Golok Hallintar (Thio Sin Houw) Jilid 02

Jilid 02
"Kalau ibu atau ayah yang salah, wajib kita memohon maaf kepada mereka, sebaliknya kalau ayah dan ibu tidak bersalah, kita harus mencuci noda itu. Bukankah begitu pesan koko?" 

Bukan kepalang terharunya hati Siu Lan. Adiknya belum genap berumur sepuluh tahun, tetapi perkataannya seperti seorang yang sudah menanjak dewasa, inilah akibat penggodokan yang seolah-olah dipaksakan oleh keadaan. Pertumbuhan jiwanya menjadi sangat cepat, mungkin terlalu cepat. 

"Benar, adikku," akhirnya Siu Lan  memberikan jawaban dengan  hati  terharu      "Perkataanmu  adalah  ucapan  seorang 

ksatria sejati. Maka benarlah kata kata ayah tentang dirimu. walaupun  ilmu   kepandaianmu   paling   lemah   diantara kami,  akan tetapi bakatmu berada di atas kita semua, Karena itu engkaulah yang kelak wajib membersihkan  nama  orang  tua kita dan menuntut balas dendam!" 

Thio Sin Houw diam tak mengucap apa-apa. ia nampak bersusah hati. Lama sekali ia berdiam diri, lalu berkata dengan suara perlahan seperti pada dirinya sendiri: 

"Jadi, merekalah yang bersalah... Tetapi, apakah  maksud ibu memerintahkan kita mengingat-ingat nama Tan Kok Seng? ibu mengatakan, bahwa tanda-tandanya telah diketemukan." 

"Urusan itu masih gelap, ayah sendiri masih bimbang dan ragu, Biarlah kita menyelidiki saja di kemudian hari dengan perlahan-lahan, sekarang kita berdua terlalu sulit untun memahami. Yang paling penting kita berdua  harus dapat menyeberangi jembatan itu  dengan  selamat.  Terutama engkau, adikku . Baik ayah, ibu maupun koko dan aku sendiri mengharapkan dirimu. Engkaulah adikku yang dapat membersihkan noda keluargamu di kemudian hari." 

Thio Sin Houw tertawa. Katanya: 

"Ribuan orang menjadi musuh kita - sanggupkah aku melawan mereka?" 

"Kau berada di jalan yang benar, Tuhan akan memberkati dan meIindungimu..." Siu Lan menegaskan. 

Pada waktu itu mendadak terdengarlah suara  Iapat-lapat dari jauh: 

"Siu Lan, kenapa kau masih berhenti  disitu?  Cepat! Bawalah adikmu lari !" 

Siu Lan  segera mengenali suara kakaknya, gugup ia mengajak Sin Houw meninggalkan tempat itu: 

"Cepat!" 

Dengan tangan lembut sedingin es, ia menuntun Sin Houw dan dibawanya berjalan mendaki bukit, Setelah berjalan selintasan, tiba-tiba Sin Houw me-rand^k lagi dan berkata:  "Aku letih, kita berhenti dahulu di sini..." 

Siu Lan dapat menebak hati Sin  Houw sebenarnya.  Bocah itu pasti teringat keadaan ayah dan ibunya, juga terhadap keselamatan kakaknya, Thio Sin Han. ia sendiri sebenarnya demikian juga, tetapi mengingat tugas yang harus dilaksanakan, tak dapat ia mengidzinkan adiknya berlalai-Ialai, segera ia mengkuatkan hati dan mengendalikan perasaannya sendiri. walaupun  de mikian, tak urung ia gagal  juga,  ia menoleh dan memusatkan pandangnya ke arah pertempuran. 

Heran, Apa sebab pertempuran  itu  tiba-tiba  telah mendekati tanjakan di bawahnya, Pada saat itu  kilat menyambar beberapa kaIi, puluhan senjata nampak berkelebatan meluruk ayah dan ibunya serta kakaknya, Maka tahulah ia kini, karena terlalu banyak lawan  ayah, ibu dan kakaknya membela diri sambil berlari  mundur,  Setelah berkelahi beberapa waktu lamanya,  mereka telah  tiba  di bawah tanjakan bukit. 

Secara samar dilihatnya ayahnya mendampingi ibunya, sedangkan kakaknya melesat kian kemari dengan maksud melindungi kedua orang tuanya, Mereka bertiga bekerja sama sangat rapi, berpengalaman menjadi kejaran musuh. 

Biasanya musuh berjumlah paling banyak sepuluh orang, akan tetapi malam itu musuh yang datang mengeroyok mencapai jumlah empat puluh orang, Tak mengherankan, mereka bertiga kena di desak mundur dari tempat ke tempat. 

Musuh yang berada di sebelah kiri memakai pakaian serba hitam dengan jubah putih, dialah yang menyebut diri sebagai Cie-san Li ong-ong Kwee Sun -senjatanya sepasang golok, gerakannya gesit dan ganas, sedangkan yanq berada di sebelah kanan, seorang jago lain bertubuh  pendek  kecil, dengan ditangan kirinya memegang perisai  besi, sedang  di tangan kanannya menggenggam sepotong gada bergigi tajam, Dialah lawan yang paling lincah  cara  perlawanannya. Beberapa kali ia meloncat kian kemari untuk menyerang atau mengelak. Berlawanan denqan Cie-san Liong-ong Kwee Sun yang ternyata sangat Iicik, serangannya  selalu dilancarkan,  apabiIa suami-istri Thio Kim San sedang repot menghadapi kepungan musuh lainnya. 

Yang berada di bagian tengah, seorang  pendekar berpakaian serba ringkas, umurnya belum  mencapai  lima puluh tahun tampangnya  bengis, senjatanya  merupakan pedang panjang. 

Mereka bertiga ini merupakan pemimpin dari puluhan para pengeroyok. Sambil bertempur seringkali mereka menyerukan aba-aba pengepungan atau cara penyerangan. 

"Cici, ketiga orang itu berasal dari mana?" Thto Sin Houw minta keterangan. 

"Aku sendiri kurang tahu," jawab Siu Lan. "Hanya nama mereka pernah kudengar. Yang mengenakan jubah seperti pendeta itu bernama Cie-san Liong-ong Kwee Sun, si kate bernama Su Tay Kim, dan yang bersenjata pedang panjang seorang ahli pedang Bu Seng Kok." 

Thio Sin Houw menarik napas, lalu berkata seorang diri: "Mereka sangat gesit dan  ganas,  apakah ayah dapat 

melawan mereka bertiga dengan sekaligus?" 

"Ayah dikepung tidak kurang  oleh  duapuluh  orang. walaupun demikian ayah pasti sanggup merobohkan mereka bertiga, Kau  lihat saja nanti,"  sahut Siu  Lan  meyakinkan adiknya. Akan  tetapi sesungguhnya  ia sendiri tidak  yakin, maka cepat-cepat ia mengalihkan pembicaraan:  

"Mari, kita daki bukit ini secepat-cepatnya.  Di  seberang bukit inilah letak jembatan penyeberangan itu, semoga Tay- suhu berada di situ " 

Siu Lan segera menarik lengan  adiknya,  dan  dibawanya lari secepat-cepatnya. Tatkala itu, ia mendengar suara parau, suara yang dikenalnya dan yang membuat hatinya tergetar: 

"Kami suami isteri, Thio Kim San dengan ketiga anak keturunan kami, selamanya belum pernah berkenalan atau bermusuhan dengan kalian, Apa sebab kini kalian mengejar  kami siang dan malam tanpa alasan? Apakah kalian benar benar menghendaki nyawa kami berlima ?" 

Itulah suara sang ayah, kemudian Siu Lan sempat mendengar Cie-san Liong ong Kwee Sun menggerendang: 

"Kamu membunuh guruku, karena itu wajib aku menuntut balas!" 

"Membunuh gurumu? Gurumu yang  mana?"  tanya  Thio Kim San heran. 

Ketlka Cie-san Liong-ong Kwee Sun  hendak  membuka mulutnya, tiba-tiba Su Thay Kim mendahuIui: 

"Untuk apa kau mengadu  mulut dengan bangsat  itu? Renggut jiwanya habis perkara " 

Thio Kim San menjadi bimbang mendengar perkataan Su Thay Kim tadi, selama sekian tahun menjadi orang buruan, ia memang mengalami suatu pertempuran sengit beberapa kali. Tetapi ia hanya melukai, tak pernah membunuh lawannya. Apakah kesalahan tangan? 

Pada waktu waktu itu Bu Seng Kok ikut bicara: 

"Jangan bunuh mereka! Kita harus menangkap mereka hidup-hidup, Kalau mereka mati, sia-sia  saja usaha kita ini untuk memperoleh golok itu." 

"Huh!" dengus  Su Thay Kim. "Mereka hidup atau mati, golok itu akhirnya akan dapat kita rebut, Mengapa kau ribut tak karuan? Kalau mereka dibiarkan hidup, huh sungguh enak!" 

Tetapi seorang lain yang berada di belakang mereka ikut bicara: 

"Jangan! jangan dibunuh! Biarkan mereka hidup. Kalau mereka mati, benar benar kita jadi gelap,  Teka-teki  itu  tak dapat kita pecahkan." 

Hebat suara itu. Kecuali nyaring, kerasnya seperti genta dipukul oleh besi panjang. itulah sebabnya, Thio Sin Houw ikut terkesiap. ia berduka dan bergusar, sehingga tangannya yang  kecil bergemetar. 

Thio Siu Lan bercekat hatinya ketika merasakan getaran tangan adiknya. Cepat-cepat ia kuatkan diri, lalu menekap tangan adiknya kencang kencang dan dibawanya lari makin cepat. Mula-mula ia lari asal lari saja. Lambat-laun  merasa seperti diburu,  Dan larilah kedua anak itu seperti kalap, sebentar saja dua gundukan  tanah tinggi yang  merupakan bukit telah terlampaui. 

Kini mereka berdua  merasa diri agak aman, Mereka memperlambat langkahnya. Peluh mereka membasahi badan dan bercampur aduk dengan  air  hujan. sambil mengatur pernapasan, Thio Siu Lan  memasang telinga. Tiada lagi terdengar beradunya pedang golok, Suara hiruk-piruk pertempuran lenyap teraling bukit. 

Sejenak ia menatap wajah  adiknya  - Thio Sin  Houw nampak muram, sepasang alisnya berdiri tegak dengan bibir mengatup rapat. itulah suatu tanda,  hatinya  bergolak  hebat, Dia membungkam karena berusaha menguasai diri. 

"Kau kenapa, Sin Houw?" Siu Lan menegas dengan hati- hati, Gadis ini terkejut dan cemas. 

"Aku ... aku sanggupkah aku membalaskan dendam 

ayah dan ibu yang kena dikeroyok musuh begini banyaknya? Mungkinkah " 

Itulah suatu ucapan yang tepat sekali  mengenai  sasaran, Siu Lan  sendiri sebenarnya  lagi memikirkan soal itu pula, Tanpa terasa air matanya mengalir keluar, Katanya: 

"Menurut kata ayah  dahulu, seorang lelaki  tidak boleh merendahkan kemampuannya sendiri. Kau pasti bisa, lihatlah keatas! Mungkinkah Tuhan akan menutup mataNya?" 

Siu Lan menuding keudara, seakan-akan Tuhan berada dibalik langit yang gelap-kelam, Namun hal itu besar pengaruhnya didalam hati adiknya, Mendadak saja bocah itu dapat mengucapkan kata-kata galak: 

"Ya, benar, Aku seorang laki-Iaki tak boleh aku menangis,  Mari kita terus!" 

Selagi ia hendak melangkahkan kaki, tiba-tiba suatu bayangan menyambar lengannya, ia kaget setengah mati. 

"Siapa?" bentaknya. 

Kilat berkilau dan ia melihat seorang pria bertubuh kekar berdiri di hadapannya. Kedua pipinya bermandikan  darah segar, Dialah ayahnya sendiri. Disampingnya berdiri kakaknya puIa, Lengan dan kedua kakinya terluka, Dan luka itu mengalirkan carah segar. 

Melihat keadaan mereka berdua, bocah  itu  menjadi  kalap, ia memekik hebat: 

"Kalau aku selamat, aku akan menuntut dendam, Ayah! Kakak! jangan takut! Aku akan membalaskan dendammu!" 

Dengan wajah terharu Thio Kim Sin meraih kepala putera bungsunya itu, lalu berkata sambil membelai rambutnya: 

"Anakku, Ayahmu bersyukur didalam hati mendengar dan melihat semangatmu Akan tetapi ayahmu mengharapkan kau menjadi seorang ksatria sejati di kemudian  hari,  Seorang ksatria sejati tidak boleh hanya menuruti kata hatinya belaka, kau harus pandai mempertimbangkan yang cermat,  Harus  dapat membedakan antara budi dan penasaran.  

