Golok Yanci Pedang Pelangi Jilid 04

Jilid 04

Ho Leng-hong menjura, lalu katanya, “Maksud Siaute bukan hendak memutuskan hubungan dengan para kawan, perpisahan ini hanya bersifat sementara, karena harus menutup diri untuk berlatih, kita akan lebih jarang bertemu. Cuma untuk perpisahan tersebut, maka mulai sekarang kita boleh berkumpul dan bergembira sepuas-puasnya, siapapun di antara kalian tak boleh mengundurkan diri di tengah perjamuan, kita harus bermain sampai puas baru bubar, Siaute telah berpesan kepada para Busu, sebelum perjamuan bubar, tak seorangpun di antara kalian boleh meninggalkan gedung ini. Di samping itu pihak dapur telah menyiapkan hidangan yang takkan berhenti, kita akan pesta pora sepanjang hari, paling sedikit tiga hari, tiga malam pesta ini akan terus berlangsung.”

Mereka yang hadir ini sebagian besar adalah anak orang kaya, mereka lupa diri setlah mendengar perkataan itu, serentak mereka berteriak menyatakan akur.

Maka pesta segera diselenggarakan, meja judi pun disiapkan, dengan riang gembira para tamu mengambil tempat duduk dan mulai berpesta pora.

Selama pesta gila-gilaan berlangsung, Leng-hong sangat memperhatikan gerak-gerik Thian Pek-tat, ia lihat meski orang ini ikut minum arak dan berjudi seperti lain- lainnya, namun sering kali keningnya berkerut, seakan-akan ada sesuatu hal yang membuat perasaannya tidak tenang.

Thian Pek-tat datang paling cepat, dia pula yang amat menaruh perhatian terhadap kepergian Pang Goan, mungkinkah dia yang diam-diam bersekongkol dengan pihak lawan?

Tanpa terasa Leng-hong teringat kembali pada kematian Siau Cui, lalu kematian pesuruh Hong-hong-wan dan Go So yang dibunuh untuk melenyapkan saksi hidup . . .

. .

Semua itu hakikatnya berhubungan dengan Thian Pek-tat, hal ini membuat Leng- hong semakin curiga.

Bila ditinjau dari pelbagai gejalanya, meski Thian Pek-tat bukan otak dari pencurian golok mestika itu, paling sedikit ia sudah dibeli oleh pihak lawan, bahkan mungkin dia pula orangnya yang mengadakan perundingan rahasia dengan gadis baju hijau di luar Kiok-hiang-sia itu.

Tak lama setelah perjudian dimulai, benar juga, Thian Pek-tat mengalami kekalahan total.

Sambil berpura-pura menaruh perhatian Leng-hong menepuk bahunya, lalu berkata seraya tertawa, “Siau Thian, tampaknya hari ini nasibmu kurang mujur, beristirahatlah dahulu.”

Thian Pek-tat menggeleng kepala berulang kali, ia berikan tempatnya untuk Lo Bun- pin, lalu berdiri.

Pada kesempatan itu sengaja Leng-hong mengajak Thian Pek-tat ke luar rumah, lalu bisiknya, “Kalah berapa kau?”

“Tidak banyak, tiga laksa lebih, entah kenapa, hari ini aku memang lagi sial,” Thian Pek-tat tertawa getir.

“Tidak menjadi soal,” kata Leng-hong dengan tertawa, “tiga laksa tahil perak bisa direbut kembali dengan sekali permainan, kalau modalnya kurang katakan saja kepadaku.”

“O, uang sejumlah itu masih bisa kutanggung, Cuma kartu itu yang sialan, bikin orang menjadi penasaran saja.”

“Aku lihat sikapmu tidak tenang, seakan-akan ada rahasia dalam hatimu, apa gerangan yang kau pikirkan?”

Thian Pek-tat seperti agak terkejut, cepat katanya, “Ah, tidak! Atau mungkin Nyo- heng melihat sesuatu yang tidak beres atas diriku?”

“O, tidak, aku hanya merasa konsentrasimu buyar, hatimu tak tenang dan perhatianmu tak dapat terpusat di meja judi.”

Tiba-tiba Thian Pek-tat berseru dengan suara tertahan sambil tertawa, “Ah, benar, setelah disinggung saudara Nyo, Siaute menjadi ingat kembali. Padahal juga tidak terhitung rahasia besar, selama ini Siaute hanya teringat dengan ucapan yang Nyo- heng katakan tadi, dan hatiku terasa agak sedih.”

“Oo? Perkataan apa yang kaumaksudkan?”

“Aku ini meski luas pergaulan, tapi paling tidak suka menyanjung dan menjilat, bicara terus terang, di antara sekian banyak teman, Siaute merasa paling cocok dan paling menaruh hormat terhadap Nyo-heng.”

Leng-hong cuma tertawa saja dan tidak memberi tanggapan apa-apa. “Oleh sebab itu,” demikian Thian Pek-tat melanjutkan, “ketika kudengar

pengumuman Nyo-heng yang bermaksud menutup diri sementara waktu untuk melatih sejenis ilmu silat, tiba-tiba saja Siaute merasa berat hati dan amat sedih.”

“Ya, apa boleh buat? Hal ini terpaksa harus kulakukan, untung yang harus kulatih adalah ilmu silat keluargaku sendiri, percayalah masa tirakat diriku tak akan berlangsung terlalu lama.”

“Saudara Cu-wi,” kata Thian Pek-tat pula dengan wajah serius, “maafkan bila ada kata-kataku yang sembrono, terhadap musibah yang menimpa Thian-po-hu, meski Siaute adalah orang luar, sedikit banyak cukup tahu keadaan yang sebenarnya.

Bersahabat memang penting, tapi berlatih untuk membangun kembali nama baik keluarga jauh lebih penting daripada segalanya, terhadap hal ini memang Nyo-heng tak boleh teledor.”

Ketika mendengar kata “membangun kembali nama baik keluarga”, satu ingatan tiba- tiba terlintas dalam benak Ho Leng-hong, segera ia bertanya, “Siau Thian, berapa banyak yang kauketahui tentang persoalan keluarga kami?”

“Dulu ketika kakakmu yang menjadi ketua gedung ini, Siaute kurang begitu rapat hubungannya dengan Thian-po-hu, apa yang kudengar pun hanya berita selentingan di luar, jadi apa yang kuketahui hanya sedikit sekali.” “Oya?! Apa yang dibilang orang luar?”

“Ah, tidak lebih Cuma berkisar pada kekalahan kakakmu dalam pertemuan Lo-hu-to- hwe serta usaha Thian-po-hu untuk meminang puteri Cian-sui-hu dengan menyerahkan golok mestika kalian kepada pihak perempuan.”

“Oo!” Leng-hong bersuara tertahan, pikirnya, “Dugaanku ternyata benar, Lo-hu-to- hwe di selenggarakan di Leng-lam, tentu masalah ini ada hubungan dengan pihak Hu- yong-shia.”

Dalam hati ia berpikir demikian, di luar sengaja menghela napas sambil tunduk kepala dan membungkam.

Padahal yang benar ia sedang menunggu komentar Thian Pek-tat lebih lanjut.

Benar juga, dengan penuh perhatian Thian Pek-tat berkata lagi, “Saudara Cu-wi, kita boleh dibilang ada jodoh, syukur engkau menganggapku sebagai sobat karibmu, maka aku ingin memberi nasihat padamu. Dengan ilmu golok warisan Thian-po-hu ditambah dengan golok mestika Yan-ci-po-to sepantasnya kalian tak sampai kalah dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe, tahukah kau apa sebabnya kakakmu sampai menderita kekalahan total?”

Darimana Ho Leng-hong bisa tahu, terpaksa ia menggeleng kepala belaka.

“Kekalahan yang diderita kakakmu bukan lantaran ilmu silatnya tak dapat menandingi orang, sebetulnya ia dikalahkan oleh satu huruf.”

“Huruf apa?” tanya Leng-hong sambil melengak.

“Perempuan!” air muka Thian Pek-tat berubah menjadi serius, “ketika itu kakakmu masih muda dan berdarah panas, tapi ia telah terjebak oleh Bi-jin-keh (siasat perempuan cantik), bukan saja rahasia ilmu golok Po-in-pat-tay-sik telah dibocorkan, sebelum bertanding iapun kena dicelakai lebih dulu sebab itulah gelar Thian-he-te-it- to (golok nomor satu di dunia) terpaksa diserahkan kepada pihak Hiang-in-hu.”

Hiang-in-hu?! ternyata benar Hiang-in-hu dari Hu-yong-shia di wilayah Leng-lam.

Tak dapat dilukiskan perasaan Leng-hong ketika itu, entak kejut atau bergirang ataukah terbangkit semangatnya?

“Siau Thian, darimana kautahu tentang persoalan ini?” buru-buru ia tanya.

Thian Pek-tat tertawa, ia menjawab, “Meski hal ini merupakan suatu rahasia besar, tapi mana bisa lolos dari pendengaranku si telinga panjang. Terus terang kukatakan padamu, ada seorang Bu-lim-cianpwe yang telah membocorkan rahasia ini, waktu itu Cianpwe tersebut ikut dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe, dengan mata kepala sendiri ia saksikan kakakmu menderita kekalahan total, rupanya peristiwa itu menimbulkan kecurigaannya, kemudian setelah dilakukan penyelidikan secara diam-diam, terbuktilah bahwa apa yang dicurigainya memang betul.” “Tapi belum pernah kakakku menceritakan kejadian itu padaku.”

“Setelah terkena siasat Bi-jin-keh lawan, tentu saja ia merasa malu untuk menceritakan kejadian ini kepadamu. Cuma bila kita tinjau apa yang diatur dan dipersiapkannya sebelum meninggalkan tempat ini, dapat kita simpulkan bagaimanakah perasaan hatinya waktu itu.”

“Oya?” Leng-hong berseru heran.

“Dengan Yan-ci-po-to sebagai alasan, kakakmu berangkat ke Cian-sui-hu, jelas dia ingin menggunakan ilmu pedang Cian-sui-hu untuk menutupi kelemahan Po-in-to- hoat keluargamu, di samping itu, iapun berharap dengan kecantikan serta kebijaksanaan nona Wan-kun kehidupanmu bisa dikendalikan sehingga tak sampai terperosok lagi seperti apa yang dialaminya.”

