Hati Budha Tangan Berbisa Jilid 08

 
Jilid 08

Ada keinginan Ji Bun mengejar Liok Kin dan membunuhnya, namun pikiran lain membatalkan niatnya, ia harus mencari kesempatan untuk bicara dengan Pui Ci-hwi, banyak persoalan yang harus mendapatkan jawaban dari mulutnya, hal ini jauh lebih baik dari pada dia main teka teki sendiri, cuma yang dia kuatirkan adalah nenek berpakaian warna warni ini.

Tengah ia berpikir-pikir, tiba-tiba didengarnya si nenek mengejek dingin: "Siapa itu, tidak lekas menggelinding keluar sendiri, memangnya perlu dipersilakan keluar?"

Bergetar hati Ji Bun, ia kira jejaknya sudah konangan, baru saja ia hendak keluar, tiba-tiba terdengar suara tawa dingin yang berat, bayangan seorang berperawakan besar tiba-tiba muncul dari semak- semak dedaunan sana. Diam-diam Ji Bun merasa lega, ternyata yang dimaksud bukan dirinya. Waktu ia mengintip ke sana, dilihatnya yang muncul adalah seorang Thauto atau imam piara rambut yang sudah ubanan dengan rambut terikat gelang perak di atas kepalanya. Tangannya menjinjing sebatang sekop besar, beratnya mungkin ada seratusan kati.

Agaknya nenek itu juga merasa diluar dugaan, teriaknya dengan terbeliak: "Oh, kau?" Tak acuh sikap Thauto itu melangkah ke depan si nenek, setombak jauhnya baru berhenti, katanya dengan cengar-cengir: “Tidak sangka bukan?"

"Hm," si nenek menggeram, "Pek-siu-thay-swe, memang tidak kusangka, kukira kau sudah lama mampus dan tinggal tulang belulangmu saja."

Hati Ji Bun betul-betul amat terkejut, tak nyana bahwa Thauto ini adalah salah satu dari Bu-lim-siang-koay (dua orang aneh dari Bu- lim) yang pernah dia dengar dari cerita ayahnya. Jika begitu, jadi si nenek ini adalah Jay-ih-lo-sat tentunya. Kedua orang aneh ini sama- sama bertabiat miring dan menyendiri, kejam dan keji. Puluhan tahun yang lalu, tokoh-tokoh dari aliran putih dan golongan hitam sama lari terbirit-birit bila mendengar nama mereka, kabarnya kedua orang aneh ini akhirnya gugur bersama setelah saling berhantam sengit, mayat mereka yang terjatuh ke dalam jurang tak ditemukan, agaknya berita yang didengarnya itu jauh menyimpang dari kenyataan, buktinya kedua orang aneh ini sekarang muncul berhadapan pula di sini.

Terdengar Pek-siu-thay-swe menyeringai seram menunjukkan gusinya yang ompong: "Jay-ih-lo-sat, kalau aku mampus, siapa yang akan membereskan mayatmu?"

Si nenek menarik muka, dengusnya: "Katakan terus terang, apa maksud kedatanganmu?"

"Tentunya membuat perhitungan lama itu." "Dengan cara apa kau hendak membuat perhitungan?"

"Pertempuran di puncak Kim-ting di gurun Gobi pada 30 tahun yang lalu tadinya kukira bakal menentukan siapa unggul dan asor di antara kita, tak nyana kini kau masih tetap hidup ”

"Jadi maksudmu ingin menyelesaikan persoalan itu sampai salah satu pihak menemui ajal."

"Memangnya kau kira bisa hidup lagi?" “Baik, silakan turun tangan."

"Nanti dulu peraturan lama tak boleh dilanggar, selama kita bergebrak aku tidak ingin ada orang ketiga hadir di sini."

Jay-ih-lo-sat mengulap tangan kepada Pui Ci-hwi, katanya: "Budak, pergilah kau, pulang saja.”

"Lolo," sahut Pui Ci-hwi tertegun, "aku tak mau pulang."

"Kau mau ke mana? Berani kau tidak patuh pada omonganku?"

Rawan pandangan Pui Ci-hwi. Bibirnya bergerak, namun urung bicara, akhirnya ia membungkuk memberi hormat terus beranjak ke luar hutan.

Terbangkit semangat Ji Bun, inilah kesempatan baik, dari mulut Pui Ci-hwi dia akan berhasil membongkar segala persoalan yang selama ini mengganjal hatinya. Pada saat ia hendak menggeremet mundur untuk mengejar Pui Ci-hwi, tiba-tiba Pek-siu-thay-swe berseru: "Anak muda, menggelinding keluar!"

Karena jejaknya sudah konangan, sudah tentu Ji Bun tak bisa ngeloyor pergi, cepat ia sembunyikan lengan kirinya ke dalam baju terus melangkah keluar.

Tanpa bicara Pek-siu-thay-swe angkat sekop terus mengepruk kepala Ji Bun.

"Tahan!” bentak Jay-ih-lo-sat.

"Apa maksudmu?" Pek-siu-thay-swe menghentikan gerakkannya sambil menoleh.

"Kau dilarang menyentuhnya." "Siapa sih dia?"

"Teman Hwecu kami."

"Hwecu. Ha ha ha, hampir aku lupa bahwa Jay-ih-lo-sat sekarang juga membela keadilan menegakkan kebenaran segala, sungguh berita gembira dalam Bu-lim sepanjang masa ”

"Kenapa harus ditertawakan, jahat dan baik hanya terpaut segaris saja, taruhlah golokmu dan sembahlah pada Buddha."

"Jay-ih-lo-sat sudah telanjur kotor dan bau darah kedua tangannya, memangnya juga bisa diterima menjadi murid Buddha?" "Tak perlu banyak cerewet!" sahut si nenek.

"Baiklah, kulanggar kebiasaanku sekali ini, lekaslah enyah, anak muda!"

"Dia justeru harus tetap di sini, sebagai wasit dan menjadi saksi." "Berita aneh, berita aneh! Ha ha! Nenek tua renta seperti kau ini

juga memerlukan wasit dan saksi segala ”

"Hm, sebagai seorang anggota Wi-to-hwe, meski untuk menyelesaikan urusan pribadi juga tidak ditertawa orang."

"Apa dia setimpal jadi saksi?" "Kenapa tidak setimpal?"

"Nenek cerewet, kau paksa aku melanggar kebiasaan, baiklah, biar dia di sini supaya bisa mengurus mayatmu nanti, daripada Lohu sendiri yang bekerja, tapi ada syaratnya."

"Syarat apa?"

"Dia harus mampu melawan sekali pukulan Lohu."

"Pek-siu-thay-swe, jangan takabur, memangnya kau bermaksud membunuhnya bukan?" Ji Bun menjadi gregeten, sebetulnya ia tidak mau jadi wasit atau saksi segala, siapa hidup atau mati toh tiada sangkut pautnya dengan dirinya, namun ia ingin mendapat kesempatan menyaksikan kepandaian silat dan Lwekang kedua orang aneh ini, bahwa Jay-ih- lo-sat adalah salah satu anggota Wi-to-hwe, iapun merupakan salah satu musuhnya yang tangguh pula, di dalam melaksanakan rencananya menuntut balas, betapapun ia perlu menyelami sampai di mana tingkat kepandaiannya, di samping itu ia merasa penasaran karena di ejek, dicemooh oleh Pek-siu-thay-swe, bukankah nama gelaran Te-gak Suseng cukup cemerlang bagi telinga kebanyakan orang. Maka dengan dingin ia segera menyeletuk: "Kalau begitu, Cayhe jadi kepingin menjadi saksi."

Dengan temberang Pek-siu-thay-swe berkata: "Anak muda, apa kau sudah tahu bahwa menjadi saksi itu tidak gampang?”

Jay-ih-lo-sat segera menanggapi: "Kenapa kau harus menjajal dia dengan pukulanmu?"

"Ingin kulihat apa dia setimpal menjadi saksi atau tidak?" "Tiada persoalan setimpal atau tidak! Nenek bawel, kau sendiri

yang main-main mengajukan saksi segala?”

"Kau suruh dia menghadapi pukulanmu, terang kau bermaksud tidak baik."

Ji Bun mengelutuk tawar: "Tidak jadi soal, aku siap menghadapi pukulannya." Melotot mata Jay-ih-lo-sat, katanya: "Buyung, kau adalah tamu agung Hwecu kami, bagaimana aku harus memberi keterangan kepada Hwecu nanti?"

Ji Bun tertawa geli dalam hati, tamu agung segala, bukan mustahil di balik semua ini ada latar belakangnya, betulkah begini besar perhatiannya? Dua jiwanya hampir tamat oleh serangan gelap Komandan ronda perkumpulan itu, semua peristiwa yang saling bertentangan ini, sungguh sukar diraba, maka ia berkata dengan kukuh: "Biarlah, Cayhe betul-betul ingin menjajal pukulan Cianpwe ini."

"Kutarik pernyataanku tadi, tidak perlu pakai saksi segala, Buyung, kau pergilah."

Pek-siu-thay-swe mendengus: "Kau ini plintat-pelintut, Lohu tidak akan menjilat lidah sendiri, kalau dia mau pergi juga harus menerima pukulanku dulu."

"Memangnya membunuh orang sebagai hobimu?"

"Nenek bawel, kenapa hatimu menjadi begini baik? Ha ha ha ha

...........”

Ji Bun tahu bahwa Jay-ih-lo-sat kuatir dirinya tidak kuat menghadapi pukulan Pek-siu-thay-swe, karena tujuan Pek-siu-thay- swe memang hendak memukul mampus dirinya untuk mempertahankan kebiasaannya. Tapi kenapa Jay-ih-lo-sat begitu getol membela dirinya, hal ini merupakan tanda-tanda tanya pula, segera ia maju dua langkah dengan membusung dada, serunya: "Silakan memberi petunjuk."

7.21. Racun Bu-ing-cui-sim-jiu

Apa boleh buat Jay-ih-lo-sat mundur ke samping, katanya: "Kesatria boleh dibunuh pantang dihina, secara sukarela Cayhe menerima gemblengan ini."

Pek-siu-thay-swe pindah sekopnya ketangan kiri, lalu berkata dengan suara berat: "Sambut pukulan ini!"

