Golok Hallintar (Thio Sin Houw) Jilid 17

Jilid 17

Setelah berkata demikian, Buyung Hok lompat dan mengekangi deretan emas yang berserakan di lantai. Katanya dengan membusungkan dada: 

"Tak perduli kau menggunakan  tinju  atau  tendanganmu, asal saja kau mampu menggeserkan  kakiku,  emas  yang berada dibawahku boleh kau ambil semua!" 

Semua yang mendengar perkataan Buyung Hok menjadi tercengang, Alangkah terkebur orang itu! Tak usah  dikatakan lagi, San Bin  mendongkol bukan main, sahutnya   dengan sengit: 

"Apakah mulutmu dapat dipercaya? Benarkah, dan sudah kau pikirkan?" 

Buyung Hok tertawa dengan mengangkat kepala, Berkata kepada Go Keng Cay: 

"Apakah anak itu waras otaknya? Dia berkata aku bakal menyesal, lucu atau tidak?" 

Go Keng Cay tidak menyahut. Dia hanya tertawa kering, Keruan saja hati San Bin mendongkol bukan main, Teriaknya: 

"Baik, Akan kucoba!" 

Ia menghampiri Buyung Hok dekat-dekat, Kemudian mengerahkan seluruh tenaganya dan mengayunkan kakinya menghantam kaki Buyung Hok. 

Pada saat kaki San Bin hampir tiba pada sasarannya, tiba- tiba dengan sebat sekali Buyung Hok menggerakkan pipanya, memapak tendangan kaki yang hampir tiba pada sasarannya, "Tak!" tepat sekali ujung pipanya mengenai lutut. Dan San Bin roboh dengan berlutut. Kakinya kejang tidak bertenaga lagi. 

Buyung Hok membungkuk seakan-akan membalas hormat sambil berkata: 

"Hey, jangan berlutut dihadapanku!" 

Bukan main rasa hati San Bin, Dadanya seakan-akan ingin meledak. itulah suatu penghinaan  besar  baginya,  Namun  ia tak bertenaga lagi, Diluar kehendaknya lututnya tertekuk tak bertenaga. Cie Lan cepat-cepat mendekati, kemudian memayangnya dan dibawanya menghadap kepada  gurunya, Kata gadis itu memohon: 

"Susiok! orang itu harus susiok hajar biar jera!" 

Lauw Tong Seng memijat pinggang  dan  punggung muridnya, setelah itu memijit pahanya pula, Dan ia berkata dengan suara perlahan: 

"Masih beranikah kau berlaku  semberono  dikemudian hari?" 

San Bin  membungkam mulut, sementara secara diam- diam Buyung Hok kagum terhadap sipedagang,  Sama  sekali tak di duganya, bahwa dengan suatu pijitan  saja,  San   Bin dapat dipulihkan tenaganya, selagi ia  keheranan,  tiba-tiba Lauw Tong Seng berkata kepadanya: 

"ini sudah masuk perhitungan!" 

Dan setelah berkata demikian,  tangan  kanannya mendorong biji sui-poanya sambil melangkah mendekati. ia hendak menolong kehormatan muridnya.  Dan melihat   dia maju, Sin Houw berpikir didalam hati: 

"Toa-suheng adalah murid tertua, dan aku adalah adiknya. sudah seharusnya akulah yang maju lebih dahulu!. 

"Toa-suheng, biarlah aku maju da-hulu, Bila tak berhasil, baru Toa suheng menggantikan!" teriaknya,  "Biarkan, aku saja yang maju " jawab Lauw Tong Seng 

setelah sejenak berbimbang, ia merasa kurang yakin karena melihat adiknya masih terlalu muda, walaupun gurunya pernah memuji sang adik itu. 

Akan tetapi Sin Houw tak mau mengerti, setelah mendekati ia berkata dengan perlahan: 

"Suheng, pihak mereka banyak memiliki orang pandai. sedangkan barisan Ngo-heng tin keluarga Co-liang pay sangat berbahaya. Mungkin sekali sebentar akan terjadi suatu pertempuran dahsyat dan suheng  seumpama  seorang panglima perang yang memegang pimpinan. Maka sebelum suheng maju, biarlah adikmu mencobanya dahulu." 

Lauw Tong Seng merasa kagum dengan alasan yang diberikan oleh adik seperguruan itu, Muda usianya,  tetapi sangat pandai bersopan santun. oleh karena itu ia berkata: 

"Baiklah, adikku, Hanya saja kau harus berhati-hati!" 

Sin Houw manggut dan memutar tubuh   menghadapi Buyung Hok, Berkata: 

"Akupun ingin memperoleh emasku kembali. Bolehkah aku mencoba?" 

Buyung Hok heran melihat Sin Houw yang maju, Baru saja San Bin yang bertubuh kekar dapat dirobohkan dalam segebrakan, Kenapa bocah ini  tidak tahu diri? Maka ia menjawab: 

"Baik, tetapi kau harus berjanji, tidak akan berlutut dihadapanku," 

Berkata demikian, ia menghisap pipa panjangnya dan mengepulkan asapnya yang tebal ke udara. ia telah bersiaga penuh. Dan seperti San Bin tadi, maka  Sin  Houw mendekati tiga langkah. Kemudian mengangkat kaki kanannya hendak menyapu. 

Ciu San Bin kaget, tetapi  tidak  berdaya  memperingatkan  Sin Houw, sebaliknya Ceng Cit beramai tidak mengerti apa  sebab Sin Houw yang memiliki kepandaian tinggi, bertindak begitu semberono. 

Mereka yang berada diluar gelanggang pertempuran, mengarahkan pandang mata mereka kepada kaki Sin Houw, Mereka ingin mengetahui, apakah  kakinya Sin  Houw tak mempan kena totok pipa baja Buyung Hok. sebaliknya yang diam-diam bersiaga adalah Lauw Tong Seng, ia sudah mengambil keputusan, apabila Buyung Hok menghantamkan pipanya ke kaki Sin Houw, ia hendak menolong  adik seperguruan itu. 

Dalam pada itu kakinya Sin Houw sudah bergerak dengan cepat luar biasa. 

Dan seperti tadi, Buyung Hok segera memapaki dengan pipanya. Diluar dugaan gerakan kaki Sin Houw sebenarnya hanya suatu gertakan belaka, pada detik hendak  kena totokan, ia menarik kembali. sebagai gantinya, ia menyapu dengan sebelah kakinya yang lain, Buyung Hok  sudah terlanjur memukulkan ujung pipanya.  

Hatinya terkesiap tatkala pukulannya  menumbuk udara kosong. segera ia sadar akan ancaman bahaya. Tetapi pada detik itu, emas didekat kakinya, sudah kena tersapu Sin Houw. 

Ternyata Sin Houw tidak hanya puas memperoleh emas, gerakan kakinya terus menyambar mencari bidikan  yang diarahnya, Keruan saja Buyung Hok mendongkol bukan main, Mula-mula kena ditipu, sekarang ia diserang dengan tiba-tiba. 

Maka dengan hati mendongkol dan panas,  ia menikam pantatnya Sin Houw! 

Sin Houw merendahkan tubuhnya, sambil mengelak ke kanan. Kembali lagi kakinya bergerak menyapu  emas, Dan dengan dibarengi serangan tangan kirinya, berhasil dia merampas emas lagi, Hal itu terjadi  karena  tangan  Buyung  Hok sedang bergerak menikam, sehingga  daerah pertahanannya kosong. 

Lagi-lagi Sin Houw tak mau sudah. Sekarang, kaki kirinya  yang bergerak.  Gerakannya  sangat  cepat  sehingga mendahului gerakan lawan sebelum sempat memperbaiki kedudukannya. Dan untuk  yang ketiga kalinya, ia berhasil menyapu beberapa tumpuk emas lagi. 

