Elang Terbang di Dataran Luas BAB 04. ANTARA HIDUP DAN MATI

BAB 04. ANTARA HIDUP DAN MATI

"Tak ada lagi yang kupertimbangkan."

"Sebenarnya kau menyanggupi atau tidak?" desak Wi Thian-bong.

"Tidak!"

Jawabannya langsung, singkat, dan terus terang, singkatnya setengah mati.

Paras Wi Thian-bong sama sekali tak berubah, namun daging di sekitar kelopak matanya mulai mengejang keras, pupil matanya ikut berkerut kencang. Sebaliknya sorot mata Sui-gin justru menampilkan perubahan yang rumit dan aneh, dia seakan terperangah, seakan juga merasa sangat kagum, sangat menarik hatinya.

"Dapatkah kau beritahu kepadaku, mengapa kau menolak?" tanyanya kemudian lembut.

"Karena aku tak suka!" jawab Siau-hong santai, ternyata dia masih sanggup tertawa.

Alasan ini bukan saja tak cukup baik, pada hakikatnya tak bisa dibilang sebagai sebuah alasan. Lantas apa alasan yang sebenarnya? Siau-hong tak ingin mengutarakannya, selama ini dia selalu bertindak sesuai dengan prinsip yang dianutnya, biasanya sulit bagi orang lain memahaminya, dia pun tak ingin orang lain berusaha memahaminya.

Dalam melakukan pekerjaan apa pun, dia merasa sudah lebih dari cukup asal dia tidak mengingkari prinsip dan keyakinan sendiri.

Sui-gin menghela napas panjang, "Wi Thian-bong tak nanti membunuhmu, dia tak pernah memaksa orang lain untuk melakukan pekerjaan apapun."

"Kebiasaan semacam ini cukup positif," kata Siau-hong sambil tersenyum, "Sungguh tak kusangka ternyata dia bisa memiliki kebiasaan sebagus ini."

"Aku pun tak bakal membunuhmu, karena aku telah berjanji tak akan mencelakaimu lagi."

Setelah tertawa, katanya lebih jauh, "Pegang janji pun merupakan sebuah kebiasaan yang baik, kau pasti tak akan menyangka bukan kalau aku pun memiliki kebiasaan baik semacam ini?"

"Memang tak banyak perempuan yang memiliki kebiasaan baik semacam ini," Siau-hong mengakui. "Kami tak lebih hanya ingin mengantarmu balik ke tempat semula, agar kau bisa berbaring seorang diri sambil menanti datangnya kematian dengan perasaan tenang."

Menunggu mati jauh lebih menderita daripada kematian itu sendiri, jauh lebih tersiksa.

Namun Siau-hong tak peduli.

"Sebenarnya aku memang sedang menunggu mati, apa salahnya kalau sekarang menunggu lagi."

"Maka kau masih tetap menolak?” “Benar!"

Jawabannya masih tetap begitu sederhana, sederhana setengah mati.

Angin puyuh kembali melanda di luar tenda, menerbangkan pasir dan bebatuan. Dalam waktu singkat, senja akan berlalu dan kegelapan yang membawa datangnya kematian segera akan menyelimuti seluruh jagat.

Di tengah dataran luas yang tak berperasaan ini, nilai sebuah kehidupan memang berubah jadi begitu kecil, rendah dan tak berarti, kalau masih bisa hidup tentu saja harus hidup lebih jauh, kalau tak mampu hidup lagi, apa salahnya mati?

Kembali Siau-hong membaringkan diri, dia seolah sudah bersiap untuk diantar kembali ke tengah terpaan pasir dan menanti datangnya ajal.

Pada saat dia hampir memejamkan mata itulah mendadak terdengar seseorang dengan suara dingin, kaku, dan sangat aneh, bertanya kepadanya, "Kau benar-benar tak takut mati?"

Tak usah membuka mata pun dia sudah tahu siapakah orang itu. Selama ini orang itu hanya berdiri tenang di sana, memandangnya dengan tenang. Sinar matanya tak pernah bergeser sekejap pun ke arah lain, sorot matanya pun tidak memperlihatkan perubahan apa pun.

Sewaktu orang itu memandang Siau-hong, dia seolah seekor kucing yang sedang mengawasi seekor serangga yang sudah terjebak dalam jaring laba-laba.

Mereka bukanlah berasal dari jenis yang sama. Sesungguhnya kehidupan memang begitu rendah,

pergulatan antara mati dan hidup pun tentu saja berubah jadi begitu bodoh dan menggelikan.

