Golok Hallintar (Thio Sin Houw) Jilid 04

Jilid 04

"Akh!" kata Tie-kong tianglo di dalam hati, "Kiranya mereka memerintahkan pemuda itu meninggalkan atau menyerahkan kedua bocah yang dilindungi. Kukira seruan tadi ditujukan kepadaku " 

Sebenarnya Tie-kong tianglo hanya sebagai penonton belaka.Akan tetapi, sejak masa  mudanya ia  membenci terhadap gerombolan tentara Mongol. 

Apalagi, manakala mereka sedang melakukan perbuatan sewenang-wenang menindas rakyat jelata yang lemah tidak berdaya, Maka Tie-kong tianglo bermaksud hendak menolong pemuda berberewok itu. 

Tetapi selagi hatinya gergerak hendak memberikan pertolongan, tiba-tiba teringatlah dia kepada  masalahnya sendiri. Thio Sin  Houw yang tidur di sampingnya,  sedang terancam pula jiwa-nya, Meskipun jiwanya tidak bakal terengut oleh suatu senjata, tetapi bila tidak memperoleh pertolongan dengan segera, ia akan mati pula.   Teringat akan hal itu, hati Tie-kong tianglo menjadi terharu dan berduka, ia jadi merasa bimbang  hendak  menolong pemuda berberewok yang terancam keselamatannya. 

Dalam pada itu, pemuda  berberewok  yang  melindungi kedua bocah didepannya, menangkis hujan anak panah yang menyambar kearahnya,  dengan tangan kanannya, Gerak- geriknya tangkas dan  berani, sehingga  diam-diam  Tie-kong jadi menaruh perhatian lagi. pikirnya didalam hati: 

"llmu kepandaian pemuda itu tidak rendah, ia berani dan tenang menghadapi ancaman bahaya, Apakah aku akan tetap berpeluk tangan, menyaksikan dia  mati tertembus panah?" memperoleh pikiran demikian, segera ia memberi perintah kepada pemilik perahu: 

"Siauwko!  Potong perjalanan mereka " 

Pemilik perahu itu sudah tentu menjadi kaget, mendengar kehendak penyewanya, Memotong jalan kedua perahu  itu, berarti bunuh diri. Sebab perahu besar yang berada dibelakangnya sedang menghujani  anak  panah  bagaikan hujan turun, mengarah perahu pemuda berberewok  yang berada didepannya, Maka dengan Suara gemetar ia berkata: 

"Tianglo, apakah maksudmu hanya bergurau saja?" Sebenarnya Tie-kong tianglo ingin mengesankan, bahwa ia 

bermaksud menolong pemuda berberewok itu. Akan  tetapi sebagai seorang pendekar  yang  sudah  kenyang  makan garam, tahulah dia bahwa pemilik perahu dalam ketakutan, Tatkala ia menoleh, keadaan pemuda berberewok itu berada dalam bahaya. Sedikit terlambat, jiwanya takkan tertolong lagi, Maka tanpa bicara lagi, Tie-kong tianglo merebut  penggayuh dan terus meluncurkan perahunya  memotong  perjalanan.  Lalu ia berputar menyongsong kedatangan perahu besar. 

Tepat pada saat itu, ia mendengar suatu pekik melengking yang menyayatkan hati.  Anak  laki-laki  yang  berlindung didepan dada pemuda berberewok kena terbidik,  sebatang anak panah yang kuat luar biasa, menembus punggungnya dengan amat dalamnya, bukan main kagetnya pemuda  berberewok itu, dengan gugup ia menelungkup hendak melindungi berbareng memeriksa. Akan tetapi pada saat itu  pula, beberapa batang anak panah menancap  pada  lengan dan pundaknya, ia tak menghiraukan sama sekali. 

Sayang, ketika ia hendak meraih anak laki-laki yang dilindungi, penggayuhnya  jatuh  terkulai  didalam  permukaan air, seketika itu juga, perahunya yang sudah berada di depan perahu Tie-kong tianglo berputar-putar bagaikan sebuah gangsingan Dalam sekejap saja, perahu besar yang mengejarnya sudah berhasil mendekati.  

Empat tentara Mongolia melompat ke dalam perahunya, akan tetapi pemuda bermuka berewokan itu tak sudi menyerah mentah-mentah. Walaupun tidak bersenjata,  ia  melawan dengan tinju dan kakinya. 

Tie-kong tianglo terhenyak  sebentar ketika mendengar pekik teriak bocah itu yang mati tertembus anak panah, ia sampai lupa kepada tujuannya semula, setelah perahu besar lewat di sampingnya dan kemudian merahu perahu pemuda berewokan itu, barulah ia tersadar Terus  saja  ia  berseru nyaring: 

"Siauw enghiong, jangan berkecil hati! Aku akan menolongmu!" 

Tanpa berpikir lagi, ia mengangkat dua papan dari dalam perahunya lalu dilemparkan kedalam air. Begitu dua papan terapung diatas permukaan air, Tie-kong tianglo melompat turun. 

Jarak antara perahunya dan perahu mereka yang sedang bertempur tidak begitu jauh, maka setelah Tie-kong Tianglo melompat-lompat dari papan ke papan bagaikan mengembah papan jembatan sampailah dia diburitan perahu. Ia lantas melompat tinggi keudara, jubahnya berkibar-kibar tak ubah sepasang sayap burung rajawali. 

Dua tentara penjajah yang berada didalam perahu, kaget melihat kedatangannya, mereka lantas melepaskan anak panah. Akan tetapi dengan sekali mengebaskan lengan  bajunya, Tie-kong tianglo  mementalkan dua  batang anak panah itu runtuh ke dalam sungai, dan begitu mendarat di atas geladak perahu tangannya memukul. seorang tentara  yang berperawakan tinggi  besar terpental kena  pukulannya  dari jauh, dan dengan berjungkir-balik tentara yang sial itu tercebur didalam sungai! 

Kedatangan Tie-kong  tianglo benar-benar  tak  ubah malaikat turun  dari langit. Dengan sekali bergerak, ia bisa mementalkan dua batang panah dan  melontarkan seorang tentara penjajah yang berperawakan tinggi besar, inilah suatu kepandaian yang sukar dibayangkan, maka tak mengherankan tujuh tentara yang berada didalam perahu itu, tertegun seperti kena pukau. 

Sejenak kemudian, seorang tentara  yang mengenakan pakaian perwira, berteriak keras: 

"Hei, kakek ! Tiada geledek tiada angin, apa sebab kau mencampuri urusan ini? Pergi sebelum kasep!" 

"Hemm ..." gerendeng Tie-kong tianglo. "Kau anjing penjajah,berani benar  membuka  mulut  besar  didepanku... entah sudah berapa  kali, kalian  mencelakai rakyat  jelata, Hayo, perintahkan kawan-kawanmu pergi secepat mungkin!" 

"Eh, kakek! Hatimu sebenarnya mulia  - akan tetapi  kau salah alamat... Tahukah kau, siapa  mereka  bertiga  itu? Mereka adalah anak-anaknya si penghianat Ciu Kong Bie!" 

Mendengar disebutnya nama Ciu Kong Bie, hati Tie-kong tianglo tercekat.. Serentak ia  berpaling  mengamat-amati pemuda berberewok dengan dua bocah yang dilindunginya, pikirnya didalam hati: "Benarkah mereka anak-anaknya Ciu Kong Bie?" 

Ciu Kong Bie adalah pembantu Thio Su Seng yang sedang giat melakukan gerakan menentang  kaum penjajah bangsa Mongolia di daratan Cina. sebelah utara, jasanya  sudah banyak terdengar di kalangan kaum rimba persilatan maupun rakyat jelata, Oleh karena itu  Tie-kong  tianglo  semakin bertekad hendak memberikan pertolongan.  "Perlu apa kalian  begitu kejam?" tanya Tie-kong tianglo kepada si perwira tentara Mongolia itu. 

"Siapa kau? Mengapa  kau berani  mencampuri urusan kami?" balik tanya si perwira dengan aseran. 

Tie-kong tianglo tertawa. 

"Siapa yang bisa menolong sesama manusia, haruslah dia menolong," jawabnya . "Segala urusan dikolong langit boleh dicampuri oleh manusia dikolong langit!" 

Perwira itu melirik kawan-kawannya, tetapi bertanya lagi kepada Ti e-kong tianglo: 

"Siapakah nama Totiang, dan dimana letak kuilmu?" Mendadak dua orang perwira lain mengangkat golok 

mereka, dan membacok pundak Tie-kong tianglo.  Kedua senjata itu menyambar bagaikan kilat dan di atas perahu yang sempit. sungguh sukar untuk mengelakannya, tetapi dengan sekali miringkan badan guru besar  itu  sudah  dapat menghindar dari sambaran senjata musuh. Hampir berbareng, Tie-kong tianglo mengeluarkan kedua tangannya yang lalu ditempelkan di punggung kedua penyerang itu. 

"Pergilah!" bentaknya sambil mendorong, dan tubuh kedua perwira itu lantas  saja "terbang"  dan  jatuh diatas perahu mereka sendiri. 

Sudah puluhan tahun Tie-kong tianglo tidak pernah bergebrak. Kini dengan menguji kepandaiannya kembali, ternyata segala-galanya  dapat dilakukannya  dengan sesuka hati, Meskipun para perwira tentara penjajah itu merupakan jago-jago pilihan, akan tetapi menghadapi ilmu sakti Tie-kong tianglo yang tiada bandingnya  itu,  boleh  dikatakan  mereka mati kutu, Oleh rasa terkejutnya,  perwira itu  sampai  ter- mangu, Kemudian ia berkata dengan suara tidak lancar: 

"Apakah kau ... kau " 

Tetapi pada saat itu Tie-kong tianglo sudah mengebaskan lengan bajunya lagi. bentaknya:  "Selama hidupku, aku paling  gemar membunuh kaum penjajah!" 

Berbareng dengan perkataannya  dua  orang  perwira merasa sesak dadanya. 

Untuk sejenak mereka tak dapat bernapas . 

Apabila Tie-kong tianglo menarik  kembali  pukulannya, wajah mereka menjadi pucat lesi,  Terus  saja  mereka berebutan mencari penggayuh. Dan dengan cepat-cepat menjauhkan  perahu  mereka,  sedangkan  kawan-kawan mereka yang tercebur di sungai segera ditolongnya, sebentar lagi perahu mereka hilang di kelokan sungai. 

Melihat panah-panah yang menembus pemuda berewokan dan anak perempuan itu, Tie-kong tianglo   segera mengeluarkan obat pemunah  racun.  Setelah  ditelankan kemulut mereka, ia menolong mencabut panah-panah itu. Segera ia mendayung perahu kecil itu untuk mendekati perahu tambangannya, setelah  berdempetan, ia lalu membungkuk hendak memayang pemuda itu pindah ke perahunya. 

Tak terduga, pemuda itu ternyata seorang yang luar biasa. Tiba-tiba ia bangkit, sebelah tangannya memondong mayat anak laki-laki tadi dan yang satunya  lagi mengempit anak perempuan. 

Dengan satu lompatan enteng, ia sudah menyeberang keperahu Tie-kong tianglo. 

Diam-diam Tie-kong tianglo memuji didalam  hati,  pemuda itu terluka parah, tetapi  masih  begitu  setia  terhadap majikannya. Benar-benar seorang lelaki  sejati. Menimbang kegagahannya, pantaslah rasanya ia memberikan pertolongannya. 

Tie-kong tianglo kemudian melompat kembali kedalam perahunya. Setelah memeriksa luka panah pemuda itu  dan anak perempuan yang dibawanya, segera ia membubuhi obat luar, Dalam pada itu perahunya telah menepi diseberang. 

