Golok Yanci Pedang Pelangi Jilid 10

Jilid 10

Kemudian dengan penuh kebencian serunya lagi, “Yu Ji-nio juga kurang ajar sekali, tujuan Kokcu mempersilakan kalian tinggal dalam penjara adalah untuk mencegah agar pihak Tiang-lo-wan jangan mengacau, ternyata dia malah berani memasukkan Hoa Jin dalam penjara!”

“Dalam peristiwa ini jangan kau tegur Yu Ji-nio, sebab Hoa Jin menyusup masuk secara diam-diam di tengah malam buta, mungkin juga ia sudah atur orangnya dalam penjara, Yu Ji-nio sama sekali tidak tahu akan perbuatannya.”

“Akan kuperiksa, hmm, lihat saja akibatnya nanti,” dengus Pui Hui-ji.

“Bila nona ingin melakukan pemeriksaan, aku mempunyai suatu akal bagus,” kata Leng-hong sambil tertawa.

“Oya?! Akal apa?”

“Nona Pui, kejadian tanpa bukti ini sulit diperiksa, jika kauingin memeriksanya harus mempunyai bukti yang jelas, kalau tidak, memukul rumput mengejutkan ular, akibatnya mala kurang baik.”

“Maksudmu ”

“Sepulangnya dari sini nanti nona jangan bicara apa-apa, hari ini atau besok kukira Hoa Jin pasti akan kembali lagi ke sini, jika diam-diam nona bersembunyi dalam ruangan Hui Beng-cu, kan dapat memergokinya?”

“Ya, ini memang akal bagus!” seru Pui Hui-ji gembira.

“Cuma, nona mesti perhatikan dua hal, pertama harus datang secara diam-diam, jangan sampai ketahuan penjaga penjara, bila perlu Yu Ji-nio juga harus dikelabui.”

“Soal ini gampang!” Pui Hui-ji manggut-manggut.

“Kedua, kau harus membawa kunci kamar penjara, setelah bersembunyi dalam kamar Beng-cu pintu terali besi harus dalam keadaan terkunci, maka setelah Hoa Jin datang ia akan langsung menuju ke kamar nomor tiga di mana aku berada. Nah, tiba waktunya nanti nona boleh keluar dari kamar nomor satu secara tiba-tiba, adang dulu jalan mundurnya kemudian baru memergokinya, bukankah kau segera akan menangkap basah padanya?”

Pui Hui-ji manggut-manggut, “Baik, kita laksanakan menurut cara usulmu.”

“Menurut apa yang kuketahui,” kata Leng-hong lebih lanjut, “setiap petang para penjaga bergilir makan malam, penjagaan waktu itu agak mengendur, maka pergunakanlah kesempatan itu untuk menyusup ke sini, tengah malam nanti Hoa Jin tentu masuk perangkap.”

Pui Hui-ji mengangguk tanda setuju.

“Nona Pui, dengan rencana kita ini berarti aku telah memutuskan hubungan dengan Tiang-lo-wan, setelah urusan berhasil jangan kau ingkar janji, dan terus menerus menganggap kami sebagai tawanan. ”

“Jangan kuatir, pasti akan kusampaikan hal ini kepada Kokcu, tanggung tak akan merugikan kalian.”

Selesai berunding, Pui Hui-ji mengantar Leng-hong pulang ke penjara, sementara ia sendiri pergi melakukan persiapan.

Sekembalinya ke kamar, Leng-hong menceritakan semua kejadian itu kepada Pang Goan dan Hui Beng-cu, diam-diam ketiga orang itupun melakukan persiapan.

Malam itu Pui Hui-ji benar-benar telah menyusup ke dalam penjara secara diam- diam.

Ia masih mengenakan baju merah bersulam benang putih, persis dandanan para gadis penjaga penjara, tidak ketinggalan iapun membawa golok panjang.

Cahaya lampu dalam penjara amat suram, ketika ia membuka pintu terali kamar nomor satu dan menyusup pintu, Hui Beng-cu sudah menanti di pinggir pintu sambil menegur, “Apa nona Pui di situ?”

Pui Hui-ji mengiakan, baru saja dia akan menutup pintu, Hui Beng-cu telah menarik tangannya sambil berseru, “Cepat bersembunyi di dalam!”

Pui Hui-ji merasa pergelangan tangannya mendadak menjadi kaku, menyusul kemudian jalan darah Ki-bun-hiat di bawah iganya disodok oleh sikut keras-keras, tak sempat mengeluh lagi ia roboh tak sadarkan diri.

Dengan tangan kiri Hui Beng-cu merampas anak kunci, tangan kanan menyambar tubuh Pui Hui-ji, dengan setengah memondong setengah menyeret ia membawanya ke tepi pembaringan, membungkusnya dengan selimut dan dimasukkan ke kolong ranjang, setelah itu disodorkan anak kunci itu lewat terali besi kepada Ho Leng-hong .

. . . . Dalam waktu singkat suasana dalam penjara pulih kembali dengan tenang, siapapun tidak menyangka dalam penjara telah bertambah dengan seorang, siapapun tidak mengetahui kalau kunci pintu penjara telah terbuka.

Selesai bersantap para penjaga masuk melakukan pemeriksaan, keadaannya tidak berbeda dengan keadaan biasa.

Mendekati tengah malam, Ho Leng-hong mengetuk dinding kiri dan kanannya, ketiga orang itu lantas bangun, membuka pintu terali besi dan tanpa membuang banyak tenaga menutuk jalan darah kedua gadis penjaga malam yang tertidur, kemudian menyeret mereka ke dalam kamar penjara.

Hui Beng-cu melucuti pakaian luar gadis-gadis itu, dua di antaranya diberikan kepada Ho Leng-hong dan Pang Goan, sedang ia sendiri mengenakan baju merah bersulam benang putih milik Pui Hui-ji, dengan memegang golok panjang berangkatlah mereka meninggalkan penjara.

Pui Hui-ji dan kedua gadis penjaga tersekap dalam penjara.

Sepanjang perjalanan dari penjara mereka tidak menjumpai alangan apa-apa, ketiga orang itu mempercepat langkahnya, tak lama kemudian sampailah di depan gedung Yu-tim-cing-sih.

“Tempat tinggal Tong Siau-sian tentu dijaga ketat,” bisik Pang Goan kemudian, “kita butuh Wan-kun sebagai penunjuk jalan. Tunggulah kalian di sini, akan kutemui Wan- kun lebih dulu.”

“Berhati-hatilah Lotoako, mungkin saja demi keselamatan anaknya, Wan-kun tak mau menempuh bahaya, bila perlu kita paksa dia untuk menyetujui pendapat kita!”

“Aku mengerti!” Pang Goan lantas maju mengetuk pintu.

Ketika ketukan diulangi sampai ketiga kalinya baru terdengar suara Pang Wan-kun tanya dari dalam, “Siapa?”

Pang Goan memberi tanda agar kedua rekannya bersembunyi, kemudian sahutnya lirih, “Wan-kun, cepat buka pintu, aku, Toako!”

Agaknya Wan-kun sangat terkejut, serunya, “Toako? Kenapa kau bisa ”

“Jangan banyak bertanya dulu, cepat buka pintu dan membiarkan aku masuk!” Dalam ruangan terjadi sedikit kegaduhan, menyusul pintupun lantas terbuka. Dengan cepat Pang Goan menyusup masuk ke dalam ruangan, lalu menutup pintu,

bisiknya, “Wan-kun, benahi barangmu, mari ikut Toako pergi mencari Tong Siau-sian untuk menolong anakmu!”

Rambut Wan-kun tampak kusut, agaknya baru bangun tidur, dengan melenggong ia awasi Pang Goan, lalu tanyanya dengan terperanjat, “Toako, kenapa kau bisa sampai di sini? Hanya kau seorang diri?”

“Kita tak dapat pasrah nasib, maka dengan menyerempet bahaya kami kabur dari penjara, sengaja kujemput dirimu agar kita bisa kabur bersama, Leng-hong dan Siau- cu sudah menunggu di luar, ayo cepat berganti pakaian.”

“Kalian ingin kabur dari Mi-kok ini?”

“Benar, kamipun bermaksud menangkap Tong Siau-sian, menolong anakmu, kemudian kita kabur bersama!”

“Tidak. Tidak mungkin!” Wan-kun menggeleng kepala berulang kali, “kalian tak mungkin bisa lolos dari cengkeraman mereka, sekalipun berhasil kabur dari lembah Mi-kok, tak mungkin bisa lolos dari Tay-pa-san. Toako, dengarkan baik-baik perkataanku, jangan kaulakukan perbuatan bodoh ini ”

“Asal Tong Siau-sian berhasil kita tangkap sebagai sandera, siapa yang berani mengalangi kita?”

“Jangan bermimpi di siang bolong, penjagaan di tempat kediaman Kokcu sangat ketat, ilmu silat Tong Siau-sian tiada tandingannya, jelas jalan yang kalian tempuh tak mungkin bisa tertembus.”

“Sekalipun tidak tembus juga harus dicoba, sekarang kita sudah lolos dari penjara, apakah mesti kembali lagi ke sana? Sekalipun kami bersedia kembali, tidak mungkin Tong Siau-sian akan melepaskan kami lagi, bagaimanapun hanya ada jalan kematian bagi kita, daripada pasrah nasib kenapa tidak menyerempet bahaya untuk mencari hidup?”

“Kalau kaukembali ke penjara belum tentu mati, sebaliknya jika melarikan diri dari lembah ini hanya kematian saja yang bakar kalian terima.”

“Kami lebih suka terbunuh waktu kabur daripada duduk menanti kematian, Wan-kun, jangan banyak bicara lagi, cepat benahi barang-barangmu dan kita kabur bersama.”

“Tidak, aku tak dapat melarikan diri, sebab perbuatanku ini akan menyusahkan anakku sendiri, bila aku bisa kabur sudah semenjak dulu-dulu aku kabur, kenapa menunggu sampai sekarang? ” kata Wan-kun sambil geleng kepala berulang kali.

“Tapi keadaannya sekarang bagaikan anak panah di atas busur, sekalipun harus pertaruhkan jiwa raga akan kami selamatkan juga anakmu, apa lagi yang perlu disangsikan?”

Sementara itu pintu diketuk orang, menyusul suara Hui Beng-cu menegur, “Pang- toako, waktu sudah mendesak, cepat suruh Toaci berangkat.”

