Golok Hallintar (Thio Sin Houw) Jilid 20

Jilid 20

pendekar wanita ini justru salah seorang anggauta rumah perguruannya Didalam hati ia berkata: 

"Meskipun usiamu lebih tua dari padaku, namun kau harus menyebut diriku paman guru,  Bukankah kau muridnya  Jie suheng? Baik, tunggulah sebentar. Apabila aku sudah memperkenalkan diri, apakah kau masih bersikap kurang ajar terhadapku..." kemudian berkatalah dia dengan tenang: 

"Aku bernama Thio Sin Houw. Su-hengku, Lim Beng Cin yang memberi perintah padaku,  agar aku datang kemari. sayang, karena terhenti oleh suatu soal ditengah jalan, aku datang agak terlambat. Sim  in-heng,  maafkan keterlambatanku ini." 

Sie Liu Hwa baru berumur sekitar duapuluh lima tahun. Karena itu belum  mengenal siapakah Lim Beng Cin. iapun bertabiat tinggi hati dan bengis sepak  terjangnya,  Maka  kembali lagi ia membentak: 

"Lim Beng Cin siapa? Didepan para  pendekar  janganlah  kau bergurau. Enyah kau, sebelum aku bertindak. Apakah kau kira aku bisa digertak dengan nama putera raja segala?"  Thio Sin Houw masih dapat menyabarkan diri terhadap ketajaman lidah Sie Liu Hwa, meskipun hatinya kian mendongkol, sebaliknya Giok Cu merasa tersinggung kehormatannya, karena Lim Beng Cin  adalah  ayah kandungnya. Dasar ia bertabiat panas pula, maka tanpa memikirkan akibatnya ia membalas mengejek: 

"Kau sendiri memakai nama Liu  Hwa - bunga apakah sebenarnya kau ini? Huh" 

Dan tiap wanita akan terbakar hatinya, begitu mendengar dirinya diejek lain wanita. Begitu pulalah  hati Sie  Liu  Hwa. Maka seketika itu juga,  mendidihlah  darah  pendekar  wanita itu. seperti iblis ia melompat dan  menusukkan pedangnya dengan ilmu ciptaan Bok-Jin Ceng yang dahsyat dan berbahaya. 

Sebagai murid Bok Jin Ceng, sudah tentu Sin Houw kenal jurus itu. Dahulu gurunya selalu mengesankan bahwa jurus itu tidak boleh dipergunakan dengan sembarangan saja, Kecuali apabila sangat terpaksa. sebab jurus itu mengancam maut.  

Dan susah sekali dielakkan, Sekarang, hanya soal selisih kata-kata saja, Sie  Liu Hwa sudah menggunakannya, Sin Houw tak tahu, bahwa menyinggung perasaan seorang wanita adalah tabu bagi seorang wanita, wanita yang kena di hina, bersedia mati dan bila berontak  akan  mempertaruhkan segenap jiwanya. Karena itu, betapa Giok Cu dapat mengelakkan jurus yang luar biasa  tersebut,  meskipun andaikata dengan tiba-tiba kepandaiannya naik sepuluh kali lipat, masih belum tentu dapat mengelak tanpa menderita luka. 

Sin Houw jadi tak dapat bersabar lagi. Terus saja ia mengangkat kakinya dengan ilmu warisan Gin-coa Long-kun, Dan tiba-tiba saja ujung pedang Sie Liu Hwa sudah kena diinjaknya. 

Semua hadirin heran menyaksikan kejadian itu, Dengan jurus apakah  dia berhasil menindih serangan Sie  Liu  Hwa yang berbahaya itu? Sim Pek Eng pun kagum bukan main. Dia sendiri tak sanggup berbuat demikian.  Tentu saja yang paling terkejut dan penasaran adalah Sie Liu Hwa sendiri. Dengan jurus itu, entah sudah berapa banyak musuh yang dirobohkannya, selama itu belum pernah ia gagal, meskipun kepandaian musuhnya berada di-atasnya.  

Tapi kali ini kenapa tiba-tiba macet? Kenapa dengan sekali gerak saja Sin  Houw dapat menginjak ujung pedangnya ? Dengan mengerahkan tenaga,  ia  mencoba  menarik pedangnya. Akan tetapi usahanya siasia belaka.  

Pada saat itu, tangan kiri Sin Houw justru menyambar mukanya. Tak dapat ia menghindar dengan membuang mukanya saja, karena lengan Sin Houw dapat menjangkaunya dengan leluasa. Maka terpaksalah ia melepaskan pedangnya dengan melompat dengan demikian, dua  kali  sudah  pedang nya kena dirampas lawan! 

Sin Houw benar-benar mendongkol. ia sambar pedang itu, Dan dengan  kedua  tangannya,  mematahkan  menjadi beberapa bagian. Kemudian dilemparkan ke lantai bergelontangan. setelah itu ia menyapu  hadirin  dengan pandang mata yang berkilat. 

Kiang Yan Bu dan Nie Sun Kiong adalah saudara seperguruan Sie  Liu Hwa. Dengan  mata kepala sendiri, mereka menyaksikan betapa adik seperguruannya  itu kalah dalam sejurus saja.  

Keruan saja mereka marah, karena pamor rumah perguruannya terbawa runtuh oleh kekalahan itu. seketika  itu juga Kiang Yan Bu hendak melompat ke gelanggang,  Akan tetapi Nie Sun Kiong mencegahnya. Bisiknya: 

"Tunggu, sejak tadi dia belum bicara. Biarlah dia menerangkan maksud kedatangannya. setelah  itu  kita bertindak . " 

Benar dugaan Nie Sun Kiong.. Sin Houw lantas membuka mulutnya. Katanya: 

"Saudaranya The Sie Ban  dulu adalah seorang  yang tercela perbuatannya. Karena itu terpaksa Sim enghiong  membunuhnya. Hal itu adalah untuk menjaga martabat dan kehormatan golongan para enghiong lainnya. Peristiwa itu, diketahui dengan jelas sekali oleh kakakku seperguruan, Lim Beng Cin. Kecuali itu, sudah ada para saksi lain yang menulis surat kesaksiannya. Surat itulah merupakan surat kesaksian yang asli, bukan surat paIsu seperti  yang  dituduhkan  oleh Kiang enghiong?" 

Sin Houw menunda bicara dan menuding Kiang Yan Bu. Dilain pihak, puas dan tergetar hati Sim Pek Eng 

mendengar perkataan Sin Houw. Sekarang ia percaya, bahwa pemuda itu benar-benar utusan Gin-coa  Long-kun.  Kalau bukan utusannya, betapa mungkin mengetahui peristiwa persengkataan itu dengan jelas? Tanpa merasa, ia menekap pergelangan tangan Cu Hwa erat-erat. 

Dan Kiang Yan Bu tertawa mengejek, dengan suara menggertak, ia berkata: 

"Aku berkata surat itu adalah palsu. Dan sekali aku berkata demikian, akan tetap berlaku sepanjang masa. itulah hasil tipu daya Sim Pek Eng yang curang untuk mengelabui kita semuanya. Apakah keberatannya apabila aku robek -robek berhamburan?" 

Sin Houw menatap  keponakan muridnya itu, Menyahut dengan bersenyum: 

"Ketika kami hendak berangkat kemari, Lim suheng telah membaca surat itu dihadapan  kami  berdua.  Tadi,  Nio enghiong dan  seorang temannya l&Lah ikut membacanya. Kukira mereka berdua masih ingat bunyi surat itu, Nah, biar sekarang puteranya Lim suheng ini  membacanya  diluar kepala." 

Setelah berkata demikian Sin Houw membungkuk hormat kepada Nio Cun Swie dan  temannya, dengan maksud mengangkat mereka berdua sebagai saksi, kemudian berkata kepada The Sie Ban: 

"The enghiong, maafkan kami. Terpaksa aku membuka  rahasia almarhum kakakmu didepan umum." 

"Kakakku adalah  seorang  pendekar  berhati bersih. Rahasia apakah yang hendak kau beberkan didepan kami? Silahkan!" sahut The Sie Ban  dengan  membusungkan dadanya. 

Thio Sin Houw bersenyum, ia menoleh kepada Nio  Cun Swie dan temannya untuk minta idzin, Kata mereka berdua hampir berbareng: 

"Silahkan! Barangkali kami masih ingat dengan bunyi surat itu." 

Sin Houw menyatakan terima kasih, Kemudian berpaling kepada Giok Cu. Kemarin malam, teringatlah dia betapa gadis itu berkali-kali membaca bunyi  surat  kesaksian,   Mengingat otak Giok Cu tajam luar biasa, pastilah dia hafal akan bunyi kata-katanya diluar kepala, Ta bersyukur dan mantap setelah melihat wajah Giok Cu yang membalas pandangnya dengan yakin. 

"Kau masih ingat bunyi surat kesaksian itu tatkala ayahmu membaca di depan kita, bukan?" 

Giok Cu manggut, Terus saja mulai ia membaca surat itu diluar kepala dengan lancar, selagi membaca, hatinya memuji dirinya sendiri. Coba, andaikata  ia  tak  usilan membaca berulang kali dan menghafalkannya, pastilah  akan menanggung malu dihadapan hadirin.  

Diam-diam ia mengerling kepada  Sin  Houw pemuda itu nampak puas sekali. Dan menyaksikan hal itu, mendadak saja sifat kewanitaannya timbul diluar kehendaknya   sendiri.  ia lantas membaca dengan suara merdu, halus dan jelas seolah- olah sedang menyanyikan lagu cinta. 

