Golok Hallintar (Thio Sin Houw) Jilid 19

Jilid 19

Hanya saja, sampai hujan berhenti, masih saja Giok Cu menangis sedih. suatu kali, ia melihat gadis itu  mencuri pandang kearahnya, Aneh, begitu beradu pandang, tangisnya makin menjadi-jadi. 

"Baiklah," pikir Sin Houw didalam hati. "Aku ingin tahu sampai kapan kau betah menangis. Apakah air  matamu melebihi lautan Atlantik? Hm, benar benar aku ingin tahu!" 

Tentu saja Giok Cu tak mengetahui  apa  yang terpikir didalam hati pemuda itu. ia terus menangis  dan menangis sampai tiba-tiba terdengar suara langkah terantuk-antuk batu mendekati barak. Dan lama kemudian, nampak seorang laki- laki memayang seorang perempuan.  Nampaknya  perempuan itu menderita sakit, ia merintih dan mengerang. 

Laki-laki itu iba  kepadanya. ia mencoba meringankan penderitaannya dengan kata-kata  bujukan. Dan  oleh munculnya mereka berdua, Giok Cu berhenti menangis. Tak sengaja, ia memperhatikan gerak-geriknya, Juga Sin Houw tak terkecuali. Dan tiba-tiba saja timbullah suatu pikiran didalam benaknya.  Tak lama kemudian, sepasang suami isteri itu meneruskan perjalanannya dengan tertatih-tatih, sebentar  Giok  Cu mengikuti dengan pandang matanya. 

Lalu bersiap-siap hendak meneruskan perjalanannya pula, selagi hendak meninggalkan pintu keluar, tiba-tiba  ia mendengar Sin Houw memekik tertahan: 

"Aduh aduuuuh!" 

Kaget ia memutar tubuh. Dan pada saat itu ia melihat Sin Houw meliuk-liuk menahan sakit. Kedua tangannya menekan perut dan mengaduh terus-menerus oleh rasa kaget, Giok Cu melompat dengan membawa gucinya, Kemudian diletakkan diatas tanah sambil berseru gugup: 

"Kenapa?" 

Sin Houw tak menjawab. ia rebah terduduk diatas tanah, Keringan dingin membasahi seluruh tubuhnya. 

"Kenapa? Sakit perut?" Giok Cu  menegas. 

Tetap saja Sin Houw tak menyahut. ia meringis  kesakitan dan terus merintih . Tetapi didalam hatinya ia berkata "sekali 

bermain sandiwara, tak boleh kepalang tanggung.   

memperoleh keputusan itu, ia menahan napas.  sebagai seorang pemuda berilmu tinggi ia dapat mengatur napasnya sesuka hatinya. Dan begitu napasnya tertahan, sekujur badannya dingin dengan mendadak. 

"Sebenarnya kau kenapa?" Giok Cu gugup tak keruan. Kali ini hatinya benar benar sibuk. ia  meraba  pergelangan  tangan Sin Houw, Dingin! Dan ia lantas  menangis kebingungan. Maklumlah, selamanya belum pernah ia merawat orang sakit. Bahkan ibunyalah yang selalu  merawat dirinya bila sakit, Karena itu cepat sekali ia kehilangan akal. 

Sin Houw benar-benar tak mau  kepalang  tanggung, Dengan tersekat-sekat ia berkata: 

"Giok-moay, agaknya sakitku ini tak dapat  disembuhkan lagi, Kau berangkatlah seorang diri, jangan perdulikan aku. "  "Tapi, kenapa? Kenapa kau mendadak  sakit? Kenapa?" Giok Cu setengah menjerit. 

"Giok-moay, sebenarnya aku  mempunyai  penyakit turunan." sahut Sin Houw dengan  suara  lemah.  "Setiap  kali aku menjadi sedih atau merasa mendongkol penyakit itu kambuh, sekarang hatiku  pepat, sedih dan mendongkol. perutku lantas sa aduh!" 

Benar-benar Giok Cu kebingungan. Lupa dia kepada adat zaman itu, terus saja  ia  merangkul,  Kemudian  mengurut- ngurut dada dan perut Sin Houw. 

Sin Houw jadi kegelian sendiri, ia malu dan kikuk kena  dipeluk seorang gadis. Apalagi kena  peluk  seorang  gadis basah kuyup yang membuat bentuk badannya jadi jelas dan bergairah. 

"Sin  koko!   Tak   boleh  kau   mati        Memang  akulah yang 

membuat  hatimu sedih,  mendongkol dan.   "  Giok Cu meratap. 

"Memang aku seorang gadis  tak tahu diri, seorang gadis sebatang kara yang berkepala batu, Koko, aku berjanji tidak akan membuatmu sedih dan mendongkol lagi." 

Mau tak mau Sin Houw tertawa di dalam hati, ia berhasil dalam peranannya, Berkata didalam hati: 

"Aku kini kena peluknya, Kalau sandiwaraku bubar tengah jalan, aku bakal dikecam sebagai  seorang pemuda kurang sopan " dan ia terus merintih-rintih panjang  dan pendek. 

Kemudian ia mengeluh mengambil hati: 

"Tak  dapat  aku  hidup  lebih lama -Giok-moay kalau  aku 

sampai  mati.     jangan   kau   bakar   diriku,  Aku,  takut panas. 

Karena  itu kubur saja  dengan  wajah tengkurup, Lalu carilah 

..  suhengku  dan  kabarkan  tentang  nasibku yang  buruk  ini 

aduuuuh!" 

"Tidak! Tak boleh kau mati!" Giok  Cu  menangis. "Sebenarnya aku hanya berbohong dan bermain sandiwara kepadamu. Aku tidak  marah kepadamu.  Yang  kuharapkan, agar kau menaruh perhatian kepadaku. Koko aku sayang  padamu... jika kau mati, akupun  akan bunuh diri dan mati didampingmu..." 

Hati Sin Houw tergetar. Gadis itu berkata dengan sungguh- sunggun diantara  tetesan air  mata, Mustahil dia  sedang bersandiwara seperti dirinya. Maka ia berpikir didalam hati: 

"Akh, aku tidak sangka bahwa  dia menyintai aku."  dan aneh memperoleh pikiran demikian, mendadak saja hatinya terselimut perasaan syukur dan bahagia. ia  lantas  jadi bimbang. Apakah ia harus bersandiwara terus? 

Dalam pada itu rangkulan Giok Cu  terasa  makin  erat, Gadis itu sedih dan cemas bukan kepalang. ia mengira Sin  Houw benar-benar tak tertolong lagi. ia mengeluh sedih: 

"Koko jangan tinggalkan aku. Kau tak boleh mati, atau 

matilah bersamaku !" 

Hati Sin  Houw benar-benar tergoncang,  Tiba-tiba saja berkelebatlah bayangan Hong Kiauw dan Cie Lan. Kemudian ayah-bunda, kakak tertua  dan saudara  perempuannya, seketika itu juga teringatlah dia kepada darma yang harus dilakukan. 

Oleh pikiran itu, ia jadi malu kepada dirinya sendiri. Terus 

saja ia menguraikan rangkulan Giok Cu. Kemudian berkata: 

"Giok Cu. Kau mengaku hanya bermain sandiwara terhadapku dengan berpura-pura marah, Akupun sebenarnya sedang bersandiwara pula terhadapmu. Maafkan aku." setelah berkata demikian ia tertawa terbahak-bahak untuk meyakinkan gadis itu. 

Tentu saja, pengakuan itu membuat hati Giok  Cu  kaget dan malu bukan main, ia tercengang sejenak. Tiba-tiba ia melayangkan tangannya menampar telinga Sin Houw, Kemudian melompat bangun dan lari dengan membawa guci abu. 

Telinga Sin Houw terasa pengang, Tamparan itu benar- benar tak terduga olehnya, Lagipula terlalu dekat, sebagai seorang pendekar yang memiliki kepandaian tinggi,  sebenarnya dapat ia mengelak atau menangkis. Tapi ia tidak sampai hati membuat gadis itu kecewa. Maka ia membiarkan dirinya di tampar, Hanya saja tak pernah mengira, bahwa tamparan Giok Cu terlalu keras. itulah  suatu  tanda,  bahwa gadis itu benar-benar marah. 

"Akh, aku benar-benar semberono. Kalau kali ini ia marah benar-benar... itulah akibat kesalahanku sendiri." ia mengaku didalam hati, cepat ia melompat bangun dan terus mengejar, Dengan ilmu ringan tubuhnya yang  sempurna,  ia  tak mengalami kesukaran sedikitpun  untuk  menyusul,  sebentar saja ia sudah berada satu langkah dibelakang gadis itu. 

"Giok Cu, maafkan aku!" katanya berulangkali. 

Tetapi Giok Cu tak sudi mendengarkan. Hatinya  malu, menyesal dan... marah. ia merasa benar-benar dipermainkan, sebagai seorang gadis adalah tabu apabila membuka rahasia hatinya begitu jelas dihadapan seorang pemuda yang justru menjadi tambatan hatinya.   

Tetapi setelah lari mengumbar adat selintasan lamanya, mendadak saja kekerasan hatinya jadi lemah dengan tak di kehendakinya sendiri, ia menoleh dan melihat pipi dan telinga Sin Houw merah akibat tamparannya,  Makin ia  menjadi perasa, Dan terjadilah suatu pergumulan hebat antara penyerahan dan  keangkuhannya.  Akhirnya meletuslah per- bendaharaan hatinya: 

"Kau menjemukan sekali " 

Girang hati Sin Houw mendengar kata-kata Giok Cu. Alangkah manis dan sedapnya, Semanis dan sesedap tetesan madu, Bukankah kata-kata itu sendiri berarti  suatu uluran perdamaian, Maka sahutnya: 

"Giok  Cu, aku memang keterlaluan, Maafkan aku " 

"Kalau sudah kumaafkan, lalu bagaimana?" Giok Cu merengut. 

"Aku senang!"  Giok Cu menundukkan  kepalanya.  ia  memperlambat larinya. Akhirnya berjalan dengan langkah terantuk-antuk, Dan menjelang magrib mereka tiba di  sebuah  desa  yang  berada  tak jauh didepannya. 

Mereka berdua mencari rumah makan dan didalam rumah makan itu, barulah mereka dapat duduk berjajar dengan perasaan damai. Dengan berdiam diri mereka saling pandang, Giok Cu masih agak basah pakaiannya, sedang Sin Houw tersenyum simpul. 

"Hey, mengapa kau mengumbar mulut?" tegur Giok  Cu.  "Apa yang kau gelikan?" 

"Perutku." sahut Sin Houw seenaknya. 

"Kenapa perutmu? sakit  lagi?"  dan   gadis  itu  nampak sengit. 

"Bukan, Lapar! Yang sakit adalah pipiku." 

Giok Cu tertawa, Tawa manis sekali. Sin   Houw  pun tertawa. Akhirnya mereka tertawa  berbareng,  Dan  pada  detik itu pula, hati mereka benar-benar berdamai. Mereka lantas bercakap-cakap sambil makan dan minum. 

Malam hari itu mereka  menginap di rumah seorang  penduduk desa, Puas hati Giok Cu, karena Sin Houw ternyata seorang pemuda yang sopan. Sama sekali ia tak  menggoda atau mencoba membawa pembicaraan kearah tertentu.  

Bahkan ketika rasa kantuk tiba, ia tidur menggeletak diluar gubuk, diatas seonggok jerami kering. 

Keesakan harinya, mereka mandi disebuah sungai yang jernih airnya. setelah ganti pakaian, berkatalah Sin Houw: 

"Giok Cu. Kurasa tugas kita yang terpenting adalah mengantarkan abu ibumu mendaki gunung Hoa-san, Bagaimana pendapatmu?" 

"Benar." Giok Cu membenarkan."Tetapi bagaimana sebenarnya atau asal mulanya kau dapat menemukan makam ayah."  "Nanti kuberitahukan  sambil  meneruskan  perjalanan." sahut Sin Houw. 

Mereka mengisi perut dahulu. Kemudian meneruskan mengarah ke barat dan sambil berjalan, Sin  Houw menceritakan pengalamannya tatkala mula-mula menemukan goa Gin-coa Long-kun yang bersembunyi  diatas  puncak gunung Hoa-san. Bagaimana ia memperoleh kitab dan peta warisan yang akhirnya dapat dipergunakan untuk menghancurkan ilmu kebanggaan keluarga Cio-liang pay. 

Giok Cu girang berbareng  berduka, ia girang  karena ayahnya ternyata  seorang  "tay-hiap"  atau  pendekar  besar yang pantas dikagumi. sebaliknya ia berduka mengenangkan nasib ibunya yang malang. Mengapa ibunya dilahirkan hanya untuk menderita?  Mengapa  di dunia ini  seolah-olah tiada kedamaian?  

Masing masing membawa  persoalannya sendiri  yang penuh duka-cita. Dan terasa sekali dalam hati manusia betapa sempit dan terlalu pendek masa damai yang  dapat  terteguk  oleh insan yang benar-benar merindukan. 

Kemudian Giok  Cu  berkata  kepada  Sin  Houw: "Sebenarnya bagaimana sih rupanya peta itu? Bolehkah 

aku melihatnya?" 

"Kenapa tidak? ini adalah warisan ayahmu. sebenarnya harus kuserahkan kepadamu." sahut Sin Houw, Dan ia menyerahkan peta itu. 

Giok Cu menerima dengan tangan gemetar, ia berdiam diri merenungi dan mempelajari.  Hatinya  berduka  berbareng girang, ia mencoba mengalihkan peta itu kedalam ingatannya, Tentu saja ia membutuhkan waktu berhari-hari  lamanya  dan pada suatu hari, tiba-tiba ia berkata: 

"Sin koko, Lebih baik kita undur dahulu perjalanan kita mendaki gunung Hoa-san, Kurasa harta  warisan ini sangat penting," 

Sin Houw heran.  "Penting bagaimana?" tanyanya. 

"Bukankah peta ini menyebutkan tentang harta warisan? Kata ayah, barang siapa memperoleh harta ini, diwajibkan menyerahkan uang sebesar seratus ribu tail, Kalau begitu, jumlah harta warisan ini  pasti  luar  biasa  banyaknya, Barangkali kita mampu membeli sebuah pulau." 

Sin Houw menghela napas. Diam-diam ia membenarkan perkataan Giok Cu, bahwa  harta warisan itu tak ternilai harganya. Katanya perlahan: 

"Akan tetapi, mengantarkan abu ibumu adalah suatu tugas mulia dan juga penting, Lagipula sebenarnya aku mempunyai kewajiban mencari saudara saudaraku yang hilang." 

"Saudara-saudaramu?" Giok Cu menegas. 

Sin Houw mengangguk. Kemudian ia menceritakan riwayat hidupnya sejak kanak-kanak sampai berguru kepada Bok Jin Ceng, Dan mendengar riwayat hidup Sin Houw, gadis itu jadi terharu. 

Akan tetapi atas saran Giok Cu, akhirnya Sin  Houw menyetujui untuk lebih dahulu mereka  mencari  harta  warisan itu yang akan mereka sumbangkan bagi  kepentingan perjuangan rakyat, setelah itu baru mereka mengantarkan abu jenazah ke puncak gunung Hoa-san. 

Sin Houw kemudian  mengajak Giok Cu, untuk mereka sama-sama mempelajari peta peninggalan Gin-coa Long-kun. 

Ditengah-tengah peta itu terdapat bundaran merah. Disampingnya tertera kalimat kata "KUNCI", Dan ditengahnya, atau didalam lingkaran itu terdapat sederet kata-kata "ISTANA GAK HUI", 

"Menurut keterangan yang terdapat pada peta warisan itu, dikatakan bahwa harta besar itu disimpan didalam tanah pada sebuah kamar yang terpencil dipekarangan istana  Gak  Hui, dan setahuku istana itu dahulu berada di kota Lam-khia, Asal kita dapat mencari istana itu, tentu kita akan mendapatkan sesuatu pengalaman lain." kata Sin Houw selagi melipat lagi  peta itu. 

Setelah memperoleh kata sepakat, keduanya kemudian merubah arah tujuan perjalanan mereka, Akan tetapi di sepanjang perjalanan itu mereka tidak lagi pernah membicarakan urusan harta warisan, karena mereka  menyadari bahwa kalau pembicaraan mereka dapat didengar oleh lain orang, akan dapat menimbulkan kerepotan bagi mereka. 

Pada jaman dahulu, kota Lan-khia merupakan sebuah kota besar yang ramai dan banyak penduduknya. Akan tetapi  kini kota itu merupakan sebuah kota tua yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah penjajah, Bangunan rumah dan lain sebagainya kebanyakan masih merupakan bangunan tua yang kurang di rawat maupun dipugar.  

Sin Houw berdua  Giok Cu menginap  disebuah rumah penginapan yang dinding bangunannya sudah banyak yang cacat dan kotor. walaupun demikian, banyak  juga pengunjungnya mungkin sekali rumah penginapan itu merupakan satu-satunya rumah penginapan  yang dianggap masih cukup baik dan besar bangunannya. 

Sin Houw berdua  Giok Cu tidak mengetahui  dimana tepatnya bekas istana Gak Hui itu, sehingga mereka sengaja bergaul dengan para tamu lain maupun dengan para pelayan. Mereka mencoba minta keterangan tentang bekas istana yang mereka cari, tetapi diluar dugaan mereka ternyata orang-orang yang mereka tanyakan tidak  pernah   mengetahui  tentang istana yang dimaksud. 

"lstana? Dimanakah ada  sebuah istana disini?" sahut seorang pelayan heran, "Akh, sejak dilahirkan belum  pernah aku melihat istana itu disini." 

"Kau bohong!" Giok Cu habis sabar. "Barangkali di sekitar kota ini..." 

"Kalau tak percaya, silahkan cari sendiri!" sahut pelayan 

itu.  Giok Cu yang berwatak berangasan,  hampir  saja menampar pelayan itu, Kata katanya dianggapnya menghinanya. Untung, Sin Houw kenal watak kawan seperjalanannya itu, segera ia mengajaknya  berjalan-jalan keluar penginapan mencari keterangan ditempat lain. 

Tetapi sampai pada hari ke lima, usaha mereka tetap tak berhasil. Kota tua itu memang tak memiliki sebuah istana, oleh kekesalan hati, mereka berjalan-jalan sejadi-jadinya.  Kini mereka mendaki sebuah bukit untuk  melihat matahari tenggelam di barat. Namun di dorong oleh rasa kesal, keindahan alam dipetang hari itu sama sekali  tak merasuk didalam perbendaharaan hati. 

Tiba-tiba Sin Houw yang  memiliki  telinga  tajam, mendengar sesuatu yang mencurigakan. Cepat-cepat ia memberi kisikan kepada Giok Cu: 

"Bersembunyi!" 

Giok Cu percaya benar kepada kawan seperjalanannya itu, Terus saja ia melompat mengikuti dan bersembunyi ditengah pekuburan. Dan tak lama kemudian  terdengarlah  suara langkah dari dua penjuru yang datang hampir berbareng, Belasan orang jumlahnya  dan mereka semua menyandang senjata tajam. 

