Hati Budha Tangan Berbisa Jilid 17

 
Jilid 17

Mulut berkaok kaki melangkah masuk, setiba di ambang pintu dia melongok ke dalam, pemandangan ngeri dan seram seketika terpampang dihadapannya, hampir saja dia menjerit kaget. Tampak darah menggenang di situ, diantara genangan darah rebah empat sosok manusia, satu perempuan tiga laki-laki. Darah masib belum membeku, ini pertanda bahwa empat orang ini belum lama terbunuh. Pantas tiada sahutan orang, ternyata penghuninya terbunuh seluruhnya. Siapakah pembunuh keluarga ini? Musuh besarnya atau perampok biasa? Ji Bun tak banyak pikir, tujuannya mencari pakaian untuk ganti, kalau pemiliknya sudah mati, tidak perlu kuatir apa lagi, langsung dia memasuki kamar di sebelah kiri sana. Dari sebuah almari dia menemukan sebuah jubah hijau, ikat kepala. Waktu dijajal ternyata pas dengan perawakan tubuhnya. Dari dalam laci yang lain dia mengeluarkan pula sebuah celana sutera, langsung dia berganti dan berdandan ala kadarnya, lalu masuk dapur cari makanan dan mencuci muka. Baru sekarang dia betul-betul merasa segar dan nyaman.

Sekonyong-konyong sejalur angin kencang terasa menerjangnya dari belakang.

Ji Bun agak kaget, kaki menggeser dan tangan bekerja. "Hah, kau?" kedua orang sama-sama berteriak kaget dan girang. Ji Bun menarik tangannya, Ui Bing juga menurunkan pedangnya, keduanya saling berpandang sekian saat.

"Hiante," kata Ui Bing, "kau tidak mati?"

"Ya, tidak mati, Toako bagaimana "

"Bukankah kau terpendam di bawah lorong itu?"

"Benar tapi Thian masih memberi berkah hidup padaku, kembali aku lolos dari renggutan maut."

"Lalu kau bagaimana bisa keluar?" “Menjebol atap kamar batu, itulah letaknya di tanah pekuburan sana."

"O, sungguh terima kasih kepada langit dan bumi, sekian lamanya aku menjadi kuatir dan kebingungan, bagaimana Hiante bisa berada di sini?"

"Mencari baju untuk ganti pakaian." "Orang tua dalam kamar tahanan itu?" "Sudah meninggal!"

Ui Bing tidak tanya Lebih lanjut, malah Ji Bun balas bertanya: "Toako, kenapa kau mendadak menghilang dari bawah lorong itu?"

Ui Bing menghela napas, katanya. "Kau minta aku menyingkir sementara, maka aku keluar menuju kamar batu di sebelah luar. Tidak lama kemudian kudengar langkah orang mendatangi, segera aku lari keluar. Setiba dipersimpangan jalan, kulihat dua bayangan orang berlari balik menuju ke lorong semula.

Baru saja aku hendak mengejar kesana, mendadak kucium bau bahan peledak yang terbakar, ku tahu gelagat berbahaya, namun tidak berhasil kutemukan di mana letak bahan peledak itu dipendam, terpaksa aku berlari balik. Namun baru beberapa tombak, dinamit itu sudah meledak, lorong yang menuju kekurungan orang tua seluruhnya menjadi buntu. Aku sendiri hampir saja mampus teruruk tanah waktu itu, aku kebingungan, tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku juga kuatir kepergok musuh, kau tahu, jago-jago Ngo-hong-kau semua berkepandaian tinggi, aku jelas bukan tandingan mereka."

Ji Bun menuding keempat sosok mayat, tanyanya: "Toako yang membunuh sekeluarga ini?“

"Ya, aku yang membunuhnya." "Kenapa Toako bunuh mereka?"

"Kau kira siapa mereka? Kaki tangan Ngo-hong-kau! Mulut lorong di bawah tanah itu terletak di bawah meja dalam ruang tamu di bilik sebelah sana. setelah terjadi ledakan di bawah tanah itu, aku lalu lari keluar dan tiba di sini. Cukup payah juga aku membunuh keempat orang ini, untung aku tidak kepergok dengan Kiang Giok dan rombongannya."

Ji Bun manggut-manggut mengerti, tanyanya: "Ke mana rombongan Kiang Giok itu?"

"Entah, dari salah seorang mereka yang kukompes keterangannya, setelah keluar dari sini, katanya mereka lantas berpencar."

"Terpaksa kita harus geledah gedung mereka itu?" "Begitupun baik, mari kita masuk kota, tetap masuk dari pintu

besar gerak-gerik harus lebih cekatan, lubang ini harus kita timbun dulu." Keduanya lalu keluar, dengan pukulan beberapa kali, tiga rumah atap ini mereka pukul sampai ambruk, pagar tanahpun mereka gempur dan kebetulan untuk menyumbat mulut lorong di bawah meja.

"Toako", ujar Ji Bun setelah selesai bekerja, "kukira kau tidak usah pergi, agak berbahaya bagimu."

"Hiante, kenapa kau bilang demikian."

"Toako, terus terang, persoalan ini menyangkut urusan dalam perguruanku, kuharap Toako maklum.”

"Kalau urusan menyangkut perguruanmu, aku tak bisa bilang apa-apa, kepandaianmu memang cukup berlebihan untuk mempertahankan diri, namun pengalamanmu masih cetek, ini menguatirkan."

"Terima kasih akan perhatian Toako, Siaute akan bertindak hati- hati."

Urusan perguruan umumnya tidak boleh dicampuri orang lain, hal ini Ui Bing cukup maklum, karena Ji Bun tidak menjelaskan maka Ui Bing juga tidak berani tanya, meski dalam hati ingin tahu, terpaksa dia berkata dengan rikuh: "Baiklah, tapi ingat, setelah urusanmu selesai, datanglah ke hotel itu, kutunggu di sana. Cukup katakan hendak mencari seorang tua, pemilik hotel akan tahu." "Baiklah, oya, Siaute masih ingin tanya, di manakah gurumu sekarang?"

Ui Bing melengak, sahutnya: "Guruku pergi ke suatu tempat yang jauh, dalam waktu dekat sukar kembali, ada apa?"

“Gurumu pernah berjanji untuk bertemu di rumah keluarga Ciang di Kay-hong sebulan kemudian, banyak persoalan rumit yang hendak dijelaskan padaku. Tak nyana karena kebentur suatu urusan aku pergi sampai setengah tahun sehingga tidak dapat menepati janji

..........”

"Guruku pernah menyinggung soal ini, terpaksa kau harus menunggu beliau kembali."

"Baiklah, Siaute mohon diri sekarang."

"Jangan lupa setelah urusanmu beres, carilah aku."

Ji Bun mengiakan, sekali lompat dia berlari-lari menuju ke tanah pekuburan, sebentar dia berdiri celingukan, tiada bayangan orang lain, langsung dia lari masuk kota menuju gedung cabang Ngo-hong- kau. Pintu besar yang bercat hitam hanya tertutup separo, keadaan di luar tetap sunyi. Tanpa pikir dengan langkah lebar dia beranjak masuk.

"Siapa?" tiba-tiba sebuah bentakan berkumandang seorang laki- laki baju hitam muncul, melihat Ji Bun, tiba-tiba dia menjerit seram seperti melihat setan di siang bolong. Cepat dia putar tubuh lari sipat kuping, tapi sekali berkelebat Ji Bun tangkap kuduk laki-laki itu, katanya dingin: "Di mana pimpinan kalian?"

Saking ketakutan pecah nyali laki-laki itu, mana dia sanggup bicara, kuatir Kiang Giok mendengar suara gaduh dan melarikan diri, Ji Bun tidak banyak tanya lagi, dia tutuk Hiat-to orang. Laki-laki itu menjerit sekali, terus roboh menggeletak tak bernyawa. Ji Bun berlari masuk dan langsung menuju ke ruang pendopo, dilihatnya di dalam banyak bayangan orang tanpa mengeluarkan suara secepat kilat tiba-tiba dia menerjang ke dalam. Agaknya kedatangannya terlalu mendadak, di samping gerak geriknya yang tarlalu cepat, tiada yang melihat jelas wajahnya. Begitu tubuhnya berdiri tegak barulah orang-orang disekelilingnya sama menjerit kaget: "Te-gak Suseng!"

Maksud Ji Bun semula hendak langsung membereskan orang- orang Ngo-hong-kau, tapi sekilas pandang, seketika dia berdiri melongo, karena keadaan dalam ruang besar ini agak ganjil. Puluhan orang berkelompok menyendiri di sebelah sana, tampak Kiang Giok dibekuk oleh dua orang laki kekar, di sampingnya lagi berdiri Thong- sian Hwesio, Siang-thian-ong dan Siucay tua yang menggusur ke atas perahu itu. Kalau demikian laki-laki baju hitam yang dia bunuh di luar tadi ternyata anak buah Wi-to-hwe. Bahwa Siucay tua ini akhirnya masuk kelompok orang-orang Wi-to-hwe, hal ini sungguh di luar dugaan Ji Bun. Seluruh perhatian dan pandangan hadirin dalam ruang pendopo ini tertuju ke arah Ji Bun.

Segera Ji Bun tahu apa yang telah terjadi di sini, agaknya Kiang Giok mengira dirinya sudah mampus tertimbun di lorong bawah tanah, maka dia balik ke gedungnya ini, tak nyana pihak Wi-to-hwe mendadak menggerebek tempat ini sehingga dia tertawan oleh jago- jago Wi-to-hwe yang berkepandaian tinggi.

Siucay tua segera melangkah maju dan berdiri mengadahg pintu, katanya sambil tertawa dingin kepada Ji Bun: "Te-gak Suseng, kau belum mampus?"

"Kalau Cayhe mati, bukankah para cecunguk bakal merajalela?" "Kebetulan kau kemari, Lohu tidak perlu membuang waktu

mencarimu."

"Akupun hendak mencarimu, perlakuanmu setengah tahun yang lalu, memangnya harus kutelan.”

"Takabur sekali kau, dengan cara apa kau hendak membalas diriku?"

"Gampang saja, kucabut nyawamu!"

