Hati Budha Tangan Berbisa Jilid 06

 
Jilid 06

Seumpama lolos dari renggutan elmaut, Thian-thay-mo-ki menarik napas lega, sukma yang sudah terbang melayang seperti kembali pula keraganya. Usaha menjebol tutukan Hiat-to segera dipergencar, kira-kira segondokan air, pelahan Hiat-tonya mulai lancar seperti biasa. Dia merangkak bangun sambil menutupi dadanya, air mata tak tertahankan lagi bercucuran dengan deras. Dia teringat akan nasib Ji Bun, sungguh tak nyana begitu mengenaskan kematiannya. Begitu besar dan murni cintanya kepada Ji Bun, selama ini ia mengharapkan imbalan cinta yang sama dari perubahan sikap Ji Bun yang selama ini bersikap dingin terhadapnya. Sekarang harapannya menjadi impian kosong belaka.

Mengangkat langkah rasanya seberat ribuan kati, pelahan dia menghampiri pinggir jurang, bukan kepalang rasa pilu dan sedih hatinya, ia duduk, di atas batu, mata mendelong mengawasi jurang yang tidak kelihatan dasarnya itu, hatinya semakin luluh, pikirannya menjadi butek dan kosong.

Air mata sudah membasahi pakaiannya, hembusan angin melambaikan rambutnya yang awut-awutan. Entah berapa lama dia melamun seorang diri memikirkan nasibnya.

Tiba-tiba sebuah suara serak yang kuat berkata disampingnya: "Apakah nona ini Thian-thay-mo-ki?"

Thian-thay-mo-ki tersentak dari lamunannya, dengan kaget ia berpaling, "Hah!" Mulutnya menjerit kaget, serta merta badannya melejit mundur beberapa kaki.

5.15. Kakek Aneh Di Dasar Jurang

Ternyata dihadapannya entah sejak kapan sudah berdiri seorang berkedok berjubah sutera. Orang inilah yang pernah turun tangan dan memukul Ji Bun. Dengan senjata rahasia Jit-swan-hwi-jim tempo hari ia pernah melukai kepala orang ini, namun Ji Bun tidak percaya akan ceritanya itu.

Apakah orang ini pula? Dengan tajam ia awasi orang dihadapannya ini, pandangannya terakhir berhenti di atas kepala orang. Namun karena tertutup kerudung tak mungkin ia bisa melihatnya apakah ada codet bekas luka di atas kepala orang ini.

Terdengar orang berkudung itu berkata pula : "Apakah nona adalah Thian-thay-mo-ki?"

Terpaksa Thian-thay-mo-ki menjawab dengan suara gagap: "Betul, tuan ”

“Nona kenal Te-gak Suseng?" potong orang berkerudung.

Remuk rendam hati Thian-thay-mo-ki, tanpa sadar tangannya merogoh kantong senjata rahasianya, sahutnya: "Kenal, tuan ada perlu apa?"

"Aku sedang mencarinya." "Apa? Tuan mencarinya?"

"Ya, kudengar orang mengatakan dia bersama nona menuju kemari, maka kususul ke sini."

Thian-thay-mo-ki mengertak gigi, tanyanya: "Apa maksud tuan mencarinya?" Sejenak orang berkedok berpikir, lalu katanya dengan nada serius: "Apakah nona tahu hubungannya dengan Lohu?"

Tergerak hati Thian-thay mo-ki, tanyanya: "Mohon diberitahu." "Kami adalah ayah beranak."

Bergetar sekujur badan Thian-thay-mo-ki, ia menegas dengan suara gemetar: "Ayah beranak?”

"Ya, di mana dia sekarang?" "Dia sudah meninggal."

“Apa?" teriak orang berkedok beijingkrak seperti orang gila, "katakan sekali lagi."

Dengan menahan isak tangis dan kepiluan hatinya, Thian-thay- mo-ki mengulang sekali lagi "Dia sudah meninggal."

Terhuyung badan orang berkedok, teriaknya seperti orang kalap: "Bagaimana dia bisa mati?"

Sebetulnya Thian-thay-mo-ki amat heran dan curiga, namun rasa sedih sudah merasuk perasaannya sehingga pikirannya tidak jernih, katanya dengan geram: "Dia terpukul luka parah oleh seorang yang mengaku sebagai Jit-sing-ko-jin, lalu dilempar ke jurang."

Bergoyang gontai badan orang berkedok, seperti hampir tersungkur jatuh, dengan berlinang air mata ia mengawasi bawah jurang. Lama sekali baru tercetus kata-kata dari mulutnya: "Orang macam apakah Jit-sing-ko-jin itu?"

"Entahlah, di kalangan Kangouw belum pernah kudengar nama julukan orang ini."

"Bagaimana perawakan dan raut wajahnya?"

"Berpakaian jubah biru mirip pelajar berusia setengah umur, mukanya pucat, sorot matanya tajam buas, sorot mata dan rona wajahnya amat berbeda, mudah dikenali, namun ”

"Namun bagaimana?"

Menurut penglihatanku, agaknya dia mengenakan kedok muka atau menyamar dengan obat-obatan!"

"Oh," orang berkedok bersuara dengan mulut melongo, lalu katanya pula: "Lohu akan perhatikan, dia takkan lolos dari tanganku, aku bersumpah menuntut balas kematian puteraku. Nona, belum lama ini anakku itu memberitahu kepadaku, katanya ada orang menyaru diriku dan menurunkan tangan jahat kepadanya, tentunya nona tahu akan kejadian ini?"

Tanda tanya yang selama ini mengganjel hati Thian-thay-mo-ki kini disinggung oleh orang berkedok, naga-naganya seperti dugaan Te-gak Suseng, memang ada seseorang yang menyaru ayahnya untuk mempermudah turun tangan membunuhnya, maka dia mengangguk, sahutnya; "Ya, malah kusaksikan sendiri." Kembali orang berkedok tepekur sekian lama, katanya kemudian dengan setengah terisak: "Apakah nona barusan bergebrak dengan orang?"

Bahwa dirinya hampir diperkosa orang sudah tentu malu diceritakan, namun rasa kebencian masih menjalari nuraninya, katanya dengan geram; "Ya, orang yang mengaku sebagai Jit-sing- ko-jin itulah."

"Mana dia?"

"Belum lama dia pergi."

"Sampai keujung langitpun kubersumpah akan mencarinya untuk membayar utang jiwa puteraku, Nona, agaknya kau menaruh hati terhadap puteraku?"

Tersentuh perasaan Thian-thay-mo-ki, hampir saja ia menangis gerung-gerung, ia hanya manggut-manggut saja, tenggorokan seperti tersumbat sesuatu, sepatah kata pun tak kuasa diucapkannya.

Orang berkedok menghela napas, katanya rawan: "Begini besar dan suci murni cinta nona, sayang anakku itu tak berumur panjang. Karma menghendaki demikian, apa pula yang bisa Lohu katakan."

Tak tertahan bercucuranlah air mata Thian-thay-mo-ki. Orang berkedok berkata pula dengan mengertak gigi: "Maaf nona, pikiran Lohu amat kusut, biarlah kita, bertemu lain kesempatan saja.

Lohu harus segera berusaha menemukan jenazahnya. " belum

habis bicara ia sudah lari turun ke bawah gunung, langkahnya kelihatan sempoyongan.

Tiba-tiba Thian-thay-mo-ki ingat kenapa tadi lupa tanya nama gelaran orang. Ia amat mencintai Ji Bun, kini orang yang dicintai sudah meninggal, namun bagaimana asal usulnya sedikitnya ia tidak tahu, tak ubahnya seperti orang asing yang tidak dikenalnya sama sekali, sampaipun siapa she dan namanyapun dia tidak tahu, sungguh lucu dan tragis pula.

Pelahan ia duduk kembali di tempatnya tadi, dengan kaku ia tetap mengawasi bawah jurang. Dasar jurang yang tidak kelihatan diliputi kabut nan gelap, pikirannyapun semakin butek dan kosong pula ...........

o0o

Kini marilah kita ikuti nasib Ji Bun yang terpukul luka parah dan dilempar ke jurang oleh Jit-sing-ko-jin itu.

Pada detik-detik gawat waktu badannya melayang-layang di udara itulah, setitik sinar terang yang masih sempat merasuk pikirannya adalah bahwa dirinya bakal terbanting hancur lebur di dasar jurang. Begitu parah sekali luka-lukanya sampai tenaga untuk bergerakpun tak mampu, maka ia tinggal terima nasib saja membiarkan dirinya meluncur ke bawah, akhirnya iapun kehilangan kesadaran.

Entah berapa lama kemudian, tiba-tiba kupingnya mendengar seruan kaget. Dalam keadaan sadar tak sadar, seruan kaget itu terdengar jelas dalam hati Ji Bun, namun reaksinya begitu lembut laksana angin menghembus permukaan air sehingga cuma menimbulkan sedikit gelembung air belaka, lalu lenyap dalam sekejap mata.

"Ternyata dia masih hidup ” Kembali kupingnya mendengar

perkataan ini, dalam keadaan setengah sadar lambat laun pikirannya menjadi sedikit jernih. Ia ingin membuka mata, namun kelopak matanya rasanya seberat ribuan kati, sekuat tenagapun tak mampu ia membukanya, namun kini ia sudah mulai sadar betul-betul.

"Apakah aku tidak mati?" demikian pikir Ji Bun, entah betapa lama lagi, hawa murninya yang semula keruh pelan-pelan mulai jernih dan mengalir lancar pula. Baru sekarang dia kuat membuka sedikit kelopak matanya, sinar terang yang remang-remang cukup menyilaukan matanya.