Kedua lutut rada ditekuk dan setengah jongkok, telapak tangan kanan tiba-tiba mendorong ke depan, segulung angin kencang seketika menerjang ke arah Ji Bun.

Sedikitpun Ji Bun tak berani lena, ia kerahkan sepenuh kekuatannya, begitu menarik napas, mulut berteriak ia songsong pukulan lawan.

“Daaar!" dahsyat luar biasa pasir berterbangan dan batu berloncatan, dan pohon sama berhamburan, beberapa tombak sekeliling gelanggang pepohonan sama tergetar, sungguh hebat dan mengejutkan bentrokan kedua kekuatan yang luar biasa ini.

Kontan Ji Bun merasakan pandangan berkunang-kunang, darah mengalir balik ke atas hampir menyembur dari mulutnya, namun ia tetap tak bergeming di tempatnya berdiri sekokoh gunung. Sebaliknya Pek-siu-thay-swe tergeser empat kaki dari kedudukan semula, kulit daging mukanya berkerut, matanya memancarkan sinar-sinar tajam yang mengerikan, keringat bertetes-tetes, lama sekali baru dia kuasa berbicara: "Habis ludes! Lohu memang cari penyakit dan memungut malu sendiri, sejak kini gelar Pek-siu-thay- swe kuhapus dari permukaan bumi.”

Sekali berkelebat, badannya melejit tinggi dan lenyap di dalam hutan.

Jay-ih-lo-sat sebaliknya berdiri melongo untuk sekian lamanya tanpa bersuara, hasil adu kekuatan ini sungguh di luar dugaannya, mimpipun tak pernah dia duga bahwa penilaiannya terhadap Ji Bun meleset begitu jauh.

Ji Bun sendiri juga amat haru, diam-diam ia meyakinkan diri sendiri dari hasil ujian barusan, ia percaya bahwa kemampuannya sudah cukup berkelebihan untuk bekal menuntut balas kepada musuh-musuhnya.

Dengan melongo Jay-ih lo-sat berkata: "Sahabat muda, Lwekangmu jauh di atas dugaanku."

"Ah, terlalu memuji," mulut Ji Bun menjawab, namun dalam hati ia membatin: "Memang masih banyak persoalan yang berada di luar dugaanmu."

Setelah tertegun lagi sejenak Jay-ih-lo-sat berkata: "Sahabat muda hendak kemana, atau kebetulan lewat di sini?" Tergerak hati Ji Bun, sahutnya: "Cayhe ada urusan, sengaja hendak mengunjungi Hwecu kalian."

"O, kalau begitu marilah kuantar," langsung mereka terus berlari menuju ke markas Wi-to-hwe. Dalam hati Ji Bun rada kecewa karena tak sempat menguntit gadis baju merah Pui Ci-hwi sesuai rencananya tadi kesempatan itu mungkin sukar diperoleh lagi, kalau tidak menggunakan akal, apa lagi hendak membongkar semua teka- teki yang selama ini mengganjel hatinya, namun urusan sudah kadung berlarut, biarlah cari kesempatan lain saja.

Sepanjang jalan, diam-diam Ji Bun memperhatikan sekelilingnya, didapatinya bahwa situasi sekarang sudah jauh berbeda dengan pertama kali dia datang tempo hari, mulut lembah untuk memasuki markas besar kini sudah didirikan pos penjagaan, sepanjang jalan banyak tersebar pula petugas ronda, di sekitar markas besar tidak sedikit pula didirikan rumah-rumah gedung dengan denah yang cukup luas.

Agaknya Jay-ih-lo-sat mempunyai kedudukan tinggi di dalam perkumpulan, tanpa memberi laporan lebih dulu, dia langsung membawa Ji Bun masuk ke ruang pendopo. Setelah Ji Bun dipersilakan duduk, Jay-ih-lo-sat lantas mengundurkan diri.

Pikiran Ji Bun cepat bekerja, sebentar lagi ia harus mengorek keterangannya. Belum berhasil pikirannya menemukan putusan, tahu-tahu Wi-to-hwecu sudah muncul dari pintu sana.

Lekas Ji Bun berdiri menyambut, katanya sambil membungkuk hormat: "Cayhe menghadap Hwecu." Wi-to-hwecu tertawa lantang, katanya riang: "Sahabat muda tak perlu banyak adat, silakan duduk."

"Terima kasih," sahut Ji Bun. Setelah masing-masing duduk, seorang pelayan kecil muncul menyuguhkan teh.

Wi-to-hwecu berkata pula: "Syukurlah sahabat muda suka berkunjung kemari lagi, aku senang sekali."

Tutur katanya ramah dan rendah hati lagi, ini menandakan bahwa dia sangat menghargai kedatangan Ji Bun, namun bagi penerimaan Ji Bun justeru kebalikannya, semakin dipikir ia merasa tingkah orang teramat ganjil, entah muslihat keji apa pula yang tersembunyi di balik keramah-tamahan ini, maka ia berdiri dan berkata: ''Kunjunganku yang tiba-tiba ini harap Hwecu tidak berkecil hati." Ia sudah berkeputusan untuk bicara blak-blakan, maka melanjutkan: "Hwecu, Cayhe mempunyai suatu permintaan yang mungkin kurang patut diajukan."

"Ada persoalan apa, silakan saudara katakan saja," sambut Wi-to- hwecu tersenyum.

"Cayhe ingin bertemu dengan komandan ronda perkumpulan kalian untuk bicara beberapa patah kata."

“Khu In maksudmu? Saudara kenal dia?" "Pernah bertemu sekali." "Itu gampang," kata Wi-to-hwecu lalu ia memukul genta kecil di samping tempat duduknya. Seorang laki-laki berpakaian hitam segera muncul di ambang pintu, serunya: "Ong Cap-yang berdinas siap menerima perintah."

"Panggil komandan Khu untuk menghadap!"

Laki-laki itu mengiakan sambil membungkuk terus mengundurkan diri. Tidak lama seorang laki-laki berperawakan sedang bermuka hitam memasuki ruang pendopo. Serunya: "Hamba Khu In menghadap hwecu!"

"Kemarilah."

Laki-laki muka itu mengiakan dan maju berdiri di depan sang Hwecu dengan tangan lurus kebawah.

Seketika Ji Bun dirangsang nafsu membunuh namun sekuatnya ia tekan gejolak hatinya sehingga lahirnya tetap kelihatan tenang dan wajar.

"Hwecu memanggil entah ada tugas apa?" tanya orang itu. "Siauhiap ini ingin bertemu dengan kau.”

"O," Khu In bersuara dalam mulut dengan nada heran, pandangannya pun penuh tanda tanya menatap Ji Bun, Kebetulan sorot mata Ji Bun juga menatapnya, terasakan sinar mata orang ini rada berbeda, namun bentuk dan perawakan tubuh serta dandanannya mirip sekali. "Siauhiap ingin bertemu dengan aku?" tanya Khu In "Entah ada persoalan apa?"

Pelan-pelan Ji Bun berdiri meninggalkan tempat duduknya, katanya dengan suara berat dan prihatin

"Sengaja aku kemari untuk menyatakan terima kasih akan hadiah yang kau berikan semalam."

"Apa?" Khu In melengak kaget, mukanya yang hitam menjadi semakin gelap dan mengunjuk rasa bimbang.

Ji Bun menarik muka, katanya dingin: "Perbuatanmu sungguh amat mengagumkan, sayang caranya kurang bisa dihargai."

Kedua biji mata Wi-to-hwecu memancarkan sinar yang berwibawa, katanya sekata demi sekata: "Komandan Khu, sebetul apa yang telah terjadi?"

Dengan heran dan bingung Khu In mundur selangkah, katanya: "Hamba tidak tahu apa yang dikatakan Siauhiap ini."

Ji Bun menyeringai tawar, katanya: "Hm, seorang laki-laki berani berbuat harus berani bertanggung jawab, kalau sudah berkepala harimau kenapa jadi berekor ular, aku yakin selamanya tak pernah bermusuhan denganmu, perbuatanmu kemarin tentu ada maksud tujuannya, maka sengaja aku kemari mohon penjelasan." Wi-to-hwecu membentak bengis: "Komandan Khu, jangan kau lupa akan kedudukanmu dan peraturan perkumpulan, tiada persoalan yang harus dirahasiakan, sebetulnya apa yang pernah kau lakukan?"

Bertaut alis Khu In, katanya bingung: "Hamba betul-betul tidak tahu apa-apa."

"Masakah begitu?" sang Hwecu menegas.

"Kalau ada yang kurahasiakan, hamba rela dihukum sesuai peraturan perkumpulan."

"Saudara muda, persoalan ini tidak sulit untuk diselidiki dan dibikin terang, silakan duduk, mari bicara secara blak-blakan saja."

Ji Bun mendongkol, namun ia duduk kembali ke tempatnya, rasa benci dalam dadanya hampir saia meledak, kalau ia tidak kuatir akan situasi sekelilingnya, mungkin sejak tadi sudah melabrak muka hitam ini.

Kata Wi-to-hwecu lebih lanjut: "Saudara muda, sukalah kau ceritakan terus terang apa yang pernah kaualami, mungkin aku bisa bertindak menurut keadaan?"

"Belum lama berselang," demikian tutur Ji Bun, "Cayhe disergap seorang misterius berpakaian jubah sutera mengenakan kedok, hampir saja jiwaku melayang ”

Bergetar tubuh Wi-to-hwecu, serunya: "Orang berkedok berjubah sutera?" Dengan nanar Ji Bun pandang muka orang, seolah-olah dia ingin meraba isi hati atau jalan pikiran Hwecu yang misterius ini, dari sorot matanya ia hendak meraba rasa kaget yang merangsang sanubarinya setelah mendengar keterangannya, agaknya persoalan takkan meleset terlalu jauh dari yang diduganya semula, maka dia menambahkan: "Betul, seorang berkedok yang mengenakan jubah sutera warna hijau. Apa Hwecu kenal dia?"

"Silakan saudara lanjutkan ceritamu."

"Setelah itu, di dalam hotel, kembali aku diserangnya secara menggelap, jiwaku hampir direnggut elmaut, penyerang gelap ini tetap orang berkedok berpakaian jubah sutera itu."

