Hati Budha Tangan Berbisa Jilid 02

 
Jilid 02

Bagaimana dia dapat muncul disaat ini? Lalu apa sangkut pautnya semua korban ini dengan dia? Muka gadis berbaju merah kelihatan mengunjuk amarah yang tak tertahankan, matanya seperti hampir tarbakar. Apakah yang telah terjadi? Dengan langkah berat Te-gak Suseng maju beberapa tindak, lalu sapanya,

“Tak nyana di tempat ini bertemu lagi dengan nona?"

"Te-gak Suseng." bentak si gadis baju merah dengan bengis, "kejam benar perbuatanmu "

Terkesiap hati Te-gak Suseng, serunya: "Nona bilang apa?" "Kau tidak berperikemanusiaan."

"Cayhe baru saja tiba, mayat-mayat ini ”

“Tutup mulutmu. Dengan mataku sendiri pernah kusaksikan kau membunuh orang tanpa neninggalkan bekas, kini kenyataan terpampang di depan mata, tiada alasan bagimu untuk mungkir lagi. Hayo katakan, dengan cara keji apa kau membunuh mereka?" Te-gak Suseng tertawa getir, katanya: "Bukan Cayhe yang melakukannya."

"Memangnya siapa?” "Ini entahlah."

"Berani membunuh orang kenapa kau tidak berani mengakuinya?”

"Terus terang, tidak sedikit orang yang telah kubunuh, namun kejadian di sini memang betul-betul bukan perbuatanku."

"Cara bagaimana kau bisa berada di tempat ini?" "Tanpa sengaja aku masuk kemari.”

"Hm," dengus si nona.

Watak Te-gak Suseng angkuh dan latah, biasanya dia tidak sudi banyak bicara, namun keadaan hari ini berbeda dengan biasanya, orang yang dihadapinya adalah gadis pujaannya, walau cintanya bertepuk sebelah tangan, namun hal ini cukup menjadikan alasan untuk mengekang perasaan dan kendalikan wataknya, kalau orang lain tentu sikapnya sudah jauh berubah.

Namun sekarang meski dia ingin melimpahkan isi hatinya juga tidak mungkin lagi, betapa risau hatinya, dapatlah dibayangkan, dan yang lebih penting adalah bahwa si nona yang turun tangan jahat membunuh orang sebanyak ini, dan berbalik menuduhnya malah, semua ini secara langsung telah memunahkan cita-cita dan keinginannya. Setelah membisu sekian lamanya, lalu dia bertanya,

"Nona bernama siapa?"

"Kau tidak perlu tahu," semprot si gadis baju merah, "aku tidak sudi beritahu kepadamu."

Berkerutuk gigi Te-gak Suseng, sedapat mungkin dia menahan perasaan dan gejolak hatinya, katanya,

"Lalu apa sangkut paut nona dengan semua korban ini?" Meadelik mata gadis berbaju merah, serunya beringas, "Aku ini adalah penuntut batas sakit hati mereka."

Te-gak Suseng menyurut mundur.

"Sekali lagi kunyatakan, bukan aku yang membunuh mereka." "Jiwa ratusan orang, apakah cukup dengan jawaban sepatah kata

ini?"

"Lalu apa yang harus Cayhe katakan dan buktikan?"

Semua korban tiada satupun yang terluka atau keracunan, cara membunuh orang yang tiada keduanya ini, kecuali kau memangnya siapa lagi orangnya?" "Nona terlalu yakin akan pendirian sendiri. Cayhe tak tahu apa pula yang harus kukatakan."

Tiba-tiba derap kaki orang banyak datang dari luar. Sebuah tandu berhias dipikul empat laki-laki kekar mendatangi, langsung menuju pekarangan tengah. Di belakang tandu beriring puluhan orang seragam hitam. Tandu diturunkan, keempat pemikulnya berdiri  tegak di tempatnya sambil meluruskan tangan.

Lekas si gadis baju merah menghampiri ke depan tandu, lalu berbisik-bisik dari balik kerai, entah apa yang dia laporkan, lalu diapun berdiri ke samping.”

Te-gak Suseng menjadi sebal, siapakah orang yang berada dalam tandu? Semua orang berbaju hitam sama memandangnya dengan sorot mata gusar penuh kebencian, seakan-akan ingin membeset kulit dan mengiris dagingnya.

Suasana hening mencekam perasaan, lama sekali baru terdengar sebuah suara perempuan yang kereng berkata,

"Kau ini berjuluk Te-gak Suseng?" "Betul!"

"Terangkan asal usulmu."

"Maaf, tak bisa kupenuhi permintaan ini." "Hm, dengan keji kau menghabisi ratusan jiwa orang, apa alasanmu?"

"Sudah berapa kali Cayhe menyatakan, bukan Cayhe yang melakukannya."

"Dengan apa kau membuktikan bukan perbuatanmu?" "Dengan kehormatan pribadiku."

"Hahaha, kau, Te-gak Suseng, juga berani bicara soal kehormatan pribadi."

Berubah roman muka Te-gak Suseng, dia tidak terima dihina dan dicemooh, hawa hitam di tengah kedua alisnya semakin tebal, siapapun akan merinding melihat nafsunya yang mulai berkobar.

Katanya sambil melangkah dua tindak ke arah tandu, "Siapa sebutan yang mulia?"

"Kau belum setimpal untuk tanya diriku."

Tak tertahan lagi Te-gak Suseng segera ayun tangannya menggempur ke arah tandu, serangan yang dilandasi hawa amarah ini, kekuatannya bagai kilat menyambar dan seperti badai mengamuk.

Semua orang berbaju hitam yang hadir sama menggerung gusar, namun tiada satupun yang berani turun tangan. Gadis berbaju merah sebaliknya mengunjuk rasa jijik mencemoohkan. Kerai tandu tampak sedikit bergoyang, dari dalam tandu timbul serangkum angin lembut, seketika damparan badai pukulan Te-gak Suseng yang dahsyat itu sirna tanpa bekas.

Gemetar dan merinding Te-gak Suseng, Lwekang orang dalam tandu sungguh teramat tinggi. Tiba-tiba teringat olehnya, Siang- thian-ong pernah memberi peringatan kepada Bu-cing-so bahwa gadis baju merah ini mempunyai tulang punggung yang amat tangguh, siapapun tak berani mengusiknya, agaknya kata-kata itu bukan gertakan belaka.

Sesaat lamanya dia menjadi bingung, bagaimana baiknya. kenyataan membuktikan bahwa dirinya bukan tandingan orang, namun dasar wataknya kaku dan suka menang, tak pernah terpikir olehnya untuk menyingkir saja, apalagi di hadapan si gadis baju merah yang dipujanya, tak sudi dia unjuk kelemahan.

Terdengar orang di dalam tandu buka suara pula:"Te-gak Suseng, berkatalah terus terang sajal"

"Tiada yang harus kukatakan," jawab Te-gak Suseng. "Kau ingin mampus?"

"Belum tentu kau mampu!"

"Agaknya sebelum melihat peti mati, kau tidak akan menangis," kembali kerai tandu bergoyang, segulung angin kencarg mendampar keluar, secara refleks Te-gak Suseng ayun tangan memapak dengan pukulan.

"Plok" seperti ledakan halilintar di tengah angkasa, Te-gak Suseng terhuyung-huyung puluhan langkah, mukanya pucat pasi, dua jalur darah meleleh dari ujung mulutnya. Sejak dia mengembara, baru pertama kali ini bertemu dengan musuh tang¬guh yang menakutkan ini, sampai balas menyerang atau membela diripun ia tak mampu.

Gadis berbaju merah berkata dingin,

"Te-gak Suseng, baiknya berterus teranglah."

Sorot mata Te-gak-Suseng menatap wajah si¬gadis, walau mukanya diliputi rasa dendam dan kebencian, namun tetap menggiurkan, sikapnya agung berwibawa.

Seketika kuncup amarah Te-gak Suseng yang meluap-luap berhadapan dengan si gadis yang telah menambat hatinya itu. Sungguh dia tidak habis mengerti akan perasaannya ini, katanya getir sambil membersihkan noda darah dimulutnya,

“Nona, bukan aku pembunuhnya." Terdengar suara kereng dari dalam tandu.

"Periksa dengan teliti jenazah para saudara yang menjadi korban." Beberapa orang mengiakan, puluhan orang berbaju hitam segera bekerja memariksa mayat-mayat yang bergelimpangan, tempat- tempat yang terlarangpun tidak ketinggalan mereka periksa, akhirnya semua memberi laporan yang sama,

"Tiada tanda-tanda luka sedikit pun."

Te-gak Suseng menengadah mukanya berkerut, dia tahu sebabnya, namun tidak mau mengatakan.

"Majukan tandu ini!" bergegas empat pemikul tandu angkat tandu berhias itu dan maju langsung mendekati Te-gak Suseng.

