Hati Budha Tangan Berbisa Jilid 07

 
Jilid 07

persoalannya cukup jelas?"

"Jadi kau juga tahu akan anting-anting itu?"

"Orang sebagai diriku, barang berharga apa yang tidak kuketahui?"

"Cayhe memohon dengan hormat," tukas Ji Bun, "harap kau suka kembalikan."

"Apa, anak muda, kau kira Lohu yang mencurinya?" teriak Biau- jiu Siansing. "Berdasar apa kau berani menuduh Lohu?"

Ji Bun tertegun bahwasanya bayangan yang merebut anting- anting dari tangannya itu tidak dilihatnya jelas bentuknya, hanya menurut dugaan dan rabaan Thian-thay-mo-ki saja sehingga dia mencari Biau-jiu Siansing yang gerak-geriknya memang mirip dengan pencuri itu, terang persamaan ini belum meyakinkan untuk dibuat tuduhan, memang tidak sedkit orang yang mungkin memiliki Ginkang sehebat itu, namun kepandaian mencuri setinggi itu rasanya sukar dicari keduanya. Maka Ji Bun lantas menjawab:

"Berdasarkan gerakan dan caranya." "Cara bagaimana anting-anting itu lenyap? "Direbut dari tanganku."

"O, rada ganjil kejadian ini."

"Tuan tak usah mungkir, lekaslah kembalikan, demi mengejar kembali anting-anting itu, aku takkan segan-segan turun tangan dengan keji."

"Bicara soal cara dan kepandaian, kau anak muda ini belum apa- apa dibandingkan aku, dihadapan Lohu jangan kau takabur, ketahuilah, dengan kedudukan dan ketenaran Lohu, tidak sudi aku melakukan cara serendah itu, apalagi mungkir."

"Tapi barusan kau bilang tahu akan seluk anting-anting itu?" "Kenapa harus heran, bukankah kau pernah menolong puteri

keluarga Ciang dari Kayhong yang ditawan Cip-po-hwe, karena merasa hutang budi, dia memberi anting-anting sebagai tanda mata

.......”

Kejut dan berubah air muka Ji Bun. "Kau juga tahu akan hal itu?" suaranya gemetar.

6.18. Puteri dari Istana Ngo-lui-kiong "Ya, kebetulan hari itu aku memergoki kejadian,” kata Biau-jiu Siansing, "di tanganmu anting-anting itu adalah benda pusaka, namun di tangan orang lain tak ubahnya seperti barang rongsokan belaka."

"Kenapa?" Ji Bun heran dan tidak mengerti. Berkata Biau-jiu Siansing sungguh-sungguh:

“Tanda kepercayaan Ciang Wi-bin untuk mengambil hartanya bukan terdiri dari anting-anting itu saja, malah ada aturannya pula. Kalau dia berikan anting-anting itu pada seseorang, seluruh cabang perusahaannya juga diberitahu kepada siapa dia berikan tanda kepercayaan itu, hanya dengan tanda kepercayaan saja tak mungkin bisa ambil uang, harus tanda kepercayaan dan orang yang membawanya cocok satu sama lain sesuai laporan dari pusat. Kalau tidak, betapa besar kekayaan Ciang Wi-bin, apa tidak bakal bangkrut kalau hartanya boleh sesuka hati diambil orang?”

Hal ini memang tak pernah terpikir oleh Ji Bun, kedengarannya juga masuk akal.

Berkata Biau-jiu Siansing lebih lanjut:

"Persoalannya tidak terletak pada nilai dan manfaat dari anting- anting itu, tapi pada maksud dan tujuan dari pemberian anting- anting kepadamu, betul tidak?”

Cep-kelakep, Ji Bun tak mampu menjawab, agaknya persoalan semakin rumit, peduli kemana maksud tujuan Ciang Bing-cu memberi anting-anting itu, betapapun dirinya harus bertanggung jawab.

Tiba-tiba Thian-thay-mo-ki cekikikan, ujarnya:

“Ditangan orang lain mungkin anting-anting itu tak berarti lagi, namun kalau terjatuh ditangan tuan, dengan kepandaian tuan menyamar.. ."

Terguncang hati Ji Bun, kepandaian Biau-jiu Siansing merias diri dan menyamar juga tiada bandingannya dalam Bu-lim, selama ini tiada orang yang pernah melihat muka aslinya, jika anting-anting itu terjatuh di tangannya, betapa dia takkan menyaru sebagai dirinya untuk melepaskan nafsu tamaknya, maka ia manggut-manggut mendengar ucapan Thian-thay-mo-ki.

Biau-jiu Siansing terloroh-loroh, serunya:

"Orang maling juga ada aturannya, kau kira orang macam apa Lohu ini?"

"Menurut caramu merebut Sek-hud, persoalan apa pula yang tak bisa kau lakukan?"

Mendelik mata Biau-jiu Siansing, katanya:

"Harta benda dan Sek-hud merupakan persoalan yang berbeda bagi Bulim, betapa tenar dan tinggi kedudukan Bu-cing-so dan Siang-thian-ong, mereka toh sekongkol hendak merebut Sek-hud itu?" kata-kata yang tajam ini membuat Ji Bun mati kutu tak dapat mendebat lagi.

Tapi kecerdikan Thian-thay-mo-ki lebih tinggi daripada Ji Bun, segera ia menanggapi:

"Sesuai apa yang kau katakan, untuk sementata biar kami percaya omonganmu, tapi di puncak Pek-ciok-hong kau pernah membeberkan asal usul sendiri sebagai seorang pentolan maling yang bertingkat tinggi. Hilangnya anting-anting itu bukan mustahil karena dicuri oleh orang golonganmu, sesuai kedudukan dan tingkatanmu, apakah sudi tolong menyelidiki persoalan ini?"

Biau-jiu Siansing menepekur sebentar, sahutnya kemudian: ''Nah, kan harus begitu bicaranya. Baiklah, akan kubantu

mencarinya."

Masgul hati Ji Bun, perjalanan kali ini terhitung sia-sia, ucapan Biau-jiu Siansing tidak meyakinkan dirinya, namun ia tak berani berkukuh menuduhnya, agaknya memang sulit untuk menemukan anting-anting itu. Maka segera Ji Bun buka suara:

"Cayhe masih mohon keterangan darimu." "Soal apa?"

"Tentang Jit-sing kojin yang bersekongkol dengan tuan." "Sekongkol denganku?" tukas Biau-jiu Siansing dengan mata melotot.

„Kejadian di Pek-ciok-hong itu, siapapun tahu apa latar belakang yang tersembunyi di balik peristiwa itu."

"Ha ha, anak muda, jangan kau kira otakmu paling pintar sendiri."

"Aku hanya ingin tahu jejak Jit-sing kojin.”

"Lho, memangnya kau tidak kenal dia? untuk apa kau cari Jit-sing kojin?"

"Untuk membuat perhitungan utang jiwa."

Kaget sambil menyurut mundur Biau-jiu Siansing, teriaknya terbeliak:

"Hutang jiwa siapa?"

Ji Bun menggertak gigi, tanyanya:

"Tuan sudi memberitahu jejaknya?"

Biau-jiu Siansing menggeleng, katanya dengan suara tawar: "Aneh bahwa kau punya perhitungan dengan dia, kau menuntut

balas sakit hati orang lain?" Tanpa menjawab pertanyaan, Ji Bun, malah mendesak dengan suara berat:

“Ucapanmu membuktikan bahwa kau berhubungan erat dengan dia, harap kau suka beritahu di mana dia sekarang?"

"Aneh ” gumam Biau-jiu Siansing, "teka-teki apa yang telah

dia lakukan?"

"Tuan tidak menolak perintahku?”

"Lohu akan sampaikan hal ini kepadanya, biar dia sendiri yang membereskan perhitungan ini dengan kau."

"Cayhe harap bisa segera bertemu dengan dia."

"Tidak mungkin, jejaknya tidak menentu, tak punya tempat tinggal tetap lagi."

"Apa tuan betul-betul bisa menyampaikan kabar padanya?" "Sudah tentu, masakah aku mesti ingkar janji padamu yang lebih

muda."

Dengan demikian maksud semula untuk mencari Biau-jiu Siansing menjadi gagal, demikian pula anting-anting pualam itu tetap tidak diketahui parannya, jejak Jit-sing kojin juga tak bisa diketahui, sungguh Ji Bun amat penasaran. Tiba-tiba pikirannya tergerak, timbul suatu akal yang mengilhami benaknya, akalnya ini akan bisa membuktikan apa betul Biau-jiu Siansing ini adalah orang yang rebut anting-anting pualam dari tangannya, yaitu tangan kirinya yang beracun dan pernah menyentuh penyerobot itu tapi tanpa menimbulkan reaksi apa-apa.

Maka tanpa bicara lagi, seperti kilat mendadak ia menerjang ke arah Biau-jin Siansing, sejak jalan darah mati-hidupnya ditembus oleh orang tua aneh dibawah jurang Pek-ciok-hong, ditambah hawa murninya sendiri, Lwekangnya sekarang sungguh teramat tinggi, betapapun lihay dan tinggi kepandaian Biau-jiu Siansing, tak pernah dia menduga bakal diserang secara mendadak.

