Elang Terbang di Dataran Luas BAB 11. CAHAYA MATAHARI BERWARNA BIRU

 
BAB 11. CAHAYA MATAHARI BERWARNA BIRU

Mereka telah menyaksikan Pancapanah mencemplak kudanya bergerak mendekat, di tengah derap kaki kuda yang ringan, sekilas perasaan gugup dan panik terlintas di wajahnya yang tampan dan tenang itu. "Ada orang," ia berbisik lirih, "Di depan sana adalah jalan keluar, di kedua sisi tebing semuanya ada orang bersembunyi."

Tempat ini merupakan simpul mati dari saluran tenggorokan. Bila sampai terjadi serangan, sudah pasti akibatnya akan sangat mematikan.

Orang yang mengambil keputusan tetap Po Eng, maka lagi-lagi Pancapanah bertanya, "Kita akan mundur ataukah harus menyerbu maju?"

Mendadak otot hijau menonjol di jidat Po Eng, otot  hijau itu berdenyut tiada hentinya.

Setiap kali menghadapi situasi tegang, otot hijaunya selalu berdenyut tiada hentinya.

Belum lagi dia mengambil keputusan, dari belakang sebuah batu karang di tebing sebelah depan tiba-tiba muncul seseorang.

Seorang bocah perempuan yang sangat muda, mengenakan pakaian berwarna lebih biru dari langit, lebih biru dari air laut.

Bagaikan burung walet yang terbang di udara dia melompat naik ke atas batu tebing, sambil berdiri di bawah sinar matahari, serunya sembari menggapai ke arah mereka, "Po Eng, aku rindu padamu, Pancapanah, aku kangen padamu, Song-lothau, aku pun rindu padamu."

Suaranya riang dan gembira, kembali teriaknya, "Aku rindu sekali kepada kalian."

Bertemu gadis cilik ini, dari balik mata Po Eng seakan memancar pula secercah cahaya sang surya.

Belum pernah Siau-hong menyaksikan matanya seterang sekarang, juga belum pernah melihat dia segembira hari ini. Gadis cilik itu sendiri pada hakikatnya seperti cahaya matahari, cahaya yang mendatangkan kehangatan, kebahagiaan dan kegembiraan bagi setiap orang.

"Siapakah dia?" tak tahan Siau-hong bertanya.

Po Eng tersenyum, Pancapanah pun ikut tersenyum, semua kepanikan, rasa tegang yang mencekam perasaan kini telah berubah jadi kegembiraan dan keriangan.

"Dia she Lan," ujar Po Eng menjelaskan, "Namanya adalah Yang-kong (Cahaya matahari)."

Setelah melalui sumbatan leher, kini terbentang padang datar yang sangat luas dan subur, jaraknya dengan kota suci Lhasa sudah tak jauh.

Kembali rombongan menghentikan perjalanan dan mendirikan perkemahan di sana.

Setiap orang tampak gembira dan riang, Yang-Kong si Cahaya matahari yang membawa keriangan bagi mereka. Mereka berteriak dan memuji gadis itu dengan bahasa Tibet, semua orang menyebutnya "Cahaya matahari biru".

Rupanya gadis cilik ini memang khusus datang untuk menyambut kedatangan mereka.

"Akan tetapi aku pun ingin menakut-nakuti kalian," ternyata suara gadis ini secerah sinar sang surya, "Tapi aku pun tak ingin menakuti kalian hingga ketakutan setengah mati."

Setelah memeluk Po Eng erat-erat, terusnya, "Di kolong langit tak akan ditemukan orang kedua semacam dirimu, apa jadinya kalau kau mati karena kaget dan ketakutan?"

Siau-hong tersenyum. Dia pun belum pernah berjumpa gadis secerah ini, gadis yang begitu menawan hati, mendatangkan kegembiraan dan keriangan bagi siapa pun yang menemuinya.

Sebetulnya nona ini belum bisa dianggap seorang perempuan cantik yang seratus persen sempurna, bentuk hidungnya agak bengkok, mirip bentuk hidung Po Eng yang menyerupai paruh elang.

Akan tetapi dia memiliki sepasang biji mata yang jeli dan bening, kulit tubuhnya putih bersih dan licin bagaikan serat sutera.

Terutama ketika ia sedang tertawa, hidungnya yang sedikit bengkok itu kelihatan agak berkerut, cacat kecil yang muncul justru membuat gadis itu tampil jauh lebih cantik dan menawan.