Kalau dikemudian hari  kau  menjadi   seorang  pendekar yang tinggi ilmumu, akan tetapi melakukan sembarang pembunuhan lantaran menuruti rasa  penasaranmu  belaka akan membuat sengsara manusia yang tidak  berdosa,  Lihatlah, ayah dan ibumu adalah korban suatu dendam yang masih sangat gelap. Betapa sengsaranya, kaupun ikut mengalami sendiri.  

Karena itu, hendaknya di kemudian hari  kau  hanya menuntut dendam kepada musuh kita yang benar, Bagaimana caramu bisa mengetahui musuh  keluargamu  yang bersembunyi ini, hendaknya kau bersabar hati dan  tabah, selidiki dahulu sampai jelas!"  Thio Sin Houw tertegun  karena rasa kagum. pikirnya didalam hati: 

"Akh, benarlah keterangan cici. Ayah tidak hanya  gagah, akan tetapi jujur pula, Dia sedang luka parah, Hatinya pasti panas bagaikan api, walaupun demikian masih bisa  bersabar hati untuk membedakan musuh  yang  hanya  ikut-ikutan belaka." 

Pertumbuhan jiwa  Thio Sin Houw memang tak dapat disamakan dengan anak-anak  sebayanya,  Dia  mempunyai cara berpikir sendiri, karena pengalaman hidupnya. Dia mempunyai kata hati sendiri,  karena  penggodogan  nasibnya, ini semua merupakan sendi kekuatan baginya  di  kemudian hari, Pada waktu itu, yang terasa didalam hatinya,  adalah suatu keyakinan bahwa ayahnya sama sekali bersih dari suatu noda dan tidak berdosa. Dan mengalami nasib  menjadi  bu- ruan karena suatu fitnah yang masih sangat gelap. 

Dalam pada itu Thio Kim San menghela napas dalam- dalam, begitu melihat putera  bungsunya  terbungkam mulutnya. Lalu ia berkata lagi: 

"Anakku, malam ini ayahmu baru sadar, Kalian telah kubawa merantau dari satu tempat ke tempat lainnya, Ku kira didalam dunia yang luas ini  masih ada  tempat untuk  kita meneduh, tak tahunya kita terus dikejar musuh tersembunyi. Kalau tahu begini, semenjak dahulu lebih baik kalian kubawa kemari saja, Hm... kukira aku bisa dan sanggup melindungi rumah perguruan leluhurmu, tak tahunya... akhirnya aku harus membawamu kemari juga, Alangkah bodohnya aku!" 

Mendengar suara ayahnya, hati Sin  Houw rusak bukan main, Tak tahu dia, harus berbuat bagaimana, Tiba tiba  ia  teringat sesuatu, lalu ia berteriak kalap: 

"Mana ibu...?" 

"Aku disini, anakku " terdengar jawaban lembut. 

Kilat mengejab lagi, dan Sin Houw melihat ibunya datang menghampiri dengan langkah tertatih-tatih. Terang sekali, dia  terluka pula, Kali ini sangat parah. "lbu! ibu terluka?" jerit Sin Houw. 

"Akh, hanya luka dikulit saja," sahut ibunya dengan suara menghibur. 

Kim San kemudian menimpali: 

"lbumu hanya menderita luka ringan. Kau tak perlu merisaukan, anakku, mari kita meneruskan perjalanan, Rumah perguruan sucouwmu sudah berada  didepan  mata ..." ia berhenti sebentar, kemudian berpaling kepada Sin Han: 

"Apakah kau masih bisa berjalan?" 

"Mengapa tidak?" sahut Sin Han dengan suara gagah. Kim San tertawa perlahan, Katanya lagi: 

"Kita berhasil mengundurkan musuh - akan tetapi aku  yakin, sebentar lagi mereka akan datang lagi dengan jumlah yang berlipat,  itulah  sebabnya  kita  perlu  cepat-cepat berangkat, Lan-moay, bukankah kau hanya menderita luka ringan?" 

Lie Lan Hwa menyahut dengan suara sedih: "Lukaku ini tak berarti. Mari kita berjalan terus!" 

Mereka semua merupakan satu keluarga  yang saling menghibur dan membesarkan hati. Baik Lie Lan Hwa maupun Thio Sin Han sebenarnya menderita luka parah, akan tetapi dengan menguatkan diri mereka berusaha membesarkan hati seluruh anggauta keluarganya. Dan malam gelap menolong menyembunyikan ke adaan mereka masing-masing. 

Jelas bahwa perjalanan mereka  merupakan  perjalanan yang penuh penderitaan dan siksa.  walaupun  demikian, mereka semua tiada yang mengeluh, setapak demi setapak, mereka maju terus, dan awan pegunungan mulai menyelimuti mereka, Setelah lewat larut malam, dua tikungan bukit telah dilintasi, Hanya sekarang, sesuatu yang menakutkan hati menghadang didepan mereka.  Tepat dipinggang bukit menghadanglah suatu lembah yang gelap sekali. sebuah jurang bertebing curam nampak muncul diantara kejapan kilat, penuh uap dan kabut hitam- Begitu mereka mendekati tempat itu, lenyaplah anggauta tubuh mereka sendiri dari pengIihatan. 

Thio Kim San berhenti melepaskan pandang, dan  Sin Houw yang berdiri di sampingnya mengarahkan pandangnya kepada jurang,  Lapat-lapat ia mendengar suara gemuruh seakan-akan suara napas raksasa sedang tidur mendengkur. Tak dikehendaki sendiri, tengkuknya meremang. 

Selagi mereka tertegun  dengan pikiran masing-masing, tiba-tiba hujan berhenti. Angin keras menyapu kabut itu, dan lambat-laun ketebalan kabut kian menipis dan menipis, samar- samar bukan sisir menjenguk di belakang tabir  awan yang guram. 

"Mari kita beristirahat." ajak Kim San dengan suara dalam. Mereka sudah berpengalaman tidur ditengah alam terbuka 

dalam keadaan  basah  maupun  kering.  Maka  begitu mendengar ucapan sang ayah, masing-masing mencari tempatnya sendiri, Dan mereka terus berdiam  diri sampai matahari menerangi udara. 

Tak perlu diceritakan lagi, satu malam penuh mereka diserang rasa dingin luar biasa, Masih untung, hujan berhenti dengan mendadak, Sekiranya tidak demikian, pastilah penderitaan mereka akan berlipat. 

Oleh sinar matahari itu, penglihatan yang  terbentang didepan mereka bertambah jelas.  Kabut yang menyelimuti tebing jurang itu kini nampak bedanya  dengan  udara  bersih, dan dengan membungkam mulut  mereka   merenungi  jurang itu. 

"Mari kita berangkat!" Kim San memutuskan  setelah sejenak tadi terdiam seperti berpikir. 

"Ayah!" tiba-tiba Sin Han membuka mulut, "Semalam aku telah melepaskan panah berapi, apa sebab salah seorang  paman guru kita belum muncul?" 

Kim San menundukkan kepala. Menjawab: 

"Semalam hujan badai. Siapa  yang  sudi  membiarkan dirinya berada di luar dalam keadaan hujan demikian? Moga- moga salah seorang melihat cahaya panah itu, Dalam hal ini, kita hanya bisa berdoa. Akh,  marilah  kita  atasi  semua kesulitan ini dengan tenaga dan  kemampuan kita sendiri. Tuhan pasti memberkati. 

Mereka menghampiri pinggiran dinding gunung yang tegak tinggi. Dan yang dikatakan jalan menuju ke jembatan penyeberangan itu sebenarnya lebih mirip  suatu pengempangan sawah, Tegasnya lebarnya selebar sebuah pengempangan sawah, licin dan berlumut. sedangkan diseberangnya, jurang curam yang dalamnya  entah  berapa  ribu kaki. 

Panjang jalan sampai mencapai  jembatan  batu  kurang lebih duapuluh meter saja, akan tetapi menilik batu-batu dasar yang berlumut, teranglah sudah bahwa sudah puluhan tahun lamanya tak pernah terinjak kaki manusia. 

Thio Sin Houw yang berjalan disebelah belakang, melepaskan pandang kepada batu putih  yang merupakan jembatan penghubung itu. Tak dapat ia meyakinkan dirinya, entah siapa yang membuat jembatan seperti  itu.  Entah manusia, entah alam, Tetapi  pada  waktu  itu  khayalnya dipenuhi oleh berbagai tokoh dewata, yang mungkin telah membuat jembatan itu. 

Panjang jembatan penghubung itu tak dapat tertembus ketajaman mata, Yang jelas nampak hanya sepanjang sepuluh meter, sisanya diselimuti kabut tebal, hitam pekat. Bagaimana bentuk ujungnya  atau berapa puluh meter jauh-nya, tiada seorangpun yang bisa memberi keterangan selamanya belum pernah seorangpun yang berhasil mencapai seberang. 

"Anak-anak, mari! inilah satu-satunya jalan  hidup  kita," Thio Kim San berkata perlahan, ia segera mendahului jalan berdinding yang hendak  membawanya ke jembatan  penyeberang, Tatkala tangannya meraba dinding batu mendadak ia terkejut. 

"Apa artinya ini?" serunya kaget. 

Dengan pandang tegang ia mengawasi dinding batu, Lan Hwa dan ketiga anaknya ikut mendekati, dan mereka menemukan dua  baris huruf  kecil-kecil, Setelah membaca, mereka terkejut. 

"Kim San. Golok itu tidak mudah kuperoleh, karena itu pertahankan dengan jiwamu!" 

"Apa artinya ini?" Thio Kim San  mengulangi seruannya dengan suara setengah membisik, sedangkan jari tangannya masih meraba-raba huruf-huruf itu. 

Lalu ia berkata seakan-akan  kepada  dirinya  sendiri: "Bukan! Bukan! Bukan suhu. Siapa yang menulis ini? Apa maksudnya?" 

"San-ko," tiba-tiba terdengar suara Lan  Hwa membisik. "ltulah karena aku apakah kau masih ragu?" 

Baru saja Lie Lan Hwa menutup mulutnya, terdengarlah suara nyaring beberapa orang. Mereka menoleh dan di atas gundukan berdiri lah dua puluh orang lebih memegang senjata masing-masing. 

"Akh! Mereka bertiga lagi!" thio Kim San mengeluh, Mereka membawa tenaga baru, Sampai kapankah kita bisa  hidup aman tenteram?" 

Jawabannya kini makin terang. 

San-ko," sahut Lan Hwa."Kita akan bisa hidup damai kembali, manakala penulis tulisan itu sudah lenyap dari dunia. Bukankah itu suatu fitnah?" 

"Benar! Memang suatu fitnah!" kata Thio Kim San dengan napas   memburu  -  "Kini   tahulah   aku        apa  sebab mereka 

menuduh aku menyimpan golok  itu.  Akh,  benar-benar  gila!" Tak  sempat  lagi  Thio  Kim  San  berbicara berkepanjangan.  Beberapa orang datang meluruk  ke bawah,   Gerak-gerik musuh baru ini, lebih mantap dan perkasa, Namun hati  Thio Kim San sama sekali tak gentar. Dengan pandang tajam ia mengawasi mereka, mendadak di atas ketinggian ia melihat seorang mengenakan jubah abu-abu. siapakah  dia? tak  dapat ia mengenali. 

Selagi ia berusaha untuk memperoleh penglihatan terang, Sin Han telah melompat menerjang sambil berteriak: 

"Manusia-manusia serigala, kalian  ganas  melebihi binatang, Hayo maju!" 

Thio Sin Houw yang masih merupakan seorang bocah, ikut tergetar hatinya oleh rasa kesal dan marah.  Dengan menghunus pedang pendeknya, ia melompat maju, Kim San terkejut. 

"Sin Han, Sin Houw! Kembali!" ia berteriak. 

Mendengar seruan ayahnya, Sin Han merandek, ia terkejut tatkala ayahnya menyebut nama Sin Houw, Cepat ia berputar kebelakang dan  melihat Sin  Houw berada  di belakangnya dengan langkah kalap,  seperti  burung  alap-alap,  ia menyambar lengan adiknya, Katanya nyaring: 

"Sin Houw, tahan!" dan terus di bawanya kembali kepada ayahnya. 

Tatkala itu beberapa orang sudah berada sepuluh meter didepannya, Dengan senjata andalannya masing-masing, mereka mengurung. Sedang yang lain, datang berturut-turut bagaikan gugurnya bukit batu. 

Thio Kim  San menggeser  tubuhnya,  mendampingi isterinya, ia menghunus pedangnya. wajahnya nampak tak tenang. Setelah menoleh kepada Sin Han, ia berkata: 

"Sin Han! Dan semua saja, dengarlah! Dengan  susah- payah ayah bundamu melindungi kalian sampai disini. Tadinya aku berharap akan dapat bertemu dengan kakek-guru kalian, sebaliknya aku justru menemukan suatu deret  tulisan  yang membuat hatiku tak tenteram, Anak-anakku, kalian tidak boleh  mengadu jiwa, kalian harus tetap hidup  untuk bisa memecahkan teka-teki itu agar kelak  kalian  dapat menyambung anak-keturunan keluarga kita. Bersama ibumu, aku akan mempertahankan serbuan mereka, Kalian pergilah cepat cepat menyeberangi jembatan itu!" 

