Hati Budha Tangan Berbisa Jilid 16

 
Jilid 16

Ban-Yu-siong, kakek gurunya itu pernah berpesan bahwa Tok-jiu- sim-sek terlalu ganas, sekali-kali tidak boleh dilancarkan kalau tidak terpaksa, kini demi menolong jiwa Ui Bing, terpaksa dia berlaku tegas melancarkan ilmu dahsyat ini.

Baru pertama kali ini Tok-jiu-sim-sek sejak diciptakan betul-betul digunakan untuk menyerang musuh, sampai di mana kehebatan dan keganasannya, Ji Bun sendiripun belum tahu.

Dengan gerakan aneh dan cepat menakjubkan tangan beracunnya tahu-tahu menembus bayangan pukulan lawan yang rapat tanpa setitik lubangpun, langsung mengincar ulu hati. "Ngek" gerungan tertahan terdengar, suaranya rendah tapi menyayat hati, utusan itu terhuyung-huyung terus jatuh celentang, darah membasahi dadanya, jiwanya seketika melayang.

Ji Bun sendiri seketika berdiri menjublek melihat hasil keganasan serangannya. Bu-ing-cui-sim-jiu sudah terampuh tiada duanya dalam dunia ini, apalagi kerjanya racun amat pesat, begitu racun bekerja di dalam badan, dewapun takkan bisa menolongnya. Orang yang lain pecah nyalinya. dengan ketakutan tanpa buka suara segera ia ngacir sipat kuping.

Ji Bun lari ke sana memapah Ui Bing tanyanya: "Bagaimana Toako?"

Ui Bing sendiri juga melongo melihat kehebatan Ji Bun membunuh orang yang melukai dirinya itu sekian lama dia terlongong tidak mampu menjawab.

Terpaksa Ji Bun mengulangi pertanyaannya, Ui Bing baru tersentak dan tertawa getir, katanya: "Jangan kuatir, aku takkan mati."

Dengan kedua tangan Ji Bun pegang kedua pundak Ui Bing, tiba- tiba Ui Bing berteriak kaget dan ngeri: "Hiante, tangan kirimu ”

"O," ujar Ji Bun "tidak apa-apa!"

"Apakah ilmu beracunmu itu sudah punah?" "Tidak."

"Wah, jiwaku bisa melayang?”

Ji Bun ragu-ragu sejenak, katanya: "Tanganku ini sekarang bisa membedakan musuh dan kawan sendiri, kau takkan terluka, tidak usah kuatir." "Ini mungkinkah?"

"Toako, aku takkan menipumu, namun tak mungkin kujelaskan apa sebabnya, kuharap kau tidak tanya soal ini."

“Jadi ada hubungannya dengan rejeki nomplok yang pernah kau katakan itu? Agaknya jerih payah guruku akan sia-sia."

"Jerih payah gurumu apa maksudmu?"

"O, tidak, aku salah omong, maksudku jerih payah calon mertuamu Ciang Wi-bin ”

"Jerih payah paman Ciang bagaimana?"

"Bukankah beliau pernah kirim kabar melalui guruku bahwa dia sudah mendapatkan resep untuk memunahkan ilmu beracunmu itu?"

"Ya, gurumu pernah menyinggung soal ini, kenapa?"

"Di dalam sejilid kitab kuno yang hampir rusak, Ciang Wi-bin memperoleh resep obat yang khusus untuk memunahkan macam racun, namun untuk lima macam di antara obat yang harus diraciknya, dia harus merogoh kantong membayar tiga ribu tahil uang emas, uang bagi dia tidak soal, tiga laksa tahil emas juga mampu dibayarnya ”

"O," tidak tenteram hati Ji Bun. Berkata Ui Bing lebih lanjut: "Demi perjodohanmu dan puterinya, Ciang Wi-bin betul-betul sudah mempertaruhkan segala dayanya

......."

"Toako, hampir lupa kutanya padamu. Apa saja kerugian keluarga Ciang setelah dirampok oleh Ngo-hong-kau?"

"Beberapa pembantu keluarganya gugur, tapi mereka ayah beranak sempat menyingkir, sayang semua barang-barang antik dan barang-barang berharga lainnya telah dikuras habis."

"Dimana sekarang nona Ciang?"

"Entahlah, Ciang Wi-bin punya banyak tempat rahasia yang tersebar di mana-mana."

"Ehm, sampai di mana cerita Toako tadi?"

"Untuk melengkapi usahanya menolong kau, seorang diri beliau menuju ke barat naik ke Cong-lam-san."

Ji Bun merasa kikuk dan menyesal sekali, begitu besar perhatian orang terhadap dirinya, sebaliknya dirinya bersikap tawar. Tanpa terasa jidatnya dibasahi keringat dingin tanyanya: "Obat apa yang hendak dicari paman Ciang di Cong-lam-san?'

"Namanya Kim-sian-jau-koh, kecuali orang-orang yang ahli dalam bidang pengobatan tiada yang tahu bila di dunia ini ada buah bergaris emas ini, konon hanya tumbuh dan berbuah di Cong-lam- san di tepi 'danau iblis'. Sudah tiga bulan ia pergi, sampai sekarang belum kunjung pulang. Danau iblis hanya pernah kudengar dalam dongeng. Apakah beliau bisa menemukan tempat itu serta memperoleh buah yang diharapkan, hanya Thian yang tahu."

Gelisah perasaaan Ji Bun, katanya haru: "Sudah tiga bulan beliau belum kembali?"

Ui Bing meringis menahan sakit, darah masih mengalir dari luka- lukanya, segera Ji Bun hendak menolongnya, tapi Ui Bing menolak, ia duduk di atas batu dan mengeluarkan obat-obatan yang diperlukan, lalu membalut lukanya sendiri.

JI Bun tak bersuara, dengan siaga dia berdiri di sampingnya, pikirannya kusut, hati tidak tenteram. Selagi dia terlongong, tiba-tiba dilihatnya beberapa bayangan orang berlari-lari mendatangi dari beberapa arah, tujuan ke bukit ini.

Ji Bun menoleh, dilihatnya Ui Bing tengah bersimpuh mengerahkan hawa murni untuk berobat diri memulihkan kekuatan. Cepat Ji Bun menerawang situasi sekelilingnya. Cepat dia mundur dua tombak, dipilihnya posisi yang lebih enak dengan membelakangi tanah tandus yang meninggi di sebelah belakang. Dari sini dia lebih leluasa bergerak, sekaligus untuk mengawasi Ui Bing dan memberi pertolongan bila perlu.

Orang-orang itu cepat sekali sudah berdatangan dan berdiri membundar dari lima tombak jauhnya, yang terdepan adalah seorang tua berwajah putih tidak berjenggot, mukanya segi tiga, bentuknya mirip kepala ular berbisa. Disampingnya berdiri Ngo- hong-su-cia berhidung betet yang tadi melarikan diri. Agaknya kedudukan orang tua ini lebih tinggi, yang lain-lain semuanya berseragam hitam. Terlebih dulu laki-laki tua ini pandang mayat Ngo-hong-su-cia yang masih menggeletak di tanah berumput sana, sorot matanya yang tajam segera menatap muka Ji Bun. Suaranya yang serak seperti gembreng pecah lantas berkata: "Te-gak Suseng, berani kau membunuh Duta kami, memangnya kau sudah bosan hidup?"

"Siapa kau, sukalah perkenalkan diri?" tanya Ji Bun.

"Aku Duta istimewa Ngo-hong-kau Kian Ceng-san yang berkuasa di daerah barat ini."

Sudah tentu Ji Bun belum pernah kenal namanya. "Kau meluruk kemari dengan sekian banyak orang, apa maksudmu?"

"Te-gak Suseng, sudah tahu jangan pura-pura tanya segala. Walau belum lama Ngo-hong-kau berdiri, namun belum pernah melepaskan seorang musuhpun.”

"Kau begitu takabur. Kalau mampu, hayolah maju, tapi sebelumnya aku ingin tanya beberapa hal?"

"Coba katakan."

"Ada orang bernama Kwe-loh-jin, apakah dia anggota kalian?" "Kwe-loh-jin? Belum pernah dengar." Ji Bun melenggong, lalu tanya pula: “Di mana sekarang Thian- thay-mo-ki yang tertawan kalian? Kian Ceng-san menyeringai lebar, gelak tawanya sengaja dibikin keras bagai srigala melolong, katanya "Dia, kini sudah menjadi isteri Kaucu kami.”

Seperti disambar geledek kepala Ji Bun, rasa sakit hati seketika membakar dada, sorot matanya juga mencorong menakutkan, desisnya: "Baik, akan kubuat perhitungan dengan Kaucu kalian."

“Memangnya kau setimpal?” desis orang itu.

"Masih ada sebuah pertanyaan, betulkah Kaucu kalian menahan seorang nyonya yang bernama Lan Giok-tin?"

Berubah hebat air muka Kian Ceng-san, "Untuk apa kau tanya ini?" suaranya gemetar.

"Kau tidak perlu tahu, aku ingin mengunjungi Kaucu kalian, di mana letak markas pusat kalian?"

"Apa kau bermimpi. Sekarang kau tidak punya kesempatan." "Kau mampu berbuat apa atas diriku?"

"Tidak perlu putar lidah, sekarang serahkan jiwamu,” sembari mengancam Kian Ceng-san meloncat tinggi ke atas, laksana burung elang tiba menukik menubruk ke arah Ji Bun, jari-jari kedua tangannya terpentang laksana cakar. Ji Bun gerakkan kedua tangannya, hawa seketika bergolak dengan kekuatan bagai gugur gunung menerjang ke arah Kian Ceng-san. Gerakan Kian Ceng-san seketika terbendung dan anjlok turun. Kini keduanya berdiri berhadapan sejauh dua tombak, malah

Ui Bing hanya delapan kaki disampingnya, keadaan amat berbahaya, bila tujuan lawan mencelakal jiwa Ui Bing, pasti dengan mudah dapat dikerjakannya.

Oleh karena itu Ji Bun tidak berani ayal, kaki melangkah, sekaligus dia lancarkan Kian-ciau-kui-cau, jurus pertama Tok-jiu- sam-sek, bagai kilat menyamber tangannya memotong ke depan.

Duta berhidung betet segera berseru memperingatkan: "Awas serangan ganas!”

