Hati Budha Tangan Berbisa Jilid 13

 
Jilid 13

"Maksudmu Bu-ing-cui-sim-jiu?"

"Mirip sekali, namun belum berani dipastikan."

"Baik kau mundur," ujar orang dalam tandu, lalu dengan suara dingin dia tanya Ji Bun: "Siapakah sahabat ini?"

"Siu-hiat-jin."

"Siu-hiat-jin, dari mana kau?"

"Kenapa kau tidak keluar saja, memangnya malu dilihat orang?" "Kurangajar, Siu-hiat-jin, apa alasanmu membunuh orang?" "Menagih darah."

"Sasarannya adalah perkumpulan kami?" "Tepat sekali."

Orang dalam tandu diam, agaknya tengah berpikir, suasana menjadi sepi, namun tegang. Lama sekali baru orang dalam tandu bersuara dengan nada berat: "Siu-hiat-jin, pernah apa kau dengan Te-gak Suseng?"

Otak Ji Bun bekerja cepat, perlukah terus terang. Kalau mengakui, arti dari penyamarannya menjadi tak berguna, padahal lawan mengerahkan segenap kekuatan untuk menempur dirinya. Kalau menyangkal, lawan sudah tahu akan ilmu beracunnya, terang sukar untuk mengelabui dia. Sudah tentu, kalau sekali gebrak dia dapat membunuh lawan tanpa seorangpun ditinggalkan hidup, segala persoalan pun tidak perlu dikuatirkan lagi, tapi apakah dirinya mampu bertindak, masih merupakan tanda tanya. Oleh karena itu dia berkata samar-samar: "Hal ini kau tidak perlu tahu."

"Baik, soal ini tidak usah dibicarakan, ikutlah aku ke atas gunung atau terpaksa aku harus turun tangan?"

"Ikut kau ke atas gunung? He he he he kalian yang ada di

sini jangan harap bisa hidup lebih lama lagi."

"Keparat!" tiba-tiba segulung angin menerjang ke luar dari dalam tandu. Ji Bun tak pernah lena, lekas dia berkisar dan sedikit jongkok, kedua tangan menyongsong datangnya serangan dengan setakar kekuatannya. Cara tempur dengan kekerasan merupakan adu kekuatan Lwekang. Semakin matang latihannya semakin hebat kekuatannya, sedikitpun tidak dapat dipalsukan dan tidak mungkin menggunakan akal atau muslihat.

Memang dua tujuan yang memaksa Ji Bun memakai cara tempur yang memeras keringat ini, pertama, supaya lekas berakhir dan menentukan, kedua, untuk menyelidiki dan menjajal sampai di mana sebetulnya kekuatan lawan.

"Blak," dua tenaga pukulan yang dasyat saling hantam menimbulkan suara dasyat. Hawa seketika bergolak, tandu berhias itu sampai semplak dan pecah tercerai berai. Keempat pemikul tandu sama berubah air mukanya, mereka melompat mundur dua tombak jauhnya. Komandan ronda Khu In yang berdiri jauh di sana juga melongo.

Sementara itu, keadaan Ji Bun juga cukup mengenaskan. Getaran tenaga tadi membuat kedua kakinya yang bertahan sekokoh gunung itu lantas ambles ke dalam tanah sebatas mata kakinya. Sementara orang dalam tandu yang selama ini bersembunyi dalam tandu terpaksa harus mengunjuk diri, dia ternyata adalah seorang Nikoh tua.

Hampir saja Ji Bun menjerit kaget setelah mengenali siapa sebetulnya orang yang berada di dalam tandu ini, karena dia bukan lain adalah ketua Boh-to-am, yaitu Siu-yan Loni. Maklumlah lantaran dia seorang beribadat, kalau mencampurkan diri menjadi anggota suatu persilatan di Kang-ouw mungkin bisa menimbulkan hal-hal yang tidak di inginkan disamping bisa menjadikan cemooh dan tutur kata orang banyak dan lagi dia akan banyak mengalami kesulitan di dalam melaksanakan kewajibannya sebagai seorang anggota suatu perserikatan. Oleh karena itu dia selalu naik tandu berhias untuk menyembunyikan diri, kini Ji Bun kenal Siu-yan Loni, tapi Siu-yan Loni tidak mengenalnya lagi.

Orang dalam tandu ini pernah sekian lamanya membuat Ji Bun bertanya-tanya dalam hati, betapa susah payahnya dia berusaha untuk menyelidiki dan membongkar asal usulnya. Tak nyana hari ini dengan mudah dan tanpa sengaja keinginannya itu terlaksana dengan mudah sekali.

Agaknya Siu-yan Loni menahan gejolak perasaannya, karena badan gemetar, kulit mukanya yang penuh keriput tampak berkerut. Sorot matanya tajam dan menakutkan, katanya penuh emosi: "Siu- hiat-jin, tidak lemah kepandaianmu."

Dengan menyindir jawab Ji Bun: "Ah, Suthay terlalu memuji." "Tapi jangan kau takabur, kalau Pinni tak mampu membereskan

kau, segera aku bunuh diri dihadapanmu."

Sudah tentu tersirap darah Ji Bun mendengar ancaman ini, bahwa Nikoh tua ini berani mempertaruhkan jiwanya, sudah tentu bukan gertak sambal belaka. Dia cukup trampil melihat situasi, karena daerah sekarang dia berada masih merupakan kekuasaan Wi- to-hwe, bala bantuan musuh bukan mustahil akan menyusul tiba secepat mungkin. Kalau ditambah dua tiga musuh bangkotan lagi, tidak sulit diramalkan bagaimana akhir dari nasibnya. Jalan tepat yang harus dilaksanakan sekarang adalah selekasnya mengakhiri pertempuran. Segera ia melangkah maju, tantangnya: "Boleh kau mencobanya lagi," Belum selesai ia berkata, pukulannya sudah dilontarkan lebih dulu.

Dingin muka Siu-yan, kedua lengan bajunya bersilang laksana gunting dikebaskan ke depan. Segulung angin lunak dan kuat seketika menerpa seperti angin puyuh dasyatnya.

Seketika Ji Bun merasakan seperti diterjang kekuatan ribuan kati beratnya, tanpa kuasa tubuhnya íkut berputar-putar, diam-diam dia mengeluh. Sebelum dia dapat menguasai diri, Siu-yan Loni kembalikan kedua lengan bajunya dengan gaya yang sama, beruntun angin kebasan lengan baju menerjang secara berantai ......

Kalau Ji Bun tarik kembali pukulan dan balas menggempur, waktunya jelas tidak sempat lagi, terpaksa dia kerahkan tenaga pada kedua kakinya. Secepat kilat tubuhnya melenting ke samping, ketangannya ditarik terus di dorong untuk mengurangi daya tekanan lawan, lalu dari samping tiba-tiba dia lontarkan pukulan.

Kali ini Ji Bun memang cukup cerdik dan tepat mengambil kesempatan. Sedetik peluang ini sudah cukup membuat Siu-yan merasakan dirinya keterjang angin badai sehingga tubuhnya terhuyung mundur.

Pertempuran tokoh-tokoh kosen terletak pada kesempatan pertama dapat mendahului melancarkan serangan. Sudah tentu Ji Bun tidak sia-siakan kesempatan yang baik ini. Sebat sekali dia maju lagi, Bu-ing-cui-sim-jiu dengan cepat luar biasa menyerang pula ke arah lawan. Bu-ing-cui-sim-jiu adalah ilmu beracun tertinggi dari golongan racun masa kini, cukup ujung jarinya saja menyentuh tubuh lawan, sang korban akan jatuh terguling dan jiwapun melayang dalam beberapa detik saja.

Di kala jari-jari Ji Bun hampir mengenai kulit daging lawan, damparan angin kencang tiba-tiba menyibak datang dari arah samping. Hebat juga terjangan ini sehingga Ji Bun yang tidak mengira akan bokongan ini terpental miring. Serangannya luput kesempatanpun sirna, malah Siu-yan Loni punya peluang balas menyerang sehingga Ji Bun terpukul mundur beberapa tombak jauhnya.

Orang yang membokong dari samping ternyata adalah komandan ronda Khu In adanya. Sudah tentu bukan kepalang murka Ji Bun, nafsunya pun semakin berkobar. Begitu kaki menyentuh tanah, tangkas sekali dia jumpalitan dan lompat kembali menubruk ke arah Khu In.

"Berani kau!" bentak Siu-yang Loni, kedua tangan serempak di dorong ke depan, dua jalur angin kencang memecah udara menderu ke depan.

"Bluk, ngek!" sekaligus terdengar dua suara berbeda, komandan ronda Khu In terkapar di tengah serangan yang terakhir, sementara Ji Bun menguak seperti sapi digorok lehernya, badannya bergoyang dengan kaki terhuyung. Sekujur badan serasa kosong dan lunglai karena terjangan angin pukulan Siu-yan Loni yang lihay ini. Khu In sempat berkelejetan tiga kali, badannya seketika lemas tak bergerak lagi.

Serasa copot sukma Ji Bun, tenaganya macet sehingga tak mampu dikerahkan lagi, itu berarti dia harus berpeluk tangan terima kematian. Entah menggunakan ilmu apakah Nikoh tua ini, dalam jarak yang cukup jauh dia mampu mematahkan kekuatan lawan hanya dalam segebrakan saja?

Siu-yan Loni melengking murka, lengan baju bergoyang telapak tanganpun bekerja, "Blang!” diselingi jeritan keras, kembali Ji Bun terlempar dua tombak jauhnya, darah menyembur dari mulutnya, rebah dan tak berkutik lagi.

