Hati Budha Tangan Berbisa Jilid 03

 
Jilid 03

“Te-gak Suseng, berani kau membunuh orangku di sini?" Ji Bun mendengus, jengeknya,

"Kenapa tidak berani. Kau sendiri perlu kuperingatkan, jangan kau main peras terhadap Ciang Wi-bin.”

"Kematianmu sudah depan mata, masih berani kau membual,“ seru Ki-po-hwe-cu dengan suara parau. "Ketahuilah, tempat ini tak ubahnya seperti neraka ” "Hah!"secepat kilat tahu-tahu Ji Bun menubruk ke sana, pergelangan tangan pemuda baju putih ternyata sudah dicengkeramnya.

"Lepaskan!" hardik Ki-po-hwe-cu.

"Masakah begini gampang," Ji Bun menyeringai sinis. "Kau apa yang hendak kaulakukan terhadapnya?"

"Tiada apa-apa? Biar dia mengantarku bersama nona Ciang ini keluar meninggalkan tempat ini, kalau tidak, nyawanya akan lenyap seketika."

Sekilas mata pemuda baju putih melirik ke arah kedua anak buahnya yang terkapar binasa di lantai, seketika sukmanya seperti melayang, mukanya menjadi pucat.

Namun Ki-po-hwe-cu tidak kalah akal, tiba-tiba iapun berkelebat, sekali raih, tahu-tahu Ciang Bing-cu sudah dijinjingnya, katanya,

"Te-gak Suseng, kalau kau tak ingin dia mampus, lekas lepaskan puteraku."

Ji Bun tak menduga orang begitu licik dan licin, sesaat dia melenggong, namun cepat sekali pikirannya bekerja, dengan sikap tenang dan tak acuh dia berkata,

"Kalau Hwe-cu merasa setimpal, marilah kita barter saja." "Barter!" Ki-po-hwe-cu menegas.

"Puteramu cukup setimpal dengan puteri tunggal keluarga Ciang, bukan?"

“Lalu bagaimana?"

"Kita adakan tukar menukar tawanan."

"Te-gak Suseng, jiwamu sendiri, bagaimana?” "Cayhe tidak pikirkan mati hidup lagi,” jawab Ji Bun.

"Kalau jiwamu harus dikorbankan, apakah pihakmu tidak rugi?"

"Soal rugi tidak kupikirkan, yang penting puteramu ini takkan bernyawa juga."

Cukup lama Ki-po-hwe-cu termangu, akhirnya berkata dengan menggertak gigi,

"Anggaplah kau yang menang, selama gunung tetap menghijau dan air terus mengalir, akan datang suatu ketika akan kutuntut perhitungan ini."

Ji Bun terkekeh dingin, sahutnya, "Akan selalu kunantikan!"

"Lepaskan dia, kau boleh pergi membawa dia." "Pertanggungan jawab apa yang kuperoleh dari kau?"

"Hm, Te-gak Suseng, memangnya kau kira aku bakal ingkar janji?"

"Baiklah!" segera Ji Bun lepaskan pemuda baju putih, sebat sekali pemuda berbaju putih melompat jauh ke depan lalu mundur ke belakang meja, teriaknya beringas,

"Te-gak Suseng, mampuslah kau di sini.”

"Jangan gegabah," bentak Ki-po-hwe-cu, "biarkan mereka keluar."

Dengan penasaran pemuda baju putih mendelik kepada Ji Bun tanpa bicara lagi. Maka Ki-po-hwe-cu juga segera membebaskan Ciang Bing-cu, serta mendorongnya kearah Ji Bun, katanya,

"Te-gak Suseng, jangan lupa, dalam perhitungan ini kau utang dua jiwa kepadaku.”

"Kalau aku lupa, kelak Hwe-cu boleh memberi ingat kepadaku." "Antar mereka keluar!" Ki-po-hwe-cu memberi perintah kepada

pemuda berbaju putih. Dengan sikap penasaran pemuda berbaju putih menekan sebuah tombol untuk membuka pintu besi. Ji Bun segera menggandeng tangan Ciang Bing-cu, namun cepat sekali dia tarik kembali tangannya katanya: "Nona Ciang, marilah kita keluar." Memangnya Ciang Bing-cu tidak kuasa pada dirinya sendiri, tanpa ragu-ragu segera dia mengintil di belakang Ji Bun. Setiba di luar lorong, Si It-ho, laki-laki kurus berbaju bitam itu sudah menunggu di luar pintu, segera dia angkat tangan sambil berkata,

"Marilah ikut aku!"

Mereka berputar kian kemari beberapa kejap lamanya, tak lama kemudian terdengarlah suara gemericik air mengalir, tahu-tahu sebuah sungai di bawah tanah menghadang di pengkolan sana, arus air sangat deras, sebuah sampan tertambat di piriggir sana.

Menunjuk sampan itu Si It-ho berkata, "Silakan naik sampan ini."

Mengawasi sungai yang berarus deras ini, berkerut alis Ji Bun, katanya,

"Ke mana sungai ini mengalir?”

"Menuju ke dunia bebas," jawab Si It-ho.

Menebal hawa hitam di tengah alis Ji Bun. Matanya memancarkan cahaya terang, katanya sekata demi sekata,

"Orang she Si, untuk membunuhmu semudah membalik telapak tanganku."

Si lt-ho menyurut mundur, katanya memberanikan diri, "Te-gak Suseng, kalau Hwe-cu kita tak niat membebaskan kau meski kepandaianmu setinggi langit juga jangan harap bisa keluar dari dalam bumi yang serba rahasia ini."

Sudah tentu Ji Bun tahu banyak perangkap dan alat-alat rahasia terpendam di bawah istana ini. Demi keselamatan Ciang Bing-cu, terpaksa dia harus bersabar. Ka!au menurut wataknya, sejak tadi dia sudah renggut jiwa orang. Keadaan memaksa dia bertindak cepat dan tidak bersangsi lagi, sekali tarik dia peluk pinggang Ciang Bing- cu terus melompat ke atas sampan.

Si lt-ho melepaskan tambatan tali, maka meluncurlah sampan itu mengikuti arus.

Sungai di bawah tanah ini agaknya memang dibangun demi kebutuhan setempat yang liku-liku dan memusingkan kepala, kadang-kadang sempit tahu-tahu lebar, kecuali suara percikan air, suasana hening dan gelap gulita, lima jari sendiripun tidak kelihatan, untungnya sampan ini dituntun seutas tali yang terikat pada kawat panjang di sebelah atas mengikuti liku-liku sungai, sehingga lajunya tenang dan tidak sampai terbalik.

Ji Bun duduk berhadapan dekat sekali dengan si nona sampai bersentuh lutut, bau harum anak perawan yang memabukkan merangsang hidungnya membuat perasaan tergoncang dan hati dak- dik-duk. Kalau dua hari yang lalu dia tidak mengubah haluan, kemungkinan perempuan cantik di depannya ini sudah menjadi isterinya. Sekarang mereka bersua dan mengalami kesulitan bersama, demi keadilan dan kebenaran, maka dia menolongnya. Jikalau Ciang Bing-cu dalam keadaan sadar dan segar bugar, mungkin keadaan sekarang akan berubah, sayang ia terpengaruh obat bius, yang menghilangkan daya pikirnya, tak ubahnya seperti orang linglung. Sudah tentu hal ini juga menguntungkan dan mengurangi banyak kesulitan bagi Ji Bun.

Entah berapa panjang sungai dibawah tanah ini, entah menembus ke mana pula, kira-kira dua jam mereka dibuai arus sungai dalam keadaan gelap gulita, lambat laun di depan sana tampak secercah cahaya.

"Byarr," tahu-tahu sampan ini menerobos keluar dari lubang sempit dan tibalah mereka di alam bebas. Sinar matahari membuat Ji Bun silau tak kuasa membuka mata, sebentar dia pejamkan mata, lalu pelan-pelan membukanya lagi, ternyata sampan mereka sudah berada di pinggir sebuah sungai besar, lorong sungai kecil di bawah tanah berada tak jauh di belakang sana, kalau tidak mengalami sendiri, siapa akan tahu dan mau percaya kalau lorong sungai itu merupakan jalan rahasia dari sebuah sindikat gelap.

Ji Bun gandeng tangan Ciang Bing-cu dan melompat ke daratan. Sampan itu tahu-tahu meluncur balik dan laju melawan arus masuk kembali ke dalam lorong itu.

Dengan hambar Bing-cu mengawasi Ji Bun, selama ini dia tetap bungkam. Ji Bun menariknya ke bawah sebuah pohon, lalu mengeluarkan sebutir pil, katanya,

"Silakan nona menelannya." Dengan kaku Ciang Bing-cu menerima obat itu serta bertanya, "Apakah ini?"

"Obat penawar.” "Obat penawar?"

"Ya, nona dibius oleh orang-orang Ki-po-hwe. Pil ini adalah penawarnya, silakan telan saja."

Seperti menyadari sesuatu Ciang Bing-cu manggut-manggut terus masukkan pil itu ke dalam mulut dan menelannya, dengan tenang Ji Bun menunggu reaksinya dari samping. Tak lama kemudian, tampak perubahan mulai terunjuk pada muka Ciang Bing-cu, matanya pudar dan hambar mulai hilang. sinar matanya bening cemerlang laksana kilauan kaca mengawasi Ji Bun. Semula marasa takut-takut dan curiga, akhirnya dia menunduk, tenggelam dalam renungan.

