Hati Budha Tangan Berbisa Jilid 15

 
Jilid 15

Ji Bun bersikap acuh sambil angkat pundak, diam-diam ia sudah mengincar dengan tepat, pelipisnya tepat diarahkan ke ujung paku, jaraknya tinggal dua senti lagi, sekarang cukup dia gelengkan kepala. segalanya akan beres.

Sudah tentu mimpipun Siucay tua itu tidak tahu rencana Ji Bun, namun matanya masih melotot gusar menanti jawaban. Walau ibu tuanya sudah putus hubungan dengan ayah, kini menjadi musuh besar malah, namun Ji Bun tidak rela mengatakan jejaknya, karena hal ini sekaligus bakal mendatangkan bencana bagi Biau-jiu Siansing.

"Katakan tidak?" bentak Siucay tua pula. "Tidak!" jawab Ji Bun singkat.

"Agaknya sebelum disiksa kau tidak kapok "

Ji Bun mengertak gigi, baru saja hendak benturkan kepalanya ke arah paku sekonyong-konyong sebuah suara bentakan bagai

geledek berkumandang: "Ji Ing-hong, sekarang kau boleh unjukkan diri."

Berubah roman Siucay tua, sigap sekali dia melompat keluar bilik.

Berdegup jantung Ji Bun, sesaat itu menjadi bingung apa yang telah terjadi. Kenapa di luar orang menyebut nama ayahnya. Tanpa pikir dia berdiri dan dorong jendela melongok keluar. Tampak tiga buah perahu tengah laju mendatangi, perahu pertama berdiri jajar Wi-to-hwecu Siangkoan Hong bersama si perempuan rupawan, perahu kedua berdiri Siang-thian-ong dan Bu-cing-so, perahu ketiga dinaiki Thong-sian Hwesio dan Jay-ih-lo-sat. "Ji Ing-hong," terdengar Siangkoan Hong membentak dengan suara kereng, "meski tumbuh sayap juga hari ini jangan harap kau bisa terbang meloloskan diri."

Siucay tua terloroh-loroh, serunya: "Para saudara, di sini tiada Ji Ing-hong."

Suara Siang-thian-ong bagai bunyi genta berkumandang: "Tutup mulutmu, jangan menggonggong di sini, lekas suruh keparat tua itu keluar."

Tergerak pikiran Ji Bun, seketika dia menjadi sadar dan mengerti apa yang terjadi, setelah memunahkan Lwekang dan kepandaian silatnya, perempuan rupawan membiarkan dirinya pergi, tujuannya adalah untuk mengejar jejak ayahnya. Siucay tua ini telah membunuh kedua anak buah Wi-to-hwe yang ditugaskan menguntit dirinya, lalu membawa lari dirinya, kemungkinan ada penguntit lain yang melihat, lalu memberi laporan ke pusat, maka cepat sekali orang-orang Wi-to-hwe ini mengejar datang.

Tujuan kedua pihak sama mengejar ayahnya, setelah kedua pihak bicara jelas dan terus terang akan duduk persoalannya, tentu dirinya pula yang bakal ketiban pulung alias celaka. Waktu matanya menjelajah sekelilingnya, dilihatnya mereka berada pada sebuah telaga yang luasnya beberapa hektar. Telaga ini dikelilingi dinding- dinding gunung yang tinggi mencuat ke langit, walau tengah hari, namun cuaca di sini remang-remang dingin.

Tepat di tengah di depan sana adalah sebuah tebing batu besar yang melintang di antara apitan dua dinding gunung, dari mana air menerjun turun dengan deras, air muncrat keras jatuh di tabir batu besar itu terus mengalir ke telaga ini. Air mengalir tenang keluar kearah kanan, dimana saluran pintunya sempit sehingga air bergolak dan berbuih, gemuruh air amat mengejutkan sekali.

Ji Bun bertindak dengan tegas dan bertekad lebih baik mati karam di telaga daripada tertawan musuh dan disiksa. Kesempatan baik sekarang jangan disia-siakan, maka dengan menggeremet diam-diam ia menuju ke belakang, dan jendela dibuka lalu merangkak keluar, tanpa mengeluarkan suara dia meluncur ke dalam air.

Permukaan air kelihatan tenang mengalun, tak nyana begitu Ji Bun masuk ke dalam air seketika dia tersedot oleh pusaran arus yang deras. Karena tak pandai berenang, begitu tenggelam, Ji Bun meronta-ronta dan tersedot ke bawah sampai kedasar telaga.

Karena kepandaian punah dan Lwekang lenyap, dengan sendirinya dia tidak mampu mengerahkan tenaga untuk menahan nafas, akhirnya air terus tercekok ke dalam tenggorokan.

Secara refleks Ji Bun meronta-ronta sekuatnya supaya dirinya mengambang ke atas. Namun sedotan pusaran air di bawah ini amat keras, usahanya sia-sia, malah tubuhnya semakin terseret turun.

Sekonyong-konyong badannya terombang ambing berputar terbawa arus, seketika dia kehilangan kesadaran. Dalam keadaan setengah sadar terakhir dia masih merasakan dirinya terbawa hanyut keluar dari pintu sempit yang menjurus entah ke mana.

Rasa dingin dan sakit yang menusuk tulang tiba-tiba menyentaknya bangun, waktu dia buka mata, bintang-bintang tampak bertaburan di cakrawala, tabir malam menyelimuti jagat, didapatinya dirinya rebah di atas batu cadas yang dingin, hembusan angin malam nan sepoi-sepoi terasa amat dingin membeku.

Gemuruh air amat mengganggu pendengarannya. Sesaat itu ia sukar membedakan dimana dirinya berada, entah masih hidup atau sudah mati? Atau di alam mimpi?

Lama sekali setelah berhasil memulihkan sedikit tenaga baru dia yakin bahwa dirinya masih hidup dan bernapas dengan teratur, rasa sakit ditubuhnya merupakan bukti yang nyata. Maka dengan penuh keheranan dia merangkak duduk, ia celingukan kian kemari, dilihatnya dirinya rebah di atas batu yang terletak tiga kaki dipinggir jurang, dibawahnya adalah jurang seratus tombak. Sungai yang membawa keluar dirinya tampak berliku-liku di bawah sana mirip seekor ular raksasa. Tempat apakah ini? Siapakah yang menolong dirinya? Jelas dirinya tidak mati walau terjun ke telaga dengan maksud bunuh diri, bagaimana mungkin kini bisa terbang ke atas jurang yang tinggi ini?

Sekonyong-konyong sebuah suara serak tua berkumandang di pinggir telinganya: "Suco berada di sini, kenapa tidak lekas berlutut?"

Bukan kepalang kejut Ji Bun, tersipu-sipu dia merangkak bangun, terlihat di depan sana di atas sebuah batu, duduk tersimpuh seorang laki-laki tua bertubuh kurus kering seperti kayu, kedua matanya tengah menatap dirinya dengan pandangan tajam berwibawa.

Suco? Dari mana datangnya Suco (kakek guru). Sejak kecil dia belajar silat dari keluarga, belum pernah dia mengangkat seorang guru. Namun kakek tua kurus yang aneh ini mengapa mengaku dirinya sebagai kakek gurunya, bukankah aneh? Dengan kaget dan heran Ji Bun menyurut mundur, tak mampu bicara karena kebingungan.

Orang tua itu bersuara lagi: "Apakah gurumu tidak memberi penjelasan padamu?"

Akhirnya Ji Bun menjawab terputus-putus: “Gu guru?

Wanpwe tidak punya guru."

Mencorong sinar mata orang tua kurus, kulit mukanya yang tinggal kulit membungkus tulang kelihatan berkerut, bentaknya: “Kau tidak punya guru?"

"Ya," Ji Bun mengiakan. "Bagaimana kau bisa kemari?"

"Sebetulnya Wanpwe terjun ke air hendak bunuh diri. entah bagaimana ”

Sinar mata si orang tua menyapu turun naik sekujur badan Ji Bun, akhirnya dia membentak bengis: "Lalu siapakah yang mengajarkan Bu-ing-cui-sim-jiu yang kau yakinkan itu?”

Jantung Ji Bun serasa melonjak keluar. Tampaknya orang tua ini rada ganjil, sahutnya kemudian: "Ayahku almarhum"

"Apa, ayahmu almarhum, jadi dia sudah mati?" Ji Bun mengangguk.

"Sebelum ajal dia yang suruh kau kemari bukan? Mana Tok- keng?" tanya kakek itu.

Semakin kebingungan Ji Bun, pertanyaan yang susul menyusul ini membuatnya garuk-garuk kepala tanpa tahu duduk persoalannya. "Lo ...... Locianpwe adalah ”

Berdiri alis putih si orang tua kurus, kepalanya geleng-geleng, mulutnya menggumam: "Tidak beres, dia tidak akan berani mendurhakai perguruan, namun berani menentang peraturan dengan kawin dan punya anak, tapi ini " sampai di sini

mendadak ia membentak: "Kapan keparat itu mampus?" "Keparat? Siapa?”

"Orang yang mengajar ilmu beracun padamu itu.”

"O, mendiang ayahku? Baru beberapa bulan yang lalu beliau meninggal."

"Hm," mulut siorang tua kurus menggeram gusar, suaranya dingin seram nadanya aneh lagi. Ji Bun merinding dan berdiri bulu kuduknya, sungguh tidak habis mengerti, apa sebetulnya yang pernah terjadi.

Sekian lama siorang tua kurus seperti menahan gejolak amarahnya, akhirnya bersuara pula seperti bicara pada dirinya sendiri: "Tidak menepati janji sepuluh tahun cara bagaimana dia

mati?”

"Dicelakai para musuhnya, tapi ”

"Tapi apa?"

"Akhir-akhir ini muncul gejala-gejala yang mencurigakan, agaknya ayah seperti masih hidup."

"Pernahkah dia menyinggung peraturan perguruan padamu?” “Tidak, sahut Ji Bun menggeleng.

“Lalu bagaimana kau bisa berada di Kiu-coan-ho ini?”

“Wanpwe diculik orang, suatu ketika berhasil terjun ke air, maksudku hendak bunuh diri saja apakah Locianpwe yang

menolong diriku?”

