Elang Terbang di Dataran Luas BAB 19. RUMAH KAYU DI TENGAH GUNUNG

 
BAB 19. RUMAH KAYU DI TENGAH GUNUNG

"Waktu itu api telah padam, aku datang untuk memberesi puing bekas kebakaran."

Sepasang tangan Yang-kong mulai gemetar karena emosi, lewat lama kemudian ia baru bertanya, "Apa yang telah kau temukan?"

A-so tidak langsung menjawab, dia termenung cukup lama, hingga gejolak emosinya mereda baru menjawab.

"Bisa lolos atau tidak dari sebuah bencana kebakaran, tergantung apa kata takdir, sewaktu sampai di sini aku tidak menemukan apa-apa, semuanya telah ludas, telah habis terbakar, yang kutemukan hanya sedikit abu tulang."

Yang ia temukan bukan hanya "sedikit" abu tulang, ia berhasil mengumpulkan tiga belas kaleng abu tulang.

"Abu tulang?" Yang-kong berusaha mengendalikan diri, "Abu tulang siapa?"

"Abu tulang siapa? Abu tulang siapa...?”

"Di tempat ini pun terdapat orang-orang dari sukuku, temanku, selama tiga hari ini siang malam aku selalu berusaha mencari, aku pun ingin tahu abu tulang siapa mereka itu, sayang tulang-belulang setiap orang telah menjadi abu, siapa pula yang bisa mengenalinya lagi?"

"Setiap orang?" tanya Yang-kong, "Apa yang kau maksud dengan setiap orang?"

A-so menghela napas panjang, dengan sedih ia membungkam. Yang-kong menarik ujung jubahnya kuat-kuat, serunya, "Tahukah kau, sebelumnya ada berapa banyak orang di tempat ini? Tadi kau mengatakan setiap orang, apakah maksudmu mereka telah. ”

Tiba-tiba suaranya terhenti setengah jalan, agaknya dia sendiri pun telah dibuat terkesiap oleh pikirannya itu.

"Tidak mungkin, pasti tidak mungkin," dia berseru sambil melepas genggaman, "Pasti masih ada orang hidup di sini, pasti masih ada. Asal kau dapat menemukan seorang saja, maka dapat kau ketahui ke mana perginya yang lain."

A-so hanya terbungkam sambil menggeleng. "Masa seorang pun tak berhasil kau temukan?"

"Tidak! Seorang hidup pun tak berhasil kutemukan," A- so menggeleng.

Setelah tarik napas pelan-pelan terusnya, "Malam ketika terjadi kebakaran, tak seorang pun yang tahu apa yang telah terjadi di tempat ini, siapa yang melepaskan api dan siapa saja yang terbunuh. Ai. ! mungkin selamanya tak ada yang

bisa bercerita keadaan yang sesungguhnya."

"Tak ada yang bisa menceritakan keadaan sesungguhnya?" lambat-laun Yang-kong mulai hilang kendali, "Apakah kau masih belum dapat menebak siapa pembunuhnya?"

"Apakah kau tahu siapa pembunuhnya?"

"Tentu saja tahu," Yang-kong mengepal tinju kencang- kencang, "Wi Thian-bong, Oh-tayciangkwe, Hong-siu, Gwe-bo, Im-leng. Mereka adalah pembunuhnya."

"Jadi kau anggap hanya mengandalkan beberapa orang itu, Po Eng, Cu Im, Gan tin-kong, Song-lohucu, serta ratusan orang pejuang yang berada di sini berhasil ditumpas dalam semalaman saja, bahkan tak tertinggal seorang hidup pun?"

A-so segera menjawab sendiri pertanyaan itu, "Kalau hanya mengandalkan beberapa orang itu saja aku rasa tak mungkin mampu."

"Jadi menurutmu masih ada siapa lagi?" "Masih ada musuh dalam selimut."

"Musuh dalam selimut?" tanya Yang-kong, "Maksudmu di sini pun sudah tersusup mata-mata musuh?"

"Kalian dapat mengirim mata-mata untuk menyusup ke dalam organisasi mereka, memangnya mereka tak sanggup melakukan hal yang sama?"