Waktu itu matahari telah  tenggelam,  sehingga mereka nampak bagaikan bayangan yang tiba berduyun-duyun. 

Selagi mereka  datang  saling  mendekati,  terdengarlah tepuk tangan sandi dua kali berturut-turut dari arah barat dan timur. Mereka lantas bergabung menjadi  satu,  kemudian  duduk di atas tanah dengan membungkam mulut. 

Jarak antara mereka dan  Sin  Houw berdua, kira-kira duapuluh langkah. Dan karena pendengaran Giok Cu tidak setajam Sin Houw, ia bergerak maju mendekati. 

"Tunggu!" cegah Sin Houw seraya menarik bajunya. "Kenapa?" tanya Giok Cu tak senang hati.  Sin Houw memberikan aba-aba dengan menempatkan jari tangan di bibirnya. Tak lama  kemudian,  terdengarlah gelombang angin memukul daun-daun pohon. Rumput diatas pekuburan nampak seolah-olah bergerak. 

Berbareng dengan adanya suara itu Sin Houw menyambar lengan Giok Cu. 

Dan dibawa berlompat kearah sebuah batu  nisan bertembok keliling, Mereka bersembunyi dibaliknya. Dan pada saat itu nampaklah sesosok bayangan yang  tiba-tiba  saja sudah berada di depan rombongan. segera mereka  berdua menajamkan penglihatan dan pendengaran. 

Didalam hati Giok Cu kagum terhadap kegesitan Sin Houw, Hebat tenaganya dan cepat mengambil keputusan. 

Sementara itu mereka mendengar suara seseorang yang bersuara parau: 

"Saudara-saudara sekalian. Dari jauh  kalian  datang, pastilah kalian tidak hanya mengorbankan harta  dan juga waktu, bahkan tenaga." 

Seseorang yang lain menyahut: 

"Guruku sedang sakit, Hampir satu bulan beliau berada diatas ranjangnya, Untuk memenuhi undangan kalian, beliau mengirimkan susiok Lie Kong seng pemimpin kami, Lie susiok mendapat perintah dari Hoa suhu, untuk mematuhi segala perintah The Cuncu." 

"Gurumu, Hoa Seng Kok benar-benar memperhatikan kesulitanku, Perkenankan aku menghaturkan terima kasih tak terhingga kepadanya." kata orang yang bersuara parau.  

Dialah yang disebut The Cuncu, Nama lengkapnya The Sie Ban. 

Sin Houw tak dapat melihat wajah orang itu dengan jelas, Akan tetapi,  potongan tubuhnya  tinggi ramping, dan gerak- geriknya nampak gesit, pastilah  dia seorang yang memiliki kepandaian berarti.  Dan The Sie Ban terdengar berkata lebih lanjut: 

"Saudara Lie Kong seng terkenal dengan ilmu pedangnya, yang telah menggetarkan wilayan selatan. Kau sudi datang membantuku, Karena itu, usaha kita pasti akan berhasil. saudara Lie, hatiku benar-benar lega melihat kehadiranmu." 

"Akh, janganlah Cuncu terlalu  memuji."  terdengar seseorang menyahut, ia bertubuh  kasar. "Kami, anggauta Hay-see pay terlatih hidup sederhana sejak dahulu, sekarang kami mencoba-coba diri untuk membantu kesulitan The cuncu, Tapi yang kukhawatirkan, jangan-jangan kami  semua  tak becus menyelesaikan kesulitan cuncu." 

Tergetar hati Sin Houw mendengar orang itu menyebut- nyebut Hay-see pay. 

Dahulu, semasa hidup dengan ayah bundanya, bukankah anggauta Hay-see pay juga ikut mengganggu kedamaian keluarganya? sekarang orang itu dan  rombongannya  datang dari jauh, maka pastilah persoalan The Sie Ban merupakan  suatu masalah maha penting dan maha besar. 

Oleh pikiran itu, segera ia menajamkan pendengarannya agar dapat mengikuti pembicaraan mereka dengan jelas. 

Tetapi ternyata mereka berbicara dengan kata-kata basa- basi belaka, Mereka saling segan dan berhati-hati dan pada saat itu terdengarlah suara tepukan tangan yang datang dari arah utara, kemudian muncullah rombongan ke tiga  yang datang saling menyusul. Tak lama lagi muncul dua rombongan pula. 

Dan melihat  kedatangan kedua rombongan  itu, mereka berdiri menghormat serta menyebut-nyebut golongan Siauw- lim, Kun-lun dan  Hoa-san pay, sedang rombongan ketiga adalah para anggauta gerombolan yang bermukim disekitar gunung Hing-san. 

Tak lama kemudian masing-masing pemimpin rombongan saling memperkenalkan diri. Lie Kong Seng memimpin rombongan dari Hay-see pay, Thia Bu Bok dari Kun-lun pay,  sedangkan rombongan  dari gunung  Hing-san  dipimpin  oleh Nio Cun Swie. 

Mendengar nama-nama mereka, Sin Houw jadi semakin heran. Bukankah mereka adalah  orang-orang  yang kenamaan? Gurunya seringkali  menyebut   nama-nama mereka. Masing-masing memiliki kepandaian tinggi dan keistimewaannya, sehingga mereka bersikap angkuh dan tak sudi saling mengenal.  

Tetapi apa sebab tiba-tiba pada petanghari itu, mereka berkumpul dan nampak bersatu padu untuk membantu memecahkan kesulitan The Sie  Ban  yang mereka panggul cuncu? 

The Sie Ban  bersikap mengambil hati terhadap  mereka semua. Tiada hentinya ia menyatakan rasa terima kasih dengan membungkuk hormat. Maka jelaslah sudah, bahwa kedatangan mereka adalah atas undangannya. 

Diam-diam Giok Cu heran pula menyaksikan kehadiran mereka. sebagai se orang yang biasa hidup berkelana untuk mencari mangsa, tahulah dia siapa mereka . Meskipun belum pernah melihat orangnya, tetapi ia mengenal nama mereka sebagai orang-orang ternama.  

Kepandaian mereka pasti tinggi dan tak boleh diremehkan, sadar akan hal itu, tak berani  ia bergerak. sedikit saja menimbulkan kecurigaan mereka, akan berakibat runyam. 

Sementara itu terdengar Thia Bu Bok dari Kun-lun pay berkata: 

"Saudara The, kami datang atas nama ikrar setia kawan. Beberapa hari lagi, kawan-kawan dari Kong-tong pay, dan beberapa rombongan lainnya, akan datang menyusul. Bahkan beberapa saudara dari Hoa-san pay akan datang juga." 

"Hoa-san pay? siapa yang bakal datang?" seru  The  Sie Ban. "Akh, bagus sekali! Murid siapakah mereka?" 

Sin Houw terkejut, berkata dalam hati dengan perasaan heran:  "Siapakah mereka? Kenapa Hoa-san pay ikut pula didalam persekutuan ini?" 

Terdengar jawaban Thia Bu Bok: 

"Mereka adalah yang dipimpin oleh Nie Sun Kiong  dan Sie Liu Hwa, Kabarnya mereka berdua adalah murid pendekar Pui Tong Kim." 

"Apakah Thia hiantee bersahabat dengan mereka berdua?" Nio Cun Swie ikut bicara. 

"Bersahabat sih tidak." jawab Thia Bu Bok, "Yang jelas, mereka datang atas undangan The Cuncu, Dengan demikian, mereka merasa diri ikut serta memperkokoh ikrar setia kawan yang menjadi sendi dan cita-cita kita bersama, Bukankah begitu?" 

"Benar!" kata Nio Cun Swie. "Kakak seperguruannya yang bernama Kiang Yan Bu adalah sahabat karibku. Dialah murid pendekar Pui Tong Kim yang tertua. Kabarnya, diapun ikut serta." 

"Kiang Yan Bu?" seru Lie Kong Seng,  "Bukankah dia seorang ahli pedang yang tiada tandingnya? Kabarnya,  dia pernah mengalahkan  tujuh  pendekar pedang dari wilayah barat." 

"Benar, Memang dialah." The Sie Ban meyakinkan. Mendengar  serangkaian   tanya   jawab  itu,  hati   Sin Houw 

menjadi  lega,  Rasa tegangnya  menurun. pikirnya didalam hati: 

"Akh, aliranku ikut serta didalam persekutuan ini. Kalau begitu, mereka adalah orang-orang yang bertujuan mulia. sebaiknya akupun membantu mereka dengan diam-diam, sebenarnya, kesulitan apakah yang diderita oleh The Sie Ban sampai mendatangkan bantuan begini banyak ?" 

Pada saat itu terdengarlah suara The Sie Ban: 

"Cuwie hiantee, kakakku dahulu meninggal dengan hati penasaran, sepuluh tahun lamanya aku berkelana hendak menuntut balas,  Tetapi orang yang membunuh kakakku itu  lenyap tiada kabarnya, seakan-akan iblis. Tetapi oleh ketekunanku akhirnya Tuhan membuka mata dan telingaku.  

Beberapa hari yang lalu, aku mendapat kisikan dua sahabatku, Ang Siu Tim dan Nie Seng Kok, mereka berdua menyebut seorang bajingan bernama  Sim  Pek  Eng. Pernahkah cuwie mendengar nama itu? Dia seorang bajingan berkepandaian tinggi. Karena merasa diri  tak  ungkulan melawan kepandaiannya, terpaksalah aku meminta bantuan cuwie sekalian, Tolonglah!  Rasanya, tak layak aku disebut manusia hidup manakala tak dapat menuntut balas dendam arwah kakakku." 

"Siapakah Sim Pek Eng itu?" terdengar suara berbareng minta keterangan. 

"Dialah seorang bajingan yang memimpin  laskar perjuangan, Tadinya kukira ia seorang pendekar bangsa yang berhati mulia, Tak tahunya, dialah seorang bajingan  yang mengotori azas tujuan kita bersama." jawab The Sie  Ban dengan suara berkobar-kobar.  

Dan dengan tiba-tiba ia menghunus pedangnya,  Dan dihantamkan pada sebuah nisan, untuk menyatakan betapa besar rasa dendamnya. 

"Tunggu dulu!" Thia Bu Bok berseru sambil mengangkat tangannya, "Meskipun aku  bermukim   jauh  didaerah  barat, akan tetapi sepak terjang pendekar Sim Pek Eng  kudengar jelas. Dia seorang pejuang  sejak  masa  mudanya,  Benarkah dia pembunuh kakakmu? Dari manakah rekan  Ang  Siu  Tim dan Nie Seng Kok memperoleh keterangan  tentang tindak jahatnya ?" 

Mendengar kesangsian Thia Bu Bok, maka The Sie Ban segera menjawab: 

"Kedua sahabatku itu tidak hanya mendengar, tetapi menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Merekapun mempunyai bukti-buktinya, sehingga keterangannya tidak meragukan, Thia hiantee, percayalah!  Aku  kenal  rekan  Ang Siu Tim dan Nie Seng Kok, mereka bukan manusia yang  senang menfitnah.  

Apalagi mereka tahu, bahwa  si bajingan Sim Pek  Eng adalah salah seorang pejuang bangsa yang dahulu pernah kukagumi pula." 

Thia Bu.Bok nampak berbimbang-bimbang, setelah menimbang sebentar, ia berkata: 

"Baiklah, Mungkin kau mempunyai ulasan yang berdasar, Tetapi Sim Pek Eng adalah seorang pejuang yang termashur namanya, Sejak dahulu, dia  bertempat tinggal  di kota ini, pastilah pengaruhnya sangat besar dan sudah berakar dalam hati penduduk setempat. sekarang kita berada didalam wilayahnya dan justru bertujuan hendak membunuhnya. Aku harap saja kalian berhati hati dan waspada." 

"Memang, kita harus hati-hati." sahut The Sie Ban, "Pengaruhnya sangat besar dan  berurat-akar disini,  itulah sebabnya, aku merasa diri tak berdaya menghadapinya. Maka kuundang kalian untuk membantu kesulitanku ini. Kebetulan sekali, besok pagi adalah hari ulang tahunku, ingin aku merayakan hari ulang tahunku  itu  dikediamanku  yang  berada di batas kota." 

"Hey, sejak kapan toako membeli rumah di sini?"  potong Nio Cun Swie heran. 

"Benar, Tempat tinggalku  sebenarnya bukan di kota ini, tetapi secara kebetulan aku tertarik untuk membeli rumah itu yang letaknya berada di tepi hutan diatas ketinggian kaki bukit dan rumah kuno semacam benteng yang benar-benar menarik perhatian, Dan apa sebab aku membeli rumah itu, pastilah mudah diterka, itulah sehubungan dengan tujuan balas dendamku untuk memudahkan pelaksanaannya." jawab  The Sie Ban, ia berhenti  sebentar mencari kesan , kemudian meneruskan: 

"Nah, dengan ini kuundang kalian semua menghadiri pesta ulang tahunku, Dan kuharap pula malam ini kalian bermalam dikediamanku yang baru itu, Bagaimana, apakah kalian sudi memenuhi harapanku?"  Itulah suatu undangan yang menggembirakan. Mereka datang dari jauh, Kecuali sudah kehilangan tenaga, ingin pula menikmati makan-minum yang lezat sekedar pelibur hati, Karena itu tak segan-segan mereka menerima undangan The Sie Ban dengan segera. Kata Nio Cun Swie: 

"Bagus, Memang kami bangsa tukang makan. pastilah The toako tidak akan melupakan menyediakan sekedar minuman keras untuk pelicin tenggorokan, bukan...? Hanya saja, kita berjumlah cukup banyak, sedang kita berada di daerah lawan. Apakah dengan kedatangan kita beramai-ramai tidak menimbulkan kecurigaan anak buah Sim Pek Eng?" 

"Benar, Hal itu sudah kupikirkan jauh-jauh sebelumnya." sahut The Sie Ban, "Karena itu, sebaiknya kita menggunakan tanda-tanda sandi untuk mengenal lawan  dan  kawan, kita mengadakan gerakan tangan dengan tiga jari, Begitu masuk kedalam gerbang rumahku, hendaklah kalian mengucapkan kata-kata "masa bakti". Dan anak-anak  buah kami akan menjawab: "apakah bukan masa pembajakan?" 

Saran itu segera memperoleh persetujuan. Kemudian mereka memutuskan pula untuk menebarkan  mata-mata dengan tujuan menyelidiki keadaan keluarga  Sim  Pek  Eng. Dan pertemuan rahasia itu ber akhir sampai jauh malam. 

Giok Cu jadi lega hati, sekian jam lamanya ia menahan diri, Dan kini dapatlah ia bebas bergerak kembali, meskipun kedua kakinya terasa kejang, sambil duduk menghempaskan diri diatas bahu Sin Houw, ia berkata: 

"Besok bakal ada keramaian. Apakah  kita  akan menonton?" 

"Boleh, asal kau harus  mendengarkan  setiap  kataku." sahut Sin Houwt "Sama  sekali  kau kularang  menimbulkan gara-gara." 

"Memangnya aku seorang yang biasa membikin  gara- gara?" Giok Cu menggerutu. 

Sin Houw tertawa. Tak berani membuat komentar lagi,  Dengan pandang berseri-seri ia membawa Giok Cu pulang ke tempat penginapan. Waktu itu, malam sudah terlalu larut. jangan lagi seorang penjual makanan, anjingpun  agaknya malas muncul di jalan raya. 

 (Oo-dwkz-oO) 

PADA ESOK harinya, mereka berusaha kembali untuk menemukan bekas istana Gak Hui, seperti beberapa hari yang lalu, usaha itu sia-sia belaka. 

Giok Cu jadi uring-uringan, ia kini mengutuki seluruh penduduk setempat sebagai manusia melarat dan tidak berkebudayaan sama sekali. Tapi apabila teringat kepada pertemuan rahasia semalam, rasa gairahnya membersit dalam hati, Tiba-tiba saja ia nampak gembira dan kehilangan kesabaran. 

"Sin-ko, apakah kita nanti menyamar sebagai tamu yang diundang?" tanya Giok Cu menegas. 

"Benar, Apakah kau berani  menghadapi mereka?"  Sin Houw menguji. 

"Kenapa tidak? untukmu aku bersedia mengorbankan jiwaku. Bukankah kau berbakti pula terhadap ayah-bundaku?" 

Terharu Sin Houw mendengar jawaban Giok Cu.  itulah suatu jawaban yang membersit dari ketulusan hatinya,  Terus saja ia menyambar tangannya dan dibawanya  berjalan menyusur pengempangan sawah.  

Anehnya, gadis yang galak itu, jadi penurut pula, justru demikian, hati pemuda itu bergetar lembut oleh rasa bahagia yang tak terlukiskan. 

Petanghari itu  tiba  dengan  diam-diam,  setelah mengenakan pakaian bersih, mereka berangkat meninggalkan rumah penginapan. Giok Cu mengenakan pakaian  laki-laki berwarna biru muda. Dan ia berubah menjadi seorang pemuda yang cakap luar biasa. 

Dengan langkah tenang, mereka mendekati gerbang  kediaman The Sie Ban, segera mereka mengangkat tangan dengan memperlihatkan tiga jarinya, kemudian membisikkan kata-kata sandi seperti semalam mereka janjikan. Dan segera mereka dipersilahkan dengan rasa hormat oleh  para penyambut tetamu.  

Kemudian diantarkan oleh beberapa orang memasuki ruangan yang cukup mewah dan berwibawa.  setelah  duduk,  dua orang datang membawa nampan penuh penganan dan minuman, sama sekali mereka tidak menanyakan nama dan alirannya. 

"Silahkan." kata wakil tuan rumah dengan suara ramah, "Sudah lama kami mendengar nama saudara  yang  besar, Maka maafkan hidangan kami yang sangat sederhana ini." 

Geli hati Sin Houw dan Giok Cu, Bagaimana dia mengenal diri mereka? 

Tapi mereka membungkam mulut. setelah  memanggut pendek, dengan senang hati mereka meneguk minuman dan menikmati penganan yang disediakan diatas mejanya. 

Sementara itu tamu-tamu datang tiada hentinya. Tak usah menunggu lama ruangan itu telah penuh  sesak.  Para penyambut tamu sibuk melayani makan dan minum. Hati Sin Houw dan Giok Cu bersyukur, karena tiada yang memperhatikan diri mereka. 

Pertemuan itu dibuka dengan upacara meneguk minuman keras tiga kali, The Sie Ban lantas berdiri tegak mengucapkan selamat datang kepada para tetamunya, setelah itu ia duduk delapan langkah didepan Sin Houw berdua.  

Sekarang Sin  Houw dapat melihat pribadinya  dengan  tegas. Perawakannya cukup tinggi. Gerak-geriknya  cekatan dan gagah, suatu tanda memiliki kepandaian tinggi, umurnya kurang lebih empatpuluh delapan tahun.  

Wajahnya membayangkan suatu kecerdikan. pandang matanya tajam, tetapi pada saat itu nampak  bendul  merah. Raut wajahnya mengandung suatu kesedihan tak  tertanggungkan, Rupanya ia menangis dan sedih memikirkan nasib kakaknya yang mati penasaran. 

