Elang Terbang di Dataran Luas BAB 18. OH-TAYCIANGKWE

 
BAB 18. OH-TAYCIANGKWE

"Masih ada sebuah mestika lagi, tanpa kau sebut pun aku dapat menebaknya," kata Im-toasiocia sambil tertawa, "Benda mestika yang paling berharga dari Sam-po-tong tentunya adalah dirimu sendiri, bukan?"

Oh-tayciangkwe tertawa tergelak.

"Hahaha, betul, tepat sekali, kalau aku bukan mestika, masa tak bisa mati keracunan?" "Justru karena orang persilatan mengatakan kau tak bisa mati diracun, maka aku jadi ingin menjajal kemampuanmu."

"Bukankah sekarang telah kau coba?" kata Oh- tayciangkwe, "Rasanya sudah seharusnya tiba giliranku menjajal kemampuanmu."

"Menjajal apa? Bagaimana menjajalnya?"

"Mencoba apakah kau mampu menghindari sambitan senjata rahasia Hong-hong-tian-ci!"

Walaupun senyuman masih menghiasi wajahnya, namun hawa napsu membunuh telah terpancar dari balik matanya.

Biarpun ia belum bergerak, namun punggung tangannya telah muncul otot otot hijau yang menonjol.

Berputar sepasang biji mata Im-toasiocia, tiba-tiba ujarnya, "Kau benar-benar percaya kalau aku adalah Roh gentayangan? Mengapa kau tidak bertanya dulu kepadaku, siapa orang yang telah kau gantung itu?"

Oh-tayciangkwe menatap tajam wajah nona itu, jangankan bergerak, berkedip pun tidak, dia seolah telah mengambil keputusan, tak akan berpaling untuk menengok ke arah manusia kristal.

Dia tak perlu cabangkan pikiran lagi demi seseorang yang sudah terperangkap di dalam jaringnya, peduli siapa pun orang itu karena hasilnya sama saja.

Walau begitu, tak urung ia bertanya juga, "Siapakah orang ini?"

"Padahal dia belum terhitung sebagai orang," jawab Im- toasiocia, "Karena dia tak lebih hanya sebuah botol.”

“Botol? Botol apa?" "Botol untuk menyimpan racun, beragam racun ada di dalam tubuhnya."

Kemudian setelah berhenti sejenak, Im-toasiocia menambahkan, "Oleh sebab itu asal kau berani menggerakkan tanganmu, berarti ajalmu segera akan tiba!"

"Ajalku segera tiba? Siapa yang akan mati?" "Kau! Tentu saja kau."

Dengan lembut Im-toasiocia menambahkan, "Asal dia meniupkan udara ke arah tubuhmu, maka kau bakal segera mampus." Oh Tayciangkwe tertawa tergelak.

"Perkataan apa pun yang kau ucapkan, tak bakal aku tertipu."

Kemudian setelah tertawa keras, tambahnya, "Biarpun tampangku mirip seekor babi, padahal aku lebih licik daripada seekor rase tua."

"Asal kau berani menggerakkan tanganmu, kau segera akan menjadi seekor rase mampus."

Tiba-tiba Oh-tayciangkwe menghentikan gelak tertawanya.

Yang berbicara kali ini bukan Im-toasiocia, tentu saja bukan pula dirinya, orang yang berbicara berada di belakang tubuhnya, hanya selisih jarak tiga jengkal darinya.

Tiba-tiba dia melejit ke udara dan berjumlatan, seketika itu juga dijumpai orang yang semula tergantung dalam jaring, kini sudah berada dalam jalanya lagi.

Di saat dia bertekad tak akan tertipu oleh akal muslihat nona kecil itu dan tidak berpaling untuk memecah perhatian, si manusia kristal telah meloloskan diri dari dalam jaringnya dan berdiri di belakang tubuhnya, bahkan jala mestikanya kini telah berada di tangan orang ini. Akhirnya Oh-tayciangkwe tetap tertipu.

Orang ini bukan manusia kristal, meski bukan manusia, dia pun bukan botol.

Rupanya tingkah-polah nona kecil dengan tertawa, menyanyi dan berbincang tak lain bertujuan agar rekannya bisa meloloskan diri dari dalam jala.

Bila di kolong langit hanya ada dua orang yang dapat meloloskan diri dari jala peraknya, maka orang itu adalah salah satu di antaranya.

Bila di kolong langit hanya ada satu orang yang dapat meloloskan diri dari jala peraknya, maka dialah satu- satunya orang itu.