"Ayah! Mengapa ayah tidak  mencoba mengajak mereka bicara?" teriak Thio Sin Lan. 

"Tak ada gunanya, Siu Lan. "Mereka semua ganas. Tujuan mereka hanya ingin membunuh ayahmu sekeluarga, Nah, pergilah, cepat!" sahut Thio Kim San. 

Sebelum Thio Sin Han bertiga dapat  melangkah, terdengarlah seorang musuh berkata nyaring: 

"Hai! jangan biarkan mereka membunuh diri, maju!" Perkataan i tu ternyata merupakan suatu aba-aba. Belasan 

orang segera bergerak mengepung, akan tetapi sudah  tentu Thio Kim San  tidak  tinggal diam, Keputusannya sudah  kokoh, ia bersedia mengorbankan nyawa dalam pertarungan ini. Segera ia maju dan menghantamkan pedangnya. 

Seperti semalam, Cie-san  Liong-ong Kwee Sun,  su  Tay Kim dan Bu Seng Kok bertiga segera mengepung,  mereka bertiga merupakan lawan yang tangguh dan gesit, walaupun demikian, tak berani mereka semberono.  

Sekali Cie-san Liong-ong Kwee Sun mendekat, senjatanya segera terbang keudara, senjatanya Cie-san Liong-ong Kwee Sun merupakan sebuah pian atau gada bergigi  terbuat  dari besi utuh, Tetapi dengan sekali babat, Thio Kim San dapat mementalkan. Maka dapat  dibayangkan  betapa  dahsyat tenaga Thio Kim San, tak memalukan ia menjadi murid  Tie- kong tiangloo dari Go-bi pay! 

 (Oo-dwkz-oO) 

THIO SIN HAN mengeluh, sebenarnya enggan ia meninggalkan ayah dan ibunya menghadapi ancaman bahaya yang menentukan. Akan tetapi pesan ayahnya sangat penting artinya, terus saja ia menarik lengan Sin Houw sambil berkata  kepada Siu Lan: 

"Siu Lan, adikku, Tak dapat kita sia-siakan harapan  ayah dan ibu. Mari kita maju membuka jalan untuk Sin Houw...!" 

"Baiklah, koko, Biarlah aku yang membuka jalan, 

Mereka bertiga memasuki jalan batu yang  berlumut  dan licin, Karena sangat sempitnya, tak dapat mereka berjalan berendeng, Thio Sin Han segera menolak Sin  Houw agar berjalan di sebelah depan. 

"Jangan! Biar aku yang di depan," kata Siu Lan. "Kalau aku menemukan kesulitan , aku bisa segera mengisiki Sin Houw." 

"Benar," sahut Sin Han dengan terharu, Kemudian kepada Sin Houw ia berkata: "Kau sendiri,  Sin  Houw. Kau  harus memenuhi harapan kita semua, sejak detik  ini, kau harus menyayangi tubuh dan jiwamu. Kalau kau gagal, hancurlah nama keluarga kita!" 

Thio Sin Houw sendiri pada waktu itu merasa telah kehilangan diri, Dengan hati dan kepala kosong, ia melangkah maju, Setapak demi setapak, jari-jari kakinya dicengkeramkan kepada dasar jalan itu, Kalau  tidak  demikian,  ia  akan tergelincir ke dalam jurang yang curam. 

Thio Sin Han yang jalan di sebelah  belakang,  rusak hatinya, Dengan muka berkeringat ia menoleh. Bukan main kagetnya, karena dilihatnya ayahnya ternyata telah rebah melintang di atas tanah pegunungan yang lembab,  sedang ibunya berkelahi dengan pedang di tangan kanan dan belati ditangan kirinya. 

Thio Kim San sebenarnya sudah menderita luka parah, Hanya saja ia pandai  menyembunyikan  di  hadapan keluarganya, untuk menanamkan rasa kepercayaan terhadapnya. Tetapi begitu kena dikepung Cie-san Liong-ong Kwee Sun bertiga,  mendadak  saja ia merasa kehilangan sebagian tenaganya. ia berhasil melontarkan senjatanya Kwee Sun dari genggaman, tetapi gerakannya sendiri sudah kurang gesit.   Tatkala Bu Seng Kok menusukkan pedangnya, tak dapat ia mengelak, Masih bisa ia menangkis, di  luar  dugaan  Su  Tay  Kim melayangkan kaki nya. Dak! Dan ia mundur terhuyung.  Tepat pada saat itu si kate Su Tay Kim membarengi, sepasang goloknya menyambar dan Kim San   roboh  terkulai menungkerup di tanah. 

Su Tay Kim lompat dan  mengulangi  serangannya,  Thio Kim San yang masih memegang sebilah pisau belati, dengan sisa tenaganya menikam, inilah suatu serangan balasan yang sangat mengejutkan. Hati Su Tay Kim tercekat, cepat-cepat ia mundur jumpalitan Dan selamatlah ta dari tikaman belati itu! 

Melihat ayahnya roboh terguling, Thio Sin Han nyaris tak dapat menguasai diri. Kakinya  sudah bergerak,  tatkala  ia melihat suatu pemandangan ngeri lagi, ibunya yang sedang sibuk melayani kepungan musuh, kena tikam pedang Bu Seng Kok dari belakang, Berba-reng dengan itu pula, Cie-san Liong- ong Kwee Sun yang  curang, sudah berhasil memungut senjatanya kembali.  

Dengan panas hati ia  melesat  dan  menghantarkan gadanya, Lie Lan Hwa sudah tak dapat bergerak banyak, Meskipun ia melihat datangnya bahaya, namun ia tak sudi berteriak, Dengan  memejamkan kedua  matanya,   ia menunggu, Bress! Dan ia roboh tersungkur. 

Betapa keadaan hati Thio Sin Han pada saat itu, tak dapat dilukiskan lagi, itulah suatu kejadian  yang hebat sekali, ia dipaksa menyaksikan gugur-nya kedua orang tuanya didepan matanya, serentak ia mengertak gigi dan  menggerakkan kakinya, tetapi tiba-tiba ia menoleh  kebelakang  seperti  ada yang mengingatkan. 

Thio Sin Houw ternyata  sudah berada  dibelakangnya dengan pedang pendek ditangan  kanan.  Melihat  adiknya hendak menuruti kata hati untuk membuat suatu pembalasan, tersadarlah Sin Han. ia kini merasa bertanggung jawab penuh untuk mempertahankan  jiwa  adiknya,  demi pesan ayahnya, Segera ia menghadang dengan merentangkan tangannya .  "Sin Houw, kau mau kemana?" bentaknya. 

Pada waktu itu terdengar Cie-san Liong-ong berteriak nyaring: 

"Hai,  anak-anak!  Kalian  mau  kemana?  Hayo menyerah 

atau tidak?" 

Panas hati Thio Sin Han mendengar Cie-san  Liong-ong Kwee Sun yang bicara temberang,  serentak ia menjawab dengan sinar mata menyala: 

"Kami anak-anak keturunan Thio Kim San tak dapat kalian hina, Kalian boleh menguntungi kepala "kami atau menyiksa kami, tetapi jangan harap kami akan menyerah  begitu  saja tanpa perlawanan!" 

Mendengar jawaban itu, banyak di antara para pengepungnya menyatakan rasa kagum  dan hormat. Berkatalah salah seorang diantara mereka: 

"Memang tepat kata orang, harimau tidak akan melahirkan anak anjing ,." 

Sebaliknya Cie-san Liong-ong Kwee Sun tak mau sudah, Dengan perisai dan penggada ditangan kiri-kanannya, ia maju mendekati sambil berkata: 

"Benar-benarkah kalian tak sudi menyerah? Apakah kalian memang segagah ayah kalian? Baiklah, aku akan mengujimu!" 

Cie-san Liong-ong Kwee Sun tidak hanya licik dan ganas, tapipun berangasan pula, setelah berkata demikian, gadanya menyambar. 

Thio Sin Han pandai membawa diri, Kalau melompat,  ia  akan kena dikepung, Maka perlahan-lahan  ia  mundur  lalu balas dengan menabaskan pedangnya. 

"Tranggg!" tubuh mereka berdua segera nampak bergoyang-goyang. 

Cie-san Liong-ong Kwee Sun sudah terlanjur mengumbar mulut besar, Tak dapat ia menarik diri, Melihat lawannya  mundur, ia maju setapak demi setapak dengan melindungi diri dengan perisai bajanya, Dasar lebih berpengalaman, setelah terseret maju ia dapat memindahkan gelanggang. Setiap kali pedang Thio Sin Han menghantam perisainya,  ia memutar sambil mundur sedikit, Gerakan mundur dan membawa musuh ini ke tepi, benar-benar berhasil. Tahu-tahu Sin Han telah berada di luar ujung jalan. 

"Hm, bagus! sekarang mampus kau!" bentak Kwee Sun, yang terus mencecar dengan perisai dan godanya. 

Mendadak pada saat Itu, sebatang pedang berkelebat disampingnya. Kwee Sun  tahu maksud rekannya,  dan  ia berteriak nyaring: 

"Bagus, Bu-heng! Lebih baik anak itu kau ringkus saja." Hati Sin Han tercekat, ia berteriak gugup: 

"Sin Houw, awas!" 

Siu Lan yang berada dibelakangnya Sin Houw, tak memikirkan keselamatan jiwanya lagi, terus saja ia melompat sambil menangkis, Tentu saja tak dapat ia mengadu tenaga dengan Bu Seng Kok. Tubuh dan pedangnya terpental tinggi di udara, dan Sin Houw tak terlindungi lagi. 

Menyaksikan hal  itu, Sin Han mengerahkan segenap kepandaiannya. ia mendesak Kwee  Sun  hendak  mendekati Sin Houw, akan tetapi pada saat itu belasan orang datang mengepungnya. Sin  Han tak gentar sedikitpun, Masih ia berkesempatan berpaling mencari Siu Lan. Di lihatnya adiknya itu tengah bertempur melawan seorang  yang  mengenakan jubah abu-abu. Orang itulah yang tadi membuat teka-teki ayah dan ibunya. 

Thio Siu Lan  walaupun  belum  sempurna,  namun ilmu pedangnya tidak tercela. itulah disebabkan  pengalamannya selama menjadi kejaran musuh. Gerakan pedangnya gesit dan berbahaya, setiap kali ada  kesempatan ia menikam atau menabas, Akan tetapi musuhnya si jubah abu-abu terlalu kuat baginya, Dengan memperdengarkan suara tertawa serangan  Siu Lan kena dipunahkan dengan sangat mudah. 

Dalam pada itu Thio Sin Han tak berkesempatan lagi memainkan pedangnya, yang di ingatnya hanyalah Sin Houw yang masih bercokol di atas jalan maut, Cepat ia berteriak: 

"Sin Houw, jangan perdulikan kami berdua! Sebaliknya, ingatlah keluarga ayah dan ibumu. Engkaulah satu-satunya  yang kami harapkan,  Lekas  lari,  jangan  kau  sia-siakan harapan ayah dan ibu!" 

Siu Lan mendengar suara kakaknya, ia menoleh sambil melayani orang yang berjubah abu-abu. Tatkala itu Sin Han mencurahkan perhatiannya kembali kepada tiga  orang lawannya, Perlahan-lahan ia mundur kembali, maksudnya hendak menutup  jalan agar Sin Houw dapat meneruskan perjalanannya tanpa terganggu musuh. 

Sin Houw sendiri sangat sedih hatinya, ia melihat ayah dan ibunya tak berkutik lagi dan berlumuran darah.  Kemudian kakak perempuannya  yang kerepotan menghadapi musuh, sedangkan Sin Han terus dikepung oleh musuh yang sangat banyak jumlahnya, Meskipun belum cukup umur, akan tetapi dalam hidupnya sudah seringkali ia melihat suatu pertempuran Secara naluriah, segera  ia  mengetahui  bahwa  kedua kakaknya tiada harapan bisa menang. 

"Kalau begitu benar kata koko, tak boleh aku mati.  Kalau aku membuat ayah dan ibu kecewa, matipun rasanya  belum bisa menebus kesalahan  ini. Baiklah, koko, Kau  tutuplah jalannya, aku akan berusaha lari dari sini," katanya  di  dalam hati. 

Tepat setelah  mengambil  keputusan  demikian,  mendadak ia mendengar pekik teriakan kakaknya, Dengan hati sangat terkejut ia menoleh, dan masih sempat ia menyaksikan kakaknya Sin Han kena tikam dan roboh terjungkal ke dalam jurang. 

"Sin Houw, terusss!" teriak Sin Han, Dan itulah teriak suara kakaknya yang terakhir, yang selalu  akan dikenang dan membangkitkan bulu romanya di kemudian hari, Suara  teriakan itu mengaung  panjang  dan makin tipis,  kemudian lenyap. 

Hebat pemandangan itu. Dalam menghadapi  maut,  Thio  Sin Han masih ingat dengan kewajibannya untuk memperingatkan adiknya agar menyelamatkan diri, Dan teriak peringatan penghabisan itu sangat berpengaruh, sehingga Sin Houw bagaikan lupa akan segalanya.   