"Agaknya ia sangat menyintai saudaranya, Benar-benar harus dipuji dan pantas dihormati." pikir Sin  Houw  di  dalam hati, "Demi untuk membalas dendam kematian  kakaknya,  ia rela mengorbankan harta  bendanya. Ia menyelenggarakan pesta undangan dan ternyata memperoleh perhatian orang- orang gagah dari segala penjuru, pastilah dia seorang yang besar pengaruhnya di dalam pergaulan hidup. Sebenarnya, siapakah yang disebut Sim Pek Eng? Apakah dia orang yang besar pengaruhnya pula, sehingga The  Sie  Ban perlu memohon bantuan para sahabatnya?" 

The Sie Ban kembali berdiri dan memberi hormat tiga kali berturut turut  kepada  para tamunya.  sama sekali  ia tak berbicara, kecuali mengucapkan kata-kata  rasa  terima  kasih tak terhingga. Ia mohon hendaknya  sekalian  ha dirin sudi menghabiskan hidangannya dan  para  tetamu  segera membalas hormatnya dengan berdiri pula, Karena merasa termasuk golongan muda, Sin Houw dan Giok Cu ikut  serta berdiri membalas hormatnya. 

Sekonyong-konyong salah  seorang murid The Sie  Ban datang menghadap gurunya tergesa-gesa. ia membisikkan sesuatu. Dan wajah gurunya nampak cerah. Cepat-cepat ia meletakkan cangkirnya, kemudian berjalan setengah lari mengarah pintu gerbang, sebentar kemudian ia kembali mengiringi tiga orang tamu yang diperlakukan dengan hormat sekali. 

Ia mempersilahkan ketiga tamunya itu duduk di kursi kehormatan. Dan berpikirlah Sin Houw didalam hati: 

"Pastilah mereka bertiga merupakan pendekar-pendekar kenamaan, dan ia lalu memperhatikan mereka bertiga. 

Seorang laki-laki yang hampir sebaya  umurnya  dengan The Sie Ban, duduk menghadap tamu lainnya. ia berpakaian seorang pelajar. Pedang panjangnya berada dipinggang. Pandang matanya tajam luar biasa dan sikapnya tinggi hati.  Tamu yang kedua adalah seorang pemuda yang berumur kira- kira tigapuluh tahun, tubuhnya gagah dan  kesan  wajahnya agak bengis.  Sedangkan tamu yang ketiga adalah seorang wanita yang berparas elok. 

"Saudara Kiang Yan Bu, kedatanganmu benar-benar tepat, Perkenankan aku mengucapkan rasa syukurku." kata The Sie Ban. 

Orang pertama yang disebut Kiang Yan Bu tertawa lebar. sahutnya: 

"Kita berdua  adalah sesama golongan, sedangkan kami bertiga adalah satu perguruan. Bagaimana aku bisa  peluk tangan saja, selagi kau berada dalam kesulitan?" 

"Terima kasih." kata The Sie Ban,  "Terimalah rasa hormatku, Begitu juga terhadap saudara Nie Sun Kiong  dan  nona Sie Liu Hwa." 

Mendengar nama mereka bertiga, berpikirlah Sin  Houw didalam hati: 

"Kalau begitu, mereka bertiga adalah murid Jie suhengku. Kenapa mereka nampak begini sombong dan besar kepala?" 

Dalam pada itu, terdengarlah The Sie Ban berkata lagi: "Apakah guru saudara bertiga tidak ikut datang?" 

"Guruku dari angkatan tua. Tentu saja beliau tidak 

mempunyai semangat untuk mencampuri urusanmu, Tetapi kami bertiga mempunyai pendapat sendiri, pendek kata, tak dapat kami bertiga berpeluk tangan saja, Oh, ya, Kedua adik seperguruanku ini sekarang sudah menjadi suami isteri." 

"Hey, bagus.  Kalau begitu perkenankan aku ikut serta bergembira." seru The Sie Ban, Kemudian menoleh  kepada para hadirin dan berteriak: 

"Saudara-saudara sekalian. inilah suatu berita yang benar- benar tidak kita duga, Ternyata saudara Sun  Kiong  -  saudari Sie Liu Hwa sudah membentuk mahligai bahagia, Hayo, kita menghabiskan minuman kebahagiaan ini demi kesehatan  mereka." seruan The Sie Ban disambut dengan sorak ramai bergemuruh - dan suami isteri Nie Sun Kong - Sie Liu Hwa buru-buru berdiri dan memanggut dengan tersipu. 

Justru pada saat itu, Giok Cu mencubit lengan sin Houw sambil berbisik: 

"Tak kusangka, kemenakan muridmu adalah sepasang pendekar pedang  yang  bisa  malang-melintang  diseluruh penjuru dunia. Apakah kau tidak iri? lihatlah  Liu  Hwa,  dia cantik jelita dan galak. Bagaimana pendapatmu? Apakah aku lebih galak daripada dia?" 

Sin Houw tergugu, Tak dapat ia menjawab sindiran  Giok Cu, Akhirnya membalas cubitan dengan tertawa lebar, Merah wajah Giok Cu kena dicubit sin Houw, itulah yang pertama kalinya terjadi pemuda itu sendiri merasa malu pula, wajahnya terasa panas.  

Syukur para tetamu undangan lainnya  pada  saat  itu sedang sibuk mengurusi perut, sehingga tidak memperhatikan perubahan wajah mereka. 

Selagi demikian, seorang murid The Sie Ban mendekati gurunya. ia menyerahkan dua helai kertas.  segera  The  Sie Ban membacanya, dan nampak wajahnya berubah. Kemudian berkata setengah berseru: 

"Hm, Sim Pek Eng benar-benar bermata dewa, Dia tahu kehadiran kita dan  rupanya ia tak mau pula ketinggalan. Saudara-saudara sekalian, esok malam diapun menyelenggarakan pesta perjamuan. Dia  mengundang kehadiran saudara saudara sekalian." ia berhenti sebentar mencari kesan, Kemudian berkata kepada muridnya: "Coba panggil pembawa surat ini." 

Murid itu membungkuk hormat dan  mengundurkan diri dengan langkah lebar, suasana perjamuan  lantas  saja berubah menjadi tegang, Semua hadirin menunda meneguk minuman bahagia suami-isteri Nie Sun Kiong.  

Dan tak lama kemudian masuklah seorang pemuda  berpakaian serba hitam. Pemuda itu berumur kurang lebih duapuluh lima tahun. sikapnya tenang dan raut mukanya sama sekali tak berubah menghadapi perbawa pesta perjamuan, ia menghampiri The Sie Ban dengan hormat, kemudian berkata: 

"Secara kebetulan saja, guru kami mendengar kedatangan tuan-tuan sekalian. Karena daerah ini termasuk wilayah perjuangan semesta, maka guru kami mengundang tuan-tuan sekalian menghadiri perjamuan beliau, Kami diutus ke sini untuk memperoleh  kepastian apakah  tuan-tuan besok  sudi memenuhi undangan guru..." 

The Sie Ban tertawa, ia menganggap lucu kata-kata orang itu, Tanyanya kemudian: 

"Siapakah kau sebenarnya?" 

"Aku bernama Pui Sie Liang, murid yang kesembilan belas. Maafkan, apabila aku terlalu banyak bicara." sahut Sie Liang dengan suara sopan. 

"Hmm!" The Sie Ban menggerutu, "Sim Pek Eng mengadakan pesta perjamuan,  pastilah  bukan  karena kebetulan saja. Bukankah begitu?" 

Walaupun diperlakukan agak kasar, namun Pui Sie Liang sikapnya tetap tak berubah. Masih saja ia berdiri hormat dan menjawab dengan suara merendah: 

"Aku hanya utusan belaka, Tidak dapat aku memberikan jawaban atas pertanyaan Cuncu." 

"Bagus!" tiba-tiba The Sie Ban membentak. "Gurumu seorang bajingan, tahu? Dia sedang mengatur akal muslihat untuk menjebak kami, bukan? Eh, coba katakan terus terang, racun apakah yang bakal dibuat ramuan makanan pesta perjamuan itu?" 

Dibentak demikian, Pui  Sie  Liang tetap bersikap sopan. sahutnya: 

"Memang, guru menyelenggarakan suatu pesta perjamuan yang khusus dipergunakan sebagai penyambut kedatangan  tuan-tuan di daerah ini, sebab guru  kami  sangat  kagum kepada keperkasaan dan kegagahan  tuan-tuan  sekalian. Beliau ingin bertemu dan berkenalan dengan tuan-tuan sekalian." 

"Eh, kau pandai berbicara." ejek Kiang Yan Bu, murid Pui Tong Kim yang tertua. "Coba, jawablah yang jelas! Ketika gurumu menganiaya dan akhirnya membunuh kakaknya The Cuncu, kau hadir atau tidak?" 

"Mengenai persoalan itu, aku tidak mengetahui apa-apa." jawab Pui Sie Liang dengan wajah berubah. "Mungkin pesta perjamuan itu, akan memberi kesempatan kepada suhu untuk menjelaskan masalahnya." 

"Bagus! Gurumu bajingan dan kaupun pandai menarikan lidah! " bentak The Sie Ban. "Gurumu hutang jiwa, Tidak cukup ditebus dengan suatu penjelasan saja, Enak saja  kau mementang mulut!" 

"Pada waktu itu, suhu dalam keadaan terdesak. Tak dapat lagi suhu mengelak, Akhirnya peristiwa itu terjadi " Pui Sie 

Liang mencoba memberi keterangan, "Dan sejak itu, suhu selalu nampak bermurung serta bersedih  hati,  suhu sangat menyesal apa sebab peristiwa itu harus terjadi." 

"Kalau begitu, matamu melihat  sendiri peristiwa pembunuhan itu!" tiba-tiba Kiang Yan Bu ikut bicara. 

"Tidak, Aku tidak melihat sendiri, akan tetapi aku percaya, bahwa suhu tidak akan membunuh seseorang tanpa alasan tertentu, Suhu adalah seorang pejuang  yang mengabdikan seluruh hidupnya pada perjuangan bangsa dan negara. Beliau berhati mulia. jangan lagi sampai membunuh orang, sedang jiwanya pun akan rela diserahkan bila perjuangan bangsa memintanya." Sie Liang membela. 

"Setan terkutuk!" maki Siu  Lie  Hwa, Tiba-tiba saja ia melesat dari kursinya, pedangnya berkelebat dan menekan dada Sie Liang dengan tangan kirinya, itulah gerakan yang cepat luar biasa, Sie Liang terkejut, Dengan tangan kanan ia menolak tangan kiri Siu Lie Hwa yang menekan dadanya.  Kemudian mencoba membebaskan ancaman itu dengan mengerakkan tangan kirinya. 

Sin Houw terkejut,  "Tangan  kanannya  bakal putus!" pikirnya. sebagai seorang pemuda yang berkepandaian tinggi, tahulah ia sasaran pedang Siu  Lie Hwa berikutnya.  Dan pembelaan Sie Liang sangat lemah. ia justru kena terjebak. 

"Apakah kemenakanmu  yang  cantik itu  benar-benar hendak menabaskan pedangnya?" Giok Cu menegas. 

Belum sempat Sin  Houw menjawab, maka terdengarlah pekik kesakitan Sie Liang, Sie Lie Hwa benar-benar menabaskan pedangnya. Dan pundak  Sie Liang terbabat kutung, sudah barang tentu sekalian hadirin terkejut sehingga mereka berdiri serentak dengan tak dikehendaki sendiri. 

Wajah Sie  Liang pucat lesi, Lengan  kanannya  jatuh terpental di atas lantai. sekalipun demikian, masih bisa ia menguatkan diri sehingga tidak roboh  pingsan.  Dengan pandang penuh sesal, ia merobek ujung bajunya. Kemudian membalut lukanya, setelah  itu ia membungkuk memungut lengannya yang kutung, Dan pergilah ia dengan langkah lebar. 

Sekalian hadirin  tercengang   menyaksikan ketangguhannya, Mereka saling pandang dan  didalam hati masing-masing menyesali perbuatan Sie Lie Hwa yang kejam luar biasa, Bukankah ia seorang utusan belaka? Kenapa kena dianiaya? 

Sie Lie Hwa sendiri bersikap acuh tak acuh. Tenang- tenang saja ia menyusut darah Sie Liang yang melekat di pedangnya. Kemudian kembali ke tempat duduknya, wajahnya sama sekali tidak berubah. 

"Bajingan itu menjerumuskan muridnya sendiri ke dalam sarang harimau" kata Kiang Yan Bu. "Dia  seorang  pemuda yang besar kepala tak mengerti sopan santun.  Apa  sebab diutus mewakili dirinya? Hm! Kalau muridnya saja  sudah bandel, pastilah gurunya jauh lebih bandel dan galak. Nah, bagaimana... apakah  besok kita menghadiri  pesta perjamuannya?"  "Sudah tentu kita harus memenuhi undangannya."  sahut The Sie Ban, "Kalau tidak, kita tidak berharga lagi." 

"Kalau begitu, kita sudahi saja pesta perjamuan ini."  usul Hiia Bu Bbk yang berpengalaman. "Malam ini lebih baik kita pergunakan untuk  menyelidiki  keadaan  mereka. siapa  tahu, dengan kejadian ini mereka benar-benar  hendak  meracuni kita." 

"Kau benar."  The Sie  Ban membenarkan, "Tak usah diragukan lagi, Sim Pek Eng pasti membuat persiapan diluar dugaan kita, Nah, siapakah diantara hadirin yang sudi mengorbankan tenaga untuk menyelidiki keadaan mereka?" 

"Akulah yang akan menyelidiki keadaan mereka."  sahut Kiang Yan Bu meyakinkan. 

The Sie Ban menuang  secawan  arak.  Kemudian dibawanya mendekati jago pedang dari Hoa-san pay itu. Katanya dengan memanggut hormat: 

"Kiang hiantee, terimalah hormat-ku." 

Senang Kiang Yan Bu memperoleh penghormatan dari Cuncu itu, Dengan sekali teguk  ia  mengeringkan  minuman yang dipersembahkan kepadanya. Dan pesta perjamuan berakhir dengan cepat, Sin Houw membawa Giok  Cu menyelinap diantara para tetamu yang sedang bubar. Dengan diam-diam mereka mengikuti Kiang Yan Bu dari jarak tertentu, Maksudnya hendak menguntitnya. 

Waktu itu kira-kira pukul dua malam, Kiang Yan Bu kembali ke  tempat penginapannya,  setelah  mengenakan  pakaian serba hitam, ia melesat keluar jendela  dan  berlari-lari mengarah ke barat daya. Gesit gerakannya. sebentar saja ia lenyap ditikungan jalan. Akan tetapi Sin  Houw tak sudi kehilangan sasarannya. Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, dapat ia mengikuti gerakan  Kiang  Yan  Bu.  Giok  Cu yang berada disampingnya, terus dibimbingnya agar dapat menyertai gerakannya. 

Pada pagar tembok sebuah gedung Kiang Yan Bu berhenti  sebentar.  ia  menebarkan  penglihatannya,   kemudian melompati pagar tembok itu dengan  gerakan ringan dan cekatan. Menyaksikan hal itu, berkata Sin  Houw didalam hatinya: 

"la dikabarkan sebagai seorang ahli pedang tanpa tandingannya. Nyatanya benar-benar  gesit dan  lincah. Jie suheng patut merasa bangga mempunyai seorang murid yang berkepandaian begitu tinggi. Setidak-tidaknya kepandaiannya bisa menjaga pamor rumah perguruan Hoa-san. Akan tetapi kenapa dia berhati kejam? Kedua adiknya seperguruan pun benar-benar manusia tercela, Kenapa murid-murid Jie suheng begitu kejam dan bengis?" 

Dengan membimbing tangan  Giok  Cu,  Sin  Houw melompati pagar tembok itu pula, ia menyelinap dibelakang pohon yang cukup rindang, Masih  sempat  ia  melihat  Kiang Yan Bu melintasi sebuah kamar yang nampak terang benderang. 

timbullah rasa ingin tahu Sin Houw dan Giok Cu tentang kamar itu, segera mereka berdua menghampiri jendela dan mengintai lewat celah dinding, Dan mereka melihat seorang laki-laki berumur lebih kurang limapuluh tahun  duduk menghadap ke utara, wajahnya bermuram dan dengan suara parau berkata: 

"Bagaimana keadaan Swie Liang?" 

"Beberapa kali Pui suheng tidak sadar, tetapi sekarang darahnya sudah dibendung." sahut seseorang dengan suara hormat. 

Orang tua itu menghela napas. Dan Sin Houw lantas saja dapat menebak bahwa orang itulah yang bernama Sim  Pek  Eng. ia berada didalam kamarnya bersama dua  orang  muridnya. Agaknya ia sedang membicarakan luka Sie Liang  yang tadi diutusnya membawa  surat  undangan  kepada  The Sie Ban. 

Muridnya yang  kedua berkata: "Suhu, bagaimana  kalau kita mengadakan perondaan malam ini? Aku khawatir, bahwa  mereka tengah mengintai rumah kita." 

Sim Pek Eng menghela napas, dan  menjawab dengan bergeleng kepala: 

"Diduga atau tidak, akhirnya  akan  sama  saja,  Pada  saat ini, aku sudah menyerahkan nasibku kepada takdir. Dan esok pagi, hendaklah kau berdua membawa bibimu mengungsi ke Kee-hin, carilah tempat ciangkun Lie Hui Houw, dan katakan kepadanya bahwa bibimu membutuhkan perlindungannya, sedangkan kedua adikmu Cu Hwa dan  Cu Jie, antarkan mendaki gunung Bu-tong, ketempat Tie-kong Tianglo. Aku percaya, guru besar itu pasti mau melindungi kedua adikmu." 

Tergetar hati Sin Houw mendengar Sim Pek Eng menyebut nama kakek gurunya. Benarkah Sim Pek Eng  itu seorang bajingan kejam seperti yang dikatakan Tlie Sie Ban? pikirnya didalam hati, Nampaknya, ia seorang tua yang penyabar dan murah hati.  

Rasanya sukar dimengerti, apa sebab dia dahulu sampai membunuh seseorang, selagi berpikir demikian, terdengarlah murid Sim Pek Eng berkata membujuk: 

"Suhu, hendaklah suhu jangan berputus asa, Kedudukan suhu di wilayah ini bagaikan seorang panglima perang, Suhu mempunyai murid dan pasukan dua ribu orang lebih yang tersebar dimana-mana, Merekapun sudah terlatih menjadi pejuang sejak dahulu, Dengan sepatah kata saja, suhu dapat memanggil mereka, bilamana kita mengadakan perlawanan, pastilah musuh kita tak berdaya." 

Tetapi Sim Pek Eng tetap saja bermuka muram, ia seolah- olah kehilangan semangat, Untuk ketiga kalinya ia menarik napas. Katanya: 

"Lawan kita bukan manusia lumrah. Mereka adalah jago- jago kenamaan, Kecuali kepandaiannya sangat tinggi, pengaruhnya meliputi  seluruh lapisan golongan dan  aliran. Tiada gunanya sama sekali kita melawan mereka, Bila sampai terjadi banyak korban, adalah sia-sia belaka, Bukankah kini masa perjuangan yang justru membutuhkan tenaga mereka?  Andaikata mereka bersatu padu membantu perjuangan kita melawan tentara penjajah, pastilah akan besar artinya, Bila terpaksa gugur, maka gugur lah sebagai pahlawan bangsa.  

