Hati Budha Tangan Berbisa Jilid 18

 
Jilid 18

Ji Bun tekan urat nadi Kiang Giok, hawa murni disalurkan dengan tenaga yang cukup besar, dia tahu tipis kesempatan untuk menolongnya supaya bicara. Sekali cekalan tangan dilepas, jiwa orang pasti melayang, sebaliknya hawa murni tersalur melampui batas, orang juga tidak akan tahan, bahwa Kiang Giok masih kuat bertahan hidup untuk kesekian detik lamanya sudah merupakan suatu keajaiban. Sedetikpun tak boleh terbuang percuma, maka segera ia bertanya: "Kiang Giok, kau tahu apa dosamu?"

Gemetar bibir Kiang Giok, suaranya lirih seperti bunyi nyamuk: "Tidak ..... tahu "

Beringas dan mendelik Ji Bun, katanya: "Sudah mendekati ajal kau tetap tidak bertobat?"

"Ber ..... bertobat karena apa?”

"Durhaka terhadap leluhur dan menipu guru, kau melanggar banyak pantangan perguruan ”

"Mungkin ... kau yang salah, kau ..... dari perguruan mana?" Mulut Ji Bun sudah terbuka, namun dia urungkan kata-katanya, tak boleh dia sembarangan menyebut nama perguruannya, inipun salah satu larangan, maka ia ganti cara mengajukan pertanyaan.

"Di mana Tok-keng yang kau peroleh?" "Apa? Tok-keng apa?"

"Ya, katakan, di mana kau simpan?" "Aku tidak tahu."

Gemes dan mendongkol Ji Bun, hardiknya bengis: "Darimana ilmu beracun yang kau yakinkan?"

"Diajarkan oleh Kaucu sendiri."

Bergetar hati Ji Bun, perkembangan ini lagi-lagi di luar dugaannya, kalau demikian murid murtad perguruan, Ngo-hong- kaucu adanya, sungguh mengerikan dan sukar dibayangkan. Ia harus cepat menggunakan kesempatan terakhir yang masih ada untuk mencari sumber yang tepat. maka dia bertanya gugup: "Katamu diajarkan oleh Kaucu? Siapa Kaucumu?"

"Entah. tiada yang tahu."

"Kiang Giok, orang-orang seperguruanmu tidak segan turun tangan menamatkan jiwamu untuk menutup mulutmu, kenapa kau masih menyimpan rahasia ini." "Aku betul-betul tidak tahu. Kau ..... Kaucu amat misterius ”

"Di mana markas besar Ngo-hong-kau?"

"Di belakang puncak ...... Siong-san Aok!" tiba-tiba suaranya

terputus seperti tenggorokan tersumbat, laksana lampu kehabisan minyak, jiwanya telah melayang.

Ji Bun berdiri, dia menarik napas panjang, beruntung telah diperoleh sedikit keterangan. betapapun luasnya daerah pegunungan di belakang puncak Siong-san, akhirnya pasti dapat diselidiki dan ditemukan, setelah ada tujuan tertentu, tak perlu dia bekerja secara serampangan lagi.

Ia pikir agaknya Suco memberikan berkahnya sehingga Kiang Giok masih sempat dikorek keterangannya. Kalau tidak murid murtad perguruan akan bebas berbuat kejahatan tanpa ada yang dapat menumpasnya. Celakanya dirinya salah menuduh dia sebagai murid pengkhianat, ia sudah mati, segala persoalanpun himpas.

Ji Bun tenangkan pikiran, kembali dia merangkai rencana, bahwa Ngo-hong-kaucu adalah orang yang mendapatkan Tok-keng. Ini jelas tak salah, jadi dia pulalah murid generasi tingkat ke-14 yang dipenujui Ngo Siang sebagai calon penggantinya yang harus melakukan tugas rutin menyerempet bahaya untuk mendapatkan rejeki nomplok. Sayang Ngo Siang ditipu dan dibikin cacat, dipaksa menyerahkan ilmu perguruan, semua ini adalah perbuatan dan dosa Ngo-hong-kaucu. Sudah puluhan tahun yang lalu ayahnya memperoleh ilmu beracun ini, sebaliknja Ngo-hong-kau baru berkembang dalam beberapa tahun terakhir ini, mungkin ayahnya dulu punya hubungan luar biasa dengan Ngo-hong-kaucu ini. tentang kematian ayahnya, dan beruntun dirinya mengalami pembunuhan, tentu Ngo-hong- kaucu sendiri yang bisa memberikan jawaban.

Dengan analisa yang meyakinkan ini, maka pihak yang membantai orang-orang Jit-sing-po terang adalah pihak Ngo-hong- kau, tapi kenapa ayahnya tempo hari mengatakan pihak Wi-to-hwe? Ayahnya terang tidak akan membela musuh yang menghancurkan keluarganya sendiri. Namun kenyataan justru bertentangan satu sama lain, sungguh sukar diselami. Mau tidak mau dia lantas teringat pada Biau-jiu Siansing, paling tidak maling sakti ini pasti dapat membongkar teka teki ini.

Biau-jiu Siansing dapat mengubah diri dengan samaran beratus rupa, gerak geriknya sukar dijajaki, kecuali dia unjuk diri sendiri, biasanya sukar mencarinya.

Sudah tentu nasib ibunda dan Thian-thay-mo-ki tetap merupakan topik pemikirannya, gelisahpun tak berguna. Perkembangan terakhir ini juga di luar dugaan semula, yang terang usahanya kali ini sedikit banyak telah mendapatkan hasil yang cukup besar artinya bagi usaha selanjutnya untuk menyelusuri jejak musuh.

Tanpa sadar kakinya bergerak pergi dan lekas sekali ia sudah berada di luar Ciang-liong-kok. Setelah menentukan arah, ia siap menuju ke Siong-san, namun pikirannya tiba-tiba teringat suatu hal cukup penting pula. Ui Bing pernah bilang bahwa pamannya Ciang  Wi-bin sedang pergi ke Cong-lam-sam mencarikan obat untuk menawarkan racun Bu-ing-cui-sim-jiu, supaya dirinya bisa kembali menjadi manusia awan umumnya. Danau setan yang dituju dan dicarinya itu hanya ada di dalam dongeng. Di sana katanya bisa memperoleh buah rumput bergaris emas, namun sudah tiga bulan lamanya beliau belum kunjung pulang.

Sudah tentu tujuan utama Ciang Wi-bin dalam usahanya ini adalah demi kebaikkan puterinya yang dijodohkan pada dirinya, namun kebaikan dan budi ini takkan bisa dihapus demikian saja, jika orang mengalami sesuatu, selama hidup ini jiwanya pasti tertekan.

Tujuan mencari Ngo-hong-kau tidak boleh ditunda, tapi perjalanan ke danau setan juga tidak boleh terlambat. Sudah sekian lama Thian-thay-mo-ki terjatuh ke tangan Ngo-hong-kau, nasib apa yang menimpanya, sukar diramalkan, kalau terjadi sesuatu yang merugikannya, selama hidup ini dirinya pun akan merana. Siong-san terletak di timur laut, sebaliknya danau setan terletak di Siamsay, itu berarti dia harus menuju ke barat, arah yang berlawanan.

Dari sini ke Cong-lam-san, paling cepat satu bulan baru dapat mencapai tempat tujuan, dalam sebulan ini perubahan apa yang akan dialami ibunda dan Thian-thay-mo-ki? Tapi demi dirinya, paman Ciang telah menempuh perjalanan sejauh itu, menempuh mara bahaya lagi, keluarga sendiri dirampok habis-habisan juga tidak dipedulikannya, mati hidupnya masih sukar diramalkan, relakah dia berpeluk tangan tanpa bertanggung jawab? Ia jadi bingung, maju mundur serba susah baginya. Siong-san hanya ratusan li saja dari sini, menurut perhitungannya, kalau dia tempuh perialanan ini dengan kecepatan tinggi, paling-paling dua hari dua malam sudah mencapai tujuan. Setelah dipertimbangkan secara masak, dia berkeputusan pergi ke Siong-san lebih dulu.

Entah berapa jauh ia berlari-lari, lambat laun terasa perut mulai lapar, baru sekarang dia sadar sudah sehari semalam dia tidak makan sebutir nasipun, rangsum kering yang dibawanya sudah habis dimakan sebelum dia memasuki Ciang-liong-kok.

Selepas mata memandang, hanya gunung gemunung yang serba liar dan belukar yang belum terinjak manusia. Agaknya untuk mencapai tempat yang ada penduduk atau perkampungan harus menempuh perjalanan sehari paling cepat. Walau kekuatan badan masih kuat bertahan, namun rasa lapar perutnya sungguh tidak enak. Dalam keadaan kepepet dia berpikir minum air gunung untuk menahan lapar juga mending, maka dia lantas berlari ke selokan di bawah jurang sebelah depan sana.

Sekonyong-konyong sesosok bayangan semampai berkelebat dan tahu-tahu sudah meluncur dihadapannya. Lekas Ji Bun mengerem langkahnya. Waktu dia melihat jelas, kiranya seorang gadis belia berusia tujuh belas tahun, berwajah jelita, namun di antara lirikan matanya nampak wataknya yang genit dan pasti pandai main asmara, terang gadis ini bukan perempuan baik-baik. Apalagi gadis secantik ini muncul di gunung belukar yang tidak pernah diinjak manusia, tentu dia bukan permpuan sembarangan, bukan mustahil sebangsa siluman atau dedemit. Sekian lamanya gadis baju hijau ini mengawasi Ji Bun, akhirnya ia unjuk senyum manis mesra, suaranya merdu: „Siauhiap ini siapa namanya?"

Ji Bun terlongong, sahutnya: „Cayhe she Ji."

Gadis itu cekikikan, katanya dengan gaya yang memikat: „Ji- siauhiap, apa kau tidak kesasar?”

Ji Bun melengak, serunya: "Apa, aku salah arah? Apa maksudmu?"

"Tentu saja salah arah, ke timur adalah arah untuk keluar gunung, seharusnya kau menuju ke selatan."

Seperti digerujuk air dingin kepala Ji Bun, bahwasanya dia tidak tahu apa maksud perkataan gadis baju hijau ini, jawabnya ingin tahu

: „Kenapa aku harus menuju ke selatan?"

„Ji-siauhiap, terus terang aku bermaksud baik memberi petunjuk kepadamu."

„Nona tahu kemana Cayhe hendak pergi? Apa pula tujuanku?"

„Sudah tentu aku tahu ”

Kaget dan heran Ji Bun, gadis ini muncul secara mendadak, kata- katanya pun mengandung arti yang sukar diselami. Sungguh luar biasa gadis ini. Gadis baju hijau melirik genit, katanya pula dengan gaya aleman "Ji-siauhiap, kau tidak percaya?"

Ji Bun menjadi mual menghadapi sikap genit ini, suaranya dingin: "Darimana nona bisa tahu?"

Gadis baju hijau mendekat dua langkah, sepasang biji matanya sebening kaca berkedip-kedip pada Ji Bun, seperti seekor kucing yang mengincar ikan asin, katanya cekikikan: "Bukankah kau hendak bersembah sujud kepada San-lim-li-sin?"

