Elang Terbang di Dataran Luas BAB 32. BADAI PASIR

BAB 32. BADAI PASIR

Ujung mata Siau-hong sudah mulai terasa pedih dan sakit, karena peluh telah meleleh masuk ke dalam matanya.

Dia ingin sekali mengusap air mata itu, tapi sayang tak bisa.

Setiap gerakan yang tidak perlu, kemungkinan besar dapat menciptakan keteledoran dan kesalahan yang fatal, kesalahan yang menyebabkan hilangnya selembar nyawa. Kecuali melancarkan serangan, menangkis atau menghindar, gerakan lainnya sama sekali tak perlu dan tak penting.

Setiap jengkal otot di tubuh Siau-hong mulai terasa linu dan sakit, seakan-akan semua ototnya telah menegang bagaikan senar busur yang dipentang lebar-lebar.

Ia sadar, situasi semacam ini tidak baik, sedikit pun tidak menguntungkan, dia ingin sekali mengendorkan syarafnya.

Sayang pemuda itu tak dapat melakukannya.

Mengendor sesaat kemungkinan besar akan mendatangkan kemusnahan abadi.

Sesungguhnya ada berapa banyak pembunuh yang bersembunyi di balik kegelapan? Sampai kapan gempuran mereka baru akan berhenti?

Sekonyong-konyong serangan berhenti sama sekali. Siapa pun tidak tahu sejak kapan serangan itu berhenti,

seperti siapa pun tak bisa memastikan kapan tetesan hujan terakhir akan jatuh ke bumi.

Udara serasa dicekam bau anyir darah yang menggidikkan dan memualkan perut siapa pun, jagat raya telah pulih kembali dalam keheningan dan kesunyian.

Napas Siau-hong terasa tersengal-sengal.

Ketika mendongakkan kepala, fajar mulai menyingsing di ufuk timur, kabut pagi yang putih bagaikan susu terlihat menyelimuti permukaan tanah, secara lamat-lamat ia dapat menyaksikan mayat yang membujur kaku di antara batuan cadas, mayat itu membujur seperti sebuah boneka yang hancur dan retak.

Gempuran telah berakhir, mara bahaya telah lewat, langit pun segera akan terang tanah. Rasa letih yang disebabkan mengendornya seluruh otot dan syaraf tubuh, tiba-tiba saja membelenggu dan memeluknya bagaikan rangkulan tangan iblis.

Ia merasakan seluruh badannya seolah dilolos. Tapi pemuda itu tak roboh, karena cahaya sang surya telah muncul dari balik awan di ufuk timur, memancarkan sinarnya yang keemas-emasan, menyinari batu cadas, menyinari bebatuan yang tinggi, memantulkan bayangan puncak tebing itu ke atas permukaan tanah.

Siau-hong berlarian ke depan, sekuat tenaga dia melontarkan pedangnya ke atas ujung batuan cadas itu.

Ujung pedang segera menghujam di atas batu, begitu keras membuat gagang pedang bergoyang tiada hentinya.

"Di sini!" teriak Siau-hong dengan suara parau karena gembira, "Emas murni itu berada di sini!"

Emas murni itu berada di sini.

Di sinilah akar rahasia dari semua persoalan.

Setelah berada dalam keadaan dan situasi seperti ini, siapa pun pasti tak akan bisa mengendalikan gejolak emosi dan kegembiraannya.

Tiba-tiba saja seluruh ototnya mengejang keras, keringat dingin membasahi telapak tangannya, pupil matanya tiba- tiba menyusut karena ngeri dan seram.

Tokko Ci berdiri tepat di hadapannya, mengawasi dengan pandangan dingin, ujung pedang dalam genggamannya persis akan menembus jantungnya bila ia melancarkan serangan.

Lambat-laun matahari semakin meninggi ke angkasa, tapi perasaan Siau-hong justru semakin tenggelam.

Dia belum melupakan ucapan Tokko Ci. Asal ada kesempatan, aku akan membunuhmu. Sekarang kesempatan emas baginya telah datang!

Tentu saja Tokko Ci pun tahu, begitu juga dengan Siau- hong.

Asal Tokko Ci menyodokkan pedangnya ke depan, dia nyaris tak bisa menangkis maupun menghindar.

Dalam genggaman Tokko Ci masih ada pedang, noda darah di ujung senjatanya belum mengering, otot hijau di tangannya yang menggenggam pedang terlihat menonjol.

Akankah dia melancarkan tusukan mematikan itu?

