Hati Budha Tangan Berbisa Jilid 10

 
Jilid 10

"Tunggu sebentar nona Pui.” seru Ji Bun memburu maju waktu melihat orang hendak pergi, "ada urusan yang hendak kubicarakan dengan nona."

"Jadi kau mencari aku?" tanya Pui Ci-hwi, "ada apa?" "Apakah nona betul murid Pek-ciok Sin-ni?" tanya Ji Bun. Pui Ci-hwi melengak, dengan heran dia balas bertanya: "Untuk apa tuan tanya hal ini?"

"Ada beberapa persoalan yang ingin kuketahui." "Mengingat tuan pernah menolong aku, sebagai tamu

kehormatan perkumpulan kami pula, baiklah kujawab pertanyaan ini secara terus terang. Aku bukan murid beliau."

"Apa?" teriak Ji Bun tertegun heran. "Kau bukan murid Sin-ni? Lalu darimana nona bisa tahu rahasia Sek-hud itu sehingga diburu- buru orang persilatan."

"Maaf hal ini tak bisa kujelaskan.”

Maksud Ji Bun hendak mencari tahu jejak Toh Ji-lan, adik kandung Pek-ciok Sin-ni, perempuan yang harus ditemuinya sesuai pesan seorang tua aneh di bawah jurang, harapan itu kini menjadi kosong, namun dia tidak putus asa, tanyanya: "Apa betul nona tidak hubungan apa-apa dengan Sin-ni?"

"Hubungan sih memang ada," sahut Pui Ci-hwi kaku sambil mengerut kening.

"Syukurlah, kalau begitu Cayhe ingin mencari tahu seseorang kepada nona."

"Mencari siapa?" "Yaitu adik kandung Sin-ni yang bernama Toh Ji-lan."

Bergetar badan Pui Ci-hwi, air mukapun berubah, tanyanya melongo: "Untuk apa tanya tentang beliau?"

"Cayhe mendapat pesan seseorang untuk mencari tahu jejaknya." "Pesan siapa?"

"Seorang tua, namun Cayhe sendiri tidak tahu nama dan gelarannya."

“Sayang beliau sudah tak berada di dunia fana ini." "Sudah meninggal maksudmu?" Ji Bun menegas. "Ya, sudah lama meninggal dunia."

"Tolong tanya, dimanakah pusara beliau?"

Kaget dan heran Pui Ci-hwi menatap Ji Bun, kepalanya sedikit menggeleng, sahutnya: "Hal ini tak boleh kukatakan."

Ji Bun menarik napas panjang, pikirnya, kalau dia sudah meninggal, biarlah kuberi kabar secara terus terang kepada orang tua aneh itu, timbul juga rasa kasihan terhadap orang tua itu, hanya karena ingin bertemu sekali lagi dengan kekasih, maka orang tua itu bertahan hidup sekian puluh tahun di bawah jurang dengan siksa derita, betapa kejam akhir dari semua ini. Soal lain segera timbul dalam benaknya, hawa hitam yang selama ini lenyap kini kentara pula di antara kedua alisnya, sikapnyapun kembali kaku dingin membuat Pui Ci-hwi menyurut jeri. "Nona juga anggota Wi-to-hwe?" tanyanya.

Pui Ci-hwi mengiakan sambil mengangguk.

Berkerutuk gigi Ji Bun, sedapat mungkin dia tekan emosinya, namun suaranya semakin dingin kaku: "Apa nona tahu kenapa Wi- to-hwe bermusuhan dengan Jit-sing-pangcu Ji Ing-hong?"

"Kau untuk apa kau tanya hal ini?"

"Karena Cayhe ingin tahu duduknya persoalan. Nah, jawablah nona."

"Wi-to-hwe hakikatnya tidak bermusuhan dengan Jit-sing-po." "Akan tetapi Jit-sing-po hancur lebur?"

"Entah, aku tak tahu."

"Ji Ing-hong ditemukan mati di dalam hutan dengan mengenaskan, siapa pula yang membunuhnya?"

"Tidak tahu."

"Nona Pui," tak tahan Ji Bun menahan rangsangan dendam dan benci, suaranya bengis, "Hari ini kau harus menjawab pertanyaanku sejujurnya." "Kenapa aku harus menjawab, tidak sudi,“ sahut Pui Ci-hwi ketus.

'"Demi mencapai tujuanku aku tidak segan-segan turun tangan secara keji."

"Kau hendak membunuhku?" teriak Pui Ci-hwi, mukanya yang pucat menjadi merah padam.

"Untuk membunuhmu segampang membalikkan tangan, jawab pertanyaanku. Di mana Siangkoan Hong sekarang?"

“Siangkoan Hong? Untuk apa kau mencari dia?"

Pui Ci-hwi balas bertanya: "Bukankah kau pernah menolong jiwanya?"

"Ya tempo hari aku belum terlibat dalam urusan ini, sekarang

........”

"Soal ini boleh kau tanya kepada Hwecu saja."

"Tentu! akan kucari dia, tapi sekarang kau yang kutanyai." "Aku tidak sudi menjawab."

Ji Bun menggeram murka, secepat kilat dia mencengkeram pergelangan tangan Pui Ci-hwi, tangan berbisa segera terangkat tinggi, katanya mengancam: "Untuk membunuhmu sekarang bagiku segampang memites seekor semut." Bergetar tubuh Pui Ci- hwi, air mukanya berubah, matanya mendelik, tanpa bicara ia menatap Ji Bun dengan penuh kebencian.

"Lepaskan dia!" sekonyong-konyong sebuah hardikan berkumandang dari belakang. Cepat Ji Bun menoleh, dilihatnya seorang setengah tua berperawakan sedang, bermuka tirus bermata sipit berdiri dua tombak di belakangnya, jubahnya hitam, rambut kepalanya diikat kain hitam pula, dandanan demikian rada ganjil dan aneh.

"Tuan orang kosen dari mana?" tanya Ji Bun. “Kwe-loh-jin.”

Mendelik buas mata Ji Bun, ancamnya: “Kalau kau masih ingin hidup, lekas enyah dari sini.”

Orang yang menamakan dirinya Kwe-loh-jin atau orang lewat di jalanan ini tertawa menyengir, ujarnya: "Te-gak Suseng, membual saja kepada orang lain."

Memangnya dendam dan amarah Ji Bun tidak terlampias, kata- kata orang ini seperti api disiram minyak, membuat amarahnya semakin berkobar, desisnya dingin: "Kau betul-betul ingin mampus?"

"Nanti dulu, aku kemari hendak membuat perhitungan dagang dengan kau."

"Perhitungan dagang apa? Aku tidak punya minat." "Te-gak Suseng, setelah kujelaskan, kutanggung minatmu pasti besar."

Sebelum orang bicara habis, sebat sekali Ji Bun melepaskan tangan Pui Ci-hwi terus menubruk ke arah Kwe-loh-jin, tangan berbisa sekaligus menyerang dengan gerakan secepat kilat, tahu- tahu dia sudah mencengkeramnya pula pergelangan tangan Pui Ci- hwi dan berdiri di tempatnya semula, betapa cepat dan tangkas gerakannya ini, sungguh luar biasa.

Tapi hasil dari serangannya sungguh di luar dugaannya, Kwe-loh- jin yang kena serangan tangan berbisa tidak roboh binasa, orang malah berdiri tersenyum simpul. Diam-diam Ji Bun menjadi sangsi akan ilmu pukulan berbisa yang diyakinkannya selama ini, ternyata Kwe-loh-jin kebal terhadap racun latihannya, apa betul masih banyak lagi orang-orang yang tidak mempan terhadap racun jahatnya?

Seperti tidak kurang suatu apa, Kwe-loh-jin berkata: "Te-gak Suseng, marilah kita bicarakan soal dagang itu."

Tanpa sadar Ji Bun bertanya : "Kau. tidak takut racun?"

"Bu-ing-cui-sim-jiu memang teramat jahat, namun bagiku racun itu bukan apa-apa," ujar Kwe-loh-jin tertawa lebar.

"Siapakah kau?" tanya Ji Bun. "Orang lewat!" "Apa maksud dan tujuanmu?"

"Sejak tadi sudah kukatakan, untuk membicarakan soal dagang." "Baiklah coba kau terangkan."

Sebelum bicara "orang lewat" seperti menahan perasaannya, katanya dengan nada yang dibuat setenang mungkin.

"Bukankah kau ingin memperoleh kembali barangmu yang hilang?"

"Barang hilang?" teriak Ji Bun, "barang apa?"

"Anting-anting pualam yang tak ternilai harganya untuk mengambil uang di mana saja."

Seperti hendak meledak dada Ji Bun, sinar matanya liar, suaranya mengancam gemetar: "Bagus sekali, jadi yang merebut anting- anting itu adalah kau, berani kau bicara soal dagang segala dihadapanku?"

9.27. Rahasia Rumah Setan di Kay-hong

"Orang Lewat" terloroh-loroh, katanya: "Te-gak Suseng jangan kau umbar amarahmu, jangan kau harap bisa merebutnya kembali tanpa memberikan imbalan kepadaku." "Bukan saja anting-anting itu harus kurebut kembali, kepalamu juga harus kupenggal, itulah yang harus kau berikan padaku."

"Baiklah, boleh coba,” tantang orang itu.

Untuk kedua kali Ji Bun melepas pegangan tangan Pui Ci-hwi, telapak tangannya terus memukul ke arah Orang Lewat, betapa dahsyat kekuatan pukulan bagai gugur gunung ini, tapi hanya sekali berkelebat, tahu-tahu Orang Lewat sudah menyingkir tiga tombak jauhnya, gerakan badan begitu gesit dan enteng, sungguh tidak kalah dibandingkan Biau-jiu Siansing.