Siucay tua itu mendengus, jengek: "Anak serigala, boleh kau mencobanya."

"Baik, sambut pukulanku!" ditengah seruannya, Tok-jiu-it-sek dilontarkan.

Betapa dahsyat serangan ini, Siucay tua tahu datangnya bahaya, serasa terbang sukmanya, bukan saja dirinya tidak mampu membela diri, kesempatan untuk menyingkirpun tiada. Thong-sian Hwesio menjerit kaget, pandangannya lebih tajam. Dia lihat serangan Ji Bun ini betul-betul lihay, untuk membantu jelas tidak sempat lagi, dalam gugupnya timbul akalnya, sekali tangan bergerak sejalur angin kencang halus dan lunak membikin Siucay tua terdorong sempoyongan dua langkah. Terpaut beberapa senti saja jiwanya hampir direnggut oleh serangan Tok-jiu-it-sek yang hebat.

Selama setengah tahun Ji Bun digembleng dan ditempa sehingga ilmu yang dipelajarinya sudah mencapai taraf tertinggi.

Kepandaiannya dapat digunakan sesuka hati, sebelum tenaga murninya dia salurkan, serangan hebat itu sudah ditariknya kembali.

Namun demikian Siucay tua itu sudah pucat pias mukanya saking jera, tak pernah terpikir olehnya dalam jangka setengah tahun saja Te-gak Suseng sudah mencapai sukses yang demikian besar dan mengejutkan. Siang-thian-ong sendiri juga kaget dan ciut nyalinya. Sorot mata Thong-sian terang tajam, wajah Ji Bun ditatapnya sekian saat, katanya dengan suaranya berat: "Kelihatannya hari ini Pinceng harus membunuhmu.”

Setengah tahun yang lalu dia berkata demikian bukanlah membual. Namun sekarang keadaan sudah jauh berbeda sejak mempelajari ilmu tingkat tinggi dari Ban-tok-bun. Kepandaiannya sekarang boleh dikatakan sudah sukar dicari tandingannya.

"Thong-sian Hwesio hendak membunuh aku," jengek Ji Bun, "kukira sukar terlaksana."

"Biarlah kenyataan akan membuktikan omonganku." "Thong-sian Hwesio, ada beberapa pertanyaan kuharap kau suka menjawab sejujurnya."

"Coba katakan."

"Jit-sing-pocu Ji ing-hong, apa benar kau yang membunuhnya?" "Apa? Darimana kau ”

"Dua orang berkedok yang mati dipinggir jalan Kay-hong itu." "Apakah itu Ji Ing-hong?"

"Ya, seorang yang lain adalah Jit-sing-ko-jin. Kau mengaku?"

"Omong kosong belaka. Jit-sing-ko-jin adalah duplikat ayahmu sendiri."

Ji Bun menyurut kaget, serunya gemetar: "Thong-sian, kaulah yang membual."

"Ayahmu menyamar jadi Jit-sing-ko-jin, sekongkol dengan Biau- jiu Siansing dan merebut Sek-hud, belakangan dia menyamar jadi murid Ngo-lui-kiong dan membuat huru hara ke Tong-pek-san, semua ini kenyataan."

"Lalu siapa yang terbunuh di jalanan menuju Kay-hong itu?" "Kau sendiri tentu tahu lebih jelas." "Aku tidak tahu." "Sulit dipercaya."

Ji Bun merasa bingung, apa yang diucapkan Thong-sian agaknya memang benar namun kalau betul Jit-sing-ko-jin duplikat ayahnya, kenapa dia berusaha membunuh dirinya? Adakah seorang ayah tega membunuh puteranya sendiri? Tidak mungkin. Tanpa sadar Ji Bun menggembor sekeras-kerasnya: ”Tidak mungkin!"

"Thong-sian," setelah tenangkan diri Ji Bun berkata pula, "katakan saja, apakah kau yang membunuh kedua orang berkedok itu?"

"Bukan."

"Lalu berdasarkan apa kau berani mengatakan Jit-sing-ko-jin adalah duplikat ayahku?"

"Semua kenyataan hanya bisa mengelabuhi orang sementara, Pinceng kenal betul perawakan, sepak terjang dan kepandaian silatnya."

"Kau jadi kau hanya berdasar beberapa dugaanmu ini?"

"Kedua orang yang mati itu terkena racun, sedang ayahmu seorang ahli dalam bidang ini."

"Ayahku bukan seorang ahli racun." "Lalu bagaimana pendapatmu?"

“Ayahku bukan Jit-sing-ko-jin, tapi kenyataan bahwa kedua orang tuaku dicelakakan."

Terbayang sorot bimbang pada pandangan Thong-sian, dia cukup berpengalaman, dari nada bicara dan mimik Ji Bun, dia yakin Ji Bun tidak membual, kalau betul apa yang dikatakan Ji Bun bahwa Ji Ing- hong belum mati, tidak mungkin Ji Bun mengawasinya dengan pandangan begitu benci dan dendam terhadap dirinya. "Ji Bun," katanya kemudian, "Katakan kenapa Jit-sing-ko-jin bukan ayahmu?"

"Karena Jit-sing-ko-jin pernah mencelakai aku."

Semakin tebal bayangan ragu dan bimbang pada pandangan Thong sian.

Dengan suara lantang Ji Bun melanjutkan: "Siangkoan Hongkah yang membantai orang-orang Jit-sing-po?"

"Bukan," jawab Thong sian.

Otak Ji Bun seperti dibalut kabut tebal, beruntun dirinya mencari balas kepada Wi-to-hwe, tapi kenyataan semuanya meleset dari dugaan dan analisa yang pernah dirangkainya, betapa rumit dan lika liku persoalan ini? "Katamu, kau punya kesan mendalam terhadap ayahku? Coba jelaskan."

"Betul, memang kau harus tahu, tentunya kau masih kenal cerita yang pernah dikisahkan Siangkoan Hong kepadamu bukan?" Teringat akan cerita itu, bukan kepalang derita hati Ji Bun karena kesalahan memang terletak pada ayahnya. Bukan saja rebut isteri orang, anaknya dibunuh pula, akhirnya daging isteri orang dimasak buat hidangan menyuguhi suaminya pula. Perbuatan diluar perikemanusiaan ini seakan-akan bukan dilakukan oleh manusia sehat. Namun sebagai seorang anak, betapapun jahat dan salah ayahnya, tidak mungkin dia mencercahnya, apalagi kini ayahnya sudah mati, maka dengan mengertak gigi dia manggut-manggut, sahutnya: "Masih ingat, kenapa?"

"Dulu Siangkoan Hong terpaksa merusak wajahnya sendiri menyelundup ke Jit-sing-po dan diangkat sebagai salah seorang Jit- sing-pat-ciang. Tujuannya adalah untuk bertemu dengan isterinya yang direbut dan anak yang dikandung isterinya. Celakalah karena rahasianya terbongkar, jejaknya konangan ayahmu, maka isterinya dibunuh ”

"Tidak usah kau lanjutkan," tukas Ji Bun dengan suara serak.

16.48. Silat Tinggi Cetek Pengalaman

Thong-sian Hwesio tertegun sebentar, lalu melanjutkan. "Ayahmu mengutus tertua dari Jit-sing pat-ciang mengantar Siangkoan Hong keluar benteng, yang terang ayahmu memerintahkan Ciu Tay-lian untuk memenggal kepalanya. Namun Ciu Tay-lian sendiri sadar akan semua perbuatan ayahmu yang kelewat jahat, malah dia bersimpatik terhadap Siangkoan Hong, akhirnya mereka minggat bersama .......

(baca pembukaan cerita ini)." "Siapa bisa membuktikan bahwa ceritamu ini berdasar kenyataan?" tanya Ji Bun.

"Pinceng sendiri. Karena pinceng menyaksikan semua peristiwa ini."

"Thong sian, kejadian ini mungkinkah disaksikan orang luar?" "Kau tahu nama asli Pinceng?"

"Siapa kau?"

"Pinceng adalah tertua dari Jit-sing-pat-ciang yang dahulu she Ciu bernama Tay-lian."

"Kau " kepala Ji Bun seperti dipukul godam, badannya

limbung dan sempoyongan. Mimpipun tak pernah dia bayangkan bahwa Thong-sian Hwesio yang memiliki Lwekang dan kepandaian silat setinggi ini, dulu adalah tertua dari Pat-ciang yang menjadi andalan ayahnya.

"Ji Bun," tiba-tiba Thong-sian berseru lantang, "sudah tiada yang perlu diomongkan lagi, sekarang Pinceng mau turun tangan."

Ji Bun menyurut mundur, katanya: "Thong-sian, lebih baik kau tidak turun tangan, kau bukan tandinganku."

''Mungkin, tapi sebagai seorang insan persilatan, demi membela kebenaran, meski gugur juga terasa bangga." “Aku tidak ingin membunuhmu."

“Tapi Pinceng justeru akan membinasakan kau demi ketenteraman Bu-lim umumnya."

Ji Bun mundur lagi sampai keluar undakan, katanya: "Boleh kau mencobanya?”

Thong-sian juga melangkah keluar, kedua orang berhadapan di serambi luar yang luas. Suasana seketika menjadi tegang dan mencekam.

"Silakan turun tangan!” tantang Ji Bun.

"Ji Bun, mestinja Pinceng tidak boleh menyerangmu, namun kenyataan memaksa "

"Tidak perlu kau pura-pura welas asih."

"Lihat pukulan!" tiba-tiba Thong-sian menghardik, berbareng lengan jubahnya mengebas. Segulung angin kencang seketika menungkup ke arah Ji Bun.

Ji Bun mengertak gigi, iapun ayun kedua tangan menyambut serangan. "Plok", seperti suara baja yang pecah berkeping-keping kedua orang tergentak mundur. Bayangan kedua orang hanya berpencar sekejap terus saling tubruk dan serang menyerang dengan seru. Ketika Ji Bun mengerahkan sepenuh tenaganya, ditengah suara yang memekak telinga, Ji Bun tergeliat sedikit, sebaliknya Thong-sian Hwesio mundur dua tindak. Semua hadirin sama terbelalak pucat.

