Elang Terbang di Dataran Luas BAB 31. GILA PEDANG CINTA PUTUS

BAB 31. GILA PEDANG CINTA PUTUS

Bila setiap hari kau harus melayani seseorang bagaikan seorang budak, maka dirimu sendiri pun akan merasa selama hidup tak pernah bisa mengunggulinya. Inilah jalan pikiran Tokko Ci, dan merupakan juga taktik perangnya.

Hingga hari ini, dia selalu beranggapan bahwa taktik perangnya berhasil.

Hari ini, ketika ia keluar dari kamarnya, ternyata budaknya tidak seperti hari-hari biasa, menantinya di depan pintu.

Dari kejauhan terdengar lagi suara ayam berkokok, jagat raya tetap gelap gulita, angin yang meniup di atas tubuhnya yang telanjang terasa dingin bagaikan disayat pisau.

Pedang telah berada dalam genggaman Tokko Ci.

Kini dia telah mengggenggam pedangnya, pedang itu selalu terletak di tempat yang bisa diraihnya dalam sekali sambaran tangan.

Hembusan dingin makin menyayat badan. Ia berdiri di tengah hembusan angin dingin, hingga cahaya fajar mulai membelah kegelapan malam, dia baru melihat seseorang bergerak mendekat dengan kecepatan tinggi.

Dia segera mengenali ilmu meringankan tubuh yang digunakan orang itu, namun dia tidak melihat bahwa orang itu adalah si bocah cilik ingusan yang senang bermain ulat kecil.

Yang dilihatnya sekarang adalah seorang gadis, seorang gadis cantik yang sudah lama tak pernah dilihatnya.

"Siapa kau?"

Begitu pertanyaan diajukan, dia pun segera mengenali siapa gerangan gadis cantik itu.

Bila kau menemukan "Bocah" yang setiap hari melayanimu bagaikan seorang budak tiba-tiba berubah menjadi seorang gadis cantik, sementara kau pun masih seperti dahulu, berdiri telanjang bulat di hadapannya, bagaimanakah perasaanmu saat itu? Apa pula reaksimu? Tokko Ci sama sekali tak beraksi.

Dia masih berdiri di sana dengan tenang, wajahnya sama sekali tak menampilkan perubahan apa pun, hanya ujarnya dingin, "Kau datang terlambat."

"Benar," jawaban Siau-yan pun dingin dan hambar, "Hari ini aku datang terlambat."

Tokko Ci tidak berbicara lagi.

Setiap hari dia selalu menggunakan gaya yang sama, berdiri di sana membiarkan "dia" memandikan dirinya, hari ini gayanya tetap tidak berubah.

Siau-yan pun seperti dahulu, mengambil segantang air, perlahan berjalan mendekat, matanya seperti dahulu, menatapnya tanpa berkedip.

Satu-satunya perbedaan pada hari ini adalah di antara mereka berdua telah bertambah lagi dengan kehadiran orang lain.

Tangannya yang dingin telah dicelupkan ke dalam air dingin dalam gantang, ia telah mengeluarkan selembar kain yang basah.

Pada saat itulah Siau-hong telah muncul.

Baru saja Siau-yan menarik keluar tangannya dari dalam air, tangan itu telah digenggam erat.

Tangan Siau-hong bergerak secepat pagutan ular berbisa, sorot matanya agak bebal karena marah yang memuncak, sinar mata itu jadi bebal.

Tegurnya kepada Siau-yan, "Jadi kau terburu-buru balik kemari karena harus melakukan pekerjaan ini?" "Benar," jawab Siau-yan, "Setiap hari aku harus melakukan pekerjaan ini, setahun tiga ratus enam puluh lima hari, terkadang dalam sehari harus melakukan dua kali."

"Mengapa kau harus melakukan pekerjaan ini?"

"Karena dia menyuruh aku melakukannya, karena dia sengaja hendak menyiksaku, sengaja hendak mempermalukan aku. ”

Ia tidak melanjutkan kata-katanya, sebab suara gadis itu sudah jadi parau, lambat-laun tak sanggup mengendalikan diri lagi.

Tokko Ci mengawasi mereka berdua, tiba-tiba beberapa kerutan aneh timbul di atas wajahnya.

Dia sudah dapat melihat hubungan di antara mereka berdua.