Suara orang dalam tandu semakin dingin,

"Te-gak Suseng," serunya, "pada dirimulah kubongkar teka teki ini,"

"Yakin yang mulia pasti akan kecewa." "Tunggu saja hasilnya nanti."

Beberapa jalur kencang mendesir keluar dari balik kerai tandu. Secepat kilat Te-gak Suseng melejit ke samping, gerak geriknya boleh dikata teramat cepat. Namun kepandaian orang dalam tandu sungguh luar biasa, seolah-olah dia sudah memperhitungkan dengan tepat ke mana Te-gak Suseng akan bergerak, maka dalam waktu yang sama beruntun beberapa jalur angin kencang menyambar pula, sehingga Te-gak Suseng seperti memapak sendiri ke arah terjangan angin kencang ini. Kontan sekujur badan tergetar, darah terasa bergolak seperti beribu ular menggigit badannya, betapa besar siksa derita ini sukar dilukiskan.

Keringat berketes-ketes, saking kesakitan raut mukanya sampai berubah bentuk, badannya mengejang. Tapi dia mengertak gigi tanpa mengeluh sedikit pun, kedua biji matanya merah membara dan melotot.

Lama kelamaan pandangan matanya semakin kabur dan berkunang-kunang.

"Buuk", akhirnya dia roboh terguling dan berkelejotan beberapa kali, lalu merangkak bangun dan meronta kesakitan, ingin memaki namun tak mampu mengeluarkan suara.

"Kau mau bicara tidak?" "Ti....tidak ''

"Bluk", kembali dia terguling jatuh, badannya meliuk-liuk dan meringkal, napasnya mulai memburu, dari mulut, kuping dan hidung merembes darah.

Kata orang di dalam tandu itu penuh kebencian: "Te-gak Suseng, tak nyana terhadap badanmu sendiri kaupun berlaku begini kejam." Menghimpun seluruh tenaganya, Te-gak Suseng menjerit dengan beringas: "Kalau ...... kalau aku ..... tidak .... mati, ..... aku ......

bersumpah akan mem membunuhmu."

“Geledah badannya," orang dalam tandu itu memberi perintah, "keluarkan sesuatu yang bisa menunjukkan tanda dirinya."

Seorang laki-laki tua baju hitam segera melangkah maju sambil mengiakan, dia membungkuk badan serta ulur tangan. Tiba-tiba laki- laki baju hitam memekik seram terus terbanting jatuh, sebentar kaki tangan meronta-ronta cepat sekali jiwanya lantas melayang. 

Terdengar gerungan gusar, kembali sejalur angin lesus menyampuk keluar dari dalam kerai. Kontan badan Te-gak Suseng terlempar beberapa tombak dan terbanting diam.

"Bunuh dia," orang di dalam tandu memberi perintah, dua orang berbaju hitam mengiakan sambil menghunus pedang,

"Berhenti!" di kala kedua orang berbaju hitam itu merandek karena seruan itu, sesosok bayangan orang bagai kilat tahu-tahu melayang turun, kiranya seorang gadis jelita.

“Siapa kau?" bentak orang di dalam tandu. "Thian-thay-mo-ki."

"Apa maksud kedatanganmu?" "Kau bertindak keterlaluan." "Apa maksudmu?"

"Te-gak Suseng memang dugal dan nyentrik, namun dia bukan laki-laki rendah yang tidak punya rasa tanggung jawab, kalau membunuh orang tidak nanti dia mungkir."

"Kau sekomplotan dengan dia?"

“Asal usulnya aku tidak tahu, namun belum ada setengah jam dia baru berpisah dengan aku, kusaksikan sendiri dia masuk ke kelenteng ini, lalu kalianpun berdatangan, apakah kau yakin dalam waktu setengah jam ini dia mampu membunuh ratusan orang yang berkepandaian tinggi?"

“Soalnya tidak terletak pada waktu, namun terletak pada cara dia membunuh."

"Aku berani menjadi saksi bahwa bukan dia pembunuhnya." "Kemungkinan kau bekerja sama dengan dia."

Membesi wajah Thian-thay-mo-ki, katanya murka,

"Kau berkepandaian silat tinggi lalu kau boleh sembarangan menuduh orang?"

"Hm, kalau kau memang sekomplotan, kaupun takkan luput dari tanggung jawab, seluk beluk urusan ini pasti akan terbongkar." Badan Te-gak Suseng tampak bergerak-gerak, dengan rasa iba Thian-thay-mo-ki mengawasinya lalu berkata kepada si gadis baju merah: "Nona, tentunya kau tidak lupa bahwa dia pernah menolong kau dari tangan orang-orang Ngo-lui-kiong bukan?"

Berubah air muka si gadis baju merah: "Betul, hal itu takkan kulupakan, namun jiwa ratusan orang ”

"Kenyataan belum membuktikan bahwa dialah pembunuhnya bukan?"

"Hanya dia yang ada di sini, orang yang baru saja mati ini, keadaannya mirip dengan yang lain-lain, apakah ini tidak bisa dijadikan bukti, coba bagaimana kau akan menjelaskan?"

"Aku tidak perlu menjelaskan, namun aku yakin bukan dia yang turun tangan, kutanggung "

"Kau tidak setimpal untuk menanggung dia " sela orang di

dalam tandu.

Thian-thay-mo-ki angkat tangannya, serunya, "Kalau dengan ini bagaimana?”

Di antara jari telunjuk dan jari tengahnya terselip sebentuk batu giok yang berbentuk menyerupai hati sebesar telapak tangan bayi, batu giok itu berlobang tiga di tengahnya.

"Sam-ci-ciat!" orang di dalam tandu berseru kaget. "Betul kau kenal benda ini?" jengek Thian-thay-mo-ki dingin. "Kau kau murid beliau?”

"Betul!"

Berdiam sesaat lamanya, lalu terdengar orang di dalam tandu bersuara berat,

"Baik, mengingat benda ini, persoalan sementara sampai di sini dulu, namun urusan belum selesai ”

"Kalau kelak dapat dibuktikan bahwa Te-gak Suseng ada sangkut pautnya dengan pembunuhan ini, kutanggung menggusur dia kehadapanmu, terserah kau menghukumnya."

"Baik, boleh kau membawanya pergi." "Hiat-tonya yang tertutuk ”

“Sudah dibebaskan, kalau tidak tentu jiwanya sudah melayang sejak tadi.''

Terunjuk perasaan serba salah pada wajah Thian-thay-mo-ki, sesaat dia bungkam, tiba-tiba dia banting kaki terus membungkuk dan hendak memanggulnya ...........

Tak terduga pada saat itu pula tiba-tiba Te-gak Suseng membuka mata, "Jangan kau sentuh aku," katanya dengan suara gemetar, dengan tangan menyanggah tanah, dia merangkak bangun dengan sempoyongan.

Thian-thay-mo-ki melenggong, kembali wajahnya mengunjuk perasaan benci tapi juga kasihan, mulut sudah bergerak namun urung bicara.

Dengan tatapan dingin Te-gak Suseng menyapu pandang semua orang yang hadir, lalu dia tatap pula muka si gadis baju merah sebentar, habis itu baru berputar kepada Thian-thay-mo- ki dan berkata,

"Kebaikanmu ini akan terukir dalam hatiku.”

Lalu dengan langkah sempoyongan dia beranjak ke pintu kelenteng.

Bulan sabit menghiasi angkasa, bintang-bintang bertaburan, cakrawala remang-remang kebiruan, angin malam terasa dingin mengiris kulit.

Thian-thay-mo-ki mengintil di belakang Te-gak Suseng, entah berapa jauh mereka berjalan, akhirnya dia berkata,

"Dik, lukamu tidak ringan, berobat dulu lebih penting." Betapapun dingin dan kaku sikap Te-gak Suseng, akhirnya terharu juga akan kebaikan orang, katanya sambil menghentikan langkah,

"Terima kasih atas perhatianmu, rasanya Cayhe tahu cara bagaimana harus mengurus diri. Sekarang boleh silakan pergi saja, Cayhe tak ingin bikin repot kau."

Dengan mendongkol Thian-thay-mo-ki melerok ke arah Te-gak Suseng, katanya dingin,

"Kau tidak sudi bergaul bersamaku?"

"Bukan begitu, Cayhe tidak suka terlalu banyak utang budi."

"Te-gak Suseng," seru Thian-thay-mo-ki marah-marah, "kau kira aku ini betul-betul perempuan rendah? Hm!"

Dengan murka dia terus putar badan dan berlari pergi, cepat sekali bayangannya menghilang ditelan kegelapan malam.

Te-gak Suseng ingin memanggil dan memberi penjelasan, namun urung, ia tahu isi hati orang, namun dia merasa sebal berhadapan dengan tingkah laku orang yang genit.

