Hati Budha Tangan Berbisa Jilid 09

 
Jilid 09

"Lalu bagaimana pendapat Taysu?" "Bubarkan saja perkumpulanmu."

"Tidak mungkin," sahut Wi-to-hwecu tegas.

Berkilat biji mata Thong-sian Hwesio, katanya dengan suara kereng, "Pinceng terpaksa harus melanggar pantangan."

Bu-cing-so, Siang-thian-ong dan Cui Bu-tok serempak melompat maju sambil menggerung gusar, suasana kembali memuncak tegang. Tandu berhias itupun segera melayang datang, kata orang di dalam tandu itu: "Taysu dari aliran dan perguruan mana?" "Pinceng tidak punya aliran, melainkan pendeta sebatang kara dari kelenteng bobrok belaka."

"Gerakan Taysu waktu menangkap Ngo-lui-cu tadi jelas adalah Sian-thian-chin-khi?"

Terunjuk rasa kaget dan heran pada muka Thong-sian Hwesio, katanya setelah melengak sejenak: "Luas juga pengetahuan Sicu, ya, memang betul Sian-thian-chin-khi."

Sian-thian-chin-khi merupakan ilmu Lwekang yang tiada taranya, sekuat besi seulet baja, kalau latihan sudah sempurna dapat digunakan sesuka hati, sedikit pikiran bergerak cukup untuk melukai lawan, bagi yang berkepandaian rendah tidak ambil peduli, namun bagi pendengaran Siang-thian-ong dan lain-lain, bukan kepalang kejut mereka.

"Jadi Taysu adalah murid keturunan Sin-ceng (paderi sakti)?" kata orang dalam tandu pula.

Thong-sian menarik muka dan merangkap tangan, katanya: "Betul, beliau adalah guruku almarhum. Pandangan Sicu begini luas, sungguh mengagumkan."

"Tapi Taysu menghendaki perkumpulan kami bubar apakah permintaan ini tidak keterlaluan?"

"Betapapun Pinceng tidak gampang mengubah keputusan." Wi-to-hwecu segera menyela bicara: "Kita yakin tak pernah melanggar Wi-to, Taysu begini memaksa, lebih baik kita gugur seluruhya."

Thong-sian menepekur sebentar, katanya kemudian: "Kalau Sicu mampu melawan tiga kali pukulanku, selanjutnya Pinceng tidak akan mencampuri lagi urusan Kang-ouw."

"Baik, kuterima tantangan ini," jawab Wi-to-hwecu nekat. "Jangan Hwecu," orang dalam tandu mencegah dengan suara

bimbang.

Persoalan sudah jelas, Thong-sian Hwesio telah berhasil meyakinkan Sian-thian-chin-khi, Lweekang yang tiada taranya, betapapun tinggi kepandaian seseorang takkan kuat menghadapi ujung jarinya, apalagi tiga kali pukulan. Tapi kaum persilatan memandang nama lebih berharga daripada jiwa raga, demi gengsi mereka rela berkorban, apalagi seorang pemimpin yang harus membubarkan perkumpulannya, sudah tentu dia lebih suka gugur dari pada hidup mendapat malu.

Si cebol bundar Siang-thian-ong segera menggelinding maju, serunya. " Biar Lohu dulu yang menghadapi tiga pukulanmu."

Wi-to-hwecu angkat tangan, serunya: "Ini urusanku sendiri, harap Hou-hoat mundur dan jangan banyak bicara lagi."

"Hwecu," seru orang dalam tandu, "sebagai kepala para Hou- hoat, biar aku yang menerima tantangan ini." Tidak, aku ini seorang pemimpin, akulah yang harus menghadapi ujian ini, kalau aku tidak beruntung, boleh Cong-hou-hoat segera bubarkan perkumpulan kita ini."

Sungguh jiwa ksatria yang tak gentar menghadapi elmaut. "Hwecu" seru orang dalam tandu, pertimbangkan kembali

putusanmu."

"Tiada yang perlu dipertimbangkan lagi, putusanku tak dapat diubah, beberapa persoalan kita yang belum sempat kubereskan harap kau sudi menyelesaikannya."

Lalu dia melangkah kehadapan Thong-sian, tantangnya dengan ketus: "Silakan mulai!"

Thong sian maju beberapa langkah, jarak mereka tinggal setombak lebih, keduanya berdiri tegak berhadapan. Suasana hening lelap, jarum jatuhpun bisa terdengar, hawa seperti membeku, ketegangan mencekam sanubari setiap hadirin.

Tapi begitu pandangan kedua orang saling bentrok, keduanya sama-sama melongo dan mematung.

Dengan suara haru gemetar, tiba-tiba Wi-to-hwecu bertanya: "Belum genap 20 tahun Taysu mencukur rambut bukan?"

Jelas Thong-sian sangat kaget, romannya berubah. "Betul" sahutnya. "Nama preman Taysu she Ciu?"

"Sicu, kau " Thong-sian mundur tiga langkah, kulit daging

mukanya gemetar, agaknya pertanyaannya yang berulang ini membuatnya kaget dan kebingungan.

Tiba-tiba Wi-to-hwecu angkat tangan kanan, jempol dan jari telunjuknya terangkat berkembang, sementara tiga jarinya yang lain ditekuk turun, katanya gemetar: "Taysu sudah mengerti?"

Kembali Thong-sian menyurut mundur, suaranya tersendat: "Kaukah ini?"

“Ya" sahut Wi-to-hwecu singkat. Teka-teki apa yang dibicarakan kedua orang ini tiada yang tahu.

Thong sian segera merangkap tangan, lalu komat-kamit, akhirnya bersuara: "Bagus, bagus, sungguh diluar dugaan Pinceng. Sicu, bereskan dulu persoalan di sini."

Wi-to-hwecu mendekati Ngo-lui-kiongcu, katanya dengan suara berat: "In-ciangbun, sekali lagi kunyatakan bahwa anak buahku pasti tiada yang membunuh anak muridmu, yang terang memang ada orang yang mengadu domba. Tidak sedikit jatuh korban di antara kita, sebetulnya pihakmulah yang harus bertanggung jawab seluruhnya, namun sesuai azas tujuan berdirinya perkumpulan kami, biarlah persoalan ini kami anggap malapetaka yang tak terduga, anggaplah selesai persoalan ini, bagaimana pendapatmu?” In Ci-san tahu situasi tidak menguntungkan pihaknya, kalau tidak mau terima saran pihak sana, memangnya dia hendak berbuat apalagi? Setelah diam sebentar, lalu berkata dengan penuh kebencian: "Baiklah soal ini sementara selesai sampai di sini, namun cepat atau lambat perhitungan ini pasti akan kami tagih."

"Itu urusan kelak, bagaimana kalau tuan dan anak buahmu mampir dulu untuk istirahat dan mengobati yang luka-luka?"

"Tidak perlu, selamat bertemu kelak," In Ci-san putar badan memberi tanda kepada sisa anak buahnya, serunya: "Bawa mayat- mayat teman-temanmu."

Beramai anak buah Ngo-lui-kiong bekerja cepat, cepat sekali para korban sudah dipanggul dan dibawa turun gunung.

Pertikaian yang berlangsung secara aneh ini lekas sekali sudah usai, namun hati semua orang dirundung awan gelap, ada hubungan apakah sebetulnya antara Wi-to-hwecu dengan Thong-sian Hwesio? Cukup dengan beberapa patah kata yang tidak dimengerti tadi, dengan mudah Wi-to-hwecu dapat mengubah tekad dan pendirian Thong-sian?

Hati Ji Bun berat seperti diganduli barang ribuan kati, niatnya hendak menuntut balas ketika mendapat kesempatan tadi telah lenyap, dia pikir harus selekasnya bertemu dengan ayah, setelah jelas duduk persoalannya, barulah mereka bergabung mengambil tindakan. Setelah membereskan urusannya, Wi-to-hwecu mendekati Ji Bun, katanya: "Sahabat muda, sekarang silakan."

Diam-diam Ji Bun mengertak gigi, sahutnya: "Sekarang juga kami mohon diri, kalau ada kesempatan kelak kami pasti berkunjung pula."

"Kenapa tergesa-gesa?"

"Banyak urusan yang harus kami bereskan," sahut Ji Bun lalu dia memutar ke arah Thong-sian, katanya: "Taysu, terima kasih akan pertolongan tempo hari, Wanpwe mohon diri."

Thong-sian tidak bersuara, dia hanya mengangguk sambil merangkap kedua tangan di depan dada, namun sorot matanya berkilauan menatap muka Ji Bun. Setelah basa-basi ala kadarnya pula, segera Ji Bun turun gunung bersama Thian-thay-mo-ki.

8.24. Tuduhan Pembunuh dan Pemerkosa ....

Setiba dibawah gunung, Ji Bun menarik napas panjang, pikiran masih terasa pepat, ayah berkelana di Kang-ouw tidak menentu jejaknya, demikian pula bunda tak keruan paran, kekuatan musuh semakin bertambah, banyak tanda tanya yang selama ini dapat terbatas?

Tiba-tiba dia sadar, dirinya melupakan suatu hal penting, kenapa tadi tidak sekalian mencari kabar kepada orang dalam tandu atau kepada Wi-to-hwe tentang adik Pek-ciok Sin-ni yang bernama Toh Ji-lan itu, tugas dan pesan orang tua di dalam jurang itukan harus selekasnya diselesaikan.

"Dik," tiba-tiba Thian-thay-mo-ki buka suara, "apakah musuhmu berada di Wi-to-hwe?"

Tergetar hati Ji Bun. "Kenapa Cici tanya hal ini?” "Sorot mata dan sikapmu memberitahu padaku. "Apa benar?"

"Waktu peresmian berdirinya We-to-hwe tempo hari sudah kudapati perubahan sikapmu ini, aku tak berani tanya, namun perubahan saling susul atas dirimu, watakmu yang nyentrik dulu sudah kau buang jauh, perubahan secara dratis ini bukan menandakan pengalamanmu yang semakin bertambah, tapi karena adanya tekanan batin tertentu sehingga jiwamu tertekan, atau mungkin juga hal ini memang kehendakmu sendiri karena sesuatu hal, maaf aku bicara secara blak-blakan."

