Duri Bunga Ju Bab 20: Lentera merah

Bab 20: Lentera merah

Jika di atas gerbang benteng kota secara bersamaan dinyalakan tiga buah lentera, apa artinya?

Masalah apa yang akan timbul?

Apa yang ingin Li Yuan-wai buktikan? Apakah dia meragukan kepalanya bisa berharga begitu tinggi?

Setelah menyalakan tiga lentera merah, dia sudah bersembunyi digedung bedug yang berada disisi benteng kota selama dua jam. Dia sedikitpun tidak bergerak, sepertinya sudah menjadi satu dengan bedug yang berada di dalam gedung itu.

Namun sepasang matanya bersemangat di bawah sinar bulan yang terus bergulir.

Apa yang sedang diawasinya? Dan apa yang sedang ditunggunya?

Apakah dia ingin melihat siapa yang akan datang menghubungi dirinya?

Bintang sedikit bulan tipis.

Melihat bayangan gedung bedug yang makin lama makin bergerak ke barat, Li Yuan-wai sudah tidak sabar.

Kabar di dunia persilatan memang banyak yang hanya kabar angin saja, hingga kepercayaannya sudah sedikit goyah.

Memang! 'Perkumpulan Bunga Ju' yang tidak pernah didengarnya, dengan dia tidak ada permusuhan atau dendam, kenapa Perkumpulan Bunga Ju mau mengeluarkan uang begitu besar untuk membeli kepalanya.

Saat itu Li Yuan-wai menyesalkan telah melewatkan waktu tidurnya, dia mau saja berlari kesini menghitung bintang....

Dia sudah melihat dua bayangan yang tipis seperti asap, bergerak seperti meteor dilangit menuju ketempatnya.

Mata Li Yuan-wai semakin bersemangat, juga menjadi tegang sampai setiap urat syarafnya ikut tegang.

"Sudah datang, mmm, gerakannya cepat sekali, dasar telur kura-kura, kalian sungguh membuat aku menunggu lama di sini. ” Li Yuan-wai bergumam sendiri.

0ooo(dw)ooo0 Dua orang satu tinggi satu pendek, satu tua satu muda.

Yang tua bertubuh tinggi besar, lengannya seperti lengan macan, pinggangnya seperti pinggang beruang.

Yang muda berusia dua puluh tahun lebih, orangnya cukup kalem, tapi wajahnya membuat orang merasa, dia orang yang licik.

Satu-satunya yang sama dari kedua orang ini, adalah bajunya yang bertambal-tambal, berdandan sebagai anggota Gai-bang.

Setelah Li Yuan-wai melihat dengan jelas dua orang ini, tentu saja dia mengenal mereka berdua, karena yang tua dia menyebutnya paman Hao, kedudukannya di Gai-bang hanya satu tingkat di bawah gurunya, dan yang muda adalah muridnya paman Hao Shao-feng nya, orang menyebutnya Macan Tutul Marah Chu Xiang Yun.

Disaat ini, dua orang ini.

Li Yuan-wai jadi sedikit bingung, namun dia tidak bergerak.

Karena sudah mengalami banyak masalah, dia sudah bisa belajar melindungi diri sendiri, juga bisa belajar berhati- hati terhadap orang lain.

Orang di tempat tinggi pandangannya tentu jauh, pendengarannya juga lebih jelas.

Sorot matanya Li Yuan-wai seperti bintang dilangit, berkedip-kedip.

"Guru, mengapa tidak ada orangnya?" kata Chu Xiang Yun. Tubuh Hao Shao-feng yang tinggi besar berputar di tempat itu, dengan sedikit tidak mengerti berkata, "Aneh, apakah ada orang yang berkelakar?"

"Kalau begitu apakah kita terus menunggunya?" "Tunggulah sebentar lagi. ”

Semua kata-kata ini Li Yuan-wai mendengarnya dengan jelas, hanya dia tidak mengerti mengapa Gai-bang datang lebih duluan, dan orang Perkumpulan Bunga Ju tidak terlihat?

Dia ingin turun, juga ingin menanyakan beberapa masalah pada paman Haonya.

Namun dia sekuatnya menahan keinginan ini, karena dia mengerti sebelum masalahnya jelas, mungkin tidak ada satu orang pun di Gai-bang yang mau mendengar kata-katanya.

Dia diam menunggu, di dalam kegelapan malam hingga detak jantungnya sendiri juga dapat dirasakannya dengan jelas.

Tiba tiba....

Hao Shao-feng mengangkat kepalanya, dia menatap gedung bedug tempat Li Yuan-wai bersembunyi.

Li Yuan-wai seperti tersengat aliran listrik, hatinya merasa terkejut.

"Teman yang di atas gedung bedug, jika kau sudah menggantungkan tiga lentera merah, kenapa begitu pelit tidak mau bertemu?" kata Hao Shao-feng dengan keras.

Li Yuan-wai tidak bersuara, dia berharap Hao Shao-feng sedang mencoba dengan bertanya, karena dia tahu dirinya sedikit pun tidak melakukan kesalahan. Tinggi gedung lima zhang, orang yang di bawah jika ingin naik tidak ada jalan kecuali merayap naik.

"Guru, di atas tidak ada orang anda kenapa....” tanya Chu Xiang Yun tidak mengerti.

He.... he.... tertawa beberapa kali, Hao Shao-feng berkata, "Tidak, di atas pasti ada orang."

Hati Li Yuan-wai bergetar keras, dia sungguh sulit mempercayai mengapa Hao Shao-feng begitu yakin di dalam gedung bedug ada bersembunyi orang?

Apakah dia bisa tembus pandang?!

Bukan hanya Li Yuan-wai tidak dapat mengerti, sampai muridnya Hao Shao-feng sendiri, Chu Xiang Yun yang berada di bawah pun tidak dapat mengerti.

Hao Shao-feng bukan dewa, lebih-lebih dia tidak bisa sebelum meramal sudah tahu dulu.

Namun dia adalah seorang tua yang berpengalaman, ketajaman penyelidikan seorang persilatan adalah hasil pengalaman sedikit demi sedikit sampai berpuluh-puluh tahun, malahan adayang diperoleh dengan kucuran darah.

"Sobat yang di atas, apakah sudah sudah tertidur? Di atas anginnya kencang, kau harus sayang terhadap tubuhmu sendiri. ” teriak Hao Shao-feng lagi.

Li Yuan-wai yang dipanggil terus sampai hatinya seperti tumbuh bulu, dia tampak sudah tetap hatinya, tetap saja tidak bersuara.

"Tikus yang suka bersembunyi, kenapa kau tidak menengok ke tanah yang ada bayanganmu?" kata Hao Shao-feng menerangkan.