Serta merta matanya melirik kearah Khu In. "Hah dan selanjutnya?"

"Kemarin malam, di sebuah kelenteng kira-kira seratus li dari sini, aku mengalami serangan ketiga yang hampir menamatkan jiwaku pula."

"Penyerangnya tetap orang berkedok berjubah sutera itu?" "Kali ini bukan, tapi komandan ronda itu she Khu inilah.”

Khu In mundur dua langkah dengan mata terbeliak dan mulut terbuka lebar, suaranya tidak terdengar, mukanya yang hitam menjadi merah padam. Sejenak Wi-to-hwecu menepekur, lalu katanya: "Hal ini tidak mungkin."

Ji Bun tertawa dingin, katanya: "Tentu Hwecu punya alasan dalam hal ini.”

"Ya. ada dua alibi untuk menyangkal tuduhanmu. Pertama, kemarin malam komandan Khu menghadiri sebuah rapat yang kupimpin sendiri, setapakpun dia tidak meninggalkan sidang, sudah tentu tak mungkin dia pergi ke kelenteng sejauh seratus li untuk membunuh Siauhiap. Kedua, menurut laporan Jay-ih-lo-sat yang membawa Siauhiap kemari, katanya Siauhiap kuat beradu pukulan dan mengalahkan Pek-siau-thay-swe, ini membuktikan bahwa kepandaian silat Siauhiap jauh lebih tinggi dari komandan Khu, terang komandan Khu takkan mampu menyerang saudara bukan?"

Kedua alasan ini kedengarannya masuk akal, namun Ji Bun sendiri sudah mempunyai pendapat dan bukti-bukti yang nyata, maka iapun tak mau mundur, katanya dingin: "Apa Hwecu sudi mendengar bukti-bukti yang akan kuajukan?"

"Ya, sudah tentu, silakan terangkan."

"Pertama, sebelum turun tangan orang itu memperkenalkan diri sebagai Komandan ronda perkumpulanmu, apalagi perawakan dan bentuk rupanya sama. Kedua, ada saksi dan korban lain pada waktu itu."

"Siapa?" "Para korban itu adalah murid: Ngo-liu-kiong, yang menjadi saksi adalah Thian-thay-mo-ki dan Thong-sian Hwesio."

"Siapa itu Thong-sian Hwesio?" "Aku sendiri belum tahu."

Wi-to-hwecu mengawasi Khu In, namun Khu In menggeleng dengan kebingungan, setelah menepekur pula sejenak akhirnya Wi- to-hwecu berkata kepada Ji Bun: "Saudara muda, mungkin ada orang yang menyamar komandan Khu?"

Pihak sana menyangkal tuduhannya dengan berbagai alasan, Ji Bun menjadi tidak sabar lagi, mendadak ia berdiri, katanya penuh emosi: "Cayhe masih punya bukti-bukti lain."

"Saudara masih ada bukti?" Wi-to-hwecu menegas. "Ya, buktinya ada di tubuh komandan Khu ini.”

"Di badanku?" teriak Khu In melongo sambil menuding hidung sendiri.

Wi-to-hwecu juga berdiri, katanya serius: “Bukti apa, coba tunjukkan,"

"Harap komandan Khu tanggalkan ikat kepalanya." Seketika Khu In unjuk rasa gusar, namun dihadapan sang Hwecu ia tidak berani marah. Wi-to-hwecu memberi isyarat pelahan.

Apa boleh buat, Khu In melepas ikat kepalanya.

Ji Bun terbelalak dan tertegun di tempatnya, ternyata di atas jidat dan pinggir kuping komandan Khu tiada kelihatan codet bekas luka- luka, masih segar dalam ingatannya, laki-laki muka hitam yang memperkenalkan diri sebagai komandan ronda Wi-to-hwe ini pernah panik waktu Thian-thay-mo-ki membongkar kedoknya sebagai orang berkedok yang menyaru ayahnya dan ingin membunuhnya itu, di atas kuping sampai jidatnya ada codet luka memanjang yang kelihatan jelas, namun codet itu sekarang sudah lenyap. Sungguh kejadian aneh luar biasa.

"Saudara muda, silakan tunjukkan di mana?" tanya Wi-to-hwecu.

Ji Bun tidak menjawab, codet itu bisa saja ditutupi dengan keahlian seseorang yang pandai merias, tapi satu hal tak mungkin dipalsukan, yaitu laki-laki muka hitam itu pernah kena serangan tangannya yang beracun tanpa kurang suatu apa, dan kini tibalah saatnya dia membongkar segala persoalan. Kalau langkah terakhir ini berhasil, walau menyadari dirinya berada di dalam sarang harimau, terpaksa dia harus berjuang mati-matian mempertahankan hidup. Secepat kilat mendadak ia menerjang ke arah Khu In serta melancarkan serangannya yang jahat beracun.

Wi-to-hwecu tidak menduga Ji Bun bakal turun tangan, ia berteriak kaget, "He, kau?" Ditengah teriakan kaget inilah, "blang," Khu In jatuh terkapar, kaki tangan berkelejetan sebentar terus lemas lunglai tak bergerak lagi.

"Saudara berani membunuh orangku di sini?” bentak Wi-to- hwecu.

Kalut pikiran Ji Bun, semua harapannya gagal total, kenyataan komandan khu ini tidak kuat menahan serangannya, apakah dirinya harus berterus terang untuk menuntut balas? Ataukah menolong jiwanya untuk mengatur rencana lebih lanjut? Cepat sekali ia ambil berkeputusan, obat penawar dikeluarkan terus dijejalkan kemulut komandan Khu, lalu menutuk beberapa Hiat-to lagi, baru kemudian berkata dengan mengertak gigi: "Dia tidak bakal mati, Cayhe hanya menjajalnya untuk yang terakhir."

Setajam pisau sorot mata Wi-to-hwecu menatap muka Ji Bun, sekian lama dia diam saja. Ji Bun menduga orang mungkin bisa turun tangan namun orang tetap berpeluk tangan saja, hal ini membuatnya bingung malah.

Kini sudah terbukti bahwa Khu In bukan orang yang beberapa kali membokong dirinya, apakah asal usul sendiri sudah diketahui pihak lawan, masih merupakan teka teki pula. Memang siapakah orangnya yang menyaru Khu In? Apa tujuannya hendak membunuh dirinya?

"Saudara muda, tiada persoalan lagi bukan?" tanya Wi-te-hwecu penuh kesabaran. Ji Bun menarik napas panjang, sahutnya: "Cayhe amat menyesal dan mohon maaf."

"Syukurlah kalau urusan bisa selekasnya dibikin terang, kejadian ini tak perlu dipersoalkan."

"Terima kasih akan keluhuran Hwecu."

"Tadi saudara ada menyinggung orang berkedok? Apa sangkut pautnya dengan komandan Khu?"

"Pembunuh kemarin malam yang memperkenalkan diri sebagai komandan ronda itu, di pinggir jidatnya ada bekas luka yang mirip benar dengan codet di jidat orang berkedok itu, oleh karena itu Cayhe terpaksa harus menjajalnya."

"O, kiranya begitu, baiklah, kutanggung didalam waktu singkat teka teki ini pasti dapat dibongkar."

Tergerak pikiran Ji Bun, katanya: "Apakah Hwecu sudah tahu siapa orang berkedok itu?"

"Sedikit banyak sudah dapat kuraba juntrungannya."

Berdegup jantung Ji Bun, salah satu dari orang berkedok itu adalah ayah kandungnya, seorang yang lain adalah samaran, lalu siapa yang dimaksud dengan ucapan Wi-to-hwecu dari kedua orang itu? Kalau dirinya bertanya lebih lanjut, mungkin menimbulkan curiga orang. Sementara itu Khu In sudah mulai siuman sambil merintih lemas, tak lama kemudian pelan-pelan dia merangkak bangun.

"Komandan Khu," kata Wi-to-hwecu sambil mengulap tangan, tiada persoalan, kau boleh silakan istirahat."

Khu In melirik ke arah Ji Bun, setelah memberi hormat. ia mengundurkan diri.

Setelah berhadapan langsung dengan musuh besarnya, sungguh berat rasa hati Ji Bun untuk tinggal pergi begitu saja, betapapun dia harus mencari keterangan sebagai ancang-ancang untuk rencananya yang akan datang, namun bagaiman ia harus berkata? Setelah dipikir bolak balik, akhirnya ia mendapat akal, tanyanya: "Hwecu, bolehkah Cayhe mengajukan sebuah pertanyaan lagi?"

"Boleh saja, ada persoalan apa, boleh saudara utarakan. Silakan duduk."

Kembali mereka duduk menyanding meja, setelah menghirup seteguk air teh, pelan-pelan Ji Bun berkata: "Cayhe seorang keroco dalam Bulim, namun di sini Hwecu menyambutku sebagai tamu terhormat, hal ini sungguh membingungkan diriku."

Wi-to-hwecu tergelak-gelak, katanya: "Saudara, mungkin inilah yang jodoh, terus terang aku amat mengagumi watak dan kepolosan hatimu."

"Gelaranku terlalu jelek didengar, orangpun anggap sepak terjangku nyeleweng badanku cacad lagi ” "Saudara, badaniah jangan disejajarkan dengan hatiniah, soal nama dan gelarankan hanya sebutan kosong belaka. Yang penting perbuatan atau prilaku."

"Dalam hal ini, Cayhepun teramat rendah untuk dikatakan berperilaku baik, sungguh tak berani aku terima pujian Hwecu yang berkelebihan ini ”

"Saudara terlalu rendah hati ”

Percakapan ini berarti sia-sia, Wi-to-hwecu memang pandai berdiplomasi, dirinya terang takkan unggul berdebat, mungkinkah ia memang belum tahu asal usul dirinya?

Tapi persoalan lain seketika menggejolak sanubarinya pula, dengan sikap wajar segera ia bertanya: "Apakah Hwecu kenal orang yang bernama Siangkoan Hong?"

Bergetar badan Wi-to-hwecu, matanya menatap Ji Bun sekian lamanya, katanya: "Kenal, bukankah dia pernah mendapat pertolongan saudara, setiap waktu setiap saat dia tidak pernah melupakan budi kebaikanmu itu."