Orang tua kurus diam sebentar, mulutnya menggumam: "Lwekang anak ini tertutup, mungkin pikirannya terganggu dan menjadi linglung. Kalau tidak mengapa jadi begini?”

"Lwekangnya tertutup", kata-kata ini amat menggetarkan hati Ji Bun, yang jelas dia sendiri merasakan Lwekang dan kepandaian silatnya sudah punah, namun orang tua kurus ini bilang hanya di "tutup", betapa jauh bedanya antara "tutup" dan "punah" itu?

Secara tak disadarinya dia lalu himpun tenaga dan tarik napas panjang. Mendadak hawa murni bagai air bah yang jebol dari bendungan bergulung-gulung timbul dari sumbernya. Entah bagaimana Lwekangnya ternyata sudah pulih kembali seperti sediakala.

Betapa kejut dan tergetar hatinya sungguh bukan kepalang. Orang tua ini bilang Lwekangnya di tutup, kini telah terbuka dan lancar kembali. Jelas orang tua kurus ini yang membuka segelan Lwekangnya, naga-naganya bukan sembarangan tokoh kosen kakek kurus ini. Dia menyebut diri sebagai Suco, menyinggung tangan beracun lagi, mungkinkah memang dia ini guru dari ayah?

Orang tua kurus menggapai padanya, katanya: "Mari masuk." Bayangannya tiba-tiba lenyap, heran Ji Bun melototkan matanya,

didapatinya di balik batu di mana orang kurus itu bersimpuh tadi adalah lubang batu, tadi karena teraling dan seluruh perhatiannya tertumplek pada si orang tua, maka Ji Bun tidak melihat adanya lubang gua ini.

Sejenak dia ragu-ragu, akhirnya melompat naik ke atas terus melangkah ke dalam gua batu itu. Gua ini sempit, hanya tiba cukup untuk satu orang keluar masuk, lorong gua gelap dan lembab, kira- kira puluhan tombak kemudian baru pandangannya terbeliak pada sebuah kamar batu yang luas, meja kursi dan perabot lainnya semua terbikin dari batu, tepat di tengah sana terletak sebuah meja pemujaan. Asap dupa mengepul tinggi menambah khitmadnya suasana. Orang tua kurus tampak berdiri di pinggir meja, begitu Ji Bun melangkah masuk, segera dia berseru lantang: "Tempat semayam Cosu (leluhur) ada di sini, lekas berlutut."

Sekilas Ji Bun tertegun. Waktu ia pandang ke arah meja pemujaan, tampak sebuah papan batu panjang, ditengah-tengah bertuliskan beberapa huruf yang berbunyi:

"Tempat semayam moyang racun Kwi-kian-jiu Le Bung".

Teringat oteh Ji Bun akan penuturan orang tua aneh di dasar jurang Pek-ciok-hong dulu bahwa Bu-ing-cui-sim-jiu adalah ciptaan seorang tokoh silat ahli racun yang bergelar Kwi-kian-jiu pada dua abad yang lalu, ilmu ini sudah lama putus turunan, secara tidak sengaja, agaknya dirinya telah ke sasar ke tempat asal perguruannya sendiri yang asli.

Setengah kaget setengah girang, tersipu-sipu Ji Bun berlutut lalu menyembah berulang kali, tak lupa iapun menyembah kepada si orang tua kurus, serunya: "Ji Bun yang tidak berbudi, menghadap Suco."

"Berdiri!” seru si orang tua kurus dengan badan gemetar.

Cepat Ji Bun berdiri, pandangannya heran penuh tanda tanya kepada si orang tua aneh.

"Kau bernama Ji Bun?" orang tua itu bertanya penuh emosi. Ji Bun mengiakan. “Siapa nama ayahmu?" "Beliau bernama Ji Ing-hong."

“Kau bukan murid perguruan kami!” kata si kakek tiba-tiba.

Ji Bun mundur tiga langkah, pandangannya sayu seperti mendadak menjadi bodoh. Selama hidup belum pernah dia mengalami kejadian seperti ini, begitu berhadapan orang tua ini mengaku sebagai Suco. Kini bilang dirinya bukan murid perguruannya, agaknya semua persoalan timbul lantaran dirinya meyakinkan Bu-ing-cui-sim-jiu itu, dulu cara bagaimana ayahnya memperoleh kitab pelajaran ilmu beracun ini?

Orang tua kurus duduk di atas kursi batu, sekian lama dia pejamkan mata entah merenungkan apa dan begitu membuka mata segera bertanya pula: "Pernah kau mendengar nama Ngo Siang?"

"Tidak pernah," jawab Ji Bun. "Pernah melihat Tok-keng?" "Juga tidak."

"Bagaimana kau bisa meyakinkan Bu-ing-cui-sim-jiu" "Ayah yang mengajarkan secara lisan."

"Apakah ayahmu juga meyakinkan tangan beracun?" "Menurut apa yang Wanpwe ketahui, agaknya tidak." "Pernah dengar dia menyinggung soal Tok-keng?“ "Tidak pernah beliau menyinggung Tok-keng segala."

Untuk sekian lama pula si orang tua berdiam diri, suasana menjadi hening. Ji Bun tidak tahu apa yang sedang dipikirkan si orang tua. Entah vonis apa pula yang akan dijatuhkan atas dirinya, namun nalarnya yakin bahwa dirinya tidak akan mengalami nasib jelek, terutama Lwekang dan kepandaian silatnya sudah pulih, hal ini menimbulkan gairah dan mengobarkan semangat, dia merasa seperti hidup kembali setelah berkayun di neraka.

Sampai sekian lamanya kedua orang tiada yang buka suara, lama kelamaan Ji Bun menjadi tidak sabar.

Mendadak orang tua kurus berdiri lalu berlutut di depan meja sembahyangan, mulutnya bersabda: "Ban Yu-siong, murid generasi ke-12 bersembah sujud di hadapan Suco, demi mengembangkan perguruan supaya tidak putus turunan, Tecu memberanikan diri memutuskan untuk menerima murid dan menurunkan ilmu, harap dimaklumi dari unjuk periksa adanya!"

Habis bersabda ia berdiri di pinggir meja, katanya dengan suara kereng dan serius: "Ji Bun, ayahmu adalah murid generasi 14 dari perguruan kita, kini kau adalah generasi ke 15, sekarang pasang dupa dan bersembahyang kepada leluhur." "Heran dan tidak habis mengerti Ji Bun dibuatnya, tampaknya tiada peluang baginya untuk berpikir panjang, entah berdasar apa orang tua ini berani memutuskan bahwa ayahnya adalah murid generasi ke 14, kalau toh sudah telanjur adanya ikatan ini, apa pula yang harus dikatakan, yang terang budi orang tua ini memulihkan dan membuka segel Lwekangnya. Sulit bagi dirinya untuk menolak segala perintah dan permintaannya, maka dia lantas melangkah maju mengambil tiga batang hio dan disulut terus berlutut di depan meja pemujaan.

"Bersumpah!" seru orang tua itu.

Kembali Ji Bun tertegun, cara bagaimana harus bersumpah, sekilas dia berpikir, lalu dia berseru lantang sesuai peraturan bagi sesuatu aliran yang hendak memungut murid: "Ji Bun, murid generasi ke-15, berkat keluhuran budi Suco yang sudi menerimanya sebagai murid, dengan ini bersumpah untuk mendarma baktikan jiwa raga bagi perkembangan dan kejayaan perguruan serta bersumpah untuk mematuhi segala peraturan perguruan, kalau melanggarnya, biarlah Thian menjatuhkan hukumannya."

"Dengarkan maklumat!” kembali si orang tua kurus berseru lantang.

14.42. Murid Ban-tok-ci-bun

Ji Bun berlutut dan menyembah tanpa bersuara, hakikatnya memang, dia sendiri tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk mengiringi upacara ini. Lalu berkatalah Ban Yong-siang lebih lanjut dengan nada kereng berwibawa. "Perguruan kita adalah Ban-tok-ci- bun (perguruan selaksa racun). Berdiri dan berkembang demi kesejahteraan manusia, hidup rukun saling membantu, membela yang benar menindas kelaliman, membantu yang lemah menumpas yang kuat dan jahat, takkan berbuat salah dan tidak menuntut kegaiban. Dapatkah kau mematuhinya?”

"Hamba bersumpah akan patuh dan taat!" "Dengarkan tata tertib!"

“Tecu siap mendengarkan."

"Pertama dilarang berbuat jahat dan cabul, kedua dilarang mencuri atau merampok, ketiga dilarang membunuh tanpa berdosa, keempat dilarang membantu kejahatan atau kelaliman. Dapatkah kau mematuhi semua ini?"

Ji Bun mengiakan.

"Nah, sekarang dengarkan peraturan hukum. Mendurhakai perguruan dan leluhur, hukumnya mati. Mengajarkan ilmu beracun secara semena-mena dihukum gantung. Yang membocorkan rahasia perguruan dihukum mati. Berbuat kejahatan dan melanggar perikeadilan dihukum mati. Dapatkah kau mematuhi semua ini?"

Ji Bun mengangguk dan menyatakan patuh. "Nah, sekarang kau boleh berdiri, nak." Ji Bun berdiri lalu menghadapi Ban Yu-siong dan memberi hormat.

"Tidak perlu banyak adat, berdirilah!" wajah orang tua itu sekarang kelihatan welas asih penuh kasih sayang, sorot matanya yang tajam tadi telah lenyap, katanya sambil menuding bangku batu di sebelahnya: "Duduklah, kuingin bicara dengan kau."

"Terima kasih," ucap Ji Bun sambil duduk. "Tuturkan riwajat dan asal usulmu."

"Tecu Ji Bun, keturunan Jit-sing pang Pangcu Ji Ing-hong, anak tunggal dan mewarisi ajaran keluarga, tidak pernah berguru pada aliran lain."

