Duri Bunga Ju Bab O4: Musibah bercadar

 
Bab O4: Musibah bercadar

Xiao Dai akhirnya berhasil keluar dari pegunungan, tapi bajunya yang mewah sudah kotor dan robek-robek.

Tempat dia keluar tepat kebalikan arah ke kota kabupaten Ping Yang itulah kota Xiang Yang.

Melihat gerbang kota dia sangat gembira, hampir saja berteriak, sepertinya dia sudah melihat semeja masakan yang enak sedang menunggu dia, di dalam hatinya sedang memikirkan bagaimana caranya menelan habis semua masakan enak itu.

Tepat disaat dia menginjakkan kaki di atas jalan raya itu dan bersiap-siap melangkah maju, di dalam hutan disisi jalan keluar seorang gadis besar yang berpakaian pelayan, gadis itu berjalan menghampirinya.

Kaki Xiao Dai tidak lagi bergerak setengah langkah pun, karena dia tahu gadis besar itu pasti mengarah padanya, sebab disekitar sini satu bayangan setan pun tidak ada.

"Tuan muda, apakah marga Wang? Orang menyebutnya Tangan Cepat Xiao Dai?"

Melihat wanita yang cantik, setiap laki laki pasti akan memperhatikannya dua kali.

Xiao Dai bukan saja melihat dua kali, malah sedang menikmati dengan menatapnya.

Terhadap wanita cantik, Xiao Dai mempunyai satu kebiasaan, mulutnya suka mengatakan kata-kata nakal, sedikit menikmati tahu yang tidak merusak pemandangan, terhadap wanita falsafahnya adalah 'nakal tapi tidak bejad'.

Makanya makanan enak satu meja penuh itu, seketika berubah jadi tahu satu meja penuh, yang merah, yang didinginkan, yang pedas, sampai ada juga kembang tahu, tahu otak....

Ini adalah tahu yang diantar ke depan pintu.

0ooo(dw)ooo0

"Benar aku marga Wang, juga disebut Tangan Cepat, Xiao Dai, hanya teman aku yang menyebut begitu, bagaimana nona bisa tahu?"

"Jika kau benar marga Wang dan juga disebut Tangan Cepat Xiao Dai kalau begitu tidak salah lagi, nyonya aku ingin mengundang mu, ada yang dibicarakan, mohon sudi menerimanya."

"Siapa nyonyamu? Kenapa dia bisa tahu aku ada di sini? Dia ingin bertemu dengan aku ada masalah apa?" Xiao Dai berturut-turut bertanya.

"Semua pertanyaan ini aku tidak bisa menjawabnya, mohon maaf, aku pikir setelah kau sampai di tempat pasti akan mengerti semuanya?

"Kau tidak katakan? Maaf, aku tidak biasa janji bertemu dengan orang asing." Xiao Dai lalu melangkah.

"Kau takut?"

"Tidak, perutku lapar, perut orang sekali lapar, maka tidak ada gairah terhadap apa pun, apa lagi makan tahu tidak akan kenyang."

Gadis itu tidak mengerti arti kata-kata bodoh, dengan gelisah berkata, "Perutmu lapar, majikanku sudah tahu dan sudah menunggu dengan menyediakan makanan." Xiao Dai yang sudah pergi jauh, tertawa berkata, "Didunia ini tidak ada makan siang gratis, aku lebih baik mengeluarkan uang sendiri mengundang diri sendiri."

0ooo(dw)ooo0

Orang yang pandai tahu aturan ini, makanya Xiao Dai jarang membiarkan orang mengundangnya makan, 'pertemuan tidak ada pertemuan yang baik, pesta tidak ada pesta yang baik.' Kata-kata orang dulu Xiao Dai selalu mengingatnya dihati.

Makanya dia lebih senang mengeluarkan uang mengundang dirinya sendiri, karena pertama uang dia banyak, kedua tidak boleh melihat wajah orang, ketiga, lebih-lebih bisa memilih makanan apa saja yang dirinya suka. Walau kau suka makan tahu, juga boleh minta satu meja bermacam-macam tahu, orang lain tidak bisa melarangnya.

Gadis besar mengeluarkan satu cermin, menghadapkan ke matahari menyorotkan kearah gerbang kota digoyang- goyangnya, Xiao Dai karena membelakangi gadis besar makanya tidak melihatnya.

Setelah masuk ke kota Xiang Yang, Xiao Dai melangkah menuju ke restoran yang paling besar.

Baru saja sampai pintu, sudah dihadang oleh seorang pria penyambut tamu yang berdiri di depan pintu.

Melihat dirinya sangat berantakan, mudah dibayangkan beberapa hari tidak mandi, tidak pernah mengurut jenggot, wajahnya siapapun tidak ada yang mau melihatnya. Memang orang memandang rendah padanya, dianggapnya dia ingin makan gratis. Dia tidak berkata apa-apa, dia mengeluarkan dari sakunya sebuah perak sekitar tiga puluh liang digoyang- goyangkan di depan pria itu.

"Maaf, restoran kami sudah penuh, harap anda ke restoran lain sajalah!"

Kata-katanya bukan saja ramah, juga masuk di akal.

Walau Xiao Dai sangat tidak senang, juga terpaksa melangkah pindah ke tempat lain.