Yang-kong termenung, lewat lama kemudian ia baru bertanya lagi secara tiba-tiba, "Bagaimana dengan Pova?"

"Malam itu Pova pun ikut datang kemari," sahut A-so, "Dia bersikeras ingin bertemu dengan Po Eng.”

“Sewaktu terjadi kebakaran, apakah dia masih berada di sini?”

“Benar."

"Sekarang di mana dia? Sudah mati atau masih hidup?" Tak seorang pun dapat menjawab pertanyaan ini. Maka

A-so balik bertanya, "Apakah kau curiga dia telah menjadi mata-mata pihak lawan?"

Yang-kong menolak untuk menjawab pertanyaan ini, tapi sikapnya sudah menjelaskan semuanya.

Selama ini dia memang tak pernah percaya kepada Pova! Antara wanita dengan wanita lain selalu timbul naluri untuk bermusuhan, jarang sekali ada perempuan yang mau percaya seratus persen perempuan lain, khususnya di antara perempuan-perempuan cantik, sifat semacam ini semakin kentara.

"Kali ini kau keliru," tukas A-so cepat, "Mata-matanya bukan Pova."

"Kenapa kau begitu yakin?"

"Karena A-so sangsi sejenak, sampai lama kemudian ia baru membulatkan tekad untuk bicara, "Karena tanpa sengaja aku telah menemukan sebuah rahasia."

"Rahasia apa?"

"Rahasia tentang hubungan segitiga antara Po Eng, Pancapanah, dan Pova. Mengetahui asal-usul mereka dan A-so tidak menyelesaikan perkataannya.

Parasnya yang serius dan berat, tiba-tiba muncul senyuman gembira yang amat misterius, tiba-tiba ia menjatuhkan diri berlutut, begitu berlutut badannya tak pernah bisa bergerak lagi.

Mengapa si Roh gentayangan tidak membiarkan dia membocorkan rahasia itu?

Rahasia tentang hubungan segitiga antara Po Eng, Pancapanah, dan Pova sebenarnya mempunyai sangkut- paut macam apa dengan si Roh gentayangan?

Tiba-tiba Yang-kong menarik tangan Siau-hong.

"Mari kita pergi," katanya, "Kita pergi mencari Po Eng." "Kau mampu menemukan dirinya?" "Selama dia belum mati, aku pasti dapat menemukannya," jawab Yang-kong penuh percaya diri, "Dia pasti belum mati."

"Bila dia belum mati, mengapa semua persoalan di sini ditinggalkan begitu saja? Mengapa dia pergi tanpa bertanggung jawab?" tanya Siau-hong.

"Kalau situasi tidak menguntungkan, apakah seorang ksatria harus bunuh diri?" sahut Yang-kong, "Bilamana keadaan mendesak, persoalan apa pun dapat diabaikan, semua masalah apa pun dapat dikorbankan."

Setelah berhenti sejenak, perlahan-lahan lanjutnya, "Karena dia harus tetap hidup, bagaimana pun susahnya bagaimana pun menderitanya, dia harus tetap hidup, karena di samping harus membangun kembali negaranya, dia pun harus memusnahkan musuh-musuhnya, oleh karena itu dia tak boleh pergi... tak boleh mati!"

Ditatapnya Siau-hong sekejap, kemudian terusnya, "Kau seharusnya mengerti, terkadang mati lebih gampang daripada hidup, walaupun ada sementara orang lebih suka memilih jalan yang lebih mudah, mati dan semua urusan selesai, namun dia bukan termasuk jenis manusia semacam ini."

"Benar dan aku mengerti," tiba-tiba Siau-hong mendapatkan kembali rasa percaya dirinya, "Dia pasti masih hidup, pasti belum mati!"

Ooo)d*w(ooO

Di tengah gunung, di tepi air, jauh di balik pepohonan yang hijau dan lebat, berdiri sebuah bangunan rumah kayu yang kecil. Ketika kau sedang murung dan sedih, lelah karena harus berjuang mempertahankan hidup, di saat pulang dari medan laga, membawa seseorang yang kau cintai dan gadis itu pun mencintaimu, lalu memasuki rumah kayu itu dan dia melakukan apa yang kau sukai, kau senangi, saat seperti itu tentu sangat membahagiakan.