Bayangan?! Li Yuan-wai terkejut, dia mengangkat kepala melihat bulan. Sekali melihat, hampir saja semua mantou daging kambing yang dimakan tadi malam dimuntahkan kembali.

Bulannya tidak bulat, sinar bulannya pun tipis, namun sudut bulan ini sedikit miring ke barat.

Yang paling sial adalah sinarnya tepat menyorot miring seluruh gedung bedug ini.

Melihat dirinya tersorot sinar bulan, wajah yang tadinya bulat Li Yuan-wai sudah menjadi gepeng.

Benar, jika sinar bulat bisa menyoroti tubuhnya, maka dia pasti ada bayangannya, jadi tidak aneh jika Hao Shao- feng begitu berani memastikannya.

Menelusur bayangan bulan Li Yuan-wai melihat keluar, betul saja, bayangan dia berada tidak jauh di tanah, walau bayangannya tidak bisa menjelaskan siapa dia, tapi ini sudah cukup untuk Hao Shao-feng mengetahui, di dalam gedung bedug bersembunyi seseorang. 

0ooo(dw)ooo0

Menantu buruk rupa akhirnya juga harus menemui mertua.

Li Yuan-wai mengerti aturan ini, jadi dia turun dari gedung bedug.

"Apa kabar, paman Hao, eee. saudara Xiang Yun." Li

Yuan-wai sambil menggosok-gosok tangan gemuk kecilnya dengan wajah yang tidak wajar.

Dua orang lawannya sungguh tidak percaya matanya sendiri, namun wajah hartawan Li Yuan-wai sungguh terpeta di depan matanya.

Setelah terdiam beberapa saat, Hao Shao-feng baru dengan suara serak berkata, "Ini.... ini kau? Apa benar- benar dirimu. ” "Benar, paman Hao ini benar aku, aku juga berharap bukan aku. ” kata Li Yuan-wai dengan tertawa pahit.

"Tiga lentera adalah....

"Ya aku yang menyalakannya."

"Apa maksudnya?" Hao Shao-feng sungguh ingin mengulurkan tangan mengusap keningnya bocah ini, apakah panas atau tidak.

"Aku hanya ingin.... hanya ingin membuktikan apakah benar ada orang yang mau mengeluarkan sepuluh ribu liang perak untuk membeli kepalaku?"

"Kalau begitu jadi kau yang mengantarkan sendiri?" tanya Hao Shao-feng tidak mengerti.

"Tapi sampai sekarang aku masih belum bertemu dengan pembelinya, mungkin berita ini tidak benar. ”

Dengan tertawa aneh, Hao Shao-feng dengan muridnya saling pandang satu kali, katanya lagi, "Tidak, berita ini benar tidak ada salahnya."

Perkataan ini jika orang lain yang mengatakan pada Li Yuan-wai, mungkin dia tidak akan percaya.

Namun ternyata Hao Shao-feng membenarkan hal ini, maka itu pasti benar.

Karena berita Gai-bang sangat lancar dan pasti, lagi pula kedudukan Hao Shao-feng di Gai-bang sama dengan wakil ketua, maka apa yang dikatakannya, mana bisa Li Yuan- wai tidak percaya?

"Jadi be.... benar ada hal ini?" kata Li Yuan-wai dengan serak.

Tidak perduli siapa orangnya, organisasi apa saja, jika mau mengeluarkan uang sepuluh ribu liang perak untuk membeli nyawa seseorang sudah satu hal yang membuat orang merasa aneh.

Jika kau tahu dirimu betul-betul dihargai lawanmu, bukankah akan lebih terkejut lagi?

"Orang gila.... di dunia ini betul betul ada orang segila ini....” Li Yuan-wai dari semula juga mengira ini hanyalah kabar angin, tidak menyangka ini adalah kabar yang betul.

"Lalu Perkumpulan Bunga Ju, Apa sebenarnya Perkumpulan Bunga Ju?" Li Yuan-wai seperti berkata sendiri, juga seperti bertanya pada Hao Shao-feng.

Hao Shao-feng dengan tertawa pahit berkata, "Dia memang tidak main-main, aku juga tidak tahu kenapa dia mau mengeluarkan uang sepuluh ribu liang perak untuk membeli nyawamu, tapi aku tahu didunia ini sudah tinggal sedikit orang yang bisa menolak umpan seperti ini, apalagi kau adalah buronan Gai-bang yang dianggap pengkhianat."

Li Yuan-wai mundur tiga langkah.

Hao Shao-feng dan Chu Xiang Yun maju tiga langkah. Situasi menjadi tegang, juga sangat jelas.

Apakah Li Yuan-wai sudah mengerti?

Dia melototkan matanya, dengan sedikit kacau berkata, "Paman. paman Hao, aku ada satu permintaan."

"Katakan."

"Biar aku. aku mengikuti kalian pulang, masalah sudah

sampai begini aku hanya ingin bertemu dengan guru satu kali lagi."

Melihat baju Li Yuan-wai yang mencolok mata, Hao Shao-feng menggelengkan kepala berkata, "Kau sudah bukan orang Gai-bang kami. ” "Aku berbuat begini hanya untuk.... hanya untuk ”

Sesaat Li Yuan-wai tidak tahu harus bagaimana menerangkannya.

"Aku ingin sekali membantumu, tapi aku tidak bisa melakukannya."

"Kenapa?! Apakah ingin mati di dalam Gai-bang juga tidak bisa. ?"

"Sebenarnya hal ini tidak bisa ditolak, tapi. ”

"Tapi apa?" kata Li Yuan-wai cepat.

"Apakah kau tidak merasa aneh mengapa orangnya Perkumpulan Bunga Ju tidak muncul?" kata Hao Shao-feng mengalihkan pembicaraan.

0ooo(dw)ooo0

Lentera merah ini seharusnya tanda dari Perkumpulan Bunga Ju.

Kalau begitu mengapa orangnya Perkumpulan Bunga Ju tidak datang? Malah yang datang adalah orangnya Gai- bang?

Betulkah Hao Shao-feng sudah membereskan dulu orang Perkumpulan Bunga Ju yang akan datang?

Walau Li Yuan-wai tahu Gai-bang selamanya tidak mau menggunakan tenaga orang lain, tapi dia tidak mengerti mengapa paman Hao bisa bertanya hal yang aneh begini?

Memang dia juga orang yang tidak suka menggunakan otak, tapi kejadian-kejadian yang berturut turut ini sudah membuat dia bisa belajar menggunakan otak untuk berpikir.