Tahu kasiat obat penawarnya sudah bekerja, segera Ji Bun membuka suara lebih dulu,

"Nona Ciang, kau masih ingat kejadian yang kau alami?" Sejenak Ciang Bing-cu mengerut alis dan mengenang kembali,

katanya kemudian,

"Lapat-lapat masih kuingat, apakah Kongcu yang menolongku?" "Secara kabetulan saja kupergoki kejadian ini.”

"Terima kasih atas budi pertolongan Kongcu," ujar Ciang Bing-cu sambil memberi hormat.

Tersipu-sipu Ji Bun balas memberi hormat, katanya,

"Nona tak perlu banyak peradatan, urusan sekecil ini tak usah dipikir dalam hati, kan hanya secara kebetulan saja."

"Kongcu terlalu merendah hati, boleh tanya siapakah nama besar Kongcu?"

"Aku dijuluki Te-gak Suseng, gelar yang tak enak didengar." “0h, ya ya. Kuingat mereka memanggil Kongcu demikian." "Apakah nona masih merasa kurang sehat?”

“Tidak, sekarang sudah baik."

"Bagaimana nona bisa terjatuh di tangan orang-orang Ki-po- hwe?"

Timbul rasa gemas pada rona muka Ciang Bing-cu, katanya, "Hari Ceng-bing waktu aku berada di pusara ibunda, tiba-tiba

muncul dua laki-laki berbaju hitam, belum sempat kumenegor mereka, tahu-tahu hidungku dirangsang bau harum, aku terus tak sadarkan diri." "Perbuatan orang-orang Ki-po-hwe memang terlalu kotor, tujuan mereka hendak memeras ayahmu untuk menebus nona.

Kemungkinan surat ancaman dan tebusan mereka sudah disampaikan kepada ayahmu, lebih baik nona lekas pulang saja."

"Betapa jauhnya tempat ini dari Kayhong, mohon Kongcu suka mampir ke rumah, agar ayah ”

"Aku ada urusan penting," tukas Ji Bun, "lain kali saja aku berkunjung."

"Apakah Kongcu tidak sudi mampir?"

"Ah tidak, aku betul-betul punya urusan penting.”

Sekilas tatapan Ciang Bing-cu menyapu ke lengan kirinya yang buntung, katanya,

"Lengan Kongcu ”

"Cacat karena latihan ilmu silat," sahut Si Bun. "Silakan, nona boleh berangkat."

"Kongcu sendiri hendak ke mana?" "Menyeberang Huang-ho terus ke utara."

“Baiklah, aku ada sebuah tanda mata sebagai kenang-kenangan untuk menyatakan terima kasih pula. Harap Kongcu tidak menolak," sembari berkata dia tanggalkan sebuah anting-anting batu kemala serta berkata pula,

"Diseluruh wilayah utara dan selatan sungai besar, pada perusahaan dagang dan pegadaian apapun kau boleh unjukkan anting-anting ini untuk ambil uang."

Ji Bun mundur selangkah, katanya sambil goyang tangan, "Sangu yang kubawa cukup berlebihan, kebaikan nona cukup

kuterima saja di dalam hati."

"Bagaimana kalau dianggap saja sebagai kenang-kenangan?"

Ji Bun sudah memperhitungkan untung ruginya, betapapun dia tak kan mau menerima hadiah, namun didesak begini rupa, kalau tidak diterima terasa rikuh pula, ia jadi kehilangan akal.

Ciang Bing-cu sudah angsurkan anting-anting itu, ia jadi serba susah. Sebagai seorang gadis, memberi milik pribadinya kepada laki yang masih asing baginya, betapapun bisa menimbulkan prasangka yang tidak di inginkan.

Pada saat itulah, meluncur sesosok bayangan orang, kiranya Thian-thay-mo-ki yang muncul.

Ji Bun mengerut alis, belum sempat buka suara, Thian-thay-mo-ki sudah cekikikan, katanya,

"Dik, siapakah nona ini?” Matanya mengerling kepada Ciang Bing-cu dengan tatapan cemburu.

Anak perempuan umumnya tajam perasaan, dari sorot mata orang Ciang Bing-cu segera merasakan hal ini, lekas dia berkata,

"Kongcu nona ini ”

Tiba-tiba tergerak hati Ji Bun, timbul suatu akal dalam benaknya, maka dengan tersenyum dia berkata,

“Thian-thay-mo-ki yang terkenal di Kangouw.“ Lalu dia berpaling memperkenalkan,

"Nona ini adalah puteri tunggal hartawan besar keluarga Ciang dari Kayhong."

"Oh," Thian-thay-mo-ki bersuara sambil manggut-manggut. “Cici,” ujar Ji Bun, "aku memang hendak mencarimu."

Panggilan "cici" membuat Thian-thay-mo-ki senang setengah mati, sikap kasar dan kaku Ji Bun sebelumnya tak terpikir lagi olehnya, katanya dengan senyum lebar,

"Kau mencari aku? Ada perlu apa?” "Nanti kita bicarakan," jawab Ji Bun. Dengan nanar Ciang Bing-cu pandang Thian-thay-mo-ki sekejap, lalu mengangsurkan anting-anting itu kepada Ji Bun, katanya,

"Silahkan terima!"

Ji Bun mundur selangkah seraya berkata, "Cayhe tidak berani menerima."

Thian-thay-mo-ki yang tidak tahu persoalannya berubah air mukanya.

Ciang Bing-cu kukuh akan pendiriannya, katanya,

"Kongcu, sekali mengulur tangan, sulit menariknya kembali."

Otak Ji Bun bekerja cepat, begitu Ciang Bing-cu tiba di rumah serta menceritakan pengalamannya, Ciang Wi-bin pasti akan segera tahu akan dirinya. Anting-anting ini merupakan tanda kepercayaan yang berlaku untuk mengambil uang di mana saja dalam wilayah utara dan selatan sungai besar, nilainya tentu amat berarti. Ia tidak naksir orangnya, mana boleh menerima tanda mata ini. Namun ucapan Ciang Bing-cu betul-betul menyulitkan dirinya seolah-olah terbelenggu oleh keadaan.

Tapi terpikir pula agar orang tidak mendapat malu, terpaksa diterima ala kadarnya saja, nanti kalau pulang akan suruhan orang untuk mengembalikan saja, maka ia lantas ulur tangan menerima, katanya, "Begini besar hasrat nona, baiklah sementara ini kuterima saja."

Ciang Bing-cu tersenyum senang dan lega, lekas dia ucapkan, "selamat berjumpa pula " terus melompat jauh dan berlari dengan mengembangkan Ginkang, dari gerak-gerik dan gayanya, terang kepandaiannya tidak lemah.

Kecut dan getir perasaan Thian-thay-mo-ki, tanyanya, "Dik, kau terima tanda matanya?"

"Tanda mata? Bukankah kukatakan hanya ku terima untuk sementara, kelak akan kuusahakan untuk mengembalikannya."

"Huh, berita aneh dan lucu, laki perempuan memberi tanda mata, mana ada yang pernah dikembalikan ”

"Ini persoalan pribadiku."

Thian-thay-mo-ki mengertak gigi, katanya gemas, "Tadi kau bilang mencariku, ada perlu apa?"

"Tidak apa-apa, maksud tujuanku hendak mengurungkan kehendaknya saja."

"Apa, mengurungkan kehendaknya? Bukankah kau sudah terima tanda mata ” "Maaf, aku pamit lebih dulu!"

Seketika tegak alis Thian-thay-mo-ki, katanya geram, "Apa sih maksudmu ini?”

"Tiada maksud apa-apa."

"Te-gak Suseng, tidak terlalukah kau menghinaku " matanya

menjadi merah, tenggorokannya seperti tersumbat sehingga kata- katanya tersendat.

Ji Bun rada menyesal juga, ia tahu perbuatannya tadi memang ketertaluan, namun sikapnya tetap dingin, katanya angkuh,

"Apa kehendakmu?"

Gemetar badan Thian-thay-mo-ki saking murka, katanya sambil kertak gigi,

"Kubunuh kau!"

Telapak tangannya berbateng terus memukul ke dada Ji Bun. "Blang," Ji Bun tergetar mundur selangkah, dia terima pukulan itu

mentah-mentah tanpa balas menyerang. Kepandaian Thian-thay-mo- ki memang tidak rendah, pukulan ini cukup membuat mata Ji Bun berkunang-kunang, dada sakit, napas sesak, darah bergolak, seketika mengobarkan nafsu membunuhnya, dengan geram ia mendesis, "Jangan kau tidak tahu diri?"

Pilu, sedih, geram dan berbagai perasaan berkecamuk dalam hati Thian-thay-mo-ki. Sikapnya yang biasa genit tersapu bersih, baru sekarang Ji Bun pertama kali melihat kecantikannya yang asli.

Memang amat menggiurkan dan mempesona, kalau gadis berbaju merah itu bak kembang teratai yang suci dan agung, maka dia laksana bunga mawar yang mekar semerbak, namun berduri.

Sayang kesannya ini hanya sekilas saja.

Dilihatnya Thian-thay-mo-ki melejit mundur dua tombak, kedua tangannya menggenggam dua macam senjata rahasia yang khas, teriaknya bengis,

"Te-gak Suseng, dalam jarak sejauh ini, kau takkan mampu membunuhku bukan?"

Tersirap darah Ji Bun, jengeknya, "Kutahu maksudmu. Silakan coba saja!"

