Elang Terbang di Dataran Luas BAB 33. KASUS ANEH PAT KA-KEH (JALAN DELAPAN SUDUT)

BAB 33. KASUS ANEH PAT KA-KEH (JALAN DELAPAN SUDUT)

"Waktu itu kau hendak membunuhku, tentu saja aku akan membunuhmu," sahut Siau-hong, "Tapi sekarang "Kenapa sekarang?"

"Sekarang bukan saja aku tak bisa membunuhmu, bahkan akan menyelamatkan jiwamu.”

“Kenapa?"

"Karena kau sudah menjadi seorang yang hampir mati, sudah sama sekali kehilangan kekuatan untuk melawan," kata Siau-hong, "Bila aku membunuhmu, sekalipun aku bisa hidup terus, aku akan hidup dengan perasaan tak tenang."

"Jadi sekarang hidupmu sangat tenteram?"

"Hidupku selalu tenteram," jawab Siau-hong, "Karena aku sadar bahwa diriku tidak berhutang kepada siapa pun, tidak menyalahi siapa pun." "Jadi kau lebih suka mati daripada melakukan perbuatan yang tak bisa dimaafkan orang lain?"

"Perbuatan yang tak bisa kumaafkan pun, tak bakal kulakukan."

Orang itu terengah-engah, napasnya memburu, tiba-tiba ia memperdengarkan suara rintihan keputus-asaan, suara erangannya seperti seekor hewan buas yang menjumpai dirinya terperosok ke dalam perangkap yang dalam.

"Aku salah!" rintihnya, "Aku telah melakukan kesalahan."

"Kesalahan apa yang telah kau lakukan?"

Orang itu tidak menjawab pertanyaan itu, hanya tiada hentinya berbisik, "Kau masih belum berubah, kau masih Siau-hong yang dulu, aku tidak sepantasnya... tidak sepantasnya. ”

Suara rintihannya makin lama semakin rendah, makin lama semakin lemah dan lirih.

"Dari mana kau bisa tahu kalau aku adalah Siau-hong? Dari mana bisa tahu kalau aku belum berubah?" tanya Siau- hong, "Kau tidak sepantasnya kenapa?"

Orang itu sudah tak mampu menjawab pertanyaannya lagi.

Dengus napasnya yang kian melemah, dia semakin terengah-engah, bahkan mulai batuk tiada hentinya.

Siau-hong segera melepaskan kantong air milik orang itu, dia ingin memberinya air minum, sayang napasnya yang terengah dan batuknya yang keras membuat orang itu tak mampu meneguk air yang disuapkan ke mulutnya.

Langit semakin gelap, dengan menggerayang dia mengeluarkan secarik kain dari sakunya, lalu dibasahi kain tadi dan perlahan ia teteskan air itu di atas bibirnya yang mengering.

Akhirnya orang itu dapat berbicara lagi.

"Aku telah berbuat salah kepadamu," katanya, "Aku pun telah melakukan kesalahan terhadap engkoh Eng."

Perkataan yang dia ucapkan membuat Siau-hong terperangah, terkejut, hingga lama sekali tak mampu berkata-kata.

Lewat lama kemudian ia baru bertanya, "Jadi kau pun kenal Po Eng? Kesalahan apa yang telah kau lakukan? Siapakah kau?"

Tiada jawaban, tiada reaksi dari orang itu.

Ternyata ketika Siau-hong mengajukan pertanyaan itu, napas dan detak jantungnya telah berhenti, orang itu telah menyelesaikan perjalanan hidupnya.

Perlahan Siau-hong membentangkan kain yang telah dibasahi tadi dan ditutupkan ke atas wajah orang itu.

Sekarang dia sudah tahu orang ini pasti mempunyai hubungan yang dalam dengan dirinya, mempunyai hubungan yang mendalam dengan Po Eng.

Tapi sayang ia tak dapat mengingat siapakah orang itu?

Deru angin badai masih berhembus kencang, dia sudah tak mendengar lagi suara bisikan orang itu.

Langit bertambah gelap.

Harus menanti sampai kapan langit baru terang kembali, badai pasir baru berhenti?

Siau-hong mengambil kantung air itu, kemudian meminumnya dua teguk. Sesungguhnya dia bukan benar-benar ingin minum air dalam kantung itu, di saat meneguk air, dia sama sekali tak berpikir perbuatan apa yang sedang dilakukannya.

Dia minum air dalam kantung kulit itu tak lebih hanya sebuah reaksi yang lumrah, karena dia harus hidup lebih jauh.

Kemungkinan besar orang itu adalah sahabatnya, bahkan baru saja tewas di tangannya.

Bila dia terbayang akan hal ini, bila dia tahu siapakah orang itu, mungkin ia rela mati kehausan daripada meneguk air di dalam kantung kulit itu.

