Golok Yanci Pedang Pelangi Jilid 02

Jilid 02

“Aku . . . aku “ Leng-hong gelagapan.

“Pokoknya aku tak mau tahu, aku tetap akan merabanya.”

Apa yang diucapkan segera dilaksanakan, ia merangkul leher Ho Leng-hong dengan tangan kiri, sedang tangan kanan dengan cepat merogoh ke balik bajunya, lewat di bawah ketiak dan meraba punggungnya . . . .

Ho Leng-hong tak bisa menghindar lagi, peluh dingin sampai membasahi dahinya, dalam hati ia mengeluh, “Habis, tamatlah lelakonku kini, semua rahasiaku bakal terbongkar ” Tapi apa yang terjadi? Ketika tangan Pang Wan-kun berhenti di punggungnya, ia tidak menunjukkan sesuatu reaksi yang “di luar dugaan”, malah dia merabanya dengan penuh kasih sayang.

“O, codet yang menawan hati,” gumamnya dengan rasa puas, “Inilah kenangan yang kauberikan kepadaku akibat ingin mengambil rembulan di kolam, sepanjang hidup akan kubelai terus dengan kasih sayang, tak akan kubiarkan kenangan itu meninggalkan jari-jari tanganku untuk selamanya. ”

Ho Leng-hong menjadi kaget tercampur bingung, seketika ia terkesima.

Mimpipun ia tak menyangka di punggungnya terdapat codet, sebuah codet yang persis seperti codet yang dimiliki Nyo Cu-wi.

Ia tak pernah menggaet rembulan di telaga Siau-thian-ti di Lu-san, iapun tak pernah disengat ulat beracun, tapi darimana datangnya codet? Apakah dirinya memang Nyo Cu-wi yang sesungguhnya?

Jangan-jangan Ho Leng-hong benar-benar sudah mati? Atau mungkin . . . . . .

Tidak! Tak mungkin, untuk membuktikan kejadian yang sesungguhnya, ia harus mencari Siau Cui?

Siau Cui adalah pelacur yang terdaftar di rumah pelacuran Hong-hong-wan, pelacur resmi, siapapun boleh mencarinya.

Tapi tidak berlaku bagi Ho Leng-hong.

Sebab statusnya kini adalah pemilik Thian-po-hu yang tersohor dan terhormat di Kiu- ci-shia, tentu saja ia tak dapat sembarangan mengunjungi rumah pelacuran dan menemui seorang pelacur.

Untuk menyembunyikan identitasnya, sengaja Ho Leng-hong mengenakan sebuah mantel hitam serta sebuah topi lebar, sebagian besar wajahnya hampir tertutup oleh tepian topi yang lebar itu.

Ketika kentungan pertama baru lewat, dengan kepala tertunduk ia melangkah masuk ke dalam Hong-hong-wan.

Melihat ada tamu datang, pesuruh rumah pelacuran segera berteriak lantang, “Ada tamu!”

Baru sepatah kata meluncur keluar, tiba-tiba mulutnya tersumbat oleh sepotong benda keras. Sekeping uang perak yang berkilauan. “Jangan berteriak, jangan berisik,” desis Ho Leng-hong sambil merangkul leher pesuruh itu. “Beritahu kepadaku, Siau Cui ada atau tidak?”

Mula-mula pegawai itu kaget, tapi setelah memuntahkan benda itu dari mulutnya dan mengetahui benda apakah itu, dengan kejut bercampur girang sahutnya cepat, “Ada! Ada! Ada!”

“Dalam kamarnya ada tamu?”

“Ada! Ada! Ada ” mendadak ia merasakan perkataannya tidak tepat, cepat

sambungnya lagi “Tuan, yang kautanyakan adalah ”

“Nona Siau Cui yang tinggal di kamar serambi barat.”

“O, rupanya engkau menanyakan Siau Cui?” pesuruh itu menyengir, “tidak ada, tidak ada tamu, nona Siau Cui sudah tidak menerima tamu lagi, sekarang iapun tidak tinggal di kamar sebelah barat.”

“Oya? Kenapa?”

“Tuan, besar kemungkinan engkau datang dari luar daerah, bukan? Masa engkau tidak tahu Siau Cui tertimpa musibah?”

“Musibah apa?”

“Sebenarnya urusan semacam ini tidak pantas kukatakan kepada Tuan,” ujar pelayan itu berlagak rahasia, “cuma lantaran hamba lihat Tuan adalah orang baik, hamba tidak tega untuk mengelabuimu. Tuan, menurut pendapat hamba, Hong-hong-wan kami masih banyak nona cantik yang lain, mau pilih yang macam apapun ada, yang lebih hebat dari Siau Cui pun ada, tapi jangan sekali-kali kau mencarinya lagi.”

“Kalau mencarinya kenapa?”

“Terus terang kuberitahu kepadamu, Tuan, belakangan ini Siau Cui lagi sial, seorang buaya she Ho yang mabuk kedapatan mati dalam kamar Siau Cui, sejak itulah siapapun tak berani masuk ke kamarnya, sebab itulah Mama menyuruh dia berhenti bekerja untuk sementara waktu, sekarang ia sudah pindah ke kamar bagian belakang .

. . .”

“Kenapa secara tiba-tiba orang she Ho itu mati?”

“Siapa yang tahu? Pokoknya setiap hari bocah itu kerjanya Cuma keluyuran, ya minum arak, ya berjudi, jelas bukan manusia baik-baik. Menurut pendapatku, kalau bukan mampus karena luka akibat berkelahi, tentu mampus keracunan arak lantaran terlalu banyak minum, orang luar sih tidak peduli, mereka hanya tahu dia mampus di sini, yang celaka adalah Siau Cui, gara-gara kejadian ini ia nyaris diseret ke pengadilan.”

“Ah, orang yang mengatakan begitu sungguh keterlaluan, sekalipun dia mati secara mendadak, itu kan bukan salah Siau Cui?” “Betul juga perkataanmu, tapi dia kan seorang nona penghibur, kalau sampai mengalami kejadian sial semacam ini, siapa lagi yang berani masuk ke kamarnya?”

“Kalau begitu, jadi gara-gara orang she Ho itulah Siau Cui ikut tertimpa sial?” jengek Leng-hong.

“Bukan Siau Cui saja yang tertimpa malang, usaha kampiun ikut terpengaruh.Ai, bocah she Ho itu sungguh bikin celaka orang saja.”

Kalau bisa Leng-hong ingin memberi beberapa kali tempelengan pada pesuruh yang lancang mulut ini, tapi sedapatnya ia tahan perasaannya.

“Siau Cui tinggal di halaman belakang sebelah mana?” tanyanya kemudian, “jangan kuatir, bawa saja diriku ke sana, dan uang perak itu untuk minum arak bagiku.”

“Tuan, kau tidak takut?” tanya orang itu dengan suara parau.

Ho Leng-hong menggeleng kepala sambil tertawa, “Jangan kuatir, jika akupun ikut mampus di halaman belakang, anggap saja aku yang mencari kematian sendiri, tak nanti kubikin susah kepadamu.”

Pesuruh tersebut ingin mendapatkan hadiah, cepat dia celingukan ke sekeliling tempat itu, lalu bisiknya sambil memberi tanda, “Baik, ikutlah padaku.”

Mereka berdua masuk lewat pintu samping lalu mengitari ruang dan halaman tengah terus masuk ke halaman belakang.

Sambil menuding sebuah rumah papan di sudut pekarangan sana, bisik pesuruh itu, “Di sanalah nona Siau Cui berdiam, Tuan jangan berdiam terlalu lama di situ, kalau ketahuan Mama, hamba bisa celaka.”

Ho Leng-hong menyuruh pergi orang itu, kemudian mengawasi rumah kayu itu dengan saksama.

Rumah kayu itu jelek, sudah tua dan dekat dinding pekarangan, bagian sampingnya adalah tempat menyimpan barang-barang tak terpakai, tentu saja bedanya bagaikan langit dan bumi bila dibandingkan kamar Siau Cui di serambi barat sana.

Meskipun Siau Cui hanya seorang pelacur yang hina dina, tapi terhadap Leng-hong dia memang jatuh cinta dengan tulus dan murni, Leng-hong menyesal karena tak dapat memenuhi harapan kekasihnya, apalagi setelah menyaksikan penderitaan yang dialaminya sekarang, ia menjadi malu hati.

Tapi, sesungguhnya salah siapakah itu?

Siapa yang telah “mencelakai” Ho Leng-hong?

Siapa yang membuat Ho Leng-hong “berubah” menjadi Nyo Cu-wi? Apakah kejadian inilah yang disebut “roh masuk pada raga orang lain”?

Ho Leng-hong jelas tidak mengakui dirinya telah “mati”, iapun tidak percaya setan iblis segala, apalagi tentang roh masuk ke tubuh orang lain.

Oleh sebab itu ia harus tanya langsung persoalan ini kepada Siau Cui.

Cahaya redup tampak bersinar di balik jendela rumah kayu itu, di dalam terdengar suara batuk seorang yang berat.

Itulah suara batuk Siau Cui, paru-parunya memang lemah, sering kali dia terbatuk- batuk sebelum tidur, terutama bila ada persoalan yang mengganjal dalam hatinya, ia akan mengalami kesulitan untuk tidur.

