Duri Bunga Ju Bab 29: Jalan hidup mati

Bab 29: Jalan hidup mati

Ini adalah sebuah jalanan, orang yang berjalan di jalanan ini tentu saja tidak sedikit.

Walau orang yang berlalu lalang tidak berani mendekati tempat yang kacau ini, tapi untuk berhenti dan menonton dari jauh adalah perasaan normal semua orang.

Dari kerumunan orang melangkah keluar seorang laki laki dan seorang wanita.

Yang laki-laki topi bambunya menutupi setengah wajahnya, tubuhnya sedikit gemuk, berbaju sutra. Yang wanita cantik, tapi wajahnya sedih.

Dua orang ini dengan berani keluar dari kerumunan orang, seorang idiot pun pasti bisa berpikir, perkataan tadi pasti keluar bersamaan dari mulut dua orang ini.

Yang laki laki tidak bisa dilihat wajahnya, yang wanita tidak ada orang yang kenal.

Ketika semua orang sedang menduga-duga siapa kedua orang ini, mereka melihat yang wanita telah meneteskan air mata, dan menatap terus pada Tangan Cepat Xiao Dai yang terbaring tidak sadarkan diri di tanah.

"Berhenti. ” Du Sha berteriak.

"Siapa kalian?" Istri Du Sha juga dengan waspada dan suara melengking bertanya.

"Dia.... dia apakah sudah mati?" Qi Hong tidak tahan bercucuran air mata dengan tanpa sadar bertanya.

"Siapa kau? Dan siapa yang kau tanya?" Istri Du Sha tidak menjawab malah balik bertanya.

"Aku.... aku Qi Hong, yang aku tanya.... tanya adalah orang yang.... yang disisi kaki kalian ”

Wanita ini berkata terus terang dan polos.

Sebelah kaki istri Du Sha yang besar itu sudah menginjak di atas ulu hati Tangan Cepat Xiao Dai.

"Te. teman." Qi Hong tidak berani maju lagi.

0ooo(dw)ooo0

Li Yuan-wai dari celah-celah topi bambunya melihat Xiao Dai yang tergeletak menghadap keatas.

Melihat nafas Xiao Dai yang lemah, hatinya ikut berdarah. Belum lama ini dia masih ingin sekali membunuh orang itu dengan tangannya sendiri, namun ketika dia melihat rupa dia seperti sekarang, malah dia sendiri ingin sekali menggantikan orangku.

Bagaimana pun dia dengan Xiao Dai mempunyai hubungan persahabatan yang melebihi apapun.

Dia merasa bermacam-macam masalah yang menghalang di antara mereka, adalah benar-benar salah paham.

Li Yuan-wai memahami Xiao Dai sama seperti dia memahami dirinya mempunyai berapa jari kaki. Sehingga dia tahu asal ada sedikit saja kemungkinan, ada sedikit saja tenaga, Xiao Dai tidak mungkin akan membiarkan sepasang kaki besar yang tampak bertahun-tahun tidak dicuci itu menginjak di atas dadanya.

Dia hanya dapat membiarkan hatinya berdarah, juga hanya dapat bengong melihat dia seperti anjing diinjak orang.

0ooo(dw)ooo0

Walau tidak melihat wajah di belakang topi bambu, tapi Suami Istri Du Sha bisa merasakan ada sepasang mata melotot memandang dengan penuh amarah, sakit, dan sorot mata yang menakutkan orang tersembunyi di dalamnya.

Hatinya tidak bisa menahan rasa ketakutannya, istri Du Sha tampaknya berani tapi nyatanya merasa takut dengan suara melengking berkata lagi, "Kau kau siapa?"

"Kau tanya siapa? Apakah bertanya padaku?" Suaranya Li Yuan-wai seperti datang dari akhirat.

"Si.... sialan, tidak bertanya padamu, memangnya bertanya pada siapa lagi? Kau yang sengaja bertindak misterius, apakah. apakah kau bisa tidak bertemu dengan

orang, tanpa menutupi wajah?" kata Du Sha sambil menahan kesakitan dan marah.