Hebat adalah kesan The Sie Ban. ia melihat Nio Cun Swie dan temannya tertegun heran. Akhirnya manggut kecil membenarkan, Hadirin lantas  saling  bicara  bisik-bisik mengadili sepak terjang dan kelakuan The Sie Kam. Keruan saja The Sie Ban jadi malu bukan main, Belum selesai Giok  Cu membaca, lantas saja ia memekik: "Berhenti! siapakah kau?" 

Belum sempat Giok Cu menjawab  atau  Kiang  Yan  Bu sudah menyambung: 

"The sieheng dan  kawan-kawan sekalian, mereka pasti adalah anak buahnya Sim Pek Eng. Sekiranya bukan, pastilah salah seorang sahat undangannya, siapa  tahu,  diantara mereka sudah memperbincangkan kemungkinannya? Jauh sebelumnya, mereka itu nampaknya sudah bersedia-sedia." 

The Sie Ban tersadar oleh perkataan Kiang Yan Bu, lalu berseru sambil menentang mata kepada Sin Houw berdua. 

"Akh, ya! Kau bilang bahwa Lim Beng Cin yang memerintahkan kau datang kesini. Bagaimana akan kau buktikan, benar tidaknya terhadap kami?" tanyanya . 

"Sebenarnya, apa yang kau kehendaki agar kau percaya?" Sin Houw mendongkol . 

The Sie Ban menghunus pedang panjangnya dan membalingkan didepan matanya . Katanya menantang: 

"Aku sendiri belum pernah bertemu dengan pendekar yang menamakan diri Gin coa Long-kun. Tetapi menurut kabar, ia berkepandaian sangat tinggi. Huh, betapa aku bisa percaya begitu saja sebelum menyaksikannya sendiri? Karena kalian menyatakan diri sebagai adik seperguruan  dan  putoranya, kalau begitu kali an pasti sudah mewarisi ilmu kepandaiannya. Coba, tangkislah pedangku bila dapat menangkis pedangku, barulah aku mau percaya." 

The Sie Ban  memandang enteng Sin  Houw,  mengingat usia pemuda itu jauh berada dibawahnya, juga terhadap  Ciok Cu yang menyatakan diri sebagai  putera Gin-cia Long-kun, Andaikata mereka benar telah mewarisi kepandaian Gin-coa Long-kun, masa latihannya pun terlalu pendek.  

Mustahil mereka berdua sudah berlatih sejak dalam kandungan. Sebab sesuatu ilmu kepandaian baru mencapai  kesempurnaan apabla sipewaris sudah memiliki masa latihan paling tidak tiga puluh tahun lamanya. Maka  ia  yakin  akan dapat merobohkan mereka berdua dalam beberapa jurus saja, Dengan demikian , akan dapat meyakinkan kawan-kawannya bahwa dua helai surat kesaksian itu memang palsu. 

Pada waktu itu Sin Houw duduk di atas kursi, begitu mendengar tantangan The Sie Ban. ia meneguk minumannya beberapa kali. Kemudian memasukkan sepotong daging ayam ke dalam mulutnya. Berkata sambil mengunyah: 

"Untuk melawan pedangmu, kurasa tidak perlu sampai menggunakan warisan Lim suheng, Kau telah  dipermainkan dan diperalat seseorang. Namun  tidak  menyadari juga, sungguh sayang..." 

"Siapa yang memperalat aku? siapa yang mempermainkan aku?" teriak The Sie  Ban  dengan mendongkol, "Hey,  kau benar benar tak tahu diri. Kau enyahlah sebelum aku menghajarmu benar-benar." 

Sin Houw tetap saja bersikap acuh,  dengan meram-melek ia mengunyah daging ayamnya, sambil menelan, ia menyahut dengan tenang meyakinkan: 

"Sebentar lagi aku akan membuktikan betapa kau kena diperalat oleh mata-mata musuh. sekarang biarlah aku membicarakan pertaruhannya, sebelum aku menggerakkan pedangku." 

"Kau menghendaki pertaruhan apa?" 

"Bila kau kalah, hendaklah kau menyudahi persengkataanmu dengan Sim Pek Eng, Bagaimana? Kalau setuju, nah berkatalah dengan suara nyaring dihadapan para hadirin." kata Sin Houw. 

"ltulah pasti!" teriak The Sie  Ban dengan suara penuh, "Biarlah mereka semua menyaksikan! Sebaliknya, bagaimana kalau kau tak dapat melawan pedangku?" 

"Kalau kalah, segera aku akan berlutut beberapa kali dihadapanmu, Kemudian aku tak mau campur tangan lagi  masalah ini." sahut Sin Houw sambil terus mengunyah sisa ayam goreng yang menyumpal sebagian mulutnya. 

"Baik!" seru The Sie Ban. "Nah... majulah. jangan cuma mengumbar mulut yang bukan-bukan," 

Berkata demikian, The Sie Ban memutar pedangnya sehingga perdengarkan suara mendesing, Tak usah dikatakan lagi, bahwa hatinya sengit dan sengaja  hendak mempertontonkan himpunan tenaga saktinya.  

Didalam hatinya  ia berpikir: "Kalau  aku  tidak  memberi tanda mata kepadamu, pastilah kau akan memandang rendah terhadapku, jangan kau berteriak seperti babi, kalau ujung pedangku menikam tubuhmu!" 

Tetapi Sin Houw masih tetap duduk di kursinya. Tetapi tiba-tiba berkelebatan sesosok  bayangan.  Berkata  bayangan itu: 

"Aku ingin menyaksikan, betapa tingginya ilmu saktinya Gin-coa Long-kun!" 

Dia ternyata seorang laki-laki berusia kira-kira limapuluh tahun. Dengan sebilah pedang, terus saja ia  menikam  Sin Houw yang masih duduk diatas kursinya. 

Dengan gesit Sin Houw melompat ke tengah gelanggang sambil berkata: 

"Sabar, totiang, sebenarnya  siapa  kah nama totiang?" penyerang itu memang seorang imam atau tojin. 

"Pinto adalah Pian Cong tojin." jawab imam itu, "Dahulu Gin-coa Long-kun dan Ma San totiang telah saling memperkenalkan Liang-gie Kiam-hoat, ilmu pedang itu adalah ciptaan Oey Bok totiang, yang mengatakan bahwa  didalam kalangan rimba persilatan  tidak ada  tandingannya, Tetapi waktu itu Gin-coa Long-kun  hanya  tertawa,  tidak  ia membantah maupun membenarkan. untunglah kita saling bertemu disini, sehingga untuk angkatan muda dapat terbuka kesempatan untuk mencoba-coba ilmu itu."   Dan Pian Cong  tojin menyudahi  perkataannya dengan memberikan isyarat kepada The Sie Ban yang menjadi adik seperguruannya, sehingga seketika itu kedua- 

Gesit luar biasa Sin Houw mengelakkan serangan mereka. Belum sempat ia menghunus  pedangnya,  mereka  berdua sudah merangsak, Giok Cu tidak mengenal corak ilmu pedang Liang-gie Kiam-hoat yang memang harus dilakukan oleh dua orang berbareng, ia memandang  pertempuran  itu  berat sebelah. Maka ber-serulah dia: 

"Tahan! Sin-koko tadi bersedia bertempur seorang lawan seorang, Kena-pa kalian berdua main kepung?" 

Pian Cong tojin melototkan matanya. Membentak: 

"Kalau begitu, kau memalsu nama Gin-coa Long-kun. Kau mengaku sebagai  anaknya. Apakah ayahmu tidak pernah berkata kepadamu, bahwa ilmu pedang kami harus dilakukan oleh dua orang? sebenarnya , apakah kau hanya mengaku sebagai anaknya?" 

Merah wajah Giok Cu dimaki demikian, Memang,  ilmu pedang yang harus di lakukan oleh dua orang, baru untuk pertama kali itu didengarnya. untunglah Sin Houw berpengetahuan luas, ia pernah membaca buku warisan  Gin- coa Long-kun, Maka berkatalah pemuda itu: 

"Totiang dan  The tayhiap. ilmu pedang Liang-gie  Kiam- hoat berdasar kepada himpunan  tenaga kosong dan  berisi. karena itu harus dilakukan oleh dua orang, Tetapi, siapa yang telah mahir himpunan tenaga  saktinya,  bisa  melakukan dengan seorang diri, Karena itu se ruan puteranya Gin-coa Long-kun sebenarnya tidak terlalu salah. Dia mengira, himpunan tenaga sakti kalian berdua sudah  sempurna. sehingga masing-masing dapat menggunakan  ilmu pedang Liang-gie Kiam-hoat seorang diri saja!" 

Itulah jawaban Sin Houw yang sama sekali tidak terduga oleh Pian Cong to jin dan The Sie Ban. Didalam hati mereka berkata: "Tidak pernah suhu memberi penjelasan banwa jurus ilmu pedang itu sesungguhnya dapat dilakukan oleh seorang  saja. Apakah pemuda  ini  sengaja ngoceh tak keruan?" Memang dugaan mereka berdua terhadap Sin Houw 

setengah benar.  Sin Houw memberi alasan, sesungguhnya terdorong semata-mata untuk menutupi ketololan Giok Cu. sebaliknya, melihat Pian Cong tojin bimbang,  gadis  itu mendapat hati. 

Ketenangan dan kepercayaannya kepada diri sendiri timbul kembali. Dengan membusungkan dada, ia berkata: 

"Karena pertempuran harus kalian lakukan dengan berdua, maka syarat taruhannya harus berlipat pula." 

"Kau ingin bertaruh apa?" damprat Pian Cong tojin mendongkol. 

"Aku tak sudi berbicara dengan tampangmu." Giok Cu membalas dampratnya, "Prakarsa persengketaan ini  adalah The Sie Ban. Maka aku juga ingin berbicara dengan dia, Hai, bagaimana?" 