Sudah barang tentu perasaannya tak akan tergerak.

Tapi sekarang secara tiba-tiba ia bertanya kepada Siau- hong, "Kau benar-benar tak takut mati?"

Apakah pertanyaan ini diajukan karena selama hidup ia belum pernah bersua dengan orang yang benar-benar tak takut mati?

Siau-hong menampik menjawab pertanyaan itu.

Karena dia sendiri tak yakin dengan jawaban pertanyaan itu.

Namun ia telah berbuat begitu, telah menunjukkan harga diri dan keberanian yang dipilihnya di saat manusia dihadapkan pada dua pilihan yang menentukan, hidup atau mati.

Terkadang memang ada beberapa persoalan yang tak mungkin bisa dijawab dengan perkataan, dan bukan perkataan yang bisa menjawabnya.

Ternyata orang itu dapat memahaminya. Maka dia tidak bertanya lagi, perlahan-lahan berjalan mendekat, caranya berjalannya ternyata sama anehnya dengan sikapnya sewaktu berdiri.

Orang lain sama sekali tak dapat melihat bagaimana dia bergerak, tapi secara tiba-tiba ia sudah berdiri persis di depan ranjang, ranjang di mana Siau-hong sedang membaringkan diri.

Pedang milik Siau-hong tergeletak di atas meja kayu di samping ranjang.

Tiba-tiba ia bertanya lagi, "Ini pedang milikmu?" Pertanyaan ini tak susah untuk dijawab dan tak perlu menampik untuk menjawabnya.

"Benar, itu memang pedangku.” “Jadi kau menggunakan pedang?" "Benar!"

Tiba-tiba cahaya pedang berkelebat, secercah sinar bianglala menyebar bagai halilintar.

Siapa pun tak ada yang melihat bagaimana orang itu mengulurkan tangan mengambil pedang dan mencabutnya, tapi pedang yang tergeletak di atas meja tahu-tahu sudah berpindah ke tangannya.

Bahkan pedang itu pun telah dicabut dari sarungnya.

Ketika pedang yang telah lolos dari sarungnya itu berada di tangannya, penampilan orang itu pun ikut berubah, berubah seperti pedang yang berada dalam genggamannya, memancarkan pula cahaya bianglala yang amat menyilaukan mata.

Cahaya bianglala yang menyilaukan mata itu hanya berlangsung singkat untuk kemudian lenyap tak berbekas, karena pedang yang berada dalam genggamannya tiba-tiba disarungkan kembali.

Penampilan orang itu pun seketika berubah tenang kembali,-lewat lama kemudian sepatah demi sepatah dia berkata, "Orang di dunia ini menempa berjuta bilah pedang, namun hanya dua-tiga di antaranya yang pantas disebut senjata tajam."

"Pedang mestika, kuda jempolan hanya bisa ditemukan tak dapat dicari, di antara sekian juta paling hanya ada satu, dan itu pun sudah terhitung cukup banyak."

"Pedangmu sangat tajam."

"Sorot matamu pun amat tajam," sahut Siau-hong tersenyum. "Kau pernah menggunakan pedang ini untuk membunuh orang?”

“Pedang itu hanya membunuh mereka yang memang pantas untuk dibunuh."

"Hanya mereka yang pandai menggunakan senjata tajam, ia dapat membunuh orang tanpa dibunuh, ilmu pedangmu pasti lumayan.”

“Masih terhitung lumayan juga."

Kembali orang itu termenung cukup lama, katanya lagi, "Kalau begitu kau masih tersedia sebuah jalan lain."

"Jalan yang mana? Bagaimana harus kulewati?" tak tahan Siau-hong bertanya.

"Gunakan pedangmu untuk membunuh aku," suara orang itu tetap hambar, "Asal dapat membunuhku, kau boleh tak usah mati."

"Kalau tidak, apakah aku akan mati di ujung pedangmu?" "Benar," perlahan-lahan orang itu melanjutkan, "Tidak banyak orang yang pantas mati di ujung pedangku, bila kau dapat mati di ujung pedangku, kematianmu boleh dibilang terhitung terhormat..."

Ucapan itu diutarakan kelewat latah, coba kalau orang lain yang mengatakannya, kemungkinan besar Siau-hong akan tertawa terbahak.

Tentu saja Siau-hong tidak tertawa.

Ia tak bisa menertawakan perkataan itu, sebab ia dapat melihat perkataan orang itu adalah ucapan yang sejujurnya, sebuah ungkapan kata jujur yang amat sederhana dan singkat, tiada yang menonjol, tiada gertak sambal. Sewaktu dia mengucapkan perkataan itu, dia seolah hanya mengungkap sebuah kenyataan yang sangat sederhana.