Membesi muka Thian-thay-mo-ki, katanya sambil menggerakkan kedua tangan,

"Kau takkan punya kesempatan. Ketahuilah, kau takkan lolos dari timpukan Soh-li-sin-ciam dan kejaran Jit-soan-hwi-yim, kedua senjata rahasia tunggalku ini.” Bergetar jantung Ji Bun, memang dalam jarak sejauh ini dia takkan mampu menyerang lawan, sebaliknya jarak sejauh ini paling menguntungkan untuk menyerang dengan senjata rahasia. Soh-li- sin-ciam sudah pernah menggempur mundur Pek-sat-sin The Gum, komandan ronda dari Ngo-lui-kiong. Ini disaksikannya sendiri, Jit- soan-hwi-yim mungkin adalah senjata ampuh yang melukai orang berkedok seperti yang diceritakan itu kalau betul orang berkedok itu adalah ayahnya, sekarang dirinya terang juga takkan mampu menghadapinya.

Turun tangan lebih dulu akan lebih menguntungkan. Pikiran ini segera berkecamuk dalam benaknya.

3.7. Jit-sing-po Tersapu Bersih

Tapi Thian-thay-mo-ki sudah berkata pula. "Te-gak Suseng, bukan sengaja aku hendak pamer kepadamu, tanpa aku kau sudah mampus ditangan orang berkedok, kau kau memang laki-laki

tidak punya perasaan."

Ji Bun melengak, tutur kata dan sikapnya ini, seakan-akan ceritanya itu tidak bohong, peduli siapakah orang berkedok itu, betapapun dia pernah menolong dirinya, rasa gusarnya lambat laun mulai pudar, katanya menegas: "Apa betul kejadian itu?”

"Terserah kau percaya atau tidak. tak perlu aku membual kepadamu. Kalau kau ingin bukti, boleh kau cari orang berkedok itu, tapi kau takkan punya kesempatan lagi" "Kenapa?"

"Aku bertekad untuk membunuhmu," teriak Thian-thay-mo-ki beringas.

Berkobar pula amarah Ji Bun, tahu-tahu dia melejit, secepat kilat dia menubruk maju.

Thian-thay-mo-ki ayunkan tangannya, segenggam jarum lembut selebat hujan memapak tubrukan Ji Bun, rasa sakit seperti disengat kumbang merangsang tubuh Ji Bun. Seketika hawa murni dalam tubuhnya kandas, badanpun anjlok ke bawah. "Seeer", selarik sinar kemilau mendesis terbang berputar-putar di tengah udara, ternyata Thian-thay-mo-ki menimpukkan pula Jit-soan-hwi-yim.

"Sret" pisau terbang melengkung itu berputar membabat leher.

Lekas Ji Bun menunduk kepala, senjata rahasia itu menyamber lewat di atas kepalanya, belum lagi pikirannya bekerja, tahu-tahu pisau melengkung itu sudah terbang balik, gaya putarannya semakin kencang laksana angin lesus menderu.

Serasa terbang sukma Ji Bun, ia terkena beberapa batang jarum, hawa murni buntu, tenaganya tak mampu dikerahkan. Dengan mendelong dia hanya bisa mengawasi lingkaran sinar kemilau itu menyambar tiba tanpa mampu berkelit, apa lagi hendak menangkisnya.

Pada detik-detik yang menentukan mati hidupnya itulah, di luar tahunya, tiba-tiba pisau terbang melengkung itu melesat balik ke tangan Thian-thay-mo-ki. "Te-gak Suseng, kau sudah mati lagi sekali!"

Gemerobyos keringat dingin Ji Bun namun sikapnya tetap angkuh, katanya: "Kenapa kau tidak tega turun tangan?"

"Hm, kau ingin mati dengan mudah? Soh-li-sin-ciam yang mengenaimu itu sudah cukup untuk merenggut jiwamu.”

"Kalau aku tidak mati, akan kubunuh kau,” habis berkata ia terus merangkak bangun dan tinggal pergi dengan langkah sempoyongan. Karena banyak bergerak, jarum lembut itu bekerja lebih cepat mengikuti darahnya yang mengalir, kalau sampai menusuk jantung, jiwanya pasti tak tertolong lagi.

"Berhenti!“ tiba-tiba Thian-thay-mo-ki menghadang di depannya.

Ji Bun berhenti sambil menegakkan badannya, suaranya gemetar menahan sakit: "Mau apa kau?"

"Plakl" tiba-tiba Thian-thay-mo-ki ayun tangan menamparnya, kontan Ji Bun terpental jatuh semaput.

Thian-thay-mo-ki mengerahkan Lwekang lalu ulur tangan, telapak tangannya sudah berubah warna merah. Dari jarak beberapa senti, beruntun telapak tangannya bergerak-gerak keseluruh badannya, sebatang demi sebatang jarum-jarum lembut yang mengeram dalam badan Ji Bun disedotnya keluar, semuanya lengket di telapak tangannya. Hal ini terjadi hanya dalam waktu sekejap saja. Setelah dia berhasil menyerap jarum-jarum dari badan Ji Bun dengan kepandaian Lwekang perguruannya, kebetulan Ji Bun pun siuman dari pingsannya, melihat Thian-thay-mo-ki berada di sampingnya, segera dia membentak: "Kau ingin mampus," tiba-tiba badannya melejit segesit kera melenting. "Plak'', terdengar jeritan nyaring Thian-thay-mo-ki, kontan dia jatuh terguling.

Terasakan oleh Ji Bun dadanya menjadi longgar, badan segar, napas teratur, hawa murni mengalir lancar, rasa sakit seperti disengat kumbang tadi sudah lenyap, waktu dia berpaling, dilihatnya jarum-jarum lembut lengket di telapak tangan Thian-thay-mo-ki, seketika bergetar sekujur badannya. "Celaka!” keluhnya, lekas dia menutuk beberapa Hiat-to ditubuh Thian-thay-mo-ki, waktu jarinya menyentuh kulit badannya yang halus padat kenyal, pandangannya terpesona, tutukan jarinya berhenti di tengah jalan. Rona mukanya berubah berganti, jantungnya serasa hendak meloncat keluar.

Untungnya dia masih sadar, lekas jarinya menutuk 36 Hiat-to di sekujur badan Thian-thay-mo-ki, dikeluarkan pula tiga butir pil terus dijejalkan kemulutnya.

Hanya sekejap saja, keringat gemrobyos mem¬basahi sekujur badannya, dengan kerja keras sela¬ma setengah peminuman teh, Thian-thay-mo-ki baru menarik napas panjang, pelahan ia mulai membuka matanya.

"Kaupun sudah mati sekali." kata Ji Bun dingin.

Cepat Thian-thay-mo-ki melompat bangun, wa¬jahnya hambar dan bingung, sungguh dia tidak ha¬bis mengerti kenapa tahu-tahu dirinya roboh, terkapar tak sadarkan diri, seingatnya, dia hanya merasa badannya seperti sedikit disentuh, tahu-tahu dia kehi¬langan perasaan.

Ji Bun berkata lebih lanjut: "Kaulah orang pertama yang sudah mati dan hidup kembali ditangan¬ku, selanjutnya kita tiada utang- piutang, selamat ber¬temu lagi.” Sekali lompat, badannya melesat ja¬uh terus berlari pergi secepat terbang.

Thian-thay-mo-ki menghela napas dan masgul, iapun lekas-lekas meninggalkan tempat itu.

Marilah kita ikuti perjalanan Te-gak Suseng. Ji Bun yang berlari agak lama baru sampai di jalan raya, ia terlambat larinya, hatinya ragu apa perlu lekas pulang atau tetap mengembara di Kangouw?

Dari dandanan dan perawakannya seorang di¬ri berjalan di jalan raya sudah tentu menarik per¬hatian banyak orang, namun dia tidak ambil pu¬sing ia sibuk memikirkan persoalan yang berkeca¬muk dalam benaknya.

Sekonyong-konyong sebuah rintihan orang mengejut¬kan lamunannya, waktu ia berpaling ke sana, dili¬hatnya di bawah sebuah pohon terebah seorang ber¬baju hitam, caping lebar yang terbuat dari bambu menutupi kepala dan mukanya, orang inilah yang merintih dan memilukan.

Ji Bun kira orang ini terserang penyakit di waktu menempuh perjalanan. Sekilas dia pandang, orang berbaju hitam itu, lalu melanjutkan perjalanan, tak nyana suara rintihan, itu semakin keras dan mengharukan, agaknya amat menderita, pulu¬han tumbak sudah di tempuhnya, namun rasa tertarik dan ingin tahu tak tertahan, segera ia balik, mendekati dan berdiri disamping orang itu.

Agaknya orang itu sadar kalau ada orang mendekati dirinya, suara, rintihannya segera berhenti. Namun badannya gemetar dan mengejang, agakny dia betul-betul sedang menahan rasa sakit.

Segera Ji Bun menegurnya: "Sahabat kenapa¬kah kau?"

Suara orang berbaju hitam itu menjawab gemetar: "Apakah kau kawan sehaluan,"

Ya, betul," sahut Ji Bun.

Orang baju hitam sedikit menyingkap caping rumputnya yang menutup mukanya, sorot matanya yang pudar mengawasi Ji Bun beberapa kali, lalu dia turunkan pula capingnya. Cukup sekejap saja Ji Bun sudah melihat jelas orang ini berusia kira-kira setengah abad, pipi kanan ada codet bekas telapak tangan yang menyolok, baru saja hendak pergi, orang berbaju hitam itu buka suara.

"Siapa saudara cilik ini?" "Aku ini, Te-gak suseng."

"Kau Te-gak Suseng? Kalau begitu boleh silakan pergi saja."

Ji Bun melengak heran. jawaban orang jadi membuatnya ingin tahu duduk persoalannya malah. "Apa maksud tuan?” tanyanya. "Cita-cita tidak sama, lebih baik tak bergaul."

"Oh, tuan anggap diri sendiri sebagai laki-laki sejati?"