Gerakan seringan kapas seperti setan melayang ditambah orang juga tidak gentar terkena pukulan beracunnya, ini lebih meyakinkan Ji Bun bahwa orang ini memang betul adalah orang yang merebut anting-antingnya.

Pui Ci-hwi tetap berdiri kaku di tempatnya tanpa, bergerak, seolah-olah apa yang terjadi disekelilingnya tidak dilihat dan tak didengar, peduli amat semua peristiwa yang tiada sangkut paut dengan dirinya.

"Te-gak Suseng," orang lewat berseru memberi peringatan, "kalau main pukul lagi, terpaksa kutinggal pergi saja."

"Hm, memangnya kau bisa lolos?"

"Omong kosong, sungguh menggelikan, kalau berhantam, sepuluh atau dua puluh kali pukulanmu masih belum apa-apa bagiku, kalau mau pergi, memangnya kau mampu merintangi?" "Katakan, apa kehendakmu?" bentak Ji Bun dongkol.

"Gampang saja, serahkan dia kepadaku, anting-anting akan kukembalikan padamu, nah, kita main barter."

Tergerak hati Ji Bun, tanyanya: "Dia? Kenapa aku harus serahkan dia padamu?"

"Untuk barter, kutukar dengan barangmu yang hilang."

Mendelik gusar pandangan Pui Ci-hwi menga¬wasi "orang lewat", tapi tetap tidak bersuara.

Memang Ji Bun ingin sekali mendapatkan anting-antingnya yang hilang, tapi tegakah dia menyerahkan Pui Ci-hwi sebagai barang tukaran? Apa pula maksud "orang lewat" dengan mengajukan syarat yang tidak berperikemanusiaan ini? Maka dia mendengus dingin, katanya: "Apa maksudmu sebenarnya?"

Tenang-tenang saja sikap "orang lewat", katanya: “Bukankah tadi kau hendak membunuhnya? Kalau sekarang dia kutukar anting- anting pualam itu, kan tidak merugikan kau?"

"Pernah apa kau dengan dia? Apa tujuanmu menghendaki dirinya?" tanya Ji Bun.

"Bukan apa-apaku. Soal untuk apa aku ingin memiliki dia itu bukan urusanmu," sahut "orang lewat". Lalu dia merogoh kantong mengeluarkan anting-anting pualam serta ditimang-timang di telapak tangannya, lalu segera ia menyimpannya pula. Nyata, anting-anting itu memang betul adalah miliknya yang hilang itu.

Serasa pecah kepala Ji Bun saking murka, sekonyong-konyong telapak tangannya menyapu ke depan, serangan ini secepat kilat menyambar, kekuatannya bukan olah-olah hebatnya. Karena tidak menduga dan kurang siaga, orang lewat tersampuk sempoyongan oleh damparan angin kencang ini. Amarah Ji Bun sudah memuncak, begitu sampukan tangan berhasil membuat orang gentayangan, kembali pukulan kedua menyusul tiba, namun "orang lewat” sempat melintangkan tangan menangkis, di tengah suara keras beserta angin kencang berderai keempat penjuru, terdengar keluhan tertahan, "orang lewat" menyurut mundur beberapa langkah.

Mendapat angin dengan kedua pukulannya, Ji Bun tidak menyia- nyiakan kesempatan, segera ia mendesak maju, secepat kilat jari- jarinya mencengkeram ke dada lawan. Kali ini "orang lewat” memperlihatkan kemampuan silatnya yang luar biasa, tampak bayangannya melejit, ke sana terus mengoget seperti ikan selicin belut tahu-tahu orang sudah menyingkir dari cakaran tangan Ji Bun, terdengar pula suara teriakan kaget, tahu-tahu Pui Ci-hwi menjadi tawanan si "orang lewat".

Gerakan orang ini betul-betul diluar dugaan Ji Bun, keruan ia melenggong.

Dengan sombong dan tertawa senang, "orang lewat" berkata: "Te-gak Suseng, sekarang kau sudah tiada hak untuk barter lagi dengan aku." "Hm, kau kira bisa pergi dengan selamat?”

Sekali jinjing terus dikempit, mendadak "orang lewat" melenting jauh ke sana. Namun sekali berkelebat Ji Bun juga sudah melejit ke sana menghadang di depannya, sekaligus dia melontarkan serangan mematikan, "orang lewat" dipaksa mundur ke tempatnya semula, dengan langkah berat Ji Bun mendesak maju.

"Berani kau turun tangan, dialah yang akan mati lebih dulu!" ancam "orang lewat" menyeringai sadis.

Ji Bun nekat, jengeknya "Kaupun tidak akan hidup, kalau bertangan kosong, mungkin kau punya kesempatan buat lolos. tapi dengan menggondol dia, jangan harap kau bisa pergi."

Hal ini memang betul, "orang lewat" hanya mengandal gerakan tubuhnya yang lihay dan sedikit lebih tinggi dari Ji Bun. Bicara soal Lwekang dia malah lebih rendah dua tingkat, kalau dia berkukuh hendak menggondol pergi Pui Ci-hwi, betapapun gerakannya juga kurang leluasa, dengan sendirinya permainan silatnya akan terhalang, bagaimana mungkin dia mampu meloloskan diri?

"Kau tidak mau menukarnya dengan anting-anting, itu berarti jiwanya tidak lebih berharga daripada anting-anting itu."

"Kau keliru, aku bisa membunuhnya, karena soal sakit hati, tapi untuk barter, masakah aku ini manusia rendah yang sudi berbuat sekeji itu." "Te-gak Suseng, jangan kau membual, aku tahu kau ingin dia hidup untuk mengorek keterangan asal-usul para musuhmu bukan?"

Diam-diam terperanjat Ji Bun, segala persoalan dirinya agaknya sudah tergenggam di tangan orang, katanya dingin: "Dari orang lainpun aku bisa mendapat keterangan yang kuinginkan. Lepaskan dia!"

Agaknya "orang lewat" gentar menghadapi tekat Ji Bun yang membara, sesaat dia berpikir, lalu katanya: "Te-gak Suseng, anggaplah aku berhasil memungut dia tanpa sengaja, soal barter batal saja, tapi anting-anting tetap kukembalikan padamu.”

Sebetulnya Ji Bun hampir terbujuk, namun teringat anting-anting soal kecil, lebih penting adalah menuntut balas, hanya Pui Ci-hwi satu-satunya sumber untuk menyelidiki para musuhnya, betapapun dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan baik ini. Segera ia menjawab: "Tidak bisa."

"Te-gak Suseng, untuk membunuhnya sekarang aku tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga, kalau dia betul-betul mampus ditanganku, apa yang akan, kau peroleh?"

Memang tepat dan lihay gertakan "Orang Lewat" itu, kalau betul dia membunuh Pui Ci-hwi terus tinggal pergi, bukankah anting- anting itu tetap takkan berhasil diminta kembali? Namun Ji Bun juga maklum bahwa "Orang Lewat" ini ingin membawa pergi Pui Ci-hwi pasti punya maksud tertentu, untuk ini tidak mungkin dia berani membunuhnya, maka dengan mendengus dia berkata: "Kau membunuh dia, lalu aku membunuhmu, itulah akhirnya." "Memangnya kau mampu membunuhku?" cemooh orang itu.

Ji Bun menggerung gusar, belum lenyap suara gerungannya, jari- jari tangannya sudah mencengkeram dengan gerakan yang luar biasa, namun "Orang Lewat" berkelit ke kiri terus menerjang ke kanan, serangan Ji Bun tidak menjadi kendur, beruntun jari tangannya bekerja dengan serangan lihay, karena tangannya memegangi Pui Ci-hwi, betapa tinggi dan lihay gerakan "Orang Lewat", lama kelamaan menyurut juga. "Cret", suatu ketika jari Ji Bun berhasil menarik kain hitam yang mengikat rambut kepala "Orang Lewat".

"Hah," seketika Ji Bun menjerit kaget sambil menyurut mundur, matanya terbeliak dengan muka pucat lalu merah dan kehijauan, mimiknya seperti orang ketakutan melihat setan iblis. Ternyata di atas kuping sebelah kanan "Orang Lewat" kelihatan codet bekas memanjang. Codet ini memberi kesan yang mendalam bagi Ji Bun, begitu tajamnya seperti goresan pisau di ulu hatinya, dalam benaknya selalu terbayang orang berkedok, berjubah sutera yang kepalanya ada codet bekas luka, jadi antara Orang berkedok, laki- laki muka hitam, dan "Orang Lewat” ini ternyata adalah satu orang. Jadi dia belum mati?

Dengan kedua tangannya sendiri dia mengubur dua orang yang sama-sama berkedok dan berjubah sutera, salah satu adalah ayahnya, lalu siapa yang satu lagi? Mungkinkah masih ada orang ketiga? Sungguh luar biasa, berulang kali orang ini hendak menghabiskan jiwanya, kini hendak membawa Pui Ci-hwi kenapa? Lekas Ji Bun tenangkan diri, waktu dia menyapu pandang sekelilingnya, ternyata Orang Lewat dan Pui Ci-hwi sudah lenyap, agaknya orang melarikan diri waktu dirinya linglung tadi.

