Elang Terbang di Dataran Luas BAB 34. MANUSIA LILIN

BAB 34. MANUSIA LILIN

Dua cara yang dia gunakan untuk menghadapi orang tua itu merupakan cara yang paling bermanfaat sejak zaman dahulu kala.

Peluh dingin telah membasahi jidat orang tua itu saking sakitnya, sepasang mata yang mulai rabun pun sudah melihat cahaya perak.

Berada dalam situasi seperti ini, jarang sekali ada orang yang masih menutup mulutnya.

Siau-hong menarik orang tua itu keluar dari kerumunan manusia, menyeretnya ke sebuah sudut lorong yang sempit dan sepi, kemudian dengan suara berat ia bertanya, "Dari mana datangnya manusia-manusia lilin dalam kantor dagang Eng-ki?"

"Tidak tahu."

Siau-hong mencengkeram lengan orang tua itu lebih keras, kontan kakek itu kesakitan, saking sakitnya nyaris air mata jatuh bercucuran.

"Aku betul-betul tak tahu," kembali orang tua itu berkata, "Kemarin pagi, begitu pintu gerbang Eng-ki dibuka, manusia-manusia lilin itu sudah berada di sana."

Siau-hong menatapnya tajam, sampai dia yakin kalau jawaban orang tua itu sejujurnya, ia baru mengendorkan gencetan tangannya.

"Ke mana perginya para pegawai Eng-ki?"

"Entahlah," sahut si kakek, "Sejak kemarin pagi, aku sudah tidak melihat mereka."

"Seorang pun tak terlihat?” “Ya, seorang pun tak terlihat."

"Jadi sejak kemarin pagi, di dalam kantor dagang Eng-ki hanya ada beberapa sosok manusia lilin itu?" tanya Siau- hong, "Tak seorang hidup pun yang terlihat?"

"Tidak ada," jawaban orang tua itu sangat meyakinkan, "Sama sekali tidak ada!"

Organisasi Eng-ki berjalan sangat rahasia dengan jangkauan yang amat luas, kecuali pejuang berani mati di bawah asuhan Po Eng yang menyamar jadi pegawai kantor, orang yang sering berada di kantor untuk melakukan transaksi dagang dan jual beli pun paling tidak mencapai ratusan orang.

Seratusan orang hidup yang punya darah dan daging, tentu saja tak mungkin lenyap hanya dalam satu malam saja.

Lalu ke mana perginya mereka?

Siau-hong kembali berpikir, setelah itu dia ulangi kembali pertanyaannya yang mungkin sudah diulang beberapa kali.

"Jadi maksudmu, sejak kemarin pagi hingga sekarang, hanya beberapa orang lilin itu yang berada dalam kantor dagang Eng-ki?"

"Rasanya memang begitu."

Sesudah berpikir pula beberapa saat, kakek itu baru berkata lebih lanjut, "Karena sejak kemarin pagi hingga sekarang, kecuali beberapa orang lilin itu, siapa pun tak pernah melihat ada manusia hidup yang berjalan di dalam kantor dagang Eng-ki." Kembali Siau-hong bertanya, "Tahukah kau, di dalam kantor dagang Eng-ki seringkali terdapat banyak sekali barang dagangan yang mahal harganya?"

"Aku tahu," kakek itu mengangguk, "Semua orang juga tahu."

"Kalau memang di dalam kantor hanya ada beberapa orang lilin yang berjaga, memangnya tak ada orang yang punya pikiran jahat untuk menyatroni barang berharga dalam gedung itu?"

"Pernah ada yang berpikiran begitu," sahut si kakek, "Sejak kemarin pagi hingga sekarang, paling tidak sudah ada lima-enam rombongan manusia yang mencoba menyatroni."

"Lalu ke mana perginya orang-orang itu?" tanya Siau- hong keheranan.

"Mereka sudah mampus," kakek itu segera menarik tengkuk sendiri, "Baru saja memasuki pintu gerbang Eng-ki, mereka telah mampus."

"Asal ada orang memasuki pintu gerbang itu?" ulang Siau-hong tercengang, "Peduli siapa pun orang itu?"

Si kakek manggut-manggut, dari setiap kerutan di wajah tuanya seolah keringat bercucuran, keringat dingin.

Tanpa terasa tangan Siau-hong mulai meraba gagang pedangnya, ia merasa dari belakang punggungnya seolah ada angin dingin yang mendesir.