Hanya sekali berkelebat, sebat sekali tahu-tahu Ji Bun sudah melayang kembali ketempatnya semula, tangan kirinya yang beracunpun berhasil menutul badan orang.

"Te-gak Suseng," teriak Biau-jiu Siansing gemetar dengan menyurut mundur selangkah, "apa sih maksudmu?"

Thian-thay-mo-ki, terkesiap kaget dan melongo karena tindakan Ji Bun yang aneh serta mendadak ini, sudah tentu ia tidak mengerti maksud tujuan Ji Bun, soalnya dia tidak tahu menahu tentang rahasia tangan berbisanya itu.

Berubah membesi kaku rona muka Ji Bun, katanya tandas: "Nah, kenyataan sudah membuktikan. tidak usah mungkir lagi,

serahkan anting-anting itu padaku."

"Kenyataan apa?" tanya Biau-jiu Siansing melengak keheranan. "Terlalu sedikit orang yang mampu bertahan dari seranganku, kenyataan ini bukan kebetulan?"

''Maksudmu orang yang menyerobot anting-anting dari tanganmu itu juga lolos tanpa kurang suatu apa meski terpukul tanganmu yang berbisa?"

"Kan kau sudah tahu, kenapa tanya pula?"

"Hm, cukup menarik juga persoalanmu,” ujar Biau-jiu Siansing. "Baiklah, apa yang pernah kuucapkan pasti kutepati, bertanggung jawab dan takkan berubah."

"Cayhe takkan percaya begitu saja."

"Memangnya kau bocah ini bisa berbuat apa?" Biau-jiu Siansing mengejek, "kecuali tanganmu itu, kuingin tahu ada apalagi kemampuanmu yang lain?"

"Kukira kau takkan kecewa. Nah, rasakan pukulanku ini!" sembari bicara Ji Bun lantas kerahkan tenaga ke tangan kanannya, sejak mendapat saluran tenaga dari orang tua aneh, terasakan oleh Ji Bun bahwa kekuatan yang ia kerahkan kali ini terasa amat keras dan dahsyat, di tengah suara hardikan terakhir, tangan kananpun menjotos dengan kekuatan hebat.

Blau-jiu Siansing angkat sebelah tangan, sikapnya acuh tak acuh, namun sebelum kedua kekuatan saling bentrok, terasakan olehnya tekanan pukulan Ji Bun begitu keras dan besar. Tahu gelagat jelek, lekas dia menahan gerakannya, berbareng kaki menggeser cepat ke samping, namun demikian damparan angin kencang yang dahsyat bagai gunung meledak membuat dirinya terguncang sempoyongan. Betapa tinggi dan dalam kepandaian silat dari Lwekang Biau-jiu Siansing, toh tidak berani melawan secara kekerasan, hal ini membuat Ji Bun sendiri amat kaget, disadarinya bahwa Lwekangnya sekarang betul-betul sudah terlampau hebat daripada tingkat yang pernah dia bayangkan sebelumnya.

Biau-jiu Siansing mengunjuk heran dan kaget, serunya dirangsang emosi:

"Buyung, kau. tak mungkin memiliki Lwekang setinggi ini?"

kedengarannya amat lucu perkataan ini.

Thian-thay-mo-ki sudah tahu akan pengalaman Ji Bun yang ketiban rejeki didasar jurang itu, walau merasa diluar dugaan, namun tidak heran dan kaget.

"Terlampau banyak kejadian yang tak mungkin dibayangkan di dunia ini," jengek Ji Bun,"Nah, rasakan pukulanku lagi ”

Dikala tangannya terangkat, tiba-tiba Biau-jiu Siansing juga bergerak, hanya sekali berkelebat, tahu-tahu tubuhnya sudah menggeser 10 tombak jauhnya, begitu cepat sehingga sulit diikuti oleh pandangan mata.

Tapi kepandaian Ji Bun sekarang sudah bukan olah-olah hebatnya. "Lari kemana!" sembari membentak, secepat terbang iapun bergerak mengejar, maka tertampaklah dua sosok bayangan orang berkelebat saling susul meluncur bagai meteor, dalam waktu singkat bayangan mereka lantas lenyap.

Thian-thay-mo-ki melenggong sekejap, segera ia ikut mengejar ke arah sana, namun kedua bayangan orang di depan sudah menjadi dua titik hitam yang melayang bagai asap terbang, sebentar lagi sudah tak kelihatan.

Dalam pada itu Ji Bun telah mengerahkan seluruh kekuatannya sambil tancap gas mengejar dengan kencang, gerakannya seenteng burung walet, ternyata Biau-jiu Siansing yang tersohor memiliki Ginkang tiada bandingan ini dapat dikejarnya dalam jarak tertentu untuk sekian lamanya. Akan tetapi nama Biau-jiu Siansing memang bukan gelaran kosong, hanya terpaut selangkah saja, betapapun Ji Bun tak mampu menyandaknya.

Jurusan mereka menuju ke barat laut. Tak jauh di depan sana adalah pegunungan yang turun naik, hutan lebat membentang di beberapa tempat, hanya sekali menyelinap terus membelok lagi ke kanan, tiba-tiba bayangan Biau-jiu Siansing sudah lenyap ditelan semak-semak.

Dengan gemas Ji Bun terpaksa menghentikan pengejarannya, walau tak berhasil menyandak lawan, tapi bisa mempertahankan dalam jarak tertentu dengan Biau-jiu Siansing yang memiliki Ginkang paling top itu, hal ini sudah cukup melegakan hatinya.

Cepat sekali, sang surya sudah condong ke barat tanpa terasa. Ji Bun sudah putar balik hendak menemui Thian-thay-mo-ki, namun ia merandek serta berpikir sekejap, lalu ia ubah niatnya semula. Setelah menerawang keadaan sekitarnya, segera ia tahu bahwa tempat di mana dia berada termasuk pegunungan Tong-pek-san.

Dalam perjamuan berdirinya Wi-to-hwe tempo hari. Wi-to hwe-cu pernah menyatakan padanya akan menyambut kedatangannya setiap waktu, kini ia pikir Lwekang dan kemampuan silatnya sekarang kiranya cukup berkelebihan untuk bekal menuntut balas, kenapa tidak langsung meluruk ke Tong-pek-san saja dan bertindak menurut gelagat, kalau gelagat tidak menguntungkan boleh pura- pura menanyakan keselamatan Pui Ci-hwi, sekaligus untuk mencari tahu jejak Toh Ji-lan, untuk menunaikan pesan orang tua aneh itu.

Setelah berketetapan, segera ia berlari menuju ke arah Tong- pek-san. Bayangan Biau-jiu Siansing masih selalu mengganggu pikirannya, ia yakin anting-anting itu pasti terjatuh ke tangan maling sakti itu, yang paling mengerikan adalah orang tidak jeri menghadapi tangannya yang berbisa, malah waktu menyamar tabib kelilingan, orangpun mengorek rahasia pribadinya, hal ini sungguh amat luar biasa, kecuali ayahnya rasanya tiada orang lagi selain orang tua aneh dalam jurang itu yang tahu, lalu dari mana Biau-jiu Siansing bisa tahu pula? Orang ini pandai menyamar diri, sulit ditemukan, terutama dirinya harus memberi pertanggungan jawab kepada Ciang Bing-cu, lebih celaka kalau keluarga Ciang mengalami kebangkrutan harta benda, bukankah ia malu berhadapan dengan mereka.

Semakin dipikir semakin membuat hatinya masgul, liku-liku kehidupan Kangouw sungguh serba berbahaya, malah kepandaian silat tinggipun takkan berguna, bekal pengalaman dan pengetahuan umum adalah yang terpenting. Sejak keluarganya mengalami bencana, sifatnya memang sudah jauh berubah, kini setiap menghadapi persoalan dia cukup tabah untuk berpikir dan mengendalikan diri, watak aslinya yang tersembunyi selama ini, baru sekarang mulai terhalau dan berubah semua sepak terjangnya, karena perubahan itu sendiri timbul dari nuraninya yang murni, maka sifat brutalnya selama ini menjadi berubah tabah dan terkendali.

Karena alam pikirannya terus bekerja, sehingga tanpa terasa gerak badannya sedikit lamban. Magrib sudah berlalu, tabir malampun menjelang, jagat raya kini sudah menjadi gelap gulita. Sinar pelita di perkampungan di depan nan jauh sana sudah mulai tampak.

Sekonyong-konyong dari belakangnya berkumandang sebuah suara nyaring enteng:

"Berhenti tuan!"

Ji Bun tersentak kaget dari lamunannya, segera ia berhenti, waktu ia berpaling dilihatnya seorang gadis berpakaian ketat warna putih berdiri di depannya, malam gelap remang-remang, namun bayangan yang serba putih jelas kelihatan.

"Nona siapa?" tanya Ji Bun.

Tanpa menjawab gadis haju putih itu maju mendekat sambil mengamat-amati Ji Bun, katanya : "Agaknya Siangkong (tuan muda) adalah Te-gak Suseng?" Gadis ini masih asing bagi Ji Bun, namun ia mengiakan juga. "Sungguh beruntung dapat bertemu di sini."

"Apa, kenapa beruntung?”

"Aku mendapat perintah majikan untuk ngundang Siangkong ke sana."