"Kutungi dulu lengan kirinya!" dalam murkanya Siu-yan memberi perintah, salah seorang pemikul tandu mengiakan, "sret", ia melolos pedang dari pinggangnya, terus menghampiri Ji Bun.

Hampir pecah biji mata Ji Bun mendelik gusar, otot hijau jidatnya merongkol keluar, sambil mengertak gigi dia meronta bangun, mulutnya menjerit beringas: "Berani kau!"

Mendadak darah menyemprot pula, badan limbung dan hampir terjungkal lagi.

Laki-laki yang menenteng pedang agaknya menjadi jeri menghadapi manusia darah yang seram dan berwibawa ini, serta merta dia berhenti, namun hanya sekilas saja dia sudah melangkah maju pula dalam jarak dekat. Ji Bun tidak sanggup lagi menggerakkan tangannya, apa lagi menyerang. Sinar kemilau berkelebat, tajam pedang yang dingin seketika terayun menabas ke arah lengan kiri Ji-Bun. Serasa meledak dada Ji Bun, darah menyembur pula dari mulutnya, namun kenyataan dia tak kuasa lagi menghindari ancaman yang akan memisahkan lengan dari tubuhnya karena tiada tenaga untuk berkelit. Namun secara refleks Ji Bun telah menjatuhkan diri menggelundung sejauh mungkin. Karena tabasannya luput, laki-laki itu menggeram gusar terus memburu maju dan ayun golok pula. Kali ini Ji Bun betul-betul mati kutu, dengan mendelong dia hanya mengawasi pedang orang terayun ke arah lengannya tanpa dapat berbuat apa-apa.

Pada detik-detik yang gawat itulah mendadak sebuah bentakan menghentikan gerakan pedang laki-laki itu: "Berhenti, mundur!"

Bahwa yang berseru ini adalah Siu-yan Loni betul-betul membuat Ji Bun kaget dan heran tapi juga bersyukur, tadi memberi perintah supaya menabas lengannya, kini mencegahnva lagi, kenapa demikian?

12.36. Jejak Ibunda, Mulai Tercium

Dengan mendelong dia awasi orang, tampak wajah Siau-yan Loni penuh emosi yang campur aduk, matanya menatap ke arah tanah di sebelahnya, dengan heran Ji Bun menoleh ke arah orang memandang. Seketika hatinya tergerak, ternyata di sampingnya menggeletak sebentuk barang, itulah tanda pengenal pemberian si orang tua aneh di dasar jurang di belakang Pek-ciok-hong yang harus diserahkan kepada Toh Ji-lan. Mungkin waktu dia menjatuhkan diri dan menggelundung tadi benda itu jatuh keluar dari kantongnya, kenapa Nikoh tua ini begini besar perhatiannya terhadap tanda pengenal ini, mungkinkah .......

Mendadak Siu-yan Loni melompat maju memungut benda itu, dia bolak balik serta memeriksanya dengan teliti, katanya kemudian dangan suara rada gemetar: "Darimana kau dapatkan barang ini?"

Ji Bun seka darah yang meleleh diujung mulutnya, tanyanya: "Apakah Suthay kenal benda ini?"

"Bukan hanya kenal saja."

"Apakah Suthay ada hubungan dengan barang ini?" tanya Ji Bun.

Siu-yan Loni pejamkan mata sebentar seperti menenangkan gejolak hatinya, lama sekali baru dia buka suara dengan gemetar: "Siu-hiat-jin, bagaimana barang ini bisa berada di tanganmu?"

"Cayhe mendapat pesan seorang Cianpwe dengan tanda pengenal ini mencari seorang untuk menyampaikan beberapa patah kata."

"Siapa yang berpesan padamu?"

Ji Bun menyadari di balik kejadian hari ini serta melihat sikap Siu- yan Loni pasti ada latar belakang yang menarik, maka dia balas bertanya: “Apa maksud Suthay bertanya soal ini?"

“Siu-hiat-jin, apakah kau muridnya?" "Muridnya siapa?”

"Giok-bin-hiap Cu Kong-tam!" Setiap patah kata diucapkan Siu- yan dengan penuh emosi.

Ji Bun membatin: Giok-bin-hiap (pendekar wajah kemala) Cu Kong-tam mungkin adalah orang tua aneh di bawah jurang itu. Dari julukannya dapatlah dibayangkan dimasa mudanya dulu pasti orang tua aneh itu adalah seorang pemuda cakap dan ganteng.

Memangnya siapa pula Nikoh tua ini? Dari mana dia tahu akan tanda pengenal ini, tahu siapa pemiliknya dan dirangsang emosi lagi.

"Maksud Suthay pemilik barang ini? Cayhe bukan murid beliau, namun pernah memperoleh banyak kebaikan dari beliau.”

Siu-yan melangkah maju setindak, dengan haru dan girang dia bertanya: "Dia.. .... dia..... masih hidup? Di dimana dia

sekarang?”

"Harap Suthay suka jelaskan dulu siapa sebenarnya kau?” "Pinni Siu-hiat-jin, katamu kau dipesan untuk mencari

seseorang? Siapa yang kaucari?”

"Tapi konon orang itu sudah meninggal dunia.” "Katakanlah siapa dia?”

"Adik kandung Pek-ciok Sinni yang bernama Toh Ji-lan." Seperti kena aliran listrik tiba-tiba Siu-yan Loni berjingkat mundur, mukanya yang berkeriput tampak berkerut-kerut, suaranya semakin gemetar: "Katamu Toh Ji-lan? Dia sudah meninggal dunia?"

"Siangkoan Ci-hwi yang bilang demikian."

"O," terpancar cahaya pilu dan sedih sekali dari sinar mata Siu- yan Loni, seperti bermimpi saja mulutnya mengigau: "Tidak, dia .....

masih hidup? Dia ..... belum mati? Ah, tidak mungkin. Tidak

terduga, tapi segalanya sudah terlambat."

Yang dimaksud "dia" adalah orang tua aneh di dasar jurang? Ini menandakan bahwa Siu-yan ada hubungan yang intim dan luar biasa dengan beliau. Sudah terlambat, semuanya sudah terlambat?

Memangnya Nikoh tua ini adalah tapi Siangkoan Ci-hwi bilang

Toh Ji-lan sudah meninggalkan dunia yang fana ini. Maka Ji Bun bertanya: "Siapakah nama preman Suthay?"

"Siu-hiat-jin, Pinni adalah orang yang sedang kau cari."

Ji Bun kerjingkrak berdiri dan menyurut mundur, pekiknya: "Suthay adalah Toh Ji-lan Cianpwe?"

"Ya, memang Pinni adanya." “Ini .... ini mana mungkin?"

"Kenapa tidak mungkin?" "Nona Siangkoan bilang bahwa To-cianpwe sudah “

"Apakah budak itu bilang Pinni sudah meninggal?"

"Dia bilang Cianpwie sudah meninggal dunia fana ”

"Ya, meninggalkan dunia fana bukan berarti sudah mati, apakah kau tidak pernah pikir seorang biarawati harus meninggalkan urusan duniawi?"

Ji Bun melongo kesima, memang, kenapa semula ia tidak berpikir ke arah itu. Kalau tidak secara kebetulan tanda pengenal itu jatuh, bukankah bakal menyia-nyiakan harapan si orang tua aneh yang sudah menunggu berpuluh tahun di dasar jurang. Ternyata beliau adalah Giok-bin-hiap Cu Kong-tam.

"Di mana Cu Kong-tam sekarang berada?" "Di dasar jurang di belakang Pek-ciok-hong." "Apa, dia berada di dalam jurang?"

"Menurut cerita Cu-cianpwe, dulu Tacimu Pek-ciok Sinni Toh Ji- hwi telah menjebloskan Cu-cianpwe ke gua rahasia untuk meyakinkan Pi-yap-sin-kang, lalu menutupnya. Selama puluhan tahun, Cu-cianpwe masih bertahan hidup dengan satu keyakinan, yaitu ingin bertemu muka sekali lagi dengan Suthay."

"Taciku, dia " pucat pias wajah Siu-yan Loni, wibawa seorang

beribadat serta sikap yang welas asih lenyap tak membekas lagi, rona wajahnya kini dilembari rasa benci, dendam, marah dan emosi campur aduk.

Diam-diam terkejut juga sanubari Ji Bun, sejak jaman dulu entah berapa banyak muda mudi yang menjadi korban cinta. Walau dia tidak tahu bagaimana jalinan asmara kedua orang tua ini, namun pasti banwa mereka adalah korban dari asmara juga. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, sang waktu berlalu dan tak pernah kembali lagi. Di kala kehidupan hampir mencapai akhirnya, namun asmara itu masih kekal abadi ........

Dalam sekejap ini Siu-yan Loni tampak semakin tua, dia menghela napas panjang yang mengandung kerawanan dan kepedihan hati, mengandung rasa putus asa dan kecewa. Puluhan tahun dia hidup menderita, pahit getir semuanya terkandung dalam helaan napas ini. "Sudah terlambat, semuanya sudah berselang!" demikian nada suaranya terdengar hambar dan hampa.

Mengingat budi kebaikan Giok-bin-hiap Cu Kong-tam yang menolong dan mengajarkan ilmu kepadanya, betapapun Ji Bun harus bertanggung jawab akan tugas yang harus ditunaikan, maka dengan berat dia berkata: "Suthay, Cu-cianpwe berpesan kepada Wanpwe bila setelah menemukan Cianpwe supaya menyampaikan beberapa patah kata "

"Pesan apa, katakanlah."