Pedang milik Siau-hong pun berada di tempat di mana tangannya dapat meraih, tapi dia tidak meraihnya.

Pemuda itu tahu, asal tangannya meraih pedang itu, niscaya dia akan tewas di ujung pedang Tokko Ci.

Namun bila ia tidak meraihnya, mungkin nasib akhir yang dialami pun akan sama saja.

"Bila aku jadi kau, sekarang aku pasti akan turun tangan," tiba-tiba Siau-hong berkata, "Maka dari itu, seandainya kau membunuhku, aku pun akan mati tanpa menyesal."

Tokko Ci tidak buka suara, dia pun tidak bereaksi.

Orang yang akan membunuh biasanya memang tak akan banyak berbicara.

Berbeda keadaannya bagi orang yang setiap saat bakal mati dibunuh orang lain.

Bila dapat berbicara lebih banyak sepatah kata saja, dia pasti akan berusaha untuk mengutarakannya, sekalipun sebagai taruhan nyawanya hanya bisa hidup sebentar saja. "Tapi aku berharap kau mau menunggu sebentar sebelum turun tangan."

Tokko Ci tidak bertanya kepadanya, "Kenapa?"

Karena Siau-hong telah menjelaskan sendiri. "Karena aku masih ingin mengetahui satu hal," katanya, "Bila aku bisa mati setelah selesai menyelidiki persoalan ini, biar mati pun aku akan mati dengan hati lega dan mata meram."

Setelah termenung lagi cukup lama, Tokko Ci baru buka suara.

"Untuk mati dengan perasaan lega pun sudah susah, apalagi bisa mati dengan mata meram, benar-benar tidak gampang."

"Aku mengerti."

"Tapi memang tidak banyak orang yang pantas mati di tanganku," ujar Tokko Ci, "Oleh karena itu, kukabulkan permintaanmu."

Tiba-tiba tanyanya lagi kepada Siau-hong, "Persoalan apa yang ingin kau ketahui?"

"Aku hanya ingin tahu apakah emas murni itu benar- benar berada di sini," sahut Siau-hong, "Kalau tidak, aku benar-benar tak bisa mati dengan mata meram."

"Apakah kau yakin tumpukan emas murni itu sebenarnya memang berada di sini?"

"Aku yakin, karena dengan mata kepala sendiri aku melihatnya, bila kau menggali dari sini, pasti dapat kau jumpai tumpukan emas itu."

Kembali Tokko Ci menatapnya sangat lama. "Baik! Galilah!"

"Gali?" kembali Siau-hong bertanya, "Gali pakai apa?” “Gunakan pedangmu," suara Tokko Ci dingin bagaikan salju, "Kalau kau tak ingin menggunakan pedangmu, gunakan tanganmu!" Sekali lagi perasaan Siau-hong tenggelam.

Emas itu terkubur sangat dalam, mau digali pakai tangan ataupun menggali dengan menggunakan pedang dibutuhkan tenaga yang sangat besar untuk mencapai tempat di mana emas itu terkubur.

Kini tenaganya hampir ludas, bila dia kehilangan lagi satu bagian kekuatan tubuhnya, berarti kesempatan untuk hidup akan berkurang lagi satu bagian.

Sayang saat ini dia sudah tidak memiliki pilihan lain lagi.

Siau-hong mencabut pedangnya. Tokko Ci berdiri persis di hadapannya, dalam waktu sekejap itu semisal dia melancarkan tusukan, bisa jadi pedangnya akan segera menembusi jantung Tokko Ci.

Tapi dia tidak berbuat begitu.

Pedangnya langsung ditusukkan ke atas tanah.

Di dalam tanah tak ada emas, jangankan setumpuk emas, biar setahil pun tak ada. Ternyata Siau-hong sama sekali tak nampak terkejut atau keheranan, seakan-akan persoalan ini sudah dalam dugaannya.

Tokko Ci menatapnya dingin, lalu tanyanya sedingin salju, "Kau tidak salah ingat tempatnya?"

"Tidak mungkin," jawaban Siau-hong sangat yakin, "Aku tak bakal salah ingat."

"Jadi sebetulnya tumpukan emas itu memang berada di sini?”

“Seratus persen berada di sini." "Ada berapa orang yang tahu tempat penyimpanan emas murni ini?"

"Tiga orang."

"Kecuali kau dan Po Eng, siapakah orang ketiga?” “Pancapanah!"