0ooo(dw)ooo0

Sungguh tidak terpikirkan bisa bertemu hal yang aneh ini.

Didunia ini sungguh ada kota ada uang tapi tidak bisa membeli makanan.

Dengan membawa uang perak Xiao Dai sudah lari ke lima restoran dan rumah makan.

Semua jawabannya sama.

Dia sungguh sangat marah, juga lapar sekali, kakinya lebih-lebih sudah sangat lelah.

Tiba tiba....

Xiao Dai melihat di dalam gang ada yang jualan mie dipinggir jalan, dengan merk kain yang besar sekali, di atasnya tertulis 'Mie Daging Sapi Asli'.

Dia tertawa, uang peraknya dilempar lalu diterima oleh tangannya dengan sangat mantap sekali, Xiao Dai melangkah menuju penjual mie dipinggir jalan itu, mulutnya berdendang lagi lagu.

0ooo(dw)ooo0 Bau wangi daging sapi menerpa hidung, sungguh menggairahkan, hidungnya mencium¬cium, Xiao Dai menunggu pedagang itu memasak mie, liurnya hampir saja mengucur keluar.

"Ibu, aku tidak percaya ada uang tidak bisa membeli makanan, restoran besar, rumah makan kecil semuanya penuh tamu, bagus, aku Xiao Dai makan daging atau makan sayuran tidak ada pantangan, mie daging sapi dipinggir jalan sama bisa mengisi perut, kasihan kuil jeroan ku ini, bukan saja sudah lama dan tidak pernah diperbaiki, hampir saja roboh!" Xiao Dai sambil bergumam, sambil menunggu semangkok super besar mie daging sapi itu diantar ke depannya.

Xiao Dai di dalam hatinya sangat senang, karena setelah lapar lima hari bisa makan satu mangkok mie daging sapi yang panas, pedas, apa masih tidak bisa gembira?

0ooo(dw)ooo0

Satu derap kaki kuda, cepat laksana tambur, melabrak masuk ke dalam gang ini.

Bersamaan terdengar teriakan seperti ayam, datang dari mulut pria kurus penunggang kuda.

"Minggir minggir hei! Orang yang di depan minggir hei! Kuda ini sudah gila, aku sudah tidak bisa mengendalikannya ya!. ” suara yang begitu sangat gelisah,

keadaan yang begitu membahayakan.

Di tempat jualan, dua tamu lain dan Xiao Dai sudah meninggalkan kursi berdiri nempel ke tembok, pedagang itu baru saja menaruh semangkok super besar mie daging sapi itu di atas meja, dia juga ketakutan dan membalikkan tubuh menempel ketembok, gayanya persis seperti huruf 'X' yang besar sekali. (Jika kau mau berpikiran serong juga boleh.) sesungguhnya itu hanya sabuk pedagang yang menggantung ke bawah, sepertinya yang jadi pedagang sabuknya selalu panjang, supaya mudah mengelap meja.

0ooo(dw)ooo0

Xiao Dai jadi bengong, hal ini sungguh sangat tidak masuk akal.

Lapar lima hari, telah lari keseluruh restoran di jalan raya kota, membawa perak yang putih tidak bisa mendapatkan makanan untuk dimakan, dengan susah payah menemukan 'Restoran besar terbuka', melihat sudah dapat makan semangkok super besar mie daging sapi.

Tapi justru bisa terjadi hal yang kebetulan ini, seekor kuda gila, seorang pria yang gegabah, serentetan suara 'si li hua la', selantai tumpahan kuah baso dan mie daging sapi, satu keadaan yang kacau balau.

Tentu saja, Xiao Dai harus meneruskan laparnya.

Apa yang disebut menangis dan tertawa pun tidak bisa?

Apa yang disebut tangis dan tawa pun bukan?

Begitulah rupanya Xiao Dai sekarang. Selesai itu artinya semuanya habis.

Tangis dan tawa tidak bisa bagaimanapun jauh lebih baik dari pada ingin menangis tapi tidak ada air mata.

Makanya Xiao Dai menjejalkan uang perak di tangan ke dalam dadanya penjual mie daging sapi, begitulah dia orangnya, tidak dapat melihat orang sedih, walau sekarang yang seharusnya sedih adalah dirinya sendiri.

Uang bukanlah segalanya, ada kalanya uang tidak bisa dibelikan barang. Xiao Dai menyesal sekarang, menyesal kenapa tadi tidak membiarkan saja orang mengundang dirinya makan, bila sudah tahu begini, dia lebih baik pergi saja makan, walau pesta tidak ada pesta yang baiklah, paling sedikit bisa makan kenyang dahulu.

Sambil jalan, sambil berpikir, Xiao Dai terpikir gadis besar yang menghadang jalan tadi.

0ooo(dw)ooo0

"Apakah kau ingin makan mie? Ayo datang ke rumahku saja, nanti aku masakan mie untukmu."

Xiao Dai melihat gadis besar itu di jalan keluar gang, dan pria kurus penunggang kuda gila tadi di belakang gadis besar itu.

Kuda itu sekarang tidak terlihat gila sedikitpun, dan wajah pria itu lebih-lebih tidak terlihat gusar seperti tadi.

Melihat dua orang seekor kuda diseberang, jika masih belum mengerti, Xiao Dai benar benar idiot jadinya. Xiao Dai tidak idiot, sebaliknya, dia sangat pintar dan juga refleknya cepat, makanya dia tertawa, belajar cara tertawanya Li Yuan-wai.

