Elang Terbang di Dataran Luas BAB 29. BARTER

BAB 29. BARTER

Gadis cilik itu menggunakan sikap yang sangat aneh, mengawasi pedang dalam genggamannya, lewat lama kemudian baru berkata, "Sewaktu aku berusia tujuh tahun, mendiang ayahku pernah memberitahukan kepadaku, bila ingin belajar pedang, aku harus mengingatnya selalu bahwa pedang adalah senjata tajam untuk membunuh manusia, merupakan senjata pembunuh, bila tidak dalam keadaan terpaksa, jangan sekali-kali mencabutnya secara sembarangan. Bila pedang di tanganmu telah dilolos dari sarungnya, sekalipun kau tak ingin membunuh orang, bisa jadi karena hal ini orang lain akan membunuhmu."

"Apa yang dia katakan memang sangat masuk akal," Siau-hong menyetujui, "Seseorang yang dengan gampang mencabut pedangnya, dia pasti bukan seorang yang pandai menggunakan pedang."

"Kini pedang dalam tanganku telah dilolos dari sarungnya, aku seharusnya siap melancarkan serangan," kata gadis cilik itu lagi, "Sayang saat ini aku justru tak dapat turun tangan."

"Kenapa?" tanya Siau-hong.

Dia masih belum mengatakan mengapa dirinya tak dapat turun tangan, dia pun tak perlu bicara lagi, sebab pada saat itulah gadis itu turun tangan melancarkan serangan. Dalam detik antara hidup dan mati, mendadak Siau- hong teringat akan persoalan yang tidak seharusnya dia pikirkan.

Lagi-lagi dia teringat akan Po Eng.

Di tengah malam yang gelap, sepi, dan dingin, Po Eng pernah mengucapkan perkataan yang selama hidup tak pernah akan terlupakan olehnya.

"Pedang di tangan seorang jago pedang terkadang mirip dengan barang taruhan di tangan penjudi," kata Po Eng, "Seorang penjudi tulen tak bakal sembarangan memasang taruhan, bila dia ingin bertaruh, bukan saja harus bertaruh secara tepat, bertaruh secara telengas, bahkan harus bisa menahan sabar."

Sabar adalah menunggu, menunggu datangnya kesempatan baik.

Po Eng kembali berkata, "Di saat orang lain mengira kau tak bakal turun tangan, biasanya inilah peluang terbaik bagimu."

Tak disangkal bocah perempuan ini pun pernah mendengar perkataan yang sama dari ayahnya, bahkan seperti Siau-hong, dia pun selalu mengingat pesan itu.

Dia telah membuat Siau-hong menyangka ia tak bakal turun tangan, oleh sebab itu dia menunggu terus hingga detik ini baru turun tangan.

Tenang bagaikan bukit Thay-san, bergerak bagai kelinci gunung, tidak menyerang berarti melindungi diri, begitu menyerang pasti tepat sasaran.

Inilah prinsip yang dipegang seorang jago pedang. Begitu melancarkan tusukan, serangan itu harus mematikan, sasaran yang diarah pun bagian mematikan di tubuh lawan, serangannya pasti membawa hawa pembunuhan yang mengerikan.

Tusukan yang dilancarkan gadis itu bukan hanya demikian saja.

Serangannya selain cepat, juga tepat sasaran, ilmu pedangnya bukan saja memiliki perubahan yang luar biasa bahkan sangat mematikan bagi lawannya.

Namun serangan yang dilancarkan nona cilik ini tidak cukup ganas, ilmu pedangnya juga kurang ganas.

Biarpun Siau-hong belum pernah menyaksikan ilmu pedang Tokko Ci, juga belum pernah melihat gadis itu melancarkan serangan, namun Siau-hong dapat membayangkannya.

Asal kau pernah melihat manusia yang bernama Tokko Ci, mungkin kau dapat membayangkan bagaimana bentuk ilmu pedangnya dan bagaimana caranya melancarkan serangan.

Tentu saja tak banyak orang yang pernah menyaksikan dia melancarkan serangan, sebab orang yang pernah melihatnya sebagian besar telah mampus di ujung pedangnya.

Kalau dilihat dari kemampuan si nona cilik ini membunuh salah seorang pembunuh gelap yang dikirim Pancapanah hanya dalam sekali tusukan, tak disangkal ilmu pedang yang dimilikinya telah mendapat seluruh intisari ilmu pedang milik Tokko Ci, tapi tusukan yang dilancarkan saat ini sedikit pun tidak mirip.

Siau-hong mulai merasa sedikit keheranan. Yang lebih mengherankan lagi adalah setelah gadis itu melepaskan sebuah tusukan, mendadak ia menghentikan lagi gerak serangannya.

"Sekarang apakah kau sudah mengetahui, apa sebabnya tadi aku tak bisa turun tangan?" tanya si nona kepada lawannya. Siau-hong tidak menanggapi.