Thong-sian menggerung rendah, bayangan tangannya bergulung- gulung dan berlapis-lapis dari pukulan jarak jauh, kini dia menyerang sesungguhnya dengan kekuatan kepalannya. Ji Bun juga berseru melengking. Jurus Tok-jiu-it-sek tahu-tahu menembus bayangan telapak tangan orang yang berlapis-lapis dan langsung menjojoh ulu hati orang.

Di tengah jeritan kaget orang ramai, tahu-tahu Thong-sian menyurut lima langkah, wajahnya tampak jera dan ngeri. Sebelum dia sempat bertindak lebih lanjut, Ji Bun sudah berkelebat maju pula, kini dia lancarkan Tok-jiu-ji-sek yang bernama To-liong-jan- kiau.

Jeritan orang banyak kembali membuat suasana tegang semakin mencekam, hawa seolah-olah membeku dalam waktu sesingkat itu, setelah lenyap suara jeritan, keadaan menjadi sunyi senyap. Telapak tangan Ji Bun berhenti mendadak kira-kira tiga senti di atas, Hian-ki- hiat di tubuh Thong-sian. Telapak tangan malah sudah menempel ubun-ubun kepala Thong-sian yang gundul. Jelas ketika jiwa Thong- sian hampir terenggut oleh serangan Ji Bun itu mendadak dia menghentikan serangan. Semua hadirin sama melihat jelas, kalau gerakan tangannya tidak direm tepat pada waktunya, jiwa Thong- sian pasti sudah melayang.

Terbayang perasaan ngeri dan seram pada wajah Thong-sian yang jiwanya telah berada ditepi jurang kematian, selebar mukanya pucat pasi. "Bunuhlah, Pinceng menyerahkan jiwa ragaku." Ji Bun menarìk tangan, katanya dingin: "Aku pernah utang budi sekali padamu, sekarang utangku sudah kubayar, selanjutnya kita tiada utang piutang lagi."

Thong-sian menghela napas dengan lesu, dia tidak bicara lagi.

Ji Bun mundur dua langkah, sorot matanya tertuju ke ruangan menatap Kiang Giok tanpa berkesip. Kiang Giok tertunduk, dia tahu, peduli Te-gak Suseng atau Wi-to-hwe, jiwanya bakal tak tertahankan lagi.

Ji Bun tiba-tiba berpaling ke arah Thong-sian, katanya: "Serahkan dia padaku."

"Kukira tidak mungkin."

"Apa yang telah kukatakan tidak boleh ditentang."

"Te-gak Suseng," semprot Siang-thian-ong, "terlalu takabur kau!" Tanpa melirik sedikltpun, Ji Bun menjengek: "Bukan urusanmu,

jangan cerewet."

"Anak srigala," desis Siaucay tua penuh kebencian, "kau ingin membawanya pergi, bunuh dulu semua hadirin di sini "

"Kalau perlu bisa saja kulakukan." "Ji Bun," lekas Thong-sian bersuara, "apa tujuanmu membawa pergi?"

"Pertama, menyelidiki di mana letak markas pusat Ngo-hong-kau.

Kedua ada urusan pribadi yang harus kubereskan."

"Tujuan pertama sejalan dengan maksud kedatangan kami, untuk ini ingin mengadakan perjanjian secara laki-laki ”

"Perjanjian apa?” tanya Ji Bun.

"Bahan-bahan yang kau dapat dari mulutnya mengenai Ngo- hong-kau, pihak kami harus diberitahu juga," agaknya Thong-sian bersedia mengalah.

Kini semakin jelas bahwa pihak Wi-to-hwe sebetulnya tiada permusuhan yang mendalam dengan dirinya, kini setelah kesannya jauh berubah, sudah tentu dia tidak ingin mengikat permusuhan lagi, maka dia manggut-manggut: "Soal ini dapat kuterima.”

"Baik, boleh kau membawanya pergi, yang lain-lain akan membereskan mereka."

Tujuan Ji Bun hanya Kiang Giok seorang, karena dia adalah murid murtad perguruannya, dirinya harus menjalankan perintah dan aturan mencuci nama baik perguruan, tentang orang-orang Ngo- hong-kau yang lain tidak perlu diurus.

Siucay tua dan Siang-thian-ong meski tidak terima, namun tiada seorangpun hadirin yang menjadi tandingan Ji Bun. Kalau main kekerasan, akibatnya tentu fatal. Thong-sian sebagai pimpinan dalam operasi ini sudah memberikan persetujuan kepada Ji Bun, sudah tentu mereka tidak enak menentangnya, meski hati uring- uringan dan mata mendelik, namun tidak berani banyak omong lagi.

Otak Ji Bun bekerja, ke mana dia harus membawa Kiang Giok? Ia pikir lebih tepat dibereskan di tempat ini juga, maka ia berkata: "Thong-sian, Kiang Giok ditinggalkan saja, yang lain terserah kalian hendak menghukumnya, silakan mundur dari ruangan ini."

Thong-sian berpikir sebentar, lalu mengulap tangan memberi perintah: "Semua mundur, orang-orang ini gusur keluar!"

Murid-murid Wi-to-hwe bergegas keluar semua.

"Te-gak Suseng," ancam Siucay tua sebelum pergi, "urusanmu denganku belum selesai bukan?"

"Setiap saat aku menunggu kau," tantang Ji Bun.

Setelah semua orang pergi, kini tinggai Kiang Giok bersama Ji Bun, dengan pandangan ngeri ketakutan dia mengawasi Ji Bun.

Ji Bun memasuki ruangan, sorot matanya setajam pisau seterang nyala bara, katanya menatap Kiang Giok: "Kiang Giok, marilah kita bicara beberapa persoalan dulu baru membereskan urusan pokok, kuharap kau bicara terus terang dan blak-blakan, jangan kau paksa kugunakan siksaan untuk mengompes keteranganmu." Kiang Giok jelas tertutuk Hiat-tonya, tak nampak gejala-gejala ingin melawan, wibawanya yang angker sudah sirna tak membekas, jauh berbeda dengan sikapnya semula waktu mereka berhadapan pertama kali.

Hening sekian lamanya, baru Ji Bun baka suara: "Siapa yang membunuh Sam-cay Lolo di dalam hotel itu?"

"Kaucu sendiri yang turun tangan." "Lalu di mana gadis itu?"

"Sudah di bawah ke markas pusat." "Di mana letak markas pusat kalian?" "Aku tidak tahu."

"Kau ingin merasakan siksaanku?”

"Penggal kepalaku juga tetap kubilang tidak tahu."

"Baik, soal ini kesampingkan dulu. Siapakah Kaucu kalian?" "Entahlah."

Ji Bun naik pitam, hardiknya murka: "Sekali lagi kau jawab tidak tahu, Awas!” "Te-gak Suseng," kata Kiang Giok mengertak gigi: "Tak beruntung aku jatuh ke tanganmu, mau kau bunuh dan sembelih boleh, silakan. Ketahuilah, kau sendiri tidak akan berumur panjang, akan datang orang-orang kita mencari balas padamu."

"Kaucumu maksudmu?"

“Kau belum setimpal dihadapan beliau."

Hampir meledak dada Ji Bun, sekali ulur dia hendak tutuk orang, namun pikirannya tiba-tiba tergerak, dia hentikan gerakannya, Kiang Giok adalah murid generasi perguruan yang lebih tinggi dari dirinya, dia harus bertindak menurut undang-undang perguruan, kalau sampai menggunakan siksaan, itu sudah keluar dari batas-batas ketentuan, lawan belum tahu asal usul dirinya, kalau hubungan kedua pihak dia beber, tentu orang tidak bisa mungkir dari segala tanggung jawab lagi. Maka dengan wajah kereng katanya tajam: "Kiang Giok, sebutkan nama perguruanmu."

Kiang Giok diam saja, tidak perdulikan pertanyaannya.

"Dengan cara keji kau mengurung orang tua di bawah tanah itu, tahukah kau telah melanggar tata tertib?"

"Tata tertib apa?"

"Mendurhakai moyang menyalahi guru, mati hukumannya." "Durhaka terhadap moyang dan berbuat salah terhadap guru?"

Kiang Giok menegas. "Memangnya kau masih mau mungkir?”

Sekonyong-konyong sebuah suara yang seram mendirikan bulu kuduk berkumandang dari arah pintu: "Anak muda, memangnya kau telan empedu biruang dan makan hati harimau, berani kau mencari setori pada Ngo-hong-kau?"

Waktu Ji Bun berpaling, seketika dia merinding, tampak di depan pintu berdiri mahluk yang lebih menyerupai setan daripada manusia, rambutnya merah panjang menjuntai kepundak, codet besar melintang di mukanya dari arah jidat kirinya mencoreng ke mulut kanan. Mata kiri dan separo hidungnya lenyap tinggal lobang-lobang besar yang mengerikan, kulitnya hitam legam, badannya kurus seperti bambu, tak ubahnya seperti mayat hidup. Mata kanannya memancarkan sinar hijau yang menyedot sukma orang, pakaiannya serba hitam, bunkan saja longgar juga kedodoran, mirip sekali dengan orang-orangan rumput yang tergantung di tengah sawah.

Ji Bun tenangkan diri, katanya: "Tuan ini siapa."

"Akulah Hu-kaucu (wakil ketua) Ngo-hong-kau, Jit-sat-sin Jiu Jing."

"Kemari mengantar jiwa?"

"He he he, anak muda, Lohu akan membeset kulitmu hidup- hidup."

"Dengan tampangmu yang seram ini?" "Anak muda, menggelinding keluar sini!"

Ji Bun tutuk Kiang Giok lebih dulu, katanya: "Kiang Giok, aku mendapat perintah dari Suco agar mengadakan pembersihan, kau tunggu di sini saja."

Pelan-pelan dia beranjak keluar. Berkedip mata satu Jit-sat-sin Jiu Jing bergema suaranya yang pecah gemeratak: "Anak muda, kau hendak mencuci nama baik perguruan mana?"

Ji Bun berhenti dihadapan orang, sahutnya dingin: "Peduli apa dengan kau."

"Anak muda," tanya Jit-sat-sin Jiu Jing, "kau seperguruan dengan Kiang Giok? Tapi menurut apa yang kutahu, Kiang Giok tidak punya saudara seperguruan, kau anak muda ”

"Tutup mulutmu, aku tiada tempo mengobrol dengan kau, jawab sepatah kata pertanyaanku, siapa Kaucu kalian?"