Orang baju hitam tutup mulut, namun suara rintihan terdengar pula dari mulutnya, agaknya dia tidak kuat menahan sakit.

Ji Bun alihkan pembicaraannya. "Tuan jatuh sakit atau terluka?"

Berkerutuk gigi orang baju hitam, katanya dingin: "Kau boleh silakan saja."

"Kalau aku mau pergi, kau takkan mampu menahanku, kalau aku tidak mau pergi, percuma kau banyak mulut."

"Kau apa keinginanmu?"

"Bereskan dulu persoalannya, kau punya nama bukan?" "Tidak punya!"

Bangkit amarah Ji Bun, sekali tangannya menyapu caping lebar yang menutupi muka orang berbaju hitam terpental beberapa tombak jauhnya, katanya geram: “Apa tuan malu dilihat orang?"

Melotot biji mata orang berbaju hitam itu seperti amat murka, dia berusaha merangkak bangun, namun baru bergerak roboh lagi.

Sorot mata Ji Bun dengan tajam mengawasi muka orang, tiba-tiba dia berseru kaget: "He, kau terkena racun yang menyerang jantung!"

Orang berbaju hitam tertegun melongo, sekian lamanya baru kuasa mengeluarkan suara: "Saudara cilik darimana kau bisa

tahu?"

"Tuan terkena racun maha jahat, namun tidak seketika mati, Lweekangmu tentunya amat hebat ”

"Kau "

"Tak usah heran dan kaget, aku yang rendah ini punya sedikit pengetahuan bermain racun."

Oh, saudara cilik "

"Walau tuan berhasil menahan menjalarnya kadar racun dengan tenaga murni sehingga belum menyerang jantung, namun kau takkan bertahan lama, dalam setengah jam lagi, jiwamu pasti melayang. Sudah berapa lama sejak tuan terkena racun?"

"Lima hari,"

“Hah lima hari?" teriak Ji Bun kaget, sudah lima hari terkena racun namun masih bertahan hidup sungguh di luar dugaannya.

"Aku kutahu jiwaku takkan lama lagi," demikian gumam

orang berbaju hitam. "Hai matipun mataku tidak akan meram!" "Siapa yang melukai tuan?" ''Musuh besarku."

"Siapa dia?"

"Maaf, tak bisa kujelaskan."

Ji Bun membungkuk dan meraba urat nadi orang, balik kelopak matanya, tiba-tiba bergetar badannya sambil menyurut mundur, timbul berbagai pikiran dalam benaknya. Dari kadar dan cara orang menggunakan racun, dia yakin bahwa si penyerang ayahnya sendiri. Jadi musuh yang dimaksud adalah ayahnya, memangnya ada permusuhan apakah di antara masing-masing pihak ini? Haruskah kubunuh dia, untuk mengurangi musuh ayahnya? Atau membiarkan saja racun bekerja dan mampus sendiri? Atau menolongnya?

Ji Bun sendiri menjadi geli dan kebodohan pikirannya untuk menolong orang yang mungkin adalah musuh ayahnya, entah kenapa timbul pikiran demikian ini? Soalnya ia sendiri mengetahui perilaku ayahnya biasanya memang amat kejam dan kurang terhormat, mungkin korban yang dihadapinya ini tidak bersalah atau tidak berdosa. Sebagai orang persilatan, adalah jamak kalau sering terlibat dalam pertikaian bunuh membunuh.

Wataknya dingin, angkuh, semua itu menjadikan jiwanya nyentrik. Untunglah di dalam lubuk hatinya yang paling dalam masih terbetik juga sifat pembawaan yang baik, jiwa luhur dan cinta kasih terhadap sesama manusia. Sayang keluhuran jiwanya ini sering tertekan oleh keangkuhannya sehingga menjadi kontras antara luar dan dalam. Sudah tentu orang tidak tahu akan kekontrasan ini, kalau tidak tak mungkin ia dijuluki Te-gak Suseng (pelajar dari neraka), maka dalam pandangan sesama kaum persilatan dia dipandang tokoh jahat yang menakutkan.

Dirangsang oleh keluhuran budinya itu, tak tertahan Ji Bun bertanya: "Apakah musuh tuan adalah tokoh jahat yang menakutkan."

Orang berbaju hitam meggertak gigi, sahutnya geram: "Iblis laknat, hina dina, setiap orang wajib membunuhnya, dia tidak setimpal disebut manusia.”

Seperti dipukul godam hati Ji Bun, tanyanya: "Tuan bilang mati takkan meram, ada permusuhan dan dendam apakah kau dengan dia?"

"Tak perlu kuberitahukan padamu?“

"Mungkin ada manfaatnya kalau kau jelaskan."

"Aku tak ingin mendapat manfaat apa-apa dari kau.” "Kalau aku bisa menawarkan racun yang mengeram dalam

tubuhmu?"

Seketika terbelalak mata orang berbaju hitam, suaranya gemetar, "Kau kau bisa menawarkan racun?”

"Betul, segampang membunuhmu." Orang berbaju hitam melengak, sorot matanya memancarkan harapan hidup yang menyala, mulutnya menggumam: "Aku harus hidup, aku harus bertahan hidup ”

Putusan Ji Bun sudah tetap, katanya: "Tuan jelaskan dulu duduk persoalannya, aku akan menawarkan racun dalam badanmu?"

"Apakah itu syaratnya? Baiklah, kuberitahu kepadamu, musuh besarku adalah Jit-sing-po Pocu."

Merinding dan berdiri bulu kuduk Ji Bun, katanya berat: "Jit-sing- pangcu Ji Ing-hong?"

"Betul, tua bangka keparat itu." "Permusuhan apa?"

"Merebut isteri dan merusak keturunanku."

Tanpa sadar Ji Bun menyurut mundur, merebut isteri membunuh keturunan orang merupakan dendam kesumat setinggi langit dan sedalam lautan, apakah betul ayah pernah melakukan kejahatan yang kelewat takaran ini? Timbul pertentangan pikiran di dalam benaknya. Kalau kutolong orang ini, tak ubahnya seorang musuh yang bakal mendatangkan bencana bagi Jit-sing-po, kalau kubunuh dia, berarti menjilat ludahnya sendiri. Dua alasan yang berlawanan ini, membuat hatinya bimbang. Dia tak habis mengerti kenapa mendadak timbul rasa welas asih dalam lubuk hatinya, kenapa ia tak tega membunuh orang yang sudah sekarat ini?

"Siapakah nama tuan?" tanyanya kemudian. "Siangkoan Hong."

"Siangkoan Hong, Siangkoan Hong ”

"Saudara cilik, kalau kau bisa menawarkan racun dan menyembuhkan aku, kelak kau pasti akan memperoleh balasan yang setimpal."

Mendelik mata Ji Bun, desisnya: "Aku harus membunuhmu!" Bergetar tubuh orang berbaju hitam, dengan nanar dia tatap Ji

Bun, sungguh dia tak bisa menangkap alam pikiran anak muda yang

lekas berubah tidak menentu ini.

Kata Ji Bun lebih lanjut: "Tapi tadi sudah kujanjikan untuk memberi obat penawar, hal ini tetap akan kutepati, nah, inilah obatnya, kau terima!"

Lalu dikeluarkan sebutir pil warna putih dan dilempar ke arah orang.

Orang berbaju hitam menangkap obat itu lalu diamat-amati sejenak, katanya: "Saudara cilik, akan selalu terukir kebaikanmu ini dalam hatiku." "Tidak usahlah," jengek Ji Bun dingin, "mungkin pertemuan yang akan datang, aku akan merenggut jiwamu."

Orang berbaju hitam melengak, namun tanpa ragu-ragu ia jejalkan pil itu ke mulut. Ji Bun menengadah mengawasi angkasa. Ia tengah tenggelam dalam lamunan tentang apa yang telah dilakukannya ini? Kenapa dia berlaku sebaik ini? Bahwa Te-gak Suseng menolong jiwa seseorang, malah musuh ayahnya, mungkinkah orang-orang kangouw mau percaya akan kenyataan ini.

Sementara itu orang berbaju hitam tengah duduk semadhi, dia kerahkan hawa murni untuk menyembuhkan diri. Perlahan Ji Bun alihkan pandangannya, pikirnya, belum terlambat sekarang kubunuh dia. Lalu ia maju beberapa tindak, jarak mereka tinggal seuluran tangan saja. Pelahan telapak tangannya terayun ......

Tiba-tiba terdengar suara berrisik daun pohon di atas kepalanya.

Sebat sekali Ji Bun melompat mundur tiga tombak, dilihatnya segulungan bayangan menggelinding turun dari atas pohon, dan mengeluarkan suara jatuh gedebukan, sesudah melihat jelas, seketika iapun terkesiap.

Seorang kakek pendek buntak seperti bola pelahan merangkak bangun, tangan yang pendek kecil itu menepuk-nepuk badan membersihkan debu, matanya yang sipit mengawasi Ji Bun dengan tertawa lucu, katanya: “Anak muda, kau telah menolongnya, kenapa mau membunuhnya pula?" Makhluk aneh ini bukan lain adalah Siang-thian-ong (Kakek Duka Cita) yang sudah menggetarkan Kangouw pada enam puluhan tahun yang lalu, bahwa makhluk yang aneh ini sembunyi di atas pohon, sedikitpun tidak diketahui oleb Ji Bun, sekilas ia tertegun jawabnya: "Tiada sangkut putnya dengan kau,"

Siang-thian-ong terkekeh dingin, ujarnya: "Bocah bagus. berarti kau kurang ajar terhadapku, kalau tidak kupandang pertolonganmu kepadanya, kepalamu sudah kutempeleng pecah, sekarang lekas kau enyah dari sini."