Kepandaian Kian Ceng-san memang hebat. Hampir bersama dengan peringatan temannya, sebat sekali dia sudah mencelat mundur setombak lebih. Ji Bun dibuat kaget malah, setiap kali jurus Tok-jiu-sam-sek dilancarkan pasti melukai musuh namun lawan yang satu ini berhasil meloloskan diri tanpa kurang suatu apa, terpaksa dia ulangi serangan yang pertama pula, Kian Ceng-san kembali menyurut mundur, namun dia sudah terdesak dan tak mampu balas menyerang.

Sementara itu, si hidung betet secara diam-diam menubruk ke arah Ui Bing yang masih duduk bersimpuh.

Perhatian Ji Bun tidak pernah kendor, mungkin karena dia harus membagi perhatian sehingga Tok-jiu-sam-sek tidak bisa membawa hasil seperti yang diharapkan. Begitu melihat Duta hidung betet bergerak, tangan kanan segera menghantam dengan kekuatan cukup keras. "Blang", si hidung betet terpukul telak dan terlempar bergulingan. Tapi dalam waktu yang sama, angin pukulan Kian Ceng-san juga menggulung ke arah Ji Bun.

Lekas Ji Bun tarik tangan menutup diri, namun hanya terpaut setengah detik, kontan dia terdorong empat langkah, terasa olehnya Lwekang Kian Ceng-san tidak lebih lemah daripada Thong-sian Hwesio. Jantungnya seketika mengencang, dia maklum bahwa pertempuran kali ini cukup berbahaya dan amat menentukan langkah usaha selanjutnya.

Tatkala itu Ji Bun tergentak sempoyongan dan Duta hidung betet belum berdiri tegak, tiga laki-laki yang berdiri di atas tanah tinggi sana mengira punya kesempatan turun tangan, serentak mereka melompat menubruk Ui Bing.

Sedikit kerahkan tenaga, kaki Ji Bun menutul, bagai percikan api cepatnya tubuhnya berputar setengah lingkaran, tahu-tahu dia sudah berdiri ditempat semula. "Bluuuk, huaaah!" jeritan secara beruntun. Ketiga laki-laki itu satu persatu tersungkur roboh, jiwa melayang seketika. Kejadian ini betul-betul amat mengejutkan semua hadirin, semuanya berdiri terbeliak.

"Te-gak Suseng," bentak Kian Ceng-san, "kau memang lihay dan bandel." Kedua tangan bertepuk terus meraih membundar, dengan gerakan aneh tenaga serangannya bergulung-gulung dengan hebat. Semakin tajam sorot mata Ji Bun. Segera dia songsong pukulan lawan dengan kekerasan, diam-diam ia amat kaget karena Kian Ceng-san kebal akan racun Bu-ing-cui-sim-jiu.

Sudah tentu Duta hidung betet tidak mau membuang kesempatan. Begitu Ji Bun berhantam dengan Kian Ceng-san, segera dia lontarkan Bik-khong-ciang, pukulan jarak jauh ke arah Ui Bing.

Kaget dan berubah air muka Ji Bun, jurus pertama Tok-jiu-sam- sek kembali dia lancarkan. Kian Ceng-san sudah kapok dan tahu diri, lekas dia menyingkir, namun Ji Bun hanya bergerak setengah jalan, sebat sekali dia putar balik dan kebetulan menyongsong pukulan si hidung betet yang menerjang ke arah Ui Bing, pukulan angin ini cukup dahsyat. "Blang". Dengan badannya Ji Bun menerima pukulan ini secara mentah-mentah. Keruan saja dia sempoyongan dan mulutnya menggerung kesakitan, namun jiwa Ui Bing telah diselamatkan. Kini dia harus ubah cara menghadapi lawan, dia mengadang di depan Ui Bing menghadapi kedua musuh tangguh.

Orang lain sementara tidak dihiraukan, yang terang kepandaian mereka hanya sedang saja dan tak mungkin menimbulkan gara- gara.

Ditengah hardikan mengguntur, Kian Ceng-san bersama si hidung betet serempak menyerang. Ji Bun mengertak gigi, dia menyongsong maju, tangan kanan menahan si hidung betet dan tangan kiri menggunakan jurus kedua dari Tok-jiu-sam-sek yang bernama Tok-liong-cam-kau (naga beracun membunuh ular).

"Hek," Kian Ceng-san terhuyung sambil meraba dada, mukanya pucat pasi. Sementara Ji Bun dan si hidung betet sama-sama mundur setapak. Dalam gebrakan ini, karena Ji Bun harus memencar kekuatan, maka jiwa Kian Ceng-san tidak sampai melayang. Tapi hal ini sudah cukup membuat Kian Ceng-san jera, sekali ulap tangan segera dia mendahului lari mencawat ekor, agaknya luka-lukanya tak ringan, si hidung betet juga tidak berani bertahan, segera dia memberi aba-aba, cepat iapun mendahului melesat pergi, sudah tentu anak buahnya seperti anjing yang ketakutan lari pontang panting.

Nafsu Ji Bun masih berkobar, sekali jejak kakinya ia melambung tinggi meluncur beberapa tombak dan turun di antara rombongan orang-orang yang tengah berlari. Di mana kaki tangan bergerak, jeritan saling susul, dalam sekejap puluhan orang telah rebah tak bernyawa.

Karena menguatirkan keselamatan Ui Bing, dia tidak berani mengejar lebih lanjut dan kembali ke atas bukit. Ternyata Ui Bing sudah selesai semadi dan luka-lukanya banyak sembuh, melihat sekelilingnya, dia berdiri menjublek.

"Toako, kau tidak apa?" tanya Ji Bun.

"Hiante," ujar Ui Bing terharu dan berterima kasih, "syukur atas pertolonganmu. Siapakah mereka tadi?"

"Disamping pemuda yang lolos tadi, dia membawa Duta istimewa yang berkuasa di daerah barat sini bernama Kian Ceng-san."

"Hah, Kian Ceng-san?" seru Ui Bing. "Toako kenal orang ini?”

"Julukannya 'ulat menggeragot mayat', semula dia diangkat sebagai Bengcu kalangan hitam, namun karena bertangan keji, tidak sedikit anak buah sendiri yang dibunuhnya, sehingga menimbulkan rasa dendam khalayak ramai. Akhirnya dia kabur ke luar daerah, tak tahunya sekarang telah menjadi antek Ngo-hong-kau."

"Tampangnya memang kejam menakutkan." "Hiante, bagaimana langkah kita selanjutnya?”

"Beritahukan saja alamat markas cabang mereka padaku." "Tidak, aku saja yang bawa kau ke sana."

"Jago-jago Ngo-hong-kau yang berkedudukan tinggi hampir rata- rata tidak gentar terhadap racun, hal ini akan kuselidiki dan Toako jangan ikut menempuh bahaya."

"Aku akan tunggu di luar saja dan memberi bantuan apabila perlu."

Ui Bing berpikir sejenak, lalu katanya pula: "Begini saja, kau tunggu sebentar." Lalu dia lompat ke semak-semak dalam hutan, hanya sebentar saja. Pengemis tua mata satu tahu-tahu sudah berubah jadi seorang pelayan rumah makan dan berdiri dihadapan Ji Bun sambil membungkuk seraya berkata dengan tertawa: "Siangkong, hamba unjuk hormat." Ji Bun betul-betul kagum akan kepintaran orang menyamar.

"Hiante," kata Ui Bing kemudian, "nah, perhatikan, di sini letak cabang markas mereka. Kanan-kiri sama-sama ada jalan tembus, biar aku tunggu kau di sini." Sembari menjelaskan Ui Bing mencoret- coret dengan ranting kayu di atas tanah, lalu diusap dengan telapak kakinya. "Nah, aku berangkat lebih dulu," sekali berkelebat bayangannya lenyap di balik bukit sana.

Ji Bun membetulkan pakaian yang kotor dan kusut, diapun berlari turun langsung menuju ke markas cabang Ngo-hong-kau yang ditunjuk Ui Bing tadi. Banyak orang memperhatikan dirinya sepanjang jalan, tapi Ji Bun tak ambil pusing.

Kedatangannya ini ada tiga tujuan, pertama untuk membuktikan apakah Thian-thay-mo-ki masih disekap di markas cabang ini.

Kedua, mencari tahu meski harus secara kekerasan, di mana letak markas pusat mereka dan menolong ibunya. Ketiga, dia berharap bisa bertemu dengan Kwe-loh-jin atau orang-orang lain yang pernah turun tangan terhadap dirinya.

15.45. Lorong Rahasia Ngo-hong-kau

Kira-kira semasakan air dia sudah tiba di tempat yang ditunjuk oleh Ui Bing. Pintu besar tertutup rapat, suasana sunyi tidak kelihatan jejak manusia, mungkinkah markas cabang Ngo-hong-kau ada di sini? Ji Bun menjublek di tempatnya. Mungkin Ui Bing tertipu? Tapi dia cukup cerdik dan cekatan, tak mungkin dikibuli orang.

Sesaat lamanya Ji Bun kebingungan, maju mundur serba salah. Tampaknya gedung ini tempat tinggal keluarga besar, mungkinkah suatu cabang perkumpulan berada digedung yang sepi dan tidak terjaga ini. Dilihatnya jalan raya ini hanya terdapat dua gedung besar dan luas.

Selagi Ji Bun berdiri bingung, tiba-tiba pintu besar yang bercat hitam itu pelan-pelan terbuka, seorang laki-laki tua reyot menongol keluar. Begitu melihat Ji Bun berdiri di depan pintu, kepalanya lantas miring-miring mengamatinya sekian lama, tanyanya dengan suara serak: "Kongcu ini mencari siapa?"

Serba susah Ji Bun menjawabnya, laki-laki tua ini tidak mirip seorang persilatan, namun tak mungkin dia tidak menjawab pertanyaan orang, maka dia berkata: "Cayhe mohon bertemu dengan majikanmu."

"Majikanku? Apakah Kongcu tidak salah alamat?" "Kukira tidak, betul gedung ini."

"Kongcu she apa? Pernah apa dengan majikan kami?" "Setelah bertemu dengan majikanmu, dia tentu tahu." "Majikanku takkan tahu untuk selamanya."

"Apa maksudmu?” "Majikan sudah meninggal tiga tahun yang lalu, kini tinggal majikan perempuan dan puterinya berdua, siapa yang hendak Kongcu temui?"