"Apakah rasa masakan mu bisa lebih enak dibanding rasa mie daging sapi tadi?" Xiao Dai tertawa di dalam hati, tapi berkata dengan serius.

"Tentu saja, aku juga bisa memasak sepuluh lipat lebih besar dari pada yang kau tadi mau mentraktir, hanya tidak tahu apakah kau mau makan atau tidak?"

"Mau, mau, aku sekarang sangat ingin makan mie daging sapi yang kau buat, apakah sekarang kita pergi ke rumahmu."

0ooo(dw)ooo0 Ada orang mengatakan, walau induk ayam di rumahmu hari ini telah bertelor berapa butir, orang Gai-bang pasti  bisa mengetahuinya.

Ini belum tentu benar, tapi membuktikan mata-matanya Gai-bang sangat banyak, beritanya juga sangat cepat.

Saat Li Yuan-wai menerima laporan, mengatakan dikota Xiang Yang ada seorang yang dandanannya kacau wajahnya kotor, tidak dapat makan mie daging sapi, malah menjejalkan tiga puluh liang perak diberikannya pada penjual mie. Dia segera dengan cepat pergi ke kota Xiang Yang.

Tiga puluh liang perak, jangan kata makan semangkok mie daging sapi, membeli seekor sapi pun masih bisa. Kebiasaan tidak bisa melihat orang lain susah, dan juga dimana-mana suka menghambur-hamburkan uang, kecuali Xiao Dai, ada siapa lagi?

Pertanyaannya adalah Xiao Dai biasanya suka bersih, dan suka memakai pakaian mewah, masalah ini beda dengan yang diberitakan.

Tapi bagaimanapun, ada harapan lebih baik dari pada tidak ada harapan, di dalam situasi telah menunggu selama lima hari penuh, tidak ada berita, Li Yuan-wai  memaksakan dirinya pergi, untuk membuktikan apakah benar dia itu Xiao Dai atau bukan, dan lagi pulang pergi dari kota Xiang Yang ke kota kabupaten Ping Yang cuma butuh satu hari, tidak dapat dihitung jauh, dari pada menunggu lebih baik mencoba mencarinya.

Li Yuan-wai sudah pergi, di dalam kota kabupaten Ping Yang tinggal Polisi Setan sendiri.

0ooo(dw)ooo0 Setelah Li Yuan-wai pergi, di dalam penginapan Polisi Setan minum arak sendirian.

Satu bayangan orang berkelebat, di dalam kamar telah ada satu pemuda berbaju pelajar yang sangat tampan berwajah putih.

Orang ini juga adalah orang yang waktu itu menjatuhkan uang tembaga, karena suara uang tembaga jatuh ke tanah jadi membuyarkan pertarungan di antara Li Yuan-wai dengan janda Yuan Dashao.

Polisi Setan tidak terkejut, dia juga sepertinya sudah tahu orang ini akan datang.

"Duduklah, Li Yuan-wai baru saja pergi."

"Aku tahu, aku melihat dia keluar dari gerbang kota." "Apakah mau minum arak?"

"Tidak, aku tidak ada selera, kau minum saja sendiri."

Siapa orang ini? Tampaknya dia temannya Polisi Setan Tie Cheng Gong.

Ada rahasia apa di antara mereka?

Mengapa menunggu Li Yuan-wai pergi dulu, baru dia datang?

Untuk apa dia membuyarkan pertarungan antara Li Yuan-wai dengan janda Yuan Dashao?

Apa yang dibicarakan Pemuda berbaju pelajar dengan Polisi Setan di dalam kamar? Tidak ada orang yang tahu, karena pintu kamar juga terbuka.

Lama.... orang ini baru keluar dari kamar Polisi Setan, katanya kepada Polisi Setan, "Kau juga sama, masalah ini tidak bisa hanya ditujukan pada keluarga Yuan, aku curiga masih ada siasat yang lebih besar di belakangnya, kau sudah terlibat di dalam pergolakan ini, mungkin setiap saat akan membahayakan nyawamu."

"Aku tahu, aku sudah bertekad walau harus mati." Setelah pemuda berbaju pelajar itu pergi, wajah tua Polisi

Setan yang penuh dengan getir pahitnya kehidupan, berkilas satu wajah yang rela mati demi kebenaran.

Apa yang ingin dikerjakannya? Apa dia telah menduga. ?

0ooo(dw)ooo0

Gadis besar itu benar-benar telah memasak mie untuk Xiao Dai.

Bukan semangkuk mie daging sapi, tapi sekatel besar penuh mie daging sapi.

Apakah bisa dibayangkan jika seseorang telah kelaparan selama lima hari, barapa banyak dia dapat. ?

Lima jin mie, enam jin daging sapi, ditambah satu katel penuh kuah, sampai satu butir bawang kembang pun tidak tersisa, semuanya telah masuk ke dalam perut Xiao Dai.

Sekarang, Xiao Dai sedang mengusap-usap perutnya dengan dua tangannya, sampai berdiri juga susah. Tubuh Xiao Dai sedikit kurus, tapi kepandaian dalam soal makan, sungguh sulit mencari orang yang bisa menandinginya.