Sebaliknya, perselisihan ini adalah masalah pribadi. Baik kalian ataupun mereka, akan mati yang tiada harganya sama sekali. sudahlah, jangan kau berpikir yang tidak-tidak, Bila aku mati, sudilah kalian  merawat bibi dan kedua anakku. Aku serahkan mereka bertiga kepada kalian, Dan di alam baka, ar- wahku akan tenteram " dan setelah berkata demikian, orang 

tua itu mengalirkan air  mata, itulah  suatu  perpisahan  yang tidak dikehendaki, tetapi harus terjadi. 

"Suhu, janganlah suhu berkata demikian." kata muridnya yang duduk di sebelah kanan. "llmu kepandaian suhu sangat tinggi. Sekiranya tidak demikian , mustahil suhu dapat menguasai wilayah seluas ini. Baik Ciangkun Lie Hui Houw maupun Thio Su Seng, mengandal kepada ketangguhan suhu. Karena itu, suhu dapat mengadakan perlawanan. 

Lie Hui Houw maupun Thio Su Seng pasti tidak akan berpeluk tangan saja melihat  kematian guru. " ia berhenti 

mengesankan, terus meneruskan: 

"Pada waktu ini kita berjumlah dua puluh empat orang, karena Pui suheng belum sanggup bangun dari tempat tidur. Apakah kita tidak sanggup melawan mereka? Bila suhu tidak yakin, sahabat suhu banyak  pula,  pastilah  mereka  akan datang bila suhu mengundangnya dan kami yakin, mereka 

akan membantu suhu secara sukarela." 

Sim Pek Eng mendengus. Kemudian tertawa perlahan, Berkata: 

"Dahulu waktu aku masih muda, aku  berdarah  panas seperti kau, Dan inilah kesudahannya, inilah akibatnya. justru diwaktu perjuangan kita meminta perhatian kita penuh-penuh, aku menerbitkan suatu huru-hara. Bukankah secara langsung, aku mengacaukan jalannya perjuangan kita? Aku memang berhutang jiwa, maka sudah sepantasnya aku membayar jiwa pula, Dengan begitu persoalan ini jadi selesai dan arah  perjuangan bangsa tidak lagi terhambat oleh persoalan pribadi 

..." 

Terharu hati Sin Houw mendengar perkataan Sim Pek Eng, pikirnya di dalam hati: 

"la seorang yang berjiwa besar, dan jujur, Alangkah jauh kesannya dengan kabar yang ditiupkan oleh The Sie  Ban, Mungkin pada zaman mudanya pernah ia salah, sekarang ia penuh sesal terhadap dirinya sendiri, Kalau dipikir, siapakah orang hidup dudunia ini yang tidak pernah salah?" 

"Gurul" tiba-tiba seru seorang murid. "Kau hendak berkata apa lagi?"  

"Karena suhu tidak sudi melawan mereka, marilah kita lari 

pada malam ini juga, Suhu bisa bersembunyi dengan aman sentausa " 

"Apa?" potong Sim Pek Eng, "Bersembunyi? Akh,  betapa kita berbuat begitu? Terhadap tentara penjajah, tidak  pernah kita mundur setapak, kenapa harus takut menghadapi maut?" 

"Ya, benar!" sahut murid lainnya, "Tak dapat  suhu mengambil tindakan demikian, suhu seorang pendekar kenamaan, tidak  seharusnya lari terbirit-birit  oleh ancaman musuh." 

"Hm! pendekar kenamaan?" gerutu Sim Pek Eng. "Apakah  arti kemashuran dan kenamaan itu, pada saat ini, aku justru tidak memikirkan soal nama dan  segala bicara kosong. Menyingkir atau melarikan diri, kurasa tiada gunanya, umurku sudah lanjut, apalagi yang aku inginkan? Umpama kata aku bersembunyi sepuluh tahun lagi, kurasa tiada gunanya. Mati sekarang atau besok, bukankah tiada bedanya bagi aku yang sudah pikun ini? Karena itu, biarlah besok aku menghadapi mereka seorang diri. Kalian  sendiri, kuharap cepat-cepat meninggalkan kota ini." 

Kedua muridnya itu menjadi  sibuk, Kata mereka  hampir berbareng:  "Suhu! Kami akan mati dan hidup disamping suhu." 

"Apa?" bentak sang guru, "Dalam keadaan terpojok, apa sebab kalian membangkang perintahku?" 

Kena dibentak  gurunya, kedua murid itu membungkam mulut, Mereka jadi gelisah. 

"Dalam keadaan begini,  dengarkanlah  perintahku."  kata Sim Pek Eng. 

"Apa yang suhu kehendaki?" kedua murid itu nampak terkejut. 

"Aku meminta kepada kalian berdua agar taat dan patuh kepada perintahku. jangan  membangkang." kata  Sim Pek Eng. " selagi kita masih mempunyai kesempatan, maka bantulah bibimu berkemas, jangan lupa, sediakan kereta." 

Kedua murid itu manggut, tetapi tidak bergerak dari tempat duduknya. Menyaksikan hal itu, Sim Pek Eng menarik  napas lagi, Akhirnya berkata kalah: 

"Baiklah, kalian kumpulkan  seluruh  pasukan  selatan, biarlah aku berbicara yang penghabisan kali dihadapan mereka." 

Kedua murid itu segera berdiri melakukan perintah. Cepat- cepat Sin Houw dan Giok Cu mundur dari dinding kamar dan bersembunyi dibalik gerombol pohon. Tepat  pada  saat  itu, mata Sin Houw melihat sesosok bayangan mendekam didekat pagar dinding sebelah barat. 

Melihat potongan tubuhnya,  segera  Sin  Houw mengenalnya, Dialah Kiang Yan Bu yang tadi lenyap melintasi kamar, Dan diseberang belukar terdapat  sesosok  bayangan lagi berpakaian biru muda. Dialah  Sie  Liu Hwa, sekarang tahulah Sin Houw apa sebab Yan Bu tadi melintasi kamar menuju kearah barat.  

Rupanya dia  sedang  menjemput  adik  seperguruannya yang datang dari arah barat, Dan pada saat-saat itu Sin Houw dan Giok Cu mengintai kamar Sim Pek Eng, Umpama Yan Bu  dan Sie Liu Hwa datang kembali, pastilah mereka berdua akan ketahuan. 

Geram hati Sin Houw teringat akan kekejaman Sie Liu Hwa tadi, Begitu enak saja menabas lengan Sie Liang  seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu, sebagai anak murid Hoa-san pay sebenarnya tidak boleh berbuat sekejam demikian, Maka timbullah niatnya hendak memberi pelajaran padanya, Berkata ia secara membisik kepada Giok Cu. 

"Jangan bergerak sedikitpun juga, Aku hendak 

Giok Cu memotong dengan pandang bersenyum. Katanya: 

"Kau melarang, tapi aku justru ingin bergerak. Kau lihat!"   Dan benar-benar  gadis itu membuktikan perkataannya. 

Tiba-tiba saja ia menyelinap dibalik semak-semak dan berjalan mengendap-endap memutari rumah. Tahulah Sin Houw maksudnya, dia hendak menyerang Kiang Yan Bu dan Sie Liu Hwa dari sebelah belakang. 

Kiang Yan Bu dan Sie Liu Hwa berkepandaian tinggi. Jauh lebih tinggi dari Giok Cu. walaupun kena di serang dari belakang, belum tentu mereka tak dapat mengelak, pikir Sin Houw dan memperoleh pikiran demikian, ia melepaskan pandang tajam kepada kedua murid kakak  seperguruannya yang kedua itu. 

Kiang Yan Bu dan Sie  Liu  Hwa sedang  memusatkan seluruh perhatiannya kepada Sim Pek Eng yang kini duduk seorang diri didalam kamarnya. Gesit  luar biasa Sin  Houw melesat mengitari taman, kemudian mendekati Kiang Yan Bu dan Sie Liu Hwa dengan suatu kecepatan yang tak terlukiskan. Dengan sekali gerak, ia berhasil menyambar pedang Sie Liu Hwa yang tergantung dipunggungnya. Anehnya, pendekar wanita itu sama sekali tak tersadar. 

Giok Cu merandek melihat gerakan kawannya itu, Tatkala Sin Houw datang padanya dengan membawa pedang Sie Liu Hwa, hatinya terbakar oleh rasa cemburu. 

"Kau simpanlah pedang ini." bisik Sin Houw seraya  menyodorkan pedang curian itu. 

Sekarang tahulah Giok Cu akan maksud Sin Houw, Rasa cemburunya sirna larut, Dan dengan gembira ia menerima pemberian itu, Kemudian mengikuti Sin Houw mengintai dari jendela sebelah utara. 

 (Oo-dwkz-oO) 

DUA PULUH empat orang memasuki kamar Sim Pek Eng, Mereka memberi hormat setelah melintasi ambang pintu. Kemudian berdiri berdesakan menghadap gurunya.  Sim  Pek Eng sendiri hanya memanggut kecil. wajahnya muram dan  pandangnya resah. Dua tiga kali ia menghela  napas,  lalu berkata dengan suara pedih: 

"Anak-anakku. semasa mudaku, aku  hidup  sebagai seorang penyamun. Benar, aku seorang penyamun. pastilah perkataanku ini mengejutkan kalian. Akan  tetapi pada saat begini ini, aku harus berbicara terus terang kepada kalian." 

Sin Houw mengalihkan pandang kepada sekalian muridnya Sim Pek Eng. pandang mata mereka gelisah, itulah  suatu  tanda bahwa sesungguhnya  mereka  tidak  mengira  sama sekali bahwa gurunya dahulu seorang penyamun pada masa mudanya.  

Dan memperoleh kesan demikian  ia  jadi  menaruh perhatian pula, Pada saat itu, ia melihat   Sim  Pek  Eng menghela napas untuk  yang  kesekian kalinya,  setelah itu berkata lagi: 

"Daerahku berada disekitar perbatasan Ouwlam-Ouwpak. Pada suatu hari aku memperoleh kabar dari  anggautaku, bahwa suatu rombongan yang datang dari Lam-kay akan lewat tak jauh dari kaki gunung. Itulah rombongan Phang Ce It, seorang hartawan yang patut digolongkan seorang  okpa bahkan penghianat.  

Ia baru pulang sehabis melakukan perundingan  dengan pihak pemerintah  penjajah bangsa Mongolia. Bagi seorang penyamun, berita itu sangat menggembirakan. Mereka pasti  membawa harta benda jauh  lebih  banyak  dari  pada rombongan para pedagang, Lagipula, membegal seorang penghianat bangsa,  mempunyai nilai tersendiri, sedangkan harta mereka itu berasal dari darah rakyat.  

Dengan demikian,  tidak terlalu  jahat  rasanya  bila merampas harta  bendanya. Maka bulatlah  tekadku untuk menghadangnya, segera aku mengumpulkan para pembantu dan kubawa menghadang perjalanan mereka. Diluar dugaan, rombongan okpa itu dikawal  oleh  seorang  pendekar kenamaan - yakni The Sie Kam, kakaknya The Sie Ban..." 

Sampai disini, Sin  Houw dan  Giok  Cu segera dapat menduga peristiwa balas dendam itu. pikir Sin Houw: 

"Sim Pek Eng hendak membegal, dan The Sie Kam adalah yang mengawal harta  benda itu.  Keduanya  lalu  bertempur inilah persoalan wajar yang terjadi di kalangan  rimba persilatan." 

Sambil mendengarkan, Sin Houw tak lupa pula membagi pandang kepada Kiang Yan Bu dan Sie Liu Hwa. ia melihat tangan Sie Liu Hwa bergerak meraba punggungnya. Dia nampak terkejut, karena pedangnya hilang tanpa diketahui.  

Begitu kagetnya, sampai ia berjingkrak, segera ia memberi tanda gerakan tangan kepada Kiang Yan Bu. Lalu keduanya melesat keluar pagar tembok meninggalkan rumah Sim  Pek Eng, Dan menyaksikan hal itu, Sin Houw geli didalam hati. 

Dalam pada  itu,  terdengarlah suara Sim Pek Eng lagi: "Telah kukatakan tadi, bahwa The Sie Kam adalah seorang 

pendekar kenamaan. ia bahkan  banyak  sekali  memiliki sahabat, oleh pertimbangan  itu, mula-mula tak  berani  aku turun tangan. Kebetulan sekali, rombongan itu bermalam di selatan kota, segera aku datang menyelidiki, Malam itu, aku berada diantara rombongan itu,  Tiba-tiba  aku  mendengar suatu pembicaraan yang membuat hatiku mendongkol dan jijik bukan main, siapa sangka bahwa  The sie Kam seorang pendekar kenamaan adalah seorang hidung belang, Rupanya selama dalam  perjalanan,  ia  menaruh hati  kepada  puteri okpa  itu.  

Karena merasa mustahil dapat memeluk gadis itu dengan cara baik-baik, apalagi karena gadis itu kabarnya sudah bertunangan, Maka diam-diam ia merencanakan suatu pembunuhan keji, ia bersekutu dan mengadakan perundingan dengan seorang kepala begal bernama Sun Kong Cit.  

Esok hari, apabila rombongan lewat ditikungan jalan pegunungan, Sun Kong Cit harus menghadangnya. The  sie Kam akan berpura-pura melawan, ia nanti akan mundur jauh meninggalkan rombongan. Dan saat itu, anak buah Sun  Kong Cit hendak membunuh  seluruh keluarga  okpa itu, kecuali puterinya.  

Menyaksikan pembunuhan itu, The Sie Kam akan menjadi kalap, ia akan balik kembali memberikan pertolongan, Sun  Kong Cit dan anak buahnya harus  mundur  berantakan. Dengan demikian akan mengesankan hati puteri  okpa itu, betapa gagahnya The Sie Kam melindungi dan membelanya.  

Puteri itu akan merasa berhutang budi, akhirnya bersedia diperisteri, Sun Kong Cit menyetujui perundingan itu,  bukan main panas hatiku, segera aku balik dan  mengajak  anak buahku mengadakan pengintaian di sekitar  jalan  yang dimaksud. Bulatlah tekadku hendak menggagalkan  rencana mereka yang busuk itu." 

"lla, inilah lain jadinya." pikir Sin  Houw didalam  hati. Tadinya ia mengira, bahwa pembunuhan itu terjadi lantaran perebutan harta benda saja. 

Tak tahunya, terselip  suatu cerita latar belakang yang menentukan. 

"Memang aku termasuk seorang pemuda berdarah panas. Meskipun hidup sebagai begal, belum  pernah aku curang, semuanya kulakukan dengan terang-terangan, Kalau berhasil, itulah rejekiku, Kalau gagal, biarlah mampus. Apalagi seorang pendekar sebagai The Sie Kam, ia sudah bersedia menjadi pengawal rombongan. Apa sebab berhianat sebagai seorang pengecut?" Sim Pek Eng meneruskan bercerita.   "Sebagai seorang pengawal, ia sudah melanggar kewajibannya, sebagai seorang pendekar, ia sudah merendahkan derajat kaumnya. Demikianlah, aku menunggu terjadinya sandiwara itu, Tatkala rombongan mereka tiba ditikungan yang dimaksud, Sun Kong Cit benar-benar muncul dengan anak buahnya, pertempuran segera terjadi. The  Sie Kam menjerit-jerit dan berpura-pura sibuk mengatur suatu pembelaan, ia lari kesana kemari dengan pedang terhunus, justru hal itu, membuat hatiku mendongkol  dan  muak, Mengingat akan terjadinya suatu pembunuhan, tak dapat aku bersabar lebih lama lagi, segera aku membawa anak buahku menyerbu gelanggang pertempuran.  

Dan terlibat dalam  suatu pertempuran  seru, kuserukan kepada rombongan si okpa, bahwa telah terjadi suatu penghianatan keji, Dan sudah  tentu  seruanku  membuat  The Sie Kam menjadi kalap. Dengan pedangnya ia mengejar dan menerjang, Alangkah dahsyat ! Benar-benar ia seorang jago kenamaan yang tak mengecewakan. syukur ia sedang kalap.  

Dengan begitu, tak dapat ia mengendalikan diri sebaik- baiknya, Dan kesempatan bagus itu, segera kupergunakan. Akhirnya aku berhasil menabaskan pedangku. Dan ia roboh menghembuskan napasnya yang penghabisan " 

"Suhu! Manusia sekeji  itu sudah selayaknya mati!" seru seorang murid memotong perkataan Sim Pek  Eng,  "Kenapa kita takut menghadapi rencana  balas  dendam  adikhya?  Bila dia datang, kita bongkar rahasia keji itu di hadapan para sahabatnya, Mungkin sekali, dia pantang mundur dan tetap menuntut balas. Akan tetapi mustahil sekali di antara rombongannya tiada terdapat beberapa orang yang jujur?" 

"Benar." kata Sin Houw didalam hati, "Asal saja keterangan Sim Pek Eng ini benar,  pantas mendapat  penghargaan, jangan-jangan masih terselip  suatu masalah lagi di antara mereka." 

Sim Pek Eng menarik napas lagi. ia termenung sejenak, kemudian meneruskan:  "Setelah berhasil membunuh Hie Sie Kam, sadarlah aku akan ancaman bahaya, pastilah tidak  mudah  aku menceritakan peristiwa yang sebenarnya di hadapan adiknya yang akan menuntut balas, untunglah  pada saat itu anak  buahku berhasil menangkap Sun Kong Cit hidup-hidup.  

Aku paksa dia agar menulis surat pernyataan persekutuannya, Bahwa The  Sie  Kam  bermaksud mengganggu puterinya okpa itu, Ternyata Sun Kong Cit tidak berkeberatan, Didalam surat kesaksiannya, ia bahkan berani mengangkat sumpah pula     

"The Sie Kam dan adiknya sebenarnya adalah murid-murid dari aliran Siauw-lim, guru mereka adalah  Cie-keng  Taysu,  oleh karena itu, setelah memperoleh surat kesaksian dari Sun Kong Cit yang juga telah diperkuat oleh si okpa, maka aku menghadap Cie-keng Tay-su untuk mengakui  perbuatanku  dan memperlihatkan surat kesaksian itu, 

"Akan tetapi, diluar dugaanku berita pembunuhan itu telah terdengar oleh Cie-keng Taysu  beberapa  hari  sebelum  aku tiba di kuil Siauw-lim, Di tengah perjalanan aku berpapasan dengan rombongan mereka, sama sekali aku tak diberi kesempatan untuk bicara untunglah, pada saat aku terpojok, datanglah seorang pendekar luar biasa dengan  pedangnya yang istimewa ia dapat melumpuhkan  mereka  semua, Kemudian aku diantarkan menghadap Cie-keng Taysu.  

Dengan bantuan pendekar luar biasa itu, dapatlah aku memberi keterangan kepada Cie-keng Taysu tentang kejadian yang sebenarnya, Ternyata Cie-keng Taysu dapat menerima pengakuanku. Akan tetapi demi menjaga nama baik aliran Siauw-lim pay, Cie-keng Taysu minta kepadaku agar jangan membocorkan perbuatan The Sie  Kam. Aku bersedia dan berjanji.  

