Golok Yanci Pedang Pelangi Jilid 11

Jilid 11

“Tidakkah kau dengar perkataan mereka? Sejak lembah Mi-kok ini ada, belum pernah ada orang berhasil lolos dari istana es dan liang api dalam keadaan hidup.” “Itu kan perkataan mereka, kan tidak berarti dulu tak pernah ada orang yang berhasil dan seterusnya juga tak ada, aku yakin pasti ada orang yang berhasil menerobos kedua tempat itu.”

“Darimana kautahu?”

“Bila tak pernah ada orang yang berhasil melewati istana es dan liang api, darimana bisa diketahui bahwa istana es dan liang api bisa menembus ke luar lembah?

Darimana diketahui bahwa di belakang lembah adalah satu-satunya jalan keluar?”

Hui Beng-cu tertegun dan berhenti menangis, sesudah berpikir sebentar, katanya pula, “Mungkin tak pernah ada orang yang berhasil? Siapa tahu ucapan tersebut hanya mereka gunakan untuk membohongi orang lain?”

“Kalau bohong, tak mungkin nenek moyang lembah Mi-kok menetapkan peraturan untuk mengelu-elukan orang yang berhasil lolos dari dasar lembah ini!”

Hui Beng-cu jadi bungkam dan tak dapat membantah lagi.

Selanjutnya Ho Leng-hong berkata pula, “Dari sini dapat diketahui bahwa istana es dan liang api bukan jalan buntu yang mematikan, tempat itu hanya bisa disebut sebagai jalan keluar yang sangat berbahaya, jika orang dulu bisa menembusnya, kenapa kita tak berusaha menembusnya pula?”

“Masuk akal,” kata Pang Goan, “mari kita coba sekarang juga!”

Tapi Ho Leng-hong menggoyangkan tangannya dan berkata, “Tunggu sebentar, jelas kita harus cari dan coba, cuma kita tak boleh bertindak ceroboh.”

“Lalu apa yang mesti kita lakukan?”

“Pertama kita harus mengendalikan sisa waktu hidup secermatnya, semakin lama waktu hidup kita, semakin besar pula harapan kita untuk lolos dari bahaya. ”

“Betul!” Pang Goan manggut-manggut.

“Sejak kini kita hanya mempunyai waktu selama dua belas jam untuk hidup, dalam waktu ini di samping mencari jalan keluar kitapun harus berusaha mempelajari rahasia ilmu golok Ang-siu-to-hoat, jadi dua pekerjaan ini lebih baik dilaksanakan oleh dua orang, sementara seorang lainnya tetap tinggal di sini, tak boleh bergerak, tempat ini pasti jauh lebih hangat dibandingkan di dalam istana es, jadi orang yang tetap tinggal di sini tidak perlu makan obat, dengan tersisanya sebutir pil berarti akan memperpanjang waktu bergerak bagi kedua orang yang lain.”

“Daya ingatanmu tajam, tugas mengapalkan rahasia ilmu golok itu adalah bagianmu, sedang mencari jalan keluar serahkan saja kepadaku,” kata Pang Goan dengan cepat.

“Tidak!” seru Beng-cu, “kaum perempuan lebih teliti dan saksama, tugas mencari jalan keluar biar kulakukan untukmu, sedang Pang-toako beristirahat lebih dulu . . . . .”

“Tidak, kau adalah seorang gadis, kau lebih pantas beristirahat, biar segala pekerjaan diselesaikan oleh kaum pria saja.”

“Kalian tak usah berebut,” kata Leng-hong, “mencari jalan keluar adalah tugas yang berat, orang yang tetap tinggal di sini pun tak boleh minum obat, dia harus mengerahkan hawa murninya untuk melawan hawa dingin, keadaan semacam itu bukan perasaan yang nikmat.”

“Tak perlu berbuat demikian,” kata Pang Goan, “Siau-cu boleh minum obatnya, biar sebutir obatku yang disimpan, dapat menemukan jalan keluar atau tidak dalam waktu enam jam kukira sudah lebih dari cukup.”

“Masalah ini menyangkut mati-hidup kita, jangan kita menuruti perkiraan saja, pada umumnya untuk mengapalkan rahasia ilmu golok tidak perlu membutuhkan waktu sampai enam jam, tapi tugas ini sangat memeras pikiran dan tenaga. Sekalipun demikian tugas mencari jalan keluar tetap merupakan tugas terpenting, kalau jalan keluar tidak ditemukan, sekalipun ilmu golok sakti ini berhasil diapalkan, lalu apa gunanya? Menurut pendapatku, obat itu sepantasnya diberikan semua untuk Pang- toako.”

Hui Beng-cu tertawa getir, katanya, “Paling banyak kita cuma ada waktu sehari untuk hidup, buat apa persoalan itu diributkan? Sungguh perbuatan yang tak ada harganya, sedikitnya kita harus tinjau dulu keadaan dalam istana es sebelum perundingan dilanjutkan, bagaimana pendapat kalian?”

“Betul!” kata Pang Goan, “sekalipun kita bakal mampus di sini, paling tidak harus kita tinjau dulu tempat kubur kita ini. Mari berangkat!”

Tanpa makan obat, berangkatlah ketiga orang itu menyusuri gua itu.

Gumpalan cahaya putih itu makin lama makin cemerlang dan menyilaukan mata, tapi suhu udaranya makin lama makin dingin.

Baru sampai di tengah jalan, ketiga orang itu sudah mulai merasakan sekujur badannya kaku, mau-tak-mau terpaksa mereka harus mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan rasa dingin yang luar biasa itu.

Semakin mendekati mulut gua, biji mata semua orang seolah-olah ikut menjadi beku. Tapi, pada saat itulah suatu pemandangan aneh tiba-tiba muncul di depan mata....

Gua itu terletak dalam perut gunung, tingginya berpuluh tombak dengan lebar tiga sampai empat puluh tombak, bentuknya mirip sebuah tangkupan mangkuk besar.

Dalam gua tiada cahaya lampu, tapi suasana terang benderang bagaikan di siang hari, sebab seluruh permukaan dinding gua itu berlapiskan es yang tebal sekali, sementara dalam gua yang tingginya lebih lima kaki di depan sana api berkobar dengan keras. Ketika cahaya api itu menimpa permukaan dinding es yang tebal, maka terpancar sinar refleks yang menyilaukan mata, keadaan ini ibaratnya sebuah cermin besar dalam ruangan yang tertimpa sinar matahari, hal ini membuat pemandangan dalam gua itu bagaikan sebuah dunia kaca, pemandangannya aneh, indah mempesonakan.

Rahasia Ang-siu-to-hoat yang dikatakan tiada tandingannya di dunia ini justru tersimpan dalam istana es yang indah, aneh dan fantastik ini.

Bukan kitab pusaka atau kertas bergambar penjelasan yang berada di sana, melainkan manusia sungguhkan yang memperagakan berbagai jurus serangan.

Ilmu golok itu semuanya terdiri dari sembilan jurus yang diperagakan oleh sembilan orang gadis berbaju merah, dan semuanya terbingkai dalam es beku di sekeliling gua.

Tentu saja kesembilan gadis itu bukan orang hidup, tetapi kendati pun mayat itu sudah berusia ratusan tahun, oleh karena berada dalam lapisan es yang tebal, maka bukan saja tidak membusuk, malah bentuknya masih tetap utuh seperti hidup.

Selain kesembilan sosok mayat itu, masih ada dua puluhan sosok mayat lain yang tersebar di sekeliling gua, ada di antaranya yang sedang duduk bersila, jelas sedang memusatkan perhatiannya untuk mempelajari intisari ilmu golok tersebut, ada yang berbaring sambil melingkarkan badan, jelas tidak tahan melawan hawa dingin dan lapar, ada pula yang bermata melotot dengan wajah gusar, seakan-akan tidak rela mati dengan begitu saja, tapi ada pula yang bersikap tenang seakan-akan puas menghadapi kematian dalam keadaan seperti itu . . . .

Mereka semua adalah kawanan jago persilatan yang berdatangan ke Mi-kok untuk belajar ilmu golok, tentu saja tujuh bersaudara Nyo dari Thian-po-hu termasuk di antaranya.

Pang Goan bertiga berdiri tertegun di depan pintu istana, pemandangan aneh itu membuat mereka terbelalak dan melongo, untuk sesaat tak tahu apa yang mesti dilakukan . . . . .

Tiba-tiba Ho Leng-hong bergidik, serunya cepat, “Cepat pejamkan mata dan mundur keluar!”

Bentakan itu dengan cepat menyadarkan Pang Goan dan Hui Beng-cu, buru-buru mereka kabur keluar dari gua tersebut.

Sesudah mengatur pernapasan sejenak, Pang Goan menggeleng kepala sambil menghela napas, “Bahaya sungguh teramat berbahaya!”

“Pemandangan tersebut sungguh merupakan pemandangan aneh yang sukar ditemui di dunia,” kata Hui Beng-cu pula, “ditambah lagi jurus-jurus ilmu golok yang indah dan memesona, membuat aku terkesima hingga lupa mengatur pernapasan. Ai, coba jika Ho-toako tidak membentak tepat pada saatnya, nyaris akupun mati kedinginan di situ.”

“Orang-orang itu justru mati dalam istana es lantaran kejadian demikian,” kata Ho Leng-hong dengan wajah serius, “sering kali orang terkesima bila menjumpai pemandangan seaneh itu, ketika mereka sadar akan bahaya, hawa dingin telah menyerang dan mereka sama mati kaku di situ, jangankan lolos dari tempat ini, mungkin kesempatan untuk mencari jalan keluar pun belum sempat dilakukan.”