Orang ini bukan saja tembus pandang, bahkan seolah tak memiliki tulang-belulang, walau sekerat pun.

Suara tawa nona kecil berkepang itu makin merdu, makin manis.

"Sekarang kau tentu sudah tahu siapakah si Roh gentayangan yang sebenarnya, bukan? Tapi sayang saat ini sudah terlambat."

"Memang sedikit terlambat," sahut Oh-tayciangkwe sambil melompat naik ke atas pohon kering, "Untung belum terlalu terlambat, asal aku belum mati berarti segalanya belum terlambat! Sekalipun aku harus mati, kalian harus menemani aku!"

Sepasang tangannya telah direntangkan bagaikan burung Hong pentang sayap.

"Sekalipun aku harus masuk neraka, kalian pun harus menemani aku!"

Seperti senjata rahasia ampuh yang konon pernah beredar dalam dunia persilatan, seperti senjata rahasia Hui- hun-ngo-hoa-jin (Kain lima warna terbang bagai awan), Khong-ciok-leng (Bulu merak), Thian-coat-te-beng-jin-bong, bu-cing-toh-bing-sam-cay-teng (Tiga paku tanpa perasaan pencabut nyawa, langit musnah, manusia lenyap), orang persilatan pun belum pernah ada yang tahu senjata rahasia Hong-hong-tian-ci milik Sam-po-tong itu sesungguhnya merupakan senjata rahasia macam apa, bagaimana cara menyambitkannya, dan seberapa dahsyat daya penghancurnya.

Sebab orang yang pernah menyaksikan kedahsyatan senjata rahasia itu, biasanya sudah mati di ujung senjata itu.

Akan tetapi, tak ada seorang pun yang meragukan perkataan Oh-tayciangkwe.

Ketika dia mengatakan harus menemaninya masuk neraka, itu berarti dia benar-benar berniat mengajak mereka masuk neraka bersama-sama.

Dia menaruh kepercayaan penuh terhadap keampuhan senjata rahasianya, dia sangat yakin dengan kemampuannya.

Kini sepasang lengannya sudah direntangkan, melakukan sebuah gerakan dan gaya yang aneh penuh misteri.

Wajah manusia kristal yang semula tembus pandang, tiba-tiba muncul selapis kabut asap berwarna ungu yang seketika menyelimuti seluruh mukanya.

Senyuman yang menghiasi nona cilik pun kini sudah hilang tak berbekas.

Asal salah seorang di antara mereka mulai turun tangan, maka ketiga orang itu akan berangkat ke neraka bersama- sama... hanya menuju neraka, tak akan pergi ke  tempat lain. Pada saat yang amat kritis itulah mendadak dari balik sebuah gundukan pasir yang agak besar dan tinggi bergema suara tiupan seruling.

Irama seruling indah dan lembut, lagu yang dibawakan pun sangat menawan, tanpa terasa seluruh hawa napsu membunuh yang berkobar di hati orang-orang itu mulai buyar.

Menyusul berkumandangnya suara seruling tadi, tampak dua orang muncul, dua orang yang amat kecil.

Seorang kakek bertubuh kerdil menuntun seekor keledai dan seorang nenek kerdil yang duduk di punggung keledai sambil meniup seruling, wajah mereka amat kecil dengan mulut yang kecil, bibir yang kecil dan seruling pualam yang kecil pula.

Selama hidup belum pernah Siau-hong menyaksikan manusia sekerdil ini, manusia di mana pun yang pernah ditemuinya berukuran setengah lebih tinggi daripada mereka berdua.

Walau begitu, potongan tubuh mereka justru amat sempurna, sama sekali tidak menunjukkan kejelekan atau kelucuan apa pun.

Kakek Jkerdil itu berambut putih dengan wajah yang sangat ramah, sementara sang nenek kerdil berparas cantik, lembut dan alim, dia memegang seruling dengan kedua belah tangannya, seakan seruling pualam itu merupakan sebuah benda mestika.

Siapa pun pasti akan mengakui kalau mereka berdua merupakan pasangan yang serasi.

Oh-tayciangkwe tidak turun tangan, begitu pula dengan Roh gentayangan. Siapa pun itu orangnya, bila telah mendengar suara seruling semerdu itu dan menjumpai dua orang istimewa semacam ini, tak mungkin mereka dapat melancarkan serangan mematikan lagi.

Kembali sekulum senyuman cerah menghiasi wajah Im- toasiocia.

"Losianseng, Lothaythay, kalian datang dari mana? Dan mau pergi ke mana?"

