Hati Budha Tangan Berbisa Jilid 19

 
Jilid 19

"Ji Bun," teriak Ngo-hong Kaucu, "Gila kau!"

Tanpa gentar sedikitpun Ji Bun mendelik ke arah Ngo-hong Kaucu, ingin dia saksikan secermatnya wajah murid murtad ini, lama sekali baru dia mendesis di antara sela-sela giginya yang berkerutuk itu: "Siapa nama gelaran Tuan?"

Ngo-hong Kaucu terloroh-loroh, ujarnya: "Anak muda, kau belum setimpal tanya namaku."

Sejenak Ji Bun menepekur, katanya: "Kebetulan kau datang, marilah kita bicarakan dulu persoalan pribadi "

"Apa, urusan pribadi? Baiklah, ada dendam apa kau?" "Bukankah kalian yang membantai orang-orang Jit-sing-po?"

"Aku pernah menyuruh orang menyampaikan kabar padamu, pergilah temui Wi-to-hwecu."

"Kau ini sebagai Kaucu, apakah kata-katamu boleh dipercaya?" "Sudah tentu."

"Memangnya kenapa ibuku harus kau tawan?" "Demi merajai Bu-lim, demi mencapai cita-cita, perduli pakai cara apapun, untuk ini tidak perlu aku memberi penjelasan padamu."

"Aku kurang puas akan jawabanmu ini. Lalu apapula tujuanmu membunuh Sam-cay Lolo dan menculik Thian-thay-mo-ki?”

"Sudah tentu karena alasan yang sama."

"Sekarang lepaskanlah ibuku dan Thian-thay-mo-ki."

"Hm, memangnya begitu mudah?" jengek Ngo-hong Kaucu. "Kau harus kerjakan apa yang kukatakan, kalau tidak anjing

ayampun takkan kutinggalkan hidup di dalam Ngo-hong-kau."

"Kata-katamu yang takabur ini memangnya dapat membuat aku jeri?"

Ji Bun sudah ingin turun tangan, namun dia tetap bersabar diri, karena banyak persoalan perlu dia bicarakan lebih dulu. Lagi orang adalah sesama saudara seperguruan dari dua generasi yang berlainan, terpaksa ia tekan gejolak hatinya meski sudah hampir meletus, katanya pula dengan menggertak gigi: "Tuan mau melepaskan mereka tidak?"

"Kecuali barter dengan kepala Siangkoan Hong suami isteri. Membunuh dua orang dalam pandanganku tak ubahnya seperti memites dua ekor semut."

"Kau ..... memang tidak berperi-kemanusiaan " "Kalau bicara peri-kemanusiaan, aku takkan hidup sampai sekarang."

Tatkala itu sang surya sudah doyong ke ufuk barat, sinar surya yang kuning emas terpancar benderang. Semua hadirin berdiri tegak dengan kereng, pedang mereka tampak gemerlapan, suasana menanjak tegang, hawa terasa dingin mencekam.

Sejenak Ji Bun tenangkan diri, namun matanya tetap menyala, desisnya: "Soal pribadi boleh di kesampingkan dulu, marilah kita bicarakan pula urusan keluarga "

"Apa urusan keluarga?"

"Peristiwa orang tua she Ngo yang kau kurung di bawah tanah dalam gedung di kota Bik-su itu, kau takkan mungkir bukan?"

Ngo-hong Kaucu menyurut mundur, matanya mendelik ganas, suaranya gemetar: "Kau anggap ini urusan keluarga? Apa maksudmu?

"Jadi kau ngaku akan perbuatanmu? Suruh anak buahmu menyingkir."

"Kenapa?"

"Urusan keluarga orang luar dilarang ikut campur tangan." Ngo-hong Kaucu mundur selangkah pula, suaranya dingin mengancam: "Ji Bun, manfaat apa yang kau peroleh dari tua bangka she Ngo itu?"

Ji Bun menghardik murka: "Kau berani menghina beliau?

Singkirkan anak buahmu."

"Tidak perlu. Kau belum setimpal."

Hampir meledak dada Ji Bun, larangan Ban-tok-bun menyebutkan bahwa semua urusan rahasia perguruan dilarang bocor, dihadapan sekian banyak anak buah Ngo-hong-kau, tak mungkin Ji Bun bicara secara blak-blakan dan berbuat menurut aturan perguruan, namun Ngo-hong Kaucu ini amat temberang, hakekatnya dia tidak perduli akan segala aturan perguruan, keruan bukan kepalang keki dan dongkol hatinya, katanya geram: "Kau ingin aku turun tangan?”

"Katakan dulu apa arti urusan keluarga yang kau maksud?"

"Singkirkan dulu anak buahmu atau aku yang wakilkan kau menggebah mereka?" sembari bicara tiba-tiba secepat kilat dia menubruk ke arah rombongan orang banyak.

"Berani kau?" teriak Ngo-hong Kaucu, iapun menubruk kearah Ji Bun. Tapi sudah terlambat, jeritan saling susul, tiga orang yang berdiri paling depan terjungkal roboh binasa, dalam waktu yang sama damparan angin pukulan Ngo-hong Kaucu laksana hujan badai juga menyambar tiba sehingga kekuatan pukulan Ji Bun terhenti dalam batas tertentu hingga tidak menimbulkan korban lebih banyak, Ji Bun sendiri juga tergetar mundur dua langkah. Ngo-hong Kaucu terkekeh-kekeh. "Anak muda, kalau tidak kubunuh kau, aku bukan manusia!" kedua tangan membundar terus mendorong ke depan, segulung angin menderu laksana angin lesus menyambar tiba.

Tersirap darah Ji Bun, kekuatan angin pukulan yang dilandasi hawa murni luar biasa ini tak terpecahkan dengan segala ilmu kekuatan lain dan merupakan inti sari dari segala kekuatan ilmu pukulan di dunia ini. Seingatnya hanya Hun-tiong Siancu dan Thong- sian Hwesio yang juga meyakinkan pukulan yang dilandasi kekuatan hawa murni ini. Tak nyana Ngo-hong Kaucu juga meyakinkan ilmu yang lebih tinggi pula Lwekangnya dari kedua orang terdahulu.

Lekas Ji Bun kerahkan ajaran perguruan, dengan sepenuh tenaga dia menyongsong dengan kekerasan pula.

"Blang!" di tengah getaran yang mengguntur, dahan-dahan pohon serentak berjatuhan dan hangus, batu-batu berloncatan debu pasir beterbangan, hawa laksana pecah berderai. Anak buah Ngo- hong-kau yang berdiri dalam jarak tiga tombak sama terdorong mundur pontang-panting, semuanya kaget dan pucat ketakutan.

Ji Bun dan Ngo-hong Kaucu sama bertolak mundur tiga empat langkah. Gebrakan yang dahsyat ini, ternyata setanding alias sama kuat. Kini keduanya berdiri saling tatap seperti dua jago yang tengah beradu di arena. Ngo-hong Kaucu bersuara: "Ji Bun, dalam setengah tahun ini, rejeki apa yang kau peroleh?"

"Peduli amat dengan kau?" jengek Ji Bun. Besar tekad Ji Bun untuk membersihkan perguruan dari anasir jahat dan murid yang lalim ini, lalu menolong ibu dan kekasihnya. Tapi sebaliknya Ngo-hong Kaucu juga besar niatnya membunuh Ji Bun yang merupakan lawan tertangguh selama ini. Dari tatapan mata kedua pihak dapatlah diselami betapa besar hasrat kedua pihak dalam menuntut keinginan masing-masing. Semua anak buah Ngo-hong Kaucu sampai mengkirik seram dan tegang.

Keduanya tak ubah seperti patung batu yang berdiri kaku, tak bergerak dan tak bersuara, hawa seperti membeku, semua orang tercekam oleh ketegangan yang memuncak ini. Sinar surya seakan- akan ketakutan juga menyaksikan adegan adu nyawa yang menggiriskan ini dan sudah tenggelam di ufuk barat, tabir malampun tiba.

Keduanya sama mengadu kekuatan batin dalam mengendalikan ketenangan pikiran dan pemusatan semangat serta kekuatan, sedikit lena dan terpecah perhatian, serangan lawan yang mematikan bakal merupakan genta kematian bagi jiwa raga sendiri. Satu jam telah berselang, keringat sudah membasahi jidat kedua orang. Akhirnya Ji Bun yang berdarah panas tidak tahan lagi, dia tidak membuang- buang waktu.

"Ciiaaaat!" di tengah gemboran yang menggetar sukma, Ji Bun melancarkan Tok-jiu-it-sek. Dalam waktu yang sama, permainan Ngo-hong Kaucu yang sengit dan lihay juga dilontarkan. Inilah bentrok antara kedua kekuatan keras lawan keras, keduanya sama- sama menyerang tanpa pikirkan pertahanan, dua bayangan seperti saling bergumul sekejap, segera terdengar suara gerungan rendah, dua bayangan sama-sama terpental mundur, namun cepat sekali keduanya sudah saling tubruk lagi, kini Ji Bun lancarkan Tok-jiu-ji- sek. "Blang, blang,'' herangan tertahan kembali berkumandang, dua bayangan terpisah lagi, keduanya sempoyongan mundur, darah meleleh dari mulut masing-masing.

Semua orang yang menonton serasa rontok nyalinya. semuanya menyingkir semakin jauh.

"Robohlah!" di tengah teriakan, yang menggiriskan ini, Ji Bun lontarkan jurus Tok-jiu-sam-sek. Serangan jurus ini merupakan tempaan dari seluruh kekuatan Lwekangnya, merupakan serangan mematikan terakhir yang diandalkan pula. Kalau jurus ini juga tak kuasa mengalahkan lawan, bagaimana akhir dari pertempuran malam ini entahlah nanti jadinya. Untunglah jerit kesakitan segera berpadu dengan teriakan seram, tampak Ngo-hong Kaucu terlempar jauh dan roboh terguling.

Anak buah Ngo-hong-kau sama berteriak kaget dan kuatir, tanpa komando serentak mereka menubruk maju menggerakkan senjata, terutama cahaya pedang laksana jala sinar pating seliweran merangsak ke arah Ji Bun.

Biji mata Ji Bun sudah merah, di tengah bentakan kalap, secepat kilat kedua tangan menggaris dan memukul. Seperti membabat rumput belaka, satu persatu anak buah Ngo-hong-kau dibikin roboh binasa, sisanya yang masih hidup lekas lari mencawat ekor, seranganpun terhenti.