Sejujurnya dia tak percaya dengan kejadian ini, namun mau tak mau dia harus mempercayainya, maka kembali pemuda itu bertanya, "Apa yang menyebabkan kematian orang-orang itu? Kini jenazahnya berada di mana?" Kakek itu tidak menjawab pertanyaan itu, dia pun tak perlu menjawab, sebab pada saat itu di jalan Pat ka-keh kembali terjadi suatu peristiwa yang amat menakutkan.

Dari kerumunan manusia di kejauhan sana mendadak terjadi kegaduhan yang luar biasa. Lima orang lelaki kekar bertelanjang dada dan mengenakan kulit kambing untuk melindungi bagian vitalnya berjalan mendekat dengan langkah lebar.

Lima orang lelaki kekar dengan sebelas macam senjata yang luar biasa.

Lelaki pertama berdada lapang berperut buncit, tangannya membawa sebuah lencana baja yang beratnya mencapai lima puluhan kati. Wajahnya hijau dengan cambang memenuhi dagunya, dia memiliki sepasang lengan yang besar, kekar, dan berotot.

Lelaki kedua berpundak lebar berpinggang ramping. Pada pinggangnya terlilit sabuk kulit selebar telapak tangan dengan lima buah kampak tersoreng di sana, sebilah kapak besar dengan empat kapak kecil.

Lelaki ketiga beralis tebal bermata besar, dagunya dicukur klimis. Pada punggungnya tergantung sebilah trisula baja yang lebih panjang dari perawakan tubuhnya, di tangannya membawa tongkat iblis sementara di pinggangnya terselip sebilah golok kepala setan yang amat tebal.

Senjata yang digunakan lelaki keempat tak lebih hanya sebilah pedang biasa, meski perawakan tubuhnya tinggi kekar, namun tampangnya bersih dan cukup tampan.

Lelaki kelima bertangan kosong, sepasang tangannya nyaris mencapai lutut, bukan saja ukuran lengan itu panjangnya istimewa, bahkan telapak tangannya lebih besar satu kali lipat daripada telapak tangan orang biasa.

Walaupun dia tidak membawa senjata, namun pada ikat pinggangnya penuh bergelantungan aneka macam barang yang tak jelas benda apakah itu, tidak diketahui pula ada berapa banyak jenis barang yang tergantung di situ, sementara pada tengkuknya melingkar segulung tali panjang begitu besar gulungan tali itu hingga kalau dilihat dari kejauhan, seperti gerobak penjaja keliling yang menjual aneka macam barang.

Kelima orang lelaki kekar itu tidak berteriak maupun membentak, mereka pun tidak turun tangan, begitu tiba di situ langsung berdiri siaga, gaya serta penampilan mereka sangat menggetarkan hati setiap orang.

Begitu mereka tampil, suasana pun jadi hening seketika.

Tampak kelima orang itu saling bertukar pandang sekejap, kemudian tampak lelaki pertama buka suara lebih dulu.

"Lotoa, beberapa manusia lilin itulah yang membuat ulah, saudara- saudara dari Cing Siau-lin tewas di tangan mereka."

"Masakah manusia lilin pun bisa membunuh orang?" sang Lotoa tertawa dingin, "Sialan, memang kau anggap kita sudah bertemu setan?"

"Peduli mereka akan berubah jadi apa, lebih baik kita hancurkan dulu patung-patung lilin itu."

"Ide bagus."

Lelaki bersenjata pedang itu meski berwajah paling tampan, ternyata gerakan tubuhnya paling cepat, tahu-tahu dia telah melolos pedangnya dan siap melakukan serangan. Lelaki bersenjata kapak segera mencegah ulahnya. "Tunggu sebentar!"

"Setelah tiba di sini, apa lagi yang harus kita tunggu?” “Tunggu sejenak, lihat dulu kemampuanku!"

Lelaki bersenjata pedang itu tidak berebut lagi, sebab Lotoa mereka pun menyetujuinya.

"Baik, kita saksikan dulu kebolehan Lo-ji."

Bukan mereka saja yang menyaksikan, orang lain pun ikut menonton, semua orang ingin melihat dengan cara apa Lo-ji mereka turun tangan.

Gerakan tubuh Lo-ji tidaklah terlalu cepat, mula-mula dia maju dua langkah lebih dulu dengan gerakan lamban, dari ikat pinggangnya ia meloloskan sebilah kapak yang panjangnya hanya sepuluh inci, dengan ibu jarinya yang dilumuri air ludah, dia basahi mata kapak... mendadak ia bungkukkan badan sambil mengayunkan tangannya....