Dan sejak itu, benar benar aku menutup  mulut, itulah sebabnya tiada seorangpun  yang  mengetahui  peristiwa matinya The Sie Kam dan siapa  pembunuhnya.  Pada  waktu itu, adiknya baru berumur belasan tahun. Sudah tentu ia tidak mengetahui perbuatan The Sie Kam yang sebenarnya,  sebagai seorang adik yang menghormati kakaknya, sudah selayaknya kuhargai, pantaslah ia menuntut dendam. Hanya saja " 

"Itulah suatu balas dendam  yang kurang tepat!" potong seorang muridnya - "Kakaknya patut mengalami  nasib demikian Suhu, apakah  surat kesaksian itu masih berada ditangan suhu?" 

"Justru hal itulah yang kini menjadi kunci  kesulitanku."  sahut Sim Pek Eng, "Surat kesaksian itu kini tidak berada lagi padaku. Hilang!" 

"Hilang?" seru muridnya menegas. 

Sim Pek Eng menarik napas dan memanggut, lalu memberikan keterangan: 

"Aku memang harus menyesali diri sendiri. Mataku lamur sampai tak dapat mengenal  wajah  manusia.  setahun  yang lalu, salah seorang sahabatku menyampaikan berita kepadaku tentang sepak terjang The Sie Ban, yang katanya mencari pembunuh kakaknya sejak sepuluh ihun yang lalu, Menurut kabar The Sie Ban katanya sudah mengetahui tentang siapa pembunuh kakaknya, itulah aku sendiri, Tentu saja aku segera mencarinya untuk menyelamatkan diri,  

Teringatlah aku kepada dua orang sahabatku, Tan Hok Cin dan Khu Cing San yang mempunyai hubungan dekat dengan pihak Siauw-lim pay. Bila mereka berdua sudi menjadi perantaraku, pastilah perselisihan itu akan selesai. Maka berangkatlah aku mencari mereka berdua. 

"Aku berhasil menemukan mereka dirinya,  dan kusampaikan maksud  perjalananku  itulah  masalah perselisihan antara  diriku dengan The Sie  Kam. Dan aku memohon pertolongan mereka berdua  agar bisa memberi penjelasan kepada The Sie Ban.  

Kedua sahabatku itu menyatakan kesediaan untuk menjadi perantaraku, dan  kuserahkan surat,  kesaksian  kepadanya, Akan tetapi belakangan aku mengetahui bahwa dua  sahabatku itu justru telah  menjadi  kaki-tangan  pihak pemerintah penjajah, Mereka telah melaporkan aku sebagai pemberontak, dan mereka bahkan telah memutar  balik peristiwa yang terjadi dihadapan The Sie Ban,  sehingga  The Sie Ban bertambah panas terhadapku. Hal itu benar benar tak kuketahui selama delapan bulan yang lalu." 

MENDENGAR perkataan Sim Pek Eng, sekalian muridnya marah bukan main, 

Dengan serentak mereka menyatakan hendak bertempur sampai titik darah penghabisan.  Mereka  memaki  dan mengutuk perbuatan Tan Hok Cin dan Khu Cing San yang mereka anggap sebagai penghianat yang patut dibinasakan! 

"Sabarlah!" kata Sim Pek Eng  mengatasi rasa marah mereka. "Aku tidak mengidzinkan kalian menuruti perasaanmu belaka, Yang penting, aku sudah membuka rahasia perbuatan The Sie  Kam kepada kalian semua. Artinya aku sudah mengingkari janjiku kepada Cie-keng Taysu, Karena  itu, kuminta kalian jangan menyebar luaskan berita  kebusukan The Sie Kam.  

Biarlah mereka berbicara apa saja tentang diriku. Tapi aku sendiri jauh lebih senang diperlakukan begitu, dari pada aku mengingkari janji . Kalau kini aku membuka rahasia ini juga, lantaran laskar perjuangan  rakyat  terancam  perbuatan terkutuk Tan Hok Cin dan Khu Cing San. Kepada mereka berdualah sasaran kalian yang benar." 

Ia berhenti dan  menarik napas.  "Sekarang,  panggillah kedua adikmu, Cu Hwa dan Cu Jie." 

Dengan wajah murung, murid-muridnya  keluar meninggalkan kamar, dan tak lama  kemudian  masuklah seorang gadis berusia kurang lebih tujuhbelas tahun dengan seorang pemuda tanggung berumur sebelas atau dua belas tahun. Merekalah Cu Hwa dan Cu Jie, putera-puteri Sim Pek Eng. 

"Ayah!" teriak Cu Hwa sambil menubruk pangkuan  Pek  Eng, dan gadis itu lantas menangis terisak.  Sim Pek Eng tidak berkata   apa-apa  tetapi  membelai rambut Cu Hwa dengan tangan kanannya. sedang  tangan kirinya memeluk Cu Jie yang berdiri di dampingnya. 

"Apakah ibumu sudah siap?" akhirnya ia menanya. Cu Hwa memanggut. 

"Bagus." kata Pek Eng. "Sekarang  dengarkan  pesan ayahmu, Jika adikmu sudah  mendekati usia  dewasa, hendaklah kau ajari bekerja  yang  layak. Jadikanlah  dia seorang petani atau pedagang, jangan kau bawa dia memimpikan kedudukan tinggi atau pangkat yang mentereng, Kularang dia mempelajari ilmu kepandaian atau ilmu sakti macam apapun. Dengan begitu, hidupnya akan damai  dan tenteram," 

"Tidak, ayah." bantah Cu Hwa, "Dia harus belajar ilmu silat agar dapat menuntut dendam ayah." 

"Kau bilang apa?" bentak Pek Eng, wajahnya  menjadi merah padam, Akan tetapi hanya sedetik dua detik. setelah itu kembali muram dan penyabar, Kata-nya dengan suara rendah: 

"Cu Hwa, dengarkan baik-baik, pesan ayahmu ini, semuanya ini kupesankan kepadamu,  agar  anak  keturunan kita selamat, sebab didalam pergaulan hidup ini, seringkali terjadi penyakit angkara manusia yang tiada habis habisnya. itulah rasa dendam kesumat, iri hati,  jelus,   cemburu  dan dengki. Karena itu, aku menghendaki Cu Jie hidup sebagai rakyat jelata kelak.  

Lagi pula adikmu tidak memiliki bahan bagus. seumpama belajar ilmu silatpun tidak akan dapat mencapai tataran kesempurnaan. Tegasnya  dia tidak akan dapat mencapai setengah kepandaianku. Apa yang bisa di  lakukan  dengan bekal sekerdil itu? lihatlah ayahmu sendiri! Meskipun memiliki ilmu agak berarti, akhirnya tidak  berdaya  juga mempertahankan hidup damai sejahtera.  

Mati itu sendiri, tidak begitu mengusik hatiku. sebab setiap orang hidup, pasti akan mati. Tetapi alangkah besar sesalku,  bahwa aku tidak  diberi kesempatan melihatmu membangun rumah tangga... setelah kepergianku, hendaklah kau menghadap panglima Lie Hui Houw, Katakan pada  beliau bahwa aku menunjuk muridku The Seng Kian sebagai penggantiku. Dan mulai detik ini pula, sekalian murid dan para pembantuku harus tunduk dan patuh padanya. Mengerti?" 

Thio Sin Houw menjadi  heran, Mengapa  Sim Pek Eng sampai menjadi putus asa? Dia merupakan seorang pemimpin dari ribuan tentara rakyat. Meskipun The Sie Ban memperoleh bantuan dari teman-temannya, dapatkah mereka melawan tentara rakyat yang berjumlah ribuan orang itu. Mustahil dan benar-benar sangat aneh! 

Sementara itu terdengar Cu Hwa bertanya: 

"Apakah aku harus memanggil The susiok menghadap ayah?" 

"Apakah kau belum jelas menanggapi   perkataanku  ini?" Pek Eng menyesali  anak gadisnya. "Pamanmu itu keras hatinya, Dia sedang pulang kekampung. Bila kau panggil dia untuk menghadap ayahmu dan mengetahui  masalahnya, apakah dia akan berpeluk tangan saja melihat diriku terhina begini rupa? sekali ia bertindak, maka pertempuranpun akan terjadi. Berapa  jiwa yang akan melayang? Dan aku tak menghendaki mereka mati demi untukku.  

Didepan mereka  menanti suatu  gerbang  yang  pantas sekali menuntut telaga  dan jiwa  mereka, itulah perjuangan bangsa dan negara. Karena itu, aku hanya menghendaki agar kau menghadap panglima Lie Hui Houw membawa pesanku. Kemudian umumkan keputusanku ini kepada sekalian murid muridku. Jadi aku tidak meminta kau memanggil  The  Seng Kian menghadap. Sudah jelas?" 

Cu Hwa manggut. isak tangisnya semakin menjadi. Kemudian dengan membimbing tangan adiknya,  ia mundur sampai ke pintu, Berkata mencoba: 

"Ayah, apakah tiada jalan lain untuk menghindari ancaman mati ini?"  "Hal itu sudah kupikirkan sejak beberapa hari yang lalu." sahut Sim Pek Eng menghela napas. "Apakah kau kira  aku tidak bergirang hati serta bersyukur apabila  terhindar dari kematian, didalam  dunia ini, hanya  ada  seorang  saja  yang bisa menolong diriku. itulah pendekar luar biasa yang dahulu pernah menolongku dari kepungan orang orang Siauw-lim. Tetapi kukira, pendekar itu sudah tiada lagi dalam dunia ini..." 

Mendengar perkataan ayahnya,  wajah Lu hwa berseri dengan tiba-tiba. ia mendekati lagi dan bertanya menegas: 

"Ayah, siapakah orang itu? siapa  tahu,  barangkali   dia belum meninggal dunia." 

"Dialah Gin-coa Long-kun!" sahut sini  Pek  Eng.  "Dialah yang kusebut pendekar luar biasa, Dia juga yang mengetahui masalahku, Ketika pihak Siauw-lim menghadangku ditengah perjalanan, ia mengundurkan  mereka  seorang  diri,  Dan dengan seorang diri pula ia menjelaskan masalahku.  Akan tetapi kudengar ia mengalami aniaya   berat   belasan  tahun yang lalu, pasti lah dia tiada lagi dalam dunia ini, seumpama masih hidup, akh sudahlah . Kau pergilah menghadap 

Panglima Lie Hui Houw." 

Dengan hati duka, kembaIi Lu Hwa membimbing adiknya meninggalkan kamar. Sin Houw memberikan isyarat tangan kepada Giok Cu untuk mengikuti kepergian Cu Hwa. Waktu Cu Hwa meIintasi sebuah taman, sekonyong-konyong Sin Houw melompat menghadang didepannya, Keruan saja Cu Hwa terkejut bukan main, Serentak ia menghunus pedangnya, membentak: 

"Siapa kau?" 

"Kau ingin menolong ayahmu?  ikutlah aku!" sahut Sin Houw, Dan dengan sekali bergerak, ia melompati  dinding pagar. Giok Cu mencontoh perbuatan kawannya itu. 

Cu Hwa tertegun keheranan.  ia  kagum  menyaksikan betapa gesit Sin Houw, segera ia mengkisiki adiknya agar menunggu dikamar ibunya. Kemudian ia melompat pagar tembok itu pula, menyusul Sin Houw dan Giok Cu. ia mengejar  beberapa rintasan, Melihat  Sin Houw dan Giok Cu telah meninggalkannya sangat jauh, ia menghentikan langkah, lalu memutar tubuh hendak kembali. Tapi baru saja ia berpaling, sekonyong-konyong lengannya teraba sesuatu. Tahu-tahu pedangnya telah terampas. Sin Houw sudah berada disampingnya, 

Sudah barang tentu Cu Hwa terkejut bukan main, Betapa mungkin, seseorang bisa bergerak begitu cepat, ia tertegun keheranan, terdengarlah sin Houw berkata meyakinkan: 

"Adik, janganlah kau sangsi kepadaku, seumpama aku berniat mencelakaimu dapat kulakukan dengan mudah tadi, Akulah salah seorang sahabat ayahmu.  Maka  dengarlah semua perkataanku." 

Cu Hwa manggut, meskipun hatinya masih ragu-ragu. Sin Houw agaknya dapat menebak keadaan gadis itu, Berkata meyakinkan lagi: 

"Ayahmu terancam bahaya maut,  Beranikah  kau menempuh bahaya untuk menolongnya? sanggupkah kau?" 

"Asal ayah tertolong, aku bersedia hancur lebur." sahut Cu Hwa. 

"Bagus! Ayahmu sesungguhnya seorang  mulia  hati, Ayahmu lebih senang  mengorbankan diri sendiri daripada mengorbankan beberapa jiwa demi persoalannya. Dialah seorang pendekar yang jarang terdapat didunia ini, Karena itu, aku hendak membantunya. jangan takut." 

Sekarang Cu Hwa tidak sangsi lagi, pemuda yang berada didepannya itu benar-benar meyakinkan hatinya. Maka ia membungkuk hormat  sambil  menyatakan  rasa  terima kasihnya. 

"Jangan begitu!" sin Houw mencegahnya .  "Belum  tentu pula aku dapat menolong, semuanya  ini  tergantung  pada nasib yang baik, Sekarang, bawalah aku  ke  kamarmu. Dapatkah kau menyediakan alat tulis?" 

Cu Hwa terhenyak sejenak. Tetapi melihat Giok Cu berada  disamping pemuda itu, kecurigaannya pudar. pikirnya didalam hati: 

"Dia membawa seorang teman, Mustahil ia hendak berbuat tak senonoh terhadap  diriku. Lagipula tenaga sambarannya dahsyat luar biasa diwaktu mencegah gerakanku menyatakan hormat padanya. Kalau saja ia benar-benar hendak menolong ayah, pastilah mampu." dan  dengan pertimbangan  ini  ia bertanya: 

"Sebenarnya" siapakah kakak berdua?" 

"Waktu kita sangat sedikit, Hayo, kau  sediakan  saja  alat tulis dan kertas. Aku hendak menulis surat kepadanya. Bila ayahmu membaca surat itu, ku harap saja tidak berputus asa lagi." sahut Sin Houw menyimpang. 

Cu Hwa sudah berada dalam pengaruh Sin Houw, Berkatalah gadis itu: 

"Baiklah, Mari!" 

Ia berjalan mendahului. Dan Sin Houw berjalan mengikuti dengan di dampingi Giok Cu. Berkata: 

"Kau ingin mengetahui nama kami berdua, bukan? Biarlah tetap merupakan rahasia dahulu, Bahkan  kupinta  padamu, agar merahasiakan pula pertemuan kita ini. Kau sanggup?" 

Cu Hwa manggut, ia sekarang mengerti maksud Sin Houw, Dan wajahnya lantas saja menjadi  cerah.  Dengan  penuh gairah, ia membawa Sin Houw berdua melintasi taman bunga memasuki kamarnya, cepat ia menyediakan alat tulis dan kertas. Kemudian duduk berjarak empat langkah didekat pintu masuk. 

Sin Houw membubuki kertas yang berada diatas meja, ia menulis, Giok Cu yang berada disampingnya terkejut  melihat apa yang ditulisnya, Akan tetapi oleh isyarat mata, ia membungkam. 

"Adik," kata Sin Houw kepada Cu Hwa. "Esok pagi pergilah kau menemui kami di rumah penginapan "Sin Sin" jam  sembilan, Kami akan menunggumu." 

Cu Hwa manggut sambil menerima lipatan kertas yang diberi kan kepadanya. Kata Sin Houw lagi: 

"Sampaikan surat ini kepada  ayahmu secepat mungkin! hanya saja kau harus berjanji kepadaku."  

"Katakanlah!" 

"Hendaknya kau rahasiakan pertemukan kita ini. bila ayahmu minta keterangan tentang diriku, jangan kau katakan. Kularang kau melukiskan potongan tubuhku dan usiaku, Kau mengerti? Cu hwa heran. Menegas: 

"Kenapa?" 

"Apabila kau sebutkan kesan diriku, tidak akan membantumu lagi . " Sin Houw mengesankan. 

Sebenarnya Cu Hwa masih ingin memperoleh penjelasan. Akan tetapi karena melihat Sin  Houw bersungguh-sungguh terpaksa ia manggut. Katanya: "Baiklah, Aku berjanji."  

Sin Houw menarik lengan Giok Cu. Dengan  membawa gadis itu, ia melesat keluar melalui jendela, Gesit gerakannya, sehingga untuk kedua kalinya Cu Hwa kagum bukan main, sebentar kemudian, ia tersentak oleh  lipatan  kertas  yang berada ditangannya, Cepat-cepat ia berlari menuju ke kamar ayahnya hatinya memukul, tatkala melihat pintu dan jendela kamar ayahnya tertutup rapat.  

Dengan menghimpun tenaga ia meng-gempur jendela sampai terbuka. Lalu melompat kedalam   sambil mengacungkan surat . 

"Ayah!" serunya, "Lihat!" 

Ia melihat ayahnya sedang memegang sebuah cawan, Tahulah dia apa isi cawan itu, Pastilah ayahnya hendak mengambil jiwanya sendiri dengan  meminum  racun,  Karena itu, wajahnya jadi pucat dan suara menggeletar tatkala mengulangi seruannya:  "Ayah, lihat! surat ...!" Sim  Pek  Eng menurunkan cawannya. ia menoleh dengan pandang kosong, Dan Cu Hwa berkata lagi sambil membuka lipatan kertas: 

"Ayah surat, Bacalah dulu!" 

Sim Pek Eng menyadarkan pandang matanya, ia melihat lukisan sebilah pedang, Dengan tiba-tiba saja cawan yang dipegangnya terlepas jatuh dan hancur berantakan di lantai. 

Cu Hwa terkejut menyaksikan hal itu, Kenapa ayahnya sampai kehilangan, tenaganya? Tapi setelah  melihat perubahan wajah ayahnya, hatinya  bersyukur bukan main, Wajah ayahnya yang suram, mendadak berubah berseri-seri penuh cahaya gairah hidup. 

"Siapa? siapa yang memberimu surat ini?" Sim Pek Eng menegas dengan suara gemetar. Kedua  tangannya  meraih surat ditangan Cu Hwa. "Apakah dia datang?" 

Cu Hwa tak dapat menjawab dengan segera, ia mendekati pelita untuk memperoleh  penglihatan  lebih  jelas.  Kemudian ikut memperhatikan surat Sin Houw sama sekali  tiada hurufnya, kecuali lukisan  sebilan  pedang  yang  aneh bentuknya.  

Mirip seekor ular yang siap menerkam mangsa, ia tidak mengerti apa sebab ayahnya kegirangan  begitu  melihat gambar itu. Bertanya: 

"Gambar pedang siapa?" 

"Asal dia datang, ayahmu bakal tertolong. inilah pedang Gin-coa kiam. Apakah dia datang menemuimu?" 

"Dia siapa ?" Cu Hwa heran. 

"Pemilik pedang ini.  Maksudku  yang  melukis  bentuk pedang ini." kata Sim Pek Eng. 

