Golok Yanci Pedang Pelangi Jilid 06

Jilid 06

“Lantas kita bagaimana menurut pendapat Lotoako? Bagaimana kita mesti turun tangan?”

Setelah berpikir sebentar, kata Pang Goan, “Kukira, jika tujuan Ci-moay-hwe adalah untuk berebut gelar juara dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe, berarti mereka tak akan melepaskan pula Hiang-in-hu di Leng-lam, maka aku bermaksud berangkat sendiri ke Hu-yong-shia dan menemui Hui Pek-ling, cuma sebelum keberangkatanku ini kita masih harus menyelesaikan dulu satu persoalan.”

“Persoalan apa?”

“Mumpung hari masih malam, aku ingin mewariskan dulu To-kiam-hap-ping-tin kepadamu, kupercaya dengan daya ingatanmu yang baik, semua jurus serangan bisa kauingat baik-baik, kemudian pelahan kaupelajari dan resapi, sebelum pertemuan Lo- hu-to-hwe nanti kita boleh melatihnya beberapa kali, kemudian dapat digunakan setiap waktu.”

“Lotoako bermaksud begitu, sesungguhnya aku harus menurut, cuma ada satu hal yang harus kuterangkan juga sebelum Lotoako wariskan ilmu To-kiam-hap-ping-tin- hoat tersebut kepadaku. ”

“Tidak usah kaukatakan lagi,” tukas Pang Goan sambil menggoyang tangan, “apa yang hendak kau katakan sudah kuketahui, lagipula sudah kupertimbangkannya, pokoknya kau telah menjadi majikan Thian-po-hu dan mulai sekarang boleh melanjutkan kedudukanmu dengan hati tenang, mengenai soal lain tak perlu kaupikirkan.”

“Lotoako, benarkah kau sudah mengetahui apa yang ingin kukatakan?” tanya Leng- hong terkesiap.

“Mataku belum buta, telingaku tidak tuli, Wan-kun saja dapat kuketahui sebagai gadungan, masakah tidak kupikirkan pula dirimu?” kata Pang Goan dengan wajah serius, “terutama setelah kejadian malam ini, lebih terbukti lagi bahwa dugaanku tidak salah, terus terang kukatakan kepadamu, manusia macam apakah Nyo Cu-wi itu masa aku tak tahu? Andaikata dia memiliki separoh dari bakatmu, tak mungkin Thian-po- hu akan berada dalam posisi sulit semacam ini.”

Leng-hong terkejut dan melongo, sepatah katapun tak mampu menjawab.

Pang Goan tertawa getir, sambil menepuk bahunya ia berkata lagi, “Lote, peduli siapakah kau, dalam pikiranku kau tetap Nyo Cu-wi, seandainya adikku suami-isteri sudah tertimpa musibah, maka kau adalah majikan Thian-po-hu untuk selamanya, dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe yang akan datang, sepantasnya pula Thian-po-hu diwakili olehmu, sebaliknya bila adikku suami-isteri masih hidup, maka kau adalah tuan penolong dari Thian-po-hu dan Cian-sui-hu, selamanya aku akan menganggapmu sebagai saudara kandung sendiri, suatu hari jika aku mati, maka Cian-sui-hu adalah rumahmu.”

“Lotoako ” saking terharunya Ho Leng-hong tak sanggup melanjutkan kata-

katanya.

“Cukup, soal lain tak usah dibicarakan lagi, aku hanya ingin jawabanmu sekecap saja, yakni siapa namamu?”

“Aku she Ho bernama Leng-hong!”

“O, Ho Leng-hong!” dengan suara rendah Pang Goan mengulang nama itu beberapa kali, lalu sambil mengangguk terusnya, “nama hanya tanda pengenal seseorang, untuk menghindari segala kesulitan lebih baik kusebut Jit-long saja padamu. Hayo berangkat Jit-long! Kita harus mulai berlatih To-kiam-hap-ping-tin-hoat ”

“Lotoako, bolehkah kuucapkan sepatah kata lagi?” “Katakanlah!”

“Siaute merasa menyelidiki asal usul Ci-moay-hwe adalah suatu hal yang penting, mencari jejak Nyo-tayhiap suami-isteri juga tidak kurang pentingnya, mana boleh kita pergi ke Leng-lam malah.”

“Meskipun persoalan itu tampaknya dua, hakikatnya hanya satu masalah, bisa kita tebak kalau Cu-wi dan Wan-kun telah terjatuh ke tangan pihak Ci-moay-hwe, kalau tidak, tak mungkin mereka berani datang kemari serta berbuat sewenang-wenang, jadi asal rahasia Ci-moay-hwe berhasil kita ketahui, hal ini sama pula berhasil mengetahui jejak Wan-kun suami-isteri.”

“Tapi perjalanan menuju ke Leng-lam jauh sekali, untuk pulang-pergi membutuhkan waktu cukup lama, padahal Samkongcu dari Ci-moay-hwe berada di dekat sini, kenapa kita menolak yang dekat dan meraih yang jauh? Kenapa kita tidak turun tangan mulai dari Samkongcu ini?”

Pang Goan termenung sebentar, ia tanya kemudian, “Apakah kau ada akal untuk menyelidiki tempat pondokan budak itu?”

“Tidak sulit untuk hal itu, kita boleh pancing mereka datang lagi ke Thian-po-hu, atau dari musuh-musuh mereka kita berusaha mencari tahu tempat mereka.”

Kemudian dengan suara lirih ia jelaskan rencananya.

“Apakah kau yakin?” tanya Pang Goan kemudian dengan dahi berkerut. “Tujuan mereka adalah To-kiam-hap-ping-tin-hoat, sehari Lotoako sebelum

meninggalkan Thian-po-hu, tak mungkin mereka akan berlalu dengan begitu saja.”

“Baiklah,” kata Pang Goan sambil mengangguk, “kita tunggu tiga hari lagi, dalam tiga hari bila tak ada berita apa-apa, kita baru berangkat menuju ke Leng-lam.”

Sejak hari kedua, penjagaan di Thian-po-hu tiba-tiba diperketat, di samping itu diumumkan pula “Pit-hu-sia-khek” (tutup pintu dan tidak terima tamu).

Mendapat perintah tersebut, seluruh Busu dalam gedung bergerak melakukan penjagaan yang ketat, terutama dinding taman bunga bagian belakang, hampir boleh dibilang setiap tiga langkah terdapat penjaga, tiap lima langkah sebuah pos, siang maupun malam Busu berseragam lengkap melakukan perondaan, tak seorang pun diizinkan mendekati dinding taman belakang.

Pihak Thian-po-hu tak pernah mengumumkan alasannya Pit-hu-sia-khek, tapi penduduk di sekitarnya sama-sama menyiarkan berita yang menyatakan bahwa Nyo Cu-wi, majikan Thian-po-hu sedang tirakat untuk melatih sejenis ilmu silat yang istimewa dan bersiap-siap akan mengikuti pertemuan Lo-hu-to-hwe yang akan datang.

Tentu saja sumber berita itu berasal dari mulut para Busu, tapi hakikatnya Ho Leng- hong dan Pang Goan memang benar-benar sedang berlatih To-kiam-hap-ping-tin, sekalipun untuk melatih ilmu barisan itu tidak perlu mengurung diri, mereka berharap dengan To-kiam-hap-ping-tin sebagai umpan dapat memancing kedatangan Samkongcu ke Thian-po-hu.

Oleh sebab itulah, meski penjagaan di luar gedung tampaknya sangat ketat, sesungguhnya penjagaan di dalam gedung sendiri amat kendur, kalau siang hari perondaan dilakukan berulang-ulang, maka bila malam tiba, penjagaan berubah menjadi penjagaan secara diam-diam, kecuali para Busu di luar tembok yang berjaga dengan obor di mana-mana suasana dalam taman bagian dalam amat sepi, kecuali petugas peronda dan penyampai berita, tiada pengadaan atau pemeriksaan yang teliti.

Hari pertama bisa dilalui dengan tenang, apa pun tidak terjadi.

Hari kedua kembali lewat, tapi belum juga ada sesuatu yang mencurigakan.

Pada hari ketiga, Pang Goan sudah mulai tak sabar, sudah lewat tengah hari, tapi kabar tentang Ci-moay-hwe belum juga didapatkan, ia mulai bersiap-siap melakukan penjagaan.

Menjelang senja itulah, tiba-tiba di luar gedung kedatangan seorang tamu. Orang itu masih muda sekali, sekitar dua puluh tahunan, raut mukanya bulat,

matanya besar dan giginya rata, cuma hidungnya agak pesek. Ia mengenakan baju dari kain kasar, membawa buntalan dan mukanya kotor penuh debu.

Kalau dilihat wajahnya yang kusut dan letih bisa diketahui dia baru saja menempuh perjalanan jauh dan khusus datang untuk menyambangi Thian-po-hu.

Ia mengaku she Oh, datang ke sini ingin bertemu dengan Nyo Cu-wi, majikan Thian- po-hu.

Ketika para Busu mengatakan bahwa majikannya sedang “Pit-hu-sia-khek”, orang itu berkeras ingin menjumpainya, katanya ada urusan penting yang hendak dibicarakan secara langsung tapi ia enggan memberi penjelasan yang terperinci tentang nama dan maksud tujuannya.

Ia hanya berkata seandainya Nyo Cu-wi sedang tutup pintu tidak menerima tamu, maka ia rela menunggu terus di luar gedung.

Ketika Leng-hong menerima laporan dari para Busu, ia lantas mencari Pang Goan untuk berunding, “Kemungkinan besar orang ini adalah utusan dari Ci-moay-hwe yang ditugaskan untuk mencari berita. Lotoako, mari kita temui bersama.”

Pang Goan berpikir sebentar, lalu sahutnya, “Kukira cara ini kurang baik, lebih baik salah seorang di antara kita menjumpainya dan yang lain bersembunyi. Begini saja, kau yang temui orang itu dan aku akan mengintip secara diam-diam, apapun maksud kedatangannya lebih baik kita tahan dia agar menginap di kamar tamu ruang depan, kita harus menggunakan ketenangan untuk menghadapi segala perubahan yang penting, selidiki dulu asal-usulnya.”