Kembali gadis itu berkata, "Ilmu pedang yang kupelajari adalah ilmu pedang untuk membunuh orang, bila aku akan membunuhmu, ilmu pedang itu baru berkhasiat."

"Jadi tadi kau tak ingin membunuhku?" Siau-hong balik bertanya.

"Sebetulnya aku ingin membunuhmu, menggunakan nyawamu untuk menyembahyangi pedangku," sahutnya, "Tapi kemudian aku telah berubah pikiran."

"Kenapa?"

"Karena aku ingin mengajakmu barter.” “Barter?" tanya Siau-hong, "Barter apa?"

"Tentu saja sebuah barter yang tidak merugikan kedua belah pihak," sahut gadis cilik itu, "Hanya barter semacam ini baru bisa terwujud."

Membicarakan sebuah barter yang sama-sama tidak merugikan kedua belah pihak dengan seorang bocah perempuan, jelas kejadian ini merupakan sebuah peristiwa yang sangat menarik.

Siau-hong ingin sekali bertanya kepadanya.

Barter apakah yang dimaksud? Apa yang hendak dibarter? Bagaimana harus dibicarakan? Belum sempat dia bertanya, tiba-tiba dari luar jendela terdengar suara ayam berkokok, kertas jendela pun sudah mulai nampak memutih.

Betapa pun panjangnya malam yang gelap, pada akhirnya langit tentu akan menjadi terang kembali.

Begitu langit mulai terang, ayam pun mulai berkokok, kertas jendela pun akan memutih.

Siapa pun yang mendengar suara ayam berkokok pasti tak akan menganggap kejadian itu merupakan suatu peristiwa yang menakutkan, tak mungkin lantaran hal itu dia jadi amat terperanjat.

Tapi bocah perempuan itu tiba-tiba melompat bangun, bagaikan seekor kelinci yang terkena bidikan anak panah, tiba-tiba ia melompat keluar melalui daun jendela.

Sesaat sebelum meninggalkan tempat itu, dia telah mengucapkan sesuatu perkataan yang sangat aneh, perkataan yang membuat orang merasa tak mengerti, tak paham.

"Aku harus pergi," katanya, "Tapi kau tak boleh ikut pergi, malam nanti aku pasti akan datang lagi, mungkin begitu langit jadi gelap, aku telah datang kemari."

Mengapa dia harus pergi? Mengapa begitu mendengar suara ayam berkokok gadis cilik itu segera pergi?

Di saat ayam mulai berkokok, sang surya sebentar lagi bakal terbit.

Apakah dia seperti setan dan sukma gentayangan lainnya, takut cahaya matahari? Takut setelah matahari terbit, dia akan segera berubah menjadi segumpal darah kental? Oleh karena itu dia harus menunggu sampai malam baru berani balik lagi ke dunia ramai, paling tidak harus menunggu setelah langit jadi gelap?

Sebenarnya gadis cilik itu manusia atau setan? Barter seperti apa yang hendak dia bicarakan dengan Siau-hong? Apakah semacam barter jual beli sukma gentayangan?

Ooo)d*w(ooO

Kegelapan malam kembali menyelimuti angkasa.

Siau-hong sedang menunggu, menanti kedatangannya. Duduk menanti di dalam ruang losmen yang sempit,

gelap dan lembab semacam ini, terlepas yang dia tunggu itu manusia atau setan, yang pasti suasana saat itu tentu sangat tidak menggembirakan.

Siau-hong cukup bersabar, cukup mampu menahan diri.

Dia tak tahu kapan bocah perempuan itu akan datang lagi, tidak tahu pula dia akan datang darimana.

Datang dari luar jendela ataukah masuk lewat pintu? Atau jatuh dari atas genteng rumah atau mungkin menerobos masuk lewat dinding ruangan?

Atau mungkin juga turun dari langit atau menongol dari bawah tanah?

Pada hakikatnya Siau-hong enggan memikirkannya, dia pun tak sanggup untuk menebaknya.

Pemuda itu hanya duduk menanti di dalam kamarnya.

Langit sudah gelap, kegelapan malam telah menyelimuti angkasa, lewat lama kemudian ia baru mendengar suara orang mengetuk pintu. Ternyata benar-benar ada orang mengetuk pintu kamarnya, hanya saja orang yang mengetuk pintu bukan si nona cilik yang pernah kabur terbirit-birit fajar tadi.

Yang mengetuk pintu adalah seorang bocah lelaki, bocah lelaki yang dekil, usianya paling hanya delapan-sembilan tahun, tapi pakaian yang dikenakan justru jubah longgar terbuat dari sutera yang biasa dikenakan pria dewasa.

Siau-hong merasa sangat keheranan, kenapa pelayan rumah penginapan membiarkan seorang bocah datang dan mengetuk pintu kamarnya?