Dengan menghembuskan nafas puas, lalu mulutnya berbunyi dua kali karena kekenyangan, dia memaksa bangkit berdiri sambil menggeliatkan tubuhnya, Xiao Dai mulai memperhatikan ke sekeliling kamar itu, hiasan dan gadis besar diseberang sana berikut laki-laki yang menunggang kuda tadi.

Laki-Laki kurus itu dan gadis besar juga dengan mata yang aneh memandang Xiao Dai, tidak terpikir oleh mereka, mie dan daging sapi yang begitu banyak, bisa masuk ke dalam perut Xiao Dai yang bertubuh kurus.

Biasanya makanan sebanyak itu, walau lima pria besar juga belum tentu bisa menghabiskannya.

"Wajah kalian berdua tampak kurang sopan, tapi aku tidak marah pada kalian, bila ada kesempatan aku juga mau membuat kalian kelaparan selama lima hari, mungkin kalian makan tidak lebih sedikit dari pada aku, seumur hidupku sungguh tidak pernah makan mie daging sapi seenak ini, eee.... caramu memasak sungguh kwalitas kelas satu. ”

Seseorang makan tidak boleh terlalu kenyang, jika makan terlalu kenyang maka penyakit lamanya akan kambuh. Begitu juga dengan Xiao Dai, saat dia kelaparan matanya terasa gelap tapi dia masih tidak lupa makan tahu, apa lagi setelah kenyang makan.

"Betul, bukankah kau mengundang aku makan besar? Kenapa malah memberi aku makan mie daging sapi? Dimana majikan kalian?"

"Tunggulah sebentar, majikanku sebentar lagi juga akan kembali, karena sayurnya sudah dingin jadi sudah diangkat semua, siapa yang tahu kapan dia akan datang! Maka terpaksa aku memasak mie," jawab Gadis besar dengan merdu.

"Bisakah beritahu aku, kenapa kalian bisa tahu aku akan mengambil jalan yang mana, atau apakah kau sengaja menunggu aku?"

"Jujur saja, kami juga tidak tahu kau keluar lewat jalan mana, tapi setiap jalan keluar gunung Kabut Hitam, majikan kami sudah menyuruh orang menjaga di sana, asal kau keluar kami pasti dapat melihatmu,” kata Gadis besar itu sambil tertawa.

"Siapakah majikan kalian? Apakah kau sampai sekarang masih belum mau mengatakannya?"

"Maaf."

"Kau menahan orang terus, tidak kau akan susah melahirkan anak!"

Gadis besar tetap saja seorang wanita, wajahnya menjadi merah.

"Kau. kenapa kau bisa bicara begitu?"

"Aku tidak merasakan berkata salah, siapa suruh kalian mempermainkan aku, coba jelaskan, kenapa semua restoran dikota Xiang Yang bisa mendengarkan kalian, dan tidak mau menerimaku."

Begitu berkata dia sudah membongkar perbuatannya, gadis besar itu sedikit malu berkata, "Delapan puluh persen bisnis dikota ini adalah milik majikan kami, walau ada beberapa bukan milik majikan kami, tapi semuanya ada hubungan bisnis dengan kami, itulah sebabnya mereka mau mendengar kata-kata kami. Kau jangan salah paham, kami tidak ada maksud mempermainkanmu, tapi hanya ingin mengundangmu datang kemari, jadi terpaksa kami menggunakan siasat ini, harap dimaafkan. ”

"Tidak aneh, ketika aku telah masuk ke rumah makan, uang perak yang begitu putih juga tidak ada yang mau. Melihat keadaan kamar ini, pajangannya, dekorasinya, hmmm, majikan kalian memang punya kemampuan tinggi."

Walau kamar ini tidak begitu besar, tapi dekorasinya sangat mewah, sangat teliti dan berseni, semua pajangannya jika bukan emas tentu perak, lentera kristal, perabotan kayu Tan, ini hanya salah satu kamar makan, kamar lainnya bisa dibayangkan.

0ooo(dw)ooo0

"Saudara, siapakah marga anda? Tadi perananmu sungguh hebat! Aku lihat pemeran utama dan juga pemilik sandiwara Hai Tang Lian Shao Tang, rasanya dia juga tidak sebagusmu!" Xiao Dai mengalihkan sasarannya, mulai mempermainkan pria penunggang kuda tadi.

Pria itu wajahnya menjadi merah, tapi dengan terbuka betkata, "Aku Zhao Ji, perbuatanku memalukan saja."

Xiao Dai terkejut berkata, "Pecut Terbang Zhao Ji?" "Benar."

"Tidak diduga, sungguh tidak diduga pesilat nomor satu Perguruan Bai Sheng bisa bertemu denganku di sini, beruntung bisa bertemu, beruntung bisa bertemu."

"Terima kasih."

0ooo(dw)ooo0

Berendam di dalam baskom mandi, sebenarnya hal yang menyenangkan, tapi jika di dalam hati banyak pertanyaan, dan menjadi benang kusut di dalam hati, mana bisa dia mandi dengan perasaan tenang dan merasakan kenikmatannya?

Setelah tahu tuan rumah harus empat jam lagi baru bisa pulang, Xiao Dai menuruti usulan gadis besar untuk mandi dulu, ini juga persoalan yang paling diinginkannya, karena dia suka bersih sudah hampir menjadi kebiasaan gila bersih.