Sekilas terpikir oleh Tie-kong tianglo didalam hati:  "Seluruh tubuh Thio Sin Houw sekarang dalam keadaan lumpuh, ia sama sekali tidak dapat menggerakkan  kakinya. Jika aku meneruskan perjalanan, rasanya kurang menguntungkan. Pemuda bermuka berewok dan kedua anak yang dibawanya kini menjadi buronan  pihak  pemerintah penjajah , jika aku harus melindungi mereka bertiga rasanya agak sukar juga." 

Ia merenung sejenak, Kemudian ia memberikan uang sewa kepada pemilik perahu, dan berkata: 

"Siecu, apakah kau masih sanggup membawa kami pada suatu tempat yang kira-kira terdapat sebuah rumah penginapan?" 

Tukang perahu itu tadi menyaksikan betapa tangkasnya Tie-kong tianglo menghajar dan  mengusir tentara  penjajah yang bersenjata, Hatinya kagum luar biasa, dengan  sendirinya ia menaruh hormat sekali. Kini ia mendapat  uang sewa, jumlahnya terlalu banyak  pula. Maka tak mengherankan, ia segera memanggut dan cepat-cepat meneruskan perjalanan. 

Dalam pada itu sipemuda bermuka berewok kemudian berlutut didepan Tie-kong tianglo sebagai pernyataan terima kasih, katanya dengan suara haru: 

"Atas budi pertolongan totiang, dengan ini aku menghaturkan terima kasih. Totiang, aku bernama Cie siang Gie. Sejak hari ini, aku bersumpah kepada Tuhan  bahwa selama hidupku takkan kulupakan budi Tianglo." 

Cepat-cepat Tie-kong tianglo membangunkannya, sahutnya: 

"Akh, kau tak perlu berlutut begini terhadapku " tiba-tiba 

ia menyentuh telapak tangan pemuda itu, ia menjadi kaget. Telapak tangan pemuda itu terasa sangat dingin bagaikan es, maka cepat-cepat ia bertanya: "Apakah kau  mendapat  luka juga di dalam tubuhmu?" 

"Benar, tianglo. Aku membawa ke dua anak majikanku  ini. Di sepanjang perjalanan aku harus bertempur sampai empat  kali berturut-turut, aku kena terhajar punggung dan dadaku. Apakah aku terluka berat?" 

Dengan berdiam diri Tie-kong tianglo memegang urat nadi pemuda itu. 

Denyutnya terasa sangat lemah. Dengan hati bercekat Tie- kong tianglo membuka baju pemuda itu dan   memeriksa lukanya. 

Begitu melihat luka yang di deritanya, orang tua itu makin bercekat hatinya. 

Bekas-bekas pukulan nampak bengkak hebat, itulah suatu tanda bahwa luka pemuda itu bukan luka  enteng.  Apabila orang lain yang kena pukulan demikian, pastilah sudah tidak tahan lagi. Tetapi nyatanya pemuda ini masih  kuat  melarikan diri sejauh itu dengan membawa dua kanak-kanak, dan di sepanjang jalan ia melakukan perlawanan dengan sekuat tenaga, Benar-benar harus dipuji ketangkasan dan jiwanya yang penuh keperwiraan, maka ia  tidak  mengajak  berbicara lagi kepadanya, ia hanya mempersilahkan agar pemuda itu merebahkan diri di dalam perahu untuk beristirahat. 

Kira-kira menjelang tengah malam, sampailah perahu tambangan itu di sebuah kota kecil. Tie-kong tianglo mencoba mencari ramuan obat, setelah itu ia kembali ke perahu. 

Anak perempuannya Ciu Kong Bie  yang dibawa oleh pemuda bermuka berewokan itu, berumur kurang  lebih sembilan tahun. ia sangat cantik jelita. 

Waktu itu ia duduk disamping mayat kakaknya tanpa bergerak. Menyaksikan hal itu, hati Tie-kong tianglo tersayat- sayat. Lalu ia bertanya dengan suara lembut: 

"Siapa namamu, anak manis?" 

"Ciu Sin Lan," jawab anak perempuan itu sambil berdiri dengan sopan. 

"Apakah titlie boleh mengetahui nama Tay-suhu?" 

Heran dan kagum Tie-kong tianglo mendengar pertanyaan  gadis cilik itu, yang dapat dikatakan belum cukup umur, Akan tetapi didalam keadaan yang begini kusut, masih dapat ia berlaku sopan dan  beradat.  Tiba-tiba saja terbersitlah rasa sayang dalam dada Tie-kong tianglo, sahutnya sambil tersenyum: 

"Siauw-to bernama Tie-kong." 

"Ha?" seru gadis cilik itu dengan terkejut. 

"Ha?" seru pemuda bermuka berewokan itu  dengan  terkejut. Waktu itu ia masih rebah diatas  geladak perahu, Mendadak saja ia  bangkit,  meneruskan  dengan  suara setengah berseru: 

"Jadi tianglo adalah Tie-kong tianglo, guru-besar dari Boe- tong pay? Pantaslah thay-suhu sangat sakti tiada tandingnya. Hari ini siauwtit benar-benar  sangat  berbahagia,  dapat bertemu dan berhadap-hadapan dengan Thay-suhu." 

Tie-kong tianglo tertawa dan  berbasa-basi merendahkan diri. Didalam hati ia merasa senang sekali, melihat Cie Siang Gie berdua Ciu Sin Lan amat sopan santun. 

"Kalian terluka berat. Lebih baik jangan berbicara lagi. Nah, beristirahatlah selagi ada kesempatan yang  baik."  akhirnya kata Tie Kong tianglo. 

 (Oo-dwkz-oO) 

PADA WAKTU makan malam, pemilik  perahu   sudah selesai memasak, Tie-kong tianglo mempersilahkan Cie Siang Gie dan ciu Sin  Lan  makan dahulu,  karena ia hendak menyuapi Thio Sin Houw yang tak dapat bergerak itu. 

"Sebenarnya ia menderita penyakit apa?" Cie Siang Gie minta keterangan dengan penuh perhatian. 

Segera Tie-kong tianglo memberi keterangan, bahwa Thio Sin Houw kena racun jahat yang kini menyerang bagian perut. itulah sebabnya,  ia  terpaksa  menghentikan  peredaran darahnya untuk menyelamatkan jiwanya. 

Thio Sin Houw ikut mendengarkan keterangan kakek  gurunya itu, ia makin menyadari, bahwa jiwanya  takkan tertolong lagi. Diam-diam ia menjadi terharu dengan  jerih- payah kakek gurunya itu yang berjuang untuk menyelamatkan jiwanya, Oleh rasa haru, ia tak sanggup makan lagi, Kerongkongannya terasa tersumbat. Tatkala Tie-kong tianglo hendak memasukkan suapan yang ketiga kalinya, ia menggelengkan kepalanya. 

Tiba-tiba Ciu Sin Lan yang selama itu menaruh perhatian kepadanya, datang mendekati. ia mengambil  mangkok  nasi yang berada ditangan Tie-kong tianglo, dan berkata dengan lemah lembut: 

"Thay-suhu, biarlah aku yang menyuapinya, Sejak petang tadi, Thay-suhu telah bekerja keras, silahkan makan dahulu." 

Tercengang hati Tie-kong tianglo melihat  sikap  gadis  cilik itu, yang begitu pandai membawa diri,  Tatkala  itu  ia mendengar Thio Sin Houw menyanggah kepada Ciu Sin Lan: 

"Terima kasih. Aku sudah kenyang. Tak bisa aku  makan lagi." 

Ciu Sin  Lan menoleh kepada Tie-kong tianglo, minta keterangan: 

"Thay-suhu, siapakah namanya?" 

Dengan bersenyum Tie-kong tianglo menjawab: "Thio Sin Houw." 

Setelah mendengar nama Thio Sin Houw, maka Ciu Sin 

Lan menoleh kepadanya, berkata dengan suara halus. 

"Sin Houw koko, jika kau tidak mau makan, pastilah Thay- suhu akan bersedih hati,  dan  Thay-suhu pun  tidak  akan bernapsu makan pula, Bukankah kau membuat  Thay-suhu lapar?" 

Thio Sin Houw diam menimbang-nimbang, Pikirnya, benar juga alasan anak perempuan itu, Maka, tatkala Ciu Sin Lan menyuapkan nasi kemulutnya, ia lantas menelannya.  Ciu Sin  Lan ternyata sangat telaten menyuapi. sebelum menyuapkan, ia membuangi tulang-tulang ikannya dahulu dan setiap suapan ditambaninya dengan sedikit kuah. Oleh pelayanan yang begitu sempurna, Thio Sin Houw menjadi makan secara lahap. Tanpa disadarinya sendiri, ia telah menghabiskan semangkok nasi. 

Selama itu Tie-kong tianglo menaruh perhatian kepada mereka. Melihat Thio Sin Houw dapat menghabiskan semangkok besar nasi, ia menjadi agak lega, pikirnya didalam hati: 

"Sin Houw ini benar-benar anak yang bernasib malang, ia tidak hanya ditinggalkan kedua orang tuanya, tetapipun oleh kedua saudaranya pula, sekarang ia menderita sakit  begini berat memang, untuk menghibur dirinya seharusnya ada seorang perawat yang sebaya dengan umurnya." 

Ia menoleh kepada Cie Siang Gie, 

Meskipun sedang terluka parah, akan tetapi pemuda itu makan dengan lahap dan bernapsu, Dalam sekejap saja,  ia telah menghabiskan tiga mangkok nasi penuh-penuh. Kena pandang Tie-kong tianglo, pemuda itu berhenti mengunyah, menengadah sambil berkata: 

"Akh, hampir saja aku menghabiskan persediaan makan Thay-suhu. silahkan Thay-suhu makan." 

"Tidak, Aku mempunyai persediaan  sendiri.  Aku senang melihat kau dapat menghabiskan tiga mangkok nasi dengan sekaligus, hal itu perlu sekali untuk menjaga  kesehatanmu Kulihat tenagamu hebat sekali, dikemudian hari kau bisa mengembangkan tenagamu itu."  

Cie Siang Gie meletakkan mangkok-nya, menyahuti: 

"Akh, Thay-suhu, sekalipun andaikata aku mempunyai tenaga sebesar gajah, kurasa tiada gunanya, Sebab aku ini orang yang kasar." 

Dengan pandang penuh perhatian,  Tie-kong  tianglo menatap wajahnya, Kemudian berkata sambil mengurut  jenggotnya: 

"Cie siauwhiap, berapa umurmu?" Dengan cepat Cie Siang Gie menjawab: "Duapuluh tahun tepat." 

Dibandingkan dengan usia Tie-kong tianglo,  umur  Cie Siang Gie baru seperlimanya, Akan tetapi  karena  ia memelihara berewok, maka nampaknya  seram luar biasa, Apabila dilihatnya sekilas pandang, kesannya seperti sudah berumur tiga puluh tahun lebih.  Dalam pada  itu  Tie-kong tianglo mengangguk-angguk dan berkata dengan hati lapang: 

"Hm, kau masih sangat muda, siauw hiap, Hari depanmu masih sangat panjang , semoga kelak kau bisa bergaul  lebih luas lagi untuk mengangkat nama sendiri." 

Cie siang Gie mengucapkan terima kasihnya, Dan esok harinya Tie-kong tianglo bermaksud hendak melanjutkan perjalanannya, dengan mengambil jalan darat. Maka ia segera memondong Thio Sin Houw dan berkata  kepada  Cie  Siang Gie: 

"Baiklah kita berpisah sampai di sini saja, mudah-mudahan kau dapat mencapai tujuan dengan selamat." setelah berkata demikian, ia melompat ke darat hendak meninggalkan perahu. 

