Dendam Sejagad Jilid 40 (Tamat)

 
Jilid 40 (Tamat)

Rupanya semua pe mbicaraan yang berlangsung antara Keng Cin sin dengan Ku See hong telah didengar pula oleh Im Yan cu dengan jelas, oleh karena itu dia t idak berani me mpercayai kalau dia masih punya harapan untuk melanjutkan hidup di dunia ini, sebab obat mustajab tersebut belum tentu dapat dite mukan.

Dengan suara pelan Ku See hong berkata:

"Adik Im, mengapa sih kau selalu berpikir kearah yang jelek ?"

Im Yan cu tidak menjawab pertanyaan dari Ku See hong secara langsung, tiba-tiba saja ujarnya sa mbil tertawa:

'Engkoh Hong, tempo hari kau pernah bilang, jikalau aku mati maka  kau  akan  mendirikan   sebuah   kuburan   besar   untukku, ke mudian kau akan me mbangun sebuah ruma h disa mping kuburan dan selalu menda mpingiku, bukankah begitu?"

Ku See hong menghe la napas sedih, ke mudian menjawab:

"Adik Im, seandainya kau mati, pasti akan kubangun sebuah kuburan yang besar sekali, ke mudian akupun akan berpuasa didalam kuburan tersebut sampai mati"

"Engkoh Hong, kau t idak boleh mati, bagaimana dengan adik Him Ji im serta enci Keng Cin sin.'

Ketika mendengar perkataan itu, hampir saja air mata Keng Cin  sin jatuh bercucuran.

Dengan air mata me mbasahi kelopak matanya, Ku See hong berbicara: "Adik Im, kau tak boleh meninggalkan aku lagi, mereka berdua telah meninggalkan aku'

"Apa" seru Im Yran cu terkejut, "mengapa mereka tinggalkanmu?

Apakah kau telah r ibut dengan mereka berdua?"

'Tidak, Keng Cin sin  telah mati, sedangkan Him Ji im meninggalkan aku karena me mbunuh ibunya sendiri, sekarang dia sudah mencukur ra mbutnya menjadi pendeta dan hidup menyepi dibiara, bukankah hal ini sa ma halnya mereka telah pergi meningga l kan aku" Sebenarnya Hoa Soat kun mengetahui siapakah Keng Cin  sin, tapi berhubung dia sudah berjanji kepada Keng C in sin  akan merahasiakan hal tersebut, maka hingga kini dia tidah sampa i mengutarakan hal tersebut kepada Ku See hong, bahwasanya perempuan berkerudung warna warni yang selalu berada di di sisinya tak lain adalah Keng Cin sin.

Im Yan cu ter menung beberapa saat lamanya, kemudian ke mba li dia berkata.

"Engkoh Hong, apakah kau me nduga enci Keng Cin sin benar- benar sudah mati?`

Ku See hong menghe la nafas sedih.

"Walaupun aku belum se mpat menyaksikan jenazahnya, namun jeritan ngeri menje lang saat ajalnya masih mendengung disisi telingaku hingga kini, lagi pula si pedang e mas Cia Tiong giok telah berkata kepada ku kalau dia telah mati, maka  aku rasa tipis  sekali  ke mungkinan baginya untuk tetap hidup di dunia ini.

Im Yan cu segera menghe la napas sedih.

"Aaaai, kalau begitu kehidupanmu di dunia ini akan kesepian sekali?"

"Itulah sebabnya setelab kau mat i nanti akupun .tak ingin hidup tersiksa seorang diri di dunia ini!"

"Engkoh Hong, kau jangan mati, aku pikir, adik Him Ji im mungkin akan berubah pikiran, lagi pula...”

Tiba-tiba dia mengalihkan sorot mata nya ke wajah Keng Cin sin, ke mudian setelah tertawa katanya kembali.

"Lagipula enci ini toh akan selalu menda mpingimu?"

Ku See hong me mbungka m dalam seribu bahasa, sedangkan Keng Cin sin lebih tak ma mpu berbicara lagi, padahal Ku See hong me mang mencintai pere mpuan ini, namun apa mau dikata kalau dia justru menolak cintanya. Menyaksikan ke dua orang itu me mbungka m dalam seribu bahasa, kembali Im Yan cu menghela napas.

"Cici" katanya kemudian, "sebelum adik meninggalkan  dunia yang fana ini, bolehkah kuajukan sebuah per mintaan kepa mu?'

Tentu saja Keng Cin sin tahu apa yang akan diajukan oleh gadis tersebut, terpaksa sahutnya pelan:

"Adik Im, apapun yang kau minta, pasti akan kukabulkan" Im Yan cu tersenyum.

''Cici, kuminta kau sudi mene maninya, janganlah membiarkan dia

hidup kesepian, mau bukan?"

Keng Cin sin t idak tega untuk mena mpik permintaannya itu, setelah tertawa getir dia menyahut:

"Aku mengabulkan permintaanmu itu, sekarang beristirahatlah dengan hati yang tenang, kami akan berusaha untuk mengo bati  luka mu itu hingga se mbuh"

Im Yan cu kelihatan gembira sekali setelah mendengar kesanggupan dari perempuan itu, ujarnya:

"Ooooh, betapa indahnya kalau hal ini bisa terjadi, dengan demikian aku pun bisa mati dengan perasaan tenang. Engkoh Hong, kau boleh mendir ikan kuburanku disa mping ruma h kalian, agar setiap mala m aku datang muncul untuk ber main bersa ma-sa ma kalian" 

Ketika  mendengar   perkataan   itu,   Ku   See    hong   segera me mper lihatkan senyuman getirnya yang mengenaskan. dia tahu perempuan berkerudung warna warni itu cuma berniat menghibur hati Im Yan cu saja...

Aaaaai, Im Yan cu sendiripun menganggap dirinya bakal mati, mungkinkah apa yang diucapkan itu benar-benar akan terjadi?

Benarkah gadis yang begitu cantik dan begitu polos akan mati dalam usia se muda ini? Tidakkah hal ini terlalu disayangkan?

de-wi

SUARA roda yang berputar dan ringkikan kuda yang menghe la kereta bergema me mecahkan keheningan.

Angin barat berhembus kencang, matahari senja sudah mulai condong kebalik bukit...

Ditengah sebuah jalanan yang jauh di tengah bukit, tampak sebuah kereta kuda berlarian mende kat dengan kecepatan tinggi.

Itulah sebuah kereta yang dihela e mpat ekor kuda jempolan, debu tampak beterbangan di angkasa, ini me nunjukkan betapa cepatnya kereta itu dilarikan orang.

Tiba diatas bukit, lari kereta itu menjadi lebih pelan, saat itulah baru nampa k orang yang duduk disa mping kiri adalah seorang pemuda ta mpan serta seorang perempuan berkerudung warna warni.

Tak salah lagi mere ka adalah Ku See hong serta Keng Cin sin, sedangkan orang yang berada didalam ruang kereta bukan lain adalah Im Yan cu dan Seng sim cian li Hoa Soat kun. ..

"Masih berapa jauh?" bisik Keng Cin sin t iba-tiba  dengan suara  lir ih.

Ku See hong tampak berat sekali perasaannya, dengan wajah murung berca mpur sedih dia menyahut:

"Mungkin masih ada dua jam perjalanan lagi!"

''Sekarang matahari sudah condong ke langit barat, jaraknya sampai tengah mala m nanti masih ada enam ja m, aaaai... nampaknya kita harus beradu nasib!"

"Apakah nona tak dapat me mperpanjang waktu ka mbuhnya racun itu ?" Keng Cin sin menghela napas sedih.

'Aaaai, dari batas waktu tengah mala m aku sudah melebihkan waktunya satu jam lagi, tak mungkln waktu tersebut dapat diperpanjang ke mba li, tapi se mua kejadian didunia ini me mang seringkali berada jauh diluar dugaan orang, kita hanya dapat mengharapkan terjadinya keajaibau saja.

"Apabila se muanya bisa berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan, rumput Han sia cau tersebut dapat kita  temukan secepatnya, walaupun saat kambuhnya mungkin satu dua jam lebih awal, rasanya kita masih dapat menyusulnya, yang  dikuatirkan justru apabila rumput Han sia cau tersebut tidak dapat kita temukan dengan segera sehingga banyak waktu yang terbuang dengan percuma"

"Jika seandainya dia sampai mati, aku benar-benar tidak me miliki keberanian untuk hidup terus'

Sekalipun Ku See hong berbicara dengan mengikuti perasaannya, tapi sekarang dia ber maksud untuk menjajaki sa mpai dimana kah perasaan serta tanggapan dari Keng Cin sin, sebab semalam gadis  itu  telah   menyanggupi   per mintaan  Im   Yan   cu   untuk menda mpinginya sepanjang hidup.

Tapi Ku See hong sangat kecewa, Keng Cin sin sa ma sekali tidak menjawab atas pertanyaannya itu.

Kini arah kereta dari barat telah menuju ke timur, dalam waktu singkat mereka telah me masuki sebuah jalan bukit dan tiba dibawah sebuah tebing yang dala mnya ratusan kaki.