Merinding bulu kuduk Ji Bun, diam-diam ia mengagumi ketelitian Thian-thay-mo-ki, namun diam-diam iapun semakin waspada, disadarinya bahwa keadaan dirinya semakin ruwet, ayah sendiri tidak mau menjelaskan peristiwa hancurnya Jit-sing-po, sejauh ini tidak mau kerja sama dengan dirinya, tidak menunjukkan aksi lagi. Secara langsung dia menyadari juga bahwa ayahnya telah banyak berubah pula, sehingga hubungan mereka ayah beranak menjadi renggang seperti dibatasi sesuatu jalur yang tidak kelihatan. Kenapa bisa demikian? Begitulah tanpa bersuara mereka melanjutkan perjalanan tanpa arah. Tiba-tiba pandangan mereka terasa kabur, bayangan putih tahu-tahu berkelebat di depan mata, seorang berbaju putih entah kapan sudah mengadang di depan mereka, Ji Bun berdua segera berhenti, seketika berkobar semangat Ji Bun, orang yang mencegatnya ini ternyata Biau-jiu Siansing adanya.

"Tuan menungguku di sini?" tanya Ji Bun. "Ya, begitulah," sahut Biau-jiu Siansing. "Agaknya tuan dapat dipercaya."

"Omong kosong, memangnya Lohu harus ingkar janji terhadap anak muda," ujar Biau-jiu Siansing, "banyak orang mondir-mandir di sini, marilah kita cari tempat lain."

"Di dalam hutan sana, bagaimana?" tanya Ji Bun. Hutan yang ditunjuk terletak disebelah kiri, dengan pepohonan yang rindang.

"Baik, namun Lohu ada pendapat." "Pendapat apa?"

"Untuk menyelesaikan pertikaian kita, lebih baik kalau tiada orang ketiga menyaksikan." Maksudnya mengusir Thian-thay-mo-ki secara halus. Berubah air muka Thian-thay-mo-ki, katanya: "Biau-jiu Siansing, hubungan kami sudah kau ketahui, aku bukan orang luar."

"Hubungan kau dipaksakan," jengek Biau-jiu Siansing terkekeh lucu.

"Baiklah, Cici," tukas Ji Bun, "kau tunggu saja di luar hutan." Apa boleh buat, Thian-thay-mo-ki akhirnya mengangguk,

pesannya: "Hati-hati, Dik."

"Aku tahu, Cici tidak usah kuatir."

Biau-jiu Siansing berkelebat seperti bayangan setan, tahu-tahu lenyap kedalam hutan. Lekas Ji Bun mengudak kesana.

Waktu itu sudah mendekati magrib, cuaca dalam hutan remang- remang gelap, namun Biau jiu Siansing mengenakan pakaian putih bayangannya cukup menyolok.

Kira-kira puluhan tombak Ji Bun mengudak, dilihatnya bayangan orang sudah berdiri menanti kekedatangannya. Ji bun mendekati dalam jarak beberapa kaki, secara langsung dia buka suara: "Tuan, tak perlu banyak omong, bagaimana anting-anting pualamku itu?"

"Kenapa kau menuduh aku yang merebut anting-antingmu itu?" "Jadi kau mungkir?" "Tak pernah aku merebut barangmu, bagaimana aku harus mengaku."

"Aku tidak percaya."

"Te-gak Suseng, perlu kutanyakan dengan tegas, kalau kau punya bukti bahwa memang aku yang melakukan, batok kepalaku boleh kuserahkan kepadamu, kalau tidak, jangan kau melanggar aturan Kang-ouw, menuduhku secara tidak semena-mena."

Sudah tentu mulut Ji Bun terkancing, bicara soal bukti hakikatnya dia tidak bisa menunjukkan, hanya berdasarkan gerakan dan kebal racun tangannya saja, maka dia menuduh Biau-jiu-Siansing.

"Kau harus lekas memberi keterangan kepada pemilik barang itu, supaya mereka lekas bertindak, kalau tidak harta bendanya bakal ludes dalam sekejap mata, bagaimana akibatnya, kau yang harus memikulnya."

Memang benar, anting-anting itu milik pribadi Ciang Bing-cu, nilai anting-anting itu sendiri mungkin tidak seberapa, namun arti dari akibat hilangnya anting-anting itu tak terkira besarnya, kalau sampai hal ini bocor dan diketahui keluarga Ciang, bagaimana dirinya harus menghadapinya? Benak berpikir, namun mulutnya tetap kukuh: "Tuan bilang hendak mempertaruhkan batok kepalamu?"

"Betul."

"Baik, soal ini sementara boleh ditunda." "Anak muda, masih ada satu hal perlu kuperingatkan padamu, nama gelaran Thian-thay-mo-ki terlalu buruk di kalangan Kang-ouw

.......”

"Aku tahu kau tidak usah kuatir," kata Ji Bun, "lalu bagaimana janjimu tempo hari?"

"Janji apa?"

"Kau pernah berjanji hendak menyampaikan kabar kepada Jit- sing-kojin, supaya selekasnya mencari aku buat menyelesaikan ”

"Dia tidak mencarimu?" seru Biau-jiau Siansing, "aneh sekali, hal itu sudah kusampaikan padanya, dia juga sudah berjanji hendak menemui kau?"

"Sekarang boleh kau katakan di mana dia berada, biar aku yang mencarinya."

"Dia tidak punya tempat tinggal yang tetap."

"Itu hanya alasan belaka, kaukan sekelompok dengan dia, di mana jejaknya kau pasti tahu."

"Ada permusuhan apakah antara kau dengan dia?" "Sudah tahu masih pura-pura tanya?"

"Aku betul-betul tidak tahu, sukalah kau terangkan?" "Kau tidak perlu tahu, katakan saja alamatnya." "Tidak bisa."

"Kenapa?" desis Ji Bun, "untuk mencapai keinginanku, tindakan apapun bisa kulakukan."

"Kau menantang Lohu, he?"

"Kalau kau tidak terus terang, kuganyang kau."

Biau-jiu Siansing menepekur sebentar, katanya: "Berilah waktu kepadaku, kapan dan di mana, biar dia sendiri yang mencarimu?"

"Aku tidak sabar menunggu," jawab Ji Bun.

„Lima hari lagi kita bertemu dijalan raya yang menuju ke Kayhong, bagaimana?" tanya Biau-jiu Siansing tanpa hiraukan sikap ketus Ji Bun.

"Baiklah, tapi ada syaratnya." "Syarat apa?"

"Jelaskan asal usul Jit-sing-kojin."

"Hal itu biar dia sendiri yang menjelaskan padamu, Lohu tidak berhak." "Kalau kau tidak menerima syaratku, aku juga tidak terima janjimu."

"Te-gak Suseng," desis Biau-jiu Siansing, "kau suka bertingkah, selama hidup belum pernah Lohu diancam dan ditekan orang."

"Kalau begitu jangan harap kau bisa pergi."

"Memangnya kau mampu menahan Lohu?" lenyap suaranya badannya tiba-tiba melesat kebelakang, Ji Bun menghardik keras, telapak tangannya menepuk "Blang" ditengah suara gemuruh sebatang pohon besar roboh, namun bayangan Biau-jiu Siansing sudah lenyap.

Serasa meledak dada Ji Bun, amarahnya memuncak, cepat ia menyelinap ke dalam hutan dan melesat seringan burung walet, sayang hutan ini terlalu lebat, pandangannya selalu terhalang, langkahnyapun sedikit terganggu oleh semak-semak. Tiba-tiba ia teringat akan Ginkang berkisar dengan badan memutar mumbul ke atas ajaran orang tua aneh di bawah jurang Pek-ciok-hong itu, segera badannya melejit tinggi berputar mumbul ke tengah angkasa, kakinya menutul pucuk-pucuk pohon sehingga gerakannya secepat burung, terbang, namun ke mana pandangannya menjelajah, hanya tampak setitik putih berkelebat di kejauhan sana, segera dia mengudak kencang kearah bayangan putih itu.

Dengan seluruh kekuatannya dia kembangkan Ginkang yang tiada bandingan ini, seenteng asap melayang cepat sekali dia sudah menempuh delapan li, cuaca sudah gelap, untung bayangan itu mengenakan baju putih sehingga Ji Bun tidak kehilangan sasaran. Tak jauh di depan sana terlihat sinar pelita, agaknya sebuah kota kecil, kalau orang yang dikejarnya ini sampai memasuki kota, untuk mencarinya tentu lebih sukar, karena gugup Ji Bun tambah tenaga dan mengejar semakin kencang, bagai segulung kabut entengnya ia berhasil melampaui orang lalu berhenti setombak di depan orang, mulutpun membentak: "Berhenti!"

Bayangan putih itupun segera menghentikan langkahnya.

Tapi Ji Bun seketika melongo dan berdiri kaku, ternyata bayang putih yang dikejarnya ini bukan Biau-jiu Siansing, tapi seorang Nikoh muda belia.

Dongkol dan merengut wajah Nikoh muda ini, serunya marah- marah: "Apa maksud Sicu mencegatku?"

Ji Bun menjadi kikuk, ia menyengir kecut, namun dalam hati ia memuji akan gerakan orang yang hebat, katanya tergagap: "Maaf, Cayhe keliru, kusangka Suthay adalah orang yang tadi kukejar."

Dengan seksama Nikoh muda itu mengamati Ji Bun, katanya dengan suara rada gemetar: "Apakah Sicu Te-gak Suseng adanya?"

"Betul, memang akulah yang rendah."

Tiba-tiba mendelik gusar mata Nikoh muda, bentaknya beringas: "Te-gak Suseng, kau binatang yang tidak berperi kemanusiaan ini, kalau tidak kuhancur leburkan kau kubersumpah tidak jadi manusia." Kaget dan heran Ji Bun dibuatnya, serunya sambil mundur: "Apa maksudmu Siau-suthay?”

Desis Nikoh muda penuh kebencian dan dendam: "Perbuatanmu tak terampunkan."

Ji Bun bingung, tanyanya tak mengerti: "Cayhe tidak tahu apa yang Suthay katakan."