Agak lama pula baru dia bisa menyesuaikan keadaan terang dan bisa melihat jelas. Itulah dinding batu yang licin mengkilap mengelilingi sekitarnya. Akhirnya iapun menyadari bahwa dirinya berada di dalam sebuah gua batu.

"Aku masih hidup!" ia berteriak kegirangan seperti putus

lotre, namun suaranya begitu lemah sampai ia sendiri tak mendengarnya. Ia hanya merasa bahwa dirinya barusan sudah berteriak sekeras-kerasnya.

"Buyung, takdir belum menentukan kau mampus, hampir mati tapi belum meninggal."

Dia jelas mendengar perkataan ini, suara serak tua dan bertenaga, dengan seluruh tenaga ia coba berpaling, di mana sorot matanya memandang, seketika jantung serasa meloncat keluar.

Ternyata di atas tanah hanya beberapa kaki jauhnya dari tempatnya rebah, duduk bersimpuh "seekor" makhluk aneh, rambut ubanan panjang menyentuh bumi, sampaipun jambangnya juga sudah ubanan dan panjang menutupi selebar mukanya.

Hanya sepasang mata berkilat yang menembus keluar dari balik rambutnya. Jika makhluk aneh ini tidak bersuara, sungguh Ji Bun takkan mau percaya bahwa makhluk ini adalah manusia.

Kini Ji Bun sudah yakin bahwa dirinya memang masih hidup, rasa senang di luar dugaan merangsang hatinya sehingga mendatangkan kekuatan luar biasa. Sekuat tenaga ia membalik badan terus merangkak bangun dengan kedua tangan me¬nahan tanah, walau badan bergoyang gontai dan gemetar, akhirnya ia dapat berduduk juga.

Lama sekali ia terlonggong mengawasi orang aneh ini, akhirnya baru bersuara setelah tenangkan diri: "Apakah Locianpwe yang menolong Wanpwe?" Suara orang aneh yang menggetar telinga berkata; "Buyung, malah Locu yang hampir saja mampus ditanganmu."

Ji Bun melongo, tanyanya tak mengerti: “Ini..... ini bagaimana

mungkin?"

"Tanganmu yang beracun itulah!"

Tersirap darah Ji Bun, baru sekarang Ji Bun betul-betul sadar bahwa tangan kirinya yang selama ini ia sembunyikan di dalam baju kini sudah terjulur, dengan tertegun ia mengawasi orang aneh ini tanpa bersuara lagi.

Untuk pertama kali inilah rahasia dirinya betul-betul terbongkar. Tangan berbisa, tangan kirinya yang beracun jahat ini sejak mula ia sembunyikan di dalam baju, dibagian ketiak dia bikin sebuah lubang, dibagian luar terselubung oleh lengan baju yang menjuntai kosong, maka orang-orang yang tidak tahu mengira dirinya seorang buntung.

Di waktu ia bergebrak melawan musuh, jika ada kesempatan mendekat, tangannya itu bisa menjulur keluar melalui lubang baju dan cukup menyentuh sedikit badan lawan saja segera akan merenggut jiwa orang. Selama ini rahasia ini belum diketahui siapapun, dan yang penting semua korban itu tidak kelihatan terluka juga tidak nampak keracunan.

Orang aneh itu berkata pula: "Buyung, kalau dugaan Locu tidak meleret, racun yang lengket di tanganmu itu adalah Bu-ing-cui-sim- jiu (tangan penghancur hati tanpa bayangan) yang paling ganas masa kini." Kaget dan heran pula Ji Bun dibuatnya, katanya gemetar: "Memang tepat dugaan Locianpwe, memang betul inilah Bu-ing-cui- sim-jiu."

Terpancar sorot mata dingin yang berkilauan dari kedua biji mata orang aneh, katanya dengan suara berat: "Kau bisa meyakinkan ilmu beracun yang sudah lenyap ratusan tahun dari Bu-lim, jelas kau bukan orang baik-baik, seharusnya Locu membunuhmu ”

Hampir pecah nyali Ji Bun, dengan ketakutan ia meronta berdiri sambil mundur mepet dinding, bayangan kematian melingkupi sanubarinya pula.

Pandangan orang aneh beralih mengikuti gerak geriknya, tatapannya tertuju kemukanya, lama sekali, baru terdengar dia menggumam: “Kulihat kau ini berbakat dan cerdik pandai tak mirip orang jahat atau kaum durjana. "

Ji Bun diam saja, dengan melongo ia balas pandang orang, namun hatinya bekerja mencari daya, agaknya orang aneh ini tadi sudah menyentuh tangan kirinya, namun dia tidak apa-apa, malah bisa menguraikan asal usul ilmu beracun yang dia yakinkan itu, terang orang aneh ini adalah tokoh yang luar biasa. Untuk merenggut jiwanya, tentunya segampang membalikkan telapak tangan belaka. Kalau memang demikian nasibnya, laripun tiada gunanya.

"Anak muda, kau dari perguruan mana?"

Ji Bun berpikir-pikir, katanya kemudian: "Jit-sing-pang" "Pernah apa kau dengan Jit-sing-lo-jin?" "Beliau adalah kakekku."

"Sekarang siapa yang menjabat sebagai Ciangbunjin?" "Ayahku sendiri."

"Menurut apa yang kutahu. Jit-sing-lo-jin adalah seorang jujur dan luhur budi, berjalan lurus tak pernah melakukan kejahatan, apa lagi menggunakan racun lalu dari mana kau mempelajari ilmu beracun ini?"

"Di ...... di. diajarkan oleh ayah."

Orang aneh ini terpekur sekian lamanya pula, akhirnya berkata dengan nada sunggguh-sungguh: "Menurut apa yang kuketahui, bisa Bu-ing-cui-sim-jiu ini teramat jahat dan paling beracun diseluruh jagat. Orang yang terkena tidak menunjukkan tanda-tanda keracunan, namun begitu racun menyentuh badan, segera menyerang jantung. Dan orang yang sempurna meyakinkan Bu-ing- cui-sim-jiu ini hanya seorang tokoh yang bernama Kwi-kian-jiu (setanpun sedih melihatnya) yang hidup dua ratus tahun yang lalu. Konon Kwi-kian-jiu akhirnya terbakar binasa dan tidak punya murid keturunan, apakah ayahmu mendapatkan Tok-keng (kitab racun) peninggalannya?"

Ji Bun mengiakan dengan rasa was-was.” "Tahukah kau bagi setiap insan yang meyakinkan Bu-ing-cui-sim- jiu ini selama hidupnya takkan bisa disembuhkan lagi?"

"Ini ..... entahlah ”

"Agaknya bapakmu itu manusia yang tak kenal perikemanusiaan, dia membiarkan dan menurunkan ilmu beracun yang jahat ini kepada putera sendiri, masa depanmu tentu amat suram."

"Tapi Wanpwe selalu membawa obat penawarnya," ujar Ji Bun. "Obat itu hanya bisa menawarkan orang lain yang terkena

racunmu, namun racun yang mengeram dalam tubuhmu sendiri tak mungkin ditawarkan lagi."

"Ah, mana mungkin?"

"Lohu hanya dengar cerita ini dan belum pernah menyaksikan Tok-keng itu, menurut cerita para orang tua, bila Bu-ing-cui-sim-jiu sempurna diyakinkan racun dan jiwa raga orang yang meyakinkan akan terlebur menjadi satu, kecuali kalau kau kutungi tanganmu sendiri, selama hidup racun ini takkan tawar dari tak bisa disembuhkan."

Seperti kejeblos ke dasar lautan yang dalam dan dingin, perasaan Ji Bun serasa membeku. Jika kenyataan memang demikian, hidupnya ini boleh terhitung sia-sia belaka, tiada masa depan yang bisa dia harapkan, namun mungkinkah seorang ayah kandung tega merusak dan menjerumuskan darah daging sendiri? Atau mungkin ayah sendiri tidak tahu akibat dari meyakinkan ilmu beracun ini? Memang sejak dia mayakinkan ilmu ini, belum pernah ia dengar ayahnya membicarakan soal ini, hanya pernah diberitahu, bila ilmu ini berhasil diyakinkan, tiada orang lagi di kolong langit ini yang bisa menandingi dirinya. Namun ia pernah diperingatkan untuk tidak saling bersentuhan kulit dengan siapa saja, dan kenyataan membuktikan ilmunya ini tidak seperti apa yang dikatakan ayahnya yakni tiada bandingannya di jagat.

Kalau menghadapi seorang jago silat yang memiliki Lweekang tinggi, jika tidak saling gebrak, Tok-jiu atau tangan beracunnya itu pasti kehilangan daya ampuhnya. Buktinya tadi ia dilukai dan terlempar ke dalam jurang ini.

Jika sang ayah sudah tahu akibat yang akan timbul setelah meyakinkan ilmu ini, namun dirinya masih disuruh pergi ke Kayhong untuk melamar puteri keluarga Ciang, lalu apa pula maksud tujuannya? Tanpa sebab dan tak karuan juntrungan, ditengah jalan dirinya malah kepincut kepada Pui Ci-hwi, bukankah sepak terjangnya belakangan ini terlalu brutal dan menggelikan?

Pikirannya lantas mengenang kembali pada masa-masa diwaktu dirinya berlatih ilmu beracun ini masih segar dalam ingatannya.

