Hati Budha Tangan Berbisa Jilid 05

 
Jilid 05

"Baik, sediakan pula nyamikan lain yang enak," pinta Ji Bun. "Harap tunggu sebentar, segera kami siapkan," sahut pelayan

terus mengundurkan diri.

Di tengah keributan tamu-tamu yang makan minum itu, terdengar seorang yang bersuara serak sedang berkata: "Baru saja pergi sepasang, kini datang pula sepasang, kedua pasangan adalah orang-orang yang mempesona, cuma sayang yang " Kata-

katanya tidak dilanjutkan, namun kata-katanya yang terakhir terang ditujukan kepada Ji Bun, cepat Thian-thay-mo-ki berkata: "Nah kau sudah dengar, mereka belum lagi pergi jauh, dalam satu jam lagi pasti bisa menyandaknya."

Lekas mereka makan minum sekenyangnya terus melanjutkan perjalanan dengan kecepatan lari mereka, lima puluh li kira-kira sudah mereka tempuh, namun bayangan pemuda baju putih dan Pui Ci-hwi tetap tidak kelihatan.

Ji Bun menjadi gelisah, katanya: "Mungkin kita kesasar ”

Thian-thay-mo-ki menengadah melihat cuaca, katanya: "Sekarang masih pagi, mari kita kejar lagi ke depan."

Mereka mempercepat langkah mengejar ke depan, tanpa terasa hari sudah menjelang tengah hari, di depan sana membentang hutan yang rimbun, di dalam hutan lapat-lapat kelihatan warna merah seperti bangunan kelenteng.

Ji Bun menghentikan langkah, katanya: "Apa perlu masuk ke kelenteng itu untuk memeriksanya, mungkin mereka sedang istirahat di sana."

Tengah mereka bicara, tiba-tiba tampak sesosok bayangan langsing berkelebat di dalam hutan. Tanpa banyak kata Ji Bun segera melesat ke sana, sebuah kelenteng kecil mungil indah berdiri di dalam hutan, pigura di atas pintu bertatahkan tulisan "Siong-cu- am". Agaknya kelenteng ini memuja Siongcu-nio-nio. Ji Bun langsung mendekati pintu, belum lagi ia mengetuk pintu, kebetulan pintu kelenteng dibuka, seorang Nikoh muda yang memegang kebutan muncul, dengan sebelah tangan ia memberi hormat serta bertanya: "Sicu datang dari mana?"

Tampak Nikoh ini bersolek, alis lentik, bibir bergincu, pipinya kemerahan dan tingkah lakunya agak genit. Ji Bun tahu kelenteng ini pasti tempat mesum, maka menjawab dengan suara kasar dan kaku: "Mencari orang!"

Nikoh itu unjuk rasa heran dan bingung, tanyanya: "Siapa yang kau cari?”

“Seorang laki dan perempuan."

"Omitohud, kelenteng kami adalah tempat suci, mana ada laki perempuan, mungkin Sicu ”

"Cayhe harus memeriksanya ke dalam."

"Sicu, laki-laki dilarang masuk ke dalam kelenteng."

Thian-thay-mo-ki segera beranjak maju, katanya dengan tertawa nyaring: "Kalau aku tidak jadi soal bukan?" sembari berkata langsung melangkah masuk.

Nikoh muda ini segera melintangkan kebutnya, katanya: "Sicu ini harap tahu diri."

"Kelenteng adalah terbuka untuk umum bagi yang ingin menderma, Suhu cilik kenapa merintangi aku?”

“Sicu keliru, kelenteng kami tidak terima sumbangan." "Kebetulan menghemat uangku," ujar Thian-thay-mo-ki terus

menerjang masuk. Berubah air muka si Nkoh, serunya: "Sicu mau pakai kekerasan?"

"Boleh saja!" jengek Thian-thay-mo-ki tak acuh. Mulut bicara kaki tetap melangkah badan langsung menumbuk ke arah kebutan si Nikoh yang melintang. Sekali si Nikoh memutar pergelangan, benang kebutan yang terbuat dari bulu ekor kuda tahu-tahu berubah keras laksana kawat tajam menyongsong terjangan Thian-thay-mo-ki.

Gerakan ini cukup keji dan hebat, namun Thian-thay-mo-ki cukup menyampuk sekali sambil membentak: "Beginikah tingkah seorang beribadat?”

Sampokan ini membuat Nikoh muda itu sempoyongan mundur, Thian-thay-mo-ki langsung berlari ke dalam. Dengan mendelik Nikoh muda ini pandang bayangan Thian-thay-mo-ki menghilang dan tetap mengadang di pintu. Lekas sekali terdengar suara gedebukan dan suara bentakan dari dalam disusul jeritan kesakitan. Cepat Ji Bun menerjang ke dalam.

"Berhenti, Sicu!" bentak si Nikoh muda. "Ingin mampus kau?" jawab Ji Bun.

Nikoh muda itu menyurut menghadapi tatapan Ji Bun yang berwibawa, cepat sekali Ji Bun melesat ke dalam, setelah membelok ke kiri di belakang dinding tertampak rebah seorang gadis berbaju hijau, di sebelah sana Thian-thay-mo-ki tengah berhadapan dengan seorang Nikoh tua dan empat Nikoh muda yang mengepungnya.

Kedua pihak belum berhantam. Begitu Ji Bun berhenti, Nikoh muda yang mengejar dari belakang sudah tiba, kebut terus menyabet punggung Ji Bun. Ji Bun berkelit membalik badan, katanya: "Kuperingatkan lagi kepadamu, jangan cari mampus!" Kelima Nikoh di sebelah dalam serempak alihkan pandangannya kemari.

Nikoh muda itu anggap tidak dengar peringatannya, begitu kebutannya luput, kembali ia melangkah maju, telapak tangan kiri secepat kilat menebas ke depan.

Membesi dingin muka Ji Bun, kali ini ia tidak bergerak dan tak bersuara, diam saja membiarkan pukulan lawan mengenai tubuhnya. "Huaaah!" jeritan tertahan keluar dari keluar mulut Nikoh muda itu terus terguling dua kali dan tak bergerak lagi.

Berubah hebat air muka kelima Nikoh yang lain, terunjuk amarah yang meluap pada muka Nikoh tua itu, desisnya gemetar: "Siapa Sicu ini?”

"Aku yang rendah Te-gak Suseng."

Berubah bingung dan jeri muka Nikoh tua yang diliputi amarah, keempat Nikoh muda itupun pucat dan ketakutan serta berlompatan menyingkir kebelakang.

Segera Thian-thay-mo-ki berlari ke belakang.

"Cegat dia!" Nikoh tua memberi perintah, keempat Nikoh muda itu serentak mengadang maju, namun tanpa berpaling Thian-thay- mo-ki gerakkan kedua tangannya, di tengah suara keluhan tertahan, keempat Nikoh muda itu tersentak mundur berputar-putar. Sekali berkelebat lagi bayangan Thian-thay-mo-ki sudah lenyap ke dalam pintu ini samping sana. Sambil menggerung gusar keempat Nikoh muda itu beramai-ramai mengejar ke dalam.

Nikoh tua tuding Ji Bun, serunya: "Te-gak Suseng, apa maksudmu kemari?"

"Mencari orang." "Cari siapa?" "Bocah she Liok."

"Kau terlalu mengbina, berani kau berlaku kasar dan membunuh orang dalam kelenteng suci ”

Ji Bun menunjuk gadis baju hijau yang tergeletak di pinggir tembok sana, tanyanya: "Siapakah gadis yang mati itu?"

"Peduli siapa dia, kalian harus membayar hutang jiwa ini." "Kuulangi perkataanku, apakah bocah she Liok dan gadis baju

merah ada di dalam kelenteng ini?”

"Te-gak Suseng, kelenteng adalah tempat suci, mana boleh kau menghina dan bikin kotor di sini " saking murka badan Nikoh tua

sampai gemetar. Ji Bun jadi rikuh akan sepak terjangnya, biarpun para Nikoh di sini semua cabul dan tidak menjalankan ajaran agama semestinya, namun tanpa sebab dan alasan dirinya tanya keterangan bocah she Liok, padahal kemungkinan para Nikoh ini memang tidak tahu siapa sebetulnya Liok Kin itu. Kini dua jiwa sudah menjadi korban, ia jadi menyesal akan kebrutalannya.

Beruntun terdengar pula jeritan dari belakang, agaknya keempat muda itu sudah dirobohkan Thian-thay-mo-ki. Tengah ia terlongong, dilihatnya Nikoh tua dihadapannya menggerakkan ke dua tangan.

Baru saja Ji Bun hendak balas menyerang, tiba-tiba disadarinya bahwa pukulan lawan tidak membawa gempuran tenaga atau samberan angin, namun serangkum bau harum segera merangsang hidungnya. Tanpa terasa ia bergelak tertawa, katanya: "Orang beribadat ternyata juga pakai racun, sayang kau keliru berhadapan dengan aku."

Seketika terunjuk mimik jeri dan ketakutan pada muka Nikoh tua, suaranya. bergetar: "Kau kau tidak takut racun?"

"Bicara soal racun, kau, hanya bertingkah saja di hadapan seorang ahli."

Nikoh tua melangkah mundur, tangan kanan pelahan bergerak naik, waktu tangannya terangkat sejajar kepalanya, telapak tangannya sudah berubah hitam legam, matanya beringas dan menakutkan sekali.