Dia geleng-geleng kepala, lalu beranjak masuk ke hutan, luka dalam yang parah, ditambah siksa tutukan jalan darah yang terbalik, sungguh tak tertahankan lagi, untunglah wataknya yang keras tetap bertahan, kalau tidak, mungkin dia tak kuat bergerak lagi. Sekarang yang penting mengobati luka-luka, urusan lain harus dikesampingkan dulu.

Dengan mengerahkan seluruh tenaganya baru dia dapat tiba di dalam hutan, lalu duduk di bawah sebuah pohon, tenaga seolah-olah sudah habis sama sekali, tulang sekujur badan serasa retak dan terlepas dari ruasnya. Dia tenangkan diri mengatur napas lalu keluarkan dua butir obat dan ditelannya, pelan-pelan ia pejamkan mata, pusatkan pikiran untuk bersamadhi.

Tiba-tiba sesosok bayangan orang yang besar bagai setan menyelinap ke luar dari dalam hutan, matanya menyapu keadaan sekelilingnya, lalu melompat dekat ke arah Te-gak Suseng. Saat-saat genting tengah dicapai dalam latihan Te-gak Suseng yang sedang samadhi ini, maka apa yang terjadi di sekelilingnya tidak dilketahui sama sekali. Bayangan orang itu tiba-tiba angkat tangan memukul batok kepala Te-gak Suseng.

Dalam keadaan seperti Te-gak Suseng ini, cukup sedikit sentuh dengan tutukan jari saja akan membuatnya celaka, kalau tidak Cau- hwe-jip-mo dengan badan cacat, malah mungkin nyawa bisa melayang.

Pada detik-detik genting itu, sebelum jiwa Te-gak Suseng direnggut pukulan telapak tangan bayangan besar itu, di luar dugaan, tahu-tahu orang itu menghentikan tangan di tengah udara, seakan-akan sedang memikirkan sesuatu, lama sekali baru kembali dia ayun tangannya. "Heh!" tiba-tiba terdengar suara orang mendengus, reaksi bayangan orang itu teramat cepat dan sukar dilukiskan, secepat kilat dia menubruk ke arah datangnya suara.

"Siapa?" hardiknya.

Dari balik pohon sana„ melompat ke luar sesosok bayangan langsing.

“Hm, Thian-thay-mo-ki " jengek bayangan orang tadi. "Betul, tuan ini orang kosen dari mana?"

Ternyata setelah tinggal pergi dengan rasa dongkol. Thian-thay- mo-ki tidak tega meninggalkan Te-gak Suseng dalam keadaan sepayah itu, maka diam-diam dia putar balik, kebetulan bayangan aneh yang hendak membunuh Te-gak Suseng ini kepergok olehnya. Kuatir mengganggu Te-gak Susen.g, maka dia hanya tertawa dingin dan berusaha memancing bayangan misterius itu.

Di bawah sinar bulan sabit yang remang-remang menembus dari sela-sela dedaunan, kelihatan bayangan mis¬terius ini adalah seorang berjubah sutera dan berkedok. Bahwa namanya sendiri diketahui orang, sebaliknya siapa orang itu Thian-thay-mo-ki tidak tahu, mau tidak mau ia merasa ngeri namun tetap waspada.

Orang berkedok itu berkata dengan menyeringai: "Budak, siapa diriku kau tidak perlu tahu, yang terang kau takkan bisa pergi dengan hidup." Thian-thay-mo-ki terkikik,

"Lho, memangnya kenapa? " tanyanya. "Tidak apa-apa"

"Manusia durjana sekalipun, kalau membunuh orang tentu punya alasan."

"Omong kosong, untuk membunuhmu tidak perlu pakai alasan segala, cukup asal kuanggap perlu membunuhmu."

Tegak alis lentik Thian-thay-mo-ki. Katanya,

"Lantaran aku mengganggu tuan membunuh Te-gak Suseng?" "Anggaplah betul ucapanmu."

"Te-gak Suseng bertangan gapah, semua korbannya tidak meninggalkan bekas-bekas luka, membunuh dia berarti memberantas kejahatan di Kangouw, namun tuan kan tidak perlu membunuh dan menutup mulutku ”

"Ha ha ha, perempuan jalang, kau kira orang macam apa diriku ini, kau naksir dia, tapi dia tidak suka padamu, barusan kau pergi dengan marah-marah, kenapa sekarang putar balik lagi?"

Berubah air muka Thian-thay-mo-ki, agaknya bayangan misterius ini mengetahui apa yang telah terjadi, lalu apa tujuannya hendak membunuh Te-gak Suseng? Meski tahu takkan memperoleh jawabnya, namun bisa mengulur waktu, juga baik, dia berharap Te- gak Suseng lekas bangun dari samadhinya. Maka dengan tertawa menggiurkan dia berkata,

"Agaknya tuan malah yang berminat?" "Sudah tentu."

"Dari perawakan tuan tentunya bukan sebangsa manusia rendah, dalam Bu-lim tentu punya kedudukan penting, apakah tidak malu melakukan perbuatan rendah ”

"Kau keliru, aku tidak pedulikan segala peraturan."

"Oh, kau takut kalau sebentar dia siuman, kau bukan tandingannya?"

"Terserah apa yang kau duga, yang terang kalian harus sama- sama mampus. Kau hendak mengulur waktu, bukan? He he he "

di tengah tawa dinginnya, tahu-tahu tangannya mencengkeram kearah Thian-thay-mo-ki, gerakannya secepat kilat, aneh lagi.

Namun Thian-thay-mo-ki waspada dan siaga, baru pundak orang bergerak, dia ayun tangan, segenggam jarum segera dia taburkan, jarum rahasianya ini selembut bulu kerbau, beberapa tombak sekelilingnya bisa dicapainya, apa lagi jarak kedua orang begini dekat, mustahil kalau lawan tidak terluka.

Tapi orang berkedok acuh tak acuh seperti tidak terserang apa- apa, gerak tangannya tetap mencengkeram, hujan jarum itu sebagian besar mengenai badan orang, namun pergelangan tangan Thian-thay-mo-ki juga terpegang oleh lawan.

Serasa terbang sukma Thian-thay-mo-ki saking kaget, bahwa jarum-jarumnya itu adalah senjata rahasia yang terkenal ganas dan ditakuti persilatan, yaitu Siok-li-sin-ciam (jarum gadis suci) yang bisa nyusup ke badan manusia mengikuti aliran darah, kalau terlambat diobati, jarum akan merusak jantung orangnya binasa.

Selama dia berkelana baru pertama kali ini dia kebentur seorang yang tidak takut, terluka oleh jarum-jarum saktinya, dan lebih menakutkan lagi bahwa jarum-jarum yang mengenai badan orang itu tahu-tahu sama rontok berjatuhan, sungguh luar biasa dan sukar dibayangkan.

Sedikit orang berkedok itu kerahkan tenaga seketika Thian-thay- mo-ki merasa sekujur badannya lemas lunglai, tenaga murninya tak mampu dikerahkan lagi.

Orang berkedok itu terloroh-loroh, matanya memancarkan sinar jalang serta merta terasa oleh Thian-thay-mo-ki akan maksud jahat orang, seketika kecut perasaannya.

Dengan sebelah tangannya orang berkedok mengusap wajah Thian-thay-mo-ki, sorot matanya yang bernafsu menjelajah seluruh badan orang yang padat berisi, lalu gumamnya dengan suara berat,

"Sayang sekali kalau kubunuh begini saja, makhluk seayu ini, kenapa tidak kunikmati dulu. ” Pucat pias muka Thian-thay-mo-ki, badanpun gemetar. Kata orang berkedok dengan tawa lebar,

"Rase genit, walau aku sudah setengah baya, namun Soal hubungan laki perempuan tanggung nomor satu di dunia ini. Kau tidak percaya? Sebentar boleh kau buktikan, ha ha ha ha. !"

Gelak tawa yang penuh nafsu birahi itu menyentak sanubari Thian-thay-mo-ki. Tapi dia berjuluk Mo-ki (iblis genit), tentunya julukannya ini bukan diperolehnya secara gampang, cepat dia ubah sikap dan unjuk tawa genit dengan aleman,

"Apa benar?" tanyanya.

"Sudah tentu, kenyataan akan membuktikan." ujar orang berkedok itu lalu cekakak seperti orang gila.

"Kalau begitu lepaskan tanganku."

"Tidak bisa, diriku tidak gampang dipermainkan, memangnya aku tidak tahu apa yang terkandung dalam hatimu? Hahaha " lalu ia

seret Thian-thay-mo-ki ke arah Te-gak Suseng, katanya pula,

“Ilmu silatmu akan kupunahkan dulu, sekarang kubereskan anak keparat ini, kemudian bersenang-senang dengan kau." Tiba-tiba jari telunjuknya bergerak, Thian-thay-mo-ki terhuyung-huyung jatuh terduduk tak mampu bergerak lagi. Orang berkedok itu lalu menghampiri Te-gak Suseng yang masih samadhi itu. Hakikatnya Te-gak Suseng tidak menyadari bahwa elmaut tengah mengancam dirinya. Seakan-akan menyala kedua biji mata Thian- thay-mo-ki, jari tengahnya tiba-tiba menutuk beberapa Hiat-to di badan sendiri, tahu-tahu dia melompat berdiri dengan gerakan gemulai terus menubruk ke arah orang berkedok.