Heran Ji Bun, tanyanya dengan menegakkan alis, "Siapakah majikanmu?"

"Setelah berhadapan tentu Siangkong akan tahu."

Ji Bun berpikir pulang pergi, ia kira orang mungkin dari aliran yang tidak genah, daripada tersangkut banyak urusan lebih baik tidak, kunjungannya ke Wi-to-hwe untuk menyelesaikan pribadinya lebih penting. Maka ia menjawab tawar:

"Harap beritahu kepada maiikanmu, aku sendiri ada urusan penting, terpaksa menolak undangannya."

"Tapi ada seseorang ingin betul bertemu dengan Siangkong." "Siapa?"

"Thian- thay-mo-ki." "Apa? Dia ”

"Dalam detik-detik kehidupannya yang terakhir, ia ingin melihat Siangkong."

“Melihat yang terakhir? Apa maksudmu?"

"Setelah sampai di tempat tujuan, Siangkong akan jelas seluruhnya,"

Baru dua jam sejak Ji Bun mengejar Biau-jiu Siansing berpisah dengan Thian-thay-mo-ki, kata-kata yang memancing dari gadis baju putih ini rada ganjil, walau dirinya tidak pernah menaruh cinta terhadap perempuan yang disebut itu, namun selama bergaul belakangan ini timbul juga rasa persahabatannya, keselamatan jiwanya tak boleh tidak diperhatikan sama sekali, maka ia berkata:

"Baiklah, mari tunjukkan jalannya."

"Silakan ikut diriku," ujar gadis berbaju putih sambil putar tubuh terus berlari ke arah selatan, setelah berlari cukup lama, mereka membelok ke timur memasuki sebuah hutan. Kepandaian Ji Bun kini sudah tinggi, nyalinyapun besar, walau merasa curiga, ia tak gentar. Tak jauh mereka memasuki hutan, tahu-tahu menyala sebarisan lampu-lampu gantung berderet memanjang menuju ke depan sebuah kelenteng kecil, di depan kelenteng berdiri berjajar di kanan- kiri delapan laki-laki berseragam putih, sikapnya garang dan kereng, begitu Ji Bun muncul mereka sama mengunjuk rasa tegang.

Memang nama Te-gak Suseng sudah cukup menggetarkan nyali setiap insan persilatan, apalagi pukulan tangannya yang jahat, membunuh orang tanpa meninggalkan bekas luka sedikitpun, mungkin hal inilah yang menciutkan nyali mereka.

Memasuki pintu besar, mereka tiba di sebuah ruang pendopo yang amat luas, di depan bagian pinggir, empat gadis berpakaian ketat warna putih masing-masing berdiri di kanan kiri, dua lampion besar warna merah tergantung di emperan, suasana terasa mencekam. Dari pintu besar sudah kelihatan jelas keadaan ruang pendopo yang diterangi lampion warna kehijauan, sehingga keadaan di belakang sana rada remang-remang, asap mengepul tinggi, namun tidak kelihatan bayangan seorangpun.

Gadis yang menunjuk jalan membalik serta berkata:

"Harap Siangkong tunggu sebentar." lalu dia berlari ke belakang, tak lama ia keluar kembali dan gerakan tangan: "Silakan masuk!"

Tanpa curiga dan tidak ragu sedikitpun, dengan langkah tegap Ji Bun lantas masuk. "Hah!" tiba-tiba ia menjerit tertahan waktu memandang sana, di lantai ruang pendopo ternyata terbaring 13 mayat orang berseragam putih, noda-noda darah belum kering, agaknya mereka terbunuh dalam waktu dekat ini.

Selagi dia melenggong, bau harum tiba-tiba merangsang hidung, tampak seorang gadis muda belia tak ubahnya seorang puteri raja dengan pakaian serba putih berjalan keluar dari belakang tabir kain sari, di belakangnya mengiring seorang laki-laki tua berjubah putih dan berperawakan tegap kekar. Begitu meihat laki-laki tua jubah putih ini, Ji Bun lantas tahu siapa mereka orang ini. Orang Ngo-lui-kiong.

Laki-laki jubah putih bertubuh tinggi besar ini adalah komandan patroli Ngo-lui-kiong, yaitu Pek-sat-sin The Cun yang pernah dilihatnya waktu memperebutkan Sek-hud tempo hari, Thian-thay- mo-ki pernah melukainya dengan Soh-li-sin-ciam.

Dengan langkah gemulai puteri jelita berpakaian serba putih ini menuju ke tengah terus duduk di kursi kebesaran yang berlapis kulit harimau, Pek-sat-sin tetap mengiringi disebelahnya.

Berkulit putih bersih rambut hitam mengkilap, bibir merah laksana delima merekah, mengenakan pakaian serba putih, begitu cantik jelita puteri ini hingga menyiiaukan pandangan rasanya.

Tanpa terasa Ji Bun menelan air liur. Kelihatannya gadis berbaju putih ini lebih cantik dari gadis baju merah Put Ci-hwi, sikapnya lebih agung dan suci, lembut dan ramah.

Dengan mata melotot Pek-sat-sin pandang Ji Bun, katanya: "Te-gak Suseng, majulah menghadap Kiong-cu (puteri) kami."

Tergerak hati Ji Bun, tak diduganya bahwa puteri Ngo-lui-kiong akhirnya terseret juga ke percaturan dunia persilatan, peduli kedudukan dan asal usulnya, apalagi dia seorang perempuan, betapapun dirinya tak boleh berlaku gegabah dan tidak tahu aturan, maka ia segera mengangguk, katanya: "Cayhe menyampaikan hormat."

Puteri baju putih mendehem, lalu menjawab:

"Tuan tak usah banyak adat!" suaranya semerdu kicauan burung kenari, walau sikapnya dingin, namun kedengarannya nyaring.

"Ada persoalan apa nona mencariku?" tanya Ji Bun. "Tentunya tuan tidak lupa utang tujuh jiwa anak buah kami

bukan?

"Cayhe tidak pernah menyangkal, sebagai insan persilatan yang berkelana di Kangouw, golok selalu berlumuran darah, jika aku tidak bunuh orang kepalaku sendiri yang bakal terpenggal, kalau kedua pihak sudah saling bertentangan, mati-hidup atau luka-luka merupakan kejadian jamak, tentunya nona tahu juga akan hal ini.”

Puteri baju putih itu tertawa tawar, katanya:

"Memang betul juga, namun caramu membunuh mereka kukira terlalu rendah."

"Jadi untuk hal inikah nona mengundangku kemari?"

"Agaknya tuan amat tabah dan sabar memangnya kau kira aku tidak punya pekerjaan dan hanya ingin mengobrol dengan kau?”

"Lalu apa maksudmu, jelaskan saja." "Tuan sudah melihat ke 13 mayat itu? itulah buah karya Thian- thay-mo-ki."

Berdegup hati Ji Bun, belum lama dirinya berpisah dengan Thian- thay-mo-ki, bagaimana mungkin dia membunuh orang-orang ini?

Dari pergaulannya belakangan ini ia tahu bahwa Thian-thay-mo-ki tidak bersifat kejam dan suka membunuh orang, maka dengan sikap tak acuh ia berkata:

"Apakah mereka anak buahmu? Pandai betul mereka mencari kematian?"

Berubah rona muka puteri baju putih, katanya mendesis dengan mata setengah memicing:

"Tuan pandai putar lidah, namun menurut aturan Kang¬ouw, setiap utang jiwa harus bayar jiwa ”

"Tanpa diselidiki dulu sebab musababnya dan pihak mana yang salah?"

"Terhadap orang-orang sebangsa tuan, kukira tidak perlu mempersoalkan siapa salah siapa benar."

Ji Bun naik pitam, mukanya membesi, katanya sambil mengernyit kening:

"Nona sendiri yang mengatakan demikian, bagus sekali, kalau begitu aku leluasa turun tangan." "Te-gak Suseng," jengek puteri berbaju putih dengan nada mencemooh, "malam ini jangan harap kau bisa bertingkah di sini."

"Agaknya nona amat yakin, apa kehendakmu?"

"Marilah ikut aku ke belakang," dengan gerakan bergontai ia berdiri terus menuju ke belakang deretan patung pemujaan, begitu gemulai gerak-geriknya sungguh amat menawan hati. Ji Bun mengikut di belakangnya, di balik deretan patung-patung mereka diadang sebuah pintu tengah. Begitu memasuki pintu tengah ini, nafsu membunuh seketika merangsang hati Ji Bun.

Menyusuri serambi panjang yang terbuat dari papan-papan batu marmer, akhirnya mereka tiba di sebuah pekarangan, di empat penjuru tergantung lampu-lampu kaca yang membuat tempat ini terang benderang, tepat di tengah-tengah pekarangan, berdiri dua cagak kayu, seorang perempuan tampak terbelenggu di cagak sebelah kanan, dia bukan lain adalah Thian-thay-mo-ki, tertampak kedua matanya guram, darah meleleh dari hidung dan mulutnya, rambutnya awut awutan, pakaiannya kusut masai, kalau bukan terluka parah waktu berhantam, tentunya dia disiksa dengan kejam.

Empat laki-laki berbaju putih berjajar di belakang cagak, dua diantaranya masing-masing mengacungkan pedang ke Hiat-to mematikan dibadan Thian-thay-mo-ki.