Ji Bun mengejek dingin: "Hek-sat-jiu! Baru setengah sempurna!" "Serahkan jiwamu!" ditengah bentakan yang menusuk kuping, jari-jari tangan si Nikoh yang hitam bagai cakar, tahu-tahu mencengkeram ke arah Ji Bun, gerakannya cepat, aneh dan ganas sekali, agaknya kepandaian silat Nikoh tua ini tidak rendah.

Namun Ji Bun pandang serangan ini seperti sentuhan belaka tanpa dihiraukan. Jari-jari lawan dibiarkan mencengkeram pundaknya, kukunya yang runcing sampai mencakar kulit dagingnya. Tapi Ji Bun tenang-tenang tanpa unjuk sesuatu katanya: "Sebetulnya Cayhe tidak ingin membunuhmu."

Nikoh tua itu menyeringai, berbareng telapak tangannya menabas tegak. Serangan ini diluar dugaan Ji Bun, namun reaksinya cukup cepat, meski tidak sempat menangkis atau balas menyerang, namun untuk menggunakan ilmu mujijatnya yang mematikan masih cukup berkelebihan.

"Blang", diselingi keluhan tertahan, Ji Bun muntah darah dengan badan terjengkang. Hampir dalam waktu yang sama, Nikoh tua itupun sempoyongan ke belakang, tangannya yang gemetar menuding Ji Bun yang sedang merangkak bangun, mulutnya berteriak menakutkan: "Kau .... kau. " bayangan abu-abu tiba-tiba

berkelebat, melesat melampaui wuwungan rumah terus lenyap.

Ji Bun melengak, untuk kedua kalinya ilmu mujijatnya yang mematikan gagal membunuh lawan yang pertama adalah orang misterius yang merebut anting-anting itu, sejak dirinya berkelana hanya dua kali kekecualian ini, selain tidak sempat menggunakan ilmunya yang ganas itu, biasanya setiap korbannya pasti mampus. Setelah terlongong sekian lamanya, baru dia teringat pada Thian- thay-mo-ki yang sudah sekian lamanya melabrak ke dalam dan tiada kedengaran suaranya, mungkinkah mengalami sesuatu. Maka bergegas ia lari ke belakang, di antara bayang-bayang pepohonan yang rimbun, di sana berderet tiga bangunan yang mungil, di papiliun mungil itu menggeletak empat sosok mayat, suasana sunyi senyap tak kedengaran suara apapun.

Sekali lompat Ji Bun tiba di serambi papiliun itu, dari jendela ia melongok ke dalam, tampak kamar-kamar dipajang begitu indah dan serba mewah, bahwa tempat ini tidak mirip tempat suci yang biasa dihuni sebangsa Nikoh yang memeluk agama, mungkin kelenteng ini hanyalah berkedok untuk berbuat mesum dan kejahatan lainnya.

Yang tengah adalah ruangan tamu, panjangnya tak ubahnya seperti istana raja, kamar yang belakang adalah kamar tidur, pajangan dan barang-barang yang ada mirip dengan kamar pertama. Ketiga kamar ini semua kosong, tak tampak bayangan orang.

Terkerut alis Ji Bun, sesaat ia kehilangan Thian-thay-mo-ki terang takkan pergi begitu saja tanpa pamit, memangnya ke mana dia?

Kecerdikan dan kepandaian silatnya meyakinkan takkan mengalami sesuatu di luar dugaan, namun ke mana dan di mana dia?

Tengah bingung dan mencari, tiba-tiba dilihatnya sebuah gambar dewi Koan-im yang tergantung di dinding kamar tengah itu bergerak pelahan, maka muncullah sebuah pintu sempit yang tiba cukup untuk lewat seorang. Berdegup jantung Ji Bun, hatinya menjadi tegang, disaat siap-siap bertindak, dilihatnya seseorang menerobos keluar dari pintu gelap itu, kiranya Thian-thay-mo-ki adanya.

"He, apa yang telah terjadi?" tanya Ji Bun keheranan. Dengan langkah gemulai Thian-thay-mo-ki bertindak keluar,

katanya sambil acungkan jempolnya ke belakang: "Kamar di bawah tanah itu megah sekali, tak kalah dengan kamar puteri raja.”

"Apa yang kautemukan di sana?"

"Tempat ini adalah salah satu cabang Cip-po-hwe ”

"Cabang Cip-po-hwe?" seru Ji Bun kaget.

"Dik, coba kau masuk melihatnya sendiri. Sebentar kau akan paham.”

"Kalau benar tempat ini cabang Cip-po-hwe, bocah she Liok itu pasti mampir kemari."

"Memang tadi dia kemari, kini sudah pergi pula." "Lalu Pui Ci-hwi?"

"Masuklah dulu melihatnya."

Tak habis heran Ji Bun karena didesak untuk memeriksa kamar di bawah tanah, namun rasa tertarik memang tak tertahan lagi, sekilas ia melirik terus melangkah masuk. Di belakang pintu sempit ini adalah sebuah lorong panjang yang pakai undakan, di ujung loteng sana adalah jalanan datar halus yang cukup lebar sepanjang puluhan tombak. Tiga kamar kembali berjajar segitiga di ujung sana, sehingga di tengah-tengah ketiga kamar ini merupakan pekarangan yang cukup luas. Kamar yang tengah tertutup kerai dengan pintu tertutup rapat, dua kamar di kanan kiri semua tertutup dan digembok dari luar.

Setelah bimbang sebentar Ji Bun menyingkap kerai mandorong pintu dan melangkah masuk ke kamar tengah. Bahwa Thian-thay- mo-ki menyuruh dirinya memeriksa kamar di bawah tanah ini, ia menduga pasti ada apa-apa di dalam ketiga kamar ini.

Begitu melangkah masuk bau wangi segera merangsang hidung, tampak pajangan berwarna warni, sampaipun meja kursi semua terbuat dari barang-barang antik yang berukir indah dan hidup, jelas semua ini adalah barang-barang peninggalan jaman dahulu kala.

Sebuah ranjang kayu cendana terletak di bagian dalam dengan kasur tinggi dan seprei jambon, kelambu menjuntai turun, keadaan ini tak ubahnva seperti kamar tidur seorang permaisuri raja.

Bahwa di dalam sebuah kelenteng dibangun kamar-kamar seindah ini, maka dapatlah dibayangkan apa gunanya tempat- tempat seperti ini. Tiba-tiba matanya bentrok dengan noda-noda darah yang berceceran diatas ranjang darah kental yang belum kering, jantungnya berdegup semakin keras, dengan langkah lebar ia memburu maju serta menyingkap kelambu. "Hah!" tiba-tiba ia menjerit tertahan dan menyurut mundur, selebar mukanya merah jengah. Ternyata di atas ranjang menggeletak dua sosok mayat, mayat yang di atas adalah seorang perempuan gundul atau Nikoh muda yang cantik menggiurkan, yang dibawah adalah laki-laki bercambang dan bertubuh kekar.

Keduanya saling tindih dan telanjang bulat, badan bagian atas sudah terpisah. Namun keempat kaki mereka masih saling tindih, dari badan merekalah darah itu mengalir ke bawah kasur.

Selama ini Ji Bun belum pernah melihat adegan yang memalukan seperti ini, sekian lamanya ia tertegun di tempatnya. Lama sekali baru ia sadar kembali, ia duga pada saat kedua laki perempuan ini berbuat mesum kepergok oleh Thian-thay-mo-ki, lalu dibunuhnya. 

Sebagai gadis perawan sudah tentu dia malu menjelaskan, maka dia suruh dirinya turun kemari menyaksikan sendiri.

Ji Bun menggeram gusar, di mana kaki tangannya bergerak, semua perabot di dalam kamar ini disapunya porak poranda, sudah tentu perbuatannya ini tiada gunanya, mungkin hanya untuk melampiaskan rasa sebal dari menghilangkan rasa malunya saja.

Cepat ia berlari keluar lalu menarik pintu kamar di sebelah kiri, begitu pintu terbuka seketika dia berjingkat. Seorang gadis berbaju hijau rebah tak bernapas di dalam kamar, dandanannya mirip dengan gadis berbaju hijau yang mati di bawah tembok di luar tadi.

Seperti apa yang dikatakan Thian-thay-mo-ki, bahwa Siong-cu- am ini adalah salah satu cabang Cip-po-hwe, kedua gadis baju hijau ini terang adalah murid-murid yang datang dari markas pusat seperti yang pernah dilihatnya tempo hari. Sayang sekali, Nikoh tua itu sempat melarikan diri.

Kembali ia menarik pintu kamar terakhir, pajangan kamar ini tak ubahnya seperti kamar di tengah, perabuan yang berbentuk binatang terletak di atas meja masih mengepulkan asap dupa yang wangi semerbak. Kelambu setengah terbuka, bantal guling dan seprei morat marit, seperti baru saja di tiduri orang dan belum lama meninggalkan tempat ini. Selain itu tiada apa-apa lagi yang patut diperiksa, maka. Ji Bun lekas keluar meninggalkan kamar bawah tanah itu.

"Bagaimana? " tanya Thian-thay-mo-ki tersenyum begitu dia keluar.

"Tempat mesum yang kotor, bakar saja," kata Ji Bun dengan uring-uringan.

"Demikian juga pikiranku," ujar Thian-thay-mo-ki.

"Darimana Cici tahu kalau tempat ini cabang Cip-po-hwe?" "Kau sudah lihat mayat gadis baju hijau itu? Dialah yang

mengaku sebagai dayang-dayang Liok Kin, ke mana sang majikan pergi, ke situlah pula mereka berada ”

"Ada kabar Pui Ci-hwi?"