Dengan badan limbung Ngo-hong Kaucu melompat berdiri, suaranya serak seperti kehabisan tenaga: "Kalian mundur!" Sisa anak buahnya segera menyingkir jauh.

Waktu Ji Bun berpaling, seketika dia mendelik seram: "O, kiranya kau adanya."

Ikat kepala yang dikenakan Ngo-hong Kaucu sudah terlempar jatuh. Di pinggir kepala di atas telinga kanan tampak sebuah codet menggaris panjang. Dia ternyata bukan lain adalah Kwe-loh-jin sendiri alias manusia berjubah berkedok yang pernah membunuhnya dulu, orang yang berhasil merebut Hud-sim pula.

Memang tak pernah terpikir oleh Ji Bun bahwa Ngo-hong Kaucu yang diliputi misteri ini ternyata adalah Kwe-loh-jin yang pernah bentrok beberapa kali dengan dirinya. Lwekang dan kepandaian Kwe-loh-jin sekarang ternyata sudah jauh berbeda dan lebih

tangguh dari pada dulu. Tentunya ini hasil dari Hud-sim yang pernah direbutnya dulu itu.

Tapi siapa sebetulnya orang ini, tetap merupakan teka teki yang sukar dipecahkan.

Semula Kwe-loh-jin pura-pura mengatakan dirinya utusan seseorang majikan yang menulang punggungi segala perbuatannya, kiranya ini hanya palsu belaka, jadi waktu dia menyamar laki-laki muka hitam sebagai komandan ronda Wi-to-hwe dulu juga salah satu duplikatnya belaka. Betapapun teka-teki ini sudah terbongkar separo, namun masih cukup jauh dari terbebernya rahasia yang sangat diharapkannya itu. Ji Bun melangkah setapak.

"Jangan bergerak" bentak Ngo-hong Kaucu.

18.54. Penderitaan Puteri Musuh Besar

Tanpa sadar Ji Bun menghentikan langkah, katanya rnenyeka darah dipingglr mulutnya: "Kuperintahkan kau menyingkirkan anak buahmu, kalau tidak satupun takkan kubiarkan hidup."

"Kau takkan berani. Mati hidup ibumu Lan Giok-tin dan Thian- thay-mo-ki tergenggam di tanganku."

"Jiwamu sendiri berada ditanganku, memangnya kau punya kesempatan berbuat jahat lagi."

"Sebelumnya sudah kuatur sedemikian rupa, setengah jam setelah matahari terbenam kalau tiada perintahku, Lan Giok-tin dan Thian-thay-mo-ki akan dipancung kepalanya, sekarang waktu yang ditentukan sudah akan tiba."

Semakin beringas Ji Bun dibuatnya, mendadak dia jadi nekat,  kaki menjejak tangan menyerang. Asal dia bisa membekuk Ngo-hong Kaucu, segala persoalan akan dapat dibereskan. Tapi Ngo-hong Kaucu bukan tokoh sembarang tokoh. Sudah tentu sebelumnya dia sudah siaga dan berjaga diri. Pada saat secepat percikan api seperti bayangan setan saja tahu-tahu orangnya berkelebat lenyap kedalam hutan. Gerakan kedua pihak hampir dalam waktu yang sama. Sudah tentu Ji Bun menubruk tempat kosong, dengan bentakan murka segera ia mengudak ke dalam hutan.

Tabir malam sudah menyelimuti jagat raya, dalam hutan gelap gulita, walau dia memiliki pandangan yang tajam, namun hanya dalam sekejap jejak Ngo-hong Kaucu sudah lenyap entah kemana.

Sebuah suara menggema dari kejauhan: "Anak muda, jangan lupa perjanjian barter kita dengan batok kepala orang yang kuminta."

Ngo-hong Kaucu mengirim gelombang suara dari jauh sehingga posisinya sukar ditentukan. Betapa Ji Bun amat penasaran, dengan kalap ia terjang kian kemari mengobrak abrik hutan, namun hasilnya nihil. Hutan ini cukup luas, dari puncak yang satu bersambung pula kepuncak yang lain.

Setengah malam sudah Ji Bun bekerja berat dengan sia-sia, dia pikir letak markas Ngo-hong-kau tentu berada di suatu tempat yang tersembunyi, pegunungan seluas ini kemana harus menemukannya, tak mungkin dia bisa menjelahi seluruh pelosok pegunungan ini.

Penasaran, marah, benci dan dendam berkecamuk dalam benaknya, pikirannya bergolak, namun tetap tak berdaya. Akhirnya dia menemukan sebuah batu besar segede kerbau, lulu ia duduk dan merenungkan pengalamannya ”

Keselamatan ibu dan Thian-thay-mo-ki untuk sementara, terang tidak akan terancam, karena Ngo-hong Kaucu minta barter dengan kepala Siangkoan Hong suami isteri, walau tujuannya sulit diraba, namun sudah jelas kalau orang hendak pinjam tangan membunuh orang, kecuali keadaan betul-betul mengancam, sandera ditangannya terang takkan terganggu keselamatannya.

Apakah dia harus menerima syarat ini untuk menolong ibu dan Thian-thay-mo-ki? Walau Siangkoan Hong dan Hun-tiong Siancu juga musuh besarnya, namun sakit hati tetap sakit hati dan tidak pantas bertindak di luar etika persilatan yang harus berjiwa kesatria. Apalagi kini dirinya sebagai seorang pejabat Ciangbun (ketua) Ban- tok-bun yang terhormat.

Tapi kalau tidak menurut kehendak musuh, apa pula langkah yang harus dilakukannya? Persoalan yang paling penting adalah Ngo-hong Kaucu ini murid murtad seperguruan, peraturan perguruannya amat keras, pesan Suco harus dilaksanakan, selama hayat masih dikandung badan dirinya harus menegakkan wibawa peraturan perguruan. Kalau sampai dirinya harus tunduk akan ancaman musuh, lalu di mana dia harus menaruh mukanya.

Ilmu beracun dirinya diperoleh dari ajaran ayahnya secara lisan, sumber pelajaran ilmu beracun dari ayahnya ini terang dari Tok- keng, sedang Tok-keng dimiliki oleh Ngo-hong Kaucu. Lalu ada hubungan rahasia apa di antara Ngo-hong Kaucu dengan ayahnya?

Mau tidak mau dia lantas ingat pada Biau-jiu Siansing, seperti diketahui ibu tua atau isteri pertama ayahnya yang telah dicerai itu berada di rumah Biau-jiu Siansing. Khong-kok-lan So Yan sedemikian dendam dan benci terhadap ayahnya. Siucay tua pernah bilang,

Biau-jiu Siansing sehaluan dengan ayahnya. Biau-jiu Siansing pernah berjanji hendak membantu dirinya untuk membereskan beberapa persoalan. Dari semua gejala-gejala ini, terang Biau-jiu Siansing tahu akan seluk beluk persoalan ini.

Sungguh Ji Bun ingin bia segera berhadapan dengan Biau-jiu Siansing untuk tanya semua urusan ini sampai jelas. Tapi Ui Bing bilang jejak gurunya tidak menentu, entah sengaja menghindari dirinya atau ”

Rangsum kering dikeluarkan untuk mengisi perut, selesai makan, haripun telah fajar, sudah terang benderang. Namun Ji Bun tidak rela tinggal pergi demikian saja, teringat akan ibu dan kekasihnya yang ditawan musuh, meski dirinya memiliki kepandaian setinggi langit juga percuma, mereka tetap tak bisa lolos dari cengkeraman iblis. Tanpa terasa air mata berlinang membasahi pipi, hati amat pilu seperti ditusuk sembilu.

Kini dia mulai mencari dengan cara yang lebih teliti, daerah yang diobrak-abrikpun semakin luas. Dia percaya sarang Ngo-hong-kau pasti tidak akan lebih dari sepuluh li dari sekitar dirinya, kalau tidak, tak mungkin terjadi peristiwa semalam, malah kemungkinan sarang musuh berada dekat di sekitarnya sekarang.

Sehari telah lalu pula, namun hasilnya tetap nihil. Betapapun kerasnya watak Ji Bun, akhirnya dia patah semangat juga. Musuh sudah lari ketakutan dan menyembunyikan diri, kalau selalu mencari secara membuta begini, apa yang bisa dihasilkan? Hal ini kiranya perlu dirundingkan dulu dengan Ui Bing untuk menentukan langkah- langkah selanjutnya. Oleh karena itu dengan marah dan uring- uringan Ji Bun terpaksa meninggalkan Siong-san, terus menuju ke kota Bik-ciu. Setiba di kota Bik-ciu, dia pilih sebuah rumah makan besar yang bernama Jui-lay-kip, dan mencari tempat duduk di pinggir jendela yang menghadap ke jalan raya. Dipesannya makanan dan minuman, seorang diri dia makan minum sepuasnya.

Ui Bing hanya menjanjikan untuk bertemu di kota Bik-ciu tanpa menyebut tempatnya. Kini dia memilih rumah makan terbesar ini, maksudnya supaya Ui Bing mudah menemui dirinya. Sebagai murid Biau-jiu Siansing, gembong si maling yang punya kaki tangan yang tersebar, luas di mana-mana, tentu bukan soal pelik bagi Ui Bing untuk mencarinya ke sini.

Beberapa jam sudah dia duduk seorang diri sambil menunggu dengan hati gelisah, namun bayangan Ui Bing tetap tidak kunjung datang. Lama kelamaan dia merasa kurang enak, tamu lain sudah ganti berganti keluar masuk. Kalau dirinya lama-lama berada di sini tentu mengganggu orang lain, maka dia panggil pelayan untuk menghitung rekening.

Dengan cengar-cengir pelayan menghampiri, tanyanya lebih dulu: "Tuan datang dari Siong-san?”

Ji Bun melengak, jawabnya: "Ya, kenapa?"

"Tadi seorang tua meninggalkan pesan, katanya dia punya urusan penting dan tidak bisa menunggu tuan, diminta supaya Tuan menyusulnya ke arah barat." Lekas Ji Bun bayar rekening terus berangkat, orang ramai berlalu lalang di jalan raya, namun Ji Bun tidak ingin menikmati pasar yang meriah ini, dia mencari hotel terdekat terus menyewa sebuah kamar. Sebelum tidur Ji Bun sudah memikirkan langkah selanjutnya harus menyusul ke barat, tujuannya tentu danau setan di Cong-lam-san untuk menyusul paman Ciang Wi-bin, bukan mustahil ke sana pula yang dituju Ui Bing dengan ke arah barat itu. Setelah berkeputusan hati Ji Bun menjadi tenang, mungkin pula badan terlalu penat, maka malam ini dia tidur amat nyenyak.