Pancapanah, seorang pertapa yang kesepian, seorang Enghiong sejati yang sangat dicintai anak bangsa, seorang pengembara yang kesepian, seorang pembela bangsa yang sangat cinta tanah air, seorang pembunuh berdarah dingin, seorang yang tak pernah akan dipahami siapa pun, kecuali dia, tak bakal ada manusia kedua yang memiliki campuran watak yang saling bertentangan seperti ini.

Belum pernah ada yang tahu di manakah dia? Bakal muncul dari mana? Akan pergi ke mana? Juga tak ada yang tahu apa yang sedang dia pikirkan?

Terlebih lagi tak ada yang bisa menduga perbuatan apa yang bakal dia lakukan?

Begitu mendengar namanya, paras Tokko Ci pun tampak sedikit berubah, lewat lama kemudian baru ia bertanya kepada Siau-hong, "Sejak awal kau sudah tahu emas itu disembunyikan di sini?"

"Benar!"

"Apakah kau yang merampok emas murni itu?” “Bukan."

"Mungkinkah emas murni sebanyak tiga puluh laksa tahil dapat melenyapkan diri?"

"Tidak mungkin."

"Lalu ke mana larinya tumpukan emas murni itu?” “Tidak tahu."

Tiba-tiba Tokko Ci tertawa dingin. "Padahal seharusnya dia tahu," katanya. "Mengapa?"

"Sebab hanya satu orang yang bisa mencuri tumpukan emas murni itu."

"Siapa?"

"Pancapanah," sahut Tokko Ci, "Hanya Pancapanah yang dapat melakukan semua ini."

Sebenarnya kesimpulan ini sangat cocok dan masuk akal, tapi Siau-hong tidak setuju dengan pendapat itu.

"Kau keliru." "O, ya?"

"Orang yang bisa memindahkan tumpukan emas murni itu selain Pancapanah masih ada seorang lainnya.”

“Siapa?"

"Po Eng," kata Siau-hong, "Kecuali Pancapanah masih ada Po Eng."

"Jadi kau berpendapat Po Eng telah mencuri tumpukan emas murni itu?"

"Bukan mencuri, tapi mengangkutnya pergi."

"Mengapa harus mengangkutnya pergi?" kembali Tokko Ci bertanya.

"Karena dia tak ingin tumpukan emas murni itu terjatuh ke tangan orang lain," jawab Siau-hong, "Karena dia sendiri pun membutuhkan emas murni itu untuk biaya membalas dendam."

"Kini tumpukan emas itu telah diangkut pergi, apakah kejadian ini mengartikan kalau dia belum mati?" "Benar."

Sepasang mata Siau-hong berkilauan seperti cahaya sang surya.

"Sejak awal telah kuduga tumpukan emas murni itu tak bakal berada di sini, sebab Po Eng tak bakal mati, tidak gampang bagi siapa pun untuk mencabut nyawanya."

"Tampaknya mengangkut emas murni sebanyak tiga puluh laksa tahil bukanlah satu pekerjaan gampang."

"Tentu saja tak gampang," Siau-hong membenarkan, "Untungnya di dunia ini masih ada sejumlah orang yang selalu dapat melakukan perbuatan yang tak dapat dilakukan orang lain."

"Menurut kau, Po Eng adalah manusia macam itu?"

"Dia memang manusia seperti itu," setelah berhenti sejenak, lanjutnya, "Walau dalam keadaan dan situasi apa pun, dia selalu dapat menemukan orang yang amat setia kepadanya, sedemikian setia hingga tak segan mengorbankan nyawa sendiri baginya."

"Bagaimana dengan kau?" tanya Tokko Ci, "Apakah kau pun bersedia mati demi dia?”

“Aku pun begitu." Tiba-tiba Tokko Ci tertawa dingin. "Kalau memang begitu, aku jadi tak habis mengerti,"

katanya.

"Kau tak habis mengerti," Siau-hong balik bertanya, "Apa yang tidak kau pahami?"

"Hanya ada satu hal yang tidak kupahami," di balik ucapan Tokko Ci, terselip nada sindiran yang tajam bagaikan ujung jarum, "Kalau memang kau pun bersedia mati demi dirinya, mengapa dia tidak datang mencarimu?" Perasaan Siau-hong tidak terluka oleh tusukan itu.

"Karena aku telah meninggalkan dia," sahut Siau-hong, "Dia tidak datang mencariku karena dia tak ingin menyeret aku lagi hingga tergulung ke dalam pusingan masalah rumit ini."