Tapi kali ini dia tidak bisa memikirkannya, sungguh dia tidak bisa memikirkannya. Li Yuan-wai tertawa pahit, dia berkata, "Paman Hao, aku pikir orang Perkumpulan Bunga Ju sudah kau  bereskan. ”

"Tidak, orang Perkumpulan Bunga Ju sendiri tidak mengatakan, siapa pun tidak tahu siapa adalah siapa." Sorot matanya Hao Shao-feng terus tidak pernah meninggalkan Li Yuan-wai.

"Kalau begitu kenapa mereka bisa tidak datang?!" "Mereka sudah datang." Hao Shao-feng berkata tawar. "Sudah datang?! Dimana?!" Li Yuan-wai yang mendadak

mendengarnya jadi terkejut.

Dia memalingkan kepala melihat kesekelilingnya, kecuali malam yang berbulan apapun tidak terlihat.

Dia membalikkan kepala kembali, tiba-tiba dia menyadari dua wajah yang tadinya sangat dia kenal, sudah membuat dia jadi merasa asing, bukan saja asing, malah jadi menyeramkan.

'Duk, duk, duk' Li Yuan-wai mundur lagi tiga langkah.

Hao Shao-feng dan Chu Xiang Yun maju lagi tiga langkah.

Mereka tetap mempertahankan jarak dengan Li Yuan- wai.

Jarak seperti ini bagi orang yang belajar silat semuanya tahu, ini adalah jarak yang paling baik untuk menyerang, juga adalah jarak yang paling sukar bisa menghindar.

0ooo(dw)ooo0

Perkumpulan Bunga Ju, sekarang Li Yuan-wai baru tahu itu adalah, perkumpulan yang menyeramkan. Dia juga baru mengerti organisasi ini seperti sebuah roh yang setiap saat mungkin bisa muncul disisimu.

Wajah bulatnya sudah berubah dari bulat menjadi gepeng, berubah melengkung ke dalam....

Dia membuka mulutnya besar-besar, tapi satu perkataan pun tidak bisa keluar....

Dia hanya bengong, bengong melihat dua wajah yang sepertinya kenal tapi juga asing....

Orang mengatakan mata Li Yuan-wai setiap saat tersenyum.

Tapi jika sekarang melihat matanya, mungkin kau lebih senang melihat mata ikan yang telah mati.

Bagaimana pun mata ikan mati dibandingkan dengan mata dia lebih bagus dan lebih hidup.

"Benar, tidak salah dugaanmu, aku dengan anak Yun adalah orang Perkumpulan Bunga Ju,” kata Hao Shao-feng menghela napas.

"Ka.... kalian ” kata Li Yuan-wai tidak karuan.

Bagaimana bisa percaya dan terpikirkan? "Hai! Tentu sudah mengejutkanmu, aku minta maaf, sungguh minta maaf."

Bukan saja terkejut, Li Yuan-wai malah hampir mati terkejut.

"Menapa? bagaimana mungkin....?" Li Yuan-wai bergumam.

Tentu saja dia tidak percaya tetua yang sehari-harinya dihormati adalah orang Perkumpulan Bunga Ju.

Bagaimana pun ini adalah hal yang tidak beralasan dan tidak mungkin. Hao Shao-feng seperti kehilangan sifat aslinya, dengan dingin dia berkata, "Ceritanya panjang sekali, pokoknya demi nama, lebih-lebih demi keuntungan, kau seharusnya mengerti dua huruf ini adalah hal yang diinginkan oleh setiap orang. ”

Li Yuan-wai tidak mengerti, dia sedikit pun tidak mengerti.

Karena dengan kedudukan Hao Shao-feng di Gai-bang, posisinya hanya di bawah seorang, di atas puluhan ribu orang, apalagi yang masih diinginkannya?

Demi keuntungan? Itu tidak mungkin.

Setiap anggota Gai-bang sudah menghilangkan sifat kemewahannya, apalagi nama dia di Gai-bang sudah puluhan tahun, bagaimana bisa terjebak untuk mencari keuntungan?

Maka wajah Li Yuan-wai tetap bengong....

Tapi dia mana tahu, ada orang yang tidak mau kedudukannya berada di bawah orang lain, walau hanyalah di bawah satu orang.

Juga dia mana bisa tahu, orang yang usianya semakin tua, semakin ingin mengambil kesempatan terakhir, untuk menikmati dengan baik kehidupan yang tidak lama lagi.

Bagaimana pun Li Yuan-wai tidak mengerti, Hao Shao- feng yang sudah berusia lanjut bisa kehilangan kepribadiannya.

Tapi dia tahu seorang yang seperti dia bisa mengeluarkan perkataan ini, itu menandakan apa.

Apa lagi dari sorot matanya, dia juga merasakan bayangan kematian. Dia tidak takut mati, walau dia tahu kesulitannya jika ingin hidup.

Tapi dia tidak ingin mati sekarang, apa lagi mati dipersalahkan oleh orang.

Sekarang dia menjadi tenang, malah tenangnya seperti ukiran patung.

Memang dia terpaksa tenang, terpaksa dingin.

Bagaimana pun dia telah mencium bahaya, bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk seluruh Gai-bang.

Mengapa jadi begitu?

Mengapa sampai saat ini dia masih memandang kepentingan Gai-bang begitu penting sekali?

"Kau sudah siap?" Kata Hao Shao-feng yang dinginnya membuat orang gemetar.

Dengan menganggukkan kepala, Li Yuan-wai berkata, "Aku pikir apa pun yang aku katakan sudah tidak ada gunanya, betul tidak?"

"Betul, karena apa pun yang kau katakan hari ini kau tetap harus mati."

Li Yuan-wai sudah tahu ilmu silatnya pasti tidak akan bisa melawan orang ini, tapi dia terpaksa berbuat sebisanya, dia memang bukan orang yang mau menerima kematian begitu saja sangat indah dan menyenangkan.

Jalan Sehingga....

Tampak satu kilatan sinar memancar, itu adalah 'Kipas Tulang Giok Anyaman Emas' nya Li Yuan-wai. Bersamaan itu dia juga membuka mulut. "Kalian sepasang manusia kotor, anak kura-kura, biar aku membersihkan pengkhianat Gai-bang dulu."

Mmm, tidak salah, Li Yuan-wai selalu yang pertama menyerang dulu.

Dan juga dia sudah sangat kesal, malah sampai membuka mulut memaki orang yang sehari-harinya dipanggil paman Hao.

Seorang yang salah dituduh sebagai pengkhianat, bertemu dengan pengkhianat betulan, apa dia tidak akan marah?

Tentu saja dia sudah bisa menduga persoalan dirinya dengan juga cabang-cabang Gai-bang diberbagai tempat yang dihancurkan, itu pasti ada hubungan dengan lawannya.

0ooo(dw)ooo0

Malam dingin.