Dengan berdiri tegak, berulangkali Cie Siang  Gie  dan  Ciu Sin Lan mengucapkan terima kasih tak terhingga. Sedang Ciu Sin Lan sempat berkata dengan lemah  lembut kepada Sin Houw: 

"Siri Houw koko, tiap hari kau harus makan yang kenyang. Dengan demikian kau tidak akan membuat sedih Thay suhu." 

Terharu hati Thio Sin Houw mendengar perkataan Sin Lan, entah apa sebabnya tiba-tiba saja air  matanya mengalir di kedua pipinya. sahutnya dengan suara tak lancar: 

"Terima kasih  atas perhatianmu, Tetapi tetapi beberapa 

hari lagi  aku akan tidak  bisa makan nasi, atau meneguk air "  Mendengar perkataan itu hati Tie-kong tianglo  seperti tersayat. Dengan terharu ia mengusap air mata bocah itu. 

"Apa  katamu?  Kau  .  . . kau kenapa?" tanya Sin Lan 

kaget. 

Thio Sin Houw tak kuasa menjawab pertanyaan Sin  Lan, dan Tie-kong tiang lo ganti menjawab: 

"Anak manis, hati nuranimu sangat baik. Mudah-mudahan Tuhan memilihkan jalan yang benar bagimu. Aku sendiri selalu berdoa, agar kau jangan terjerumus ke jalan yang sesat." 

"Terima kasih, Thay-suhu," sahut Ciu Sin Lan  dengan  tulus. 

Tiba-tiba Cie siang Gie ikut bicara: 

"Thay-suhu, ilmu saktimu sangat tinggi. walaupun ribuan macam racun berada dalam tubuh adik kecil ini, pastilah Thay- suhu dapat menyembuhkan." 

"Ya, tentu " sahut Tie-kong tianglo singkat. Akan tetapi 

sebelah tangan yang berada dibawah tubuh Thio Sin Houw nampak digoyang-goyangkan beberapa kali. Terang sekali maksudnya bahwa luka yang diderita Thio Sin Houw terlalu  berat, sehingga  tiada harapan untuk dapat disembuhkan kembali. Hanya saja, tak pernah ia memberitahukan hal itu kepada Thio Sin Houw. 

Melihat goyangan tangan Tie-kong tianglo yang dimaksud sebagai aba-aba itu, maka Cie Siang Gie menjadi  kaget. Katanya lagi: 

"Thay-suhu, luka yang kuderita tidak ringan  pula, Aku bermaksud mencari salah-seorang pamanku yang pandai mengobati, ia terkenal sebagai seorang tabib sakti. Tidakkah lebih baik apabila adik kecil ini pergi bersama sama aku, untuk menemui pamanku itu?" 

Tie-kong tianglo mendengarkan perkataan Cie Siang Gie dengan penuh perhatian, tetapi sesaat kemudian ia menggelengkan kepalanya, Sahutnya:  "Urat-urat nadinya sudah tertembus, sehingga bisa racun yang jahat meresap ke dalam perutnya, Kurasa obat dewa sekalipun sukar sekali menyembuhkannya, Diseluruh dunia ini tiada seorangpun yang sanggup  menyembuhkannya, sehingga..." 

"Tetapi pamanku mempunyai kepandaian  menghidupkan orang mati!" Cie Siang Gie  memutus  dengan  sungguh- sungguh. 

Tie-kong tianglo tercengang.  Mendadak  teringatlah dia kepada seseorang, lalu katanya mencoba: 

"Apakah nama pamanmu itu Tiap-kok le-sian?" 

"Benar, memang dia!" seru Cie Siang Gie girang. "Kiranya Thay-suhu kenal nama pamanku itu." 

Tie-kong tianglo diam termenung,  ia nampak bimbang. Memang pernah didengarnya nama Tiap-kok  le-sian  yang aneh dan sakti itu, dan yang namanya disegani oleh orang- orang Rimba persilatan. Akan tetapi dia adalah dari golongan "Beng-kauw" yang menurut  anggapan  orang  banyak merupakan agama sesat.  

Oleh karena itu kalau orang yang sakit atau terluka merupakan orang dari golongannya, ia segera menolongnya dengan sepenuh tenaga tanpa  mau  menerima  bayaran apapun juga, sebaliknya kalau yang memerlukan pertolongan bukan pengikut golongannya, biarpun dibayar  dengan  jutaan tail emas ia tidak akan sudi menolongnya. 

Melihat Tie-kong tianglo berbimbang-bimbang, segera Cie Siang Gie dapat menebak. Katanya membujuk: 

"Thay-suhu, Pamanku itu meskipun selamanya tidak sudi mengebati orang-orang diluar golongannya, akan tetapi Thay- suhu sudah menanam budi demikian  luhur  menolong  jiwa kami, Kurasa paman ku akan melanggar  kebiasaan  sendiri. Aku sendiri sebenarnya  bukan merupakan pembantu dari gerakan Ciu Kong Bie sebaliknya ayahkulah yang merupakan salah-seorang pembantu setia dari Thio Su Seng dan  diperbantukan kepada Ciu Kong Bie. 

Tatkala ayah meninggal, beliau berpesan kepadaku hendaklah aku membawa dua  putera-puteri Ciu Kong  Bie untuk diselamatkan dari  kejaran  pihak  tentara  penjajah, Karena aku sudah menyanggupkan diri, maka  aku membawanya pergi ke tempat pamanku yang sekaligus merupakan atasanku, Beliau, adalah Han Sam Tong, yang menentang pemerintah penjajah dibawah Panji Beng-kauw..." 

Sejenak Cie Siang Gie menunda bicara sambil menatap muka Tie-kong tianglo, lalu ia berkata lagi: 

"Thay-suhu adalah seorang pemimpin  besar dari suatu perguruan yang juga maha-besar, dan juga  merupakan seorang yang memuliakan agama, sebagai seorang beragama yang saleh, betapa mungkin Thay-suhu membiarkan diri memohon bantuan kepada pamanku  yang digolongkan dari aliran sesat. Tabiat pamanku  memang aneh  pula,  belum  tentu ia bisa menerima kedatangan Thay-suhu dengan semestinya, Apabila terjadi demikian, kedua-duanya  akan susah. Maka biarlah adik kecil ini aku yang membawanya seorang diri saja. Namun aku tahu, Thay-suhu menyangsikan  nilai  budi golongan kami, karena itu aku mohon kepada  Thay-suhu, biarlah Ciu kouwnio. 

Siauw-kouwnio ini mengantarkan Thay-suhu pulang ke gunung Boe-tong sebagai jaminan. Kelak apabila adik kecil ini sudah sembuh, akan aku menjemputnya kembali." 

Selama hidupnya Tie-kong  tianglo belum  pernah mencurigai seseorang. Tetapi mengingat  Thio  Sin  Houw adalah keturunan satu-satunya dari  murid  kesayangannya, Thio Kim San - maka ia bersikap sangat hati-hati. Sebab jika keturunan anak muridnya itu di kemudian  hari  sampai  masuk ke dalam aliran sesat, bagaimana ia  mempertanggung jawabkan kepada arwah ayahnya,  itulah sebabnya masih  saja ia ragu-ragu. 

Akan tetapi bisa racun yang mengamuk didalam tubuh Thio Sin Houw sudah terlalu hebat. Betapapun juga akhirnya kalau  tidak hidup ya mati. Bahaya yang bakal mengancam  dirinya, apa perlu diperpanjang dan dipertimbangkan berkepanjangan? Olah pertimbangan itu, segera Tie-kong tianglo menjawab: 

"Cie siauwhiap, baiklah,  Kita saling  berjanji, aku akan merawat Ciu siauw kouwnio ini  baik-baik. Dan  tolong  kau rawat Sin Han baik-baik pula, kelak apabila racun yang mengamuk di dalam dirinya sudah sirna, hendaklah  kau membawanya sendiri ke Boe-tong san." 

"Memperoleh kepercayaan seseorang apalagi  mendapat tugas demikian mulia, aku harus bersedia,"  sahut  Cie  Siang Gie. "Thay-suhu, legakan hatimu, Aku akan  menjaganya dengan mempertaruhkan nyawaku sendiri." 

Setelah berkata demikian, ia melompat  ke  darat. ia menggali liang kubur dengan sebatang golok, liang itu berada dibawah pohon besar. setelah selesai ia menghampiri mayat anak laki-laki yang menjadi kakaknya Sin Lan. 

Mayat itu kemudian ditelanjangi bulat-bulat, kemudian ditaruhnya dengan hati-hati ke dalam liang kubur. Cara meletakkannya ditengkurapkan sehingga hidungnya mencium bumi, setelah  selesai, dengan penuh baru mayat itu mulai ditimbuni tanah. 

Ciu Sin Lan menangisi kuburan  kakaknya  dengan sedihnya, Sedang Cie Siang Gie hanya berdiri tegak tanpa berkata sepatah katapun. ia  tidak  berdoa  atau bersembahyang. Demikianlah, setelah puas menyatakan rasa duka-citanya, perlahan-lahan mereka memutar badannya dan menghampiri Tie-kong tianglo. 

Kala itu pagi hari nampak cerah, Tie-kong tianglo hendak segera meneruskan perjalanannya pulang ke  gunung  Boe- tong san dengan membawa Ciu Sin Lan, arahnya tepat  ke timur. sedangkan Cie Siang Gie membawa Thio Sin Houw ke selatan. 

Setelah tiada berayah-bunda lagi, Thio Sin Houw menganggap Tie-kong tianglo seperti kakeknya sendiri. itulah sebabnya perpisahan pada pagi hari itu sangat mengharukan  hatinya,  sehingga  air matanya-bercucuran.   sebelum berangkat, Tie-kong tianglo mencoba membesarkan hati Sin Houw. Katanya: 

"Sin Houw, aku percaya penyakitmu akan sembuh. Apabila penyakitmu sudah sembuh kembali,  pastilah kakakmu Cie Siang Gie membawamu pulang kembali ke gunung Boe-tong san. Kita hanya berpisah hanya  beberapa  bulan  saja,  karena itu tak perlu kau bersedih hati." 

Thio Sin Houw belum  dapat menggerakkan anggauta badannya. ia hanya mengangguk, namun  air matanya mengucur semakin deras. Tiba-tiba saja  Ciu  Sin  Lan kembali ke perahunya, lalu balik kembali  dengan  membawa saputangan bersulam sekuntum bunga Mawar, Saputangan itu dimasukkan kedalam baju Sin Houw, lalu menghampiri Tie- kong tianglo dan siap untuk berangkat. 

Tergerak hati Tie-kong tianglo menyaksikan perbuatan Ciu Sin Lan. pikirnya: 

"Gadis kecil ini begini cantik, Kelak apabila telah dewasa, pastilah akan tumbuh menjadi seorang gadis yang elok luar biasa, Apabila Sin Houw dapat disembuhkan, aku wajib tidak akan mengijinkan pertemuannya  dengan gadis  ini. Sebab apabila kedua-duanya sampai saling jatuh cinta, bukankah Sin Houw akan dapat terseret memasuki golongan sesat?" 

Catatan: Yang dimaksud dengan golongan sesat oleh Tie- kong tianglo pada waktu itu, adalah golongan Beng-kauw yang bahkan dikemudian hari dapat mengusir tentara penjajah dan membangun kerajaan "Beng" (Ming) dengan Cu Goan Ciang yang menjadi kaisar pertama kerajaan Beng). 

Demikianlah dengan pandang mata yang berat, Thio Sin Houw menyaksikan Tie-kong tianglo membawa pergi Sin Lan. 

Tiada hentinya dara cilik itu menoleh dan melambaikan tangan, sampai tubuhnya hilang teraling pohon-pohon yang lebat. 

 (Oo-dwkz-oO)  PADA WAKTU ITU, terasa di dalam hati Thio Sin Houw, bahwa dirinya hidup sebatang kara, Alangkah  sunyi  dan hampa rasanya, oleh karena itu kembali ia menangis sedih, 

"Sin Houw. Berapa umurmu sekarang?" tanya  Cie  Siang Gie tiba-tiba sambil mengerutkan kening. 