Begitu melihat Ji Bun muncul, tiba-tiba terpancar cahaya aneh pada kedua biji mata Thian-thay-mo-ki namun cepat sekali lantas lenyap pula, terunjuk senyuman getir pada wajahnya. Puteri berbaju putih tadi beranjak ke kanan dan berdiri di pinggir sana, Pek-sat-sin The Gun tetap mengiringi di belakangnya.

Sementara empat orang laki-laki tua berjajar di sebelah kiri, agaknya kepandaian dan kedudukan keempat orang ini tidak rendah.

Muka Ji Bun sudah membesi gelap, sekali melejit dia meluncur ke tengah pekarangan, katanya dengan suara gemetar kepada Thian- thay-mo-ki :

“Cici, apa yang telah terjadi?" Kata Thian-thay-mo-ki sayu:

"Tujuanku mengejarmu, di tengah jalan kepergok mereka, akhirnya tertawan ”

"Kau terluka?"

"Ya, malah disiksa pula."

Mendadak Ji Bun putar badan, teriaknya beringas kepada puteri berbaju putih:

"Lepaskan dia!"

Dingin suara puteri baju putih :

"Cagak yang satu itu sudah kusiapkan untukmu, tuan! Pintu neraka sudah terbuka menyambut kalian." Betapa sabar Ji Bun juga tak tertahan lagi, apalagi yang dihadapi adalah Ngo-lui-kiong, kenapa ia harus sungkan-sungkan terhadap golongan rendah ini, saking gusar ia malah terbahak-bahak, serunya

:

''Bagaimana kalau yang berkuasa di neraka juga takut menerima kedatanganku?"

"Kukira pikiranmu yang keblinger!”

"Nona masih muda dan cantik rupawan, apakah kau sudah bosan hidup?"

Tiba-tiba salah seorang berbaju putih di belakang cagak melolos sebilah badik terus diacungkan di depan muka Thian-thay-mo-ki.

Puteri baju putih berkata pula:

"Betapa cantik rupanya itu, apa kau senang melihat mukanya berhias?"

Agaknya Thian-thay-mo-ki sudah nekat, serunya:

"Dik, jangan hiraukan aku, kau tahu apa yang harus kau lakukan."

Badik di tangan laki-laki itu tiba-tiba menggores ke muka Thian- thay-mo-ki yang cantik itu dan meninggalkan sejalur luka memanjang yang berdarah. Ji Bun mengertak gigi, tenaga sudah dipusatkan pada telapak tangan kiri. Mukanya merah padam dilumuri nafsu yang membara, namun sedapat mungkin ia tekan perasaannya. Dengan tajam ia pandang Thian-thay-mo-ki, pandangan yang menyatakan bahwa ia telah berlaku gegabah, membalas budi kebaikan dengan kebrutalan. Thian-thay-mo-ki pejamkan mata, dua titik air mata membasahi pipinya.

"Te-gak Suseng, jangan kau tidak tahu diri, menyerahlah saja!" ejek puteri baju putih.

Mendelik sebesar kelereng biji mata Ji Bun, badannya gemetar menahan emosi, seluruh urat nadinya terasa hampir meledak saking gusar dan gugup.

"Su-lo (empat tertua)," puteri baju putih memberi perintah, "tangkap dia!"

Serentak keempat laki-laki tua yang berdiri di sebelah kiri mengiakan, dengan langkah rapi dan teratur, mereka bergerak pelahan menghampiri Ji Bun, bahwa pihak musuh mulai bergerak sebetulnya malah kebetulan bagi Ji Bun, namun jiwa Thian-thay-mo- ki terancam di ujung pedang musuh. Menangkap perampok harus menawan pentolannya.

Begitu timbul pikiran ini, cepat sekali ia menubruk ke arah puteri berbaju putih itu.

Agaknya puteri baju putih sudah menduga dan siaga, begitu Ji Bun berkelebat segera ia gerakkan kedua tangannya memapak, ia berduduk sambil melontarkan pukulannya, namun kekuatannya sungguh hebat luar biasa.

"Blum!" di tengah suara dasyat ini, gerak-gerik Ji Bun sedikit terganggu, Pek-sat-sin yang siap dari samping segera menghantam. Hebat sekali Ji Bun mematahkan serangan orang dengan telapak tangan kanan. Sejak Lwekangnya berlipat ganda, setiap gerak- geriknya membawa desir angin kencang. Dua kekuatan saling bentrok mengeluarkan angin yang berderai ke empat penjuru, tampak Pek-sat-sin terhuyung-huyung, darah menyemprot dari mulutnya, puteri baju putih menjerit kaget karena tidak menduga bahwa Ji Bun memiliki kekuatan yang luar biasa ini.

Dalam pada itu keempat laki-laki tua serba putih juga lantas melompat maju mengurung Ji Bun, setiap kali menubruk dan menerjang, setiap kali serangan Ji Bun selalu gagal dan kandas, ia tetap terkepung oleh empat lawannya. Semua ini terjadi dalam sekejap saja. Tanpa bersuara, cukup dengan isyarat kedipan mata serempak keempat laki-laki tua itu dapat bergerak bersama dan menggempur.

Dapatkah Thian-thay-mo-ki diselamatkan oleh Ji Bun?

Siapakah sebenarnya si pencuri anting-anting milik Ji Bun dan dapatkah ditemukan kembali?

7.19. Racun Paling Dikenal, Jarang Dan ... Sama

Angin pukulan dahsyat bersimpang siur menerjang dan menggencet semakin kencang. Dalam waktu singkat benturan- benturan keras bagai halilintar menggetar bumi merontokkon debu di atas wuwungan rumah.

Gerak-gerik Ji Bun kelihatan semakin semrawut, seperti terombang ambing oleh damparan kekuatan delapan jalur pukulan musuh, keruan tersirap darahnya, teringat pelajaran tempo dulu waktu dirinya terkepung oleh The Gun, cepat-cepat ia menghimpun semangat memusatkan pikiran, lambat-laun gerak langkahnya mulai terkendali, sekali menggerakkan tangan, ia serang laki-laki tua yang berdiri tepat di hadapannya.

"Blang", pukulan dahsyat ini dilandasi tambahan damparan kekuatan lawan sehingga menambah perbawa serangannya, lekas ia berputar secara berlawanan dari pusaran kekuatan musuh, sehingga serangan para lawannya sebagian besar dapat dipunahkan.

Ji Bun nekat, ia menggeser badan terus mendorong dengan seluruh kekuatannya. Suara keras kembali berdentuman, salah satu dari Su-lo tampak tergentak mundur jatuh terduduk, tiga yang lain sempoyongan mundur. Darah tampak meleleh dari ujung mulut Ji Bun. Gempuran kekerasan ini boleh dikata sedahsyat ledakan gunung. Semua hadirin sama berteriak kaget.

Napsu membunuh Ji Bun semakin berkobar, darah tak kuasa ditekan lagi, beberapa kali berkelebat, terdengarlah salah satu dari Su-lo menjerit roboh binasa. "Huuuaaah!" seorang lagi jatuh terkapar tak bernyawa.

"Berhenti!" hardikan nyaring seolah-olah mempunyai wibawa yang besar, tanpa terasa Ji Bun menghentikan serangan dan memutar badan. Muka puteri berbaju putih membesi berdiri di belakang Thian-thay-mo-ki, sorot matanya beringas memantulkan sinar yang mengerikan. Beberapa laki-laki baju putih itu juga sama mundur berderet di belakang cagak kayu. Air muka Pek-sat-sin The Gun berkerut berubah bentuk, agaknya dia tersiksa oleh rasa sakit dalamnya.

"Te-gak Suseng," bentak puteri baju putih, "agaknya terlalu rendah aku menilaimu."

Ji Bun menggeram, katanya: "Lepaskan dia, akan ku beri kesempatan hidup kalian."

"Jangan kau mimpi, sebelum aku mati, dia akan mampus lebih dulu," ancam puteri baju putih.

Baru saja Thian-thay-mo-ki hendak membuka suara, puteri baju putih segera menutuk lehernya, seketika badannya mengejang dan merontah-rontah, mulut terbuka tapi tak keluar suara, wajahnya yang cantik menyeringai seram seperti drakula.

Ji Bun semakin beringas, teriaknya kalap. "Ingin mampus kau!" Segera ia menerjang ke arah cagak.

"Berdiri!" puteri baju putih membentak, jari-jari tangannya yang halus mengancam batok kepala Thian-thay-mo-ki.

Dengan mengertak gigi terpaksa Ji Bun menghentikan aksinya, sungguh dia tidak tega melihat Thian-thay-mo-ki gugur di depan matanya secara mengenaskan. Dua orang tua yang masih hidup segera menubruk bersama.

Lekas puteri baju putih mencegah. "Ji lo harap mundur!"

Dengan mendelik gemas terpaksa ke dua orang tua mundur tanpa bersuara. Dua mayat orang tua yang lain segera digotong ke samping oleh empat laki-laki baju putih.

"Sekali lagi kuperingatkan, lepaskan dia!" ancam Ji Bun.

Berkilauan biji mata puteri baju putih, setelah menepekur sebentar baru berkata:

"Lepaskan boleh, tapi ada syaratnya." "Syarat apa?"