Pang Goan manggut-manggut, “Untung kita masuk bertiga, coba kalau sendirian, mungkin tak seorangpun bisa lolos dari tempat ini dengan selamat.”

Leng-hong tertawa, katanya, “Cuma setelah ada pengalaman ini, berarti menambah kesempatan hidup kita.”

“Kenapa?” tanya Hui Beng-cu tercengang.

Leng-hong tidak menjawab, dia mengeluarkan obat itu dan ditelan sebutir, lalu sisanya yang dua butir diberikan kepada Pang Goan sambil berpesan, “Tunggulah di sini, aku akan masuk lebih duluan!”

“Kau hendak ke mana?” seru Hui Beng-cu.

Leng-hong tidak menjawab melainkan masuk lagi ke dalam istana es.

Tak lama kemudian, ketika pemuda itu muncul kembali, tangannya membawa sebuah bungkusan kain, ketika bungkusan itu dibuka, ternyata isinya adalah ransum kering serta belasan butir pil.

Ransum kering itu ada sebagian yang telah berubah warna dan tak bisa dimakan, tapi pil-pil itu sama bentuknya seperti pil yang diberikan nenek Po kepada mereka untuk melawan hawa dingin, bahkan bentuknya sama sekali belum berubah.

“Hei, darimana kau peroleh barang-barang itu?” seru Hui Beng-cu dengan mata terbelalak.

“Peristiwa barusan telah menimbulkan suatu pikiran dalam benakku,” tutur Leng- hong sambil tertawa, “Kupikir orang-orang yang mati dalam istana es pasti membawa ransum kering dan diberi pil, tapi sewaktu masuk ke istana es lantaran mereka mengira dengan tenaga dalam sendiri pasti mampu bertahan selama enam jam, pil-pil itu tidak mereka makan, ketika tubuhnya dirasakan mulai beku, tak sempat lagi untuk minum obat, sebab itulah sengaja kugeledah saku mereka, ternyata sebagian besar memang belum pernah menggunakan ransum serta obat mereka, dengan persediaan kita sekarang, paling sedikit kita bisa tahan hidup tiga-empat hari lagi lebih lama.”

Beng-cu sangat girang, cepat ia hitung barang-barang tersebut, ternyata masih ada enam-tujuh bagian ransum kering itu yang masih bisa digunakan, sedang pil penahan dingin berjumlah tiga belas biji, jadi kalau dibagi untuk tiga orang bisa digunakan untuk bertahan selama empat hari.

Dengan kelebihan waktu empat hari mereka tidak sulit untuk mencari jalan keluar, rasa percaya diri sendiri seketika tambah kuat.

“Selanjutnya apa yang harus kita lakukan?” tanya Pang Goan kemudian. “Bila Lotoako janji tidak akan berebut denganku, bagaimana kalau aku yang membagi tugas?”

“Baik, akan kuturuti perkataanmu,” kata Pang Goan sambil tertawa.

“Seperti semula, aku bertanggung jawab mengapalkan ilmu golok Ang-siu-to-hoat, Lotoako bertugas mencari jalan keluar, sedang Beng-cu tinggal di sini mengurusi obat dan ransum, cuma ada beberapa hal harus diperhatikan dan dipatuhi oleh kita bersama.”

“Apa itu? Katakan saja!”

“Pertama, perhatian kita harus tertuju pada tugas yang sedang dilaksanakan dan tak boleh bercabang pikiran pada soal lain, misalnya saja Toako yang bertugas mencari jalan keluar, maka kau tak boleh pencarkan perhatian untuk mempelajari ilmu golok.”

“Baik! Aku pasti dapat melakukannya!”

“Kedua, demi menjaga kekuatan tubuh kita maka semua orang harus makan obat pada saatnya, termasuk juga Beng-cu, kita tak boleh melawan hawa dingin dengan tenaga dalam, setiap tiga jam kita makan ransum sekali, setiap enam jam makan obat sekali, kita tak boleh berdiam terlalu lama dalam istana es ini, mengenai perhitungan waktu kita tugaskan Beng-cu untuk melakukannya, dan lagi setiap saat harus meninggalkan tanda, begitu waktunya sampai kau harus memanggil kami agar mengundurkan diri dari istana es untuk beristirahat.”

Hui Beng-cu mengangguk tanda setuju.

Sayang dalam gua sukar untuk membedakan siang atau malam, jadi sulit untuk menentukan waktu secara tepat, terpaksa Beng-cu membagi ransum kering itu menjadi beberapa bagian dengan bobot yang sama, dengan perkiraan setiap bagian ransum itu cukup mengisi perut selama dua-tiga jam, dengan rasa lapar inilah ia menentukan waktu, sekalipun tidak cocok tapi masih bisa digunakan sebagai ancer- ancer untuk menentukan pagi harikah atau malam harikah waktu itu? Dan beberapa hari sudah dilewatkan?

Setelah makan kenyang, Pang Goan dan Leng-hong masuk ke istana es untuk melaksanakan tugas masing-masing, tiga jam kemudian sewaktu mengundurkan diri untuk mengisi perut pertama kalinya, air muka mereka tampak murung.

Leng-hong menyatakan bahwa ilmu golok Ang-siu-to-hoat meski hanya terdiri dari sembilan jurus, namun setiap jurus mengandung macam-macam perubahan, untuk mengingat gerakannya saja memang tidak sulit, tapi untuk meresapi intisari dari tiap gerakan, setiap jurusnya paling sedikit membutuhkan waktu dua-tiga jam.

Oleh sebab itu ia putuskan untuk mengapalkan jurusnya lebih dulu, kemudian bila sudah lolos dari bahaya baru akan diselami lagi gerak perubahan rahasianya.

Kendatipun demikian, dalam tiga jam ia hanya berhasil mengingat empat jurus belaka, itu berarti belum mencapai setengah dari seluruh ilmu golok Ang-siu-to-hoat yang ada.

Sebaliknya Pang Goan hanya mengembalikan kertas putih alias kosong. Menurut hasil penelitiannya selama tiga jam, hakikatnya tiada jalan keluar di tempat tersebut.

Sekeliling dinding istana es hanya terdiri dari es yang tebal, jangankan manusia, lalat pun tak bisa menerobos keluar dari situ, dua jalan tembus yang ditemukan di situ hanya terdiri dari jalan menuju pintu istana es ini serta jalan tembus menuju ke liang api.

Liang api itu hanya diketahui lima kaki tingginya, tapi berapa dalam liang tersebut dan berapa panjangnya ia tak tahu.

Api yang menyembur keluar dari liang itu berlangsung tiada hentinya, antara liang api dengan istana es terpisah oleh sebuah kolam, ternyata air dalam kolam itu separuhnya dingin dan separuh lagi panas, perbedaan itu menyolok sekali dan ternyata tidak membaur menjadi satu.

Pang Goan pernah mencoba untuk melemparkan kepingan perak ke dalam liang api, tapi begitu kepingan perak itu masuk api segera sirna dan tidak menimbulkan suara apa-apa, jelas perak itu segera meleleh dan lenyap tak berbekas.

Selesai mendengar uraian tersebut, terpaksa Ho Leng-hong harus menghibur mereka, katanya, “Jangan putus asa, kalau jalan keluar itu mudah ditemukan niscaya tidak terjadi banyak orang mati dalam istana es, ilmu golok Ang-siu-to-hoat tentu juga sudah lama tersebar luas dalam dunia persilatan, carilah pelahan dan perhatikan tempat-tempat yang mencurigakan, asal nasib kita tidak ditakdirkan tamat di sini, akal untuk lolos dari sini pasti akan kita temukan, sebaliknya kalau memang sudah takdir, kitapun tak usah menyesal.”

Pang Goan menggeleng kepala tanpa menjawab, mukanya tampak sedih.

“Pang-toako,” tiba-tiba Beng-cu menyela, “kau telah memeriksa keadaan dalam istana es, apa salahnya kalau beristirahat dulu dan memikirkan suatu akal untuk melepaskan diri dari sini, sementara kesempatan ini biar kugunakan untuk melakukan pemeriksaan pula, bagaimanapun jalan pikiran satu orang tak akan menangkan hasil pemikiran dua orang.”

Leng-hong termenung sebentar, kemudian jawabnya, “Ya, hal ini memang bisa dicoba, tapi harus ada satu orang tinggal di sini untuk siap sedia menolong rekannya, bila ilmu golok Ang-siu-to-hoat telah berhasil kuapalkan, kita bersama-sama melakukan pencarian lagi di sekitar tempat ini.”

Tiga jam kembali sudah lewat, Hui Beng-cu kembali dengan wajah murung dan putus asa.

Berbeda dengan Ho Leng-hong, dengan penuh kegirangan ia berseru, “Kita tidak sia- sia makan obat kuat, lumayan juga hasil yang kita capai.” “Hasil apa?” tanya Beng-cu.

“Pang-toako, bukankah kau pernah berkata bahwa Ang-ih Hui-nio pernah delapan kali mengalahkan To-seng (nabi golok) Oh It-to, sedang kedelapan jurus ilmu golok To-seng bukan lain adalah Poh-in-pat-tay-sik dari Thian-po-hu dewasa ini?”

“Benar!”

“Kalau begitu, seharusnya jurus ilmu golok yang ditinggalkan Ang-ih Hui-nio juga terdiri dari delapan jurus, tapi di dinding es itu kenapa terdapat sembilan jurus.”