"Beliau ingin bertemu muka sekali lagi dengan Suthay." "Pinni adalah seorang biarawati ” "Kalau Suthay tidak sudi menemuinya, terpaksa Wanpwe harus kembali memberi laporan dan menyampaikan kejadian hari ini."

"Pinni .... aku aku pasti akan menemuinya, kalau musabab

ini tidak berakhir, Pinni takkan bisa tenteram." "Bolehkah Wanpwe mohon penjelasan?" "Soal apa?"

"Kenapa dulu Sin-ni menjebloskan dan mengurung Cu-cianpwe di dasar jurang itu?"

Berkerut-kerut muka Siu-yan Loni alias Toh-ji-lan. “Karma, itulah karma," ujarnya setengah berbisik.

"Cu Kong-tam lenyap, itu membuat Pinni benci, dendam dan marah sehingga mencukur rambut menjadi orang beribadat. Tak nyana sungguh tak nyana semua ini adalah perbuatan Taciku,

sekarang baru aku mengerti." "Mengerti apa?"

"Taciku dulu juga mencintainya, karena tujuan tidak tercapai, maka dia hendak membunuhnya Amitha Budha! Ah, apa saja

yang telah Pinni katakan?"

Bergidik seram Ji Bun, Pek-ciok Sin-ni terpandang sebagai tokoh yang diagungkan, tak nyana dalam lembaran hidupnya ternyata juga pernah melakukan perbuatan rendah dan hina, manusia memang makhluk yang luar biasa.

Tiba-tiba Siu-yan berpaling dan berkata kepada para pemikul tandu: "Kalian boleh segera kembali ke gunung, laporkan kepada Hwecu, katakan bahwa aku meninggalkan arena Bulim, semua jenazah ini harus kalian bawa kembali, kebumikan sepantasnya sebagai orang-orang persilatan umumnya."

Keempat pemikul tandu sejak tadi berdiri jauh dengan melongo, mereka saling pandang lalu mengiakan bersama, dengan tangkas mereka bekerja, lalu pergi dengan memanggul mayat-mayat itu.

Barulah Siu-yan Loni berpaling kepada Ji Bun katanya: "Siu-hiat- jin, peduli apa maksud tujuanmu. Pinni ingin memberi peringatan padamu, sebagai seorang persilatan yang hidup di arena kau harus dapat membedakan salah dan benar. Kepandaianmu terhitung kelas wahid, semoga kau suka berpikir, sebelum bertindak." Habis berkata dia lantas melangkah pergi.

Tugas dan pesan si orang tua di dasar jurang boleh dikatakan sudah ditunaikan. Pesan Siu-yan sebelum pergi memang masuk akal namun bagi pendirian Ji Bun sekarang wejangan ini sudah tiada artinya lagi, utang darah dia harus menagihnya dengan darah pula.

Pengalaman Siu-yan Loni dengan Giok-bin-hiap Cu Kong-tam sudah merupakan contoh nyata bagi Ji Bun, maka dia merasa harus segera membuat penyelesaian dengan Ciang Bing-cu. Setelah itu tanpa ada ganjelan hati baru melaksanakan keinginan menuntut balas secara terbuka. Mati hidup sendiri sudah menjadi tanggung jawab awak sendiri pula, tapi dalam keadaan sudah selarut ini, seperti apa yang dikatakan Biau-jiu Siansing bahwa Ciang Bing-cu bersumpah hanya akan kawin dengan dirinya. Kalau hal ini tidak dibereskan dengan baik, mungkin akan terjadi suatu tragedi yang mengenaskan. Sekarang musuh-musuh tangguh ada dihadapannya, mati hidup dirinya sukar diramalkan, tegakah dia menelantarkan masa remaja seorang gadis jelita?

Cara bagaimana dia harus membereskan hal ini, sampai sekarang dia belum mendapatkan jalan keluarnya, tapi dia sudah menempuh perjalanan dengan tujuan Kay-hong. Karena dia sudah berubah dandanan dan wajah, maka sepanjang jalan tidak menarik banyak perhatian orang.

Pagi hari itu dia tiba di Bik-seng dan menuju ke Ling-eng, sudah setengah jalan ditempuhnya. Supaya tidak malu dan dipandang hina setiba di gedung keluarga Ciang, maka dia membeli seperangkat pakaian dan jubah warna biru, topi kaum pelajar warna biru pula.

Setelah berganti pakaian, kelihatan dia mirip seorang pelajar bermuka hitam.

Setelah beberapa kejadian yang menambah pengalamannya, kini dia tidak memperlihatkan lagi sorot matanya yang tajam berkilat.

Keadaannya sudah jauh berubah, tak ubahnya seperti manusia awam umumnya.

Tengah dia berjalan, bayangan seorang tampak menyongsong datang: "Selamat datang Siau-hiap ini." Ji Bun melenggong, dilihatnya orang yang menyapa ini juga berdandan seorang pelajar, wajahnya bersih, cuma agak kurus pucat, usianya sekitar 25-an. Orang ini terlalu asing baginya, maka tanyanya heran: "Saudara menyapa aku?"

"Siau-hiap she Ji bukan?" tanya orang itu.

Bukan kepalang kejut Ji Bun, kecuali Biau-jiu Siansing tiada orang lain yang tahu kalau dirinya menyamar, memangnya dari mana laki- laki tak dikenal ini tahu she dan namanya, sungguh menakutkan.

"Siapakah saudara ini?" Ji Bun balas bertanya.

"Aku yang rendah Ui Bing, teman-teman Kang-ouw memberi julukan Sian-tian-khek kepadaku."

"Sian-tian-khek (si kilat)?"

"Julukan yang tidak berarti. Harap Siau-hiap tidak mentertawakan."

"Dari mana Ui-heng tahu kalau aku she Ji?"

Sian-tian-khek Ui Bing tertawa penuh arti, katanya: "Cayhe mendapat tugas untuk menunggu Siau-hiap di sini."

"Atas perintah siapa?" "Guruku, Biau-jiu Siansing." "O," baru Ji Bun paham, kalau dia murid Biau-jiu Siansing, tidak perlu heran kalau tahu siapa dirinya.

Ui Bing tertawa lebar, katanya lantang: "Guruku menaruh perhatian besar terhadap Siau-hiap, beliau berpendapat engkau adalah tunas muda yang berbakat tinggi selama ratusan tahun belakangan ini."

"Ah, gurumu terlalu memuji," ujar Ji Bun kikuk.

Ui Bing miringkan kepala, katanya: "Agaknya usiaku lebih tua, bolehkah kupanggil Hiante (adik) saja? Panggilan Siau-hiap rasanya kurang enak diucapkan."

Melihat orang pandai bicara, timbul kesan Ji Bun, katanya tersenyum: "Kenapa tidak boleh?"

"Kalau begitu, syukurlah. Hiante hendak pergi ke Kay-hong bukan?"

"Betul, entah Ui-heng ada petunjuk apa?"

"Wah, jangan melantur, petunjuk segala, aku hanya mendapat pesan guru untuk mengajakmu ke suatu tempat untuk melihat sesuatu."

Ji Bun tak mengerti tanyanya: "Melihat apa?"

"Kau akan tahu setelah tiba di sana, sekarang belum waktunya, marilah kita masuk kota minum arak dulu." Memangnya Ji Bun tidak terburu-buru pergi ke Kay-hong, terlambat beberapa hari juga tidak jadi soal maka dia memanggut, jawabnya. "Baik, marilah."

Mereka memutar ke jalanan kecil langsung menuju ke dalam kota, di lihatnya sebuah restoran, agaknya Ui Bing adalah langganan lama. Pelayan menyambutnya dengan hormat, ia langsung membawa Ji Bun ke loteng, dipilihnya meja dekat jendela yang mengarah ke jalan raya di bawah.

Sejak kecil sudah biasa makan minum secara berlebihan, hidangan yang dipesan Ui Bing cocok dengan seleranya. Dasar Ui Bing suka ngobrol panjang lebar, yang dibicarakan adalah peristiwa- peristiwa Kang-ouw dan serba serbi yang pernah terjadi. Ji Bun amat berkesan dan mendengarkan dengan asyik.

Di kala mereka makan minum sambil berbincang, seorang berbaju hitam tiba-tiba muncul, mukanya tampak serius, Ui Bing berhenti bicara serta menoleh, katanya dengan muka kereng: "Ada urusan apa?"

"Dapatkah hamba bicara?”

Ui Bing melirik Ji Bun, katanya: "Sesama dupa di dalam hiolo tidak usah kuatir."

Ji Bun tahu kedua orang sedang bicara dengan bahasa kode, agaknya Ui Bing minta orang baju hitam bicara saja blak-blakan dan tidak usah kuatir karena kehadiran Ji Bun. Orang baju hitam melangkah maju, lutut bertekuk dan badan terbungkuk, kedua tangan terangkat tinggi di atas kepala mempersembahkan sebuah kotak kayu, serunya lantang: "Aliran ada aturan, rumah punya tata tertib, semua sumber dalam kalangan maling, delapan tingkat dapat diperiksa. Gu Su, anak murid dari tingkat huruf ‘tanah' menghadap kepada atasan."

Ui Bing mengulapkan tangan, ujarnya: "Sesama keluarga tidak perlu banyak adat, berdirilah."

"Terima kasih," sahut laki-laki baju hitam sambil berdiri, kotak kayu dipeluk di depan dada, sikapnya prihatin dan hormat. Lalu menaruh kotak itu di atas meja, pelan-pelan ia membuka tutupnya.