"Plaak!", desingan angin tajam membelah angkasa, kapak kecil dalam genggamannya telah terlepas dari tangannya dan membacok ke arah batok kepala Pancapanah.

Kungfu semacam ini teramat langka, jarang ada jago persilatan yang mempelajari ilmu semacam ini, karena kekuatan sebilah kapak jauh lebih besar daripada jenis Am- gi mana pun.

Bukan hanya besar kekuatannya, kecepatan gerak pun luar biasa, biar seekor harimau atau hewan buas pun tak bakal tahan menghadapi ayunan kapak mautnya itu.

Pancapanah sama sekali tak bergerak. Pancapanah itu tak lebih dari sebuah manusia lilin, tentu saja ia tak mampu bergerak, akan tetapi ayunan kapak maut itu pun sama sekali tidak mengenai batok kepalanya.

Kepandaian semacam ini seperti mempelajari ilmu pisau terbang, yang paling susah dipelajari adalah menyerang tepat sasaran. Ilmu itu baru dianggap berhasil apabila dari jarak tiga puluh langkah, kau sanggup membelah sebiji buah Tho dengan lemparan kapakmu.

Tak diragukan lagi, kungfu yang dimiliki lelaki itu telah mencapai tingkatan seperti itu, bukan saja serangannya cepat, bahkan tepat sasaran.

Setiap orang dapat menyaksikan dengan jelas, begitu kapak itu dilontarkan, batok kepala manusia lilin itu pasti akan terbelah jadi dua bagian.

Anehnya, lemparan kapak itu justru mengenai sasaran kosong.

Entah dikarenakan tenaga yang digunakan lelaki itu kurang kuat ataukah disebabkan alasan lain, baru saja lemparan kapak terbangnya tiba di atas kepala Pancapanah, tiba-tiba saja dia kehilangan sasaran, lalu bagaikan sebuah layang-layang yang putus tali, kapak terbang tadi mencelat ke arah samping dan... "Praak!", menancap di atas meja kasir.

Berubah paras Lo-ji. Begitu pula dengan saudara angkat lainnya.

Berputar biji mata sang Lotoa, sengaja dia mengumpat dengan kata-kata kotor, "Dasar bajingan tengik, makan daging lebih banyak agar tanganmu lebih bertenaga, maknya, kau justru pergi main nona, main sampai tangan lemas kaki lemas, sialan, betul-betul memalukan." Hijau membesi paras Loji, tidak menunggu hingga umpatan sang Lotoa selesai, lagi-lagi dia melontarkan sebilah kapak terbang.

Kali ini dia menyerang lebih cepat dan lebih tepat sasaran, tenaga yang dipergunakan pun jauh lebih besar.

Kapak itu segera melesat membelah angkasa, di mana desingan angin menyambar, tiba-tiba... "Buuk!", gagang kapak tahu-tahu patah jadi dua bagian, begitu kehilangan tenaga keseimbangan, kapak itu pun rontok ke tanah.

Lotoa masih mengumpat, kali ini dia mengumpat lebih ganas dan kotor.

Namun sepasang matanya mengawasi terus sekeliling tempat itu, sebab dia bersama saudara-saudaranya memahami dua hal.

Sebilah kapak yang terbuat dari kayu kwalitas tinggi tak mungkin patah jadi dua tanpa sebab.

Sampai di manakah kekuatan tenaga sambitan yang dimiliki Lo-ji, tentu saja mereka tahu dengan sangat jelas, kalau dibilang ia menyambit sasarannya sampai meleset, pada hakikatnya keadaan itu bagaikan matahari terbit dari langit barat.

Tak mungkin tanpa sebab gagang kapaknya bisa patah jadi dua, tak mungkin sambitan kapaknya meleset dari sasaran, lalu apa yang sebenarnya telah terjadi?

Penjelasan yang paling masuk akal adalah hadirnya seseorang.

Ada seseorang, dari sebuah sudut yang tak gampang terlihat orang lain, dengan sebuah ilmu yang tak gampang diketahui orang, telah melepaskan sejenis senjata rahasia yang tak mudah terlihat orang lain, sambitan senjata rahasia itu memukul miring sambitan kapak pertama Lo-ji, kemudian mematahkan gagang kapak pada sambitan yang kedua.