"Ada, satu jam yang lalu mereka sudah pergi pula," sahut Thian- thay-mo-ki. "Dia sudah tergenggam di tangan Liok Kin ” Mendelu perasaan Ji Bun, memang aneh perasaan itu, ia sudah tahu bahwa gadis berbaju merah adalah sekomplotan dengan musuh, iapun sudah tegas memutuskan harapannya untuk mempersuntingnya, kini setelah urusan mendesak, tak kuasa ia mengendalikan diri sendiri, biasanya sikapnya dingin, angkuh dan nyentrik, namun tali asmara ini begitu ulet dan kencang mengikat sukma, tak kuasa dia memutuskan begitu saja.

"Hayolah Dik, kita kejar lagi," ajak Thian-thay-mo-ki. "Kejar ke mana?"

"Ke mana mereka akan mendapatkan Sek-hud itu."

"Sek-hud?" hakikatnya Ji Bun tak punya minat terhadap Sek-hud, maka reaksinya tawar saja, katanya: "Kukira kita tidak usah bercapek lelah, tujuan Cip-po-hwe adalah mengumpulkan harta benda yang serba antik, namun untuk tujuan kali ini pasti mereka salah alamat, para bangkotan dari Wi-to-hwe itu cukup untuk membikin mereka kocar kacir."

"Betul ucapanmu, namun jiwa Pui Ci-hwi sulit dipertahankan lagi

.............”

"Ada orang lain yang akan menagih jiwanya?." "Memangnya apa pula maksud tujuan perjalanan kita ini?" Setelah tertegun Ji Bun berkata: "Aku hanya ingin membantai bocah she Liok itu."

"Marilah kita kejar, kalau tidak bisa terlambat."

"Kenapa tergesa-gesa, markas Cip-po-hwe memangnya bakal pindah ke lain tempat?"

"Bukan markas Cip-po-hwe tujuan kita." "Habis mau ke mana?"

"Biara nomor satu di kolong langit ini."

"Maksudmu Pek-ciok-am?” Ji Bun menegas, "apakah bocah she Liok itu "

"Menurut pengakuan gadis baju hijau itu, Liok Kin sedang menggusur Pui Ci-hwi ke sana untuk mengambil Sek-hud, ini sesuai apa yang kucuri dengar waktu di Tong-pek-san. Pui Ci-hwi pernah memberitahu kepada Liok Kin bahwa Sek-hud disembunyikan di puncak Pek-ciok-hong di belakang Pek-ciok-am itu"

Berkerut alis Ji Bun, katanya: "Sek-hud adalah peninggalan penting perguruan Pu.i Kenapa dia berani membocorkan rahasia ini kepada orang luar?"

Thian-thay-mo-ki cekikikan, katanya: "Hubungan laki perempuan memangnya amat lugu, terutama bagi seorang gadis yang baru mekar, sulitlah dijelaskan." Secara tidak langsung ia mau bilang bahwa hubungan kedua muda mudi ini sudah melampaui batas kesusilaan, sudah tentu menusuk bagi pendengaran Ji Bun, emosinya jadi sukar ditekan lagi."

"Cici tahu di mana letak Pek-ciok-am itu?"

"Tahu saja, kalau siang malam menempuh perjalanan, besok pagi kita bisa sampai di tempat tujuan."

"Hayolah kita susul ke sana."

"Bakar dulu sarang rase yang mesum ini."

Kain gordin penutup kain pemujaan disiram minyak lalu mereka sulut dengan api lilin, cepat sekali api berkobar. Sebentar saja kelenteng itu sudah menjadi lautan api. Setelah meninggalkan Siong-cu-am, mereka menuju ke arah timur.

Fajar menyingsing, kabut pagi masih tebal, hawa terasa dingin segar. Pada sebuah jalan pegunungan yang kecil berliku tampak dua bayangan orang tengah mengayun langkah berlari bagai terbang, mereka adalah Te-gak Suseng dan Thian-thay-mo-ki. Dari jauh Thian-thay-mo-ki menuding puncak di depan sana yang tertampak sebuah bangunan berwarna putih, katanya: "Itulah Pek-ciok-am yang dipandang sebagai biara nomor satu di kolong langit ini." Ji Bun hanya mengiakan saja tanpa bicara, cepat sekali mereka sudah tiba di depan biara, pintu tertutup. Seluruh bangunan ini serba putih dibangun dari kepingan batu putih.

"Mari kita langsung menuju ke belakang puncak!” ajak Thian- thay-mo-ki.

Ji Bun mengawasi pintu biara, katanya: "Apa tidak masuk dulu melihat keadaan di dalam?"

"Orang luar biasanya di larang masuk, walau (Nikoh sakti) sudah wafat, namun peraturan ini masih tetap dipatuhi oleh segala lapisan."

Pada saat itulah, sekilas terlihat oleh Ji Bun serombongan orang sedang mendatangi dari bawah gunung mengiringi sebuah tandu, katanya: "Orang dalam tandu! Tak nyana pihak Wi-to-hwe juga sudah mendapat kabar dan meluruk kemari."

5.13. Perebutan Sek-hud

Beberapa kali Thian-thay-mo-ki menoleh ke bawah, katanya: "Kalau mereka sudah datang, kita tidak usah turun tangan."

Ji Bun punya perhitungan tersendiri, ia tak mau berjumpa dengan orang-orang Wi-to-hwe, lekas ia berkata: "Cici, bagaimana kalau kita menyingkir dulu?" Heran tak mengerti Thian-thay-mo-ki melirik kepada Ji Bun. katanya: "Baiklah, kita sembunyi di dalam gerombolan bambu sana."

Segera mereka menyingkap dedaunan menyelinap ke dalam semak-semak.

Tiba-tiba Ji Bun ingat sesuatu, tanyanya: "Cici, sebetulnya siapa ketua Wi-to-hwe?"

"Bukankah kau diundang sebagai tamu terhormat dan duduk semeja dengan dia?"

"Aku tidak tahu siapa dia, memangnya aku heran kenapa aku dihormati begitu rupa."

Derap langkah rombongan orang, radi semakin dekat. Tampak tujuh delapan bayangan orang berlompatan, meluncur ke depan biara, tandu kecil itu cepat sekali juga sudah tiba. Dengan seksama Ji Bun mengintip dari celah-celah dedaunan, tanpa terasa ia menjadi heran, tandu kecil ini bukan tandu milik "orang dalam tandu," itu, pengiring-pengiring tandupun tiada yang dikenalnya, rombongan dari manakah orang-orang ini?

Tandu diturunkan menghadap ke pintu biara, tiga orang tua pengiring dan lima laki-laki kekar segera berdiri sejajar meluruskan tangan di samping tandu. Terdengar suara orang perempuan yang seperti sudah dikenalnya dari dalam tandu: "Ho-tongcu, bawa orangmu dan periksa, ke dalam biara." Salah satu di antara ketiga orang tua yang bermuka lonjong berdagu panjang dengan jenggot pendek dan segera mengiakan sambil membungkuk, sahutnya: "Lapor Hwecu, selama puluhan tahun ini, tiada seorangpun yang berani memasuki biara ini.”

Baru sekarang Ji Bun mengerti, ternyata Cip po hwe-cu yang berada di dalam tandu ini, tak tersangka karena mengincar Sek-hud, sekali ini dia turun tangan sendiri memimpin seluruh anak buahnya.

Dingin suara Cip-po hwe-cu: "Ho-tongcu, itulah perintahku!"

Ho-tongcu mengiakan sambil membungkuk pula. Sekali ulap tangan, tiga laki-laki kekar segera tampil dan mengintil di belakang orang she Ho ini dan melangkah ke arah biara.

Dengan rasa kebat-kebit Ho-tongcu melangkah ke depan pintu. Setelah ragu-ragu sebentar segera ia nekat mendorong pintu, tak terduga pintu biara hanya dirapatkan saja, sekali dorong lantas terbuka.

Dari luar memandang ke dalam, tanaman kembang dan pepohonan teratur rajin, undakan dan serambi panjang semuanya serba putih bersih tanpa berdebu seakan-akan setiap saat selalu dibersihkan orang. Namun suasana tetap hening.

Tepat mengadang pintu berdiri sebuah pilar batu persegi yang ditatah beberapa huruf berbunyi:

“Tempat suci untuk membina diri, orang biasa dilarang masuk." Sambil mengawasi batu pilar ini, Ho-tongcu dan ketiga laki-laki kekar tak berani melangkah masuk.

Cip-po hwe-cu bersuara dari dalam tandu: "Ho-tongcu, Pek- ciok Sin-ni sudah meninggal, memangnya apa yang kau takuti?"

Rasa takut kelihatan di roman Ho-tongcu, katanya sambil menoleh dengan suara gemetar: "Hwecu, itu hanya kabar angin

.........”

"Kau berani menentang perintahku?" dengus Cip-po hwe-cu, "Hm, Li-tongcu."

Seorang tua lain yang bermuka bentuk segi tiga segera mengiakan dan tampil kemuka. "Kau masuk dan periksa," kata Hwecu.

"Terima perintah," sahut Li-tongcu, membusung dada dan segera melangkah lebar memasuki biara.

Mungkin demi gengsi atau. karena takut akan peraturan perkumpulan, Ho-tongcu segera nekat mendahului melompat masuk ke dalam.

"Hiiiaaaat!" jeritan ngeri tiba-tiba kumandang, tampak Ho-tongcu yang melesat masuk itu terpental keluar dan "bluk" terbanting tak bergerak lagi, Li-tongcu dan ketiga laki-laki kekar itu sama terbelalak dan mematung. Di tempat sembunyinya Ji Bun berpaling kepada Thian-thay-mo- ki, bisiknya: "Apakah Pek-ciok Sin-ni masih hidup?”