Kembali diluar dugaan Ji Bun, terus terang pembicaraan secara blak-blakan ini meyakinkan dirinya bahwa orang memang belum tahu akan asal usul dirinya. Maka ia bertanya lebih lanjut: "Harap tanya, di manakah dia sekarang?" "Karena ada kesulitan maka sementara dia harus mengasingkan diri, untuk hal ini harap saudara suka maklum."

"O, tentunya dia juga seorang anggota Wi-to-hwe?" "Betul, dia seorang anggota kehormatan."

"Kabarnya isterinya direbut dan puteranya dibunuh oleh Jit-sing- pocu Ji Ing-hong, apa benar?"

Terpancar sinar kebencian yang menyala dari mata Wi-to-hwecu, namun cepat sekali sudah lenyap pula, katanya sambil manggut- manggut: "Betul, memang ada kejadian itu."

"Belakangan ini kudengar berita yang tersiar di kalangan Kang- ouw, kabarnya Jit-sing-po sudah hancur berantakan?"

"Saudara kira itu perbuatan Siangkoan Hong?"

"Setelah tahu ikatan permusuhan kedua pihak, mau tak mau Cayhe harus berpikir demikian."

"Apa maksud dan tujuan saudara menanyakan hal ini?" "Hanya tanya sambil lalu saja."

Berpikir sebentar, Wi-to-hwecu berkata: "Bicara sejauh ini, biarlah kuberitahu kepada saudara, bahwa saudara dipandang tamu terhormat oleh perkumpulan kami, juga karena ada hubungannya dengan Siangkoan Hong." "O," baru sekarang Ji Bun paham, soal tamu terhormat sudah terjawab sekarang, cuma kedudukan Siangkoan Hong terang cukup tinggi di dalam Wi-to-hwecu, bila perlu biarlah kelak memaksanya keluar untuk membuat perhitungan.

Kembali Wi-to-hwecu berkata: "Selain itu boleh kujelaskan juga, bahwa sasaran Siangkoan Hong hanya Ji Ing-hong saja, tiada sangkut paut orang lain !”

Ji Bun melengak, tanyanya tak sabar: "Jadi maksud Hwecu, yang menghancur leburkan Jit-sing-po bukan Siangkoan Hong?"

"Ya, memang bukan."

"Kepandaian Jit-sing pocu dan Jit-sing-pat-ciang anak buahnya itu semua tinggi, memangnya siapa yang mampu membunuh mereka?"

"Sampai detik ini, peristiwa itu masih teka-teki, tapi Ji Ing-hong memang harus menerima ganjarannya setimpal dengan perbuatan- perbuatan jahatnya, tidak sedikit dia menanam permusuhan."

Ji Bun mengumpat dalam hati.

Tiba-tiba sebuah suara serak tua yang kuat terdengar berkata dari ambang pintu: "Bu-ing-cui-sim-jiu."

Kaget dan berubah air muka Ji Bun, mendadak ia melonjak berdiri. Dilihatnya seorang laki-laki tua kurus kering muncul di depan pintu, dia bukan lain adalah Cui Bu-tok yang pegang kekuasaan hukum di Wi-to-hwe, pernah semeja dalam perjamuan tempo hari dengan Ji Bun.

Tiada racun yang tidak dikenal, dan tiada racun yang tak bisa ditawarkan oleh Cui Bu-tok, ia merupakan tokoh dan ahli dibidang permainan racun masa kini, namun selama hidup ia tidak pernah mencelakai orang dengan racunnya.

Wi-to-hwecu mengerut alis, tanyanya: "Cui-ciangling, ada keperluan?"

Latihan batin Ji Bun masih belum matang, terlalu gampang dirangsang emosi, lekas dia tenangkan diri dan duduk kembali di tempatnya.

Cui Bu-tok memberi hormat, katanya: "Lapor Hwecu, bolehkah hamba duduk berbicara dengan Ji-siauhiap ini?"

"Boleh saja, silakan masuk."

Dengan langkah lebar Cui Bu-tok memasuki ruang pendopo, setelah dekat ia angkat tangan memberi hormat kepada Ji Bun, katanya: "Siauhiap, selamat bertemu."

"Sama-sama," sahut Ji Bun memanggut, "Tuan ada petunjuk apa?"

"Cui-ciangling, apa tadi yang kau serukan?" tanya Wi-to-hwecu dengan tatapan tajam. "Hamba tadi bilang Ji-siauhiap ini telah berhasil meyakinkan Bu- ing-cui-sim-jiu yang hanya pernah kudengar dalam dongeng."

"O, Bu-ing-cui-sim-jiu?" sorot mata Wi-to-hwecu yang memancar tajam ke arah Ji Bun.

Hati Ji Bun amat kaget, kecuali orang aneh dibawah jurang Pek- ciok-hong dan orang yang menyaru Khu In, kini tambah seorang lagi yang mengetahui rahasia dirinya. Urusan sudah sejauh ini, berdebat tiada artinya, maka dia manggut-manggut sambil mengiakan.

Kata Cui Bu-tok sambil mengawasi Ji Bun: "Ada beberapa patah kata ingin kusampaikan, harap Siauhiap tidak berkecil hati."

"Ada omongan apa, silakan berkata."

"Murid-murid kita yang menjadi korban di Jing-goan-si tempo hari, semua juga terkena racun Bu-ing-cui-sim-jiu."

Tersirap darah Ji Bun, katanya: "Jadi kau menyangka ”

"Tidak, tidak," sahut Cui Bu-tok goyang tangan, "Siauhiap jangan salah paham, semua korban di Jing-goan-si itu terbunuh oleh racun yang dicampur dalam makanan, malah bukan semuanya, terbunuh oleh Bu-ing-cui-sim-jiu, namun ”

"Namun bagaimana?"

"Racun yang khusus hanya merangsang jantung ini, adalah ramuan dari resep yang telah lama lenyap, sulit untuk meracik racun hebat ini ternyata Siauhiap malah sudah meyakinkan Bu-ing-cui-sim- jiu, sungguh merupakan keajaiban."

"Kabarnya tiada racun yang tidak bisa kau tawarkan?" "Kecuali racun yang satu ini," sahut Cui Bu-tok. "Bolehkah

Siauhiap perkenalkan nama perguruanmu?"

Sejenak Ji Bun terdiam, lalu menjawab: "Untuk ini maaf tidak bisa kuterangkan."

Mendadak seorang laki-laki setengah umur berpakaian jubah biru tergopoh-gopoh datang dan berdiri di luar pintu, suaranya kedengaran gugup gemetar,

"Congkoan Ko Ling-jin ada urusan penting memberi laporan kepada Hwecu."

Wi-to-hwecu memandang ke arah Ko Ling-jin, katanya: "Ada urusan penting apa?"

"Ada serombongan orang menyerbu ke atas gunung?” "Apa, ada orang menyerbu kemari?"

"Betul."

Mendadak Wi-to-hwecu berdiri, Cui Bu-tok ikut berdiri. "Orang-orang macam apa mereka?" "Ngo-lui-kiong-cu, Tin-kiu-thian In Ci-san memimpin 50-an anak buahnya datang menuntut balas ”

"Menuntut balas? Selamanya perkumpulan kita tidak bermusuhan dengan Ngo-lui-kiong, permusuhan apa yang mereka tuntut?"

"Mereka datang dengan garang, pos terdepan sudah bobol, murid-murid kita sudah ada puluhan yang gugur ”

Dingin sorot mata Wi-to-hwecu, serunya bengis: "Apakah Tio- tongcu tidak kuat menghadapi mereka?"

"Tio-tongcu sudah gugur pada saat pos terdepan dibobol musuh." "Apa, Tio-tongcu telah gugur?"

"Ya, semua murid-murid yang bertugas di sana seluruhnya gugur."

"Begitu gawat?"

"Kedua Ho-hoat agung (pelindung) juga sudah datang membantu, namun tetap tak dapat membendung serbuan musuh."

"Berapa sih kemampuan Tin-kiu-thian In Ci-san?"

"Ada dua orang yang memiliki kepandaian luar biasa diantara anak buahnya ” "Hm. Cui-ciangling," seru Wi-to hwecu.

Cui Bu-tok melangkah maju seraya memberi hormat, sahutnya: "Hamba siap menerima tugas."

"Perintahkan untuk siap tempur, kumpulkan untuk kelompok bendera merah putih dengan seluruh hulubalangnya untuk maju ke depan laga bersamaku, yang lain tetap bertugas di pos masing- masing."

Cui-ciangling mengiakan dan segera mengundurkan diri, sebelum pergi dia melirik sekilas ke arah Ji Bun.

"Ko-congkoan," seru sang Hwecu pula.

8.22. Dalang Penyerangan Wi-to-hwe "Hamba siap di sini!" jawab Ko Ling-jin.

"Penjagaan dan mempertahankan markas besar kuserahkan kepadamu untuk memimpinnya."

"Hamba terima perintah," setelah memberi hormat Ko Ling-jin segera mengundurkan diri pula.

Pikiran Ji Bun bekerja cepat, ia menduga kedua Hou-hoat yang dimaksud mungkin adalah Bu-cing-so dan Siang-thian-ong, kedua bangkotan tua itu, kalau betul, kekuatan Ngo-lui-kiong sungguh amat mengejutkan, kesempatan ini cukup baik bagi dirinya untuk menuntut balas kepada musuh-musuh besar ini?

Dalam hati dia sudah tahu kenapa pihak Ngo-lui-kiong meluruk kemari menuntut balas, tentu karena anak buahnya yang dipimpin Ngo-lui-kiongcu In Giok-yan terbasmi oleh laki-laki muka hitam yang menyamar sebagai Komandan ronda Wi-to-hwe di kelenteng itu.

Dalam pada itu, sikap Wi-to-hwecu tetap tenang saja, katanya: "Saudara muda, sukalah duduk lagi sebentar, biar aku keluar sejenak untuk membereskan persoalan ini."

Lekas Ji Bun berdiri, sahutnya: "Cayhe ingin ikut Hwecu untuk menghadapi musuh yang menyerbu itu."