Memang tidak bisa menyalahkan dia untuk marah, bagaimana pun Suami Istri Du Sha di dunia persilatan bisa disebut penjahat besar di aliran hitam, mana bisa menerima, dipandang rendah oleh orang ini?

Sesungguhnya mereka benar menebaknya, Li Yuan-wai disaat ini sungguh tidak ingin dilihat orang.

"Benar, dia memang tidak ingin dilihat orang"

Mendengar suara ini kepala Li Yuan-wai, mulai menjadi sakit, seluruh maagnya keluar rasa asam.

Tidak perlu disangkal lagi, dia tahu Ouwyang Wu- shuang sudah datang, mendadak dia membalikkan kepala, yang nampak di depan matanya benar saja wajahnya yang membuat dia pusing, berikut dengan beberapa wanita buta yang cantik-cantik yang menakutkan orang.

"Sudah, tidak perlu menutupi lagi, walau kau digiling jadi puder, berubah jadi abu, aku tetap mengenalmu, hartawan besar kami, mengapa kau tidak lepaskan saja topi itu?" kata Ouwyang Wu-shuang dengan nada mengejek.

Perkataan ini sama saja seperti sebuah bom, menggetarkan hati setiap orang di lapangan.

Tiba-tiba Li Yuan-wai menyadari mata setiap orang yang ada di sana, semua sedang menatap dirinya, seperti sedang melihat satu setan, juga seperti melihat setumpukan besar perak.

"Li.... Li Yuan-wai, sungguh itu dirimu, sungguh itu adalah kau?" kata Xu Jia-rong dengan gembira.

"Jika bukan aku siapa lagi. ” Li Yuan-wai melepaskan topinya, menampilkan senyum yang lebih buruk dari pada menangis, berkata, "Nona Xu, apa kau. kau baik?"

Mata yang bersinar, wajah yang sedikit bulat, Xu Jia- rong memperhatikan dia dengan teliti berkata, "Aku. aku

baik, hanya kau sepertinya lebih kurus sedikit."

"Hai, disaat katel makannya dihancurkan orang, ditambah setiap saat harus menjaga orang mau melepas celanaku, aku pikir ingin gemuk juga tidak akan bisa. ”

Xu Jia-rong tentu saja mengerti apa yang dia maksud, maka dia tertawa, tertawanya hampir saja menggigit robek bibirnya.

Lalu dia segera menghentikan tawanya, karena dia melihat sebelah tangan Qi Hong sedang dengan erat memegang lengan baju dia.

Wanita selalu paling sensitif, ada sedikit cemburu timbul, dia dengan pelan bertanya, "Bisakah kenalkan orang yang berada disisimu?"

"Li Yuan-wai....” Ouwyang Wu-shuang dingin memanggil, "Kau selamanya tidak bisa merubah kebiasaan 'makan kotoran', kakak ini, aku nasehatkan kau paling baik jauhi orang ini."

Sejak dari mulai, sorot matanya Qi Hong tidak pernah meninggalkan Xiao Dai yang di tanah.

Menurut dia siapa pun orang-orang disekelilingnya, hal apa pun, keadaan apa pun, semuanya tidak bisa membagi perhatiannya, dia hanya memperhatikan sebelah kaki nenek tua itu sedang menginjak di atas ulu hatinya Xiao Dai.

Makanya perkataan Ouwyang Wu-shuang, tentu saja dia tidak mendengar. Di matanya terkilas tawa keji, Ouwyang Wu-shuang menghibur dirinya berkata, "Jika seseorang sudah berada diambang kematian tapi masih tidak tahu, itu barulah satu kesedihan."

Li Yuan-wai mengerti Ouwyang Wu-shuang adalah wanita macam apa, dia jadi  tegang  berkata,  "Xiao  Shuang ”

"Jangan panggil aku begitu." Ouwyang Wu-shuang berteriak berkata, "Kau sudah kehilangan hak memanggil namaku."