Selesai berunding, Leng-hong muncul sendiri ke ruang depan dan Pang Goan sembunyi lebih dulu di belakang ruang tamu.

Ketika orang itu berjumpa dengan Ho Leng-hong, sambil memberi hormat ia bertanya, “Tolong tanya, apakah saudara ini Nyo Cu-wi, Nyo-tayhiap dari Thian-po- hu?”

“Benar,” sahut Leng-hong sambil tersenyum, “Sebetulnya, karena ada urusan, Siaute sedang mengurung diri dan tidak menerima tamu, tapi berhubung kudengar Oh-heng datang dari jauh, terpaksa kusambut kedatanganmu, bolehkah kutahu ada urusan apa Oh-heng mencari Siaute?”

Dengan sorot mata tajam orang itu memperhatikan Ho Leng-hong dari atas sampai ke bawah, lalu katanya, “Maaf, aku belum pernah berjumpa dengan Nyo-heng, karena itu maaf jika sekiranya ucapanku kurang pantas, dapatkah Nyo-heng menjelaskan apakah kau benar-benar majikan dari Thian-po-hu?”

“Aku tidak mengerti maksud Oh-heng. ” kata Leng-hong dengan melengak.

“Maksudku, berhubung urusan ini penting dan sangat rahasia, maka sebelum kuutarakan lebih baik Nyo-heng membuktikan diri sendiri sebagai majikan Thian-po- hu.”

“Tempat ini adalah Thian-po-hu dan akulah Nyo Cu-wi, memangnya Oh-heng minta aku membuktikan dengan cara bagaimana?”

“Gampang sekali, bila Nyo-heng dapat mengundang keluar enso, maka akupun akan percaya.”

“Apakah Oh-heng kenal dengan Wan-kun?” tanya Leng-hong dengan agak tercengang.

“Ya, tiga tahun yang lalu pernah kuberjumpa dengan Pang-toaci, atas kebaikannya kami telah mengikat menjadi. ”

Menjadi apa? Tiba-tiba ia tutup mulut dan tidak melanjutkan, agaknya tidak leluasa dijelaskannya.

Leng-hong tambah terkejut, katanya dengan suara tertahan, “Oh-heng, sesungguhnya siapa kau? Ada urusan apa datang ke Thian-po-hu?”

“Maaf,” sahut orang itu sambil memberi hormat, “sebelum bertemu dengan Pang- toaci dan terbukti kau betul-betul adalah Nyo-heng, aku tak dapat menjawab pertanyaanmu.”

“Kau “

Pang Goan yang bersembunyi di belakang pintu angin tiba-tiba tertawa dan berseru, “Jit-long, tak usah kau tanya dia lagi, aku tahu siapakah dia.”

Sambil melangkah keluar dari tempat sembunyiannya, Pang Goan berkata seraya menuding orang itu, “Kau adalah Siau-cu-cu (si cu kecil), betul tidak?”

Agaknya orang itu tidak kenal dengan Pang Goan, dengan bingung sahutnya, “Benar, dan siapakah kau ”

“Kau hanya ingat pada Pang-toaci seorang, masakah tidak tahu akan Pang-toako?” “O!” orang itu cepat-cepat memberi hormat, “maaf, kiranya Pang-toako juga berada di sini.”

Pang Goan memberi tanda agar semua Busu dan pelayan keluar ruangan, kemudian dengan wajah serius katanya kepada Ho Leng-hong, “Jit-long, dia ini Hui Beng-cu, putri tunggal Hui Pek-ling dari Hu-yong-shia, di Leng-lam.”

Leng-hong melonjak kaget buru-buru ia memberi hormat sekali lagi, “Nona Hui, kenapa jauh-jauh kau datang kemari? Lagi pula perempuan menyaru sebagai laki- laki?”

Sebelum menjawab, mata Hui Beng-cu sudah merah lebih dulu, sambil menahan isak tangisnya ia berkata, “Terus terang kuberitahukan kepada Toako berdua, kedatanganku kemari adalah khusus untuk minta bantuan.”

“Apa? Jadi Hiang-in-hu juga tertimpa musibah?” seru Pang Goan kaget.

“Pang-toako, kenapa kau mengatakan ‘juga tertimpa musibah’?” tanya Hui Beng-cu, “jangan-jangan di Cian-sui-hu juga terjadi sesuatu peristiwa besar?”

Sambil menghela napas Pang Goan geleng-geleng kepala berulang kali, “Cian-sui-hu sih tak terjadi apa-apa, tapi Thian-po-hu telah mengalami kesulitan, Siaucu, coba terangkan dulu kejadian yang telah menimpa Hiang-in-hu kalian.”

“Dapatkah kujumpai Pang-toaci lebih dulu?” pinta Hui Beng-cu, ia masih agak sangsi.

“Tak usah kau singgung dia lagi, persoalan ini justru terjadi atas dirinya, terus terang kuberitahukan padamu, ia sudah ditawan orang dan tak ada di sini, kemungkinan besar telah dicelakai musuh dan tiada di dunia lagi.”

Ketika dilihatnya wajah Hui Beng-cu diliputi rasa kaget dan curiga, ia berkata lebih jauh, “Cuma kau jangan kuatir. Aku Pang-toako bukan gadungan, kalau tidak, mana mungkin nama kecilmu bisa kusebut, meskipun kita belum pernah bertemu, tapi pernah kudengar Wan-kun menceritakan perkenalannya denganmu, konon kalian bertemu dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe yang lalu, mula-mula bertarung dan akhirnya mengikat tali persaudaraan, bahkan berjanji akan main bersama-sama ke pulau Bu-to- san di Lam-hay, betul tidak?”

Dengan air mata bercucuran Hui Beng-cu mengangguk, “Benar, sebenarnya Pang- toaci ajak aku pesiar ke laut selatan, tapi karena pertemuan To-hwe berakhir sebelum saatnya, niat tersebut tidak terlaksana, kemudian kudengar Taci kawin dengan majikan Thian-po-hu, sebetulnya aku mau datang menyampaikan selamat, tapi ayah tidak mengizinkan..., sungguh tak nyana perpisahan itu adalah perpisahan untuk selamanya.”

Ketika mengucapkan kata-kata terakhir, meledaklah isak tangisnya.

“Nona jangan bersedih hati dulu,” hibur Leng-hong, “bagaimanakah keadaan Wan- kun hingga kini belum diketahui dengan pasti, coba beritahukan dulu kepada kami, apa yang terjadi di Hiang-in-hu?”

“Panjang sekali ceritanya,” tutur Hui Beng-cu dengan air mata bercucuran, “ini harus dimulai ketika pertemuan Lo-hu-to-hwe yang lalu.”

“Tidak menjadi soal, tahan dulu rasa sedih nona, kemudian baru bercerita.”

Hui Beng-cu mengusap air matanya, setelah menenangkan hati lalu ia berkata dengan sedih, “Pertemuan Lo-hu-to-hwe yang diselenggarakan setiap empat tahun sekali itu selalu dijuarai oleh Thian-po-hu, tapi semenjak gelar Thian-he-te-it-to berhasil diperoleh ayahku dalam pertemuan yang lampau, dalam dunia persilatan lantas tersiar berita yang mengatakan bahwa Hiang-in-hu telah mempergunakan siasat Bi-jin-ke (siasat perempuan cantik) yang mengakibatkan pemilik Thian-po-hu kehilangan tenaga dalamnya sebelum bertanding sehingga kedudukan terhormat itu dirampas orang. Ayahku marah dan mendongkol sekali setelah mengetahui kabar ini, dia bersumpah akan mempertahankan gelar tersebut selama hidup, maka mulailah dengan usaha ayahku untuk mencari golok mestika “

Ho Leng-hong dan Pang Goan saling pandang sekejap, namun keduanya tetap bungkam.

“Kemudian datang seorang perempuan asing yang menawarkan sebilah golok (samurai), perempuan asing itu berdandan genit dan menyolok, ia pandai pula berbicara, setelah melakukan tawar menawar, akhirnya bukan saja ayahku membeli samurai tersebut, perempuan asing penjual samurai itupun diminta pula tinggal di rumah.”

“Apakah perempuan asing itu adalah orang Ainu dari negeri Timur?” tiba-tiba Leng- hong menyela.

“Nyo-toako, darimana kautahu?” tanya Hui Beng-cu tercengang.

Ho Leng-hong tertawa getir, “Kejadian selanjutnya tidak nona katakanpun aku sudah tahu, tentunya perempuan asing itu merayu ayahmu dan merengek kepada ayahmu agar diajari ilmu golok Hiang-in-hu bukan?”

“Memang demikianlah. Ilmu golok keluarga Hui kami bernama Liat-yam-cap-sa- cam, biasanya tidak diwariskan kepada anak perempuan, tapi berhubung ayah Cuma mempunyai seorang puteri, maka terpaksa ilmu itu diwariskan kepadaku, tak nyana ayah juga telah mewariskan kepandaian saktinya itu kepada seorang perempuan asing yang tidak diketahui asal-usulnya.”

“Lama kelamaan perempuan asing itu tentunya mendatangkan banyak konco- konconya untuk mengurusi semua pekerjaan rumah, selain itu memperuncing pula hubungan kalian ayah dan anak, betul tidak?” tanya Leng-hong pula.

“Tepat sekali, sejak ayah memelihara perempuan asing itu, wataknya sama sekali berubah, ia melarang aku berhubungan dengan Pang-toaci, kemudian ketika Cian-sui- hu berbesanan Thian-po-hu, akupun dilarang kondangan, satu persatu anggota lama dalam gedung dipecat dan diganti oleh konco-konco perempuan asing itu, bahkan belakang ini keadaannya bertambah hebat, ia hendak memaksaku untuk kawin dengan Congkoan (kepala rumah tangga) baru bernama Kim Pang, kumohon agar perkawinan ini dibatalkan, tapi ayah tak mau ubah pendiriannya, terpaksa aku minggat dari rumah.”