Ji Bun memangnya pemberang, seketika ia naik pitam, katanya angkuh: "Kalau aku tidak mau pergi?"

"Kusuruh kau enyah, kau harus lekas enyah," berbareng tangan si kakek yang pendek itu terayun. Segulung angin keras seketika menyambar ke arah Ji Bun sehingga tergetar mundur beberapa langkah.

Semakin berkobar amarah Ji Bun, sekilas melejit dia malah menubruk maju dan melabrak Siang-thian-ong tertampak Siang- thian-ong tetap berdiri di tempatnya tanpa bergeming sedikitpun. Namun disaat tubuh Ji Bun hampir menerjang tiba, entah gerakan apa, seperti setan berkelebat, tahu-tahu ia sudah berpindah tempat, belum sempat Ji Bun melancarkan serangan, tahu-tahu bayangan orang yang diincarnya sudah lenyap, belum lagi pikirannya menyadari apa yang terjadi, segulung angin kencang menyampuk dari belakang. "Blang," Ji Bun terpental terbang tiga tombak lagi, namun tidak terlaka apa-apa, sigap sekali dia melejit bangun, sorot matanya berkobar.

Pada saat itulah, orang berbaju hitam melompat bangun, melihat Siang-thian-ong, tersipu-sipu dia memberi hormat, sapanya: "Locianpwe, Wanpwe beruntung hidup kembali."

“Bagaimana hasilnya?" tanya Siang-thian-ong.

"Dua hari dua malam Wanpwe menguntitnya, akhirnya kucandak dan kulabrak dia, tak nyana setelah berpisah sepuluh tahun, ternyata dia pandai main racun karena tak terduga Wanpwe terbokong dan iapun dapat melarikan diri.”

"Hm, memang nasibnya yang mujur, biarkan saja, suatu ketika pasti kita bisa menumpasnya.”

"Eh, dia " tiba-tiba pandangan orang berbaju hitam beralih

ke arah Ji Bun yang berdiri di sana, serunya "Te-gak Suseng, terima kasih akan kebaikanmu, kelak pasti akan kubalas."

Siang-thian-ong mendengus, jengeknya: "Bocah ini tidak genah tindak tanduknya, tadi dia hendak membunuhmu ”

Tanpa bersuara Ji Bun segera angkat langkah berlari pergi. Dari percakapan kedua orang yang didengarnya tadi, lapat-lapat dia merasakan firasat jelek akan rumahnya yang kemungkinan mengalami sesuatu bencana. Jelas ayah bukan tandingannya laki- laki berbaju hitam ini. kenyataan dirinya sudah menyembuhkan seorang musuh tangguh bagi keluarganya. Akan tetapi dasar wataknya nyentrik, sedikitpun ia tidak menyesal, ia tahu kalau tadi betul-betul menyerang orang berbaju hitam itu. Siang-thian-ong pasti tidak tinggal diam.

Kalau orang berbaju hitam tidak mendapatkan obat penawarnya, jiwanya pasti melayang, kesalahan sudah terjadi. Apalagi kalau pihak musuh tahu akan asal usul dirinya, betapa akibatnya sukar dia bayangkan. Sedangkan Siang-thian-ong dan orang berbaju hitam jelas sehaluan, kepandaian mereka teramat tangguh lagi. Kalau benar apa yang dikatakan mereka bahwa ayahnya merebut isteri dan membunuh keturunannya, maka perbuatan ayahnya memang terampuni, sebagai puteranya, bagaimana dia harus bersikap dan bertindak?

Tiba-tiba timbul rasa rindu terhadap kampung halaman, maka ia berkeputusan untuk pulang menjenguk ibunya, segera ia menuju ke arah Jit-siang-po. Begitulah ia menempuh perjalanan siang malam, akhirnya tibalah dikampung halamannya. Sebelum memasuki perkampungan, hatinya sudah merasa takut dan was-was, tujuan perjalanan ke Kayhong kali ini adalah untuk melamar puteri keluarga Ciang, di tengah jalan dirinya berubah pikiran dan batal. Bagaimana nanti dia harus memberi laporan kepada orang tuanya?

Jit-sing-po dengan pintu gerbangnya yang dibangun angker dan megah sudah kelihatan dari jauh dengan perasaan tidak tenteram, ia berlari menuju ke arah pintu. Dari jauh ia sudah merasa heran kenapa penjaga pintu yang biasanya mondar-mandir kali ini tidak kelihatan, paling tidak puluhan li sekitar Jit-sing-po biasanya sudah ada orang yang menyambut kedatangannya. Pintu gerbang perkampungan yang dilapisi papan besi tampak mengkilap terbentang lebar, suasana sepi tak kelihatan bayangan seorangpun

....... Pirasat jelek tiba-tiba merangsang hatinya.

Jantungnya segera berdetak keras, seperti mendadak terserang penyakit gila layaknya dia menerjang masuk dengan kalap.

Serangkum bau busuk merangsang hidung, serasa pecah jantung Ji Bun hatipun hancur luluh, dengan langkah lebar dia berlari ke dalam gedung. Mayat-mayat bergelimpangan sepanjang jalan, semua berwarna hitam, darah sudah membeku kering, pemandangan seram dan mengejutkan sekali. Agaknya seluruh penghuni Jit-sing- po telah tersapu bersih tanpa satupun yang ketinggalan hidup.

Biji mata Ji Bun melotot merah, dengan langkah sempoyongan dia langsung lari ke ruang pendopo, pemandangan yang mengerikan membuat kepalanya pusing, serasa sukma terbang dari raganya. Dia berdiri terpaku diundakan, badannya bergoyang gontai.

Pilar-pilar batu sebesar pelukan tangan orang dewasa yang berjumlah enam di kanan kiri ruang pendopo masing-masing terikat enam mayat dengan wajah yang amat dikenalnya. Mereka adalah enam jago kelas wahid di antara delapan anak buah ayahnya, mata mereka mendelik, seperti orang mati penasaran. Di pelataran, pekarangan serambi panjang dan di mana-mana mayat bergelimpangan.

Inilah peristiwa mengerikan, pembunuhan yang sudah di rencanakan terlebih dulu. "lbu!,” mendadak Ji Bun melolong seperti orang kesurupan terus berlari ke belakang. Tak terduga keadaan di belakang jauh berbeda, suasana tetap tenteram dan bersih tidak kelihatan noda darah, mayatpun tak nampak di sini. Apakah ibu terhindar dari petaka ini? Lalu di mana para pelayan?

Dengan kepala berat dan pandangan berkunang-kunang ia lari kian kemari mencari, dari taman ke dapur, setiap kamar sampai ke gudang, namun tiada sesuatu yang ditemukan. Air mata tak tertahan dan bercucuran, baru sekarang dia betul-betul merasakan luluh dan lemas.

Hari sudah gelap. Dari gelap kembali menjadi terang, fajar telah menyingsing. Ji Bun tersadar dari duka citanya yang keliwat batas, namun rasa benci dan dendam seketika merangsang sanubarinya. Aku harus menuntut balas, menuntut balas!

Pembunuh durjana adalah Siangkoan Hong yang pernah ditolongnya, tentunya tidak sedikit pula pembantunya, mungkin Siang-thian-ong juga ikut serta. Belum genap sebulan ia meninggalkan kampung ini, namun peristiwa telah mengubah keadaan menjadi begini seram dan mengerikan, sungguh mimpipun tak terduga.

Seperti yang didengarnya dari percakapan Siang-thian-ong dan Siangkoan Hong, agaknya ayah masih hidup, lalu di manakah ibu? Mati hidup mereka tak karuan paran, betapa sedih dan pilu hatinya, sungguh tak terlukis dengan kata-kata. Dia heran, tidak sedikit anak buah Jit-sing-po, yang terbunuh hanya sebagian kecil saja. Kenapa sisa lain yang masih hidup tidak membereskan mayat-mayat mereka? Seorang diri ia kerja keras sambil bercucuran air mata mengebumikan semua mayat-mayat itu. Kemudian meninggalkan kampung kelahirannya, dendam kesumat menjadi bekal perjalanan yang kedua kalinya ini.

Langkah pertama, dia harus segera mencari dan menemukan ayah, lalu berusaha menuntut balas. Sepanjang jalan ia berpikir dengan cermat, namanya saja Jit-sing-pang sebagai sindikat namun selama beberapa tahun belakangan ini jarang ikut aktif di dalam pergerakan kaum persilatan. Dan dirinya, kalau mendapat perintah ayahnya baru keluar meninggalkan rumah, di luar iapun tak pernah memperkenalkan asal usul sendiri, maka dunia Kangouw hanya mengenal julukan Te-gak Suseng, namun dari mana asal dirinya tiada seorangpun yang tahu, maka timbullah sesuatu akal cara bagaimana ia harus menuntut balas.

Sete!ah berkeputusan kini dia tidak tergesa-gesa untuk menemukan ayah bundanya, menuntut balas harus diutamakan, merahasiakan asal usul dan menekan watak biasanya yang angkuh, ia harus bermuka-muka untuk mendekati dan mengikat hubungan dengan para musuhnya, kelak baru cari kesempatan untuk turun tangan.

3.8. Pembunuh Berkedok Berjubah Sutera

Malam larut, di dalam sebuah hotel sinar lampu masih kelihatan menyorot keluar dari salah sebuah kamar. Seorang pemuda berlengan satu duduk bertopang dagu di depan jendela, kadang- kadang ia mengertak gigi dengan mata mendelik, sering pula menghela napas panjang, wajahnya kuyu dan lesu. Pemuda ini adalah Te-gak Suseng Ji Bun.