Diam-diam Leng-hong mengenang kembali perkataan Pang Goan, mau-tak-mau dia harus mengakui ucapan Thian Pek-tat ini memang masuk di akal.

Hanya ada satu hal yang tidak dipahami, yaitu kenapa Thian Pek-tat memberitahukan hal ini kepadanya?

Jika Thian Pek-tat adalah orang pihak Hiang-in-hu, lebih-lebih tidak seharusnya membongkar rahasia ini.

Ketika melihat rekannya hanya diam saja, Thian Pek-tat berkata pula, “Saudara Cu- wi, selama ini kita hanya berpesta pora dan berfoya-foya, urusan yang penting memang telah kita abaikan sekian lama, untuk menambal kekurangan kita di masa lalu, rasanya belum terlalu terlambat, sebagai sahabat aku berkewajiban memberi nasihat, selanjutnya hendaknya kaubangkit menjunjung kembali nama baik Thian-po- hu, sebab cita-cita luhur kakakmu terletak dia atas pundakmu.”

Leng-hong mengangguk.

Tiba-tiba Thian Pek-tat berbisik, “Seperti tindakanmu menyelidiki Hong-hong-wan tempo hari, sejak kini mesti diperhatikan sebaik-baiknya, siapa tahu kalau tempat itu adalah perangkap yang telah diatur oleh pihak Hiang-in-hu.”

Mendengar perkataan ini, Leng-hong merasa terkejut, baru saja dia hendak bersuara, saat itu kebetulan Lo Bun-pin muncul.

Begitu bertemu, orang she Lo itu lantas berseru dengan suara lantang, “Hai, apa yang kalian rundingkan di sini? Cepat masuk ruangan, kini Lo Cin lagi mujur besar, semua orang tak mampu menahan kehebatannya.”

Dengan cepat Thian Pek-tat berganti sikap lain, katanya sambil tertawa, “O, ya?! Lo Cin lagi jagoan sekarang? Itulah yang dinamakan: bila di gunung tak ada harimau, monyet pun menjadi raja. Hayo berangkat, biar aku orang she Thian ringkus monyet itu!” Begitulah mereka bertiga lantas masuk kembali ke arena judi.

Leng-hong sudah tidak berhasrat untuk berjudi lagi, setelah melayani sekian lama, ketika senja hampir tiba, ia mengundurkan diri, dan kembali ke taman belakang.

Pang Goan hanya berjanji akan mengadakan dua kali pertemuan dalam sehari, pagi sekali dan malam sekali, tapi ia tidak menetapkan waktu yang tepat.

Dengan tergesa-gesa Leng-hong melakukan pencarian di sekitar taman, tapi tak sesosok bayangan manusia pun ditemukan, selagi gelisah, mendadak di antara embusan angin ia merasa ada suara pembicaraan orang.

Di mana Ho Leng-hong berada sekarang adalah tepi hutan buatan yang tadi pagi digunakan Pang Goan untuk berlatih silat, suara pembicaraan itu berasal dari balik hutan sana, seperti ada dua orang sedang berbisik-bisik di sana, tapi apa yang sedang mereka bicarakan tidak kedengaran jelas.

Setelah diperhatikan sekian lama, Leng-hong hanya dapat membedakan bahwa suara itu berasal dari dua orang perempuan.

Sesungguhnya Leng-hong ingin menghardik kedua orang itu, tapi ingatan lain mencegahnya untuk berbuat begitu, agar tidak “mengusik rumput mengejutkan ular”, ia tidak masuk ke hutan, tapi ia melayang ke atas pohon dan bersembunyi di antara daun yang rimbun. 

Tak lama kemudian, suara pembicaraan itu berhenti, menyusul lantas kedengaran suara langkah orang yang perlahan.

Dua orang gadis berjalan keluar dari balik hutan sambil bergandengan tangan.

Leng-hong bersembunyi di atas pohon dengan menahan napas, dilihatnya kedua gadis itu lewat di bawah pohon, dan terlihat jelas bahwa kedua orang itu tak lain adalah Bwe-ji dan Siau Lan.

Bwe-ji menenteng sebuah keranjang bunga, di dalamnya terdapat beberapa tangkai bunga sedap malam.

Siau Lan membawa cangkul kecil, di ujung cangkul masih tersisa sedikit tanah lumpur.

Sepintas lalu kedua orang itu seperti baru saja menanam bunga, tapi mengapa menanam bunga di waktu malam?

Lebih tak mungkin lagi kalau menanam bunga di dalam hutan yang penuh pepohonan.

Gerak-gerik kedua orang itu sangat rahasia dan mencurigakan, setelah keluar dari hutan, mereka celingukan dulu ke sana kemari, sesudah yakin di sekitar situ tak ada orang, segera mereka melompat keluar dengan cepat, sesudah jauh dari pepohonan, langkah mereka baru diperlambat.

Kedengaran Bwe-ji sedang berbisik lirih, “Lebih baik kita berpisah di sini saja, ingat, suruh dia datang tengah malam nanti, dan jangan lupa harus berhati-hati.”

“Aku tahu, kau sendiri juga mesti berhati-hati, jangan sampai dilihat orang lain,” jawab Siau Lan.

Kedua orang itu berpisah di tepi hutan, Bwe-ji menuju ke timur dan kembali ke loteng, sedang Siau Lan ke barat dan menuju ke pintu taman belakang.

Leng-hong segera memutuskan untuk menguntit Siau Lan, dia ingin tahu manusia macam apakah yang hendak ditemuinya, tapi baru saja dia hendak melompat turun, tiba-tiba dari atas kepalanya menyambar turun sebuah tangan dan mencengkeram kuduk bajunya.

Saking terkejutnya hampir saja Leng-hong berseru, cepat ia mendongak ke atas, ternyata Pang Goan yang nongkrong di antara rimbunnya dedaunan.

Ketika melompat ke atas pohon tadi, pemuda itu tidak mengetahui di atas pohon sudah hadir seorang yang lain, diam-diam ia merasa malu, dengan suara serak katanya, “Lotoako, sudah kau lihat kedua orang dayang itu?”

Pang Goan mengangguk, “Aku datang lebih dulu dari mereka berdua, tentu saja dapat kulihat dengan jelas.”

“Apakah kautahu perbuatan apa yang mereka lakukan di dalam hutan ini?” tanya Leng-hong.

“Rupanya sedang menanam suatu benda.”

“Menanam sesuatu benda? Benda apa yang mereka tanam?”

“Aku tidak jelas benda apa yang mereka tanam, Cuma . . . “ tiba-tiba ia tertawa lebar, “bila nasib kita tidak jelek, kemungkinan besar itulah benda yang sedang kita cari.”

“Golok mestika Yan-ci-po-to?”Leng-hong berseru tertahan.

Sambil tertawa Pang Goan manggut-manggut, katanya, “Padahal mestinya kita dapat berpikir ke situ. Ketika fajar tadi dayang tersebut kaupergoki tanpa sengaja, ia berada dalam keadaan tangan hampa tanpa membawa sesuatu, bila kita pikirkan, bisa disimpulkan tentunya karena hari sudah terang tanah, mereka tak sempat menyelundupkan benda curian itu keluar.”

“Benar,” seru Leng-hong sambil bertepuk tangan, “Jika golok mestika itu berhasil diselundupkan keluar gedung, sudah pasti mereka akan kabur meninggalkan tempat ini, dan tak mungkin tetap tinggal di sini menempuh bahaya.”

“Sesudah mengetahui isi kotak itu ternyata golok palsu, mestinya mereka menyadari golok asli tak dapat dicuri semudah itu, kemudian karena aku kurang berhati-hati sehingga tempat menyimpan golok pusaka itu diketahui mereka dan benda itu berhasil mereka dapatkan, tapi karena tak sempat lagi menyelundupkannya keluar, terpaksa mereka menanamnya lebih dulu di sini.”

“Tapi seandainya pada saat terakhir mereka putuskan untuk menanam golok pusaka itu, sepantasnya benda itu di tanam di sekitar Kiok-hiang-sia, kenapa tidak disembunyikan di tempat yang dekat, sebaliknya malah menanamnya di hutan yang jauh letaknya sini.”

“Apa yang perlu diherankan lagi?” Pang Goan tertawa, “mula-mula tentunya mereka akan menyembunyikannya di sekitar Kiok-hiang-sia, tapi lantaran tempat tersebut luas dan dekat air, mungkin sulit untuk digali, maka terpaksa malam-malam begini mereka menanamnya di sini.”

Begitulah, hasil analisa kedua orang ini menunjukkan golok mestika Yan-ci-po-to bukan saja belum meninggalkan gedung Thian-po-hu, benda tersebut pasti ditanam di dalam hutan ini oleh Bwe-ji dan Siau Lan.

Ho Leng-hong merasa semangatnya berkorbar, katanya, “Sungguh atas berkah Thian, Lotoako, mari kita gali golok pusaka itu, kemudian baru kita menunggu sang kelinci keluar dari liangnya, bila tengah malam nanti mereka datang untuk mengambil golok, kita ringkus mereka semua.”

Pang Goan menyatakan akur, bahkan pesannya, “Sebentar bila sudah mendapatkan kembali golok mestika tersebut, lebih baik kau kembali ke ruang depan dan jangan menunjukkan tanda apa-apa, kita bukan saja mendapatkan kembali golok mestika itu, yang lebih penting adalah menyelidiki siapakah yang berdiri di belakang layar dalam peristiwa ini.”

“Siaute sudah melakukan pengamatan secara diam-diam, aku rasa Thian Pek-tat merupakan orang yang mencurigakan.”

Secara ringkas iapun menceritakan apa yang dialaminya selama berada di ruangan depan tadi.

Selesai mendengarkan penjelasan tersebut, Pang Goan tidak memberi komentar apa- apa, dengan suatu gerakan lincah dia merosot turun ke bawah pohon dan masuk ke hutan untuk mencari tempat penanaman golok.