"Karena itu kau sama sekali tidak menyalahkan dia?" "Tentu saja tidak menyalahkan dia."

"Bila dia datang lagi mencarimu, apakah kau tetap masih bersedia mati demi dirinya?"

"Benar," tanpa berpikir panjang Siau-hong menyahut, "Tentu saja!"

Matahari sudah terbit, makin lama bergerak semakin tinggi, bayangan runcing batu cadas pun makin lama menyusut makin pendek.

Tiada cahaya matahari berarti tiada bayangan, ketika tengah hari menjelang tiba, bayangan itu malah lenyap tak kelihatan.

Ada banyak kejadian di dunia ini seperti keadaan itu.

Tiba-tiba Tokko Ci menghela napas panjang, suara helaan napasnya bagaikan angin dingin yang berhembus datang dari bukit nun jauh di depan sana dan menggoyangkan dedaunan.

"Po Eng memang seorang luar biasa." "Dia memang luar biasa."

"Rasanya bukan pekerjaan gampang buat menghabisi nyawanya.”

“Tentu saja tidak gampang." "Bagaimana kalau membunuhmu?" tiba-tiba Tokko Ci bertanya kepada Siau-hong, "Gampangkah kalau ingin membunuhmu?"

Dia menatap Siau-hong Siau-hong pun menatapnya, lewat lama kemudian baru sahutnya, "Itu harus diperiksa dulu."

"Diperiksa?" tanya Tokko Ci, "Apa lagi yang harus diperiksa?"

"Harus diperiksa dulu, siapa yang akan membunuhku?

Kapan hendak membunuhku?"

"Kalau aku yang akan membunuhmu, dan sekarang juga akan kulakukan," tanya Tokko Ci kemudian, "Apakah hal ini pun sangat gampang?"

Jarang sekali ada orang yang bersedia menjawab pertanyaan semacam ini, tapi dengan cepat Siau-hong telah menjawabnya. "Benar, memang gampang sekali."

Matahari bergeser makin lama semakin meninggi, tapi di dataran luas yang tak berperasaan, di tempat yang tak begitu luas, di antara Siau-hong dan Tokko Ci, hawa panas yang dipancarkan sang surya seakan sama sekali tak berguna.

Siau-hong merasa kedinginan, makin lama makin bertambah dingin, sampai keringat dingin pun tak mampu meleleh.

Paras Tokko Ci pun lebih dingin dari bongkahan salju. "Kau sangka aku tak akan membunuhmu?" tiba-tiba ia

bertanya lagi kepada Siau-hong.

"Aku tahu, kau tak akan membunuhku," jawab Siau- hong, "Kau pernah berkata, asal muncul kesempatan, kau akan membunuhku." "Kau belum melupakan perkataan ini?"

"Mana mungkin perkataan semacam ini dapat dilupakan?" Siau-hong menatap sekejap tangan Tokko Ci yang menggenggam pedang, "Kau adalah seorang pendekar pedang, kini dalam genggamanmu ada pedang, pedang tak berperasaan, jago pedang lebih tak berperasaan, bila sekarang kau membunuhku, bukan saja aku akan mati tak sedih, bahkan aku akan mati dengan perasaan lega."

Dalam genggamannya pun ada pedang, tapi tangan yang menggenggam pedang itu telah mengendor.

Matahari telah terbit di langit timur, Tokko Ci berdiri dengan membelakangi arah timur, jago pedang yang berpengalaman tak akan berdiri menghadap ke arah sinar matahari, apalagi berada di hadapan musuh tangguhnya.

Sekarang dia telah berdiri di posisi yang sangat menguntungkan, telah mendesak Siau-hong berdiri pada posisi yang terjelek.

Siau-hong tetap berusaha keras untuk tidak membiarkan dirinya berdiri persis menghadap ke arah terbitnya matahari, oleh karena itu dia masih dapat mengawasi wajah Tokko Ci.

Saat itu paras Tokko Ci masih kaku dan keras bagaikan batu karang dingin dan keras, tapi sedikit perubahan sudah mulai menghiasi mimiknya.

Semacam perubahan yang bercampur aduk. Perasaan girang terbesit dari balik matanya.

Peduli siapa pun orang itu, dia akan berubah seperti ini sebelum melakukan pembunuhan, apalagi jika orang yang hendak dibunuhnya adalah musuh tangguh yang jarang ditemui sepanjang hidupnya. Biarpun pancaran matanya terbesit cahaya hangat karena gembira, tak urung lekukan sedih dan apa boleh buat muncul juga di ujung matanya.

