Hati Budha Tangan Berbisa Jilid 11

 
Jilid 11

Berkata Biau-jiu Siansing lebih lanjut: "Ji Bun, Ciang Wi-bin dan Lohu adalah dua manusia yang senyawa, puterinya itu sudah bersumpah takkan menikah kecuali kawin dengan kau, Ciang Wi-bin hanya punya anak satu-satunya ini, dapatlah kau bayangkan sendiri betapa besar perhatian dan harapan yang dia limpahkan padamu."

Ji Bun bergidik tanpa kedinginan, bahwa dia berjanji akan mempersunting Ciang Bing-cu setelah kadar racun dalam tubuhnya dapat ditawarkan hanya alasan untuk mengulur waktu belaka, karena ilmu racun ini hakikatnya tidak mungkin ditawarkan lagi, betapapun ia tidak tega menyia-nyiakan masa remaja Ciang Bing-cu yang molek itu. Maka katanya: "Kapan kau mendapat pesan itu?"

"Beberapa hari yang lalu, setelah kau meninggalkan gedung keluarga Ciang."

"Memangnya aku ini tidak mampu mempertahankan jiwa raga sendiri ”

"Ji Bun, jangan angkuh dan keras kepala, Lwekangmu memang tinggi, namun pengalamanmu terlalu cetek." Ji Bun ragu-ragu, kecuali berhadapan dengan Ciang Wi-bin serta membuktikan sendiri, jelas soal ini tidak bisa dibuktikan, teringat akan janjinya dengan Kwe-loh-jin dalam 10 hari ini, ia pikir sebagai jago silat kawakan yang luas pengalamannya, mungkin Biau-jiu Siansing tahu asal-usul Kwe-loh-jin, semoga dia dapat memberi keterangan, maka dia lantas berkata dengan sungguh-sungguh: "Apakah kau kenal seorang bernama Kwe-loh-jin?"

"Kwe-loh-jin? Belum pernah dengar, macam apa dia?" "Scorang laki-laki kekar berusia antara setengah abad."

"Sulit Lohu tak bisa meraba siapa dia. Tapi aku bisa

perhatikan dan mencari tahu. Untuk apa kau tanya dia?"

"Kalau kau tidak kenal dia, tidak perlu kuterangkan.” "Jangan gegabah dan menuruti adatmu sendiri, katakanlah,

mungkin aku bisa memberi tahu apa-apa yang bermanfaat bagimu." "Kau boleh silakan pergi saja."

Biau-jiu Siansing melengak sebentar, lalu dia kempit Dian Yong- yong terus melangkah pergi.

Ji Bun menghela napas berat, kepalanya terasa pening dan pikiran pepat menghadapi berbagai persoalan yang tiada juntrungannya ini. Dia merasa kehabisan akal. Dengan perasaan hambar dia melangkah kembali ke hotel di luar kota Cinyang dan mengeram di dalam kamar selama tiga hari tanpa keluar, dia menunggu utusan si orang dalam tandu yang akan mengantar Hud-sim kemari, dengan Hud-sim ini dia akan membuat barter dengan Kwe-loh-jin atas diri Pui Ci-hwi dan anting-anting pualamnya itu.

Dikala orang-orang mulai menyulut pelita, seorang diri Ji Bun mondar-mandir dalam kamarnya, dia memperhitungkan utusan orang dalam tandu pasti akan datang pada saat-saat tak lama ini.

Tiba-tiba seorang gadis manis berpakaian anak dusun sambil menenteng keranjang berjalan masuk, mulutnya berkaok-kaok menjajakan dagangannya: "Kacang, kwaci, manisan!"

Setelah berputar di antara beberapa tamu, akhirnya dia berhenti di depan pintu kamar Ji Bun yang tidak tertutup, katanya sambil berseri tawa: "Siangkong, belilah kacang, kwaci atau manisan dan lain-lain ”

Ji Bun menggeleng kepala.

Mendadak gadis itu melangkah maju dan berkata sambil merendahkan suaranya: "Siangkong inikah Te-gak Suseng?"

Tersirap darah Ji Bun, tanyanya heran: "Siapa kau?"

"Aku adalah utusan majikan tandu berhias untuk mengantar sesuatu kepada Siangkong." "O, silakan masuk."

“Jangan, banyak orang di sini, nanti menarik perhatian orang lain, aku harus lekas pulang memberi laporan. Silakan Siangkong terima barang ini,” dari bawah keranjangnya dia menarik keluar sebuah buntalan kain terus diangsurkan kepada Ji Bun. Cepat Ji Bun menerimanya, terasa benda ini cukup berat, belum lagi dia sempat membuka buntalan kain itu, gadis dusun itu sudah melangkah pergi sambil berkaok-kaok pula menjajakan dagangannya.

Lekas Ji Bun tutup pintu serta menyulut api, dia taruh buntalan itu di atas meja. Menghadapi buntalan kain yang berisi pusaka persilatan, napas Ji Bun terasa sesak dan rada gemetar, entah berapa jiwa sudah berkorban karena benda ini, namun masih banyak pula yang rela korbankan jiwa untuk merebutnya. Sekarang barang ini diperolehnya tanpa mengeluarkan tenaga apapun. Setelah tenang perasaannya, lalu dia buka buntalan itu, tertampak sebuah benda putih berbentuk seperti hati.

Lama ia mengamat-amati benda itu, dipegangnya dan dibolak- balik, ia periksa dengan teliti dan seksama. terasa oleh Ji Bun kecuali mengkilap dan bersih, tiada sesuatu yang aneh dan mencurigakan pada benda ini, lalu di manakah letak keajaiban batu ini? Tulen atau palsu juga sukar diketahui. Apakah mungkin Kwe-loh-jin dapat membedakannya?

"Tok-tok-tok!" tiba-tiba ada orang mengetuk pintu, cepat Ji Bun bungkus lagi "Hati Buddha" itu dengan kain semula, sementara mulutnya berseru: "Siapa?" Terdengar suara pelayan di luar pintu: "Siangkong, inilah hamba mengantar hidangan malam."

Lekas Ji Bun buka pintu dan berkata: "Bawa masuk!"

Pelayan itu mengiakan, setelah menurunkan beberapa macam hidangan di atas meja, sekenanya dia dorong buntalan kain itu ke pinggir meja, mendadak dia menjerit kaget: "Wah, berat betul!"

Ji Bun melotot kepadanya, katanya: "Keluarlah, kalau perlu akan kupanggil."

Sebelum beranjak pergi pelayan itu merogoh-rogoh kantong baju dan celananya, akhirnya dia keluarkan secarik kertas yang kumal dan berkata: "Siangkong, tadi ada seorang tamu minta menyampaikan surat ini padamu."

Tergerak hati Ji Bun, dia sudah maklum, tanpa bicara dia terima surat itu dan ditaruh di meja, setelah pelayan keluar baru Ji Bun makan minum seorang diri sambil membuka surat itu.

Hanya sebaris kata yang berbunyi:

"Kentongan ketiga nanti lima li ke arah barat, bawa barang itu dan temui aku di sana. Perhatikan: jangan sampai dikuntit orang. Kwe-loh-jin."

Ji Bun bakar surat itu, hatinya diam-diam gelisah dan was-was, baru saja barang ini diantar kemari, namun Kwe-loh-jin sudah lantas tahu, gerak-geriknya seperti setan yang sukar ditangkap juntrungannya, sungguh sukar menghadapi bangkotan semacam ini. Seorang diri dia habiskan beberapa cangkir arak untuk menghabiskan waktu, pikirannya terus bekerja, cara bagaimana malam nanti dia harus bekerja.

Setelah kedua pihak menukar barang-barang yang diinginkan, secara mendadak dia harus membekuknya dan mengompes keterangan teka-teki yang selalu menghantui sanubarirya selama ini, soalnya apakah di dalam permainan barter ini Kwe-loh-jin bakal menggunakan akal licik, karena sepak terjang orang selama ini terlalu licin, hal ini harus diperhatikan. Namun dia juga tahu betapapun dia waspada, yang jelas dirinya berada dipihak yang tidak menguntungkan.

Kehilangan Hud-sim bagi dirinya tidak menjadi soal, keselamatan jiwa Pui Ci-bwi juga bukan perhatiannya, yang penting hanyalah anting-anting pualam itu dan membongkar kedok asli orang. Begini mudah Wi-to-hwe mau menyerahkan Hud-sim, mustahil pihak mereka tidak bertindak secara diam-diam? Betapa banyak jago-jago silat Wi-to-hwe, masakah mereka berpeluk tangan dan mau dirugikan, apakah mereka tidak curiga terhadap dirinya? Kalau dirinya mau bertindak secara tamak, mencaplok Hud-sim dan tinggal pergi, bukankah mereka akan kehilangan segalanya?

Setelah pelayan kukuti mangkok piring, Ji Bun lantas merebahkan diri di atas ranjang, baru saja kentongan ketiga bertalu di kejauhan, Ji Bun segera kempit buntalan Hud-sim terus melompat luar lewat jendela. Dengan kencang Ji Bun lari ke arah barat, sepanjang jalan dia selalu perhatikan belakangnya kalau-kalau ada orang menguntitnya, namun sekian jauh dia tidak melihat tanda-tanda yang mencurigakan.

Kwe-loh-jin hanya bilang lima li ke arah barat tanpa menyebut nama tempatnya, dari sini lebih mempertegas tindak-tanduknya yang licik dan licin serta banyak akal. Menurut perhitungannya sekarang, dia sudah berlari hampir lima li jauhnya. Mendadak kumandang sebuah suara dari dalam hutan tak jauh di depan sana: "Te-gak Suseng, sudah kau bawa barang itu?"

Ji Bun berhenti dan mendengarkan dengan seksama, dia membedakan arah datangnya suara. Terdengar suara itu berkata pula: "Lebih baik kau jangan bertindak serampangan, atau kau ingin membatalkan barter ini?"

Memuncak amarah Ji Bun, serunya geram. "Kwe-loh-jin. kau tidak berani unjuk diri?"

"Kita hanya bicara soal barter saja."

“Barang sudah kubawa, cara bagaimana menukarnya?"  "Boleh kau taruh barang itu di atas batu di sebelah kiri tempat

kau berdiri sekarang."

Dingin perasaan hati Ji Bun, agaknya rencana yang dirancangnya tadi tak berguna lagi, katanya: "Apa maksudmu?" "Taruh saja di tempat yang kutunjuk, Lohu akan mengambilnya sendiri."

"Lalu mana anting-anting dan gadis itu?"

"Membelok ke timur, kau akan menemukan sebuah kelenteng kecil, anting-anting dan gadis itu berada di dalam kelenteng."