“O, ini memang rada aneh, kenapa bisa kelebihan satu jurus?” seru Pang Goan keheranan.

“Mula-mula Siaute juga heran,” ujar Leng-hong sambil tertawa, “sebab itu akupun menaruh perhatian khusus terhadap jurus terakhir, itulah sebabnya aku bilang perjalanan kita kali ini tidak sia-sia, ternyata dalam jurus terakhir itulah tercantum seluruh intisari dan kekuatan dari segenap jurus serangan Ang-ih Hui-nio, dan di situ pula tercantum segenap kepandaian dahsyat yang diciptakan oleh Oh It-to sepanjang hidupnya.”

“Kenapa bisa begini?” tanya Pang Goan tercengang.

“Sebab setelah kalah delapan kali, Oh It-to memeras otak untuk mencari akal untuk memecahkan kehebatan ilmu golok Ang-ih Hui-nio, sayang niat tersebut rupanya tidak berhasil diwujudkan, tapi rahasia itu justru akhirnya berhasil dipecahkan sendiri oleh Ang-ih Hui-nio.”

“Jangan-jangan jurus kesembilan yang kaumaksudkan itu?” tanya Pang Goan kaget.

“Benar, jurus kesembilan justru merupakan jurus tandingan untuk mematahkan kedelapan jurus lainnya, jadi asal jurus ini berhasil kita kuasai, maka secara gampang ilmu golok Ang-siu-to-hoat akan kita patahkan, dan kitapun tak perlu takut lagi menghadapi ilmu golok sakti dari Mi-kok ini.”

Pang Goan tertegun sejenak, kemudian seperti baru memahami sesuatu ia berseru, “Ya, pantas tong Siau-sian dan Tong-popo berusaha dengan segala akal untuk mendapatkan golok mestika Yan-ci-po-to, kiranya di sinilah letak alasannya.”

“Tahu begini, mestinya Siaute apalkan dulu jurus tersebut, sedang kedelapan jurus lainnya tak ada artinya lagi.”

“Ah, kupikir tak bisa dikatakan demikian, sebab setiap jurus ilmu golok Ang-siu-to- hoat terkandung intisari ilmu golok, kendatipun jurus kesembilan bisa mematahkan ilmu golok Ang-siu-to-hoat, ini tidak berati jurus tersebut adalah jurus yang tak terkalahkan.”

Sementara kedua orang itu terlibat dalam pembicaraan serius tentang ilmu golok Ang-siu-to-hoat, dengan ogah-ogahan Hui Beng-cu menyela dari samping, “Bisa atau tidak bisa mematahkan ilmu golok Ang-siu-to-hoat tetap sama saja jika kita gagal meninggalkan tempat ini, apa gunanya semuanya itu?”

“Akal adalah hasil pemikiran manusia,” kata Leng-hong sambil tertawa, “kalau ilmu golok Ang-siu-to-hoat bisa dipecahkan, masakah hanya sebuah istana es tak mampu diatasi?”

Perkataan yang gagah ini pun tidak bisa dikatakan salah, sayang kenyataannya justru tidak segampang apa yang mereka bayangkan.

Ho Leng-hong telah berhasil mengapalkan kesembilan jurus Ang-siu-to-hoat, namun Pang Goan dan Hui Beng-cu belum berhasil juga menemukan jalan keluarnya.

Bahkan Ho Leng-hong akhirnya ikut mencari, meneliti dan pemikiran, tapi jalan keluar tetap merupakan tanda tanya besar.

Persediaan pil dan ransum kian menipis, tanda waktu yang diukir di atas dinding makin bertambah banyak, bekas telapak kaki ketiga orang itu hampir menjelajahi setiap jengkal tanah dalam istana es itu, namun tiada sesuatu yang berhasil ditemukan.

Kecuali pintu istana di mana mereka datang, serta gua menuju ke liang api, dalam istana es itu tidak ditemukan lubang lain, pun tidak ditemukan jalan keluar ketiga.

Pintu istana telah terkunci dari luar, mustahil bagi mereka untuk mendobrak pintu dan kabur dari situ, kini satu-satunya jalan keluar bagi mereka hanya liang api dengan semburan api yang dahsyat itu.

Api yang menyembur keluar dari dasar bumi tak pernah padam, baik diguyur dengan air, ditutup dengan salju, ternyata sama sekali tak ada gunanya.

Bahkan Ho Leng-hong telah mendorong sesosok mayat ke dalam liang api sebagai percobaan, hasilnya . . . dalam sekejap mata mayat itu hangus dan lenyap, termasuk tulang-belulangnya lenyap begitu saja.

Berhadapan dengan kobaran api yang begini dahsyat, wajah mereka menjadi pucat.

Untuk mengirit persediaan pil dan ransum yang makin menipis, terpaksa ketiga orang itu harus beroperasi secara bergilir, dan lagi merekapun berusaha memperpanjang waktu untuk mengisi perut, bagi mereka yang tidak beroperasi, maka orang itu harus berhenti makan pil dan mesti mengerahkan hawa murni sendiri untuk melawan hawa dingin.

Waktu berlalu dengan cepatnya, kini pil penahan dingin tinggal empat biji saja.

Dengan perasaan apa daya terpaksa Ho Leng-hong menghentikan operasi pencarian, mereka bertiga duduk berdempet dalam gua, di samping mengerahkan tenaga untuk melawan hawa dingin, merekapun harus putar otak untuk mencari akal guna meloloskan diri dari situ. 

Menyusul ransum yang mereka miliki mulai habis. Orang bilang, lapar dan dingin saling bergandengan. Artinya barang siapa berada dalam keadaan lapar, maka dia juga akan sulit melawan hawa dingin yang main mencekam.

Setelah ransum habis, suasana dalam istana es seolah-olah berubah menjadi neraka, hawa dingin kian menghebat, sekalipun mereka bertiga telah melingkarkan tubuh untuk menahan rasa dingin, namun rasa dingin tetap merasuk tulang sumsum.

Tiba-tiba Leng-hong meronta bangun berdiri, serunya, “Kita benar-benar amat bodoh, kenapa hanya duduk terpekur di sini? Apa salahnya kalau kita pergi mandi air panas?”

“Mandi?”serentak Pang Goan dan Hui Beng-cu memandang ke arah Ho Leng-hong dengan tercengang.

Leng-hong tertawa ewa, katanya lagi, “Masa kalian lupa? Meskipun tempat ini sangat dingin di samping liang api kan terdapat setengah kolam air yang hangat.”

Dengan cemas Pang Goan menghela napas, “Lote,” katanya, “jangan kaulakukan perbuatan bodoh itu, dengan kelas kautahu air kolam itu separuhnya dingin dan separuh lagi panas, yang dingin bisa membekukan badan, dan yang panas dapat mematikan orang.”

“Hanya berduduk di sini, cepat atau lambat juga mati, daripada mati kedinginan enakan mati kepanasan, malam mampusnya bisa lebih cepatan,” kata Leng-hong.

Habis berkata, ia tarik napas panjang dan dengan sempoyongan melangkah masuk ke istana es.

Buru-buru Pang Goan melompat bangun dan berseru, “Jangan pergi, aku masih ingin bicara lagi!”

“Tak usah bicara lagi Lotoako,” kata Leng-hong sambil berpaling, “hanya duduk belaka sambil menanti kematian, akhirnya tetap mati, setelah kupergi nanti gunakan keempat biji pil itu untuk bisa hidup dua belas jam lagi, hal ini jauh lebih baik daripada mampus semuanya.”

Selesai berkata ia percepat langkahnya dan masuk ke dalam gua.

Gerak tubuh Pang Goan jauh lebih cepat lagi, sekali melompat ia menerjang tubuh Ho Leng-hong, serta merta mereka berdua bergumul menjadi satu.

“Hei, ingatlah waktu apa ini, masa kalian masih ada tenaga untuk berkelahi?” seru Beng-cu dengan suara gemetar, “simpan saja tenaga kalian agar bisa bertahan lebih lama, bukankah hal ini jauh lebih baik?”

Dengan sepenuh tenaga Pang Goan menindih tubuh Ho Leng-hong, lalu dengan napas tersengal katanya, “Bila obat itu habis daya kerjanya, akhirnya kita toh mati juga, tapi kalau ingin hidup, kita harus hidup bersama, mau mati biar mati bersama, apa bedanya antara enam jam dengan dua belas jam? Siau-cu, bawa kemari obat itu, ayo kita makan bersama sebutir obat dan bersama melewati sisa enam jam yang terakhir ini.”

Hui Beng-cu angsurkan obat itu ke tangannya, tanpa banyak bicara Pang Goan menjejalkan sebutir pil ke mulut Ho Leng-hong, sementara ia dan Beng-cu juga menelan sebutir, kemudian melepaskan pemuda itu dari tindihannya.

Setelah obat itu masuk ke dalam perut, hawa hangat seketika menjalar ke seluruh tubuh.

Ho Leng-hong menggeleng kepala dan tertawa getir, ia berkata, “Lotoako, buat apa kau berbuat demikian ” Tanpa terasa air mata jatuh berlinang membasahi

pipinya.

“Hei, apa yang kau tangisi? Jangan bersikap tak becus seperti itu, masa tidak takut ditertawai Siau-cu?”

Air mata berderai membasahi wajah Ho Leng-hong, sambil menahan isak tangisnya ia berkata, “Aku menangis bukan lantaran takut mati, tapi apa yang kita alami tadi justru mengingatkan aku akan ibuku yang telah tiada ”

“Mengapa dengan ibumu?” tanya Pang Goan tercengang.

