Elang Terbang di Dataran Luas BAB 13. PERTARUHAN SEORANG PENDETA AGUNG

 
BAB 13. PERTARUHAN SEORANG PENDETA AGUNG

Siau-hong pun sama sekali tidak bereaksi, dia membalikkan badan sambil menggantungkan kembali permadani itu di tempat semula, kemudian mengikuti kembali di belakang orang itu.

Mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan, seakan tak pernah terjadi suatu peristiwa pun di sana.

Biarpun penampilan Siau-hong tetap tenang, bukan berarti perasaannya bisa tenang, karena dia sudah melihat kalau orang itu adalah seorang jago lihai, kemungkinan besar dia adalah musuh paling menakutkan pertama yang dijumpainya sejak memasuki wilayah Tibet, bahkan jauh lebih menakutkan daripada Wi Thian-bong.

Biarpun golok milik Wi Thian-bong menakutkan, walaupun kecepatan geraknya sewaktu mencabut golok luar biasa kilatnya, namun sewaktu dia meloloskan senjatanya, sedikit banyak bahu kanannya tentu akan bergerak terlebih dahulu.

Walaupun panahnya menakutkan, namun sebelum dia membidikkan anak panahnya, tentu akan menarik dulu gendawanya.

Sekalipun jago-jago paling lihai dalam dunia persilatan, sesaat sebelum mereka lancarkan serangan yang paling mematikan, biasanya mereka akan melakukan gerak persiapan yang dapat terlihat dan terpantau orang lain.

Namun orang ini sama sekali tak ada.

Sewaktu melepaskan dua puluh enam jenis senjata rahasia yang mematikan, bukan saja kepalanya tidak berpaling, bahunya tidak bergerak, bahkan tangan pun tak nampak diayunkan.

Persendian tulang lengannya maupun persendian tulang pergelangannya seakan dapat ditekuk dan digerakkan sekehendak hati, dapat muncul dari posisi yang sama sekali tak terduga oleh siapa pun, menggunakan tenaga yang  siapa pun tak bisa mengerahkan, melancarkan serangan mematikan yang membuat orang lain sama sekali tidak menduganya.

Langit bersih dan biru, di kejauhan sana tampak puncak berlapis salju muncul di balik langit yang bersih, mereka sudah meninggalkan jalan raya yang ramai dan memasuki daerah pinggiran yang sepi.

Berdiri dari posisi di mana Siau-hong berdiri sekarang, ia tak dapat melihat orang lain, juga tak dapat mendengar sedikit suara pun.

Satu-satunya orang yang dapat dilihat Siau-hong adalah orang yang berada di depannya, kini orang itu telah berhenti berjalan, membalikkan badan dan saling berhadapan muka dengannya.

Saat itu dia sedang mengawasi Siau-hong dengan sepasang mata penuh rasa benci dan dendam yang mendalam. Terhadap seorang asing yang sama sekali tak dikenalnya, tidak seharusnya dia memperlihatkan sorot mata semacam ini.

"Aku bernama Bu-siong," tiba-tiba orang itu memperkenalkan namanya, Siau-hong belum pernah mendengar nama orang ini.

Perkataan kedua yang diucapkan Bu-siong lebih mengejutkan lagi.

"Aku datang mencarimu karena aku menginginkan kau mati!" katanya.

Dia berbicara dengan logat Han yang sangat kaku, tapi kata "mati" yang diucapkan dengan logat kaku itu justru kedengaran lebih bertenaga, lebih mengerikan hati, lebih menakutkan, dan lebih menandaskan kebulatan tekadnya.

Siau-hong menghela napas panjang, ujarnya, "Aku tahu, kau menghendaki aku mati, tadi hampir saja aku tewas oleh sambitan senjata rahasiamu."

"Kau adalah seorang jago pedang, sudah seharusnya memahami hal ini," kata Bu-siong, "Pekerjaan seorang jago pedang adalah membunuh, yang penting bagaimana agar sasarannya mati, terserah cara apa yang akam digunakan!"

Lalu dengan nada yang semakin aneh lanjutnya, "Kau adalah seorang jago pedang, setiap saat bisa membunuh orang, setiap saat pula dapat mati dibunuh orang. Setelah membunuh orang, kau tak pernah menyalahkan diri sendiri, maka bila kau terbunuh, jangan pula menyalahkan orang lain." Siau-hong tertawa getir.

"Dari mana kau tahu kalau aku adalah jago pedang?" "Aku tidak kenal kau, tapi pernah mendengar orang lain

membicarakan tentang dirimu, kau adalah seorang jago pedang kenamaan dari daratan Tionggoan!"

Sikap Bu-siong amat serius, sama sekali tak bernada menyindir atau mengejek.

Perlahan-lahan ujarnya lebih jauh, "Kau adalah jago pedang, pedang dari seorang jago pedang tak beda dengan tangan manusia. Tangan setiap orang seharusnya berada di tempatnya, begitu pula dengan pedang milik seorang jago pedang, seharusnya pedang itu selalu berada di tubuhmu, tapi kau tidak."

