Golok Hallintar (Thio Sin Houw) Jilid 08

Jilid 08

MENDENGAR keterangan Ouw Gie Coen  itu,  Cie  siang Gie tertawa terbahak-bahak, sahutnya dengan hati ikhlas: 

"Seorang laki-laki memperoleh kesempatan untuk beramal, dan berbuat kebajikan kepada negara dan bangsa serta umat manusia diseluruh dunia sudahlah cukup apabila  dapat berumur limapuluh tahun saja, sekarang  aku  mendengar bahwa aku bisa berumur tujuh puluh tahun, itulah lebih dari cukup. 

Sebaliknya apa  perlu seseorang hidup sampai seratus tahun lebih, apabila ia tidak mempunyai kebajikan sesuatu? Hidup demikian, hanyalah menghabiskan beras dan sayur- mayur saja." 

Ouw Gie Coen manggut, akan tetapi ia tidak  berkata-kata lagi. 

Melihat hal itu, Cie siang Gie  lantas  mengundurkan  diri, dan Thio Sin Houw mengantarkannya sampai di mulut lembah Ouw-tiap kok. Disini mereka berdua berpisah dengan mengucurkan air mata. Tadi Thio Sin  Houw mendengar  perkataan Ouw Gie Coen, bahwa umur Cie siang Gie kurang enampuluh tahun, ia sangat berprihatin, Katanya di dalam hati: 

"Dengan asal jadi saja aku mengaduk ramuan obat, kini usianya rusak karena tanganku. Biarlah sisa hidupku kupergunakan untuk menekuni segala rahasia ilmu sakti Ouw sinshe, siapa tahu, aku akan memperoleh suatu uraian tentang memperpanjang umur." 

Bagaikan patung tak bernyawa, Thio  Shin  Houw mengawasi kepergian Cie siang Gie,  sampai  bayangan pemuda itu hilang  dari  penglihatan  Kemudian  perlahan-lahan ia memutar tubuhnya, dan balik pulang ke pondok, sepanjang jalan ia menghela napas dengan hati berduka, Alangkah pedih perpisahan itu. 

Perpisahan yang tak dikehendaki sendiri . 

Selagi bermenung-menung, tiba-tiba ia mendengar suara menggelegar, ia mendongak mengawasi udara, awan hitam mendadak saja menutupi seluruh penglihatan. Guruh berdentuman seperti sedang berlomda, dan kilat mengejap- ngejap menusuk cakrawala. Kemudian hujan turun  sangat derasnya. 

Hujan deras yang turun di tengah lembah Ouw-tiap kok, bukan kejadian  yang perlu diherankan. selama berada di pondok Ouw Gie Coen, hampir sepuluh kali ia melihat hujan turun amat deras - akan tetapi, hujan kali  ini  lain  sifatnya.  Hujan itu mengandung lumpur. Tak mengherankan, sebentar saja hujan lumpur itu  telah  membenam  bukit-bukit  yang  berada disekitar lembah Ouw-tiap kok. Dan tanah-tanah yang dibenamnya ikut longsor pula. 

Menyaksikan kejadian itu, Thio Sin Houw terkejut bukan kepalang, segera ia memanjangkan langkah  lari menyingkir Akan tetapi baru saja melangkah beberapa tapak, guntur meledak diatas  kepalanya, Kilat mengejap dan  menembus dadanya, dan ia jatuh diatas tanah.  

Dalam keadaan lupa-lupa ingat, tiba-tiba ia melihat berkelebatan sebongkah batu turun dengan sangat deras dari  angkasa, Tak mengherankan, hatinya jadi tergetar karena rasa takutnya.Pada detik  itu tubuhnya merasa panas dingin tak menentu. Dalam keadaan putus asa, ia memejamkan kedua belah matanya menunggu maut. 

"Bress!" 

Bongkahan batu itu menimpa dadanya, dan ia tersentak bangun dari mimpinya. 

Iapun siuman kembali  

Mimpi tak ubah wanita yang terus menerus membuat teka- teki dunia. setiap orang yang  pernah  hidup  dapat  menceritakan pengalamannya tentang  keajaibannya  mimpi, dan setiap bangsa mempunyai perbendaharaan cerita khayal tentang keragaman mimpi pula, lantaran ajaibnya serta sulit diterima akal. 

Keajaiban dan  tiadanya masuk akal itu, lantaran mimpi persoalan bawah sadar. Dia mempunyai persoalannya sendiri, mempunyai  dunianya  sendiri,  mempunyai  kehidupannya sendiri dan mempunyai persoalannya sendiri. Tetapi anehnya mempunyai hubungan erat sekali dengan dunia kenyataan. 

Seorang laki-laki pernah  bermimpi menjadikan dirinya seorang gadis, tatkala tercebur di dalam telaga iblis. 

Kemudian datanglah  seorang sakti yang bisa menolong mengembalikan jenis  semula,  asal  saja  mau  dikawinkan, Kelak apabila sudah beranak lima orang, ia akan kembali pulih seperti sedia kala. 

Lantaran terpaksa, ia menerima syarat itu, Demikianlah, ia mengandung sampai lima kali berturut-turut. Anak-anaknya terdiri dari dua  laki-laki dan  tiga perempuan. Dan tatkala tersadar dari mimpinya oleh rasa girang, masih sempat ia melihat asap penghabisan lilinnya yang  tadi dihembusnya padam sebelum tertidur. Dengan demikian, mimpinya hanya berlangsung beberapa menit saja, padahal dalam mimpinya ia tercebur didalam telaga sakti, berunding dengan laki-laki sakti, mengandung dan berturut-turut melahirkan lima orang anak,  Paling tidak, kisahnya berjalan selama lima tahun! 

Sebaliknya, seseorang pernah  bermimpi tercebur dalam sumur, ia terbangun lantara rasa kagetnya. inilah mimpi terlalu pendek, dan untuk mimpi sependek itu ia membutuhkan waktu hampir satu malam suntuk. 

Demikian pulalah pengalaman Thio Sin Houw. 

Dalam mimpinya ia bertemu dengan sinshe Ouw Gie Coen, guru Lie Hong Kiauw yang  telah  meninggal  Kemudian berada di dalam pondokannya hampir satu bulan penuh, selama itu, ia bertekun mempelajari  semua himpunan rahasia ilmu sakti ketabiban yang tiada keduanya didunia, Mimpi dalam keadaan pingsan ini, hanya berlangsung selama tiga hari saja, Ajaib! Tetapi yang lebih ajaib adalah  pengalamannya  dalam  mimpi itu. 

Siapapun tidak akan percaya, bahwa  Thio Sin  Houw dikemudian hari akan mengenal segala rahasia ilmu sakti ketabiban, lantaran mimpinya itu. Lie Hong Kiauw yang mendengarkan tutur  katanya, berkali-kali menghela  napas lantaran herannya. 

Gadis dusun ini lantas mengujinya dengan pertanyaan- pertanyaan sulit, dan Thio Sin Houw dapat menjawab dengan tepat sekali. Malahan anak itu pandai mengemukakan  soal- soal sulit, yang Lie Hong Kiauw terpaksa harus berpikir keras sebelum memperoleh jawabannya. 

Demikianlah, selama dua  tahun Sin Houw dirawat  Lie Hong Kiauw, selama itu Cie siang Gie sudah dapat disembuhkan Tatkala berpamit, kejadiannya mirip  seperti dalam mimpinya, Anak itu mengantarkan jauh-jauh, lalu balik pulang ke pondokan Lie Hong Kiauw seorang diri, Hanya saja waktu itu tiada  hujan lumpur atau kilat mengejap,  yang membuat ia tersadar dari mimpiriya, sebaliknya alam bahkan nampak cemerlang sekali.  

Langit terang-benderang, angin meniup sejuk dan bunga- bunga Pek-cu hwa Lie  Hong Kiauw sedang merekahkan bunga-bunga birunya yang indah.  Tatkala Thio Sin Houw memasuki usia lima belas  tahun, pada suatu hari Lie Hong Kiauw menemukan  sesuatu  yang aneh sekali, yang terjadi didalam tubuh anak itu, Beberapa kali  ia mencoba kepekaan urat-urat Thio Sin Houw, akan tetapi ternyata urat-urat Thio Sin  Houw  seperti  tiada  berperasaan lagi. 

Gadis itu mencoba menyelami dan  menggunakan  cara- cara lain yang lebih cermat, akan tetapi  betapapun  dia berusaha - racun  Hian-beng  Sin-kang  yang  mengeram didalam sumsum Thio Sin  Houw sama sekali  tak dapat dikeluarkan. Belasan hari lamanya, Lie Hong Kiauw men cari sebab-sebabnya, namun masih saja gelap baginya. 

Lie Hong Kiauw seorang gadis dusun pendiam, Hampir tiga tahun Thio Sin Houw bergaul dengan gadis  itu  akan  tetapi boleh dikatakan tak pernah  berbicara berkepanjangan.  Dia bekerja sendiri, dan memecahkan persoalan-persoalannya sendiri pula, Pada hari itu, karena tak tahan lagi menghadapi teka-teki yang masih gelap baginya, terpaksalah ia minta keterangan kepada Thio Sin Houw. Katanya sambil menghela napas: 

"llmu sakti kakek gurumu memang sakti sekali, akan tetapi rupanya dalam hal ilmu ketabiban beliau masih sangat kurang. Boleh dikatakan tiada berpengetahuan sama sekali. itulah sebabnya ia malahan membuat celaka dirimu.  Jelas  sekali, kau terkena racun jahat Hian-beng Sin-kang,  namun  dia bahkan membantu menembusi jalan darah  mu sehingga seluruh urat-nadi di dalam tubuhmu menjadi terbuka semua. Benar-benar hal itu membuat dirimu celaka." 

Thio Sin Houw kenal watak Lie Hong Kiauw,  Biasanya gadis itu diam dan  tenang serta tak mengacuhkan segala kejadian diluar dirinya, sekarang ternyata dia menggunakan kata-kata yang agak keras. jelaslah bahwa gadis itu menyembunyikan rasa marahnya. Maka  buru-buru  ia menyahut: 

"Itulah perbuatan Cie-kong Taysu, bukan kakek guruku."  Meskipun Lie Hong Kiauw gadis dusun yanq pendiam, dan ketiga saudara seperguruannya  berhati  busuk,  namun  Thio Sin Houw berkenan padanya, ia  menganggap Lie Hong Kiauw tak ubah seperti saudara perempuannya sendiri maka dengan tulus ikhlas ia menceritakan pengalamannya  sejak  kanak kanak sehingga datang ke rumah perguruan kakek gurunya, ia mengenal berbagai cabang  ilmu silat berkat warisan orang tuanya. 

Ayahnya mewarisi ilmu silat  aliran  Boe-tong  pay, sedangkan ibunya mewarisi ilmu silat dari Si Tangan Geledek Lie Sun Pin yang menjadi kakek luarnya, dengan jelas pula ia menceriterakan bagaimana tatkala ia bertemu dengan seorang yang menamakan dirinya Cie-kong Taysu di kuil Siauw-lim sie. 

Dahulu, tatkala Thio Sin Houw di  bawa  masuk  ke  dalam kuil Siauw lim sie, ia kena kebasan tangan salah seorang pendeta sehingga pulas tertidur, Akan tetapi berkat  ilmu warisan ibunya, yang justeru bertentangan dan berlawanan dengan ilmu sakti aliran Siauw-lim pay, begitu  kena  kebut lantas saja terjadilah suatu perlawanan yang wajar  dan  Thio Sin Houw tersadar dari tidurnya ! Dasar ia seorang  anak  cerdas, berpura-puralah ia masih tertidur pulas. 

Namun dengan diam-diam ia mendengarkan percakapan antara beberapa orang pendeta. 

Karena pembicaraan itu, tahulah  Thio Sin  Houw bahwa kemudian ia dibawa menghadap Cie-kong Taysu. Masih teringat olehnya akan kata-kata Cie-kong Taysu yang galak: 

"Kau siapa dan  dari mana datangmu tak perlu aku menanyakan..." 