“Sewaktu kecil dulu watakku sangat keras kepala, masih kuingat suatu ketika tatkala kau jatuh sakit, ibu suruh aku minum obat tapi aku tak mau, ibu memaksaku untuk menghabiskan obat itu, akhirnya kejadian seperti tadi, obat itu tumpah ke tanah sedang ibuku kena kutendang waktu mencekoki obat ke mulutku ”

Kejadian itu merupakan pengalaman pada masa kecil yang mudah menimbulkan gelak tertawa, tapi entah mengapa, Pang Goan dan Hui Beng-cu tak mampu tertawa.

Ho Leng-hong terbuai lagi dalam lamunannya, “waktu kecil nakalku tidak ketolongan lagi, sampai ibuku kehabisan akal padaku, suati hari seorang kakek tetangga mati, keluarganya mengeluarkan sebutir mutiara untuk dijual guna membeli peti mati, ibu merasa senang dengan mutiara itu tapi tak mampu membelinya, waktu itu aku berada di sisinya dan berkata, “Ibu, apa yang menarik dengan benda itu, bila aku dewasa nanti dan kaya, bila ibu meninggal pasti akan kubelikan sebuah peti mati kaca ”

Belum habis perkataannya, mendadak mencorong sinar matanya. Tiba-tiba ia melompat bangun dan lari masuk ke dalam istana es.

Pang Goan dan Hui Beng-cu kuatir ia mengalami kejadian di luar dugaan, buru-buru mereka mengejar ke dalam.

Ketika itu daya kerja obat telah menyebar, setelah berada dalam istana es, mereka tidak merasa kedinginan. Ho Leng-hong langsung menghampiri kolam di tepi liang api itu, dengan mata melotot ditatapnya dua sosok mayat di tepi kolam tersebut dengan termangu.

Mayat tua dan muda itu mungkin terdiri dari seorang ayah dengan puteranya, anak berbaring di atas sebuah panggung es setinggi dua tombak, sedang ayahnya berjongkok di tepi kolam seperti sedang mengambil air, entah mengapa mereka berdua sama-sama mati kedinginan di situ.

Pang Goan dan Hui Beng-cu berdiri saling pandang, mereka sama tercengang dan tidak mengerti.

Tiba-tiba Ho Leng-hong bertanya, “Coba kalian lihat, bukankah kematian kedua orang ini sangat aneh?”

“Benar, memang aneh, cuma makna apakah yang terkandung di balik keanehan itu?” ucap Pang Goan.

“Coba kauterka, apa yang sedang mereka lakukan?”

Pang Goan berpikir sejenak, lalu sahutnya, “Mungkin puteranya membeku karena kedinginan, maka ayahnya ingin mengguyur tubuhnya dengan air panas, sayang dia sendiripun tidak tahan hingga akhirnya ikut mati di tepi kolam ”

“Betul!” jawab Ho Leng-hong sambil mengangguk, “ia memang sedang menolong puteranya, sebab kematian puteranya dalam keadaan beku adalah karena salah perhitungan.”

“Darimana kautahu?” tanya Pang Goan terkejut.

“Coba kalian perhatikan dengan saksama, di sini terdapat dua bagian tempat yang pantas diperhatikan secara khusus. Pertama, di mana puteranya berbaring terdapat sebuah panggung es yang tingginya mencapai dua kaki, sesungguhnya di situ tiada bentuk tanah semacam itu. Kedua, telapak tangan ayahnya hancur, ini menunjukkan air yang diambil adalah air panas dan bukan air dingin.”

“Tapi apa artinya semuanya itu?” kembali Pang Goan bertanya.

“Kupikir mereka telah berhasil menemukan cara untuk meloloskan diri, sayang karena suatu kekeliruan kecil mengakibatkan usaha mereka gagal total, bahkan harus mati secara penasaran,” tutur Leng-hong.

Berdetak keras jantung Pang Goan dan Hui Beng-cu setelah mendengar perkataan itu, serentak mereka berseru, “Bagaimana caranya itu?”

“Menyembunyikan orang di dalam es!” jawab Leng-hong dengan serius.

“Menyembunyikan orang di dalam es?” seperti baru sadar akan sesuatu Pang Goan segera berseru, “maksudmu, kita simpan orang di dalam balok es, lalu meneroboskannya lewat liang api?”

“Benar. Keadaan ini persis seperti peti mati kaca yang tadi kubicarakan, kurasa hanya dengan cara ini saja orang bisa melewati liang api tanpa kuatir terbakar tubuhnya!”

“Kalau begitu mari kita coba sekarang juga. ” seru Hui Beng-cu dengan girang.

Tapi Pang Goan segera menggoyang tangan dan mencegah gadis itu berbicara lebih jauh, kepada Ho Leng-hong ia berkata, “Apakah kau berhasil menemukan sebab- sebab kegagalan mereka?”

“Ya!” jawab Leng-hong sambil mengangguk, “mereka gunakan air dingin untuk membuat panggung es lebih dulu, kemudian menyuruh puteranya berbaring di atas panggung itu, lalu ayahnya menyirami tubuh anaknya dengan air dingin, karena udara dalam ruangan ini sangat dingin maka dalam waktu singkat sekeliling tubuh puteranya sudah dilapisi oleh es beku, cara ini memang sempurna, sayang mereka telah melupakan suatu hal kecil, yakni setelah air itu membeku maka lapisan es itu akan melengket menjadi satu dengan lantai dan tak mungkin bisa di gerakkan lagi, jelas ayahnya menjadi gelisah, dalam keadaan begini, maka ia ingin menggunakan air panas untuk melumerkan lapisan es, sebab itu tangannya menjadi melepuh dan luka parah, akibatnya mereka berdua mati di tepi kolam.”

Sambil mendengarkan uraian tersebut, Pang Goan mengangguk, katanya kemudian, “Mungkin juga tenaga dalam puteranya tidak cukup kuat dan tak sanggup bertahan lama dalam es, akibatnya ia mati sesak di situ.”

“Padahal kalau ingin menghindari pembekuan antara balok es dengan lapisan es di lantai, asal kita lapisi secarik kain lebih dulu di tanah sebelum pembentukan balok es, hal ini akan beres dengan sendirinya, kendati demikian masih ada dua hal yang merupakan kekurangan besar yang sulit untuk diatasi.”

“Dua hal bagaimana itu?”

“Pertama, cara ini terlalu menyerempet bahaya, sebab siapapun tidak tahu berapa panjang jarak liang api itu dengan daerah aman, kalau jaraknya lebih jauh dari perkiraan, akibatnya balok es itu habis cair lebih dulu sebelum sampai di tempat tujuan, dalam keadaan demikian kita bakal mati konyol.”

“Ya, kecuali cara ini tak ada jalan lain yang lebih baik lagi, tapi tetap berharga untuk menempuh bahaya ini. Coba sebutkan pula kekurangan kedua!”

“Kedua, untuk mewujudkan cara ini kita harus korbankan seseorang untuk tetap tinggal di sini, selain itu datarkah liang api itu? Tiadakah tikungan lainnya? Hal ini masih bergantung pada nasib mujur masing-masing, jelas tak mungkin diselidiki sebelumnya.”

Pang Goan menengadah dan menarik napas panjang, “Tiada sesuatu cara yang sempurna, kurasa inilah satu-satunya cara yang bisa kita coba sekalipun tetap harus menyerempet bahaya. Bahwa seseorang harus berkorban dan tetap tinggal di sini, kurasa jauh lebih baik daripada semua orang mampus sekaligus, biar aku saja yang tinggal di sini.”

“Tidak bisa, Toako adalah pemilik Cian-sui-hu, kalau dibilang siapa yang harus berkorban maka sepantasnya akulah yang tetap tinggal di sini,” kata Leng-hong.

“Tidak, orang yang tinggal harus memiliki tenaga dalam yang sempurna, dengan demikian baru bisa cepat mendorong kedua rekannya melewati liang api itu, tenaga dalammu tak dapat menandingi kelihaianku, buat apa kau berebut denganku?”

“Tapi cara ini akulah yang mendapatkan, aku berhak untuk membagi tugas kerja untuk kalian.”

“Dalam hal ini jangan dibicarakan soal hak, kita mesti berbicara mengikuti keadaan umumnya, di antara kita bertiga, Siau-cu adalah kaum perempuan, jelas ia tak boleh tinggal di sini, sedang kau adalah satu-satunya orang berhasil menguasai ilmu golok Ang-siu-to-hoat, maka kaupun tak boleh tinggal di sini.”

“Di antara kalian berdua, yang seorang adalah pemilik Cian-sui-hu, sedang yang lain adalah puteri kesayangan dari Hiang-in-hu, kematian kalian berdua sangat mempengaruhi keadaan orang banyak, jadi kalian sama-sama tak boleh tinggal di sini, hanya aku seorang yang hidup sebatang kara tanpa sanak tanpa keluarga, maka pantas kalau aku yang ditinggal di sini ”

“Cukup! Cukup!” teriak Hui Beng-cu dengan suara lantang, “kalian dua orang lelaki selalu ribut setiap menghadapi persoalan, sungguh menjemukan! Menurut penilaianku, yang tinggal di sini justru paling aman, sedang orang yang pertama yang harus melewati liang api itu justru paling berbahaya, sekarang kalian saling berebut sendiri, apakah kalian sama-sama takut mati?”

“Darimana kautahu yang tetap tinggal di sini justru yang paling aman?” tanya Leng- hong dengan penasaran.