Tiba-tiba saja parasnya berubah seperti sebuah topeng putih yang mulai retak dan robek.

Apakah hal ini disebabkan dia merasa tertipu, menyerahkan sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya kepada orang lain?

Perlahan-lahan Siau-hong berpaling, menatap tajam wajahnya.

Di antara mereka berdua seharusnya tiada ikatan dendam maupun sakit hati, tapi sekarang dari balik mata Siau-hong telah terpancar api amarah yang membara.

"Sejak pertama kali melihatmu, aku sudah tahu bahwa salah satu di antara kita berdua bakal tewas di ujung pedang lawan," ujar Siau-hong.

Ternyata Tokko Ci sependapat dengan perkataan itu, dia mengangguk. "Aku pun sependapat, cepat atau lambat suatu hari hal ini pasti akan terjadi."

"Pernahkah kau berpikir, kapan hal ini akan terjadi?"

"Sekarang," jawab Tokko Ci, "Tentu saja sekarang."

Kemudian dengan hambar lanjutnya, "Sekarang di tanganmu ada pedang, begitu juga dengan aku."

Oleh karena di dalam genggamannya ada pedang, walaupun dia berdiri dalam keadaan telanjang bulat, namun mimik mukanya begitu angker dan serius seperti tampang seorang panglima perang yang sudah siap maju ke garis depan.

Pupil mata Siau-hong pun mulai berkerut dan menyusut.

Mendadak Tokko Ci bertanya lagi, "Pernahkah kau bayangkan, siapa di antara kita yang bakal mati?"

Tidak membiarkan Siau-hong buka suara, dia telah menjawab pertanyaan itu terlebih dulu, "Kaulah yang bakal mati! Pasti kau."

Retakan pada topeng berwarna putihnya telah hilang, kini mimik mukanya kembali berubah jadi dingin tanpa perasaan apa pun.

"Tapi kau tak boleh mati," kembali Tokko Ci melanjutkan, "Kau masih harus mencari Yang-kong, harus mencari Po Eng harus mencari Lu-sam, budi dendammu belum selesai, tanggung jawabmu belum berakhir, mana mungkin kau boleh mati!"

Suaranya makin dingin menggidikkan, "Oleh karena itu aku yakin hari ini kau pasti tak akan turun tangan, kau pun tak berani turun tangan." Cahaya sang surya telah menembusi lapisan awan, di bawah sorot sinar matahari paras Siau-hong seolah ikut berubah seperti mengenakan topeng berwarna putih.

Sekarang telah tiba saat mereka untuk melakukan pertarungan, pertempuran menentukan mati-hidup, menang-kalah di antara mereka berdua, melarikan diri sebelum bertempur tak mungkin dilakukan seorang lelaki sejati.

Tapi dia masih sempat mendengar dirinya sedang berkata, "Betul, aku tak boleh mati."

Bahkan dia sendiri pun mendengar ucapannya itu seolah datang dari tempat yang teramat jauh, "Bila aku tak yakin bisa menghabisi nyawamu, aku tak boleh turun tangan secara sembarangan."

"Apakah kau yakin bisa membunuh aku?" tanya Tokko Ci.

"Tidak," Siau-hong menggeleng, "Oleh karena itu, hari ini aku memang tak boleh turun tangan."

Setelah mengucapkan perkataan itu, Siau-hong sendiri pun merasa amat terperanjat.

Setahun yang lalu, sampai mati pun dia tak bakal mengucapkan perkataan semacam itu, tapi sekarang dia telah berubah.

Bahkan dia sendiri pun menemukan kalau dirinya telah berubah.

Dengan terperanjat Siau-yan menatapnya, paras gadis ini berubah pucat lantaran gusar yang meluap.

"Kau tak bisa turun tangan atau tidak berani?" "Aku tidak bisa dan tidak berani." Tiba-tiba Siau-yan menerjang ke muka, lalu mengguyurkan air dingin ke atas kepalanya.

Siau-hong sama sekali tak bergerak, ia membiarkan dirinya basah kuyup di sana.

Sambil menatap gusar, separah demi separah kembali Siau-yan berteriak nyaring, "Kau manusia atau bukan?"

"Aku manusia," jawab Siau-hong, "Justru karena aku manusia maka hari ini aku tak akan turun tangan."