Walau Xiao Dai berendam di dalam tong air, otaknya terus memikirkan banyak masalah. Kejadian beberapa hari ini, seperti terbayang kembali membentang di depan matanya, satu persatu kejadian yang tidak dapat dipikirkan itu dengan perlahan terpikirkan membuat dia jadi bertambah pusing.

Tidak terpikirkan olehnya siapa tuan rumah perempuan yang mengajaknya?

Juga tidak terpikirkan olehnya siapa wanita berbaju hitam yang ingin membunuhnya itu?

Lebih-lebih tidak terpikirkan olehnya bagaimana janda Yuan Dashao dapat memancing dia masuk kegunung Kabut Hitam itu, yang setanpun tidak mudah bisa keluar dari sana, mengapa dia mau mengikuti dia dari belakang?

Masih ada, siapa wanita yang menghadang dia di jalan raya Chuan Shan itu?

Empat wanita ini apa ada hubungannya tidak di antara mereka?

Terpikir wanita, dia tertawa, karena dia terpikir lagi gadis besar, masih sangat lugu, bukan saja memasakan sekatel besar mie daging sapi buat dirinya, masih ditambah sepiring penuh tahu.

Xiao Dai memang orangnya begitu, peristiwa apapun yang terjadi, dia selalu memulai dengan memikirkan dari wanita.

0ooo(dw)ooo0

Xiao Dai yang biasanya selalu pintar, kali ini ternyata tolol, dan tololnya sampai keterlaluan.

Dia menyesal, menyesal tidak seharusnya menuruti usulan gadis besar itu, untuk pergi mandi.

Dia juga benci pada diri sendiri kenapa begitu takut kotor, kotor sedikit kan tidak akan mematikan orang, dia bersumpah selanjutnya akan merubah kebiasaan gila bersihnya, belajar seperti Li Yuan-wai yang tidak perduli dengan kebersihan.

Jika Li Yuan-wai menggantikan dirinya tentu tidak akan tertipu seperti ini.

Disaat Xiao Dai masih berendam digentong kayu bulat mandi dan akan keluar, gadis besar mendorong pintu kamar mandi, membukanya sampai mengeluarkan suara keras.

Matanya tidak melirik kesamping, disudut mulutnya sedikit menyungging senyuman yang mentertawakan, setelah masuk langsung dia keluar lagi.

Memang kejadiannya tidak begitu menakutkan, saat tubuh Xiao Dai berada di dalam tong mandi, adalah saat yang tepat bisa membunuhnya, tapi gadis besar itu malah keluar begitu saja, yang membuat dia gemas adalah gadis itu membawa pergi baju baru yang telah di siapkan, juga baju bekas pakainya, semua dibawa satu pun tidak disisakan.

Xiao Dai melihat setiap gerak geriknya, dia menjadi bengong.

Tenggorokan sudah hampir tidak bisa bersuara lagi karena berteriak-teriak, sepertinya orang di dalam rumah ini semuanya sudah hilang, sedikit pun tidak ada sahutan.

Tapi Xiao Dai tahu mereka masih ada, semua sedang menunggu kelucuan yang akan dibuat olehnya.

Sekarang dia baru tahu ternyata mandi adalah satu hal yang sangat menyedihkan.

Xiao Dai sampai berkhayal mengapa manusia bukan binatang, kalau binatang maka tidak perlu mandi! Biasanya dia sangat yakin akan kepintaran dirinya, sekarang dia baru sadar dia begitu bodoh, bodohnya sampai satu akal pun tidak bisa dipikirkannya.

"Mengapa! mengapa! bagaimana pun kalian harus mengatakan alasannya! Hei! Walau orang hukuman, dipengadilan juga memakai celana mendengarkan pak hakim menjatuhkan putusannya.... kalian dengar, jika masih tidak mengembalikan bajuku, aku akan mencaci, sekarang. ”

Wajah gadis besar akhirnya muncul juga, wajah dengan penuh tawa.

"Makilah! Jika kau ingin berendam sampai busuk di dalam sana, maka kau makilah!"

Xiao Dai diam tidak berani bersuara, matanya penuh berharap, tapi di dalam hatinya sudah mencaci maki gadis besar dari ujung kepala sampai telapak kaki tidak kurang dari delapan ratus kali.

"Kau ingin tahu mengapa aku melakukan semua ini kan?"

Xiao Dai buru-buru menganggukkan kepala.

"Bukankah kau sangat pintar? Seharusnya dapat menebaknya?"

Xiao Dai buru-buru menganggukkan kepala lagi, tapi dilanjutkan menggeleng geleng kepala.

"Iii? Bukankah kau sangat pintar dengan tidak langsung memaki orang? Dan juga mengatakan yang orang sama sekali tidak mengerti? Kenapa kau tidak buka mulut lagi, apa sudah gagu?" Ternyata Xiao Dai yang yang sudah makan tahu orang selama setengah hari, melihat mata gadis besar itu berputar dia jadi mengerti, maka timbul niat membalasnya.

Diam-diam Xiao Dai bersumpah, bersumpah tidak akan makan tahu wanita lagi dan berkata yang bukan-bukan.

"Nona besar, aku tidak bersungguh-sungguh, aku sudah tahu salah, lain kali aku tidak berani lagi, setuju?"