Tanpa merasa ia melompat pula sambil berteriak memanggil: 

"Koko Sin Hannn!" 

Tepat pada saat itu, tiba-tiba suatu tenaga maha besar menyambar dirinya. Dan tubuhnya terangkat naik lalu jatuh bergulingan di tepi jurang, Tetapi begitu mukanya mencium tanah, tiba tiba saja ia dapat berdiri tegak. Rasa kaget yang berkecamuk di dalam diri Sin  Houw bukan main hebatnya. Beberapa saat lamanya belum dapat ia menemukan dirinya kembali, namun secara naluriah ia menoleh mencari sesuatu. 

Dan diantara  kedua pipinya yang melepuh  bengkak, ia melihat seorang berbaju panjang  memancarkan  pandang berapi kepada belasan lawan ayah bundanya - orang itu kira- kira berumur sebaya dengan ayahnya, kesannya agung dan kelihatan berwibawa, Baju panjang yang dikenakannya berwarna putih dan terbuat dari kain kasar. 

Yang terkejut ternyata tidak hanya Sin Houw saja, Baik Cie-san Liong-ong Kwee Sun bertiga maupun yang lain saling pandang dengan wajah berobah. 

Mereka tadi menumpahkan seluruh perhatian kepada Sin Han yang roboh terjungkal ke dalam  jurang  dengan  teriak suara yang menyayat hati, Tahu-tahu orang itu muncul dengan tiba-tiba. Kapan ia berada di dekat arena pertempuran, tiada yang tahu. 

Suatu hal  yang  membuat hati mereka bercekat adalah, walaupun Sin Houw masih kanak-kanak, namun tubuhnya cukup berat. Dengan melompat ke dalam jurang, pelontaran  tubuhnya mempunyai daya tekanan sendiri. Namun dengan hanya mengebaskan tangannya, tubuh Sin  Houw  terangkat naik dan dibawa  ke tepi jurang, Jelaslah, bahwa orang itu mempunyai ilmu sakti yang sukar diukur! 

Secara serentak, Cie-san Liong-ong Kwee Sun  bertiga menatap wajah orang itu. Ternyata orang itu memiliki wajah cemerlang, sepasang alisnya  tebal. Tepi mulutnya nampak beberapa jalur kerutan kulit, itulah suatu bentuk wajah  yang  yang sudah melampaui masa remaja serta kenyang  akan berbagai penderitaan hidup. 

Orang itu membungkam, sikapnya acuh tak acuh, Sama sekali tak bergerak dan  pikirannya seperti melayang  pada masa-masa lampau. 

Cie-san Liong-ong Kwee Sun men-deham, ia bersikap hati- hati. Sebaliknya Bu Seng Kok yang berwatak berangasan, lantas saja menyapa dengan suara kasar: 

"Siapa kau? Kenapa begitu datang, lalu ikut campur urusan kami?" 

Ditegur demikian, orang itu tidak merasa tersinggung, ia membungkuk hormat dan menjawab: 

"Tempat ini  termasuk wilayah kami, kalau tidak  boleh dikatakan demikian setidaknya berdekatan dengan rumah perguruan kami. Karena itu, sudah selayaknya kami harus menghaturkan selamat datang dan  menyambut kedatangan kalian, siapakah sebenarnya tuan-tuan ini? Kenapa tuan-tuan melakukan suatu pembunuhan disini?" 

"Siapa kau?" ulang Bu Seng Kok. 

"Aku adalah Cia Sun Bie!" jawab orang itu. 

Mendengar nama itu, baik Cie-san Liong-ong Kwee Sun bertiga maupun Sin  Houw berseru berbareng. Hanya saja seruan Sin Houw bernada kaget bercampur girang, sebaliknya Kwee Sun bertiga kaget berbareng gusar. serentak mereka mundur selangkah dan memberi isyarat agar bersiaga.  Dengan pedang gemerlipan Bu Seng Kok melintangkan senjatanya di depan perut, sebaliknya Su Tay Kim memasang sepasang goloknya miring ketanah. Ke dua gerakan itu merupakan inti ilmu saktinya masing-masing, nampaknya seperti saling bertentangan - tetapi apa bila mulai digerakkan tikamannya sangat ganas.  

Dengan jurus itulah mereka bekerja sama mengepung Thio Kim San dan  Kwee Sun yang curang  diam-diam   sudah memilih kedudukannya sendiri, ia melindungi dirinya dengan perisai baja dan gada bergiginya disembunyikan di baliknya. 

Tetapi, meskipun diancam demikian, sama sekali Cia Sun Bie tidak gentar. Sikapnya masih saja acuh tak acuh, perhatiannya malah kepada Sin Houw yang tadi berseru kaget bercampur girang, ia nampak heran dan menoleh dengan pandang penuh pertanyaan. 

Waktu itu seluruh muka Sin Houw penuh lumpur, Meskipun demikian rasa girangnya tak lenyap dari kesan wajahnya yang tak keruan macamnya. 

"Benarkah supeh adalah Cia Sun Bie?" tanya Sin Houw. "Benar!" sahutnya  tegas walaupun didalam hati masih 

penuh pertanyaan. 

"Bukankah supeh adalah kakak seperguruan ayahku?" Sin Houw menegas, Sejak diberitahukan oleh ayahnya,  ia menghafal nama-nama semua paman  gurunya,  itulah sebabnya begitu mendengar nama Cia Sun Bie, serentak ia berseru girang. 

"Eh, anak, Kau siapa?" 

"Aku bernama Thio Sin Houw, Bukankah supeh datang karena melihat sinar api semalam?" 

"Benar, Coba, kau bicara yang jelas! siapakah ayahmu?" kata Cia Sun Bie dengan suara gemetar. 

"Ayah ... ayah bernama Thio Kim San," sahut Sin Houw 

tersendat sendat.  "Thio Kim San? Kim San adik seperguruanku?" Sun Bie menegas, 

"Ayah ayah dikepung dan akhirnya dibunuh manusia-

manusia ganas itu!" teriak Sin Houw, "ibu juga dibunuh oleh mereka!" 

Cia Sun Bie mengalihkan pandangnya kearah dua mayat yang bergelimpang tak jauh  dari  tempatnya,   Dan  melihat mayat itu, wajahnya berobah pucat. 

"Jadi ... jadi ayahmu semalam yang melepas panah 

berapi?" 

"Bukan ayah, tapi kakak, Diapunmati terjungkal ke dalam jurang." sahut Sin Houw dengan suara parau. 

"Ya, Tuhan " seru Cia Sun Bie, "Akulah yang semberono. 

Panah api itu tidak pernah  kulihat, aku hanya menerima laporan, Akh, sutee!" 

Setelah berseru demikian, dengan sekali melompat ia melesat melewati mereka yang mengepung. Kemudian menghampiri adik seperguruannya, Thio Kim San. Dan begitu melihat mayat adik-seperguruannya yang rusak seperti di cincang, Cia Sun Bie jatuh terkapar, tak sadarkan diri. 

Panah api tanda  bahaya  itu,  memang  tak  pernah dilihatnya, Pada waktu itu ia berada didalam rumah, tiba-tiba seorang datang berlari-lari menyerbu rumahnya dan mengabarkan tentang panah api. Mula-mula dikiranya kelapan kilat, akan tetapi warnanya biru Cia Sun Bie merasa bimbang 

ketika menerima  laporan itu. 

"Panah api bersinar biru memang merupakan isyarat tanda bahaya," katanya, "Masing-masing anak murid membekal beberapa batang, Akan tetapi selama belasan tahun belum pernah salah seorang diantara kami melepaskan panah itu, apakah kau tak salah lihat?" 

Orang yang memberikan laporan itu adalah salah seorang murid Bu-tong yang dapat dipercaya, maka setelah sesaat merasa bimbang, akhirnya ia memutuskan hendak  menyelidiki. Dan bertemulah ia dengan rombongan Cie san Liong-ong Kwee Sun, sayang sudah terlambat - Thio Kim San dan isterinya telah binasa dikepung, Maka betapa hebat rasa sesalnya kepada diri sendiri tak  dapat  dilukiskan  lagi. Meskipun dia seorang pendekar yang sudah banyak makan garam, tak urung pingsan juga. 

Tepat pada saat itu, sesosok bayangan melesat menghantam Thio Sin Houw, dan bocah itu lantas saja  roboh tak berkutik, Tatkala menjenakkan mata ia melihat  Cie-san Liong-ong Kwee Sun bertiga datang merubung  Cia  Sun  Bie kata Su Tay Kim: 

"Memberantas rumput harus sampai ke akarnya, Selagi ia tidak berdaya, kita kutungi saja lengan dan kakinya,  Akulah  yang akan bertanggung-jawab di kemudian hari." 

"Benar." Bu Seng Kok menguatkan. 

Pada waktu itu Thio Sin Houw seperti kehilangan tenaga. Kepalanya pening, dan seluruh tubuhnya terasa nyeri . Entah siapa tadi yang memukulnya ia tak tahu, ia pingsan dan kemudian tersadar seorang diri saja, tiada   yang memperhatikan keadaannya. Mungkin sekali mereka mengira bocah itu telah binasa. 

Demikianlah, untuk yang kesekian kalinya ia menyaksikan ancaman terhadap pihaknya.  Karena  terkejut, kecewa dan marah, ia lupa kepada segala penderitaannya, Memang ia sama sekali tidak berkutik, tetapi pikirannya masih jernih dan sadar sepenuhnya, Tanpa berpikir panjang  lagi,  ia  lalu berteriak sekuat-kuatnya. 

Apabila manusia belum sampai pada ajalnya, maka terjadilah tiba-tiba suatu peristiwa diluar  dugaan.  Oleh  jeritan itu, Cia Sun  Bie tersadar, Tapi tepat  pada saat itu ujung sebatang pedang terasa menempel dijidatnya, Kemudian berkelebatlah sebatang golok menabas lengan kirinya. 

Dalam keadaan  demikian,  meskipun  bermaksud menangkis sudah tidak sempat lagi. Apalagi ujung pedang Bu Seng Kok telah mengancam jidatnya, Sedikit gerakan saja, ia  akan tewas tertembus. Dalam keadaan tak berdaya  sama sekali, jalan satu-satunya hanya menghimpun tenaga saktinya yang segera disalurkan ke lengan kiri untuk melindungi. 

"Brtt!" golok Su Tay Kim menabas lengan kiri Cia Sun Bie. Tapi begitu mengenai sasaran, golok melejit  ke  samping seperti membentur suatu benda keras. Ternyata ilmu Yang- kong (tenaga keras) dari Su Tay Kim telah dipunahkan oleh Im-jiu (tenaga lembek) dari Cia Sun  Bie. Namun  demikian, darah segar tetap merembes keluar dari lengan baju Cia Sun Bie yang panjang, 

Dan pada saat itulah, sekonyong-konyong tubuh Cia  Sun Bie yang rebah celentang diatas  tanah, meluncur sejauh beberapa tombak, Gerakan itu sangat aneh, tubuhnya seakan- akan seboah botol yang menggelinding karena kena sentuhan seseorang dari luar arena pertempuran, Kecepatannya dapat mengelakkan tikaman pedang Bu Seng Kok. 

Sesungguhnya ujung pedang Bu Seng Kok berada satu senti diatas jidat Cia Sun Bie, Dengan sedikit  gerakan  saja akan dapat menggores hidung, mulut dan dada. Tindakan Cia Sun Bie untuk membebaskan diri  memerlukan  suatu keberanian yang sangat berbahaya,  Sebab apabila ujung pedang Bu Seng Kok tertekan lagi satu senti saja, maka dada, perut dan muka Cia Sun Bie akan seperti dibedah! 

Dalam gerakan membebaskan diri, Cia Sun Bie menekuk lutut dengan pinggang tetap tegak lurus. Dan setelah lolos dari ujung pedang, mendadak ia berdiri tegak bagaikan berpegas, Kemudian dengan suatu gerakan  senapas  ,  terdengarlah suara patahnya pedang Bu Seng Kok dan golok Su Tay Kim! 

Sebenarnya kedua senjata musuh itu tak mungkin dapat dipatahkan oleh Cia Sun Bie dalam  satu gebrakan  saja, Soal  nya tatkala tangan Cia Sun Bie bergerak, Bu Seng Kok dan Su Tay Kim tidak berkesempatan lagi menarik senjatanya masing- masing. Begitu sadar akan akibatnya, pedang  dan  golok mereka kena dipatahkan dengan serentak. 

Cia Sun Bie memang lebih tangguh daripada Thio Kim San  yang menjadi sutee-nya, Begttu berhasil mematahkan senjata lawan, dengan gerakan melintang ia melontarkan patahan senjata itu kepada majikannya masing-masing, Tentu saja Bu Seng Kok dan Su Tay Kim kaget setengah mati, cepat-cepat mereka lompat mundur kesamping mengibaskan lengan untuk mengurangi daya lontaran. 