"Baiklah, nak, dengarkan dengan cermat. Perguruan kita bernama Ban-tok-ci-bun, cikal-bakal kita adalah Kwi-kian-jiu yang tersohor sejak ratusan tahun hingga sekarang. Beliau bernama Le Bong. Perguruan kita diwariskan dari satu generasi kepada generasi yang lebih muda, setiap generasi , hanya menerima seorang murid, inilah peraturan yang diwariskan oleh cikal bakal kita dan pantang dilanggar, oleh karena itu ada larangan barang siapa yang melanggar aturan dan sembarangan mengajarkan ilmu beracun kepada orang lain, harus dihukum mati."

"Pernahkah Suthayco berkelana di Kang-ouw?"

"Sudah enam puluh tahun aku menyepi diatas gunung.“ "Lalu generasi yang lalu ”

"Cosuya (Cikal bakal) kita mewariskan aturan cara untuk mendapatkan murid, ini boleh dibilang sebagai rahasia perguruan kita pula. Pada dua ratus tahun yang lalu Cosuya secara tidak disengaja menemukan gua rahasia yang tersembunyi di celah-cela Kiu-coan-ho ini, maka sejak itu beliau lantas bersemayam dan mengasingkan diri di sini. Setelah menggembleng diri selama 60 tahun, bukan saja ilmu silatnya mencapai puncak yang tiada taranya, yang lebih penting beliau berhasil menyelami ajaran Tok-keng yang paling mendalam. Tiba-tiba timbul nalarnya yang luhur, jika ilmu- ilmu ciptaannya sampai putus turunan dan lenyap terbawa mati, kan amat sayang, namun beliau sudah bersumpah untuk mengasingkan diri, tak mungkin melanggar sumpah untuk keluar mencari murid

......"

Sampai disini dia berhenti sebentar, lalu menyambung, "Oleh karena itu Cosuya mendapatkan akal secara untung-untungan bagi yang berjodoh mendapatkan rejeki, beliau mencatat semua ciptaan ilmunya pada dua buah kitab, pada jilid pertama diterangkan, bagi seorang yang menemukan buku itu harus mempelajarinya dengan tekun dan rajin. Dalam jangka 10 tahun, jika mencapai hasil, boleh kemari untuk angkat guru dan memperdalam pelajaran jilid kedua. Jilid pertama dan keterangannya itu oleh Cosuya dimasukkan ke dalam sebuah gelembung kulit terus dilempar ke sungai biar terbawa arus, kemungkinan memang buku itu tidak akan ditemukan orang dan akan lenyap tak keruan parannya. Namun cita-cita Cosuya ini memang hanya dipertaruhkan kepada orang-orang yang kebetulan punya jodoh saja ” Asyik sekali Ji Bun mendengarkan cerita ini, akhirnya tak tahan ia bertanya, "Tentu bungkusan itu ditemukan orang, lalu bagaimana?"

Ban Yu-siong manggut-manggut, katanya: "Ya, kalau tidak masakah perguruan kita bisa bertahan turun temurun sampai sekarang."

“Harap Suthayco melanjutkan kisah ini."

"Enam tahun kemudian, suatu hari ketika Cosuya sedang memancing ikan di tepi sungai, mendadak dilihatnya sesosok tubuh manusia terhanyut dibawa arus, cepat beliau menolongnya ke atas, untung orang itu belum meninggal. Pada badannya ternyata ada kitab Tok-keng jilid pertama. Setelah ditolong dan diobati, baru diketahui bahwa orang ini memang hendak menghadap kepada guru, sayang ia kesasar dan terpeleset jatuh ke sungai "

"Hah!" Ji Bun bersuara dalam mulut.

"Waktu itu bukan kepalang senang hati Cosuya, segera orang itu diangkat jadi murid dan mulai mendirikan sebuah perguruan yang dinamakan Ban-tok-bun. Sejak itu keluarlah aturan perguruan. Di samping itu mengingat ajaran ilmu beracun tidak sama dengan pelajaran ilmu silat, sekali salah tangan pasti mengakibatkan tewasnya orang, jika anak murid sendiri tidak dibatasi gerak geriknya, kelak bisa menimbulkan petaka bagi dunia persilatan, oleh karena itu ditentukan setiap generasi hanya boleh menerima seorang murid saja ”

"Memang bajik dan bijaksana sekali Cosuya," ujar Ji Bun. "Orang itu adalah Suco dari generasi kedua bernama Hoan Goan- liang, karena pengalaman Hoan-suco ini, maka Cosuya menyadari suatu cara untuk menjajaki jiwa manusia. Setiap orang yang memperoleh Tok-keng jilid pertama dan menjadi murid keturunannya, dia harus menceburkan diri di hulu Kiu-coan-ho, setelah mengalami ujian berat dengan mempertaruhkan jiwa raga ini baru dia setimpal dan punya bobot untuk diangkat menjadi murid secara resmi "

"Jika orang itu hilang terbawa arus, lalu bagaimana?" tanya Ji Bun.

"Tidak mungkin, arus air dibawah bukit itu memang aneh, setiap orang yang ceburkan diri ke sungai akhirnya pasti akan terlempar ke atas daratan, disamping itu Cosuya juga memasang jala besar, setiap benda yang terhanyut kesana pasti terjala, boleh dikata segala kemungkinan sudah dipikirkan dengan matang "

"O," demikian kata Ji Bun, "pantas datang-datang tadi engkau orang tua lantas mengaku diri sebagai Suco, jadi engkau kira Tecu juga menceburkan diri ke air demi masuk perguruan."

"Ya, nak, itulah yang dinamakan jodoh.”

"Maaf akan kelancangan mulut Tecu, jika diantara sekian banyak generasi itu kehilangan kitab pusaka, bukankah ajaran akan terputus juga?” "Pertanyaan bagus, itulah yang Suco katakan sebagai menyenggol rejeki, kalau memang tidak berjodoh, sudah tentu perguruan kita akan putus di tengah jalan."

"Kalau yang menemukan seorang jahat dan membuat petaka Bulim, dan orang itu hakikatnya tiada tujuan hendak masuk perguruan, lalu bagaimana jadinya?"

Orang tua kurus tersenyum, ujarnya : "Suco tetap punya cara untuk mengatasinya, tiga tahun setelah kitab diturunkan, generasi yang terdahulu harus turun gunung mengadakan pemeriksaan, karena ajaran racun merupakan ilmu sampingan, setiap orang mendapatkan ilmu ini pasti akan tenar dan berkecimpung di Bu-lim, maka tidak sukar untuk menemukan jejaknya. Kalau murid itu orang jahat, dia akan dihukum menurut peraturan serta merebut kembali Tok-keng, lalu mencari calon murid yang lain. Setelah diselidiki dengan baik, maka dia harus pulang gunung dan menunggu datangnya generasi yang akan tiba, dia wajib menurunkan pelajaran yang tertera pada jilid dua, begitulah seterusnya."

"Kalau demikian, sudah menjadi ketentuan adanya dua generasi yang harus tinggal di atas gunung untuk mempelajari ilmu ciptaan Cosuya bersama ”

“Ya, begitulah kenyataannya."

"Mohon tanya, siapakah generasi ke-13?"

"Murid generasi ke-13 bernama Ngo Siang, tiga tahun kemudian setelah dia nyenggol rejeki jodoh itu, dia mendapat perintahku turun gunung untuk mencari calon murid generasi mendatang, mungkin orang yang berjodoh adalah ayahmu Ji Ing-hong, dia terhitung generasi ke-14, Ngo Siang mungkin mengalami sesuatu bencana, sehingga sekian tahun tidak kunjung pulang, kini ayahmu dicelakai orang lagi, beruntung Thian sudah mengatur segalanya dan kaulah yang dituntun kemari."

Bergidik Ji Bun dibuatnya, analisa orang tua kurus ini agaknya tepat, namun ayahnya lebih dari 10 tahun mendapatkan Tok-keng, agaknya dia sengaja tidak mau masuk perguruan, malah sepak terjangnya justeru melanggar pantangan yang paling besar dari aturan perguruan. Jika Ngo Siang generasi ke-13 itu masih hidup di dunia ini, suatu hari pasti akan mengadakan pembersihan.

Terdengar Ban Yu-siong berkata pula: "Ayahmu melanggar aturan, mengajarkan ilmu perguruan terhadapmu. Jika dia masih hidup, dia pasti dikejar oleh hukuman. Dan kau, setelah meyakinkan ilmu beracun itu pernahkan kau sembarangan membunuh?”

"Tecu yakin tidak pernah membunuh secara serampangan," sahut Ji Bun tegas.

"Bagus, bagus sekali."

"Masih ada satu hal, ingin Tecu bertanya?" "Boleh, soal apa?" "Menurut cerita beberapa sesepuh Bu lim, bahwa Bu-ing-cui-sim- jiu selama ratusan tahun ini hanya Suco seorang saja yang berhasil meyakinkan."

"Itu memang benar."

"Jadi diantara puluhan generasi itu tiada ”

"Tidak demikian halnya, ajaran Bu-ing-cui-sim-jiu dimuat pada jilid pertama dan sukar dipahami. Setiap generasi yang pulang keperguruan sesuai batas 10 tahun itu, jarang yang berhasil meyakinkan dengan baik, sekalipun ada dua tiga orang, tapi kalau tidak dipergunakan, maka kaum Bu-lim tentu tiada yang tahu.

Setelah berada dalam perguruan, meski berhasil dengan gemilang, waktupun sudah berlarut terlalu lama dan tiba saatnya dia harus menerima jabatan sebagai ahli waris. Hakikatnya dia tiada kesempatan berkelana di Kang-ouw untuk mengembangkan ilmu ini, karena tujuannya turun gunung yang kedua kalinya adalah mencari calon murid. Umpamanya kau, lain dari yang lain, rasanya sukar terjadi pada generasi yang mendatang."

"Jika kurang hati-hati, sehingga Tok-keng hilang dan terjatuh ke tangan orang lain?"

"Orang yang menemukan buku itu akan mati mengenaskan." "Kenapa?" "Buku itu mengandung racun yang jahat, begitu tangan menyentuh buku ia akan keracunan dan dalam seratus hari jika tidak diobati pasti mati."

Ji Bun merinding, tanyanya pula: "Tapi bagaimana dengan orang pertama yang mendapatkan, buku itu?"