Sekarang barulah Cu Hwa mengerti maksud ayahnya. ia manggut seraya berkata: 

"Besok pagi aku disuruh mencarinya disuatu tempat."  "Dimana?" 

Dirumah penginapan Sin sin." 

"Akh! Apakah dia tidak berkata bahwa akupun perlu ikut?" "Tidak, ia tidak berkata begitu." jawab Cu Hwa. 

Pek Eng menarik napas. Tetapi wajahnya cerah. Katanya setengah berbisik seperti kepada dirinya sendiri: 

"Orang gagah luar biasa itu memang aneh perangainya. Kalau dia tidak berkata sesuatu, pasti ada maksudnya. sebaliknya bila membuka mulutnya, siapapun harus taat dan mendengarkan setiap patah  perkataannya dengan sungguh sungguh, Baiklah, kau pergilah esok pagi mencarinya. Akh, sedetik saja kau kasep, ayahmu kini sudah berada di tengah awan..." 

Mendengar ucapan ayahnya, keringat dingin membasahi tengkuk Cu Hwa. Maka berkatalah dia dengan hati-hati: 

"Sekarang, sebaiknya ayah tidur saja." 

Pek Eng manggut, ia kini menjadi seorang penurut dengan mendadak. Dan kabar yang menggirangkan itu sebentar saja telah tersiar luas diantara murid muridnya, Isterinya Pek Eng girang dan bersyukur bukan kepalang.  

Hanya saja ia masih bimbang terhadap pendekar itu yang katanya hendak datang menolong. Benar-benarkah dia akan datang esok hari? Tapi melihat kecerahan wajah suaminya, ia percaya bahwa bahaya maut telah teratasi. Karena  itu,  ia  tak jadi berkemas. 

Waktu itu Sin Houw dan Giok Cu sudah jauh meninggalkan rumah Pek Eng, Giok Cu tadi melihat Sin Houw menggambar sebatang pedang yang aneh bentuknya, waktu itu tak berani ia membuka mulut untuk minta keterangan. sekarang tak perlu ia khawatir akan ada lain orang yang mengetahui. Maka bertanyalah ia: 

"Sebenarnya pedang apakah yang kau lukis tadi?"  "Bukankah kau telah mendengar keterangan  Pek Eng tentang seorang pendekar luar biasa yang memiliki pedang aneh? itulah pedang Gin-coa Kiam  milik  almarhum  ayahmu, Dia yakin, bila ayahmu datang pastilah jiwanya bakal tertolong, Dengan melihat bentuk pedang, dia akan teringat ayahmu," 

Terharu hati Giok Cu mendengar keterangan Sin Houw, Namun ia heran apa sebab Sin Houw bermaksud  menolong jiwa Pek Eng, Tanyanya: 

"Kau hendak menolong jiwanya. Apakah keuntunganmu?" "Kulihat  Pek  Eng  seorang  ksatria  yang  luhur  budi." jawab 

Sin  Houw. "Dia  kena  fitnah  dua  sahabatnya  yang dipercayai. 

Kalau sampai mati, itulah mati sia-sia belaka. Dapatkah kita menyaksikan dia mati  penasaran?  Apalagi  dia  ternyata sahabat ayahmu." 

"Oh, begitu? Kukira kau sudi menolong karena melihat puterinya yang cantik jelita." kata Giok Cu berlega hati. 

"Giok Cu! sebenarnya aku kau golongkan manusia apa sampai kau mempunyai pikiran demikian." Sin Houw mendongkol. 

"Hey, kenapa kau marah, sayang? siapapun akan curiga kepadamu. Kau  seorang pemuda dan  dia seorang gadis cantik. Kenapa kau suruh mencarimu di penginapan ?" 

Tepat kata-kata Giok Cu, sehingga Sin Houw tak kuasa menjawab. Akhirnya mau tak mau ia tertawa geli juga. katanya 


"Pandang matamu tajam sekali. Hm, bagaimana aku harus mengobatimu? Baiklah, mari kutunjukkan padamu, apa sebab aku memintanya mencariku ke penginapan." 

Giok Cu menggerutu, Hendak ia membuka mulutnya, akan tetapi Sin Houw telah menyambar tangannya. pemuda itu lari pesat mengarah  ke timur. Dan terpaksalah  ia lari sekuat- kuatnya untuk bisa mendampingi. 

Tak lama kemudian, sampailah mereka digedung  kediaman The Sie Ban. Dengan menarik tangan Giok Cu, Sin Houw melompati tembok halaman.  Dan dibalik gerombol tanaman, ia membawa gadis itu bersembunyi. Bisiknya: 

"Didalam rumah ini banyak terdapat orang-orang pandai. Karena itu kita harus berhati-hati.  sekali mereka melihat kehadiran kita, akan gagallah rencanaku." 

"Baik." sahut Giok Cu, "Tapi kau harus berjanji,  bahwa tujuanmu menolong Sim Pek Kng bukannya disebabkan pandang puterinya. Kalau kau menolong orang tua itu demi Cu Hwa, aku akan berteriak biar gagal usahamu." 

Sin Houw tertawa mendongkol. Akan tetapi  ia  percaya, Giok Cu hanya mengancam dimulutnya saja. Dan hati-hati ia membawa gadis itu mendekati rumah penginapan. Tatkala itu suasana sudah sunyi. Maklumlah, hari hampir mendekati fajar. walaupun demikian, perlu ia berhati-hati.  

Tiba-tiba ia melihat seorang pelayan lewat melintasi taman. Cepat ia melompat dan menyumbat mulutnya. Berkata mengancam: 

"Dimana letak kamar tamu yang datang menginap disini?" Pelayan itu ketakutan melihat mata Sin Houw yang 

berwibawa. segera ia memberi keterangan. 

"Bukan semuanya yang kumaksudkan." potong Sin Houw, "Tapi dua orang tamu bernama Tan Hok Cin dan  Khu  Cing San." 

Pelayan itu menuding kearah sebuah kamar yang terletak disebelah barat, Sin Houw berterima kasih, Katanya: 

"Tetapi maaf, Kau terpaksa kutawan juga disini, Menjelang pagi hari, kau akan bebas sendiri tanpa pertolongan." 

Setelah berkata demikian, ia memijit salah suatu urat tertentu. Kemudian mcmondongnya dan  diletakkan di balik gerombol belukar . Setelah itu dengan hati-hati. ia mendekati kamar sebelah barat. sudah tentu Giok Cu tidak sudi ketinggalan. Tatkala Sin Houw sedang membongkar jendela,  ia ikut memperhatikan keadaan disekelilingnya . 

Hebat cara kerja Sin Houw. Dengan tenaga dalamnya yang sempurna, ia menempelkan tangannya. Tiba-tiba saja jendela terbuka dengan  sendirinya. Kemudian ia melompat masuk. Giok Cu melompat masuk pula. 

Sebenarnya, gerakan mereka tiada membersitkan suara sedikitpun juga. Tetapi Tan Hok Cin dan Khu Cing San sangat tajam telinganya. Begitu mendengar desir angin, mereka tersentak bangun. tetapi begitu bergerak,  Sin  Houw mendahului mereka membuat tak berdaya. 

Dengan leluasa Sin Houw menggeledah isi kamar. semua diaduknya sehingga bertebaran diatas lantai. Giok Cu lantas menyalakan lilin, ia membantu menyuluhi. Namun apa yang di kehendaki Sin Houw belum juga diketemukan.  

Tiba-tiba terdengarlah langkah kaki di seberang kamar. Cepat-cepat ia memadamkan lilin, Dan didalam  gelap,  Sin Houw terus mengadakan penggeledahan. 

Akhirnya ia menggerayangi saku Tan Hok Cin. Hatinya girang, karena menemukan segumpal kertas. Terus saja ia memasukkannya didalam sakunya. bisiknya kepada Giok Cu: 

"Sudah kutemukan." 

"Bagus!" sahut Giok Cu girang dengan berbisik pula, "Mari kita keluar, Diluar kudengar langkah kaki." 

"Tunggu sebentar." kata Sin Houw masih berbisik. ia lantas mendekati meja, Dengan mengerahkan tenaga dalamnya , ia menulis dengan  jari tangannya. pendek saja: "Hormat dan salam dari sahabatmu, Sim Pek Eng, "Tetapi yang mengagumkan adalah bekas jari tangannya. Alas meja seperti melesak kedalam! 

Berbareng mereka melompat keluar jendela.  Bulan sipit tiada lagi, sehingga  malam jadi gelap pekat, Tiba-tiba saja sebatang pedang menyambar dada Sin Houw, pemuda  itu sama sekali  tak gentar.  Cepat ia menyambar pergelangan tangan penyerangnya. Diluar dugaan, penyerangnya dapat  bergerak dengan cepat  pula,  Tahu-tahu  ujung  pedang menikam ulu hati! 

Sin Houw tidak menghiraukan. ia mengandal pada baju pusaka pemberian Bok siang Tojin yang tak mempan senjata betapa tajampun, ia tak takut akan terluka. Tangannya terus bergerak mencengkeram lengan. 

Sudah tentu penyerangnya kaget  bukan  kepalang, Benarkah didunia ini terdapat seseorang yang kebal? selagi dalam keadaan demikian, tahu-tahu lengannya tercengkeram, Hebat hasilnya.  Maka cepat-cepat ia mengerahkan tenaga hendak membebaskan diri. Tapi suatu tamparan mengarah mukanya. Gugup ia melompat mundur.  

Diluar kehendaknya,  pedangnya  terampas.  Oleh  rasa kaget dan takut, ia lari dengan jumpalitan. sebentar saja tubuhnya lenyap dibalik kegelapan malam. 

Sin Houw membiarkan penyerangnya kabur dengan selamat. ia tahu siapa ia, dialah pendekar pedang  Lie  Kong Seng dari Hay-see pay, yang pernah malang-melintang tiada tandingnya sejak belasan tahun yang lalu. Sekarang pedang andalannya terampas orang  dalam satu  gebrakan  saja, Keruan saja ia mendongkol bukan kepalang,  Kecuali malu, gentar juga. 

Sie Liu Hwa mengalami nasib seperti Lie Kong Seng pula, Ketika ikut mengintai rumah Sim Pek Eng, ia kehilangan pedangnya. pendekar wanita yang  genit itu, hampir saja menangis oleh rasa marah dan penasaran.  Meskipun perampas pedangnya tidak berniat jahat, namun perampasan  itu sendiri cukup menghinanya. 

Malam itu, baik Sie Liu Hwa maupun Lie Kong Seng, tidak sanggup tidur, mereka berdua diamuk berbagai dugaan dan pikiran. pendekar dari manakah sebenarnya yang sanggup merampas pedangnya? Hampir-hampir saja mereka tidak mau percaya, bahwa pedang andalan masing masing  kena terampas. 

Sebenarnya Lie Kong Seng keluar kamar tanpa tujuan. ia  berjalan mondar mandir dihalaman mencari angin. Tiba-tiba ia melihat cahaya menyala didalam  kamar Tan  Hok Cin. segera ia menghampiri dan bersembunyi dibelakang tanaman . Telinganya yang tajam mendengar suatu kesibukan didalam kamar itu, Cepat ia  menghunus  pedangnya.  inilah  pencuri yang bosan hidup, pikirnya di dalam hati.  ia  percaya  akan dapat merobohkan pencuri itu dalam satu gebrak saja, Diluar dugaan, ia gagal. Bahkan pedangnya kena terampas! 

Dengan sesungguhnya,  Lie  Kong Seng  adalah  seorang ahli pedang, Didalam Hay-see pay  keahliannya tiada  yang dapat menandingi. Tak mengherankan, ia disegani lawan dan kawan. Pedang andalannya termasuk  sebatang  pedang pusaka pula.  

Belum pernah pedang itu gagal menembus sasaran. Tapi malam ini, pedang itu terpental balik. Apakah bukan hantu? Maka bisa dimengerti, apa sebab ia lari lintang-pukang, Dan begitu memasuki kamarnya, segera ia membangunkan teman- temannya. 

Dalam pada itu, Sin Houw dan Giok Cu cepat-cepat lari mendekati pagar tembok. Mereka tak usah takut bakal terlihat, karena sekitar tempat itu gelap pekat, Halaman gedung kediaman The sie Ban luas pula, Banyak pohon-pohonan yang tumbuh dengan suburnya, sehingga menutupi penglihatan. Tetapi tatkala hendak melompati pagar, kaum Hay-see pay sudah terbangun. Dan kesibukan itu menjalar dari tempat ke tempat . Dan terpaksalah Sin Houw mengurungkan niatnya. 

"Kita bersembunyi dulu!" ajak Sin  Houw, ia tak berani semberono, karena gedung The Sie Ban  penuh dengan pendekar berilmu tinggi. Maka perlahan lahan ia membawa  Giok Cu mendekati tembok dan  mendekam rendah  diatas tanah. 

Perasaan Sin  Houw memang luar biasa. Tiba-tiba saja diatas genting bermunculan beberapa orang ronda, Coba sekiranya tadi ia tergesa-gesa melompati pagar  tembok, mereka akan kepergok dengan ronda-ronda yang berada  di  atas genting sebelah depan.  "Hey, apa ini?" tiba-tiba Giok Cu berkata. "Coba, rabalah!" Gadis itu membawa tangan Sin  Houw ke tempat yang 

dikehendaki. Mula-mula pemuda itu tak mengerti maksud Giok Cu tetapi setelah meraba beberapa saat  lamanya,   hatinya mulai tertarik. Kaki pagar tembok itu berlumut  sangat  tebal  - tapi aneh! Diantara banyak terdapat  lubang-lubang  ukiran huruf. ia terus meraba dan meraba. 

"Hey, rangkaian huruf!" ia  berseru  tertahan  dengan berbisik. "Coba benar tidak dugaanku ini ?" 

Giok Cu mengikuti titik tolak rabaan Sin Houw, ia lantas mengeja, Eh , benar-benar terbaca. pikirnya di dalam hati. Dan setelah sekian lamanya meraba, akhirnya membaca : "GAK  HUl" . 

"Akh! Bukankah tanda ini yang kita cari?" seru Giok Cu berbisik. 

Hampir sepuluh hari lamanya, mereka mencari istana Gak Hui. Mulai matahari terbit sampai jauh malam, Sekarang, tiba- tiba saja mereka menemukan secara kebetulan sekali. Keruan saja mereka girang dan bersyukur bukan main. 

Gak Hui hidup pada jaman kerajaan Song.  Ketika mengalami kekalahan, ia memasuki  hutan  dan mendaki gunung. Pan Gak Hui yang mengikuti raja Song dengan setia, kemudian menyusun laskar tentara rakyat disekitar kota itu, ia mendirikan markas gerilya, Karena peristiwa itu terjadi sudah terlalu lama, maka tidaklah mengherankan bila gedung markas besarnya lenyap ditelan oleh sejarah. 

Sin Houw terpaku oleh rasa girang, tiba-tiba tengkuknya kena hembusan halus hangat, ia menoleh dan melihat Giok Cu tersenyum lebar. ia jadi sadar, meskipun kesadaran itu sendiri belum dikehendaki. Gerutunya: 

"Dalam keadaan begini, masih saja kau bergurau." "Bergurau? justru tidak!" Giok Cu membantah. "Apakah 

kau akan membiarkan diri kena tangkap?"  "Akh!" Kini Sin  Houw tersadar benar benar.  "Mari kita pergi!" 

Mereka mendekam beberapa saat lamanya, setelah yakin tiada lagi ronda diatas genting, cepat-cepat mereka melompati tembok halaman dan lari secepatnya, tepat jam empat pagi, tibalah mereka dirumah penginapan  dengan  selamat  tak kurang suatu apa. 

Tiba dikamar penginapan, Giok  Cu  segera  menyalakan lilin, Sin  Houw mengeluarkan gumpalan  kertas dari dalam sakunya. Kertas itu sudah kuning kotor oleh usianya, setelah diperiksa, ia merasa gembira.  

Benar-benar dua helai surat kesaksian yang dikehendaki dalam urusan Sim Pek Eng! Dengan hilangnya surat  itu,  Sim Pek Eng jadi berputus  asa, karena dia  tidak mempunyai pegangan lagi untuk menghadapi kekalapan The Sie Ban yang mengundang begitu banyak orang-orang gagah kenamaan. 

"Kau benar-benar berhasil menolong jiwa   ayah  sigadis yang cantik jelita itu!" seru Giok Cu menyindir. "Entah dengan apa gadis itu hendak balas budimu." 

"Gadis siapa?" 

"Akh, berlagak lupa lagi. Bukankah Cu Hwa?" Giok Cu mendengus. 

Sin Houw tertawa geli, Tak sudi ia melayani sifat Giok Cu yang masih kekanak-kanakan. ia lantas mengalihkan perhatiannya kepada  bunyi surat kesaksiannya itu, Katanya setelah membaca surat-surat itu: 

"Benar-benar Sim Pek Eng  tidak  berdusta. Apa  yang dikatakan benar belaka.  Bacalah sendiri! Hm, umpama dia berdusta sedikit saja, tak sudi aku membantunya. Apa keuntungannya bentrok dengan beberapa orang gagah angkatan tua dan yang  sebaya dengan usiaku. Diantara mereka bahkan terdapat pula murid muridnya Jie suheng." 

Setelah berkata demikian, ia memeriksa lembaran kertas lainnya, Tiba-tiba wajahnya berubah menjadi merah padam,  Heran Giok Cu melihat perubahan itu, Biasanya pemuda itu selalu tenang wajahnya, meskipun hatinya panas dan marah bukan main. Apa sebab kali ini tidak demikian? 

"Surat apa?" tanyanya ingin tahu. 

"Bacalah sendiri," jawab  sin Houw yang menyerahkan lembaran kertas itu. 

Itulah surat tugas rahasia Tan Hok Cin dan Khu Cing San, surat tugas yang  di tanda tangani oleh pihak  pemerintah penjajah bangsa  Mongolia, terbagi atas dua  bagian. Yang pertama, membunuh Sim Pek Eng dengan cara apapun juga, Yang kedua menyusup dan menghancurkan laskar rakyat, menghimpun mereka agar mau  menjadi  kaki  tangan pemerintah penjajah. Dengan demikian, diharapkan dapat melumpuhkan perjuangan Thio Su Seng! 

Giok Cu adalah seorang gadis yang sejak  kanak-kanak hidup terasingkan dari percaturan masyarakat, Meskipun demikian, membaca surat tugas rahasia itu  -  nalurinya berontak. Tiba-tiba saja dadanya serasa hendak meledak oleh rasa marahnya, Terus saja hendak merobek surat rahasia itu. Cepat-cepat sin Houw merebutnya, cegahnya: 

"Jangan! Kenapa kau begini semberono? Kalau sampai terobek, kita tidak mempunyai bukti penghianatannya lagi."  

"Akh, ya." Giok Cu tersadar, lalu menambahkan lagi: "Hampir saja aku merusak pekerjaan besar. Tapi kenapa Tan Hok Cin dan  Khu Cing San membawa bawa surat  ini? Bukankah surat ini dapat mencelakakan dirinya?" 