Waktu dia bangun besok paginya matahari sudah tinggi, lekas dia bergegas-gegas menempuh perjalanan ke arah barat. Kira-kira tengah hari, dia sudah menempuh ratusan li jauhnya, kini dia berada di jalan raya yang bertanah menguning, jauh dari kota dan dusun, sekelilingnya lereng pegunungan yang tidak kelihatan bayangan manusia.

Ji Bun merasa kering kerongkongannya, dengan rasa dahaga terpaksa meneruskan perjalanan. Tak jauh lagi di depan sebelah kanan yang jauh dari jalan raya dilihatnya sebidang hutan, di antara rimbunnya pepohonan, lapat-lapat dilihatnya pagar tembok warna merah. Kalau bukan bangunan biara tentu sebuah kelenteng.

Kenapa tidak kesana minta air untuk menghilangkan dahaga sambil istirahat pula baru melanjutkan perjalanan? Dengan langkah lebar Ji Bun berlari-lari menuju ke hutan itu. Lekas sekali dia sudah tiba di pinggir hutan, kiranya memang benar sebuah kelenteng kecil, suasana sepi dan nyaman, tidak terdengar suara manusia.

Ji Bun langsung menuju ke kelenteng itu, namun baru saja melangkah masuk, hatinya tiba-tiba melonjak, hampir saja ia berteriak kaget, dilihatnya sesosok mayat melintang di belakang pintu, bau darah yang amis merangsang hidung. Darah masih mengalir dan membeku, pertanda orang ini mati belum lama, dari dandanannya orang ini kelihatan penghuni atau pemilik kelenteng kecil ini.

Siapakah yang tega membunuh seorang lemah yang tidak pandai silat ini? Waktu dia memeriksanya, dilihatnya di dinding sekuntum bunga Bwe warna putih menghiasi dinding warna merah. Seketika ia menjadi murka, dalam hati ia mengumpat: "Anak buah Ngo-hong- kau yang jahat dan laknat," sigap sekali dengan gerakan enteng Ji Bun menyelinap masuk kedalam kelenteng.

Di dalam kelenteng, di undakan batu di tengah ruangan besar, berdiri seorang pemuda berlengan satu baju sutera, wajahnya diliputi rasa dendam dan kebencian serta kesadisan. Di ujung undakan, duduk seorang gadis baju merah semendeh dinding dengan perut yang membuncit, air mata bercucuran, badan lunglai lagi, namun sinar matanya pun bercahaya terang penuh benci dan penasaran. Dengan kedua tangan menahan perutnya yang bunting seperti menahan sakit, gadis baju merah itu sedang berteriak beringas: "Kau kau bukan manusia?"

Pemuda tengan satu menyeringai sadis, jengeknya: "Memangnya kenapa kalau aku bukan manusia?"

Saking murka gemetar sekujur badan gadis baju merah, katanya dengan menggertak gigi: "Aku ..... aku ingin lalap dagingmu

dan keremus tulang belulangmu.” Pemuda lengan satu menyeringai, katanya: "Membunuh suami, menurut aturan kau harus dihukum pancung, tahu?"

"Kau binatang, kau ini anjing, kau tidak setimpal jadi

manusia. Aduh!" tiba-tiba gadis baju merah menjerit kesakitan sambil menekan perut yang sudah hamil tua.

Pemuda lengan satu terloroh-loroh, katanya: "Dendam membunuh ibu dan menghancurkan keluarga, memangnya aku harus berpeluk tangan setelah lenganku inipun buntung ”

Keringat gemerobyos, agaknya gadis baju merah menahan sakit yang luar biasa, teriaknya dengan mengertak gigi: "Itulah ganjaran perbuatanmu."

Perempuan jalang, kau tidak akan kubunuh, namun akan kupinjam dirimu supaya ayah ibumu muncul, sekarang hayo ikut aku."

"Apa yang hendak kau lakukan atas diriku?"

"Tidak apa-apa, yang terang bayi di dalam perutmu itu harus dilahirkan."

"Anak haram, bila lahir akan kucekik sampai mati dengan kedua tanganku sendiri," kata gadis itu.

"Memangnya kau mampu berbuat demikian."

"Binatang, kau telah menghancurkan masa depanku " "Jangan cerewet, hayo berangkat!” bentak pemuda lengan satu, tangan diulur hendak menyeret tangan si gadis. Agaknya gadis baju merah sudah mendekati saat-saat melahirkan jabang bayi yang dikandungnya, mata mendelik hampir melotot keluar, namun dia tiada tenaga melawan.

Sekonyong-konyong sebuah suara yang amat dingin berkumandang: “Liok Kin, kiranya kau belum mampus?"

Ternyata pemuda lengan satu itu adalah majikan muda Cip-po- hwe, yaitu Liok Kin adanya. Gadis baju merah bukan lain adalah puteri Siangkoan Hong, yaitu Siangkoan Hwi, karena tertipu dan dipelet oleh ketampanan wajah dan rayuan manis Liok Kin, Siangkoan Hwi sampai mengorbankan kesucian dan cintanya.

Akhirnya kedok Liok Kin terbongkar, tujuannya ternyata adalah Hud- sim, sehingga. Siangkoan Hwi beberapa kali berusaha bunuh diri.

Sudah tentu pihak Wi-to-hwe amat marah, di bawah pimpinan Jay- ih-lo-sat, Cip-po-hwe digerebeg dan dihancur leburkan. Untung Liok Kin sebelumnya sudah melarikan diri, namun karena dia melanggar pantangan golongan maling, maka lengannya dikutungi sebagai ganjaran atas perbuatannya.

Begitulah serentak Liok Kin membalik tubuh, seketika dia gemetar ketakutan, serunya: "Te-gak Suseng."

Wajah Ji Bun diliputi hawa nafsu membunuh, desisnya: "Betul, memang aku adanya, selamat bertemu." Pucat wajah Liok Kin, beruntun dia mundur menjauh, suaranya jeri: "Apa maksudmu?"

"Memenggal kepalamu."

"Kau berani bermusuhan dengan Kau (agama) kami?"

"Ha ha ha, Liok Kin, tak kira kau terima jadi antek Ngo-hong-kau, memang cocok dan setimpal, kau berada di sana. Ketahuilah, bukan kau saja, seluruh Ngo-hong-kau akan kusikat habis."

Liok Kin putar tubuh, hendak pergi. "Berdiri!" bentak Ji Bun, suaranya keras berwibawa, ternyata Liok Kin tak berani melangkah lebih lanjut. "Putar tubuhmu!" terpaksa dia menurut, wajahnya putih laksana kertas.

Tanpa terasa Ji Bun melirik ke arah Siangkoan Hwi, si nona menunduk sambil mendekap muka, air mata bercucuran. Timbul perasaan yang ruwet dalam benak Ji Bun, inilah gadis yang pertama kali mengisi relung hatinya, pernah dia tergila-gila padanya, sayang orang tidak memandang sebelah mata kepada dirinya, malah jatuh ke dalam pelukan Liok Kin si durjana ini. Kini perutnyapun sudah bunting, sayang sang kekasih tidak berperikemanusian. Kini dirinya harus menaruh simpatik padanya atau mencercahnya? Atau bersorak senang?

Mengingat perlakuan ayah bundanya terhadap dirinya, adalah pantas kalau sekarang dia membunuhnya, namun tidak pernah timbul hasrat ini dalam benaknya, hatinya hanya merasa gegetun, penasaran dan serba susah, tercampur pula oleh perasaan risau dan lain-lain yang sukar dilukiskan. Masihkah dia mencintainya? Tentu tidak. Tapi betapapun tali asmara yang pernah berbenih dalam hatinya tak mungkin dihapus demikian saja.

"Orang she Liok," kata Ji Bun kemudian, "kau berperikemanusiaan tidak?"

Liok Kin mundur lagi, mulutnya sudah terbuka, namun tidak bersuara.

Ji Bun berkata lebih lanjut: “Darah dagingmu terkandung dalam perutnya, kau mempermainkan dia, menyia-nyiakan cinta dan merusak masa depannja, sekarang masih tega kau memaksa dan menyiksanya, manusia macam dirimu tidak setimpal hidup di dunia ini "

Liok Kin menjadi nekat, katanya: "Te-gak Suseng, dulu kau pernah tergila-gila padanya, tapi dia tidak mencintaimu, sekarang kau hendak bunuh aku untuk melampiaskan penasaranmu?" kata- katanya mengandung arti yang dalam. Pikirnya dia hendak balas, mencercah untuk mengubah jalan pikiran Ji Bun, dia tahu watak Ji Bun tentu tidak mengingkari kenyataan ini, namun dia salah sangka.

"Peduli apa saja yang kau katakan," ejek Ji Bun, "hari ini kau pasti mampus."

Tanpa bersuara lagi Liok Kin tiba-tiba enjot kaki, badan melenting melesat ke atap rumah, jelas kepandaiannya sekarang jauh lebih maju dari dulu, namun dalam pandangan Ji Bun dia tidak lebih hanya lawan enteng yang cukup dirobohkan dengan menggerakan sebuah jarinya saja.

"Kembali!" kontan Liok Kin terjungkal balik ke tempat semula dengan mengerang kesakitan. Ji Bun tetap mendelik ditempatnya seolah-olah dia tidak pernah bergerak. Serasa terbang sukma Liok Kin, lututnya terasa lunglai, hampir saja kakinya tak kuat menyanggah badannya.

Siangkoan Hwi meronta bangun, badannya limbung, lalu jatuh terduduk pula, wajahnya yang pucat, keringat dingin berketes-ketes.

"Orang she Liok, masih ada pesan apa lagi kau?" bentak Ji Bun bengis.

Keruan Liok Kin ketakutan, dengan sempoyongan dia mundur dua langkah, suaranya serak dan tertelan dalam tenggorokan: "Te-gak Suseng, aku aku bekerja menurut perintah Kaucu, sebentar

Kaucu akan datang kemari, kau takkan lolos."

"Tutup mulutmu!" hardik Ji Bun tak acuh, "kebetulan kalau Kaucu kalian berani datang, memangnya aku kuatir tak bisa menemuinya."

"Jangan kau membunuhnya," tiba-tiba Siangkoan Hwi menjerit dengan suara memekik.

Ji Bun menoleh, tanyanya: "Apakah dia tidak setimpal dibunuh?"

