Elang Terbang di Dataran Luas BAB 17. MANUSIA YANG MATI BERLUTUT

 
BAB 17. MANUSIA YANG MATI BERLUTUT

"Aku tak ingin," jawab Yang-kong.

Bukan takut, dia malah tertawa, terusnya, "Aku hanya tahu, bila kau membunuhnya, maka akan ada orang lain pasti menemaninya pergi mati."

"Siapa? Siapakah orang itu?" mau tak mau Pancapanah harus bertanya.

"Orang itu adalah Pova!" Dengan hambar terusnya, "Po Eng minta aku memberitahukan kepadamu, bila kau membunuh Siau- hong, maka Pova pasti akan ikut mati, hari ini kau membunuhnya, Pova tak akan hidup sampai esok."

Gendawa emas masih berada di tangan Pancapanah, anak panah pun masih di atas gendawa, tapi sekujur badannya telah jadi kaku, bahkan jari tangan yang menarik tali busur pun ikut kaku.

Dia sangat memahami Po Eng, tak ada orang kedua yang lebih mengerti tentang Po Eng daripada dirinya.

Setiap perkataan yang diucapkan Po Eng, persis panah yang terlepas dari busurnya, ucapan Po Eng telah disampaikan sementara anak panah belum terlepas dari busurnya.

Tapi anak panah telah berada di tali busur, masa tak dilepaskan?

Mendadak... "Prakkk!", gendawa emas itu melejit ke udara, ternyata tali busur telah tertarik putus.

Mengikuti putusnya tali busur, hawa napsu membunuh di wajah Pancapanah pun berangsur sirna.

"Kalian memang merupakan sahabat sejati," dia menghela napas, "Belum pernah kuduga bahwa kalian ternyata merupakan sahabat sejati!"

Malam sudah larut, kini semakin larut.

Selesai mengucapkan perkataan itu, perlahan-lahan Pancapanah membalikkan badan dan berjalan menuju ke balik kegelapan.

Kegelapan di ujung langit yang tak terhingga, selalu mengandung kesepian yang luar biasa. Mengawasi bayangan punggungnya yang menjauh, tak tahan Yang-kong pun menghela napas panjang.

"Kau tak pernah mengira kalau mereka adalah sahabat yang begitu karib, mungkin karena kau sendiri belum pernah mempunyai teman."

Terlihat Pancapanah mengangguk perlahan. "Mungkin saja begitu. ”

Belum sampai dia menyelesaikan ucapannya, mendadak terlihat tubuhnya menegang bagaikan tali busur yang ditarik kencang, tiba-tiba ia menjatuhkan diri berbaring di atas pasir, menempelkan telinganya di atas tanah, cahaya bintang yang menyinari wajahnya memperlihatkan perubahan mimik yang sangat aneh.

Lagi-lagi dia mendengar suara yang tak mungkin terdengar oleh orang lain.

"Apa yang kau dengar?" tak tahan Yang-kong berbisik. "Manusia!"

"Manusia?" tanya Yang-kong lagi, "Ada orang datang kemari?”

“Ehm!"

"Menuju kemari?” “Ehm."

"Berapa banyak jumlah mereka?"

Pancapanah tidak menjawab, dia memang tak perlu menjawab, sebab waktu itu Siau-hong maupun Yang-kong sudah mendengar pula suara yang baru saja ia dengar.

Suara derap kaki kuda yang amat ringan bergerak amat cepat, dalam sekejap mereka telah dapat mendengar dengan amat jelas, rombongan berkuda itu sedang bergerak menuju ke arah mereka, jumlah pendatang paling tidak tiga-empat puluhan orang, tiga-empat puluhan ekor kuda.

Sambil melompat bangun, bisik Pancapanah, "Kalian ikut aku."

Kuda "Ci-hu" milik Siau-hong maupun kuda milik Yang- kong berada di bawah pohon kering di tepi kolam yang telah mengering itu.

Dengan kecepatan tinggi Pancapanah menghampirinya, menepuk perlahan kepala sang kuda, melepas tali lesnya, dan membawa kedua ekor kuda itu menuju ke belakang gundukan pasir yang jauh lebih rendah dan pendek, kemudian menjatuhkan "Ci-hu" hingga merebah dan menggunakan dada sendiri menindih kepala "Ci-hu".

Kuda "Ci-hu" yang tak pernah menuruti kemauan orang ternyata sama sekali tidak memiliki tenaga untuk meronta atau melawan setelah berada di tangannya.