Biarpun saat itu langit bertambah gelap, bukankah sesaat sebelum terbitnya sang surya merupakan saat yang paling gelap?

Kini langit sudah mulai terang, deru angin pun sudah semakin mereda.

Tiba-tiba saja Siau-hong dapat melihat wajah orang itu, kain yang menutupi wajahnya telah terbang terhembus angin, kini terpampanglah sebuah wajah yang penuh penderitaan, siksaan dan penyesalan.

Seketika itu juga Siau-hong merasakan hatinya tenggelam, darah yang mengalir di tubuhnya seolah jadi dingin dan membeku.

Ternyata orang itu tak lain adalah Gharda.

Di saat ia dicurigai orang hingga nyaris tak ada jalan keluar, dialah satu-satunya orang yang masih menganggap dirinya sebagai sahabat.

Kain yang dia pergunakan untuk menutupi wajah orang itu tak lain adalah "Hata" yang dipersembahkan orang ini kepadanya sambil berlutut, "Hata" yang melambangkan persahabatan abadi serta rasa hormat yang tinggi.

Kini orang itu telah mati di ujung pedangnya, ternyata dia masih meneguk habis air dalam kantung kulit miliknya.

Kenapa Gharda belum mati? Kenapa ia bisa muncul di sini? Kenapa bisa bergabung menjadi anak buah Lu-sam?

Kenapa ia menuduh dirinya bersalah? Kenapa dia pun berkata kalau telah melakukan kesalahan terhadap Siau- hong dan Po Eng?

Tak satu pun persoalan itu yang dipikirkan Siau-hong.

Persoalan yang terpikirkan olehnya saat ini adalah mimik muka yang tulus dari Gharda ketika mempersembahkan satu-satunya sepatu laras kulit kesayangannya dalam tenda yang sempit dan memintanya untuk melarikan diri.

Bila saat ini ada orang yang sempat melihat wajah Siau- hong, dia pasti akan sangat terperanjat.

Karena raut wajahnya saat ini nyaris telah berubah seperti wajah sesosok mayat.

Karena parasnya pun diliputi perasaan sedih, menderita, dan penyesalan.

inikah yang disebut kehendak takdir?

Mengapa kehendak takdir selalu memojokkan orang ke dalam jalan buntu yang penuh ketidak-berdayaan?  Mengapa selalu mempermainkan umat manusia agar melakukan perbuatan yang sebenarnya biar mati pun tak bakal dilakukan?

Badai telah mereda, jenazah pun telah dikubur. Bagi Siau-hong, kejadian ini bukan merupakan pengalamannya yang pertama, ia pernah mengalami serangan badai, dia pun pernah mengubur jenazah lawan, satu-satunya perbedaan kali ini adalah jenazah yang dia kubur bukan jenazah musuhnya, melainkan mayat dari seorang sahabatnya.

Seorang sahabat yang tewas di ujung pedangnya. Dengan menggunakan pedang sebagai tongkat, Siau-

hong berusaha menempuh perjalanan.

Sejujurnya dia sendiri pun tak tahu kemana harus pergi, karena dia tak punya tujuan, tak tahu harus ke mana, terlebih lagi dia pun tak tahu sampai kapan dia bisa bertahan.

Tiada air, tiada rangsum, tiada tenaga, apa pun tak dimiliki, bahkan niat untuk mempertahankan hidup yang sangat penting pun ikut lenyap karena perasaan sesal yang mendalam, setiap saat kemungkinan dia akan roboh, bila roboh maka selama hidup jangan harap bisa bangkit lagi.

Mengapa dia masih berjalan terus ke depan?

Karena Siau-yan. Dia seolah-olah mendengar suara Siau- yan, suara rintihan yang penuh penderitaan dan kepedihan.

Kali ini pun dia masih belum dapat memastikan apakah suara yang didengarnya itu benar atau hanya ilusi? Maka dari itu selama masih memiliki satu bagian kekuatan, selama masih bisa melangkah maju, dia tak pernah akan menghentikan langkahnya.

Dia harus menemukan jawaban yang pasti. Akhirnya dia pun berhasil menemukannya.

Di saat dia nyaris roboh untuk selamanya tak mampu bangkit lagi, dia telah melihat Che Siau-yan. Matahari kembali muncul di tengah angkasa, dataran luas pun berubah jadi panas membara bagaikan sebuah tungku api.

Tiba-tiba Siau-hong menjumpai gadis itu sedang berjalan menuju ke arahnya, sambil bertelanjang kaki ia berjalan di atas pasir yang membara, seluruh pakaian yang dikenakan telah tercabik-cabik robek. Rambutnya yang hitam terurai lepas, wajahnya yang cantik pucat-pias dan membengkak karena pukulan, air mata membasahi mata dan pipinya.

Ketika memandang lagi ke depan, dia pun dapat menyaksikan Tokko Ci.

