Elang Terbang di Dataran Luas BAB 26. IKAN SUCI

BAB 26. IKAN SUCI

Walaupun tahun baru telah lewat, namun Cap-go-meh belum lagi lewat, suasana tahun baru masih menyelimuti seluruh jalan raya, suasana amat ramai, penuh kegembiraan, baik yang berduit maupun yang hidup pas- pasan, mereka seolah melupakan semua masalah dan kerisauan yang melanda hati masing-masing.

Bagaimana dengan Siau-hong?

Jika kau adalah Siau-hong, berdiri di depan jendela, berdiri di samping musuh besarmu yang telah merampas ibumu, sahabatmu, kekasihmu, anakmu, dan nama baikmu, menyaksikan keramaian di tengah jalan raya, menyaksikan semua orang sedang bergembira ria,  bagaimana perasaanmu waktu itu?

"Mereka termasuk dalam rombongan ini," tiba-tiba Ma- ciok menerangkan.

Ia menuding ke arah si pedagang keliling, pelayan penjaga toko kue, Ciangkwe yang sedang mengantuk di meja kasir, Ciangkwe toko cita yang membakar mercon, kakek tua penjual kacang dan anak muda penjual kacang, lelaki pemabuk dan pengemis, dewa rezeki dan rombongan pemain liong, serta pemuda penjual barang keperluan kaum wanita.

Sambil menuding ke arah orang-orang itu, kembali Ma- ciok berkata kepada Lu-sam, "Mereka adalah orang-orang yang kupersiapkan di tempat ini."

"Mereka?"

"Benar, setiap orang yang ada di sana."

"Berapa banyak orang yang kau persiapkan di situ?" kembali Lu-sam bertanya.

"Seharusnya berjumlah empat puluh delapan orang," jawab Ma-ciok, "Tapi saat ini aku hanya melihat empat puluh tujuh orang.”

“Masih ada seorang lagi, ke mana dia pergi?"

"Aku sendiri pun tak tahu," sahut Ma-ciok, "Tapi aku pasti dapat menemukannya."

Kemudian dengan nada hambar tambahnya, "Setelah berhasil ditemukan, mulai saat itu orang tadi tak perlu pergi ke mana-mana lagi."

Siau-hong tentu memahami maksudnya, hanya orang mati yang tak perlu pergi ke mana-mana lagi.

Terdengar Lu-sam bertanya lagi kepada Ma-ciok, "Siapa saja orang-orang yang kau persiapkan di sini?"

Dalam waktu sekejap Ma-ciok menyebutkan nama keempat puluh delapan orang, di antaranya paling tidak ada tiga puluhan orang yang namanya pernah didengar oleh Siau-hong, bahkan nama-nama itu cukup mengejutkan hati siapa pun yang mendengar. Hanya nama orang yang pandai membunuh, bahkan telah membunuh banyak orang, baru akan mengejutkan hati siapa pun yang mendengar.

"Menurut pendapatmu, apakah orang-orang itu sudah lebih dari cukup?" kembali Lu-sam bertanya.

"Pasti lebih dari cukup," jamin Ma-ciok, "Asal aku turunkan perintah, dalam hitungan kedua puluh, mereka sudah dapat menghabiskan semua nyawa yang berada di sepanjang jalan ini, baik tua muda, laki perempuan, kucing maupun anjing."

Lu-sam berlagak terperanjat, yang jelas terasa dibuat- buat, ia tatap Ma-ciok lalu sengaja bertanya, "Tahukah kau, ada berapa banyak manusia di sepanjang jalan ini?"

"Aku tidak tahu," mimik muka Ma-ciok masih tetap tenang, "Aku hanya tahu berapa pun jumlah orang di sana, sebetulnya sama saja buatku."

"Sekalipun ada orang lain yang bakal datang pun sama saja?"

"Benar, sama saja," jawab Ma-ciok, "Bahkan peduli siapa pun yang datang, sekalipun Po Eng atau Pancapanah pun sama saja."

"Asal kau menghitung sampai angka dua puluh, maka mereka bakal mati terbunuh?"

"Ehm!"

"Cepatkah angka hitunganmu?"

"Tidak terlalu cepat, tapi tidak pula terlalu perlahan."

Lu-sam segera tertawa, menggeleng sambil tertawa. "Siapa yang percaya dengan perkataanmu itu?" serunya. "Siapa yang tidak percaya?" Ma-ciok balik bertanya sambil tertawa dingin. "Bila ada orang tidak percaya, apakah setiap saat kau dapat membuktikannya?"