Siangkoan Hwi tertunduk, dia tidak berani adu pandang dengan sorot mata Ji Bun. Liok Kin pandai melihat gelagat, dengan sedih segera memohon: "Adik Hwi, memang aku bersalah, mengingat orok dalam kandunganmu "

Permintaan Siangkoan Hwi itu adalah refleks setiap insan yang mempunyai nurani sehat dan bajik, soalnya dia sedang mengandung anak Liok Kin, tapi itu hanya cetusan emosi selintas saja, karena sesungguhnya dia amat membencinya, ingin rasanya melalap kulit daging dan menghirup darahnya, dendam membara, kebencian yang timbul karena perubahan cinta yang tak tercapai, maka landasan benci inipun jauh lebih hebat daripada tekanan luar lainnya. Dia maklum, kalau Ji Bun tidak muncul tepat pada waktunya, sejak tadi dirinya sudah terjatuh ke tangannya. "Anjing kau!” akhirnya dia berteriak kalap.

Ji Bun berpaling seraya membentak: "Serahkan jiwamu!” di mana telapak tangannya menyambar, Liok Kin seketika menjerit roboh.

Setelah berkelenjetan beberapa kali, akhirnya terdiam dan tak bergerak lagi, jiwanya melayang.

"Ooooh!" tak tertahan lagi pecah tangis Siangkoan Hwi.

Siangkoan Hwi menangis tersedu sedan. Ji Bun sudah angkat langkah hendak tinggal pergi, namun mendadak timbul pikiran tak tega, katanya mengerut kening: "Bagaimana nona Siangkoan?"

Lemah suara Siangkoan Hwi, katanya terisak: "Ji-siauhiap kau

...... boleh silakan pergi." Ji Bun serba salah, tiada omongan yang ingin dikatakan. Tiba-tiba Siangkoan Hwi berkata dengan suara bergetar: "Ji-siauhiap, harap kemarilah kedekatku. Ada beberapa patah pesan hendak kusampaikan kepadamu."

Tergerak hati Ji Bun, sahutnya: "Baik, silakan katakan." "Tidak, marilah mendekat, masih ada ”

Tanpa terasa Ji Bun melangkah maju: "Ada apa nona?''

"Sukalah kau bantu aku berdiri," Siangkoan Hwi ulurkan tangan, biji matanya memancarkan cahaya aneh, timbul rasa heran dan curiga Ji Bun, dia tidak tahu apa keinginan dan maksud orang.

Namun mengingat kepandaian silatnya sekarang, dia tetap mendekati selangkah, tangan kanan diulur menarik tangan kiri orang.

Mendadak tangan kanan Siangkoan Hwi mencengkeram ke tangan kiri Ji Bun. Gerakannya terlalu mendadak, meski Ji Bun sudah waspada, namun karena gerakan ini tidak terduga, dengan telak lengannya kena dipegang orang. Tapi sedikit mengerahkan tenaga dan menghentak, Siangkoan Hwi terpental jatuh diundakan.

"Nona, apa maksudmu ini?" bentaknya.

Mulut, terbungkam, matapun terpejam, lama sekali baru Siangkoan Hwi membuka mata: "Kenapa aku tidak mati?" Sudah tentu Ji Bun melenggong, katanya: "Aku tidak bermaksud membunuhmu."

“Kau bukankah kau meyakinkan Bu-ing-cui-sim-jiu, kenapa

...... aku tidak mati keracunan?"

Sekarang Ji Bun mengerti, kiranya Siangkoan Hwi sengaja hendak cari kematian, dengan memegang lengan kiri Ji Bun. Dia berharap dirinya mati keracunan, maka katanya dingin: "Tangan beracunku sekarang bisa kugunakan sesuka hati.”

"Aah!" mungkin karena kecewa dan putus asa Siangkoan Hwi menjerit panjang dan menangis sesambatan. Menghadapi suasana yang merawankan hati entah bagaimana perasaan Ji Bun, dia merasa kasihan, iba, simpatik.

Waktu dia menoleh lagi, tiba-tiba dia menjerit kaget, dilihatnya di bawah, di mana Siangkoan Hwi duduk telah dibasahi oleh cairan darah. Dengan cepat Ji Bun maklum apa yang terjadi, keruan mukanya merah jengah dan keripuhan, tak tahu apa yang harus dia lakukan. Kiranya Siangkoan Hwi akan melahirkan.

Selamanya belum pernah dia menghadapi kejadian seperti ini, namun pengalaman dari cerita orang dan catatan dalam buku yang pernah dibacanya, dia tahu bahwa keadaan seperti ini adalah tanda- tanda bagi seorang perempuan yang akan segera melahirkan, menghadapi sikap Siangkoan Hwi yang putus asa pula, keruan dia semakin bingung. "Tolonglah sempurnakanlah aku!” ratap Siangkoan Hwi

dengan pilu.

"Apa, menyempurnakan kau?”

"Ya, bantulah aku meringankan penderitaan ini, pada penitisan mendatang pasti kubalas kebaikanmu ini."

"Aku .... aku tidak bisa."

"Tolonglah, Ji-siauhiap "

Keringat dingin gemerobyos membasahi dahi Ji Bun. Kaki tangan terasa kaku, kepalanya mendengung seperti hendak meledak, mata terbeliak, mulut ternganga tak mampu bersuara.

Tiba-tiba bau harum merangsang hidung. Waktu Ji Bun menoleh, tampak seorang perempuan cantik rupawan tersipu-sipu melangkah masuk, di belakangnya mengintil empat gadis baju hijau. Dengan kaget Ji Bun melangkah mundur dan berdiri berhadapan dengan perempuan rupawan itu.

Pendatang ini adalah Hun-tiong Siancu, isteri Siangkoan Hong dan ibu Siangkoan Hwi. Teringat sakit hati dirinya dikurung tempo hari, seketika membara dendam Ji Bun. Dengan Hun-tiong Siancu menyapu pandang sekejap kepada Ji Bun lalu memburu ke arah Siangkoan Hwi, serunya dengan penuh sedih dan kaget: "Anakku sayang, sudah setengah bulan ibu mencarimu." "Bu," Siangkoan Hwi mengeluh sekali terus jatuh pingsan, Hun- tiong Siancu memeluknya kencang-kencang, air matapun ikut bercucuran. Ji Bun menjublek ditempatnya. Betulkah Hun-tiong Siancu ibu kandung Siangkoan Hwi? Usia kedua orang kelihatan hanya terpaut lima-enam tahun, namun hubungan darah daging yang tak bisa dipalsukan ini terang takkan dilakukan seorang ibu tiri terhadap anak tirinya.

Kalau Ji Bun mau turun tangan, Hun-tiong Siancu terang takkan mampu melawannya. Seketika timbul dalam ingatannya akan syarat yang diajukan Ngo-hong Kaucu dengan kepala Siangkoan Hong suami isteri untuk barter dengan jiwa ibunya dan Thian-thay-mo-ki. Demi ibu dan kekasihnya, sebetulnya dia boleh turun tangan tanpa ragu namun dia tidak tega turun tangan, karena dia seorang manusia yang memiliki hati Buddha, seorang yang berperikemanusiaan, welas asih.

Tak lama kemudian, Siangkoan Hwi pun siuman, katanya serak: "Bu, kenapa tidak biarkan aku mati saja?"

"Jangan bodoh nak, kau adalah tambatan hati ibu kau masih

kecil, belum tahu lika-liku kehidupan Kang-ouw yang serba kotor, ibu memaafkan kesalahanmu."

"Tidak Bu, tidak pantas aku mendapat kasih sayangmu. Bu, aku ingin mati saja."

"Jangan kau berkata demikian, apakah dia. " tatapan matanya

yang tajam melirik ke arah Ji Bun. "Bu, dialah yang menolong puterimu."

"Ji Bun yang menolongmu? Oooo ” serta merta ia menoleh

ke arah mayat Liok Kin.

“Bu!" pecah lagi sedu sedan Siangkoan Hwi dengan sedih.

Bertaut alis Hun-tiong Siancu, segera ia memberi tanda kepada ke empat dayangnya, katanya: “Carilah tempat yang bersih, bawalah Siocia kalian!”

Empat dayang mengiakan bersama, dua orang berjalan di depan menuju ke ruang belakang, dua diantaranya memayang Siangkoan Hwi. Dengan gemetar tangan. Siangkoan Hwi menuding Ji Bun, katanya lemah: "Bu, jangan kau mempersulit dia.”

“Ya, ibu tahu.”

Baru sekarang Ji Bun maklum, kiranya Hun-tiong Siancu turun gunung mencari puterinya sehingga sarangnya kosong hingga kena diserbu dan diobrak-abrik pihak Ngo-hong-kau.

"Ji Bun," kata Hun-tiong Siancu menatap Ji Bun, "mengingat puteriku, sekarang kau boleh pergi, perhitungan kita boleh dibereskan lain kesempatan.”

"Kalau sekarang juga aku ingin membereskan?” jengek, Ji Bun dingin.

"Aku harus merawat anak Hwi, tiada waktu " Ji Bun tak bisa bicara, soalnya dia tidak ingin mengambil keuntungan dikala orang sedang kesulitan, namun diapun maklum, kekuatan Lwekang kedua pihak terpaut tidak jauh, kalau betul-betul berhantam takkan berakhir dalam dua-tiga gebrak, namun menghadapi musuh besar, betapapun hatinya penasaran, kalau tinggal pergi begini saja. Kalau tidak kebetulan pesawat rahasia itu tersentuh, sampai sekarang pasti dirinya pasti masih terkurung, nasibpun sukar diramalkan. Maka dengan gusar dia berkata: "Apakah aku harus berkunjung pula ke San-lim-li-sin?"

19.55. Keluhuran Budi Thian-thay-mo-ki

"Tidak perlu, menurut laporan, kau bantu memberantas musuh yang menyerbu, sekarang kau tanam budi pula pada puteriku. orang Bu-lim mengutamakan perbedaan budi dan dendam, selanjutnya aku takkan lagi mencari setori padamu ”

"Nanti dulu. Bagaimana juga Cayhe harus membereskan persoalan itu."

"Sekarang?" seru Hun-tiong Siancu sambil melongok ke belakang, sinar matanya mengunjuk kegelisahan hatinya.

"Baik, cara bagaimana perhitungan akan kau bereskan?" "Yang kuat hidup yang lemah mampus,” kata Ji Bun tandas. "Ji Bun, yang kau andalkan hanya racun, tapi racun adalah sepele dalam pandanganku, hal ini kunyatakan lebih dulu."

"Kalau kau kira aku hanya mengandalkan racun salah sekali dugaanmu."