Ji Bun mengertak gigi saking gemasnya, desisnya: "Kau tidak ingin membuktikan tulen atau palsunya barang ini?"

Kwe-loh-jin terkekeh-kekeh, katanya: "Lohu percaya padamu."

Apa boleh buat, agaknya orang memang tidak ingin berhadapan muka dengan dirinya, kalau kesempatan ini hilang, selanjutnya jangan harap dirinya bisa menemukan jejak orang, diam-diam ia perhitungkan tempat sembunyi orang serta jaraknya, ia siap bertindak.

Tak terduga ketika suara Kwe-loh-jin berkata pula, tempatnya sudah berpindah: "Te-gak Suseng, bekerjalah menurut petunjukku. Terus terang, dengan kepandaian dan gerak gerikmu sekarang kau belum mampu memaksa aku keluar, gadis pujaanmu itu kena kututuk dengan ilmu khusus, kalau dalam satu jam tidak lekas ditolong mungkin akan menjadi cacat."

Tidak kepalang gusar Ji Bun, teriaknya: "Keparat, licik benar kau

......” "Umpama betul, maksud Lohu hanya untuk menyelesaikan barter ini, tidak ada maksud lain."

"Betapapun aku tidak bisa mempercayai obrolanmu?" "Itu terserah, kalau barter kali im gagal, Lohu masih bisa

membuat kontak dengan pihak Wi-to-hwe untuk membicarakan soal ini, soal anting-antingmu itu, jangan harap kau bisa mengambilnya kembali."

Serasa meledak kepala Ji Bun karena amarah yang meluap-luap, namun ia tidak mampu berbuat apa-apa, tak mungkin dia bertindak menurut rencananya tadi.

"Bagaimana, lekas putuskan."

"Baik," pada saat suaranya masih kumandang, secara kilat Ji Bun menubruk ke arah datangnya suara, namun bayangan setanpun tidak dilihatnya, kini suara itu berkumandang pula dari arah lain, nadanya mengejek: "Anak muda, jangan kau membuang waktu percuma, kalau nona itu menjadi cacat, bagaimana kau harus memberi pertanggungan jawab kepada Wi-to-hwe?"

10.30. Cinta-Dendam Tak Bisa Berdampingan

Dengan uring-uringan Ji Bun putar ke tempat semua, walau hatinya tidak rela, namun apa boleh buat, diam-diam ia sesalkan dirinya yang terlalu angkuh dan suka membawa adatnya sendiri, kenapa petunjuk Biau-jiu Siansing diabaikan untuk membicarakan persoalan ini, kalau dia mau membantu secara diam-diam, jelas Kwe-loh-jin takkan mampu menyembunyikan diri lagi, namun menyesal sudah kasip dan tak berguna, kini dia harus mengaku kalah, bagaimanapun anting-anting pualam itu harus segera direbut kembali, lalu mencari tahu asal-usul lawan dari mulut Pui Ci-hwi.

Maka ia lantas keluarkan Hud-sim serta menaruh di atas batu, serunya: "Kwe-loh-jin, anggaplah kau yang menang, nah inilah kutaruh di sini."

Kwe-loh-jin tergelak-gelak kesenangan, serunya: "Sekarang boleh kau pergi ambil barangmu."

Ji Bun menekan rasa gemasnya, cepat ia meluncur ke arah timur.

Jarak tiga li sekejap saja sudah dicapainya, memang di atas gundukan tanah di tengah hutan sana bertengger sebuah kelenteng kecil, suasana gelap dan sunyi seram.

Ji Bun kuatir ditipu, lekas dia dorong pintu terus melangkah masuk, di bawah meja sembayang, dilihatnya meringkel sesosok tubuh, memang dia bukan lain Pui Ci-hwi adanya. Sementara anting- anting pualam di taruh di atas meja. Dia jemput anting-anting itu lebih dulu, setelah diperiksa dan, tidak kurang suatu apa barulah lega hatinya, dia simpan ke dalam kantong lalu memeriksa keadaan Pui Ci-hwi.

Tampak wajahnya pucat dan kurus, kedua matanya terpejam, keadaannya seperti tidur pulas, napasnyapun teratur, bertambah lega hati Ji Bun. Di mana tutukan Hiat-to Kwe-loh-jin harus memeriksanya dulu baru akan diketahuinya, hal ini membuatnya ragu-ragu. Memang Pui Ci-hwi adalah musuh, dia boleh membunuhnya, namun dia tidak berani menyentuhnya. Tapi keadaan sekarang tidak memberi waktu kepadanya untuk bimbang. Terpaksa dia keraskan kepala, dengan jari-jari gemetar dia pegang urat nadi pergelangan tangan si nona tidak ada tanda apa-apa, lalu dia bergantian meraba tempat lain, terasa empuk licin dan halus, setelah sekujur badan orang dia raba kian kemari tetap tidak menemukan apa-apa, ditambah bau harum gadis jelita, seketika jantung Ji Bun berdebur keras sekali.

Memangnya dia pernah kasmaran terhadap gadis jelita ini, namun situasi kemudian yang kejam ini telah mengubah segalanya.

Setelah dia periksa semua Hiat-to sekujur badannya, dan tidak menemukan keanehan apa-apa, diteliti air mukanya, baru mendadak dia sadar kemungkinan si nona terpengaruh oleh obat racun yang menidurkan, jadi bukan lantaran Hiat-tonya tertutuk seperti apa yang dikatakan Kwe-loh-jin.

Menawarkan racun bagi Ji Bun bukan kerja yang sulit, lekas dia keluarkan sebutir Pit-tok-tan yang selalu dibawanya dan dijejalkannya ke mulut Pui Ci-hwi, hanya dalam sekejap saja Pui Ci- hwi sudah bergerak dan siuman, dengan mengeluh lirih dia membalik tubuh.

"Hah, kau " teriaknya sambil merangkak bangun, agaknya dia

kaget dan heran melihat keadaan dirinya ditempat asing ini.

Sekuatnya Ji Bun tekan perasaannya yang berkobar tadi, katanya dingin: "Nona Pui merasa tidak apa bukan?" Sekejap Pui Ci-hwi menatap Ji Bun, tanyanya dingin: "Apa yang telah terjadi?"

Di bawah cahaya remang bintang-bintang di langit, Ji Bun melihat wajah si nona murung dan masgul seperti semula sebelum diculik Kwe-loh-jin tempo hari, walau menghadapi musuh besar, namun sedikitpun tidak gentar. Tapi Ji Bun tidak peduli akan sikapnya ini, katanya terus terang: "Perkumpulanmu mengeluarkan imbalan yang cukup besar untuk menolong jiwa nona melalui tanganku."

"Apa apa katamu?"

"Nona sekarang sudah merdeka." "Maksudmu dengan imbalan tadi?"

"Ya, Wi-to-hwe sudah mengeluarkan imbalannya." "Imbalan apa?"

"Dengan Hud-sim, kau ditukar dari tangan Kwe-loh-jin."

"Hud-sim?" teriak Pui Ci-hwi keras-keras, mukanya yang semula dingin kaku kini berubah haru dan sedih, suaranya gemetar: “Katamu Hud-sim? Untuk menebus diriku?"

Tiba-tiba dia menjambak rambut kepalanya sendiri, badannya terbungkuk-bungkuk dan sempoyongan, mulutnya berteriak-teriak seperti orang kalap: "Hud-sim adalah benda yang tak ternilai harganya, aku tidak setimpal, aku .... aku tidak tidak setimpal

....”

Ji Bun jadi ketarik dan ingin tahu, tanyanya: "Tidak setimpal?

Kenapa?”

Seperti orang mengigau Pui Ci-hwi berkata: "Dosaku terlalu besar, mampuspun tidak setimpal untuk menebusnya."

Ji Bun melengak, dia tidak tahu apa arti ucapan Pui Ci-hwi, walau dia tidak ingin mengorek rahasia orang, namun tak urung dia bertanya pula, "Apa maksud nona dengan katamu tadi?"

Membesi muka Pui Ci-hwi, katanya sepatah demi sepatah: "Aku ini orang yang patut mati, tidak perlu Gi-hu mengeluarkan imbalan sebesar itu.”

"Gi-hu (ayah angkat)? Siapa ayah angkat nona?" tanya Ji Bun. Sedikit ragu-ragu akhirnya Pui Ci-hwi berkata dengan tegas: "Wi-

to-hwecu.”

"O!" baru sekarang Ji Bun mengerti, waktu pertama kali dirinya naik ke Tong-pek-san, Pui Ci-hwi pernah mengaku dirinya terhitung setengah majikan di sana, kiranya dia adalah anak angkat ketua Wi- to-hwe, tapi kenapa dia bilang dirinya patut mampus?"

Semula Ji Bun kira orang adalah murid Pek-ciok Sin-ni, belakangan baru diketahui bahwa dugaan meleset, namun dari terjadinya peristiwa Sek-hud tempo hari, dapatlah disimpulkan kalau Wi-to-hwe pasti ada hubungan erat dengan Pek-ciok Sin-ni, namun hal ini tidak perlu dia ketahui lebih lanjut. Sekarang dia alihkan pembicaraan pada persoalan yang pokok: "Nona patut mati, apa maksudmu?"

"Karena karena aku merusak diriku sendiri, juga membikin

kotor nama baik Gihu, lebih celaka lagi aku telah menyia-nyiakan kebaikan orang-orang yang memperhatikan diriku, sekarang ketambahan lagi kejadian ini, matipun belum setimpal menebus dosaku."

"Cayhe tidak mengerti," ujar Ji Bun.

Tiba-tiba Pui Ci-hwi menarik muka, katanya dengan nada haru dan tandas: "Bolehkah aku mohon sesuatu padamu?"

"Memohon kepada Cayhe soal apa?"

"Sukakah kau tolong aku membunuh Liok-kin.”

Ji Bun heran dan tidak mengerti, si nona pernah jatuh cinta pada pemuda itu, pernah ditipu, pernah pula memohonkan ampun kepada Jay-ih-lo-sat yang hendak membunuhnya, kini dia minta padanya untuk membunuhnya, kenapa begini? Serta merta dia terbayang kepada Dian Yong-yong, gadis jelita yang menjadi gila karena dipermainkan cintanya, rasanya dia menjadi paham sedikit, tanpa terasa, dia bertanya: "Membunuh Liok-kin keparat itu? Bukankah nona pernah menyintainya?" Gemetar dan berkerut-kerut kulit muka Pui Ci-hwi, sorot matanya memancarkan sinar hijau yang diliputi napsu dendam dan membunuh, teriaknya bengis: "Ya, aku pernah mencintainya, tapi sekarang aku ingin membunuhnya, karena dia telah menodai aku

......."

"Menodai kau?"