"Kau belum setimpal menanyakan beliau."

"Bagus sekali, kali terakhir inilah kau bisa membuka mulut," dengan mengerahkan segenap tenaganya, kedua tangan segera membelah ke depan. Ji Bun sudah bertekad di dalam tiga gebrakan jiwa lawan harus ditamatkan untuk selanjutnya mengompes Kiang Giok. Betapa hebat kepandaian silat Ji Bun sekarang, serangannya sungguh bukan olah-olah lihaynya. Jit-sat-sin Jiu Jing melengking aneh, seperti gasingan tiba-tiba tubuhnya berkisar ditempatnya, meski damparan angin pukulan sekeras gugur gunung, dia tetap mendesak maju. Sepuluh jari tangannya yang kurus bagai cakar mengincar ulu hati dan muka Ji Bun. Gerakan ini sungguh merupakan suatu ilmu mujijat yang jarang ada di dunia persilatan sehingga lawan yang diserang seakan-akan takkan mungkin membela diri atau meyingkir apalagi balas menyerang.

Ji Bun terkejut, sigap sekali kakinya melangkah minggir tiga kaki selicin belut. Tapi gerakan jit-sat-sin seperti bayangan saja terus mengikuti, serangannya tetap membadai. Tapi hanya memperoleh kesempatan sedetik menyingkir tadi, Ji Bun sudah dapat kesempatan untuk balas menyerang. Tok-jiu-it-sek laksana kilat menggaris ke arah musuh, dengan menyerang dia hadapi serangan lawan pula.

Kini ganti Jit-sat-sin yang berteriak kaget sambil melejit mundur beberapa kaki, serangan ajaib dan kelihatannya mustahil ini sungguh membuat jantungnya bergetar kaget. Ji Bun tidak beri kesempatan lawan ganti napas dan menempatkan diri pada posisi yang menguntungkan, Tok-jiu-ji-sek segera dilontarkan pula secara berantai.

"Ngek!" terdengar Jit-sat-sin Jiu Jing mengeluh tertahan, suaranya tenggelam dalam tenggorokan seperti anjing keselak tulang dikerongkongannya. Badannya limbung sempoyongan beberapa tindak, dia mundur sampai di bawah serambi, rambut kepalanya yang gondrong merah seakan-akan berdiri, wajahnya yang buruk seram begitu beringas buas, terutama codet yang menakutkan itu bertambah mengerikan kelihatannya, hanya sekali melejit ia melambung tinggi ke wuwungan rumah terus berkelebat lenyap entah kemana.

Ji Bun juga terperanjat, sungguh tak nyana, lawan hanya terluka sedikit dan tidak roboh meski terkena serangan Tok-jiu-ji-sek, ini membuktikan bahwa Lwekang dan taraf kepandaian Jit-sat-sin betul- betul amat mengejutkan, naga-naganya masih lebih unggul dibandingkan Thong-sian Hwesio atau Kian Ceng-san yang dibunuhnya itu, tiada minatnya untuk mengejar. Pikirannya tertuju kepada Kiang Giok sebagai murid murtad perguruannya. Cepat ia lari masuk ke ruangan, namun seketika dia melongo, ternyata Kiang Giok sudah tidak kelihatan bayangannya.

Hiat-to Kiang Giok tertutuk, kalau tiada orang lain menolongnya tak mungkin dia bisa menjebol tutukan dan melarikan diri. Ini membuktikan bahwa pihak lawan masih menyembunyikan jago-jago yang cukup diandalkan di dalam gedung ini. Saking gusar dan gemas, serasa hampir meledak dada Ji Bun. Jenazah Suco Ngo Siang belum lagi dikebumikan dengan semestinya, petuahnya bagai masih mengiang di tepi telinga, setimpalkah dia membiarkan murid durhaka itu bebas berbuat jahat lagi di luaran.

Sekali pukul dia bikin remuk pintu angin, tetap tidak kelihatan bayangan orang, setiap pintu kamar digempurnya runtuh, dari sekian banyak pintu-pintu kamar tiada satupun yang utuh, namun bayangan orang tetap tidak nampak.

Memuncak rasa gusarnya, namun tiada sasaran untuk melampiaskan murkanya. Bahwa Kiang Giok berhasil lolos, itu berarti segala upaya bakal sia-sia belaka. Nama baik perguruan tetap tak berhasil dia cuci bersih, nasib Thian-thay-mo-ki dan ibundanya tetap merupakan tanda tanya besar. Ngo-hong-kau tidak menggunakan kode-kode rahasia khusus, kecuali mereka mencari setori pada dirinya, kalau tidak sulit menemukan jejak mereka. Ji Bun jadi serba susah, maju mundur serba salah.

Kalau Ui Bing ada di sampingnya, tentu urusan tidak sampai runyam seperti ini, namun mengingat urusan perguruan sendiri betapapun pantang diketahui orang luar, maka dia berkeras tidak mengikut sertakan Ui Bing dalam melaksanakan tujuannya kali ini. Sekarang baru betul-betul dia menyadari kesempitan pikiran dan ceteknya pengalaman, kalau tidak, urusan tidak akan gagal serunyam ini.

Sekian lamanya nuraninya diamuk emosi, lambat laun tenang juga pikirannya, diam-diam ia menerawang sikap dan tindakan apa yang harus segera dilaksanakannya.

Pertama, dia merasa penting untuk mengetahui letak markas pusat Ngo-hong-kau baru urusan lain bisa diselami satu persatu secara berantai, namun usahanya ini terang teramat sulit, dia hanya pasrah kepada nasib dan keberuntungan belaka. Maka dengan lesu lunglai dia meninggalkan gedung ini, tanpa disadari dia telah keluar dari kota Bik-su.

Di jalanan dia keluntungan tanpa arah menentu, pikirannya selalu dikocok oleh usaha membalas dendam dan menumpas kejahatan.

Tiba-tiba pikirannya tergerak. Menurut Ui Bing, Sin-eng-pang sudah dicaplok oleh Ngo-hong-kau, kini sudah dijadikan cabang kedua dari Ngo-hong-kau. Kalau sekarang dia menuju ke markas Sin-eng-pang dulu, bukan mustahil disana bakal menemukan sesuatu yang diharapkan. Maka dia percepat langkah menuju ke tempat Sian-eng- pang.

Hari ketiga, tidak lama setelah fajar menyingsing, Ji Bun tiba di Ciam-liong-kok, di mana markas Sin-eng-pang dulu didirikan. Ciam- liong-kok (lembah naga sembunyi) adalah sebuah selat yang diapit gunung gemunung, kalau tidak apal jalannya sulit menemukan lembah ini.

Ji Bun berhenti di mulut lembah, sekian saat dia celingukan memeriksa sekelilingnya, tidak nampak ada sesuatu gerakan yang mencurigakan, diam-diam hatinya menggerutu. Agaknya Ngo-hong- kau memang sebuah perkumpulan serba misterius, yang anggotanya bergerak seperti setan gentayangan. Sejenak dia berpikir, lalu dia melangkah masuk ke dalam lembah.

Jalanan tidak lebar, sebuah jalanan lika-liku yang berputar kian kemari di antara tumpukan batu-batu aneh, Ji Bun menyusuri jalan- jalan lika-liku ini terus maju kedepan. Kira-kira seratus tombak kemudian, tiba-tiba telinganya mendengar suara gemeretak yang cukup keras dan mencurigakan. Waktu dia menoleh, dilihatnya asap tebal bergulung-gulung membubung tinggi ke angkasa, ternyata mulut lembah dari mana tadi dia masuk telah ditutup dan disumbat dengan kobaran api yang teramat besar.

Ji Bun maklum bahwa pihak lawan telah siaga, kedatangannya sudah direka oleh lawan, maka mereka memasang perangkap untuk menjebak dirinya, namun sikapnya tak acuh, langkahnya tetap maju ke depan. Tiba-tiba asap tebal tampak berkobar pula disebelah depan, lekas sekali "jago merah" sudah menyala besar sekali sehingga depan dan belakang tersumbat atau terkurung oleh kobaran api yang mengganas. Dedaunan dan rumput-rumput kering dalam lembah memang banyak, maka cepat sekali api merambat seperti mengejar mangsa. Apalagi pihak lawan agaknya memang sudah sengaja mengatur sehingga dalam sekejap api sudah menjalar kian kemari. Suhu panas dalam lembah seketika juga naik, lembah ini diapit tebing gunung yang tinggi dan curam. Terkepung ditengah kobaran api seperti ini, agaknya nasibnya bakal terbakar hangus.

Keadaan cukup gawat, Ji Bun harus berusaha menyelamatkan diri. kalau orang lain mungkin tak bisa berbuat apa-apa kecuali menanti ajal saja. Tapi Ji Bun sudah siaga, walau menghadapi mara bahaya sedikitpun tidak menjadi gugup, pikiran tetap tenang dan jernih. Giok-bin-hiap Cu Kong-tam, siorang tua aneh didasar jurang dulu pernah mengajarkan Ginkang pusaran lesus sehingga tubuhnya bisa melayang mumbul ke atas. Jurang ratusan tombak di belakang Pek-ciok-hong dulupun bisa dicapai dengan mudah, apalagi tebing gunung di depannya ini, walau amat berbahaya, namun dia yakin, tingginya takkan melebihi jurang di belakang Pek-ciok-hong dulu.

Untuk meloloskan diri jelas bukan soal baginya, apalagi sekarang dia sudah ketambahan ilmu dari Ban-tok-bun.

Setelah melihat keadaan memang tak boleh tertunda lama lagi, segera ia menarik napas mengerahkan hawa murni, tenaga dikerahkan, kedua kaki lalu menjejak sekuatnya, seketika tubuhnya meluncur ke atas terus mengambang, dan berputar terus naik ke udara semakin tinggi, hanya sekejap saja, tempat dimana tadi dia berada sudah termakan jago merah menjadi lautan api.