Namun hatinya Li Yuan-wai mendidih. Sekarang apa pun dia tidak mau pikirkan, dia hanya berkonsentrasi melakukan setiap jurus yang dia bisa, semua dilancarkan pada lawan.

Dia tidak boleh lengah sedikit pun, karena dia mengerti yang dia hadapi adalah orang yang lihaynya seperti apa.

Chu Xiang Yun sudah menyingkir kepinggir, sambil bersiap memperhatikan dua orang yang sedang bertarung.

Telapak Besi Hao Shao-feng yang sudah bertahun tahun termasyur, saat ini seperti dua kupu-kupu sedang menari, juga seperti dua kipas yang tidak henti hentinya bergerak diudara. Jika dikatakan dengan jujur, Li Yuan-wai jelas bukan lawannya Hao Shao-feng.

Bukan saja kematangan ilmu silatnya dalam menghadapi serangan lawannya, pengalaman dunia  persilatannya hingga sampai kepintarannya, tidak ada satu pun bisa menandingi Hao Shao-feng.

Tapi sekarang bukan saja belum kalah, malah bisa bertarung dengan bagus, bisa bertarung seimbang.

Yang dia andalkan hanyalah satu semangat, satu kekesalan, satu kemarahan, satu semangat yang tidak tampak yang menakutkan.

Itulah alasan dia tidak kalah, juga yang membuat Hao Shao-feng merasa aneh.

Diwaktu dulu Li Yuan-wai pasti tidak akan tidak berani berhadapan dengan tetua ini, tapi ketika semua alasan tidak boleh berhadapan itu terhapus, dia sudah menganggapnya sebagai musuh, musuh semacam musuh yang harus dibunuhnya, maka mana mungkin dia tidak dengan sekuat kemampuannya menghadapi pertarungan ini?

Lima jurus, sepuluh jurus, dua puluh jurus, dua puluh lima jurus.

Sudah dua puluh lima jurus, Li Yuan-wai sudah bertarung dengan seluruh tenaganya sebanyak dua puluh lima jurus penuh.

Dia sendiri merasa aneh, lawannya dia juga merasa aneh.

Sinar matahari baru saja muncul, hari sudah semakin terang. Namun dua orang yang sedang bertarung sengit malah sebaliknya semakin terlihat samar, karena debu beterbangan menutupi langit.

Seseorang memang mungkin mengandalkan satu semangat, bisa bertarung melawan musuh yang kemampuannya jauh lebih tinggi dari pada dirinya sendiri.

Tapi bagaimana setelah berjalan lama? Jahe lebih tua memang lebih pedas, Hao Shao-feng dari tadi mengerti semangat Li Yuan-wai tidak akan bisa bertahan lama, lebih- lebih tidak bisa tahan panjang.

Bagaimana pun kepandaian silat adalah kumpulan dari waktu dan latihan keras.

Maka Hao Shao-feng sebisanya menghindar senjata lawannya, lebih banyak bertahan dari pada menyerang, dia sedang menunggu kesempatan, menunggu mundurnya semangat Li Yuan-wai. Dia sedang menunggu, menunggu penyerangan yang sia-sia dari Li Yuan-wai.

Li Yuan-wai juga menyadari keadaan ini tapi dia tidak bisa berhenti.

Dia tidak bisa berhenti, juga tidak berani berhenti, dia hanya bisa menyerang.

Dia tahu asalkan dirinya ada sedikit keragu-raguan, ada sekejap nafas yang tidak bersambung, sangat mungkin dia kehilangan kesempatan menyerang lagi, serangan lawan yang sudah dipersiapkan lama, akan seperti gelombang laut, gunung roboh datang menyerang.

0ooo(dw)ooo0

Li Yuan-wai sudah lelah, sekali lelah gejala kalah langsung tampak. Hati yang mendidih semakin dingin, sia-sia saja ada kemarahan yang memenuhi dada.

Semangat, mana mungkin selamanya tidak mengendur? Manusia tetap manusia, tenaganya pasti pada satu saat akan habis.

Dan ketika gerakan tangannya Li Yuan-wai menjadi lambat, dia baru tahu paman Hao mengapa bisa menduduki posisi nomor dua di Gai-bang.

Bayangan telapak seperti senjata tajam, dingin sekali. Serangan Hao Shao-feng sekarang baru dimulai.

Baru saja mulai menyerang, bahu Li Yuan-wai sudah terkena sekali pukulannya.

Tidak ada gelombang laut atau gunung roboh, tidak ada puluhan ribu jun guntur dahsyat, serangan Hao Shao-feng tidak mencolok mata, lebih-lebih tidak cepat dan dahsyat.

Dia hanya pelan-pelan mendorong telapak tangannya, mengiris miring, satu telapak demi satu telapak.

Serangan Li Yuan-wai sudah habis, dia hanya bisa mengikuti lawan mengangkat tangan menangkis, tapi justru telapak yang kelihatannya perlahan itu sudah membuat dia merasa kewalahan.

Sekali lagi, Li Yuan-wai sungguh tidak mengerti, bagaimana bisa terkena pukulannya, karena dia jelas-jelas telah menangkis telapak ini, namun dada kanannya merasa sakit seperti terkena api, hal ini memberitahu dia bahwa dia tidak berhasil menangkis serangan telapak ini.

Derap kematian sudah dekat, wajah Li Yuan-wai sudah pucat.

Wajah tawa yang keji dari Hao Shao-feng satu cun demi satu cun mendesak terus. Sekarang tubuh Li Yuan-wai paling sedikit sudah ada tujuh delapan kali terkena pukulan.

Dia sudah mundur sampai dipingir benteng kota, benteng yang keras dingin itu sudah menghalangi langkah mundurnya.

Telapak besi lawannya diangkat lagi, sepasang mata Li Yuan-wai yang putih abu-abu itu terus dengan tidak berkedip menatap sepasang tangannya Hao Shao-feng.

"Kau sudah tidak dapat menghindarkan pukulan terakhirku,” kata Hao Shao-feng dengan dingin.

Keringat dingin sudah membasahi baju, kasihan Li Yuan-wai, dia sepertinya sudah kehabisan tenaga untuk menjawab.

"Kau ada pesan apa?" Hao Shao-feng bertanya lagi. "Pesan?! Pesan apa?" Suara Li Yuan-wai yang serak

sungguh tidak enak didengar.

Apakah Li Yuan-wai sudah bingung karena pertarungan?

Kalau tidak kenapa dia bisa tidak mengerti perkataan ini?

"Kau tidak perlu berpura-pura bodoh, caramu itu sudah kuno, aku hanya memandang karena kita pernah sama- sama disatu perkumpulan, jadi bertanya padamu, didunia ini apa masih ada hal yang belum dibereskan, tentu saja itu juga harus lihat apakah aku senang atau tidak, mau atau tidak melakukannya untukmu." Hao Shao-feng seperti berkata pada orang yang akan menghembuskan nafas terakhirnya.