Bila kau memiliki rumah kayu seperti ini, bila kau mempunyai gadis semacam ini, dapat dipastikan kau tak akan senang diganggu orang lain.

Oleh sebab itu di saat kau menjumpai bahaya, bisa jadi  di tempat inilah dirimu bersembunyi.

Po Eng mempunyai juga sebuah rumah kayu seperti ini, berada di tengah gunung, di tepi air, di balik pepohonan yang hijau dan lebat. Yang-kong adalah gadis kesayangannya.

Inilah rahasia di antara mereka berdua, sebetulnya hanya mereka berdua yang tahu, tapi sekarang ia telah mengajak Siau-hong datang ke sana.

Dalam rumah kayu itu terdapat empat buah jendela yang amat besar dan sebuah anglo kecil.

Bila di musim panas, mereka akan membuka lebar semua jendela, membiarkan angin gunung yang melewati mata air berhembus masuk, membiarkan angin yang membawa harum bunga menyelimuti seluruh ruangan.

Bila musim dingin tiba, mereka akan membuat api unggun dengan memakai tungku kecil itu, di atas tungku diterapkan sebuah kuali kecil, lalu sambil menghangatkan arak, duduk dengan tenang menyaksikan jilatan bara api.

Inilah dunia mereka, dunia yang sangat tenang. "Bila Po Eng masih hidup, dia pasti akan datang kemari," ujar Yang-kong, "Dia tentu tahu kalau aku bakal mencarinya di sini."

Ternyata Po Eng tidak datang. Pintu rumah pun tidak dikunci.

Kecuali mereka berdua, tak ada orang ketiga yang mengetahui tempat itu, jadi pintu memang tak perlu dikunci.

Yang-kong membuka pintu, dengan cepat parasnya berubah jadi pucat-pias.

Rumah yang kosong, rumah yang penuh kenangan, rumah dengan penuh kerisauan... mengapa ia tak datang?

Tiba-tiba sekujur badan nona itu gemetar keras, parasnya telah berubah jadi pucat-pias tiba-tiba timbul warna merah yang aneh.

Tubuhnya gemetar begitu menakutkan, begitu menyeramkan, wajahnya memerah dengan begitu aneh, begitu mengherankan.

Apa yang telah dia saksikan? Tidak, ia tidak melihat apa- apa.

Di bawah jendela terdapat meja kecil, sepasang matanya menatap lekat meja kecil itu, tapi... tak ada sesuatu di atas meja itu.

Siapa pun itu orangnya, wajah mereka tak akan menunjukkan perubahan yang begitu aneh ketika melihat sebuah meja yang kosong.

Tapi apa sebabnya secara tiba-tiba dia berubah jadi begitu gembira? Begitu meluap emosinya? Apakah dia dapat melihat barang yang tak terlihat orang lain?

Tak tahan Siau-hong pun bertanya kepadanya, sekuat tenaga Yang-kong menggigit bibir sendiri, sampai lama sekali dia baru buka suara.

"Dia tidak mati, ia pernah datang kemari.” “Dari mana kau bisa tahu?"

"Sebenarnya di atas meja ini terdapat sebuah boneka tanah liat, dialah yang membawa boneka tanah liat itu dari kota Bu-si," Yang-kong berkata perlahan, "Selama ini dia selalu menganggap boneka itu mirip dengan aku."

Akhirnya Siau-hong mengerti, "Jadi sewaktu kalian pergi dari sini terakhir kali, boneka itu masih berada di atas meja?"

Yang-kong manggut-manggut.

"Aku masih ingat dengan sangat jelas, tak mungkin bakal salah. Bahkan aku sempat menciumnya sesaat sebelum kami tinggalkan tempat ini."

"Kemudian apakah kalian pernah kemari lagi?” “Tidak."

"Kecuali kalian berdua, apakah masih ada orang lain yang bisa sampai di sini?" kembali Siau-hong bertanya.

"Tidak ada, sama sekali tak ada."

"Oleh sebab itu kau mengira Po Eng pasti pernah datang kemari, dialah yang telah membawa boneka tanah liat itu?”