"Tentu saja," jawab Ma-ciok, "Setiap saat dapat kubuktikan."

Kembali Lu-sam tertawa, berpaling sambil tertawa, ditatapnya wajah Siau-hong kemudian dia bertanya, "Percayakah kau?"

Siau-hong tidak menjawab, dia tutup mulutnya rapat- rapat.

Bibirnya yang kering terasa merekah, ujung jarinya dingin dan kaku, dia tak boleh menjawab pertanyaan ini, dia pun tak dapat menjawabnya.

Sebab dia tahu, baik jawabannya "percaya" atau "tidak percaya" akibat yang harus diterimanya sama saja, sama- sama menakutkan.

Dengan tenang Lu-sam mengawasi Siau-hong dengan tenang menunggunya sampai lama sekali sebelum akhirnya buka suara.

"Padahal kau sama sekali tak perlu menjawab  pertanyaan ini, sementara aku pun pada hakikatnya tak perlu bertanya kepadamu."

Senyuman liciknya seperti seekor rase yang berhasil menangkap seekor kelinci.

"Aku sengaja bertanya kepadamu tak lebih hanya ingin kau tahu, saat ini kau sama sekali sudah tak punya kesempatan, sama sekali tak punya harapan lagi."

Tiba-tiba lenyap senyuman dari wajahnya, dengan tatapan mata yang lebih dingin dan buas daripada seekor serigala, terusnya, "Sebetulnya yang benar-benar ingin kutanyakan kepadamu adalah sebuah persoalan lain." "Soal apa?"

"Di mana Po Eng telah menyembunyikan emas lantakan itu?"tanya Lu-sam, "Emas lantakan terakhir yang dia begal dari tangan ThiatGi?"

Ditatapnya wajah Siau-hong lekat-lekat, terusnya, "Aku percaya kau pasti mengetahui rahasia ini, kecuali Po Eng sendiri dan Pancapanah, hanya kau seorang yang tahu."

Terlebih tentang persoalan ini, tak mungkin Siau-hong bakal menjawabnya, biar mati pun tak mungkin dijawab.

Tiba-tiba ia balik bertanya, "Bila aku bersedia mengatakannya, apakah kau pun bersedia melepas aku, bahkan melepas juga ibu dan anakku?"

"Bisa kupertimbangkan," jawab Lu-sam.

"Aku pun dapat menunggu, menunggu sampai kau selesai mengambil keputusan."

Berkilat sepasang mata Lu-sam.

"Kalau kukabulkan permintaanmu itu?" tanyanya. "Kalau kau mengabulkan, maka aku pun jadi mengerti

akan sesuatu." "Mengerti soal apa?"

"Mengerti kalau usahamu selama ini dengan melakukan berbagai siasat untuk menghadapiku, tujuan yang sebenarnya bukan untuk membalas dendam," kata Siau- hong, "Kau berbuat demikian tak lain karena kau ingin memaksaku untuk mengatakan di mana emas itu disembunyikan."

Ternyata Lu-sam tidak menyangkal, sekarang dia memang tak perlu menyangkal lagi. Kembali Siau-hong mengucapkan sebuah perkataan yang aneh, "Kalau toh kau tidak menyangkal, aku pun jadi tidak mengerti."

"Persoalan apa pula yang tidak kau pahami?"

"Tidak paham, mengapa kau harus berbuat begitu," sahut Siau-hong, "Bagimu emas murni sebesar tiga puluh laksa tahil tidak terhitung kelewat banyak, buat apa kau harus mengorbankan banyak biaya dan tenaga untuk melakukan semua ini."

Kembali Lu-sam menatapnya lama sekali, kemudian setelah menghela napas panjang katanya, "Ternyata kau adalah orang pintar, aku tak ingin membohongimu lagi."

"Bila ingin aku bicara jujur, lebih baik tak usah mencoba mengelabui aku lagi."

"Bagiku tiga puluh laksa tahil emas murni memang tak terhitung kelewat banyak," ujar Lu-sam kemudian, "Aku berbuat begitu sesungguhnya memang bukan lantaran uang emas itu."

"Lalu karena apa?"

"Untuk mengail seekor ikan," Lu-sam menegaskan, "Seekor ikan emas!"