Hampir dalam waktu yang sama, terdengar jeritan seram yang menggetarkan sukma, dengan muntah darah Te-gak Suseng terpukul mencelat beberapa tombak jauhnya. Sigap sekali orang berkedok itu membalik badan, kebetulan dia menampak kedatangan Thian-thay-mo-ki, dengan bersuara heran, kontan dia ayun tangannya menyapu,

"Blang,” Thian-thay-mo-ki juga terpental balik.

Badan Te-gak Suseng terbanting keras dan tidak bergerak mungkin jiwanya sudah melayang.

"Hebat juga rase genit ini,” dengus orang berkedok, "ternyata kau tidak mempan tutukan."

Thian-thay-mo-ki ayun tangan, sebuah benda. berkilauan tiba- tiba menyambar orang berkedok itu.

"Cit-sian-hwi-yim!”, teriak orang berkedok kaget. Sebat sekali dia berkelebat menyingkir, namun benda berkilau itu seperti benda hidup layaknya, tahu-tahu melingkar balik terus berputar-putar satu lingkaran, dua lingkaran dan seterusnya, belum lingkaran pertama lenyap, lingkaran selanjutnya sudah saling susul menjadikan taburan sinar bundar laksana jala yang ketat dengan mengeluarkan desis angin kencang, siapa takkan kaget dan takut.

Gerakan orang berkedok ternyata bagai setan berkelebat di tengah-tengah kepungan jala bersinar tajam itu. Tiba-tiba terdengar mulutnya menggerang cahaya terangpun seketika kuncup, tertampak kain kedok kepala orang berkedok tadi basah oleh darah, jelas sekali batok kepalanya tergores luka selebar tiga senti.

"Rasakan sekali lagi," teriak Thian-thay-mo-ki geram, kembali dia ayun tangannya. Tapi orang berkedok bergerak lebih cepat, belum sempat Cit-sian-hwi-yim (pisau terbang) di lepaskan, bagai kilat menyamber tahu-tahu orang berkedok itu sudah melejit ke atas seraya memukul dengan kedua tangannya, pada saat senjata rahasia Thian-thay-mo-ki ditimpukkan, pukulan dahsyat lawanpun sudah mendampar tiba "Blang", kontan dia terguling roboh. Pisau terbangnya yang melengkung itu sempat berputar di tengah udara, namun bayangan orang berkedok sudah berkelebat di luar jangkauan lingkaran cahaya terang itu. Setetah melingkar tujuh kali, pisau melengkung itu akhirnya jatuh di atas tanah.

Orang berkedok mendekati Thian-thay-mo-ki. Dilihatnya darah meleleh dari mulut dan hidungnya, jelas napasnya sudah terhenti, sejenak dia termenung berkata dingin,

"Perempuan sundel, boleh kau menjadi pasangan di alam baka dengan anak keparat itu."

Habis berkata, berkelebat bayangannya lantas lenyap. Suasana dalam hutan hening lelap, hanya suara keresekan daun pohon yang tertiup angin sehingga kesunyian mencekam perasaan. Setengah jam telah berlalu, dua orang laki-laki berbaju hitam memasuki hutan untuk meronda, tiba-tiba satu diantaranya menjerit kaget,

"Lihat, apa itu?"

Bergegas mereka melompat maju, seorang yang lain juga berteriak,

"Hah, bocah itu!” "Siapa?" tanya temannya. "Te-gak Suseng."

Serta merta keduanya menyurut dua langkah, sesaat mereka mematung, setelah ditunggu tiada gerak apa-apa, salah seorang coba melangkah maju pula. Setelah longok sana longok sini, dia ulur tangan menyentuh badan orang, kemudian teriaknya dengan mendelik,

"Sudah mati!"

"He, di sana juga ada itulah Thian-thay-mo-ki, dia juga

mati.”

"Aneh, kenapa mereka sama-sama mampus dalam hutan ini, siapakah pembunuhnya?" "Mungkin dia orang tua ”

"Tutup mulutmu, kau ingin mampus, berani cerewet!"

"Hihi, coba lihat, nona yang begini menggiurkan, meski sudah tidak bernyawa ”

"Kenapa?"

"Hehe ......sungguh sungguh membuatku tak tahan lagi."

"Li Ji, keparat kau ini, jangan terpikat paras cantik, dia kan sudah mati."

"Lo-ong, terus terang, di kala dia masih hidup, untuk mencium pantatnya saja jangan kau harap "

"Memangnya kau hendak memperkosa mayatnya?"

"Ah, tidak, tapi merabanya saja kan boleh?" orang berbaju hitam yang dipanggil Li Ji lantas mendekati Thian-thay-mo-ki terus berjongkok dan mengulur tangan.

"Waaaah!" jeritan panjang yang seram dan mengerikan memecah kesunyian. Li Ji terbanting roboh celentang, kepalanya pecah mukanya hancur, jiwanya melayang seketika.

Laki-laki berbaju hitam yang lain serasa copot nyalinya.

Memangnya orang mati mampu membunuh orang? Tahu-tahu Thian-thay-mo-ki melompat bangun dengan gaya yang menggiurkan.

Seperti dikejar setan laki-laki berbaju hitam itu segera lari lintang pukang, beberapa langkah lagi dia sudah tiba di pinggir hutan, tahu- tahu seorang membentak dingin di hadapannya,

"Berhenti!"

Bergidik dan gemetar sekujur badan laki-laki berbaju hitam itu, bulu kuduknya berdiri semua, yang mencegat di tengah jalan kiranya Thian-thay-mo-ki. Noda darah masih meleleh dari hidung dan mulutnya. Kaki terasa lemas, kontan dia jatuh terkulai, mulut terpentang dan megap-megap tak mampu bersuara. sekian lamanya baru dia berteriak serak,

"Kau. kau setan atau manusia?"

"Berapa jauh terpautnya antara setan dan manusia?" ujar Thian- thay-mo-ki dingin.

"Apakah kau ti tidak mati? Tapi, jelas tadi kau sudah tak

bernapas?"

"He he, kalau Thian-thay-mo-ki gampang mati, biar kuhapus saja nama julukanku." Habis kata-katanya itu, sekali dia tepuk telapak tangannya, laki-laki berbaju hitam menjerit terus roboh binasa. Bergegas Thian-thay-mo-ki berlari masuk hutan menghampiri Te- gak Suseng, air mata tak tertahan lagi bercucuran, mulutnya menggumam sambil sesenggukkan,

“Beginikah kau mengakhiri hidupmu?"

Sambil bicara dia duduk bersimpuh tangannya terulur ......

"Jangan sentuh dia!"

Tiba-tiba sebuah suara dingin berkumandang di belakangnya.

Dengan kaget lekas Thian-thay-mo-ki tarik tangannya seraya meloncat berdiri.

Dilihatnya seorang perempuan setengah umur berwajah welas asih berdiri di sampingnya. Bagaimana perempuan ini berada di dekatnya sedikitpun tidak disadarinya, dari sini dapatlah dibayangkan bahwa kepandaian silat orang ini cukup tinggi.

Kini teringat olehnya bahwa Te-gak Suseng pernah mencegah dirinya menyentuh tubuhnya. Perempuan yang muncul mendadak ini juga melarang dirinya menyentuh jenazahnya, kenapa? Siapakah petempuan ini? Dengan hambar dia lantas bertanya,

“Siapakah Cianpwe ini?"

"Namaku tidak perlu disebut lagi.” Thian-thay-mo-ki melengak, tanyanya, "Kenapa Cianpwe melarang aku menyentuhnya?"

Tidak menjawab pertanyaannya, perempuan itu malah maju mendekat, dengan jari-jari tangannya yang halus putih meraba sekujur badan Te-gak Suseng.

Tak tahan Thian-thay-mo-ki berkata,

"Seorang berkedok telah memukulnya mati di saat dia bersamadhi."

Perempuan setengah umur itu menghela napas penuh rasa iba, dua butir air mata menetes, katanya pilu,

"Kasihan!"

Dengan terbelalak Thian-thay-mo-ki mengawasi, tanyanya, "Cianpwe kenal dia?"

"Bukan saja kenal, dia ”

"Cianpwe pernah apa dengan dia?" "Ah, tak perlu dibicarakan lagi.”

Jawaban yang tak karuan, ini membuat Thian-thay-mo-ki tidak sabar, bukan saja Te-gak Suseng tidak menyintai dirinya, malah bersikap kasar, namun dia benar-benar menaruh hati kepadanya. Perasaan manusia, memang sulit diraba, dia sendiri tidak habis mengerti kenapa dirinya kasmaran terhadap laki-laki berlengan buntung yang baru dikenalnya ini.