Ji Bun menjublek tak bisa bicara lagi. Laki-laki tua itu segera menarik kepalanya sambil menggerutu. "Blang", dengan keras dia menutup daun pintu.

Ji Bun jadi geli sendiri, segera ia berlari-lari menuju ke tempat yang dijanjikan untuk bertemu dengan Ui Bing. Setiba di lorong jalan sana dia putar ke kanan, dipengkolan jalan dilihatnya Ui Bing sedang berdiri di depan sebuah rumah berloteng. Melihat Ji Bun lari mendatangi segera dia memberi isyarat kedipan mata, sebat sekali dia menyelinap masuk ke rumah. Ji Bun langsung memburu masuk, serunya: "Salah alamat!"

Ui Bing berhenti di sudut yang gelap, katanya heran: "Apa katamu?"

Dengan lesu Ji Bun ceritakan pengalamannya tadi.

"Ai." Ui Bing membanting kaki. "kau tidak tahu seluk beluk dunia persilatan, tempat itu tidak akan salah, mungkin di dalam markas cabang itu tiada jago yang mampu menghadapi kau, terpaksa mereka main kucing-kucingan."

Sungguh malu dan gusar Ji Bun dibuatnya, kejadian apapun pernah dialaminya. Kini dirinya masih begini gegabah, kenapa mau percaya obrolan orang begitu saja. Tanpa bersuara segera dia berlari kencang menuju ke tempat semula. "Hiante, jangan tergesa-gesa, marilah bicaralah dulu," teriak Ui Bing.

Ji Bun anggap tidak dengar, secepat kilat dia berlari ke lorong jalan sana. Pintu besar bercat hitam masih tertutup rapat, suasana tetap sunyi senyap tidak kelihatan bayangan orang, namun keadaan Ji Bun berbeda dengan datangnya semula. "Brak”, begitu tiba langsung dia angkat tangan menghantam ke arah pintu. Suara gemuruh bergema di lorong jalan yang sepi ini.

Pintu segera terbuka, yang muncul adalah laki-laki tua kurus tadi, dengan suara gemetar dia memaki, "Memangnya kalau janda dan yatim boleh dihina dan dipermainkan begini?"

Ji Bun menubruk maju, laki-laki tua mengkerut sambil menutup pintu, namun sudah terlambat, tahu-tahu lengan kirinya terpegang kencang oleh Ji Bun. Biji mata si orang tua yang semula pudar tiba- tiba berkilat tajam, sekuat tenaga dia meronta, namun sia-sia, tiba- tiba telapak tangannya menjojoh, jelas kepandaiannya cukup tangguh. Namun sedikit menggerakkan jari telunjuknya, lengan kanan si orang tua seketika lemas. Wajahnya yang tua keriput menjadi pucat kelabu.

"Anjing tua, kau sudah bosan hidup?" desis Ji Bun garang. "Siau-hiap ..... ada urusan ..... apa ?" suara si orang tua

tergagap menahan kesakitan. "Jangan cerewet," bentak Ji Bun, "bawa aku menemui pimpinan cabang kalian."

"Apa, cabang apa ..... aku tidak tahu."

"Berani kau membual, kurobek mulutmu." Ji Bun segera menjinjingnya masuk ke dalam. Suara di luar sudah cukup gaduh, namun tetap tidak kelihatan ada orang lain muncul. Lekas sekali Ji Bun sudah menyusuri serambi panjang memasuki sebuah ruang tamu yang dipajang amat megah, barang-barang antik merupakan pajangan utama di gedung ini. Memang tidak mirip sebuah markas cabang suatu perkumpulan.

Ji Bun tampar orang tua tawanannya itu dan bentaknya beringas: "Bawa aku menemui pimpinanmu."

"Siau-hiap ...... jangan kau salah paham, gedung ini

ditempati keluarga baik-baik."

Berkobar nafsu Ji Bun, sekali injak dia bikin lengan si orang tua patah dan remuk, keruan si orang tua berkaok-kaok kesakitan. Ji Bun mendesis berapi-api: "Kau tidak akan kubunuh, tapi jangan kau pura-pura atau tangan kananmu akan kubuntungi."

Tiba-tiba air hujan beterbangan dari atap rumah, setiap tetes air yang menyentuh lantai seketika menimbulkan kepulan asap tebal, itulah cairan beracun yang amat jahat. Si orang tua mengeluarkan jeritan yang mengerikan. Tubuhnya berkelejetan sebentar lalu tak bergerak. Cepat sekali badan yang utuh itu luluh menjadi cairan darah yang mengeluarkan bau amis. Pakaian Ji Bun berlubang- lubang seperti sarang tawon. Kecuali merasa sedikit gatal, Ji Bun tidak kurang suatu apa. Ini membuktikan bahwa segala racun tidak mempan atas dirinya, namun situasi betul-betul amat mengejutkan.

Setelah hujan cairan beracun ini, suasana tetap sunyi. Amarah Ji Bun berkobar, namun dia tidak menemukan sasaran untuk melampiaskan dendamnya. Sekilas dia berpikir, matanya menjelajah sekelilingnya, lalu mundur keundakan sana. Tenaga di kerahkan, kedua tangan terus menghantam ke arah belandar yang terletak di tengah.

"Blang", seluruh gedung besar ini bergetar. Genteng sama rontok berjatuhan, belandarpun ikut sempal. Mungkin tiga kali pukulan cukup untuk meruntuhkan seluruh gedung. Keadaan inilah akan menimbulkan reaksi yang diharapkan Ji Bun.

Maka terdengarlah sebuah suara dingin menusuk telinga berkumandang di sebelah dalam: "Te-gak Suseng, takabur benar kau ini!"

"Hayo menggelinding keluar!" bentak Ji Bun.

Bayangan seorang tiba-tiba muncul, ternyata Duta istimewa di daerah barat Kian Ceng-san adanya, mukanya yang pias menyeringai sadis. Di belakang dan sekeliling gedung serempak muncul bayangan orang banyak. Ji Bun terkepung. Setiap orang yang muncul membawa senjata dan menggengam senjata rahasia. Duta hidung betet juga muncul di samping Kian Ceng-san mengiringi seorang pemuda lain berpakaian jubah sutera. Pemuda jubah sutera ini buka suara lebih dulu: "Te-gak Suseng, apa maksudmu kemari?"

"Sebutkan dulu namamu," desis Ji Bun kereng. "Aku inilah pimpinan cabang di sini, Kiang Giok."

"Bagus sekali, lekas serahkan Thian-thay-mo-ki dan katakan dimana letak markas pusat kalian."

"Kau kira kami akan luluskan tuntutanmu?”

"Kalau tidak markasmu ini akan kusapu bersih dengan darah kalian."

Kian Ceng-san terloroh-loroh, katanya menyeringai: "Te-gak Suseng, akulah yang akan menyobek dan meleburkan badanmu, kalau tidak belum terlampias dendamku."

"Kau ini ulat busuk pemakan bangkai, hari ini bangkaimu yang akan dimakan ulat," balas Ji Bun.

Berubah air muka Kian Ceng-san, tak pernah diduganya bahwa Ji Bun bisa menyebut nama julukannya, keruan dia mencak-mencak gusar, teriaknya: "Anak keparat, hatimu akan kutelan mentah- mentah."

"Selama sisa hidupmu ini jangan kau harap," jengek Ji Bun menghina. “Hm, serang!" ditengah aba-aba itu, Kian Ceng-san dan Kiang Giok segera menyerang dengan kedua tapak tangan. Dua jalur angin pukulan berkisar menjadi badai yang dahsyat menerpa datang, di samping itu berbagai senjata rahasia yang tak terhitung banyaknya serempak beterbangan dari berbagai penjuru, bagai hujan lebat mengincar Ji Bun.

Betapa hebat dan mengerikan kekuatan serangan gabungan ini, dari luncuran senjata rahasia yang mendenging kencang itu dapat dinilai bahwa semua orang, yang hadir sama berkepandaian tinggi. Betapapun tinggi kepandaian seseorang, kalau tergencet oleh sekian banyak serangan, kalau tidak mati seketika juga pasti terluka parah.

Ji Bun bertindak tegas dan cepat meloncat. Ia kembangkan Ginkang pusaran angin lesus, badannya mumbul ke atas berputar seperti kitiran, empat tombak tingginya badan terapung. Semua senjata rahasia berseliweran lewat di bawah kakinya, ditengah udara badan Ji Bun berputar dua lingkaran, sekali kali memancal, badannya segera melesat ke arah serambi di luar sana. Sasarannya menubruk ke arah Kian Ceng-san dan Kiang Giok yang sudah menyingkir keluar rumah lebih dulu.

Kiang Giok dan Kian Ceng-san berpencar ke samping, belum lagi badan Ji Bun meluncur turun, keduanya sudah melontarkan pukulan maut. Pertempuran yang menentukan mati hidup kedua pihak, serangan mereka ini sungguh teramat lihay.

Ji Bun nekat, dia tidak hiraukan serangan Kiang Giok di sebelah kiri, dengan jurus kedua dari Tok-jiu-sam-sek dia sambut serangan Kian Ceng-san. Lolong yang mengerikan sebelum ajal tiba seketika menggetarkan sanubari setiap orang yang hadir, tampak Kian Ceng- san roboh tengkurap dengan batok kepala remuk.

Punggung Ji Bun menerima pukulan Kiang Giok mentah-mentah, badannya terhuyung lima langkah baru berdiri tegak kembali, dua jalur darah meleleh dari ujung mulutnya.

Hanya sekali gebrak Kian Ceng-san sudah mampus, keruan Kiang Giok ketakutan setengah mati. Dia berdiri menjublek lupa melancarkan serangan pula. Tiba-tiba Ji Bun berputar menghadapinya, matanya memancarkan sinar yang tajam menyedot sukma orang. Anak buah Ngo-hong-kau yang mengelilingi tak pernah melihat peristiwa sehebat ini, serasa copot nyali mereka.

Sebat sekali Ji Bun menubruk maju, sekali raih ia cengkeram pergelangan tangan Kiang Giok. Anak buahnya sama berseru kaget, namun tiada yang berani bergerak. Sedikit kerahkan tenaga, kelima jari Ji Bun ambles ke pundak Kiang Giok, darah segera meleleh dari sela-sela jarinya.

Pucat selebar muka Kiang Giok, sedikitpun dia tidak mampu bergerak lagi.