Thian-thay-mo-ki menggeleng tanda tidak tahu, mukanya serius dan curiga. Dari reaksi beberapa orang ini, agaknya Pek-ciok Sin-ni memang seorang tokoh yang teramat disegani.

Berputar otak Ji Bun, tanyanya pula: "Cici, peduli siapa yang berada di dalam Pek-ciok-am, Sek-hud adalah milik pribadi Sin-ni, walau Liok Kin diberi petunjuk oleh Pui Ci-hwi, usahanya pasti akan sia-sia, malah mungkin jiwapun bisa melayang."

"Memangnya, Pui Ci-hwi terbius dan tak kuasa akan diri sendiri, kukira para bangkotan Wi-to-hwe itu sudah mengetahui."

Agaknya Cip-po hwe-cu juga kaget akan kejadian diluar dugaan ini. Lama sekali dia tak bersuara, akhirnya dia berseru lantang: "Tokoh kosen siapakah yang ada di dalam?”

Tiada reaksi atau penyahutan. Sementara itu, Ho-tongcu yang terlempar keluar ternyata masih hidup dan sedang merangkak bangun dengan lemas gemetar, suaranya tersendat: "Lapor Hwecu

....... hamba ”

"Kau kenapa?"

"Kepandaian silat dan Lweekangku punah," "Apa kau lihat jelas siapa yang menyerangmu?” "Tidak, baru saja hamba melangkah masuk, entah diterjang angin dari arah mana tahu-tahu badan terpental keluar.”

Kembali Cip-po hwe-cu berseru: "Sahabat yang ada di dalam biara kenapa tidak sudi keluar?"

Tetap tiada sahutan, suasana menjadi hening, dan mencekam. "Li-tengcu, kalian mundur saja," Cip-po hwe-cu memberi aba-

aba. Seperti mendapat pengampunan, ke empat orang itu bergegas

berlari balik.

Cip-po hwe-cu mendengus, jengeknya: "Sahabat tidak perlu main sembunyi, kalau malu dilihat orang, baiklah aku mohon diri saja."

Lalu ia perintahkan anak buahnya: "Ho-tongcu boleh bawa dua orang turun gunung lebih dulu, yang lain ikut aku ke belakang puncak."

Cepat sekah rombongan mereka lantas meninggalkan tempat ini. "Kita bagaimana?" tanya Ji Bun, kepada Thian-thay-mo-ki.

"Marilah kita lihat tontonan ramai," ajak Thian-thay-mo-ki. Dari arah samping yang berlawanan, mereka lantas menuju ke Pek-ciok- hong, puncak bagian belakang itu.

Di mana-mana batu putih melulu, tiada rumput atau pepohonan yang tumbuh di sini, hanya di ujung jurang sana tumbuh beberapa pohon siong yang tua dan angker. Tepat di tengah-tengah serakan batu putih itu terdapat sebuah panggung yang menyerupai kembang teratai.

Di tengah panggung ini berdiri pula sebuah menara setinggi beberapa tombak. Pada bagian muka menara ini ditatah sebuah papan batu di mana terukir sebaris huruf yang berbunyi:

"Tempat semayam Pek-ciok Sin-ni nan abadi."

Kiranya di sinilah tempat kuburan jenazah Pek-ciok Sin-ni.

Di belakang panggung ini, menjulang kelangit sebuah puncak yang menembus mega, begitu tinggi dan curam puncak ini, kira-kira terpaut tujuh delapan tombak dengan Pek-ciok-hong disini, jurang di bawahnya tak terlihat dasarnya.

Bayangan orang banyak bermunculan di Pek-ciok-hong, jumlahnya tidak kurang 50an, agaknya demi mendapatkan Sek-hud, kali ini Cip-po-hwe benar-benar mengerahkan seluruh kekuatannya.

Sambil mengendap dan menggeremet Ji Bun dan Thian-thay-mo- ki terus merambat naik ke puncak, lalu menyembunyikan diri di lekukan batu.

Setelah dekat, dilihatnya Liok Kin bersama Pui Ci-hwi duduk berendeng di atas batu yang berbentuk menyerupai seekor naga. Cip-po hwe-cu sudah keluar dari tandu, duduk diatas sebuah batu yang mencuat keluar tak jauh dari anaknya, di belakangnya berderet puluhan anak buahnya. Di belakang panggung teratai sana, delapan laki-laki berotot kekar berdiri dengan membawa cangkul, sekop, linggis dan martir besar. Seorang tua baju hitam mondar mandir seperti sedang mengukur, akhirnya dia berhenti lima tombak di belakang panggung menara itu.

Liok Kin berpaling ke arah Pui Ci-hwi dan berkata dengan suara halus dan ramah: "Adik Hwi, tidak salah lagi tempat itu?"

Dengan kaku seperti linglung Pui Ci-hwi mengangguk.

Liok Kin segera memberi perintah dengan suara lantang: "Lekas keduk, harus bekerja cepat dan sekuat tenaga."

Maka ramailah suara berkerontangan bekerjanya cangkul, linggis dan martir, batu-batu kerikil beterbangan muncrat kemana-mana.

Ji bun mengertak gigi, katanya: "Cici, agak Pui Ci-hwi memang sudah terbius "

"Lalu apa yang hendak kau lakukan?" "Akan kutamatkan dulu bocah she Liok itu.” "Nanti dulu."

"Ada apa?"

"Kukira ada apa-apa yang kurang beres, peduli siapa orang dalam biara yang memunahkan ilmu silat Ho-tongcu, yang jelas dia adalah sepihak dengan Pui Ci-hwi, kenapa sejauh ini dia tetap menonton saja. Adegan-adegan tegang masih akan menyusul."

"Cip-po hwe-cu sudah tahu bahwa maksudnya telah diketahui orang, namun dia masih nekat pasti dia punya keyakinan."

Thian-thay-mo-ki manggut-manggut. Tapi kenyataan justeru di luar dugaan, selama ini tiada orang yang muncul mencegah pengedukan ini.

Sebuah papan batu akhirnya terbongkar keluar, disusul suara kaget dan kegirangan: "Sek-hud!"

Cip-po hwe-cu segera membentak: "Minggir semua!"

Belum lenyap kumandang suaranya, bagai kilat dia sudah melesat ke tempat galian. Delapan laki-laki yang gemerobyos keringat itu segera mundur ke samping. Setelah mengawasi tempat galian dengan seksama, akhirnya Cip-po hwe-cu menengadah sambil terloroh-loroh riang.

Seluruh anggota Cip-po-hwe yang hadir sama menjulur leher sepanjang mungkin dari tempatnya ingin melihat lubang galian.

Cip-po hwe-cu pelan-pelan membungkuk badan mengulur tangan ke dalam lubang, dikeluarkannya sebuah patung Budha yang terbuat dari batu putih setinggi satu kaki, agaknya patung Budha ini dibuat dan diukir oleh seorang ahli sehingga dilihat dari kejauhan sungguh elok dan hidup. Ji Bun berkata gemetar: "Mereka berhasil." "Kulihat ada yang janggal," kata Thian-thay-mo-ki. "Apanya yang janggal?"

"Apa kau tidak lihat patung itu berlubang di bagian badannya, kukira ada yang tidak beres."

"Pandangan Cici memang tajam, pengetahuanmu juga amat tinggi."

Ji Bun memuji sejujurnya, sejak wataknya berubah, baru pertama kali ini ia memuji orang lain.

Thian-thay-mo-ki membalas dengan senyuman riang, katanya: "Apa kau bukan menyindirku, Dik?"

"Aku bicara setulus hati." "Banyak terima kasih."

Sementara itu, tampak Cip-po hwe-cu tengah membolak-balik patung Budha itu serta memeriksanya dengan teliti. Akhirnya dia berpaling ke arah gadis baju merah dan bertanya dengan keheranan: "Nona Pui, kenapa Sek-hud (patung Budha batu) ini tidak berhati?"

Keadaan Pui Ci- hwi tetap linglung, sahutnya datar: "Entah aku tidak tahu." "Dulu waktu kau melihat Sek-hud ini apa demikian juga keadaannya?"

"Ya, gadis baju merah itu mengiakan.

Sekonyong-konyong Cip-po hwe-cu menjerit kaget, patung yang dipegangnya tahu-tahu lenyap. Tampak seorang laki-laki tua bungkuk berdiri tiga tombak di ujung sana, patung Budha itu telah berpindah ke tangannya.

Bagaimana orang tua bungkuk ini muncul dan cara bagaimana dia merebut Sek-hud seluruh hadirin tiada yang tahu dan melihat jelas.

"Siapakah si bungkuk ini?" tanya Ji Bun terperanjat.

Suara Thian-thay-mo ki rada gemetar: "Dari gerak-geriknya itu, mungkin. ”

Belum habis percakapan mereka di sini, di sana Cip-po hwe-cu sudah membentak dengan bengis: “Biau-jiu Siansing, dari mencuri kini kau berani terang-terangan main rebut?"

Orang tua bungkuk terkekeh-kekeh, katanya: "Kwik Un-hiang, cara bagaimana kau bisa mengenalku sebagai Biau-jiu Siansing?"

"Panca longok macammu ini, memangnya ada orang duanya dalam Kangouw?" "Anggaplah kau menebak betul, tapi Kwik-hwecu, kau memakiku panca longok, memangnya kau sendiri ini apa ”

"Lebih baik kau kembalikan patung itu." "Kalau tidak?"

"Aku bersumpah takkan melepaskanmu." "Ah, aku tidak peduli."

