Elang Terbang di Dataran Luas BAB 09. TANGAN YANG LAIN

BAB 09. TANGAN YANG LAIN

Buntalan telah dibuka, isi bungkusan itu hanya tiga belas senjata besi yang memantulkan cahaya kehitam-hitaman. Setiap senjata memiliki bentuk yang aneh, ada yang tampak seperti gelang, ada pula yang berbentuk seperti tulang- belulang.

Siapa pun tak akan pernah melihat bentuk senjata semacam ini, karena pada hakikatnya tak ada jenis senjata macam begini dalam dunia persilatan saat ini.

"Inilah tanganku yang lain!" Liu Hun-hun menjelaskan.

Ia menunjukkan tangannya yang indah, putih dan halus itu, lalu ujarnya lebih jauh, "Tanganku ini tak jauh berbeda dengan tangan milik orang lain, aku memakai baju, makan nasi, cuci muka, gosok gigi, semuanya menggunakan tangan ini, bahkan terkadang aku pun menggunakan tangan ini untuk meraba tubuh lelaki yang kusukai."

"Apa gunanya tanganmu yang lain?" tanya Po Eng.

Liu Hun-hun tertawa, mendadak senyumannya berubah jadi begitu sesat, licik, buas, dan penuh misteri.

"Kalian seharusnya dapat melihat, tangan ini sebetulnya bukan tangan manusia."

Setelah berhenti sejenak, sepatah demi sepatah ia melanjutkan, "Inilah tangan iblis, tangan iblis yang ditempa dengan menggunakan api iblis yang diambil dari neraka tingkat kedelapan belas."

Tiba-tiba ia menggulung ujung bajunya, dari dalam ruas tulang lengan yang telah terpapas kutung itu ia cabut seutas serat kawat berwarna hitam yang terbuat dari baja. Kemudian dia mengeluarkan ketiga belas jenis benda besi itu dan menyambungnya satu per satu di atas lengannya yang terpapas kutung sehingga terwujud sebuah lengan besi yang aneh dan menyeramkan bentuknya.

Dan paling akhir, dia memasang sebuah cakar yang terbuat dari baja murni.

Kemudian dia pun menggandengkan cakar tadi ke atas serat baja yang dicabut tadi dan menghubungkannya dengan tombol rahasia untuk menggerakkan cakar tadi.

Begitu tali pengontrol terpasang, maka lengan baja berwarna hitam pekat yang semula tak berdarah, tak berdaging dan tak bernyawa itu pun merndadak berubah jadi punya nyawa.

Dalam waktu singkat cakar itu mulai bergerak, mulai menekuk dan mengarah setiap sudut tempat yang dituju. Semuanya dilakukan dengan lincah, cepat dan cekatan.

Ternyata hubungan terakhir membuat gerakan lengan besi itu jadi sempurna dan leluasa, kemudian cakar itu berputar sambil menekuk dan tahu-tahu sudah mencengkeram lengan besi itu.

Gerakan semacam ini tak mungkin bisa dilakukan oleh siapa pun, namun dia dapat melakukannya.

Karena tangannya itu pada hakikatnya bukan tangan manusia.

Tiba-tiba ia berpaling ke arah Siau-hong dan berkata, "Dapatkah kau ulurkan tanganmu biar kulihat?"

Siau-hong segera menjulurkan tangannya.

Dia memiliki telapak tangan yang besar dan lebar, kuat, kering, jari tangannya panjang tapi penuh tenaga. Sambil tersenyum kembali Liu Hun-hun berkata, "Kau memiliki sepasang tangan yang indah bahkan sangat berguna, ketika kau gunakan sepasang tanganmu untuk memegang pedang, siapa pun akan sulit untuk menjatuhkan pedang itu dari genggamanmu."

"Pedang yang berada dalam genggamanku memang tak bisa dirontokkan siapa pun," sahut Siau-hong hambar.

"Bagaimana jika tanganmu tak memegang pedang?" tanya Liu Hun-hun, "Dapatkah kau mendapat sebilah pedang dari udara kosong?"

Siau-hong tak bisa, siapa pun tak bisa melakukannya. "Aku bisa," kata Liu Hun-hun.

Lengan besinya sedikit ditekuk, lalu cakarnya menyentil keluar, katanya kemudian, "Inilah sebilah pedang, aku telah menggunakan pedang ini untuk menembusi tenggorokan dua puluh tujuh orang."