"Katakanlah!" sahut The Sie Ban singkat. 

Giok Cu tertawa menang. Berkata seperti seorang guru kepada muridnya: 

"Bila kalian kalah, kecuali harus menyudahi persengketaan ini, harus menyerahkan pula  gedungmu  lengkap   dengan taman dan isinya. Bagaimana? Berani tidak?" 

 (Oo-dwkz-oO) 

PANAS hati The Sie Ban mendengar perkataan Giok Cu. pikirnya di dalam hati: "Biarlah kuterima saja  permintaannya. Tak mungkin ilmu pedang Liang-gie Kiam-hoat dapat dia kalahkan. seumpama mereka tidak mati diujung pedangku, setidaknya aku bisa melukai." Oleh pertimbangan itu, ia lalu menjawab yakin: 

"Baik, Aku terima pertaruhan ini. Umpama masih merasa belum puas, kau boleh maju juga. Dengan begitu  kau  tidak akan merasa kami kepung."  Giok Cu tak mau kalah. Sahutnya dengan sengit: 

"Aku maju atau tidak, soal mudah. Yang harus dibicarakan adalah gedung itu sendiri. Benar-benarkah itu gedung milikmu sendiri atau sebenarnya kau hanya salah seorang penunggunya? Coba sebutkan, berapa harga gedung itu?" 

Bukan main mendongkolnya hati The Sie Ban kena dihina demikian. Dengan mata merah, ia berpaling kepada Sin Houw, kemudian membentak: 

"Apakah kau juga sependapat dengan kawanmu itu ? Benar-benarkah kau tidak menghargai gedung milikku itu?" 

Sim Pek Eng yang sejak tadi membungkam mulut, lalu ikut bicara: 

"The Tayhiap, Sebenarnya berapa harga gedungmu itu?" "Dua bulan yang lalu kubeli dengan harga tiga ratus keping 

emas." Sahut The Sie Ban. 

"Karena Thio siauhiap hendak melawanmu atas namaku, biarlah aku wakili pula dirinya. Kau  mempertaruhkan gedungmu seharga tigaratus keping emas, Akupun  akan bertaruh pula atas nama Thio siaohiap sebesar tigaribu keping emas." kata Sim Pek Eng.  

"Bila Thio siaohiap tak sanggup  melawan  kedua pedangmu, uang sebanyak tigaribu keping emas, boleh kau ambil. Sekiranya masih puas, boleh kau menuntut padaku."! setelah berkata demikian, ia berbisik kepada Cu Hwa, dan Cu Hwa kemudian masuk kedalam, Kemudian keluar lagi sambil membawa uang emas tigaribu keping,  di susun rapi diatas sebuah nampan. 

Didalam hati, sesungguhnya Sim Pek Eng masih sangsi terhadap kemampuan Sin Houw, ia hanya tahu, Sin  Houw datang untuk mencoba melindungi dirinya. itulah suatu perbuatan yang tak ternilai harganya, ia tak menghendaki pemuda itu mengorbankan jiwa bagi dirinya. Karena itu ia melipatkan nilai harga pertaruhan. Maksudnya, dengan uang sebesar itu, Sie Ban berdua akan bisa mengatasi diri dengan  melukainya saja. 

Sie Liu Hwa yang sejak tadi terbungkam mulutnya karena pedangnya kenadipatahkan oleh Sin  Houw,  tiba-tiba mengambil sisa  pedangnya yang buntung. Dilemparkannya pedang buntung itu di atas meja sambil berkata: 

"Aku juga ikut bertaruh, inilah taruhanku." 

"Siapa kesudian bertaruh dengan pedang buntung?"  Giok Cu menyindir. 

"Kau tak mengerti maksudku? Aku pun bertaruh satu lawan tiga. Bila pihakku kalah, tikamlah aku tiga kali, sebaliknya bila pihakmu kalah, aku akan menikammu sekali  saja dengan pedang buntungku ini. Jelas?" 

Sudah barang tentu sekalian yang mendengar menjadi heran. itulah macam pertaruhan yang belum pernah mereka saksikan. Jago-jago kenamaan yang  ikut  mendengar pertaruhan itu sampai  bergeleng  kepala.  Hebat  benar pendekar wanita Hoa-san pay itu, Agaknya ia  terlalu  bersakit hati terhadap puteranya Gin-coa long kun yang memperolok kecantikannya. 

Giok Cu benar-benar tajam lidahnya, dengan tertawa ia menyahut: 

"Wajahmu begitu cantik, bagaimana sampai hati aku menikammu tiga kali? Biarlah aku menggores mukamu yang cantik itu tiga kali saja!" 

Bukan main mendongkolnya Sie Liu  Hwa:  Tubuhnya sampai gemetar menahan luapan amarahnya. Lie Sun Giok yang menjadi suaminya meledak. "Hey anak muda, Aku nanti akan ikut serta merobek mulutmu!" 

Tetapi Giok Cu tidak bersakit hati. Ia melawan kata-kata sengit dengan tawa lebar, sebaliknya Cu Hwa tak puas menyaksikan Nie Sun Giok ikut  mencampuri  macam pertaruhan. Katanya sengit: 

"Kau hendak membantu isterimu? Akupun ikut serta. Aku  nanti akan menabas  hidungmu dan  kedua  tanghanmu. Dengan begitu, kau tidak akan bisa memeluk isterimu yang cantik lagi." 

"Bagus, Akupun nanti akan memotong buah dadamu!" kata Nie Sun Giok dengan panas hati. 

Para hadirin yang lain kemudian ikut pula melakukan pertaruhan, sehingga Pian Cong tojin merasa jemu, serunya dengan suara nyaring: 

"Sudahlah! Sekarang, hei anak muda, mari kita mulai! " Setelah   berkata   demikian,   ia   mendahului menggerakkan 

pedangnya.  The   Sie   Ban   segera   mengikuti.   Hebat  corak 

serangan mereka berdua. Pedang  mereka menderu-deru  di arah yang berlawanan! Tata-kerja kaki  mereka  cepat  dan gesit. Mereka menempati  arah-arah  bidik  tertentu, Dan gerakan pedang mereka saling menyusul dan saling berlipat. Empat jadi delapan. Delapan jadi enam belas, Enam belas menjadi tiga puluh dua. Dari tiga puluh dua berubah menjadi enam puluh empat.  

Maka bisa dibayangkan, betapa cepat dan dahsyat ilmu pedang Liang-gie Kiam-hoat. 

Thio Sin Houw mengandal kepada kegesitannya, setiap serangan digagalkan dengan berkelit menghindar yang cepat luar biasa. Hal itu membuat hati Pian Cong tojin dan The Sie Ban penasaran. 

Namun mereka tetap berkelahi dengan mantap, walaupun setiap tikamannya dapat dihindarkan, tetapi mereka mendesak terus, bahkan makin lama makin  cepat sehingga  membuat hadirin kagum luar biasa. 

"Pemuda itu memang gesit gerakannya, mungkin benar dia adik seperguruan atau murid Gin-coa Long-kun." kata Nio Cun Swie kepada Thia Bu Bok  yang  duduk  disampingnya,  Dan  Thia Bu Bok memanggut, Jawabnya: 

"Karena usianya  masih muda, mungkin sekali ia  lambat laun kalah menghadapi ilmu pedang Liang-gie Kiam-hoat yang  memang hebat. Hm, sungguh sayang! Adalah jarang sekali seorang pemuda seusia dia memiliki kegesitan dan kecepatan gerak seperti dia." 

Penglihatan Thia Bu Bok hampir mendekati kebenarannya. waktu itu The Sie Ban menusuk dada Sin Houw,  Dan  Pian Cong tojin membarengi mengarah kekiri, Kemudian menikam lambung kanan Sin Houw dengan tiba-tiba.  

Keruan saja kedudukan Sin Houw terjepit, Tak dapat lagi ia mengelakkan diri, semua jalan mundur tercegat, Akan tetapi pemuda itu nampak  tiada  gugup  sama sekali.  Diluar  dugaan, ia mengendapkan diri. Kakinya mendupak, setelah itu ia membenturkan kepalanya ke perut Pian Cong tojin. Untung, ia tidak menggunakan tenaganya penuh-penuh, walaupun demikian, imam itu terpelanting mundur dan hampir saja roboh terjengkang. 

Itulah kejadian yang sama sekali  tak terduga,  Dalam terkejutnya, The Sie  Ban  membabatkan pedangnya untuk mundur menghindari sampai tiga kali berturut-turut, Tentu saja hal itu membuat hati The Sie Ban penasaran. Makinya: 

<"Binatang! Kau hendaklah ke mana ?" 

Sebenarnya Sin Houw berkelahi dengan membatasi diri. Kalau mau, Pian-Cong-tojin tadi  sudah  dapat  dirobohkan, tetapi setelah dirinya dimaki sebagai binatang, timbullah rasa marahnya. Pikirnya di dalam hati: 

"Kalau aku tidak membuat  takluk  benar-benar,   rasanya sulit meyakinkan mereka. Akupun masih ingin mencari kesempatan menghajar ketiga muridnya Jie-suheng yang keterlaluan itu. Mengulur waktu berarti  membuang-buang tenaga tiada gunanya. Biarlah kurampungi saja..." 

Memikir demikian, ia melesat menyambar gelas minumannya. Dua tiga kali ia meneguk. Kemudian melompat kembali ke tengah gelanggang sambil berkata nyaring: 

"Nah, seranglah  aku! Kepandaianmu masih  terlalu jauh dibawahku."  Bukan main marahnya The Sie Ban direndahkan demikian, Terus saja ia menyerang setengah kalap. Pian Cong to-jin cepat-cepat mencegah. Katanya: 

"Sutee, jangan sampai kau terjebak tipu muslihatnya.  ia sengaja membuatmu marah!" 