"Kalau demikian, marilah kita keluar bersama!" Sekeluar ruang pendopo, mereka sudah ditunggu dua orang tua dan enam laki-laki berpakaian ketat yang siap dengan senjata lengkap berjajar di luar pintu, mungkin mereka inilah pimpinan kelompok bendera merah putih beserta para hulubalangnya. Di sana bayangan orang banyak juga bergerak, agaknya mereka mulai siap siaga suasana menjadi tegang.

Sambil mengulap tangan Wi-to-hwecu segera pimpin anak buahnya berlari keluar, Ji Bun mengiringinya, dibelakangnya kedua Hiangcu dari kelompok bendera merah putih. Setelah melewati lapangan luas dan mengitari lembah, sayup-sayup sudah terdengar suara pertempuran yang riuh rendah. Lekas sekali mereka sudah berada di mulut gunung yang bertanah lapang, tertampak di tengah tanah lapang dua orang tua ubanan bertubuh tinggi dan cebo! sedang bertempur sengit melawan dua orang berbaju putih, begitu hebat jalannya pertempuran ini sampai orang-orang yang menonton mundur cukup jauh dari arena, puluhan orang berdiri sejajar disebelah sana, di depan barisan orang-orang berbaju putih ini berdiri seorang laki-laki tinggi berbaju putih, tentunya dia inilah Ketua Ngo-liu-kiong, Tin-kui- thian In Ci-san. Beberapa mayat sudah menggeletak di sana sini, yang terluka parah merintih-rintih mengenaskan.

Wi-to-hwecu bersama Ji Bun dan lain-lain langsung memasuki gelanggang.

Dalam Bu-lim masa ini, tokoh-tokoh kosen yang kira-kira setanding dengan Bu-cing-so dan Siang-thian-ong dapat dihitung dengan jari, namun kedua orang berbaju putih anak buah Ngo-lui- kong ini termasuk jago yang berkepandaian paling tinggi, mereka kuat bertahan menghadapi kedua bangkotan tua ini, maka betapa tinggi kepandaian Ngo-liu-kiong-cu In Ci-san, sungguh sukar dibayangkan.

Bu-cing-so memiliki ilmu Thian-cin-ci-sut, kenapa ilmu sakti ini tidak dia gunakan? Demikian pula ilmu pukulan Siang-thian-ong juga merupakan kepandaian yang tiada taranya, namun dia juga tak dapat mengalahkan lawannya.

"Berhenti!" begitu tiba Wi-to-hwecu segera berseru dengan suara menggeledek, empat orang sedang bertempur segera melompat mundur, tertampak oleh Ji Bun, kedua anak buah Ngo-lui-kiong itu kira-kira berusia empat puluhan, muka tidak merah, napas tidak memburu, sebaliknya Bu-cing-so dan Siang-thian-ong sama mengunjuk rasa lelah, setelah mundur mereka diam saja sambil menunduk lesu.

Wi-to-hwecu berkata dengan nada berat: "Harap kalian mundur dan istirahat, biar kubereskan mereka."

Tegak alis Bu-cing-so, katanya uring-uringan: "Mereka bisa main racun, syukur Lohu berdua mampu bertahan, kalau tidak akibatnya sukar dibayangkan."

Tergerak hati Ji Bun. Wi-to-hwecu manggut-manggut, katanya lantang: "Silakan In-ciangbun maju bicara."

Laki-laki tinggi besar berjubah putih beranjak ke depan menghadapi Wi-to-hwecu.

Wi-to-hwecu segera angkat tangan serta menyapa: "In-ciangbun meluruk datang dengan anak buah sebanyak ini, tentunya ada alasan yang bisa diberikan kepada kami?"

In Ci-san terkekeh dingin, katanya: "Perkumpulanmu mengagulkan diri sebagai Wi-to (menegakkan keadilan), namun sepak terjangnya amat kotor dan memalukan, ketahuilah kami datang untuk menuntut balas."

"Menuntut balas apa, In-ciangbun mempunyai bukti-bukti yang nyata?" "Sudah tentu, delapan puluh tujuh murid kami beruntun terbunuh oleh Wi-to-hwe kalian "

"Aku sendiri tidak tahu, bukankah kejadian ini amat aneh?"

"He he, utang darah bayar darah, banyak mulut takkan berguna."

"Kenapa tidak kau jelaskan duduk perkara yang sebenarnya?" "Tanyakan kepada dirimu sendiri, aku tak sudi banyak omong

lagi."

"Sebetulnya apa maksud tujuanmu?"

"Tiada lain menuntut balas bagi murid-murid kita yang gugur."

Wi-to-hwecu menggeram gusar, katanya: "In Ci-san, jangan bertingkah dan main bunuh di daerahku, perbuatanmu ini terlalu menghina, kalau tidak memberikan tanggung jawab, jangan harap kau bisa turun dari Tong-pek-san."

Ngo-lui-kiongcu menyeringai, katanya: "Hwecu bermulut besar, jangan kau menggertak orang, justru pihak kamilah yang akan mencuci bersih To-pek-san dengan darah."

"Azas berdirinya perkumpulan kami demi menegakkan keadilan dan kebenaran, segala persoalan harus diselidiki dulu supaya jelas duduknya perkara.'' "He he, merdu sekali kata-kata Hwecu, coba jawab, kalian meresmikan perkumpulan dan mendirikan markas dengan simbol menegakkan keadilan segala, namun sepak terjangnya kotor dan rendah. Kau sendiri menyembunyikan asal-usul dan tidak mengumumkan nama sendiri kepada kaum persilatan, maka kami ingin mendengar penjelasanmu."

Terbangkit semangat Ji Bun, pertanyaan ini sudah lama juga menjadi teka-teki didalam benaknya.

Maka terdengar Wi-to-hwecu berkata dengan aseran: "Suatu perkumpulan berdiri dan berkecimpung dalam Bu-lim, asal dia tidak melanggar 'Bu-to' (aturan persilatan), tidak mengingkari azas tujuannya, tidak perlu malu hidup berjajar dengan sesamanya. Soal asal-usul dan namaku kan termasuk urusan pribadi seseorang, diumumkan atau tidak kan tidak melanggar peraturan."

"Itu pembela diri yang menyimpang dari kebenaran, seluruh kaum persilatan dari golongan lurus pasti tidak menerimanya."

"Orang she In, tidak usah kau mencari alasan dan mengoceh, marilah kita bicarakan urusan yang sebenarnya."

Tiba-tiba sorot mata Tin-kui-thian In Ci-san menatap ke arah Ji Bun, serunya: "Dia ini Te-gak Suseng bukan?"

"Betul!" sahut Wi-to-hwecu.

"Ternyata dia juga salah seorang algojo dari Wi-to-hwe, diapun utang puluhan jiwa orang-orang kami." Wi-to-hwe-cu berpaling ke arah Ji Bun. Tentu saja Ji Bun tahu apa yang dimaksud oleh ucapan In Ci-san tadi, dalam situasi seperti sekarang tak berguna dia membela diri dan menjelaskan duduk persoalannya, namun bahwa dirinya dianggap sebagai anggota perkumpulan yang menjadi musuh besarnya, hal ini harus segera dijelaskan, maka ia menjengek, katanya: "Cayhe bukan anggota Wi- to-hwe, In ciangbun harap tahu akan hal ini."

"Maksudmu, anak muda, kau hendak bertanggung jawab seorang diri?"

"Ya, boleh silakan," jawab Ji Bun. "Bagus sekali," kata Ngo-lui-kiongcu.

"Saudara muda," Wi-to-hwecu, segera menyela, "kau adalah tamu kami, tidak boleh sembarangan turun tangan, menjadi tanggung jawab kami untuk melindungi keselamatanmu."

Dalam hati Ji Bun mengumpat, namun mulutnya menjawab tawar: "Terima kasih, tapi Cayhe tidak menolak segala tantangan."

Tatapan dingin tajam Wi-to-hwecu menyapu ke arah Ngo-lui- kiongcu, katanya tandas: "Orang she In, katakan caranya untuk menyelesaikan persoalan ini?”

Ngo-lui-kiongcu menyeringai seram, katanya: "Perlu apa pakai cara segala, kedatangan kami bukan untuk mengadu kepandaian, biarlah puluhan, jiwa orang-orang Ngo-lui-kiong gugur di Tong-pek- san atau Wi-to-hwe kalian yang hancur lebur?"

Wi-to-hwecu mengertak gigi, serunya: "Tanpa pikirkan akibatnya?"

"Itulah tujuan kedatangan kami!”

"Baik, sekali lagi kuperingatkan, belakangan, ini sudah kami selidiki adanya manusia-manusia licik dan licin yang menyaru menjadi anggota kami serta melakukan kejahatan di luar, jelas tujuannya untuk merusak nama baik kami, untuk ini harap kau suka berpikir sekali lagi."

"Hanya anak kecil yang mau percaya pada omonganmu ini."

Wi-to-hwecu dan seluruh Hiangcu dan Tongcu yang hadir sama menggeram gusar, mata melotot gigi berkerutuk menahan marah. Saat itu, penguasa hukum markas pusat Cui Bu-tok sudah memburu tiba dengan membawa dua puluhan anak buahnya, segera dia memberi pertolongan kepada Bu-cing-so dan Siang-thian-ong yang terkena racun.

Hasrat Ji Bun untuk menuntut balas sudah berkobar dalam benaknya, jika kedua pihak mulai berhantam, seluruh jago-jago Wi- to-hwe pasti terlibat dalam pertempuran sengit secara terbuka, maka tibalah saatnya dia langsung menghadapi Wi-to-hwecu, setelah itu baru meruntuhkan yang lain satu persatu, tidak sulit rasanya mencapai cita-cita yang selama ini dinantikan, meski perbuatannya ini termasuk mengail di air keruh, namun demi menuntut balas ratusan jiwa orang-orang Jit-sing-po, segala carapun boleh dilakukan.

Suasana semakin tegang dan mencekam perasaan seluruh hadirin. Dengan bekal Lwekang Ji Bun sekarang serta tangannya yang berbisa, kalau secara mendadak melancarkan serangan, maka dapatlah dibayangkan bagaimana nasibnya yang bakal menimpa pihak Wi-to-hwe. Sudah tentu tiada orang lain yang tahu akan jalan pikiran Ji Bun.