Sewaktu turun tangan tadi, dia telah memberi tanda kepada Yang-kong, gadis itu segera menggunakan cara yang sama untuk mengendalikan kuda yang lain.

Cara yang mereka gunakan selain cepat, bahkan sangat mujarab, mungkin jauh lebih mujarab daripada cara yang digunakan seorang hidung-belang untuk merayu perempuan.

Pada saat itulah suara derap kaki kuda semakin mendekat, kemudian terlihatlah serombongan manusia berkuda bergerak menuju ke tanah hijau yang telah mengering itu.

Jumlah mereka adalah tiga puluh tujuh orang dengan tiga puluh enam ekor kuda, binatang tunggangan orang paling akhir bukan kuda, melainkan seekor keledai. Orang ini bertubuh tinggi besar, bahkan sangat gemuk, namun binatang tunggangannya justru seekor keledai yang kurus kecil.

Anehnya, biarpun keledai itu kurus kecil namun tampak sangat kuat dan cekatan, sekalipun harus mengangkut manusia sebesar dan seberat itu, ternyata ia sanggup mengikut di belakang ketiga puluh enam ekor kuda jempolan itu.

Biarpun orang itu bertubuh tinggi besar dan gemuk, namun sama sekali tak nampak gagah ataupun berwibawa, pakaian yang dikenakan sangat bersahaja, ketika mengintil di belakang ketiga puluh enam penunggang kuda yang berpakaian mewah, berkuda jempolan, dan menyoreng golok panjang, keadaannya lebih mirip seorang pelayan.

Anehnya sikap para penunggang kuda itu terhadapnya sangat hormat, bahkan kelihatan agak takut.

Setelah turun dari kuda tunggangannya, ketiga puluh enam orang jagoan itu serentak berdiri berjajar di kedua sisi jalan dengan sikap yang amat menghormat, jangankan bergerak, bernapas lebih keras pun tak berani.

Sambil tetap duduk di atas keledainya, orang itu celingukan ke sana kemari beberapa saat lamanya, kemudian baru perlahan-lahan turun dari atas pelananya.

Wajahnya yang memerah kelihatan bagaikan seorang yang jujur dan polos, bahkan mukanya nampak sedikit bodoh dan kebingungan.

Kembali dia celingukan, kemudian baru menggapai ke arah seorang lelaki bertubuh kekar sembari bertanya, "Apakah tempat ini yang kau maksudkan?"

"Benar!" "Seingatku, kau seperti mengatakan tempat ini adalah sebuah oase?"

"Benar."

"Mana airnya?" orang itu menghela napas, "Mengapa tak terlihat setitik air pun di sini?"

Lelaki itu tertunduk rendah, butiran keringat sebesar kacang kedelai telah membasahi jidat dan ujung hidungnya, kedua kaki pun tampak agak gemetar, bahkan suaranya sewaktu menjawab pun mulai gemetar.

"Tiga tahun berselang aku pernah datang kemari, di sini memang merupakan sebuah oase, memang ada airnya, tak nyana sekarang telah mengering."

"Tidak nyana, benar-benar tidak nyana," si gemuk yang menunggang keledai itu menghela napas panjang, tiba-tiba tanyanya lagi, "Belakangan apakah kesehatanmu bagus?"

"Bagus."

"Apakah pernah sakit?” “Tidak."

Sekali lagi si gemuk penunggang keledai itu menghela napas. "Kalau begitu kuduga kau sendiri pun tak pernah menyangka kalau dirimu bakal segera mati, bukan?"

Tiba-tiba lelaki itu mengangkat wajahnya, muka yang semula dicekam perasaan takut yang luar biasa secara tiba- tiba muncul sekulum senyuman.

Ternyata dia masih sanggup tertawa, suatu peristiwa yang sama sekali tak diduga siapa pun.

Si gemuk penunggang keledai itu pun tercengang, tak tahan tegurnya, "Kau anggap sangat menggelikan?"

"Aku... aku... aku. ” Lelaki itu masih tertawa, senyumannya kelihatan begitu gembira, begitu misterius, namun nada ucapannya penuh dicekam perasaan takut dan ngeri yang luar biasa.

Tiba-tiba ia mulai berlutut, ketika badannya mulai berlutut senyuman yang diperlihatkan pun makin gembira dan riang.