"Siapa dia? Siapa dia?" tak tertahan Ji Bun berteriak-teriak seperti orang gila. Bukan saja kejadian ini teramat aneh, juga amat menakutkan. Diantara serangkaian kejadian ini seakan-akan berselubung suatu teka-teki yang serba misterius, namun teka-teki yang menakutkan ini tidak mudah dibongkar. Ji Bun tenggelam dalam pemikirannya, sepak terjang orang seperti setan gentayangan, dengan bentuk wajah yang selalu berubah, gerakan badan yang terlalu hebat dan mengejutkan. Secara wajar, dia lantas berpikir kepada Biau-jiu Siansing. Dia lebih condong menaruh curiga kepada Biau-Jiu Siansing karena orang inipun memiliki gerakan tubuh dan Ginkang sehebat itu, lagi tidak takut menghadapi Bu-ing- cui sim-jiu yang amat beracun itu. Ya pasti dia, ke¬cuali dia pasti tiada orang yang punya kemampuan seperti itu, demikian pula Jit- sing-ko-jin bukan mustahil adalah samarannya. Teka-teki ini harus cepat dibongkar, kalau tidak dirinya takkan hidup tenang, salah- salah jiwa sendiri bisa melayang oleh kelicikan dan kelicinan musuh.

Gedung setan di kota Cinyang, seperti apa yang dikatakan Thian- thay-mo-ki adalah sarang atau tempat sembunyi Biau-jiu Siansing, katanya isteri dan seorang puteranya berdiam di gedung setan itu. Tempo hari kalau tidak ketemu tabib keliling dan dipancing keluar kota mungkin teka-teki ini sudah berhasil dibongkarnya.

Untuk menuju Tong-pek-san kebetulan harus lewat kota Cinyang, setelah dipikir secara seksama, Ji Bun berkeputusan untuk mampir ke kota Cinyang mencari Biau-jiu Siansing, segera dia keluar hutan dan menempuh perjalanan lewat jalan raya.

Hari kelima pagi-pagi benar Ji Bun sudah sampai di kota Cinyang, karena terlalu pagi, tidak leluasa untuk bekerja, kuatir jejaknya diketahui pihak musuh. Supaya tidak mengejutkan pihak sana, maka dia tidak masuk kota, tapi berputar menuju ke sebuah kota kecil di selatan Cinyang yang jaraknya kira-kira beberapa li. Di sini dia mencari hotel untuk melepaskan lelah dan menghabiskan waktu, malam nanti setelah kentongan kedua baru akan mulai beraksi.

Setelah cuci muka dan ganti pakaian, dia pesan makanan, seorang diri mondar-mandir di dalam kamar. Tak lama kemudian, sendirian dia sudah makan minum dengan lahapnya. Tiba-tiba pelayan masuk, katanya: "Siangkong, ada seorang tamu suruh hamba menyampaikan sepucuk surat."

Tergerak hati Ji Bun, katanya: "Bawa kemari.”

Pelayan angsurkan surat itu, itulah secarik kertas tanpa sampul sebesar telapak tangan. Begitu membaca tulisan di atas kertas itu, seketika berubah air muka Ji Bun, suaranya gemetar: "Mana orang yang membawa surat ini?"

"Sudah pergi."

"Bagaimana raut wajahnya?"

"Entahlah, agaknya seperti orang persilatan." "Baik, tiada apa-apa, kau boleh keluar."

Dengan heran dan curiga si pelayan melirik sekejap pada Ji Bun, lalu mengundurkan diri. Ji Bun membaca sekali lagi tulisan surat itu, bunyinya demikian:

"Disampaikan kepada Te-gak Suseng. Kalau ingin memperoleh si jelita tanpa kurang suatu apa dan anting-anting, lekaslah kau pergi ke Wi-to-hwe, suruh ketuanya menukar jiwa nona itu dengan Hud- sim. Kubatasi 10 hari, selewatnya hari yang kutentukan, keselamatan jiwanya bukan tanggung jawabku lagi, kalau ketuanya setuju, Hud-sim boleh diserahkan padamu, akan kujanjikan tempat dan waktunya setelah tiba waktunya. Tertanda Kwe-loh-jin."

Gemas dan dongkol ji Bun bukan main, agaknya gerak-geriknya selalu diintai oleh lawan, perjalanan kali ini agaknya bakal gagal lagi. Jadi terang sekarang tujuan-tujuan "Orang Lewat" menculik Pui Cui- hwi ternyata untuk barter dengan Hud-sim, mungkinkah "Orang Lewat" pula yang melakukan pencurian Sek-hud di gedung keluarga Ciang?

Musuh ditempat gelap, dirinya ditempat terang, urusan ini memang serba sulit dan dirinya dipihak yang dirugikan. Dengan terlongong Ji Bun mengawasi kertas ditangannya, dari gejala yang sudah teraba secara beruntun ini, dia lebih yakin bahwa "Orang Lewat" ini memang duplikat Biau-jiu-Siansing, mencuri, menipu, merampas dan merebut, ditambah mengancam dan menindas.

Semua ini merupakan perbuatan kotor dan rendah yang selalu terjadi dikalangan Kang-ouw oleh manusia-manusia rendah, hal ini memang sudah sering terjadi dan tidak mengherankan dirinya, yang belum diketahui hanyalah apa tujuan orang ini selalu hendak membunuh dirinya, ia yakin dirinya belum pernah bermusuhan dengan dia.

Apakah sekarang ia harus pergi ke Tong-pek-san dan bekerja sesuai yang diminta "Orang Lewat" seperti yang ditulis dalam suratnya ini? Dengan keras dia gebrak meja, sambil menengadah dia tenggak habis secangkir arak, mulutnya menggumam: "Malam ini harus kubongkar seluk-beluk si maling tua itu."

o0o

Kentongan kedua baru saja berkumandang, Sesosok bayangan dengan cepat melayang ke arah "gedung setan" di kota Cinyang. Dia bukan lain Te-gak Suseng Ji Bun adanya.

Memang sesuai betul keadaan Gedung Setan ini dengan namanya, tidak nampak bayangan orang lewat di sini, suasana hening mencekam, keadaan tidak berbeda dengan tempo hari waktu pertama kali dia datang, pintu besarnya tertutup rapat, galagasi berada dimana-mana, debu setebal beberapa mili.

Sejenak Ji Bun berdiri di atas pagar tembok menerawang keadaan sekelilingnya, lalu berputar ke arah samping, sekali lompat dia naik ke atas wuwungan, denah gedung ini cukup luas dan besar, tampak rumah berderet, pekarangan berlapis-lapis, tetumbuhan tua tersebar dimana-mana. Selayang pandang keadaan serba gelap, hawapun terasa lembab dan menggiriskan orang. Mungkinkah ada orang tinggal di tempat seperti ini? Ji Bun jadi terlongong bingung. Ji Bun tidak takut setan, juga tidak percaya di dunia ini ada setan, rumah serta tempat-tempat yang sering dikatakan keramat dan dihuni setan hanya permainan kotor orang-orang persilatan yang suka main-main dengan tujuan tertentu belaka.

Tapi kalau, rumah ini dihuni manusia, pasti ada sinar lampu atau lilin, namun yang dihadapinya sekarang hanya kepekatan yang menyeramkan. Sudah tentu Ji Bun tidak mau berhenti begini saja dan balik dengan tangan hampa, setelah bimbang sebentar, akhirnya dia enjot kaki dan melayang turun di pekarangan.

Malam memang teramat gelap, namun bagi orang yang berkepandaian setinggi Ji Bun sekarang, matanya masih bisa melihat sesuatu di tempat gelap dengan jelas. Tertampak pekarangan ini sudah lebat ditumbuhi semak-semak rumput dan pepohonan liar, jalur jalan kecil yang berliku-liku juga sudah penuh ditumbuhi lumut dan rumput-rumput serta ditumpuki daun kering, bangunan rumah- rumah disekelilingnya juga banyak yang rusak dan bobrok, jendela dan pintunya sama runtuh, yang masih ketinggalan sedang berbunyi berkeriut ditiup angin, bayang-bayang pepohonan mirip setan iblis yang menjulurkan jari-jari tangan siap menerkam mangsanya.

Betapa tinggi kepandaian Ji Bun menghadapi suasana yang seram menggiriskan ini, berdiri juga bulu kuduknya, merinding. Dengan langkah pelan dan hati-hati dia mendekati pintu rembulan dan menuju ke halaman kedua. Keadaan di sini tak ubahnya dengan pekarangan pertama, hening lelap, hawa seperti membeku, seolah- olah tiada kehidupan lagi di dunia fana ini, bau busuk merangsang hidung. Namun Ji Bun tidak putus asa, dia membelok ke serambi sana terus memasuki pekarangan lapis ketiga. Pemandangan di sini jauh berubah, tanaman di sini kelihatannya teratur dan teramat baik, seperti kebun yang selalu diatur oleh tangan-tangan manusia. Serta merta hati Ji Bun menjadi tegang, selepas matanya memandang, dilihatnya di antara sela pepohonan lapat-lapat kelihatan sinar pelita yang menyorot keluar. Kalau dipandang dari wuwungan rumah, karena teraling dan tertutup oleh bayang-bayang dedaunan yang lebat, sinar pelita ini terang tidak akan kelihatan. Agaknya tidak sia- sia perjalanan Ji Bun kali ini. Apa yang dinamakan gedung setan, kiranya hanya nama kosong dan gertakan bagi yang bernyali kecil belaka, muslihat menakuti orang dengan tujuan tertentu.

Apa yang pernah dilihat dan dialami Thian-thay-mo-ki dulu agaknya memang kenyataan. Dengan enteng Ji Bun melayang ke arah sinar pelita, dengan berindap dan menggeremet Ji Bun maju semakin dekat. Kini dia sudah melihat jelas, sinar pelita, itu menyorot keluar dari sebuah kamar yang tertutup kain gordin, karena kain gordin kurang rapat sehingga sinar pelita ini menyorot keluar dari sela-sela meski hanya segaris saja. Waktu Ji Bun sampai di serambi luar kamar itu sinar pelita di dalam kamar itu mendadak padam.