“Wan-kun, kau mau kabur tidak?” seru Pang Goan dengan suara tertahan.

“Aku bukannya tak mau kabur, oleh karena aku terlampau paham keadaan Mi-kok ini, maka kutahu bahwa harapan untuk kabur tak ada, sebab kita tak mungkin bisa lolos.”

“Baik!” kata Pang Goan sambil mencabut goloknya, “Thian-po-hu cuma mempunyai seorang anak, Cian-sui-hu juga Cuma kita berdua, bila kau tak mau kabur mengikuti aku, demi menyelamatkan putera dari keluarga Nyo, sekarang juga akan kugorok leherku agar semua orang tak perlu kabur lagi.”

Cepat-cepat Wan-kun memeluk tangan sang kakak yang memegang golok itu, kemudian berkata sambil menangis, “Toako, kenapa kau mengucapkan kata-kata semacam itu? Aku bukannya tak mau kabur, aku kuatir jika kita gagal.”

“Siapa tahu di tengah kegagalan akan kita jumpai jalan hidup? Kita sudah bertekad untuk berjuang mati-matian, darimana kautahu kita tak akan berhasil?”

“Soal ini bukan soal tekad, ilmu silat Tong Siau-sian sangat tinggi, kita semua bukan tandingannya.”

“Kita hadapi mereka dengan akal dan hindari kekerasan, sekalipun ilmu silatnya lebih tinggi juga tak perlu kuatir.”

Wan-kun termenung sejenak, akhirnya dengan perasaan apa boleh buat ia menarik napas panjang, “Ai, baiklah, kalian tunggulah sebentar di luar.”

Pang Goan menyahut dengan gembira, ia segera mengundurkan diri ke luar ruangan.

“Apakah ia bersedia?” Leng-hong segera menyongsong kedatangan Pang Goan sambil bertanya.

Pang Goan mengangguk, “Mula-mula ia tak mau, setelah kugunakan siasat menyiksa diriku sendiri, akhirnya dia mau juga.”

“Dalam perjalanan kita dari sini menuju kediaman Tong Siau-sian mungkin akan kita jumpai pengadangan, sebentar biar Beng-cu berjalan bersamanya, sedang kita mengikutinya secara diam-diam.”

“Kalau begitu kita buka pakaian penjara ini, seorang laki-laki sejati harus mengenakan pakaian perempuan, wah, betul-betul runyam.”

“Sekarang kita belum boleh melepaskannya, paling sedikit harus tunggu setelah berhasil kabur dari lembah ini ”

Dalam pada itu Wan-kun telah selesai berdandan dan keluar dari ruangan. Yang dimaksud berdandan masih tetap memakai baju merah tanpa sulaman itu,

bertangan kosong tanpa membawa apa-apa, bahkan senjata pun tidak membawa.

Ketika Ho Leng-hong menjelaskan siasatnya, Wan-kun menggeleng kepala, katanya, “Tidak perlu, kalian semua ikuti saja diriku, bila ada pengadangan aku yang akan menghadapinya, tapi semua orang tak boleh membawa senjata.” “Andaikata terjadi hal-hal di luar dugaan dan pertarungan berkobar ”

Wan-kun tertawa getir, “Ilmu golok Ang-siu-to-hoat dari Mi-kok adalah kepandaian yang tiada tandingannya di dunia ini, seandainya benar-benar terjadi pertarungan, apa pula gunanya membawa golok? Bukan saja mudah menimbulkan kecurigaan orang, pun tak ada manfaat apa-apa, umpama memerlukan senjata, di manapun bisa kalian dapatkan, kenapa mesti membawanya dari sini?”

Ketiga orang itu merasa ucapan tersebut ada benarnya juga, terpaksa mereka lepaskan golok dan disembunyikan di Jut-tim-cing-sih.

Pang Wan-kun membawa ketiga orang itu menuju ke ruang tengah di mana Kokcu berdiam, setelah melewati serambi, ia masuk ke gedung tengah tanpa sembunyi- sembunyi, sekalipun di tengah jalan mereka bertemu dengan gadis-gadis peronda malam, karena semuanya kenal pada Pang Wan-kun, maka setelah saling menyapa dengan tertawa mereka berlalu dengan begitu saja, sama sekali tidak ada pemeriksaan apa-apa.

Tapi Ho Leng-hong dan Pang Goan yang menyaru sebagai perempuan merasa jantungnya berdebar karena tegang, sepanjang jalan mereka hanya menundukkan kepala dengan peluh dingin membasahi telapak tangan.

Setelah masuk ke ruang tengah, mendadak penjagaan di situ tambah ketat dan rapat.

Di pintu masuk tampak berdiri seorang gadis bergaun merah dengan sulaman benang putih memimpin empat orang gadis lainnya melakukan penjagaan, di bawah beranda dan di balik semak bunga sana tampak juga ada penjaga, seluruh halaman tersebut telah dijaga dengan ketatnya.

Setelah menyaksikan semua itu, Pang Goan baru percaya pada perkataan Wan-kun, bila ingin menangkap Tong Siau-sian dengan kekuatan mereka bertiga, sungguh perbuatan yang bodoh.

Tentu saja penjagaan semacam ini bukan khusus ditujukan untuk menghadapi mereka, tapi penjagaan terhadap serangan mendadak dari pihak Tiang-lo-wan.

Entah apa yang dibisikkan Wan-kun kepada gadis bersulam benang putih penjaga pintu itu, tiba-tiba anak dara itu memperhatikan Pang Goan bertiga, kemudian sambil tertawa katanya, “Baiklah, suruh mereka masuk ke serambi dan menunggu di situ, tapi tak boleh sembarangan lari.”

“Sudah kalian dengar?” kata Wan-kun, “istirahat dulu di serambi sana, jangan sembarangan pergi, aku akan segera lapor kepada Kokcu.”

Ho Leng-hong bertiga tak berani buka suara, dengan kepala tertunduk mereka masuk ke dalam.

Ketika melewati ruangan, beberapa orang gadis penjaga sama menutupi mulut dan tertawa cekikak-cekikik, dan sekalipun mereka sudah tiba di bawah serambi, gadis- gadis penjaga itu masih mengawasi dari kejauhan sambil berbisik-bisik dan tertawa geli.

Berdiri bulu roma Leng-hong menyaksikan tertawa mereka, bisiknya, “Lotoako, tampaknya keadaan kurang beres, agaknya dayang-dayang itu sudah mengetahui rahasia kita.”

“Akupun merasa gelagat kurang beres, jangan-jangan Wan-kun telah membocorkan rahasia kita,” kata Pang Goan.

“Ya, hal ini sukar untuk dikatakan,” sambung Hui Beng-cu, “dia memang tidak setuju dengan rencana kita, sebelum datang iapun suruh kita jangan membawa senjata, entah apa yang direncanakannya.”

“Tidak mungkin, hal ini tidak mungkin,” bisik Pang Goan segera, “dia adalah adikku, tak mungkin mengkhianati kita.”

Tiba-tiba Ho Leng-hong menghela napas panjang, “Ai, jika ia berkeras hendak mengkhianati kita, terpaksa kita harus menghadapi kenyataan. ”

Pang Goan merasa ucapan tersebut aneh sekali nadanya, ketika mengikuti arah tatapannya, kontan hatinya tercekat....

Entah sejak kapan, dua orang telah berdiri di pintu, ternyata mereka adalah Pui Hui-ji dan Yu Ji-nio.

Suara langkah manusia berkumandang juga dari kiri-kanan serambi, menyusul kemudian muncul dua baris pasukan anak perempuan bersenjata lengkap.

Tak lama kemudian, pintu ruang tengah terbuka lebar dan muncul Tong Siau-sian diiringi oleh Pang Wan-kun.

Kontan Pang Goan naik darah, sambil melotot dengan penuh kebencian serunya, “Beginikah hubungan erat seorang adik dengan kakak kandungnya?”

Dengan perasaan malu Wan-kun menunduk kepala rendah-rendah, katanya lirih, “Toako, jangan salahkan aku, kalian tak akan berhasil melarikan diri dari sini ”

Pang Goan membentak gusar dan menerjang ke sana.

Tapi sebelum sempat berbuat sesuatu, cahaya tajam berkilauan, menyusul dua bilah golok panjang telah mengadang di depannya, serentak gadis lain di bawah serambi pun melolos senjatanya.

Tong Siau-sian tersenyum, katanya, “Lebih baik kalian bertiga kembali saja, kami anggap peristiwa malam ini sebagai tak pernah terjadi, janji yang tempo hari masih tetap berlaku, aku tak akan bikin susah kalian bertiga.”

Tentu saja Pang Goan mengerti bahwa ucapan tersebut cuma basa-basi, justru lantaran golok mestika Yan-ci-po-to belum berhasil didapatkan, maka Tong Siau-sian harus bersikap sungkan, coba kalau tidak begitu, tak akan ramah begini sikapnya.

Tapi persoalan telah berkembang menjadi begini, dalam keadaan tanpa senjata jelas tak mungkin bagi mereka untuk menerobos keluar lembah Mi-kok.

Gusar dan gemes Pang Goan, ditatapnya Wan-kun dengan mata melotot, kalau mungkin dia hendak menelan adiknya bulat-bulat.

Ternyata Leng-hong jauh lebih berlapang dada, sambil angkat bahu dan tertawa katanya, “Lebih baik Kokcu perkuat penjagaan dalam penjara, kalau perlu terali basinya dipertebal beberapa kali lipat, sebab kalau tidak kami masih tetap akan berusaha untuk kabur.”

“Kau anggap masih ada kesempatan untuk kabur?” ejek Tong Siau-sian.

“Setiap kesempatan yang ada adalah hasil usaha manusia, kami sudah jemu terhadap pelayanan dalam penjara setiap saat mungkin kami akan mengubah suasananya.”

“Kalian tak akan melakukan perbuatan bodoh lagi, dan pihak kamipun tak akan memperkenankan kalian melanggar kesalahan yang sama untuk kedua kalinya,” ucap Tong Siau-sian sambil tertawa.

Leng-hong tidak berkata lagi, setelah menjura ia berjalan keluar lebih dahulu.

Pang Goan masih melotot dengan penuh kegusaran, ia masih penasaran, Hui Beng-cu segera mendorongnya sambil berbisik, “Pang-toako, mari kita pergi! Mungkin Toaci mempunyai kesulitan yang tak bisa diutarakan.”