Serta merta Ji Bun arahkan pandangannya ke kotak yang terbuka itu, seketika dia melongo terbeliak, bulu kuduknya berdiri. Ternyata di dalam kotak berisi sebuah lengan manusia yang masih berlepotan darah.

Ui Bing ulur tangan mengeluarkan kutungan lengan itu dan diacungkan di depan Ji Bun, lalu ditaruh kembali ke dalam kotak, katanya: "Ya, bolehlah."

Cepat laki-laki baju hitam menutup kotak terus mengundurkan diri.

Dengan heran dan tak habis mengerti Ji Bun mengawasi Ui Bing dan ingin bertanya, namun mengingat urusan mungkin menyangkut rahasia sesuatu perkumpulan, orang luar pantang mencampuri, tapi kalau tidak tanya, hati terasa mengganjel sehingga sikapnya menjadi kikuk.

Ui Bing malah buka suara: "Hiante, kau sudah melihatnya?" "Melihat apa?"

"Kutungan tangan tadi. Khusus tangan tadi memang diperlihatkan padamu."

"Tadi Ui-heng bilang mendapat perintah gurumu untuk melihat sesuatu, apakah tangan tadi yang kau maksudkan?"

"Betul. Tentunya Hiante masih ingat kepada Liok Kin?" "Ketua muda Cip-po-hwe"

"Tangan tadi adalah lengannya." "Lengan Liok Kin?"

"Betul, anggota perkumpulan maling bercampur aduk dari segala lapisan, namun undang-undang yang menjadi tradisi aturan perserikatan kita cukup keras dan berdisiplin. Liok Kin mengkoleksi harta. Hal ini memang menjadi salah satu azas tujuan perserikatan kita. Namun dia main perempuan dan melakukan perbuatan kotor, hal ini melanggar undang-undang. Hiante sudah paham?"

Ji Bun manggut-manggut, sahutnya: "Siaute mengerti." Ui Bing angkat cangkir, katanya: “Marilah kita habiskan secangkir lagi."

Cuaca sudah gelap, pelayan masuk menyulut pelita, waktu itu memang saatnya orang-orang makan malam, tetamu memenuhi restoran besar ini. Di antara berisik percakapan dan gelak tawa para tamu, sayup-sayup terdengar juga suara nyanyian diiringi petikan kim (harpa).

Takaran minum Ji Bun memang terbatas, sebanyak itu dia minum, kini kepala sudah rada pusing, katanya: "Hayolah kita pergi saja?"

"Habiskan dulu sepoci ini," ajak Ui Bing.

Tak enak menolak keinginan orang, maka duduk lagi.

Restoran ini memang kelas tinggi dan serba mewah, bagian loteng ini khusus kelas satu dengan pelayanan yang serba istimewa. Bentuknyapun serba berkotak, jadi merupakan sebuah petak atau kamar khusus dengan meja yang muat delapan orang. Jadi perjamuan satu sama lain para tamu itu tidak saling ganggu.

Di kala Ji Bun dan Ui Bing hendak meninggalkan perjamuan, tiba- tiba dari petak sebelah kanan sana berkumandang irama nyanyian yang menawan hati. Seketika Ji Bun melongo dan asyik mendengarkan lagu ini, benaknya terbayang sebuah pemandangan alam yang mempesona. Di dalam pekarangan yang sepi dan dikelilingi tembok tinggi, seorang pelayan cilik perempuan berpakaian hijau tengah duduk di atas sebuah kursi batu di bawah pohon, di hadapannya berdiri seorang anak laki-laki berusia enam tujuh tahun. Dia tengah asyik mendengarkan pelayan cilik itu mengalunkan suaranya yang merdu menyanyikan sebuah lagu perpisahan antara seorang jejaka yang meninggalkan gadis pujaannya untuk merantau mencari nafkah demi masa depan mereka. Begitu penuh perasaan gadis pelayan itu membawakan lagu ini seperti dia sendiri yang ditinggal sang kekasih, bocah laki-laki itu mendengarkan dengan mata mendelong, dia merasa bahwa lagu yang dibawakan bujangnya sedemikian merdu ........

Itulah gambaran masa lalu di kala Ji Bun masih kanak-kanak. Tanpa terasa berkaca-kaca mata Ji Bun mengenang masa kecilnya dulu.

Nyanyian merdu itu kini berkumandang pula, yang dibawakan adalah lagu sedih yang menyentuh hati. Air mata tak terbendung lagi membasahi pipi Ji Bun, pikiran Ji Bun tenggelam di dalam kenangan keluarga dan rumahnya yang hancur berantakan.

Kepedihan betul-betul mengetuk sanubarinya sehingga tanpa sadar ia menangis tersedu.

Ui Bing melihat sikap Ji Bun yang aneh ini, serunya: "Hiante, kenapa kau?"

Ji Bun masih tenggelam dalam impian masa kecilnya itu, mungkin dia tidak mendengar pertanyaan ini, maka diam saja.

"Hiante," kata Ui Bing pula, "kenapa sih kau sebetulnya?" Tanpa sadar Ji Bun buka suara: "Siapakah yang nyanyi itu?" "Apa? Yang nyanyi ?”

"Ui-heng tidak mendengar?"

"O, perempuan yang nyanyi di sebelah? Siapa dia kurang jelas, tapi dia sudah cukup lama mencari nafkah dengan menjual suara di daerah ini. Orang-orang dalam kota ini sama memanggilnya Ing-ing (burung kenari)."

"Ing-ing?” seru Ji Bun berjingkrak.

“Ya, karena begitu merdu suaranya bagai kicauan burung kenari." "Berapa usianya?"

"Kira-kira sudah tiga puluhan kenapa Hiante tanya dia?"

"Karena " belum habis dia bicara, tiba-tiba didengarnya

suara berdehem tertahan di kamar sebelah. Tersirap darah Ji Bun, segera dia berdiri dan lari keluar menyingkap kerai. Tampak bayangan punggung seseorang yang dikenalnya tengah melompat turun dari loteng, seketika Ji Bun melenggong, entah siapa bayangan punggung yang dikenalnya ini? "Oh, dia, Kwe-loh-jin!" teriaknya tiba-tiba, cepat dia berlari ke arah tangga.

"Haya!" tiba-tiba didengarnya Ui Bing menjerit di sebelah sana. Serta merta Ji Bun berhenti sambil menoleh, dilihatnya sebelah kaki Ui Bing sudah melangkah kekamar sebelah dan berseru kepada Ji Bun: "Hiante, dia sudah mati." Ji Bun batalkan pengejaran terhadap Kwe-loh-jin, lekas dia memburu masuk ke kamar sebelah. Tampak Ji Bun seorang perempuan pakaian hitam rebah di pinggir meja, seketika dia menjerit: "Bwe-hiang, ternyata betul kau ”

Ui Bing ikut memburu ke sampingnya, tanyanya: "Hiante kenal dia?"

"Dialah pelayan pribadi ibuku," sahut Ji Bun sambil memapah perempuan baju hitam dan didudukkan di atas kursi, teriaknya berulang-ulang: "Bwe-hiang, Bwe-hiang!"

Napas perempuan itu amat lemah, agaknya tidak jauh lagi dari kematian, sekilas Ji Bun memeriksa keadaannya, katanya kemudian: "Dia terkena racun."

Lekas dia keluarkan obat penawar yang yang selalu dibawanya, tiga butir dia jejalkan ke mulut Bwe-hiang.

Ui Bing lari mengambil secangkir teh dan bantu Ji Bun mencekoki perempuan ini, tanyanya: "Kena racun? Bisa ditolong tidak?"

"Inilah racun Giam-ong-ling, aku tidak mampu menolongnya," beruntun Ji Bun menutuk beberapa Hiat-to. Setelah dipijat dan urut, pernapasan perempuan baju hitam itu bertambah kuat, sesaat kemudian dia mulai membuka mata.

"Bwe-hiang, Bwe-hiang " Ji Bun memanggil-manggil dengan

suara serak, keringat membasahi jidatnya. Berkedip biji mata perempuan baju hitam ini. lama sekali baru membuka suara: "Kau ..... ini .... siapa? Dari mana tahu ”

"Bwe-hiang," teriak Ji Bun penuh emosi, "kau tidak mengenalku lagi?"

"Hiante," sela Ui Bing, "jangan lupa kau menyamar ”

Ji Bun sadar akan kelalaian ini, segera dia berkata gugup: "Bwe- hiang, aku adalah Ji-kongcu, aku sedang menyamar ”

"Oooooh," perempuan baju hitam mengeluh panjang, badannya kejang, kulit mukanya bergemetar, sekuatnya dia gigit bibir, mukanya yang pucat menjadi merah. Dengan sekuat tenaga dia bicara: "Kau inikah Ji-kongcu?"

"Ya, betul, Bwe-hiang, kau kenal suaraku? Ibuku, di mana Ji-hujin sekarang?"

"Aku mendengar ..... beliau ada di ..... di Lam-cau ”

"Lam-cau papilion yang ada di Se-ek itu?"

“ya ya."

Ji Bun menjadi bingung, bukankah ibunya diculik dan menjadi tawanan Kwe-loh-jin? Bagaimana bisa berada di Lam-cau, papilion ayahnya dimasa hidupnya? Apakah rumah itu sudah diduduki musuh? "Apakah beliau selamat?" "Se ..... sela mat."

“Kenapa kau jual suara di sini?"

"Atas perintah Ji-hujin, aku melarikan diri untuk mencari Ji-

kongcu."

"Lari untuk mencariku? Ada urusan apa?"