Tiba-tiba Ho Leng-hong merasa terharu, ia menghela napas perlahan lalu mengetuk pintu.

“Siapa?” suara Siau Cui berkumandang dari dalam. “Aku! Buka pintu, Siau Cui!”

“Siapa kau?”

“Ho Leng-hong. ”

Celaka! Ketika nama itu disebutkan, Ho Leng-hong segera tahu urusan bakal runyam, tapi mau ditarik kembali sudah tak keburu lagi.

Benarlah, dari balik ruangan berkumandang jeritan kaget, disusul suara pembaringan kayu yang bergetar keras....

Mungkin Siau Cui sedang berbaring ketika mendengar jawabannya, sebab itu saking kagetnya, ia melompat turun dari pembaringan.

“Aku datang untuk persoalan yang menyangkut Ho Leng-hong,” cepat Leng-hong memberi penjelasan, “Bukalah pintu, Siau Cui, mau bukan?”

“Krek!” pintu terbuka sedikit.

Dengan suatu gerakan cepat Ho Leng-hong menyelinap masuk ke dalam, lalu menutup kembali pintu kamar.

Suasana dalam rumah remang-remang, hanya sebuah lentera menerangi tempat itu, keadaannya sangat sederhana, hanya terdapat sebuah pembaringan dan sebuah meja kecil.

Siau Cui meringkuk di pojok ruangan dengan muka pucat dan badan gemetar, wajahnya memancarkan perasaan takut. “Siapa. siapa kau?” tegurnya dengan tergagap.

Perlahan Ho Leng-hong menanggalkan topi lebarnya, lalu berkata, “Siau Cui, aku adalah Leng-hong, Sungguh! Meskipun mukaku telah berubah, tapi aku betul-betul adalah Ho Leng-hong, kau harus percaya kepadaku. ”

Mata Siau-Cui terbelalak, lalu menggeleng berulang, “Tidak! Tidak! Kumohon kepadamu, jangan menakuti diriku! Ho Leng-hong telah mati, siapa kau sebenarnya?”

“Siau-Cui, tak perlu omong kosong, kau tahu jelas bahwa aku tidak mati.”

Tidak, Ho Leng-hong benar-benar sudah mati, ia mati di kamar sebelah barat sana, dengan mata kepalaku sendiri kusaksikan ia digotong keluar ”

“Aku tak peduli, siapa yang mereka gotong keluar, pokoknya aku benar-benar adalah Ho Leng-hong, sekarang aku masih hidup segar-bugar, Siau Cui, kau harus percaya kepadaku.”

“Tidak, akut tidak percaya! Aku tidak percaya!” Siau Cui menggeleng kepala, “aku tidak kenal dirimu, aku hanya tahu Ho Leng-hong sudah mati.”

Leng-hong sadar bila keadaan begini berlangsung terus, persoalan akan sukar selesai, maka ia berubah taktik, katanya, “Baiklah, kalau kau berkeras tak mau percaya kepadaku, akupun tak akan memaksa. Sekarang perhatikan diriku baik-baik, pernahkah kau melihat diriku sebelum ini?”

Dengan seksama Siau Cui mengamati wajahnya, lalu menggeleng, “Belum pernah!” “Coba pikir lagi, pernahkah kenal denganku di suatu tempat?” desak Leng-hong pula. “Tidak pernah!”

“Jadi kita baru pertama kali bertemu sekarang?” “Benar!”

“Tapi aku tahu di sebelah kiri perutmu, di bawah pusar, terdapat setitik tahi lalat, di sebelah kanan belakang pinggangmu juga terdapat sebuah toh hitam, benar tidak?” kata Leng-hong sambil tertawa.

Siau Cui melengak, sampai sekian lama ia melongo, lama sekali baru bertanya dengan tergegap, “Kau dengar dari siapa?”

“Kulihat dengan mata kepalaku sendiri,” Leng-hong tertawa, “Seandainya kita tak pernah kenal sebelum ini dan baru bertemu untuk pertama kalinya, darimana kutahu akan tanda rahasia di atas tubuhmu?”

Perlahan Siau Cui menghela napas panjang, “Kenapa heran? Kami orang-orang yang melakukan pekerjaan semacam ini sudah biasa buka pakaian di depan setiap pria yang berkunjung kemari, soal itu sudah bukan rahasia lagi.”

“Baiklah, bila kau anggap tanda rahasia di tubuhmu sudah bukan rahasia lagi, kata- kata pribadimu dengan Ho Leng-hong tentu tak diketahui orang lain bukan? Sebagai contoh kata-kata yang kau bicarakan malam menjelang kejadian itu, bukankah kau minta kepada Ho Leng-hong untuk membawamu kabur sejauh-jauhnya dari sini . . . .


Belum habis perkataan itu, air muka Siau Cui sudah berubah hebat, tukasnya, “Apa yang kau katakan? Sungguh aku tidak paham, aku tak pernah kenal padamu, akupun tak ada waktu untuk mengobrol denganmu, kuminta sekarang juga kau keluar dari sini, keluar! ”

Dengan tajam Ho Leng-hong mengawasinya tanpa berkedip, katanya perlahan, “Siau Cui, kau takut bukan? Waktu itu kau sudah tahu bakar terjadi sesuatu maka kau mohon kepadaku untuk membawamu pergi, kaupun tahu dalam kuah penyadar mabuk itu ”

Air muka Siau Cui semakin pucat, sebelum pemuda itu menyelesaikan kata-katanya ia sudah membentak, “Aku tidak mengerti akan perkataanmu, kuminta segera kau tinggalkan tempat ini, kalau tidak, segera aku akan memanggil orang.”

“Kau tidak akan memanggil orang, Siau Cui, kutahu kau tak akan berbuat demikian karena kau tahu siapa diriku, kaupun tahu apa yang telah terjadi, hanya kau tak berani mengatakannya.”

“Tidak tahu, aku tidak tahu apapun aku tidak tahu, sungguh aku tidak tahu apa-

apa,” Seru Siau Cui sambil menggeleng kepala berulang kali dan menutup telinganya dengan tangan.

“Siau Cui, apa yang kau takuti? Kau diancam siapa? Kenapa tidak berani bercerita?”

Dengan suara yang hampir menangis Siau Cui berkata, “Kumohon padamu, janganlah mendesakku terus menerus, sungguh aku tidak tahu, kalian telah mencelakaiku hingga seperti ini, apakah masih belum cukup?”

“Siapa yang mencelakaimu?” seru Leng-hong sambil menarik lengannya, “Siau Cui, beri tahukan padaku, siapa yang mencelakai “

Siau Cui tak bisa menjawab, dia hanya menangis tersedu-sedu.

“Bicaralah Siau Cui, cepat katakan kepadaku,” pinta Leng-hong sambil mengguncang-guncangkan tubuh si nona, “aku adalah Leng-hong ”

“Blang!” tiba-tiba pintu kamar didobrak orang secara paksa.

Dua sosok bayangan tubuh yang tinggi besar berdiri tegak di depan pintu, seorang pria berbaju serba hitam, bertubuh kekar dan berdandang sebagai tukang pukul, sedang yang lain adalah perempuan, dia lebih tegap daripada pria tersebut, ia bukan lain adalah Go So. Entah sejak kapan kedua orang itu tiba di luar kamar, ternyata Ho Leng-hong tidak mengetahui kehadiran mereka.

Agaknya Go So tidak kenal lagi pada Ho Leng-hong, sambil menuding pemuda itu, bentaknya, “Keparat, apa yang kau lakukan? Berani betul menerbitkan keonaran dalam Hong-hong-wan? Hm. Tampaknya tulang-tulang badanmu sudah gatal dan minta digebuk!”

“Hm, kalian membuka rumah pelacuran ini untuk mencari uang, asal Toaya punya uang, siapa yang berani melarang kedatanganku?”

“Kalau bermain perempuan sepantasnya di ruang depan, apa maksudmu tarik menarik dengan nona yang beristirahat di ruang belakang? Mengapa kau datang kemari secara diam-diam? Keparat, tidak lekas lepas tangan, memangnya kau ingin digebuk?”

Sambil berkata ia menggulung lengan bajunya dan siap berkelahi.

“Tunggu sebentar!” tiba-tiba si baju hitam di sampingnya mencegah, “rasanya kukenal wajah tamu kita ini, seperti pernah bertemu di suatu tempat?”

“Hm, kau kenal aku?” jengek Ho Leng-hong ketus.

Laki-laki berbaju hitam itu tidak menjawab, ia mengamati lawannya dengan cermat, mendadak ia memberi hormat, “Ah, kukira siapa, rupanya Nyo-tayhiap dari Thian-po- hu yang berkunjung kemari. Maaf! Maaf!”

“Kau ini ” melengak juga Leng-hong.

“Hamba she Tan, anak buah Thian-toaya, orang menjuluki diriku sebagai Thi-tau- siau Tan (Tan kecil kepala baja).”

“O, jadi Hong-hong-wan ini termasuk wilayah kekuasaan?”