Ia berdiri dalam keadaan telanjang bulat, berbaring di bawah teriknya matahari, pedangnya terlepas pada jarak yang dapat diraih oleh tangannya.

Dia kelihatan begitu lepas dan kendor, kendor karena kepuasan.

Siapa pun yang menyaksikan keadaan itu pasti dapat membayangkan peristiwa apa yang barusan terjadi di situ.

Apa yang disaksikan Siau-hong dalam mimpi buruknya ternyata telah terjadi dalam kehidupan nyata.  Kemungkinan besar peristiwanya jauh lebih menakutkan, jauh lebih tragis, jauh lebih meremukkan hati daripada apa yang dilihatnya dalam mimpi buruknya tadi.

Siapakah yang dapat melukiskan, bagaimana perasaan seseorang ketika hatinya betul-betul sedang hancur dan remuk?

Siau-hong pun tak dapat melukiskan, tapi dia telah merasakan.

Siau-yan berjalan menuju ke hadapannya, menatapnya dengan termangu, di balik matanya yang basah oleh air mata, terselip pula perasaan yang siapa pun tak dapat melukiskan, tapi siapa saja ikut merasa remuk-redam setelah melihatnya.

Tiba-tiba Siau-hong menerkam ke muka.

Siau-yan merentangkan sepasang tangannya menyambut pelukan pemuda itu, tapi Siau-hong hanya menerjang lewat dari hadapannya, dia langsung menerkam ke arah Tokko Ci.

Tentu saja dia bukan ingin merangkul dan memeluk Tokko Ci.

Ia menerjang ke depan karena dalam genggamannya ada pedang, dia ingin sekali menusuk leher Tokko Ci yang berbaring telanjang dan mengakhiri kehidupannya.

Kepedihan, gusar dan benci telah merangsang setiap bagian tubuhnya, karena itulah dia masih memiliki cukup kekuatan untuk menghujamkan pedangnya.

Namun dia sendiri pun tahu, sisa tenaga yang dimilikinya sudah tidak terlalu banyak.

Pedang Tokko Ci masih tergeletak di tempat yang dapat diraihnya. Ketika tusukan pedangnya gagal menembus tenggorokan lawan, kemungkinan besar pedang Tokko Ci akan menembus dadanya.

Ia tahu akan hal itu, tapi dia tak peduli, sedikit pun tak peduli.

Tusukan pedang Siau-hong tidak menembus  tenggorokan lawan, bukan karena Tokko Ci telah meraih pedangnya dan menghujamkan pedangnya lebih dulu di atas dadanya.

Tusukan itu tidak dilanjutkan karena dia merasa sangat keheranan. Arah yang ditusuk pedangnya adalah bagian dada Tokko Ci, bagian mematikan yang akan merenggut nyawanya jika tertusuk.

Tapi sewaktu pedangnya menusuk ke bawah, ternyata Tokko Ci tidak berusaha meraih pedangnya, bahkan dia sama sekali tak bergerak, parasnya sama sekali tak berubah.

Jangankan berubah, sedikit perubahan mimik muka pun tak ada, dia seolah mayat yang telah mengering.

Sebuah peristiwa yang sangat aneh!

Paras Tokko Ci memang selalu tanpa emosi, selalu tidak menunjukkan perubahan apa pun.

Tapi anehnya, mimik muka yang kaku tanpa perasaan saat ini, terasa berbeda sekali dengan mimik muka tanpa perasaan yang diperlihatkan di masa lampau.

Karena di saat tanpa perasaan pun tetap ada penampilan, bahkan dapat memberi kesan kuat bagi siapa pun yang melihat.

Dulu, wajah Tokko Ci yang tanpa perasaan itu selalu menimbulkan kesan menakutkan dan menyeramkan bagi siapa pun yang melihatnya.

Tapi sekarang, kesan yang tampil di wajahnya sama sekali berbeda.

Kini paras tanpa perasaannya hanya memberi kesan penderitaan dan tersiksa bagi siapa pun yang melihatnya, semacam penderitaan yang hanya muncul di saat seseorang merasakan kegagalan, kekalahan dan keputus asaan.

Dia adalah pemenang, dia terkuat, dia yang menguasai segalanya, merampas semuanya.

Sebagai seorang pemenang, mengapa dia tampilkan penderitaan dan siksaan seperti ini? Siau-hong tidak habis mengerti, itulah sebabnya dia tidak melanjutkan tusukan itu. Walaupun belum ditusukkan lebih jauh, setiap saat dia dapat melanjutkan tusukan pedangnya.

Ujung pedang miliknya telah berada di atas tenggorokan Tokko Ci, selisih jaraknya dengan tenggorokan Tokko Ci paling hanya satu inci.

Paras Tokko Ci masih menambilkan mimik keputus- asaan dan penderitaan, bahkan memberi kesan seolah dia sangat berharap tusukan pedang Siau-hong dapat segera menembus tenggorokannya, agar dia tewas di bawah teriknya matahari.