Dalam waktu yang pendek saja, pemuda itu sudah berhasil menyapu tiga tumpuk kepingan  emas, Dan  yang mengherankan kepingan-kepingan emas itu lenyap dari penglihatan seperti tersulap, Tetapi sebenarnya dengan suatu kecepatan luar biasa, ia berhasil memasukkan kepingan- kepingan emas itu kedalam saku bajunya, setelah itu, ia berdiri dengan tenang bersiaga menghadapi segala kemungkinan. 

"Biarlah kukatakan kepadamu, bahwa aku  hendak mengambil semua kepingan emas yang berada dalam penjagaanmu," ia berkata kepada Buyung Hok, "Bukankah kau sudah berjanji? Barang siapa yang dapat merampas emas dari penjagaanmu, maka emas itu boleh menjadi miliknya?" 

Pemuda itu tidak  menunggu jawaban dari Buyung Hok, dan  ia bergerak dengan suatu kesebatan yang mengherankan. Karena untuk yang kesekian kalinya ia dapat mengantongi lagi emasnya. 

wajah muka berubah merah padam, tetapi ia tetap merasa telah tertipu oleh pemuda  lawannya,  Hatinya  yang mendongkol mengandung rasa dengki. Lantas saja tangannya melayang dan  kakinya menendang pergelangan tangan Sin Houw. 

Sin Houw tak berani lantas  menangkis serangan  itu, ia mundur kemudian  ia memperhatikan gerakan  dua  tangan serta dua kaki lawannya. itulah gerakan  seekor  burung. Apakah ini yang dinamakan sejenis kuntao burung Ho dari golongan Siauw-lim? 

 (Kuntao burung Ho atau Bangau ~ Ho-kun). 

Menghadapi serangan Buyung Hok, Sin Houw tidak berani merapatkan diri. 

Dia bergerak dengan berputaran. setiap kali ia menghindar  atau mengelak sambil memperhatikan gerakan  lawannya, Buyung Hok menjadi  kesal, ia memperhebat  serangannya, justru demikian, Sin Houw dapat mengelak  atau menghindarkan diri dengan cepat pula. 

Ketika Lauw Tong Seng melihat  cara  perlawanan  Sin Houw, ia menganggap Sin Houw tak berani bertempur secara berhadapan. selalu ia menghindarkan diri dan  tak berani mencoba mendekati karena agaknya ia hanya mengandalkan pada kegesitannya semata. 

Buyung Hok berpendapat demikian pula, Dan memperoleh kesan itu, kesombongannya lantas membersit didalam  hati, lantas ia tertawa sambil melancarkan gempuran terus- menerus, jelas sekali, bahwa  ia menganggap  Sin  Houw sebagai lawan yang enteng sekali. ia lupa betapa  tadi  Sin  Houw dengan kecepatan  yang  mengagumkan  berhasil menyapu kepingan emas yang berada didalam penjagaannya. 

Beberapa saat kemudian, ia mulai menyulut tembakaunya dan menikmati pipa panjangnya, Tapi pada saat itu, Sin Houw sudah bisa memahami letak inti ilmu kepandaian lawan. Diam- diam ia bergirang hati, karena  kesombongan  lawannya kerapkali membawa suatu kelengahan. Dan kesempatan itu dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Cepat luar biasa, tiba- tiba tangan kirinya menyambar hidung. 

Keruan saja Buyung Hok terkejut,  Tadi lawannya yang  muda itu sama sekali tak berani mendekat. Diluar dugaan tiba- tiba saja berani mendekati dan  menyelonongkan  tangan kirinya. inilah suatu serangan yang tidak diduganya. Cepat- cepat ia menangkis tangan kiri Sin Houw dengan pipanya, dan kakinya membarengi bergerak menyapu sasaran. 

Diluar dugaan pula kali ini Sin Houw tak sudi menghindar atau mengelakkan diri, ia membiarkan kepalanya kena incaran tangkisan pipa. Tapi dengan tiba tiba saja, tangan kanannya menyambar mencengkeram pipa itu.  

Buyung Hok terkejut, ia  dalam  keadaan  kepalang tanggung. Pipanya sudah terlanjur ditangkiskan dengan cepat  dan kuat-kuat, Maka tiada kesempatan lagi untuk menariknya. Dan terpaksalah ia merenggutkan keatas. 

Gerakan itu justru termasuk  dugaan Sin Houw, selagi Buyung Hok menarik pipanya keatas,  pinggang kanannya - nampak terbuka. inilah kesempatan yang  tak  disia-siakan, Sebat luar biasa, tangan kirinya menotok tulang iga. Plak! 

Buyung Hok menggeliat mundur. ia terkejut dan menyadari keteledorannya, Akan tetapi sudah  kasep,  Tahu-tahu tenaganya pudar dan  tubuhnya bergemetar diluar kehendaknya sendiri. Dan pada saat itu, ia mendengar suara tertawa Giok Cu, senang  hati Sin  Houw  mendengar  suara tawa Giok Cu.  

Dan seperti galib-nya seorang pemuda yang mendengar tawa seorang gadis,  timbullah gairah hidupnya, semangat tempurnya terbangun sekaligus. Terus saja ia  menyodorkan pipa yang kena dirampasnya, balik ke mulut pemiliknya. Api tembakau yang sedang menyala, menyelomot bibir atas dan kumis. Keruan saja Buyung Hok kaget berjingkrak! 

"Sin Houw, jangan bergurau!" seru Lauw Tong Seng, Akan tetapi didalam hatinya ia kagum menyaksikan kepandaian adik seperguruannya itu. 

Mendengar tegoran kakak seperguruannya, Sin Houw menarik pipanya kembali yang tadi menyelomot kumis pemiliknya, Kemudian ia meniup api tembakaunya seolah-olah hendak memadamkan.  Tapi  karena  tiupannya  terlalu  keras, api tembakau yang menyumpai lubang pipa justru jadi terbang berhamburan mengenai wajah Buyung Hok, Dan kembali lagi Buyung Hok berjingkrakakan! 

Lauw Tong Seng segera lompat memasuki gelanggang. Melihat Buyung Hok yang tadi bersikap sombong dan kini kena diselomot seorang pemuda kemarin sore, mau tak mau membuat dirinya tertawa juga.  

Namun ia sadar, Buyung Hok tidak boleh dibuat gegabah. Maka cepat cepat ia menolong membebaskan dari totokan Sin Houw. Kemudian menyambar pipa yang masih berada  digenggaman Sin Houw dan dikembalikan kepada pemiliknya.  

Dengan berbuat begitu ia berharap menyudahi adu kepandaian itu agar tidak jadi ber-larut, Bukan karena takut bermusuhan dengan orang itu, akan tetapi kehadiran nya dipihak keluarga Cio-liang pay bisa menambah beban  yang tidak ringan. sebagai seorang pendekar yang berpengalaman Lauw Tong Seng perlu menarik simpati   terhadap  lawannya yang kemungkinan besar bisa menyeberang kepihaknya. 

Buyung Hok sendiri, waktu itu masih saja terpukau oleh kejadian yang menyakitkan hatinya, Sama sekali ia tidak menghiraukan masuknya Lauw Tong Seng ke dalam gelanggang, Tahu-tahu tangan kanannya telah menggenggam pipanya kembali.  

Selintasan saja ia melihat betapa ? sekalian hadirin menertawakannya dengan nada geli dan  merendahkan. ia benar-benar jadi merasa terhina. Terus saja ia membanting pipanya hancur berantakan -- kemudian dengan langkah panjang meninggalkan gelanggang,  sebentar saja, ia telah melintasi pintu keluar dan bayangan tubuhnya lenyap digelap malam. 