Juga tidak aneh dia begitu yakin bahwa dia pasti menang, karena Li Yuan-wai saat ini kelihatan sepertinya sudah tidak bisa bernafas lagi. Mendengar kata-kata ini, karena marahnya Li Yuan-wai bersuara 'waaa', dia memuntahkan banyak sekali darah segar, padahal darah ini sudah dia tahan begitu lama.

Sambil sebelah tangan menahan dadanya, tangan lainnya menusap bekas darah dibibirnya, bisa membuat Li Yuan- wai sampai marah dan memuntahkan darah, ini sungguh satu hal yang terbaru.

"Terima kasih banyak.... atas.... kebaikan hatimu, yang paling.... aku cintai paman. Hao."

Orang ini sungguh punya tenaga bodoh dan sifat keras, sampai sekarang dia masih tidak lupa mempermainkan lawan.

"Ha ha.... bagus, bagus, sibodoh Raja Pengemis itu bisa punya murid yang begitu dapat dibanggakan, sudah seharusnya hatinya merasa gembira. Hanya saja dia tidak bisa melihat tingkahmu yang memandang kematian hanya sebagai suatu kepulangan.... ha ha....” kata Hao Shao-feng walau sambil tertawa, tapi tawanya sungguh semacam tawa, kulitnya yang tertawa tapi dagingnya tidak tertawa.

"Gu.... guru, aku mau mewakili melaksanakannya. ”

kata Chu Xiang Yun saat ini sudah jalan mendekati.

Melirik murid kesayangannya sekali, Hao Shao-feng tentu saja mengerti apa maksudnya.

Karena jika bisa membunuh Li Yuan-wai, bukan saja akan mendapatkan jasa besar di dalam Gai-bang, juga akan tersebar didunia persilatan adalah satu hal yang sangat membanggakan.

Keuntungan seperti ini, seperti keuntungan balok mas jatuh dari langit, siapa yang tidak mau memungutnya? Sebab hati Hao Shao-feng berniat tidak benar, setengah demi dirinya sendiri, setengah lagi tentu saja demi murid kesayangan yang dianggap anak sendiri ini.

Makanya dia menganggukkan kepala, juga melangkah mundur, sambil berpesan, "Anak Yun, hati-hati dia melakukan pertempuran terakhir seperti binatang yang terkurungnya."

0ooo(dw)ooo0

Li Yuan-wai sungguh tidak terpikir sebutan Pusaka Gai- bang, ada satu hari bisa benar-benar jadi Pusaka Hidup yang diperebutkan orang.

Dia mengeluh sekali, dengan serak berkata, "Chu. Chu

Xiang Yun, kau. kau tidak takut disambat petir?"

Gurunya jahat, muridnya tentu saja tidak akan berbeda terlalu jauh.

Chu Xiang Yun dengan kulit tertawa daging tidak tertawa berkata pada Li Yuan-wai, "Jujur saja kukatakan, walau disambar petir pun aku akan membelahmu, Li Yuan- wai, aku sudah cukup menerimamu, sungguh, aku sudah cukup menerimamu, sialan! Beberapa tahun ini kau sudah merebut habis kebahagiaanku, seluruh Gai-bang sudah menjunjungmu sampai ke langit, kau mengandalkan apa disebut Pusaka Gai-bang? Hanya mengandalkan kau menjual daging anjing? Atau rupamu yang gemuk itu?"

Li Yuan-wai memuntahkan darah lagi, jika sorot mata bisa membunuh orang, mungkin Li Yuan-wai sudah membunuh lawannya paling sedikit tiga kali.

"Macan Tutul Marah! Kau.... sungguh tajam lidahmu, kata-kata   ini....   hek,   hek....   kata-kata   ini   mengapa....

mengapa kau dulu tidak berani mengatakannya padaku?! Apakah kau.... kau tahunya hanya mengambil keuntungan saja? Mari, mari, cepat kau lakukan! Kau akan kau akan

melihat, aku sekarang ini tetap.... tetap bisa menyembelih daging anjingmu ini. ”

Begitu marah orang tidak mempunyai perhitungan lagi, kali ini Li Yuan-wai bisa menerima hinaan dari lawannya, sungguh tidak ringan.

Matanya sudah menjadi merah, wajahnya sungguh seperti ingin makan orang.

Sambil memiringkan tubuh, Chu Xiang Yun dengan santai melangkah, sambil menatap tajam tubuh Li Yuan- wai yang tidak karuan dan menyandar ketembok benteng.

Mmm, benar juga seperti seekor macan tutul yang siap menerkam orang.

Kail Tidak Ada Lawan.

Chu Xiang Yun sudah mengeluarkan senjatanya.

Seekor Macan Tutul yang kelaparan, seekor 'kambing gemuk' yang siap disembelih.

Sebenarnya ini pertarungan yang tidak adil, juga satu situasi 'yang lemah dimakan, yang kuat memakan'.

Di dunia persilatan memang banyak cara tipu melawan tipu, yang lemah dimakan yang kuat memakan, ini adalah kenyataan yang siapa pun tidak bisa merubahnya.

Masalahnya adalah siapa yang bisa menghindar pertempuran, pertempuran yang besar atau kecil, yang tidak ada berhentinya itu, siapa yang bisa bertahan hidup.

Sekarang Hao Shao-feng tahu, Chu Xiang Yun tahu, kecuali keajaiban muncul Li Yuan-wai sudah tidak jauh dari kematian, karena dia sudah kehabisan tenaga, karena dia sudah lemah, sudah tidak mampu lagi bertempur. Asal satu serangan saja, paling banyak ditambah sekali lagi, Li Yuan-wai pasti mati.

Kail Tiada Lawan Chu Xiang Yun sudah diangkat, dia mengerti sekarang membunuh Li Yuan-wai lebih mudah dari pada membunuh seekor ayam.

0ooo(dw)ooo0

Sinar fajar baru saja muncul....

Ketika sinar pertama menembus awan menyorot pada wajah licik Chu Xiang Yun, Kail Tiada Lawannya sudah diayunkan, seperti pelangi, juga seperti cakar macan yang dapat merobek orang.

Namun....

Kail Tiada Lawan Chu Xiang Yun berhenti di depannya Li Yuan-wai, dan juga jatuh ke tanah menimbulkan suara'trang'.

Sebuah jarum sulam nomor super besar, hanya terlihat ujungnya saja, yang lainnya semua masuk ke tengah-tengah alisnya Chu Xiang Yuan.