Pang Goan menggeleng sambil mendengus, kemudian putar badan dan berlalu.

Yu Ji-nio dan Pui Hui-ji mengiringi ketiga orang itu, selain mereka ada lagi delapan orang gadis bersenjata yang mengiringi mereka dari kiri-kanan.

Rupanya amarah yang berkobar dalam dada Pang Goan belum reda, ia lupa Hui Beng-cu mengikut di belakang, dengan gemas ia berseru, “Hmm, perempuan tetap perempuan, tak bisa diajak berunding untuk urusan besar!”

Hui Beng-cu tahu orang sedang menjongkok, maka iapun cuma tertawa saja tanpa memberi komentar.

“Aku tidak setuju dengan perkataanmu,” kata Leng-hong sambil tertawa, “Sebetulnya perempuan adalah partner yang baik, bergantung berapa banyak kebaikan yang bisa kauberikan kepadanya, dan berapa besar keuntungan yang dapat ia raih? Yu Ji-nio betul tidak perkataanku ini?”

“Aku tidak tahu!” jawab Yu Ji-nio ketus tanpa berpaling.

“Tentu saja sekarang kaubilang tidak tahu, tapi kemarin mengapa kau kelihatan gembira sewaktu kuberitahukan kepadamu bahwa kau hendak diangkat menjadi Tianglo oleh pihak Tiang-lo-wan?” Mendadak Yu Ji-nio berhenti, lalu menegur dengan suara dalam, “Hei, kau ngaco- belo apa?”

“Sekarang urusan sudah lewat,” kata Leng-hong sambil tertawa, “apa salahnya kalau disinggung lagi? Tentu saja ucapanku itu hanya membohongi kau, tapi waktu itu kau telah menganggapnya sebagai sungguh-sungguh.”

Yu Ji-nio marah sekali, katanya, “Selama kalian masih berada dalam penjara, aku selalu melayani kalian secara baik-baik, kenapa kau memfitnah diriku dengan kata- kata yang tak senonoh?”

“Baiklah, tidak kusinggung lagi, kenapa marah, kalau aku bermaksud memfitnahmu, ketika berada di hadapan Kokcu tadi tentu kuungkapkan masalah ini, buat apa menunggu sampai sekarang?”

Tak terlukiskan rasa gusar Yu Ji-nio, tapi pada dasarnya ia berlidah kaku dan tak pandai bicara, sesaat ia tak tahu apa yang harus dikatakan, terpaksa sambil menggertak gigi ia bungkam saja.

Pui Hui-ji yang berada di belakangnya segera berteriak, “Orang she Ho, kuharap kau bersikap lebih jujur, Yu Ji-nio selalu setia kepada Kokcu, jangan mimpi kau akan meretakkan hubungan kami.”

“Baik, anggap saja tanpa sengaja aku hendak meretakkan hubungan kalian!” kata Leng-hong sambil merentangkan tangan, “untung kata-kata yang terucapkan dari mulut bagaikan angin lalu, siapapun tak bisa membuktikannya. Cuma, sebagai orang pintar seharusnya bisa berpikir, andaikata tak ada permainan, mana bisa kau menyusup ke dalam penjara segampang itu ”

Belum habis kata-katanya, Yu Ji-nio tidak tahan lagi, segera ia mencabut goloknya.

“Hei, mau apa kau?” Leng-hong mundur beberapa langkah sambil menegur dengan serius, “apakah kau hendak membunuh orang untuk melenyapkan saksi?”

“Kau. kau binatang!” bentak Yu Ji-nio marah.

Pada dasarnya dia memang tidak pandai bicara, apalagi setelah gusar, ia semakin tak tahu makian apa yang pantas dilontarkan, maka begitu membentak, golok panjang secepat kilat menyambat tubuh bagian bawah Ho Leng-hong.

Tindakan tersebut mencerminkan bahwa ia masih jeri akan sesuatu kendatipun kesadarannya hampir terpengaruh oleh emosi, meskipun ia sangat benci pada Ho Leng-hong, namun tidak berani sungguh-sungguh membunuhnya, maka tabasan itu dituju pada bagian tubuh yang tidak berbahaya sebagai pelampiasan rasa gemasnya.

Ho Leng-hong pun telah menduga orang tak akan berani membunuh, maka sambil pura-pura takut ia menjerit lalu melarikan diri terbirit-birit . . . . .

Baru dia menyingkir, cahaya golok berkilauan dan “trang!” tahu-tahu serangan Yu Ji-nio tertangkis.

“Ji-nio!” Pui Hui-ji membentak dengan menarik muka, “ketiga orang ini adalah tamu Kokcu kita, bila kaulukai mereka, siapa yang akan bertanggung jawab bila Kokcu menegur nanti?”

“Tapi dia . . . dia terlalu menjengkelkan ” seru Yu Ji-nio dengan marah

“Ia bicara sendiri. Asal kau tidak merasa berbuat, kenapa orang hendak kaubunuh untuk membungkam mulutnya?”

“Benar!” cepat Leng-hong menyambung, “aku tak akan memberitahukan hal ini kepada Kokcu, kenapa kau kuatir?”

Kata-kata tak sedap itu semakin mengobarkan amarah Yu Ji-nio, saking tidak tahan tiba-tiba ia menjadi nekat, teriaknya, “Minggir kau! Akan kubunuh binatang ini lebih dulu baru kemudian menerima hukuman dari Kokcu.”

Sambil menjerit, golok panjang segera bergetar, dalam waktu singkat ia sudah melancarkan tiga-empat bacokan ke arah Pui Hui-ji.

Sambil menangkis ancaman itu, Pui Hui-ji membentak pula kepada delapan orang gadis di sisinya, “Yu Ji-nio berani membangkang perintah dan mengkhianati kita, tangkap dia!”

Kedelapan anak dara tersebut mengiakan dan serentak mengangkat senjatanya.

Yu Ji-nio semakin marah, bentaknya, “Kurang ajar, kalian berani turut perintah seorang pengawal barisan Pek-tui dan mengerubungi seorang anggota pasukan berbenang biru?”

Kedelapan orang itu saling pandang sekejap, betul juga, tak seorang pun berani maju.

Peraturan dalam Mi-kok amat ketat dan disiplin, sekalipun Pui Hui-ji adalah orang kepercayaan Kokcu, namun ia cuma seorang pengawal bersulam benang putih, sebaliknya Yu Ji-nio adalah komandan pasukan benang biru, kedudukannya jauh lebih tinggi daripada Pui Hui-ji, apalagi kedelapan anak dara tersebut termasuk pasukan “Benang putih”, tingkatan mereka justru jauh di bawah Yu Ji-nio.

Sementara kedelapan anak dara itu ragu-ragu, mendadak Ho Leng-hong membentak, “Mau apa kalian berdiri tertegun di situ? Yu Ji-nio sudah gila, cepat laporkan kepada Kokcu kalian.”

Setelah diingatkan barulah anak dara itu sadar, segera ada tiga-empat orang lari ke ruang tengah untuk memberi laporan.

Tiga-empat orang lainnya hanya berdiri tertegun di tempat dengan bingung, tidak tahu siapa yang harus dibantu? Dalam pada itu antara Yu Ji-nio dengan Pui Hui-ji telah bertarung belasan gebrakan, cahaya golok gemerdep menyilaukan mata.

Ho Leng-hong memberi tanda kedipan mata kepada Pang Goan dan Hui Beng-cu, tiba-tiba ia mendekati seorang anak dara bergolok dan membentak, “Berikan senjatamu kepada! Kaumundur ke samping sana!”

Waktu itu anak dara itu sedang berdiri dengan wajah cemas, ketika mendengar bentakan tersebut, tanpa berpikir lagi dia segera mengangsurkan goloknya kepada Ho Leng-hong.

Pang Goan dan Hui Beng-cu bersama-sama juga mendekati dua anak dara lainnya dan mengambil golok mereka, namun kedua gadis tersebut kelihatan ragu-ragu.

Akan tetapi ketika mereka lihat rekannya sudah menyerahkan goloknya kepada Ho Leng-hong, dan rupanya tindakan itu tidak keliru, akhirnya mereka pun serahkan goloknya kepada kedua orang itu.

Setelah senjata dalam genggaman, Leng-hong bertiga merasa semangat kembali berkobar.

Leng-hong yang bertindak lebih dulu, sambil memutar goloknya ia terjun ke tengah gelanggang pertempuran.

Jurus ilmu golok yang digunakan persis seperti ilmu golok Ang-siu-to-hoat yang dimainkan Yu Ji-nio, sedang sasarannya adalah Pui Hui-ji.

Tentu saja kejadian ini sangat mengejutkan Pui Hui-ji, cepat teriaknya, “Hei, Ho Leng-hong, kau salah sasaran ”

“Tidak, aku tidak salah sasaran,” jawab Leng-hong sambil tertawa, “setelah membereskan dirimu, barulah kami bereskan dia!”

Sambil berkata, golok berputar terus menyerang gadis itu dengan dahsyatnya.

Untuk melawan Yu Ji-nio saja Pui Hui-ji sudah kewalahan apalagi sekarang bertambah dengan seorang Ho Leng-hong, ia semakin kepayahan dan tak tahan, karena gugup, permainan goloknya menjadi kacau, segera Leng-hong manfaatkan kesempatan itu, sekali sabat goloknya tepat mengenai lutut kanan gadis itu.

Untung serangan tersebut dilancarkan dengan punggung golok, Pui Hui-ji mengeluh tertahan, kemudian roboh terjungkal.

Setelah berhasil dengan serangannya, Ho Leng-hong berpaling ke arah Yu Ji-nio dan berkata sambil tertawa, “Terima kasih banyak atas kesempatan yang kauberikan kepada kami untuk merebut golok, sekarang dosa mengkhianati lembah sudah pasti akan dituduhkan padamu, setelah kepergian kami, kaupun tak nanti bisa hidup aman, lebih baik ikut kami dan pergi bersama, tempat di dunia luar sangat luas, asal kau mau ikut kami, tanggung kau akan hidup senang bahagia ” “Tutup mulut!” bentak Yu Ji-nio, “kau binatang, masih belum cukupkah penderitaan yang kaulimpahkan padaku?”