Menyaksikan seorang nona kecil yang begitu menawan, sekulum senyuman segera menghiasi wajah kakek  kerdil itu.

"Kami datang dari tempat di mana kalian datang."

Kemudian menambahkan, "Tapi kami tak ingin pergi ke mana kalian akan pergi."

Senyumannya ramah dan lembut, perkataannya pun sangat enak didengar.

"Dunia begini luas, ada banyak tempat indah yang patut didatangi dan dikunjungi, kenapa kalian justru memilih pergi ke neraka?"

Irama seruling berkumandang makin hangat dan lembut, kabut ungu yang menyelimuti wajah manusia kristal pun lambat-laun semakin buyar.

Tiba-tiba Oh-tayciangkwe melompat turun dari dahan pohon, kemudian menjura kepada kakek kerdil itu dengan sangat hormat.

Kakek kerdil itu sepertinya agak tercengang, tanyanya kemudian, "Aku tak lebih hanya seorang tua bangka yang tak berguna, apa sebabnya kau begitu hormat kepadaku?" "Setelah bersua dengan Hong-locianpwe, mana berani Boanpwe bersikap kurangajar?" jawab Oh-tayciangkwe dengan sikap yang lebih hormat.

Berkilat sepasang mata Im-toasiocia, dipandangnya kakek kerdil itu dengan pandangan terkejut, lalu gumamnya, "Hong-locianpwe?"

Dengan nada tercengang dan kaget, terusnya, "Jadi kau adalah Jian-li-hui-im, ban-li-tui-gwe, sin-heng-bu-im-tui- hong-siu" (Ribuan li mengejar awan, laksa li menangkap rembulan, langkah sakti tanpa bayangan pengejar angin) Hong-loyacu?"

Sambil tersenyum kakek kerdil itu manggut-manggut.

Im-toasiocia memandang ke arah nyonya kerdil yang berada di punggung keledai, kemudian katanya pula, "Hong-siu-gwe-bo tak pernah saling berpisah satu dengan lainnya, aku rasa yang ini tentulah Gwe-popo, bukan?"

Senyuman yang menghiasi wajah Tui-hong-siu (Kakek pengejar angin) semakin cerah.

"Sungguh tak nyana nona ini meski masih muda usia, namun memiliki pengetahuan yang amat luas."

Oh-tayciangkwe berdehem beberapa kali, lalu tanyanya, "Hong-cianpwe bukannya menikmati hidup di Perkampungan Poan-gwe-san-ceng (Perkampungan menemani rembulan), mau apa mendatangi tempat gersang yang terpencil semacam ini?"

Tui-hong-siu memandangnya sekejap, lalu tertawa. "Sebaliknya Oh-tayciangkwe bukannya menikmati rezeki

dalam Sam-po-tong, mau apa pula kau mendatangi tempat

gersang yang terpencil ini?" "Aku. ” "Padahal tak usah Oh-tayciangkwe bicara pun, aku sudah tahu.”

“Kau tahu?" tampaknya Oh-tayciangkwe terperanjat, "Dari mana bisa tahu?"

"Sebetulnya kedatangan kita dikarenakan persoalan yang sama, mana mungkin aku tidak tahu?"

Oh-tayciangkwe makin terperanjat, sengaja tanyanya, "Persoalan apa yang Hong-locianpwe maksudkan?"

"Ya, karena persoalan itu," sambil tersenyum pelan-pelan dia mengeluarkan tangan dari dalam sakunya.

Sebuah "Tangan emas" yang amat menyilaukan mata. "Kalau memang semua orang datang dikarenakan

persoalan ini, mengapa pula harus masuk neraka bersama- sama?" ujar Tui-hong-siu sambil" tertawa, "Kalau toh kita semua telah datang kemari, maka yang pantas masuk neraka adalah orang lain."

Sekarang mereka telah datang, lalu siapa yang seharusnya pergi ke neraka?

Irama seruling telah menjauh, orang-orang itu pun telah pergi menjauh.

Ternyata mereka datang dikarenakan "Tangan emas". Di bawah komando "Tangan emas", pertikaian dan perselisihan pribadi tidak diperkenankan tetap dipelihara, peduli kau adalah Roh gentayangan atau bukan, Oh- tayciangkwe atau bukan, semuanya sama dan sederajat.

Kemunculan "Tangan emas" ini ternyata mendatangkan daya pengaruh yang begitu besar.

Pancapanah melompat bangun dari atas tanah, memandang Siau-hong dengan pandangan yang sangat aneh, tiba-tiba ia mengucapkan pula kata-kata yang sangat aneh, "Sekarang aku baru tahu, apa sebabnya Po Eng membiarkan kau pergi."