Keruan kaget berdegup hati Ji Bun, dia tahu bahwa jejaknya sudah konangan, gedung sebesar ini kalau pihak sana sengaja mau menyembunyikan diri, untuk mencarinya tentu sesulit memanjat ke langit. Lalu tindakan apa yang harus dia lakukan. Atau kalau

Biau-jiu Siansing memang seorang tokoh yang punya gengsi dan berbobot, bila dirinya bersuara dan memperkenalkan diri, tentu dia tidak akan menyembunyikan diri. Maka Ji Bun lantas bersuara, "Te- gak Suseng mohon bertemu dengan tuan rumah." Beruntun dia berkaok tiga, kali, namun tiada reaksi apa-apa, keruan Ji Bun naik pitam, dengan amarah yang berkobar segera dia mendekati pintu.

"Berdiri!" sekonyong-konyong suara seorang perempuan berkumandang di belakangnya.

Bercekat hati Ji Bun, namun dengan tabah, pelan-pelan dia putar badan di mulut serambi sana dilihatnya berdiri seorang nyonya berpakaian serba hijau, kedua matanya menyala terang seperti mata harimau di malam, agaknya Lwekang dan kepandaian silatnya tidak rendah.

Saat lain, dilihat pula sesosok bayangan kecil seringan burung melayang turun dari atap rumah, kiranya seorang laki-laki berusia 10–an tahun.

"Bagaimana," tanya nyonya baju hijau.

Biji mata bocah itu berputar mengawasi Ji Bun sekejap. Sahutnya dengan suara nyaring: “Ada orang menguntit, tapi sekarang sudah pergi.”

"Baik, nyalakan lagi api di dalam kamar," perintah nyonya baju hijau.

Bocah itu segera berlari masuk ke dalam, segera sinar lampu menyala lagi di dalam dan kebetulan menyorot dimuka nyonya baju hijau ini, maka jelas kelihatan raut mukanya yang sudah agak berkeriput, agaknya usianya ada setengah abad, namun bekas-bekas kecantikannya masih kelihatan, sayang rona mukanya menampilkan mimik yang aneh.

"Siapakah yang mulai ini?" sapa Ji Bun lebih dulu.

Nyonya itu menuding ke dalam, katanya: "Mari bicara di dalam.” Lalu dia mendahului melangkah masuk.

Sekilas Ji Bun melenggong, tapi dia lantas ikut masuk.

Pajangan kamar ini cukup bagus namun sederhana, suasana terasa redup dan nyaman dibawah sinar lampu teplok, anak kecil tadi sudah tidak kelihatan bayangannya.

Nyonya baju hijau tidak bersuara, namun dengan nanar dia awasi muka Ji Bun, air mukanya berubah-ubah.”

Tak tahan Ji Bun buka suara pula: "Apakah engkau majikan gedung ini?''

"Bukan, aku terhitung tamu juga disini." "Tamu?" Ji Bun mengernyit kening. "Kau heran bukan?”

Memang Ji Bun heran dan tak mengerti, menurut cerita Thian- thay-mo-ki, katanya nyonya ini adalah isteri Biau-jiau Siansing atau gundiknya. Bocah tadi adalah putera tunggalnya, namun nyonya ini bilang dirinya hanya seorang tamu. Maka dengan dingin dia mengejek: "Tapi kutahu bahwa engkau adalah penghuni gedung ini?"

"Soal kecil ini tidak perlu diperdebatkan," ujar nyonya baju hijau lesu, "kau inikah Te-gak Suseng? Apa maksud kedatanganmu?"

“Sengaja mengunjungi Biau-jiu Siansing Locianpwe," sahut Ji Bun garang sedapat mungkin dia kendalikan rasa geramnya.

”Siapa katamu?" bentak nyonya baju hijau dengan air muka berubah.

"Biau-jiu Siansing!" Ji Bun mengulangi dengan tegas.

“Siapakah Biau-jiau Siansing? Darimana tahu kalau dia tinggal di gedung setan?"

"Tiada sesuatu rahasia mutlak di dunia ini." "Berapa rahasia yang sudah kau ketahui?" "Soal ini saja sudah cukup berlebihan."

"Kalau begitu biar kukasih tahu, disini tiada orang bernama Biau- jiu Siansing."

Cukup sepatah kata jawabanmu ini lantas hendak mengusirku pergi. Sebelum kutemukah dia, aku tidak akan meninggalkan gedung ini." "Berdasarkan apa kau yakin Biau-jiu Siansing berada di gedung ini?"

“Berdasarkan berita yang kuperoleh," ”Kabar dari mana?”

"Nyonya tidak perlu tahu."

“Aku. Tidak tahu apa itu Biau-jiau Siansing segala."

Ji Bun menarik muka, dia sudah berkeputusan, meski harus menggunakan cara keji apapun juga akan mengobrak-abrik gedung ini dan mengorek usal-usul Biau-jiu Siansing yang sesungguhnya, maka dengan geram dia berkata dingin: "Hu-jin (nyonya) tidak akan memaksaku untuk bertindak, bukan?"

"Kau mengancamku?”

"Bukan mengancam demi mencapai keinginan yang kuharapkan, aku tidak segan bertindak dengan cara apapun."

"Kau berani bertingkah di sini?"

"Kalau tidak berani tidak akan kemari." "Dengan cara apa kau hendak bekerja?”

"Sulit dikatakan. Biau-jiu Siansinglah yang mengajarkan padaku, bukan saja dia licin dan licik malah rendah dan hina ” "Kentutmu! Omong kosong!"

"Jadi Hujin mengakui akan kenyataan ini? Kalau Hujin tidak kenal dia, buat apa kau membela dia?"

Mencorong sinar mata nyonya baju hijau, bentaknya bengis: "Biau-jiu Siansing adalah tokoh aneh di kalangan Kang-ouw, mengandalkan apa kau berani memaki dan menghinanya?"

Ji Bun mendengus berat, jengeknya: "Tokoh aneh apa?

Memangnya dia setimpal?" "Kenapa tidak setimpal"

"Main curi, rebut, menipu, memeras dan segala tipu kotor, setimpalkah orang yang melakukan perbuatan serendah itu dimanakah tokoh aneh?"

Dengan mengertak gigi nyonya baju hijau menatap Ji Bun sekian lama, mendadak dia berkata, "Kau bernama Ji Bun bukan?”

Hati Ji Bun betul-betul tergoncang hebat, nama aslinya selamanya belum pernah bocor di kalangan Kang-ouw, kecuali Ciang Wi-bin dan puterinya tiada orang lain yang tahu. Namun nyonya ini dapat menyebut namanya dengan tepat, sungguh mengejutkan dan mengerikan, dengan gemetar dia berkata: “Dari mana Hujin tahu aku bernama Ji Bun?" Dingin sekali sikap nyonya baju hijau, katanya: “Malah aku juga tahu kau ini adalah putranya Ji Ing-hong.”

Serasa meledak Ji Bun, darah seketika tersirap ke atas kepala, beruntun dia menyurut tiga tindak, hampir saja meja kursi diterjangnya roboh, mata terbeliak mulut melongo, lama sekali dia mengawasi nyonya itu tanpa bersuara.

Dengan haru dan penuh emosi nyonya baju hijau berkata pula: "Kau tahu siapa aku?"

Tergagap-gagap Ji Bun berkata: "Hujin siapa?"

“Kau pernah dengar nama gelaran Khong-kok-lan So Yan?" “Be belum pernah.”

Terpencar sorot kebencian yang menyala dari kedua biji mata nyonya baju hijau, giginya berkerutukan menahan gejolak hati, lama kemudian baru dia berkata: "Kalau Lan Giok-tin?”

Bergetar sekujur badan Ji Bun, serunya: "Itulah ibundaku." "Dia yang melahirkan kau?"

"Ya....dari mana Hujin tahu. "

"Dia masih hidup?" pertanyaan mendadak ini teramat menusuk, namun Ji Bun sudah terkekang oleh suasana yang mengejutkan ini, tanpa ragu dia menjawab: "Mati hidup ibu sampai sekarang belum kuketahui."

"Hm, memang dia bakal mengalami hari naas." "Hujin apa maksudmu?"

"Ketahuilah, Ji Bun, aku inilah isteri Ji lng-hong yang resmi, Khong-kok-lan So Yan."

Seperti ditusuk sembilu sekujur badan Ji Bun, seketika menjadi linu dan pati rasa, penasaranpun terasa sesak hampir berhenti, sungguh kejadian yang tak pernah dia bayangkan meski di dalam mimpi, bahwa nyonya baju hijau ini ternyata adalah isteri tua dari ayahnya. Tak heran dia bisa menyebut namanya yang merupakan rahasia bagi orang lain. Bagaimana mungkin dia bisa berada di gedung setan ini? Siapa pula bocah itu? Apakah adiknya dari tunggal bapak lain ibu? Ji Bun jadi ragu-ragu, apakah gedung ini betul adalah tempat sembunyi Biau-jiu Siansing?

Selama hidup Ji Bun belum pernah, bertemu atau melihat nyonya ini, dia hanya tahu bahwa ibunya isteri kedua, dulu pernah dia tanya tentang nyonya besar ini kepada ibunya, katanya sudah lama meninggal apakah dia ini setan gentayangan? Teringat akan setan, sementara dirinya berada di dalam gedung setan pula, seketika dia merinding dan gemerobyos keringat dinginnya.