“Pasti dia."

Suaranya telah berubah jadi sesenggukan, ada banyak persoalan sebenarnya ingin dia tanyakan, namun dia pun tak berani bertanya, karena ia tahu persoalan-persoalan itu pasti akan melukai hatinya.

Jika Po Eng telah datang, mengapa pula dia pergi lagi? Mengapa tidak tetap tinggal di sana menanti kedatangannya? Mengapa dia sama sekali tidak meninggalkan kabar berita?

Padahal sekalipun dia ajukan pertanyaan itu pun belum tentu Siau-hong mampu menjawabnya.

Dia tidak menanyakan persoalan-persoalan itu, sebaliknya ada orang lain yang telah menjawabkan pertanyaannya, menjawab dengan menggunakan cara yang sangat aneh, sangat mengejutkan dan sangat menakutkan.

Pada awalnya mereka hanya mendengar suara ketukan di atas atap rumah, menyusul dari delapan penjuru bangunan rumah kecil itu berkumandang suara yang sama.

"Tuk, tuk, tuk", suara itu bergema berulang kali, seakan- akan ada pemburu bodoh yang menjadikan rumah kayu itu sebagai target panahnya, seakan dia telah menganggap rumah kayu itu sebagai binatang buruan, yang ingin memanahnya hingga mati.

Tentu saja rumah kayu tak bakal mati, di kolong langit pun tak akan ada seorang pemburu segoblok itu.

Lalu apa yang telah terjadi?

Dengan cepat mereka pun jadi paham apa yang telah terjadi.

Dalam waktu sekejap tiba-tiba rumah papan itu beterbangan ke udara, setiap lembar papan yang ada pada dinding rumah itu tiba-tiba terlepas dari tempatnya dan melayang di angkasa. Rupanya setiap lembar papan rumah itu sudah tergaet oleh sebuah kaitan baja, kaitan baja itu dihubungkan dengan seutas tali yang panjang.

Mereka hanya menyaksikan tali berkait itu dengan membawa lembaran papan kayu beterbangan di angkasa, dalam waktu singkat semuanya lenyap tak berbekas.

Rumah kayu itu pun ikut lenyap.

Meja kecil masih berada di tempat semula, tungku api yang kecil itu pun masih berada di tempat semula.

Setiap benda yang berada dalam rumah kayu itu masih tetap utuh, masih tetap berada di posisi semula, namun rumah kayu itu sudah lenyap.

Tempat itu berada di atas gunung, di dalam sebuah hutan yang lebat, di balik gunung yang paling tinggi.

Tapi... dengan munculnya tali berkait yang terbang kian kemari, rumah kayu itu pun ikut lenyap.

Gunung nan biru masih seperti semula, hutan pun masih tumbuh lebat dan rapat, angin masih berhembus, bau harum semerbak bunga pun terendus dengan berlalunya angin.

Walaupun saat itu masih terang tanah, tiada cahaya matahari yang dapat menembusi hutan purba yang lebat, sepanjang mata memandang hanya lapisan hijau yang menyelimuti jagat.

Kecuali tanah hijau dan mereka berdua, di jagat raya ini seolah sudah tak ada yang lain.

Tak ada orang lain, tak ada suara lain.

Yang-kong menatap Siau-hong, Siau-hong pun menatapnya, hanya ada mereka berdua, dua orang dengan tangan kaki yang telah dingin bagaikan es. Karena mereka tahu, walaupun saat ini mereka tak melihat siapa pun, tak mendengar suara apa pun, namun di belakang setiap pohon, di balik setiap kegelapan, semuanya telah diselimuti hawa pembunuhan yang tak terlihat maupun terdengar.

Tak mungkin tali berkait itu terbang datang lalu terbang pergi tanpa sebab, tak mungkin rumah kayu itu terbang melayang tanpa alasan.

Musuh tangguh mereka telah datang, datang mengikuti mereka, di Lhasa, di bekas puing kebakaran, mereka sudah dikuntit, sudah diikuti terus secara diam-diam.

Seandainya Po Eng tidak pergi, tentu saja sekarang sudah terjatuh ke dalam cengkeraman orang-orang ini.