Ji Bun menarik napas sekali lagi untuk menambah kekuatan sehingga tubuhnya seenteng bulu. Cukup tujuh kisaran lagi, dia sudah berhasil tancap kaki di puncak gunung. Waktu dia melongok ke bawah, lembah sesempit itu sudah merupakan lautan api yang mengganas, asap tebal bergulung-gulung menjulang tinggi ke langit. Diam-diam Ji Bun merinding seram dan bersyukur bahwa jiwanya tidak sampai melayang.

Namun perasaan syukur ini lekas sekali dirangsang oleh dendam dan kebencian yang memuncak nafsunya berkobar tak kalah dahsyatnya dari kobaran api di dasar lembah itu. Sekilas dia menerawang sekelilingnya, lalu berlari-lari mengikuti pinggiran jurang ke arah utara, lautan api kira-kira sepanjang satu li lebih.

Lekas sekali lembah yang dimakan api sudah dia tinggalkan di belakang. Dari atas memandang ke bawah, karena adanya cahaya kobaran api dari lembah sebelah depan sana sehingga keadaan lembah di sebelah dalam remang-remang kelihatan. Bayangan manusia tampak bergerak-gerak, rumah-rumah tampak mengepulkan asap dari dapur. Jelas di sinilah letak markas pusat Sin-eng-pang dulu.

Bentuk Ciam-liong-kok ini depan sempit dalam lebar seperti botol yang panjang lehernya. Sebentar dia mengukur keadaan di sini serta letak dirinya, kembali dia empos semangat dan hawa murninya. Lalu seperti seorang atlit loncat indah dia terjun dengan kepala di bawah dan kaki ke atas, seperti elang menukik menerkam mangsa. walau tubuhnya dapat menahan sebagian daya luncurannya, namun tubuhnya tetap anjlok ke bawah dengan cepat. Kecuali Ji Bun, siapa berani menempuh bahaya dengan badan hancur lebur kalau terjatuh ke bawah, asal sedikit lena dan meleset mengatur napas, bukan saja jiwa melayang, badanpun pasti hancur luluh.

Untunglah dia selamat mencapai bumi, di mana dia tancap kaki dekat kaki gunung, seluruh perhatian orang dalam lembah tertuju ke arah kobaran api di sebelah depan sana. Tiada yang menduga bahwa musuh yang hendak mereka bakar mati justeru telah melayang turun dari langit, jiwa mereka sendiri bakal menjadi bulan- bulanan musuh malah.

Ji Bun menyembunyikan diri di balik batu besar, matanya yang tajam dengan seksama menyapu ke arah rombongan orang banyak sejauh puluhan tombak sana. Tampak orang-orang itu sudah tidak mengenakan seragam Sin-eng-pang, kini mereka berganti seragam hitam. Ini membuktikan bahwa mereka betul-betul sudah dicaplok dan dijadikan anak buah Ngo-hong-kau. Dengan teliti dia menjelajah, namun tak kelihatan ada bayangan Sin-eng-pangcu Ko Giok-hwa.

Kobaran api di depan lembah sudah mulai mereda, sinar sang surya yang baru menyingsing menggantikan kobaran api yang tadi menyala terang. Lembah yang tadi gelap, pelan-pelan mulai remang- remang dan lekas sekali menjadi terang benderang. Bagai dedemit yang menunggu mangsa, Ji Bun tetap sembunyi di belakang batu.

Dia harus mencari sasaran yang tepat baru akan unjuk diri, kalau mengusik rumput mengejutkan ular, urusan tentu akan berantakan. Api sudah padam, tinggal asap masih mengepul. Seorang tua baju putih tampak berlari mendatangi, rombongan baju hitam segara berpencar memberi jalan, sebentar celingukan melihat keadaan rombongan besar ini. Si orang tua segera berseru memberi perintah: "Bersihkan dan sapu lembah di depan, temukan abu tulang belulangnya!"

Sekonyong-konyong sebuah suara dingin berkumandang: "Jangan repot-repot, aku ada di sini."

Serempak rombongan orang banyak itu menjerit kaget, tanpa sadar mereka sama berlari mundur, laki-laki tua baju putih menjadi pucat mukanya, kakinya seperti terpaku di tanah, mata terbelalak, mulut melongo lebar, suaranya tergagap: "Kau ...... kau "

"Aku inilah Te-gak Suseng adanya!"

"Kau .... kau tidak tidak terbakar mampus?"

"Kalau gampang dibakar mati, bukankah sia-sia saja aku punya julukan Te-gak Suseng?"

"Kau apa maksud kedatanganmu?"

"Pertama, kau harus sebutkan dulu siapa gelaranmu?"

Baru sekarang laki-laki tua ini menyurut mundur, sahutnya dengan suara galak: "Lohu ketua hukum dari anak cabang di sini, Ang Jit." "Aku hendak bertemu dengan ketua cabang kalian"

"Kau ingin bertemu dengan aku?" sebuah suara serak kasar berkumandang dari arah samping sana. Waktu Ji Bun menoleh, tiga tombak di sebelah sana berdiri seorang muda sebaya dirinya, berpakaian sutera dan menyoreng pedang, wajahnya diliputi nafsu sadis, namun kelihatan juga rasa kaget dan jerinya.

Dandanan pemuda ini mirip sekali dengan para duta Ngo-hong- kau yang pernah dihajarnya pontang panting dulu itu. Dia mengaku sebagai ketua cabang di sini, lalu di mana Ko Glok-wa? Dibunuh atau

..... tapi tujuannya bukan ini. Ji Bun segan berpikir panjang, sekilas dia memandangnya, lalu bertanya: "Kau ketua cabang di sini?"

"Memang jabatanku bisa dipalsukan?" "Sebutkan namamu?"

"Kho Tay-seng!" "Dimana Ko Giok-wa?"

"Kau bermusuhan dengan dia?" "Hanya kutanyakan sambil lalu saja."

"Orang she Ko itu bernasib jelek dan pendek umur, kini sudah mangkat." "Membunuh orang dan merebut kedudukannya, memangnya perbuatan kalian orang-orang Ngo-hong-kau serba kotor dan hina dina, kejam dan keji."

"Karena itu kau kemari?" tanya Kho Tay-seng menyurut mundur. "Memangnya kau kira aku ini suka iseng dan ingin mencampuri

urusan ini?"

"Lalu untuk apa kau kemari?"

"Aku ingin menemui Kaucu kalian."

"Kau ingin bertemu dengan Kaucu? Kau belum setimpal." "Kho Tay-seng," desis Ji Bun dingin, "berani sekali lagi kau

berkata demikian ”

Pemuda baju sutera terpengaruh oleh ancaman dan tatapan mata Ji Bun yang menyala berwibawa, kembali dia menggeremet mundur, katanya: "Lalu kenapa?"

"Ciam-liong-kok akan kucuci dengan darah kalian, ayam anjing seekorpun takkan hidup."

"Kau mampu berbuat demikian?" "Kenyataan akan menjawabnya nanti." Pemuda baju sutera mundur semakin jauh, "sret", dia melolos pedang. Sekali gerak dan bergetar, ujung pedangnya seperti mekar dan berbintik-bintik cahaya. Terang bahwa latihan ilmu pedangnya sudah cukup sempurna, serentak anak buahnya berkaok-kaok sambil melolos senjata dan memasang panah di busur, siap untuk bertempur.

Rasa murka yang menggelora di dada Ji Bun sungguh tak terkendali lagi, maklumlah, kalau tidak mengandalkan sinkang tingkat tinggi yang mujijat itu, sejak tadi dirinya sudah terkubur menjadi abu di lembah sana. Walau dalam tata tertib perguruannya dilarang setiap muridnya melakukan pembunuhan, namun di samping persoalan pribadi yang penuh dendam, perbuatan orang- orang Ngo-hong-kau ini memang terlalu kejam. Mereka merupakan anasir-anasir jahat yang kelewat batas bagi insan persilatan umumnya, maka setimpal kalau dihukum mati. Karena keyakinan inilah, pelan-pelan dia menghimpun kekuatan pada kedua lengannya. Sorot matanyapun menyala semakin benderang, siapa saja yang menghadapinya pasti bergidik ketakutan.

17.49. Pembantaian Di Lembah Ciang-liong-kok

"Hiaaat!," ditengah lolong panjang dari mulut Kho Tay-seng, pedang di tangannya berkelebat bagai kilat menyambar Ji Bun.

Ji Bun mendengus pendek, Tok-jiu-it-sek bergerak dengan kecepatan yang sama tingginya menembus lingkaran cahaya pedang lawan. Keruan bukan kepalang kaget dan takut Kho Tay-seng, lekas dia tarik pedang seraya melejit mundur sambil memberi aba-aba: "Maju semua!"

Pertama-tama ketua hukum Ang Jit bersama empat anak buahnya ahli pedang merangsak bersama. Nafsu Ji Bun sudah tak terbendung lagi, telapak kanan tegak membelah miring ke arah Ang Jit yang menyerang tiba itu, sementara telapak tangan kiri menggaris ke arah keempat orang bersenjata pedang. Walau gerakan tangan kiri dan kanan saling susul, namun kecepatan geraknya sungguh seperti dilancarkan bersamaan.

Ang Jit menggeram rendah, keempat ahli pedang menguik seram, darah menyembur dari mulut Ang Jit yang terpukul terbang ke tengah udara dan terbanting, keempat ahli pedang itu lebih celaka. Belum lagi pedang mereka dilancarkan, satu persatu sudah roboh terkapar tak bernyawa lagi. Keruan semua anak buah Ngo- hong-kau yang hadir sama takut luar biasa, mereka mendelik dengan mulut melongo.

Ji Bun tidak berhenti begitu saja, tiba-tiba kakinya menggeser miring, tubuh berkelebat ke samping pula, tahu-tahu telapak tangan kanan sudah bekerja. "Huaaak", Ang Jit yang baru bangun kena sekali pukulan pula, badannya kembali mencelat dan terbanting dengan keras, jelas jiwanya takkan tertolong pula.