Yang lebih mengherankan lagi, pelayan penginapan justru berdiri di samping bocah lelaki itu, bukan saja tidak menghalangi bahkan sikapnya terhadap sang bocah justru amat sungkan dan menaruh hormat.

Mungkinkah bocah kecil ini pun mempunyai asal-usul yang luar biasa?

Tak bisa mengendalikan rasa ingin tahunya, Siau-hong segera bertanya, "Apakah kau datang mencariku?"

"Bukan mencarimu, memangnya mencari siapa?" jawab si bocah garang, "Kalau bukan datang mencarimu, kau sangka aku datang mencari kura-kura telur busuk?"

Siau-hong tidak menjadi gusar, dia malah sedikit geli, hanya saja suara tawanya tak diutarakan.

"Siapa yang menyuruh kau datang mencariku?" ia bertanya.

"Tentu saja Lotoa kami," jawab si bocah sambil mengacungkan ibu jarinya, "Dia minta aku membawamu pergi menjumpainya.”

“Siapa Lotoa kalian? Dia berada di mana?" "Asal ikuti saja aku, kau pasti akan tahu dengan sendirinya. Hm, kalau tak berani ikut, berarti kau memang cucu kura-kura hidup."

Selesai berkata dia langsung membalikkan badan dan kabur dari situ.

Terpaksa Siau-hong mengikut di belakangnya, bukan lantaran kuatir dianggap cucu kura-kura hidup, melainkan karena dia telah menebak siapa gerangan Lotoa bocah itu.

Langit sudah sangat gelap. Sekalipun ada bintang yang bertaburan, cahaya bintang terasa begitu tipis dan tawar, sekalipun ada rembulan, cahaya rembulan pun terasa hambar. Arah jalan di depan sana secara lamat-lamat tidak terlalu jelas.

Bocah cilik yang berlari di depan, tiba-tiba lenyap dari pandangan mata.

Tentu saja dia bukannya terbang ke langit atau menerobos masuk ke dalam tanah, hanya secara tiba-tiba menerobos masuk ke dalam sebuah kuil yang sudah bobrok.

Terpaksa Siau-hong ikut menerobos masuk ke dalam kuil itu.

Ternyata dalam ruang kuil bobrok itu terdapat cahaya, bahkan terendus pula harumnya arak dan daging panggang, daging panggang yang amat harum.

Tujuh-delapan belas orang bocah lelaki tampak mengerumuni api unggun yang dipakai untuk memanggang daging, mereka terdiri dari bocah remaja yang belum menginjak dewasa, pakaian yang dikenakan beraneka ragam dan kelihatan sangat aneh, bahkan apa yang dilakukan orang-orang itu pun beraneka ragam dan aneh. Apa yang mereka kerjakan saat ini bila dilakukan kaum dewasa, jelas hal ini tidak aneh atau lucu, tapi mereka tak lebih hanya bocah remaja yang belum menginjak dewasa.

Seorang bocah yang tampaknya berusia paling besar bahkan paling dekil, duduk bersila di atas meja altar dalam kuil, dengan sepasang matanya yang bulat besar dia mengawasi sekeliling ruangan.

Bocah yang mengajak Siau-hong segera menuding ke arah altar sambil berbisik, "Dialah Lotoa kami."

Tentu saja Lotoa mereka tak lain adalah bocah yang bermain ulat di rumah burung atau si nona berpedang yang menunggang keledai.

Daging wangi kini sudah tak wangi lagi karena telah berpindah ke dalam perut, tentu saja daging yang sudah masuk perut tak bakal wangi lagi, yang ada tinggal bau busuk.

Siau-hong memandang sekejap kawanan bocah yang sedang makan daging, minum arak, bermain judi di tepi api unggun, lalu dengan kening berkerut tegurnya, "Apakah mereka adalah saudaramu?"

"Benar, semuanya adalah saudaraku," sahut si nona kecil yang tempo hari bermain ulat, semalam bermain pedang dan malam ini hidungnya penuh ingus sambil menyengir, "Aku adalah Lotoa mereka."

"Kenapa kau biarkan mereka melakukan perbuatan semacam itu?"

"Kenapa aku tak boleh membiarkan mereka melakukannya?" "Perbuatan semacam itu hanya pantas dilakukan kaum dewasa," ucap Siau-hong, "Sementara mereka masih kecil, masih kanak-kanak."

"Kalau begitu apakah aku harus memberitahukan kepada mereka, perbuatan semacam ini hanya bisa mereka lakukan setelah dewasa nanti?"

Siau-hong tidak berbicara lagi.

Mendadak gadis cilik itu menghela napas, ujarnya, "Jika orang dewasa tak senang melihat bocah cilik melakukan perbuatan semacam ini, lebih baik kaum dewasa pun tidak melakukan hal yang sama. Bila orang dewasa setiap hari melakukan perbuatan semacam itu, bagaimana mungkin para bocah tidak menirunya?"

Siau-hong tertawa getir.