"Ya, dia menodai kesucianku!"

Berubah air muka Ji Bun, timbul pula perasaan aneh yang sukar diutarakan dengan kata-kata. Maklumlah dulu dia pernah terpikat dan mengejar gadis pujaan hatinya dengan bertepuk sebelah tangan, namun karena keadaan situasi memaksa sehingga belakangan berubah perasaan ini, cinta pertama yang pernah membuat getir hatinya sudah lama terpendam, namun asmara yang terpendam ini akan timbul bila dipengaruhi oleh sesuatu. Kini bak sebentuk batu pualam yang semula mulus bersih dan kini telah retak dan cacat, warnanya luntur lagi, si nona tidak sebersih dan sesuci dulu pula.

Tak heran sekarang dia kelihatan seperti kehilangan gairah hidup, sikapnya begitu aneh dan bertentangan terhadap Liok Kin bocah keparat itu, serta merta terbakar rasa cemburunya, tanpa pikir segera ia berkata: "Untuk ini aku menerimanya, sebetulnya aku memang ingin membunuhnya."

"Siangkong," kata Pui Ci-hwi tertawa, getir, "tiada yang dapat kuberikan untuk membalas kebaikanmu, terimalah ucapan terima kasihku dulu." Sebutan yang mendadak berubah ini terasa asing dan risi bagi pendengaran Ji Bun. namun menimbulkan perasaan kecut dalam sanubarinya, katanya tawar: "Tidak perlu nona sungkan-sungkan."

Ragu-ragu sebentar, tampak wajah Pui Ci-hwi yang kurus pucat bersemu merah, katanya dengan tertawa getir: "Siangkong, terpaksa aku harus berterus terang, aku tahu bagaimana perasaan dan sikapmu dulu padaku, soalnya kesanku terlalu jelek akan, nama gelaranmu, maka tidak kuterima maksud baikmu itu. Sekarang segalanya sudah terlambat ”

Habis berkata dengan sedih ia menangis sambil menunduk.

Kusut pikiran Ji Bun, perasaannya menjadi tidak karuan darahnya bergolak, ingin juga dia melimpahkan isi hatinya. Walau sudah terlambat, dia dapat memaafkannya. Namun dia tidak kuasa buka suara, karena segala ini tidak mungkin terjadi. Memang cinta dan dendam tak bisa berdampingan, apa lagi sekarang si nona bukan gadis lagi ”

Mendadak Pui Ci-hwi berteriak kalap, tangannya terayun terus mengepruk batok kepalanya sendiri. Kejadian berubah amat mendadak, tak sempat berpikir bagi Ji Bun, secara refleks tangannya menyampuk. "Plak", Pui Ci-hwi kontan jatuh tersungkur, darah meleleh dari mulutnya. Dia ingin buka suara, namun hanya mulutnya bergerak beberapa kali terus jatuh semaput. Ji Bun berkeringat dingin, dalam detik-detik yang menentukan tadi, syukur dia masih sempat menyelamatkan jiwanya. "Amitha Bundha!" tiba-tiba berkumandang sabda Buddha yang keras dari samping. Dengan kaget Ji Bun membalik tubuh sambil menyingkir ke samping, tampak seorang Hwesio kereng berperawakan tinggi besar entah sejak kapan sudah berdiri disampingnya.

Setelah melihat jelas baru dikenalinya bahwa yang datang adalah Thong-sian Hwesio yang punya kemampuan luar biasa itu.

Kedua biji mata Thong-sian kelihatan berkilauan seperti mutiara di malam gelap, sinar matanya memancar terang dan mengejutkan.

Dingin perasaan Ji Bun, katanya setelah menarik napas sambil memberi hormat: "Cayhe unjuk hormat pada Taysu"

“Tidak usahlah, syukur barusan kau telah menolong jiwanya," mulut bicara kepada Ji Bun, namun sorot mata Thong-sian tertuju ke arah Pui Ci-hwi.

Thong-sian Hwesio menggembol sebuah buntalan kain, tanpa sadar dia menjerit kaget: "Hud-sim?"

Tubuhnya gemetar, kakipun menyurut mundur, barang ini bukankah sudah dia serahkan pada Kwe-loh-jin, bagaimana bisa terjatuh ke tangan Thong-sian Hwesio?

“Betul, memang inilah Hud-sim yang tadi kau bawa," ujar Thong- sian kalem.

“Taysu ...... bagaimana bisa ” "Manusia culas dan tamak, mana boleh dia dibiarkan malang melintang sesukanya?"

"Apakah Kwe-loh-jin sudah Taysu ”

"Mungkin ajalnya belum tiba, begitu kau taruh Hud-sim di atas batu, pinceng terburu nafsu, sebelum dia muncul, aku lantas mengambil Hud-sim ini, agaknya dia tahu diri terus melarikan diri, jadi sejak itu dia tidak menampakkan diri."

"O," Ji Bun baru paham. Jadi setelah orang dalam tandu suruh orang mengantar Hud-sim kepadanya, lalu iapun mengatur rencana, seperti walang hendak mencaplok tonggeret, tidak disadari bahwa burung gereja juga sudah siap menerkam di belakangnya.

Betapapun licik dan licinnya Kwe-loh-jin, ternyata dia tidak mampu berbuat apa-apa, tapi dari kejadian ini, Ji Bun yakin pula bahwa Thong-sian Hwesio telah menjadi anggota Wi-to-hwe.

Semula dia hendak mengorek keterangan dari mulut Pui Ci-hwi, tak terduga perkembangan belakangan ini semua berada di luar perhitungannya, kini Thong-sian muncul, rencananya semula terang gagal total pula, karuan hatinya menjadi masgul, patah semangat dan penasaran pula.

Sementara itu Thong-sian sedang membungkuk memeriksa keadaan Pui Ci-hwi, katanya: "Kasihan gadis ini tersiksa begini rupa."

Nadanya iba dan mengandung perasaan dekat. Ji Bun ikut merasa terharu, dari sini ia dapat menarik kesimpulan bahwa Thong- sian Hwesio pasti mempunyai hubungan luar biasa dengan Wi-to- hwe. Dengan bertambahnya seorang Thong-sian Hwesio, terang beban dirinya di dalam menyelusuri jejak musuh-musuhnya akan bertambah berat. Seorang Thong-sian saja bukan tandingannya, maka dapatlah dibayangkan betapa sukar usaha dirinya untuk menuntut balas.

Lekas sekali Pui Ci-hwi sudah siuman dari pingsannya atas pertolongan Thong-sian, katanya dengan hambar: "Aku belum

mati? Kenapa ti ..... tidak biarkan aku mati saja " lambat dia

angkat kepala dan memutar biji matanya, setelah melihat jelas orang yang menolong dirinya, seketika dia menjerit: "Taysuhu, kau .....

siapa kau?

Agaknya dia belum kenal Thong-sian Hwesio. Waktu Ngo-lui- kiong menyerbu Wi-to-hwe dan Thong-sian Hwesio muncul tempo hari, kebetulan dia sedang mengembara di luar, jadi tidak mengenalnya.

"Anak manis," ujar Thong-sian welas asih, "Pinceng adalah sahabat baik ayahmu."

"O, kau ”

"Sekarang mari ikut aku pulang ke gunung.”

"Tidak aku tidak mau, malu aku bertemu dengan siapapun.”

"Anak bodoh ” “Oh, tidak " teriak Pui Ci-hwi dengan sesambatan, tangisnya

begitu sedih memilukan, tangis seorang gadis yang menyesali nasibnya setelah kesuciannya ternoda.

Ji Bun merasa tak perlu berada di sini lebih lama, kesannya cukup baik terhadap Hwesio yang pernah menolong dirinya ini, maka dengan hormat dia berkata: "Taysu, Cayhe mohon diri.”

Pada saat itulah, mendadak Pui Ci-hwi berseru melengking, badannya mencelat ke atas terus terbanting jatuh dan berkelejetan, buih keluar dari mulutnya dan tidak sadarkan diri.

Ji Bun kaget, dia tarik kakinya yang sudah melangkah itu. Thong- sian Hwesio juga merasa di luar dugaan, serunya: "Apa yang terjadi?"

Ji Bun juga tidak mengerti, kalau ada orang membokong, jangan kata dirinya, dengan kehadiran Thong-sian di sini, nyamuk terbangpun diketahui, masakah bisa mengelabui mereka.

Mungkinkah sampukan tangannya tadi terlalu berat, maklumlah gerakan refleks untuk menyelamatkan jiwanya, namun setelah diperiksa dan diobati kesehatannya sudah sembuh, ialu apa yang terjadi?

Agaknya Thong-sian juga tidak berhasil menemukan sebab musababnya, katanya uring-uringan: "Aneh, aneh!"

Tiba-tiba tergerak hati Ji Bun, pikirnya: "Kwe-loh-jin teramat culas dan licin, bukan mustahil dia telah menaruh apa-apa atas tubuh Pui Ci-hwi, segera dia berkata: "Taysu, bolehkah Cayhe memeriksanya?"

"Ya," Thong-sian mengiakan sambil mundur.

Dengan pengalamannya yang luar biasa dalam bidangnya, dengan seksama Ji Bun memeriksa, tiba-tiba dia menjerit kaget dan melotot: "Racun!"

Terpancar sinar terang dari Thong-sian, katanya gemetar: "Apa racun? Kabarnya Sicu cukup ahli dalam permainan racun, racun apakah yang mengenai dia?"

"Entahlah," sahut Ji Bun haru dan penuh emosi, "racun ini sebelumnya tidak pernah kulihat."

"Apa bisa ditawarkan?"

"Akan kucoba," lalu dia keluarkan tiga butir Pit-tok-tan dan diserahkan kepada Thong-sian. Thong-sian memijat dagu Pui Ci-hwi sehingga mulutnya terbuka, ketiga butir pil itu terus dia jejalkan ke dalam mulut, kembali dia menutuk sekali di Ho-ciat-hiat, sehingga ketiga butir pil tertelan ke dalam perut.

Lama ditunggu tetap tidak membawa reaksi. Tak sabar Ji Bun, ia coba memeriksa bibir, kelopak mata dan lidahnya, akhirnya dia berkata. "Tak berguna. Racun apakah ini, begini ganas?" Tiba-tiba berkumandang sebuah suara yang sudah amat dikenalnya dari luar pintu: "Itu namanya Giam-ong-ling (perintah raja akhirat), tiada orang yang dapat menawarkannya di jagat ini."

"Kwe-loh-jin!" teriak Ji Bun. Sebat sekali ia melesat keluar pintu, gerakannya boleh dikatakan secepat percikan api. Namun setiba di luar, tak dilihatnya bayangan orang. Dengan menggeram segera dia lompat naik ke atap rumah, selepas mata memandang, tiada sesuatu yang dilihatnya, terpaksa dia lompat turun kembali ke dalam kelenteng.