Tidak diragukan lagi orang itu pasti seorang jago tangguh, jago daripada para jago.

Besar kemungkinan orang itulah yang telah meletakkan manusia-manusia lilin itu di sana.

Walaupun kelima orang bersaudara itu berpikir demikian, namun mereka sama sekali tidak bereaksi, karena mereka tak dapat melihat kehadiran orang itu, tak melihat pula senjata rahasia yang digunakan? Mereka hanya  melihat Siau-hong.

Siau-hong sendiri pun sedang mencari, mencari orang yang berhasil mematahkan gagang kapak.

Belum lagi dia berhasil menemukan orang itu, orang lain telah datang mencarinya.

Orang pertama yang datang menghampirinya adalah pemuda berperawakan paling tinggi besar, berwajah tampan, dan menggembol pedang itu.

Dia menatap Siau-hong beberapa saat, tiba-tiba tegurnya sambil tertawa, "Baik-baikkah kau? Rasanya aku pernah bertemu denganmu.”

“O, ya?"

"Rasanya tadi aku telah bertemu dengan kau, bertemu dengan dirimu di suatu tempat yang lain."

"O, ya?" tanya Siau-hong, "di mana kau pernah bertemu aku?"

"Di kantor dagang itu," kata pemuda berpedang itu cepat, "Wajahmu mirip dengan wajah yang ada di sana. ” Siau-hong tertawa, sambil meraba wajah sendiri dia tertawa.

"Aku sendiri pun merasa agak mirip," kemudian tanyanya kepada pemuda itu, "Siapa namamu?"

"Aku disebut Lo-su!"

"Lo-su?" kembali Siau-hong bertanya, "Lo-su siapa?” “Lo-su dari Lotoa kami.”

“Siapa pula Lotoa kalian?"

"Seseorang yang tak pandai membunuh orang," kata Losu, "Dia hanya bisa menghajar orang seringkali tubuh orang yang dihajarnya hancur-lebur jadi bubur daging."

Siau-hong menghela napas.

"Kalau begitu, dia pasti sangat lelah." "Sangat lelah?"

"Siapa pun itu orangnya, menghajar tubuh orang lain hingga hancur jadi bubur tentu membutuhkan tenaga  ekstra, masa dia tidak lelah?"

Losu tertawa dingin, mendadak tanyanya lagi kepada Siau-hong, "Mana senjata rahasiamu?"

"Senjata rahasia apa?" Siau-hong balik bertanya. "Senjata rahasia yang menghajar kapak tadi."

"Aku tidak mempunyai senjata rahasia," Siau-hong masih tertawa, "Kalau aku memiliki senjata rahasia, bukan kapak yang kusambit."

"Bukan menyambit kapak, lalu menyambit apa?" "Menyambit manusia," Siau-hong tertawa gembira, "Menyambit tubuh manusia pasti jauh lebih menarik daripada menyambit kapak."

Lo-su pun tertawa.

Mereka berdua sama-sama tertawa, tapi siapa pun dapat melihat mereka bukan benar-benar merasa geli.

Di saat sedang tertawa tergelak, tatapan mata mereka tertuju pada tangan lawan.

Tangan yang menggenggam pedang.

Gelak tawa Lo-su jauh lebih keras daripada gelak tawa Siau-hong mendadak tanyanya lagi, "Kau pun pandai menggunakan pedang?"

"Bisa sedikit," sahut Siau-hong, "Hanya sedikit sekali." "Bagus, kebetulan aku pun mengerti soal pedang, aku

pun hanya mengerti sedikit."

Begitu perkataan itu diucapkan, semua orang pun memahami maksud ucapannya.

Lo-su telah memastikan kalau Siau-hong ada sangkut- pautnya dengan beberapa manusia lilin dalam kantor dagang Eng-ki. Sekalipun dia bukan jagoan yang merontokkan kapak terbang, paling tidak dari dirinya ia bisa memaksa munculnya jagoan itu.

Siau-hong sama sekali tidak menyangkal, karena dia tahu menyangkal pun tak ada gunanya.

Pedang berada dalam genggaman Lo-su, begitu pula dengan Siau-hong.

Lo-su berencana hendak menggunakan pedangnya untuk memaksa Siau-hong mengatakan rahasia itu. Siau-hong pun tidak berusaha berkelit atau menghindarkan diri.

Tinggi badan Lo-su tujuh kaki satu inci, kaki maupun tangannya sangat besar, namun gerakan tubuhnya gesit dan lincah, otot dan daging rubuhnya tampak sangat kenyal.