"Maksudnya untuk mempengaruhi The Sie Ban dan orang- orang gagah lainnya. Tegasnya, peristiwa The  Sie  Ban  dan Sim Pek Eng hanyalah suatu dalih belaka yang penting, inilah suatu kesempatan untuk bisa mengumpulkan  para  orang- orang gagah dari segala penjuru." jawab Sin Houw.  

"Bila mereka sudah berada dalam genggamannya, adalah mudah sekali untuk menghancurkan laskar rakyat. "Ya, pasti begitu jalan pikiranya mereka berdua."  Giok Cu menghela  napas dan menjadi muram mukanya. 

 (Oo-dwkz-oO) 

KIRA-KIRA jam sembilan esok paginya, Sin  Houw  turun dari ranjang. ia gembira karena merasa dirinya memperoleh kemajuan. jalan darahnya lancar dan sempurna, segera ia mandi dan ganti pakaian. Melihat makan pagi telah tersedia diatas meja, hatinya bersyukur. Terasa suatu kemanisan meresap didalam perasaannya.  Tatkala tangannya hendak meraih gelas, tiba-tiba saja Giok Cu muncul diambang pintu sambil tertawa manis, Kata gadis itu: 

"Yaya, apakah sudah selesai sembahyang?" 

"Sudah, naynay, Apakah naynay  sudah  segar  kembali?" Sin Houw membalas menggoda dengan tertawa. 

 (Yaya ^ kakek. Naynay - nenek) . 

"Sudah, yaya, Akupun sudah ganti pakaian." kata Giok Cu. "Apakah aku benar-benar mirip seorang pemuda?" 

"Seorang pemuda yang terlalu cakep." jawab Sin  Houw dengan wajah merah. 

Giok Cu diam-diam menyesali pertanyaannya sendiri. wajahnya terasa panas. Akan tetapi  hatinya   senang,  Entah apa sebabnya. 

Mereka berdua lantas bersantap berbareng tanpa berkata sepatah kata lagi. Masing-masing seperti lagi berusaha menyembunyikan perasaan hatinya. 

Belum selesai mereka bersantap, datanglah  seorang pelayan mengantarkan seorang gadis. Dialah Cu Hwa yang segera memberi hormat begitu  melihat Sin Houw dan  Giok  Cu. 

Sin Houw cepat-cepat membalas hormat. sedang Giok Cu lantas saja memegang tangannya dan diajaknya duduk berdamping, Cu Hwa tidak mengetahui, bahwa pemuda yang mengajaknya duduk disampingnya sebenarnya seorang gadis seperti dirinya, Keruan saja ia malu dan segan  bukan  main, Akan  tetapi  tak   berani  ia  membangkang,  mengingat  mereka  berdualah  nanti  yang  hendak  menolong  menyelamatkan nyawa ayahnya. 

"Benarkah namamu Cu Hwa?" Giok Cu menegas. 

"Benar." jawab Cu Hwa dengan wajah bersemu dadu, "Dan siangkong sendiri?" 

Giok Cu membuang pandang  sambil  tertawa  lebar. Katanya mengarah kepada Sin Houw: 

"Kau tanyalah padanya, sudah beberapa hari ini dia sangat galak kepadaku. Aku dilarangnya memperkenalkan nama sendiri." 

Cu Hwa mengira Giok Cu sedang bergurau dengan kawannya. Maka tak berani  ia  mendesak.  Katanya mengalihkan pembicaraan : 

"Siangkong berdua hendak menolong menyelamatkan jiwa ayahku. Bukan main besar budi ini untukku. Meskipun tubuhku hancur lebur, rasanya kurang termadai sebagai penebus." 

"Ayahmu seorang pendekar yang luhur budi." sahut Sin Houw, "Sudah seharusnya kami berdua berbuat sesuatu, tak usahlah kau pikirkan sebagai suatu jasa yang berlebihan! Bukankah ayahmu nanti  sore  hendak   menyelenggarakan suatu pesta perjamuan?" 

"Benar. Akan tetapi pesan ayah,  semuanya  terserah kepada siangkong berdua." jawab Cu Hwa. 

"Begitukah pesan ayahmu? Kalau begitu sampaikan pesanku, agar ayahmu melanjutkan maksudnya untuk menyelenggarakan pesta perjamuan itu. Kami berdua mempunyai dua  bungkus sebagai hadiah atau katakan 

sebagai barang sumbangan, Hendaklah dua  bungkusan itu dibukanya dihadapan para tetamu, manakala suasana sudah menjadi genting. Kurasa, akan sangat berharga, Maka jagalah jangan sampai kena hadang orang." 

Cu Hwa menerima kedua bungkusan pemberian Sin Houw dengan hormat, Heran, ia memperhatikan bentuk dua  bungkusan yang diterimanya itu. Yang pertama berbentuk panjang dan berat,  Mirip sebatang senjata. sedang  yang kedua, kecil dan ringan, Tapi tak berani ia minta keterangan. setelah menghaturkan rasa terima kasih, segera ia mengundurkan diri. 

"Mari kita ikuti dia! Kita lindungi  dia  dengan  diam-diam." ajak Sin  Houw, "Kita harus menjaganya aqar tak terampas kembali oleh pemiliknya." 

Giok Cu mengangguk. Dan demikianlah, setelah pintu dan jendela kamar tertutup kuat-kuat, mereka segera berangkat, sampai diruang tengah, tiba-tiba mereka melihat Cu  Hwa masih berada diruangan depan. Entah apa  sebabnya  -  gadis itu tidak segera pulang, Maka cepat mereka  berdua bersembunyi dibalik dinding, Kemudian mengintai.  Terdengar Cu Hwa berkata kepada pengurus penginapan: 

"Panggillah pemilik rumah penginapan. Majikanmu, maksudku. Katakan padanya, umbul-umbul turun  dari celah gunung. Dan dia pasti akan segera datang kemari." 

Heran Sin Houw memandang Giok Cu. Katanya membisik: "Dia berkata apa?" 

Giok Cu adalah seorang gadis yang  mempunyai pengalaman luas dalam perantauan, segera menjawab: 

"ltulah kata-kata sandi. Apakah kau tidak mengetahui?" Pengurus rumah penginapan tadi bersikap angkuh. ia tidak 

begitu mengacuhkan terhadap seorang gadis seusia anaknya, Tapi begitu mendengar perkataan gadis itu, berubahlah sikapnya. Gugup ia memberi hormat, kemudian cepat-cepat melintasi pekarangan,  dan memasuki sebuah rumah yang berada di seberang sana, Tak lama kemudian, datanglah ia kembali mengantarkan majikannya menghadap Cu Hwa. 

"Siocia memanggil kami? Ciangkun ada perintah apakah kepadaku?" 

 (Siocia si nona, untuk seorang gadis bangsawan.  Ciangkun = panglima). 

"Aku Cu Hwa, anak perempuannya Sim  Pek  Eng."  jawab Cu Hwa. "Pergilah kau ke markas, katakan kepada penjaga bahwa aku memerlukan tenaga beberapa orang." 

Berubah wajah pemilik rumah  penginapan  begitu mendengar gadis itu menyebutkan namanya. Sama sekali tak dikiranya bahwa  gadis yang berada  dihadapannya adalah puterinya Sim Pek Eng, Kaget ia,  sampai hatinya tergetar. segera memberi hormat dua kali, kemudian memberi perintah dua pelayannya agar menyediakan seekor kuda balap, Begitu kuda balapnya siap, ia melompat keatas punggung kuda dan membedalkan bagaikan terbang. 

Heran dan kagum Sin Houw menyaksikan peristiwa itu, Sama sekali tak diduganya, bahwa pengaruh Sim Pek Eng sangat besar. pikirnya didalam hati. 

"Kalau begitu, tak perlu aku melindunginya lagi." 

Benar saja, Tak lama kemudian datanglah duapuluh laskar bersenjata lengkap. Mereka diantar oleh pemilik rumah penginapan menghadap Cu Hwa. Dan melihat kedatangan mereka, Sin Houw segera kembali ke kamarnya. Katanya kepada Giok Cu: 

"Siapa mengira, begini besar pengaruh Sim susiok. Kalau begitu, benarlah ucapan muridnya, Bila saja Sim susiok mau, dengan sepatah katanya seluruh laskar rakyat siap dibelakangnya, Kalau sampai terjadi demikian, betapa The Sie Ban mampu menuntut balas dendang Bahkan dia dan kawan- kawannyalah, yang terancam kemusnaan." 

"Lalu, apa yang hendak kaulakukan sekarang?" tanya Giok Cu. 

"Tidur. Bukankah kau semalam kurang tidur pula? sebentar sore kita dapat hadir dalam keadaan segar." 

Benar-benar mereka memasuki kamar masing-masing, sementara Cu Hwa pulang dengan membawa bungkusan pemberian Sin Houw, Duapuluh orang anggauta laskar rakyat  mengawalnya dengan rapat berwaspada.  

Menyaksikan hal itu, baik Sin Houw maupun Giok Cu puas, Dengan hati lapang, mereka merebahkan diri  di  atas ranjangnya, Dan tak lama kemudian, mereka tertidur lelap. 

Sore hari itu tiba dengan diam-diam sebelum mandi, Sin Houw bersemadi diatas ranjang, Jalan darahnya terasa lancar. pernapasannya lega dan untuk kesekian kalinya selalu saja ia memperoleh kemajuan. Rasa  segar  bugar  menyelimuti hatinya, sehingga ruang benaknya  menjadi  jernih.  Terus  saja ia melompat turun dari ranjang, Dan tiba-tiba saja  Giok  Cu telah berada di dekatnya. 

"Baru saja aku membelikan  seperangkat  pakaian untukmu." katanya, "Bukankah kita perlu mengenakan pakaian agak mentereng sebagai tamu undangan? Mungkin pula, kita berdua akan merupakan tamu yang  istimewa  sebentar malam." 

Sin Houw tertawa. Meskipun ia tidak menghendaki menjadi tamu yang istimewa, namun pakaian itu sendiri tiada celanya untuk dikenakan. Demikianlah, setelah mandi benar-benar ia mengenakan pakaian yang disediakan Giok Cu. pandai benar Giok Cu mengukur bentuk dan perawakan tubuhnya, sehingga enak dipakai. ia jadi kagum dan terharu oleh kecermatannya. 

"Kita makan dulu,  kemudian  baru  berangkat,"  katanya. Giok Cu tidak menolak. Dan seperti tadi pagi,  mereka 

berdua berbareng makan, sebenarnya jenis makan siang itu tidaklah mewah, akan tetapi karena makan siang itu baru dimakannya setelah sehari tiba, mereka berdua jadi bernapsu oleh rasa lapar dan dahaga.  sebentar  saja  semua  makanan dan minuman ikut tersapu bersih pula. 

Kesan perjamuan jauh berlainan dengan pesta perjamuan yang diselenggarakan The Sie Ban. semuanya serba teratur dan sopan, Maklumlah, Sim Pek  Eng  adalah  seorang pemimpin tentara rakyat. persediaan  makan  minum serba lengkap, Dan anak buahnya biasa terlatih cekatan, sopan dan pandai bergaul.   Maka suasananya serasa cerah serta meyakinkan. Tatkala lampu-lampu mulai dinyalakan, serambi depan rumah Pek Eng berubah layak sebuah istana. 

"Saudara-saudara! silahkan minum!" kata Sim Pek Eng dengan hormat. 

The Sie Ban berdiri mengangkat cawan araknya. Tiba-tiba saja, ia mem-bantingnya di lantai hingga hancur berantakan. Lalu berteriak bengis: 

"Sim Pek Eng! Enak saja kau mempersilahkan  kami meneguk minumanmu, Apakah kau  bermaksud  menyuap kami? Apakah harga jiwa kau samakan dengan  segala minuman dan makanan ini? Disini telah berkumpul beberapa belas orang-orang gagah kenamaan.  

Bicaralah didepan mereka, bagaimana  cara kita menyelesaikan masalah hutang jiwa ini, Bicaralah yang jelas! jangan lagi perkara makan minum yang dibicarakan!" 

Itulah suatu serangan tiba-tiba yang tak  terduga  sama sekali. Meskipun Sim Pek Eng tahu, bahwa  perjamuan itu akhirnya akan menjadi tegang, namun ucapan The  Sie  Ban yang garang itu telah membuat mulutnya terbungkam. 

Pui Kun  Giok, murid Sim Pek Eng, tak senang melihat gurunya terdorong ke pojok. Terus saja ia berdiri tegak dan berteriak mewakili gurunya: 

"Saudara The Sie Ban! Benar-benar kau manusia yang tak mengenal tata-santun, Kita lagi makan minum, sama sekali belum sampai pada acara kata-kata, Apa  sebab  kau  lantas saja membuka mulut begitu besar? Apakah pekertimu itu tidak akan merosotkan derajat kaum pendekar lainnya? Lagipula, dengarkanlah baik-baik, bagaimana peristiwa kakakmu terjadi. Kakakmu, mati karena perbuatannya yang keji, Dengan licik ia hendak mengadakan pembunuhan, semata-mata tergiur paras cantik belaka... Guruku " 

Sekonyong-konyong terasa ada segumpal  angin menyambar.Cepat-cepat Pui Kun  Giok menundukkan  kepalanya. ia melihat sesuatu yang berkeredep  diatas kepalanya. Tatkala menoleh, dilihatnya tiga  batang  paku berbulu tertancap pada dinding dalam, ia kaget dan gusar. 

Sin Houw pun demikian pula. sebab segera ia mengenal siapakah pembidiknya, itulah senjata rahasia  kaum  Hoa-san pay, siapa lagi kalau bukan milik Sie Liu Hwa? Atau Nie Sun Kiong dan Kiang Yan Bu. 

"Bagus benar!" teriak  Pui Kun  Giok sambil menghunus goloknya. "Wajahmu, memang cantik. Kabarnya kau kaum Hoa-san pay, kenapa begitu keji? Kau  pulalah  yang mengutungi lengan  kanan adikku seperguruan. Benar-benar perempuan kejam!" 

Dengan menghunus goloknya, Pui Kun Giok hendak melompat maju menghampiri Sie Liu Hwa, tetapi Sim Pek Eng buru-buru mencegahnya, Katanya mengalah: 

"Jangan! Aku  tak  mengidzinkan  kau  berbuat  begitu!" setelah berkata demikian, ia menoleh kepada Sie Liu Hwa, Berkata lagi dengan suara hormat: 

"Kouwnio, kau murid golongan Hwa-san pay, Kenapa perangaimu tiada beda dengan muridku?" 

Halus ucapan Sim Pek Eng, tetapi tajamnya tiada beda dengan suatu tikaman pedang, Keruan saja The Sie Ban tidak rela membiarkan tamu undangannya kena hina,  Tiba-tiba  saja ia menyerang dengan sambitan dua batang  pisau, sambil memaki: 

"Bangsat! Enak saja kau mengumbar mulut!" 

Sim Pek Eng sama sekali tak gugup kena serangan  tiba- tiba, Dengan  tenang ia menyambut dua  batang pisau  itu dengan jepitan dua jarinya. Kemudian meletakkan kedua pisau itu diatas meja dengan sabar sekali. Katanya: 

"Kenapa saudara The Sie Ban sangat  marah  kepadaku? Kita masih cukup mempunyai waktu untuk berbicara sambil makan minum, perbuatan yang  tergesa-gesa  seringkali  tak ada faedahnya."  The Sie Ban kaget menyaksikan kepandaian Sim Pek Eng. pikirnya, pantaslah saudaraku mati ditangannya, Tetapi ia tak gentar. selagi hendak membuka mulut, Lie Kong Seng yang berada dekat Sim Pek Eng melompat, Jago itu menyambar lengan kanan Sim Pek Eng teriaknya: 

"Saudara Sim Pek Eng! Kau hebat ! Aku ingin menjabat tanganmu!" 

Sim Pek Eng yang  berpengalaman  dapat  menebak maksud lawannya. Apabila membiarkan lengannya kena sambar, tulang sendinya akan patah. Maka cepat luar biasa ia mengelak sambil melompat mundur. itulah gerakan yang sama sekali tak terduga. Maksud Lie Kong  Seng  hendak menjangkau. Tapi yang kena tersambar tangannya adalah sebuah kursi. Kena gemburan  tenaga dalamnya, kursi  itu patah berantakan. 

Mau tak mau Sim Pek Eng  sibuk  juga  menyaksikan tamunya begitu galak. Kawan-kawan The Sie Ban dengan serentak mencabut senjatanya masing-masing.  Murid- muridnya dan beberapa sahabatnya demikian pula, ia khawatir pertempuran akan segera terjadi, sedangkan pendekar  Gin- coa Long-kun yang diharapkan belum tiba.  

Ia percaya, pendekar luar biasa itu pasti dapat melerai perselisihan itu. Dengan demikian, tidak akan terjadi korban sia-sia, oleh pikiran itu, ia mengerlingkan   mata  kepada  Cu Hwa dengan pandang penuh pertanyaan. 

Cu Hwa mengerti maksud ayahnya. ia jadi sibuk pula, Dua bungkusan yang diperolehnya dari Sin  Houw  dipeluknya dengan erat, Diluar kehendaknya sendiri, ia mengharapkan terjadinya suatu kejadian gaib yang membersit dari dua bungkusan itu.  

Kegaiban apa ia tidak tahu sendiri. Tadi pagi Sin Houw berpesan kepadanya, bahwa dua bungkusan itu baru boleh dibukanya, apabila suasana berubah menjadi tegang, Hal itu telah dikatakan pula kepada ayahnya, tiba-tiba pada saat itu ia melihat ayah nya memberi isyarat mata.   Terus saja ia bangkit sambil membuka dua bungkusan pemberian Sin Houw, Ternyata bungkusan itu yang pertama berisikan dua batang pedang. Dan segera ia meletakkan dua batang pedang itu diatas meja. 

Sim Pek Eng heran melihat dua batang pedang itu.  Tak dapat ia menangkap  maksud  Gin-coa  Long-kun,  pikirannya jadi sibuk menerka. Sebaliknya, dipihak The Sie Ban  terjadi suatu kesibukan. Lie Kong Seng dan Sie Liu Hwa yang segera mengenal pedangnya masing-masing malu bukan kepalang, Mereka itu sampai berseru tertahan. 

Sie Liu Hwa adalah seorang pendekar wanita yang mudah sekali tersinggung, Terus saja ia menyambar pedangnya, Kemudian menantang: 

"Kalau kau memang seorang pendekar, marilah kita bertempur mengadu kepandaian dengan berhadapan. Bukan mencuri seperti maling kesiangan, Hayo siapa  yang berani mengadu pedang denganku?" 

Sim Pek Eng tergugu, Benar-benar ia tak mengerti liku- likunya. Dengan pandang minta keterangan, ia menatap wajah puterinya, sebaliknya Sie Liu Hwa tidak mau mengerti. sekali bergerak pedangnya menikam dada. 

Sim Pek Eng mundur selangkah sambil mengelak. Salah seorang muridnya datang mengantarkan sebatang  golok. ia menerima goloknya itu, akan tetapi sama sekali tak membalas. Dan diperlakukan demikian, Sie  Liu Hwa merasa dirinya direndahkan, Terus saja ia menusuk pundak kiri. 