Sementara itu senja telah larut, matahari bersinar kemerah- merahan me mancar ke e mpat penjuru ....

Mendadak...

Ringkikan kuda yang a mat rama i berge ma me mecahkan keheningan... Dua diantara empat ekor kuda yang menghela kereta tersebut mendadak mengangkat sepasang kakinya ke atas sambil meringkik panjang, jelas didepan situ telah terjadi suatu peristiwa yang sa ma sekali diluar dugaan.

Mendadak, dari dalam ruang kereta berkumandang suara teguran dari Hoa Soat kun.

"Apa yang telah terjadi?"

Semertara itu Ku See hong dan Keng Cin sin telah me lo mpat turun ke atas tanah dengan kecepatan luar biasa, ke empat mata mereka yang tajam dengan cepat me mandang sekejap ke dua belah kaki dua ekor kuda yang diangkat tinggi-tinggi itu.

Titik darah kental na mpak meleleh keluar dari ke e mpat kaki tersebut.

Keng Cin sin segera berseru:

"Na mpaknya kuda kita terluka, bisa jadi telah berlangsung suatu peristiwa yang sa ma sekali diluar dugaan!"

Ternyata ke dua belah kaki kedua ekor kuda itu sudah terluka oleh paku persegi tiga yang tajam sekali, sementara satu kaki disekeliling tempat itu penuh tersebar paku-paku lain yang gemerlapan tertimpa sinar.

Berubah hebat paras muka Ku See hong, secepatnya dia mencabut keluar paku-pa ku persegi tiga dari kaki kedua ekor kuda itu.

Sebaliknya Keng Cin sin segera mengayunkan telapak tangannya ke depan, segulung angin pukulan yang maha  dahsyat  langsung saja menyapu paku-paku persegi tiga itu sehingga tersebar ke sisi jalan.

Tentu saja  mereka  tahu  pasti  ada  orang  yang  sengaja mengha langi perjalanan tersebut. Tapi sekarang, waktu bagi mereka lebih berharga daripada emas, apalagi dalam keadaan terdesak begini, tak sempat lagi bagi mereka untuk mencari banyak urusan.

Terpaksa sambil menahan hawa amarahnya, mereka berlagak seakan-akan tak tahu urusan.

Ku Se hong dan  Keng  Cin  sin dengan  cepat  me lo mpat  naik ke mbali ke atas kereta.

Mendadak, pada saat itulah...

Kuda mereka ke mbali mer ingkik panjang dengan ketakutan. Menyusul kemudian ....

"Blaaammm! " "Blaaammm! "

Dua kali benturan keras berkumandang me mecahkan

keheningan.

Tiba-tiba saja dari belakang tebing me layang turun dua buah benda besar yang persis terjatuh disisi kereta.

Ternyata ke dua benda itu adalah dua sosok mayat yang berlumuran darah, seorang dewasa dan seorang kanak-kanak.

Begitu melihat ke dua sosok mayat itu Keng Cin  sin  segera menjer it kaget.

"Aaaah, mereka adalah adik Khi dan Bian ih siu Hoa Siong si locianpwee...

Dengan cepat Ku See hong menerjang ke samping jenasah tersebut, tak salah lagi mayat yang kecil itu tak lain adalah Kho It khi, si bocah yang pernah ditemui dalam perka mpungan yang terpencil dan me nyeramkan itu.

Sedangkan seorang yang lain adalah seorang  sastrawan setengah umur yang berbaju perlente. Sementara itu Seng sim cian li Hoa Soat kun kebetulan me lo mpat keluar dari ruang kereta, begitu sorot matanya melihat jenasah Hoa Siong si, dengan cepat dia menubruk ke sisi mayat sambil berteriak sedih:

"Adik Si, adik Si..."

Sambil menjer it dia berteriak, air mata Hoa Soat kun mengucur keluar dengan a mat derasnya, ia nampak sedih sekali..

Rupanya Bian ih siusu Hoa Siong si adalah saudara  kandung Seng sim cian li Hoa Soat kun, tiga puluh tahun berselang oleh karena suatu perselisihan ke dua orang kakak beradik ini telah bentrok, di mana Hoa Siong si pergi meninggalkan encinya dalam keadaan marah dan mendongkol.

Itulah sebabnya Hoa Soat kun berpesan kepada Im Yan cu dulu agar mencari dua orang jago persilatan, selain Leng hun koay seng Ku See hong, orang kedua adalah Hoa Siong si ini.

Bagaimana mungkin Hoa Soat kun t idak bersedih hati setelah menyaksikan saudaranya yang telah berpisah selama tiga puluh tahun dengannya, tiba-tiba ditemukan dalam keadaan tewas.

Beberapa titik air mata jatuh berlinang pula me mbasahi wajah Keng Cin sin, air mata tersebut menunjukkan perasaan  dendam serta amarahnya me luap-luap.

Ku See hong segera menyadari betapa gawatnya situasi, sudah jelas orang yang mencari gara-gara dengan mereka berjumlah banyak dan berilmu tinggi, ini terbukti dari ke ma mpuan mereka untuk me mbinasakan Hoa Siong si serta Kho It khi.

Dengan sorot mata yang tajam dia me mandang sekejap se mak belukar disekeliling tebing itu, kemudian sambil melo loskan pedang Hu thian seng kia mnya, dia me mbentak nyaring:

'Kawanan manusia laknat yang tak tahu malu, cepat keluar untuk menerima ke matian!. Baru selesai dia berkata, gelak tertawa aneh dan pekikan nyaring yang me mekikkan telinga telah berkumandang me mecahkan keheningan.

Menyusul ke mudian dari balik hutan, sekeliling tebing dan balik batuan cadas, bagaikan sukma-sukma  gentayangan  melayang keluar sebelas sosok bayangan manusia

Me mandang orang-orang itu, Keng Cin sin merasakan darah panas didalam dadanya seperti mendidih dengan hebatnya.

Rupanya salah seorang diantaranya tak lain adalab musuh besar bebuyutannya yang pernah juga menjadi gurunya dia pe milik istana Huan mo kiong dari Lam hay, Pedang sakti dari langit Cia Cu kim adanya.

Empat diantara pendatang tersebut menyoren pedang,  selain Han thian it kiam C ia Cu kim, mereka adalan ketiga orang anak buahnya masing- mas ing Hek ki tha mcu, Ang ki thamcu serta Lan ki thamcu.

Sebenarnya thamcu ini terdiri dari empat orang, tapi berhubung thamcu panji putih sudah tewas lebih dahulu ditangan Keng Cin sin maka jumlahnya kini t inggal tiga orang.

Sedangkan tujuh orang la innya adalah tujuh kakek berbentuk aneh yang semuanya berbentuk badan aneh, ada yang cebol, ada yang kurus, ada yang gemuk, ada yang tinggi.

Begitu Keng Cin sin berjumpa dengan ke tujuh orang itu, dalam hati kecilnya segera dapat menduga kalau mereka tak lain adalah Bu lim jit hun (tujuh sukma gentayangan dari dunia persilatan) yang pernah me mper mainkan dirinya sewaktu di kuburan te mpo hari.

Benar, ketujuh manus ia aneh ini me mang Bu lim jit hun, mereka berdiri berjajar menurut urutannya.

Yang berada disebelah kanan adalah sukma gentayangan pertama, dia berperawakan kurus kering lagi jangkung, namun kehilangan sebuah mata kirinya, dia menyebut diri sebagai Jiat leng hun (sukma cacad mata)' Menyusul ke mudian si kakek yang kehilangan telinga dia bernama Jiat oh hun (sukma cacad telinga).

Setelah itu Jiat pit hun (sukma cacad lengan), Jiat tai hun (sukma cacad kaki), Jiat cui hun (sukma cacad mulut) seorang kakek aneh yang bermulut sumbing, Hong lui hun (sukma ro mantis) seorang kakek aneh kurus kecil berkepala botak, hanya kakek ini bertubuh utuh dan terakhir adalah Khi si hun (sukma ke matian) dia berwajah lesu, mur ung seperti orang ma mpus.

Orang terakhir inipun me mpunyai anggota badan yang utuh, kecuali hidungnya datar seperti kena di papas orang.

Setelah melihat jelas orang orang tersebut Keng Cin sin segera berbisik kepada Ku See hong:

"Ketujuh manusia aneh ini adalah Bu lim jit hun, sedangkan sisinya adalah manus ia- manusia Huan mo kiong di lautan selatan..

Siang  khi  hun  yang  mendengar   ucapan   tersebut,   segera me mperdengarkan suara tertawanya yang menyeramkan, ke mudian serunya.

"Hiat mo buncu, kaupun kenal dengan Bu lim jit  hun? Heeeeehh... heeeeehhh..... heeeeehhh.... Hong liu hun, kali ini kau akan menikmati pesta besar. Kalau merasa tidak cocok dengan perempuan jelek ini, si perempuan berambut putih itu toh cukup montok dan bahenol.'