Dilihatnya Thong-sian masih berjaga disamping Pui Ci-hwi, pikirnya, Hwesio ini amat tabah, dengan Lwekang dan kepandaiannya, kalau dia mau tentu gerak-gerik lawan dapat diikuti.

Agaknya Thong-sian dapat meraba isi hati Ji Bun, katanya tawar: "Dia kemari dengan maksud dan tujuan tertentu, kau tidak perlu memaksa dia nanti dia akan keluar sendiri, kini dia ada di belakang kelenteng."

Dalam hati Ji Bun merasa ngeri, namun iapun memuji akan kepintaran dan pengalaman orang yang luas. Betul juga dari atap rumah sebelah belakang segera terdengar Kwe-loh-jin bersuara: "Thong-sian memang kau lebih pintar."

Tegak alis Ji Bun, tanyanya: "Dari mana Taysu tahu?" "Waktu dia bicara, kata-katanya yang terakhir diucapkan

menjurus ke kiri, jadi dia bicara sudah tidak di tempatnya semula, ini membuktikan dia berkisar dari arah kiri ke belakang, begitu habis kata-katanya, bayangannyapun lenyap dari tempat semula, maka percuma Siau-sicu hendak mencarinya."

Ji Bun membentak gusar: "Kalau kau berani hayo unjukkan dirimu, kenapa malu sembunyi seperti bangsa kunyuk?"

Kwe-loh-jin terloroh-loroh, seringan daun jatuh dia melayang turun di pekarangan. Terpancar sinar membara dari mata Ji Bun, otot hijau menonjol di jidatnya kakinya sudah melangkah dan hendak .....

Kwe-loh jin angkat sebelah tangannya, katanya: "Te-gak Suseng, lebih baik jangan kau turun tangan, cukup hanya sepatah kataku saja kau akan mampus tanpa ada liang kubur."

"Bagus, ingin aku mencobanya,” tantang Ji Bun berani. “Anak muda," jengek Kwe-loh-jin kau tidak ingin aku

membongkar rahasia pribadimu bukan?"

Ji Bun tertegun, tanyanya gemetar: "Apa maksudmu?" "Kalau rahasia pribadimu kubeberkan hah, kau tahu betapa

banyak orang yang menginginkan jiwamu."

Perasaan dingin menjalari sekujur badan Ji Bun. berdiri bulu kuduknya, agaknya Kwe-loh-jin juga tahu tentang asal-usulnya, ini sungguh menakutkan, memangnya siapa dan dari golongan manakah dia? Ya, kalau dia pernah menyamar sebagai ayah dan pernah membunuh dirinya, sudah tentu dia jelas mengetahui seluk- beluk pribadinya, hal ini tidak perlu dibuat heran, namun apa sebabnya sampai berulang kali dia berusaha membunuh aku?

Terdengar Thong-sian membuka suara dengan kalem dan tandas: "Sicu, inikah Kwe-loh-jin? Apa tujuanmu?"

"Ah, masakah perlu ditanya lagi." "Tujuanmu pada Hud-sim ini?"

"Ya, Hud-sim bisa kuganti dengan obat penawar?" "Kau kira Pinceng mau terima?"

"Tentu saja, kecuali kau tidak pedulikan jiwa nona itu."

"Apa kau tidak pikir, untuk membunuh bagi Pinceng bukan kerja berat?"

"Ha ha ha, Thong-sian. Hal ini sudah kuperhitungkan, aku yakin kau tidak akan turun tangan terhadapku. Memangnya kau tega melihat dia mampus."

"Dia tidak akan mati, bukan kau saja yang pandai bermain racun."

"Betul, tapi jangan lupa, Giam-ong-ling adalah racun yang sudah lenyap selama ratusan tahun dari Kang-ouw, kuyakin pasti tiada orang yang mampu menawarkannya, jangan kau kira Cui Bu-tok si keledai kurus itu mampu, ah, dia masih terpaut jauh sekali." Thong-sian menjawab sekata demi sekata: "Jika kutukar jiwanya dengan jiwamu, sekaligus untuk melenyapkan bencana bagi insan persilatan bagaimana?"

Kwe-loh-jin sedikitpun tidak gentar, katanya. mantap: "Kuyakin kau takkan berbuat demikian, kalau tidak, sejak tadi kau sudah beraksi."

"Apakah Sicu yakin betul?"

"Sudah tentu, umpamanya kan ingin meringkus diriku untuk paksa menyerahkan obat penawarnya, tapi obat penawarnya tidak kubawa, jadi kau tetap tidak akan bisa menukar jiwanya dengan obat penawar itu, soalnya aku juga hanya menjalankan perintah."

"Sicu menjalankan perintah siapa?"

"Mungkinkah kujawab pertanyaan ini?"

"Pinceng yakin tiada orang yang tidak takut mati, demikian pula kau."

"Tapi jiwa ragaku ini sudah kuserahkan kepada seseorang, aku tidak lagi berkewajiban melindungi jiwa ragaku sendiri."

Ji Bun tidak tahan lagi, sambil menggerung dia menubruk maju, seiring dengan tubrukan pukulannya pun dilontarkan secepat kilat. "Blang" Ji Bun tergentak turun ke tanah, sementara Kwe-loh-jin terhuyung empat langkah baru berdiri tegak pula. Sedikit merandek segera Ji Bun bergerak maju serta menyerang pula.

"Berhenti!" bentak Kwe-loh-jin sambil mengegos ke samping.

Karena serangannya luput, serta merta Ji Bun menghentikan aksinya.

"Anak muda," ancam Kwe-loh-jin, "memangnya kau ingin kubongkar rahasia pribadimu?"

Benci Ji Bun setengah mati, dia menjadi nekat, jawabnya: "Katakan saja, aku tidak peduli, yang terang kau tidak akan hidup lewat hari ini."

Kwe-loh-jin terkekeh-kekeh, serunya: "Apa kau tidak pikirkan keselamatan jiwa ibumu?"

Seperti disamber geledek kejut Ji Bun, dengan terbeliak dia menyurut mundur, sejak Jit-sing-po hancur, baru pertama kali ini mendengar berita tentang ibunya, agaknya bukan saja orang tahu jelas seluk beluk dirinya, malah ibunya yang hilang dan jejaknya sekarang diketahui, jelas di balik batu pasti ada udang, sumber berita ini betapapun takkan begini saja, maka dengan penuh emosi dia berteriak: "Kau tahu jejak ibuku? Di mana beliau?

"Kini bukan waktunya ngobrol, kau paham maksudku?" "Jangan kau bertingkah ” "Anak muda, persoalanmu boleh dikesamping dulu, setelah urusanmu di sini beres baru kita selesaikan pula perhitungan lain," kata Kwe-loh-jin.

Apa boleh buat, demi keselamatan ibundanya, terpaksa Ji Bun mundur setombak lebih, betapapun dia pantang melakukan kecerobohan yang akan membahayakan jiwa ibunya, asal ibu beranak bisa kumpul kembali, dia tidak peduli pengorbanan apapun yang harus dia pertaruhkan.

Kwe-loh-jin bekerja atas perintah orang, memangnya siapa orang yang berada di belakang layar itu? Waktu dia membunuh diriku memangnya juga atas perintah? Adakah hubungannya dengan hancurnya Jit-sing-po serta kematian ayahnya? Pikir punya pikir, Ji Bun sampai berdiri menjublek, namun darah dalam tubuhnya masih mendidih. Memang dalam suasana yang menegangkan ini, persoalan begini ruwet sehingga tiada kesempatan baginya untuk berpikir.

Kini Kwe-loh-jin menghadapi Thong-sian, katanya dingin: "Thong- sian, kau mau menyerahkan Hud-sim?”

Melotot bagai kelereng biji mata Thong-sian, tatapannya begitu tajam dan mengerikan, katanya dengan suara berat: "Sicu harus katakan dulu atas perintah siapa kau bekerja?"

"Hal itu terang tidak mungkin kukatakan."

"Agaknya Pinceng terpaksa harus melanggar pantangan untuk menamatkan riwayatmu ” "Lohu tidak takut diancam, "jawab Kwe-loh-jin. "Thong-sian, setengah jam lagi nona ini akan berubah menjadi cairan darah, sampai tulang belulangnya luluh, nah boleh kau tunggu dan saksikan sendiri."

Sekejap Thong-sian berpaling memandang Pui Ci-wi, tampak kaki tangannya meringkel, mukanya merah legam kehitaman, matanya terpejam, mulutnya megap-megap, agaknya amat menderita dan tersiksa sekali.

"Mana obat penawarnya?" "Kau mau serahkan Hud-sim?"

"Baiklah, sementara ini Pinceng mengaku kalah." "Bagus, nah serahkan Hud-sim kepadaku."

"Sebelum obat penawar kau serahkan, masakah aku harus percaya padamu?"

"Begini saja," ujar Kwe-loh-jin, "biarlah anak muda ini tetap menjadi penengahnya. Hud-sim serahkan padanya, biar dia ikut aku mengambil obat penawarnya, kau boleh tunggu setengah jam di sini, dia pasti kembali membawa obat penawarnya, nah bagaimana?"

Thong-sian tidak bicara lagi, segera dia lemparkan Hud-sim ke arah Ji Bun, lekas Ji Bun menerimanya. Sambil tertawa lebar Kwe- loh-jin segera berseru: "Anak muda, marilah" Ditengah kumandang suaranya, tubuhnya melesat ke wuwungan, lekas Ji Bun mengikuti dengan gerakan tak kalah tangkasnya, susul menyusul dua bayangan berlari kencang beberapa li jauhnya, di depan adalah hutan lebat, Kwe-loh-jin langsung menerjang masuk.

Kokok ayam sudah sayup-sayup terdengar di kejauhan, cepat sekali sinar sang surya sudah mencorong di ufuk timur, sebentar lagi bakal terang tanah. Ji Bun ikut melesat kedalam hutan. Tiga tombak di dalam hutan Kwe-loh-jin berhenti dan menunggu, katanya: "Berhenti anak muda!"

Ji Bun mengerem luncuran tubuhnya, dengan dongkol dia tatap orang, ingin rasanya dia keremus dan mencacah tubuh orang.

"Anak muda, agaknya kau ingin berbicara?" tanya Kwe-loh-jin. "Betul, kau menyamar orang berkedok beberapa kali hendak

membunuhku, apakah aksimu itu juga atas perintah orang?"

"Kau keliru, selamanya Lohu bekerja sendiri dan atas kehendak sendiri pula, apa yang dinamakan perintah tidak lebih hanya muslihat untuk menipu si kepala gundul tadi."