Go Keng Cay terkejut melihat kepergian temannya. Buru- buru ia lari mengejar hendak mencegah. Tahu-tahu ia nampak terpental balik memasuki ruang latihan, dan mati-matian ia mencoba mempertahankan diri, sekalipun demikian,  tetap  saja ia terhuyung mundur beberapa langkah. Maka jelaslah, bahwa tenaga lontaran Buyung Hok sesungguhnya bukan sembarangan. walaupun  Sin Houw  dapat  mengalahkan  dengan mudah, namun tenaga  saktinya  ternyata  masih mampu melemparkan seorang pendekar semacam Go Keng Cay, seorang pemimpin berandal yang  kenamaan  sejak belasan tahun yang lalu. 

Maka bisa dimengerti, apa sebab  Lauw  Tong  Seng bersikap hati-hati terhadapnya. 

Ceng it dan semua saudaranya kagum menyaksikan kepandaian Sin Houw, Akan  tetapi mereka tidak terkejut,  Jauh-jauh tahulah mereka, bahwa pemuda itu memiliki kepandaian tinggi. Hanya saja caranya menjatuhkan Buyung Hok begitu cepat, benar-benar diluar  dugaan. Sebaliknya, tidaklah demikian kesan anak buahnya Go Keng Cay. 

Melihat pemimpinnya kena dilontarkan  Buyung  Hok, mereka kaget dan panas hati, Kalau Buyung Hok yang kena dikalahkan bisa melontarkan pemimpinnya dengan mudah, apalagi pemuda itu, pemimpinnya bukanlah tandingnya yang berarti. Apakah yang diandalkan kecuali mengadu  jumlah banyak. Maka mereka bersiaga menunggu aba-aba. 

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara Lauw Tong Seng berkata: 

"Saudara Ceng lt. Tadi saudara sudah membuat semacam sayembara, Bahwa emas akan dikembalikan apabila kami mampu mengambil sendiri dari penjagaan Buyung Hok, sekarang Buyung Hok meninggalkan gelanggang, Artinya dia membiarkan emas tak terjaga lagi. Maka sebelum memunguti emas, perkenankan kami mengucapkan terima kasih." Dan setelah berkata demikian, ia memberi perintah kepada muridnya: "Ambil semua emas yang berceceran dilantai!. Hitung, apakah  sudah cukup, Kurang  sekeping, kita wajib mengadakan perhitungan sendiri." 

Sebenarnya emas rampasan itu tidak kurang barang sekeping. Lauw Tong Seng  yang  berpengalaman,  yakin  hal itu, Kalau dia  berkata  demikian,  maksudnya  semata-mata untuk menaikkan harga diri saja. Didepan  gerombolan berandal, perlu ia menunjukkan sikap garang. 

Ceng It yang banyak pengalamannya ternyata tak  sudi kalah gertak. ia membiarkan Ciu San Bin memunguti emasnya dengan sikap acuh, Bahkan ia lantas memejamkan matanya, sebaliknya tidak demikian dengan Go Keng Cay.  

Didalam usahanya hendak merebut emas rampasan itu, ia sudah berkorban jiwa, itulah sebabnya, ia tak rela melihat Ciu San Bin memunguti dan mengantongi emasnya kembali tanpa sanggahan, Diantara  berkilaunya emas. pandang matanya  memancarkan sinar berapi-api. Mendadak saja ia melompat menghampiri dan mendorongkan dan kena dorongan itu, Ciu San Bin mundur sempoyongan. 

"Hey, apa  maksudmu? Apakah kau hendak coba-coba mengukur tenaga?" bentak Ciu San Bin mendongkol. 

Lauw Tong Seng maju, Berkata kepada muridnya: 

"San Bin, mundur! Dia bukan tandingmu!" setelah berkata demikian, Lauw Tong Seng membungkuk hormat kepada Go Keng Cay. Katanya sambil tertawa: 

"Selamat bertemu, kawan, Akhir-akhir  ini  usahamu kudengar memperoleh kemajuan, sehingga daerahmu bertambah luar, Bagaimana kalau kita main coba-coba?" 

"Hm! siapa namamu?" bentak Go Keng Cay. 

"Aku Lauw Tong Seng,  mata pencarianku berdagang. Mengapa? Apakah kau mempunyai barang dagangan yang berharga?" 

Go Keng Cay mendongkol. Terus saja ia berteriak kepada bawahannya: 

"Bawa kemari senjataku!" 

Senjata andalan Go Keng Cay ternyata sebatang tombak panjang dan besar, begitu menerima  senjata   andalannya, terus saja ia menikam dengan tenaga penuh. Tak usah diterangkan lagi, bahwa hatinya mendongkol luar biasa terhadap Lauw Tong Seng. 

Lauw Tong Seng memiringkan kepalanya sambil tertawa, dan dengan gesit ia melompat menghindar, serunya girang: 

"Bagus! Barang daganganmu lumayan juga. Mari kita uji, apakah benar-benar ada harganya untuk diperjual belikan." 

Murid Bok Jin Ceng itu ternyata seorang pendekar yang besar nyalinya, sambil membungkuk mengelakkan setiap serangan, ia memunguti emas yang  masih  tercecer  diatas lantai. Dan menyaksikan hal itu, sadarlah Ceng it bahwa Lauw  Tong Seng bukan sembarang orang. Go Keng Cay ternyata bukan tandingnya. 

"Kalau aku berpeluk tangan saja, emas  itu  benar-benar akan hilang." pikirnya didalam hati, segera ia memberi isyarat mata kepada Ceng Go dan Ceng Ji. 

Dan Ceng Go berdua Ceng Ji melesat memasuki gelanggang sambil berseru: 

"Emas bukan batu kerikil yang tidak ada harganya. Kau bayarlah jiwamu dahulu!" 

Menghadapi rangsakan Ceng Go dan Ceng Jie, cepat- cepat Lauw Tong Seng mengendapkan diri, ia menggeserkan tubuhnya kekanan dan tangan kirinya  menyerang  dari samping. itulah salah satu jurus dari ilmu Hok-how ciang. 

Serangan Ceng Go berdua Ceng Jie  sebenarnya merupakan jurus gabungan ilmu sakti Ngo-heng  tin  yang dahulu pernah merobohkan pendekar besar atau tayhiap Lim Beng Cin. Begitu  mereka berdua  melepaskan salah satu jurusnya, terus saja bergerak hendak maju mendesak.  

Tiba tiba mereka melihat Lauw Tong Seng menggeser ke samping sambil melontarkan serangan, Cepat-cepat mereka mundur dan tepat pada saat itu Ceng Sam dan Ceng Su menggantikan kedudukannya  dengan menangkis serangan Lauw Tong Seng,  Kemudian dengan kecepatan luar biasa tangan Ceng Go menyelonong menghantam pinggang Lauw Tong Seng. 

Sejak Lauw Tong Seng menyelesaikan pelajarannya dan berkelana seorang diri untuk mencari pengalaman,  belum pernah ia bertemu dengan lawan yang sebanding, walaupun ia gemar bergurau dan berlaku jenaka, namun  tabiatnya  cermat dan hati-hati.  

Dengan berbekal kedua tabiatnya  itu, belum pernah   ia gagal selagi menghadapi lawan. sekarang ia sadar bahwa ilmu Ngo-heng tin keluarga Cio-liang pay hebat luar biasa. Ceng It kini ikut pula memasuki arena, Dengan demikian ia  menghadapi lima orang sekaligus. Cepat ia menggeser tubuhnya untuk menghindari serangan Ceng It.  