"Kiang Giok, sekarang kaulah yang harus buka mulut!" desis Ji Bun mengancam. Sebagai pimpinan cabang meski kaget dan ketakutan, betapapun dia tetap ingin mempertahankan wibawa dan keangkerannya, jawab Kiang Giok dengan mengertak gigi. "Tiada yang bisa kukatakan."

Saking marah Ji Bun hampir gila dibuatnya, sikapnya mirip malaikat yang kebakaran jenggot saja. Setiap patah katanya tegas dan sekeras baja: "Orang she Kiang, aku bisa membesetmu secara hidup-hidup."

Memang untuk membunuh Kiang Giok semudah Ji Bun membalik telapak tangan sendiri, namun tujuannya bukan membunuh orang, tapi menolong Thian-thay-mo-ki dan mencari jejak ibunya. Kalau Kiang Giok dibunuh, demikian pula semua anak buahnya, urusan tetap tidak akan beres.

Kiang Giok sudah dibekuk, namun dia bandel tak mau mengaku, keruan hatinya gelisah dan risau. Pada saat dia kebingungan itulah, tiba-tiba dilihatnya Kiang Giok mengangkat tangan kirinya ke arah mulutnya sendiri, air mukanya seketika pula berubah.

Ji Bun menjengek dingin: "Kau hendak menelan racun bunuh diri?

Dihadapanku, jangan kau harap bisa berbuat sesuka hatimu."

Sembari bicara beruntun dia menutuk tiga Hiat-to di dada orang, lalu merogoh sebutir pil dan dijejalkan ke mulut Kiang Giok.

Kiang Giok betul-betul mati kutu, ingin hidup sukar dipertahankan, minta mati juga tidak bisa. Ji Bun kerahkan tenaganya pula, Kiang Giok segera merintih kesakitan, Hiat-to di pundaknya yang tercengkeram seketika melelehkan darah pula. Betapa siksaan ini membuat keringat dinginnya gemerobyos, ototnya merongkol keluar, kulit mukanyapun berkerut berubah bentuknya.

"Jangan harap ada keajaiban muncul di sini, kecuali mengaku terus terang, tiada jalan lain yang bisa kau tempuh."

"Te-gak Suseng, aku tetap tidak akan tunduk padamu.” "Baiklah rasakan permainanku."

Pada saat itulah tiba-tiba di antara gerombolan anak buah Ngo- hong-kau tampil keluar seseorang yang mengempit seorang yang empas-empis. Begitu mata Ji Bun melirik, seketika jantungnya hampir pecah, yang datang ternyata Duta hidung betet yang sempat melarikan diri itu. Orang yang empas-empis dan dikempit di bawah ketiaknya adalah Sian-thian-kek Ui Bing.

Bahwa Ui Bing terjatuh ke tangan lawan, sungguh tak pernah terduga oleh Ji Bun.

"Te-gak Suseng," Duta hidung betet menyeringai kejam, "kau kenal dia bukan?”

"Lepaskan dia!" bentak Ji Bun murka. "Kau kira begitu mudah?"

“Kau ingin mampus?" "Dia yang akan mati lebih dulu!" jengek Duta hidung betet sambil menuding kepala Ui Bing. Telapak tangannya mengarah tepat di ubun-ubun kepala Ui Bing, "tidak sukar untuk mengepruk remuk batok kepalanya, betul tidak?”

Gigi Ji Bun berkeriutan, tidak sukar baginya untuk menubruk ke arah Duta bidung betet serta membinasakannya. Tapi jiwa Ui Bing juga pasti melayang.

Ji Bun hampir gila dibuatnya, ibunda, kekasih dan sekarang teman yang terdekat menjadi tawanan musuh lagi, betapa dia takkan naik pitam? Tegakah dia mengorbankan Ui Bing? Tidak, kalau ibun¬da dan kekasihnya belum ajal kelak masih ada kesempatan untuk menolongnya. Namun mati hidup Ui Bing hanya bergantung pada pendiriannya.

Sikap Ji Bun yang ragu-ragu sudah terasakan oleh Duta hidung betet. Namun dia kuatir kalau Ji Bun berlaku nekat, tentu semua orang yang ada di sini bisa dibunuh seluruhnya, maka dia jambak rambut Ui Bing serta ditariknya mendongak, serunya: "Te-gak Suseng sudah ambil putusan?"

Ji Bun membanting kaki, katanya mengertak gigi: "Baik, sekali ini kalian beruntung, bisa lolos dari tanganku."

Duta hidung betet segera memberi aba-aba: "Semua mundur!" Seperti lolos dari renggutan el-maut, buru-buru anak buah Ngo-

hong-kau berlari sipat kuping dan dalam sekejap saja sudah bersih. Hampir meledak dada Ji Bun, namun dia tak bisa berbuat apa-apa. Setelah anak buahnya mundur semua baru Duta hidung betet berkata pula pada Ji Bun: "Te-gak Suseng, sekarang kau boleh lepaskan dia."

"Kau dulu yang harus melepasnya."

"Dihadapanmu yang jelas berkepandaian begini tinggi, memangnya aku bakal mungkir?"

"Betapapun aku tidak percaya padamu." "Memangnya kau sendiri dapat dipercaya?"

"Te-gak Suseng selamanya tidak pernah melakukan perbuatan rendah dan kotor."

Sekilas Duta hidung betet berpikir, Ui Bing diturunkannya di atas lantai, lalu mundur tiga tombak, agaknya dia takut kalau Ji Bun tiba- tiba menyergap. Begitu menyentuh lantai Ui Bing tampak menggeliat sambil merintih, kalau Hiat-to tidak tertutuk, tentu dia terluka dalam yang cukup parah.

"Orang she Kiang,"' ujar Ji Bun, "hari ini kau yang beruntung." Lalu dia lepaskan Kiang Giok dan melompat kesamping Ui Bing,

dengan teliti dia memeriksa, ternyata Hiat-to Ui Bing memang

tertutuk, lekas dia membebaskan tutukan itu. Ui Bing mengeluh sekali, kemudian katanya: "Hiante, aku menggagalkan usahamu

........” "Toako," ujar Ji Bun tertawa getir, "syukurlah kalau kau selamat, kesempatan masih ada lain kali."

Waktu dia menoleh, orang she Kiang dan Duta hidung betet sudah tak kelihatan lagi bayangannya, gedung sebesar ini diliputi keheningan.

"Toako, bagaimana kau bisa ”

"Sungguh harus disesalkan, memang akulah yang ceroboh. Dikala kau kembali menemui aku tadi jejakku dengan sendirinya sudah konangan mereka. Kalau aku segera pindah tempat, tentu takkan terjadi begini, namun kepandaianku memang bukan tandingan lawan, untung dia tidak turun tangan secara keji."

"Marilah kita geledah gedung ini."

"Nanti dulu, jangan gegabah, bukan mustahil mereka pasang perangkap di sini."

"Betul, Toako telan dulu obat ini, dia angsurkan sebutir pil kepada Ui Bing, dalam jangka setengah jam, segala racun tidak akan mempan terhadapmu."

Ui Bing menerima terus ditelan, berendeng mereka masuk ke ruang pendopo. Begitu tiba diserambi yang menembus ke dalam, tiba-tiba Ui Bing menyurut mundur seraya berseru kaget. Ternyata diserambi sana menggetetak kerangka manusia yang tinggal tulang belulang saja, kulit dagingnya sudah luluh menjadi cairan merah kental berbau amis dan busuk. Kiranya mayat Kian Ceng-san pun dibubuhi racun yang meluluhkan mayatnya, betapa jahat racun yang digunakan lawan sungguh amat mengerikan.

Menuding kerangka tulang itu Ji Bun berkata: “Toako, itulah kerangka Kian Ceng-san, Bengcu kalangan hitam dari Kwan-gwa."

Ui Bing bergidik ngeri, "Kejahatan orang ini memang sudah kelewat batas, akhirnya dia memperoleh ganjaran yang setimpal.”

Mereka melangkah masuk lebih jauh, geledah sana cari sini, tetapi tiada sesutu yang mereka temukan, bangunan gedung ini terdiri tiga lapis deretan ke belakang, sebelah samping kanan kiri juga terdiri bangunan yang terdapat banyak kamar, namun gedung sebesar ini tak kelihatan bayangan orang, banyak kamar kosong berdebu dan dihiasi sawang melulu, pertanda sudah lama tidak ditempati, memangnya ke mana penghuni gedung ini?

Menyesal tapi juga marah, Ji Bun terpaksa mereka harus membebaskan musuh yang telah ditawannya karena harus meugutamakan jiwa Ui Bing. Kuatir Ui Bing berduka, sudah tentu sedapat mungkin dia bersikap biasa dan wajar.

Sebagai murid Biau-jiu Siansing, gembongnya maling, sudah tentu Ui Bing mempunyai kepandaian khusus dalam bidangnya. Pintu yang tertutup rapatpun bisa ditembusnya, demikian pula segala alat rahasia dengan mudah bisa dipecahkan, seperti anjing pelacak saja dengan teliti dari satu tempat ke lain tempat dia memeriksa, sesuatu barang yang mencurigakan tidak lepas dari perhatiannya, entah diketuk, dipukul, diraba dan diputar ........ Akhirnya dia bersorak girang dengan penuh emosi. "Nah, inilah di sini."

Tatkala itu mereka berada disudut sebuah gardu yang terletak di taman belakang. Ui Bing sedang sibuk membongkar sebuah pintu angin yang cukup besar dan lebar.

Pintu angin ini berdiri di antara pintu kamar dan gardu, kelihatannya tidak menunjukkan sesuatu yang mencurigakan, keruan Ji Bun bertanya keheranan: "Toako, apa yang kau temukan?"

"Mulut sebuah jalan rahasia." "Darimana kau bisa menemukannya?"

“Lihatlah jejak kaki yang semrawut ini, semua berhenti di depan pintu angin ini?"

Mulut bicara tangan bekerja, dengan pelan dan hati-hati jari- jarinya meraba-aba. Dikala jarinya menyentuh kepala seekor burung yang terpahat di atas pintu angin, seketika terdengar suara keresekan.