"Terangkan asal usul dan aliran perguruan kalian, perhitungan ini boleh kita selesaikan kelak."

"Soal perhitungan ini selalu kutunggu tuntutanmu di Bulim, soal asal usul jangan harap kau mengetahui."

"Tapi inilah syaratku." "Tak dapat kuterima." Pada saat itulah dua kali lolong jeritan berkumandang dari pintu kelenteng, semua orang termasuk Ji Bun sama terperanjat, Pek-sat- sin The Gun segera berlari masuk ke dalam kelenteng, cepat sekali terdengar benturan keras, agaknya dalam segebrak Pek-sat-sin juga kena dibereskan oleh si pendatang.

"Blak, bluk," tahu-tahu dua sosok mayat terlempar ke luar jatuh di tengah pekarangan.

Kiranya mayat kedua laki-laki baju putih, setelah mampus mayatnya di lempar keluar.

Pucat beringas muka puteri baju putih. Sesosok bayangan berkelebat seenteng, setan melayang keluar dan berdiri tegak di tengah lapangan.

Kedua orang tua baju putih segera menghadang maju, seorang di antaranya membentak:

"Sahabat orang kosen dari mana?"

Waktu Ji Bun berpaling, dilihatnya yang datang seorang laki-laki pertengahan umur bermuka hitam, kedua matanya menyorot terang, Ji Bun merasa pernah melihat sorot mata orang ini, namun tak teringat di mana dan kapan pernah melihat wajah seperti ini.

Pandangan laki-laki muka hitam menyapu ke seluruh gelanggang, katanya dingin: "Seratus li disekeliling daerah Tong-pek-san ini dilarang membunuh orang, apakah kalian tidak tahu aturan ini?”

Tergerak hati Ji Bun. Seorang tua baju putih yang lain segera membuka suara:

"Sahabat, perkenalkan dirimu." "Akulah komandan ronda Wi-to-hwe."

"Komandan ronda Wi-to-hwe?" puteri baju putih menegas.

"Betul, nona ini tentunya puteri kesayangan Ciangbunjin Ngo-lui- kiong In Giok-yan?"

"Ya, memang aku inilah."

"Kenapa nona membunuh orang di tempat terlarang kami?" "Pihak kalian tak pernah mengumumkan bahwa daerah ini

terlarang."

"Peraturan ini sudah diketahui oleh umum."

"Lalu bagaimana komandan harus bertanggung jawab atas kedua jiwa orang kami?"

"Orang-orangmu tak mau memperkenalkan diri, malah menyerang lebih dulu, mereka memang harus menerima ganjarannya." Kedua orang tua baju putih menggeram gusar, kata salah seorang: "Sahabat menghina orangkarena merasa berkepandaian tinggi?"

"Kalau benar kau mau apa?" jengek laki-laki muka hitam. "Kau harus membayar dengan jiwamu."

"Boleh, kalau kalian yakin bisa menagih kepadaku."

"Jangan bertingkah!" kedua orang tua ini barusan sudah terjungkal di tangan Ji Bun, hatinya penasaran dan tidak terlampias, kini mereka mendapatkan sasarannya, serempak mereka menyerang.

Laki-laki muka hitam mengekeh dingin, katanya: "Biar aku menjajal sampai di mana kehebatan Ngo-lui-kang."

Mulut bicara tangan bergerak, kaki berkisar maju, kedua tangannya terangkat masing-masing menghadapi seorang tua baju putih.

"Daar, pyaar!" dua kali suara keras, seketika kedua orang tua baju putih tergeliat, laki-laki pertengahan umur muka hitam juga tersurut mundur setindak.

Ji Bun mundur dan menonton sambil berpeluk tangan, Wi-to-hwe adalah musuhnya, orang-orang Nga-lui-kiong inipun memusuhinya, biarlah mereka berhantam mati-matian, hal ini akan menguntungkan dirinya.

Karena lebih banyak seorang, sudah tentu kedua orang tua baju putih semakin berkobar semangat tempurnya, ditengah gerungan panjang, kembali mereka ayun tangan, menghadapi damparan angin pukulan sedahsyat gugur gunung ini, laki-laki muka hitam hanya melayangkan kedua tangannya saja dari jauh, belum lagi kekuatan pukulan kedua orang tua itu dilontarkan, mendadak mereka terhuyung mundur sendiri dan sama menjerit: "Racun!" keduanya lantas terjungkal bersama, setelah berkelejetan, lalu tak bergerak lagi.

Mencelos hati Ji Bun, tak kira laki-laki muka hitam inipun pandai main racun, dari kematian kedua orang tua baju putih ia dapat meraba racun yang digunakan laki-laki muka hitam bukan sembarang racun.

In Giok-yan atau puteri baju putih tampak pucat. ''Nona In," ujar laki-laki muka hitam," aku tidak ingin membunuh kau, kau boleh lekas pergi. Sambil gigit bibir sekian lamanya ln Giok-yan menatap laki-laki muka hitam, mendadak tangannya terangkat hendak mengepruk kepala Thian-thay-mo-ki.

"Berani kau!" bentak Ji Bun dengan gemetar.

"Jangan melukainya," dalam waktu yang sama laki-laki muka hitam juga membentak. In Giok-yan melengak, hanya serambut telapak tangannya hampir mengenai batok kepala Thian-thay-mo-ki, kalau tenaga dia kerahkan, batok kepala Thian-thay-mo-ki pasti pecah berantakan.

"Jangan kau melukainya, perkumpulan kami sedang mencarinya,” ujar laki-laki muka hitam lebih lanjut.

"Aku harus menuntut balas bagi orang-orangku yang menjadi korban keganasannya."

"Pihak kami inginkan dia hidup." "Maaf tidak bisa "

"Jangan kau paksa aku membunuhmu?"

Berkeriut gigi In Giok-yan, katanya penuh kebencian: "Sejak kini Ngo-liu-kiong akan membuat perhitungan kepada Wi-to-hwe. "

"Itu soal lain. Kapan saja kalian boleh menuntut balas."

Setelah sekian lamanya, secara diam-diam Thian-thay-mo-ki sudah berhasil menjebol tutukan Hiat-tonya, maka ia bersuara tertahan: "Dik, lihatlah kulit kepalanya, dia inilah orang berkedok yang pernah turun tangan jahat kepadamu."

Bergetar pula badan laki-laki muka hitam, sorot matanya seketika beringas buas. Ji Bun sendiri juga tersentak kaget, waktu ia pandang kepala orang, memang betul, diatas telinga kanan laki-laki muka hitam ini ada bekas codet memanjang, walaupun ditutupi rambut, namun sebagian masih kelihatan jelas, kalau Thian-thay-mo-ki tidak memberitahu, musuh yang misterius ini mungkin akan dibiarkan begitu saja. Tak nyana bahwa orang yang menyaru ayahnya dan turun tangan dua kali secara keji terhadap dirinya ternyata adalah orang Wi-to-hwe pula. Kenapa dia ingin membunuhku? Mungkinkah pihak mereka sudah tahu rahasia pribadiku? Berdiri bulu kuduk Ji Bun, terasa olehnya seolah-olah sekeliling dirinya sudah diawasi oleh orang-orang mereka.

Laki-laki muka hitam mendadak menghampiri Ji Bun malah. Ji Bun mendesis geram sambil mengertak gigi:

"He he, agaknya Thian memang sudah mengatur pertemuan kita malam ini."

"Anak keparat, rupanya nyawamu masih panjang?" "Perbuatanmu sungguh rendah dan memalukan."

"He he he he, anak keparat, malam ini kau pasti mampus!"

Amarah membakar dada Ji Bun, kebencianpun meresap pada sendi-sendi tulang dan di dalam aliran darahnya, namun ia menekan sekuatnya, ia harus bikin terang persoalannya lebih dulu, perbuatan orang ini pasti mempunyai latar belakang, maka ia berkata: "Tuan turun tangan dengan segala cara yang rendah dan kotor, dua kali jiwaku hampir tamat karena pembokonganmu, kenapa?"

Laki-laki muka hitam menyeringai sadis, ujarnya: "Karena aku ingin kau mampus."

"Kau, ingin aku mampus? Kita belum pernah kenal, tidak bermusuhan lagi bukan?"

"Kukira tiada perlunya kuberi penjelasan."

"Di balik semua peristiwa ini pasti ada orang yang mengendalikan, siapa yang suruh kau berbuat jahat kepadaku?"

"Terserah bagaimana dugaan dan pikiranmu?" "Siapa yang menyuruhmu?" Ji Bun menegas pula.

"Jangan mengoceh saja, setelah mampus kau akan mengerti."

Ji Bun tak kuasa mengendalikan emosinya lagi, bentaknya: "Akan kubikin kau hancur!" Di tengah hardikannya, telapak tangan kiri dikerahkan sepenuh tenaganya, telapak tangan kanan juga menabas.

Laki-laki baju hitam tidak gegabah, iapun angkat tangan menyambut dengan kekerasan, ditengah suara gemuruh yang menggetar bumi, hawa panas serasa pecah berderai ke empat penjuru, lampu-lampu kaca yang bergantungan sama pecah berjatuhan, Ji Bun tergeliat, sementara laki-laki muka hitam terpental mundur empat langkah.