Mendengar laki-laki bungkuk ini adalah Biau-jiu Siansing, si maling sakti yang terkenal di Kangouw, seketika Ji Bun naik pitam, tak usah diragukan lagi, orang yang merebut anting-anting giok dari tangannya pasti dia orangnya. Dari caranya merebut patung tadi terbukti sama dengan cara orang merebut anting-anting dari tangannya, maka tanpa ragu segera ia melompat keluar.

"Te-gak Suseng!" teriak Cip-po hwe-cu kaget, mukanya seketika beringas dan diliputi nafsu menmbunuh.

Ji Bun hanya melirik sekejap terus melangkah ke arah Biau-jiu Siansing.

Berputar biji mata Biau-jiu Siansing, katanya :

"Te- gak Suseng, kau juga ingin merebut Sek- hud?" "Cayhe tidak punya minat." "Lalu apa kehendakmu?"

"Janganlah sudah tahu pura-pura tanya, dalam hatimu sudah tahu apa maksudku."

"Agaknya Lohu belum pernah bermusuhan dengan kau?"

"Hm, ucapanmu ini menjadikan kau ini lebih rendah dari panca- longok, maling yang hina dina "

"Tutup mulutmu, Te-gak Suseng, bicaralah yang sopan terhadap Lohu."

"Sopan? Apa kau setimpal bicara soal kesopanan?"

Dengan penuh keheranan Biau-jiu Siansing menatap Ji Bun, katanya kemudian: "Anak muda, ada urusan apa boleh dikesampingkan dulu, biar Lohu bereskan urusan dengan mereka."

Menyala sinar mata Ji Bun, jengeknya dingin: "Jangan kau nanti berusaha lari ”

"Omong kosong, memang gelaran Biau-jiu Sian¬sing tidak berharga seperti penilaianmu itu?"

"Baik, boleh kau bereskan dulu urusanmu."

Sorot mata Biau-jiu Siansing beralih ke arah Cip-po hwe-cu, katanya berseri tawa: "Kwik Un-hiang, dalam sepuluh tahun ini kau sudah tumbuh sayap, siluman kecil menjadi setan besar, malah mendirikan perkumpulan, membuka markas segala, kini menjadi ketuanya pula. Mencuri, menipu, merampok, membegal dan merampas, semua itu dari satu sumber, apa kau masih tahu aturan?”

Berubah air muka Cip-po hwe-cu, tanyanya: “Aturan apa?" “Keluarga punya aturan, golongan punya disiplin, dikalangan

maling ada sumbernya yang terdiri delapan tingkat."

Mundur setapak Cip-po hwe-cu, seluruh anak buahnyapun tersirap dan berubah air mukanya.

Maka terdengar Biau-jiu Siansing membentak dengan bengis: "Dalam delapan tingkat itu, kau termasuk yang mana?"

Gemetar sekujur badan Cip-po hwe-cu, suaranyapun tersendat: Geledek, kilat, angin, api, gunung, air, tanah dan kayu, aku termasuk gunung dari tingkat bawah."

Biau-jiu Siansing terloroh-loroh, katanya: "Tingkatan dan kemampuanmu masih terlalu jauh, ketahuilah aku termasuk tingkat kilat dari tingkat atas."

Pucat keabu-abuan selebar muka Cip-po hwe-cu, katanya, menunduk: "Maaf akan kelancangan Wanpwee."

"Kwik Un-hiang, bagaimana kalau kubawa Sek-hud ini?" "Terserah, aku tak berani banyak mulut lagi." "Aku tahu, dalam hati kau memberontak, biarlah kuberitahu. Pek- ciok Sin-ni menjadi simbol yang diagungkan di seluruh lapisan persilatan, Pek-ciok-am adalah tempat suci yang tak boleh dilanggar oleh golongan manapun, kau berani paksa anak buahmu masuk ke biara sini, betapa besar dosamu..."

Cip-po hwe-cu mengiakan sambil manggut-manggut. "Dan lagi di pintu biara sudah kuberi tanda pengenalku

menandakan bahwa golongan kilat sudah mencampuri urusan ini, tapi kau masih berani melanggarnya, malahan berani menantang lagi, sungguh bodoh dan picikkan?"

Kembali Cip-po hwe-cu hanya mengiakan saja.

Berkata Biau-jiu Siansing lebih lanjut: "Sekarang lihatlah pertanda yang ada di atas batu piramid itu."

"Hah!" waktu berpaling ke arah samping lubang yang digali anak buahnya tadi, seketika dia menjerit kaget sambil mundur tiga langkah.

Seperti mengajar dan memberi peringatan kepada bawahannya saja Biau-jiu Siansing berbicara lebih lanjut: "Menurut undang- undang kalangan kita, sesama golongan tidak boleh saling rebutan, masing-masing tingkat ada perbedaan, untuk kali ini kau terhitung melanggar undang-undang karena berani menentang tingkat yang lebih tinggi." Lenyap wibawa dan keangkeran Cip-po hwe cu, badannya gemetar sampai perhiasan diatas kepalanya ikut bergoyang-goyang.

Biau jiu Siansing ulapkan tangan: "Mengingat kau bersalah tanpa sengaja, biarlah kuampuni kali ini, pergilah!"

"Banyak terima kasih!" tersipu-sipu Cip-po hwe cu berkata memberi hormat terus putar badan memberi perintah kepada anak buahnya: “Turun gunung!"

Dengan menggandeng Pui Ci-hwi, Liok Kin berdiri hendak melangkah pergi. Tapi Ji Bun lantas melesat ke depan Liok Kin, jengeknya: "Tinggalkan dia!"

Pui Ci-hwi melerok sekali kepada Ji Bun tanpa memberi reaksi apa-apa, keadaannya mirip sekali dengan Ciang Bing-cu tempo hari, karena kesadarannya terpengaruh oleh obat bius.

Liok Kin mengertak gigi, desisnya: "Te-gak Suseng, apa hakmu?" "Tanpa hak apa-apa, kalau kau masih ingin hidup lekaslah

menyingkir saja."

"Jangan takabur dan menghina orang, Te-gak Suseng, dia tidak mencintaimu."

Kata-kata setajam sembilu menusuk ulu hati Ji Bun. Seketika beringas wajahnya: "Kau ingin mampus?" hardiknya. Cip-po hwe-cu menghampiri, katanya: ''Te-gak Suseng, tempo hari kau berani bikin onar di markas kami, membunuh orang, menculik tawananku lagi, biarlah perhitungan itu kita bereskan sekalian."

Ji Bun berputar menghadapi Cip-po hwe-cu, tantangnya: "Bagus sekali, cara bagaimana menyelesaikannya?"

"Utang jiwa bayar jiwa."

"Jiwa ragaku ada di sini, kalau kau mampu boleh kau renggutnya.

Hayolah mulai!"

Tongcu she Li dan seorang kawannya tiba-tiba menubruk maju, puluhan anak buah yang lain serentak ikut merubung maju, semua siap meraba senjata. Suasana menjadi tegang.

"Anak muda," seru Biau-jiu Siansing, "urusan kita biar diselesaikan lain hari saja, aku tidak sabar menunggu di sini."

Ji Bun melompat mundur, teriaknya: “Tunggu sebentar "

belum habis perkataannya, tahu-tahu segulung angin keras menerpa ke arahnya, ternyata secara licik Cip-po hwe-cu menyerang ketika perhatian Ji Bun terpencar.

Ji Bun tidak menduga bahwa lawan akan turun tangan, tenaga gerakan ditambah damparan pukulan dahsyat ini, maka tubuhnya melayang kencang menerjang ke arah menara di panggung teratai sana. Jika badannya sampai menubruk menara batu, pasti hancur lebur. Untunglah serangkum angin lembut tahu-tahu menghembus enteng dari arah samping sana sehingga luncuran tubuhnya yang kencang itu menjadi lambat. Pada detik-detik sebelum badannya membentur menara, Ji Bun merasakan daya luncuran tubuhnya tiba- tiba jauh berkurang.

Maka lekas dia kerahkan kekuatan memberatkan tubuh, berbareng tangan menekan ke bawah, badan berputar lagi sehingga dia berjumpalitan dan turun dengan enteng. Namun selebar mukanya sudah berubah merah padam.

Orang yang menolongnya dengan dorongan serangkum angin enteng tadi adalah Biau-jiu Siansing. Ji Bun tenangkan diri sebentar, katanya kemudian: "Terima kasih akan bantuan tuan."

"Tidak usah, rase kecil yang datang bersamamu itu cukup baik sekali latihannya, begitu sabarnya sampai sedemkian jauh masih belum mau muncul." Yang dimaksud jelas Thian-thay-mo-ki. Ji Bun menjadi kikuk dan risi.

Sebuah tawa nyaring tiba-tiba berkumandang, Thian-thay-mo-ki terpaksa unjuk diri, tubuhnya yang gempal dan padat laksana segumpal bara yang menyala, membuat semua laki-laki yang hadir terbeliak. Biau-jiu Siansing nienatap Ji Bun, katanya: "Anak muda, sebetulnya ada persoalan apa diantara kita?"

Belum Ji Bun menjawab, tiba-tiba gelombang gelak-tawa yang keras menusuk telinga menggetar bumi bergema dari kejauhan, cepat sekali tahu-tahu sudah dekat di bawah bukit, hawa di atas puncak seketika seperti bergolak hebat.

"Bu-ciang-so datang," Thian-thay-mo-ki berteriak tertahan.