"Di dalam buku ada suatu lembar keterangan di mana dijelaskan cara untuk menawarkan racun, penjelasan itu harus segera dibakar sambil berlutut setelah dia memperoleh buku itu. Oleh karena itu tidak mungkin ada orang kedua yang menjadi murid generasi yang sama, lebih tidak mungkin ada orang luar yang bisa belajar ilmu perguruan kita."

Ji Bun tunduk dan kagum lahir batin terhadap cikal bakal yang memikirkan segala ini sedemikian cermat, jika demikian halnya, jadi ayah bukan orang kedua yang sama-sama mendapatkan buku pelajaran itu, kalau benar, bukankah dia sudah mati keracunan, ini membuktikan bahwa ayahnya adalah calon murid yang dipilih oleh Ngo Siang, tapi perbuatannya jauh melanggar peraturan perguruan, jika Ji Bun tak berani membayangkan lebih lanjut. Karena

celaka, dirinya sekarang malah ketiban rejeki, secara aneh dan luar dugaan dirinya pulang kandang perguruan asalnya, seperti pengalaman dalam mimpi saja rasanya.

Tiba-tiba terangkat alis putih si orang tua, katanya: "Nak, ketika membuka tutukan Lwekangmu yang disegel tadi kudapati Lwekangmu begitu kuat dan mengejutkan, rasanya tidak memadai dengan usiamu, mungkin kau ” "Tecu mendapat saluran Lwekang dari seorang Locianpwe yang bergelar Ciok-bin-hiap Cu Kong-tam"

"Kau mengangkatnya jadi guru?"

"Tidak, kami bertemu di dasar jurang, dia berpesan kepada Tecu untuk menyelesaikan suatu urusan, maka dia salurkan Lwekangnya kepadaku untuk lolos dari tempat itu."

"Ah, kiranya begitu, hawa murnimu mencapai latihan puluhan tahun, dengan landasan yang kau miliki sekarang, kira-kira cukup setahun saja pasti berhasil mempelajari ilmu tingkat tertinggi dari perguruan kita."

"Setahun?"

"Kenapa nak, kau kira terlalu lama? Setiap Ciangbun dari generasi terdahulu, sedikitnya berlatih lima tahun, ada yang sampai puluhan tahun."

"Maaf akan kelancangan Tecu."

"Dalam keluarga jangan terlalu banyak menggunakan adat, jangan kau bersikap demikian."

"Konon setiap orang yang berhasil meyakinkan Bu-ing-cui-sim-jiu, selama hidupnya tak bisa dipunahkan, apakah betul demikian?”

"Nak, itu hanya dasarnya, tingkat permulaan, jika dilatih sampai tingkat terakhir, racun dapat kau gunakan sesuai keinginan hatimu. Keadaan tak ubahnya seperti orang biasa, semua ini tak perlu kau tanyakan, kelak kau akan tahu sendiri. Sekarang kau boleh mulai kerja bakti, kamar batu sebelah kanan adalah dapur, kamar kedua itu boleh buat tempat tinggalmu, kamar pertama disebelah iri adalah tempat tinggal Suco, kamar kedua adalah tempat latihan, pergilah kau membuat makanan dulu, besok pagi boleh kau mulai belajar."

Sampai detik ini Ji Bun masih merasa dirinya seolah-olah di alam mimpi, karena pengalamannya ini teramat aneh, sukar dipercaya, kalau betul ada kejadian ajaib di dunia pengalamannya inilah buktinya.

Di dalam gua tidak kenal hari, bulan dan tahun. Sang waktu berjalan tanpa terasa. Ji Bun lupa makan lupa tidur, rajin belajar giat menggembleng diri. Ada kalanya beberapa hari dia tidak makan dan tidak tidur. Hari itu dia kembali ke kamar latihan langsung menghampiri si orang tua dan teriaknya girang: "Suthayco, aku sudah berhasil."

Dari pergaulan hari ke hari ini, setiap saat mereka berdampingan.

Hubungan mereka kini tak ubahnva seperti kakek dengan cucu sendiri, maka sikap dan gerak gerik serta tutur kata keduanya sudah tidak dibatasi oleh aturan-aturan yang mengekang lagi.

Si orang tua mengelus jenggotnya yang ubanan, katanya tertawa lebar: "Nak, kuucapkan selamat padamu, setengah tahun kau lebih dini berhasil dari perhitungan semula.”

Ji Bun sendiri sudah lupa waktu dan memperhitungkan hari, iapun merasa heran dan tidak percaya, "Apa, setengah tahun?" "Ya, setengah tahun kurang sehari. Nak, besok pagi kau boleh turun gunung."

"Besok pagi?"

Wajah si orang tua yang berseri girang tiba-tiba dihapus oleh rasa sedih. Ji Bun melihat perubahan roman mukanya, dalam hati juga timbul rasa berat untuk berpisah, namun dia tahu tidak mungkin tidak meninggalkan tempat ini. Selama ini tidak pernah dirasakannya, kini setelah berhasil meyakinkan ilmu, dendam yang tersekam itu seketika berkobar lagi.

"Nah, setelah turun gunung, ada beberapa tugas yang harus kau kerjakan," demikian kata si orang tua.

"Anak Bun siap mendengarkan petuah."'

"Pertama, usahakan untuk menemukan kembali Tok-keng, sekaligus carilah calon penggantimu untuk ahliwaris angkatan ke-16 yang akan datang. Kedua, selidikilah jejak dan kabar kakek gurumu, Ngo Siang. Ketiga, carilah sebab musababnya kenapa setelah mendapatkan Tok-keng, ayahmu tidak kembali ke gunung."

Berdetak jantung Ji Bun, namun dia menjawab dengan hormat: "Anak Bun mengingatnya dengan baik, Suthayco ada pesan apa lagi?"

"Sekarang segala racun tidak akan mempan pada dirimu, namun demi mendarma baktikan dirimu bagi masyarakat umumnya, kau perlu membawa beberapa macam obat, di atas rak obat, kau boleh ambil secukupnya dan pilih mana saja yang kau rasa perlu. Dalam jangka sepuluh tahun kau harus kembali ke sini, murid perguruan kita tidak dilarang menikah, tapi ilmu kita dilarang diajarkan kepada anak cucu sendiri, kau tetap harus melaksanakan peraturan yang telah diwariskan leluhur kita, dengan cara 'rejeki tiban' itu, kau hanyalah satu-satunya orang yang teristimewa di antara sekian murid-murid yang pernah terjadi sejak perguruan kita berdiri.

Untunglah kau sendiri juga sudah mengalami petaka di dalam air." "Terima kasih atas budi Suthayco."

"Tok-jiu-sam-sek (tiga jurus tangan berbisa) terlalu ganas, kalau lawanmu tidak setimpal mati, jangan sekali-kali kau gunakan.

Disamping itu di atas rak pada kotak pertama dibaris teratas terdapat sebotol Hoat-wan (pil maut pelaksana hukum), hasil buatan dan peninggalan Suco, kau boleh membawa sebutir."

Bergetar tubuh Ji Bun, namun dia mengiakan. Dia pikir, kalau ayah masih hidup, memang dia setimpal diberi Hoat-wan ini untuk bunuh diri, namun sebagai seorang anak, mungkinkah .......

"Puncak gunung ini dikelilingi air dan dipagari dinding gunung yang curam, hanya ada sebuah jalan rahasia di belakang gunung, sekarang kau boleh melihatnya " dengan jari telunjuk dia

menggores sebuah peta sambil menerangkan cara bagaimana Ji Bun harus keluar dan masuk, Ji Bun mengingatnya dengan baik. "Sekarang kau boleh mengundurkan diri." Ji Bun menyahut terus mengundurkan diri ke kamar sendiri, hatinya gundah dan resah, dengan bekal yang dipelajarinya sekarang, pasti tugas menuntut balas kali ini akan bisa terlaksana dengan baik. Pengalaman selama setengah tahun ini, kembali dia ulang dalam pikiran, terasa masih banyak liku-liku yang masih gelap baginya, terutama sepak terjang dan keselamatan jiwa ayahnya menjadi topik pemikirannya.

Dia berdoa semoga ayahnya masih hidup, ini jamak, namun iapun ingat betapa kerasnya aturan perguruan, bagaimana kelak dirinya harus bertindak? Ngo Siang pejabat generasi ke 13 sudah lenyap puluhan tahun, dunia seluas ini, ke mana dia harus mencarinya? Tok-keng pasti masih ada di tangan ayah, kalau dia belum mati, bagaimana harus merebutnya ”

Tiba-tiba dia ingat akan racun, Giam-ong-ling yang pernah dipergunakan Kwe-loh-jin, sekarang baru dia tahu bahwa racun ini juga salah satu dari ciptaan perguruannya, mungkinkah Tok-keng terjatuh ke tangannya? Ini mungkin sekali, tapi kenapa dia tidak mati keracunan setelah memperoleh buku itu, sungguh sukar diselami.

Kecuali seseorang yang pernah meyakinkan Kim-kong-sin-kang yang kebal terhadap racun Bu-ing-cui-sim-jiu, tiada orang yang kuat menahannya, kecuali diberi obat penawar perguruannya. Tapi Kwe- loh-jin dan beberapa orang lainnya ternyata tidak gentar dan kebal juga terhadap racun ganas ini, terang mereka belum mencapai tingkat Kim-kong-sin-kang, memangnya mereka memiliki obat penawarnya? Lalu dari mana diperoleh obat penawar itu? Inilah soal yang mencurigakan dan sukar dipecahkan. Diapun teringat pada Biau-jiu Siansing, orang ini juga tidak takut racun, betapapun teka teki ini harus secepatnya dibongkar.

Waktu berjalan cepat sekali, hari kedua pagi-pagi benar Ji Bun sudah pamitan kepada kakek gurunya terus menyusuri jalan rahasia di belakang gunung. Tanpa susah dia keluar dari lingkungan gunung terus menempuh perjalanan menuju ke Kay-hong.