Mendadak Seng sim cian li Hoa Soat kun mendo ngakkan kepalanya, dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu dia awasi sekejap Siang khi hun yang barusan berbicara.

Betapa terperanjatnya Bu lim jit hun setelah menyaks ikan sorot mata Hoat Soat kun yang tajam menggidikkan hati itu, serentak mereka berpikir.

"Waaah ... tajam amat sepasang mata sipere mpuan berambut putih ini " Sementara itu Ku See hong yang mendengar perkataan dari Keng Cin sin segera berpikir pula.

"Aneh benar perempuan ini, mengapa di dalam sekilas pandangan saja dia bisa mengenali kalau ke empat orang itu adalah para manus ia laknat dari istana Huan mo kiong...

Han thian it kiam Cia Cu kim dari Huan mo kiong sudah pernah bertarung melawan Ku See hong, oleh sebab itu dengan cepat pemuda itu dapat mengenalinya. berhadapan kembali dengan  musuh besarnya Ku See hong segera merasakan darah panas yangg menga lir di dalam dadanya bergolak keras.

Sepasang alis matanya berkerut, hawa napsu me mbunuh yang menggidikkan hati me nyelimuti seluruh wajahnya, serentetan sinar tajam seperti kilauan golok menyapu pula wajah Cia Cu kim dengan penuh kegusaran, tegurnya dengan suara dingin.

"Cia Cu kim, hari ini kau telah menghantarkan dirimu sendiri, dengan begitu akupun tidak usah bersusah payah pergi mencarimu..."

Han thian it kiam Cia Cu kim tahu, pemuda gagah yang berada di hadapannya sekarang tak lain adalah orang yang berhasil dihantam sampai ma mpus olehnya di pantai pesisir laut selatan.

Mimpipun dia tidak menyangka kalau dia dapat hidup kembali, bahkan orang tersebut ternyata bukan lain adalah Leng hun koay seng Ku See hong yang namanya sangat menggetarkan dunia persilatan.

Sementara itu Cia Cu kim telah berkata dengan suara sedingin salju.

"Ku See hong, tidak kusangka kau di berkahi umur panjang, tapi jangan harap kau bisa lolos dari cengkera man malaikat elmaut pada ma lam ini, kendatipun kau me miliki kea mpuhan yang diluar dugaan. Sekarang  aku  ingin  bertanya   kepadamu,  apakah   kau   telah me mbantai se mua jago-jago istana Huan mo kiong kami?' Yang dia maksudkan sebenarnya adalah kawanan jago istana Huan mo kiong yang dipimpin si pedang e mas Cia  Tiong giok dan ke mudian tewas ditangan Keng Cin sin.

Rupanya setibanya dilembah Yu cui kok diluar kota Heng yang, ia tak berhasil menjumpai si pedang emas Cia Tiong giok sekalian, tapi akhirnya dipuncak tebing tersebut ia temukan jenasah Pek  ki thamcu sekalian yang telah dibantai secara kejam, namun jenasah Cia Tiong giok t idak berhasil dijumpai.

Menurut perkiraannya, orang yang dapat membantai Cia  Tiong giok sekalian sudah pasti me miliki kepandaian silat yang sangat hebat, padahal dalam dunia persilatan dewasa ini, hanya Leng hun koay  seng  Ku  See  hong  serta  Hiat  mo  buncu  yang  me miliki ke ma mpuan de mikian, ke mudian diapun berpendapat bahwa Hiat mo buncu tidak pernah mengikat tali permusuhan atau sakit hati dengan Huan mo kiong, mustahil tokoh silat  itu me lakukan pembantaian secara besar-besaran dengan cara yang begitu keji.

Tidak heran kalau ke mudian ia mencuriga i Ku See hong, sebab me mang pe muda inilah yang me mpunyai per musuhan dengan mereka, lagi pula me miliki ke ma mpuan untuk berbuat demikian.

dewi

PADAHAL dia mana tahu kalau Hiat mo buncu tersebut bukan lain adalah muridnya Keng Cin sin yang sudah hilang se menjak setahun lewat ......

Rupanya semua anggota Huan mo kiong  melakukan  aksi menutup mulut rapat-rapat terhadap peristiwa tragis yang menimpa Keng Cin sin,  oleh sebab itu Cia Cu kim sa ma sekali tidak mengetahui akan peristiwa tersebut.

Namun diapun pernah me mperoleh kabar yang mengatakan bahwa Keng Cin sin telah mati. Sementara itu Keng Cin sin telah menyahut setelah mendengar pertanyaan itu.

"Segenap anggota Huan mo kiong dari laut selatan telah mati ditanganku "

Berubah hebat paras muka Cia Cu kim, segera bentaknya dengan suara mengge ledek:

"Apakah putraku si pedang e mas Cia Tiong giok tewas pula ditanganmu ?

Keng Cin sin kuatir kalau Ku See hong sa mpai me naruh curiga apa sebabnya dia sampai ber musuhan dengan orang-orang Huan mo kiong, terpaksa sahutnya dingin:

"Darimana aku bisa tahu siapakah putra kesayanganmu itu? Tapi diantara mereka yang kuhadapi me mang ada seorang di antaranya yang me mbawa pedang e mas, tentu saja dia pun tidak dapat terhindar dari ke matian secara tragis '

Tak terlukiskan rasa sedih Cia Cu kim setelah mendengar perkataan ini, titik air mata segera jatuh berlinang me mbasahi wajahnya, gemetar keras sekujur tubuhnya, menunjukkan kalau batinnya sangat terpukul setelah mendengar kabar buruk yang menimpa putranya itu.

Disaat dia sedang me mbunuh orang lain, ge mbong iblis berhati keji yang gemar me mbunuh orang tanpa  berkedip  ini  tak pernah me mikirkan bagaima nakah perasaan dari orang tua serta sanak saudara dari korbannya, tapi sekarang dia baru merasakan akan kesedihan tersebut.

Mencorong sinar buas dari balik mata Cia Cu kim, bentaknya keras-keras..

"Dendam sakit hati apakah yang terjalin antara kau dengan orang-orang Huan mo kiong? Mengapa kau bertindak begitu keji dengan me mbantai mereka semua? Kau .... kau.... cepat utarakan kepadaku!” Keng Cin sin tertawa dingin.

"Dendam sakit hati apa? Soal tersebut bukan prasyarat wajib bagiku untuk me mbunuh orang, pokoknya setiap manusia laknat yang banyak melakukan kejahatan dan kekeja man, kami orang- orang Hiat mo bun tak akan melepaskan dalam keadaan hidup” mendadak Cia Cu kim tertawa seram, pedangnya  segera  di putar me mbentuk lingkaran-lingkaran hawa pedang yang berlapis- lapis, Seakan-akan cahaya yang me mbumbung diangkasa, cahayanya amat menyilaukan mata.

Secara ganas sekali serangan tersebut langsung menggulung ketubuh Keng Cin sin.

Dengan cepat Keng Cin  sin  me mutar  telapak  tangan  kirinya me mbentuk suatu gerakan me lingkari, gulungan angin pukulan berpusing seperti angin puyuh yang menyapu tanah, langsung menyongsong datangnya hawa pedang dari Cia Cu kim.

Begitu Cia Cu kim menggerakkan serangan nya serentak semua jago yang hadir diarena turut me libatkan diri dalam pertarungan sengit itu.

Mula pertama Seng sim cian li Hoa Soat kun yang bertindak lebih dulu, sepasang  telapak  tangannya   diputar   dan   diputar   lagi me mbentuk gerakan me mbusur, segulung demi segulung angin pukulan yang dahsyat sedalam sa mudra seperti a mukannya gelom- bang samudra yang dihe mbus topan, dengan hebatnya menyapu tubuh Bu lim jit hun.

Hoa  Soat  kun  merasa  gusar   dan   me ndendam  sekali  atas ke matian yang menimpa adik kandungnya, maka tidak heran kalau serangan yang dilancarkan olehnya me mpergunakan segenap tenaga dalam yang di milikinya .

Tetapi Bu lim jit hun bukan manusia  se mbarangan yang le mah ke ma mpuannya, sambil tertawa dingin dengan sera mnya, masing- masing pihak segera me lepaskan pula sebuah pukulan dahsyat .. Angin pukulan yang maha dahsyat seperti gulungan o mbak ditengah sa mudra langsung me luncur ke depan diiringi deruan angin yang me mekikkan telinganya, pusaran angin berpusing me mancar ke e mpat penjuru dan menyapu se mua benda yang dite mui.

Hoa Soat kun tidak gentar, me mpergunakan gerakan tubuhnya yang amat cepat seperti sambaran petir, dia menyelinap masuk ke tengah barisan Bu lim jit hun tin dan menyabet setiap mus uh yang dijumpai nya.

Di dalam waktu singkat, ke delapan orang itu sudah terlibat dalam suatu pertarungan masal yang luar biasa...

Sementara Cia Cu kim me mutar pedang nya menyerang Keng Cin sin secara ganas Ang ki thamcu, Hek ki thamcu serta Lan ki thamcu serentak melo loskan pula pedang masing- masing...