Menggunakan kesempatan dalam kesempitan jelas bukan suatu tindakan yang patut dibanggakan, tapi dia tetap memaksakan diri untuk berbuat begitu.

Bila kesempatan emas lewat, selamanya tak akan kembali lagi, sekalipun pada dasarnya dia enggan membunuh Siau-hong, namun kesempatan emas sebagus ini tak boleh dibiarkan begitu saja.

Siau-hong sangat memahami perasaannya.

Siau-hong tahu, ia bersiap melancarkan serangan mematikan.

Di saat yang kritis dan menegangkan inilah, tiba-tiba paras Tokko Ci kembali mengalami perubahan.

Tiba-tiba parasnya berubah kembali, sama sekali tak berperasaan, sama sekali tak ada luapan emosi.

Dan pada saat bersamaan, perasaan Siau-hong pun seolah ikut berkerut, secara tiba-tiba ia merasa ada seseorang telah menyelinap ke belakang tubuhnya.

Siapakah pendatang itu?

Siau-hong tidak berpaling, dia tak berani berpaling. Sepasang matanya masih menatap tajam wajah Tokko Ci, tiba-tiba ia menjumpai sorot mata lawannya itu memancarkan perasaan gusar dan penderitaan yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Kemudian dia pun merasa ada sebuah tangan yang halus, lembut dan hangat menggenggam tangannya yang telah mendingin dan basah oleh keringat dingin.

Tangan siapakah itu? Siapakah yang telah berdiri di sisinya, persis saat dia paling menderita, saat dia paling kritis dan menggenggam tangannya?

Sudah banyak orang yang dia bayangkan... Yang-kong, Pova, Soso.

Ooo)d*w(ooO

Mereka telah menjalin hubungan perasaan dengan dirinya, tak mungkin mereka akan berdiri menjauh dan menyaksikan dia tewas di ujung pedang orang lain.

Tapi dia tahu dan yakin, yang datang bukanlah mereka.

Sebab dia tahu, walaupun gadis gadis itu baik kepadanya, tapi dia bukanlah satu-satunya orang yang paling penting dalam pandangan hidupnya.

Dalam hati kecil Yang-kong masih ada Po Eng, dalam hati kecil Pova masih ada Pancapanah, dan dalam hati kecil Soso masih ada Lu-sam.

Betapa pun baiknya dia kepada mereka, betapa pun banyaknya perbuatan yang telah dia lakukan untuk mereka, namun setelah berada dalam situasi tertentu, gadis-gadis itu tetap akan kabur meninggalkan dirinya.

Sebab pada dasarnya mereka memang bukan miliknya.

Tapi beda untuk Siau-yan.

Peduli dia membencinya ataukah mencintainya, paling tidak dalam lembar kehidupannya belum pernah ternoda oleh lelaki lain kecuali dirinya.

Sebenarnya pemuda ini tak pernah mementingkan hal semacam ini, namun berada dalam keadaan yang begini kritis, ia baru merasa kalau hal semacam ini sebenarnya sangat penting. "Kau telah datang?" tanyanya lirih. "Tentu saja aku yang datang!"

Walaupun suaranya terdengar sangat dingin, namun di balik semua itu terselip suatu perasaan yang tak mungkin bisa dipercaya, tak mungkin bisa dipahami kecuali oleh "mereka".

"Mereka" sudah bukan berdua lagi, melainkan bertiga.

Tokko Ci pun memahami perasaan semacam ini, namun tak tahan ia bertanya juga, "Mau apa kau kemari? Apakah datang untuk menemaninya pergi mampus?"

"Belum saatnya!" dengus Che Siau-yan dingin, "Pada hakikatnya dia tak akan mati, kenapa aku harus menemaninya pergi mati!"

"Dia tak bakal mati?"

"Tak bakal," Siau-yan menegaskan, "Karena sekarang kami sudah berdua, kau sudah tak punya keyakinan untuk menghadapi kami berdua, karena itu kau tak bakal berani melancarkan serangan."

Tokko Ci tidak buka suara lagi. Dia pun tidak melancarkan serangan.

Ia tahu, apa yang diucapkan gadis itu memang kenyataan, orang semacam dia tak pernah akan berdebat dengan suatu kenyataan, terlebih turun tangan secara gegabah.

Tapi dia tak pernah mengendorkan kewaspadaan sendiri.