Memanggil nona besar, sungguh satu perbuatan yang sulit bagi Tangan Cepat Xiao Dai.

"Menyebalkan, jadi kau masih ingin berkata lain kali?" gadis besar melotot dengan bulat.

"Ya, ya, aku memang menyebalkan, aku sekarang sudah minta maaf, kau telah mempermainkan aku setengah harian, sekarang kemarahan ku sudah mereda, tolong, tolong, bajunya mohon bisa dikembalikan?" kata Xiao Dai seperti ingin menangis saja.

"Tidak segampang itu."

"Apa mungkin kau menganggap bajuku adalah barang pusaka sehingga dipegang terus?"

Perkataannya baru habis, Xiao Dai bengong lagi, apa yang dikatakan 'Sungai dan gunung mudah dibentuk, sifat asli manusia sulit dirubah'. Satu masalah belum beres, penyakit lama Xiao Dai malah kambuh lagi.

Sungguh dia ingin sekali menggigit lidahnya sendiri, Xiao Dai dengan bengong memperhatikan reaksi gadis besar.

Benar saja, wajah gadis besar jadi berubah, dia merasa marah sampai menjejakkan kakinya.

Gadis besar tidak menjawab segera bajunya xiao Dai ditaruh sambil mengambil satu kursi duduk di depan pintu. Xiao Dai juga tidak berani membuka mulut, dua orang itu begitu saja bersitegang, terjadilah situasi yang menggelikan, situasi yang aneh.

0ooo(dw)ooo0

Kulit lelaki pasti lebih tebal dari pada kulit wanita. Xiao Dai tertawa lagi, tertawa mengejek.

Semacam tertawa yang tidak dapat ditahan, mencoba menarik perhatian, tentu saja masih jauh tidak menarik dibanding tertawanya Li Yuan-wai.

"Apakah kau suka melihat laki-laki mandi?" kata Xiao Dai sambil tertawa.

"Tidak tahu malu!"

"Kalau begitu pasti suka melihat laki laki tidak memakai baju?"

"Menyebalkan!"

"Kalau semuanya bukan, tolong beritahu aku, apa maksudmu duduk di sini?" sedikit memiringkan kepala, Xiao Dai nerkata sambil tertawa.

"Aku hanya ingin membuatmu malu saja, melihatmu sampai kapan baru bisa sadar dan menyesali mulut sendiri yang lancang itu."

Dengan sedikit hati-hati, gadis besar itu tidak mengerti, sudah sampai saat ini Xiao Dai yang menyebalkan ternyata masih bisa tertawa.

"Sudahlah! Laki-laki keluar dari tempat mandi tidak ada yang bagus dilihat, kenapa kau tidak pergi saja?" kata Xiao Dai sambil mengeluh.

"Kau bisa begitu tidak tahu malu?" "Aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh, aku tidak merasa ini memalukan, karena aku sudah memberitahu, aku mau keluar sekarang."

"Kau berani? Kau berani di depan seorang wanita, se....

sehelai pun tidak memakai. ?"

"Mengapa tidak, kalau begitu coba kau lihat apakah aku berani tidak."

Habis bicara Xiao Dai benar-benar berdiri.

Gadis itu tidak menyangka Xiao Dai benar-benar berani berdiri, melihat setengah tubuh atas Xiao Dai muncul di atas tong mandi, dia menjadi ketakutan sampai sepasang tangannya menutup mata, dia lari keluar, sampai baju yang ada di bawah juga lupa dibawa.

0ooo(dw)ooo0

Laki laki dan wanita sebenarnya sama, jika yang satu masuk, yang satu akan keluar, yang satu keras, yang satu akan lunak.

Pihak yang masuk biasanya laki laki, dan dipihak yang mundur umumnya wanita.

Maka ketika Xiao Dai berdiri, gadis besar itu berlari keluar.

Jadi Xiao Dai sudah menang di dalam adu kepintaran antara laki laki dengan wanita ini.

Tentu saja kadar kemenangan ini kurang membanggakan, tapi ini merupakan perbedaan antara laki laki dan wanita.

Jika keadaannya dibalikkan, siapa pun laki-laki itu pasti tidak akan lari, walau mau lari juga akan lari perlahan, dan pasti akan menunggu orangnya sudah seluruhnya berdiri, setelah dirinya melihat dengan jelas, baru lari dengan merasa masih kurang puas.

0ooo(dw)ooo0

Ditengah perjalanan antara kota kabupaten Ping Yang dengan kota Xiang Yang.

Di depan hutan campuran.

Li Yuan-wai memandang orang berbaju hitam yang bercadar di depannya, sepatah pun tidak berkata, dia terus melotot pada dirinya dengan tertegun dan merasa sedikit kebingungan.

"Hartawan Li, jika kau ingin menikmati sisa hidupmu yang enak, paling baik kau tinggalkan kabupaten Ping Yang."

"Tuan, dihari matahari terang benderang kau memakai cadar menghadang jalanku, tidak ada alasan mengatakan kata-kata ini, aku sungguh jadi terkejut! Aku tentu saja ingin menikmati sisa hidupku, aku masih sangat muda, tapi perkataanmu membuat aku bingung, bisakah kau beritahu aku sebabnya?" Li Yuan-wai dengan Xiao Dai nada perkataannya sama.