"Dua puluh tujuh orang tak bisa dibilang kelewat banyak," dengus Siau-hong dingin.

Kembali Liu Hun-hun tertawa terkekeh.

"Tentu saja orang yang kubunuh bukan hanya dua puluh tujuh orang saja, sebab di dalam tanganku ini tersimpan juga bubuk pemabuk, cairan beracun, serta tiga belas jenis senjata rahasia lainnya, semua senjata itu dapat dilancarkan setiap saat dan merenggut nyawa siapa pun! Tentu saja tak seorang pun yang tahu kapan senjata pamungkas itu akan dilancarkan, apalagi menyerang dari arah mana."

Siau-hong tak berbicara lagi, mulutnya seketika terbungkam dalam seribu bahasa. Siapa pun itu orangnya, mau tak mau mereka harus mengakui bahwa tangannya ini benar-benar merupakan sejenis senjata pamungkas yang sangat menakutkan.

Sekali lagi Liu Hun-hun menekuk lengan besinya dan cakar baja itu pun untuk kesekian kalinya menyentil ke depan, "Sreeet!", diiringi desingan angin tajam, papan meja setebal tiga inci seketika tertembus hingga muncul sebuah lubang besar, asap berwarna hijau menyebar keluar dari sekeliling lubang itu.

"Sekarang tentunya kalian sudah melihat bukan, pedangku ini sangat beracun, barang siapa terkena, bukan saja seketika akan mati mengenaskan, bahkan racun ini tak ada obat penawarnya."

Belum selesai dia berkata, sekeliling lubang di atas meja kayu itu mulai terbakar hingga hangus dan retak.

"Kini aku sudah siap turun tangan!" kata Liu Hun-hun lagi.

Sinar matanya yang menakutkan bagai sengatan kalajengking perlahan-lahan menyapu wajah Siau-hong, Po Eng, dan Pancapanah, kemudian ia baru bertanya pelan, "Aku harus menghadapi siapa?"

"Aku!" sahut seseorang hambar, "Sejak tadi aku sudah menunggu kau turun tangan."

Ternyata yang berbicara bukan ketiga orang itu, melainkan Song-lohucu yang kelihatannya mustahil mengucapkan perkataan itu.

"Kau?" seru Liu Hun-hun dengan tercengang, "Kau yang akan menghadapi diriku?"

Song-lohucu menghela napas panjang. "Hai, padahal aku sendiri pun agak takut menghadapi tanganmu itu, terlebih menggunakan tangan semacam itu untuk menghadapi diriku, hanya sayangnya justru di tempat ini hanya ada aku seorang yang dapat menghadapimu."

Liu Hun-hun mengawasi wajahnya, sampai lama kemudian ia baru tertawa lagi.

"Hanya kau yang dapat menghadapku?" suara tertawanya kembali berubah jadi sangat lembut, "Kau siap menggunakan cara apa untuk menghadapiku?"

"Menggunakan tanganku yang lain," sahut Song-lohucu, "Kau mempunyai sebuah tangan yang lain, aku pun punya."

"Kau pun punya?"

Liu Hun-hun mengawasi sekejap sepasang tangan kurusnya yang tergeletak di atas meja, kemudian ejeknya, "Kelihatannya sepasang tanganmu sudah berada di sini."

Song-lohucu tersenyum.

"Tanganmu yang lain adalah tangan kedua, sedang tanganku yang lain adalah tangan ketiga," ia tertawa makin riang, "Sepasang tanganku ini pun tak jauh berbeda dengan tangan milik orang lain, kugunakan untuk berpakaian, makan nasi, cuci muka, gosok gigi, semuanya kugunakan sepasang tangan ini. Kebetulan aku pun bisa menggunakan sepasang tangan ini  untuk  meraba  tubuh  perempuan  lain. ”

Tiba-tiba Pancapanah ikut tertawa.

"Biasanya hanya bagian tertentu dari tubuh perempuan yang kau raba, tak perlu kujelaskan pun orang lain juga tahu," kata Song-lohucu, "Tapi tanganku yang lain ini beda sekali kegunaannya." Mendadak senyuman di wajahnya berubah jadi amat misterius, terusnya, "Apakah kau ingin melihat tanganku itu?"

"Ingin setengah mati," sahut Liu Hun-hun tertawa genit. "Bagus, kalau begitu lihatlah."