Karena itulah Po Eng telah pergi, bahkan sama sekali tidak meninggalkan sedikit kabar pun.

Rupanya dia sudah menduga, cepat atau lambat Yang- kong pasti akan datang mencarinya, dia pun telah menduga musuh besarnya tentu akan datang mengikut di belakangnya.

Musuh tangguh mengawasi dari sekeliling sana, hawa pembunuhan menyelimuti empat penjuru.

Apa yang harus mereka lakukan sekarang?

Yang-kong mengawasi Siau-hong, Siau-hong pun mengawasi gadis itu, ternyata mereka berdua sama-sama tertawa, seolah tak pernah terjadi apa pun di sana.

Rumah kayu itu masih berada di tempat semula. "Tempat ini sungguh indah," ujar Siau-hong sambil

tertawa, "Kau seharusnya mengajakku kemari sejak dulu."

"Sudah kuduga, kau pasti menyukai tempat ini." Siau-hong mencari bangku dan duduk, tiba-tiba ujarnya, "Aku berani bertaruh denganmu."

"Taruhan apa?"

"Aku berani bertaruh, di sini pasti ada arak.” “Kau menang taruhan."

Tertawa Yang-kong benar-benar sangat cerah dan gembira, dari dalam kari dia mengeluarkan sebotol arak dan dua buah cawan.

Ia duduk persis berhadapan dengan Siau-hong, ketika Siau-hong membuka penutup guci arak itu, dia pun menarik napas dalam-dalam.

"Arak bagus!" puji Siau-hong.

Dia menuang dua cawan, secawan untuk sendiri dan secawan lagi untuk Yang-kong.

"Aku menghormati secawan untukmu," katanya sambil angkat cawan, "Semoga kau panjang umur dan sukses dalam semua persoalan."

"Aku pun menghormati kau dengan secawan arak," balas Yang-kong, "Semoga semua keinginanmu pun terwujud."

Mereka bersama-sama angkat cawan.

Tapi sebelum mereka berdua sempat meneguk isi cawan itu, tiba-tiba terdengar desingan angin menembus udara, "Triinggg!", tahu-tahu kedua cawan itu sudah hancur berserakan.

Kedua cawan itu tertimpuk hancur oleh dua biji mata uang, mata uang itu berasal dari balik kerumunan semak, berjarak paling sedikit belasan kaki dari tempat mereka duduk. Menggunakan sebiji mata uang untuk menghancurkan sebuah cawan arak mungkin tidak terlalu sulit, kalau ingin menghancurkan sebuah cawan arak dengan sebiji mata uang dari jarak belasan kaki, persoalan jadi lain.

Tapi baik Yang-kong maupun Siau-hong seolah sama sekali tak menganggap kejadian ini sebagai sesuatu yang luar biasa.

Ternyata mereka berdua sama sekali tidak memberikan reaksi, seakan-akan dalam genggaman mereka pada hahikatnya tak pernah memegang cawan, seolah pula cawan arak yang berada dalam genggamannya sama sekali tidak ditimpuk hancur.

Bila saat ini ada orang sedang mengawasi mereka, orang itu pasti akan mengira mereka berdua sebagai orang goblok.

Waktu itu tentu saja ada orang sedang mengawasi mereka, di balik hutan lebat di sekeliling bangunan rumah itu penuh dengan manusia yang berjaga-jaga.

Anehnya, walaupun mereka telah membongkar rumah kayu itu, menimpuk hancur cawan arak, namun tidak ditindak lanjuti dengan aksi lainnya.

Kalau dibilang Yang-kong dan Siau-hong sedang bermain sandiwara, mereka sedang menonton sandiwara.

Apakah kedatangan orang-orang itu hanya khusus untuk menonton sandiwara?

Langit lambat-laun makin gelap.

Siau-hong berdiri, berputar dua lingkaran dalam ruang rumah yang kini sudah tanpa dinding kayu itu, tiba-tiba ujarnya, "Udara hari ini sangat bagus."

"Benar, sangat bagus."

"Kau ingin pergi berjalan-jalan?" tanya Siau-hong lagi. Yang-kong menatapnya, sampai lama sekali, kemudian baru menggeleng perlahan.