Nikoh muda mendesis pula, sambil mengertak gigi: "Di tempat suci kau telah berani berbuat jahat dan kotor."

Ji Bun geleng-geleng, ujarnya: "Cayhe betul-betul tidak mengerti."

"Seorang Suciku yang soleh dan patuh pada ajaran agama, namun kau telah memperkosa dan membunuhnya, kau ..... kau ”

Ji Bun berjingkat, serunya gemetar, "Apa? Memperkosa dan membunuh?"

"Ya, kau membunuh setelah memperkosa Suciku." “Lho, berdasar apa kau menuduhku demikian?"

"Te-gak Suseng, memangnya siapa lagi kecuali kau yang membunuh orang tanpa meninggalkan bekas?"

Ji Bun mundur selangkah lagi, teriaknya terbeliak: "Membunuh tanpa meninggalkan bekas?" "Betul, kau berani mungkir?"

Ji Bun berpikir, hanya Cui-sim-tok yang sanggup membunuh orang tanpa meninggalkan tanda-tanda yang mencurigakan, dan racun ini kecuali dirinya hanya ayahnya yang bisa menggunakan, namun kalau bicara soal kepandaian silat dan Lwekang, tentunya tidak sedikit jago-jago kosen yang mampu juga membunuh orang tanpa meninggalkan bekas, maka dia membela diri dengan tenang: "Siausuthay, jangan hanya berdasar bukti-bukti yang masih belum jelas terus menuduh Cayhe yang melakukannya."

Sedih dan haru membuat badan Nikoh muda itu bergetar, teriaknya menahan isak: "Kau menyangkal?"

"Ya, dengan tegas kusangkal tuduhanmu ini." "Serahkan jiwamu!" tahu-tahu telapak tangan Nikoh itu

menggempur ke dada Ji Bun, kekuatannya sungguh amat mengejutkan, namun sekali berkisar Ji Bun sudah berkelebat menyingkir, teriaknya: "Siau-suthay orang yang beribadat, kenapa begini galak dan berpandangan sempit?"

Nikoh muda itu anggap tidak dengar peringatannya, sekali pukulannya luput, serangan kedua segera menghantam pula, caranya nekat dan seranganpun membabi buta.

Ji Bun berkelit ke kiri dan menyingkir ke kanan, lama kelamaan ia menjadi keripuhan juga, kalau tidak melawan atau menangkis, tentu jiwanya bisa melayang, namun kalau tinggal pergi begini saja, bukankah namanya bakal dicap semakin kotor, lebih celaka lagi Nikoh ini akan lebih yakin bahwa dirinya memang seorang pembunuh, urusanpun akan berlarut. Betapapun dia harus menyelidiki peristiwa ini dan membongkar pembunuhan ini. Karena itu ketika lawan menyerang lagi, sebat sekali dia menyelinap miring terus melintangkan tangan balas menjojoh, terdengar Nikoh itu mengerang pendek dan sempoyongan, namun Nikoh ini sudah kalap, seperti kerasukan setan kembali ia menubruk maju dengan serudukan dan tendangan secara keji.

Ji Bun naik pitam menghadapi serangan membabi buta ini, kalau menuruti wataknya dulu, mungkin Nikoh muda ini sudah tak bernyawa lagi, namun dia hanya mendengus gusar, dikala lawan menyeruduk tiba pula, ia kerahkan tenaga di telapak tangan terus menahan kedepan. Nikoh itu menjerit ngeri, badannya tersungkur ke samping, darah meleleh dari mulutnya.

Ji Bun berkata dengan nada berat: "Cayhe tidak ingin melukai Suthay, soalnya Suthay bertindak serampangan, tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan."

Semakin berkobar rasa benci yang tersorot dari mata Nikoh muda, desisnya mengertak gigi: "Te-gak Suseng, kenyataan sudah membuktikan, kau masih berani menyangkal."

"Pandangan Suthay terlatu sempit, apa yang kau katakan kenyataan hanya obrolan mulut Suthay sendiri, coba, kapan peristiwa itu terjadi dan di mana?" Nikoh muda itu menyeka darah yang meleleh di pinggir mulutnya, sekian lama dia masih melotot gusar, katanya kemudian: "Lagakmu seolah-olah kau tidak tahu sama sekali."

"Kenyataan memang demikian, aku tidak tahu apa-apa." "Baik, selamat bertemu, sakit hati ini pasti akan kubalas, Thian

akan menjatuhkan hukuman setimpal atas perbuatanmu," lenyap suaranya orangnyapun sudah berkelebat beberapa tombak jauhnya.

Ji Bun pikir, urusan ini harus selekasnya diselidiki dan dibereskan, soal ini boleh dikesampingkan, namun tuduhan membunuh dan memperkosa ini sungguh bukan urusan sepele, maka segera ia angkat langkah mengejar, gerak-gerik Nikoh muda itu ternyata cukup tangkas dan tinggi Ginkangnya, dengan mengerahkan sepenuh tenaganya baru Ji Bun dapat menyusul dalam jarak tertentu.

Setelah melampaui kota kecil, kembali mereka dihadang sebidang hutan liar, cukup lama mereka harus berlari diantara semak-semak hutan dengan naik turun bukit-bukit yang terjal, akhirnya tampak sebuah kelenteng kecil, itulah biara yang khusus ditempati oleh Nikoh atau biarawati. Setelah Nikoh itu menyelinap masuk ke dalam kelenteng, barulah Ji Bun lari mendekat, dilihatnya sebuah pigura besar cat hitam tergantung di atas pintu dengan empat tulisan emas yang berbunyi "Ci-hang-boh-toh", kiranya sebuah kelenteng Kwan Im, suasana hening lelap di dalam kelenteng kecil ini, pintu kelenteng setengah terbuka setelah Nikoh muda tadi menyelinap masuk. Sejenak ragu-ragu, akhirnya Ji Bun memberanikan diri melangkah maju terus menyelinap masuk juga dengan langkah enteng tidak bersuara.

Kelenteng kecil, namun terawat baik, begitu masuk Ji Bun lantas berada di ruang sembahyang, di samping sana adalah sebuah halaman yang ditanami tetumbuhan, di belakang taman adalah dua kamar yang berjajar dalam keadaan gelap. Menjurus ke kiri adalah serambi panjang yang menuju ke belakang. Sinar pelita yang guram menerangi ruang sembahyang yang sunyi dan tidak kelihatan bayangan orang. Kamar di sebelah timur gelap gulita, tapi sinar pelita menembus keluar dari kamar sebelah barat, dua sosok bayangan orang tampak di jendela, agaknya mereka tengah bicara.

Ji Bun berpikir sebalum bertindak lebih jauh, sebagai seorang laki-laki asing, malam-malam keluyuran di biara Nikoh, hatinya menjadi tidak tenteram, lebih baik bersuara menyatakan maksud kedatangannya, supaya tidak timbul salah paham dan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Namun sebelum dia buka suara, sebuah suara serak berkumandang dari kamar sebelah barat itu, "Apakah Te-gak Suseng Sicu yang datang? Silakan masuk!" Suara ini seperti sudah amat dikenal, tergerak hati Ji Bun, siapakah dia? Dalam hati dia bertanya- tanya.

Kamar di sebelah tengah segera menjadi terang, itulah sebuah kamar tamu yang dipajang sederhana, Nikoh muda yang dikuntitnya tadi membuka pintu terus mundur kesamping, kedua tangan terangkap di depan dada, sambutnya dingin: "Silakan masuk!" Ji Bun membungkuk lalu melangkah masuk ke ruang tamu, tampak seorang Nikoh setengah umur sudah duduk di atas sebuah kasur bundar, mukanya tampak jernih, sikapnya kereng, sinar matanya memancar terang, membawa daya tarik yang kuat.

"Silakan duduk," sapanya setelah Ji Bun masuk.

"Terima kasih," Ji Bun duduk di sebuah kursi di depan nikoh tua itu. Nikoh ini belum pernah dikenalnya, betapapun dia tak habis pikir di mana dan kapan dia pernah berjumpa atau mendengar suaranya?

"Mohon tanya, siapakah nama gelaran Cianpwe?" "Gelaran Pin-ni, Siu-yen."

"Tengah malam buta Wanpwe memberanikan diri keluyuran di tempat suci ini, harap, Suthay memberi ampun."

"Tidak, Pin-ni memang mengharapkan kedatangan Sicu." "Barusan murid Suthay ”

Siu-yen angkat sebelah tangannya, dia cegah kata-kata Ji Bun selanjutnya, katanya: "Memang muridku itu ceroboh, dia malah salah paham kapada Sicu, hal ini tidak perlu diungkat lagi."

Ji Bun jadi melenggong, apakah pembunuhnya sudah ketangkap, kalau tidak kenapa dikatakan salah paham. "Kedatangan Wanpwe memang ingin bikin terang peristiwa ini, kalau memang salah paham, baiklah Wanpwe mohon diri saja "

"Nanti dulu."

"Cianpwe masih ada petunjuk apa?”

"Sukalah Sicu memeriksa jenazah muridku dulu," lalu dia berbangkit dan berkata kepada Nikoh muda yang berdiri di ambang pintu: “Ngo-cin, nyalakan lampu!"

Ngo-cin segera masuk ke kamar sebelah, keluarnya sudah membawa pelita. Siu-yen memberi tanda kepada Ji Bun, segera dia mengikuti Nikoh tua ini melangkah keluar menuju serambi panjang ke arah belakang. Setelah memasuki sebuah pekarangan lainnya, mereka berhenti di sebuah kamar yang tertutup kain putih, Siu-yen melangkah masuk, Ji Bun ikut di belakangnya, dilihatnya sesosok jenazah berbaring diatas sebuah dipan, jenazah ini ditutupi selempang kuning, tentu Nikoh inilah yang terbunuh setelah diperkosa.