Tiba-tiba ia menghela napas panjang, tambahnya, "Sekarang kau pergilah, cepat pergi!"

Siau-hong tidak habis mengerti, dia ingin sekali bertanya mengapa dia mengucapkan perkataan itu dan apa maksudnya.

Tapi begitu menyelesaikan perkataannya, Pancapanah pun ikut pergi, pergi secepat hembusan angin.

Ketika dia hendak pergi, belum pernah ada orang yang mampu menahannya.

Lentera minyak yang redup, udara yang tercemar, tanah yang berpasir....

Tapi akhirnya mereka tiba juga di sebuah tempat yang ada kehidupan, Siau-hong dan Yang-kong telah menghabiskan semangkuk bakmi yang mereka pesan, sampai kuahnya pun diteguk habis.

Berada di desa miskin di tepi gurun, menyaksikan bocah- bocah kecil yang berebut tahi kuda di sepanjang jalan, siapa pun akan sadar betapa berharganya setiap benda yang ada di dunia ini.

Selesai menghabiskan semangkuk bakmi, mereka pun duduk termenung di bawah cahaya lentera yang redup, dalam hati serasa ada banyak perkataan yang hendak dibicarakan, namun tak tahu harus mulai dari mana.

Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba Siau-hong bertanya, "Kau pernah mendengar tentang manusia yang bernama Tui-hong-siu ini?"

"Pernah."

"Tahukah kau manusia macam apakah dia?” “Aku tahu," jawab Yang-kong, "Dua puluh tahun berselang, dia termashur karena Gin-kang-thian-he-te-it (Jago nomor wahid ilmu meringankan tubuh), walaupun dalam dua puluh tahun terakhir banyak bermunculan manusia berbakat dalam dunia persilatan, tidak banyak orang yang mampu mengungguli kehebatannya."

Siau-hong kembali termenung, setelah lewat cukup lama dia baru bicara lagi, "Ketika aku baru berkelana dalam dunia persilatan, pernah mempunyai sahabat karib yang usianya jauh lebih tua ketimbang aku, sekalipun kungfu yang dimilikinya tidak terlampau tinggi, namun tak ada urusan dunia persilatan yang tidak diketahui olehnya."

Yang-kong mendengarkan dengan serius.

Kembali Siau-hong melanjutkan, "Dia pernah memberitahukan kepadaku beberapa nama jago persilatan yang dianggap menakutkan."

"Salah satu di antaranya adalah Tui-hong-siu?"

"Benar, ada Tui-hong-siu, ada juga nama Oh- tayciangkwe."

Dia tidak menyinggung nama "Im-leng", Roh gentayangan, karena dalam pandangan sebagian besar umat persilatan, Roh gentayangan pada hakikatnya tidak dianggap sebagai seorang, sebab siapa pun tak dapat memastikan wujud sebenarnya dari makhluk itu.

"Sekarang mereka telah datang, muncul karena Tangan emas," lanjut Siau-hong, "Kim-jiu minta mereka melakukan apa?"

Yang-kong tidak menjawab.

Mereka pernah mendengar penjelasan Pancapanah, konon Kim-jiu adalah sebuah organisasi rahasia yang didirikan Hok-kui-sin-sian Lu-sam, tujuannya adalah menciptakan keonaran di kalangan orang-orang Tibet dan merebut kekuasaan mereka.

Thiat Gi yang kehilangan emas dan terbunuh, Wi Thian- bong yang kehilangan lengannya, Koh-hun-jiu si Tangan penggaet sukma yang memburu Siau-hong, Liu Hun-hun yang mati tergantung di atas pohon, semuanya merupakan anggota organisasi rahasia itu.

Sekarang mereka telah mengumpulkan seluruh tokoh paling sakti dari organisasi untuk berkumpul di sini.

Mau apa orang-orang itu datang kemari? Seharusnya Siau-hong maupun Yang-kong dapat menduganya.

Dengan termangu Siau-hong mengawasi mangkuk kosong di hadapannya, seolah dari dalam mangkuk yang kasar itu bakal muncul sebuah jawaban, yang bisa menjawab semua masalah sulit yang sedang dihadapi.

Setelah memandangnya sampai lama, dia baru berkata, "Belum tentu kedatangan mereka karena ingin mencari Po Eng.”

“Ehm."

"Sekalipun berhasil menemukannya, dia pasti punya cara yang hebat untuk menghadapi mereka.”

“Ehm."