Leng-hong hanya mendengarkan tanpa berbicara, ia seakan-akan sedang memikirkan sesuatu persoalan.

Sebaliknya dengan marah Pang Goan berkata, “Sungguh tak nyana nama besar Tay- yang-to Hui Pek-ling harus kandas di tangan orang perempuan asing pada usia tuanya.”

“Aku sendiripun tidak menyangka,” kata Beng-cu pula dengan gegetun, “kecuali agak berangasan, sesungguhnya ayahku adalah seorang yang jujur dan berhati lurus, tapi sekarang ia seperti telah kena guna-guna dan berubah menjadi seorang yang lain. ”

“Nona Hui, apakah ibumu masih hidup?” tiba-tiba Leng-hong bertanya.

“Tidak, ibuku sudah lama meninggal dunia, waktu itu aku baru berusia empat tahun.” “Selama ini pernahkah ayahmu bermaksud kawin lagi?”

“Tidak pernah, ayahku selalu kangen dan memikirkan ibu, hakikatnya sama sekali tak berniat mencari isteri baru, belasan tahun belakangan ini kami berdua ayah dan anak selalu hidup berdampingan.”

“Kalau begitu, kenapa setelah bertemu dengan seorang perempuan asing dia lantas menjadi bodoh dan mau dirayu? Betul-betul tua bangka pikun dan keblingar!” omel Pang Goan dengan gemas.

“Lotoako tak boleh menyalahkan Hui-locianpwe,” kata Leng-hong sambil geleng kepala, “menurut dugaanku kejadian ini lagi-lagi adalah hasil karya Ci-moay-hwe.”

“Maksudmu, Hui Pek-ling yang asli telah ditukar dengan Hui Pek-ling gadungan?”

“Ya, kalau mereka bisa melatih seorang Pang Wan-kun gadungan, kenapa tak bisa melatih pula seorang Hui Pek-ling gadungan?”

“He, apa yang kalian bicarakan?” seru Hui Beng-cu kebingungan, “Ci-moay-hwe apa maksud kalian? Dan apapula yang asli dan gadungan?”

Secara ringkas Leng-hong lantas menceritakan kejadian yang telah menimpa Thian- po-hu, tentu saja merahasiakan tentang dirinya yang dijadikan Nyo Cu-wi gadungan ini.

Ketika mendengar cerita tersebut, Hui Beng-cu melongo kaget, sampai lama ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, kemudian ia menggeleng kepala sambil mengeluh, “Tak kusangka di kolong langit ada kejadian seperti ini, masa seorang bisa diubah menjadi orang lain, hal ini hal ini benar-benar terlalu mengerikan.” “Untuk berhasil merajai dunia persilatan dan memusuhi kaum pria, pertama-tama Ci- moay-hwe harus berhadapan dulu dengan Bu-lim-sam-hu (tiga gedung dalam dunia persilatan), asal mereka membuang pikiran dan tenaga dengan mencari seorang yang berwajah mirip, kemudian diberi pula latihan yang ketat, untuk menyamar sebagai seseorang memang bukan sesuatu pekerjaan yang sukar.”

Tiba-tiba ia tertawa, lalu katanya lagi, “Setelah mereka sanggup merias wajah seseorang, lalu diselundupkan ke suatu tempat untuk menyelidiki suatu rahasia, kukira hal ini suatu pekerjaan yang sangat mudah.”

Hui Beng-cu tertegun, serunya, “Nyo-toako, apakah kaupun mencurigai diriku sebagai seorang yang menyamar orang lain?”

“Bukannya aku suka curiga,” kata Ho Leng-hong sambil tertawa, “tapi justru karena pihak Ci-moay-hwe sedang berusaha dengan segala akal untuk menyusupkan orangnya ke Thian-po-hu, dan kebetulan nona seorang gadis pula yang belum pernah kami lihat, maka bila nona dapat membuktikan kebenaran asal-usulmu, tentu saja hal ini akan jauh lebih baik.”

“Cara yang paling baik adalah mempersilakan nona memainkan Liat-yam-cap-sah- cam dari perguruanmu.”

Hui Beng-cu berpikir sebentar, lalu katanya, “Padahal cara inipun belum dapat membuktikan kebenaran asal usulku, sebab ayahku telah mengajarkan pula Liat-yam- cap-sah-cam tersebut perempuan siluman itu.”

“Tidak menjadi soal, meskipun perempuan siluman itu juga bisa memainkan ilmu golok Liat-yam-cap-sah-cam, kesempurnaannya tentu masih jauh daripada yang diharapkan, bagaimanapun tentu berbeda dengan nona yang telah mempelajarinya sejak kecil.”

Kembali Hui Beng-cu termenung sebentar, katanya kemudian, “Baiklah, aku akan mempertunjukkan, Cuma akupun mempunyai satu permintaan.”

“Katakan saja nona!”

“Ayahku telah dikuasai mereka, apakah dipalsui atau tidak, yang pasti keadaannya sangat berbahaya, bila sudah kubuktikan kebenaran asal-usulku, Toako berdua harus menyanggupi akan menemaniku berangkat ke Leng-lam dan menyelamatkan ayahku.”

“Soal ini tak perlu nona katakan lagi,” sahut Leng-hong tanpa ragu-ragu, “Bu-lim- sam-hu sama-sama tertimpa musibah, sudah sepantasnya kita saling membantu untuk menghadapi musuh yang sama.”

Hui Beng-cu tidak banyak bicara lagi, ia membuka bungkusannya dan meloloskan sebilah golok melengkung yang amat tajam.

Golok itu bentuknya seperti sabit, lebar golok hanya tiga jari dengan gagang dari emas serta rantai perak pengikat tangan, pada kedua sisi sarung golok masing-masing terdapat sebuah mutiara besar yang dijadikan sebagai lukisan matahari, sekilas pandang dapat diketahui bahwa senjata tersebut adalah golok mestika yang tak ternilai harganya.

Hui Beng-cu melolos goloknya, lalu melangkah ke luar ruangan, setelah memberi hormat, katanya, “Mohon petunjuk Toako berdua.”

“Tidak berani!” Leng-hong dan Pang Goan segera membalas menghormat.

Hui Beng-cu menarik kaki kanannya ke belakang lalu tubuhnya berputar setengah lingkaran, tangan kiri direntangkan, pelahan hawa murninya dikerahkan.

Dalam waktu singkat, air mukanya dari merah, berubah menjadi pucat, sebaliknya goloknya yang bening tajam pelahan memancarkan selapis hawa berwarna merah.

Melihat ini, entah mengapa tiba-tiba Leng-hong teringat pada golok mestika Yan-ci- po-to.

Baik Tay-yang-sin-to dari keluarga Hui maupun Nyo-keh-sin-to dari Thian-po-hu, keduanya adalah ilmu golok terkenal di dunia persilatan, Cuma bedanya Po-in-pat- toa-sik dari Nyo-keh-sin-to lebih mengutamakan keganasan, keanehan dan kelincahan, sehingga dibandingkan dengan Liat-yam-cap-sah-cam dari Tay-yang-sin- to lebih tinggi setengah tingkat.

Sebab itulah kemenangan yang beruntun dalam pertempuran Lo-hu-to-hwe sebagian besar disebabkan keanehan serta kelincahan ilmu golok terebut, ditambah lagi dengan Yan-ci-po-to yang amat tajam, jadi mustahil kalau sampai kalah di tangan Hui Pek- ling.

Kalau memang begini, lantas apa yang menjadi sebab utama kekalahan Thian-po-hu dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe yang lampau? Kecuali berita yang mengatakan lantaran terkena siasat Bi-jin-ke, mungkinkah masih terselip sebab-sebab lain?

Andaikata memang benar terjebak oleh siasat Bi-jin-ke, siapakah yang secara diam- diam mengatur segala sesuatunya itu?

Seandainya siasat Bi-jin-ke datangnya dari pihak Ci-moay-hwe, mengapa pula keuntungan besar ini mereka berikan kepada Hui Pek-ling dengan begitu saja?

Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Ho Leng-hong, dari hawa golok yang dipancarkan Tay-yang-sin-to, ia membayangkan kembali Yan-ci-po-to yang dicuri orang, lalu terbayang lenyapnya Thian Pek-tat dan manusia misterius yang memperingatkan Pang Goan secara diam-diam, serta mati hidup Nyo Cu-wi suami isteri. dan sebagainya.

Di antara sekian banyak kejadian ia merasa satu sama lainnya mempunyai kaitan yang erat, dan satu hal ia yakin benar, yakni selain Ci-moay-hwe pasti ada pula organisasi rahasia lainnya yang turut dalam pertikaian ini. Pada mulanya Ho Leng-hong mencurigai pihak Hiang-in-hu dari Hu-yong-shia yang diam-diam berperan, tapi setelah terbukti bahwa Hui Pek-ling sendiripun dikuasai orang, ia semakin yakin ada sekelompok manusia misterius lagi yang diam-diam sedang beradu kekuatan dengan Ci-moay-hwe, sedang golok Yan-ci-po-to itu justru telah terjatuh ke tangan manusia tersebut....

Sementara ia masih melamun, Hui Beng-cu telah berseru nyaring, lalu mulai mainkan ilmu golok Liat-yam-cap-sa-cam, tiga belas jurus bacokan bara api.

Cepat-cepat Leng-hong membuang jauh semua pikiran dan pusatkan perhatiannya mengikuti permainan tersebut.

Tertampaklah golok Hui Beng-cu telah memancarkan selapis cahaya merah, tatkala golok mulai bergerak, maka terasalah seperti segulung kobaran api seolah-olah sedang menyambar ke sana kemari, semua jurus serangannya merupakan jurus aliran keras, demikian hebatnya gerakan itu, tak malulah ilmu golok tersebut disebut ilmu golok jempolan.