Dia masih tetap berada dalam posisi siap menyerang, setiap saat dia dapat melepaskan sebuah serangan mematikan. Oleh karena itu dia tidak bergerak, Siau-hong dan Siau- yan pun tak berani bergerak.

Tangan mereka saling berpegangan kencang, peluh yang muncul dari telapak tangan Siau-hong mengalir ke telapak tangan Siau-yan. Mereka berdua seolah telah menyatu, seperti darah yang menyatu.

Siapa pun tak tahu situasi kaku semacam ini akan bertahan hingga kapan.

Matahari sudah jauh di atas angkasa, tiba-tiba cuaca berubah jadi gelap, gelap yang tak masuk akal, gelap yang menakutkan.

Tiba-tiba peluh dingin yang lebih banyak meleleh dari telapak tangan Siau-hong, karena tiba-tiba ia merasakan angin yang berhembus di tubuhnya berubah jadi semakin dingin.

Di tengah gurun pasir yang panas menyengat, tidak seharusnya berhembus angin yang begini dingin.

Terhadap segala sesuatu yang berlaku di dataran luas yang tak berperasaan ini, dia sudah sangat hapal, pada setahun berselang, di tengah udara siang yang begitu panas, dia pun pernah mengalami pengalaman seperti hari ini, tiba-tiba langit berubah gelap, hembusan angin berubah jadi dingin.

Kemudian terjadilah badai pasir yang dahsyat dan menakutkan, tak pernah ada seorang pun yang sanggup melawan, tak seorang pun mampu menghindarkan diri.

Sekarang tak disangkal bakal terjadi badai pasir yang menakutkan, badai segera akan tiba.

Dia masih tetap tak berani bergerak. Asalkan bergerak sedikit saja, kemungkinan besar akan tercipta keteledoran yang berakibat kematian fatal.

Pedang milik Tokko Ci jauh lebih dekat jaraknya daripada datangnya badai pasir, jauh lebih menakutkan.

Oleh karena itu dia hanya berdiri menanti, menanti datangnya badai pasir, sekalipun dia sadar, bila badai pasir melanda tiba, kemungkinan besar mereka akan mati di situ.

Karena dia tak punya pilihan lain, dia pun tak dapat menghindarkan diri.

Badai pasir ternyata benar-benar melanda tiba.

Hembusan angin makin lama makin kencang, angin kencang membuat pasir beterbangan di angkasa, ketika menghantam di atas badan, terasa bagaikan terbidik beribu- ribu batang panah.

Ketika badai dengan membawa pasir melanda tiba, Siau- hong tahu riwayatnya bakal berakhir.

Walaupun setiap hal telah ia pertimbangkan masak- masak, namun dia tetap tak berani ceroboh, tak berani gegabah.

Setiap kecerobohan sekecil apa pun dapat menciptakan kesalahan yang mendatangkan kematian.

Dia seperti lupa bahwa dirinya sedang berdiri menyongsong datangnya angin topan, badai pasir yang menyapu datang tepat sekali menghajar wajahnya.

Menanti dia teringat akan hal ini, kesalahan besar telah dilakukan dan kesalahan itu tak mungkin bisa dibenahi lagi.

Pedang Tokko Ci bagaikan seekor ular berbisa telah menusuk ke depan, dia hanya menyaksikan berkelebatnya cahaya pedang, kemudian matanya tak sanggup dibuka kembali, bahkan tusukan itu telah melukai bagian tubuhnya yang mana pun dia sudah tak dapat merasakannya.

Ketika tubuhnya roboh ke tanah, dia masih mendengar teriakan Che siau-yan, kemudian tak ada suara yang bisa didengar lagi.

Angin masih berhembus kencang pasir kuning masih menari di tengah angkasa.

Siau-hong seolah mendengar lagi suara teriakan Siau- yan, teriakan penuh penderitaan, seolah sedang berteriak minta tolong. Dia pun seolah melihat Tokko Ci sedang mencabik-cabik pakaian gadis itu.

Padahal dia tidak mendengar apa-apa, tidak melihat apa- apa.

Ketika tersadar kembali dari mimpi buruknya, keringat dingin telah membasahi pakaiannya, pemandangan yang terbentang di depan hanyalah lapisan pasir berwarna kuning.

Ternyata dia belum mati.

Apa yang ia dengar, apa yang dia lihat tadi tak lebih hanya ilusi, hanya khayalan dalam mimpinya.

Tapi Che Siau-yan entah sudah pergi ke mana, Tokko Ci pun tak tahu telah pergi ke mana.

