Hati Budha Tangan Berbisa Jilid 12

 
Jilid 12

Ji Bun mengertak gigi, katanya: "Lalu kemana Ciu Tay-lian, tertua dari Pat-ciang itu?"

"Setelah dia melepas pergi Siangkoan Hong, jejaknya pun tidak diketahui."

"Tadi Hwecu bilang keturunan Siangkoan Hong ditinggal dalam Jit-sing-po?"

"Menurut dugaan waktu itu. Namun belakangan setelah diselidiki baru diketahui orok yang baru lahir itupun sudah dibunuh."

"Apakah hari ini Cayhe bisa berhadapan langsung dengan Siangkoan Hong?"

"Tentu boleh."

Tiba-tiba Ko Ling-jin melangkah masuk memberi hormat serta memberi lapor: "Perjamuan sudah siap."

Wi-to-hwecu berdiri, katanya: "Silakan, saudara muda!" "Tak berani," sahut Ji Bun. "Hwecu silakan.” "Baiklah, mari bersama saja."

Perjamuan diadakan di sebuah gardu besar di luar ruang tamu yang terbuka. Begitu Ji Bun dan Hwecu tiba, semua hadirin segera berdiri menyambut.

Sekilas pandangan Ji Bun menyapu para hadirin. Seketika pula jantungnya berdebur keras, Thong-sian Hwesio, Siu-yan Suthay, Bu- cing-so, Siang-thian-ong, Jay-ih-lo-sat dan jago-jago Wi-to-hwe yang lain sama hadir kecuali orang dalam tandu yang tidak tampak bayangannya. Diam-diam Ji Bun bersyukur bahwa Thian agaknya akan memenuhi keinginannya.

Perjamuan ini terdiri atas dua meja, Ji Bun duduk di tempat tamu, paling atas adalah Wi-to-hwecu, Bu-cing-so dan Siang-thian- ong duduk paling bawah. Jay-ih-lo-sat berhadapan dengan Ji Bun. Sementara Thong-sian Hwesio dan Siu-yan duduk menyendiri di meja lain yang lebih kecil, maklumlah mereka orang beribadat, hidangan mereka berbeda dengan hidangan di meja sebelah sini.

Diam-diam Ji Bun meraba-raba dan sukar menebak maksud Wi- to-hwecu mengumpulkan jago-jagonya dalam perjamuan ini, namun hal ini tidak sempat dipikirkan lagi, yang terpikir hanyalah cara bagaimana nanti dia harus menggunakan Ngo-lui-cu, supaya tiada satupun diantara hadirin yang lolos dari reng¬gutan maut.

Situasi amat menguntungkan dirinya, sekarang persoalan hanya terletak pada keselamatan dirinya sendiri. Sebutir Ngo-lui-cu cukup berkelebihan untuk menghancurkan gardu ini beserta seluruh isinya, namun cara bagaimana dirinya harus membebaskan diri? Pura-pura minta diri meninggalkan perjamuan lalu melemparkan Ngo-lui-cu? Tapi semua hadirin adalah bangkotan silat yang memiliki kepandaian tinggi. Sedikit lena dan gerak-geriknya kurang wajar pasti akan menimbulkan curiga pihak sana, semua ini bakal menggagalkan usahanya, tapi untuk selanjutnya juga tiada kesempatan sebaik hari sekarang ini, ia ragu dan serba salah.

Yang terpenting sebelum turun tangan, dia harus memperkenalkan diri, supaya musuh mati tanpa penasaran. Kalau mereka mati penasaran, arti penuntutan balas ini dirasakan kurang setimpal. Namun demikian, apa pula resiko yang harus dihadapinya?

Beberapa cangkir arak sudah dihabiskan, namun pikiran Ji Bun masih tenggelam dalam keraguan. Dia insaf harus segera berkeputusan dan bertindak. Kalau kesempatan ini lenyap, menyesalpun sudah kasep. Gugur bersama musuh merupakan kesuksesan dalam menuntut balas ini. Tapi ibunya masih berada dalam cengkeraman orang. Sukses atau gagal usahanya ini, bukan saja merupakan penuntutan balas bagi para korban, juga menyangkut keselamatan jiwa ibundanya. Kalau dirinya mati, ibu beranak takkan berjumpa lagi, lalu bagaimana nasib ibunya kelak?

Dia tidak berani melirik ke arah Thong-sian Hwesio. Menurut apa yang dikatakan laki-laki tak dikenal, Hwesio gede ini adalah pembunuh ayahnya. Dia kuatir kalau terlalu banyak mengawasi musuhnya ini takkan kuasa mengendalikan emosinya lagi. Hal ini akan menimbulkan curiga pihak lawan. Perjamuan ini berlangsung dalam suasana tenteram, tiada yang buka suara, hanya suara beradunya mangkok piring dengan sumpit.

Sesosok bayangan merah secara diam-diam memasuki gardu tanpa bersuara dan duduk di samping Siu-yan Suthay, dia bukan lain adalah Pui Ci-hwi. Hanya beberapa hari, kelihatan dia sudah banyak berubah, kurus dan pucat seperti sekuntum bunga yang sudah layu. Ji Bun meliriknya sebentar, hatinya bertambah mantap, jiwa seorang akan bertambah jadi korban dalam gardu ini. Apakah tiba saatnya dia harus turun tangan? Terasa sesuatu tekanan yang amat berat seperti menindih sanubarinya sehingga dia sukar bernapas. Dia tidak berani membayangkan, sekali dia melemparkan Ngo-lui-cu, akibat apa yang bakal terjadi. Tiba-tiba dia sadar telah melalaikan suatu hal, segera ia buka suara: "Hwecu, agaknya masih ada seorang tamu terhormat yang belum hadir?"

"Siangkoan Hong maksud saudara muda?" Hwecu menegas, "sebentar lagi dia pasti datang."

Perhatian seluruh hadirin serta merta tertuju kepada Ji Bun, laksana anak panah sama diarahkan dirinya. Namun dia anggap sepi dan tak acuh. Beberapa kejap lagi, tiada seorangpun yang hadir ini akan ketinggalan hidup, segalanya bakal lenyap tak berbekas lagi.

Diam-diam ia sudah berkeputusan, mati hidup sendiri bukan soal lagi, ia sudah bertekad, hanya boleh sukses pantang gagal.

Setiap orang persilatan yang berjiwa ksatria selamanya siap menghadapi kematian. Tapi betapapun dia adalah manusia, dan manusia adalah makhluk yang punya daya pikir dan punya reaksi tajam, menghadapi detik yang menentukan ini, timbul berbagai bayangan yang berbeda dalam benak Ji Bun.

Ayahnya meninggal secara mengenaskan, ibunya tidak keruan paran. Thian-thay-mo-ki yang lahirnya genit dan cabul, namun mempunyai jiwa luhur. Ciang Wi-bin ayah beranak yang punya tekad dan perhatian serta menaruh harapan terhadap dirinya. Khong-kok- lan So-yan yang bertempat tinggal di gedung setan di kota Cinyang, Biau-jiu Siansing, Jit-sing-ko-jin, orang tua di bawah jurang Pek-ciok- hong. Bayangan orang-orang ini satu persatu timbul dalam benaknya.

Mendadak Wi-to-hwe-cu berdiri serta berkata: "Saudara muda, nah, inilah Siangkoan Hong telah datang!" Sembari bicara tangannya mengusap ke muka sendiri, segera tertampak seraut wajah yang bopeng sebelah dihiasi codet yang buruk sekali.

Mendidih darah dalam tubuh Ji Ban, dengan terkejut ia berjingkrak seraya berteriak: "Kau kau inikah Siangkoan Hong?"

"Ya!" sahut Wi-to-hwecu alias Siangkoan Hong sambil duduk kembali.

Lama sekali Ji Bun mengawasi muka Wi-to-hwecu tanpa bersuara, mimpi juga tidak pernah pikir olehnya bahwa Hwecu yang misterius ini adalah duplikat Siangkoan Hong. Tak heran selama ini dirinya disambut sebagai tamu terhormat. Pandangan hadirin yang tajam semua tertuju kepadanya pula. Ji Bun seperti tidak merasakan sama sekali, sorot matanya tetap tertuju kepada muka Siangkoan Hong tanpa berkedip.

"Saudara muda," kata Wi-to-hwecu alias Siangkoan Hong dengan suara berat, "cerita tentang Siangkoan Hong sudah tamat, sekarang silakan terangkan asal usulmu."

Karena meyakinkan Bu-ing-cui-sim-jiu, tangan kiri Ji Bun amat beracun, selama ini disembunyikan di dalam lengan baju, hal ini diketahui oleh semua hadirin dan tidak ambil peduli. Tapi tangan kirinya itu pelan-pelan dijulurkan keluar dari lengan bajunya yang kosong melambai, tahu-tahu tangannya sudah menggenggam Ngo- lui-cu.

Orang lain belum tahu dan tidak soal, namun Ji Bun sendiri amat tegang sampai telapak tangannya basah oleh keringat dingin, karena sekejap lagi semuanya bakal berakhir. Sudah tentu pertanyaan Siangkoan Hong harus ia jawab dulu sebelum bertindak, maka ia meninggalkan tempat duduknya, mukanya kaku dingin dan penuh nafsu liar, katanya: "Aku bernama Ji Bun, keturunan Ji Ing-hong."

"Kau adalah keturunan Ji lng-hong?"

11.33. Siapa Pembunuh Te-gak Suseng?

Wi-to-hwecu berjingkrak berdiri. Hadirin yang lain juga ikut berdiri. Suasana seketika memuncak tegang, semua hadirin sama dijalari nafsu membunuh. Sudah tiada pilihan lain bagi Ji Bun, dalam keadaan seperti ini hanya gugur bersama musuh, tangan kiri yang menggenggam Ngo- lui-cu sampai gemetar, sudah tentu semua hadirin tidak tahu bahwa elmaut sudah diambang pintu.