Ia merasa perkataan gadis cilik itu mencari menangnya sendiri, apa mau dibilang dia gagal menemukan alasan tepat untuk membantah perkataannya, terpaksa mengalihkan pokok pembicaraan, katanya, "Sebenarnya barter macam apa yang hendak kau bicarakan semalam?"

Padahal dia masih mempunyai banyak persoalan yang hendak ditanyakan kepada gadis cilik ini.

Mengapa dia langsung kabur begitu mendengar suara ayam berkokok? Mengapa dia selalu menyamar menjadi seorang bocah lelaki yang amat dekil?

Di manakah Tokko Ci saat ini? Apakah ilmu pedangnya telah mencapai puncak kesempurnaan? Apakah luka yang dideritanya telah sembuh?

Semua pertanyaan itu tidak diajukan Siau-hong karena secara tiba-tiba ia merasa sangat tertarik dengan usul barter bocah perempuan itu. Sebagian besar orang tentu akan merasa sangat tertarik dengan barter yang diajukan bocah perempuan ini.

"Akan kucari sebuah tempat yang aman, rahasia dan nyaman untuk tempat tinggalmu," ujar si nona kepada Siau- hong "Setiap hari aku pun akan membuatkan beberapa macam hidangan yang lezat untukmu, bahkan akan kucucikan juga pakaianmu yang kotor."

Siau-hong mulai tertawa. Sebenarnya dia ingin sekali bertanya kepada bocah perempuan ini, apakah dia sudah siap kawin dengannya.

Bukankah perkawinan pun merupakan semacam barter?

Bukankah semua pekerjaan yang hendak dilakukan bocah perempuan itu untuk Siau-hong merupakan tugas seorang istri terhadap suaminya?

Dengan sorot mata tak berkedip nona cilik itu menatap wajah Siau-hong. Dia seolah ingin tertawa, namun tak jadi tertawa.

"Bila kau anggap aku ingin kawin denganmu, maka dugaanmu itu keliru besar," ujar si nona lagi, "Kau tak bisa menganggap diriku sebagai seorang perempuan."

"Lalu aku harus menganggapmu sebagai apa?" Siau-hong sengaja bertanya.

"Anggap aku sebagai gurumu."

"Guru?" Siau-hong tak tahan untuk tertawa, "Apa yang bisa kau ajarkan kepadaku?"

"Ilmu pedang," sahut si nona tegas, "Aku dapat mengajarkan seluruh ilmu pedang Tokko Ci kepadamu."

Siau-hong mulai merasa agak terperanjat. "Maksudmu, selain menanak nasi dan mencuci pakaian untukku, kau pun akan mengajarkan rahasia ilmu pedang milik orang lain kepadaku?"

"Benar, memang begitu maksudku." "Kau bukan sedang bergurau?" "Bukan."

Sikap serta caranya berbicara memang sedikit pun tak mirip orang sedang bergurau.

Sikap Siau-hong pun segera ikut berubah, berubah menjadi serius.

"Barter itu terwujud bila ada imbal balik dari kedua belah pihak," Siau-hong pun bertanya, "Apa yang kau inginkan dariku."

"Ilmu pedang," jawab gadis cilik itu, "Aku pun ingin kau mewariskan ilmu pedangmu kepadaku."

Kembali dia berkata, "Aku ingin memenggal batok kepala Tokko Ci untuk membalas dendam sakit hati ayahku, kau pun ingin mengalahkan dia. Tapi dengan ilmu pedang yang kupelajari sekarang, jangankan memenggal kepalanya, memotong selembar rambutnya pun tidak gampang."

Mau tak mau Siau-hong harus mengakui kebenaran perkataan ini.

"Hanya dengan berbuat begitu kita baru punya harapan," ujar gadis itu lebih jauh, "Barter ini sangat berguna dan bermanfaat bagi kita berdua."

Dalam hal ini pun Siau-hong harus mengakui akan kebenarannya. Dia pun mulai mempertimbangkan, namun tak butuh waktu lama untuk pertimbangannya kali ini.

"Kalau begitu bila aku enggan menyanggupi usulmu itu, berarti aku adalah seorang telur busuk tolol," katanya.

"Apakah kau memang telur busuk tolol?" "Tidak, aku bukan."

Maka mereka pun melaksanakan barter itu.

Daging telah selesai dipanggang, bocah perempuan membagikan sepotong besar daging untuk Siau-hong, kemudian dengan tangannya yang penuh minyak bercampur lumpur, ia tepuk bahu anak muda itu kuat-kuat.

"Sekarang kita sudah bukan teman biasa lagi, kita adalah rekan kerja," katanya, "Kujamin kau tak bakal menyesal." Siau-hong tertawa.

"Sekarang kita sudah bukan sahabat biasa lagi, tapi hingga kini aku masih belum mengetahui siapa namamu." Bocah perempuan itu tertawa geli.

"Aku bermarga Che, sewaktu menjadi bocah lelaki, namaku adalah Siau-cong."