Mendadak Siau-hong menjumpai Po Eng suka sekali memencet hidung gadis itu.

Kini dia sedang memencet hidung si nona sambil berkata, "Kau telah berjanji, kali ini tak bakal keluar secara sembarangan, mengapa lagi-lagi kau datang kemari?"

Dengan cekatan Yang-kong menghindari pertanyaan itu, tegurnya, "Kenapa kau selalu suka memencet hidungku? Apakah kau ingin memencet hidungku hingga bengkok macam hidungmu?"

Siau-hong tertawa tergelak.

Tiba-tiba Yang-kong berpaling, tanyanya sambil menatap tajam anak muda itu, "Siapakah dia?"

"Dia bernama Siau-hong, Siau-hong yang setengah mati," Po Eng menjelaskan.

"Kenapa dia disebut Siau-hong setengah mati?" "Karena terkadang dia pun setengah mati macam kau, ada kalanya membikin orang mendongkol setengah mati, ada kalanya juga membikin orang ketakutan setengah mati."

Senyuman kembali melintas di balik mata Po Eng, terusnya, "Apa mau dikata dia sendiri pun termasuk orang yang setengah mati, karena selalu tidak memikirkan nyawa sendiri."

Sekali lagi Yang-kong menatap tajam Siau-hong.

"Aku paling suka lelaki setengah mati macam dia," kembali dia tertawa lebar, "Sekarang aku mulai sedikit merasa suka dirimu."

Seperti waktu dia peluk Po Eng, kali ini dia peluk Siau- hong erat-erat, bahkan mencium keningnya sambil berseru, "Sahabat dari Toakoku berarti sahabatku juga, orang yang dia sukai berarti aku pun akan menyukainya."

Paras Siau-hong sama sekali tidak berubah merah, karena wajah si nona pun tidak berubah jadi merah.

Sewaktu ia memeluk pemuda itu, wajahnya seperti sinar matahari yang menyinari dataran luas, begitu cerah, begitu alami....

Siau-hong bukan termasuk lelaki yang suka menyimpan perasaan, jarang sekali ada persoalan yang tidak dikemukakan secara terus terang.

"Aku pun menyukaimu," katanya kemudian, "Benar- benar menyukaimu!"

Langit telah gelap.

Suara nyanyian keras dan gembira kembali berkumandang dari balik perkemahan, kali ini suara nyanyian yang bergema kedengaran lebih nyaring dan gembira.

Karena di antara suara nyanyian itu, kini telah bertambah pula dengan suara nyanyian merdu dari puluhan gadis muda.

Mereka datang karena diajak Yang-kong, semuanya gadis-gadis lincah yang cerah dan hangat bagaikan cahaya matahari.

Mereka pun seakan merupakan saudara semua orang, seperti terhadap sang kekasih, ada yang menunggang kuda, minum arak keras, memainkan golok tajam.

Ketika mulai mabuk, ketika lelah meneguk arak, mereka pun seperti jago-jago lain, berbaring di atas tanah sambil menghitung bintang.

Bagi seseorang yang sama sekali tak dipengaruhi pikiran sesat, kejadian sesat apa pula yang ada di dunia ini?

Pancapanah yang di waktu biasa jarang minum arak, hari ini ikut minum dalam jumlah banyak.

Dia mengiringi Po Eng, bertepuk tangan sambil bersenandung perlahan:

Manusia harus ternama, arak harus memabukkan.

Berbincang saat mabuk, semuanya melupakan ganjalan hati....

Di balik suara nyanyian mereka, lamat-lamat terkandung nada pedih yang hambar, nada perpisahan yang tipis....

Tiba-tiba Pancapanah bangkit sambil berkata, "Kau hampir tiba di rumah, aku pun sudah saatnya untuk pergi."

Po Eng mengangguk perlahan. "Aku tahu," sahutnya sedih, "Aku pulang ke rumah, sementara kau pergi dari sini."

Pancapanah tidak berkata-kata lagi, dia hanya menggenggam tangannya kuat-kuat, kemudian membalikkan badan berlalu dari sana.

Di luar perkemahan telah disiapkan dua ekor kuda, seekor kuda putih untuknya dan seekor lagi untuk membawa semua perbekalan yang dibutuhkannya.

Begitu melompat naik ke atas pelana, dia pun mencemplak kudanya dan berlalu dari sana.

Hingga lenyap di ujung langit sana, ia tak pernah berpaling lagi.

Ooo)d*w(ooO

Langit belum lagi terang, hanya secercah sinar fajar muncul di ufuk timur.