Terbangkit semangat Ji Bun. Waktu dia menoleh, dilihatnya dinding sebelah kiri bergerak-gerak dan tampak sebuah lubang merekah diantara sudut dinding itu. Segera dia maju mendekat, dilihatnya di belakang pintu rahasia terdapat undakan batu yang menjurus ke bawah. Ada puluhan undakan banyaknya, lorong rahasia ini entah menembus ke mana. Lebarnya cukup untuk dua orang jalan berdampingan. Karena terlalu gelap, kekuatan mata Ji Bun tak kuasa melihat terlalu jauh.

Ui Bing mendekat, katanya: "Kalau tempat ini bukan kamar rahasia di bawah tanah, tentu lorong rahasia yang menembus ke suatu tempat."

"Mari kita periksa ke dalam," ajak Ji Bun.

"Hati-hati terhadap alat-alat rahasia," kata Ui Bing. Sekenanya dia tarik kain gardu yang tebal dan berat terus dilempar ke dalam lorong sana, tapi tidak menimbulkan reaksi apa-apa.

"Marilah masuk, lorong ini tentu dibangun oleh pemilik gedung ini. Kalau dia bukan golongan persilatan, tak mungkin membangun jalan rahasia ini. Agaknya karena baru saja berdiri, maka Ngo-hong- kau menggunakannya ala kadarnya, sehingga belum diperbaiki dan dipasangi perangkap."

Segera Ji Bun mendahului berlari turun, Ui Bing mengikuti dari belakang. Setiba di ujung undakan, mereka langsung menuju ke lorong datar yang gelap gulita, betapapun tajam pandangan orang kelima jari sendiri juga tidak kelihatan, hawa lembab dan berbau apek. Untung Ji Bun sudah digembleng oleh kakek gurunya, namun dia hanya mampu melihat sejauh lima tombak. Lekas Ui Bing keluarkan ketikan api lalu menyulut sebuah obor kecil. Agaknya tidak sedikit perlengkapan yang selalu dibekalnya.

Kini ganti Ui Bing yang jalan di depan, mereka terus maju ke depan menyusuri lorong panjang ini, lorong ini seperti tak berujung. Setelah belak-belok sekian lamanya, tetap tidak menemukan ujungnya, semakin dalam lorong ini ternyata malah lurus memanjang.

Sambil jalan Ui Bing berkata: “Diukur dari kecepatan kita berjalan dan jauhnya lorong ini, agaknya kita sudah berada di luar kota."

"Luar kota?" Ji Bun heran.

Tengah bicara tiba-tiba mereka dihadang tiga cabang lorong, seketika mereka menjublek bingung, ke arah mana mereka harus pilih? Sementara itu Ui Bing sudah mengganti sebuah obor lain, dengan seksama dia memeriksa jejak-jejak kaki di tanah. Lorong yang menembus kekanan kiri memang ada jejak kaki, namun tapaknya jelas hanya dilewati dua tiga orang, lain dengan jejak kaki orang banyak yang menuju ke lorong tengah ini.

"Toako, tunggu sebentar," seru Ji Bun, "coba lihat sebelah kiri

......"

Pada dinding yang menjurus ke kiri tergantung sebuah papan yang bertuliskan beberapa huruf warna merah darah berbunyi:

"Tempat terlarang, hukuman mati bagi yang melanggarnya." "Maksud Hiante ”

"Tujuan kita mencari orang, bukan mengejar jejak mereka, umpama berhasil menyandak mereka belum tentu ada manfaatnya, maka daerah terlarang ini jangan dilewati begini saja, betapapun harus kita selidiki."

Ji Bun mendahului menyusuri lorong ke kiri, tiga tombak kemudian, mereka membelok ke kanan dan dihadang sebuah pintu besi yang kelam, di atas pintu bertuliskan juga beberapa huruf merah darah yang berbunyi sama. Ji Bun maju mendorong dengan tangan, segera dia berseru: "Hebat, pintu ini dilumuri racun jahat."

Ui Bing kaget, katanya: "Agaknya Ngo-hong-kau pandai juga main racun."

Sudah tentu kata-kata ini menusuk perasaan Ji Bun, dirinya kini adalah Ciangbunjin generasi ke-15 dari Ban-tok-bun, gembongnya golongan beracun. Entah berapa banyak aliran dan perguruan yang pandai menggunakan racun di seluruh jagat ini? Hanya yang diketahui cuma Cui Bu-tok dari Wi-to-hwe juga pandai dalam bidang ini, entah siapa lagi. Jika ayahnya bukan calon pewaris generasi ke- 14, maka beliau dari aliran lain, namun dari kepandaian Bu-ing-cui- sim-jiu, ini jelas bahwa ayahnya juga dari aliran yang sama. Lalu Ngo-hong-kau termasuk aliran mana? Sembari berpikir kembali dia mendorong dengan mengerahkan setaker tenaga, namun pintu besi ini tidak bergeming sedikitpun.

"Tang!" tiba-tiba diatas pintu terbuka lubang bundar, sebuah suara yang cukup mendirikan bulu kuduk orang berkata: "Siapa berani melanggar daerah terlarang ini?”

Ui Bing padamkan obornya, sahutnya: "Utusan dari pusat datang menginspeksi." Dari lobang bundar ini muncul sepasang mata yang bersinar hijau tajam, di belakangnya remang-remang menyorotkan secercah sinar pelita. Di balik pintu tentu terpasang lampu, dengan sendirinya di luar gelap di dalam menjadi terang, maka Ji Bun berdua dapat melihat agak jelas. Suara orang dibalik pintu kedengaran agak curiga: "Duta mana telah tiba?"

Ji Bun menyingkir ke samping, dia tiru suara Kian Ceng-san dan menjawab dengan nada dingin berwibawa: "Di sini Kian Ceng-san."

Gertakan ini ternyata berhasil, segera terdengar suara berkeret, pelan-pelan pintu besi tebal itu lantas terbuka.

Di belakang pintu adalah sebuah kamar batu, di mana di pasang sebuah lentera minyak, maka keadaan di sini cukup terang. Seorang laki-laki bertubuh besar dengan telanjang dada, tampak bulu dadanya lebat menghitam, kulit dagingnya berotot keras bagai badak, dengan bertolak pinggang dia berdiri di ambang pintu. Begitu melihat wajah Ji Bun berdua segera dia menggerung murka:" Siapa kalian? Berani menyaru ”

Cepat Ji Bun menyelinap masuk, mulutnya menjawab: "Akulah Te-gak Suseng!”

Wajah laki-laki kekar itu menegang, bentaknya: "Cari mampus!" Telapak tangannya yang sebesar kipas terus menabok ke arah Ji

Bun. Ji Bun angkat tangannya, sekali raih dengan mudah dia pegang pergelangan tangan orang. Tapi laki-laki besar itu meronta sekuatnya sehingga Ji Bun terseret maju sempoyongan. Diam-diam dia terkejut akan kekuatan raksasa lawan, kelima jarinya memegang dengan lebih kencang. Kontan laki-laki itu berkaok kesakitan.

Ji Bun pandang ke dalam kamar, di sisi kanan sana terdapat sebuah pintu kecil, di pojok terdapat sebuah balai yang dilembari kulit binatang, mungkin tempat tinggal laki-laki besar ini. Sebaliknya pintu besi di sebelah kiri terkunci dengan gembok besar, rahasia pasti ada di belakang pintu itu. Diam-diam Ji Bun membatin: ”Mungkinkah ibu atau Thian-thay-mo-ki yang terkurung di dalam sana?" Segera dia membentak kepada laki-laki itu: "Siapa yang dikurung di dalam?"

Karena pergelangan tangan terpegang, laki-laki ini mati kutu tiada tenaga untuk meronta lagi, namun sorot matanya ber-api-api sebuas binatang. “Apa tujuan kalian?" tanyanya.

"Buka pintu itu. Kalau membangkang kubunuh kau." "Kalau aku mati, kalian kelinci cilik ini jangan mengira bisa

hidup."

Membara amarah Ji Bun, ia sungkan adu mulut lagi, sekali kepruk dia pukul pecah batok kepala laki-laki besar itu serta menendang mayatnya ke samping.

Di tempat ini Ui Bing kembali memperlihatkan keahliannya, entah dari mana dia sudah mengeluarkan sebatang kunci, segera dia maju kesana membuka gembok besar itu, begitu pintu terbuka, serentak Ui Bing didampar segulung angin kencang.

16.46. Siapa Murid Angkatan-13 Ban-tok-bun ??

Begitu besar terjangan angin ini sampai Ui Bing tergentak mundur menubruk Ji Bun yang berada dibelakangnya. Cepat Ji Bun menahan punggungnya, namun dorongan kekuatan begitu dahsyat sampai mereka sama tersurut tiga langkah lagi, maka dapatlah dibayangkan betapa hebat kepandaian orang yang menyerang.

Belum lagi hilang rasa kejut mereka, tampak di belakang pintu adalah sebuah kamar kurungan persegi, seorang tua baju hitam tengah melongo mengawasi mereka. Tampak oleh Ji Bun, di belakang kamar sana terdapat pula sebuah pintu besi yang terkunci. Terang laki-laki tua baju hitam ini adalah penjaganya. Begitu besar dan ketat penjagaan orang ini, tentu di balik pintu sana tersembunyi sesuatu yang cukup penting artinya.

"Kalian mau apa ke sini?" tanya laki-laki baju hitam itu sambil menyeringai.

"Mau mencabut nyawamu!" desis Ji Bun. Belum habis bicara tiba- tiba dia menubruk maju seperti harimau menerkam mangsanya, jurus Tok-jiu-sam-sek yang pertama dilancarkan, kontan laki-laki baju hitam menjerit sekali terus roboh binasa. Ji Bun langsung lari ke arah pintu. Untung pintu yang satu ini tidak terkunci, maka dengan mudah dia menariknya terbuka, di dalam adalah terali besi, sebuah kerangkeng. Berkat sinar api dari luar, terlihat oleh Ji Bun di dalam kerangkeng meringkuk seorang laki-laki beruban. Jadi bukan orang- orang yang diperkirakan oleh Ji Bun semula, keruan hatinya menjadi dingin.

Ui Bing ikut melongok ke dalam, katanya: "Entah siapa yang dikurung di sini, kenapa sampai dijaga begini kuat dan ketat?"

"Ya, harus diselidiki biar terang persoalannya. Toako, tolong ambilkan obor itu," lalu dia maju mendekat dan puntir putus rantai yang melingkar di antara jeruji-jeruji besi ini. Bayangan orang yang meringkel di pojok sana tidak bergerak sama sekali. Kini dia melihat lebih jelas, kiranya seorang tua kurus kering tinggal kulit membungkus tulang. Ji Bun mendekatinya, tanyanya: "Siapakah tuan ini?"