Selesai ilmu golok itu diperlihatkan, tampak jidat Hui Beng-cu sedikit berkeringat, bagaimanapun kekuatan kaum wanita memang ada batasnya, tentu saja ia merasa agak lelah memainkan ilmu golok aliran keras semacam ini.

Leng-hong mengerling sekejap ke arah Pang Goan sambil bertanya, “Bagaimana?”

“Memang betul ilmu golok Tay-yang-sin-to asli, tak mungkin salah lagi,” kata Pang Goan sambil manggut-manggut.

Tersenyum Ho Leng-hong dan segera memberi hormat, katanya, “Nona Hui, maafkanlah bila kurang hormat tadi, silakan masuk ke dalam untuk bicara.”

“Sekarang tentunya kalian sudah percaya bahwa aku bukan samaran orang lain?”

“Setelah menyaksikan sendiri kelihaian ilmu golok Leng-lam, tentu saja kami percaya.”

Hui Beng-cu mengembus napas lega, “Kalau begitu menurut rencana Toako kapan kita berangkat ke Leng-lam?”

“Hari ini jelas tak sempat, lagipula nona baru datang dari tempat jauh, silakan cuci badan, ganti pakaian dan beristirahat dulu, malam nanti akan kusiapkan perjamuan untuk menyambut kedatangan nona, sekalian kita rundingkan lagi rencana selanjutnya, setuju?”

“Ah, akupun bukan orang yang tak tahu diri, setibanya di sini, sedikitnya harus mengganggu beberapa hari lebih dulu sebelum berangkat,” kata Hui Beng-cu sambil tertawa.

Maka Leng-hong lantas menyuruh pelayan menemani Hui Beng-cu membersihkan badan mengganti pakaian, lalu memerintahkan koki menyiapkan perjamuan. Begitu Hui Beng-cu berlalu, buru-buru Pang Goan bertanya, “Jit-long, apakah ketiga belas jurus ilmu golok tadi sudah kau ingat semua?”

“Jangan kuatir, sudah ada di sini semua,” jawab Leng-hong sambil mengetuk batok kepala sendiri.

“Bagus sekali,” sorak Pang Goan dengan gembira, “meskipun kita sudah kecurian ilmu Po-in-pat-toa-sik dan dua puluh empat jurus ilmu pedang, setelah kita berhasil menyadap Liat-yam-cap-sa-cam dari Hiang-in-hu, rasanya tidak rugi terlalu besar kita ini.”

“Cuma, Siaute merasa Tay-yang-sin-to terlalu banyak kerasnya daripada kelincahan, bila ketemu dengan golok mestika yang tajam maka sulit untuk mengembangkan kelihaian ilmu golok tersebut.”

“Sebab itulah Hui Pek-ling berusaha dengan segala daya upaya untuk mendapatkan sebilah golok mestika.”

Tapi Leng-hong geleng kepala berulang kali, “Siaute bukan maksudkan hal ini, aku merasa untuk menandingi Po-in-pat-toa-sik dan Yan-ci-po-to dari Thian-po-hu dengan Tay-yang-sin-to, sesungguhnya tidak besar kesempatan untuk merebut kemenangan, kalau begini, maka aku menjadi berpikir kembali berdasar apakah Hui Pek-ling berhasil mengalahkan Thian-po-hu dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe yang lalu?”

“Kenapa secara tiba-tiba kau berpikir sampai ke situ?” tanya Pang Goan tertegun.

“Sesungguhnya persoalan ini sudah lama terpikir olehku, setelah nona Hui menyinggung soal ‘Bi-jin-ke’ tadi, lalu kuputuskan untuk menanyakan soal ini kepada Lotoako.”

“Apa yang ingin kau ketahui?”

“Teringat sewaktu kita berjumpa untuk pertama kalinya dulu Lotoako pernah menyinggung soal ‘rela menghadapi kematian’, bolehkah kutahu apa sebabnya para kakak Nyo Cu-wi rela mati? Apa pula maksud tujuannya yang sesungguhnya di balik perkawinan antara Thian-po-hu dengan Cian-sui-hu?”

“O, rupanya persoalan ini yang kautanyakan, waktu itu aku mengira kau adalah Nyo Cu-wi, maka tidak kuberi penjelasan lebih lanjut, kemudian setelah dikacau oleh Ci- moay-hwe, akupun lupa membertahukan hal ini kepadamu, bila dibicarakan, sebenarnya hingga kini peristiwa tersebut masih merupakan teka-teki besar.”

“Apakah menyangkut keluarga Nyo dari Thian-po-hu?”

“Benar. Tapi mungkin juga ada hubungannya dengan Ci-moay-hwe atau keluarga Hui di Hu-yong-shia.”

“Dapatkah Lotoako menjelaskan lebih terperinci?” Pang Goan manggut-manggut, “Aku ingin menjelaskan semua yang kuketahui, sayangnya apa yang kuketahui tidak terlalu banyak . . . “

“Cerita ini dimulai pada empat ratus tahun yang lalu,” demikian Pang Goan mulai menuturkan suatu cerita yang aneh dan misterius, “konon pada jaman itu hidup sepasang suami-isteri, yang pria she Oh, asalnya adalah seorang panglima perang di bawah pimpinan Gak Hui, ilmu goloknya sangat lihay dan pernah menghancurkan pasukan kuda berantai dari tentara Kim, kemudian setelah Gak Hui tewas di tangan menteri dorna, dalam keputus-asaannya ia meletakkan jabatan dan hidup berkelana sebagai seorang pendekar, dengan sebilah goloknya secara beruntun ia mengalahkan delapan puluh sembilan orang jago lihay ahli golok sehingga namanya termasyhur dalam dunia persilatan sebagai To-seng (nabi golok), maka iapun memberi nama pada dirinya sendiri sebagai Oh It-to atau Oh si golok.”

“Bagus juga nama ini,” kata Leng-hong sambil tertawa.

Bukan cuma namanya saja yang bagus, ilmu golok Oh It-to terhitung juga sakti luar biasa, sukar diraba kehebatannya, orang persilatan pada jaman itu jarang ada yang sanggup menangkis sekali bacokannya. Sayang saking keranjingannya dengan ilmu goloknya, Oh It-to sampai melupakan isterinya, dan lebih celaka lagi isterinya ternyata seorang ahli golok pula.”

“Oo? siapakah nama isterinya?”

“Siapa namanya kurang begitu jelas, orang hanya tahu dia bernama Hui-nio, lantaran sehari-hari ia gemar berpakaian gaun merah, orang menyebutnya sebagai Ang-ih Hui- nio (Hui-nio si baju merah).”

“Apakah ilmu goloknya sangat lihay?”

Pang Goan manggut-manggut, “Konon Ang-ih Hui-nio berasal dari keluarga kaya, lagipula dia memiliki bakat alam dan otak cerdas, ketika kawin dengan Oh It-to, usia mereka selisih tiga puluh tahunan, sebetulnya orang tua Hui-nio tidak setuju dengan perkawinan ini, tapi berhubung Hui-nio begitu terpesona pada ilmu silat Oh It-to, ia rela retak hubungan dengan orang tua dan kawin dengan pujaan hatinya, pada akhirnya kedua orang itu kawin juga, sayang belum sampai setahun suami isteri itu lantas mulai cekcok dan tidak akur, pada akhirnya harus berpisah.”

“Ai, sungguh drama yang menyedihkan,” bisik Leng-hong sambil menghela napas.

“Memang tragedi yang mengharukan. Setelah putus hubungan dengan orang tua, dan disia-siakan pula oleh suaminya, setelah perpisahan tersebut Hui-nio merasa malu bercampur marah, sejak itu ia bertekad menciptakan sejenis ilmu golok dan bersumpah hendak mengalahkan Oh It-to. Setelah berlatih sepuluh tahunan, akhirnya berhasil juga ia ciptakan serangkaian ilmu golok yang lihay, maka secara resmi ia tantang Oh It-to untuk menentukan siapa yang lebih hebat!”

“Bagaimana akhirnya?” tanya Leng-hong dengan cepat. Pang Goan tersenyum getir, katanya, “Suami-isteri itu secara beruntun telah melangsungkan delapan kali pertandingan, setiap kali pertempuran berlangsung tak pernah lebih dari satu gebrakan, sebab setiap kali Oh It-to melancarkan serangan, jurus serangannya selalu terbendung, delapan kali pertarungan delapan kali pula ia menderita kekalahan, satu kalipun tak pernah menang.”

“Oh, masa sampai begitu?”

“Sebetulnya kejadian ini tidak aneh, sebab pada dasarnya Ang-ih Hui-nio adalah orang yang cerdas dan berbakat bagus, usianya masih muda, selama menjadi suami- isteri dia sudah apal dengan rahasia ilmu golok Oh It-to, selain itu iapun memeras otak selama sepuluh tahun untuk menciptakan ilmu golok saktinya, tentu saja ia dapat merebut posisi menguntungkan dan mengatasi semua serangan Oh It-to, tapi dengan terjadinya peristiwa ini, meskipun Ang-ih Hui-nio berhasil melampiaskan rasa dendamnya, tapi nama besar Oh It-to pun hancur berantakan, hitung-hitung kedua pihak sama-sama menderita kerugian besar.”

“Bagaimana kemudian?”

“Delapan kali pertarungan yang mereka lakukan hampir berlangsung sepuluh tahunan lamanya, semenjak itu Oh It-to tak pernah muncul lagi di dunia persilatan, sedang  usia Ang-ih Hui-nio pun sudah empat puluh tahunan, kedua suami isteri itu tak pernah terjun lagi ke dalam dunia persilatan.”

“Dapatkah mereka rukun kembali?”

Pang Goan menggeleng kepala, “Sekali suami isteri sudah bertengkar, sukar bagi mereka untuk rujuk kembali.”

“Tapi apa hubungannya antara peristiwa itu dengan Thian-po-hu?” tanya Ho Leng- hong sesudah termenung sebentar.