"Ikan emas?" perasaan terkejut dan heran yang diperlihatkan Siau-hong bukan sengaja dia lakukan, "Jadi kau mengorbankan begitu banyak tenaga dan pikiran hanya demi mendapatkan seekor ikan emas?"

Lu-sam tidak menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba ia balik bertanya, "Tahukah kau di tepi perbatasan Tibet terdapat sebuah kota yang bernama Ghardu? Kau pernah ke sana?"

Siau-hong belum pernah ke sana, tapi dia mengetahui tempat itu. Kota Ghardu berada di muara sungai Gangga, sungai suci yang mengalir di negeri Thian-tok, letaknya di muara sebelah barat dan berada di atas gunung yang tinggi, di saat musim dingin tiba, udara di sana dingin menusuk tulang, semua jalan terlapis salju yang tebal, di saat musim panas, banyak saudagar yang berkumpul dan berdagang di sana.

Kembali Lu-sam bertanya kepada Siau-hong, "Tahukah kau dalam sungai Gangga yang mengalir di dekat tempat  itu terdapat sejenis ikan? Sejenis ikan bersisik emas, ada sisik, ada tulang, ada darah ada daging, sebetulnya ikan itu dapat disantap."

"Dan sekarang?"

"Sekarang sudah tak ada lagi yang berani menyantapnya.”

“Kenapa?"

"Karena sekarang semua orang telah menganggap ikan itu sebagai ikan suci, siapa berani menyantapnya, dia bakal tertimpa bencana."

Setelah berhenti sebentar, terusnya, "Oleh karena itu sekarang sudah tak ada orang yang berani menyantapnya lagi."

"Lalu apa sangkut-pautnya ikan itu dengan emas murni milikmu yang dibegal?"

"Ada sedikit hubungannya."

Dari balik tatapan mata Lu-sam tiba-tiba muncul suatu perasaan yang sangat aneh.

"Di dalam tumpukan emas murni itu terdapat seekor ikan emas dari Ghardu!"

Sorot matanya mirip pandangan seorang gadis yang baru pertama kali jatuh cinta, bukan hanya tatapannya yang hangat dan penuh semangat, bahkan dengus napasnya pun ikut berubah jadi kasar.

Siau-hong tidak bertanya mengapa dalam tumpukan emas terdapat seekor ikan, dia pun tak bertanya mana mungkin ikan bisa hidup dalam tumpukan emas murni.

Dia tahu Lu-sam pasti akan memberi penjelasan sendiri.

Benar saja, terdengar Lu-sam kembali berkata, "Karena kau belum pernah melihat ikan itu, maka kau tak akan bisa membayangkan betapa sakti, betapa indahnya ikan itu."

"Sakti?"

Belum pernah Siau-hong mendengar dari mulut siapa pun seekor ikan bisa sakti, karena itu segera tanyanya, "Di mana letak kesaktian ikan itu?"

"Ikan itu berhasil dipancing dari sungai Gangga oleh Raja Ali yang maha sakti, maha bisa dan maha cerdas sebelum menjadi dewa, setelah keluar dari air, seluruh sisik, daging, darah dan tulangnya telah berubah menjadi emas murni," Lu-sam menjelaskan, "Emas murni yang seratus persen murni, di langit maupun di bumi tak mungkin akan ditemukan lagi emas lain yang begitu indah dan murni, namun ikan itu kelihatannya seperti ikan hidup, seakan- akan setiap saat akan berubah menjadi naga sakti dan terbang tinggi ke angkasa."

Dia mulai terengah-engah, lewat lama kemudian baru lanjutnya kembali, "Karena dia harus melindungi diri, tak bisa membiarkan tubuhnya menjadi santapan umat manusia, oleh karena itulah dia telah merubah darah, daging, tulang, dan sisiknya menjadi emas murni."

Kembali terusnya, "Sejak itulah semua ikan sejenisnya telah disembah umat manusia sebagai Sin-beng!" Kisah ini terdengar penuh dengan daya tarik, semacam daya tarik yang bisa menggetarkan hati, yang membuat setiap pendengar menjadi percaya dan tertarik.

Kesimpulan cerita itu adalah ikan emas yang dipancing Raja Ali telah berubah jadi dewa, ikan itu mengubah diri menjadi ikan emas murni dan ikan itu terjatuh ke tangan Lu-sam.

Selesai mengisahkan cerita itu, sampai lama Lu-sam baru berhasil meredakan gejolak perasaannya, pandangan kepedihan kembali memancar dari matanya.