“Walaupun aku pernah mencelakaimu, akupun telah menolongmu, jadi boleh dibilang sudah impas dan masing-masing tidak berutang kepada yang lain, jika kau tidak ikut kami pergi, bila Tong Siau-sian sampai di sini, semua dosa ini pasti akan dilimpahkan oleh budak Pui ke atas pundakmu, waktu itu meski menyesal juga sudah kasip.”

“Aku dapat menangkap kalian dan menjelaskan semua duduknya perkara di hadapan Kokcu.”

Ho Leng-hong tertawa, katanya, “Kaukira tiba waktunya nanti aku akan bantu bicara untukmu? Gadis-gadis pengawal itu semuanya menyaksikan cara bagaimana kubantu kau membereskan Pui Hui-ji, sekalipun kau memiliki tiga mulut juga sukar mengharap Tong Siau-sian akan percaya pada keteranganmu.”

Yu Ji-nio bungkam, sebab apa yang diucapkan Leng-hong memang benar, tapi ia dilahirkan di Mi-kok, dibesarkan juga dalam lembah tersebut, sesungguhnya ia merasa berat hati untuk mengkhianati lembah kesayangannya itu, tetapi kalau tidak pergi berarti dia bakal menanggung dosa besar, semua ini membuat hatinya menjadi bingung.

“Waktu sudah sangat mendesak sekali,” kembali Ho Leng-hong berkata, “jika kau tak mau ikut, kami akan segera berangkat!”

Tiba-tiba Pui Hui-ji meronta bangun berduduk di tanah, bentaknya, “Yu Ji-nio, kalau kauberani melepaskan ketiga orang itu, pasti perbuatanmu kulaporkan kepada Kokcu agar kau merasakan siksaan hidup yang paling kejam di dunia.”

Sebenarnya Yu Ji-nio masih ragu-ragu untuk mengambil keputusan, tapi setelah mendengar ancaman tersebut, kontan saja sekujur tubuhnya bergetar keras, bulu kuduknya pada berdiri, segera iapun mengambil keputusan.

Tiba-tiba ia membalikkan mata goloknya yang tajam ke dada Pui Hui-ji dan menusuknya hingga tembus ke punggung.

Di antara percikan darah yang berhamburan, terdengar ketiga gadis pengawal itu menjerit kaget.

Dengan ujung golok yang masih berlumuran darah, Yu Ji-nio menuding mereka sambil membentak, “Kalian budak sialan, biasanya kalian sok menggunakan kekuasaan Kokcu untuk berbuat sewenang-wenang, sudah cukup penderitaan yang kurasakan, tapi mengingat kalian adalah sesama saudara seperguruan, kuampuni jiwa kalian, cepat enyah!”

Tanpa sepotong besipun di tangan, gadis-gadis pengawal itu tidak dapat berkutik, terpaksa mereka turut perintah dan cepat kabur dari situ. Rupanya Ho Leng-hong tidak mengira Yu Ji-nio bakal turun tangan kejam kepada Pui Hui-ji, sambil tertawa katanya, “Ji-nio, sekarang kita adalah kawan senasib, padahal jalan dalam Mi-kok tidak kami ketahui dengan jelas, cara bagaimana supaya bisa lolos dengan selamat, harap Ji-nio suka memberi petunjuk.”

Yu Ji-nio mendongak kepala sambil menarik napas panjang, katanya kemudian, “Kalian ikut diriku!”

Dengan mengikut di belakang Yu Ji-nio, dalam sekejap saja Ho Leng-hong bertiga telah melewati beberapa halaman luas, ternyata arah perjalanan mereka bukan menuju ke mulut lembah, sebaliknya malah kabur ke timur, menuju ke bangunan gedung sebelah timur itu.

“Yu Ji-nio!” Pang Goan menegur dengan suara tertahan, “kami hendak ke luar lembah kenapa kaubawa kami ke tempat tinggal mereka?”

“Tanda bahaya dengan cepat akan tersiar sampai di mana-mana, kini mulut lembah sudah tertutup, hakikatnya tak mungkin buat kita untuk menerobos keluar lagi.”

“Lantas apa yang harus kita lakukan sehingga bisa lolos dari cengkeraman mereka?”

“Dewasa ini kita tidak mempunyai cara kabur yang terbaik, maka sengaja kubawa kalian ke suatu tempat dan sementara bersembunyi di situ, dan menunggu kesempatan. ”

“Tidak bisa,” cepat Pang Goan berhenti, “Malam ini kita harus menerjang keluar lembah ini, jika bersembunyi terus dalam lembah, cepat atau lambat jejak kita pasti akan ketahuan.”

“Ya, jika kau tidak bersedia menjadi penunjuk jalan, kami bisa berusaha sendiri,” sambung Hui Beng-cu.

Yu Ji-nio tertawa dingin, “Hehe jika kalian tidak mau menurut nasihatku,

akibatnya hanya satu, yakni pulang kembali ke dalam penjara.”

Ho Leng-hong segera menggoyang tangan mencegah Pang Goan dan Hui Beng-cu berkata lebih jauh, sambil tertawa katanya, “Ji-nio, sekarang kita adalah kawan senasib dan sependeritaan, tentu saja kami akan menuruti anjuranmu, tapi sepantasnya kaupun membeberkan rencanamu kepada kami, agar kami ikut tahu juga duduk persoalan yang sebenarnya.”

“Sudah kukatakan kepada kalian tadi, tak mungkin buat kabur pada saat ini, sementara kita mesti bersembunyi dulu sambil menunggu kesempatan.”

“Kau hendak mengajak kami bersembunyi di mana? Beberapa lama kita harus menyembunyikan diri?”

“Menurut apa yang kuketahui, di sudut timur gedung sana terdapat sebuah taman, dalam taman, terdapat gunung-gunungan, mari kita bersembunyi dalam gua di balik gunung-gunungan tersebut, tentang berapa lama, ini bergantung pada keadaan selanjutnya.”

“Setiap gua dalam gunung-gunungan tentu tak luput dari pemeriksaan, amankah tempat itu?”

“Tentu saja sangat aman.” “Kenapa?” tanya Leng-hong.

“Sebab taman itu terletak di ruang sebelah timur, padahal gedung sebelah timur adalah Tiang-lo-wan. Kokcu tidak akur dengan pihak Tiang-lo-wan, para Popo tak akan mengizinkan mereka melakukan pencarian kemari.”

Leng-hong berpikir sejenak, kemudian katanya, “Tapi kau harus tahu, para Popo dari Tiang-lo-wan pun tak akan melepaskan kami dengan begitu saja.”

“Oleh karena itulah sengaja kupilih gedung timur sebagai tempat sembunyi, jejak kita pasti akan ditemukan oleh Kokcu, setelah dia tahu kita masuk ke gedung timur, tentu dia akan menaruh curiga jangan-jangan Tiang-lo-wan sengaja melindungi kita, sudah pasti mereka akan minta orang kepada para Popo, dengan demikian antara Kokcu dan para Popo akan terjadi perselisihan, bahkan pertarungan. Nah, saat itulah penjagaan di mulut lembah pasti kendur, lalu kita gunakan kesempatan baik itu untuk melarikan diri.”

Ho Leng-hong termenung sejenak, kemudian sambil tertawa dia mengangguk, “Baiklah, kalau begitu kita ikuti saja rencana Ji-nio!”

Karena Ho Leng-hong sudah menyatakan setuju, maka Pang Goan dan Hui Beng-cu juga tidak banyak komentar.

Mereka lantas menyusup ke gedung sebelah timur dan bersembunyi dalam gua di balik gunung-gunungan, sepanjang perjalanan, karena dipimpin oleh Yu Ji-nio, maka jejak mereka tidak konangan.

Sesungguhnya gua dalam gunung-gunungan itu tidak termasuk tempat persembunyian yang rahasia, tapi berhubung termasuk dalam lingkungan pengaruh Tiang-lo-wan dan lagi tidak setiap orang boleh masuk ke sana, maka suasana amat tenang.

Setelah beristirahat sebentar, haripun sudah terang, dalam taman mulai terdengar suara langkah kaki para Popo yang sedang berjalan-jalan dan berlatih kungfu, tidak ada yang menyangka di dalam gua, di balik gunung-gunungan bersembunyi sekelompok pelarian.

Mendekati lohor, suara manusia di luar kedengaran makin bertambah ramai, tapi suasana dalam taman justru sepi, tak kelihatan seorang pun, menurut dugaan mereka, pastilah Kokcu Tong Siau-sian sedang memeriksa jejak kaki yang ditinggalkan mereka berempat semalam dan sedang menuntut kepada pihak Tiang-lo-wan untuk melakukan pemeriksaan, sudah barang tentu permintaan ini ditolak oleh para Popo. Setengah hari kemudian sudah lewat, kini hari mulai gelap lagi, ternyata dalam taman tidak dilakukan penggeledahan, sedang suasana di luar rasanya dapat diduga biarpun tidak melihatnya sendiri. Setelah sehari penuh tidak mengisi perut, mereka berempat mulai merasa lapar sekali.

“Tunggulah kalian di sini dengan tenang,” akhirnya Yu Ji-nio berkata, “aku akan pergi mencari berita sambil berusaha mencari makanan.”

“Aku ikut!” Leng-hong berkata.

“Mana mungkin? Semua anggota dalam gedung ini adalah kaum perempuan, kalau kauikut tentu tidak bebas bergerak. Percayalah, dengan cepat aku akan kembali lagi ke sini.”

“Kalau kaupergi sendirian, bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, siapa yang akan membawa kabar kemari? Lebih baik nona Hui menemani dirimu.”

Tentu saja Yu Ji-nio juga tahu pemuda itu merasa sangsi bila dirinya pergi seorang diri, maka Hui Beng-cu disuruh ikut sekalian mengawasi gerak-geriknya. Iapun tidak menolak, diajaknya Hui Beng-cu meninggalkan gua.

Begitu mereka berangkat, Pang Goan dan Ho Leng-hong mulai mengadakan perundingan.

Sejak pengkhianatan Pang Wan-kun, tampaknya Pang Goan menaruh curiga terhadap siapapun, dengan hati yang kusut katanya, “Kulihat perempuan she Yu itu tidak bisa dipercaya, pada hakikatnya dia tidak ingin meninggalkan Mi-kok, sebaliknya bermaksud menggabungkan dengan pihak Tiang-lo-wan, dengan kepergiannya ini, ia pasti mengkhianati kita untuk membuat pahala bagi pihak Tiang-lo-wan.”