Mungkin karena watak mereka ada titik persamaannya, atau mungkin Te-gak Suseng memang laki-laki yang patut dicintai setiap perempuan, pendek kata Te-gak Suseng sudah menambat hatinya. Kini dia sudah meninggal, semua ini seperti sebuah impian belaka yang berakhir dengan tragis. Tak tertahan tercetus sumpahnya,

"Aku akan menuntut balas."

Perempuan setengah umur mengawasi Thian-thay-mo-ki dengan tertegun, tanyanya kemudian,

"Kau kau ingin menuntut balas? Kukira sulit sekali."

"Cianpwe tahu siapa laki-laki berkedök itu?"

"Ai, inilah karma, apa pula yang harus kukatakan. Kalian ”

"Tiada hubungan apa-apa," ujar Thian-thay-mo-ki getir. "Kami hanya bersua secara kebetulan saja."

"O, barusan kelihatannya kaupun sudah mati ”

"Tapi aku hidup kembali." "Siapakah gurumu?"

"Aku dilarang menyebut nama beliau." Kembali perempuan setengah umur meraba-raba sekujur badan Te-gak Suseng, lalu katanya sedih,

"Memang sudah nasibnya, hanya mati yang mengakhiri semua dendam. Ai, mestinya belum saatnya dia mati "

"Belum saatnya mati, kenapa?" tanya Thian-thay-mo-ki. "Daya hidupnya belum pudar, sayang sekali ”

"Perempuan itu menjawab ragu-ragu.

2.4. Balasan Pengorbanan Darah Tergerak hati Thian-thay-mo-ki, tanyanya, "Jadi dia masih punya harapan hidup?"

"Ya, tapi aku hanya berpeluk tangan saja."

"Kenapa?"

"Hanya sesuatu saja dalam langit ini yang mampu menghidupkan nyawanya."

Bersinar biji mata Thian-thay-mo-ki, serunya gugup, "Apakah sesuatu itu?" "Ah, tak usah kukatakan. Benda pusaka tak bisa diperoleh secara paksa, apalagi daya hidupnya hanya bertahan sebentar lagi.”

"Cobalah Cianpwe katakan benda apakah itu?” pinta Thian-thay- mo-ki.

"Sek-liong-hiat-ciang (darah naga batu), obat mujarab yang ada di dalam dongeng.”

"Sek-liong-hiat-ciang Sek-liong-hiat-ciang!” gumam Thian-

thay-mo-ki dengan haru dan kegirangan.

Bercucuran pula air mata perempuan setengah umur, katanya tersedu-sedu. "Nona, sikapmu memberitahu kepadaku akan hubungan kalian, aku tak bisa lama di sini, kupikir kau sudi menguburnya dengan selayaknya. Tapi ingat, jangan kau sentuh badan bagian kiri, sekarang aku hendak pergi.”

Pelan-pelan dia berdiri lalu berdoa,

"Nak, maafkan aku.... aku ," kata-kata selanjutnya tertelan

oleh sedu sedannya. Sekali berkelebat, tahu-tahu bayangannya sudah menghilang.

"Cianpwe, tunggu dulu!" teriak Thian-thay-mo-ki. Tapi dia tidak memperoleh jawaban, perempuan setengah umur pergi dan datang secara mendadak. Terpaksa Thian-thay-mo-ki duduk di samping mayat Te-gak Suseng, lama dia terlonggong, akhirnya dia berkertak gigi dan ambil keputusan. "Baik akan kucoba." gumamnya.

Dia singkap lengan bajunya, dengan kuku jarinya yang panjang runcing dia gores lengannya yang putih halus, darah segar segera mengucur keluar. Cepat tangannya yang lain menyanggah dagu Te- gak Suseng sehingga mulutnya terpentang, cucuran darahnya segera di teteskan ke mulutnya. Setengah jam kemudian, Te-gak Suseng sudah menelan puluhan teguk darahnya. Thian-thay-mo-ki menarik napas panjang, ia menghentikan tetesan darahnya terus bersimpuh istirahat.

Setelah istirahat sekian lama, dilihatnya tubuh Te-gak Suseng tetap kejang dingin tidak menunjuk sesuatu perubahan. Apa boleh buat dia menghela napas putus asa, gumamnya: "Agaknya memang sudah takdir.”

Tapi pada saat itulah, tiba-tiba dilihatnya badan Te-gak Suseng mulai bergerak. Dia sangka pandangnya kabur, setelah kucek mata dia pandang lagi lebih jelas terlihat dada orang bernapas turun naik dengan teratur. Sungguh bukan kepalang girangnya. Segera ia hendak meraba dada orang, namun teringat akan peringatan perempuan tadi, lekas-lekas dia tarik tangannya pula, lalu meraba hidungnya, betul-betul terasa hembusan hangat dari lubang hidung.

"Dia hidup kembali Sek-liong-hiat-ciang betul-betul bisa menghidupkan orang yang sudah mati. Kenapa sebelum ini tidak teringat olehku. Untung perempuan itu menyinggungnya, kalau tidak, kematiannya tentu amat 'penasaran," begitulah dia menggumam sendiri dengan suara gemetar. Wajahnya nan ayu bak bunga mekar menampilkan perasaan yang aneh, sudah tentu Te-gak Suseng yang belum siuman itu tidak tahu.

Sebetulnya Thian-thay-mo-ki bisa salurkan hawa murninya membantu orang siuman lebih cepat, tapi teringat pada peringatan perempuan itu, terpaksa dia menahan sabar menunggu reaksi selanjutnya.

Kenapa dia dilarang menyentuh badan bagian kiri, dan di mana letak rahasia Te-gak Suseng yang membunuh orang tanpa meninggalkan bekas luka-luka, tetap akan menjadi teka-teki bagi dirinya. Sang waktu berjalan lambat di dalam penantian yang menggelisahkan.

Bintang-bintang sudah buram, hawa dingin semakin menusuk tulang, hari sudah mendekat fajar. Tiba-tiba Te-gak Suseng membuka kedua mata, remang-remang dilihatnya seseorang bersimpuh di sampingnya. Alam pikirannya masih kabur, lama sekali dia masih dalam keadaan setengah sadar. Akhirnya menjadi jelas juga penglihatannya, dengan sendirinya ingatannya lambat launpun menjadi jernih.

"Oh, dia." ia mengeluh dalam batin, sebelah tangannya menyanggah tanah, ia bangun berduduk.

Sungguh bukan kepalang senang hati Thian-thay-mo-ki, katanya, "Dik, kau kau akhirnya hidup kembali.” Terkesiap darah Te-gak Suseng, dia hanya ingat dirinya masuk hutan dan bersamadhi menyembuhkan luka-luka dalamnya. namun tahu-tahu diserang orang dan apa yang terjadi selanjutnya tidak diketahui. Ucapan ‘hidup kembali’ betul-betul membuatnya kaget dan heran.

"Apa katamu, aku hidup kembali?" ia menegas. "Benar, tadi kau sudah mati sekali."

"Apa yang terjadi?"

"Waktu kau bersamadhi, tiba-tiba muncul seorang laki-laki kekar berkedok dan berjubah sutera ”

"Berjubah sutera dan mengenakan kedok? Lalu bagaimana?" “Kebetulan aku datang waktu dia hendak memukulmu, lantas

kupancing dia pergi, tapi aku bukan tandingannya, jarum-jarum saktiku yang keji tak kuasa melukai dia."

"Oh, orang macam apakah dia?"

"Dia tak mau memperkenalkan diri, entah apa alasannya dia menyerang kau."

"Hm, dan selanjutnya?"

"Dia meringkus aku, menutuk hiat-toku. Untung aku bisa membebaskan diri dengan menjebol jalan darah yang tertutuk hingga terluka. Waktu dia menyerangmu lagi, aku tak sempat membebaskan tutukannya namun aku sempat melukai dengan senjataku yang lain, meninggalkan tanda mata di atas kepalanya. Akhirnya aku menipunya dengan pura-pura mati setelah menutup Hiat-to menghentikan denyut nadi ”

"Kau tidak terluka?"

"Terluka parah, tapi dalam waktu singkat aku bisa menyembuhkan lukaku."

Te-gak Suseng berdiri, katanya dingin, "Ceritamu sudah tamat?"

Berubah air muka Thian-thay-mo-ki mendengar nada pertanyaan orang yang ganjil, serunya,

"Cerita? Apa maksudmu?" Jawab Te-gak Suseng tak acuh,

"Karanganmu amat menarik, sungguh menyentuh sanubari. Semalam kau memang pernah membantuku, kelak pasti akan kubalas kebaikanmu, tapi tidak sepantasnya kau membuntuti diriku. Aku tak berminat terhadap dirimu.”