Agaknya perjamuan yang diadakan Wi-to-hwecu ini memang ada sangkut pautnya untuk membongkar kedok dirinya. Tanpa jeri mata Ji Bun melirik ke arah Thong-sian Hwesio, mata orangpun sedang menatap dirinya. Ji Bun buka suara "Taysu, ada sebuah hal mohon petunjukmu.”

"Katakan saja!"

"Kabarnya kematian ayahku dan seorang berkedok lain adalah buah karya Taysu?"

Seketika mencorong sinar mata Thong-sian Taysu. "Pinceng pembunuhnya maksudmu?" desisnya, "siapa bilang?"

"Kabarnya demikian, siapa yang bilang Taysu tidak perlu tahu.

Pokoknya ada saksi."

"Omong kosong," teriak Thong-sian. "Taysu tidak berani mengaku?"

"Kalau benar harus diakui, kalau tidak kenapa harus mengaku, jadi bukan soal berani atau tidak." "Tapi tuduhan ini betulkan?" "Tidak!"

"Ji Bun," sela Wi-to-hwecu, "apa tujuanmu?" "Menuntut balas!" Ji Bun mengertak gigi.

Suara Siang-thian-ong yang berat laksana geledek berkata: "Anak muda, kau sedang mimpi di siang hari? Soal menuntut balas kau salah alamat, apalagi kau mempunyai ayah durjana, kau sendiri harus mawas diri dan merasa malu, bicara sakit hati, kau justeru sasaran Hwecu untuk menuntut balas atas perbuatan bapakmu "

"Tutup mulutmu!" bentak Ji Bun.

"Ji Bun," bentak Siu-yan Suthay bengis dan kereng. "Mengingat kau pernah menolong jiwa Hwecu, tiada kesempatan lagi bagimu bicara disini "

Ji Bun mendengus berat, jengeknya: "Semua yang hadir ini ikut membantai penghuni Jit-sing-po bukan?"

"Kentutmu busuk," bentak Siang-thian-ong, "memangnya kau pandang Lohu sama dengan Ji Ing-hong, manusia srigala yang kejam itu?"

"Tua bangka, jangan memaki orang," damprat Ji Bun. Saking marah rambut ubanan Siang-thian-ong yang jarang sampai berdiri. Sudah tentu badannya yang serba buntak tambun itu kelihatan lucu dan menggelikan, tapi juga cukup menakutkan, agaknya dia sudah tak sabar lagi.

"Laki-laki sejati putus hubungan tidak akan mengeluarkan kata- kata kotor," demikian Bu-cing-so memenyelutuk, "Sahabat muda, kau harus membedakan salah dan benar."

"Cayhe sudab cukup membedakannya," sahut Ji Bun.

"Ji-sicu," ujar Siu-yan Suthay, "Kalau kami pandang kau sebagai musuh, jelas kau tiada kesempatan mengundurkan diri, kau percaya tidak? Tahukah kau kenapa selama ini Siangkoan Hwecu bersabar dan menyembunyikan diri saja?"

"Tidak perlu tahu, kalau tempo hari aku sudah tahu siapa dia sebenarnya, jiwanya sudah lama kuhabisi, buat apa aku menolongnya."

"Ji Bun," ujar Wi-to-hwecu, "kau pernah menolongku, sekarang kusilakan kau turun gunung, utang piutang kedua pihak sudah lunas sejak kini, "

"Tidak perlu!" teriak Ji Bun beringas.

"Kau menghapus kenyataan, membual hendak menuntut balas segala, dengan cara apa kau hendak menuntut balas?" Ji Bun terdesak dan nekat, teriaknya kalap: "Utang darah bayar dengan darah!"

Diam-diam genggaman tangannya kiri semakin mengencang, kalau dia lemparkan Ngo-lui-cu di tengah perjamuan ini, pasti tiada seorangpun di antara hadirin yang selamat.

Dengan tatapan beringas dia menyapu pandang muka seluruh hadirin. Waktu matanya bentrok dengan pandangan Pui Ci-hwi, serta merta timbul perasaan dalam sanubarinya, gadis jelita yang pernah menjadi pujaannya, kini juga akan gugur bersama. Kehidupan manusia di dunia fana ini memang tiada yang abadi, nasib sering mempermainkan setiap orang. Kini tibalah saatnya dia turun tangan, tidak boleh ragu-ragu. Mendadak ia keluarkan tangan kiri serta teracung ke atas, tiada orang atau sesuatu yang dapat mengubah lagi nasib semua hadirin?

Pada detik-detik yang gawat sebelum Ji Bun sempat menjatuhkan Ngo-lui-cu, tiba-tiba terasa oleh Ji Bun lengan kirinya kesemutan dan mengejang. Seluruh tenaga yang dikerahkan seketika lenyap. Lebih celaka lagi, Ngo-lui-cu tahu-tahu sudah terlepas dari genggamannya, lengan kirinya lantas menjulur lemas ke bawah.

Kejut Ji Bun luar biasa, serasa sukma meninggalkan raganya, siapakah yang kebal terhadap racun di tangan kirinya, sehingga segala usahanya menjadi gagal total?

Dalam sekejap itu. Ji Bun merasa kepala berat dan mata berkunang, bumi terasa bergunjing, pikirannya menjadi hampa dan kabur. Sekali sapu ia tendang meja kursi terus melompat mundur, waktu dia berpaling, seketika ia melenggong. Tahu-tahu dalam gardu bertambah seorang nyonya muda, begitu molek dan rupawan sampai Ji Bun tidak berani menatapnya terang-terangan, pakaian yang dikenakan berwarna serba merah, tak ubahnya seperti puteri raja. Tangannya tengah menimang-nimang Ngo-lui-cu, wajah nan cantik membesi geram, sepasang matanya yang bening bersih mempesona menyorotkan sinar terang.

Pandangan seluruh hadirin tertuju kepada nyonya muda ini, begitu kereng dan penuh wibawa nyonya muda ini, meski berdiri tidak bergerak, namun tiada orang yang berani mengawasinya lama- lama. Hening lelap sekian lama, akhirnya Siang-thian-ong yang bersuara: "Ngo-lui-cu!"

Serta merta pandangan hadirin berbalik ke arah Ji Bun yang berdiri bagai patung.

Sungguh menyesal, benci dan murka dan kaget hati Ji Bun. Kalau sejak tadi dia turun tangan, segalanya sudah berakhir. Padahal sejak kapan nyonya muda ini berada di beiakangnya, sama sekali tidak diketahuinya.

Bu-cing-so berdiri paling dekat dengan nyonya muda ini, segera ia memberi hormat padanya serta menyapa: "Sejak kapan Siancu tiba?" "Baru saja," sahut nyonya muda baju merah, suaranya merdu nyaring bagai kicau burung kenari, "agaknya memang sudah kehendak Thian!"

Siancu? Siapakah dia? Ji Bun bertanya-tanya dalam hati. “Darimana Siancu tahu " tanya Bu-cing-so.

Nyonya muda baju merah segera memotong: "Seorang yang mempunyai sesuatu rencana jahat, jika menghadapi situasi yang menegangkan dan tetap tidak tergoyahkan pendiriannya, itu berarti dia sudah nekat dan bertekad gugur bersama musuh, agaknya kalian lalai dalam hal ini."

Beberapa patah kata ini membuat seluruh jago-jago silat yang hadir sama merah mukanya.

Tiba-tiba Pui Ci-hwi, seharusnya bernama Siangkoan Ci-hwi, karena dia puteri kandung Siangkoan Hong, menjerit pelahan terus menubruk ke dalam pelukan nyonya muda itu. Nyonya muda baju merahpun lantas memeluknya. Lalu dia membalik tubuh dan mengundurkan diri, masuk lewat pintu bundar yang ada di arah kiri sana.

Siang-thian-ong menggeram bagai guntur menggelegar, serunya: "Ayahnya srigala, puteranyapun srigala, mana boleh diantapi hidup di dunia ini."

Ji Bun tersentak sadar dari kejut yang membuat pikirannya butek.

Mendadak ia menyadari keadaan dirinya yang serba kepepet dan nasib apa yang bakal menimpa dirinya. Tanpa bicara mendadak dia menubruk ke arah Siangkoan Hong, beruntun dia lancarkan serangan dengan Bu-ing-cui-sim-jiu. Gerak tubrukannya ini secepat kilat, mendadak lagi, siapapun yang disergap begini pasti akan kelabakan. Tapi secara refleks Wi-to-hwecu angkat sebelah tangannya menangkis, dia lupa bahwa Ji Bun menyerang dengan tangan beracun yang bakal mencabut nyawanya.

"Blang", disusul suara gerungan rendah, tampak Ji Bun terpental balik menumbuk dinding malah, begitu keras benturan ini sampai gardu itu terasa guncang. Tapi segera tubuh Ji Bun terpental balik dan terhuyung hampir roboh, darah menyembur dari mulutnya.

Yang menolong Siangkoan Hong ternyata adalah Thong-sian Hwesio. Pertama kali Ji Bun merasakan kekuatan dan kehebatan Sian-thian-cin-khi. Hampir dalam waktu yang sama, suara bentakan dan hardikan saling susul, beberapa gelombang angin pukulan sekaligus menerjang secara beruntun dengan dahsyat, namun hanya terlambat sedetik saja, gempuran hebat ini semuanya mengenai tempat kosong.

Berubah air muka Wi-to-hwecu, yang lainpun ikut pucat dan beringas.

Ji Bun insaf usahanya sudah gagal dan entah nasib apa yang akan menimpa dirinya, namun dia pantang menyerah, meski harus menemui ajal dia tetap berjuang sampai titik darah terakhir.