Orang lain memberi poyokan padanya sebagai “Monyet Pang”, kenyataannya bukan saja tampangnya mirip monyet, ternyata kepandaiannya memanjat pohon juga lebih lincah daripada monyet, caranya menerobos hutan, bukan saja gesit, juga cepat luar biasa.

Tak berapa lama kemudian, dengan mudah mereka berhasil menemukan sebuah gundukan daun busuk di engah hutan, tampak jelas daun-daun busuk itu pernah disentuh orang.

Dengan kedua tangannya, Pang Goan membongkar daun-daun busuk itu, benar juga di bawah tumpukan daun tadi ditemukan tanah lumpur yang barusan digali, bahkan diberi pula sebuah tanda sebagai tanda.

“Nah, pasti di sini tempatnya,” kata Leng-hong “harap Lotoako tunggu sebentar, akan kucarikan sebuah cangkul.”

“Hanya tanah lumpur saja, buat apa pakai cangkul?”

“Sambil berkata, dengan kesepuluh jari tangannya yang dipentangkan bagaikan cakar ia menggali tanah tersebut, sekali mencengkeram segumpal tanah lantas diangkatnya.

Orang ini memang tangguh, kedua tangannya ternyata lebih berguna daripada cangkul, tak lama kemudian tergali sebuah liang besar.

Benar juga, di dalam liang tertanam satu pak panjang yang dibungkus dengan kain minyak.

Pang Goan menengadah dan menarik napas panjang, katanya dengan perasaan lega, “Ai, akhirnya benda mestika ini berhasil ditemukan kembali, mungkin arwah kakakmu melindungi kita, juga takdir telah menetapkan bahwa Thian-po-hu harus mengembangkan kembali nama baiknya.”

Dengan tatapan tajam Leng-hong memperhatikan bungkusan kain minyak itu sekian lama, tiba-tiba katanya, “Lotoako jangan keburu gembira lebih dulu, kulihat isi bungkusan ini rada mencurigakan.”

“Oya?” desis Pang Goan kaget.

“Seandainya bila bungkusan ini sudah ditanam selama sehari di sini, bila digali keluar lagi tentu akan memperlihatkan tanda kelembaban, tapi kain minyak ini tampak kering dan masih baru, jelas belum lama ditanam di sini ”

Belum habis kata-katanya, buru-buru Pang Goan membuka bungkusan kain minyak itu, isi bungkusan itu memang sebilah golok besar.

Cuma golok tersebut bukan golok mestika Yan-ci-po-to yang sedang mereka cari, golok ini hanya sebilah golok biasa yang umum.

Kontan saja Pang Goan mendengus marah, katanya, “Kurang ajar benar kedua perempuan anjing itu, berani betul mereka melakukan siasat licik ini untuk menipu kita.”

Leng-hong berpikir sebentar, lalu katanya, “Namun ada satu hal yang mencurigakan, darimana mereka tahu kita bakal datang dan menyiapkan lebih dulu sebatang golok palsu ini?”

“Mungkin kedua orang perempuan hina itu sengaja bermaksud mengambil golok mestika pada waktu malam, tapi tiba-tiba melihat kaupun berada di taman sini, maka pada saat terakhir mereka ganti siasat dan sengaja menanam golok biasa di sini, lalu pada kesempatan kita sedang menggali di sini, mereka gunakan peluang tersebut untuk menyelundupkan golok mestika itu keluar, untuk mendapatkan sebilah golok biasa dalam Thian-po-hu kan tidak sukar?” “Seandainya ”

“Jangan pakai seandainya, untung belum terlambat, golok mestika Yan-ci-po-to itu pasti masih berada di sekitar Kiok-hiang-sia, kalau kita lakukan pengejaran sekarang, mungkin masih belum terlambat.”

Rasa gusar, gemas dan cemas membuat tokoh Cian-sui-hu ini ingin sekali melompat mencapai Kiok-hiang-sia, ketika kata terakhir diucapkan, bagaikan angin ia sudah melayang keluar dari hutan sana.

Cepat Leng-hong mengikut di belakangnya.

Tapi tak lama setelah keluar hutan, tiba-tiba Leng-hong menarik ujung baju Pang Goan sambil berbisik, “Lotoako, harap tunggu sebentar.”

“Tunggu apa?” tanya Pang Goan sambil berhenti.

Leng-hong tidak menjawab, ia celingukan sejenak memandang sekeliling tempat itu, lalu menariknya masuk kembali ke dalam hutan.

“Hei, apa yang kau lakukan?” tegur Pang Goan keheranan, “Kau tahu, waktu sudah mendesak, jangan sampai kehilangan waktu yang berharga.”

Ho Leng-hong menggoyangkan tangannya berulang, katanya dengan suara parau, “Bagaimana juga Siaute merasa di balik kejadian ini masih ada hal lain yang mencurigakan, Lotoako boleh melakukan pemeriksaan di sekitar Kiok-hiang-sia, tapi jangan sampai jejakmu ketahuan orang, sedang Siaute akan tetap menunggu saja di sini.”

“Apa yang hendak aku tunggu di sini?”

“Siaute mempunyai suatu firasat, bila golok mestika Yan-ci-po-to tiada di Thian-po- hu, maka kemungkinan besar benda tersebut masih berada dalam hutan ini.”

Pang Goan berpikir sebentar, kemudian katanya, “Baiklah, kau boleh tinggal di sini, sedang aku akan melakukan pemeriksaan di sekitar Kiok-hiang-sia, bila di sana tidak berhasil kutemukan sesuatu, aku akan segera kembali ke sini.”

Leng-hong membiarkan Pang Goan berlalu, ia tunggu bayangan orang sudah tak tampak baru kembali ke tepi liang penyimpan golok tadi.

Mula-mula ia masukkan dulu golok tersebut ke tempatnya semula, lalu ditimbun dengan tanah dan akhirnya diberi saputangan dan ditutup pula dengan daun busuk.

Ketika segala sesuatunya sudah beres, Leng-hong baru melayang kembali ke atas dahan pohon, menutupi badannya dengan dedaunan dan menunggu di sana dengan tenang. Apa yang dinantikan? Ia sendiripun tak dapat menerangkan, tapi bagaikan seorang pemburu yang berpengalaman ia menunggu dengan penuh kesabaran dan penuh rasa percaya pada diri sendiri.

Sekian lama sudah, tapi suasana tetap hening, Pang Goan juga belum kembali.

Leng-hong tetap duduk diam di atas pohon, ia perhatikan suasana di sekeliling tempat itu dengan seksama.

Lewat sekian lama pula, suasana di sekeliling situ tetap hening, sama sekali tiada suatu yang mencurigakan.

Leng-hong mulai gelisah. bukan karena dugaannya keliru, tapi merasa kuatir atas

keselamatan Pang Goan yang pergi dan tak kembali lagi itu.

“Sret!” mendadak terdengar suara enteng, tahu-tahu di bawah pohon telah bertambah dengan sesosok bayangan manusia.

Sungguh cepat kemunculan orang ini, suara gemersik dan kelebatan bayangan hampir terjadi pada saat yang sama, baru saja desir angin terdengar tahu-tahu orang itu sudah berada di bawah pohon.

Betapa kejut Leng-hong, ia nyaris terjatuh dari atas pohon. Apalagi setelah melihat jelas raut wajah serta dandanan orang itu, hampir ia menjerit kaget.

Orang ini mengenakan gaun berwarna kuning telur, ternyata tak lain adalah Pang Wan-kun.

Gerak-gerik Pang Wan-kun kelihatan agak gugup, tampaknya ia tak menyangka di atas pohon bersembunyi seseorang, dengan sorot mata tajam ia awasi tempat penyimpanan golok itu, lalu mencabut sebilah pisau belati dan mulai menggali tanah dengan tergesa-gesa.

Sesungguhnya Leng-hong hendak menegurnya, tapi setelah menyaksikan keadaan itu ia urungkan niatnya.

Pang Wan-kun bukan Cuma gugup, baju dan rambutnya juga kusut tak teratur, pula bahu kirinya kelihatan berdarah, jelas ia terluka.

Sebab apa ia terluka? Darimana ia tahu golok mestika itu disembunyikan di sini? Mengapa ia gugup? Apa yang hendak digalinya....

Semua pertanyaan itu dengan cepat telah memperoleh jawabannya. Pang Wan-kun bekerja dengan cepat, tak seberapa lama golok berbungkus kain minyak itu sudah tergali keluar.

Tapi ia tidak memperhatikan golok tersebut dan dibuang begitu saja ke samping, lalu melanjutkan pekerjaannya menggali liang.

Tak lama kemudian, dari dalam liang ia mengeluarkan pula suatu bungkusan yang lain.

Mencorong sinar mata Ho Leng-hong, cukup sekilas pandang saja ia lantas mengenali benda itu sebagai bungkusan yang digunakannya untuk menyimpan golok Yan-ci-po-to semalam.

Kiranya benda yang disembunyikan Bwe-ji dan Siau Lan memang benar-benar adalah golok mestika Yan-ci-po-to, Cuma pada lapisan yang atas mereka taruh pula sebilah golok biasa.

Kecuali menyaksikan dengan mata kepala sendiri, siapa yang akan menduga di dalam liang telah ditanam dua bilah golok yang berbeda?

Ho Leng-hong tak menyangka, Pang Goan yang cerdik dan teliti pun tak mengira. Tapi, dari mana Pang Wan-kun bisa tahu?

Melihat gelagatnya, bukan saja ia tahu tentang penyimpanan golok mestika itu, bahkan bisa jadi Bwe-ji dan Siau Lan melakukan pekerjaan itu atas perintahnya . . . .

Pelbagai pikiran berkecamuk dalam benak Ho Leng-hong, meskipun ia merasa terkejut, macam-macam tanda tanya selama beberapa hari akhirnya tersingkap juga, dengan enteng ia lantas melayang turun ke bawah.

Waktu itu Pang Wan-kun sedang membuka kain yang membungkus golok tersebut, betapa terperanjatnya demi melihat kemunculan Ho Leng-hong, air mukanya berubah hebat, sambil mundur dua-tiga langkah ia sembunyikan golok mestika itu di belakang punggungnya.