Hebat pengaruh serangan balasan itu, belasan orang yang berada di belakang Su Tay Kim dan  Bu Seng Kok  ikut  bergerak pula untuk menjaga diri, Dan kesempatan itu dipergunakan Cia Sun Bie untuk memikirkan kekuatan musuh. Pikirnya didalam hati: 

"Thio siauwtee binasa di  tangan  mereka,  padahal  ia dibantu oleh isteri dan anaknya, Aku  sendiri  mungkin  pula dapat merobohkan beberapa orang diantara mereka, tetapi untuk merebut kemenangan rasanya tidak mudah. Baiklah aku mengambil jalan lain untuk menolong bocah itu " 

Setelah berpikir begitu, ia berkata nyaring kepada mereka: "Kami   murid-murid   Bu-tong  pay    selamanya  mengambil 

jalan    terang    benderang.    Kalian    telah    membunuh  salah 

seorang saudara seperguruan kami, kenapa lancang tangan, Apakah kalian mengira kami akan berpeluk  tangan saja? Sayang sekali sampai pada detik ini, aku belum mengetahui perkaranya  dengan  jelas kalau  kalian  mempunyai  keberanian 

mari ikuti aku!" 

Dengan langkah perlahan ia mendekati mayat Thio  Kim San dan isteri-nya,  lalu memanggulnya  diatas  kedua belah pundaknya. setelah itu ia berkata kepada Sin Houw: 

"Anak, kau naiklah ke punggungku. 

Tetapi Thio Sin Houw tak dapat bergerak sama sekali, ia hanya bisa membuka mulutnya,  Sebagai seorang  pendekar yang kenyang makan cparam, dengan sekali pandang     

tahulah Cia Sun  Bie apa  yang sedang diderita  anak  itu. pikirnya didalam hati: Aku harus berusaha mengambil tindakan cepat, sebelum keadaan mereka berubah.  Dengan sekali menggerakkan kakinya, tubuh  Thio Sin Houw dilontarkan ke udara sambil ia berseru: 

"Pegang leherku!" 

Pukulan yang diderita Sin  Houw  tidak  melumpuhkan seluruh anggauta badannya, ia masih bisa menggerakkan  ke dua tangannya, Mendengar seruan Cia  Sun  Bie  dan menyadari akan bahaya yang mengancam, kedua tangannya lantas saja merangkul leher paman gurunya. 

"Bagus, anak!" Cia Sun Bie  berlega  hati,   Kemudian berputar kepada rombongan musuh dan berkata garang: 

"Tuan-tuan, aku akan pergi. Siapa yang bosan hidup, ikuti aku. sebaliknya yang tak sudi mengikuti aku, akan kucari sampai dapat " 

Berbareng dengan ucapannya ia ia melesat bagaikan bayangan, Tiba-tiba Thio Sin Houw setengah memekik: "Eh, mana cici Siu Lan?" "Siapa dia?" tanya Cia Sun Bie. "Kakak perempuanku," sahut Thio Sin Houw, ia memutar pandangnya, akan tetapi pada waktu itu ia telah terbawa melintasi  dua dinding bukit. 

 (Oo-dwkz-oO) 

KETIKA MENGALAM I berbagai tumpuan peristiwa yang mengejutkan, memedihkan  dan menyakitkan hati,  Thio Sin Houw lupa segalanya, Akan tetapi setelah ia terlepas  dari marah bahaya, mendadak saja ingatannya  sadar  kembali. Yang teringat untuk pertama kalinya adalah Thio Siu  Lan, karena dialah yang masih bergerak. 

Dan mendengar perkataan Thio Sin Houw, maka Cia Sun Bie berhenti dengan mendadak. 

"Selain kau, tak ada  lain orang yang kulihat." katanya dengan suara cemas. 

Tadi, ketika melihat jenazah adik seperguruannya - ia jatuh pingsan karena merasa kecewa  kepada  keteledorannya sendiri. Thio Sin Houw demikian pula, Karena itu kedua- duanya tidak dapat mengikuti lagi apa yang telah terjadi selagi mereka dalam keadaan tidak sadar. 

"Sebenarnya, bagaimana semuanya ini bisa terjadi?"  Cia Sun Bie menanya lagi. 

Thio Sin Houw tak dapat menjawab dengan  segera, Perutnya mendadak terasa melilit  dan  pandang matanya berkunang-kunang. Setelah berdiri tegak, ia segera memberi keterangan apa yang telah dialami, kemudian latar belakang sebab-sebab yang didengarnya dari mulut ayahnya. Katanya dengan menahan air mata: 

"Ayah berkata ... ayah berkata .. itulah mengenai golok Sun-lui to " 

Setelah berkata demikian, iapun jatuh pingsan untuk yang kedua kalinya. 

Cia Sun Bie menyangka bocah itu pingsan  karena  rasa letih dan rasa sedih, maka ia segera melepaskan ikat pinggangnya dan mengikat bocah itu di dadanya. Kembali ia siaga hendak lari secepat-cepatnya. 

"Akh! Bagaimana mungkin malapetaka ini bisa menimpa Thio Kim San?" katanya didalam hati. 

Mendadak saja ia mendongak dan   berteriak  panjang.  Begitu keras dan hebat tenaganya, sehingga bumi  seakan- akan tergetar dan daun-daun kering rontok berguguran, Lama dan lama sekali , baru ia berhenti berteriak, lalu berkata. 

"Baiklah, aku akan membawanya  kepada  suhu, Entah bagaimana keputusan suhu, Tapi aku sendiri akan turun gunung Ngo-tee, kau tenangkan arwahmu, dendammu pasti 

terbalas!." 

Setelah berkata demikian, segera ia lari sekencang- kencangnya bagaikan anak panah lepas dari busurnya. 

Dalam pada itu Thio Sin Houw belum  sadar juga dari pingsannya, tatkala menjenakkan mata, ia sudah berada  di sebuah ruangan sebuah  rumah besar. ia mendengar suatu  kesibukan tak  keruan,  bentakan-bentakan  yang  diseling dengan suara membujuk. 

Oleh suara itu, Thio Sin Houw  jadi  tersadar  benar-benar dari pingsannya. ia tersentak bangun, apa yang di lihat oleh matanya untuk yang pertama kalinya adalah jenazah ayah dan ibunya, tak mengherankan, hati bocah itu tergetar  lagi.  Terus saja ia berteriak menyayatkan hati: 

"lbu!  Ibu! Ayah! Ayah !" terus ia menubruk dan merangkul 

jenazah ayah dan ibunya. 

Waktu tiba di rumah perguruan, Cia Sun  Bie segera membunyikan lonceng tanda bahaya, Kebetulan sekali hari itu menjelang ulang tahun Tie kong tiangloo yang ke sembilan puluh, Semua murid-murid hadir dalam rumah perguruan Giok-hie kiong. Ketika mendengar bunyi suara lonceng tanda bahaya, mereka segera menemui Cia Sun Bie.  

Betapa terkejut dan gusar hati mereka, tak dapat dikatakan lagi begitu mereka melihat  jenazah saudara seperguruan mereka, Thio Kim San dan isterinya. Selagi mereka sibuk memperoleh keterangan dari mulut Cia  Sun  Bie,  maka  tiba- tiba datang guru mereka Tie-kong tiangloo yang sebenarnya 

sudah jarang sekali mau mencampuri segala urusan duniawi. 

Pada waktu itu nama Tie-kong tiangloo  disegani orang seumpama menggetarkan bumi. Perawakannya sedang, agak tipis dan lembut, wajahnya bercahaya terang, bersemu merah. Suatu tanda bahwa keadaan tubuhnya sehat dan   kuat, Rambut, kumis dan jenggotnya memutih perak. Pandangnya lemah lembut, penuh kemanusiaan. 

Seperti keterangan Thio Kim San kepada isteri dan anak- anaknya, Tie-kong tiangloo jarang  sekali muncul  di rumah perguruan, ia hadir satu tahun satu kali, yakni tepat pada hari ulang tahunnya. Pada hari itu ia sengaja  hadir  untuk menyambut ucapan selamat dari murid-muridnya. Sama sekali tak diketahui bahwa  muridnya yang kelima Thio Kim San mengalami peristiwa kebinasaan yang sangat menyedihkan. 

Dengan langkah penuh pertanyaan ia menghampiri. Begitu  melihat wajah muridnya yang kelima itu, tergetarlah hatinya, ia adalah seorang pertapa yang telah berusaha melepaskan diri dari ikatan keduniawian walaupun demikian, hubungan antara murid dan guru sudah meresap dalam bagian kehidupannya sendiri. Tak dikehendaki sendiri, gemetarlah seluruh tubuhnya, Namun ia bisa membawa diri, dengan tenang ia membungkuk kemudian meraih, Setelah mengetahui bahwa muridnya yang kelima itu sudah tak bernapas lagi, mulailah ia memeriksa lukanya. 

"Apakah ini isterinya?" tanyanya perlahan. "Benar." sahut Cia Sun Bie, murid yang pertama. 

Tie-kong tiangloo lalu berpaling kepada Thio Sin Houw, 

dan bertanya: 

"Dan bocah itu?" 

"Dialah putera satu-satunya yang masih hidup." 

Tie-kong tiangloo berhenti sejenak, berkata dengan suara kian perlahan. 

"Bun Kiat, kau tolong lah anak itu, ia pasti ingin menangis." Semua orang mengira, bocah itu yang kembali pingsan 

adalah karena pengaruh luapan tangis dan rasa dukanya. 

Maka cepat-cepat Tan Bun Kian, murid Tie-kong tiangloo yang ke-empat meraihnya dan memijit-mijitnya, Urat dadanya diurut perlahan-lahan, lalu ia berkata: 

"Anak,  kau menangislah sekarang, Menangislah " 

Akan tetapi Thio Sin Houw tetap  tak  bergerak, Menyaksikan hal  itu, Cia Sun Bie  dan sekalian saudara saudara seperguruannya terkejut. seperti berjanji mereka berpaling kepada gurunya minta pertimbangan. 

Semua murid Tie-kong tiangloo berjumlah  lima  orang, Murid tertua Cia Sun  Bie, didalam rumah perguruan  ia bertindak mewakili gurunya, sifatnya tenang dan berwibawa, jarang ia berbicara berkepanjangan, Akan tetapi tiap  perkataannya, merupakan sikapnya yang bulat. 

MURID kedua Lim Tiauw Kie, hari itu ia tidak hadir karena sudah beberapa tahun lamanya menghilang tanpa meninggalkan jejak dan tak pernah memberikan berita kepada rumah perguruannya maupun kepada sanak keluarganya, ia menghilang secara misterius, tanpa diketahui apakah masih hidup atau entah telah binasa. 

Murid ketiga Koan Siok Hu, sudah berkeluarga sehingga tidak lagi berdiam  di rumah perguruan.  Akan  tetapi  setiap tahun menjelang hari jadi gurunya, ia  pasti  datang menyambangi dan menyampaikan ucapan  selamat panjang umur kepada gurunya, sekalian berkumpul  untuk  beberapa hari bersama saudara saudara seperguruannya. 

Murid ke-empat Tan Bun Kian, perawakannya langsing dan gesit. Matanya tajam  bulat, karena  itu kesan wajahnya kasar, ia pandai berdebat pula, itulah sebabnya seringkali ia mewakili gurunya dalam pertemuan perdebatan  atau  diwaktu menghadapi para tamu bermulut jahil. 

Murid kelima adalah Thio Kim San - yang  hari  itu  tiba dalam keadaan telah menjadi mayat. 

Sementara itu, sambil menghela napas Tie-kong tiangloo berkata: 

"Anak itu keras  wataknya, coba bawalah  kemari." Dimulutnya Tie-kong tiangloo memberi perintah agar Thio 

Sin Houw dibawanya mendekat, akan tetapi ia sendiri lantas berdiri untuk  menghampiri sebelum bocah itu diangkat  oleh Cia Sun Bie. 

Tie-kong Tiangloo segera mengulurkan tangannya ke punggung Sin Houw - pusat urat syarafnya, Segera ia mengerahkan tenaga dalamnya  untuk  menyadarkan. Lweekang atau ilmu tenaga dalam  Tie-kong  Tiangloo   tak dapat diukur betapa tingginya, murid-muridnya saja sudah bisa mengagumkan para pendekar kelas utama, seperti Thio Kim San misalnya, untuk banyak  tahun lamanya ia menjelajahi  dikalangan Rim-ba persilatan sehingga  memperoleh nama cemerlang.  

Begitu juga Cia Sun Bie yang berhasil menolong Thio Sin Houw dari ancaman maut, itulah suatu bukti betapa tinggi ilmu kepandaian mereka berkat dasar tenaga dalam yang diberikan gurunya, Maka luka tak perduli betapa beratpun, asal kena tersalur tenaga dalam Tie-kong Tiangloo, pasti akan sembuh sebagian, dan yang pingsan akan segera siuman kembali. 