"Hayolah segera dimulai, aku tidak punya tempo lagi,"

Sejak digembleng ilmu tingkat tinggi dari Ban-tok-bun, belum pernah Ji Bun berhantam dengan seorang musuh yang betul tangguh, bahwa Ngo-hong Kaucu yang berkepandaian tinggi itupun bukan tandingan Hun-tiong Siancu, ini membuktikan bahwa kepandaian silatnya, di mulut dia bilang yang kuat hidup yang lemah mampus, yang benar dia sendiri tidak punya keyakinan dapat merobohkan lawan. Namun tekadnya sudah keras, tiada perasaan gentar sedikitpun, yang terang dendam hatinya harus dibalas.

Serentak dia teringat dua persoalan, maka ia bertanya: "Ada dua hal perlu kau jelaskan lebih dulu. Pertama, betulkah bukan Siangkoan Hong yang menghancurkan Jit-sing-po?"

"Berulang kali kau sudah mengajukan persoalan ini." "Tapi aku belum memperoleh jawaban yang meyakinkan."

"Baiklah sekarang kujelaskan, bukan dia yang melakukan, semula memang ada rencana, tapi akhirnya rencana dibatalkan, yang dicari hanya biang keladinya."

"Apakah aku harus percaya?” "Memangnya tidak perlu kupaksa kau mempercayainya."

"Bagus sekali. Sekarang kedua, kalau kau kalah, batok kepalamu harus kupenggal.”

Berubah wajah Hun-tiong Siancu, katanya dingin: "Asal kau mampu saja."

"Nah, sambutlah pukulanku ini!" tenaga penuh dikerahkan pada kedua lengan Ji Bun, dengan sepuluh bagian kekuatannya dia menabas tegak, tujuannya hendak menjajaki sampai di mana taraf kekuatan Lwekang lawan, supaya gebrak selanjutnya lebih mudah cari daya untuk mengalahkan.

Hun-tiong Siancu mengebaskan kedua lengan bajunya secara bersilang, segulung angin lunak segera menyamber keluar. "Blang!" suara keras memekak telinga, kedua pihak tersurut selangkah, bertambah yakin Ji Bun, kini kedua tangan dilandasi setaker kekuatan Lwekangnya. Tebasan kedua ini bagaikan gugur gunung dahsyatnya. Hun-tiong Siancu juga kerahkan kekuatan dan himpun semangat balas menyerang. "Blum!" ledakan terjadi pula lebih dahsyat, genteng sama rontok, debu beterbangan, kelenteng kecil ini terasa holeng seperti keterjang gempa. Hun-tiong Siancu tergentak mundur tiga langkah, sebaliknya Ji Bun sempoyongan lima langkah. Kenyataan membuktikan bahwa kekuatan Hun-tiong Siancu masih setingkat lebih tinggi.

Sekarang jarak kedua orang menjadi jauh, sebat sekali Ji Bun mendesak maju, Tok-jiu-it-sek segera menggaris keluar. Kekuatan racun kini dia kerahkan pada kesepuluh jarinya, ingin dia membuktikan apa betul lawan tidak gentar mengadapi racunnya.

Kecuali Hun-tiong Siancu berhasil meyakinkan Kim-kong-sin-kang, kalau tidak, selain orang-orang seperguruannya tiada seorangpun di dunia ini yang mampu menawarkan racun jahat ini, tapi umumnya Kim-kong-sin-kang hanya dilatih oleh kaum laki-laki. Hun-tiong Siancu scorang perempuan, tak mungkin dia memiliki ilmu sakti itu.

Tampak Hun-tiong Siancu menggaris tangan terus diputar satu lingkar, maka Tok-jiu-it-sek yang dilontarkan Ji Bun tertolak dan tertahan diluar lingkaran tenaganya. Gerakan menggaris dan membundar tangan itu kelihatannya biasa dan enteng, tapi di dalam gerakan ini tersembunyi kekuatan yang luar biasa.

Mencelos hati Ji Bun, namun serangan tidak berubah, karena dia tahu walau lawan bisa membendung jurus serangan dan meritul kekuatannya, betapapun racun pasti akan menyentuh jari-jari tangannya. Racun itu sendiri tak mungkin ditahan dan ditolak oleh tenaga betapapun besarnya.

"Plak-plak!" telapak tangan saling beradu tujuh-delapan kali, namun hasilnya sungguh membuat Ji Bun kaget bukan main, lawan ternyata betul-betul tidak gentar menghadapi racunnya.

Dikala serangan Ji Bun dilancarkan pada titik puncaknya, dalam waktu sesingkat percikan api, tiba-tiba Hun-tiong Siancu melontarkan pukulan balasan dengan telapak tangan dari sudut yang tidak mungkin terjadi. Serangan ini sungguh hebat sekali, apalagi sasaran yang diincar juga di luar kebiasaan ilmu persilatan, orang lain jelas tidak mungkin bisa melakukannya.

"Bluk", diseling suara gerungan, Ji Bun tak kuasa menghindar diri, dengan telak dia kena pukulan. Hakikatnya belum sempat dia pikirkan cara menghalau serangan lawan, tahu-tahu telapak tangan orang sudah menahan dadanya, dia tergentak sempoyongan, darah segera meleleh dari mulutnya.

Kembali Hun-tiong Siancu mengebaskan kedua lengan bajunya, katanya dengan wajah kaku membeku: "Te-gak Suseng, enyahlah kau hitung-hitung kubalas kebaikanmu."

"Tidak, aku tidak terima kebaikanmu!" desis Ji Bun, kaki melangkah tangan melancarkan Tok-jiu-sam-sek, dia tahu jurus kedua terang takkan mampu melukai lawan, maka tanpa ragu-ragu dia lontarkan jurus ketiga yang luar biasa dan merupakan inti kekuatan latihannya selama ini.

"Ciiaaat!" di tengah teriakan ini, tiba-tiba Hun-tiong Siancu meloncat mundur beberapa kaki, wajahnya berubah, baju di bagian lengan di pinggir pundaknya tampak tersobek satu kaki panjangnya, darah juga merembes keluar, lengannya yang putih halus dibasahi darah yang merah sehingga menimbulkan perhatian yang menyolok.

Dalam keadaan nekat adu jiwa ini, mau tidak mau hati Ji Bun tetap mencelos.

Malu dan marah merangsang hati Hun-tiong Siancu, hardiknya: "Cari mampus kau!" di mana telapak tangannya bekerja, dia melancarkan sejurus serangan yang ganas, sengit dan hebat sekali perbawanya. Ia yakin tiada tokoh silat dalam dunia ini yang mampu melawan serangan ini.

Dasar watak Ji Bun memang angkuh, hatinya dirundung dendam kesumat, mati hidup sudah tidak terpikir lagi, meski dia tahu apapun tetap takkan bisa menyelamatkan jiwa sendiri, namun sekuatnya dia melawan. "Ngek!" tak urung dia mengerang kesakitan, darah menyembur dari mulut, badanpun terlempar setombak jauhnya.

Serangan Hun-tiong Siancu dilancarkan bagai kilat menyamber, gerak-geriknya gesit dan ringan, tahu-tahu bayangannya sudah menubruk maju pula. Tapi Ji Bun sekarangpun bukan lawan empuk, begitu kaki menyentuh bumi, tenaga terhimpun lagi terus memberondong dengan jurus ketiga pula. Tak kira maju mundur Hun-tiong Siancu begitu enteng dan tangkas laksana kilat berkelebat, di tengah jalan dia menghentikan gerakan sambil menyingkir ke samping tiga kaki, maka pukulan dahsyat Ji Bun berhasil dihindarkan. Begitu jurus pertama gagal, jurus kedua Ji Bun sudah dilontarkan pula, serangan tetap menggunakan Tok-jiu-sam- sek, yaitu Giam-ong-yan-khek (raja akhirat menjamu tamu).

Tak tahunya baru saja serangan dilancarkan, bayangan lawan tiba-tiba lenyap, keruan dia melengak, namun dia insaf dirinya dalam posisi yang berbahaya, sedikit lena bisa celaka jiwanya, cepat dia menerjang maju terus putar badan, namun bayangan lawan tetap tidak kelihatan. Keruan serasa terbang sukmanya, secepat kilat dia ikut berputar ketiga arah, namun bayangan lawan tetap tidak kelihatan. Ji Bun betul-betul melengggong dibuatnya, dia yakin kepandaian sendiri tidak lemah, namun kenyataan bayangan lawan tahu-tahu lenyap di bawah pandangan matanya, ini sungguh amat menakjubkan, betulkah ada gerakan seaneh ini di dunia ini?

Tiba-tiba ia teringat waktu menempuh perjalanan di Siong-san tempo hari, di tengah jalan dia bersua dengan Liu Gim-gim, orangpun tahu-tahu lenyap dari pandangan matanya. Waktu itu dia kira bertemu dengan setan, kiranya gerakan mereka sama, malah Hun-tiong Siancu jauh lebih lihay dan tinggi.

"Rebahlah!" bentakan berkumandang di belakangnya, kontan Ji bun merasakan punggungnya seperti dipukul godam, sakitnya bukan main, pandangannya seketika menjadi gelap, kontan dia roboh tersungkur, darah menyembur sebanyak-banyaknya.

"Aku tak boleh mati!" hatinya berteriak, dengan mengertak gigi dia meronta berdiri, dilihatnya Hun-tiong Siancu berdiri dekat sejangkauan tangan di depannya. Tanpa pikir, Tok-jiu-sam-sek dilancarkan pula. Bayangan orang tahu-tahu lenyap pula. Karena serangan mengenai tempat kosong, badan Ji Bun terhuyung maju dan tertelungkup jatuh, darah kembali menyemprot deras, matanya berkunang-kunang, hawa murninya semakin buyar. Tamatlah sudah pikirnya, mungkin di sinilah ajalku. Tiba-tiba bayangan Hun-tiong Siancu muncul pula di hadapannya.

"Bunuhlah, aku terima kematianku!" teriak Ji Bun kalap. "Aku tidak ingin membunuhmu, tapi ”

"Tapi kau atau aku yang harus mati." Beringas Hun-tiong Siancu, katanya: "Dinilai dari perbuatan ayahmu, memang tidak berlebihan aku membunuhmu, terus terang, kematianmu, belum setimpal menebus dosanya. Sayang aku sudah berjanji pada puteriku."