"Tidak, aku tak ingin pergi," sahutnya, "Pergilah, aku menantimu di sini!"

"Baik, aku akan pergi seorang diri," Siau-hong segera memberi jaminan, "Dalam waktu singkat, aku akan kembali."

Biarpun dinding kayu di sekeliling tempat itu sudah lenyap, dia tetap berjalan keluar melalui bekas di mana letak pintu rumah itu.

Ia berjalan sangat lambat, gerak-geriknya santai, gayanya seperti seseorang yang baru kenyang bersantap dan kini hendak berjalan santai untuk menurunkan makanan dalam lambungnya.

Bangunan kayu itu dibangun pada sebuah tanah lapang di tengah hutan belukar. Baru saja ia tiba di tepi hutan, mendadak berkelebat sesosok bayangan manusia dari belakang pohon sambil membentak nyaring, "Kembali!"

Di tengah bentakan itu, terlihat dua belas titik cahaya bintang menyambar datang, yang diarah bukan jalan darah di tubuh Siau-hong, bukan pula bagian tubuh yang mematikan, semua senjata rahasia itu diarahkan persis di depan jalan perginya hingga menyumbat jalanan itu.

Tiga titik cahaya bintang yang datang mengarah wajahnya melesat tiba paling cepat, Siau-hong tak bisa maju, tak bisa pula berkelit ke kiri atau kanan, terpaksa mengikuti datangnya sambaran ketiga batang Am-gi yang mengarah wajahnya itu, dia mundur.

Akhirnya pemuda itu mundur kembali ke depan bangku di mana semula ia duduk. Baru saja tubuhnya berduduk, ketiga batang senjata rahasia itu pun ikut rontok dan jatuh persis di hadapannya, kali ini bukan mata uang tembaga yang digunakan untuk menghancurkan cawan tadi melainkan tiga biji teratai besi yang bermata tajam.

Thi-lian-cu atau Teratai besi sebetulnya merupakan senjata rahasia yang sangat umum, tapi cara orang ini melepaskan Am-gi jauh berbeda dengan ilmu pada umumnya, bukan saja hebat bahkan penggunaan tenaganya sangat tepat.

Yang-kong memandang Siau-hong sekejap, walaupun parasnya tidak menunjukkan perubahan apa pun, namun sorot matanya sudah mencerminkan perasaan kuatir bercampur takut.

Sekarang siapa pun dapat melihat bahwa jagoan yang datang kali ini hampir semuanya merupakan jago-jago kelas wahid.

Terdengar Siau-hong bertanya lagi kepada Yang-kong sambil tertawa, "Kau tidak merasa aku pulang kelewat cepat?"

"Betul, memang kelewat cepat," ternyata Yang-kong menjawab sambil tertawa pula.

Belum habis perkataan itu diucapkan, Siau-hong telah melambung kembali dari bangkunya, dengan ujung kaki menutul tanah, memakai gerakan Yan-cu-sam-cau-sui (Burung walet mengayuh air), secepat sambaran kilat tubuhnya meluncur ke arah hutan sebelah lain.

Baru saja tubuhnya memasuki hutan, mendadak terdengar bentakan nyaring berkumandang dari balik kegelapan, diiringi kilatan cahaya pedang terdengar seseorang membentak, "Jalan ini pun tidak tembus, lebih baik kau kembali!"

Begitu selesai perkataan itu diucapkan, tubuh Siau-hong yang sudah menerobos masuk ke dalam hutan tahu-tahu mencelat kembali keluar, setelah berjumpalitan tiga kali, ia terjatuh kembali dari tengah udara dan turun persis di dalam rumah kayu itu, bahkan duduk kembali di bangku yang ditempatinya tadi.

Bukan saja pakaiannya telah robek dua tempat, setelah duduk sampai lama pun napasnya masih tersengal-sengal.

Tak dapat disangkal lagi orang yang bersembunyi di dalam pepohonan itu adalah jago berilmu tinggi.

Anehnya, walaupun ia berhasil memukul mundur Siau- hong, namun tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk mengejar.