Sepasang tangannya memang tergeletak di atas meja, kini ke sepuluh jari tangannya telah direntangkan.

Dia sendiri pun sedang mengawasi sepasang tangan milik sendiri.

Tentu saja mau tak mau Liu Hun-hun harus memandangnya, begitu juga dengan Wi Thian-bong serta Siu-hun-jiu.

Lampu lentera masih bergoyang terhembus angin, cahaya lampu berkedip tiada hentinya.

Tiba-tiba sepasang tangannya yang kurus kering mulai berubah, bukan saja warnanya berubah, bentuknya ikut berubah.

Tangan yang semula tiada cahaya darah, mendadak berubah jadi kuat, muda, dan penuh tenaga, seakan-akan sepasang kantung kulit kambing yang tiba-tiba dijejali daging segar.

Paras mereka yang menyaksikan kejadian itu pun ikut berubah.

Pada saat itulah mendadak ada sebuah tangan yang lain menjulur keluar secepat sambaran kilat, "Krakkk!", lengan besi Liu Hun-hun yang perkasa dan menyeramkan itu tahu- tahu sudah tertangkap.

Dari mana munculnya tangan itu? Tangan itu sejak awal memang sudah berada di situ, berada di tubuh Gan Tin-kong, setiap orang dapat melihat tangan itu, namun tak seorang pun yang menyangka kalau tangan itu adalah "tangan lain" Song-lohucu.

Kini lengan baja milik Liu Hun-hun sudah berada dalam cengkeraman Gan Tin-kong.

"Terhitung apa caramu itu?" teriak Liu Hun-hun dengan paras berubah.

"Terhitung kau sudah kalah," jawab Song-lohucu sambil tertawa menyengir, "Dari tiga babak pertarungan, kalianlah yang kalah dalam pertarungan babak pertama."

"Tidak bisa, kejadian ini tak bisa dihitung!"

"Kenapa tak bisa dihitung?" Song-lohucu balik bertanya, "Tanganmu yang lain kau sembunyikan di dalam buntalan, sementara tanganku yang lain berada di tubuh orang lain. Tangan kita berdua sama-sama tidak berada di tubuh kita sendiri."

"Tapi kau menggunakan kekuatan dua orang untuk menghadapi aku seorang. ”

"Siapa bilang kami berdua turun tangan bersama? Dia yang melancarkan serangan, sementara tanganku sama sekali tak bergerak."

Tiba-tiba saja paras Liu Hun-hun yang merah segar seperti wajah gadis muda berubah jadi begitu tua, seakan- akan dia telah menjadi tua dua-tiga puluh tahun dalam waktu singkat.

Tentu saja kejadian ini merupakan sebuah perangkap, dan kini dia sudah tercebur ke dalamnya, apa lagi yang bisa dia perbuat? Paras Wi Thian-bong berubah hijau membesi, serunya tiba-tiba, "Kagum, aku sungguh merasa kagum."

"Kau kagum kepadaku?" gelak tertawa Song-lohucu kedengaran semakin gembira.

"Tentu saja aku merasa amat kagum dengan kekuatan tenaga dalam dan tenaga pukulanku," ucap Wi Thian-bong sambil berpaling ke arah Gan Tin-kong, "Tapi aku lebih kagum dengan kecepatanmu turun tangan."

Tiba-tiba ia tertawa dingin lagi, tertawa dingin sambil menengok ke arah Po Eng.

"Aku tetap merasa paling kagum kepada dirimu!” “O, ya?"

"Seandainya kau tidak mengatakan lebih dulu, sehingga kami beranggapan bahwa di sini terdapat seorang jago lihai yang setiap saat dapat merebut golokku dan menendang tubuhku, tak nanti Liu-hujin akan termakan oleh tipu muslihatmu ini."

Po Eng balas tertawa dingin.

"Kau tetap tak percaya kalau di kolong langit benar- benar terdapat jagoan semacam ini?"

"Di mana orang itu?” “Dia berada di sini!” “Siapa dia?"

"Sudah kukatakan, asal kau cabut golokmu, segera akan kau ketahui siapakah orang itu," sahut Po Eng segera, "Dan kujamin kau pasti tak akan kecewa."

Selama ini Wi Thian-bong selalu tenang dan bertindak hati-hati, dia selalu pandai mengendalikan diri, tak pernah turun tangan secara sembarangan, tak pernah melakukan pekerjaan yang tidak dia yakini.