Tentu saja dia pun dapat menangkap hawa napsu membunuh yang terpancar dari wajah si gemuk, sudah jelas dia takut setengah mati, tapi kenyataan dia masih dapat tertawa, sudah jelas suara tertawanya begitu riang gembira, apa mau dikata caranya menunjukkan rasa ketakutan telah mencapai puncaknya.

Seorang normal tak bakal menunjukkan penampilan semacam ini, apakah orang ini sudah gila lantaran ketakutan?

Rekan-rekannya memandang ke arah orang itu dengan perasaan terkejut, mimik muka yang sebelumnya nampak terkejut dan heran tiba-tiba berubah jadi wajah tertawa, tertawa penuh keriangan, penuh misterius, tertawanya persis senyumannya.

Menyusul ketiga puluh lima orang itu pun sama-sama berlutut, ketika berlutut senyuman mereka nampak makin riang, makin gembira.

Berubah paras si gemuk penunggang keledai itu, berubah jadi tercengang, kaget, dan ngeri.

Pada saat parasnya mulai berubah itulah, tiba-tiba dia pun memperlihatkan senyuman, senyuman gembira yang misterius, senyum yang sama dengan ketiga puluh enam orang anak buahnya.

Kemudian dia pun ikut berlutut. Begitu ketiga puluh tujuh orang itu berlutut, mereka tak pernah bergerak lagi, bukan saja tubuhnya masih tetap terjaga pada posisi semula, wajah mereka pun masih dihiasi dengan senyuman gembira.

Ketiga puluh enam orang itu tertawa terus, seakan-akan secara bersamaan sedang menyaksikan sebuah kejadian yang membuat mereka sangat gembira, sangat senang.

Tiba-tiba Yang-kong menggenggam tangan Siau-hong, tangan gadis itu dingin dan basah, begitu pula dengan tangan Siau-hong.

Menyaksikan senyuman gembira ketiga puluh tujuh orang itu, sedikit pun mereka tidak merasa gembira, yang dirasakan kini hanya kengerian aneh yang tak terlukiskan dengan perkataan.

Mereka berdua pun tak tahu apa yang telah terjadi, namun di hati kecil kedua orang itu secara tiba-tiba diselimuti pula perasaan ngeri dan takut yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Malam kelam yang panjang belum lagi lewat, jagat raya masih diselimuti kegelapan dan keheningan.

Ketiga puluh tujuh orang itu masih berlutut di tempat tanpa bergerak, senyuman riang masih tertera di wajah masing-masing.

Tapi kini senyuman gembira mereka pun sudah kelihatan tak begitu menggembirakan lagi.

Senyuman orang-orang itu sudah kaku, sudah membeku. Tubuh mereka pun telah kaku, telah membeku.

Di saat mereka menjatuhkan diri berlutut, nyawa mereka ikut melayang meninggalkan raga, begitu berlutut langsung mati. Saat ajal orang-orang itu adalah saat mereka berlutut, yakni di saat mereka tertawa paling gembira.

Di saat menemui ajalnya mengapa mereka harus tertawa?

Mengapa mereka harus mati dalam keadaan berlutut?

Siau-hong ingin bertanya kepada Pancapanah, begitu pula dengan Yang-kong, ada banyak persoalan yang ingin ditanyakan.

Di dataran luas yang penuh diselimuti misteri dan tak berperasaan ini, seandainya masih ada orang yang bisa menjelaskan kejadian misterius yang menakutkan ini, tak dapat disangkal orang itu adalah Pancapanah.

Tapi sayang Pancapanah tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk bertanya.

Tiba-tiba dia mengeluarkan sebuah botol kayu berwarna hitam dari dalam sakunya, lalu dengan jari manis dan kelingking untuk menjepit botol itu sementara memakai ibu jari dan jari telunjuknya untuk membuka penutup botol, dari dalam botol itu dia menuang sedikit bubuk yang kemudian diusapkan ke hidung kedua ekor kuda itu.

Dua ekor kuda yang lambat-laun mulai bergerak itu pun seketika tidak bergerak lagi.

Bukan saja dia tidak membiarkan manusia bersuara, kuda pim tak boleh ikut bersuara.

Tiga puluh tujuh orang yang berada di depan gundukan pasir telah mati semua, orang mati tak akan mendengar apa-apa.