Ji Bun tertegun, tanyanya tidak mengerti: "Apa itu San-lim-li-sin (perempuan sakti pegunungan)."

Bertaut alis gadis baju hijau, ganti dia yang mengunjuk rasa heran, katanya: Masakah bukan ke sana tujuanmu?"

"Selamanya belum pernah Cayhe mendengar nama San-lim-li-sin segala,"

"Lalu untuk apa kau berada di atas gunung ini? " "Aku kebetulan lewat saja."

"Inilah pertemuan aneh yang dinamakan ada jodoh, kuharap Siauhiap tidak menyia-nyiakan kesempatan baik ini?"

Kata-kata ini menimbulkan daya tarik bagi hati Ji Bun, tanyanya: "Siapakah sebenarnya San-lim-li-sin?" "Sssst!" lekas gadis baju hijau angkat jari ke depan mulut mencegah Ji Bun bicara lebih lanjut, katanya: "Kalau dia sudah disebut sakti bagai malaikat, jangan kau menyebutnya sebagai manusia biasa, kata-kata Siauhiap barusan terlalu semberono."

"Nona," ujar Ji Bun tertawa lebar, "walau Cayhe ini orang awam yang kasar, tapi pernah juga membaca buku, soal setan dan malaikat segala, apa betul ada di dunia ini?"

"Soal ada atau tidak boleh kau buktikan sendiri. Nah, Siauhiap melihat puncak tunggal yang mencakar langit itu?"

"Ya, kenapa?"

San-lim-li-sin bersemayam di puncak itu, sebulan yang lalu, mendadak beliau memperlihatkan kesaktiannya, siapapun boleh naik kesana mengagungkan beliau, kalau nasibmu baik, mungkin kau bisa ditarik menjadi dewa gunung, betapa banyak orang-orang yang berduyun-duyun kemari tak terhitung jumlahnya."

Dalam hati Ji Bun geli, namun lahirnya tetap wajar, katanya: "Kalau orang sudah diangkat jadi dewa gunung, lalu bagaimana?"

"Tentunya banyak sekali manfaat yang bakal diperolehnya." "Manfaat apa?"

"Kabarnya demikian saja, sampai di mana manfaatnya aku sendiri belum tahu." "Menurut pendapat nona apakah Cayhe ini bakal diterima oleh San-lim-li-sin?”

"Siauhiap begini tampan, berbakat lagi, pasti kau bakal ketiban rejeki."

"Bicara sejauh ini, masih belum kutanya nama harum nona?" "Aku bernama Liu Gim-gim."

"Pernah apa nona Liu dengan San-lim-li-sin itu?"

"O, tidak. Siauhiap jangan menduga yang bukan-bukan akupun mengikut orang banyak kemari hendak sembah sujud kepada beliau, kulihat Siauhiap kesasar kemari, karena iseng sengaja kususul dan

..... ah, mungkin aku terlalu bawel ”

Ji Bun menduga dalam hal ini tentu ada latar belakangnya, munculnya gadis ini tentu punya tujuan dan ada sebabnya, namun dia pura-pura tidak tahu, katanya: "Kalau begitu Cayhe jadi ketarik hendak membentur rejeki ”

"Semoga Siangkong berhasil mendapatkan rejeki!“ baru terdengar suaranya, tahu-tahu Ji Bun merasa pandangannya kabur, bagai bayangan setan saja gadis baju hijau sudah berkelebat hilang. Keruan jantungnya berdebar keras sekali, mulut terpentang dan mata terkesima, sungguh kejadian aneh luar biasa. Di siang hari bolong, seorang masakah bisa lenyap tanpa bekas dari pandangan mata, malah hidungnya masih mengendus bau harum semerbak, mungkinkah ini hanya impian belaka? Ji Bun celingukan, suasana di atas gunung sepi, sinar matahari mencorong terang, namun bayangan apapun tiada dilihatnya. Ia menjublek di tempatnya sampai sekian lama.

Betulkah ada setan dan malaikat di dunia ini? mungkin gadis ini memang diutus untuk memberi petunjuk kepadaku? Waktu kecilnya memang sering mendengar dongeng dari mak inang, katanya sang dewi sering menampakkan diri terhadap orang-orang yang berjodoh, lalu bayangannya tiba-tiba lenyap setelah timbul pusaran angin lembut, betulkah ada kenyataan ini? Tanpa terasa pandangannya tertuju ke puncak gunung yang jauh di selatan sana, rasa ingin tahunya semakin berkobar. Rasa lapar sudah terlupakan, tanpa sadar segera ia berlari menuju puncak di selatan itu.

Kira-kira semasakan air mendidih, dia sudah tiba di bawah gunung, waktu dia memandang ke atas, dilihatnya bentuk puncak tunggal ini memang luar biasa, berbeda dari pada keadaan gunung umumnya. Puncak gunung ini besar dan luas, sebaliknya bagian bawahnya semakin mengecil, mirip benar dengan sebuah menara yang diputar balik letaknya. Tingginya tak terukur, puncaknya berselubung mega, memang bentuk dan keadaannya mirip sekali dengan gunung kediaman malaikat dewata.

Tatkala itu bayangan seorang tampak sedang bergerak-gerak di lamping gunung, waktu ditegasi, kiranya seorang tua, setiap langkah kakinya pasti menyembah sekali, cara begitulah dia terus menggeremet ke atas gunung, betapa sujud dan khidmatnya, jelas kelihatan dari tingkah lakunya. Tatkala Ji Bun mengawasi dengan melenggong, tampak bayangan seorang tiba di bawah kaki gunung pula, kiranya seorang Busu berusia 30-an, namun sikap Busu ini juga sangat sujud, prihatin dan amat berhati-hati. Sekian lama dia mendongak mengawasi puncak gunung, tiba-tiba dia membuka ikatan pedang di pinggang dan terus dibuang begitu saja di tanah, setelah membetulkan pakaian, iapun tinggalkan kantong rangsumnya.

Melihat rangsum ini segera rasa lapar Ji Bun bergolak pula, cepat ia maju menyapa: “Saudara, bolehkah Cayhe mohon sedikit rangsum keringmu ini?"

Busu itu seperti tidak mendengar, tidak berpaling dan tidak melirik, bersuarapun tidak, tahu-tahu dia lempar kantong rangsum itu ke arahnya. Lekas Ji Bun menerimanya, sikapnya rada kikuk, baru saja dia hendak menyatakan terima kasih, Busu itu sudah berlutut dan menyembah, lalu mulai naik ke atas gunung, setiap tiga langkah menekuk lutut menyembah tiga kali, begitulah seterusnya. Ingin Ji Bun tertawa, namun tak bisa tertawa, tanpa sungkan- sungkan segera ia mendekati kantong rangsum itu, setelah dibuka ternyata makanan yaag dibawa Busu ini sangat lezat. Isinya adalah setengah ekor kelinci panggang, kira-kira setengah kilo dendeng sapi dan sebuah bakpao yang besarnya satu piring. Setelah dimakan seluruhnya, perutpun sudah kenyang, waktu dia angkat kepala. dilihatnya Busu tadi baru tiba kira-kira setengah li. Ji Bun lari kepinggir sungai untuk minum menghilangkan dahaga. Manusia itu besi, dan nasi adalah baja, setelah perutnya kenyang, semangatnya menyala. Dalam hati Ji Bun merasa heran dan curiga, betapapun dia tidak percaya adanya ''Malaikat perempuan" segala. Memang dunia persilatan ini banyak diliputi serba-serbi keanehan, namun semua itu hanyalah permainan orang-orang persilatan itu sendiri yang ingin angkat nama atau mempermainkan orang lain. Setelah bimbang sebentar, akhirnya Ji Bun meleset ke atas puncak.

Lekas sekali Busu tadi telah disusulnya, tampak Busu itu mengawasinya dengan pandangan kaget heran, geleng-geleng kepala, lalu melangkah dan menyembah lagi. Sekaligus Ji Bun berlari-lari sejauh tiga li, jaraknya dengan puncak sudah tidak jauh lagi, pemandangan disinipun sudah jauh berubah.

Setelah dekat keadaan lebih jelas, puncak ini menjulang tinggi mencakar langit sukar diukur karena puncaknya yang tertinggi diselubungi awan yang bergulung-gulung. Bagian bawah yang semakin mengecil dari kaki bukit ini tampak bagian tengah dibuatkan undakan batu yang lurus ke atas. Entah berapa undakan itu, kecuali jalan undakan yang di buat ditengah lekukan alam ini, tiada tempat lain yang dapat dibuat naik ke atas, karena begitu curam, kerapun takkan mungkin manjat kesana.

17.51. Malaikat Perempuan Penunggu Gunung

Tempat di bawah undakan batu adalah sebidang tanah yang miring seluas puluhan tombak, di sini orang-orang yang bergiliran naik keatas puncak menunggu dengan sabar, kira-kira ada puluhan orang yang berlutut di sana sini, setiap orang begitu sujud dan patuh sekali, mengawasi puncak yang tidak tampak bayangannya. Diam-diam Ji Bun berpikir: "Cukup seorang yang memiliki dasar ilmu silat berjaga di sebelah atas, betapapun tinggi Lwekang seorang juga pasti sukar naik ke atas dengan selamat."

Kebetulan diiihatnya bayangan seorang beranjak turun dari undakan batu, kelihatan lesu dan bergontai langkahnya, terus turun gunung, agaknya dia tidak berjodoh untuk mendapat berkah dari "Malaikat Perempuan."

Tampak seorang yang berlutut disebelah kiri depan menyembah tiga kali, bergegas dia melangkah kearah undakan batu dengan munduk-munduk, lalu manjat ke undakan itu.

Orang-orang yang berada dilapangan ini sama menoleh kearah Ji Bun, sikap Jr Bun angin-anginan dan tidak menampakkan sikap menghormat, semua merasa heran dan kaget. Kebetulan bagi Ji Bun, iapun awasi setiap orang yang berada di sekitarnya, ternyata kebanyakan anak-anak muda dari golongan persilatan.

Tiba-tiba pandangannya tertarik pada seorang pengemis yang meringkuk di sebelah kanan, agak jauh di sana, pengemis ini sedang tidur dengan mengorok keras. Melihat pengemis ini hampir saja Ji Bun tertawa, karena dia bukan lain samaran Sian-tian-khek Ui Bing. Walau sudah berubah bentuk lain, namun Ui Bing tetap mengenakan pakaian lama waktu dia menyamar pengemis tua mata satu, buntalan kain yang berbentuk bundar dan persegi di atas punggungnya merupakan tanda yang khas, karena kedua buntalan bundar persegi inilah maka sekilas pandang Ji Bun lantas mengenalinya. Agaknya Ui Bing sedang mimpi muluk, dia tidak melihat kedatangan Ji Bun. Pelan-pelan Ji Bun menghampiri dan duduk di samping Ui Bing. Tiba-tiba Ui Bing membuka mata dan berteriak tertahan: "He, kaupun kemari?"

Ji Bun manggut-manggut sambil tersenyum, katanya: "Tak nyana bertemu disini."

"Kaupun ingin bersujud pada Malaikat perempuan?" "Anggaplah begitu, Toako kira ”

"Sama-sama, hal ini tak usah dibicarakan."