"Te-gak Suseng tak pernah mengemis hidup kepada orang lain, aku takkan menerima kebaikanmu, siapapun musuhku takkan kulepaskan. "

"Baiklah, kulaksanakan keinginanmu sendiri, semoga pada penitisan yang akan datang kau kembali menjadi orang baik.”

Pada saat itulah tiba-tiba kumandang tangis orok dari belakang kelenteng. Ji Bun melongo Hun-tiong Siancu juga tertegun, namun mimik mukanya tampak cemberut.

Seorang dayang berlari keluar. "Lapor Siancu nona telah melahirkan seorang putera!"

Hun-tiong Siancu mendengus sedih, katanya: “Sudah tahu, pergilah."

Cepat dayang itu mengundurkan diri, sekilas dia melirik ke arah Ji Bun dengan pandangan aneh, dan kaget.

Tiba-tiba Hun-tiong Siancu membentak, katanya: "Te-gak Su- seng, kau ingin mampus, nah, pergilah dengan dada lapang "

"Blang", tubuh Ji Bun terpukul terbang setinggi satu tombak, waktu tubuhnya melayang jatuh, pikiran dan napas pun berhenti. Tersipu-sipu Hun-tiong Siancu berkelebat masuk ke kelenteng belakang. Tertinggal dua sosok mayat menggeletak tak bergerak, mayat Ji Bun dan Liok Kin, keduanya sama-sama masih muda.

Seorang bermuka hitam tahu-tahu melayang turun di pekarangan kelenteng, dia seorang pemuda, sejenak dia celingukan, lalu menghampiri mayat Ji Bun, dengan tangan dia meraba pernapasan dan memegang urat nadi Ji Bun, tak tertahan air matanya bercucuran. Mayat Ji Bun diangkatnya terus keluar, memasuki hutan dan meletakkannya di bawah pohon yang rindang, katanya sedih sambil sesenggukan: "Hiante, aku pasti menuntut balas kematianmu. Berpisah beberapa hari ini, tak nyana kita lantas berpisah untuk selamanya, oh "

Siapakah pemuda muka hitam ini? Dia bukan lain Sian-tian-khek Ui Bing adanya. Dengan sedih Ui Bing lantas menggali liang kubur, dia siap mengebumikan jenazah adik angkatnya ini. Lekas sekali liang sudah digalinya, dicarinya sebuah, batu besar untuk batu nisan, dengan kekuatan jarinya dia mengukir beberapa huruf yang berbunyi tempat semayam Te-gak Suseng Ji Bun, di bawahnya dia ukir pula namanya sendiri, sebagai kakak angkat Ui Bing.

Setelah kerja selesai, dia menghampiri mayat Ji Bun hendak dimasukkan ke liang lahat.

Tak nyana tiba-tiba dilihatnya Ji Bun menggeliat sekali terus bangun berduduk. Keruan Ui Bing berteriak kaget, bulu roma berdiri, merinding sekujur badannya, dikiranya mayat Ji Bun penasaran dan mau menuntut balas. Soalnya dia sendiri sudah memeriksa keadaan Ji Bun, napas putus dan denyut nadinya sudah berhenti, Ji Bun betul-betul sudah mati, (orang mati masakah bisa hidup kembali?

Ji Bun kucek-kucek mata lalu celingukan dengan pandangan hambar, akhirnya matanya memandang Ui Bing. "Kau kau

siapa?" tanyanya.

Gemetar suara Ui Bing: "Hiante, kau belum mati?" "O, Toako? Kau yang menolongku?"

Ui Bing yakin bahwa Ji Bun betul-betul hidup kembali, rasa takut dan merindingnya segera lenyap, katanya kegirangan: "Hiante sungguh ajaib ”

"Apa? Ajaib?" Ji Bun tidak mengerti.

"Kau sudah mati, aku sudah siap menguburmu di sini, tak kira

....... ai, sungguh tak kira "

Ji Bun mengawasi liang dan tumpukan batu di sana, akhirnya dia manggut-manggut, katanya: "Ya, sekarang aku ingat, aku terpukul mampus oleh serangan Hun-tiong Siancu "

"Jadi tadi itulah Hun-tiong Siancu?" "Ya, isteri Siangkoan Hong." "Begitu aku tiba, kebetulan kulihat dia memukulmu, tak sempat lagi aku mencegahnya, sebetulnya dengan kekuatanku paling-paling cuma ikut mengorbankan diri belaka."

"Bagaimana Toako bisa mencari ke kelenteng ini?"

"Kudapat laporan bahwa kau menempuh perjalanan ke sini, maka kususul sepanjang jalan raya ini, bayanganmu tak kelihatan, karena dahaga aku kemari ingin cari air ”

"Dengan alasan yang sama kami masuk ke kelenteng ini, sungguh kebetulan."

"Hiante, bagaimana keadaanmu sekarang?"

Ji Bun kerahkan hawa murni, rasa sakit sudah lenyap, namun kepala masih rada pening, katanya dengan tertawa getir: "Tidak apa, aku takkan mati,"

Ui Bing mengerut kening, katanya: "Hiante, jelas kau sudah mati, denyut nadimu berhenti, tapi kau hidup kembali ”

Ji Bun geleng kepala, katanya; "Toako, bukan sekali ini saja aku mati, entahlah aku sendiri tidak tahu apa sebabnya."

"Tentu ada sebabnya."

"Siaute juga berpikir demikian, namun aku tak habis mengerti. O, Toako, pernahkah kau dengar ada gerakan tubuh yang bisa menghilang mendadak?" "Gerakan yang menghilang mendadak?"

"Ya, kalau tidak, aku tidak akan kecundang di bawah tangan perempuan itu."

Ui Bing berpikir sambil menunduk, katanya kemudian: "Ya, teringat olehku, itulah suatu gerakan tubuh yang sudah lama putus turunan dari kalangan Bu-lim, namanya Wan-hun-hu-deh"

"Wan-hun-hu-deh (sukma penasaran melekat badan)?" Ji Bun menegas.

"Ya, kau kira bayangan orang bisa tiba-tiba lenyap? Sebenarnya kenyataan tidak demikian, dia hanya berada di belakangmu, dia ikut bergerak mengikuti gerak-gerikmu, tak peduli kau mengubah posisi apapun, jejak orang takkan bisa kau temukan, oleh karena itu dinamakan Wan-hun-hu-deh."

"O," Ji Bun manggut-manggut seperti menyadari sesuatu, batinnya, kalau tahu demikian, takkan se¬mudah itu aku terjungkal di tangan Hun-tiong Siancu, betapapun hebat dan aneh gerakan itu, masakah ia dapat merajai segala gerakan ilmu tubuh dalam dunia ini, sebetulnya cukup dirinya bergerak dan berputar di tempat saja, atau melejit tinggi ke atas sudah cukup melayani gerakan lawan, memangnya ia juga mampu mengikuti gerakan mumbul ke atas, apalagi dirinya pernah meyakinkan Ginkang angin lesus berputar ke atas, ilmu ini kiranya cukup untuk mengatasi gerakan lawan yang aneh itu. Setelah paham lika-liku rahasianya, diam-diam Ji Bun bertambah yakin akan dirinya sendiri. Menang pengalaman merupakan guru yang paling bagus bagi perbendaharaan pengetahuan, apalagi ilmu dalam dunia ini tiada batasnya, hanya mengandal ilmu silat tanpa dilandasi pengetahuan yang luas tetap tidak cukup bekal untuk berkelana di Kang-ouw.

"Hiante," kata Ui Bing, "kukira kau pasti pernah makan sesuatu obat mujarab atau benda mestika lainnya, kalau tidak, daya hidupmu takkan berkobar pula setelah padam, orang yang sudah mati takkan semudah itu hidup kembali?"

Ji Bun geleng-geleng, ujarnya: "Toako, aku tidak menipumu, Siaute sendiri betul-betul tidak tahu sebabnya?"

Sekonyong-konyong sebuah suara nyaring merdu tapi dingin kaku menanggapi: "Kalau kau tidak tahu, biarlah aku yang beritahu padamu."

Ji Bun berjingkat kaget luka-lukanya belum sembuh seluruhnya, terutama hawa murni yang buyar belum sempat dihimpun kembali, baru saja dia bergerak, kepala pening pandanganpun berkunang- kunang, tubuh limbung hampir roboh, tak tertahan dia merintih tertahan.

"Siapa di situ?" Ui Bing segera menegur. Bagi Ji Bun, begitu mendengar suara orang segera dia tahu siapa yang bicara, darah seketika mendidih, namun dia tahu keadaan sendiri sekarang tak sanggup menghadapinya, namun sikapnya tetap angkuh dan ketus, tanyanya: "Kau tahu apa?" Terdengar kesiur angin lambaian kain, sesosok bayangan tiba- tiba muncul di hadapan mereka, dia adalah Hun-tiong Siancu.

Wajahnya nan rupawan tidak mengunjuk kemarahan dan nafsu membunuh pula, katanya tawar: "Ji Bun, dalam tubuhmu ada mengalir darah Thian-thay-mo-ki."

"Apa? Darah Thian-thay-mo-ki berada dalam, tubuhku? Aku tidak mengerti?"

"Sudah tentu kau tidak mengerti. Waktu pertama kali kau mendapat celaka, demi menolong kau, terpaksa Thian-thay-mo-ki berkorban diri, dengan darahnya sendiri dia menolong jiwamu "

Terbelalak biji mata Ji Bun, rasa kaget, heran, dan tidak percaya melapisi mimik wajahnya, suaranya gemetar: "Apa? Darahnya telah menolong aku?"

"Ya, karena dia pernah minum Sek-liong-hiat-ciang (darah naga batu), dalam darahnya mengandung mujarab mestika yang tiada taranya itu sehingga melindungi jiwanya dari marabahaya, itulah sebabnya kenapa berulang kali kau dapat hidup kembali setelah dipukul mati."

"Oh," Ji Bun dan Ui Bing sama-sama bersuara kaget, sungguh rahasia yang belum pernah mereka. dengar, lain pula bagi penerimaan Ji Bun, hal ini merupakan pukulan batin dan beban yang bertambah berat pula bagi nuraninya, betapa besar dan mendalam budi kebaikan Thian-thay-mo-ki terhadap dirinya ibarat setinggi langit sedalam lautan dan tak mungkin bisa dilukiskan dengan kata- kata, imbalan apapun takkan sembabat untuk membalas budinya. Sungguh celaka, bahwa selama ini dia tidak pernah menyinggung hal ini, kalau tidak tentu hubungan mereka tidak akan seburuk ini, namun kenyataan Thian-thay-mo-ki tidak mau menggunakan urusan ini untuk menarik simpatik darinya, betapa bajik dan bijak hatinya sungguh sukar dilukiskan.