Tapi sekarang, mau tak mau dia harus melanggar kebiasaan ini.

Mau tak mau dia harus mencabut goloknya!

"Criiing!", diiringi suara dentingan nyaring, golok telah dicabut dari sarungnya.

Cahaya golok putih bagai salju, bergetar bagai cahaya halilintar, mata golok sepanjang tiga kaki sembilan inci dengan membawa deru angin yang menusuk pendengaran telah dibacokkan ke tubuh Po Eng.

Ia jarang sekali turun tangan secara sembarangan, asal turun tangan, biasanya jarang sekali meleset dari sasaran.

Tak seorang pun dapat melukiskan kecepatan serta daya kekuatan dari bacokannya itu, kecepatan, ketepatan serta keganasannya tak terlukiskan dengan kata-kata.

Dalam bacokan ini, dia telah menggunakan seluruh kekuatan yang dimilikinya, sama sekali tidak meninggalkan jalan mundur bagi diri sendiri, dia pun tak ingin membiarkan nyawa lawan tetap tertinggal.

Bila seorang jago tangguh melancarkan serangan, biasanya dia akan mengerahkan seluruh kekuatan yang dimilikinya, karena mereka harus mempersiapkan jalan mundur lebih dulu bagi diri sendiri dan memposisikan diri pada sudut yang tak terkalahkan.

Wi Thian-bong adalah seorang jago tangguh, dalam bacokan kali ini dia sama sekali tidak mempersiapkan jalan mundur, karena ia beranggapan dirinya  tidak membutuhkan jalan mundur. Po Eng bukan saja sudah terluka, bahkan menghadapinya dengan tangan kosong, apa yang akan dia gunakan untuk menyambut datangnya bacokan golok musuh?

Sekalipun dia sanggup menghindarkan diri, belum tentu memiliki kekuatan untuk melancarkan serangan balasan.

Jika pihak lawan tak memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan balasan, mengapa pula dirinya harus mempersiapkan jalan mundur? Setiap kekuatan yang tersisa sudah seharusnya digunakan semuanya di dalam bacokan maut kali ini, karenanya dia menyerang dengan tak kenal ampun.

Dia berharap dalam sekali bacokan nyawa lawan dapat dihabisi!

Wi Thian-bong adalah seorang jago yang sangat berpengalaman, ia sudah beratus kali menghadapi pertempuran, selama ini pandangannya selalu tepat, perhitungannya pun selalu tepat.

Sayang sekali, kali ini dia telah salah perhitungan.

Po Eng telah menyambut bacokan goloknya, mempergunakan sepasang tangan kosong untuk menyambut datangnya bacokan itu.

Begitu sepasang tangannya ditepuk, mata golok telah dijepitnya kuat-kuat, menyusul tubuhnya melambung ke udara, sepasang kakinya melancarkan serangkaian tendangan berantai, tendangan pertama menghajar tangan Wi Thian-bong yang menggenggam golok, tendangan kedua mengancam jalan darah penting di sepasang kakinya.

Berada dalam keadaan begini, mau tak mau Wi Thian- bong harus berkelit mundur. Sewaktu tendangan pertama menyambar tiba, goloknya sudah lepas dari genggaman, ketika tendangan kedua menyusul, terpaksa dia harus berjumpalitan di udara sebelum berhasil meloloskan diri.

Ketika tubuhnya meluncur turun ke bawah, ia sudah berada di luar tenda. Sementara golok andalannya telah terjatuh ke tangan Po Eng.

Sambil membelai mata golok dengan lembut, jengek Po Eng dingin, "Sabetan golokmu kurang cepat, golok ini pun kurang bagus."

Sambil berkata, dengan jari tengah menyentil mata golok, "Krak!", mata golok itu pun gumpil sebagian.

Kemudian dengan tangan kanan menggenggam gagang golok, dua jari tangan kirinya menggencet ujung golok itu, sekali lagi... "Krak!", golok panjang tadi telah dipatahkan menjadi dua bagian.

Paras Wi Thian-bong berubah makin hebat, jauh lebih mengenaskan daripada paras Liu Hun-hun tadi.

Dengan nada dingin kembali Po Eng berkata, "Biarpun aku sudah terluka, tidak seharusnya kalian menilaiku kelewat rendah, karena aku belum mati."

"Selama belum mati, tak akan ada orang yang mampu mengalahkan dirimu?" tanya Wi Thian-bong sambil mengepal tinjunya kuat-kuat.