Semua hadirin memang gemetar dengan muka pucat terpengaruh oleh gelombang tawa yang hebat ini, hanya Biau-jiu Siansing saja yang kelihatan masih tenang-tenang seperti tidak terpengaruh sama sekali. Serta merta Ji Bun kerahkan kekuatannya menurut ajaran Thian-thay-mo-ki untuk menolak pengaruh Thian- cin-ci-sut ini, betul juga napas yang tadinya memburu dan darah yang mendidih seketika tertekan kembali.

Hanya dalam waktu sekejap saja, para anak buah Cip-po-hwe yang berkepandaian dan Lwekangnya rendah, satu persatu meringis kesakitan sambil mendekap kuping serta menungging. Untunglah gelombang tawa itu cepat sekali sirap, tahu-tahu dua orang sudah muncul dihadapan orang banyak, kedua orang aneh ini adalah Bu- cing-so dan Siang-thian-ong.

Membara dendam dan sakit hati Ji Bun, namun lahirnya dia tetap tenang, ia insaf bahwa dirinya bukan tandingan kedua bangkotan aneh ini.

Dalam pada itu, Siang-thian-ong dan Bu-cing-so langsung meluruk ke arah Biau-jiu Siansing serta berdiri dikanan-kirinya, agaknya kedua bangkotan tua inipun sengaja datang hendak merebut Sek-hud di tangan Biau-jiu Siansing itu. 5.14. Sam-Cay-Ciat Penyelamat

Lekas Cip-po hwe-cu memberi tanda, bersama anak buahnya, beramai mereka mengundurkan diri turun gunung tanpa bersuara lagi. Liok Kin tetap menggandeng tangan Pui Ci-hwi, di tengah iringan anak buahnya, merekapun ikut mengundurkan diri.

"Orang she Liok," seru Ji Bun, "jangan harap kau bisa pergi begini mudah."

Segera ia menubruk maju pula, Li-tongcu dan seorang Tongcu yang lain segera mengadang sambil melontarkan pukulan telapak tangan, kali ini Ji Bun sudah waspada, sembari berkelit dari damparan pukulan lawan, ia berkisar terus balas memukul.

"Plak, plok," disusul jeritan ngeri, seketika kedua orang ini terjungkir balik dan tak bergerak lagi, jiwanya melayang.

Cip-po hwe-cu menggerung gusar menubruk ke arah Ji Bun, kedua telapak tangannya menghantam dengan seluruh kekuatannya. Sebagai seorang ketua dari suatu perkumpulan, sudah tentu Lweekangnya bukan olah-olah hebatnya. Serangan yang dilandasi kemarahan ini, boleh dikata sedahsyat gugur gunung.

Betapapun lihay Ji Bun, tak urung dia terpental juga oleh gempuran sengit ini, dengan sempoyongan akhirnya punggungnya menumbuk cagak batu darah seakan-akan bergolak di rongga dadanya. Sementara itu, Liok Kin sudah menarik Pui Ci-hwi berlari lebih dulu diiringi anak buahnya.

"Minggir!" tiba-tiba Thian-thay-mo-ki membentak, sebelah tanganpun bekerja menghamburkan segenggam So-li-sin-ciam (jarum sakti gadis suci), maka terdengar jerit dan keluh orang banyak saling susul, puluhan anak buah Cip-po-hwe terguling menjadi korban, sebat sekali tahu-tahu Thian thay-mo-ki sudah mencegat di hadapan Liok Kin.

"Orang she Liok, lepaskan dia!" "Tidak bisa!"

"Pihak Wi-to-hwe pasti akan mengobrak-abrik sarangmu."

Sambil memicingkan kedua matanya, Liok Kin mengawasi Thian- thay-mo-ki dengan penuh gairah, Thian-thay-mo-ki segera unjuk senyum genit se¬mekar kembang dimusim semi, katanya dengan kemayu: "Siau-hwecu, agaknya kaupun amat romantis."

Liok Kin tertawa lebar, katanya: "Nona secantik bidadari, siapa yang takkan terpesona?"

Semakin manis tawa Thian-thay-mo-ki, begitu menggiurkan dengan gerak-gerik yang menarik lagi, katanya sambil melangkah maju: "Siau-hwecu, agaknya kaupun pintar menilai dan memilih."

Tegak alis Liok Kin, katanya: "Sudah tentu, memangnya kau kira aku ini seperti anak keparat sedingin batu itu." "Bagus sekali," ujar Thian-thay-mo-ki, tiba-tiba ia bergerak secepat kilat mencengkeram pergelangan tangan Liok Kin.

Lekas Liok Kin miringkan tubuh seraya menarik Pui Ci-hwi untuk menghadang di depannya, jengeknya dingin: "Thian-thay-mo-ki, jangan kau kira aku ini sebodoh kerbau."

Gerakan Thian-thay-mo-ki begitu cepat, baru saja Liok Kin buka mulut, jari-jari tangannya sudah menyentuh pundak Pui Ci-hwi. "Blang" tahu-tahu sekenanya Pui Ci-hwi menamparkan tangannya.

Kontan Thian-thay-mo-ki digamparnya mundur tiga langkah.

Bahwa dalam keadaan linglung Pui Ci-hwi bisa menyerang, sungguh di luar dugaan Thian-thay-mo-ki, sunguh heran dan gemas pula hatinya.

Disebelah sana Ji Bun tengah melabrak Cip-po hwe-cu dengan sengit, Cip-po hwe-cu tahu bahwa serangan Ji Bun hanya bisa dilancarkan dalam jarak dekat, maka dia tetap mempertahankan jarak tertentu dengan serangan Bik-khong-ciang (pukulan dari jauh), dalam waktu dekat keduanya masih sama kuat alias setanding.

Sementara Bu-cing-so dan Siang-thian-ong tanpa berkedip mengawasi Biau-jiu Siansing, maling sakti yang menjagoi seluruh dunia dengan gerak geriknya yang luar biasa. Selama itu kedua pihak masih sama bertahan dalam kewaspadaan tanpa bicara, namun dalam hati masing-masing cukup mengetahui bila menilai kepandaian silat dan Lwekang, kedua bangkotan tua ini cukup berkelebihan untuk membunuh Biau-jiu Siansing. Bahwa kedua jago kosen ini masih mengulur waktu, karena mereka tidak berani gegabah. Sekali meleset perhitungan orang pasti dapat melarikan diri, atau mungkin ada soal-soal lain yang dikuatirkan pula.

"Orang she Liok," teriak Thian-thay-mo-ki, "mampuslah kau!"

Sekonyong-konyong, seorang nenek tua ubanan berpakaian warna-warni muncul segesit setan melayang. Begitu aneh dan mendadak munculnya nenek ubanan ini, sehingga tiada orang yang menyadari kehadirannya, seakan-akan sejak tadi memang dia sudah berada di situ.

Tanpa terasa Thian-thay-mo-ki melenggong. Begitu sorot matanya bentrok dengan pandangan orang, seketika dia bergetar seperti kena aliran listrik, serta merta dia menyurut mundur. Tatapan mata nenek tua ini seakan-akan memiliki daya magnit yang menyedot sukma sehingga orang yang dipandang merasa dirinya, terlalu kecil, terpencil dan patah semangat.

Sorot mata nenek tua itu menyapu ke arah Liok Kin, bibirnya yang kering tiba-tiba bergerak, katanya dingin: "Anak kelinci, lekas lepaskan dia!"

Liok Kin patuh, cepat ia lepaskan pegangannya, seakan-akan sorot mata dan perkataan nenek tua ini mempunyai kekuatan yang tak mampu dilawannya, lekas dia mundur ke belakang. Berkata pula nenek berpakaian warna-warni ini: "Nenek tua hari ini tidak ingin membunuhmu, jiwa anjingmu sementara biar kutinggalkan!"

Habis berkata dia tarik dan kempit Pui Ci-hwi terus berkelebat menghilang entah ke mana.

Thian-thay-mo-ki masih terlongong, mulutnya menggumam: "Diakah? Ya, pasti dia! Tak nyana dia juga menjadi anggota Wi-to- hwe ”

Lamunan Thian-thay-mo-ki buyar dikejutkan suara seseorang yang mengerang menahan sakit, waktu ia berpaling, dilihatnya Ji Bun terhuyung-huyung sambil muntah darah, keruan serasa remuk hatinya. Tersipu-sipu dia melompat ke sana sambil bertanya dengan penuh perhatian: "Bagaimana keadaanmu, Dik?"

Ji Bun mengertak gigi, dengan tangannya dia menyeka darah yang meleleh di mulutnya, sahutnya kemudian: "Ah, tidak apa-apa."

Dalam waktu sekejap, Cip-po hwe-cu dan anak buahnya sudah lari turun gunung secepat terbang, puluhan mayat anak buahnya ditinggalkan begitu saja.

Ji Bun mendesis penuh dendam: "Sakit hati ini pasti kubalas. Cici, mana Pui Ci-hwi?"

Berubah air muka Thian-thay-mo-ki, hatinya kecut dan mendelu, namun sikapnya tetap halus dan ramah: "Sudah dibawa pergi orang mereka sendiri.” Terpukul batin Ji Bun, ia sendiri tak mengerti kenapa dirinya masih perihatin terhadap keselamatan si nona? Bukankah dia sehaluan dengan musuh?

Pikiran bekerja matapun melirik ke arah sana, dilihatnya Bu-cing- so dan Siang-thian-ong masih mengawasi Biau-jiu Siansing saja.

Sedikitpun tak pernah kendur perhatian mereka.

Sorot mata Biau-jiu Siansing lambat laun mengunjuk perasaan gelisah. Maklumlah ditatap, diawasi dan dijaga oleh dua bangkotan silat yang lihay ini. Betapapun aneh dan lihay gerak geriknya, juga tak berani sembarang bergerak. Sekali salah langkah dan tak berhasil meloloskan diri, nama besar dan ketenarannya bakal runtuh total.