Wajah Siu-yen yang alim jernih tampak guram dan berkeriut, agaknya tengah menekan perasaan haru dan sedih hatinya, jari-jari tangannya gemetar menuding ke arah jenazah, katanya: "Inilah muridku yang tertua, Ngo-sim, karena ada urusan Pinni sedang keluar, Ngo-cin juga keluar memetik daun obat, hanya Ngo-sim seorang di dalam biara, sebelum terbunuh dia sudah dinodai lebih dulu kesuciannya, namun sekujur badannya tidak ada luka-luka atau tanda-tanda keracunan, maka Ngo-cin mengira Sicu yang melakukannya ”

Berkerut alis Ji Bun, katanya: "Lalu dari mana Cianpwe bisa mengatakan semua ini salah paham terhadap diri Cayhe?"

"Karena Pinni tahu, waktu peristiwa ini terjadi, Sicu berada di tempat Wi-to-hwe."

"O," hambar dan hampa hati Ji Bun, dari mana Nikoh tua ini tahu kalau dirinya berada di markas besar Wi-to-hwe?

Berkata Siu-yen Nikoh lebih lanjut: "Tempo hari, murid-murid Wi- to-hwe juga pernah mengalami peristiwa yang sama, setelah diselidiki dapat diketahui bahwa mereka terbunuh oleh racun Bu-ing- cui-sim Sicu adalah orang ahli dalam bidang racun ini, maka sukalah Sicu memeriksanya."

Tersirap darah Ji Bun, suaranya Nikoh tua yang seperti amat dikenalnya ini, seakan-akan jelas mengenai seluk beluk dirinya, sungguh suatu hal yang amat mengejutkan, maka dia tidak bertanya lebih lanjut, katanya: "Biarlah Wanpwe memeriksanya, coba tolong singkapkan tutup mukanya.”

Ngo-cin, Nikoh muda itu segera maju menyingkap kasa yang menutupi muka Ngo-sim, tampak wajah si korban begitu halus putih seperti orang hidup yang tidur nyenyak, kecantikannya boleh diagulkan, namun bibirnya mengerut kencang seperti menahan sakit dan derita, jelas dia mati membawa dendam dan kebencian yang luar biasa. Ngo-cin berpaling, seperti tidak tega melihat wajah Sucinya.

Dengan jari telunjuk Ji Bun singkap kelopak mata sang korban, dengan seksama dia memeriksa, lama kelamaan jantungnya berdetak semakin keras, memang tidak salah korban mati karena keracunan Bu-ing-cui-sim. Kecuali mereka ayah dan anak, apakah ada orang lain yang mampu menggunakan racun jahat ini?

Sejak dirinya berhasil meyakinkan Bu-ing-cui-sim-jiu, racun sudah bersatu padu dalam darah dagingnya, kalau orang lain menggunakan racun ini harus memasukkan racun ke dalam mulut si korban baru akan membawa hasil, jelas pembunuhan ini seperti sudah direncanakan terlebih dulu. Mungkinkah perbuatan ayahnya? betulkah sang ayah sampai berbuat sekotor dan sehina ini? Tanpa merasa dia bergidik sendiri.

"Bagaimana Sicu?'' Siu-yen bertanya dengan suara berat. "Betul, memang keracunan Bu-ing-cui-sim."

"Kalau begitu kecuali Sicu yang sudah menyatu-padukan racun ini dengan jiwa raga, siapa pula yang mampu menggunakan racun Bu- ing-cui-sim ini."

Darah Ji Bun tersirap, namun lahirnya tenang-tenang, sahutnya: "Untuk hal ini maaf Wanpwe tidak bisa menerangkan." Terpancar sinar gemerlap kedua mata Siu-yen, tanyanya mendesak: “Pin-ni memberanikan diri, harap Sicu suka memperkenalkan perguruanmu?"

"Terpaksa Wanpwe harus menolak permintaanmu ini."

"Hm adakah saudara seperguruan Sicu yang berkelana di

Kang-ouw?“

"Kukira tidak ada."

Mendadak Siu-yen mendesis beringas: "Pasti dia, kecuali dia tiada orang lain lagi."

Serta merta berdiri bulu kuduk Ji Bun. "Dia siapa?" tanyanya.

Lama Siu-yen menatap Ji Bun dengan pandangan berkobar, seolah-olah ingin meraba perasaan Ji Bun. Lekas Ji Bun tenangkan diri, pura-pura bingung, sesaat kemudian baru Nikoh tua buka suara pula: "Seorang iblis laknat yang pandai menggunakan racun."

"Tidak sedikit orang yang pandai menggunakan racun dalam Bu- lim ”

“Memang, tapi Pin-ni yakin dan punya alasan untuk menuduhnya."

"Bolehkah hal ini dijelaskan?" "Kukira Sicu tidak perlu tahu." Karena ada maksud lain, maka Ji Bun mendesak: "Wanpwe ingin tahu siapakah tokoh yang ahli menggunakan racun ini?"

"Urusan ini sukar diduga, kemungkinan juga meleset, sebagai seorang beribadat tidak boleh aku sembarangan omong, untuk ini harap Sicu maklum.”

Ji Bun terbungkam, tiada alasan dia mendesak keterangan orang, namun dalam hati sudah menambah perhatian dan kewaspadaan, menurut kejadian dan hasil pemeriksaannya, dia yakin kalau yang melakukan perbuatan rendah dan kotor ini adalah ayahnya, karena racun Bu-ing-cui-sim ini hanya bisa dibuat dari resep rahasia yang hanya dimiliki ayahnya, sampaipun Cui Bu-tok yang mengagulkan diri seorang ahli dalam permainan racun pun mengakui hanya tahu nama racun ini, tapi tidak mampu menawarkan, memangnya siapa pula dalam Kang-ouw yang bisa menggunakan racun ini?

Tapi segera dia teringat kepada beberapa orang misterius yang kebal menghadapi racun jahatnya, pertama orang berkedok yang menyaru ayahnya, lalu salah seorang anak buah Cip-po-hwe, Nikoh tua di biara Siong-cu-am, Jit-sing-kojin, orang yang merebut anting- anting pualam, serta orang yang menyamar sebagai komandan ronda Wi-to-hwe itu, demikian pula Biau jiu Siansing, semuanya kebal terhadap racunnya, kemungkinan sekali orang-orang yang kebal racun ini pun pandai menggunakan racun. Maka lega dan lapanglah dadanya, dia berdoa semoga bukan ayahnya yang melakukan perbuatan keji dan kotor ini. Siu-yen mengulap tangan, katanya: "Sicu, silakan minum teh di kamar tamu."

Ji Bun pikir tak perlu lama-lama berada disini, maka dia mohon diri: "Biarlah Wanpwe mohon pamit saja.”

"Pin-ni amat menyesal karena kesalahan paham ini.”

"Tidak apa, Wanpwepun ikut berduka cita karena peristiwa ini.”

Sedikit membungkuk segera ia mengundurkan diri langsung keluar kelenteng. Sesaat lamanya ia berjalan dengan pikiran kosong, tiba-tiba dia tersentak sadar. baru sekarang dia ingat kepada Thian- thay-mo-ki yang ditinggalkan waktu mengejar Biau-jiu Siansing tadi, waktu sudah berselang cukup lama, kemungkinan nona itu sudah pergi, maka dia merasa tidak perlu balik menemuinya lagi, urusannya lebih penting dan harus segera dibereskan.

Sekarang dia harus cepat menuju jalan raya yang menjurus ke Kayhong untuk menemui Jit-sing-kojin seperti yang pernah dijanjikan oleh Biau-jiu Siansing, di samping untuk merebut kembali anting- anting pualam, dia juga akan mampir ke Kayhong menemui Ciang

Wi-bin untuk tanya jejak ayahnya. Malam itu juga dia menempuh perjalanan.

Hari itu, dia tiba di Jip-seng, sebuah kota kecil yang masih cukup jauh dari Kayhong, hari ini sudah hari keempat, namun Jit-sing-kojin yang hendak ditemuinya itu tetap tidak kelihatan bayangannya.

Setelah ditunggu sekian lamanya, orang belum kunjung tiba juga, lama hatinya menjadi dongkol dan penasaran, agaknya ucapan Biau- jiu Siansing tak dapat dipercaya lagi. Karena tiada minat masuk kota, maka dia memutar ke pintu barat serta istirahat disebuah warung arak di luar kota.

Tengah dia menunduk menikmati hidangannya, didengarnya pembicaraan beberapa orang tamu yang duduk di meja sebelah sana, seorang laki bersuara serak kasar tengah berkata: "Jiya, The Liok kali ini betul-betul terbuka matanya ”

Orang yang dipanggil Jiya adalah seorang laki-laki bermuka kuning, segera dia angkat alis, tanyanya: "Lo-liok, kalau bicara kau selalu ngelantur, memangnya kau tak pernah melek?"

"Jiya, bukan aku Siau-kim-kong ini suka membual, setua ini hidupku, baru pertama kali ini, sungguh tidak penasaran ”

"Sebetulnya ada apa?“

9.25. Ayah Meninggal .. Dendam Makin Membara "Ji-ya kenal Sin-eng-pangcu Ko Giok-wa tidak.” "Sudah tentu tahu, kenapa?"

"Bagaimana kepandaian silat Ko-pangcu?”

"Hebat," puji laki-laki muka kuning sambil mengacungkan jempol, "seorang jagoan kelas satu dalam Bu-lim.” "Heh,” seru laki-laki bersuara serak kasar tadi sambil gebrak meja, "semalam aku kebetulan lewat Jit-li-kang dan menyaksikan peristiwa itu, 20-an anak murid Sin-eng-pang di bawah pimpinan Ko- pangcu sendiri, mengobrak-abrik dan menghancurkan Thian-ong-ce, kini gunung itu sudah mereka caplok dan dijadikan cabang Sin-eng- pang. Dengan kemenangan gemilang itu mereka kembali lewat Jit-li- kang, namun di sana mereka tertimpa nasib malang "

"Tertimpa nasib malang bagaimana?"

"Mereka dicegat seorang laki-laki berkedok yang mengenakan jubah sutera."

Tersirap Ji Bun mendengar kata-kata terakhir itu, segera dia pasang kuping.

"Bagaimana selanjutnya?" tanya laki-laki muka kuning setelah meneguk araknya.