Waktu itu dia baru berusia delapan tahun, setiap hari dia rendam tangannya di dalam air obat, lalu menelan obat pemunahnya setiap jangka waktu tertentu, pada waktu-waktu tertentu pula bersemadhi mengerahkan hawa murni sesuai apa yang dipelajari dari penuturan ayahnya. Sepuluh tahun penuh dia berlatih dengan giat baru ilmunya itu berhasil diyakinkan. Namun selama ini belum pernah mendapat penjelasan dari ayahnya cara bagaimana dia harus memunahkan racun dan Lwekang dari ilmu yang dipelajarinya ini. Apakah kenyataan memang sesuai apa yang diuraikan orang aneh ini? Hal ini bukan saja menakutkan, malah boleh dikatakan terlalu kejam dan diluar perikemanusiaan.

"Buyung, kau tidak percaya?"

"Bukan bukan tidak percaya," sahut Ji Bun tergugup,

"namun sukar percaya "

"Ya, kelak kau boleh mencobanya."

"Kenapa Locianpwe sendiri tidak takut terhadap racunku ini?" "Lohu sudah berhasil meyakinkan Kim-kong-sin-kang, seratus

macam racun juga tidak mempan terhadap diriku."

Kejut dan tersirap darah Ji Bun, sungguh tak kira orang aneh dihadapannya ini ternyata berhasil meyakinkan Kim-kong-sin-kang, ilmu mujijat yang pernah didengarnya di dalam dongeng, mungkin di dalam Bu-lim masa kini, orang tua aneh ini sudah tiada tandingan lagi, namun dalam hati ia tetap tak mengerti.

"Racun ini tak berwarna dan tak berbau, darimana Locianpwee bisa tahu?" "Walau racun ini tak berwarna dan tak berbau namun pasti ada reaksinya bagi setiap orang yang terkena racun ini."

"Oh, ya, mohon tanya siapa nama gelaran Locianpwe yang mulia?"

"Nama gelaranku sudah lama, kulupakan."

"Wanpwe dilempar ke dasar jurang ini, bagaimana Cianpwe bisa menolongku sehingga tidak terjatuh hancur dari atas?"

"Akar-akar rotan menjalar di dinding gunung itulah yang menolong jiwamu dan tiada sangkut pautnya dengan Lohu, anggaplah nasibmu yang belum ditakdirkan menemai ajal. Namun daya luncurmu meski teralang oleh akar rotan baru kemudian terbanting jatuh dan terhindar dari hancur lebur. Kenyataan waktu itu kau betul-betul sudah mati, denyut nadimu sudah berhenti, ini sudah kuperiksa dengan seksama. Tak kira sejam kemudian, kau dapat bernapas kembali dan bergerak-gerak, kejadian ini belum pernah Lohu alami selama hidup ”

"Apakah Locianpwe pernah memberikan pertolongan padaku?" "Tidak, karena kenyataan kau memang sudah mati. Anak muda,

apakah kau pernah makan obat-obat yang mujarab?"

"Tidak," sahut Ji Bun tegas sambil menggeleng, beberapa kali ia sudah pernah mati namun akhirnya hidup kembali, entah kenapa? Semakin dipikir hal ini semakin membingungkan dan tak habis dimengerti, peristiwa aneh yang tak mungkin terjadi. "Anak muda," ujar orang tua itu, "bagaimana kau sampai dilempar ke dasar jurang ini?"

"Aku diserang orang."

"Berapa banyak jiwa yang telah menjadi korban tangan berbisamu ini?"

"Kalau tidak terpaksa, Wanpwe tak pernah memakai tangan berbisa, aku yakin tak pernah membunuh orang yang tak berdosa."

"Lohu kurang percaya?" "Maksud Locianpwe ”

"Tadi sebetulnya Lohu sudah akan bikin cacat tanganmu untuk mengurangi bencana bagi kaum persilatan, namun mengingat kakekmu Jit-sing-lojin dulu pernah bertemu muka beberapa kali denganku, akhirnya kuubah niatku, maka tangan berbisamu ini tak kuusik sama sekali."

Enak saja orang tua aneh ini mengeluarkan kata-kata, namun bagi pendengaran Ji Bun bagai geledek menyambar dipinggir kupingnya. Sifatnya yang nyentrik dan angkuh seketika kambuh, tak terbayang rasa ingin minta ampun sedikitpun, maka dengan mengertak gigi ia berkata: "Locianpwe boleh menamatkan jiwa Wanpwe, namun untuk mengutungi lenganku ini ”

"Kenapa?" "Jangan harap!"

"Anak muda, membunuhmu bagiku sama saja seperti memitas seekor kutu."

Beringas muka Ji Bun, katanya mendelik: "Boleh silakan turun tangan."

Orang tua aneh mengulur jari-jari tangannya yang kurus bagaikan kulit membungkus tulang, cukup sekali angkat saja, seketika terasa oleh Ji Bun adanya daya sedot keras luar biasa, sehingga dirinya terseret maju kehadapan orang tua.

Sekali raih pasti dirinya kena dipegang olehnya, sungguh sukma serasa copot dari raganya. Dengan kepandaian setinggi ini, kalau orang menginginkan dirinya mati, walau jiwa sendiri rangkap dua belas juga sudah melayang sejak tadi.

"Jadi kau rela mati daripada kutung lenganmu?" "Tidak salah."

"Sudah kau pikirkan?"

"Tenaga dan kemampuanku tak kuasa melindungi jiwa raga sendiri, buat apa aku harus banyak pikir."

"Agaknya kau amat angkuh?" ujar orang tua aneh, lalu dia miringkan kepala menepekur. Tiba-tiba tangannya menepuk bumi seraya berkata: "Hampir. saja Lohu lupa sebuah hal penting. Anak muda, kau berada di Pek-ciok-hong, tentunya tadi kau lewat Pek- ciok-am bukan?"

Tergerak hati Ji Bun, tanyanya:" Ya, kenapa?" "Bertemu dengan Nikoh busuk itu tidak?" "Nikoh busuk siapa?"

"Yang menyebut dirinya Pek-ciok Sinni itu." "Sudah lama jiwanya melayang ke sorga."

Bergetar badan orang tua aneh, mendadak dia berjingkrak bangun, sekali cengkeram dia pegang pergelangan Ji Bun, teriaknya beringas: " Maksudmu dia sudah mati?"

Ji Bun terperanjat dan manggut-manggut sebagai jawaban. "Apa benar dia sudah mati?" si orang tua menegaskan pula. "Agaknya Wanpwe tidak perlu berbohong."

"Ha ha ha ha, he he he he, hi hi hi hi ... " ditengah gelak-tawa seperti orang kerasukan setan, orang tua aneh kembali meloso jatuh terduduk. Lambat laun, gelak-tawanya berubah menjadi gerung tangis yang keras, begitu keras gelak tawa dan gerung tangisnya menjadi perpaduan suara yang bergema bagai bunyi genta besar yang bertalu-talu secara bergelombang di gua batu itu. Kuping Ji Bun sampai pekak dan berdiri mematung mengawasi tiagkah laku orang yang lucu dan aneh. Ia kehabisan akal dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Lama sekali baru isak tangis orang aneh ini mulai mereda, akhirnya menggumam seorang diri :"Dia sudah mati, sudah mampus lebih dulu, puluhan tahun penantianku di sini menjadi sia-sia belaka "

Timbul rasa ketarik dan ingin tahu Ji Bun, pikirnya, agaknya orang tua aneh ini mempunyai hubungan yang luar biasa dengan Pek-ciok Sinni, yang satu berada di puncak depan sana dan yang lain di dasar jurang di belakang gunung, agaknya sudah sekian puluh tahun tak pernah berjumpa, sungguh aneh dan tak masuk diakal.

Maka tak tahan ia lantas bertanya:" Locianpwe, kenapa kau begini emosi?"

"Pergi, enyah dari sini!" ujar orang tua aneh dengan mengulap tangan, "urusan Lohu tak usah kau banyak mulut."

Suatu kesempatan bagi Ji Bun, tanpa bicara lagi bergegas dia putar tubuh terus lari keluar gua.

"Hai, kembali!"

Tanpa kuasa Ji Bun menghentikan langkah.

"Hm, Anak muda, enak saja kau hendak pergi? Selama hidupmu jangan harap kau bisa keluar dari sini."

"Apa maksud Locianpwe?" "Kecuali badanmu tumbuh sayap dan bisa terbang, kalau tidak jangan harap- kau bisa keluar dari tempat terasing dan buntu ini. Ketahuilah, sarang setan ini dalamnya ribuan tombak, dikelilingi tebing gunung yang terjal lagi, orang hutanpun tak mampu memanjat ke atas, kalau tidak, memangnya aku orang tua ini sudi bersemayam di sini selama puluhan tahun.”

Ji Bun melengak, katanya tertawa kecut: "Tadi Locianpwe hendak mengutungi lengan kiriku, apakah niatmu ini tidak berkelebihan, kalau aku tak bisa keluar dari sini, memangnya tangan berbisaku ini bisa berbuat apa?"

"Omong kosong, aku orang tua tentu mempunyai perhitungan sendiri."

"Wanpwe mohon keterangan."

6.16. Dari Celaka Dapat Rejeki Nomplok

"Anak muda, sekarang Lohu sudah berubah pikiran, biarlah tanganmu itu tetap melengket di badanmu, tapi ada syarat-syarat yang harus kau patuhi."

"Mohon dijelaskan syarat-syarat apakah"

"Kau harus sumpah berat, setelah muncul kembali di kalangan Kangouw, kau takkan menggunakan tangan berbisa itu untuk melukai orang-orang yang tidak berdosa." "Untuk hal ini Locianpwe tidak usah kuatir, selamanya Wanpwe tidak pernah melukai orang tanpa sebab."