Leng-hong tertawa lebar, katanya, “Hah, tak kausangka bukan bahwa aku akan muncul di sini?”

Dengan tangan kiri masih disembunyikan di belakang punggung, Pang Wan-kun menepuk dadanya dan mengembuskan napas, katanya sambil tertawa, “Ai benar- benar tak kusangka, Jit-long kaubikin kaget padaku saja.”

“Nona, kupikir sebutan di antara kita kini perlu diganti,” kata Leng-hong sambil tertawa.

“Kenapa?”

“Sebab kau bukan Pang Wan-kun, dan kaupun tahu aku bukan Nyo Cu-wi, sandiwara suami-isteri sudah berlangsung hingga kini, apakah tidak perlu diakhiri saja?”

“Aku tidak paham akan maksudmu!”

Ho Leng-hong mendesak maju selangkah, lalu katanya lagi dengan suara tertahan, “Apa susahnya untuk memahami? Tujuan kalian adalah mencuri golok mestika Yan- ci-po-to, sebenarnya urusan ini tak ada sangkut pautnya denganku, tapi dengan pelbagai akal muslihat kalian telah menyeretku terjerumus ke dalam pusaran air ini.” Bergetar badan Pang Wan-kun, ditatapnya wajah Ho Leng-hong dengan tajam, ia tidak membenarkan pun tidak menyangkal ucapannya.

Leng-hong menjadi semakin bangga, katanya lebih lanjut, “Kalau dipikir kembali, sungguh aku amat bodoh. Selama ini, hampir saja kuanggap diriku benar-benar adalah Nyo Cu-wi, tak lama berselang akupun masih menganggap kau sebagai Pang Wan- kun yang sesungguhnya, tapi sekarang aku telah paham. Cuma, nona, dengan berani kau menyamar sebagai majikan perempuannya gedung Thian-po-hu, begini persis samaranmu sehingga Pang-toako pun terkelabui, hal ini membuktikan bahwa kecerdikan maupun keberanianmu sungguh sangat mengagumkan.”

Pang Wan-kun berkedip-kedip seperti orang bingung, katanya dengan ragu, “Jit-long, kau omong apa? Jangan-jangan menyakitmu kumat lagi?”

“Ya, mungkin saja menyakitku kumat lagi,” kata Leng-hong sambil tertawa, “tapi sekali ini untung hadir seorang tabib sakti di sini. Nona, asal kauserahkan golok Yan- ci-po-to itu kepadaku, lalu kita bersama-sama menghadap Pang-lotoa, siapa yang sakit dan siapa yang tidak dengan cepat pasti akan diketahui.”

“Hei, apa yang kau maksudkan dengan golok Yan-ci-po-to?Di mana ada Yan-ci-po- to?”

“Itu dia, di belakang punggungmu! Bagaimanapun kita sudah menjadi suami-isteri, lebih baik serahkan sendiri kepadaku, sebab kalau terpaksa harus kugunakan kekerasan, tentu akan lenyaplah semua hubungan kasih mesra suami-isteri antara kita berdua.”

Pang Wan-kun mengulurkan tangan kirinya dan memperlihatkan sarung golok ke depan, katanya, “Apakah golok ini yang kaumaksudkan sebagai Yan-ci-po-to?”

“Masa bukan? Kukenal dengan jelas kain pembungkus golok itu, dan lagi pada gagang golok terdapat huruf yang gemerlapan “

Pang Wan-kun menghela napas panjang, ia sodorkan sarung golok itu ke depan Leng-hong, katanya, “Ai, kalau kau ngotot mengatakan golok ini adalah golok mestika Yan-ci-po-to segala, nah ambil dan lihatlah sendiri.”

“Ya, aku memang ingin memeriksanya dengan seksama, mana mungkin kusalah lihat

. . . .”

Baru saja tangannya memegang ujung sarung golok, baru disadarinya bukan salah melihat terhadap goloknya melainkan orangnya.

Waktu Pang Wan-kun menyodorkan golok itu kepadanya, ekor sarung golok itu tertuju ke arah Ho Leng-hong dengan gagang golok menghadap ke arahnya sendiri, dan tatkala anak muda itu memegang sarung golok, tiba-tiba ia membalik telapak tangannya dan tahu-tahu gagang golok telah tergenggam.

“Creng!” cahaya tajam gemerlapan, golok itu secepat kilat sudah dilolos dari sarungnya.

Ho Leng-hong hanya merasa ketiaknya tersambar angin dingin, cepat ia lepaskan pegangan sambil melompat mundur, tapi antara pinggang dan perut telah tersayat suatu luka sepanjang tujuh delapan inci, dara segera mengucur keluar.

Pang Wan-kun membalik lagi tangan kanannya dan meraih sarung golok dari tangan Leng-hong, katanya sambil tertawa dingin kepada Leng-hong, “Mengingat hubungan suami-isteri, kuampuni jiwamu dari tebasan golok tadi, maka lebih baik jangan kauterangkan asal-usulmu kepada si monyet Pang, sebab jika ia sampai mencari tahu jejak Nyo Cu-wi dan isterinya, maka kau pun akan mengalami kesulitan sendiri.”

Selesai berkata ia masukkan goloknya ke dalam sarung, lalu memutar badan dan berlalu dari situ.

Dengan sempoyongan Leng-hong memburu maju tapi darah segar mengucur lebih deras dari lukanya, tenggorokkan terasa kering seperti terbakar, kepala pusing dan hampir roboh.

Ia sadar musuh tak mungkin terkejar, terpaksa ia himpun tenaga dan berteriak keras- keras, “Pang-toako . . . Pang-toako ”

Tapi sebelum mendengar suara jawaban Pang Goan, robohlah dia tak sadarkan diri.

Entah sudah lewat beberapa lama, entah apa pula yang terjadi kemudian.

Ketika Ho Leng-hong mengendus bau harum bunga dan membuka matanya, baru diketahuinya dirinya berbaring dalam Kiok-hiang-sia.

Duduk di kursi di tepi pembaringan seorang nyonya muda berwajah cantik sedang menundukkan kepala sambil menyulam kain sarung bantal.

Dipandang dari samping, jelas nyonya cantik ini bukan lain adalah Pang Wan-kun.

Sungguh tidak kepalang kaget Ho Leng-hong, hampir saja ia melompat bangun dari pembaringan.

Tapi baru saja setengah badannya terangkat, lambungnya terasa sakit sekali, ia mengeluh dan roboh kembali ke atas bantal.

Rintihannya mengejutkan Pang Wan-kun yang duduk di sampingnya, buru-buru ia menaruh sulamannya dan berpaling, lalu sapanya dengan tersenyum, “Jit-long, kau telah sadar? Tidur saja dengan tenang, jangan sampai pecah lagi lukamu.”

Dengan sorot mata kaget, gusar, mendongkol dan cemas Leng-hong melototi nyonya itu, seakan-akan sedang berhadapan dengan setan iblis yang menyeramkan.

Pang Wan-kun tertawa manis, pelahan ia membetulkan ujung selimut, katanya, “Kenapa kau melotot padaku? Seperti tidak kenal aku lagi?”

“Hm, kau perempuan siluman, tak kusangka kau masih berani tinggal di sini!” “Kenapa aku tak boleh tinggal di sini? Tempat ini adalah Thian-po-hu, rumah kita . . .

.”

“Cis!” sungguh Leng-hong ingin meludahi nyonya muda tersebut, katanya sambil menggigit bibir, “apa yang kauinginkan sudah didapatkan, kenapa tidak lekas angkat kaki? Kauanggap aku tak berani membongkar rahasiamu ini kepada Pang-toako?”

Wan-kun sama sekali tidak marah, dengan tenang katanya, “Jit-long, agaknya penyakit gilamu kambuh lagi!”

“Kausendiri yang gila,” teriak Leng-hong dengan marah, “terus terang kukatakan padamu, aku hendak ”

“Kauhendak bilang apa? Terhadap siapa? Jit-long, kuanjurkan lebih baik tenanglah dulu, sekarang semua orang tahu kau mengidap penyakit gila, apapun yang kaukatakan tak akan dipercaya oleh siapapun.”

“Semua kejadian akan kusingkap, kau yang mencuri Yan-ci-po-to, kau juga yang melukai diriku.”

Wan-kun tertawa tak acuh, “Terserah apa katamu, pokoknya Toako sudah tahu Bwe- ji dan Siau Lan yang mencuri golok itu, dan kau terluka di tangan seorang berkerudung, untung aku datang tepat pada waktunya hingga jiwamu selamat, malah akupun terluka karena berusaha menolongmu, sedang orang berkerudung itu berhasil meloloskan diri.”

“Tapi kutahu Bwe-ji dan Siau Lan mendapat perintahmu, atau paling sedikit mereka adalah dayang-dayang kepercayaanmu, bagaimanapun jua tak mungkin kau tak tahu menahu akan perbuatan mereka.”

“Ya, memang, mereka adalah dayang-dayang kepercayaanku, tapi bukan aku yang membawa mereka dari Cian-sui-hu, jika mereka sampai bersekongkol dengan orang luar, apa aku yang bertanggung jawab?”

“Hm, cepat atau lambat merekapun takkan lolos dari cengkeraman Pang-lotoa, asal satu saja di antara mereka tertangkap, tak sulit untuk memaksanya mengaku.”

“Sayang selamanya mereka takkan tertangkap lagi,” kata Wan-kun sambil mengangkat bahu.

“Berdasar apa kauberani berkata demikian?”

“Sebab mereka telah dibunuh orang di dekat Kiok-hiang-sia semalam!” “Kau yang membunuh mereka?” “Tentu saja bukan aku, pembunuh itu datang dari ruang depan, lagipula seorang pria, justru lantaran Toako harus mengejar pembunuh itu, maka ia tak bisa kembali ke hutan tepat pada saatnya.”

“Ia pasti akan berhasil menyelidiki siapa pembunuh itu?”

“Seharusnya ia akan berhasil, sayang tindakannya terlampau buru-buru, dan lagi sahabat-sahabat anjingmu terlalu jeri kepadanya, maka akhirnya kecuali membubarkan mereka, hasil apapun tidak ditemukan.”

“Di mana orangnya sekarang?”