"Apakah paman Ciang Wi-bin sudah ada kabarnya?" "Tiada, mungkin mengalami sesuatu."

"Setelah menyelesaikan suatu persoalan, Siaute akan menyusulnya ke Cong-lam-san. Bagaimana gurumu?"

"Beliau juga tiada kabar ceritanya." "Apa yang akan Toako lakukan di sini?"

Ui Bing menuding dengan ujung bibirnya ke arah undakan, katanya: "Aku tidak berjodoh, belum lagi sampai di atas sudah dipukul mundur lagi."

"O, jadi ada yang jaga di atas sana?” "Kira-kira demikian, dari atas menyerang ke bawah, posisinya jauh lebih menguntungkan, kemampuanku amat terbatas, tak bisa berbuat apa-apa."

“Agaknya jago lihay yang berjaga diatas. Bagaimana keadaannya?"

"Entahlah, tiada yang tahu." "Biarlah Siaute mencobanya?"

"Orang-orang ini sudah mendapatkan nomor, yang datang duluan lebih dulu naik ke atas, kau mungkin harus tunggu sampai besok pagi."

ji Bun mengerut kening, matanya menyapu sekelilingnya, katanya: "Ada jalan lain?"

"Mana mungkin, tiada tempat berpijak "

"Siaute yakin bisa mencobanya."

"Kukira tidak setimpal kau menempuh bahaya," ujar Ui Bing menatap Ji Bun sekian lama, "mungkin kau bisa berhasil namun aku khawatir ada serangan yang membokong."

Perhatian yang tulus hati ini betul-betul mengetuk sanubari Ji Bun, katanya sungguh-sungguh: "Toako, Siaute akan berhati-hati." Pelan-pelan ia lantas berdiri.

Tiba-tiba Ui Bing menarik Ji Bun terus diseret ke belakang sebuah pohon. Ji Bun kaget, tanyanya: "Ada apa?"

"Ada orang datang, jangan kau menampilkan diri lebih dulu." "Siapa yang datang?"

"Ngo-hong-su-cia."

Dari celah-celah dedaunan Ji Bun mengintip ke sana, betul juga dilihatnya seorang pemuda berbaju sutera, seperti tiada orang lain disekitarnya langsung berlenggang ke arah undakan.

Memuncak amarah Ji Bun, desisnya geram: "Biar kubunuh manusia keparat ini."

Lekas Ui Bing menariknya, bujuknya: "Hiante, jangan terburu nafsu, biar dia membuka jalan, pasti akan ada tontonan yang menyenangkan."

Sementara itu Ngo-hong-su-cia tadi langsung telah menuju ke undakan, seorang laki-laki muka merah yang berlutut di bawah undakan seketika menggerung gusar: "Anak muda, apa yang hendak kau lakukan?"

Ngo-hong-su-cia berhenti memutar badan, katanya dingin menghadapi laki-laki muka merah yang berlutut: "Mulutmu harus bicara yang bersih tahu!” Laki-laki muka merah mengertak gigi, agaknya dia menekan perasaan, namun suaranya mengandung kemarahan yang meluap: "Anak keparat, segala urusan harus menurut aturan, kau datang belakangan harus antri, sikapmu ini sungguh kurangajar ”

"Memangnya peduli apa dengan kau?”

"Bapakmu ini ingin mengajar adat padamu," belum habis dia berbicara, "Plak", disusul suara jeritan keras, laki muka merah itu terguling roboh sejauh delapan kaki, darah bercucuran dari mulutnya, mukanya yang merah menjadi kelam, pipinya bengap sebesar mangkok.

Ji Bun sudah hendak memburu ke luar, namun Ui Bing menekan pundaknya.

Perbuatan kasar semena-mena Ngo-hong-su-cia menimbulkan kemarahan umum, tujuh delapan orang kontan berjingkrak gusar sambil mengepal tinju. Ngo-hong-su-cia malah bertolak pinggang, wajahnya tersenyum sinis.

Seorang laki-laki berbadan besar seperti kerbau tiba-tiba menggeram gusar: "Anak kelinci, biar tuan besarmu mengajar adat

.........." sambil mengayun tinjunya sebesar mangkok terus menjojoh ke dada pemuda baju sutera, begitu keras ayunan tinjunya sampai mengeluarkan deru angin, betapa dahsyat pukulannya ini sungguh amat mengejutkan. "Blang," dibarengi pekik mengerikan, tahu-tahu raksasa itu sendiri yang terpental roboh celentang, jiwanya seketika melayang. Tidak kelihatan Ngo-hong-su-cia bergerak, kedua tangan masih bertolak pinggang, hanya dada yang dibusungkan menerima pukulan secara telak, namun sikapnya seperti tidak terjadi suatu apa. Keruan kejadian ini membikin seluruh hadirin melongo kaget dan jeri, mereka yang tadi menggulung lengan siap mengajar pemuda kurang ajar ini menjadi kuncup nyalinya.

Dengan pandangan menghina Ngo-hong-su-cia menyapu seluruh hadirin, lalu sambil menjengek dia putar tubuh terus manjat ke atas undakan. Kelihatannya dia melangkah lamban, namun kenyataan tubuhnya melayang seperti anak panah meluncur, hanya sekejap mata bayangannya sudah lenyap ditelan awan.

Suasana tanah lapang menjadi sunyi, namun kini ketambahan sesosok mayat manusia yang tidak terurus. Hampir melotot biji mata Ji Bun menyaksikan kekejaman pemuda baju sutera tadi, sayang dia di tahan oleh Ui Bing, sehingga tak terlampias rasa gusarnya.

"Cobas lihat!" kata Ui Bing lirih.

Segulung bayangan tiba-tiba bergelinding turun dari atas undakan, akhirnya terbanting diam di bawah kaki undakan. Kiranya Ngo-hong-su-cia yang tadi manjat keatas jiwanya kini sudah melayang, punggungnya ketambahan beberapa huruf merah yang menyolok dan mengejutkan: "Mati bagi yang kurang ajar."

Sama berubah rona muka hadirin, Ji Bun sendiri juga terkejut, kepandaian silat Ngo-hong-su-cia pernah dilawannya, dan terhitung kelas wahid. Namun hanya sekejap mata dia sudah mampus dibuatnya, peduli yang membunuhnya di atas bukit tadi manusia atau malaikat, yang terang kejadian ini cukup seram dan mengerikan. Kalau puncak ini tempat semayam para malaikat, tiada alasan untuk menyebar kabar angin mengundang sekian banyak orang untuk membuat onar di sini. Jikalau manusia, apa pula tujuan dari permainan ini?

Sebetulnya dengan Ginkang "pusaran angin" yang dimiliki Ji Bun bukan soal sulit untuk manjat ke atas puncak tanpa melalui undakan langit ini. Namun sekarang dia ganti haluan semula, dia ingin manjat ke atas lewat undakan ini, dia ingin tahu bahaya apa yang mengancam setiap insan yang naik ke sana. "Toako," katanya, "biar aku mencobanya."

"Hiante harus berhati-hati."

"Siaute tahu," sebat sekali dia melompat dan melesat ke arah undakan, karena adanya peristiwa yang dialami Ngo-hong-su-cia, maka tiada orang lagi yang merintangi Ji Bun. Mereka tinggal diam saja mengawasi Ji Bun dengan penuh perhatian.

Ji Bun menghimpun hawa murni, badannya seringan burung walet, dengan enteng dia melayang naik melalui undakan. Kelihatan sikapnya wajar dan tenang-tenang saja, namun hatinya merasa gundah dan jantungnya dak-dik duk. Kekuatan Lwekangnya sudah dikumpulkan siap menunggu segala perubahan yang mungkin menimpa dirinya. Undakan ini lurus lempeng menanjak curam ke atas, lebarnya hanya empat kaki, kedua sisinya dipagari dinding batu gunung yang licin mengkilap laksana kaca, kera pun takkan mampu manjat ke atas, hanya undakan satu-satunya jalan untuk naik ke atas.

Ji Bun terus berlari-lari dengan tangkas dan enteng, lekas sekali dia sudah hampir mencapai puncak, jaraknya tinggal puluhan tombak lagi. Waktu ia mendongak, tampak undakan alam ini seolah- olah sudah bertautan dengan langit, sebuah papan batu yang besar sekali berdiri di ujung undakan. Empat huruf besar dengan tulisan gaya kuno berjajar melintang "Tempat semayam malaikat perempuan". Kecuali keempat huruf ini tiada kelihatan apa-apa lagi. Sekilas Ji Bun menghentikan langkahnya, ia bimbang apakah harus menerjang terus ke atas atau bersuara mohon bertemu. Tiba-tiba dari atas puncak sana berkumandang suara: "Malaikat perempuan memanggil Ji-siauhiap.”

Mendengar "Ji-siauhiap", Ji Bun lantas tahu pembicara adalah seorang jago silat dari Bu-lim, seketika bangkit nyali Ji Bun, namun hatinya merasa heran pula, bahwa nama dirinya sudah diketahui, ini sungguh membingungkan.

Segera dia mengenjot kaki melayang maju pula dengan beberapa kali lompatan. Akhirnya dia tiba di bawah papan batu besar, di mana matanya menjelajah, seketika mengkirik bulu kuduknya. Tampak dua kakek yang berbentuk aneh, laksana dua patung raksasa, masing-masing berduduk di kanan kiri undakan, keduanya memejamkan mata bersimpuh tak bergerak. Kedatangan Ji Bun seperti tidak diketahui oleh mereka. Ji Bun tenangkan diri, waktu dia memandang ke depan, kiranya luas puncak bukit ini kira-kira ada satu hektar. Batu-batu aneh tersebar dimana-mana, pohon-pohon cemara bertebaran. Tepat di tengah sana berdiri sebuah bangunan berloteng, atapnya dihiasi naga dan burung hong, bentuknya tak ubahnya seperti kelenteng, tapi megahnya tidak kalah daripada istana raja.

Bayangan seorang semampai tampak berdiri di jalanan kecil yang menuju ke loteng megah itu. Ji Bun disonggong dengan senyuman manis. Begitu melihat orang ini lebih yakin dan mantap hati Ji Bun akan dugaan semula, karena orang yang menunggu dirinya ini bukan lain adalah gadis baju hijau yang mengaku bernama Liu Gim- gim, serunya segera: "Nona Liu!"

Tidak nampak lagi sikap genit Liu Gim-gim. Sahutnya setelah memberi hormat: "Atas perintah Li-sin, silakan Siauhiap masuk menghadapnya."

"Apa betul Cayhe ada jodoh?" tanya Ji Bun geli dan mengada- ada.

"Mungkin, silakan ikut hamba," ujar Liu Gim-gim dengan tertawa manis.

"Silakan tunjuk jalan," kata Ji Bun.

Liu Gim-gim langsung membawa Ji Bun naik ke loteng, setelah melewati serambi berpagar batu putih, mereka tiba di depan pintu sebuah ruangan besar. Empat gadis baju hijau dengan sikap hormat berbaris di depan pintu, masing-masing memegang kebutan, pedang, mistar, dan alat tabuhan.

Bentuk luar bangunan ini sudah megah, ternyata pajangan dan perabot yang ada di dalam jauh lebih mewah lagi. Dari luar tak kelihatan ada bayangan orang di dalam.