Mata Chu Xiang Yun yang ingin membunuh itu melotot melihat Li Yuan-wai, dia tidak mengerti kenapa dirinya tiba-tiba kehilangan tenaga? Dia juga tidak mengerti kenapa sedikit pun tidak ada tanda-tandanya dirinya sudah terkena senjata gelap. senjata gelap yang mengambil nyawanya.

Hao Shao-feng yang berada disamping membuka mulutnya besar-besar, dia tidak mengerti apa yang terjadi? Karena dia hanya melihat jarinya Li Yuan-wai sedikit bergerak, hawa pembunuhan yang memenuhi udara itu begitu saja menghilang, segalanya, segalanya kembali menjadi tenang kembali.

0ooo(dw)ooo0 Sambil mengangkat lengan baju dengan perlahan mengusap keringat dikening, Li Yuan-wai menghembuskan nafas sekali.

Hao Shao-feng sekarang baru menemukan ada puluhan jarum sulam di tangannya Li Yuan-wai, bersamaan itu dia juga melihat setitik merah di antara alisnya Chu Xiang Yun.

"Ini.... ini adalah jarum sulam....” kata Hao Shao-feng seperti dicekek orang dengan ketakutan.

"Tidak   salah,   ini   adalah   jarum   sulam....   namun....

namun juga jarum sulam yang bisa.    bisa merengut  nyawa

orang,” kata Li Yuan-wai sambil terengah-engah.

"Kau.... kau kenapa saling membunuh sesama perguruan?!"

"Aku saling membunuh sesama satu perguruan? Apa kau tidak salah?! adalah kalian yang tidak memperdulikan sesama seperguruan ingin mengambil nyawaku dulu."

Li Yuan-wai sudah bertambah bersemangat, perkataannya tidak gagap lagi, kata-katanya pun mulai tajam.

"Aku.... maksudku bukan itu. ” kataHao Shao-feng.

"Kalau begitu apa maksudmu?" kata Li Yuan-wai merasa aneh.

"Yang kumaksud adalah.... adalah.... kau juga adalah orang dari Perkumpulan Bunga Ju ”

"Perkumpulan Bunga Ju? Aku masih Pintu Mei (bunga mei; tidak ada)! Jika aku orang Perkumpulan Bunga Ju aku sudah sejak tadi membunuh kalian sepasang manusia yang menghianati leluhur ini ” kata Li Yuan-wai marah.

"Kau bukan?!.... lalu mengapa kau bisa menggunakan senjata gelap ini?!" Melihat-lihat puluhan jarum sulam di tangannya, Li Yuan-wai sepertinya rada mengerti. "Apa kau pernah melihat jarum yang seperti ini?!" kata Li Yuan-wai.

Hao Shao-feng tidak bicara lagi, dia dengan sedih menahan mayat yang akan jatuh.

Seseorang jika sudah mati mana mungkin tidak jatuh.

Hanya Chu Xiang Yun yang setelah mati tapi sampai kini baru bergoyang-goyang akan jatuh.

0ooo(dw)ooo0

Li Yuan-wai walau dapat merasakan Hao Shao-feng akan segera menyerang lagi.

Tapi dia juga secara bersamaan merasa Hao Shao Feng sangat takut terhadap jarum di tangannya.

Fajar sudah datang, Li Yuan-wai tahu dirinya tidak yakin lagi bisa menang meski mendadak menyerang.

Karena Hao Shao-feng sudah memiringkan wajahnya, menghindar sinar matahari yang menyilaukan mata.

Sekarang Hao Shao-feng sudah siap, lagi pula dia adalah Hao Shao-feng bukan Chu Xiang Yun.

"Tidak perduli kau siapa, Li Yuan-wai, kau babi gemuk kau telah membunuh Chu Xiang Yun, menghapuskan semua harapanku, aku ingin kau mati, mati tuntas. ” kata

Hao Shao-feng sambil menggigit-gigi.

Li Yuan-wai merasa ada hawa dingin keluar dari tulang sumsumnya, dia malah mengangkat-angkat jarum sulam di tangannya berkata, "Kau.... kau tidak takut pada mereka? Kau.... kau jika sudah tahu kelihaian jarum ini, maka kau harus tahu jarum ini selamanya tidak pernah meleset jika dilepaskan. ” Hao Shao-feng dengan tatapan marah berkata, "Tidak perlu mengancam aku, aku adalah orang Perkumpulan Bunga Ju tentu aku tahu apa yang dipegang di tanganmu?"

"Betulkah?"

Kata-kata Li Yuan-wai belum juga habis, tiga buah jarum di tangannya tiba-tiba sudah terbang, langsung terbang menuju Hao Shao-feng.

Dia terpaksa menyerang lebih dulu, karena Hao Shao- feng mendesak dua langkah lagi, dia sudah tidak bisa dalam jarak begitu dekat melepasnya, bagaimana pun hanya memakai tangan menusukan jarum tidak mudah membunuh orang.

tubuh yang tinggi besar seharusnya lebih kaku, namun Hao Shao-feng dengan hebatnya menghindar tiga jarum ini.

Tiga jarum sulam terbang lagi dari tangannya Li Yuan- wai.

Hao Shao-feng tidak bisa lebih mendesak maju, tapi dia tetap dapat menghindar serangan tiga jarum kedua kalinya.

Lalu tiga jarum lagi.

0ooo(dw)ooo0

Keringat dingin Li Yuan-wai mengucur lagi.

Dia sudah mengerti jarum di tangannya sudah tinggal beberapa lagi.

Dia lebih tidak menyangka semua jarum yang tidak pernah gagal ini, malah tidak satu pun mengenai sasaran.

Dia juga tidak tahu ketika semua jarum ini sudah habis dipergunakan, apa dia masih punya senjata untuk menghadang serangan lawan berikutnya. Karena tenaga dia sekarang hanya cukup untuk menggunakan jarum saja.

Karena dalam pertempuran tadi bukan saja sudah menghabiskan tenaga dalamnya, bersamaan juga dia telah mengalami luka dalam yang tidak ringan.

Maka keringat dinginnya mengalir lagi. Mengayunkan tangan melempar jarum juga menarik lukanya yang menimbulkan kesakitan, melihat jarum di tangan semakin berkurang, apa dia tidak gelisah? Apa dia bisa tidak gusar?

0ooo(dw)ooo0

Wanita ini tidak tahu kapan datangnya?

Wajah dingin dengan sepasang matanya sedang memperhatikan Li Yuan-wai dan Hao Shao-feng.

Ketika Li Yuan-wai sudah siap melemparkan tiga jarum terakhir di tangannya, matanya yang tajam itu sudah melihat wanita berbaju putih ini. Xu Jia-rong.