Setelah menyeka darah diujung mulutnya, dengan niat gugur bersama musuh, tangannya membelah ke arah Bu-cing-so yang berdiri paling dekat. Walaupun dia sudah terluka, namun sejak mendapat saluran Lwekang orang tua aneh di jurang Pek-ciok-hong, kecuali Thong-sian Hwesio, kekuatannya kini tiada orang lain yang mampu menandinginya, maka dapatlah dibayangkan betapa dahsyat serangan yang nekat dan siap adu jiwa ini.

Bu-cing-so melayani secara tergesa-gesa dan keripuhan, keruan ia terdesak mundur hingga keluar gardu. Di tengah bergolaknya angin pukulan yang menderu, semua perabot yang ada di dalam gardu sama tersapu porak peronda, tiang gardu juga berguncang seakan-akan ambruk.

Setelah melancarkan serangannya, Ji Bun tidak pedulikan hasilnya, sigap sekali dia putar tubuh terus menubruk ke arah Wi-to- hwecu. "Omitohud!' ditengah sabda Thong-sian yang bergema itu telapak tangannya cepat mengebut. Segulung angin lembut dan kuat segera menerjang Ji Bun, kelihatan kebutan tangan ini menimbulkan segulung angin lunak, tapi begitu Ji Bun keterjang, baru terasa kekuatannya ternyata bukan kepalang hebatnya.

Bagai diterjang badai mengamuk seketika badan Ji Bun terpental terguling-guling di luar pekarangan dan tak mampu bangun lagi, lukanya bertambah berat, darah menyembur semakin banyak.

Orang-orang di dalam gardu serempak memburu keluar dan mengurungnya di tengah.

Setelah mengatur napas, pelan-pelan dengan menahan sakit Ji Bun merangkak bangun, teriaknya beringas: "Aku tak kuasa mengkerumus daging kalian, matipun aku akan mencabut nyawa kalian!" Betapa tebal kebencian yang terkandung dalam sumpahnya ini, orang-orang yang mengelilinginya sama merasa jeri dan ngeri.

Siang-thian-ong, si cebol tua paling berangasan, badannya yang buntak tambun seperti bola menggeser maju, bentaknya. "Anak keparat ini memang berwatak srigala, jangan dibiarkan hidup merajalela di dunia ini."

Di tengah bentakannya, pukulannyapun melanda ke arah Ji Bun.

Mendelik liar mata Ji Bun, sekuatnya dia himpun sisa kekuatannya untuk menangkis. "Plak." Siang-thian-ong menggelinding balik, sementara Ji Bun roboh terguling lagi, darah tambah deras menyemprot dari mulutnya, mukanya pucat pias seperti kertas. Namun dia berusaha bangun, tapi tersungkur jatuh, beruntun tiga kali baru dia berhasil berdiri dengan langkah sempoyongan dan badan limbung.

Siang-thian-ong menggerung seperti banteng ketaton, badannya yang bundar tiba-tiba membal ke atas, telapak tangannya sebesar kipas terus mengepruk. Pandangan Ji Bun berkunang-kunang, kupingnya mendenging, jangan kata melawan, untuk berkelitpun sudah tak kuasa lagi, terpaksa dia terima ajal saja.

Bayangan berkelebat, tahu-tahu Wi-to-hwecu maju menahan pukulan Siang-thian-ong, katanya: “Harap berhenti dulu!"

Dengan bersungut gusar Siang-thian-ong mundur ke belakang. Wi-to-hwecu langsung mendekati Ji Bun, katanya: "Ji Bun, kali ini kubebaskan kau turun gunung, selanjutnya masing-masing pihak tiada utang piutang, kalau bertemu lagi, aku pasti membunuhmu."

Ji Bun tenangkan diri, katanya dengan tegas: "Siangkoan Hong, hari ini kau tidak membunuhku, aku bersumpah akan menuntut balas kepadamu."

"Terserah!" ujar Wi-to-hwecu, lalu dia berpaling dan berseru kepada Ko Ling-jin yang berdiri jauh di belakang sana: "Ko- congkoan, antar dia turun gunung."

Ko Ling-Jin mengiakan. Dengan tatapan penuh dendam dan kebencian Ji Bun tatap setiap orang yang hadir, lalu dengan langkah sempoyongan beranjak keluar. Ko Ling-jin mengikuti di belakangnya. Tiada yang dipikirkan, seperti orang yang baru sembuh dari sakit lama, langkah Ji Bun turun naik sambil menahan derita luar biasa.

Hanya dendam dan kebencian saja yang mempertahankan dirinya, kalau tidak mungkin dia sudah tidak sanggup angkat kaki.

Setelah keluar dari benteng terdepan, Ko Ling-jin segera kembali.

Seorang diri Ji Bun turun dari Tong-pek-san, waktu itu sudah kentongan kedua, perjalanan yang biasanya hanya ditempuh setengah jam, kini harus empat jam. Akhirnya ia tersungkur roboh di pinggir jalan, tak tertahan lagi ia merintih-rintih. Rebah telentang kira-kira semasakan air, kembali ia meronta bangun melanjutkan perjalanan dengan jatuh bangun. Setelah fajar menyingsing baru jalan pegunungan itu dilaluinya. Terasa sekujur badan sakit sekali seperti habis digebuki, tulang- tulang sama nyeri, selangkahpun ia tak kuasa lagi berjalan. Ji Bun sadar bahwa luka dalamnya amat parah, kalau tidak lekas diobati, mungkin bisa mendatangkan bahaya bagi jiwanya.

Maka sambil merangkak dan meronta dia merayap memasuki hutan, akhirnya ia duduk di bawah pohon, dengan tertawa getir ia menggumam: "Beruntung tidak mati, kelak pasti masih ada kesempatan."

Sekonyong-konyong sebuah suara yang cukup dikenalnya berkata: "Te-gak Suseng bagaimana hasilnya?”

Sekuatnya Ji Bun angkat kepala, laki-laki tak dikenal yang memberikan Ngo-lui-cu itu tahu-tahu sudah berdiri di depannya.

"Gagal total," sahut Ji Bun menyengir. “Apa gagal? Bagaimana bisa gagal?"

"Digagalkan seorang nyonya muda berbaju merah." "Siapa dia? Mana Ngo-lui-cu itu?"

"Direbut nyonya muda itu, kalau tidak mana aku bisa gagal." "Bagaimana kau bisa meloloskan diri?"

"Mereka melepas aku pergi." "Lho, kenapa?"

"Apa pernah menolong jiwa Wi-to-hwecu, dia utang budi kepadaku."

Memancar sinar terang yang mengandung nafsu membunuh dari mata laki-laki tidak dikenal, katanya dingin: "Kau, pernah menolong jiwanya?"

Ji Bun mengatur napas, sahutnya gusar: "Kau hendak mengorek keteranganku?"

"Aku harus memberi laporan. Kau sudah tahu wajah aslinya?" "Sudah, dia itulah Siangkoan Hong."

"Sejak kini kau sudah bermusuhan dengan Wi-to-hwe?" "Memangnya perlu omong lagi?"

"Kau ingin bertemu dengan ibumu bukan?" "Sudah tentu, tapi majikanmu ”

Bertambah tebal nafsu membunuh laki-laki tak dikenal, katanya menyeringai: "Majikanku sudah berpesan, kalau kau ingin bertemu dengan ibumu, pergilah ke alam baka saja."

Hampir pecah dada Ji Bun laksana dipukul godam, mendadak dia berdiri, serunya: "Apa maksudmu?" "Kalau berhasil, anak dan ibu akan kumpul kembali, kalau gagal hanya kematianlah yang harus kau tempuh.."

Ji Bun menyurut mundur membelakangi pohon, desisnya mengertak gigi: "Siapa sebetulnya majikanmu? Bagaimana keadaan ibuku."

"Kau akan bertemu dan melihatnya di alam baka."

Mendidih darah Ji Bun, sambil menggerung gusar dia menubruk ke arah laki-laki tak dikenal. Karena mengerahkan hawa murni dan menyerang dengan kalap, luka-lukanya seketika kambuh. Rasa sakit yang luar biasa seketika membuat pandangannya gelap, badannya yang menubruk itu seketika tersungkur kaku tak bergerak lagi.

Laki-laki tak dikenal itu menggumam: "Jangan salahkan aku, tidak bisa tidak aku harus membunuhmu."

Tangan terangkat terus menggablok punggung Ji Bun, hanya mengerang lirih Ji Bun tak bergerak Iagi, darah merembes dari mulut dan hidungnya, daun-daun kering menjadi basah oleh darahnya.

Laki-laki tak dikenal berjongkok memeriksa urat nadi dan pernapasan Ji Bun. Setelah terbukti jantungnya berhenti bekerja, sungguh diluar dugaan tahu-tahu dua titik air mata meleleh dari uiung matanya, katanya menghela, napas: "Demi aku yang hidup, maka kau harus mati, jangan salahkan aku, ini memang sudah nasibmu." Habis berkata, dengan telapak tangannya yang kuat dia menggali liang lahat terus menggotong Ji Bun dan direbahkan telentang dalam lubang serta menguburnya. Dicarinya sebuah batu besar, diatas batu dia mengukir "Tempat abadi Te-gak Suseng". Di tengah helaan napas laki-laki tak dikenal itu terus putar badan dan pergi.

Setelah membunuhnya, kenapa menghela napas? Kenapa menangis pula? Siapakah sebetulnya laki-laki tidak dikenal ini?

Sang surya sudah tinggi di cakrawala, sinarnya menembus daun- daun pepohonan menyinari pusara baru ini. Te-gak Suseng Ji Bun sudah bersemayam dalam tanah ini untuk selamanya?