Peringatan Pian Cong tojin, membuat  The  Sie  Ban tersadar. Cepat-cepat ia mengendalikan  diri dan  mengikuti irama gerak pedang kakaknya seperguruan, ia merangsak dari kiri, Dan kakak seperguruannya memotong dari kanan, namun Sin Houw masih dapat juga  lolos, ia  melesat  keluar gelanggang, dan berkata kepada Giok Cu: 

"Giok Cu, carikan aku minuman segar ! Tuangkan kedalam cawanku yang kosong itu!" 

"Baik!" seru Giok Cu gembira. ia tahu, Sin Houw  benar- benar hendak memancing  amarah lawannya.  Maka bukannya ia mengisi cawan, akan tetapi  memperhatikan  gerakan  pemuda itu yang  tiba-tiba  saja  menyambar  kursi  di sampingnya. 

"Kau isilah! pedang  mereka  cukup  kulawan  dengan  kursi ini ! " kata Sin Houw. 

Benar-benar Sin Houw melawan pedang mereka dengan kursi. setelah melihat Giok Cu mengisi cawan minumannya, ia melemparkan kursi ke depan sehingga membuat lawannya mundur. Kemudian melompat  sambil  menyambar  cawan. sekali teguk, habislah isi cawan itu.   

Lalu, ia menyambar sepotong paha ayam. Dan sambil menggerogoti paha ayam, ia berkata: 

"Apakah kalian masih saja tidak percaya,  bahwa  ilmu pedang Liang-gie Kiam-hoat banyak sekali terdapat  lubang kelemahannya? sudah  begitu,  kepandaian  kalian  berdua masih berada jauh dibawahku, Bagaimana kalian bisa mengharapkan dapat melukai aku? Kau tak percaya?  Biarlah aku melayanimu sambil menggerogoti paha ayam ini !" 

Tentu saja panas hati The Sie Ban dan Pian Cong tojin,  sekarang mereka tidak dapat lagi mengendalikan diri, Masing- masing ingin menancapkan pedang mereka ke tubuh pemuda itu. Maka kacaulah ketentuan jurus Liang-gie Kiam-hoat yang membutuhkan suatu kerja sama rapi. 

Sin Houw menghindari  tiga tikaman mereka. Kemudian melompat keluar gelanggang dan meneguk cawannya yang sudah diisi kembali oleh Giok Cu. setelah itu ia menghadapi mereka kembali sambil mengoceh: 

"Nah, lihatlah betapa tolol kalian  berdua.  Apakah  kalian tidak tersadar juga, bahwa aku melawanmu dengan tangan kosong belaka? Tak dapatkah kalian berpikir, bagaimana akibatnya bila aku melawanmu dengan pedang pula? Akh, benar-benar kalian tolol! seperti kerbau!" 

"Apa katamu?" Giok Cu menegas  dari luar gelanggang. "Kerbau? He-he mereka benar-benar sepasang kerbau buduk 

! " 

Mendengar perkataan Giok Cu, dada  Pian  Cong  tojin serasa akan meledak. Dengan menggerung, mereka menyerang Sin Houw berbareng, Tapi Sin Houw  dapat mengelak dengan mudah sekali. Kata pemuda itu lagi: 

"Aku adalah utusan dari Gin-coa Long-kun. Tugasku untuk mendamaikan kalian, Ingatlah, bahwa tanah air membutuhkan tenaga kalian, Kenapa kalian bertengkar hanya  soal pembalasan dendam perorangan belaka? Kuperingatkan lagi, bahwa kalian sebenarnya kena  diperalat  dua  orang penghianat, sekarang ini, mereka baru mencari akal untuk dapat melarikan diri, Eh, jangan bermimpi ! sebentar aku akan menghajarmu." 

Berkata demikian, tiba-tiba ia menimpuk The Sie   Ban dengan tulang kaki ayam. Kaget The  Sie  Ban  mundur mengelak . Dan pada detik itu pula, Sin Houw menjepit ujung pedang Pian Cong tojin dengan paha ayamnya. pemuda ini mengerahkan tenaga dalamnya. Bentaknya: 

"Lepaskan!"  Berbareng dengan bentakannya, ia menarik, Dan pedang Pian Cong tojin kena ditariknya sampai meliuk kelantai, Pian Cong tojin sendiri terjerunuk  ke depan dan berusaha mati- matian mempertahankan diri dengan kedua kakinya. Oleh rasa kaget, malu dan putus asa karena tak  mampu mempertahankan pedang nya, ia mengambil  keputusan terakhir, ia melepaskan pegangannya, kemudian  ia membiarkan diri terseret daya tarik Sin Houw sambil melepaskan pukulan geledeknya. 

Pian Cong tojin sesungguhnya cerdik juga. Akan tetapi Sin Houw tahu menebak jalan pikirannya. Gesit ia menjejakan kedua kakinya. Dan tubuhnya me-lesat tinggi diudara, sambil membawa pedang rampasan.  

Melihat The Sie Ban maju hendak membantu kakaknya, ia menyambitkan tulang paha ayamnya. Kali ini dia mengerahkan tenaga dalamnya tujuh bagian. Dan kena gempuran tenaga dalamnya, pedang The Sie Ban terpental kesamping. 

Sin Houw tak sudi sia-siakan kesempatan yang baik itu, Dengan berjumpalitan diudara ia menyambar pedang The Sie Ban sebelum jatuh dilantai hebatnya lagi, kaki kanannya masih juga sempat menendang urat pinggang The Sie Ban sehingga jago itu mendadak saja mati kutu. 

"Kalian berdua sesungguhnya belum pernah melihat tata kerja ilmu pedang rumah perguruan sendiri yang menjadi kebanggaan leluhur kalian.  Nah, sekarang lihatlah! Dengan seorang diri aku dapat melakukan jurus-jurus ilmu pedang Liang-gie Kiam-hoat." seru Sin Houw setelah turun di lantai. 

Dan dengan dua pedang rampasannya pemuda itu benar- benar melakukan jurus jurus Liang-gie Kiam-hoat, Kedua pedangnya berkelebatan dari kiri dan kanan .  Arah  bidik  dan titik tolaknya bertentangan.  

Bila yang kanan menyerang,  yang  kiri  mempertahankan diri. Begitulah sebaliknya, Nampaknya kusut akan tetapi sesungguhnya membahayakan kedudukan lawan. itulah jurus- jurus ilmu pedang Liang-gie Kiam-hoat yang aseli dan dapat  dipertontonkan oleh Sin Houw dengan mahir sekali. 

Tak mengherankan semua hadirin jadi heran dan takjub menyaksikan kepandaian Sin Houw mempertontonkan kemahirannya melakukan jurus-jurus ilmu pedang Liang-gie Kiam-hoat, itulah suatu kejadian yang tak terbayangkan sebelumnya. 

Kedua pedang Sin Houw makin lama makin nampak berseliweran, sinarnya berkeredepan  kena pantulan sinar  lampu dan angin menderu-deru tiada hentinya, setelah enampuluh ampat jurus selesai , terdengarlah  seruan  pemuda itu dan tiba-tiba saja kedua pedang itu melesat keatas dan menancap dalam pada tiang atap rumah. itulah ilmu timpukan pedang Hoa-san pay yang istimewa. Lauw Tong Seng dulu pernah kagum menyaksikan kemahirannya.  

Maka tidak mengherankan, semua hadirin kagum bukan kepalang. setelah ia mengundurkan diri dari gelanggang dan duduk kembali diatas kursinya, hadirin bersorak bergemuruh menyatakan rasa kagum, Mereka bertepuktangan, dan dengan terang-terangan-mereka menyatakan  pujian.  Dan  apabila suara bergemuruh itu mulai reda, terdengarlah suara gembira Giok Cu yang diucapkan dengan nyaring: 

"Ha-ha! Nah, sekarang bakal ada orang memanggil kakek kepadaku." 

Kiang Yan Bu tergugu karena memang dialah yang telah  ikut bertaruh, dengan mengatakan akan memanggil Giok Cu sebagai kakek kalau Sin Houw dapat memenangkan pertandingan tadi! 

Sementara itu Thia Bu Bok yang juga kalah  bertaruh, kemudian tertawa dan berkata: 

"Sim  kouwnio, kau menang! Nah kau bawalah semua 

emasku." setelah berkata demikian, ia mendorong emasnya ke depan Cu Hwa. 

Senang hati Cu Hwa melihat kejujuran dan sifat jantan Thia Bu Bok. ia bangun dari kursinya dan  memberi hormat,  Sahutnya: 

"Thia susiok, Biarlah aku mewakili susiok memberi hadiah kepada semua hadirin, Apakah susiok rela apabila jumlah nilai pertaruhan kita, kubagi rata kepada para hadirin?" 

"Semua emasku adalah milikmu. Kau  bakar  atau  kau buang, adalah hakmu." jawab Thia Bu Bok. 

Cu Hwa manggut hormat. Kemudian berkata nyaring kepada murid-murid dari ayahnya: 

"Saudara-saudara, diatas meja terdapat setumpuk benda yang bernilai tigaribu keping  uang emas, inilah jumlah  nilai enam batang emas  Thia  susiok  dan  sebuah  gelang permataku, Ayah  mengundang  saudara-saudara  sekalian untuk menghadiri pesta pertemuan ini. sayang sekali, ayah tak sempat melayani saudara saudara sekalian dengan baik, Karena itu, emas dan gelang permataku ini esok hari akan kujual. Lalu hasil penjualannya akan kubagi rata kepada saudara-saudara sekalian. siapa saja termasuk anggauta- anggauta pengiring para pendekar kenamaan, kuperkenankan mengambil bagiannya." 