“Ah, tidak berani, tidak berani,” Thi-tau Tan menyengir, “hamba hanya menjalankan perintah Thian-ya, lantaran Ho Leng-hong kedapatan mati di sini, maka aku diperbantukan selama beberapa hari di sini, sungguh tak nyana Nyo-tayhiap bisa berkunjung kemari.Bila kami berbuat kesalahan karena tidak mengenal Nyo-tayhiap, harap suka dimaafkan ”

Kepada Go So segera ia membentak, “Kenapa tidak cepat-cepat berlutut dan minta ampun! Beliau inilah Nyo-tayhiap, pemilik Thian-po-hu yang tersohor, biar sengaja diundang juga belum tentu tamu agung kita ini mau datang kemari, kau si goblok ini benar-benar anjing betina yang buta . . . . .

Dengan cepat Go So berubah sikap, dengan lemas ia bertekuk lutut.

“Nyo-tayhiap,” demikian ujarnya, “maafkanlah aku si tua bangka yang punya mata tapi buta, engkau adalah orang besar, tentu tak akan ingat kesalahan orang kecil, anggap saja mulutku si tua bangka tadi hanya kentut busuk dan janganlah marah kepadaku”

Tiba-tiba Ho Leng-hong teringat kembali pada kuah penyadar mabuk malam itu. Go So inilah yang mengatar kuah itu baginya, seandainya dalam kuah terdapat sesuatu yang mencurigakan berarti Go So juga mengetahui persoalan ini sebelumnya . . . . . .

Sementara ia masih melamun, Go So merangkak bangun sambil berkata, “Tidak sepantasnya menyambut kedatangan tamu agung di tempat sejelek ini, nona Siau Cui, baik-baiklah melayani Nyo-tayhiap, segera akan kuberi tahukan hal ini kepada Mama

. . . .”

“Tidak usah,” seru Leng-hong, “sebentar saja aku akan pergi.”

“Mana boleh jadi?” kata Go So, “Nyo-tayhiap tertarik oleh Siau Cui kami, hal ini merupakan rejeki besar baginya, sekalipun tidak menginap, paling sedikit harus minum arak lebih dulu agar ia menemani Nyo-tayhiap bercakap-cakap.”

“Betul, biar hamba undang juga Thian-ya,” sambung Thi-tau Tan, “Lo-ya sekalian juga akan kuundang kemari, Wah suasana nanti pasti akan bertambah meriah ”

Ho Leng-hong melirik Siau Cui sekejap, ia tahu tiada harapan baginya untuk mencari keterangan pada malam ini, ia menghela napas dan melepaskan tangannya.

Diambilnya sekeping uang perak dan diserahkan kepada Thi-tau Tan, lalu pesannya, “Aku masih ada urusan dan harus segera berangkat. Nih, terimalah sebagai ongkos minum arak, tapi jangan sekali-kali kausiarkan kedatanganku ini di luaran, mengerti?”

“Apakah terhadap Thian-ya sekalian juga “

“Ya, terhadap mereka juga harus dirahasiakan, sebab aku tak ingin seorang pun mengetahui kejadian malam ini.”

Berputar biji mata Thi-tau Tan, katanya dengan tertawa, “Ah, pahamlah hamba sekarang. Padahal Nyo-tayhiap tak usah kuatir, Thian-ya kan sahabat karib Nyo- tayhiap, tentang soal ini tak mungkin mereka akan ”

Ho Leng-hong tidak banyak bicara lagi, sambil mengulap tangan ia meninggalkan rumah kayu itu.

Siau Cui hanya menunduk sambil menangis, ia membungkam seribu bahasa, tidak mendongak juga tidak mengantar.

Tapi Go So mengantar sampai di luar pintu, katanya dengan nada minta maaf, “Nyo- tayhiap, tentunya kau tidak marah padaku bukan? Kalau malam ini tak ada waktu, kapan-kapan silakan datang lagi? Nyo-tayhiap ”

Ho Leng-hong berlalu dengan langkah lebar hakikatnya seperti orang lari, dia mengambil langkah seribu meninggalkan rumah hiburan itu . . . . Kejadian baik tak nanti keluar pintu, kejadian “busuk” justru tersiar sampai ke mana- mana, pepatah ini memang terbukti.

Sekeping uang perak yang dikorbankan Ho Leng-hong semalam tidak berhasil menutup mulut Thi-tau Tan, sebab keesokan harinya, pagi-pagi sekali, si telinga panjang Siau Thian sudah mendapat kabar dan muncul di Thian-po-hu.

Bagaimanapun Thian Pek-tat bersumpah bahwa ia tidak akan membocorkan rahasia itu kepada orang lain, akhirnya toh peristiwa ini diketahui juga oleh Pang Wan-kun.

Kalau menuruti adat Ho Leng-hong, bila ketahuan ya sudahlah, mau apa lagi. Yang sulit justru pada saat ini ia berstatus sebagai Nyo Cu-wi.

Dan justru pula Nyo Cu-wi terkenal sebagai laki-laki takut bini.

Jika Ho Leng-hong sudah mengakui dirinya ialah Nyo Cu-wi, mau-tak-mau dia harus mewarisi tabiat Nyo Cu-wi itu. Apa boleh buat, terpaksa ia harus tabahkan hati untuk menerima dampratan .......

Air muka Pang Wan-kun tampak sedingin es, Cuma bagaimanapun juga dia adalah wanita yang berasal dari keluarga terhormat, jadi tak sampai terjadi pertengkaran sengit yang mengakibatkan piring terbang dan bakiak naik kepala.

Ia hanya bertanya dengan suara dingin, “Kudengar semalam kau mencari kesenangan di luar hem, mau jadi pemuda romantis lagi?”

Ho Leng-hong tak dapat mengatakan apa-apa ia hanya menyengir saja.

Kembali Wan-kun berkata, “Kukira nona-nona di sana pasti pandai, menyenangkan hati kaum pria, kenapa tidak sekalian menginap saja? Nikmatilah surga dunia sepuasnya, buat apa pulang ke rumah?”

“Wan-kun, dengarkan dulu penjelasanku ” pinta Hong Leng-hong sambil

tertawa getir.

“Apa lagi yang hendak kau jelaskan?” suara Pang Wan-kun lebih dingin daripada air mukanya, tapi nada bicaranya penuh rasa sedih seperti minta dikasihani.

Ia berkata lagi, “Jangan kau artikan aku cemburu, kutahu setiap lelaki sekali tempo suka iseng, kejadian semacam itu sudah lumrah, tapi tidak sepantasnya kau pergi seorang diri, lebih-lebih tak pantas pergi secara sembunyi-sembunyi, bukankah caramu itu justru menunjukkan kau berbuat karena mempunyai maksud tertentu? Kalau sampai tersiar di dunia persilatan, tidaklah nama baik Thian-po-hu akan tercemar?”

Leng-hong manggut-manggut, “Ya, aku tahu perkataanmu memang benar, tapi tahukah kau apa yang hendak kulakukan di sana?”

“Huh, memangnya perbuatan apa yang kau lakukan di tempat rendah dan kotor semacam itu?”

“Wan-kun, kau salah menuduhku, kudatang ke Hong-hong-wan bukan untuk mencari kepuasan, aku ke situ untuk mengenang seseorang, atau anggaplah sebagai suatu tanda simpatiku terhadap seseorang.”

“Siapa orang itu?” tanya Wan-kun dengan melengak.

“Kau masih ingat ketika sedang sakit tempo hari, bukankah aku mengaku she Ho?”

“Ya, betul, kau terus menerus mengaku dirimu bukan she Nyo, tapi she Ho . . . Ho apa begitu!...”

“Tepat sekali...Nah, kedatanganku ke Hong-hong-wan semalam justru demi orang she Ho itu.”

“Bukankah orang she Ho itu sudah mati?”

“Justru karena dia sudah mati, maka secara diam-diam aku datang ke sana untuk menyatakan belasungkawa atas kematiannya. Wan-kun, tahukah kau sewaktu aku tidak sadar tempo hari, aku telah mendapat impian yang aneh sekali ”

“Impian aneh apa?” tanya Pang Wan-kun keheranan.

“Belum pernah aku berkunjung ke tempat semacam Hong-hong-wan, tapi dalam impian tersebut seakan-akan aku telah berubah menjadi orang she Ho, bukan saja sering berkunjung ke sana, bahkan apal benar keadaan tempat itu, malah beberapa nama dari orang-orang yang ada di situ dapat kupanggil secara tepat, semua perabot, letak pintu dan sebagainya dapat kuingat semua dengan jelas. Maka setelah sadar, makin kupikir makin heran, akhirnya kuputuskan untuk secara diam-diam menyelidiki tempat itu.”

“Dan bagaimana hasilnya?”

“Setelah kusaksikan sendiri semalam, dan kubuktikan bahwa apa yang kulihat dalam impian itu persis kenyataannya, di mana ada pintu, di mana ada undak-undakan, semuanya tepat dan persis. Coba bayangkan aneh tidak?”

“Ah, masa begitu?” saking terperanjatnya mata Pang Wan-kun sampai terbelalak lebar.

“Tidak aneh kalau Cuma ingat saja pada keadaan dalam Hong-hong-wan, yang lebih mengherankan lagi adalah aku ternyata kenal semua orang di sana, aku dapat pula menyebutkan nama mereka satu persatu, Cuma tak seorang pun di antara mereka kenal pada diriku. ”

“Cukup, cukup, jangan bicara lagi, jangan bicara lagi, bikin bulu kudukku berdiri saja,” teriak Wan-kun sambil menutup telinganya.