Menjelang tengah hari, dua bayangan orang berlari mendatangi memasuki hutan itu, seorang adalah nyonya baju hijau yang mengenakan cadar, tak diketahui usianya, seorang lagi adalah gadis cantik.

Nyonya berkedok itu berkata: "Kau tahu pasti kalau dia pernah kemari?"

Gadis cantik itu mengiakan.

"Memangnya laki-laki dikolong langit ini sudah mampus seluruhnya, sehingga kau justru menujui dia?"

"Suhu luluskanlah keinginan murid."

"Budak bodoh, ada permusuhan apakah dia dengan Wi-to-hwe?" "Entahlah, murid hanya kuatir dia dibunuh oleh gembong- gembong silat durjana itu."

"Ah, menyebalkan. Tunggu di sini, aku masuk ke sana sebentar," nyonya berkedok masuk ke dalam hutan, sementara si gadis mondar mandir. Mendadak pandangannya tertuju ke sana, pada sebuah kuburan baru. Setelah dia melihat jelas, seketika dia memekik keras: "Dia ... dia sudah mati!"

Cepat dia menubruk maju dan mendekam di atas pusara Ji Bun dan jatuh semaput.

Tak lama kemudian nyonya berkedok telah katanya keras: "Ada apa gembar gembor Heh?" Cepat dia lari mendatangi, setelah

melihat tulisan diatas nisan mulutnya mengerut: "Agaknya betul dugaan budak ini, wah celaka!" dia melangkah maju mengebas Thian-in-hiat si gadis. Segera si gadis siuman dari pingsannya serta menubruk kedua kaki nyonya berkedok, pecah tangisnya dengan sedih.

Lama sekali baru si gadis menghentikan tangisnya. Ia berdiri dan bersumpah dengan murka: "Aku akan menuntut balas!"

“Menuntut balas, memangnya siapa musuhnya?" "Siapa lagi kalau bukan orang-orang Wi-to-hwe?" "Budak, cara bagaimana kau akan menuntut balas?" "Dengan cara apapun, cara yang paling keji."

Si gadis mengertak gigi dan menghampiri pusara Ji Bun, air mata bercucuran pula, katanya sesenggukan: "Adik, aku bersumpah ....

menuntut balas kematianmu, kau istirahatlah dengan tenteram,

dik, sungguh tak nyana kita akan berpisah untuk selamanya .....

takkan lama lagi, Cici pasti akan menyusulmu di alam baka, tunggulah kedatanganku!"

"Anak bodoh, memangnya kau sudah tidak ingat kepada gurumu lagi."

Si gadis diam saja, hatinya luluh. Siapakah dia? Ia bukan lain Thian-thay-mo-ki adanya. Sekian lamanya dia melamun, mendadak ia angkat kedua tangannya menggempur gundukan tanah pusara.

Lekas Nyonya berkedok menangkap tangannya, serunya: "Apa yang kau lakukan?"

"Murid ingin melihatnya untuk terakhir kali."

"Nak, dia sudah meninggal, kau tahu bagaimana keadaannya sekarang?"

"Kuburan ini masih baru, pertanda dia belum lama mati."

"Yang sudah mati biarlah pergi, kenapa kau mengusik jenazahnya

........” "Tapi ..... oh Dik!" Thian-thay-mo-ki menggerung-gerung

sesambatan, begitu sedih memilukan suaranya.

Nyonya berkedok diam saja, dia tidak membujuk atau menghiburnya. Biarlah dia menangis sepuasnya untuk melampiaskan duka citanya. Dalam keadaan seperti ini, bujuk dan hiburan akan percuma saja.

Cukup lama baru tangis Thian-thay-mo-ki mereda. Sambil berlutut di depan pusara Ji Bun diam-diam dia berdoa dan mengheningkan cipta. Entah apa yang diucapkannya, bibirnya kelihatan bergerak. Kejap lain mereka sudah berangkat menuju ke markas besar Wi-to-hwe.

Tak lama setelah bayangan Thian-thay-mo-ki dan gurunya lenyap, sesosok bayangan orang muncul dari balik hutan langsung menghampiri pusara Ji Bun, katanya menghela napas: "Tuhan menghendaki dia berpulang, apa boleh buat. Di sini bukan tempat semayam yang cocok untuk dia, aku harus memindahkan dan menguburnya di tempat lain dengan cara yang memadai, anggaplah sebagai kewajiban seorang sahabat " maka dia bekerja

mengeduk tanah, keadaannya sudah tidak menyerupai manusia. Jenazah digotong keluar serta dibaringkan di tanah berumput, orang itu menyobek pakaian dengan air yang ada disungai tak jauh diluar hutan sana, dia membersihkan muka dan kaki tangan Ji Bun.

"Siapa di situ?" ditengah hardikan nyaring sesosok bayangan meluncur tiba. Dia adalah Thian-thay-mo-ki yang telah kembali. Begitu melihat jenazah Ji Bun, tanpa menghiraukan siapa orang di depannya dan bagaimana jenazahnya bisa keluar dari liang kubur, segera dia mendekap jenazah Ji Bun serta meraung-raung.

Cepat sekali beberapa orang telah bermunculan pula, yang terdepan adalah nyonya berkedok baju Hijau, di belakangnya adalah Wi-to-hwecu, Thong-sian Hwesio dan empat laki-laki seragam hitam. Mereka menyapu pandang ke arah jenazah Ji Bun lebih dulu. Lalu perhatian tertuju kepada orang yang mengeduk kuburan.

"Sahabat, sebutkan namamu?" tanya Wi-to-hwecu kereng. "Cayhe adalah Thian-gan-sin-jiu!" ternyata si tabib kelilingan

samaran Biau-jiu Siansing.

Mendadak Thian-thay-mo-ki berdiri, serunya menuding Biau-jiu Siansing: "Apa maksudmu mengeluarkannya dari liang lahat?”

"Jenazahnya akan kupindah dan kukubur semestinya." "Omong kosong, dengan alasan apa kau hendak memindah

kuburannya?”

“Karena aku pernah mendapat pesan seseorang untuk melindunginya.”

"Pesan siapa?"

"Ciang Wi-bin dari Kay-hong."

`'Apa hubungan Ciang Wi-bin dengan dia?" "Ciang Wi-bin adalah mertuanya." "Siapa bilang?"

"Aku yang bilang, belum lama ini dia pernah mengikat perjodohan dengan puteri Ciang Wi-bin di Kay-hong."

"Tak mungkin mana bisa ”

Nyonya berkedok angkat tangan mencegah Thian-thay-mo-ki bicara lebih lanjut, lalu berkata bengis kepada Wi-to-hwecu: "Jenazahnya ada di sini, nyata bukan?"

"Siapakah yang membunuhnya?" tanya Wi-to-hwecu. "Kalau bukan kau pasti anak buahmu," kata si nyonya.

"Tanpa ada perintah anak buahku takkan berani sembarangan turun tangan."

"Kau sendiri bilang, waktu dia turun gunung sudah terluka parah, siapapun bisa membunuhnya dengan gampang."

"Dengan kedudukan dan pribadiku aku berani menjamin anak buahku pasti tiada yang berani berbuat di luar perintahku."

"Kau memang pandai mungkir dan berpura-pura."

Tiba-tiba Thong-sian menyelutuk: "Sicu ini kenapa begini kukuh." Gusar dan membentak nyonya berkedok: "Kau ini terhitung apa, berani bicara kepadaku!"

Berubah hebat air muka Thong-sian, namun dia tetap sabar, katanya: "Pinceng pandang kau sebagai tokoh terkemuka Bu-lim

.......”

"Kau belum setimpal bicara soal ini."

Betapapun sabar Thong-sian Hwesio juga menjadi gusar, matanya mendelik, katanya: "Sam-cai Lolo, harap kau tahu diri."

"Kau minta aku tahu diri? Ha ha ha, sudah lama aku tidak membunuh orang ”

"Sicu mau bunuh orang? Sicu kira Sam-cai-cui-hun tiada bandingannya dikolong langit ini?"

Sam-cai Lolo terkekeh, katanya: "Jika puluhan tahun yang lalu berani kau kurangajar padaku, sejak tadi kau sudah mampus."

"Locianpwe," sela Wi-to-hwecu, "bicara dulu persoalan sekarang saja."

"Nanti akan kubereskan dengan kau," bentak Sam-cai Lolo murka. Tiba-tiba dia gerakkan tangan kanannya, dengan jari-jari telunjuk, tengah dan manis, sama teracung menuding Thong-sian Hwesio, bentaknya bengis: "Kalau segera kau berlutut minta ampun, aku boleh ampuni jiwamu." Tanpa dihembus angin, jubah Thong-sian Hwesio yang longgar melambai-lambai, katanya tegas: "Biar Pinceng menyambut tiga jari sicu."

Sam-cai Lolo menggereng gusar, ketiga jarinya teracung kearah samping, "ser, ser, ser!" tiba-tiba pohon sebesar pelukan tiga orang setombak di sebelah kiri sana bergetar, tiga lobang yang dalam menghiasi batang pohon yang besar itu.

Kerena memakai kedok, bagaimana reaksi dan mimik muka Wi- to-hwecu tidak diketahui, namun sorot matanya nampak ngeri dan jera, anak buahnya sama merinding ketakutan. Memangnya siapa yang pernah melihat dan menyaksikan ilmu jari selihay ini, mendengarpun belum pernah.

Hanya Thong-sian Hwesio tetap tenang-tenang dan adem ayem, agaknya dia tidak terkejut atau gentar sama sekali.

"Hwesio cilik," kata Sam-cai Lolo, tak acuh dengan nada menghina, "bagaimana dirimu dibandingkan dengan pohon itu?"