"Bukan aku.... sungguh, Xiao Shuang, aku berani sumpah pasti bukan aku. ” Li Yuan-wai dengan sakit hati

menjelaskan.

"Li Yuan-wai, kau bukan saja tidak tahu malu dan juga lucu, setan baru percaya kata-katamu, walau kau mengatakan sampai mulut menjadi rusak, juga jangan harap bisa menghilangkan ketetapan hatiku untuk membunuhmu."

Buat Li Yuan-wai, Ouwyang Wu-shuang adalah seekor kucing, dirinya adalah seekor tikus yang kasihan.

Tikus ketemu kucing kecuali bermain 'lari dan kejar' tidak ada permainan yang lain lagi.

Li Yuan-wai sudah putus harapan, karena dia tiba-tiba menyadari, entah kapan dirinya dan Qi Hong, Xu Jia-rong tiga orang sudah terjebak dalam kurungan orang lain.

Dan Kong Ming, Kong Ling, Song-hua Dao-zhang, dan sikerdil Sha Qian-dao sudah menutup semua jalan lolos, semua wajah mereka tertawa seperti seekor kucing, seekor kucing yang menemukan tikus.

Apa yang terjadi? Dia tentu saja tidak mengerti orang-orang ini memang sedang menunggu dirinya.

Jika Kong Ming dan kawan-kawan digambarkan sebagai kucing, maka Li Yuan-wai sebagai tikus pun tidak bisa, hanya bisa mengumpamakan dia sebagai ikan, seekor ikan mati.

Karena tikus masih bisa berlari kesana kemari, seekor ikan mati sampai sedikit berontak pun tidak ada.

Den gan kemampuan Li Yuan-wai, jika ingin lolos dari kepungan yang seperti gentong besi ini, kecuali matahari terbit dari barat.

Dengan suara serak Li Yuan-wai mengeluh berkata, "Ka.... kalian biksu, Dao Shi teman Sha Qian-dao, apakah.... apakah kalian juga sakit, juga ingin melepaskan celanaku?"

Di saat demikian masih bisa bicara lucu, mungkin hanya Li Yuan-wai yang bisa.

Tentu saja karena kata lucunya, ada orang yang tertawa, kecuali Qi Hong hanya Xu Jia-rong, hatinya Qi Hong tidak di sini, dia juga tidak bisa tertawa, makanya hanya terlihat Xu Jia-rong tertawa seperti bunga dimusim semi bergetar tidak karuan.

"Amitaba, Tuan sungguh adalah pengkhianat Gai-bang Li Yuan-wai?" Wajah Kong Ming dengan sangat tidak enak dilihat dan satu tangan menyapa bertanya.

"Biksu besar, aku adalah Li Yuan-wai." Sambil tertawa berkata, "Tapi aku bukan pengkhianat Gai-bang."

"Ooo, kalau begitu Tuan juga pasti menyangkal menghina guru, berkhianat pada Gai-bang, melukai saudara seperguruan betul tidak?" "Tentu."

"Kalau begitu merusak kehormatan orang, meracun orang tidak berdosa bagaimana menjelaskannya?"

"Apa yang dimaksud biksu besar?"

"Nona Ouwyang ini adalah korban yang dirusak kehormatannya, didusun San Jia diluar seratus li, empat nyawa cucu dan kakek dihabisi semua, apakah kau juga tidak mengaku?" Kong Ming nadanya sudah semakin keras.

Empat nyawa cucu dan kakek?

Li Yuan-wai membelalakkan matanya, tentu saja dia tahu sekarang dia dituduh berbuat satu dosa lagi.

"Guru besar, biksu dilarang keras berbohong, dengan bukti apa menuduh Li Yuan-wai meracuni orang tidak berdosa?" kata Xu Jia-rong menyela.

"Nona siapa?" tanya Kong Ming membalikkan kepala. "Xu Jia-rong, Te. temannya dia."