"Di atas langit maupun di dalam bumi, tak nanti akan kau temukan ikan kedua semacam itu," gumamnya, "Oleh karena itu aku harus menemukannya kembali, apa pun yang harus kulakukan, aku tetap akan berusaha untuk mendapatkannya kembali."

Manusia semacam Lu-sam, kenapa bisa mempercayai dongeng omong kosong semacam itu?

Dengan menceritakan kisah itu, mungkinkah hal ini disebabkan di balik cerita ikan emas itu masih terdapat rahasia lain, rahasia yang tak boleh diberitahukan kepada orang lain, karena itu dia gunakan kisah itu untuk mengelabui orang?

Siau-hong tidak bertanya. Dia tahu, sekalipun ditanya pun belum tentu Lu-sam akan memberitahukannya.

Kembali Lu-sam menatapnya cukup lama, kemudian berkata, "Sekarang aku telah memberitahukan rahasiaku, bagaimana dengan kau?"

Siau-hong balas menatap Lu-sam, sampai lama sekali perlahan-lahan dia menjawab, "Aku tak percaya." "Kau tak percaya?" tanya Lu-sam cepat, "Tidak percaya dengan kisah ini?"

"Bukan cerita itu."

"Lalu apa yang tidak kau percayai?" kembali Lu-sam bertanya, "Tidak percaya dengan perkataanku?"

"Bukan perkataanmu," Siau-hong segera menuding ke arah Ma-ciok, "Tapi perkataannya."

Sambil berpaling menghadap Ma-ciok, lanjutnya, "Aku tak percaya dengan setiap perkataan yang kau katakan tadi."

Paras Lu-sam berubah hebat.

Terlebih paras Ma-ciok, saat ini tampangnya mirip panggang daging yang gosong hingga berubah jadi arang.

"Apa yang tidak kau percayai?" tanya Lu-sam dengan suara parau, "Coba ulangi sekali lagi, apa yang tidak kau percayai?"

"Apa yang telah dia katakan tadi?" dengan suara dingin Siau-hong balik bertanya.

"Dia bilang, asal perintah diturunkan maka sebelum hitungan kedua puluh dia dapat membunuh habis semua kehidupan yang ada di jalan raya ini, baik tua muda, laki perempuan, maupun binatang!"

"Aku tak percaya," dengus Siau-hong dingin, "Aku sama sekali tak percaya ucapannya, tak sepatah pun yang kupercaya."

Dengan terkejut Lu-sam menatapnya.

"Kau berani tak percaya?" tanyanya kepada Siau-hong, "Tahukah kau apa akibatnya karena perkataanmu itu?" "Aku tahu," mimik muka Siau-hong sama sekali tak berubah, sama sekali tanpa emosi, "Aku tahu dengan sejelas-jelasnya."

"Kau anggap dia tak berani membunuh orang?"

"Dia berani, aku percaya dia berani," Siau-hong mengangguk, "Hanya saja orang yang berani membunuh belum tentu sanggup membunuh."

"Apakah kau baru mau percaya  setelah  dia  benar- benar melakukannya?”

“Benar!"

Ujung mata Ma-ciok mulai berdenyut, ujung bibirnya ikut berdenyut, ada banyak orang akan bertampang begini di saat hendak melakukan pembunuhan.

"Apa kata sandi yang telah kalian sepakati?" tanya Lu- sam kemudian.

Biasanya kata sandi hanya terdiri dari dua huruf, asal kata sandi itu diucapkan, maka banjir darah akan melanda seluruh jalan raya itu.

Perlahan-lahan Ma-ciok berjalan mendekati jendela, ditatapnya sekejap semua orang yang sedang berlalu-lalang di jalan raya, mendadak hawa pembunuhan memancar keluar dari matanya.

Akhirnya dia mengucapkan kedua kata sandi itu, menggunakan suara yang begitu mengerikan dan menggidikkan siapa pun yang mendengar, dia berteriak, "Ikan mas!"

Mengapa Siau-hong harus melakukan perbuatan semacam ini? Mengapa harus memaksanya pergi membunuh orang, membunuh orang-orang yang tak berdosa? Apakah hal ini dikarenakan dia pun berharap orang lain ikut merasakan semua kepedihan dan penderitaan yang dialami mereka? Ingin melihat ibu, sahabat, kekasih, dan putra orang lain pun ikut tewas secara mengenaskan di tangan Lu-sam?