Bergetarlah suara Wi-to-hwecu: "in Ci-san, berulang kali sudah kujelaskan, itu berarti aku sudah memberikan pertanggungan-jawab kepada kaum persilatan, maka segala akibat yang bakal terjadí menjadi tanggung-jawabmu."

Acuh sikap Ngo-lui-kiongcu, katanya: "Bagaimana jalan pikiranmu semua orang juga dapat menebaknya, kulitnya saja kalian mengagulkan diri sebagai penegak keadilan, namun kenyataan membuat onar dan melakukan kejahatan di Bulim, perbuatan rendah dan kotor ini sungguh amat memalukan."

"Baik buruk akhirnya akan diputuskan oleh kesimpulan umum, sudahlah, tak usah banyak cerewet."

Ngo-lui-kiongcu segera angkat tangan dan memberi aba-aba dengan bentakan menggeledek: "Maju!"

Puluhan orang berbaju putih itu serempak menerjang maju. Wi- to-hwecu juga segera memberi tanda kepada anak buahnya untuk menyambut serbuan musuh, pertempuran sengit segera berlangsung dengan gegap gempita.

Setelah memberi aba-aba, In Ci san segera menubruk maju ke dapan Wi-to-hwecu sambil melayangkan telapak tangannya yang segede kipas. Sementara Bu-cing-so dan Siang-thian-ong tetap melayani kedua orang baju putih yang menjadi lawan mereka tadi. Yang lain-lain saling baku hantam dengan sasaran masing-masing.

Ji Bun menonton di pinggir gelanggang sambil berpeluk tangan. Dilihatnya orang-orang Ngo-lui-kiong kecuali kedua orang berbaju putih yang melawan Bu cing-so dan Siang-thian-ong itu, selebihnya berkepandaian rendah, maka gerak-gerik kedua orang baju putih itu kelihatan menonjol. Orang yang melawan Siang-thian-ong berperawakan tinggi, setiap jurus, setiap pukulan berhantam dengan cara keras lawan keras, kekuatan kedua pihak seimbang, yang berperawakan pendek menghadapi Bu-cing-so, gerak-geriknya amat gesit dan enteng, gerak langkahnya amat aneh, dia main sergap dan bertempur dengan putar-memutar.

Di sebelah sini, setiap kali melontarkan pukulannya, In Ci-san membarengi suara bentakan bergemuruh seperti suara guntur, namun Wi-to-hwecu menghadapinya dengan tenang dan seenaknya, jelas Lwekang dan kepandaiannya masih lebih unggul daripada lawannya, disinilah letak perhatian Ji Bun. Wi-to-hwecu beserta orang dalam tandu yang belum muncul merupakan dua jago terkosen yang paling sukar dihadapi, sementara Jay-ih-lo-sat kira- kira bisa ditimbang dari kekuatan Pek-siu-thay-swe yang pernah kecundang ditangannya, jadi kira-kira dirinya cukup mampu menghadapinya, kalau jago-jago Wi-to-hwe hanya beberapa gelintir orang ini, harapan untuk menuntut balas menjadi lebih meyakinkan.

Pertempuran semakin memuncak, jeritan benturan senjata dan teriakan membangkit semangat, terbawa hanyut oleh desiran angin gunung yang menghembus santer sehingga menjadi paduan suara yang seram mengerikan.

Situasi sudah semakin kentara, kecuali Wi-to-hwecu bersama Bu- cing-so, Siang-thian-ong dan Cui Bu-tok serta beberapa jago-jago kosen lainnya harus roboh, tujuan Ngo-lui-kiong hendak mencuci bersih Tong-pek-san dengan darah jelas takkan mungkin terlaksana, sebaliknya, kekuatan Wi-to-hwe masih segar, bala bantuan di belakang masih cukup banyak, ratusan orang yang mempertahankan markas pusat merupakan kekuatan yang tak boleh dipandang enteng, hal ini tidak menguntungkan Ngo-lui-kiong, kalau pertempuran ini terus dilanjutkan, bagaimana akibatnya sudah bisa diramalkan.

Ji Bun tetap berdiri sekokoh batu karang yang didampar amukan ombak ditengah ajang pertempuran yang sengit itu, gejolak hatinya ikut memuncak menyertai perobahan yang mulai kentara di tengah gelanggang.

Dia berpikir, kalau saat ini ayahnya muncul, sungguh merupakan kesempatan terbalk yang sukar dicari. Jika sekarang juga dirinya ikut terjun ke dalam ajang pertempuran, situasi pasti akan segera banyak berubah. "Ngek! Huuuaa!" tampak Ngo-lui-kiongcu mengerang kesakitan, dadanya terpukul Wi-to-hwecu, darah menyembur dari mulutnya, tapi tenaga pukulan Ngo-lui-ciang sekeras guntur itu tetap hebat dan tidak menjadi asor karenanya.

Puluhan jiwa sudah melayang, mayat bergelimpangan. Rambut dan jenggot ubanan Siang-thian-ong beterbangan, badannya yang pendek buntak menggelinding pergi-datang seperti bola yang ditendang kian kemari, gelagatnya dia mulai terdesak oleh rangsakan orang berbaju putih yang ganas, sedang partai Bu-cing-so kelihatan masih setanding alias sama kuat.

Segara turun tangan atau menanti kelanjutannya? Demikian Ji Bun bertanya-tanya dalam hati. Dia menghadapi suatu pilihan yang menentukan. Ia maklum pihak musuh lebih banyak dan kuat, sekali turun tangan ia pantang mundur dan harus berhasil, kalau tidak, aksi untuk menuntut balas selanjutnya bakal sulit dan berbahaya.

Sampai sekarang hatinya masih bimbang dan bertanya-tanya, apa betul Wi-to-hwecu adalah durjana yang menghancur leburkan Jit-sing-po, namun ayahnya jelas menuduh pihak Wi-to-hwe yang menjadi algojo-algojonya. Siangkoan Hong yang menjadi biang keladi dari pembantaian besar-besaran itu sampai sejauh ini belum pernah muncul, memangnya siapa saja yang menjadi musuh-musuh besarnya yang sejati sampai sekarang dia masih belum berhasil mengumpulkan data-data yang menyakinkan, kalau bergerak secara membabi buta, sudah tentu tidak menguntungkan? Kecuali dia berhasil membekuk Wi-to-hwecu? Baru saja hasrat ini berkelebat dalam benaknya, sekonyong- konyong jeritan seram saling susul kumandang dari sana sini, orang berbaju putih sama roboh binasa. Tampak bayangan warna warni berkelebat pergi datang bagai seekor naga yang memainkan ombak di tengah samudera raya, tahu-tahu Jay-ih-lo-sat sudah berada di tengah gelanggang. Di belakang menyusul beberapa bayangan orang lagi, sehingga seluruh gelanggang seperti dipagari oleh barisan manusia. Pelan-pelan sebuah tandu atau joli berhias dipikul memasuki arena.

Berdegup hati Ji Bun, hasrat turun tangan yang sudah berkobar seketika diurungkan. Joli itu langsung menuju ke arah Siang-thian- ong yang sedang berhantam dengan orang berbaju putih.

"Berhenti!" orang dalam tandu membentak enteng, suaranya tidak keras, namun kedengarannya setajam jarum menusuk kuping, seluruh hadirin yang lagi bertempur tiada yang tidak mendengarnya, ini pertanda bahwa Lwekang orang dalam tandu sudah mencapai taraf yang tiada taranya.

Dalam waktu yang sama, Ngo-lui-kiongcu kembali kena sekali pukulan Wi-to-hwecu, darah kembali menyemprot dari mulutnya, jubahnya yang putih berlepotan darah, langkahnyapun sempoyongan hampir jatuh. Untung Wi-to-hwecu tidak menambahi serangan, dia mundur dan menghentikan serangan. Yang lain segera menghentikan pertempuran dan mundur ke barisan masing-masing.

Puluhan mayat sudah berjatuhan sehingga darah mengalir berceceran. Murid-murid Ngo-lui-kiong merupakan jumlah yang terbesar di antara mayat-mayat yang bergelimpangan. Walau sudah berhenti dan mengundurkan diri, namun Siang- thian-ong masih melotot beringas, rambut dan janggutnya bergerak- gerak.

Terdengar orang dalam tandu bersuara tajam: "Tuan ini jago kosen dari mana?"

Orang berbaju putih berperawakan tinggi yang bertempur melawan Siang-thian-ong terkekeh dingin, katanya: "Apakah pertanyaanmu ini tidak berkelebihan, sudah tentu aku ini anak buah Ngo-lui-kiong."

Murid Ngo-lui-kiong yang masih hidup beramai-ramai kumpul di belakang Tin-kiu-thian In Ci-san, pihak Wi-to-hwe sudah menguasai suasana.

Dalam hati Ji Bun amat menyesal, kesempatan baik tadi sudah disia-siakan, kalau sejak tadi dia mau turun tangan, situasi tentu jauh berubah, namun hatinya masih was-was, kedua orang baju putih itu berkepandaian lebih tinggi dari Ketua Ngo-lui-kiong In Ci- san, hal ini sungguh luar biasa. Maka seluruh perhatiannya kini ia tujukan ke arah orang dalam tandu itu.

Didengarnya orang dalam tandu tertawa dingin, katanya: "Sahabat, jangan menyembunyikan kepala tapi memperlihatkan ekor, kau dan temanmu yang satu ini pasti bukan anak buah Ngo- lui-kiong, pertama, ilmu silat kalian tidak serasi, kedua, anak buah biasa mana mungkin berkepandaian lebih tinggi dari pemimpinnya." Dengan kaget orang berbaju putih menyurut mundur, katanya: "Kenapa kau tidak keluar saja, memangnya kau ini kura-kura yang malu dilihat orang."

"Kurangajar," segulung angin tahu-tahu melanda dari dalam tandu menerjang orang berbaju putih, seketika ia tergetar mundur empat langkah.

Tersirap darah Ji Bun, kepandaian orang baju putih barusan sudah disaksikan sendiri, namun dia tidak kuasa melawan damparan angin si orang dalam tandu. apakah dirinya kuat menandinginya masih sukar diraba juga.