"Dia mempunyai anak buah yang banyak tak terhingga, sedang dia sendiri pun merupakan jagoan di antara kawanan jagoan tangguh," kata Siau-hong lebih lanjut,  "Bila dia pun sudah lebih dari cukup untuk menghadapi mereka, kehadiran orang lain tak ada gunanya."

"Ehm." "Peduli bagaimana pun juga urusan ini toh sudah tak ada sangkut-pautnya denganku, bagaimana pun aku telah meninggalkan mereka. Sebulan kemudian, aku bakal tiba di Kang-lam"

Suaranya sangat rendah, seakan-akan semua perkataannya itu diucapkan untuk diri sendiri.

"Kau belum pernah datang ke Kang-lam, karena itu kau tak pernah menyangka Kang-lam adalah tempat yang begitu indah, jembatannya, airnya, perahunya, gunung yang tak terhitung jumlahnya. ”

Ooo)d*w(ooO

Yang-kong mendengarkan dengan tenang, peduli apa pun yang dia katakan, nona itu selalu mengiakan.

Tapi baru berbicara sampai di sini, tiba-tiba Siau-hong menukas pembicaraan sendiri, mendadak teriaknya, "Aku ingin minum arak!"

Dia telah minum arak dalam jumlah banyak.

Arak Toh-shia-sau yang garang dan pedas begitu mengalir masuk ke dalam perutnya, bagaikan segumpal bara api yang segera membakar seluruh badannya.

Dia masih ingat, Po Eng pernah menemaninya meneguk arak semacam ini, meneguk berkali-kali, setiap kali setelah minum arak dan mabuk, Po Eng pasti akan melantunkan lagu yang memedihkan hati, lagu yang membuat siapa pun tak akan melupakan untuk selamanya.

Orang yang penampilannya keras dan dingin bagaikan baja ini sebetulnya menyembunyikan penderitaan dan siksaan yang dalam. Semangkuk demi semangkuk Siau-hong menghabiskan isi cawan, setiap kali selesai meneguk, dia pun mulai bertepuk tangan sambil bernyanyi:

"Putra bangsa harus ternama.

Arak harus memabukkan, arak harus memabukkan. "

Ia tidak melanjutkan lagi nyanyiannya.

Suaranya kini telah parau, matanya telah memerah, mendadak sambil menggebrak meja teriaknya, "Kita segera balik!"

Yang-kong masih mengawasinya dengan tenang. "Kembali?" ia bertanya, "Kembali ke mana?”

“Kembali ke Lhasa."

"Bukankah kau telah pergi, mengapa harus kembali ke sana?" tanya Yang-kong hambar, "Apakah kau sudah lupa, lewat sebulan kemudian kau sudah akan tiba di Kang-lam, desa kelahiranmu, tempat sahabat-sahabatmu, impianmu, semuanya berada di sana."

Ditatapnya Siau-hong dengan pandangan dingin, lalu tanyanya sekali lagi, "Mengapa kau akan kembali lagi ke Lhasa?"

Siau-hong mendongakkan pula kepalanya, menatap gadis itu dengan garang, "Sudah jelas kau tahu mengapa aku berbuat begini, kenapa harus ditanyakan lagi?"

Salju yang melapisi sorot mata Yang-kong seketika mencair, cair menjadi air musim semi, jauh lebih lembut daripada air di musim semi.

"Tentu saja aku tahu mengapa kau berbuat begitu," katanya sedih, "Seperti aku, kita semua tahu apa tujuan kedatangan orang-orang itu, kau pun seperti aku, tak pernah dapat melupakan Po Eng." Siau-hong tak dapat menyangkal lagi.

Dia sendiri pun tak dapat melupakan perkataan Pancapanah. Sekarang aku baru mengerti mengapa Po Eng membiarkan kau pergi.

Kemungkinan besar Po Eng sudah punya firasat, bakal ada musuh tangguh yang akan muncul di sana, karena itu bukan saja membiarkan dia pergi, bahkan minta dia pergi dengan membawa Yang-kong.

Peduli musibah macam apa pun yang bakal menimpa dirinya, Po Eng tak pernah akan membiarkan mereka ikut menderita dan terseret ke dalam persoalan itu.

"Tapi bukankah kau sendiri pernah berkata, jika Po Eng pun tak sanggup menghadapi mereka, percuma orang lain ikut ke sana."

Suara Yang-kong bertambah lembut, "Oleh karena kau telah terlepas dari kami, siapa pun tak dapat lagi memaksamu pergi mengantar kematian, seandainya kau tak ingin kembali, siapa pun tak akan menyalahkan dirimu."