Keputusan Cu Hwa sangat bijaksana. Baik pihak The  Sie Ban maupun murid-murid Sim Pek Eng merasa puas. Mereka semua nampak berseri-seri wajahnya hanya Pian Cong  tojin dan The Sie  Ban  yang jadi murung. Mereka mendongkol, karena dikalahkan, Mereka malu, karena tadi sudah terlanjur membuka mulut besar. 

Sim Pek Eng dapat membaca keadaan   hati  mereka berdua. Dengan sikap hormat, pendekar  tua  ini  berkata kepada hadirin: 

"Saudara-saudara sekalian, Diwak-tu  muda,  adatku memang keras dan  berangasan, perangai  itulah  yang membuat aku kesalahan tangan sampai membunuh kakaknya saudara The Sie Ban. peristiwa itu betapapun juga membuat hatiku menyesal dan malu, sekarang perkenankan aku menyatakan maaf kepada saudara The Sie Ban." ia berhenti sebentar menoleh kepada puterinya. Berkata: "Cu Hwa,  kaupun harus berlutut kepada The susiok." 

Cu Hwa tahu diri, ia mendahului ayahnya berlutut  kepada The Sie Ban dan The Sie Ban tak dapat berbuat lain, kecuali menerima dan balas memberi hormat kepada Cu Hwa dan ayahnya. Ia tadi sudah berjanji hendak menyudahi persengketaan, manakala kena di kalahkan.  

Sebagai seorang  ksatria,  wajib  ia  memegang  janji. Lagipula bunyi dua  helai surat kesaksian menyatakan pula tentang kesalahan kakaknya. Karena itu tiada lagi alasan yang kuat untuk melanjutkan persengketaan itu.  pikirnya  didalam hati: 

"Masih beruntung, aku tidak sampai terluka. Lagipula Sim Pek Eng sudi menjura padaku dihadapan umum. inilah suatu penyelesaian terhormat, Apalagi uang aku hendak tuntut?" 

Tetapi tepat pada saat itu ia seperti melihat  bayangan almarhum kakaknya. Tak terasa kedua matanya berkaca-kaca. 

"Saudara The Sie Ban..." kata Sim Pek Eng dengan manis. "Mengenai pertaruhan itu, biarlah aku yang mewakili dirimu. Besok aku akan mencarikan sebuah gedung untukmu.  Atau aku akan membangunkan sebuah gedung baru sebagai pengganti gedungmu untuk kedua utusan tayhiap Gin-coa Long-kun." 

"Sudahlah." cegah The Sie Ban. 

"Aku tidak ingin mengingkari perkataan sendiri,  Aku seorang laki-laki yang tahu menghargai mulut. Sim tayhiap, maafkanlah aku. Aku datang ke sini sesungguhnya untuk membalaskan dendam  kakakku, Karena merasa diri tak ungkulan melawanmu, aku membawa sahabat-sahabat undanganku, sekarang permusuhan ini ku  sudahi  sampai  di sini saja . Besok aku akan pulang ke kampung dan akan menggantungkan pedangku  untuk   selama-lamanya.  Karena itu, biarlah gedungku menjadi milik kedua tuan ini." ia berhenti sebentar menoleh kepada Sin Houw dan Giok Cu.  

Kemudian menghadap sahabat-sahabatnya. setelah  memberi hormat, ia berkata: "Saudara-saudara datang kesi-ni oleh ajakanku, Ternyata  aku gagal membalaskan dendam kakakku dan  ternyata pula kakakku justru yang bersalah. Maafkan aku dan idzinkan aku membalas budi kalian dikemudian hari. sekarang perkenankan aku menjura terhadap saudara saudara sekalian sebagai pernyataan terima kasihku." 

Dan The Sie  Ban  membuktikan perkataannya dengan menjura untuk memberi  hormat kepada  para  hadirin, kemudian berkata lagi kepada Sim Pek Eng: 

"Kami telah membuat susah tayhiap Sim Pek  Eng, sekarang perkenankan kami berangkat, Maafkan segala- galanya." 

Cepat-cepat Sim Pek Eng membalas hormat, menyahut dengan suara manis: 

"Sekiranya tidak terjadi peristiwa ini, tak dapat aku bersahabat. Besok pagi aku datang  mengunjungi  tempat kalian." 

"Tak usah." ujar The Sie Ban,"Kami berdua akan meninggalkan kota ini, malam ini juga." 

Mereka berdua memutar tubuhnya. selagi hendak melangkahkan kakinya tiba-tiba terdengar seruan Giok Cu kepada Sie Liu Hwa: 

"Hey, bagaimana  dengan  pertaruhan  pedang  buntung?" Cu Hwa baru saja berlega hati melihat ayahnya luput dari 

bahaya maut, Karena itu tidak menghendaki lagi terjadi suatu ketegangan baru, siapa tahu ketegangan itu akan merubah keputusan The Sie Ban, Maka cepat-cepat ia berkata: 

"Bagaimana kalau kita menyudahi saja urusan kecil itu?" Tetapi Giok Cu mengotot. jawabnya sambil menuding 

Kiang Yan Bu: 

"Dia belum  memanggil kakek kepada ku. Karena  itu persoalan belum boleh dianggap selesai. Coba andaikata jago-jago mereka yang menang, kita masing-masing kebagian  tikaman pedang buntung sebelum  sempat  menyebut  kakek tiga kali kepadanya." 

Didalam hati Cu Hwa membenarkan perkataan Giok Cu. Tetapi ketegangan baru  itu,  tidak  dikehendaki  sebaliknya Kiang Yan Bu dan Sie Liu Hwa mendongkol dan penasaran mendengar perkataan Giok Cu. sebab mereka berdualah yang tertusuk kehormatannya.  

Tiba-tiba saja mereka lompat berbareng ke tengah gelanggang, Tetapi Kiang Yan Bu tidak menghampiri Giok Cu, sasaran rasa mendongkolnya dialamatkan kepada Sin Houw - katanya sambil menuding. 

"Kau menimpuk pedang tadi dengan gaya aliran Hoa-san pay. Dari mana kau curi ilmu itu? sebenarnya  siapa  kau? Hayo, bilang!" 

Nie Sun  Kiong yang mendampingi isterinya,  ikut  pula masuk kegelanggang, Berkata membantu kakak seperguruannya: 

"Kaupun tadi menggunakan jiirus-jurus Hok-houw ciang, sebenarnya dari mana kau mencuri ilmu kami itu?" 

Sin Houw sama sekali tak menduga, bahwa akan terjadi suatu ketegangan baru, Dalam hati ia memaki Giok Cu yang membuat gara-gara itu, Namun ia tertawa menghadapi kekasaran mereka. sahutnya: 

"Mencuri? Mencuri dari mana?" 

"Kau maling kecil!" maki Sie Liu Hwa kalap. "Kau masih menyangkal?" 

Sin Houw tertawa sambil menggelengkan kepala. Kemenakan muridnya itu benar-benar  galak. Ketika hendak membuka mulutnya, terdengar Kiang  Yan  Bu  tertawa mengejek, Lalu berkata menegas kepadanya: 

"Kalau tidak mencuri, dari mana-kau kau memperolehnya?" Kembali Sin Houw tertawa. sejenak kemudian menjawab 

dengan tenang:  "Aku tak perlu mencuri . Karena aku murid Hoa-san pay." Mendengar jawaban Sin Houw, rombongan Kiang Yan Bu 

yang terdiri dari murid-murid aliran  Hoa-san  pay  menjadi heran. Mereka saling  pandang mencari pertimbangan  Dan pada saat itu Sie Liu Hwa maju selangkah. sambil menuding ia berkata sengit: 

"Hey, maling kecil!  Apakah kau sebenarnya orang gila? Bukankah kau tadi selalu membawa-bawa nama Gin-coa Long-kun? Kenapa sekarang mengaku sebagai murid Hoa-san pay? Ha , ini namanya yang palsu bertemu dengan yang tulen. Kau tahu, dari mana kami bertiga ini?  Buka  telingamu  baik- baik! Kami bertiga adalah murid  rumah  perguruan  Hoa-san pay. Tahu?" 

Sin Houw tidak bersakit hati di  damprat  demikian,  tetap saja ia bersikap sabar dan tenang. ujarnyas 

"Seperti kunyatakan tadi, bahwa pendekar besar Lim Ceng Gie adalah ayah dari sahabatku ini. Tentang kalian bertiga sebenarnya sudah kuketahui jauh-jauh sebelumnya. Jadi tegasnya, kita ini adalah sesama aliran dan rumah perguruan." 

Nie Sun Kiong terhenyak, Rupanya ia bisa berpikir agak sabar. setelah terdiam sejenak, ia berkata hati-hati: 

"Semua murid kakek guru dan  paman guru,   kukenal  dengan baik, sebenarnya kau muridnya siapa?" 

"Guruku adalah Bok Jin Ceng," jawab  Sin  Houw. Mendengar   jawaban    Sin    Houw,   mereka   bertiga  kaget 

sampai  berjingkrak  kata  Sun  Kiong  kepada   isterinya,  untuk 

minta keyakinan: 

"Liu Hwa, Dia mengoceh tak keruan, apakah kau pernah mendengar kabar, bahwa  kakek guru mempunyai seorang murid lagi?" 

Sie Liu Hwa sejak tadi sudah tak dapat menahan marah. Mendengar pertanyaan suaminya, ia menjawab sengit: 

"Kakek guru seperti bermata dewa, mustahil ia mempunyai  murid penipu!" 