Banyak persoaian besar yang ingin, dia minta penjelasan dari Biau-jiu Siansing, perjanjian setahun tempo hari, kini sudah berjalan setengah tahun mungkin Ciang Wi-bin ayah dan anak sudah tidak sabar menanti. Setengah tahun cukup lama, tapi juga terlalu cepat berlalu, entah apa pula yang telah terjadi selama ini dikalangan Kangouw?

Hari itu, dia tiba di Bik-su, dia cari hotel terus ganti pakaian, sekarang tidak perlu main sembunyi dengan menyamar segala, dibelinya seperangkat dan kipas, topi serta keperluan lainnya, dia berdandan lagi sebagai seorang pelajar yang berwajah cakap.

Semu hijau yang dulu selalu timbul di antara kedua alisnya, sejak dia meyakinkan ilmu tingkat tinggi perguruannya, kini tidak kelihatan lagi. Namun setiap kali dia mengerahkan hawa murni menurut ajaran perguruan, sorot matanya pasti mencorong kehijauan, inilah keistimewaan ilmu perguruannya.

Malamnya seorang diri dia makan minum di kamarnya. Mendadak dari kamar sebelah luar sama terdengar suara ribut-ribut, seseorang berteriak kaget dan ketakutan, tamu-tamu sama berlari keluar, terdengar seorang berkata: "Apa yang terjadi?"

"Entah kenapa tua bangka ini mati, yang muda genit itu entah lenyap ke mana?”

Kematian seseorang, bagi setiap insan persilatan sudah biasa dan bukan soal besar. Ji Bun tidak tertarik, ia tetap makan minum seenaknya. Tapi kupingnya mendengarkan keributan diluar.

Terdengar seseorang berseru pula: "Eh, barang apakah ini?" "Sebuah cincin kok ada tiga lubangnya?"

"Itulah cincin batu jade dengan tiga lubang jari?" Ji Bun terjingkat dikamarnya, sebat sekali dia memburu keluar terus berlari ke kamar tetangga sana, dilihatnya orang banyak berkerumun di depan pintu, pemilik hotel melongo di serambi sambil menjublek kehilangan akal.

Ji Bun langsung menyelinap masuk ke kamar. Seketika dia berseru kaget. Di atas lantai dalam kamar rebah celentang seorang perempuan tua berpakaian hijau, darah berceceran, di samping mayat menggeletak sepotong batu jade berlubang tiga, itulah cincin tiga lubang yang dibicarakan orang banyak.

Ji Bun menjemputnya dan diperiksa, ia kenal inilah Sam-cay-ciat yang biasa dipakai oleh Thian-thay-mo-ki. Dari dandanan orang tua ini, Ji Bun yakin dia pasti Sam-cay Lolo, guru Thian-thay-mo-ki. Di mana Thian-thay-mo-ki? Orang bilang kamar ini dihuni dua orang tua dan muda, yang muda genit pasti Thian-thay-mo-ki adanya. Waktu Ji Bun berdiri dan membalik badan, pandangannya menjadi canang. Dinding di pinggir jendela sana terlihat ada beberapa lubang yang tak terhitung jumlahnya. tiga lubang menjadi satu kelompok, itulah bekas-bekas yang ditinggalkan oleh ilmu Sam- cay-cui-hun kebanggaan Sam cay Lolo.

Sam-cay Lolo cukup tenar dan merupakan tokoh kosen kelas wahid. Kepandaiannya hanya setingkat di bawah Thong-sian Hwesio. Golongan hitam putih sama jeri berhadapan dengan Sam-cay-cui- hun. Lalu siapakah yang mampu membunuh pendekar aneh perempuan tua di hotel ini? Apa pula tujuannya?

Ji Bun membatin: "Kejadian ini pasti sebelum aku masuk ke hotel ini, kelihatan mereka juga bertempur lebih dulu, kalau tidak masakah dirinya tidak mendengar apa-apa, lalu siapakah pembunuhnya, hanya beberapa gelintir jago silat saja yang mampu membunuhnya."

Sam-cay Lolo terbunuh, bagaimana nasib Thian-thay-mo-ki dapat dibayangkan. Keruan hati Ji Bun gelisah, dia merasa terlalu banyak utang budi kepada Thian-thay-mo-ki, perbuatan sendiri setengah tahun yang lalu juga keterlaluan.

Mendadak seorang tua berpakaian hitam melongok sekali ke dalam kamar, seketika mukanya pucat pias. dia menghampiri pemilik hotel serta berbisik: "Jangan ribut-ribut, lekas dikebumikan, tak usah lapor kepada yang berwajib, supaya hotelmu tidak mengalami gangguan."

Habis berkata dia menyurut mundur terus tinggal pergi. "Berhenti!" Ji Bun menghardik.

Laki-laki baju hitam menoleh, dilihatnya cuma seorang pemuda berdandan pelajar, nyalinya menjadi besar, namun mimiknya yang kaget dan takut masih kelihatan, suaranya gemetar: "Siau-hiap ini ada petunjuk apa?"

"Siapa yang membunuh di sini?" "Ini ..... ini ”

"Lekas katakan."

"Apakah Siau-hiap tidak melihat cap pupur di atas dinding itu

.......”

Baru sekarang Ji Bun sempat memeriksa keadaan kamar, dilihatnya di dinding memang terdapat sebuah cap sebesar telapak tangan, bentuknya mirip sekuntum bunga Bwe, keruan dia heran dan tak mengerti, tanyanya: "Cap kembang Bwe, memangnya kenapa?"

"Masakah Siauhiap tidak tahu?" "Kalau tahu buat apa tanya padamu."

"Ini .... ini aku tidak berani menjelaskan," mendadak dia putar

tubuh terus menyelinap pergi di antara orang banyak, lekas sekali bayangannya sudah lenyap. Pertanda apakah cap bunga Bwe ini? Ji Bun tidak habis pikir, kenapa orang tua itu begitu ketakutan? Kalau bukan tanda khas seseorang yang ditakuti pasti merupakan tanda pengenal dari suatu perkumpulan rahasia. Sekian lama dia menjublek, akhirnya dia mencari daya untuk menyelidiki pembunuhan ini, maka dia memberi uang kepada pemilik hotel serta menyuruhnya mengubur mayat Sam-cay Lolo. Lalu dia masukkan Sam-cay-ciat ke dalam kantong.

Menghadapi hidangan di kamarnya, Ji Bun tiada selera makan lagi, otaknya memikirkan peristiwa aneh ini. Kebetulan pelayan masuk membereskan mangkok piring dan berkata dengan cengar- cengir: "Siangkong, di dalam kamar begini gerah, kenapa tidak cari angin di luar?"

Tiba-tiba timbul ilham Ji Bun, segera ia merogoh uang dan berkata: "Siau-jiko, 10 tail ini berikan kepada majikanmu untuk ongkos penguburan, beberapa uang receh ini kuberikan kepadamu, pergilah ke toko belikan sebatang kipas lempit berwarna, hitam legam." 

"Kipas Hitam?”

"Ya, kipas lempit warna hitam polos, jangan yang bergambar atau sudah ada tulisannya, cukup yang bertulang bambu saja."

"Kipas tulang bambu cukup murah, uang sebanyak ini ”

“Sisanya boleh kau miliki." "Terima kasih Siangkong, sebentar kuambilkan sepoci air teh dulu, segera kubelikan kipas ke toko sebelah."

Seorang diri Ji Bun mondar-mandir di dalam kamarnya, dia merancang akal supaya lebih matang sesuai dengan rencananya untuk mengejar jejak si pembunuh. Tidak lama menunggu pelayan itu telah kembali dengan berseri tawa, tujuh delapan kipas lempit dia taruh di atas meja.

"Kau pandai bekerja. kalau perlu nanti kupanggil kau lagi," kata Ji Bun.

15.43. Misteri Perkumpulan Ngo-hong-kau

Pelayan itu mengundurkan diri sambil menutup pintu dari luar.

Sekenanya Ji Bun jemput sebatang kipas terus dibeber, dengan handuk basah dia basahi permukaan kipas hitam itu lalu menyelinap masuk ke kamar sebelah. Kipas hitam yang basah segera dia tempel dan tekan pada cap kembang pupur di atas dinding itu. Cap pupur kembang itu segera mengecap balik di atas kipasnya. Sekembali di kamarnya dia keringkan kipasnya, lalu kipas itu dilempitnya pula, kemudian ia berjalan keluar.

Di jalanan Ji Bun sengaja pentang kipas hitamnya, bagian yang ada cap kembang sengaja dia unjuk ke depan, sambil jalan dia goyang-goyang kipas seperti pelajar umumnya, dia mondar mandir di jalan raya yang banyak dilalui orang.

Di antara sekian banyak orang-orang yang lewat tidak sedikit kaum persilatan. Begitu melihat cap kembang di kipasnya, berubah air muka mereka dan cepat menyingkir pergi. Seperti tidak terjadi sesuatu, Ji Bun putar kayun lalu mampir di sebuah warung teh yang berloteng. Sambil menikmati air teh, sering dia gunakan kipas untuk menghilangkan rasa gerah badannya. Aneh sekali, tamu lain satu persatu juga mengundurkan diri.

Ji Bun menunggu dengan sabar, didapatinya seorang tua baju hitam bersama seorang laki-laki kekar lainnya baru datang dan mengunjuk mimik heran dan kaget pada dirinya. Mereka bisik-bisik sambil melirik ke arahnya, diam-diam girang hati Ji Bun, segera dia buka suara dan bersenandung. Bait-bait syair yang dibawakan dalam senandungnya tidak serasi satu sama lain, namun laki-laki baju hitam itu berubah air mukanya, bergegas aia berdiri menghampiri Ji Bun, katanya sambil menyengir: "Bolehkah Lohu duduk di sini?” 

"Kenapa boleh?" Ji Bun menyilakan.

Setelah duduk orang ini mengawasi Ji Bun dengan curiga, lalu berkata dengan suara lirih sekali, "Apakah kau duta pusat?"

Berdebar jantung Ji Bun, mungkin syair-syair senandungnya tadi secara tidak sengaja tepat mengenai sandi-sandi rahasia perkumpulan mereka. Dari sini dia menarik kesimpulan bahwa cap kembang ini pasti merupakan tanda pengenal dari suatu perkumpulan di Bu-lim, maka dengan wajah serius dia mengiakan.