“Besar sekali hubungannya. Sebab dalam delapan kali pertarungan antara Oh It-to melawan Ang-ih Hui-nio, setiap jurus serangan yang ia gunakan merupakan intisari dari ilmu golok Oh It-to yang kemudian disebut sebagai Po-in-pat-toa-sik (delapan jurus sakti pembelah awan).”

“O!” Ho Leng-hong bersuara kaget, “ternyata Nyo-keh-sin-to (golok sakti keluarga Nyo) berasal dari Oh It-to? Cuma ”

Setelah berhenti sejenak, seperti memahami akan sesuatu, katanya pula, “Kalau Po- in-pat-toa-sik pernah dipatahkan oleh Ang-ih Hui-nio, jangan-jangan Hui Pek-ling telah berhasil mendapatkan ilmu golok dari Ang-ih Hui-nio?”

“Itu sih tidak. Cuma konon ilmu golok sakti Ang-ih Hui-nio telah diwariskan pula dalam bentuk sejilid kitab pusaka, justru untuk menemukan kitab pusaka ilmu golok itulah Nyo-si-hengte dari Thian-po-hu telah mengorbankan jiwanya di lembah Bi-kok (lembah sesat).” “Bi-kok?” Leng-hong menegas.

“Benar. Lembah itu adalah lembah misterius yang amat berbahaya dan buas, konon di situlah bersembunyi anak murid Ang-ih Hui-nio, semua murid-muridnya rata-rata memiliki ilmu golok yang lihai, tapi tak seorang pun yang pernah meninggalkan lembak tersebut, orang luar pun tak boleh masuk ke situ, barang siapa berani memasuki Bi-kok, jangan harap bisa muncul lagi dalam keadaan hidup, entah bagaimana kejadiannya, berita itu akhirnya diketahui oleh Nyo Ciau-thong, majikan tua dari gedung Thian-po-hu, sebelum wafat rahasia ini ia beritahukan pula kepada putera sulungnya, Nyo Han-wi.”

“Maksud Nyo Ciau-thong waktu itu mungkin hanya ingin menjelaskan kepada anak cucunya bahwa ilmu Poh-in-pat-toa-sik bukan kepandaian yang tiada tandingannya di dunia ini, cerita tersebut diturun terurunkan dengan maksud sebagai peringatan saja. Siapa tahu Nyo Han-wi yang masih muda dan berjiwa panas menganggap hal ini sebagai suatu bibit bencana terbesar bagi Thian-po-hu, maka begitu ayahnya meninggal, segera ia serahkan semua urusan rumah tangga Thian-po-hu kepada Ji- long (saudara kedua), ia sendiri lantas berangkat ke Bi-kok, semenjak itu tiada kabar beritanya lagi dan mungkin jiwanya telah melayang. ”

Ho Leng-hong menghela napas panjang.

Setelah berhenti sebentar, Pang Goan bercerita lebih lanjut, tujuh bersaudara keluarga Nyo rata-rata adalah pemuda berwatak tinggi hati, ketika Lotoa pergi tak kembali, Ji- long melakukan tindakan yang sama dan menyerahkan tanggung jawab Thian-po-hu kepada Sam-long, tapi iapun pergi tak kembali lagi, maka menyusul kemudian Su- long, Ngo-long. satu persatu pergi meninggalkan rumah untuk tidak kembali lagi,

dalam beberapa tahun saja secara beruntun Nyo-keh-hengte telah tewas semua, selama beberapa tahun belakangan itu seluruh perhatian dan pikiran mereka hanya terpusatkan untuk melakukan misi terebut, merekapun tak ingin diketahui orang luar, sehingga tidak memperdalam ilmu silatnya lagi, sebab itulah Lak-long Nyo Ci-kong harus menelan kekalahan getir di tangan Hui Pek-ling dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe tahun lalu.”

“Ya, maklumlah! Jika seorang yang belajar silat sudah mengalihkan perhatiannya ke masalah lain, otomatis ilmu silatnya akan terbengkalai,” kata Ho Leng-hong sambil menghela napas, “tapi persoalan ini merupakan rahasia keluarga Nyo, darimana Lotoako mengetahuinya?”

“Lak-long Nyo Ci-kong yang memberitahukan sendiri kepadaku. Sebelum berangkat ke pertemuan Lo-hu-to-hwe, ia menyadari bahwa ilmu silatnya terbengkalai dan kemungkinan besar bakal kalah, tapi ia bertekad tidak menyampaikan rahasia ini kepada Jit-long Nyo Cu-wi agar keturunan keluarga Nyo tidak putus di tengah jalan, pada waktu itu dengan perasaan tertekan ia berangkat untuk ikut serta dalam pertemuan, betul juga akhirnya ia dikalahkan oleh Hui Pek-ling.

“Setelah kejadian itu, dengan membawa kitab pusaka ilmu golok dan golok mestika Yan-ci-po-to warisan leluhurnya ia datang sendiri ke Cian-sui-hu untuk melakukan lamaran, pada kesempatan itu ia memberitahukan rahasia tersebut kepadaku di samping memohon agar adikku dikawinkan dengan adiknya, selain itu iapun ingin menggunakan To-kiam-hap-ping-tin untuk membantu Thian-po-hu serta mendorong Jit-long agar berjuang untuk kemajuan. Iapun bertekat merahasiakan soal Bi-kok agar jangan sampai membuat pikiran Jit-long bercabang, bersamaan dengan itu juga minta kepada adiknya agar memusatkan pikiran untuk berlatih silat dan menjunjung kembali nama baik keluarga setelah ia menderita kekalahan di tangan orang. Dengan dasar tujuannya yang baik dan mulia itu, hatiku menjadi terharu sehingga lamarannya pun kuterima.”

“Setelah mengatur perkawinan adiknya, apakah Lak-long Nyo Ci-kong juga berangkat ke lembah Bi-kiok?” tanya Leng-hong.

“Benar!” Pang Goan mengangguk.

“Seharusnya Lotoako nasihati dia agar jangan menempuh jalan yang salah lagi!”

“Tentu saja kunasihati, tapi ia menyatakan hanya ingin mencari jejak kelima orang saudaranya dan bukan lantaran ingin mencari ilmu silat peninggalan Ang-ih Hui-nio, kupikir niat tersebut dapat dimengerti, tentunya tak bisa kualangi dia.”

“Lalu, apakah ia pernah memberitahukan kepada Lotoako di manakah letak Bi-kok tersebut?”

“Tidak!”

“Kenapa Lotoako tidak bertanya kepadanya?”

“Kenapa aku mesti bertanya? Apakah keenam nyawa keluarga Nyo masih belum cukup?”

Leng-hong berpikir sebentar, kemudian tanyanya, “Apakah adikmu Wan-kun juga mengetahui akan rahasia ini?”

“Hanya tahu garis besarnya saja.”

“Wah, celakalah kalau begitu!” tutur Leng-hong sambil geleng kepala dan menghela napas.

“Kenapa celaka?”

“Kemungkinan besar nona Wan-kun telah memberitahukan soal lembah Bi-kok kepada Nyo Cu-wi, jadi lenyapnya suami-isteri mereka kemungkinan besar karena berangkat ke Bi-kok.”

“Tapi mereka tidak tahu di mana letak Bi-kok, ke mana mereka akan mencarinya?”

“Meskipun Nyo Ciau-thong merahasiakan peristiwa lembah Bi-kok, tapi setelah keenam orang saudaranya dalam waktu singkat beruntun pergi dan tak kembali lagi, tak mungkin Cu-wi sama sekali tidak mengetahui akan kejadian ini, mungkin saja ia hanya mendengar sekadarnya, dan kemudian soal tersebut hanya disimpan dalam hati saja, kemudian setelah dibuktikan dengan cerita dari adikmu, mana bisa dia tidak tergerak hatinya untuk menyelidiki mati hidup saudara-saudaranya? Hal ini ditambah pula mereka sebagai suami-isteri muda, rasa ingin tahunya masih sangat tebal, besar kemungkinan mereka meneruskan perbuatan keenam saudaranya yang lain.”

Setelah mendengar uraian ini, air muka Pang Goan makin lama makin bertambah serius, lewat sesaat kemudian baru berkata, “Kalau memang demikian jadinya, akulah yang paling berdosa.”

“Satu-satunya kekeliruan yang dilakukan Lotoako adalah tidak seharusnya memberitahukan kejadian yang sesungguhnya kepada adikmu Wan-kun.”

Pang Goan manggut-manggut lalu geleng kepala, sambil menghela napas ia berkata lagi, “Sesungguhnya aku pun tahu, tetapi aku dan adikku bukan dilahirkan oleh ibu yang sama, usia kampiun terpaut separuh lebih, sekalipun bersaudara, sedikit banyak hubungan batin kami agak jauh, hal ini menyangkut kehidupan selanjutnya, mana boleh kurahasiakan persoalan ini padanya? Hanya aku tak mengira kejadian ini akan disampaikannya pula kepada Nyo Cu-wi.”

“Mereka adalah suami-isteri, sudah barang tentu persoalan ini akan dibicarakan, hanya saja ” tiba-tiba Leng-hong alihkan pembicaraan ke soal lain, katanya lagi,

“Lotoako, percayakah kau bahwa Ang-ih Hui-nio dan lembah Bi-kok adalah kejadian yang sesungguhnya?”

“Sebetulnya aku tidak percaya, tapi hal ini diceritakan sendiri oleh Nyo Ciau-thong, majikan tua Thian-po-hu, lagipula lenyapnya tujuh bersaudara keluarga Nyo merupakan kenyataan, hal ini membuat aku mau-tak-mau harus percaya..”

“Tidak mungkinkah kenyataan ini adalah sebagian dari perangkap yang sengaja diatur oleh perkumpulan Ci-moay-hwe?”