Jagat raya tetap dingin, sepi, dan sunyi.

Dengan melawan hembusan angin fajar ia bergerak menuju ke dataran luas yang tak bertepi, tak berperasaan, di sana ada kepedihan dan kesepian yang tiada tara sedang menanti kedatangannya.

Tiba-tiba saja Siau-hong merasakan kesedihan yang tak terlukiskan dengan kata timbul di hati kecilnya, tak tahan ia bertanya, "Mengapa ia tidak pergi bersamamu? Mengapa dia harus pergi seorang diri?"

Lewat lama sekali Po Eng baru menjawab, "Karena sejak lahir dia memang seseorang yang hidup sebatang-kara,  sejak lahir sudah senang hidup seorang diri." Setelah berhenti sejenak, perlahan-lahan terusnya, "Di dalam sejarah hidupnya, sebagian besar kehidupannya dilewatkan dalam keheningan, kesepian, dan kesendirian."

"Tahukah kau, hendak ke mana dia?" "Tidak, tak seorang pun yang tahu."

Dalam pada itu hari sudah mulai terang tanah, akhirnya matahari muncul dari kaki langit, secercah sinar terang memancar ke udara, menyinari langit nan biru, menyinari pula Yang-kong yang biru.

"Aku tak suka hidup dalam kesendirian," seru gadis itu sambil menarik tangan Po Eng, "Mari kita pulang ke rumah."

Mimpi pun Siau-hong tidak menyangka kalau Po Eng punya rumah.

Benarkah Po Eng memiliki rumah tinggal?

Rumah Po Eng berada di Lhasa, kota yang dianggap suci oleh bangsa Tibet, rumahnya merupakan tempat suci pula bagi rekan-rekan seperjuangannya.

Dia bukan saja mempunyai rumah, bahkan jauh lebih lebar dan megah daripada bangunan rumah lainnya.

Setelah melewati istana Potala tempat tinggal Buddha hidup, di sebelah depan terdapat sebuah bukit hijau dengan hamparan sebuah telaga dengan airnya yang tenang.

Rumahnya berada di kaki bukit, sebuah bukit yang dikelilingi pepohonan rindang, di kejauhan sana lamat- lamat terlihat bentuk istana Potala yang merah.

Siau-hong sama sekali tak menyangka di luar perbatasan ternyata terdapat tempat seindah ini, begitu megah, indah dan penuh diliputi misteri, indah yang memabukkan, indah yang membikin hati terpesona. Barang dagangan harus segera dihitung, pembagian keuntungan pun harus segera dibagikan, agar mereka dapat menikmati kegembiraan dan keindahan alam di sana.

Po Eng seakan telah menyerahkan Yang-kong kepada Siau-hong.

Mereka berdua sama-sama masih muda, sama-sama dapat saling menghibur, Po Eng berharap Yang-kong dapat menyinari bayangan gelap yang menyelimuti hati Siau- hong.

Bayangan gelap yang ditinggalkan Pova.

Di saat matahari baru terbit, mereka berjalan santai menelusuri tanah perbukitan, bangunan megah milik Po Eng berada di kaki bukit sana, persis di tepi telaga yang indah, sementara di kejauhan tampak bayangan samar istana suci.

"Kau suka tempat ini?" tanya Yang-kong kepada Siau- hong.

Perlahan Siau-hong mengangguk, dia hanya bisa mengangguk. Tak seorang pun yang tidak menyukai tempat semacam ini.

"Sebelum ini, apakah kau pernah datang kemari?" kembali Yang-kong bertanya.

Siau-hong menggeleng.

Dahulu dia belum pernah datang kemari, seandainya pernah, kemungkinan besar dia tak akan pergi dari sana.

Yang-kong menarik tangan Siau-hong, seperti ketika dia menarik tangan Po Eng.

"Ayo, ikut aku pergi berpesiar," kata si nona lebih jauh, "Biarkan mereka berdagang sementara kita pergi bermain.” “Mau pergi ke mana?”

“Kita berkunjung dulu ke istana Potala."

Dinding benteng yang tersusun dari batu cadas membentang dari istana Potala hingga Bukit Cagopoli, pintu gerbang kota berada di bawah pagoda sana, konon di dalam pagoda itu tersimpan tulang-belulang Buddha serta banyak dongeng indah yang penuh misteri.

Sesudah melewati pintu berbentuk bulat, kuil Ta-cau-si muncul di sisi kanan mereka.