"Agaknya orang berkedok berjubah hijau itu memang sengaja hendak cari perkara, dia memperkenalkan diri sebagai teman pihak Thian-ong-ce yang hendak menuntut balas bagi kematian teman- temannya, maka terjadilah bentrokan sengit "

Agaknya laki-laki muka kuning tidak tertarik oleh cerita ini, katanya tawar: "Pertikaian orang-orang persilatan umumnya memang berbuntut panjang, tiada akhirnya."

Laki-laki suara serak kasar tadi penasaran, teriaknya: “Ji-ya, ceritaku kan belum tamat, adegan yang lebih seram belum sempat kuceritakan. Ketahuilah, kepandaian orang berkedok itu ternyata hebat sekali, dalam tiga kali gebrakan saja, ya, tiga ” dia

acungkan tiga jari sambil menyambung dengan ludah beterbangan, "dalam tiga gebrak saja, Ko-pangcu sudah menggeletak tak bernyawa ''

"Hah," berubah hebat air muka laki-laki muka kuning sambil berjingkrak berdiri, suara gemetar: "Apa betul?"

Ikut tegang hati Ji Bun, orang berkedok yang diceritakan itu entah ayahnya atau bukan? Seluruh tamu-tamu yang ada dalam warung arak kecil ini jadi tertarik oleh cerita orang bersuara serak dan perhatian mereka tertuju ke arah sini.

Tahu banyak orang tertarik dan memperhatikan ceritanya, semakin keras suara orang serak kasar: "Ji-ya, itu baru permulaan. Orang berkedok itu betul-betul keji, setelah membinasakan Ko- pangcu, beruntung dia melancarkan serangan ganas pula, 20 lebih jago-jago Sin-eng-pang yang berkepandaian tinggi semua menggeletak dibunuhnya, tiada satupun yang ketinggalan hidup."

"Siapakah orang berkedok itu?"

"Entah, setelah dia uraikan alasannya, kenapa dia menuntut balas terus turun tangan secara kejam."

"Ehm, tentunya dia bukan sembarangan tokoh. ” "Memangnya, Ji-ya, buntutnya ternyata lebih seram dan menegangkan. Tahu-tahu muncul lagi seorang berkedok berjubah pula "

"Apa? Jadi ada dua?"

"Ya, bentuk dan perawakan kedua orang berkedok ini persis satu sama lain, seperti pinang dibelah dua, sukar dibedakan mana yang datang duluan dan mana yang baru tiba, begitu berhadapan tanpa bicara terus gerak tangan dan angkat kaki, keduanya berkelahi dengan dahsyat dan sengit, serang menyerang dengan pukulan mematikan, serasa terbang sukmaku waktu menyaksikan pertempuran hebat itu ”

Mengencang jantung Ji Bun, darah mengalir lebih cepat, dia sudah berdiri, namun duduk kembali sambil menenggak secangkir arak.

Setelah istirahat sebentar, orang itu melanjutkan ceritanya: "Pertempuran itu berlangsung selama satu jam, dari atas bukit bergumul sampai ke bawah jurang, akhirnya mereka berhantam sampai ke dalam hutan, kelihatannya keduanya sama kuat, namun lama-lama kehabisan tenaga juga. Pada saat pertempuran memuncak dan hampir berakhir tahu-tahu muncul pula seorang berpakaian hitam, malam itu terlalu gelap, sukar dilihat macam apa orang berpakaian hitam ini, namun kudengar dia mendengus menggumam seorang diri. 'Ajal tua bangka ini sudah di depan mata namun masih saling cakar dan akhirnya gugur bersama. Thian memang murah untuk membalas kelaliman mereka, agaknya sakit hatiku akan terbalas.' Habis berkata orang baju hitam itu menerjang kedalam hutan ”

“Bagaimana akhirnya," tanya laki-laki yang dipanggil Ji-ya. “Kudengar suara gerungan dan bentakan berulang kali dari dalam

hutan, disusul dua kali jeritan yang menyayat hati, suasana lantas sunyi senyap.”

Semua orang yang mendengarkan cerita itu sama melongo. "Karena tertarik, diam-diam aku merayap masuk ke dalam hutan,

waktu aku melongok kesana Hiiii!”

"Ada apa?"

"Kedua orang berkedok itu sama-sama menggeletak di dalam hutan, batok kepalanya hancur, mukanya rusak tak terkenali lagi, seram dan mengerikan sekali kematian mereka."

Laksana disambar geledek kepala Ji Bun, dadanya terasa sesak, sekali lompat dijambretnya baju si orang bersuara serak, dicengkeramnya pundaknya, bentaknya bengis: "Apakah ceritamu betul-betul terjadi?"

Lemas lunglai badan laki-laki itu, tenaga untuk merontapun tiada, namun matanya melotot gusar, teriaknya: "Keparat kau, apa ......

apaan ini?” Karena diburu emosi, rona muka Ji Bun sudah berubah, sorot matanya liar dan buas, desisnya mengancam: "Katakan, apa betul- betul terjadi?"

Laki-laki muka kuning tiba-tiba berdiri, telapak tangannya menempeleng ke batok kepala Ji Bun, agaknya Ji Bun sudah kerasukan setan pikirannya sudah pepat, secara reflek dia melancarkan serangan balasan dengan tangan berbisa.

Dengan teriakan yang seram dan mengerikan laki-laki muka kuning roboh menimpa meja, kaki tangan berkelejetan sebentar, jiwapun melayang. Seluruh tamu sama terbeliak kaget dan gemetar ketakutan.

Laki-laki suara serak ketakutan setengah mati, suaranya menjadi lirih tertelan di dalam ombak kerongkongan: "Tuan ... tuan ini.....

Te-gak Suseng?"

"Lekas katakan sebenarnya, kalau tidak kucincang badanmu," ancam Ji Bun beringas.

"Memang kejadian nyata, bukan bualan."

"Berapa jauh Jit-li-kang dari sini?" "Kurang lebih 30 li ke arah barat ”

Sambil lepas tangan Ji Bun dorong badan orang, cepat sekali dia sudah melesat keluar warung makan dan berlari ke arah barat, pikirannya kosong dan hambar, seolah-olah sukma sudah meninggalkan raganya.

Lekas sekali jarak 30 li telah dicapainya, setelah dia tanya letak Jit-li-kang kepada orang jalan, langsung dia menuju ke sana. Setiba di atas bukit, dilihatnya keadaan memang porak peronda, seperti pernah terjadi pertempuran sengit di sini, di bawah bukit sebelah kanan adalah hutan lebat, begitu subur dan rimbun tetumbuhan di sini sampai sinar matahari tak tertembus ke dalam hutan, begitulah keadaan hutan belantara ratusan li ini. Dengan langkah sempoyongan, Ji Bun berlari masuk ke dalam hutan.

Suara gedebukan seperti sesuatu benda berat menyentuh tanah terdengar saling bergantian di sebelah depan. Tanpa menentukan arah Ji Bun terus berlari ke dalam. Di tanah kosong sebelah sana, dilihatnya dua orang petani sedang mengeduk tanah, membuat liang lahat. Begitu melihat kedatangan Ji Bun, segera mereka menyurut mundur dengan ketakutan. Tampak oleh Ji Bun tak jauh di sana menggeletak dua sosok mayat yang sukar dikenali lagi bentuk rupanya, seperti orang gila segera ia menubruk kesana. Terasa bumi seperti berputar jungkir balik, mata berkunang-kunang, langkahnya lemas sempoyongan dan hampir terjungkal.

Kedua mayat mengenakan pakaian yang sama, jubah sutera warna biru, batok kepala remuk dan mukanya hancur, jelas orang yang turun tangan memang amat keji.

Kedua petani itu berdiri berhimpitan, dengan melongo dan takut mereka mengawasi Ji Bun. Ji Bun kuatkan hati dan tenangkan diri, dengan badan bergoyang gontai pelan-pelan dia berjongkok, sesaat dia melenggong, sukar baginya menentukan yang manakah jenazah ayah kandungnya.

Terpaksa dia periksa badan jenazah yang lebih dekat, saku bajunya kosong tiada sesuatu yang dapat menentukan asal-usulnya, lalu dia memeriksa kantong jenazah kedua, botol obat, buntalan puyer dan peralatan untuk meracik racun yang dibuat sedemikian mungil dan rapi, kini menjadi jelas dan pasti bahwa jenazah kedua inilah jasad ayahnya.

Bergegas dia berlutut menyembah berulang kali, jari-jari tangannya meraba dan mengelus jenazah yang sudah dingin dan kaku ini, air mata bercucuran. Terasakan segala sesuatu di dunia ini sedang berubah, alam terasa menjadi hampa dan semuanya menjadi serba kelabu. Dia menangis tanpa bersuara, gigi berkerutukan, air mata tak terbendung lagi.

Kedua petani itu sebetulnya hendak mengubur mayat kedua orang ini, kini melihat orang ini sudah mengenali jenazah familinya, memangnya mereka takut kena perkara, terutama soal bunuh membunuh kaum persilatan, maka secara diam-diam mereka mengeluyur pergi.

Tetesan air hujan yang dingin menyentak sadar Ji Bun, dengan perasasan luluh dia mendeprok di atas tanah. Pikirannya bekerja: "Ayah telah meninggal, siapakah pembunuhnya? Orang yang menyaru ayahnya ini juga mati, siapakah dia ini?"

Kini dia sudah meninggal, teka-teki ini takkan terbongkar untuk selamanya. Namun dendam kehancuran Jit-sing-po betapapun harus dibalas. Ini merupakan tugas penting yang harus dipikulnya. Mendadak dia berdiri sambil banting-anting kaki, dia menyesali kelemahan sendiri yang terlalu was-was dan berhati-hati, sehingga banyak kesempatan disia-siakan, kini tibalah saatnya untuk beraksi. Dia mendongak mengawasi mega yang bergerak, hatinya pepat seperti dirundung mega mendung, tiba-tiba dia tertawa, geli akan nasibnya sendiri, tawa yang mengobarkan semangat menuntut balas.

Segera dia masukkan kedua jenazah ke dalam liang lahat yang sudah digali kedua petani tadi, dengan batu gunung ia mendirikan nisan serta berlutut dan berdoa semoga arwah ayahnya diterima disisi Thian, dia memohon pula supaya arwah ayahnya memberi bekal kekuatan lahir batin untuk menuntut balas sakit hati ini.