Sin Houw tertawa didalam hati dan berpikir: 

"Murid Jie suheng ini cepat sekali marah. pikirannya cupat pula, Umpama pedangnya masih utuh, pastilah dia segera menikamku." dengan pikiran itu, ia berkata: 

"Benar, suhu memang bermata dewa, Bahkan Jie  suheng Pui Tong Kim sebenarnya sudah harus memiliki mata  dewa, Apa sebab dia menerima murid sembarangan saja? Benar- benar aku tak mengerti." 

Semua hadirin menjadi terkejut mendengar Sin Houw menyebut Jie suheng terhadap tayhiap Pui  Tong Kim,  Dia dapat menyebut nama pendekar kenamaan itu. Mustahil dia bukan salah seorang anggauta rumah perguruan Hoa-san pay, sebaliknya Kiang Yan Bu bertiga justru  tertusuk kehormatannya, karena sipenipu itu menyebut nama gurunya dengan enak saja, Bentak Kiang Yan Bu: 

"Sebenarnya dari manakah kau memperoleh ilmu rumah perguruan kami?" ia berkata demikian karena mengira, Sin Houw seorang penipu yang hendak mempermainkan mereka bertiga. itulah sebabnya, meskipun agak bisa berpikir tenang, namun tak urung kehilangan kesabarannya juga. 

"Bukankah sudah kukatakan?" sahut Sin Houw  tetap sabar. "Guruku bernama Bok Jin Ceng. Dialah yang disebut pendekar sakti tanpa bayangan." 

Nie Sun Kiong mengawasi Kiang Yan Bu, kakak seperguruannya itu berdiri tertegun dengan membungkam mulut, Tadi ia menyaksikan sendiri betapa tinggi ilmu kepandaian Sin Houw,  Tatkala  ia  memperkenalkan  diri sebagai murid Hoa-san pay, ia  setengah  percaya.  mungkin, Sin Houw adalah muridnya Lauw Tong Seng,  paman guru mereka. Tetapi karena Sin Houw mengaku sebagai murid kakek-guru mereka, keraguannya lenyap, pastilah Sin Houw seorang penipu.  

Kakek gurunya biasa merantau, tak mungkin dalam  perantauannya menerima seorang murid yang masih begitu muda, Bagaima-na cara mendidiknya? Jelas tidak masuk akal, maka berkatalah ia mengejek: 

"Kalau begitu, kau adalah pamanku - bukankah begitu, paman yang baik?" 

"Jangan menyebut paman kepadaku, Kalau kalian bertiga menyebut diri sebagai keponakanku, akupun  sulit menerimanya." sahut Sin Houw tenang. 

Panas hati Kiang Yan Bu mendengar jawaban itu, Berkata mencoba: 

"Paman yang baik, tolong berilah  kami  nasihat,  Apakah kami bertiga tadi mencemarkan pamor rumah perguruan sehingga paman mencela guruku  menerima  murid-murid seperti kami bertiga? Hayo - berilah kami nasihat, Ha-ha !" 

Kiang Yan Bu sengaja tertawa, sehingga para hadirin ada yang ikut tertawa. 

Mendengar suara rombongan The Sie Ban  ikut tertawa, wajah Sin Houw berobah sungguh-sungguh, Katanya dengan suara berwibawa: 

"Jika Jie suheng Pui Tong Kim atau Sam suheng Sun Ho Liang suami dan isteri berada disini,  pastilah mereka akan menampar mulut kalian!" 

Dan Sin Houw menyebut nama Sam-suheng Sun Ho Liang 

, suami-isteri, karena mendadak ia teringat dengan perkataan Lauw Tong Seng ketika sesaat mereka hendak berpisah, Toa- suheng itu mengatakan bahwa sesungguhnya Bok Jin Ceng masih mempunyai dua murid lagi yakni Sun  Ho Liang dan isterinya, yang entah karena apa tak  pernah  disebut-sebut  oleh gurunya." 

Sementara itu Kiang Yan Bu menjadi  sangat gusar, ia menghunus pedangnya sambil berseru: 

"Kau bilang apa? Keparat! jangan bicara sembarangan!" Menyaksikan kejadian itu, Sim Pek Eng sibuk tak keruan.  Cepat-cepat ia melerai. Katanya kepada Kiang Yan Bu: 

"Kiang tayhiap, kuharap kalian jangan  marah. Mari kita lanjutkan menikmati hidangan." 

Dengan perkataannya itu, jelas bahwa Sim Pek Eng juga merasa tidak percaya terhadap  keterangan  Sin  Houw, ia melihat usia mereka terpaut  jauh, bagaimana mungkin Sin Houw dapat menjadi paman guru Kiang Yan Bu bertiga?  

Tetapi hati Kiang Yan Bu sudah terlanjur  panas. Tak memperdulikan permintaan Sim Pek Eng, ia membentak lagi kepada Sin Houw: 

"Bajingan! Meskipun kau berlutut  dihadapanku tiga kali, sudah tak terampuni lagi!" 

sejak tadi Giok Cu mendongkol ketika mendengar berulangkali Kiang Yan Bu memaki Sin Houw. Menuruti panas ha-tinya, ia meledak: 

"Hey, cucuku Kiang Yan Bu! sebelum kau disembah, harus menyebut diriku kakek dulu!" 

Sie Liu Hwa ikut menjadi sengit, Tiba-tiba ia menimpuk Sin Houw dengan pedang buntungnya, sambil berteriak sengit: 

"Coba tangkap! ingin aku menguji kepandaian murid Hoa- san pay!" 

Melibat berkelebatnya pedang buntung, Sin  Houw sama sekali tak bergerak dari tempat  duduknya.   ia  menunggu sampai ujung pedang hampir menyentuh dirinya,  Tiba-tiba tangan kirinya di tengadahkan, sedang tangan kanannya di angkat tengkurup, Kemudian dengan cepat sekali ia mengadukan kedua tangannya seperti lagi bertepuk.  

"Plok!" Dan pedang buntung itu kena ditangkapnya, itulah salah satu jurus ilmu sakti Hoa san pay yang diberi nama cengkeraman -burung Rajawali! 

"Bukankah ini yang dinamakan ilmu cengkeraman burung Rajawali? Cocok atau tidak dengan aslinya?" ia menegas.  Kembali Kiang Yan Bu menjadi heran. Juga Nie Sun Kiong. Didalam hati mereka berkata: "Benar, Mengapa pemuda itu dapat melakukannya dengan sempurna? Suhu sendiri belum tentu mampu berbuat demikian!" 

Sie Liu Hwa heran sampai tertegun, ia merasa diri seperti mati kutu. 

Tatkala mengalihkan pandang, ia melihat suaminya mendekati pemuda itu dan berkata dengan nada hati-hati: 

"Memang benar, kau telah menggunakan salah satu ajaran dari golongan kita, Tapi sekarang, aku ingin mencoba kepandaianmu supaya terbuka matamu." 

"Baiklah!" jawab Sin Houw, "Bila "kau dapat melayani aku sampai lima jurus, kau boleh berkata kepada siapapun juga bahwa aku penipu besar. Setuju?" 

Mendengar perkataan itu, Kiang Yan Bu bertiga heran berbareng lega hati, Pikir Yan  Bu didalam hati, Sin  Houw terlalu besar mulut, Mustahil ia dapat merobohkan Sun Kiong dalam lima jurus saja? Dengan pikiran itu ia berkata: 

"Baiklah! Aku yang menghitung!" 

Kiang Yan Bu dan Sie Liu Hwa mundur keluar gelanggang, Dan semua hadirin melepaskan pandangnya kearah Sin Houw dan Sun Kiong dengan penuh perhatian. 

Nie Sun Kiong sendiri tak berani merendahkan Sin Houw. Hatinya penuh kebimbangan. Karena itu ia bersikap hati hati, Katanya: 

"Bila nanti ternyata masih terdapat kekuranganku, haraplah sudi memberi saran dan nasihat." 

Perlahan-lahan Sin Houw menghampirinya,  setelah  bersiaga bertempur, ia berkata: 

"Jurusku yang pertama adalah Cio-po thian-keng,  Kau mengerti, bukan...? Nah, sambutlah." 

Nie Sun  Kiong tercengang  mendengar perkataan Sin  Houw, ia jadi geli sendiri. Pikirnya, Sin Houw tentu hendak menipu. Dimanakah ada  seseorang yang memberitahukan ragam jurusnya sebelum menggempur lawan?  Kalau bukan bermaksud menipu? Tipu serangan yang dimaksud akan membidik sasaran atas, pasti Sin Houw akan  menyerang bagian bawah. 

"Baik. Kau seranglah!" sahutnya. 

Dan Sun Kiong mempersiapkan kedua tangannya hendak melindungi perutnya, dan sin Houw segera berseru: 

"Hey, mengapa kau tidak percaya?" ia menunda serangannya, dan  berseru lagi: "Tangkislah dengan kedua tanganmu!  Kau takkan  sanggup  menyongsong  pukulan dengan sebelah tangan!" 

Nie Sun Kiong terkejut, Sama  sekali  tak  terduga,  bahwa Sin Houw benar-benar menyerang dengan jurus Cio-po thian- keng, Masih untung, Sin Houw menunda serangannya. Kalau tidak, hidungnya pasti akan  mengeluarkan  darah,  Teringat akan tenaga dalam Sin  Houw yang dahsyat tadi, gugup ia menyusulkan sebelah tangannya. Dengan begitu benarlah perkataan Sin Houw, bahwa ia harus memapak pukulannya dengan dua belah tangannya. "Bres!" tubuhnya tergetar dan mundur selangkah bergoyang. 

"Bagus!" seru Sin Houw memuji. 