“Kenapa tidak?” jawab Beng-cu, “coba bayangkan sendiri, bila tidak berhasil melampaui liang api, orang yang disimpan dalam balok es pasti akan mati lebih dulu, sebaliknya kalau berhasil, maka orang yang lolos itu masih bisa berusaha untuk mengadakan pertolongan pada temannya lewat pintu istana sebelah depan, bukankah yang tinggal di sini paling aman?”

Ho Leng-hong dan Pang Goan menundukkan kepalanya dan berpikir, mereka tidak bicara lagi.

Ucapan Hui Beng-cu memang masuk diakal, tapi juga belum tentu benar, karena orang yang berada dalam balok es meski termasuk menyerempet bahaya toh ia masih ada harapan untuk hidup, sebaliknya mereka yang tinggal dalam istana es dengan ransum yang sudah habis, paling banyak Cuma bisa bertahan selama dua belas jam saja, padahal keadaan dalam Mi-kok amat kacau, siapa yang berani menjamin yang sudah lolos itu akan memberi pertolongan dengan lancar dalam sehari semalam yang amat singkat?

Kalau pertolongan datangnya terlambat, niscaya orang itu akan tewas juga. Berputar pikiran Pang Goan, tiba-tiba ia berkata, “Lote, begini saja. Salah seorang di antara kita berdua harus dapat menembus liang api ini meski menyerempet bahaya, sedangkan yang lain tetap tinggal di sini, untuk adilnya, marilah kita undi saja?”

Leng-hong termenung agak lama, akhirnya ia setuju juga.

Dari sakunya Pang Goan mengambil keluar beberapa keping uang perak, sambil digenggam dalam tangan katanya, “Mari kita bertaruh jumlah kepingan perak dalam genggamanku ini, kita bertaruh dalam jumlah ganjil atau genap, yang salah menebak dia harus menyerempet bahaya untuk menerobos liang api, sedang yang menebak dengan jitu tetap tinggal di sini, taruhan hanya berlangsung sekali dan tak boleh menyesal. Nah, tebaklah lebih dulu.”

“Uang perak itu milikmu, tentu saja kau tahu jumlahnya,” kata Leng-hong.

“Sebab itulah kupersilakan kepadamu untuk menebak lebih dulu, dengan demikian baru adil namanya.”

Leng-hong berpikir sebentar, lalu katanya, “Baiklah, aku tebak ganjil!”

Pang Goan segera membuka telapak tangannya sambil tertawa, “Maaf, tebakanmu keliru, perak ini berjumlah enam keping, jadi genap!”

Ho Leng-hong mencoba untuk memperhatikan keenam keping uang perak itu, empat di antaranya berwarna lusuh, jelas sudah lama, sedang dua keping lainnya berwarna agak baru, jelas secara diam-diam Pang Goan telah meremukkan kepingan perak yang agak besar menjadi dua keping kecil.

Ditatapnya Pang Goan dengan rasa haru, ia tak tega membongkar rahasia itu, terpaksa katanya dengan menghela napas, “Legakan hatimu Toako, bila aku beruntung bisa lolos dengan selamat, dalam waktu dua belas jam kami pasti akan kembali ke sini untuk menolongmu.”

“Kaupun jangan kuatir,” sahut Pang Goan dengan tertawa, “sepergi kalian nanti, aku akan tidur sekenyangnya di sini, siapa tahu begitu mendusin dari tidurku nanti, pintu istana telah terbuka lebar.”

Habis berkata ia mulai membentang selembar pakaian di tanah dan membuat panggung es.

Pang Goan dan Hui Beng-cu segera bekerja sama menyiramkan air kolam ke atas tubuh Ho Leng-hong, air yang diambil dari kolam segera membeku, tak lama kemudian sebatas dada Ho Leng-hong ke bawah sudah dilapisi oleh lapisan es yang tebal.

Akhirnya bagian kepala pun dilapisi es, ia harus menahan napas hingga keluar dari liang api itu, otomatis pembentukan lapisan es dilakukan dengan lebih cepat.

Sesaat sebelum mengguyurkan air dingin ke wajah Ho Leng-hong, tiba-tiba Pang Goan berbisik, “Golok mestika Yan-ci-po-to yang didapatkan Ci-moay-hwe adalah golok yang asli, tapi mata golok telah kupoles dengan air raksa sehingga kelihatan amat tumpul, asal golok itu kau garang sebentar di atas api, ketajamannya akan segera pulih kembali Cian-sui-hu dan Thian-po-hu kuserahkan kepadamu, semoga kau

melindungi Wan-kun dan menyayangi anaknya “

Jelas ucapan itu merupakan pesan terakhirnya sebelum berpisah, ini membuktikan pula tekadnya untuk mengorbankan diri sendiri serta tidak ada niat untuk melanjutkan hidup.

Ho Leng-hong merasa darah dalam rongga dadanya bergolak keras, hampir saja ia melompat bangun.

Tapi sebelum ia sempat berusaha, bahkan sebelum ia mengangguk atau melakukan gerakan yang lain, air dingin telah diguyurkan pada wajahnya . . . . .

Ho Leng-hong memejamkan mata dan menutup pernapasan, telinganya sudah tak dapat mendengar apa-apa lagi, ia hanya merasa tubuhnya seakan-akan berada dalam sebuah peti mati besar yang amat dingin, iapun merasa sekujur badan bagaikan diikat kencang-kencang oleh tali yang kuat sehingga sama sekali tak berkutik.

Namun ia tahu dengan jelas, justru dalam detik-detik yang singkat inilah mati- hidupnya akan ditentukan, kalau usahanya meloloskan diri gagal, maka kemungkinan besar tidurnya ini akan berlangsung untuk selamanya, atau mungkin juga badannya akan hancur lebur terbakar menjadi abu.

Ia bukan seorang laki-laki pengecut yang takut mati, tapi ia selalu berharap dapat hidup lebih lama karena tanggung jawab yang berada di pundaknya teramat berat, semua ini membuatnya tak boleh mati dan juga tak berani mati . . . .

Mendadak ia merasakan sekujur badan bergetar keras dan seperti melayang di udara .

. . hawa dingin di sekelilingnya lenyap dengan cepat, disusul kemudian udara yang amat panas menyerang tubuhnya.

Sudah pasti lapisan es yang membungkus tubuhnya mulai cair tertimpa panasnya api.

Udara yang panas membuat anak muda itu teringat pada api yang berkobar dalam liang api, dalam detik yang amat singkat ini, kemungkinan besar tubuhnya akan terbakar lenyap tak berbekas....

Segala apapun tak berani dibayangkan Ho Leng-hong lagi, ia hanya berharap semoga tubuhnya yang sedang melayang dapat berhenti dengan cepat.

Asal sudah berhenti maka mati-hidupnya akan diketahui, jika berada di luar liang api berati umurnya masih panjang, kalau berada dalam liang maka jangan harap akan hidup terus.

Tapi justru guncangan tersebut dan gerakan melayang belum juga berhenti, sebaliknya hawa panas yang menyengat badan kian lama kian sukar ditahan, seakan- akan berada dalam sebuah kukusan raksasa yang airnya mendidih. Dia ingin melihat keadaan itu, namun matanya tak sanggup dibuka, ingin berteriak namun tiada suara yang keluar, ingin meronta namun tiada tenaga, dalam keadaan serba susah ia merasa seakan-akan sekujur badan menjadi kaku, seperti terbakar, dan berubah menjadi abu, berubah menjadi asap . . . .

Blang! Terjadi getaran yang dahsyat, lalu ia tak sadarkan diri.

Rasanya baru terjadi dalam sekejap, tapi juga seakan-akan sudah berlangsung sangat lama.

Ho Leng-hong membuka matanya, pertama-tama ia lihat langit yang biru, kemudian ia merasa sekelilingnya berbau belerang yang amat tebal.

Reaksinya yang pertama adalah ingin melompat bangun dan duduk, tapi sebuah tangan segera menekan tubuhnya, menyusul bergema suara nyaring merdu di sisi telinganya, “Jangan sembarangan bergerak, apakah kau ingin membuat terbalik perahu ini agar semua orang berubah seperti ayam kucemplung kali?”

Itulah tangan seorang perempuan, suara perempuan, bahkan kedengaran seperti sudah dikenalnya.

Mula-mula Ho Leng-hong mengira perempuan itu adalah Hui Beng-cu, tapi setelah berpaling baru diketahui bahwa ia berbaring di atas sebuah perahu kecil, orang yang sedang mendayung perahu itu adalah seorang gadis asing.

Perahu itu kecil sekali, si nona masih amat muda, sekilas pandang bisa diketahui bahwa usianya baru dua puluh tahunan, mukanya bulat telur dengan mata yang besar dan jeli, bajunya berwarna hijau dengan gaun berwarna biru, separuh gaunnya basah kuyup.

Leng-hong mencoba untuk duduk, sayang sampan itu terlampau kecil, baru saja ia bergerak segera menimbulkan guncangan keras.

Buru-buru nona berbaju hijau itu menghentikan dayungnya, dengan setengah mengomel dan setengah tertawa katanya, “Eh, bagaimana kamu ini?” Suruh jangan bergerak, kenapa kau tidak mau menurut perkataanku? Coba lihatlah, lantaran ingin menolongmu, gaunku menjadi basah kuyup, atau kau baru puas bila melihat sekujur badanku menjadi basah?”

Terpaksa Leng-hong berbaring kembali, dengan menyesal katanya, “O, maaf, aku tidak bermaksud demikian, aku hanya ingin . . . ingin ”

Nona berbaju hijau itu kembali mendayung, tukasnya, “Bukankah kauingin bertanya padaku, seorang kawan perempuanmu apakah juga sudah tertolong, begitu bukan?”