Ku See hong yang menyaksikan kejadian  ini  tentu  saja  tidak me mbiarkan lawan-lawannya bertindak sekehendak hati.

Pedang mestika Hu thian seng kia mnya berputar menciptakan serangkaian  cahaya   pelangi   yang   amat   menyilaukan  mata,  ke mudian setelah menciptakan lapisan hawa pedang seperti jaring langsung menyergap ke tiga orang thamcu tersebut.

Telapak tangan kirinya tidak ambil dia m, dengan suatu gerakan aneh dia berputar sambil meletik ke muka, hawa serangan bagaikan rentetan ledakan bercampur dengan hawa pedang langsung menyerang ke tiga orang itu.

Berbicara soal kepandaian silat yang di miliki, ke tiga orang thamcu dari istana Huan mo kiong ini, boleh dibilang mereka terhitung jago silat no mor wahid dikolong langit dewasa ini.

Menyaksikan datangnya ancaman yang sangat me mbahayakan keselamatan ini, serentak mere ka mengayunkan pula telapak tangan kiri masing- masing melancarkan serangkaian serangan berantai.

Sementara pedang merekapun bersama-sa ma me mancarkan hawa pedang yang tak kalah tajamnya, menyongsong kedatangan pedang Hu thian seng kiam itu. Di dalam waktu singkat seluruh angkasa diliputi bayangan telapak   tangan   yang    menyilaukan    mata,    hawa    pedang me mbumbung tinggi ke angkasa, angin serangan menderu-deru seperti bukit karang yang mau roboh.

Untuk mela kukan taktik perte mpuran cepat, Ku See hong tidak menghenda ki musuhnya me mpunyai waktu untuk ganti napas, pedang Hu thian seng kiamnya segera me lancarkan serangkaian serangan dahsyat dengan jurus-jurus yang ampuh, bagaikan naga sakti yang terbang di udara, cahaya pelangi menggulung  dan menya mbar ke sana ke mar i tiada hentinya.

Tatkala pertempuran berlangsung sa mpai pada puncaknya, jurus pedang, angin pukulan,  bayangan tendangan secara berantai dilancarkan beruntun.

Seperti jaring langit perangkap bumi yang di sertai kekuatan maha dahsyat saja, serangan tersebut menggulung keluar dengan amat hebatnya.

Di dalam waktu singkat, sekeliling tempat itu sudah  tidak terdapat tempat luang kosong lagi, bahkan sejengkal tempat kosong yang bisa dipakai untuk bernrfas dengan leluasa pun tak ada ....

Empat belas jago yang hadir di arena sekarang termasuk jagoan nomor wahid di kolong langit dewasa ini, dan kini mere ka terlibat dalam suatu pertempuran sepenuh tenaga yang amat mengerikan hati..

Suasana waktu itu selain menggidikkan hati orang, ketegangannya sanggup mencopot jantung siapa pun.

Bu lim jit hun menganda lkan jumlah anggotanya yang banyak dengan rata-rata me miliki kepandaian silat yang hebat.

Meskipun Hoa Soat kun terhitung jago kelas satu di dalam dunia parsilatan dewasa ini, toh untuk beberapa saat la manya ia dibuat tak berdaya untuk meluka i mereka, bahkan sebaliknya dia kena terdesak sehingga harus berputar tiada hentinya. Dipihak lain, Han thian it kiam Cia Cu kim sangat berhasrat untuk me mba laskan dendam bagi ke matian putranya, jurus-jurus pedang yang dipergunakan oto matis jurus ganas, dahsyat dan mengerikan, serangan demi serangan dilancarkan secara berantai, namun semuanya tidak berhasil untuk me lukai seujung ra mbutpun dari Keng Cin sin ....

Keng Cin sin sendiripun agak segan untuk me lancarkan serangan dengan sepenuh tenaga, hal ini disebabkan Cia Cu kim pernah menjadi gurunya. lagipula banyak me lepaskan budi kepadanya karena me melihara dan mendidiknya semenjak kecil, coba kalau bukan demikian, niscaya Cia Cu kim sudah dibikin kalang kabut tak karuan ....

Pertarungan antara mati hidup  yang berlangsung sekarang sungguh merupakan suato pertarungan sengit yang belum pernah terjadi selama beberapa ratus tahun terakhir ini, terutama sekali pertarungan antara Hoa Soat kun me lawan tujuh sukma gentayangan dari dunia persilatan.

Sedemikian sengitnya pertarungan ini, sehingga dunia seakan- akan terbalik dan bumi ikut bergoncang keras....

Hawa pukulan dan hawa pedang yang dipancarkan ke e mpat belas orang ini saling menya mbar dan beradu satu sama lain hingga menimbulkan pusaran angin kencang serta  desingan  angin  yang me me kikkan telinga.

Bukan cuma batuan cadas dipermukaan tanah, rumput, dahan daun dan aneka tumbuhan lain yang tumbuh disekitar tempat itu turut bertumbangan ke atas tanah.

Angin serangan yang amat dahsyat itu pun me maksa ke e mpat ekor kuda penghela kereta tersebut meringkik panjang tiada hentinya, tanpa di sadari kereta tersebut sudah bergerak mundur terus sampai sejauh delapan kaki lebih.

Sedemikian hebatnya ancaman itu, siapa pun yang turut menyaksikan perist iwa ini tentu akan bergidik dibuatnya. Telapak tangan kiri, pedang di tangan kanan, kaki kiri serta kaki kanan Ku See hong bergerak kian ke mar i tiada  habisnya  seperti ma laikat bengis yang sedang me mperlihatkan keperkasaannya. Dia menerjang ke kanan, menghantam ke kiri, ke mudian berkelebat kian ke mari seperti sukma yang lagi gentayangan.. Mendadak suatu pekikan keras yang me mbentot sukma berkumandang me mecahkan keheningan... tiba-tiba Ku See hong menyelinap keluar dari balik lingkaran hawa pedang yang dipancarkan oleh ketiga orang thamcu tersebut, kemudian berada ditengah udara, bagaikan seekor burung rajawali raksasa dirinya melayang kian ke mari dengan indahnya. Pedang Hu thian seng kiam yang berada dalam  genggamannya tidak ambil diam pula, dengan me makai jurus ke tiga dari ilmu Cong ciong ciat mia kiam si yang dinamakan  Keng pian cing tee jian kut  hui (Topan maut menyapu bumi, tulang berhamburan seperti abu) dia melepaskan sebuah serangan yang maha dahsyat dan sungguh menggidikkan hati ....

Cahaya pelangi yang me mandang bagaikan seekor naga sakti yang sedang berpesiar di udara, tiba-tiba saja  berputar, menggulung dan menyelinap berulang kali ditengah udara, cahaya yang me mancar dan me mbentuk selapis kabut berlapis-lapis seperti bukit, lalu bagaikan air bah yang menjebo lkan bendungan langsung menggulung ke depan.

Ketiga orang Ki thamcu dari istara Huan mo Kiong di lautan selatan ini segera merasakan betapa sekeliling tubuh Ku See hong diliputi oleh hawa pedang yang amat tebal, cahaya tajam yang berkilauan me mancar ke empat penjuru, bagaikan matahari senja yang siap turun gunung, secara aneh dan dahsyat menyelimut i seluruh angkasa....

Tak terlukiskan rasa terperanjat mereka menghadapi keadaan seperti ini, sudah barang tentu mereka pun tak berani menyambut tibanya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

Mendadak mereka bertiga me mencarkan diri ke arah yang saling berlawanan..

Siapa tahu--- Dari balik bayangan pedang yang memancar kan cahaya pelangi tersebut, tahu-tahu memancar keluar dua gulung sinar tajam yang aneh sekali.

"Sreeeet...!"

"Sreeeet !"

Dua kali desingan angin tajam yang me me kikkan telinga, mendadak me mancar ke udara dan langsung menyergap tubuh Ang ki tha mcu (Tha mcu bendera merah) serta Lan ki thamcu (Tha mcu berbendera biru).

Dua kali jeritan ngeri yang me milukan hati segera berkumandang me mecahkan keheningan, teriakan mereka menjelang saat  akhir dari hidupnya itu segera mendengung diseluruh angkasa.

Ke dua orang thamcu itu segera menemui ajalnya  tersambar hawa pedang yang sangat tajam, darah segar menyembur ke luar dari dada mereka seperti pancuran.

Ku See hong me mang tak pernah mengenal a mpun terhadap musuh- musuh besarnya, setiap korban yang tewas ditangannya selalu diperlakukan sa ma dan adil, hanya perbedaannya terletak pada soal waktu, lebih awal atau lebih la mbat.

Cahaya pelangi yang menyilaukan mata sekali lagi me mancar ditengah udara, lagi-lagi suatu jeritan ngeri yang menyayat hati bergema me mecahkan keheningan..

Kali ini Hek ki thamcu (tha mcu panji hita m) yang menjadi korban berikutnya, tubuhnya tersayat hancur menjadi tiga empat bagian, ia tewas dalam keadaan yang sungguh mengenaskan.