Jawaban Po Eng masih sama jelasnya seperti jawaban sebelumnya, "Hingga sekarang memang tak pernah ada."

Jangankan memandang wajah Wi Thian-bong, melirik sekejap pun tidak, sepasang mata elangnya hanya mengawasi diri Siu-hun-jiu tanpa berkedip. "Kini tinggal kau seorang," ujar Po Eng lebih lanjut, "Dari tiga babak pertarungan, kalian sudah kalah dua babak, apakah dirimu masih ingin mencoba bertarung?"

"Orang ini milikku," sela Siau-hong tiba-tiba, suaranya meski sangat tenang, namun perasaannya penuh gejolak.

Dua pertarungan yang barusan berlangsung sungguh membuat pergolakan darah di dalam tubuh mendidih dan mengalir kencang.

"Tentu saja orang itu milikmu, bahkan nyawanya juga milikmu," kata Po Eng, "Asal dia berani turun tangan, dalam tiga jurus pasti akan mampus di ujung pedangmu."

"Tadi kau mengatakan dalam sepuluh gebrakan." "Sekarang keadaan sudah berbeda," ucap Po Eng  dingin,

"Kini   nyalinya   sudah   ciut,   semangatnya   sudah luntur,

untuk menghabisi nyawanya, kau sudah tak butuh sepuluh gebrakan."

Tiba-tiba Siau-hong ikut tertawa dingin, jengeknya, "Sayang dia sudah tak berani turun tangan."

"Tentu saja dia tak berani."

Siu-hun-jiu hanya berdiri mematung, sama sekali tak bergerak, dia seakan sama sekali tak mendengar pembicaraan yang dilakukan kedua orang itu.

Sekarang bukan saja dia jadi "buta", bahkan tuli pula sepasang telinganya.

Liu Hun-hun yang sudah lama tak bersuara, tiba-tiba menghela napas, katanya, "Baik bertarung ilmu maupun beradu akal, ternyata kemampuan Po-toalopan memang tiada duanya."

Po Eng tidak menjawab, namun dia seakan menerima sanjungan itu dengan senang hati. Kembali Liu Hun-hun berkata, "Tapi sepandai- pandainya tupai melompat, akhirnya pasti akan jatuh juga."

"O, ya?"

"Biarpun kami sudah kalah, namun belum mati!"

Liu Hun-hun bangkit, sambil memandang kilauan cahaya senjata di kejauhan, terusnya, "Di luar area perkemahan kalian, kami masih memiliki tujuh puluh orang jago yang sudah terlatih sempurna dan berpengalaman dalam menghadapi berbagai pertempuran."

"Betul," Wi Thian-bong segera menambahkan, "Asalkan kuturunkan perintah, mereka segera akan menyerbu kemari. Dalam waktu singkat bangkai pun akan bergelimpangan, darah pun akan berceceran membasahi tempat ini."

Po Eng tidak menanggapi ancaman itu, tiba-tiba tanyanya, "Di luar sana, kalian masih memiliki sebuah tandu, tentunya tandu itu tidak berada dalam keadaan kosong, bukan?"

"Tentu saja," sahut Liu Hun-hun, "Tentu saja kami tak akan menggotong sebuah tandu kosong kemari."

Sekilas senyuman licik dan keji melintas dari balik sorot matanya.

"Kemungkinan besar orang yang berada dalam tandu itu adalah seorang jago tangguh yang belum pernah terkalahkan, mungkin juga tersimpan bahan peledak yang bisa menghancur-leburkan manusia dan hewan dalam radius lima li dari sini."

Kemudian sambil tertawa dia berpaling ke arah Siau- hong, terusnya, "Aku tahu, selama ini kau ingin sekali mengetahui apa isi tandu itu, tapi sayang sebelum sampai pada akhir waktu, tak nanti kami akan memperlihatkan isi tandu itu."

Siau-hong terbungkam tanpa menjawab.

"Sekarang keadaan belum berakhir," kembali Liu Hun- hun melanjutkan, "Karena kami masih punya barang yang dipertaruhkan, masih cukup mampu menantangmu bertaruh lebih jauh."

Bicara sampai di situ ia berpaling ke arah Po Eng dan meneruskan, "Hanya saja aku harus melihat dulu, apakah Po-toalopan bersedia menggunakan nyawa anak buahnya sebagai barang taruhan."