Te-tapi tiba-tiba Ceng Su menggantikan kedudukan  Ceng Jie dan dengan cepat membawa Ceng It mundur. Dengan di barengi gerakan lainnya, mereka berlima nampak seolah-olah berubah menjadi beberapa puluh orang, Tubuh mereka berkelebatan seperti bayangan. 

Menghadapi tata  pertempuran  demikian, mau tak  mau Lauw Tong Seng menjadi terkejut, ia tak mengerti,  ilmu berkelahi apa yang sedang dilancarkan pihak lawannya itu, Benar-benar serangan mereka  dahsyat   luar  biasa. Nampaknya kalut, akan tetapi maju  dan  mundurnya  sangat rapi. sekian lamanya ia mencoba menyerang, namun tiada seorangpun yang dapat disentuhnya, ia kaget, heran dan akhirnya menyadari.  

Cepat-cepat ia mencoba  merubah  sikap.  Dengan  tenang, ia menempatkan diri ditengah-tengah mereka. Sama sekali ia tak mau menyerang. sebaliknya,  ia hanya bertahan  dan menangkis apabila kena serang. Tentu  saja  ia  membuat dirinya kena terkurung rapat sekali. 

Melihat Lauw Thong Seng hanya dapat membela diri, diam-diam Go Keng Cay bergirang hati, ia tadi bersakit hati karena kena dipermainkan pendekar itu. sekarang timbullah niatnya hendak membalas dendam,  ia menunggu  saatnya yang bagus, untuk menikam Lauw Tong Seng sehebat- hebatnya. Dan sekaranglah saatnya yang paling baik, selagi lawannya sibuk berjaga-jaga diri terhadap rang-sakan Ceng it berlima. 

"Lauw susiok, awas!" Cie Lan memperingatkan. Gadis itu terkejut melihat berkelebatnya tombaknya Go Keng Cay. 

Lauw Tong Seng adalah murid Bok Jin Ceng yang telah mewarisi kepandaian gurunya. seumpama Ceng It tidak menggunakan ilmu gabungan, mereka tidak akan bisa berbuat banyak terhadapnya.  Demikian pula menghadapi  serangan gelap Go Keng Cay, seorang pemimpin berandal.  Dengan sebat sekali, Lauw Tong Seng memutar tubuhnya. Berbareng dengan itu, tangannya bergerak. Tombak Go Keng Cay kena ditangkisnya dan kemudian di tangkapnya,  itulah salah satu jurus Hok houw ciang  untuk  menghadapi  lawan yang bersenjata. ilmu tata berkelahi dengan tangan kosong! 

Kemudian terdengar  pekik teriak Go Keng Cay  yang kesakitan, sedangkan  tubuhnya nampak  kehilangan keseimbangan dan pada saat itu Lauw Tong Seng memukul pundaknya. Krak! Go Keng Cay  memekik tinggi, tulang pundaknya patah! 

"Bagus!" puji Thio Sin Houw. 

Beberapa orang pengawalnya Go Keng Cay segera menolong pemimpinnya sedangkan Wong Bun  Cit,  Kie  Song Sie dan Su Eng Nio menuntut bela, serentak mereka bertiga menyerang Lauw Tong Seng, Juga kali ini Lauw Tong Seng dapat menunjukkan keahliannya, Dengan kesehatan dan kelincahannya, seorang demi seorang dibantingnya ke lantai sambil mengelakkan setiap serangan Ceng It berlima. 

Menyaksikan ketangguhan murid Bok Jin Ceng itu, anak buahnya Go Keng Cay tidak  berani  berkutik  lagi  dari tempatnya. 

"Nah, sekarang aku bisa melayani kalian berlima tanpa gangguan lagi." kata Lauw Tong Seng kepada Ceng It berlima dengan menyertai tawa. 

Ceng It berlima mendongkol, terus saja mereka melancarkan serangan bertubi tubi, Bayangan mereka berkelebatan Mau tak mau Lauw Tong Seng mengimbangi dengan kecepatannya pula. 

Akan tetapi ilmu gabungan Ngo-heng tin benar-benar hebat dan berbahaya. Gerakan mereka pun nampak  aneh sekali. Adakalanya salah seorang menendang dari depan, kemudian dengan sekonyong-konyong melesat kesamping, Dan  pada saat itu seorang lagi menyerang menggantikan kedudukannya. Yang datang dari sebelah kiri mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, Lalu menyambar hendak memeluk. Mau tak mau  Lauw Tong Seng terpaksa mundur. Diluar dugaan lawan yang berada dibelakangnya mengayun kakinya hendak menendang. 

Makin lama makin hebat cara Ceng It berlima melakukan penyerangan. Corak ragamnya makin beraneka macam, membuat Lauw Tong Seng merasa diri benar-benar  sibuk. Untuk mengurangi ancaman  bencana,  segera   ia mengeluarkan dua senjata andalannya. sebatang tongkat pendek dan sebuah  alat seperti perisai. Dan ia kemudian melakukan perlawanan makin gigih, setiap kali ia berusaha mencari jalan keluar membobol pengepungan lawan dengan tusukan serta tikaman tongkatnya yang berujung tajam 

Tak lama kemudian, maka Ceng It berlima  sibuk menghadapi tikaman tongkat  Lauw  Tong  Seng  yang berbahaya, sehingga hampir-hampir  mata  rantai  mereka bobol, Cepat-cepat Ceng It berseru dengan kata-kata sandi: 

"Angin tiba! Mari kita pasang layar !" 

Ceng Cit dan Kun Jie yang berada  diluar  gelanggang, segera berlari-lari membawa senjata. Kemudian dilemparkan seolah-olah sedang melancarkan suatu serangan rangsakan, Tetapi dengan tiba-tiba saja, ruyung, tombak,  golok,  tongkat besi dan  cemeti baja sudah berada  dalam genggaman majikannya masing masing. 

pertempuran kini makin menjadi seru dan sengit luar biasa, masing-masing terancam bahaya maut, Mereka yang menyaksikan diluar  gelanggang menahan  napas oleh rasa tegang dan kagum. 

Ciu San Bin sibuk bukan main melihat gurunya terancam bahaya pengepungan yang sangat kuat, Terasalah  didalam hatinya, bahwa ilmu kepandaiannya sangat dangkal. Dan yang sama sekali tak berdaya untuk memberikan bantuan. 

Tetapi ia tak rela gurunya terancam bahaya begitu dahsyat, Tiba-tiba saja ia melompat hendak  memasuki gelanggang dengan memutar goloknya. Diluar dugaan, baru saja ia bergerak, sekonyong-konyong  berkelebatlah  sesosok bayangan di depannya. Tahu-tahu pundaknya kenatekan, ia  kaget.  

Dalam rasa kagetnya ia membabatkan goloknya. Heran! Tangannya tak dapat digerakkan. pundaknya  seperti  kena tindih batu sebesar gajah! 

Ciu San Bin menoleh. Ternyata yang menekan pundaknya adalah Sin Houw. Tadi ia menyaksikan betapa Sin  Houw dengan mudah saja dapat mengalahkan Buyung Hok, Dalam hatinya, ia tidak yakin kegagahannya. Tetapi kini barulah ia sadar, betapa dahsyat tenaga Sin Houw yang muda dan yang menjadi paman gurunya dengan  sekali tekan saja, kedua tangannya seolah-olah lumpuh. Mau tak mau ia menjadi harus patuh kepada tiap perkataannya. 

"Jangan kau cemas, gurumu masih sanggup melayani mereka." kata Sin Houw sambil menarik pulang tangannya. 