Liu Gim-gim berhenti beberapa langkah di luar pintu, katanya penuh hormat: "Ji-siauhiap mohon bertemu."

Liu Gim-gim menyingkir memberi jalan, keempat, gadis baju hijau tadi juga berpencar ke kanan kiri. Hati Ji Bun menjadi tegang, karena mengikuti rasa ingin tahunya saja dia meluruk ke tempat ini. Tujuan yang pasti tiada, juga tiada maksud-maksud tertentu, soalnya dia tidak tahu siapa sebetulnya orang yang tersembunyi dibalik semua kejadian ini. Namun dalam hati ia tetap yakin bahwa tiada "malaikat" segala di dunia ini, kehadiran Liu Gim-gim sudah merupakan bukti bahwa orang di belakang layar pasti juga seorang persilatan, cuma dari keadaan yang dihadapinya ini, jelas dia pasti bukan orang sembarangan.

Pelahan-lahan dia melangkah masuk, lalu berdiri tegak sambil berpangku tangan menghadap kain gorden. Terdengar suara merdu yang menarik di belakang tabir berkumandang pula: "Ji Bun, apa maksudmu kemari?"

Ji Bun kaget bukan main, sekali buka mulut orang sudah menyebut namanya, jelas sudah tahu asal usul dirinya, pula suara orang ini tidak terasa asing baginya. Namun dalam waktu singkat ini sukar dia memikir di mana pernah dengar suaranya, sejenak dia ragu-ragu, lalu katanya: "Anak buahmu sendiri yang membawaku kemari."

"Jadi karena ketarik dan ingin tahu saja?" "Ya, boleh dikatakan demikian."

"Apa pula permintaanmu sekarang."

"Ingin melihat pamor malaikat perempuan yang sebenarnya." "Hanya itu saja? Ketahuilah, manusia biasa mana boleh

berdekatan dengan malaikat, masakah begitu mudah terlaksana keinginanmu?"

"Jadi kau masih tetap mengagulkan diri sebagai malaikat segala?" "Apa maksudmu?”

"Tiada maksud apa-apa, walau Cayhe orang bodoh, tidak pernah kupercaya adanya malaikat segala."

"Jadi kau anggap aku ini manusia biasa?"

"Malah sebelum ini kita pernah berkenalan, bukan?" "Bagus, tahukah kau, apa maksudku menyuruh Liu Gim-gim

membawamu kemari?" "Mohon diberi keterangan." "Kalau kau menjadi sandera di sini, memangnya Ji Ing-hong tidak akan keluar?"

Terkesiap hati Ji Bun. "Siapakah kau? Betulkah ayahku masih hidup?''

"Mungkin saja Ji Ing-hong licik dan licin, tipu muslihatnya masakah dapat mengelabui mata seorang ahli, mungkin kau memang tidak tahu dan dikelabui ayahmu sendiri."

Perasaan Ji Bun tergerak pula, jelas orang ini pasti musuh. apakah betul ayahnya belum mati? Mana Mungkin? Jari tangan sendiri yang menggali liang lahat dan mengubur jenazahnya.

Barang-barang peninggalan ayahnya juga dia temukan pada jenazah itu, sayang wajah si korban remuk dan tidak bisa dikenali lagi, memangnya di sinikah letak persoalannya? Dia tidak habis mengerti, namun dia berdoa, semoga hal ini memang betul. Maka dia berkata dingin: "Kau bermusuhan dengan ayahku? Biarlah aku yang bertanggung jawab memikul semua perbuatannya."

"Kau tidak akan mampu memikulnya. Ji Bun, kau kira siapa aku ini?"

''Kenapa tidak kau keluar menampakkan dirimu?”

Pelan-pelan kain gorden tersingkap, muncul bayangan semampai seorang perempuan jelita. Ji Bun menjerit kaget dan menyurut mundur. Kiranya orang yang muncul ini bukan lain adalah perempuan rupawan yang disebut Siancu oleh orang-orang Wi-to-hwe itu. Sungguh tak pernah terpikir olehnya bahwa hari ini dirinya bakal masuk perangkap orang-orang Wi-to-hwe pula. Memangnya apa tujuan orang menjunjung diri sebagai San-lim-li-sin dan membuat keonaran ini? Tentunya bukan melulu ditujukan kepada ayah dan dirinya, karena dirinya hanya kebetulan lewat di sini.

Dahulu dia bukan tandingan perempuan rupawan ini, tapi sekarang mungkin dia mampu melawannya sama kuat. Tanyanya segera: "Apakah kau ini betul-betul Siangkoan-hujin?"

"Ya, ada apa?"

"Kenapa harus pura-pura jadi malaikat segala untuk menipu orang banyak?"

"Ji Bun, kau salah, San-lim-li-sin adalah ibuku, berdasar apa kau mengatakan kami menipu orang?”

"Yang terang dalam Bu-lim belum pernah kudengar nama julukan ini."

"Itu karena pengetahuanmu yang terlalu cetek,” sahut perempuan rupawan itu, lalu menambahkan: "Memang baru-baru ini saja orang-orang berduyun-duyun kemari."

"Apa tujuannya?" "Baiklah kuberitahu. Demi membela kebenaran." "Membela kebenaran?"

"Tempat ini merupakan perangkap bagi kaum bejat dan sampah persilatan, kau tahu?"

Ji Bun mengertak gigi, wajahnya unjuk rasa gusar, sesuai perkataan orang, dirinya jadi termasuk sampah persilatan. Namun dia segan berdebat, katanya dingin: "Memang tidak sedikit orang- orang munafik dalam dunia Kang-ouw, jahat lurus sukar dibedakan. Lalu maksud Hujin memancingku kemari hendak menjadikan diriku sandera karena permusuhan Siangkoan-Hwecu dengan ayahku itu?"

"Ya, permusuhan ini harus dibereskan sendiri oleh Ji Ing-hong." "Tapi bagaimana dengan peristiwa hancurnya Jit-sing-po?"

"Wi-to-hwe tidak bertanggung jawab dalam peristiwa itu." "Memangnya siapa pang harus bertanggung jawab?" "Sudah tentu orang yang berbuat, pihak yang melakukan." "Siapa yang melakukan?"

"Tidak usah aku menjawab pertanyaan ini."

"Tatkala peristiwa itu terjadi, betulkah Siangkoan Hong sendiri juga menuntut balas?" "Ya, tapi sasaran yang dicarinya hanya ayahmu seorang."

"Dapatkah ucapanmu ini dipercaya? Bagaimana kalau aku menuduh Siangkoan Hong yang menjadi biang keladi dari pembantaian besar-besaran itu?"

"Aku tidak bisa, melarang kau mengajukan pendapatmu." "Jadi kau mengakui tuduhanku ini?"

"Aku tidak ingin berdebat denganmu, sejak sekarang, kau sudah menjadi tawananku."

Bangkit nafsu Ji Bun, serunya gusar: "Kukira tiada orang yang mampu menahanku di sini."

"Boleh kau mencobanya?" habis berkata bayangan perempuan cantik itupun menghilang bagai setan, kain gorden hanya sedikit bergeming.

Rasa benci dan dendam membara di dada Ji Bun, kesan dan tindaknya di Ciang-liong-kok seketika timbul dalam benaknya. Kalau tidak menggunakan cara keras dan keji, jangan harap tercapai cita- citanya untuk menuntut balas. Alasan menjadikan dirinya sebagai sandera untuk memancing ayahnya keluar bukan mustahil hanya alasan kosong belaka? Entah apa tujuan yang tersembunyi balik penahanan dirinya ini? Segera dia angkat tangan memotong ke arah kain gorden, di tengah suara robeknya kain gorden, entah kemana perginya perempuan rupawan tadi.

Sesaat dia melenggong, entah sejak kapan pintu keluar ternyata juga sudah tertutup oleh sebuah jaring besar, sekali melejit dia menerjang ke arah pintu, sekuatnya tangan menarik dan menyendal, seketika ia terkesiap, jaring ini entah terbuat dari bahan apa. Betapa pula besar kekuatannya sekarang, namun tarikannya sedikitpun tidak bisa memutuskan jaring itu.

Keempat gadis baju hijau tetap berdiri di luar pintu, salah seorang yang memegang mistar tiba-tiba berpaling sambil berkata tertawa: "Te-gak Suseng, tenangkanlah dirimu, jaring benang ulat sutera ini takkan putus dibacok dan dipotong dengan senjata tajam, dibakarpun tidak akan luluh. Betapapun besar kekuatanmu hanya sia-sia belaka, dan atap rumah ini dibangun dengan lapisan besi, kuharap kau tidak membuang-buang tenaga."

Dingin perasaan Ji Bun, namun nafsunya semakin berkobar malah, di mana tangannya terayun, beberapa jalur angin kencang meluncur ke arah empat gadis yang berdiri di luar pintu. Sebat sekali keempat gadis itu melompat terpencar, segesit kera tahu-tahu mereka sudah berdiri pula di tempatnya semula, gerakannya aneh dan tangkas.

Saking murka, Ji Bun himpun tenaganya menggempur ke arah dinding. "Blang!” suaranya menggelegar, malah diri sendiri terpental mundur oleh tenaga sendiri, gema dari pukulannya sampai sekian lama berkumandang, begitu keras suaranya sampai kuping sendiri serasa pekak. Mau tak mau dia harus percaya apa yang diucapkan si gadis baju hijau tadi. Umpama kepandaian setinggi langit juga akan sia-sia belaka, tapi rasa benci, dendam, marah betul-betul hampir membuatnya gila, dia menggerung dengan suara bergetar: "Perbuatan hina dan rendah ini, memangnya kalian tak malu mengagulkan diri sebagai penegak kebenaran?"

Terdengar suara perempuan rupawan yang berkumandang entah dari mana. Suaranya hampa mengalun di tengah udara: "Ji Bun, tidak kugunakan kekerasan terhadapmu, itu terhitung aku menggunakan cara yang paling baik."

"Kalau kau mengaku sebagai insan persilatan, kenapa tidak dibereskan dengan kepandaian ilmu silat?" tantang Ji Bun.

"Tentu, cuma waktunya belum tiba."

"Sehari Ji Bun tidak mampus, aku bersumpah akan menumpas habis seluruh Wi-to-hwe."

"Asal kau mampu, kutunggu sampai Ji Ing-hong mengunjuk diri.

Ketahuilah kehadiran kau di sini sudah tersebar luas di dunia persilatan." Habis berkata suasana menjadi hening.

Bagai harimau yang terkurung dalam kerangkeng, Ji Bun mondar mandir dengan mengepal tinju, hatinya murka dan penasaran, namun tak berdaya untuk meloloskan diri.

Lima hari sudah Ji Bun terkurung. Lima hari, namun bagi perasaan Ji Bun seperti lima tahun. Selama lima hari ini yang sering dilihat dan bertemu muka hanya Liu Gim-gim seorang, walau dirinya dikurung namun pelayanan terhadap dirinya cukup baik, Liu Gim-gim selalu memberikan segala keperluan yang dia butuhkan. Diam-diam Ji Bun gegetun dan dongkol pula terhadap gadis yang satu ini, kalau bukan gara-gara cewek dirinya pasti takkan terkurung. Setiap kali muncul dihadapannya, sikap Liu Gim-gim amat menantang lagi.