"Mungkin duabelas tahun," sahut Thio Sin Houw. 

"Bagus, seorang yang sudah berumur dua  belas  tahun tidak boleh dibilang anak kecil lagi, Masakan kau menangis demikian rupa, hanya disebabkan suatu perpisahan saja? Apa kau tidak malu?" kata Siang Gie sungguh-sungguh.  

"Dahulu, ketika aku berumur duabelas tahun, entah sudah berapa ratus kali aku kena  dihajar  orang,  Akan  tetapi  selama itu setetespun tak pernah aku  mengeluarkan  air  mata, Seorang laki-laki sejati, hanya mengalirkan  darah  tidak  air mata. Jika kau terus menangis lagi begini manja, aku akan segera menghajarmu!" 

Pandang wajah Cie Siang Gie bersungguh-sungguh, sehingga kelihatan sangat bengis. Hati Sin Houw  merasa gentar juga, pikirnya diam-diam: 

"Huh, baru saja Thay-suhu berangkat, kau sudah berlagak terhadapku. Apalagi  di kemudian hari, entah penderitaan bagaimana lagi yang akan ku-tanggung." 

Meskipun hatinya gentar dan takut, akan tetapi tak sudi Sin Houw mengalah, sahutnya:  "Aku menangis sebab berpisah dengan Thay-suhu. Tetapi kalau dipukul orang, tidak bakal aku menangis. Kau hendak memukul aku, hayo  pukullah  aku. Hari ini boleh kau memukul aku, akan tetapi satu kali kau memukulku, di kemudian hari aku akan memukulmu kembali sepuluh kali " 

Cie Siang Gie tercengang, sejenak kemudian ia tertawa terbahak-bahak dengan mata berseri-seri,  kemudian  ia berkata penuh syukur: 

"Adikku yang baik, Beginilah kau baru  dapat  disebut seorang laki-laki sejati. Kau begini hebat, terus terang saja aku  tidak berani memukulmu!" 

"Kau tahu aku tak dapat bergerak sama sekali, kenapa kau bilang aku hebat? Hayo, pukullah aku!" seru Sin Houw dengan kalap. 

"Jika sekarang aku memukulmu, aku takut akan pembalasanmu di kemudian hari. Sebab dengan berbekal ilmu sakti Thay-suhumu tadi,  bagaimana  aku sanggup melawanmu?" sahut Cie Siang Gie, dengan tertawa. 

Mendengar dan melihat Cie Siang Gie terus tertawa, mau tak mau Sin Houw terpaksa turut tertawa geli juga. 

Sekarang tahulah dia, meskipun kakak ini berwajah bengis, tetapi sesungguhnya hatinya baik sekali. ia nampak bengis, karena mukanya penuh berewok tebal. 

Karena pertolongan orang-orang kampung, Cie Siang Gie memperoleh seekor kuda, Dengan menunggang  kuda ia membawa Thio Sin Houw mengarah ke selatan. Siang dan malam Siang Gie meneruskan perjalanan itu, hampir-hampir boleh dikatakan tidak mengenal istirahat. 

Untuk sekian lamanya, Sin Houw pernah mengikuti orang tuanya berkuda dari satu tempat ke tempat lainnya. 

Walaupun selalu  diancam bahaya, hatinya selalu  tegar karena ditengah-tengah keluarga. sekarang, benar ia masih hidup - tetapi ia tak dapat menggerakkan anggauta tubuhnya. Lagipula dibawa oleh seseorang yang baru  saja  dikenalnya. Tak mengherankan, hatinya terasa menjadi hampa dan sedih luar biasa. 

Sebenarnya ingin ia menangis, akan tetapi takut  kena marah Cie Siang Gie. 

Setiap hari , diwaktu matahari berada di titik-tengah, bisa racun yang berada didalam tubuhnya mengamuk hebat. 

Dan diwaktu kumat, rasa deritanya luar biasa, ia harus mempertahankan diri dan menguatkan hatinya kurang lebih setengah jam lamanya. Untuk mengenyahkan rasa sakit, ia  selalu menggigit  bibir, setelah  setengah Jam mati-matian, sedikit demi sedikit rasa sakit itu berkurang. Kemudian ia melepaskan gigitannya, akan tetapi bibirnya sudah terlanjur matang biru, Tak setahunya, serangan racun itu makin lama semakin sering dirasakan. Malahan tidak hanya selama setengah jam, kadang-kadang sampai hampir mencapai satu jam. 

Sepuluh hari kemudian, sampailah Cie Siang Gie di Kwan- po, sebelah bawah Cip-keng. Di kota ini ia menjual kudanya yang sudah kelelahan, kemudian menyewa sebuah  kereta besar yang lebih kokoh dan  sentausa, Beberapa hari lagi sampailah mereka di Beng-kong, sebelah timur Hong-yang. 

Cie Siang Gie cukup mengenal  tabiat pamannya yang sangat aneh, pamannya adalah seorang tabib sakti yang tidak senang apabila diketahui tempat ,tinggalnya, itulah sebabnya, pada waktu kereta berada dalam  jarak  kira-kira  dua  puluh  li dari Lie-san ouw, ia segera turun dari kereta dan sambil menggendong Sin Houw, ia meneruskan perjalanan dengan jalan kaki. 

Diluar dugaan, baru saja ia berjalan kurang-lebih satu li, mendadak langkahnya makin lama semakin menjadi perlahan. seluruh badannya merasa  linu  dan  napasnya tersengal- sengal, "Mengapa jadi begini?" pikirnya. 

Thio Sin Houw walaupun masih berumur dua belas tahun, akan tetapi kaya dalam pengalaman, segera  ia  mengetahui apa yang menyebabkan langkah-kaki Cie Siang  Gie  makin lama semakin perlahan. Dengan lesu ia berkata: 

"Cie toako, tak apa kau berjalan perlahan. Apa perlu kau berkutat untuk berjalan secepat-cepatnya? Bukankah dengan demikian dirimu akan cepat lelah pula?" 

Cie Siang Gie ternyata  seorang  pemuda  yang  mudah sekali tersinggung kehormatannya. ia menjadi gopoh, katanya mengandung gusar: 

"Sehari aku sanggup berjalan sejauh duaratus li, dan sedikitpun tak pernah aku merasa letih. Masakan karena cuma  kena dua kali pukulan pendeta bangsat itu, bisa membuat langkahku makin lama semakin pendek?" 

Oleh rasa penasarannya ia mencoba mempercepat langkahnya dengan mengerahkan seluruh tenaga penuh- penuh. Tetapi sebenarnya hal itu merupakan pantangan besar bagi seseorang yang mendapat luka dalam, ia tidak boleh menjadi gopoh atau marah, apalagi sampai mengerahkan seluruh tenaga secara berlebih-lebihan, Apabila hal itu sampai terjadi, maka luka dalam yang dideritanya akan menjadi lebih parah lagi. 

Tak mengherankan, baru saja ia alangkah seratus meter, seluruh sendi-sendi tulangnya terasa seakan-akan mau lepas, namun masih saja ia tak sudi menyerah. Tak sudi pula ia beristirahat dahulu, dan selangkah demi selangkah  ia memaksa diri untuk maju terus. 

Dengan demikian perjalanannya jadi lambat sekali. Cuaca sudah mulai gelap akan tetapi belum juga ia mencapai  setengah perjalanan. Sedangkan jalan  pegunungan  yang berada di depannya, nampak melingkar-lingkar penuh dengan batu tajam. Hal itu membuat hati Cie Siang Gie jadi semakin gugup. 

Sekali lagi ia memaksa dan  memaksa untuk berjalan secepat-cepatnya, Apabila malam  hari  tiba,  sampailah  ia  di tepi sebuah rimba. 

Segera ia memasukinya dengan tak ragu-ragu lagi, lalu meletakkan Thio Sin Houw ke tanah dengan hati-hati. Dan barulah ia beristirahat, untuk meluruskan napasnya,  sambil mengunyah bekal makanan, ia segera memberi keterangan kepada Thio Sin Houw bahwa seorang yang menyandang sebagai pendeta telah memukulnya dua kali berturut-turut.  

Yang pertama pada dadanya, yang kedua menghantam punggungnya. Tatkala bertempur, ia tidak memikirkan akibat pukulan itu, ia menganggap sebagai suatu  pukulan  yang lumrah. Tak tahunya kini benar-benar menyita tenaganya. 

Setelah beristirahat kira-kira satu jam lamanya, Cie Siang  Gie bermaksud hendak melanjutkan perjalanan, akan  tetapi Thio Sin Houw segera menyanggahnya. ia menyarankan agar bermalam saja dalam rimba itu, esok pagi setelah matahari muncul diudara barulah melanjutkan perjalanan. 

Cie Siang Gie mempertimbangkannya  saran  Thio  Sin Houw, Benar, meskipun malam ini mereka dapat mencapai tempat tujuan, akan tetapi tabiat pamannya terlalu aneh. Jangan-jangan karena gusar, ia lalu memutuskan tidak mau menolong, Apabila dia sudah bilang tidak, bukankah persoalan akan menjadi runyam? Dari menuruti pikiran demikian, ia menerima saran Thio  Sin-Houw.  Demikianlah  mereka menginap pada sebuah pohon dan tidur dengan aman dan tenteram. 

Kira-kira, tengah malam, Jam tiga penyakit  Sin   Houw kumat tiada hentinya, Khawatir kalau membuat  kaget  Cie Siang Gie, ia " mempertahankan diri dengan membungkam mulut sambil menggigil bibir agar tidak sampai mengeluarkan suara. Pada saat-saat itulah dari jauh terdengar beradunya senjata tajam, kemudian, teriakan beberapa orang... 

"Hayo Kalian Iari kemari? "Cegat di sebelah timur". "kurung dia di dalam rimba itu!" 

Jaga dia dan jangan beri kesempatan melarikan diri!"  Hampir  berbareng  dengan   hilangnya   kumandang suara-

suara  itu,   terdengarlah  langkah  kaki  seseorang  yang  cepat 

sekali, Kemudian beberapa orang memasuki rimba. oleh suara berisik itu Cie siang Gie terbangun. segera ia menghunus goloknya. Dengan sebelah tangan membopong Sin Houw, ia bersiaga bertempur. 

"Cie toako, agaknya bukan kita yang diarah." bisik Sin Houw. 

Cie Siang Gie mengangguk. Akan tetapi didalam hati ia sudah mengambil keputusan, hendak  melindungi jiwa Sin Houw meskipun dengan mempertaruhkan  nyawa  sendiri. Hanya saja, ia dalam keadaan luka parah. Tiba-tiba terasalah bahwa ilmu kepandaiannya  sudah punah semua, maka ia  menjadi gugup dan khawatir. 

Dengan cepat ia membawa Sin  Hong bersembunyi di belakang pohon besar. Dengan mata penuh kecemasan, ia mengintip segala yang bergerak di depannya. 

Dan terlihatlah berkelebatnya tujuh atau delapan  sosok bayangan sedang mengepung orang yang mengenakan jubah abu-abu. Dalam cuaca gelap, wajah  mereka semua tidak nampak dengan jelas,  dengan  demikian  baik  Sin  Hong maupun Cie Siang Gie tidak segera dapat mengetahui siapa mereka sebenarnya. 

Yang mereka ketahui dengan jelas  adalah orang yang berada di tengah-tengah mereka. Tanpa bersenjata orang itu mempertahankan diri dari pengeroyokan terhadap  dirinya. Kedua tangannya bergerak cepat luar biasa, sehingga para pengepungnya tidak berani bertindak sembarangan. 