Sebaliknya Siau-hong bukan saja tampak pucat dan sayu, bahkan kelihatan lemah sekali.

Siapa kuat siapa lemah sudah jelas terpampang di depan mata, setiap orang berpendapat Siau-hong pasti akan menderita kekalahan.

Terkecuali Che Siau-yan.

Hanya dia yang tahu kalau Lo-su tak bakal sanggup menghadapi tiga jurus serangan Siau-hong.

Diiringi bentakan nyaring, tampak cahaya pedang berkilauan di udara, dalam waktu singkat Lo-su telah melancarkan delapan buah tusukan, di balik setiap jurus serangan terselip jurus serangan lainnya yang terangkai menjadi delapan buah serangan berantai, jurus serangan itu tampak jauh lebih ganas dan dahsyat ketika digunakan lelaki tinggi besar ini.

Tapi sayang, jangankan melukai tubuh lawan, menyentuh ujung baju Siau-hong pun tak sanggup.

Siau-hong hanya melepaskan sebuah tusukan.

Dia memutar badan, mencabut pedang, dan melepaskan sebuah tusukan, tahu-tahu serangannya sudah mengancam tenggorokan Lo-su.

Lelaki tinggi besar itu harus mengerahkan seluruh tenaganya sebelum berhasil menghindarkan diri dari serangan itu. Ia melambung ke tengah udara dan berjumpalitan beberapa kali, walaupun berhasil menghindari tusukan maut itu, namun tak dapat memilih jalan mundur sesuai dengan kehendak hati.

Sewaktu badannya melayang turun, ia telah berada dalam kantor dagang Eng-ki.

Di dalam kantor dagang Eng-ki hanya ada beberapa orang lilin yang tak bernyawa, tak punya perasaan, dan sama sekali tak bisa bergerak.

Tapi begitu tubuhnya melayang turun, sinar matanya segera memancarkan perasaan tercengang ngeri, dan takut yang luar biasa, setiap bagian otot dan daging tubuhnya mulai menyusut karena takut, mendadak kehilangan kekenyalannya, berubah jadi kejang, kaku, dan layu.

"Lo-su, cepat mundur! Cepat mundur!" saudara-saudara angkatnya serentak berteriak lantang.

Sebetulnya dia sendiri pun ingin mundur dari situ, hanya sayang keadaan sudah terlambat.

Dia berusaha meronta, masih mencoba menerjang maju, menggunakan pedang yang berada dalam genggamannya untuk membacok dan menusuk manusia-manusia lilin tak bernyawa itu.

Tapi dalam waktu yang teramat singkat itulah seluruh persendian, seluruh ruas tulang yang ada di tubuhnya seolah kehilangan kendali, bukan hanya air mata dan ingus yang meleleh, air seni dan kotoran pun ikut meleleh, lambat-laun tubuhnya semakin berkerut dan akhirnya menggumpal jadi sebuah bulatan.

Hanya saja dia belum tewas, masih tersisa sedikit napas dalam dadanya, mendadak dia membentak keras, dengan mengerahkan sisa kekuatan yang dimilikinya dia melontarkan pedang dalam genggaman ke depan.

Tampak cahaya pedang berkelebat, "Bruk!", pedang itu langsung menghujam di atas dada Po Eng, menusuk masuk dari dada dan tembus di belakang punggungnya.

Sayangnya Po Eng yang terkena tusukan pedang tak lebih hanya manusia yang terbuat dari lilin.

Dalam pada itu Lo-su sudah roboh ke tanah, tubuhnya semakin menyusut, seorang lelaki yang dulunya tinggi besar, dalam waktu sekejap telah berubah jadi sesosok manusia kering, manusia yang kehabisan darah dan kehilangan daging tubuh.

Oleh karena itu dia sudah tak dapat menyaksikan hasil lemparan pedangnya itu.

Tapi saudara-saudaranya belum mati, tiba-tiba saja paras mereka menampilkan perasaan ngeri, takut, seram, dan tercengang yang aneh, sebab mereka telah menyaksikan sesuatu.

Setiap orang yang sepasang matanya masih bisa melihat, segera memperlihatkan perubahan mimik muka yang sama, bahkan tak terkecuali Siau-hong sendiri.

Karena dia pun seperti mereka, telah menyaksikan suatu peristiwa yang meski telah disaksikan dengan mata kepala sendiri, namun sukar dipercaya dengan akal sehat.