Tengah hari itu, seperti biasa Liu Gim-gim datang membawa rangsum, satu persatu dia masukkan hidangan yang dibawanya melalui sebuah lubang khusus. Wajahnya selalu bersenyum manis mesra, lalu dia menunggu di luar jaring sambil berdiri dengan gaya menantang. Entah sengaja atau tidak, dia sering menggerakkan pinggang dan pinggul, membusungkan payu dara yang baru mekar dan hanya terlindung oleh bajunya yang tipis.

Kali ini Ji Bun tidak mau menyiksa diri, makanan yang dibawakan untuknya disikatnya habis, dengan lahap dia makan sambil menunduk kepala, hati juga bekerja merancang cara dan akal untuk meloloskan diri.

Dengan pandangan pesona Liu Gim-gim mengawasi Ji Bun, jejaka bak arjuna yang meluluhkan hati setiap insan lawan jenisnya, senyuman mesra dan genit wajahnya bertambah mekar. Entah apa yang tengah dipikirkan? Selama lima hari ini, Ji Bun sudah mual kalau tidak mau dikata jijik menghadapi tingkah pola cewek yang jalang ini, selama ini belum pernah dia memberi hati kepada orang, melirikpun dia tidak sudi. Dengan suara aleman memikat tiba-tiba Liu Gim-gim berkata "Ji- siauhiap, apakah tidak pernah kau merasa kuatir akan masa depanmu sendiri?"

Ji Bun tetap sibuk menyikat makanannya, sedikitpun tidak menghiraukan ocehan orang.

“Siauhiap seorang berbakat, laki-laki sejati, pribadimu tentu jauh berbeda dengan orang kebanyakan, kesabaran dan ketekunanmu, serta harkat dirimu sungguh membuatku takluk."

Tergerak hati Ji Bun, perempuan ini pandai membual, berjiwa munafik dan pintar memikat, kenapa tidak kuperalat dia saja? Maka lekas dia turunkan mangkok dan sumpit, dimasukkan nampan terus didorong keluar, katanya dingin sambil berdiri: "Nona Liu ada petunjuk apa terhadapku?"

Biji mata Liu Gim-gim yang jeli bening memancarkan sinar aneh, katanya aleman: “Ji-siauhiap berada di dalam kurungan, namun masih bersikap begini tenang dan wajar, sungguh mengagumkan.”

"Memangnya aku ini seorang persilatan ynag harus berani mempertaruhkan jiwa raga, kenapa harus gentar menghadapi ujian hidup."

"Karena itulah hamba tadi bilang amat kagum akan kebesaran jiwa Siauhiap."

"Ah, kau terlalu memuji." Sekian saat Liu Gim-gim menepekur sambil gigit ujung jari, lalu katanya dengan suara lirih: "Apakah Siauhiap tidak ingin lolos?"

"Kalau dikatakan ingin, kenyataan tidak mungkin." "Jadi Siauhiap ingin lolos?"

"Sudah tentu, manusia mana yang tidak ingin bebas merdeka?

Demikian juga aku ini.”

"Akan tetapi, apa pula rencana Siauhiap setelah bebas?" "Mungkin nona bisa memberi petunjuk?”

Diam sebentar, akhirnya Liu Gim-gim berkata pula "Dua hari yang lalu, majikan kami telah turun gunung." Kata-kata ini tiada juntrungannya, namun mengandung maksud tertentu bagi pendengaran Ji Bun, tidak mungkin tanpa sebab nona ini bicara soal ini.

Dasar cerdas, cepat sekali Ji Bun dapat meraba ke mana arah perkataannya, namun dia pura-pura bodoh, tanyanya: "Majikanmu itu, apakah si Malaikat perempuan?"

"Bukankah Siauhiap sudah tahu, kok tanya lagi ”

"Kudengar orang memanggilnya Siancu "

"Ya, julukan Hujin adalah ” "Kenapa tidak kau lanjutkan?"

Sedikit berobah rona muka Liu Gim-gim seakan-akan sadar kata- katanya terlalu semberono, disadarinya bahwa dirinya telah berbuat salah dan menyerempet bahaya, namun toh dia tetap memberi jawaban, karena pikirannya sekarang sudah dirasuk perasaan lain dari seorang anak perawan yang baru mekar, kesadarannya sudah tenggelam dikuasai oleh asmara. "Dia bergelar Hun-tiong-siancu," demikian disambungnya.

"O, Hun-tiong-siancu (dewi dalam mega), memang dia setimpal mendapatkan julukan ini. Apakah dia cantik?"

18.52. Keluar Dari Kurungan Jala Sutera

"Sukar dicari bandingannya, dia amat cantik. Dan bagaimana dengan hamba?"

"Kaupun ayu, terutama gerak gerikmu teramat anggun." "Hamba hanya seorang pesuruh, mana berani mendapat pujian

Siauhiap."

Geli hati Ji Bun, agaknya nona ini sudah pusing tujuh keliling karena mabuk kepayang terhadap dirinya, namun kalau sandiwara ini dilanjutkan, persoalan pokok pasti akan segera disinggung. Maka dia lalu bicara blak-blakan: "Apakah nona ada maksud memberi bantuan kepada Cayhe?" "Wah, terus terang hamba tidak berani mempertaruhkan jiwa raga sendiri, tapi ”

"Tapi kenapa?"

"Hatiku tidak tega melihat engkau menderita."

"Aku tahu. Sebetulnya nona ingin membantu, namun ada syaratnya bukan?"

Liu Gim-gim terkikik sambil menutup mulut, matanya melirik penuh arti, katanya sedikit kikuk: "Ji-siauhiap memang lebih cerdik daripada orang lain, terus terang hamba tak berani mengajukan syarat segala, cuma .... cuma tujuanku "

“Apa tujuanmu?"

Jengah wajah Liu Gim-gim, katanya dengan malu-malu kucing: "Hamba hanya seorang pelayan rendah, kurela menyerahkan jiwa ragaku demi Siauhiap." Biji matanya yang jeli menatap penuh harapan ke arah Ji Bun.

Memang Ji Bun sudah menduga apa yang terkandung dalam benak cewek ini, maka dia tidak kaget atau heran, katanya tawar: "Apakah ini syaratnya?”

"Terserah kepada Siauhiap."

"Lalu bagaimana aku harus menepati syaratmu ini?" "Bersumpah kepada langit dan bumi bahwa engkau akan mengawiniku dan menjadi suami istri sampai hari tua, segera hamba akan berusaba menolong Siauhiap."

Ji Bun tertegun, berusaha lolos adalah keinginan dan harapan yang mendesak bagi Ji Bun. Untuk lolos dia boleh menggunakan cara keji atau muslihat kotor apapun, peduli cara keji apa yang akan dia laksanakan. Bagi seorang insan persilatan yang betul-betul berjiwa ksatria jelas pantang ingkar janji. Lalu mungkinkah dia menikah dengan perempuan jalang seperti Liu Gim-gim ini? Tidak mungkin, namun kesempatan sebaik ini, mana boleh diabaikan demikian saja. Kalau Hun-tiong Siancu ada di kandang, umpama nyali Liu Gim-gim setinggi langit juga takkan berani berbuat senekat ini, maka lama sekali Ji Bun tak membuka suara.

"Hamba tahu Siauhiap pasti tidak sudi sama sekali mengawini aku yang rendah ini "

Agak kusut pikiran Ji Bun, tak tahu bagaimana dia harus menjawab, katanya sesaat kemudian: "Biarlah kupikirkan dulu, ini urusan besar, demi masa depan."

Liu Gim-gim celingukan, lalu katanya gugup: "Ji-koko, waktu tidak memberi kesempatan untuk bimbang hati, kalau Hujin keburu pulang, segala harapan akan sirna."

Merinding sekujur badan Ji Bun mendengar orang memanggil "Ji- koko" kepadanya, hatipun muak, sebetulnya dia bisa berbuat apa saja terhadap perempuan genit ini. Namun Ji Bun tidak sudi berbuat kotor demi kebersihan nama baik sendiri, maka dia berkata pula: "Berilah satu jam untuk kupikirkan, bagaimana?"

"Wah baiklah, satu jam kemudian aku kemari lagi," sembari

bicara Liu Gim-gim ulurkan tangan ke dalam lubang hendak mengukuti perabot, lengannya tampak putih halus, jari-jarinya runcing. Melihat lengan orang, suatu pikiran berkelebat dalam benak Ji Bun, batinnya: "Memberi kelonggaran kepada musuh berarti berlaku kejam terhadap diri sendiri." Maka dengan segera dia berkeputusan, dengan senyum lebar tiba-tiba dia membungkuk sambil mengelus lengan orang.

Semula Liu Gim-gim kaget dan secara refleks hendak menarik tangannya, namun dia urungkan niatnya, tangannya dibiarkan dipegang dan dielus-elus, katanya cekikikan senang: "Ji-koko, kau sudah berubah pikiran dan mantap?"

Tiba-tiba Ji Bun bersikap dingin, katanya dengan suara berat: "Kau tahu apa julukanku?"

Liu Gim-gim tertegun, jawabnya: "Te-gak Suseng."

Ji Bun lepas pegangannya, suaranya lebih dingin: "Bagus, kuharap kau tidak melupakan nama gelaranku ini."

Lenyap tingkah genit Liu Gim-gim tadi, katanya mengerut kening penuh keheranan: "Apa maksudmu?”

"Ketahuilah, bahwa aku ini bukanlah manusia yang mudah dipelet dan dipermainkan. Sekarang buka jaringan ini." Liu Gim-gim menyurut mundur, suaranya gemetar: "Kau belum menerima syaratku ”

"Aku tidak berminat sama sekali." "Kenapa aku harus membebaskan kau?"

"Untuk menolong jiwamu sendiri. Sudah kupoles racun yang jahat pada lenganmu, tiada orang yang bisa menawarkan racun itu, dalam jangka seperempat jam, nona secantik dirimu bakal melayang jiwanya. Kalau kamu mau membuka jaringan ini, aku berjanji akan menolongmu."

Pucat wajah Liu Gim-gim, dia mundur lagi, teriaknya beringas menuding Ji Bun: "Kau sungguh kejam "

"Sesuai dengan nama gelaranku, memang aku bukan orang baik- baik."

"Ji Bun, kalau aku mati, memangnya kau bisa hidup?" "Itu persoalan lain."

Berkerutuk gigi Liu Gim-gim, serunya. "Dalam jangka seperempat jam, aku sudah cukup berlebihan untuk menghancur leburkan tubuhmu."

"Kau berani? Boleh coba." Sekilas Liu Gim-gim melengong, mendadak dia putar tubuh, tangannya meraih cakar naga yang menjadi hiasan ukiran di atas saka di serambi sana.

Mencelos hati Ji Bun, sungguh tak pernah dibayangkan bahwa gadis ini berani nekat, cakar naga itu pasti kunci rahasia untuk memutar suatu alat senjata yang ganas. Dirinya terkurung di sini hakikatnya tak mampu mencegah perbuatan orang. Kalau benar dirinya sampai berkorban di tangan budak jalang ini, sungguh matipun takkan meram.

Jari-jari Liu Gim-gim sudah pegang cakar naga, desisnya mengancam: "Ji Bun, jangan kau menyesal!''