San Bin mengkerutkan dahinya. Benarkah gurunya masih sanggup melayani kelima lawannya itu? ia mencoba menyabarkan diri dan  berusaha  yakin  terhadap  penglihatan Sin Houw, Dengan seksama ia mengikuti  jalannya pertempuran. 

Dalam pada itu Sin  Houw  sendiri  mengikuti  pertempuran itu dengan penuh perhatian. Kadang-kadang ia mendongak mengawasi arah genting dengan berdiam diri, Agaknya ia terbentur pada suatu persoalan sulit. 

Cie Lan  yang sejak tadi memperhatikannya, mendekati sambil berkata: 

"Sin koko, kenapa kau tidak  segera membantu Lauw susiok?" 

Sin Houw tidak menyahut. Dengan  suatu  gerakan  tangan, ia mengharapkan agar Cie Lan mundur. Dan Cie Lan benar- benar mundur dengan wajah lesu, sebaliknya Giok Cu diam- diam bersyukur hati melihat Sin Houw menolak kehadiran Cie Lan. Dengan lapang dada, ia  kini  dapat  mengikuti pertempuran  ditengah  gelanggang  yang makin menjadi seram. 

Lauw   Tong  Seng  mencoba   menghantam   salah seorang  musuhnya. Berulang kali dan makin lama makin cepat, Namun tetap saja,musuhnya tak dapat disentuhnya bahkan senjata mereka tak pernah bentrok, Masing-masing berusaha menghindarkan suatu benturan. 

Pada saat itu, tiba-tiba Sin Houw menghampiri Cie Lan. Katanya dengan sua ra ringan: 

"Lan-moay, maafkan sikapku tadi, aku sedang berusaha memecahkan suatu teka-teki, sekarang aku sudah berhasil." 

"Maaf? Apakah yang harus kumaafkan?" sahut Cie Lan, "Kau bantulah Lauw susiok." 

Sin Houw tertawa.  pandang  matanya  berseri-seri. sahutnya: 

"Teka-teki itu sudah berhasil kupecahkan, sekarang tidak perlu cemaslagi. Sekarang, coba pinjamkan aku tusuk sanggulmu." 

Dengan pandang penuh pertanyaan, Cie Lan memenuhi permintaan Sin Houw, Kata pemuda itu menjelaskan: 

"Akan  kulayani mereka dengan  tusuk sanggul ini!" 

Cie Lan  menjadi terpukau, akan tetapi Sin  Houw tidak menghiraukan. Dengan pandang tajam ia berteriak  kepada Lauw Tong Seng: 

"Toa-suheng! Sut-touw menciptakan It-bok, maka injaklah Kian-kiong dan jalan ke Kam-wie!" 

Itulah istilah sandi yang hanya diketahui  oleh  pendekar kelas utama. 

Dan mendengar seruan itu, Ceng It berlima terkejut heran. Jelas Sin Houw telah dapat mengetahui rahasia  ilmu  Ngo- heng tin. siapakah yang mengkisiki? 

Sebaliknya Lauw Tong Seng tidak segera mengerti akan kata-kata sandi itu, ia harus berpikir dua ka1i. Tetapi Sin Houw tidak perdulikan apakah kakak itu mengerti atau tidak, ia terus berteriak lagi:  "Phia-boh mengalahkan Khe-kim ambillah langkah ke Cin- kiong, keluar dari Lie-wie!" 

Beberapa saat lamanya Lauw  Tong  Seng  masih memikirkan kata-kata sandi itu, kemudian ia menyadari bahwa sang adik menghendaki ia mengambil langkah secara "pat- kwa", Dan ia segera mencobanya. 

Ia menunggu saatnya  yang baik. Kemudian tiba-tiba ia melesat ke kiri melalui Cin-kong, kemudian keluar dari Lie-wie, Dan ia berhasil memperoleh lowongan! 

Kemudian didengarnya lagi suara Sin Houw. "Ambil jalan Kian-wie" 

LAUW TONG SENG terkejut, Arti kata sandi itu adalah 

barat daya, Tetapi di bagian itu Ceng Jie dan  Ceng sam menjaga dengan ketat. ia menjadi ragu ragu sejenak, tetapi kemudian ia percaya penuh dengan petunjuk Sin Houw, 

Segera ia melesat ke barat daya sambil melakukan serangan,Ceng Jie dan Ceng sam mengetahui tugas mereka. 

Apabila musuh datang menyerang,  segera  mereka memisah diri, Kedudukannya akan diganti oleh Ceng It  dan Ceng Su. itulah rahasia ilmu mata rantai Ngo-heng tin. Tetapi baru saja mereka hendak memecah diri, tahu-tahu Lauw Tong Seng telah menerjang,  Murid Bok Jin Ceng  ini menghantamkan perisainya kekiri dan ke kanan  untuk mencegah masuknya Ceng It dan Ceng Su.  

Tongkat bajanya mengejar kedudukan Ceng Jie dan Ceng sam yang bergerak hendak  memecah  diri,  oleh  serangan diluar dugaan ini, mereka berempat terkejut. Cepat-cepat mereka merapat  hendak  bergabung,  tapi  dengan  gerakan yang cepat luar biasa, Lauw Tong Seng berhasil lolos dalam sekejab mata saja, Tahu-tahu ia sudah berdiri tegak disamping Sin Houw. 

Ceng It menjadi terpukau melihat kejadian itu, inilah untuk yang pertama kalinya mereka kehilangan sasaran.  Bagaimana Lauw Tong Seng  bisa  lolos  dari  kepungan yang rapat luar biasa? puluhan  tahun  mereka  malang melintang menguji ketangguhan ilmu Ngo-heng tin, selama itu tak terkalahkan dan tak pernah gagal. oleh ingatan ini mereka  jadi penasaran.  

Kenyataan tadi terlalu menyakitkan serentak  mereka mundur dan merapikan diri, Dan berkatalah Ceng It dengan nyaring kepada Lauw Tong Seng: 

"Kau bisa lolos dari mata rantai kubu-kubu ilmu Ngo-heng tin, artinya ilmu kepandaianmu bukan sembarangan. 

Ilmu itu mengingatkan kami kepada aliran Ngo-tay,  Kau pernah apa dengan Bok Jin Ceng?" 

"Beliau adalah guruku." sahut Lauw Tong Seng, "Bagaimana? Apakah aku menurunkan pamor rumah perguruanku?" 

Ceng It mendengus. Katanya mendongkol: 

"Hm! Apakah kau kira kami tidak mengetahui aliran ilmu silatmu?" 

Lauw Tong Seng mengetahui bahwa Ceng It berlima masih penasaran. Kemudian ia mengalihkan pembicaraan: 

"Kita telah bertempur, Masing-masing sudah berusaha menjatuhkan lawan. Kalian telah mengepung aku berlima, dan ternyata aku tak sanggup merobohkan, Begitu  juga kalian berlima. inilah yang disebut setali tiga uang, sekarang, bagaimana baiknya kita mengatur emas itu?"  ia berhenti sejenak dan mengawasi Go Keng Cay, Katanya: 

"Urusan perdagangan kita sudah selesai, bukan? Nah, kau boleh pergi!" 

Hebat perkataan Lauw Tong Seng bagi Go Keng Cay, sebagai seorang pemimpin berandal, ia biasa memerintah. sekarang ia merasa diri tak sanggup  melawan lagi, dan  ia diusir dihadapan orang banyak. ia menyahut: 

"Lauw Tong Seng! jangan tergesa-gesa kau menepuk  dada! Pada suatu hari nanti- kau pasti akan jatuh ditanganku, aku Go Keng Cay tak  dapat kau permainkan sesuka hati,  Hari ini memang aku naas, tapi besok atau lusa aku bakal bangkit lagi!" 