Orang tua itu bergerak sedikit, terdengar suaranya yang lemah, namun mengandung kebencian: "Keparat, kau akan mendapatkan ganjaran setimpal"

Ji Bun tertegun, dia menoleh sekejap pada Ui Bing, lalu katanya: "Cayhe bukan orang Ngo-hong-kau, silakan tuan bangun untuk bicara."

Dengan tangan menyanggah tanah pelan-pelan orang tua kurus itu meronta bangun, pandangannya pudar dan lesu. Ji Bun berdua hampir menjerit kaget melihat wajah orang yang rusak tak menyerupai bentuk manusia. "Siapakah tuan?" tanyanya.

"Kau kau siapa pula?" "Cayhe digelari Te-gak Suseng di kalangan Kangouw." "Apakah keparat itu yang menyuruh kalian kemari?"

"Siapakah keparat itu? Cayhe mengejar seseorang masuk kemari, entah apa maksudmu?"

Pandangan orang tua yang redup kembali mengawasi wajah mereka sekian lamanya, suaranya dingin: "Mau menolong Lohu keluar dari sini, betul tidak?"

"Sudah tentu," sahut Ji Bun tanpa pikir, "kalau sudah. kepergok olehku, masakah aku harus berpeluk tangan."

"Ada syaratnya?"

"Syarat? Ah, omongan apa ini." "Masakah tanpa syarat?"

"Tidak pernah terpikir olehku. Siapakah tuan, tolong beri tahu lebih dulu."

"Kau betulkah bukan utusan keparat itu untuk menyiksa

diriku?"

"Siapakah keparat yang kau maksud?" "Muridku!" desis orang tua itu dengan gemas. "O," Ji Bun bersuara heran, "kau dikurung oleh muridmu sendiri?

Kenapa?"

"Tentu karena kepandaian dan rahasia pelajaranku."

Tak tertahan Ji Bun mengumpat: "Durhaka terhadap guru, manusia terkutuk dan pantas disamber geledek."

Dengan mendelik gusar, orang tua itu berkata: "Lohu bertahan hidup sampai sekarang, memangnya ingin menunggu dia mendapatkan ganjaran itu, sayang, ai mungkin takkan tercapai

maksudku.“

"Siapakah nama murid durhaka tuan?" "Lohu tidak tahu."

"Apa tidak tahu?" sungguh berita aneh yang paling lucu di dunia ini, masakah seorang guru tidak tahu nama muridnya.

Orang tua mengertak gigi, mukanya yang kurus kering tidak mengunjukkan mimik apapun, hanya, biji matanya yang pudar tiba- tiba memancarkan rasa kebencian yang berkobar. "Ya, sampai sekarang masih belum kuketahui namanya."

"Tapi asal-usulnya mungkin diketahui?" "Yang terang dia adalah pemilik gedung ini." "Pemilik gedung ini, itulah Kiang Giok pimpinan cabang Ngo- hong-kau di sini."

"Dia dia bernama Kiang Giok? Kalian musuhnya?"

"Boleh dikatakan demikian."

Kedua biji mata orang tua yang cekung tiba-tiba meneteskan air mata, katanya penuh kepedihan: "Kepandaian Lohu sudah dipunahkan, tidak ubahnya dengan sesosok mayat hidup yang bisa bernapas saja, aku tak ingin melihat sinar matahari lagi, cuma matipun aku takkan meram, sayang aku tak bisa memberi pertanggungan jawab bagi perguruan "

"Tuan dari perguruan mana?"

"Terbatas oleh peraturan perguruan, maaf tidak boleh kukatakan."

Ji Bun mengerut kening, katanya: "Jadi nama dan gelaran tuan juga tak boleh diperkenalkan?"

Orang tua kurus itu mengangguk-angguk.

Ji Bun menepekur sejenak, katanya: "Bagaimana kalau tuan ikut kami keluar saja? Cayhe masih ada urusan penting yang harus segera dibereskan, tak bisa lama di sini. Bicara terus terang, akupun sedang mengejar jejak murid tuan. "O," orang tua kurus menatap tajam Ji Bun, sorot matanya berubah tak menentu, ini menandakan bahwa orang tua ini dirundung perasaan yang bergolak.

Semula Ji Bun berharap di dalam kamar tahanan ini ada disekap ibu atau Thian-thay-mo-ki, sekarang kenyataan telah menumbangkan harapan itu. Sudah tentu pikirannya menjadi gundah dan melayang ke tempat jauh, terasa sedetikpun tak kuasa lagi tinggal di sini. Menolong orang tua ini hanya sambil lalu saja disamping merasakan adanya kewajiban bagi seorang persilatan yang harus menolong sesamanya. Kalau tidak, menghadapi sikap si orang tua yang serba bimbang dan seperti menyembunyikan sesuatu ini, sejak tadi dia tentu sudah tinggal pergi.

Ui Bing yang berpengalaman luas dalam seluk beluk kehidupan malah dapat bersabar, katanya kalem: "Cianpwe, setiap urusan pasti ada beda ringan dan berat, sering pula terjadi perubahan, kau harus lekas ambil keputusan. Kalau kami tidak kebetulan menerobos kemari, bagaimana pula nasib Cianpwe? Urusan aliran dan perguruan orang luar memang tidak boleh tahu, tapi kalau Cianpwe merasa perlu minta bantuan kami, tentu kami akan bekerja sekuat tenaga."

Ji Bun sudah tak sabar lagi, tanyanya: "Tuan sudah berpikir?"

Tiba-tiba orang tua itu geleng kepala, katanya: "Lohu sudah berkeputusan tidak akan meninggalkan tempat ini "

Ji Bun melengak, tanyanya tak mengerti: ”Tuan tidak mau meninggalkan penjara seperti neraka ini?" Nada si orang tua tegas: "Ya, Lohu sudah berpikir masak, kecuali mati demi pertanggungan jawab kepada perguruan, tiada jalan lain yang harus kutempuh, hanya matiku ini tetap membuatku penasaran."

"Kalau kau tidak rela mati demikian saja, kenapa tidak mau meninggalkan tempat ini?"

"Aku mati penasaran tidak berarti takut mati, Soalnya tugas perguruan teramat berat."

Tugas berat apa, Ji Bun ingin tanya, namun melihat sikap si orang tua yang begitu patuh dan tunduk terhadap peraturan perguruannya, maka ia telan pertanyaannya. Sebentar kemudian baru orang tua itu berkata pula: "Urusan ini menyangkut peraturan perguruan, ada sesuatu tapi Lohu tidak bisa bicara terus terang .....

"

"Sulit kalau begitu," ujar Ui Bing menghela napas, "apakah Cianpwe ada saudara seperguruan, kami bisa mengirim kabar kepada mereka?"

Orang tua diam saja, agaknya dia tenggelam dalam pemikiran, mungkin dia sedang berpikir secara mendalam cara bagaimana harus ambil keputusan.

Hati Ji Bun seperti dibakar, seperti semut dalam kuali panas, tak tahan ia berkata pula: "Tuan, kami akan segera berangkat." Dengan gerakan lemah tak bertenaga orang tua itu angkat tangannya, katanya: "Nanti dulu, Lohu ada sebuah permintaan."

"Silakan bicara," jawab Ji Bun.

"Kuharap saudara cilik suka wakilkan aku mencari keparat itu, bunuh dia untuk mencuci nama baik perguruanku ”

"Membersihkan nama baik perguruanmu? Apakah tugas berat ini boleh diwakilkan kepada orang luar?"

"Tiada jalan lagi, perguruan kami memiliki sebuah Pit-kip (kitab pusaka) yang terjatuh ke tangan keparat itu, harap rebutlah kembali

........"

"Apa betul murid tuan bernama Kiang Giok, pimpinan cabang Ngo-hong-kau di sini?"

"Lohu hanya tahu dia pemilik gedung ini."

"Baiklah, untuk membuktikan asal usulnya, Harap tuan suka memberikan keterangan mengenai ciri-cirinya ”

"Ciri-cirinya, dia dia pandai menggunakan racun."

"Ya, Cayhe sendiri pernah merasakannya, hampir saja jiwaku ini melayang."

"Ya, tidak akan salah kalau begitu." "Setelah Pit-kip perguruanmu itu berhasil direbut kembali, lalu kepada siapa harus kuserahkan?"

"Ini entah saudara dari aliran mana?"

"Hal ini sukar kujawab.”

"Baiklah, di sini Lohu meninggalkan pesan tertulis dalam lipatan kertas ini, semoga setelah Pit-kip itu direbut kembali kau bisa bekerja menurut petunjuk yang tertera di kertas ini."

"Boleh saja."

Dari tumpukan rumput kering di bawah tubuhnya, si orang tua mengeluarkan secarik kertas tebal yang sudah kuning dan kotor, dengan hati-hati dan penuh prihatin dia sodorkan kepada Ji Bun, katanya: "Inilah, kalau saudara bisa membereskan urusan ini, di alam baka Lohu akan istirahat dengan tenteram."

"Soal membersihkan perguruanmu itu "

"Sudah diterangkan di dalam tulisan ini. Saudara baru boleh membuka lempitan kertas ini setelah berhasil rebut kembali Pit-kip itu."

Ji Bun menerimanya, tanyanya: "Tuan betul-betul sudah berkeputusan tak mau keluar? Untuk ini Cayhe mohon sukalah tuan memperkenalkan diri, ini tak melanggar aturan perguruanmu, bukan?" "Baiklah, Lohu bernama Ngo Siang."

Ji Bun berjingkat kaget, mulutnya ikut berteriak: "Ngo .....

Siang?"

"Betul saudara ”

Berubah hebat air muka Ji Bun, katanya berpaling kepada Ui Bing: "Toako, maaf, silakan kau tunggu sebentar di luar."

Dengan heran dan tak habis mengerti Ui Bing mengawasi Ji Bun, namun dia menurut, obor dia tancap di dinding pinggir pintu lalu melangkah keluar.

Orang tua yang bernama Ngo Siang juga mengunjuk keheranan dan kaget, tanyanya: "Saudara, kenapakah kau?"

Dengan rasa haru dan penuh emosi Ji Bun berkata: "Apakah guru tuan she Ban bernama Yu-siong?"