Beberapa kejap pula, tiba-tiba Siang-thian-ong buka suara: "Sahabat, tinggalkan Sek-hud, kau boleh pergi sesuka hatimu."

Biau-jiu Siansing ngakak, katanya: "Kalau aku yang rendah ini turun gunung dengan bertangan kosong, apakah tidak malu terhadap nenek moyang, sendiri?"

"Memangnya kau mampu membawanya pergi?" "Mungkin saja."

"Boleh, silakan coba," jengek Bu-cing-so. "Lohu tak sabar menunggu lagi." "Kenapa kalian tidak turun tangan saja?" tantang Biau-jiu Siansing malah.

Bergeming badan Siang-thian-ong yang bulat tambun bagai bola itu, katanya:" Sahabat, hati kita masing-masing sama tahu bukan?"

Dengam bingung sekilas Ji Bun melirik Thian-thay-mo-ki, maksudnya ingin tanya apa sebetulnya yang sedang dilakukan ketiga orang ini, kenapa selama ini mereka bertahan dan mempersoalkan siapa lebih dulu yang harus turun tangan.

Thian-thay-mo-ki tahu maksudnya, ia geleng-geleng bahwa dirinyapun tidak tahu.

Biau-jiu Siansing angkat Sek-hud di tangannya itu, katanya menyeringai: "Apa kalian tidak memberi keringanan kepadaku?"

"Kecuali kau tinggalkan Sek-hud itu!"

"Baiklah kutegaskan sekali lagi, barang yang sudah berada di tanganku tak mungkin kulepaskan pula."

"Jadi perlu bertahan secara berlarut-larut begini?"

"Kalau kalian punya hobby demikian, biarlah aku iringi saja." "Jika Lohu melancarkan Thian-cin-ci-sut sekuat tenaga,

sementara saudara Siang-thian-ong menyerang dengan Siang-thian- sin-ciang, kau tahu apa akibatnya bagi dirimu?" "Cayhe yakin pasti dapat gugur bersama dengan salah satu di antara kalian."

"Umpama benar begitu, lalu apa yang dapat kau peroleh?" "Memangnya apa pula yang bisa kalian dapatkan?"

Ji Bun benar-benar bingung dan tak mengerti akan percakapan mereka. Mungkinkah Biau-jiu Siansing memiliki ilmu mematikan yang masih disimpannya. Begitu hebatkah ilmunya itu sampai dia tidak gentar menghadapi kedua lawan tangguh ini?

Firasat lain membuat Ji Bun semakin bingung dan tak habis mengerti pula. Barusan dia terpukul luka parah sampai muntah darah oleh Bik-khong-chiang Cip-po hwe-cu. Namun sekarang dia rasakan dadanya longgar, darah mengalir seperti biasa tiada tanda- tanda terluka.

Belum lagi dia minum obat, juga tidak mengerahkan tenaga murni untuk berobat, namun luka-luka dalamnya sembuh sendirinya, apa pula yang terjadi atas dirinya? Sudah tentu dia tidak bisa mengemukakan perasaannya ini, hanya dalam hati saja ia bertanya- tanya.

"Maling cilik," kata Siang-thian-ong kuatir, apa kau ingin gugur bersama Sek-hud?"

Sahut Biau-jiu Siansing tanpa pikir: "Betul, namun satu diantara kalian atau keduanya juga pasti ikut menjadi korban." "Memang aku sudah bosan hidup, tak jadi soal jika aku iringi kematianmu,” ujar Siang-thian-ong.

"Ha ha ha ha, setimpal, aku yang rendah ini mendapat iringan seorang gembong silat masuk liang kubur, matipun takkan menyesal."

"Nah, siaplah, Lohu akan turun tangan!"

Pada saat itulah tiba-tiba sebuah suara serak dengan nada yang kuat berkata: "Orang mati meninggalkan nama, kalau maling tua harus mampus secara demikian, memang tenteramlah arwahmu di alam baka!"

Suara lenyap orangnyapun muncul, kiranya seorang laki-laki berpakaian pelajar warna biru sepasang matanya memancar terang, namun roman mukanya rada pucat sehingga berlawanan dengan sorot matanya, tangannya memegang kipas yang besar, di punggungnya menggemblok sebuah kantong atau tas pelajar.

Biau-jiu Siansing melirik kepada pendatang ini, katanya: “Saudara ini orang kosen dari mana?"

Pelajar pertengahan umur itu membentang kipasnya serta melingkupkan pula, katanya: "Cayhe adalah Jit-sing-ko-jin (orang lama dari Jit-sing)."

"Apa? Jit-sing-ko-jin?" seru Biau-jiu Siansing. "Belum pernah kudengar."

"Maling tua, kau bisa mencuri segala benda di dunia ini, namun belum tentu mengenal semua tokoh-tokoh tenar di jagat ini."

"Ehm, ya, memang betul."

Mendengar pelajar ini menyebut dirinya sebagai “orang lama dari Jit-sing", bergetar badan Ji Bun. la dilahirkan di Jit-sing-po, sedang ayahnya adalah Jit-sing po-cu. Bahwa orang ini mengatakan dirinya juga orang dari Jit-sing, memangnya dia ada hubungan dan sangkut paut dengan Jit-sing-po? Dengan cepat dan cermat otaknya bekerja, membayangkan kembali bayangan orang ini, apakah pernah dilihat atau dikenalnya, namun tiada membawa hasil.

Yang terbayang justeru tragedi yang mengerikan dengan pembantaian besar-besaran dari seluruh penghuni Jit-sing-po itu, betapa dendam hatinya. Kini ibunyapun belum diketahui parasnya, hati terasa pilu dan sedih. Musuh besar dihadapan, namun ia tidak mampu berbuat apa-apa, sampai asal usul diri sendiri juga harus dirahasiakan.

Betapa derita siksa batin ini sungguh tak terlukiskan dengan kata. Ini hanya perubahan pikiran batinnya, sudah tentu Thian-thay-mo-ki tidak tahu akan hal ini, karena dia tidak tahu riwayat hidup Ji Bun.

Sorot mata Jit-sing-ko-jin yang tajam itu sekilas melirik juga ke arah Ji Bun. Begitu saling ber¬adu mata, serta merta bergetar perasaan Ji Bun, didapatinya sinar mata yang berkilat ini sayup- sayup mengandung nafsu membunuh yang membara. Tatapan orang sudah beralih, namun jantung Ji Bun masih berdebur keras, diam-diam ia bertanya, dalam hati kenapa pelajar pertengahan umur ini menatap dirinya sedemikian rupa?

"Dik, kau tahu asal usul orang ini?" Thian-thay-mo-ki berbisik di sampingnya.

"Entah, aku tidak kenal."

"Orang ini kelihatannya bukan orang baik-baik." "Kurasa memang demikian."

Jit-sing ko-jin tertawa lebar, katanya:"Siapapun berhak mendapat bagian di dalam memperoleh benda-benda mestika, agaknya kedatanganku ini tidak akan sia-sia."

Tanpa berjanji Siang-thian-ong dan Bu-cing-so melirik ke arah Jit- sing-ko-jin, sorot matanya merasa sebal, jijik dan menghina.

"Jit-sing-ko-jin," kata Biau-jiu Siansing. "pertaruhan apa yang kau siapkan?"

"Pertaruhan?"

"Ya, memangnya ada orang bisa memperoleh sesuatu tanpa mengeluarkan pengorbanan?"

"Bagaimana pendapat tuan, apa yang harus kupertahankan?" "Lebih baik mengundurkan diri saja." "Kalau tidak?"

"Tuan akan menyesal setelah kasip."

"Selamanya aku tak pernah mengenal arti menyesal." "Hari ini kau akan meresapinya."

"Maling tua, bicara terus terang, keadaanmu sekarang seumpama naik di punggung harimau. Ingin memiliki Sek-hud, juga ingin mempertahankan jiwa, betul tidak?"

"Kata-kata saudara setajam jarum menusuk ulu hatiku." "Maka kunasehati kamu untuk menyerahkan barang itu saja." "Ucapan saudara tidak enak didengar."

"Jadi kau ingin gugur bersama Sek-hud?"

"Kalau ada orang lain ingin mengiringi kematianku, Lohu tidak akan menolak."

Pandangan Jit-sing-ko-jin beralih ke arah Bu-cing-so, katanya dingin: "Cianpwe adalah tokoh yang berbudi luhur dan terpandang, hitam dan putih jarang ikut campur, apakah kau juga kepingin memiliki Sek-hud?" "Disini tiada hakmu ikut bicara," sela Bu-cing-so sambil mengulap tangan. "Lebih baik kau lekas pergi saja."

Jit-sing-ko-jin mendengus dingin, katanya: “Cianpwe kalau bicara harap sopan sedikit. Selamanya aku tak sudi diancam atau diusir.

Manusia boleh dibunuh pantang dihina."

"Jangan kau jual tampang dihadapanku, dalam kalangan Bulim mengutamakan tingkatan dan menunjung tinggi peradaban, kau ini kurangajar terhadap orang yang lebih tua."

"Tahu diri untuk dihormati yang lebih muda, Cianpwe sendiri kemaruk akan Sek-hud, jelas sudah kehilangan harga dirimu."

"Berani kau memperingatkan aku orang tua? siapa gurumu?" "Kukira tak perlu kukatakan."

"Kau memang perlu dihajar adat." "Aku tidak akan menyingkir."