“Itu!” Pang Wan-kun memondongkan mulutnya keluar jendela, “ia tak pernah putus harapannya untuk menemukan golok mestika itu, dianggapnya benda tersebut masih ada di dalam taman, sejak tengah malam kemarin ia pimpin sendiri orang-orang untuk menggali taman dan hingga sekarang belum juga istirahat, sayang sekali tanaman bunga-bunga dalam taman di sekitar Kiok-hiang-sia semuanya porak poranda.”

Ho Leng-hong coba melongok keluar lewat jendela, kemudian dengan sedih ia menghela napas panjang.

Bayangan manusia tampak bergerak di sekitar Kiok-hiang-sia, suara cangkul dan sekop kedengaran nyaring, dipimpin sendiri oleh Pang Goan, puluhan orang Busu itu bekerja keras menggali hampir seluruh pelosok taman untuk mencari golok mestika Yan-ci-po-to.

“Selama Pang-lotoa masih berada di Thian-po-hu, pati akan berakhir riwayatmu,” kata Leng-hong dengan gemas, “akan kubongkar semua rahasiamu kepadanya.”

Pang Wan-kun kembali tertawa, “Kau tak akan berbuat demikian, sebab hal ini tak ada manfaatnya bagimu, malah sebaliknya akan mendatangkan banyak kesulitan, apalagi kau pernah mengidap penyakit gila, siapa yang akan percaya pada keteranganmu?”

“Tapi paling sedikit aku sudah tahu kau bukan majikan perempuan dari Thian-po-hu, Pang Wan-kun adalah saudara kandung Pang Goan, ia pasti dapat membuktikan bahwa kau adalah Pang Wan-kun gadungan.”

Wan-kun tertawa senang, katanya pula, “Dengan cara apa hendak ia buktikan aku ini gadungan? Saudara seayah lain ibu, lagi pula usianya selisih sekian puluh tahun, hidup terpisah sekian lama, sewaktu di rumah pun sehari belum tentu bertemu satu kali, apalagi setelah kawin, sekalipun di tubuhku mempunyai tanda khusus juga belum tentu ia akan mengetahuinya, sekalipun tahu, masa dia akan mencopot bajuku untuk melakukan pemeriksaan?”

Setelah berhenti sebentar, katanya lebih lanjut, “Apalagi aku bukan Pang Wan-kun dan kaupun bukan Nyo Cu-wi, bila urusannya terbongkar, apakah kau tidak kuatir akan kugigit dirimu bahwa kita bersekongkol?”

Ho Leng-hong terbelalak dan melongo, untuk sesaat ia tak sanggup membantah. “Benar juga kata-katanya,” demikian ia berpikir, “bukan saja aku tak punya bukti, asal usulku juga tak jelas, mana mungkin perkataanku akan dipercaya oleh Pang Goan?”

Sambil tertawa Pang Wan-kun duduk di tepi pembaringan, dipegangnya bahu pemuda itu dengan tangannya yang halus, lalu katanya dengan lembut, “Jit-long, kau adalah orang yang pintar, tak nanti melakukan perbuatan sebodoh itu.”

Harta kekayaan, kedudukan dan isteri cantik belum tentu bisa didapatkan orang lain meski dalam mimpi, tapi kau telah memperolehnya secara gampang, apalagi yang masih kurang?”

Ho Leng-hong tak bisa bersuara lagi, ia merasa timbul hawa dingin dalam lubuk hatinya, rasanya seperti terjerumus ke gudang es.

Perempuan itu sungguh terlalu lihay, segala sesuatunya telah diatur secara cermat dan rapi, apa lagi yang dapat dikatakannya?

Agaknya Pang Wan-kun dapat menebak isi hatinya, kembali ia berkata, “Pepatah kuno mengatakan: menjadi suami isteri dalam semalam, selamanya terkenang tak terlupakan. Kita adalah suami isteri, tak mungkin kucelakai dirimu.”

Ho Leng-hong termenung agak lama, kemudian menghela napas panjang, katanya, “Beri tahukan padaku, sesungguhnya siapa kau? Golok Yan-ci-po-to telah kaudapatkan, apa lagi yang kauinginkan?”

Sambil tersenyum Wan-kun mentowel pipinya lalu berbisik lirih, “Aku bernama Pang Wan-kun, kau bernama Nyo Cu-wi, aku adalah isterimu dan kau adalah suamiku, sekarang demikian, besokpun begitu. Sebagai seorang isteri, kecuali memikirkan suami sendiri, apa lagi yang perlu dipikirkan?”

Ucapan ini penuh nada kasih sayang, tapi bagi pendengaran Ho Leng-hong cukup mendirikan bulu kuduknya.

“Kita suami isteri sudah bicara cukup lama,” kata Wan-kun kemudian, “sedang Toako masih sibuk menggali pusaka di luar sana, sepantasnya diundang masuk untuk beristirahat.”

Tidak menunggu jawaban Leng-hong dia lantas berteriak dengan nyaring, “Peng-ji!”

Seorang genduk cilik bermuka bulat lari masuk ke kamar, “Hujin memanggil hamba?” tanyanya. “Beri tahukan kepada Kuloya, katakan Tuan sudah sadar dan mengundang beliau kemari, jangan menggali terus menerus!”

Ho Leng-hong kenal genduk yang bernama Peng-ji itu adalah babu pekerja kasar di situ, orangnya rada bodoh dan cara bekerjanya agak lambat, mungkin lantaran Bwe-ji dan Siau Lan mati secara beruntun, maka ia ditaruh di sana untuk melayani segala keperluan.

Kini Leng-hong tak berani memandang rendah seorang babu bodoh lagi, sebab kalau Pang Wan-kun memilihnya sebagai orang kepercayaan, sudah tentu orang itu merupakan pembantu yang telah dipersiapkan.

Siapapun tak tahu ada berapa banyak orang yang telah ia siapkan dalam Thian-po- hu? kalau ditinjau dari keadaannya, jelas jumlahnya tidak sedikit, sebab kalau tidak demikian tak mungkin ia bisa membinasakan Bwe-ji dan Siau Lan sementara ia sendiri masih berani tinggal di situ.

Tiba-tiba Leng-hong merasa kekuatannya terlalu kecil dan menyendiri, kecuali Pang Goan rasanya tak seorangpun yang bisa dipercaya lagi, sebaliknya Pang Goan baru dikenalnya belum lama, mungkinkah ia akan percaya pada perkataannya?

Makin dipikir, rasa percaya pada diri sendiri makin hilang, akhirnya ia berbaring dengan lemas.

Tak lama kemudian, Pang Goan masuk dengan langkah lebar, begitu bertemu ia lantar berkata dengan menyesal, “Akulah yang salah dan akulah yang teledor, yang kuperhatikan waktu itu Cuma mengejar si pembunuh, mimpipun tak kuduga di dalam taman telah bersembunyi pula seorang musuh. Jit-long, cepat beri tahukan padaku, macam apakah tampang orang itu?”

Baru saja Leng-hong hendak menjawab, Wan-kun yang berada di sampingnya segera mendahului, “Waktu itu dia terluka, mana bisa memperhatikan tampang lawannya?

Tapi beruntung aku dapat melihatnya, Cuma orang itu mengenakan kerudung hitam, jadi sukar untuk mengenalinya.”

“Walaupun tampangnya sukar dikenali, paling sedikit kan bisa membedakan lelakikah dia atau perempuan? Bagaimana pula dandanannya?”

“Toako, bukankah sudah kukatakan padamu, seorang laki-laki, berperawakan tinggi besar dan memakai pakaian malam berwarna hitam ”

“Bisa jadi kau tidak jelas melihatnya, aku perlu tanya sendiri kepada Jit-long. Sudahlah, kau jangan menimbrung saja,” kata Pang Goan.

Wan-kun tidak menghiraukan, katanya pula sambil tersenyum, “Baiklah, tanyalah sendiri kepadanya, Cuma jangan lupa, lukanya tidak enteng, banyak bicara bisa mengganggu kesehatannya.”

“Aku mengerti, bila laki-laki sedang membicarakan soal yang serius, lebih baik kaum wanita jangan banyak menimbrung!” Senang hati Leng-hong demi mendengar perkataan itu, meski ucapan itu hanya merupakan omelan seorang kakak terhadap adiknya, tapi bagi pendengaran Leng- hong pada saat ini justru terasa cocok.

Akan tetapi, waktu sinar matanya berbentur dengan senyum yang menghiasi ujung bibir Pang Wan-kun, hatinya kembali menjadi dingin.

Sepintas lalu senyuman itu kelihatan seperti lembut dan penurut, padahal justru melambangkan kebanggaan serta keyakinan pada diri sendiri.

Ya, jika ia tidak penuh keyakinan, mungkinkah Pang Goan diizinkan bertemu dengannya?

Ho Leng-hong merasa dirinya ibarat binatang buas dalam rombongan sirkus, meskipun punya taring dan cakar yang tajam, tapi harus tunduk pada cambuk sang pawang, ia harus bermain di depan penonton menurut kehendak pawang.

Dan perempuan yang menyaru sebagai Pang Wan-kun ini tak lain adalah seorang pawang yang lihai.

Jelas Pang Goan bukan seorang penonton yang cermat, dengan tak sabar ia lantas bertanya, “Jit-long, coba bayangkan kembali kejadian waktu itu, kemudian beritahu padaku dengan saksama, manusia macam apakah dia itu? Apa yang kalian alami? Dan cara bagaimana ia melukai dirimu?”

Leng-hong tarik napas panjang-panjang, lalu tertawa getir, “Apa yang dikatakan Wan-kun memang benar, orang itu memakai baju warna hitam, berperawakan tinggi besar dan mengenakan cadar hitam, jadi tampangnya tidak kelihatan.”

“Cara bagaimana kaupergoki dia?”

“Setelah berpisah di tepi hutan tadi, aku merasa gerak-gerik Bwe-ji dan Siau Lan sangat mencurigakan, agaknya mereka seperti sudah tahu ada yang mengintip perbuatannya, maka sengaja ditanamnya sebilah golok biasa di situ, padahal kedatangan Lotoako lebih awal dari mereka, tak mungkin jejakmu bakal ketahuan, maka aku lantas mencurigai mereka bukan memakai benda itu untuk menipu musuh melainkan sebagai tanda bagi komplotannya dengan tujuan tertentu.”