Tertawalah dia, tentu saja saat ini dia bisa tertawa, hingga bisa membuat Hao Shao-feng menjadi heran.

Lalu akhirnya Hao Shao-feng juga telah melihat Xu Jia- rong yang berdiri tidak jauh.

0ooo(dw)ooo0

Kepandaian Li Yuan-wai yang paling besar adalah kecuali dapat memasak Harum Sedap Tiga Li yang lezat, mungkin ada satu lagi kepandaiannya, yaitu 'bertemu orang bicara bahasa orang, bertemu setan bicara bahasa setan'.

Melihat wanita yang cantik, tentu saja bicara bahasa menjilat!

Jika tidak percaya, silahkan dengar. "Nona.... nona Xu, sungguh.... sungguh kebetulan, oww, tidak, tidak terlalu kebetulan, aku mungkin akan merepotkan kau lagi untuk....

untuk membebaskan lagi!"

"Mengapa setiap kali aku bertemu denganmu, kau sepertinya sedang berkelahi dengan orang? Dan juga kau selalu dipihak yang kalah?" kata Xu Jia-rong yang giginya seperti kerang bersinar-sinar tertawa.

"He he. memalukan, kau adalah orang bangsawan, dan

aku adalah orang yang ketimban susah,” kata Li Yuan-wai hatinya sudah berani sambil tertawa pahit.

"Kali ini apa lagi sebabnya? Iii?! Dandanan orang ini seharusnya adalah orang Gai-bang kalian....” Xu Jia-rong tiba-tiba tidak bisa meneruskan bicaranya, karena dia sudah menemukan pakaian Li Yuan-wai yang mewah, walau sudah ada sedikit bekas darah.

"Siapa nona ini? Gai-bang sedang membersihkan perkumpulan, harap bisa memberikan kemudahan, berdiri dipinggir,” kata Hao Shao-feng dengan keras melihat Li Yuan-wai menjilat lawan, untuk menjaga supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

"Membersihkan perkumpulan?!" tanya Xu Jia-rong tidak mengerti.

"Betul, Li Yuan-wai bukan saja menghianati perkumpulan juga membunuh sesama orang perkumpulan, aku Hao Shao-feng sedang melaksanakan perintah dari ketua perkumpulan kami. ” kata Hao Shao-feng.

"Kentut, Hao Shao-feng kau.... kau sialan jangan membalikkan masalah." Li Yuan-wai disisi tidak menunggu Hao Shao-feng habis bicara, sudah dalam keadaan tergesa gesa dia membuka mulut memakinya. Xu Jia-rong mengerutkan alisnya walau sudah pernah mengalami kelucuannya Li Yuan-wai, tapi tidak diduga saat dia memaki orang bisa begitu tidak enak didengar.

Wajah Hao Shao-feng berubah, bagaimana pun juga dia adalah seniornya Li Yuan-wai, dihadapan orang luar mana bisa dia menerima hal yang begini?

Begitu bayangan telapak muncul, Li Yuan-wai sudah bersiap, tiga jarum terakhir di tangan sudah dikeluarkan.

Kejadiannya sama, Hao Shao-feng segera membalikkan tubuh memiringkan bahu langsung dapat menghindarnya, lalu memukulkan telapak.

"Non.... nona Xu....” Suaranya Li Yuan-wai seperti pantat dibakar api berteriak.

Sepasang telapak Hao Shao-feng walau disebut Telapak Besi, tapi mana bisa dibandingkan dengan ketajaman pedang.

Maka setelah dia menghindarkan tiga jarum Li Yuan-wai dan menyerang, mendadak dia melihat sebilah pedang sudah menghadang di depannya, dia terpaksa mundur beberapa langkah, menghentikan serangannya, hingga Li Yuan-wai terhindar dari satu bahaya lagi.

Terhindar dari bahaya, Li Yuan-wai dengan santainya mengepalkan tangan berkata, "Nona Xu, terima kasih. ”

Hao Shao-feng melihat 'bangga'nya Li Yuan-wai, kemarahannya meluap sampai kepalanya mengepulkan asap.

"Cjianbei, Li Yuan-wai adalah temanku, bolehkah aku tanyakan cerita yang sebenarnya dulu?"

Li Yuan-wai diam-diam menghampiri Xu Jia-rong, tidak menunggu Hao Shao-feng menjawab dia sudah berteriak, "Cjianbei kentut, nona Xu, kau ingin memanggil orang ini Cjianbei itu sangat tidak pantas!"

Ternyata sesudah Li Yuan-wai punya backing, dia dengan tampang tidak takut berkata.

Telapak walau tidak berperasaan, pedang lebih-lebih tidak berperasaan.

Hao Shao-feng semalaman tidak tidur, dia sibuk semalaman, lebih-lebih dia telah kehilangan murid kesayangannya, terakhir dia hampir bisa menghabisi Li Yuan-wai, tidak tahunya muncul wanita ini menghadang, apa dia tidak gusar, apa dia tidak marah?

Walau nada Xu Jia-rong ramah, tapi mata dia sudah merah, paru-parunya seperti sudah mau meledak, maka tidak banyak bicara lagi, dia mengangkat tangan langsung dipukulkan.

Xu Jia-rong juga seperti wanita yang suka mengurusi masalah orang lain, sehingga dia pun mengangkat pedang melayani.

Telapak seperti bayangan, pedang seperti pelangi, telapak dan pedang bergumul.

Li Yuan-wai mendapat kesempatan, dia menelusuri tembok duduk ke bawah, sambil memijat-mijat bahu, sambil seperti menonton sandiwara melihat dua bayangan yang sedang bertarung.

Saat ini dia baru merasakan lukanya begitu parah, karena dia melihat sekarang bahunya sudah membengkak, dadanya sakit, seluruh tubuhnya seperti sudah terpisah-pisah sampai untuk bernafas saja juga harus menggunakan banyak tenaga.

0ooo(dw)ooo0 Di tahun-tahun ini orang punya penyakit ingin menonton keramaian.

Jika ada orang berkelahi, tentu saja ada orang yang menonton, apalagi hari sudah terang, dan lagi berada disisi gerbang kota.

Tidak lama kemudian orang yang bangun pagi sudah ramai mengurung, mereka berebut ingin melihat pertarungan hidup atau mati yang seru ini.

Jika bukan karena sakitnya sampai tidak bisa berdiri, mungkin Li Yuan-wai akan mengelilingi para penonton meminta bayaran, mengambil keuntungan diluar dugaan.

"Wanita ini sungguh lihay. ”

"Sepasang telapak pengemis tua itu juga tidak lemah. ”

"Aduh, di tanah ada orang yang telah mati. ”

Kerumunan orang menjadi ribut.