Bagaimana pun bisa mati di ujung pedang orang itu jauh lebih baik daripada menunggu kematian sambil berbaring di sana.

Bukankah dapat berduel mati hidup melawan seorang jagoan tangguh macam orang ini merupakan suatu kejadian yang paling didambakan seorang yang belajar ilmu pedang?

Seluruh tenaga terpendam Siau-hong telah terangsang keluar, mungkin hal ini merupakan yang terakhir kalinya, terakhir kali dia menggunakan seluruh tenaga terpendam yang dimilikinya.

Tiba-tiba saja dia melompat bangun, mencengkeram pedang miliknya.

"Kapan? Di mana?" teriaknya. "Menurut kau?"

"Di sini, sekarang juga!" "Tidak bisa!" "Sekarang aku berada di sini, pedangku pun berada di sini, mengapa tidak bisa?"

"Karena meski pedang dan dirimu sudah siap, tenaga dan kekuatanmu belum siap," suara orang itu masih hambar tanpa perasaan, "Bila kubunuh dirimu pada saat dan keadaan seperti ini, sama artinya aku telah membuat malu pedangku sendiri."

Kemudian dengan hambar dia melanjutkan, "Sekarang, pada hakikatnya kau belum pantas untuk memintaku turun tangan sendiri."

Siau-hong menatapnya lekat-lekat, mendadak timbul perasaan kagum dan hormat yang tak terhingga dari dasar lubuk hatinya.

Dia kagum dan hormat karena dia menghormati diri sendiri.

Rasa hormat ini telah melampaui mati hidup, telah melampaui segala sesuatunya.

Tiba-tiba Siau-hong mengajukan sebuah permohonan, sebuah permohonan yang orang lain pasti menganggapnya latah dan tak tahu diri, "Berikan kepadaku sekantung air, sekantung arak, sekantung daging, sekantung kue, satu stel pakaian, selembar selimut, tiga hari kemudian datanglah lagi mencari aku."

"Boleh!" ternyata orang itu segera menyanggupi.

Wi Thian-bong sama sekali tak bereaksi, dia seakan-akan tak mendengar perkataan itu.

Sebaliknya Sui-gin, si Air raksa seolah hendak melompat bangun sambil berteriak, "Apa katamu?"

Orang itu membalikkan badan, memandangnya dengan sangat tenang, sekujur badannya, dari atas hingga ke bawah sama sekali tidak memperlihatkan gerakan atau perubahan wajah apa pun, dia hanya bertanya dengan tenang, "Sudah kau dengar dengan jelas semua perkataanku?"

"Aku telah mendengar sangat jelas," bukan saja sikap Sui-gin segera berubah jadi tenang, bahkan  ia menundukkan kepala rendah-rendah, "Aku telah mendengar dengan jelas."

"Apakah kau masih ada pendapat lain?" "Tidak ada!"

Air, arak, daging, kue, pakaian, selimut bagi seseorang yang terkurung di tengah gurun pasir boleh dibilang merupakan sebuah barang yang tak ternilai harganya, makna dan manfaat semua itu tak mungkin bisa diurai dengan bahasa dan tulisan bangsa mana pun.

Siau-hong dengan membawa semua barang kebutuhannya telah meninggalkan tenda mereka, meski ia sudah berjalan cukup lama, namun gejolak perasaannya belum juga bisa tenang. Rasa lapar dan dahaga yang kelewat lama telah membuatnya berubah jadi lebih lemah dari keadaan semula, perasaan seseorang yang lemah memang selalu lebih mudah bergejolak.

Dia sama sekali tidak meminta balik "Ci-hu" dari tangan si Air raksa, karena dia memang tak berniat pergi kelewat jauh, dia kuatir tersesat hingga tak dapat menemukan kembali tenda ini.

Dia pun tak ingin orang lain mengira dia pergi jauh, karena dia memang bertekad akan balik kembali.

Namun dia tak mungkin bisa tetap tinggal di sana sambil menunggu pulihnya kesehatannya. Asal dia bertemu orang itu, segera akan muncul suatu perasaan ancaman yang tak terbendung, dia merasa ancaman itu membuatnya selalu tegang, tak pernah bisa mengendorkan diri lagi.