"Jangan sok pintar, nasihatku ini paling baik kau mempercayainya."

"Betulkah? Kau tidak mengatakan alasannya, aku mungkin tidak bisa menurutinya."

"Jangan kira karena kau adalah satu-satunya murid Raja Pengemis, sehingga punya sandaran, aku mengatakan demikian justru karena kau masih muda." Dengan suara kaku orang bercadar itu berkata.

"Apa kau temanku?" "Bukan,” kata Orang berbaju hitam tertegun sebentar baru.

"Kalau begitu kau musuhku?"

"Jika kau tidak mendengar kata-kata ku, aku akan menjadi musuhmu."

"Aku pasti mengenalmu, aku dapat merasakannya, kenapa tidak lepaskan saja cadarmu? Kau takut apa?" tanya Li Yuan-wai agak mendesak.

"Lucu, kenapa aku bisa takut padamu, aku bercadar tentu ada alasannya, jangan banyak bicara yang tidak ada gunanya, kau mau tidak meninggalkan kabupaten Ping Yang?"

"Tiba-tiba saja aku menpunyai satu keinginan, apakah kau mau mendengarnya? aku ingin sekali melihat wajah aslimu, aku berani bertaruh, kau jangan menyangkal, aku pasti pernah bertemu denganmu."

"Sudah pernah bertemu" tiga kata masih menggelinding dimulutnya, Li Yuan-wai sudah menyerang tujuh belas kali, tongkat pemukul anjing di tangan kanannya telah digerakan sampai anginpun tidak bisa tembus, lima jari tangan kirinya dibuka, menyerang orang bercadar.

'Mengalahkan lawan dengan bergerak lebih dulu', Li Yuan-wai selamanya tidak akan lupa dua kata ini, apa lagi saat dia tahu pasti harus bertarung dengan lawan.

Makanya dia mendahului menyerang.

Orang yang bercadar tidak menduga saat orangnya berkata ditengah jalan, tiba-tiba bisa menyerang, disaat mendadak ini orang bercadar jadi kelabakan, hampir saja dia tidak bisa lolos dari sergapan ini, tapi mantel depan, lengan bajunya sudah robek ditiga tempat, semua ini akibat serangan tongkat pemukul anjing itu.

Segera orang bercadar mencabut pedang panjang dipunggung dan membalas menyerang, orang bercadar itu sangat marah katanya, "Li Yuan-wai kau sangat licik, apa kau ternama karena selalu mencuri menyerang?"

"Tuan bercadar, jangan menyalahkan aku? Kalau mau menyalahkan salahkan dirimu yang tidak menyelidik kebiasaan aku, jika Li Yuan-wai berkelahi dengan orang, apa kau pernah dengar aku membiarkan orang menyerang duluan?"

Tiga jurus lima gerakan sekaligus dilancarkan Li Yuan- wai sedikitpun tidak memberi peluang, sambil berkata sambil menyerang terus.

Orang bercadar itu sungguh bisa dikatakan jago silat kelas satu, mula-mula karena tidak ada persiapan dia sedikit kelabakan, setelah beberapa jurus sedikit demi sedikit dia bisa membalikkan keadaan buruknya, tangan kiri mengunakan pedang, tangan kanan melakukan pukulan, dengan gerakan yang aneh untuk sementara kedudukan menjadi seimbang dengan Li Yuan-wai, tidak bisa ditentukan siapa yang unggul siapa yang di bawah angin, keduanya berkelahi dengan seru.

Li Yuan-wai semakin bertarung semakin terkejut, dia menyadari lawannya bukan saja tenaga dalamnya tinggi tapi jurus pedangnya juga aneh, tangan kanan sering tiba- tiba menyerang, seperti keluar dari neraka membuat orang sulit menghindarnya. Dia menguras semua ingatannya, belum pernah dia mendengar ada orang dunia persilatan yang tangan kirinya menggunakan pedang dan bersamaan bisa menyerang dengan pukulan kanannya. Untung saja 'Delapan belas langkah mabok' miliknya masih bisa mengatasi, setiap berada dalam keadaan berbahaya, langkahnya dapat menghindarkan serangan aneh lawannya.

Pelapor dipukul jadi terdakwa, dengan berlalunya waktu, Li Yuan-wai semakin merasakan desakan lawan pada dirinya semakin berat. Mula-mula dia unggul karena menyerang terlebih dulu, sekarang dia hanya bisa bertahan, selama ini 'Tujuh Puluh Dua Jurus Tongkat Pemukul Anjing' yang ternama dengan kelincahannya dan santai, merasa sulit menangkis jurus pedang yang aneh itu, hatinya makin terkejut menjadikan permainannya makin tidak bisa berkembang. Sampai hari ini dia baru merasa tongkat pemukul anjingnya menjadi begitu berat.

Sebaliknya orang bercadar itu tidak saja sudah mengambil inisiatif penyerangan, juga sudah mempunyai kesempatan sambil bertarung sambil berkata, "Li Yuan-wai, kau dan aku tidak ada dendam, lagi tidak ada permusuhan, aku sungguh tidak mau mengeluarkan jurus membunuh, asalkan kau mau meninggalkan kabupaten Ping Yang, mengapa kau tidak mau menyetujuinya?"