Terlepas karena apa dia berbuat demikian, kini perintah rahasia telah diturunkan, tiada orang lagi yang bisa menarik kembali perintah itu.

"Ikan Mas!"

Ma-ciok dengan nada menakutkan, mengulang perintah rahasia mautnya, Ikan Mas!

Suasana jalan raya di luar jendela masih tetap ramai seperti tadi, tetap dipenuhi berbagai penjual barang dan pejalan kaki.

Semua orang masih menampilkan mimik muka gembira, siapa pun tak menyangka bencana maut segera akan menimpa mereka.

Penjual kelontong masih tetap memarkirkan kereta gerobaknya di depan toko penjual kue, nenek tua berambut putih telah memutuskan akan membeli sedikit benang warna dan siap membayar.

Si nona berkepang tidak jadi membeli pupur dan minyak wangi, saat itu dia sedang berjalan masuk ke toko kue dan berbincang dengan sang pelayan muda, tak ada yang mendengar apa yang sedang dikatakan gadis itu.

Pemilik toko penjual keperluan tahun baru yang sedang murung karena lesunya usaha perdagangan tentu tidak marah lagi setelah tokonya dikunjungi si nyonya gemuk yang siap membeli barang keperluan. Si kakek penjual kacang tidak lagi ribut dengan rekannya yang lebih muda, karena orang yang membeli dagangan mereka makin banyak, semua mendapat bagian yang sama.

Si pemabuk yang berbaring di emperan rumah sudah tertidur pulas, sang pengemis yang merecoki nyonya gemuk pun kini ganti mengerubungi beberapa orang tamu yang sedang mabuk.

Orang yang mulai terpengaruh alkohol, biasanya lebih royal dalam mengeluarkan duit. Tentu saja mereka pun seperti si nyonya tua, si nyonya gemuk maupun si nona berkepang, mimpi pun mereka tak menyangka kalau sasaran yang sedang mereka hadapi sesungguhnya merupakan pembawa bencana bagi mereka.

Pada saat itulah setiap orang yang berada di sepanjang jalan raya itu mendengar suara teriakan yang menakutkan, bahkan teriak yang diulang sampai dua kali.

"Ikan mas!"

"Ikan mas". Tentu saja orang lain tak tahu kalau kedua patah kata itu merupakan perintah rahasia untuk melakukan pembantaian, tanda perintah untuk mencabut nyawa.

Tapi ada yang tahu dengan jelas, paling tidak ada empat puluh enam orang yang tahu dengan pasti.

Begitu perintah diturunkan, pedagang keliling itu telah mencabut sebilah golok dari dalam gerobak dagangannya dan siap membacok mati si nenek berambut putih yang persis berdiri di hadapannya.

Pelayan muda dari toko kue sebenarnya sedang mengawasi si nona sambil bergurau, tapi sekarang telah siap mencekiknya. Ciangkwe penjual barang keperluan tahun baru telah menyiapkan senjata maupun Am-gi dalam genggamannya, mereka punya keyakinan mampu membantai si nyonya gemuk sekalian hanya dalam dua puluh kali hitungan.

Khususnya Ciangkwe toko cita yang tadi membunyikan mercon, senjata api bahan peledaknya berasal dari perguruan Bi-lek yang amat tersohor di wilayah Kang-lam, daya ledaknya sanggup membunuh orang dalam jumlah banyak.

Si pemabuk telah melompat bangun dari emperan toko, kawanan pengemis pun sudah siap membantai para penderma yang baru saja membagikan uang receh kepada mereka.

Si dewa rezeki pun sudah siap mengirim barang bawaannya, bukan dewa rezeki melainkan malaikan elmaut.

Rombongan pemain liong serta para pemuda yang menonton keramaian di tepi jalan pun serentak telah melolos senjata masing-masing.

Setiap senjata yang tercabut merupakan senjata mematikan, setiap orang merupakan jago-jago pembunuh yang sangat terlatih.

Ma-ciok bukan saja punya otak, bahkan dia punya rasa percaya diri.

Dia yakin dan percaya, semua orang yang dipersiapkan sanggup menyelesaikan tugas masing-masing dalam dua puluh hitungan.

Sayangnya, dia pun mempunyai masalah yang sama sekali tak terduga sebelumnya. Di saat mulai menghitung angka satu, dia sudah menyaksikan satu peristiwa yang mimpi pun tak pernah diduga sebelumnya.