“Tentu saja kemungkinannya selalu ada. Tapi munculnya Ci-moay-hwe baru terjadi beberapa tahun belakangan ini, sebaliknya rahasia tentang Bi-kok sudah ada sejak belasan tahun sebelum meninggalnya Nyo Ciau-thong, Cuma saja Nyo Ciau-thong tidak pernah mengungkapnya.”

Leng-hong tertawa, “Siaute malah berharap lembah Bi-kok memang benar-benar ada, bila ada kesempatan nanti ingin sekali kusaksikan sendiri kehebatan ilmu golok warisan Ang-ih Hui-nio itu.”

Sementara pembicaraan berlangsung sampai di situ, Hui Beng-cu telah keluar setelah membersihkan badan dan berganti pakaian perempuan, sambil tertawa ia bertanya, “Ilmu golok apakah yang maha hebat? Bolehkah kuikut Nyo-toako untuk menyaksikannya bersama?”

Meskipun hidung Hui Beng-cu agak pesek, tapi kekurangannya itu telah tertutup oleh matanya yang besar dan jeli, dengan tubuh yang padat sebagai gadis-gadis wilayah selatan umumnya, ia tampak montok dan memesona, malahan hidungnya yang agak pesek justru menambah daya pikatnya.

Ho Leng-hong pernah bertemu dengan Pang Wan-kun gadungan, ia tahu Pang Wan- kun cantik sekali, tapi bila dibandingkan dengan Hui Beng-cu, maka yang pertama kalah daya pesonanya.

Kalau kecantikan Wan-kun termasuk perempuan yang lembut dan agung, maka Hui Beng-cu mempunyai tipe yang lebih menggiurkan, di antara kegenitannya rada-rada bersifat “berandalan”, hal ini membuat siapa pun ingin memandang beberapa kejap lebih banyak kepadanya.

Bukan cuma Ho Leng-hong yang mempunyai perasaan demikian, bahkan hati Pang Goan juga agak goyah, ia memandang beberapa kejap lebih banyak sebelum melengos ke arah lain.

Pada saat itu muncul seorang pelayan yang melaporkan, “Perjamuan telah siap!”

Perjamuan untuk menyambut kedatangan Hui Beng-cu berlangsung hingga menjelang tengah malam dan dengan hati puas.

Setelah kembali ke taman belakang, Leng-hong bertanya, “Lotoako, benarkah kita akan mengiringi nona Hui pulang ke Leng-lam?”

“Tentu saja, sekarang Hui Pek-ling sedang tertimpa musibah, perempuan asing itu jelas pula anggota Ci-moay-hwe, asal perempuan itu berhasil kita bekuk, kemungkinan besar latar belakang perkumpulan Ci-moay-hwe bisa kita singkap, kenapa tidak pergi?”

“Tapi Siaute masih merasa keheranan, Samkongcu berada di sekitar sini, kenapa ia tidak tertarik oleh To-kiam-hap-ping-tin dan sampai sekarang belum lagi melakukan gerakan apa-apa?”

“Kupikir, mungkin juga mereka sudah meninggalkan wilayah Kwan-lok,” kata Pang Goan dengan kening berkerut.

“Tidak mungkin, untuk mendapatkan Yan-ci-po-to dan To-kiam-hap-ping-tin-hoat entah sudah berapa banyak pikiran dan tenaga yang telah dicurahkan, tidak mungkin mereka lepaskan dengan begitu saja.”

“Mungkin karena penjagaan dalam gedung terlalu ketat sehingga mereka tak berani bergerak secara gegabah.”

“Itupun tak mungkin, semakin ketat penjagaan kita semakin menunjukkan betapa pentingnya To-kiam-hap-ping-tin-hoat tersebut, hanya beberapa orang Busu kita masa berada dalam pandangan mereka?”

“Wah, kalau begitu aku jadi tidak mengerti, jangan-jangan mereka mempunyai rencana lain?”

“Tepat. Ketidak bergerak mereka membuktikan mereka mempunyai rencana lain.” Tiba-tiba hati Pang Goan tergerak, bisiknya, “Apakah kau mencurigai asal-usul Hui Beng-cu?”

Ho Leng-hong tidak menjawab, tapi berdiri, katanya kemudian, “Lotoako, lebih baik kita berlatih dalam taman!”

“Baik!” Pang Goan setuju.

Dengan membawa senjata kedua orang itu menuju ke tanah lapang dalam taman, pertama-tama Leng-hong mengontrol dulu penjagaan di sekitar taman, setelah terbukti keadaan aman tenang, ia baru mulai berlatih.

Yang dimaksud sebagai To-kiam-hap-ping-tin-hoat, sesuai namanya yaitu permainan kombinasi ilmu golok dan pedang, tapi berhubung dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe hanya diizinkan menggunakan golok dan tak boleh memakai pedang, lebih-lebih tak diizinkan dua orang maju bersama, maka oleh Nyo Ci-kong, kitab pusaka Nyo-keh- sin-to tersebut diserahkan kepada Pang Goan agar setelah memahami kunci ilmu golok terebut, kemudian ditambah dengan Keng-hong-kiam-hoat dari Cian-sui-hu, kedua ilmu dilebur menjadi satu dan menciptakan serangkaian jurus serangan baru yang bisa menggunakan golok dan pedang sekaligus.

Dia berharap dengan bekal ilmu gabungan golok dan pedang ini, gelar Thian-he-te-it- to dapat direbut kembali oleh Thian-po-hu.

Tampaknya golok dan pedang itu hampir sama bentuknya, tapi penggunaannya jauh berbeda. Pedang mengutamakan kelincahan, sedang golok mengutamakan kemantapan, terutama Po-in-pat-toa-sik dari Thian-po-hu terlebih keras dan mantap, ganasnya juga cukup ganas, Cuma kurang lincah dan gesit.

Setelah bersusah payah selama dua tahun baru Pang Goan berhasil melebur kedelapan jurus ilmu pedang Keng-hong-kiam-hoatnya yang lincah dan gesit ke dalam gerakan Po-in-pat-toa-sik sehingga dapat mengurangi kekerasan dan keganasannya, juga menambah kegesitan dan kelincahannya.

Atau dengan perkataan lain, diambil kelebihan yang terdapat pada ilmu andalan Cian-sui-hu dan Thian-po-hu, ia membuat permainan golok mengandung gerakan pedang, hal ini akan sangat bermanfaat untuk menghadapi Tay-yang-sin-to dari Hui Pek-ling.

Oleh karena itulah selama berlatih Pang Goan selalu menjadi lawan umpan latihan, mereka sama-sama memegang pedang di tangan kiri dan golok di tangan kanan.

Setiap jurus selesai dilatih, golok dan pedang segera bertukar, dengan begitu penggunaan golok sebagai pedang dapat dilakukan setiap saat dan tidak canggung lagi antara golok dan pedang.

Ho Leng-hong belum pernah mempelajari Po-in-pat-toa-sik, tapi dia masih ingat setiap gerak jurus Keng-hong-kiam-hoat, maka Pang Goan harus mengajarkan dulu Nyo-keh-sin-to kepadanya sebelum mengajar To-kiam-hap-ping-tin tersebut. Untung Ho Leng-hong berbakat bagus dan otak yang encer, setiap jurus serangan yang pernah dilihatnya segera apal di luar kepala, maka cukup bagi Pang Goan untuk bermain satu kali, setiap jurus serangan segera diingatnya, tinggal soal latihan dan kesempurnaan belaka.

Cuma latihan mereka malam ini tentu saja bukan To-kiam-hap-ping-tin sesungguhnya, mereka memang bergebrak ke sana kemari dengan gesitnya, hal ini hanya sengaja supaya dilihat orang dan menunggu sang ikan menyambar umpan.

Suasana dalam taman amat sepi, kecuali Pang Goan dan Leng-hong hampir tidak terlihat orang ketiga.

Tapi, tiba-tiba Leng-hong merasa ada sepasang mata yang jeli sedang mengawasinya di balik kegelapan sana.

Letak tanah rumput di mana mereka berlatih di depan semak bunga sebelah utara Kiok-hiang-sia.

Tempat itulah untuk pertama kalinya diketahui oleh Ho Leng-hong sebagai tempat pertemuan rahasia kedua orang laki-perempuan itu.

Sembari melancarkan serangan, Ho Leng-hong memberi tanda kedipan mata kepada Pang Goan sambil berbisik, “Perhatikan sebelah utara Kiok-hiang-sia, agaknya sang ikan sudah mencium harum umpan!”

Sambil putar badan dan melancarkan suatu tusukan, bisik Pang Goan, “Betul, dugaanmu memang benar . . . . Hei . . . . rupanya dia ”

“Jangan bersuara, pelahan kita bergeser ke sana, kita cegat jalan larinya dari kanan- kiri.”

Pang Goan mempergencar serangannya, maka cahaya tajam segera berhamburan mengurung tubuh Ho Leng-hong dengan rapat.

Sambil bertarung pelahan mereka bergeser sedikit demi sedikit, akhirnya mereka semakin dekat Kiok-hiang-sia.

“Lotoako, perhatikan seruanku, kau ke barat dan aku ke timur, kita adang jalan larinya ” bisik Leng-hong, kemudian bentaknya mendadak, “Siapa di situ?

Berhenti!”

Berbareng dengan suara bentakannya, cahaya pedang dan sinar golok segera berpencar, kedua orang sama melayang ke arah yang berbeda, mengitari pepohonan sana.

Mata jeli itu tidak bergerak, malah pemiliknya pelahan berjalan keluar dari balik pepohonan sambil tertawa.

“Akulah yang berada di sini!” katanya, “hebat betul semangat Toako berdua, sudah jauh malam, bukannya pergi beristirahat, sebaliknya malah berlatih kungfu di bawah sinar bulan.

“Nona Hui, bukannya beristirahat di kamar tamu, untuk apa datang ke taman sini?” tegur Leng-hong.

“Aku mempunyai penyakit yang aneh, yakni bila baru pertama kali tiba di suatu tempat asing, aku menjadi tak dapat tidur,” jawab Hui Beng-cu sambil tertawa, “sewaktu jalan-jalan tadi, tanpa kusadari telah tiba di taman ini.”