Lekas In Giok-yan memberi isyarat kepada anak buahnya, beberapa orang di belakangnya segera maju, seorang segera melepas tali-tali yang membelenggu Thian-thay-mo-ki.

Laki-laki muka hitam tertawa sinis, tahu-tahu badannya berkisar satu lingkaran ke sana, tiba-tiba bayangannya berkelebat ke tempatnya semula pula, di sana terdengar suara gedebukan, empat orang anak buah In Giok-yan sama terjungkal roboh tak bernyawa, yang masih hidup sama terpaku gemetar.

Ji Bun sendiri bergidik melihat kehebatan gerakan ini, untung dia mendapat saluran Lwekang orang tua aneh, betapapun dia masih bukan tandingan musuhnya. Begitu cepat gerakan laki-laki muka hitam, tanpa berhenti tiba-tiba dia menubruk kearah Ji Bun seraya mencengkeram dadanya, kecepatannya laksana kilat menyamber. Kebetulan bagi Ji Bun, tidak berkelit dia malah memapak maju, telapak tangannya tegak menebas ke dada lawan pula. Dua keluhan keluar dari dua mulut. Jubah Ji Bun tercengkeram robek tak keruan sehingga lengan kirinya yang disembunyikan di dalam baju kelihatan. Namun tangan kiri beracun. Ji Bun inipun berhasil memukul dada lawan.

"Tangan!"

Thian-thay-mo-ki dan In Giok-yan menjerit bersama tanpa berjanji. Setelah terhuyung dua langkah, laki-laki muka hitam lantas terkapar celentang. Ji Bun memburu maju terus mencengkeram baju dada orang serta menjinjingnya, teriaknya beringas:

"Matipun takkan kubiarkan badanmu utuh " belum habis dia

berkata, tiba-tiba telapak tangan laki-laki muka hitam menggenjot ke dada Ji Bun.

Mimpipun Ji Bun tidak menyangka lawan bakal pura-pura terluka parah oleh racunnya dan secara mendadak membokongnya pula, betapa keras genjotan jarak dekat ini, apalagi lawan memang sudah siap dan menghimpun setaker tenaganya.

Thian-thay-mo-ki dan ln Giok-yan sama menjerit kaget. Dengan muntah darah Ji Bun terlempar beberapa tombak jauhnya. Laki-laki muka hitam mendongak sambil tergelak-gelak. Sebaliknya hancur luluh hati Thian-thay-mo-ki, dengan menjerit kalap segera ia meronta sehingga tali yang meringkusnya itu putus berkeping- keping.

Tak pernah terpikir oleh In Giok-yan bahwa Thian-thay-mo-ki mampu menjebol Hiat-to yang tertutuk, perubahan ini terjadi secara mendadak pula sehingga membuatnya tertegun kaget.

Gerak gerik laki-laki muka hitam sungguh laksana kilat, belum lagi Thian-thay-mo-ki berlari mencapai tujuannya, beruntung ia melontarkan tiga kali pukulan, kontan Thian-thay-mo-ki terpental, darah meleleh dari mulut dan hidungnya. Sebelum badannya tersungkur jatuh ke tanah, sebat sekali laki-laki muka hitam melejit maju sambil ulur tangan mencengkeramnya. In Giok-yan masih melenggong ditempatnya, iapun mati kutu.

Kata laki-laki muka merah sambil melirik kepada In Giok-yan: "Sebelum pikiranku berubah ingin membunuhmu, lekas kau enyah dari sini, orang-orangmu di luar masih hidup, hanya Hiat-tonya saja tertutuk."

In giok-yan membanting kaki, serunya: "Sejak kini kami bersumpah takkan hidup sejajar dengan Wi-to-hwe!"

Habis berkata ia gerakkan tangan terus bergegas keluar, anak buahnya yang masih tersipu-sipu mengintil di belakangnya, mayat teman-temannya pun tak sempat diurus lagi.

Sambil menyeret Thian-thay-mo-ki, laki-laki muka hitam mendekati Ji Bun. "Apa yang hendak kau lakukan?" teriak Thian- thay-mo-ki serak.

Laki-laki muka hitam menyeringai seram, katanya.

"Tangan bocah keparat ini beracun, hatinya jahat lagi, badannya harus dileburkan supaya tidak menimbulkan bencana bagi orang lain."

"Baik, menjadi setanpun takkan kuampuni kau!" desis Thian thay- mo-ki.

"Ha ha ha, nona ayu, kau takkan menjadi setan!" sorot matanya semakin jalang, nafsu birahinya tampak berkobar. Karena urat nadi tangannya terpegang. Thian-thay-mo-ki tak mampu meronta, apalagi Lwekang laki-laki muka hitam jauh lebih tinggi, umpama dia tidak tertawan juga takkan mampu melawan.

Laki-laki muka hitam angkat tangannya terus mengepruk ke batok kepala Ji Bun. Thian-thay-mo-ki pejamkan mata dan menjerit tertahan, serasa sukmanya ikut terbang bersama nyawa Ji Bun yang sudah tamat. "Blang", hancur luluh hati Thian-thay-mo-ki. terasa badannya ikut terseret mundur gentayangan.

"0-mi-to-hud (Amitha Budha)," sekonyong-konyong seseorang bersabda dengan suara lantang. "Wi-to-hwe hanya namanya saja membela keadilan dan menegakkan kebenaran, namun anak buahnya ternyata melakukan perbuatan serendah dan sekotor ini."

Suara yang keras berisi ini membuat Thian-thay-mo-ki tersentak sadar dari kepedihannya, waktu dia angkat kepala, dilihatnya pujaan hatinya masih rebah tak bergerak, tidak nampak tanda terluka, namun di depan sana tahu-tahu berdiri seorang Hwesio besar yang kereng berwibawa.

Jari-jari laki-laki muka hitam yang memegangi Thian-thay-mo-ki terasa rada gemetar, ini membuktikan bahwa hatinya agak jeri.

"Siapakah Toa-hwesio ini?" tanyanya.

"Pinceng Thong-sian," sahut hwesio itu, tiba-tiba kedua biji matanya memancarkan sinar terang, bentaknya menatap tajam laki- laki muka hitam: "Lepaskan perempuan ini!" "Cayhe hanya bertindak menurut perintah." “Perintah siapa?"

"Sudah tentu Hwecu (ketua) kami."

"Pinceng suruh kau melepaskan dia, kalau tidak terpaksa Pinceng melanggar pantangan."

Berputar biji mata laki-laki muka hitam, katanya:

"Silakan Toa-hwesio unjukkan dulu kepandaian, supaya Cayhe ada alasan untuk memberi laporan?"

Tong-sian berpikir sebentar, tiba-tiba bibirnya mencebir, segulung angin segera meniup dari mulutnya ke arah lampu gelas yang tergantung lima tombak diemperan sana. "Cret", lampu gelas itu tahu-tahu berlubang sebesar jari, sinar apipun seketika padam.

Bergetar suara laki-laki muka hitam: "Sian-thian-cin-kin, hebat betul Lwekang Toa-hwesio," lenyap pujiannya, mendadak ia lempar Thian-thay-mo-ki ke arah Thong-sian, sebat sekali ia terus melesat keluar.

Thong-sian bersabda sekali lagi, kaki kanan berkisar ke samping sehingga tubuhnya ikut menyingkir, sebetulnya ia tak mau bersentuhan dengan tubuh perempuan. Tak nyana daya luncuran tubuh Thian thay-mo-ki yang terlempar ini sungguh kencang, sehingga luncurannya bertambah jauh ke sana dan jatuh terguling di tanah, mulutnya masih sempat berpekik: "Racun!" Badannya terus lunglai tak bergerak lagi.

"Amitha Budha." Thong-sian bersabda pula, "perbuatan kejam dan keji. Pinceng salah hitung dan dikelabui." Cepat ia melangkah maju serta meraba pernapasan Thian-thay-mo-ki katanya membanting kaki: "Celaka!" Tiba-tiba badannya melenting tinggi terus melayang bagat seekor bangau, mengejar ke sana.

Tak lama setelah Thong-sian melesat terbang mengejar musuh, tiba-tiba Ji Bun merintih sekali terus membuka mata, sekejap dia celingukan terus geleng kepala, dengan cepat pikirannya lantas sadar dan jernih kembali, semua kejadian segera terbayang di dalam benaknya. setelah menghirup napas panjang ia berkata:

"Jiwa manusia begini culas, kenapa aku selalu kena diselomoti?"

Di mana matanya menyapu pandang, tiada seorang hidup yang dilihatnya, dua lampu kaca masih menyala menerangi mayat-mayat yang bergelimpangan di tanah. Pelan-pelan dia berdiri, tiada rasa kesakitan sedikitpun, ia coba mengempos semangat, Lwekangnya masih penuh berisi, dalam hati diam-diam ia amat kaget, jelas tadi dadanya terpukul serangan dahsyat yang mematikan, namun kenapa sekarang tidak merasakan sakit atau luka-luka, bukan sekali ini saja kejadian demikian berlangsung. Kenapa?

Matanya menjelajah sekelilingnya ia ingin memperoleh jawab akan pertanyaan hatinya. "Haya!" tiba-tiba ia berpekik mengawasi Thian-thay-mo-ki yang menggeletak tak bergerak di atas tanah.