Apakah dia ingin mati?

Hanya seorang pecundang, seorang yang kalah dalam segalanya, baru ingin mati, mengapa dia ingin mati?

Siau-yan pun sedang mengawasi Tokko Ci.

Pakaian yang dikenakan gadis itu sudah tercabik-cabik, wajahnya sembab karena pukulan, tapi sewaktu menatap orang itu, tiada perasaan marah dan kebencian di balik matanya, sebaliknya ia justru memperlihatkan ejekan, cemoohan, dan rasa iba.

Tiba-tiba gadis itu maju, menarik tangan Siau-hong yang menggenggam pedang dan berkata, "Mari kita pergi dari sini! Orang ini sudah tak berguna, kau tak perlu lagi membunuhnya."

"Tidak berguna?" Siau-hong tidak mengerti, "Kenapa tidak berguna?"

"Karena dia sudah bukan seorang lelaki," suara Siau-yan penuh ejekan dan cemoohan, "Dia ingin memperkosa aku, sayangnya dia tak mampu, dia sudah tak berguna." Tokko Ci masih berbaring di sana, berbaring di atas butiran pasir yang membara, berbaring di bawah teriknya matahari.

Siau-hong telah pergi, meninggalkan musuhnya begitu saja di tengah gurun.

Seorang lelaki yang sudah tak berguna, seorang lelaki yang sudah bukan lelaki, memang tak berharga untuk dibunuh orang lain.

Sekalipun mereka juga tahu, membiarkan dia berbaring seperti itu akan membuat seluruh badannya terbakar jadi arang membuat dagingnya terpanggang di saat matahari tenggelam sore nanti.

Mereka tetap pergi dari situ, kecuali dia sendiri, di dunia ini sudah tak ada orang lain yang dapat menyelamatkan jiwanya.

Che Siau-yan menerima satu stel pakaian yang diberikan Siau-hong kepadanya, lalu dikenakan untuk menutupi tubuhnya yang nyaris telanjang.

Biarpun kondisinya tampak mengenaskan, namun sikapnya jauh lebih tenang daripada Siau-hong.

"Sekarang kita akan pergi ke mana?" tanyanya.

Siau-hong termenung dia mengawasi sekejap dataran luas yang panas membara, lalu mengawasi pula sepasang tangannya yang kosong.

Lewat lama kemudian dia baru bertanya, "Sekarang kita akan pergi ke mana?"

"Ke mana kau ingin pergi, ke sana kita akan pergi," jawaban Siau-yan begitu ringan dan santai, seolah dia tak tahu kalau saat itu mereka sudah tidak memiliki segalanya, setiap saat kemungkinan besar akan roboh ke tanah. Kembali termenung sampai lama, Siau-hong baru berkata, "Aku ingin kembali ke Lhasa."

"Kalau begitu, kita kembali ke Lhasa," jawaban Siau-yan masih enteng sekali, "Sekarang juga kita kembali."

Siau-hong menatapnya, tiba-tiba ia tertawa, tertawa getir. "Dengan cara apa kita kembali?" dia bertanya,

"Merangkak?

Ataukah digotong orang?"

Ternyata Siau-yan ikut tertawa, tawanya terasa sangat misterius.

Siau-hong benar-benar tidak habis mengerti, dalam keadaan seperti ini kenapa dia masih bisa tertawa, namun dengan cepat dia jadi paham.

Sebab saat itu Siau-yan telah memindahkan sebuah batu cadas besar, seperti seorang pemain sulap, dari bawah batu cadas itu terdapat sebuah lubang gua, dari dalam liang dia mengeluarkan tiga buah kantung kulit yang sangat besar, sekantung rangsum, satu stel pakaian, dan sekantong air.

Dengan terkejut Siau-hong memandang ke arahnya, tiba- tiba ia menghela napas panjang.

"Tiba-tiba saja aku merasa kau mirip seseorang," katanya, "Ada banyak hal yang mirip."

"Kau mengatakan aku mirip siapa?"

"Pancapanah," sahut Siau-hong, "Enghiong Hohan nomor wahid di gurun pasir, Pancapanah yang selamanya tak pernah diduga dan diraba sepak terjangnya oleh siapa pun."

"Masa aku mirip dia?" "Karena kau pun seperti dia, mau pergi ke mana pun, selalu menyiapkan jalan mundur bagi diri sendiri," Siau- hong menerangkan, "Oleh sebab itu, selamanya kalian tak bakal bisa dipojokkan orang lain hingga kehabisan jalan."

Che Siau-yan ikut tertawa, entah sejak kapan tiba-tiba dia berubah menjadi lebih mirip Yang-kong, berubah jadi seorang bocah perempuan yang gemar tertawa.