“Ehm, benar juga dugaanmu,” Pang Goan manggut-manggut.

“Maka sekembalinya ke dalam hutan, aku berjaga-jaga di dekat liang, betul juga, tak lama kemudian kulihat ada orang menyusup ke dalam hutan dan menggali liang itu.”

“Bukankah isi liang itu Cuma sebilah golok biasa?”

Leng-hong menghela napas, “Ai, Lotoako! Kita sudah tertipu, di bawah golok itu justru tersimpan golok mestika Yan-ci-po-to yang kita cari itu.”

“Ah!” mencorong sinar mata Pang Goan, tubuhnya tergentar karena emosi, “sungguh siasat mengelabuhi lawan yang amat sempurna!”

Diam-diam Leng-hong melirik Pang Wan-kun, perempuan itu kelihatan sedang mendengarkan pembicaraan mereka dengan tersenyum.

“Jit-long, bukannya aku ingin menegurmu,” kata Pang Goan kemudian, “jika golok mestika Yan-ci-po-to sudah kau temukan, semestinya kau melihat gelagat pada waktu itu, bila tidak yakin dapat mengatasinya, kenapa tidak berteriak saja agar orang itu dikepung.”

Leng-hong tertawa getir, “Waktu itu musuh berada di pihak yang terang dan aku di pihak yang gelap, sebenarnya sudah kucegat dia, tak kusangka bangsat itu sangat licin, dengan berpura-pura hendak mengembalikan golok itu kepadaku, tiba-tiba saja suatu serangan dilancarkan, aku hendak berteriak, tapi sudah terlambat.”

“Benar,” sambung Wan-kun cepat, “ketika mendengar teriakan Jit-long, buru-buru kususul ke situ, siapa tahu bukan saja licik dan cerdik orang itu ilmu silatnya juga lihay, akupun gagal untuk mengalangi larinya.”

“Kalau begitu Yan-ci-po-to telah dicuri dari Thian-po-hu, sedang kita tak tahu siapa musuhnya,” keluh Pang Goan sambil menghela napas.

“Tak bisa diragukan lagi, orang itu pasti utusan Hu-yong-sia dari Leng-lam,” kata Wan-kun.

“Darimana kautahu perbuatan ini dilakukan pihak Hiang-in-hu dari Hu-yong-sia?”

“Hanya Hiang-in-hu yang mempunyai alasan untuk melakukan pencurian, dan hanya pihak mereka yang mempunyai kemampuan berbuat demikian, untuk menjaga nama baik Thian-he-te-it-to (golok nomor satu di dunia) jangan sampai terjatuh ke tangan orang lain, dengan segala tipu daya mereka berusaha mendapatkan golok mestika kita ini.”

“Tidak mungkin! Hiang-in-hu dari Leng-lam bukan manusia semacam itu, sekalipun mereka ingin menjaga agar nama baik Thian-he-te-it-to jangan sampai terjatuh ke tangan orang lain, tak nanti mereka lakukan tindak pencurian ini,” kata Pang Goan sambil menggeleng.

“Kenapa?” tanya Leng-hong tercengang.

Ia selalu beranggapan Hiang-in-hu adalah satu-satunya musuh tangguh dari Thian- po-hu, bahkan memastikan perempuan yang menyaru sebagai Pang Wan-kun ini adalah mata-mata yang dikirim dari Hiang-in-hu, maka setelah mendengar perkataan Pang Goan sekarang, ia menjadi heran.

Kalau bukan Hiang-in-hu yang menjadi dalangnya, lantas siapa yang berdiri di belakang layar peristiwa pencurian ini?

Dengan wajah serius Pang Goan berkata lagi, “Thay-yang-to (si golok matahari) Hui Pek-ling dari Hiang-in-hu meski berwatak agak berangasan, tapi jujur dan lurus, dulu ketika Thian-po-hu berhasil merebut gelar itu dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe, belum pernah timbul maksud Hui Pek-ling untuk mencuri golok mestika itu, buat apa ia mesti menunggu sampai sekarang? Selain itu, kalian jangan lupa, ketika gelar Thian- he-te-it-to didapatkan oleh Hiang-in-hu, merekapun tidak memiliki senjata mestika, kalau tanpa golok mestika saja Hui Pek-ling berhasil mendapatkan kemenangan, buat apa ia lakukan perbuatan rendah itu sekarang?”

“Tapi, bukankah Lotoako pernah berkata seandainya golok Yan-ci-po-to sampai didapatkan orang she Hui itu, akan lebih sulit bagi kita untuk mengalahkan dia?”

“Aku hanya kuatirkan bila golok mestika itu didapatkan olehnya, bukan mengatakan ia bakal mencuri golok mestika tersebut!”

“Tapi, apa pula bedanya?”

“Tentu saja ada bedanya. Dengan kepandaian silat Hui Pek-ling, Nyo-keh-sin-to dan Keng-hong-kiam-hoat dari Cian-sui-hu masih belum sanggup menandinginya, yang menjadi tumpuan harapan kita, selain ilmu To-kiam-hap-ping-tin, dengan golok Yan- ci-po-to di tangan sedikit banyak juga ada manfaatnya, tapi jika golok mestika itu sampai terjatuh ke tangan Hui Pek-ling, hal ini sama artinya dengan merugikan kita dan menambah keuntungan bagi lawan.”

“O, jadi maksud Lotoako, tak mungkin Hui Pek-ling yang menjadi otak dari pencurian ini, tapi bila si pencuri mempersembahkan golok mestika itu kepadanya, Hiang-in-hu tentunya tak akan menolak pemberian tersebut?”

“Demikian halnya, bila seorang menjadi terkenal karena ilmu goloknya, siapakah yang tidak berharap akan bisa mendapatkan golok mestika?”

Ho Leng-hong tak bicara lagi, karena pengetahuannya tentang Hiang-in-hu amat terbatas.

Pang Wan-kun yang sejak tadi hanya diam saja, tiba-tiba malah bertanya, “Tapi, kecuali Hiang-in-hu, siapa lagi yang mempunyai ingatan untuk mencuri golok tersebut? Dan lagi, siapakah yang mempunyai keberanian untuk berbuat demikian?”

Pang Goan menggeleng kepala, “Justru soal inilah yang harus kita selidiki, bila ditimbang atas dasar keterangan yang kalian berikan, ilmu silat pencuri itu pasti lihay sekali, sepantasnya mereka bukan manusia tak bernama. Siapa tahu kalau tujuannya mencuri golok mestika itu bukan ingin diberikan kepada Hiang-in-hu melainkan hendak dipergunakan sendiri untuk merebut gelar Thian-he-te-it-to dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe yang akan datang?”

“Wah, jadi kalau begitu setiap orang yang belajar ilmu golok di dunia ini harus dicurigai?” kata Wan-kun.

“Jumlah orang yang belajar ilmu golok di dunia ini memang banyak, tapi yang pantas muncul dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe Cuma beberapa orang saja, kita pasti berhasil menyelidikinya.” “Toako jangan terlalu percaya kepada orang,” kata Wan-kun sambil angkat bahu, “menurut dugaanku, si pencuri golok itu tak mungkin orang lain, seratus persen pasti perbuatan pihak Hiang-in-hu.”

Tapi Pang Goan masih tetap menggeleng tidak percaya, tapi ia tidak melanjutkan perdebatannya.

Dengan tercengang Ho Leng-hong mengawasi perempuan itu beberapa saat, pikirnya, “Heran, mengapa ia berkeras menuduh Hiang-in-hu sebagai pencuri golok? Untuk menghilangkan jejak bila diselidiki Pang Goan? Atau karena ada tujuan lain?”

Rupanya Pang Wan-kun merasakan juga perkataannya terlampau menyolok, sambil tertawa katanya lagi, “Bagaimanapun juga golok mestika itu sudah hilang, terjatuh di tangan siapa pun pasti tidak menguntungkan kita, kukira yang harus kita lakukan sekarang adalah bagaimana caranya melacaki pencuri itu, apakah Toako sudah mempunyai perhitungan?”

Pang Goan termenung sebentar, lalu jawabnya, “Jika benda itu sudah keluar dari Thian-po-hu, penyelidikan agak sukar dilakukan, apalagi mata-mata yang ada di sini sudah terbunuh, sedang musuh di luar sukar diselidiki, hal ini memang sulit untuk dilakukan.” 

“Lotoako, sewaktu kau mengejar pembunuh itu, apakah tiada titik terang yang kautemukan?” Leng-hong coba bertanya.

“Sungguh memalukan sekali, waktu itu cuaca gelap dan lagi orang itu sangat apal dengan jalan dalam gedung ini, mungkin bahu kirinya berhasil kulukai, tapi ia masih dapat kabur dengan membawa luka.”

Ho Leng-hong lantas teringat pada luka di bahu kiri Pang Wan-kun ketika hendak menggali golok mestika dalam hutan malam itu, jelas dia pembunuh Bwe-ji dan Siau Lan.

Tentu saja ia lebih apal jalan-jalan dalam gedung ini daripada Pang Goan, setelah membunuh Bwe-ji dan Siau Lan, ia sengaja memancing Pang Goan ke ruang depan, sementara ia sendiri putar balik ke belakang untuk menggali golok mestika itu.

Waktu itu dia pasti menyaru sebagai seorang pria, dengan begitu Pang Goan dapat dikelabuhi. Dan tak salah lagi, tentu dia otak pencurian golok mestika . . . . .

Berpikir demikian, Ho Leng-hong merasa darahnya mendidih, kalau bisa semua rahasia itu hendak dibongkarnya pada saat itu juga. Tapi segera ia berpikir lebih lanjut, perempuan ini licik sekali, kalau tak dapat menemukan buktinya lebih dulu, hanya bicara saja tak ada gunanya, malah bila usaha ini gagal, kemungkinan besar Pang Goan akan ikut dicelakai olehnya, maka ia memutuskan untuk membungkam lebih dulu, nanti kalau luka di bahunya sudah terlihat jelas barulah semua kejadian akan diungkap.