Mereka menyaksikan Po Eng sedang mengucurkan darah segar!

Bukankah Po Eng yang berada di sana hanyalah sebuah manusia lilin yang tak bernyawa, tak berperasaan dan tak punya darah? Mengapa dari tubuhnya bisa mengucurkan darah segar? Po Eng benar-benar sedang berdarah, darah segar!

Setetes demi setetes darah mengalir melewati ujung pedang, lalu dari ujung pedang meleleh ke lantai.

Dia sama sekali tak bergerak, mimik mukanya tidak pula menunjukkan perubahan apa pun.

Karena dia tak lebih hanya sebuah manusia lilin, paling tidak dipandang dari luar, dia memang sesosok manusia yang terbuat dari lilin.

Namun bila ditinjau dari sudut pandang lain, siapa pun tahu, sesosok manusia lilin tak mungkin bisa mengucurkan darah. Sama sekali tak mungkin, mustahil bisa terjadi! Lalu dari mana datangnya darah?

Apakah manusia lilin itu hanya penampilannya saja sebagai manusia lilin, padahal sesungguhnya bukan?

Kalau manusia lilin ini sesungguhnya bukan manusia lilin, mengapa penampilannya justru sesosok manusia lilin?

Sebuah pertanyaan yang membingungkan, sebuah pemikiran yang membingungkan juga, sedemikian membingungkan sehingga terkesan menakutkan.

Tiba-tiba Siau-hong merasakan sekujur badannya dibasahi keringat dingin, karena dari dalam hatinya muncul pula sebuah pemikiran yang menakutkan dan membingungkan.

Tiba-tiba ia menerjang maju.

Dia ingin menerjang masuk ke dalam kantor dagang Eng-ki untuk mencari jawaban dari pertanyaan ini.

Dia hanya ingin mencari jawaban dari persoalan ini dan melupakan perkataan yang pernah disampaikan orang tua itu padanya. Asal kau memasuki pintu gerbang Eng-ki, maka nyawamu bakal melayang, peduli siapa pun itu orangnya.

Ucapan itu terdengar amat tak masuk akal, jarang ada orang yang mempercayainya, tapi setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri kematian Losu, siapa pun harus mempercayai ucapan itu, siapa pula yang tak mau mempercayainya?

Mimik wajah Lo-su menjelang kematian terlihat begitu ketakutan dan ngeri, sebuah penampilan yang tak mungkin bisa terlupakan untuk selamanya.

Sayang Siau-hong telah melupakannya.

Dalam waktu sekejap dia seolah telah melupakan segalanya, semua kejadian yang membangkitkan rasa sedih, gusar, ngeri, dan takut, sudah tak dapat lagi mempengaruhi jalan pikirannya.

Dalam waktu sekejap dia hanya menguatirkan satu hal, seseorang.

Po Eng!

Tengah malam yang sepi, dingin dan berkepanjangan di tengah gurun, arak yang lebih keras daripada hembusan angin gurun, persahabatan yang lebih kental dari arak, semua itu tak akan terlupakan selamanya.

Seorang lelaki harus ternama. Meneguk arak harus mabuk.

Berkeluh-kesah setelah mabuk, itulah ucapan paling sejati. Po Eng di manakah kau sekarang? Masih hidupkah kau? Ataukah telah mati?

Mengapa kau bisa mengucurkan darah? Siau-hong bukan seorang Enghiong. Jarang sekali ada orang menganggapnya sebagai Enghiong, dia sendiri pun tak ingin menjadi seorang Enghiong.

Dia hanya berharap bisa menjadi seorang biasa, melakukan pekerjaan biasa, melewati hari-hari dengan kehidupan yang biasa.

Tapi dia memiliki jiwa pemberontak.

Setiap kali menyaksikan kejadian yang tak adil, melihat tingkah laku manusia yang tak adil, dia akan berontak, tanpa berpikir panjang dan tanpa peduli segala resiko dia pasti akan berusaha membuat adil masalah yang terjadi di depan mata, membuat orang-orang yang berbuat tak adil bisa menerima keputusannya.

Siau-hong pun memiliki semangat, semangat yang membuatnya tak pernah menyerah, tak pernah bertekuk lutut.

Jika orang lain tidak memaksanya, dia akan tampil sebagai manusia damai, tak ingin ribut dengan orang, tak ingin pula berebut dengan orang lain, dalam semua masalah.