Sesungguhnya aku Cuma ingin membuktikan impianku saja,” Leng-hong berusaha menakuti lagi, “siapa tahu setelah berada di Hong-hong-wan, mendadak kurasakan suasana yang mengerikan, seakan-akan di situ tersembunyi bahaya besar.”

“Maksudmu di sana ada setannya?”

“Bukan, kucurigai tempat itu dipakai sebagai tempat persembunyian orang-orang golongan hitam, akupun curiga mereka sedang menyusun suatu rencana jahat yang tidak menguntungkan Thian-po-hu.”

“Hei, mengapa kau mempunyai jalan pikiran seaneh ini?” seru Pang Wan-kun terkejut.

“Aku sendiri juga tak bisa mengatakan alasannya, yang pasti timbul firasat tak enak dalam hatiku, misalnya saja, dalam keadaan baik-baik kenapa aku bisa mendapat impian seaneh itu? Orang she Ho itu mati dalam keadaan tak jelas duduk persoalannya, mungkinkah lantaran dia penasaran, maka sukmanya menciptakan suatu impian kepadaku dengan maksud memberi peringatan. ”

Makin didengar Pang Wan-kun makin terperanjat, hawa amarahnya terbang entah ke mana, sebagai gantinya adalah rasa kaget dan ngeri.

“Jit-long,” dia mengeluh, “kaupun percaya sukma bisa memberi impian segala?”

“Kenapa tidak percaya? Manusia terdiri dari raga dan sukma, orang mati wajar sukmanya akan buyar mengikuti badan kasarnya yang musnah, sebaliknya bila orang mati itu penasaran, walaupun badan kasarnya membusuk, tapi sukmanya tidak akan buyar, dia akan gentayangan ke sana kemari mengikuti embusan angin, terkadang berkumpul dan membentuk menjadi roh jahat, bila penasarannya sudah hilang dan dendam terbalas, dia baru membuyar dan lenyap. ”

“Sudah, sudahlah, jangan kaulanjutkan ceritamu,” tukas Pang Wan-kun, “sekalipun roh jahat benar-benar ada, asal kita tak pernah melakukan perbuatan jahat, buat apa kita mempedulikannya?”

“Jika urusannya menyangkut diri kita, mana boleh kita berdiam diri saja?” “Apa sangkut pautnya dengan kita?”

“Sukma orang she Ho itu tidak mendatangi orang lain tapi justru memberi impian kepadaku, itu berarti urusan kemungkinan besar ada sangkut pautnya dengan kita.”

“Jit-long, maksudmu ” “Aku tetap mencurigai kematian yang menimpa orang she Ho itu, sudah pasti di dalam rumah pelacuran Hong-hong-wan tersembunyi marabahaya besar, kita tak bisa berpeluk tangan menghadapi kejadian ini, kita harus menyelidikinya hingga duduk perkaranya menjadi jelas.”

“Bukankah Thian Pek-tat sedang melakukan penyelidikan atas kematian orang she Ho itu!”

“Siau Thian secara terang-terangan menaruh orangnya di Hong-hong-wan, mana mungkin bisa menyelidiki duduk perkara yang sebenarnya? Kukira kita harus mengadakan penyelidikan secara diam-diam dengan begitu baru akan mendatangkan hasil.”

“Kalau begitu, beri tahu saja kepadanya, agar Siau Thian ganti taktik dan melakukan penyelidikan secara diam-diam.”

“Tidak, Wan-kun kita harus bekerja sendiri dan tak dapat minta bantuan orang lain, sebab kemungkinan besar persoalan ini ada pengaruhnya bagi Thian-po-hu kita.”

“Apa yang hendak kaulakukan?”

“Malam ini kita bersama-sama mengunjungi Hong-hong-wan serta melakukan penyelidikan.”

“Apa? Kausuruh aku mengunjungi tempat kotor itu?” seru Wan-kun tidak senang.

Ho Leng-hong tahu sang “istri” tak bakalan mau mengunjungi tempat semacam itu, maka ia berkata pula dengan sungguh-sungguh, “Wan-kun, kau harus pergi, bila kaukuati menjumpai sesuatu yang tak pantas, tunggu saja aku di luar, kita adalah suami-isteri yang saling mencintai, aku tak mau menimbulkan salah-pahammu terhadapku.”

Tiba-tiba Wan-kun tertawa, katanya dengan gembira, “Rupanya kau mengajak aku ke situ hanya untuk menghindari tuduhan.”

“Ya, daripada dicurigai orang kan lebih baik aku bersiap-siap lebih dulu, seperti kejadian semalam, seharusnya lebih dulu kuberitahukan rencanaku ini kepadamu, dengan demikian kan takkan terjadi kesalahpahaman seperti ini.”

Wan-kun tersenyum, “Padahal, masakah aku benar-benar berprasangka padamu? Aku hanya ingin mengetahui apakah kau jujur atau tidak kepadaku, malam ini kau boleh pergi dengan hati tenang, dengan izinku ini kau bisa bekerja lebih leluasa. ”

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya, “Tetapi, sekembalinya dari sana harus kauceritakan kejadian yang sebenarnya kepadaku, sepatah katapun tak boleh ketinggalan, kalau berani merahasiakan sebagian saja dari kisahmu, hmm, jangan salahkan aku bila kutindak menurut hukum rumah tangga.”

“Terima perintah!” sahut Ho Leng-hong sambil tertawa. “Jangan keburu senang dulu,” kata Wan-kun lagi, “bisa jadi kau di depan dan aku akan mengintil secara diam-diam dari belakang, sedikit kau menyeleweng, rasakan nanti!”

Walaupun di mulut Ho Leng-hong mengatakan “tidak berani”, tapi secara diam-diam ia sangat gembira.

Setelah mendapatkan “izin” tersebut, ia dapat mengunjungi Hong-hong-wan secara terang-terangan dan menanyai Siau Cui hingga jelas.

Cuma, ia tetap memutuskan untuk pergi ke sana secara diam-diam, sebab dari cara serta sikap Siau Cui waktu bicara, tampaknya ia mempunyai kesulitan untuk bercerita, bila ditanyai secara langsung jelas dia tak akan bicara sejujurnya.

Selain itu masih ada lagi Go So, orang itu harus dihindari, sebab gerak-geriknya sangat mencurigakan, setiap kali bila keadaan genting, ia selalu muncul secara mendadak, tampaknya ia bertugas untuk mengawasi gerak-gerik Siau Cui.

Begitulah, setelah mengambil keputusan, malam itu ia berkunjung lagi ke Hong- hong-wan....

Tampaknya peristiwa “kematian” orang she Ho dalam Hong-hong-wan tidak mempengaruhi keramaian tempat itu, suasana masih diliputi kegembiraan, irama musik, suara nyanyian dan gelak tertawa masih bergema seperti biasa.

Setelah pengalaman semalam, Ho Leng-hong tak berani masuk secara gegabah, ia minum arak lebih dulu di sebuah kedai arak dekat sarang pelacuran itu, lewat tengah malam, menurut perkiraannya tamu yang masih ada tentu sudah masuk kamar, yang tidak bermalam tentu sudah pulang, ia membayar rekening minum dan perlahan memasuki gang Waru.

Mula-mula ia mengitari dulu lorong tersebut, ketika dilihatnya pintu sudah tertutup dan lampu telah padam, barulah ia mempercepat langkahnya menuju ke dinding perkarangan sebelah belakang.

Untuk menghindari kepergok orang hingga statusnya sebagi pemilik Thian-po-hu diketahui orang, ia mengenakan sehelai kain yang menutupi sebagian besar wajahnya, kemudian tarik napas dan melompati tembok pekarangan itu.

Di mana ia melayang turun hanya beberapa tombak jauhnya dari rumah kayu tersebut.

Suasana dalam halaman itu sunyi senyap, rumah kayu itupun gelap gulita tak bercahaya, tampaknya Siau Cui sudah tidur.

Dengan langkah hati-hati Ho Leng-hong mendekati pintu, mencoba dulu pintu tersebut, ternyata baik pintu maupun daun jendela dipalang dari dalam. Perlahan ia mengetuk pintu, namun tiada jawaban yang terdengar, suasana tetap hening.

Ho Leng-hong tak mau bersuara hingga mengejutkan orang lain, ia mencari sepotong kayu tipis, lalu dimasukkan lewat celah-celah pintu dan perlahan membuka pantekan palang pintu....

“Krek” pintu terbuka....

Ho Leng-hong menyusup ke dalam kamar sambil memanggil dengan suara tertahan, “Siau Cui, Siau. ”

Tiba-tiba suaranya seperti tersumbat dalam tenggorokkan, hawa dingin ngeri membuat bulu romanya sama berdiri.

Sesosok tubuh manusia tergantung mengapung di belandar, itulah Siau Cui. Menurut perkiraan, paling sedikit ia sudah putus nyawa pada satu jam berselang.

Atau dengan perkataan lain, tatkala suasana di halaman depan sedang ramai- ramainya dikunjungi tamu, secara diam-diam Siau Cui telah menggantung diri di kamar belakang.

Mengapa ia bunuh diri? Kenapa kejadian ini tidak dilakukan dulu-dulu atau nanti, tapi justru dilakukan setelah Ho Leng-hong mengunjunginya semalam? Untuk menghindari kesulitan? Atau dibunuh untuk menghilangkan saksi hidup. ?