Bangunan istana berdiri kekar dengan dinding benteng di atas sepanjang tebing karang.

Kuil antik dan kuno, ruang pendeta, prasasti, bangunan loteng semuanya tampak indah dan penuh daya tarik, tak ubahnya seperti sebuah dongeng.

Siau-hong seolah terkesima oleh semua itu. Bagaimana dengan Pova?

Bagaimana bila orang yang berada di sisinya adalah Pova?

Mengapa di saat perasaan seseorang sedang terbuai "kecantikan" seringkali justru susah untuk melupakan orang yang berusaha ingin dilupakan?

Kenapa orang selalu sulit melupakan persoalan yang seharusnya dilupakan?

Cahaya mentari menyinari tubuhnya, Yang-kong mengamati pula dirinya, Yang-kong tampak cantik dan cerah. Bagaimana pula dengan Pova?

Pova tidak mirip salju, Pova lebih mirip air hujan, hujan musim semi yang lembut tiada putus, mirip kemasgulan yang tak terputus oleh gunting, mirip cucuran air hujan yang tak terputus oleh gunting....

"Ayo kita ke kuil Ta-cau-si," tiba-tiba Siau-hong mengajak.

Dia tahu jalan yang mengelilingi kuil Ta-cau-si adalah Pat-kak-ke, merupakan tempat paling ramai di kota itu, hampir semua toko dan pusat perdagangan kenamaan berada di tempat ini.

"Eng-ki" pusat dagang milik Po Eng pun berada di jalan raya ini.

Siau-hong berharap "keramaian" dapat membuat dia "lupa", sekalipun hanya lupa untuk sementara waktu.

Kuil Ta-cau-si konon didirikan oleh Bun-seng Kongcu dari dinasti Tong.

Pada masa itu Tibet masih disebut Turfan, sementara kota Lhasa masih disebut kota Lo-si.

Tahun Tin-koan, tahun keempat belas pada masa Tong, perdana menteri negeri Turfan, Tong-jin dengan membawa berbagai permata dan uang emas lima ribu tahil berangkat ke kota Tiang-an dan membawa pulang keponakan perempuan kaisar, Bun-seng Kongcu kembali ke negerinya.

Di kemudian hari Bun-seng Kongcu menikah dengan Jin-bo, generasi ketujuh, Tong-jin Gan-bo.

Sebagai rasa cintanya yang tulus dan untuk memuji kecantikan wajah istrinya, raja negeri Turfan ini pun membangun sebuah kuil yang disebut kuil Ta-cau-si.

Namun jalanan kota di luar halaman biara merupakan sisi lain kota itu. Bentuk sebuah kota memang ibarat selembar kulit, ada satu sisi yang berkilap dan indah, namun ada pula sisi lain yang kasar dan jelek.

Ada jalanan yang indah, megah dan cemerlang, ada pula jalanan yang kotor oleh tumpukan sampah, kerumunan pengemis tua dengan pakaian dekil, bertelanjang kaki, berkepala gundul, lalu sambil berkomat-kamit membaca doa, menunggu belas kasihan para peziarah.

Sewaktu di tengah gurun pasir, di tengah badai angin yang kencang, Siau-hong telah kehilangan air minum dan rangsumnya, tapi sama sekali tidak kehilangan uangnya.

Dia dermakan seluruh isi kantong yang dimilikinya kepada mereka, bukan karena rasa simpatik dan iba, tapi seolah terpengaruh oleh semacam kekuatan aneh yang membuatnya melakukan hal itu tanpa sadar.

"Aku tidak seharusnya pergi ke kuil Ta-cau-si," Siau- hong sendiri pun tidak tahu apa sebabnya dia bisa merasakan perubahan seaneh itu, "Bolehkah kita pergi ke kantor perdagangan kalian?"

"Tentu saja boleh," sahut Yang-kong, "Kau adalah sahabat Toako, ke mana pun kau ingin pergi, aku akan membawamu ke sana."

Sekulum senyuman secerah sang surya tersungging di wajahnya, kembali ia berkata, "Setelah sampai di sana, aku akan membawamu pergi menjumpai seseorang, kau pasti akan menganggapnya sebagai sahabat pula."

Orang yang dia maksudkan bernama Cu Im.

Cu Im adalah Tayciangkwe toko "Eng-ki", yang dimaksudkan Tayciangkwe adalah seorang Congkoan, pengurus rumah tangga. Tahun ini Cu Im berusia dua puluh delapan tahun, sejak tiga tahun berselang Po Eng telah menyerahkan urusan perdagangan "Eng-ki" kepadanya.