"Kau ingin aku meninggalkan kabupaten.... Ping Yang....

apa maksudnya?" Li Yuan-wai sambil menangkis, sambil terengah-engah menjawab.

"Itu semua kau tidak perlu tahu, aku hanya menasihatkan 'Masalah timbul hanya karena memaksa melibatkan diri', dan hasil melibatkan diri akan membahayakan diri sendiri."

"Aku mengerti maksud.... mu, tapi masalah keluarga....

Yuan, apa hubungannya denganmu? Kau bukankah anjing.... menangkap tikus, mengurusi yang bukan urusanmu?!" Dengan menambah tekanan menyerang, orang bercadar sepertinya sudah tidak sabar bertarung lebih lama lagi.

"Kau mencari mati sendiri, jangan salahkan diriku." Bersamaan itu sorot matanya sudah mengandung sinar pembunuhan, satu gerakan ingin membunuh mati Li Yuan- wai.

Dalam pertarungan pesilat tinggi, tidak boleh lengah sedikitpun, semuanya keras lawan keras, siapa yang tenaga dalamnya lebih dalam, ilmu silatnya lebih tinggi, itulah pemenangnya.

Tepat disaat Li Yuan-wai sudah kehabisan tenaga menangkis, dia sudah tidak tahu harus bagaimana menghadapi gulungan sinar pedang yang tidak ada putusnya dari orang bercadar itu.

"Berhenti"

Dua orang yang sedang bertarung bersama-sama mundur kebelakang, memandang pada seorang gadis berbaju putih yang tiba-tiba datang.

Dialah Xu Jia-rong, yang waktu itu di jalan raya Chuan Shan menghadang Tangan Cepat Xiao Dai, wanita itu muncul tepat dengan wajahnya yang dingin.

Orang bercadar itu bergetar. Li Yuan-wai malah tertegun.

Orang bercadar yang bergetar karena kedatangan gadis ini, kelakuannya sangat mirip dengan seseorang yang sering dia dengar.

Li Yuan-wai tertegun karena kecantikan wanita ini, dia adalah seorang laki-laki, seorang 'lelaki besar' usia sembilan belas tahun, lelaki besar semuanya suka melihat wanita cantik, apa lagi wanita cantik ini kedatangannya sepertinya bersahabat, juga menolong tepat waktunya.

0ooo(dw)ooo0

Polisi Setan Tie Cheng Gong datang lagi ke perumahan Hui Yuan.

Dia sekarang duduk lagi di dalam kamar baca Tuan muda besar Yuan, orang tua Qian tetap menemani di sampingnya.

Hari ini dia tidak tahu apakah bisa berhasil bertemu dengan Yuan Dashao atau tidak.

Karena orang tua Qian berkata Tuan muda besar sudah keluar seharian dan masih belum pulang.

Apa gunanya menengok seorang gila?

Kenapa Polisi Setan berulang-ulang datang ke perumahan Hui Yuan, sepertinya ingin bertemu dengan Tuan muda besar Yuan yang sudah gila itu?

0ooo(dw)ooo0

Ini adalah sebuah jarum, sebuah jarum sulam.

Jarum ini terpaku di atas  kusen jendela. jendela kamar

baca Yuan Dashao.

Dan sepasang mata Polisi Setan menatap terus jarum ini, sepertinya itu bukan jarum, tapi adalah sebuah buku yang membuat orang kagum. Sebuah jarum, sebuah jarum sulam yang biasa, apa anehnya?

Walau sebuah jarum emas! Juga tidak seharusnya bisa membuat Polisi nomor satu di Jiang Nan ini lupa diri.

Tapi jika jarum ini muncul di kamar baca seorang laki laki yang sudah gila, tentu ini suatu keanehan. Karena ini adalah kamar baca bukan kamar sulam, dan majikan wanitanya juga tidak ada, makanyajarum ini tidak seharusnya ada di sini.

Lagi pula beradanya jarum ini tidak benar, bagaimana jarumnya bisa terpaku miring di kusen?

Posisinya tepat berada sebatas leher keatas, jika orang tepat berdiri dipinggir jendela memandang jauh keluar.

Yang paling penting lagi adalah saat dulu dia datang kesini, dia tidak pernah menemukan jarum ini, daya ingat Polisi Setan, dan daya penyelidikannya tentu saja tidak diragukan.

Polisi Setan teringat kata-kata Li Yuan-wai.

.... Empat orang di jalan kecil Utara semuanya mati oleh jarum sulam....

Dia sudah tidak bisa menahan diri lagi, kata-kata itu sepertinya membuktikan mungkin Yuan Dashao telah mengalami sesuatu, sampai katanya telah dibunuh orang dan mayatnya dipindahkan ke tempat lain.

Di depan jendela dia menirukan berbagai gaya, kesimpulan yang didapatkan adalah:

.... Jika Yuan Dashao berdiri di depan jendela sedang memandang keluar, dan ada orang bersembunyi diluar jendela di belakang gunung, jarum sulam yang dilepaskan orang itu menembus pelipis Yuan dashao dan menancap miring dikusen jendela, tentu saja tenaga orang ini sangat kuat sekali.

Polisi Setan dengan hati-hati mencabut jarum itu dan menyimpannya dengan baik, dengan cepat dia pulang, dia perlu dengan cepat memberitahukan penemuan ini pada seseorang. 0ooo(dw)ooo0