"Aku aku membuntuti kau?" desis Thian-thay-mo-ki dengan

gusar, badan gemetar wajahpun merah padam. "Laki-laki kekar berkedok dengan jubah sutera yang kau katakan itu aku kenal, malah erat hubungannya dengan aku. Dia mengenakan Thian-hian-ih (baju sutera langit) yang tidak takut api air dan segala macam senjata tajam, maka jarum-jarummu tak dapat melukai dia ”

"Oh, kau ”

"Ketahuilah, dia adalah ayahku, mungkinkah dia membunuhku?

Siapa mau percaya cerita bohongmu?" "Dia dia ayahmu?"

"Sedikitpun tidak salah!"

"Tapi dia betul-betul hendak membunuh kau." kata Thian-thay- mo-ki dengan suara tertekan. "Te-gak Suseng, apa yang aku katakan adalah kejadian nyata, terserah kau mau percaya, mungkin dandanannya yang mirip ayahmu.”

"Tidak mungkin.”

"Di atas kepalanya telah kuberikan tanda mata." "Itu akan kuselidiki.”

"Dan masih ada ”

''Cukup sekian saja, banyak urusan yang harus kuselesaikan, tiada tempo buat ngobrol disini." Sebetulnya Thian-thay-mo-ki hendak mengisahkan munculnya perempuan setengah umur itu, serta mendengar ucapan orang yang tak kenal budi amarahnya jadi memuncak, matanya merah, teriaknya beringas,

"Te-gak Suseng, kau binatang berdarah dingin, tidak punya perikemanusiaan ”

"Anggaplah begitu, selamat berpisah," jengek Te-gak Suseng, lenyap kata-katanya bayangannya sudah berkelebat beberapa tombak jauhnya.

Bergontai badan Thian-thay-mo-ki yang padat semampai, matanya mendelik memancarkan kebuasan, dengan darah sendiri dia menolong jiwa orang, tak nyana begini kasar dan tak kenal budi perlakuan yang diterimanya. Betapa benci dan dendam hatinya sungguh tak terlukiskan dengan kata-kata. Setelah terlongong sekian lamanya, tiba-tiba dia membanting kaki, katanya,

"Kalau tidak kubunuh kau, aku bukan manusia.”

o0o

Sementara itu Te-gak Suseng tengah berlari, ia mengakui bahwa sikapnya rada keterlaluan terhadap Thian-thay-mo-ki, dasar wataknya memang nyentrik dan kaku, dia tak suka bermuka-muka kepada orang lain. Betapapun cerita Thian-thay-mo-ki tentang orang berkedok yang hendak membunuh dirinya sudah menggores dalam lubuk hatinya. Ia anggap demi mencapai cita-citanya sengaja Thian-thay-mo-ki mengarang cerita bohong ini, karena semua itu tidak mungkin terjadi. Namun orang berani bersumpah dan katanya meninggalkan tanda mata di atas kepala orang itu, hal inilah yang perlu dia selidiki kebenarannya. Kalau betul, maka orang berkedok itu pasti penyamaran seseorang jahat yang punya tujuan buruk, memangnya pernah terjadi dalam dunia ini seorang ayah membunuh anak kandungnya sendiri? Siapapun tiada yang mau percaya.

Malam berakhir dan fajarpun menyingsing, Te-gak Suseng mencuci muka di sebuah sungai kecil, membersihkan noda-noda darah di bajunya, lalu melanjutkan perjalanan. Setiba di jalan raya kebetulan dilihatnya beberapa orang penunggang kuda mendatangi, lekas dia menyingkir ke pinggir, tiba-tiba seekor kuda meringkik berjingkrak dan berhenti di sampingnya, seseorang berseru,

"Bukankah kau ini Ji Bun.”

Kejutnya bukan kepalang, selama dia mengembara, belum pernah dia menyebut nama sendiri. Tiada seorangpun kaum persilatan yang tahu nama aslinya. Serta merta dia angkat kepala, hatinya seketika berdetak, ternyata yang menegur adalah Ciang Wi- bin, si hartawan terkaya di Kayhong, seorang tokoh yang di segani pula di daerah Tionggoan. Walau beberapa tahun tak pernah bertemu, namun wajah orang yang kereng dan berwibawa masih diingatnya dengan baik, terutama jenggot orang yang menjuntai panjang di depan dada. Ribuan li ditempuhnya hendak melamar puteri orang she Ciang ini, lantaran si gadis berbaju merah itulah sehingga dirinya berubah niat semula, entah orang sudah tahu belum akan hal ini? Bagaimana kalau ditanyakan, tentu serba runyam dan memalukan. Maka dengan tersipu-sipu dia memberi hormat,

"Keponakan bodoh Ji Bun memberi salam hormat kepada paman Ciang."

Ciang Wi-bin tergelak-gelak sambil melompat turun. Delapan Centing di belakangnya beramai-ramai ikut turun pula.

"Hiantit (keponakan baik), apakah ayahmu baik-baik saja belakangan ini?" tanya orang tua itu.

"Berkat doa paman, beliau sehat-sehat saja."

"Dalam sekejap enam tahun sudah berselang, Hiantitpun sudah dewasa, eh, kau ”

Tanpa sadar Te-gak Suseng Ji Bun menyurut mundur, sahutnya dengan kebat-kebit,

"Paman ada petunjuk apa?" "Lengan kirimu ”

"Salah latihan, terpaksa dibuntungi." "Dibuntung, mana boleh jadi?" Ji Bun tidak menjawab, jantungnya berdebar-debar, ia kuatir orang tanya berbelit-belit.

Berubah roman Ciang Wi-bin mengawasi lengan kiri Ji Bun yang kosong melambai, gumamnya,

"Bagaimana mungkin, bagaimana mungkin " berkelebat sorot

matanya mengawasi Ji Bun, katanya dangan nada rendah, "Kenapa Hiantit datang ke Kayhong seorang diri?"

Ji Bun menjawab dengan suara tergagap,

"Di samping melancong untuk menambah pengalaman, sambil menyelesaikan menyelesaikan suatu urusan."

"Jadi kau juga belajar silat?"

Ji Bun mengiakan sambil mengangguk.

"Ayahmu dulu menamakan kau `Bun` (sastra), maksudnya supaya kau memperdalam Ilmu sastra tanpa belajar silat, tak nyana dia telah berubah haluan "

"Maksud ayah supaya keponakan belajar silat untuk jaga diri, sebetulnya. "

Tiba-tiba seorang menjerit kaget diantara para Centing itu dan berseru: "He, pasti dia inilah.” "Kurangajar," bentak Ciang Wi-bin sambil menoleh, "ada apa berteriak-teriak."

Lekas centing itu menunduk, sahutnya takut-takut, "Hamba ......

tiba-tiba teringat seorang tokoh Kangouw yang belakangan ini amat menggemparkan. Wajah dan dandanan yang dilukiskan itu mirip benar dengan Ji-kongcu."

"Tokoh macam apa dia?" tanya Ciang Wi-bin. "Gelarnya adalah Te-gak Suseng!”

"Apa? Te-gak Suseng?”

"Ya, mohon ampun akan kesemberonoan hamba."

Bertaut alis Ciang Wi-bin, beberapa kali dia menyapu pandang ke arah Ji Bun, tanyanya gemetar,

"Jadi hiantit inikah Te-gak Suseng yang dimaksud itu?" Ji Bun tergagap, akhirnya ia berterus terang,

"Betul!"

Bergetar jenggot panjang Ciang Wi-bin, sesaat lamanya dia tak bersuara. Te-gak Suseng, julukan ini sama buruk dan jahatnya seperti setan iblis. Tokoh yang biasanya bertindak jujur dan terus terang ini betul- betul sangat kaget dan keheranan. Sungguh tak pernah terpikir o!ehnya bahwa calon menantunya ternyata adalah Te-gak Suseng yang terkenal jahat dan kejam, membunuh orang tanpa meninggalkan bekas.

Berhadapan dengan calon mertuanya, perasaan Ji Bun seperti duduk di atas jarum, dengan senyuman kecut, katanya,

"Kalau paman tiada petunjuk, keponakan mohon pamit saja. "

"Kau tidak mampir dulu ke rumahku?" "Lain hari sajalah."

Ciang Wi-bin menatap sesaat lagi, mulutnya sudah terbuka hendak bicara, namun urung, akhirnya dia mengulap tangan, ujarnya,

"Kalau begitu pergilah."

Lekas Ji Bun memberi hormat terus melangkah pergi dengan perasaan enteng. Enam tahun yang lalu, dirinya adalah seorang pemuda cakap, namun sekarang adalah laki-laki yang buntung lengannya, tidak heran Ciang Wi-bin kelihatan bimbang dan tidak menyinggung soal pernikahan dirinya dengan puteri tunggalnya. Hal ini terasa sangat menguntungkan dan melegakan hatinya malah. Bayangan si gadis baju merah nan molek selalu terbayang di depan kelopak matanya, tanpa terasa dia tertawa geli sendiri, bagaimana perasaannya sekarang, dia sendiri tidak tahu.