Mengapa dia masih belum berani bersuara? Dia takut siapa yang mendengar suara mereka? Pancapanah bukan hanya tenang dan dingin, bahkan sangat angkuh, dia selalu percaya diri, tak pernah takut kepada siapa pun, semua orang mengakui tak banyak lagi kejadian di dunia ini yang dapat membuatnya ketakutan.

Tapi sekarang parasnya telah berubah, bahkan tampaknya jauh lebih ketakutan ketimbang Siau-hong maupun Yang-kong.

Sebab persoalan yang dia ketahui jauh lebih banyak daripada mereka berdua.

Bukan saja dia tahu kalau orang-orang itu telah keracunan, bahkan tahu kalau mereka telah terkena racun Im-leng (Roh gentayangan) yang konon paling jahat, paling ganas, dan paling menakutkan.

Sifat racun itu tak berwarna tak berbau, datang tanpa bayangan tanpa bentuk, sedang orang yang melepaskan racun pun bagaikan sesosok roh jahat yang gentayangan tak berjejak.

Belum pernah ada orang yang tahu siapa pelepas racun itu, menggunakan cara apa melepaskan racun, juga tak ada yang tahu sejak kapan dirinya terkena racun, menanti mereka sadar dirinya keracunan, racun telah menyebar ke seluruh tubuh dan tidak tertolong lagi.

Bentuk wajah mereka berubah bentuk tatkala racun itu mulai bekerja, otot badan pun ikut kejang dan kemudian lemas kehilangan kekuatan yang membuat sang korban jatuh berlutut.

Mungkin saja "Im-leng" yang meracuni mereka masih berada ribuan li jauhnya, mungkin juga dia sudah berada di sekeliling mereka.

Peduli di mana pun dia berada, cepat atau lambat dia pasti akan datang untuk menengok para korban yang mati keracunan di tangannya, seperti seorang ahli ukir, ketika menyelesaikan hasil seninya, dia pasti akan berusaha untuk menikmati hasil karyanya.

Tapi sayang, selama ini belum ada seorang hidup pun yang pernah menyaksikan wajah aslinya, karena dia harus menunggu hingga seluruh targetnya benar-benar tewas, baru datang menikmati hasil karyanya, dia selalu akan mengatur agar mereka mati di sebuah tempat terpencil, sepi dan jarang ada orang yang datang mengunjunginya.

Oase kering ini memang sebuah tempat yang jarang didatangi orang, kini orang-orang itu telah mati semua.

Oleh karena itu dalam waktu singkat Im-leng pasti akan muncul di sana.

Sebenarnya manusia macam apakah dirinya? Laki?

Perempuan? Tua? Atau muda?

Sebenarnya dia itu manusia atau sesosok roh setan gentayangan?

Pancapanah merasakan detak jantungnya berdebar amat cepat.

Dia sadar, bila Im-leng tahu di situ masih ada orang hidup, maka jangan harap orang hidup itu masih bisa melanjutkan kehidupannya.

Malam kelam yang panjang sudah hampir lewat, pakaian yang basah oleh keringat dingin pun sudah mulai  mengering tertiup angin malam yang menusuk tulang.

Jagat raya yang hitam pekat kini telah berubah menjadi warna keabu-abuan yang lebih gelap daripada kegelapan malam.

Tiga puluh tujuh sosok mayat yang mati berlutut masih tetap berlutut kaku di bawah jagat raya yang kelabu, menanti kedatangan Im-leng yang telah meracuni mereka untuk menengok terakhir kalinya.

Ternyata orang pertama yang datang bukan Im-leng, melainkan seekor elang.

Burung elang pemakan bangkai.

Tampak burung elang terbang berkeliling di angkasa.

Jagat raya yang berwarna kelabu lambat-laun mulai memutih, lambat-laun berubah seperti warna kelopak mata jenazah yang telah memutih.

Tiba-tiba elang pemakan bangkai itu menukik ke bawah, hinggap di tubuh sesosok mayat yang masih berlutut, dengan menggunakan paruhnya yang lebih kuat dari baja untuk mematuk mata mayat itu.

Inilah patukannya yang pertama.

Pada saat dia bersiap melanjutkan sarapannya yang amat lezat, tiba-tiba terlihat sepasang sayapnya mengejang kaku. Tentu saja dia tak dapat mati berlutut.

Elang pemakan bangkai tak dapat berlutut, tapi elang pun dapat mati.

Ternyata racun jahat Im-leng telah menyebar ke setiap sel darah dalam tubuh jenazah itu, ketika elang pemakan bangkai mematuk darah orang itu, maka sang elang pun ikut mati keracunan.