12.34. Te-gak Suseng Hidup Kembali ??

Usia Thong-sian sudah lebih setengah abad, namun dipanggil "Hwesio cilik” sungguh lucu dan menggelikan, namun dia tetap tenang dan berkata serius: "Sicu boleh turun tangan, kalau aku tidak kuat melawan, anggaplah Pinceng yang bernasib jelek." "Selama hidupku belum pernah kuhadapi kurcaci seangkuh kau, memangnya kau sudah bosan.”

"Bukan bosan hidup, tapi aku yakin dapat melawan ilmu jarimu," demikian tantang Thong-sian malah.

"Sambut jariku!" hardik Sam-cai Lolo, tiga larik sinar kemilau laksana kilat sama menyambar ke arah Thong-sian Hwesio. Thong sian berdiri tenang sekokoh gunung, bukan saja tidak melawan juga tidak berkelit.

Terbelalak pandangan Wi-to-hwecu, berubah pula air muka Thian-thay-mo-ki, belum pernah dia melihat gurunya gusar dan menggunakan kepandaian mujijatnya ini.

"Cres, cres, cres", desis suara yang berubah menjadi letupan keras beruntun tiga kali. Begitu sinar kemilau putih mengenai jubah Hwesio seperti menumbuk dinding baja saja, seketika pecah berderai keempat penjuru. Thong-sian Hwesio hanya tergetar mundur setengah tindak.

"Sian-thian-cin-khi," seru Sam-cai Lolo terkejut.

Thong-sian menarik ilmu saktinya, katanya tawar: "Sicu memang berpengalaman luas, memang tidak malu sebagai tokoh terkemuka Bu-lim."

Pujian atau cemoohan, orang lain tidak merasakan perbedaannya, namun bagi pendengaran Sam-cai Lolo sungguh tidak karuan rasanya. Sejak seabad yang lalu dia sudah terkenal. Sam-cai-sinkang selamanya belum pernah menemukan tandingan, di mana Sam-cai-ciat muncul, golongan hitam putih sama lari menyingkir. Sungguh tak nyana setelah puluhan tahun mengasingkan diri, hari ini sudah kecundang habis-habisan. Karuan gemetar sekujur badannya saking gusar dan malu, teriaknya melengking: "Budak, hayo pergi."

Thian-thay-mo-ki melirik ke arah jenazah Ji Bun, katanya pilu: "Suhu "

"Mau pergi tidak?" bentak Sam-cai Lolo.

"Locianpwe tidak mempersoalkan sebab musabab kematiannya tanya Wi-to-hwecu dengan suara ramah.

Tanpa bicara dan tidak melirik, tahu-tahu Sam-cai Lolo berkelebat menghilang.

Thian-thay-mo-ki sudah angkat langkah menyusul ke sana. Tapi pada saat itulah, tiba-tiba Biau-jiu Siansing berteriak dengan suara aneh: "Lihat ..... dia dia tidak mati."

Thian-thay-mo-ki segera putar balik, teriaknya penuh emosi: "Dia tidak bisa mati, kenapa tidak terpikir sejak tadi olehku."

Wi-to-hwecu dan lain-lain sama melenggong bingung, memang badan Ji Bun kelihatan bergerak-gerak seperti mengejang dadanya pun turun naik. Seseorang yang sudah mati dan dikubur masih bisa hidup kembali, sungguh kejadian yang aneh sekali. Mungkin karena terlalu senang, kaki Thian-thay-mo-ki sampai lemas dan mendeprok di tanah.

Di antara tatapan semua orang yang serba aneh, kaget dan tidak percaya, pelan-pelan tapi pasti daya hidup Ji Bun pulih kembali.

Sepeminuman teh kemudian, semua orang menanti dan menyaksikan dengan sabar, terdengar tenggorokannya berbunyi, dia kini betul-betul sudah hidup kembali setelah mati.

"Terima kasih kepada Thian Yang Maha Kuasa, ini berarti jiwa seorang yang lain telah engkau selamatkan juga," demikian ujar Biau-jiu Siansing seorang diri.

Siapakah jiwa seorang yang lain? Kata-katanya ini tidak menimbulkan reaksi apa-apa, karena perhatian semua orang tertuju kepada kejadian di depan mata yang aneh dan jarang terjadi ini.

Kejadian mayat hidup sering terdengar dan diceritakan oleh orang-orang yang suka mendongeng, mayat hidup umumnya kaku, namun mayat yang mereka lihat sekarang ini adalah lemas dapat bergerak bebas seperti manusia biasa, bau mayat tidak tercium.

Malah suara deru napasnya terdengar dengan jelas.

Thian-gan-sin-jiu alias Biau-jiu Siansing segera berjongkok memeriksa denyut nadi Ji Bun. Teriaknya gembira: "Betul-betul hidup kembali, sungguh berbahaya, kalau bukan pikiranku ingin mengebumikannya di tempat lain, mungkin dia sudah mati betul- betul." Tiba-tiba dia berputar ke arah Thian-thay-mo-ki dan bertanya: “Nona tadi bilang dia tidak akan mati dan seharusnya ingat akan hal ini ...... apakah maksud ucapanmu ”

Sudah terpentang mulut Thian-thay-mo-ki, namun dia urung bicara, ia geleng kepala tanpa menjawab.

Biau-jiu Siansing angkat kepala, katanya kepada Wi-to-hwecu: "Hwecu tidak keberatan bila dia kubawa pergi bukan?"

Wi-to-hwecu menoleh kearah Thong-sian Hwesio, Thong-sian Hwesio sedikit mengangguk, lalu Wi-to-hwecu berkata: "Boleh, tapi beritahu kepadanya, pihak kami sudah mengalah sejauh ini, kelak kalau bersua lagi, bergantung kepada nasibnya saja,” kembali dia pandang Ji Bun sebentar lalu ajak Thong-sian dan lain-lain pergi.

Ji Bun merintih pelahan, namun kedua matanya masih terpejam, agaknya daya hidupnya masih terlalu lemah.

Dengan penuh kasih sayang Thian-thay-mo-ki mengawasi dan menunggu perkembangan selanjutnya dia berdiri lalu berkata kepada Biau-jiu Siansing: "Tuan hendak membawanya pergi?

Kenapa?"

"Cayhe mendapat pesan dari seorang untuk melindunginya." "Kularang kau menyentuhnya. Aku sendiri yang akan merawat

dia." "Nona," kata Biau-jiu Siansing tergelak-gelak, "ketahuilah, dia laki-laki yang sudah punya isteri dan keluarga?"

Berubah air muka Thian-thay-mo-ki, desisnya dingin: "Berdasar apa kau berani berkata demikian? Apa pula buktinya?"

"Ciang Bing-cu sudah berikan anting-anting pualam kepadanya sebagai tanda pertunangan."

"Mungkin kau salah mengerti, hal ini kuketahui dengan jelas, hakikatnya dia tidak menaruh cinta kepada Ciang Bing-cu."

"Mungkin nona betul, namun kejadian di dunia ini sering berubah.

Nanti setelah dia siuman, boleh kau tanya dia."

Kebetulan Ji Bun membuka mata, pandangannya pudar, biji matanya berputar dengan hambar agaknya belum sadar betul-betul.

"Dik, adik," panggil Thian-thay-mo-ki iba.

Lama sekali baru timbul perubahan pada air muka Ji Bun, akhirnya mulutnya bergerak, suaranya lirih bagai nyamuk: ''Aku .....

sudah mati?"

"Tidak, Dik, kau tidak bisa mati, kau hidup kembali!" "Mana ..... laki-laki itu? Laki-laki yang turun tangan ....

kepadaku."

"Laki-laki? Siapa dia?'' "Cici, kaukah yang menolongku?"

"Nanti saja dibicarakan, sekarang biar kubantu kau memulihkan tenaga."

"Jangan sentuh tangan kiriku."

Bercahaya mata Biau-jiu Siansing, katanya: "Mengobati luka menyembuhkan sakit adalah keahlianku, biarlah aku saja yang membereskan."

"Baiklah," ujar Thian-thay-mo-ki, "bikin repot kau saja."

Pandangan Ji Bun beralih kepada Biau-jiu Siansing, tanyanya keheranan: "Kau juga berada di sini?"

"Ji Bun," ujar Biau-jiu Siansing tertawa, "Kau ”

"Dia bernama Ji Bun?'' tanya Thian-thay-mo-ki matanya terbeliak.

Biau-jiu Siansing diam saja, agaknya dia menyesal kelepasan omong membongkar asal-usul Ji Bun.

Dengan penuh penyesalan Ji Bun pandang Thian-thay-mo-ki, katanya terus terang: "Cici, maafkan kerahasiaan ini sekian lama, adik memang bernama Ji Bun, putera tunggal Jit-sing-pocu Ji Ing- hong." “O,” tukas Thian-thay-mo-ki bersuara sekali, seperti hendak bicara lagi. Namun melihat keadaan Ji Bun yang lemah, dia urungkan niatnya, berhenti sebentar baru dia menambahkan: "Dik, biar kubantu pengobatan dirimu."

"Nona," tukas Bian-jiu Siansing, “dia harus minum obat untuk menambah semangat ”

"Tidak usah," tukas Thian-thay-mo-ki ketus, tanpa menghiraukan reaksi Biau-jiu Siansing, dia berjongkok dan duduk di samping Ji Bun, telapak tangan menempel di Meh-kin-hiat Ji Bun, pelan-pelan hawa murni dia salurkan ke badan orang. Cara pengobatan seperti ini biasanya memang sering dilakukan oleh kaum persilatan.

Ji Bun pejamkan kedua mata, dengan sisa tenaganya pelan-pelan iapun himpun hawa murni dan pusatkan tenaga, mukanya yang pucat pelan-pelan bersemu merah. Kira-kira satu jam kemudian baru Thian-thay-mo-ki berhenti dan menarik tangannya berdiri, wajahnya kelihatan pucat.