"Sekarang bersumpahlah."

"Locianpwe, soal jahat dan kebajikan hanya terpaut segaris dalam pikiran manusia, sumpah segala hanya akan mengekang seorang Kuncu (lelaki ksatria) tapi takkan membatasi tingkah laku seorang Siaujin (manusia rendah)."

"Hm, memang betul, tapi apakah kau bisa berbuat demikian?" Untuk ini Wanpwe akan mematuhinya."

"Baiklah, Lohu percaya untuk pertama kali ini, akan kuusahakan supaya kau bisa keluar dari lembah maut ini, namun kau harus berusaha mencarikan seseorang ”

Seketika terbangkit semangat Ji Bun, katanya: "Silakan memberi petunjuk."

Tahu-tahu guramlah pandangan orang tua aneh itu, ujarnya:

"Mungkin orang yang harus kaucari sudah tiada lagi di dunia ini, namun sebelum Lohu mendapat bukti nyata bahwa dia betul-betul sudah meninggal, betapapun aku takkan putus asa."

"Orang macam apakah dia?" "Seorang perempuan." "Perempuan?"

"Ehm, perempuan, perempuan cantik jelita. Ha ha ha, asmara tetap asmara, si jelita masa lalu entah bagaimana keadaannya sekarang? Loyo? Seperti kuntilanak? Nenek reyot? atau mungkin sudah menjadi tulang belulang. "

Ji Bun menghirup napas panjang, tanyanya "Siapakah dia?"

Wajah si orang tua seperti kehilangan semangat, katanya dengan melamun:

"Dia bernama Toh Ji-lan, Ji-lan, Ji-lan, ayu jelita, ratu  kecantikan. ,” suaranya semakin lirih, pandanganpun mendelong,

agaknya ia tambah terkenang pada masa mudanya dahulu.

Dengan bingung dan keheranan Ji Bun mengawasi orang tua yang serba misterius ini, ingin bersuara namun merasa rikuh.

Untunglah setelah sekian lama dibuai emosi, lekas sekali orang tua aneh ini tenang kembali dan berkata pula sambil menggerakkan tangan:

"Duduklah, dengarkan petunjukku," Ji Bun lantas duduk mendeprok di atas tanah, terpancar sinar terang yang aneh dari kedua biji mata si orang tua, berhenti sejenak baru ia berkata dengan kalem seperti menekan perasaan:

"Puluhan tahun yang lalu, muncullah sepasang kembang kakak beradik di dunia Kangouw, yang tua bernama Toh Ji-hwi, adiknya bernama Toh Ji-lan kecantikan dan kepandaian ilmu silat mereka menjagoi jagat, sehingga menimbulkan banyak huru-hara dan sering menggegerkan dunia persilatan, tak terhitung jumlah pemuda yang sama mengejar dan kepincut oleh kepandaian dan kecantikan mereka. Di antara sekian banyak pemuda yang menjadi pemujanya, ada seorang ahli pedang yang berpandangan tinggi angkuh, pada suatu kesempatan yang tak terduga, jago pedang ini berkenalan dengan sepasang kakak beradik ini, jago pedang itu akhirnya jatuh cinta kepada sang adik, hubungan semakin intim dan akhimya mereka bersumpah setia, sehidup semati. Sayang sang Taci secara diam-diam juga jatuh cinta kepada jago pedang itu ”

Sampai disini ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan,

"dari cinta sepihak, cinta yang hanya dipendam di dalam hati akhirnya sang kakak menjadi kerasukan iblis, namun dia tetap sadar, tak mungkin ia merebut kekasih adiknya, maka akhirnya, dia rela mencukur rambut menjadi Nikoh (biarawati)."

"O," lapat-lapat dalam hati Ji Bun sudah meraba makna dari rangkaian cerita ini, maka tanpa sadar mulutnya bersuara.

Orang tua aneh melirih sekejap padanya, lalu melanjutkan ceritanya "Sejak kecil kedua kakak beradik ini tumbuh bersama tanpa asuhan orang tua, mereka hidup berdampingan, sang adik amat berduka karena sang Taci rela mengasingkan diri menjadi pemeluk agama yang asih, namun ia tidak tahu isi hati dan perasaan sang Taci, demikian pula jago pedang itupun tidak tahu Tak lama

kemudian, sang Taci mendapat suatu rejeki nomplok secara tidak terduga, dia menemukan sebuah Sek-hud peninggalan orang aneh pada jaman kuno.

"Ah!" Ji Bun berseru kejut, inilah kisah rahasia yang tak mungkin diketahui oleh kaum persilatan.

Orang tua aneh tetap melanjutkan ceritanya:

"Akhimya dia berhasil meyakinkan kepandaian silat yang tiada taranya, kaum persilatan menjunjungnya sebagai Sin-ni (Nikoh sakti), walau dia sudah menjadi biarawati, namanya tenar diagulkan, namun cinta asmara yang terpendam di dalam sanubarinya temyata masih terukir amat mendalam. Suatu hari, karena ingin lekas menikah dan berdampingan dengan kekasihnya, sengaja jago pedang itu berkunjung ke biara tempat semayam sang Taci, di situ sang Taci mengajukan syarat, kecuali jago pedang itu menjadi jago silat nomor satu diseluruh kolong langit ini, kalau tidak jangan harap bisa mempersunting adiknya ”

"Jago pedang itu minta petunjuk, cara bagaimana untuk menjadikan dirinya jago silat tanpa tandingan, maka sang Taci mengeluarkan selembar daun bodi, katanya di atas daun bodi itu dimuat pelajaran Kim-kong-sin-kang dari aliran Hud yang tertinggi, untuk meyakinkan harus memiliki tubuh kuat dan perjaka lagi, kalau berhasil, seluruh jagat pasti tiada tandingannya ....

"Setiap orang yang gemar meyakinkan ilmu silat umumnya pasti tergila-gila terhadap ilmu yang dilatihnya, coba bayangkan, tanpa sebab dan secara mudah memperoleh ilmu sakti nan mujijat setelah berhasil bukan saja menjagoi dunia, cita-citanya untuk mempersunting sang kekasihpun akan tercapai, betapa takkan tertarik batinnya? Sudah tentu jago pedang itu amat terharu dan berterima kasih, dengan riang dan setulus hati ia menerimanya."

"Segalanya berjalan lancar karena diatur oleh sang Taci, belakangan dia diantar ke sebuah tempat yang amat tersembunyi untuk berlatih dan meyakinkan ilmu sakti itu, setelah menggembleng diri sekian lamanya, kemudian ia menyadari adanya sesuatu yang kurang beres, yakni pada tingkat tertentu latihannya hawa murninya selalu mengalami jalan buntu dan aliran darahnya selalu menyimpang, hampir saja dia Cau-hwe-jip-mo (kelumpuhan),  setelah diselami dan diyakini berulang kali dan tetap tidak berhasil, akhimya dia ingin keluar menemui sang Taci untuk mohon petunjuk dan menyelidiki bersama, tapi didapatinya pintu rahasia satu-satunya yang bisa dilalui untuk keluar itu sudah tertutup buntu.

"Jago pedang itu berteriak dan menggembor sejadi-jadinya, sesambatan dan mengamuk, namun siapa yang tahu akan keadaannya yang terkurung di bawah tanah itu. Baru sekarang dia menyadari bahwa dirinya terjeblos ke dalam perangkap yang agaknya memang sudah direncanakan sebelumnya, selama hidup ini agaknya takkan bisa melihat langit dan hidup bebas lagi, dirangsang oleh emosi dan rasa dukanya, hampir ia menjadi gila. Kiranya karena sang Taci patah arang, cintanya tak terbalas, hatinya menjadi benci dan dendam, maka diaturlah rencana keji itu, dia yakin sang adikpun tidak tahu akan peristiwa tragis ini "

Sampai di sini berlinang-linanglah air mata orang tua aneh itu.

Alis Ji Bun bertaut lebih kencang, diam-diam ia berpikir: apakah ini mungkin?

"Dalam keadaan putus asa itu," demikian orang tua menyambung ceritanya, "jago pedang itu sedapatnya berpikir ke arah yang baik, ia berharap semua ini bukan kenyataan, kemungkinan setelah ia berhasil meyakinkan ilmu mujijat itu sang Taci akan membuka pintu rahasia itu. Maka kembali ia menekuni pelajaran yang termuat di atas daun bodi itu. Begitulah dari tahun ke tahun, akhimya didapatinya bahwa teori pelajaran yang termuat pada daun bodi itu ternyata sebenarnya sudah diubah, tak heran dia selalu mengalami jalan buntu dalam latihannya, darah mengalir balik dan bersimpang- siur ”

“Demi berkumpul kembali dengan pujaan hati yang, amat dicintainya, maka dia harus berjuang, dan bertahan hidup, dia percaya dan yakin akan keenceran otaknya, dengan tekun ia mempelajari dan menyelidiki di mana letak kesalahan dari teori ilmu mujijat ini, selama sepuluh tahun dari hasil latihan dan ketekunannya akhimya dia dapat meyakinkan Kim-kong-sin-kang itu dengan sempuma, pada waktu itu dia berusaha pula untuk menjebol pintu rahasia yang tertutup itu, baru saat itu dia betul-betul menyadari dan mengerti bahwa semua ini memang muslihat yang telah direncanakan. Bahwasanya jalan itu sudah buntu, untuk keluar jelas takkan ada harapan lagi, maka pikirannya lalu beralih ke dinding jurang yang terjal dan tinggi itu, dengan seluruh hasil kekuatan latihannya selama puluhan tahun ia melompat dan mengitari tebing, namun dia tetap tak berhasil, kenyataan kembali menghancurkan setitik harapannya yang terakhir, sayang karena dalam tahap permulaan meyakinkan ilmu mujijat itu dia sudah melakukan kesalahan, sehingga urat nadi kakinya mengkeret dan menjadikan lumpuh total, dikala dia mengerahkan hawa murni dan mencapai batas tertentu, setiap kali pasti mengalami gangguan mendadak, sehingga kepandaian Ginkang yang tiada taranya itu tak dapat melampaui taraf yang dicapainya.”