Asalkan Siau-hong sudah balik kembali ke dalam rumah kayu, serangan mereka pun segera dihentikan, tampaknya tujuan mereka tak lebih hanya memaksa Siau-hong tetap tinggal di dalam rumah dan tidak berniat mencabut nyawanya.

Siapa saja yang telah datang? Apa tujuan mereka? Langit semakin gelap.

Siau-hong dan Yang-kong masih duduk saling berhadapan, orang-orang di dalam hutan sudah tak dapat melihat perubahan mimik muka mereka lagi.

Tapi mereka berdua tahu, paras mereka saat ini pasti tak sedap dipandang.

Tiba-tiba Yang-kong menghela napas. "Waktu sudah semakin larut, satu hari lewat dengan begitu cepatnya" lalu tanyanya kepada Siau-hong, "Kau masih ingin keluar dari sini?"

Siau-hong menggeleng. Yang-kong bangkit. "Kalau begitu lebih baik kita tidur lebih awal!”

“Baik, kau tidur di ranjang, aku tidur di lantai." Kembali Yang-kong menatapnya sangat lama. "Aku tidur di ranjang, kau pun tidur di ranjang." Ucapannya amat tegas bahkan langsung berjalan mendekat dan menarik Siau-hong dari bangkunya.

Tangannya terasa dingin membeku, bahkan gemetar keras.

Dia adalah calon istri sahabat karibnya, dari balik kegelapan entah ada berapa banyak pasang mata sedang mengawasi mereka, seandainya orang lain, dia pasti akan menghindar, pasti akan bersikeras memaksanya untuk tidur di lantai.

Tapi Siau-hong bukan orang lain, Siau-hong tetap Siau- hong.

"Baiklah," sahutnya, "Kau tidur di ranjang, aku pun tidur di ranjang."

Di dalam rumah kayu itu hanya terdapat sebuah ranjang, sebuah ranjang yang sangat besar, ketika membaringkan diri, sikap mereka seolah tak pernah terjadi apa pun di sana, seolah mereka masih berada dalam rumah kayu yang hangat, di mana daun jendela terbuka lebar, dimana tak ada orang yang datang mengganggu.

Namun dalam hati kecil mereka berdua tahu dengan jelas, situasi kini telah berubah, setiap saat nyawa mereka mungkin akan hancur bagaikan cawan arak, bisa hidup sampai kapan pun mereka sendiri tak tahu.

Yang-kong membungkus tubuhnya di balik selimut yang terbuat dari kain kasar, tubuh mereka terpisah cukup jauh, namun kepala mereka berada sangat dekat, karena mereka tahu pihak lawan tentu ada banyak perkataan yang hendak dibicarakan.

Yang-kong yang buka suara lebih dulu, sambil merendahkan suaranya ia bertanya kepada Siau-hong, "Kau terluka?"

"Tidak," bisik Siau-hong di sisi telinganya, "Karena mereka memang tidak bermaksud mencabut nyawaku."

"Bila mereka berniat begitu?"

"Maka sekarang aku sudah menjadi seorang yang mati."

Siau-hong belum pernah putus asa, tapi setelah dia berkata demikian sekarang, berarti mereka berdua memang sudah tak punya kesempatan lagi.

Yang-kong tertawa paksa.

"Bagaimana pun juga sementara waktu mereka toh tak akan turun tangan, apa salahnya kalau kita tidur sejenak.”

“Kita tak boleh tidur.” “Kenapa?"

"Karena kita tak boleh tetap tinggal di sini," jawab Siau- hong, "Sama sekali tak boleh.”

“Kau ingin menerjang keluar?"

"Kita harus bersama-sama menerjang keluar." "Bukankah sudah kau coba?" ujar Yang-kong, "Kau

sendiri pun tahu kalau kesempatan buat kita tak banyak." "Benar, jangankan seratus persen, sepuluh persen kesempatan pun tak ada!"

"Lantas, apakah kita harus mengantar kematian?” “Sekalipun bakal mati, kita tetap harus menerjang

keluar." Kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya, "Sekalipun harus mati, kita tak boleh mati di sini.”

“Kenapa?"

"Karena kita tak boleh menyusahkan Po Eng." Ucapan Siau-hong pun sangat kukuh dan tegas.