Terunjuk sikap gelisah pada wajah orang baju hitam, serunya tersipu-sipu: "Hamba Tio Wi-kong, pejabat Hiangcu dari anak cabang kedua, tidak tahu kedatangan yang mulia, harap dimaafkan akan keteledoran ini," sembari bicara iapun berdiri.

"Duduklah!"

"Hamba tidak berani ”

"Aku yang suruh kau duduk"

"Kalau begitu, hamba memberanikan diri, maaf."

Otak Ji Bun bekerja cepat, orang pandang dirinya utusan dari markas pusat. Ia menduga perkumpulan yang menggunakan tanda pengenal cap kembang ini pasti teramat besar dan mewah, kedudukan duta dari pusat juga teramat tinggi, maka dia cari daya untuk mengorek keterangannya dari mulut orang ini, namun dia harus hati-hati supaya tidak mengunjuk tanda-tanda yang mencurigakan.

Beberapa kali mulut Tio Wi-kong sudah terbuka hendak bicara, tapi selalu urung. Ji Bun diam saja, ia pikir, gunakan titik kelemahan orang, mungkin bisa dikorek sedikit keterangan dari mulutnya. Maka dia mencobanya: "Apakah Tio-hiangcu ada waktu senggang?"  Serius wajah Tio Wi-kong, sahutnya: "Mana berani, hamba bertanggung jawab terhadap semua mata telinga yang disebar di sini."

"Ehm, tugasmu cukup berat dan besar artinya, Hiangcu harus bekerja baik dan hati-hati."

"Ya, ya, mohon petunjuk."

Tidak tahu Ji Bun dengan cara apa dia harus mengorek keterangan orang, terpaksa sekenanya dia bicara: "Mengenai peristiwa di hotel itu ” sampai disini dia berhenti sambil

mengawasi mimik muka orang, betul juga orang baju hitam tertegun sebentar, seperti sangsi dan heran, lalu sahutnya tergagap: "Apakah duta tidak mengetahui ”

Tahu pertanyaannya meleset dan menimbulkan curiga orang, lekas Ji Bun unjuk senyuman, katanya tawar. "Tidak, hanya kutanya sekenanya saja, karena " sengaja tidak dia lanjutkan, supaya

tidak salah omong.

Sudah tentu Tio Wi-kong tidak berani tanya lagi, sekenanya ia berkata: "Apakah Duta sudah bertemu dengan pimpinan anak cabang?"

"O, belum, aku tidak akan menemuinya, ada tugas lain yang harus kukerjakan."

"Apakah Duta tidak sejalan dengan kedua orang yang ditugaskan menggusur perempuan itu?" Senang hati Ji Bun, tanpa ditanya orang menyinggung kepersoalan yang ingin diketahuinya, ia pura-pura bersikap penuh rahasia, katanya: "Sudah tentu sejalan, namun aku ada tugas lain lagi, karena " kata-kata ini melanjutkan ucapannya tadi "karena

pusat mensinyalir adanya seseorang yang mencampuri urusan ini, maka aku ditugaskan untuk menyelidiki."

Bualannya memang tepat dan masuk akal, maka Tio Wi-kong tidak menaruh curiga, katanya: “Entah siapakah ?”

Dengan serius Ji Bun berkata: "Te-gak Suseng "

Kaget Tio Wi-kong, laki-laki berbaju hitam ini, serunya: "Bukankah Te-gak Suseng sudah mati di Tong-pek-san?"

Ji Bun menggertak gigi, katanya: "Siapa bilang, memangnya Te- gak Suseng gampang mati, kuburannya itu palsu."

Melotot biji mata Tio Wi-kong, melenggong karena ucapan Ji Bun, sesaat baru dia berkata: “Urusan ini cukup genting, hamba harus segera menyebar kaki tangan ”

"Jangan hal ini kau bocorkan."

Tio Wi-kong mengiakan sambil munduk-munduk. "Oleh karena itu, eh, ya, untung bertemu dengan kau,

beritahukan rencana gerakan pihak sini supaya aku tidak susah- susah putar kayun lagi." Tio Wi-kong melirik sekelilingnya dulu, setelah jelas tiada orang memperhatikan, lalu dengan suara lirih ia berkata: “Kaucu sendiri yang turun tangan ”

Sedikit berubah air muka Ji Bun. Kaucu? Kaucu dari mana? Apakah Bwe-hoa-kau? Jadi Sam-cay Lolo mati di tangan Kaucu mereka. Tiba-tiba ia tersentak sadar, orang sedang mengawasi wajahnya, tahu dirinya telah mengunjuk gejala-gejala yang mencurigakan, maka cepat ia berkata; "Coba lanjutkan.”

"Ya, karena perjalanan cukup jauh, maka sementara digusur ke cabang, baru saja dua Duta datang, kata mereka mendapat tugas untuk menggiringnya besok pagi ke markas pusat, pihak kami cukup menyediakan sebuah kereta saja."

Ji Bun manggut-manggut, otaknya bekerja, tiba-tiba pikirannya tergerak, terpikir olehnya majikan yang pernah dikatakan Kwe-loh-jin itu mungkin adalah Kaucu ini? Inilah kesempatan baik untuk menyelidiki, sekali-kali jangan diabaikan saja. Ia coba tanya: "Apakah Hiangcu ada di tempat sekarang?"

Agaknya Tio Wi kong merasa bangga karena berkesempatan menjilat kepada utusan dari pusat, lekas ia menjawab: "Hamba sekalian siap menunggu perintah."

Ji Bun pura-pura berpikir, katanya kalem: "Sebetulnya tiada urusan apa-apa, cuma Hiangcu orang sini apal seluk beluk, ada urusan kecil perlu bantuan ” "Tidak berani, silakan Duta katakan saja."

"Siapakah orang itu?" tanya Ji Bun sambil menunjuk dengan gerakan bibir ke arah laki-laki yang semeja dengan Tio Wi-kong tadi.

"O, dia seorang Thaubak pembantu hamba." "Baik, kalian berdua boleh keluar kota ”

"Apakah ke Lam-seng?"

"Betul, aku akan berangkat lebih dulu," Ji Bun lantas berdiri sambil merogoh saku.

"Silakan Duta berangkat saja, rekeningnya biar hamba yang bayar."

"Baiklah, kalian harus segera datang, jangan beritahu orang lain."

Setelah meninggalkan warung teh, Ji Bun langsung menuju ke selatan, memangnya dia tidak membawa bekal apa-apa, maka tidak perlu kembali ke hotel, baru saja dia membelok ke jalan besar, seorang pengemis tua mata satu tiba-tiba mendatangi dengan langkah terserot-serot. "Eh, kau!" tiba-tiba pengemis itu berseru dan melotot, berhenti dan mencegat di depan Ji Bun.

Ji Bun melengak, dilihatnya pengemis tua ini tidak pernah dikenalnya. “Tuan tuan ada perlu apa?” tanyanya. Pengemis tua itu unjuk senyum lebar, katanya "Hiante, masa kau tidak kenal suaraku lagi? Setengah tahun lamanya, hampir kedua kakiku patah mencari kau.”

Seketika berkobar semangat Ji Bun, tak pernah disangkanya di sini dia bakal bertemu dengan Sian-tian-khek Ui Bing murid Biau-jiu Siansing.

"Siaute mohon maaf," Ji Bun berkata penuh sesal.

"Guruku mengerahkan puluhan orang, minta bantuan pihak Kay- pang pula," demikian Ui Bing menjelaskan, "jejakmu dicari di segala pelosok, gelagatnya kau malah, adem ayem saja, dimana kau selama setengah tahun ini?"

"Toako, sekarang aku ada urusan, nanti saja kita bicara lagi!"

Seorang pengemis tua yang kotor, berbicara dengan seorang pelajar yang berpakaian bersih dan cakap di tengah jalan raya, sudah tentu menarik perhatian banyak orang.

Ui Bing tahu diri lekas dia berbisik; "Baiklah, kau berangkat lebih dulu.” Sambil bertopang tongkat Pak-kau-pang, dengan terserot- serot dia melangkah pergi.

Ji Bun mempercepat langkahnya, lewat jalan kecil yang lebih dekat, ia langsung menuju ke pintu selatan, ia menyusur jalan kampung terus naik ke atas gundukan tanah tinggi. Saat mana menjelang kentongan ketiga, kalau di dalam kota masih ramai, di luar kota sebaliknya sudah sepi, tidak kelihatan ada bayangan orang. Baru saja Ji Bun tiba di atas bukit, Ui Bing juga lantas tiba, memang tidak malu dia dijuluki Sian-tian-khek, namun bagi pandangan Ji Bun sekarang yang telah mempelajari ilmu tingkat tinggi Ban-tok-bun, kepandaian orang hanya biasa saja, tiada yang perlu dibanggakan.

Setiba di atas bukit Ui Bing segera bertanya: "Ada apa Hiante?” “Aku menunggu orang."

“Siapa?"

“Aku belum tahu siapa mereka, yang jelas dia adalah seorang Hiangcu dari pimpinan sebuah anak cabang dari suatu ‘Kau’ entah apa namanya."

Ui Bing tampak kaget, katanya: "Apakah mereka menggunakan tanda kembang Bwe?"

"Ya, kenapa? Toako tahu perkumpulan mereka?" "Namanya Ngo-hong-kau, baru beberapa bulan ini timbul di

kalangan Kangouw, namun gerakan, mereka sudah menggemparkan Bu-lim."

"Ngo-hong-kau? Siapakah Kaucunya?"

"Belum diketahui, kabarnya orangnya yang berhasil merebut Hud-sim." "Bagaimana bisa diketahui bahwa Ngo-hong-kaucu adalah adalah orang yang berhasil merebut Hud-sim?"

"Masa kau belum tahu, Bu-lim sudah geger, memangnya di mana saja kau selama ini?"

Karena aturan perguruan yang keras, tidak mungkin Ji Bun menjelaskan rahasia Ban-tok-bun, maka ia menjawab seenaknya saja: "Siaute mengalami hal yang aneh, terpaksa menyepi setengah tahun."