Ternyata suaranya masih tetap tenang dan dingin, "Karena setiap manusia hanya memiliki selembar nyawa, begitu pula dengan aku."

Belum selesai dia mengucapkan kata-kata itu, sebuah tempelengan keras Siau-yan telah bersarang di wajahnya.

Tapi dia tetap melanjutkan ucapannya, tatkala perkataan itu selesai diutarakan, Siau-yan telah pergi, bagaikan seekor burung walet yang terluka, gadis itu pergi dari situ dengan gerakan cepat.

Siau-hong masih juga tak bergerak.

Dengan dingin Tokko Ci menatap pemuda itu, tiba-tiba tanyanya, "Mengapa kau tidak mengejarnya?"

"Dia toh akhirnya akan kembali ke sini, mengapa aku harus mengejarnya?"

"Kau tahu kalau dia bakal kembali?"

"Aku tahu," suara Siau-hong tetap dingin dan tenang, "Tentu saja aku tahu."

"Mengapa dia harus kembali?"

"Karena dia tak akan melepaskan dirimu, seperti kau tak akan melepaskan aku serta Po Eng," jawab Siau-hong. Setiap patah katanya diucapkan sangat lamban, sebab dia harus berpikir lebih dulu bagaimana caranya mengemukakan maksudnya, agar lawan bisa memahami dengan jelas.

"Takdir bagaikan sebuah rantai, ada kalanya akan merantai orang-orang yang sebetulnya tak ada hubungan," Siau-hong menerangkan lebih lanjut, "Dan sekarang kita telah dirantai menjadi satu."

"Kita?" tanya Tokko Ci, "Siapa yang kau maksudkan sebagai kita?"

"Kau, aku, dia, Po Eng," sahut Siau-hong, "Mulai sekarang, peduli ke mana pun kau pergi, aku pasti akan muncul di sekitarmu.”

“Mengapa?"

"Karena aku tahu kau pun seperti aku, hendak mencari Po Eng" kata Siau-hong, "Karena itu aku percaya, ke mana pun aku pergi, kau pun pasti berada di sekitarku."

Kemudian ia menambahkan lagi, "Asal kita berdua belum mati, dia pasti akan datang mencari kita berdua."

Tiba-tiba Tokko Ci tertawa dingin. "Kau tidak kuatir aku membunuhmu?" ejeknya. "Tidak, aku tidak takut," jawab Siau-hong hambar, "Aku tahu, kau pun tak akan turun tangan.”

“Kenapa?"

"Karena kau pun tak yakin bisa membunuhku!"

Matahari telah tinggi di angkasa, menyinari sepasang mata Siau-hong, menyinari juga mata iblis pedangnya.

Tiba-tiba Tokko Ci menghela napas panjang gumamnya, "Kau telah berubah." "Benar, aku telah berubah."

"Dahulu aku belum pernah memandang kau sebagai musuh tangguhku, tapi sekarang Tokko Ci seolah sedang menghela napas, "Sekarang mungkin ada orang menyangka kau telah berubah menjadi seorang lelaki lemah, tapi aku justru menganggap dirimu telah menjadi seorang jago pedang."

Jago pedang tak berperasaan, juga tak ada air mata.

Siau-hong benar-benar telah menjadi manusia tak berperasaan.

Kembali Tokko Ci berkata, "Perkataanmu tak salah, mulai sekarang mungkin kita benar-benar telah terantai jadi satu, oleh karena itu kau harus lebih waspada."

"Aku harus lebih waspada?" tanya Siau-hong "Apa yang harus kuwaspadai?"

"Mewaspadai aku," sahut Tokko Ci dingin, "Mulai sekarang, begitu ada kesempatan aku pasti akan membunuhmu."

Perkataannya bukan ancaman, juga bukan gertak sambal.

Dipandang dari sudut tertentu, pada hakikatnya ucapan itu sudah terhitung semacam rasa hormat, semacam pujian.

Karena dia telah menganggap Siau-hong sebagai lawan tangguh, musuh sejati, musuh yang mungkin akan mengancam jiwanya. Memang bukan sesuatu yang mudah untuk memaksa Tokko Ci mempunyai pandangan semacam ini.