Po Eng tidak menjawab, dia pun terbungkam dalam seribu bahasa.

Jelas pertaruhan ini merupakan sebuah pertaruhan akbar, yang menjadi barang taruhan kelewat besar, pihak yang kalah sudah pasti akan menderita kerugian yang sangat parah, sementara pihak pemenang pun tetap akan mengalami kerugian besar.

Terlepas kemenangan yang mengenaskan atau kekalahan yang mengenaskan, kedua belah pihak sudah pasti akan sama-sama menderita.

"Aku tahu sulit bagimu untuk mengambil keputusan," kata Liu Hun-hun, "Kalau keadaan tidak memaksa, kami pun tak ingin memaksamu bertaruh, asal kau bersedia memenuhi dua permintaan kami yang kecil, seketika ini juga kami akan pergi dari sini."

Po Eng tetap membungkam.

"Kami ingin memeriksa barang daganganmu," sambung Wi Thian-bong cepat, "Memeriksanya bungkus demi bungkus." Inilah permintaannya yang pertama.

"Kalau toh uang emas itu tidak berada di sini, apa salahnya membiarkan kami memeriksanya sebentar. Aku masih berniat membawa pergi orang ini," Liu Hun-hun berseru.

Kemudian sambil menuding ke arah Siau-hong, lanjutnya, "Dia bukan sanak bukan keluargamu, buat apa kau harus beradu nyawa dengan kami hanya dikarenakan dia?"

Akhirnya Po Eng buka suara, katanya, "Kedengarannya permintaan kalian memang tidak kelewatan."

"Bukan saja tidak kelewatan, bahkan sangat masuk akal," sahut Liu Hun-hun sambil tertawa genit, "Aku tahu, kau pasti akan mengabulkan permintaan kami ini."

"Aku bersedia pergi bersama kalian," tiba-tiba Siau-hong ikut buka suara. Nada ucapannya tegas dan sama sekali tak ada keraguan, "Setiap saat aku bersedia pergi dari sini."

Perlahan-lahan Po Eng mengangguk.

"Aku memahami maksudmu," katanya, "Selama ini kau memang tak pernah mau menyusahkan orang lain, terlebih tak ingin orang yang tak bersalah ikut berkorban demi dirimu."

"Aku memang tidak seharusnya tetap tinggal di sini." "Tapi kau telah melupakan satu hal."

"Soal apa?"

"Kau tetap tinggal di sini karena akulah yang menahan kepergianmu," ujar Po Eng, "Setelah aku menahanmu, tentu saja tak akan kubiarkan siapa pun pergi membawamu." Perkataan itu disampaikan sangat lamban, setiap patah kata seakan sebatang paku yang menancap di atas dinding. Setiap perkataannya seakan sebatang paku yang menghujam di atas batu cadas.

Paku telah dipantekkan, perkataan pun telah disampaikan, seketika Siau-hong merasakan hawa darah menggelora di dalam rongga dadanya.

Akhirnya Liu Hun-hun menghela napas panjang, tegasnya, "Jadi kau serius akan mengajak kami bertaruh?"

"Benar," suara Po Eng sangat hambar, "Sekarang kalian boleh segera menurunkan perintah, suruh ketujuh puluh jagoanmu yang banyak pengalaman dan berani mati itu untuk menyerbu masuk."

Paras Wi Thian-bong berubah kehijauan, peluh dingin membasahi telapak tangannya.

"Kau tidak menyesal?"

Po Eng menolak untuk menjawab.

Menolak untuk menjawab sudah merupakan semacam jawaban, jawaban yang tak akan menimbulkan kesalah pahaman orang lain, juga tak akan menjadi jawaban yang menimbulkan kesalah pahaman.

"Bagus," sambil menggigit bibir Wi Thian-bong berseru, "Kalau memang kau tak takut mengucurkan darah, mengapa kami harus takut?"

Tiba-tiba dia berpekik panjang, suaranya tinggi melengking dan tajam, seperti jeritan setan liar di gunung terpencil, seperti auman serigala di tengah padang salju.

Inilah tanda rahasia yang telah mereka tentukan, tanda rahasia untuk mulai melakukan penyerangan. Hawa malam berhembus, meninggalkan udara dingin yang menyayat bagai bacokan golok.

Hawa pedang di tempat kejauhan terasa menyelimuti seluruh angkasa, di bawah cahaya api yang bergoyang, terpancar hawa dingin yang menggidikkan.