Lalu dia alihkan pembicaraan: "Toako, anting-anting yang kutitip padamu untuk dikembalikan kepada keluarga Ciang, bagaimana akhirnya?"

"Aku dicaci maki oleh Ciang-lothau, masakah tanda pertunangan boleh sembarangan dikembalikan ”

"Bagaimana reaksi Ciang Bing-cu?"

"Waktu itu dia hendak mencukur rambut menjadi Nikoh, untung berhasil dibujuk," lalu dengan nada prihatin ia menyambung, "Hiante, begitu besar dan luhur cinta nona Ciang, jangan kau menyia-nyiakan harapannya."

"Soal ini kelak dibicarakan saja, apakah yang terjadi belakangan ini, kenapa Bu-lim sampai geger?" "Petaka di Bu-lim mulai bersemi, agaknya sukar dihindari bakal terjadi bencana berdarah ini," ujar Ui Bing. "Tiga bulan yang lalu, beruntun terjadi peristiwa besar di Bu-lim, semua yang terbunuh adalah tokoh-tokoh kenamaan dari aliran baik, di tempat yang ditinggalkan cap bunga Bwe, tak lama kemudian lantas muncul perkumpulan yang bernama Ngo-hong-kau ”

"Langkah pertama mereka mencaplok Sin-eng-pang dan dijadikan cabang ketiga, disusul Ngo-lui-kong yang kini dinyatakan sebagai cabang utama dari Ngo-hong-kau, yang lain-lain umpamanya It- kiam-hwe, Ang-eng-pang dan sindikat-sindikat kecil lain, semua ditelan mentah-mentah."

"Tidak kecil ambisi mereka?"

"Ya, sampai keluarga Ciang di Kay-hong juga dirampok habis- habisan, untung paman Ciang dan puterinya sempat menyingkir."

Tergetar hati Ji Bun, tanyanya: “Bagaimana selanjutnya?” "Markas Wi-to-hwe diserbu, ratusan anak buahnya gugur, Bu-

cing-so dan Jay-ih-lo-sat gugur, Thong-sian Hwesio terluka parah,

untung isteri Wi-to-hwecu segera tiba, dengan gigih dia tempur Ngo- hong-kaucu, kalau tidak tentu Wi-to-hwe sudah ditumpas habis, tapi Ngo-hong-kau pasti tidak akan tinggal diam."

Jantung Ji Bun berdebar keras, Bu-cing-so dan Jay-ih-lo-sat berkepandaian tinggi, jiwa merekapun melayang, maka dapatlah dibayangkan betapa tinggi kepandaian Ngo hong-kaucu, sungguh amat menakutkan. Untunglah Wi-to-hwecu dan Thong-sian Hwesio masih hidup, kelak masih sempat dia cari kesempatan untuk menuntut balas.

"Kini tinggal Kay-pang dan beberapa aliran besar saja yang belum diusik."

"Toako tahu, Sam-cay Lolo juga sudah mati dan Thian-thay-mo-ki diculik mereka."

"Ya, bagaimana tindakan Hiante?" "Aku akan menolongnya.”

"Kukira amat sulit."

“Siaute akan pertaruhkan jiwa raga."

"Di mana kira-kira sekarang dia disekap?"

"Ada, hubungannya dengan orang yang kujanjikan kemari ini.

Toako tahu di mana letak markas cabang mereka di kota ini?.''

"Aku sendiri belum menemukan, tapi tidak sulit untuk menyelidiki."

"Nah, itulah mereka datang, Toako tak usah ikut bicara.”

Dua bayangan orang tampak berlari naik ke atas bukit, gerak- gerik mereka cukup cekatan, agaknya berkepandaian lumayan. Begitu tiba di bawah bukit, Hiangcu yang bernama Tio Wi-kong segera bersuara "Apakah Duta ada di atas?”

"Ya, aku di sini, kalian boleh kemari," Ji Bun mengiakan.

Begitu tiba di atas bukit Tio Wi-kong berdua tertegun melihat kehadiran Ui Bing. Lekas Ji Bun berkata dengan angkuh, ”Orang sendiri, tidak usah kuatir."

Tio Wi-kong bersama anak buahnya segera memberi hormat kepada Ji Bun, dengan lirikan curiga dan tidak tenteram dia pandang Ui Bing yang menyamar jadi pengemis tua bermata satu, lalu Tio Wi- kong berkata penuh hormat: "Duta ada perintah apa, silakan pesan saja."

Tujuan Ji Bun mengundang kedua orang ini adalah untuk mendapatkan keterangan supaya lebih leluasa menolong Thian-thay- mo-ki. Sekilas dia melirik Ui Bing, lalu pandang laki-laki baju hitam di depannya dan katanya: "Kau, siapa namamu?”

Seperti takut tapi juga senang sikap laki-laki ini dengan munduk- munduk sahutnya tergagap: "Tecu seorang Thaubak di bawah

pimpinan Tio-hiangcu, bernama Ci Tay-khing, mohon Duta suka memberi bimbingan."

"Ehm," dengus Ji Bun, lalu berkata dengan nada lebih kereng: "Agaknya kau pintar dan cekatan bekerja, kelak pasti ada harapan ditarik ke markas pusat." Laki-laki baju hitam munduk-munduk lagi, suaranya gemetar senang: "Semua berkat bantuan Duta."

Ji Bun menunjuk Ui Bing, katanya: "Dia ini Duta rahasia dari pusat. Dia ingin berhadapan langsung seorang diri dengan ketua cabang kalian, baru pertama kali dia kemari, belum tahu jalan dan seluk beluk di sini, supaya tidak terlalu banyak orang tahu jejaknya, kaulah yang ditugaskan menunjuk jalan baginya."

Laki-laki baju hitam mengiakan, lalu dia memberi hormat kepada Ui Bing, katanya: "Silakan ikut hamba."

Sikap Ui Bing lebih sombong, tongkat penggebuk anjing di tangannya terangkat, suaranya keluar dari hidung. "Ya, tunjukkan jalan."

Dengan langkah tergopoh-gopoh laki-laki baju hitam putar tubuh terus lari turun bukit kecil ini. Ui Bing sedikit mengangguk, pertanda bahwa dia tahu maksud Ji Bun, lekas sekali dia melompat turun ke bawah pula.

Setelah kedua orang tak kelihatan bayangannya, sorot mata Ji Bun tiba-tiba mencorong, dengan suara dingin ia mendesis: "Kau tahu siapa aku?”

Agaknya Tio Wi-kong belum tahu persoalan apa yang ditanyakan, seketika dia melenggong, sahutnya ragu-ragu: "Entah siapakah nama Duta yang terhormat ”

"Aku inilah Te-gak Suseng." "Hah!" Tio Wi-kong kaget setengah mati, mukanya pucat terus putar tubuh hendak lari.

"Jangan bergerak," bentak Ji Bun, "kau takkan bisa lolos, sekarang katakan, siapa Kaucu kalian? Dimana letak markas pusatnya?"

"Ini tidak tahu."

Ji Bun berkata pula, suaranya bengis berwibawa: "Orang she Tio, bicaralah terus terang ”

Serta merta Tio Wi-kong menyurut mundur, wajahnya yang semula kelihatan pucat ketakutan kini berubah menyeringai, jari-jari tangannya mengusap ke mulut, katanya: “Kau mau apa?"

"Jawab pertanyaanku."

"Te-gak Suseng, yang kau andalkan hanya Bu-ing-cui-sim-jiu, nah kau boleh coba atas, diriku."

Ji Bun tertegun malah, apakah orang ini tidak takut terhadap racun? Kalau dia ini sekomplotan dengan Kwe-loh-jin dan lain-lain, maka tidak perlu dibuat heran. Kini dia menjadi paham, jari-jari tangan orang mengusap mulut tadi mungkin menelan obat penawarnya, maka dia berani bicara besar dan garang. Namun Ji Bun sekarang bukan Ji Bun setengah tahun yang lalu, katanya: "Aku takkan menggunakan tangan beracun, kalau kau mampu melawan sejurus saja, kau boleh pergi sesukamu." "Memangnya kau mampu menahanku di sini?” jengek Tio Wi- kong.

"Nah, cobalah," ujar Ji Bun, sebelah tangannya terus memotong miring ke depan, kelihatannya gerakan tangan ini enteng dan tidak menggunakan tenaga, namun kekuatannya dahsyat luar biasa. Tio Wi-kong memutar kedua tangan turun naik menyerang sambil bertahan. Dinilai permainannya, memang dia terhitung jago kelas tinggi dikalangan Kang-ouw. Baru saja serang menyerang kedua pihak berlangsung, tenaga yang dikerahkan telapak tangan Ji Bun tiba-tiba dimuntahkan, kekuatannya sungguh hebat dan tidak terbendungkan.

"Huuuuaaaah!" ditengah jeritan ngeri Tio Wi-kong muntah darah, kakinya mundur beberapa langkah, akhirnya jatuh terduduk.

Sesosok bayangan melayang turun dengan enteng, kiranya Sian- tian-khek yang menyaru jadi pengemis telah putar balik.

"Bagaimana Toako?” tanya Ji Bun.

"Jalan menuju ke markas cabang sudah kuketahui." "Mana orang itu?''

"Sudah kuantar dia pulang ke neraka. Lihay juga dia, pandai main racun. Kalau aku tidak segera turun tangan, hampir saja aku dikibuli." "Seeeer!" tiba-tiba sejalur api menyala menjulang tinggi ke angkasa. Kiranya melihat gelagat tidak menguntungkan, dikala kedua orang bicara, diam-diam Tio Wi-kong menyambitkan panah berapi ke udara untuk minta bala bantuan.

Ji Bun mendengus sekali, tahu-tahu tubuhnya melejit tinggi, badannya berputar secepat kitaran, mumbul laksana roket meluncur, melampaui luncuran panah berapi dan mengebasnya jatuh di tengah angkasa, maka berpijarlah kembang api beterbangan di udara dan berjatuhan. Cepat sekali dan seenteng kipas Ji Bun meluncur turun pula. Lwekang tingkat tinggi yang berhasil dipelajarinya dari perguruan Ban-tok-bun dia kombinasikan dengan Ginkang pusaran angin lesus yang dia pelajari dari orang tua aneh Giok-bin-hiap Cu Kong-tam di dasar jurang itu, sekaligus dia demonstrasikan.