Suara itu datang dari balik dinding,  suaranya  sama sekali tak mirip suara seorang pendeta yang saleh, Kesannya seolah-olah ia sedang  berhadapan dengan  seorang  algojo yang hendak menjatuhkan golok  besarnya,  namun  dia bersikap mendengarkan saja. Kata orang itu lagi: 

"Duduklah dan dengarkan  baik-baik,  Aku  akan menguraikan inti sari ilmu sakti berdasarkan Kiu-im Cin-keng  warisan Tat-mo Couwsu, pendiri aliran Siau-lim, Kau sanggup mengingatnya atau tidak tergantung kepada nasibmu belaka, karena aku hanya menguraikan sekali saja, Bagaimana? Apa kau sudah siap? Nah, aku akan mulai " 

Sejak semula Thio Sin Houw tertarik perhatiannya kepada suara orang yang katanya bernama Cie-kong Taysu, suara itu datang dari balik dinding, sebenarnya hal itu tak  perlu diherankan, setiap tokoh-tokoh sakti dapat melakukannya. Hanya yang membuat Thio Sin  Houw tercengang adalah, bahwasanya orang itu dapat berbicara dengan wajar saja, seolah-olah sedang berhadap-hadapan muka.  

Thio Sin Houw yang sudah berpengalaman  banyak, bertemu dan berbicara dengan tokoh-tokoh sakti yang mengejar-ngejar ayah-bundanya, diam-diam tercekat hatinya. Benar-benar dia merupakan tokoh sakti yang tiada taranya ! 

Sementara itu setelah selesai melakukan tugasnya, Cie- kong Taysu menanyakan apakah Sin Houw sanggup mengingatnya atau tidak. Untuk membesarkan hati Cie-kong Taysu, maka Thio Sin Houw lantas saja menyahut: 

"Semua uraian Taysu, sudah dapat kuingat dengan baik." Mendengar ucapan itu, orang yang menamakan diri Cie-

kong Taysu terkejut segera berkata menguji: 

"Coba! Aku ingin mendengar!" 

Tanpa mempunyai prasangka buruk sedikitpun, Thio Sin Houw mengucapkan kembali ajaran-ajaran Cie-kong Taysu dengan lancar diluar kepala, Dari awal sampai akhir ternyata sama sekali tiada salahnya, meski sekalimatpun.  

Tentu saja hal itu membuat  Cie-kong Taysu tercengang bukan main, benar-benarkah didunia ini ada seorang bocah  yang memiliki daya ingatan begitu hebat? ia terpaku beberapa saat lamanya, setelah beberapa saat lamanya, berkatalah dia: 

"Coba, biarlah kulihat urat-urat nadimu. Kudengar suaramu tidak lancar, pastilah kau menderita sesuatu "  Dan apabila kedua tangan Thio Sin  Houw diserahkan kepadanya lewat lubang didinding, mulailah dia menembusi jalan darah bocah itu, Dia seorang tokoh sakti maha hebat himpunan tenaga saktinya luar biasa tingginya. 

Dan dengan himpunan tenaga sakti itulah, dia menembusi seluruh jalan darah Thio Sin Houw. 

Lie Hong Kiauw termenung sejenak setelah  mendengar cerita Thio Sin Houw - tiba-tiba ia berkata setengah berseru: 

"Adik Sin Houw! pendeta  itu sangat  jahat kepadamu!" Keruan saja Thio Sin  Houw terkejut mendengar seruan 

itu,sahutnya gagap: 

"Baik aku maupun dia, tak pernah saling mengenal. Apa gunanya ia mencelakakan diriku?" 

"Coba, apa yang telah dikatakan kepadamu, setelah  ia selesai menembusi jalan darahmu?"  Lie  Hong  Kiauw menegas. 

"Dia mengulangi kata-katanya yang tadi, bahwasanya  dia tak perlu mengenal namaku, tak perlu tahu pula dari mana asalku dan aliranku." jawab Thio Sin Houw sungguh-sungguh, 

Dan mendengar jawaban Thio Sin Houw, maka Lie Hong Kiauw tersenyum, lalu berkata: 

"Hmm! seumpama aku Cie-kong Taysu, akupun tak perlu menanyakan namamu dan dari mana kau datang serta apa golonganmu, Sebab dengan sekali menyentuh tanganmu saja, tahulah aku bahwa dirimu adalah cucu murid Tie-kong tianglo. Bukankah kau pernah menerima pelajaran tata ilmu sakti  aliran Boe-tong melalui ayahmu? Akupun akan segera  tahu pula, bahwa didalam dirimu mengeram racun yang sangat berbahaya, kenapa  dia justeru menembusi jalan darahmu? Bukankah dengan demikian, dia  memang sengaja hendak mencelakai dirimu ?" 

Thio Sin Houw terpukau, selagi ia hendak membuka mulutnya, Lie Hong Kiauw telah mendahului:  "Kakek gurumu  seorang  yang  sangat  jujur.  Diapun agaknya tidak begitu paham akan azas-azas pengobatan. Ia menganggap tabiat semua orang seperti dirinya, sehingga sama sekali tidak mencurigai seseorang." 

"Seumpama Cie-kong Taysu memang benar berbuat demikian, apakah tujuannya? Dan apa pula maksudnya?" Thio Sin Houw berusaha membantah. 

"Apa alasan sesungguhnya, akupun tak tahu, Barangkali karena kau terlalu jujur terhadapnya. Kau bisa  menghafal semua ajarannya di luar kepala tanpa salah sedikitpun, untuk alasan ini saja cukuplah sudah seseorang membunuhmu." 

"Kenapa begitu?" Thio Sin Houw heran. 

"Apakah kau masih ingat, tabiat dan sepak terjak ketiga kakak seperguruanku? seumpama mereka mendengar dirimu dengan tiba-tiba saja dapat menguasai rahasia ilmu ketabiban almarhum guru, pastilah kau bakal dituduhnya telah mencuri buku warisan guru, Merekapun akan segera membunuhmu!" 

"Kata kakek guruku, pendiri aliran Siauw-lim pay adalah Tau-mo Couw-su. Kuil Siauw-lim sie merupakan tempat para pendeta suci, dan aliran  itu  pulalah  pembimbing  para pendekar penegak keadilan. Kupikir, meskipun benar didalam kuil Siauw-lim sie mungkin terdapat  beberapa orang yang berpikiran sempit dan  berjiwa  rendah, namun rasanya tak mungkin berbuat serendah itu.  

Apalagi, kakek guruku mengadakan pertukaran ilmu semacam jual beli. Tukar menukar ini jauh  lebih menguntungkan pihak Siauw-lim daripada pihak Boe-tong " 

"Hmm        aliran   pendekar  penegak  keadilan!"  potong Lie 

Hong Kiauw dengan suara dengki. "Ayah-bundamu dan saudaramu, bukankah mati lantaran keganasan tangan orang- orang yang menamakan diri golongan para pendekar penegak keadilan? Karena menamakan diri golongan ksatria,  lantas saja mereka berbuat semena-mena terhadap para pendekar lainnya yang mereka golongkan sebagai aliran sesat dan liar, Alangkah    kejinya    cara    mereka    mengadili!    Mereka   yang  merasa diri manusia baik-baik, belum tentu semuanya benar- benar manusia yang baik, sebaliknya, mereka yang digolongkan sebagai manusia jahat, belum  tentu  semuanya jahat!" 

Perkataan Lie Hong Kiauw ini benar-benar mengenai lubuk hati Sin Houw. 

Anak itu lantas saja teringat pada peristiwa pembunuhan kedua orang tuanya dan saudaranya diatas gunung Boe-tong san, Memang, ayah-bunda dan saudaranya mati ditangan mereka yang menamakan diri pendekar-pendekar aliran lurus. Tatkala melihat mayat ayah bundanya,  mereka  nampak berduka cita, Tetapi dalam hati mereka masing-masing justeru berkata bahwa kematian ayah-bundanya sudah  pada tempatnya.  

Kesan demikianlah yang selalu teringat dalam lubuk  hati anak itu. Tentu saja terhadap kakek guru dan paman-paman gurunya, belum pernah ia menyatakan kesan hatinya itu,  Kini Lie Hong Kiauw dengan sengaja atau tidak, tiba-tiba membongkar rahasia yang tersimpan dalam lubuk hidupnya. Hatinya lantas saja tergoncang, seperti tersentak ia menangis menggerung-gerung. 

"Sejak zaman dahulu, manusia hidup dan mati sebenarnya tanpa teman dan tanpa kawan.  Hanya,anehnya,  setelah berada bersama-sama didalam  dunia yang sama ini  pula, mereka lantas bersaing  dan  bermusuhan" kata Lie  Hong Kiauw menghibur. "Karena teringat pada peristiwa ayah- bundamu, kau menangis. Akan tetapi bila kau tidakmati, dikemudian hari pasti banyak manusia yang akan membuatmu menangis dan menggerung lagi." 

Mendengar perkataan Lie Hong Kiauw - maka Thio  Sin  Houw lantas berhenti menangis. sambil  mengusap  air matanya, ia menatap wajah gadis dusun itu, Katanya sulit: 

"Jadi orang yang menamakan dirinya Cie-kong Taysu 

itulah sesungguhnya musuh besar ayah-bundaku?" 

Lie Hong Kiauw tidak segera menjawab, ia tersenyum  rahasia seperti biasanya, iapun tidak meladeni lagi. 

Setelah memutar tubuh, ia mengambil cangkulnya dan berangkat ke ladang merawat pohon-pohon bunga Pek-hu cu- hwa, seperti yang dilakukan pada setiap harinya. 

Sampai petang hari, dia baru kembali, wajahnya yang tadi siang nampak suram, kini menjadi  cerah, Katanya dengan suara gembira: 

"Baiklah, Sin  Houw. sebenarnya  hatimu bergolak hebat, lantaran ingin membalaskan dendam ayah-bunda dan saudaramu Sayang, penyakitmu terlalu berat. Meskipun aku masih sanggup mempertahankan jiwamu dengan ramuan obat-ku, akan tetapi untuk memusnahkan racun yang sudah mengeram didalam sum-summu, benar-benar aku merasa tak sanggup.  

Akan tetapi membiarkan dirimu menjadi manusia tak berguna lantaran racun Hian-beng Sin-kang, rasanya kurang tepat pula, Meskipun penyakit itu  yang  berada  didalam tubuhmu tak dapat disembuhkan, namun setidak tidaknya kau harus dapat membalas dendam kepada musuh-musuh ayah- bundamu. Dengan demikian, kau akan membuat arwah ayah- bundamu dan saudaramu tenteram di alam baka. 

Besok pagi, biarlah kau kuantarkan kau kepada seseorang. Dia seorang sakti yang berilmu kepandaian tinggi, aku akan memohon kepadanya agar dia sudi mewariskan ilmu saktinya kepadamu dan selama itu, aku akan menjaga kesehatanmu supaya tidak lumpuh karena racun Hian-beng Sin-kang, Bagaimana ? Apakah kau setuju?" 

Sudah tentu hati Thio Sin Houw girang bukan kepalang. Begitu girang dia sampai menari-nari. Lantas berseru : 

"Terima kasih, kakakku yang manis... terima kasih. Berapa lama aku hidup, memang sejak aku turun  dari  gunung  Boe- tong san, tidak kupikirkan lagi, Akan tetapi  hatiku  selalu gelisah, manakala teringat  arwah-arwah ayah bunda dan saudaraku yang masih menanggung penasaran. Aku berjanji kepadamu dan juga kepada diriku sendiri serta berjanji kepada  hidupku, bahwasanya apabila aku sudah  mewarisi  sekalian ilmu sakti pamanmu, akan cepat-cepat melaksanakan balas dendam ayah-bunda dan saudaraku, " 

Thio Sin Houw tak berani  minta keterangan,  tentang siapakah orang yang dijanjikan itu, selamanya Lie Hong Kiauw bersikap rahasia, akan tetapi dia percaya bahwa gadis  itu bermaksud baik terhadapnya,  Hanya saja gerak-geriknya sangat sukar ditebak. 

Malam itu Thio Sin Houw tak dapat tidur dengan nyenyak, hatinya sangat girang karena janji Lie Hong Kiauw. 

Memang ia sudah mengantongi beberapa ragam ilmu sakti yang diwarisi ayah-bundanya, akan  tetapi  keragamannya masih seperti cakar ayam, sekarang apabila ada seseorang yang sudi memberi petunjuk-petunjuk,  bukankah dia akan menjadi orang yang berarti di kemudian hari?  