Li Yuan-wai tahu perkelahian ini sudah hampir selesai, walau bagaimana pun orang persilatan tidak berani terang- terangan disiang hari bolong dan ditonton banyak orang bertarung, ini kan tempat yang ada hukum, dan juga ada kantor pemerintah.

Janggot diwajah Hao Shao-feng berdiri tegak karena gelisah, sampai sekarang dia masih tidak tahu kenapa ilmu silat gadis ini bisa begitu lihay.

Yang membuat dia lebih gelisah adalah dia sedikit pun tidak yakin bisa memenangkan pertarungan ini.

Bertarung terus atau tidak? Pergi atau tidak? Dia berhitung di dalam hati tidak sekali saja.

"Orang pemerintahan sudah datang....” tidak tahu siapa yang mengucapkan ini. Sehingga Hao Shao-feng segera memutuskan, dia sekali loncat keluar dari pertempuran, dengan keji melihat Xu Jia- rong dan Li Yuan-wai.

Lalu membungkuk membopong mayat Chu Xiang Yun, separah kata pun tidak mengucapkan langsung terbang melewati kepala kerumunan orang, pergi jauh.

Walau dia tidak mengatakan apa-apa, tapi Li Yuan-wai dan Xu Jia-rong mengerti apa maksud dia melihat saat mau pergi.

Itu adalah sorot mata orang yang sangat mendendam.

0ooo(dw)ooo0

Diluar kota, di dalam hutan.

Li Yuan-wai masih merasa kesakitan.

Melihat dia memejamkan mata, seperti sedang duduk di awan, meski tulang dia tidak hancur berantakan, tapi dia merasa lemas.

Sepasang tangan lembut Xu Jia-rong dengan pelan tapi teratur sedang memijat bahunya Li Yuan-wai, wajahnya yang cantik begitu dekat.

Dan hidung Li Yuan-wai sedang bergerak-gerak mencium bau harum yang seperti anggrek itu.

Saat ini, dalam keadaan begini, walau jadi dewa pun tidak akan segembira dia.

Dengan tidak sengaja, Xu Jia-rong tiba-tiba merasakan penampilan Li Yuan-wai yang begitu keenakan, walau dia seorang putri persilatan yang tidak terlalu memperdulikan aturan, tapi bagaimana pun dia tetap saja wanita.

Seorang wanita selalu saja sering berubah tidak menentu, apa lagi tangan mereka juga begitu. Karena tangan mereka bisa saja menyembuhkan luka seorang laki-laki, tapi jika mencubit orang juga sama akan menghilangkan setengah nyawa orang.

Tidak percaya?

Mengapa Li Yuan-wai yang mendapat luka begitu parah sedikit pun tidak berteriak kesakitan, sekarang dia malah berteriak-teriak seperti babi tidak henti-hentinya karena dicubit oleh Xu Jia-rong.

"Aww.... tolong, tolong, kau lepaskan tangan, lepaskan tanganmu, lepaskan tangan aww. ”

"Kenapa? Bukankah kau merasa enak?"

"Non.... nona besar, perasaan itu.... perasaan itu tidak....

tidak sama aww. ” kata Li Yuan-wai seperti menangis.

"Hem! Aku mau lihat apa kau masih berani menampilkan penampilan seperti itu tidak. ”

Xu Jia-rong melepaskan tangannya, Li Yuan-wai buru- buru mengangkat tangannya memakai mulut meniup-niup tempat yang dicubit.

Apakah ini berguna? Itu adalah kulit biru yang besar!

Li Yuan-wai dengan wajah pahit, melihat kulit biru itu, dia jadi mengerti satu hal.

Yaitu nona cantik yang dingin ini, walau bisa menyelamatkan nyawanya, juga bisa mengambil nyawanya.

0ooo(dw)ooo0

Laki laki semuanya punya satu penyakit yang sama, yaitu sangat mudah melupakan kerugian dan terkena tipu.

Li Yuan-wai adalah seorang laki laki, dan penyakit dia dibandingkan orang lain lebih besar. Mengapa wanita cantik selalu membuat laki-laki mudah melupakan wanita lain?

Li Yuan-wai telah melupakan Ouwyang Wu-shuang, telah melupakan wanita yang setiap saat disembarangan tempat ingin membunuh dia.

Li Yuan-wai telah melupakan Zhan Feng, telah melupakan seorang yang tidak tahu punya tujuan apa, wanita yang misterius.

Apakah dia tidak tahu wanita yang semakin cantik semakin seperti binatang berduri, mengusapnya pun jangan harap.

Betulkah Xu Jia-rong telah menyelamatkan dia, hingga terhadap wanita ini dia sudah kehilangan kewaspadaannya?

Betulkah penyakit dia telah kambuh kembali, mengira setiap wanita akan terpikat oleh senyumannya?

Li Yuan-wai tertawanya sungguh sangat gembira, matanya pun hampir sipit sampai menjadi satu garis.

Dia berkata, "Kau telah menyelamatkan aku, walau diselamatkan oleh seorang wanita kurang. kurang

membanggakan, tapi aku tetap akan berterima kasih padamu."

Senyum Xu Jia-rong tidak diragukan lebih bagus dari pada senyum Li Yuan-wai, dia malah berkata, "Terima kasih padaku? akan memberikan apa untuk terima kasih padaku? Kabarnya di dunia persilatan, sampai uang untuk makan besok juga kau tidak punya!"

"Siapa.    siapa yang bilang?! Uang aku ada, aku sungguh

punya uang, kau sama sekali jangan mempercayai kabar angin, kau tidak percaya?! Baik, kau katakan saja, apapun yang kau ingin makan, atau ingin membeli apa, aku pasti akan laksanakan. ”

Li Yuan-wai jadi gelisah, bagaimana dia tidak akan gelisah.

Bagaimana pun ini adalah penyakit semua orang, laki- laki paling takut dikatakan orang miskin.

Apa lagi dihadapan wanita cantik yang baru dikenal, dipandang enteng orang.

Sambil memperhatikan Li Yuan-wai, Xu Jia-rong tertawa berkata, "Mmm, dandananmu sekarang memang tidak sama dengan dulu waktu aku bertemu denganmu, kelihatannya kau benar telah meninggalkan Gai-bang. Baiklah! Aku pikir jika kau memang terus berkata ingin berterima kasih pada aku, baiklah, traktir aku makan dulu, kali ini seharusnya kau sudah bisa bergerak, Mau tidak aku bantu lagi memijatnya?"

Li Yuan-wai jadi ketakutan sampai dia menggoyang goyangkan tangannya, "Dewi.... dewi penyelamat, aku sudah baik, aku sudah baik, aku sungguh takut padamu. ”

0ooo(dw)ooo0