"Kau keparat hina dina yang tidak tahu malu," maki Ji Bun dengan murka dan gemas. "Siapakah kau sebetulnya?"

"Siapa aku, selamanya kau tidak akan tahu dan mengerti. Ingat, jangan bertingkah terhadapku, keselamatan jiwa ibumu berada ditanganku." Bergidik Ji Bun dibuatnya, katanya sesaat kemudian: "Bagaimana ibuku bisa jatuh di tanganmu?”

"Untuk ini kau tidak perlu tanya, suatu hari kau akan mengerti sendiri."

"Bagaimana keadaan ibuku?"

"Dia baik-baik saja, asal kau tidak bersikap bermusuhan terhadapku, kujamin dia tidak kurang suatu apa-apa."

"Kau kira bisa mengancamku. Hm, sebelum mencacah tubuhmu tidak terlampias dendamku."

"Kalau begitu Lan Giok-tin akan mati lebih dulu."

Darah serasa hendak menyemprot dari mata Ji Bun, tapi Kwe-loh- jin tidak peduli, katanya pula: “Ji Bun, waktu tidak dapat menunggu, marilah kau tukar obat penawarnya,"

11.31. Hmm, Tidak Tahu Malu

"Kaukah yang melakukan pembantaian di Jit-sing-po?" tanya Ji Bun pula.

"Pertanyaan ini dapat kujawab, ibumu, Lan Giok-tin sendiri bilang, pihak Wi-to-hwe dan anak buahnya yang melakukan." "Apa betul?" "Terserah padamu."

Ji Bun mengertak gigi, dia percaya, ayahnya juga pernah bilang demikian, soal menuntut balas boleh ditunda, sebaliknya sehari saja ibunya belum bebas dari genggaman tangan-tangan iblis, betapapun hidupnya takkan bisa tenteram, selamanya dirinya tidak punya permusuhan dengan orang ini, namun orang ini bilang demi keselamatan jiwa raganya sendiri terpaksa hendak membunuhnya serta menculik ibunya. Siapakah sebetulnya orang ini? Memangnya ada latar belakang yang terahasia di balik semua peristiwa ini?

"Kwe-loh-jin," kata Ji Bun kemudian, "peduli siapa kau, pokoknya asal kau bebaskan ibuku, boleh kubatalkan niatku untuk menuntut balas terhadapmu, seluruh perhitungan dulu dapat dianggap lunas, nah, bagaimana?"

"Saatnya belum tiba, tak usah dibicarakan," sahut Kwe-loh-jin. "Saat apa maksudmu?"

"Urusanku sendiri, kau tidak perlu tahu, namun kau harus ingat satu hal, jangan kau cari setori padaku, kalau tiba saatnya, kalian ibu beranak pasti akan bertemu, kalau kau melanggar peringatan ini sukar kukatakan apa akibatnya."

Berkerutuk gigi Ji Bun saking gemasnya dan hampir membuat dadanya meledak. "Hayo serahkan!" seru Kwe-loh-jin.

Ji Bun berpikir, kalau betul Wi-to-hwe adalah musuhnya buat apa dia harus menolong para musuhnya itu, kenapa harus bicara soal keadilan dan kebenaran segala. "Kwe-loh-jin, kita bisa bicara secara dagang," katanya.

"Dagang bagaimana?"

"Cayhe akan menyerahkan Hud-sim sebagai imbalannya, "

sampai di sini mendadak ia berhenti, sebetulnya ia bermaksud menukar keselamatan dan kebebasan ibunya. Namun setelah kelepasan omong baru dia merasa jalan pikirannya ini kurang tepat, dendam tetap dendam, sebagai insan persilatan yang harus teguh berjiwa ksatria. Walau julukan Te-gak Suseng kurang sedap didengar, namun dia yakin selama dirinya mengembara, sepak terjangnya belum pernah melanggar kesalahan. Kalau sekarang demi menyelamatkan ibunya dia harus ingkar janji dan melakukan kesalahan ini, betapa dirinya takkan dipandang hina dan rendah dan itu berarti memusuhi kaum persilatan umumnya? Apa pula bedanya perbuatan ini dengan ketamakan, kelicikan dan kekotoran perbuatan Kwe-loh-jin ini? Hud-sim bukan miliknya, berdasarkan hak apa dia berani memberikan kepada Kwe-loh-jin untuk menukar keselamatan dan kebebasan ibunya, apalagi belum tentu Kwe-loh-jin mau menerima usulnya ini, kalau gagal dan ditolak, bukankah dirinya sendiri yang akan malu dan ditertawakan orang?

"Tukar apa yang kau maksud?" tanya Kwe-loh-jin. "Tak jadilah," ujar Ji Bun sambil ulap tangan, "serahkan obat penawarnya."

Kwe-loh-jin mengerut kening, lalu dia mengeluarkan sebuah botol porselin kecil, setelah dibuka tutupnya dia menuang sebutir pil warna hijau pupus terus dilemparkan ke arah Ji Bun.

Ji Bun menerimanya, katanya: "Tadi kau bilang obat penawarnya tidak kau bawa?"

Kwe-loh-jin terkekeh-kekeh, ujarnya "Anak muda, itu namanya bekerja menurut gelagat."

"Hm, tidak tahu malu." "Jangan cerewet, serahkan!"

Ji Bun ragu-ragu, katanya: "Apakah obatmu ini tulen?" "Tidak usah kuatir, kali ini aku tidak menipu."

Ji Bun melemparkan buntalan Hud-sim, ingin dia bicara, namun sekilas dia merasa sungkan, maka tanpa bersuara cepat ia berlari kembali ke kelenteng kecil itu. Sementara itu fajar sudah menyingsing.

Thong-sian sudah menunggu dengan tidak sabar, melihat Ji Bun muncul segera ia tanya: "Bagaimana?" "Obat penawarnya sudah kudapat," dingin sikap Ji Bun. Lekas ia mendekati Pui Ci-hwi dan jejalkan pil itu ke mulutnya. Tak lama muka Pui Ci-hwi yang sudah menghitam itu mulai berubah, lambat laun menjadi pucat terus bersemu merah segar, napaspun mulai teratur, denyut nadi juga semakin keras, dalam sepeminuman teh, dia telah siuman kembali.

"Siau-sicu," ujar Thong-sian dengan sikap sungguh-sungguh, "ada sebuah permintaan Pinceng yang mungkin agak merikuhkan."

"Silakan katakan saja."

"Mohon Sicu suka mengantarnya kembali ke atas gunung."

"Wah, ini " Ji Bun menjadi ragu-ragu, beruntun ia bekerja demi

kepentingan pihak musuh, lalu terhitung apa ini? Tapi pikiran lain segera berkelebat dalam benak Ji Bun, lekas dia berkata: "Baiklah."

"Syukurlah, selamat bertemu. Pinceng bersumpah untuk menyelidiki asal usul Kwe-loh-jin dan membongkar perbuatan jahatnya," habis berkata dia angkat sebelah telapak tangan ke depan dada, tahu-tahu badannya melejit ke atas bagai burung melayang ke atas wuwungan.

Agaknya Pui Ci-hwi kehabisan tenaga, cukup lama masih belum mampu bergerak, apa lagi berdiri. Menghadapi gadis jelita yang pernah menjadi pujaan hatinya, Ji Bun merasa iba juga melihat keadaan orang, namun cepat sekali perasaan iba ini lenyap, air mukanya seketika berubah kaku dingin, katanya: "Bagaimana perasaan nona?" Pui Ci-hwi pandang Ji Bun dengan rasa haru dan terima kasih, pelan-pelan meronta bangun lalu duduk bertopang kaki meja sembahyang, katanya lemah: "Beruntung tidak apa-apa."

"Cayhe diwajibkan untuk mengantar nona pulang ke atas gunung."

Pui Ci-hwi tertawa getir, air mata berkaca-kaca dikelopak matanya, katanya sedih: "Siangkong, aku tidak mau pulang."

Bertaut alis Ji Bun, katanya: "Tapi Cayhe sudah berjanji kepada Thong-sian Taysu untuk antar nona?"

Tiba-tiba sesosok bayangan abu-abu masuk kelenteng. Waktu Ji Bun berpaling, yang datang ternyata adalah Siu-yan Nikoh, itu kepala biara Boh-to-am, muridnya yang bergelar Ngo-sim pernah dibunuh setelah diperkosa, dan dirinyalah yang menjadi kambing hitam disangka membunuhnya, karena sang korban mati tanpa meninggalkan bekas apa-apa di atas tubuhnya. Sungguh tak nyana Nikoh tua ini bisa muncul di kelenteng kecil ini, cepat dia angkat tangan memberi hormat: "Selamat bertemu Suthay."

Siu-yan membalas hormat, matanya tertuju kepada Pui Ci-hwi.

Berubah air muka Pui Ci-hwi, tersipu-sipu dia menyembah, air mata tak tertahan lagi bercucuran.

"Budak binal," kata Siu-yan tegas dan bengis, "terlalu jual lagak kau." Dengan sesenggukan Ci-hwi berkata: "Anak Hwi memang tidak becus, anak Hwi patut mati."

Bergetar jantung Ji Bun, apakah Siu-yan juga salah seorang pentolan dari Wi-to-hwe? Dari nada pembicaraan kedua orang seolah-olah mereka punya hubungan dan ikatan yang bukan sembarangan.

Dengan marah Siu-yan Loni mengebaskan lengan bajunya, katanya lebih bengis: "Kau masih tidak mau pulang?"

"Anak Hwi tiada muka bertemu dengan orang banyak." "Lalu apa keinginanmu?"

"Anak Hwi hanya ..... hanya ingin ingin mendapat

kebebasan."

"Besar nyalimu, tidakkah kau berpikir betapa ayah angkatmu susah payah membimbingmu sampai sebesar ini?"

"Anak Hwi tahu matipun tidak dapat menebus dosaku," sahut Pui Ci-hwi sesenggukan lebih keras.

"Kesalahan itu kau lakukan diluar kesadaranmu, semua orang akan memaafkan kau."

"Harap engkau suka menerima sebuah permintaan anak Hwi." "Soal apa?"

"Terimalah anak Hwi dan cukurlah rambutku." "Kau ingin jadi Nikoh? Tidak boleh."

"Kalau begitu biarlah anak Hwi mati saja, biarlah dalam penitisan mendatang kubalas kebaikan orang banyak."

Siu-yan Loni menarik napas panjang, ujarnya: "Karma, karma! Anak bodoh, tahukah kau siapa sebenarnya ayah angkatmu itu?"

"Siapakah beliau?” tanya Ci-hwi.