“Kemungkinan tersebut tentu saja bisa terjadi, tapi dewasa ini kita masih membutuhkan bantuannya untuk kabur dari lembah ini, sebagai kawan senasib kita harus percaya kepadanya, meskipun secara diam-diam kitapun harus waspada dan siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak dinginkan.”

“Seandainya ia benar-benar mengkhianati kita, menurut kau apa yang harus kita lakukan?”

Leng-hong tersenyum getir, “Kita cuma bisa berharap agar tidak terjadi apa-apa, tapi kalau terjadi juga, hanya ada satu cara untuk kita, yakni bertarung mati-matian, kita tak boleh tertangkap lagi, untung aku telah berhasil menyadap beberapa jurus ilmu golok mereka, bila sampai terjadi pertarungan, mungkin jurus-jurus ilmu golok ini akan banyak membantu.”

“Ah, betul, memang hendak kutanyakan masalah ini, semalam ketika kau melabrak Pui Hui-ji, apakah Ang-siu-to-hoat dari Mi-kok ini yang kaugunakan?”

“Beberapa jurus serangan itu berhasil kusadap tatkala Yu Ji-nio bertarung melawan Pui Hui-ji, soal kesempurnaan tentu saja masih jauh, hanya bisa dikatakan dengan modal beberapa jurus ini kita bisa mengungkap rahasia ilmu golok mereka, bagaimana kalau kumainkan untuk Lotoako agar bilamana perlu jurus-jurus ilmu golok ini bisa kita gunakan untuk menghadapi segala kemungkinan?”

“Tunggu sebentar,” cegah Pang Goan sambil menggoyang tangan, “untuk menghindari segala kemungkinan, lebih baik kita berpindah tempat lebih dulu, kemudian baru berlatih ilmu golok itu.”

“Berpindah tempat? Kita bisa pindah ke mana?”

“Tempat manapun boleh asal jangan di gua ini, aku selalu merasa bahwa perempuan she Yu itu tidak bisa dipercaya, lebih baik kita sedia payung sebelum hujan.”

Kedua orang segera merangkak keluar gua, kemudian celingukan keempat penjuru, namun di sekitar situ tiada tempat lain yang bisa digunakan untuk sembunyi, kecuali di sudut pintu masuk taman terdapat sebuah gapura batu, belakang gapura dapat dipakai untuk tempat sembunyi dua orang.

Gapura itu mungkin tugu peringatan ketika membangun taman ini, sebab penuh berisikan tulisan, akan tetapi Pang Goan tidak berminat mengamatinya, ia menarik Ho Leng-hong dan buru-buru sembunyi di belakang tempat itu.

Baru saja mereka sembunyi dan belum sempat Leng-hong menerangkan jurus ilmu golok Ang-siu-to-hoat kepada Pang Goan, tiba-tiba dari luar taman ada suara langkah orang.

Sebuah lentera muncul disusul dua orang, yang di depan adalah Yu Ji-nio, tapi yang di belakang bukan Hui Beng-cu.

Yu Ji-nio berjalan dengan wajah murung dan lemas sambil membawa lentera, sedang orang yang mengikut di belakangnya penuh dihiasi senyuman cerah, ternyata dia adalah Hoa Jin!

Tidak kepalang murka Pang Goan, ia menggenggam gagang goloknya erat-erat dan meloloskannya dari sarung.

Ia berusaha keras menenangkan hatinya, apa mau dikata kelima jari tangannya yang menggenggam golok justru gemetar tiada hentinya, sulit rasanya untuk menenangkan perasaannya yang bergolak.

Leng-hong juga menggenggam goloknya, Cuma tangan yang lain sekuat tenaga menekan punggung tangan Pang Goan, itu berarti ia tidak mengharapkan rekannya bertindak gegabah.

Mengikuti cahaya lentera akhirnya Yu Ji-nio membawa Hoa Jin berhenti di samping gunung-gunungan.

Hoa Jin memandang sekejap ke arah perempuan itu. Lalu sambil tersenyum bertanya, “Di sini?”

Yu Ji-nio mengangguk. Hoa Jin segera berdehem, lalu teriaknya, “Pang-tayhiap, Ho-tayhiap, silakan keluar, Popo telah menyiapkan meja perjamuan untuk menyambut kedatangan kalian.”

Pang Goan mendengus pelahan, lalu dengan suara tertahan ia mendamprat, “Perempuan keparat, ternyata dugaanku tidak meleset!”

“Agaknya Beng-cu sudah terjatuh ke tangan mereka, Lotoako, kita harus bertindak dengan kepala dingin!” bisik Ho Leng-hong.

“Urusan sudah menjadi begini, terpaksa kita harus bertarung sampai titik darah penghabisan, mari kita jagal dulu kedua perempuan busuk ini.”

“Jangan terburu nafsu,” cegah Leng-hong, “sekalipun hendak beradu jiwa, kita harus menyelamatkan dulu Beng-cu, mumpung mereka sedang menggeledah gua gunung- gunungan itu, mengapa kita tidak masuk ke gedung sana untuk menolong Beng-cu?”

“Betul!” mencorong tajam sinar mata Pang Goan, “kenapa aku tidak berpikir sampai ke situ?”

Begitulah, setelah mengambil keputusan kedua orang itu segera menyusup keluar gapura dengan sangat hati-hati, lalu menerobos keluar pintu taman dan percepat larinya menuju gedung sebelah timur.

Ketika diperiksa, mereka merasa sudah pernah masuk gedung sebelah timur itu, mereka pun masih ingat arah ruang tengah. Sambil merayap dengan setengah berjongkok, akhirnya sampai juga mereka di luar ruang tengah.

Sinar lampu menerangi ruangan itu, tapi tidak kedengaran sedikit suara pun, di depan pintu ruangan juga tidak tertampak sesosok bayangan manusia pun.

Pang Goan coba mengintip melalui jendela, betul juga, sebuah meja perjamuan dengan aneka hidangan lezat tersedia di sana.

Arak telah memenuhi cawan, sayur masih mengepulkan asap panas, tapi hanya dua orang yang duduk berhadapan di meja perjamuan ini.

Si tuan rumah adalah Tong-popo, sebaliknya tamunya adalah Hui Beng-cu. Suasana dalam ruangan amat hening, tidak tampak orang ketiga.

Setelah menyaksikan semua itu, Pang Goan jadi agak bingung, sebab tubuh Hui Beng-cu tidak diringkus dengan tali, tidak kelihatan seperti tertutuk jalan darahnya, sekalipun hanya duduk membungkam di situ, ternyata sikapnya sangat tenang, bahkan sekulum senyuman menghiasi ujung bibirnya.

Tong-popo sendiri duduk dengan mata setengah terpejam, sikapnya tampak bersungguh-sungguh sedang melayani tamunya, sikap ini jauh berbeda dengan sikap kerengnya ketika di sidang pengadilan tempo hari, bahkan seperti dua orang yang berlainan. Ho Leng-hong mengernyitkan alis, jelas iapun bingung oleh apa yang dilihatnya ini.

Pang Goan segera menuding diri sendiri, lalu menuding ke ruang dalam dan membuat kode tangan, maksudnya Ho Leng-hong diminta menunggu di luar ruangan, sementara dia akan masuk untuk menolong orang.

Leng-hong menggeleng kepala sambil memberi tanda pula, artinya ia telah memahami rahasia golok Ang-siu-to-hoat, jadi lebih baik dia yang masuk ke dalam untuk menolong orang, sedangkan Pang Goan diminta menunggu di luar saja.

Kedua orang itu tahu bahwa tenaga dalam Tong-popo amat sempurna, sebab itu mereka hanya bertukar pendapat dengan isyarat tangan, sama sekali tidak berani menimbulkan suara, meski demikian, ternyata perbuatan mereka tak dapat mengelabui ketajaman pendengaran Tong-popo.

Mendadak nenek itu membuka matanya sambil menengadah, kemudian tersenyum ke arah luar jendela, katanya, “Silakan kalian masuk ke sini, sayur dan arak sudah dingin!”

Pang Goan dan Leng-hong sama-sama terkejut, mereka saling pandang sekejap dengan perasaan tergetar, akhirnya terpaksa mereka mendorong pintu dan masuk ke dalam.

Buru-buru Beng-cu berdiri, katanya dengan tersenyum, “Pang-toako, Ho-toako, kita benar-benar dungu, padahal Tong-popo sama sekali tidak bermusuhan dengan kita, coba lihatlah, ketika mendengar kita kelaparan seharian, buru-buru dititahkan orang menyiapkan makanan dan arak untuk kita, kemudian menyuruh pula Hoa-toanio untuk menjemput kalian, apakah kalian tidak berjumpa?”

Setelah gadis itu selesai berkata baru Pang Goan mendapat kesempatan untuk buka suara, katanya, “Aku suruh kau mencari berita, kenapa kau malah memperlihatkan jejakmu?”

“Pang-toako, jangan kaumarah,” kata Hui Beng-cu sambil tertawa, sesungguhnya jejak kita sudah diketahui oleh Tong-popo, bahkan ia mengirim orang-orangnya menjaga pintu taman, oleh karena pada siang hari kurang bebas untuk mengadakan pertemuan, maka begitu aku dan Yu Ji-nio keluar dari taman kami segera diundang kemari.”

“Benar!” kata Tong-popo sambil tersenyum, “sesungguhnya gerak-gerik kalian semalam telah kuketahui semua dengan jelas, lagipula akupun menduga kalian tak akan sanggup menerobos keluar lewat mulut lembah, untuk itu hanya tempat inilah yang bisa dibuat bersembunyi, karena itulah sengaja kutitahkan orang untuk membuka pintu masuk sehingga dengan leluasa kalian bisa sampai di taman bunga di timur gedung ini.”

“Hm, jadi semua perbuatan kami sudah dalam perhitungan Popo?” dengus Pang Goan. “Bukannya berada dalam perhitungan,” jawab Tong-popo sambil tertawa, “tapi perkembangan situasilah yang memaksa kalian berbuat demikian, atau dengan perkataan lain takdir telah mengatur segala sesuatu menjadi begini. Saudara berdua, sayur dan arak sudah hampir dingin, mengapa tidak duduk dan makan, kemudian baru bicara lagi.”

Pang Goan memandang sekejap ke arah Ho Leng-hong, akhirnya mereka duduk di sebelah kiri dan kanan Tong-popo sambil menggenggam gagang golok.