Apakah sudah mati? Demikian ia membatin, segera iapun memburu maju, begitu tangannya meraba tubuh orang, seketika ia bergidik gemetar, tanganpun ditarik.

Ternyata karena gugup dan gelisahnya, tangan yang diulur hendak meraba adalah tangan kirinya yang beracun jahat. Kini dia ganti tangan kanan, cepat ia raba urat nadi, terasa denyutnya amat lemah, tiada daya hidup sedikitpun. Lekas dia membalik jazad orang, baju didepan dadanya yang robek tersingkap, payudaranya yang montok menongol keluar, tertampak sebutir buah anggur merah menghiasi bukit tandus nan putih licin ini, seketika semangat Ji Bun seperti terbang keawang-awang, darah seketika bergejolak, mukapun terasa panas. Cepat ia pejam mata, setelah tenangkan diri, ia buka mata pula terus meraba pernapasannya, lalu memeriksa kelopak matanya juga. “Racun," gumamnya, "aneh betul"

Yang membuatnya heran dan kaget bukan lantaran Thian-thay- mo-ki terkena racun, asal daya hidupnya masih kuat bertahan, racun jahat macam apapun ia masih sanggup menawarkannya, namun racun yang ini adalah racun yang paling dikenal, juga racun yang jarang terdapat di dunia ini, sungguh tak pernah terpikir olehnya, kecuali ayah dan dirinya, masih ada orang lain yang pandai pula menggunakan racun ini?

Tiba-tiba ia teringat akan Cui Bu-tok, si ahli racun sakti yang kini berada di Wi-to-hwe. Kalau laki-laki muka hitam itu adalah komandan ronda dari Wi-to-hwe, bukan mustahil dia adalah murid didik Cui Bu-tok, tidaklah heran kelak tidak takut racun malahan juga pandai menggunakan racun. 7.20. Bu-lim-siang-koay

Lekas ia ke!uarkan obat penawat racun terus dijejalkan ke mulut Thian-thay-mo-ki, seiring dia tutuk pula beberapa Hiat-to dibadannya. Kira-kira segodokan air mendidih, pelan-pelan Thian- thay-mo-ki mulai bergerak lalu membuka mata, setelah melihat keadaan sekitarnya, segera ia meloncat bangun, katanya dengan penuh haru: "Dik, kau masih hidup? betapa besar perhatiannya, sungguh tak terlukiskan dengan kata-kata.

Ji Bun juga amat terharu, katanya, "Cici juga tidak apa-apa?" "Aku tidak apa-apa. Mana Hwesio gede yang bergelar Thong-sian

itu? Untung dia muncul tepat pada waktunya, kalau tidak pasti kau

sudah binasa di tangan komandan ronda Wi-to-hwe tadi."

"Waktu aku siuman keadaan sunyi senyap tak kelihatan seorangpun."

Thian-thay-mo-ki merasa dadanya dingin, waktu ia menunduk, seketika mukanya menjadi merah, cepat ia membetulkan bajunya yang sobek dan berkata: "Dik, tanganmu ternyata tidak cacat?”

Karena rahasia sudah terbongkar, terpaksa Ji Bun bicara terus terang: "Cici, soalnya tanganku teramat beracun ”

"Apa, teramat beracun?" Thian-thay-mo-ki menegaskan dengan kaget. "Benar, setelah aku meyakinkan semacam ilmu beracun yang sudah lama putus turunan, siapa saja bila tersentuh kulitnya, segera racun akan menyerang jantung dan kematian, sang korban tak memperlihatkan tanda yang mencurigakan, namun bagi orang yang mengerti soal racun dengan cepat akan dapat diketahuinya."

"Pantas kau melarang orang menyentuhmu. O ya. sekarang kuingat seseorang, selama ini kulupa memberitahu padamu.”

“Siapa?" tanya Ji Bun.

"Seorang nyonya berpakaian hitam yang berwajah welas asih."

Tegak alis Ji Bun, katanya heran dan bingung: "Nyonya berbaju hitam, siapa namanya?"-

“Entahlah, dia tidak memperkenalkan diri, kukira kau mengenalnya,” lalu Thian-thay-mo-ki menceritakan kejadian yang dialaminya dulu.

Serius dan penuh perhatian rona muka Ji Bun, lama sekali baru dia bersuara dengan penuh emosi: "Wajahnya welas asih?"

"Ya, secerah sinar surya di pagi hari pada musim semi." Perawakannya sedang? Mungkinkah .......

"Siapakah dia?" "Ibuku!" jawab Ji Bun. "Tapi, ah, tak mungkin dia meninggalkan diriku terkapar begitu saja. Lalu apa pula yang dikatakannya?"

"Tidak ada, dia tidak berkata apa-apa lagi."

Ji Bun tenggelam dalam alam pikirannya, ia kecuali ayahnya hanya ibunya saja yang tahu akan rahasia tangannya vang beracun, namun ibunya tak pernah memakai baju hitam, begitu besar kasih sayangnya terhadap dirinya, umpama dia salah periksa dan menyangka dirinya sudah mati, tak mungkin dia berpesan kepada orang lain untuk mengurus jenazahnya, lalu siapakah dia? Suatu teka teki yang meresahkan hati pula. Setelah berpikir pula sebentar, tetap tidak menemukan jawabannya, terpaksa dia, berkata dengan rawan:

"Sudahlah, sementara tak urus persoalan ini, Cici, untuk sementara biarlah kita berpisah di sini saja."

Berubah wajah Thian-thay-mo-ki, suaranya gemetar: "Dik, kau hendak berpisah dengan aku? Kau tak sudi berteman denganku lagi?"

"Tidak, Cici jangan salah paham, aku ada urusan penting ”

"Apa aku tak bisa membantu."

"Tidak, buat apa kau menempuh bahaya." "Menempuh bahaya? Aku malah ingin ikut. Ke mana?

Menyelesaikan urusan apa?” Serba susah Ji Bun dibuatnya, sikap dan kesannya terhadap Thian-thay-mo-ki sudah jauh berubah, setelah bergaul sekian lama ini, disadarinya bahwa kesan buruknya dulu ternyata tidak berdasar sama sekali, berbagai peristiwa telah menjalin hubungan mereka semakin dekat dan intim.

Sesuai apa yang dinamakan "cinta timbul setelah bergaul yang lama, meski asmara Ji Bun hanya timbul di dalam relung hatinya yang paling bawah, namun kata-kata dan sikapnya sekarang adalah tulus, ia tidak ingin Thian-thay-mo-ki ikut menempuh bahaya.

"Dik," kata Thian-thay-mo-ki, "katakan, apa yang hendak kau lakukan?"

Ji Bun menggeleng-geleng tanpa menjawab. "Jangan serba susah dik, kau pergilah."

Dengan rasa iba dan penuh penyesalan Ji Bun menatapnya dalam-dalam, ingin dia berbincang beberapa kata, namun tak kuasa diucapkan, sorot mata nan pilu dan syahdu membuat hatinya terguncang. akhirnya ia mengeraskan hati, katanya: "Maafkan Cici, ada kesulitan yang tak bisa kuterangkan, jika aku tidak mati, kita pasti akan bertemu lagi."

Setelah berkata ia terus berlari pergi ditelan kegelapan. Dikala malam berganti pagi, Ji Bun tiba di puncak utara Tong-

pek-san, di sinilah tempo hari peresmian berdirinya Wi-to-hwe diadakan, dari sini ke lembah sana akan langsung menuju ke markas besar Wi-to-hwe.

Semula kedatangannya dirangsang emosi yang berkobar untuk menuntut balas, setiba di tempat tujuan, hatinya menjadi bimbang, karena belum memperoleh langkah-langkah yang dirasa baik untuk menjalankan aksinya. Dia perlu berpikir pula dengan kepala dingin, maka ia berlari sepuluh li ke arah yang berlawanan, akhirnya berhenti disebuah hutan yang berhawa sejuk nyaman dan sunyi, setelah memilih tempat yang tersembunyi, dia lalu duduk bersimpuh dan mulai putar otak.

Situasi mengubah dirinya menjadi tabah dan pendiam, wataknya nyentrik yang dulu sudah tersapu bersih, serupa seorang setan judi, disaat menyadari bahwa modalnya bertaruh kurang banyak, terpaksa taruhannya harus cermat dan teliti.

Dia menilai Lwekangnya sendiri, sekarang untuk melawan satu persatu dengan tokoh-tokoh kosen macam Siang-thian-ong masih cukup mampu, namun kalau melawan orang di dalam tandu dan Wi- to-hwecu masih merupakan tanda tanya besar, tapi kalau menghadapi keroyokan mereka, betapa akibatnya dia tak berani membayangkan. Kalau Menggunakan akal, dikuatirkan asal usul sendiri sudah terbongkar oleh pihak sana, dalam keadaan yang serba salah ini tentu sukar turun tangan baginya, dan yang terpenting, bila dirinya memperkenalkan diri dan menantang untuk menuntut balas secara terus terang, pihak musuh pasti akan turun tangan keji dengan tanpa mengenal kasihan. Situasi agaknya menyudutkan dirinya untuk berlaku nekat secara untung-untungan. Sejauh ini ayahnya tidak pernah muncul dan mengadakan kontak pula, hal ini menyebabkan dia harus bertindak secara diam-diam seorang diri.