Akan tetapi sama sekali tak terduga, setelah lweekang Tie- kong Tiangloo menyusup ke dalam urat syaraf, wajah Thio Sin Houw mendadak berubah warna, Kini tidak hanya pucat saja, tapipun menjadi kebiru-biruan atau ungu gelap, Bocah itu terus menggigil - seluruh tubuhnya terasa dingin luar biasa. 

Tie-kong Tiangloo mengerutkan dahinya. ia meraba jidat Thio Sin Houw. 

Mendadak tangannya terasa dingin  seperti kena sentuh sebongkah batu es. 

Dalam terkejutnya Tie-kong Tianglo dengan cepat meraba- raba punggung sibocah, tetapi ditengah-tengah punggung terdapat sebagian daging yang panas seakan-akan terbakar. Anehnya disekitar rasa panas itu, diselimuti hawa dingin luar biasa sampai meresapi tulang. Kalau bukan Tie-kong Tiangloo yang telah memiliki ilmu sakti tak dapat diukur lagi betapa tingginya, pastilah akan ikut menggigil kedinginan begitu kena sentuh hawa yang bertentangan itu, 

"Sun Bie, Waktu kau bertemu dengan bocah ini, dia dalam keadaan ba-gaimana?" tanya Tie-kong Tiangloo. 

Cia Sun Bie  sejenak terdiam dan merasa bingung, sulit rasanya untuk ia memberikan jawaban. 

"Ketika mula-mula murid memasuki arena pertempuran, bocah itu dalam keadaan sehat, walaupun nampak ia seperti kehabisan tenaga, Kemudian murid menjadi pingsan, setelah melihat jenazah sutee Thio Kim San. Begitu siuman lagi, murid itu nampak sedang  berteriak ketakutan." akhirnya Sun Bie  memberikan jawaban. 

"Apakah kau yakin, bocah itu bebas dari suatu siksa ketika kau dalam keadaan tak sadar?" Tie-kong tiangloo minta keterangan dengan sabar. 

Cia Sun Bie nampak ragu-ragu. 

Kemudian teringatlah dia  bahwa muka Thio Sin  Houw matang-biru, seperti bekas kena tamparan. seketika itu juga ia mengerahkan ingatannya  kembali  kepada   daerah pertempuran - lantas ia berkata setengah berseru: 

"Benar, suhu! Muka bocah itu matang-biru, walaupun demikian, mungkinkah ia kena aniaya orang-orang yang menamakan dirinya pendekar? Murid rasa ... akh Suhu, 

waktu murid memasuki arena pertempuran, memang murid melihat seorang yang mengenakan pakaian jubah abu-abu sedang bertempur melawan seorang gadis. Menurut bocah itu, dialah kakaknya, Tapi benarkah  dia  sempat  menganiaya bocah ini?" 

Hening, Tie-kong tiangloo diam termenung, semua murid- muridnya ikut terdiam tak bersuara,  Tie-kong  tiangloo kemudian merobek baju Sin Houw untuk memeriksa tubuhnya yang berkulit halus dan putih. Dipunggung terdapat tapak dari lima jari tangan yang nampak mengeluarkan  hawa  panas sekali. Dilain pihak, disekitarnya semuanya berhawa dingin. Pantaslah Sin Houw pingsan seperti mayat. 

Wajah muka  Tie-kong tianglo  segera  berubah  muram, selagi diam-diam ia merasa sangat  terkejut.  Kemudian  ia bicara seperti pada dirinya sendiri. 

"Aku tidak menyangka setelah tigapuluh tahun lamanya, dengan matinya Pek Kwie Tauwto maka lenyaplah sudah 

ilmu Hian-beng Sin-ciang yang lihay luar biasa, Siapa sangka sebenarnya masih ada orang yang  memiliki  ilmu  kepandaian itu " 

Cia Sun  Bie yang ikut mendengar perkataan gurunya, menjadi ikut terkejut sekali.  "Jadi bocah ini terluka karena terkena pukulan Hian-beng Sin-ciang?" tanyanya, ia berusia paling tinggi diantara murid- muridnya Tie-kong tiangloo, dan  mengetahui perihal ilmu pukulan tangan kosong itu - Tangan Malaikat Air! 

"Benar," sahut sang guru, "Warna  ungu dengan disertai tapak jari merupakan tanda khas dari ilmu pukulan Hian-beng Sin-ciang yang mudah dikenali." 

"Bagaimana cara mengobatinya, suhu? Kami bersedia melakukan," Tan Bun Kian ikut bicara dan ikut merasa cemas hatinya. 

Tetapi Tie-kong tiangloo tidak memberikan jawaban,  ia menghela napas sedih, dan secara tiba-tiba saja air matanya mengalir keluar. sambil mendukung tubuh  Sin  Houw, ia menghampiri jenazah Thio Kim San. 

"Kim San, muridku. Belum lagi jelas sebab-sebab kematianmu kini gurumu menghadapi masalah baru lagi. Kau telah mengangkat aku sebagai guru tetapi ternyata aku tak pandai menjaga keselamatan jiwa anakmu.  Bukankah  bocah ini anakmu satu-satunya yang masih hidup? Oh , Kim  San! Tiada gunanya aku hidup  sampai  setua  ini,  nama perguruanmu termashur diseluruh persada bumi, Akan tetapi, ternyata orang-orang tak menghargai rumdi perguruanmu dengan sepenuh hati. Ternyata kau binasa berselimut nama rumah perguruanmu. Bukankah mereka yang membunuhmu tahu juga, bahwa kau adalah salah seorang  muridku?  Akh, Kim San, perlu apa aku hidup lebih lama lagi...?" 

Segenap murid-muridnya menjadi  sangat terkejut ketika mendengar ucapan guru mereka, Selama berguru padanya, belum pernah mereka mendengar kata-kata Tie-kong tiangloo yang menyatakan suatu rasa kecewa, marah, dendam, benci, penasaran dan berduka.  

Tapi kali ini dengan satu napas, Tie-kong tiangloo merangkum seluruh perasaan demikian. inilah suatu  tanda bahwa guru mereka dalam keadaan putus asa dan sedih tak terhingga.  "Suhu, benarkah anak ini tidak dapat ditolong lagi?" tanya Koan Siok Hu penasaran. 

Tie-kong tiangloo merangkul terus tubuh  Sin Houw, ia berjalan tak menentu di dalam ruangan itu. 

"Kecuali... kecuali guruku le Giam taysu hidup lagi dan mengajarkan aku seluruh isi kitab Kiu-yang cinkeng..." 

Semua muridnya kian menjadi terkejut, semuanya berdiam sehingga kembali suasana di dalam  ruangan itu  menjadi hening. 

Tiba-tiba terdengar teriak suara Sin Houw: 

"Ayah! Ayah! Kau tidak boleh mati ! Kau tidak boleh mati! Kasihanilah ibu ... kasihanilah ibu! Addduuuuuuh, sakit !" 

Begitu mengerang, Thio Sin Houw segera merangkul Tie- kong Tiangloo sekencang-kencang, kemudian menyusupkan kepalanya ke dalam rangkulan guru besar itu. 

Tergoncang hati Tie-kong tiang-loo yang dirangkul dan mendengar teriakan Sin Houw, ia jadi merasa iba  sekali. Dengan memusatkan seluruh semangatnya ia berkata: 

"Marilah kita sama-sama  berusaha  dengan  sepenuh tenaga untuk merebut hidup bocah ini. Berapa lama dia bisa hidup, terserahlah kepada Yang Maha Kuasa."  Lalu  ia menoleh kepada jenazah Kim San.  Dengan  air  mata mengalir ia berkata setengah isak: "Oh,  muridku  Kim  San.  Malang benar nasibmu." 

Dengan langkah kaki lunglai Tie-kong tiangloo kemudian membawa Sin Houw ke dalam  kamarnya sendiri,  dimana segera ia memijat berulang-ulang delapan belas macam urat nadi untuk mengurangi kepekaan. 

Setelah kena pijatan itu, Sin Houw tidak menggigil lagi, Tetapi, warna ungu yang nampak tersembul  pada  wajahnya kian menjadi  gelap. Tie-kong tiangloo tahu,  apabila  warna ungu gelap itu berubah menjadi hitam maka  bocah  itu  tak  dapat ditolong lagi.  Kesadaran itu membuat ia segera bertindak. Baju  Sin  Houw ditanggalkan, kemudian iapun menanggalkan jubahnya sendiri. Dan dengan mengadu dada, ia mendekap punggung sibocah. 

Dilain pihak, Cia Sun Bie bertiga dengan Koan Siok Hu dan Tan Bun  Kiat dengan dibantu  oleh nurid-murid  Boe~tong lainnya sibuk mengurus penguburan jenazah Thio  Kim  San dan isterinya, setelah selesai ketiga murid utama itu ikut serta memasuki kamar Tie-kong tiangloo, dan  meneka segera mengetahui apa yang sedang dilakukan guru mereka untuk menolong Sin Houv, Guru  mereka  tengah  mengerahkan tenaga dalamnya untuk  menyedot keluar hawa  dingin  dari tubuh Sin  Houw, Seumur hidupnya Tie-kong tiang-loo tidak menikah sehingga ia tetap merupakan seorang  perjaka  asli, dan berhasil meyakinkan ilmu tenaga dalam "Soen-yang Boe- kek kang" yang istimewa. Hanya ilmu itu  luar  biasa  sekali, kalau salah penggunaannya dapat membahayakan diri sendiri. 

Cia Sun Bie bertiga berdiri tegak disamping gurunya. Hati mereka tegang luar biasa, karena mereka menyadari pengobatan dengan cara demikian besar sekali bahayanya.  

Kalau kurang tepat, tidak hanya Sin Houw gagal memperoleh kesehatannya kembali, tetapi yang berusaha menyembuhkan juga akan tertimpa malapetaka. 

Didalam hati terpikir oleh mereka tenaga  sakti  gurunya yang murni, memang tiada tandingannya. Akan tetapi guru itu telah berusia lanjut betapapun juga tenaga jasmaninya sudah mundur. Jangan-jangan malah terjadi hal-hal yang mengerikan 

... 

Tak mengherankan bahwa  hati mereka kian  menjadi cemas. setengah jam mereka berdiri tegak bagaikan patung, akhirnya Tie-kong tiangloo nampak bergerak, wajahnya samar-samar bersemu hijau dan sepuluh jari-jarinya bergemetar, Setelah membuka mata, ia berkata dengan suara perlahan: 

"Siok Hu, kau majulah menggantikan aku, Apabila merasa  tak tahan, Cepat-cepat kau mundur dan  biar Bun Kiat menggantikan. jangan sekali-kali kau memaksa diri." 

Koan Siok Hu segera membuka baju dan  memeluk  Sin Houw ke dalam  pang-kuannya,  Begitu  tubuhnya  bersentuhan ia menjadi terkejut, bukan main dinginnya. ia  merasa  diri seakan akan sedang memeluk balokan  es,  maka cepat  cepat ia berseru : 

"Tan sutee, perintahkan beberapa orang membuat unggun api! Makin garang, makin baik!" 

Sebagai murid Tie-kong tiangloo yang bermukim diatas gunung Boe- tong san yang berhawa dingin, sudah tentu Koan Siok Hu seringkali mendaki gunung untuk melatih diri dalam hawa yang sangat dingin, Akan tetapi, begitu  memeluk  tubuh Sin Houw, Koan Siok Hu menjadi sangat terkejut sampai ia berteriak. Dengan demikian dapat dibayangkan, betapa dingin hawa yang menguap dari dalam tubuh bocah itu. 

Tidak lama kemudian api unggun segera dinyalakan  di dalam kamar itu, sekalipun demikian, Koan Siok Hu masih merasa kedinginan. Kadangkala ia menggigil dengan gigi berceratukan - sehingga ia menyadari akan ancaman malapetaka, dan  cepat-cepat  ia  menghimpun  tenaga murninya. Namun setiap kali akan terhimpun, mendadak menjadi buyar lagi. 

Kini barulah ia mengenal betapa hebat  ilmu  sakti  Hian- beng Sin-ciang yang ditakuti orang sejak puluhan tahun yang lalu. 

"Suhu sudah berusia lanjut, tetapi masih sanggup bertahan setengah jam. sebaliknya aku baru saja memeluk tubuh bocah ini, sudah menggigil tak keruan. Akh, tenaga murni suhu benar-benar sudah mencapai puncak kesempurnaan  ..," katanya di dalam hati - sehingga ia menjadi malu sendirinya karena tadi ia menyangsikan tenaga gurunya  yang sudah berusia lanjut. 

Dalam pada itu Tie-kong tianglo sudah terbenam dalam semadinya, ia tidak menghiraukan segalanya, seumpama  tiada melihat  dan  tiada mendengar sesuatu. perhatiannya dipusatkan untuk menghapus hawa berbisa yang tersedot oleh tenaga murninya ke dalam jasmaninya. Apabila hawa berbisa terkuras habis dari jasmaninya. 

Sementara itu Tan Bun Kiat  sudah  menggantikan kedudukan Koan Siok Hu, lalu tempatnya digantikan lagi oleh Cia Sun  Bie, Koan Siok Hu berdua  Tan Bun Kiat duduk bersemadi di dekat tempat api unggun. 