"Ji-hujin suruh hamba ..... memperingatkan .... Ji-kongcu "

suaranya semakin lirih dan lemah.

Keruan Ji Bun gugup, teriaknya: "Bwe-hiang, keraskan hatimu, memperingatkan apa padaku?"

Bibir perempuan baju hitam bergerak-gerak, namun suaranya sudah tidak terdengar, sorot matanyapun guram.

Serasa disayat-sayat isi perut Ji Bun, keringatnya gemerobyos, otot hijau merongkol di jidatnya. Dia goyang-goyang pundak si perempuan sambil berteriak seperti orang kalap: "Siapakah yang menculik Ji-hujin?"

Perempuan itu mengerahkan sisa tenaganya, namun hanya beberapa patah kata terputus-putus yang keluar dari mulutnya: "Dia

..... dia ” Tiba-tiba kepalanya menjadi lemas dan miring kesamping, napaspun berhenti.

Melotot biji mata Ji Bun, gigipun berkerutuk, tiba-tiba dia menguak, darah menyembur dari mulutnya.

Ui Bing menjadi gugup, katanya: "Hiante, kau tenanglah."

Ji Bun angkat kepala, katanya menahan gejolak hati: "Ui-heng, kita baru berkenalan, namun Siaute mohon dua kali bantuanmu

......”

"Urusan apa Hiante, katakan saja."

"Sukalah kau urus penguburan Bwe-hiang." Ji Bun keluarkan anting-anting pualam, "selain itu tolong antar sekalian anting-anting ini ke Kay-hong kepada paman Ciang Wi-bin. Ceritakan apa yang terjadi hari ini, bahwa aku harus segera bertindak untuk menolong ibu yang disekap musuh."

"Hiante hendak ke Lam-cau? Kukira lebih baik kau pargi ke Kay- hong dulu dan berunding dengan Ciang-cianpwe."

"Siaute tak sabar lagi, harap Ui-heng suka memaklumi perasaanku,” kata Ji Bun sambil angsurkan anting-anting pualam.

Ui Bing menjadi serba susah, katanya: "Hiante, betapapun sulit bagiku untuk bantu mengantar anting-anting ini, apakah kau ” "Ui-heng jangan salah paham, hanya dendam dan sakit hati yang terpikir dalam benakku, setiap saat aku menghadapi ancaman elmaut, kuharap barang ini tidak terjatuh ke tangan orang lain kalau aku gugur."

"Bagaimana kalau titip saja sementara waktu?" ujar Ui Bing.

Kukuh pendapat Ji Bun, katanya: "Tidak, tolong Ui-heng antar kembali pada pemiliknya saja."

“Baiklah, akan kuusahakan. Harap Hiante jaga dirimu baik-baik."

Ji Bun menunduk mengawasi jenazah Bwe-hiang, dengan sedih dia berdoa: “Bwe-hiang, aku bersumpah menuntut balas sakit hatimu, akan kuhancur leburkan dia, kau tenanglah di alam

baka."

Habis berkata ia melompat keluar dari jendela, malam itu juga dia langsung menuju ke Lam-cau.

Rumah yang ada di Lam-cau adalah salah satu dari tiga tempat peristirahatan Ji Ing-hong dulu, waktu kecil dulu pernah beberapa kali Ji Bun ikut ibunya ke sana, setelah besar pernah juga pergi sekali. Tak nyana tempat itu kini sudah diduduki musuh dan dijadikan tempat untuk menyekap ibunya.

13.37. Pengkhianatan Kacung Keluarga

Ji Bun lupa lapar dan dahaga, tidak merasakan lelah, siang malam dia menempuh perjalanan, hanya "dendam" yang selalu menggejolak sanubarinya. Semakin dekat tempat tujuan hatinya semakin tidak tenteram, dia tahu musuh pasti telah mengatur jebakan dan muslihat untuk menyambut kedatangannya. Namun demi keselamatan ibunya, walau dia harus menghadapi hutan golok dan rimba pedang, lautan apipun akan diterjangnya.

o0o

Lam-cau adalah sebuah kota kecil yang ramai, di ujung jalan yang menjurus keluar kota dari jalan raya yang menuju barat terdapat sebuah taman hiburan yang terkenal diseluruh pelosok kota, itulah salah satu rumah Jit-sing-pocu Ji Ing-hong.

Pagi hari itu, seorang pemuda muka hitam berjubah biru mondar- mandlr di depan pintu taman yang tertutup rapat, dia bukan lain adalah Te-gak Suseng Ji Bun yang datang dengan dendam kesumat untuk menolong ibunya. Taman ini terhitung saiah satu tempat milik keluarganya, namun sekarang dia mondar-mandir di luar seperti orang asing, tidak berani ketok pintu atau menerobos masuk secara langsung.

Pintu besar yang berwarna merah sudah agak luntur catnya, gelang tembaga yang tergantung di tengah pintu juga sudah menghijau berdebu, agaknya sudah lama tidak terjamah tangan manusia, namun pepohonan di dalam pagar tembok tampak hidup subur dan berkembang dengan lebat.

Lama sekali Ji Bun mondar-mandir dengan ragu-ragu, akhirnya dia berkeputusan dan mengetok pintu. Lama Ji Bun menunggu baru terdengar suata keresekan daun kering yang terinjak kaki, disusul suara serak orang berseru: "Siapa?"

Ji Bun tidak asing akan suara ini, hatinya menjadi bingung dan heran, suara serak orang tua ini adalah si kakek berjenggot, bukankah ibunya diculik kemati? Kenapa yang menjaga rumah dan membuka pintu tetap penjaga lama?

"Siapa yang ketok pintu di luar?" suara serak si jenggot bertanya pula.

Ji Bun sudah jelas dan yakin bahwa yang bertanya di dalam memang si Jenggot adanya, hatinya bergirang, cepat ia menjawab: "Pak jenggot, inilah aku!"

"Kau kau siapa?"

"Bun-ji kongcu."

"Oooo," orang di dalam berseru kaget, agaknya di luar dugaannya. Pintu segera dibuka separo, menongollah seraut wajah seorang tua yang kurus kering, mukanya penuh berewok kaku, di antara rambutnya yang awut-awutan, tampak sepasang matanya memancarkan sinar tajam, sorot matanya mengunjuk rasa kaget dan heran.

"Pak jenggot!" sapa Ji Bun

"Siapa kau berani mengaku sebagai ” "Pak jenggot, masa kau tidak kenali suaraku lagi?"

Setelah tangan memegangi pintu, si jenggot mengawasi Ji Bun dari atas ke bawah, akhirnya ia berkata: "Wajahmu tidak mirip ”

"Pak jenggot, aku sedang menyamar, duduk persoalannya nanti kuceritakan."

Sinar mata si jenggot yang tajam seperti mata burung elang menyelidik, suaranya ragu: "Apa betul kau ini Ji-kongcu? Kau

..... tidak mati?"

"Apa? Mati? Bagaimana kau, bisa bilang demikian?"

Si jenggot menjadi gelagapan, katanya: O. tidak, hamba kira Ji- kongcu ikut menjadi korban musuh."

"Memang berulang kali aku mengalami bencana, syukur aku tidak mati. Pak jenggot, mana ibuku?"

"Ji-hujin?"

"Memangnya otakmu sudah miring, masakah orang lain yang kutanyakan."

"Ji-kongcu," ujar pak jenggot menghela napas panjang. ''sampai sekarang jejak Ji-hujin belum diketahui parannya."

"Apa katamu?” hardik Ji Bun beringas. Kaget dan ketakutan pak jenggot menyurut mundur sampai mulut melongo.

Sudah tentu Ji Bun amat penasaran, apa yang dikatakan Bwe- hang sebelum ajal pasti tak salah, bahwa ibunya disekap di rumah yang ada di Lam-cau ini. Kini pak jenggot bilang ibunya tak keruan paran, bagaimana dia takkan naik pitam? Tapi iapun percaya kalau pak jenggot inipun takkan berbohong.

Sulit dia menganalisa liku-liku persoalan yang ganjil ini, sungguh luar biasa. "Pak jenggot, siapa pula yang tinggal di sini?" tanyanya kemudian.

"Hanya hamba seorang saja."

"Apa, hanya kau seorang? Pernah terjadi apa-apa di sini?” "Terjadi apa? Tidak pernah, kenapa Kongcu tanya hal ini?"

Ji Bun semakin bingung, Bwe-hiang adalah pelayan pribadi ibunya, yang membunuhnya adalah Kwe-loh-jin, bayangan orang dilihatnya jelas demikian pula racun Giam-ong-ling hanya dimiliki oleh Kwe-loh-jin seorang, semua ini tidak akan palsu. Bagaimana seluk beluk kejadian ini harus diselidiki? Maka dia tanya dengan suara lebih keras: "Pak jenggot kau bicara dengan jujur?"

Pak jenggot menjadi gugup, sahutnya: "Ji-kongcu, hamba tidak tahu apa yang kau maksudkan?" "Kau masih ingat Bwe-hiang tidak?"

"Bwe-hiang? Ya, sudah tentu, budak mungil dan pandai nyanyi, budak yang menyenangkan sekali. Kenapa dia, Kongcu?"

"Aku bertemu dengan dia?"

"O, Kongcu bertemu dia? Dia kenapa dan mana dia sekarang?" "Dia sudah meninggal."

"Meninggal? Bagaimana mungkin "

"Sebelum ajalnya dia bilang bahwa ibu berada di rumah ini." Pak jenggot mundur dua langkah, suaranya gemetar ngeri.

"Hamba menjadi bingung, bukankah dia sama menghilang bersama Ji-hujin?"