Dipihak sini jeritan ngeri yang menyayat hati baru saja berge ma me mecahkan keheningan, dipihak lain dua kali jeritan ngeri yang menggidikkan hati seperti tangisan setan ataupun lolongan serigala telah berkumandang pula secara beruntun.

Begitu selesai me mbinasakan Hek ki tha mcu, seenteng kapas Ku See hong melayang turun keatas permukaan tanah, tapi setelah mendengar jeritan ngeri tadi, dengan cepat dia berpaling kearah mana berrasalnya jeritan tersebut.

Apa yang kemudianrterlihat me mbuatnya segera menjerit kaget: "Aaaah Hay jin ciang! Pukulan unggas laut!"

Sementara itu, Keng Cin sin telah berhasil melo loskan diri dari

lingkaran cahaya pedang musuh dan me layang turun di samping Ku See hong.

Han thian it kiam Cia Cu kim yang mene mukan ketiga orang Ki thamcunya telah tewas se mua diujung pedang Ku See hong, untuk beberapa saat lamanya ia tertegun dan berdiri kaku  dengan perasaan amat terkesiap.

Dengan demikian, tinggal pertarungan antara Seng sim cian  li Hoa Soat kun melawan Bu lim jit hun (tujuh sukma  gentayangan dari dunia persilatan) yang masih berlangsung dengan seru dan sengit nya .....

Tapi dari antara tujuh sukma gentayangan dunia  persilatan, sekarang hanya tinggal lima orang yang masih me mpertahankan diri secara gigih.

Hong  liu  hun  (sukma  ro mantis)  serta  Khi  si  hun   (Sukma ke matian) telah tewas ditangan Hoa Soat kun yang mengeluar kan jurus a mpuh Hay jin jut sian (Unggas laut mena mpa kkan diri) sehingga tubuhnya hancur berantakan tak berwujud lagi.

Ke dua sosok mayat yang berada dalam keadaan rusak tersebut, kini terkapar di atas tanah lapangan lebih kurang empat  kaki jauhnya dari medan perte mpuran.

Hoa Soat kun mas ih saja me lancarkan serangan dengan amat hebatnya, tubuh yang tinggi se ma mpai bergerak kian ke mar i dengan indah dan gesitnya, sementara jurus-jurus serangan dilepaskan seperti bidadari yang sedang menari ditengah udara setiap langkah, setiap gerakan semuanya di tujukan ke arah ke lima sukma gentayangan yang mas ih tersisa. Serangan demi serangan yang dilancarkan, na mpaknya  saja seolah-olah begitu enteng, begitu ringan dan sa ma sekali tidak berisi, padahal setiap gerakan dan setiap geseran tubuhnya selalu disertai dengan tenaga serangan yang berputar menggidikkan hati.

Sedemikian dahsyatnya dan gencarnya serangan-serangan itu, hingga me maksa lima sukma gentayangan dari dunia persilatan itu terdesak hebat dan harus bertahan serta menangkis dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya.

Namun, jurus-jurus serangan yang dipergunakan Hoa Soat kun saat ini pun t idak mirip jurus-jurus me mat ikan yang a mpuh dan menggidikkan hati, dia seperti menggunakan taktik pertarungan bergerilya.

Padahal bila orang yang cukup me ma ha mi rahasia dari ilmu pukulan tersebut, akan mengetahui dengan pasti bahwa se mua yang terlihat sekarang sebenarnya hanya permulaan dari kekuatan yang terpancar dari ilmu pukulan Hay jin ciang, bila serangan sudah meningkat, saat itulah hawa pembunuhan yang menggidikkan hati akan berha mburan dengan kuatnya.

Lima sukma gentayangan dari tujuh sukma gentayangan dunia persilatan yang masih hidup, kini benar-benar sudah dibikin naik pitam, kalau bisa mereka ingin sekali me mbinasakan Hoa Soat kun dalam 'sekali pukulan.

Segenap jurus serangan paling a mpuh, paling keji dan paling dahsyat yang mereka miliki telah dipergunakan semua, bahkan digunakan hingga mencapai puncaknya.

Angin pukulan, tendangan kilat semuanya dipergunakan dengan tenaga serangan yang tajam bagaikan sayatan pisau dan kecepatan yang meme kikkan telinga, seluruh angkasa telah dipenuhi deruan angin yang menyesakkan napas.

Sedemikian dahsyat dan gencarnya serangan itu, ibaratnya air bah yang menjebolkan bendungan, sangat menggidikkan hati. Bentakan nyaring bergema secara tiba-tiba me mecahkan keheningan.

Tubuh Hoa Soat kun yang indah menawan itu tahu-tahu terhembus oleh lima gulung angin serangan yang sangat dahsyat itu sehingga terle mpar sejauh dua kaki lebih ke tengah udara.

Berada ditengah udara, tubuh Hoa Soat kun berputar dan bergeser secepat kilat la lu berpusing seperti gangsingan...

Diantara perputaran badannya yang cepat tapi sangat aneh itu, sepasang telapak tangan Hoa Soat kun tidak ambil dia m, secara beruntun dia me lancarkan serangkaian pukulan ke sekeliling arena...

Tampak serangan tersebut menya mbar secara berlapis- lapis, angin serangan menderu-deru bagaikan guntur yang  menggelegar di tengah hari bolong, sedang tubuh pere mpuan  itu  menar i kian ke mari seperti kupu- kupu yang beterbangan ditengah aneka bunga.

Mendadak......

Tubuh Hoa Soat kun yang sedang berputar kencang itu terhenti ditengah udara, namun sepasang telapak tangannya justru pelan- pelan ditekan ke arah bawah ....

Dimana gerak serangan itu menyambar ke arah bawah, sekonyong-konyong...

Dari per mukaan bumi muncul deruan angin yang sangat kencang dan dahsyat memenuhi seluruh angkasa, bagaikan selapis cahaya terang yang pelan-pelan mengurung kearah bawah, seketika itu juga daya tekanan yang muncul disekeliling te mpat itu berta mbah besar, lambat laun se makin berat sehingga akhirnya seperti ditindih dengan bukit karang yang berat sekali.

Bu lim ngo hun (Lima sukma gentayangan dari dunia persilatan) merasa terperanjat sekali, serentak mereka berlima berjongkok ke atas tanah, kemudian....

'Haaiittt !" Diiringi bentakan keras yang me mekikkan telinga, lima orang itu bersama-sama me ngayunkan telapak tangannya kedepan, sementara tubuhnya turut berdiri tegak pula.

Lima gulung angin pukulan yang aneh tapi kuat, seperti air bah yang menjebolkan bendungan, segera meluncur keluar tiada habisnya....

Tenaga serangan yang kedahsyatannya melebihi keadaan pada umumnya ini disertai pula dengan kekuatan yang mengerikan langsung menggulung ke arah atas, kemudian me mencarkan diri kesudut-sudut yang aneh dan menerobos masuk mela lui celah-ce lah udara yang sempit ....

Dalam waktu singkat dua gulung tenaga serangan telah beradu satu sama lainnya.

Suatu ledakan yang me me kikkan telinga segera mengge legar diseluruh angkasa.

Angin serangan berpusing dan me mancar ke mana- mana, ditengah ledakan yang keras...

Suatu jeritan aneh yang melengking dan mene mbusi awan mengge ma diseluruh le mbab bukit itu ......

Jiat cui hun (Sukma cacad mulut), Jiat pit hun (Sukma cacad lengan) Jiat tui hun (sukma cacad kaki) dan Jiat oh hun (Sukma cacad telinga) empat sukma gentayangan tahu-tahu dipisahkan satu sama lainnya secara mengerikan sekali.

Percikan darah segar dan hancuran daging badan langsung berhamburan ke mana- mana, seakan-akan dihe mpaskan saja keatas batu cadas.

Rupanya hanya Jiat leng hun (Sukma cacad mata) seorang yang berhasil melo loskar diri dari serangan maut jurus Hay jin hui sia (Unggas laut berpusing) dari ilmu pukulan Hay jin ciang yang dipergunakan Hoa Soat kun ini. Mungkin dia dibikin terkesiap oleh  keadaan  yang  sangat menger ikan itu dan  tubuhnya  terlempar  oleh  hawa  sakti  yang me mancar keempat penjuru diiringi suara pekikan aneh, tubuhnya ke mbali melejit ke tengah udara....

Hoa Soat kun yang masih berada ditengah udara segera tertawa panjang dengan sera mnya...

Tiba-tiba tubuhnya meluncur ke arah bawah, ujung bajunya yang berkibar terhembus angin seperti bintang yang meluncur di tengah angkasa...

Ia seperti seekor burung manyar raksasa yang membentangkah sayapnya dengan sepasang lengan direntangkan lebar-lebar dan kecepatan gerak  yang  amat  menyilaukan  mata,  dengan  cepat me luncur ke arah Jiat leng hun (sukma cacad mata).

Begitu ha mpir mencapai pada korbannya, sepasang lengannya yang terpentang itu mendada k dirapatkan satu sa ma la innya...