Sambil tertawa tanyanya kepada Siau-hong, "Sekarang apakah kita sudah boleh berangkat ke kota Lhasa?"

"Benar," Siau-hong mengangguk, "Sekarang kita boleh berangkat."

Ooo)d*w(ooO

Lhasa masih tetap Lhasa yang dulu.

Seperti kota kuno lain yang mempunyai sejarah panjang, gerusan sang waktu, puing akibat peperangan, perubahan dan peristiwa besar, tak satu pun dapat mengubah kota besar yang kuno ini.

Benteng batu yang membentang dari istana Potala hingga bukit Chagebu dipenuhi bangunan loteng, ruang semadi, halaman kuil dan batu prasasti, sebuah pemandangan kota yang sangat menawan.

Lorong dan jalanan di dalam kota masih penuh berjejal manusia yang berlalu-lalang, kawanan pengemis tua yang lemah masih bertebaran mencari sedekah, sambil membaca doa mohon kemurahan hati dari para peziarah.

Sampah-sampah pun masih menumpuk di sepanjang jalan, tapi kotornya jalan tak sampai mempengaruhi keindahan kota. Balik ke kota itu, Siau-hong merasa seolah dia kembali ke desa kelahirannya, wilayah Kang-lam.

"Sekarang kita akan ke mana?" Siau-yan bertanya lagi. "Kita pergi ke jalan Pat-ka-keh!"

Jalan Pat-ka-keh (Sudut delapan) merupakan pusat perdagangan kota, hampir semua kantor dagang besar berkumpul di tempat ini, mau membeli barang apa pun, kau bisa mendapatkannya di situ.

"Mau beli apa kau ke situ?" kembali Siau-yan bertanya. "Tidak membeli apa-apa."

"Kalau tidak membeli apa-apa, mau apa ke sana?”

“Mengunjungi sebuah kongsi perdagangan," jawab Siau- hong, "Kantor dagang Eng-ki."

"Eng-ki? Bukankah kantor dagang milik Po Eng?” “Dulu miliknya.”

“Dan sekarang?"

"Sekarang sudah bukan menjadi miliknya."

"Kalau sekarang sudah bukan menjadi miliknya, mau apa kau ke sana?" tampaknya Siau-yan sudah bertekad mencari tahu hingga jelas.

"Pergi mencari seseorang," jawab Siau-hong perlahan, "Bertanya tentang beberapa masalah."

Kemudian sambil menatap wajah Siau-yan terusnya, "Bila kau enggan ke sana, tunggulah aku di sini."

Tentu saja tak mungkin dia tidak ikut pergi.

Maka mereka pun menelusuri jalan raya yang sangat ramai itu, dari kedua sisi jalan terendus bau asam susu yang pekat, sedemikian pekatnya nyaris membuat orang susah bernapas, cahaya matahari yang menyilaukan mata ditambah hembusan angin berpasir, nyaris membuat sepasang mata mereka sukar dipentang lebar.

Aneka ragam barang dagangan dijual di pasar, dari daun teh sampai dupa wangi.

Satu-satunya yang berbeda di sana adalah orang yang berlalu-lalang di jalanan itu seakan telah berubah.

Jalan raya ini pun tak jauh berbeda seperti jalan raya lain, orang yang berlalu-lalang di sana secara garis besar terbagi jadi dua bagian, bagian pertama adalah orang yang bertempat tinggal di sana dan bagian kedua adalah orang yang datang dari luar daerah.

Dulu, Siau-hong pernah melewati jalanan ini, dia selalu merasa wajah setiap orang di sana selalu memancarkan kegembiraan, kecukupan dan kebahagiaan, menunjukkan kehidupan maupun usaha dagang mereka sangat memuaskan dan kehidupan mereka pun selalu dipenuhi rasa percaya diri.

Tapi hari ini, penampilan mereka sama sekali berubah, berubah jadi sedikit ketakutan, sedikit kasak-kusuk, sewaktu memandang ke mata orang lain, mereka selalu menunjukkan sikap curiga dan waspada, bahkan setiap orang tampak amat ketakutan.

Semua kantor dan toko di sepanjang jalan ini merupakan kantor perdagangan kaya, kehidupan orang-orang itu pun selama ini makmur tanpa masalah apa pun.

Lalu apa sebabnya mereka ketakutan? Apa yang mereka takuti?

Sewaktu Siau-hong merasakan hal ini, Siau-yan pun merasakan hal yang sama. Dia menarik ujung baju Siau-hong, lalu bisiknya lirih, "Pasti sudah terjadi suatu peristiwa di jalanan ini, pasti sebuah peristiwa yang amat menakutkan."

Kemudian tanyanya lagi, "Apakah kau memperhatikan mimik muka orang lain sewaktu memandang dirimu?"

Tentu saja Siau-hong pun memperhatikan hal ini.