Meskipun, mungkin sekali belum boleh diandalkan untuk menghadapi musuh besar ayah-bundanya,  namun setidak tidaknya sudah merupakan tataran persiapan balas dendam. Dan dengan bekal tata ilmu sakti yang teratur itu, dia akan bisa menanjak ke tataran kesempurnaan dikemudian hari. 

Orang yang dijanjikan itu bernama Ouw Sam Ciu, ia bermukim di pinggang gunung Ouw-tiap san bagian timur, orangnya berperawakan pendek ketat. Seperti Lie  Hong Kiauw, ia seorang pendiam pula, saudara seperguruannya berjumlah tiga, Coa Kim Siong, Go Kim Sun  dan  Ho  Thong Cun. 

Satu tahun lamanya Thio Sin Houw menerima dasar-dasar pelajaran mereka berempat, dan selama itu pula Lie  Hong Kiauw tak pernah  meninggalkan  setiap kali habis  berlatih, selalu gadis itu memeriksa keadaan tubuh Thio Sin  Houw, setiap malam ia menggodok ramuan obat-obatan  tertentu, untuk mengikis habis racun Hian-beng Sin-kang. 

Pada suatu hari datanglah Lie Hong Kiauw menghampiri, kata gadis itu dengan berbisik:  "Sin Houw, gurumu menghendaki kau berkemas-kemas sebentar malam. sekarang ini keempat gurumu telah mendahului berangkat, dan  esok pagi kau bersama aku diperintahkan mengikuti jejak mereka." 

"Ke mana?" tanya Thio Sin Houw heran. 

"Gurumu akan selalu meninggalkan tanda-tanda disepanjang jalan, lihatlah , kita berdua  masing-masing diberinya sebatang  panah hijau, Panah hijau  ini  semacam tanda pengenal di jalan." sahut Lie Hong Kiauw cepat. Dan setelah menyerahkan sebatang anak panah kepada Sin Houw,  ia berkata meneruskan: 

"Pada saat ini negara sedang kacau-balau, Cu Goan Ciang telah bertekad hendak mengusir kaum penjajah dari daratan Cina, dan kita ini tergabung dalam laskar perjuangannya untuk menegakkan keadilan. Kau  memang bukan anggota Beng- kauw, akan tetapi keempat gurumu semua termasuk tokoh- tokoh pembantu Cu Goan Ciang,  Terserah  padamu,  apakah kau sudi membantu atau tidak." 

Mendengar kata-kata Lie  Hong Kiauw, Thio Sin Houw termenung, Sejak dirumah perguruan Boe-tong pay, dia telah mengetahui bahwa kakek gurunya dan semua paman-paman gurunya bukan merupakan anggota  Beng-kauw.  Mereka bahkan mencela segala tindakan orang-orang Beng-kauw, dari itu pernah Tie-kong tianglo mengeluarkan perkataan melarang Thio Sin Houw memasuki atau menjadi anggota Beng-kauw, Akan tetapi rasanya tidaklah tercela, apabila kini dia hanya sekedar membantu ke empat gurunya guna menentang kaum penjajah. 

Memperoleh pertimbangan demikian, segera Thio  Sin Houw memberikan jawaban: 

"Ayahku memang murid aliran Boe-tong pay, akan tetapi kalau sekedar membantu gerakan Cu Goan Ciang mengusir kaum penjajah bangsa asing. Kurasa, akupun tidak akan kena damprat kakek guru dan sekalian paman-paman guru. Tegasnya, seumpama aku ini  seorang penumpang perahu,  akan tunduk patuh kepada pemegang kemudinya. Hanya saja tentang panah hijau ini. Benar-benar aku tak mengerti maksudnya." 

Lie Hong Kiauw tersenyum, jawabnya: 

"Meskipun kau kini telah menjadi manusia lain, akan tetapi kau masih tergolong seorang pelajar lemah, Tidak selayaknya kau berkelana turun gunung seorang diri, Karena itu aku diperintahkan untuk selalu menyertaimu, Akan tetapi karena akupun hanya pandai ilmu ketabiban saja, keempat gurumu memandang perlu untuk  memberikan  tanda pengenal pencegah bencana diperjalanan demi  keselamatan  kita berdua." 

Thio Sin Houw memeriksa panah hijau yang berada ditangannya. Dia boleh cerdas, akan tetapi tak dapat menemukan keajaibannya atau kemujija-tannya, Akhirnya  ia mengira bahwa  panah hijau itu  hanyalah  semacam  benda yang membawa alamat baik saja. 

"Baiklah, Hong cici. Aku sangat berterima kasih atas perhatian guru." berkata  demikian,  ia  segera  menyimpan panah hijau itu kedalam bungkusannya. 

 (Oo-dwkz-oO) 

KEESOKAN harinya berbareng  dengan  munculnya matahari ditimur, mereka berdua berangkat dengan naik kuda. Mereka menempuh perjalanan perlahan-lahan, dan menjelang petang hari tibalah mereka disebuah kampung. 

"Kita singgah disini," kata Lie Hong Kiauw. 

Mereka lantas mencari tempat pemondokan untuk dapat beristirahat satu malam penuh. Dan pada esok harinya mereka meneruskan perjalanan kembali. 

Mereka melewati dusun-dusun yang pernah  dirampoki tentara penjajah, Banyak penduduknya yang mati terbunuh. 

Menyaksikan bekas-bekas kekejaman tentara penjajah bangsa Mongolia, Thio Sin Houw jadi teringat akan nasibnya  sendiri. Lantas saja ia mengaburkan  kudanya,  untuk  melupakan kesan-kesan nya itu. 

Waktu itu tengah hari tepat, Dari arah depan kelihatan seorang penunggang kuda mendatangi dengan mengaburkan kudanya secepat angin, debu tebal  membubung keudara, Tatkala berpapasan, orang itu berpaling, Akan tetapi baik Thio Sin Houw maupun Lie Hong Kiauw bersikap acuh tak acuh. 

Baru mencapai perjalanan  lima atau enam li, mereka mendengar derap kaki kuda datang dari arah belakang, 

Makin lama derap itu terdengar makin nyata. Tatkala Thio Sin Houw berpaling ia melihat seorang penunggang  kuda beroman gagah. Nampak memakai ikat kepala hijau. 

"Aneh sekali gerak-gerik orang itu!" kata Thio Sin Houw setelah penunggang kuda itu melintasi. "Bukankah yang berpapasan dengan kita tadi dia juga?" 

Memang, orang itu juga yang tadi datang dari sebelah depan, dan berpaling sewaktu berpapasan. Lie Hong Kiauw sebenarnya memperhatikan pula dengan diam-diam, ia tidak menjawab pertanyaan Thio Sin Houw, sebaliknya dia berkata: 

"Sebentar lagi kalau dia balik kembali, kau larikan kudamu secepat-cepatnya." 

Thio Sin Houw terperanjat. Heran ia minta keterangan: "Apa? Apakah dia penyamun?" 

"Kau lihat sajalah! Lima li lagi didepan kita, pasti akan 

terjadi suatu perkara." kata Lie Hong Kiauw. "Dan kita  tidak akan dapat  mundur  lagi,  Rasanya,  satu-satunya  jalan hanyalah mencoba menerjang untuk meloloskan diri." 

Mendengar perkataan Lie Hong Kiauw, hati Thio Sin Houw menjadi  gelisah,  ia  menatap  wajah  Lie  Hong  Kiauw     gadis 

itupun  nampaknya tegang  sendiri    sebenarnya ingin Sin Houw 

minta penjelasan lagi, akan tetapi melihat wajah  Lie Hong Kiauw begitu tegang, ia membatalkan niatnya. Dan dengan berdiam diri, ia mengikuti kuda Lie Hong Kiauw.  Kira-kira empat li lagi, tiba-tiba terdengarlah mengaungnya anak panah ditengah udara, Kemudian nampak  tiga penunggang kuda melintang di tengah jalan. Melihat mereka, Thio Sin Houw segera maju kedepan, ia mengangguk hormat, lalu berkata. 

"Aku bernama Thio Sin Houw, dan kakakku ini bernama Lie Hong Kiauw. 

Kami berdua sedang melakukan perjalanan jauh, sama sekali kami tidak  membawa harta  benda yang  berharga, Apakah kami berdua diperkenankan lewat?" 

Walaupun masih  merupakan  pemuda  tanggung,  akan tetapi Thio Sin Houw mempunyai pengalaman banyak dalam riwayat hidupnya, itulah pengalamannya -tatkala selama terus- menerus dikejar-kejar lawan. Dia pandai membawa diri. 

Karena itu berhadapan dengan mereka bertiga yang merintang ditengah jalan, segera ia berkata merendah. 

Seorang diantara mereka tertawa melalui  dadanya, sahutnya: 

"Kami kekurangan uang, karena itu tolong pinjamkan kami uang seratus tail saja." 

Thio Sin Houw tercengang, ia berpaling kepada Lie Hong Kiauw, minta pertimbangan. 

Dalam pada itu, sipenunggang kuda yang berikat kepala hijau, yang tadi pertama kali mereka berpapasan, membentak: 

"Kami hendak pinjam uang seratus tail,  kamu  mengerti atau tidak?" 

Mendengar bentakan itu, Thio Sin Houw  menjadi  gusar, Tak sudi ia kalah gertak, sahutnya membentak pula: 

"Sudah belasan tahun aku berkelana, belum pernah aku bertemu dengan orang yang sekurang ajar kalian!" 

Mendengar bentakan  Thio Sin Houw, mereka bertiga tertawa terbahak bahak. Alangkah lucu ucapan anak itu, sudah  belasan tahun berkelana? 

Memang, meskipun apa yang dikatakan Thio Sin  Houw sedikit banyak mengandung kebenaran, akan tetapi mengingat usianya siapapun  tentu  tidak akan percaya.  Orang berikat kepala hijau itu lantas berkata lagi: 

"Baiklah, taruh kata kau sudah belasan tahun berkelana seorang diri, Apakah kau pernah melihat seorang yang bisa memanah seperti aku?" 

Setelah berkata demikian, ia mengambil gendewa dan peluru. Dengan beruntun ia melepaskan tiga butir  peluru  ke atas udara, setelah itu ia melepaskan anak panahnya. Dan ketiga peluru itulah sasarannya. 

Jitu sekali bidikannya, Ketiga peluru  itu pecah  menjadi enam bagian dan runtuh berbareng meluruk ke bawah. 

Thio  Sin Houw  ternganga-nganga  menyaksikan kepandaian orang itu, justru demikian, tiba-tiba lengan kirinya terasa sakit, Ternyata ia terkena panah dengan tak setahunya. 

Pada saat itu orang ketiga yang berperawakan pendek dan berewok, tiba-tiba menyandarkan cemitinya.  Dengan  sebat Thio Sin Houw menggerakkan kudanya  untuk  mengelakkan diri, ia berhasil menggagalkan serangan orang itu. 

Akan tetapi selagi demikian, mendadak cemeti itu berbalik arah, Kini melilit golok yang diselipkan diping 

gangnya. Dan berbareng dengan gerakan itu, tiba-tiba Thio Sin Houw melihat berkelebatnya sebatang pedang  memapas tali bungkusannya  yang  berada  di  punggungnya.  Kena babatan pedang, bungkusannya jatuh  diatas  tanah,  Dan setelah mengambil bungkusan itu dengan cemiti-nya, orang itu lantas mengaburkan kudanya. 

"Terima kasih!" kata penunggang kuda yang berikat kepala hijau sambil tertawa senang,  Dan  setelah  berkata  demikian, dia lantas menyusul temannya, sedang orang yang berada di sampingnya, mengeprak kudanya pula, sebentar saja ketiga penyamun itu hilang dari penglihatan.  Thio Sin Houw menjadi sangat lesu, ia sangat berduka dan mendongkol. ia merasa diri tiada guna, padahal ia telah belajar tata berkelahi satu tahun lamanya. Namun menghadapi tiga penyamun itu saja, tak dapat ia berbuat sesuatu apa. 

"Mari kita jalan terus!" ajak Lie Hong Kiauw dengan suara tenang. "Masih untung, jiwa kita tidak diarahnya." 