Berkata pula Khong-kok-lan So Yan: "Sayang sejauh ini aku belum berhasil membunuh Ji Ing-hong dengan kedua tanganku sendiri." Bergidik pula Ji Bun dibuatnya mendengar kata-kata ini, entah ada permusuhan apa pula antara ayah dan nyonya besar ini? "Taybo

.........”

“Jangan panggil aku Taybo (ibu tua), aku sudah putus hubungan dengan Ji Ing-hong. Aku she So, terserah kau ingin panggil apa padaku."

Apakah wanita setengah baya ini benar ibu tiri Ji Bun? Dan siapa pula anak laki-laki itu?

Dapatkah Ji Bun mengorek rahasia mengenai Biau-jiu Siansing?

10.28. Wi-to-hwe Terima Syarat Barter

Ji Bun menelan air liur seka!i, timbul perasaan dingin dari relung hatinya, katanya kemudian: "Apakah ada kesalahan paham?"

"Salah paham apa? Hm, yang jelas dendam berdarah!" "Dendam berdarah?" teriak Ji Bun sembari mundur selangkah

pula, poci dan cangkir teh di atas meja sama menggelinding jatuh keterjang pantat Ji Bun. Sungguh peristiwa yang sukar diterima oleh akal sehat bahwa di antara suami isteri bisa terjadi dendam berdarah? Serta merta dia teringat kepada Siangkoan Hong, dia pernah bilang punya dendam kesumat terhadap Ji Ing-hong yang merebut isteri dan membunuh anaknya, mungkinkah dia tak

tertahan ia berteriak tanpa sadar: "Taybo kenal " "Aku bukan Taybo," bentak Khong-kok-lan bengis.

Ji Bun angkat pundak, sesaat dia kememek, apa boleh buat dia mengubah panggilan: "Apakah So-cianpwe kenal Siangkoan Hong?"

"Siangkoan Hong? Belum pernah dengar."

Ji Bun melengak, agaknya dugaannya meleset, segera dia bertanya pula: "Bolehkah jelaskan duduk persoalan yang sebenarnya?"

"Kau boleh tanya kepada bapakmu." "Dia ..... beliau sudah meninggal."

"Apa? Ji ing-hong sudah mampus?"

"Ya”, sahut Ji Bun, "terbunuh oleh musuh yang tidak dikenal." Gemetar keras sekali sekujur badan Khong-kok-lan So Yan,

tanyanya: "Kapan kejadiannya?" "Sepuluh hari yang lalu."

"Bagus sekali, memang setimpal dia mampus. "

Mendelik Ji Bun, mengingat orang adalah isteri tua ayahnya, mulutnya tetap terkancing saja, betapapun dirinya adalah anak muda yang harus tetap hormat terhadap orang tua, bukan mustahil di balik peristiwa ini ada rangkaian cerita yang menakutkan? Dari mana mungkin antara suami isteri bisa terjalin dendam berdarah? Sayang sekali sejak kecil dirinya hidup secara terisolir, mengenai seluk beluk keluarga sendiripun tidak jelas. Setelah dewasa dia diperintahkan berkelana dan langsung menuju Kayhong untuk melamar puteri keluarga Ciang. Celakanya keluarga serta seluruh penghuni Jit-sing-po tahu-tahu telah hancur lebur, semuanya gugur melawan para penyerbu sehingga segala sesuatu semakin kabur.

Pada saat itulah, bocah tadi tiba-tiba muncul lagi, dia masuk dari luar kamar, mimik wajah Khong-kok-lan So Yan yang menakutkan dirangsang oleh emosinya tadi segera lenyap begitu bocah ini muncul, tanyanya dengan ramah dan lembut: “Siau-po, kau harus berjaga di luar sana."

“Bayangan tadi muncul kembali. Kalau tidak salah menguntit dia," sahut bocah itu sambil menuding Ji Bun.

Tergerak hati Ji Bun, siapakah yang menguntit dirinya? Mungkin Kwe-lo-jin? Kalau demikian mungkin pemilik gedung ini memang bukan Biau-jiu Siansing, tapi .......

"Siau-po, kau jaga di luar saja."

"Untuk apa dia kemari?" tanya anak itu. "Nanti kuberi tahu padamu."

Bocah yang bernama Siau-po memang penurut, segera ia berlari keluar, bayangannya lenyap ditelan kegelapan, usianya masih begitu kecil, namun gerak-geriknya amat cekatan, tak tertahan Ji Bun bertanya: "Siapakah dia?"

"Kau tidak perlu tahu," sahut Khong-kok-lan So Yan, "kau masih ada urusan?"

Ji Bun ingin tanya liku-liku persoalan ini supaya jelas, namun dia juga tahu pertanyaan akan sia-sia. Nyonya ini jelas tak mau menjelaskan, yang terang ayahnya sudah meninggal, peduli bagaimana duduk persoalan sebenarnya, anggap berakhirlah segala dendam kesumat, kelak kalau ibunya berhasil ditemukan dapat tanya kepada beliau saja, namun bayangan Biau-jiau Siansing masih melekat dalam benaknya.

"Kau boleh pergi," kata Khong-kok-lan So Yan sambil angkat sebelah tangannya.

Ji Bun mengeraskan kepala, katanya: "Mengenai Biau-jiu Siansing

.......”

"Di sini tiada Biau-jiu Siansing. Ji Bun, kuberitahukan padamu, kalau bukan lantaran sesuatu hal, jiwamu sudah melayang sejak tadi, lekaslah kau pergi sebelum aku mengubah sikapku, kalau tidak

.......”

"Bagaimana?" "Kubunuh kau!" Ji Bun tak kuasa menahan sabar, jengeknya: "Kuhormati kau sebagai Taybo. Tapi bukan soal gampang untuk membunuhku."

"Hm, majulah selangkah dan berpalinglah ke belakang, lihat apa itu?"

Setengah percaya Ji Bun maju selangkah terus berpaling. "Crat," sebatang lembing yang runcing mengkilap tiba-tiba menjulur keluar dari dalam dinding, tepat mengincar punggung di mana tadi dia berdiri, karuan dia berteriak kaget sambil melompat menyingkir, keringat dingin membasahi jidatnya. Serangan gelap macam ini, betapapun sulit dihindarkan, susul menyusul terdengar pula suara "ser, ser", pu!uhan batang anak panah berseliweran di depan dan kanan kiri, semuanya menancap di dinding.

"Bagaimana?" tanya si nyonya.

Ji Bun mengertak gigi, tanpa bersuara lagi segera dia enjot kaki melesat keluar gedung setan, waktu itu sudah mendekati kentongan keempat, sekaligus dia berlari menuju ke hotel tempat menginap.

Tanpa mengeluarkan suara langsung dia masuk ke kamar dan rebah di atas ranjang dan merenungkan pengalaman tadi.

Pengalaman selama dua jam ini sungguh aneh bin ajaib, dia tak habis mengerti dan tidak mampu memecahkan persoalan ini. Baru sekarang dia merasakan urusan keluarganya benar-benar serba rumit, namun keluarga sudah berantakan, orang-orang yang berkepentinganpun sudah wafat, apa pula yang harus dirisaukan? Kecuali menuntut balas, tiada tugas apapun yang setimpal untuk dipikirkan. Peduli bagaimana martabat ayahnya di masa hidup, sebagai seorang anak yang harus bakti terhadap orang tua, betapapun dia harus bekerja sekuat tenaga, soal tetek bengek tidak usah ambil pusing.

Kini yang dia pikirkan adalah permintaan Kwe-loh-jin melalui secarik kertasnya itu. Kalau Kwe-loh-jin benar adalah duplikat Biau- jiu Siansing, kesempatan masih ada untuk berhadapan dengan dia. Agaknya dia harus bekerja secara bertahap, terlebih dulu harus membereskan persoalan yang menakutkan ini. Jika dia harus beraksi menuntut balas, terang dirinya tak bisa minta kepada Wi-to-hwe untuk mengeluarkan Hud-sim dan barter dengan Pui Ci-hwi, dengan sendirinya pula rahasia pribadi Biau-jiu Siansing juga sukar untuk dibongkar.

Biau-jiu Siansing bilang supaya Wi-to-hwe menyerahkan Hud-sim kepada dirinya. Kapan dan di mana akan dilakukan pertukaran akan diberitahu lebih lanjut, agaknya orang juga jeri menghadapi jago- jago Wi-to-hwe. Hal inipun menandakan kecerdikan dan kelicikannya.

Pihak Wi-to-hwe mau menerima syarat barter ini? Apa betul Hud- sim terjatuh ke pihak Wi-to-hwe? Diam-diam Ji Bun bersyukur bahwa dia tidak katakan asal usul dirinya kepada Pui Ci-hwi, kalau tidak situasi pasti sudah jauh berubah. Kalau asal dirinya diketahui pihak musuh, terang Wi-to-hwe akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghadapi dirinya.

Setengah malam dia bekerja berat, namun dia lupa lelah dan tidak kantuk, semua persoalan yang serba rumit ini satu persatu berganti berkelebat dalam benaknya. Hotel-hotel di kota kecil seperti ini kebanyakan dihuni oleh kaum pedagang yang menempuh perjalanan jauh, begitu ayam jago berkokok, suasana hotel kecil itu sudah menjadi ramai dan ribut.

Karena tidak bisa tidur, Ji Bun sekalian bangun dan cuci muka.

Setelah tangsel perut ala kadarnya, belum lagi hari terang tanah, dia segera melanjutkan perjalanan menuju ke Tong-pek-san, untuk tiga kali dia naik ke gunung ini.