Ji Bun melangkah masuk ke taman, lalu membalik menutup pintu. "Hayolah bicara di dalam saja."

Suara pak jenggot kedengaran kurang wajar, katanya: "Ji-kongcu silakan duduk di gardu saja, biar hamba buatkan makanan dan menyediakan arak, ai " lalu ia mengundurkan diri menuju ke

samping rumah sebelah kiri.

Ji Bun melepas pandang ke seluruh penjuru taman yang amat dikenalnya ini, rumput-rumput liar sama tumbuh, tanaman bunga yang dulu teratur dan tumbuh subur sama layu bercampur dengan rumput-rumput liar, hanya belukar melulu yang kelihatan.

Dengan mengerut alis, seorang diri dia berjalan sambil menekan perasaan sedihnya, setelah melewati taman bunga dia masuk ke gardu ujung, penjagaan yang ada di dalam gardu tetap seperti sedia kala, cuma debu tebal, gelagasi terbentang di mana-mana.

Menghadapi keadaan yang serba rusak tak terurus ini, Ji Bun berdiri kesima.

Entah berapa lamanya, baru pak jenggot muncul lagi, dia repot membersihkan debu, mulutnya mengeluh panjang pendek. Ji Bun duduk tenggelam dalam kedukaan. Setelah membersihkan gardu. pak jenggot berlari pergi dan membawakan hidangan dan arak.

Katanya: "Ji-kongcu, silakan dahar seadanya."

"Ehm," baru sekarang Ji Bun angkat kepala, dalam waktu sesingkat ini ternyata pak jenggot mampu menyiapkan delapan macam hidangan, empat macam diantaranya malah hidangan daging dan ikan, keruan dia heran: "Pak jenggot, agaknya kau pandai merawat diri."

Pak jenggot melengak, tanyanya: "Apa maksud Kongcu?" "Kau amat memperhatikan menu untuk hidupmu sehari-hari,

kalau tidak dalam waktu sesingkat ini darimana kau bisa menyiapkan hidangan sebanyak ini?”

"O, he he he, hal ini hamba sih. ai,ai!." Tersipu-sipu dia

mengisi cangkir arak Ji Bun. "Marilah pak jenggot kau, iringi aku makan minum."

Semula pak jenggot rikuh dan tidak berani, setelah dipaksa akhirnya duduk di depan Ji Bun, keduanya lantas makan minum sambil ngobrol, sudah tentu yang dibicarakan hanya soal-soal yang menyangkut keluarga dan peristiwa hancurnya jit-sing-po.

Entah berapa cangkir sudah Ji Bun menghabiskan arak yang selalu di isi pak jenggot, lalu tanyanya: "Pak jenggot, urusannya agak ganjil."

"Soal apa yang ganjil?"

"Sebelum ajal Bwe-hiang bilang bahwa Ji-hujin bersama penculiknya ada di tempat ini."

Pak jenggot berjingkat berdiri, serunya mendelik: "Bagaimana mungkin."

Pada saat itulah, mendadak Ji Bun merasakan kepala sedikit pusing, lekas dia menahan tubuh dengan kedua tangan memegangi meja.

Pak jenggot memburu maju dan bertanya gugup: "Ji-kongcu, kenapa kau?"

"Beberapa hari ini aku menempuh perjalanan siang malam, mungkin terlalu capai ” "He he he he " tiba-tiba berubah air muka pak jenggot

dengan menyeringai.

Tersirap darah Ji Bun mendengar tawa aneh ini, seketika dia mendapat firasat jelek, baru saja dia berdiri, lekas sekali dia duduk lemas di kursinya pula, serunya: "Pak jenggot, apa yang kau lakukan

.......”

"Ji-kongcu, terpaksa kau pasrah nasib saja, jangan kau salahkan hamba, kau sendiri yang meluruk kemari."

Hampir meledak kepala Ji Bun, saking murka, bentaknya: "Anjing tua, kau apa katamu?"

Pak jenggot menyeringai, ujarnya: "Kuharap kau menyerah dan terima kematian saja."

Sudah tentu bukan kepalang gusar Ji Bun, dengan melotot dia tatap pak jenggot, darah mendidih, ingin rasanya ia merobeknya. Namun tenaga tak kuasa dikerahkan, racun sudah menjalar ke seluruh tubuh. Kalau dirinya harus mati demikian, sungguh penasaran sekali. Mulutnya megap-megap seperti binatang kelaparan, hardiknya kalap: "Tua bangka, kau ..... kau berani

mencelakai aku?”

Pak jenggot menyurut takut melihat wajah Ji Bun yang beringas seram, dia tahu Ji Bun takkan mampu berbuat apa-apa, namun wajahnya yang beringas buas sungguh menakutkan, katanya setelah mundur cukup jauh: "Ji-kongcu, Lwekangmu sungguh hebat, orang lain takkan tahan terkena racun ini." "Anjing tua, katakan ...... kau ....... kenapa. "

"Ji-kongcu, jangan salahkan aku, setelah diakhirat, kau akan tahu siapa pembunuhmu."

Ji Bun berteriak kalap, darah menyembur dari mulutnya, kepala pusing pandangan gelap, badannya bergoyang gontai berpegangan meja. Apa yang dikatakan Bwe-hiang memang tidak salah, bahwa musuh telah menduduki rumah ini, pak jenggotpun sudah menyerah kepada musuh, sungguh sukar dipercaya. Sekuatnya dia bertahan, setelah menarik napas, dia kuatkan hati menenangkan pikiran, katanya sambil mengertak gigi: "Pak jenggot, siapa yang suruh kau?"

Pak jenggot bergelak tertawa, katanya: "Lebih baik kau tidak tahu, kau takkan meram di alam baka."

Darah yang mendidih merangsang benaknya, seketika pandangan Ji Bun menjadi gelap badanpun tersungkur di meja, muka dan dadanya sama basah oleh masakan. Pada detik-detik yang gawat itulah mendadak sebuah suara bentakan berkumandang di sebelah tubuhnya: "Pak jenggot, berani kau!"

Susah payah Ji Bun angkat kepalanya, kedua tangan menyanggah meja, sehingga badannya melorot duduk di atas kursi pula, mata berkunang-kunang dan tidak jelas melihat siapa orang yang baru datang itu. "Aduh!" terdengar pak jenggot menjerit disusul sebuah bentakan kereng: "Keluarkan obat pemunahnya."

Sekilas pikiran jernih mengetuk benak Ji Bun, cepat tangannya meraba kantong dan mengeluarkan beberapa butir Pi-tok-tan terus dimasukkan mulut, dengan air ludah dia telan seluruhnya, rasa pening segera berkurang. Namun pandangannya masih remang- remang, lapat-lapat ia kenal siapa pendatang yang meringkus pak jenggot itu, dia bukan lain adalah Thian-gan-sin-jiu alias Biau-jiu Siansing.

Bahwa Biau-jiu Siansing muncul di sini tepat pada waktunya, sungguh amat diluar dugaan. Pak jenggot yang teringkus oleh Biau- jiu Siansing tampak pucat wajahnya.

Agaknya Biau-jiu Siansing juga terlalu emosi, napasnya memburu, badanpun gemetar, mulutnya menggumam: "Mana mungkin, peristiwa yang tidak mungkin bisa terjadi, kenapa ”

Ji Bun mulai sadar, pikirannya sudah jernih, gumam Biau-jiu Siansing tadi dapat didengarnya, namun dia masih lemas dan belum sempat memikirkan arti kata-kata orang itu.

Terdengar Biau-jiu Siansing membentak pula dengan bengis: "Pak jenggot, kau sadar tidak apa yang kaulakukan ini?"

Gemetar tubuh pelayan tua itu, jawabnya: "Kau orang kosen dari mana?" "Tak perlu kau tanya, katakan, kenapa kau melakukan semua ini?"

"Tahukah kau bahwa mencampur tangan urusan keluarga orang lain merupakan pantangan besar kaum persilatan?"

"Keparat, tua bangka, serahkan obat penawarnya jika tidak ingin kukerjain kau hingga setengah mampus."

Bergidik pak jenggot dibuatnya, katanya: "Apa tuan mampu berbuat demikian? Meski mati ditanganmu, jaagan harap kau bisa keluar dari sini." demikian pak jenggot malah menantang.

"Anjing tua, mana obat pemunahnya?" "Tidak. punya."

Jari Biau-jiu Siansing segera menutuk, kontan pak jenggot berkuik-kuik seperti babi disembelih, keringat sebesar kacang membasahi selebar mukanya, mukanya yang penuh keriput berubah bentuk menahan sakit.

"Ada tidak?" bentak Biau-jiu Siansing.

Pak jenggot terus merintih-rintih, namun tetap tidak mau menjawab.

Kembali Biau-jiu Siansing menutuk pula, pegangan tangan dilepaskan, "Bluk", pak jenggot berguling-guling, buih meleleh dari mulutnya, mukanya seram dan matanya melotot sambil menjerit- jerit.

"Keluarkan obat pemunahnya," bentak Biau-jiu Siansing pula.

Meski sudah tua, ternyata pak jenggot tahan disiksa, keadaannya sudah sepayah itu, namun dia tetap tak mau buka suara.

Dengan gusar Biau-jiu Siansing turunkan kotak obatnya lalu mengeluarkan sebilah pisau yang biasanya dibuat operasi, teriaknya: "Kuping kiri,” dan sekali pisaunya bergerak, daun kuping kiri pak jenggot seketika berpisah dengan kepalanya, darah mengalir deras.