Lauw Tong Seng tertawa, tetapi Ceng Go menyelak bicara: "Urusan emas tak perlu diributkan lagi! Kau boleh 

membawanya, asal bisa memenuhi dua syarat." "Syarat apakah itu?" tanya Lauw Tong Seng, 

"Syarat pertama, kau harus membawa barang semacam 

alat penebus. itulah peraturan kami yang sudah berjalan sejak aku belum lahir, Artinya, kau menghargai kami." Ceng Go menjelaskan 

Lauw Tong Seng berpikir sebentar. 

"Baik. Aku akan mengirimkan barang penukar yang cukup berharga. selain itu, aku akan mengadakan pesta perpisahan sebagai pernyataan rasa terima kasih, Sekarang, bagaimana syarat yang kedua ?" 

"Yang kedua, kau harus tinggalkan Thio Sin Houw disini!" sahut Ceng Go. 

Lauw Tong Seng terkejut, ia tidak mengetahui   latar  belakang persoalannya bahwa Sin Houw mempunyai sangkut paut dengan kepentingan  keluarga  Cio-liang  pay,  yang bertalian dengan urusan Gin-coa,Long-kun. Katanya: 

"Adik seperguruanku ini,  seorang  yang  doyan  makan. Kalau dia kalian harapkan tinggal disini, ia akan menghabiskan persediaan makanan kalian. Apakah kalian tidak akan rugi?" 

Ciu San Bin kenal akan watak dan kebiasaan gurunya. Bila dia bergurau, artinya mengandung ancaman. pastilah pertempuran akan  terulang  kembali. Maka dengan  diam-diam ia bersiaga dengan senjatanya. 

Ceng It yang masih memegang tombaknya berkata dengan suara tegas:  "Adik seperguruanmu tadi, pandai mengajari caramu bisa lolos dari mata rantai ilmu kami. Agaknya dia  mengenal  ilmu  itu, maka biarlah kami mencoba-coba kepandaiannya." 

Ciu San Bin mendongkol mendengar perkataan Ceng It, Terus ia melompat maju tanpa persetujuan gurunya, katanya membentak: 

"Aku saja yang maju, Apakah kau kira kami gentar menghadapi kalian?" 

"Kalau begitu, silahkan!" sahut Ceng  It  tertawa mengejek. Ciu   San  Bin   benar-benar   tak  gentar  sedikitpun, Kakinya 

bergerak  hendak  melangkah  maju,  tetapi  tiba-tiba tangannya 

ditarik Sin Houw, Kata paman yang muda usia itu: 

"Ciu suko, biarlah aku yang maju lebih dahulu, Apabila aku gagal, barulah kau membantunya." 

Ciu San Bin manggut, sahutnya: 

"Baik, Begitu membutuhkan aku, panggillah namaku saja, San Bin, Tidak perlu menyebut suko segala. Bukankah kau justru paman guruku?" 

Sin Houw tersenyum, ia manggut  dan Cie Lan  yang tertawa geli. 

"Apa yang kau tertawakan?" tanya San Bin setelah mendekati. 

"Akh, tidak apa-apa. Aku hanya ingin tertawa."  jawab  Cie Lan bersenyum manis. 

Sementara itu Sin Houw sudah melompat memasuki gelanggang, Benar-benar dia hanya bersenjatakan sebatang tusuk sanggul Cie Lan! 

"Aku Thio Sin Houw! Dengan  ini aku ingin berkenalan dengan ilmu Ngo-heng tin dari keluarga Cio-liang  pay!"  seru Sin Houw. 

"Keluarkan senjatamu!" Ceng It membentak.  Sin Houw bersenyum, kemudian ia memperlihatkan tusuk sanggul Cie Lan. Berkata: 

"Susiok semua adalah  angkatan tua, tak berani aku melawan dengan menggunakan senjata tajam, Maka  biarlah aku menggunakan tusuk sanggul ini untuk menghadapi susiok semua!" 

Mendengar perkataan Sin  Houw baik Ceng It berlima maupun para hadirin lainnya menjadi sangat heran. Banyak diantara mereka yang menganggap Sin Houw terlalu mengunggulkan dirinya, apa artinya sebatang tusuk konde? 

Semua orang tahu, bahwa tusuk sanggul sangat mudah patah. Betapa mungkin dapat diadu dengan senjata Ceng It berlima yang serba kuat? 

Lauw Tong Seng yang tidak berkata apa-apa, diam-diam mempersiapkan kedua senjata andalannya, untuk menolong apa bila adik seperguruannya terancam bahaya. Kepada  Ciu San Bin dan Cie Lan, ia membisik: 

"Musuh kita terlalu kuat, sedang jumlah kita hanya empat orang, Apabila sebentar aku memberi tanda, kalian berdua segera lompat ke atas genting dan larilah secepat-cepatnya, Aku dan Sin Houw akan melindungi kalian untuk menghadang musuh. janganlah kalian memperdulikan kami, walaupun kami terancam bahaya apapun, janganlah kalian mencoba untuk membantu. Mengerti?" 

Lauw Tong Seng berpesan demikian, karena mempunyai perhitungannya sendiri, walaupun Sin Houw mempunyai kepandaian yang berarti,  belum  tentu  dapat  menandingi Ceng It berlima. andaikata diapun membantu, juga belum  berarti banyak. Tetapi ia percaya,  bahwa baik Sin Houw maupun dirinya sendiri, pasti dapat lolos dari bahaya yang mengancam mereka, sebaliknya, tidak demikian halnya  dengan  Ciu  San Bin berdua Cie Lan.  

Apabila mereka berdua kena kepung, sukar untuk mereka meloloskan diri. itulah sebabnya, mereka harus  lari  lebih dahulu, Dikemudian hari,  mereka berdua bisa diharapkan  melapor kepada Thio Su Seng, sedangkan dia sendiri akan kembali setelah memperoleh bantuan  dari  sahabat- sahabatnya, pastilah gurunya dan Bok-siang tojin tidak akan tinggal diam.  

Dan jika mereka semua datang kembali, ilmu Ngo-heng tin dari keluarga Cio-liang pay pasti bisa dirobohkan, Dia tidak mengharapkan bantuan Sin Houw, sebab meskipun berkepandaian cukup, pastilah masih kurang masa latihannya. 

Dalam pada itu, semua yang berada didalam gelanggang pertempuran sudah siap siaga. Tetapi Sin Houw masih belum merasa puas. Nampaknya seakan-akan melihat sesuatu yang masih kurang akhirnya ia berkata: 

"Ceng It susiok, aku berterima kasih karena kalian sudi memberi pengalaman kepadaku. Hanya saja menurut tanggapanku, barisan kalian  masih kurang lengkap.  Kalau tidak salah, apakah ilmu Ngo-heng tin ini  masih  kurang lengkap pertahanannya?" 

"Kurang lengkap bagaimana?" tanya Ceng It heran. "Disebelah luar Ngo-heng tin, bukankah masih ada barisan 

pembantu yang disebut Pat-kwa tin. Kenapa Pat kwa tin tidak diatur sekalian, agar aku dapat memperoleh pengalaman lebih luas lagi? 

Ceng Sam yang tidak sabaran lantas membentak: 

"Bagus! Kau sendirilah yang meminta, Kalau kau binasa, jangan sesali siapapun juga." setelah membentak demikian, ia berpaling kepada Ceng Cit dan Kun Jie. Memerintah: 

"Semua maju!" 

Oleh perintah  itu, Ceng Cit berdua Kun Jie segera mengangkat tangan, memberi aba-aba, dan  muncullah lima belas orang yang segera bergerak mengepung. 

Melihat bertambahnya anggauta lawan  yang  bergerak diatas gelanggang. 