Lekas sekali hari sudah terang tanah, sang surya memancarkan sinarnya yang cemerlang di ufuk timur. Tengah dia mengayun langkah, tiba-tiba sebuah tandu berhias dipikul empat orang mendatangi. Waktu Ji Bun angkat kepala, hatinya bersorak girang, kiranya yang mendatang adalah tandu berhias dengan orang dalam tandu yang misterius itu, dengan kedudukan dan jabatan orang dalam tandu di Wi-to-hwe, soal Hud-sim, tentunya dapat diajukan kepadanya, kan dapat mengurangi tenaga supaya tidak usah jauh- jauh pergi ke markas besarnya.

Sementara itu, tandu itupun sudah berhenti tak jauh di depannya, Ji Bun angkat kedua tangan memberi hormat, sapanya: "Selamat bertemu yang mulia!"

"Saudara kecil hendak ke mana?" tanya orang dalam tandu. "Aku hendak naik gunung mengunjungi Hwecu."

"Ada urusan?" "Ada urusan penting perlu segera kubicarakan berhadapan dengan Hwecu sendiri."

"O, sayang Hwecu kebetulan sedang turun gunung untuk suatu keperluan, ada urusan apa boleh kau katakan padaku, mungkin aku bisa memberi keputusan."

Ji Bun keluarkan surat tulisan Kwe-loh-jin, katanya. "Silakan baca surat ini."

Salah seorang laki-laki baju hitam yang memikul tandu segera menerima surat itu dan diangsurkan ke dalam tandu. Ji Bun diam dan menunggu reaksi dengan tenang-tenang.

Tak lama kemudian, orang dalam tandu menggeram gusar, katanya kemudian dengan nada yang menggiriskan: "Saudara kecil, apakah yang telah terjadi?"

"Seperti apa yang dikatakan dalam surat itu, nona Pui sudah diculik oleh orang itu."

"Berani dia mengajukan syarat seperti ini? Siapakah Kwe-loh-jin itu?"

"Entah, akupun tidak kenal dia." "Lalu kenapa kau jadi penengahnya?”

"Ya, karena anting-anting pualam milikku terjatuh di tangannya, untuk mengembalikan anting-anting itu, dia mengajukan syarat ini." "Kepandaianmu sudah begini tinggi, masakah kau juga mau ditekan dan diperas?"

"Banyak kejadian dalam dunia ini sukar dipertimbangkan dengan akal sehat."

"Keparat tolong saudara cilik sampaikan kepada Kwe-loh-jin,

suruh dia berhadapan langsung dengan aku ”

"Hal itu tak mungkin dilaksanakan, hakikatnya aku tidak bisa menemukan jejaknya."

"Kukira tidak mungkin."

Ji Bun naik pitam, katanya aseran: "Kau kira Cayhe sekomplotan dengan Kwe-loh-jin?"

Sesaat orang dalam tandu berpikir, katanya kemudian: "Bukan aku banyak curiga, rasanya siapapun pasti akan berpikir demikian."

"Kalau begitu anggaplah Cayhe salah alamat, selamat berpisah." "Tunggu sebentar, saudara cilik."

"Masih ada omongan apa lagi?"

"Tahukah kau apa sebenarnya Hud-sim itu?" "Cayhe tidak tahu, juga tidak ingin tahu." ucapannya ini terlalu angkuh tak ubahnya seorang jago silat tulen.

"Menurut pendapatanmu, orang dari golongan manakah Kwe-loh- jin ini?"

"Ini dugaan memang ada, namun bagaimana kenyataannya

sulit dikatakan, terus terang Cayhe tidak berani sembarangan omong."

Uutuk sekian lamanya keduanya diam saja. Akhirnya orang dalam tandu bersuara dengan nada berat: "Saudara cilik, biarlah aku yang tanggung untuk menerima syarat yang diajukan Kwe-loh-jin ini, tapi

.....”

Tak terduga oleh Ji Bun bahwa orang dalam tandu bakal menerima syarat yang diajukan Kwe-loh-jin, tanyanya: "Tapi apa?"

"Aku menguatirkan keselamatan Pui Ci-hwi ” Yang dimaksud

dengan keselamatan sudah tentu bukan hanya mati-hidup jiwanya. maklumlah Pui Ci-hwi gadis jelita yang masih perawan. Kalau sampai terjatuh ke tangan manusia rendah dan cabul, banyak hal yang harus dikuatirkan. Sudah tentu Ji Bun maklum akan maksud ini, katanya dengan menegak alis: "Malingpun mempunyai aturannya sendiri, kukira hal-hal yang tidak penting itu tidak perlu dipikirkan dan dikuatirkan."

"Kau tidak berani menanggung?"

"Maaf, hal ini aku tidak berani tanggung." "Bukan aku minta pertanggunganmu, tapi aku tetap berkuatir, maka kuharap dikala kau menukar orang, kau harus perhatikan kekuatiranku ini."

"Baiklah. Cayhe akan bekerja melihat gelagat." "Saudara cilik, sekali lagi kupesan wanti-wanti." "Cayhe akan bekerja sekuat tenaga."

Di mulut dia berkata demikian, namun timbul suatu perasaan aneh dalam relung hatinya, dia merasa kelakuannya kali ini amat lucu dan menggelikan, malah sukar dimengerti, secara beruntun dia bekerja untuk kepentingan pihak musuhnya, namun aksi menuntut balas yang sudah dirancangnya sekian lama belum dilaksanakan, selalu terhalang oleh macam-macam perubahan yang dihadapinya, kalau dipikir dia tertawa sendiri.

"Saudara cilik hendak menunggu di mana?"

"Kutunggu di hotel Im-ping-can di kota kecil Ngo-li-cip di selatan kota Cinyang."

"Baiklah, dalam tiga hari, aku pasti antar barang itu ke sana." "Cayhe akan menunggu dengan sabar." Tandu berhias itu segera putar balik ke arah datangnya tadi, agaknya kepandaian silat keempat laki-laki pemikul tandu amat tinggi, langkah mereka ringan dan cepat bagai terbang.

Tiga hari cukup lama bagi Ji Bun untuk menunggu di sebuah hotel di kota sepi ini. Menurut perhitungannya, paling cepat hari ke tiga baru barang itu akan diantar kemari, ia menjadi iseng tanpa kerjaan. Hari itu tanpa tujuan dia jalan-jalan memasuki sebuah jalanan. Dalam hati dia berpikir, setelah selesai barter dengan Kwe- loh-jin, langkah pertama yang dia lakukan yaitu membongkar kedok orang, lalu melalui Pui Ci-hwi satu persatu dia akan mulai aksinya menuntut balas kepada para musuhnya. Dalam suasana tenang dan pikiran jernih ini, kembali dia merangkai langkah-langkah yang lebih sempurna untuk menunaikan tugas berat ini.

Kenapa Taybo Khong-kok-lan So Yan kedapatan berdiam di gedung setan dalam kota Cinyang? Dendam berdarah apakah yang terjadi antara dia dengan ayah? Siapa pula bocah yang bernama Siau-po itu? Dengan tegas So Yan menyangkal bahwa dirinya ada sangkut paut dengan Biau-jiu Siansing, apakah ini dapat dipercaya?"

Betulkah Kwe-loh-jin merupakan salah satu duplikat Biau-jiu Siansing? Siapakah orang berkedok yang gugur bersama ayahnya? Apakah Siangkoan Hong pembunuhnya? Dikala mendengar jejak ibunya belum diketahui parannya, Taybo bilang pasti akan datang saat naasnya, apakah maksudnya? Semakin dipikir Ji Bun merasa persoalan ini semakin simpang siur dan ruwet.

Sang surya sudah tinggi, alam semesta terang benderang, namun hatinya seperti diliputi mega mendung, risau dan gundah. Tiba-tiba bayangan semampai seorang berlari mendatangi dan langsung menubruk ke arahnya. Sekali mengegos Ji Bun menghindar, dilihatnya seorang nona belia berusia tujuan belas dengan rambut semerawut, pakaian kumal dan sorot mata guram, namun berwajah molek.

Begitu tubrukan luput gadis itu lantas putar badan, katanya sambil tertawa cekikikan, "Liok-koko, aku tahu kau pasti akan kembali." Lalu kedua tangan terpentang terus menubruk maju pula hendak mendekap.

Ji Bun terperanjat, lekas ia mengegos ke samping pula, rupanya gadis ini orang sinting, demikian pikirannya.

Karena dua kali luput menubruk, gadis itu menegakkan alis, mulut cemberut, katanya sedih: "Liok-koko, kau sudah tidak mencintaiku lagi?"

"Aku bukan she Liok," kata Ji Bun.

"Ha ha ha ha, Liok-koko, walau menjadi abu juga tetap kukenal kau, jangan kau menyiksaku lagi."

"Siapakah Liok-kokomu itu?" tanya Ji Bun.

Berubah air muka gadis sinting, teriaknya mendelik liar: "Liok Kin, seluruh milikku sudah kuberikan padamu, kau justeru membuangku begini saja, kau kau sungguh kejam!" Baru sekarang Ji Bun mengerti, kiranya gadis sinting ini mengira dirinya sebagai Liok Kin, itu majikan muda Cip-po-hwe yang bergajul. Agaknya gadis ini dirayu oleh Liok Kin, setelah dipermainkan dan dinodai kesuciannya terus ditinggal pergi begitu saja. Saking marah, penasaran dan malu, sehingga gadis ini kurang waras pikirannya.