Apa yang terjadi dalam mimpinya tadi, kemungkinan besar dapat terjadi dalam kehidupan nyata.

Membayangkan kembali tubuh Tokko Ci yang telanjang bulat berdiri di tengah hembusan angin dingin, menyaksikan bagaimana Siau-yan sedang membasuh tubuh yang bugil itu, tiba-tiba muncul perasaan sakit dan sedih dari dalam hati Siau-hong, perasaan pedih yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Dia harus pergi mencari mereka, harus mencegah terjadinya peristiwa yang tak diinginkan.

Dia ingin meronta untuk bangkit.

Tapi pinggangnya terasa sakit bagaikan disayat pisau....

Entah keberuntungan baginya ataukah ketidak beruntungan? Ternyata bacokan maut Tokko Ci tak sampai menusuk bagian tubuhnya yang mematikan.

Kini dia masih hidup, tapi dia sendiri pun tak tahu seberapa lama lagi dia masih bisa hidup.

Badai pasir belum lagi lewat, dari mulut lukanya pun darah mulai bercucuran, bibirnya terasa kering, otot dan tubuhnya terasa linu bahkan sakit sekali.

Rangsum serta airnya telah terbang terhembus badai, perempuan yang mati hidup bersamanya mungkin saat ini sedang dipermalukan dan dilecehkan orang lain.

Tubuh luarnya, jiwanya, hampir semuanya merasakan siksaan dan penderitaan yang tak mungkin tertahankan oleh siapa pun.

Dalam keadaan begini, bagaimana mungkin dia dapat hidup terus?

Hanya orang yang pernah mengalami sendiri peristiwa tragis itu baru tahu bahwa untuk bertahan hidup di tengah hembusan badai pasir di wilayah gurun pasir merupakan satu peristiwa yang sulit dan berat.

Siau-hong pernah mempunyai pengalaman semacam ini.

Tempo hari dia nyaris mati di situ, dan kali ini situasi yang dihadapinya jauh lebih runyam daripada keadaan waktu itu. Jika dia bukan Siau-hong, mungkin dia sendiri pun tak ingin hidup lebih lanjut.

Jika seseorang telah kehilangan keberanian serta semangat juang untuk mempertahankan hidup, siapa lagi yang bisa membiarkan dia hidup lebih lanjut?

Dia adalah Siau-hong.

Tak hentinya dia memberitahu diri sendiri. Dia harus hidup terus, harus hidup terus!

Seluruh jagat terlapis pasir berwarna kuning, siapa pun tak dapat membedakan saat itu sebenarnya sedang pagi hari atau sudah malam hari?

Siau-hong berbaring di atas butiran pasir yang dingin membeku, badai pasir nyaris mengubur tubuhnya.

Dia benar-benar kelewat lelah, dia kelewat banyak kehilangan darah, kalau bisa, dia ingin sekali memejamkan mata dan tidur sejenak.

Kegelapan yang hangat dan lembut, mimpi yang indah dan manis, betapa indahnya tempat itu!

Mendadak Siau-hong membuka matanya, sekuat tenaga dia menggeliat sambil merangkak, dengan jidatnya sekuat tenaga ia gesek pasir-pasir yang kasar, membuat ia tersadar kembali karena rasa sakit yang menyusup hingga ke lubuk hati.

Sebab dia tahu, bila ia sampai tertidur, kemungkinan besar dia akan mati terkubur di bawah gundukan pasir kuning!

Ia tak sampai tertidur. Darah bercucuran dari jidatnya yang terluka, darah meleleh pula dari mulut lukanya di pinggang, tapi ia sudah tersadar kembali, sadar sesadar-sadarnya....

Asal menemukan setitik air, dia pasti dapat hidup lebih jauh.

Di tengah gurun pasir yang tak berperasaan, di tengah badai pasir yang begini dahsyat, kemana dia harus pergi menemukan air?

Tiba-tiba Siau-hong melompat bangun, sekuat tenaga dia berjalan maju beberapa langkah, ketika tubuhnya sekali lagi roboh ke tanah, dia pun merangkak maju bagaikan seekor cecak.

Karena dia telah menemukan lagi secercah harapan untuk mempertahankan hidupnya.

Mendadak ia teringat kembali kawanan manusia yang semalam tewas di ujung pedangnya serta ujung pedang Tokko Ci.

Orang-orang itu sudah berjaga lebih dari sehari di tempat itu, dapat dipastikan mereka membekal air dan rangsum.