Tak lama kemudian, pertarungan mereka makin lama semakin mendekati pohon tempat bersembunyi Cie Siang Gie dan Sin Houw, Kebetulan sekali pada saat itu cahaya bulan menembus mega-mega putih. sinarnya yang- cerah memasuki celah-celah mahkota daun, sehingga  Siang Gie berdua Sin Houw kini dapat melihat dengan jelas  seperti penglihatan mereka yang pertama, orang yang dikepung itu menyandang sebagai pendeta, berjubah warna abu-abu.  

Perawakannya tinggi kurus, kira-kira berusia limapuluh tahunan. Sedangkan para pengepungnya terdiri dari bermacam-macam golongan. Ada yang seperti  pendeta, adapula yang mengenakan pakaian serba ketat - dan ada pula dua orang wanita.  

Sesudah memperhatikan pertarungan sengit itu, Cie Siang Gie nampak terkejut. Segera ia mengetahui bahwa  para pengepung itu ternyata  memiliki  ilmu  kepandaian  sangat tinggi, yang berada diatasnya, Dua orang yang menyandang sebagai pendeta, menggunakan  senjata tongkat dan  golok. Dua orang lainnya  bersenjata seutas rantai panjang  dan penggada, Dua orang ini bergulingan diatas tanah, mungkin  sekali mereka hendak menyerang kaki orang  berjubah  abu- abu itu. Hebat gerak gerik mereka, semua pukulan-pukulan mereka, membawa angin keras yang menggoncangkan daun- daun kering sehingga rontok berguguran. 

Salah seorang pengeroyok yang bersenjata pedang,  gesit luar biasa. Kecuali cepat, gerakannya aneh pula. 

Kadang-kadang ia melesat ke kanan, kadang kekiri. pedangnya berkeredep diantara cahaya bulan. Sedang kedua wanita yang bersenjata pedang pula berperawakan  langsing. ilmu pedangnya ternyata sangat ringat dan  gesit. Dalam pertarungan semakin sengit, tiba-tiba salah seorang wanita itu memalingkan kepalanya. wajahnya kena sinar cahaya bulan yang terang benderang.  

Dan melihat  wajah wanita itu, hampir saja Sin  Houw memanggil. 

"Hoa kouwnio!" 

Memang wanita muda itu adalah Hoa Kie  Lian. Dia merupakan salah seorang murid partai Go-bie yang pernah berkunjung ke Boe tong-san, karena dia adalah  tunangannya Tan Boen Kiat, murid keempat dari Tie-kong Tianglo. 

Mula-mula tatkala melihat tujuh delapan orang mengeroyok seorang yang menyandang jubah abu-abu, Sin Houw diam-  diam mengutuk di dalam hati. Inilah suatu pertempuran  yang tidak adil. 

Maka ia berdoa, mudah-mudahan orang berjubah  abu-abu itu dapat membobolkan kepungan mereka, dan segera melarikan diri. Akan tetapi setelah  melihat bahwa  salah seorang pengepungnya adalah Hoa Kie Lian, ia jadi  berpikir lain. 

Dua tahun yang lalu, ketika tersiar berita bahwa  Thio  Kim San dan keluarganya berhasil mendaki gunung Boe-tong san walaupun dalam keadaan sudah menjadi mayat, Hoa Kie Lian ikut pula mendaki gunung Boe-tong san bersama guru dan sekalian saudara seperguruannya.   Mereka ternyata juga bermaksud memperoleh keterangan dimana Golok Halilintar berada! walaupun demikian Hoa Kie Lian yang diketahuinya menjadi tunangannya Tan Bun Kiat, maka Sin Houw berkesan  baik terhadap nona yang gagah perkasa itu, inilah sebabnya, kini ia berada dipihaknya. 

Dalam pada itu, Cie Siang Gie  juga  penasaran  melihat suatu pertempuran  yang tidak adil itu. Perlahan-lahan ia menggerendeng: 

"Heran, delapan orang mengeroyok seorang, benar-benar memalukan. Entah siapa mereka ini," 

Thio Sin Houw mendengar gerendeng Siang Gie, segera ia membisiki: 

"Dua wanita itu adalah dari golongan Go-bie pay, dan dua pendeta itu pastilah orang-orang Siauw-lim pay." 

Setelah mengamat-amati sebentar, ia berkata lagi: "Dan orang yang bersenjata pedang itu  mungkin  sekali  dari golongan Kun-lun pay, lihatlah betapa keji tipu-tipu serangannya, Akan tetapi tiga orang lainnya entahlah, mereka entah dari golongan mana " 

"Apakah mereka bukan dari Khong-tong pay?" tanya Siang Gie. 

"Bukan," jawab Sin Houw, Mereka menggunakan ilmu silat Tee-tong To-hoat, Didalam Tee-tong To-hoat Khong- tong pay, orang harus menggunakan sebatang golok yang dipegang di tangan kanan, dan sebatang toya di tangan kiri. Orang itu menggunakan sepasang golok." 

Mendengar keterangan dari Sin  Houw  yang  sangat  nalar  itu, diam-diam Cie Siang Gie kagum bukan main, pikirnya didalam hati: "Anak macan, pasti melahirkan macan pula, Dia cucu murid Tie-kong tianglo, tidak mengherankan bahwa pengetahuannya tidak mengecewakan " 

Akan tetapi sebenarnya pengetahuan  Thio  Sin  Houw bukan diperoleh dari rumah perguruan Tie-kong tianglo.  Itulah berkat pengalamannya selama dibawa  merantau ayah-bundanya, dari tempat ke tempat. Dan selama itu, entah sudah beberapa puluh kali ia dibawa bertempur  sehingga secara wajar ia paham serta mengenal  baik segala tipu serangan musuh-musuh ayah-bundanya. 

Itulah sebabnya pula, dengan yakin ia memberi kisikan kepada Siang Gie bahwa tiga orang yang bersenjata  rantai serta penggada bukanlah orang-orang Khong-tong pay. 

Mereka bertempur belasan jurus lagi,  dan tiba-tiba kawannya Hoa Kie Lian menjadi gelisah. Maklumlah, sekian lamanya mereka berdelapan mengepung seorang lawan, akan tetapi belum juga berhasil. Bahkan tenaga pukulan orang berjubah abu-abu itu makin lama menjadi semakin dahsyat, perubahannya sukar sekali diduga, Kadang-kadang cepat, kadang-kadang pula lambat.  

Sewaktu cepat, telapak tangannya seakan akan tidak kelihatan. sebaliknya apabila bergerak lambat, mereka semua merasakan seperti tertindih sebuah batu sebesar gunung. 

Sejenak kemudian terdengarlah salah seorang berseru: "Serang saja dengan senjata rahasia!" 

Dua orang laki-laki lantas  keluar  gelanggang.  Pada  saat itu, nampak berkeredepnya  berpuluh-puluh golok terbang (hoei-to) menghantam orang  berjubah  abu-abu  itu, Menghadapi serangan ini, orang berjubah abu-abu itu nampak repot juga, sedangkan orang yang bersenjata pedang lantas membentak: 

"Siangkoan Hong! Kami bukan bermaksud  hendak mengambil jiwamu. Mengapa kau berkelahi mati-matian? Asal saja kau sudi menyerahkan anak perempuan yang  kau  bawa dua tahun lalu, bernama Thio Sin Lan -  segera  kami  akan pergi. Bukankah urusan lantas saja menjadi beres?" 

Mendengar orang itu menyebut nama  Siangkoan  Hong, Cie Siang Gie kaget. Bisiknya perlahan: 

"Oh, jadi dialah supeh Siangkoan Hong?"  Thio Sin Houw mendengar bisik Cie Siang Gie, tetapi  ia sibuk dengan pikirannya sendiri, itulah disebabkan orang menyerukan nama Thio Siu Lan. 

Kalau begitu, Thio Siu Lan masih hidup. Thio Siu  Lan adalah kakak perempuannya,  yang dahulu masih nampak berkelahi mati-matian mempertahan diri. 

"Jadi dia masih hidup!" seru Sin Houw dalam hati, 

Pada saat itu berbagai pikiran menusuk benaknya. pikirnya lagi di dalam hati: "Benar, Waktu itu aku melihat seseorang mengenakan jubah abu-abu, apakah dia? Cie toako menyebut dia sebagai "soepeh", jelas  dia kenal. Apakah  Siangkoan Hong itu orang Beng-kauw?" 

Segera terdengar Siangkoan Hong  menjawab  dengan suara lantang: 

"Keluarga Thio Kim San yang kalian kejar-kejar, telah mati semua. Mengapa kau menyebut-nyebut  seorang  yang bernama Thio Siu Lan? Siapa dia?" 

"Akh, jangan kau berlagak pilon!" bentak orang itu. "Bukankah perempuan yang kau bawa bernama Thio Siu Lan? Dialah anak satu-satunya dari Thio Kim San  yang masih hidup!" 

Siangkoan Hong tertawa terbahak-bahak, serunya dengan suara tetap lantang: 

"Benar-benar kalian ini sudah kalap. Aku tahu, aku tahu, Kalian menghendaki jiwa  anak perempuan  Thio Kim San, bukankah kalian berharap  dapat  mengompes  mulutnya tentang dimana adanya golok mustika itu? Bah! Kalian yang menamakan diri orang-orang dari golongan lurus, sebenarnya berhati iblis!" 

Mendengar orang-orang itu mengungkat-ungkat nama ayahnya, dan menyebut juga nama  saudara  perempuannya, hati Sin Houw jadi berduka. ia belum tahu pasti bagaimana kedudukan orang berjubah abu-abu itu yang menyebut dirinya Siangkoan Hong, Akan tetapi, hatinya tiba-tiba berpihak  kepadanya, Katanya didalam hati: 

"Dahulu aku melihat dia muncul didekat jembatan penyeberangan. Menilik pembicaraan para pengepungnya ini, agaknya dia membawa Siu  Lan  cici. Kalau cici berada ditangannya, agaknya lebih terjamin keselamatan Jiwanya." 

Tanya-jawab itu tidak membuat  mereka  berhenti bertempur. Tetap  dengan gesit, Siangkoan Hong melayani mereka, Gerakan tangannya  tidak pernah ayal,  Lawannya yang bersenjata pedang itu, sengaja mengajak  berbicara dengan maksud memecahkan perhatiannya. Tak terduga, ilmu kepandaian Siangkoan Hong memang sangat tinggi. Kecerdasannya juga melebihi orang lain, Kalau hanya karena tipu-tipu semacam itu, betapa bisa menjebaknya, Hanya saja para pengepungnya itu adalah jago-jago terkemuka  dari berbagai golongan. Beberapa kali ia  berusaha  menerjang keluar, akan tetapi masih saja gagal. 

Tiba-tiba dua orang yang berada  diluar  gelanggang berteriak kaget dengan berbareng: 

"Aduh, celaka! senjata rahasia habis !" 

Mendengar seruan mereka, ke enam rekan lainnya lantas menelungkupkan badan serata tanah, Dan pada detik itu, lima sinar berkeredepan menyambar di udara.  itulah lima pisau- terbang yang dengan kecepatan luar  biasa  membidik Siangkoan Hong, Kiranya seruan senjata rahasia habis merupakan kata-kata sandi mereka, itulah sebabnya mereka lantas saja mendekam serata tanah begitu kedua temannya menyerukan tanda tanda sandi. 

Kelima pisau terbang menyambar dengan cepatnya, sasarannya membidik dada Siangkoan Hong. Dalam keadaan biasa, asal Siangkoan Hong membungkukkan badannya, mendoyongkan badan ke belakang, pisau-pisau itu akan dapat dihindarinya, Akan tetapi dia harus memperhitungkan keenam lawannya yang berada diatas tanah.  Mereka  semua menyerang berbareng  mengarah  kaki. Maka  tak dapat ia bergerak dengan leluasa.  Hati Thio Sin Houw cemas bukan kepalang. Tiba-tiba ia melihat Siangkoan Hong melompat tinggi diudara, dan  lima pisau terbang yang menyambar padanya lewat dibavah kaki. Akan tetapi, pada saat itu tongkat dan golok kedua pendeta Siauw-lim menyerang dengan berbareng. Juga pedang orang dari Kun-lun pay sudah menikam kedua kakinya. 