Saking kagetnya Ho Leng-hong sampai lupa bersedih, buru-buru ia menurunkan jenazah Siau Cui, lalu dibaringkan di atas dipan. Ia periksa dulu keadaan mayat, kemudian memeriksa pula keadaan dalam ruangan itu....

Tapi ia tidak berhasil menemukan apa-apa.

Kecuali bekas jeratan pada leher jenazah, tidak ditemukan luka lain.

Kamar itupun berada dalam keadaan teratur dan bersih, sama sekali tidak terlihat tanda-tanda kacau atau bekas pergulatan.

Tampaknya Siau Cui memang betul-betul membunuh diri, cukup tenang dan teguh tekadnya untuk bunuh diri, sebab itulah sepatah kata pesanpun tidak ditinggalkannya.

Tapi, mengapa dia harus bunuh diri?

Hanya disebabkan seorang “Ho Leng-hong” yang lain kedapatan mati di atas pembaringannya?

Atau karena isi hatinya di yang penuh rahasia tak dapat dilampiaskan keluar itu? Baik kematian lantaran yang pertama maupun yang kedua, jelas ia mati karena Ho Leng-hong, sayang cinta kasihnya ini hanya meninggalkan kebingungan, kecurigaan serta kecemasan bagi Ho Leng-hong.

Bila ia mempunyai keberanian untuk mati, mengapa tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan rahasia dalam hatinya . . . . . .

Kegelapan mencekam keadaan rumah kayu itu, tak ada lampu, tak ada suara, suasana seram, sepi!

Ho Leng-hong berdiri kaku di depan pembaringan, dia mengawasi mayat yang membujur di pembaringan itu dengan termangu, tidak bergerak dan tidak bicara, seperti patung.

Yang terlihat olehnya seolah-olah bukan sesosok mayat yang dingin dan kaku, melainkan kekasih yang mencintainya dan menyayanginya yang berada dalam pelukannya.

Kenangan lama seperti terbayang kembali di depan mata. Tak mungkin lagi ia merasakan kehangatan dan kemesraan seperti dulu.

Tiba-tiba pandangan Ho Leng-hong terasa kabur, pipi terasa gatal dan cairan hangat perlahan meleleh masuk ke ujung mulutnya.

Selama ini belum pernah ia kenal kesedihan atau kemurungan, ia selalu hidup bebas tak terbelenggu, tapi sekarang, untuk pertama kalinya ia merasakan getirnya kehidupan . . . .

“Tok! Tok! Tok!”

Tiba-tiba berkumandang suara ketukan pintu.

Dengan terkejut Ho Leng-hong memutar badannya dan membentak dengan suara tertahan, “Siapa?”

“Aku!” dengus seorang perempuan, “Apa belum cukup masuk? Hayo pulang!”

Ho Leng-hong kenal suara Pang Wan-kun, cepat ia membuka pintu seraya berkata, “Wan-kun, kebetulan sekali kedatanganmu, lekas masuk kemari. ”

Pang Wan-kun mengenakan baju ringkas warna hitam, dua pedang tersandang di punggungnya, ia tampak gagah dan menawan, jauh berbeda dengan dandanannya selama berada di Thian-po-hu.

Cuma air mukanya sekarang kurang sedap dipandang, mukanya cemberut dan alis matanya berkernyit, dengan suara dingin ia berkata, “Leluasakah bagiku untuk masuk ke situ?”

“Wan-kun, jangan salah paham di sini telah terjadi sesuatu.” “Ah? Terjadi apa?” “Masuk dulu kemari, kalau berdiri di depan pintu niscaya jejak kita akan ketahuan orang.”

Baru sebelah kaki Wan-kun melangkah masuk ke dalam kamar, tiba-tiba ia ragu- ragu, cepat ia menarik kembali kakinya.

“Pasang lampu dulu, aku tak suka masuk ke tempat gelap dan kotor begini ”

Tapi sebelum selesai ucapannya, Ho Leng-hong telah menariknya masuk secara paksa dan cepat-cepat menutup pintu.

“Nyonya besar,” demikian bisiknya, “turunkan sedikit gengsimu, dalam kamar ada mayat, mana boleh memasang lampu?”

“Mayat? Siapa yang mati?” tanya Wan-kun terkesiap.

“Nona Siau Cui, Hong Leng-hong yang memberi impian kepadaku itu mati di kamarnya.”

“Kenapa dia mati? Jangan-jangan seperti juga orang she Ho itu, barusan kalian ”

“Jangan sembarangan menduga, mayat itu berada di pembaringan, periksalah sendiri.”

Wan-kun mengawasi pembaringan tersebut, lalu dengan terkejut katanya, “He, gejalanya seperti mati tercekik. Jit-long, kau yang melakukan perbuatan keji ini?”

Leng-hong tertawa getir, “Kenapa kau selalu menduga yang bukan-bukan, ia mati menggantung diri, sewaktu aku tiba di sini ia sudah lama putus nyawa.”

“Kalau begitu, kita harus cepat-cepat tinggalkan tempat ini daripada nanti dicurigai orang sebagai pembunuh, mau apa lagi kau bersembunyi di sini?”

“Hendak kuperiksa sebab-sebab kematiannya.”

“Apa lagi yang perlu diperiksa? Seorang nona rumah pelacuran bunuh diri kan bukan suatu peristiwa besar, bila pemilik Thian-po-hu yang tersohor kedapatan berada di kamar pelacur yang bunuh diri, inilah yang menggemparkan orang.”

“Tapi kurasakan kematiannya sangat mencurigakan, siapa tahu kalau di balik peristiwa ini tersembunyi suatu rencana jahat yang berbahaya. ”

“Itu kan urusannya, apa sangkut-pautnya dengan kita?”

“Sebetulnya memang tiada sangkut-pautnya dengan kita, tapi berhubung orang she Ho itu sudah memberi mimpi kepadaku, dan lagi secara kebetulan kita telah melihat peristiwa ini, urusan yang menyangkut jiwa dua orang, apakah kita bisa berpeluk tangan belaka?” “Aduh Tuanku, kenapa kau sebodoh itu?” kata Wan-kun sambil menggentakkan kaki ke atas tanah, “sekalipun persoalan ini hendak kita selidiki, paling tidak tempat yang tidak menguntungkan kita ini harus ditinggalkan lebih dulu, besok kita bisa suruh Thian-ya sekalian melakukan penyelidikan secara terbuka. Bayangkan saja, bila jejak kita ketahuan orang sekarang, kalau mereka bertanya untuk apa di tengah malam buta kau menyusup ke sarang pelacuran? Nah, coba, cara bagaimana akan kaujawab?”

“Soal ini. ”

“Jangan lupa, meski kau tidak takut ditertawakan orang, aku masih membutuhkan muka untuk bertemu dengan sanak keluargaku. Hayo cepat pulang!”

Ho Leng-hong segera ditariknya keluar dari situ secara paksa.

Sebenarnya Ho Leng-hong enggan meninggalkan tempat itu, tapi sukar melawan Pang Wan-kun, demi menjaga kebiasaan “takut bini”, terpaksa ia mengikuti keinginan sang “isteri” dan kembali ke Thian-po-hu.

Sementara fajar telah menyingsing, Ho Leng-hong tidak sabar menunggu lagi, ia segera menyuruh orang mengundang Thian Pek-tat.

Thian si telinga panjang memang seorang yang pandai melayani kehendak orang, pada saat kau perlu bertemu dengan dia, ia selalu akan muncul di hadapanmu tepat pada waktunya.

Sebelum orang yang disuruh mengundangnya berangkat, tahu-tahu Thian Pek-tat sudah muncul lebih dulu di Thian-po-hu.

Begitu bertemu, tanpa menggunakan basa-basi lagi langsung mengemukakan maksud kedatangannya.

“Saudara Nyo, sudah kaudengar berita di luar dugaan? Kembali ada orang kedapatan mati di rumah pelacuran Hong-hong-wan,” demikian tuturnya.

Ho Leng-hong melengak, ia pura-pura bertanya dengan heran, “Apa? Siapa lagi yang mati?”

Thian Pek-tat celingukan sekejap sekeliling tempat itu, lalu bisiknya. “Dia bukan lain adalah Siau Cui yang pernah Nyo-heng temui dua malam yang lalu, entah kenapa

tiba-tiba ia menggantung diri semalam.”

“Hah? Tanpa sebab kenapa mendadak bunuh diri?” kembali Ho Leng-hong pura-pura kaget.

“Ya, kalau dibicarakan, mungkin kejadian ini akan mempengaruhi pula nama baik Nyo-heng, sebab itulah begitu mendapat kabar segera kuberangkat kemari.”

“Tapi apa sangkut-pautnya dengan diriku?”

“Nyo-heng, maaf bila Siaute bicara agak kasar, semestinya kau tidak boleh secara diam-diam menemuinya di halaman belakang kemarin malam dengan jalan menyaru, mau ketemu dengan di boleh saja, tapi tidak semestinya diketahui oleh Go So, pelayan rumah pelacuran itu. Kini secara tiba-tiba Siau Cui diketahui mati menggantung diri, sedang Go So adalah perempuan berlidah panjang yang tak bisa menyimpan rahasia, bila ia menyiarkan kabar yang bukan-bukan di luaran, sedikit banyak urusan ini akan menyangkut diri Nyo-heng.”