Begitulah sambil berjalan tanpa tujuan pikirannya melayang jauh ke berbagai soal yang melibatkan dirinya akhir-akhir ini, tahu-tahu ia menyadari dirinya berada di tengah ladang belukar yang jarang diinjak manusia, ia berdiri melenggong sejenak. Sang surya sudah tinggi di tengah cakrawala. Setelah me- nerawang keadaan sekelilingnya, kemudian ia menuju ke arah barat.

Tiba-tiba sebuah tandu kecil yang dipikul dua orang berlalu tak jauh di depannya sana, langkah kedua pemikul tandu kecil itu ringan dan cepat, jelas mereka adalah ahli silat yang berkepandaian tinggi. Tergerak hati Ji Bun, tiba-tiba teringat olehnya tandu berhias yang dilihatnya di Ceng-goan-si, apakah tandu ini sama dengan tandu yang diiringi gadis berbaju merah itu?

Kepandaian tokoh kosen dalam tandu itu betul-betul membuat hatinya jeri dan kagum, namun rasa penasaran dan dendamnya tetap berkecamuk dalam sanubarinya. Dia tahu belum saatnya sekarang dia menuntut balas, namun siapa dan bagaimana asal usul orang dalam tandu itu patut dia selidiki.

Dan yang lebih penting adalah dia tidak bisa melupakan si gadis berbaju merah itu.

Bergegas dia berlompatan ke sana memburu ke arah lenyapnya tandu berhias itu, setelah melewati semak belukar, di depan sana mengadang sebidang hutan pohon cemara, tandu berhias itu menyusup masuk ke dalam hutan dan lenyap.

Setelah berpikir sejenak, Ji Bun segera mengejar masuk ke dalam hutan cemara. Semak-semak berduri menyulitkan perjalanannya, beberapa jauh dia harus melewati belukar berduri ini, akhirnya lapat- lapat dilihatnya di depan sana ada bayangan sebuah bangunan megah.

Tempat apakah ini? Demikian dia bertanya-tanya. Apakah markas komplotan rahasia yang sering beroperasi di Kangouw? Kalau main terjang secara gegabah, jiwanya bisa terancam bahaya, namun untuk putar balik rasanya teramat berat. Apalagi di siang hari bolong begini, kalau di dalam hutan ada pos-pos penjagaan rahasia, pasti jejaknya sudah konangan dan akibat yang bakal menimpa dirinya harus dia perhatikan juga.

Namun dasar wataknya angkuh dan suka menang, jarang dia menyerah pada keadaan. Setelah berpikir sejenak, segera dia angkat langkah maju pula ke depan.

Semakin jauh semakin gelap dan dingin, akhirnya tiba di depan sebuah kelenteng.

Aneh, tiada kelihatan jejak manusia, namun tandu kecil tadi jelas lenyap ke dalam hutan ini, memangnya ke mana tujuannya?

Agaknya ada apa-apa di dalam kelenteng bobrok ini.

Sebentar dia ragu-ragu, akhirnya dia melesat masuk ke dalam kelenteng, tertampak patung-patung pemujaan sudah tiada yang utuh, meja roboh debu menumpuk. Dengan langkah tetap dia beranjak ke arah dalam, setelah melewati balairung, tiba-tiba pandangannya menjadi terang, di antara semak-semak rumput yang tumbuh tinggi di pojok sana, tandu kecil berhias tadi tampak ada disana. Namun jelas baginya bahwa tandu yang ini bukan tandu hias yang dilihatnya di Ceng-goan-si kemarin, rasa was-was seketika hilang setengah, namun rasa heran dan curiga lantas mengetuk hatinya.

Bahwa tandu ini ada di sini pasti ada penghuni dalam kelenteng bobrok ini, soalnya di mana mereka menyembunyikan diri? Kenapa tidak dijaga dan membiarkan orang luar seperti dirinya terobosan kemari sesukanya? Didorong oleh rasa ingin tahu, timbul keinginannya untuk menyelidiki supaya jelas duduk persoalannya.

Segera dia mendekati tandu itu dan menyingkap kerai, ternyata kosong tiada apa-apa. Namun dari dalam tandu terendus bau wanita, tentu adalah seorang perempuan yang naik tandu ini.

Tiba-tiba terdengar sebuah suara lirih di belakangnya, tergerak hati Ji Bun, namun dia sengaja pura-pura tidak tahu, maka terdengar pula suara yang menusuk menegurnya,

"Sahabat ini sungguh lucu, kenapa terobosan ke kelenteng bobrok dan kotor ini?"

Pelahan Ji Bun memutar badan, di depannya berdiri seorang laki- laki tua berjubah hitam bertubuh kurus, wajahnya dingin culas, begitu dirinya putar badan, laki-laki tua ini seketika berubah romannya, serunya gemetar, "Apakah saudara ini ”

"Aku yang rendah Te-gak Suseng ”

"Oh," tanpa sadar laki-laki jubah hitam menyurut mundur, "untuk apa kau kemari?" tanyanya.

Tidak menjawab Ji Bun malah balas bertanya, “Siapakah tuan ini?"

"Ah, aku Si It-ho." "Tempat apakah ini."

"Sebuah ..... kelenteng bobrok ”

"Dimanakah orang yang naik tandu tadi?"

Laki-laki berjubah hitam tertawa kering, sahutnya, "Orang naik tandu siapa?”

Tegak alis Ji Bun, katanya,

"Jangan kau memancing kemarahanku untuk membunuhmu, bicaralah terus terang?" Berubah air muka laki-laki berjubah hitam alias Si It-ho itu, katanya tergagap,

“Pernah apa saudara dengan orang yang naik tandu ini?" "Kau tidak perlu tahu katakan saja di mana dia sekarang?'' "Maksud saudara ”

"Jangan banyak omong," potong Ji Bun.

Laki-laki kurus berjubah hitam angkat pundak seraya mengusap kepalanya yang agak pelontos, hanya sedikit menggerakan tangan, seketika terendus bau harum merangsang hidung. Ji Bun mendengus sekali, tangan sudah terayun hendak memukul, namun pikirannya bekerja secepat kilat, lekas dia turunkan tangannya dengan pura-pura sempoyongan, mukanya mengunjuk rasa bingung seperti orang linglung.

Laki-laki kurus berjubah hitam mundur dua langkah dengan tajam dia tatap muka Ji Bun, tiba-tiba dia cekakak kegirangan, katanya,

“Te-gak Suseng, tahukah kau tempat apa ini?"

Sikap Ji Bun linglung seperti orang lupa ingatan, sahutnya, "Ini tempat apakah ini?"

"Ki-po-hwe." "Ki. ...po....Hwe. Oh, kenapa kepalaku menjadi pusing?"

"Saudara, ikutilah aku," kata laki-laki kurus berjubah hitam, lalu dia mendahului jalan ke arah serambi, ke ruang pemujaan. Ji Bun mengikuti dengan langkah sempoyongan seakan-akan amat payah menggerakkan langkahnya. mulutnya menggumam,

"Tuan hendak membawaku ke mana? Aneh, apakah aku ini sakit

......?”

Tiba-tiba terdengar suara berisik, tahu-tahu meja besar pemujaan di depan deretan patung-patung pemujaan bergeser pelahan-lahan, muncullah sebuah !ubang yang menjurus ke bawah dengan undakan batu. Seperti orang kehilangan ingatan Ji Bun mengikuti langkah orang memasuki pintu bawah tanah ini. Kira-kira tiga tombak kemudian, undakan batu berakhir, pandangan matanya menjadi terang, ternyata lorong panjang ini diterangi cahaya mutiara yang tertatah di dinding batu. Setiap tombak dijaga dua orang laki-laki berseragam hitam, tangan masing-masing menghunus senjata tajam, penjagaan keras dan ketat. Para penjaga itu semua memberi hormat kepada laki-laki berbaju hitam ini.

Cepat sekali mereka tiba di depan sebuah pintu besar yang gelap, dipandang dari luar, tertampak pilar-pilar batu berderet panjang serta pintu yang berlapis-lapis. Siapa akan menyangka di bawah kelenteng bobrok ini ternyata ada bangunan di bawah tanah yang begini besar dan megah.

Tepat di tengah-tengah pintu besar terukir deretan huruf yang berbunyi "Ki-po-hwe". Di depan pintu berbaris 12 orang yang bersenjata pedang. Semua beralis tebal dan mata melotot, tak ubahnya seperti patung-patung batu.

Seorang pemuda berusia 20an muncul di ambang pintu, wajahnya halus pakaiannya perlente. Lekas laki-laki berbaju hitam memberi hormat, sapanya,

"Siau-hwe-cu (majikan muda) baik-baik saja?" Pemuda baju putih mengawasi Ji Bun, tanyanya, "Siapa dia?"