Siau-hong merasakan dadanya sesak, begitu sesak hingga tak sanggup bernapas, lambungnya terasa berkerut, seakan- akan cairan pahitnya akan tertumpah keluar....

Pada saat itulah dia mendengar lagi sebuah suara yang sangat aneh.

Ia mendengar gonggong anjing. Gonggong anjing pun bukan sesuatu yang aneh. Di seluruh kota maupun desa di wilayah Kang-lam, orang dapat mendengar gonggong anjing dari setiap sudut tempat, bahkan setiap hari suara itu mengganggu ketenangan, membuat kau yang enggan mendengar pun terpaksa harus mendengarnya juga.

Tapi di dataran luas yang begitu gersang, sepi, dan terpencil, apalagi di pagi hari yang dingin membekukan, siapa pun tak akan menyangka akan mendengar suara gonggong anjing, tentu saja semakin tak mengira kalau  akan melihat munculnya seekor anjing.

Siau-hong telah melihat munculnya seekor anjing.

Ternyata makhluk kedua yang muncul bukan roh gentayangan pula, melainkan seekor anjing.

Seekor anjing Peking yang berbulu putih salju dan sangat cantik.

Langit nyaris sudah terang menderang, lambat-laun warnanya telah berubah menjadi sewarna ujung hidung mayat-mayat itu.

Anjing Peking yang putih bersih dan manis itu masih menggonggong, menggunakan semacam gerakan yang amat menarik, amat lincah berlari mendekat, seakan seekor anjing kecil yang sangat disayang berlari masuk ke dalam kamar tidur majikannya.

Dia seakan tahu majikannya yang berhati lembut tak bakal memarahinya, karena itu benda apa pun yang dijumpai pasti digigitnya sekali, berjumpa dengan sandal milik majikan pun tetap akan menggigitnya.

Hanya sayang tempat ini bukan kamar tidur gadis manja, di sini pun tak ada nona yang berhati lembut, apalagi sandal bunga yang indah. Yang ada di sini hanya orang mati, sepatu laras kulit yang dikenakan pada kaki mayat-mayat itu.

Anjing Peking yang putih menawan itu masih tetap menggigitnya, yang digigit bukan sepatu kulit yang dikenakan mayat itu, yang digigit adalah betis mayat itu.

Ternyata anjing Peking yang putih menawan itu menggigit betis setiap mayat yang dijumpai.

Orang mati tentu tak akan merasa sakit, tiada reaksi dari mayat-mayat kaku itu.

Tapi Yang-kong merasa hatinya sakit.

Seperti gadis gadis berusia sembilan belas tahun, dia pun amat menyukai anjing kecil berbulu putih yang menarik hati.

Dia tak tega menyaksikan anjing kecil yang menawan itu sama nasibnya seperti elang pemakan bangkai, mati keracunan.

Dia tak tega untuk melihatnya, namun dia pun tak tahan untuk melihatnya.

Karena itu dia pun menyaksikan satu kejadian aneh.

Anjing kecil itu bukan saja tidak mati keracunan, bahkan berubah makin lincah, makin menarik, makin menawan, seperti anjing kecil yang baru habis menyantap hidangan lezat yang diberikan majikannya, karena itu dia menggunakan cara yang paling menawan untuk melaporkan hasilnya, untuk membuat senang hati majikannya, karena itu dia menggonggong tiada hentinya, menggoyang ekor tiada hentinya.

Kini dia sudah mendengar majikannya memanggil, "Macan kecil, cepat, cepat, cepat, biar ibu menciummu, menggendongmu!" Dia hanya seekor anjing kecil, bukan macan kecil, "ibu"nya pun bukan seekor anjing, dia seorang manusia.

Seorang yang sangat menarik, berkulit putih bersih, bermata bening, rambutnya yang hitam dikepang menjadi tujuh-delapan belas buah kepang kecil, pada setiap kepang kecil itu diikat dengan tali merah yang berbentuk kupu- kupu.

Di wilayah Kang-lam yang berpanorama indah, di musim semi yang berudara segar, di tepi sungai kecil atau di kebun bunga, mungkin saja kau akan bertemu dengan seorang gadis kecil yang begitu menawan.

Tapi di tempat, waktu dan suasana seperti ini, siapa pun tak bakal akan mengira bakal bertemu dengan manusia semacam ini.