"Benar, aku pun tahu tak bakal ada yang menyalahkan aku," sahut Siau-hong, "Tapi aku pasti tak akan memaafkan diriku sendiri."

"Jadi kau rela balik ke sana untuk mengantar kematian?"

Siau-hong mengepal tinjunya kuat-kuat, sepatah demi sepatah sahutnya, "Sekalipun tempat itu telah berubah jadi neraka, bagaimana pun juga aku tetap akan balik ke sana!"

Lhasa tetap Lhasa, seperti saat mereka meninggalkannya, langit tetap cerah, sinar matahari menyinari seluruh jagat.

Atap bulat istana Potala masih membiaskan cahaya yang menyilaukan mata ketika tertimpa cahaya sang surya, segala sesuatunya masih tetap sama, sama sekali tak berubah.

Istana suci yang kuno dan antik itu seperti persahabatan mereka, tak pernah berubah untuk selamanya.

Mereka telah kembali di Lhasa.

Senyuman Yang-kong ikut berubah secerah langit saat itu, sementara paras Siau-hong justru berubah makin suram dan gelap. "Tampaknya tak pernah terjadi sesuatu di tempat ini.”

“Rasanya begitu."

"Bila orang-orang itu sudah tiba di sini, sudah melakukan aksinya, tempat ini pasti berubah jadi sangat kalut," kata Yang-kong, "Setiap kali terjadi sesuatu, Po Eng pasti akan mengirim orang untuk melakukan patroli di luar kota."

Ia tertawa makin riang.

"Tapi sekarang di sekitar sini sama sekali tak nampak orang-orang kita, meski seorang pun."

Mereka masih belum memasuki kota suci Lhasa, sepanjang jalan hanya terlihat tiga orang, semuanya penganut Buddha hidup yang datang jauh dari ribuan li, dengan tiga langkah sekali menyembah, lima langkah sekali berlutut, menggunakan cara yang paling menderita dan tersiksa, menunjukkan rasa percaya dan hormatnya.

Semangat dan tubuh kasar mereka telah memasuki keadaan setengah terbebas dari godaan duniawi, terhadap apa yang dapat dilihat, mereka memandang seolah tak melihat, terhadap apa yang dapat mereka dengar seolah tidak mendengar.

Mereka telah membawa diri sendiri memasuki suasana gaib dimana tak bisa mendengar dan tak bisa melihat. Tiba-tiba Siau-hong mengalihkan pokok pembicaraan, katanya, "Ada sementara masalah, sekalipun tak kau lihat dan tak kau dengar, namun tetap tak bisa memastikan keberadaannya."

Dengan sorot mata mengandung pemikiran yang mendalam, pelan-pelan sambungnya, "Terkadang dia bahkan jauh lebih jelas dan nyata daripada apa yang bisa dilihat dan didengar, bahkan keberadaannya jauh lebih lama dan langgeng."

Yang-kong tidak paham apa maksud perkataan itu, dia pun tak mengerti mengapa secara tiba-tiba dia mengucapkan perkataan semacam itu.

Namun gadis ini tidak bertanya, karena secara tiba-tiba ia menemukan bahwa ada sementara keadaan yang telah berubah, berubah menjadi sangat aneh.

Mereka putuskan untuk berkunjung dulu ke kantor Eng- ki di jalan Pat-kak-ke untuk melihat keadaan, kemudian baru pergi menengok Po Eng.

Karena itulah mereka tidak melewati jalanan di sisi istana Potala, tapi langsung lewat jalan besar menuju ke kawasan pasar.

Orang yang berlalu-lalang di jalanan makin lama semakin banyak, ada banyak di antara mereka yang kenal Yang-kong.

Tempat ini adalah desa kelahirannya, sejak kecil dia termasuk orang yang supel, senang bergaul, dan suka membantu orang. Pandai mengambil hati orang, diterima di seluruh pelosok kota khususnya kaum papa dan kaum pengemis yang tiap hari mengais hidup. Setiap kali bertemu dengannya, mereka akan datang mengerumuninya ibarat lebah bertemu madu. Tapi hari ini, begitu mereka melihat kehadirannya, jauh- jauh sudah menghindar, seakan tak berani memandangnya biar sekejap pun, ada pula di antara mereka yang secara diam-diam memandangnya, sorot mata yang mereka perlihatkan pun sangat aneh dan misterius, bahkan mendekati rasa takut yang berlebihan. Kehadirannya hari ini seakan bibit penyakit menular yang akan mendatangkan ancaman keselamatan bagi semua orang.