Thio Sin Houw menundukkan kepalanya,  dengan tetap berdiam diri ia mengikuti Lie Hong Kiauw meneruskan perjalanan. 

Kira-kira setengah jam mereka berjalan, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda sangat berisik, Thio Sin  Houw menoleh. Hatinya tercekat, karena yang datang adalah mereka bertiga tadi. Apalagi yang mereka kehendaki? Apakah belum merasa puas telah memperoleh uang? Dan Kini hendak merenggut jiwa? Memperoleh dugaan demikian, bulu kuduk  Thio  Sin Houw bergidik dengan sendirinya. 

Ketiga penyamun itu dapat mengejar Thio  Sin  Houw  dan Lie Hong Kiauw dengan cepat sekali, selagi mereka itu saling memandang dengan wajah  penuh pertanyaan, sekonyong- konyong ketiga penyamun itu melompat dari kudanya masing- masing, lalu membungkuk hormat. Kata orang berikat kepala hijau itu: 

"Akh, ternyata kalian berdua orang sendiri. Maaf, maafkan! Kami tak kenal kalian, sehingga telah berbuat keliru, Harap kalian berdua memaafkan perbuatan kami tadi." 

Si pendek berewok lantas saja menyerahkan kembali bungkusan Thio Sin Houw yang tadi dirampasnya, ia menyerahkan dengan kedua tangannya. Dan Thio  Sin  Houw jadi terheran-heran,  Hatinya  penuh  pertanyaan,  itulah sebabnya tak berani ia menyambuti bungkusannya sendiri. ia berpaling kepada Lie Hong Kiauw minta pendapatnya. 

Ternyata gadis itu memanggutkan kepalanya,  dengan wajah tenang sekali. 

Maka Thio Sin Houw segera menerima kembali  bungkusannya. 

"Perkenankan kami bertiga mengenal nama kalian berdua, agar di kemudian hari kami tidak berbuat keliru lagi." 

"Bukankah tadi kami sudah  memperkenalkan  diri?  Aku Thio Sin Houw, dan kawanku cici Lie Hong Kiauw." sahut Thio Sin Houw, 

Orang berikat kepala  hijau itu tertawa senang,  sambil menegakkan badannya ia menyahut: 

"Nama bagus! Aku sendiri bernama Gouw Cin Kie,  dan kedua temanku ini bernama Gui Cu Liang dan Tan Kim Sun. Kalau tadi siauwtee segera memperlihatkan tanda panah hijau kepada kami, pastilah kami segera mengerti. Untungnya kami bertiga tidak sampai melukai dirimu." 

Mendengar perkataan Gouw Cin Kie, barulan Thio  Sin  Houw mengerti khasiat panah hijau yang dibawanya, sewaktu berkemas-kemas dirumah perguruan,  ia  menyimpannya didalam bungkusannya,  coba, seumpama disimpan  dibalik bajunya, bukankah dia bakal kehilangan bungkusannya yang berisi uang pula? 

"Pastilah kalian berdua hendak mendaki gunung Beng-san, bukan?" menegas Gouw Cin Kie. "Kalau  begitu mari kita berjalan bersama-sama. saudara kita berdua,  Gui  Cu  Liang dan Tan Kim Sun  berasal dari Su-cwan utara,  Meskipun demikian, mereka bisa menyesuaikan diri." 

Gouw Cin Kie berbicara dengan nada ramah, akan  tetapi hati Thio Sin Houw tetap berbimbang  hati. Betapapun juga melihat mereka adalah sebangsa penyamun, sedangkan kata- kata penyamun tak dapat dipercayai penuh. Maka jawabnya mengelak: 

"Kami berdua tak mempunyai tujuan tertentu." 

Mendengar jawaban Thio Sin Houw, Gouw Cin Kie nampak tersinggung. wajahnya berubah merah, katanya menegur: 

"Kami bertiga datang dari jauh, menempuh perjalanan  ribuan li. Kami telah berjalan siang dan malam,  lantaran  tiga hari lagi himpunan laskar perjuangan Cu Goan Ciang akan mengadakan pertemuan besar diatas gunung  Beng-san. Kenapa kalian berdua yang sudah berada dekat dipinggang gunung Beng-san, tidak sudi sekalian mendaki?" 

Pilu juga hati Thio Sin  Houw mendengar teguran  itu. Dengan sesungguhnya, ia tak mengerti tujuan perjalanannya, Disepanjang jalan, Lie Hong Kiauw selalu membungkam mulut dan tak pernah memberi keterangan. Akan tetapi dia memang seorang pemuda  yang  berpembawaan  dapat  menangkap suatu keadaan dengan cepat sekali. Maka dengan suara wajar  ia berkata: 

"Apakah pertemuan itu sangat penting artinya?" 

"Tentu saja!" sahut Gouw Cin Kie  dengan suara tetap mengandung kegusaran. "Bukankah kita diharuskan datang menghadiri pertemuan itu, untuk menghormati panji-panji Beng-kauw?" 

Kembali Thio Sin  Houw bingung. Meskipun dia seorang pemuda yang cerdas sekali, akan tetapi pergaulannya dalam percaturan hidup masih sempit. 

Namun dasar seorang pemuda cerdas, lantas  saja ia memutuskan: 

"Kita baru saja bertemu dan berkenalan, karena itu  wajib aku merahasiakan tujuan perjalanan. Bukankah begitu? Mari, mari kita berjalan bersama sama." 

Mendengar perkataan Thio Sin Houw maka Gouw Cin Kie lantas memanggut-manggut penuh pengertian, wajahnya berobah menjadi girang, Dia tertawa lebar sambil menyahut: 

"Memang telah kuduga, bahwa siauw tee hendak menyembunyikan maksud sebenarnya Bagus. Akupun akan 

bersikap demikian, terhadap  seseorang yang belum  pernah kukenal." 

Sampai disitu, berlima mereka  berjalan  bersama-sama untuk mendaki gunung Beng-kauw, Gouw Cin Kie memimpin  perjalanan, setiap kali berjumpa dengan rombongan- rombongan atau gardu-gardu penjagaan, ia hanya menggerak-gerakkan tangannya saja. Gerakan gerakan tangannya ternyata besar khasiatnya,  rumah-rumah disepanjang jalan  bersiaga  penuh  untuk  menerima kedatangan mereka berlima, Juga rumah-rumah makan yang disinggahi tak sudi menerima  pembayaran,  perlayanan terhadap mereka berlima sangat manis sekali. 

Selang dua hari, tibalah mereka diatas pinggang gunung Beng-kauw sebelah utara, Diatas gunung ini, barulah Thio Sin Houw mengembarakan penglihatannya  dengan  bebas merdeka. Di segala penjuru ia melihat ratusan orang berlerot tiada putusnya mendaki gunung. 

Pakaian mereka warna-wami, cara dandanannya berbeda- beda pula, perawakan mereka pun bermacam-macam.  Ada yang gemuk, ada yang kurus, ada yang jangkung  dan  ada yang pendek. sebaliknya yang boleh dikatakan sama adalah mereka semua memiliki gerakan gerakan yang gesit, Diantara mereka banyak yang sudah kenal dengan Gouw Cin Kie,  Gui Cu Liang dan Tan Kim Sun. 

Thio Sin Houw dan Lie Hong Kiauw  bersikap  tidak  ingin tahu dengan rahasia mereka, itulah sebabnya, selagi mereka berbicara, mereka berdua sengaja berdiri jauh-jauh, walaupun demikian pendengaran mereka yang tajam dapat menangkap logat bahasa orang-orang yang mendaki gunung Beng-san itu.  

Ternyata mereka datang dari berbagai   pelosok  negeri Cina, dari bagian barat, selatan, utara  dan timur. Mengapa mereka mendaki gunung  Beng-san  beramai-ramai? sebenarnya Thio Sin Houw sangat ingin  memperoleh keterangan dari Lie Hong Kiauw, akan tetapi tatkala itu  Lie Hong Kiauw tiba-tiba bersembunyi dibalik sebuah batu besar, sewaktu muncul kembali, ia sudah mengenakan pakaian laki- laki. 

Malam itu Gouw Cin Kie membawa rombongannya bermalam di kaki gunung,  Dan  keesokan  harinya,  ia memimpin rombongannya mendaki gunung Beng-san sebelah  utara, selagi  bersantap,  tiba-tiba terdengarlah seruan orang sambung menyambung: 

"Cu  kauwcu datang!" 

Mendengar seruan sambung menyambung  itu, delapan orang berdiri serentak. Kemudian berlari-lari menyambut kedatangan orang yang diserukan. 

"Mari kita lihat!" ajak Thio Sin Houw. 

Lie Hong Kiauw tidak membantah. segera  diikutinya pemuda itu dengan langkah panjang. 

Seperti berbaris, mereka yang mendaki gunung Beng-san berdiri dengan rapih dan tenang,  Tak  lama  kemudian terdengar derap kaki kuda, dan muncullah seorang pemuda berumur kira kira tiga puluh tahunan. Kudanya berjalan perlahan-lahan, Manakala  melihat  jumlah  penyambutnya terlalu banyak, segera ia melompat turun dari kudanya. 

Seorang berperawakan tinggi besar, muncul diantara gerombol orang. 

Orang itu segera menyambut kuda Cu Goan Ciang, sang Kauwcu, segera Cu Goan Ciang menyerahkan kendalinya, dia sendiri lantas berjalan dan memanggut hormat kepada para penyambut penyambutnya. Melihat Thio Sin Houw yang masih berkesan kanak-kanak, ia tertegun  sejenak.  Kemudian bertanya dengan manis: 

"Siapakah saudara ini?" 

"Aku bernama Thio Sin  Houw," sahut Thio Sin  Houw pendek. "Apakah ciangkun, yang disebut Kauwcu Cu Goan Ciang?" 

"Akh, jangan memanggil aku ciangkun," potong Cu Kauwcu dengan tertawa ramah. "panggil saja  namaku,  Cu  Goan Ciang." 

Thio Sin Houw tertarik akan sikap kauwcu itu yang sopan, segera ia membungkuk hormat. Dan dengan tersenyum, Cu kauwcu berjalan mengarah penginapan yang telah disediakan.  Thio Sin Hoiiw benar-benar tertarik hatinya, selagi tertegun-tegun, tiba-tiba Lie Hong Kiauw meniup telinganya, Kata gadis itu: 

"Dia seorang kauwcu,  kita  berdua  bukan  apa-apa. Rupanya dia sangat berpengaruh, inilah  kesempatan baik apabila kau hendak bersahabat dengan dia. Kalau kau bisa berbicara dari hati ke hati dengan Cu kauwcu, setidak tidaknya martabatmu akan naik " 

Geli hati Thio Sin Houw mendengar perkataan Lie Hong Kiauw. Akan tetapi pikirnya gadis itu menarik hati pula, Lantas saja ia menyusul ke rumah penginapan, mencari Cu kauwcu. 

Didepan kamar Cu kauwcu, ia  sengaja  berbatuk-batuk kecil. Kemudian mengetuk daun pintunya perlahan lahan. 

Ia mendengar suara seseorang sedang membaca buku di dalam kamar itu, Begitu pintu diketuk, suara orang itu berhenti. Kemudian pintu terbuka, dan muncullah Cu kauwcu dengan wajah berseri-seri. 

"Dalam rumah penginapan sesunyi ini, Thio hiantee datang kemari. inilah bagus!" kata Cu kauwcu dengan suara ramah. 

Thio Sin Houw masuk. Dan nampak  didepan  matanya sejilid buku dan sehelai peta diatas meja, itulah sehelai peta sebuah kerajaan baru, Khawatir ia bakal dicurigai Cu kauwcu, cepat cepat ia mengalihkan pandangnya,  Dan  pada saat itu, Cu kauwcu minta keterangan kepadanya asal-usul dirinya. 

Thio Sin Houw tidak menyembunyikan riwayat hidupnya. Dengan terus terang ia berkata, bahwa dirinya adalah putera Thio Kim San yang menemui ajalnya diatas gunung Boe-tong. Kemudian dia kini berada dipinggang gunung Beng-san, untuk menyembuhkan penyakitnya. 