"Nona Xu bagaimana bisa tahu, itu bukan perbuatan dia?"

"Saat kejadiannya aku juga ada di tempat."

"Betulkah? Jika nona temannya, siapa yang bisa menjamin kau tidak menyembunyikan perbuatannya?"

"Kau sembarangan bicara!" Wajah Xu Jia-rong berubah berkata, "Kau. kau juga, darimana bisa tahu empat orang

cucu dan kakek itu dia yang membunuhnya?"

Tertawa Kong Ming tanya, "Apakah nona tahu Li Yuan- wai di dunia persilatan paling mahir apa?" "Paling mahir apa?" Xu Jia-rong berkata pada diri sendiri, "Dia.... dia orang ini kecuali bisa masak daging anjing sepertinya tidak ada kemahiran apa. ”

"Terhadap tempat kejadian ada sisa satu katel daging anjing, dan setelah dibuktikan oleh orang yang bisa memasak daging anjing begitu enak, sepertinya hanya dia seorang."

Setelah Li Yuan-wai mendengar perkataan Kong Ming, seperti dipukul tongkat dengan keras oleh orang, bersamaan diam-diam bersumpah selanjutnya walau mati kelaparan, dia tidak akan makan daging anjing lagi.

"Apa kau tidak mengaku?!" Kong Ming tanya lagi.

"Aku meng.... mengaku, oww, tidak, tidak, aku hanya mengaku satu katel daging anjing itu. ”

Li Yuan-wai sudah melihat, tawa liciknya Ouwyang Wu- shuang, dia mengerti walau sekarang dilidahnya bisa tumbuh sekuntum bunga teratai, mungkin juga tidak bisa menyangkal dosa-dosa yang ditimpakan pada dirinya.

"Guru besar, kalian mau berbuat bagaimana?" Xu Jia- rong sudah merasakan keseriusan masalahnya.

"Tidak bagaimana, hanya ingin membunuh dan mencingcang saja." Sha Qian-dao yang sejak tadi tidak buka mulut mendapatkan satu kesempatan membalas hinaan.

0ooo(dw)ooo0

Selama hidupnya manusia kadang bisa menemukan saat walau posisinya benar tapi tidak bisa berdebat.

Hanya saja Li Yuan-wai sedikit lebih sial, dia bukan kadang-kadang begitu, malah sering berada dalam posisi begitu. Disaat begini, dia tentu saja tahu hanya ada satu akibatnya, yaitu siapa yang tinjunya besar, siapa yang tinjunya keras, siapa yang dipihak benar.

"Kalian tentu saja tidak akan menyerang bersamaan bukan?" tanya Li Yuan-wai mengeluh. "Tentu saja,” kata Kong Ming tegas. "Kalau begitu siapa yang duluan?"

"Tentu saja aku." Sha Qian-dao melirik pada dia.

"Tidak, dia punya aku." Istri Du Sha disisi tiba-tiba dengan buru-buru.

"Apa kau sanggup?" Sha Qian-dao ingin sekali mencoba berkata.

"Kau ini kerdil Sha Qian-dao, mengapa aku tidak sanggup?"

"Nenek tua. ” Sha Qian-dao dingin berkata, "Kau akan

menyesal karena telah mengatakan kata ini. ”

"Simpanlah! adatmu, jika aku tidak berani mengatakan, melayani tiga atau lima orang yang sepertimu, pasti tidak ada masalah." Istri Du Sha sekali melanjutkan, "Jangan kira apa yang dipikir olehmu tidak ada orang yang tahu, alasan yang hebat, sebenarnya. ” 

"Sebenarnya apa?!" kata Sha Qian-dao hampir saja meloncat.

"Mengapa? Kau menakut-nakuti siapa? Sebenarnya tujuan kau hanya pada hadiah seratus ribu liang perak itu."

Ternyata adalah masalah ini.

Li Yuan-wai terpaksa kagum atas kehebatan yang namanya uang.