Oleh karena itu secara tiba-tiba Siau-hong mengucapkan sepatah kata yang meski dipahami mereka berdua, namun orang lain pasti akan merasa perkataannya aneh sekali. "Terima kasih!" katanya tiba-tiba.

Bila ada orang ingin membunuhmu, mungkinkah kau akan mengucapkan terima kasih kepadanya? Tentu saja tidak mungkin!

Karena kau bukan Tokko Ci, kau pun bukan Siau-hong.

Semua perbuatan dan tingkah-laku mereka pada hakikatnya memang tak mungkin bisa dipahami orang lain.

Sinar matahari telah memancar dari jendela.

Perlahan-lahan satu demi satu Tokko Ci mengenakan pakaiannya.

Selama ini Siau-hong hanya berdiri di muka pintu sambil mengawasinya, setiap gerakannya ia saksikan dengan seksama, seakan seorang pawang kuda sedang mengawasi kudanya berlatih.

Sebaliknya Tokko Ci sama sekali tidak memperhatikan dirinya.

Ada sementara orang, walaupun sedang melakukan perbuatan apa pun selalu menampilkan sikap serius, begitu konsentrasi, dia seolah-olah tak peduli sikap orang lain.

Tokko Ci adalah manusia jenis ini.

Padahal semua perhatian, semua konsentrasinya tidak seratus persen tertuju pada perbuatan yang sedang dilakukan, ketika sedang mengenakan pakaian pun dia masih memikirkan ilmu pedangnya.

Mungkin dari sebuah gerakan kecil ketika sedang mengenakan pakaian, tiba-tiba ia dapat memahami sebuah perubahan yang luar biasa hingga menciptakan satu  gerakan yang luar biasa. Pedangnya persis berada di tempat di mana tangannya dapat menjangkau setiap saat.

Selesai berpakaian Tokko Ci baru membalikkan badan menghadap Siau-hong, katanya, "Aku sudah tak dapat tinggal lagi di tempat ini."

"Aku tahu!"

"Sekarang aku akan pergi.” “Aku akan mengikutimu."

"Kau keliru," sela Tokko Ci, "Peduli ke mana pun kau pergi, aku akan selalu mengikutimu."

Siau-hong tidak berbicara lagi, separah kata pun tidak bicara.

Ia membalikkan badan dan berjalan keluar dari pintu ruangan, berjalan menuju ke bawah cahaya matahari.

Waktu itu cahaya sang surya telah menyinari seluruh jagat raya.

Bagaimana dengan Yang-kong? Bagaimana dengan Po Eng?

Apakah mereka masih dapat melihat sinar matahari, masih dapat bernapas bebas di bawah sinar matahari?

"Kalau hendak mendongkel sebatang pohon, kita harus mendongkelnya dari mana?"

"Tentu saja dari akarnya."

"Terlepas apa pun yang hendak kau dongkel, apakah harus dimulai dari akarnya?”

“Benar!"

"Lalu di mana letak akar permasalahan kita?” “Di mana tumpukan emas itu dibegal, di sanalah letak akar semua permasalahan."

"Jadi emas lantakan itu adalah rahasia dari semua akar permasalahan?”

“Benar."

Maka Siau-hong pun balik kembali ke gurun pasir, kembali ke tanah daratan yang tak berperasaan.

Teriknya matahari, hembusan badai berpasir, penderitaan, siksaan panas kembali menyiksanya seperti dulu.

Di tempat itu keringatnya pernah bercucuran, darahnya pernah berceceran, bahkan selembar jiwanya nyaris terkubur di tempat ini.

Dia sangat membenci tempat ini, bukan hanya benci bahkan merasa takut, merasa ngeri, anehnya dia justru menaruh perasaan yang begitu kental, perasaan yang bahkan dia sendiri pun tak dapat menjelaskan.

Sebab tempat ini meski jelek, sadis dan tak berperasaan, namun justru meninggalkan banyak kenangan yang menyedihkan dan indah, bukan saja membuat dia tak dapat melupakannya seumur hidup bahkan telah mengubah sejarah kehidupannya.

Selama ini Tokko Ci selalu mengintil di belakangnya, mereka berdua selalu menjaga jarak tertentu, jarak di mana kedua belah pihak dapat saling melihat dan memandang.

Namun mereka berdua jarang sekali berbicara.