Cia Sun Bie yang mencontoh cara penyembuhan terhadap Thio Sin Houw, telah memeluk dan menempatkan bocah itu di atas pangkuannya, Kemudian tubuhnya yang bidang ditempelkan dan segera terjadilah suatu perjuangan mengadu ketahanan tenaga sakti. 

Memang! Secara tidak langsung mereka semua seperti sedang diuji himpunan tenaga saktinya, Siapa yang dangkal segera tak tahan kena serangan hawa berbisa Hian-beng Sin- kang, yang dingin luar biasa, Ternyata ilmu tenaga dalam Cia Sun Bie berada sedikit disebelah atas dari Koan Siok Hu dan Tan Bun Kiat. 

"Serahkan kepada!" tiba-tiba perintah  Tie-kong  tiangloo yang terkejut ketika menyaksikan keadaan Cia Sun Bie yang sedang menggigil , berusaha mempertahankan diri, "Duduklah kau dan pusatkan pernapasanmu, jangan sekali-kali pikiranmu terpecah!" 

Demikian dengan cara  bergiliran mereka  berempat berjuang mengusir hawa beracun yang mengeram di dalam tubuh Thio Sin Houv, selama tiga hari dan tiga malam. Cara mereka melakukannya seperti sedang berjuang menghadapi ancaman maut yang menyerang rumah perguruan mereka.  

Sama sekali mereka tak kenal lelah. Dan oleh ketekunan mereka, hawa beracun yang mengeram dalam tubuh Thio Sin Houw lambat laun makin tipis dan tipis. Oleh karena itu daya tahan mereka kini bisa mencapai waktu  dua  jam, itulah sebabnya pada hari ke empat mereka bisa tidur  secara  bergilir.   Dan seminggu  kemudian, mereka sudah bisa membagi waktu, masing-masing sudah bisa menanggulangi sisa hawa dingin dengan sendirian  saja. Dengan demikian,  yang  lain dapat beristirahat untuk mengembalikan tenaga sakti mereka yang telah terhambur keluar. 

Pada hari kedua puluh,  secara  berangsur-angsur kesehatan Thio Sin Houw memperoleh kemajuan, Suhu dingin yang menyerang badannya makin berkurang. Pikiran bocah itu nampak menjadi  jernih pula, ia milai  makan sedikit  demi sedikit, sehingga hal itu menggembirakan semua penghuni rumah perguruan Go-bie pay, Mereka  mengira  bahwa beberapa hari lagi kesehatan Sin Houw akan pulih kembali seperti sediakala. 

Mendadak pada hari ke empat puluh  ketika  tiba  pada giliran Cia Sun Bie, terjadilah suatu hal yang mengejutkan Cia Sun Bie menemukan suatu bintik dingin yang membeku di  dalam pusar Thio Sin Houw, ia  berusaha  mendorong  keluar  dan membuyarkan, akan tetapi betapapun  ia mengerahkan tenaganya hawa dingin yang membeku itu tidak dapat didesaknya, Bahkan bocah itu kembali  menjadi  pucat  gelap,  Cia Sun  Bie mengira, bahwa  kegagalan itu  disebabkan lantaran tenaga saktinya kurang kuat. Maka ia melaporkan kepada gurunya. 

Ketika Tie-kong tiangloo mencoba mendorong hawa dingin yang beku itu, iapun gagal juga, Lalu dicobanya untuk menghancurkan, tetapi usaha itupun gagal. Koan Siok Hu lalu menggantikan, tetapi murid inipun tak berdaya.  Dan  selama lima malam, mereka semua gagal melenyapkan hawa dingin yang mengeram itu. 

Segera mereka berunding dan bertukar pikiran. Akhirnya diputuskan untuk mengambil jalan lain dengan memberikan ramuan obat penghancur serta pelawan hawa dingin, namun percobaan itupun tak berhasil. 

"Anakku, bagaimana perasaanmu ?" pada suatu hari  Cia Sun Bie menegas.  Pada waktu itu Thio Sin Houw sudah bisa  berbicara.  Selama itu, sedikit demi sedikit ia bisa menceritakan kembali pengalaman orang tuanya semenjak dikejar-kejar musuh yang pada mulanya tidak dikenal dan tidak diketahui entah apa sebabnya mereka memusuhi dan bermaksud membunuh Thio Kim San sekeluarga, Akhirnya secara samar-samar ia sudah bisa menebak-nebak latar   belakang  peristiwa  yang menghantui keluarganya. 

Demikian ketika mendengar pertanyaan Cia Sun Bie yang dikeluarkannya dari lubuk hati yang tulus ihlas, ia memberikan keterangan: 

"Kaki dan tanganku hangat tetapi pada ubun-ubunan, dada dan perut rasanya makin lama makin menjadi dingin 

Tie-kong tiangloo yang ikut hadir pada waktu  itu,  diam-  diam tercekat hatinya, Cepat-cepat ia menghibur: 

"Cucuku, lukamu kini sudah sembuh. Aku tak perlu lagi mendukungmu setiap hari , kau boleh rebahan diatas tempat tidurku." 

Thio Sin Houw manggut. Perlahan lahan ia turun  dari tempat tidur dan  merangkak-rangkak mendekati Tie-kong tiangloo dan sekalian paman gurunya, ia berlutut dan menyembah sampai mencium lantai, lalu ia berkata dengan suara halus: 

"Sucouw dan  sekalian supeh.... Sin Houw tidak akan melupakan budi sucouw dan  sekalian supeh yang telah menolong jiwaku ini. Kini teecu mohon  sucouw  dan  supeh,  agar sudi mengajarkan ilmu yang tinggi dan sakti, supaya dikemudian hari teecu dapat menuntut balas  sakit hati  ayah- ibu dan kedua saudara..." 

Mendengar perkataan Thio Sin  Houw, mereka  semua terharu bukan main - Bocah seumur Sin  Houw,  mengapa sudah dapat bicara seperti itu? Mereka agaknya lupa bahwa Thio Sin Houw di godok dan  digembleng  oleh  pengalaman yang pahit dan dahsyat, sehingga mematangkan cara berpikir dan pernyataan perasaannya.  Dengan berdiam diri tanpa memberikan jawaban, Tie-kong tiangloo meninggalkan kamar serta ketiga muridnya mengikuti dari belakang, Di pen-dopo Tie-kong tiangloo menghela napas dan berkata: 

"Racun Hian-beng sin-ciang sudah meresap kedalam ubun-ubun, dada dan perutnya, Artinya tiada  sesuatu  tenaga lagi yang dapat mengusir dari  luar  -  tampaknya  jerih-payah kita selama empat puluh hari empat puluh malam itu sia-sia belaka, Hanya saja yang tidak kumengerti, apa sebab terjadi perubahan ini?" 

"Suhu," kata Cia Sun Bie setelah berpikir sejenak, "Kami mendengar kabar bahwa  mertuanya sutee Thio  Han  Sin adalah seorang lo-cianpwee kenamaan. 

Apakah tidak mungkin Sin Houw menerima warisan himpunan tenaga sakti kakeknya lewat ibunya? Jangan- jangan... dalan usahanya mempertahankan diri dari rasa sakit, Sin Houw melawan serangan hawa berbisa itu dengan  himpunan tenaga sakti warisan kakeknya. Karena  kurang pengalaman, mungkin ia salah mengetrapannya, Dia bukan mengusir tetapi malahan menyedot sehingga kini melengket dengan himpunan tenaga saktinya sampai meresap ke dalam urat syarafnya." 

Tie-kong tiangloo mendengarkan alasan  itu, namun ia menggelengkan kepalanya, sahutnya: 

"Andaikata empat atau lima tahun  lebih tua usianya, kemungkinan itu memang ada, Tetapi masakan  anak  sekecil dia mempunyai tenaga yang berarti untuk mengadakan perlawanan?" 

"Suhu keliru, " bantah Cia Sun Bie. "Tenaga dalam Sin Houw tidak lemah." ia segera menceritakan bagaimana Sin Houw ikut bertempur selagi dua saudaranya sibuk melayani pihak musuh yang mengepung." 

"Ayah mertuanya Kim San  adalah Lie Sun Pin, dalam kalangan Rimba persilatan memperoleh gelar sebagai "Singa kepala sembilan", kata Tie-kong  tiangloo setelah  mendengarkan perkataan muridnya. "llmu saktinya tidak gampang-gampang dapat diwarisi atau dimengerti. Apakah karena dalam keadaan terdesak , maka ibunya telah menurunkan ilmu warisan ayahnya  secara  diam-diam?  Akh, ya, Mungkin begitu itu, Tie-kong tiangloo bagaikan baru menyadari, lalu ia berkata lagi setengah berseru: 

"Benar benar, Kiranya ilmu sakti warisan Lie Sun Pin 

berada pula di dalam dirinya, Sebab kalau hanya warisan Kim San 3 himpunan ilmu saktinya adalah sejalan  dengan kita, pastilah bantuan kita dari luar tidak akan mengakibatkan sesuatu. Tapi bagaimana corak himpunan tenaga  sakti  aliran Lie Sun Pin itu, aku tidak mengerti. Biarlah kucobanya " 

Setelah berkata demikian, Tie-kong tiangloo kembali memasuki kamarnya. Lalu ia berkata kepada Sin Houw: 

"Cucuku, coba kau pukul aku tiga kali 3 berturut-turut dengan sungguh-sungguh." 

"Bagaimana teecu berani memukul sucouw?" tanya Sin Houw heran. 

Tie-kong tiangloo tertawa, lalu berkata lagi: 

"Jika kau tidak memukul aku, bagaimana aku bisa mengetahui sampai di mana dangkal dan dalamnya himpunan tenagamu, bagaimana aku bisa mengajarmu ?" 

Thio Sin Houw berpikir sejenak, Alasan sang kakek guru memang berasalan, dari itu ia berkata: 

"Kalau begitu , baiklah. Hanya saja,  sucouw  jangan memukul aku keras-keras " 

"Tentu saja!" Masakan aku akan memukul  kau  kembali? Aku hanya ingin menguji himpunan tenagamu." 

Memang, secara tergesa-gesa Lie Lan Hwa pernah menurunkan ilmu warisan ayahnya kepada Sin Houw, ilmu itu sebenarnya banyak  dikenal orang sebagai  ilmu dari aliran "hitam" atau golongan sesat. Lie Lan Hwa sendiri sebenarnya belum memahami seluruhnya, dia hanya menguasai tiga jurus  saja, Hal itu dikatakan dengan terus terang kepada anaknya yang bungsu itu. 

Gerakan Thio Sin Houw yang kini diperlihatkan kepada Tie-kong tiang-loo adalah jurus kesatu, yang seluruhnya terdiri dari tujuhpuluh dua jurus! 

Ketika pukulan itu tiba, Tie kong tiangloo menyambut, dan tenaga pukulan yang dahsyat kena dihisapnya hilang, Thio Sin Houw merasa diri seakan-akan sedang  memukul  udara kosong yang lunak, sehingga diam-diam ia menjadi terkejut. 

"Bagus juga!" puji Tie-kong tiangloo sambil manggutkan kepalanya. 

"Menurut kata ibu, pukulan ini dapat merobohkan gunung, Akan tetapi dihadapan  sucouw, mengapa  habis daya-nya? Sucouw hebat sekali. Maukah sucouw ajarkan  aku  ilmu  sakti itu, agar aku bisa membalas sakit hati terhadap musuh-musuh orang tuaku?" 

"Kau pusatkan dulu perhatianmu pada pukulanmu yang kedua dan yang ketiga," sahut Tie-kong tiangloo yang tidak menjawab langsung. 

Thio Sin Houw tiba-tiba berputar, lalu membalikkan  tubuh dan menyusul gerakannya ia memukul. ia menggunakan tipu "Sin-liong pa-bvee", salah satu tipu-pukulan yang dimalui di kalangan rimba persilatan. 

Melihat berkelebatnya tangan,  Tie-kong  tiangloo menyambut dengan tangan kanannya, Dan daya pukulan itu amblas sirna, Yang mengheran, Sin Houw sama sekali tidak merasa kena pukulan pantulan tenaga sakti kakek-guru  itu  yang membalik. 

Selagi heran dan kagum, kakek guru itu memuji lagi: 

"Sin Houv, bagus sekali! Anak seusiamu sudah bisa mencapai himpunan tenaga sebesar ini, benar-benar  patut mendapat pujian." 

"Sucouv, sudahlah, Tidak guna lagi aku melancarkan  pukulanku yang ketiga, kurasa tiada  berarti  apa-apa bagi sucouw." kata Sin Houw, 

"Kedua pukulanmu tadi sangat hebat, kau pukullah aku dengan pukulanmu yang ketiga!" sahut Tie-kong tiangloo. 

Dengan memaksa diri , Thio Sin   Houw  menghimpun tenaga dalamnya pada telapak tangannya, ia perlu melingkar dahulu sebelum tangannya bergerak. 