Tapi bila ada yang memaksanya, semangat itu akan muncul.

Di saat semangat itu timbul, peduli orang lain sedang merayunya atau sedang mengancamnya, dia tak peduli, biar ada golok yang dipalangkan di atas tengkuknya pun dia tak peduli.

Belakangan sikap Siau-hong sudah jauh lebih tenang, setiap orang yang pernah kenal dengannya berpendapat bahwa dia jauh lebih tenang, jauh lebih pandai mengendalikan diri. Dia sendiri pun beranggapan dirinya jauh lebih tenang sudah banyak belajar cara untuk mengendalikan diri.

Ada banyak kali dia selalu membuktikan akan hal itu, tapi sekarang tiba-tiba saja ia kehilangan kendali, tiba-tiba saja emosinya meledak-ledak. Dia seolah sudah melupakan sama sekali peringatan yang selalu muncul di hati kecilnya, seolah tak menggubris lagi kata nasehat hati sanubarinya.

Apabila dikarenakan urusan pribadi, belum tentu dia akan bersikap seperti ini.

Tapi demi sahabat, demi Po Eng, setiap saat dia dapat meninggalkan segalanya. Setiap saat ia dapat menumbukkan kepala sendiri ke atas dinding biarpun di atas dinding terdapat tiga ratus delapan puluh batang paku yang tajam pun dia tak peduli, ia tetap akan menumbukkan kepalanya ke dinding.

Karena begitulah wataknya, sejak lahir dia telah mempunyai tabiat dan jiwa semacam itu, Siau-hong memang selalu Siau-hong yang nekat, Siau-hong yang tak takut mati.

Mengapa manusia lilin dapat melelehkan darah? Jawaban yang paling masuk akal hanyalah satu.

Di balik manusia lilin pasti terdapat seseorang, seorang yang bisa berdarah, bukankah hanya manusia hidup yang dapat melelehkan darah?

Ketika masih kecil dulu, Siau-hong pernah mendengar sebuah cerita, sebuah cerita yang amat menakutkan.

Zaman dahulu, dahulu sekali, di dalam sebuah negeri yang amat jauh, hidup seorang Taysu pembuat manusia lilin, setiap manusia lilin hasil karyanya tak jauh berbeda seperti manusia hidup, khususnya bila manusia lilin itu berwajah seorang gadis, hampir setiap pria yang melihatnya akan terpikat dan jatuh cinta.

Pada saat bersamaan, dari beberapa desa pelosok negeri itu tersiar berita kalau seringkali ada sekawanan gadis yang hilang secara misterius, opas paling tersohor dan paling berpengalaman pun gagal menelusuri kasus ini serta menemukan jejak kawanan gadis yang hilang itu.

Kasus yang penuh misteri itu akhirnya berhasil dibongkar oleh seorang ibu yang sedang bersedih hati, terbongkar tanpa sengaja.

Ibu ini nyaris jadi gila karena kehilangan anak gadisnya, untuk menghibur hati istrinya yang sedih, sang suami pun mengajaknya berjalan-jalan ke kota besar.

Di dalam kota besar itu hidup seorang familinya yang berduit, kebetulan saudaranya kenal baik dengan Taysu pembuat patung lilin itu, maka mereka pun diajak ke bengkel kerjanya untuk menikmati hasil seninya yang maha indah.

Tatkala sang ibu melihat salah satu patung lilin yang berjajar di sana, tiba-tiba ia jatuh tak sadarkan diri.

Karena mereka saksikan patung lilin itu persis sama dengan wajah putrinya, bahkan di bawah remang- remangnya cahaya lentera, pada hakikatnya patung lilin itu persis sama dengan putrinya.

Ketika tersadar kembali dari pingsannya, dia pun memohon kepada Taysu itu agar menjual patung lilin itu kepadanya, berapa pun harga yang diminta, sang ibu bersedia membelinya, sekalipun dia harus menjual seluruh harta kekayaan miliknya.

Tapi permintaan itu ditolak sang Taysu. Hasil karya sang Taysu tak akan diberikan kepada siapa pun dengan harga berapa pun.

Sang ibu yang sedih amat kecewa dan pedih, ketika bersiap akan pergi meninggalkan tempat itu, mendadak satu kejadian yang menakutkan berlangsung di depan mata.

Patung lilin bocah perempuan itu tiba-tiba melelehkan air mata, air mata berwarna merah, air mata darah.