Batok kepala berada di atas tengkuk, darah panas menggelora di dalam dada, anak panah sudah berada di atas gendawa, golok pun telah dilolos dari sarungnya.

Kini perintah penyerangan telah diturunkan.

Suara pekikan lengking yang menusuk pendengaran bergema menembus langit malam nan hening.

Ternyata Po Eng masih tetap duduk tak bergerak, kecuali detak jantung dan denyut nadi, nyaris tubuhnya sama sekali tak bergerak.

Hutan golok di kejauhan pun sama sekali tak bergerak, tiada kuda dan jagoan yang menyerbu masuk ke dalam kompleks perkemahan.

Paras Wi Thian-bong mulai berubah, kelompok kekuatan yang dibentuknya sangat ketat dan penuh disiplin, tanda perintah pun amat jelas, peraturan juga sangat ketat.

Selama ini perintah komandonya tak pernah meleset, tak pernah menunjukkan kegagalan.

Mendadak Song-lohucu berkata sambil tertawa, "Jangan- jangan telinga kawanan jago yang kau bawa sedikit kurang beres, mungkin mereka tidak mendengar suara  teriakanmu."

Wi Thian-bong tidak menanggapi ejekan itu, sekali lagi dia berpekik panjang, kali ini suara pekikannya lebih tajam, lebih melengking dan nyaring. Buru-buru Song-lohucu menutupi telinga sendiri dengan tangan, serunya lagi sambil menghela napas, "Seharusnya kali ini biar orang tuli pun pasti akan mendengar suara pekikanmu itu."

Namun pasukan berkuda yang berada di kejauahan masih tetap tak bergerak.

Peluh dingin mulai bercucuran membasahi tubuh Wi Thian-bong, menetes pula di ujung hidungnya.

Tiba-tiba Po Eng buka suara, nadanya dingin bagaikan tusukan jarum, tajam bagaikan sayatan golok.

"Mereka sama sekali tidak tuli!"

"Kalau tidak tuli, mengapa mereka tidak mendengar?" "Mereka mendengar dengan sangat jelas."

"Kalau mendengar dengan jelas mengapa tidak segera menyerbu masuk ke mari?" gumam Song-lohucu sambil mengernyitkan alisnya, "Kenapa mereka tidak mengayunkan golok dan tombak untuk mencincang kami semua?"

"Karena aku belum meminta mereka untuk datang kemari."

"Harus kau yang memanggil baru mereka akan datang kemari?" tanya Song-lohucu lagi.

"Betul, mereka baru akan bergerak jika aku yang memanggil mereka," Po Eng membenarkan.

"Aku tak percaya."

"Kau segera akan percaya."

Tiba-tiba Po Eng mengulap tangan memberi tanda sambil berseru, "Kemari!" Suara perintahnya tidak melengking, tidak tajam, juga tidak nyaring, namun anehnya begitu perintah diberikan, kawanan manusia berkuda yang berada di kejauhan pun mulai bergerak.

Mereka bergerak lambat sekali.

Tujuh puluh ekor kuda dengan mengangkut seratus empat puluh orang perlahan-lahan berjalan memasuki wilayah perkemahan yang terang benderang bermandikan cahaya.

Di atas setiap kuda itu duduk dua orang.

Orang yang duduk di bagian depan mengenakan pakaian ringkas warna hitam dengan tangan memegang golok, tombak dan panah, mereka tak lain adalah anak buah Wi Thian-bong.

Mereka memang merupakan pasukan yang sudah lama terlatih secara ketat, namun sekarang orang-orang itu hanya duduk tanpa bergerak di atas pelana, duduk kaku bagaikan sebuah patung kayu, tubuh mereka kaku, wajah pun diliputi perasaan ngeri dan takut yang luar biasa.

Karena di belakang mereka masih terdapat orang lain.

Di belakang setiap orang terdapat seorang lain yang sedang menempelkan sebilah pisau tajam persis di pinggang masing-masing.

Dengan cepat Siau-hong menjumpai para pelancong, pedagang, gelandangan yang semula masih bernyanyi keras dalam perkemahan, kini jumlahnya telah berkurang sangat banyak, kalau semula jumlahnya mencapai seratusan orang lebih, maka sekarang tak sampai separohnya.