“Apa yang dia katakan?”

“Hmm, perempuan kasar macam dia, mana bisa mengucapkan kata-kata yang baik? Tentu saja ngaco-belo ke sana sini dan dibumbu-bumbui, dia bilang antara Nyo-heng dengan Siau Cui ada hubungan gelap, lantaran orang she Ho kedapatan mati di kamarnya, Nyo-heng datang ke rumah pelacuran itu dan menanyai Siau Cui, karena kaudesak, akhirnya ia menggantung diri.”

“Biarkan saja apa yang akan dikatakannya, masa orang akan percaya? Masa pemilik Thian-po-hu yang tersohor bisa mencintai seorang pelacur dan memaksanya sampai mati?”

“Nyo-heng persoalannya tidak sesederhana itu,” kata Thian Pek-tat dengan serius, “Betapa kebesaran nama Thian-po-hu dalam dunia persilatan, masa kita biarkan dinodai orang seenaknya? Bila perkataan semacam itu sampai tersiar keluar, bagi nama baik Thian-po-hu hal ini tentu merupakan pukulan yang cukup berat.”

“Siapa bersih dia selalu bersih, siapa kotor dia akan kelihatan kotor. Bila ia berani menyiarkan kabar bohong, memangnya aku tak bisa menjahit bibirnya dengan benang?”

“Tak perlu Nyo-heng repot-repot, Siaute telah mengaturkan segala sesuatunya bagimu.”

“Apa yang kau atur?”

“Bawa masuk!” seru Thian Pek-tat tiba-tiba sambil memberi tanda keluar pintu.

Bersama suatu sahutan dari luar, muncul Thi-tau Tan yang pernah dilihat Ho Leng- hong di rumah pelacuran kemarin dulu itu. Dia masuk sambil membawa sebuah kotak kayu panjang persegi, setelah memberi hormat, kotak kayu itu ditaruh di depan Ho Leng-hong.

“Barang apakah ini?” tanya Leng-hong.

“Silakan Nyo-heng periksa sendiri!” sambil berbisik Thian Pek-tat membuka tutup kotak tersebut.

Dua buah batok kepala yang masih berpelepotan darah terletak berjajar dalam kotak itu.

Yang sebuah adalah batok kepala Go So, sedang yang lain adalah batok kepala pesuruh rumah pelacuran yang bertugas menjaga pintu itu. Dengan perasaan bergetar dan wajah berubah Ho Leng-hong berkata, “Siau Thian, mana boleh kau lakukan perbuatan sekejam ini?”

Thian Pek-tat tertawa licik, “Orang yang berjiwa kecil bukan seorang Kuncu, orang yang tidak kejam bukan lelaki sejati. Demi mempertahankan nama baik serta martabat Thian-po-hu di mata masyarakat, demi melenyapkan bibit bencana di kemudian hari, terpaksa harus bertindak cepat dan tegas ”

“Tapi sebelum bertindak seharusnya kaurundingkan dulu persoalan ini denganku.”

“Waktu sudah tidak mengizinkan lagi, begitu Siaute mendapat kabar, Go So telah siap melaporkan Nyo-heng kepada mak germonya, untung dicegah Siau Tan, berbareng ia mengirim kabar kepadaku, jika harus kuminta izin dulu pada Nyo-heng, mungkin rahasia ini akan bocor, sebab itu segera kuperintahkan menyikat mereka.

Tapi Nyo-heng tak usah kuatir, kedua sosok mayat itu sudah kutelanjangi dan diletakkan bersama di satu ranjang, orang tentu akan menduga mereka terbunuh karena berzina.”

“Ai, Siau Thian, kau terlampau sembrono,” kata Ho Leng-hong sambil menghela napas panjang, “caramu membunuh orang untuk melenyapkan saksi bukan perbuatan yang terpuji bagi kaum kita.”

Thian Pek-tat tertawa, “Dalam keadaan terdesak tak mungkin bagiku untuk berpikir panjang apa yang Siaute lakukan adalah demi kepentingan Nyo-heng, sebab kutahu nama baik Thian-po-hu ditegakkan dengan susah payah, mana boleh kebesaran nama ini dihancurkan oleh mulut seorang kecil?”

“Sekalipun demikian, caramu ini terlalu berlebihan, hanya bikin orang merasa tak tenang saja,” kata Leng-hong sambil menggeleng kepala berulang kali.

“Bila Nyo-heng merasa tidak tenang, beri saja sedikit uang agar penguburan mereka lebih meriah dan urusan kan beres.”

Ho Leng-hong benar-benar tak bisa berbuat apa-apa melainkan gelang kepala dan menghela napas belaka.

Sebenarnya dia ingin mohon bantuan Thian Pek-tat untuk menyelidiki sebab kematian Siau Cui, tapi dengan demikian terpaksa ia harus membatalkan maksudnya semula.

Padahal, sekalipun ia tidak membatalkan maksudnya juga tak bakalan berhasil usahanya itu.

Sebab setelah berturut-turut terjadi empat kali kematian dalam Hong-hong-wan, semuanya mati dalam keadaan tidak jelas, semakin berkurang tamu yang berkunjung ke situ, tak lama kemudian rumah “P” itupun terpaksa tutup pintu.

Burung terbang berpencar, manusia pergi gedungnya kosong, rumah pelacuran Hong- hong-wan yang ramai itu berubah menjadi sebuah gedung kosong yang menyeramkan, sekalipun di balik kesepian tersimpan pelbagai rahasia, dari mana pula rahasia itu akan diselidiki?

Dengan demikian, satu-satunya harapan Ho Leng-hong untuk mencari tahu duduk perkara yang sebenarnya pun putus di tengah jalan, satu-satunya yang bisa ia lakukan sekarang hanya berdiam terus di Thian-po-hu, dan melanjutkan statusnya sebagai Nyo Cu-wi yang tersohor karena “takut bini”.

Namun demikian tidak berarti ia sudah mengakui dirinya sebagai Nyo Cu-wi.

Ia mengerti, kemungkinan besar peristiwa ini hanya suatu rencana jahat, suatu intrik yang mengerikan. Ada orang mempergunakan dirinya untuk menyaru sebagai Nyo Cu-wi, dan orang itu pasti mempunyai maksud tujuan yang menakutkan.

Tapi, maksud tujuan apakah itu? Dia sendiri tak tahu.

Tapi dia percaya, pada suatu saat “tujuan”itu pasti akan terlihat, dan ia yakin hal ini tak akan terlampau lama.

Maka dari itu di harus menanti, menanti dan menanti terus dengan sabar . . . . .

Menanti adalah suatu pekerjaan yang menjemukan, apalagi Ho Leng-hong harus mewakili seorang lain serta hidup di lingkungan yang sama sekali asing baginya.

Setiap saat ia harus waspada, harus selalu berhati-hati agar rahasianya tidak diketahui orang, tapi iapun harus melakukan penyelidikan terus menerus, ia juga berusaha mengetahui peraturan dalam Thian-po-hu, kebiasaan hidup Nyo Cu-wi, bahkan nama serta panggilan para pelayannya.

Untung segala sesuatunya dapat berjalan lancar. Dalam waktu singkat sebulan sudah lewat, Ho Leng-hong sudah apal terhadap segala sesuatu yang ada dalam Thian-po- hu, yang lebih hebat lagi, kehidupan “suami-isteri” antara dia dengan Pang Wan-kun dapat pula berlangsung dengan “klop” tanpa kurang sesuatu.

Pengawasan Pang Wan-kun terhadapnya tidak ketat, asal ia tidak meninggalkan gedung itu, tidak bergurau dengan pelayan muda, boleh dibilang kehidupannya dapat berlangsung dengan “bebas”.

Lo Bun-pin serta Siau Thian sekalian sahabatnya boleh dibilang setiap hari selalu berkumpul dan bersenang-senang, kalau bukan minum arak tentu berjudi.....

Hari demi hari dilewatkan dengan penuh kenikmatan, setiap hari kerjanya hanya makan, minum serta berjudi, suatu pekerjaan seriuspun tak pernah dilakukan.

Selama satu bulan ini, Ho Leng-hong dapat meresapi benar kehidupan keluarga kaya dan terhormat itu, kerja mereka hanya makan, minum, berjudi dan tentu saja bermain perempuan, dalam anggapan mereka perbuatannya ini merupakan perbuatan romantis, padahal sebenarnya perbuatan yang memalukan. Yang disebut sebagai golongan “pendekar”tidak lebih hanya kulit manusia yang menutupi wajah masing-masing, yang dilakukan belum tentu perbuatan “manusia”. Sekalipun kadangkala melakukan perbuatan kebajikan, itupun demi nama baik sendiri, kuatir orang lain tak tahu bahwa mereka yang melakukannya, kuati orang lain tidak tahu namanya.

Berbuat kebajikan supaya diketahui orang lain bukanlah kebajikan yang murni. Sekalipun Ho Leng-hong bukan seorang Kuncu, toh dia merasa muak menyaksikan tingkah laku orang-orang kalangan atas ini. Coba kalau tidak ada urusan penting, sungguh ia ingin mendepak pergi manusia-manusia munafik itu.

Tentu saja ia tak dapat berbuat demikian. Sebab ia sedang menantikan sesuatu yang sukar diduga, lagi pula rumah ini juga bukan miliknya.