Mimik orang lain ketika memandang ke arahnya, seperti memandang   dewa   penyakit   yang   setiap   saat   mungkin akan menyebarkan penyakit lepra ke seluruh penduduk kota.

Suasana ramah, rezeki baru tumbuh. Sebagai pedagang, tidak seharusnya mereka mempergunakan sorot mata semacam ini untuk menatap orang lain.

Peristiwa apa lagi yang telah terjadi di sana? Apakah ada hubungannya dengan Siau-hong?

Perasaan Siau-hong saat itu kembali tenggelam.

Mendadak ia terbayang peristiwa kebakaran yang melanda tempat tinggal Po Eng, kemudian kantor dagang Eng-ki berganti pemilik, sewaktu dia bersama Yang-kong melalui jalanan itu, orang lain pun menggunakan sorot mata semacam ini memandang mereka.

Mungkinkah kali ini terjadi lagi suatu peristiwa besar di kantor dagang Eng-ki?

Apakah orang-orang itu masih mengenalinya, masih ingat kalau dia adalah sahabat Po Eng?

Mungkinkah Po Eng telah kembali ke sana dan melakukan pembalasan yang adil tapi kejam terhadap musuh besarnya?

Peristiwa semacam ini bukannya tidak mungkin terjadi. Apa yang hendak dilakukan Po Eng sesungguhnya memang tak pernah bisa diduga siapa pun.

Seandainya Siau-hong tiba kembali di kantor dagang Eng-ki dan menyaksikan Po Eng telah duduk di belakang meja kasir, saat itu Siau-hong pasti tak akan merasa kelewat terkejut.

Dia selalu berpendapat, tiada perbuatan di dunia ini yang tak mungkin bisa dilakukan Po Eng.

Siau-hong segera mempercepat langkahnya, detak jantungnya ikut berdebar kencang. Kalau bisa, dia ingin dalam sekali langkah telah tiba di pintu gerbang kantor Eng- ki.

Jika dia tahu peristiwa apa yang telah terjadi di kantor dagang Eng-ki, biar kau gotong dia dengan tandu, melecuti dia dengan cambuk pun belum tentu dia mau masuk ke kantor itu.

Pintu gerbang kantor Eng-ki berada dalam keadaan terbuka, dari kejauhan orang sudah dapat melihat situasi di dalam toko.

Dalam toko itu ada lima orang, mereka sedang melakukan satu perbuatan.

Selama ini kantor dagang Eng-ki adalah sebuah kantor dagang yang termasyhur dan ramai transaksi dagangnya, tentu saja semua pegawai toko pandai bekerja dan harus selalu bekerja.

Kelima orang itu sedang bekerja, suatu kejadian yang tak aneh, kalau mereka tidak sedang bekerja, itu baru aneh namanya.

Namun ketika Siau-hong coba memperhatikan, ternyata ia tak berhasil menyaksikan pekerjaan apa yang sedang mereka lakukan, siapa pun itu orangnya, tak mungkin mereka dapat mengetahui pekerjaan apa yang sedang dilakukan orang-orang itu, apalagi hanya memandang dalam sekejap.

Sebab pekerjaan yang mereka sedang lakukan sangat aneh, bukan saja dalam situasi seperti apa pun tak akan dilakukan orang bahkan boleh dibilang dalam sejarah hidup sulit bagi siapa pun untuk menyaksikan kejadian itu.

Oleh karena itu sekalipun kau telah menyaksikan apa yang sedang mereka lakukan, belum tentu percaya kalau mereka sedang melakukan perbuatan itu.

Mereka sedang membantai orang!

Di tengah hari bolong, di sebuah jalan raya yang ramai dilewati orang, di dalam sebuah kantor dagang yang terbuka lebar pintu gerbangnya, ternyata mereka sedang membunuh orang.

Siapa sedang membunuh siapa?

Ada dua orang sedang membunuh dua orang lainnya. Kemudian masih ada seseorang lagi berdiri di sisi arena, menyaksikan mereka membunuh orang.

Siau-hong segera menerjang ke depan, tapi sebelum memasuki pintu gerbang ia sudah dibuat tertegun, melongo.

Karena orang pertama yang dilihatnya ternyata adalah dia sendiri.

Kecuali sedang berdiri di depan cermin, kali ini dia benar-benar telah melihatnya, bahkan melihat dengan jelas sekali.

Ternyata Siau-hong telah melihat diri sendiri, seseorang yang wajah dan potongan badannya seperti diri sendiri. Waktu itu Siau-hong masih berdiri di depan pintu gerbang Eng-ki, tapi di dalam kantor ternyata ada seorang Siau-hong lagi yang berdiri di depan meja kasir sambil menyaksikan orang lain membunuh orang.

Siau-hong bukan anak kembar, dia pun tak punya saudara, darimana datangnya Siau-hong kedua?

Tak disangkal Che Siau-yan pun merasa amat terperanjat.

