan pedang dari sepuluhan orang baju sutera yang punya kepandaian tinggi tiba-tiba menyerang dari berbagai arah dengan gencar dan ketat. Mendengar samberan angin, sebat sekali Ji Bun membalik badan seraya geraki tangannya. Dua orang menjerit roboh, namun tiga pedang berhasil menggores luka badan Ji Bun. Rasa sakit dan perih menambah nafsu dan amarah Ji Bun, Tok-jiu-ji-sek segera dilancarkan. Dua orang terjungkal mampus lagi. Tanpa menimbulkan suara tiba-tiba Ih Ciau menubruk maju dan menyerang dari belakang, telapak tangan kiri dan cengkeraman jari-jari tangan kanan serentak menghantam dan menutuk ke Hiat-to mematikan dipunggung orang.

"Blang," sambil mengerang tertahan badan Ji Bun tersungkur ke depan. Walau terkena pembokongan, namun kedua tangan Ji Bun tidak berhenti bekerja, tiga jago pedang baju sutera berhasil dirobohkan lagi.