“Lalu kenapa kau sembunyi di balik pepohonan dan mengintip kami berlatih?” tanya Pang Goan.

“Tidak, aku tidak bersembunyi, lantaran kalian sedang berlatih dengan sungguh- sungguh, maka aku tidak menyapa kalian karena kuatir akan mengganggu konsentrasi Toako berdua.”

“Tapi nona kan tahu, mencuri lihat ilmu silat orang lain adalah pantangan besar bagi umat persilatan,” kata Leng-hong.

Hui Beng-cu tersenyum, “Aku tidak bermaksud mencuri lihat ilmu silat orang, hanya secara kebetulan saja kulewat di sini. Lagipula sore tadi kan Toako berdua juga telah menguji Tay-yang-sin-to keluarga ku? Apa salahnya kalau akupun menyaksikan ilmu silat Toako berdua?”

Leng-hong dan Pang Goan hanya saling pandang belaka, mereka tak sanggup membantah lagi.

Sambil tertawa kembali Hui Beng-cu berkata, “Setelah menyaksikan ilmu golok dan pedang Toako berdua, aku benar-benar merasa kagum sekali! Kepandaian Toako berdua memang sangat hebat, tampaknya Hiang-in-hu kami pasti akan menderita kalah dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe yang akan datang!”

“Aku kuatir bukan Cuma Hiang-in-hu saja yang bakal kalah, melainkan Bu-lim-sam- hu akan menderita nasib yang sama.”

“Hei, kalau begitu siapa yang bakal menang?” “Tentu saja Ci-moay-hwe!” kata Leng-hong.

“Sungguhkah mereka selihay itu?” tanya Beng-cu tercengang.

“Sebenarnya mereka tidak terlalu lihay, tapi setelah mereka mendapatkan ilmu sakti dari Leng-lam, dan sekarang berhasil pula menyadap ilmu silat Cian-sui-hu dan Thian-po-hu, sudah barang tentu lebih mudah bagi mereka untuk mencari cara mematahkannya.”

Ia sengaja menandaskan kata “sekarang” dengan nada berat dengan maksud untuk memancing reaksi Hui Beng-cu.

Ternyata Hui Beng-cu tidak menunjukkan rasa kikuk atau gugup, malah sambil mengangguk katanya, “Perkataan Nyo-toako memang benar, setelah ilmu silat Bu- lim-sam-hu disadap semua oleh mereka, peristiwa ini memang akan menyulitkan posisi kita, cuma, asal kita mau bekerja sama dan menciptakan jurus serangan baru, rasanya masih bisa kita hadapi kelihayan mereka, entah bagaimana pendapat Toako berdua?”

Sekali lagi Leng-hong dan Pang Goan tak sanggup memberi jawaban.

“Padahal kita sama-sama umat persilatan,” kata Hui Beng-cu lebih lanjut, “sudah sewajarnya kalau saling tolong menolong, saling bantu-membantu agar ilmu silat lebih maju dan cemerlang, bila masing-masing orang menyimpan ilmunya sendiri seperti menyimpan azimat dan enggan menurunkan kepandaian leluhurnya kepada masyarakat, lama kelamaan dunia persilatan pasti akan bertambah lemah, pada akhirnya ilmu silat yang sakti itu akan terus menyusut turun temurun dan akan menjadi ilmu ‘terakhir’ pula.”

Perkataan itu cukup keras dan tegas, hal ini membuat perasaan Ho Leng-hong dan Pang Goan tergetar juga.

Pang Goan mendongakkan kepalanya sambil menarik napas panjang, kemudian gumamnya, “Tak kusangka, nona yang masih muda ternyata mempunyai jiwa yang besar, sungguh sukar dicari bandingannya.”

“Sayang kebanyakan orang persilatan adalah manusia rakus yang terlalu mementingkan diri sendiri tidak seperti nona yang berjiwa besar dan dapat berpandangan jauh,” sambung Leng-hong.

Hui Beng-cu hanya tersenyum, lalu berkata lagi, “Kata-kata semacam itu memang sulit diterima orang lain, tapi setelah Toako berdua pergi ke Leng-lam dan menyaksikan keadaan di rumahku, kalian akan percaya bahwa perkataanku bukan cuma khayalan belaka, tapi timbul dari fakta yang sudah ada.”

“Baik, persoalan ini tak bisa ditunda lagi, kita putuskan berangkat besok pagi,” kata Pang Goan.

Leng-hong tidak menyatakan setuju, juga tidak menolak, dilihat dari perubahan wajahnya, agaknya iapun kehilangan rasa percaya pada diri sendiri setelah gagalnya rencana “menunggu kelinci masuk perangkap”.

Dari wilayah Kwan-lok ke Leng-lam ada ribuan li jauhnya, untuk menempuh perjalanan sejauh ini sebetulnya mereka harus berjalan secepatnya, tapi ketiga laki perempuan ini justru berjalan dengan sangat lambat.

Sepanjang jalan Ho Leng-hong dan Pang Goan makan minum dan berpesiar dengan santainya, seakan-akan sedang menunggu sesuatu.

Hui Beng-cu tidak nampak gelisah, malah sebaliknya kelihatan gembira, ia selalu menemani kedua Toako itu berpesiar dan menikmati keindahan alam, gelak tertawa yang riang selalu menyemarakkan suasana, seakan-akan iapun sudah lupa pada keadaan di Hiang-in-hu, di rumahnya sendiri.

Setengah bulan setelah meninggalkan Kiu-ci-shia, mereka baru tiba di sekitar Siang- hoan.

“Sepanjang perjalanan ini kita selalu menunggang kuda dan naik kereta, lama-lama menjadi bosan juga, bagaimana kalau perjalanan kita selanjutnya kita ganti naik kapal saja? Lebih cepat dan lebih nyaman rasanya,” usul Leng-hong.

Sebelum Pang Goan menjawab, Hui Beng-cu segera berseru lebih dulu, “Bagus sekali, kita boleh menyewa kapal sampai Liang-han, sekalian pesiar di telaga Tong- teng, dari situ dengan menunggang kuda kita melintasi Ngo-leng-san, perjalanan ini tentu lebih cepat.”

“Orang bilang: ‘Kapal di selatan dan kuda di utara’. Nona Hui sebagai gadis yang dibesarkan di wilayah selatan, apakah tidak merasa bosan naik kapal?” tanya Leng- hong.

“Mana bisa bosan!” sahut Beng-cu dengan tertawa, “aku paling suka naik kapal, tapi dulu aku hanya naik kapal laut, kapal sungai belum pernah kurasakan.”

Pang Goan manggut-manggut, “Kalau begitu kita putuskan untuk menyewa kapal setibanya di Huan-shia nanti.”

Hari itu juga mereka tiba di Huan-shia. Setelah menginap semalam, tengah hari keesokannya dengan meninggalkan Pang Goan yang beristirahat seorang diri di hotel, Ho Leng-hong dan Hui Beng-cu berangkat ke dermaga untuk menyewa kapal.

Sebetulnya soal menyewa kapal bisa diselesaikan oleh pelayan penginapan, tapi Hui Beng-cu ingin memilih kapal yang nyaman sekalian menikmati pemandangan di dermaga, maka Leng-hong terpaksa harus menemaninya ke dermaga.

Setibanya di dermaga, tampaklah layar kapal berjajar di sana sini, tapi sebagian besar adalah kapal layar yang memuat bahan obat-obatan dan sekalian membawa penumpang, jarang sekali ada kapal yang khusus hanya mengangkut penumpang.

Terpaksa mereka menelusuri sungai tepi untuk mencari kapal, tapi beberapa buah kapal yang dikunjunginya semua memberi jawaban yang sama, “Kebanyakan perahu di kota Huan-shia adalah perahu pengangkut barang, untuk menyewa perahu penumpang harus menyeberang ke kota Siang-yang!”

“Baiklah,” kata Leng-hong kemudian, “apa salahnya kita mengunjungi kota Siang- yang!”

“Nyo-toako, coba lihat! Bukankah di sana terdapat sebuah kapal penumpang?” tiba- tiba Hui Beng-cu menuding ke arah sungai.

Mengikuti arah yang ditunjuk, betul juga Leng-hong lihat ada sebuah perahu penumpang dengan layar rangkap yang indah membuang sauh di tengah sungai, perahu itu bercat masih baru, ruang duduknya bersih dan luas, ketika itu sedang membuang sauh kurang lebih sepuluh tombak di tengah sungai.

Leng-hong segera menggapai seorang tukang sampan, sambil menuding ke arah kapal layar itu ia bertanya, “Lotoa, tahukah kau siapa pemilik perahu itu?”

Tukang perahu itu mengamati perahu itu sejenak, kemudian menggeleng kepala, jawabnya, “Entahlah, dulu rasanya belum pernah melihat perahu ini, di atas perahu juga tidak terdapat bendera perkumpulan atau organisasi tertentu, mungkin saja perahu pribadi orang kaya.”

“Peduli perahu pembesar atau perahu orang kaya, apa salahnya kalau kita tanya dia, siapa tahu perahunya kebetulan kosong, dan dia bersedia memuat kita?”

Ho Leng-hong tertawa dan tidak omong lagi, dengan membimbing Hui Beng-cu mereka naik ke sampan kecil itu.

Tiba di dekat perahu penumpang itu terasa suasana amat hening, sesosok bayangan pun tak kelihatan.

Sambil melompat ke atas geladak, Hui Beng-cu berteriak, “Hei, ada orangkah di sini?”

Setelah berteriak beberapa kali, dari buritan menongol keluar sebuah kepala gundul, sahutnya, “Mau apa kalian? Cari siapa?”

Orang itu adalah seorang kakek kurus berusia enam-tujuh puluh tahunan, mukanya penuh berkeriput, kepalanya botak dan tak berambut, mungkin ia lagi tidur di buritan, maka sikapnya agak uring-uringan.