Makan minum mereka amat sederhana, tidurnya amat jarang, terkadang dalam dua tiga hari belum tentu mereka saling bersapa, belum tentu mengucapkan sepatah kata pun. Sehari setelah memasuki wilayah gurun pasir, Tokko Ci baru bertanya kepada Siau-hong, "Tahukah kau di mana emas itu berada?"

"Aku tahu," jawab Siau-hong singkat.

Hingga sore hari kedua, Siau-hong baru bertanya kepada Tokko Ci, "Masih ingatkah kau tempat di mana kita berjumpa untuk pertama kalinya?"

"Aku masih ingat."

"Emas lantakan itu berada di sini."

Selesai mengucapkan perkataan itu, mereka berdua tidak buka suara lagi, seolah mereka berpendapat perkataan yang diucapkan sehari ini sudah kelewat banyak.

Tapi pada pagi hari ketiga, kembali Tokko Ci bertanya kepada Siau-hong "Apakah kau masih belum berhasil menemukan tempat itu?"

Atas pertanyaan ini, Siau-hong sama sekali tidak menjawab, memasuki hari keempat, ketika mereka tiba di bawah sebuah tebing karang pelindung angin, anak muda itu baru buka mulut.

Sambil menuding batu karang yang menonjol tinggi bagaikan pagoda runcing, tanyanya kepada Tokko Ci, "Kau masih ingat dengan batu cadas itu?"

"Aku masih ingat."

Maka Siau-hong pun menghentikan perjalanannya, mencari sebuah tempat di belakang batu cadas yang terlindung dari terpaan angin dan mulai melahap hidangan pertamanya untuk hari ini.

Kembali lewat lama kemudian Tokko Ci baru bertanya lagi, "Apakah emas itu berada di bawah sini?" "Tidak."

"Mengapa kau berhenti di sini?"

Perlahan-lahan Siau-hong menghabiskan sepotong kue, kemudian baru jawabnya, "Emas murni itu disembunyikan Po Eng dan Pancapanah, seharusnya hanya mereka berdua yang mengetahui rahasia ini."

"Tapi sekarang kau pun tahu."

"Karena Po Eng pernah mengajakku pergi ke tempat di mana ia menyembunyikan emas lantakan itu," jawab Siau- hong, "Ketika ia mengajakku ke sana, waktu itu malam sudah tiba, padahal waktu berangkat hari masih terang tanah."

Ia mendongakkan kepala dan memandang sekejap batu tajam yang runcing itu, kemudian melanjutkan, "Waktu itu matahari baru terbit, bayangan batu cadas itu menyinari tempat di mana emas itu tersimpan."

Tokko Ci tidak buka mulut lagi.

Dia tahu Siau-hong sengaja berhenti di sana karena tujuannya adalah menunggu terbitnya sang surya esok pagi.

Kini dia sudah tak perlu bertanya apa-apa lagi.

Sementara Siau-hong tak tahan mulai bertanya pada diri sendiri, "Mengapa aku harus memberitahukan rahasia ini kepadanya?

Sebetulnya pertanyaan ini merupakan satu persoalan yang sukar untuk dijawab, tapi dengan cepat Siau-hong telah menemukan jawaban untuk pertanyaannya sendiri.

Dia memberitahukan rahasia ini kepada Tokko Ci bukan saja karena dia percaya Tokko Ci bukanlah seorang yang kemaruk harta, bukan orang yang gampang tergiur karena melihat emas murni. Alasan yang paling utama adalah dia menganggap emas lantakan itu sudah tidak berada di tempat di mana Po Eng menyimpannya.

Siapa pun tak tahu dari mana datangnya jalan pikiran seperti itu, tapi dia percaya dan sangat yakin kalau dugaannya tak bakal salah.

Matahari senja telah tenggelam di langit barat, malam panjang yang sepi dan dingin segera akan menyelimuti dataran luas yang tak berperasaan.

Mereka membuat api unggun dan masing-masing duduk bersila di sudut yang berseberangan, duduk mengawasi jilatan api yang membara sambil menunggu terbitnya sang surya.

Tak disangkal, malam ini merupakan malam yang terpanjang terdingin dan paling susah dilewati ketimbang malam mana pun di tengah gurun yang pernah mereka alami, mereka berdua sama-sama terasa penat.