Tempo hari Jay-ih-lo-sat hendak merobek tubuh Liok Kin, namun gadis baju merah malah memohonkan ampun baginya. Waktu itu Liok Kin pernah bersumpah sambil menuding langit dan bumi, bahwa selama hidupnya hanya mencintai Pui Ci-hwi saja, Sampai sekarang Pui Ci-wi masih dikelabui dan belum sadar bahwa dirinya hanya dipermainkan belaka, nasibnya tidak lebih baik daripada gadis sinting ini, mereka adalah korban permainan Liok Kin. Sungguh tak nyana pemuda keparat ini ternyata seorang bergajul, pemuda cabul yang suka mempermainkan anak perawan.

Gadis sinting itu tiba-tiba menutup muka sambil menangis sesenggukan, katanya: "Liok-koko, bukankah kau pernah bersumpah, seumpama laut kering dan batu membusuk, tapi cintamu takkan berubah? Kau kini kau tidak menghiraukan diriku

lagi?" Agaknya dia tetap anggap Ji Bun sebagai Liok Kin.

Seperti diketahui Ji Bun pernah jatuh hati terhadap Pui Ci-hwi. Namun setelah cintanya bertepuk sebelah tangan, setelah tahu Pui Ci-wi sehaluan dengan para musulmya, cinta itu sudah pudar.

Namun biasanya orang paling sukar melupakan cinta yang pertama, lahirnya memang sudah buyar, namun suatu ketika kalau ada sentuhan dari luar, rasa cintanya itu akan berkobar pula.

Demikianlah keadaan Ji Bun sekarang, namun dari cinta sekarang dia menjadi dendam, dan dendam ini dia limpahkan kepada Liok Kin yang tidak bertanggung jawab, tanpa sadar tiba-tiba dia menggeram: "Liok Kin, kalau tidak membunuhmu, aku bersumpah bukan manusia."

Gadis sinting itu tertegun dan menghentikan tangisnya, dengan kaku dan linglung dia awasi Ji Bun, katanya: "Liok-koko apa katamu?”

Ji Bun jadi dongkol dan gemes, serunya: "Aku bukan Liok- kokomu.”

Sorot mata hambar gadis sinting itu terbeliak buas, air mukanyapun beringas, selangkah demi selangkah ia menghampiri Ji Bun.

Keruan Ji Bun gugup dan keripuhan, orang yang sudah kehilangan pikiran waras, hakikatnya tidak bisa diurus lagi, namun dia tidak mungkin turun tangan kepadanya, apalagi nasibnya harus dikasihani. Kalau tinggal pergi begini saja, betapapun hatinya tidak tega. terpaksa ia bersabar, dalam keadaan apa boleh buat, terpaksa ia mengada-ada: “Nona hendak mencari Liok Kin bukan?”

Gadis sinting lantas menghentikan langkahnya, katanya dengan memiringkan kepala: "Apakah kau ini bukan Liok-koko?"

"Bukan, tapi aku bisa bantu kau mencarinya. Aku tidak menipumu, siapakah namamu?"

"Aku .... aku Liok-koko kan sudah tahu." "Tapi aku tidak tahu?"

"Aku bernama Dian Yong-yong Yong-yong, dia memanggilku

Yong-moay."

"Nona Dian tinggal di rumah mana?"

"Rumah? Rumah? Aku sudah tidak punya rumah lagi, aku hendak pergi ke rumah Liok-koko saja."

Ji Bun tertawa getir, katanya: "Nona Dian, kau harus pulang, nanti ku suruh Liok Kin menjemputmu di rumah."

"Aku dimanakah rumahku?"

Pada saat itulah terdengar suara kelintingan berkumandang dari ujung jalan sana, seorang laki-laki berjubah kasar dengan jenggot kambing, punggungnya menggendong peti obat sedang mendatangi sambil menggoyang-goyang kelintingan ditangannya. Kiranya seorang tabib kelilingan.

Mendengar suara kelinting segera Ji Bun berpaling, air mukanya seketika membesi kaku, sorot matanyapun penuh nafsu membunuh. Yang datang ini memang bukan lain adalah salah satu duplikat Biau- jiu Siansing, tempo hari telah menyamar jadi tabib kelilingan dan mengaku bergelar Thian-gan-sin-jiu. Dengan terkekeh dingin Ji Bun menyapa: "Biau-jiu Siansing, selamat bertemu." Tanpa hiraukan seruan Ji Bun, tabib keliling itu terus mendekati Ji Bun seperti tidak ada persoalan apa-apa. Sorot matanya mengawasi si gadis sinting, tiba-tiba ia berkata: "Hah, sakit ingatan, untung bertemu dengan Lohu."

Ji Bun melenggong, batinnya: mungkin dia mampu mengobati sakit gila? Tapi mengingat siapa dia sebenarnya, kesan ini seketika lenyap, jengeknya dingin: "Kau tidak usah pura-pura, bukankah kau mencariku?"

"Memang betul, aku mencarimu," ujar Biau-jiu Siansing terus terang.

"Bagus sekali, akupun sedang mencari kau."

"Persoalan kita sementara ditunda dulu, Lohu harus mengobati gadis yang sakit ingatan ini?"

"Apa betul kau mampu mengobati penyakit gila?"

"Omong kosong! Di seluruh pelosok kota Cinyang, tua-muda, besar kecil, siapa yang tidak kenal nama Thian-gan-sin jiu?"

"Kuperingatkan jangan kau main-main terhadapku ”

"Kalau hanya main-main buat apa aku harus mencarimu?" "Jadi kau punya tujuan mencariku?" Biau-jiu Siansing turunkan peti obatnya, katanya menggumam: "Kasihan, gadis ayu dan segar bugar berubah begini rupa."

Tak sadar Ji Bun menanggapi: "Dia dipermainkan oleh Liok Kin, majikan muda Cip-po-hwe, sayang dia tidak bisa mengatakan di mana tempat tinggalnya."

"Lohu tahu, rumahnya ada di pusat kota Cinyang, Dian Pek-ban yang terkenal adalah ayahnya."

"Dari kalangan Bu-lim juga?"

"Bukan, keluarga biasa yang mengukuhi adat leluhurnya, sebutir Ya-bing-cu (mutiara yang bersinar ditempat gelap) warisan leluhur keluarga Dian telah lenyap tercuri orang, ternyata perbuatan Cip-po- hwe."

10.29. Salah Duga Terhadap Biau-jiu Siansing

Waktu rebutan Sek-hud di puncak Pek-ciok-hong dulu, Biau-jiu Siansing pernah menggunakan tingkat kedudukannya yang lebih tinggi dikalangan Kangouw untuk merebut Sek-hud dari tangan Cip- po-hwe yang terhitung bawahannya, hakikatnya mereka segolongan. Tanpa sadar Ji Bun menyeringai ejek, katanya: "Mencuri mestika dan merusak paras ayu, dosa yang tidak terampunkan, bagaimana pendapatmu akan perbuatan rendah dari golonganmu?"

Mendelik mata Biau-jiu Siansing, katanya kereng: "Keluarga punya aturan, negara ada undang-undang, peristiwa ini merupakan pelanggaran di dunia Kang-ouw, Lohu pasti akan bertindak menurut aturan."

"Cayhe bersumpah pasti akan membunuh pemuda bergajul itu," kata Ji Bun dingin.

Biau-jiu Siansing tidak bicara lagi, beruntun dia menutuk beberapa Hiat-to di tubuh Dian Yong-yong, seketika Dian Yong-yong terkulai lemas,. Lalu ia membuka peti obat dan mengeluarkan beberapa macam obat, jumlahnya sekitar 10-an butir terus dijejalkan ke mulut Dian Yong-yong, lalu berkata: ”Sakit ingatan tidak akan bisa diobati dengan obat saja, dia harus dibantu dengan pengobatan tusuk jarum, disini tidak leluasa, dia harus diantar pulang dulu baru aku bisa bekerja ”

"Apa, kau hendak meloloskan diri?" sela Ji Bun.

Pelan-pelan dan rapi sekali Biau-jiu Siansing memasukkan botol- botol obat ke dalam petinya pula, sesaat kemudian baru dia berdiri, katanya: "Menolong orang seperti menolong kebakaran, terpaksa kau harus ikut susah payah."

"Tidak bisa."

"Tidak bisa? Apa maksudmu?"

"Perhitungan kita sekarang harus dibereskan."

"Lho aneh, ada perhitungan apa di antara kita yang harus dibereskan?" "Aku tidak punya tempo ngobrol dengan kau, barang yang kau kehendaki, dalam tiga hari pasti diantar ”

Bingung, kaget dan heran sorot mata Biau-jiu Siansing, tanyanya menegas: "Lohu menghendaki barang apa."

"Hud-sim!" bentak Ji Bun gemas. "Hud-sim apa?"

Ji Bun acungkan telapak tangannya sambil mengancam: "Setelah kubelah batok kepalamu, kau pasti tahu."

Lekas Biau jiu Siansing goyang tangan, katanya: “Jangan terburu nafsu, bicaralah dulu persoalannya, tadi kau bilang apa? Hud-sim?"

Sikap dan tingkah orang betul-betul membuat Ji Bun kewalahan, ternyata orang begini licik dan licin serta pandai main sandiwara pula, syarat yang dulu diajukan orang dan menghendaki barang pusaka itu, tidak mungkin dia mungkir begini saja. Sekilas ia berpikir, lalu katanya dengan suara berat: "Tanggalkan ikat kepalamu. Aku ingin membuktikan asal-usulmu yang sebenarnya."

"Asal-usulku kan tidak diukir di atas kepala?" "Lebih baik lekas kau lakukan permintaanku."