Dalam keadaan terapung di udara, terpaksalah Siangkoan Hong mengeluarkan gerak tipu untung-untungan. Telapak tangannya lantas menghantam kepala seorang pendeta Siauw-lim dengan tepat sekali, kemudian tangan kanannya menyambar golok. Setelah dapat merampas senjata  itu ia menangkis tongkat. Dan dengan meminjam tenaga pentalan ia melesat menjauhi. 

Pendeta Siauw-lim sie yang kena  terhantam  kepalanya, mati seketika itu juga, Tentu saja kawan-kawannya yang lain berteriak-teriak penuh kegusaran, terus saja mereka melesat merubung dengan berbareng.  

Mendadak pada saat itu nampak langkah Siangkoan Hong tidak wajar lagi, ia seperti kena terkait sesuatu, Hampir-hampir ia terpeleset jatuh, karena itu ketujuh lawannya kembali dapat mengepungnya rapat-rapat. 

Yang paling kalap adalah sisa pendeta Siauw-lim sie yang seorang, ia bertempur bagaikan kerbau edan. 

Tongkatnya menyambar-nyambar tak hentinya sambil berteriak-teriak. 

"Siangkoan Hong! Kau  berani  membunuh  adikku,  karena itu malam ini aku hendak mengadu jiwa denganmu!" 

Dalam pada itu berkali-kali orang dari Kun-lun pay juga berteriak: 

"Kakinya kena tikaman  pedangku!  Kawan-kawan, pedangku ini beracun, sekejap lagi racunnya tentu menjalar ke seluruh tubuhnya, Dan dia akan mampus terjengkang." 

Benar saja, Tidak lama kemudian langkah Siangkoan Hok nampak sempoyongan.  Pukulan-pukulannya lantas menjadi  kacau. Terdengar Cie Siang Gie berteriak tertahan: 

"Celaka! Supeh Siangkoan adalah tokoh penting  dalam Beng-kauw, bagaimana aku dapat menolongnya?" 

Thio Sin Houw tahu,  bahwa  Siang Gie berhati mulia, Meskipun dirinya sendiri terluka parah, namun nampaknya ia hendak menerjang keluar untuk menolong paman gurunya, Apabila hal ini sampai terjadi, kecuali jiwanya sendiri bakal melayang, guna faedahnya pun tak ada, Tiba-tiba  pikiran bocah ini tergerak. Katanya cepat: 

"Cie toako! Kau  hendak  menolong  paman  gurumu?" "Benar, dia  harus ditolong, Lihatlah,  dia  kena pedang 

beracun. sebentar lagi dia bakal... akh... aku sendiri... rasanya tidak mampu menggerakkan tanganku..." 

"Legakan hatimu, aku mempunyai akal," ujar Sin  Houw, "Begini, maukah kau kuajarkan salah satu ilmu ajaran Thay- suhu? ilmu itu gunanya untuk memulihkan tenaga yang hilang karena luka. Tenagamu akan menjadi  berlipat ganda, akan tetapi setelah itu keadaan tubuhmu akan menjadi rusak. itulah sebabnya Thay-suhu melarang jangan  sekali-kali menggunakan ilmu tersebut. Bagaimana?  Kau  mau menggunakan ilmu itu atau tidak?" 

Tadi Cie Siang Gie mengagumi kepandaian Sin Houw, karena dapat mengenal berbagai tipu muslihat dalam suatu pertempuran cepat. ia percaya, bahwa semuanya itu  berkat ilmu warisan Tie-kong tianglo. sekarang iapun yakin,  bahwa ilmu kepandaian yang dikatakan itu pastilah bukan ilmu isapan jempol belaka, Thio Sin Houw menerangkan, bahwa setelah menggunakan ilmu tersebut badannya akan menjadi rusak. pikirnya - tak apalah demi menolong jiwa  paman gurunya, Bukankah paman gurunya  jauh  lebih  berharga  dari  pada dirinya sendiri? Memperoleh  pikiran  demikian,  dengan  girang ia menyahut: 

"Akh, adikku yang baik, Katakanlah  dengan  cepat. Menolong orang paling perlu, sekalipun badan sendiri bakal rusak."  "Kalau begitu, carilah sepotong batu yang berujung tajam!" kata Thio Sin Houw. 

Segera Siang Gie meraba-raba bentuk batu itu, kemudian menyahut: 

"Coba pegang, apakah batu ini cukup?" tanyanya. 

Thio Sin Houw meraba-raba bentuk  batu itu, kemudian menyahut: 

"Dapat! Nah, sekarang kau totoklah kedua pinggangmu sendiri dengan ujung batu itu, Letaknya diatas kedua paha." 

"Apakah disini?" tanpa berpikir Siang Gie minta keterangan sambil menunjuk paha bagian atas. 

"Turun lagi sedikit!" ujar Sin Houw, "Nah, disitulah! Ke kiri sedikit! Bagus! Nah, sekarang totoklah. Satu -dua - tiga, Yang keras!" 

Cie Siang Gie bukanlah seorang bodoh, dia sudah berumur dua puluh tahun. Selama itu entah  sudah berapa  kali ia memperoleh pengalaman dalam suatu pertempuran. Sedikit banyak ia tahu juga ilmu menotok. Didalam  hati  ia menyangsikan perkataan Sin Houw. 

Seseorang yang kena tertotok urat nadi di atas pahanya, akan bisa melumpuhkan kedua kakinya, Akan tetapi, ia terlalu percaya kepada Sin Houw, pikirnya waktu itu: 

"llmu sakti Tie-kong tianglo  tidak dapat dipersamakan dengan ilmu ilmu sakti lainnya, pastilah ilmu menotok urat  di atas paha ini merupakan salah satu ilmu simpanan aliran Boe- tong yang hebat. "Dan tanpa menimbang nim-bang  lagi, ia lantas menghantam urat di atas pahanya  sendiri  dengan sekuat tenaga. 

"Dukkkk!" 

Tetapi ia kaget bukan kepalang, Begitu pahanya terhantam batu, seketika itu juga kedua kakinya lantas lumpuh.  Tepat pada saat itu ia melihat Siangkoan Hong melompat sepuluh langkah jauhnya, akan tetapi segera terbanting roboh keatas  tanah. Keruan saja hati Siang Gie gugup bukan kepalang. Segera ia bermaksud hendak  menerjang  memberi pertolongan, akan tetapi kedua kakinya tak dapat berkutik. Bertanya dengan cemas kepada Sin Houw : 

"Hai, kenapa jadi begini?" 

Diam-diam Thio Sin Houw tertawa geli didalam hati. Pikirnya: 

"Aku telah menipumu, toako. Tentu saja kau tak dapat bergerak karena urat nadimu kini tergeser  dari  tempatnya." Akan tetapi ia berpura-pura kaget dan  heran.  sahutnya  tak jelas: 

"Hai, mungkin sekali kau salah menotoknya, Tenaga yang kau gunakan kurang tepat, baiklah jangan kuatir. Tunggu saja barang setengah jam, pastilah kau bisa berjalan kembali." 

Tentu saja Cie Siang Gie mendongkol bukan main, ia kena ditipu bocah cilik dengan mata  membelalak.  Tetapi  ia menyadari akan maksud baik Sin Houw - dalam khawatir dan gugup, terbintik rasa geli juga. 

Dalam pada itu Siangkoan Hong  menggeletak  di  atas tanah, racun yang berada dalam tubuhnya mulai bekerja. 

Kemudian ia tak bergerak, tetapi ketujuh lawannya  belum juga berani mendekat. 

"Saudara Lok, jangan maju dulu! Biar rekan Kang menikamnya dari jauh." kata orang dari Kun-lun pay yang menggenggam pedang panjang. 

Orang yang disebut "rekan Kang" lantas  mengayunkan tangannya, dan pundak kiri serta paha kanan Siangkoan Hong tertancap dua  pisau tajam. Kena tikaman pisau itu tubuh Siangkoan Hong tidak bergerak, itulah suatu tanda bahwa ia sudah mati karena racun. 

"Sayang, sayang dia terlanjur mati," kata orang dari Kun-

lun pay  mengeluh,  "Sekarang kita tidak tahu dimana ia menyembunyikan Thio Sin Lan.  Eh , nanti dulu. Biasanya ia selalu disertai kacungnya yang bernama Sie Ah Piang, Hayolah kita cari orang itu, pasti dia berada tak jauh dari sini.." 

Akan tetapi kawan-kawannya menghampiri mayat Siangkoan Hong, maka terpaksa orang Kun-lun  pay  itu  ikut pula menghampiri. 

Baik Sin  Houw maupun Cie Siang Gie merasa sedih menyaksikan kematian dari Siangkoan Hong. 

Mendadak saja, terdengarlah suara benda jatuh lima kali, Dan pada saat itu lima  orang  yang  merubung  mayat Siangkoan Hong, terpental dan terbanting  keatas  tanah. setelah itu dengan gagah perkasa Siangkoan Hong bangkit berdiri dengan pundak dan pahanya masih menancap dua  pisau tajam. 

Kiranya, kakinya tadi memang kena tikaman pedang beracun. ia sadar bahwa tenaganya tidak akan dapat mempertahankan diri, maka ia berpura-pura mati untuk memancing ketujuh  lawannya, Begitu mereka mendekat, ia lantas melontarkan pukulan Ngo-heng ciang. 

Ngo-heng elang adalah semacam ilmu pukulan sakti yang dipergunakan apabila menghadapi lawan banyak. Dahsyatnya tak dapat diperkirakan, maka tak mengherankan  lawan- lawannya lantas saja roboh dengan memuntahkan darah. 

Hanya dua orang saja yang ketinggalan. itulah dua wanita murid Go-bie pay, Hoa Kie Lian dan sucinya yang  bernama Kwee Lian Cie. 

Dalam kagetnya, kedua murid Go-bie  itu  melompat mundur, Tatkala menoleh, mereka melihat kelima kawannya menyemburkan darah segar. Malahan  dua diantara  mereka yang berkepandaian lebih rendah, roboh menggeletak ditanah, sebaliknya, karena mengeluarkan tenaga  yang  berlebih- lebihan, Siangkoan Hong nampak terhuyung-huyung, Berdirinya tidak tegak lagi. 

"Kwee   kouwnio   dan Hoa kouwnio tikam saja dengan  pedang kalian...!" seru orang dari Kun-lun pay yang menderita luka parah. 

Sembilan orang yang bergebrak itu, yang satu mati, Dialah sipendeta dari Siauw-lim sie. Kini Siangkoan Hong dan kelima musuhnya juga terluka parah  dengan  berbareng,  Hanya tinggal Kwee Lian Cie dan Hoa Kie Lian yang masih segar- bugar.  

Tatkala mendengar seruan rekan dari Kun-lun   pay  itu, maka di dalam hati Kwee Lian Cie berkata: 

"Apakah kau anggap aku sendiri tak bisa membunuhnya? Mengapa aku harus menunggu perintahmu?" 

Pedangnya lantas bergerak hendak memotong betis Siangkoan Hong. Pada saat itu Siangkoan Hong tidak dapat berkutik lagi. Melihat berkelebatnya pedang, ia hanya dapat menghela napas panjang, Katanya didalam hati: 

"Karena kalian berdua  adalah wanita,  maka aku tidak sampai hati memukul dada kalian, itulah sebabnya kalian berdua selamat tak kurang suatu apa, Eh, sama sekali tak kuduga bahwa kebajikan ini justru mengakibatkan malapetaka sendiri." 