Pada saat Siau-hong hampir memejamkan matanya, mendadak terdengar suara desingan angin yang tajam dan pendek bergema lewat di tengah udara.

Kemudian dia pun menyaksikan munculnya cahaya matahari berwarna kuning di tengah jilatan api, cahaya itu dari kuning berubah jadi merah, lalu dari merah berubah jadi hijau menyeramkan.

Di tengah cahaya api berwarna hijau itu, seakan-akan terdapat beberapa bayangan hijau yang sedang bergerak kian kemari, lalu secara tiba-tiba berubah jadi asap ringan dan menyebar ke empat penjuru.

Menanti asap tipis itu lenyap, jilatan api telah padam, jagat raya hanya tersisa kegelapan pekat yang tiada batasan, seolah-olah tak pernah lagi muncul cahaya terang. Siau-hong tidak bergerak, begitu pula dengan Tokko Ci.

Bagi pandangan mereka, menyaksikan perubahan yang muncul secara tiba-tiba dan mengejutkan itu seolah merupakan kejadian yang sudah biasa dan bisa muncul setiap saat, sama sekali tak ada yang aneh.

Lewat lama kemudian tumpukan api unggun yang semula telah padam itu mendadak meletupkan kembali cahaya api yang terang benderang.

Menanti cahaya api dari warna kuning emas  berubah jadi warna hijau menyeramkan, dari tengah jilatan api seakan muncul sesosok bayangan manusia yang membumbung tinggi ke angkasa, tapi begitu mencapai ketinggian tertentu, lagi-lagi bayangan itu berubah jadi asap tipis.

Asap itu menyebar ke empat penjuru menyusul cahaya api pun padam, mendadak dari balik kegelapan terdengar seseorang berbicara.

Suara itu mengalun di udara, seakan ada seakan tiada, seperti suara manusia, seperti juga suara setan.

"Hong Wi, Tokko Ci, kalian pergilah!" demikian suara itu, "Lebih baik cepatlah pergi, makin cepat makin baik."

Tokko Ci masih belum ada reaksi, tidak demikian dengan Siau-hong.

"Siapa kalian?" tanyanya santai, "Kenapa kami harus pergi?"

Baru habis dia bertanya, segera terdengar seseorang menjawab, "Kami bukan manusia."

Jawaban pertama berasal dari sisi barat, suara yang menggaung di angkasa, seperti suara manusia seperti juga bukan. Kemudian dari arah timur kembali berkumandang suara yang sama, "Sejak Chi-yu mati dalam peperangan dan harta karun digali keluar dari tempat penyimpanannya, setiap harta karun yang ada di dunia ini selalu dijaga sukma gentayangan dan malaikat iblis."

Dari arah selatan bergema pula suara yang sama, hanya kali ini suaranya terdengar berasal dari tempat yang lebih jauh.

"Kami adalah sukma gentayangan yang membantu Po Eng menjaga harta karun emas murni ini."

Suara yang berada di sebelah utara segera menyambung, "Kami semua adalah orang-orang yang tewas dalam pertempuran demi membela Po Eng, sewaktu hidup kami adalah pasukan berani mati, setelah mati pun jadi setan ganas, kami tak akan mengizinkan siapa pun mengusik harta karun emas murninya."

"Kalau kami tak pergi dari sini?" kembali Siau-hong bertanya dengan hambar.

"Kalau begitu kalian akan mati di sini," jawab suara yang di sebelah barat, "Bahkan mati dalam keadaan mengenaskan."

"Aku memahami maksudmu," sahut Siau-hong, "Sayangnya aku tak percaya dengan semua perkataan kalian, biar hanya sepatah kata pun."

Dari empat penjuru tak terdengar lagi suara manusia berbicara... peduli yang bicara itu manusia atau setan, tak satu pun yang buka suara lagi.

Api unggun yang sebelumnya telah padam, kini berkobar lagi jilatan cahaya apinya. Baru saja sinar api berwarna kuning emas itu berkilauan, mendadak dari balik kegelapan bermunculan enam-delapan belas sosok bayangan manusia.

Menanti cahaya api itu berubah jadi semu merah, bayangan manusia itu sudah melayang turun di atas tanah, ada bayangan yang mengeluarkan bunyi gemeratak sewaktu menginjak tanah, ada pula yang menimbulkan suara seperti tulang-belulang retak.