''Weeesss !"

Segulung desingan angin tajam  yang me nggidikkan hati berkelebat me mbelah angkasa..

Menyusul kemudian...

Suatu jeritan ngeri yang me milukan hati berge ma me menuhi seluruh angkasa ...

Tubuh Jiat leng hun (Sukma cacad mata) telah terhajar sampai hancur berkeping-keping, percikan darah segar berhamburan disekeliling te mpat itu.

Dalam keadaan yang mengenaskan dan me ngerikan inilah Tujuh sukma gentayangan dari dunia persilstan telah menemui ajalnya terhajar ilmu Hay jin ciang dari Hoa Soat kun..

Menyaksikan kedahsyatan dan keampuhan ilmu pukulan Hay jin ciang yang maha dahsyat tersebut, mau tak mau Ku See hong menghe la napas panjang, katanya: "Aaaai......! Setelah menyaksikan sendiri kea mpuhan ilmu pukulan Hay jin ciang, aku  baru  sadar  bahwa  ilmu  pukulan  ini me mang tak malu disebut ilmu pukulan nomor wahid di  kolong langit dewasa ini, tak heran kalau guruku sendiripun agak jeri terhadap kelihayan ilmu pukulan ini"

Keng Cin sin turut me muji pula tiada hentinya:

"Hoa Soat kun locianpwee, kau me mang tak ma lu disebut jago lihay no mor wahid dalam dunia persilatan dewasa ini"

Dipihak lain Han thian it kiam Cia Cu kim telah dibuat terkesiap dan berdiri sa mbil me mbe lalakkan matanya lebar-lebar setelah menyaksikan keampuhan dari ilmu pukulan Hay jin ciang tersebut...

Dengan sinar mata me mancarkan a marah yang meluap-luap serta perasaan dendam yang amat tebal, Ku See hong me mandang sekejap kearah Cia Cu kim, ke mudian sa mbil tertawa dingin ujarnya.

"Cia Cu kim, secara keji kau telah me mbantai tua muda puluhar le mbar jiwa manus ia dari perkumpulan Kim to pang, (perkumpulan golok e mas), sekarang tibalah saatmu untuk me mbayar semua hutang tersebut"

Seraya berkata, bagaikan sukma gentayangan Ku See hong segera mendesak maju ke depan..

Sekarang, Han thian it kiam Cia Cu kim baru benar-benar merasakan betapa ngeri dan seramnya menghadapi ke matian, dari balik matanya terpancar keluar sorot mata penuh perasaan kaget dan ngeri, sementara tubuhnya tanpa terasa mundur terus kearah belakang...

Kalau tadi Keng Cin sin sengaja tidak me mbunuh Cia Cu kim, hal ini disebabkan dia ingin me lepaskan selembar jiwanya.

Bagaimana pun juga, Cia Cu kim adalah bekas gurunya  dan orang yang telah meme liharanya dari kecil, namun setelah menyaksikan sikap ketakutan berca mpur ngeri yang ditunjukkan bekas gurunya ini, timbul juga perasaan pedih yang tak terlukiskan dengan kata-kata .... Tapi ia sadar banwa dirinya tak mampu menolong bekas gurunya lagi, sebab dia cukup me maha mi bahwa Ku See hong  dengan dirinya terpaut suatu dendam berdarah yang tak terkirakan.

Andaikata Keng Cin sin turut menyaksikan adegan ngeri yang diala mi puluhan le mbar jiwa anggota Kim to pang, sudah pasti dia tak akan merasa kasihan.

Sekulum senyuman yang dingin dan keji tersungging  diujung bibir Ku See hong, ujarnya:

"Cia Cu kim, sekarang aku ingin menanyakan satu hal kepadamu, apakah murid perempuanmu Keng Cin sin mas ih hidup di dunia ini

....?"

Ketika mendapat pertanyaan tersebut, Han thin it kiam Cia Cu kim merasakan hatinya bergetar keras, ia tidak menjawab pertanyaan dari Ku See hong ini.

Melihat musuhnya tidak menjawab, Ku See hong mengira  Keng Cin sin sudah mati, paras mukanya segera berubah semakin tak sedap dipandang.

Kini, dia telah berada hanya beberapa kaki saja dihadapan Cia Cu kim.

Suasana disekeliling tempat itu segera di cekam oleh suasana yang amat tegang, hawa pe mbunuhan yang se ma kin tebal menyelimuti seluruh angkasa, begitu tegang dan mengerikannya keadaan disekitar situ, sehingga mendebarkan hati siapa pun yang menghadirinya.

"Sreeeet...!"

Desingan angin tajam yang me mekikkan telinga berkumandang me mecahkan keheningan.

Pedang Hu thian seng kiam yang berada di tangan Ku See hong telah berubah menciptakan beribu-ribu jalur sinar tajam yang semuanya bersama-sa ma me luncur ke setiap  bagian tubuh yang me matikan di badan Cia Cu kim. Jurus serangan ini amat aneh, tapi sakti dan kejinya bukan alang kepalang.

Cia Cu kim me mbentak keras, pedangnya secepat kilat menciptakan pula selapis cahaya perak  yang  menyilaukan  mata, diir ingi  desingan  angin  tajam,  sinar   keperak-perakan   segera me luncur ke arah sinar tajam tersebut.

"Blaaamm! Blaaammm! Blaammm ! '

Beberapa kali letupan keras yang menggetarkan telinga berkumandang di udara...

Tahu-tahu hawa pedang yang dipancarkan oleh Ku See hong telah dipunahkan sama sekali oleh gerakan pedangnya sehingga lenyap tak berbekas.

Ku See hong tertawa dingin, pedang Hu thian seng kiamnya bagaikan sambaran kilat menyusup masuk me lalui sebuah sudut yang aneh serta memancar kan serentetan sinar merah yang secara langsung menyergap jalan darah Sim kan hiat ditubuh Cia Cu kim.

Jurus serangan ini dilancarkan secara mendada k,  gerakannya pun sangat aneh, di tambah lagi jarak diantara mereka berdua sedemikian dekatnya sampai Cia Cu kim sa ma sekali t idak se mpat untuk menghindarkan diri.

Tapi....

Cia Cu kim tertawa seram secara tiba-tiba, pedangnya mendadak disa mbitkan ke arah Ku See hong langsung menusuk jalan darah Khi hay hiatnya.

Tindakan nekad Cia Cu kim yang me mpergunakan sistim beradu jiwa ini mau tak mau me mbuat Keng Cin sin a mat terperanjat sehingga ha mpir saja ia menjerit keras.

'Triiinggg! Triiinggg....! Traaang.."

Serentetan suara gemerincingan nyaring segera berkumandang me mecahkan keheningan.... Jeritan ngeri yang me milukan hati ke mbali berkumandang di udara ....

Pedang yang berada ditangan Cia Cu kim itu tahu-tahu sudah terhajar oleh pedang Hu thian seng kiam milik Ku See hong  sehingga hancur berkeping- keping...

Dua buah semburan darah segar memancar keluar dari dada Han thian it kiam Cia Cu kim dan me mbasahi seluruh per mukaan tanah, akan tetapi tubuhnya masih tetap berdiri kaku dite mpat.

Sinar mata yang keji dan penuh kebencian mencorong keluar dari balik matanya dia me mandang wajah Ku See hong dengan gusar, sementara noda darah me mbasahi ujung bibirnya, kulit mukanya yang pucat mengejang keras menciptakan beberapa buah garis- garis me manjang yang sungguh menggidikkan hati.

Tampaknya manusia yang pernah me mimpin kawanan iblis di istana Huan mo kiong lautan selatan ini merasa tak rela untuk mat i dalam keadaan demikian.

Dia berusaha untuk me mpertahankan dirinya dengan sepenuh tenaga, bahkan kalau dapat, dia ingin me mperguna kan sisa-sisa kekuatan yang dimilikinya untuk me mbalas sakit hati atas tusukan lawan pada dadanya itu.

Dia me mang boleh berusaha, ia boleh saja berharap agar apa yang di harapkan dapat terpenuhi, sayang sekali keadaan tidak berlangsung seperti apa yang diharapkan.

Mendadak....

Ku See hong tidak ingin me mber i kese mpatan kepada musuhnya untuk banyak bertindak, dengan ganas dia maju sambil mengayunkan pedangnya.

Cia Cu kim mendengus tertahan, tubuhnya tahu-tahu sudah terpapas kutung menjadi tiga bagian. Keng Cin sin meghe la napas sedih, helaan tersebut bisa pula diartikan dengan leganya perasaan gadis ini, sebab musuh- musuh besarnya telah berhasil dibasmi se mua.

Roda kereta berguling, secepat kilat kereta itu bergerak kembali menuju ke tengah bukit.

ooodwooo

BINTANG bintang  bertebaran  menghiasi  langit  yang  gelap, ma lam ini adalah ma lam yang cerah.

Kini, tengah mala m sudah lewat.

Kuil terpencil yang terpisah dbari kerama ian mjanus ia berdiri gdalam suasana abngker dan menyeramkan.