Setelah menyembah sekali lagi segera dia keluar dari hutan itu.

Hawa hitam di antara kedua alis yang selama ini lenyap, kini kelihatan lagi, demikian pula tangan berbisa yang selama ini disembunyikan dalam lengan bajunya telah dikeluarkan, kini tiada yang perlu disembunyikan, tiada yang dirahasiakan, kini tibalah saatnya untuk mencuci tangan ini dengan darah para musuhnya.

Pikiran tenang kepalai dingin, dia mulai menerawang langkah- langkah yang harus dilakukan selanjutnya. Dia rasa masih perlu untuk menempuh perjalanan ke Kayhong, soal anting-anting pualam itu harus dibereskan, jika aksi balas mulai dilakukan, mati hidup diri sendiri sukar diramalkan, tapi soal ini tidak boleh ditunda-tunda lagi.

Besok dia bakal berhadapan dengan Jit-sing-kojin, sesuai yang dijanjikan Biau-jiu Siansing, kalau orang tidak menepati janji, maka dapatlah diduga bahwa orang berkedok menyaru ayahnya itu pasti dia adanya, kalau sebaliknya, betapapun permusuhan dirinya harus dibereskan juga. Begitulah dengan pikiran mantap dan langkah tenang dia menuju ke Kayhong.

Tunggu punya tunggu, tahu-tahu hari ke tujuh sudah berselang, Jit-sing-kojin tetap tidak kunjung tiba, bayangan Biau-jiu Siansingpun tidak kelihatan, mau tak mau Ji Bun tambah yakin bahwa dugaannya tidak meleset. Jit-sing-kojin adalah orang berkedok berbaju sutera yang menyaru ayahnya.

Hari itu dia tiba di Kayhong, kota kuno yang dulu pernah menjadi ibukota ini memang angker bangunannya, kemegahan kota ini memang jauh berbeda dengan kota-kota lain.

Keluarga Ciang adalah hartawan terkaya dan ternama di Kayhong, tanpa menemukan kesulitan Ji Bun berhasil menuju ke tempat yang dituju.

Pikirannya mulai bimbang pula, apa yang harus diutarakan setelah masuk pintu dan berhadapan? Kedua keluarga mereka memang kenalan karib, namun beberapa tahun belakangan ini tidak saling hubungan, keluarganya kini sudah berantakan, kalau datang- datang dia langsung minta bertemu dengan Ciang Bing-cu, tentunya kurang pantas, bagaimana pula dia harus memberi penjelasan kepada Ciang Wi-bin setelah berhadapan? Entah Ciang Wi-bin tahu tidak tentang pemberian anting-anting pualam Ciang Bing-cu kepada dirinya? la pikir biarlah nanti bertindak menurut keadaan maka segera dia menuju ke gedung keluarga Ciang. Seorang kakek berpakaian hitam tiba-tiba muncul dari balik pintu, melihat dandanannya seperti seorang pesuruh, dengan nanar dia mengawasi Ji Bun sapanya: “Kongcu cari siapa?"

Ji Bun menyahut: "Sudahkah laporan kepada majikanmu, katakan Ji Bun ingin bertemu.”

"Wah, tidak kebetulan, majikan kami sedang keluar, belum kembali."

“Kalau begitu apakah siocia ada dirumah?"

Bertolak pinggang laki baju hitam, katanya dengan menarik muka: "Sukalah Kongcu tahu diri."

Ji Bun tertawa, katanya ramah: "Cayhe adalah kenalan lama dengan keluarga Ciang, tolong sampaikan kepada Siocia bahwa Ji Bun ingin bertemu."

Orang tua baju hitam mengerut kening, katanya: “Baiklah, harap tunggu sebentar."

Tak lama kemudian, orang tua ini sudah keluar pula, sikapnya jauh berubah, wajahnya berseri-seri, dari belakangnya memburu keluar seorang pelayan perempuan kecil, begitu tiba dia memberi hormat kepada Ji Bun, katanya: “Siocia tidak leluasa keluar menyambut, harap Siangkong masuk saja.”

Ji Bun manggut-manggut, dia mengikuti pelayan cilik ini masuk ke dalam. Gedung keluarga Ciang yang kaya raya memang teramat besar dan luas sekali, sekian lama mereka putar kayun memasuki beberapa pintu dan melewati beberapa pekarangan serta serambi panjang yang berliku-liku, baru tiba di pekarangan yang dikelilingi tembok tinggi dengan pintu bundar rembulan, tampak seorang gadis bersolek dengan pakaian kuno melangkah keluar menyambut, katanya dengan malu-malu: "Siangkong sudi berkunjung, silakan duduk di dalam."

Merah dan panas muka Ji Bun, lekas dia membungkuk, katanya likat: "Berkunjung secara sembrono, harap adik memaafkan."

"Ah, tidak apa, silakan."

Keduanya masuk kedalam sebuah rumah samping lalu duduk di kursi marmer, seorang pelayan menyuguh teh. Ciang Bing-cu lantas buka suara: "Ayah bilang, katanya keluarga kakak ketimpa bencana, Siaumoay ikut berduka dan prihatin."

Pedih hati Ji Bun, katanya: "Terima kasih akan perhatian adik." "Apakah para musuh sudah diketahui?"

"Ya, sudah ada tanda-tanda yang mencurigakan, ujar Ji Bun, setelah berdiam sebentar segera ia menambahkan: "Adik Ciang, kedatanganku ini hendak mohon maaf kepadamu ”

"Mohon maaf, kenapa?"

"Anting pualam pemberian adik dulu, tak sengaja telah kuhilangkan ” Berubah air muka Ciang Bing-cu, tanyanya: “Bagaimana bisa hilang?"

Merah muka Ji Bun, katanya rikuh: "Kalau dikatakan memang aku terlalu bodoh, waktu aku keluarkan dan kubuat main-main, tahu- tahu diserobot orang."

“O”, Ciang Bing-cu bersuara dalam mulut.

Kuduga penyerobot itu sudah lama mengintip dan menguntit aku, begitu ada kesempatan lantas turun tangan, yang membuatku menyesal, selama ini aku masih belum berhasil menemukan jejaknya, lebih malu lagi karena bentuk dan rupa orang itupun tidak kulihat jelas."

“Kakak Ji, kejadian sudah berselang, biarlah, anting itu takkan berguna bagi orang lain."

"Tidak aku bersumpah pasti akan mencarinya, adik sudi memaafkan, aku merasa tidak enak. Katanja paman sedang keluar apa betul?"

"Betul, mungkin dalam dua hari ini beliau akan pulang." “Kedatanganku hanya mau menjelaskan soal tadi disamping

menyampaikan sembah sujud kepada paman "

"Urusan sekecil ini, tidak perlu diperhatikan " "Baiklah, sekarang aku mohon pamit "

"Kakak Ji, kukira sikapmu tidak benar," kata Ciang Bing-cu, "walau ayah tidak dirumah, tapi keluarga kita kan kenalan lama, adik menyambut kedatanganmu sebagai tuan rumah, sukalah menginap beberapa hari, tunggulah ayah pulang. Apakah paman dan bibi

.........”

Sedih hati Ji Bun, hampir saja dia meneteskan air mata, dia tidak ingin menyinggung soal yang menyedihkan ini, wataknya yang keras juga tidak ingin mendapatkan belas kasihan orang lain katanya: "Beruntung beliau-beliau terhindar dari malapetaka."

Tidak lama mereka bicara, pelayan sudah menyiapkan sebuah meja perjamuan. Ji Bun tak bisa menolak terpaksa dia iringi kehendak Ciang Bing-cu makan minum. Setelah beberapa cangkir arak dan hidangan hampir dilalap habis, tiba-tiba Ciang Bing-cu berjingkat sadar, tanyanya heran: "Kakak Ji, maaf akan kelancanganku, bukankah tangan kirimu ”

Ji Bun tertawa getir, terpaksa dia ceritakan rahasia tangannya yang berbisa.

Terbeliak kedua biji mata Ciang Bing-cu, katanya penuh haru: "Ah, kabarnya setelah orang berhasil meyakinkan racun Bu-ing-cui- sim-jiu, selama hidupnya takkan bisa ditawarkan lagi, apa betul?"

Ji Bun manggut-manggut dengan gerakan berat, katanya: "Ya, memang demikian." Besar perhatian Ciang Bing-cu, "Kenapa engkau dulu mau meyakinkan ilmu beracun ini?"

"Ini yang benar aku tidak bisa menentang kehendak ayah,

masing-masing orang memang punya nasibnya sendiri, begitulah."

"Ai," helaan napas Ciang Bing-cu mengandung putus harapan, sedih dan rawan. Tiba-tiba Ji Bun ingat kata-kata Biau-jiu Siansing, pikirnya, apa betul dia memang ada maksud tertentu?

"Kakak Ji, aku tak kuat banyak minum, silakan kau makan sekenyangnya."

Ji Bun mengiakan, penasaran dan dendam selama ini yang belum terlampias membuat pikirannya pepat, tanpa terasa secangkir demi secangkir dia telah tenggak puluhan cangkir arak, lama kelamaan kepala terasa berat, pandanganpun mulai kabur, setelah dia melihat dua bayangan Ciang Bing-cu baru dia melonjak kaget, ia tahu bahwa dirinya mulai mabok, segera ia letakkan cangkir dan bangkit berdiri dan berkata: "Maaf akan kekasaranku ini aku mohon pamit

saja."

Begitu bergerak, badannya seketika tergeliat, kaki terasa enteng kepala amat berat, hampir saja dia jatuh tersungkur, untung Ciang Bing-cu lantas memapahnya.

Kata Ciang Bing-cu lembut: "Kau mabok, kakak Bun."

Ji Bun ingin menolak bantuan orang, namun badan lemas dan kaki sempoyongan, kepalapun pening, terpaksa dia mendoprok duduk dikursinya lagi. Selama hidup baru pertama kali Ji Bun minum arak sampai mabok, andaikata kepandaiannya setinggi langit juga takkan mampu mengendalikan diri lagi.