Hari berganti hari, lama kelamaan Ho Leng-hong mulai merasa tak tahan dan habis sabarnya.

Tengah hari itu tiba-tiba ia merasa kesal, pada kesempatan semua orang sedang berjudi di ruang depan, seorang diri ia kembali ke ruangan belakang.

Hari itu udara panas dan hawa lembab, seperti akan hujan.

Dari Bwe-ji diketahui bahwa Pang Wan-kun baru saja masuk tidur siang, untuk sementara jelas tak dapat membangunkannya, suasana di ruang belakang amat hening, para pelayan pada bersembunyi mencari tempat yang sejuk.

Selesai membersihkan badan dan berganti pakaian, Leng-hong enggan kembali ke ruang depan, maka seorang diri ia berjalan-jalan di taman.

Entah berapa lama ia berjalan, akhirnya tiba di depan Kiok-hiang-sia.

Duduk di dalam villa air yang nyaman, apalagi menghadapi air nan hijau di bawah embusan angin yang sepoi-sepoi, lama kelamaan orang akan mengantuk.

Ho Leng-hong mengantuk sekali, ia bersandar di atas kursi berbantal tangan.

Di tengah tidur tak tidur, mendadak ia mendengar seperti ada orang sedang berkasak- kusuk.

Yang sedang berbicara adalah seorang lelaki dan seorang perempuan, suara mereka terbawa angin ke dalam rumah, sekalipun tidak terlalu jelas, namun lamat-lamat terdengar apa yang sedang dibicarakan.

Mula-mula Ho Leng-hong mengira kaum hamba yang sedang melakukan pertemuan gelap, dia enggan memperhatikannya, tapi lama kelamaan ia merasa apa yang mereka bicarakan semakin tak beres . . . .

Terdengar yang pria berkata, “ menurut berita yang bisa dipercaya, kemarin Ji-

beng-kaucu (si monyet dua kuda) sudah tiba di Hong-leng-toh, dalam satu-dua hari ini pasti akan sampai di tempat tujuan, tiba waktunya nanti kau harus lebih berhati-hati, jangan sampai jejak kita ketahuan.”

“Sungguh aku rada kuatir, konon si monyet dua kuda itu sangat cerdik, kalau sampai

. . . .”

“Jangan kau takut,” tukas si lelaki, “semuanya sudah kuatur dengan sempurna, hadapi saja dengan tabah, tapi harus ingat, bila tidak perlu, kurangi berbicara, dengan begitu tipis kemungkinan jejak kita akan ketahuan.”

“Begitu barangnya kita dapatkan, kenapa tidak cepat-cepat kabur? Apa yang harus kita nantikan lagi?”

"Tidak bisa, monyet itu sangat cerdik, siapa tahu secara diam-diam iapun mengadakan persiapan, kalau sampai ketahuan, pengejaran tentu segera dilakukan, bukankah hal ini akan merepotkan kita.”

“Aku cuma kuatir malam yang terlampau panjang akan banyak menimbulkan impian buruk, bisa-bisa orang she Ho itu ketahuan rahasianya.”

“Jangan kuatir, orang she Ho itu lebih teliti daripadamu, selama sebulan lebih ini tampaknya ia sudah cukup lumayan, tiba waktunya nanti dia pasti dapat menghadapi dengan prihatin, tak perlu kuatirkan dia...”

Ho Leng-hong merasakan jantungnya berdebar keras... Orang she Ho? Kalau bukan aku Ho Leng-hong yang dimaksudkan, siapa lagi? Keparat, ternyata benar, ada suatu perangkap besar, mereka hendak memperalat aku orang she Ho untuk mendapatkan suatu “barang”.

Tapi barang apakah itu?

Siapa yang dimaksudkan sebagai Ji-be-kaucu (si monyet dua kuda)?

Ho Leng-hong merasa semangatnya berkobar, rasa lelah dan mengantuk seketika lenyap, seketika itu juga dia ingin melompat bangun, memburu ke sana, serta mencari tahu siapa gerangan kedua orang itu . . . . .

Tapi ia tidak berbuat demikian, ia tetap diam saja.

Karena jarak dari villa itu menuju seberang sana cukup jauh, lagi pula medan terlalu terbuka, ditambah lagi laki-perempuan itu bersembunyi di balik pepohonan yang rindang, sulit baginya untuk menentukan arah mereka yang sebenarnya.

Bila ia mengejar ke sana melalui jembatan penyeberangan, maka kemungkinan besar lebih dulu jejaknya akan ketahuan lawan.

Jangan kira Ho Leng-hong sama sekali tak bergerak, kedua matanya seperti lampu sorot celingukan ke sana kemari, selain memperhitungkan tempat persembunyian kedua orang itu, diam-diam iapun mencari akal untuk menyeberangi kolam itu. Dalam pada itu, suara kasak-kusuk masih berkumandang terbawa angin, kedengaran si perempuan lagi berkata, “. kulihat orang she Ho itu tidak goblok, sekalipun

selama sebulan lebih ia menetap di sini sebagai Nyo Cu-wi dan sedikitpun tidak menyinggung soal-soal masa lampau, siapa tahu kalau secara diam-diam sedang menyusun suatu rencana keji?”

“Keadaannya sekarang sudah tidak bebas, rencana busuk apa yang bisa ia lakukan? Sekalipun dia mengatakan yang sesungguhnya, tak nanti ada orang mau percaya lagi kepadanya.”

“Apakah atasan telah memberi pesan cara bagaimana kita harus menghadapinya setelah benda itu kita dapatkan?”

“Tidak ada. Sekalipun ada, itu kan tugas orang lain, tak ada sangkut pautnya dengan kita. Tugas kita hanya mendapatkan benda itu lain tidak.”

Sesaat lamanya perempuan itu termenung, kemudian berkata lagi, “Baiklah, cepatlah kau keluar, jangan terlalu lama ngendon di sini, nanti mereka curiga.”

“Baik! Aku pergi dulu, ingat tugas kita harus berhasil dan tak boleh gagal, harus berjuang dengan sepenuh tenaga. ”

Mendengar sampai di sini, Ho Leng-hong tahu bahwa ia tak dapat menunggu lebih lama, cepat ia melompat keluar.

Ia tidak mengejar lewat jembatan penyeberang, tapi ke atas atap villa itu.

Dari atas atap yang tinggi, pemandangan sekeliling taman dapat dilihatnya dengan jelas.

Benar juga, di balik semak-semak sebelah barat daya sana menyusup keluar dua sosok bayangan orang, bayangan laki-laki dan yang lain perempuan.

Yang lelaki mengenakan jubah panjang berwarna biru, yang perempuan memakai gaun berwarna hijau pupus, sayang jaraknya terlampau jauh sehingga raut wajah maupun potongan badan tak sempat terlihat jelas.

Betapa gelisahnya Ho Leng-hong, tak terpikir lagi harus sembunyi atau tidak, sambil menarik napas panjang ia melayang lewat kolam dan langsung menubruk ke sana.

Kedua orang itu kabur terpisah, yang lelaki menuju ke ruang depan, sedang yang perempuan menuju ke belakang, betapa terkejutnya mereka menyaksikan kemunculan Ho Leng-hong, serentak mereka menyusup lagi ke balik semak-semak.......

“Sobat, kalian tak dapat bersembunyi lagi,” bentak Leng-hong. “Lebih baik menyerahkan diri saja!”

Tiada jawaban, suasana di balik semak tetap hening tak terdengar suara apapun. Pelahan Ho Leng-hong mendekati semak-semak tersebut, lalu katanya lagi, “Membungkam juga percuma, sejak tadi sudah kuketahui siapakah kalian, tidak cepat-cepat menggelinding keluar, apakah perlu kupersilakan kalian keluar?”

Tiada jawaban pula di balik semak-semak itu.

Leng-hong mendengus, dengan suatu gerakan gesit ia menerjang ke balik semak . . . .

. . . .

Aneh, ternyata di balik semak itu kosong melompong, sesosok bayangan pun tidak kelihatan!

Ho Leng-hong tertegun, andaikata tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, hampir ia tak percaya kedua orang laki-perempuan itu memiliki gerakan secepat itu, di bawah sinar matahari yang terang benderang, bagaikan setan saja tahu-tahu lenyap tak berbekas!

Dengan penasaran ia melakukan pencarian, namun hasilnya nihil, cepat Ho Leng- hong lari menuju ke gedung belakang.

Ia tidak menuju ke ruang depan melainkan ke belakang, pertama ruang depan terlalu banyak orang, di antaranya ada beberapa orang mengenakan jubah panjang berwarna biru hingga sukar dibedakan, kedua gedung belakang lebih dekat letaknya, di sana Cuma ada beberapa orang dayang, untuk menemukan yang perempuan tadi rasanya tidak sulit.

Ketika menerjang masuk ke sana, kebetulan Pang Wan-kun didampingi Bwe-ji sedang menuruni tangga loteng.

Pang Wan-kun mengenakan baju warna kuning telur, rambutnya kusut dan tampaknya baru saja bangun tidur.

Bwe-ji mengenakan baju pendek warna merah dengan gaun berwarna putih, masih dengan dandanan semula.

“Jit-long, kenapa kau?” tegur Wan-kun keheranan melihat tingkah laku suaminya, “air mukamu kelihatan aneh, kenapa kau awasi kami seperti baru kenal?”