"Kuping kanan!" kembali pisau bekerja, dan kuping kanan pak jenggot diirisnya pula.

Keruan bertambah sakit dan tersiksa keadaan pak jenggot, namun mulutnya malah menyeringai: "Kau tunggu saja, kaupun

.... akan disiksa ..... sepuluh kali lipat lebih menderita daripada

aku."

Biau-jiu Siansing berteriak aneh: "Sepasang mata!" pisaunya kembali mengiris kemuka orang, betapapun pak jenggot tak berani mengambil resiko lagi, jika mata buta, hiduppun tak berarti orang berhati keras bagaimanapun juga kalau kedua mata diancam, terbang juga sukmanya, maka luluhlah hatinya, teriaknya; "Baiklah

..... kuambilkan ”

Biau-jiu Siansing tarik pisaunya, pak jenggot benar-benar sudah kehabisan tenaga, suara rintihanpun tak terdengar lagi, seperti mampus saja ia melingkar di lantai. "Harap bebaskan dulu tutukanmu," pinta orang tua itu.

"Katakan dulu di mana obat pemunahnya?"

"Di ..... di biarlah aku yang pergi mengambil."

"Tidak, katakan saja."

"Obat pemunahnya ada di atas loteng yang terletak di

pekarangan barat .... di dalam laci kelima almari sebelah timur .....

botol putih ”

Tanpa membuang waktu lagi Biau-jiu Siansing segera berlari ke sana, seolah-olah sudah apal akan keadaan taman luas ini, dalam sekejap saja dia sudah lari kembali, tangannya memegangi sebuah botol porselin kecil putih, katanya sambil diacungkan ke depan pak jenggot: "Apakah ini?"

“Ya ”

Biau-jiu Siansing lantas membuka tutukan Hiat-to pak jenggot, namun beruntun dia menutuk dua Hiat-to yang lain pula, katanya dingin: "Kalau obatmu ini betul mujarab baru kupastikan nasibmu."

Segera ia menghampiri Ji Bun serta menuang sebutir pil dari dalam botol terus dijejalkan ke mulut Ji Bun.

Kena racun berbeda dengan luka-luka parah oleh pukulan, asal obatnya tepat dan mujarab, segera akan punah dan sembuh seperti sediakala. Lekas Ji Bun mengunyah pil itu serta ditelan ke dalam perut, cepat sekali keringat dingin merembes dari seluruh pori-pori badannya, kadar racun seketika tawar dan hawa murnipun dapat terhimpun pula. Sekali melejit dia melompat bangun terus memburu ke sana, berbareng tangan terayun.

Biau-jiu Siansing segera berteriak mencegah: "Jangan dibunuh!"

Sayang sudah terlambat, terdengar jeritan menyayat hati, batok kepala pak jenggot kontan hancur luluh, tamatlah riwayat budak ayahnya yang ternyata khianat ini.

Maklumlah bukan kepalang benci dan sakit hati Ji Bun, maka dia menyerang dengan penuh emosi. Walau dia mendengar teriakan Biau-jiu Siansing sayang dia sudah tak kuasa mengendalikan tenaga pukulannya. Setelah kepala orang terhantam remuk baru dia sadar, namun menyesalpun sudah kasip.

Berkerut alis Biau-jiu Siansing: "Mestinya kau harus mengompes keterangannya dulu."

"Ya, memang Wanpwe yang salah, "ujar Ji Bun menyesal, "terima kasih atas pertolongan Cianpwe.”

"Lohu sudah memberi peringatan supaya sebelum bertindak kau pergi ke Kay-hong dulu untuk merunding dengan Ciang Wi-bin

"Betul, namun hubungan ibu dan anak betapapun tidak dapat sabar dan membuang waktu lagi, begitu mendapat sumber berita segera aku menuju kemari." "Tekadmu memang dapat dimengerti, Lohu sendiri juga pernah berjanji dalam sebulan untuk bantu menyelidiki seluk beluk musuh, kau harus menunggu, bahwa Lohu suruh kau menyamar adalah untuk mengelabuhi pihak lawan supaya tidak terjadi sesuatu di luar dugaan, kalau Ui Bing tak segera memberi laporan dan aku menyusul kemari tepat pada waktunya, tentu kau bisa bayangkan akibatnya."

Merinding Ji Bun, memang, kalau maling sakti ini tidak muncul tepat pada waktunya, mana mungkin dirinya masih bernyawa sekarang. Bahwa musuh berulang kali cari kesempatan hendak membunuh dirinya, sekarang menawan ibunya sebagai sandera pula. Apa maksud tujuannya sukar diraba, lebih celaka lagi kacung ayahnya yang setia dulu sekarang juga menyerah dan menjadi kaki tangan musuh hendak mencelakai jiwanya pula, sungguh suatu hal yang mengerikan. Tapi bagaimana keadaan ibunya? Tegakah dia membiarkan ibunya tersiksa dan menderita dibelenggu musuh?

Rencana kerja yang diatur dan dilaksanakan Biau-jin Siansing serta tutur katanya telah menunjukkan bahwa seluk beluk musuh sedikit banyak sudah dapat merabanya. Hanya tinggal mencari bukti dan kenyataan, maka dia berkata dengan suara haru: "Tentunya Cianpwe sudah tahu asal usul musuh."

"Boleh dikatakan demikian, tapi ”

Tersirap hati Jl Bun, tanyanya mendesak. "Tapi kenapa?" "Menurut rabaan, tidak mungkin ada kejadian-kejadian seaneh ini, akan tetapi kenyataan justeru menyulitkan Lohu akan analisa semula."

"Wanpwe hanya menguatirkan keselamatan ibuku." "Dia tidak akan mengalami apa-apa."

"Berdasarkan apa Cianpwe berkata demikian?" "Menurut keadaan yang sudah Lohu ketahui." "Cianpwe tidak suka memberitahu seluk beluknya?”

"Bukan tidak suka, tapi belum bisa, kau harus bersabar, dalam sebulan pasti bisa kuselidiki dengan terang, menurut pendapatku, lebih baik sekarang juga kau harus berangkat ke Kay-hong."

Timbul rasa duka dalam hati Ji Bun, pengalaman getir yang beberapa kali ini sungguh merupakan peristiwa yang terlalu berat untuk dipikul dan dirasakan oleh anak semuda dirinya.

Minat untuk ke Kay-hong tiada, dalam situasi seperti sekarang, dirinya sudah tersudut dan menghadapi jalan buntu. Sejak meyakinkan Bu-ing-cui-sim-jiu yang ganas, lalu mendapat saluran kekuatan dari orang tua di dasar jurang itu, ia yakin bekal untuk menuntut balas sudah cukup melampaui, namun di luar perhitungannya, kekuatan musuh ternyata satu kuat dari yang lain, dendam berdarah keluarganya entah kapan baru bisa terbalas? Seperti memikirkan sesuatu Biau-jiu Siansing berkata: "Kita harus segera meninggalkan tempat ini, pak jenggot sudah mati, tiada orang hidup lain di sini. Sampai sedemikian jauh kau harus tetap merahasiakan dirimu. Obat pemunah racun Giam-ong-ling ini boleh kau bawa, mungkin setiap waktu bisa kau gunakan," lalu ia tuang beberapa butir ditelapak tangannya, sisanya yang ada di dalam botol ia serahkan pada Ji Bun.

Ji Bun menerimanya sambil mengucap terima kasih, katanya lebih lanjut: "Waktu ayah mendapatkan Tok-keng dulu, dia mengagulkan diri sebagai tokoh beracun yang tiada tandingan. Tak nyana gunung satu lebih tinggi daripada gunung yang lain, racun Giam-ong-ling ini biarpun ayah sendiripun tak mampu menawarkannya."

Terpancar sinar mata Biau-jiu Siansing yang aneh, katanya: "Darimana kau tahu ayahmu tak mampu menawarkannya?"

13.38. Kedok dan kemunafikan Sang Ayah ??!!

"Karena tak pernah beliau sebut-sebut nama Giam-ong-ling." "Itu tidak bisa membuktikan bahwa dia tidak mampu

menawarkannya."

"Pi-tok-tan yang selalu Wanpwe bawa bisa menawarkan segala macam racun, namun terhadap Giam-ong-ling ini kehilangan khasiatnya, ini membuktikan ” Biau-jiu Siansing goyang-goyang tangan: "Itu belum tentu, apakah kau sendiri pernah mempelajari Tok-keng?"

"Tidak, apa yang Wanpwe dapatkan adalah ajaran ayah secara lisan."

"Nah, kalau begitu siapa tahu kalau racun Giam-ong-ling ini juga tercatat di Tok-keng itu?"

"Memangnya antara ayah dan anak juga perlu main rahasia segala?"

"Menurut aturan tidak, namun kejadian di dunia ini kadang- kadang sukar diterima oleh akal sehat."

Ji Bun diam saja, dia tidak percaya kalau ayahnya sekikir itu dan sengaja merahasiakan pelajaran terhadap puteranya, namun dia toh tidak berani menyangkal adanya kemungkinan ini, Kini ayahnya sudah meninggal, namun ada dua persoalan yang masih merupakan tanda tanya bagi dirinya. Pertama, dirinya belum pernah membaca Tok-keng. Kedua, ayahnya jelas tahu setelah meyakinkan Bu-ing-cui- sim-jiu, maka selama hidup dirinya tak boleh bersentuhan kulit dengan lawan jenisnya. Hal ini bukan saja mematahkan harapan hidup bahagia di kemudian hari, sekaligus juga memutuskan keturunan keluarga Ji. Dan setahunya Jit-sing-pang belum pernah mengikat permusuhan dengan siapapun, tiada ambisi untuk menguasai dunia, mestinya tidak perlu meyakinkan ilmu beracun yang ganas ini, ayahpun tahu hal ini, justeru mengajarkan kepada dirinya, mengapa? Tiada ayah bunda di dunia ini yang tidak sayang kepada putera- puterinya, namun tindakan ayahnya dalam hal ini jelas salah.