Ji Bun buka mata dan bergegas berdiri, katanya tulus. "Cici, banyak terima kasih atas pertolonganmu."

Thian-thay-mo-ki meleroknya sekali, katanya: "Terima kasih segala, aku tidak suka mendengarnya."

"Ji Bun," timbrung Biau-jiau Siansing, apakah yang telah terjadi?" Ji Bun mengerut alis, katanya: "Apa yang kau ketahui?" "Pengalamanmu sampai kau dikubur di sini."

Mengawasi liang kubur dan batu nisan yang bertata nama julukannya, berkobar amarah Ji Bun. Dia tahu dengan pengalaman Biau-jiu Siansing yang luas mungkin tahu siapa majikan yang dikatakan laki-laki tak dikenal itu, maka dengan sabar dia mulai ceritakan pengalamannya. Dia menambahkan: "Tahukah kau siapa kiranya majikan orang tak dikenal itu?"

"Kukira tidak mungkin, kecuali ” Biau-jiu Siansing ragu-ragu.

"Kecuali apa?"

Sorot mata Biau-jiau Siansing menampilkan rona yang serba susah, dia menengadah mengawasi langit, lama sekali baru berkata dengan nada berat: "Liku-liku persoalan ini amat rumit, perlu waktu cukup lama untuk menyelidikinya."

"Tuan tahu asal usul orang itu?" "Tidak tahu."

"Tapi kau tadi bilang tidak mungkin kecuali apa maksudnya?"

"Itu hanya dugaan, mungkin tidak cocok satu dengan yang lain." "Kurasakan kau tidak bicara sejujurnya."

"Ji Bun, dalam waktu sebulan pasti kuberi jawabanku, bagaimana?" "Apakah kau bisa menepati janji?"

"Omong kosong," ujar Biau-jiu Siansing sungguh-sungguh, "begini saja, kau boleh ajukan persoalan ini kepada mertuamu Ciang Wi-bin."

Tiba-tiba berubah air muka Thian-thay-mo-ki, selanya: "Dik, sejak kapan kau mengikat pernikahan dengan puteri keluarga Ciang?"

Kikuk dan rikuh Ji Bun, sahutnya: Ah, tidak."

"Ji Bun," kata Biau-jiu Siansing dingin, "seorang laki-laki harus menepati janji, mana boleh kau menjilat ludahmu sendiri?"

Panas muka Ji Bun, katanya: "Berapa banyak persoalan yang tuan ketahui?"

"Semua persoalanmu tidak seluruhnya kuketahui, namun delapan puluh persen kukira ada."

"Dik, jadi hal itu memang benar?" tanya Thian-thay-mo-ki sedih. "Tidak!" sahut Ji Bun tegas.

"Ji Bun, soal ini tiada sangkut pautnya dengan Lohu, namun kusaksikan sendiri dari kecil Bing-cu tumbuh dewasa, sekali-kali kau jangan menghinanya."

"Menghina?" "Kau menerima anting-antingnya, pernah berjanji mengikat perjodohan pula bukan?"

"Dia sendiri yang memberikan anting-anting, waktu itupun kuajukan syaratku."

"Mana boleh dikatakan syarat, kau lupa janji dan ikatan kedua orang tua kalian."

"Soal jodoh ini tidak ditentukan secara adat waktu itu, kan hanya secara lisan saja ”

"Memangnya apa maksudmu waktu kau berjanji dihadapan mertuamu?”

"Janji apa?"

"Kau berjanji begitu racun dalam tubuhmu bisa ditawarkan, segera kau akan menepati janji melangsungkan pernikahan, betul tidak?"

"Benar, tapi kenyataan telah bicara, racun ini selamanya takkan bisa tawar."

"Siapa bilang tidak bisa ditawarkan?"

Tersirap darah Ji Bun, teriaknya: "Apakah " "Ya, Ciang Wi-bin sudah memperoleh cara untuk menawarkan racunmu, katanya, umpama dia harus mengorbankan segalanyapun tidak akan menyesal."

Ji Bun diam, hatinya bergolak seperti ombak samudera yang mengamuk, terbayang olehnya betapa besar perhatian dan kasih sayang Ciang dan puterinya pada saat dirinya menghadapi jalan buntu, sungguh tidak ternilai ”

Pucat, muka Thian-thay-mo-ki, air mata tak tertahan bercucuran, katanya sedih: "Dik, semoga kelak berjumpa lagi!" Dengan

langkah cepat dia terus berlari pergi.

"Cici!" teriak Ji Bun serta melesat ke sana mengejar, tapi sekali gerak Biau-jiu Siansing sudah menghadang di depannya, katanya: "Tak usah dikejar."

"Apa tuan tidak keterlaluan mengurusi diriku?” semprot Ji Bun gusar.

"Soalnya Lohu dipercayai orang untuk ”

"Cayhe tidak suka ada orang mencampuri urusan pribadiku." "Jadi kau mau ingkar janji?”

"Siapa bilang?"

"Baiklah, datanglah ke Kay-hong dan bicaralah secara langsung dengan mertuamu." Ji Bun tahu betapa besar dan murni cinta Thian-thay-mo-ki terhadap dirinya. Caranya berlari pergi dengan sedih dan putus harapan, tentu hatinya sangat menyesal. Akan tetapi dendam sakit hati keluarga belum terbalas, mati hidup sendiri susah di ramalkan, terutama tangan kirinya yang beracun pantang dirinya mendekati perempuan. Apakah pantas dirinya memperoleh cinta kedua orang gadis? Dengan tertawa getir dia merogoh keluar anting-anting pualam dari sakunya, katanya: "Tolong tuan kembalikan anting- anting ini kepada paman Ciang, beliau pasti maklum akan kesulitan Cayhe."

Biau-jiu Siansing melengak, tanyanya: "Kau sudah mendapat kembali anting-anting ini?"

"Ya, dari tangan Kwe-loh-jin."

"Ehm, tapi Lohu tidak berani mengurus soal ini. Dengan

setulus hati dan cintanya yang sejati Ciang Bing-cu berikan anting- anting ini sebagai tanda mata padamu, kini kau putuskan hubungan atau atau mau ingkar janji, kau harus bicara sendiri saja."

Ji Bun jadi serba susah, kata-kata Biau-jiu Siansing mengetuk hati dan menusuk perasaannya. Terbayang olehnya betapa kasih sayang Ciang Bing-cu yang menungguinya semalam suntuk di kamar buku tempo hari, meladeninya dengan telaten, betapapun dirinya sudah pernah berjanji.

"Ji Bun," ujar Biau-jiu Siansing, "Lohu peringatkan sekali lagi, untuk menyembuhkan tangan kirimu ini, siang malam Ciang Wi-bin berusaha tanpa mengenal lelah, betapapun dia berusaha mencari obat pemunah racun tanganmu. Kini resep-resep obat yang dibutuhkan sudah mulai terkumpul, memangnya kau anggap sepele susah payahnya itu?"

Ji Bun percaya apa yang dikatakan orang tua aneh di dasar jurang tentang ilmu beracun tangan kirinya memang takkan tawar kalau ajalnya belum tiba atau tangannya ini dibuntungi, bahwa sekarang Ciang Wi-bin katanya berhasil memperoleh obat penawarnya, ini sungguh diluar tahunya, karena tertarik, ia bertanya: "Resep apakah yang diperoleh paman Ciang untuk menawarkan racun tanganku?"

"Lohu sendiri tidak tahu, kau tanya langsung padanya saja."

Ji Bun tidak bertanya lagi, kini tak terpikir pula olehnya untuk menawarkan racun ditangan kirinya, hanya satu niat yang masih berkobar dalam benaknya, yaitu menuntut balas. Tangan kirinya yang beracun merupakan senjata ampuh yang menjadi andalannya, soal lain tidak pernah terpikir lagi.

Tiba-tiba Biau-jiu Siansing unjuk rasa, heran, tanyanya: "Aneh, bagaimana kau bisa tidak mati?"

Selama ini Ji Bun sendiri juga sedang bingung. Seingatnya belum pernah dia makan sesuatu obat mujarab apapun, tidak pernah meyakinkan suatu ilmu sakti. Namun beruntun dirinya pernah mati tiga kali, tiga kali pula dirinya hidup kembali dengan segar bugar.

Kenapa hal ini bisa terjadi? Memang kejadian ini merupakan peristiwa aneh dan janggal. Sejak dirinya luka dan terpukul mampus oleh laki-laki tak dikenal terus dikubur, sedikitnya dirinya sudah mati selama satu jam.

Manusia biasa tentu sudah mati terpendam tanpa bisa bernapas, masakah dirinya masih bisa hidup? Ataukah ada seseorang yang selalu menolongnya secara diam-diam? Lalu siapakah dia? Semakin dipikir semakin bingung dan pusing kepalanya, terasa kejadian ini sangat aneh dan mengerikan. Sebab apakah setelah dirinya mati bisa hidup kembali? Dengan bingung dia geleng-geleng kepala, katanya:"Cayhe sendiri juga tak tahu persoalannya.”

Seperti ingat sesuatu, tiba-tiba Biau-jiu Siansing berkata: "Ya. sekarang Lohu ingat, pasti dia tahu seluk beluk persoalannya."

"Dia?" tanya Ji Bun melenggong. "Siapa?"

“Thian-thay-mo-ki, dia pernah bilang sesuatu, namun Lohu tidak perhatikan, kini kalau dipikirkan, pasti ada latar belakangnya ”

"Ada yang dia katakan?"

"Dia bilang: “seharusnya aku ingat akan hal ini, dia tidak bisa mati."