Pedang dari seorang jago pedang ibarat tangan dari seseorang.

Biarpun perkataan Bu-siong susah dipahami, namun siapa pun harus mengakui bahwa apa yang dia katakan memang benar dan sangat masuk akal.

"Yang kau latih adalah pedang, senjata yang kau gunakan untuk membunuh pun pedang," kata Bu-siong lebih jauh, "Aku tidak berlatih pedang, aku pun tidak membunuh menggunakan pedang, aku membunuh orang dengan menggunakan tanganku."

Dia mulai mengulurkan tangannya.

Sewaktu tangannya dijulurkan, tangan itu masih sangat biasa dan umum, tiada sesuatu yang aneh, namun dalam waktu singkat telapak tangannya telah berubah menjadi merah membara, merah bagai cahaya matahari, merah bagaikan darah, merah bagaikan jilatan api. Perlahan-lahan Bu-siong berkata lebih jauh, "Aku masih memiliki - tangan, sedang kau tidak memiliki pedang, karena itu aku tak akan mati, kau yang bakal mati!"

Belum pernah Siau-hong mendengar kata "mati" yang diucapkan begitu tajam, sadis, dan penuh perasaan dendam.

Apakah hal ini dikarenakan dalam hati kecilnya telah muncul bayangan kematian?

Mengapa dia ingin membunuh Siau-hong?

Dia sendiri yang berniat membunuh Siau-hong ataukah orang lain yang mengirimnya ke sana?

Dilihat dari kemampuan silat yang dimiliki serta penampilannya, dapat dipastikan dia bukanlah anak buah Wi Thian-bong.

Dia sendiri sama sekali tak pernah berjumpa Siau-hong, jadi tak mungkin mempunyai dendam kesumat atau perselisihan yang hanya bisa diselesaikan lewat "kematian".

Siau-hong tak habis mengerti, dia benar-benar tak dapat memahami semua persoalan itu. Tapi ada satu hal yang dapat dilihat olehnya.

Kekuatan pukulan orang ini kuat dan sesat, sekalipun bukan termasuk ilmu sakti Mi-tiong-toa-jiu-eng, sudah pasti kemampuannya mirip dengan aliran pukulan itu.

Tenaga pukulan ini dapat dipastikan tak mampu dihadapi Siau-hong hanya dengan mengandalkan pukulan tangan kosong.

Sementara pedangnya tidak berada dalam tubuhnya, karena dia tak menyangka di tempat yang serba asing ini, dia membutuhkan pedang untuk menghadapi situasi sepelik ini. Lalu apa yang harus dia gunakan untuk menghadapi pukulan telapak berdarah Bu-siong?

Di tengah sorotan cahaya matahari yang menerangi seluruh jagat, tiba-tiba hawa pembunuhan menyelimuti seluruh angkasa. Di bawah bayang-bayang maut dan kematian, cahaya matahari pun terasa berubah jadi suram dan menggidikkan.

Selangkah demi selangkah Bu-siong berjalan menghampiri Siau-hong, langkah kakinya perlahan dan berat.

Ada sejenis manusia, bila ia sudah mengambil keputusan untuk mulai melakukan gerakan, maka tak seorang pun di dunia ini yang dapat menghentikannya lagi.

Tak disangkal Bu-siong termasuk manusia semacam ini.

Dia telah mengambil keputusan, dia bertekad akan menghabisi nyawa Siau-hong di ujung pukulannya, bayangan gelap yang menyelimuti hatinya hanya bisa terusir dan buyar karena "kematian".

Selangkah demi selangkah Siau-hong bergerak mundur. Dia  tak  mampu  menghadapi  sepasang  telapak  tangan

Bu-siong, karena itu tubuhnya hanya bisa mundur,  mundur

sampai tak dapat mundur lagi.

Kini dia sudah mundur hingga tak dapat mundur lagi.

Dia telah mundur hingga ke bawah sebatang pohon kering, pohon lapuk yang tumbang telah menghadang jalan mundurnya. Pohon tua, lapuk dan mati, begitu juga dengan manusia.

Pada saat yang amat kritis itulah, tiba-tiba terlintas satu ingatan di dalam benaknya, sesaat menjelang tibanya mati dan hidup, terkadang merupakan saat pikiran manusia paling jeli dan tajam.

Pedang hati.

Tiba-tiba saja ia teringat perkataan Tokko Ci.

Biarpun dalam genggamanmu terdapat pedang tajam yang mampu memutuskan bulu dan rambut, namun selama hatimu tiada pedang, maka pedang yang berada dalam genggamanmu tak lebih hanya sebilah pedang rongsok.

Inilah teori ilmu pedang tingkat tinggi, bila teori ini diurai dengan menggunakan cara lain maka maknanya tetap akan sama.