"Sekaranq, seranganku yang kedua terdiri dari tiga jurus sekaligus yang kugabungkan menjadi satu, jurus Iek-pek Sam- koan, Pauw-conn in-ciok dan Kim-kong ci-bwee.  Bagaimana kau hendak melawannya?" 

Tanpa berpikir lagi, Sun Kiong lalu menjawab: 

"Aku akan memunahkan dengan tiga jurus pula, Jurus Hong-da chiu, Pek-in cut-sie dan Peng-hwa hut-liu." 

"Dua yang benar. Tapi yang ketiga tidak tepat!" kata  Sin Houw seperti seorang guru mengajar  muridnya.  Memang, sengaja ia berlaku demikian untuk membuat Sun Kiong takluk benar-benar.  "Kau tak percaya? Mari kujelaskan, titik penjagaan berada disekitar dada. Tujuannya memunahkan sambil  membalas menyerang. Bila lawan akan mengadu tenaga, itulah bagus, Kalau tidak, terpaksalah kau membalas menyerang.  untuk menyerang balik, kau harus menarik jari  tanganmu  dahulu  yang sudah terlanjur terbuka menjadi suatu cengkeraman. Kemudian memutar pergelangan untuk kau buat tenaga tolak.  

Dengan demikian kau meninggalkan sebagian garis pertahananmu, Karena  itu, kau takkan sanggup menahan gempuranku yang mengarah jantung." 

"Kalau begitu, aku akan menggunakan jurus Cian-kin cui- te." sahut Nie Sun Kiong. 

"Ha, itu benar. Kau sambutlah!" 

Sambil berkata demikian, Sin Houw melancarkan serangannya. Cepat dan gesit sekali. Sun Kiong melakukan pembelaan, ia menjaga  tangan kanan lawan,  AKan tetapi tangan kanan Sin Houw hanya terangkat  sedikit.  sedang tangan kirinya tiba-tiba yang menerjang sasaran . seru Sin Houw: 

"Dalam suatu perkelahian,  kau tak boleh terlalu kokoh memegang keharusan jurus-jurus ajaran. semuanya bisa berubah menurut keadaan. pastilah gurumu pernah berpesan demikian." 

Diperlakukan sebagai kanak-kanak, lambat laut Nie Sun Kiong mendongkol, diam-diam ia mempersiapkan serangan balasan apabila sudah  dapat  memunahkan  tiga  jurus serangan itu. Tapi kegesitan gerak Sin Houw di luar perhitungannya. 

Gesit luar biasa Sin Houw melejit kekiri dengan membuka dadanya. Cepat-cepat Sun  Kiong meninju, Tapi mendadak pergelangan tangannya kena ditangkap dan  ditarik.  Buru-buru ia menahan diri dengan kuda-kuda pada kakinya. Ternyata Sin Houw tidak hanya menarik saja, ia melesat kesamping dan tiba-tiba sudah berada dibelakang punggung. ia menggentpur pantatnya, sebelum Sun Kiong sempat memutar tubuh. Plok,  dan kedua kaki Sun Kiong gempur garis pertahanannya, ia terhuyung kedepan, Dan baru bisa membalikkan tubuh setelah berjuang dengan susah payah. 

"Bagus!" seru Sin Houw gembira. "Sekarang jurusku yang kelima. jurus terakhir. Hati-hatilah,  aku hendak menyerang dengan jurus Kie-riu si, salah satu bagian  dari  ilmu  Po-giok kun!" 

Nie Sun Kiong heran. Bukankah jurus itu tiada faedahnya untuk menghadapi  lawan?  Karena hanya digunakan untuk permulaan kali sebagai penghormatan kepada lawannya bertanding? jurus itu sama sekali tidak masuk hitungan. 

Sin Houw rupanya dapat membaca hatinya. Katanya: "Apakah  kau  sangka  jurus  itu  hanya  untuk  upacara saja? 

Apakah  kau  kira  jurus  itu  tiada  faedahnya  untuk menghadapi 

lawan? sebenarnya  kau harus dapat meraba apa  maksud pendiri aliran Hoa-san pay menciptakan jurus itu. Yakinlah bahwa tiada satu juruspun ciptaan pendiri Hoa-san pay yang tidak dipersiapkan untuk  melumpuhkan lawan  agar dapat merebut kemenangan. Kau lihat sajalah, kalau tidak percaya!" 

Setelah berkata demikian, ia mengendapkan tubuhnya dan meliuk seakan-akan busur. Tangan kanannya membuat  tinju  dan ditekap oleh tangan kirinya. 

Kemudian membuat gerakan membungkuk hormat. ia maju selangkah dan kedua  tangannya  menyerang  dengan berbareng, semuanya itu dilakukan  dengan  cepat  dan  tiba- tiba. 

Gugup Nie Sun Kiong mengadakan pembelaan, Tahu-tahu pahanya kena ditinju. Tubuhnya terhuyung mundur dan roboh. Tepat pada saat itu, Sin Houw melompat menyambarnya. ia menjaganya, lalu direbahkan dengan perlahan lahan dan hati- hati. 

Nie Sun Kiong melompat bangun terus  saja  ia membungkuk hormat dan ia berkata: 

"Maafkan, susiok. Mataku terlalu lamur sehingga tidak  mengenal susiok dengan segera." 

Cepat-cepat Sin Houw membalas hormatnya . Menjawab: "Mengingat usiamu lebih tua, lebih baik kita saling 

menyebut kakak-adik saja." 

"Akh, tak berani aku berbuat demikian . Mungkin susiok memang lebih senang bila kusebut adik, akan  tetapi  kalau suhu mendengar, apa jadinya..?" sahut Nie Sun Kiong cepat. "Lagi pula ilmu kepandaian susiok benar benar luar biasa dan berada jauh diatas tingkatanku, Lima jurus tadi, benar-benar jurus ilmu Hoa-san pay, susiok telah membuka mataku. Dikemudian hari,  aku akan menekuni petunjuk susiok yang sangat berharga itu." 

Dikemudian hari Nie Sun Kiong benar benar memegang perkataannya. ia berlatih menurut petunjuk Sin  Houw dan menjadi seorang pendekar kenamaan yang  jarang tandingannya. sampai berusia  lanjut,  ia  menghormati susioknya yang muda belia itu. 

Pada saat itu Sin Houw hanya bersenyum. Tak dapat ia menolak alasannya Nie Sun Kiong,  Memang,  kalau  gurunya Nie Sun Kiong mendengar betapa sikap muridnya itu terhadap dirinya, bisa-bisa dikutungan kedua lengannya. 

Kiang Yan Bu dan  Sie Liu  Hwa kini tak dapat  lagi bersangsi, setelah menyaksikan betapa Sin  Houw dapat merobohkan Nie Sun Kiong dengan lima jurus - walaupun demikian, Kiang Yan Bu masih yakin akan ketangguhannya sendiri. pikirnya didalam hati: "Aku memang murid tertua dari suhu, akan tetapi ilmu pedangku, kuperoleh  dari  Sun  susiok dan isterinya, Dia tadi selalu melawan musuhnya dengan tangan kosong. Mungkin dia hebat dalam ilmu tangan kosong tapi belum tentu ia mahir dalam ilmu pedang . " 

Selagi berpikir demikian, Sie Liu Hwa berseru kepadanya: "Kiang suheng, kau belum mencoba ilmu pedangmu." 

Diam-diam Kiang Yan Bu menjadi girang mendengar pertanyaan itu, Terus saja ia mendekati Sin Houw dan berkata  dengan suara angkuh: 

"Sekarang giliranku, Aku biasa menggunakan pedang, karena itu lawanlah aku dengan pedang juga." 

"Menurut kabar, kau adalah murid tertua Jie suheng Pui Tong Kim, Tetapi Jie suheng sesungguhnya seorang ahli  dalam ilmu silat tangan kosong, sebaliknya kau terkenal dengan pedangmu, Apakah kabar itu tidak benar?" 

"Benar atau tidak, bukan urusanmu !" sahut Kiang Yan Bu. "Aku memang murid tertua Pui suhu, tetapi ilmu pedangku kuperoleh dari suami-isteri Sun Ho Liang,  Kenapa?  Apakah aku tidak berhak lagi menyebut diriku sebagai murid Hoa-san pay? Lauw susiok pernah  mengajari aku satu dua  jurus, apakah aku tidak berhak membawa-bawa nama rumah perguruan Hoa-san pay?" 

"Akh, sombong benar manusia ini?" pikir Sin  Houw,  "Sifat dan perangainya jauh berbeda  dengan Sun Kiong, Pantas sepak terjangnya keterlaluan. Biarlah kuhajarnya benar-benar, agar di kemudian hari tidak merusak nama baik rumah perguruan Hoa-san pay. Mungkin sekali, dia akan  bisa merubah sepak terjangnya setelah kuberi pengalaman pahit     

." 

Memperoleh keputusan demikian Sin  Houw menyahut dengan menegakkan kepala - katanya: 

"Untuk mengadu pedang bukan soal sulit, Hanya  saja, setelah kau kalah, wajib kau mendengar  perkataanku. Barangkali tidak terlalu sedap bagi pendengaranmu." 

"Sekarang belum ada keputusan siapa yang menang dan kalah, Karena  itu terlalu pagi untuk  membicarakan  urusan kalah dan menang. Buktikan dulu!" sahut Kiang Yan Bu sambil melintangkan pedangnya  didepan dadanya dan  mengambil tempat disebelah kiri. 

"Kiang suheng! pedangmu tidak boleh kau angkat terlalu tinggi. Dia adalah paman guru kita!" seru Sun Kiong. 