"Kalau sedang jadi anak perempuan?” “Namaku Siau-yan."

"Sudah jelas kau adalah seorang gadis cilik, kenapa harus berperan menjadi bocah lelaki?" kembali Siau-hong bertanya. Siau-yan menatapnya lekat-lekat.

"Apakah kau ingin aku bicara sejujurnya?" dia bertanya. "Tentu saja."

"Baik, kalau begitu kuberitahukan kepadamu," ujar Siau- yan, "Bila Tokko Ci tahu aku adalah bocah perempuan, sejak dulu nyawaku sudah melayang di ujung pedangnya." "Kenapa?"

"Karena ilmu pedang yang dipelajari Tokko Ci selain ganas, sesatnya luar biasa, setiap beberapa waktu dia harus melampiaskan kegilaannya, sebab kalau tidak, dia sendiri yang bakal jadi edan," Siau-yan menerangkan, "Biasanya dia melampiaskan napsunya dengan melakukan pembunuhan."

Setelah berhenti sejenak, kembali lanjutnya, "Kalau ia tak dapat membunuh orang, maka napsunya akan dilampiaskan di tubuh wanita. Jika dia tahu aku adalah seorang wanita, dapat dipastikan dia akan datang mencariku. Bila aku menolak melayaninya, bisa ditebak nyawaku akan melayang di ujung pedangnya."

Selama ini dia selalu menatap wajah Siau-hong, menatapnya dengan sorot matanya yang berbinar. Walaupun sedang membicarakan suatu peristiwa yang memalukan, namun gadis itu sendiri sama sekali tak nampak rikuh atau malu mengutarakannya.

Mendadak Siau-hong merasa kagum terhadap gadis cilik ini.

Seorang gadis muda ternyata sanggup membicarakan masalah semacam itu di hadapan seorang lelaki, keberanian dan keterbukaan gadis ini benar-benar membuat orang merasa sangat kagum.

Siau-yan masih menatapnya tanpa berkedip.

"Kau masih ada persoalan apa lagi yang ingin ditanyakan kepadaku?"

Siau-hong memang masih mempunyai banyak persoalan yang ingin ditanyakan kepadanya. Apakah Tokko Ci telah berhasil mempelajari ilmu pedangnya? Saat ini Tokko Ci berada di mana?

Namun dia tidak menanyakannya.

Dengan memakai daging yang berada dalam tangannya, ia sumbat mulut sendiri.

Dalam perjalanan hidup siapa pun, suatu saat dia pasti akan mengalami perubahan yang datang mendadak, seperti persoalan lainnya, perubahan itu ada yang baik ada pula yang jelek, ada yang membuat orang menari-nari gembira, ada pula yang membuat orang sedih dan berduka.

Dalam persoalan perasaan, cinta munculnya tiba-tiba, begitu pula dengan benci dan dendam, dalam kehidupan pun terkadang ada beberapa persoalan yang dapat mengubah perjalanan hidup seseorang.

Terlepas perubahan itu membawa kebaikan atau keburukan, namun pada prinsipnya hanya terdapat dua perbedaan itu.

Dalam perjalanan berlangsungnya perubahan ini, seringkali bisa terjadi suatu peristiwa yang membuat orang tak dapat melupakannya seumur hidup.

Jalan hidup Siau-hong secara tiba-tiba mengalami perubahan, dari kehidupan yang penuh gejolak dan ancaman maut yang bisa datang setiap saat, mendadak berubah menjadi kehidupan yang tenang aman, dan penuh kedamaian.

Che Siau-yan sama sekali tidak membohonginya, dia benar-benar mencarikan sebuah tempat yang benar-benar aman, tenteram, tersembunyi yang berada di tengah sebuah tanah perbukitan kecil, di tepi sungai dengan aliran air yang jernih, di bawah pepohonan yang rindang di mana ia telah mendirikan sebuah rumah kayu kecil untuk ditempati pemuda itu.

Hidangan yang dimasak gadis cilik ini pun benar-benar hebat, bakpao kukusannya padat berisi, bakmi yang dibuatnya kurus dan gurih, nasi yang ditanaknya harum dan pulen, bahkan daging yang dimasaknya begitu empuk, gurih, dan lezat.

Ternyata dia pun benar-benar turun tangan sendiri mencuci pakaian Siau-hong, bahkan bukan hanya sekali dia mencucinya.

Memiliki sebuah rumah tinggal yang begitu tenang dan indah, memiliki sebuah rumah kecil yang hangat dan nyaman, bahkan setiap hari ada seorang gadis cantik yang menemaninya berbincang dan bergurau... bagi seorang perantau macam Siau-hong, perubahan hidup semacam ini boleh dibilang benar-benar sebuah perubahan yang amat besar.

Dia belum pernah mempunyai rumah, tapi sekarang dia telah memilikinya, hanya dia sendiri pun tahu bahwa kehidupan semacam ini setiap saat bisa berakhir.