“Benar! apakah nona melihatnya?” seru Leng-hong gelisah. Nona berbaju hijau itu tertawa, “Tentu saja telah kulihat dia, kalau tidak, darimana kutahu kau masih mempunyai seorang kawan?”

“Sekarang ia berada di mana? Bagaimana keadaannya?”

“Jangan kuatir, ia baik-baik saja dan berada di perahu lain, mungkin sudah berangkat pulang duluan, taciku yang membawa perahu tersebut.”

“Terima kasih banyak nona ”

Demi mengetahui Hui Beng-cu juga sudah tertolong, ia tak tahu haruskah bergirang atau sedih? Girang karena mereka berdua akhirnya berhasil lolos dari liang api dengan selamat, sedih karena meski Hui Beng-cu berhasil lolos dan tertolong, ini membuktikan pula bahwa di antara mereka berdua tentu terpaut suatu jarak waktu yang cukup lama, hal ini kemungkinan besar mempengaruhi keselamatan jiwa Pang Goan yang berada di dalam istana es.

Tempat ini merupakan sebuah telaga kecil di atas gunung, luasnya tidak seberapa besar, berhubung letaknya dekat kawah, maka air telaga pun menjadi panas dan mengandung belerang.

Ho Leng-hong sangat menguatirkan keselamatan Pang Goan, segera ia tanya pula, “Nona, tahukah kau sudah berapa lama aku tercebur ke dalam telaga?”

“Hahaha, lucu amat pertanyaanmu,” kata si nona baju hijau sambil tertawa, “masa kausendiri tidak tahu sudah berapa lama tercebur ke dalam telaga?”

“Terus terang, ketika tercebur ke dalam telaga aku berada dalam keadaan tak sadar, hakikatnya aku tidak tahu soal waktu.”

“Apa sebabnya kau sampai tercebur ke dalam telaga?”

“Tentang ini ” Ho Leng-hong tak ingin menyinggung masalah lembah Mi-kok,

terpaksa bohongnya, “aku dengan nona Hui sedang mencari obat di atas gunung, karena kurang hati-hati kami berdua terpeleset jatuh ke bawah.”

“Mencari obat? Mencari obat apa? Gunung ini tandus dan gersang, rumput pun tak bisa tumbuh, apalagi tumbuhan obat segala?”

Seketika Leng-hong tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Memang betul, bukit belakang dekat Mi-kok memang sebuah bukit yang gersang dan gundul, hanya di seberang telaga saja ada tumbuh-tumbuhan.

Untung otaknya dapat berputar cepat, buru-buru katanya lagi sambil tertawa, “Obat yang kami cari bukan sembarangan rumput obat, melainkan sejenis benda yang tertanam dalam tanah, bila digali keluar akan bisa dipakai untuk bahan mesiu.”

“O, tahulah aku sekarang, kalian pasti sedang mencari belerang.”

“Bukan, bukan belerang, tapi sejenis benda yang hampir mirip dengan belerang.” Ia merasa gadis berbaju hijau ini mempunyai daya pikir yang bagus, terutama bila menghubungkan persoalan yang satu dengan lainnya, nona itu pun suka tanya macam- macam, maka ia tak berani bicara secara pasti.

Ternyata kali ini si nona tidak mendesak lebih jauh, sambil tertawa katanya, “Ah, pokoknya aku tahu kalian bukan datang untuk mencari obat, persoalan ini tidak menyangkut diriku dan akupun tak ingin banyak bertanya, dulu ibu sering berkata kepadaku, ‘Kalau bertemu orang, bicaralah tiga patah kata saja, agar jangan disangka yang bukan-bukan oleh orang.’ Rupanya kalian mempunyai jalan pikiran seperti itu?”

“Nona salah paham ” kata Leng-hong sambil tertawa getir. Cepat-cepat dia

alihkan pembicaraan ke soal lain, katanya, “Terima kasih banyak atas bantuan nona. Bolehkah kutahu siapa namamu?”

“Kautanya namaku? atau juga keluargaku?”

“Tentu saja menanyakan semuanya, sebab sebenarnya kita akan berkunjung ke rumahmu serta mengucapkan terima kasih langsung kepada ibumu.”

“Tidak usah, ibuku sudah lama tiada, di rumah hanya ada tiga orang kakak beradik, kami dari keluarga Kim, Toaci bernama Lam-giok, aku bernama Lik-giok dan adikku bernama Hong-giok, maka panggil saja namaku Lik-giok!”

Sementara itu perahu sudah menepi dan berlabuh di sebuah selat yang menyorok ke dalam.

Setelah menambat perahunya, Kim Lik-giok melompat ke daratan lebih dulu, kemudian menjulurkan tangannya seraya berkata, “Turunlah dengan pelahan, jangan sampai membuat sampan terbalik.”

Pelahan Ho Leng-hong berduduk dan mengatur napas, ternyata isi perutnya tidak terluka, hanya sekujur badan terasa pegal, keempat anggota badannya lemas dan tak bertenaga, maka di bawah bimbingan Lik-giok iapun naik ke darat.

Tak jauh di depan sana berlabuh pula sebuah sampan kecil, papan geladaknya basah, tapi tak nampak manusia, rupanya Hui Beng-cu benar-benar sudah tertolong dan mendarat duluan.

Ketika Lik-giok melihat langkah Leng-hong amat susah, serta merta dipayangnya pemuda itu sambil berkata, “Tangga batu ini tinggi, mari kubimbing kau ke atas.”

Buru-buru Ho Leng-hong mengucapkan terima kasih, di bawah bimbingan Lik-giok selangkah demi selangkah ia naiki tangga batu itu.

Tangga batu itu mencapai seratus undak lebih, pada ujung tangga tersebut berupa sebuah tanah lapang berumput yang luas, beberapa tombak di sebelah depan sana berdirilah tiga buah rumah gubuk berpagar bambu.

Ketika mencapai tepi pagar bambu, Ho Leng-hong sudah kepayahan hingga napas tersengal, dengan susah payah ia memasuki rumah tersebut, suasana di situ amat hening dan tak nampak sesosok bayangan manusia pun.

Lik-giok membimbingnya masuk ke dalam sebuah kamar di samping kanan, lalu katanya, “Lepaskan dulu pakaianmu yang basah, akan kubawa untuk dijemur, setelah kering nanti dikenakan kembali.”

Leng-hong coba memperhatikan sekejap sekeliling ruangan, ditemuinya kecuali sebuah selimut di atas pembaringan, di situ tidak ditemukan secuwil kain pun, hal ini membuatnya ragu.

“Ayo, cepat lepas pakaianmu,” desak Lik-giok lagi, “jangan sampai masuk angin karena memakai baju yang basah kuyup.”

Leng-hong tertawa jengah, katanya, “Nona, apakah kaupunya pakaian untuk lelaki? Pinjamkan untukku!”

“Wah, sulit, di rumah hanya terdiri dari tiga orang perempuan, darimana datangnya pakaian lelaki? Lebih baik berbaringlah dalam selimut, bagaimanapun toh tak ada orang lagi, jangan kuatir ketahuan orang lain.”

“Aku rasa . . . hal ini kurang baik!”

“Kenapa tidak baik? Itu pembaringanku, aku rela digunakan olehmu, siapa yang berani mengatakan tidak?”

Gadis itu ternyata tidak banyak pikir, sebaliknya Ho Leng-hong merasa malu untuk melepaskan pakaian dan berbaring dalam keadaan telanjang bulat di atas pembaringan si nona.

Bukannya dia tidak berpengalaman dalam keadaan demikian, tapi gadis itu tak pernah dikenalnya, tak pernah mempunyai hubungan apa-apa, lagi telah menolong jiwanya, kendatipun ia bukan seorang Kuncu (gentleman), tapi dia tak ingin melakukan sesuatu yang melanggar tata susila, apalagi berduaan saja dalam sebuah kamar dengan seorang gadis muda.

Tapi dalam kamar tidak tersedia pakaian kering sebagai penggantinya, bagaimana pun mustahil baginya untuk berbaring di atas pembaringan dalam keadaan basah kuyup . . . .

Sementara ia merasa serba susah, dengan tidak sabar Lik-giok berkata, “Mengakunya seorang lelaki sejati, tapi tidak tegas menghadapi persoalan, sekarang kusediakan dulu makanan untukmu, bila aku kembali nanti ternyata bajumu belum dilepas, jangan menyesal jika aku yang akan mencopot bajumu.”

Sepeninggal Lik-giok, Ho Leng-hong merasa kehabisan akal, terpaksa ia lepaskan baju yang basah dan buru-buru menyusup ke dalam selimut.

Tak lama kemudian Lik-giok telah kembali sambil membawa semangkuk besar bubur hangat, katanya sambil tertawa, “Kutahu perutmu tentu lapar, cepat habiskan bubur ini sementara kujemurkan pakaianmu yang basah ini.”

Leng-hong memang sangat lapar, baru saja Lik-giok keluar kamar, separuh mangkuk bubur sudah berpindah ke perutnya.

Manusia adalah besi, nasi adalah baja.

Setelah semangkuk bubur habis dimakan, Ho Leng-hong merasa semangatnya pulih kembali, rasa linu pegal berkurang banyak, iapun ingin cepat-cepat bertemu dengan Hui Beng-cu dan berusaha lekas kembali ke Mi-kok untuk menolong Pang Goan.