"Kau.... kau sembarangan bicara, aku hanya menuruti perintah Bai Yu Diao Long. ” Sha Qian-dao wajahnya yang aneh sudah menjadi merah.

"Puihh, siapa yang tidak tahu kau di Luo Yang punya utang seabrek-abrek, seharian sembunyi di dalam rumah tidak berani keluar dari pintu."

"Aku.... aku, sialan kau ini....” Sha Qian-dao sungguh sudah lupa akan kedudukan dirinya.

Tidak bisa disalahkan, dia yang selalu merasa dirinya adalah kesatria, sekali dibongkar kejelekannya mana mungkin dia tidak marah? Apa lagi dia bertubuh tidak normal, harga dirinya juga tidak boleh tersinggung.

Sebilah pisau kecil munggil berwarna perak putih, mengikuti tubuh Sha Qian-dao yang maju ke depan, cepatnya seperti meteor di malam hari sudah sampai ditenggorokan Istri Du Sha.

Serangan pisau ini telah membuat semua orang di lapangan khawatir.

Karena serangan ini diikuti hawa kemarahan yang tidak bisa dibendung.

Sekarang semua orang menyadari pisau Sha Qian-dao memang sangat menakutkan.

Dan untuk menghindar serangan pisau ini hanya ada satu akal, yaitu menggerakkan tubuh kesisi.

Istri Du Sha berteriak aneh, belum bisa berpikir banyak, dengan reflek melangkah tiga langkah kesisi tepat dapat menghindar serangan mendadak itu.

"Kau.... kau bajingan ini. ”

Sha Qian-dao jelas marah sekali pada wanita ini, setelah serangan pertamanya tidak berhasil, dia sekaligus menyerang dengan tiga gerakan pisau lagi, setiap gerakannya semakin sadis, baru saja istri Du Sha memaki satu patah kata sudah terdesak hingga tidak bisa mengeluarkan suara lagi.

Di dunia persilatan memang tidak ada teman yang abadi, apalagi disaat situasi untung dan rugi.

Li Yuan-wai tidak menduga keadaannya akan berubah menjadi demikian.

Kong Ming dan kawan kawan juga tidak menyangka. Dan hal yang juga tidak disangka terjadi lagi....

0ooo(dw)ooo0

Qi Hong seperti seekor macan tutul yang siap menerkam, disaat kakinya istri Du Sha sekali meninggalkan dadanya Xiao Dai, dia sudah maju menerkam.

Dia terpaksa melakukan ini karena tidak ada pilihan. Karena tongkatnya Du Sha sudah turun.

Juga tangannya Ouwyang Wu-shuang sudah diayunkan dan jarum sudah keluar.

0ooo(dw)ooo0

Tongkat turun, turun ketulang punggungnya Qi Hong. Jarum sudah sampai, menembus leher belakang Qi

Hong.

Dan darah....

Darah segar yang merah, indah, panas, begitu saja bergumpal-gumpal menyembur mengenai wajah Xiao Dai yang kurus dan pucat.

Tubuhnya tengkurap di atas tubuhnya Xiao Dai, begitu lekatnya, begitu serasinya dan kokoh tidak dapat dipisahkan. Dalam siraman darah panas, akhirnya dia bisa melihat Xiao Dai pelan-pelan membuka matanya.

"Oh. kau?" kata Xiao Dai dengan lemah.

"Be.... benar aku, kau. apa diluar dugaanmu?"

Qi Hong tersenyum dengan sedih. "Kau. kau

berdarah. ”

"Be.... benar, berdarah demi dirimu. ”

Ini adalah pertempuran yang kalut. Juga adalah pertempuran sengit.

Sepasang pedang satu pendek satu panjangnya Xu Jia- rong berhadapan dengan sepasang pedang pendeknya Ouwyang Wu-shuang.

Kipas tulang giok sulam emasnya Li Yuan-wai menghadapi tongkatnya Du Sha.