Ketika ingatan itu melintas bagaikan aliran listrik, tiba- tiba pemuda itu merasakan timbulnya satu kekuatan dari dasar badannya.

Benar saja, dengan cepat ia berhasil menemukan sesosok mayat dan menemukan kantung yang terikat di pinggang mayat itu.

Di dalam kantung itu terdapat tiga keping uang perak yang sangat berat serta hancuran perak.

Selain uang, dalam kantung itu pun ditemukan sebuah Tangan emas, tangan emas yang digunakan Lu-sam untuk memberi perintah kepada anak buahnya. Lu-sam! Lagi-lagi Lu-sam, Hok-kui-sin-sian Lu-sam! Musuh besar yang dendamnya lebih dalam dari samudra, musuh tangguh yang harus dibantai dan dicincang hingga hancur berkeping.

Tapi saat ini Siau-hong seolah sudah melupakan sebuah dendam kesumat, karena pikiran dan perasaannya telah dikuasai oleh perasaan lain yang jauh lebih kuat.

Harapan untuk hidup terus memang selalu menjadi keinginan nomor satu bagi seluruh umat manusia.

Di dalam kantung kulit itu tak ditemukan air.

Kantong air lainnya ditemukan telah robek tertusuk pedang, orang yang merobek kantung air itu kemungkinan besar adalah Siau-hong sendiri.

Peristiwa ini benar-benar merupakan sebuah sindiran yang amat memilukan.

Tapi Siau-hong tidak berpikir ke situ. Dia tak berani untuk berpikir.

Karena dia tahu, bila seseorang berpikir terlalu banyak, mungkin makna yang muncul akan membuat dia menilai lain tentang suatu kehidupan.

Baginya, dalam saat dan keadaan seperti ini, selembar nyawa sesungguhnya sama sekali tak ternilai harganya, selamanya tak bisa digantikan oleh benda apa pun.

Maka dia pun mulai merangkak lagi.

Tiba-tiba jantungnya berdebar keras, sebab bukan saja dia telah menemukan lagi sesosok mayat yang lain, bahkan dia pun telah meraba kantung kulit berisi air yang tergantung di pinggangnya.

Kantung air itu penuh dan padat, sepadat payudara seorang gadis perawan. Siau-hong tahu, dia sudah tertolong.

Pemuda itu mulai menjulurkan tangannya yang dingin dan gemetar, ingin melepaskan kantung kulit itu, tapi pada saat bersamaan, dia kembali mendengar suara lain.

Tiba-tiba ia mendengar suara debaran jantung seseorang debaran jantung yang cepat.

Ternyata jantung orang itu masih berdetak, ternyata orang itu belum mati.

Siau-hong segera menghentikan tangannya, tangan itu seolah-olah membeku dan kaku secara tiba-tiba.

Mengambil kantung air dari tubuh sesosok mayat demi menyelamatkan nyawa sendiri, hal semacam ini bukanlah suatu perbuatan yang memalukan.

Tapi merampas kantung air dari seorang hidup yang sedang sekarat dan sama sekali kehilangan kekuatan untuk melawan, jelas hal ini merupakan satu masalah lain.

Siau-hong masih tetap Siau-hong.

Peduli berada dalam situasi dan kondisi seperti apa pun, dia selalu menjadi dirinya sendiri, karena dia selamanya tak akan kehilangan jati diri... tak akan kehilangan hati nurani, dia pun tak pernah akan merubah prinsip hidupnya, apalagi melakukan perbuatan yang jelas memalukan dan tak bisa dimaafkan.

"Orang mati" yang belum mati itu mendadak bertanya kepadanya dengan suara yang aneh dan sangat lemah, "Di dalam kantung kulitku masih ada air, mengapa kau tidak mengambilnya?"

"Karena kau belum mati," jawab Siau-hong, "Kau pun membutuhkan air itu!" "Betul! Aku belum mati, tapi asal kau hadiahkan sebuah tusukan lagi, aku pun akan jadi orang mati."

Lalu tanyanya lagi kepada Siau-hong, "Kalau memang kau menginginkan air milikku, mengapa tidak kau bunuh aku?"

Siau-hong menghela napas panjang.

"Aku tak boleh membunuhmu, aku tak boleh membunuh orang hanya dikarenakan alasan semacam ini!"

"Tapi sebetulnya kau memang ingin membunuhku," kata orang itu, "Seharusnya aku telah mati di tanganmu."

Ooo)d*w(ooO