"Marilah kupapah masuk kekamar istirahat,” kata si nona.

"Ma mana boleh, jangan, jangan kau sentuh tangan kiriku."

"Aku tahu," kata Ciang Bing-cu, dia tarik tangan kanan Ji Bun serta memapahnya keluar villa terus menuju ke pintu rembulan di kanan sana. Para pelayan yang meladeni di situ sama melongo dan keripuhan, tanpa perintah mereka tiada yang berani maju membantu. 

Dengan langkah sempoyongan dan setengah terseret Ji Bun membiarkan dirinya dipapah masuk sebuah kamar buku, begitu rebah di atas ranjang, badan terasa lunglai tak mampu bergerak lagi. Ciang Bing-cu segera menurunkan kelambu serta menutup pintu dan tinggal pergi.

Waktu Ji Bun sadar dan membuka mata, matanya silau oleh sinar lampu, malam sudah larut, namun dia bergegas bangun duduk, kepalanya masih terasa berat, mulutpun kering, baru saja dia bergerak hendak turun mengambil air, sebuah suara lembut berkata: "Kakak Bun, mari minum teh"

Sebuah cangkir porselin yang berbentuk indah disodorkan ke dalam kelambu, ternyata Ciang Bing-cu meladeni dengan tekun. Gugup dan malu Ji Bun dibuatnya. "Ah, perhatian adik bikin aku malu saja."

Pikirannya sedikit jernih, lalu katanya pula: "Banyak terima kasih, sekarang waktu apa?"

"Jam empat pagi."

"Silakan adik juga istirahat saja."

"Baik, engkau juga harus tidur, keperluanmu sudah kusediakan, silakan ambil di sini."

"Terima kasih," kata Ji Bun.

Dengan pandangan tajam Ciang Bing-cu menatap Ji Bun sekali lagi, lalu beranjak keluar dengan langkah gemulai, tak lupa dia tutup pintu dari luar.

Ji Bun duduk melamun dipinggir ranjang, tak tahu betapa perasaan hatinya sekarang apakah setimpal dia mendapat pelayanan begini? Laki perempuan ada batasnya, walau sama-sama orang persilatan, namun batas-batas tertentu masih harus dipegang teguh, lantas apa maksud dan sikap Ciang Bing-cu yang luar biasa ini?

Setelah menghabiskan secangkir teh, Ji Bun merebahkan diri, rasa kantuknya sudah hilang, bayangan Ciang Bing-cu nan molek masih terbayang-bayang, setelah gulak-gulik tak bisa tidur, pikirannya semakin kusut, akhirnya ia bangkit dan turun dari ranjang, langkah kakinya masih enteng seperti mengambang. 9.26. Kau .... Tidak Takut Racun ??

Dia mondar-mandir di kamar buku itu, akhir¬nya duduk dikursi dekat rak buku, tanpa tujuan dia memandangi koleksi buku-buku kuno serta lukisan dari pujangga jaman dahulu. Mendadak dia terkesiap, pandangannya terbeliak. Ternyata diantara rak buku dan barang-barang antik sana, pada kotak kedua baris tengah, tampak sebuah patung Budha kecil ukuran dua kaki yang terbuat dari batu putih, tepat pada letak jantung dari patung itu berlubang sebesar kepalan anak kecil.

Tidak salah lagi, patung Budha batu putih ini jelas adalah Sek- hud yang pernah diperoleh Cip-po-hwecu dan akhirnya direbut oleh Biau-jiu Siansing, seperti diketahui Sek-hud dipandang pusaka persilatan yang diperebutkan berbagai golongan, bagaimana mungkin tahu-tahu berada di antara rak barang-barang antik di rumah Ciang Wi-bin?

Berapa jiwa sudah berkorban karena Sek-hud, tidak sedikit manusia yang rela mengorbankan jiwa raga untuk merebut Sek-hud ini. Entah cara bagaimana Ciang Wi-bin bisa mendapatkan Sek-hud ini, mestinya dia menyimpannya di tempat rahasia, kenapa hanya ditaruh begini saja di antara koleksi barang-barang antiknya?

Mungkinkah dia tak tahu seluk-beluk dan nilai Sek-hud ini? Tapi ini tidak mungkin.

Sek-hud adalah barang peninggalan Pek-ciok Sin-ni, Pui Ci-hwi adalah murid didiknya, namun Wi-to-hwe mempunyai hubungan yang kental dengan Pui Ci-hwi, betapa banyak jago-jago silat Wi-to- hwe yang berkepandaian tinggi, kenapa pihak mereka diam saja tanpa mengambil tindakan? Hal ini benar-benar sulit dimengerti, mungkin ada udang dibalik batu?

Lama sekali Ji Bun melamun mengawasi Sek-hud, martabat Ciang Wi-bin dikenal cukup bijaksana dan suka blak-blakan, hal inipun sukar untuk dijajaki. Selagi dia tenggelam dalam pemikiran, tiba-tiba pintu kamar berbunyi berkeriut dibuka dari luar, waktu Ji Bun putar badan, tampak seorang tua bertubuh tegap berjenggot kambing melangkah masuk.

Bahwa Ciang Wi-bin kembali pada saat pagi buta begini, hal ini betul-betul diluar dugaan Ji Bun, tersipu-sipu dia melangkah maju memberi hormat: "Keponakan tidak berbudi memberi salam hormat pada paman."

Ciang Wi-bing tergelak-gelak sambil mengelus jenggotnya, katanya: "Hiantit, kebetulan sekali, syukurlah kau sudi berkunjung kerumahku, silakan duduk."

"Paman juga silakan duduk."

"O, apakah Hiantit sedang menikmati Sek-hud ini."

Merah muka Ji Bun, sahutnya likat: "Ya, kabarnya Sek-hud ini adalah barang pusaka persilatan ”

"Semula memang benar, namun kini tidak.” "Kenapa demikian?"

"Apakah Hiantit tidak melihat Sek-hud ini rada ganjil?"

"Lubang yang tepat berada dihati Sek-hud ini, maksud paman?" "Ya, benar, kemujijatan Sek-hud terletak pada Hud-sim (hati

Budha), namun patung ini sudah tak berhati. Paman membelinya dari tukang loak, kulihat buatannya cukup baik dan antik, maka kubeli dengan sepuluh tahil perak."

"Dari mana paman tahu kemujijatan Sek-hud ini terletak pada Hud-sim?"

"Setiap orang akan tahu, tiada sebuah patung manapun yang dibuat atau diukir tanpa hati, pada lubang itu ada bekas-bekas cukilan. Betapa tinggi nilai keantikan Sek-hud ini, bagaimana mungkin bisa terjatuh ke tangan tukang loak?"

Sementara itu mereka sudah duduk berhadapan, wajah Ciang Wi- bin menampilkan rasa duka, suaranyapun sedih: "Keluargamu tertimpa bencana, paman amat menyesal tidak bisa memberi bantuan apapun"

Pilu hati Ji Bun, air mata sudah berkaca dikelopak matanya, namun dia tahan jangan sampai menetes, katanya: "Terima kasih atas perhatian paman, Siautit bersumpah akan membalas dendam.”

Katanya kau sudah berhasil mencari tahu siapa-siapa musuhmu itu?" "Ya, tapi masih belum bisa dipastikan."

"Hiantit, hubungan keluarga kita seperti saudara kandung sendiri, aksi apa yang hendak kau lakukan sukalah kau memberitahu kepadaku lebih dulu."

"Baik, keponakan berjanji."

"Ai, ayahmu berwatak aneh dan menyendiri, sejak peristiwa itu terjadi selama ini tak pernah dia muncul tentunya kau tahu dimana jejaknya sekarang?"

Terbayang akan kematian ayahnya yang mengenaskan di hutan, tak tertahan lagi bercucuran air matanya giginya berkerutukan menahan gelora sakit hatinya, sorot matanyapun penuh kebencian, wajahnya pucat pasi, ingin menerangkan, namun mengingat ini adalah nasib jelek dirinya sendiri, segala siksa derita harus ditanggung sendiri, maka dengan sedih ia menjawab: "Sampai sekarang keponakan juga sedang berusaha menemukan ayah."

"Lalu bagaimana ibumu," "Jejak ibupun tidak diketahui,"

"Ai, agaknya takdir memang berkehendak demikian. Kuharap keponakan tidak usah putus asa, aku sudah minta bantuan orang untuk mencari mereka,” demikian kata Ciang Wi-bin, lalu dia bertanya, "Kau kemari lantaran soal anting-anting pualam itu?" "Keponakan amat menyesal ”

"Soal ini tidak perlu dibuat risau, paman punya cara untuk menyelesaikannya."

"Tapi keponakan tidak tenteram."

Ciang Wi-bin menepekur sebentar, katanya kemudian: "Tentunya kau sudah tahu akan ikatan jodohmu dengan anak Cu oleh ayahmu dulu. Anak Cu juga pernah dapat pertolonganmu dari orang-orang Cip-po-hwe, arti dari pemberian anting-anting itu memang amat mendalam, tapi paman tidak akan memaksakan soal ini, soal jodoh harus sama-sama disetujui oleh kedua pihak "

Dia hentikan kata-katanya sambil mengawasi reaksi Ji Bun.

Ji Bun menjadi gundah dan bingung, soal ikatan jodoh ini tidak akan dia sangkal, Ciang Bing-cu termasuk seorang gadis jelita, namun tangan kirinya yang berbisa merupakan penghalang yang membatasi diri untuk berdekatan dengan lawan jenisnya, apalagi keluarganya tertimpa bencana, sebelum sakit hati terbalas, betapapun dia pantang membicarakan jodoh, maka dia berkata: "Tentunya paman sudah tahu akan rahasia tangan berbisa keponakan?”

Berubah air muka Ciang Wi-bin, katanya: "Ya, ini memang soal pelik, tapi paman akan berusaha untuk mendapat obat penawarnya meski harus mengorbankan apapun ” "Kebaikan paman akan terukir dalam lubuk hati keponakan, cuma racun ini mungkin tiada obat penawarnya."