Karena bayangan manusia yang bermunculan itu meski berbentuk manusia, tapi sekarang ada di antaranya yang telah berubah jadi dingin kaku, ada pula yang telah berubah jadi tulang-belulang, begitu terjatuh ke tanah, tulang- belulang itu pun berantakan.

Terdengar suara yang mengalun dari sebelah barat itu bergema lagi, "Kalian tidak percaya perkataan kami?"

"Aku tidak percaya," jawab Siau-hong cepat, "Sepatah kata pun aku tak percaya!"

"Kalau begitu tak ada salahnya kau lihat dulu kawanan manusia itu," ujar orang yang di sebelah selatan, "Karena dengan cepat dirimu akan berubah menjadi seperti mereka, mereka pun. ”

Perkataan itu tak sampai diselesaikan karena Tokko Ci yang selama ini tak ada reaksi, kini sudah mulai menunjukkan reaksinya.

Semacam reaksi yang membuat siapa pun yang melihatnya pasti akan merasa sangat terperanjat.

Pada saat itulah tiba-tiba tubuhnya melambung  ke tengah udara, lalu bagaikan sebatang anak panah melesat ke depan dan meluncur ke arah selatan, arah di mana munculnya suara itu. Sebelah selatan hanya tampak kegelapan yang pekat.

Bersamaan dengan lenyapnya bayangan tubuh Tokko Ci di balik kegelapan, terdengarlah jeritan ngeri bergema dari arah selatan.

Saat itulah Siau-hong ikut bergerak cepat, seperti pula sebatang anak panah, dia melesat ke depan.

Ketika dari arah selatan berkumandang jerit kesakitan, tubuhnya telah tiba di atas sebuah batu cadas di sisi barat.

Sebelah barat pun merupakan kegelapan yang pekat, mendadak terlihat cahaya golok berkelebat dari balik kegelapan, lalu secepat kilat membacok kaki Siau-hong.

Siau-hong tidak menangkis, tidak menghindar, pedangnya diayunkan cepat, mata pedang menempel di mata golok musuh, begitu berhasil mematahkan gagang golok, dia pun membabat pula tangan yang menggenggam golok hingga putus jadi dua.

Seketika itu juga dari balik kegelapan di sisi barat berkumandang suara jerit kesakitan, begitu menjerit suara itu berhenti seketika.

Ternyata ujung pedang telah menembus jantung musuh. Begitu jeritan itu berhenti, Siau-hong segera mendengar

Tokko Ci sedang bersorak dengan nada dingin, "Tusukan

pedang yang cepat, serangan yang sangat keji!" "Sama-sama!" jawaban Siau-hong tepat sekali.

"Tapi aku tak habis mengerti mengapa kau harus turun tangan sekeji itu," tanya Tokko Ci, "Apakah kau tahu dia bukan anak buah Po Eng?"

"Aku tahu."

"Dari mana kau tahu?" "Anak buah Po Eng tak pernah ada yang berani memanggil namanya," Siau-hong menerangkan, "Semua memanggilnya engkoh Eng."

"Tak kusangka kau begitu teliti."

Di balik ucapan Tokko Ci sama sekali tidak terselip nada menyindir, "Bagi manusia semacam kita, teliti merupakan satu kewajiban, dengan begitu hidup kita baru bisa lebih lama."

Mereka berdua sama-sama termasuk manusia yang tak senang bicara, perkataan semacam itu pun bukan sepatutnya dibicarakan dalam situasi dan kondisi seperti ini.

Langit gelap bagaikan tinta bak, siapa yang berbicara maka dia pula yang jejaknya segera ketahuan, kemungkinan besar berbagai jenis senjata dan Am-gi akan datang menyerang dari berbagai arah.

Setiap serangan yang dilancarkan, kemungkinan besar akan merupakan gempuran yang sangat mematikan.

Berada dalam kondisi dan situasi semacam ini, orang yang berpengalaman akan menutup mulut rapat-rapat, mereka baru turun tangan setelah pihak lawan tak dapat mengendalikan diri.

Siau-hong maupun Tokko Ci merupakan orang-orang yang berpengalaman. Mereka sudah beratus kali menghadapi pertarungan, sudah terbiasa keluar masuk antara mati dan hidup, pengalaman yang mereka miliki boleh dibilang jauh lebih luas ketimbang siapa pun.