Biarpun dalam genggamanmu tak terdapat pedang, namun bila dalam hatimu terdapat pedang, biar sebuah besi rongsok pun sama saja dapat berubah menjadi senjata tajam yang mematikan.

Dalam pada itu pihak lawan telah berjalan makin dekat.

Tiba-tiba Bu-siong mengeluarkan bunyi raungan singa yang rendah tapi berat, mendadak pakaian yang dikenakan mulai bergoyang dan bergetar keras walau tidak terhembus angin.

Dia telah mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya dan siap melancarkan gempuran yang mematikan.

Kini telapak tangan darahnya telah melancarkan gempuran maha dahsyat.

Pada saat bersamaan tiba-tiba Siau-hong membalikkan tangan mematahkan sebatang ranting kayu, perlahan-lahan ditusukkan ke depan.

Dalam sekejap ranting kayu itu sudah bukan ranting kayu biasa, ranting itu telah berubah menjadi sebilah pedang. Sebilah pedang tajam yang dapat mencabut nyawa siapa pun.

Karena di dalam hati dia sudah tidak menganggap ranting kayu itu sebagai sebatang ranting, melainkan telah menganggapnya sebagai sebilah pedang, dan seluruh pikiran serta niatnya telah menganggap ranting itu sebagai pedang, seluruh tenaga dan kekuatan yang dimilikinya telah disalurkan ke atas "pedang" itu.

Biarpun "pedang" itu tampak kosong dan maya, akan tetapi begitu "pedang" itu ditusukkan ke depan, telapak tangan darah Bu-siong segera tertusuk tembus hingga muncul lubang luka yang besar.

Menggunakan kesempatan itu, lagi-lagi tangannya menyerong ke samping sambil melepaskan sebuah tusukan lagi, kali ini "pedang"nya menusuk mata Bu-siong.

Dalam sekejap telapak tangan darah Bu-siong telah tertancap menjadi satu dengan matanya, terpaku oleh tusukan batang ranting itu.

Darah segar segera berhamburan ke mana-mana, tubuhnya roboh terkapar, roboh untuk tak bergerak lagi.

Menanti ada angin berhembus, Siau-hong baru merasa pakaian yang dikenakannya telah basah kuyup oleh keringat.

Dia sendiri pun tidak menyangka kalau "pedang" itu memiliki daya kekuatan yang luar biasa, karena "pedang" itu bukan ditusuk menggunakan tangannya, melainkan ditusuk dengan menggunakan hati.

Di saat "pedang" itu menusuk ke depan, pikiran, perasaan, tangan maupun tubuhnya telah terlebur jadi satu dengan "pedang" itu. Pada detik itulah seluruh tenaga murni yang dimilikinya telah disalurkan, pikiran dan tubuh telah menyatu, memanfaatkan peluang sesaat inilah dia melepaskan sebuah tusukan "pedang" yang pasti akan mencabut nyawa musuh, tusukan yang pasti menghasilkan kemenangan.

Inilah intisari "pedang hati" Ternyata Bu-siong belum mati.

Tiba-tiba Siau-hong mendengar ia bergumam seorang diri, seolah sedang memanggil nama seseorang, "Pova... Pova. ”

Perasaan Siau-hong mengejang keras, segera dia membungkukkan badan, lalu mencengkeram baju Bu-siong kuat-kuat, tanyanya, "Apakah Pova yang mengirim kau untuk membunuhku?"

Suaranya berubah jadi sangat parau, "Benarkah begitu?" Pandangan   mata   Bu-siong   mulai   sayu   dan kosong,

kembali dia bergumam, "Dia minta aku membawamu pergi

menjumpainya. Aku tak bisa membawamu untuk menemuinya, aku lebih suka mati."

Logat bicaranya memang kaku, namun kata-katanya sekarang jauh lebih susah dicerna, "Aku tak ingin kau mati, maka biarlah aku yang mati. Setelah aku mati, kau baru boleh pergi menjumpainya. Selama aku masih hidup, siapa pun tak boleh merebutnya dari tanganku."

Siau-hong segera mengendorkan cengkeramannya.

Tiba-tiba saja dia menjadi paham, mengapa dalam hati Bu-siong bisa muncul bayangan kegelapan, dia mulai sadar dari mana datangnya bayangan kegelapan itu. Hanya cinta yang diperoleh dengan menahan penderitaanlah akan mewujudkan bayangan gelap yang begitu suram.

Penderitaan yang sama, perasaan cinta yang sama, cinta yang sama mendalamnya, membuat Siau-hong secara tiba- tiba merasakan suatu kepedihan yang tak terlukiskan terhadap kehidupan manusia.

Tiba-tiba Bu-siong menghembuskan napasnya dalam- dalam dan berkata, "Aku sudah hampir mati, kau boleh pergi!"

Dia meronta, menarik bajunya yang baru saja dikendorkan Siau-hong dan memperlihatkan pakaian kasanya yang berwarna kuning.