Ketika mereka berhasil mempelajari ilmu pedang semuanya akan berakhir.

Berbicara dari sudut pandang lain, ilmu pedang tak ubahnya seperti ilmu kaligrafi, bukan saja harus punya "jiwa", punya "gaya" dan punya "niat", bahkan harus memiliki "teknik" dan "seni".

Setiap goresan pit harus didahului dengan "niat", begitu pula setiap gerakan pedang harus didahulu dengan "niat", sementara setiap perubahan yang kemudian mengikuti, tergantung seberapa besar teknik dan seni yang bisa kita kembangkan. Jiwa dan niat merupakan takdir, sementara teknik dan seni merupakan hasil tempaan di kemudian hari.

Maka Siau-hong pun berlatih dengan tekun dan bersungguh hati.

Banyak sekali cara menggunakan tenaga serta perubahan gerak jurus dalam ilmu pedang Tokko Ci yang belum pernah didengar maupun diduga sebelumnya.

Biarpun perubahan dalam ilmu pedang tak banyak jumlahnya, namun setiap perubahan betul-betul di luar dugaan siapa pun.

Setiap perubahan gerakan pedang bukan saja mengandalkan teknik gerakan tangan, bahkan harus memiliki semacam "kekuatan".

Kalau tak punya hawa, maka tak akan muncul tenaga.

Yang paling hebat dan unik dari ilmu pedang Tokko Ci adalah caranya mengerahkan hawa dan tenaga.

Hawa tak mungkin dikeluarkan dari tempat yang seharusnya, pedang pun tak boleh muncul dari posisi di mana senjata itu harus bergerak.

Ketika hawa dan tenaga berada di pergelangan tangan, sekali tusuk, pedang akan menembus dada.

Dan inilah teknik yang paling hebat, teknik yang hanya bisa diperoleh dari berlatih secara tekun.

Dalam beberapa waktu ini dia seolah telah melupakan Yang-kong serta Po Eng, seolah sudah melupakan semua orang yang seharusnya tak mungkin terlupakan.

Tentu saja dia bukannya benar-benar melupakan mereka, ia justru berusaha melarang pikirannya mengenang dan membayangkan mereka. Untuk mempelajari ilmu pedang, bukan saja harus berlatih dengan tekun, bahkan harus memiliki bakat alam. Tidak sedikit orang yang berlatih tekun, tapi tak banyak orang yang memiliki bakat alam.

Bagi beribu bahkan berjuta orang yang ingin tampil ternama dalam dunia persilatan, khususnya bagi pemuda belum dewasa yang ingin menjadi tenar, "pedang" bukan saja merupakan sejenis benda tajam untuk membunuh orang, benda itu pun lambang "kematangan", "kedewasaan" serta "kedudukan".

Sejak beribu tahun berselang, sejak pedang pertama berhasil ditempa manusia, ada berapa banyak pemuda yang rela berlatih tekun demi berhasilnya mempelajari ilmu pedang. Namun dari sekian banyak manusia, ada berapa banyak di antaranya yang berhasil?

Kalau dibilang Siau-hong adalah pemuda yang sangat berbakat dalam mempelajari ilmu pedang, tak disangkal begitu pula dengan Che Siau-yan.

Tak sampai tiga bulan kemudian, gadis cilik ini telah berhasil mempelajari seluruh ilmu pedang Siau-hong yang seharusnya dia pelajari dan berharga untuk dipelajari.

Tiga bulan kemudian, frekuensi kedatangannya di rumah tinggal Siau-hong sudah tidak sebanyak dahulu lagi.

Ketika gadis cilik itu tidak muncul, pasti ada orang lain yang akan mewakilinya mengantar hidangan untuk Siau- hong.

Orang yang bertugas mengantar nasi untuknya tak lain adalah bocah kecil yang pertama kali mengajak Siau-hong berkunjung ke kuil bobrok.

"Aku bernama Toa-nian," bocah kecil itu memperkenalkan diri, "Karena aku dilahirkan pada tanggal satu bulan satu, pas orang sedang merayakan tahun baru, maka aku dinamakan Toa-nian."

Toa-nian menerangkan bahwa dia telah berusia tiga belas tahun, namun kalau diperhatikan potongan badan serta wajahnya, paling dia baru berusia delapan-sembilan tahunan.

"Sejak kecil aku tak pernah makan kenyang, berpakaian cukup, karena itulah bentuk badanku selalu kelihatan kecil dan tak pernah tumbuh," kembali Toa-nian memberitahukan keadaan dirinya kepada Siau-hong, "Aku tahu, banyak orang mengejek dan mengumpatku di belakang diriku, mengatakan perutku kebanyakan air busuk sehingga badanku tak pernah tumbuh, tak pernah jadi tinggi, tapi sedikit pun aku tak peduli."