"Kini dia betul-betul sudah putus harapan, namun dia harus tetap hidup, dia mengharap suatu ketika sang kekasih dapat membongkar muslihat ini dan datang menolongnya, atau mungkin pula sang Taci insaf dan bertobat akan dosa-dosanya, mau menolong keluar untuk melihat dunia ramai pula, oleh karena itu, dalam keadaan kepepet dan putus asa itu, dia terus bertahan hidup dalam serba kekurangan dan menderita sampai sekarang."

Habis cerita si orang tua aneh, sorot matanyapun semakin suram namun diliputi nafsu kebencian dan putus harapan.

Terketuk hati sanuhari Ji Bun, hatinya amat terharu, ia amat simpatik akan nasib orang tua aneh yang sengsara ini.

Seorang jago pedang yang muda belia harus hidup merana di lembah maut diliputi keputus asaan sampai menjadi orang tua ubanan yang cacat lagi, sungguh teramat kejam dan tragis sekali. Jelas bahwa jago pedang di dalam cerita itu adalah si kakek tua aneh dengan rambut dan jenggot ubanan yang terurai panjang menyentuh bumi ini, sang Taci yang dimaksud dalam cerita itu adalah Pek-ciok Sin-ni. Siapa akan mengira, Pek-ciok Sin-ni yang diagulkan dan dipandang sebagai biarawati nan suci dan agung temyata sampai hati melakukan perbuatan nan culas diluar perikemanusiaan ini. Memangnya beginilah sepak terjang kebanyakan tokoh-tokoh kosen yang menamakan dirinya pendekar pada jaman ini diluar tahu khalayak ramai.

Betapa mengerikan dan menakutkan liku-liku kehidupan dunia persilatan ini, sungguh siapapun takkan bisa membayangkan.

Sampai di sini tiba-tiba Ji Bun sadar akan keadaan dirinya pula bahwa orang tua aneh ini tak berhasil keluar dari tempat ini meski sudah berusaha puluhan tahun, bukankah dirinyapun takkan ada harapan? Mau-tak-mau ia berdiri gemetar dan lemas lunglai, keringat dingin gemerobyos.

Setelah menunduk dan menepekur sekian lama, tiba-tiba orang tua aneh angkat kepala dan berkata dengan nada serius:

"Buyung, kau harus berjanji, apapun yang terjadi, kau harus bekerja untuk Lohu menemukan dan mencari kabarnya Toh Ji-lan?"

"Baik, Wanpwe berjanji, tapi .........

"Tapi apa?"

"Bagaimana aku bisa keluar dari sini?" "Itu soal mudah. Lohu akan bantu kau menjebol jalan darah mati hidupmu, lalu seluruh Lweekang dan hawa murniku akan kusalurkan pula ke dalam tubuhmu, kutambah pelajaran ilmu Ginkang lagi, kau akan melayang 'terbang' keluar dari sini.”

"Untuk ini terpaksa Wanpwe tidak bisa menerima," kata Ji Bun, "tiada alasan buat Cianpwe untuk mengorbankan jiwa raga kepada Wanpwe."

"Bukankah Lohu menyuruhmu melakukan sesuatu?"

"Ya, tapi setelah Locianpwe salurkan Lweekang dan hawa murni ke dalam tubuhku, bagaimana pula akibat yang harus kau alami?"

"Tidak seluruhnya, hanya delapan bagian saja, dua bagian yang tersisa cukup untuk bekalku mempertahankan hidup di sini."

"Menurut pendapat Wanpwe yang bodoh, lebih baik cari jalan lain saja."

"Hahaha, buyung, karena ketulusan dan kejujuranmu ini, sekarang, Lohu betul-betul mau percaya seluruhnya padamu. Ketahuilah, kecuali caraku itu, tiada jalan lain lagi, mari duduk membelakangi Lohu.”

Menghadapi keadaan di luar dugaan ini, Ji Bun menjadi bingung, mulutnya tergagap :

"Locianpwe. Kukira .......... "Buyung, kau tidak berkuasa lagi," tahu-tahu angin keras menggulung Ji Bun hingga berkisar maju tanpa daya, mendeprok di atas tanah setelah badannya terseret berputar-putar, kenyataan tak memberi kesempatan baginya untuk ragu-ragu lagi, terpaksa ia duduk bersimpuh, segulung arus panas tahu-tahu merembes melalui Bing-bun-hiatnya. Tenaga luar bergabung hawa murninya, lekas sekali bersatu padu menjadi arus kuat bagai air bah yang tak terbendung lagi, terus menerjang kejalan darah Hian-koan, jalan darah mati- hidupnya.

Sekali dua kali dan tiga kali, jalan darah mati hidupnya akhimya keterjang jebol, kerena terjangan yang teramat keras ini, sehingga Ji Bun tergeletak semaput. Entah berapa lamanya, dikala dia sadar kembali, terasakan sejalur tenaga hangat masih merembes melalui Pek-hwe-hiat masuk ke badannya, setelah menyusup dan menerjang kian kemari keseluruh Hiat-to dan urat nadi, badan terasa panas seperti dipanggang keringat mengalir deras membasah kuyup.

Cuaca dalam gua dari terang menjadi gelap dan dari gelap kembali terang. Akhimya Ji Bun sadar kembali setelah digembleng sehari semalam, dilihatnya orang tua aneh itu duduk mendeprok lemas dibelakangnya, sorot matanya yang tajam mengkilat kini sudah pudar. Sungguh menyesal dan terima kasih pula hati Ji Bun, tersipu-sipu ia memberi sembah dan tak sanggup mengeluarkan kata-kata saking terharunya, ia pikir budi kebaikan ini biarlah kuukir di dalam hati sanubari saja.

Sehari semalam telah lampau pula, selama ini dia berhasil mempelajari pula sejurus kepandaian Swan-kong-hwe-seng-sin-hoat (gerakan terbang mumbul dengan berputar di udara) dari si orang aneh, gerakan Ginkang tingkat ini berlandaskan sekali emposan hawa murni, sehingga badannya seenteng asap melesat mumbul dengan berputar seperti kitiran, dengan meminjam tenaga tutulan kaki di dinding gunung, badannya bisa melayang naik ke atas.

Dari celaka Ji Bun malah memperoleh rejeki nomplok, sungguh mimpipun tak pernah terbayang sebelumnya.

Hari ketiga, di kala fajar menyingsing, orang tua aneh itu menyuruhnya berangkat meninggalkan tempat itu. Kumpul selama dua hari dua malam menyebabkan hatinya merasa iba dan berat meninggalkan orang tua aneh ini, sudah tentu perasaan ini timbul karena dia merasa utang budi.

Orang tua itu mengeluarkan sebuah tusuk kundai yang terbuat dari emas, dia berpesan dengan wanti-wanti:

"Buyung, inilah tanda perkenalanku, bila kau menemukan perempuan yang bernama Toh Ji-lan itu ah, tidak kini dia

tentunya sudah berubah menjadi nenek tua ubanan juga, keluarkan tanda pengenalku ini, beritahukan apa yang kau alami dan kau saksikan di sini kepadanya."

Dengan laku hormat Ji Bun terima tusuk kundai itu terus disimpan dalam sakunya, katanya:

"Locianpwe, sukalah kau memberitahu gelaranmu?” Orang tua itu menggeleng : "Tidak perlulah, cukuplah kalau dia mengenali tusuk kundai ini."

"Wanpwe mempunyai pendapat bodoh, apakah Cianpwe suka terima usulku ini?"

"Soal apa?"

"Setelah Wanpwe keluar dari sini, akan kucari tali, panjang untuk menolong Cianpwe."

"Jangan, jurang ini sedalam ribuan meter!” "Ribuan meter hanya ukuran perkiraan saja, untuk

mengusahakan tali sepanjang itu kukira bukan soal sulit."

"Biarlah Lohu menunggu beritamu di sini saja, setelah kau keluar sukalah segera kau kerjakan pesanku itu."

"Kenapa Locianpwe tak mau keluar saja?"

"Pek-ciok Sin-ni sudah mampus, kepada siapa aku harus melampiaskan dendamku ini, kekasihku dimasa muda entah apakah masih hidup, usia Lohu sudah seabad, sudah dekat ajal, yang kunanti hanyalah pengharapan terakhir untuk melihatnya sekali lagi atau mendengar beritanya, rasanya masa hidupku sudah mencapai ujung pangkalnya apa lagi yang kuharapkan, lekaslah kau pergi."

Ji Bun amat pilu dan tidak tega, tak tertahan dia bercucuran air mata, inilah watak pembawaannya yang bijaksana, memperlihatkan budi pekertinya yang sejati, selama hidupnya, untuk pertama kali inilah dia mencucurkan air mata untuk orang lain. Orang aneh tua itupun agaknya amat emosi, namun dia tekan perasaannya, katanya sambil ulap tangan berulang kali:

"Pergi, lekas pergi! Seorang jago silat, kenapa harus bertele-tele seperti orang perempuan."