Dalam tiga hari ini dia harus dapat memulihkan seluruh kekuatan tubuhnya, bahkan kalau bisa, pulih dalam kondisi puncak, dengan kondisi yang prima, ia baru punya harapan untuk berduel melawan orang itu, jika ia tak bisa mengendorkan seluruh syarafnya, berarti dia pasti akan kalah.

Kalah di ujung pedang seorang jago pedang tanpa perasaan, kalau sampai kalah berarti mati.

Angin dingin berhembus kencang, pasir berwarna kuning masih beterbangan di angkasa, malam ini sebuah malam yang membekukan.

Akhirnya ia berhasil melewati malam yang dingin dengan hembusan angin yang begitu kencang dalam sebuah liang batu karang yang tahan angin, sambil meneguk air, minum arak, makan kue, menggigit daging, ia gunakan selimut untuk menutupi tubuhnya.

Dalam waktu singkat ia terlelap tidur.

Tatkala mendusin dari tidurnya, pada pandangan mata yang pertama ia telah melihat Po Eng.

Malam yang dingin kembali berlalu, baju putih yang dikenakan Po Eng tampak bagaikan sukma gentayangan di remangnya sang fajar, jubah itu seolah terbuat dari bahan yang telah diberi mantera sakti, hingga selamanya tampil putih, bersih dan halus.

Siau-hong tidak merasa tercengang akan kemunculannya, malah sambil tertawa ujarnya, "Tak disangka kau telah datang." Padahal kejadian semacam ini bukannya tak bisa diduga, lagi pula munculnya orang ini di tempat mana pun, kapan pun, dia tak bakal merasa tercengang atau keheranan.

Mendadak Po Eng mengajukan satu pertanyaan yang sangat aneh.

"Penampilanku sekarang bila dibandingkan penampilanku saat pertama kali kau berjumpa aku, apakah terdapat perbedaan?" ia bertanya.

"Tak ada."

"Tapi kau telah tampil beda.” “Di mana bedanya?"

"Kau kelihatan seperti seorang yang kaya mendadak," sindir Po Eng dengan suara keras.

Siau-hong segera tertawa, kantung kulit kambing tergeletak di sisi tubuhnya, dengan ketajaman mata Po Eng, tentu saja semua benda itu tak akan lolos dari pengamatannya.

Berada di dataran luas yang tak berperasaan semacam ini, bila ada orang bersedia memberi berbagai barang kebutuhan untukmu, tentu saja kau harus membayar untuk semua itu. Dan kini satu-satunya yang bisa dia bayar untuk semua itu adalah kesadaran serta suara hatinya.

Apakah Po Eng sudah mulai menaruh curiga kepadanya? Siau-hong tidak memberi penjelasan.

Berada di hadapan manusia semacam Po Eng, memang tak perlu menjelaskan persoalan apa pun.

Tiba-tiba Po Eng berkata lagi sambil tertawa, "Tapi aku lihat kau si orang kaya mendadak rasanya tak pernah melakukan perbuatan yang memalukan." Terkadang tidak memberi penjelasan justru merupakan semacam penjelasan yang paling baik.

"Aku tak lebih hanya bertemu seseorang," Siau-hong menjelaskan, "Sementara waktu ini, dia tak ingin membiarkan aku mati dahaga."

"Siapakah orang itu?"

"Seseorang yang tiga hari kemudian bersiap akan membunuhku dengan tangannya sendiri."

"Dia akan membunuhmu dengan apa?” “Dengan pedang miliknya."

Dengan sorot mata tajam Po Eng memandang sekejap pedang Siau-hong, lalu ujarnya, "Kau pun mempunyai pedang, kemungkinan besar orang yang bakal terbunuh mati bukan kau, melainkan dia."

"Kemungkinan ini memang ada, tapi rasanya tidak mungkin."

"Kau memiliki sebilah pedang bagus, ilmu pedangmu juga lumayan hebat, seranganmu tidak lambat, tidak banyak orang yang mampu menghindari serangan pedangmu."

"Maka kau pun akan pergi?"

"Karena untuk sementara waktu kau tak bakal mati, aku pun terpaksa harus pergi," suara Po Eng masih dingin dan tajam bagai mata golok.

Menunggu datangnya kematian ataupun mati di tangan orang lain, sama-sama merupakan kejadian yang tidak menyenangkan. Apakah perasaannya juga sedingin ucapannya? Dia pergi dari situ, apakah karena dia tahu Siau-hong telah lolos dari ancaman bahaya maut?

Siau-hong meneguk araknya, kemudian meneguk pula air tawar, baru perlahan-lahan mendorong campuran arak itu ke dalam perut.