"Oh...!" Cu Goan  Ciang  berseru  tertahan.  "Ayahmu seorang pendekar golongan putih bersih. Kami juga menghargainya " 

Mendengar Cu kauwcu menghargai ayahnya, hati Thio Sin Houw tergerak.  Lantas saja ia merasa dekat sekali dengan kauwcu itu, dengan kata-kata merendah ia menyahut: 

"Penghargaan kauwcu terhadap almarhum ayah  kami, sangat mengharukan hatiku. Akan  tetapi tak berani aku menerima penghargaan kauwcu yang terlalu tinggi." 

Cu Goan Ciang tertawa lebar. Katanya: 

"Thio hiantee, inilah yang dinamakan jodoh. Kita  bisa bertemu disini dan berbicara dari hati ke hati, Besok hiantee akan mendaki gunung pula, bukan? Biarlah besok kuperkenalkan kepada segenap para hadirin  disini.   .  Kau dapat membuktikan sendiri, bahwa mereka semua mengenal nama ayahmu dan menghargai kegagahannya.Kutanggung hiantee akan merasa gembira sekali." 

Bangga hati Thio Sin  Houw mendengar perkataan Cu kauwcu, segera ia berbicara panjang lebar tanpa segan-segan lagi, ia membicarakan tentang kancah perjuangan, ilmu tata- sakti dan ilmu ketabiban yang dikenalnya dengan baik, Dan mendengar perkataan Thio Sin Houw, diam-diam Cu kauwcu tercengang, pikir Cu kauwcu didalam hati: 

"Anak ini nampaknya luas sekali pengetahuannya, jarang sekali aku menjumpai seorang anak seperti dia.  Anak  seperti dia sangat dibutuhkan  dalam  perjuanganku,  biarlah kubawanya serta didalam pertemuan-pertemuan resmi. Siapa tahu, dikemudian hari ada gunanya," 

Mereka berdua berbicara sampai larut malam. Apabila suasana di situ bertambah sunyi-senyap, barulah Thio Sin Houw kembali ke kamarnya, Lie Hong Kiauw ternyata belum memejamkan matanya. 

Seperti biasanya, ia menunggu kedatangan Thio Sin Houw dengan setia. 

Dan dengan semangat menyala-nyala,  maka Sin  Houw segera menceritakan pengalamannya berada bersama Cu kauwcu, Dan seperti biasanya juga, Lie Hong Kiauw bersikap mendengarkan saja, wajahnya sangat tenang, dan tiada  nampak perubahan atau kesan sesuatu, Entah dia ikut bersyukur lantaran perkenalan itu atau tidak, hanya malaikat dan Tuhan sendiri yang tahu... 

 (Oo-dwkz-oO) 

PADA HARI keempat adalah hari yang dijanjikan Cu Goan Ciang hendak membawa Thio Sin Houw untuk diperkenalkan dengan para pendekar pendukung  gerakannya,  atau para anggauta Beng-kauw yang datang dari segala penjuru. 

Sebelum bertemu dengan Cu Goan Ciang, Thio Sin Houw dan Lie  Hong Kiauw dibawa  Gouw Cin Kie  mendaki dan menuruni bukit-bukit tak keruan juntrungnya, Kadang-kadang setelah sampai di pinggang gunung, dibawanya turun kekaki gunung kembali. Kadangkala melintasi  pedusunan  dan lamping bukit. Dan seperti kanak-kanak belajar berjalan, ia dibawa pula beringsut-ingsut dari keblat ke keblat, walaupun hati Thio Sin Houw kerapkali merasa kesal, namun tahulah dia bahwa maksud Gouw Cin Kie untuk menyesatkan penglihatan orang-orang tertentu yang tidak dikehendaki. 

Tatkala Thio Sin  Houw hendak berangkat meneruskan perjalanan mendaki puncak gunung, Lie Hong Kiauw datang menghampiri dan menyerahkan sebuah kantung berisi ramuan obat, Kata gadis itu: 

"Didalam pertemuan besar ini, mungkin kita berdua akan duduk berpisahan, Maka kau bawalah kantong obat pemunah racunmu ini. setiap kali dirimu merasa akan kambuh kembali, cepat-cepatlah menelan tiga butir." 

"Cici akan ke mana?" Thio Sin Houw bercekat. 

"Aku? Akupun berada diantara para hadirin. Hanya saja, rasanya akan mengganggu dirimu, sebab pastilah Cu Kauwcu akan membawamu duduk berdampingan. Kalau akupun duduk mendampingimu - akan menimbulkan berbagai pertanyaan. 

"Kenapa begitu?" Thio Sin Houw tidak mengerti. 

Lie Hong Kiauw tidak menjawab. ia hanya tersenyum. Kemudian berangkat meninggalkan kamarnya.  Menjelang tengah hari, sampailah mereka dipinggang gunung, Belasan orang berdiri menyambut dengan nampan penuh hidangan. setelah berhenti sebentar untuk  bersantap dan minum serta beristirahat pula, mereka yang mendaki gunung meneruskan perjalanannya kembali. 

Sejak itu terus-menerus terdapat gardu-gardu penjagaan yang ketat, Mereka bertanya dan memeriksa sangat sopan. Tatkala giliran memeriksa tiba pada Thio Sin Houw dan  Lie  Hong Kiauw, Cu  Goan Ciang  hanya  memanggutkan kepalanya.  

Lantas saja mereka diidzinkan melintasi penjagaan tanpa pertanyaan lagi, malahan barisan penjaga bersikap hormat terhadap rombongannya. 

"Sungguh berbahaya " kata Thio Sin Houw didalam hati. 

Makin sadarlah dia, betapa besar  pengaruh  Cu  Goan Ciang, ia bergirang dan bersyukur didalam hati, karena semalam dapat berbicara secara akrab sekali Hanya saja 

belum dapat menduga-duga apa yang bakal terjadi nanti. 

Tatkala tiba waktu magrib,  sampailah  mereka  diatas gunung, Ratusan orang berdiri dan berbaris dengan  rapih, mereka menyambut kedatangan para tetamu. sikap mereka angker, tetapi begitu melihat kedatangan Cu  Goan  Ciang, ketua perkumpulan Beng-kauw, lantas maju menyambut. Kemudian dengan bergandengan tangan,  mereka  berdua masuk ke dalam sebuah rumah pesanggrahan yang besar. 

Dikiri-kanan pesanggrahan itu terdapat berpuluh-puluh bangunan yang berpencaran letaknya, Yang paling   besar adalah rumah tadi, yang dimasuki oleh Cu Goan Ciang, Sama sekali tidak ada panggung atau pagar-pagar ketat dan kokoh, sehingga keadaannya tiada mirip dengan sarang penyamun. Diatas bangunan bangunan itu terpancang sehelai  bendera berwarna hijau dan kuning, itulah bendera yang disebut orang sebagai bendera Beng-kauw. 

Bagi Thio Sin Houw, semua penglihatan itu merupakan pengalaman baru.  Belasan tahun ia berkelana, akan tetapi baru kali inilah ia merasa berkumpul dengan ratusan manusia yang nampaknya bersatu padu. Dengan penuh selidik ia mengamat-amati wajah setiap orang yang dilihatnya, mereka semua bergaul rapat sebagai sahabat. 

Akan tetapi, wajah mereka nampak  berduka.  inilah  aneh! Lie Hong Kiauw yang berpakaian sebagai seorang 

pemuda, mendapat sebuah kamar bersama Thio Sin Houw, Karena mereka berdua termasuk dalam rombongan Cu Goan Ciang, pelayanannya lebih sempurna, Akan tetapi hidangan yang disediakan berupa nasi putih dan sayur mayur belaka, sama sekali tiada daging atau ikan. 

"Cici," kata Thio Sin Houw, "Guru  katanya  berada  disini, dan kita kinipun berada disini pula, Mengapa guru tidak Cepat- cepat menemui kita? Apakah mereka  justeru  tidak menghendaki pertemuan dengan kita?" 

Lie Hong Kiauw hanya mendengus, sama sekali ia tidak menjawab atau memberi keterangan. Thio Sin Houw  yang kenal tabiat Lie Hong Kiauw, tak mau mendesak pula, Akan tetapi dengan demikian ia  jadi  bermenung-menung  seorang diri, Kepalanya penuh teka-teki yang tak dapat segera menemukan jawabannya. 

Pada keesokan harinya, Lie Hong Kiauw dan Thio  Sin  Houw dibangunkan sebelum pagi hari tiba, setelah mandi dan makan pagi, mereka berdua berjalan jalan menyusuri tepi kepundan gunung, Kali ini mereka melihat orang-orang yang cacad tubuhnya, ada yang  hanya  memiliki  sebelah  tangan atau sebelah kaki dan  wajah-wajah  mereka bekas  kena sabetan senjata tajam, itulah suatu bukti, mereka baru saja datang dari medan pertempuran. Sebenarnya ingin Thio Sin Houw memperoleh keterangan tentang diri  mereka,  akan tetapi Lie Hong Kiauw segera membawanya pergi. 

Pada siang sampai petang hari,  barang hidangan yang dibawa masuk kedalam kamar melulu sayur-mayur belaka, 

Semua ini kian menimbulkan berbagai pertanyaan didalam  hati Thio Sin Houw, katanya didalam hati ? 

Siapakah mereka yang cacad tubuhnya itu?  Kenapa sekalian hadirin berwajah  muram?  Mereka  nampaknya bergaul sangat rapat, akan tetapi selalu membungkam  mulut, Dan apa maksudnya hidangan yang disajikan hanya sayur- mayur belaka? Memang  diatas gunung  sukar  mendapat daging. Tetapi pertemuan " secara besar~besaran ini, tidak terjadi secara kebetulan belaka, Mestinya jauh sebelumnya, mereka sudah bersiap-siap. Masakan tiada  terdapat seiris daging saja?" 

Dan malam seperti kemarin, tiba lagi. seseorang mengetuk pintu kamar Thio Sin Houw, berkata dari luar ambang pintu: 

"Cu Kauwcu mengundang siauwhiap Thio Sin Houw, untuk menyaksikan upacara pertemuan ini." 

Thio Sin Houw berpaling kepada Lie Hong Kiauw, gadis itu menundukkan kepalanya dengan sikap acuh tak acuh, 

Agaknya jauh-jauh sudah dapat menebak akan adanya undangan ini, katanya: 

"Berangkatlah! jangan lupa, kau bawa pula obat pemunah racun Hian-beng Sin-kang," 

"Dan cici?" Thio Sin Houw menegas. 

"Aku dapat mengurusi diriku sendiri."  jawab  Lie  Hong Kiauw dengan suara dingin. "Kau tak usah memikirkan aku, Percayalah, selama kau berada  disini,  aku tetap mendampingimu!" 

Oleh jawaban itu, hati Thio Sin Houw menjadi tenteram. segera ia mengikuti pesuruh tadi, memasuki sebuah bangunan besar yang berada di tengah-tengah pesanggrahan. 

Cu kauwcu ternyata menunggu  dirinya didepan  pintu pesanggrahan. setelah menggabungkan diri dengan rombongannya, segera Cu kauwcu itu  masuk  ke pesanggrahan. Begitu masuk ke dalam  pesanggrahan, perhatian Thio Sin  Houw terbangun, ia melihat bermacam  macam senjata tertancap diatas tanah semacam pagar, semuanya delapan belas macam. 

Dan masing-masing senjata  menyinarkan   sinar gemerlapan oleh pantulan cahaya lilin yang dinyalakan terang benderang, jumlah orang-orang yang berada didalam pesanggrahan itu kurang lebih tiga ribu orang. inilah  suatu jumlah yang luar biasa, mau tak mau Thio Sin Houw menjadi heran. Kenapa  orang sebanyak itu, bisa berkumpul diatas gunung yang sunyi sepi ini? 

Ditengah ruangan, Thio Sin Houw  melihat  rangkaian gambar sebagai hiasan dinding, setelah diamat-amati sekalian gambar itu memperlihatkan lukisan tentara penjajah Mongolia bertindak sewenang-wenang terhadap orang-orang yang ditangkapnya. Dibawah lukisan itu terdapat  sederet  tulisan yang berbunyi: Semoga Tuhan  menerima arwah pendekar- pendekar peminta bangsa dan negara..." 