Tanpa bicara Ji Bun menyembah pula terus keluar dari gua, waktu dia angkat kepala, tampak dinding gunung begitu terjal dan tegak lurus selicin kaca, ujung puncak dari gunung terjal ini seakan- akan menyundul langit, dia menjadi bimbang dan tidak yakin akan gerakan ginkang yang baru dipelajarinya itu, apakah mampu "terbang" keluar dari tempat ini dengan, selamat. Tapi baru melihat keadaan begini saja, hatinya merasa dak-dik-duk. Segera dia duduk bersemadi, hawa murni dipusatkan di pusar terus dituntun berkeliling menyusup kesetiap urat nadi dan merembes keluar ke seluruh pori-pori kulitnya, sehingga badannya seperti terselubung kabut putih, dalam semasakan air, Ji Bun sudah merasakan badannya segar nyaman dan enteng sekali.

Diam-diam ternyata orang tua aneh itu telah merayap di belakangnya, katanya dengan suara berat:

"Keluarkan seluruh tenaga, hawa jangan sampai terhenti bangkit."

“Hiiiiaaaaaaat !" dengan teriakan melengking untuk

menambah semangat dan mengobarkan kekuatannya, Ji Bun gentakkan kedua kakinya, badannya segera meluncur ke atas bagai roket, sekali lompat mencapai sepuluh tombak lebih, di tengah udara badannya lantas bergerak melintang berbareng kakinya, menutul didinding gunung, meminjam daya tutulan ini kembali badannya berkisar mumbul pula, satu tingkat demi satu tingkat, sedikitpun dia tidak berani mengalihkan perhatian mengendurkan tenaga, cepat sekali dia sudah terbang berputar tiba di atas puncak, hampir dia tidak berani mempercayai kenyataan ini, namun kenyataan kini ia sudah berada di atas.

Sejak dia berdiri menghimpun semangat dan memusatkan pikiran, lalu menghirup napas panjang beberapa kali, dengan lengan baju ia usap keringat di atas jidatnya, kembali dia sembunyikan lengan kirinya ke dalam baju, sehingga lengan bajunya yang kiri tetap kosong melambai.

Dalam waktu sekejap ini timbul beberapa kali perubahan pikiran dalam benaknya. Teringat olehnya akan orang berkedok yang dua kali turun tangan terhadap dirinya, demikian pula Jit-sing-kojin yang begitu kejam melempar dirinya ke dalam jurang tanpa sebab dan alasan yang meyakinkan. Diapun tak lupa akan para musuh buyutan Wi-to-hwe. Sang ayah yang terpisah, demikian pula sang ibu yang lenyap.

Setelah memperoleh saluran tenaga dalam orang tua aneh di bawah jurang itu, entah sampai di mana tingkat kekuatannya sendiri sekarang? Entah cukup mampu untuk bekal menuntut balas kepada para musuhnya itu? Sudah tentu, soal ini lekas sekali akan memperoleh jawabnya. Dunia seluas ini, ke mana dia dapat mencari perempuan yang bernama Toh Ji-lan sesuai pesan si orang tua aneh itu? Secara langsung dia teringat kepada Pui Ci-hwi, sebagai murid Pek-ciok Sin- ni tentunya gadis ini tahu di mana Susioknya berada sekarang.

Tiba-tiba waktu dia berpaling ke sana, dilihatnya di ujung batu di pinggir jurang sebelah sana duduk melamun seorang perempuan yang mematung. Setelah dia perhatikan dengan seksama, hatinya seketika tergoncang, batinnya: "Kiranya dia, tiga hari telah berselang, mungkinkah dia belum tinggal pergi?" Bergegas dia memburu kesana seraya berteriak:

" Cici!"

Perempuan itu temyata adalah Thian-thay-mo-ki, tampak dia berpaling dengan lesu, tiba-tiba matanya terbeliak, rona mukanya yang semula pucat berubah hebat, mulutnya melongo tanpa bersuara, sikapnya hambar, kaget dan merasa aneh serta keheranan.

"Cici, kenapa kau?" tanya Ji Bun.

Sekali lompat Thian-thay-mo-ki melayang turun memapak kedatangannya, serunya dengan gemetar:

"Kau. dik, kau tidak mati?”

Haru dan terpukul sanubari Ji Bun menghadapi sikapnya ini, katanya sambil mendekat dua langkah: "Cici, aku tidak mati!"

"Apa betul? Atau hanya mimpi?" ujar Thian-thay-mo-ki tersendat. "Dik," tiba-tiba ia menggerung tangis seraya menubruk maju dan membuka kedua tangan hendak memeluk Ji Bun.

Lekas Ji Bun menyingkir seraya berteriak, "Jangan sentuh aku!"

Lekas Thian-thay-mo-ki mengerem gerakkannya sambil berpaling melengong, air mata seketika bercucuran, sorot matanya memancarkan perasaan cinta kasih nan tebal seperti pandangan seorang ibu yang amat prihatin terhadap kesehatan puteranya.

Ji Bun melihat jelas bahwa muka si nona kelihatan pucat dan agak kurus.

"Cici, selama ini kau belum pergi?"

6.17. Tabib Keliling Thian-bak-sin-jiu ......

"Dik, aku beberapa kali aku hampir terjun ke bawah

menyusulmu," dengan malu-malu Thian-thay-mo-ki menunduk, mukanya yang pucat menjadi merah.

Inilah limpahan isi hati yang murni, cinta sejati. Ji Bun amat menyesal, dia merasa tidak patut menerima cinta murni ini, tiada apa-apa yang pernah dia berikan kepadanya, malahan rasa cinta sedikitpun tiada, bahwa belakangan ini ia mau bergaul sama dia hanya ingin memperalatnya demi mencapai tujuan menuntut balas keluarganya. Kini Ji Bun betul-betul malu diri ia merasa bahwa perbuatan dan tujuannya teramat hina dan kotor, ia ingin membeber kenyataan ini dan mohon maaf. Malah iapun ingin memeluknya, serta membisiki bahwa untuk selanjutnya ia akan memberi balasan setimpal akan cinta kasih besarnya.

Akan tetapi ia tidak berbuat sejauh itu, pikiran lain lekas sekali membuatnya tenang kembali, yaitu lengan kirinya itu, tangan berbisa, jika benar apa yang dikatakan si orang tua aneh, maka selama hidup dirinya takkan ada kesempatan lagi untuk main cinta dengan perempuan.

Seperti disayat dan ditusuk sembilu rasa hatinya, sungguh ia tidak habis mengerti kenapa semua ini bisa terjadi, apakah ia harus menyalahkan ayahnya?

"Dik, bagaimana kau bisa tetap hidup?" tanya Thian-thay-mo-ki kemudian.

Ji Bun lantas ceritakan pengalamannya, namun soal tangan kirinya tetap dia rahasiakan. Lalu dia bertanya:

"Cici, kau pernah dengar orang yang bernama Toh Ji-lan?" "Belum pernah dengar, tapi bisa kita selidiki.”

"Kemana Jit-sing Kojin?” Thian thay-mo-ki mengertak gigi, katanya :

"Hampir saja aku diperkosa olehnya, untung tanda perguruanku menyelamatkan aku.” Ia lantas menceritakan kejadian terakhir yang dialaminya. Lalu katanya pula. "Dik, menurut hematku, Jit-sing kojin pasti sekongkol dengan Biau-jiu Siansing."

"Mengapa kau berpendapat demikian??”

"Kenyataan amat jelas, Bu-cing-so dan Siang-thian-ong telah mengawasi Biau-jiu Siansing dengan ketat, betapapun tinggi Ginkangnya jangan harap bisa lolos dari pengawasan kedua bangkotan lihay itu, namun Jit-sing-kojin justeru muncul pada saat yang menentukan, dia sengaja memancing kemarahan Bu-cing-so untuk melabraknya sehingga Biau-jiu Siansing mendapat kesempatan untuk lari."

"Analisamu memang masuk akal, namun kedua bangkotan tua itn sama-sama tak berani turun tangan secara gegabah, agaknya merekapun menguatirkan sesuatu, sebetulnya gabungan kekuatan mereka cukup berlebihan untuk membereskan seorang Biau-jiu Siansing, namun mereka tetap ragu-ragu, dari percakapan mereka agaknya rela untuk gugur bersama Sek-hud, terang sekali di dalam hal ini ada latar belakang, yang tidak kita ketahui.”

"Ya, akupun, seperasaan, cuma kita tak habis. pikir." "Menurut pendapatmu, dapatkah kedua bangkotan itu

menyandak Biau-jiu Siansing?" "Tidak mungkin, Ginkang Biau-jiu Siansing tidak bernama kosong."

"Menurut kabar Sek-hud menyimpan rahasia pelajaran ilmu silat, Biau-jiu Siansing kalau berhasil mempelajarinya, ditambah kepandaian sendiri yang, sudah begitu tinggi, mungkin tiada jago kosen yang dapat menandinginya."

"Mungkin, namun pihak Wi-to-hwe tidak akan berpeluk tangan," dengan cekikikan Thian-thay-mo-ki lalu menambahkan: "Dik, marilah kita turun gunung mencari makanan."

Baru sekarang Ji Bun juga merasakan perutnya keruyukan, laparnya setengah mati, sahutnya:

"Ya, tiga hari tidak makan, perutkupun sudah berontak."

Mereka lantas berlari turun dari Pek-ciok-kong, di bawah gunung ada sebuah kampung di mana mereka mendapatkan sebuah warung lalu pesan makanan ala kadarnya.