“Maaf jika kami telah mengganggu,” cepat Leng-hong memberi hormat, “kami ingin menyewa perahu, ingin kami tanya apakah perahu ini boleh disewa atau tidak?”

“Kau bilang apa?” tanya si kakek sambil miringkan kepalanya. Terpaksa Leng-hong mengulangi lagi kata-katanya.

Kali ini kakek itu dapat mendengar dengan jelas, ia mengulapkan tangan berulang kali, “Pergi! Pergi! Perahu ini bukan perahu penumpang yang disewakan, perahu ini adalah perahu pribadi, lebih baik menyewa perahu di tempat lain!”

“Apa salahnya dengan perahu pribadi? Kami bersedia membayar tinggi, satu jalan pula, kenapa tidak bisa?” kata Hui Beng-cu.

Sambil memicingkan matanya kakek itu memperhatikan mereka sekejap, lalu bertanya, “Apakah kalian suami-isteri?”

Merah wajah Hui Beng-cu, cepat-cepat sangkalnya, “O, bukan! Aku she Hui dan dia adalah Nyo-toako, Nyo-tayhiap pemilik Thian-po-hu di Kiu-ki-shia.” “Aku tidak kenal Nyo atau Nya, aku cuma ingin tahu kalian mau ke mana? Dan berapa berani bayar?”

“Kami ingin pesiar ke Tong-ting-ou, kemudian berganti kuda ke Leng-lam, jadi hanya satu jalan, terserah berapa besar ongkos yang kau minta.”

Kakek itu segera menghitung sambil bergumam, “Sejalan ke Tong-ting berarti tidak akan kembali ke sini . . . dari sini menuju Ji-han mengikuti arah arus, waktu berbelok ke Tong-ting harus berlayar melawan arus . . . waktu berangkat membutuhkan lima hari, waktu pulang tujuh sampai delapan hari . . . ”

Tiba-tiba ia tanya lagi, “Apakah hanya kalian berdua? Boleh tambah penumpang tidak? Sepanjang jalan akan mendarat atau tidak?”

“Kita berjumlah tiga orang dan langsung menuju ke Tong-ting, dalam perjalanan pun tak akan mendarat. Tentu saja kami sewa seluruh perahu ini jadi tak boleh menambah penumpang lagi.”

Kembali kakek itu bergumam, “Kalau begitu, kuhitung seratus tahil perak saja.” “Ha, masa begitu mahal?” teriak Hui Beng-cu.

“Kalau merasa mahal lebih baik jangan menyewa,” kata kakek itu dengan wajah cemberut, “terus terang kuberitahu kepada kalian, perahu ini adalah perahu pribadi Paduka wali kota Keng-ciu, sebetulnya aku tak boleh menerima permintaan kalian, tapi berhubung majikan kami sedang menemani nyonya berziarah ke Siong-san dan setengah bulan kemudian baru pulang, daripada waktu senggang terbuang begitu saja, kuputuskan untuk mengantar kalian dan mencari sedikit tambahan penghasilan.”

“Sekalipun begitu jangan seratus tahil perak, ah!” kata Beng-cu.

“Masa seratus tahil perak kauanggap mahal? Mari kuperinci untukmu, kelasi berikut aku ada empat orang, untuk melakukan dagang gelap yang menyerempet bahaya ini kan pantas kalau setiap orang mencari untung dua puluh tahil perak? Nah, dua kali empat adalah delapan berarti sudah termakan delapan puluh tahil perak, sisanya yang dua puluh tahil perak adalah makanan dan minuman untuk kalian bertiga, begini masa kaubilang mahal?”

“Ya, tidak mahal, kami akan sewa perahu ini,” kata Leng-hong cepat. Diambilnya selembar daun emas dan diperlihatkan kepada kakek itu, lalu katanya lagi, “Benda ini adalah daun emas, seberat sepuluh tahil, nilainya sama seratus tahil perak. Nah, orang tua, kapan kita akan berangkat?”

Kakek itu memandang daun emas itu sekejap, lalu memandang pula wajah Leng- hong, tiba-tiba ia tertawa, “Sekaligus kau bayar sewa perahu ini, apakah tidak takut kabur setelah menerima uang?”

“O, tidak menjadi soal, kupercaya penuh kepadamu.”

“Bagus sekali,” kata kakek itu sambil menerima daun emas tersebut, “kita putuskan begini saja, setelah menambah bahan makanan dan air tawa tengah hari nanti, kita segera berangkat. Jadi tengah hari nanti kalian boleh naik perahu.”

“Bolehkah kutahu kau orang tua she apa? Dan siapa namamu?” “Aku she Kim, panggil saja Kim-lotoa kepadaku!”

Ho Leng-hong segera memberi hormat dan bersama Hui Beng-cu turun ke sampan.

Di tengah jalan, Hui Beng-cu tiada hentinya berpaling ke arah perahu itu katanya, “Kulihat kakek she Kim itu bukan orang baik-baik!”

“Oya?! Kenapa?”

“Sikapnya tidak sopan, waktu bicara mau menangnya sendiri, sedikitpun tidak mirip seorang pembantu orang kaya yang mendapat pendidikan.”

Leng-hong tertawa, “Justru lantaran dia bekerja pada orang kaya, maka sikapnya kurang ajar dan tak tahu sopan, sewaktu berbicara pun hanya mau menangnya sendiri.”

“Nyo-toako, bagaimanapun juga aku tetap merasa tidak seharusnya kau bayar dulu ongkos perahu itu, andaikata dia benar-benar seorang penipu, setelah terima uang lantas kabur, bukankah kita akan membuang uang percuma?”

“Jangan kuatir, aku bertaruh ia tak akan kabur, sekalipun diusir dengan pecut pun dia takkan pergi!” jawab Leng-hong sambil tertawa.

Tengah hari itu, mereka bertiga pun naik perahu. Benar juga, Kim-lotoa tidak kabur, bahan makanan dan air tawar di atas perahu pun telah ditambah, maka begitu Leng- hong bertiga sudah naik, mereka segera berangkat.

Tiga orang kelasi di atas perahu itu rata-rata adalah pemuda berusia dua puluh tahunan, semuanya bertubuh kekar, berotot dan cekatan.

Leng-hong mempersilakan Hui Beng-cu berdiam seorang diri di ruang tengah, sedang ia dan Pang Goan berdiam di ruang lain.

Kim-lotoa adalah juru mudi, ia tinggal di ruang kemudi, sedang tiga orang kelasinya tinggal di ruang depan, seorang mengurusi dapur, sedang dua lagi bertugas di bagian layar.

Begitulah, dari kota Huan-shia menuju ke selatan perahu berlayar dengan lancar karena mengikuti arus, hari itu juga mereka telah melewati kota Cwan-shia dan malamnya berlabuh di teluk, keesokan harinya mereka tiba di kota Tin-kang, jaraknya dengan kota Ji-han tinggal sehari perjalanan air.

Selama dua hari ini suasana di atas perahu tetap tenang, tapi Leng-hong telah menemukan ada sebuah perahu yang selalu mengikuti di belakang perahu mereka.

Perahu itu adalah sebuah perahu barang yang penuh dengan muatan bahan obat serta bahan lainnya, mulai dari kota Huan-shia, perahu itu membuntuti terus dengan ketatnya, meskipun kadang-kadang kala melewati perahu mereka, tapi mereka lantas menunggu lagi di depan sana, setelah perahu penumpang itu lewat mereka baru berlayar lagi.

Di atas perahu berang itu hanya ada lima-enam orang kelasi, tidak tampak penumpang lain dan tidak dijumpai pula orang-orang yang menyolok.

Diam-diam Ho Leng-hong memberitahukan hal ini kepada Pang Goan.

Mendengar laporan itu, Pang Goan tertawa dingin, katanya, “Sejak pertama kali tadi sudah kuperhatikan, selain itu Kim-lotoa dan ketiga orang kelasinya juga adalah jago- jago silat, tampaknya kungfu mereka tidak lemah.”

“Lantas mengapa mereka belum juga turun tangan?” ujar Leng-hong.

“Siapa yang tahu?” Pang Goan angkat bahu, “mungkin mereka sedang menunggu bala bantuan, pokoknya cepat atau lambat mereka pasti akan bergerak.”

“Menurut dugaanku mereka pasti lantaran takut pada seseorang, jadi sampai sekarang belum juga turun tangan,” kata Leng-hong sambil tertawa.

“Takut kepada siapa?” “Kau, Lotoako!”

“Kenapa mereka takut padaku?” tanya Pang Goan tertegun.

“Tujuan mereka yang terutama adalah ingin mengetahui ilmu To-kiam-hap-ping-tin, sekarang kau telah mengajarkan padaku, maka asal aku berhasil ditangkap dan dipaksa untuk bicara, urusan tetap akan beres, untuk menghadapiku adalah urusan gampang, tapi berhubung ada Lotoako, maka tak berani turun tangan.”

“Kalau begitu aku mesti menyingkir dulu?”

“Benar!” Leng-hong mengangguk, “lebih baik Lotoako bermain-main di darat, sementara Siaute tinggal di perahu ini namanya memberi kebebasan kepada

orang.”

Pang Goan tertawa terbahak-bahak, ia lantas beranjak dan menuju ke geladak.

Suasana di luar gelap gulita, hanya kerlipan api di balik pintu ruangan, itulah lelatu api dari pada Huncwe (pipa tembakau) yang sedang dihisap Kim-lotoa.

Pelahan Pang Goan menghampirinya sambil menyapa, “Lotoa, apakah di atas perahu tersedia arak?” “Tidak ada!” jawab Kim-lotoa dengan ketus dan tanpa mendongakkan kepalanya.

“Bolehkah aku meminjam seorang anak buahmu untuk membelinya sebentar di daratan?”

“Maaf, para kelasi sudah bekerja keras seharian penuh, besok pagi-pagi harus bekerja lagi, kini sudah tidur semua.”

“Kalau begitu ” Pang Goan berpikir sebentar, lalu katanya, “Terpaksa aku