Baru sekarang Siau-hong tahu lawannya ternyata adalah seorang pendeta.

Dari lagak serta sikap orang lain yang menaruh begitu hormat terhadapnya, tak dapat disangkal lagi orang ini adalah seorang Lhama yang berkedudukan sangat tinggi.

Namun kenyataan dia seperti orang awam pada umumnya, rela mengorbankan nyawa demi seorang wanita.

Dia bukan seorang wanita, dia seorang iblis wanita, tak seorang lelaki pun yang akan menampik kehadirannya.

Siau-hong merasakan hatinya amat sakit, jauh lebih sakit daripada tertusuk pedang.

"Kau minta aku datang ke mana?"

Dari balik kasanya Bu-siong mengeluarkan sebuah patung Buddha emas kecil seraya berkata, "Datanglah ke istawa Potala, bawa serta Buddha pelindung tubuhku dan pergilah menjumpai Galun Lhama (Galun atau Gapulun adalah nama jabatan penting dalam pemerintahan Tibet), katakan kepadanya kalau aku... aku telah mendapat kebebasan."

Inilah perkataan terakhir yang dia ucapkan.

Bayangan hitam di dalam hatinya hanya bisa terbuyarkan karena kematian, seluruh siksaan batin serta penderitaannya pun baru terbebaskan setelah datangnya kematian.

Tapi benarkah dia telah memperoleh kebebasan? Sewaktu kematian datang menjelang, benarkah perasaannya telah pulih kembali dalam ketenangan seperti di masa lampau?

Tak seorang pun dapat menjawab pertanyaan ini.

Dia telah meninggalkan pertanyaan itu untuk Siau-hong.

Galun Lhama menerima Siau-hong di dalam sebuah bilik yang gelap di tengah istana Potala yang indah dan megah.

Di dalam kebudayaan keagamaan yang tua dan penuh misteri ini, seorang Galun Lhama bukan saja merupakan seorang pendeta tinggi yang sangat menguasai ilmu agama Buddha, dia pun seorang pejabat tinggi yang mengatur pemerintahan serta kesejahteraan rakyat banyak, kedudukannya begitu tinggi dan terhormat hanya terpaut setingkat bila dibandingkan Dalai Lhama.

Biarpun posisinya sangat terhormat dan tinggi, namun orangnya justru seperti bilik tempat tinggalnya, begitu tua, rentan, gelap, dan diselimuti hawa sesak.

Siau-hong sama sekali tak mengira dia dapat menjumpainya dengan begitu mudah, terlebih tak menyangka dia ternyata adalah orang semacam ini. Dia duduk bersila di atas sebuah ranjang tua yang sudah jelek bentuknya, menerima patung Buddha emas yang disodorkan Siau-hong tanpa bicara dan mendengarkan maksud kedatangan pemuda itu tanpa komentar, raut muka kurusnya yang penuh keriput selalu menunjukkan sikap seolah dia sedang berpikir sangat dalam, seolah sama sekali tak ada perasaan, karena pikirannya sudah tak dapat menggerakkan perasaannya lagi.

"Aku memahami maksud kedatanganmu," tanpa menanti Siau-hong berkata, Galun Lhama berbicara, "Aku tahu, penderitaan yang dialami Bu-siong hanya bisa dilepas dengan kematian."

Suaranya lemah dan sangat lamban, ia berbicara menggunakan dialek bahasa Han yang lancar dan tepat, "Aku hanya ingin bertanya satu hal kepadamu, benarkah kau yang telah membunuhnya?"

"Benar," Siau-hong mengakui, "Aku terpaksa harus membunuh karena saat itu tiada pilihan lain bagiku, bila dia tak mati maka akulah yang bakal mati."

"Aku percaya karena aku dapat melihat kau adalah seorang yang jujur," Galun Lhama manggut-manggut, "Kau masih sangat muda, tentu saja tak ingin cepat mati. ”

Dengan matanya yang berwarna abu-abu, ditatapnya Siau-hong sekejap, kemudian melanjutkan, "Oleh karena itu, kau tidak seharusnya datang kemari."

"Kenapa?" tak tahan Siau-hong bertanya.

"Tahukah kau mengapa Bu-siong minta kau datang mencariku?”

“Dia minta aku datang bertemu Pova." "Keliru besar," tukas Galun Lhama hambar, "Peraturan yang berlaku dalam agama kami jauh berbeda dengan aturan yang berlaku di daratan Tionggoan, kami tidak pantang membunuh, karena kalau tidak membunuh, kami tak dapat menaklukkan iblis. Cara kami menghadapi siluman iblis seperti cara kami menghadapi musuh besar atau murid pengkhianat, sebuah cara yang sama."

"Cara apa?"

"Dengan mata membayar mata, dengan gigi membayar gigi!" sikap Galun Lhama masih tetap amat tenang, "Kami percaya inilah cara yang paling tepat, sejak zaman dulu hingga sekarang hanya ada cara ini saja."