Rupanya Tong-popo tidak menghiraukan sikap mereka itu, sambil mengangkat cawan katanya dengan tersenyum, “Tentunya kalian sudah lapar bukan? Bila perut dalam keadaan kosong, janganlah bicara masalah besar, bagaimana kalau pembicaraan dilanjutkan setelah makan kenyang nanti?”

“Betul juga perkataanmu,” jawab Pang Goan, “bagaimanapun seorang manusia hanya membunyi selembar nyawa, setelah kenyang baru ada kekuatan untuk beradu jiwa.

Mari, kita keringkan dulu secawan!”

Disambarnya cawan arak di hadapannya, lalu sekali tenggak dihabiskan isinya.

Ho Leng-hong dan Hui Beng-cu memang sudah lapar, maka tanpa sungkan mereka lantas bersantap dengan lahapnya.

Rupanya Tong-popo tidak lapar, namun ia mengiringi para tamunya minum arak dan makan, sekalipun tiada gelak tertawa selama perjamuan berlangsung, suasananya ternyata damai dan tenang.

Tak lama kemudian, Hoa Jin dan Yu Ji-nio telah kembali ke situ, cuma karena kedudukan yang berbeda, mereka hanya melayani di samping, anehnya selama inipun tidak nampak orang luar masuk ke ruangan tersebut.

Setelah perjamuan berlangsung sekian lama, baru Tong-popo angkat bicara lagi, katanya, “Aku rasa kalian pasti kurang begitu paham dengan situasi dalam lembah Mi-kok bukan? Kokcu yang sekarang, Tong Siau-sian, tentu menjelek-jelekkan pihak Tiang-lo-wan kami, di hadapan kalian tentu dikatakan para Popo hendak merebut kekuasaan dan mengincar Kokcu. Mengenai persoalan ini harus kuberikan penjelasan lebih dulu secara ringkas, bagaimana kalau sambil bersantap kalian dengarkan kisahku tentang persoalan yang mengakibatkan persengketaan kami dengan Kokcu?”

Waktu itu mulut Pang Goan sedang penuh dengan makanan, bersampur dengan suara kunyahan katanya, “Katakan saja, akan kami dengarkan dengan saksama.”

Tong-popo lantas bercerita, “Menurut peraturan leluhur kami, Kokcu harus dijabat oleh anggota keluarga turun temurun, dan lagi dia harus seorang gadis, maka sebelum Kokcu itu menginjak dewasa ia harus menuruti petunjuk pihak Tiang-lo-wan, bila ia sudah dewasa nanti baru diselenggarakan upacara cari jodoh, itupun pihak Tiang-lo- wan yang menyelenggarakan. Tegasnya, meskipun kedudukan Kokcu berasal dari keluarga yang turun-temurun, hakikatnya kekuasaan tetap dipegang oleh Tiang-lo- wan, hanya setelah menikah atau sebelum Kokcu yang akan datang menginjak dewasa dan menduduki jabatan tersebut, Kokcu baru memegang hak penuh terlepas dari kekuasaan Tiang-lo-wan ”

Selama ini Pang Goan hanya makan minum dengan kepala tertunduk, seakan-akan sama sekali tidak memperhatikan keterangan tersebut, kini tiba-tiba ia menyela, “Apa yang dinamakan upacara cari jodoh?”

“Cari jodoh adalah memilihkan suami untuk Kokcu, yang berarti pula sebagai persiapan untuk kelahiran Kokcu generasi penerus, agar kedudukan yang turun- temurun itu jangan sampai terputus di tengah jalan.”

“Siapa pula yang berhak dipilih menjadi suami Kokcu?”

“Setiap lelaki yang belum menikah yang menetap dalam lembah ini berhak ikut serta dalam pemilihan ini, tentu saja pemilihan tersebut mencakup soal raut wajah, perawakan, kecerdasan dan lain sebagainya. Tiang-lo-wan berhak melakukan

penelitian sebelum pemilihan berlangsung, kemudian bila cocok baru orang itu boleh ikut serta dalam kontes pemilihan tersebut.”

“Bagaimana pula kontes pemilihan itu dilangsungkan?”

“Sangat sederhana sekali, bila Kokcu menginjak dewasa, Tiang-lo-wan mulai memperhatikan pemuda-pemuda tampan dan pintar yang berada dalam lembah ini sebagai persiapan untuk turut serta dalam kontes yang akan diselenggarakan, bila pemuda yang cukup memenuhi syarat sudah mencapai sepuluh orang ke atas, kami baru menyelenggarakan upacara pemilihan untuk Kokcu, pada saat itu seluruh penduduk lembah akan berkumpul, bernyanyi dan menari bersama, jika Kokcu tertarik kepada salah seorang, dia akan mengalungkan karangan bunga yang telah disiapkan pada leher orang itu, dan orang yang terpilih pun akan menjadi Mi-kok Huma (menantu Mi-kok), malam itu juga pesta perkawinan diselenggarakan, tapi Huma hanya diperkenankan berkumpul selama tiga hari dengan Kokcu, hari keempat dia harus pindah dari gedung itu untuk menunggu perintah selanjutnya.”

“Mengapa begitu?” tanya Pang Goan.

“Sebab penghuni gedung hanya kaum wanita, sedang Huma Cuma bertugas memberi keturunan, bila bulan kedua Kokcu masih belum mengandung, ia diperbolehkan menginap tiga hari lagi dalam gedung, tapi jika setahun kemudian belum hamil juga, maka pemilihan terpaksa diselenggarakan sekali lagi.”

Rupanya Pang Goan mulai tertarik oleh cerita tersebut, kembali ia bertanya, “Seandainya mengandung, ternyata bukan bayi perempuan yang dilahirkan, lalu bagaimana?”

“Jika dalam tiga kali kandungan bukan bayi perempuan yang dilahirkan, maka harus diselenggarakan pemilihan lagi, anak laki-laki yang dilahirkan akan dipelihara oleh pihak suami, bila bayi yang dilahirkan Kokcu adalah perempuan, maka Huma dan Kokcu baru boleh meneruskan hubungan suami isteri selamanya.”

“Wah, aku jadi teringat kepada kehidupan semut dan lebah,” kata Pang Goan sambil tertawa. “Ya, apa boleh buat? Untuk melaksanakan peraturan nenek moyang kami, terpaksa kami harus berbuat demikian, meski begitu, terhadap perempuan lain dalam lembah ini tidak ada pembatasan apapun.”

“Apa maksudmu memberitahukan hal ini kepada kami?”

“Aku memberitahukan semua ini dengan harapan agar kalian memahami proses terjadinya Kokcu dalam lembah kami, atau dengan perkataan lain ingin kubuktikan bahwa pihak Tiang-lo-wan tidak bermaksud merebut kekuasaan Kokcu, sebab meski Tong Siau-sian adalah Kokcu, sebelum kawin dia masih di bawah pengawasan Tiang- lo-wan, ucapannya hanya bermaksud menghasut karena ia hendak mengelabui kalian serta mempergunakan tenaga kalian untuk kepentingannya mencapai maksud pengkhianatannya terhadap peraturan nenek moyang kami.”

“Dia seorang Kokcu? Masa mengkhianati lembah sendiri?” kata Pang Goan tercengang.

“Seperti kuterangkan tadi, Kokcu hanya namanya saja, padahal tidak banyak kekuasaan yang dimilikinya, jangan kaulihat usia Tong Siau-sian masih kecil, tapi ambisinya besar sekali. Ia tidak puas dengan peraturan yang ditinggalkan nenek moyang kami, ia menganggap kekuasaan Tiang-lo-wan melampaui kekuasaan seorang Kokcu, maka Tiang-lo-wan hendak dibubarkan agar kekuasaan terpusat di tangannya seorang, untuk mencapai tujuan ini tak segan-segannya bersekongkol dengan kekuatan luar untuk menindas sesama anggota sendiri.”

“Kukira masalah ini tak ada sangkut pautnya dengan kami, persoalan itu hanya urusan rumah tangga kalian sendiri,” kata Pang Goan sambil tertawa, “lagipula kamipun tak mempunyai kekuatan cukup untuk membantu, lebih-lebih tak kami kehendaki mencampuri urusan ini.”

“Bila Pang-tayhiap berdiri di luar garis, hal ini lebih baik lagi, tapi tidak seharusnya kalian serahkan golok mestika Yan-ci-po-to tersebut kepada Tong Siau-sian, sebab hal ini sama dengan membantu mereka untuk menentang Tiang-lo-wan.”

Pang Goan menggeleng kepala, “Kami hanya ingin menukar Yan-ci-po-to dengan rahasia Ang-siu-to-hoat serta meninggalkan lembah ini dengan selamat, tidak terlintas ingatan dalam benak kami untuk memusuhi pihak manapun.”

“Kalau begitu, seandainya Tiang-lo-wan dengan syarat yang sama ingin menukar golok itu dengan kalian, tentu kalian setuju bukan?”

“Sayang golok mustikanya cuma satu,” kata Pang Goan sambil angkat bahu, “kami telah memberikan selembar peta tempat menyimpan golok untuk Tong Siau-sian, tak mungkin memintanya kembali.”

“Ah, kalau cuma begitu, apa susahnya? Pang-tayhiap kan bisa membuatkan selembar peta lagi untuk kami, kujamin Ang-siu-to-hoat pasti akan kuberikan kepada kalian, dan kalian pun akan kami antar keluar lembah ini dengan selamat.” “Sungguhkah perkataanmu?” “Memangnya cuma main-main?”

“Jadi kalau kubuatkan selembar peta lagi untukmu, kau akan mengantar kami meninggalkan lembah ini?”

“Benar!”

Tampaknya perasaan Pang Goan agak “tertarik”, ia berpikir sebentar lalu berkata, “Bisa saja kukabulkan permintaanmu, cuma kami harus tinggalkan lembah ini lebih dahulu, setibanya di luar lembah peta tersebut baru kuserahkan kepadamu, setuju?”

“Tentu saja setuju, cuma kalau tanpa bukti, cara bagaimana kami bisa percaya kau tak akan ingkar janji setibanya di luar lembah? Lagipula darimana kami bisa tahu peta penyimpanan golok itu asli atau tidak?”

“Lantas bagaimana pendapatmu?”