Sim Pek Eng mengeluh. Mau tak mau ia harus menangkis, Dengan suatu tabasan pendek, tiba-tiba  goloknya  berbelok dan menyapu dari samping di luar kehendaknya sendiri. itulah ancaman bagi Sie Liu  Hwa. Kalau dia  berani  menangkis, pedangnya pasti tergempur jadi runtuh.  

Alangkah ia akan malu, Tetapi ia salah seorang murid pendekar besar dari aliran Hoa-san pay. Cepat luar biasa ia berkelit menghindar.  Dan pada detik itu pula, pedangnya menikam perut mengadakan pembalasan.  Sim Pek Eng terkejut, inilah serangan balasan yang hebat, walaupun ia sudah berpengalaman, namun  serangan  itu sendiri di luar perhitungannya. Tak sempat lagi ia mengadakan pembelaan, Satu- satunya jalan hanya  melompat.  Maka dengan mengerahkan tenaga, kakinya menjejak lantai.  

Tubuhnya lantas terbang. tinggi melintasi kepala Sie Liu Hwa, ia berhasil menyelamatkan perutnya,sekalipun demikian, celananya kena terobek juga, untung hanya sebesar ujung pedang. 

"Benar-benar berbahaya." pikirnya didalam hati. ia menabaskan goloknya  beberapa  kali  untuk  berjaga-jaga. Siapa tahu, Sie Liu Hwa menyusuli serangan baru, Kemudian turun diatas  lantai dengan memutar  tubuhnya.  Indah  dan ringan gerak tubuhnya. 

Sebenarnya, tepat dugaan Sim Pek Eng. Sie  Liu Hwa benar-benar hendak menyusuli serangannya. Akan tetapi ia di pegat dua orang murid Sim Pek Eng. Sudah tentu pendekar wanita itu gusar bukan kepalang. Dengan bengis ia menikam, menusuk dan membabat. Akan tetapi dua muridnya  Sim  Pek Eng urusan makanan empuk baginya. Apalagi mereka berdua menyimpan dendam terhadapnya, karena Sie Liang terkutung lengannya akibat pedangnya . walaupun ilmu kepandaian mereka kalah tinggi, akan tetapi betapapun tak mudah diundurkan. 

Pada saat itu, Sim Pek Eng memperhatikan Cu Hwa, Gadis itu sedang membuka bungkusan yang kedua. ia heran tatkala melihat dua helai berkas kertas. 

"Ayah, apakah ini ?" 

Melihat kertas itu, Sim Pek Eng girang bukan  kepalang, itulah warna kertas yang di kenalnya seperti warna tangannya sendiri. Terus saja ia  menyambar  kertas  itu.  Kemudian berteriak dengan suara keras: 

"Tahan! Tahan! Aku hendak berbicara dulu!" 

Mendengar teriakan gurunya, kedua muridnya yang  sedang mengepung Sie Liu  Hwa  menunda  gerakan senjatanya. Mereka mundur dengan berbareng. sebaliknya Sie Liu Hwa yang penasaran tidak menghiraukan  seruan penundaan. Melihat  dua  pengepungnya  mundur, segera ia melayangkan kakinya, Duk! salah seorang muridnya Sim Pek Eng kena tendangan. Dan murid itu terjungkal dengan me1on- takkan darah. 

"Bangsat! perempuan tak  punya  malu  !"  maki  rekannya. Sie Liu Hwa tidak memperdulikan. Hatinya terlalu 

mendongkol, mengingat pedangnya  kena terampas lawan semalam, itulah suatu penghinaan besar baginya. Rasa penasaran dan mendongkolnya di alamatkan kepada Sim Pek Eng, selagi  memperoleh kesempatan,  gerakan  pedangnya kena dirintangi mereka berdua.  

Keruan saja ia menjadi jengkel. Mereka berdua  harus mendapat hajaran yang setimpal . Demikianlah ia berhasil menendang salah seorang diantara mereka, sewaktu bergerak mundur oleh seruan gurunya. 

Sim Pek Eng tahu,  perlakuan Sie Liu Hwa terhadap muridnya adalah keterlaluan. Tetapi sedapat mungkin ia menguasai diri. Dialihkan pandangnya kepada rombongan The Sie Ban. Berseru: 

"Saudara-saudara tolong dengarkan permohonanku ini !" Pada waktu itu suasana tegang sekali. Kedua belah pihak 

seakan akan tidak sudi lagi suara ketiga. Karena itu, Sim Pek Eng harus mengulangi seruannya beberapa  kali,  Baru  setelah ia mengulangi seruannya beberapa kali suasana dapat ditindihnya, Dan berkatalah ia lagi: 

"saudara The Sie  Ban! Dengan  ini perkenankan diriku menyatakan rasa sesalku karena dahulu aku membunuh saudaramu. percayalah, aku benar-benar menyesal, Nah, saudara-saudara sekalian dan  sahabat-sahabatku  dari segenap penjuru, kuakui bahwa kakaknya  saudara  The  sie Ban mati oleh tanganku ini..."  Mendengar perkataan Sim Pek Eng, suasana pesta perjamuan menjadi sunyi-senyap. Tiba-tiba The sie Ban meledak. 

"Bagus! Jadi kau telah mengakui. Karena kau  berhutang  jiwa, maka wajiblah kau membayarnya dengan jiwa pula!". 

"Benar! Hutang jiwa harus dibayar dengan jiwa!" seru beberapa teman temannya.  Dan makin lama makin riuh sehingga suasana pesta perjamuan kembali jadi berisik. 

"Para sahabatku, sabarlah sebentar !"  Sim Pek Eng mencoba mengatasi. Kemudian sambil memperlihatkan dua helai surat yang sudah kuning, ia berseru nyaring: 

"Lihatlah! Aku membawa dua helai kertas yang sudah tua. inilah surat kesaksian. sudikah diantara  sahabat  membaca surat kesaksian ini? setelah  itu, adililah diriku! Bila aku diharuskan tetap membayar jiwa, segera aku akan bunuh diri, Percayalah, meskipun aku bukan seorang  pendekar,  tidak akan kusesali perbuatan bunuh diri ini!" 

Keterangan Sim Pek Eng tentang  dua  helai surat itu membuat mereka heran dan ingin tahu, Surat apa itu? Masing- masing lantas memberi tafsiran, Dan untuk kesekian kalinya suasana pesta jadi berisik. 

"Bagaimana kalau aku saja yang  menunjuk  ?"  Sim  Pek Eng minta pertimbangan. "Atau biarlah saudara The sie Ban menunjuk tiga orang untuk membaca surat ini." 

The Sie Ban tidak  tahu  menahu  tentang  surat  kesaksian itu, Apakah tuan rumah hendak mengulur waktu? Meskipun demikian, tidak akan luput dari tangannya. Biarlah ia memberi kesempatan untuk menunda kematiannya. Maka berkatalah ia dengan lega hati: 

"Baiklah, sekarang atau nanti kau harus membayar jiwamu juga. Aku akan memenuhi permintaan terakhirmu, Kiang-heng, tolong kau mengajak dua teman untuk memenuhi permohonannya. Coba baca-lah surat itu dengan berbareng, Kamisemua ingin mendengarnya."  selagi Kiang Yan Bu bertiga bangkit dari kursinya, Tan Hok Sin dan Khu Cing San saling berbisik dengan wajah pucat. Mereka berdua segera mengenal  surat kesaksian  Sim  Pek Eng yang semalam kena rampas orang.  

Mereka lantas saja merasa diri  terjepit  dipojok,  Tak  tahu apa yang harus mereka lakukan, mirip persakitan menunggu keputusan hakim. 

Nio Cun Swie yang mula-mula membaca, lalu berkata kepada Sie Ban: 

"Menurut pendapatku, lebih baik kita sudahi  saja permusuhan ini. Kalian  berdua mulai  saat ini justru harus bersahabat." 

The Sie Ban heran berbareng penasaran, ia sendiri lantas maju untuk membaca dua lembar surat itu, Membaca  bunyi surat pengakuan kakaknya, ia masih ragu-ragu,  sebab dia mungkin bisa dipaksa. Akan  tetapi begitu membaca surat kesaksian pejabat pemerintah yang hampir menjadi korban perbuatan kakaknya, hatinya terpukul, perasaan malu, kecewa dan bingung berkecamuk dalam  da danya, ia jadi tertegun dengan resah. , Tiba-tiba Kiang Yan Bu yang  ikut  membaca dari belakang punggung Nio Cun Swie berteriak: 

"PalsuI siapapun dapat membuat surat semacam ini, Saudara-saudara jangan sampai kena ditipu manusia terkutuk inil" dan setela berkata demikian, tiba-tiba ia menyambar dua helai surat kesaksian itu dan dirobeknya, 

BUKAN kepalang terkejutnya Sim Pek Eng melihat kedua surat kesaksiannya kena dirobek, Pada saat itu gelaplah pandang matanya.Maklumlah, kedua surat kesaksian itu merupakan senjata satu-satunya untuk mengatasi fitnah. Dengan dirobeknya surat itu, tiada lagi ia  mempunyai pegangan. serentak ia mencekal goloknya erat-erat sambil berteriak bengis: 

"Kiang Yan Bu! Kau datang ke sini membawa nama rumah perguruanmu. Kenapa  kau merobek surat seseorang yang bukan milikmu sendiri? Benar-benar kau manusia tak  beradab." 

"Tak beradab?" Kiang Yan Bu tertawa, "Sebenarnya  aku atau kau yang pantas disebut manusia tak beradab? Terang- terangan kau telah membunuh kakak rekan The Sie Ban, Lalu kau mengada-ada dengan membuat surat kesaksian palsu. Coba bilang, apakah kau tidak malu pada diri sendiri? surat kesaksian semacam ini, siapapun dapat membual. Andaikata aku mengeram satu hari saja didalam kamar,  aku  bisa membuat puluhan lembar yang sama rupa dan  sama bentuknya. Apakah kau kira, aku tak dapat meniru bentuk huruf-hurufnya?" 

Tatkala membaca surat kesaksian tadi, Nio Cun Swie dan seorang temannya tersadar bahwa The Sie Ban telah terburu napsu dalam masalah balas dendam itu, Akan tetapi setelah mendengar ucapan Kiang Yan Bu yang masuk  akal,  mereka jadi bimbang. Apakah dua helai surat kesaksian  itu  benar- benar asli atau palsu? Adalah sulit sekali untuk membuktikan palsu tidaknya. Maka mereka berdua mendadak terbungkam mulutnya, sehingga tertegun kehilangan pegangan. 

Seketika itu juga suasana didepan rumah Sim Pek Eng sunyi senyap. Rasa tegang menggerayang perasaan setiap orang, Dan Cu Hwa yang mengharapkan terjadinya  suatu kegaiban, menjadi  putus  asa, ia tahu,  dalam kekalahannya ayahnya akan nekat atau melakukan bunuh diri. 

"Ayah!" jeritnya putus asa. 

Pui Kun Giok sejak tadi menahan diri.  sekarang menyaksikan gurunya di hina demikian rupa, meluaplah darahnya, terus saja ia menabaskan goloknya kepada  Kiang Yan Bu. Hebat dan dahsyat serangannya.  Tetapi  Kiang  Yan Bu bukan sembarang orang, Tiba-tiba saja tangan dan pedangnya berkelebat. Tahu-tahu golok  Pui  Kun  Giok terlempar dan  jatuh bergelontangan  di lantai. Dan ujung  pedang Kiang Yan Bu mengancam tenggorokannya. 

"Hm! Kau ingin mencoba ilmu pedang Hoa-san pay. jangan bermimpi." bentak Kiang Yan Bu, "Sekarang bertekuk lututlah,  Kalau tidak, terpaksa kau harus membayar lelucon ini dengan jiwa mu!" 

Menyaksikan Pui Kun  Giok terancam  jiwanya, rekannya tentu saja tidak berpeluk tangan saja.  Dengan   serentak mereka menghunus senjatanya masing masing . Kemudian menyerbu berbareng. 

Serbuan murid-murid Sim Pek Eng itu seolah-olah aba-aba bagi pihak The Sie Ban, Merekapun dengan serentak menyongsong gegap gempita. Dan pertempuran kacau segera terjadi. Kursi dan meja pesta perjamuan hancur berserakan - piring dan  mangkok  terpental  berhamburan  sehingga terdengar berisik sekali. 

Pui Kun Giok terus mundur sampai beberapa langkah. ia mencoba membebaskan diri, Akan tetapi ujung pedang dari Kiang Yan Bu terus menempel tenggorokan seakan-akan tak sudi terenggang serambutpun. 

"Eh, kau jangan bermimpi yang bukan bukan!" ejek  Kiang Yan Bu. "Kuhitung sampai tiga kali. Kalau kau membandel, tenggorokanmu bakal tertikam." 

"Kau tikamlah aku!" teriak Pui Kun Giok. "Kau kira  murid Sim Pek Eng takut mati? Manusia boleh mati, tapi  tak  boleh kau hina. Hayo, bunuhlah aku!" 

Panas hati Kiang Yan Bu, iapun tak sudi kalah gertak. Tapi selagi hendak menusukkan pedangnya, ia melihat  Sim  Pek Eng melompat ditengah-tengah gelanggang sambil berteriak: 

"Semua mundur! Biarlah aku yang bertanggung jawab!" Setelah berkata demikian, mengancamkan goloknya ke 

lehernya sendiri berseru kepada murid-muridnya: 

"Kalian mundurlah". Aku tidak menghendaki  kalian  ikut serta mengorbankan jiwa, Masalah balas dendam ini adalah masalahku sendiri . Karena aku berhutang jiwa, biarlah aku sendiri yang membayarnya . Nah, mundurlah!" 

Sekalian muridnya patuh padanya. walaupun hatinya  pedih, namun mereka mundur juga. seketika itu juga, ruang serambi depan menjadi sunyi tegang. Mereka tahu, gurunya sudah mengambil keputusan karena sudah merasa terdorong kepojok. 

Memang, Sim Pek Eng sudah putus  asa. Tadinya, ia mengharapkan dapat mengatasi ketegangan setelah memperlihatkan dua helai surat kesaksiannya. Ternyata harapannya gagal, karena adanya Kiang Yan Bu merobeknya. ia masih bisa mengendalikan diri. siapa  tahu  pendekar  Gin- coa Long-kun akan muncul oleh peristiwa.  

Sebab, bukankah dua helai surat kesaksian itu dialah yang mengembalikan? Dengan  terobeknya surat kesaksian itu, pastilah dia tersinggung  kehormatannya. ia tahu, Gin-coa Long-kun aneh wataknya. setiap patah katanya harus didengar siapapun, siapa yang berani mencoba-coba membangkang, pasti terenggut jiwanya.  

Tapi nyatanya - sampai pertempuran  kacau  itu terjadi pendekar itu tidak muncul juga, Karena itu demi membatasi terjadinya korban yang siasia,  ia  memutuskan  untuk mengakhiri persoalan. Tiba-tiba selagi ia hendak menggorok lehernya sendiri terdengarlah suara Cu Hwa: 

"Ayah! Bukankah ayah menyimpan surat itu? perlihatkan kepada merekai Dia pasti datang!" 

Untuk membuat lega puterinya, Sim Pek Eng  merogo sakunya dengan kepala kosong. ia mengeluarkan  sehelai kertas yang berisikan sebuah lukisan sebilah  pedang aneh, itulah surat Sin Houw. Kemudian diperlihatkan kepada hadirin.  

Didalam hatinya, sama sekali  ia tidak mengharapkan sesuatu. Hal itu dilakukan semata-mata untuk  membuat puterinya senang dan berlega. Lalu berseru nyaring: 

"Tayhiap Gin-coa Long-kun! Kau datang terlambat. Tapi sama sekali aku tidak menyesalimu, semuanya ini  harus terjadi, karena nasibku yang buruk!" 

Tentu saja hadirin tidak mengerti apa hubungannya lukisan  pedang aneh itu dengan disebutnya nama Gin-coa Long-kun. Mereka hanya tercengang sejenak. Dan selintasan mencoba menerka apa maksud Sim Pek Eng. Tiba-tiba mereka terkejut oleh suatu perubahan yang membuat hati mereka tergetar.  

Golok yang hampir saja menabas leher, sekonyong- konyong terpental dan runtuh bergelontangan, Dan  pada saat itu, berdirilah seorang pemuda cakap disamping Sim Pek Eng. Dialah Sin Houw yang tak lama kemudian disusul  Giok  Cu yang mengenakan pakaian laki-laki. 

Sebenarnya Sin  Houw mengharap bakal terjadi suatu perubahan, setelah pihak The Sie Ban melihat dua helai su rat kesaksian. Lalu persengkataan itu akan dapat diatasi. Dengan demikian, tak perlu ia muncul. Diluar dugaan Kiang  Yan  Bu  yang justru mengacaukan harapannya. ia mendongkol  dan mau tak mau terpaksa muncul juga, karena melihat Sim  Pek Eng benar-benar hendak melakukan bunuh diri.  

Tepat selagi golok hampir menyentuh  tenggorokan, ia menyentilkan senjata rahasianya berupa Gin-coa  piao, Kemudian melesat ke tengah gelanggang setelah  memberi isyarat mata kepada Giok Cu. 

Selagi hadirin tercengang oleh kehadirannya , ia berkata sambil menunjuk Giok Cu: 

"Tayhiap Gin-coa Long-kun berhalangan  datang, Kami berdualah yang di utus menghadiri pertemuan ini. Dialah puteranya Tayhiap Gin-coa Long-kun,dan aku saudara mudanya." 

Sengaja ia tak memperkenalkan diri sebagai murid Gin-coa Long-kun, karena banyak diantara pihak The Sie Ban berumur sebaya dengan ayahnya sendiri. Dengan begitu dapatlah ia berbicara sama tinggi dengan mereka, apabila menyebut diri sebagai adiknya Gin-coa Long-kun. Bukankah Gin-coa Long- kun seangkatan dengan guru-guru mereka? 

Beberapa orang baik diantara pihak The Sie Ban maupun Kiang Yan Bu, pernah  mendengar sepak terjang Gin-coa Long-kun yang aneh dan luar biasa. Tetapi merekapun pernah  mendengar kabar, bahwa pendekar itu akhirnya kena dianiaya dan mati penasaran.sekarang tiba-tiba ia muncul dalam percaturan hidup lagi dengan mengirimkan kedua wakilnya, Apakah berita kematiannya tidak benar? 

Cu Hwa menghampiri ayahnya. Berkata berbisik: "Ayah! Dialah yang datang menemuiku," 

Sim Pek Eng tertegun.  Melihat  usia Sin  Houw, ia jadi 

bimbang, ia kecewa dan geli, Dapatkah ia mempertaruhkan kepercayaannya kepadanya? Apakah yang  dapat dilakukan oleh seorang pemuda tanggung dalam menghadapi masalah yang pelik ini? 

Sie Liu Hwa yang  berdarah  panas, lantas  saja membentak: 

"Hey! siapa kau? siapa yang memerintahkan kau ke sini?" Sakit   hati   Sin  Houw   kena   tegur   Sie   Liu   Hwa, karena