"Ayah kandungmu sendiri. Riwayat hidupmu mengandung rangkaian cerita yang membawa banjirnya air mata berdarah, dan sekarang kau berbuat begini, apakah tidak meluluhkan hati dan menghancurkan harapan orang tuamu?"

Terbeliak mata Pui Ci-hwi, katanya gemetar: "Jadi beliau adalah ayah kandungku? Jadi anak Hwi bukan she Pui?"

"Bukan, kau bukan she Pui, dulu karena menghindari tekanan dan kejaran musuh, terpaksa kau ganti she dan namamu."

"Oooo. " Ci-hwi mendekam di lantai dan pecahlah jerit

tangisnya, begitu sedih dan memilukan isak tangisnya.

Ji Bun ingin tahu seluk-beluk dan muka asli Wi-to-hwecu dari pembicaraan kedua orang ini, namun dia amat kecewa, banyak kata- kata yang tidak dimengerti olehnya. Pui Ci-hwi sendiri ternyata punya riwayat hidup yang mengenaskan. Apakah yang dikatakan hanjir air mata berdarah? Dan apa yang dikatakan musuh besar, apakah ada sangkut pautnya dengan peristiwa pembantaian di Jit- sing-po?

Kembali Siu-yan Loni menghela napas, suaranya berubah welas asih: "Nak, jangan menangis lagi, segala persoalan biarlah ayahmu sendiri yang memutuskan, bangunlah."

Pelan-pelan Pui Ci-hwi merangkak bangun, wajahnya basah air mata bak sekuntum bunga basah oleh air embun.

Tak tahan Ji Bun bertanya: “Apakah Suthay juga anggota Wi-to- hwe?"

Setelah melengak Siu-yan Loni menjawab: "Loni tidak menyangkal."

"Apakah peristiwa dalam biara, tempo hari sudah Suthay selidiki?”

Marah dan benci terbayang sekilas pada air muka Siu-yan, katanya: "Pinni berani pastikan adalah perbuatan Jit-sing-pocu Ji Ing-hong keparat itu, sayang ”

Mendelu hati Ji Bun, “Ji Ing-hong?" dia menegas. "Apanya yang sayang?"

"Sayang dia sudah mampus." Diam-diam Ji Bun mengertak gigi, namun sikapnya pura-pura kaget, tanyanya: "Ji Ing-hong sudah mati? Siapakah yang membunuhnya?"

"Entahlah, Pinni sendiri tidak tahu."

Dalam pembicaraan ini sikap Siu-yan Loni tawar dan acuh tak acuh, Ji Bun menjadi bingung dan tak habis mengerti, kalau benar ayahnya terbunuh oleh orang-orang Wi-to-hwe, terang sikapnya akan mengunjuk keanehan, namun sikap dingin dan tawar Siu-yan Loni sungguh di luar dugaannya. Maka dia mendesak lebih lanjut: "Lwekang Ji Ing-hong amat tinggi, pandai menggunakan racun lagi, kukira tidak banyak tokoh-tokoh silat Kang-ouw yang mampu membunuhnya? Bagaimana pendapat Suthay?"

"Tiada yang bisa kujadikan pegangan untuk menduga-duga soal ini."

"Mungkinkah perbuatan Siangkoan Hong?"

Sama berubah air muka Siu-yan Loni dan Pui Ci-hwi, biji mata Siu-yan Loni malah mencorong terang menatap muka Ji Bun. seakan-akan ingin menyelami isi hatinya, lama sekali baru dia bersuara: "Berdasarkan apa Sicu bilang demikian?"

Berputar pikiran Ji Bun, dia jadi nekat, biarlah bicara blak-blakan saja untuk menyelidiki persoalan ini lebih terang, maka jawabnya kereng: "Siangkoan Hong kan bermusuhan dengan Ji Ing-hong?" "Tapi bukan Siangkoan Hong yang berbuat." "Berdasarkan apa Suthay berani berkata demikian?” "Sepak terjang Siangkoan Hong cukup diketahui olehku." "Kejadian yang amat kebetulan ”

"Apa yang kebetulan?"

"Waktu Ji Ing-hong menemui ajalnya bersama orang berkedok lain, kebetulan Cayhe lewat ditempat kejadian, percakapan yang kudengar dari mulut Ji Ing-hong sebelum dia terbunuh, telah menyinggung nama Wi-to-hwe." Inilah akal yang seketika timbul dalam benak Ji Bun, maksudnya hendak paksa orang bicara terus terang.

Siu-yan Loni tertawa kalem, katanya: "Mungkin saja dia menyinggung Wi-to-hwe, namun hal ini tidak bisa membuktikan bahwa Siangkoan Hong atau jago-jago Wi-to-hwe lainnya yang melakukan, kalau betul, Pinni malah tidak akan menyesal."

"Cayhe ingin betul berhadapan dengan Siangkoan Hong." "Kenapa?"

"Untuk membuktikan dan membuat terang peristiwa ini." Timbul pula sorot terang yang mencorong dari kedua biji mata Siu-yan Loni, katanya: “Siau-sicu, mau tak mau Pinni harus minta keterangan padamu."

Terunjuk pula mimik aneh pada muka Ji Bun, tanpa gentar iapun balas menatap mata orang, suaranya penuh emosi: "Keterangan apa?"

“Bukan sekali ini saja Sicu menaruh perhatian terhadap peristiwa Jit-sing-po?"

"Memangnya kenapa?"

"Bu-ing-cui-sim-jiu yang Sicu yakinkan, bukankah satu sumber dengan racun penghancur jantung yang menjadi kemahiran Ji Ing- hong?"

"Untuk ini Cayhe tidak menyangkal," sahut Ji Bun.

"Kalau demikian, kau pasti ada hubungan dengan Ji lng-hong." "Betul."

"Pernah apa Sicu dengan dia?"

Muka Ji Bun membesi hijau, kini cukup sepatah kata saja bakal merubah situasi seluruhnya. Kalau dia berterus terang akan asal usulnya sendiri, itu berarti dia harus mulai beraksi menuntut balas kepada para musuhnya secara terbuka. Perlukah dia tetap merahasiakan diri untuk beberapa lama? Sebelum mendapat keterangan dan mengumpulkan data-data yang lengkap tidak akan bertindak? Atau sekarang juga dia harus bekerja? Apakah waktu dan sasaran yang harus diganyangnya sekarang tepat? Beberapa kali pikirannya berputar, akhirnya dia berkeputusan, dikala berhadapan langsung dengan Siangkoan Hong barulah tiba saatnya yang paling baik untuk dia turun tangan, maka dia tekan gejolak hatinya yang hampir meledak. Dia sengaja pura-pura penasaran, katanya: "Hubungan kami bukan sembarangan, tapi juga tidak terlalu kenal, keadilan Bu-lim tidak boleh diinjak-injak, betul tidak?"

"Sicu tidak bicara setulus hati bukan?" jengek Siu-yan.

Diam-diam terperanjat hati Ji Bun akan kelihayan orang, namun lahirnya dia amat tenang, katanya pura-pura bingung: "Apa yang Suthay maksudkan?"

"Apa betul Siau-sicu bertujuan demi keadilan Bu-lim?" "Kukira memang demikian,"

"Sebelum bicara soal keadilan, apakah perlu membedakan salah dan benar secara jelas?"

Ji Bun mati kutu, namun dia balas bertanya dengan pedas: "Cayhe justru ingin tahu di mana letak salah benar dari peristiwa besar ini.”

"Siau-sicu, kau pernah menolong jiwa Siangkoan Hong, karena keluhuran budimu ini, seluruh Wi-to-hwe meski harus bertindak kepadamu juga pasti memberi kelonggaran, kubisa menerima pendirianmu dalam menyelidiki peristiwa besar namun kau sendiri harus berterus terang menjelaskan asal-usulmu bukan."

Kembali Ji Bun gelagapan, dia merasa kehabisan kata-kata, setelah ragu-ragu sebentar, dia, menjawab: "Cayhe harap bisa berhadapan langsung dan bicara dengan Siangkoan Hong sendiri."

Siu-yan Loni manggut-manggut, katanya kemudian setelah berpikir: "Boleh, kapan Sicu akan berkunjung, ke Tong-pek-san?"

"Sekarang juga boleh berangkat."

"Baik, akan kuatur supaya kau bertemu dengan dia."

"Terima kasih. Cayhe mohon diri," setelah memberi hormat Ji Bun putar tubuh dan tinggal pergi.

Sekeluar dari pintu kelenteng Ji Bun disongsong cahaya matahari yang terang benderang, kicau burung nan merdu berkumandang di dalam hutan, kabut mulai menghilang, cuaca cerah cemerlang, namun relung hatinya diliputi awan mendung yang tebal.

Dari apa yang pernah dia dengar dari cerita ayahnya, serta kata- kata Kwe-loh-jin waktu membicarakan keselamatan ibundanya, Ji Bun yakin bahwa pihak Wi-to-hwelah yang melakukan pembantaian besar-besaran di Jit-sing-po, namun beberapa kejadian nyata yang pernah dialaminya beberapa kali belakangan ini seolah-olah melunturkan keyakinan dan dugaannya semula. Dari pembicaraan dengan Siu-yan Loni barusan, jelas Siangkoan Hong merupakan salah seorang tokoh yang berkedudukan penting dan dihormati dalam Wi-to-hwe, hatinya semakin berat. Mau tidak mau ia terbayang pula akan kematian ayahnya di jalan raya Kay- hong yang mengenaskan itu. Peristiwa di Bok-to-am yang mengerikan dan kejam itu betulkah perbuatannya? Jika peristiwa ini tersiar luas di kalangan Kang-ouw, reaksi apa pula yang bakal timbul oleh sesama kaum persilatan?

Tidak lama kemudian Ji Bun sudah tiba di jalan raya dan menuju ke arah Tong-pek-san. Adanya kejadian yang berlainan satu sama lain menjadikan perasaan Ji Bun berlainan pula setiap kali dia menuju ke Tong-pek-san. Pikirnya, setelah berhadapan dengan Siangkoan Hong, kalau dia menyangkal atau mungkin soal perbuatan Wi-to-hwe yang melakukan pembantaian di Jit-sing-po, tidak mengaku telah membunuh ayahnya pula, lalu tindakan apa yang harus dia lakukan? Thong-sian Hwesio terang tidak berada di markas, berarti mengurangi kekuatan musuh yang tangguh, namun adanya Bu-cing-so, Siang-thian-ong dan lain-lain jago kosen, apa lagi kalau mereka mengeroyok dirinya, yakinkah dirinya bisa mengalahkan mereka?

Tengah dia berjalan dengan pikiran kusut, tiba-tiba sebuah suara berkumandang dari belakangnya: "Ji-siauhiap, tunggu sebentar!"