Bukan satu pekerjaan yang gampang bagi seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun untuk memangku kedudukan sedemikian tinggi, juga bukan suatu keberuntungan yang kebetulan.

Dia muda, jujur, hidup sederhana, pandai membawa diri, perkataannya berbobot, meskipun masih  jomblo, belum pernah main perempuan atau suka minum arak.

Po Eng menaruh kepercayaan kepadanya, semua anak buahnya menaruh hormat kepadanya, dia pun belum pernah membuat orang lain kecewa.

Dia pun tidak membuat Siau-hong kecewa.

Dengan sikap tulus dan bersungguh-sungguh dia persilakan Siau-hong menikmati air teh lemak, caranya berdagang memang sederhana, pakai aturan dan semuanya terbuka.

Kepada Siau-hong katanya, "Aku tinggal di belakang sana. Asal kau menjumpai masalah, setiap saat datanglah mencari aku."

Setelah berhenti sejenak, ia menambahkan, "Setiap hari aku selalu ada, siang maupun malam selalu ada."

Yang-kong menarik tangannya.

"Biasanya dia tidak minum arak, tapi bila kau memaksa dia untuk minum, dia tak bakal mabuk lebih dulu daripada dirimu," senyumannya tetap lebih cerah dari sinar matahari, "Tapi bila kau ingin mencari perempuan, dia pasti akan kehabisan akal." Dia sama sekali tidak menganggap "mencari perempuan" merupakan satu hal yang memalukan.

Sambil menuding ke arah hidung sendiri yang meski agak bengkok namun masih kelihatan cantik, katanya, "Jika kau ingin mencari perempuan, mohonlah kepadaku, kujamin perempuan yang bakal kucarikan untukmu jauh lebih lembut dan hangat daripada perempuan mana pun yang pernah kau jumpai."

Dia bukan perempuan, bukan termasuk semacam perempuan.

Dia adalah Yang-kong.

Yang-kong atau sinar matahari menjadi milik semua orang, siapa pun tak bisa mengangkanginya seorang diri. Tapi bagaimana dengan Pova?

Mendadak Siau-hong bangkit dan bertanya, "Dapatkah sekarang juga kau ajak aku pergi mencarinya?"

"Sekarang?" Yang-kong nampak agak tercengang, "Sekarang juga kau akan pergi mencari perempuan?"

"Bukan hanya mencari perempuan, aku ingin minum arak."

Tempat ini merupakan tanah suci, tanah suci jelas berbeda dengan tempat lain, banyak larangan berlaku di tempat ini, karenanya hanya di tempat gelap baru akan ditemukan arak dan perempuan.

Siau-hong menjumpai perempuan ini mirip Pova, seorang wanita kurus, lemah, dan tenang.

Saat ini dia sudah mabuk berat.

Mabuk di tanah suci memang tak beda jauh dengan mabuk di tempat lain. Pagi hari.

Siau-hong berjalan keluar dari balik lorong kecil dan sempit, dia merasakan kepalanya pening, kerongkongannya haus, dan tubuhnya lunglai. Perasaan yang dialami pun tidak jauh berbeda dengan perasaan yang dia alami di tempat lain, sehabis sadar dari mabuk. 

Cahaya matahari sedang menyoroti di atas sebuah dinding, cahaya matahari berwarna kuning keemas-emasan, bukan cahaya berwarna biru.

Seorang bocah berpakaian lusuh, berambut kusut, dan berwajah busam, dengan membawa sebuah kaleng besi sedang berjongkok di bawah dinding, ia menundukkan kepala sambil mengamati kalengnya, memandangnya dengan terpesona, seakan-akan di dunia ini tak ada benda lain yang lebih menarik daripada barang dalam kaleng itu.

Di dunia yang begini lebar, banyak terdapat kejadian iseng, seperti isengnya perasaan Siau-hong saat ini.

Seseorang yang iseng, sehabis melakukan perbuatan iseng hampir semalaman perasaannya selalu begitu.

Tiba-tiba muncul keisengan di hati kecilnya, dia ingin melihat apa isi kaleng di tangan bocah itu.

Ternyata kaleng itu berisikan ulat, penuh dengan berbagai ulat kecil yang sedang bergerak.

"Ulat apa itu?" tanya Siau-hong. "Bukan ulat."

"Kalau bukan ulat, lalu apa?" tanya Siau-hong membelalakkan mata keheranan.