Siapa tahu Lik-giok sudah pergi lama sekali dan belum juga kembali, suasana di sekeliling sana amat sepi tak terdengar suara apapun, seakan-akan rumah itu kokang, tak berpenghuni.

Lambat laun, cahaya matahari di luar jendela pun condong ke barat.

Makin ditunggu Leng-hong merasakan keadaan semakin tidak beres, sebenarnya ia ingin bangun untuk memeriksa, apa daya, tubuhnya dalam keadaan bugil, beberapa kali ia mencoba berteriak, namun tak seorang pun yang menjawab.

Tak lama kemudian sang surya telah tenggelam di balik bukit, senja pun tiba.

Leng-hong jadi teringat kembali akan suara Lik-giok yang seperti sudah dikenalnya, menyusul kemudian iapun teringat bahwa Lik-giok tak pernah tanya nama dan alamatnya, padahal di sekitar lembah tak ada penduduk, mana mungkin ada orang luar yang bertempat tinggal di dekat Mi-kok . . . . .

“Wah, celaka, aku tertipu!”

Dengan terperanjat Ho Leng-hong melompat bangun, baru saja dia hendak merobek selimut untuk menutupi bagian tubuhnya yang terlarang agar bisa keluar dari situ, mendadak bayangan seorang muncul di depan pintu.

Dia adalah seorang nona berbaju merah, entah sedari kapan nona itu sudah berdiri di luar pintu sambil memandangnya dengan senyum dikulum.

“Ho-tayhiap, masih kenal padaku?” sapa gadis itu sambil tertawa cekikikan. Warna pakaian yang sudah dikenalnya dengan suara yang amat dikenal pula.

Rasa ngeri muncul dari lubuk hati Ho Leng-hong, tanpa terasa ia berseru, “Samkongcu!”

Cepat-cepat ia menyusup lagi ke dalam selimut dan menutupi tubuhnya yang bugil itu.

Sambil tertawa cekikikan Samkongcu melangkah ke dalam ruangan, kemudian katanya, “Tak kusangka Ho-tayhiap masih ingat padaku, cuma Samkongcu hanya sebutan yang berlaku dalam organisasi Ci-moay-hwe, namaku sekarang adalah Kim Hong-giok!”

“O, kalau begitu Kim Lam-giok dan Kim Lik-giok adalah Toakongcu dan Jikongcu dari Ci-moay-hwe?” pekik Ho Leng-hong dengan kaget.

“Ho-tayhiap memang tak malu disebut sebagai orang pintar,” goda Samkongcu sambil tertawa, “aku berurutan nomor tiga, tentu saja di atasku masih ada dua orang kakak, sudah lama sekali kami bertiga dari Ci-moay-hwe menanti kedatangan Ho- tayhiap di sini.”

“Mau apa kalian menantikan kedatanganku?”

“Bersahabat, membicarakan transaksi dagang dan kedua belah pihak akan sama-sama mendapatkan untung.”

Ho Leng-hong tertawa dingin, “Hehehe, kalian telah memperalah diriku sebagai Nyo Cu-wi, lalu mencuri golok Yan-ci-po-to, kemudian memfitnah kami agar ditangkap pihak Mi-kok . . . tidak cukupkah kalian membikin celaka kami ini? Apa lagi yang perlu dibicarakan? Maaf, aku tidak berminat lagi.”

Samkongcu tidak menyangkal semua tuduhan tersebut, dengan wajah masih dihiasi senyuman ia berkata, “Urusan yang sudah lewat lebih baik jangan dibicarakan lagi, yang perlu dibicarakan adalah masalah sekarang, masalah yang menyangkut tiga nyawa, kupikir Ho-tayhiap pasti masih berminat.”

Karena ucapan yang penuh keyakinan itu mau-tak-mau Ho Leng-hong harus memperhatikan, tanyanya, “Tiga nyawa yang mana?”

“Kau, Hui Beng-cu serta Pang Goan yang masih tertinggal dalam istana es dan menunggu pertolonganmu.”

“Kau mengetahui semuanya?” desis Leng-hong.

Samkongcu manggut-manggut, “Bagaimanapun Hui Beng-cu masih muda dan lebih jujur dibandingkan dirimu, ia telah menceritakan semua kejadian kepada kami. Nah, bagaimana? Waktu tidak banyak, bersediakah kau melakukan suatu barter yang adil?”

Menyinggung soal waktu, Leng-hong merasa gelisah sekali, teringat pada Pang Goan yang sedang menunggu dalam istana es ditambah lagi cuaca mulai gelap, kendatipun gemas, tapi apa daya?”

Akhirnya dengan perasaan apa boleh buat ia menghela napas panjang, sedapatnya ia bersikap tenang, katanya sambil tertawa, “Baiklah, anggap saja kau yang menang, pertukaran apa yang kauinginkan?”

“Tiga nyawa ditukar dengan rahasia ilmu golok Ang-siu-to-hoat, adil bukan?”

“Kim Hong-giok, kau jangan keliru, aku Ho Leng-hong bukan anggota lembah Mi- kok.” “Aku tahu,” rupanya Kim Hong-giok sudah mempunyai perhitungan sendiri, ia berkata lebih jauh, “aku tahu baru saja kau menerobos istana es dan menembus kawah api, baru lolos dari kematian, tidak mungkin kau keluar dengan tangan hampa bukan?”

Leng-hong tertawa getir, “Kalau sudah tahu kami baru lolos dari kematian, mestinya kau juga harus tahu bahwa kami tak punya waktu untuk mempelajari ilmu golok tersebut.”

“buat orang lain mungkin ucapan ini benar, tapi tak berlaku bagimu,” kata Kim Hong-giok dengan tertawa.

“Tapi aku kan sama saja, juga seorang manusia.”

“Benar, kau memang manusia, tapi bukan manusia goblok, kau adalah seorang manusia cerdas yang tak akan melupakan apa yang pernah kaulihat.”

Kemudian ditatapnya wajah Ho Leng-hong dengan serius, katanya lebih jauh, “Menurut apa yang kuketahui, sewaktu berada di Tiang-lo-wan dalam Mi-kok, cukup menyaksikan jalannya pertarungan antara Pui Hui-ji dengan Yu Ji-nio, beberapa jurus ilmu golok mereka tentu berhasil kausadap, kukira hal ini pernah terjadi bukan?”

“Tapi bukankah kausendiri pernah juga menyadap To-kiam-hap-ping-kiam-hoat Pang-toako dengan cara menyuruh keempat perempuan Ainu itu mengerubutinya?”

“Sebab itulah lebih baik kita bicara blak-blakan, apapun tak usah membohongi yang lain,” kata Kim Hong-giok sambil tertawa.

Leng-hong berpikir sebentar, lalu katanya, “Bukankah kau telah bersekongkol dengan orang-orang dari Mi-kok? Untuk mencuri belajar ilmu golok mereka sesungguhnya bukan pekerjaan yang sulit, mengapa kau harus mengincar aku orang she Ho?”

“Ini disebabkan oleh dua alasan, pertama mengenai untung-rugi kedua pihak, jadi tak mungkin berhubungan secara jujur, kedua, aku ingin membuktikan apakah ilmu golok yang mereka pelajari adalah ilmu golok yang komplit? Ataukah masih ada bagian yang sengaja mereka rahasiakan?”

Ho Leng-hong tak ingin membuang waktu percuma, setelah termenung sebentar, jawabnya, “Baiklah, kukabulkan permintaanmu, tapi ada syaratnya yang harus kaupenuhi dulu.”

“Katakan!”

“Bukankah kaubilang akan bertukar syarat denganku dengan jaminan tiga nyawa, diantaranya termasuk juga Pang-toako? Oleh karena itu, kau harus membantu menolong Pang-toako lebih dahulu sebelum ilmu golok Ang-siu-to-hoat kuberitahukan kepadamu.”

“Maksudmu aku harus membantumu menyerbu ke Mi-kok, membuka pintu istana es dan mempersilakan Pang Goan keluar dengan terang-terangan?” “Betul!”

“Maaf, aku tidak memiliki kekuatan tersebut. Bila istana es bisa kumasuki sekehendak hatiku, apa perlunya aku bertukar syarat denganmu?”

“Sekarang Pang-toako belum lolos dari bahaya, jadi kau tidak dapat melaksanakan syarat kita, lalu apa gunanya kaubicara pertukaran kepadaku.”

“Soal ini ” Kim Hong-giok berpikir sejenak, “Yang bisa kulakukan hanya

mengantarmu kembali ke Mi-kok, di samping itu kuberikan pula perlindungan serta keleluasaan untuk bergerak, mengenai pertolongan atas Pang Goan adalah urusanmu sendiri, maaf bila aku tak dapat membantu apa-apa.”

“Padahal dua masalah tersebut tak perlu bantuanmu, kauanggap aku tak bisa pergi sendiri ke Mi-kok?” seraya berkata ia lantas bangkit dan duduk di pembaringan . . . . .

. . .

Tapi baru setengah badan terangkat, cepat ia mengkeret lagi, tiba-tiba ia menemukan dirinya memang benar-benar tak bisa pergi lagi ke Mi-kok.

Pertama, tentu saja karena ia berada dalam keadaan bugil dan tak mungkin turun dari pembaringan.

Kedua, ia merasa dalam dadanya seperti ada gumpalan hawa dingin yang menyumbat jalan pernapasannya dan membuat ia tak mungkin mengerahkan tenaga dalamnya.

Terhadap kesulitan yang pertama, ia masih sanggup untuk melakukannya dengan tebalkan muka, tapi terhadap kesulitan yang terakhir, mau-tak-mau ia terkejut juga, jelas dalam bubur panas tadi telah dicampuri sesuatu obat tertentu.