Istri Du Sha sudah meninggalkan sabuk beranyam emas, sepuluh jarinya yang tajam-tajam bertarung menghadapi pisau perak di tangannya Sha Qian-dao.

Mengenai enam wanita buta juga telah didesak kepojok oleh Song-hua Dao-zhang, situasinya berimbang.

Kong Ming dan Kong Ling biksu tinggi dari Shao-lin yang satu-satunya tidak mendapat lawan berdiri disisi, tidak membiarkan siapa pun dan senjata apa pun mendekati sepasang kekasih yang berpelukan dengan eratnya itu.

Apa penyebab Song-hua Dao-zhang berubah?

Dan apa penyebab yang membuat Kong Ming, Kong Ling dengan sedihnya mengawal disisi?

0ooo(dw)ooo0 "Aku.... apakah kau sakit karena aku menindihmu" Qi Hong bertanya lagi.

"Ti.... tidak." Xiao Dai sedikit pun tidak berkedip menatap dia.

Dengan pelan mengusap bekas darah diwajah Xiao Dai, Qi  Hong  dengan  sedih  berkata,  "Jadwal  perahu sudah....

sudah sampai tapi tidak ada perahu.... perahu datang, nona....   merpati   pos   nona   mengantar   berita.      berita

malah....  malah  kehilangan  jejak....  jejakmu,  aku.      aku

sangat gelisah, tidak dapat makan juga.... juga tidak dapat tidur. ”

"Ma.... maka kau jadi me.... meninggalkan gunung ”

"Apa. apa kau menyalahkan aku?"

Air matanya Xiao Dai sudah membasahi kedua pipinya, dia dengan serak berkata, "Tidak, aku se.... senang kau datang. ”

"Kalau be.... begitu baguslah....” Tawa sedih Qi Hong berkata  lagi,  "Kau....  kau  menangis?  Kau  menangis ru....

rupanya   sungguh....   sungguh   jelek   sekali....   aku.    aku

hanya  suka  melihat  kau....  kau  tertawa,  bisa. bisakah

tertawa lagi.... tertawa sekali lagi? Aku sudah. sudah lama

sekali tidak.... tidak lihat tawamu.... kau. ”

Xiao Dai tertawa, tawanya membuat orang sedih.

"Aku bertemu.... bertemu dengan Li.... Li Yuan-wai, benar, dia benar.... benar seperti yang kau.... kau katakan....

adalah seorang yang.... yang lucu, aku.... juga telah menjernihkan....  banyak  ke.... kesalah paham. pahaman

di antara kalian. ”

"Qi Hong.... kau is.... istirahat sebentar.... ya, nan....

nanti baru bicara lagi. ” Hati Xiao Dai seperti hancur. "Tidak,  kau....  kau  tahu....  aku  tidak  dapat istirahat....

aku ingin sekali.... ingin sekali mendengar kata kata. mu,

namun. ” Qi Hong memuntahkan darah lagi.

Xiao Dai dengan susah payah bangkit duduk, tapi dengan hati-hati sekali memeluk dia.

"Terim.... terima kasih, begini enak.... enak sekali, aku berharap.... berharap sekali kau.... kau bisa selalu. selalu

begini memeluk aku, aku.... aku akan.... akan pergi. pergi

sekarang.

"Tidak, kau.... kau semangat sedikit, kau tidak boleh pergi. ” kata Xiao Dai ketakutan sekali.