“Kalian baru turun dari atas loteng?” tanya Leng-hong.

“Benar,” sahut Bwe-ji, “nyonya baru saja bangun tidur siang. Ada sesuatu yang tidak beres?”

Leng-hong tidak menjawab, kembali tanyanya, “Sewaktu kalian turun, apakah melihat seseorang lari ke atas loteng?”

“Tidak! Kami tidak melihat apa-apa!” jawab Bwe-ji keheranan. “Jit-long, siapa yang kau cari?” tanya Wan-kun.

“Seorang perempuan yang mengenakan gaun warna hijau pupus, dengan mata kepalaku sendiri kulihat ia kabur ke arah sini.”

“Ada apa dengan perempuan itu? Kenapa kau kejar-kejar dia?” tanya Wan-kun pula.

“Ia mengadakan pertemuan dengan seorang pria di taman, pertemuan itu kupergoki tanpa sengaja, dia lantas kabur kemari.”

“Wah, celaka, Jit-long, kau berhasil melihat wajahnya?” tanya Wan-kun terkejut. “Sayang hanya sepintas lalu, tak sempat kulihat jelas.”

Wan-kun menarik muka, katanya kepada Bwe-ji, “Sampaikan perintahku, segenap dayang yang ada di gedung belakang supaya berkumpul di sini, bagaimanapun juga hari ini dia harus ditemukan. Hm, di tengah hari bolong berani mengadakan pertemuan dengan kaum pria, betul-betul kurang ajar.”

“Tapi Hujin . . . . dayang di gedung belakang puluhan orang banyaknya, apakah . . .

.”

“Semuanya dikumpulkan di sini, seorangpun tak boleh absen, perintahkan juga kepada mereka tak boleh berganti pakaian, semuanya segera kemari.”

“Jangan, Wan-kun! Tindakan semacam ini hanya akan menggelisahkan semua orang,” cegah Leng-hong, “cukup kita titahkan orang untuk menutup jalan tembus ke ruang depan, jangan ribut untuk sementara, asal kita adakan pemeriksaan secara diam- diam, tak sulit untuk menemukan orang itu.”

“Perkataan Toaya memang benar” cepat Bwe-ji menanggapi, “dayang yang bekerja di gedung belakang ada tiga-empat puluh orang, hampir semuanya mengenakan gaun berwarna hijau pupus, bila kita menyimak rambut mengejutkan ular hingga ia berganti pakaian lain, ke mana kita akan mencari biang keladinya?”

Kemarahan Pang Wan-kun belum mereda, ia menggentakkan kakinya ke tanah seraya berkata, “Baiklah, perintahkan untuk menutup semua jalan tembus, siapapun dilarang masuk keluar, akan kuadakan pemeriksaan sendiri.”

Bwe-ji segera melaksanakan perintah itu dengan menutup semua jalan tembus, pemeriksaan pun dilakukan.

Pang Wan-kun memimpin sendiri pemeriksaan tersebut, setiap dayang yang mengenakan gaun hijau pupus segera digiring ke dalam taman untuk diperiksa oleh Ho Leng-hong.

Tak lama kemudian sudah tujuh belas orang dayang yang digiring ke taman, mereka mengenakan warna baju yang sama, suara juga sama, namun dari hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tak seorangpun di antara mereka pernah masuk ke taman belakang.

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Ho Leng-hong mengulapkan tangan untuk membubarkan sekalian dayang-dayang tersebut. Akhirnya setelah bekerja keras setengah hari, bukan saja orang yang dicurigai tak ditemukan, sebaliknya ia malah menerima gerutuan Pang Wan-kun dan ejekan para dayang secara diam-diam . . . .

Walaupun Leng-hong merasa kecewa, namun tidak putus asa, paling sedikit ia sudah tahu bahwa dirinya berada di tengah suatu intrik keji mengerikan, dan dalam satu-dua hari mendatang tentu akan terjadi peristiwa penting.

Tapi peristiwa apa yang bakal terjadi?

Jawabannya akan segera ditemukan bila “si monyet dua kuda” telah tiba di situ.

Peristiwa ini bukan Cuma suatu perangkap, bahakan juga suatu rencana besar yang mengerikan, suatu peristiwa aneh yang jarang dialami dalam kehidupan orang.

Kini Ho Leng-hong sudah ikut terlibat dalam perangkap itu, mau-tak-mau dia harus menghadapinya dengan hati yang sabar, apabila dalam kejadian ini secara beruntun sudah empat nyawa melayang, andaikan tidak terlibat langsung juga ia tak mau berpeluk tangan belaka.

Manusia hidup seratus tahun akhirnya mati juga.

Daripada hidup tanpa suatu kegiatan, lebih baik hidup sehari secara gegap gempita, jika mati pun tidak gentar, apalagi yang ditakuti seorang?

Sesudah mengambil keputusan nekat, hati Ho Leng-hong jadi lebih tenang.

Ia tidak berminat untuk menyelidiki siapa lelaki berjubah biru dan perempuan berbaju hijau lagi, setiap hari kerjanya hanya makan minum, kalau bukan berjudi tentu minum sampai mabuk, seakan-akan hidupnya hanya untuk berfoya-foya saja.

Ia percaya, bagaimanapun juga orang lain tak akan mengubahnya menjadi Nyo Cu- wi secara Cuma-Cuma, bila “si monyet dua kuda” telah muncul duduknya persoalan tentu akan ketahuan.

Sehari, dua hari lewat dengan cepatnya, tak ada kejadian apapun, “si monyet dua kuda” yang ditunggu-tunggu juga belum muncul.

Tengah hari ketiga, sewaktu Ho Leng-hong sedang berjudi dengan Lo Bun-pin sekalian di ruang depan, tiba-tiba muncul seorang Busu memberi laporan, “Kuloya (tuan ipar) datang!”

“Kuloya?” Ho Leng-hong tertegun, “Kuloya siapa?”

“Nyo-heng,” Thian kecil si telinga panjang berbisik, “jangan-jangan Pang-loko dari Cian-sui-hu yang datang.”

“Kau maksudkan Pang Goan? Jangan bergurau ia jauh berada di Liat-liu-shia, mas bisa datang ke Lok-yang?” “Tak salah, pasti dia yang datang, dia adalah kakak lenso, kalau bukan dia lantas siapa lagi?”

Air muka Lo Bun-pin tiba-tiba saja berubah hebat, cepat katanya, “Kalau begitu kita harus cepat-cepat membereskan keadaan di sini, kutahu Pang-loko paling benci pada segala bentuk perjudian, kalau sampai ketahuan kita bakal dimaki habis-habisan.”

“Apa yang mesti ditakuti? Kalian bermain saja dengan permainan kalian, aku akan keluar untuk menengoknya sebentar, kalau memang dia, langsung akan kubawa dia ke belakang ”

“Tidak usah,” tiba-tiba seorang menanggapi dengan suara dingin, “aku sudah masuk sendiri.”

Ho Leng-hong segera menengadah, tanpa rasa ia melengak.

Seorang kakek udik telah berdiri di ambang pintu, usianya lima puluhan, badannya kurus dan pendek, bibirnya lancip dengan kening yang sempit, sepasang lengannya luar biasa panjangnya, bajunya berwarna hijau dan hampir putih karena terlalu sering dicuci, sepatu rumputnya penuh debu kotoran.

Yang paling aneh ia menggendong sebuah bungkusan panjang, bungkusan itu diikat dengan rantai sebesar ibu jari, dan ujung rantai yang lain melilit pada lehernya.

Beginikah tampang It-kiam-keng-thian (pedang sakti penunjang langit) Pang Goan yang tersohor dari Cian-sui-hu di Liat-liu-shia?

Hakikatnya tidak lebih gagah daripada seorang petani desa.

Meski begitu, tak seorangpun di antar hadirin dalam ruangan berani memandang hina orang ini.

Jangan dikira bajunya kasar dan mukanya lucu, ia mempunyai mata yang lebih tajam daripada sembilu, sinar mata yang kemerah-merahan membuat jeri orang sehingga semua orang sama diam, bahkan bernapas saja tak berani keras.

Dari sorot matanya semua orang tahu tenaga dalamnya sudah mencapai puncak kesempurnaan, bahkan yang dilatihnya adalah Tay-yang-sin-kang dari Khong-tong- pay yang paling sukar dilatih.

Ho Leng-hong pernah mendengar nama besar Pang Goan, tapi belum pernah berjumpa dengan “kakak ipar” ini, terperanjat juga hatinya setelah berhadapan sekarang.

Ia bukan kaget lantaran mata Pang Goan yang membetot sukma, ia terkesiap karena potongan badannya serta raut wajahnya yang luar biasa itu.

Tubuhnya kurus kecil, kedua tangannya justru luar biasa panjangnya, bibir yang lancip dengan kening sempit, ditambah sepasang Kim-cing-hwe-gan (mata emas merah berapi) yang tajam....

Bentuknya tiada ubahnya seperti seekor monyet?

Sekarang ia baru mengerti yang dimaksudkan “dua kuda” adalah tulisan “Pang”, atau dengan perkataan lain “monyet dua kuda” bukan lain adalah Pang Goan.

Begitu menyadari persoalan tersebut Ho Leng-hong merasa bergidik, cepat ia bangun berdiri dan memberi hormat.