Kho Tay-seng menjerit kalap, seperti banteng ketaton dengan nekat dia ayun pedang, jaraknya delapan kaki, namun ayunan pedangnya menerbitkan sinar pedang yang memanjang sejauh tujuh kaki. Jarak ini cukup tiba untuk menggal kepala Ji Bun, betapa bebat lihay permainan ilmu pedangnya, sungguh aneh, keji dan ganas sekali. Memangnya siapa yang pernah dan mampu melawan ilmu pedang yang luar biasa ini. Apalagi serangan ini menggunakan setaker tenaga dan seluruh perbendaharaan ilmu yang pernah dia yakinkan, tekadnya hendak mengadu jiwa lagi. Keruan Ji Bun dibikin kaget juga, lekas dia mundur setapak. "Cret", baju di depan dada tak urung tergores sobek sepanjang satu kaki.

Mendapat angin, Kho Tay-seng bertambah beringas, sebat sekali gerak geriknya seperti bayangan, secepat kilat sekaligus dia lancarkan serangan membadai, setombak sekitar gelanggang, merupakan sasaran empuk bagi tajam pedangnya.

Ji Bun dipaksa mundur tujuh kaki, demikian pula anak buah Ngo- hong-kau yang berkepandaian lebih tinggi juga menyurut mundur setapak, namun lekas sekali mereka sudah merubung maju, karena dikira mendapat peluang untuk mengerubut bersama.

Hampir meledak dada Ji Bun, di saat lawan berhenti setelah habis melancarkan delapan belas kali serangan pedang, secepat kilat dia mendesak maju selicin belut menyelinap ke dalam liang, dia lancarkan Tok-jiu-ji-sek.

"Aduh " pekik kesakitan yang mengerikan terdengar,

pedang terlempar, Kho Tay seng sendiri terjungkir balik. Namun pada waktu yang sama, berbagai senjata tajam juga serempak menyambar ke arah Ji Bun selebat hujan badai.

Mendadak Ji Bun melambung tinggi ke tengah udara, maka terdengarlah suara berdering senjata yang beradu di bawah kakinya, di tengah udara tubuhnya terputar sambil meliuk, dengan gaya menukik dia menyerang dari atas, kekuatan serangan ini sungguh lihay luar biasa.

Jeritan menyayat hati memekak telinga, tujuh delapan orang kontan roboh mandi darah. Begitu tubuh meluncur turun dan menancapkan kaki, segesit kera dia terus menubruk ke arah orang yang bergerombol lebih banyak, di mana kaki tangannya bergerak, seketika terjadilah pembantaian besar-besaran. Pekik seram saling susul menegangkan urat syaraf. Keruan anak buah Ngo-hong-kau yang masih hidup menjadi ketakutan, bagai tikus lari sipat kuping.

Nafsu Ji Bun sudah menggila, orang-orang Ngo-hong-kau ini tak ubahnya ayam dan anjing dalam pandangannya. Di mana tangannya bergerak, di situ manusia terbabat roboh tak bernyawa. Hanya sekejap saja suasana gaduh dari jerit tangis manusia seketika sirap. Manusia bergelimpangan memenuhi lembah, semua tubuh sudah tak bernyawa lagi, untuk pertama kali inilah sejak Ji Bun mengembara di dunia persilatan membunuh orang sedemikian banyaknya.

Nafsu Ji Bun sudah kadung membara, tekadnya melampiaskan dendam masih belum padam, maka dia berlari ke arah rumah-rumah di belakang lembah sana. Rumah-rumah di sini dibangun dengan dinding batu, pendek bangunannya dan amat kokoh. Yang tengah dibangun cukup megah dengan ruang pendopo, di sini letak pusat pemerintahan cabang Ngo-hong-kau yang berkuasa penuh dilembah ini. Di kanan kira pendopo merupakan deretan kamar berbentuk bundar, bangunan lain terletak di belakang ruang pendopo ini, dengan bentuk yang teratur dan rapi. Begitu banyak dan luas bangunan rumah-rumah ini, tapi sekarang tidak kelihatan bayangan seorangpun. Tentunya kekuatan mereka tadi tidak ditumplek seluruhnya untuk menghadapi dirinya, bukan mustahil ada yang menyembunyikan diri. Tepat di tengah pendopo yang membelakangi tempat duduk kebesaran, di atas dinding dihiasi setabir sutera berwarna dasar hitam bersulam sekuntum kembang Bwe warna putih yang menyolok sekali, itulah pertanda khas dari Ngo-hong-kau.

Di bawah tabir besar ini adalah sebuah meja panjang, setabung panji segitiga kecil warna-warni menghiasi di atas meja, di belakangnya berderet tiga kursi kebesaran yang dilapisi kulit harimau, di kanan kiri sebelah luarnya masing-masing berderet lima kursi kayu cendana. Agaknya susunan pimpinan cabang Ngo-hong- kau di sini tak ubahnya seperti perkumpulan Kang-ouw lainnya.

Ji Bun menerobos terus ke dalam, setelah melewati tujuh lapis bangunan, tetap tidak melihat bayangan seorangpun. Keruan darahnya semakin mendidih, kedatangannya kali ini bukan saja hampir dihanguskan, boleh dikata tujuannya menjadi sia-sia pula, keruan hatinya amat dongkol dan uring-uringan. Thian-thay-mo-ki dan ibunya berada di tangan mereka, mati hidup masih merupakan tanda tanya. Menurut apa yang dia selidiki dari sepak terjang Kwe- loh-jin, jelas pihak Ngo-hong-kau yang membantai habis semua penghuni Jit-sing-po. Sekarang dia merasa, menyesal kenapa tiada satupun yang dia tinggalkan hidup untuk dikompes keterangannya, kini sumber yang diharapkanpun telah putus.

Kiang Gok, si murid murtad pengkhianat perguruan juga lolos. Ngo Siang, sang Suco terkubur di kamar tahanannya, di alam baka tentu dia takkan bisa meram. Semakin dipikir semakin gemas hatinya, namun kenyataan sekarang dia tidak bisa berbuat apa-apa. Namun dia tahu, tak mungkin Ciang-liong-kok ini hanya orang-orang yang terbunuh di luar tadi, lembah ini tiada jalan keluar lainnya, terang mereka menyembunyikan diri, entah di kamar rahasia atau di tempat lain yang tersembunyi.

Serang dengan api. Pikiran ini berkelebat di benaknya. Api pasti dapat paksa mereka yang sembunyi itu terbirit keluar. Maka dia mulai mencari ketikan api, dari luar ke dalam, setiap tempat dia menyulut kain jendela atau barang-barang lain yang mudah terbakar. Setelah api yang disulutnya mulai berkobar semua, baru dia keluar ke lapangan rumput di sebelah depan sana sejauh jarak panahan, di sini dia berpangku tangan menanti reaksi.

Cepat api berkobar, jago merah mengamuk hebat, segala benda dilalapnya tanpa ampun. Bangunan-bangunan yang terdiri dari kayu itu walau kokoh, namun mudah terbakar, sebentar saja seluruh bangunan berlapis itu sudah terjilat api.

Betul juga, sesuai dugaan Ji Bun, hanya dalam sekejap, bayangan orang mulai tampak berseliweran lari kian kemari. Ji Bun sudah ambil keputusan lihat satu bunuh satu, kepergok dua bunuh sepasang. Maka di tengah kobaran api yang gemuruh itu diselingi suara jerit tangis, pekik teriakan campur aduk, suasana menjadi kacau balau. Laki-laki yang berlarian kian kemari saling terjang dan hantam sendiri demi menyelamatkan jiwa, namun mereka menjadi makanan empuk bagi Ji Bun. Akhirnya bermunculan juga perempuan yang menyeret anak- anak. Betapapun besar murka Ji Bun, terhadap kaum lemah dan anak-anak yang tidak berdosa ini, dia tidak tega turun tangan, segera dia mundur ke samping. Dengan tajam dia awasi setiap orang yang muncul. Dia harus mencari sasaran di antara sekian banyak orang untuk didengar keterangannya.

Seorang kakek tua beruban dengan langkah, sempoyongan jatuh bangun ikut berlari keluar di antara rombongan perempuan dan anak-anak itu, sekian kelihatannya sudah loyo dan lemah karena usianya yang sudah lanjut. Anak-anak berjerit tangis, kaum ibu sibuk mencari putera puterinya yang lari entah ke mana, terketuk juga hati nurani Ji Bun.

Sekonyong-konyong, tampak kakek ubanan itu berpaling sekilas sambil melirik ke arah Ji Bun. Cukup lirikan, mata ini sudah memberi peringatan kepada Ji Bun bahwa kakek tua yang pura-pura loyo ini sebetulnya adalah seorang silat yang tinggi kepandaiannya.

"Hai, kau kemari!" gerakannya Ji Bun lebih cepat dari ucapannya, kata-kata terakhir baru diucapkan, bayangannya sudah menghadang di depan si kakek.

Kakek itu tiba-tiba angkat kepala, wajahnya yang penuh keriput seketika menarik tegang, mulutnya tergagap: "Kau orang tua

loyo seperti akupun tidak kau lepaskan ”

"Kau memang tua, tapi tidak loyo. Kemarilah!" dengus Ji Bun, gerakannya cepat sekali, tahu-tahu pergelangan tangan si orang tua sudah dipegangnya terus diseret ke samping, di mana terdapat batu- batu yang berserakan, setiba di tempat sepi dan tersembunyi, dia lepaskan pegangannya, dengan suara dingin gemetar diliputi emosi, dia hertanya: "Tua bangka, bicaralah singkat, sebutkan dulu namamu!"

Bibir si orang tua yang kering tampak gemetar, sekian lama dia megap-megap tak mampu bicara. Ji Bun mengancamnya dengan nada bengis: "Bicaralah terus terang atau kubunuh lebih kejam dari orang lain.”

Si kakek ubanan manggut-manggut.

Ji Bun bertanya: "Belakangan ini adakah orang yang lari kemari?" "Ke mana maksud kata-katamu itu?"

"Umpamanya ada jago-jago kalian dari cabang lain yang berkepandaian tinggi, atau ada menggusur orang luar kemari ”

"Ya, memang ada." "Siapa?"

"Pimpinan cabang kedua dari perkumpulan kami, yaitu Kiang Giok."

"Hm, Kiang Giok. Di mana dia sekarang?"