Berpikir sampai di sini, ia lantas pura-pura menghela napas, katanya, “Sayang ia berhasil kabur dari sini, bila salah seorang bisa tertangkap hidup-hidup, tak sulit rasanya untuk menyelidiki keadaan yang sebenarnya.”

“Aku mempunyai akal bagus, entah bisa digunakan atau tidak?” tiba-tiba Pang Wan- kun mengusulkan.

“Coba katakan!” ucap Pang Goan.

“Kupikir, jika pembunuh Bwe-ji dan Siau Lan itu sedemikian apal dengan jalanan dalam Thian-po-hu, kemungkinan besar dia adalah anggota Thian-po-hu sini, atau mungkin juga salah seorang di antara sahabat Jit-long.”

“Em, mungkin juga!” Pang Goan manggut-manggut.

“Sekalipun dalam kegelapan Toako tak sempat melihat jelas raut wajahnya, tapi serangan yang kau lancarkan pasti akan meninggalkan bekas di atas tubuhnya, kenapa tidak kita kumpulkan segenap penghuni di sini untuk diadakan pemeriksaan. Barang siapa yang bahu kirinya kedapatan terluka, dia itulah yang pantas dicurigai.”

Pang Goan berpikir sebentar, lalu katanya, “Meskipun cara ini adalah cara yang bodoh, tapi tak ada salahnya untuk dicoba, Cuma . . . penghuni gedung ini dapat kita periksa, bagaimana pula dengan sahabat-sahabat Jit-long?”

“Ah, itu kan soal gampang,” kata Wan-kun sambil tertawa, “terhadap penghuni gedung kita lakukan pemeriksaan terang-terangan, sedangkan terhadap kawan Jit-long kita lakukan pemeriksaan secara diam-diam, asal Toako tampil sendiri dan mengunjungi rumah mereka satu persatu, lalu memaksa mereka membuka pakaian untuk membuktikan kebersihan dirinya, siapa yang berani menolak?”

“Tidak bisa, kita tak boleh berbuat demikian,” Pang Goan menggeleng kepala, “meskipun mereka bukan ksatria sejati, jelek-jelek mereka itu adalah teman Jit-long, di wilayah Kwan-lok ini juga ada nama dan kedudukan, kupikir cara demikian agak kelewat batas.”

“Kalau begitu, gunakanlah waktu di tengah malam buta, pada waktu semua orang sudah tidur penyelidikan ini dilakukan, dalam keadaan begini, barang siapa terluka tentu tak bisa menutupi dirinya lagi.”

“Bagaimanapun kukira cara ini kurang baik, kita tak boleh kehilangan golok mestika, lebih-lebih tak boleh sampai ditertawakan orang, sekarang akan kuperiksa dulu semua orang dalam gedung ini, jika tidak menghasilkan sesuatu baru kita adakan pembicaraan lebih lanjut.”

Selesai berkat, ia lantas bangkit dan berlalu.

Setelah bayangan tubuh Pang Goan sudah pergi jauh, tiba-tiba Wan-kun tertawa dingin, lalu gumamnya, “Sungguh tak kusangka si monyet Pang yang biasanya sombong, sekali ini juga agak tahu aturan.”

“Kau tahu cara ini tak akan menghasilkan apa-apa, kenapa kau suruh dia berbuat demikian?” tanya Leng-hong.

“Siapa bilang tak akan berhasil?” sahut Wan-kun dengan kening berkerut, “asal ia bersedia melakukan penyelidikan, pasti akan diperoleh hasil yang diinginkan.”

“Jangan-jangan kau tahu siapa yang terluka bahu kirinya?”

Wan-kun tertawa, “Bukan cuma aku yang tahu, mestinya kaupun dapat menduga sampai ke situ.”

“Oya?! Siapakah dia?”

“Kecuali Thian Pek-tat, siapa lagi?” Ho Leng-hong jadi melenggong.

Benar juga perkataan ini, sejak peristiwa di rumah pelacuran Hong-hong-wan sampai tercurinya golok Yan-ci-po-to, dalam setiap peristiwa yang terjadi, Thian Pek-tat adalah orang yang paling mencurigakan, tapi sekalipun Thian Pek-tat benar-benar seorang mata-mata musuh, seharusnya ia segolongan dengan Pang Wan-kun, mengapa perempuan ini malah membongkar rahasianya?

Jangan-jangan mereka bukan sekomplotan?

Mungkin mereka hanya mempunyai tujuan yang sama?

Atau karena mereka sudah menemui jalan buntu maka Pang Wan-kun menggunakan siasat “pinjam golok membunuh orang” untuk melenyapkan Thian Pek-tat dan menghilangkan saksi?

Ho Leng-hong merasa persoalan ini makin lama makin bertambah ruwet, hakikatnya membuat orang bingung dan tidak habis mengerti . . . .

Cuma, berhubung Pang Wan-kun ada niat untuk mencelakai Thian Pek-tat, hal ini menimbulkan setitik harapan bagi Ho Leng-hong.

Harapan itu adalah , kemungkinan besar golok Yan-ci-po-to belum meninggalkan

gedung Thian-po-hu.

Usaha Pang Goan untuk mencari orang yang terluka bahu kirinya tentu saja tidak mendatangkan hasil apa-apa.

Tapi, lantaran ia harus memeriksa semua Busu yang ada di dalam gedung, Pang Goan berhasil menemukan sesuatu hasil di luar dugaan.

Menurut laporan para Busu yang melakukan penjagaan pada malam itu, jumlah peronda yang berjaga di sekitar gedung malam tersebut lebih banyak satu kali lipat daripada biasanya, semua orang menyatakan tidak ditemukan seorang manusiapun yang keluar-masuk dari Thian-po-hu. Hari itu Ho Leng-hong telah berpesan kepada anak buahnya agar tidak mengizinkan siapapun keluar, maka para Busu yang melakukan perondaan dilipatkan jumlahnya, jadi seandainya ada orang meninggalkan gedung, hal ini tak mungkin bisa mengelabuhi para Busu.

Penemuan tak terduga ini justru cocok dengan analisa Ho Leng-hong, terbukti bahwa Yan-ci-po-to meski sudah dibawa keluar oleh Pang Wan-kun dari dalam hutan, tapi berhubung tergesa-gesa, dan lagi tak ada pembantu, golok tersebut belum sempat diselundupkan keluar gedung.

Asal Yan-ci-po-to masih berada dalam Thian-po-hu, berarti setiap saat bisa mengalami perubahan.

Sayang luka di lambung Leng-hong belum sembuh dan harus berbaring di atas pembaringan, jadi ia tak ada kesempatan untuk mengadakan pertemuan empat mata dengan Pang Goan.

Selama tiga hari beruntun Pang Wan-kun tak pernah meninggalkan sisi Leng-hong, meskipun dengan alasan menemani, yang jelas adalah mengawasi gerak-geriknya.

Untuk menyelidiki jejak golok mestika, keadaan Pang Goan ibaratnya semut dalam kuali panas, sejak pagi hari ia sudah keluar rumah, bila malam tiba baru kembali, daerah sekitar Kwan-lok hampir telah dijelajahinya, bahkan para Busu dalam jumlah yang besar pun dikirim keluar untuk mencari berita.

Tiga hari sudah lewat, namun tiada sesuatu yang berhasil didapatkan.

Pagi itu, dengan wajah yang lelah dan kusut Pang Goan pulang dari bepergian, sekilas pandang saja dapat diketahui bahwa semalam suntuk ia tak tidur.

Lama kelamaan Ho Leng-hong menjadi tak tega sendiri, segera hiburnya, “Lotoako, tak usah terlampau bersusah payah, sekalipun tanpa golok mestika Yan-ci-po-to kita tetap mempunyai harapan untuk mengalahkan Hiang-in-hu, bukankah Hui Pek-ling juga berbuat yang sama ketika itu?”

Pang Goan geleng kepala berulang kali, katanya, “Walaupun begitu, dengan hilangnya golok mestika, aku merasa bersalah kepada kakakmu, dan lagi aku tidak rela menyerah sampai di sini saja.”

“Apa yang kaumaksudkan dengan tidak rela?” tanya Wan-kun.

“Selama beberapa hari ini, bukan saja ratusan li di sekitar Kwan-lok telah kujelajahi, akupun telah minta bantuan orang Kay-pang untuk membantu usahaku, tapi kabar berita tentang golok Yan-ci-po-to itu seolah-olah tenggelam di dasar samudra, berita sedikitpun tak ada. Masakah golok itu punya sayap dan bisa terbang sendiri?”

“Padahal masalah itu bukan masalah yang harus diselesaikan dengan segera, siapa tahu kalau golok itu masih ”

Rupanya Pang Wan-kun sudah menduga apa yang hendak dikatakan olehnya, buru- buru ia menambahkan, “Benar, siapa tahu golok itu tidak terbang melainkan disembunyikan orang, semakin cemas kaulakukan penyelidikan, semakin tak berani berkutik pencuri golok itu. Wah, kalau begitu, jejaknya makin susah dicari lagi.”

Pang Goan manggut-manggut, “Aku telah memikirkan juga kemungkinan ini, ditinjau menurut keadaan sekarang, rasanya golok itu memang belum meninggalkan wilayah Kwan-lok, bahkan belum meninggalkan gedung Thian-po-hu.”

“Ada seorang yang paling cepat memperoleh berita tentang kejadian di sekitar Kwan- lok, kenapa Toako tidak mencarinya?”

“Siapa?”

“Thian Pek-tat! Dia adalah kawan Jit-long yang bergelar Tiang-ni-siau-thian (Thian kecil si telinga panjang).”

“O, dia kiranya!”

“Toako jangan pandang rendah orang itu, di adalah orang yang paling luas pergaulannya di wilayah Kwan-lok, baik urusan kecil maupun urusan besar, ia selalu mengetahui dengan cepat, siapa tahu dari mulutnya Toako akan mendapat petunjuk?”

“Aku sudah ke sana, sayang ia tak ada di rumah.” “Tak ada di rumah? Ke mana ia pergi?”

“Konon sekembalinya dari sini, Thian Pek-tat telah diundang seorang temannya pergi ke Lan-hong, dan hingga kini belum pulang.”