Disaat hatinya risau dan gundah tak bisa ambil putusan, tiba-tiba kupingnya mendengar suara isak tangis perempuan yang sayup- sayup terbawa kesiur angin. Siapa yang menangis di hutan belukar yang sepi ini?

Sebetulnya ia tak ingin ambil peduli, namun gejolak perasaannya tak bisa dikendalikan, akhirnya ia berdiri dan melangkah ke arah datangnya suara tangisan. Semakin dekat isak tangispun semakin terang dan keras. Mendadak bayangan merah sesosok tubuh orang muncul di depan. Seketika Ji Bun berdiri tertegun, sungguh di luar dugaannya bahwa orang yang menangis ini ternyata adalah gadis berbaju merah, Pui Ci-hwi.

Karena apa dia begitu sedih? Kenapa berkeluh kesah seorang diri ditempat sunyi ini? Seperti bara api di bawah sekam, asmara yang sudah hampir padam direlung hatinya tiba-tiba berkobar pula, namun sebuah pikiran lain segera menyangkal alam pikirannya ini nona itu adalah komplotan musuh.

Pui Ci-hwi menggelendot dibatang pohon, ke dua pundaknya tampak gemetar, isak tangisnyapun begitu pilu, memang kaum perempuan suka menangis, tapi bagi seorang perempuan persilatan, kalau tidak kebentur suatu peristiwa yang betul-betul mengetuk hati sanubarinya, orang takkan menangis begitu sedih.

Inilah kesempatan baik, segera timbul ilham dalam benak Ji Bun, cari keterangan Toh Ji-lan kepadanya untuk menunaikan pesan orang tua aneh sebagai imbalan budinya yang telah menyalurkan Lwekang kepada dirinya. Tanya pula siapa saja yang ikut serta dalam pembantaian besar-besaran di Jit-sing-po yang menimbulkan korban begitu banyak dan mengerikan, apa pula sebab dan alasan mereka turun tangan sekeji itu, mengorek pula keterangan, apakah mereka sudah tahu akan asal usul diriku, hal inilah yang paling penting. Demikianlah Ji Bun sudah berketetapan, disaat dia hendak bertindak ..........

Sekonyong-konyong sesosok bayangan berkelebat, tahu-tahu seorang nenek berpakaian warna-warni bagai setan berkelebat muncul disamping Pui Ci-hwi, lekas Ji Bun tarik kakinya yang sudah terangkat hendak melangkah itu, serta menyelinap ke belakang pohon. nenek ini pernah muncul di Pek-ciok-hong waktu terjadi perebutan Sek-hud tempo hari, pasti dia inilah yang merebut Pui Ci- hwi dari tangan Liok-Kin.

Tentunya nenek ini juga salah seorang anggota Wi-to-hwe. Terdengar nenek itu berkata dengan nada kereng berwibawa: "Budak usil, hayo pulang."

Pui Ci-hwi membalik serta angkat kepala, suaranya tegas dan tandas: "Lolo (nenek), aku tidak mau pulang" Air matanya bercucuran membasahi mukanya, wajahnya sayu penuh kepedihan, begitu iba dan memelas sekali keadaannya, hati Ji Bun ikut terharu.

Nenek itu mendengus geram, katanya: "Berani kau bertingkah dengan adatmu." Tiba-tiba Pui Ci-hwi tekuk lutut, katanya dengan isak tangis yang memilukan: "Lolo, maafkan anak Hwi yang tidak berbakti ini "

kata-kata selanjutnya tertelan dalam tenggorokan. "Lalu apa keinginanmu?"

"Aku ...... aku hanya ingin mati."

"Apa-apaan ucapanmu, budak bodoh." "Lolo, tak berarti hidupku ini."

Ji Bun yang mencuri dengar menjadi keheranan, entah apa hubungan antara tua dan muda ini? Kenapa pula dia mengucapkan kata-kata yang begitu putus asa.

Setelah menghela napas, nenek itu berkata dengan suara lebih lembut: "Anak bodoh, sebetulnya apa sebabnya kau sampai berpikir sependek ini?"

Pui Ci-hwi menunduk sambil menangis gerung-gerung, sama sekali dia tak dapat bicara.

Nenek itu mengelus rambutnya, seperti membujuk anak kecil saja ia berkata: "Anak bodoh, siapa yang telah menyalahi kau, katakan, Lolo akan melampiaskan kedongkolanmu?"

Semakin keras isak tangis Pui Ci-hwi mendengar bujukan ini, tiba- tiba nenek itu mendengus sekali, tahu-tahu dia putar tubuh terus melompat pergi, lekas sekali dia sudah putar balik, tangannya menjinjing seorang berpakaian putih. "Bluk", ia banting orang itu ke tanah, orang baju putih itu mengeluh kesakitan.

Waktu melihat orang baju putih ini, berdegup jantung Ji Bun, ternyata orang ini bukan lain adalah putera Cip-po-hwecu, yaitu Liok Kin adanya, dengan cara rendah dan kotor, Liok Kin berhasil mengorek keterangan rahasia Sek-hud dari mulut Pui Ci-hwi, sehingga Sek-hud terjatuh ke tangan Biau-jiu Siansing, ternyata pemuda bergajul ini masih berani kelayapan di Kang-ouw, memang pemuda yang tidak tahu diri.

Sambil menuding Liok Kin nenek itu berkata: "Budak, bocah inikah yang menyakiti hatimu? Kenapa tadi kau mohon ampun baginya?"

Tersipu-sipu Liok Kin merayap bangun, katanya penuh nada sedih kepada Pui Ci-hwi: "Adik Hwi, memang akulah yang ceroboh sampai berbuat tidak senonoh terhadapmu, aku tahu matipun takkan setimpal menebus dosaku, maka sengaja aku susul kau kemari, aku tidak ingin mohon pengampunan, aku hanya ingin mati ditanganmu

.....” lalu ia berlutut dan menyembah, air matapun bercucuran.

Dengan mengertak gigi Pui Ci-hwi melotot kepada Liok Kin, desisnya penuh kebencian: "Akan Kubeset kulitmu dan kulebur badanmu."

Sekali angkat seperti menjinjing anak ayam saja si nenek mengangkat Liok Kin tinggi-tinggi, bentaknya bengis: "Bocah keparat, akan kucincang kau." "Adik Hwi, selamanya aku mencintaimu, semoga pada penitisan mendatang kita berkumpul lagi!" seru Liok Kin.

Tak keruan rasa hati Ji Bun, dia heran dan bingung, apa betul bocah she Liok ini menaruh cinta secara murni? Sungguh meragukan.

Si nenek melempar Liok Kin ke atas terus menangkap kedua kakinya, tangannya sudah bergerak terentang ke dua samping .......

"Lolo!" Pui Ci-hwi memekik dengan suara serak. Terpaksa si nenek menghentikan gerakannya.

"Budak, apa sih maksudmu sebetulnya?" "Harap Lolo suka membebaskan dia."

"Apa? membebaskan dia? bukankah kau ingin membeset tubuhnya? Budak, jangan kau terkibul oleh mulut manisnya, pemuda berhati serigala macam ini, memangnya kau belum cukup menderita? Masa kau belum melihat watak bejat bocah bergajul ini?"

"Lolo, harap engkau suka mengampuninya."

"Ai," nenek itu berkeluh terus ayun badan Liok Kin serta melemparnya pergi. "Blum," Liok Kin menjerit jatuh dua tombak jauhnya, kebetulan dia terlempar ke arah tempat sembunyi Ji Bun, jaraknya hanya beberapa kaki saja. Sebetulnya ingin Ji Bun menghantamnya mampus, namun ia masih dapat bersabar. Sekian lama setelah rasa kesakitan lenyap baru Liok Kin mampu merangkak berduduk, katanya dengan muka sedih dan mewek- mewek: "Adik Hwi, sukalah kau sempurnakan diriku saja."

"Enyahlah kau!" bentak Pui Ci-hwi beringas.

Setelah menghela napas, dengan nada yang penuh iba Liok Kin barkata: "Adik Hwi, sekali salah langkah, aku tahu selama hidup ini takkan bisa mempersunting dirimu lagi, apa pula faedah hidup dalam dunia ini, aku hanya ingin mati untuk menebus dosaku, sukalah adik mengabulkan keinginanku."

Pui Ci-hwi membanting kaki sambil menutup muka dengan kedua tangannya, bentaknya: "Enyahlah kau!"

Suaranya jauh lebih lemah dan tidak sebengis tadi.

Liok Kin berkata pula: "Adikku yang terkasih, aku bersumpah kepada Thian, selama hidupku hanya adiklah yang terisi dalam kalbuku."

Si nenek menjadi tidak sabar, bentaknya dengan mendelik: "Keparat, jangan jual lagak kalau ingin hidup lekas menggelinding pergi, kalau tidak kubunuh kau."

Liok Kin menatap Pui Ci-hwi terakhir kali, katanya mohon kasihan: "Adikku tercinta, selamat berpisah, maaf kalau tidak kuucapkan selamat berjumpa lagi." Habis kata-katanya segera ia putar badan terus berlari sekencang-kencangnya, Pui Ci-hwi sudah membuka mulut hendak berteriak, namun suaranya tidak keluar, air mata kembali berderai.