"Hiante," seru Ui Bing terbelalak, "terbuka mataku malam ini.

Guruku terkenal oleh Ginkangnya yang tinggi, agaknya beliau takkan lebih unggul dari pada kau."

Ji Bun geleng-geleng, sahutnya: "Ah, kau terlalu memuji.”

Tio Wi-kong berdiri menjublek, sukmanya serasa terbang dari raganya, mulut melongo, mata terbeliak, hampir dia tidak percaya bahwa ini kenyataan.

Ji Bun putar badan dan berkata dengan bengis: "Sekarang jawablah beberapa pertanyaanku."

Tio Wi-kong menyurut mundur dengan ketakutan, namun dia masih bandel: "Tiada yang harus kujelaskan." Ji Bun mengertak gigi, katanya: "Pernah kau pikir cara bagaimana kematianmu nanti?"

Gemetar Tio Wi-kong melihat sorot mata Ji Bun: "Kuterima nasib.

Jangan kau paksa aku."

"Memaksamu? Ha ha ha, sebaliknya sudah lama aku menahan diri, baru sekarang aku menemui sasaran yang tepat untuk menagihnya."

"Aku utang apa terhadapmu?" "Boleh kau tanya Kaucu kalian."

"Apa yang hendak kau lakukan terhadapku?" "Kau bicara terus terang, kuampuni jiwamu."

"Anak didik Ngo-hong-kau tidak gentar diancam dan disiksa, mau bunuh atau disembelih silakan lekas, pasti ada orang yang akan membuat perhitungan padamu nanti."

"Memangnya tulang-tulangmu sekeras besi?"

Tio Wi-kong balas dengan mendengus tanpa menjawab. "Hiante," sela Ui Bing, "jangan membuang waktu, gerak gerik

Ngo-hong-kaucu serba misterius. Anak buahnya sendiri tiada yang pernah melihat wajah aslinya. Kalau kita menemui ketua cabang mungkin bisa berhasil."

15.44. Duta Istimewa Ngo-hong-kau

"Darimana kau bisa berpendapat demikian?" tanya Ji Bun.

"Ada seorang Tongcu dari Ngo-hong-kau yang tertawan oleh Wi- to-hwe, meski dikorek, hasilnya tetap nihil."

Ji Bun sudah angkat tangan hendak membunuh Tio Wi-kong, namun tiba-tiba dia ingat akan pantang perguruan, apakah ini juga termasuk membunuh secara semena-mena? Yang terang orang ini memang belum setimpal dihukum mati, maka gerakan tangan yang membelah dia ubah jadi tutukan, ilmu orang dia punahkan, ditambah tutukan jalan darah menidurnya, lalu katanya kepada Ui Bing: "Toako, berapa lama lagi akan kentongan kelima, marilah kita tunggu saja di sekitar luar pintu kota."

"Menunggu apa?" tanya Ui Bing.

"Mereka hendak menggusur Thian-thay-mo-ki ke markas pusat, antara kentongan kelima akan keluar dari pintu selatan."

“O, Hiante, kukira kita tidak perlu turun tangan tergesa-gesa." "Kenapa?"

"Kuntit mereka, supaya tahu di mana letak markas mereka." "Ya, akal bagus. Marilah!" mereka turun dari bukit langsung menuju ke selatan dan sembunyi di semak-semak.

Ayam sudah berkokok, lekas sekali fajar telah menyingsing, asap dapur sudah mengepul tinggi dari rumah-rumah penduduk dalam kota, namun sejauh ini tidak tampak sebuah keretapun yang keluar kota.

Ji Bun gugup dan naik pitam, dia merasa telah dikibuli, hawa marahnya menjadi berkobar, katanya kepada Ui Bing: "Tunggulah sebentar di sini!"

Sekali lompat dia meluncur balik ke arah bukit kecil tadi, namun setiba di tempat, seketika dia menjadi lesu. Tio Wi-kong yang ditutuknya tadi sudah tidak kelihatan bayangannya. Setelah ilmu silatnya punah, di tutuk lagi sehingga tidur pulas, untuk siuman juga perlu berselang dua jam kemudian, agaknya dia telah ditolong orang.

Dengan adanya kejadian ini, sudah tentu pihak musuh akan berubah siasat, sebaliknya dirinya bersama Ui Bing menunggu angin secara sia-sia. Diam-diam ia menyesal kenapa tadi bertindak kurang tegas, kalau Tio Wi-kong dibunuh, mungkin situasi tidak akan berubah, kejadian ini betul-betul ibarat "menyingkap rumput mengejutkan ular", urusan akan semakin rumit dan sukar dibereskan.

Ui Bing bilang Kaucu Ngo-hong-kau adalah orang yang berhasil rebut Hud-sim, namun menurut apa yang dia tahu Hud-sim akhirnya terjatuh ke tangan Kwe-loh-jin, ini membuktikan bahwa Ngo-hong- kaucu pasti majikan Kwe loh-jin dan laki-laki tak dikenal yang pernah membunuhnya tempo hari, maka persoalan sekarang bertambah ruwet. Bukan saja harus menolong Thian-thay-mo-ki, ibunyapun berada di tangan mereka, mati hidupnya sukar diramal. Keruan giginya berkerutuk saking gemas dan geram, hatinya panas dan gelisah seperti semut di dalam wajan.

Hari sudah terang tanah, lalu lintas sudah ramai di jalan raya.

Tak lama kemudian Ui Bing juga menyusul ke atas bukit. Keduanya hanya saling pandang dengan melongo.

Sekonyong-konyong sebuah suara melengking dingin berkumandang: "Te-gak Suseng, tibalah sekarang saat kematianmu."

Ji Bun dan Ui Bing kaget dan sama-sama menoleh, tampak dari balik pohon di belakang bukit sana muncul dua orang, ternyata dua pemuda berbaju sutera yang bermuka tirus dan kejam, usianya sekitar likuran tahun, satu diantaranya berhidung betet, matanya jalang sadis, seorang lagi kulit mukanya kasar dan beringas, keduanya tampak cekatan, langkahnya enteng.

Ji Bun menyapu pandang, jangeknya: "Kalian pasti anak buah Ngo-hong-kau?"

Pemuda berhidung betet menjawab dengan suara sumbang: "Betul, kami adalah Ngo-hong-su-cia."

"Ada petunjuk apa?" "Akan memenggal batok kepalamu." "Kalau kalian mampu, boleh ambil saja."

Ngo-hong-su-cia yang bermuka kasar ikut bicara: "Te-gak Suseng, ada pesan apa lekas katakan kepadaku saja."

Terpancar sinar cemerlang dari biji mata Ji Bun, tanya garang: "Dimana Thian-thay-mo-ki yang kalian tawan itu?"

"Kau ingin tahu? Sekarang dia sudah menjadi teman seranjang Kaucu kami."

Darah seketika tersirap ke atas kepala Ji Bun, hardiknya: "Ingin mampus kau!"

Telapak tangannya segera tegak dan menabas, utusan Ngo- hong-kau yang bicara tadi memapak maju, dia menyambut secara kekerasan. Sementara temannya melompat menyingkir.

"Bluk!" suara menggelegar, keduanya sama-sama bertolak mundur setapak, hati Ji Bun mencelos, walau dirinya belum kerahkan seluruh kekuatan, namun musuh kuat melawan. Betapa tinggi kepandaian anak muda ini sungguh amat mengejutkan.

Tampaknya tidak lebih lemah dari pada Siang-tian-ong dan lain-lain, tak heran Ngo-hong-kau berani bersimaharaja di Bu-lim.

Tapi kejut orang itu lebih besar, Lwekang Ji Bun agaknya di luar perhitungannya. Cepat sekali keduanya sudah saling tubruk dan serang menyerang, pertempuran amat sengit dan dahsyat, dalam waktu singkat susah dibayangkan pihak mana bakal menang.

“Pengemis tua,” ujar utusan yang lain, “biar kau kubereskan lebih dulu."

Tanpa banyak komentar segera dia menyerang Ui Bing. Hanya tiga gebrakan saja Ui Bing sudah terdesak keripuhan, malah kemampuan untuk balas menyerangpun tiada, julukannya Sian-tian- khek, mestinya gerak-geriknya cukup hebat, maka begiitu melihat gelagat jelek, selicin belut segera dia menyelinap keluar gelanggang.

"Gerakan bagus, tapi jangan harap kau bisa lolos!" seru orang itu, tahu-tahu badannya berkelebat, Ui Bing dipukul mundur pula oleh gerakan lawan yang lihay, kalau dalam keadaan biasa, mungkin Ui Bing sudah lari, tapi Ji Bun masih berhantam dengan musuh, betapapun dia tidak tega lari seorang diri, namun kepandaian lawan teramat tangguh bagi dirinya, hanya sedetik dia bimbang dan meleng badannya sudah terpukul sekali.

Dengan menguak darah muntah dari mulut Ui Bing, tongkat ditangannyapun mencelat, terbang entah ke mana, maklum dia bukan orang Kay-pang, tongkat itu hanya pelengkap dari penyamarannya, hakikatnya tongkat itu bukan senjata andalannya.

Di sebelah sana kelihatan Ji Bun lebih unggul menghadapi orang itu, lawan didesaknya mundur berulang-ulang, namun untuk menamatkan jiwanya tidak mungkin dilakukan dalam dua tiga gebrakan saja. Melihat Ui Bing terluka, hati Ji Bun gelisah. Terdengar orang yang berhadapan dengar, Ui Bing tengah membentak: "Pengemis tua, rebahlah kau!"

Jeritan ngeri segera bergema di lembah pegunungan menyusul suara bentakan tadi, Ui Bing terguling-guling roboh.

Ji Bun betul-betul kaget, kini tiada pilihan lagi, seraya menghardik, jurus pertama Kian-ciau-kwi-cau (burung terbang balik kesarang) dari Tok-jiu-sam-sek segera dia lancarkan.