Dia sangat berharap Po Eng pun bisa minum seteguk dengan cara begitu, sebab minum dengan cara begini selain amat nikmat, bahkan amat bermanfaat bagi semangat maupun kesehatan badan.

Ia tidak mempersilakan Po Eng minum, seperti dia tak akan meminta seorang pejabat yang bersih dan jujur untuk menerima uang sogokan.

Pemberian dari seseorang terkadang malah dianggap sebuah penghinaan oleh orang lain.

Tak disangkal Po Eng telah mengetahui pula akan hal ini, dari balik sorot mata elangnya yang dingin ternyata muncul secercah kehangatan.

"Kau belum pernah bertemu orang itu?" tiba-tiba ia bertanya. Siau-hong menggeleng.

"Belum pernah," kemudian setelah termenung, lanjutnya pula, "Padahal aku mengetahui hampir semua jago pedang kenamaan yang ada di kolong langit, namun tak bisa kuduga siapa gerangan orang itu."

"Tentu saja kau tak akan mengetahuinya," dari balik mata Po Eng terpancar pemikiran mendalam yang mendekati "tingkat tinggi".

Lewat lama sekali dia baru berkata lagi perlahan-lahan, "Karena jago pedang yang sebenarnya memang tak punya nama." Ucapan ini pun sudah mendekati taraf "tingkat tinggi", Siau-hong masih muda, ia belum dapat mencernanya.

Maka tak tahan dia pun bertanya, "Kenapa?"

Po Eng harus berpikir cukup lama sebelum dapat memberi penjelasan, "Karena jago pedang yang sesungguhnya hanya mencari inti sari sebuah ilmu pedang, yang dipikirkan hanya tingkatan paling tinggi dan dalam dari sebuah ilmu pedang, kalau bisa mencapai sebuah taraf yang belum pernah dijamah dan diraih jago pedang lainnya. Hatinya sudah begitu tergila-gila dengan pedang, tubuh dan pikirannya telah menyatu dengan pedang, maka musuh yang dia cari pastilah orang yang bisa membantu dia untuk mencapai taraf yang sedang dituju."

Mungkin dia merasa penjelasan ini masih belum cukup membuat orang merasa puas, maka kembali tambahnya, "Orang semacam ini bukan saja tak akan terjun ke dalam dunia persilatan untuk mencari nama, bahkan terkadang dia telah melupakan nama sendiri."

Siau-hong segera menambahkan, "Betul, yang terutama baginya adalah tidak berharap orang lain mengetahui nama mereka, sebab bila seseorang mempunyai nama besar, dia tak akan bisa konsentrasi untuk melakukan perbuatan yang disukainya."

Tiba-tiba Po Eng menghela napas panjang, ujarnya, "Ternyata kau memang seseorang yang amat cerdas, kepintaranmu luar biasa. ”

"Tapi sayang orang yang pintar terkadang justru berumur pendek," cepat Siau-hong menambahkan.

Suara Po Eng mendadak berubah jadi dingin dan tajam, setajam mata golok, "Oleh karena itu, tiga hari kemudian aku pasti akan datang untuk mengurus jenazahmu!" Hari ini sudah bulan sembilan tanggal delapan belas.

Ooo)d*w(ooO

Bulan sembilan tanggal dua puluh, hari cerah.

Dalam dua hari belakangan, kalau siang udara amat panas, sedang malam hari udara dingin membekukan, sekalipun kondisi badan Siau-hong makin lama semakin pulih, namun perasaannya justru berubah semakin tegang, gelisah, dan tak sabar.

Hal ini bukan dikarenakan ia merasa sangsi dan ngeri menghadapi duel yang segera akan dihadapinya, tapi karena ia merasa kelewat kesepian.

Sejujurnya dia ingin sekali mencari seseorang dan mengajaknya mengobrol, tapi Po Eng telah pergi dari situ, wilayah seputar ribuan li tak nampak jejak sesosok bayangan manusia pun.

Tegang, kepanasan, persediaan daging dan arak yang berlebihan membuat perasaannya mendadak berubah jadi lebih bersemangat.

Sudah lama, lama sekali ia tak pernah menyentuh wanita.

Terkadang dia bisa tak tahan untuk membayangkan kembali tangan itu, tangan halus, lembut yang sedang meraba setiap inci bagian tubuhnya, menggosok dan membasuhi setiap bagian badannya, termasuk bagian yang vital.

Ia mulai merasa bara api yang membakar dadanya, membakarnya hingga nyaris meledak. Maka di tengah malam bulan sembilan tanggal sembilan belas, dengan mengikuti posisi bintang di langit sebagai kompas, dia mulai berjalan balik menuju ke arah tenda itu.