"Te-gak Suseng,” sahut laki-laki kurus berbaju hitam.

"Apa?" seru pemuda baju putih kaget, "Te-gak Suseng?" suaranya gemetar dan jeri.

"Katanya dia mengikuti tandu, terpaksa hamba mengundangnya kemari."

"Bagus, Si-tongcu, bawa dia ke kamar nomer 2 dan korek keterangannya."

"Terima perintah!" Si It-ho mengiakan. Setelah menyapu pandang pula kepada Ji Bun. baru pemuda baju putih itu berlalu.

Laki-laki she Si lantas berkata, "Saudara, mari ikut aku!" Seperti orang linglung, dengan kaku Ji Bun pandang orang serta mengikutinya masuk ke dalam. Setelah melewati berlapis-lapis pintu dan ruangan, akhirnya mereka tiba di depan sebuah kamar batu yang tertutup rapat. laki-laki baju hitam mengetuk pintu tiga kali.

Pintu besi yang besar dan berat itu lantas terbuka pelahan.

Suasana dalam ruang besar ini amat seram dan khidmat, begitu masuk mereka dihadang sebuah meja besar, meja yang biasanya digunakan para hakim, di belakang duduk seorang perempuan setengah baya dengan pakaian mewah gemerlapan, sanggulnyapun dihiasi batu manikam, di sebelah kiri berdiri pemuda baju putih yang dipanggil "Siau-hwe-cu" tadi, tak jauh di depan meja berderet empat buah kursi, kursi ketiga di duduki seorang gadis yang bermuka kaku dengan pandangan pudar, usianya tujuh belasan, wajahnya cantik jelita.

Dibelakang gadis berdiri dua laki-laki berbaju hitam sambil memeluk tangan, suasana menyerupai hakim sedang bersidang dan gadis ayu itu menjadi terdakwa.

Laki-laki kurus membungkuk badan terus melangkah masuk, katanya penuh hormat kepada perempuan bersolek itu,

"Lwetong Si It-ho menghadap Hwe-cu."

"Hm," sahut perempuan itu, matanya yang tajam segera memandang ke arah Ji Bun, katanya, "Tinggalkan dia di sini, biar aku sendiri yang membereskan dia, kau boleh pergi."

Laki-laki kurus alias Si It-ho mengiakan.

"Perkeras penjagaan, jangan sampai ada orang luar menyelundup kemari."

Si It-ho segera mengundurkan diri, pintu besi yang tebal itu segera menutup pula.

Dengan terlongong Ji Bun berdiri mematung di balik pintu.

Jari-jari tangan Ki-po-hwe-cu yang. bertaburan mutiara terangkat, katanya,

"Kau inikah Te-gak Suseng?"

Ji Bun hanya sedikit mengangguk dengan linglung. "Kau boleh duduk."

Seperti robot saja Ji Bun melangkah maju dan duduk di kursi sebelah gadis yang berdandan seperti puteri raja ini.

"Kau kemari untuk dia?" tanya Ki-po-hwe-cu. "Dia?" Ji Bun menegas dengan tak mengerti. "Pernah apa kau dengan dia?"

"Dia? Cayhe tidak kenal.”

"Kenapa kau menguntitnya?"

"Cayhe hanya tertarik, lalu mengikutinya,"

"Oh," Ki-po-hwe-cu berpaling kepada pemuda baju putih sambil manggut, katanya,

"Kita lanjutkan persoalan genduk ayu ini."

Sejak Ji Bun memasuki ruang sidang ini, gadis rupawan itu tak pernah angkat kepala atau melirik kepadanya.

Dengan suara halus dan ramah Ki-po-hwe-cu berkata kepada gadis rupawan itu,

"Nona, kau bernama Ciang Bing-cu? Puteri tunggal Ciang Wi- bin?"

"Ya," sahut gadis itu, suaranya merdu. Bergetar badan Ji Bun, namun tiada orang yang memperhatikan dirinya.

Pemuda baju putih menyela bicara. "Nona Ciang, terpaksa, kau harus tinggal beberapa hari di sini, kutanggung kami takkan mengganggu seujung rambutmu, sebagai puteri mestika seorang hartawan Kayhong, kalau hanya mengeluarkan lima renteng mutiara dan lima ribu tahil emas, tentunya ayahmu tidak akan keberatan, bila barang-barang yang kami minta diantar kemari, kaupun boleh pulang, dengan selamat "

Kembali bergetar badan Ji Bun, namun roman mukanya tidak mangunjuk reaksi apa-apa.

Berkata Ciang Bing-cu dengan suara lembut, “Kalian menculikku dan hendak memeras ayahku?” Ki-po-hwe-cu terkekeh-kekeh, katanya,

"Nona, selama hidupku ini, hobiku adalah mengumpulkan segala macam benda-benda mestika, itulah azas tujuan berdirinya organisasi ini, soal memeras, mencuri dan segala cara bisa saja kami halalkan."

Berputar biji mata Ciang Bing-cu yang pudar, bibirnya bergerak- gerak, namun dia tidak menanggapi.

Ki-po-hwe-cu berkata kepada puteranya: "Bawa dia ke belakang. Ingat, jangan kau sentuh dia, inilah undang-undang, jangan sudah tahu kau sengaja melanggarnya''

"Anak tahu," sahut pemuda baju putih. Lalu dia berkata pada kedua laki-laki baju hitam, "Kalian tetap di sini, aku sendiri yang akan menggusurnya." Lalu dia mendekati Ciang Bing-cu, katanya,

"Nona, marilah ikut aku, di sini tiada urusanmu lagi." Tiba-tiba Ji Bun menanggapi dengan suara dingin,

"Nanti dulu!" Nadanya rendah berat, namun bertenaga, dan berwibawa, tiada tanda-tanda seperti seorang yang hilang ingatan, kecuali Ciang Bing-cu yang tetap kehilangan kesadaran, empat orang yang hadir sama berjingkat kaget.

Melotot biji mata pemuda baju putih, katanya sambil menatap Ji Bun,

"Kau apa katamu?”

Lenyap rona muka Ji Bun yang pura-pura linglung tadi, suaranya tetap dingin kaku,

"Kataku nanti dulu, jelaskan dulu persoalannya." "Persoalan? Persoalan apa yang dijelaskan?" “Memangnya kedatanganku ini harus sia-sia?”

“Kau " gemetar suara Ki-po-hwe-cu tiba-tiba, "Te-gak

Suseng, pintar sekali kau berpura-pura." Mendadak Ji Bun berdiri, matanya menyapu pandang ke seluruh ruang sidang, katanya,

“Obat biusmu memangnya bisa berbuat apa terhadapku..” Ternyata waktu mendengar nama Te-gak Suseng tadi, Si It-ho,

laki-laki kurus berbaju hitam tadi tak berani melawannya secara kekerasan, ia tahu dirinya bukan tandingan orang, maka dia menggunakan obat bubuk dengan harapan dapat membius ingatan orang. Tak nyana, Ji Bun sekaligus gunakan muslihat ini untuk menipu musuh supaya dirinya leluasa menyusup ke sarang musuh. Namun mimpipun tak pernah terpikir olehnya, bahwa di sini dia akan bertemu dengan Ciang Bing-cu puteri tunggal Ciang Wi-bin atau calon isterinya pula.

Dalam waktu singkat ini dia sudah sempat memperhatikan lawan jenisnya ini, memang rupawan dan menawan hati. Sayang lubuk hatinya sudah terisi bayangan si gadis berbaju merah. Maka batalnya pernikahannya dengan gadis yang satu ini tidak menjadikan penyesalan baginya. Apalagi waktu bersua Ciang Wi-bin di tengah jalan tadi, ketika melihat lengannya buntung sebelah, sikap Ciang

Wi-bin menjadi dingin dan kurang simpatik. Hal ini lebih meyakinkan pendiriannya untuk menggagalkan perjodohan ini.

Betapapun hubungan kekeluargaan sudah mendalam, soal jodoh meski batal, namun sebagai seorang laki-laki tak mungkin ia berpeluk tangan. Apalagi Ciang Wi-bin bukan tokoh sembarangan, namun Ki-po-hwe berani menculik puterinya dan hendak minta tebusan, sungguh kejadian yang cukup mengejutkan. Kedua laki-laki seragam hitam secara diam-diam menggeremet ke belakang Ji Bun, tanpa bersuara serentak mereka mencengkeram bersama.

"Jangan turun tangan!" Ki-po-hwe-cu membentak gusar akan kelancangan anak buahnya.

Namun sudah terlambat jeritan yang mengerikan menelan suara bentakkannya, sigap sekali mendadak Ji Bun membalik badan, kontan kedua laki-laki seragam hitam terkapar jatuh binasa. tak tertampak sesuatu luka, Ji Bun juga tak menunjukkan sesuatu gerakan.

Pemuda baju putih berteriak kaget.

“Brak!" Ki-po-hwe cu menggebrak meja, bentaknya,