Tentu saja dia bukan "Roh gentayangan", pasti bukan. Tapi siapakah dia? Mengapa bisa muncul di tempat ini,

bahkan membawa seekor anjing kecil?

Andaikata bukan lantaran di tempat itu masih ada tiga puluh tujuh sosok mayat yang masih berlutut di sana, Yang- kong pasti akan lari melewati gundukan pasir dan bertanya kepadanya, dari dalam kantung kulitnya membagikan semangkuk susu kambing yang manis kecut, lalu bertanya tentang asal-usulnya dan bertanya kepadanya apakah bersedia menjadi sahabatnya.

Tapi dengan cepat dia hapus seluruh rencananya itu, kendati di sana tak ada orang mati, dia tak bakal muncul dari persembunyiannya.

Karena secara tiba-tiba dia telah menyaksikan seseorang yang jauh lebih menakutkan daripada orang mati, seorang berpakaian serba putih bagaikan sesosok roh jahat muncul secara tiba-tiba di belakang tubuh nona kecil berkepang tujuh-delapan belas itu.

Padahal dia tidak termasuk orang yang berparas jelek, perawakan tubuhnya tinggi tegap bagaikan sebatang pit, pakaian putihnya bersih dan sesuai dengan  potongan badan, bahkan panca-inderanya termasuk sempurna, orang itu terhitung tampan dan menawan.

Dia bahkan jauh lebih tampan dan menarik daripada kebanyakan orang lelaki, namun siapa pun yang pernah melihatnya pasti akan terperanjat hingga bermandikan keringat dingin.

Tubuh orang ini seolah tembus pandang, semua bagian tubuhnya yang berada di luar pakaian hampir seluruhnya tembus pandang, setiap nadinya, setiap ototnya, bahkan setiap kerat tulang-belulangnya dapat dilihat dengan jelas sekali.

Seluruh bagian tubuh orang ini seolah dilapisi oleh kristal yang tembus pandang.

Hampir saja Yang-kong menjerit keras, berteriak kepada nona kecil yang menarik itu agar lari dengan cepat, makin cepat larinya semakin baik.

Bagaimana pun dia merasa kuatir akan keselamatan nona kecil itu.

Apakah kemunculan manusia kristal itu dikarenakan gadis cilik itu? Apa yang bakal dia lakukan terhadapnya?

Sekalipun manusia kristal itu tidak mengusiknya, tatkala gadis itu mengetahui di belakangnya telah berdiri manusia semacam ini, apakah dia tidak mati lantaran kaget?

Sekarang gadis itu telah melihat kehadirannya. Ternyata dia sama sekali tidak takut, malah mencak- mencak kegirangan, dipeluknya tengkuk orang itu lalu mengecup pipinya yang tembus pandang.

Ternyata manusia kristal itu pun ikut tertawa, bahkan pandai bicara, suaranya penuh kelembutan dan kehangatan.

Akan tetapi perkataan yang dia ucapkan lagi-lagi membuat orang lain terperanjat.

"Apakah semuanya sudah mati?" tanya orang itu sambil membelai lembut rambut si nona, "Apakah semuanya sudah mati?"

"Tentu saja semuanya sudah mati," jawab nona kecil itu, "Perlu kita suruh si macan kecil menggigit mereka sekali lagi?"

Lalu sambil memicingkan mata lanjutnya, "Kau melarang mereka menyaksikan matahari hari ini, mana mungkin mereka bisa hidup hingga fajar menyingsing?"

Tak tahan secara diam-diam Yang-kong menggenggam lagi tangan Siau-hong, tangan mereka berdua terasa lebih dingin ketimbang tadi.

Ternyata manusia kristal inilah si roh gentayangan, "Im- leng".

Rupanya anjing kecil itu menggigit kaki setiap mayat yang berlutut tadi tujuannya untuk mencoba apakah mereka benar-benar sudah mati atau belum, hanya orang mati yang tak merasa kesakitan.

Harus menunggu hingga setiap orang mati, si roh gentayangan baru akan muncul.

Tapi Yang-kong belum mati, Siau-hong, dan Pancapanah pun belum mati. Akhirnya mereka dapat melihat wajah asli si roh gentayangan dalam keadaan hidup.

Tapi sekarang, berapa lama lagi mereka dapat hidup?