Lauw Tong Seng tertegun.  Mulutnya  bergerak hendak  menegur kesemberonoannya Sin Houw, akan tetapi pada saat itu pula timbullah pikirannya bahwa tegurannya pasti  tiada guna lagi. oleh pikiran itu ia batal sendiri. sekarang ia memperhatikan mereka semua yang sedang bergerak-gerak dan berputar-putar mengurung Sin Houw, Mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan. Gerakan mereka rapi dan  cekatan. Mau tak mau ia jadi kagum, pikirnya didalam hati: 

"Belasan tahun aku berkelana untuk   menambah pengalaman dan pengetahuan Tetapi baru hari ini aku melihat barisan Ngo-heng tin yang dahsyat dan rapi sekali. Mereka bergerak dan berlari-larian, Namun tak ada terdengar langkahnya sama sekali. Akh, Sin Houw benar-benar semberono, Melayani lima orang saja, sudah sulit. Apalagi menghadapi belasan orang, Bagaimana aku harus menolong menembus mereka? Mungkin sekali sudah tiada harapan lagi, Akh, Sin Houw, benar-benar kau tak tahu diri!" 

Benar-benar Lauw Tong Seng menjadi tertegun dalam keraguan yang mencemaskan hatinya.  Tetapi  Sin  Houw sendiri nampak tenang-tenang saja, ia menjepit tusuk sanggul Cie Lan dengan jari tangan kanannya. Tangan kirinya dilencangkan ke depan dan ditekuk sedikit, seolah-olah seekor ular hendak  menerkam mangsa, Kemudian kedua  kakinya mulai melebar. sekonyong-konyong ia bergerak dan  lari berputaran, setelah empat lima kali, ia berbalik  merubah jurusan dengan mendadak pula. 

Melihat gerakan Sin Houw, Ceng It berlima memusatkan seluruh perhatian mereka. pandang mata mereka tak berani beralih dari gerak-gerik Sin Houw yang penuh teka-teki. sebab sudah sekian lamanya ia berputar-putar,  masih  saja  belum ada tanda-tanda hendak melakukan penyerangan. 

Lauw Tong Seng maupun Ceng It tidak mengetahui bahwa Sin Houw sebenarnya sedang melakukan  ajaran-ajaran warisan Gin-Coa Long-kun. Dahulu ketika Gin-coa Long-kun lolos dari kepungan Ceng It berlima, ia mengeram diri didalam goanya, Terus-menerus tanpa mengenal lelah, pendekar yang mengandung dendam itu mencari-cari jalan keluar untuk dapat  memecahkan rahasia ilmu Ngo-heng  tin. Pada tahun-tahun pertama, belum  juga ia berhasil menemukan titik-tolak apa sebab pertahanan Pat-kwa tin dan  Ngo-heng  tin  bergerak terus saling menyusul, sampai lawannya kena dirobohkan.  

Asal yang satu bergerak, empat lainnya menyusul bergerak pula, Begitu terus-menerus, sehingga lambat-laun membuat pandang mata lawan menjadi kabur. Benar-benar ia bingung dan tak dapat mengerti. 

Pada suatu hari Gin-coa Long-kun keluar dari goanya, ia merangkak ke puncak gunung untuk  mencari hawa segar. Tiba-tiba ia melihat seekor ular bergerak melingkar begitu mendengar suara ia merangkak. Kemudian berhenti  dan menegakkan kepalanya. itulah kodrati gerakan seekor ular apabila merasa terancam bahaya. ia bersiaga melawan dan berbareng menyerang. Tetapi dia tidak akan  menyerang, apabila tidak didahului.  

Dan melihat  tata laku ular itu, timbullah sepercik ilham didalam benak Gin-coa Long-kun. Jadi itulah cara yang praktis sekali untuk memecahkan ilmu Ngo-heng tin. 

"Menunggu serangan lawan,  kemudian baru bergerak- gerak untuk melawan..." katanya berulangkali didalam hati. 

Hatinya menjadi girang, sebab lambat laun ia memperoleh keyakinan. Dan dengan keyakinannya  itu,  ia  kembali memasuki goanya mengasah otak, satu bulan lamanya ia mencoba memahami ilmu sakti kebanggaan  keluarga  Cio- liang pay, akhirnya diketahuilah kelemahannya.  

Dengan ilmu ular itu sekarang ia sanggup memecahkan pertahanan barisak Pat-kwa tin dan Ngo-heng tin, Dan penemuannya itu segera dicatat di dalam buku warisannya. setelah selesai timbullah pikirannya: 

"Urat-uratku sendiri sudah terputus. Tak bisa aku berkelahi seperti dahulu. Adakah gunanya  aku memperoleh rahasia perlawanan ilmu kebanggaan keluarga Cio-liang pay? Aku sekarang berada didalam goa ini. seratus tahun  lagi, atau mungkin seribu tahun lagi,kitabku baru diketemukan orang,  Tetapi pada saat itu, mereka semua sudah mati hem! Benar! Benar penasaran hatiku, tetapi baiklah, meskipun andaikata Ceng it berlima sudah mampus,  ilmu  kebanggaan  mereka pasti ada yang mewarisinya. 

Kalau tidak ada  daya perlawanannya  , anak keturunan mereka pasti akan merajalela tanpa tandingan. Aku harap saja kitabku ini akan diketemukan orang dikemudian hari. syukurlah bila Tuhan mengabulkan bisa diketemukan oleh seseorang yang bisa mewakili diriku membalas dendam selagi Ceng It berlima masih hidup dalam keadaan segar-bugar. Bila hal ini dikabulkan, ya Tuhan aku rela Kau masukkan ke neraka 

sebagai penebusan. 

Di alam bakapun, Gin-coa Long-kun tidak pernah mengira bahwa pada hari itu seorang pemuda bernama Thio Sin Houw sedang melakukan perlawanan terhadap  ilmu Ngo-heng tin keluarga Cio-liang pay dengan ilmu warisannya.  

Dia berputar-putar terus  tanpa menyerang,  untuk  menunggu gerakan lawan. itulah dasar rahasia  kitab warisannya. Dia berputar-putar terus. 

Dan karena ia berlari-larian, semua lawannya ikut berlari- larian pula sambil mengawasi gerak-gerik dengan cermat. 

Thio Sin Houw tidak menghiraukan gerakan lawan. ia terus lari berputaran sekian lamanya. Sekonyong konyong ia memperlambat diri, makin lama makin kendor, Namun sama sekali tidak nampak adanya suatu maksud untuk menyerang. Akhirnya, bahkan berhenti sama sekali.  

Kemudian duduk memeluk lutut. wajahnya nampak berseri- seri. Tentu saja mereka  semua  yang melihat  kelakuannya menjadi heran. seluruh keluarga Cio-liang  pay  tidak mengetahui, bahwa ini termasuk salah satu tipu daya untuk melalaikan penjagaan. Disamping itu untuk membuat mereka kehilangan kesabaran pula. 

Benar saja, Ceng Go yang berangasan segera menggerakkan kedua tangannya untuk  menyerang,  waktu  itu ia berada dibelakang punggung Sin Houw, sehingga dapat  menyerang secara gelap. 

"Jangan! jangan mengacaukan jalur pembelaan!" Ceng Jie memperingatkan. 

Peringatan Ceng Jie itu menyadarkan Ceng Go, segera ia menarik serangannya kembali.  Dan  mereka  lantas melanjutkan berlari-lari berputaran dengan penuh siaga menerjang manakala lawannya menyerang.  

Tetapi Sin Houw tetap duduk memeluk lutut. ia tak mau membuat mereka mendongkol. Akhirnya saling memandang meminta pertimbangan. 