Terdengar orang dalam tandu berkata pula: “Sahabat, katakanlah asal usulmu?"

"Kenapa tidak yang mulia dulu memperkenalkan diri?" "Akulah yang tertua dari para Hou-hoat Wi-to-hwe." "Tentunya kau punya nama dan gelaran."

"Kau melanggar daerah terlarang dan main bunuh ditempat kami, undang-undang Bu-lim sudah kau injak-injak, terus terang aku tidak ingin membunuh orang yang tidak kukenal."

Di sebelah sana Wi-to-hwecu juga sedang mengajukan pertanyaan kepada Ketua Ngo-lui-kiong Tui-kiu-thian In Ci-san: "Sebagai ketua suatu aliran, tentunya kau berani bertanggung jawab bukan?" Ngo-lui-kiongcu mendehem geram, katanya: "Selama air mengalir dan gunung menghijau pasti akan datang saatnya untuk memberikan pertanggungan jawab."

"In Ci-san," desis Wi-to-hwecu, "kukira kau takkan bisa turun gunung hari ini."

"Takabur sekali kau." "Kenyataan akan membuktikan."

Disebelah sini, orang dalam tandu memberi peringatan terakhir: "Sahabat, kau tidak mau memperkenalkan diri, terpaksa kupandang kau sepihak dengan musuh ”

"Terserah!" sahut orang berbaju putih tak acuh.

Pada saat itulah, sesosok bayangan orang tahu-tahu meluncur datang dan hinggap di pinggir gelanggang, seketika Ji Bun mengerut alis, karena yang datang adalah Thian-thay-mo,ki, katanya aseran: "Cici, kenapa kaupun kemari?"

Thian-thay-mo-ki tersenyum kecut, tanyanya: "Kau tidak senang?"

Lekas Ji Bun menyangkal: "Tidak, tiada maksudku demikian." "Dik, tahukah kau siapa baju putih yang berdiri di sebelah kanan

Ngo-lui-kiongcu itu?" "Siapa dia?" tanya Ji Bun sambil memandang orang berbaju putih yang tadi bertempur melawan Bu-cing-so.

Thian-thay-mo-ki melirihkan suaranya: "Tanpa sengaja aku mencuri dengar pembicaraan mereka bahwa pihak Ngo-lui-kiong berani meluruk kemari mencari setori lantaran dihasut dan didukung oleh kedua orang baju putih itu, mereka mengenakan kedok dan merias diri, menyaru jadi anak buah Ngo-lui-kiong, si baju putih yang itu bukan lain adalah Biau-jiu Siansing yang kau cari-cari itu."

Seketika merah padam muka Ji Bun, sorot matanya membara, katanya gugup: "Apa benar?"

"Kau tidak percaya pada Cicimu ini?"

"Lalu siapa laki-laki baju putih yang lain itu?" "Entahlah, tapi sayup-sayup seperti kudengar mereka

menyinggung Jit-sing-kojin."

8.23. Jiwa Kesatria Tak Gentar Elmaut

Ji Bun mengertak gigi, katanya: "Kemungkinan mereka sekomplotan, bukan mustahil orang yang menyaru dengan kedok hijau dan berjubah sutera itupun komplotan mereka."

Habis berkata segera ia melejit maju ke depan orang berbaju putih, secara reflek si baju putih menyurut mundur sambil berjaga, sorot matanya hambar dan kaget, seluruh hadirin juga terkejut terhadap perbuatan Ji Bun yang mendadak ini.

Ji Bun terkekeh dingin, sapanya: "Selamat bertemu tuan!"

Orang baju putih melengak, katanya: "Te-gak Suseng, persoalan kita kukira kurang leluasa dibereskan disini dan sekarang juga."

"Untuk menemukan jejakmu terlalu sulit, mumpung kepergok di sini, tentunya kau harus memberi pertanggungan jawab kepadaku."

Ngo-lui-kiongcu tiba-tiba beranjak maju, katanya, dengan mendelik: "Anak muda, kebetulan kau menampilkan diri, utangmu pada pihak kami biar dibereskan sekarang juga," belum habis bicara, telapak tangannya yang segede kipas itu segera melayang menghantam Ji Bun

Ji Bun mendengus geram, sedikit miring sebelah tangannya bergerak menangkis, "Plak", seluruh hadirin tergetar oleh benturan dasyat ini, kontan Ngo-lui-kiongcu sempoyongan mundur tiga langkah, luka dalamnya seketika kambuh, darah kembali meleleh dari mulutnya. Sisa kekuatan benturan membuat pasir debu beterbangan memenuhi angkasa.

Ji Bun melirik ke arah Ngo-lui-kiongcu dan tetap menghadapi orang berbaju putih tadi, katanya dengan suara rendah: "Bagaimana kau?"

"Kenapa tidak bersabar sebentar, setelah urusan di sini selesai saja?" "Untuk apa membuang-buang waktu, nasib orang-orang Ngo-lui- kiong sudah jelas, jangan harap kau dapat turun dari Tong-pek-san."

"Belum tentu, boleh kau buktikan sendiri."

Tengah percakapan berlangsung, mendadak Wi-to hwecu menjerit kaget seraya berteriak: "Ngo-lui-cu!"

Dengan kaget Ji Bun berpaling, dilihatnya Ngo-lui-kiongcu sudah mundur dua tombak di sebelah sana, tangan kanannya menggengam sebuah bola warna merah sebesar kepalan, menyusul kedua orang baju putih itupun turut melejit mundur seraya mengacungkan bola bundar warna merah yang sama bentuk dan besarnya.

Lekas Thian-thay-mo-ki melompat maju ke samping Ji Bun serta menarik lengannya teriaknya gugup: "Lekas mundur!"

"Ada apa?" tanya Ji Bun tak mengerti.

"Kau belum pernah dengar Ngo-lui-cu (mutiara guntur)?" "Benda apa sih Ngo-lui-cu itu?"

"Pusaka pelindung Ngo-lui-kiong, namanya saja mutiara, yang betul merupakan granat yang seketika meledak bila dilemparkan, betapa tinggi kepandaianmu juga sukar terluput dari sasarannya."

"Jadi Ngo-lui-cu sama seperti Bik-lik-tan (granat halilintar)?” "Betul, lekas kau mundur Dik," tanpa banyak bicara lagi segera ia seret Ji Bun mundur beberapa tombak.

Ji Bun terbelalak bingung, sungguh perubahan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya, tiga butir Ngo-lui-cu kiranya cukup berlebihan untuk merobohkan Wi-to-hwecu dan seluruh anak buahnya. Sisa anak buah Ngo-lui-kiong akan lebila leluasa menerjang ke atas dan menyerbu markas dan mendudukinya, dibantu kedua orang baju putih lagi, seluruh anggota Wi-to-hwe akan ditumpas habis-habisan.

Apakah dirinya harus tinggal pergi demikian saja? Kalau tetap berada di sini, bukan mustahil dirinya bakal ikut menjadi korban. Sementara itu, Ngo-lui-kiongcu dan kedua orang baju putih yang masing-masing mengacungkan Ngo-lui-cu berpencar ke tiga arah, jarak antara ketiganya kira-kira dua tombak, itu berarti sepuluh tombak disekitar mereka dapat mereka capai dengan sekali timpukan granat yang mematikan itu.

Pucat dan berubah air muka orang-orang Wi-to-hwe, tandu berhias itupun menyurut mundur setombak lebih. Rambut ubanan Bu-cing-so dan Siang-thian-ong sempat bergerak-gerak berdiri, agaknya mereka teramat murka.

Ngo-lui-kiongcu tertawa gelak-gelak seperti orang kesurupan, katanya: "Wi-to-hwe akan tamat hari ini, kalian masih ada pesan apa lagi?" Tajam tatapan Wi-to-hwecu, namun suaranya masih mantap dan kuat: "ln Ci-san, kau memang licik dan keji, boleh kau coba timpukan senjatamu itu."

In Ci-san menyeringai, katanya: "Tadi sudah kukatakan kalau bukan aku yang gugur di sini, maka akulah yang akan mencuci tanah Tong-pek-san ini dengan darah kalian ini."

Orang berbaju putih yang dituding sebagai Biau-jiu Siansing oleh Thian-thay-mo-ki tadi mendadak berpaling ke arah Ji Bun, katanya: "Anak muda, kalau kau tidak ingin mampus, lekas tinggalkan tempat ini."

Ji Bun menjadi serba susah, kata-kata orang berbaju putih ini terasa mengandung arti mendalam namun sukar ditebak, kalau dirinya sampai ikut jadi korban ledakan Ngo-lui-cu. bukankah keinginannya bakal tercapai malah? Tapi dia justeru menganjurkan dirinya lekas pergi, apa sih maksudnya? Tak tertahan ia bertanya: "Apa maksud tuan?"

"Aku tidak ingin kau mampus di sini," kata orang itu.

“Kau kira dengan menanam kebajikan padaku, lantas dapat merubah sikapku kepadamu?"

Thian-thay-mo-ki juga menarik muka, sikapnya rada gelisah, katanya: "Bagaimana?"

Tegas kata-kata Ji Bun: "Dalam hal ini pasti ada muslihatnya, aku takkan ditipu mentah-mentah, kalau mau pergi aku bisa segera berangkat, tidak mungkin lataran aku seorang dia melemparkan Ngo-lui-cu, lagi kepandaian orang-orang ini, orang di dalam tandu, belum tentu mereka takkan mampu menyelamatkan diri, aku justeru ingin melihat akhir dari pertempuran di sini."

"Dik, ketiga orang yang membawa Ngo-lui-cu berkepandaian tinggi, keadaan ini jangan kau remehkan, memang tidak sulit bagi Wi-to-hwecu dan lain? yang berkepandaian tinggi untuk menyelamatkan diri, namun bagaimana kelanjutannya? Urusan belum beres, yang celaka adalah mereka yang berkepandaian rendah, memang markas ini harus dikosongkan."