Yang me menuhi seluruh angkasa waktu itu hanya ira ma keheningan yang cukup mendir ikan bulu ro ma siapa pun jua ....

Angin barat berhembus dengan kencang nya me mbawa udara dingin yang menusuk tulang, hembusan tersebut seperti isak tangis seorang gadis yang dit inggalkan kekasihnya..

Pepohonan cemara yang gundul langsing seperti bayangan setan yang sedang me men-tangkan cakar mautnya.

Di dalam suasana seperti inilah tiba-tiba keheningan mala m itu di cabik-cabik oleh suara putaran roda yang mengelinding  dan menindih per mukaan batu.

Dari balik kabut mala m yang gelap serta deruan angin dingin yang menceka m muncul sebuah kereta kuda yang segera terhenti di muka kuil kuno itu.

Ku See hong menghe la napas panjang, guma mnya:

"Sekarang tengah mala m sudah lewat... aaaai, entah...

entah " Seng Sim cian li Hoa Soat kun segera menyelinap  keluar  dari balik ruang kereta, selapis hawa sedih dan kemur ungan tebal menyelimuti seluruh wajahnya.

Ia tidak berbicara, me mbungka m dalam seribu bahasa, seolah- olah ia mengerti bahwa banyak berbicara pun tak ada gunanya.

Dengan suara pedih Keng Cin sin berkata:

Tengah mala m sudah lewat, namun racun perangsang yang berada dalam tubuhnya belum ka mbuh, sudah pasti ada suatu kejadian aneh yang bakal dialaminya...

'Tapi keanehan yang diala minya dapat me mperpanjang masa hidupnya hingga kapan?" guma m Ku See hong.

"Yaaa. me mang sukar untuk di duga, apa lagi dalam suasana begini, terpaksa kita harus menyerahkannya kepada nasib"

"Ku See hong!'. dengan suara dingin Seng Sim cian li Hoa Soat kun menegur, ''sekarang lindungilah dirinya ditempat ini, berjaga- jagalah terhadap segala ke mungkinan yang bakal terjadi."

Keng Cin sin menghela napas panjang.

”Sekarang, waktunya sudah benar-benar sangat mendesak, Hoa locianpwee, mar i kita masuk ke dalam secepatnya" dia berseru cemas.

Dibawah petunjuk Ku See hong yang bertindak sebagai penunjuk jalan, Hoa Soat kun dan Keng Cin sin segera berangkat me masuki kuil kuno itu.

Oleh sebab Ku See hong sangat menguasai daerah  disekitar sana, maka tanpa menghadapi sesuatu halangan pun,  terutama sekali anca man alat jebakan yang maha dahsyat, dengan cepatnya mereka telah tiba di depan ruang sian si.

"Kraakkk "

Diiringi suara gemeretak yang memekikkan  telinga, pintu ruangan terpentang lebar.. Dengan suatu gerakan yang sangat cepat Keng Cin sin menyelinap masuk ke ruang dala m, se mentara sorot matanya yang tajam dengan cepat memandang sekejap sekeliling ruangan tersebut...

Tampak sesosok tulang tengkorak manus ia yang utuh berdiri kaku diatas permukaan tanah, sementara lengannya seakan akan sedang menuding sesuatu ke arah bawah...

Me mandang tulang tengkorak manus ia tersebut, keng Cin sin segera dapat menduga kalau tulang belulang tersebut merupa kan tulang dari Bun ji koan su Him Ci seng, dengan hor mat sekali dia menjura dala m- dalam ke arah tengkorak itu sebagai pertanda dari rasa hormatnya yang sangat menda la m.

Sebaliknya Seng sim cian li Hoa Soat kun yang  menyaksikan bekas kekasihnya dulu, kini telah berubah menjadi sesosok tulang kerangka manusia, hatinya menjadi pedih dan a mat sedih sehingga sekujur badannya ge metar keras.

Jelaslah sudah betapa besarnya gejolak perasaan hatinya pada saat ini...

Yaaa, cinta me mang me mber ikan suatu dorongan tenaga yang besar sekali, dan kekuatan mana tak pernah dapat dilawan oleh siapa saja.

Tempo dulu, Hoa Soat kun pernah me mbenci setengah mati terhadap Bun Ji koan su, ia benci karena ketidaksetiaan kekasihnya itu, terutama sekali pada peristiwa pematahan pedang yang berlang-sung lima puluh tahun berselang, kalau bisa dia ingin sekali me mbinasakan Bun ji koan su.

Walaupun de mikian, sesungguhnya dalam hati kecilnya dia sangat mencintai orang ini.

Atau dengan perkataan lain, semakin dalam cintanya, semakin dalam perasaan bencinya. Dan kini setelah menyaksikan tulang belulang dari kekasihnya, rasa sedih yang dirasakan olehnya sekarang mungkin tidak terlukiskan pula dengan kata-kata.

Tapi dari sini pula dapat ditarik kesimpulan kalau cinta Hoa Soat kun terhadap Bun ji koan su sebetulnya sudah merasuk sa mpa i ketulang sumsum.

Walaupun dalam hidupnya ia tak pernah menerima pernyataan cinta darinya, namun penyesalan Bun ji koan su sebelum meningga l serta ucapan tulus yang disuruh Ku See hong menya mpaikan kepadanya, sudah cukup me mbuat Hoa Soat kun merasa terharu sekali.

Hanya saja dia me mang berwatak sangat aneh, perasaan tersebut enggan dia utarakan keluar.

Namun sekarang, keadaannya sama sekali berbeda, dengan mata kepala sendiri ia telah menyaksikan jenasah dari Bun ji koan su, otomatis dia pun tak sanggup untuk mengenda likan perasaan sedih yang menceka m perasaannya sekarang.

Me mandang sikap Hoa Soat kun yang mir ip orang kehilangan sukma, Keng Cin sin  menghela napas  sedih.  Pelan-pelan  dia  mende kati batu bata merah diatas dinding seperti apa yang dituding kerangka Bun ji koan su itu, lalu diam diam ia berdoa didalam hati.

"Moga- moga saja rumput Han sia cau tersimpan dibalik batu bata ini sehingga adik Im Yan cu dapat disela matkan jiwanya...

Tangan Keng Cin sin yang putih halus telah me megang ujung batu bata tersebut, sekilas perasaan girang segera menghias i wajahnya, ternyata batu bate itu tidak melekat keras diatas dinding tersebut,

"Kraaakkk...!"

Bata-bata tersebut sudah diambil olehnya dari atas dinding tersebut, namun apa yang ke mudian terlihat segera me mbuat Keng Cin sin merasa kecewa sekali ..... Rupanya dibalik batu bata yang diambil me mang terdapat sebuah ruang kosong na mun is inya bukan rumput Han sia cau, me lainkan segulung kertas kecil.

Dengan cepat Keng Cin sin mengambil keluar kertas tersebut dari dalam dinding.

Lalu kertas itu dibuka dan dibaca isinya, kira-kira surat tersebut berbunyi de mikian:

"Bait pertama dari lagu Dendam sejagad me mberi petunjuk tentang tempat penyimpanan kitab pusaka Cang ciong pit kip yang berada di kuil Ngo siang bio di sungai cho go kang.

Sedanghan pada bait ke dua syair tersebut menunjukkan tentang terdapatnya sebatang rumput Han sia cau yang langka tapi tak ternilai harganya, rumput ini berna ma Han sia dan merupa kan semaca m raja burung gagak.

Oleh karena rumput itu sudah berjuta tahun menghisap sari bumi akhirnya berubah menjadi benda mestika yang berubah menjadi semaca m rumput biasa, sedemikian biasanya rumput  mana sehingga orang yang tidak mengena linya tak akan tahu.

Rumput Han sia cau ini me miliki ke ma mpuan untuk menghidupkan ke mba li orang yang ha mpir mati, bagi orang belajar silat yang me makan rumput itu dapat mena mbah tenaga dalamnya.

Rumput ini bersama Tee liong hiat poh (darah mestika  naga  bumi) dan mutiara Thian hong im yang sin cu disebut tiga benda mestika dari kolong langit.

Hanya rumput ini me mpunyai kasiat yang jauh lebih luas dari pada benda-benda lainnya.

Rumput Han sia cau ini tumbuh di dalam le mbah Han sia kok yang terletak di atas salah satu bukit Han ciong san.

Tempat yang persis dan cara untuk mendapatkan rumput Han sia cau bisa diperiksa pada hala man berikut.

Tertanda: Bun ji koan su Him ci seng" Selesai me mbaca surat itu, dengan perasaan gelisah, Keng Cin sin segera berseru.

"Hoa locianpwee, kita harus meninggalkan te mpat ini secepatnya, rumput Han sia cau berada di le mbah Han sia kok di bukit Han ciong san "

Ketika mendengar teriakan tersebut, Seng sim cian li Hoa Soat kun segera mendusin dari la munannya, dia segera menghela napas sedih:

"Aaaai, nona Keng, jarak bukit Han Ciong san dari sini mas ih ada lima hari perjalanan, apakah dia ma mpu untuk bertahan sampa i  lima hari lagi?"