"Walaupun dalam pandanganmu mereka adalah ulat, namun dalam pandangan mata sahabatku, mereka adalah santapan yang paling lezat." Ia mengangkat wajah menatap Siau-hong, walaupun wajahnya bau setengah mati, namun dia memiliki sepasang mata yang besar dan bersinar, jelas pancaran mata seorang bocah cerdas.

"Karena sahabatku bukan manusia, melainkan burung," ia menambahkan.

Siau-hong segera tertawa, tiba-tiba ia merasa bocah ini menarik sekali, ucapannya penuh bermakna, maka sengaja tanyanya, "Sudah jelas kau adalah manusia, mengapa harus bersahabat dengan burung?"

"Karena tak ada orang bersedia menjadi sahabatku, hanya burung yang bersedia menjadi temanku. Ada teman rasanya jauh lebih baik daripada sama sekali tak berteman."

Sudah jelas dia adalah seorang bocah, namun apa yang dia ucapkan seakan bukan perkataan yang muncul dari mulut seorang bocah.

Perkataannya ini segera menyentuh hati kecil Siau-hong, membuatnya terperana.

"Betul, punya teman memang jauh lebih baik daripada tak berteman," Siau-hong menghela napas panjang, "Terkadang bersahabat dengan burung jauh lebih baik daripada bersahabat dengan manusia."

"Mengapa?"

"Karena manusia dapat berbohong, dapat menipu, mencelakai, sebaliknya burung tidak."

Siau-hong sudah siap meninggalkan tempat itu, dia tak ingin bocah kecil yang masih polos ini ternoda karena kelewat banyak tahu kelicikan dan kebusukan hati orang dewasa. Tiba-tiba bocah itu bertanya lagi, "Bagaimana dengan kau sendiri? Baikkah sikapmu terhadap temanmu?"

Pertanyaannya kedengaran sangat aneh, ia bertanya lagi, "Bila kau mempunyai seorang sahabat yang membutuhkan bantuanmu, berharap kau pergi menengoknya, apakah kau bersedia mengunjunginya?"

Siau-hong segera berpaling, tanyanya sambil menatap wajah bocah itu, "Kalau aku bersedia lantas kenapa?"

"Kalau kau bersedia, sekarang juga ikutilah aku."

"Ikut kau?" tanya Siau-hong, "Kenapa harus mengikuti kau?"

"Karena aku adalah orang yang dikirim sahabatmu itu untuk mencarimu," sahut si bocah, "Aku sudah semalam suntuk menunggumu di sini."

"Jadi kau tahu siapakah aku?" Siau-hong semakin terperangah.

"Tentu saja tahu, kau she Hong, orang lain memanggilmu Siau-hong setengah mati."

"Lantas siapakah sahabatku itu?” “Aku tak boleh menyebut namanya.” “Kenapa?"

"Karena dia minta aku menjaga rahasia, aku telah menyanggupi. Sekalipun kau membunuhku, aku tak bakal mengatakannya."

Tak bisa disangkal lagi rasa ingin tahu Siau-hong telah terpancing oleh kejadian ini.

Sekaleng ulat, seorang bocah, seorang sahabat yang butuh bantuannya dan sebuah rahasia yang sampai mati pun tak akan diucapkan. Dia sama sekali tak menyangka kalau semua kejadian itu dapat dirangkai menjadi satu, namun dia tak habis mengerti apa sangkut-paut dan hubungannya semua ini.

"Baik," akhirnya Siau-hong mengambil keputusan, "Aku akan pergi bersamamu, sekarang juga berangkat."

Si bocah cilik itu tidak langsung berangkat, ia justru menggunakan sepasang matanya yang bulat besar untuk menatap wajahnya lekat-lekat.

"Aku dapat menyimpan rahasia sahabatmu, bagaimana dengan kau?" ia bertanya, "Apakah kau pun dapat menyimpan rahasia sahabatmu?"

Siau-hong manggut-manggut.

Tiba-tiba bocah itu merangkak bangun, menggunakan tangannya yang dekil ia menarik tangan Siau-hong seraya berseru, "Kalau begitu, ikutlah aku!"

Dari kejauhan terdengar suara genta yang dibunyikan bertalu-talu, menyusul terdengar suara pembacaan doa yang berkumandang mengikuti hembusan angin, puncak pagoda tampak membiaskan cahaya keemasan ketika tertimpa sinar matahari.

Semua ini menambah keangkeran dan keseriusan suasana di kota suci ini.