Nada serta gaya bicaranya begitu dewasa, jauh melebihi usianya sekarang.

"Bagiku, cukup asal mereka tidak mengejek dan memaki di hadapanku."

"Oh, jadi mereka tak pernah mengejek dan memaki di depanmu?"

"Satu kali pun belum pernah," Toa-nian menggeleng, "Karena mereka tidak berani."

Siau-hong menatap wajahnya, memperhatikan mukanya yang bulat, mengawasi mimik dewasa yang tampil di wajahnya. Tak tahan akhirnya dia bertanya, "Apakah di tempat ini ada banyak orang yang takut kepadamu?"

Terbayang sikap hormat yang diperlihatkan pelayan losmen terhadapnya, karena itulah Siau-hong mengajukan pertanyaan itu.

Cepat Toa-nian menggeleng. "Yang mereka takuti bukan aku, melainkan takut kepada Lotoa kami," ia membusungkan dada dan melanjutkan, "Berani kujamin, tak seorang pun di tempat ini yang berani mengganggu."

"Kenapa?"

"Karena dia bakal sial bila berani mengganggunya.” “Bagaimana sialnya?"

"Ada orang yang dicukur gundul jenggotnya di tengah malam buta, ada pula yang kehilangan sepasang bulu matanya ketika bangun dari tidurnya di pagi hari," Toa-nian menerangkan, "Lo-sanse si pemilik pegadaian yang malam sebelumnya menendang dia satu kali, keesokan harinya menjumpai kaki sendiri telah membengkak besar seperti kaki babi."

Rasa bangga kembali menghiasi wajahnya yang bulat. "Sejak peristiwa itu, tak seorang pun di tempat ini yang berani mengganggu kami, sebab semua orang tahu kami adalah saudaranya." Siau-hong tertawa lebar.

"Wah, tampaknya kemampuan Lotoamu betul-betul hebat, kalian pasti akan sangat gembira karena memiliki seorang Lotoa semacam dia."

"Tentu saja gembira," jawab Toa-nian, "Bukan saja dia telah memberi makan kepada kami, memberi pakaian untuk kami, bahkan dalam hal apa pun dia selalu memperhatikan kebutuhan kami."

"Dia bersikap begitu baik kepada kalian, dengan cara apa kalian akan membalas budi kebaikannya?"

"Biarpun saat ini kami belum mampu membalas budi kebaikannya, namun setelah kami dewasa nanti, kami pun bisa melakukan banyak hal baginya," dengan mata melotot, Toa-nian berkata penuh keseriusan, "Asalkan dapat membuatnya gembira, perbuatan dan pekerjaan apa pun pasti akan kami lakukan. Walau dia menyuruh kami pergi mati pun, kami pasti akan melakukannya."

Seperti orang yang telah dewasa, dia menghela napas panjang, terusnya, "Sayangnya saat ini kami masih belum cukup dewasa, hanya urusan kecil yang bisa kami perbuat baginya, hanya bisa mengantarkan barang lari ke sana kemari, mencari berita di mana-mana. ” 

Kemudian sambil membusungkan dada dan bertampang sungguh-sungguh, terusnya, "Bila di sekitar tempat ini kedatangan orang asing, orang pertama yang tahu akan kehadirannya tentulah Lotoa kami. Jika di atas bumi terjadi suatu peristiwa yang aneh, dia pula yang nomor satu mengetahuinya."

Dalam hati kecilnya diam-diam Siau-hong menghela napas.

Tiba-tiba ia menjumpai bahwa gadis cilik itu selain berotak cerdas, punya kemampuan untuk bertindak, bahkan ambisinya sangat besar.

Mungkin ambisinya jauh lebih besar daripada apa yang dibayangkan setiap orang.

Beberapa bulan kembali lewat, malam yang panjang kini telah berlalu, udara yang panas dan kering lambat-laun berubah menjadi sejuk.

Udara semacam ini paling cocok untuk tidur berlama- lama.

Tapi tidur Siau-hong tidak terlalu nyenyak, setiap  bangun pagi, bukan saja bibir dan tenggorokannya terasa kering, sepasang matanya berubah pula jadi merah darah. Baru selesai mandi dengan air dingin, Toa-nian telah muncul mengantar sarapan.

Pertanyaan pertama yang diajukan Siau-hong adalah, "Bagaimana dengan Lotoa kalian?"

Sebetulnya frekuensi pertemuan antara mereka berdua makin lama sudah semakin berkurang, kali ini hampir dua bulan lamanya mereka tak pernah saling bersua.

"Aku pun tak tahu di mana ia berada," jawab Toa-nian, "Kalau dia tidak datang mencari kami, tak seorang pun dari kami yang tahu di manakah dia berada."

"Kau tidak berbohong?"

"Aku belum pernah berbohong," Toa-nian melototkan matanya, "Aku adalah anak kecil, sedang kau adalah orang dewasa, kalau anak kecil berbohong, mana mungkin tidak diketahui orang dewasa."