Kemungkinan besar si roh gentayangan telah menemukan jejak mereka, telah melepaskan racunnya yang tak berwarna, tak berbau, dan tak berwujud, melepasnya di udara, di tengah hembusan angin, ketika mereka menjumpai dirinya telah keracunan, tubuh mereka telah jatuh berlutut.

Berlutut berarti mati.

Biarpun seseorang bakal mati, tidak seharusnya mereka mati dalam keadaan berlutut.

Mengapa tidak sekalian beradu jiwa dengannya?

Menyerangnya mati-matian?

Hampir Yang-kong menerjang keluar dari persembunyiannya...

Tapi pada saat itulah kembali ia saksikan sebuah peristiwa yang amat menakutkan.

Dari antara tiga puluh tujuh sosok mayat yang mati berlutut, tiba-tiba ada seorang telah hidup kembali.

Ternyata orang mati yang hidup kembali itu tak lain adalah si gemuk penunggang keledai.

Tubuhnya yang gemuk besar tiba-tiba melejit ke tengah udara seperti ikan Lehi dari sungai Huang-ho, terlihat secercah cahaya perak menebar di angkasa.

Cahaya perak itu berkelebat lalu jatuh ke atas tubuh manusia kristal itu, ternyata sebuah jala. Tubuhnya berputar di tengah udara kemudian melayang turun di atas batang pohon kering itu dan mulai menarik jala peraknya.

Dalam waktu sekejap manusia kristal itu pun berubah menjadi ikan dalam jaring.

Bila seseorang benar-benar sudah mati, dia tak akan bangkit dan hidup kembali, karena setiap manusia hanya memiliki selembar nyawa, hanya bisa mati satu kali.

Tentu saja si gemuk itu pun tidak terkecuali.

"Pernahkah kau bayangkan kalau aku belum mati?" ia tertawa tergelak, "Pernahkah kau bayangkan, di dunia ini ternyata masih ada orang yang tak mati kau racun?"

Suara tawanya amat nyaring dan gembira, kejadian semacam ini memang patut dia banggakan.

Tapi sayang suara tawanya harus segera berakhir, karena dia pun telah menyaksikan satu kejadian yang sama sekali tak diduga.

Dia menjumpai nona kecil itu pun sedang tertawa.

Tadi dia masih sempat memeluk manusia kristal itu, bahkan menciumnya. Hal ini membuktikan hubungan di antara mereka berdua tentu sangat dekat dan akrab.

Ketika saat ini dia melihat sanak dekatnya secara tiba- tiba dijaring orang, seharusnya gadis itu merasa sangat terkejut, sangat gusar, dan sangat berduka, sekalipun dia tak berani mengadu nyawa dengan si gemuk, paling tidak sepantasnya ia berusaha melarikan diri.

Siapa sangka dia justru ikut tertawa, bukan hanya tertawa bahkan bertepuk tangan, bukan saja gelak tertawanya jauh lebih ceria, suara tepuk tangannya pun  jauh lebih keras dari siapa pun. "Kungfu yang hebat! Kemampuan yang luar biasa!" teriaknya sambil bertepuk tangan, "Sekalipun kemampuanmu di bidang yang lain tidak seberapa hebat, namun kemampuanmu untuk berpura-pura mati boleh dibilang nomor satu di kolong langit."

Kembali dia bertanya, "Ketika digigit si macan kecil tadi, masa kau sama sekali tidak merasa kesakitan?"

Si gemuk ikut tertawa.

"Siapa bilang tidak sakit, sakitnya setengah mati," sahutnya.

"Kenapa kau bisa tahan?"

"Begitu terbayang si roh gentayangan Im-sianseng yang selama ini malang-melintang dalam dunia persilatan dan selalu membikin orang ngeri dan ketakutan bakal segera tergantung dalam jaringku, biar lebih sakit pun aku masih dapat menahannya."

"Masuk akal, sangat masuk akal," kembali nona cilik itu tertawa, "Setiap perkataan Oh-tayciangkwe rasanya selalu masuk akal."

Sekarang Yang-kong baru tahu, ternyata si gemuk bermarga Oh, bahkan seorang Tayciangkwe.

Di wilayah utara, Tayciangkwe berarti Toalopan, juragan besar. Kalau dilihat bentuk badannya, dia memang mirip seorang juragan besar, tauke besar.