Hari ini sudah bulan sembilan tanggal dua puluh, dari balik remangnya cahaya fajar, ia sudah dapat melihat bayangan tenda.

Dia sendiri pun tahu, dengan kondisi badan yang dimilikinya sekarang, ia belum pantas untuk berduel melawan orang itu.

Namun dia enggan menghindar, dia pun tak mungkin mundur dari kenyataan.

Ada begitu banyak orang yang mempercayai takdir, semua beranggapan takdir akan menentukan jalan hidup seseorang.

Tapi ada banyak orang yang tidak tahu bahwa hal yang menentukan jalan kehidupan seseorang seringkali justru watak dan perangai sendiri.

Siau-hong adalah manusia semacam ini, maka dia pun memilih jalan kehidupan itu.

Dengan langkah lebar ia berjalan menuju ke dalam tenda.

Tenda kulit kerbau yang besar dan kokoh itu dibangun di bawah sebuah tebing batu penahan angin.

Ketika tiga hari berselang Siau-hong pergi meninggalkan tempat itu, dalam tenda bukan saja terdapat orang, di sana pun terdapat onta dan kuda, tapi sekarang tak satu  pun yang kelihatan. Kemana perginya mereka?

Kemana perginya onta dan kuda yang demi kelangsungan hidup, telah memikul beban makanan dan air, setiap hari menderita pecut dan siksaan manusia yang tak berperasaan?

Mungkinkah di dalam tenda saat ini hanya tersisa si jago pedang seorang, jago pedang tanpa nama tanpa perasaan yang sedang menunggu kedatangannya?

Menunggu untuk mencabut nyawanya!

Matahari yang terik telah muncul di tengah angkasa. Butiran air keringat telah membasahi tubuh Siau-hong,

mengalir hingga ke ujung bibir.

Butiran keringat yang asin bercampur getir, bila dijilat dengan ujung lidah akan terasa anyir bagaikan darah.

Dalam waktu singkat dia akan benar-benar mencicipi rasanya darah asli. Darah sendiri!

Selimut, kantong air dan benda lain yang berat telah dia tinggalkan, semua barang yang bakal mempengaruhi kecepatan gerakan telah ia tanggalkan, sambil menggenggam kencang pedangnya ia berjalan masuk ke dalam tenda, bersiap menghadapi musuh yang paling tangguh sepanjang hidupnya.

Di luar dugaan, tak terlihat seorang pun di dalam tenda itu.

Jago pedang tanpa nama, mencabut pedang tanpa perasaan, sekali menyerang seketika mencabut nyawa lawan, bukan saja tusukan pedang itu mengandung seluruh inti sari ilmu pedangnya, terkandung juga seluruh rahasianya. Tentu saja sewaktu turun tangan, dia enggan ada orang lain menyaksikannya.

Hanya orang mati yang pernah menyaksikan serangan pedangnya, karena siapa pun yang pernah menyaksikan serangan pedangnya, dia harus mati. Oleh karena itu Siau-hong menduga, Wi Thian-bong serta si Air raksa telah dipaksa meninggalkan tempat itu.

Tapi mimpi pun dia tak menyangka jago pedang tanpa nama itu pun ikut pergi dari situ, terlebih tak habis mengerti mengapa dia harus pergi dari tempat ini?

Mereka berasal dari kelompok yang sama, dalam situasi dan keadaan seperti apa pun tak nanti meninggalkan arena pertarungan dan melarikan diri.

Mungkinkah di tempat itu telah terjadi sebuah perubahan yang mengejutkan? Terjadi suatu peristiwa yang memaksanya mau tak mau harus pergi meninggalkan tempat itu?

Siau-hong tak dapat menduganya, dia pun tak tahu apa jawabannya.

Segala perabot dan keadaan di dalam tenda masih sama seperti keadaan pada tiga hari berselang, saat ia tinggalkan tempat itu, baskom emas masih berada di atas meja, kulit macan tutul pun masih ada....

Tiba-tiba seluruh otot badan Siau-hong mengejang kencang, dengan satu gerakan cepat dia menerjang ke depan, menghampiri ranjang itu.

Ia telah melihat kulit macan tutul itu sedang bergerak.

Dengan tangan sebelah menggenggam pedang, ia gunakan tangan yang lain, dengan gerakan yang lambat, lambat sekali... kemudian secepat sambaran kilat mencengkeram dan menarik kulit macan tutul itu.