Kejut Ji Bun bukan main, baru pertama kali ini ada orang memanggilnya dengan nama aslinya, segera ia berhenti dan berpaling dengan siaga, seorang laki-laki yang masih asing telah berdiri didepannya, sorot matanya tajam, dan jelilatan mengawasi dirinya. Sekilas dia tatap laki-laki asing ini, lalu bertanya dengan kereng: "Orang kosen darimana sahabat ini?"

Laki-laki tak dikenal itu bergelak tawa, ujarnya : "Tak berani kuterima sebutan orang kosen, aku hanya seorang pesuruh saja."

"Darimana kau bisa tahu kalau aku she Ji? Siapa pula yang menyuruhmu kemari?"

"Orang yang menguasai mati hidup ibundamu itulah." Mendidih darah Ji Bun, otot di jidatnya seketika menegang,

wajahnya merah diliputi nafsu membunuh, bentaknya: "Kau

sekomplotan dengan Kwe-loh-jin?"

"Ji Bun," jengek laki-laki tak dikenal itu, "bicaralah dengan sopan, kedatanganku ini membawa manfaat bagimu ”

"Manfaat? Hm, kebetulan kau datang, ada beberapa persoalan kau harus menjawabnya."

"Jangan terlalu banyak kau menaruh harapan pada diriku, kecuali menjalankan perintah, segala persoalan aku tidak tahu menahu."

"Memangnya kau takkan buka mulut bila kuringkus."

"Ji Bun," kata orang itu tanpa menghiraukan ancaman Ji Bun, "bukankah sekarang kau hendak ke markas Wi-to-hwe, untuk menuntut balas? Kau hanya mengantar jiwamu saja." "Mengantar jiwa saja? Apa maksudmu?"

"Dengan bekal kepandaianmu sekarang. Kau mampu melawan keroyokan mereka?"

"Itu urusanku, tak perlu kau campur tahu."

"Masih ada, kau yakin bisa menyelamatkan diri dari Sian-thian- cin-khi Thong-sian Hwesio yang lihay itu?”

"Apa maksudmu?"

"Aku hanya disuruh menyampaikan beberapa patah kata saja padamu."

"Siapa majikanmu? Apa pula tujuanmu?"

"Maaf, siapa majikanku tidak bisa kujelaskan, soal tujuan, ialah meminjam tanganmu untuk menghancurkan Wi-to-hwe, dua pihak sama-sama memungut untungnya."

"Apa? Meminjam tanganku?" teriak Ji Bun kaget.

"Betul, majikanku berjanji, setelah tugas berat ini berhasil, kau akan diberi kesempatan menemui ibundamu dan membeber segala persoalannya."

Memang sebuah umpan besar yang penuh daya tarik bagi Ji Bun, apalagi menghancurkan musuh memang menjadi idamannya untuk menuntut balas bagi seluruh warga Jit-sing-po yang telah gugur. Diam-diam ia menimbang, kepandaian Kwe-loh-jin cukup tangguh, gerak-gerik serta sepak terjangnya serba misterius, bukan mustahil majikan orang ini adalah juga dia. Memangnya ia sendiri merasa kekurangan tenaga dan tak mampu membebaskan ibunya, tak sangka orang malah mengajak kerja sama, maka dengan nada haru ia berkata: "Apakah janji majikanmu dapat dipercaya?"

"Apa yang diucapkan majikanku pasti dapat dipercaya?" "Kau bilang meminjam tanganku, padahal tadi kau bilang

kemampuanku belum mencukupi untuk menghadapi jago-jago mereka?"

"Jangan kuatir, majikanku sudah mengaturnya dengan rapi."

Bangkit semangat Ji Bun, katanya: "Rencana apa yang telah diaturnya?"

"Jangan tergesa-gesa, belum selesai aku bicara." "Baik, coba jelaskan."

"Tahukah kau siapa pembunuh ayahmu dan seorang berkedok yang menyamar beliau?"

11.32. Rahasia Wi-to-hwecu "Siapa pembunuhnya?" "Thong-sian Hwesio."

"Apa? Dia?" teriak Ji Bun. sorot matanya seketika beringas, memang kecuali Thong-sian Hwesio tiada tokoh lain yang punya kepandaian tinggi dan mampu membunuh ayahnya dan orang berkedok itu. Desisnya sambil mengertak gigi: "Siapa saksinya?"

"Majikanku."

Ji Bun melenggong, siapakah majikannya? Kenapa selalu menyuruh Kwe-loh-jin turun tangan kepada dirinya? Kenapa menculik ibunya? Semua ini sulit terjawab olehnya.

"Kenapa majikanmu ingin pinjam tanganku untuk menghancurkan Wi-to-hwe?"

"Sederhana saja, karena majikanku hendak memberantas penghalang bagi cita-citanya."

"Tapi aku sendiri tidak yakin dapat melawan mereka dan bertahan hidup."

"Jangan kuatir, bukankah kau boleh keluar masuk markas Wi-to- hwe, malah dipandang tamu terhormat? Maka untuk turun tangan, kau harus mencari kesempatan yang paling baik, kau harus pilih waktu dan saat Thong-sian dan Wi-to-hwecu hadir baru turun tangan, kalau kedua orang ini mampus, yang lain tidak menjadi soal lagi." "Lalu cara bagaimana aku harus turun tangan?" tanya Ji Bun penuh semangat.

Laki-laki tak dikenal itu celingukan sebentar, lalu mengeluarkan sebuah kantong kecil, katanya: "Nah, kau periksa sendiri."

Ji Bun menerima dan membuka kantong itu, waktu ia melongok ke dalam kantong, seketika ia menjerit kaget: "Ngo-lui-cu?"

Laki-laki tak dikenal itu menyeringai, katanya: "Ya, Ngo-lui-cu, kau kan sudah tahu kekuatannya, malaikat dewatapun tak bisa lolos dalam jarak tiga tombak."

Gemetar jari-jari tangan Ji Bun yang memegangi kantong kecil itu, memang hanya Ngo-lui-cu saja senjata terampuh yang tepat untuk menghancurkan musuhnya sekaligus, dengan membawa benda peledak ini, Sian-thian-sin-kang Thong-sian Hwesio tidak perlu ditakuti lagi, kalau dapat mengatur keadaan dengan baik, bukan mustahil seluruh jago Wi-to-hwe juga akan dijaring dan dibunuhnya semua.

Ji Bun betul-betul sudah dirangsang dendam dan hasrat menuntut balas yang tebal, sehingga kepalanya terasa panas dan pikiran butek. Tak terpikir lagi olehnya apa maksud tujuan dari bantuan orang tak dikenal ini dengan memberikan Ngo-lui-cu, yang terang kini tibalah kesempatan paling baik untuk dirinya menuntut balas. Asal sakit hati terbalas dan dapat bertemu dengan ibunda, segata pengorbanan boleh saja dilakukan. Tanyanya menegas: "Majikanmu bilang setelah tugasku selesai, dia akan membebaskan ibuku?". "Ya, sekaligus hendak membeber sebuah rahasia."

"Apakah aku harus percaya demikian saja oleh obrolanmu ini?” "Orang she Ji, kalau majikanku sengaja mau main tipu, segala

janji tetap takkan berguna. Pertama, ibumu berada di tangan kami, kedua, kau di tempat terang dan kami di tempat gelap, ketiga, dengan memegang rahasia pribadimu, berarti sudah menggenggam mati-hidupmu pula."

Bergidik Ji Bun dibuatnya, apa yang diucapkan ini memang benar, dari sini sekaligus membuktikan bahwa majikan orang itu adalah seorang yang menakutkan. Kini Hud-sim terjatuh ke tangannya. Kalau dia berhasil mempelajari ilmu yang tertera di dalam Hud-sim, pasti tiada tandingannya dikolong langit. Betapa besar ambisi orang ini dapatlah dibayangkan.

Terdengar laki-laki itu berkata pula: "Ngo-lui-cu amat dahsyat kekuatannya, kalau kau menggunakan tepat pada waktunya, terang kau akau berhasil dengan baik, cukup kau gunakan sedikit tenaga untuk menimpukannya saja."

“Cara memakainya aku sudah tahu."

"Kalau begitu kudoakan semoga kau berhasil, selamat bertemu!” tanpa berpaling tahu-tahu badannya melesat terus menghilang, gerakannya sungguh mengejutkan. Semula Ji Bun kira hanya Biau-jiu Siansing yang memiliki gerakan tubuh paling gesit, agaknya dugaan ini kurang tepat lagi, orang ini hanya seorang pesuruh. Dapatlah dibayangkan betapa hebat kepandaian majikannya.

Dengan hati-hati Ji Bun simpan Ngo-lui-cu di ikat pinggangnya, ia merasa semakin mantap dan terlindung, untuk kali terakhir sekarang ia pergi ke Tong-pek-san.

****

Pos terdepan yang rusak digempur pihak Ngo-lui-kiong tempo hari kini sudah di bangun lagi lebih mentereng dan angker. Begitu Ji Bun tiba di depan benteng, seorang laki-laki pakaian biru segera keluar menyambut, dia bukan lain adalah Congkoan Wi-to-hwe Ko Ling-jin, cepat ia memberi hormat sambil berseri tawa: "Siau-hiap tentu lelah dalam perjalanan, silakan, hamba mendapat perintah untuk menyambut."

"Terima kasih!" kata Ji Bun.

Di belakang benteng sudah siap menunggu dua ekor kuda, mereka naik kuda menuju ke markas. Sepanjang jalan jantung Ji Bun berdebar keras, hatinya merancang bagaimana dirinya harus bekerja nanti. Apakah Thong-sian Hwesio sudah kembali? Cara bagaimana dia harus berusaha mengumpulkan pentolan-pentolan musuh supaya lebih leluasa turun tangan?

Cepat sekali mereka sudah tiba di depan markas, seorang penjaga maju menerima kuda tunggangan mereka. Di bawah petunjuk dan iringan Ko Ling-jin, Ji Bun langsung menuju ke ruang pendopo.

Wi-to-hwecu sudah menunggu dan menyongsong kedatangannya. Setelah duduk Wi-to-hwecu berkata kepada Ko Ling- jin: "Ko-congkoan, siapkan perjamuan, undanglah para Houhoat dan semua tamu-tamu yang ada untuk hadir."

Ko Ling-jin mengiakan sambil memberi hormat terus mengundurkan diri.

Diam-diam Ji Bun bersorak dalam hati, sungguh kebetulan sekali, kesempatan bakal tiba tanpa susah payah. Cuma apakah Thong-sian termasuk orang yang akan hadir di dalam perjamuan nanti?"

"Maksud kedatangan saudara muda sudah Lohu ketahui namun ada suatu persoalan mohon saudara muda suka menjelaskan secara jujur?" kata Wi-to-hwecu mulai.