Saking marah seolah-olah berdiri rambut Bu-cing-so. Telapak tangannya segera mendorong ke arah Jit-sing-ko-jin. Segulung angin bagai gelombang segera mendampar ke arah Jit-sing-ko-jin, begitu lihay pukulan ini, sayup-sayup seperti terdengar bunyi gemuruh. 

Jit-sing-ko-jin segera memapak dengan pukulan. “Pyaaar!" ditengah ledakan yang dahsyat, hawa panas menjadi bergolak. Kekuatan yang saling ber¬hantam laksana guntur menggetar bumi, kontan Jit-sing-ko-jin tergentak mundur dua langkah.

Ji Bun dan Thian-thay-mo-ki sama-sama tersirap kaget, bahwa Jit-sing-ko-jin mampu mengadu kekuatan pukulan dengan Bu-cing-

so tanpa terluka sedikitpun. Betapa tinggi Lwekangnya rasanya sukar dicari jago-jago kosen setinggi ini di dalam Bulim.

Bu-cing-so terkekeh, katanya: "Tak nyana kau punya kepandaian juga, tak heran kau bersikap garang dan tidak tahu aturan. Nah, sambut lagi pukulan ini," kembali ia kerjakan tangannya, damparan angin pukulan bagai gugur gunung laksana sambaran halilintar menggulung ke arah Jit-sing-ko-jin. Kekuatan pukulan kedua ini terang jauh lebih hebat dan mengejutkan daripada pukulan pertama.

Bayangan biru berkelebat, tahu-tahu Jit-sing-ko-jin berkisar dan menyingkir ke samping, gerakannya aneh seperti setan, betapa gesit dan cepat gerak tubuhnya, sungguh mengejutkan.

Dalam waktu yang sama, terdengar Siang-thian-ong membentak: "Lari ke mana!"

Waktu Ji Bun berpaling, bayangan Biau-jiu Siansing sudah tidak kelihatan lagi. Betapa cepat gerakan si maling tua ini, sungguh tiada bandingan di dunia ini.

Demikian pula Siang-thian-ong juga lenyap dalam sekejap itu, Bu-ciang-so meninggalkan Jit-sing-ko-jin dan ikut mengejar ke bawah gunung. Kini tinggat Jit-sing-ko-jin, Ji Bun dan Thian-thay- mo-ki bertiga dengan puluhan mayat anak buah Cip-po-hwe. Hati Ji Bun mendelu dan masgul, sebetulnya ia hendak tanya tentang anting-anting batu pualam yang direbut orang itu kepada Biau-jiu Siansing. Namun orang yang dicarinya sekarang sudah pergi, untuk menemukan pula tentu amat sulit karena maling tua ini pandai menyamar dan merubah diri, ginkangnya tinggi Lwekangnya hebat, umpama betul-betul bersua juga belum tentu dirinya bisa mengenalinya.

Apalagi siapa dia dan bagaimana asal usulnya, mungkin tiada seorangpun dalam bulim ini yang tahu. Untuk mengejarnya, jelas tidak mungkin.

"Dik," kata Thian-thay-mo-ki lesu, "marilah pergi." "Nanti dulu," tiba-tiba Jit-sing-ko-jin bersuara hambar.

Tergerak hati Ji Bun, katanya dengan suara lebih dingin: "Tuan ada petunjuk apa?"

Beberapa kali sorot mata setajam kilat dari Jit-sing-ko-jin menatap Ji Bun, katanya sekata demi sekata: "Kau inikah Te-gak Suseng? Kabarnya orang yang kau bunuh tidak meninggalkan bekas- bekas luka?"

"Apa maksud tuan?" "Aku ingin mencobanya."

"Tuan mempertaruhkan jiwa sendiri?" "Anggaplah begitu."

"Aku tidak ingin membunuh orang tanpa alasan." "Anak muda, jangan takabur dan mengagulkan diri."

Selama beberapa hari ini, memangnya Ji Bun selalu uring- uringan, rasa dendam dan kebenciannya tidak terlampias, karena tantangan Jit-sing-ko-jin ini seketika terbakar amarahnya, katanya mendesis: "Tuan agaknya sengaja mencari perkara?"

Acuh dan dengan nada menghina Jit-sing-ko-jin berkata: "Mencari perkara? Hm, kau belum setimpal, aku hanya ketarik dan ingin menjajal saja, biar kuuji sampai di mana kemampuanmu."

Watak nyentrik Ji Bun yang terpendam dan ditekan selama ini tak tertaharkan lagi, katanya mendelik: "Sekali lagi kunyatakan, jangan tuan main-main dengan jiwamu.”

"Ha ha ha, si tua Bu-cing-so bangkotan itu toh tak mampu berbuat apa-apa terhadapku, kau ini terhitung apa?"

"Jadi kau ini betul-betul ingin mampus?" "Hayolah coba!"

Tak tahan lagi, Ji Bun melejit maju, secepat kilat ia menerjang lawan sambil melancarkan ilmu mujijat yang mematikan itu. Jit-sing- ko-jin memperdengarkan tawa dingin, tidak menyingkir tidak menangkis.

Ternyata ilmu mujijat yang dilancarkan Ji Bun kali ini kehilangan daya keampuhannya terhadap orang yang satu ini, keruan darahnya tersirap. Kembali ada seorang yang gentar dan kebal terhadap ilmunya yang ditakuti itu, seketika dia melenggang.

“Blang," dada Ji Bun malah kena di hantam hingga jungkir balik, dengan mengerang keras Ji Bun terpental menumbuk batu besar belakang sana. Badannya membal pula, terus terguling-guling, darah mengucur dari hidung dan menyembur dari mulut.

Thian-thay-mo-ki memekik kuatir, kedua tangannya segera merogoh saku. Namun Jit-sing-ko-jin bergerak lebih cepat, sambil menyeringai tahu-tahu ia sudah pegang dan tutuk Hiat-to Thian- thay-mo-ki dengan lemas Thian-thay-mo-ki roboh terkulai. Sekali lompat Jit-sing-ko-jin menghampiri Ji Bun serta mencengkeram dadanya terus dibawa lari ke jurang di belakang sana. Dari jauh ia ayun tangan terus dilemparkan Ji Bun sekuatnya.

Hiat-to Thian-thay-mo-ki tertutuk, badan lunglai tak mampu bergerak, tapi ia melihat Ji Bun dilempar ke jurang. Matanya seketika mendelik, hatinya remuk rendam, dendam dan gusar seketika merangsang perasaannya. "Huuuuab!” sekumur darah tersembur dari mulutnya.

Jit-sing-ko-jin lompat kembali ke tempatnya, dengan nanar dan penuh nafsu ia pandang tubuh Thian-thay-mo-ki, sekejap ia berdiam diri, sorot matanya semakin liar diliputi nafsu binatang. Dari sorot mata orang, Thian-thay-mo-ki sudah merasakan firasat jelek, jalan pikiran orang sudah dapat dirabanya, namun ia tak mampu melawan, tahu-tahu pandangan menjadi gelap, hampir saja ia jatuh semaput, badan tak mampu bergeming, namun mulutnya masih bisa bersuara, teriaknya dengan suara memekik: "Kau .........

apa yang kau inginkan?"

Mulut Jit-sing-ko-jin terpentang lebar sambil ngakak kegirangan, namun dalam pendengaran Thian-thay-mo-ki, gelak tawa orang laksana setan iblis yang penuh nafsu, amat menakutkan sekali.

"Bret," baju di depan dadanya tiba-tiba dirobek, dada seketika terasa dingin, "bukit" halus nan licin montok seketika terpampang di depan mata.

"Ha ha ha! He he he!" Jit-sing-ko-jin bergelak-tawa sepuasnya, "hidangan senikmat ini, kenapa disia-sia kan, tak percuma perjalananku ini."

Seolah-olah manusia yang dibeset kulitnya hidup-hidup, demikian perasaan Thian-thay-mo-ki saat itu, sukma serasa terbang ke

awang-awang. Jari-jari iblis mulai merogoh celananya. Seumpama kematian yang paling sadis, juga tidak lebih menakutkan dari kenyataan yang sedang dihadapi Thian-thay-mo-ki ini.

Lidahnya serasa kaku tak mampu bersuara pula, mukanya pucat pias, bibirnya bergetar menahan isak tangis, jantung terasa hampir meledak. Sepasang matanya yang biasa suka melerok genit menawan sukma laki-laki, kini mendelik sebesar kelereng seakan- akan melotot keluar.

Pada saat-saat kritis itulah, tiba-tiba Jit-sing-ko-jin menarik tangan seraya mundur, dengan tertegun dia awasi sebuah cincin tiga lubang yang terikat di pinggang Thian-thay-mo-ki, terdengar mulutnya menggumam: "Sam-cay-ciat. Dia ini muridnya ”

Sorot matanya berubah dan berubah lagi, agaknya dia berat meninggalkan daging gemuk yang nikmat dan dapat dilalapnya dengan mudah ini, namun dia kuatir dan jeri ........

Thian-thay-mo-ki kerahkan seluruh kekuatannya dengan kepandaian khas perguruannya untuk menjebol Hiat-to yang tertutuk. Walau usahanya ini mungkin gagal dan sia-sia, namun bagi seseorang yang sudah kepepet di jalan buntu, setitik harapanpun takkan dilepaskan begitu saja. Begitu merasakan perubahan sikap dan rona muka orang, segera dia berkata: "Jangan kau memburu nafsu binatang saja, kelak kau akan mendapat pembalasan setimpal."

Jit-sing-ko-jin tenggelam dalam pemikiran, tanpa berkata pula, tiba-tiba dia tutul kakinya terus melayang pergi.