Buru-buru Keng Cin sin berseru.

"Tengah mala m sudah lewat, namun nyatanya racun obat perangsang tersebut tidak sampai kambuh ke mbali, ini menanda kan kalau sudah terjadi suatu kejadian yang luar biasa, kita  tak boleh me mbuang waktu lagi. sekarang juga kita berangkat "

Hoa Soat kun dan Keng Cin sin dengan cepat berlarian menuju ke pintu depan.

Mendadak .....

Dari arah pintu terdengar suara isak tangis yang amat me milukan hati berkumandang me mecahkan keheningan, suara tangisan tersebut sedemikian me medihkan hati sehingga dunia seolah-olah turut kia mat.

Isak tangis tersebut dengan cepat menghentikan langkah kaki kedua orang itu, bagaikan terkena aliran listrik bertegangan tinggi, mereka berdiri kaku ditempat.

"Adik Im... oooh, adik Im....mengapa kau meninggalkan aku..?

Oooh, adik Im.... mengenaskan sekali ke matianmu ini ”

Suara tangisan tersebut sudah amat parau dan rendah, namun nadanya betul-betul me milukan hati siapa pun. Tak  tertahankan  lagi   titik-titik   air   mata  jatuh   berlinang   me mbasahi wajah Seng sim cian li Hoa Soat kun ujarnya dengan sedih:

"Ta mpaknya inilah ke mauan takdir! Na mpaknya inilah ke mauan takdir... tapi nasib yang dialami anak Im betul-betul terlalu tragis.”.

"Nona Keng, pergilah! Lakukanlah seperti apa yang telah kau sanggupi kepada anak Im, sepanjang hidup lonio tak akan kutinggalkan lagi kuil ini, akan kute mani terus tulang belulangnya sampai akhir dari hidupku nanti..."

Keng Cin sin menjerit keras dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran petir dia segera menerjang ke arah kereta kuda itu.

Sedangkan Seng sim cian li Hoa Soat kun dengan me mbawa tubuhnya yang terasa makin berat dan tua melangkah masuk ke dalam kuil kuno itu.

dw

MATAHARI senja sudah condong ke langit barat, sinar berwarna ke merah-merahan me mancar menyelimut i jagad dan meninggal kan suasana yang seram.

Senja ke mbali menje lang tiba.

Sinar mata  hari senja, me mancarkan cahayanya menyoroti sebuah pemandangan alam nun jauh disana.

Menyinari sebuah bangunan rumah yang sederhana serta sebuah kuburan baru.

Di depan kuburan itu, berdiri seorang pemuda yang sebatang kara dan na mpak kesepian.

Dia mas ih berusia sangat muda, na mun  musibah  menimpa dirinya secara beruntun, me mbuat ia na mpa k seperti seorang le laki setengah umur yang kenyang dengan pengala man. Sekarang ia seperti sebatang kayu yang lapuk, setangkai daun yang mulai layu.

Segala maca m perbuatan, kedudukan, kegagahan dan nama besar yang pernah diperolehnya dalam dunia persilatan, kini sudah hilang lenyap mengikut i air yang mengalir ke samudra, yang tertinggal kini hanya kenangan yang penuh kedukaan.

Dibawah sorotan cahaya matahari senja yang berwarna ke merah- merahan, tampak air matanya setetes demi setetes meleleh keluar dan me mbasahi pipinya .....

Mendadak ia menghe la napas panjang, lalu dengan suara yang me medihkan hati ia berguma m: "Aaaai, dari dulu hingga sekarang, mus ibah dan tragedi seolah-olah datang tiada hentinya. Yang muncul hanya siksaan dan penderitaan yang seakan-akan tak pernah berakhir... Oooh,Thian! mengapa kau bersikap tak adil kepadaku  ....? Kini  adik  Im Yan  cu  telah  meningga l dunia   Keng

Cin sin pun meninggal dunia      Him Ji ijm me ninggalkan aku secara

dia m-dia m untuk mencukur ra mbut menjadi pendeta..' Perempuan misterius yang berkerudung warna warni pun pergi meninggalkan aku ”

Nada  yang  berduka,  putus  asa  dan   kecewa,   suara  yang me medihkan dan me milukan hati me mbuat orang la in merasa terharu dan sedih.

Nasibnya me mang benar-benar terlalu tragis.

Me mandang pohon liu yang tumbuh di depan e mpang, tanpa terasa Ku See hong mendonga kkan kepalanya, sambil me mbawa kan senandung Ku Siu ci.

Dulu menana m pohon itu, bersusah, payah ....

Kini me mandang pohon bergoyang. Menghiasi sungai dan e mpang.

Pohon pun de mikian. Bagaimana dengan si manusia? Pohon pun de mikian.

Bagaimana dengan si manusia...!

Dunia terasa kosong dan sa ma sekali tak berarti lagi bagiku, mengapa aku harus sengsara? Aaaai. lebih  baik kuakhiri saja hidupku yang penuh siksaan ini .......

Sambil berkata, Ku See hong menggerak kan tangan kanannya dan meraba pedang Hu thian seng kiam yang tersoren dibelakang bahunya.

Mendadak... pada saat itulah..

Dari arah belakang terdengar seseorang me manggil dengan suara yang merdu dan lembut.

"Engkoh Hong.. kau "

Suara panggilan  itu  terasa  sangat  dikenal  olehnya  bahkan  me mber ikan dorongan yang sangat besar bagi Ku See hong untuk me mpertahankan hidupnya.

Dengan cepat dia memba likkan badannya, lalu memandang ke arah mana berasalnya suara itu dengan sorot mata taja m...

Tampak seorang perempuan berkerudung warna warni yang mengenakan baju putih sedang meluncur datang dengan kecepatan luar biasa, begitu sampai di depan si anak muda itu, tangan kanannya cepat melepas kain kerudung yang menutupi wajahnya hingga terlihatlah raut wajah aslinya yang cantik je lita bak bidadari dari kahyangan.

Dengan perasaan terkejut Ku See hong segera berteriak: ''Adik Keng, kau "

Sekarang ia betul-betul merasa terkejut bercampur ge mbira, dengan cepat ia menerjang kemuka menyongsong kedatangan nya, lalu dengan sepasang tangannya yang kuat meme luk pinggangnya erat-erat. Keng Cin sin pun sedapat mungkin me ne mpelkan seluruh tubuhnya diatas badan kekasihnya, dia seperti terjerumus ke dalam samudra luas yang tak terkirakan  dalamnya, diapun meraba tubuhnya seakan-akan tidak berada dalam dunia lagi.

Rupanya dua lembar bibir mereka telah saling mene mpel satu sama lainnya, mereka sedang berciuman dengan penuh kehangatan dan ke mesraan.

Entah berapa la ma sudah lewat.

Akhirnya mereka dapat menyelesaikan ciuman yang penuh kenikmatan.

Ku See hong seolah-o lah kuatir akan kehilangan kekasih hatinya lagi, dengan sepasang tangannya yang kuat dia tetap me meluk pinggang gadis itu erat-erat.

"Adik Sin" dia menggerutu, "mengapa kau me mbohongi aku selama ini.. atau.. mungkinkah aku sedang ber mimpi .... Adik Sin, kau tak boleh meninggalkan diriku lagi, tentunya kau... kau berjanji bukan?"

Air mata bercucuran dengan derasnya me mbasahi seluruh wajah Keng Cin sin, dia menyahut le mbut:

"Engkoh Hong, kau tidak ber mimpi,  se muanya  adalah kenyataan kau tak usah kuatir, aku tak akan meninggalkan dirimu

lagi, sela manya aku tak pernah akan meninggalkan dirimu lagi "

"Oooh, adik Sin "

"Engkoh Hong `

Sepasang bibir mereka ke mbali saling  mene mpe l satu sama lainnya kencang- kencang.

Angin le mbut berhe mbus lewat menggoyangkan pohon Liu ditepi empang, suara yang gemerisik menimbulkan serangkaian ira ma pada yang lembut dan syahdu, seolah-olah Thian mengucapkan selamat atas perjumpaan sejoli ini. Sang arwah yang berada dalam kuburan pun turut tertawa, arwahnya tak pernah akan kesepian, sebab ada dua orang yang akan menda mpinginya sepanjang masa.

Him Ji im yang berada di biara pun hidup dengan tenang dan sentausa, dia selalu berdoa  agar  ke  dua  orang  tersebut  dapat  me lewati hidup yang penuh kebahagiaan sepanjang ja man.

Walaupun mereka berdua sama-sa ma pernah menga la mi peristiwa tragis yang amat mengenaskan, namun setelah itu mereka justru me mperoleh kehidupan yang a mat bahagia.

Setahun kemudian, Keng Cin sin telah member ikan seorang putra untuk Ku See hong, mereka bertiga pun melewati kehidupan yang tenang dan penuh kebahagiaan dite mpat tersebut.

Dan sampa i disini pula kisah "DENDAM SEJAGAD" ini, semo ga pembaca sekalian puas.

T A M A T