“Kala menurut pendapatku, tentu saja aku berharap bisa mendapatkan golok mestika Yan-ci-po-to lebih dahulu baru kemudian mengantar kalian keluar dari lembah, untuk ini tentu juga kalian tak akan percaya kepadaku, maka lebih baik kita mencari suatu cara yang sempurna agar kedua belah pihak sama-sama aman.”

“Betul, memang tepat sekali perkataan Popo, coba katakan!”

“Bicara terus terang, menurut peraturan lebah kami, tiada kesempatan sama sekali buat kalian untuk meninggalkan Mi-kok, sekalipun aku ada maksud mengantar kalian pergi, itupun tak bisa kulakukan secara terang-terangan, aku hanya bisa membantu secara diam-diam.”

“Soal ini aku dapat memahaminya!”

“Aku pikir yang paling kalian takuti terhadap Mi-kok adalah Ang-siu-to-hoat kami, seandainya kalian berhasil menguasai ilmu golok itu, sekalipun tak usah kami lindungi juga dapat menerjang keluar sendiri, maka tak ada salahnya kalau kita tukar peta tersebut dengan To-hoat lebih dahulu, bila golok mestika itu sudah kudapatkan dan kalian pun sudah menguasai ilmu Ang-siu-to-hoat tersebut, waktu itu aku bisa mengatur kesempatan baik untuk kalian pergi dari lembah ini, entah setujukah kalian dengan usulku ini?” 

Pang Goan termenung sebentar, lalu berkata, “Popo akan menyiapkan kesempatan yang bagaimanakah untuk kami? Dapatkah kauungkapkan dulu kepada kami?”

“Setelah peta kudapatkan, kalian akan kuantar dulu ke suatu tempat yang aman, rahasia dan tenang agar kalian bisa melatih Ang-siu-to-hoat dengan bersungguh hati, bila golok mestika telah kami dapatkan, Tiang-lo-hwe akan mengundang penduduk untuk menyelenggarakan pesta pemilihan suami buat Tong Siau-sian, nah, tatkala semua rakyat lembah itu sedang berpesta pora, secara diam-diam kalian bisa tinggalkan lembah ini dengan selamat.”

“Akal bagus!” sorak Pang Goan sambil bertepuk tangan, “kita tetapkan begini saja, sekarang ambilkan kertas dan pit!”

Tak terlukiskan rasa girang Tong-popo, cepat ia siapkan sendiri kertas dan pit, bahkan Hoa Jin dan Yu Ji-nio pun disuruh pergi agar rahasia tak sampai bocor.

Setelah sekeliling tak ada orang, Ho Leng-hong baru berbisik, “Lotoako, jangan buru-buru kaubuatkan peta itu, jelas nenek ini mempunyai rencana keji ”

“Peduli amat, sahut Pang Goan dengan suara lirih, “bagaimanapun tempat itu cuma sebuah liang tinja, biarkan saja mereka saling berebutan tahi.”

Tak lama kemudian peta telah selesai dibuat, Tong-popo memeriksanya sejenak, kemudian menyatakan rasa puasnya, hari itu juga ia siapkan burung merpati untuk mengantar peta itu keluar lembah.

Kemudian kepada Hoa Jin pesannya pula, “Cepat siapkan barang-barang kebutuhan untuk Pang-tayhiap, akan kuantar sendiri mereka bertiga ke tempat berlatih ilmu golok itu.”

Tak lama kemudian Hoa Jin datang melapor, “Semua barang keperluan telah siap!”

Dengan wajah berseri Tong-popo segera mengulapkan tangan seraya berkata, “Saudara bertiga, mari ikut padaku!”

Keluar dari ruangan, ada empat orang perempuan dengan “benang biru” pada gaunnya telah menanti, di tangan masing-masing membawa sebuah bungkusan besar.

Menyusuri kegelapan malam mereka berputar keluar dan menuju ke timur sana, sepanjang perjalanan tak ada yang berbicara, mereka tidak membawa lampu, jelas hendak menghindari pengintaian pihak Tong Siau-sian.

Tak lama kemudian mereka sudah keluar perkampungan bagian belakang, arah yang dituju ternyata adalah dasar lembah, lagipula makin ke depan perjalanan makin sulit, pemandangan di sekitar sana pun makin gersang, jangankan bangunan rumah, pepohonan pun jarang.

Suatu perasaan waswas tiba-tiba muncul dalam hati Ho Leng-hong, segera bisiknya, “Toako, tampaknya keadaan semakin tak beres, coba perhatikan tanah lumpur ini!”

Pang Goan menunduk, air mukanya kontan berubah.

“Kenapa dengan tanah lumpur itu?” tanya Hui Beng-cu tercengang, rupanya ia tidak menemukan sesuatu yang aneh.

“Tanah di sini jauh berbeda dengan tanah di depan lembah sana,” Leng-hong menerangkan, “makin ke dalam warna tanahnya makin gelap, coba lihat, bukankah tanahnya sekarang berwarna hitam pekat? Lagi pula dasar lembah ini kecuali batu karang hampir boleh dibilang tiada tumbuhan lain. ”

“Lalu apa artinya semua itu?” tanya Hui Beng-cu belum juga mengerti.

“Itu berarti tempat yang akan kita tuju kemungkinan besar adalah istana es dan liang api.”

Sekujur badan Hui Beng-cu bergetar keras, akhirnya ia mengerti, Urusan telah jelas, dan merekapun sampai di tempat tujuan.

Di bawah tebing terjal di dasar lembah berdiri sederetan rumah batu, dalam rumah itu berdiri tiga orang perempuan.

Ketiga orang perempuan itu telah berusia lanjut, kedudukan mereka pun amat tinggi, dua diantaranya berpangkat “benang biru”, sedang yang ketiga ternyata berpangkat “benang perak”, berarti diapun seorang Tianglo.

Tianglo tersebut berusia delapan puluh tahun lebih, meski rambutnya telah beruban, wajahnya wajah bocah, sayang matanya buta, kelopak matanya mencekung, kelihatan dua lekukan yang dalam.

Kedua nenek lainnya yang berpangkat “benang biru” berusia sekitar lima puluhan, ternyata mereka pun orang buta.

Ketika Tong-popo membawa rombongan itu sampai di depan rumah batu, ketiga nenek buta itu lantas mendengar suara kedatangan mereka dan menyongsong di depan pintu.

Hampir semua orang buta memiliki suatu keistimewaan yang sama, yakni pendengaran yang tajam.

Sikap Tong-popo terhadap nenek buta yang paling tua menghormat sekali, dengan hangat dan tertawa ia menyapa, “Enci Po, sudah lama aku tidak berkunjung kemari, baik-baikkah kau selama ini?”

“Seperti biasa,” jawab nenek buta she Po itu ketus, “asal bisa makan dan minum, rasanya juga sudah cukup puas.”

“Itulah baru dinamakan Hok-ki,” kata Tong-popo sambil tertawa, “tidak seperti diriku ini, dari pagi sampai malam sibuk selalu, padahal juga tidak kuketahui sibuk apa, sehingga ingin makan atau minum pun tak punya waktu. ”

Tiba-tiba nenek she Po itu memotong, “Ada keperluan apa kaudatang ke lembah belakang ini?”

“Aku mengantar tiga orang tamu kemari.” “Tunjukkan lencana nomor kuncimu!” perintah nenek Po sambil ulurkan tangannya.

Dari sakunya Tong-popo mengeluarkan sebuah lencana tembaga kecil, lalu sambil tersenyum diserahkan ke tangan salah seorang nenek “benang biru”, oleh perempuan itu baru diserahkan kepada nenek Po.

Bentuk lencana tersebut tidak jauh berbeda dengan lencana biasa, cuma di atas lencana ini terdapat lubang sehingga kelihatan agak istimewa.

Dengan teliti nenek Po meraba sekeliling lencana tersebut, kemudian miringkan kepala sambil bertanya, “Berapa orang?”

“Tiga orang!”

“Berapa orang lelaki dan berapa orang perempuan?” “Dua tamu lelaki dan seorang gadis remaja!”

“Perlu dibagi menjadi berkelompok?”

“Tidak usah, mereka berasal dari satu rombongan.”

“Baik!” kata nenek Po kemudian, “tinggalkan semua barang keperluan dan kau boleh segera kembali!”

“Enci Po, ketiga orang tamu kita memiliki kungfu yang lumayan, kau kudu baik-baik melayani mereka.”

“Hmm! Jangan kuatir,” sahut nenek Po sambil mendengus, “sekalipun sepasang mataku sudah buta belum pernah ada seekor belut yang bisa lolos dari sela-sela jari tanganku.”

Mendengar ucapan tersebut, Ho Leng-hong bertiga saling pandang dengan terkesiap.

Tong-popo segera menitahkan orang untuk menyerahkan bungkusan kepada mereka bertiga, lalu katanya sambil tertawa, “Saudara bertiga, aku hanya mengantar kalian sampai di sini saja, urusan selanjutnya akan diatur nenek Po, moga-moga kalian bisa berlatih ilmu golok dengan tekun dan bersungguh hati, barang-barang ini pasti kalian butuhkan nanti, silakan kalian menerimanya.”

“Tapi tempat apakah ini,” seru Hui Beng-cu, “apa yang hendak kaulakukan terhadap kami?”

“Sambil angkat bahu Tong-popo tertawa, “Bukankah kalian bertiga ingin mencari suatu tempat yang sepi untuk berlatih Ang-siu-to-hoat? Nah, di sinilah tempat paling baik untuk berlatih ilmu golok tersebut.”

Sehabis berkata ia lantas mengajak anak buahnya meninggalkan tempat itu. Dengan suara tertahan Hui Beng-cu berkata, “Pang-toako, Ho-toako, kita tertipu, ternyata nenek she tong itu tidak bermaksud baik!”

Pang Goan tidak menjawab, buru-buru ia membuka salah satu bungkusan itu dan diperiksa isinya.

Ternyata kecuali sebungkus ransum kering ada pula beberapa setel pakaian tebal anti dingin.

Ketika bungkusan yang lain dibuka, ternyata isinya sama.

Sekarang Ho Leng-hong baru menghela napas panjang, keluhnya, “Berlatih ilmu golok di istana es. Ya, pasti tempat inilah Peng-kiong!”

“Benar!” sambung nenek Po mendadak, “tempat ini adalah istana es!”

Udara di dalam istana es dinginnya bukan kepalang, dalam rumah batu itupun tak kurang dinginnya.