Lahirnya Wi-to-hwecu tenang-tenang saja, namun hatinya tegang dan gelisah, keadaan seperti ini takkan bisa dikuasai hanya dengan kekuatan Lwekang atau kepandaian silat, memang tiada cara lain yang tepat untuk mengatasinya, urusan sekarang bukan saja merupakan persoalan mati hidup jiwa orang-orang yang hadir, juga mengenai nama dan kebesaran Wi-to-hwe yang harus tetap diperjuangkan, sekali salah langkah, Wi-to-hwe akan lenyap dan tak bisa lagi berdiri di kalangan Bu lim.

"Te-gak Suseng," orang baju putih samaran Biau-jiu Siansing bicara lagi. "kau ingin menghadap Giam-lo-ong?"

Ji Bun mengertak gigi tanpa menjawab, dalam hati ia sudah berkeputusan tidak akan berpihak kepada musuh, namun bila Wi-to- hwecu dan lain-lain semua mampus karena ledakan Ngo-lui-cu maka gagal harapannya untuk menuntut balas, betapa hati takkan menyesal dan malu kepada para arwah yang telah mendahuluinya. Kembali dia menghadapi satu pilihan. Sebaiknya sekarang dia bertindak secara mendadak membekuk Wi-to-hwecu dan meninggalkan tempat ini, peduli apa yang bakal terjadi di sini.

Maka ia lantas berbisik kepada Thian-thay-mo-ki: "Cici, lekas kau pergi "

"Tidak, mati hidup aku tetap berdampingan dengan kau."  "Kau bisa menggagalkan rencana besarku," ucap Ji Bun sambil

membanting kaki.

Baru saja Thian-thay-mo-ki hendak membuka mulut, tiba-tiba rombongan orang yang berjaga dimulut gunung sana seperti tersibak ombak sama menyingkir ke samping, tampak seorang Hwesio bertubuh besar melayang tiba seperti awan mengembang. Suasana menjadi hiruk-pikuk.

Ngo-lui-kiongcu berpaling sambil membentak lantang: "Hwesio keparat, berhenti di situ!"

Seperti tidak mendengar, Hwesio itu tetap melangkah maju dengan enteng. Keruan Ngo-lui-kiongcu naik pitam, bentaknya: "Tangkap dia!"

Dua laki-laki memegang pedang segera menubruk maju, aneh sekali, entah menggunakan gerakan apa, tahu-tahu Hwesio itu berkelebat sekali, bayangannya tahu-tahu lenyap, kedua orang itu menubruk tempat kosong, hampir saja mereka jatuh tersungkur, sementara Hwesio gede sudah berada di tengah arena. Gerakan Hwesio ini seketika mengejutkan setiap hadirin. Tiba-tiba Thian-thay-mo-ki berseru dengan suara haru tersendat: "Dik, itulah dia!"

Ji Bun garuk-garuk kepala, tanyanya: "Dia siapa?" "Thong-sian Hwesio yang pernah menolong kita itu."

Begitu tiba Thong-sian menyapu pandang ke seluruh gelanggang, akhirnya pandangannya berhenti pada Ji Bun dan Thian-thay-mo-ki, masih segar dalam ingatannya, bahwa Ji Bun dan Thian-thay-mo-ki waktu itu sudah mati betul-betul.

Lekas Ji Bun tampil kemuka sembari memberi hormat: "Banyak terima kasih atas pertolongan Siansu tempo hari.”

"Apa, jadi kalian ”

"Kami berdua lolos dari elmaut."

"Amitha Budha!" Thong-sian bersabda, lalu dia berpaling kepada Ngo-lui-kiongcu, katanya: "In sicu, simpanlah Ngo-lui-cu itu."

"Siapakah gelaran Toa-hwesio?" tanya Ngo-lui-kiongcu, suaranya hambar.

"Pinceng Thong-sian."

"Orang beribadat kenapa mencampuri urusan duniawi?" "Omitohud, kebajikan adalah pangkal ajaran Budha, mendarma baktikan kebijaksanaan demi menolong sesamanya adalah kewajiban setiap insan."

"Sekali lagi kuulangi, lekaslah Toa-hwesio pergi saja." "Memang Pinceng harus datang kemari dengan sia-sia." "O, memangnya Toa-hwesio berdiri di pihak mana?"

"Di pihak yang benar." "Pihak mana yang benar?"

"Pinceng harap Sicu menyimpan Ngo-lui-cu dan mundur lima tombak."

"Cukup dengan sepatah katamu saja?" "Kukira cukup berkelebihan."

"Lekas Toa-hwesio mengambil sikap, ke mana kau berpihak, kalau tidak, aku tidak kenal ajaran bajik atau bijak segala."

Terpancar sinar terang jernih pada mata Thong-sian Hwesio, dengan tajam dia tatap muka Ngo-lui-kiongcu, begitu tenang dan berwibawa sekali sorot matanya, tanpa terasa In Ci-san menyurut mundur dengan keder. Wi-to-hwecu dan lain-lain saling adu pandang dengan heran, tiada seorangpun yang tahu asal-usul Hwesio ini, kawan atau lawan juga belum jelas.

Orang baju putih yang ada di sebelah kiri tiba-tiba berbisik: "In- ciangbun, baiknya kita mundur saja sementara."

In Ci-san amat angkuh dan terlalu menjaga gengsi, demi nama baiknya, mana dia mau takluk kepada seorang Hwesio yang belum diketahui asal-usulnya, maka dia menggeleng, katanya: "Toa- hwesio, apa sih maksudmu sebetulnya?"

Dengan angker berwibawa Thong-sian Hwesio berkata: "Aku kemari demi menegakkan keadilan bagi Bu-lim."

Orang baju putih di sebelah kiri itu mendadak berseru tertahan, kakinya menyurut beberapa langkah, agaknya dia mengenali siapa Hwesio gede ini, sorot matanya seketika memancarkan nafsu keji, tiba-tiba kakinya menjejak tanah, badannya melejit mundur, berbareng tangannya terayun ke depan, Ngo-lui-cu ditangannya itu dia timpukkan kepada Thong-sian Hwesio. Padahal saat itu Thong- sian Hweesio berdiri di tengah antara kedua pihak.

Perbuatan nekat orang berbaju putih yang diluar dugaan ini sungguh mengejutkan seluruh hadirin termasuk Ngo-lui-kiongcu sendiri, sekali meledak, Kekuatan Ngo-lui-cu dapat mencapai lima tombak jauhnya, dalam jarak sejauh ini, tiada seorangpun yang bisa lolos dari renggutan elmaut. Di tengah teriakan orang banyak mereka sama melompat mundur sejauh mungkin. Jarak Ji Bun dan Thian-thay-mo-ki hanya setombak lebih dengan Thong-sian Hwesio, untuk berkelit atau menyingkir jelas tidak mungkin lagi.

Untunglah pada detik-detik yang menegangkan itu, tiba-tiba tangan Thong-sian terangkat sambil melambai, seperti orang bermain sulap saja tahu-tahu Ngo-lui-cu yang hampir jatuh menyentuh bumi itu berhenti di tengah udara terus meluncur kesamberan tangan Thong-sian.

Rasa kejut semua orang masih belum hilang, tapi mereka tak lupa berseru memuji.

Ji Bun dan Thian-thay-mo-ki saling berpandangan dengan tertawa getir, keringat dingin sudah membasahi badan mereka. Sebaliknya rona muka Ngo-lui-kiongcu berubah tidak menentu, kedua biji matanya terbelalak.

Sorot mata Thong-sian setajam golok seterang bintang kejora menatap ke arah si orang berbaju putih tadi, katanya: "Kenapa Sicu turun tangan sekeji ini kepada Pinceng?"

Nafsu jalang siorang baju putih yang terpancar dari sorot matanya berubah rasa jeri dan ketakutan, tanpa bersuara lagi dia melirik memberi tanda kepada Biau-jiu Siansing, serempak keduanya lantas melejit tinggi dan meluncur turun ke lamping gunung, gerak- geriknya aneh secepat kilat lagi, dalam sekejap sudah lenyap dari pandangan mata. Setelah Ji Bun sadar kembali dari lamunannya katanya sambil membanting kaki: "Kembali dia lolos."

Dengan ditinggal pergi kedua orang baju putih yang menjadi tulang punggungnya, Ngo-lui-kiongcu menjadi patah semangat, seperti burung yang patah sayapnya, keruan dia menjadi bingung dan gelisah, Ngo-lui-cu tak bermanfaat lagi. apalagi anak buahnya juga patah semangat dan banyak yang terluka.

Wi-to-hwecu masih berdiam diri tanpa bertindak untuk menunggu reaksi Thong-sian Hwesio selanjutnya. Tampak Thong-sian menarik tangan menyimpan Ngo-lui-cu rampasan dalam lengan bajunya, lalu katanya kepada Wi-to-hwecu sambil melangkah maju: "Sicu ini adalah Hwecu?"

"Ya, Toa-hwesio ada petunjuk apa?"

"Pinceng membawa firman Thian untuk menunaikan darma bakti demi keserasian hidup kaum persilatan, untuk ini harap Sicu selekasnya membubarkan Wi-to-hwe."

Sudah tentu seluruh hadirin terperanjat mendengar ucapan ini.

Tidak malu Wi-to-hwecu sebagai seorang pemimpin, terlebih dulu dia membalas hormat lalu berkata. dengan sewajarnya: "Ucapan Taysu ini tentu punya dasar dan alasannya?"

"Sepak terjang anak buahmu di luar tentunya Sicu sendiri juga tahu, apa yang dinamakan menegakkan keadilan, tak ubahnya melanggar kemanusiaan belaka, ini jelas tidak boleh dibenarkan." "Taysu mendengar omongan orang atau menyaksikan sendiri?"

Thong-sian menuding Ji Bun berdua. katanya: "Kedua Sicu muda ini adalah salah dua korban dari kekejaman anak buahmu."

Berkata Wi-to-hwe-cu dengan nada serius: "Di kalangan Kang- ouw sudah disinyalir adanya orang-orang yang menyaru murid-murid kami dan melakukan kejahatan di luaran, untuk ini kami sudah mengerahkan tenaga untuk menyelidikinya, dalam waktu dekat pasti kami dapat memberikan pertanggungan jawab kepada Bulim."

"Omitohud! Seorang Buddhis pantang berbohong, Pinceng tak dapat percaya begini saja."
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).