Ibu yang teramat sedih itu tak sanggup mengendalikan diri lagi, tanpa pikir panjang ia menubruk ke muka, memeluk patung lilin itu.

Tiba-tiba patung lilin hancur, lapisan luarnya retak kemudian hancur, ternyata di dalamnya berisi sesosok tubuh manusia, walaupun bukan manusia hidup, namun sesosok manusia yang punya daging dan darah.

Dan orang yang berada dalam patung lilin itu tak lain adalah putri sang ibu yang hilang.

Maka rahasia sang Taysu pun terbongkar, ternyata semua hasil karyanya terbuat dari manusia hidup yang diberi lapisan lilin.

Ketika masih sangat kecil dulu, Siau-hong pernah mendengar sebuah cerita, sebuah cerita yang amat menakutkan.

Menurut cerita kuno, bila seseorang mati di negeri orang, mati penasaran, sewaktu bertemu dengan sanak keluarganya, dari tubuh jenazahnya akan mengalir keluar darah, darah yang meleleh dari ke tujuh lubang inderanya.

Oleh sebab itu orang mati bukan berarti pasti tak akan mengeluarkan darah lagi.

Kisah semacam ini sudah begitu mengakar dalam benak Siau-hong, karena itu begitu melihat darah meleleh dari patung lilin Po Eng, tiba-tiba saja dia teringat akan kisah itu.

Apakah patung lilin Po Eng pun dibuat dengan cara yang sama dengan kisah cerita itu?

Benarkah di balik patung lilin itu adalah Po Eng asli?

Teringat akan hal ini, Siau-hong pun segera menerjang maju.

Dia harus menemukan jawaban dari pertanyaan ini, bagaimana pun juga dan apa pun yang bakal terjadi, dia harus menemukan jawabannya.

Tentang keselamatan sendiri, mengenai mati hidupnya, pada hakikatnya dia sama sekali tak peduli.

Oleh sebab itu pada detik terakhir, dia telah melupakan semua persoalan lain, dia telah membuang jauh semua persoalan lain yang mengganjal hatinya selama ini.

Orang-orang yang berdiri di luar kantor dagang Eng-ki sama sekali tak menyangka kalau Siau-hong bakal menerjang masuk ke dalam kantor, meski dengan mata kepala sendiri ia telah menyaksikan kematian Losu yang tragis, termasuk Che Siau-yan.

Tapi pemuda itu telah menerjang masuk ke dalam gedung.

Sungguh cepat gerakan tubuhnya, jauh lebih cepat dari bayangan kebanyakan orang, tapi setelah menerjang ke dalam, mendadak dia menghentikan gerakannya, seolah- olah terkena sihir secara tiba-tiba, badannya sama sekali berhenti bergerak.

Target sasarannya selama ini adalah patung lilin Po Eng yang mengeluarkan darah. Tapi ketika badannya terhenyak dan berhenti secara tiba- tiba tadi, sorot matanya justru berpaling mengawasi patung lilin yang lain.

Di saat sepasang matanya menatap patung lilin itulah tiba-tiba tubuhnya terhenyak lalu berhenti.

Setelah itu wajahnya menunjukkan mimik muka yang sangat aneh, mimik muka seperti wajah Lo-su menjelang kematiannya.

Sorot matanya dipenuhi rasa ngeri dan kaget, otot dan daging wajahnya mengejang, lalu seolah menyusut.

Apa yang telah dilihatnya?

Apa yang terlihat oleh Siau-hong, kecuali dia sendiri, siapa pun tak akan percaya, bahkan dia sendiri pun sulit untuk mempercayainya.

Tiba-tiba saja dia menyaksikan sepasang mata milik sendiri.

Dia pun telah melihat mimik muka dan sorot mata sendiri yang tak mungkin bisa diceritakan dengan perkataan.

Semacam perasaan benci, dendam, dan penuh cemoohan.

Siapa yang dapat memandang dirinya menggunakan sorot mata semacam ini?

Tentu saja yang dilihat Siau-hong bukan dirinya sendiri, dia hanya menjumpai patung lilin yang nyaris tak jauh berbeda dengan dirinya.

Tapi pada detik itu pula, dia benar-benar mempunyai perasaan semacam itu, benar-benar merasa dia sedang menatap diri sendiri, seolah secara tiba-tiba dirinya terbelah jadi dua orang. Suatu kejadian yang mustahil, tak mungkin terjadi.

Ooo)d*w(ooO
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).