Membaca bunyi tulisan itu, hati Thio Sin Houw terkesiap. siapakah mereka  yang disebut sebagai pendekar pencinta bangsa dan negara? pemuda ini belum pernah mendengar peristiwa berdarah yang terjadi di kota raja, Mereka sesungguhnya merupakan para pendekar pecinta negara dan bangsa, yang diculik dan diangkut tentara penjajah  ke  kota raja. Bagaimana nasib mereka hanya Tuhan sendiri yang mengetahui. 

Thio Sin Houw kemudian menebarkan penglihatannya ke semua penjuru, bendera berkibar-kibar menghiasi dinding pertemuan. Terdapat pula berbagai macam alat senjata dan pakaian kuda serta topi perang, Dari ruang ke ruang terdapat semboyan-semboyan yang berupa tulisan.  Karena  kurang jelas, tak dapat Thio Sin Houw membacanya. Akan tetapi yang lebih menarik perhatian adalah wajah para pengunjung, yang semuanya nampak guram dan berduka, Pemuda itu menjadi bingung, apakah semua yang memasuki pesanggrahan wajib berduka cita? Kalau memang diwajibkan demikian, dia harus berduka cita terhadap siapa? 

Seorang laki-laki berperawakan tinggi-kurus, tiba-tiba  berdiri dari kursi.nya. setelah membuat tanda hormat terhadap hadirin, berkatalah dia dengan suara nyaring: 

"Saudara-saudara hadirin semuanya ! Marilah kita mulai 

bersembahyang!" 

Semua orang lantas melakukan sembahyang, Cu Kauwcu yang bertindak menjadi imamnya, Thio Sin Houw yang sedikit banyak pernah mendapat bimbingan bersembahyang  dari kedua orang tuanya, juga ikut bersembahyang. Hanya saja ia tidak mengetahui tujuan upacara sembahyang  itu.  Tetapi setelah orang tinggi kurus itu berkhotbah  tentang  gugurnya para pendekar yang diangkut tentara penjajah Mongolia, hati pemuda itu terkesiap, Entah apa sebabnya, tiba-tiba hatinya bergelora, Darahnya meluap, dan  semangatnya  berkobar kobar. 

Teringat akan nasib ayah-bunda dan   saudaranya  yang mati tiada berkubur justeru lantaran dikenal sebagai sepasang pendekar yang tinggi ilmu kepandaiannya, tak dapat lagi ia menahan air  matanya,  Meskipun ayahnya  bukan menjadi orang tangkapan pihak tentara penjajah, akan tetapi nasibnya mirip sekali dengan para pendekar yang di angkut ke kota raja, justeru lantaran mereka dianggap  berbahaya  bagi  yang sedang berkuasa. 

Selagi bersedu-sedan, sekali lagi ia terperanjat  tatkala hadirin tiba-tiba berteriak seperti kalap: 

"Kalau didunia  ada dua  matahari, bagaimana kita bisa hidup aman dan damai? Hancurkan tentara penjajah atau kita akan hancur sendiri!" 

"Benar! Kembalikan gunung gunung dan pohon-pohonku!" "Hidup! Basmi semua malapetaka dunia!" 

"Hidup Kauwcu Cu Goan Ciang!" "Hidup! Hidup !" 

Dan  makin  lama  teriakan-teriakan  itu makin kalap, masing-

masing  meledakkan   isi  hatinya.   Dan   teringat   akan  lawan- lawan ayah-bundanya yang bersembunyi dibelakang  tabir, tanpa merasa Thio Sin  Houw ikut-ikutan   berteriak  seperti kalap. 

Orang jangkung kurus yang memimpin upacara sembahyang itu, mengangkat kedua tangannya. Hadirin yang berteriak kalap menjadi tenang kembali,  apabila  suara  kalap tadi sudah padam, berkatalah dia dengan nyaring: 

"Para utusan daerah diberi kesempatan untuk melaporkan keadaan daerahnya masing-masing, kepada Cu kauwcu!" 

Seorang laki-laki yang duduk di sebelah  barat, segera bangkit dari kursinya, Berkata: 

"Musuh kita sesungguhnya adalah tentara penjajah bangsa Mongolia, karena itu sedapat mungkin kita harus mencegah terjadinya segala macam pertikaian diantara  bangsa  kita sendiri. Hendaklah kita sama-sama menyadari hal ini!" 

Suara itu nyaring luar biasa sehingga Thio Sin Houw jadi terkejut, 

Sama sekali tak diduganya bahwa seseorang bisa mempunyai suara demikian nyaring. Berkata orang itu lagi: 

"Saudara-saudara seperjuangan..." selagi orang itu hendak meneruskan  perkataannya,  tiba-tiba  terdengarlah  suara nyaring sambung menyambung diluar perkemahan: 

"Panglima Lie Hui Houw, utusan dari Ciangkun Thio Su Seng datang untuk memeriahkan pertemuan ini!" 

Mendengar seruan itu, Cu Goan  Ciang bangkit  dari kursinya, berkata menyambut: 

"Saudara-saudara sekalian! Marilah kita  sambut  utusan Thio Ciangkun!" 

Semua hadirin kenal siapa Thio Su Seng, dialah yang menyulutkan api pemberontakan diwilayah sebelah selatan. 

Pintu pesanggrahan lantas terbuka lebar.  Dua  orang masuk membawa dua obor besar, kemudian berjalan  mendahului menyusur garis kiri dan garis kanan seolah-olah merupakan batas jalan. 

Tak lama kemudian masuklah  tiga  orang  yang mengenakan pakaian sederhana. 

Yang berjalan didepan, seorang laki-laki berusia kurang lebih, empat puluh lima tahun.  Romannya bengis,  pakaian yang dikenakan sangat sederhana terbuat dari kain kasar, Dia mengenakan sepatu rumput tanpa kaus kaki rambutnya kusut masai dan lengan bajunya nampak usang, Kesan pribadinya seperti petani yang gagal dalam masa panen, akan tetapi dia sebenarnya seorang pembantu setia dari Thio  Su Seng,  dia- lah Ang Sin Tiu. 

Orang kedua yang berjalan di sebelah tengah, seorang berkulit putih  tampan dan  bersih. Dia seorang sasterawan berusia kurang lebih tigapuluh tahun, namanya Lie  Hui  Houw, si Macan Terbang,  Dialah panglima  kesayangan  Thio  Su Seng, yang asalnya keturunan seorang nelayan di pantai Tio- ciu, tetapi karena jasa-jasa serta kesetiaannya ia dilantik jadi panglima. 

Dan orang ketiga adalah seorang laki-laki yang perawakannya agak tinggi, berkulit putih  dan mengenakan pakaian seorang pelajar, usianya belum melebihi tiga puluh tahun, meskipun demikian pandang  matanya  berwibawa penuh, gerak-geriknya gesit. Dialah Thio Lian Cong, salah seorang keponakan Thio Su Seng. 

Sampai didepan gambar-gambar lambang perjuangan, mereka bertiga berdiri tegak, kemudian membungkuk hormat. 

Itulah suatu pernyataan duka cita dan penasaran atas hilangnya beberapa orang pahlawan penjuang bangsa  yang tiada beritanya, setelah itu - panglima Lie Hui Houw berkata kepada Cu Goan Ciang: 

"Junjungan kami, Thio Pekhu Thio Su Seng, dengan ini menyampaikan salam perjuangan kepada Cu Ciangkun, Junjungan kami ikut berduka cita atas hilangnya  beberapa orang pahlawan pencinta  bangsa dan  negara  yang diculik  pihak bangsa Mongolia. Rasa duka cita junjungan kami dinyatakan dengan memaklumkan perang kepada pihak penjajah beserta para pengikutnya." 

Kata-kata Lie  Hui Houw sebenarnya  sederhana, tetapi kesannya menarik hati lantaran kesederhanaannya  itu  dia justru memperlihatkan wataknya yang tulus ikhlas dan jujur. Maka para hadirin riuh rendah bertepuk tangan. 

Cu Goan Ciang bangkit dari kursinya,  membalas  hormat  dan berkata: 

"Terima kasih! Saudara-saudara kita yang hilang diculik pihak pemerintah  Mongolia, sebenarnya  bukan hanya dari orang-orang Beng-kauw saja. Karena itu sudah sepatutnyalah kita bekerja sama dengan pihak laskar Thio Ciangkun, Tetapi sebelum kami membicarakan hal ini, perkenankan kami mengenal nama saudara." 

"Namaku Lie Hui Houw, bertugas sebagai panglima pada pasukan Thio Pekhu Thio Ciangkun, Tetapi sebenarnya aku adalah seorang desa yang tidak  mempunyai  pengetahuan dalam ilmu perang." 

Kembali lagi para hadirin mendengar betapa jujur dan tulus hati utusan dari Thio Su Seng itu, sekali lagi mereka bertepuk tangan riuh. 

"Jadi saudaralah yang terkenal dengan julukan Si Macan Terbang?" kata Cu Goan Ciang, "Nama hengte sangat kami kagumi. Dengan ini perkenankan kami atas nama saudara- saudara yang hadir dalam pertemuan ini, untuk " 

Belum lagi Cu Goan Ciang menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba Thio Kian Cong yang berdiri disebelah kiri Lie Hui Houw, melesat ke pintu, Dengan melebarkan pandangnya kearah hadirin dengan mata penuh selidik, ia bersikap menghadang.  

Keruan saja semua hadirin heran  menyaksikan  perbuatan itu, setelah kena pandang mereka berbalik mengawasi utusan yang menjadi keponakan Thio Su Seng itu.  Pada waktu itu, mendadak Hila Hian Cong menuding dua orang berusia pertengahan yang duduk diantara para hadirin. Terus membentak: 

"Bukankah kalian berdua adalah orang-orangnya Tiam-tay Hiat Ciu, mengapa berada di sini?" 

Kata-kata itu membuat kaget sekalian hadirin. semua yang hadir mengetahui bahwa Tiam-tay Hiat Ciu adalah seorang pangeran pada Kerajaan Mongolia yang telah membinasakan Gui Tiong Cian dan keluarga Koh, serta  sekaligus menyingkirkan orang-orang yang menjadi  pengikutnya  Gui Tiong Cian, karena Gui Tiong Cian yang bergerak disebelah Timur untuk menentang pemerintah penjajah,  dianggap  kian hari kian membahayakan, sekarang para hadirin mendengar tuduhan Thio Hian Cong bahwa ke dua tetamu yang berada diantara mereka adalah begundalnya Tiam-tay Hiat Ciu, jelas mereka  merupakan  mata-mata  dari  pihak  pemerintah penjajah- Benarkah tuduhan itu? 

Dua orang yang kena tuding itu tetap saja  duduk  di kursinya, Yang pertama seorang laki-laki kira-kira berusia ampatpuluh tahun, Mukanya licin dan sikapnya sopan sekali, perawakan tubuhnya tinggi semampai, sedang yang kedua berkulit agak hitam sehingga  mengingatkan orang kepada suku-bangsa Biauw.  

Si hitam ini nampak terkejut ketika kena tuding, akan tetapi pada detik itu pula ia dapat bersikap tenang kembali.  ia menegas sambil tertawa lebar: 

"Mungkin  anda  salah lihat." 

"Salah lihat?" bentak Thio Hian Cong, "Bukankah kau Sie Liong Tauwsu dan kawanmu itu bernama Kim Sie Pa? Hem! Dengan kedua telingaku sendiri aku mendengar kalian kasak- kusuk di rumah penginapan.  

Lantas kalian  berdua menelusup kemari. siapapun  akan tahu apa maksud kalian menyelundup ke mari, Dengan tanda- tanda sandi, kalian  akan memberi kabar kepada tentara Mongolia untuk segera menyerbu kemari. Bukankah  demikian? Ya, begitulah kasak-kusukmu di dalam penginapan." 

Mendengar perkataan Thio Hian Cong, orang yang disebut sie Liong Tauwsu itu segera menghunus goloknya. 

Lalu melompat menerjang dan segera hendak menyerang. Akan tetapi kawannya - Kim Sie  Pa segera mencegahnya. Dengan sikap tenang, Kim Sie Pa berkata. 

"Gui Tiong Cian bergerak di wilayah sebelah Timur, dia membanggakan diri  sebagai  seorang  pejuang  bangsa, padahal dia bercita-cita menjadi seorang raja dengan melupakan rekan-rekan yang lain, Bukankah memang pantas kalau dia dibasmi ?" 