Dalam waktu yang teramat singkat, nenek berambut putih yang kelihatan sangat ramah itu telah menusuk buta sepasang mata pedagang keliling itu dengan jarum yang baru saja dibelinya.

Si nona yang tampak malu-malu itu mendadak tubuhnya sudah melambung ke udara sambil melancarkan tendangan ke arah tenggorokan pelayan muda di toko penjual kebutuhan tahun baru.

Si kakek dan pemuda penjual kacang goreng baru saja melolos sebilah golok Yan-leng-to serta sepasang Go-bi-ci, tahu-tahu tenggorokan mereka berdua telah dijirat orang dengan tali baja.

Sementara si dewa rezeki dan pemain liong itu tiba-tiba diterjang serombongan manusia, menanti rombongan itu lewat, mereka berdua ditemukan telah tewas dengan tenggorokan dipatahkan orang.

Kawanan pengemis ditemukan tewas di tangan tamu yang sedang mabuk, jalan darah penting di tubuh mereka terhajar beberapa biji mata uang tembaga yang sisinya telah dipoles hingga tajam.

Sebetulnya mereka memang sedang minta sedekah uang tembaga dari para penderma, tapi sekarang yang mereka peroleh justru benda yang sedang didambakan.

Mereka sebenarnya ingin merenggut nyawa orang lain, tapi sekarang nyawa mereka sendirilah yang telah direnggut orang.

Bukankah mereka telah kehilangan apa yang sebenarnya mereka kehendaki? Yang paling terkejut tentu saja Ciangpwe penjual cita dan Ciangkwe penjual kebutuhan tahun baru, senjata rahasia beracun dan senjata peledak yang mereka miliki sebenarnya merupakan kekuatan inti dalam penyerangan kali ini, tak disangka gerakan yang dilakukan nyonya gemuk sekalian ternyata sepuluh kali lipat lebih cepat dari siapa pun.

Belum lagi senjata rahasia dilancarkan, pergelangan tangan mereka telah dihancurkan orang terlebih dulu, baru tubuh mereka melambung, sepasang kakinya telah dihajar hingga kutung. Bahkan mereka sama sekali tak sempat melihat jelas bagaimana lawan melancarkan serangannya. Mendadak tubuh mereka bagaikan segumpal lumpur telah roboh terjungkal ke tanah dan tak sanggup bergerak lagi.

Nyonya gemuk yang lamban dan bergerak sangat berat mirip kuda nil itu ternyata begitu gesit, ganas, dan garang sewaktu melancarkan serangan, jauh lebih gesit daripada seekor macan tutul.

Waktu itu Ma-ciok telah menghitung sampai angka tiga belas.

Sewaktu menghitung sampai angka kelima  tadi, suaranya telah berubah jadi parau, ketika hitungannya mencapai angka tiga belas, keempat puluh tujuh orang yang berada di sepanjang jalan raya telah roboh terjungkal ke tanah, sekalipun masih hidup, mereka hanya bisa berbaring sambil merintih.

Tampaknya Lu-sam maupun Ma-ciok ikut mati kutu, mereka merasakan setiap bagian ototnya, setiap bagian ruas tulangnya seakan jadi kaku dan mati rasa.

Di antara kawanan pemabuk yang berjalan sempoyongan itu tiba-tiba melompat keluar seseorang, sambil melepas topinya, tersenyum dan memberi hormat, dia memperlihatkan wajah hitamnya yang terlalu sering tersengat sinar matahari serta sebaris giginya yang putih.

Siau-hong pun membalas hormat sambil tersenyum.

Pada saat itulah perlahan-lahan Lu-sam menghembuskan napas panjang, sambil berpaling ke arah Siau-hong tanyanya, "Siapakah orang ini?"

"Seseorang yang seharusnya sudah mati.” “Kau kenal dengan dirinya?"

"Tentu saja kenal" jawab Siau-hong, "Dia adalah sahabatku, sahabat karibku."

Sejak Gharda mempersembahkan "Hata" kepadanya, mereka sudah menjadi sahabat karib.

Kembali Lu-sam bertanya, "Jadi kau telah melihatnya tadi, tahu mereka telah membuat persiapan, maka kau sengaja memaksa Ma-ciok turun tangan?"

Siau-hong mengakui.