"Kemungkinan besar dia masih berada di sekitar sini, orang-orang itu enggan turun tangan, mereka pun tidak melepaskan kita pergi, tujuannya adalah hendak memperalat kita untuk menjebak Po Eng. Seandainya Po Eng berada di sekitar sini, apakah dia akan berpeluk tangan membiarkan kita terkurung sampai mati di sini?"

Yang-kong termenung, lewat lama kemudian baru menghela napas.

"Tak mungkin!"

"Dapatkah kita biarkan dia datang kemari?" sambil menatapnya tajam, Siau-hong bertanya.

Kembali Yang-kong termenung.

Pertanyaan semacam ini pada hakikatnya tak perlu dijawab. Dia menatap Siau-hong, air mata telah mengembeng dalam kelopak matanya.

Dia tak nanti akan bersedih demi diri sendiri, tapi demi seseorang ia rela mati daripada membiarkan sahabatnya celaka, perasaan gadis ini benar-benar hancur.

Siau-hong tak boleh mati, sama sekali tak boleh. Tapi bagaimana dengan Po Eng?

Yang-kong memejamkan mata, lewat lama, lama sekali, mendadak dia mengulurkan tangan memeluk Siau-hong erat-erat.

"Bila kau bertekad akan berbuat begitu, mari kita lakukan,"

katanya, "Peduli kemana kau akan pergi, aku akan selalu mengikutimu. Biarpun kau pergi ke neraka pun, aku akan ikut ke neraka." Malam semakin kelam.

Siau-hong berbaring dengan tenang, membiarkan Yang- kong memeluk erat tubuhnya.

Dia tidak bergerak, tidak merasa bersalah, karena dia cukup memahami perasaan Yang-kong, memahami juga diri sendiri. Walaupun mereka sedang berpelukan, namun yang mereka pikirkan di dalam hati adalah orang lain.

Seseorang yang setiap saat bisa mati karena mereka, orang yang bisa membuat mereka mati untuknya.

Po Eng, di mana kau? Tahukah kau bagaimana perasaan kami terhadapmu?

Mendadak terlihat sesosok bayangan manusia muncul dari balik kegelapan, melambung sepuluh tombak di udara, lalu jatuh kembali ke tanah.

"Blam!", tahu-tahu orang itu jatuh di dalam rumah kayu yang sudah tak utuh, jatuh persis di pinggir ranjang mereka, begitu terjatuh dia tak bergerak lagi.

Siapakah orang itu? Mau apa datang kemari? Apakah orang-orang itu sudah memutuskan untuk tidak menunggu lagi, memutuskan untuk turun tangan terhadap mereka?

Yang-kong menatap Siau-hong. "Kelihatannya kita kedatangan tamu." "Rasanya memang begitu."

"Bagaimana kalau tak usah kita gubris?" Yang-kong sengaja bertanya kepada Siau-hong.

"Kenapa tak usah digubris?"

"Dia datang tanpa mengetuk pintu, langsung menerobos masuk ke dalam rumah, sedikit pun tak tahu sopan-santun, kenapa kita mesti menggubris manusia tak sopan semacam ini?"

Siau-hong tertawa.

Di saat dia tertawa itulah Yang-kong telah melepas rangkulannya, pemuda itu pun melejit ke udara, siap menyerang dari atas.

Tapi dia urung turun tangan karena keburu telah melihat jelas orang itu.

Rumah ini memang tak berpintu, andai berpintu pun tak mungkin orang ini akan mengetuk pintu.

Mana ada orang mati bisa mengetuk pintu?

Batok kepala orang ini sudah terkulai, tergantung di atas tengkuk, seperti bocah nakal yang mematahkan tengkuk boneka tanah liat.

Biarpun di tempat itu tak berlentera, tak ada cahaya rembulan, sekilas Siau-hong masih dapat mengenali kalau dia adalah orang mati.

Siapa yang telah mematahkan tulang tengkuknya?

Mengapa mayatnya dibuang kemari?

Tiba-tiba Siau-hong merasakan jantungnya berdebar keras, dia telah teringat akan seseorang. Ooo)d*w(ooO