Tiba-tiba nona cilik itu kembali menghela napas. "Sungguh tak disangka hari ini ternyata Oh-tayciangkwe

telah salah mengatakan sesuatu.” “Soal apa?" "Orang yang kau gantung dalam jaringmu itu bukan Im- sianseng, tidak sepantasnya kau sebut si Roh gentayangan yang membikin setiap orang ketakutan itu sebagai Im- sianseng"

"Lalu harus memanggil apa?"

"Kau seharusnya memanggil dia sebagai Im-toasiocia," nona itu tertawa, "Paling tidak seharusnya kau memanggilnya Im-toakohnio."

"Di manakah nona Im sekarang?" tanya Oh-tayciangkwe cepat.

"Berada di sini, persis di hadapanmu," nona itu menunjuk ke hidung sendiri, "Akulah Im-toakohnio, Im- siocia adalah aku."

Lagi-lagi Oh-tayciangkwe tak mampu tertawa.

Siapa pun tak akan menyangka si nona kecil dengan rambut dikepang tujuh-delapan belas, yang suka membopong anjing kecil, bahkan sewaktu tertawa mirip dengan keceriaan cucu sendiri, ternyata tak lain adalah Im- leng, si Roh gentayangan yang sangat menakutkan.

Kembali nona itu membopong anjing kecilnya, lalu ujarnya kepada Oh-tayciangkwe yang kini sudah tak mampu tertawa lagi, "Bagaimana kalau kudendangkan sebuah lagu untukmu?"

Dalam situasi seperti ini ternyata si nona ingin menyanyi, bukan hanya begitu, ternyata ia benar-benar menyanyi:

"Di Yan-pak terdapat Sam-po-tong. Terkenal dan disegani banyak orang.

Dalam Sam-po-tong terdapat Sam-po (tiga mestika). Siapa bertemu siapa tertimpa musibah, air mata jatuh berlinang.

Ayah tiada, ibu pun tiada,

Siapa bertemu dia tertimpa bencana,

Air mata meleleh bagaikan butiran beras"

Apa yang dia nyanyikan pada hakikatnya tidak bisa disebut sebuah nyanyian, bait syairnya pun sama sekali tak indah, namun setiap patah katanya justru merupakan kenyataan.

Sam-po-tong (Gedung tiga mestika) terletak di wilayah Yan-pak, pamor dan namanya memang amat tersohor. Dalam Sam-po-tong memang benar-benar terdapat Sam-po, tiga mestika, bila orang persilatan bertemu Sam-po, jarang sekali ada yang bisa luput dari bencana.

Menunggu nona itu selesai menyanyi, Oh-tayciangkwe pun bertepuk tangan.

"Bicaralah menurut hati nuranimu, nyanyian yang kubawakan barusan enak tidak dinikmati?"

"Bagus, enak sekali," jawab Oh-tayciangkwe tertawa, "Kujamin belum pernah ada orang lain yang bisa menyanyi jauh lebih merdu daripada dirimu."

Im-toasiocia tertawa terkekeh.

"Menjilat ribuan, menjilat jutaan, hanya pantat yang paling enak dijilat. Kau begitu menyanjungku, tentu saja aku pun harus membalas sanjunganmu itu."

"Tentu, tentu."

"Orang lain mendengar aku menyebutmu Tayciangkwe, mereka pasti menyangka paling kau hanya tauke sebuah kedai makan saja." Oh-tayciangkwe menghela napas. "Aku sendiri lebih suka begitu, kesulitan dan kerepotan yang dialami para Tayciangkwe rumah makan jauh lebih kecil daripada diriku."

"Hanya sayangnya kau justru Tayciangkwe dari Sam-po- tong, ingin menyangkal pun tak mungkin bisa disangkal."

Tiba-tiba nona itu bertanya lagi, "Dapatkah kau beritahu padaku, Sam-po-tong itu sebenarnya tiga mustika apa saja?"

"Menurutmu?" Oh-tayciangkwe balik bertanya sambil tersenyum.

"Jaring yang dapat menggantung orang tentu mestika pertama bukan?" tanya Im-toasiocia sambil memutar biji matanya. • "Tentu saja."

"Konon kau mempunyai Am-gi yang dinamakan Hong- hong-tian-ci (Burung Hong pentang sayap), walaupun belum sebanding dengan Khong-ciok-leng (Bulu merak)  dari Perkampungan Khong-ciok-san-ceng di masa lampau, namun kehebatannya luar biasa juga, tentunya benda itu pun termasuk salah satu mestikamu."

"Seharusnya begitu."

Ooo)d*w(ooO