Dengan kata hati itu, ia memejamkan mata menunggu nasibnya, 

Mendadak saja ia terkejut berbareng heran, tatkala mendengar suara nyaring beradunya dua senjata. Segera ia menjenakkan matanya, masih sempat ia menyaksikan pedang Kwee Lian Cie di tangkis oleh pedang Hoa Kie Lian. 

Kwee Lian Cie tercengang melihat kelakuan adik seperguruannya. Bertanya dengan heran: 

"Sumoay, kau kenapa?" 

"Sucie! Siangkoan Hong tidak menghendaki  kita berdua mati, bahkan ia tak mau melukai kita, Karena  itu  kitapun  jangan keterlauan." sahut Hoa Kie Lian. 

"Aku tidak akan membunuhnya, aku hanya ingin  menahannya disini agar ia menerangkan dimana Thio Sin Lan berada " kata Kwee Lian Cie dengan suara tajam. 

"la terkena tikaman senjata berbisa, lukanya sudah cukup berat. Lebih baik kita mengobati dahulu, dengan demikian kita bisa mendapat keterangan lebih leluasa lagi." Hoa Kie Lian memberi saran, setelah berkata demikian, ia mendekati rekannya dari Khong-tong pay, berkata kepadanya: 

"See tayhiap, dia  kena pedang  beracunmu,  Berilah  dia obat pemunahnya dengan demikian siauwmoay bisa mengharapkan keterangannya lebih leluasa." 

Orang dari Khong-tong pay itu bernama See Cu Leng, ia memberikan jawaban: 

"Ringkus dia dahulu, agar tidak bisa melarikan diri. orang- orang dari Beng-kauw banyak  tipu muslihatnya. Kita harus berjaga-jaga terhadap manusia iblis itu!" 

See Cu Leng berkata dengan napas tersengal-sengal, setelah berkata demikian, ia menyemburkan darah segar lagi dari rongga dadanya,  Pukulan Ngo-heng ciang Siangkoan Hong benar-benar melukai dadanya cukup berat. 

Hoa Kie  Lian merenung sejenak, menimbang-nimbang perkataan See Cu Leng, Kemudian menunduk, setelah melepaskan ikat pinggangnya, ia mendekati Siangkoan Hong dan berkata dengan suara lemah lembut: 

"Siangkoan Hosiang, maaf, Terpak-sa aku mengikatmu sebentar." 

Kedua kaki Siangkoan Hong terasa pegal luar biasa, ia menyadari, apabila tidak segera mendapat obat pemunahnya, sebentar lagi tentulah jiwanya melayang, Pada saat itu ia berpikir: "Daripada kena tabasan pedang Kwee Lian Cie, lebih baik kena ringkus Hoa Kie Lian, Kalau mau, ia bisa membunuh Hoa Kie Lian dengan sekali pukul, akan tetapi disana masih berdiri seorang yang segar bugar. Dialah Kwee Lian Cie yang tadi hendak menabas kedua kakinya  - maka apabila ia membunuh Hoa Kie Lian, sudah tentu Kwee Lian Cie itupun  bakal menabas kakinya juga, Terpaksa sekarang  ia membiarkan dirinya kena diringkus Hoa Kie  Lian dengan tersenyum getir. 

Melihat Siangkoan Hong sudah kena  diringkus,  barulah See Cu Leng mengeluarkan obat pemunahnya. Dengan napas tersengal-sengal ia memberi tahu Hoa Kie Lian, bagaimana menggunakan obat tersebut. Mula-mula Hoa Kie Lian harus mencabut kedua pisau yang menancap pada punggung dan paha Siangkoan Hong, setelah kedua pisau itu kena  dicabut- nya barulah ia membubuhi obat pemunah. 

Kwee Lian Cie yang selama itu mengawasi perbuatan adik seperguruannya, segera berseru kepada Siangkoan Hong: 

"Siangkoan Hong, lihatlah! Hati adik seperguruanku penuh cinta kasih, itulah sebabnya kini jiwamu tertolong. 

Maka bukankah sudah pada tempatnya apabila engkau membalas budi dengan menerangkan dimana  kau sembunyikan Sin Lan?" 

Sebagai jawaban, Siangkoan Hong tertawa  terbahak- bahak. sahutnya: 

"Kwee kouwnio. Kau  benar-benar  terlalu  memandang rendah padaku, Aku Siangkoan Hong  meskipun terkenal sebagai anggauta aliran iblis,  akan  tetapi  aku  tidaklah serendah sangkamu, lihatlah, Thio Kim San tayhiap,  murid Tie-kong tianglo. Dengan rela ia mengorbankan anak-isterinya karena ia tidak mau dipaksa orang-orang seperti dirimu untuk memberikan keterangan dimana Golok Halilintar berada, walaupun aku tidak bisa menyamai sifat ksatria Thio tayhiap, akan tetapi ingin aku mencontohnya." 

Kata-kata Siangkoan Hong membuat darah Thio Sin Houw bergolak hebat. 

Seketika itu juga, rasa simpati kepada Siangkoan Hong menjadi bertambah,  selama bertahun-tahun ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri, betapa  ayahnya dikejar-kejar orang dari berbagai aliran dan golongan. Dan setiap  pengejarnya selalu memaki-maki dan mengumpat-caci, sekarang ia mendengar seorang bernama Siangkoan Hong memuji dan mengagumi ayahnya, keruan saja ia menjadi terharu. 

Pada saat itu terdengarlah Kwee Lian Cie berkata dengan nada mengejek: 

"Hm ... Thio Kim San! Apakah ada harganya untuk dibicarakan? Apalagi untuk ditiru! Cih! ia mampus akibat kebodohannya!" 

"Sucie!" potong Hoa Kie Lian. 

"Jangan khawatir, sumoay," kata Kwee Lian Cie dengan mengulum senyum, "Aku tidak akan merembet  kepada  Tan Bun Kiat dan sekalian saudara seperguruannya." 

Setelah berkata demikian, Dengan pedangnya Kwee  Lian Cie menuding mata kanan Siangkoan Hong. Lalu mengancam: 

"Hei, iblis! Jika kau tidak sudi mengaku, pada saat ini juga kedua matamu akan kubutakan, Mula-mula akan kutembus mata kananmu, kemudian mata kirimu, setelah itu telingamu akan ku-pangkas. Mula-mula telinga kanan, kemudian telinga kiri, Lalu aku akan memotong hidungmu, pendek  kata  aku akan membuat dirimu seperti iblis benar-benar." 

Ujung pedang Kwee Lian Cie kini sudah berada satu senti didepan mata kanan Siangkoan Hong, akan tetapi Siangkoan Hong sama sekali tidak  nampak gentar.  Kedua matanya bahkan dipentangnya lebar-lebar tanpa berkedip sekejappun. sahutnya dengan suara tawar:  

"Sudah lama aku mendengar sepak terjang Go-bie  pay yang berhati keji dan  bertangan gapah, Kau adalah salah seorang muridnya, tentu  saja kau serupa benar dengan gurumu. Pada malam ini aku Siangkoan Hong,  jatuh ditanganmu, Nah, coba tunjukkanlah kebesaranmu, Hayo, butakan mataku, tidak akan aku berkedip sedikitpun!" 

"Bangsat gundul!" maki Kvee Lian Cie  dengan  suara bengis. "Kau berani mengolok-olok guruku?" setelah berkata  demikian, pedangnya didorong dan  seketika itu juga  mata kanan Siangkoan Hong menjadi buta! 

Setelah mata kanannya tertikam pedang, mata kirinya segera terancam pula. 

Akan tetapi lagi-lagi Siangkoan Hong  tertawa bergelak- gelak, Mata kirinya dibelalakkannya leba-lebar, memelototi Kwee Lian Cie sehingga gadis itu bergidik  bulu  kuduknya, Untuk mengatasi rasa ngeri, Kwee Lian Cie  berkata membentak: 

"Kau bukan pengikut Thio Su Seng, bukan pula budak Cu Goan Ciang atau menantunya Tie-kong  tianglo.  Apa  sebab kau melindungi Thio Sin Lan sampai kau rela mengorbankan Jiwamu?" 

"Aku adalah seorang laki-laki..!" sahut Siangkoan Hong, "Perbuatan seorang laki-laki sejati, sekalipun aku terangkan kepadamu, kaupun tidak bisa memahami karena kau seorang perempuan." 

Bukan main gagahnya perkataan  Siangkoan  Hong, sehingga membuat gadis itu mendongkol. Betapa tidak, Siangkoan Hong sudah tidak berdaya lagi, mata kirinya sudah buta pula, sekalipun  demikian,  mulutnya  masih  tajam, sehingga masih mampu menghina dan merendahkan dirinya. Maka dengan kalap ia menusukkan  ujung  pedangnya mengarah mata kiri Siangkoan Hong. 

Syukurlah pada saat itu Hoa Kie  Lian menangkis ujung pedangnya, sambil berkata: 

"Sucie, Siangkoan Hosiang ini memang berkepala batu, Andaikata kau bunuhpun, tidak ada gunanya." 

"la memaki guru kita, berhati keji dan bertangan gapah. Karena itu, biarlah aku tunjukkan kekejian  dan  kegapahan tanganku!" sahut Kwee Lian Cie  dengan  suara  berkobar- kobar, "Manusia siluman aliran iblis ini, kalau dibiarkan hidup akan merusak peradaban manusia saja, Kalau aku bisa membunuhnya, artinya aku bisa sekedar memberi sedekah  kepada angkatan mendatang." 

"Tetapi, sucie, Meskipun ia anggauta aliran  sesat,  akan tetapi nyatanya dia seorang pendekar sejati. Menurut pendapatku, ampunilah jiwanya!" bujuk Hoa Kie Lian. 

"Tetapi rekan kita dari Siauw-lim yang berada disini mati seorang, dan yang lainnya menderita luka parah. lihatlah, Sie Cu Leng dan Tee Kun Eng, dan juga yang lainnya, Mereka semuanya menderita luka berat. Masakan  dengan membutakan kedua matanya, aku berlaku keji terhadapnya?" teriak Kwee Lian Cie, Setelah berkata demikian, secepat kilat pedangnya kembali menusuk mengarah mata kiri Siangkoan Hong. 

Namun dengan cepat pula, Hoa Kie Lian  menangkis tikaman pedangnya. Katanya membujuk: 

"Sucie, orang ini sudah tidak lagi berdaya, Menganiaya secara demikian kalau tersiar didalam masyarakat, nama Go- bie pay akan tercemar." 

Kwee Lian Cie gusar bukan kepalang karena kehendaknya selalu dirintangi adik seperguruannya, Dengan sepasang alis berdiri tegak, ia membentak: 

"Minggir! Kau minggir  atau  Tidak?  jangan  perdulikan diriku!" 

"Sucie, kau..." 

"Apa?" potong Kwee Lian Cie dengan cepat. "Kau memanggilku sebagai "sucie"? Bagus, kalau kau memanggilku dengan sebutan sucie, maka kau harus patuh kepada perkataanku. Hah, minggirlah !" 

"Baiklah, sucie," sahut Hoa Kie Lian dengan suara merendah. 

Pedang Kwee Lian Cie  bergerak  lagi  mengarah  ke  mata kiri Siangkoan Hong, akan tetapi lagi-lagi Hoa Kie  Lian menangkisnya. 

Karena melihat  tikaman Kwee Lian Cie kali ini sangat  ganas dan berbahaya,  maka Hoa Kie  Lian menangkisnya dengan sungguh-sungguh pula, ia menggunakan tenaga tujuh bagian. pada saat itu  terdengarlah  suara  gemerincing  dan lelatu meletik dari perbenturan itu, Dan kedua-duanya tergetar mundur dua langkah.  