Dia bukan saja telah melihat kehadiran Gharda, dia pun telah menyaksikan seseorang yang lain, seseorang yang sangat dipercaya olehnya, seseorang yang banyak pengalaman dan selalu memenangkan peperangan. Begitu melihat kehadiran orang itu, dia tahu, Ma-ciok pasti akan menderita kekalahan total.

Kini orang itu telah berjalan keluar dari kerumunan orang banyak dan menuju ke dalam rumah makan, Siau- hong telah mendengar suara langkah kakinya sedang menaiki tangga, suara langkah yang lambat dan berat, seolah sengaja dilakukan agar bisa terdengar oleh Lu-sam.

Tentu saja Lu-sam maupun Ma-ciok dapat mendengar dengan jelas, bahkan jelas sekali. Hanya mereka berdua yang merencanakan pergerakan kali ini, padahal mereka telah merencanakan dan menghitung setiap hal, setiap segi secara sempurna dan  rapi.

"Siapakah orang yang datang ini?" tanya Lu-sam, "Pancapanah ataukah Po Eng?"

Jawaban Siau-hong seperti jawaban Lu-sam beberapa saat berselang, dingin dan sadis.

"Peduli siapa pun yang datang, kali ini habis sudah riwayatmu," kata Siau-hong, "Kini kau sudah habis segalanya!"

Lu-sam menatapnya lekat-lekat, mendadak tatapan matanya menampilkan perubahan yang sangat aneh, tanyanya, "Tahukah kau, siapa aku? Apakah kau benar- benar percaya kalau aku adalah Lu-sam?"

"Memangnya bukan kau?" "Bukan, bukan aku!" "Bukan? Siapa kau?"

"Dialah Lu-sam!" tiba-tiba Lu-sam mundur ke sudut ruangan dan menunjuk ke arah Ma-ciok, teriaknya, "Dialah Lu-sam yang sebenarnya, aku tak lebih hanya duplikatnya, kalian jangan salah sasaran!"

Suara langkah kaki yang sedang menaiki tangga mendadak terhenti, tubuh Ma-ciok bagaikan seekor burung alap-alap tahu-tahu sudah melejit ke udara.

Ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya memang sangat hebat, nyaris tanpa melakukan gerak persiapan apa pun, tahu-tahu badannya sudah melesat bagaikan seekor burung dan menyusup keluar jendela. Walaupun Siau-hong tahu dia akan pergi, namun tak berdaya untuk mencegahnya.

Asalkan dia sudah melesat ke tengah udara, jarang sekali orang di dunia ini yang mampu menghalanginya.

Jarang yang mampu menghalangi, bukan berarti sama sekali tak ada yang mampu menghalangi.

Mendadak terdengar suara gendewa ditarik orang, lalu terlihat cahaya emas berkelebat....

Cahaya emas yang menyilaukan mata melintas dari balik mata Siau-hong kemudian dia pun mendengar suara jeritan pilu yang menyayat hati.

Menanti pandangan matanya pulih seperti sedia kala, Ma-ciok bagaikan seekor burung gereja yang telah dipanggang terpantek di atas kayu jendela.

Tentu saja bukan bambu tusuk sate yang menancap di atas tubuhnya, bukan tusuk sate yang biasa digunakan untuk memanggang daging.

Benda yang menghujam di badannya tak lain adalah lima batang anak panah berwarna emas.

Lima batang anak panah yang tajam bagai logam,  lembut bagai tiupan angin musim semi, genit bagaikan senyuman, panas bagaikan sengatan api, tajam bagaikan ujung gurdi.

Di atas bulu anak panah terdapat perasaan pedih, di ujung panah terdapat perasaan rindu yang mendalam, sebuah bidikan yang tak pernah meleset dari sasarannya.

Inilah panah sakti panca bunga, Pancapanah lagi-lagi telah menampakkan diri. Belum pernah ada orang tahu kapan dia akan pergi, belum pernah ada pula yang tahu kapan dia akan menampakkan diri.

Panah sakti panca bunga bukan saja jauh lebih tepat sasaran dan cepat daripada apa yang dibayangkan Siau- hong, bahkan jauh lebih miseterius dan menakutkan daripada apa yang tersiar selama ini.

Tapi sayang, di saat anak panah saktinya melesat meninggalkan gendala, orang yang bernama Lu-sam telah lenyap.

Lantai rumah makan itu terbuat dari papan kayu yang kokoh dan kuat, waktu itu sebetulnya Lu-sam telah menyusup ke sudut ruangan.