“Oya?! Masa ada kejadian yang begitu kebetulan? Toko, jangan-jangan kau dibohongi orang!”

“Tidak mungkin, telah kuselidiki sendiri ke rumahnya, Thian Pek-tat memang tidak berada di rumah.”

“Wah, ini baru mengherankan, kenapa ia tidak pergi sejak dulu atau pergi beberapa hari lagi, tapi justru setelah Yan-ci-po-to dicuri orang baru dia pergi meninggalkan rumah”

“Wan-kun, jangan berkata demikian,” kata Leng-hong, “Siapa tahu kalau secara kebetulan dia ada urusan ”

“Ah, kau ini suka membela teman-temanmu,” omel Wan-kun.

Setelah berhenti sejenak, katanya kepada Pang Goan, “Toako, jelas kejadian ini sangat mencurigakan, siapa tahu kalau golok mestika Yan-ci-po-to sudah dibawa kabur oleh orang she Thian itu?”

Pang Goan tertegun, katanya kemudian sambil tertawa, “Hal ini tak mungkin terjadi, dengan mata kepalaku sendiri kusaksikan mereka meninggalkan Thian-po-hu, jangankan golok mestika, sebilah pisau pun ia tidak membawanya.”

“Apakah ia tak bisa menerima golok itu setelah berada di luar gedung, lalu membawanya kabur dari wilayah Kwan-lok?”

“Waktu keluar ia tidak membawa golok, orang dalam gedung juga tak ada yang keluar pintu, bagaimana caranya golok itu dioperkan kepadanya?”

“Misalnya saja malam itu ia sembunyikan golok mestika tersebut di sekitar dinding pekarangan, sedang ia sendiri tidak keluar, lalu keesokan harinya meninggalkan gedung dengan tangan hampa, setelah penjagaan agak kendor ia balik lagi untuk mengambil golok, dengan demikian siapa yang akan menduga bahwa golok itu dicuri olehnya?”

Air muka Pang Goan berubah hebat, “Ya, mungkin juga ”

“Tidak mungkin!” tukas Leng-hong mendadak.

Pang Goan berpaling dan memandangnya dengan tercengang. Sebaliknya air muka Pang Wan-kun tampak dingin, terlihat jelas betapa gemas perempuan itu.

Tapi Leng-hong pura-pura tidak melihat, pelahan katanya, “Kita jangan lupa, pembunuhan yang terjadi atas Bwe-ji dan Siau Lan serta penggalian golok mestika dalam hutan hakikatnya adalah dua orang yang berbeda, setelah kejadian itu, seorang kabur ke ruang depan sedang yang lain kabur dari taman, lagipula orang yang menggali golok dalam hutan adalah seorang berkerudung yang berperawakan tinggi besar, Thian Pek-tat tidak terhitung tinggi besar.”

Padahal jelas diketahui Ho Leng-hong bahwa pembunuh Bwe-ji dan Siau Lan serta orang yang menggali itu adalah perbuatan Pang Wan-kun seorang, kendatipun ia tidak berkesan baik terhadap Thian Pek-tat, namun entah apa sebabnya ia lebih suka membela orang itu.

Mungkin juga hal ini dikarenakan dia ingin membalas dendam kepada Pang Wan- kun!

Tiba-tiba saja ia merasa muak dan sebal terhadap perempuan yang pernah mempunyai hubungan mesra dengannya itu, betapa gembiranya apabila dia dapat memancing kegusaran dan kebencian perempuan itu.

Pang Wan-kun benar-benar telah dibikin gusar oleh perkataan itu, tapi ia masih berusaha untuk menekan hawa amarahnya agar jangan meledak, ia tertawa, katanya kemudian, “Sebagai kawan sekomplot, masa tak mungkin yang satu menyembunyikan golok, sedang yang lain membawa pergi?”

“Kalau demikian, itu berarti manusia berkerudung yang menyembunyikan golok itu masih ada dalam Thian-po-hu, kita harus mengadakan pemeriksaan terhadapnya,” kata Leng-hong.

Dengan gemas Pang Wan-kun mendengus, “Hm, kaukira Thian-po-hu adalah benteng yang dilapisi dinding baja yang kuat, kauanggap keterangan para Busu itu bisa dipercaya? Masa tidak mungkin mereka sengaja berkata begitu untuk mengelak tanggung jawab?”

“Andaikata manusia berkerudung itu mampu masuk keluar gedung Thian-po-hu dengan sekehendak hatinya, buat apa ia sembunyikan golok itu lebih dulu dan kemudian baru mengoperkannya kepada Thian Pek-tat? Bukankah tindakannya ini sama sekali tak ada gunanya?”

“Aku tidak mengatakan Thian Pek-tat telah berhasil membawa lari golok mestika itu, aku hanya mengemukakan kemungkinan yang bisa terjadi?”

“Akupun hanya berbicara menurut apa yang terjadi, kurasakan hal ini tidak mungkin

. . . .”

“Cukup, cukup!” seru Pang Goan sambil mengulapkan tangan, “kita lagi merundingkan masalah penting, tidak perlu saling ngotot. Bagaimanapun hilangnya Thian Pek-tat cukup mencurigakan dan perlu diselidiki, aku dapat membereskan hal ini.”

“Kalau ingin bekerja harus dilaksanakan secepatnya, sebab kalau semakin berlarut dan lukanya telah sembuh, sulitlah untuk mencari buktinya.”

“Aku tahu, tapi kaisar tak akan mengirim tentara yang kelaparan, Siaumoay, tolong sediakan sayur dan arak untuk Toako, setelah kenyang baru Toako bisa bekerja dengan baik.”

“Baik, akan kusuruh Peng-ji menyiapkan hidangan ”

“Siaumoay,” kembali Pang Goan tertawa, “tolong siapkan sendiri bagiku, sudah lama aku tidak merasakan kuah lobakmu, mau bukan bikinkan buat Toako?”

Pang Wan-kun agak ragu, tapi Leng-hong segera menyela, “Betul, kuah lobak Wan- kun memang sangat nikmat, tak mungkin koki bisa menyiapkan hidangan selezat itu.”

Rupanya pemuda itu sengaja membonceng, dengan berkata demikian maka Wan-kun tak bisa menolak lagi, bila hidangnya nanti kurang enak hal ini sama membongkar rahasia sendiri.

Tentu saja, yang lebih penting adalah menyingkirkan perempuan itu dari hadapannya agar ia bisa berbicara empat mata dengan Pang Goan.

Wan-kun bukan orang bodoh, tentu saja ia dapat menduga tujuannya, tapi ia tidak menolak sambil tertawa iapun beranjak.

“Sudah lama aku tak pernah turun ke dapur, biarlah kucoba, bila masakanku nanti kurang sedap harap jangan ditertawakan.”

Lalu sambil melirik sekejap ke arah Ho Leng-hong, katanya lagi, “Jit-long, terlalu banyak bicara bisa mengganggu kesehatan, bila ingin cepat sembuh lebih baik beristirahatlah dengan tenang dan jangan banyak bicara.”

“Jangan kuatir, aku bisa menjaga diriku sendiri,” kata Leng-hong sambil tertawa.

Pang Goan tidak buka suara, diawasinya Wan-kun sampai keluar villa, tiba-tiba keningnya berkerut dan mukanya menunjukkan suatu perubahan yang sangat aneh.

Leng-hong menarik pula senyumnya, lalu tanyanya lirih, “Lotoako, ada sesuatu yang tak beres?”

“O, tidak apa-apa,” sahut Pang Goan sambil menggeleng, “aku hanya heran, berapa tahun tidak berjumpa ternyata kalian telah berubah semua.”

Terkesiap hati Leng-hong, “Kami? Maksud Lotoako aku ataukah Wan-kun?”

“Keduanya!” sahut Pang Goan, ditatapnya wajah Leng-hong lekat-lekat, lalu terusnya, “kau berubah menjadi gesit, lebih cerdik, dan lebih jantan daripada dulu, sekarang kau lebih mirip sebagai seorang laki-laki, sedang Siaumoay juga berubah menjadi lebih cekatan.”

“Maksud Lotoako. ”

“Dulu ia tak pernah turun ke dapur, iapun tidak pernah membuat kuak lobak atau hidangan lain.”

Ho Leng-hong menarik napas, dan mulut melongo.

Sedetik itu tak dapat diketahui bagaimanakah perasaannya, entah kaget atau girang? Harus mengaku ataukah harus menyangkal?

Si monyet Pang memang cerdik, jelas ia sudah menemukan titik kelemahan perempuan yang menyaru sebagai Pang Wan-kun itu, maka sengaja dipakainya “kuah lobak” sebagai pancingan.

Tapi, apakah iapun sudah tahu Nyo Cu-wi juga seorang gadungan pula? Kalau sudah tahu, kenapa belum juga turun tangan? Kenapa nada ucapannya masih tetap tenang?

Seandainya dirinya bongkar semua ini, dapatkah orang mempercayainya? Apakah orang takkan mencurigai dirinya sebagai komplotan perempuan yang menyaru sebagai Pang Wan-kun ?

Perasaan Leng-hong waktu itu bagaikan benang kusut, kalut sekali pikirannya, dia Cuma bisa mengawasi Pang Goan dengan termangu. Untuk sesaat ia tidak tahu apa yang mesti dilakukannya.

Waktu itu, dengan sinar mata yang tajam Pang Goan sedang mengawasinya tanpa berkedip, seakan-akan hendak menembus lubuk hatinya.

Lama dan lama sekali Pang Goan baru menghela napas panjang, bisiknya, “Jit-long, kau adalah suaminya, masa sedikitpun tidak kaurasakan sesuatu yang mencurigakan?” “Merasakan apa?”

“Dia adalah Wan-kun gadungan!” jawab Pang Goan sekata demi sekata. “Oo?!” Leng-hong bersuara singkat.

“Sejak hari pertama kudatang kemari sudah kurasakan suaranya agak kurang beres,” Pang Goan menerangkan, cuma waktu itu tidak terlampau kupikirkan, tapi selama beberapa hari ini, makin kulihat tingkah laku dan cara bicaranya, aku semakin curiga, barusan . . . . .