Seperti dibakar hati Ji Bun, namun lahirnya dia tetap tenang- tenang, katanya angkuh: "Aku tidak pernah merasa menyesal."

"Baik, akan kutonton cara bagaimana kau meregang jiwa." "Liu Gim-gim," pada detik-detik yang menentukan itu, tiba-tiba

sebuah bentakan berkumandang dari serambi luar sana, "besar sekali nyalimu!"

Tahu-tahu seorang nyonya baju hitam setengah baya sudah muncul di depan kamar, kereng wajah nyonya ini, sorot matanya menyala mengawasi Liu Gim-gim. Seperti berhadapan dengan dedemit, Liu Gim-gim tampak ketakutan, beruntun dia mundur sampai mepet pintu dan berada di depan jaring. "Budak keparat," damprat nyonya baju hitam bengis, “apa yang hendak kau lakukan?"

Suara Liu Gim-gim penasaran: "Aku .... aku terkena

racunnya."

Nyonya baju hitam melirik ke arah Ji Bun, katanya: "Kau tahu dia tawanan penting Hujin? Kalau kau membunuhnya dengan Kang-niu- tin, akibat apa yang akan terjadi?”

"Tapi, jiwa hamba tinggal beberapa detik lagi ”

"Tutup mulutmu, tiada anak buah Siancu yang sebejat dirimu, berani kau berkhianat terhadap Siancu, hendak melakukan perbuatan kotor lagi, kau sendiri harus menerima ganjarannya. Hayo berlutut.”

Liu Gim-gim bertekuk lutut, mulutnya sesambatan: "Congkoan, ampunilah akan kesalahanku yang pertama kali ini."

"Undang-undang yang di tegakkan oleh Li-sin, biarpun Siancu sendiri juga tidak berani mengubahnya, tutup mulutmu."

Seperti kertas air muka Liu Gim-gim, badannya gemetar.

Congkoan, nyonya baju hitam itu, mendekati jaring, katanya: "Ji Bun, kuharap kau memberi obat penawarnya."

“Kenapa? "

"Dia akan mendapat hukuman sesuai peraturan disini." "Siapa nama yang mulia?"

"Sun Hoan-ji, menjabat Congkoan di sini."

Sejak digembleng dengan ajaran ilmu tingkat tinggi Ban-tok-bun, cara menggunakan racun sudah terlalu mahir bagi Ji Bun. Dikala mengelus tangan Liu Gim-gim tadi dia sudah mengeluarkan racun penghancur jantung, namun kini dia dapat mengendalikan racun itu supaya bekerja pada waktu-waktu tertentu dan dapat diperhitungkan sesuai dengan keadaan. Kalau setengah tahun yang lalu, siapa saja yang kesentuh tangan kirinya pasti mampus seketika. Sekarang sekujur badannya boleh dikatakan berlepotan racun, namun racun dalam tubuhnya hanya bisa mencelakai jiwa orang kalau dikehendakinya sendiri. Hari ini pertama kali dia gunakan ilmu tingkat tinggi yang baru dipelajarinya itu, soalnya juga karena terpaksa. Apalagi gerak geriknya selalu terkendali oleh larangan perguruan yang tidak boleh sembarangan membunuh, yang benar dia sendiri juga tidak ingin mengambil jiwa Liu Gim-gim. Oleh karena itu dia berkata keras: “Nona Liu coba ulurkan kemari tanganmu."

"Untuk apa?" tanya Liu Gim-gim menoleh. "Menawarkan racun dalam tubuhmu." "Tidak mau."

"Kenapa?”

"Akhirnya aku juga mati, biar aku mati di tanganmu saja." "Memangnya kau bisa berbuat sesukamu di sini?" damprat Sun Hoan-ji, sekali lompat dia jinjing tubuh Liu Gim-gim dan tangannya dimasukkan ke dalam lubang.

Mata mendelik dan gigi berkerutuk, namun Liu Gim-gim tidak bisa meronta, dia tidak berani melawan. Lekas Ji Bun pegang pergelangan tangan orang, diam-diam dia kerahkan tenaga murni menyedot kadar racun di badan orang, dengan cepat dia lepas tangan lagi, katanya: "Sudah selesai."

Cara menawarkan racun yang aneh luar biasa ini, selama hidup belum pernah Nyonya baju hitam mendengar atau menyaksikan, sesaat dia berdiri melongo.

Pada saat itulah, dari bawah loteng sana tiba-tiba berkumandang suara hardikan dan berdentingnya suara senjata, agaknya terjadi baku hantam yang ramai di bawah sana. Berubah air muka nyonya baju hitam, sekali berkelebat dia bawa Liu Gim-gim pergi.

Ji Bun merasa kaget, siapakah yang berani mencari setori di atas puncak ini? Suara gaduh pertempuran berkumandang di sana sini, pekik teriakan kesakitan juga saling susul, agaknya korban sudah mulai berjatuhan. Dari suara baku hantam yang gaduh ini, terang tidak sedikit orang yang tengah bertempur.

Tiba-tiba sesosok bayangan orang meluncur naik ke atas loteng, secepat kilat menubruk kebilangan kanan, namun cepat sekali berlari keluar pula dan menyusup ke arah kiri. Agaknya dia sedang mencari apa-apa, menggeremet di depan kamar tempat Ji Bun dikurung, melihat jaring besar ini, seketika mulutnya bersuara terjepit.

Ji Bun berjingkrak mendengar suara orang, keruan senangnya bukan main, lekas dia berteriak: "Toako, aku ada di sini."

Yang datang kiranya Ui Bing, kini dia menyamar sebagai seorang Busu baju hitam, kalau tadi dia tidak bersuara pasti Ji Bun tidak mengenalnya.

Ui Bing mendekati jaring, serunya: "Hiante, kau masih sehat? Sudah lima hari, kuduga kau sudah tiada, apakah yang terjadi?"

"Aku terkurung oleh jaring ulat ini. Siapakah yang berhantam di luar itu?”

"Jago-jago Ngo-hong-kau, jumlahnya 50-an, aku mencampurkan diri di antara mereka, baru berhasil menyelundup kemari."

"Tangga batu yang sempit berbahaya itu tak kuasa menghalangi mereka?"

Setelah mengorbankan 12 jagonya baru Ngo-hong-kau dapat menjebol penjagaan itu.”

"Kedua makhluk yang berjaga itu?"

"Sudah tentu mampus. Biar kucari alat pembukanya dulu." Habis berkata, tangan meraba dan menendang, dengan teliti dia mencari tombol untuk membuka jaringan ini Sebagai murid Biau-jiu Siansing, maling sakti nomor wahid di seluruh jagat, sudah tentu Ui Bing cukup ahli juga dalam hal alat-alat rahasia.

"Awas!" tiba-tiba Ji Bun berseru memperingatkan, sejalur angin kencang tiba-tiba menerjang ke arah Ui Bing, penyerangnya adalah seorang gadis baju hijau, munculnya begitu mendadak, namun Ui Bing berjuluk Sian-tian-khek, gerak geriknya tentu cukup tangkas. Tapi kalau dibandingkan lawannya dia masih kalah, beruntun dicecar tiga kali tabasan pedang, sehingga Ui Bing melompat mundur kewalahan, keadaannya sangat berbahaya. Dalam sepuluh jurus, jelas Ui Bing tidak akan lolos dari rangsakan pedang si gadis.

Ji Bun gelisah, tangan diulur keluar jaring, dengan tenaga selentikan jari dia menyerang lawan dengan kekuatan murninya. "Trak", kepala naga yang ada di saka, tiba-tiba protol dan terlempar jauh.

"Rebahlah," berbareng si gadis menghardik, di tengah kumandang suaranya, pundak Ui Bing kontan berdarah, tubuhnya sempoyongan. Gerakan pedang si gadis tidak berhenti, tahu-tahu ujungnya mengancam ulu hati Ui Bing, sebat sekali Ui Bing berusaha melompat, namun gerak geriknya selalu dibayangi oleh ujung pedang sigadis, agaknya dia sukar terhindar dari bahaya.

Untunglah bertepatan dengan protolnya kepala naga itu, tiba-tiba jaring besar yang mengurung Ji Bun tiba-tiba menggulung sendiri keatas. Keruan bukan kepalang girang Ji Bun, selentikan jari tadi sebetulnya menyerang si gadis, namun gerakan si gadis teramat gesit, malah sebaliknya kepala naga ini yang terkena selentikan tenaga jarinya dan mengenai alat rahasia yang tepat sehingga membebaskan diri sendiri.

"Huuuaaah!" di tengah teriakan yang mengerikan, tampak gadis baju hitam itu roboh tersungkur roboh binasa.

"Hiante, kau " seperti melihat suatu keajaiban, tiba-tiba Ui Bing

berteriak.

"Secara kebetulan, mimpi juga aku tidak menduganya," ujar Ji Bun sambil menuding ke arah saka. "Bagaimana keadaan Toako?"

"Luka-luka luar saja, tidak jadi soal," lekas-lekas dia keluarkan obat, menelan pil serta membubuhi puyer pada luka-lukanya.

Suara baku hantam masih gaduh di luar, namun semakin mendekati bangunan loteng. Menyala sinar mata Ji Bun, serunya penuh murka :"Akan kucuci tempat ini dengan darah."

"Jangan!" lekas Ui Bing mencegah. "Kenapa?"

"Kau mau membantu Ngo-hong-kau? Sebagai seorang Busu, memangnya kau hendak mengail di air keruh?"

Sejenak Ji Bun ragu-ragu, katanya: "Apa harus tinggal pergi begini saja?" "Kalau pihak tuan rumah tiada bala bantuan, pihak Ngo-hong-kau pasti berhasil menguasai keadaan di sini.”

Tatkala mereka bicara, tiba-tiba sesosok bayangan orang melesat ke atas loteng. Kiranya seorang pemuda baju sutera, tangan menenteng pedang sekujur badan berlepotan darah. Begitu berdiri tegak segera dia menuding Ui Bing seraya membentak: "Kenapa tidak turun tangan?" agaknya dia kira Ui Bing sebagai anak buah Ngo-hong-kau.

Ji Bun melirik sekitarnya, lalu menyambut dengan suara dingin: "Selamat bertemu!"

Pemuda baju sutera adalah salah satu Ngo-hong-su-cia yang pernah bentrok di luar kota Bik-seng tempo hari, temannya sudah mati di tangan Ji Bun. Berhadapan dengan pemuda ini mau tak mau Ji Bun lantas ingat pada kekasihnya, Thian-thay-mo-ki, nafsunya seketika memuncak tak terkendali lagi.

Begitu berhadapan dan melihat jelas musuh dihadapannya, seketika berobah roman pemuda baju sutera, cepat dia putar badan hendak melarikan diri. Sebat sekali Ji Bun berkelebat mencegat, desisnya: "Kau harus mampus!" kontan dia menyerang dengan Tok- jiu-it-sek.

Lekas Ngo-hong-su-cia melintangkan pedang terus membabat, namun sebelum gerak pedangnya dikembangkan, tiba-tiba mulutnya menjerit keras terus terjungkal roboh. Ji Bun tidak hiraukan mati hidup orang, segera dia melayang turun sambil berseru: "Toako, hayo keluar."