"O," kata Ji Bun, "apakah dia yang mengeduk Cayhe dari liang lahat?"

"Bukan, Lohu yang mengeluarkan kau." "Kau yang mengeluarkan aku?" "Ya, maksudku semula hendak memindah jenazahmu dan dikubur semestinya untuk memenuhi pesan Ciang Wi-bin. Tak nyana kau malah hidup kembali, sungguh kebetulan sekali, kalau bukan lantaran keinginanku itu, mungkin sekarang kau masih rebah di bawah tanah."

Merinding Ji Bun dibuatnya, memang betul, kalau Biau-jiu Siansing tidak mengeduk dirinya, jiwanya pasti sudah tamat. Itu berarti dirinya utang jiwa padanya, lekas dia memberi hormat serta berubah panggilan: "Terima kasih atas pertolongan Cianpwe, kelak pasti kubalas kebaikan ini.”

"Ah, sudahlah," ujar Biau-jiu Siansing tertawa lebar, "anggaplah ajalmu belum tiba, sehingga mengalami kejadian yang sangat kebetulan. Cuma secara tulus Lohu mengharap kau tidak menyia- nyiakan harapan keluarga Ciang kepadamu, terutama Ciang Bing-cu yang begitu besar dan murni cintanya padamu. Sejak kau menolongnya dari tangan orang-orang Cip-po-hwe, dia sudah bersumpah tanpa kau dia tidak akan mau kawin dengan laki-laki lain, umpama kau mati begini saja, kukira budak itu juga akan mencari jalan pendek."

Tersirap darah Ji Bun, batinnya, betulkah begitu luhur dan murni cinta Ciang Bing-cu kepadaku? Kalau betul, cara bagaimana diriku harus menyelesaikan soal asmara ini? Lalu bagaimana pula dirinya harus bersikap terhadap Thian-thay-mo-ki.

Teringat Thian-thay-mo-ki, pikirannya menjadi kalut, dia merasa utang budi atas pertolongannya beberapa kali. Iapun sudah meresapi betapa besar pula cinta orang terhadap dirinya. Sayang dia tidak senang melihat tingkah lakunya yang genit, sepak terjangnya tak ubahnya seperti perempuan jalang.

Melihat Ji Bun melongo saja, Biau-jiu Siansing bertanya pula: "Ji Bun, soal menuntut balas, kuharap kau berembuk dulu dengan Ciang Wi-bin sebelum bertindak.”

Ji Bun mengiakan dan manggut-manggut.

"Sekarang boleh langsung kau pergi ke Kay-hong. Ingat, dalam satu bulan Lohu akan bantu kau menyelidiki siapa penculik dan musuh yang melukai kau, tiba waktunya nanti Lohu akan mencarimu lagi."

"Cianpwe boleh silakan dulu."

Biau-jiu Siansing geleng-geleng kepala, setelah menghela napas, dia melejit pergi.

Pikiran Ji Bun masih kalut, hatinya risau, perasaannya campur aduk, entah benci, dendam, kecut atau getir ”

Dia masih mematung diam dikala sebuah bayangan tiba-tiba meluncur turun dihadapannya, ternyata Biau-jiu Siansing putar balik lagi.

Ji Bun bertanya : "Ada petunjuk apa lagi Cianpwe?” "Maukah kau menutupi muka aslimu saja?" "Kenapa?”

"Situasi sekelilingmu amat genting, keadaanmu sekarang amat berbahaya, banyak orang menghendaki jiwamu"

"Maksud Cianpwe supaya aku menyamar?“

"Ya, disamping orang-orang Wi-to-hwecu, Kwe-loh-jin yang kau katakan sudah tiga kali membunuhmu, walau kurang jelas tujuannya, namun dia tetap tidak akan melepasmu. Bukan mustahil begitu kau muncul, kau akan mengalami pembokongan lagi. Kau di tempat terang musuh dipihak gelap. Untuk membongkar kedoknya jelas amat sulit, jalan baik untuk meluruskan usahamu, sekarang kuburan ini harus dikembalikan dalam bentuk semula, supaya dia tidak mengira kalau kau telah hidup kembali."

"Tapi soal Wanpwe hidup kembali kan sudah diketahui dan disaksikan orang lain."

"Itu tidak penting, tujuannya hanya untuk mengaburkan pandangan musuh saja, dan lagi setelah menyamar dalam bentuk lain, untuk selanjutnya nama Te-gak Suseng harus dihapus dari kalangan Kang-ouw. Carilah kesempatan dan menyelidiki, Lohu juga akan bekerja dari jurusan lain, mungkin dengan kerja sama kita akan berhasil membongkar kedoknya."

Ji Bun berpikir sebentar, akhirnya menjawab: “Baiklah, kuterima usul Cianpwe." Maka kuburan Te-gak Suseng kembali ditegakkan lagi.

12.35. Orang Desa Penagih Darah

Biau-jiu Siansing keluarkan dua butir macam bundar sebesar kelengkeng, katanya: "Yang berwarna kelabu adalah obat untuk merias muka, gunakan air dan poleskan dimuka leher dan kaki tangan yang terlihat dari luar, kulit badanmu akan berubah. Sedang yang berwarna putih ini untuk pemunahnya atau untuk memulihkan bentukmu semula. Kulitmu yang sudah berubah warna, kecuali dipunahkan dengan obat aslinya, selamanya tidak akan luntur. Dan satu hal lagi harus kau perhatikan, setelah kulit wajahmu berubah, suaramu juga harus kau ganti supaya tidak konangan, dengan dasar latihan Lwekangmu, kukira bukan soal sulit untuk mengubah suaramu."

"Soal kecil ini pasti dapat kulakukan," sahut Ji Bun. "Demikian pula dandananmu selanjutnya harus diganti, Lohu

kebetulan membawa bekal pakaian, nah ambillah," Biau-jiu Siansing membuka peti obatnya, di lapisan paling bawah dia keluarkan seperangkat pakaian dan diberikan pada Ji Bun.

Itulah satu stel baju dan celana katun warna biru, warnanya sudah luntur dan agak kumal. Bajunya malah sudah tambalan. Dalam hati Ji Bun membatin, dengan berdandan seperti ini entah berubah jadi apa bentuk dirinya ini ” Biau-jiu Siansing panggul peti obatnya, dengan menenteng dan membunyikan kelintingan dia beranjak pergi.

Setelah ganti pakaian, Ji Bun memendam pakaiannya yang berlepotan darah, lalu pergi ke sungai di pinggir hutan untuk membersihkan badan. Obat rias bungkusan kelabu dia keluarkan lalu dicampur air sungai dan dipoleskan ke muka dan seluruh badan, kedua lengannya kini berubah coklat legam.

Habis merias diri dia berkaca pada air sungai yang jernih.

Seketika dia tertawa geli sendiri. Pelajar yang semula ganteng kini berubah jadi orang desa yang bermuka coklat legam, jangan kata orang lain, dia sendiripun tak kenal lagi pada wajahnya.

Kini ke mana dia harus pergi? Ia melamun. Dendam kebencian berkobar pula dalam hatinya. Biau-jiu Siansing menyuruhnya pergi ke Kay-hong merembuk dengan Ciang Wi-bin, sakit hati keluarga mana boleh menyangkut jiwa orang lain. Apalagi musuh sehebat Thong-sian Hwesio, memang Ciang Wi-bin mampu menandinginya.

Memandang jauh ke puncak Tong-pek-san di sebelah utara sana, darahnya yang bergolak serasa mendidih. Namun dia belum kuasa menuntut keadilan kepada orang-orang yang katanya menjunjung keadilan. Betapa derita dan tersiksa lahir batinnya sungguh sukar dibayangkan.

Dengan hambar tanpa tujuan akhirnya dia keluar dari hutan menempuh perjalanan. Kini tugas dan kewajibannya bertambah besar, dengan munculnya nyonya muda berbaju merah di markas Wi-to-hwe. Dengan mudah orang merampas Ngo-lui-cu dari tangannya, jelas Lwekangnya lebih tinggi dari Thong-sian Hwesio. Serta merta dia bergidik. Sungguh dia tidak habis pikir, kenapa tokoh-tokoh silat kosen di jagat ini seolah-olah berkumpul di dalam Wi-to-hwe?

Tengah ia berjalan, tiba-tiba dari sebelah atas sana terdengar bentakan: "Berhenti!"

Ji Bun berhenti dan memandang ke sana, tampak tujuh orang berseragam hijau berjajar di sana, seorang pemimpinnya memegang sebuah panji kecil segi tiga dengan huruf "ronda" ditengah, agaknya mereka ini rombongan peronda dari Wi-to-hwe. Nafsu membunuh seketika bersemi dalam hati Ji Bun.

Sikap pemimpin ronda ini ternyata cukup ramah, setelah mengawasi Ji Bun sekian lama baru menegur: "Orang mana kau?"

Untuk menghabisi nyawa ketujuh orang bagi Ji Bun segampang membalik tangan. Namun setelah dipikir, sementara dia tekan nafsunya. Terhadap kaum keroco tiada gunanya mengumbar nafsu. Maka dengan suara serak dia berkata: "Hamba orang berdekatan sini."

"Dimana tempat tinggalmu?" "Ngo-li-kip di luar kota Cinyang." "Untuk apa kau datang kemari?" "Mencari binatang piaraan yang hilang."

"Jangan kau kira mataku ini sudah lamur sahabat, kau terang orang persilatan?"

Walau Ji Bun sudah menyamar dan berganti dandanan, namun dia lupa bahwa Lwekangnya tinggi, langkah kaki dan sorot matanya tentu jauh berbeda dengan orang biasa, sekali bertemu orang tentu segera tahu. Otak Ji Bun cukup cerdik, segera dia menyadari akan kekurangannya ini, terpaksa harus bersabar, katanya tertawa lebar: "Betul, aku si hitam memang pernah belajar beberapa jurus silat, tapi bukan persilatan."