"Adik.... adik bodoh, aku juga tidak.... tidak ingin pergilah, tapi.... tapi ini.... ini siapa pun tidak.... tidak bisa berbuat apa apa.... ing.... ingat ka.... kata kata kakak, setelah.... setelah aku pergi kau.... kau sama sekali tidak boleh.... boleh sedih demi aku, dan.... dan.... jika bertemu nona.... tolong balas, terima, kasih.... untuk, .aku.... juga....

juga....

mohon.... mohon.... maaf.... aku.... aku.... keluar....

gunung.... tanpa izin.... izin. ”

Xiao Dai dengan pikiran kosong terus menganggukkan kepala, mulutnya terus berkata, "Kau.... kau tidak boleh pergi.... tidak boleh pergi, aku.... aku tidak  mengizinkan kau pergi. ”

Qi Hong tertawa tapi terasa sedih sekali suaranya semakin pelan berkata, "Aku be.... beri tahu kau satu.    satu

berita.... berita.... kau.... kau sebenarnya enam.... enam....

bulan.... lagi.... bisa jadi.... jadi.... jadi.... a.... ayah.... ta....

tapi.... sekarang.... aku.... aku.... se.... sedih sekali.... ma....

maafkan aku. ” Den gan lemah dia menutup matanya, disudut matanya meneteskan sebutir air matanya yang jernih.

Diwajahnya telah membeku senyum kepuasan yang walau matipun tidak menyesal.

Mulutnya yang pucat sedikit terbuka, apa yang masih ingin dia katakan?

Air mata yang panas Xiao Dai bercampur dengan darah diwajah dia, setetes demi setetes menetes di atas wajahnya, mekar bunga darah bercampur air mata.

Menggigit kuat bibir bawahnya, darah juga menetes keluar dari celah giginya, Xiao Dai tahu dia tidak lagi akan bicara.

0ooo(dw)ooo0

Senja hari selalu adalah waktu berpisah.

Dan senja dimusim gugur juga ada perasaan yang sedih. Xiao Dai tubuhnya sudah lelah, hati sudah hancur,

seluruh tubuh penuh luka.

Tapi dia ditopang dengan amarah yang memenuhi dada, dia bangkit berdiri.

Dia melihat pada setiap wajah kelompok yang sedang bertempur, akhirnya dia bertatapan dengan sorot mata Li Yuan-wai yang gelisah, perhatian dan pengertian.

Di dalam sekilas pandang itu, karena sudah terlalu banyak mereka saling berhubungan, suara hati mereka sudah mengerti maksud hati masing-masing.

Lalu dia membopong Qi Hong selangkah demi selangkah dengan susah payah pergi meninggalkan daerah pertarungan. Disaat melewati Kong Ming, Kong Ling, dia hanya meninggalkan satu pesan.

"Aku bukan orang Perkumpulan Bunga Ju, aku bersumpah akan balas dendam."

Kong Ling ingin menghadang, tapi Kong Ming perlahan menggelengkan kepala.

Karena Kong Ming sudah percaya perkataan Xiao Dai, maka tidak ada alasan apa lagi untuk menghadang dia pergi?

Walau mereka tahu sekali Xiao Dai pergi, kerepotan di kemudian hari pasti tidak akan ada berhentinya, namun bagaimana pun, itu adalah masalah di kemudian hari.

0ooo(dw)ooo0

Matahari senja merah, merah seperti darah.

Xiao Dai yang hatinya hancur, melangkah bercampur setetes air mata darah, melangkah di matahari senja, langsung menuju ke kerumunan penonton yang berada dikejauhan.

Tidak ada satu orang pun yang bisa mengenal wajah aslinya lagi, karena seluruh wajahnya sudah dipenuhi oleh darah merah.

Tapi setiap orang tahu, dia adalah Tangan Cepat Xiao Dai, seorang yang hidup kembali dari ancaman kematian, Tangan Cepat Xiao Dai yang mengalami beberapa kali pertempuran tapi tetap berdiri tidak roboh.

Tentu saja mereka juga tahu wanita macam apa yang berada dalam pelukannya.

Sehingga ketika dia dengan susah payah mengeluarkan cek uang ingin menyewa sebuah kereta, setiap kusir berebut mengatakan bahwa keretanya paling cepat dan paling stabil. 0ooo(dw)ooo0

Xiao Dai naik kereta kuda pergi.

Mengapa dia bisa pergi meninggalkan teman yang paling baiknya?