Ui Bing segera melejit turun pula di belakangnya.

Mayat sudah bergelimpangan di bawah loteng, ada laki-laki ada perempuan, yang perempuan adalah anak murid Hun-tiong Siancu, di mana-mana orang masih baku hantam dengan sengit, suara gaduh masih menguasai keadaan. Sekilas Ji Bun memandang, dilihatnya perempuan baju hitam yang menamakan diri Congkoan Sun Hoan-ji tengah bergebrak melawan seorang tua baju sutera.

Dari cara tempur dan tipu-tipu yang dilontarkan, jelas mereka merupakan lawan setanding yang berkepandaian paling tinggi di antara kelompok lain. Namun setiap kelompok yang lagi bertahan, semuanya bertempur sengit dan seru, nekat mengadu jiwa.

Ui Bing segera menuding laki-laki tua baju sutera itu, katanya: "Itulah pimpinan orang-orang Ngo-hong-kau."

Ji Bun manggut, sebuah hardikan berkumandang dari arah kiri, tampak seorang gadis baju hijau tersungkur roboh binasa oleh tabasan pedang seorang laki-laki baju sutera, agaknya laki-laki ini masih belum puas, meski lawannya sudah mampus, tapi dia masih memburu maju, baju si gadis diiris sobek sehingga dada si gadis terbuka lebar. Perbuatan yang kotor dan rendah serta hina ini membuat Ji Bun naik pitam, sekali lompat dia menubruk ke sana, belum lagi laki-laki baju sutera itu melihat jelas siapa yang menyerang dirinya, tahu-tahu kepalanya sudah pecah terhantam oleh Ji Bun. Entah siapa tiba-tiba berteriak ketakutan: "Te-gak Suseng!"

Teriakan ini sungguh menimbulkan pengaruh besar, semua orang yang lagi bertempur segera berhenti dan berlompatan mundur.

Ji Bun segera menuju ke arah laki-laki tua baju sutera, di mana tangannya bekerja musuh pasti bergelimpangan, sejauh lima tombak dia melangkah, pihak Ngo-hong-kau roboh tujuh orang. Cepat orang tua baju sutera melancarkan tiga kali pukulan mendesak mundur perempuan baju hitam, lalu menubruk ke arah Ji Bun.

Melihat Ji Bun tiba-tiba muncul, tapi orang-orang Ngo-hong-kau yang dipukulnya binasa, keruan perempuan baju hitam berdiri melongo kaget.

Sementara itu Ji Bun telah menyongsong kedatangan laki-laki tua baju sutera, tanpa bicara dia lontarkan jurus Tok-jiu-it-sek. Ternyata kepandaian lawan teramat tinggi, gerakannya tangkas, mundurnya juga tidak kalah sebatnya, hanya sedikit bergoyang tahu-tahu dia sudah meluputkan diri dari serangan Ji Bun yang mematikan, belum lagi gerakan Ji Bun berubah, pedang panjang orang sudah menyerang laksana samberan kilat. Mau tidak mau Ji Bun terdesak mundur dua langkah, disaat mundur itu sekaligus iapun menabas dengan telapak tangan yang dilandasi sepenuh tenaganya.

Dahsyat sekali pukulannya, gerakan pedang si orang tua sampai tersampuk miring, gerakkannya menjadi sedikit lamban, pada detik inilah jurus kedua Ji Bun sudah menyerang tiba. Tapi pada waktu yang sama Ji Bun juga merasakan angin dingin hawa pedang tengah mengincarnya dari belakang. Dari samberan anginnya, Ji Bun tahu si penyerang adalah seorang ahli pedang yang berkepandaian tinggi. Didesak keadaan, terpaksa Ji Bun menggeser tubuh ke samping, karena gerakannya ini, dengan sendirinya kekuatan serangan jurus kedua menjadi berkurang, namun Tok-jiu- ji-sek memang bukan main lihaynya, tak urung laki-laki tua baju sutera mengerang kesakitan dan sempoyongan beberapa tindak.

Ji Bun melirik ke belakang, seketika mulutnya berteriak kaget, mata seketika menjadi gelap, hampir saja dia terjungkal roboh. Orang yang membokongnya dengan pedang ternyata adalah paman Ciang.

Untuk menyembuhkan tangan kirinya yang beracun, Ciang Wi-bin pergi ke danau setan di Cong-lam-san mencarikan obat, tak terkira tiba-tiba muncul di sini, lebih tidak pernah terpikir bahwa beliau sudah menjadi anak buah Ngo-hong-kau serta tega menyerang dirinya.

“Kenapa orang sendiri dan musuh sama ingin membunuh diriku?

Kenapa sahabat ayah yang selalu dihormati ini tega membunuh diriku. Sungguh Ji Bun tidak habis mengerti. Hatinya sakit seperti ditusuk sembilu.

Disebelah sana Ui Bing juga berteriak kaget dan girang pula.

Ciang Wi-bin berkata: "Ji Bun, tidak pantas kau membantu musuh." Megap-megap mulut Ji Bun, sekian lama baru keluar suaranya: "Aku membantu musuh?"

Ciang-Wi-bin membentak: “Apa kau lupa, Wi-to-hwe adalah musuh besarmu?"

"Paman ”

"Jangan banyak bicara, sekarang bereskan orang-orang Wi-to- hwe."

Tiba-tiba Ui Bing berteriak: "Dia bukan Ciang Wi-bin, dia palsu." Ji Bun tersentak sadar, mulutnya menggerung sekeras-kerasnya,

dengan sengit segera dia layangkan kepalannya. Sementara itu perempuan baju hitam telah melawan laki-laki tua baju sutera yang sudah terluka itu.

Permainan pedang orang yang memalsu Ciang Wi-bin ternyata cukup lihay, walau Ji Bun menyerang dengan sengit, namun dia tetap bertahan ketat malah balas menyerang setiap ada kesempatan. Hawa pedang yang dimainkan bisa merobek badan orang, sinar pedangnya laksana jala yang berlapis-lapis, rapat dan ketat. Tujuh delapan gebrak telah lewat namun keduanya masih setanding.

18.53. Rahasia Ngo-hong Kaucu Tiba-tiba sebuah jeritan keras menyayat hati membarengi si orang tua baju sutera roboh terkapar. Laki-laki yang memalsu Ciang Wi-bin segera memberi aba-aba: "Mundur!"

Karena memecah perhatian memberi perintah ini, Ji Bun memperoleh kesempatan, Tok-jiu-sam-sek laksana kilat cepatnya dilancarkan, sebetulnya Ji Bun belum berani melancarkan serangan ganas dari Giam-ong-yan-khek ini, namun besar niatnya hendak merobohkan lawan yang satu ini maka tanpa banyak pikir segera dia lancarkan serangan yang mematikan ini.

Ciang Wi-bin palsu kontan roboh binasa. Anak buah Ngo-hong- kau serempak berlarian menuju ke tangga hendak meloloskan diri ke bawah puncak, suasana menjadi gaduh dan panik.

Ji Bun berteriak sambil menuding mayat di sampingnya ke arah Ui Bing: "Toako, lihatlah wajah aslinya!"

Akhiri kata-katanya itu tubuhnya sudah melambung tinggi meluncur ke arah undakan batu. Rasa bencinya sudah memuncak, sengaja dia tidak mau membiarkan seorangpun anak buah Ngo- hong-kau lolos. Maka di tengah udara secepat angin lesus dia berputar terus meluncur turun ke tempat di mana semula kedua makhluk tua itu berada. Begitu dia membalik tubuh, kebetulan anak buah Ngo-hong-kau yang lari paling depanpun tiba, kontan dia kebutkan lengannya, dua jeritan memecah keheningan udara, bayangan orang satu persatu terjungkal roboh binasa. Laksana membabat rumput saja Ji Bun binasakan semua anak buah Ngo- hong-kau yang lari dikejar anak buah San-lim-li-sin. Hanya sekejap saja pertempuran telah berakhir, darah berceceran di mana-mana, mayat bergelimpangan.

Sebagai Congkoan, segera perempuan baju hitam Sun Hoan-ji perintahkan anak buahnya membersihkan darah dan menggotong pergi mayat-mayat yang bergelimpangan. Langsung dia menghampiri Ji Bun, katanya sungguh-sungguh: "Kami mewakili Hujin menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Siauhiap yang telah membantu kami."

"Tidak usah," ujar Ji Bun dingin, "aku tak sengaja membantu kalian."

Berubah air muka perempuan baju hitam, tanyanya: "Cara bagaimana kau bisa lolos?”

"Kukira tak perlu aku menjelaskan."

Ui Bing mendatangi dengan langkah lebar.

"Toako," tanya Ji Bun, "siapakah yang memalsu paman Ciang?" "Belum pernah kenal, yang terang dia adalah jagoan Ngo-hong-

kau."

"Apa maksud mereka menyamar jadi paman Ciang?" "Marilah kita turun dulu, nanti kujelaskan." "Sulit dikatakan, mungkin ingin memfitnah, supaya pihak Wi-to- hwe mencari perhitungan kepada beliau, atau mungkin ada muslihat lain."

"Darimana Toako tahu kalau dia palsu dan samaran." "Marilah kita turun dulu, nanti kujelaskan."

"Sun-congkoan," kata Ji Bun, "tidak lama kami akan bertemu lagi, dikala aku kemari, keadaan akan melebihi hari ini."

"Silakan saja," sahut Sun-congkoan.

Ji Bun berdua segera turun dari undakan, ternyata orang-orang yang bersembah sujud dibawah bukit sudah tidak kelihatan lagi bayangannya. Maka sambil berjalan Ui Bing lalu memberi penjelasan: "Pertama, paman Ciang pergi ke danau setan, tak mungkin muncul secara mendadak di sini. Kedua, suara dan permainan silatnya jauh berbeda. Ketiga, baru saja paman Ciang dirampok habis-habisan, tidak mungkin dia mau menyerah kepada musuh."

"Betul, kenapa aku mudah dikelabui, sebetulnya aku sudah menduga sebelumnya," lalu Ji Bun menceriterakan pengalamannya kenapa sampai dirinya terkurung.

Tatkala itu mereka sudah tiba di bawah gunung, Ui Bing perlambat langkah, kakinya, katanya: "Hiante, bagaimana kalau sekarang kita menuju ke danau setan untuk mencari jejak paman Ciang?" Berkata Ji Bun dengan serius: "Tidak, Siaute ingin, pergi ke markas Ngo-hong-kau lebih dulu."

"Kau sudah tahu di mana letak markas pusatnya?”

"Ya, berada di belakang puncak Siong-san, dari sini jaraknya tidak terlalu jauh."

Ui Bing berpikir sebentar, lalu katanya: "Baiklah, mari kita berangkat."

"Tidak, kita harus bekerja secara terpencar, kuharap Toako berusaha menemukan gurumu, karena banyak persoalan yang ingin kumohon petunjuknya, setelah kubereskan urusan di Ngo-hong-kau, baru ”

“Watak guruku aneh, kecuali dia yang mencarimu, kemanapun kau mencarinya pasti takkan ketemu."

"Mohon Toako suka berusaha menemukan beliau?"

"Hiante kira kepandaianku rendah dan takkan bisa bekerja, serta merupakan beban belaka bagimu?"