Selama beberapa hari lupa makan lalai tidur, setiap detik setiap saat pikirannya tenggelam pada masa lalu, duka lara telah menyiksa dirinya hingga patah semangat dan kurus. Memang kekuatan manusia ada batasnya, pukulan batin jauh lebih parah dari pada siksaan badaniah.

Saking lelah tanpa terasa Ji Bun akhirnya jatuh pulas mendekap di atas meja, tidurnya begitu lelap sampai ketajaman indranya seakan-akan berhenti bekerja sama sekali.

Sekonyong-konyong sesosok bayangan orang tinggi besar seperti setan muncul di belakangnya, di bawah pancaran sinar lampu jelas kelihatan orang ini mengenakan jubah sutera, kain kembang menutupi selebar mukanya, rambut tertampak sudah ubanan. Napas Ji Bun berat dan teratur, tidurnya amat lelap, sedikitpun dia tidak menyadari seseorang telah berada di belakangnya.

Tangan orang berjubah sutera pelahan terangkat, sasarannya tepat di punggung Ji Bun, agaknya seperti meragukan sesuatu, sekian lamanya tangannya berhenti di tengah udara. Cukup lama juga tangan orang berkedok ini sudah naik turun sepuluh kali, namun Ji Bun sedikitpun tidak mengetahui. Akhirnya orang berkedok seperti berkeputusan tegas, dengan menggeram lirih tangannya menggablok dengan keras. Tanpa mengeluarkan suara Ji Bun tersungkur jatuh bersama kursi, darah kontan menyembur ke luar dari mulutnya. Namun ia tidak mati seketika. Waktu ia membuka mata, sekujur badannya tiba-tiba mengejang keras. Biji matanya hampir melotot keluar, ia mengerahkan sisa tenaganya dan berteriak dengan suara serak: "Ayah engkau kenapa kenapa hendak membunuhku?"

Orang berkedok tidak menjawab, namun badannya tampak bergetar, tangannya terayun pula. Teringat oleh Ji Bun akan cerita Thian-thay-mo-ki, baru sekarang ia menyadari bahwa orang berkedok inilah yang pernah memukul mati dirinya, mungkinkah orang ini ayahnya walau perawakan dan dandanannya mirip sekali. Kembali ia membentak seram: "Siapa kau?"

Orang berkedok tetap tidak bersuara. Sekuat tenaga Ji Bun berguling ke samping, asal maju beberapa kaki dan dapat menyentuh badan orang, ia yakin mampu, menewaskan pembunuh gelap ini. Namun perhitungannya sia-sia, baru dia bergerak, telapak tangan orang sudah menjotos pula. "Waaah!" jeritan panjang yang seram ini memecahkan kesunyian pagi, darah meleleh dari mulutnya, setelah berkelojotan beberapa kali, Ji Bun rebah tidak bergerak lagi.

Orang berkedok melangkah maju meraba pernapasannya, memegang urat nadinya, setelah jelas sudah mati, seperti datangnya tadi tiba-tiba bayangannya lenyap dalam sekejap.

Jeritan Ji Bun tadi mengejutkan para tetamu di kamar lain, beramai-ramai mereka berlari keluar, malah seorang di kamar sebelah berteriak ketakutan: "Pembunuhan, ada pembunuhan!" Suasana menjadi kacau. Pemilik hotel segera datang dan memeriksa keadaan, tapi segera ia menutup kamar itu dan lapor kepada yang berwajib.

Entah berapa lama, akhirnya Ji Bun siuman dan mendapatkan dirinya diserang roboh oleh seorang berkedok. Lekas ia bangun berduduk, badannya tidak merasa sakit. Sungguh aneh dan luar biasa, jelas masih teringat olehnya, pukulan pertama pembunuh gelap itu membuatnya muntah darah dan tak mampu bangun lagi.

Pukulan kedua membuatnya lupa ingatan, ia tahu pukulan kedua orang cukup berlebihan untuk menamatkan riwayatnya. Orang berkedok sengaja hendak membunuh dirinya, tak mungkin ia menaruh belas kasihan, dirinyapun tak pernah minum sesuatu dan tidak diobati, namun kini badannya tetap segar bugar, sungguh kejadian yang tak habis dimengerti.

Mungkinkah si dia? Tiba-tiba teringat pada Thian-thay-mo-ki.

Cerita Thian-thay-mo-ki tentang peristiwa yang dialami tempo hari sukar dipercaya, namun kini dialaminya sendiri. Ini terbukti bahwa cerita yang didengar itu bukan bohong belaka.

Mungkinkah dia mampu menghidupkan jiwanya pula? Tapi di mana dia sekarang? Tiba-tiba disadarinya sikapnya selama ini terhadap nona yang satu ini memang terlalu dingin dan kasar.

Banyak persoalan yang sulit dipecahkan, sambil geleng-geleng segera dia berdiri. Aneh, badan terasa nyaman segar dan enteng. Air sudah tersedia di dalam kamar, segera ia cuci muka dan membersihkan badan. Pada saat itulah didengarnya suara ribut-ribut di luar, agaknya ada opas datang karena laporan adanya pembunuhan di hotel ini.

Ji Bun melengak sebentar, ia tahu dirinyalah yang dijadikan sasaran keributan di luar itu. Supaya tidak terlibat urusan yang bertele-tele, segera ia buka jendela terus melompat keluar secara diam-diam. Di luar tahunya bahwa gerak-gerik dan kejadian di dalam hotel ini telah disaksikan dan diikuti oleh seseorang.

Sekaligus Ji Bun berlari keluar kota baru kemudian melambatkan larinya, bayangan orang berkedok yang membunuh dirinya barusan masih terbayang pada benaknya. Siapakah orang yang menyamar mirip ayahnya dan turun tangan sekeji ini kepada dirinya? Sampai detik ini ia yakin ayah kandung sendiri tak mungkin tega membunuh puteranya.

Tengah mengayun langkah dengan pikiran butek, tiba-tiba di belakang terdengar seorang berteriak memanggil: "Te-gak Suseng, tunggu sebentar!"

Ji Bun berhenti dan berpaling, seketika ia berdiri melongo dan dingin perasaannya. Yang datang adalah Thian-thay-mo-ki. Ia jadi merasa sebal, namun mengingat sakit hati dan dendam keluarganya, selanjutnya ia harus ubah sikap dan tindak-tanduk. Pengetahuan dan pengalaman Thian-thay-mo-ki rasanya dapat dimanfaatkan untuk mengejar dan mencari jejak para musuh itu.

"Ada perlu apa?" tanya Ji Bun tawar. Semula Thian-thay-mo-ki sudah siap menghadapi sikap kasarnya, diluar dugaan ia disambut tawar saja, maka katanya dengan tersenyum lebar: "Hari ini kau jauh berbeda dari biasanya."

"Memang kurasakan sikapku selama ini terlalu kasar terhadap nona,” sahut Ji Bun.

"Kenapa?"

"Mungkin karena salah paham ”

"Salah paham soal apa?" "Tentang orang berkedok itu."

"Oh, jadi sekarang kau sudah percaya?"

"Percaya, malah aku bersumpah bendak mencari tahu siapa dia sebetulnya dan apa tujuannya hendak membunuh aku?"

"Tempo hari kau bilang dia adalah ayahmu?" "Menurut cerita nona, pagi tadi ”

"Sudah terbukti bahwa dia bukan ayahmu?" "Eh, kau sudah tahu "

"Aku menyaksikan seluruh kejadian tadi." "Oh, tak heran tadinya kukira jiwaku sudah melayang

.........”

"Tapi kau hidup kembali bukan?"

Timbul rasa terima kasih dalam lubuk hati Ji Bun, sikapnya ini bukan pura-pura, segera ia memberi hormat, katanya: "Terima kasih akan budi pertolongan nona."

Thian-thay-mo-ki tertawa penuh arti, ujarnya: "Aku hanya menonton saja, tidak pernah turun tangan, yang benar aku sendiri bukan tandingan orang berkedok itu."

"Kenapa sudah mati aku bisa hidup kembali?"

"Mungkin untuk selanjutnya kau tetap akan mengerti kejadian ini."

"Aku tidak habis mengerti."

"Ini tak bisa kujelaskan, kelak kau akan mengerti sendiri."

Kalut pikiran Ji Bun dirangsang berbagai persoalan, namun dia harus menahan gejolak hati, menekan perasaan dan berubah sikap, terutama terhadap Thian-thay-mo-ki, walau semestinya dia merasa jijik, sebal dan benci akan tingkah lakunya yang genit.

"Adikku! Kau suka menerima panggilan ini bukan?" Dalam hati Ji Bun menggerutu, namun sikapnya lain. "Boleh saja," sahutnya tertawa.

"Jadi kaupun suka memanggilku Cici?"

"Usiamu lebih tua, adalah pantas kalau kupanggil Cici padamu."

Riang hati Thian-thay-mo-ki, wajahnya bersemu merah, alisnya lentik, kerlingan matanya memang mempesona dan menggiurkan, namun sedikitpun Ji Bun tidak tertarik.

”Dik, agaknya kau dirundung persoalan gawat?"

Ji Bun was-was, sengaja ia angkat alis, tanyanya: "Darimana kau tahu?”

"Di dalam hotel semalam kau kelihatan mengertak gigi dan mengepal tinju serta membanting kaki, sering menghela napas panjang, betul tidak?"

Tersentuh luka-luka di lubuk hati Ji Bun dan hampir menetes air matanya, namun ia bertahan agar tidak sampai menangis, dengan acuh ia tertawa, katanya: "Terkadang aku memang memikirkan berbagai kejadian yang kurang menyenangkan, maklumlah sebagai kaum persilatan, kita harus siap menerima segala gemblengan dan ujian, meski ada kalanya kita sendiri juga berbuat kesalahan."