Tak salah, di bawah kulit macan tutul ternyata terdapat seseorang.

Dia bukan si Air raksa, bukan Wi Thian-bong, terlebih bukan jago pedang tanpa nama. Orang itu adalah seorang perempuan, seorang perempuan dalam keadaan telanjang bulat.

Sekilas pandang Siau-hong dapat memastikan kalau sebelum ini dia belum pernah bertemu dengan perempuan ini, karena perempuan ini memiliki perbedaan dengan semua perempuan yang pernah dijumpainya selama ini.

Di mana letak perbedaannya?

Sekalipun Siau-hong tak dapat menjelaskan, namun ia dapat merasakannya, semacam perasaan yang begitu dalam, begitu kuat, nyaris menyusup masuk hingga ke tubuh bagian bawahnya.

Dia memang seorang gelandangan.

Tak sedikit perempuan yang pernah dijumpainya, tak sedikit pula perempuan yang pernah bugil di hadapannya.

Tapi tubuh perempuan ini kalah jauh bila dibandingkan dengan tubuh mereka, perempuan-perempuan itu memiliki tubuh yang lebih padat berisi, lebih kenyal, lebih merangsang napsu birahi.

Ia kelihatan selain pucat-pasi, bahkan kurus dan lemah, selain itu perkembangan payudaranya kurang sempurna, namun kesan yang ditimbulkan perempuan ini justru dapat menyusup hingga menyentuh napsu birahi paling purba dari manusia.

Sebab dia pasrah, sama sekali tak memiliki kekuatan untuk melawan, bahkan keinginan untuk melakukan perlawanan pun sama sekali tak ada.

Sebab perempuan ini kelewat lemah, apa pun yang akan dilakukan orang lain terhadapnya, terpaksa ia harus menerimanya. Setiap lelaki dapat melakukan apa pun yang ingin dia lakukan terhadap perempuan itu.

Bila seorang wanita telah memberi perasaan semacam ini terhadap seorang lelaki, bagi dirinya atau pun bagi orang lain, jelas keadaan itu merupakan sesuatu yang sangat tidak menguntungkan.

Karena perasaan itu sendiri membawa semacam rangsangan yang menggiring manusia untuk melakukan dosa.

Siau-hong menerjang keluar, keluar dari tenda itu walau di luar tenda matahari sedang bersinar terik.

Ia membiarkan tubuhnya terbakar oleh teriknya matahari, sementara kobaran api birahi masih membara dalam lubuk hatinya.

Sudah terlalu lama dia mengendalikan gejolak birahinya, dia tak ingin berdosa lagi.

Butiran keringat mulai mengucur deras, mengendalikan napsu birahi terkadang jauh lebih susah daripada mengendalikan gejolak napsu lainnya.

Ia tidak pergi terlalu jauh, karena masih ada beberapa masalah yang harus dibikin jelas.

Dengan cara apa perempuan itu tiba di situ? Ke mana perginya Wi Thian-bong sekalian?

Ketika untuk kedua kalinya dia masuk kembali ke dalam tenda, perempuan itu sudah duduk, tubuhnya telah dibungkus dengan kulit macan tutul, ia sedang mengawasi pemuda itu dengan pandangan ngeri, takut, dan seram.

Siau-hong berusaha menghindarkan diri dari tatapan mata perempuan itu. Dia masih belum dapat melupakan perasaan yang dialaminya tadi, juga belum bisa melupakan tubuh bugil yang tersembunyi di balik kulit macan tutul itu.

Sekalipun begitu, ada beberapa persoalan tetap harus dia tanyakan, pertama-tama dia harus mencari tahu lebih dulu siapakah dirinya.

Setiap satu pertanyaan diajukan, ia segera menjawabnya secara spontan.

Tampaknya perempuan itu belum pernah  membangkang, karena dia tidak memiliki kekuatan untuk membangkang, juga tak memiliki keinginan untuk membangkang.

"Siapa kau?"

"Aku bernama Pova."

Suaranya halus dan lembut, biarpun dialek yang dipakai adalah dialek yang biasa digunakan di daratan Tionggoan, namun terkesan aneh dan lucu.

Tampaknya walaupun dia seorang bangsa Han, tak disangkal sejak kecil sudah hidup di gurun pasir, nama yang digunakan pun menggunakan bahasa Tibet.

"Kau adalah anak buah Wi Thian-bong?" "Bukan!"

"Kenapa kau bisa sampai di sini?"

"Aku datang untuk menunggu seseorang." "Siapa?"