Setelah berhenti sejenak, perlahan-lahan tambahnya, "Maka dari itu sekarang kau seharusnya sudah mengerti, Bu-siong minta kau datang kemari tak lain karena dia tahu aku pasti akan membunuhmu untuk membalaskan dendam sakit hatinya."

Siau-hong terbungkam dalam seribu bahasa.

Tiba-tiba dia memahami satu hal, baik dalam keadaan hidup maupun berada dalam keadaan mati, Bu-siong tak rela membiarkan dia pergi menjumpai Pova.

Galun Lhama masih tetap menatapnya, sorot mata pendeta tua itu tetap lembut dan hangat. Namun tiba-tiba saja dia mengucapkan sepatah kata yang jauh lebih tajam daripada mata golok.

Mendadak tanyanya kepada Siau-hong, "Percayakah kau, dalam sekali ayunan tangan aku dapat membunuhmu?"

Siau-hong menampik untuk menjawab. Dia tidak percaya, akan tetapi dia sudah terlalu banyak menjumpai kejadian yang tak masuk akal.

Di negeri asing yang penuh misteri, di dalam istana yang megah dan penuh rahasia, berhadapan dengan seorang pendeta sakti yang misterius. Ada banyak persoalan yang sebelumnya tak mungkin dia percaya, tapi sekarang mau tak mau harus mempercayainya.

Terdengar Galun Lhama kembali berkata, "Di atas dinding ada pedang, ambillah!"

Siau-hong berpaling, dia lihat di atas dinding tergantung sebilah pedang kuno yang sudah lama dan dilapisi sarang laba-laba.

Dia telah melolos pedang itu.

Sebilah pedang kuno dan aneh bentuknya, senjata yang berat dengan gagang terbuat dari tembaga, sarung pedang bersulamkan benang hijau, sekilas tak mirip sebilah senjata tajam.

"Mengapa kau tidak melolosnya?" Galun Lhama bertanya.

Siau-hong segera mencabut pedang itu.

Tampaknya tubuh pedang sudah melekat pada sarungnya karena karat, pertama kali mencabut ternyata ia gagal melolosnya, baru pada kali kedua ia berhasil melolos senjata itu dari sarungnya.

"Criing...!", diiringi suara dengungan nyaring, pedang itu tercabut dari sarungnya, dalam waktu singkat hawa pedang yang dingin memancar ke seluruh ruangan, begitu dingin membuat alis mata Galun Lhama pun ikut berubah jadi hijau.

"Pedang bagus!" tak tahan Siau-hong berseru memuji. "Memang sebilah pedang bagus," sahut Galun Lhama, "Kau mampu membunuh Bu-siong berarti paling tidak sudah sepuluh tahun lebih berlatih pedang, seharusnya dapat kau kenali pedang apakah ini."

Pedang ini memang sebilah pedang yang sangat aneh. Kalau pada mulanya senjata itu terasa sangat berat, maka setelah dilolos dari sarung dan tergenggam di tangan, mendadak pedang itu seakan-akan berubah jadi sangat ringan, mata senjata yang semula berwarna coklat bagaikan batang pohon Siong kini justru memancarkan cahaya berwarna kehijauan, seperti daun Siong yang hijau pupus.

"Bukankah pedang ini adalah pedang pribadi Ci Siong- cu, jago lihai zaman Cun-ciu Can-kok?" tanya Siau-hong menyelidik.

"Benar, pedang ini adalah Ci-siong," Galun Lhama manggut-manggut, "Walaupun tidak termasuk dalam deretan tujuh pedang tersohor, namun hal ini disebabkan kebanyakan orang mengira senjata ini sudah lama terpendam di dalam tanah."

"Konon pedang Ci-siong memiliki warna merah darah bagaikan cahaya matahari senja, mengapa sekarang berubah jadi hijau?"

"Karena senjata ini sudah sembilan belas tahun tak pernah menghirup darah manusia."

Setelah berhenti sejenak, kembali pendeta itu melanjutkan, "Senjata tajam yang seringkali membunuh orang, bila sudah banyak tahun tidak menghirup darah manusia, maka bukan saja cahayanya akan berubah warna bahkan lambat-laun akan kehilangan sinar ketajamannya, bahkan lama kelamaan akan berubah menjadi besi rongsokan." "Apakah sekarang sudah saatnya pedang itu menghirup darah manusia?" tanya Siau-hong.

"Benar."

"Menghirup darah siapa?" tanya Siau-hong sambil menggenggam kencang gagang pedangnya.

"Darahku! Kalau Hud-co bisa mengorbankan tubuhnya untuk memberi makan burung elang demi senjata mestika ini kenapa pula aku tak boleh meninggalkan tubuh kasarku yang bau ini?"