Keruan saja Kwee Lian Cie gusar bukan kepalang. Bentaknya dengan sengit: 

"Sumoay! Kenapa berulangkali kau melindungi jiwa pendekar iblis ini? Apakah maksudmu sesungguhnya?" 

"Aku tidak mempunyai maksud apa-apa.  Aku  hanya berharap agar kau tidak menyiksanya dengan cara demikian." sahut Hoa Kie Lian, "Bukankah kita mengejarnya semata-mata hendak memperoleh keterangan dimana beradanya Siu Lan? Nah, kita tanyakan kepadanya  dengan perlahan-lahan  dan sabar." 

"Hemm... apa kau kira aku tidak tahu, apa yang berkutik didalam pikiranmu?" tiba-tiba Kwee Lian Cie mengalihkan pembicaraan secara tidak langsung. "Beberapa kali Tan  Bun Kiat dari Boe-tong pay mendesak kau menikah dengannya, mengapa kau selalu menolak dengan memberikan berbagai alasan? 

Waktu ayahmu turut mendesak, mengapa kau kabur dari rumahmu?" 

"Sucie, itulah urusan siauwmoay pribadi." kata Hoa  Kie Lian, "Mengapa, sucie menyebut-nyebut hal itu?" 

Sang kakak seperguruan mengeluarkan suara dihidung, "Kita sama-sama mengetahui,"  katanya, "Dihadapan  orang luar, memang kurang baik jika aku membuka topengmu, Huh! Badanmu berada di Go-bie pay, tetapi hatimu dipihak Beng kauw!" 

Mendengar perkataan itu, Hoa Kie Lian gusar bukan main, sehingga paras mukanya berubah pucat. 

"Aku selalu menghormati kau sebagai seorang kakak, dan belum pernah aku melakukan kesalahan terhadapmu,"  katanya dengan suara gemetar. "Tetapi mengapa hari ini kau menghina aku?" 

"Kalau benar hatimu tidak berpihak kepada Beng-kauw, sekarang buktikanlah, Kau  wakili diriku, menusuk mata kiri pendekar iblis itu!" 

"Sumoay!" kata Hoa Kie Lian dengan suara tegas. "Aku belajar ilmu pedang bukan untuk membunuh orang yang tidak berdaya, atau menyiksa orang yang lemah. Karena itu aku menolak permintaanmu !" 

Mendengar jawaban Kie Lian, maka Kwee Lian Cie tertawa tinggi. Katanya dengan mencemoh: 

"Bagus, Didengar sepintas lalu kata-katamu bernilai besar, yang pantas diucapkan seorang pendekar yang  bernama kosong melompong. Maka dengan sangat menyesal aku membeberkan rahasia hatimu  sepatah   kata  demi  sepatah kata, didepan para orang-orang gagah yang berada disini." 

Mendengar ancaman itu, Kie Lian kelihatan tidak berani berkeras lagi. 

"Sucie," katanya  dengan suara perlahan. "aku mohon, dengan mengingat kecintaan antara sesama saudara seperguruan jangan kau mendesak aku terlalu hebat." 

"Sebenarnya bukan aku yang  mendesakmu,  akan  tetapi kau sendiri yang minta kudesak," ujar Kwee Lian Cie dengan tertawa menang, suhu memberi perintah kepada kita berdua, agar mencari jejak dimana beradanya Siu Lan, anaknya  Thio Kim San yang dibawa lari oleh iblis itu, sekarang iblis yang berada didepan matamu itu sudah tidak berdaya lagi,  tinggal kita mendengar pengakuannya. 

Akan tetapi mengapa  kau melindungi? Lihatlah dengan matamu yang terang! Lima orang rekan kita kena dilukai berat, entah jiwanya tertolong atau tidak. Kalau aku hanya membutakan kedua matanya, bukankah aku sudah berlaku murah terhadapnya?" 

"Tetapi ingat, sucie, Bukankah dia tadi menyelamatkan jiwa  kita berdua? Andaikata dia tadi melepaskan pukulannya terhadap kita berdua, pastilah jiwa kita sudah melayang sejak tadi." Kie Lian memperingatkan. 

"Hmm..." dengus Kwee Lian Cie, "Sering sekali suhu memuji ilmu pedangmu yang hebat. watakmu dipujinya  jujur pula, karena berani terus terang  menghadapi segala hal. Karena itu suhu  hendak mengangkat  kau  sebagai ahliwarisnya. Kenapa  sekarang kau berhati selemah cacing begini?" 

Sejak tadi semua orang yang berada  disitu termangu menyaksikan pertengkaran mereka yang tak keruan juntrungannya, Mereka  mencoba  menebak-nebak,  apakah latar belakang sesungguhnya? setelah Kwee Lian Cie menyinggung sikap guru mereka terhadap  Hoa Kie  Lian, barulah mereka dapat  menduga-duga sebagian,  Agaknya Kwee Lian Cie dengki dan iri hati  terhadap  Kie  Lian  karena oleh guru mereka dicalonkan sebagai ahliwaris.  

Sebagai seorang ahliwaris Go-hie pay dikemudian  hari, Hoa Kie Lian tidak hanya akan memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, tetapi juga kedudukannya sebagai Ciang-bunjin Go-bie Pay. 

Oleh perhitungan itu, sekarang Kwee Lian Cie bermaksud menggeser kedudukan Hoa Kie Lian dengan membuka boroknya didepan para pendekar yang menjadi rekan seperjalanan mereka. 

Dengan demikian, kecuali mencoreng muka Hoa Kie Lian didepan rekan-rekannya itu, juga  untuk  mengangkat  diri sebagai orang yang gigih menunaikan tugas dari gurunya. 

Pembawaan jiwa Thio Sin  Houw meletakkan nilai budi diatas segala-galanya,  ia mempunyai  kesan  baik  terhadap Hoa Kie Lian, tatkala Hoa Kie  Lian  berkunjung  ke  Boe-tong san. itulah sebabnya menyaksikan betapa gadis  itu kena didesak oleh Kwee Lian Cie,hatinya ikut menjadi panas. ingin sekali ia melompat dan menghantam kepala Kwee Lian Cie sepuas-puas hati.  "Sumoay, tiga tahun yang lalu tatkala suhu mengumpulkan semua murid-muridnya dipuncak Kim-teng, dengan maksud mengajarkan ilmu pedang Tiat-kiam dan Kie-kiam, kenapa kau tidak hadir dalam pertemuan itu? Mengapa suhu jadi sangat marah, sehingga suhu mematahkan pedangnya sendiri dan mengatakan bahwa  dunia tak akan mengenal kedua ilmu pedang itu?" kata Kwee Lian-Cie dengan suara ditekan-tekan. 

"Waktu itu aku sedang sakit di  suatu  tempat,  sehingga tidak dapat hadir." jawab Kie Lian dengan suara agak merasa takut. 

"Hmm," dengus Kwee Lian Cie dengan mulut mengulum ejekan. "Suhu memang sangat sayang kepadamu, sehingga alasanmu tidak direntangnya panjang. Akan tetapi aku, mempunyai pendapat lain, Baiklah aku akan  membatasi  diri tidak mengajukan sebuah pertanyaan lagi kepadamu,  tetapi asal saja kau sekarang membutakan mata  kiri  pendeta  iblis itu!" 

Hoa Kie  Lian menundukkan kepalanya, tampaklah  ia berada dalam keadaan serba susah. Akhirnya dengan suara perlahan ia berkata: 

"Sucie, benar-benarkah kau memaksa diriku untuk melakukan pekerjaan hina itu?" 

"Kau mau menusuk atau tidak?" dengan suara kaku Kwee Lian Cie membentak. 

"Sudahlah, begini saja." ujar Hoa Kie Lian dengan suara mengalah. "Aku berjanji dan bersumpah kepadamu, meski pun suhu hendak mengangkatku sebagai ahliwarisnya, aku tidak akan menerimanya." 

"Apa kau bilang? Bagus sekali!" berteriak Kwee Lian Cie dengan muka merah padam. ia  nampak  makin  mendongkol dan gusar bukan main, Meneruskan dengan kata-kata sengit: "Jadi kau mengira  aku  beririhati  kepadamu?  Heh!  Apanya yang kuirikan? Apakah karena kau diangkat menjadi ahliwaris suhu? sekalipun aku ini bukan murid kesayangan suhu, akan tetapi bila aku mau dengan sepatah kakaku, akan bisa  menggiurkan kedudukanmu. Hayo, kau  mau  mencukil  mata kiri iblis ini atau tidak?" 

Hoa Kie Lian agaknya tidak sudi melayani lagi. ia memutar tubuhnya dengan sekonyong-konyong, terus melarikan diri, Akan tetapi Kwee Lian Cie sudah menduga demikian. Cepat ia mencegat dengan pedang dilintangkan di depan dadanya. Katanya pula: 

"Aku tadi sudah bilang, Lebih baik kau tusuk mata kiri  iblis itu! Kalau tidak, pastilah rahasiamu akan kubeber dengan terang-terangan didepan  para pendekar gagah yang  hadir disini, Baiklah, karena kau  terus-menerus  membangkang, maka terpaksalah aku bertanya kepadamu, Pada tiga  tahun yang lalu, apakah benar-benar kau menderita  sakit  di  Kam- ciu? padahal aku tahu benar,  kau bukan menderita sakit sebaliknya kau melahirkan anak!" 

Mendengar perkataan Kwee Lian Cie, tak  dapat  lagi  Kie Lian menyabarkan diri terus saja ia mengibaskan pedangnya sambil membentak: 

"Minggir!" Akan tetapi Kwee Lian Cie tidak mengacuhkan. Dengan ujung pedang menuding ke dadanya, ia membentak pula: 

"Hoa Kie Lian, akh sayang. Semua orang mengira  bahwa kau seorang gadis yang suci bersih, tak tahunya setelah bertunangan dengan Tan Bun Kiat, kau mengandung  dan melahirkan anak dari benih laki-laki lain,  Sayang,  seribu  sayang " 

 (Oo-dwkz-oO) 

UCAPAN Kwee Lian Cie  itu  bagaikan  bumi  tergoncang oleh suatu gempa bumi, Tidak hanya Hoa Kie Lian saja yang terkejut, tetapi semua orang yang mendengar tercekat hatinya, Benarkah tuduhan Kwee Lian Cie yang keji itu? 

Usia Thio Sin Houw belum duabelas tahun penuh, sudah barang tentu  seorang bocah seperti dia  belum  mengenal masalah penghidupan laki-laki dan perempuan. ia hanya bisa  merasakan secara naluriah belaka, bahwa  kejadian  demikian itu sangat tercela, Akan,  tetapi mengingat  kesan baiknya terhadap Hoa Kie Lian, ia membantah segala tuduhan  Kwee Lian Cie didalam hati, Karena tak dapat mengambil  suatu sikap, ia jadi bingung sendiri. 

Akan tetapi sesungguhnya  yang menjadi bingung  dan heran tidak hanya Thio Sin Houw seorang, bahkan Siangkoan Hong dan Cie Siang Gie dan lain-lainnya demikian pula. 

Tatkala itu wajah Hoa Kie Lian nampak pucat. Dengan membungkam mulut ia menerjang kedepan dengan maksud hendak meninggalkan persoalan. Sama sekali tak terduga, bahwa ancaman Kwee Lian Cie bukan merupakan gertakan belaka, Dengan  sungguh-sungguh  ia menggerakkan pedangnya, menikam lengan kanan Kie Lian, "Crett!" Hebat tikaman itu, sampai menembus ketulang. 

Kena tikaman tak terduga itu, Hoa Kie Lian kehilangan kesabarannya, Tangan kirinya segera menghunus pedangnya, katanya mengancam: 

"Sucie! Jika kau  terlalu  mendesak  -  jangan  persalahkan aku sampai berani melawanmu!"