Kim Hong-giok tertawa genit, ucapnya dengan lembut, “Ho-tayhiap, sekarang apa mau bertukar syarat denganku? Aku tak terburu-buru ingin mengetahui Ang-siu-to- hoat, tapi kukuati Pang-tayhiap tidak memiliki waktu yang cukup untuk menunggu kedatanganmu.”

“Orang she Kim, kau benar-benar manusia rendah yang tak tahu malu,” damprat Leng-hong gemas.

Kim Hong-giok tidak menyangkal, mala ucapnya dengan tertawa, “Terhadap seorang yang telah belajar Ang-siu-to-hoat harus di hadapi seperti menghadapi seekor harimau ganas, mau-tak-mau kami harus waspada.”

“Baik! Aku mengaku kalah,” jawab Leng-hong sambil memejamkan mata, “beri aku pakaian dan obat penawar, segera kudemonstrasikan ilmu golok Ang-siu-to-hoat di hadapanmu.”

“Tahu begini, kita tak usah banyak bicara,” kata Kim Hong-giok sambil tersenyum. Ia bertepuk tangan tiga kali, seorang perempuan setengah umur mengiakan dan melangkah masuk, di tangannya membawa pakaian Ho Leng-hong serta sebutir pil.

Kim Hong-giok meletakkan pakaian dan pil itu di ujung pembaringan, sambil berbangkit berdiri katanya, “Waktu lebih berharga daripada emas, aku tak ingin mengganggumu lebih lama, harap kau lakukan seperti apa yang dijanjikan agar tidak mendatangkan kesulitan lagi bagi nona Hui. Nah, akan kutunggu jawabanmu di luar.”

Seperti seekor ayam jago yang kalah bertarung, terpaksa Leng-hong menuruti perintah si nona.

Ci-moay-hwe tidak malu disebut sebagai sebuah organisasi yang amat rahasia, hingga kini setiap langkah mereka selalu diatur dengan masak, setiap persolan selalu berada dalam perhitungan mereka, seolah-olah setiap urusan yang dicampuri Ci- moay-hwe pasti akan terjatuh dalam cengkeraman mereka, bahkan keadaan dalam lembah Mi-kok pun tidak terkecuali.

Akan tetapi, kendatipun Kim Hong-giok amat cerdik, tapi ia melalaikan sesuatu yang justru sangat penting artinya.

Yakni ia tidak tahu bahwa ilmu golok Ang-siu-to-hoat sesungguhnya terdiri dari sembilan jurus.

Setiap orang yang pernah mendengar kisah mengenai Ang-ih Hui-nio dengan Oh It- to tentu mengetahui bahwa sejak suami-isteri ini berpisah, mereka telah bertarung sebanyak delapan kali dari setiap kali bertarung hanya terdiri dari satu jurus, yaitu asal mulanya ilmu golok Poh-in-pat-tay-sik dan ilmu golok Ang-siu-to-hoat.

Oleh sebab itu ketika Ho Leng-hong hanya memainkan delapan jurus, dan jurus kesembilan yang merupakan jurus terpenting sengaja dirahasiakan, Kim Hong-giok sedikitpun tidak merasa curiga.

Kendatipun hanya delapan jurus, ternyata sudah menarik segenap perhatiannya, secara beruntun dia paksa Ho Leng-hong berlatih tiga kali lagi baru garis besar ilmu golok itu berhasil di apalkan olehnya, tentu saja belum mencakup intisarinya.

Kim Hong-giok memang cerdik, kalau Ho Leng-hong membutuhkan waktu dua-tiga jam untuk memahami satu jurus, maka Kim Hong-giok seluruhnya hanya perlu dua- tiga jam untuk memahami delapan jurus tersebut.

Ketika delapan jurus serangan itu selesai dilatih, tengah malam pun sudah lewat.

“Hanya ini saja yang kuketahui,” demikian Leng-hong berkata kemudian, “kini Pang- toako sedang menunggu pertolongan dalam istana es, aku tak bisa membuang waktu lebih lama lagi, semoga perkataanmu bisa dipercaya dan berusaha membantu aku masuk kembali ke Mi-kok.”

“O, tentu! Bukan Cuma membantumu kembali ke lembah saja, kami pun berharap setelah Pang Goan berhasil diselamatkan, kita masih bisa menjadi sahabat untuk seterusnya, maka kuputuskan untuk menemani kauberangkat ke Mi-kok.”

Leng-hong tercengang, ia tahu keberangkatan si nona ke Mi-kok pasti mengandung maksud tertentu, tapi untuk mengejar waktu ia tak sempat berpikir panjang lagi, dia hanya berharap bisa segera berangkat.

Agaknya Kim Hong-giok telah mengadakan persiapan, ketika gaun merahnya diberi sedikit perubahan dan ditambah jubah luar, maka berubahlah menjadi dandanan seorang pengawal “berbenang putih”, diajaknya Ho Leng-hong meninggalkan rumah gubuk itu.

Dari rumah gubuk menuju ke mulut lembah ternyata tidak jauh, Kim Hong-giok juga apal dengan daerah ini, tak sampai setengah jam mereka telah tiba di tempat tujuan.

Ketika tiba kembali di tempat lama, teringat pengalamannya ketika lolos dari bahaya, sungguh ngeri rasa hati Ho Leng-hong, ia berhenti di tempat kejauhan sambil bisiknya, “Hei, kita akan masuk secara terang-terangan ataukah secara diam-diam?”

“Jangan kuatir,” jawab Kim Hong-giok sambil tertawa, “sudah kuatur segala sesuatunya.”

Ia menyulut api, kemudian obor itu digoyangkan ke atas tiga kali.

Tak lama kemudian dari mulut lembah muncul segerombolan bayangan manusia yang bergerak mendekat dengan cepat.

Mereka adalah lima gadis bergolok dan seorang utusan “berbenang biru”, sekilas pandang Ho Leng-hong kenal utusan tersebut sebagai Hoa Jin.

Kim Hong-giok membisikkan sesuatu kepada Hoa Jin, kemudian membaukan diri ke dalam kelompok perempuan pengawal itu.

Hoa Jin seperti tidak percaya dan terkejut, buru-buru ia maju ke depan dan mengamati wajah Ho Leng-hong dengan saksama, kemudian serunya tercengang, “Ah, rupanya benar-benar kau, sungguh tak pernah kusangka!”

“Akupun tak menyangka, tentu kemunculanku ini akan sangat mengecewakan nenek Tong dan saudara sekalian,” sahut Leng-hong dengan tertawa.

Hoa Jin tidak menjawab, dia memberi tanda dan berseru, “Pasang obor, bunyikan terompet penyambut tamu agung!”

Enam batang obor segera dipasang, menyusul kemudian suara terompet bergema nyaring.

Dalam waktu singkat bunyi terompet bersahut-sahutan dari dalam lembah, cahaya obor bermunculan di mana-mana disusul gemuruh suara manusia.

“Hei, apa-apaan kau?” tegur Leng-hong tercengang. Sambil memberi hormat, jawab Hoa Jin, “Ho-tayhiap berhasil menerobos istana es dan melewati kawah api dengan selamat, itu berarti kau telah menjadi tamu terhormat lembah kami, kedatanganmu akan disambut oleh segenap anggota masyarakat kami.”

Tidak banyak berbicara lagi, mereka lantas mengiringi Ho Leng-hong menuju ke mulut lembah.

Sepanjang jalan tampak cahaya obor sambung-menyambung bagaikan ular panjang, sejak mulut lembah sepanjang jalan penuh berjejal manusia baik lelaki maupun perempuan, tua dan muda, saling berebut melihat kedatangan tamu agung tersebut.

Bunyi terompet yang sahut menyahut agaknya telah membangunkan semua penduduk lembah dari tidurnya.

Gerak-gerik Ho Leng-hong menjadi tak bebas, sepanjang jalan ia dielu-elukan oleh masyarakat lembah, ia digiring menuju ke depan perkampungan di mana cahaya lampu pun terang benderang, Kokcu Tong Siau-sian beserta para Popo dari Tiang-lo- wan menyambut kedatangannya di pintu perkampungan.

Air muka Tong Siau-sian lebih banyak diliputi rasa kejut daripada rasa girang, gerak- geriknya tampak kikuk, sebaliknya para Tianglo tampak diliputi rasa gembira dan bangga.

Ketika Ho Leng-hong tiba di tempat tujuan, serentak bunyi mercon digelar.

Tong Siau-sian mengalungkan sehelai selendang merah ke atas bahu Ho Leng-hong, kemudian bisiknya, “Semenjak berdirinya Mi-kok, Ho-tayhiap adalah orang pertama yang berhasil keluar dari istana es dalam keadaan hidup, dengan inilah kami mengucapkan selamat padamu.”

“Tidak berani,” sahut Leng-hong sambil menjura, “semua ini berkat nasibku yang mujur, juga berkat bantuan Kokcu.”

Entak mengapa, tiba-tiba air muka Tong Siau-sian bersemu merah.

Tong-popo tertawa bergelak, “Hahaha, sungguh pandai bicara, mungkin takdir yang menghendaki Ho-tayhiap mencapai sukses.”

Diiringi orang banyak Ho Leng-hong dibawa masuk ke ruang tengah, Tong Siau-sian segera mempersilakan tamunya menempati kursi utama dengan didampingi para Tianglo di kedua sisinya, pelayan segera menghidangkan teh wangi.