Ho Leng-hong bertiga mengenakan pakaian tebal anti dingin. Lalu di bawah “kawalan” nenek Po dan kedua orang petugas “benang biru” mereka digiring ke dalam rumah batu itu.

Wajah tiga orang perempuan itu lebih dingin daripada udara dalam ruangan tersebut, pakaian yang mereka kenakan juga sangat tipis.

Dari sini dapat diketahui bahwa ketiga perempuan buta itu pasti memiliki tenaga dalam yang luar biasa hebatnya.

Oleh sebab itu Pang Goan bertiga sangat tahu diri, mereka menurut perintah tanpa membantah, merekapun tidak mengatur rencana untuk kabur, apalagi keadaan dalam lembah tersebut memang tidak memungkinkan orang untuk melarikan diri.

Setelah masuk ke dalam rumah batu, nenek Po menanyai dulu nama mereka bertiga, lalu sambil memberi tiga butir pil ia berkata, “Bila kalian tahu nama istana es tentu pernah mendengar juga nama liang api? Nah, agar kalian memiliki kesempatan untuk mempertahankan hidup secara adil, terlebih dahulu akan kuterangkan segala sesuatu yang menyangkut keadaan kedua tempat itu ”

Ketiga orang itu tidak bersuara, rupanya mereka sama sekali tidak tertarik untuk mempertahankan hidup.

Nenek Po melanjutkan perkataannya, “Istana es dan liang api adalah tempat aneh dalam lembah kami, tempat itu merupakan gudang penyimpan pusaka pemberian alam, dalam istana es itulah kitab ilmu golok Ang-siu-to-hoat disimpan, suhu dalam istana es dingin luar biasa, tiap titik air akan segera beku menjadi es, sekalipun ilmu silat seseorang amat lihay juga jangan harap akan hidup lebih enam jam di tempat itu .

. . . . .” Setelah berhenti sebentar, sambil menuding ketiga biji obat itu, lanjutnya pula, “Cuma untuk memberi kesempatan kepada kalian agar bisa mendalami rahasia Ang- siu-to-hoat tersebut, maka barang siapa memasuki istana es akan diberi hadiah sebuti obat kuat, setiap orang yang makan pil itu bisa memperoleh kekuatan untuk menahan rasa dingin selama enam jam, atau dengan perkataan lain kalian mempunyai kesempatan untuk hidup dua belas jam dalam istana es, dalam waktu yang tersedia ini bukan saja dapat kalian gunakan mempelajari rahasia ilmu golok, kalian pun bisa memikirkan cara meloloskan diri dari situ.”

Ketiga orang itu tidak bersuara, tapi mereka mendengarkan keterangan itu dengan saksama, akhirnya dapat disimpulkan bahwa mereka masih ada kesempatan untuk lolos dengan selamat.

Terdengar nenek Po berkata lebih jauh, “Pintu istana es hanya bisa masuk dan tak bisa keluar, satu-satunya jalan bagi kalian untuk mencari hidup adalah menerobos liang api, tempat itu pun harus dilewati dalam waktu dua belas jam. Antara liang api dengan istana es hanya terbatas oleh sebuah gua, tapi suhu udara di kedua tempat sama sekali bertolak belakang, dalam liang api terdapat api alam yang sepanjang tahun menyemburkan api dahsyat, jangankan manusia, sebatang baja pun akan meleleh, maka jika kalian bisa menemukan cara bagus untuk menembus liang api tersebut, bukan saja dapat memperoleh ilmu Ang-siu-to-hoat yang maha sakti itu, kalian akan disambut pula oleh segenap rakyat lembah dengan segala kehormatan, kalau perempuan akan diangkat menjadi Kokcu, bila pria akan menjadi Huma . . . . .

tentu saja semenjak lembah ini didirikan hingga kini belum pernah ada orang yang berhasil melintasi istana es dan liang api dengan selamat, sebaliknya jumlah yang tewas si situ justru tak terhitung banyaknya.”

Berbicara sampai di sini tiba-tiba ia tertawa bangga, katanya lagi, “Nah cukuplah keterangan ini, apa yang harus kukatakan telah kuucapkan, jika kalian masih ada pertanyaan boleh diajukan sekarang kepadaku, dengan senang hati akan kuterangkan, kalau tak ada pertanyaan, maka kalian akan kuantar masuk ke istana es.”

Hui Beng-cu hanya memandang Pang Goan dan Leng-hong dengan sedih, tiba-tiba air matanya jatuh bercucuran.

Pang Goan menepuknya pelahan dan berkata pelahan dan berkata dengan suara getir, “Siau-cu, jangan takut, manusia akhirnya akan mati, bukan sembarangan orang bisa mendapatkan kuburan yang panas-dingin komplit semacam ini, biasanya tempat yang mengandung unsur api dan air dikatakan Heng-sui yang baik, keturunan kita kelak tentu akan makmur.”

Hui Beng-cu tak dapat menerima kata-kata gurauan seperti itu, isak-tangisnya tak terbendungkan lagi, air matanya jatuh dengan derasnya.

Ho Leng-hong tetap bersikap tenang dan sedikitpun tanpa emosi, selang sejenak baru ia berkata, “Nenek, bolehkah kuajukan dua pertanyaan?”

“Katakan!”

“Pertama, benarkah ketiga biji obat pemberian nenek ini sangat manjur?” “Tentu saja sangat manjur, aku dapat menghadiahkan obat itu kepada kalian, buat apa bohong? Kalau kau tidak percaya, setelah masuk ke dalam istana es nanti makanlah obat ini, dalam waktu dua belas jam kau takkan merasa kedinginan.”

Ho Leng-hong manggut-manggut, katanya lagi, “Kedua, aku ingin bertanya, andaikata nasib kami lagi mujur dan bisa lolos dari istana es dan liang api dalam keadaan hidup, benarkah akan memperoleh sanjungan dan penghormatan dari segenap rakyat lembah?”

“Betul, ini sudah merupakan peraturan nenek moyang kami, jadi bukan peraturan ciptaan kami.”

“Baik! Asal kami tidak mati pasti akan berkunjung pula ke lembah ini,” selesai berkata ia masukkan ketiga biji obat itu ke dalam sakunya.

Nenek Po segera membuka sebuah pintu di ruang belakang, lalu melangkah masuk lebih dulu.

Tanpa ragu Ho Leng-hong menyusul di belakangnya.

Pang Goan memayang Hui Beng-cu menyusul di belakangnya, sedangkan kedua perempuan tua berbenang biru berjalan paling belakang.

Di balik pintu adalah sebuah gua yang sangat gelap, di situ tak ada cahaya lampu, yang ada hanya hawa dingin yang merasuk tulang.

Sekalipun matanya buta, ternyata langkah kaki nenek Po sangat cepat, untungnya permukaan gua amat datar dan tiada tikungan, tak lama kemudian sampailah mereka di depan sebuah pintu batu.

Lambat-laun Ho Leng-hong sudah mulai terbiasa dengan kegelapan, ia menghimpun segenap kekuatannya untuk memperhatikan keadaan sekeliling tempat itu.

Ternyata pintu batu itu sangat tebal dan beratnya ribuan kati, gelang pintu terbuat dari baja dan tampaknya terdapat pula sebuah lubang kunci raksasa.

Nenek Po memasukkan lencana tembaga tadi ke dalam lubang kunci, setelah itu baru menggunakan sebuah anak kunci untuk membuka kunci pintu, pelahan pintu batu itu ditarik.

Setelah pintu terbuka, segulung angin dingin pun berembus keluar, tanpa terasa Ho Leng-hong bertiga bergidik.

“Silakan masuk saudara bertiga!” kata nenek Po kemudian.

Leng-hong melongok ke dalam, di balik pintu merupakan sebuah gua karang, cuma dari kejauhan sana lamat-lamat kelihatan selapis cahaya putih seperti lapisan kabut.

Ia menarik napas panjang-panjang, lalu melangkah masuk ke dalam gua itu. Pang Goan bermaksud membimbing Hui Beng-cu masuk pula ke dalam gua, siapa tahu mendadak gadis itu meronta dan melepaskan diri dari pegangan Pang Goan, ia cabut golok panjang di pinggang orang she Pang itu, sambil memutar badan terus melancarkan serangan kilat ke arah kedua orang perempuan buta berbenang biru di belakangnya.

Perubahan kejadian ini sangat tiba-tiba, dalam kejutnya Pang Goan ingin mencegah, sayang tak sempat.

Jangan kira kedua orang perempuan itu buta, ternyata perasaannya tajam sekali, baru saja Hui Beng-cu melolos golok, kedua orang itu segera menubruk maju dari kanan dan kiri.

Sambil membacok, Hui Beng-cu berteriak, “Aku tak mau ke istana es, kalau ingin nyawa cepat me ”

Kata “menyingkir” belum selesai, pergelangan tangannya tahu-tahu kaku dan gadis itupun dicengkeram oleh salah seorang perempuan buta tadi.

Perempuan buta yang lain dengan cekatan merampas goloknya, lalu mendorong Hui Beng-cu ke dalam pintu.

Buru-buru Pang Goan menyambutnya, dengan sempoyongan mereka berdua terdorong masuk ke dalam gua.

“Blang!” pintu batu tertutup rapat memisahkan gua tadi menjadi dua bagian.

Sambil menutup wajahnya Hui Beng-cu menangis tersedu-sedu, pekiknya, “Pang- toako, Ho-toako, habislah riwayat kita, tak bisa tidak kita pasti mati dalam istana es ini.”

“Sekalipun harus mati, apa gunanya menangis?” jawab Leng-hong dengan tenang.

Hui Beng-cu mendongakkan kepalanya sambil berseru, “Ho-toako, kenapa kau tidak takut? Apakah sudah kautemukan akal untuk meloloskan diri?”

Leng-hong menggeleng kepala berulang kali, “Aku tidak takut karena takut tak dapat menyelamatkan jiwa kita, melawan juga bukan cara yang baik, maka tidak perlu kita lakukan perlawanan yang tak bermanfaat, kita harus menggunakan segenap kekuatan yang kita miliki untuk mencari jalan keluar.”

“Tapi istana es dan liang api jelas adalah jalan kematian, tidak mungkin kita bisa keluar dalam keadaan hidup,” keluh sang gadis sambil terisak.

“Sampai sekarang kita belum mencobanya, darimana kautahu jalan ini adalah jalan kematian?”