Lahirnya dia kelihatan sebagai perempuan jalang, wanita genit, yang benar ia memiliki hati Buddha, hati suci nan murni. Agaknya hati manusia memang sukar dan tidak boleh diukur dari lahiriah atau dari sikap dan tingkah lakunya melulu, bayangan si nona seketika mengisi seluruh sanubarinya. Namun Ji Bun masih rada bimbang, tanyanya: "Darimana kau tahu akan rahasia ini?"

"Tanpa sengaja kudengar pembicaraannya dengan gurunya, Sam-cai Lolo. Ji Bun, kupukul kau tadi hanya melampiaskan dongkol hatiku, aku tahu kau tidak akan mati, kalau aku sengaja membunuhmu, cukup kupenggal kepalamu atau kupreteli kaki tanganmu, Sek-liong-hiat-ciang tetap takkan bisa mempertahankan jiwamu."

Ji Bun menggertak gigi: "Kebaikanmu tidak akan kulupakan, kalau kau ingin turun tangan, sekarang juga boleh."

"Tadi sudah kubilang takkan kubunuhmu, tapi kelak, entah kapan persoalan akan menjadi lain."

"Baik, selama hayat masih dikandung badan, akan datang suatu saat akulah yang akan memenggal kepalamu," demikian ancam Ji Bun malah. "Boleh saja, asal kau mampu."

"Lalu apa maksud Siancu kemari sekarang ini?"

"Beritahu kepada Ji Ing-hong, suruh dia sendiri unjuk diri membereskan persoalan lama. Kalau dia belum mati, pasti akan membuat perhitungan, kalau sudah mati, akulah yang akan memikul segala akibat dari perbuatannya."

Mulut Hun-tiong Siancu sudah bergerak, namun dia urung bicara, sekali berkelebat, tahu-tahu bayangannya lenyap dari pandangan Ji Bun dan Ui Bing.

"Gerakan tubuhnya sungguh menyerupai ilmu dewa!" kata Ui Bing.

Ji Bun diam saja, hatinya memikirkan Thian-thay-mo-ki, diam- diam ia bersumpah dalam hati, setelah dendam keluarga beres, dia ingin mengawini dan hidup sampai tua berduaan dengan Thian-thay- mo-ki. Tapi kilas lain segera iapun teringat kepada Ciang Bing-cu.

Betapa besar pula budi kebaikan Ciang Wi-bin dan puterinya terhadap dirinya. Ciang Wi-bin sendiri sampai sekarang masih tak keruan parannya karena mencarikan obat ke "danau setan" di Cong- lam-sam, tujuannya untuk menawarkan racun tangan kirinya supaya dirinya mengawini puterinya. Bagaimana dia harus mempertanggung jawabkan persoalan ini?

Apabila Ciang Wi-bin mengalami petaka dalam perjalanannya, dirinya pula yang harus menanggung segala akibatnya, lalu bagaimana ia harus menyelesaikan persoalan ini dengan Ciang Bing- cu? Keadaan mendesak dirinya untuk segera menyusul ke danau setan secepat mungkin, kalau berhasil menemukan Ciang Wi-bin dan beliau selamat tak kurang suatu apa, persoalan ini tentu dapat diselesaikan dengan baik. Maka ia berkata kepada Ui Bing: "Toako, Siaute segera akan berangkat ke danau setan"

"Hiante," ujar Ui Bing, “Toako tidak bisa mengiringimu."

Ji Bun melengak, namun hatinya senang malah, yang benar dia tidak ingin Ui Bing ikut serta, karena ada beberapa persoalan yang pantang diketahui orang luar, maka dia bertanya: "Kenapa?"

"Ada urusan yang harus segera kuselesaikan. Sebelum pergi Suhu ada pesan dengan wanti-wanti supaya aku membereskannya, kini tiba saatnya, terpaksa aku harus melaksanakannya." Lalu ia menambahkan: "Kalau di tengah jalan Hiante mendengar sesuatu kabar tentang guruku, boleh kau tak usah lanjutkan perjalananmu mencari Ciang Wi-bin."

Ji Bun tidak mengerti, tanyanya: "Kenapa?"

Sejenak Ui Bing tergagap, katanya kemudian: "Guruku akan memberi tahu apa sebabnya, asal kau mendapat kabar tentang beliau, usahakanlah menemuinya."

Ji Bun kebingungan, entah apa maksud ucapan Ui Bing ini? Apa sebabnya bila ketemu Biau-jiu Siansing dirinya tidak perlu lagi mencari Ciang Wi-bin? Kan tujuannya untuk kebaikannya dan ini satu sama lain saling bertentangan. Ui Bing justru tidak mau menjelaskan, maka dengan rasa sangsi ia mengiakan saja.

"Masih ada sesuatu, aku ada sebuah kantong sutera "

"Kantong sutera?" Ji Bun tertawa geli.

Ui Bing juga tertawa, dari kantong sutera dia mengeluarkan sebuah sampul besar yang tertutup rapat, katanya: "Hiante, ini amat penting, jika menghadapi kesulitan dan sukar dibereskan, boleh kau membukanya."

"Kalau tidak menghadapi kesulitan?" "Bakar saja."

"Tidak boleh membukanya?"

"Lebih baik jangan dibuka," sahut Ui Bing serius. Lalu dia minta diri lebih dulu.

Setelah Ui Bing pergi, Ji Bun yakin Hun-tiong Siancu tidak akan mengganggu dirinya lagi, maka dengan lega hati dia memberanikan duduk bersimpuh di dalam kelenteng menyembuhkan luka-luka dalamnya, satu jam lamanya baru seluruh kekuatannya pulih, segera dia menempuh perjalanan ke arah barat.

Hari itu Ji Bun tiba di kaki Cong-lam-san, seluruh pelosok gunung sudah dia jelajahi, namun tiada orang yang tahu di mana letak "danau setan", dia percaya apa yang dikatakan Ui Bing pasti bukan bualan, namun ada kemungkinan nama "danau setan" ini diberi oleh orang-orang persilatan untuk menentukan suatu tempat tertentu, yang tahu sudah tentu hanya orang-orang persilatan pula, rakyat jelata terang tidak tahu.

19.56. Misteri Danau Setan

Apa boleh buat, terpaksa Ji Bun menyiapkan makanan kering yang cukup banyak dan melanjutkan pencariannya.

Kalau "danau setan" merupakan tempat tersembunyi dan jarang diketahui orang, letaknya tentu amat rahasia dan belum pernah dijelajahi manusia. Karena itu, setelah masuk gunung, Ji Bun menuju tempat-tempat tersembunyi dan berbahaya. Tiga hari sudah dia putar kayun di pegunungan itu. Siang malam bekerja tidak kenal lelah, namun hasilnya nihil. Tapi dia tidak putus asa, dalam hati dia sudah bertekad untuk mencari sampai memperoleh hasil yang diharapkan, kalau tidak lahir batin dia tak bisa memberi pertanggungan jawab terhadap Ciang Bing-cu.

Hari keempat dengan Ginkang "angin lesus" yang lihay itu, dia melambung tinggi memanjat ke atas sebuah puncak bukit yang tinggi dan berbahaya, puncak ini mencakar langit, kecuali burung terbang, kera dan orang hutanpun takkan mungkin manjat ke atas karena dinding gunungnya berlumut dan tiada tumbuhan pepohonan apapun.

Di atas puncak adalah hutan lebat dengan pepohonan-pepohonan besar dan tua, selayang pandang tak kelihatan ujung pangkalnya seolah-olah puncak yang tinggi ini mengenakan sebuah topi hijau yang besar sekali. Dari ketinggian memandang sekitarnya, tampak gunung-gunung terbentang luas dan panjang sambung menyambung, selepas pandang, tak terlihat ada sebuah danaupun. Mungkin karena teraling oleh pepohonan lebat, maka pandangannya hanya bisa melihat ke arah depan dan kiri saja, kalau ingin melihat ke sebelah dalam dia harus menembus hutan lebat dan berada di bagian lain sana. Sejenak dia berpikir, lalu melompat tinggi ke pucuk pohon, dari pucuk pohon satu ke pohon lain dia kembangkan pula ilmu ringankan tubuh terus maju ke depan.

Puluhan tombak kemudian, tiba-tiba pandangannya terbeliak terang, tampak sebuah danau seluas beberapa hektar terbentang dihadapannya, letaknya persis di tengah-tengah hutan, sekelilingnya dipagari pohon-pohon tinggi dan tua, dari luar terang takkan kelihatan. Mungkinkah ini dinamakan "danau setan"? Dengan rasa girang segera dia mempercepat langkahnya terus melayang turun di pinggir danau, kira-kira sepuluh tombak jauhnya dia berhenti.

Permukaan danau tampak berkilau, tenang tidak bergelombang sedikitpun, permukaan air berselimut kabut tebal, kelihatannya seperti khayalan belaka, suasana di sini diliputi hawa setan yang menggiriskan. Tanpa kuasa Ji Bun berteriak kegirangan: "Betul inilah danau setan!"

Mendadak dari tengah danau sana berkumandang gelak tawa yang menusuk kuping, Ji Bun jadi merinding. Danau setan, memangnya ada setan di danau ini?

Gelak tawa itu sebentar putus sebentar bersambung, kedengarannya jauh tapi tahu-tahu amat dekat, betapapun tinggi kepandaian dan Lwekang Ji Bun, dalam suasana seperti ini tak urung dia merasa kebat-kebit juga.

Betulkah Ciang Wi-bin pernah kemari dan sekarang berada di sini ataukah sudah pergi? Atau hakikatnya tidak pernah menemukan tempat ini? Gelak tawa tadi sudah sirap, suasana kembali menjadi hening mencekam perasaan.

Ji Bun tenangkan hati, lalu mengerahkan tenaga bersuara lantang: "Ji Bun angkatan muda dari Bu-lim, mohon bertemu majikan tempat ini!"

Beruntun tiga kali dia berkaok-kaok tanpa mendapat jawaban, tak kelihatan ada reaksi apa-apa. Tengah dia ragu-ragu, tiba-tiba dilihatnya bayangan seorang bagai setan melayang tahu-tahu muncul dari tengah danau dan mendatangi ke arahnya. Tersirap hati Ji Bun, kagetnya bukan kepalang. Mungkinkah manusia bisa berjalan di permukaan air? Kalau dia setan, di tengah hari bolong tak mungkin berani menampakkan diri?