Muka si orang tua yang kurus keriputan itu kelihatan gemetar, bibirnya bergetar, matanya terbeliak, lama sekali baru dia kuasa mengendalikan emosinya, katanya tergagap: "Kau .... kau .....

darimana bisa tahu?"

Ji Bun segera bertekuk lutut, serunya terharu: "Murid generasi ke-15 Ji Bun, menghadap Suco."

"Apa? Kau kau?" "Tecu Ji Bun, berkat kemurahan hati dan kebajikan Suthayco telah diangkat sebagai penerus dari generasi ke-15.”

"Ini .... mana mana mungkin? Hah, Cosuya maha kuasa dan

bermurah hati, Cosuya ” kata orang tua alias Ngo Siang itu

dengan terharu.

Setelah menyembah, Ji Bun segera bersimpuh dan berkata: "Harap Suco suka dengarkan liku-liku persoalan ini."

Tubuh Ngo Siang bergetar, inilah keajaiban yang tak pernah dimimpikan, kejadian yang terlalu mendadak, begitu aneh dan nyata sehingga orang sulit percaya dalam waktu sesingkat ini, mulutnya melongo, suaranya lemah hampir tidak terdengar, "Kau baiklah

...... katakan ”

Segera Ji Bun ceritakan semua pengalamannya, tiba-tiba Ngo Siang menjatuhkan diri berlutut, matanya yang cekung mengalirkan air mata, teriaknya serak: “Tecu tak berbudi Tecu tidak becus

.........”

Ji Bun segera membujuk: "Suco, harap suka memperhatikan kesehatan sendiri."

Ngo Siang merangkak bangun dan duduk kembali ke tempatnya, lama dia menepekur dengan pandangan terlongong, katanya kemudian: "Berikan kertas itu, tak berguna lagi."

Ji Bun segera merogoh lempitan kertas tadi serta diangsurkan dengan kedua tangan. Ngo Siang lantas membebernya, ternyata lapisan dalam dari lipatan kertas ini adalah selembar kain sutera yang amat tipis, di atas kain yang sudah butut ini terdapat noktah darah yang sudah mengering, huruf-huruf yang tertulispun menggunakan tinta darah. Ngo Siang menyobek kertas kain ini, lalu menjemput sebuah buntalan kain kecil dan ditimang-timang di telapak tangan, katanya setelah menghela napas: “Aturan yang harus dilakukah bagi setiap murid angkatan kita dengan tulisan dalam kertas lipatan ini tentu kau sendiri juga sudah tahu, maka tugas selanjutnya untuk menumpas murid durhaka itu terpikul di atas pundakmu.”

"Tecu menerima setiap petunjuk Suco."

"Generasi ke-14 tidak diangkat secara resmi oleh perguruan, karena dia juga telah mengkhianati perguruan, maka kau tidak perlu pandang dia sebagai angkatan yang lebih tua. Lebih penting kau melaksanakan aturan perguruan untuk menumpasnya dengan cara apapun. Demikian saja kata-kataku."

"Cucu murid ingin membawa Suco keluar dari sini, biarlah kita berusaha ”

"Tidak usahlah."

"Bagaimana kehendak Suco?" tanya Ji Bun melengak.

Lemah tapi tegas setiap patah kata Ngo Siang: "Suco tidak berbakti, sejauh ini tidak mampu melaksanakan tugas yang kupikul, sehingga ajaran perguruan hampir putus di tanganku maka kau harus dengar kata-kataku. Sesuai peraturan, waktu aku turun gunung mencari calon pengganti yang harus ikut juga digembleng dalam kebiasaan 'menyenggol rejeki’, ternyata usahaku sia-sia belaka. Setiap pelosok Kang-ouw sudah kujelajahi, namun tetap tak berhasil kuperoleh seorang calon yang memenuhi syarat. Begitulah, dari tahun ke tahun sehingga aku akhirnya berpendapat bahwa Tok- keng jilid pertama kemungkinan tidak terjatuh ke tangan seseorang, namun aku tetap menunggunya dengan sabar, siapa tahu kalau terjadi suatu kemungkinan ”

Setelah menghela napas dan berhenti sebentar Ngo Siang melanjutkan ceritanya: "Tiga tahun yang lalu, karena terpaksa aku sengaja mendemonstrasikan ilmu perguruan kita, maksudku untuk mencari jejak apakah betul jilid pertama dari buku pelajaran perguruan kita itu sudah berada ditangan seseorang. Betul saja, tidak lama kemudian aku lantas menemukan dia. Semula aku hendak menyelidiki watak dan mencari tahu asal-usulnya secara diam-diam, tak tahunya malah dia mengenali asal-usulku lebih dulu. Dia berkata bahwa ada seseorang sakit keras dan berpesan padanya supaya mencarikan orang-orang seperguruannya. Katanya ilmu beracun yang dia pelajari didapat dari orang sakit itu. Karena kurang teliti, aku percaya begitu saja. Dia membawaku ke sebuah kamar rahasia di bawah tanah, sehingga aku terjebak ke perangkapnya.

Bukan saja ilmuku dipunahkan aku disekap di sini pula. Sering keparat itu datang kemari menyiksa aku supaya menyerahkan atau mengajarkan ilmu tingkat tinggi perguruan kita ”

Ji Bun naik pitam, katanya gusar: "Tecu membakal Hoat-Wan, aku bersumpah akan menghukumnya sesuai hukum perguruan." "Ya, tadi kau menceritakan pengalamanmu, katamu kau sudah mempalajari Bu-ing-cui-sim-jiu, apa betul kau diajar ayahmu secara lisan?”

Ji Bun mengiakan.

"Dari mana pula ayahmu bisa mendapatkan buku pelajaran ilmu rahasia perguruan kita?"

"Mati hidup ayahku sekarang masih merupakan teka teki, biarlah setelah berhasil membekuk Kiang Giok, pasti bisa membongkar rahasia ini."

Diam-diam Ji Bun amat bersyukur, semula dia berpendapat bahwa orang yang memperoleh jilid pertama Tok-keng itu adalah ayahnya, sedang dirinya harus menjalankan tugas membersihkan perguruan dari anasir penghianat, memangnya dia sebagai anak harus membunuh ayah kandung sendiri? Kini sudah terbukti bahwa Kiang Giok adalah orang yang memperoleh buku itu. Persoalan ini akan lebih mudah dibereskan. Soal bagaimana ayahnya bisa mendapatkan pelajaran ilmu beracun, mungkin Kiang Giok sengaja hendak menjadi penghianat maka dia sengaja mengajarkan ilmu beracun itu kepada orang luar sehingga terjadilah buntut yang berlarut-larut ini.

Ngo Siang bertanya, "Apa pula hubungan ayahmu dengan Kiang Giok?"

"Cucu muridpun tidak tahu." "Siapa tahu kalau ayahmu justeru orang yang pegang rol di belakang layar?"

Tersirap darah Ji Bun, betul, ini bukan mustahil, maka dia mengertak gigi, katanya: "Cucu murid akan menyelidikinya."

"Kalau kelak terbukti bahwa orang pertama yang memperoleh Tok-keng adalah ayahmu, bagaimana kau akan ambil tindakan?"

Terkesiap hati Ji Bun, katanya setelah berpikir: "Cucu murid akan bekerja sesuai dengan hukum perguruan, demi kebenaran dan kebesaran nama baik perguruan, meski terhadap ayah sendiripun, aku akan tetap ambil tindakan."

"Bagus sekali semoga kenyataan tidak demikian," ujar Ngo Siang.

Tiba-tiba terlihat oleh Ji Bun orang tua itu tengah menggelinding sebutir pil Merah darah yang menyolok sekali, seketika dia berteriak kaget: "Hoat-wan.”

"Benar," kata Ngo Siang, "memang Hoat-wan, pil ini kubawa waktu aku disuruh turun gunung oleh Suco, sekarang tiba saatnya aku akan menggunakannya."

Saking gugup tanpa sadar Ji Bun ulur tangan hendak mengambilnya, mulutpun berteriak: "Jangan Suco!"

"Jangan bergerak," tiba-tiba Ngo Siang menghardik dengan bengis. Kata-katanya begitu keras berwibawa, sehingga tanpa sadar Ji Bun menarik pula tangannya. Dalam sekejap itulah Ngo Siang sudah menjejalkan pil merah itu ke dalam mulut terus di telan.

Tak pernah terpikir oleh Ji Bun bahwa Ngo Siang akan bertindak setegas ini, serasa pecah jantung Ji Bun. Hoat-wan adalah obat warisan cikal bakal perguruan mereka yang digunakan untuk menghabisi nyawa sendiri, sejak diciptakan tak pernah dibuat obat penawarnya, maka setiap orang yang telan pil racun ini takkan tertolong lagi. Itupun berarti sudah menunaikan bakti terhadap perguruan, umpama ada obat penawarnya juga tidak boleh ditolong.

Gaya duduk Ngo Siang sekarang berubah setengah berlutut, sorot matanya tenang dan tenteram. Lekas Ji Bun juga berlutut, air mata lantas bercucuran, waktu dia angkat kepala pula, Ngo Siang sudah mangkat untuk selamanya.

Semua kejadian dan pengalaman ini bagai mimpi belaka, obor kecil milik Ui Bing sudah mulai guram, mungkin minyaknya sudah hampir habis. Maka Ji Bun menoleh keluar serta memanggil: "Toako, kau boleh masuk."

Tiada penyahutan, kembali ia berseru dengan suara lebih keras, namun tetap tiada reaksi. Keruan hatinya gugup, mungkin Ui Bing mengalami sesuatu? Bergegas dia melompat keluar, beruntun dia melewati dua kamar batu. Setiba diujung lorong ini, tetap tidak kelihatan bayangan Ui Bing. Sesaat dia berdiri melongo tak tahu apa yang harus dia lakukan? Tak mungkin Ui Bing pergi tanpa sebab kecuali terjadi sesuatu. Lekas dia berlari kembali ke dalam kamar mengambil obor, tapi baru saja dia putar balik hendak mencari Ui Bing pula .... sekonyong-konyong suara gemuruh dengan getaran hebat.

Seluruh kamar batu itu bergoncang seperti dikocok oleh kekuatan yang dahsyat. Bau belerang dan asap putih yang tebal seketika bergulung-gulung masuk ke dalam kamar. Semua obor yang tersulut di dalam kamar seketika padam, keadaan menjadi gelap.