Thian-thay-mo-ki cukup cerdik, ia tidak puas akan penjelasan ini, namun iapun tidak banyak debat lagi, tanyanya ke lain persoalan: "Agaknya kau berubah begini mendadak?" "Apa betul? Mungkin inilah hasil dari tempaan dari yang kualami itu."

"Orang berkedok berjubah sutera itu, apakah kau sudah berhasil menemukan jejaknya?"

"Belum, tapi pasti akan ketemukan dia dan menuntut balas." "Kukira sulit."

"Sulit?"

"Dua kali kusaksikan sendiri, dengan gabungan kita berdua mungkin masih bukan tandingannya. Sudah lama hal ini kupikirkan, namun tak berhasil menemukan alirannya, betapa banyak tokoh- tokoh kosen berkepandaian tinggi ”

"Memang orang pandai ada yang lebih pandai, setinggi-tinggi gunung masih ada yang lebih tinggi lagi. Jika dia seorang tokoh yang jarang berkelana di Kangouw, dengan apa kau akan menerka asal usulnya?" demikian diam-diam timbul pula pertempuran dalam hati Ji Bun.

Semula ia mengira orang berkedok sengaja menyamar ayahnya untuk mempermudah turun tangan terhadap dirinya. Namun kepandaian silat orang jauh berlebihan untuk membunuh dirinya, buat apa harus menyamar segala, dan yang lebih membingungkan, orang itu tidak mau buka suara dan tidak menjelaskan maksudnya, peristiwa seperti ini jarang terjadi di Bu-lim. Apakah ia memang ayahku sendiri? Namun kesan ini segera dia sangkal pula, tidak mungkin, jelas tidak mungkin.

"Dik,” tanya Thian-thay-mo-ki, "sudikah kau beritahu asal usulmu?"

Ji Bun kaget, katanya: “Cici, maafkan, hal ini terlarang oleh perguruan, sekarang belum dapat kuberitahu."

"Ya, sudah," ujar Thian-thay-mo-ki tak acuh, "aku sendiri ada kesulitan." Nyata, secara tidak langsung iapun memberitahukan Ji Bun, bahwa kau pun tak usah tanya asal usulku.

"Cici, kita bertemu lagi secara kebetulan?"

"Boleh dikatakan demikian, aku sedang menempuh perjalanan untuk menghadiri suatu undangan berdirinya, suatu perkumpulan besar, kita sama-sama menginap di hotel itu, bukankah ini kebetulan?"

"Menghadiri pembukaan perkumpulan apa?" "Apa pernah dengar nama Wi-to-hwe?”

"Tiga hari lagi perkumpulan ini akan meresmikan berdirinya dan membuka markas. Semua Pang dan Pay serta tokoh-tokoh bulim yang kenamaan sama diundang untuk menghadirinya." "Oh, Cici juga diundang?" tanya Ji Bun, sementara hatinya membatin, kalau aku bisa ikut mungkin bisa bertemu dengan musuh, sedikitnya ada kesempatan untuk mencari sumber penyelidikan, maka ia menyambung: "Wi-to-hwe, sesuai dengan namanya tentunya menempatkan diri di pihak yang baik dan menumpas kejahatan dan menindas kaum iblis bukan?”

“Tentunya demikian." "Siapakah ketuanya?"

"Coba kau lihat sendiri." kata Thian-thay mo-ki, lalu mengeluarkan secarik kartu undangan besar warna merah."

Ji Bun menerima undangan itu serta membacanya: "Dengan hormat, seratus tahun belakangan ini, makna dan

tujuan persilatan semakin pudar, keadilan dan kebenaran semakin

guram, azas orang belajar silat semakin kabur, dunia persilatan semakin kacau dan kejahatan bersimaharaja, bahwa kaum iblis semakin tumbuh dan kaum pendekar malah kelelap, semua ini menjadi kenyataan. Bagi kaum yang berdarah panas, yang mempunyai cita-cita luhur dan sehaluan dalam satu tujuan, kita bersepakat untuk mendirikan perkumpulan penegak dan pembela keadilan dan kebenaran ini dengan harapan bisa mengembalikan wibawa dan membangkitkan azas dan cita-cita semula sehingga segala kejahatan dan kelaliman dapat kita tumpas. Pada tanggal sekian bertempat di Tong-pek-san, kita resmikan berdirinya perkumpulan dan markas besar kami. Mohon kehadiran para pendekar dan semua simpatisan. Salam hormat, Wi-to-hwe Hwecu."

Jadi dalam undangan ini tidak disebut siapakah Hwecu atau ketua perkumpulan yang bakal berdiri ini, undangan semacam ini boleh dikatakan jarang ada dan bertentangan dengan kebiasaan.

Ji Bun kembalikan undangan itu, katanya tak mengerti: "Siapakah sebetulnya ketua perkumpulan ini?"

"Entahlah," sahut Thian-thay-mo-ki sambil geleng-geleng." "Masih tiga hari dari hari pembukaan, apakah bisa mencapai

Tong-pek-san?"

"Kalau siang malam menempuh perjalanan, kukira tidak akan terlambat."

"Kalau begitu silakan Cici lekas berangkat.” "Apa kau tidak ingin ke sana?"

Sudah tentu Ji Bun ingin pergi, namun lahirnya berpura-pura, katanya : "Aku tidak diundang.”

"Mungkin yang disuruh menyebar undangan tidak menemukan kau," ujar Thian-thay-mo-ki tertawa, "masakah ketenaran Te-gak Suseng yang sudah menjulang tidak diundang, hayolah berangkat bersamaku, kutanggung tiada orang yang menolak kedatanganmu." "Perkumpulan, ini menamakan dirinya penegak dan pembela kebenaran, bertujuan menumpas kejahatan, terus terang, dengan julukan dan gelaran. kita berdua, apakah kita tidak bakal ditumpas oleh mereka malah?"

Thian-thay-mo-ki terkial-kial sekian lamanya, katanya: „Dik, memangnya perbuatan jahat apa yang pernah kita lakukan? Soal gelar atau julukan kan mereka yang memberikan. Tekadku sudah bulat ingin kulihat manusia macam apakah sebetulnya orang-orang yang berani menonjolkan dirinya dipihak penegak dan pembela kebenaran itu.

"Baiklah mari berangkat," kata Ji Bun akhirnya.

^^^^

Pegunungan Tong-pek-san di perbatasan Holam dan Ouwpak, puncaknya terletak di bilangan utara. Selama beberapa hari ini, tokoh-tokoh berbagai aliran persilatan berbondong-bondong menuju ke atas gunung, di antara arus manusia yang beramai-ramai itu terdapat seorang pemuda berpakaian pelajar dan buntung sebelah tangannya diiringi seorang gadis cantik dan bertingkah genit, mereka adalah Ji Bun dan Thian-thay-mo-ki yang datang untuk menghadiri berdirinya Wi-to-hwe.

Banyak orang yang kenal mereka sama melotot gusar dan menyingkir jauh, seperti berhadapan dengan setan iblis atau merasa jijik. Di mulut gunung sebelum naik ke puncak didirikan sebuah barak besar khusus untuk menyambut kedatangan para tamu. Semua tamu dipersilakan istirahat dan makan minum lebih dulu di barak ini baru kemudian diantar naik ke atas gunung. Jalan berliku yang menjurus ke atas kebetulan terletak diujung belakang barak besar itu, di mana berdiri seorang tua berpakaian hitam dengan delapan orang pengiring, tugasnya khusus menyambut para tamu naik ke atas gunung.

Setelah istirahat dan menghilangkan lapar dan dahaga, Ji Bun dan Thian-thay-mo-ki sama berjalan menuju ke arah mulut gunung.

Laki-laki baju hitam setengah umur itu segera memberi salam hormat, katanya memperkenalkan diri, “Aku yang rendah Go it-hong menjabat Hek-ki-tongcu dalam Wi-to-hwe, kini bertugas menyambut kedatangan para tamu. harap kalian tunjukkan tanda undangan."

Thian-thay-mo-ki tertawa lebar,katanya: "Kalau tidak punya undangan bagaimana?"

“Maaf, kami tidak melayani."

"Kepada siapa saja undangan disebar?"

"Kepada Pang, Pay atau perguruan silat dan para tokoh Bu-lim kenamaan."

"Apa pula maksudnya dengan tokoh kenamaan?” "Soal ini maaf, tugasku hanya menyambut tamu dan tidak

melayani segala pertanyaan."

"Apakah Te-gak Suseng yang tenar ini tidak setimpal hadir?"

Berubah air muka Go It-hong, si Hek-ki-tongcu, sorot matanya tertuju kepada Ji Bun, sesaat dia melongo, jelas dia tahu asal usul kedua orang ini, namun terbatas oleh peraturan, tak enak dia berkeputusan sendiri.

Untunglah pada saat itu muncul seorang berbaju hitam pula berlari-lari turun dari atas gunung, langsung dia memberi hormat kepada Go It-hong dan berkata: "Lapor Tongcu, Tocu disuruh menyampaikan perintah."

“Oh, perintah apa?" tanya Go It-hong, lalu dia menyingkir ke samping sana, orang yang baru datang itu lantas bisik-bisik dipinggir kupingnya terus berlari kembali ke atas Go It-hong lantas maju ke depan Ji Bun serta memberi hormat, katanya : "Pembagi undangan memang ceroboh dan ketinggalan, Hwecu kami merasa menyesal. harap Siauhiap maafkan. Silakan!"