Karena separoh yang lain kini sudah naik ke atas kuda, naik di atas kuda jempolan tunggangan para jago anak buah Wi Thian-bong, bahkan bagaikan bayangan saja menempel ketat di belakang tubuh kawanan jago itu dan menempelkan sebilah golok yang tajam persis di pinggang orang-orang itu.

Ternyata merekalah petarung sesungguhnya, jagoan sejati.

Gerak-gerik mereka lincah bagai seekor kucing, gesit bagai seekor ular berbisa dan tepat sasaran seperti anak panah yang dilepas Dewa panah lima bunga.

Waktu itu seluruh anak buah Wi Thian-bong sedang menanti datangnya komando penyerangan, mereka sedang memusatkan seluruh perhatian dan konsentrasinya untuk siap melancarkan serbuan, seluruh perhatian dan kekuatan mereka tercurahkan ke arah tenda di mana selembar bulu elang berwarna hitam sedang berkibar.

Pada saat itulah sekonyong-konyong mereka merasa ada seorang telah menyelinap naik ke belakang tubuh mereka, kemudian setiap jago pun merasakan ujung golok yang dingin menusuk tulang telah menempel di pinggang mereka, lalu terdengar ada seorang berbisik dari belakang, "Jangan bergerak, berani bergerak berarti mati!"

Pertaruhan belum lagi dimulai, mereka sudah menderita kekalahan total.

Kekalahan yang amat fatal!

Pernah ada orang melukiskan Wi Thian-bong sebagai 'Tenang bagaikan bukit, kokoh bagaikan batu karang'.

Tapi sekarang tubuhnya seolah sudah hancur berantakan, hancur-lebur, dan berserakan di tanah.

Sejak lahir hingga kini, belum pernah dia merasakan kekalahan sedemikian mengenaskan. Senyuman manis yang semula masih menghiasi wajah Liu Hun-hun, kini pun ikut berubah pucat-pasi dan layu, selayu wajah seorang nenek yang baru saja menjanda.

Kini dia sudah bukan setengah manusia lagi, tapi  seorang yang utuh, bagian tubuhnya yang termasuk bagian "iblis" kini sudah lenyap terkena gempuran kesedihan yang tak berbelas kasihan, hancur-lebur tak berbekas.

Po Eng mengawasi mereka dengan pandangan dingin. "Walaupun  kalian  kalah  namun  belum  mati,  ketujuh

puluh orang jagoan yang sudah lama terlatih dan pernah

mengalami berbagai pertarungan pun belum satu pun yang mati," katanya perlahan.

Kemudian dengan sepatah demi sepatah tanyanya, "Apakah kalian ingin mati? Apakah kalian ingin ketujuh puluh orang pejuang andalan kalian itu ikut terkubur menemani kematian kalian?"

Pada hakikatnya pertanyaan semacam ini tak perlu dijawab, juga tak seorang pun ingin menjawab.

Tapi Siu-hun-jiu yang belum pernah buka suara selama ini justru menjawab cepat, "Kami tak ingin mati!"

"Tangan beracun mencabut sukma, nyawa pun bakal melayang."

Tapi sayang orang yang suka membunuh, kadangkala justru lebih takut mati ketimbang orang yang dibunuhnya, karena seorang pembunuh seringkali membunuh orang lain karena dia takut mati.

Po Eng tertawa dingin.

"Kini kalian sudah tiba pada saat paling kritis, bukan?” “Benar." "Kini kalian masih memiliki sebuah tandu, kemungkinan besar dalam tandu itu tersembunyi seorang jago silat yang sangat tangguh, tapi mungkin juga isinya hanya bahan peledak yang mampu menghancur-leburkan kami semua," kata Po Eng lagi, "Apakah kalian masih ingin bertaruh lebih lanjut?"

"Kami tak ingin," jawab Siu-hun-jiu cepat, "Di dalam tandu pun tak ada jago lihai, tak ada pula bahan peledak, hanya. ”

Dia tak sempat menyelesaikan kata-katanya.

Tiba-tiba Pancapanah mengayun tinjunya, langsung ditonjokkan ke wajahnya, membungkam mulutnya.

Siu-hun-jiu si tangan sakti pencabut nyawa yang tersohor namanya dalam dunia persilatan ternyata tak sanggup menghindari tonjokan itu, di kolong langit saat ini, mungkin jarang ada yang mampu menghindarkan diri dari tonjokan maut itu.

Oood)*w(ooO