"Bukan begitu maksudku," jawab Ji Bun. Yang betul Ji Bun tidak ingin Ui Bing ikut menyerempet bahaya, tujuan ke Ngo-hong-kau tak ubahnya memasuki rawa naga dan sarang harimau, jago-jago sllat Ngo-hong-kau amat banyak, seorang Duta saja, Ui Bing bukan tandingannya. Apalagi dari keterangan Kiang Giok sebelum ajal, kemungkinan sekali Ngo-hong Kaucu adalah murid murtad perguruannya, kalau Ui Bing mendampinginya, terlalu sukar untuk menyelesaikan pembersihan perguruan ini. Namun dia kehilangan kata-kata untuk mencegah ikutnya Ui Bing, alisnya bertaut, lama dia berpikir mencari akal.

Sebagai kawakan Kangouw, jalan pikiran Ui Bing cukup teliti dan terbuka, melihat sikap Ji Bun yang serba salah ini, terpaksa dia ubah sikap: "Apakah Hiante ada kesulitan yang bisa diutarakan?”

Apa boleh buat Ji Bun manggut-manggut, ujarnya: "Memang benar.“

"Baiklah, aku tidak jadi ikut, lalu di mana selanjutnya kita bertemu?"

"Di kota Jip-ciu, bagaimana?”

"Baik!" keduanya terus berjalan di lereng pegunungan, menjelang magrib baru mereka keluar dari gunung, di depan mengadang persimpangan jalan. Kata Ui Bing sambil pegang tangan Ji Bun: “Hiante kita harus berpisah, jagalah dirimu dalam sepuluh hari bertemu lagi di kota Jip-ciu."

o0o

Siong-san, di mana Siau-lim-pay yang merupakan simbul kebesaran kaum persilatan berada, walau beberapa tahun belakangan ini, kebesaran dan kecemerlangannya agak pudar, namun kejayaannya tetap tidak pernah runtuh. Bagian belakang gunung nan dalam dan jauh sana, jarang diinjak manusia, gunung gemunung sambung menyambung seperti gajah beriring, jurang berlapis, puncak bertingkat, keadaan di sini penuh hutan belukar dan liar.

Tengah hari itu, tatkala kabut di atas gunung sirna dibuyarkan oleh panasnya matahari, tampak seorang pemuda pelajar berjubah hijau tengah berlenggang dengan langkah ringan berlari-lari, di pegunungan yang penuh belukar itu. Dia bukan lain adalah Ji Bun yang dirundung niat menyala untuk menolong ibu dan kekasihnya.

Sang waktu berjalan tanpa terasa, matahari tahu-tahu sudah doyong ke barat, Ji Bun sudah mengobrak-abrik pegunungan seluas puluhan li, namun tetap tidak menemukan tanda-tanda yang mencurigakan. Jangankan orang Ngo-hong-kau, seorang penebang kayupun tidak ditemukan. Hari hampir sore, kabut mulai timbul lagi, namun hasil usahanya tetap nihil. Kini dia berdiri di atas sebuah puncak tinggi, hatinya kecewa dan putus asa. Kalau benar Ngo- hong-kau mendirikan markas di sini, sedikit banyak pasti ada jejaknya, apakah keterangan Kiang Giok dapat dipercaya? Dia mulai sangsi.

Mendadak bayangan seorang laksana setan melayang keluar dari hutan yang lebat sana. Kuping dan mata Ji Bun cukup tajam, segera dia merasakan kedatangan orang. Waktu dia putar tubuh, dilihatnya lima tombak di sebelah sana berdiri seorang pemuda baju sutera, dari dandanan orang dia yakin bahwa orang ini pasti salah seorang Duta Ngo-hong-kau, penemuan ini seketika mengobarkan semangatnya, terhitung sukseslah perjalanannya kali ini. Pemuda baju sutera buka suara lebih dulu: "Te-gak Suseng, untuk apa kau kemari?"

Ji Bun melompat maju ke depan orang, katanya: "Kau ini Ngo- hong-su-cia? Aku hendak ketemu dengan Kaucu kalian."

"Ya, untuk apa kau hendak bertemu dengan Kaucu kami? Yang terang Kaucu tidak ingin menemuimu?"

"Apa maksudmu?"

"Aku diperintahkan kemari untuk menyampaikan berita padamu."

Diam-diam terkesiap hati Ji Bun, kiranya perjalanan dirinya kemari sudah diketahui pihak lawan. "Menyampaikan berita apa?" tanyanya.

"Ibu dan kekasihmu Thian-thay-mo-ki mendapat pelayanan yang baik sekali."

Bersinar pandangan Ji Bun. "Masih ada apa lagi?”

"Kaucu mengajukan satu syarat sebagai imbalannya, kalau kau berhasil melakukannya, ibu dan kekasihmu akan dibebaskan."

"Kalau tidak kuterima syarat ini?"

"Selama hidupmu takkan bisa bertemu lagi dengan mereka." "Apakah syaratnya?"

"Batok kepala Wi-to-hwecu suami isteri sebagai imbalannya." "Apa, batok kepala Siangkoan Hong dan Hun-tiong Siancu? Kau

yakin aku mau melakukannya?”

"Sudah tentu. Pertama, Siangkoan Hong suami isteri adalah musuhmu. Kedua, demi keselamatan ibu dan kekasihmu kau harus bekerja menurut petunjuk kami."

Alasan ini memang tepat dan benar, namun masakah Ji Bun mau dipermainkan begini saja setelah berhasil menemukan markas musuh? Maka dengan dingin dia mendengus: "Inikah beritamu? Aku takkan menerimanya."

Berubah air muka pemuda baju sutera, serunya: "Kau akan menyesal. Sampai bertemu!”

"Jangan bergerak," bentak Ji Bun. "Jangan kau kira bisa pergi demikian saja, sebutkan dulu nama Kaucumu.”

"Kau kira keinginanmu dapat terlaksana?"

"Memangnya kau berani membangkang," Ji Bun mendesak maju. Pemuda baju sutera menyurut mundur dengan ketakutan, tiba-

tiba dia melompat balik terus lari sipat kuping, gerakkannya teramat cepat dan mengejutkan, namun Ji Bun tak membiarkan dia lolos. "Berhenti," ditengah hardikannya, tak kalah cepatnya tubuhnya berkelebat, tahu-tahu ia sudah menghadang di depan orang.

Dengan gerakan cepat sementara itu mereka sudah berada di pinggir hutan, kalau pemuda baju sutera itu sampai menyusup ke dalam hutan, urusan tentu runyam.

Bagai kilat menyambar, sambil melompat Ji Bun kebaskan lengannya, walaupun serangan ini tidak sekuat biasanya, di mana angin menggulung, pemuda baju sutera tergentak sompoyongan. Sebat sekali Ji Bun menubruk maju seraya membentak: "Kau kira mampu lolos dari tanganku?”

Pucat pemuda itu, kembali dia menyurut sejauh mungkin, tahu- tahu tangannya terayun. Serangkum bau harum tiba-tiba merangsang hidung Ji Bun. Tak terduga Ji Bun malah menjengek dengan nada menghina: "Ternyata kau juga belajar menggunakan racun, sayang kebentur aku si bangkotan pemakai racun."

Karena terdesak dan kehabisan akal sehingga tanpa pikir pemuda baju sutera menyerang dengan menggunakan racun, tak pernah terpikir olehnya bahwa Te-gak Suseng gembongnya ahli racun jaman itu. Kini Ji Bun lebih yakin lagi bahwa Ngo-hong Kaucu pasti orang yang memperoleh Tok-keng, tapi mengkhianati perguruan.

Mendadak pemuda itu berteriak aneh, serangannya bagai kilat menyambar, dengan nekat dia merangsak Ji Bun. Seperti kata pameo "seorang berlaku nekat, orang banyakpun tak kuat melawannya". Lwekang pemuda dari Ngo-hong-kau ini memangnya tinggi, kini menyerang dengan nekat dan membabi buta lagi, sudah tentu Ji Bun menjadi kerepotan juga meski kepandaian silatnya lebih unggul. Sayang kekuatan pemuda baju sutera juga terbatas, yang diandalkan hanya semangat yang menyala sebentar, bicara soal Lwekang dan kepandaian, betapapun dia terpaut jauh sekali dibanding Ji Bun. Setelah rangsakkan pemuda itu hampir mencapai titik balik yang menentukan, Ji Bun pun mendapatkan kesempatan untuk melancarkan Tok-jiu-it-sek.

"Ciiaaaat!" pemuda baju sutera menggembor sekeras-kerasnya, darah menyembur dari mulutnya, badan terkapar sebentar, ternyata dia masih kuat meronta berdiri pula. Ji Bun tahu dia harus mempertahankan jiwa orang ini untuk didengar keterangannya, maka dia tidak menggunakan tenaga sepenuhnya.

"Boleh kau tidak menjawab pertanyaanku, tapi tunjukkan jalan menuju ke markas pusat kalian!”

Menyeka darah dimulutnya, pemuda baju sutera menjawab tegas: "Jangan harap!"

Keruan memuncak amarah Ji Bun, sekali ulur tiba-tiba dia cengkeram pundak orang, kelima jarinya ambles ke kulit daging pundak orang, darah meleleh dari sela-sela jarinya, warna darah yang menyolok kelihatan segar membasahi baju sutera berwarna kelabu itu. 

"Berani sekali lagi kau mengatakan tidak?” "Tidak!" tegas jawab pemuda itu. Ji Bun perkeras cengkeramnya, pemuda baju sutera seketika melolong seperti binatang kesakitan, tulang pundaknya remuk, keringat dingin sebesar kacang berketes-ketes, kulit daging wajahnya berkerut-kerut aneh, sorot matanya diliputi ketakutan seram penuh kebencian serta dendam. "Te-gak Suseng," desisnya menahan sakit, "kau akan mendapat balasan sepuluh kali lipat lebih berat daripada deritaku ini."

"Itu bukan urusanmu. Katakan, kau mau tidak tunduk akan perintahku?" karena pemuda baju sutera tetap bungkam, semakin berkobar nafsu Ji Bun, hardiknya: "Kau tidak mau buka mulut, memangnya orang lain tidak, kalau kau ingin mampus, jangan kau salahkan aku berlaku kejam terhadapmu."

Sekonyong-konyong puluhan bayangan orang muncul bersama dari berbagai penjuru, semuanya berseragam baju sutera, bersenjata pedang dan lain-lain senjata tajam. Sekilas pandang Ji Bun lantas tahu yang datang semua adalah anak buah Ngo-hong- kau. Akhirnya dari rombongan belakang tampil seorang laki-laki berjubah sutera yang gagah perkasa, langsung dia menghampiri Ji Bun, bentaknya dengan suara berat: "Lepaskan dia!"

Tajam dan wapada Ji Bun awasi orang, katanya, "Siapa tuan ini?" "Aku adalah Ngo-hong Kaucu!"

Darah kontan mendidih di rongga dada Ji Bun, sorot matanya semakin jalang, sekali gentak dan ayun, pekik panjang seketika menggema di angkasa. Ngo-hong-su-cia yang jadi tawanannya tiba- tiba dia lempar sejauh lima tombak dan membentur batu serta pecah kepalanya.