Ji Bun melengak dan merasa heran, matanya melirik Thian-thay- mo-ki yang sedang mengangsurkan undangannya kepada Go It- hong, nona itu berkata: "Mari dik, kita naik ke atas."

Ji Bun mengangguk, bersama Thian-thay-mo-ki mereka jalan berendeng, namun rasa herannya masih belum lenyap, bahwa Wi- to-hwecu suruh orang mengirim perintah mengundang dirinya hadir dan minta maaf lagi, sungguh membingungkan dan luar biasa, siapakah Hwecu sebenarnya?

Nama Te-gak Suseng dipandang sebagai setan iblis, perkumpulan ini berdiri untuk menumpas kejahatan, satu sama lain bertentangan, kenapa dirinya malah disambut dengan hormat, mungkin ada sesuatu yang mencurigakan di balik semua ini?

"Bagaimana?" ujar Thian-thay-mo-ki tertawa senang. "kan sudah kutanggung kau boleh hadir, soalnya nama julukanmu memang, teramat tenar.”

Jalan gunung yang menanjak semakin tinggi dan berputar mengelilingi sebuah puncak yang tidak terlalu tinggi. Setelah tiba di puncak gunung, maka muncullah pemandangan aneh dari lekuk- lekuk gunung yang berlapis-lapis menjulang ke atas diantara jepitan dua puncak di sebelah sana.

Membelakangi tebing gunung yang menjulang ke langit berdiri sebuah "panggung" besar. Dari kejauhan tampak batu bata merah dan genteng dari bangunan gedung yang megah itu.

Rombongan demi rombongan tamu-tamu yang berbondong datang itu terus mengayun langkah dengan cepat menuju ke lekuk gunung sana. Ji Bun berjalan dengan lenggang kangkung seenaknya saja seperti pelancongan.

Yang benar hati Ji Bun samakin tertekan, ia pikir kalau nanti melihat Siangkoan Hong, Siang-thian-ong dan musuh juga hadir, terutama orang berkedok itu, lalu tindakan apa yang harus dirinya lakukan? Kalau bertindak secara kekerasan, jelas kepandaian sendiri bukan tandingan mereka.

Sebelum berhasil menuntut balas, jiwa sendiri mungkin sudah berkorban, dengan menggunakan kecerdikan dan akal adalah satu- satunya jalan untuk menumpas dan melenyapkan musuh-musuh itu satu persatu, namun hal inipun terlalu banyak makan tenaga dan pikiran. Dan yang paling ia kuatirkan adalah, jikalau dirinya tak kuasa menahan gejolak perasaan dendamnya sehingga rencana yang sudah teratur rapi menjadi gagal total.

Setelah melewati lingkaran gunung, jarak dari bangunan gedung di tanah datar seperti panggung besar itu sudah tidak jauh lagi, arus manusia kelihatan bergerak menjurus ke sana. Didepan terbentang hutan bambu yang lebat dan terawat baik, pemandangan di sini terasa nyaman dan mempesona.

Mendadak langkah Ji Bun terhenti, sorot matanya menyala memandang hutan bambu sebelah kanan. Sesosok bayangan merah tampak berdiri semampai di atas sebuah batu besar yang menonjol keluar, angin gunung sepoi-sepoi menghembus sehingga pakaiannya melambai-lambai mempesona. Ji Bun sampai lupa diri, jantungnya berdetak, seolah-olah dirinya sudah berdiri berdampingan dengan orang berbaju merah itu.

"Dik, kenapa kau?" tegur Thian-thay-mo-ki.

Seperti mengigau Ji Bun berkata: "Itu dia, gadis baju merah, hari ini pasti kutanya asal usulnya." Berubah air muka Thian-thay-mo-ki, benci dan dendam seketika merangsang sanubarinya, namun Ji Bun tidak perhatikan, langsung ia menghampiri ke sana. Orang dalam tandu yang berkepandaian tinggi, si gadis berbaju merah yang dingin itu, sudah tak terpikir lagi dalam benaknya. Sebaliknya hancur luluh perasaan Thian-thay-mo- ki, disadarinya betul-betul bahwa Ji Bun hakikatnya tidak suka dan menaruh hati terhadap dirinya, hatinya sudah tercuri oleh gadis berbaju merah itu, maka dengan gegetun ia banting kaki, terus menyingkir pergi.

Ji Bun sudah melupakan kehadiran Thian-thay-mo-ki, seorang diri ia terus menghampiri ke sana. Tapi setelah dekat berada di belakang gadis berbaju merah, di mana pandangannya tertuju, seketika dia berdiri tertegun. Di belakang batu gunung yang menonjol di sebelah kanan ternyata masih ada seorang pemuda berbaju putih yang berdiri di sana.

Pemuda itu bagi Ji Bun tidak asing lagi, karena dia bukan lain adalah putera Cip-po-hwecu. Rasa cemburu seketika membakar hatinya. Cip-po-hwe merupakan perkumpulan kelas tiga di Kangouw, dengan segala cara kotor dan jahat mereka merebut, merampas dan mencuri barang berharga milik orang lain. Penculikan Ciang Bing-cu puteri hartawan Kayhong yang berhasil dia gagalkan merupakan salah satu bukti.

Gadis berbaju merah itu bak sebutir mutiara yang agung dan suci bersih, kalau dia bergaul dan berkumpul dengan pemuda macam ini, boleh dikatakan terlalu menurunkan derajat diri dan memalukan. Kebetulan pemuda berbaju putih berpaling ke sini, begitu melihat Ji Bun seketika berubah hebat air mukanya, serunya kaget: "Te-gak Suseng!"

Gadis berbaju merah ikut berpaling, dengan kaget, kebetulan sorot matanya kebentrok dengan pandangan Ji Bun.

Sesuatu yang sukar diperoleh adalah yang paling berharga, hal ini memang tidak salah. Begitu pandangan saling bentrok, badan Ji Bun seperti terkena aliran listrik, seolah-olah dalam jagat raya ini hanya si dia inilah yang tercantik.

Gadis berbaju merah menarik muka, katanya: "Selamat bertemu!"

Karena berlengan buntung maka Ji Bun hanya membungkuk badan memberi hormat, katanva "Memang beruntung dapat bertemu lagi di sini."

Dengan langkah cepat, pemuda berbaju putih mendekati gadis berbaju merah, katanya keheranan: "Adik Hwi, kau sudah kenal?"

Panggilan "adik Hwi"menandakan hubungan mereka sudah tidak biasa, terasa kecut dan mendelu hati Ji Bun.

Dengan lembut gadis berbaju merah berkata kepada pemuda berbaju merah dengan tertawa: "Siaumoay pernah mendapatkan sedikit pertolongannya." "Tuan penolong adik Hwi?" tanya pemuda berbaju putih," namun dia ”

"Kenapa?"

"Dia adalah musuh besarku."

"Musuh besar? Ada permusuhan apa di antara kalian." "Menerobos ke markas kami, membunuh dan menculik orang."

"Oh," gadis baju merah hanya bersuara dalam mulut dengan melongo.

Tak tertahan lagi kobaran amarah Ji Bun, hawa hitam yang tebal sudah terpusat di antara kedua alisnya, dengan tajam dia tatap pemuda berbaju putih, dengusnya; "Kau ini terhitung barang apa?"

Agaknya pemuda baju putih betul-betul sudah jeri terhadap Ji Bun, dia menyurut mundur dan tak berani menanggapi.

"Te-gak Suseng," seru gadis berbaju merah sedikit marah, "jangan memaki orang!"

3.9. Peresmian Perkumpulan Wi-to-hwe

Menyala biji mata Ji Bun, namun ia tahan perasaannya, katanya:" Cayhe mohon diberitahukan siapa nama harum nona?” "Aku bernanaa Pui Ci-hwi.”

“Kenapa nona Pui sudi bergaul dengan manusia macam dia ini?" “Manusia macam dia apa maksudmu?"

“Kaum keroco di Kangouw, perbuatannya kotor dan wataknya bejat."

Karena dimaki dan dijelekkan dihadapan pujaan, meski jeri pemuda baju putih menjadi marah dan berani, teriaknya: "Te-gak Suseng, sepak terjang dan nama gelaranmu itu memangnya harum bagi kaum persilatan?"

Mata Ji Bun mengerling sedikit, jengeknya sinis: "Kau tidak setimpal menyinggung nama gelaran dan perbuatanku."

"Aku pernah mendapat pertolongan tuan," kata gadis berbaju merah, "kelak pasti kubalas ”

"Selamanya Cayhe tak pernah mengharap balas budi siapapun," ujar Ji Bun.

"Itu urusan lain, tuan kemari atas undangan?" tanya si gadis berbaju merah, "kenapa tidak langsung masuk saja?"

Hampa hati Ji Bun karena sikap dingin dan diusir secara halus ini, ia merasa terpukul gengsinya, dengan menarik muka ia berkata dengan mengertak gigi: "Nona Pui, Cayhe memberi peringatan setulus hati, hati-hatilah terhadap manusia tamak berhati serigala, cabul lagi, supaya kelak tidak menyesal setelah kasip." Habis berkata ia terus putar badan hendak tinggal pergi.

Pemuda berbaju putih berkata dingin:"Orang seperti ini hadir dalam pembukaan Wi-to-hwe, kehadirannya mengotori suasana saja."

Manusia mana yang suka mendengar makian atau ejekan yang menghina, apa lagi Ji Bun yang memang berwatak nyentrik, walau dia sudah berjanji hendak ubah watak dan perilaku demi suksesnya menuntut balas, namun sabar ada batasnya, apalagi dihina di depan gadis pujaan hatinya, segera ia membalik pula dengan mendesis mendelik: "Kau ingin mampus?"