Bayangan itu semakin dekat, langkahnya berat, seperti bersuara tapi tak kedengaran pula. Air tidak kelihatan terpercik, juga tidak mirip orang mengembangkan Ginkang tingkat tinggi, lalu apa sebabnya dia bisa berjalan mengapung?

Jantung Ji Bun semakin mengencang mengikuti langkah bayangan itu yang semakin dekat. Kini dia sudah melihat jelas, itulah seorang laki-laki yang tua berusia 50-an, bertubuh tegap, wajahnya tidak menunjukkan mimik apa-apa, hanya sorot matanya tampak tajam berwibawa, dua kali dia melirik kepada Ji Bun, ujung mulutnya bergerak-gerak pula, terus berputar ke kiri dan melangkah pergi.

Lekas Ji Bun merangkap tangan, sapanya: "Tuan ini harap berhenti!"

Tanpa berpaling lagi orang tua itu tetap melangkah pergi seperti seorang olah ragawan yang tengah latihan dengan langkahnya yang ringan mengelilingi lapangan.

Ji Bun heran apakah orang tuli? Tapi matanya tidak buta, melihat orang asing datang, kenapa sikapnya acuh tak acuh? Maka dia perkeras suaranya dan berseru: "Cayhe mohon bertanya!"

orang tua itu tetap tidak menghiraukan suaranya, lekas sekali dia berputar ke arah pinggir hutan.

Sekali melejit Ji Bun lompat ke depan orang, katanya dengan menahan marah: "Kenapa tuan bersikap tak acuh begini?"

Orang itu tetap diam saja, namun langkahnya berhenti. "Apakah tempat ini danau setan?" tanya Ji Bun pula dengan

menekan perasaan.

Bertaut alis orang tua itu, sorot matanya menampilkan perasaan aneh, lalu dengan suara yang lirih sekali, namun jelas terdengar dia berkata: “Lekas pergi!" Ji Bun bingung dan curiga, entah apa maksud orang tua ini, tidak menjawab pertanyaannya, sebaliknya menyuruhnya pergi.

Sikapnyapun menampakkan rasa ragu dan kuatir, kenapa? Sedikit miring tubuh, tahu-tahu si orang tua sudah menerobos lewat di sampingnya, gerak geriknya amat aneh dan cepat.

Sudah tentu Ji Bun tidak tinggal diam, secepat kilat iapun berkelebat melampaui ke depan orang, serunya keras: "Cayhe mohon tanya, apakah ini tempat Danau Setan?"

Orang tua mundur beberapa langkah, wajahnya menampilkan derita dan sedih, bertambah heran dan curiga Ji Bun dibuatnya, orang membisu dan pura-pura tuli, apa maksudnya?

Sekonyong-konyong dari tengah danau berkumandang sua-ra perempuan: "Dia tidak akan menjawab segala pertanyaanmu!” Suara ini terang dikirim dengan gelombang suara panjang, jelas dan tegas, keruan Ji Bun kaget sekali, namun kalau tiada orang bersuara, urusan akan gampang dibereskan, segera dia balas bersuara: "Kenapa?"

"Kau tidak perlu tahu."

"Kau majikan dari tempat ini? Siapa gelaranmu?" "Akulah Kwi-ouw Hujin (nyonya danau setan)!" "Cayhe mohon bertemu!"

“Untuk urusan apa?” "Cayhe mencari jejak seseorang." "Siapa?"

"Ciang Wi-bin dari Kayhong, tiba bulan yang lalu beliau kemari mencari obat. "

"O, jadi kau inikah Te-gak Suseng?”

Dari pertanyaan balasan ini, Ji Bun yakin bahwa Ciang Wi-bin memang sudah pernah kemari dan menjelaskan keperluannya, bisa jadi kini terkurung di sini, kalau tidak mana mungkin orang tahu nama julukan dirinya? Maka dengan senang dia mengiakan.

"Kau ingin bertemu dengan Ciang Wi-bin? Kau kenal dia?" Orang tua tadi berkedip-kedip memberi isyarat mata kepada Ji

Bun, namun Ji Bun sudah kelepasan omong: "Sudah tentu aku kenal dia!"

Terdengar Kwi-ouw Hujin terkekeh-kekeh, tiba-tiba suaranya menjadi dingin kaku: "Kau membual!"

Ji Bun tertegun, serunya: "Dari mana kau tahu aku membual?" "Hakikatnya kau tidak kenal dia."

"Berdasar apa kau bilang demikian?" "Coba, siapa yang ada dihadapanmu itu?"

Terkesiap Ji Bun, serta merta pandangannya menatap si orang tua tadi, jelas wajah orang sedikitpun tidak mirip Ciang Wi-bin, kecuali perawakannya sedikit sama, terutama jenggot Ciang Wi-bin yang menjuntai panjang sebatas dada, namun orang tua ini hanya bercambang pendek. Apapun yang telah terjadi tidak mungkin dirinya pangling pada Ciang Wi-bin.

Kulit muka si orang tua tampak gemetar, mimiknya sangat lucu dan aneh, namun dia tetap tidak bersuara. Kini Ji Bun sudah melihat jelas wajah orang tua ini, terdapat sebuah tahi lalat besar hitam menyolok di antara kedua alisnya, menurut ilmu ramalan, tahi lalat yang terdapat di antara kedua alis ini dinamakan Ji-liong-toh-cu (Dua naga berebut mutiara), yang jelas Ciang Wi-bin tidak mempunyai tanda khas seperti ini, tapi kenapa Kwi-ouw Hujin menuding orang tua ini sebagai Ciang Wi-bin? Maka dengan cekak dan tandas dia menjawab: "Dia bukan!"

"Apa dia bukan? Kalau begitu, tiada orang yang kau cari di sini."

Ji Bun menarik napas panjang, katanya: "Memang aku mau dipermainkan?"

"Memangnya kau setimpal kupermainkan?"

"Dengan hormat Cayhe mohon sukalah engkau bicara terus terang." Laki-laki tua itu bergerak bibirnya, seperti hendak bicara tapi urung, lagaknya seperti takut bersuara.

Tiba-tiba Kwi-ouw Hujin terkial-kial, nadanya menghina dan mencemoohkan, katanya dingin: "Te-gak Suseng, kalau tahu diri lekas menggelinding turun gunung."

Ji Bun naik pitam, jengeknya angkuh: "Kalau tidak?" "Selamanya kau takkan turun lagi dari sini"

"Sebelum mencapai tujuan, Cayhe bersumpah takkan pergi dari sini."

Wajah si orang tua tak mengunjukan rasa gelisah, beruntun dia menggerakkan bibir, memberi isyarat kepada Ji Bun supaya lekas pergi.

Mendengar suara Kwi-ouw Hujin berkumandang pula: "Ciang Wi- bin, perjanjian semula sudah batal, kau boleh pergilah."

Berubah hebat air muka si orang tua tadi, mendadak hardiknya dengan bengis kepada Ji Bun: "Goblok, kau bikin gagal segala daya upayaku!"

Habis berkata, sebat sekali dia melejit ke tengah Danau, cepat sekali bayangannya lenyap ditelan kabut tebal.

Ji Bun menjublek, hardikan ini terang adalah suara Ciang Wi-bin, namun wajah orang jelas jauh berlainan, apa pula artinya gagal segala usahanya? Tapi dengan begini berarti orang tua ini juga mengaku dirinya sebagai Ciang Wi-bin? Kembali dia mendemontrasikan kepandaian jalan di permukaan air, mungkinkah Ciang Wi-bin memiliki kepandaian setinggi ini?

Tiba-tiba dia teringat kantong sutera pemberian Ui Bing, katanya kalau menghadapi kesulitan baru sampul surat itu boleh dibuka. Kini tibalah saatnya. Maka lekas dia keluarkan kantong itu terus membuka sampul surat itu, dilihatnya di atas secarik kertas tertulis :

"Ciang Wi-bin adalah guruku, kalau bertemu seorang ada tahi lalat di tengah alisnya, itulah wajah asli beliau."

"Hah!" teriaknya kaget, sekujur badannya gemetar, sungguh mimpipun tak pernah terbayang dalam benaknya bahwa Biau-jiu Siansing ternyata duplikat Ciang Wi-bin. Baru sekarang teka-teki ini tersingkap, banyak persoalan yang dulu mencurigakan kini menjadi terang. Jadi Ciang Wi-bin yang berjenggot panjang itupun hanya samaran belaka, jadi orang tua dihadapannya tadi adalah Ciang Wi- bin asli.

Khong-kok-lan So Yan diterima tinggal di rumahnya dan dia bersekongkol dengan ayahnya, Berulang kali menyuruh dirinya pergi ke rumah keluarga Ciang di Kayhong, agar berunding demi kepentingan Ciang Bing-cu. Ui Bing juga pernah berpesan, kalau bertemu dengan Biau-jiu Siansing supaya tidak usah mencari Ciang Wi-bin teka teki yang semula sulit ditebak kini seluruhnya telah tersingkap dengan sendirinya. Kalau Ciang Wi-bin sama dengan Biau-jiu Siansing, maka mati hidup ayahnya dan siapa sebetulnya Jit-sing-ko-jin pasti boleh ditanyakan padanya. Kini tiba saatnya memberitahu padanya bahwa Kim-sian-jau-koh (buah bergaris emas) sudah tidak diperlukan lagi. Untuk apa harus minta-minta kepada Kwi-ouw Hujin?

Sekali lompat dia melesat beberapa tombak jauhnya, mendadak dia sadar bahwa di depannya adalah permukaan air danau, namun gerakan sudah telanjur, kedua kakinya sudah meluncur ke permukaan air. Saking kagetnya badan sampai berkeringat dingin, tapi begitu kaki menginjak turun, waktu dia menunduk, hampir saja dia tertawa geli sendiri.

Mana ada air danau segala? Yang terinjak bawah kakinya ternyata adalah batu jade putih yang tumbuh secara alamiah di puncak ini, Di bawah pancaran cahaya matahari, ditambah kabut tebal yang bergulung-gulung maka kelihatannya menjadi mirip air danau yang berkilauan. Tak heran Ciang Wi-bin bisa berlari enteng seperti bergerak di tanah datar.

Mau tak mau Ji Bun amat kagum dan pesona oleh ciptaan alam yang aneh ini. Danau setan, memang pantas kalau tempat ini dinamakan demikian, suasana dan hawa di sini memang diliputi hawa setan. Setelah rahasianya terbongkar, bertambah besar nyali Ji Bun, segera dia melangkah lebar menuju ke tengah danau.