Suara maupun sikapnya sama sekali tak berubah, ia masih tampak begitu lemah lembut dan tenang.

"Kau ingin aku menggunakan pedang ini untuk membunuhmu?" tanya Siau-hong kembali mengendorkan genggamannya.

"Benar."

"Bukankah kau yang berniat membunuhku? Kenapa sekarang minta aku yang membunuhmu?"

"Aku sudah terlalu tua, sudah lama memandang hambar masalah mati hidup. Bila aku membunuhmu, tak nanti aku akan sedih karena kematianmu. Seandainya kau yang membunuhku, aku pun tak akan menyalahkan dirimu."

Tampaknya di balik perkataannya itu terkandung maksud yang sangat mendalam.

"Oleh sebab itu tak ada salahnya aku mencoba membunuhmu dan kau pun mencoba membunuhku."

"Jadi maksudmu, bila aku mampu membunuhmu, bunuhlah sebisanya, kalau tak berhasil berarti aku akan mati di tanganmu?" kembali Siau-hong bertanya. Galun Lhama tidak menjawab, pertanyaan semacam ini memang tak perlu dijawab.

Sekali lagi Siau-hong menggenggam pedangnya kuat- kuat.

Tiba-tiba Galun Lhama menghela napas, gumamnya, "Kalau kesempatan emas berlalu, selamanya tak akan kembali lagi, bila ingin berbalik arah, kau harus membayar mahal."

Habis berkata, kembali ia pejamkan matanya, melihat Siau-hong sekejap pun tidak.

Namun bagi Siau-hong, mau tak mau dia harus mengawasi ketat pendeta tua itu.

Dia memang seorang kakek tua, memang sudah tidak memikirkan mati hidup di dalam hati. Baginya kematian sudah bukan sesuatu yang tragis, karena di dunia sudah tiada masalah yang dapat mencelakainya, bahkan kematian sekali pun.

Perlahan-lahan Siau-hong menghembuskan napas panjang, lalu sebuah tusukan dilontarkan.

Tusukan ini langsung tertuju ke arah hulu hatinya!

Siau-hong yakin dan percaya bahwa serangannya selalu tepat sasaran, sasaran yang ditusuk pun merupakan bagian tubuh yang dalam waktu singkat dapat mengakhiri hidupnya, dia tak ingin pendeta agung ini menderita siksaan dan penderitaan menjelang ajalnya tiba.

Siapa sangka tusukan pedangnya ternyata menusuk tempat kosong.

Padahal dengan sangat jelas ia melihat Galun Lhama duduk tenang di tempat itu, jelas tak mungkin bisa menghindarkan diri dari tusukan pedangnya itu. Apa mau dikata ternyata tusukan pedangnya mengenai sasaran kosong.

Galun Lhama memang sama sekali tak bergerak, sedikit pun tidak bergeser dari posisinya.

Ia masih tetap duduk di tempat semula, sepasang kakinya masih bersila di atas ranjang, wajahnya masih diliputi bayangan gelap, sepasang matanya pun masih terpejam rapat.

Tapi pada saat mata pedang menusuk datang itulah mendadak posisi jantungnya bergeser ke samping.

Seluruh badannya sama sekali tak bergerak, hanya bagian itu saja yang tiba-tiba bergeser.

Dalam waktu yang amat singkat itulah bagian tubuhnya itu seakan-akan berpisah secara tiba-tiba dari tubuhnya.

Mata pedang itu hanya selisih setengah inci dari letak jantung di tubuhnya, namun setengah inci itu justru seakan terpisah sangat jauh, begitu jauh seperti langit dan bumi, seperti mati dan hidup, walaupun hanya setengah inci namun lebih jauh dari ribuan li, seperti melihat puncak bukit di balik awan.

Begitu tusukan pedangnya mengenai sasaran kosong, perasaan Siau-hong pun seakan secara tiba-tiba menginjak tempat kosong, seperti terjerumus ke dalam jurang yang ratusan kaki dalamnya.

Dalam pada itu Galun Lhama telah menggerakkan tangannya, dengan ibu jari menekan jari tengah, dia sentil mata pedang itu perlahan.

"Criing!", diiringi dentingan nyaring, tampak bunga api memercik ke empat penjuru. Siau-hong segera merasakan pergelangan tangannya bergetar sangat keras, tahu-tahu pedangnya sudah terlepas dan... "Duuuk!", menancap di atap ruangan.

Dari atap ruangan segera berhamburan debu dan pasir yang menghantam tubuhnya, pemuda itu merasakan setiap debu yang menimpa kulitnya seakan martil besi yang menghantam tubuhnya.

Begitu keras dan kuat hantaman itu membuat tubuhnya sama sekali tak mampu bergerak.

Akhirnya Galun Lhama membuka mata dan menatap wajah anak muda itu, sorot matanya masih tetap begitu hangat, begitu gelap.

Kembali dia bertanya kepada Siau-hong, "Sekarang apakah kau sudah percaya jika dalam sekali gerakan aku dapat membunuhmu?"