"Dia bernama Hong, seorang lelaki, seorang lelaki yang sangat baik." Siau-hong tidak merasa tercengang dengan pengakuannya itu, maka segera tanyanya lagi, "Kau kenal orang itu?”

“Tidak!"

"Siapa yang menyuruh kau menunggu di sini?” “Majikanku.”

“Siapa majikanmu?” “Dia pun seorang lelaki."

Ketika menyinggung tentang majikannya, dari balik matanya segera terpancar semacam rasa kagum dan hormat yang luar biasa, seperti rasa hormatnya terhadap para dewata.

"Tapi dia lebih tangguh, lebih kosen daripada seluruh lelaki yang ada di dunia ini, asal dia ingin melakukan sesuatu, tak ada yang tak bisa dia lakukan, asal dia mau, dia pun bisa terbang ke langit nan biru, terbang ke puncak Cu- mu-lang-ma, karena dia seperti seekor burung elang."

"Burung elang?" akhirnya Siau-hong mengerti, "Bukankah dia bernama Po Eng?"

Perempuan itu datang ke sana karena Po Eng yang menyuruh dia ke situ.

Wi Thian-bong tak berada di sana, tentu saja hal ini dikarenakan mereka telah dipaksa pergi oleh Po Eng.

Dia telah mewakili Siau-hong mengusir pergi Wi Thian- bong dan Air raksa, dia pun telah mewakili Siau-hong mengalahkan jago pedang tanpa nama yang menakutkan itu.

Asal ia bersedia, pekerjaan apa pun dapat ia lakukan. Tiba-tiba Siau-hong merasa sangat gusar. Dia semestinya merasa berterima kasih, tapi rasa gusar yang membara di dalam dadanya sekarang jauh lebih kuat dari rasa terima kasihnya.

Jago pedang tanpa nama itu adalah lawannya, duel mati hidup yang bakal mereka berdua langsungkan sama sekali tak ada sangkut-pautnya dengan orang lain, sekalipun dia kalah dalam pertarungan, bahkan mati di medan laga, semuanya tak ada urusan dengan orang lain.

Hampir saja dia ingin menerjang keluar, pergi mencari Po Eng, pergi memberitahu orang yang luar biasa itu bahwa ada sementara urusan yang tak boleh diwakilkan siapa pun, ada pekerjaan tertentu yang harus dia lakukan sendiri... pertarungannya harus diselesaikan oleh dirinya sendiri, harga diri serta martabatnya harus dia sendiri yang  lindungi, seperti dirinya melindungi nyawa sendiri.

Peluhnya masih menetes, dia pun masih pirnya darah untuk mengalir, atas dasar apa manusia yang luar biasa itu ingin mencampuri urusannya!

Perempuan itu masih mengawasinya tanpa berkedip, tiada rasa takut lagi di balik sorot matanya, mendadak ia berkata, "Aku tahu, kau pastilah orang yang sedang kutunggu."

"Dari mana kau bisa tahu?"

"Aku bisa melihat, kau adalah orang baik," perlahan ia menundukkan kepala, "Karena kau tidak menjahati aku. ”

Sebetulnya manusia itu sama rata sama derajat, setiap orang berhak untuk "tidak dijahati", tapi bagi perempuan ini, bisa tidak dijahati orang sudah merupakan sebuah berkah, sebuah keberuntungan yang langka.

Sudah berapa banyak tekanan, penghinaan dan perkosaan yang dia alami selama ini? Dari balik perkataan yang diucapkannya sekarang, terkandung betapa besar kesedihan dan kepedihan yang pernah dia alaminya selama ini?

Tiba-tiba rasa gusar Siau-hong lenyap seketika, rasa gusarnya telah berubah jadi rasa kasihan dan iba.

Kembali perempuan itu mengangkat wajahnya, menatap pemuda itu lekat-lekat, "Aku pun dapat melihat apa yang kau butuhkan sekarang, apa yang kau inginkan segera akan kuberikan semuanya untukmu!"

Detak jantung Siau-hong kembali berdebar keras, perempuan itu telah bangkit, berdiri di hadapannya dalam keadaan telanjang bulat.

Ketika Siau-hong ingin kabur, ingin menghindarkan diri, perempuan itu sudah menubruk ke dalam pelukannya.

Suara tawanya benar-benar sangat riang, jauh lebih riang daripada seorang pemancing ikan yang memasukkan ikan hasil tangkapannya ke dalam kuali berminyak panas.

Bagaimana pula perasaan sang ikan?

Ooo)d*w(ooO