Dan apabila tenaga dalamnya sudah merasa terhimpun , tiba-tiba ia menyodok - inilah tipu muslihat jurus ke sembilan, yang disebut Kang-liong Yoe-wie (penyesalan  sang naga). Barang siapa terkena pukulan ini, meskipun  kebal  dari sekalian senjata tajam, akan roboh terjengkang dengan luka di dalam! 

Diam-diam Tie-kong tiangloo terperanjat, pikirnya di dalam hati: 

"Benar-benar dia bisa melakukan pukulan hebat ini?" 

Terus saja ia bersiaga, akan tetapi  pukulan  itu  ternyata tiada bertenaga, Perbawanya memang hebat, angin seakan- akan kena gulung dan dilontarkan dengan  suara  menderu. Akan tetapi begitu tiba pada sasaran, hebatnya pukulan tidak seperti yang pertama dan  kedua, Tie-kong tiangloo  jadi kecewa, sebab seharusnya pukulan ini  dahsyat  tak terkira, Maka dengan menggelengkan kepala ia berkata menasehati: 

"Sin Houw, seranganmu  kali ini  kurang  kuat,  Mungkin sekali engkau belum memahaminya." 

"Bukan begitu," jawab  Sin  Houw cepat. "Soalnya, ibu sendiri belum mahir, ibu berkata, bahwa ilmu itu  merupakan salah satu cabang ilmu sakti yang hebat,  merupakan  salah satu ilmu sakti tertinggi di kalangan rimba persilatan. Betulkah begitu?" 

"Benar," jawab Tie-kong tiang-loo  sambil  manggut. "Menurut  kata ibu  ,  beliau  hanya  mewarisi tiga  jurus  saja, 

karena  menurut  kata  kakek  -  ibu  kekurangan  tenaga  dalam  yang dibutuhkan. itulah sebabnya, ibu  belum  bisa  menyelami inti sarinya, Gerak tipu pukulan ketiga itu bernama "Kang-liong Yo-wie". Menurut ibu hebatnya luarbiasa, ibu  tahu  bahwa teecu belum bertenaga sama sekali. Akan tetapi teecu boleh menghafal dan mempelajari kulitnya saja. 

Dikemudian hari teecu  masih  mempunyai  kesempatan untuk menyelami. Dengan cara itu, mungkin sekali teecu akan dapat mencapai intisarinya," 

"Oh, begitukah Maksud ibumu..,?" kata Tie-kong tiangloo dengan suara terharu, "Tapi mulai saat ini, dalam  suatu pertempuran sungguh-sungguh   jangan  sekali-kali  kau gunakan tipu jurus itu. Sebab selain kau belum bertenaga seperti yang diperlukan, kaupun akan kena akibatnya sendiri." 

"Kalau begitu, tolonglah sucouw ajari aku," Sin  Houw memohon. 

"Tidak, Bukan aku tidak mau, tapi lantaran aku sendiri tidak dapat menggunakan tipu jurus itu yang  hebat  luar  biasa," jawab Tie-kong tiangloo  sambil  mengurut-urut  jenggotnya, Lalu ia berkata lagi : "Kakekmu , Lie  Sun  Pin  benar-benar hebat luar biasa, Di dunia ini, kukira hanya dia seorang yang mewarisi ilmu sakti itu dan  para leluhur di  jaman   purba. Sayang, dia belum menemukan seorang ahliwarisnya, Apakah kau pernah bertemu dengan kakekmu itu?" 

"Belum. Menurut kata ibu, kakek  sudah  wafat  sebelum teecu dilahirkan..." sahut Thio Sin Houw. 

Tie-kong tiangloo menarik  napas  dalam-dalam.  Kemudian ia minta keterangan tentang berbagai macam ilmu sakti yang pernah dipelajari oleh Sin Houw, dan Sin Houw dengan lancar memberitahukan. Ternyata ia hanya menerima ajaran patah- patah dari ibunya. 

Walaupun demikian mendengar berbagai kalimat hafalan yang diucapkan oleh Sin Houw, Tie-kong tiangloo kagum luar biasa. ia seorang guru besar yang sudah banyak makan asam garam, berbagai cabang  ilmu sakti hampir semua telah diketahuinya, Akan tetapi dengan terus-terang ia mengakui,  bahwa ada beberapa hafalan yang sama sekali asing baginya, pikirnya di dalam hati. 

"Benar-benar.. luas ilmu pengetahuan Lie Sun Pin,  sedang ibu anak ini tak dapat mewarisi. Rupanya hanya  bisa menghafal kalimat-kalimat rahasianya, akan tetapi belum memperoleh kunci intipatinya " 

 (Oo-dwkz-oO) 

SESUDAH menyambuti tiga pukulan Thio Sin Houw, maka Tie-kong tian gloo mengetahui bahwa tenaga dalam si bocah tidak "murni". sebagai akibatnya lweekang dingin dari Hian- beng Sin-ciang tidak dapat disedot keluar lagi. 

Dengin hati sedih kakek guru itu duduk terpekur  sambil mengasah otak, Selang sekian lamanya, ia berkata  didalam hati: 

"Kalau hendak memusnakan hawa berbisa Hian-beng Sin- ciang yang sudah melekat rapat dalam sumsumnya Sin Houw harus berusaha sendiri. Dia harus memiliki tenaga dalam yang bisa mengatasi tenaga hawa berbisa, dengan mendorong dari dalam barulah hawa berbisa itu bisa dilenyapkan. soalnya kini, dapatkah dia memiliki  tenaga  sedahsyat  yang  diperlukan? jalan satu-satunya ia harus melatih diri dengan  lweekang tertinggi dari Kiu-yang Cin-keng, tapi sayang sungguh pada waktu guruku-menghafal kitab itu, aku masih terlalu muda dan beliau keburu wafat. 

Biarpun sudah berulangkali aku menutup diri dan merenungkannya sekian lama, belum juga  aku  dapat menyelami seluruhnya. sekarang  karena  tiada  jalan  lain, biarlah ia berlatih sendiri dengan apa yang aku mampu. Jika ia bisa hidup lebih lama satu hari, biarlah ia hidup lebih lama satu hari setelah memperoleh keputusan demikian,  keesokan harinya ia mulai menurunkan ilmu tenaga dalam berdasarkan kitab Kiu-yang Cin-keng yang dikuasainya, ia berharap dengan tenaga murni itu, menjalarnya hawa berbisa Hian-beng sin- ciang dapat dibendungnya, Syukur, apabila terjadi suatu peristiwa gaib diluar nalar manusia, sehingga tiba-tiba hawa  berbisa itu dapat terusir sirna. 

Ilmu sakti himpunan tenaga dalam berdasarkan kitab Kiu- yang Cin-keng tampaknya sederhana saja, akan tetapi sesungguhnya didalamnya banyak keruwetan-keruwetan yang gawat. Dasarnya harus bersih dan murni,  itulah  sebabnya maka mula-mula Sin Houw diberi pelajaran  berlatih menghimpun tenaga  murni  yang  kemudian  disalurkan  ke perut, pusat dan terus menanjak ke ubun-ubun. Dari  sana  hawa yang hangat dan bersih itu menyusuri urat syaraf seluruh tubuh.  

Dalam diri Sin Houw lantas saja terjadi suatu ketegaran, Rongga perutnya seperti terisi suatu gumpalan  awan yang selalu bergerak dan terapung-apung,  Setiap kali berputar semua urat yang dirambahnya terasa menjadi segar sekali.  

Tie-kong tiangloo mencapai tingkat ke tujuh, hawa dingin yang berkumpul di dalam perut akan bisa terusir bagaikan embun kena sinar matahari. 

Dengan tekun Thio Sin Houw melatih diri, kurang lebih dua tahun lamanya. Lambat laut dalam perutnya mulai berkumpul suatu gumpalan awan  yang  hangat  nikmat.  walaupun demikian - bisa Hian-beng sin-ciang yang  bersarang didalamnya, masih saja melekat kuat-kuat, Malahan  hawa berbisa itu seperti mengejek himpunan tenaga murni.  

Beberapa bulan kemudian, wajah Thio Sin Houw nampak makin pucat dan gelap. Pada saat-saat tertentu penyakitnya kumat, dan derita yang berkecamuk didalam dirinya serasa tak tertanggungkan lagi. 

Selama dua tahun itu, Tie-kong tiangloo benar-benar mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk menurunkan ilmu warisan gurunya kepada Thio Sin Houw, Dia selalu berada di rumah pertapaan dan tidak lagi bepergian seperti  yang dilakukan belasan tahun yang lalu, Dan Cia  Sun  Bie  berdua Tan But Kiat sibuk mencarikan obat pemunah  racun yang mengeram dalam badan Thio Sin Houw, sementara Koan Siok Hu telah pulang ke rumah isteri serta ayah mertuanya.  Berbagai macam ramuan obat telah  diminumkan  kepada Sin Houw, akan tetapi hasilnya nihil belaka. Tetap saja bisa Hian-beng sin-ciang tak tergoyahkan. 

Tidaklah mengherankan, bahwa  mereka semua menjadi prihatin melihat keadaan tubuh Thio Sin  Houw yang  makin lama makin kurus kering, Akan tetapi dihadapan bocah  itu, tentu saja mereka bersikap...lain. Selalu mereka menyatakan syukur, bahwa bisa racun yang mengeram di dalam tubuh si bocah makin lama menjadi tipis dan tipis. 

Dan setelah mereka berada sendirian diluar kamar, hati mereka.sangat berduka. Benar-benarkah anak keturunan Thio Kim San yang sisa satu-satunya itu tak dapat di pertahankan lagi? 

Karena terlalu berduka dan  sibuk memikirkan obat  apa yang mungkin bisa menanggulangi, tak sempat lagi mereka mengusut siapakah musuh ayah Thio Sin  Houw sesungguhnya. 

Dan selama dua  tahun itu, rumah perguruan Tie-kong tiangloo tidak lagi menerima kunjungan  para tarau,  Mereka seakan-akan telah menutup  pintu, karena  sedang menanggung kepedihan hati. 

Tanpa terasa, hari perayaan Tiong ciu tiba kembali. Menurut kebiasaan, Tie-kong tiangloo dan  murid muridnya merayakan hari itu, Tetapi sebelum perayaan dimulai , mendadak saja Thio Sin Houw kumat lagi. Tetapi anak itu mengerti diri, dengan menggigit bibirnya ia berusaha bertahan serta menyembunyikan rasa sakitnya, Sudah barang  tentu sekalian paman gurunya  tak  dapat  dikelabui,  sebab  wajah anak itu nampak pucat sekali dan tubuhnya menggigil sampai giginya beradu perdengarkan suara. 

Cepat-cepat Cia Sun Bie membawa Thio  Sin  Houw masuk ke dalam kamar, dan  hati-hati  ia  merebahkannya  diatas tempat tidur, kemudian  menyelimuti dengan selimut tebal. setelah itu ia membuat unggun api sebesar-besarnya -diatas tungku dan didorongnya kebawah ranjang agar badan Thio Sin  Houw menjadi hangat. 

Tie-kong tiangloo menatap wajah Thio Sin Houw dengan berduka. Akhirnya setelah menghela napas, ia berkata memutuskan: 

"Biarlah esok pagi aku membawanya  ke kuil  Siauw-lim  sie di Siong-san." 

Semua muridnya tertegun, Mereka mengerti, bahwa dalam keadaan terdesak dan karena rasa cintanya terhadap  sang cucu murid, guru itu rela menundukkan kepala dihadapan  Siauw-lim sie untuk meminta pertolongan. 

Sementara itu terdengar Tie-kong tiangloo berkata lagi: "Murid-muridku, kalian semua tahu bahwa  gurumu ini 

hanya memiliki sepertiga ilmu sakti  berdasarkan  kitab  Kui- yang Cin-keng. sekalipun sepertiga, akan tetapi  cukuplah sudah untuk bisa menancapkan kedua kaki kita di atas bumi dengan kokoh. Akan tetapi apabila pada suatu kali ada seseorang yang bisa mewarisi ilmu itu dengan menyeluruh, maka ilmu warisanku ini tidak berarti sama sekali . Sun Bie, ajaklah Siok Hu dan Bun Kiat ke depan!" 

Sebagai murid - mereka  semua  tahu  sejarah  pecahnya ilmu sakti Kiu-yang cin-keng menjadi tiga bagian akan tetapi mereka belum mengetahui  perinciannya. itulah sebabnya, mereka segera keluar paseban, untuk dapat mendengarkan keterangan gurunya lebih lengkap lagi. 

Ilmu sakti yang ditulis diatas  kitab  Kiu-yang  Cin-keng, konon di-kabarkan adalah ciptaan  Tat-mo  couw-su  yang dikenal sebagai pendiri kuil Siauw-lim sie, Dahulu kala karena suatu peristiwa, terjadi perpecahan sehingga  gurunya  Tie- kong tiangloo memisahkan diri dan mendirikan partai Boe-  tong, sementara pihak ketiga telah mendirikan  partai  Go-bie pay.