Siau-hong sudah tak bisa untuk tidak percaya.

Dia telah menemukan bahwa pendeta tua yang lemah ini justru merupakan jago paling tangguh yang pernah dijumpai sepanjang hidupnya, bukan saja dapat mengendalikan kekuatan inti yang dimiliki sekehendak hati, bahkan setiap inci otot tubuhnya, setiap bagian ruas badannya dapat dikendalikan dan diubah sekehendak hati.

Bahkan Siau-hong sendiri pun tidak tahu dirinya telah dikalahkan oleh jenis ilmu silat seperti apa.

Rakyat yang penuh misteri, agama yang penuh misteri, ilmu silat yang penuh misteri, apa lagi yang bisa dikatakan Siau-hong?

Dia hanya bisa bertanya, "Mengapa kau tidak membunuhku?" Ternyata jawaban yang diberikan Galun Lhama sama misteriusnya dengan ilmu silat yang dimilikinya.

"Karena aku sudah mengetahui maksud kedatanganmu," jawab Galun Lhama tenang, "Kedatanganmu bukan untuk menjenguk perempuan itu, kau datang untuk membunuhnya."

"Dari mana kau tahu?"

"Karena kau membawa hawa napsu membunuh, hanya orang yang telah bertekad akan membunuh orang baru memiliki hawa pembunuhan semacam ini, meskipun kau sendiri tidak melihatnya, namun sejak kau melangkah masuk ke dalam ruangan ini, aku telah merasakannya."

Siau-hong tak dapat buka suara lagi.

Dia benar-benar dibuat terkejut, terperangah oleh kenyataan yang dihadapi.

Galun Lhama kembali berkata, "Aku tidak membunuhmu karena aku ingin kau pergi membunuhnya."

Tiba-tiba suaranya berubah sangat berat dan dalam, "Hanya dengan kematiannya kau baru bisa hidup. Hanya dengan kematiannya, kematian Bu-siong baru punya nilai."

Dari sorot matanya yang tua tiba-tiba memancar sinar tajam yang menggidikkan, dengan suara keras bagai auman singa terusnya, "Cabut pedangmu, gunakan pedang ini untuk membunuhnya! Gunakan darah perempuan iblis itu untuk memberi minum pedang yang telah dahaga itu!"

Kemudian setelah berhenti sejenak, ia menambahkan, "Kau harus ingat baik-baik, bila kesempatan emas yang kau jumpai kali ini dilewatkan begitu saja, maka selamanya kau akan hidup tersiksa di dalam neraka, terjerumus untuk tidak bangkit lagi." Jelas perkataan ini bukan sebuah permintaan, juga bukan sebuah perintah. Tapi sebuah pertaruhan.

Pertaruhan dari seorang pendeta agung.

Kau baru bisa hidup bila berhasil membunuhnya, kalau tidak, sekalipun tetap hidup, keadaanmu tak jauh berbeda dengan mati.

Ternyata pendeta agung yang penuh misteri ini bukan saja dapat melihat hawa pembunuhan yang dipancarkan Siau-hong, dia pun dapat menembus suara hatinya.

Oleh karena itulah dia mengajak Siau-hong bertaruh, hanya seorang pendeta agung yang dapat menetapkan pertaruhan semacam ini.

Hal ini pun merupakan niat baik seorang pendeta agung, niat baiknya untuk melenyapkan kejahatan.

Benarkah Siau-hong bertekad akan pergi membunuh Pova? Tegakah dia turun tangan?

Siau-hong memang telah bertekad bulat akan menghabisi nyawa Pova.

Tokko Ci maupun Bu-siong bukan orang yang pandai bicara bohong, perkataan yang mereka ucapkan pasti tak bohong atau dibuat-buat.

Mereka telah membuktikan perempuan macam apakah Pova itu, Siau-hong mau tak mau harus mempercayainya, oleh sebab itu dia tak boleh membiarkan perempuan itu hidup lebih lanjut, kalau tidak, entah berapa banyak lelaki yang bakal musnah di tangannya.

Kini dia telah berhadapan dengan Pova.

Pedang sudah berada dalam genggamannya, ujung pedang sudah tinggal beberapa inci di atas jantungnya, asal dia dorong pedang itu ke depan, maka seluruh masalah, seluruh penderitaan, baik cinta, benci, budi maupun dendam akan berakhir.

Sekalipun dia masih sukar melupakan, namun dengan berjalannya sang waktu, semua kenangan lambat-laun akan semakin tawar dan hambar, setawar awan di angkasa, buyar dan lenyap ketika terhembus angin.

Tapi sayang tusukan pedangnya justru tak mampu dilanjutkan....

Matahari makin condong ke langit barat.

Pova seperti pendeta agung misterius itu, dengan tenang duduk di balik bayangan kegelapan.