Sebagai putera puteri yang harus berbakti kepada orang tua, apa yang harus dilakukannya sekarang?

Terbayang juga olehnya cerita Siangkoan Hong yang menggiriskan itu, demikian pula peristiwa pembunuhan murid Siu- yan Loni yang diperkosa lebih dulu. Jika betul ayahnya seorang jahat dan bermoral bejat, bukankah dia merupakan sampah persilatan yang patut dibunuh oleh setiap insan? Hal inilah yang betul-betul mengetuk sanubarinya, bukan saja ia amat berduka dan menderita lahir batin, diapun merasa malu.

"Lekaslah kita pergi!" ujar Biau-jiu Siansing pula.

Ji Bun hanya manggut-manggut, dia ikuti langkah Biau-jiu Siansing keluar, mereka menuju ke barat terus keluar kota, mereka tiba di tegalan yang penuh belukar. Biau-jiu Siansing berhenti, katanya; "Kita berpisah di sini, selamat bertemu di Kay-hong."

Tiba-tiba teringat sesuatu hal yang selama ini mengganjel hatinya, ia bertanya. "Cianpwe, apakah sudi memberi penjelasan suatu persoalan yang mengganjel hati Wanpwe?"

"Soal apa?"

"Tentang gedung setan di kota Cinyang ” Biau-jiu Siansing menepekur sebentar, katanya: "Kau pernah ke sana bukan? Baiklah Lohu akan berterus terang padamu. Memang gedung setan itu adalah salah satu tempatku yang dirahasiakan."

Perasaan Ji Bun menjadi bergolak, katanya: "Disana Wanpwe bertemu dengan ”

"Istri bapakmu yang resmi, Khong-kok-lan So Yan?" Biau-jiu Siansing menukas.

"Wanpwe mohon penjelasan, kenapa ibu tua tampaknya amat dendam dan benci terhadap ayah?"

"Ya, pernikahan Khong-kok-lan So Yan dengan ayahmu memang banyak lika-likunya."

"Bolehkah Wanpwe mengetahui?"

"Ehm, baik juga kalau kau tahu akan peristiwa itu. Waktu mudanya dulu ibu tuamu itu cukup tenar juga di kalangan Kang- ouw, entah berapa banyak pemuda yang tergila-gila padanya, namun dia hanya menyintai seorang muda yang bergelar Hing-thian- kiam Gui Han-bun, keduanya sumpah setia sehidup semati. Pada suatu malam hari terang bulan. kedua insan yang sedang memadu kasih di puncak Siau-sit-hong di gunung Siong-san mendadak kepergok oleh musuh. Hing-thian-kiam terpukul jatuh masuk jurang oleh musuhnya, jenazahnya hilang tidak berbekas. Sudah tentu Khong-kok-lan amat sedih, dia bersumpah menuntut balas pembunuh kekasihnya. Suatu ketika jerih payahnya tidak sia-sia, musuh berhasil ditemukan, maka kedua pihak bertarung mati-matian

........”

Sampai disini Biau-jiu Siansing merandek, seperti mengenang dan merangkai cerita yang akan diuraikan, lalu melanjutkan: "Sayang kepandaian Khong-kok-lan setingkat lebih rendah, dia terluka parah oleh pukulan musuh. Melihat wajahnya ayu jelita, musuhnya itu timbul nafsu birahinya, ketika dia hendak diperkosa, muncullah seorang tokoh muda lainnya. Musuh berhasil dibunuh olehnya, maka Khong-kok-lan dibawanya pergi, diobati dan dirawat dengan tekun

.........”

Biau-jiu Siansing pejamkan mata, suaranya meninggi: "Setelah luka-luka Khong-kok-lan sembuh, disamping amat haru dan berterima kasih akan perawatan dan pertolongannya, diapun merasakan penolongnya ini seorang muda yang baik hati, malah membujuk dan meminangnya berulang-ulang. Akhirnya dia menikah dengan penolongnya itu ”

Jantung Ji Bun berdebur, lekas dia menukas: "Siapakah penolongnya itu?"

Membelalak kedua biji mata Biau-jiu Siansing, sahutnya: "Dia adalah ayahmu Ji Ing-hong."

“O, bagaimana selanjutnya?"

"Kira-kira tiga tahun kemudian, datang seorang menuntut balas ke jit-sing-po, sekaligus terbongkarlah satu muslihat yang menakutkan ” "Rahasia apakah yang terbongkar?"

Biau-jiu Siansing mengertak gigi, katanya dengan keren: "Ternyata Hing-thian-kiam yang dipukul jatuh ke dalam jurang tiga tahun yaog lalu itu, memang pembunuhan yang sudah direncanakan

........"

"Pembunuhan yang sudah direncanakan?" Ji Bun menegas pula. "Ya, muslihat yang rendah dan hina dina tujuannya adalah

Khong-kok-lan ”

Berat perasaan ji Bun, hampir dia tak berani mendengar lebih lanjut, namun rasa ingin tahu tetap merangsang dihatinya, tanyanya dengan gemetar:

"Muslihat siapakah itu?" "Ayahmu!"

Bergidik Ji Bun seperti mendadak kecebur sumur es yang dingin, teriaknya dengan histeris: "Tidak, tidak mungkin!"

"Kau harus menerima kenyataan ini dengan kepala dingin." "Siapa bisa membuktikan?"

"Ji Bun, kau kira siapa yang menuntut balas ke Jit-sing-po?" "Siapa?"

"Ji-susiokmu (paman guru kedua)! Sam-susiokmu dibunuh ayahmu setelah Hing-thian-kiam berhasil dijerumuskan ke jurang."

Ji Bun mundur tiga langkah, mulutnya menggumam: "Betulkah ayah macam orang demikian? Dia ..... ternyata ”

"Watak Sam-susiokmu mirip dengan ayahmu, maka dialah yang menjadi korban muslihat keji dan kotor itu."

"Lalu bagaimana dengan Ji-susiok?" "Akhirnya iapun terbunuh oteh ayahmu." "Oh, ini ini sungguh menakutkan."

"Ibu tuamu Khong-kok-lan tahu kepandaian silatnya bukan tandingan ayahmu, maka dia cari kesempatan, untuk turun membalas kekejian ayahmu ”

Terbayang oleh Ji Bun betapa dendam dan benci ibu tuanya terhadap ayahnya, dia percaya ini pasti bukan bualan belaka, perbuatan rendah dan hina dina yang diwariskan ayahnya ini, betapapun takkan tercuci bersih, namun derita lahir batin ini takkan bisa dilenyapkan untuk selamanya, tanyanya: "Dia berhasil menuntut balas?"

"Tidak. Setelah ayahmu memperoleh Tok-keng, lebih-lebih tiada kesempatan lagi." "Bagaimana beliau bisa berada di gedung setan?" "Secara suka rela aku menolong dan menerimanya." "Siapakah bocah bernama Siao-po itu?"

Terunjuk rasa pilu pada sorot mata Biau-jiu Siansing, katanya gemetar: "Itulah puteraku, waktu dilahirkan ibunya meninggal, sekarang kuserahkan dia untuk merawat dan membimbingnya."

"Cianpwe memang sudah tahu sebelumnya akan peristiwa itu?" "Tidak, belakangan ini, setelah kau mampir ke gedung setan itu,

ibumu menceritakannya padaku."

"Cianpwe mau menerima ibu tua disana, tentu ada sebabnya?

Bolehkah Wanpwe tahu?"

"Ini ayahmu ada hubungan kental dengan keluarga Ciang,

betul tidak?"

"Itu memang kenyataan.”

"Karena itulah, Lohu mau menerimanya, karena Lohu juga punya hubungan luar biasa dengan keluarga Ciang."

"Apakah ayahku almarhum tidak tahu?"

"Yang tahu sarang rahasiaku kau inilah orang pertama." Tengah mereka berbincang, sekonyong-konyong bayangan seorang bagai angin lesus melesat lewat di samping mereka, tanpa sadar Ji Bun berteriak memuji: "Gerakan hebat, dapat dijajarkan dengan Cianpwe."

Belum habis Ji Bun bicara, bayangan orang yang sudah lewat itu tiba-tiba melesat kembali dan berhenti di hadapan mereka, kiranya seorang Siucay (pelajar tua) yang berdandan seperti guru kampungan, namun sorot matanya tajam menatap Biau-jiu Siansing, katanya setelah mengawasi sekian lamanya: "Tuan ini adalah Thian- gan-sin-jiu?"

Biau-jiu Siansing ngakak, sahutnya: "Memang akulah yang rendah, ahli mengobati penyakit aneh, bisa meramal dan lain-lain, saudara ”

"Tuan juga adalah Biau-jiu Siansing, betul tidak?" tukas Siucay tua dingin.

Agaknya Biau-jiu Siansing betul-betul terperanjat, matanya melirik kepada Ji Bun, lalu balas bertanya: “Pandanganku mungkin sudah kabur, maka mohon tanya saudara ini orang kosen darimana?"

Berputar biji mata Siucay tua yang berkilau itu, katanya: "Tuan tidak perlu tahu, kalau aku sembarangan menyebut sebuah nama, tentunya tiada gunanya buat kau ”
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).