Padahal gadis itu tahu, dirinya masih merupakan dirinya yang dahulu, sedikit pun tidak berubah.

Tapi apa sebabnya orang-orang itu berubah begini rupa? Apakah karena mereka tahu Siau-hong bukan anggota kantor dagang Eng-ki? Apakah karena Po Eng telah memperingatkan mereka, melarang mereka berdekatan dengan Siau-hong?

Tampaknya semua pertanyaan ini hanya bisa dijawab setelah tiba di kantor dagang Eng-ki.

Sambil menuntun kuda, mereka melewati kerumunan orang banyak dan akhirnya tiba di depan kantor dagang Eng-ki.

Papan nama "Eng-ki" masih seperti dulu, memantulkan sinar terang ketika tertimpa cahaya matahari.

Akhirnya Yang-kong menghembuskan napas lega. "Ketika Cu Im bertemu kau nanti, bisa jadi mimik

mukanya akan kelihatan sangat aneh," kata nona itu kepada Siau-hong, "Lebih baik tak usah kau layani dia, bagaimana pun sikapnya terhadapmu, lebih baik kau berlagak seolah tidak melihat."

Pada hakikatnya Siau-hong belum pernah berlagak tidak melihat, Cu Im yang di waktu biasa selalu berada di kantor Eng-ki sepanjang hari, ternyata hari ini tidak nampak batang hidungnya, begitu juga para pegawai yang banyak tahun bekerja di kantor itu pun kini tak terlihat seorang pun.

Sekalipun papan merek "Eng-ki" sama sekali tidak berubah, akan tetapi semua pegawai dalam toko telah berganti rupa, ternyata tak seorang pun yang dikenal Yang- kong.

Tampaknya mereka pun tidak mengenali Yang-kong, bahkan menganggapnya sebagai pembeli. Dua orang pelayan serentak menyongsong kedatangannya, lalu memakai dialek Han dan dialek Tibet bertanya kepada Siau-hong berdua akan membeli apa.

Yang-kong betul-betul terperangah.

Walaupun pegawai-pegawai itu tidak mengenalinya, seharusnya mereka tahu kalau dia merupakan bagian dari kantor Eng-ki.

"Aku tidak membeli apa-apa, aku datang mencari orang," kata Yang-kong.

"Mencari siapa?" pegawai bermuka bulat berkepala runcing dan berdialek Han itu segera bertanya. "Aku mencari Cu Im!"

Cu Im adalah pengurus kantor ini, tapi dua orang pegawai itu seolah belum pernah mendengar nama itu. Kedua orang itu saling bertukar pandang dengan wajah bingung, lalu sembari menggeleng sahumya, "Di tempat kami tak pernah ada orang bernama itu."

Yang-kong makin terperangah.

"Aku rasa kau pasti baru masuk bekerja," ia bertanya kepada pelayan itu, "Sudah datang berapa hari?”

“Baru tiga hari." "Tahukah kau siapa Lopan tempat ini?" Lelaki berlogat kotaraja itu kontan tertawa.

"Sebagai seorang pegawai, kalau nama Lopan saja tak tahu, bukankah aku orang yang tolol sekali?"

Dia tidak tolol, karena itu ujarnya lebih jauh, "Lopan tempat ini bermarga Wi, dia bernama Thian-bong."

Kantor dagang "Eng-ki" yang didirikan Po Eng, kenapa pemiliknya bisa berganti jadi Wi Thian-bong?

"Tidak tahu."

Semua pegawai yang bekerja di sana adalah pegawai baru, mereka rata-rata berasal dari luar daerah, tentang masalah ini mereka pun sama sekali tak tahu, bahkan nama Po Eng pun belum pernah didengar.

Yang-kong percaya orang-orang itu memang benar-benar tak tahu, biar dibunuh pun mereka tetap tak tahu.

Mereka pun tidak tahu Wi Thian-bong saat ini berada di mana, sebagai pegawai tentu saja mereka tak berhak untuk menanyakan keberadaan majikannya.

Lantas ke mana perginya Po Eng?

Yang-kong segera mencemplak kudanya, melarikan dengan cepat langsung menuju ke gedung tempat tinggal Po Eng.

Dia tak yakin apakah Po Eng berada di sana.

Membayangkan kembali mimik muka aneh orang-orang itu sewaktu melihatnya, teringat sorot mata suram yang diperlihatkan orang-orang itu, timbul satu firasat jelek yang tak berani dia bayangkan di dalam hatinya.