Ceng It sebenarnya sudah kehilangan  kesabarannya  pula, ia ingin memberi idzin saudara-saudaranya untuk menyerang, Tetapi hal itu bertentangan dengan dasar keharusan inti ilmu gabungan Ngo-heng tin. Maka meskipun hatinya mendongkol bukan main, tak berani ia melanggar inti keharusannya.  

Satu-satunya yang dapat dilakukannya hanyalah mempercepat larinya sambil  menggertak,  iapun  memberi isyarat mata kepada sekalian saudaranya agar meninggikan kewaspadaan. 

Thio Sin Houw tetap bersikap dingin  saja,  malahan  tiba- tiba ia menguap beberapa kali, Lalu tidur berbaring. Kedua tangannya dibuat alas kepala semacam bantal. Matanya menatap atap sambil diselingi menguap lebar-lebar. 

Bukan main mendongkolnya Ceng  It  berlima.  Kalau mereka harus berlari-larian terus, sedangkan lawannya enak- enak bertiduran sambil menguap, bukankah napasnya lambut- laun akan habis sendiri? 

Enambelas orang pimpinan Ceng Cit yang harus berlari- larian pula untuk mengaturkan penglihatan lawan, diam-diam dihinggapi kegelisahan demikian juga, Namun secara naluriah mereka seakan-akan tahu, bahwa lawannya itu lagi melakukan suatu tipu muslihat. Karena itu,  meskipun  napas  mereka lambat laun mengangsur, tak berani mereka lalai sedikitpun.  

Tetapi mereka bukan Ceng It berlima yang sudah  mempunyai masa latihan  puluhan tahun lamanya. Sejam kemudian, keringat mulai mengucur membasahi tubuh dan napas mereka mulai tersengal-sengal. 

Dalam pada itu Sin Houw masih enak saja melakukan peranannya. Berkata di dalam hati: 

"Hm, kuingin tahu sampai kapan mereka bisa bersabar. Apakah mereka benar-benar memiliki napas kuda?" Dan diam- diam ia mencuri pandang untuk melihat gerakan mereka  yang tak kenal henti. Kemudian berpura-pura merapatkan matanya seolah-oleh hendak tidur pulas. 

Ciu San Bin, Cie Lan dan Giok Cu serta ibunya heran menyaksikan kelakuan Sin Houw. Dalam hati mereka merasa lucu, akan tetapi sesungguhnya diam diam mereka cemas dan gelisah. Bagaimana kalau tiba-tiba lawannya  menyerang  dengan berbareng? Masih sanggupkah ia menolong diri? 

Hanya Lauw Tong Seng seorang yang dapat menjajaki maksud Sin Houw, pastilah  adik seperguruan  itu sedang menguji kesabaran lawannya. Disamping itu  hendak memancing kelengahannya pula. walaupun begitu, perbuatan adik seperguruan itu memang terlalu berani. Bahkan suatu keberanian yang melampaui batas. Kalau saja lawannya menyerang dengan mendadak, apakah dia sanggup terbang menjangkau atap gedung untuk menyelamatkan diri? 

Pada saat itu, Ceng it benar benar tidak bersabar lagi. Diam-diam ia bersiap hendak menyerang apabila memperoleh waktunya yang baik. Manakala Sin Houw tenggelam dalam keasyikannya sendiri, tiba-tiba  ia  memberi  isyarat  kepada Ceng Go dengan kibasan tangan kirinya.  

Empat batang golok tahu-tahu menyambar dengan mendadak. itulah golok terbang Ceng Go yang sudah terkenal sejak belasan tahun yang lalu. 

Ciu San Bin, Cie Lan, Giok Cu dan Lauw Tong Seng kaget sampai memekik tertahan. sedangkan ibunya Giok  Cu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya,  karena tak sampai hati menyaksikan peristiwa itu, Betapa tidak, karena  ampat batang golok terbang itu membidik sasarannya  dengan jitu sekali. 

Sebaliknya pihak Ceng It semuanya bersorak kegirangan. Pikir mereka, matilah pemuda itu, empat batang golok terbang Ceng Go menancap di punggung. Beberapa orang anggauta barisan pertahanan Pat-kwa tin sampai menghentikan larinya. Bukankah musuhnya sudah tidak berdaya? 

Tetapi mereka tidak pernah menduga, bahwa  tubuh Sin Houw terlindungi baju sakti pemberian Bok-siang tojin  yang tidak mempan oleh senjata tajam macam apapun juga.  Tiba- tiba saja Sin Houw melesat bangun.  

Dan empat batang golok runtuh bergelontangan  di atas lantai. Pada detik itu pula, Sin Houw berkelebat melintasi mata rantai penjagaan Ceng It berlima yang masih tertegun mengawasi akibat sambaran golok yang mengenai serangannya.  

Tahu-tahu terdengarlah jerit lengking Kun Jie - ternyata ia kena tamparan Sin  Houw dan  melontakkan darah  segar dengan segera. selagi begitu, tubuhnya kena terangkat tinggi- tinggi dan terlempar keluar dari garis pertahanan Pat kwa tin. 

Sin Houw tak sudi berhenti  sampai disitu saja, itulah kesempatan yang sebaik-baiknya, selagi Ceng It berlima tertegun-tegun dan kelima belas orang pembantunya terpaku oleh rasa kaget, ia menghantarkan tangan dan menendangkan kedua kakinya bertubi-tubi, seorang demi seorang roboh tak berkutik. Kemudian dilemparkan ke  dalam  bidang  Ngo-heng tin. 

Ceng Cit dan beberapa anggauta rombongannya sebenarnya memiliki ilmu kepandaian yang tidak rendah. Akan tetapi kepandaiannya seolah-olah  terenggut  oleh  peristiwa yang berada diluar dugaan mereka. Baru saja mereka dilemparkan kedalam gelanggang  dalam keadaan  malang- melintang. Dengan demikian, pecahlah mata rantai Pat-kwa tin dan Ngo-heng tin, karena daerah geraknya kini tertutup oleh mereka yang kena dirobohkan malang-melintang.  Tentu saja Ceng It berlima tidak tinggal diam, selama Sin Houw merobohkan anggauta-anggauta pertahanan Patkwa tin seorang demi seorang. Mereka mencoba bergerak seirama dengan keharusan dan ketentuan gerakan Ngo-heng tin, Tapi gerakan itu terpaksa macet, karena mereka terpaksa sibuk menerima tubuh-tubuh yang dilemparkan Sin  Houw kepada mereka. itulah waktu sebaiknya, bagi Sin Houw selagi mereka sibuk dalam kerepotannya. Terus saja ia lompat menyerang Ceng Go yang tadi begitu gegabah berani melepaskan golok terbangnya. 

Waktu itu, Ceng Go baru saja menerima lembaparan tubuh salah seorang anggauta pertahanan Pat-kwa tin, Tiba-tiba ia melihat berkelebatnya Sin Houw mendekati dirinya, Hatinya kaget setengah mati, ia jadi heran dan kecut hatinya, ketika melihat keempat batang goloknya tidak mempan. Sekarang, ia justru kena ancaman balas dendam. Dengan tergesa-gesa ia melepaskan empat batang golok terbangnya lagi. 

"Mampus,  kau!"  ia  membentak  untuk  membesarkan hatinya sendiri. 

Sin Houw tahu,  dadanya terancam golok terbang.  Akan tetapi ia tidak menghiraukan, karena dadanya terlindung baju sakti. dan keempat batang golok terbang Ceng Go yang tepat mengenai sasaran, runtuh bergelontangan.  

Dan jari-jari tangan Sin Houw menerkam urat tenggorokan. seketika itu juga, Ceng Go roboh dengan melontakkan darah berhamburan. 
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(