Ji Bun tenangkan diri, sahutnya: "Ada pertanyaan apa?, silakan Hwecu katakan."

Wajah Wi-to-hwecu yang kaku tidak menunjukkan perasaan apa- apa, namun suaranya kedengaran hambar, katanya: "Siangkoan Hong pernah mendapat pertolongan saudara muda, untuk ini dia tidak akan melupakan selama hidup. Kalau saudara bertekad ingin menemuinya demi menyelesaikan permusuhan dengan Jit-sing-po atas kematian Ji Ing-hong, oleh karena itu, terpaksa aku mohon tanya ada hubungan apakah sebetulnya antara saudara muda dengan Ji Ing-hong?" Berhadapan dengan musuh besar, ingin rasanya Ji Bun mengkeremusnya, namun sekarang belum waktunya atau segala rencananya bakal gagal total, maka ia berkata: "Apakah hal ini boleh kuumumkan setelah berhadapan dengan Sangkoan Hong?"

Berkerut alis Wi-to-hwecu, katanya: "Tidak bisa dijelaskan dulu padaku?"

"Belum tiba saatnya."

"Baik, aku tidak memaksa, namun ingin kuwakili Siangkoan Hong untuk menjelaskan duduk persoalan dari permusuhan ini."

Kebetulan bagi Ji Bun, katanya: "Dengan senang hati."

Sudah lama dia mengharapkan hal ini, sayang tiada kesempatan, yang diketahui hanya ayahnya bermusuhan dengan Siangkoan Hong lantaran rebut isteri dan membunuh anaknya. Tentang bagaimana persoalan yang sebenarnya tidak diketahui. Hal ini pernah dia tanyakan kepada sang ayah, namun jawabannya juga samar-samar. Kini Wi-to-hwecu mau mengungkat peristiwa lama ini, tentu saja amat cocok dengan keinginannya.

Sekilas terunjuk sorot derita dan sedih pada sinar mata Wi-to- hwecu, katanya pelan dengan suara berat: "Untuk menjelaskan peristiwa ini harus kembali pada masa kira-kira 20-an tahun lalu. Pada waktu itu muncul seorang perempuan cantik molek, namanya harum terkenal di seluruh jagat. Dia bernama Cu Yan-hoa, yaitu isteri Siangkoan Hong. Yang laki-laki tampan dan yang perempuan jelita, entah berapa banyak sesama kaum persilatan yang iri terhadap pasangan ini ”

Terbayang oleh Ji Bun akan codet atau bekas luka yang membuat buruk muka Siangkoan Hong. Kalau yang perempuan dikatakan jelita mungkin benar, tapi kalau dikatakan yang lelaki tampan, hal ini amat meragukan.

Setelah merandek Wi-to-hwecu melanjutkan: "Pada suatu hari, mendadak Cu Yan-hoa lenyap tak karuan parannya. Semula Siangkoan Hong tidak menaruh perhatian, ia sangka isterinya keluar mengurus sesuatu. Namun setelah beruntun beberapa hari tidak kunjung pulang barulah Siangkoan Hong menyadari urusan tidak sederhana. Selama mereka menikah belum pernah mereka berpisah, hal ini menandakan isterinya pasti mengalami sesuatu yang harus dikuatirkan, apalagi waktu itu Cu Yan-hoa sedang hamil ”

Dengan hati gelisah, masgul dan lama kelamaan putus asa, Siangkoan Hong menjadi gelandangan Kang-ouw untuk mencari isterinya. Betapa sedih dan tersiksa hatinya, kiranya siapapun dapat membayangkan. Tak lama kemudian, dia mendapat kabar bahwa isterinya, Cu Yan-hoa diculik oleh Jit-sing-pocu Ji Ing-hong ”

Berubah air muka Ji Bun, namun sekuatnya dia menahan diri. Tutur Wi-to-hwecu lebih lanjut dengan mengertak gigi: "Jit-sing-

pang berkuasa dan banyak tenaganya. Jit-sing-po merupakan sebuah perkampungan angker dalam Bu-lim. Lwekang dan kepandaian silat Ji Ing-hong teramat tinggi. Untuk menolong isterinya dari mulut harimau, Siangkoan Hong tahu dirinya tidak mampu, namun isterinya tercinta sedang hamil, betapapun sulitnya juga harus berusaha menolongnya. Dalam keadaan terpaksa akhirnya dia merusak wajah sendiri dan menyelundup ke Jit-sing-po

....”

"Bagaimana kelanjutannya?" tanya Ji Bun tak sabar.

"Setelah berada di dalam benteng perkampungan, dia berlaku hati-hati. Setiap hari dia harus bermuka-muka dan munduk-munduk untuk mengambil hati Ji Ing-hong. Syukurlah dia dibekali kepandaian yang berbakat, akhirnya dia diangkat menjadi salah seorang guru silat, duduk berdampingan dan berdiri sejajar dengan tujuh jago kosen lainnya di dalam perkampungan, mereka dijuluki Jit-sing-pat- ciang (delapan panglima Jit-sing)."

Nafas Ji Bun agak memburu, walau dia adalah Siau-pocu, namun sejak kecil terisolir, dididik dalam lingkungan tersendiri, maka segala seluk beluk dalam perkampungan sama sekali tidak diketahui. Kini seakan-akan dia mendengar dongeng saja.

"Sekejap mata beberapa tahun telah berselang. Usaha Siangkoan Hong memang tidak sia-sia, akhirnya ia berhasil menyelidiki bahwa isterinya ternyata telah menjadi gundik kedua Ji Ing-hong. Ia marah dan berduka akan nasib isterinya karena kekejian dan kekotoran Ji Ing-hong. Sampai sekian lamanya dia tetap tak berhasil mendapatkan kesempatan menemui isterinya. Mengingat keturunan yang dikandung dalam perut isterinya, tekadnya menjadi besar untuk selekasnya berhadapan dengan isteri terkasih, maka dia tidak kenal putus asa, dia menanti dengan sabar, sabar ”

"Apakah ini kenyataan?" tak tertahan Ji Bun bertanya. Geram menyala sorot mata Wi-to-hwecu, penuh dendam dan kebencian, katanya: "Sudah tentu kenyataan. Pada suatu hari, akhirnya ia mendapat kesempatan bertemu dengan isterinya. Dari pertemuan itu baru dia tahu bahwa isterinya bertahan hidup demi keturunan darah daging dalam kandungannya. Iapun berharap dapat bertemu sekali lagi dengan suaminya ”

"Jadi ada keturunan Siangkoan Hong yang tertinggal dalam perkampungan?"

"Semula hal ini masih teka-teki, karena setelah Cu Yan-hoa melahirkan, anaknya segera disingkirkan. Dia sendiri tidak tahu anaknya itu laki-laki atau perempuan, juga tidak tahu apakah anaknya itu masih hidup atau sudah mati, untuk inilah dia bertahan hidup. Sayang pertemuan mereka suami isteri konangan oleh Ji Ing- hong.

"Ji Ing-hong memang manusia durjana yang kejam, dia tidak bersikap apa-apa pada waktu itu. Beberapa hari kemudian, dia menjamu Siangkoan Hong, dia berjanji memberi kesempatan kepada mereka suami-isteri untuk berkumpul dan hidup rukun kembali, iapun mengakui akan kesalahannya “ sampai di sini, kulit muka

Wi-to-hwecu tampak mengencang dan gemetar, suaranyapun menjadi serak namun dendam dan kebenciannya tetap menyala- nyala.

Timbul perasaan ruwet dalam hati Ji Bun. Di samping merasakan tugas menuntut balas yang kian menekan, iapun merasa malu dan menyesal akan perbuatan ayahnya yang kotor dan hina dimasa hidup itu.

Agaknya Wi-to-hwecu juga berusaha menekan emosinya, lama sekali baru dia melanjutkan: "Dendam Siangkoan Hong tetap tak berkurang karena isterinya diculik. Namun waktu itu terpaksa dia harus tunduk pada keadaan, perjamuan itu akhirnya berlalu dalam suasana janggal dan kurang menyenangkan. Setelah perjamuan usai, Ji Ing-hong menyuruh tertua dari Jit-sing-pat-ciang yang bernama Ciu Tay-lian mengantar Siangkoan Hong ke luar perkampungan. Lahirnya saja diantar, yang benar dia menyuruh Ciu Tay-lian membunuh Siangkoan Hong secara diam-diam ”

"Jadi Siangkoan Hong tidak mati terbunuh?"

"Ehm, hubungan Ciu Tay-lian dengan Siangkoan Hong amat kental, watak mereka berdua jauh berbeda dengan keenam teman- teman sejawatnya. Iapun amat marah dan mengutuk perbuatan Ji Ing-hong yang tidak tahu malu, akhirnya dia membongkar perbuatan di luar perikemanusiaan itu ”

"Perbuatan apa yang dia bongkar?"

"Ji Ing-hong sudah membunuh Cu Yan-hoa, perjamuan yang diadakan itu menghidangkan daging Cu Yan-hoa " tiba-tiba Wi-

to-hwecu menggebrak meja sampai semplak sebagian, matanya mendelik sebesar kelereng, mukanya gelap dan suaranya geram: "Saudara muda, itulah perbuatan binatang, kalau dia manusia, apakah dia sampai hati berbuat sekejam ini?" Merinding dan gemetar sekujur badan Ji Bun, apakah betul kenyataan? Betulkah ayahnya begitu jahat? Sungguh peristiwa tragis yang belum pernah ada duanya di jagat ini, daging manusia sebagai hidangan perjamuan ”

Hampir melotot keluar biji mata Wi-to-hwecu, katanya dengan nada hampir menangis :"Saudara muda, Siangkoan Hong telah makan darah daging isterinya sendiri "

"Tidak mungkin," teriak Ji Bun tiba-tiba seperti orang kalap. "Kenapa tidak mungkin?"

"Ji-pocu tidak mungkin melakukan perbuatan sekejam itu.” "Tapi kenyataan memang demikian."

"Bagaimana kelanjutannya?"

"Sudah tentu Siangkoan Hong bersumpah menuntut balas." "Siangkoan Hong mengumpulkan komplotan untuk menghancur

leburkan Jit-Sing-po?"

"Umpama betul dia menghancur leburkan Jit-Sing-po juga belum terlampias dendamnya, tapi dia tidak berbuat demikian, dia hanya mencari Ji Ing-hong saja."

"Lalu siapa yang membantai seluruh penghuni Jit-sing-po?" "Entah, tiada yang tahu."

"Lalu siapa yang membunuh Ji-pocu di jalan raya menuju Kay- hong?"

"Juga tidak diketahui."