Namun dia bertekad akan menemukannya. Selama beberapa waktu mereka tinggalkan Lhasa, apa yang sebenarnya telah terjadi di sini? Perubahan menakutkan apa yang telah terjadi? Seluruh persoalan ini mungkin baru bisa diperoleh jawaban setelah bertemu Po Eng nanti.

Tapi dia sudah tak mungkin bisa menemukan Po Eng lagi.

Sewaktu ia bersama Siau-hong tiba di tempat tinggal Po Eng, ternyata tempat itu telah berubah menjadi puing-puing yang berserakan, seluruh bangunan pagoda, loteng, gedung, kebun, semuanya ludas terlalap api, terbakar hingga tinggal abu.

"Sebuah kebakaran yang luar biasa besarnya!"

Ketika orang membicarakan kembali kebakaran itu beberapa tahun kemudian, mereka masih merasakan detak jantung yang berdebar keras.

"Sumber api paling tidak ada tiga-empat puluh tempat, begitu kebakaran terjadi, api menjilat seluruh bangunan dari tiga-empat puluh posisi yang berbeda, kebakaran ini berlangsung selama tiga hari tiga malam."

Setiap orang menganggap kebakaran itu berasal dari "api langit", merupakan bencana yang diturunkan langit terhadap keluarga itu.

Sumber api yang sebenarnya tak pernah diketahui orang, juga tak ada orang yang ingin mengetahuinya.

Kini Yang-kong berdiri di antara puing yang berserakan.

Tapi dia masih bisa membayangkan tempat di mana ia berdiri sekarang, dahulunya adalah gardu segi delapan yang sekelilingnya penuh dengan lautan bunga. Setiap musim semi atau musim gugur tiba, di saat senggang Po Eng tentu akan duduk dalam gardu itu dan dia pun selalu menemaninya minum barang dua cawan arak dan bermain satu babak catur.

Menelusuri jalan setapak yang beralas batu hijau menuju ke timur, di sanalah letak ruang tidurnya.

Dia sudah sepuluh tahun berdiam di sini, seluruh impiannya telah terajut di sini, seluruh kenangan pun sudah tertinggal di sini.

Tapi sekarang semuanya telah tiada, lenyap tak berbekas. Ia berdiri termangu, memandang dengan tertegun,

menyaksikan puing-puing yang berserakan.

Tak ada air mata yang membasahi pipinya.

Demi sebuah boneka yang dirusak orang, ia bisa melelehkan air mata, demi seekor kucing kecil yang mati, dia pun bisa menangis setengah harian.

Tapi sekarang malah tiada air mata yang membasahi pipinya.

Kenangan lama masih terlintas dalam benaknya, puing yang hancur masih terpampang di depan mata, tiada manusia, tiada suara, segala sesuatunya telah berubah jadi abu yang beterbangan.

Ke mana perginya Po Eng?

"Dia pasti masih hidup, dia tak mungkin mati."

Tiada hentinya ia bergumam dan mengulangi perkataan itu beberapa kali, entah gumaman itu khusus untuk diperdengarkan kepada Siau-hong ataukah hanya untuk menghibur diri sendiri. Siau-hong tidak menjawab, sepatah kata pun tidak menyahut.

Dalam keadaan seperti ini, apa lagi yang bisa dia katakan?

Tempat ini bukan desa kelahirannya, bukan Kang-lam, namun rasa pedih dan sakit yang dirasakan dalam hatinya sekarang, sedikit pun tidak lebih enteng daripada apa yang diderita gadis itu.

Dia memahami perasaan nona itu terhadap Po Eng.

Rumah kediaman hancur terbakar masih bisa dibangun kembali, tapi manusia yang mati tak mungkin bisa hidup kembali, asal Po Eng masih hidup, baginya urusan lain sudah tak penting lagi.

Apakah dia masih hidup?

Seandainya belum mati, saat ini dia berada di mana?

Dari tengah runtuhan puing yang berserakan mendadak terdengar suara langkah kaki yang berat, seorang Lhama tinggi besar berjalan mendekat dengan langkah lebar.

Yang-kong segera berpaling, menatapnya.

"Aku kenal kau," meski suaranya parau, gadis itu masih dapat mengendalikan ketenangan hatinya, "Kau adalah murid pertama Galun Lhama."

"Benar," jawab Lhama itu, "Aku bernama A-so.” “Dia yang menyuruh kau kemari?"

"Benar," mimik muka A-so menunjukkan kedukaan  yang mendalam, "Tiga hari berselang aku telah datang kemari.”

“Mau apa kemari?" Ooo)d*w(ooO