Ketika Siau-hong terperangah, dia pun ikut terperangah, sekuat tenaga gadis itu menarik tangan Siau-hong sambil berseru, "Aku telah melihatmu!"

"O, ya?"

"Aku melihat kau berada di kantor dagang di seberang sana.”

“O, ya?"

"Tapi sudah jelas kau berada di sampingku, kenapa bisa muncul di kantor dagang itu?" tanya Siau-yan kepada Siau- hong, "Masa kau seorang dapat berubah jadi dua orang?"

Siau-hong tertawa getir, hanya tertawa getir.

Siapa pun itu orangnya, mereka pasti hanya bisa tertawa getir setelah mendengar pertanyaan itu, sebab persoalan ini kelewat aneh, kelewat fantastik, kelewat tak masuk akal.

Namun ketika Siau-hong dapat melihat dengan jelas orang yang terbunuh dan orang yang membunuh, jangankan bicara, ingin tertawa getir pun sudah tak mampu.

Mimik mukanya menunjukkan seolah badannya dibacok orang secara tiba-tiba, dan bagian tubuh yang dibacok adalah ruas tulangnya yang paling sensitip. Yang melakukan pembunuhan ada dua orang, seorang pria, seorang wanita.

Orang yang mereka bunuh pun ada dua orang, mereka pun seorang pria dan seorang wanita.

Lelaki sang pembunuh ternyata bukan lain adalah "Po Eng".

Perempuan sang pembunuh ternyata adalah Yang-kong. Orang yang sedang dibunuh Po Eng adalah Pancapanah! Sedangkan orang yang dibunuh Yang-kong adalah Pova. Seorang lain, Siau-hong sedang mengawasi Po Eng dan

Yang-kong membunuh Pancapanah dan Pova, tiada kesan atau niat orang itu untuk mencegah terjadinya pembunuhan itu.

Apa yang sebenarnya telah terjadi? Siapa yang tahu kejadian apakah itu?

Sesungguhnya kejadian itu adalah sebuah peristiwa yang amat sederhana.

Di dunia ini ada banyak sekali kejadian yang dalam penampilan tampak sangat rumit dan misterius, padahal amat sederhana.

Terkadang sedemikian sederhananya hingga sangat menggelikan. Mengapa bisa muncul dua orang Siau-hong?

Karena Siau-hong lain yang berada dalam kantor dagang itu adalah manusia lilin, manusia yang terbuat dari lilin.

Mengapa Po Eng akan membunuh Pancapanah?

Mengapa Yang-kong akan membunuh Pova?

Karena mereka pun manusia lilin. Lima orang yang berada dalam kantor dagang itu semuanya merupakan manusia yang terbuat dari lilin, biarpun bentuknya sangat hidup dan sempurna, namun semuanya palsu.

Semua persoalan yang membingungkan akhirnya memperoleh penjelasan, biarpun jawabannya amat sederhana, namun sama sekali tidak menggelikan.

Karena Siau-hong segera teringat persoalan yang jauh lebih banyak.

Siapa yang telah membuat manusia lilin itu? Mengapa harus melakukan perbuatan semacam ini? Apa maksud dan tujuannya?

Selama ini dalam kantor dagang Eng-ki selalu banyak pegawai dan pekerja, mengapa sekarang hanya tersisa lima orang gadungan yang terbuat dari lilin? Ke mana perginya yang lain?

Siau-hong melanjutkan langkahnya ke depan, kembali dia menyaksikan tiga orang.

Ketiga orang itu berdiri agak jauh, di sudut ruangan, seorang pria, seorang wanita dan seorang bocah.

Yang pria adalah Lu-sam, yang perempuan Soso, bocah kecil itu berada dalam gendongan Soso.

Lu-sam berwajah tampan, Soso berwajah cantik bak bidadari, bocah yang berada dalam pelukan perempuan itu mengenakan pakaian kembang-kembang, mengenakan topi merah, meski baru berumur dua-tiga bulanan, tubuhnya cukup gemuk dengan telinga lebar, sangat menawan.

Tentu saja ketiga orang itu pun manusia gadungan, manusia yang terbuat dari lilin. Sekalipun mereka bukan terbuat dari lilin, semisal Lu- sam benar-benar berdiri di tempat itu, Siau-hong tetap tak berani menerjang masuk ke dalam.

Karena dia sama sekali tidak lupa kepada peristiwa yang terjadi dalam rumah batu di dusun terpencil tempo hari.

Tak diragukan bocah yang sedang digendong Soso adalah anaknya, darah dagingnya, darah yang mengalir dalam tubuh bocah itu berasal dari darah dalam tubuh sendiri.

Sekalipun apa yang dilihatnya sekarang hanya seorang bocah yang terbuat dari lilin, namun raut muka bocah itu pasti mirip dengan wajah asli bocah itu.