Ketika ia melihat Siau-hong berjalan masuk ke dalam ruangan, melihat tangannya menggenggam pedang, dengan cepat dia sudah dapat menebak maksud kedatangannya.

Walaupun hawa pembunuhan tiada suara tiada bayangan tiada wujud, namun tak mungkin bisa disembunyikan.

Bila dia masih ingin membantah atau mencari alasan, masih ingin menggunakan gerak-geriknya yang lemah lembut untuk membangkitkan rasa cinta Siau-hong di masa lampau, tusukan pedang pemuda itu pasti sudah dihujamkan ke dadanya sedari tadi.

Andaikata dia menubruk ke dalam pelukan Siau-hong begitu bertemu dengannya, lalu menunjukkan wajah riang, Siau-hong pun pasti telah membunuhnya.

Namun dia tidak berbuat begitu.

Ia hanya duduk di sana dengan tenang, menatap Siau- hong lekat-lekat, sampai lama kemudian ia baru menghela napas seraya berkata, "Tak kusangka ternyata kau belum mati." Inilah perkataan jujurnya yang pertama.

"Aku minta Bu-siong pergi mencarimu, bukan karena ingin dia mengajakmu menengok aku, tapi ingin dia mencabut nyawamu."

Siau-hong tetap membungkam, menunggunya berkata lebih jauh.

Biarpun kata jujur sangat melukai hati, namun tidak semenderita dan tersiksa seperti waktu dibohongi orang.

"Aku tahu Bu-siong pasti tak akan membiarkan kau datang menjumpai aku, pasti akan membunuhmu," kata Pova, "Bila dia tak mampu membunuhmu, berarti dia pasti mati di tanganmu."

Kemudian dengan hambar dia melanjutkan, "Setelah dia mati, kau pasti akan kemari dan Galun Lhama pasti akan membunuhmu untuk membalas dendam kematiannya, karena hubungan mereka berdua lebih akrab daripada hubungan seorang ayah dengan anaknya."

Ini pun ucapan yang sejujurnya.

Dia telah memperhitungkan setiap kemungkinan secara cermat, sebetulnya rencananya bakal membuahkan hasil sukses.

Setelah menghela napas panjang, Pova berkata lebih lanjut, "Sekarang aku baru tahu, ternyata perhitunganku masih ada sedikit kesalahan. Rupanya Galun Lhama jauh lebih cermat, jauh lebih lihai daripada apa yang kubayangkan, ternyata dia dapat menembusi maksud hatiku."

Kemudian ia memberi penjelasan lebih jauh, "Biasanya dia tak pernah peduli urusanku dengan Bu-siong, maka aku baru kelewat memandang enteng dirinya, sekarang aku baru tahu, ternyata selama ini dia selalu mendendam dan membenci aku, ia lebih suka membebaskan kau daripada membiarkan harapanku terwujud."

Lama sekali Siau-hong termenung, kemudian ia baru bertanya, "Mengapa kau beritahukan semua persoalan ini kepadaku?"

"Karena aku tak ingin membohongimu lagi." Tiba-tiba terbias nada sendu di balik ucapannya.

"Kau pun tak usah bertanya lagi kepadaku, apakah aku sungguh-sungguh atau berbohong kepadamu, karena kau adalah musuhku, aku hanya ingin membunuhmu."

Siau-hong masih ingat dia pernah mengatakan hal yang sama di masa lalu.

Hubungan mereka memang sudah tak ada pilihan lain lagi, hubungan antara musuh dan sahabat, kalau bukan teman berarti musuh, kalau bukan kau yang mati berarti akulah yang mati!

"Oleh sebab itu setiap saat kau boleh membunuhku, aku tak bakal menyalahkan kau," kembali Pova berkata.

Siau-hong merasa tak tega untuk turun tangan.

Bukannya tak tega, pada hakikatnya dia tak mampu turun tangan. Karena pada hakikatnya dia sendiri pun tak tahu, dalam peristiwa ini siapa berada di pihak benar dan siapa salah.

Bila Po Eng benar-benar adalah begal kucing dan bila Pova melakukan semuanya itu karena dia bertugas untuk menangkap sang perampok, apakah apa yang telah dia lakukan itu salah?

Demi tercapainya tujuan, bukankah Po Eng pun sama saja pernah menghalalkan segala cara? Tokko Ci adalah seorang jago pedang, jago pedang tidak pernah mempunyai perasaan, Bu-siong pun sudah menjadi pendeta, tidak sepantasnya ia terlibat dalam kasus cinta, kalau sampai mereka berdua bisa ditipu perempuan ini habis-habisan, maka kejadian ini hanya bisa dibilang merupakan kesalahan mereka sendiri, mencari penyakit buat diri sendiri.

Siau-hong tidak membayangkan tentang dirinya. Setiap kali berada dalam situasi antara hidup dan mati, benar dan salah, seringkali dia melupakan diri sendiri.

Ooo)d*w(ooO