Biarpun Siau-hong merasa agak gelisah, namun mau tak mau dia harus mempercayai ucapannya.

"Kau tentu ada saat berjumpa dengannya, bila bertemu dengannya lagi, katakan, suruh dia secepatnya datang kemari."

"Mau apa datang kemari?"

"Ada urusan penting aku hendak bicarakan, sebuah urusan yang amat penting."

"Dapat kau beritahukan kepadaku?"

"Tidak bisa," Siau-hong melototkan juga matanya, "Lebih baik anak kecil tak usah banyak bertanya tentang urusan orang dewasa." Toa-nian tidak bertanya lagi walau hanya sekecap pun, tanpa banyak bicara ia segera beranjak pergi dari situ, seperti seorang bocah penurut yang sangat jujur dan polos.

Tapi dia sendiri tahu kalau dirinya sama sekali tak polos, juga tak jujur, sebab bukan saja dia telah berbohong, bahkan setiap perkataan yang dikatakan adalah bohong.

Dia sendiri pun tahu, bohong itu tak baik, namun dia sama sekali tak merasa berdosa, sebab dia berbohong demi Lotoa mereka.

Lotoa mereka sedang menunggunya di dalam hutan di sebelah depan sana.

Musim gugur yang sejuk, hutan pohon waru yang rindang dan hening.

Daun berwarna merah memenuhi seluruh hutan, merah bagaikan bara lidah api.

Che Siau-yan duduk bersila di bawah sebatang pohon, pakaiannya amat dekil, begitu pula dengan wajahnya yang penuh ingus, begitu kotor dan jorok sehingga andaikata ia bercermin pun sering lupa kalau sesungguhnya dirinya adalah seorang gadis yang cantik.

Dia sendiri tahu dirinya adalah seorang gadis, sudah bukan anak-anak lagi, tentu saja bukan seorang bocah lelaki.

Namun setiap kali sedang menyamar sebagai bocah lelaki, dia selalu memiliki kemampuan untuk membuat dia sendiri pun lupa kalau sesungguhnya dia adalah seorang perempuan tulen.

Dalam hal ini dia sendiri pun merasa amat puas.

Saudara-saudaranya belum pernah ada yang tahu kalau Lotoa mereka sebenarnya adalah seorang wanita, tapi gadis itu tahu kalau di antara anak buahnya ada beberapa orang sudah berubah jadi lelaki dewasa, mereka sudah mempunyai biji di tenggorokannya, sudah punya jakun, seringkali di tengah malam buta secara diam-diam mereka telah belajar melakukan perbuatan yang seharusnya dilakukan para lelaki dewasa.

Ia tahu, tapi pura pura tak tahu, berlagak pilon.

Ada kalanya dia bahkan tidur bersama mereka, malah ketika melihat mereka melakukan masturbasi, dia sendiri sama sekali tak tertarik, sama sekali tak tergerak hatinya.

Dalam hal ini, dia merasa amat puas terhadap kemampuan sendiri.

Sewaktu Toa-nian datang, dia sedang menangkap seekor ulat kecil yang baru muncul dari dalam tanah dan mempermainkan ulat itu.

Sebetulnya ia tak senang dengan ulat, bukan saja tak senang bahkan cenderung muak, benci. Baik terhadap ulat besar ataupun ulat kecil, dia merasa muak semua.

Namun seringkali dia justru bermain dengan ulat.

Karena dia selalu berpendapat, cara terbaik untuk melatih diri adalah sering memaksa diri melakukan perbuatan yang sebenarnya amat tak disukai.

Dia pun tak suka kepada Toa-nian.

Dia selalu merasa bocah lelaki ini seperti sebiji buah belum masak yang telah dipetik dari pohon, bukan saja tak indah dipandang, juga tak enak dimakan.

Tapi ia yakin dan percaya, Toa-nian pasti tak tahu kalau dia tak menyukai dirinya, sebab setiap kali berjumpa dengan bocah lelaki itu, dia selalu tampil dengan wajah riang dan gembira, sebab Toa-nian selalu berguna baginya, boleh dibilang dia merupakan satu-satunya orang di antara para saudara lainnya yang paling berguna.

Begitu Toa-nian berjumpa dengannya, bagaikan tikus bertemu kucing, tampang nakal dan binalnya kontan hilang. Dengan sikap sopan, penuh aturan dan jujur ia berdiri di hadapan gadis itu sambil memberi laporan.

"Aku telah mengantar nasi ke sana, bahkan telah menyerahkan langsung ke tangannya."

"Sewaktu ke sana, apa yang sedang dilakukan Siau- hong?”

“Dia sedang mandi dengan air dingin."

"Kemarin sore, malam sebelumnya, tengah hari tiga hari berselang, ketika kau ke sana, bukankah dia pun sedang mandi dengan air dingin?"

Ooo)d*w(ooO