"Di dalam kamar rahasia di bawah lembah yang terlarang sana." Berkobar semangat Ji Bun, agaknya perjalanan hari ini tidak sia- sia, kalau Kiang Giok si murid murtad dapat dibekuk, sebagian sudah tercapai tujuannya segala teka-teki bakal terbongkar seluruhnya, maka dengan suara haru dia bertanya: "Letaknya di belakang barisan rumah-rumah itu?"

"Ya, tepat di bawah kaki bukit, di mana ada sebuah bangunan mungil, ada tanda papan yang menyatakan tempat itu terlarang bagi orang luar."

"Baik kau boleh pergi."

"Kau tidak membunuhku?"

"Jiwamu kuampuni!"

Si kakek menyeringai, katanya: "Te-gak Suseng, kau melepaskan Lohu, tapi Lohu tidak dapat mengampuni jiwa sendiri, tamak hidup tunduk kepada musuh, betapa aku harus berhadapan dengan para saudara yang sudah mendahuluiku di alam baka" "plak" tiba-

tiba tangannya terayun mengepruk pecah batok kepala sendiri, memang tidak malu kakek tua ini sebagai insan persilatan yang berjiwa kesatria, setelah sadar akan kesalahan, lebih baik mati dari pada hidup menjadi cercahan orang lain.

Ji Bun geleng-geleng kepala sambil menghela napas panjang, segera dia meluncur ke belakang kobaran api, dengan menerjang gulungan asap tebal yang mengadang jalan, dia terus melesat ke belakang, kakinya sedikit menutul, sekali lompat beberapa tombak jauhnya. Lekas sekali dia sudah tinggalkan tempat kebakaran dan masuk ke dasar jurang.

Betul juga di antara bayang-bayang hutan di sebelah dalam sana lapat-lapat kelihatan sebuah bangunan mungil, di luar hutan berdiri sebuah papan batu yang bertuliskan "Daerah terlarang". Letak rumah kecil ini terpaut beberapa puluh tombak dengan tanah lapang yang cukup luas, seluruhnya merupakan tanah yang berlapiskan batu cadas yang dibikin rata mengkilap, tiada rumput dan pepohonan tumbuh di sini, maka kobaran api meski teramat besar di sebelah depan, hutan di belakang lembah ini sedikitpun tidak terjilat api.

Jantung Ji Bun berdebur semakin ketas, dengan langkah mantap dia memasuki daerah terlarang. "Siapa berani terobosan di daerah terlarang?” tiba-tiba berkumandang peringatan dari balik batu sana, dua orang baju putih segera muncul mengadang.

Tanpa buka suara, dengan langkah cepat Ji Bun menubruk maju, di mana tangan beracun bergerak, belum lagi kedua orang ini melihat jelas siapa yang datang, tahu-tahu sudah mengaduh terus roboh terkulai dan melayang jiwanya.

Bau khas yang merangsang hidung meyakinkan Ji Bun bahwa di dalam hutan terlarang ini ada ditaburi racun jahat yang tidak berwarna, namun Ji Bun yang sudah mempelajari ilmu tingkat tinggi Ban-tok-bun sudah kebal segala racun. Sekali tendang ia singkirkan mayat kedua orang terus beranjak menyusuri jalan batu menjurus ke rumah kecil itu. Rumah ini di kelilingi hutan, merupakan suatu pekarangan tersendiri dengan dipagari tembok batu, tepat di tengah dibuat pintu bundar, di dalam pintu dipajang beberapa perabot yang terbuat dari batu dan bambu. Begitu Ji Bun tiba di pintu, empat orang baju putih, terdiri seorang tua dan tiga muda tahu-tahu menubruk tiba. Pikiran Ji Bun hanya ingin selekasnya membekuk Kiang Giok si murtad, maka dia tidak peduli siapa orang-orang ini. Kedua tangan segera bergerak menyongsong kedatangan orang-orang itu. Segulung angin keras menerpa ke depan. Keempat, orang bagai daun kering yang tersapu angin puyuh terjungkal sungsang sumbel. Tanpa hiraukan mati hidup mereka, Ji Bun langsung menghampiri rumah mungil itu.

"Kau " di tengah teriakan kaget, sesosok bayangan orang

jumpalitan keluar dari balik jendela dengan gemetar. Dia bukan lain adalah Kiang Giok.

Terpencar cahaya kelam dari biji mata Ji Bun, suaranya kereng berwibawa: "Kiang Giok, agaknya Suco memberkahi usahaku untuk menumpas kau."

Kiang Giok menyurut ke belakang bersandar dinding, wajahnya membesi kelabu, kelihatan dia terluka oleh Sian-thian-sin-kang Thong-sian Hwesio sampai sekarang belum lagi sembuh. "Te-gak Suseng," ujarnya, "apa sebetulnya yang kau bicarakan?"

"Kiang Giok, bicara soal tingkatan, kau memang lebih tinggi dari padaku, namun, aku membawa pesan dan perintah Suco, maka aku harus menunaikan tugas melaksanakan tata tertib dan hukum perguruan secara tegas." "Hukum perguruan? Apa maksudnya?"

"Menghadapi hukum perguruan ini, memangnya kau masih belum bertobat dan menyesal? Hm, Kiang Giok, aku ”

"Terus terang, aku tidak tahu soal apa yang kau obrolkan?" kata Kiang Giok diliputi rasa heran, takut dan tak habis mengerti.

Sikapnya ini menambah semangat Ji Bun malah, bentaknya: "Berlututlah, terima pelaksanaan hukum perguruan ini.”

Bergetar badan Kiang Giok, semakin tebal rasa bingung dari sorot matanya. "Te-gak Suseng," desisnya, "kau ini orang apa, siapa pula aku dari mana kau hendak melaksanakan hukum perguruan atas diriku?"

"Kau masih berani mungkir?"

"Seorang laki-laki sejati berani berbuat berani tanggung jawab, aku terjatuh ke tanganmu, memang nasibku soal mungkir aku tidak sampai sepengecut itu."

"Baik, jawablah pertanyaanku, siapakah orang tua yang kau kurung di bawah tanah di gedungmu itu."

"Dia siapa dia?"

"Aku justru tanya kau?" "Aku tidak tahu?" "Kentut! Kau murid durhaka menghadapi kematian masih belum mau bertobat."

Mulut Kiang Giok terpentang lebar, sikapnya hambar dan penasaran, jelas kelakuan ini bukan pura-pura belaka. Keruan Ji Bun menjadi bimbang dan sangsi, mungkinkah dalam persoalan ini ada liku-liku yang sulit dijajaki pula?

"Kiang Giok, betulkah kau tidak tahu asal usul orang tua itu?" "Tidak tahu."

"Lalu dari mana kau mempelajari ilmu beracun itu? Kenapa kau mengatur jebakan dan mengurung beliau, memaksanya mengajarkan ilmu dan hendak merebut kitab pelajarannya pula?”

"Pelajaran ilmu dari perguruanmu? Kau dari mana?" "Jawab dulu pertanyaanku."

"Uh " tiba-tiba Kiang Giok-mengeluh seram, badannya

tersungkur berkelejetan sebentar terus tak bergerak, jiwanya melayang seketika.

Kaget sekali Ji Bun, cepat dia membalik badan, di mana matanya memandang, darah seketika terbawa nafsunya membunuh membara pula. Tampak seorang berdiri di ambang pintu, dia bukan lain daripada Kwe-loh-jin, musuh besarnya. "Kwe-loh-jin." desis Ji Bun. ''sungguh kebetulan kau muncul sendiri." Kwe loh-jin terkekeh dingin, jawabnya: "Anak muda, agaknya nyawamu serap duabelas, sudah beberapa kali kau lolos dari kematian, kini pasti kuhancurkan kepalamu, ingin kulihat apakah betul kau memang tak dapat mati?"

Ji Bun tahan perasaannya, banyak persoalan yang harus dia tanyakan dulu sebelum bertindak. “Kwe-loh-jin, jadi kau juga anggota Ngo-hong-kau?"

"Ya, tidak salah."

"Jadi majikan yang kau maksudkan itu ialah Ngo-hong-kaucu?” "Tepat sekali," sahut Kwe-loh-jin.

"Dan apa alasanmu selalu ingin membunuhku?"

"Pokoknya kau harus mati, tentang alasannya, kau tidak perlu tahu."

“Siapa sebenarnya Kaucu kalian?"

"Selama hidupmu kau takkan memperoleh jawaban."

"Kwe-loh-jin, agaknya semua pertanyaan tidak akan kau jawab dengan baik?"

"Terserah keadaan." "Baik, sebuah pertanyaan lagi, kuingin bertemu dengan Kaucu kalian, sudilah kau membawaku kepadanya?"

"Kau hanya bercita-cita kosong belaka, ketahuilah Ciang-liong-kok ini bakal menjadi tempat kuburan."

"Tentunya kau juga ikut membantai orang-orang Jit-sing-po?“

Terpancar cahaya aneh dari mata Kwe-loh-jin, beberapa kali air mukanya berubah, lama sekali baru dia berkata dingin: "Apakah Siangkoan Hong tidak memberi jawaban padamu?"

"Kau memfitnah mereka, apa tidak merasa malu dan hina?" "Memfitnah? Anak muda, perlukah aku berbuat demikian?" "Kenapa kau tidak berani mengaku?”

"Kenyataan memang begitu."

Kembali Ji Bun menghadapi pertentangan batin siapakah sebetulnya musuh besarnya? Ngo-hong-kau atau Wi-to-hwe? Karena kedua pihak sama tidak mau mengaku, namun kedua pihak sama patut dicurigai.

Dianalisa dari permulaan peristiwa ini, memang pihak Wi-to-hwe yang dipimpin Siangkoan Hong amat mencurigakan, ditambah pesan ayahnya waktu terakhir kali mereka berjumpa bahwa musuh besar keluarganya adalah komplotan Siangkoan Hong. Tapi perkembangan selanjutnya dari berbagai kejadian yang dialaminya sendiri, satu persatu menumbangkan keyakinannya semula, berbalik dia yakin bahwa Ngo-hong-kaulah yang membantai seluruh penghuni Jit-sing-po. Kematian ayahnya, ibunya diculik, beberapa kali peristiwa terbunuhnya diri sendiri, ketambahan Kiang Giok yang berselubung, teka teki bersama ayahnya, lebih menambah kerumitan persoalan ini. Tujuan Kwe-loh-jin membunuh Kiang Giok jelas karena hendak menutup mulutnya, tapi kenapa? Persoalan yang sudah hampir terang kini menjadi gelap dan terselubung pula.