Kalau memang begitu, mengapa dalam kondisi seperti ini mereka justru membicarakan persoalan yang tidak seharusnya disinggung saat ini? Sebenarnya pertanyaan ini pun merupakan persoalan yang susah untuk dijawab, namun jawabannya sederhana sekali.

Mereka sengaja membocorkan sasaran dengan bersuara tak lain karena mereka berharap pihak lawan akan turun tangan melancarkan serangan.

Langit begitu gelap bagaikan tinta, musuh tangguh pun berada di sekeliling tempat itu, bila musuh tidak melancarkan serangan lebih dahulu, bagaimana mungkin mereka bisa tahu di mana pihak musuh menyembunyikan diri?

Sebenarnya apa yang mereka lakukan sekarang merupakan salah satu taktik untuk memancing musuh masuk perangkap.

Kali ini siasat perang yang mereka lakukan membuahkan hasil.

Baru selesai mereka berbicara, serangan lawan telah dimulai.

Serangan pertama datang dari arah utara.

Jika Siau-hong bukan Siau-hong, dia sudah mampus dalam serangan ini!

Tapi sayang dia adalah Siau-hong.

Dia sudah punya pengalaman sebanyak sembilan belas kali menghadapi ancaman jiwa, bila reaksinya sedikit lebih lambat, ia sudah mati sembilan belas kali.

Dia belum mati karena itu dia mendengar desingan angin itu, sekilas suara angin yang perlahan, lembut tapi sangat tajam. Sekilas suara angin yang sangat cepat datang dari arah utara dan mengancam bagian tubuh pentingnya, bagian tubuh yang sangat mematikan.

Siau-hong segera menggerakkan pedang, seketika meletup tujuh titik cahaya bintang dari ujung pedang.

Di saat pedangnya berhasil merontokkan serangan ketujuh jenis senjata rahasia itu, kembali muncul segulung angin tajam menusuk ke arah pinggangnya.

Serangan yang menusuk tiba bukan berasal dari Am-gi, melainkan tombak, sebilah tombak panjang yang paling tidak berbobot tiga-empat puluh kati, menusuk tanpa menimbulkan sedikit suara pun dari balik kegelapan, ketika mencapai satu depa dari pinggang Siau-hong, mendadak gerak serangannya menjadi sangat cepat.

Tatkala Siau-hong merasakan datangnya desingan angin tajam dari ujung tombak, mati hidup sudah tinggal sekali tarikan napas.

Cepat dia menarik napas dalam-dalam, tubuhnya mendadak melejit ke tengah udara.

Ujung pedang telah merobek pakaiannya, sambil berjumpalitan di tengah udara, pedang panjangnya segera menciptakan bianglala cahaya.

Dan saat itulah dia menyaksikan wajah seseorang. Cahaya pedang yang dingin menyinari wajah orang itu,

wajah persegi penuh cambang yang mengejang kuat karena rasa takut dan ngeri yang luar biasa, sepintas wajah itu mirip sebuah lukisan yang berkerut nyaris robek.

Tatkala cahaya pedang kembali berkilat, wajah itu sudah tak terlihat lagi, sejak itu lenyaplah orang itu dari muka bumi. Di tengah kilauan cahaya pedang dan tombak, selembar nyawa lenyap begitu saja seakan nyawa seekor lalat atau seekor nyamuk di bawah tepukan tangan, lenyap untuk selamanya.

Bila kau tidak mempunyai pengalaman menghadapi kejadian seperti ini, selamanya kau tak bakal menyangka bahwa nyawa manusia terkadang bisa berubah jadi begitu rendah dan sama sekali tak ada nilainya.

Serangan pertama belum selesai, serangan kedua telah dimulai, ketika serangan kedua kembali menemui kegagalan, masih ada serangan ketiga.

Gempuran yang datang bagaikan gulungan ombak samudra, sekali demi sekali menggulung tiba tiada habisnya, seakan-akan gempuran itu tak pernah akan berakhir.

Setiap kali gempuran datang, kemungkinan besar ada nyawa yang bakal melayang, setiap kali serangan kemungkinan besar akan menjadi serangannya yang terakhir kali.

Ooo)d*w(ooO