Suara Kim Sie Pa halus tetapi tajam. Kata-katanya mempunyai pengaruh besar sehingga para hadirin yang mendengar jelas menjadi berbimbang hati. 

Si Macan Terbang Lie Hui Houw yang menyaksikan keadaan itu, segera ikut berkata: 

"Siapakah kau sebenamya? Bukankah kau telah mengabdi kepada pihak pemerintah  penjajah Mongolia dan  mendapat pangkat Letnan? sebagai seorang penghianat bangsa, jelas perkataanmu merupakan hasutan belaka!" 

Mendengar perkataan Lie Hui Houw. 

Letnan Kim Sie Pa tergugu, Mulutnya nampak bergerak- gerak hendak mengucapkan kata-kata, akan tetapi berhenti di kerongkongannya. Menyaksikan hal ini Cu Goan Ciang segera mendekati. Tanyanya menegas: 

"Apakah benar, kau adalah seorang Letnan dari tentara penjajah? Coba jawab pertanyaanku ini!" 

Tak dapat Letnan Kim Sie Pa berpura-pura  dungu  lebih lama lagi, segera ia mengerling kepada Sie Liong Tauwsu dan memberi isyarat mata, Sie Liong Tauwsu lantas  saja meloncat ke pintu. setelah itu, Kini  Sie Pa  segera  menyusul.  Malahan dia lantas saja membabat  wajah  Thio Hian Cong dengan  pedangnya. 

Gerak-gerik Kim Sie Pa gesit sekali, dalam sekejap mata ia menghujani dada Thio Hian Cong dengan  tikaman-tikaman berbahaya. 

Utusan Thio Su Seng datang ke pesanggrahan, semata- mata untuk menyatakan rasa setia kawan.  Sama  sekali mereka tidak mempersiapkan senjata, itu lah sebabnya serangkaian serangan Kim Sie Pa dan Sie Liong Tauwsu yang bekerja sama rapi dan  cepat, membuat  sekalian  hadirin terperanjat dan cemas. 

Diantara mereka lapat-lapat seperti  telah  pernah mendengar nama Kim Sie Pa - seorang penghianat  bangsa yang dahulu pernah tertangkap oleh pasukan Thio Su Seng, tetapi kemudian dibebaskan kembali karena bukti-bukti yang diperoleh waktu itu belum lengkap. 

Dengan gesit dan gerak tubuh yang lincah, Thio Hian Cong melakukan perlawanan dengan tangan kosong. 

Sementara itu Thio Hian Cong ternyata seorang berkepandaian tinggi. 

Dengan gerakan sebat luar biasa tangan kirinya tiba-tiba mendahului gerakan pedang Kim Sie Pa, ia mengendapkan tubuhnya sedikit, lalu tangan kanannya menyambar menghantam Sie  Liong Tauwsu, Karena tubuhnya sudah merendah maka ia tak khawatir kena tikaman pedang Kim Sie Pa. 

Menyaksikan kegesitan tubuh  Thio Hian Cong, tanpa  merasa para hadirin bersorak sorai memuji.  Dengan  seorang diri saja kedua tangannya  dapat  melabrak  kedua penyerangnya dengan sekaligus. Dan kedua penyerangnya itu ternyata dapat diundurkan. Sebab apabila kasep sedikit saja, mereka pasti akan kena tercengkeram tangan perkasa Thio Hian Cong. 

Kini para hadirin berubah menjadi  girang  dan berada dipihak Thio Hian Cong. Tadinya, banyak diantara mereka  yang hendak membantu, Menyaksikan kegesitan dan kegagahan Thio Hian Cong, mereka lantas saja menonton. 

Hebat cara perlawanan Thio Hian Cong, kedua tangannya menyambar-nyambar tiada hentinya dengan cepat dan sebat, Kim Sie Pa berdua Sie Liong Tauw su dibuat sibuk tak keruan. 

Mereka berdua kini sadar pula bahwa mereka yang tadinya hendak, mengepung Thio Hian Cong, kini malahan  kena kepung rapat-rapat, Mereka berdua tak ubah tercebur kedalam sarang harimau yang setiap saat mengancam jiwanya. 

Itulah sebabnya mereka berkelahi sambil mundur perlahan-lahan. Kemudian dengan tiba-tiba merangsak maju mendesak. Maksudnya jelas, apabila Thio Hian Cong kena didesak mundur, dengan sekali menjejakkan kaki  mereka hendak meloloskan diri lewat pintu depan. 

Akan tetapi Thio Hian Cong bukan pendekar yang  muda kena diingusi, ia berkelahi  sangat  hati-hati.  Mula-mula membela diri, kini berbalik menyerang. Tak  perduli  ia  bertangan kosong, nyatanya berkali-kali ia dapat merintangi maksud kedua penyerangnya dengan rapat sekali.  

Kedua kakinya yang teguh tetap menjaga ambang pintu, sehingga Kim Sie  Pa maupun Sie Liong Tauwsu tiada memperoleh kesempatan untuk bisa lolos dari penjagaannya. 

Dalam seribu kesibukan Kim Sie Pa menjadi nekat, Tangan kirinya menghunus pedang pendek,  dengan demikian ia menggunakan sepasang pedang, panjang dan pendek. Kemudian merabu dan merangsak Thio Hian Cong  dengan mati-matian, ia harus bisa merobohkan lawannya itu sebelum tercapai maksudnya mendekati pintu. 

Sie Liong Tauwsu yang berada di sampingnya, rupanya mengerti pula maksud kawannya. segera ia bergulingan diatas tanah dan membabat kedua kaki Thio Hian Cong, itulah cara berkelahi yang sangat berbahaya, setiap saat Thio Hian Cong bakal kena dikutungi. 

Tetapi Thio Hian Cong nampang tenang-tenang saja, ia  dapat diundurkan beberapa langkah, walaupun demikian langkahnya tidak menjadi kacau,  Bahkan  sebentar  kemudian ia berbalik dapat mendesak lagi, sehingga kedudukannya kembali seperti semula. 

Pertempuran mereka  makin lama jadi semakin seru, Bayangan  mereka  berkelebatan menyambar-nyambar sehingga mengaburkan penglihatan para hadirin, Kim Sie Pa nampak menjadi gemas sekali, ingin ia bisa mengutungi tubuh lawan dengan cepat, oleh hasrat itu lantas saja ia merangsak maju. Tepat pada saat itu ia mendengar Sie Liong Tauwsu memekik kesakitan, Pedangnya terpentalkeudara  dan tangannya terkulai ke bawah.  

Dan pada saat itu, muncullah seorang laki-laki kedalam gelanggang menyambar pedang yang terpental keudara. Ternyata dia adalah Ouw Sam Ciu, gurunya Thio Sin Houw. 

Berbareng dengan terlemparnya  pedang ke udara,  Thio Hian Cong menendangkan kakinya. Tak ampun lagi, Sie Liong Tauwsu terjungkal roboh. Tepat  pada saat itu, kaki kirinya melayang menendang Kim Sie Pa pula! 

Kim Sie Pa ternyata lebih gesit dari Sie  Liong  Tauwsu. Masih dapat ia meloloskan diri dari samberan kaki. pedangnya berkelebat membalas menyerang,  lagi-lagi yang  diarahnya kedua kaki dan tangan Thio Hian Cong. 

Thio Hian Cong ternyata tidak hanya perkasa dan gagah saja, akan tetapi gesit pula, ia membiarkan ujung pedang  Kim Sie Pa nyaris menyentuh dadanya, Dan tiba-tiba  ia memiringkan tubuhnya,  tangannya  berkelebat  menyambar hulu pedang dan ditariknya dengan suatu hentakan.  

Keruan saja Kim Sie Pa kaget setengah mati, Tak dapat ia mempertahankan  pedangnya,  terpaksa  ia  melepaskannya. Dan pada saat itu tangan kirinya yang  membawa  pedang pendek menikam! 

Thio Hian Cong melihat berke1e-batnya pedang pendek, cepat sekali ia memutar pedang rampasannya dan menangkis.  "Trang!" 

Api meletik berbareng dengan suara nyaring yang mengaung-ngaung memenuhi ruangan pesanggrahan. Dan celakalah Kim Sie Pa! 

Selagi tangannya tergetar karena adu tenaga itu, tiba-tiba saja Thio Hian Cong mengulangi serangannya  lagi,  Dan pedang pendeknya terpental runtuh diatas tanah. Karena  ia tidak bersenjata lagi, terpaksalah ia mundur dan mundur. 

Thio Hian Cong tertawa panjang, sambil tertawa tangan kanannya menyambar dada, Letnan Kim Sie Pa mati kutu. 

Tubuhnya kena diangkat tinggi diudara. 

Di luar dugaan tangan kiri Thio Hian Cong merenggut tengkuk Kim Sie Pa yang menjadi mati  daya.  seperti menenteng suatu benda, Thio Hian  Cong  lantas menghadapkan orang tawanannya kepada Cu Goan Ciang. 

Semua hadirin kagum dan  memuji-muji  kegagahannya Thio Hian Cong, sementara Cu kauwcu memerintahkan empat orang untuk membawa Kim Sie Pa berdua Sie Liong Tauwsu keluar pesanggrahan, nasib  kedua mata-mata itu tidak  lagi perlu diketahui. 

"Jika tiada pertolongan hengtee bertiga, tentu sekali kami bakal mengalami bencana." kata Cu Kauwcu kepada panglima Lie Hui Houw, setelah itu ia memberi hormat menyatakan rasa terima kasihnya. 

Buru-buru panglima Lie Hui Houw membalas hormatnya. "Akh, itupun hanya secara kebetulan saja, selama ditengah 

jalan kami melihat dua orang tadi yang gerak-geriknya sangat mencurigakan selagi mereka menginap,  kami bertiga telah mengintainya, Kesudahannya kami segera mengetahui dan mengenal siapa mereka sebenarnya. Rupanya mereka berdua belum insyaf kalau kami intai, sehingga berbicara kasak-kusuk dengan leluasa. 

Sementara Cu Kauwcu berbicara dengan panglima Lie Hui  Houw, Ouw Sam ciu mendekati Thio Hian Cong,  Mereka berdua saling berangkulan, dan tatkala Lie Hui Houw  dibawa oleh Cu Kauwcu untuk membicarakan masalah-masalah yang resmi, maka Ouw Sam ciu mengajak Thio Hian Cong keluar pesanggrahan, Katanya sambil berjalan mencari tempat yang sepi: 

"Thio kongcu, walaupun  kita baru bertemu lagi, tetapi rasanya seperti baru saja kemarin kita berpisah." 

"Akh, Ouw ciangkun, Aku justeru merasa kangen sekali. setelah sekarang kita bertemu lagi, rasa hatiku girang bukan main!" sahut Thio Hian Cong. 

Ouw Sam Ciu tertawa lebar. Katanya: 

"Sesungguhnya, aku juga girang sekali.  Tetapi  apa kabarnya dengan Ciu Siu Tojin?" 

Cit Siu Tojin adalah gurunya Thio Hian Cong, sekaligus merupakan pembantu utama gerakan Thio Su Seng yang bertindak sebagai penasehat. 

Memperoleh pertanyaan itu, wajah  Thio  Hian  Cong berubah. sahutnya : 

"Guruku telah gugur dimedang perang, beberapa bulan yang lalu." 

Tatkala itu Coa Kim siong  menyusul,  setelah  saling memberi hormat, baik Coa Kim siong maupun kakak seperguruannya, ouw Sam Ciu, segera menuturkan dan menerangkan maksudnya. 

Sudah satu tahun Thio Sin Houw belajar kepada mereka berempat, tetapi karena mereka merasa tidak memadai untuk menjadi guru dari anak itu, maka mereka bermaksud hendak meminta bantuan Cit Siu Tojin untuk mendidiknya,   tetapi karena sekarang mereka mengetahui bahwa Cit-siu Tojin telah binasa, maka mereka bermaksud menyerahkan Thio Sin Houw kepada Thio Hian Cong. 