Saking kaget serasa terbang sukma Ji Bun. Lama sekali baru dia berhasil menenteramkan hatinya. Dia tidak tahu apa yang terjadi, lama sekali baru dia pelan-pelan menggeremet maju, dimana jari tangannya meraba. Seketika dia mengeluh, ternyata lorong bawah tanah sudah tertimbun tanah dan buntu, batu-batu besar menyumbat mulut lorong. Dia putar balik memeriksa lorong sebelah dalam, ternyata juga telah tersumbat, ternyata hanya kamar batu dimana dia berada saja yang masih utuh tidak ikut runtuh. Sayang jenazah Suco telah terkubur disebelah dalam.

Sungguh suatu keberuntungan di dalam bencana ini. Kalau dirinya tidak kebetulan balik ke kamar batu ini, mungkin dirinya juga terkubur hidup-hidup di lorong tadi. Tapi dalam keadaan seperti ini, apa pula bedanya kalau dirinya tidak terkubur hidup-hidup di dalam kamar ini? Panjang lorong ini ada beberapa tombak, cukup asal sebagian diledakkan, dewapun takkan bisa meloloskan diri, kamar batu ini dilapisi batu-batu tebal. Entah berapa dalamnya letak kamar batu ini dari permukaan bumi, harapan untuk keluar dari timbunan tanah ini jelas nihil.

Siapakah yang meledakan lorong ini? Tentunya orang-orang Ngo- hong-kau. Adakah sangkut paut dengan menghilangnya Ui Bing?

Atau mungkin Ui Bing sendiri sudah terkubur juga ditempat lain? 16.47. Dua Generasi Terkubur ??!!

Ji Bun betul-betul merasa putus harapan. Kalau dia tidak bertemu dengan Suco Ngo Siang, sejak tadi tentu dia sudah pergi bersama Ui Bing. Kini dua generasi terkubur sekaligus di dalam liang yang sama.

Dia pernah berulang kali mengalami bencana kematian namun kali ini dia betul-betul putus asa, kejadian gaib tak mungkin terjadi lagi. Manusia, memangnya mungkin dia keluar dengan menerobos bumi. Dengan lunglai dia duduk mendeprok di atas tanah, tiada yang dipikirkan lagi karena dia tahu berkelebihan untuk memikirkan sesuatu dalam keadaan seperti ini. Tanpa merasa jari-jari tangannya meraba juga buntalan di kantongnya, dimana Hoat-wan pemberian Suthayco Ban Yu-siong dia simpan. Dalam hati dia sudah berkeputusan bila dirinya tak tahan menghadapi siksaan hidup ini biarlah menghabisi jiwa sendiri dengan pil racun ini.

Nasib manusia memang sukar diramalkan, siapa pernah menduga dikala kepandaian silatnya sekarang sudah mencapai taraf yang sedemikian tinggi, harapan menuntut balas tinggal soal waktu saja, ternyata dia harus mengalami peristiwa tragis ini. Dari seorang yang sudah putus asa, semua perasaan cinta, benci, suka duka sudah kehilangan arti sama sekali.

Waktu berjalan tanpa mengenal kasihan rasa lapar dan dahaga mulai merangsang dirinya. Apalagi dalam keputus-asaan seperti ini, rasa lapar dan dahaga itu lebih terasa lagi. Tak lama, ia tidak tahan lagi, ia pikir, nyawa sendiri bakal berakhir, lebih menderita juga tidak menjadi soal.

Beberapa kali dia hendak menelan Hoat-wan namun rasa ingin hidup tetap bertahan dalam sanubarinya. Selama hayat masih dikandung badan, betapapun manusia harus tetap bertahan hidup. Siksa derita lambat laun berubah pati rasa. Ini membuktikan bahwa dirinya sudah cukup lama terkurung di dalam kamar batu ini.

Mendadak timbul sesuatu pikiran, ia lihat kamar batu ini dibawah tanah, lorong sudah buntu, semestinya untuk bernapaspun menjadi persoalan setelah terkurung sekian lama, namun sedikitpun dia tidak merasa sesak dan sumpek. Mungkinkah ada celah-celah atau tempat untuk memasukkan hawa kedalam kamar ini? Bergegas Ji Bun melompat bangun, penemuan inilah seperti selarik sinar harapan baginya untuk cari hidup.

Ia mulai bekerja dengan teliti, setiap tempat, celah-celah atau lekukan dinding dia raba dan diendus dengan hidung. Setiap senti jengkal mulai diperiksanya dengan seksama, namun sedemikian jauh ia tidak menemukan apa-apa, tiada sesuatu tempat yang terasa membawa masuk hawa ke dalam kamar ini. Tapi kenyataan hawa di dalam kamar ini tetap segar, tidak mungkin tiada sebabnya. Maka ia putar otak, ia teringat akan atap kamar. Maka dia melompat ke atas sambil sebelah tangan terulur ke atas, ternyata tangan meraba sebuah celah yang cukup besar. Lekas jari tangannya berpegang pada batu-batu yang menonjol, sehingga dia bergelantung sedikit mengerahkan tenaga dia berusaha menempelkan badannya pada atap batu, jadi seperti cecak saja tubuhnya bergelantung. Kembali hidungnya mengendus-ngendus, lalu menarik napas panjang. Ternyata hawa segar mengalir di antara celah-celah ini.

Keruan senangnya bukan main, harapan hidup seketika berkobar. Segera ia melayang turun ke bawah, kalau celah-celah ini ada hawa segar mengalir masuk, tentu kamar batu ini tidak terlalu dalam dari permukaan bumi. Lalu tindakan apa yang harus dia lakukan sekarang? Rasa senang luar biasa membuatnya gemetar, namun juga kebingungan seperti kehilangan akal. Pikir punya pikir, hanya ada satu jalan untuk lolos keluar, yaitu menjebol atap dinding ini, namun dia juga harus mengambil resiko. Kalau atap dinding ini runtuh, berarti dirinya akan terkubur seketika. Daya tarik hidup betapapun !ebih besar dari pada resiko apapun yang harus dihadapinya. Kalau tidak berani menyerempet bahaya bagaimana mungkin dirinya bisa hidup. Lalu dia menggeremet mundur ke pintu besi, pintu besi ini sudah jebol dan miring keterjang batu sehingga merupakan suatu lubang yang cukup besar. Jika atap kamar ini nanti ambruk, ke lubang besar di samping pintu besi inilah dia akan menyelinap dan menyelamatkan diri.

Maka dia berjongkok memasang kuda-kuda, kepalanya mendongak. Setelah napas teratur dan tenaga penuh, mendadak dia berdiri tegak serta memukul, dengan kedua tangan ke atas, "Blang", tak kalah keras dari pada ledakan pertama tadi. Batu pasir dan debu sama rontok berjatuhan, pandangan matanya menjadi terganggu, terasa debu pasir sama berjatuhan menguruk tubuhnya, badannya tertimbun setinggi dada.

Setelah pikiran tenang dan pelan-pelan membuka mata, seketika dia berteriak kegirangan. Tampak sebuah lubang cukup besar di atas atap yang tergempur pukulannya tadi. Sinar sang surya menyorot masuk sehingga pandangannya menjadi silau. Dinilai dari tebalnya lubang besar ini, diperkirakan kamar batu ini terletak dua tombak di bawah permukaan bumi. Sungguh suatu keajaiban yang betul-betul sukar dipercaya. Waktu ia mengawasi sekelilingnya, kecuali guguran tanah yang tebal, tiada barang lainnya lagi. Jika lubang di atas atap yang gugur lebih banyak lagi, pasti dirinya ikut terkubur hidup-hidup. Namun demikian batu-batu saka yang menyanggah atap toh sudah bergoyang, mungkin tersentuh sedikit saja akan ambruk seluruhnya sungguh ngeri sekali.

Sekali lagi dia terhindar dari malapetaka, pelan-pelan dia meronta naik dari timbunan tanah, sekali melejit lagi dia melesat keluar dari lubang besar di atas atap itu. Waktu pandangannya menjelajah sekelilingnya, didapati dirinya berada di tanah pekuburan yang liar dan sepi, namun tanah pekuburan ini berada tak jauh dari kaki tembok kota. Tak jauh di sebelah sana tampak jalan raya, rumah- rumah penduduk pun tampak dikejauhan sana.

Waktu dia mendongak, sekarang kira-kira sudah menjelang tengah hari, ia pikir sedikitnya dirinya sudah sehari semalam terkurung di bawah tanah. Sekarang tugas penting, yang harus dia bereskan adalah mengisi perut serta ganti pakaian, maklum bajunya sudah hancur tinggal beberapa carik kain yang masih bergelantung dibadannya, kotor lagi. Kalau ketemu orang tentu dirinya dikira mayat hidup yang bangkit dari liang kubur. Untung barang-barang miliknya yang tersimpan di kantong pinggang serta obat-obatan tidak hilang, demikian pula Sam-cay-ciat milik Thian-thay-mo-ki yang dipungutnya di hotel juga masih ada. Untuk mengeduk jenazah Ngo Siang dari urukan tanah yang begini tebal, jelas tidak mungkin lagi, maka dia berlutut dan menyembah kearah lubang, tak lupa iapun berdoa, lalu berdiri dan berlari menuju ke salah sebuah rumah yang berdiri menyendiri dari kelompok rumah yang lain.

Rumah yang didirikan dekat pekuburan ini terdiri tiga petak rumah atap, sekelilingnya dipagari tembok tanah yang sudah berlubang dan banyak yang gugur. Hanya beberapa kali lompatan saja Ji Bun sudah berada di luar tembok, sejenak dia berpikir lalu menghampiri pintu dan berkaok: "Ada orang di dalam?"

Beruntun tiga kali dia berkaok-kaok, tetap tidak ada sahutan. Ji Bun jadi ragu-ragu, mungkin rumah kosong yang tidak dihuni orang? Tapi asap tampak mengepul dari cerobong dapur, dikaki tembok sana juga tampak tumpukan kayu kering, di atas gala bambu yang melintang di sana juga dijemur pakaian orang, tak mungkin rumah ini kosong, kecuali orangnya sedang keluar semua. Sekilas dia berpikir, lalu memberanikan diri mendorong pintu melangkah masuk, serunya sekali lagi. "He, ada orang tidak?"