Pengalaman menambah pengetahuan. Kini Ji Bun betul-betul menyadari, kalau mau main selidik, mencari bukti dan menguber sumber kejadian dari segala teka teki ini, dia harus menggunakan cara ganas dan kejam, kalau tidak dia akan selalu menghadapi jalan buntu alias gagal total.

Karena itu, watak angkuhnya yang sudah lenyap sekian lama, kini mulai bersemi pula, hawa gelap meliputi kedua alisnya, dengan suara geram dia berkata: "Kwe-loh-jin, kenapa ibundaku kalian tawan?”

"Sederhana saja, untuk merajai Kangouw, maka aku harus bertindak tidak kenal kasihan, walau cara keji, kejam dan kotor juga harus dihalalkan."

"Dan bagaimana dengan Thian-thay-mo-ki?" "Sama juga alasannya." "Kiang Giok, kaubunuh apa juga dengan alasan yang sama?

Memangnya kau ini manusia?"

"Anak muda, tidak perlu putar lidah lagi Sekonyong-konyong

Ji Bun melompat maju sambil membentak. "Agaknya sikapku terhadap kalian selama ini adalah kesalahan besar."

Kwe-loh-jin merasa jeri, tanpa terasa ia menyurut mundur. “Kwe-loh-jin, sebelum melihat peti mati, agaknya air matamu

takkan bercucuran," bentak Ji Bun seraya mendekat.

Cepat Kwe-loh-jin melompat mundur keluar rumah sambil terloroh-loroh, serunya: "Anak muda, marilah sini!"

Ji Bun melejit keluar, belum lagi dia berdiri tegak, Kwe loh-jin sudah menyerangnya lebih dulu. Telapak tangan kiri menggempur, jari-jari kanan mencengkeram, enam Hiat-to mematikan di dada menjadi sasaran. Betapa ganas dan lihay serangannya ini sungguh amat mengejutkan.

Dalam keadaan kepepet Ji Bun lancarkan jurus Tok-jiu-it-sek. Kontan Kwe-loh-jin berseru heran, serangannya berubah di tengah jalan. Ji Bunpun berdiri tegak di atas tanah.

17.50. Bukan Murid Angkatan 14 "Anak muda, nasibmu memang mujur, jiwa anjingmu berulang kali lolos dari renggutan elmaut, agaknya belakangan ini kau memperoleh pelajaran baru!"

Jelas yang dimaksud adalah jurus Tok-jiu-it-sek yang lihay ini.

Memang sejak membekal ilmu mujijat ini Ji Bun belum pernah berhadapan dengan lawan tangguh yang betul-betul setimpal jadi tandingannya.

Tanpa hiraukan ocehan orang, Ji Bun menghardik: "Serahkan nyawamu!" dengan kekuatan membadai Tok-jiu-ji-sek dilontarkan.

Kembali Kwe-loh-jin bersuara heran, dengan suatu gerakan yang aneh dan gesit, tiba-tiba dia berkelebat menyingkir. Bahwa Kwe-loh- jin dapat menghindarkan diri dari rangsakan Tok-jiu-ji-sek, hal ini betul-betul membuat Ji Bun terperanjat, agaknya dalam setengah tahun ini pihak lawan juga memperoleh tambahan ilmu yang tinggi. Kalau dinilai dari kepandaiannya dulu, tak mungkin Kwe-loh-jin mampu selamat dari serangan Tok-jiu-ji-sek.

"Sambut sejurus lagi!” teriak Ji Bun, kembali Tok-jiu-ji-sek dilontarkan.

Kwe loh-jin menyingkir lagi dengan gerakan semula dari posisi yang tidak menguntungkan, namun mulutnya menggeram aneh, badan meliuk sambil balas menyerang sekali. Gerakan serangan ini sungguh menakjubkan, siapapun yang melihatnya pasti melelet lidah dan kagum sekali, karena semua tempat-tempat yang berbahaya di bagian depan menjadi sasaran. Jalan mundur dan kesempatan untuk balas menyerangpun tersumbat, sungguh bukan main serangannya ini.

Beruntung Ji Bun juga memperoleh rejeki nomplok, di dalam detik-detik yang gawat itu, ilmu tingkat tinggi yang dipelajarinya baru-baru ini memperlihatkan kemujijatannya. Dalam posisi yarg terdesak itu, terpaksa dia lintangkan kedua telapak tangan terus bergerak melingkar. Inilah gerak pertahanan yang paling hebat betapapun ganas rangsakkan lawan pasti dapat ditandingi sama kuat.

"Plok, plok, plok " benturan secara berantai terjadi dalam

sekejap mata, telapak tangan kedua orang saling adu kekuatan sebanyak lima puluhan kali, betapa tinggi tingkat kepandaian silat Kwe-loh-jin dapatlah dibayangkan dari tingkat permainannya ini. Masing-masing pihak maklum, taraf kepandaian mereka kira-kira setanding, umpama ada perbedaan, terpautnya juga terbatas.

Ji Bun tak habis pikir, dalam jangka setengah tahun ini entah dari mana Kwe-loh-jin memperoleh ilmu kepandaian yang begini mengejutkan. Sebaliknya Kwe-loh-jin juga kagum dan heran pula bahwa kepandaian Ji Bun entah betapa tingkat lebih tinggi dibanding setengah tahun yang lampau.

Kwe-loh-jin saja sudah setinggi ini kepandaiannya, tentu kepandaian Ngo-hong-kaucu jauh lebih luar biasa pula. Mau-tidak mau Ji Bun rada keder dan patah semangat, sebetulnya dia yakin dengan kepandaian terakhir yang diperolehnya sudah cukup untuk menuntut balas. Siapa nyana, satu jengkal kepandaian sendiri bertambah, satu depa pula ilmu musuh bertingkat. Untuk menuntut balas, menolong ibu dan kekasihnya, agaknya bakal sia-sia belaka.

Hanya setengah tahun saja, namun tingkat kepandaian Kwe-loh- jin betul-betul melampaui taraf kepandaian Thong-sian Hwesio yang tak terukur itu, bukankah perubahan ini amat menakutkan. Mau tak mau pikirannya mengingatkan Hud-sim yang pernah direbut lawannya ini, bukan mustahil Kwe-loh-jin sudah berhasil mendapat inti rahasia pelajaran silat yang terkandung di dalam hati Buddha itu. Kemungkinan ini amat besar, sayang awak sendiri terlalu asing terhadap permainan silat Pek-ciok Sinni. Kalau tidak dirinya tentu tidak akan melawan musuh secara meraba-raba, karena itu tanpa terasa mulutnya berteriak: " Kwe-loh-jin, ilmu yang terkandung di dalam Hud-sim sungguh bukan kepalang hebatnya?"

Kwe-loh-jin melenggong sebentar, lalu katanya sinis: "Betul, jagat seluas ini, memangnya siapa yang mampu melawanku lagi?"

"Belum tentu, akulah lawanmu!” seru Ji Bun. Tok-jiu-sam-sek (jurus ketiga) akhirnya dia lontarkan dengan dilandasi sepenuh tenaga. Inilah senjata terakhir yang paling diandalkannya, merupakan puncak tertinggi dari segala gemblengan yang pernah dialaminya. Kalau senjata terakhir ini juga tidak mampu merobohkan musuh, segala persoalan tidak perlu dibicarakan lagi.

Jurus ketiga ini dinamakan Giam-ong-yan-khek (raja akhirat menjamu tamu). Sesuai dengan namanya, merupakan jurus serangan mematikan yang melampaui segala ilmu silat yang pernah berkembang di kalangan Bu lim. Begitu jurus ini dilontarkan, sorot mata Kwe-loh-jin seketika mengunjuk rasa ketakutan, boleh dikatakan tanpa banyak pikir lagi bergegas dia berkelebat mundur. "Ngek!" tak urung mulutnya mengerang kesakitan, badanpun sempoyongan tujuh delapan langkah jauhnya, darah meleleh dari mulutnya.

Berkobar semangat Ji Bun, sebat sekali dia bergerak pula. Tapi sekali melejit dan jumpalitan ke belakang, tahu-tahu Kwe-loh-jin sudah melenting ke dalam hutan dan lenyap.

“Lari ke mana?” bentak Ji Bun sambil mengundak, namun bayangan Kwe-loh-jin sudah lenyap di balik hutan. Marah dan benci mengaduk hatinya hampir gila Ji Bun dibuatnya saking gemas, menghadapi musuh yang, licik, licin dan kejam ini. Ji Bun betul-betul menyadari bahwa tindakannya masih kurang tegas. Dengan lolosnya Kwe-loh-jin kali ini, pihak Ngo-hong-kau pasti mengerahkan segala kekuatannya untuk menghadapi dirinya. Untuk mencari tahu letak markas pusatnya, tentu akan lebih sukar lagi.

Kematian Kiang Giok paling menyakiti hatinya, pesan dan tugas perguruan yang dibebannya terang sudah gagal. Murid murtad tak bisa dihukum sesuai peraturan yang berlaku. Betapapun dia belum mencapai tujuan untuk membersihkan nama baik perguruan.

Dia meiangkah balik ke bilik bambu itu, berdiri melongo mengawasi jenazah Kiang Giok. Tiba-tiba matanya terbeliak, didapatinya tubuh Kiang Giok masih bergerak, napasnya belum putus, kaki tangan masih bisa bergerak. Sungguh girangnya seperti putus lotre, bergegas dia jongkok dan menopang kepala. Ji Bun lalu salurkan tenaga dalam ke tubuh orang sehingga menambah harapan hidup Kiang Giok, meski itu hanya sementara saja. Lekas sekali nyawa Kiang Giok sudah diseret kembali dari perjalanan menuju ke akhirat, pelan-pelan dia membuka mata. Dalam hati Ji Bun sudah berkeputusan, untuk menolong jiwanya terang tiada harapan, tapi cukup puas kalau dapat menunaikan tugas perguruan saja.