"Anak itu mempunyai masa depan gemilang, kami  berempat telah mencoba mendidik  dalam  hal ilmu pengetahuan dan ilmu kepandaian. Otaknya  sangat  terang dan bakatnya sangat baik sekali, daya  ingatannya  jauh melebihi kami berempat. 

Baru satu tahun dia belajar kepada kami, kepandaian kami sudah di hirupnya habis. Dia masih sangat muda, sedangkan banyak hal-hal yang terjadi didunia ini  belum diketahuinya dan di insafinya, Kami berempat berpendapat  bahwa apabila  anak itu berada dibawah asuhan Thio ciangkun, akan memperoleh kemajuan pesat, sebaliknya apabila tetap ditangan kami, sukar sekali ia memperoleh kemajuan " demikian Ouw Sam Ciu 

menambahkan perkataannya. 

Mendengar alasan Ouw Sam Ciu, maka Thio Hian Cong diam menimbang-nimbang, sejenak kemudian berkata: 

"Jadi jiewie mengharap aku mendidiknya?" 

Ouw Sam Ciu berdua Coa Kim siong manggut berbareng. Sahut Ouw Sam Ciu: 

"Kami tadi memperoleh kesempatan menyaksikan ilmu kepandaian hiantee, ternyata ilmu kepandaian hiantee sepuluh kali lipat tingginya dari pada ilmu kepandaian kami berempat, itulah sebabnya apabila hiantee tidak keberatan  untuk menerima dia sebagai murid, pasti kami  merasa  sangat gembira dan berterima kasih sekali." 

Setelah berkata demikian, Ouw Sam Ciu berdua Coa Kim siong lalu membungkuk hormat. Keruan saja Thio Hian Cong menjadi tersipu, Cepat-cepat ia membalas hormat, ujarnya: 

"Jiwie sangat menghargai aku, sudah sepantasnya bila aku menerimanya, hanya sayang, sekarang ini aku berada dalam laskar perjuangan Thio pekhu, siang dan malam tiada waktu tertentu. 

Setiap kali aku dikirimkan ke medan perang melakukan tugas, seringkali pula aku bertempur  melawan  tentara penjajah, Entah  berapa lama lagi umurku, itulah sebabnya, meskipun aku membawa murid jiwie, akan banyak gagalnya  dari pada hasilnya. Sebab, sama sekali aku tidak mempunyai waktu luang untuk men-didiknya, selain itu, keselamatannya selalu terancam." 

Alasan itu masuk akal, sehingga Ouw Sam  Ciu  maupun Coa Kim siong menjadi  putus asa. Dan melihat mereka berputus asa, Thio Hian Cong menjadi gelisah,  Katanya  tak jelas seolah-olah kepada dirinya sendiri: 

"Ada seorang sakti yang memiliki ilmu kepandaian seratus kali lipat dari pada aku. Jika dia sudi menerima murid jiwie, benar-benar merupakan karunia Tuhan  ..." sampai disitu mendadak saja ia menggoyangkan kepalanya. 

Lalu berkata lagi: "Tidak! Tidak mungkin! ini tak mungkin bisa terjadi..." 

Ouw Sam Ciu berdua heran. Coa Kim siong lantas  saja minta keterangan: 

"Siapakah orang itu?" 

"ltulah orang aneh yang kusebutkan tadi," jawab Thio Hian Cong, "Kepandaianriya tiada batasnya, dia hanya mengajarku selama enam bulan saja, Tapi meskipun demikian, aku sudah dapat memiliki kepandaian  seperti  sekarang.  padahal  apa yang kuwarisi itu, barulah kulitnya saja " 

"Siapakah orang aneh itu?" Coba Kim Liong menegas, suaranya bernada girang bukan kepalang. 

"Dia aneh tabiatnya," Thio Hian Cong memberikan keterangan. "Dia mengajarku ilmu kepandaian,  tetapi dia melarangku menyebutnya sebagai guru, Diapun melarangku memberitahukan kepada siapa saja tentang nama dan tempatnya, itulah sebabnya hatiku  berbimbang-bimbang, apakah dia sudi menerima murid jiwie sebagai muridnya." 

"Di manakah tempat tinggal orang aneh itu?" Ouw Sam Ciu ikut mengajukan pertanyaan. 

"Tadi sudah  kukatakan,  aku  dilarang  menyebutkannya. Dan sebenarnya aku sendiri tidak tahu,  Agaknya dia tidak  mempunyai tempat tinggal yang tetap, Mungkin sekali dia seorang perantau yang berjalan dari tempat ke tempat. Datang dan pergi seenaknya saja. Ke mana perginya dan  kapan datangnya tidak pernah memberi kabar kepadaku." 

Ouw Sam ciu berdua merasa kewalahan memperoleh keterangan dari Thio Hian Cong. sekarang tinggal satu usaha lagi, yakni dengan memanggil Thio Sin  Houw  menghadap. Anak itu lantas di perkenalkan kepada Thio Hian Cong. 

Senang Thio Hian Cong melihat pemuda itu, yang beroman cakap, bertubuh sehat dan memiliki marga sama seperti  dirinya. Tatkala ia minta keterangan sampai dimana Thio Sin Houw belajar ke pada Ouw Sam ciu berempat, anak itu segera dapat menjawab dengan rapi  sekali.  Tiba-tiba  bertanyalah Thio Sin Houw dengan tak segan-segan lagi kepada Thio Hian Cong. 

"Thio susiok, tatkala susiok  merobohkan  dua  mata-mata tadi, pukulan apakah yang susiok gunakan?" 

Thio Hian Cong tertawa lebar. Tak pernah  disangkanya, anak itu memperhatikan, jawabnya: 

"ltu adalah pukulan "Hok-houw  ciang"  (Harimau mendekam) , salati satu pecahan dari Sha-cap lak-lou Kim- na hoat." 

"Mengapa  begitu  cepat  dan  dahsyat ? kedua mataku 

sampai tak sanggup  mengikuti gerakannya." ujar Thio Sin Houw. 

"Apakah kau ingin mempelajari ilmu pukulan itu?" 

Tentu saja tawaran itu menggirangkan benar,  Thio  Sin Houw seorang anak yang  cerdas  pula,  lantas saja  ia menyahut: 

"Jika Thio susiok sudi mengajari-ku,  aku  girang  sekali!" Thio Hian Cong menoleh kepada Ouw Sam Ciu, Katanya 

kemudian: 

"Setelah pertemuan ini, aku ditugaskan Thio Pekhu untuk  tetap hadir diantara saudara-saudara seperjuangan seminggu atau dua minggu, biarlah kesempatan ini kupergunakan untuk menurunkan beberapa jurus ilmu kepada murid jiwie toako." 

Tentu saja Ouw Sam ciu berdua girang bukan kepalang, cepat-cepat mereka menghaturkan terima kasih. sedang  Thio Sin Houw lantas pula membungkuk hormat. 

Pada hari ketiga pertemuan resmi, boleh dikatakan sudah selesai. Antara Lie Hui Houw dan Cu Kauwcu telah terjadi kata-sepakat, untuk mengadakan  perserikatan,  Masing- masing pihak bertekad hendak menggempur pihak pemerintah penjajah, sampai bangsa  Mongolia dapat  diusir  seluruhnya dari daratan Cina, maka dengan tercapainya kata sepakat itu, pada hari keempat pertemuan antar angkatan dibubarkan. 

Cu Kauwcu segera mengantarkan para tetamu untuk berpisahan, Mereka pulang dengan puas dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan, membuat sekitar tempat yang sunyi sepi itu lantas saja tergetar kena perbawanya. 

Lie Hui Houw pulang ke daerahnya beserta Ang Sin Tiu, sedangkan Thio Hian Cong  tetap  berada diatas gunung menemani Cu Kauwcu, Dan Ouw Sam ciu berampat selalu menemani. sebaliknya  selama hari-hari itu Thio Sin  Houw mencari dimana beradanya Lie Hong Kiauw. 

Thio Sin Houw menyadari apa sebab ke empat gurunya tiba-tiba menyerahkan dirinya kepada Thio Hian Cong,  itu semua berkat pengaruh Lie Hong Kiauw. 

Gadis yang selalu bersikap rahasia itu, kian menjadi teka- teki besar baginya, siapakah sesungguhnya Lie Hong Kiauw? pastilah dia bukan seorang gadis sembarangan! 

Diatas meja, ia menemukan sepucuk surat. sederhana saja bunyinya, Begini bunyi surat itu: 

"Adikku Sin Houw! 

Aku telah mendengar kabar dari ke empat gurumu, hatiku girang bukan kepalang.  Belajarlah dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan  lupa obat pemunah racun Hian-beng  Sin  ciang! setiap  kali  kau harus menelannya, dan jangan sampai kau buang!" 

 (Oo-dwkz-oO) 

TERHARU DAN GELI, Thio Sin  Houw  yang  membaca surat Lie Hong Kiauw, Di buang? Dan teringat akan jasa-jasa Lie Hong Kiauw yang merawat dirinya begitu  cermat  dan sabar, membuat hatinya sangat pilu, seumpama tidak teringat bahwa apa yang dilakukan itu semata-mata sebagai persiapan balas dendam demi ketenteraman arwah ayah-ibunya, pastilah dia sudah turun gunung untun mencari gadis itu, Apabila gadis  itu kembali ke lembah Ouw-tiap san. 

Pada malam itu ia tidur  sekamar dengan  ke  empat gurunya, waktu itu panitya pertemuan masih  sibuk membereskan perkemahan, Karena itu masing masing sibuk dalam urusannya sendiri. 

Thio Hian Cong yang memperoleh kamar didepan kamar Thio Sin Houw dan guru-gurunya, datang menyambangi. Kata pemuda gagah itu: 

"Suwie toako sekalian,  Begitu  aku melihat  muka murid kalian, hatiku sangat tertarik. Aku mempunyai kesan bahwa " 

"Teruskan, hiantee." kata Ouw Sam ciu karena  melihat Thio Hian Cong ragu ragu. 

"Rupanya dia telah memperoleh dasar-dasar ilmu sakti Boe-tong pay, ini sangat memudahkan  untuk  ia menerima ajaran jurus-jurus sakti yang kuperoleh dari orang aneh itu, Sebab orang aneh itu sesungguhnya mewariskan rahasia  inti ilmu saktinya kepadaku, Sebab itu aku akan meniru dan mencontoh cara menurunkan  ajarannya  kepadaku  dahulu, Akan tetapi tentu saja aku tak dapat membuat anak itu bisa mewarisi dengan sempurna, lantaran waktunya sangat sempit.  

Namun diatas segalanya ini masih ada Tuhan yang Maha pengasih     selain  itu  masih  ada  harapan  lagi  yang boleh kita 

andalkan,    yakni   bakat    dan   pembawaan,    kerajinan   serta  keuletan calon pewarisnya, Menimbang semuanya itu, perkenankan aku mengundang namanya saja dari  pada sebagai guru dan  murid. Sebab nyatanya,  tak  dapat  aku berjanji akan terus menerus meniliknya." 

"Alasan hiantee kurang tepat." ujar Ouw sam Ciu, "Apabila Sin Houw sudah menerima ajaran dari hiantee, satu atau dua jurus saja artinya dia sudah menjadi  muridmu,  dan  hiante berhak menyebut diri sebagai gurunya." 

Thio Hian Cong dapat menerima alasan Ouw Sam  Ciu, akan tetapi pendiriannya tak dapat  diubahnya lagi,  Tetap  saja ia hanya mengakui dirinya sebagai paman angkat saja, sedangkan Sin  Houw sebagai anak  angkatnya.  Karena   itu Ouw Sam Ciu berempat terpaksa menerima keputusan itu. 

Mereka berempat tahu bahwa  Thio Hian Cong akan menurunkan warisan-warisan ilmu sakti tinggi, yang tentu saja tak boleh dilihat seseorang, itulah sebabnya, Ouw Sam Ciu berempat segera berpindah kamar, dan  Sin Houw tidur sekamar dengan Thio Hian Cong. 

Thio Hian Cong  menunggu sampai mereka  berampat masuk ke dalam kamarnya. Kemudian ia membawa Thio Sin Houw berjalan keluar, Malam hari waktu itu sangat pekat sehingga baik Thio Hian Cong maupun Sin Houw tak dapat melihat tubuhnya masing-masing. Kata Thio Hian Cong: 
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(