Tetapi Kiang Yan Bu tidak menggubris seruan adik  seperguruannya itu. ia tahu, peraturan rumah  perguruan  Hoa san pay, Apabila angkatan muda berlatih pedang dengan angkatan tua, maka pedang  angkatan  muda  tak  boleh diangkat terlalu tinggi. sebab gerakan pedang itu sendiri merupakan tata tertib kehormatan. Akan tetapi pada saat ituf ia menganggap Sin Houw bukan paman gurunya, Karena itu, ia telah mengangkat pedangnya tinggi diatas dada,  lalu menantang: 

"Silahkan!" 

Betapa sabar Sin Houw akhirnya mendongkol juga. Meskipun demikian,  ia  tidak  segera  menerima  tantangan Kiang Yan Bu, ia menoleh kepada Sim Pek Eng dan berkata: 

"Sim susiok! Maafkan, aku tadi menyebut susiok dengan saudara. sebab pada saat itu aku  memperkenalkan  diri sebagai adik seperguruan Gin-coa Long-kun." 

"Akh, tidak apa-apa. janganlah meributkan soal itu,  yang tidak ada artinya untuk dibicarakan." sahut Sim Pek Eng. 

"Terima kasih, susiok. Sekarang, bolehkah aku meminta pertolongan dari murid susiok untuk membawakan  sepuluh batang pedang kemari?" 

"Mengapa tidak?" sahutnya yang segera memerintahkan muridnya untuk mengambilkan sepuluh  batang  pedang panjang, Mengingat sin Houw telah menolong jiwa gurunya, sang murid itu sengaja memilihkan pedang-pedang yang istimewa, sepuluh pedang itu kemudian ditempatkan diatas meja,yang berada tak jauh dari Sin Houw. 

Semua hadirin mengarahkan pandangnya  kepada Sin Houw, Mereka merasa heran entah apa maksud pemuda itu yang menghendaki sepuluh batang pedang. Apa dia hendak memilih sebatang diantaranya? Akan tetapi, diluar dugaan, Sin Houw justru memungut pedang buntung Sie Liu  Hwa. Kemudian berkata sambil tertawa: 

"Biarlah aku memakai pedang buntung ini saja." 

Sudah barang tentu para hadirin tercengang heran.  Bagaimana mungkin  sebatang  pedang  buntung  dapat melawan pedang Kiang Yan Bu? Banyak  diantara  mereka menganggap pemuda itu terlalu sombong, sebaliknya, Kiang Yan Bu merasa diri direndahkan, ia gusar bukan kepalang. 

"Kau benar-benar tak memandang mata padaku. Jika kau nanti mampus, jangan sesalkan aku!" teriak Kiang Yan Bu,  ia kini tak dapat menguasai diri lagi. ia memutar pedangnya dan diantara sinar pedangnya yang berkilauan, ia membentak: 

"Awas!" 

Kiang Yan Bu benar-benar  menikam, Arah bidikannya kepada pundak kanan. Menurut perhitungannya, itulah bagian yang lemah. Sebab Sin Houw hanya dapat menjepit pedangnya. Dengan demikian tak dapat ia bergerak leluasa. 

Ruangan serambi depan Sim Pek Eng yang terisi lebih dari empat ratus orang, sepi dengan tiba-tiba. Mereka semua membungkam mulut dan memperhatikan gelanggang pertempuran. Mereka melihat,  betapa cepat dan  dahsyat serangan pedang Kiang Yan Bu  yang  disertai  himpunan tenaga dalam, Tatkala ujung pedangnya hampir mencapai sasaran, sekonyong-konyong Sin  Houw menangkis dengan pedang buntungnya, Kedua senjata tajam itu lantas saja saling bentur. 

Setelah suara nyaring pedang lenyap dari  pendengaran, para hadirin terkejut heran. Mereka mendengar suara pedang patah dan runtuh bergelontangan di  lantai.  Ternyata  itu pedang Kiang Yan Bu yang mendadak saja patah menjadi tiga bagian.  

Mereka bertanya tanya di dalam hati, ilmu tangkisan apa yang digunakan Sin Houw untuk membabat pedang Kiang Yan Bu sampai patah? 

Selagi hadiri heran, Sin Houw menuding ke meja samping. Berkata: 

"Jangan khawatir. Aku telah minta kepada Sim susiok agar menyediakan sepuluh batang pedang. Nah, tukarlah  pedangmu yang buntung itu, Kau boleh  memilih  sesuka hatimu." 

Sekarang barulah hadirin mengerti apa  sebab  Sin  Houw tadi minta sepuluh batang pedang kepada Sim Pek Eng, Dan yang heran dan menyesal, adalah Cu Hwa  dan   beberapa murid yang mengambil sepuluh batang pedang itu, Kalau tahu tidak bakalan mereka memilihkan  pedang  yang  justru istimewa! 

Kiang Yan Bu terperanjat berbareng gusar  luar  biasa. Tanpa membuka mulutnya ia membuang pedang buntungnya, kemudian melompat ke meja sambil menyambar sebilan pedang, setelah itu menerjang Sin Houw dengan tiba-tiba. 

Otak Sin Houw memang cerdas luar biasa. ia menduga, bahwa Kiang Yan Bu hanya menggertak saja, Karena itu tak ia menangkis atau menghindar. Dan dugaannya tepat benar. Yan Bu benar benar membatalkan sasarannya. Tiba-tiba saja pedangnya ditarik dan ganti menikam perut. Melihat berkelebatnya pedang, Sin Houw segera menangkis dengan mengerahkan tenaga dalamnya. 

"Tak !" 

Dan untuk kedua kalinya,  pedang  Yan  bu  patah  menjadi tiga bagian. Tak mengherankan, Yan Bu menjadi kalap tanpa menunggu perkataan Sin Houw ia telah lompat keluar gelanggang dan menyambar sebilah pedang lagi. Kemudian mengulangi serangannya dengan dahsyat.  

Akan tetapi, untuk yang ketiga kalinya -  pedangnya  patah lagi dalam segebra-kan saja. sekarang larutlah sebagian besar kesombongannya. ia  berdiri  tertegun  bagaikan  patung  yang tak pandai bicara. ia heran dan penasaran. 

"Hey, setan kecil!" seru Sie Liu Hwa dari luar gelanggang. "Kenapa kau melawan ilmu pedang Kiang suheng dengan ilmu iblis? Apakah ini namanya mengadu kepandaian?" 

Sin Houw merasa dirinya kena tegur, segera ia melempar pedang buntung ditangannya, Kemudian mengambil dua  batang pedang. Yang sebatang diberikan kepada Kiang  Yan Bu. ia berpaling kepada  pendekar wanita yang  garang  itu sambil bersenyum, Katanya: 

"lni bukan ilmu iblis, nyonya.Kau mengaku murid Hoa-san pay. Mengapa tidak mengenal ilmu Kun-thiang kang?" 

Selagi ia bicara, tiba-tiba Kiang Yan Bu menggunakan kesempatan itu, De-ngan kecepatan  kilat,  ia  menikam punggung Sin Houw, setelah itu baru ia berteriak : 

"Awas!" 

Sin Houw tahu kecurangan lawannya - namun ia  tak bersakit hati, sambil mengelak ke samping, ia menirukan bunyi teriakannya seraya menggerakkan pedangnya: 

"Awas!" 

Kiang Yan Bu menyerang dengan tipu ajaran suami-isteri Sun Ho Liang. 

Itulah ilmu pedang Cong-eng  kim-touw  -Garuda menyambar kelinci. Kali ini ia tak sudi membiarkan pedangnya sampai terbentur, ia bergerak secepat angin. 

Tetapi mendadak ia terkejut bukan main, pantatnya seperti terbentur sebuah benda dingin. Cepat ia memutar pe dang sambil membabat, namun pantatnya  masih saja tertempel benda dingin itu, Kali ini ia benar-benar kaget sampai punggungnya berkeringat dingin. untuk membebaskan diri, ia menubruk ke depan sambil menjatuhkan diri. Kemudian melompat tinggi jauh ke depan lagi. Tetapi  masih  saja pantatnya terasa di-ngin, 

Dalam sekejapan tadi,  ia melihat benda apakah  yang terasa dingin di pantatnya. itulah ujung pedang Sin Houw, Keruan saja ia sibuk bukan main,  sekali lagi ia  menjatuhkan diri sambil bergulingan. Namun ke mana  saja  ia  bergerak, ujung pedang Sin Houw tetap melekat pantatnya.  

Karena putus asa, ia jadi nekat. pedangnya diputar serabutan sekarang ujung pedang Sin Houw tidak lagi melekat  dipantatnya, Tetapi tatkala  hendak  berdiri,  tahu-tahu  pedang itu sudah berada di depan dadanya, kalau saja Sin Houw mendorong pedang itu sedikit saja, tamatlah riwayatnya! ia kini benar-benar merasa takut dan bingung, itulah perasaan  takut dan bingung untuk yang pertama kalinya di alaminya, selamanya, ia membanggakan diri.  

Kini ternyata ia mati kutu menghadapi kegesitan Sin Houw yang bisa bergerak cepat, bahkan kecepatan Sin Houw berada diatasnya, 

Sin Houw memperhatikan wajah keponakan murid itu yang pucat lesi, seluruh tubuhnya bermandikan keringat. 

Betapapun juga ia jadi iba hati,  Bu-kankah memang keponakan muridnya sendiri? Adalah keterlaluan  sekali bila dibuat malu dihadapan umum. Maka segera ia menarik pedangnya dan mundur selangkah . 

"lnilah ilmu pedang Hoa-san pay -yang sejati!" katanya, "Apakah kau belum pernah mempelajarinya?" 

Kiang Yan Bu lompat bangun sambil mengatur pernapasannya kembali. Kemudian menjawab dengan menundukkan kepala: 
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(