"Dik," kata Thian-thay-mo-ki penuh perhatian, "kemana tujuan kita selanjutnya?"

Berpikir sebentar baru Ji Bun menjawab: "Kita menuju ke Cinyang saja."

"Mencari Biau-jiu Siansing maksudmu?" "Disamping minta kembali anting-anting, sekaligus kita cari jejak Jit-sing-kojin."

"Ya, jadi bekerja menurut rencana semula?"

"Kukira secara hormat kita mohon bertemu dulu, jelaskan maksud kedatangan, kalau mereka sengaja main gila baru kita pakai kekerasan."

"Baiklah, kita bekerja menurut keadaan nanti." o0o

Pada jalan raya di selatan kota Cinyang berdiri sebuah gedung kuno yang angker. Hari itu, dua muda-mudi mendatangi gedung kuno yang jarang dikunjungi orang karena terkenal sebagai rumah setan, mereka adalah Te-gak Suseng dan Thian-thay-mo-ki.

Menghadapi daun pintunya yang tertutup rapat itu Ji Bun mengerut kening, katanya :

"Cici, gedung ini tak salah lagi?" "Tak salah, aku masih ingat betul."

Ji Bun segera maju menggedor pintu, namun lama sekali tak terdengar penyahutan dari dalam, kemball Ji Bun menggedor pintu dengan gelang besi yang tergantung di pintu itu, begitu keras suaranya, kecuali orang tuli saja yang tidak mendengar. Namun tetap tiada reaksi. Setelah ditunggu lagi sebentar, tiba-tiba sebuah suara bertanya: "Kalian mau apa?"

Waktu Ji Bun berpaling, dilihatnya orang yang bicara adalah laki- laki yang berpakaian kasar dengan jubah kusut, tangan memegang kelintingan, di punggung menggeblok sebuah peti obat, di atas peti obat tertancap sebuah panji kecil di mana tertulis sebaris huruf yang berbunyi "mengobati berbagai penyakit yang sukar disembuhkan", kiranya orang ini adalah tabib kelilingan.

Thian-thay-mo-ki lantas menjawab:

"Kami hendak mengunjungi pemilik rumah ini." Terbelalak biji mata tabib kelilingan itu, katanya: "Apa, kalian hendak mengunjungi pemilik gedung ini?" “Tidak salah!" sahut Ji Bun.

"Kalian kenal baik dengan pemilik gedung ini, atau ”

"Ya, kenalan lama," kata Ji Bun.

"Ha ha ha ha "tiba-tiba tabib kelilingan itu terkial-kial sampai terbungkuk-bungkuk, sambil membunyikan kelintingnya, tabib itu terus putar badan dan tinggal pergi. Melihat kelakuan tabib keliling ini agak ganjil, Ji Bun tahu urusan pasti tidak beres, sekali gerak segera dia memburu ke depan dan mengadang, katanya:

"Tunggu sebentar sahabat!"

Dengan kaget dan melongo tabib kelilingan itu menyurut selangkah, tanyanya:

"Apa-apaan kau ini?" "Kenapa saudara tertawa?"

"Tadi tuan bilang kenal baik dengan penghuni gedung ini, maka aku merasa geli."

"Memangnya apanya yang lucu?"

"Sudah lama gedung ini tiada penghuninya, di kota Cinyang gedung ini sudah terkenal sebagai rumah setan ”

Berubah air muka Ji Bun, teriaknya:

"Apa? Rumah setan?"

Dengan rasa jeri tabib kelilingan itu ke pintu gedung kuno itu, katanya:

"Betul, rumah setan. Setelah matahari terbenam, yang bernyali kecil tiada yang berani lewat jalanan.” “Omong kosong, di dunia ini mana ada setan atau memedi segala, itu hanya pandangan dan pendapat orang-orang bodoh belaka."

"Tuan, agaknya kau orang sekolahan, dalam ajaran Nabi toh tidak dikatakan beliau menyangkal adanya setan, beliau hanya mengatakan tidak suka berbincang tentang setan, barusan tuan ada bilang kenal baik dengan pemilik gedung ini, lalu bagaimana kau harus memberi penjelasan?"

Ji Bun kememek tak mampu menjawab, katanya kemudian setelah melenggong:

"Terus terang Cayhe berkunjung kemari karena mendengar ketenarannya, baru pertama kali ini aku ke kota ini."

Mendapat angin tabib kelilingan tidak memberi kelonggaran, katanya mendesak:

"Mendengar ketenarannya, ketenaran nama siapa?" Akhirnya Ji Bun naik pitam, katanya dingin:

"Apa saudara hendak mengorek keterangan dariku?" Tabib itu terbahak-bahak, katanya:

"Terlalu berat ucapan tuan, Cayhe sudah biasa keluntang ke utara dan kelantung ke selatan, semua berkat bantuan para sahabat, pengetahuan dasar seorang kelana sudah kupahami betul, mungkin ucapanku tadi memang salah, harap dimaafkan, maksudku bahwa mungkin tuan salah alamat, terus terang seluruh kota Cinyang ini tiada yang tidak kukenal, jangan kata rumah, sampai siapa dan berapa banyak penghuninyapun sudah apal diluar kepalaku, mungkin bisa kubantu mencarikan siapa sebetulnya yang hendak tuan kunjungi?"

Baru saja Ji Bun hendak menjawab, tiba-tiba Thian-thay-mo-ki menyeletuk:

“Kalau demikian tuan tentu bukan orang sembarangan, mohon tanya siapa gelaran tuan?"

"Aku yang rendah sering dipanggil Thian-bak-sin-jiu (tangan sakti bermata dewa), seorang kroco belaka, harap nona tidak mentertawakan."

"Thian-bak-sin-jiu?"

"Betul, apa nona pernah dengar gelaranku ini?” "Baru pertama kali ini."

"He he he, hi hi hi, sudah kukatakan aku ini kaum kroco, mana mungkin Lihiap ini tahu akan gelaranku."

"Jadi tuan punya pandangan tajam untuk menentukan penyakit orang, sekali periksa serta raba, penyakit orang pasti dapat disembuhkan?" "Ah, tidak, tidak, penglihatanku hanya menen¬tukan nasib orang, soal kesaktian tanganku ini me¬mang sulit untuk menyembuhkan orang."

"Jadi pandanganmu juga bisa melihat nasib orang,"

"Ya, betul, di samping seorang tabib, aku yang rendah ini juga bisa meramal, he he, kepandaian rendah dan nama kosong belaka."

Thian-thay-mo-ki cekikikan, katanya:

"Bagus sekali, kami kakak beradik tak menemukan orang yang kami cari, tentunya tuan juga bisa meramalnya dengan baik?"

"Ai, ai, itu soal nujum, tapi aku bisa juga melakukannya." "Baiklah, coba lihat nasib kami dengan nujummu," ujar Thian-

thay-mo-ki, lalu ia mendekati undakan batu dan duduk di tempat yang teduh di bawah pohon.

Sebetulnya Ji Bun merasa sebal melihat tingkah laku Thian-thay- mo-ki yang jalang ini, mungkin itulah sebabnya kenapa selama ini tak pernah timbul rasa simpatik apalagi cinta terhadap perempuan yang satu ini.

Thian-bak-sin-jiu menjinjing peti obatnya terus meletakkannya di atas undakan batu, lalu mendudukinya sebagai kursi, katanya kemudian dengan sungguh-sungguh: "Cukup asal nona katakan siapa orang yang kalian cari, tanpa kuramalkan, mungkin aku bisa memberi petunjuk."

Ji Bun tidak sabar, selanya:

"Cici, masih ada urusan lain yang harus kita kerjakan.”

Thian-bak-sin-jiu mengerling sambil tertawa penuh arti, katanya: "Tuan ini, bukan ku suka membual, untuk menjelaskan urusan

apapun, bila bertemu dengan aku, pasti semua urusan akan beres."

Dengan kedipan mata Thian-thay-mo-ki memberi isyarat, kepada Ji Bun supaya sabar, lalu dengan riang ia berkata:

"Kalau demikian, sungguh beruntung kami dapat bertemu dengan tuan. Ada dua soal mohon, diberi petunjuk."

"Boleh nona katakan saja."

"Pertama mencari orang, kedua mencari barang!" Dengan jari-jarinya Thian-bak-sin-jiu mengelus jenggot-

kambingnya, katanya sambil geleng-geleng lalu memutar kepala: "Harap katakan satu persatu saja."

"Berapa ongkosnya untuk ramalanmu?" "ltu bergantung dari orang yang kau cari dan barang apa yang hendak kau temukan."

"Jadi taripnya disesuaikan dengan sesuatu yang hendak diramalkan itu?"

"He he, begitulah ”

"Kalau tuan bisa nujum, nah silakan meramalkan apakah orang yang hendak kami cari bisa diketemukan?"

Thian-bak-sin-jiu menarik tangannya ke dalam dengan bajunya yang longgar, mulutnya berkomat-kamit, mata melek-merem, sesaat lamanya baru dia berkata:

"Yang dicari laki-laki atau perempuan?" "Laki-laki!"

"Em, soal mencari orang, kalian harus menuju ke arah barat,

kira-kira 10-an li jaraknya, orang yang dicari pasti dapat diketemukan."

"Jadi dalam kota Cinyang ini, kami tak bisa menemukan orang yang dicari itu?"

"Menurut ramalan memang demikian." "Apa tepat dan dapat dipercaya?" "Ramalanku selamanya tepat seratus persen, belum pernah meleset."

"Baiklah, berapa harus kubayar!". "Sepuluh tahil perak, tiada mahal bukan?" “Tidak, murah sekali.”