Laki-laki yang memegang panji ronda mengamatinya lagi sekian lamanya, katanya kereng: "Saudara tahu tempat apakah ini?"

"Di bawah Tong-pek-san."

"Kau melihat tanda-tanda yang berada di sana?" "Wah ..... hi hi hi aku orang desa, buta huruf."

Seorang baju hitam yang lain tiba-tiba nyeletuk: "Thaubak (pemimpin), di sini baru saja terjadi perkara jiwa, orang hitam ini agak mencurigakan, lebih baik digusur ke atas gunung untuk ditanyai keterangannya?" Laki-laki pemegang panji manggut-manggut, katanya kepada Ji Bun: "Sahabat, sukalah kau ikut kami ke atas gunung, kalau betul kau penduduk sekitar sini, kami pasti tidak akan mengganggumu."

Berkerut alis Ji Bun, katanya: "Kau suruh aku naik gunung, ah, aku tidak punya tempo."

"Sahabat, kami sudah cukup sabar dan ramah terhadapmu, kuharap kau tidak mempersulit kami, kalau terpaksa "

"Terpaksa apa? Sudah kubilang tiada tempo," berkobar pula nafsu Ji Bun.

Laki-laki pemegang panji menarik muka, katanya: "Sahabat, apa sih artinya kalau pakai kekerasan?”

"Apa kekerasan? Jadi kau mau berkelahi? Hari ini aku tidak ingin membunuh orang."

Kata-kata ini membuat ketujuh orang itu berubah air mukanya, pemimpinnya, segera menjengek: "Sahabat, di wilayah Wi-to-hwe yang terlarang tidak boleh membunuh orang."

Ji Bun memang ingin membunuh mereka, tapi sekilas dipikir, buat apa membuat gara-gara dengan kaum kroco, katanya dingin: "Jangan kau paksa aku membunuh kalian. Minggir!"

"Sahabat memangnya sudah gila," bentak laki-laki pemegang panji kecil. Tiba-tiba dia menubruk maju seraya ulur tangan mencengkeram pundak Ji Bun, serangan ini cukup lihay dan cekatan. Agaknya dia memang memiliki kepandaian lumayan, tapi kebentur Te-gak Suseng, kepandaian ini seperti telor menumbuk batu. Kalau ketujuh orang ini tahu siapa yang berhadapan dengan mereka, pasti sudah sejak tadi lari terbirit2.

"Huuuaaaah!" ditengah lolong panjang yang menyayat hati, laki- laki pemimpin itu tiba-tiba jatuh terjengkang. Kaki tangan berkelejetan sebentar terus tak bergerak lagi. Keruan keenam peronda yang lain serasa copot nyalinya, mereka berdiri terpaku dengan mata terbeliak, lawan tidak kelihatan bergerak, namun pemimpinnya sendiri tiba-tiba jatuh mampus, sungguh kejadian aneh.

Begitu nafsu membunuh timbul sudah tidak terbendung lagi. Terbayang oleh Ji Bun betapa mengenaskan kematian seluruh penghuni Jit-sing-po. Kini tibalah saatnya utang darah ditagih dengan darah pula. Kenapa aku harus menaruh kasihan segala.

Maka tanpa berhenti segera ia melangkah maju, belum lagi keenam peronda itu sempat menyelamatkan diri, beruntun mereka menjerit berjatuhan saling tindih. Dalam sekejap ketujuh peronda Wi-to-hwe ini sudah dicabut nyawanya.

Sekilas Ji Bun mengawasi mayat-mayat yang bergelimpangan itu, lalu tinggal pergi, langkahnya tetap bergoyang gontai dan lambat.

Belum sepuluh tombak dia berjalan, sebuah suara dingin berkumandang dari jauh: "Bocah keparat, putarlah kembali."

Ji Bun menoleh, dilihatnya tiga bayangan orang meluncur tiba berdiri sejajar diantara mayat-mayat yang bergelimpangan. Laki-laki muka hitam yang terdepan jelas adalah komandan ronda Wi-to-hwe yang bernama Khu In, dua orang dibelakangnya adalah laki-laki kekar. Agaknya bergelora dendam kesumat ketiga orang ini, sorot mata mereka buas dan liar karena anak buahnya dibunuh.

Tiba-tiba terkiang pesan ayahnya diwaktu masih hidup: "Berantas satu persatu!" Segera dia membalik badan dan menghampiri musuh dengan langkah lebar.

Tampang dan dandanannya mirip benar dengan orang desa yang bodoh. Keruan Khu In mengerut kening, mungkinkah laki-laki yang tidak terpandang ini adalah pembunuh? Dengan bingung dan kurang percaya Khu In mengawasi Ji Bun, katanya: "Kaukah yang membunuh mereka?"

"Betul," sahut Ji Bun.

Khu In tetap ragu-ragu, ia tidak percaya kalau anak buahnya terbunuh oleh orang desa ini. Kedua pengawalnya agaknya sudah tidak sabar lagi, mereka sudah mencincing lengan baju dan menggosok kepalan.

Ji Bun menjengek hina: "Khu In, kau tidak percaya?"

Khu In berjingkat mundur, katanya gemetar: "Sekarang aku harus percaya, dari mana kau bedebah ini tahu namaku?"

"Memangnya ini bukan rahasia? Betul tidak?" Muka Khu In yang hitam menjadi legam, sorot matanya bersinar buas, bentaknya kereng: "Sebutkan nama dan gelaranmu?"

Sekilas Ji Bun mendapat ilham, segera ia menjawab dingin: "Aku yang rendah adalah Siu-hiat-jin (penagih darah)."

"Apa? Siu-hiat-jin? Tak pernah dengar di kalangan Kang-ouw ada nama gelaran ini?"

"Itulah karena kau cetek pengalaman dan sempit pengetahuan."

Kedua laki-laki pengawal itu betul-betul tidak sabar lagi, namun sebelum mendapat perintah mereka tidak berani bertindak. Khu In si komandan rondapun menjadi gusar, bentaknya; "Apa betul kau yang membunuh mereka?"

"Perlu keterangan lagi?" "Kenapa kau bunuh mereka?" "Menagih darah."

"Menagih darah apa?"

"Setelah kau mampus, kau akan mengerti."

"Ringkus dia!" bentak Khu In. Memangnya perintah ini yang ditunggu kedua pengawalnya. Serempak mereka menubruk maju seperti harimau menerkam mangsanya, keempat tangan mereka mencakar bersama. "Cari mampus!" Ji Bun menggeram, tangan kiri menutul enteng, berbareng tangan kanan menyapu keras, kontan dua jeritan berkumandang menggema lembah pegunungan. Orang di sebelah kiri seperti ketumbuk dinding tak kelihatan, seketika terbanting berguling-guling tak bergerak lagi, sementara orang di sebelah kanan terpental tiga tombak jauhnya.

Serasa pecah jantung Khu In, hardiknya: "Siu-hiat-jin, terlalu rendah aku menilaimul"

Di tengah bentakannya, segulung angin badai seketika menyambar ke arah Ji Bun.

Ji Bun gerakkan kedua tangan, dengan kekuatan besar dia menahan. "Plaak!" di tengah benturan dahsyat, tanah dan rumput terbang berhamburan. Komandan ronda Khu In mengoak tertahan dan beruntun mundur empat langkah, mukanya yang hitam semakin gelap, darah meleleh dari ujung mulutnya membasahi pakaiannya.

Ji Bun mendesak maju hawa nafsunya semakin bertambah, desisnya: "Khu In, serahkan jiwamu!"

"Berhenti!" untunglah pada detik-detik yang menentukan itu, sebuah bentakan yang cukup dikenal suaranya berkumandang dari kejauhan.

Serta merta Ji Bun hentikan tangannya di tengah udara, waktu berpaling, dilihatnya sebuah tandu dipikul mendatangi bagai terbang, dalam sekejap sudah tiba di depan mereka. Begitu tandu diturunkan, keempat pemikul tandu yang berotot segera mundur berjajar ke belakang.

Komandan ronda Khu In segera menyongsong sambil membungkuk memberi hormat serunya: "Menghadap Thay-siang- hau-hoat (pelindung agung)."

"Komandan Khu tidak usah banyak adat, silakan mundur ke samping."

Memangnya nafsu Ji Bun tak terkendali lagi. Kedatangan orang dalam tandu amat kebetulan baginya untuk dibunuh satu persatu dan mengurangi kekuatan musuh.

"Komandan Khu," kata pula orang dalam tandu dengan suara dingin bengis, "periksa kematian para korban."

Khu In mengiakan, dia membalik mayat-mayat itu serta memeriksa dengan teliti.

Pandangan tajam Ji Bun menatap ke arah tandu. Bagaimana bentuk dan tampang orang tandu sampai sejauh belum diketahuinya, yang terang dia adalah perempuan, Lwekang dan kepandaian silatnya tinggi, terutama tutukan jarinya yang sakti.

Namun sejak mendapat tambahan Lwekangnya dan kepandaian dari orang tua di dasar jurang kemampuan Ji Bun sudah berlipat ganda. Namun belum pernah bentrok secara langsung dengan orang dalam tandu, apakah kuat mengalahkan orang, dia belum punya keyakinan. Diam-diam dia menerawangkan cara bagaimana harus paksa musuh keluar dari tandu?

Khu In berdiri serta melotot kepada Ji Bun, lalu mendekati tandu, lapornya: "Lapor Thay-siang-hou-hoat, para korban tiada bekas luka- lukanya."

"Apa, tiada bekas luka?"

"Ya, menurut hamba, seperti seperti Te-gak Suseng

membunuh orang."
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(