Biau-jiu Siansing bergelak-gelak, pelan-pelan dia menarik ikat kepalanya dan seketika Ji Bun berdiri melongo. Ji Bun yakin bahwa orang-orang yang menyaru orang berkebok berjubah sutera, laki-laki muka hitam komandan ronda Wi-to-hwe serta Kwe-loh-jin adalah duplikat Biau-jiu Siansing, akan tetapi kenyataan sekarang membuktikan di atas jidat kanan orang ini ternyata tidak ada codet atau bekas luka apapun.

"Apa maksudmu memaksaku menanggalkan ikat kepala?" jengek Biau-jiu Siansing.

Ji Bun menyengir kikuk, katanya: "Sekarang Cayhe baru membuktikan bahwa engkau memang bukan orang yang kusangka."

"Memangnya kau kira siapa aku ini?" "Hal ini tidak perlu kukatakan."

"Orang yaog kau bayangkan tadi apa ada sangkut pautnya dengan Hud-sim?"

"Ya, tapi kau tidak perlu tahu."

"Anak keparat, kau terlalu angkuh, katakan, mungkin aku bisa memberi sedikit keterangan."

Ji Bun perpikir sebentar, katanya: "Menurut apa yang kau tahu, kecuali kau sendiri, siapa lagi yang pandai menyaru dan pintar merias?" Biau jiu Siansing menepekur sebentar, katanya: "Sukar dikatakan, kukira cukup banyak orang, soalnya cuma pandai dan ahli atau tidak."

"Menurut pendapatmu tokoh-tokoh mana saja yang termasuk ahli dalam bidang ini?"

"Ehm Jian-bin-khek (tamu seribu muka), tapi orang ini sudah

puluhan tahun tidak muncul di Kangouw. Yu-ing-long-kun (Satria bayangan) sudah lama meninggal dunia, Pek-pian-kwi-li (setan perempuan seratus perubahan), kabarnya kini sudah jadi biarawati."

"Kecuali itu?"

"KuKira tiada lagi yang dapat dikatakan ahli."

Ji Bun berpikir: Pek-pian-kwi-li adalah perempuan, tidak perlu dipikir, sudah meninggal, tinggal Jian-bin-kek saja, walau sudah puluhan tahun tidak pernah muncul, siapa tahu kalau belakangan ini dia mulai beraksi lagi? Kecuali ketiga orang ini, bukan mustahil anak murid mereka pasti ada yang berkelana di Kangouw, namun soalnya tetap tidak terpecahkan, yaitu, kenapa dirinya yang menjadi incaran pembunuhan ini?

Biau-jiu Siansing berkata sambil mengawasi Yong-yong yang menggeletak di tanah: "Lebih penting kutolong dia, Lohu boleh pergi bukan?"

"Nanti dulu." "Masih ada persoalan apa?"

Maksud Ji Bun ingin tanya apakah dia majikan dari gedung setan, namun mengingat ada Khong-kok-lan So Yan disana, sedang ibu tuanya menyangkal adanya Biau-jiu Siansing di sana, kalau soal ini sekarang dia tanyakan berarti membocorkan rahasia ibu tuanya itu. Mungkin dulu Thian-thay-mo-ki salah dengar, atau salah duga, maka pertanyaan yang sudah hampir dia ajukan segera ditelan kembali, benaknya memikirkan soal lain yang lebih penting. Katanya: "Agaknya kau ini pelupa?"

"Pelupa? Apa maksudmu?"

"Kau pernah berjanji dalam jangka lima hari hendak mempertemukan aku dengan Jit-sing-ko-jin ”

"O, ini ”

Ji Bun manyeringai, jengeknya: "Kenapa kau membual belaka?" Biau-jiu Siansing menghela napas dengan suara berat, katanya:

"Untuk apakah kau sebenarnya ingin bertemu dengan Jit-sing-ko- jin?"

"Jawab saja pertanyaanku, soal lain tidak perlu dibicarakan." "Tapi Lohu ingin tahu duduk persoalannya?"

"Itu soal pribadiku, tidak perlu kau mengetahui." Biau-jiu Siansing menunduk sedih, katanya kemudian: "Jit-sing- ko-jin sudah mati."

"Apa katamu?" bentak Ji Bun mendelik gusar sambil mendesak maju selangkah. "Biau-jiu Siansing, ternyata kau begini rendah dan tidak tahu malu."

Sikap Biau-jiu Siansing tidak berubah, namun sorot matanya menjadi tajam dan gusar, desisnya geram: "Anak muda, jangan takabur, dalam hal apa Lohu rendah dan tidak tahu malu?"

"Ji-sing-ko-jin sekomplotan dengan kau, berulang kali kau menjilat ludahmu sendiri, kini membual lagi."

"Siapa bilang aku membual?"

"Katamu dia sudah mampus, mana mayatnya? Buktikan?" "Kau sendiri yang mengubur mayatnya."

"Aku?" seru Ji Bun berjingkrak kaget.

"Apakah kau sendiri tidak menemukan sesuatu di jalan raya Kayhong?"

"Soal apa yang kau maksud?" tanya Ji Bun gemetar. "Kau pernah mengubur dua mayat orang, benar tidak?" Bergetar tubuh Ji Bun, dari mana orang tahu dirinya pernah mengubur kedua mayat itu? Waktu itu hanya dua petani yang menyaksikan, belakangan mereka lari secara diam-diam, mungkinkah gerak gerik dirinya berada dalam genggamannya? Kalau demikian, rahasia pribadinya tentu juga sudah diketahuinya, sungguh menakutkan sekali.

"Darimana kau tahu aku mengubur dua mayat?"

"Kudengar dari petani, kuyakin pelajar yang dimaksudkan pasti kau adanya, apalagi waktu itu tepat pada hari yang kita janjikan."

"Memangnya kenapa kalau benar?"

"Salah satu dari kedua mayat itu adalah Jit-sing-ko-jin.”

Melotot besar biji mata Ji Bun, umpama Jit-sing-ko-jin menyaru ayahnya dan kepergok lalu keduanya bertempur sampai kehabisan tenaga, orang ketiga lantas mengambil keuntungan membunuh mereka. Akan tetapi orang berkedok yang dua kali mencelakai jiwanya dan jidatnya terluka oleh senjata rahasia Jit-swan-hwi-jim Thian-thay-mo-ki terang adalah duplikat Kwe-loh-jin yang misterius itu, memangnya ada liku-liku apa yang tersembunyi di balik rangkaian kejadian ini, Ji Bun tidak bisa memecahkan persoalan yang rumit ini. Semula dia kira bila berhadapan dengan Biau-jiu Siansing, maka segala soal akan terbongkar dengan sendirinya, tapi kenyataan sekarang jauh di luar perhitungannya.

Lalu siapakah pembunuh Jit-sing-ko-jin dan ayahnya? Siapa pula sebetulnya Jit-sing-ko-jin ini? Bahwa Biau-jiu Siansing sehaluan dengan Jit-sing-ko-jin sudah jelas, kemungkinan orang tahu seluk beluknya, maka ia lantas bertanya: "Kalau betul katamu, lalu siapakah mayat seorang yang lain?”

"Ini aku sendiri tidak tahu."

"Baik, sekarang jelaskan, Jit-sing-ko-jin berdandan sebagai pelajar, kenapa berubah pakai kedok dan jubah sutera?"

"Itu kan rahasia pribadinya."

"Tapi kau tahu rahasianya itu bukan?" "Tidak tahu."

"Baik, umpama betul kau tidak tahu, sekarang kau harus menjawab sebuah pertanyaan lagi, siapakah nama asli atau gelaran Jit-sing-ko-jin serta riwayat hidupnya?"

Biau-jiu Siansing menggeleng-geleng. "Tidak tahu," jawabnya. "Sekarang giliran aku bertanya apakah setiap orang yang selalu bergaul dengan kau pasti kau ketahui riwayat dan asal-usulnya?"

Cep-klakep, Ji Bun tidak mampu bersuara lagi. Semakin dipikir, otaknya terasa semakin tumpul, seolah-olah dia menghadapi lautan mega yang tebal dan pekat, tiada sesuatu yang dapat dilihat dan diraba, air mukanya berubah ganti berganti.

Ji Bun angkat tangan bergaya seperti merintangi, katanya: "Pokoknya sebelum memberi jawaban, kau tidak boleh pergi." "Anak muda, lain waktu kesempatan masih ada, biarlah aku menolong jiwa gadis ini."

"Tidak bisa, sekarang kau harus jawab pertanyaanku tadi." "Memangnya kau tega melihat gadis ini semakin parah?"

Ji Bun menjadi bimbang, matanya melirik ke arah Dian Yong- yong, katanya kemudian dengan mengertak gigi: "Baiklah, silakan, tapi ingat perhitungan kita belum beres."

"Anak muda, sebelum kau mencariku, mungkin aku akan mencarimu, terus terang, kalau selama ini aku selalu mengalah dan memberi kelonggaran padamu juga ada sebabnya."

"Sebab apa?"

"Karena Lohu sudah berjanji kepada seseorang untuk melindungimu."

"Melindungi aku? Siapa yang suruh kau?" bentak Ji Bun kaget. "Hartawan Kayhong, Ciang Wi-bin."

"Apa, kau mendapat pesan paman Ciang ” kejut Ji Bun bukan

kepalang, sekian lama dia berdiri tertegun.

"Kau tidak percaya?" tanya Biau-jiau Siansing melihat kesangsian orang. "Ya, sukar untuk dipercaya," sahut Ji Bun. "Kau bernama Ji Bun, putera tunggal Ji Ing-hong, benar tidak?"

Ji Bun tersentak mundur tiga langkah, matanya terbeliak, mulut melongo, ternyata orang sudah tahu asal-usul dirinya, agaknya memang tidak membual.
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).