Ji Bun tidak sabar lagi, dia berpaling ke arah lain. Thian-bak-sin-jiu tertawa lebar, katanya pula: "Ramalan kedua, soal mencari barang?”

"Betul, tolong usahakan, apakah barang, yang hilang itu bisa ditemukan kembali?”

Kembali Thian-bak-sin-jiu melek-merem dan tekuk-tekuk jarinya sambil komat-kamit, setelah sekian lama, tiba-tiba dia, berseru heran:

“He. Aneh!”

Alis Thian-thay-mo-ki menegak, tanyanya:

"Apanya yang aneh?"

"Menurut ramalan, barang yang hilang itu bukan milik nona." Tergerak hati Ji Bun, pikirnya, mungkin tabib ini memang pandai meramal, anting-anting itu memang bukan milik Thian-thay-mo-ki, hal ini ditebaknya dengan tepat.

Thian-thay-mo-ki tersenyum, ujarnya:

"Tebakan tuan memang betul, manjur benar ramalan tuan, apakah barang itu bisa diminta kembali?"

"Barang itu sudah ketemu pemiliknya, tak usah dicari lagi." "Apa, sudah dimiliki orang?"

"Ya, aku hanya bilang menurut ramalanku."

"Jadi barang itu sudah tak bisa kami temukan lagi?" "Ramalanku tak pernah meleset, kalau salah sejak kini aku

mengasingkan diri saja."

"Tuan memang pandai meramal, mohon tanya siapa nama besar tuan?"

Thian-bak-sin-jiu terkekeh-kekeh, katanya: "Nona hanya bergurau saja."

Ji Bun tak sabar lagi, tukasnya, “Cici, hayolah pergi saja." Thian-bak-sin-jiu tiba-tiba menghadapi Ji Bun, sambii miringkan kepala dia melirik beberapa kali, akhirnya ia unjuk rasa prihatin, lalu katanya:

"Tuan ini, maaf kalau aku bicara terus terang, tuan kejangkitan penyakit jahat yang sukar diobati."

Ji Bun tersirap, Thian-thay-mo-ki berjingkat kaget. Ji Bun kaget karena ahli nujum ini tahu akan penyakit tangan berbisanya, sedang Thian-thay-mo-ki hanya melongo karena tidak tahu duduk persoalan.

Ji Bun pura-pura tenang, katanya dingin:

"Perkataan tuan sukar dipercaya, aku sehat walafiat, segar bugar tidak merasakan apa-apa, dari mana datangnya penyakit?"

"Tuan sendiri maklum, kenapa harus berpura-pura."

"Sungguh aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan." "Selamanya kuyakin pada pandangan kedua biji mataku ini,

malah aku berani bilang, kalian bukan kakak dan adik kandung, benar tidak?"

"Pengetahuan cetek begini tak perlu dibuat heran.” "Tapi penyakit yang mengeram dalam tubuh tuan ini,

menentukan nasib hidup tuan dimasa depan, tuan harus terus membujang kalau ingin hidup lama.” Sudah tak kuasa Ji Bun menahan perasaannya roman mukanya berubah, agaknya perkataan orang tua aneh dibawah jurang Pek- ciok-hong itu memang benar, hatinya menjadi hambar, bahwa tabib ini sekali pandang lantas tahu akan rahasia dirinya, hal ini sungguh amat aneh, namun juga menakutkan, apalagi kalau rahasia dirinya ini bocor dan menjadi rahasia umum, akibatnya tentu amat besar, mungkinkah orang ini punya maksud tertentu dengan mengatur muslihat bohong belaka?

Dengan pandangan penuh tanda tanya Thian-thay-mo-ki mengawasi Ji Bun, dari sikap dan perubahan air muka Ji Bun, ia yakin bahwa ucapan tabib kelana ini memang bukan bualan, keruan hatinya ikut hampa, bingung dan tak habis mengerti, betulkah tabib kelana ini pandai meramal atau hanya ”

Thian-bak-sin-jiu berdiri sambil memanggul peti obatnya, katanya kepada Thian-thay-mo-ki:

"Nona, seluruhnya 20 tahil perak." Cemberut muka Thian-thay-mo-ki, katanya: "Tuan betul-betul minta uang?" "Penghidupanku memangnya dari hasil ini."

"Usaha hidupmu pasti tidak hanya tukang nujum saja bukan?" "Ya, obatku inipun sudah dikenal oleh segenap penduduk kota Cinyang ini."

Terpaksa Thian thay-mo-ki keluarkan sekerat emas sambil berkata: "Nah, tuan terimalah," dengan mengerahkan sedikit tenaga ia lemparkan uang emasnya itu.

Tergopoh-gopoh Thian-bak-sin-jiu maju menerimanya, tapi tiba- tiba ia menjerit keras terus mendeprok jatuh terduduk, uang emas itu terbuang jauh, dengan merintih-rintih dia memijat telapak tangannya, lalu dengan menggelundung sambil merangkak ia menghampiri uang emas itu, setelah berdiri lagi dengan menyeringai, tawa tidak meringis tidak dia berkata kepada Thian- thay-mo-ki: "Terima kasih nona!”

Sikapnya mirip sekali dengan orang-orang melarat umumnya yang dapat rejeki, cepat sekali dia sudah berubah sikap dan berkata kepada Ji Bun:

"Tuan, tiada penyakit yang tidak tersembuhkan di dunia ini, semua itu tergantung jodoh dan Hokki, selamat bertemu pada lain kesempatan."

Habis berkata sambil menggoyang-goyang kelintingannya segera ia melangkah pergi.

Bayangan orang sudah lenyap di pengkolan sana, namun dalam telinga Ji Bun masih terkiang kata "tiada penyakit yang tak terobati di dunia ini, semua itu bergantung jodoh dan Hokki saja" mungkinkah tabib kelana ini pandai menawarkan racun? Gerak-gerik orang ini memang tak ubahnya seperti tabib kelilingan, namun tutur katanya sangat mencurigakan.

"Dik, tabib ini amat mencurigakan," demikian kata Thian-thay- mo-ki, "kukira dia sendiri penyamaran Biau-jiu Siansing."

"Ya, mungkin sekali, kenapa tadi kubiarkan dia pergi."  ''Marilah kita menuju ke barat menemuinya seperti ramalannya

tadi," Thian-thay-mo-ki berpen¬dapat, "kalau dia betul Biau-jiu

Siansing adanya, tentu dia menunggu kita disana "

"Kalau dia hanya menipu saja?" tanya Ji Bun. "Belum terlambat kita kembali ke sini dan geledah gedung setan ini.”

Begitulah mereka lantas keluar menuju ke barat, kira-kira sepuluh li jauhnya, tempat yang ditunjuk ternyata adalah tegalan liar yang tak dihuni manusia, hanya sebuah jalan kecil lurus langsung ke arah barat. Sekian lama mereka celingukan tak melihat bayangan seorangpun, setelah berunding, akhirnya mereka maju lagi puluhan tombak jauhnya, namun tetap tidak melihat bayangan seorangpun.

"Agaknya kita memang ditipu," ujar Ji Bun gegetun.

"Ah, kenapa kau begini tak sabar, tuh lihat, bukankah di atas gundukan tanah sana ada orang?"

"Belum tentu dia orang yang hendak kita cari." Sementara itu jarak mereka sudah semakin dekat. Nah, itulah dia, orang tua bungkuk!" teriak Ji Bun, semangatnya seketika berkobar. "Hayolah cepat."

Dua sosok bayangan melesat bagai panah meluncur. Memang betul orang yang duduk di atas gundukan tanah adalah orang tua bungkuk yang pernah mereka lihat di Pek-ciok-hong yaitu Biau-jiu Siansing.

Dari kejauhan Ji Bun menyapa sambil angkat sebelah tangan: "Maaf, tuan menunggu terlalu lama."

Biau-jiu Siansing tertawa, katanya:

"Ah, tidak, Lohu juga baru datang."

"Tuan memang tabib kelilingan yang pintar. "

"Pujian, pujian! Kalian bisa mencariku ke gedung setan di kota Cinyang, patut dipuji juga."

"Marilah kita bicara soal itu, tentunya kau sudah tahu maksud kedatangan kami?"

"Karena sek-hud bukan?"

"Aku sendiri tiada minat mendapatkan sek-hud, tuan tak usah mungkir dengan urusan lain." “Ucapanmu bikin Lohu heran dan tak mengerti." Ji Bun mendengus, jengeknya:

"Cayhe kagum akan gerak gerik dan kepandaian silatmu. ”

"Hal itu tak perlu kau katakan, aku tidak suka dipuji ”

"Lekaslah tuan kembalikan saja, tiada keinginan lain kecuali kuminta kembali barangku itu?"

“Em, kau semakin ngelantur, sebetulnya barang apa yang kau minta?"

"Anting-anting batu pualam itu."

Bergetar sekujur badan Biau-jiu Siansing, teriaknya dengan penuh haru:

"Apa? Apa katamu?"

"Anting-anting batu pualam itu."

"Kan. anting-anting itu hilang?" ucapan ini amat lucu, Ji Bun

melengak malah.

Cepat Thian-thay-mo-ki menyela:

"Apa maksud perkataan Cianpwe barusan?" Biau-jiu Siansing tergelak-gelak, sahutnya:

"Bukankah dia memperbincangkan anting-anting pualam itu?"

"Betul, tuan menegas anting-anting itu hilang, apa maksudmu?" "Kalau tidak hilang, kenapa dicari kian kemari, bukankah