"Thian punya kuasa manusia berusaha, asal kita mau berusaha, tiada sesuatu persoalan yang tidak bisa dibereskan. Demikian pula tiada racun yang tak bisa ditawarkan."

"Menawarkan racun soal gampang, sulit untuk melenyapkan landasan Lwekangnya."

"Soal ini boleh kita tunda saja, bagaimana pendapatmu terhadap Bing-cu?”

Serba susah bagi Ji Bun untuk memberi jawaban, gadis baju merah Pui Ci-hwi terlebih dulu menarik perhatiannya, namun setelah tahu orang sekomplotan dengan musuhnya, rasa cintanya ini sudah pudar. Begitu tinggi cinta murni Thian-thay-mo-ki terhadap dirinya, sayang kelakuannya terlalu tercela. Gadis semacam Ciang Bing-cu memang jodoh yang setimpal dan menjadi idam-idaman banyak orang. Dendam sakit hati keluarga belum terbalas, mati hidup diri sendiri juga sukar diramalkan, ilmu berbisa merupakan penghalang yang terbesar lagi, kalau tiada harapan untuk ditawarkan, sebagai seorang laki-laki sejati mana boleh menelantarkan masa remaja seorang gadis yang punya masa depan gemilang? Maka dengan sungguh dia berkata: "Budi luhur dan perhatian paman tak berani keponakan melupakan dan menampik, apalagi ada perintah orang tua, namun keponakan sekarang belum berani menerimanya "

"Kenapa?" "Selama ilmu beracun ini masih melekat pada tubuh keponakan, betapapun keponakan tak berani menyia-nyiakan masa remaja adik Cu."

"Memang bijaksana keputusanmu, namun Bing-cu si budak itu sudah bersumpah dalam hati, betapapun dia tidak akan mengingkari janji kedua keluarga yang telah menjodohkan kalian."

Ji Bun amat menyesal, katanya: “Harap paman suka membujuk adik Cu dan menjelaskan kesulitan keponakan ini."

"Watak adikmu terlalu keras dan kukuh, tiada gunanya aku membujuknya."

Ji Bun menunduk dengan masgul, lama dia termenung, lalu berkata sambil angkat kepala: "Baiklah, Siautit berjanji, dikala ilmu beracun ini dapat ditawarkan saat itulah Siautit akan memenuhi janji perjodohan ini."

Ciang Wi-bun mengunjuk rasa serba susah, lama sekali iapun berdiam diri.

"Agaknya paman ada kesulitan, silakan katakan saja,"

Ciang Wi-bin berdiam sesaat lamanya lagi, dengan apa boleh buat akhirnya dia buka suara: "Adikmu mengatakan ”

Tergerak hati Ji Bun, lebih besar keinginan untuk tahu, tanyanya: "Paman jelaskan saja." "Anak Cu bilang umpama tiada obat penawarnya, terpaksa "

"Terpaksa apa?"

"Terpaksa potong saja lengan kirimu."

Ji Bun betul-betul kaget, namun dia mengakui, memang hanya inilah jalan satu-satunya, walau keputusan itu agak kejam, namun kesalahan terletak, pada sang ayah yang telah menurunkan ilmu Bu- ing-cui-sim-jiu ini padanya, kemungkinan sang ayah dulu mempunyai perhitungannya sendiri, meski kesalahan sudah terjadi kini beliau sudah meninggal, sebagai seorang anak yang harus berbakti kepada orang tua, apa pula yang harus dia katakan. Maksud Ciang Bing-cu juga baik, tujuannya hanya ingin menikah dengan dirinya, tujuan baik dan luhur ini sekaligus menandakan betapa mendalam dan suci murni cintanya terhadap dirinya.

"Maksud adik Cu cukup mengharukan, memang cara itu boleh dilaksanakan bila terpaksa, namun demikian keponakan akan menjadi seorang cacad, apakah setimpal berjodoh dengan adik Cu

......”

"Hiantit, paman sudah bilang, akan berusaha mendapatkan obat penawarnya meski harus mengorbankan apapun sekarang soal ini boleh dikesampingkan dulu."

"Masih ada persoalan yang perlu kusampaikan kepada paman." "Ya, katakan saja." "Dendam keluarga betapapun harus dibalas, jejak ayah-bunda belum terang, mati-hidup keponakan kelak sukar diramalkan, maka usul paman ini kukira ditunda dulu."

"Ayahmu seorang luar biasa, tentu diapun punya perhitungan yang luar biasa pula, aku percaya secara diam-diam dia pasti sudah mengatur rencana untuk menuntut balas, kuharap di dalam, setiap langkah-langkah keponakan harus dipikir dulu secara seksama."

Berlinang-linang air mata Ji Bun, ayahnya sudah meninggal, rencana apa pula yang dapat dilakukan beliau, sayang dia belum mampu menumpas para musuhnya secepat mungkin.

Ciang Wi-bin berbangkit, katanya: "Kau masih harus istirahat, hari sudah hampir terang tanah segala persoalan bicarakan besok saja."

Ji Bun ikut berdiri, katanya: "Setelah terang tanah, keponakan ingin pamit "

"Tidak, jangan, betapapun kau harus menginap beberapa hari di sini," habis berkata Ciang Wi-bin lantas keluar.

Perasaan pilu dan sedih yang belum pernah dirasakan oleh Ji Bun tiba-tiba merangsang sanubarinya, masa depan masih kabur, nasib apa yang bakal menimpa dirinya?

Api lilin sudah guram, cuaca diluar sudah mulai remang-remang fajar telah menyingsing. Sekonyong-konyong terdengar jengekan tawa dingin di luar kamar buku begitu dingin dan menggiriskan sekali tawa ini. Bukan kepalang kejut Ji Bun, dia berjingkrak berdiri, bentaknya: "Siapa?"

Sebat sekali badannya melayang keluar kamar dan hinggap di luar pekarangan.

Gerakan Ji Bun cukup sebat, namun tiada sesuatu bayangan yang dilihatnya. Tengah dia melenggong, kembali terdengar jengek tawa dingin tadi, kali ini berkumandang dari arah wuwungan sebelah kiri. Reaksi Ji Bun boleh dikata sudah teramat cepat, bagai anak panah tubuhnya segera meluncur ke atas wuwungan, dilihatnya sesosok bayangan abu-abu tengah kabur ke arah barat, karena gregetan, tanpa pikir Ji Bun segera mengejar dengan kencang.

Bayangan itu sungguh sangat gesit dan cepat sekali, dalam sekejap bayangan itu tahu-tahu sudah lenyap di balik wuwungan rumah sekitarnya. Tahu tiada harapan menyusul lagi, dengan lesu Ji Bun putar balik, baru saja badannya meluncur turun di pekarangan, dilihatnya Ciang Wi-bin beserta, beberapa orang pembantunya tengah ribut-ribut di kamar.

Bing-cu berlari keluar memapaknya, katanya: "Kakak Bun, adakah kau lihat jejak musuh?"

“Cepat sekali gerakan orang itu, aku kehilangan jejaknya," sahut Ji Bun. "Apa yang terjadi di dalam?"

"Sek-hud telah dicuri orang," tutur si nona. Ji Bun menjadi kikuk dan rikuh, dia merasa dirinya teramat bodoh, begitu gampang dikelabuhi dengan pancingan orang meninggalkan kamar buku sehingga Sek-hud dicuri orang.

Seperti tidak terjadi apa-apa Ciang Wi-bin melangkah keluar, katanya: "Hantit tidak usah berkecil hati, Sek-hud sudah tak berharga lagi, hilang ya sudahlah."

Sementara itu hari sudah terang tanah, Ciang Wi-bin bersama puterinya mengundurkan diri, Ji Bun kembali ke kamar dan membersihkan badan, tak lama kemudian seorang kacung membawanya ke villa yang kemarin Ji Bun bicara dengan Ciang Wi- bin. Ciang Wi-bin berdua sudah menunggu kedatangannya, mereka menyambut dengan hangat, walau sarapan pagi, tapi hidangan cukup banyak ragamnya.

Setelah makan, dengan kukuh Ji Bun minta diri. Terunjuk rasa hambar seperti kehilangan sesuatu pada wajah Ciang Bing-cu. Walau Ciang Wi-bin sudah membujuk berulang kali, tapi Ji Bun tetap kukuh hendak menunaikan tanggung jawab keluarga. Hari itu juga Ji Bun lantas meninggalkan tempat keluarga Ciang.

Dengan langkah lebar Ji Bun meninggalkan Kayhong langsung menuju ke Tong-pek-san, kini dia merasa sudah tiba saatnya untuk beraksi, pertama dia harus menuju ke Wi-to-hwe menyelidiki jejak Siangkoan Hong, lalu menuntut balas secara terbuka. Lwekang dan kepandaian silatnya sekarang sudah meyakinkan untuk menuntut balas seorang diri. Hari itu dia tiba di tempat yang dulu untuk pertama kali dia melihat gadis baju merah Pui Ci-hwi sehingga membatalkan niatnya mengajukan lamaran kepada puteri keluarga Ciang, serta merta langkahnya merandek, terbayang akan pengalaman selama ini, cintanya bertepuk sebelah tangan. Namun sejak tahu Pui Ci-hwi adalah segolongan dengan para musuhnya, cintanya itu sudah lama pudar, apalagi Cui Pi-hwi sekarang sudah dinodai oleh Liok Kin, majikan muda dari Cip-po-hwe.

Tengah dia berdiri melamun, tiba-tiba bayangan merah nan molek semampai terbayang dikelopak matanya, berdegup jantungnya, dia kira pandangannya kabur, setelah dikucek-kucek, jantungnya berdebar-debar setelah melihat lebih jelas lagi, kiranya bayangan merah itu memang betul Pui Ci-hwi adanya.

Wajah Pui Ci-hwi agak pucat, badanpun rada kurus, sorot matanya pudar menampilkan kepedihan. Lekas Ji Bun mendekatinya, sapanya: ''Selamat bertemu nona Pui."

Pui Ci-hwi berhenti sambil berpaling, mukanya yang pucat bersemu merah, namun cepat sekali sikapnya berubah dingin pula, katanya tawar: “O, kiranya tuan."
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(