Di sisi lain, dalam lorong kecil yang kotor dan gelap, hidup berdesakan kaum papa yang miskin, berstatus sosial rendah serta aneka macam manusia lainnya, dewa mereka seolah tak menggubris doa permohonan yang mereka panjatkan, seolah segan mengulurkan tangannya merawat dan memperhatikan kehidupan mereka.

Sekalipun begitu, orang-orang itu tak pernah menggerutu, tak pernah mengeluh. Si bocah dengan menarik tangan Siau-hong, menelusuri kerumunan orang banyak, menembus lorong sempit dan tiba di depan sebuah biara yang besar dan megah.

"Tempat manakah ini?" "Biara Ta-cau-si!"

Mau apa dia mendatangi biara Ta-cau-si? Apakah teman yang misterius itu sedang menanti kedatangannya di kuil Ta-cau-si?

Tampaknya bocah itu sengaja tidak memberi kesempatan kepada Siau-hong untuk banyak bertanya, dengan cepat dia menarik tangannya dan menerobos masuk di antara para peziarah yang sedang berdoa.

Biarpun dia hanya seorang bocah, namun apa yang dia lakukan sama sekali tak mirip perbuatan seorang bocah.

Biara yang nampak megah dan mentereng itu justru disinari cahaya yang redup, cahaya api yang terpancar dari beribu batang lilin raksasa serta lentera tembaga yang berminyak sapi, bergoyang tak hentinya ketika terhembus angin.

Di atas dinding biara yang tinggi terukir beberapa puluh patung dewa, sementara patung raksasa yang berada di bagian tengah altar berwajah mengerikan dengan tujuh warna yang berbeda. Ketika terbias cahaya lilin, patung itu terasa lebih menyeramkan dan penuh diliputi misteri.

Mungkin kekuatan itulah membuat konsentrasi orang nyaris terenggut, membuat setiap orang serasa lupa diri, bahkan ada di antara peziarah yang memborgol kakinya dengan rantai besi sambil merangkak di dalam ruang utama. Siau-hong dapat memahami makna semua kelakuan yang mereka lakukan, memang banyak manusia di dunia ini yang berharap dengan penyiksaan tubuh sendiri, mereka dapat menghilangkan semua dosa dan kesalahan yang pernah dilakukannya.

Bahkan dia sendiri pun seolah ikut terhanyut dan tenggelam ke dalam perasaan yang seolah nyata tapi seolah khayal ini, suatu perasaan yang aneh dan penuh misteri.

Tiba-tiba saja dia memahami betapa agung dan besarnya kekuatan suatu ajaran agama.

Udara terasa dipenuhi bau kecutnya susu dan harumnya dupa, hembusan angin serasa mengalunkan suara genta yang berbunyi lirih, di balik bayangan kegelapan semu terbias cahaya lilin yang bergoyang terhembus angin....

Tiba-tiba bocah itu berhenti, persis di depan sebuah liang batu di sudut dinding kanan yang berbentuk cekung.

Di dalam liang batu itu tergantung sebuah lukisan dinding yang menyeramkan, lukisan itu menggambarkan setan wanita berwajah menyeramkan yang sedang mengisap isi otak seseorang.

Gambar itu dilukis amat teliti dan sempurna hingga tampak begitu hidup, sekalipun Siau-hong tahu setan wanita itu hanya berupa sebuah lukisan, entah mengapa hatinya terasa sangat tidak nyaman.

Mendadak bocah itu bertanya, "Tahukah kau siapakah orang ini? Mengapa setan wanita itu harus menghisap isi otaknya?"

Tentu saja Siau-hong tidak tahu. "Karena dia adalah seorang yang ingkar janji," bocah itu menerangkan, "Karena ia berjanji akan menyimpan rahasia sahabatnya, namun tak pernah dia lakukan."

"Tampaknya kau tidak begitu mempercayai aku?" sela Siau-hong sambil tertawa getir.

"Sekarang kita masih bukan teman, tentu saja aku tak bisa mempercayai dirimu."

Dari balik matanya yang bulat besar, terbesit sinar kelicikan dari mata bocah itu, ujarnya lebih jauh, "Bila ingin kuajak ke sana, kau harus bersumpah lebih dulu, bila kau mengingkari sumpahmu, selama hidup akan seperti nasib orang itu, sepanjang masa disiksa dan didera kekejian setan wanita ini."

Sebenarnya siapakah sahabat bocah itu? Mengapa jejaknya begitu rahasia dan misterius?