Seorang bocah yang sangat menawan, Siau-hong sangat berharap dapat maju dan memeluknya.

Bila peristiwa ini terjadi pada dua tahun berselang peduli Lu-sam itu asli atau palsu, peduli bocah itu asli atau palsu, Siau-hong pasti sudah menerjang masuk ke dalam.

Tapi Siau-hong yang sekarang sudah bukan Siau-hong dua tahun berselang.

Ia telah belajar bersabar.

Dia harus sabar, harus berpikiran dingin, karena beberapa patung lilin itu bukan hanya melulu manusia lilin, di balik semua itu pasti masih tersimpan rahasia dan intrik lain yang menakutkan.

Persoalan yang paling penting adalah, "Siapa yang telah membuat manusia lilin itu? Mengapa manusia lilin itu harus diletakkan dan dipamerkan di sana?"

Siau-hong berusaha menenangkan diri, berusaha mendinginkan otak dan perasaannya, maka dia pun mulai memperhatikan beberapa persoalan lainnya. Sebetulnya Eng-ki seperti kantor dagang lainnya, di depan pintu kantor selalu berkerumun para penjaja keliling serta pengemis, ditambah di dalam kantor berjajar beberapa orang lilin dengan pakaiannya yang menyolok serta tingkah laku yang menyeramkan, seharusnya tontonan semacam ini akan semakin menarik perhatian banyak orang.

Tapi kini dalam radius beberapa tombak di sekeliling kantor itu tak nampak seorang pun, semua orang begitu tiba di sekitar sana, segera berusaha menghindar, bahkan menyingkir jauh-jauh, tingkah-laku mereka seolah kuatir, bila salah melangkah ke tempat yang sial itu maka bencana besar segera akan menimpa mereka.

Tapi setiap orang memperhatikan semua gerak-gerik yang terjadi dalam kantor dagang itu, mengawasi dari kejauhan, semua orang melirik ke arah manusia lilin dalam kantor dengan sorot mata ngeri, takut, kaget dan penuh curiga, seakan-akan semua orang telah menganggap benda- benda itu sebagai manusia hidup yang punya darah dan daging yang setiap saat bisa menggunakan pedang lilinnya untuk menusuk tenggorokan orang menghujam jantung orang dan merenggut nyawa mereka.

Siau-hong pun diam-diam menarik ujung baju Siau-yan, menariknya mundur dari situ, mundur hingga ke dalam kerumunan manusia.

Lagi-lagi kerumunan manusia membubarkan diri, menghindar, menjauh, peduli kemana pun mereka pergi, kerumunan manusia selalu menghindar dan menjauh.

Mendadak Siau-yan bertanya kepada Siau-hong, "Tahukah kau, mengapa semua orang berusaha menghindari dirimu?" Sebelum pemuda itu menjawab, gadis itu telah menjawab sendiri pertanyaannya, "Karena di dalam kantor dagang itu terdapat juga patung lilin yang berwajah dirimu."

Kesimpulannya adalah, "Karena orang yang membuat manusia lilin itu bisa menciptakan karya seninya seperti wajahmu, sudah pasti dia adalah orang yang sangat kau kenal."

Maka dia pun bertanya lagi kepada Siau-hong, "Dapatkah kau terka, kira-kira siapakah dia?"

Siau-hong tidak menerka. Dia seakan sama sekali tak terpikir akan hal itu.

Seorang lelaki berjubah Persia, berwajah hitam yang berdagang bahan wangi-wangian segera menghindar jauh- jauh begitu melihat Siau-hong berjalan menuju ke arahnya.

Mendadak Siau-hong menarik tangannya dan menegur dengan suara rendah, "Aku kenal kau, masa kau tidak kenal aku?"

Orang tua itu terperanjat, sekuat tenaga ia menggeleng, sahutnya dengan logat Han yang kaku, "Tidak kenal, sama sekali tak kenal."

Siau-hong tertawa dingin.

"Sekalipun kau tidak kenal aku pun tidak masalah, asal kau bisa memahami perkataanku, peduli kau kenal aku atau tidak, bagiku sama saja."

Dia genggam lengan orang tua itu kuat-kuat, kemudian melanjutkan, "Dengarkan baik-baik, ada beberapa pertanyaan akan kuajukan kepadamu, bila kau bersedia menjawab, ada uang perak untukmu, tapi kalau kau enggan menjawab, akan kupatahkan lenganmu itu."

Ooo)d*w(ooO 
Ada kabar sedih nih gan, situs ini dinyatakan spam oleh pihak facebook :(:(. Admin mau minta tolong kepada para pembaca yang budiman untuk mengisi form di Link ini : Facebook Debugger dan menulis bahwa situs ini bukan spam. Semoga kebaikan dari pembaca dibalas berlipat ganda oleh Tuhan yang maha kuasa😇. Selaku Admin ~ Iccang🙏