Pada saat anak panah terlepas dari busurnya, tiba-tiba dasar lantai yang terbuat dari papan itu membalik ke atas dan terbukalah sebuah lubang gua.

Tubuh Lu-sam pun terjatuh ke bawah lantai. Begitu terjatuh, lantai papan itu merapat kembali.

Ternyata orang itulah Lu-sam yang sesungguhnya, sementara Ma-ciok hanya setan tumbal kematiannya.

Siau-hong sama sekali tidak tertipu olehnya, begitu juga dengan Pancapanah, tapi di saat yang teramat singkat tadi, mereka berdua harus mengalihkan perhatiannya untuk mengawasi gerak-gerik Ma-ciok.

Kesempatan yang sesaat itulah telah dimanfaatkan Lu- sam dengan sebaik-baiknya.

Andaikata panah sakti panca bunga ditujukan ke tubuhnya, belum tentu ia berhasil melarikan diri, tapi rupanya dia telah memperhitungkan dengan tepat bahwa orang yang menjadi sasaran pertama Pancapanah sudah pasti bukanlah dirinya.

Ternyata perhitungannya sangat tepat.

Paras Pancapanah bukan saja tidak berubah, mata pun sama sekali tak berkedip, sebab ia sudah memperhitungkan, Lu-sam tak bakal bisa meloloskan diri.

Empat penjuru di sekeliling rumah makan itu sudah terkepung olehnya, biarpun Lu-sam dapat lolos ke bawah loteng, bukan berarti dia dapat menembus kepungannya.

Hanya sayang, terkadang orang ada saatnya salah perhitungan.

Bagaimana pun Pancapanah bukan dewa, bukan malaikat, dia pun orang, ada kalanya dia pun salah, kali ini dia telah melakukan kesalahan.

Kawanan jago yang dipersiapkan Pancapanah untuk melakukan pengepungan di sekeliling jalan raya kali ini, kecuali Gharda, Siau-hong belum pernah bertemu dengan mereka.

Kawanan jago itu jauh lebih ganas, jauh lebih buas, jauh lebih sadis, jauh lebih pemberani, jauh lebih pandai menyamar daripada kawanan jago perang di bawah pimpinan Po Eng.

Siau-hong belum pernah berjumpa mereka, karena orang-orang itu telah dilatih secara rahasia oleh Pancapanah di suatu tempat yang sangat rahasia, dilatih jauh lebih ketat, lebih tak berperasaan, lebih bermanfaat daripada cara berlatih orang Gurkha ataupun orang Kazak.

Biarpun kawanan jago berani mati itu terdiri dari laki perempuan, tua muda, gemuk kurus, namun mereka memiliki beberapa persamaan. Patuh pada komando.

Siap berkorban demi terlaksananya tugas. Pandai memegang rahasia.

Tidak takut mati.

Mereka sebenarnya merupakan orang-orang yang seharusnya sudah mati, yang kemudian dikumpulkan Pancapanah dari berbagai daerah, setelah melewati penyaringan dan pemeriksaan yang ketat dan berlapis, pada akhirnya mereka ditampung dalam satu wadah.

Setelah melalui pendidikan yang ketat selama lima tahun, setiap jago telah berubah jadi "lebih beracun dari ular berbisa, lebih garang daripada macan kumbang, lebih licik daripada rase dan lebih kejam daripada serigala".

Baik itu tua atau muda, lelaki atau wanita, gemuk atau kurus, semuanya sama saja.

Pancapanah percaya penuh atas kemampuan dan kesetiaannya. Bila ia sudah memberikan perintah untuk tidak membiarkan seorang hidup keluar dari rumah makan itu, maka dia yakin dan percaya, biar orang itu adalah ibu kandungnya pun, jangan harap dia bisa keluar dari situ dalam keadaan hidup.

Tak seorang pun dapat keluar dari rumah makan itu. Pada hakikatnya tak ada orang yang bisa berjalan keluar dari rumah makan. Jangankan seorang, biar seekor tikus pun tak ada.

Tapi sekarang Lu-sam sudah tak berada di rumah makan itu lagi, Sejak kabur ke bawah loteng, dia seolah hilang begitu saja.

Seorang yang terdiri dari darah dan daging, mengapa bisa lenyap secara tiba-tiba? Menurut analisa Pancapanah, "Di bawah loteng pasti ada lagi sebuah lantai yang berhubungan langsung dengan lorong bawah tanah." Kali ini dugaannya tak salah.

Ooo)d*w(ooO