Apakah dia tidak tahu Li Yuan-wai dan Xu Jia-rong masih sedang sengit bertarung?

Tentu saja dia tahu.

Sekarang dia sudah hilang kemampuan untuk bertarung. Dia sudah berpikir, dengan teliti memikirkan.

Dari pada semuanya habis, mengapa tidak menyisakan sedikit tenaga.

Dia bukan seorang penakut, juga bukan kabur saat bertarung, yang paling penting adalah dia tidak boleh mati, jika mati dia tidak bisa membalas dendam.

Orang selalu harus mempunyai persiapan yang paling buruk, di dalam hati Xiao Dai, terus berdoa untuk Li Yuan- wai dan Xu Jia-rong, berdoa berharap ada satu hari bisa bertemu lagi.

Jika tidak bisa, itu mungkin menjadi kesedihan bukan dia sendiri saja, tapi jadi kesedihan setiap orang yang terlibat dalam pertempuran ini.

Apa itu perasaan? Dan apa itu cinta?

Apa itu benar-benar perasaan? Dan apa itu benar-benar cinta?

Xiao Dai tidak tahu Qi Hong mati di tangan siapa, tapi dari mulutnya kusir dia mendapat tahu apa yang terjadi setelah dirinya pingsan, hatinya seperti jatuh ke dalam jurang yang dalam sekali. Gelisah dan amarah menyerang hatinya, dia memuntahkan darah.

.... Ouwyang Wu-shuang, semula aku berniat mengampunimu, apa boleh buat kau sendiri mencari jalan untuk mati.

Benar, tadinya Xiao Dai tidak ingin membunuhnya, mengingat semua kejadian dahulu, tidak perduli itu adalah cinta atau dosa, dia sudah siap melupakannya.

Karena bagaimana pun dia pernah benar-benar mencintai dia, dia tidak berani mengakui itu adalah cinta kanak-kanak, seperti yang dikatakan Qi Hong.

Dia berpikir jika pernah ada cinta, maka tidak seharusnya ada benci, makanya dia dengan giat melupakan dia, malah melupakan ketika sebelum jatuh kesungai dia melihat sorot mata Ouwyang Wu-shuang yang membuat hatinya sakit.

Tapi sekarang dia ingin melupakannya juga sudah tidak bisa, bagaimana pun semua ini bukan persoalan sederhana yang terjadi antara dia dengan Ouwyang Wu-shuang, tapi melibatkan kematiannya Qi Hong, berikut satu nyawa baru yang tidak berdosa.

Keadaan jalan sangat jelek, kereta kuda selalu terombang-ambing.

Lukanya jadi sakit menyayat hati, semua membuat Xiao Dai berkeringat dingin.

Di dalam ruang kereta yang tertutup rapat, dia bersikukuh tetap memeluk tubuh Qi Hong yang masih sedikit hangat, begitu erat, begitu menggunakan tenaga, seperti takut sekali tidak hati-hati dia benar-benar akan jatuh. Dengan erat dia menempelkan wajahnya pada wajah dia, air mata panas telah membasahi rambutnya, lehernya, bajunya.

Dia melepaskan seluruh kesedihannya, mengucurkan air mata tanpa suara.

Siapa bilang pahlawan tidak ada air mata?

Pahlawan tentu saja ada air mata, hanya saja pahlawan tidak meneteskan air mata dihadapan orang.

Dia terus memanggil-manggil Qi Hong di dalam hati, terus berdoa pada langit, berharap munculmiracle, namun....

Terpikir kejadian dulu sampai sekarang, karena rasa sedihnya Xiao Dai seperti ingin sekali mati saja.

Dia menyadari, terhadap Qi Hong dia merasa ada begitu banyak keasingan, yang dapat menjadi kenangannya malah begitu miskinnya.

Jalan habis, kereta sudah jauh.

Orang yang mati demi cinta selamanya tidak menyesal. Bakal bagaimana orang yang hidup demi cinta?

0ooo(dw)ooo0