Siau-hong pun bersumpah.

Dia tak takut pembalasan dari dewa atau setan, namun selama hidup belum pernah mengkhianati orang lain. Satu- satunya orang yang ia merasa bersalah padanya hanyalah pada diri sendiri.

Bocah itu tertawa, tertawa senang.

"Ternyata kau memang orang baik," kembali dia menarik tangan Siau-hong, "Sekarang aku benar-benar akan membawamu ke sana.”

“Ke mana?"

"Ke rumah burung! Temanmu maupun temanku semuanya berada di sana!"

Rumah burung adalah sebuah rumah kayu yang berbentuk sangat aneh, rumah itu dibangun di atas sebuah tebing karang yang menonjol ke atas, rumah kayu yang berada di antara kerumunan beberapa batang pohon besar.

Rumah itu dikelilingi pagar kayu, di atas wuwungan rumah penuh tergantung sangkar burung.

Sangkar itu dibuat sangat bagus dan berseni, kicauan aneka burung terdengar begitu merdu merayu, bahkan ada beberapa jenis burung yang bukan saja tak diketahui namanya, bahkan Siau-hong belum pernah melihatnya.

"Semua sangkar burung itu adalah hasil karyaku." Berkilat sinar terang dari balik mata bocah itu,

tampaknya dia merasa bangga atas kemampuannya itu.

"Dapatkah kau lihat apa keistimewaan sangkar-sangkar itu?"

Tanpa diberitahupun Siau-hong telah melihatnya, walaupun semua sangkar itu berpintu, namun seluruh pintu sangkar berada dalam keadaan terbuka.

"Aku tak ingin mengurung mereka di dalam sangkar bagaikan tawanan saja, asal mereka senang, setiap saat mereka bisa terbang pergi dari sini," kata bocah itu, "Akan tetapi biarpun mereka telah terbang pergi, kadangkala akan balik lagi."

Senyuman cerah kembali menghiasi wajahnya yang dekil.

"Karena mereka tahu bahwa aku adalah sahabat mereka."

"Di manakah sahabatku itu?" tak tahan Siau-hong bertanya.

Sambil menuding sebuah pintu kayu yang teramat sempit, sahut bocah itu, "Temanmu berada di dalam sana." Di balik rumah kayu itu lebar dan luas, dinding yang terbuat dari kayu tampak sudah dimakan usia, bahkan di sana sini ada yang mulai retak dan berlubang, tak disangkal bangunan tua ini sudah dibangun sangat lama, jauh sebelum kelahiran bocah cilik itu.

Di dalam ruang kayu yang luas, terdapat sebuah meja kayu yang rendah dan pendek, sebuah tungku api yang amat besar serta seseorang.

Di atas tungku api itu berjajar rak besi yang dipakai untuk membakar makanan, sementara orang itu duduk di lantai membelakangi pintu.

Dia sama sekali tidak berpaling ketika Siau-hong berjalan masuk, dia pun tidak menegur.

Bayangan punggung orang itu amat kurus, sepasang bahunya agak miring ke bawah dan mencerminkan kesepian yang tak terlukiskan dengan perkataan, seolah di dunia ini jarang ada orang yang bisa mengusiknya, memancing perhatian darinya.

Andaikata kau pun seorang jago persilatan yang kaya akan pengalaman, maka dari bayangan punggung seseorang, kau dapat melihat banyak sekali persoalan yang terjadi.

Pengalaman Siau-hong sendiri meski belum terhitung banyak, tapi begitu menyaksikan bayangan punggung orang itu, dia pun segera mengambil satu kesimpulan....

Dia belum pernah bertemu orang ini, apalagi kenal orang itu. Asal dia kenal seseorang, cukup melihat bayangan punggungnya pun ia pasti dapat mengenalinya.

Oleh karena itu dia sangat yakin orang ini bukan sahabatnya. Tentu saja siapa pun tak akan bersahabat dengan seseorang yang selama hidup belum pernah ditemuinya.

Lalu siapakah orang ini? Mengapa harus mengaku sebagai sahabat Siau-hong? Mengapa dia meminta seorang bocah untuk mengajak Siau-hong datang menemuinya?

Siau-hong segera berhenti tak bergerak.

Sewaktu berjalan, dia lincah dan gesit, tapi begitu berhenti bergerak, ia berdiri sangat mantap, seakan sebatang paku raksasa yang menancap di atas permukaan tanah.

Ooo)d*w(ooO